Page 6

Luar Negeri

4

WASPADA Selasa 8 Desember 2009

Tentara Pakistan Bunuh 4 Orang Di Lembah Swat PESHAWAR, Pakistan (Antara/AFP): Tentara Pakistan Senin (7/12) membunuh empat orang yang diduga anggota kelompok garis keras saat melakukan operasi pencarian di lembah Swat Baratlaut, ketika militer mengklaim telah melumpuhkan pemberontakan, kata para pejabat. Tentara terlibat bentrokan pada saat mereka diserang di tempat yang diduga persembunyian kelompok garis keras yang loyal kepada ulama garis keras Maulana Fazlullah, di desa Shamozai, 30 kilometer di barat daya kota besar di lembah itu, Mingora.

“Tentara melakukan serangan balasan dan menewaskan empat gerilyawan garis keras,” kata juru bicara militer Mayor Mushtaq Khan. Kol. Akhtar Abbas, perwira senior pada media center Swat yang dikendalikan militer, membenarkan insiden itu dan mengatakan bahwa dalam bentrokan itu‘tak ada anggota militer yang tewas.’ Swat adalah bekas tempat liburan turis, lepas dari kekuasaan pemerintah pada Juli 2007 setelah Fazlullah meningkatkan aksi kekerasan untuk memaksakan berlakunya hukum syariah Islam di wilayah itu.

Filipina Perintahkan Agar 2.400 Milisi Ampatuan Serahkan Diri

PENGEBOM BUNUHDIRI BERAKSI DI LUAR PENGADILAN

The Associated Press

Seorang warga Pakistan menyingkirkan satu tabung silinder dari satu beca yang terbakar setelah seorang pengebom bunuhdiri meledakkan bomnya di luar gedung pengadilan di Peshawar, Pakistan, Senin (7/12). Pengeboman itu merenggut sejumlah korban tewas dan cedera dan aksi itu makin mencemaskan bahwa ancaman kaum militan makin meningkat terhadap Pakistan, negara nuklir dan sekutu AS itu.

AS Segera Lancarkan Usaha Baru Untuk Tangkap Osama WASHINGTON, AS (Antara/AFP): Amerika Serikat segera melancarkan usaha baru untuk menangkap Osama bin Laden yang diperkirakan bersembunyi di gununggunung sepanjang perbatasan AfghanistanPakistan, kata seorang pejabat senior AS. Laporan-laporan intelijen memperkirakan pemimpin Al Qaida itu kadang-kadang di Waziristan Utara, kadang-kadang di dalam perbatasan Pakistan, kadang-kadang di Afghanistan,” kata penasehat keamanan nasional James Jones Minggu (6/12). Ketika ditanya apakah pemerintah Barack Obama merencanakan satu usaha baru untuk mengejar pemimpin Al Qaida itu, Jones mengatakan: “Saya kira

begitu.” Osama adalah satu“simbol penting yang dipertahankan al Qaida “ dan yakin dia sedang dikejar atau ditangkap, kata Jones, yang mantan jenderal Marinir pada acara program State of Union stasiun televisi CNN. Komentarnya bahwa Osama kadang-kadang memasuki Afghanistan dari perbatasan yang bergunung-gunung bertentangan dengan perkiraan sebelumnya dari para pejabat AS yang menduga pemimpin al Qaida itu bersembunyi di Pakistan. Kendatipun berikrar untuk menangkap Osama, Menteri PertahananRobertGates,Minggu mengatakan badan-badan intelijen tidak tahu di mana pemimpin al Qaida itu berada dan informasi dari sumber yang layak dipercayatidakmemadaimengenai keberadaannya dalam beberapa tahun. “Kami tidak tahu di mana Osama bin Laden berada. Jika kami tahu, kami akan mengejar dan menangkap dia,” kata Gates, mantan direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) itu dalam program

This Week stasiun televisi ABC. Pemimpin jaringan al Qaida itu dianggap sebagai otak serangan 11 September 2001 di New York dan Washington yang menewaskanhampir3.000orang. Para pejabat pemerintah AS menyebut Osama bin Laden dan jaringan al Qaida sebagai tersangka utama dalam serangan itu dan menawarkan hadiah AS$50 juta bagi siapa yang dapat memberikan informasi sampai ia tertangkap hidup atau mati, tetapi lebih dari delapan tahun Osama masih juga belum ditangkap. Menteri Luar Negeri AS HillaryClinton,Minggumengatakan penting untuk menangkap atau membunuh Osama dan para tokoh lain al Qaida tetapi mengemukakan kepada stasiun televisi NBC bahwa “anda tentu dapat membuat kemajuan besar dengan tidak adanya dia.” Satu laporan Senat yang disiarkan pekan lalu mengatakan Osama ‘berada dalam genggaman’ pasukan AS akhir tahun 2001 di Afghanistan tetapi lepas karena menteri pertahanan Donald

Pemilihan Rumania, Basescu Menangkan Pemilihan Presiden BUCHAREST, Rumania (AP): Presiden lama Rumania Traian Basescu memenangkan pemilihan babak kedua kepresidenan, hasil itu dilaporkan pada saat mendekati akhir penghitungan suara runoff dalam pemilihan final dengan harapan akan mendorong negara itu keluar dari krisis politik dan ekonomi terburuknya dalam 20 tahun. Dengan 95,7 persen suara yang telah terhitung, pihak berwenang dalam pemilihan tersebut mengatakan tokoh sentris Basescu meraih 50,43 persen pemilihan, sementara

mantan menteri luar negeri Mircea Geoana menerima 49,57 persen. Baik Basescu dan Geoana menyatakan kemenangan mereka Minggu malam setelah tempat pemungutan suara ditutup. Tiga pintu gerbang memberikan Geoana — seorang tokoh Sosialis , memperoleh keunggulan tipis. Geoana, seorang pemimpin Partai Demokrat Sosial yang telah mencap sendiri dirinya sebagai seorang tokoh pemersatu dan pembina tim, yang menyatakan dirinya sendiri sebagai pemenang Minggu. Namun

Basescu menyatakan hasil penghitungan suara deseptif. “Anda akan melihat manipulasi di beberapa stasiun televisi ... Hari ini anda mempercayai saya penuh ketika saya menyatakan pada anda saya menang,” katanya. Belum ada reaksi segera Senin dinihari terhadap hasil-hasil resmi bahwa nampaknya mengubah ramalan tentang opini masyarakat terhadap pemilihan itu. Basescu, 58, terlihat popularitasnya merosot tahun ini karena jatuhnya perekonomian. (m07)

Rumsfeld saat itu menolak meminta pasukan bantuan. Dalam mengumumkan penambahan 30.000 tentara di Afghanistan, Obama dan para deputinya memperkirakan Taliban bekerjasama dengan jaringan Osama dan karena itu mengalahkan pemberontak Afghanistanadalahpentinguntuk mengalahkan al Qaida. Pemerintah itu memperingatkan bahwa kemenanganTaliban di Afghanistan dapat menggoyahkan Pakistan tetangganya yang memiliki senjata nuklir. Washington mendesak IslamabadhancurkanpangkalanTaliban dan Al Qaida di dalam wilayahnya dan para pejabat penting AS , Ahad memuji Pakistan karena melancarkan serangan militer terhadap para gerilyawan. Washington meningkatkan serangan udara terhadap para pemimpin Al Qaida di Pakistan dengan menggunakan pesawat tanpa pilot, satu operasi yang para

pejabat AS tolak bicarakan secara terbuka. Suratkabar The New York Times pekan lalu memberitakan bahwa Gedung Putih telah memberikan wewenang kepada Badan Intelijen Pusat AS (CIA) untuk memperluas seranganserangan udara di Pakistan untuk mengimbangi strategi perang Obama di Afghanistan. Para pejabat AS juga telah berunding dengan Islamabad tentang penggunaan pesawatpesawatkecilituuntukmelakukan serangan di Baluchistan— satu daerah luas di luar daerah-daerah suku yang berbatasan dengan dengan Afghanistan dan Iran — tempat para pemimpin Taliban dilaporkan bersembunyi, kata surat kabar itu. Gates, Minggu mengatakan pasukan AS tidak akan mengejar para pemimpin Taliban di Pakistan dan itu terserah kepada militerPakistanuntukmenangani para gerilyawan itu.

Pemimpin Junta Guinea Yang Cedera Tidak Dapat Berbicara CONAKRY, Guinea (AP): Orang kuat militer Guinea, yang dilarikan ke satu rumah sakit di Maroko setelah mengalami cedera dalam usaha pembunuhan atas dirinya, kini tidak dapat berbicara dan kemungkinan segera kembali ke negaranya, demikian menurut dua pejabat senior pemerintah Senin (7/12). Masa depan negara Afrika yang kaya bauksit itu nampaknya tidak menentu ketika kesehatan Kapt. Moussa ‘Dadis’ Camara — pemimpinnya yang selamat dari satu usaha pembunuhan, yang mengambil alih kekuasaan dalam satu kudeta tahun lalu. Menteri Perhubungan Idrissa Cherif mengatakan dia tidak tahu apakah ‘bossnya akan kembali Senin, Selasa, Rabu atau kapan,” bertentangan dengan media Guinea yang melaporkan bahwa sang pemimpin akan kembali secepatnya. Cherif mengatakan kepulangan Camara “terserah pada para dokternya.” Dia terus menyatakan Camara ‘mencatat kemajuan’ dan telah melanjutkan fungsinya dari tempat tidurnya di rumah sakit militer Maroko di Rabat.Namun Menlu Guinea Alexandre Cece Loua mengatakan kepada radio RFI dari Prancis Senin bahwa Camara tidak dapat berbicara. “Saya lihat Presiden Dadis Camara. Dia mengenali semua anggota rombongan yang mendampinginya,” kata Loua dari Rabat. “Dia belum berkomunikasi.” Loua tidak mengatakan bila Camara dapat kembali ke Guinea.(m07)

SHARIFF AGUAK, Filipina (AP): Kelompok bersenjata — yang setia pada klan kuat yang dituduh melakukan pembantaian politik terburuk di Filipina — telah bentrok dengan polisi dalam aksi kekerasan pertama yang dilaporkan sejak UU Darurat Militer diberlakukan di daerah selatan. Tidak ada korban dilaporkan dan para perunding pemerintah berusaha untuk mendesak kira-kira 2.400 kelompok bersenjata agar menyerah dengan damai guna menghindari pertumpahan darah yang akan mengorbankan warga sipil, demikian menurut Menteri Dalam Negeri Ronaldo Puno kepada para wartawan di Manila. Kira-kira 20-30 pengikut klan Ampatuan yang dilengkapi senjata — tersangka utama dalam pembantaian 23 November lalu yang menewaskan 57 orang yang sedang melakukan penjalanan dalam iring-iringan pemilihan rival klan Ampatuan — melepaskan tembakan ke arah satuan komando polisi Minggu malam pada saat mereka melakukan patroli di kota Datu Unsay, dekat lokasi pembantaian itu, demikian kata Kepala Polisi Nasional Jesus Verzosa. Para penyerang kemudian menarik diri setelah dua kendaraan angkut militer yang membawa sejumlah tentara untuk membela mereka, telah dikirim untuk memukul mundur mereka, kata Verzosa. Dia mengatakan para penyerang merupakan bagian dari lebih dari 2.400 pria bersenjata yang telah menghimpun massa di 16 dari 36 kota kecil Maguindanao untuk membela klan Ampatuan 36, yang telah berkuasa di

provinsi itu tanpa tandingan. Hindari pertumpahan darah Para perunding pemerintah berusaha untuk meyakinkan kelompok bersenjata — pendukung pimpinan klan utama di provinsi Maguindanao — agar menyerahkan diri guna menghindari pertumpahan darah yang dapat mengorbankan rakyat sipil, demikian menurut Kepala Polisi Nasional Jesus Verzosa Senin. “Jika mereka tidak melakukan itu, kami akan mencari mereka,” tambah Verzosa di depan para wartawan asing di Manila, ibukota Filipina. Krisis terakhir yang mengguncang pemerintah Presiden Gloria Macapagal Arroyo itu dimulai 23 November, ketika satu iring-iringan yang dipimpin seorang politisi saingan ditahan oleh kira-kira 100 orang bersenjata yang dipimpin oleh Walikota Datu Unsay Andal Ampatuan Jr. Sebanyak 57 orang yang ikut dalam iringiringan itu, termasuk 30 wartawan dibunuh dengan senapan, golok dan alat berat. Ampatuan, yang ditahan di Manila, telah dihadapkan pada tuduhan berlapis sehubungan dengan pembunuhan para anggota klan lainnya. Para jaksa penuntut hukum juga berencana untuk mengajukan tuduhan pemberontakan terhadap pimpinan klan itu dan lebih dari 20 orang lainnya Selasa, kata Menteri Kehakiman Agnes Devanadera. Klan Ampatuan telah berkuasa dengan tangan besi selama beberapa tahun di provinsi itu dan memiliki satu tentara swasta yang bejumlah besar. Mereka dianggap oleh banyak orang yang tak tersentuh hukum karena persekutuan politik mereka dengan Presiden Gloria Macapagal Arroyo. (m07)

Polisi Bentrok Dengan Ribuan Demonstran Iran TEHERAN, Iran (AP): Para saksimata mengatakan pasukan keamanan dan militan propemerintah yang dilengkapi perisai dan gas airmata terlibat bentrokan dengan ribuan demonstran oposisi yang melakukan aksi unjuk rasa di luar Universitas Teheran. Saksimata mengatakan milisi Basij tanpa ragu masuk ke tengah kerumunan demonstran, memukuli kepala dan bahu demonstran pria dan wanita dengan menggunakan pentungan, sementara pasukan keamanan menembakkan gas airmata. Ribuan pasukan keamanan mengepung universitas sebelum dimulainya aksi protes yang diserukan para mahasiswa pro-reformasi Senin (7/12). Belum diketahui apakah para demonstran bubar di dalam kampus karena pihak berwenang telah mengambil langkah dramatik untuk mengurung mereka di dalam kampus, memutus hubungan telefon selular di kawasan perguruan tinggi tersebut dan menutup gerbang dengan spanduk.

Polisi dikerahkan di sekitar Universitas Teheran untuk mencegah rencana protes terhadap Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pada saat Iran memperingati Hari Mahasiswa tahunan Senin, kata para saksimata. “Polisi juga menutup jalan menuju Universitas Teheran,” kata seorang saksimata. Hari Mahasiswa diperingati untuk mengenang pembunuhan tiga mahasiswa pada 1953 oleh pasukan shah Iran, hanya beberapa bulan setelah perdana menteri Iran yang populer, Mohammad Mossadeq ditumbangkan dengan dukungan AS. Peringatan tahun ini diperkirakan akan digunakan oleh para pendukung pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi melakukan demonstrasi menentang Ahmadinejad. Kelompok opisisi menolak Ahmadinejad terpilih kembali pada pemilihan presiden 12 Juni, dan mengatakan bahwa pilpres tersebut penuh dengan kecurangan agar dia kembali berkuasa.(m07)

Ledakan Di Luar Sekolah Dasar Irak, 8 Orang Tewas BAGHDAD, Irak (AP): Satu ledakan di luar satu sekolah dasar di satu distrik Syiah di Baghdad, Irak, menewaskan delapan orang Senin (7/12), ketika para pejabat Irak mempertimbangkan untuk menangguhkan pemilihan umum sampai sekurang-kurangnya Februari mendatang. Ledakan itu terjadi di Sadr City, di mana serangan-serangan berskala besar telah terjadi karena pengamanan yang ketat dilakukan pasukan Amerika Serikat dan Irak dan pengawal daerah tetangganya sendiri. Polisi dan saksimata memberikan informasi yang saling bertentangan mengenai apakah ledakan itu disebabkan bom atau roket atau ledakan tumpukan senjata. Di antara korban tewas terdapat enam anakanak antara 6 sampai 12 tahun dan 41 orag lainnya cedera, kata para pejabat dari kantor polisi dan Kementerian Dalam Negeri. Duapuluh lima anak termasuk di antara korban cedera, pejabat dua rumah sakit mengatakan. Ledakan itu meruntuhkan sebagian beton atas dinding bagian depan dari sekolah itu, yang

mengakibatkan timbulnya satu lubang yang dengan cepat diisi dengan air berlumpur. Di bagian dalam sekurang-kurangnya ada satu ruang kelas, jendela di mana terjadi ledakan itu dan kepingan kaca bertburan di atas meja belajar. Ceceran darah bertaburan di meja kayu dan buku-buku. Banyak tas para pelajar terlempar tak menentu di ruang kelas. Sadr City adalah tempat tinggal bagi kirakira 2,5 juta kaum Syiah dan merupakan salah satu kubu paling kuat bagi ulama anti-Amerika Muqtada al-Sadr. Pada tahun 2008, militan Syiah di sana menghujani roket ke Zona Hijau dalam satu pertempuran besar di kota tersebut. Perintah Al-Sadr kepada para milisinya agar hentikan penembakan dianggap oleh militer AS sebagai faktor penting dalam menurunkan aksi kekerasan di seluruh Irak. Para pejabat militer Irak dan AS menegaskan tentang kemungkinan kebangkitan baru serangan yang bertujuan mengacaukan pemerintah sebelum pemilihan umum tahun depan. (m07)

Waspada Selasa 8 Desember 2009  

Waspada Daily

Waspada Selasa 8 Desember 2009  

Waspada Daily