Issuu on Google+

SKETSA KEHIDUPAN

www.wartamadani.com

SERI KISAH, “Kiai Cilik dan Santri Cungkring “

S

Amanah Rakyat

UNGGUH alangkah malangnya seseorang yang ditempatkan Tuhan pada posisi yang tinggi dan terhormat menjadi wakil rakyat serta dekat dengan Tuhan-Nya dan permohonannya cepat dikabulkan-Nya. Namun ia mengingkari posisi yang diberikan hingga jatuh pada posisi yang rendah dan hina, hingga Tuhanpun enggan mendekatinya. Lebih malangnya lagi, bila orang ini justru semakin senang dan gemberi melambaikan tangan, memakai krudung dan peci, bersumpah demi alQur'an dan tersenyum bahagia di depan

umum. Kiai Cilik mencoba intropeksi diri dan kondisi negeri melihat tayangan berita yang tidak jauh dari urusan amanah dan ta n g g u n g j awa b . “ L e b i h m u d a h membangun gedung-gedung bertingkat, daripada membangun kepercayaan,” tuturnya *** “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal/8: 27)

Buta Mata Hati

D

UNIA memberikan beragam kenikmatan yang nampak. Mata dapat melihatnya, telinga mampu mendengarknya, mulut bisa melantunkan kenikmatan tersebut. Namun terkadang seseorang buta terhadap hakekat kenikmatan itu. Ia mengekspolitasi alam, melakukan gratifikasi dan korupsi serta tidak tahu tanda-tanda kekuasaan Tuhan. “Alangkah baiknya mata ini buta. Dari pada hati menjadi buta di dunia, karena ia akan menjadi buta selamanya di akhirat.” Tutur Kiai Cilik kepada Santri Cungkring saat perjamuan makan siang. Berhati-hatilah bagi siapa yang

Edisi: 7/II/2014

Oleh: KH. Ubaidillah Shodaqoh (Pengasuh Pondok Pesatren Al-Itqon Bugen Semarang) Ada syarat lain yang lebih menentukan keberhasilan seseorang, syarat itu adalah kesabaran dan keikhlasan. Karena keduanya kawan lama kemenangan

Present By: KOMUNITAS CAHAYA

Badan Wakaf Nusantara LAYANAN JEMPUT ZAKAT

menjadikan dirinya buta hatinya. Indera yang ada pada dirimu merupakan tali temali yang mengikat hatimu. Jangan terperdaya oleh mata yang memandang kenikmatan dan jangan terasuki oleh telinga yang mendegar. Maka jagalah hatimu supaya ia tidak buta di dunia, sungguh amat menyesal jika ia buta di dunia, lantaran ia akan buta selamanya di akhirat. *** “dan Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra'/17: 72)

Newton dan Bah di Negeri Bilqis

Bagi para MUZAKI yang ingin (Zakat, Sedekah, Infak, dan Wakaf) bisa mensalurkan amal ibadahnya. Segera Hubungi: Agus Munif (0852 9331 2474) Zainul Muttaqin (0856 4263 7662)

“ lang zal ze leven... lang zal ze leven... lang zal ze leven in de gloria.... in de gloria.... in de gloria..... “

L

AGU gembira yang diakhiri dengan tepuk tangan riuh dalam naungan aula angker warisan Belanda itu terekam kuat dalam memoriku. Setidaknya satu tahun sekali selama tiga tahun di SMA, lagu itu dinyanyikan bersama pada acara ulang tahun SMA. Uniknya dipimpin oleh sosok yang sudah sangat uzur, guru warisan didikan Belanda yang bernama Meester Susilo. Kalimat “haqqul yaqin, ainul yaqin“ ringan sekali meluncur dari meester guru susilo ketika menerangkan p e l a j a ra n f i s i ka . “Hukum N e w t o n ke t i ga mengungkapkan bahwa, aksi sama dengan reaksi. Ini sudah haqqul yaqin.“ Demikian bahasa beliau ketika menerangkan teori fisika, dan kerapkali melirik pada bangkuku ketika berkata haqqul yaqin karena beliau tahu saya sebagai Rohis yang sering mengurusi kegiatan keagamaan (bukan doktrinasi fundamentalis lo..). “Aksi sama dengan reaksi, engkau berubah Aku (Allah) merubah, engkau sembrono Aku kasih celaka, engkau mereklamasi pantai Aku kasih ombak yang liar, engkau tebang pohon sembarangan dan engkau kepras bukit Aku kasih banjir dan longsor.” Begitulah maksud wahyu apabila dikontekkan dengan situasi bencana yang sering terjadi saat ini.

KOMUNITAS CAHAYA (Lembaga Pengabdian dan Kajian Sosial Budaya) Tim Redaksi: Lukni, Munif, Zainul, dan Ambar

Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang Email: scienamadani@gmail.com Web: www.wartamadani.com Sms Center: 085641957127


www.nikmart.blogspot.com

GP Ansor Banjardowo

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang telah ada pada suatu kaum, ( tidak akan mengambil kenikmatan yang telah diberikan pada suatu kaum), sehingga kaum tersebut merubah apa yang ada pada diri mereka, (dari kebiasaan hidup yang baik menjadi kemaksiatan, kerakusan, merusak alam) . Dan ketika Allah menghendaki keburukan (siksa) pada suatu kaum maka tidak ada yang mampu menolaknya kecuali Allah swt�. (QS . Ar-Ra'd 11, Jalalain) Dalil tersebut sering digunakan terbalik oleh para penda'i dan para motifator tanpa m e l i h a t ko n t e k ay a t ny a . M e r e ka memahami bahwa siapa yang tidak merubah dirinya dengan bekerja keras maka akan tetap dalam keadaan miskin, fakir dlsb.. Penggalan ayat yang tidak utuh atau memahami ayat tanpa siaq (rangkaian kalimat dan ayat sebelum dan sesudahnya) dan asbab al-nuzul sering membuat ke s a l a h p a h a m a n y a n g m e n d a s a r. B a ra n g ka l i d e n ga n d a l i h m af h u m mukholafah (pemahaman terbalik) atau aks al-mustawa (dalam istilah mantiqnya) kita dapat memahami ayat tersebut sebagaimana maksud para motivator, namun pemahaman selanjutnya akan sangat rancu dan jauh dari maksud ayat tsb yaitu sebagai tanbih (peringatan) bagi masyarakat dan penggede-penggede yang

berbuat kemaksiatan, kerusakan. Nyiur hijau kini tak lagi melambailambai, tapi mobat-mabit diterpa badai yang dahsyat. Padipun sekarang enggan mengembang dan tak sampai menguning karena terendam banjir yang menerjang. Tiada lagi burung yang bernyanyi gembira, tapi menangis tak ada lagi ranting yang dihinggapi dan teracuni pestisida pada buah yang dimakannya. Tanah airku, tumpah darahku kini telah dieksploitasi dengan rakus. Telah dijual untuk membeli tahta, harta , wanita dan gaya hidup. Maklum apabila kita khawatir tidak lagi dido'akan dan ditahlilkan anak cucu kita manakala telah berkalang tanah. Bukan karena provokasi bodoh orang yang mengharamkannya, tapi karena mereka dendam dengan kita sebab kita telah merusak dan menghabiskan harta yang semestinya menjadi warisan untuk mereka. Nauzubillah. Pukolon.......pukolon. Bumi gonjang-ganjing kelap-kelap katon...OOOOO Apa gerangan yang kita makan, aspal kah, batu kah, pasir kah, atau bahkan daging-daging simiskin yang telah kita korupsi bagiannya. Atau bahkan engkau minum darah dan keringat para buruh yang engkau upah tanpa semestinya. Hingga keluar kelakuan rakus yang tak terkendalikan.

Kita cetak berjuta-juta mushaf al-Qur'an tapi kitapun sombong meski mata kita rabun, membaca tanpa kacamata. Kacamata tafsir para ulama pujangga sufi terdahulu. Apakah kisah negeri Saba' telah dihapus dalam mushafmu? sudah hilangkah ayat (Saba': 15-17)

Dahulu kala, negeri saba' memiliki danau, yang dibangun oleh dua belas Nabi. Sungguh makmurnya negeri ini, Seorang wanita cukup mengadahkan keranjangnya di bawah pohon yang berbuah. Tanpa harus memetik buahnyapun memenuhi keranjang karena sangat lebatnya. Dua kebun yang subur dialiri dari danau yang pemurah itu. Tanaman apapun dari gandum sampai buah-buahan tumbuh subur dengan panen yang melimpah. Taman-taman dan bunga yang mekar semerbak. Tak kurang suatu apapun ttg rizki dan makanan kaumnya. Begitu ilustrasi dalam tafsir. Sehingga dijuluki Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur dalam alQur'an. Danau tersebut adalah danau Arim ( Sad Ma'rib, tiga marhalah dari Shon'a).

tidak hidup di Saba' karena kebersihan dan cuaca yang sangat bagus. Namun karena mereka melanggar aturan utusan Allah Swt dengan berbuat maksiat dan kerusakan, merubah sesembahannya menjadi matahari (sebagaimana cerita burung Hud-hud nabi Sulaiman As) maka Allah Swt mengutus Jaradz (semacam kutu atau belalang) untuk melobangi bendungan t e rs e b u t . A k h i r nya a m b ro l l a h b e n d u n g a n i t u d a n memporakporandakan negeri nenek moyang ratu nan cantik dan anggun Bilqis taklukan Nabi Sulaiman As. Tinggallah pohon berduri dan pahit yang dapat tumbuh di negeri itu. Aku ingat paparan Dr. Nilwan, ahli dan peneliti lingkungan dari UNDIP dalam kesempatan bahtsu al-masa'il ( Pondok Pesantren Dar al-Falakh asuhan KH. Kholil Jepara, 4 R. Awal 1435). Dia katakan bahwa, “Bukit, hutan dan gunung dengan tanamannya adalah waduk yang paling aman untuk menyimpan persediaan air. Jangan bangun waduk baru, sebab apabila engkau tidak bersyukur dan uang perawatan engkau korup, maka bom waktulah yang bakal meledak sewaktu waktu.� Kembalilah dan kembalilah. Bugen, 16 R.Awal 1435.

Bahkan, nyamuk, kutu dan lalatpun

Karena cinta duri menjadi mawar Karena cinta cuka menjelma anggur segar - Jalaludin Rumi -


Edisi 7