Issuu on Google+

LIPUTAN KONSER PAT METHENY DARI MOSAIC MUSIC FESTIVAL 2006

Edisi PDF - Nomor 001 Tahun 2006

CONCERT REVIEW

Yellowjackets, Jazz Merdeka Surabaya Jazz In The City

CD REVIEW

Yellowjackets - Club Nocturne, Lica Cecato & Romero Lubambo Sugeng Sarjadi - Talking To You Simak Dialog - Patahan Jazz Masa Kini

Sajian Khusus Dji Sam Soe Super Premium FOURPLAY & YELLOWJACKETS Tour Indonesia 2007


Contents

#01

October 2006

03

NEWS 03

17 an di Bandung Jazz Merdeka : Gelar Karya Anak Bangsa

04 17-an di Bandung

Surabaya Jazz in the City Festival 2006

Jazz Merdeka : Gelar Karya Anak Bangsa

PROFIL

THE YELLOWJACKETS

11

The Yellow Jackets Bentukkan dari “band didalam band”

Bentukan dari “band didalam band” Sekali anda memilih sebuah nama, anda terperangkap dengannya, maka inilah pria dewasa yang bermain dalam band bernama "Yellowjackets"...

11

Jazz Masa Kini : The New Wave of Indonesian Jazz

RESENSI 06 09

“TALKING TO YOU” JAZZ RENYAH, ADEM & KONTEMPLATIF

10

LICA CECATO & ROMERO LUBAMBO - LIVE IN EUROPE

14

06

Ekonom Soegeng Sarjadi bertemu gitaris Denny Chasmala

Seven Music / Sony

Aksara Records Sebuah dokumentasi karya pemusikpemusik jazz muda Indonesia telah lahir. Adalah Aksara Record yang punya gawe merilis sebuah album berjudul “Jazz Masa Kini, The New Wave of Indonesian Jazz.”

Jazz Masa Kini : The New Wave of Indonesian Jazz Aksara Records

YELLOWJACKETS - CLUB NOCTURNE Warner Brothers

15

Simak Dialog - Patahan Ragadi Music

16 18 20 21 17

Sorot Web Galeri CD Store Gadget Merchandise


INTRO Halo, Mungkin bagi anda yang terbiasa membaca edisi online kami di www.wartajazz.com bertanya-tanya mengapa kami menyediakan edisi pdf. Sederhana saja, banyak materi yang kami sediakan, seringkali tidak dapat dinikmati, karena memang edisi web memiliki beberapa keterbatasan seperti bentuk layout yang memang harus menyesuaikan dengan format web yang berbeda dengan format majalah pada umumnya.

EDITORIAL TEAM AGUS SETIAWAN B CONTRIBUTOR agus@wartajazz.net KUSHINDARTO CONTRIBUTOR darto@wartajazz.net ROULLANDI N. SIREGAR CONTRIBUTOR andi@wartajazz.net ARIEF KUSBANDONO CONTRIBUTOR bandono132@yahoo

Edisi pdf ini menjadi jembatan sebelum kami masuk dalam edisi cetak yang tentunya membutuhkan pembiayaan. Sebagai edisi perdana, tentu masih banyak yang harus disempurnakan disana-sini.

DWI RATNA N (NANA) CONTRIBUTOR nana@wartajazz.net

Oleh karenanya, kami membuka pintu seluas-luasnya untuk komentar dan kritik anda para pembaca.

SIRKULASI/IKLAN/KONTAK

Selamat menikmati edisi perdana kami. Salam Jazz!

Redaksi WartaJazz

Jl. Tebet Utara 3D No. 11 Jakarta Selatan p/f. 021.8310769 http://www.wartajazz.com


Oleh Diana Bachtiar/WartaJazz.com

Awal Mula

P

ada tahun 1977, Robben Ford membentuk sebuah grup yang terdiri dari musisi-musisi veteran untuk merekam sebuah album berjudul "The Inside Story". Ketiga musisi yang terdiri dari seorang pemain keyboard Russel Ferrante, bassis Jimmy haslip, dan drummer, Ricky Lawson, segera menemukan kesamaan secara kimia dan musik sehingga membawa mereka ke formasi Yellowjackets.

Sekali anda memilih sebuah nama, anda terperangkap dengannya, maka inilah kami, 16 tahun kemudian, pria dewasa yang bermain dalam band bernama "Yellowjackets"...

Bentukkan dari “band didalam band�

The YellowJackets

Album Inside Story yang lebih mengarah ke instrumen, sedangkan label rekaman Robben Ford menginginkan album yang lebih ke arah pop dan berorientasi pada suara. Grup yang lebih dikenal sebagai grup Robben Ford ini lebih memilih tetap pada instrumental sehingga akhirnya terbentuklah "band di dalam band", dengan diterimanya demo rekaman gitar digital Robben Ford oleh Warner Bross, maka lahirlah Yelowjackets. Kontribusi Robben sebagai artis tamu terus berkurang selama beberapa tahun namun membuahkan kesuksesan bagi Yellowjackets. Album pertama mereka membuat gelombang serius pada radio jazz dan mendapat berbagai sambutan publik serta kritik. Bayangan A Trois mengikuti langkah mereka. Saat mereka mencoba mengisi kekosongan dengan menawarkan proyek lain, mereka merubah formasi mereka dengan bergabungnya seorang pemain perkusi, Paulinho Da Costa dan vokalis utama, sang saksofonis Marc Russo untuk mengikuti Playboy Jazz Festival tahun 1984. Konser penting ini membuka jalan kesuksesan mereka baik pada grafik Billboard Jazz maupun pada konser-konser di seluruh dunia. Hasilnya terlihat pada album ketiga Yellowjackets, Samurai Samba. Pada tahun 1986 mereka pindah ke MCA Record untuk merekam Shades, judul sebuah lagu yang ditulis oleh Donald Fagen sebagai penghormatan akan banyak "shades" yang ia


The Yellow Jackets dengar dari grup musik. Dengan album Four Corners, Ricky Lawson meninggalkan Yellowjackets untuk mengikuti tur band Lionel Richie. Posisinya digantikan oleh sang ahli William Kennedy. Barisan rock yang kuat membawa Yellowjackets ke daerah baru, menjelajahi rute dunia dan populasi dunia tarik suara yang padat kemudian pada akhirnya mencerminkan kedewasaan pada musik mereka. Politics, yang dilepas setelah Four Corners, merdu terdengar. Yellow Jackets kemudian meninggalkan elemen elektronik dan mulai mengunakan musik akustik. Rekaman terakhir Marc Russo dengan Yellowjackets, The spin, direkam di Oslo, Norway oleh ahli terkemuka Jan Erik Kongshaug (terkenal dengan pekerjaannya pada ECM label). Mereka membuktikan bahwa mereka dapat memainkan jazz akustik dengan sangat baik.

G

reenhouse mengantarkan ke sebuah era baru. Dengan kepergian Marc, ketiga personil Yellowjackets mencoba merekam sebuah album perjalanan panjang mereka, dengan menampilkan band besar ace dan saksofon Bob Mintzer pada beberapa lagu serta rangkaian iringan pada lagu lainnya. Tidak lama setelah itu, Bob Mintzer menjadi anggota khusus Yellowjackets. Mereka juga terlibat pada sebuah proyek album dibawah label DMP, Bob Mintzer, One Music. Wires menggabungkan permainan mereka pada konser dengan Mintzer sebagai pemimpin. Kedua album setelahnya, Like A River dan Run For Your Life, menggambarkan ketertarikan yang tajam pada jazz akustik.


dengar dari grup musik. Dengan album Four Corners, Ricky Lawson meninggalkan Yellowjackets untuk mengikuti tur band Lionel Richie. Posisinya digantikan oleh sang ahli William Kennedy. Barisan rock yang kuat membawa Yellowjackets ke daerah baru, menjelajahi rute dunia dan populasi dunia tarik suara yang padat kemudian pada akhirnya mencerminkan kedewasaan pada musik mereka. Politics, yang dilepas setelah Four Corners, merdu terdengar. Yellow Jackets kemudian meninggalkan elemen elektronik dan mulai mengunakan musik akustik. Rekaman terakhir Marc Russo dengan Yellowjackets, The spin, direkam di Oslo, Norway oleh ahli terkemuka Jan Erik Kongshaug (terkenal dengan pekerjaannya pada ECM label). Mereka membuktikan bahwa mereka dapat memainkan jazz akustik dengan sangat baik.

G

reenhouse mengantarkan ke sebuah era baru. Dengan kepergian Marc, ketiga personil Yellowjackets mencoba merekam sebuah album perjalanan panjang mereka, dengan menampilkan band besar ace dan saksofon Bob Mintzer pada beberapa lagu serta rangkaian iringan pada lagu lainnya. Tidak lama setelah itu, Bob Mintzer menjadi anggota khusus Yellowjackets. Mereka juga terlibat pada sebuah proyek album dibawah label DMP, Bob Mintzer, One Music. Wires menggabungkan permainan mereka pada konser dengan Mintzer sebagai pemimpin. Kedua album setelahnya, Like A River dan Run For Your Life, menggambarkan ketertarikan yang tajam pada jazz akustik. Dengan Dreamland pada tahun 1995, Yellowjackets kembali pada label rekaman pertama mereka, Warner Brothers, dan memproduksi album [yang dianggap] terbaik sepanjang masa. Blue Hats lebih spontan dari pendahulunya, kaya musik dan sangat menunjukkan bagaimana Yellowjackets telah berperan sejak album pertama mereka yang terkenal.

Yellowjackets kembali pada label rekaman pertama mereka, Warner Brothers, dan memproduksi album [yang dianggap] terbaik sepanjang masa. Blue Hats lebih spontan dari pendahulunya, kaya musik dan sangat menunjukkan bagaimana Yellowjackets telah berperan sejak album pertama mereka yang terkenal. Club Nocturne, album studio rekaman terakhir mereka, menerima sebuah penghargaan untuk penampilan menarik dengan vokalis tamu Kurt Elling, Jonathan Butler dan Brenda Russel. Suara Yellowjackets saat ini sedikit mirip dengan Yellowjackets asli 15 tahun yang lalu pada saat pertama kali didengar, talenta yang tidak tersalahkan dari masing-masing individu yang terlibat didalamnya tetap memiliki tanda unik yang bersinar sebagaimana pengaturan musik mereka, baik itu perpaduan panas atau jaz akustik yang sedang berkembang. Dengan kata lain, musik mereka telah berkembang dan matang secara sadar, namun tidak ada kesalahan yang kita dengar.

Twenty Five

Samurai Samba

dan matang secara sadar, namun tidak ada kesalahan yang kita dengar. Wajah Baru Di awal tahun 1999, William Kenndy meninggalkan Yellowjackets untuk menjalankan minat lain. Kemudian. Peter Erskine bergabung pada tahun yang sama. Peter seperti kita tau, pernah bermain dengan Bob Mintzer dengan bigbandnya dan ensemble kecilnya, maka wajarlah ia menjadi bagian dari Yellowjackets. Sayangnya, Kepadatan jadwal Erskinne membuat konflik pada band, dan ia meninggalkan Yellowjackets di akhir tahun tanpa pernah membuat album rekaman bersama dengan grup. Kembalinya trio.

P

ada awal tahun 2000, Yellowjackets kembali bertiga, dengan Russel, Jimmy dan Bob menggunakan pemain drum berbeda, mereka pun melanjutkan tour sepanjang tahun. Dua dari pemain-pemain drum yang bersama mereka adalah Marcus Baylor dan Terri Lynn Carrington. Untuk tahun 2000, band juga mengalami perubahan pada manajemen dan sedang dalam tahap negosiasi dengan label rekaman baru.

Greenhouse

Penantian (dan penundaan) Jimmy untuk album solonya, Red Heat, dijanjikan akan diliris pada musim panas. Setelah Jackets menandatangani kontrak dengan label baru, maka

Run for Your Life


...RESENSI

Spirit of the West (Ferrante) / Stick to-It-I'veNess / Up from New Orleans (Mintzer) / The Evening News / Even the Pain / Love and Paris Rain / The Village Church / Twilight for Nancy / Automat / All Is Quiet

Russell Ferrante - Piano, Keyboards Jimmy Haslip - Bass Bob Mintzer - Sax (Soprano), Sax (Tenor) William Kennedy - Drums Brenda Russell - Vocals Jonathan Butler - Vocals, Vocals (bckgr) Kurt Elling - Vocals James Harrah - Guitar Munyungo Jackson - Percussion Richard Page - Vocals (bckgr)

YELLOWJACKETS - CLUB NOCTURNE Warner Brothers

Oleh Agus Setiawan Basuni/WartaJazz.com

S

etiap musisi jazz selalu tertantang untuk mencari hal baru. Seperti pendekatan yang dilakukan album ke 14, Yellowjackets bertitel Club Nocturne yang melibatkan sejumlah penyanyi seperti Kurt Elling, Brenda Russell dan Jonathan Butler. Nama yang disebut pertama, saat ini merupakan salah satu penyanyi Jazz papan atas dunia. Album ini juga penanda berakhirnya William Kennedy bertugas menggebuk beduk inggris mendampingi kelompok yang awalnya digagas oleh Robben Ford ini. Selepasnya, Marcus Baylor bergabung di album Mint Jam setelah

ditahun yang sama Yellowjackets merilis album the Best. Oh ya, sekedar catatan saja, ada dua drummer lain yang juga alumnus Yellowjackets yakni Ricky Lawson dan Peter Erskine. Apakah pembaharuan yang dilakukan Yellowjackets berhasil?, agak sulit menjawab jika anda tidak mendengar sejumlah album yang dirilis sebelumnya. Tapi mungkin meminjam istilah kritikus Jim Newsom, "..While obviously seeking to expand their appeal to a wider audience, they have managed to avoid compromising their high musical standards".


17 an di Bandung Jazz Merdeka : Gelar Karya Anak Bangsa "Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan ...," begitu kira-kira melodi "Hari Merdeka" yang keluar "tanpa lirik" dari tiupan saksofon Boyke P. Utomo. Boyke yang tampil dalam formasi Imam Pras Quartet (IPQ) juga tidak membawakannya sebagai mars, melainkan kuartet jazz akustik yang nge-swing. Oleh Arif Kusbandono/WartaJazz.com penyelenggaranya (KlabJazz - Bandung) dalam usahanya memasyarakatkan jazz. Maka, di tengahtengah diselipkan bagi-bagi wawasan dari Drs. Haryadi Suadi yang mengoleksi piringan hitam bersejarah dengan sekaligus mendata kisah musisi serta komposer Indonesia di awal abad 20. Ternyata kisah di belakang deretan nama seperti, Ismail Marzuki, Cornel Simanjuntak, Maladi, L. Manik, dll. bisa menjadi bahasan tersendiri. Secara musikal pun, apa yang dianggap lagu tua, ternyata adalah komposisi yang menyisakan banyak ruang untuk interpretasi dan bernilai historis dengan merekam situasi perjuangan saat itu.

M

alam itu pula, "Mengheningkan Cipta", yang biasa menjadi salah satu bagian upacara bendera, dibuka dengan hening duet sax - bass betot yang sebetulnya dalam improvisasi (proses mencipta) yang cerewet. Basis - drummer, Rudi dan Ari Aru juga mendominasi "Sepasang Mata Bola" dengan irama Afrika yang "ganjil". Betotan Rudi yang satu per satu itu memberikan nuansa purba, irama magis ritual suku-suku tua, dan ingatan lukisan dinding gua. Tomorrow People Ensemble (TPE) yang naik berikutnya juga memilih arransemen yang sama tak lazimnya untuk lagu-lagu yang digolongkan sebagai lagu perjuangan tersebut. Ambil saja sebagai contoh, "Selamat Datang Pahlawan Muda" yang rock and roll dan

"Nyiur Hijau" yang melambai-lambainya dicampuradukkan dengan Tsunami belakangan ini. Kali ini, mereka membawakan pula karyanya sendiri, seperti mainmainnya "Rubber Dukkie" dan "Freefall" yang melesat. Para senior yang tergabung dalam Jazz Masters: Benny Likumahua, Oele Pattiselanno, Idang Rasjidi tampil lebih kalem. Mereka membawa serta pula Eddy Syakroni (drums), basis muda asal Bogor: Agung, serta tamu musisi Sheila Majid: Aziz (saksofonis Malaysia yang belakangan tinggal & belajar di Bogor). Komposisi yang mereka 足"jazz-kan" di antaranya adalah "Indonesia Pusaka" dan "Biduk Kasih". Untuk vokal mereka mempercayakannya pada Margie Segers. Jazzphere@Artspace tahun ini parallel dengan perayaan kemerdekaan RI. Acara yang bertempat di Selasar Sunaryo Art Space ini juga sarat dengan muatan misi

bersejarah dengan sekaligus mendata kisah musisi serta komposer Indonesia di awal abad 20. Ternyata kisah di belakang deretan nama seperti, Ismail Marzuki, Cornel Simanjuntak, Maladi, L. Manik, dll. bisa menjadi bahasan tersendiri. Secara musikal pun, apa yang dianggap lagu tua, ternyata adalah komposisi yang menyisakan banyak ruang untuk interpretasi dan bernilai historis dengan merekam situasi perjuangan saat itu. Di lain hal, konser ini sekaligus menjadi perpisahan bagi anggota-anggota TPE lulusan IMD yang akan bersekolah di Belanda. Maka, untuk sementara waktu kita tidak akan melihat Nikita, Indra, dan Zulham. Dira Yulianti yang menjadi vokalis tamu IPQ agaknya bakal pergi juga untuk bergabung dengan Incognito di Eropa. Kabar lain buat yang hadir malam itu (18/08/'06) adalah rilis album IPQ yang memuat di antaranya nomer asyik "Fit & Proper Test". Sebenarnya pra-rilis album ini telah beredar pada Java Jazz Festival lalu. Namun, menurut Imam Pras mixing pra-rilis tersebut terlalu tergesa-gesa.


Surabaya Jazz in the City Festival 2006 "Sangat sulit untuk memilih dan mereka semua tampil luar biasa, mulai dari aliran fussion, funk, bob jazz sudah dimainkan semua, saya bangga melihat anak muda yang mulai tertarik dengan jazz" kata Elanda Yunita salah satu juri diacara kemarin.

S

angat disayangkan kalau Surabaya sepi dari musik jazz, kota yang pernah menjadi gudangnya musisi jazz ini Sabtu kemarin (18/9) tepat pukul 7 malam menggelar malam final 'Surabaya Jazz In The City Festival' yang dilangsungkan di Vista Sidewalk CafĂŠ, Garden Hotel Surabaya. Festival yang diselenggarakan oleh C-Two Six (komunitas jazz Surabaya) dan didukung Dji Sam Soe Premium Jazz mendapatkan respon dikalangan jazzlovers Surabaya. Ajang kompetisi musik jazz ini diikuti 10 peserta dari Surabaya maupun luar kota. "Ini adalah langgkah awal untuk menyelenggarakan festival yang lebih besar" kata cak Rudi dari C-Two Six. Selain itu festival ini untuk merangsang munculnya pemain-pemain jazz muda dan mengembalikan surabaya sebagai gudangnya musisi jazz . Di acara Surabaya Jazz In the City Festival, dewan juri yang terdiri dari Bubi Chen, Elanda Yunita (musisi jazz Jakarta) dan Dadang (dari komunitas jazz C Two Six) memilih 5 grup jazz yang lolos ke babak grand final yaitu Barakuda, Jazz Friend, B1 plus, Ovel Jazz Quartet dan New Orange. "Sangat sulit untuk memilih dan mereka semua tampil luar biasa, mulai dari aliran fussion, funk, bob jazz sudah dimainkan semua, saya bangga melihat anak muda yang mulai tertarik dengan jazz" kata Elanda Yunita salah satu juri diacara kemarin. Dewan Juri memutuskan untuk juara pertama yaitu Jazz Friend, juara kedua Barakuda, juara ketiga Ovel Jazz Quartet, juara keempat B1 plus dan juara kelima New Orange.Rencananya Surabaya Jazz In The City akan menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Setelah penentuan pemenang acara dilanjutkan dengan tampilnya bintang tamu Elanda Yunita (keyboard), Sue Bonnington (vokal) main bareng dengan Base Twenty. Jazz lover yang hadir pada malam itu sangat terpuaskan oleh penampilan kedua bintang tamu. Kontributor: Donny Lesmana/Surabaya (*/WartaJazz.com)


Jazz Masa Kini The New Wave of Indonesian Jazz Sebuah dokumentasi karya pemusik-pemusik jazz muda Indonesia telah lahir. Adalah Aksara Record yang punya gawe merilis sebuah album berjudul “Jazz Masa Kini, The New Wave of Indonesian Jazz.� Album kompilasi ini bertujuan untuk mengenalkan genre musik jazz yang eksis dan bertumbuh cepat di scene musik masa kini. Selain itu pihak label juga menyatakan album yang menampilkan aransemen dan instrumentation unik ini akan menjadi pemicu dan kendaraan tiap artis merilis sebuah album solo.

Oleh Roullandi N Siregar/WartaJazz.com


Indra Aziz – “Jakarta City Blues” Jakarta City Blues adalah komposisi accapela yang ditulis, diaransemen, dan dibawakan oleh Indra Aziz secara solo. Aziz mengisi semua suara dan pembagiannya pada lagu bernuansa blues yang menceritakan kemacetan dan polusi jalan di Jakarta saat ini. Pilihannya ini mengingatkan kita pada gaya Bobby McFerrin saat membawakan karyanya. Indra Aziz, vokalis kelahiran 3 September 1978 yang juga seorang saksofonis, mengawali karir musik profesionalnya semenjak tahun 2001 bersama Indra Aziz Quintet. Putra seniman Rosita Sanusi ini menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Trisakti dan kemudian belajar alto saksofon di Farabi dan mendalami vokal serta tenor saksofon di Institut Musik Daya selama 2 tahun. Pengalamannya di dunia big band berawal dari orkes Dwiki Dharmawan mendampingi pemain trumpet Didiet Maruto, lalu Daya Big Band di mana Ia bermain sebagai Tenor Saksofonis. Saat ini Aziz sibuk bermain bersama Opustre Big Band di berbagai acara selain sebagai vokalis dan saksofonis mengisi beberapa album rekaman, antara lain album Rieka Roeslan, Maliq n d’essentials, SOVA, dll. selain itu ia juga sedang mempersiapkan debut album solo. Shelomita and Opustre Big Band - “Payung Fantasi” Karya-karya Alm. Ismail Marzuki banyak menjadi ladang ide bagi musisi generasi sekarang untuk diolah kembali. Adalah Payung Fantasi yang menjadi pilihan vokalis Shelomita dan rekannya yang tergabung dalam band bernama Opustre. Kelompok ini mengaransemen ulang lagu yang pernah dipopulerkan oleh Alm. Bing Slamet itu dalam format mini big band. Musisi yang terlibat dalam lagu itu adalah Happy Wardhani (Trumpet), Leonardus Mulyanto (Alto Saxophone), Indra Aziz (Tenor Saxophone), Enggar Widodo (Trombone), Ricky Lionardi (Guitar), Adra Karim (Piano), Indra Perkasa (Bass) dan Elfa Zulhamsyah (Drums). Opustre adalah grup yang dimotori oleh Ricky Lionardi, Adra Karim, dan Indra Aziz. Seperti hal nya

Indra Aziz, kedua kolaborator Opustre merupakan musisi muda yang berdomisili di Jakarta. Ricky Lionardi, pria kelahiran 24 Agustus 1980 adalah seorang gitaris, komposer, dan arranger yang lulus sebagai magna cum laude pada tahun 2003 dari Berklee College of Music, Boston dengan jurusan Jazz Composition dan Guitar Performance. Ia berlaku sebagai konduktor, arranger, music director big band Opustre. Ia juga banyak mengerjakan film scoring dan memproduseri rekaman serta menulis aransemen untuk berbagai kebutuhan industri seperti Maliq n d’essentials, parkdrive, sova, Dian Pisesha. Kemudian, Adra Karim, adalah seorang pianis muda berbakat yang pernah mengemban pendidikan selama 1 tahun di Institut Musik Daya, Jakarta. Putra Niniek L. Kari ini menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2004 dan terus berkarya di bidang musik khususnya jazz. Saat ini, selain aktif di Opustre sebagai arranger, Adra juga bermain keyboard di dalam grup jazz muda Tomorrow People Ensemble dan bermain sebagai sessionis dalam berbagai grup termasuk grup pop rock Potret dan grup rock Getah. Opustre memiliki beragam bentuk formasi dari jazz trio, brass band, brass band + strings, hingga full big band. Kelompok ini memiliki misi melestarikan musik ensembel besar dan telah mengaransemen ulang cukup banyak lagu-lagu dari negeri sendiri dalam style jazz big band di antara lagu-lagu tersebut adalah lagu dari Dodo Zakaria, Ismail Marzuki, Pance Pondaag Sejak tahun 2003 Opustre telah melakukan beberapa penampilan yang melibatkan banyak penyanyi papan atas serta memiliki banyak aransemen orisinil dalam berbagai style, yang kebanyakan adalah jazz style, dari swing hingga latin jazz. Saat ini mereka sedang mengerjakan sebuah album big band bersama Shelomita yang rencananya akan dirilis tahun 2006. Lagu ‘Payung Fantasi’ ini dapat disebut sebagai bocoran rencana album tersebut.

...RESENSI


...RESENSI

: Indra Aziz “Jakarta City Blues” Shelomita and Opustre Big Band “Payung Fantasi” Bobb Quartet “Whatever Works” Imam Pras Quartet (IPQ) “Nature” Mian Tiara with Riza Arshad & Ricky Lionardi “Three Colours” Parkdrive “Mengenang Cinta”

Bobb Quartet – “Whatever Works” Merekalah Dion Janapria (Guitar), Doni Sundjoyo (Double Bass), Indra Aziz (Tenor Saxophone), dan Elfa Zulhamsjah (Drums) yang menjadi arsitek komposisi berjudul ‘Whatever Works”. Sekelompok pemusik jazz muda itu tergabung dalam grup yang dinamakan Bobb quartet. Janapria adalah gitaris lulusan sebuah konvensatori musik di Amsterdam, Belanda yang menulis komposisi tersebut. “Whatever Works” menjadi sample gaya permainan kontemporer jazz yang akan mereka kembangkan. Imam Pras Quartet (IPQ) – “Nature” ‘Nature’ adalah materi presentasi kelompok pemusik muda dari luar Ibu kota. Komposisi straight ahead jazz ini dibawakan oleh Imam Pras Quartet (IPQ). Formasi kelompok ini adalah Imam Pras (acoustic piano), Rudi ARU (double bass), Ari ARU (drum)\dan Boyke P. Utomo (Tenor Saxophone). IPQ dibentuk pada tahun 2004 di Bandung. Pada awalnya kelompok ini terbentuk dari kegiatan latihan dan diskusi jazz informal yang rutin diadakan setiap minggu di ARU studio jalan Riau Bandung yang diberi nama Lab Jazz ARU-Imam Pras. Imam Pras yang sangat produktif menghasilkan karya di IPQ banyak dipengaruhi oleh musik Herbie Hancock, Bill Evans, McCoy Tyner dan John Coltrane. Sedangkan Rudi ARU sangat menyukai permainan Ron Carter dan Gary Peacock, selain dipengaruhi oleh musisi rock seperti Iron Maiden dan Van Hallen. Lain lagi dengan Boyke P. Utomo yang menyukai permainan John Coltrane, Sonny Rollins, Joe Henderson, Michael Brecker, Bill Evans selain menyukai musik rock seperti Metallica, Dream Theater, Liquid Tension Experiment, Iron Maiden dan Van Hallen. Begitu pula dengan Ari ARU yang mengidolakan Jack de Johnette sebagai drummer idolanya, selain menyukai pula musik rock seperti kakaknya, Rudi ARU. Kelompok ini sering membawakan repertoir standard jazz, original composition, dan lagu-lagu yang tidak termasuk ke dalam kategori musik jazz, seperti pop, rock dan musik-musik tradisional Indonesia yang diaransemen ulang agar sesuai dengan format akustik jazz quartet melalui reharmonisasi chord dan rhythm. Beberapa repertoire non-jazz yang pernah dibawakan oleh IPQ di antaranya adalah beberapa

lagu karya Deep Purple, The Rolling Stones, Black Sabbath serta beberapa lagu karya musisi Indonesia seperti Bimbo, Guruh Soekarno Putra, Koes Ploes dan musisi Indonesia lainnya. Dengan konsep musik yang tidak melulu terpaku pada repertoire standard jazz, IPQ mencoba untuk membuka diri terhadap semua jenis musik, dengan harapan agar jazz akan semakin diapresiasi oleh berbagai kalangan dan tidak berkesan eksklusif. Mian Tiara with Riza Arshad & Ricky Lionardi - “Three Colours” Kolaborasi Mian Tiara Tobing dengan Riza Arshad kembali berlanjut. Setelah keduanya, plus gitaris Oele Pattiselanno, bekerja sama di album duet Riza-Oele, Talks, kini di Jazz Masa Kini, mereka mengajak gitaris lain menggubah sebuah lagu. Adalah gitaris Ricky Leonardi yang memproduksi lagu berjudul ‘Three Colours’ hasil karya Riza dan diberi lirik oleh peraih AMI Award 2003 untuk lirik lagu ‘Rumah Ketujuh’ itu. Lagu ini dilantunkan Tiara dengan nuansa folk jazz dari permainan akordeon Bugari Armando Riza dan petikan gitar Gibson Ricky. Seperti judul lagunya, tiga warna ketiga musisi itu berhasil memperkaya album kompilasi ini.

Parkdrive – “Mengenang Cinta” Kelompok Parkdrive sedang naik daun sejak pertengahan tahun 2005 lalu. Lagu mereka yang memiliki tingkat kompromi cukup besar pada pasar musik pop Indonesia dipilih satu untuk masuk ke dalam jajaran kompilasi album ini. Adalah “mengenang Cinta’ yang dianggap mempresentasikan grup yang dibentuk pada pertengahan tahun 2002 di Boston oleh Rayendra Sunito dan Juno Adhi, dua musisi yang tengah menimba ilmu di Berklee College of Music serta Mikuni Gani, sang vokalis. Selama kurang lebih dua tahun menggarap materi, visi mereka pun menyatu dan berkembang dengan sendirinya. Keinginan yang sama untuk berkarya dengan jujur, dan membuat suara yang baru dan fresh untuk industri pop Indonesia, membuat mereka berkolaborasi dan menyatukan segala influence pribadi ke dalam musik Parkdrive yang merupakan paduan musik bernuansa Jazz, Soul, Funk, RnB dan Brazilian dengan tetap dibalut warna pop. Kombinasi kesederhanaan lagu dan lirik yang bertemakan hidup dan cinta ini mudah dicerna dengan menghadirkan chorus melodik yang catchy. Variasi inilah yang dapat didengar di album pertama Parkdrive dan sebuah lagu hasil karya bersama Glen Fredly untuk album soundtrack film “Cinta Silver”. Selain terus mengibarkan bendera Parkdrive, para personel grup ini aktif berkolaborasi dengan musisi muda lainnya dalam sebuah komunitas. Adalah Gowa Music yang didirikan oleh Rayendra bersama Juno Adhi sebagai wadah merealisasikan idealisme musik mereka. Hasilnya dapat ditunggu di album Parkdrive seri kedua dan rilisan-rilisan Gowa Music lainnya.


...RESENSI Nial Djuliarso Duo – “Moscow Morning” ‘Moscow Morning’ adalah salah satu komposisi yang diambil dari album solo Nial Djuliarso at Julliard (2006). Lagu ini merupakan duet Nial Djuliarso pada piano akustik dengan bassist Rufus Reid. Nial Djuliarso adalah sedikit dari musisi muda Indonesia yang mendapat kesempatan untuk bergaul dengan komunitas jazz langsung dari negara asalnya. Pianis lulusan Berklee College of Music in Boston, MA dan saat ini sedang menimba ilmu di Juilliard School telah tampil di beberapa event jazz penting, seperti tampil di The Weill Recital Hall, Carnegie Hall - New York, The North Sea Jazz Festival; Kennedy Center Washington D.C, Montreux Jazz Festival Switzerland, Sarasota Jazz Festival, pemenang the “Overall 3rd prize” dan the 1st prize in category “Instrumental” at the 2005 USA Songwriting Competition. Interaksinya antara lain dengan Danilo Perez, Joe Lovano, Joanne Brackeen, Hal Crook, Ed Tomassy, Sonny Watson, Bo-Bill Winiker, Wynton Marsalis, Kenny Barron, Carl Allen, Renee Rosnes membuat pria kelahiran tahun 1981 ini dapat fasih berdialog dengan permainan Rufus Reid, salah satu pemain bass terbaik dunia versi Majalah Down Beat tersebut. Rifka – “Without Me” Daftar penyanyi solo pria yang menekuni jazz akan bertambah dengan hadirnya Rifka Rachman di album ini. Rifka menyanyikan lagu berjudul ‘Without Me’ yang ditulisnya sendiri. Ia menyebutkan bahwa ‘Without Me’ awalnya simple dan kemudian mendapat sentuhan permainan piano Joy Marantika, Doni Sundjoyo (upright bass) dan Rayendra Sunito (drum) sehingga menjadi lagu yang well crafted tune. Semoga ‘Without Me’ menjadi debut Rifka sebagai penyanyi solo yang dapat konsisten meramaikan pentas jazz Indonesia. 6th Element – “Hecta Dance” Adalah formasi terbaru 6th Element; Ali Akbar (piano, hammond), Arie Firman (electric bass), Agam Hamzah (gitar), Aksan Syuman (drums), Phillippe Ciminato (perkusi) dan Rieka Roslan (lead vocal) yang akhirnya menampilkan karya mereka dalam sebuah rekaman. Kelompok ini telah dua tahun kebelakang aktif menampilkan karya sendiri di atas panggung. Kehadiran mereka dimulai dari pengunduran diri Rieka dari The Groove dan proyek album solo pertamanya dimana ia dibantu sebagian besar personel 6th Element. Interaksi antar personal di studio dan kemudian panggung membuat 6th Element solid sebagai sebuah grup. Yang membedakan dengan solo Rieka, komposisi 6th Element, seperti yang dihadirkan dalam ‘Hecta Dance’, adalah lebih pada instrumentasi dengan kombinasi afro Cuban dan pengaruh Brazillian. Voice Rieka menguatkan struktur lagu itu dan mengingatkan pada gaya bernyanyi Flora Purim.

Tomorrow People Ensemble - “Wham Bam Thank You Ma’am!!!“ Tidak berlebihan bila disebutkan Tomorrow People Ensemble disebut sebagai kelompok masa depan jazz Indonesia. Ensemble yang terdiri dari Azfansadra Karim (Piano Fender Rhodes/Organ/Synthesizer), Nikita Dompas (Guitar), Elfa Zulhamsyah (Drum Set & Toys) dan Lie Indra Perkasa (Double Bass) telah berulang kali mendapatkan pujian dan perhatian lebih di kegiatan-kegiatan jazz nasional; Pasar Jazz, Indonesia Open Jazz, Nusa Dua International Jazz Festival (Bali), Java Jazz International Festival, Bali Jazz Festival, Jazz Goes To Campus. Kelompok ini terbentuk di awal tahun 2003. Penamaan grup ini seperti dijelaskan oleh mereka adalah; kata “Tomorrow People” mewakili presepsi tiap personel pada band dan musik yang dimainkan yang akan selalu melangkah maju tanpa meninggalkan yang lalu, sedangkan kata “Ensemble” berarti sekelompok musisi yang bermain musik atau bernyanyi bersama. Para personel Tomorrow People Ensemble setuju bahwa mereka memainkan berbagai jenis musik yang dianggap baik dan memberikan inspirasi, namun pengaruh terbesar adalah dari musik jazz (secara harmoni, rhythm, improvisasi). Selain itu mereka juga mendapat pengaruh dari rock n roll, blues, reggae, electronic music, classical, afro Cuban, free music, funk, bahkan musik tradisi Indonesia. ‘Wham Bam Thank You Ma’am!!!’ adalah salah satu komposisi dari album debut yang tengah mereka garap. Musik Tomorrow People Ensemble di lagu ini mengingatkan kita kepada paduan jazz dan psychedelia serta nuansa rock ala Medeski, Martin and Woods. Sequoia – “Banyumas Delight” Telah kembali sebuah grup yang lama tidak terdengar aktifitasnya di panggung jazz Indonesia. Sequoia yang kini terdiri dari Orliando Roeslan (Guitar), Irsa Destiwi (Piano), Dwi Prastowo – a.k.a Dudi (Bass), Gusti Pramudya – a.k.a Bemby (Drums) dan Fazariah Hentiansanti – a.k.a Menu (Vocals) adalah band jazz pop fusion yang berdiri tahun 1999. Awalnya mereka memainkan jazz fusion seperti Casiopea, Al Jarreau dan Chick Corea dan tampil di eventevent seperti Jazz Goes To Campus, festival band Panggung Band 2000 RCTI. Tapi dengan seiringnya waktu, Sequoia akhirnya memainkan musik-musik pop dan bermain di cafécafé. Lagu yang direkam untuk album kompilasi ini berjudul “Banyumas Delight”. Nuansa light jazz di lagu yang ditulis oleh Aghi Narottama dan Bemby Gusti dan diaransemen bersama oleh para personel Sequoia ini terdengar sangat kental. Kesan manis yang dapat membuat pendengar ikut bersenandung mereka tampilkan melalui isian voice penyanyinya.


“TALKING TO YOU� JAZZ RENYAH, ADEM & KONTEMPLATIF Ekonom Soegeng Sarjadi bertemu gitaris Denny Chasmala

Adalah Sugeng Sarjadi yang dikenal sering tampil di televisi dengan diskusi tajam Sugeng Sarjadi Syndicatenya, bersama Denny Chasmala - gitaris yang sibuk mengerjakan komposisi pop atau arranjer untuk sederet artis papan atas seperti Kris Dayanti, Rio Febrian, Glen Fredly, Shanty dan banyak lagi yang lain Inilah cerita tentang dua generasi berbeda. Yang satu pernah ngeband di tahun 50an dengan grup bernama Siluman!, sementara yang satu lainnya muncul sejak 1994 ketika ikut mendukung kelompok Dewa 19!. Keduanya bertemu dalam sebuah sambung rasa. Menarik karena mereka walau terpaut jauh dari sisi usia, bisa saling mengagumi dan menghormati. Bahkan menelurkan sebuah karya musikal yang patut diapresiasi. Adalah Sugeng Sarjadi yang dikenal sering tampil di televisi dengan diskusi tajam Sugeng Sarjadi Syndicatenya, bersama Denny Chasmala - gitaris yang sibuk mengerjakan komposisi pop atau arranjer untuk sederet artis papan atas seperti Kris Dayanti, Rio Febrian, Glen Fredly, Shanty dan banyak lagi yang lain - merilis album berjudul Talking to You. Model Senior-Junior ini tentu bukan barang baru dalam dunia jazz. Tetapi yang menarik karena keduanya mampu berdialog satu sama lain, bergantian mengungkapkan rasa "cinta" dan "kasih". Serunya, ada tiga orang gitaris lain menimpali obrolan asyik ini. Mereka adalah Dewa Budjana, Bontot atau Tohpati, dan Wayan Balawan, gitaris asal Bali yang belakangan ngetop dengan teknik tappingnya.

Permainan gitar Sugeng Sarjadi yang sederhana bertemu dengan karya Denny yang berpotensi menjadi lagu standar - seperti kita tau lagu-agu standard dalam khasanah jazz - membuai telinga dan hati. Ada nomer berkesan oriental dalam "Ten Nie Hen Ciu" atau "Mahatma, Tum Kider He', yang dari judulnya kita sudah bisa tahu kemana arahnya lagu ini. Ada juga Baby Watch Your Step, dengan raungan gitar berdistorsi kasar ditengah-tengah irama yang cepat. Ada 'Talking to You', sebuah medium komunikasi dengan sang Khalik, Penguasa alam semesta. Jika anda telah menyimak Its Me, album perdana Soegeng Sarjadi dua tahun silam, maka anda akan menemukan sesuatu yang lebih menarik dialbum ini. Barangkali Om Soegeng, demikian ia akrab disapa oleh para musisi-musisi yang notabene memang secara usia jauh dibawah beliau, sudah lebih jago ngulik gitarnya. Seperti yang diungkan mentor beliau, Kiboud Maulana pada saat press conference di Studio Bintang dibilangan Grand Wijaya Jakarta Selatan Agustus kemarin. Musisi lain yang turut membantu album ini antara lain Hussein Arief Setiadi (saxophone), Bang Saat (Suling), Imam Praseno (piano), Gerry Herb (drums) Ady Prasjodjo (perkusi), Irfan Chasmala (piano), Hayunaji (drums). Album yang dikerjakan selama kurang lebih 2 bulan ini kini dapat anda nikmati. Dasar musiknya memang jazz, meski terdengar lebih renyah, adem, rileks dan sedikit kontemplatif. Yang tertarik, dapat menghubungi info@wartajazz.net untuk pembelian album yang dibandrol seharga Rp. 70.000,- ini. Oh ya, didalamnya terdapat 2 CD, keping yang pertama berisikan materi album yang terdiri dari 10 track. Sedang keping yang kedua memuat proses pembuatan album ini. (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)


LICA CECATO & ROMERO LUBAMBO - LIVE IN EUROPE Seven Music / Sony Oleh Iman B. Santoso/WartaJazz.com

Komposisi: A Rã ( João Donato / Caetano Veloso ) 2'41 Favela ( Antonio Carlos Jobim / Vinícius de Moraes ) 4'28 Café ( Egberto Gismonti / Norma Winstone ) 5'15

Musisi : Lica Cecato, vocal Romero Lubambo, acoustic guitar

Rock-Dog ( Lica Cecato ) 4'49 Adolescempre ( Lica Cecato ) 3'12 Besame Mucho ( Consuelo Velasquez ) 4'34 Só Danço Samba ( Antonio Carlos Jobim / Vinícius de Moraes ) 3'42 Acelerou ( Djavan Caetano Viana ) 4'27 Amai ( Arthur Maia ) 5'22 Autumn Leaves ( Johnny Mercer ) 3'03 Willow weep for me ( Ann Ronnel ) 6'21 Hoje Eu Quero Sair Só ( Lenine/Mu Chebabi/ Caxa Aragão ) 4'39 Balanço Zona Sul ( Tito Madi ) 5'25

Album live yang menampilkan vokalis Brasil Lica Cecato yang juga bermain gitar diiringi permainan gitar jagoan Brazilian Jazz Romero Lubambo direkam dari beberapa pertunjukan di Jerman dan Portugal pada tahun 2003. Lica Cecato, lulusan Berklee College of Music di Boston yang telah banyak menjelajahi kawasan musikal yang cukup luas, pada beberapa lagu menampilkan gaya bernyanyi yang masuk kedalam wilayah yang cukup eksploratif dalam iringan permainan Lubambo yang kali ini lebih banyak bermain dengan ciri pribadinya di luar gaya bossanovanya yang biasa kita temui dalam rekamanrekaman mancanegara. Dengarkan saja ciptaan terkenal João Donato “A Ra (The Frog)”. Lica menyuarakan scat singing dengan gaya menirukan wah-wah sebuah gitar listrik, sementara Lubambo mengiringi dengan gaya petikan dawainya yang agresif. Di lagu kedua, Lica melakukan pemenggalan melodi yang tidak biasa dan bisa jadi kurang populer bagi pecinta komposisi Jobim “Favela”. Lagu-lagu lainnya di album ini mengambil langkah yang lebih ”aman” dan bervariasi dari komposisi MPB, pop Brasil, jazz, dan bossanova. Permainan gitar dan vokal dalam lagu ”Acelerou” tidak banyak menyajikan sesuatu yang istimewa selain daripada gaya komposer Djavan yang masih melekat. Komposisi Brasil lainnya ialah dari Arthur Maia, Lenine, Egberto Gismonti, Jobim dan ciptaan Lica Cecato sendiri yang menonjol pada lagu ”Adolescempre”. Komposisi luar Brasil ialah komposisi Latin populer “Besame Mucho” Consuelo Velasquez, “Willow Weep For Me” Ann Ronnel yang seperti biasa dibawakan dalam nuansa blues, dan “Autumn Leaves” Johnny Mercer. Secara keseluruhan, album ini cukup memuaskan keinginan untuk menikmati permainan Romero Lubambo dan gaya menyanyi Lica Cecato yang mungkin paling menggambarkan kemampuan eksplorasi bermusik mereka.


J

ika kita menyimak baik-baik perjalanan grup ini, rilis teranyar “Patahan” adalah untuk format yang akhirnya malah tanpa drum sama sekali, bahkan menjadi dua kendang (yang ditampilkan Endang Ramdan (set Sunda) dan Emy Tata (kendang Makassar)). Komposisi Riza Arshad untuk grup inipun semakin mantap di konsep tutur-cerita yang memanjang steady, perlahan menanjaki klimaks, kemudian buyar lagi ke dinamika semula, berulang lagi atau malah diakhiri. “One Has To Be” kini berdaur menjadi lebih intens dari versi album “Baur”. Bassis Adhitya dan tim perkusi tertib menjaga ruang di latar improvisasi piano Riza. Khusus bridge, tangan kiri Riza berpindah ke synth-string untuk

memperkuat progres harmoni bagian ini. Sementara saat tiba gilirannya, Tohpati pun mempraktekkan penguatan di bagian yang sama, mula-mula hanya dengan sedikit petunjuk: gema sustain distorsi gitarnya, hingga semakin nyata petunjuk itu pada pengulangan berikutnya. Bertahap, konklusinya meraung liar: dengan bantuan synthesizer-gitar, melompat jauh sebelum kembali menuntaskan lagu. Dengan intro yang khas simakDialog, “Spur Of The Moment” diakhiri dengan suasana yang sama sekali berbeda di belakangnya. Permainan kendang yang rapat up-tempo meregang nadanada minor di atasnya. Dengan suara mereka, para musisi mengulang-ngulang melodi dasar iringan minor itu; mirip kur pria bertembang nyalendro. Di tengah-tengah, Ubiet menyambut dengan fitur scat etniknya.

SIMAKDIALOG – PATAHAN Ragadi Music Komposisi: 1. One Has To Be 2. Spur Of The Moment 3. Kemarau 4. Worthseeing 5. Kain Sigli Musisi : Riza Arshad: keyboard, piano, Tohpati: guitar Endang Ramdan: kendang Emy Tata: kendang Makassar Ubiet: voice (kain sigli)

“Kemarau” dan “Worthseeing” adalah seputar alam. Dimulai dan diakhiri dengan mars, “Kemarau” menyelipkan kering-kerontang di tengah-tengahnya dengan kendang & bunyibunyian berperan membangun ambient. “Worthseeing” diinspirasikan oleh indah pemandangan Nepal (simakDialog pernah bermain di Kathmandu Jazz Fest. 2004). “Kain Sigli” yang progresif diperkenalkan dengan deklamasi lirik Nirwan Dewanto yang dilanjutkan dengan intro gitar nylon; sepenuhnya mencoba merangkum Aceh pasca Tsunami. Lirik dengan pesan yang jelas ini dinyanyikan oleh Ubiet. Selain warna Aceh Ubiet, kedua pemain perkusi ditampilkan dalam solo kompak (nomernomer sebelumnya lebih menonjolkan kendang Sunda dengan bunyi yang gendang-gendut).


Institut Musik Daya

Wayan Balawan

Alma Records

www.wayanbalawan.com

San Fransisco Jazz Festival

www.almarecors.com

www.sfjazz.org


Pat Metheny PUKAU PENONTON MOSAIC MUSIC FESTIVAL 2006


Lebih dari 30 tahun berkeliling dunia, 17 buah penghargaan Grammy ajang penghargaan tertinggi bagi insan musik - plus seabrek julukan yang diberikan padanya - seperti “one of the greatest guitar players on the planet� misalnya - membuat pertunjukan gitaris beken Pat Metheny menjadi satu hal yang sangat ditunggu-tunggu di ajang Mosaic Music Festival 2006. Oleh Agus Setiawan Basuni

B

ersama bassis paling laris saat ini Christian McBride dan drummer Antonio Sanchez, Pat Metheny hadir di Concert Hall, di Gedung Esplanade Singapura Rabu (15/03) yang lalu. Sehari sebelum pertunjukan, suasana disekitar gedung yang berbentuk durian itu dipenuhi oleh penggemar yang datang dari berbagai tempat. Maklum, persinggahan Pat Metheny dalam tournya di Asia Pasifik ini hanya mampir kebeberapa kota saja. Sebelum ke Singapura, ia mampir dulu ke Perth, Adelaide di Australia dan Wellington di New Zealand sebelum singgah ke kota Bangkok, Thailand.

Di hari Selasa (14/03) panitia Mosaic Music Festival membuat sesi Question and Answer yang harga tiketnya dipatok sebesar $S10 atau kira-kira Rp 55.000,-. Ternyata peminatnya luar biasa banyaknya, sehingga seperti halnya konser Pat, tiket masuknya pun juga ludes diserbu penggemar gitaris yang sering tampil dengan kaos lengan panjang loreng berwarna hitam putih. Pukul 19.45 waktu Singapura, CEO Esplanade, Benson Puah naik keatas panggung. Ia memberikan sedikit prolog. Singapura butuh 20 tahun untuk mendatangkan bintang yang membawa peralatan sekitar 6000 pon. Sontak penonton memberikan applaus yang meriah ketika ia lantas memanggil Pat keatas panggung.

Pat mengawali konser set pertama dengan memainkan solo gitar akustik sekitar 13 menit dengan menyajikan reportoar yang diambil dari album pertamanya Bright Size Life. Disusul variasi "Last Train Home", dimana Pat memainkan suara bass dan guitar terdengar bersamaan seolah dimainkan oleh duo. Seorang penonton yang datang dari India, Niranjan Jhaveri berbisik pada WartaJazz.com, "Luar biasa, suaranya bisa keras sekali". Pat lantas memainkan bariton acoustic gitar, membawakan nomor One Quite Night yang justru menjadi pembuktian terbalik atas judul lagu itu, ia menyajikan komposisi teknis yang sangat memikat, perubahan chord yang tiba-tiba, dan sesekali menyelipkan kejutan dissonans. Applaus lebih keras dari lagu sebelumnya


40 string Pikasso Guitar

terdengar dari bangku penonton yang susunannya menyerupai hurup U menghadap ke panggung.

sebelum lagu saat gitar Pikasso dimainkan, selesai. lantas Ia mengambil gitar elektrik Ibanez PM-100.

Ditengah keriuhan tepuk-tangan Pat Mengganti gitarnya dengan Pikasso yang memiliki 42 string. Gitar yang dibuat khusus untuk Pat tahun 1984 oleh Linda Manzer ini dijuluki sebagai "Dangerous Curves" oleh Boston Museum of Fine Arts. Ia memainkan lagu "Into the Dream". Suara gabungan antara gitar akustik, harpa, sitar, bass berpadu dengan sound beraroma oriental sambil sesekali Pat mengetuk body gitar dengan tangan kanannya.

Trio yang menarik ini menyajikan sesuatu yang memiliki daya pikat luar biasa. Dilagu "Bright Size Life" misalnya, McBride memamerkan kebolehannya bersolo yang juga diikuti permainan solo drums oleh Sanchez dilagu berikutnya yang diberi judul "No 13" - sebuah lagu baru. "Saya berharap album saya bersama Trio menarik ini akan segera keluar", ujarnya dalam kesempatan terpisah kepada WartaJazz.com beberapa jam sebelum pertunjukan.

"This is not America", "So May It Secretly Begin", dari album Still Life (Talking), menyusul hadirnya bassis McBride yang memainkan upright bass dan lantas drummer Sanchez menyusul. Pat Metheny sendiri sibuk dengan asistennya. Apa pasal?, ternyata kukunya patah - tepat

Pat rupanya orang yang dekat dengan keluarga. Sebuah nomor favoritnya "Always and Forever" dari album Secret Story diperdengarkan. "Lagu ini saya tulis untuk kedua orang tua saya", ungkapnya pada penonton yang terhanyut dalam lagu berirama lembut ini. Melihat rangkaian pertunjukan tersebut, seorang penggemar Pat yang khusus datang dari Jakarta,

Bowie mengungkapkan komentarnya pada WartaJazz.com. "Mendengarkan musik dia bisa kontemplatif bisa emosi, bisa inspiring. Apalagi ambience yg dia pake misalnya reverb yg lebih juga waktu solo gitar song for the boys. Memang dia perlu banyak explorasi sendiri untuk mendefinisikan musiknya ketimbang main sama regular groupnya", ujarnya. "Konser kemaren itu bagi sebagian besar penggemar Pat dari jakarta, (gue melihat ada lebih dari 20 orang) adalah rasa kangen setelah penampilannya 10 th silam" tambahnya lagi. Pat memang pernah tampil di Jakarta bersama grupnya. Ini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Termasuk pianis Nial Djuliarso yang sempat pula menonton konser sebelum tampil di Main Entrance Esplanade. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengobati anda yang tak memiliki kesempatan menonton. Dan barangkali menjadi dorongan bagi para promoter untuk mengupayakan menghadirkan Pat Metheny dikesempatan berikutnya. Semoga!.


IMI (Indonesian Music Institute) Basuki Building Jl. Pulo Letut No. 2 Jak-Tim 13920 T. 4603747/58 F. 4603220 email : imimusic@dnet.net.id Chicks Music - Jl. Pemuda No. 9 Rawamangun Jak-Tim T. 4896870 F. 4758175 - Plaza Permata Blok. B No. 2, Jl. Jend.Ahmad Yani, Bekasi T. 8840888, 8841323 - Jl. Margonda Raya No. 290 Depok, T. 7765043 - Mall Ciputra Lt. V No. 33, Grogol, Jak-Bar T. 5669706, 5661071 RITMIK Jl. Margonda Raya No. 274 A Depok T. 7756275 F. 7756274 email : ritmikmusic@teamcast.com AMI Music Jl. Cikini Raya 58 I-J. Komp. Sentral Cikini Jak-Pus T. 337739 Bina Musik Jl. KH. Wahid Hasyim 17. Jak-Pus T. 3904703 Sekolah Musik Vidi Vici Jl. Bungur Besar 46 G Jak-Pus T. 4254486 Yayasan Musik Jakarta Jl. Kartini Raya 53 AC-AD, Jak-Pus T. 6398596 Purwacaraka Music Studio Jl. BDN Raya No. 10 B, Jak-Sel T. 7512845 F. 75905943

Lembaga Pendidikan Musik Farabi Jl. Dharmawangsa XI/5, Kebayoran Baru, Jak-Sel T. 7224407 F. 7208860 Twilite Orchestra Jl. Taman Pinang Nikel PR 35, Pondok Indah, Jak-Sel T. 75818957-58 F. 7658879 email : budicahyo@twiliteorchestra.org website : www.twiliteorchestra.org Gallery Musik Jakarta Komplek Perkantoran Duta Merlin Blok A No. 17-18, Jak-Pus T. 6334617 F. 6340966 Yamaha Music Indonesia Jl. Gatot Subroto 4, Jakarta T. 5201577, 5202578 Institut Musik Daya (IMD) Jl. Wijaya IX No. 21 Kebayoran Baru, Jak-Sel T. 7209748 Sanggar Musik Victor Jl. KH. Wachid Hasyim 141 C, Jak-Pus T. 314-3438 Bina Vokalia Jl. Bintaro Permai 9, Jak-Sel T. 734-0360 Cinere Citra Nuansa Musik Jl. Cinere Raya 50-51 Blok A, Jak-Sel T. 754-2688 Gloria Sekolah Musik Jl. Raya Kebayoran Lama 41, Jak-Sel T. 548-2252 Inti Musik Plaza Senayan Jl. Asia Afrika, Jak-Sel T. 572-5322

Marcia Music School Jl. Asem IX no. 5, Cipete, Jak-Sel T. 765-7395 Sekolah Musik Megami Jl. RC Veteran Raya 31, Jak-Sel T. 736-4113 Sekolah Musik Midori Jl. Tebet Raya 6, Jak-Sel T. 829-1819 Sekolah Musik Sincere Melawai Jl. Melawai Raya 19 E, Jak-Sel T. 739-3909 Sekolah Musik YPM Jl. Manggarai Utara no. 5, Jak-Sel T. 829-2469 Jl. Kepodang Raya 30 Sektor II Bintaro, Jak-Sel T. 735-0374 Sincere Cinere Sekolah Musik Jl. Cinere Raya Blok A 65, Jak-Sel T. 754-5960 Yayasan Musik Internasional Wisma Subud no. 1, Jl. RS. Fatmawati 50, Jak-Sel T. 750-3729 Bina Cipta Musik Indonesia Jl. Utan Kayu Raya 17, Jak-Tim T. 856-9491


Daftar Radio Sumatera · · · · ·

· · · · · ·

Prima FM - Banda Aceh Radio Toss FM Banda Aceh Mandiri FM - Pekanbaru Aditya FM - Pekanbaru Delta 105.8 FM - Medan > Setiap hari Senin pukul 21.00-22.00 WIB > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB Mutiara 104.4 FM - Medan Prapanca 95.1 FM - Medan Moze 99.1 FM - Medan > Setiap Selasa pukul 21.00 - 22.00 WIB 88.4 FM Radio Satya Bhakti Polda - Medan HANG 106.0 FM - Batam SMART 101.8 FM - Palembang > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00 WIB

Jawa Barat & Banten · 88,2 FM Hot Radio - Serang · Pro 3 107.5 FM Bogor > Journey To Jazz" bersama Idang Rasjidi · KLCBS 100.4 FM - Bandung > Sepanjang hari - Senin sampai Minggu · MARA GHITA 106,7 FM - Bandung > Cafe Mara Setiap Minggu pukul 22.00-24.00 WIB · SKY 90.5 FM - Bandung > Jazz Lounge setiap hari Senin pukul 21.00-23.00. · RASE 102.3 FM - Bandung > Cooling down with easy listening jazz. Setiap hari Rabu 18.00 - 20.00 WIB · BUZZ Radio 89.7 FM - Bandung > Jazz Buzzing Thru... Setiap Sabtu 22.00 - 24.00 WI · HER Radio 88.9 FM - Bandung > Setiap hari Senin-Jumat 06.00-10.00, 16.00-17.00, 18.00-20.00 WIB > Setiap Senin-Minggu 13.00 -14.00 WIB

Jakarta

Jawa Tengah & Yogyakarta

· COSMOPOLITAN FM 90.4 Mhz - Jakarta > "JAZZ ON MY MIND" setiap Senin Pkl. 20.00 - 22.00 WIB · TRIJAYA 104.6 FM - Jakarta > ”Jammin' on Jazz" - Setiap Minggu 19.00 - 21.00 WIB · ER Radio 98.7 - Jakarta > Setiap Minggu 18.30 - 21.00 WIB · ARH 88.4 FM - Jakarta > Dave Koz Show · RADIO ONE 101 FM - Jakarta > One Acid Jazz Hours - Setiap Selasa Pkl. 21.00 - 23.00 WIB > One Jazz Hour - Setiap Minggu Pkl. 13.00 - 15.00 WIB · RRI PRO 2 105.1 FM - Jakarta · HARD ROCK 87.6 FM - Jakarta > Setiap Minggu malam mulai 21.00 - 22.00 WIB · EL SHINTA 90.05 FM - Jakarta · DELTA 99.1 FM - Jakarta > Setiap Senin pukul 20.00 - 21.00 WIB > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB · RADIO A 96.7 FM - Jakarta > Jazz Island - Setiap hari Rabu, pkl.20.00-21.00 · Woman Radio 94.3 FM - Jakarta · Smart FM 95.9 FM - Jakarta > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00 · CLASSIC NEWS AND JAZZ (CNJ RADIO) 99.9 FM - Jakarta > 24hours full jazz · Female Radio 99.5 FM > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB . Kiss FM 95.10 FM > Setiap Jum’at sepanjang harinya

· HardRock FM - 87.7 Mhz - Bandung · TRIJAYA 91.3 FM - Bandung > Jammin' on Jazz - Setiap Minggu 18.30 - 21.00 WIB · OZ 103 FM - Bandung > Jazzyozzie · MGTFM 101.25 - Bandung > Jazz Hour Mix - Setiap Minggu 18.00 - 20.00 WIB · DBFM 91.1 - Cirebon > Setiap hari Kamis - pukul 19.00 - 22.00 WIB

· ARDIA FM YogyakartaFull jazz setiap hari. Managed 100% by WartaJazz.com · SWA 92.3 FM - Yogyakarta > "JAZZ WITH SWA", Setiap Minggu ke 2 dan 4 pukul 21.00 - 23.00 > "PROGRESSIVE WITH SWA" Setiap Minggu ke 1 & 3, pukul 21.00 - 23.00 · GERONIMO 106.1 FM - Yogyakarta > Tiap Rabu Malam Pkl 20.00 - 21.00 WIB · RASIALIMA FM - 89.7 Mhz - Yogyakarta > Tiap Kamis malam Pkl. 21.00 - 22.00 WIB · SWARAGAMA FM - Yogyakarta · Channel 5 FM - 94.6 Mhz- Yogyakarta > Tiap Senin malam Jam 21.00 - 23.00 · BIKIMA FM - Yogyakarta · UNISI FM - Yogyakarta · PRO3 103 FM - Yogyakarta > Jazzy Tunes - Setiap Rabu 20.45 - 22.00 WIB · TRIJAYA 97.0 FM - Yogyakarta > Jammin' on Jazz - Setiap Minggu 18.30 - 21.00 WIB · MTV 88.7 FM - Yogyakarta · SAS FM - Solo · SMART 93.4 FM - Semarang > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00 · TRIJAYA FM Semarang · SS Smooth Jazz 105.1 FM, Semarang · BSP 103,7 FM, Pekalongan 1. THE HISTORY OF JAZZ - setiap hari jam 08.00 ; 13.00 ; 22.00 2. MUSIKALITAS - setiap hari minggu jam 22.00-24.00 . Female Radio 103.7 FM > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB

. Female Radio 96.4 FM > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB · DELTA 94.4 FM - Jakarta > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB


Daftar Radio Jawa Timur · Suara Surabaya 100 FM, Surabaya · SCFM 104.75 FM - Surabaya > Jammin' on Jazz - Setiap Minggu 18.30 - 21.00 WIB · HardRock FM - 87.7 FM - Surabaya > Tiap Minggu malam Pkl. 21.00 - 22.00 WIB · Q Radio - Surabaya · KOSMONITA 95.4 FM - Malang > "KOSMO CORNER" setiap Sabtu sore Pkl. 16.00 - 18.00 WIB · PRO3 FM - Malang · MAS FM - Malang · 101.3 MFM = it's my life - Malang · WIJAYA KUSUMA FM - MADIUN . Delta 96.8 FM > Musical Box bersama Denny Sakrie Pukul 22.00 - 24.00 WIB

Bali & Lombok · HardRock FM - 87.8 Mhz - Denpasar · Super Radio 102.3 FM - Denpasar > Setiap hari Sabtu pukul 14.00 - 18.00 WITA · Kuta Radio 106 FM, Denpasar > Setiap Kamis pagi jam 01:00 - 04:00 WITA · FBI 91.8 FM - Denpasar > Setiap Senin-Minggu pukul 20.00 - 22.00 wita. · LCBS 96.00 FM - Lombok > Setiap Rabu pukul 18:00 – 19:00 WITA

Sulawesi · MERCURIUS Top FM - Makassar · DELTA 99.2 FM - Makassar > deltaJAZZ - Setiap Senin mulai pukul Pkl. 20:00 – 21:00 Wita. > Musical Box bersama Denny Sakrie Setiap Kamis pukul 22.00 - 24.00 WIB · SMART 101.1 FM Makasar > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) > Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00 · SMART 101.2 FM Manado > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) > Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00

Kalimantan · PRO2 FM - 88.8 Mhz Samarinda > Tiap Minggu malam Pkl. 21.00 - 23.00 WITA · MITRA 102.7 FM Samarinda > Setiap Jumat pukul 21.00 WITA · HEARTLINE 98.8 FM - Samarinda · MAHAKAM 101.1 FM - Samarinda · VOLARE 103,4 FM - Pontianak > In the Mood of Jazz - Setiap Kamis mulai pukul 21.00 - 23.00 WIB · VISTA 92.4 FM Pontianak · BISI Balikpapan · SMART 97.8 FM Balikpapan > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00 · SMART 101.1 FM Banjarmasin > Legend of Jazz bersama Ramsey Lewis (host) Setiap Senin pukul 21.00 dan Sabtu pukul 15.00

Papua PAPUA · MERCURY CBS 102.3 FM - Biak, Papua > Setiap Selasa pk.22.00 - 23.00 WIT


Jazz Indonesia by WartaJazz.com


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

LD O S

T U O S

Artis: Various Artists Judul: Sound of Belief Harga : IDR 90.000

Artis: Various Artists Judul: Sound of Belief (Repackage) Harga : IDR 40.000

LD O S

Artis: Sujiwo Tejo Judul: Syair Dunia Maya Harga : IDR 45.000

LD O S

T U O

Artis: Soegeng Sarjadi Judul: Talking to you Harga : IDR 70.000

LD O S

LD O

U O

T

Artis: Soegeng Sarjadi Judul: Its Me Harga: IDR 90.000

T U O

Artis: Podjama-Saraswati Judul:Podjama-Saraswati Harga : IDR 100.000

Artis: Pata Masters/Kua Etnika Judul: Pata Java Harga: IDR 100.000

Artis: Canizzaro Judul: Untuk Selamanya Harga: IDR 25.000

Artis: Yuri Mahatma Judul: If I were a Magician Harga: IDR 70.000

Artis: Koko Harsoe Judul: Mainan Harga : IDR 60.000

Artis: Andrini Judul: Waiting for Tomorrow Harga : IDR 45.000

T U O

Artis: co-P Judul: Blue Lines Harga: IDR 45.000


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

S

O

LD

O

T U

Artis: Tohpati Judul: Tohpati Harga : IDR 50.000

LD O S

T U O

Artis: Tohpati Judul: Serampang Samba Harga : IDR 50.000

LD O S

O

Artis: VIVO Judul: Lounge of Love Harga: IDR 50.000

Artis: Various Artist Judul: Jazz Masa Kini Harga: IDR 40.000

T U

Artis: Balawan Judul: gloBALIsm Harga : IDR 70.000

Artis: Balawan Judul: Balawan Harga: IDR 135.000

Artis: Balawan Judul: Magic Fingers Harga: IDR 45.000

Artis: Aksan - Joe - Masako - Peter Judul: Aksan - Joe - Masako - Peter Harga: IDR 100.000

Artis: Tompi Judul: T Harga: IDR 52.000

Artis: Tompi Judul: Soulful Ramadhan Harga: IDR 50.000

Artis: Various Artists Judul: Bali Lounge Harga: IDR 90.000

Artis: Nial Djuliarso Judul: Live at the Juilliard Harga : IDR 52.000


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

LD O S

Artis: Dewa Budjana Judul: Nusa Damai Harga : IDR 70.000

LD O S

T U O

Artis: simakDialog Judul: Lukisan

S

Artis: Dewa Budjana Judul: Gitarku Harga : IDR 45.000

LD O S

Artis: Krisna Balagita Judul: Sign of Eight Harga : IDR 60.000

T U O

Artis: Dewa Budjana Judul: Samsara Harga : IDR 45.000

Artis: Dewa Budjana Judul: Home Harga : IDR 45.000

Artis: Riza Arshad Judul: Trioscapes Harga: IDR 17.500

Artis: Balawan Judul: Magic Fingers Harga: IDR 135.000

Artis: simakDialog Judul: Baur Harga: IDR 70.000

Artis: simakDialog Judul: Patahan Harga : IDR 45.000

T U O

Artis: Idang Rasjidi Judul: Live at four season Harga : IDR 90.000

LD O S

LD O

T U O

T U O

Artis: simakDialog Judul: Baur Harga: IDR 70.000


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

S

LD O

T U O

LD O S

T U O S

LD O

T U O

LD O S

T U O

Artis: Various Artists Judul: Jazzy Christmas Harga : IDR 70.000

Artis: Various Artists Judul: Jazzy Bass Harga : IDR 35.000

Artis: Various Artists Judul: Jazzy Duet Harga : IDR 70.000

Artis: Various Artists Judul: Jazzy Sax Harga : IDR 70.000

Artis: Krakatau Judul: Mystical Mist Harga: IDR 60.000

Artis: Krakatau Judul: Magical Match Harga: IDR 60.000

Artis: Krakatau Judul: 2 Worlds Harga: IDR 60.000

Artis: Krakatau Judul: Rhythms of Reformation Harga: IDR 60.000

T U O

T U O

Artis: Indra Lesmana Judul: Reborn Harga: IDR 70.000

Artis: Indra Lesmana Judul: Silver Harga: IDR 70.000

S

LD O

Artis: Devian Judul: Spring Time Harga: IDR 90.000

LD O S

Artis: Tony Scott & The Indonesian all stars Judul: Djanger Bali Harga: USD 1.000


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

LD

T U O

O S

Artis: Ireng Maulana All Stars Judul: Sweet Jazzy Harga : IDR 100.000

Artis: Ireng Maulana All Stars Judul: Ireng Maulana All Stars Harga : IDR 100.000

Artis: Margie Segers Judul: Life Harga : IDR 90.000

Artis: Margie Segers Judul: The Lady of Jazz Harga : IDR 100.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Golden Hits (VCD) Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Private Collection Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Private Collection 2 Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Untuk Mu Harga: IDR 100.000

Artis: Various Artists Judul: Sepanjang Jalan Kenangan Harga: IDR 70.000

Artis: Benny Likumahua & Friends Judul: Jazz Masters Harga: IDR 70.000

Artis: Various Artists Judul: Wonderful World Harga: IDR 70.000

Artis: Peppi Kamadhatu Judul: Suddenly Harga : IDR 100.000


Call to WartaJazz.com (021) 8310769 to order this album!

Artis: Syaharani Judul: Love Harga : IDR 100.000

Artis: Syaharani Judul: Syaharani Harga : IDR 100.000

Artis: Syaharani Judul: Magma Harga : IDR 60.000

Artis: Margie Segers Judul: The Lady of Jazz Harga : IDR 100.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Golden Hits (VCD) Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Private Collection Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Private Collection 2 Harga: IDR 50.000

Artis: Ermy Kullit Judul: Untuk Mu Harga: IDR 100.000

Artis: Peppi Kamadhatu Judul: You don't know me Harga : IDR 100.000

Artis: Peppi Kamadhatu Judul: 2005 Harga : IDR 100.000

Artis: Peppi Kamadhatu Judul: Suddenly Harga : IDR 100.000

Artis: Peppi Kamadhatu Judul: Suddenly Harga : IDR 100.000


FORMULIR PEMESANAN ALBUM FAX ke (021) 8310769 atau EMAIL ke info@wartajazz.net atau SURAT ke Tebet Utara III D No. 11 Jakarta Selatan 12820

Saya ingin memesan album berikut ini: 1. ____________________ Sebanyak ______ buah 2. ____________________ Sebanyak ______ buah 3. ____________________ Sebanyak ______ buah 4. ____________________ Sebanyak ______ buah 5. ____________________ Sebanyak ______ buah

Pembayaran melalui: * Transfer ke Rekening BCA No. 627.006.3339 a.n Agus Setiawan Basuni Sebesar Rp. ______________

Mohon dikirimkan ke alamat berikut:

Tanda Tangan


WartaJazz PDF Edition 01