Page 1

Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakaratul maut (18 Agustus jam 15:14) 20 ఆగసుట 2009 న‌ 21:06 క ‌ Assalamualaikum WRB Segala Puji hanya milik Dzat yang Maha Mulia, yang ditanganNya tergenggam nyawa-nyawa seluruh mahluk semesta alam.. Shalawat dan Salam kepada Baginda Rasulullah SAW, Kekasih Allah juga para ahlul bait dan para sahabat2 beliau yang kita sebagai ummatnya, saudara seIman mereka di masa sekarang ini belum pernah melihatnya tapi tetap merasakan kehadirannya dan senantiasa merindukan perjumpaan dengannya. Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakaratul maut, ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. syarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? " tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu". Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.


Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini? " tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku". Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi. KHUTBAH TERAKHIR NABI MUHAMMAD SAW (Khutbah ini disampaikan pada 9 Dzulhijjah 10 H dilembah Uranah,arafah) Ya, saudara-saudaraku, perhatikan apa yang akan aku sampaikan, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih berada diantara kalian. Karenanya denganrkanlah baik2 apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini. Ya, saudara-saudaraku, seperti kita ketahui, bulan ini hari ini dan kota ini adalah suci, karenanya pandanglah kehidupan dan milik setiap orangMuslim sebagai kepercayaan yang suci. Kembalikanlah barang barang yang dipercayakan kepadamu kepada pemilik yang sebenarnya Jangan kau lukai orang lain sebagaimana orang lain tidak melukaimu. Ingatlah bahwa kamu akan bertemu dengan Allah SWT dan Dia akan memperhitungkan amalanmu dengan sebenar-benarnya. Allah SWT telah merlarangmu memungut riba , karenanya mulai saat ini dan untuk seterusnya kewajiban membayar riba dihapuskan Waspadalah terhadap Syaitan , demi keselamatan Agamamu. Dia/Syetan telah kehilangan harapannya untuk membawa kalian pada kesesatan yang nyata, tapi waspadalah agar tidak terjebak pada tipuan halusnya. Ya, saudara-saudaraku, adalah benar kamu mempunya hak tertentu terhadap istri-istrimu, tapi mereka juga mempunyai hak atas dirimu. Apabila mereka mematuhi


hakmu maka mereka memperoleh haknya untuk mendapatkan makanan dan pakaian secara layak. Perlakukanlah istri-istrimu dengan baik dan bersikap manis terhadap mereka, karena mereka adalah pendampingmu dan penolongmu yang setia. Dan adalah hakmu untuk melarang mereka berteman dengan orang-orang yang tidak kamu sukai, dan juga terlarang melakukan Perzinahan. Ya, saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, SEMBAHLAH ALLAH, SHALAT lima waktu dalam sehari, laksanakan PUASA selama bulan Ramadhan, dan tunaikanlah ZAKAT, laksanakan IBADAH HAJI bila mampu Ketahuilah bahwa sesama Muslim adalah bersaudara, Kamu semua adalah sederajat. Tidak ada perbedaan satu terhadap yang lain KECUALI KETAQWAAN DAN AMALAN SHALIH. Karena itu berhati-hatilah jangan menyimpang dari jalan kebenaram setelah kepergianku nanti. Ya, saudara-saudaraku, tidak akan ada Nabi dan Rasul sesudahku dan tidak akan ada agama lain yang lahir. Karenanya simaklah baik-baik ya Saudaraku, dan pahamilah kata-kata yang kusampaiakn kepadamu bahwa AKU MENINGGALKAN 2 PUSAKA, AL'QURAN DAN contoh-contohku sebagai AS-SUNNAH, DAN BILA KALIAN MENGIKUTINYA TIDAK MUNGKIN AKAN TERSESAT. SIAPA YANG MENDENGARKAN PERKATAANKU INI WAJIB MENYAMPAIKANNYA KEPADA YANG LAIN DAN SETERUSNYA, dan mungkin yang terakhir memahami kata-kataku ini bisa lebih baik dari yang langsung mendengarkan Demi Allah aku bersaksi, bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada umat-MU YA ALLAH Alhamdulillah semoga dengan asbab kisah ini kita semakin meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan RasulNya, Bukti cinta Rasulullah hingga detik-detik terakhir beliau kepada kita semua yang tidak pantas untuk dicintai ini sungguh sangat menyakitkan apabila kita membalas dengan penghianatan. maka akhwat (wanita)ku seiman yang saya cintai, bersegeralah menutup aurat dengan sempurna, karena jangankan surga, aromanyapun tidak akan engkau cium apabila engkau tidak menutup auratnu. dan buat ihwa (Laki-2)ku seiman yang saya cintai, segerakanlah sholat di mesjid apabila adzan telah dikumandangkan. hingga kita semua bisa berkumpul kembali bersama junjungan kita Baginda Rasulullah, ahlul bait beliau dan juga para sahabat-2 beliau di SurgaNya Allah SWT.. "Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga" (H.R Bukhari) Insya Allah tiada henti-hentinya kita saling ingat mengingatkan agar Allah SWT memandang kita dengan pandangan Allah SWT Redha kepada kita di saat perjumpaan kita nanti.. .Buat Ihwa dan Akhwat seiman yg Insya Allah dicintai dan diRidhoi Allah SWT....untuk lebih banyaknya saudara2 qt yg menerima pesan da'wah ini mohon untuk mungundang teman2nya yang lain untuk dapat bergabung di Group "Usaha Atas Iman" ini.. ..Subhanallah wabihamdi AsyaduAllahilaha Illallah Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Detik-Detik Meninggalnya Rasulullah Sep 10, '07 12:36 AM for everyone


Mungkin anda pernah mendapatkan kiriman email berisi kisah meninggalnya Rasulullah sebagai berikut; ********** Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Utsman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.


"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. ******* Maka BANDINGKAN kisah tersebut dengan apa yang dikisahkan dalam kitab hadits sebagaimana ada dalam Al Musnadnya Imam Ahmad dan Al Mustadraknya Imam Hakim sebagai berikut; ‘Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara bersiwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberikannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (Alloohumma robban naasi… dst.) Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a: ‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia. [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (Al-Musnad V1/48) dan Hakim (Al-Mustadrak 1V/7). Hakim berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim.” Adz-


Dzahabi juga sepakat atas keshahihan Hadits ini].* xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Sujud adalah sebuah amalan yang dilakukan makhluk, -tak hanya manusia-, kepada Tuhan semesta alam yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sujud mendatangkan ketenangan batin, kestabilan dan ketentraman. Sebab sujud alam kepada Rabb Maha Pencipta adalah sebuah sistem yang menyebabkan semuanya bekerja dengan sempurna. Sehingga tidak ada lagi ketimpangan dan kehampaan. Itulah makna sujud dalam keberadaannya. Allah Swt Sang Maha Pencipta memerintahkan ritual sujud ini tidak hanya kepada manusia. Bahkan Dia Swt menyuruh melakukan hal ini kepada seluruh alam dan setiap makhluk yang Dia ciptakan. Bukan untuk Dia Yang Maha Kaya, akan tetapi manfaat sujud itu akan berpulang kepada setiap diri makhluk-Nya. Sayangnya hanya sedikit di antara kita yang menyadari bahwa sebenarnya alam ini terus bersujud kepada-Nya: ُ“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar daripada manusia Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.â€? (QS. 22:18) Semua alam bersujud kepada Allah Yang Maha Pencipta. Bagi siapa yang tidak mau bersujud, maka ia akan mendapatkan siksa di akhirat dan hidup di dunia penuh dengan kehinaan. Naudzubillah! Karenanya banyak kita temukan di era modern seperti saat ini, manusia yang hampir memiliki segalanya, namun penyakit yang diidapnya beragam macam. Mungkin alam ini merasa tidak ridha, sebab ia telah memberikan hasil dirinya yang terbaik untuk manusia. Sementara manusia yang hanya tinggal menikmati enggan untuk sujud kepada Tuhan Sang Maha Kuasa. Bila sujud tidak dilakukan, maka ketidak-seimbangan pun diberlakukan. Ia hidup di dunia tidak nyaman, maka di akhirat pun akan sengsara. Maka bersujudlah kita semua kepada Allah Sang Pencipta bersama seluruh jagad alam raya. ***

Suci Sukmawati adalah seorang artis yang sedang menanjak karirnya. Banyak orang yang terpesona dengan keanggunan paras dan kecerdikan akalnya. Dari kalangan keluarga berada, tidak sulit bagi dirinya untuk mempercantik wajah dan belajar ilmu kepribadian. Di


mulai dari sekolah modelling terkenal, ia mulai menggapai mimpinya untuk menjadi model sekaligus artis tersohor. Impian itu, akhirnya terwujud. Sempat ada orang yang bilang bahwa Suci meraih penghargaan betis terindah di Indonesia. Tidak sedikit yang kagum saat melihat lenggak-lenggok Suci di atas catwalk, apalagi saat ia mendongakkan wajah. “Alangkah anggunnya!� banyak pria berdecak. Hampir segalanya, Suci miliki dan ia pun hidup sejahtera tiada berkekurangan. Banyak dimensi hidup dalam relung batin Suci yang telah terisi, apalagi yang bersifat materi. Namun, sayang satu dimensi dibiarkan tertinggal kosong dan sepi, yaitu dimensi rohani yang tidak bisa ia beli. Jarang sekali Suci terlihat menjalankan perintah agama seperti berdiri, rukuk dan sujud yang biasa dilakukan oleh seorang muslimah. Sayang, Suci tak sesuci namanya....

Ketiadaan sujud pada diri membuat hidup tak seimbang! Malam itu, dari sebuah cafe, Suci hendak pulang ke rumah. Usai clubbing hingga larut malam, ia mengendarai mobilnya terlebih dulu untuk mengantar seorang kawan. Dalam kondisi ngantuk dan sedikit pengaruh alkohol yang menguasai otaknya, ia tidak memperhatikan datangnya sebuah mobil yang menyalip kencang dari belakang. “Wesssssshhhhhhhh........!� suara angin mobil terdengar kencang dan mengagetkan. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, badan mobil yang menyalipnya sudah berada di depan. Kaget dengan jarak ke samping yang begitu dekat, Suci pun membanting stir ke arah kiri. Ban mobil membuang terlalu jauh hingga posisi mobil limbung tak stabil. Sempat berputar dua kali, akhirnya mobil pun menabrak sebuah pohon di sisi jalan pas dengan pintu depan sebelah kanan. Bagian mobil sebelah kanan pun ringsek, dan dua orang yang berada di dalamnya diam tak berkutik. Bau asap pengap bercampur dengan anyir darah yang menetes. Sejurus kemudian banyak orang datang berkerumun dan pertolongan ambulan pun menyusul beberapa saat. Suci dan seorang kawannya dilarikan ke rumah sakit. Ia beruntung karena masih bisa diselamatkan, sementara kawan yang menemaninya tidak tertolong. Seperti sebuah adegan dalam sinetron, Suci yang dulu nyaris sempurna kini harus kehilangan kaki. Wajahnya yang cantik, juga harus dioperasi karena luka yang


terlalu parah. Hidup Suci semakin sempit. Ia frustrasi meratapi musibah yang menimpa diri, apalagi mengenang kawan akrabnya yang telah tiada. Hidupnya kalut, panik, sedih dan hilang harapan. Tidak ada lagi wartawan yang mengejarnya untuk mencari berita. Tidak ada lagi tawaran pemotretan dari majalah dan koran. Tidak ada lagi produser dan sutradara yang mengajaknya bermain peran. Semuanya pergi meninggalkan Suci Sukmawati yang tidak lagi cantik. Dalam masa pengobatannya, hanya keluarga yang masih setia kepadanya. Dengan sabar papa-mama selalu membesarkan hati Suci. Pesan yang kerap mereka ucapkan, “Bersabar, nak! Allah masih sayang kamu. Kamu masih punya Allah Yang Selalu Menjaga dan Tidak Pernah Tidur. Mungkin saatnya, kamu bisa khusyuk sujud kepada-Nya!” Enam bulan Suci menjalani masa pengobatan. Selama itu pula, ia belajar menata hati dan kehidupan. Alhamdulillah! Ia tersadar dalam kesendirian. Ia sudah mulai shalat dengan khusyuk kepada Allah. Meski kedua kakinya sudah tidak ada, ia melakukannya sambil duduk di atas sajadah. Hal yang paling mengharukan setiap mata yang memandang adalah saat ketika Suci membenamkan keningnya di atas sajadah lamaaa sekali! Seolah ia berdialog dengan Allah Swt dan mengakui segala dosa yang pernah ia lakukan. َ "Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. 68:42-43) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. 32:15) Bersujud, itulah takdir manusia sebagai makhluk. Sujud adalah fitrah manusia yang tidak bisa dilanggar. Sebagaimana alam yang stabil dan tentram karena sujud, maka seperti itulah halnya manusia. Ragam manfaat yang dapat diraih oleh manusia melalui sujudnya kepada Rabb Penguasa alam yang antara lain adalah: Pertama, Sujud dapat menghantarkan manusia hingga begitu dekat kepada Allah Swt. Sujud pun dapat membuat


sebuah doa menjadi ampuh mujarab dan langsung dikabul oleh Allah Swt. Hal ini dinyatakan oleh Sayidina Rasul Saw dalam sebuah haditsnya: Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jarak terdekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah saat si hamba sedang bersujud. Maka perbanyaklah doa (saat bersujud)!”. HR. Muslim

Kedua, Sujud dapat membuat manusia masuk surga bersama dengan Rasulullah. Sebagaimana disampaikan dalam dalil berikut: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. … Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.” (QS. 9:112) Hadits berikut menguatkan pendapat ini: Dari Abu Faras Rabi’ah bin Ka’b Al Aslami, pembantu Rasulullah Saw dan salah seorang ahlus shuffah Ra berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Saw. Aku menyiapkan air untuk beliau berwudhu dan segala keperluannya.” Rasulullah Saw (melihat khidmat yang ditunjukkan Rabi’ah) bersabda, “Pintalah sesuatu padaku!” Aku menjawab, “Aku ingin menjadi pendampingmu di surga, ya Rasul!” Rasul Saw bertanya lagi, “Adakah permintaan lain yang kau inginkan?” Aku menjawab, “Itu saja , ya Rasul!” Rasul Saw pun bersabda, “Kalau begitu tolong aku sehingga dapat membuat dirimu banyak bersujud!” HR. Muslim

Ketiga, Sujud Mengangkat Derajat Manusia. Jika ada orang di antara kita suka diremehkan oleh manusia lain, maka ia harus banyak bersujud kepada Allah Swt. Bila ada yang selalu terhina, maka perbanyaklah sujud. Jika merasa hidup berlumur dosa dan kesalahan, sujudlah cara penghapusannya. Rasul Saw bersabda: Dari Abu Abdillah atau Abu Abdirrahman Tsauban budak Rasulullah Saw yang berkata, “Aku pernah mendengar


Rasulullah Saw bersabda, ‘Engkau harus banyak bersujud. Sebab bila engkau bersujud sekali saja kepada Allah Swt, maka dengannya Allah akan mengangkat dirimu satu derajat, dan melenyapkan satu dosa/keburukan yang kau perbuat!” HR. Muslim

Itulah ragam manfaat yang didapatkan manusia yang memperbanyak sujud. Frekuensi dan kuantitas sujud dapat ditingkatkan oleh siapapun dari kita dengan cara memperbaiki shalat-shalat fardhu. Kemudian meningkatkan amaliyah shalat sunnah, dan juga bisa ditambah dengan memperbanyak sujud syukur dan taubat kepada-Nya. Semoga dengan memperbanyak sujud ini, apalagi di bulan Ramadhan, sungguh hati ini akan semakin tunduk dengan segala perintah Allah Swt dan akhirnya semoga kita pun akan meraih keridhaan Allah Swt, Sang Pemilik dan Pencipta kita semua. Amien! “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud.” (QS. 15:98) Salam, Bobby Herwibowo www.kuwais.multiply.com www.kaunee.com xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx nilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Alquran dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku. Dan kelak, orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersamasama aku.” Kutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu per satu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalamdalam. “Isyarat itu telah datang. Saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta etrsebut hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba, dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi, Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian, dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah. “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku. Orang sepertinya baru sekali ini aku


melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya tersebut hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian, dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan. Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan, roh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara, Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling. Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku,” pinta Rasul pada Allah. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. Peliharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Detik Akhir dan Amanat Rasulullah  

Untuk iktibar diriku dan umat akhir zaman