Issuu on Google+

3 FEBRUARI

29

TAHUN 2013

Kembar Siam Bisa Dipisah

BUDAYA

Sumpah Pocong Harus untuk Islah BANYUWANGI - Ritual sumpah pocong se perti yang digelar di Masjid At-Taqwa, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, ternyata sudah sering terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut, kegiatan itu merupakan tradisi agama untuk islah (perdamaian). Meski tidak dilarang dalam agama, MUI berharap masyarakat tidak main-main dengan sumpah pocong. “Sumpah pocong sebenarnya tradisi dalam agama, bukan ajaran agama,” cetus Sekretaris MUI Kabupaten Banyuwangi, H. Nur Khozin Cholil. Sumpah pocong, jelas Khozin, biasanya sebagai jalan terakhir yang dilakukan orang yang bersengketa atau berseteru. Lantaran kedua pihak sama-sama ngotot benar, maka dilakukan sumpah pocong. “Harus diingat, sumpah pocong dilakukan hanya untuk islah,” kata warga Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, itu n  Baca Sumpah...Hal 35

Penilaian Tim Dokter RSU dr. Soetomo

GELADI: Peserta FEE menari di garis start depan kantor Pemkab Banyuwangi sore kemarin.

Jalan Ditutup mulai Pukul 06.00 BANYUWANGI - Festival Endhog-Endhogan secara matang dalam rangka memeriahkan (FEE) yang berlangsung pagi ini (3/2) bakal Maulid Nabi Muhammad SAW. Demi suksesnya FEE, beberapa ruas jalan berlangsung meriah. Sekitar 1.300 peserta protokol akan ditutup total selama acara sudah siap unjuk kebolehan di berlangsung. Penutupan jalan akan dilakurute sepanjang 2,5 Kilometer. kan mulai pukul 06.00 hingga acara selesai. Dari 1.300 peserta, 800 kelomBeberapa ruas jalan yang pok berasal dari gugus sekolah akan ditutup adalah Jalan Adi (guslah) dan 500 peserta lain Sucipto mulai depan PJR Kaberasal dari utusan beberapa Endhog-endhogan rangente. Semua kendaraan kecamatan dan peserta umum. umum akan dialihkan mulai Jumlah peserta FEE tahun ini jam 06.00. meningkat tajam dibanding Kendaraan dari arah Jalan S. Parman akan 2012 lalu. Dalam pembukaan nanti, panitia sudah me- dialihkan ke Jalan Brawijaya atau Jalan Kepiting. nyiapkan berbagai ragam kesenian bernuansa Namun, peserta FEE yang berasal dari luar Kota Islam. Sebelum peserta di be rangkatkan, Banyuwangi tetap boleh melintas di Jalan panitia akan menyajikan berbagai kesenian. Adi Sucipto menuju lokasi pemberangkatan Dalam geladi bersih sore kemarin (2/2), pa- di Jalan A. Yani. “Usai acara, jalan kita buka nitia sudah mempersiapkan acara seremonial kembali,” kata Kepala Bappeda Banyuwangi, secara matang. Acara seremonial itu disiapkan Agus Siswanto. (afi/c1/bay)

Festival

PENDIDIKAN

Luncurkan Beasiswa Kuliah Rp 891 Juta SITUBONDO - Ini berita gembira bagi masyarakat prasejahtera yang menginginkan putra-putrinya duduk di bangku kuliah. Dinas Pendidikan (Dispendik) Situbondo telah menyepakati relokasi anggaran beasiswa kuliah bagi masyarakat miskin. Kepastian terkait kabar tersebut diperoleh setelah Forum Studi Anggaran Daerah Situbondo (Fosads) melakukan pertemuan dengan Dispendik Situbondo kemarin (2/2). Pertemuan yang ditempatkan di ruang kepala Dispendik itu sebagai tindak lanjut hearing yang digelar sebelumnya. “Dalam pertemuan itu, semua setuju adanya anggaran untuk beasiswa kuliah bagi masyarakat miskin. Itu harus dilakukan agar akses pendidikan di Kabupaten Situbondo lebih terbuka. Makanya, kita tindak lanjuti dengan pertemuan lanjutan,” terang Koordinator Fosads, Fitriyanto, kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin n  Baca Luncurkan...Hal 35

BAGAIMANA INI...

GAMBIRAN - Empat dokter dari rumah sakit dr. Soetomo, Surabaya, memeriksa kondisi bayi kembar siam Nurul Maulida dan Rahmah Maulida di RS AlHuda, Kecamatan Gambiran, Ba nyuwangi, kemarin (2/2). Hasil pemeriksaan medis, anak pasangan Yuda Winarno, 22, dan Sika Jayati, 22, warga Dusun Krajan, Desa Bomo, Kecamatan Rogojampi, tersebut cukup menggembirakan. Sebab, kesehatan bayi kembar siam perempuan tersebut baik. Bahkan, dempet dada hingga perut kedua bayi tersebut masuk kategori xypoomphalopagus. Dengan demikian, bayi kembar siam Maulida yang lahir prematur itu bisa dipisah. Sebab, organ yang dempet hanya mulai dada tengah hingga pusar. Itu menegaskan bahwa bayi tersebut tidak masuk kategori thoraco abdominal. ‘’Bayi kembar siam ini kondisinya bu-

gar,” ungkap ketua tim kembar siam dari dr. Soetomo, Surabaya, dr. Agus Hariyanto, SpA (K) dalam konferensi pers. Dia menjelaskan, bayi tersebut memang perlu penanganan intensif. Tim sangat optimistis bayi tersebut bisa dipisahkan. ‘’Belum saatnya dirujuk. Sementara tetap dirawat di sini (Al-Huda, red),” katanya. Menurut Agus, bayi kembar siam tersebut bisa dirujuk ke RS dr. Soetomo apabila berat badan sudah mencapai 5 kilogram. Berat badan 10 kilogram baru bisa dilakukan operasi. “Operasi dilakukan di Surabaya,” jelasnya. Kembar siam yang lahir prematur tersebut berisiko infeksi. Oleh sebab itu, kata dia, ruang bayi tersebut harus benar-benar steril. ‘’Sampai sekarang, kondisi mereka baik-baik saja,” terangnya. Wakil ketua tim kembar siam, dr. Purwadi, SpBA (K) menambahkan, bayi kembar siam yang keburu-buru dirujuk bisa berakibat fatal. Sebab, banyak kembar siam yang meninggal dunia dalam perjalanan n  Baca Kembar...Hal 35

GALIH COKRO/RaBa

Fasilitas Bandara Blimbingsari 2013

Runway Baru Tower

Apron Baru VIP

Fasilitas Bandara Blimbingsari 2012 Terminal Mushala

Parkir Baru

Panjang runway 1400 meter Bisa dipakai jenis pesawat : ATR-72, Fokker-50, MA-60 Luas apron : 2400 m2 Daya tampung apron : 2 pesawat (jenis ATR-72 sekelasnya) Areal parkir kendaraan terbatas

Panjang runway 1800 meter Bisa dipakai jenis pesawat : Boeing series 737-200/300 Luas apron : 4800 m2 Daya tampung apron : 5 pesawat Areal parkir baru berdaya tampung 200 mobil Ruang transit penumpang VIP

Bisa Menampung 5 Pesawat n Tambahan Runway Menunggu Tim Dephub

ROGOJAMPI - Penambahan runway dan apron Bandara Blimbingsari di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, sudah tuntas awal 2013 lalu. Meski demikian, hingga sekarang runway sepanjang 400 meter itu belum dioperasikan. Pengoperasian landasan pacu tambahan itu menunggu verifikasi tim Departemen Perhubungan (Dephub) n  Baca Bisa...Hal 35

SIGIT HARIYADI/RaBa FOTO-GRAFIS: GALIH COKRO-ZAKARIA/RaBa

MEMBAHAYAKAN: Lubang menganga di ruas Jalan Yos Sudarso kemarin.

ALI NURFATONI/RaBa

KONFERENSI PERS: dr. Agus Hariyanto, SpA (K) (pegang mix) menjelaskan kondisi bayi kembar siam di RS Al-Huda, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, kemarin.

Kaur Pemerintahan Terancam DPO SITUBONDO - Kabar menghilangnya Tirto Asmoro yang menjabat sebagai Kaur Pemerintahan Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, sudah diketahui Polres Situbondo. Satreskrim Polres Situbondo berjanji akan terus memproses kasus dugaan penipuan dana pengurusan sertifikat puluhan warga Desa Lamongan itu. Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Sunarto me nga takan, hingga saat ini setidaknya ada empat warga yang melaporkan kasus penggelapan itu kepada Polres Situbondo. “La poran pertama satu orang, datang lagi dua (laporan warga), kemudian

datang lagi satu. Jadi, ada empat laporan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Menurut Kasatresrim Sunarto, penyidik sudah beberapa kali memanggil terlapor. Dalam surat panggilan pertama, Tirto Asmoro tidak hadir. “Pasca pemanggilan pertama, muncul laporan yang kedua dan ketiga,” katanya. Kemudian, penyidik me lakukan pemanggilan kembali. Namun, saat itu penyidik mendengar informasi bahwa terlapor sudah menghilang. Setelah Tirto Asmoro menghilang, satu warga Desa Lamongan kembali melapor n

Yos Sudarso Bolong Lagi

Melihat Kegiatan Komunitas Mahasiswa Jong Situbondo

KALIPURO - Hujan deras yang kerap melanda Banyuwangi akhir-akhir ini benar-benar berdampak buruk terhadap kondisi jalan. Gara-gara kerap diguyur hujan, ruas jalan yang baru diperbaiki beberapa hari lalu sudah rusak lagi kemarin (2/2). Seperti yang terjadi pada ruas Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Tanjung, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, ini. Lubang menganga di ruas jalan utama penghubung BanyuwangiSitubondo itu sudah diperbaiki sekitar dua pekan lalu. Namun, kini kondisinya sudah rusak kembali. Supriyanto, 45, warga Klatak mengatakan, lubang jalan tersebut kerap mengakibatkan pengendara sepeda motor ndelosor. “Banyak pengendara sepeda motor yang jatuh, terutama pada malam hari. Sebab, lampu penerangan jalan di sekitar lokasi mati,” ujarnya sore kemarin. Menurut Supriyanto, lubang jalan cukup dalam di Jalan Yos Sudarso tersebut sebenarnya baru sekitar dua pekan lalu ditambal. Namun, karena kerap diguyur hujan, lubang-lubang jalan itu kembali menganga. “Belum seminggu diperbaiki, jalan ini sudah rusak lagi,” pungkasnya. (sgt/c1/bay)

Atraksi Bikin Roket untuk Menggugah Pelajar

http://www.radarbanyuwangi.co.id

Kumpulan mahasiswa asal Situbondo yang kuliah di beberapa daerah ini layak diacungi jempol. Mereka kompak pulang kampung dan menggelar aktivitas untuk menggugah kreativitas para pelajar di Kota Santri. NUR HARIRI, Situbondo NAMA perkumpulan mahasiswa asal Situbondo yang kuliah di luar daerah itu adalah Jong Situbondo. Mereka sudah eksis sejak setahun lalu. Namun, sejak berdiri, mereka belum bisa berkegiatan go to public, lantaran setahun ini mereka masih melakukan pendataan mahasiswa yang kuliah di luar daerah.

Hampir setiap waktu luang, mereka berusaha mencari cara mengumpulkan mahasiswa asal Situbondo yang kuliah di luar daerah. Satu per satu mereka hubungi hingga berdirilah Jong Situbondo. “Ini sudah satu tahun lalu dan akan terus kami lakukan pendataan,” kata Ketua Jong Situbondo, Ahmad Bismillahi Normansyah. Akhirnya kini mereka bisa berkumpul, di antaranya mahasiswa yang kuliah UI Jakarta, UGM, ISI Jogja, ITB, Universitas Terbuka, IPB, Universitas Sebelas Maret, UIN Malang, ITS, Unair, UB Malang, Universitas Udayana Bali, Poltek Jember, PENS, PPNS, Unej, Poltekes Malang, Undip, UM Malang, dan sebagainya. Perkumpulan yang didasari keinginan kuat membangun Situbondo itu pun menggelar acara gebrakan dengan latar belakang dunia pendidikan.

 Baca Kaur...Hal 35

Bandara Blimbingsari bisa menampung 5 pesawat Yang jelas pesawat asli, bukan pesawat telepon dan pesawat televisi

Pohon asam mati bikin waswas Kalau hidup, apalagi bisa berjalan, malah bikin warga kabur

NUR HARIRI/RaBa

TELESKOP: Mahasiswa melihat benda langit di Alun-alun Situbondo.

“Dengan Jong Si tu bondo, kami ingin ikut mengisi kegiatan yang positif agar Si tubondo bangkit

menjadi lebih baik,” ujar Ahmad, mahasiswa IPB n  Baca Atraksi...Hal 35

email: radarbwi@gmail.com / radarbwi@yahoo.com


30

Minggu 3 Februari 2013

ADA APA LAGI

Maling Ponsel Dibekuk setelah 6 Bulan Buron BANYUWANGI - Berakhir sudah petualangan Dheki Arjuandika, 29, asal Jalan KH. Hasyim Asyari, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi. Hampir enam bulan dinyatakan buron oleh anggota Polsek Blambangan, akhirnya dia berhasil diringkus Kamis malam lalu (31/1). Polsek Blambangan menetapkan Dheki sebagai buron karena kabur saat akan ditangkap. Sebelumnya, dia mencuri telepon seluler (ponsel) Blackberry dan dua buah helm di rumah Adi Djuang, 45, di Jalan Kepiting, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. “Akan kita tangkap, tersangka menghilang,” terang Kapolsek Blambangan AKP I Ketut Redana melalui Kasi Humas Aiptu Monip. Menurut Aiptu Monip, tersangka diringkus saat berada di rumah Joko, temannya yang tinggal di Jalan Kepiting, Kelurahan Sobo. Untuk keperluan pemeriksaan, pria tersebut langsung dibawa ke polsek. “Tersangka masih diperiksa. Saat beraksi, ternyata dia tidak sendirian,” jelasnya n  Baca Dibekuk...Hal 35

BANYUWANGI

SITUBONDO

Wahyudi Koordinator LBH PGRI BONDOWOSO - Ketua LBH PGRI Banyuwangi, HA. Wahyudi SH MH, kemarin (31/1) ditunjuk menjadi koordinator LBH PGRI se-Karesidenan Besuki plus Lumajang. Penunjukan mantan ketua DPRD itu diputuskan dalam rapat koordinasi (rakor) ketua PGRI se-eks Karesidenan Besuki di Bondowoso. Dalam rakor itu hadir ketua PGRI Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang. “Tugas utamanya adalah memberikan perlindungan hukum dan advis kepada guru dalam menjalankan profesi,” ungkap Ketua PGRI Banyuwangi, Husin Matamin. Selain itu, Wahyudi mendapat mandat mendampingi dan menjaga hak-hak guru se-Karesidenan Besuki dan

Lumajang tanpa diskriminasi guna meningkatkan profesionalisme. Tidak hanya itu, mantan ketua DPC PKB itu juga mendapat mandat membebaskan guru dari segala bentuk ancaman dan tekanan pihak-pihak yang dapat mengganggu tugas mereka. “Guru harus mendapat jaminan hukum dan meminimalkan pelanggaran hukum,” jelas Husin. Husin mengaku senang dengan kepercayaan PGRI kabupaten lain terhadap PGRI Banyuwangi. Ditunjuknya Wahyudi sebagai koordinator LBH PGRI se-Karesidenan Besuki dan Lumajang sebagai wujud pengembangan solidaritas PGRI. Wahyudi mengaku siap menjalankan tugas dan mandat

yang diberikan PGRI se-Karesidenan Besuki dan Lumajang tersebut. Wahyudi mengaku akan memberikan advokasi, pembelaan dan pendampingan terhadap PGRI dan anggota PGRI di Karesidenan Besuki dan Lumajang. Wahyudi pun akan segera melakukan langkah-langkah konkret. Langkah pertama, melakukan koordinasi dengan Pemkab Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo. Wahyudi juga sudah mempersiapkan konsolidasi dengan semua anggota PGRI di lima kabupaten tersebut dalam bentuk sosialisasi hukum. “Kita akan segera gelar workshop, sarasehan dan penyuluhan hukum, terhadap anggota PGRI di lima kabupaten,” katanya. (afi/c1/aif)

BANYUWANGI

BANYUWANGI

BANYUWANGI

BANYUWANGI

BANYUWANGI

• Chevrolet Aveo ‘03 •

• Grand Max ‘10 •

Dijual Chevrolet Aveo 1.5L MT tahun 2003, hitam metalik, harga 87,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176, 0811351148

Dijual Daihatsu Grand Max S40IRV ZMDEJJ HJ tahun 2010, hitam, harga 96,5 juta nego, brg istmw, bs cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176, 0811351148

• Kijang Innova ‘04 •

• Toyota Avanza ‘07 •

Dijual Toyota Kijang Innova E XW 41 tahun 2004, biru metalik, harga 129,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176, 0811351148

Dijual Toyota Avanza 1.3G F60 IRM tahun 2007, biru metalik, harga 121,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176 , 0811351148

• Karimun Estilo ‘07 •

• Kijang LGX ‘03 •

Dijual Suzuki Karimun Estilo YL 6 tahun 2007, abu-abu metalik, harga 87,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176, 0811351148

Dijual Kijang LGX bensin 2003, hitam, istimewa, harga Rp. 133 juta nego, bisa cash & kredit, atau tukar tambah. Hubungi: 082142194111 - 081335897888

• New Avanza ‘12 •

• Honda Jazz ‘06 •

Dijual New Avanza 2012 G, hitam, KM 6700, istimewa, full variasi, Rp. 162 jt nego, pajak atas nama pembeli, cash&kredit, tukar tambah. Hub: 082142194111 - 081335897888

Jual Honda Jazz 2006 idsi matic, silver stone, harga Rp. 129 juta nego, bisa cash & kredit, atau tukar tambah. Hubungi: 082142194111 - 081335897888

• Tanah Kapling •

• Jual - Sewa Tanah •

• Sales Motoris •

• Krim Pemutih Wajah •

• Prima Mobil •

Djl tnh kapling 9,5x20m Jl. Supriyadi Simpang Lima pust kota, SHM, msh sisa 7kapling H:081319098525/081354009225

Jual - Sewa tanah 9000m2 Jl. Argopuro 15, 750rb/m2 (nego). 9600m2 Jl. Ry Asembagus KM7 150rb/m2. 082 333 00 88 71

Dibutuhkan Sales Spreading/Motoris, lam lsg Jl. Ikan Wijinongko 11 Sobo, Bwi

LemesaKrimpmutihwjh&tbhdlm3hriptih,kncng, brchya. Hlgkn flek, jrwt, kriput, tnp efk smpg, amn, grns100%uangkmbl.H:081229491717

Avanza 07'10'11, Xenia Li '11, APV X '05, Taruna FGX '05, Katana '01, Futura STW '01, Espass STW 95'96, PU Grnmax '11'12, Rush '08, Spark '04, PU Futura '11, Krista'03, Escudo'98, PU Zebra'04. Bisa cash/credit. Hub. 0333-411655/ 0811301676

• Tanah Strategis •

• Bingung Cari Kerja? •

• Minyak Kasturi Asli •

Djl tnh 266m2, jl. Kepiting sobo jejer ruko, tampa perantara strategis 081336271085

Bingung cr krj?ingin jenjang karir?sgr hub Smart Developing People 7742121, 087755804284.Djamin kerja,karir naik

Minyak Kasturi Asli, berkhasiat Insya Allah. Hub: Gus Qodir Sempu 085236824224

• Tanah Kavling Murah •

• Operator Kebab Turki •

• Kapsul Khusus Pria •

• Suzuki Pusat Jatim •

Ampuh. Kapsul khusus pria, lbh krs & thn lama, mrh. 085235494602

Szk Pusat Jatim Ertiga GA DP42jt, APV DP28jt, Swift DP43, SX DP44, Carry PU Dp13, Mega PU DP22, ready 081949733232

Djl tnh blkg Pemda L493m2 (280+213)m2 (2 SHM) dpt kredit. Hub:081909915577

BANYUWANGI

Dibutuhkan Operator Kebab Turki Magistra Utama, min SD. 085749240494 Dedi

• 1235m2 Rogojampi •

• Ruko & Rumah •

• Mesin, SPV & Kasir •

• Jasa Renovasi •

Jual tanah SHM, 1235m2, timur Kantor Pos Rogojampi tepi Jl Raya Lap. Terbang Blimbingsari, hub 081.6541.9956

Dkontr ruko uk +10x20m2 lok Bwi Giri, hrg 12 jt & Djl rmh L +330 hrg 175jt di Mojopanggung Cking Bwi msk Gg + 200m. H: 087755630534

Dicari Pria, min SMKN, mengerti mesin mobil. SPV P/W, S1, penglmn min2, bs nyetir, SIM A, pny leadership. Kasir, S1, mengerti akuntansi. Marketing P/W. Krm ke Prima Mobil, Jl. Yos Sudarso 60 Bwi

Jasa Renovasi / Bangun baru rumah, gudang, ruko, taman dll. Murah bergaransi & jual batu pecah mesin Rp 136.000/M3. Hubungi: 081252562580

• Daihatsu Xenia ‘10 • Daihatsu Xenia Xi VVT-I 1,3 th 2010, warna Hitam plat W, pajak sampai 2014, barang mulus, pemakaian pribadi. Hub 081234545023

DOK/RaBa

Achmad Wahyudi

SITUBONDO • Daihatsu Xenia ‘08 • Dijual Xenia 2008, Xi VTI, plat L, hitam, istimewa, 105 jt (nego). Bu Wahyu, Jl. JA Suprapto 22 Stb. 081 803502829

BANYUWANGI • STNK • Hlg STNK Nopol P 2249 ZC, an. Semiwati. Dsn. Blangkon RT02/04 Kebaman, Srono Hlg STNK Nopol P 6218 ZI, an. PT. Jamsostek (Persero) Cab Bwi. Jl Jaksa Agung Suprapto 49 RT01/03Penganjuran Hlg STNK Nopol P 3015 VE, an. Nuris Salam S.Pd. Krajan 02/2 Badean, Kabat

BANYUWANGI • Griya Mahkota • Hunian elit harga irit, type 36/80, Griya Mahkota Jl. Ikan Wader Pari. Hub: Hadi 081234.97.7890. Hanya 3 unit.

• Bunga Residence • Jl Rumah Bunga Residence B1 2&124 104m2, TP 54, tdk terima SMS. Hub: 085854388014

Pemimpin Redaksi/Penanggung jawab: Rahman Bayu Saksono. Redaktur Pelaksana: Syaifuddin Mahmud. Redaktur: Ali Sodiqin. Koordinator Liputan: Agus Baihaqi. Staf Redaksi: AF Ichsan Rasyid, Abdul Aziz, Niklaas Andries,Sigit Hariyadi, Ali Nurfatoni (Banyuwangi), Edy Supriyono, Nur Hariri (Situbondo). Fotografer: Galih Cokro Buwono. Editor Bahasa: Minhajul Qowim. Lay Out/Grafis: Khoirul Muklis, Cahya Heriyanto, Ramada Kusuma Atmaja. Pengembangan Usaha: Elly Irwan Suryanto, Benny Siswanto. Iklan: Sidrotul Muntaha, Tomy Sila, Yusroh Abdillah, W. Nugroho, Deni Setiawan, Mega Dwi P. Desain Iklan: Mohammad Isnaeni Wardan. Keuangan: Citra Puji Rahayu. PENDORONG PERUBAHAN DAN PEMBARUAN Kasir: Anissa Windyah Sari. Pemasaran: Gerda Sukarno Prayudha, Iwan Setiono, Samsuri (Situbondo). Administrasi Pemasaran: Anisa Febriyanti. Perpajakan: Cici Irma Setyani. Administrasi Biro Situbondo: Dimas Ayu Dewi Fintari. Penerbit: PT Banyuwangi Intermedia Pers. SIUPP:1538/SK/Menpen/SIUPP/1999. Direktur: A. Choliq Baya. Alamat Redaksi/Iklan: Jl. Yos Sudarso 89 C Banyuwangi, Telp: (0333) 412224-416647 Fax Redaksi: 0333-416647, Fax Iklan/Pemasaran: (0333) 415153, Biro Genteng: Jalan Raya Jember nomor 36 Genteng, Telp: (0333) 845860. Biro Situbondo: Jl. Wijaya Kusuma No. 60 Situbondo, Telp : (0338) 671982. Email: radarbwi@jawapos.co.id, radarbwi@yahoo.com, radarbwi@gmail.com. Rekening: Giro Bank Mandiri Nomor Rekening 1430002019030. Surabaya: Yamin Hamid, Graha Pena Lt .15, Jl Ahmad Yani 88 Telp. (031) 8202259 Fax. (031) 8295473. Jakarta: Gunawan, Jl Raya Kebayoran Lama 17, Telp (021) 5349311-5, Fax. (021) 5349207. Tarif Iklan Display: hitam putih Rp 22.500/mmk, berwarna depan Rp 35.000/mmk, berwarna belakang Rp 30.000/mmk, Iklan Baris Umum: Rp. 22.000/baris, Lowongan: Rp 50.000/baris, Sosial: Rp 15.000/mmk. Percetakan: Temprina Media Grafika, Jl Imam Bonjol 129 Jember Telp (0331) 320300. J

Wartawan Radar Banyuwangi dilarang menerima uang maupun barang dari sumber berita.

J

Wartawan Radar Banyuwangi dibekali dengan kartu pers yang dikenakan selama bertugas.

J

Materi iklan/advertorial di luar tanggung jawab Radar Banyuwangi


31

Minggu 3 Februari 2013

SEMBAKO

Mobil PLN Terguling

BANYUWANGI - Kabar gembira bagi kalangan konsumen, harga sejumlah jenis bumbu masakan yang menanjak sebulan terakhir akhirnya pekan ini turun. Kabar baiknya lagi, penurunan harga beberapa jenis bumbu masakan tersebut cukup signifikan. Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi di Pasar Banyuwangi kemarin (2/2) menyebutkan, beberapa jenis bumbu yang turun harga adalah cabai rawit, cabai merah, ranti, dan bawang putih. Tidak tanggung-tanggung, penurunan harga beberapa komoditas tersebut mencapai seribu rupiah sampai Rp 6 ribu per kilogram (Kg). Sugiono, 34, pedagang di Pasar Banyuwangi mengatakan, tren peningkatan harga beberapa jenis bumbu masakan mulai berbalik. Menurut dia, cabai rawit, cabai merah, ranti, dan bawang putih, mengalami penurunan harga sejak empat hari terakhir

SITUBONDO - Kecelakaan lalu-lintas terjadi di Jalan Raya Desa Kesmabirampak, Kecamatan Kapongan, Situbondo, kemarin (2/2). Dalam kecelakaan itu, mobil operasional PLN Situbondo, Bagian Gangguan, bernopol L 8000 A terguling saat menghindari truk yang melaju dari arah berlawanan. Kecelakaan tersebut berawal saat mobil operasional PLN Si tubondo itu melaju dari arah timur dengan kecepatan tinggi. Saat melintas di lokasi kejadian, mobil yang dikemudikan Bambang itu mencoba mendahului sejumlah truk di depannya. Pada saat bersamaan, muncul sebuah truk dari arah berlawanan. Karena terkejut, Bambang membanting setir ke kiri. Sayang, saat itu bodi bagian belakang kendaraan tersenggol truk yang akan disalip. Kontan, mobil tersebut terguling hingga dua kali. Akibatnya, bodi bagian depan mobil mengalami rusak berat. Selain itu, tiga orang penumpang yang merupakan petugas PLN Situbondo mengalami luka parah

 Baca Harga...Hal 35

 Baca Mobil...Hal 35

SIGIT HARIYADI/RaBa

TAK STABIL: Pedagang cabai dan tomat di Pasar Banyuwangi kemarin.

Harga Bumbu mulai Turun

NUR HARIRI/RaBa

RUSAK: Kondisi mobil operasional PLN setelah kecelakaan di Jalan Desa Kesambirampak, Kapongan, Situbondo, kemarin (2/2).

BAGAIMANA INI

Jatah BOS 2013 Tembus Rp 114 M BANYUWANGI - Alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2013 naik dibanding tahun 2012 lalu. Naiknya jatah BOS itu dipicu bertambahnya jumlah siswa di beberapa sekolah negeri dan swasta. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sulihtiyono mengungkapkan, total dana BOS Banyuwangi tahun 2013 sebesar Rp 114,152 miliar. Tahun sebelumnya, total dana BOS di bawah Rp 114 miliar. Alokasi BOS SD dan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) mencapai Rp 73,445 miliar. Anggaran BOS itu dibagikan kepada se-

kitar 782 SD/SDLB dengan jumlah siswa sekitar 12.630 orang. Jatah BOS setiap siswa SD, kata Sulihtiyono, tidak ada perubahan dari tahun 2012 lalu, yaitu Rp 580 ribu per tahun. “Jumlah detail BOS SD/SDLB sebesar Rp 73.445.400.00,” sebut Sulihtiyono. Penambahan terbesar penerima dana BOS ada di sekolah dasar. Penerima BOS bertambah karena pemerintah daerah menekankan perluasan dan pemerataan pendidikan bagi masyarakat. Untuk itu, Dinas Pendidikan melakukan gerakan Pendidikan Banyuwangi

Mudah, Murah, dan Merata (4M). Dengan gerakan itu, partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan semakin luas. “Kita lakukan pendataan terhadap anak didik yang dropout, lalu kita ajak kembali bersekolah,” katanya. Sementara itu, jumlah penerima dana BOS SMP/SMPLB mencapai 36.195 siswa dan tersebar di 76 sekolah. Dana yang mengucur dari APBN untuk BOS SMP dan SMPLB mencapai Rp 25,698 miliar. Jatah setiap siswa juga sama seperti tahun lalu, yakni Rp 710 ribu per tahun. Penambahan siswa tidak terlalu

besar dibandingkan tambahan jumlah siswa SD. “Anggaran Rp 25,698 miliar itu hanya untuk siswa SMP/ SMPLB negeri,” katanya. SMP/SMPLB swasta, lanjut Sulihtiyono, mendapat jatah lain. Jumlah SMP/SMPLB swasta di Banyuwangi sekitar 95 sekolah dengan jumlah siswa 14.784 orang. Jatah anggaran BOS yang diberikan untuk SMP/SMPLB swasta di Banyuwangi tahun ini mencapai Rp 10,496 miliar. “Detailnya, BOS SMP/ SMPLB swasta Rp 10.496.640.000,” sebutnya. (afi/c1/bay)

Khawatir Bangkai Sapi Pemotongan Wajib Diketahui RPH

SIGIT HARIYADI/RaBa

MATI: Pohon asam di tepi Jalan Puncak Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Pohon Mati Bikin Waswas GLAGAH - Warga yang tinggal di tepi Jalan Puncak Ijen, tepatnya di Lingkungan Gunung Sari, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, resah. Mereka mengaku waswas terhadap kondisi pohon asam berukuran besar yang tumbuh di tepi jalan yang merupakan akses menuju Gunung Ijen tersebut. Sebab, sudah sebulan lebih pohon tersebut mati. Warga pun khawatir pohon yang masih dibiarkan berdiri menjulang itu tiba-tiba disapu angin dan roboh  Baca Lima...Hal 35

PMII

NUR HARIRI/RaBa

FRESH: Seorang pedagang saat menjajakan daging sapi di Pasar Mimbaan, Situbondo.

AGUS BAIHAQI/RaBa

DIALOG PUBLIK: Prof. Miftah, Alam Sudrajat, dan Hery Suhartono, di aula hotel Ikhtiar Surya, Banyuwangi, kemarin.

TKI Setor Rp 200 M Setahun GIRI - Pemerintah yang terus mengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri menjadi bahasan menarik dalam dialog terbuka yang digelar dalam rangka pelantikan pengurus cabang PMII Kabupaten Banyuwangi di Hotel Ikhtiar Surya, Kecamatan Giri, Banyuwangi, kemarin (2/2). Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Disosnakertran) Banyuwangi, Syaiful Alam Sudrajat, mengakui hingga kini Pemkab Banyuwangi melalui instansi yang dia pimpin masih melaksanakan program pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. “Pada 2013 ini masih ada program Antarkerja Antarnegara atau TKI,” katanya. Dalam dialog bertema “Optimalisasi Kinerja Pemerintah Daerah dalam Penanggulangan Pengangguran di Banyuwangi” itu, Alam menyebut sumbangan para TKI ke negara cukup tinggi. Di Kabupaten Banyuwangi, jelas dia, warga yang bekerja di luar negeri dapat menghasilkan devisa sebanyak Rp 200 miliar per tahun. Bukan berarti pemerintah tidak bertanggung jawab dalam menanggulangi pengangguran. Tapi kenyataannya, pemerintah memang belum bisa membuka lapangan pekerjaan secara maksimal. “Pemerintah pusat hingga kabupaten belum bisa membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya  Baca TKI...Hal 35

SITUBONDO - Beberapa pedagang daging sapi di wilayah Kabupaten Situbondo resah. Gara-garanya, polisi membekuk salah seorang jagal sapi yang akan menjual bangkai sapi. Atas kasus tersebut, Nanik, seorang pedagang daging di Pasar Mimbaan, Kelurahan/Kecamatan Panji, Situbondo, mengaku resah. “Saya jelas resah, biasanya pembeli akan menurun,” kata Nanik. Koordinator Rumah Potong Hewan (RPH) Situbondo, Alarico Fernades mengatakan, selama 2012 lalu pihaknya telah menemukan empat kasus penjualan bangkai sapi. Kasus terakhir adalah penangkapan Rasyid, warga Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa, Jumat lalu (1/2). Atas kejadian itu, pihak RPH langsung menyita empat bangkai sapi tersebut lalu dimusnahkan. Pemusnahan bertujuan agar bangkai sapi tersebut tidak beredar di pasar. “Kalau daging itu tetap dijual dan konsumsi, maka

sangat membahayakan konsumen,” kata Alarico kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Lebih jauh, berdasar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009, pemotongan hewan tidak diperkenankan dilakukan di luar rumah pemotongan hewan (RPH). Sebab, ada beberapa tahap yang harus dilalui terlebih dahulu sebelum sapi disembelih. Salah satu tahap yang harus dilakukan, kondisi kesehatan dan kehamilan sapi harus diperiksa tim dokter. Selain itu, dokter juga harus memeriksa karkas daging sapi yang telah disembelih. Tujuannya, mengetahui kondisi daging sapi tersebut. “Biasanya hati sapi yang dilihat. Jika rusak, maka harus dimusnahkan,” kata Alarico Fernades. Sementara itu, pemotongan sapi juga bisa dilakukan di rumah warga. Namun, itu hanya berlaku bagi mereka yang hendak melakukan hajatan, “Boleh disembelih di rumahnya sendiri, tapi khusus orang yang punya hajatan. Itu pun tetap harus mendapat pengawasan petugas RPH,” pungkasnya. (rri/c1/bay)


Ingin Dimuat di Koran?

34

Rubrik Koran Pelajar (Koper) Jawa Pos Radar Banyuwangi yang dimuat setiap hari Minggu menerima sumbangan pemikiran dan tulisan dari para siswa dan guru. Silakan kirim artikel ke alamat email radarbwi@gmail. com. Jangan lupa sertakan foto diri atau ilustrasi dan beri keterangan untuk rubrik Koper.

Minggu 3 Februari 2013

Meski RSBI Telah Dihapus RINTISAN Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) benar-benar tinggal kenangan. Setelah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi (MK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis surat edaran (SE) terkait pembubaran RSBI. Tak ayal, sekolah eks RSBI kini kembali menjadi sekolah biasa alias reguler. Dalam SE Nomor 017/ MPK/ SE/2013 diputuskan kebijakan transisi RSBI per tanggal 30 Januari 2013. Salah satu poinnya menyebutkan bahwa sekolah eks RSBI tidak boleh menarik pungutan. Kebijakan itu berlaku bagi sekolah eks RSBI mulai SMP, hingga SMA. tingkat SD, SMP, Nah yang termasuk term masuk dalam punNah guta gu t n adalah sumbangan pemgutan bina naan pendidikan pen p endi en did di dika d kan n (SPP). (SPP (S PP)). PP ). binaan

Tanggapan beragam muncul dari kalangan pendidik di sekolah eks RSBI maupun wali murid. Yang jelas, mereka siap melaksanakan keputusan MK dan Kemendikbud dengan segala konsekwensinya. Meski dilarang menarik pungutan, mereka bertekad tetap membawa sekolah eks RSBI untuk meraih prestasi terbaik. “Walau sudah bukan RSBI, tetapi semangat dalam pendidikan tidak kendur. Pelajaran tetap sama,” tegas Dra. Suhernik, MM, kepala sekolah eks SD RSBI Banyuwangi atau SD Negeri Model, kemarin. Optimistis senada disampaikan Hery Sulistianto, SE, ketua Komite Sekolah eks SD RSBI Banyuwangi. Dikatakan, pemberdayaan stakeholder pendidikan, khususnya wali murid, tetap dilakukan secara maksimal. Menurutnya, kalau ada program peningkatan pendidikan ya ka yyang angg b agus ag us d dan an ttra rans ra nspa ns p ra pa ran n kan bagus transparan

dari sekolah, maka komite, paguyuban, dan wali murid pasti mendukung sepenuhnya. Tetapi tentu saja tetap harus memakai asas keadilan. “Bagi siswa yang tidak mampu harus dilindungi dan dibebaskan, jika harus ada sumbangan,” harapnya. Semangat yang tidak jauh berbeda ditunjukkan jajaran sekolah eks RSBI SMP Negeri 1 Genteng. Menurut salah satu gurunya, Suyanto, meski tidak boleh ada RSBI model baru, tetapi semangat memajukan pendidikan jangan sampai kendur. Kurikulum baru sebaiknya bisa mewadahi setiap talenta anak mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA. Dia berharap, dana bantuan pemerintah tetap diberikan kepada sekolah unggulan. Sekolah tersebut itu harus mampu mempertahankan keunggulannya dan mempunyai kompetensi di berbagai bidang. (ir irw w) (irw)

DOK/RaBa

DIANGKAT: Dennis Deviandoni, siswa SMPN 1 Banyuwangi (waktu itu masih RSBI) meraih medali emas dalam International Junior Science Olimpiade di Iran, Desember 2012.

Tidak Ada Pungutan Lagi TERNYATA sekolah eks RSBI di Kabupaten Banyuwangi sudah kembali menjadi sekolah reguler sebelum surat edaran Kemendikbud turun. Segala bentuk kegiatan yang menggunakan kurikulum internasional sudah ditiadakan. Pembelajaran kembali memakai kurikulum nasional. Dampaknya, pembiayaan pun berkurang drastis. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Drs. Sulihtiyono, MM. Diakui, pihaknya belum menerima

DOK/RaBa

Sulihtiyono

surat edaran Kemendikbud. Namun, seluruh kepala sekolah

eks RSBI sudah dikumpulkan dan diberi pengarahan. “Kami sudah mendahului surat edaran Mendikbud dan kini tidak ada bedanya antara sekolah RSBI dengan reguler,” tegasnya saat dihubungi Koran Pelajar (Koper), kemarin siang. Ditegaskan pula bahwa sejak awal SPP sudah tidak ada di sekolah RSBI. Selama ini, hanya ada kebijakan bagi sekolah RSBI untuk menarik sumbangan dari masyarakat. Namun, kini jumlah nominalnya sudah berkurang

dan tidak berbeda dengan sekolah reguler. “Sebab, pembiayaannya juga berkurang setelah tidak ada kegiatan kurikulum internasional,” terangnya. Sumbangan itu bersifat tidak mengikat. Artinya, wali murid yang memiliki kelebihan rezeki dan ingin menyumbang, maka akan diterima. Tetapi yang tidak mampu tidak diwajibkan. “Kalau pungutan tidak boleh, karena mengikat. Semua siswa wajib membayar dengan nominal sama,” jelas Sulihtiyono.(irw)

RSBI SWASTA:Sekolah swasta masih diizinkan menerapkan standar internasional seperti SMP Unggulan Bustanul Makmur Genteng.

Hujan Kemerahan Coretan Afin Yulia*

H

ujan tak henti turun sejak semalam. Menebarkan bau tanah basah, dingin, dan suram menggayut di sela belukar dan batang-batang karet yang tinggi menjulang. Muin menatap gelisah ke depan, melewati tirai hujan yang jatuh di teritisan. Krieet! Muin menoleh ke arah derit pintu yang menyayat di hari yang berhujan. Istrinya, Minah datang. Bersama si bungsu Husna yang asyik bergelung di kelokan lengan. Nyamannya, batin Muin melihat kedamaian di wajah putri kecilnya. Terasa kontras dengan butir-butir kekhawatiran yang menyeruak benaknya sekarang. “Hujan masih belum juga reda, Min. Kelihatannya ia belum akan berhenti hingga siang nanti,” kata Muin pada Minah yang resah memandang hujan. Minah diam, berusaha tersenyum lapang meski gagal. “Apakah beras kita masih, Min?” Minah kebingungan. Sekenanya ia berkata ,”Masih.” Masih? Masih tinggal berapa genggam? Cukupkah untuk makan esok harinya? Muin mengembuskan napas ke udara. Tak lagi ada kata yang ingin ia ucapkan. Ia tahu keadaan lebih parah dari apa diucapkan istrinya. Jika beras masih ada, pasti tak ada lauk sebagai temannya. Bahkan sekadar sayur pun tak ada. Itu tak jadi soal baginya, tapi anakanaknya? Sudah berhari-hari mereka makan bubur tanpa rasa lain selain asin. Sudah tak ada uang pembeli bumbu lain. Uang mereka sudah tipis, harus dihemat betul hingga hujan reda dan ia bisa bekerja menderes batang-batang karet di kebun Wak Saleh seperti biasa. “Ai bagaimana?” “Panasnya naik lagi, Pak. “Apa sudah kau minumkan obat yang kemarin itu?” “Sudah, tapi panasnya tak mau turun juga. Apa kita bawa saja ke Puskesmas ya, Pak? Aku takut ia terkena penyakit demam berdarah seperti anak Pak Leman yang meninggal dua minggu lalu.” Muin tersenyum, tak berani menyanggupi. Terlebih jika hujan tak reda hingga berhari-hari seperti ini. Di sebelahnya, Minah tertunduk dalam. Ia mampu meraba apa yang dipikirkan suaminya. Sebagai warga dusun asli Karetan, perempuan itu paham persoalan umum yang menimpa mereka. Jika musim hujan tiba, proses penyadapan karet akan berhenti total. Sebuah proses alami yang tak dapat dihindari. Dalam masa ini daundaun karet berguguran. Akibatnya produksi getah turun drastis. Begitu juga pendapatan mereka. Lalu bagaimana cara mereka bisa makan? Tak ada jalan lain selain berutang uang atau bahan pokok kepada tauke-tauke yang mereka kenal. Sebagai gantinya ia akan menyerahkan karet-karet upahnya menyadap kepada mereka. Tetapi itu berarti hasil kerja mereka selama berhari-hari tak akan dihargai. Dengan semena-mena para tauke memutuskan, harga karetnya dihargai lebih murah dibanding harga di pasaran. Sementara bahan pokok yang dipinjam akan dihargai mahal. Ironis! Mengingat harga karet sedang bagus-bagusnya saat ini. Tapi apa boleh buat? Protesnya tak kan berguna. Pernah satu ketika ia mengungkapkan kecewanya. Sang tauke dengan enteng berkata ,”Kalau tak mau ikut kebiasaan, ya sudah! Jangan pinjam!”

Sketsa by Hari Purnomo (pelukis muda Banyuwangi).

Ah, buah simalakama! Batin Muin sembari mengembuskan napas berat ke udara. Mendadak terbersit olehnya, menyambung hidup dengan bekerja lainnya. Tapi ini apa? Ia tak punya keterampilan apa-apa. Sekolahnya hanya tamat SD. Mana mungkin ia bekerja di tempat yang lebih pantas dengan ijazah SD? Menjadi buruh tani? Pernah juga terpikirkan olehnya, tetapi di sini tak ada areal persawahan. Desa mereka lebih dikenal sebagai sentra penghasil karet ketimbang tanaman pangan. Pagi muram dihias kabut tipis yang mengalir perlahan ketika Muin berangkat membawa parang, menebas hawa dingin dan rintik hujan. Di kepalanya bertengger topi kumal. Dulu berwarna biru tapi kini sudah pudar. Di satu pinggir jalan, dua batang karet tua berdiri menjulang. Lumayan jika dijual, bisa digunakan untuk mengganjal perut keluarganya yang lapar. Senja mulai datang ketika Muin pulang dan disambut Asmin yang tergopoh-gopoh menceritakan bahwa anaknya dibawa ke puskesmas tadi siang. Hati Muin kian galau ketika Minah, istrinya berkata jika Ai harus rawat inap karena kondisinya yang terus turun sejak pertama dibawa ke Puskesmas. Demam berdarah, cerita sang istri menirukan apa yang didengarnya dari perawat-perawat di sana. “Duh, Tuhan…tolong saya,” desahnya di antara doa-doa panjang selepas Salat Magrib. “Hei, bukankah anakmu lebih penting dari apa pun juga? Ia permata hatimu, bagaimanapun caranya kau harus

mencari uang untuk biaya pengobatan anakmu!” hardik hati kecilnya, mengejek kegalauan yang melayang-layang di otaknya. “Apa kau mau pinjam uang?” tanya sang tauke tanpa tedeng aling-aling ketika sepagi itu Muin sudah berada di depan rumahnya dan menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. “Iya, Pak.” “Maaf, aku sedang tak punya uang,” ucap sang tauke tanpa menatap wajah Muin sembari menstarter motor. Muin meradang menatap wajah kepergian sang tauke. Dan hati itu semakin meradang tatkala ia melihat sang tauke asyik menjejalkan uang ke balik penutup dada Salimah, empunya kedai makanan di satu sudut jalan. “Sialan! Ia bilang tak punya uang?! Ah!” Muin mengepalkan tangan dengan kesal. Pagi itu, selepas Salat Subuh, Muin duduk mencangkung di depan rumahnya yang beratap rumbia. Pandangannya jauh menerawang melampaui hujan yang masih terus turun-turun seperti hari-hari sebelumnya. Derum suara mobil bagus yang lewat menarik rasa iri keluar dari sudut hati. “Apa kemiskinan ini akan terus berulang, Tuhan, hingga ke anak cucuku kelak? Terus menerus terlilit utang hingga sulit keluar dari kubangan?” gugatnya dalam diam. “Tak boleh menyerah, cari pinjaman lain!” suara

hatinya meningkahi. Muin menghela napas. Gontai ia berjalan keluar, cuma satu yang ia tuju. Wak Saleh pemilik kebun karet ini. Siapa tahu ia bisa memberinya pinjaman uang. Sayang ketika sampai di depan rumah Wak Saleh, ia hanya menjumpai rumah yang tertutup rapat. Kata tetangganya sudah tiga hari keluarga itu pergi menjenguk putrinya yang melahirkan di desa lain. Muin mengangguk saja lalu balik kanan sambil menelan kekecewaan. Ah, Muin kian kalut. Di pinggiran hutan karet, pikirannya melayang. Suara deru sepeda motor menarik perhatiannya. Tak ada yang dilakukannya selain diam memperhatikan pengemudinya hingga hilang di kelokan jalan. Ah! Tiba-tiba sebuah pikiran busuk melompat cepat memenuhi otak saat ia menatap jajaran pepohonan karet yang berayun lembut diterpa hujan. Ia tersenyum menyadari apa yang bisa dilakukannya di tempat sesunyi ini, menafikkan perasaan takut saat perbuatannya diketahui oleh Empunya alam. Maka esoknya seorang pria terkapar di tengah jalan. Dihantam oleh parang oleh Muin yang telah terputus logika terangnya. Darah mengalir dari luka-luka di badan si korban, menebarkan warna lain dalam genangan hujan di jalan tanah dusun Karetan. Hujan menderu, meraung dan mengucurkan air yang telah ternoda oleh warna kental kemerahan.. Kilat dan petir yang mengiring mewartakan masa depan suram yang menunggu Muin dan keluarganya di satu sudut kelokan tajam jalan hidupnya. Di tempat lain, seorang perempuan berdiri lemas ketika melihat gadis kecilnya terlelap dalam tidur panjang. Ia tak sanggup lagi berdiri ketika seorang perawat mengulurkan tangan padanya tepat saat adan Duhur berkumandang. “Ia cuma tidur kan, Bu?” nanar mata Minah menatap sang perawat. Sang perawat menggeleng pelan seraya menepuk pundak Minah yang runtuh kelelahan. Di sisi lain, Muin terus berlari, dalam angan bahagia atas senyum istri dan putri kecilnya yang tergolek karena demam berdarah. Sampai di sana rasa ngilu memenuhi hatinya. Lewat tatapan dan tangis istrinya ia bisa membaca apa gerangan yang terjadi. “Ai sudah pergi?” tanyanya serupa bisikan pada Minah. Minah mengangguk lemah. “Maafkan ayahmu, Nak,” Muin gemetar mengusap wajah Ai. Diciumi tubuh kaku putrinya, di tengah sesal yang ia rasa. “Apakah saudara yang bernama Muin?” seorang polisi datang tepat ketika Ai selesai dimakamkan. Semua orang berhenti berbicara, memandang ke arah Muin penuh tanya. Termasuk Minah yang menggendong putri bungsunya. “Kenapa, Pak?” suara Minah terdengar gusar. “ Saudara Muin, Anda kami tahan atas pembunuhan dan perampokan Mahardi,” seorang polisi maju dan menunjukkan surat penahanan pada Muin. Muin tertunduk tanpa daya. Suram merajai hatinya. Ditatapnya Minah yang sesenggukan di bahunya. “Andai saja…” sesalnya. Tapi sudah terlambat mengatakannya. Hotel prodeo sudah menunggunya, sebagai konsekuensi atas jalan yang telah dipilih. Afin Yulia. Aktif di komunitas menulis Be A Writer. Blogger http://afilia.blogspot.com


BERITA UTAMA

Minggu 3 Februari 2013

35

HALAMAN SAMBUNGAN

Boleh Dirujuk bila Bobotnya 5 Kg n KEMBAR... Sambungan dari Hal 29

‘’Dulu tahun 2003, kembar siam seperti ini juga ada di Banyuwangi. Tapi meninggal dulu sebelum tiba di Surabaya,” terangnya. Dia menegaskan, tim sengaja datang untuk mengecek langsung kondisi bayi tersebut. Ke mudian, tim memberikan pe nilaian terhadap kondisi

bayi kembar siam yang lahir Selasa (29/12) pukul 20.45 itu. “Keputusan tim, dua bayi ter sebut bisa dipisahkan,” tuturnya senang. Ditanya mengenai berat bayi terkini? Karel Anggrek, dokter spesialis Anak RS Al-Huda, memberikan jawaban. Dia menjelaskan, bobot terakhir ketiga bayi tersebut menurun. ‘’Berat bayi kembar siam 1,800 gram, dan satu bayi 1,200 gram,” katanya.

Meski begitu, dia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak membahayakan. Sebab, itu sesuatu hal yang wajar. ‘’Itu merupakan fisiologis, Lambat laun berat badan akan naik secara perlahan. Bobot turun setelah sehari-dua hari lahir, itu hal biasa,” paparnya. Dua dokter sebagai anggota tim kembar siam yang lain adalah dr. Dhihintia Jiwangga Suta, SpAn.KAP dan dr. Marus A.

Rahman, SpA (K). Mereka juga hadir dalam konferensi pers yang dimulai pukul 15.00 itu. Selain itu, dr. Indro Zaini selaku ketua IDAI Banyuwangi juga hadir. Mereka dipandu dr. Indie Yanti MM.RS dari RS AlHuda. Humas RS setempat, dr. Sugeng, dan Direktur RSUD Blambangan, dr. Taufiq, tampak di tengah acara. Kedua orang tua bayi kembar siam tersebut juga dihadirkan. (ton/c1/bay)

Ortu Terima Bantuan Rp 8,2 Juta SEMENTARA itu, orang tua bayi kembar siam tampak pasrah menghadapi proses medis lanjutan yang bakal dilalui bayi mereka. Pasangan Yuda Winarno, 22, dan Sika Jayati, 22, juga masih bingung mengenai biaya selama perawatan hingga operasi. Sebab, sampai kemarin (2/2) masih belum ada kejelasan mengenai biaya perawatan medis ketiga bayinya tersebut. Oleh sebab itu, pasutri tersebut berharap segera ada kejelasan mengenai semua biaya perawatan.

Namun demikian, kedua pasutri asal Dusun Krajan, Desa Bomo, Kecamatan Rogojampi, tersebut sudah menerima tali asih dari berbagai pihak, di antaranya Bupati Banyuwangi. Bupati memberi santunan pada saat menjenguk di RS Al-Huda, Kecamatan Gambiran, Kamis sore lalu. ‘’Pak Bupati sumbang Rp 3 juta,” kata Yuda Winarno. Selain itu, kata dia, ada orang lain yang membantu. Sayang, der mawan tersebut enggan memperkenalkan diri. ‘’Saya gak tahu namanya. Katanya

yang membantu saya itu orang dari Surabaya dan punya perusahaan,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Orang tersebut memberi uang Rp 5,2 juta. Dia pun berterima kasih atas kepedulian para pihak tersebut. ‘’Tidak ada lain kecuali terima kasih,’’ ujarnya. Karyawan perusahaan advertising di Denpasar, Bali, itu masih mengurus permohonan Jaminan Persalinan dan Jaminan Kesehatan Masyarakat ke pemerintah daerah. ‘’Sudah saya urus. Tapi, gak tahu bisa

atau tidak, karena di sini rumah sakit swasta,” tandasnya. Ketua tim kembar siam dari dr. Soetomo, Surabaya, dr. Agus Hariyanto, SpA (K) menegaskan, pihaknya tidak pernah menghitung uang. Sebab, yang paling utama adalah kesembuhan pasien. ‘’Nanti pasti ada kemudahan,” katanya. Dia juga mengapresiasi pihak rumah sakit terkait penanganan medis kembar siam tersebut. “Permohonan Jampersal rumah sakit ini semoga lekas direstui,” harapnya. (ton/c1/bay)

Tambahan Runway Menunggu Verifikasi Dephub n BISA... Sambungan dari Hal 29

Pada 2012 lalu, APBN menggelontor anggaran untuk penambahan beberapa fasilitas Bandara Blimbingsari. Salah satunya, penambahan runway dan apron bandara. Runway bandara diperpanjang sekitar 400 meter. Sebelumnya, panjang runway Bandara Blimbingsari hanya 1.400 meter, kemudian bertambah menjadi 1.800 meter. Dengan runway 1.800 meter, maka pesawat Boeing series 737-200/300 sudah bisa

mendarat. Hanya saja pendaratan pesawat Boeing belum bisa sempurna, hanya bisa landing secara restricted (terbatas, Red). Selain runway, luas apron juga ditambah. Tujuannya, agar bisa menampung banyak pesawat. Sebelumnya, apron Bandara Blimbingsari hanya 2.400 meter persegi, dan kini diperluas menjadi 4.800 meter persegi. Dengan luas 2.400 meter persegi, apron hanya bisa menampung dua pesawat-sedang jenis Fokker. Dengan luas 4.800 meter persegi, apron dapat me-

nampung lima pesawat dengan jenis yang sama. “Proses penambahan runway dan apron sudah selesai, tapi belum bisa dioperasikan. Kita masih menunggu tim verifikasi turun,” ungkap Kepala Satker Bandara Blimbingsari, Andy Hendara Suryaka. Andy mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat permohonan verifikasi kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI. Hanya saja, sampai sekarang belum ada konfirmasi kapan tim verifikasi datang. Verifikasi tim itu, kata Andy,

menjadi syarat mutlak sebelum runway dan apron tambahan itu dioperasikan. Sebelum diverifikasi, pihaknya tidak berwenang mengoperasikan fasilitas tambahan tersebut. Tim verifikasi itu, tambah Andy, akan mengecek semua peralatan demi me mas tikan apakah fasilitas itu su dah memenuhi standar keselamatan penerbangan ataukah belum. “ Jadi dicek semua, semacam dikalibrasi agar peralatan dan fasilitas yang ada selalu dalam kondisi siap dioperasikan,” tambahnya. (afi/c1/bay)

Pembayaran Disertai dengan Kuitansi n KAUR... Sambungan dari Hal 29

“Ya kita siapkan pemeriksaan para saksi dan pulbaket (pengumpulan bahan dan keterangan). Semua laporan tetap kita proses. Tinggal mela kukan penjemputan kalau yang bersangkutan tidak ada. Berarti dia (masuk) DPO (daftar pencarian orang),” imbuh Kasatreskrim Sunarto. Diberitakan sebelumnya, sepuluh warga Desa Lamongan, Ke camatan Arjasa, mengadu ke Komisi I DPRD Situbondo Ka mis (17/01) lalu. Mereka meminta dukungan kepada alat kelengkapan DPRD yang menangani masalah hukum ter-

EDY SUPRIYONO/RaBa

KORBAN: Warga Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, saat mengadu ke kantor DPRD Situbondo pekan lalu.

sebut agar ikut cawe-cawe dalam kasus pembuatan sertifikat tanah yang tak kunjung selesai. Ada sekitar 40 warga Desa Lamongan yang mengajukan

sertifikat. Namun, yang masuk ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) ternyata hanya tujuh orang. Besarnya biaya antara Rp 1.250.000 hingga Rp 2,5

juta. Pembayaran dilakukan ke pada Kaur Pemerintahan Desa Lamongan, Tirto Asmoro. Pembayaran tersebut dileng kapi kuitansi. Sebagian lagi dibayar kepada Kades Lamongan dan tidak dilengkapi kuitansi. Dalam pertemuan yang difa silitasi Komisi I DPRD Situ bondo disepakati bahwa pe ngurusan sertifikat para war ga itu akan dimasukkan dalam Program Nasional Agraria (Prona). Warga tidak mempermasalahkan pembayaran, yang terpenting mereka mendapat sertifikat secepatnya. Adapun proses hukum kasus penipuan tersebut diserahkan ke pada kepolisian. (pri/c1/bay)

Pernah Menyumpah 29 Orang n SUMPAH... Sambungan dari Hal 29

Kedua pihak yang melakukan sumpah pocong, terang dia, hendaknya percaya dengan kekuasaan Allah, terutama terkait azab yang akan terjadi. “Setelah sumpah pocong, tidak usah menunggu azab datang dari Allah, karena azab itu urusan Allah,” terangnya.

Pada Jawa Pos Radar Banyuwangi, Khozin menyebut, sumpah pocong yang di perbolehkan dalam Islam adalah un tuk islah. Sebelum ritual itu dilaksanakan, terang dia, kedua pihak yang bersengketa harus diingatkan bahwa semua perselisihan selesai setelah sumpah pocong dilaksanakan. “Ini yang diperbolehkan

dalam Islam (untuk islah),” ujar ketua Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Singaraja, Bali, itu. Khozin mengaku, saat menjadi hakim di PA Banyuwangi, dia pernah menggelar sumpah pocong beberapa kali. Bahkan, pada 1997 pernah meng gelar sumpah pocong di Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, yang diikuti 29 orang. “Saya beberapa kali menggelar

sumpah pocong seperti di Muncar itu,” jelasnya. Dengan nada serius, Khozin berharap agar masyarakat yang akan melaksanakan sumpah pocong menghubungi PA. Sebab, di PA ada hakim yang mengerti prinsip-prinsip mencari keadilan dari segi agama. “Hakim di PA bisa memimpin sumpah pocong tersebut,” katanya. (abi/c1/bay)

Ingin Mengubah Mindset Kalangan Pemuda n ATRAKSI... Sambungan dari Hal 29

Meski kuliah di luar Situbondo, para ma hasiswa tersebut tetap mampu menunjukkan kecintaan terhadap daerah. Dalam acara pertama tersebut, mereka memamerkan sejumlah kreativitas masingmasing mahasiswa, di antaranya pameran

sejumlah ilmu pengetahuan. Bahkan, di sela sela pameran, ada mahasiswa yang merakit roket air yang kemudian dipertontonkan di tengah masyarakat dan para pelajar. Selain itu, mereka juga mela kukan pengamatan benda langit dan me ngampanyekan polusi anti cahaya. “Sementara ini kami masih terjun di dunia pendidikan, sehingga kami mengajak adik-

adik SMA untuk belajar dan mengenal ilmu pengetahuan yang lebih luas,” imbuh Ahmad. Sementara itu, tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah meningkatkan pendidikan  dan mengubah mindset pemuda Situbondo agar semakin baik. “Kami berharap setelah pulang nanti, para mahasiswa bisa ikut membangun Situbondo,” pungkas Ahmad. (c1/bay)

Tim Seleksi agar Tepat Sasaran n LUNCURKAN... Sambungan dari Hal 29

Kata Fitrianto, dalam pertemuan lanjutan tersebut disepakati realokasi anggaran bea siswa berasal dari APBD 2013. Anggaran yang direlokasi adalah anggaran peningkatan di siplin aparatur. “Kegiatan itu berubah menjadi beasiswa kuliah bagi masyarakat miskin. Besar anggarannya Rp 891.327.100,” ujarnya.

Tentu tidak muda mendapatkan beasiswa. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi masyarakat. Syarat utamanya adalah miskin dan berprestasi. “Persyaratan tersebut nanti akan dijelaskan dengan de tail oleh Dispendik,” kata Fitriyanto. Dia menambahkan, program bea siswa kuliah untuk masyarakat miskin tersebut akan di laksanakan setiap tahun. Dispendik akan membuat tim

seleksi, sehingga program tersebut benar-benar tepat sasaran. Fosads akan mengawal kegiatan tersebut hingga tuntas. Plt Kadispendik Situbondo, Ateng Djaelani, sangat mengapre siasi program beasiswa kuliah untuk masyarakat miskin itu. Fosads berupaya mendorong masyarakat miskin berpendidikan tinggi. “Fosads tidak hanya menyampaikan konsep tapi siap mengawal hingga tuntas,” terangnya. (pri/c1/bay)

Blackberry Laku Rp 450 Ribu n DIBEKUK... Sambungan dari Hal 30

Aksi pencurian itu terjadi pukul 05.00 11 September 2012 lalu. Sebelum beraksi, tersangka melihat balapan liar di depan kan tor Pemkab Banyuwangi bersama RN, temannya yang tinggal di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. “Dua pelaku pulang berboncengan,” jelasnya. Setiba di depan rumah korban, RN yang menjadi joki menghentikan motornya. Se-

lanjutnya, RN turun dari motor dan masuk ke rumah korban melalui pintu depan. “RN yang masuk ke rumah korban, Dheki tetap di atas motor,” katanya. Beberapa menit kemudian, RN keluar dari rumah korban sambil membawa Blackberry dan dua buah helm senilai Rp 2,4 juta. Kedua tersangka langsung kabur. “Saat kabur itu, Dheki yang menjadi joki. “Dheki mengantar RN ke rumahnya,” jelasnya. Sebelum berpisah, kedua pelaku bagi-bagi hasil jarahan.

RN yang mengambil barang men dapat dua buah helm, dan Blackberry dibawa Dheki. Ponsel yang dibawa Dheki itu sem pat dijual ke Agus yang tinggal di Kelurahan Pakis. “Blackberry itu laku Rp 450 ribu,” ungkapnya. Tak lama kemudian, polisi ber hasil mengungkap kasus ter sebut. Hanya, kedua pelaku menghilang saat akan ditangkap. “Dheki sudah berhasil kita tangkap, dan RN masih buron,” ujarnya. (abi/c1/bay)

Diduga Sopir Kurang Hati-hati n MOBIL... Sambungan dari Hal 31

Dua korban bernama Bam bang, 47, dan Andika, 40, mengalami luka parah di kaki. Seorang korban lain bernama Ruli, 35, mengalami patah tulang terbuka di tangan kiri. Setelah berhasil dievakuasi, ketiga korban luka berat lang-

sung dilarikan ke RSUD Abdoer Rahem, Situbondo, un tuk mendapat perawatan. “Seluruh korban laka langsung dievakuasi ke RSUD Situbondo,” ujar Kanitlaka Polres Situbondo, Iptu Bakhtiar. Dikatakan, kecelakaan yang dialami kendaraan operasional milik PLN Situbondo itu diduga kuat akibat sopir kurang hati-

hati dalam mengemudikan kendaraan. Sebab, saat akan mendahului sejumlah truk di depannya, diduga sopir tidak memperhatikan kendaraan dari arah berlawanan. “Meski demikian, kami belum dapat memastikan tentang penyebab kecelakaan lalulintas tersebut,” kata IPTU Bakhtiar. (rri/c1/bay)

Segera Ditebang Besok n POHON... Sambungan dari Hal 31

Informasi yang berhasil dikum pulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi menyebutkan, pohon asam setinggi kurang-lebih 12 meter itu mati sejak sekitar 40 hari lalu. Warga pun sudah melapor kepada petugas Dinas Kebersihan dan Per tamanan (DKP). Laporan itu dimaksudkan agar petugas segera menebang pohon yang ber potensi membahayakan keselamatan warga tersebut. Namun, hingga kemarin (2/2) pohon tua itu belum ditebang. Asmai, 65, warga Banjarsari, mengaku khawatir tumbangnya pohon naungan di tepi Jalan

Puncak Ijen beberapa waktu lalu akan terulang. “Saat itu, pohon yang tumbang itu nyaris menimpa sebuah truk yang sedang melintas. Beruntung sang sopir sempat membanting setir. Tetapi, banting setir itu juga berakibat fatal, yaitu truk tersebut menabrak pohon lain. Beruntung sang sopir selamat,” jelasnya. Menurut Asmai, sekitar sebulan lalu warga sudah melapor ke pada petugas DKP terkait pohon yang mati itu agar segera ditebang. Sayang, hingga kini pohon tersebut belum di tebang. “Jangankan ditebang, peninjauan (oleh petugas DKP) saja belum dilakukan kok,” sesalnya. Asmai berharap pihak terkait segera menebang pohon asam

yang tumbuh tepat di depan kediamannya itu. “Lama-lama kayunya akan lapuk. Kalau lapuk, pohon itu mudah roboh. Apalagi, saat ini kerap ada angin kencang,” pungkasnya. Dikonfirmasi melalui telepon kemarin (2/2), Kepala DKP Banyuwangi, Arif Setiawan, mengaku belum menerima pengaduan dari masyarakat terkait pohon asam yang mati tersebut. Namun demikian, dia berkomitmen akan segera melakukan tinjau lapangan untuk mengkaji keadaan pohon yang dikabarkan mati tersebut. “Kalau memang berbahaya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, bahkan Senin (4/1), pohon tersebut akan kita tebang,” tegasnya. (sgt/c1/bay)

Wilayah Barat Belum Digarap n TKI... Sambungan dari Hal 31

Untuk membuka lapangan pe kerjaan baru, masih kata dia, pemkab telah berusaha menggandeng banyak investor untuk menanamkan modal di Banyuwangi. Hasilnya, sejumlah pabrik dan perusahaan tidak lama lagi akan mendirikan pabrik di Kota Gandrung ini. “Dengan banyaknya pabrik yang berdiri, maka akan banyak tenaga kerja yang terserap,” cetusnya. Sekretaris Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pe me rintah Desa (BPM dan PD) Kabupaten Banyuwangi, Hery Suhartono,

menyebut instansinya selama ini banyak melakukan kegiatan tentang penguatan masyarakat. “Kita banyak melaksanakan program pengentasan kemiskinan,” katanya. P ro g r a m m e n g e n a i p e ngentasan kemiskinan tersebut, jelas dia, bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Instansinya juga telah membentuk satuan tugas (satgas) mulai tingkat desa hingga kabupaten. “Pada 2012 lalu kita menggelar bedah rumah dengan anggaran Rp 3 miliar,” sebutnya. Sementara itu, narasumber lain dari Universitas PGRI Banyuwangi, Prof. DR. Miftahul

Arifin, menyebut kinerja peme rintah untuk masyarakat sebenarnya belum maksimal. Indikasinya, banyak dana yang di gelontorkan pemerintah pusat tapi tidak bisa dipakai. “Dana yang mencapai miliaran itu akhirnya dikembalikan lagi ke pemerintah pusat,” ujarnya. Dalam acara itu, Prof. Miftah juga mengatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan pemerintah belum merata. Saat ini pembangunan masih banyak diarahkan di sekitar perkotaan. “Di wilayah Kecamatan Licin dan Glagah ke atas (barat), banyak yang belum digarap pemerintah,” sebutnya. (abi/c1/bay)

Pasokan Barang Sudah Lancar n HARGA... Sambungan dari Hal 31

“Penurunan harga paling besar terjadi pada cabai merah. Harga cabai merah turun sebesar Rp 6 ribu, yakni dari Rp 22 ribu per Kg menjadi Rp 16 ribu per Kg,” ujarnya. Cabai rawit mengalami tren serupa. Komoditas berasa pedas itu kini dipasarkan seharga Rp 24 ribu per Kg. Padahal, sekitar empat hari lalu, harga cabai rawit mencapai Rp 28 ribu per Kg. Harga ranti juga turun, tepatnya dari Rp 16 ribu per Kg menjadi Rp 14 ribu per Kg. harga bawang

putih turun seribu rupiah, yakni dari Rp 28 ribu Rp menjadi Rp 27 ribu per Kg. Sugiono mengatakan, penurunan harga beberapa jenis bumbu masakan tersebut diakibatkan stok mulai lancar. “Sebelumnya stok cabai merah, cabai rawit, ranti, dan lain-lain, tipis. Saat ini stoknya mulai lancar. Mungkin karena intensitas hujan sudah agak berkurang,” jelasnya. Nah, lantaran stok mulai stabil, imbuh Sugiono, harga sejumlah jenis bumbu pun mulai merangkak turun. “Mudah-mudahan harga bumbu kembali normal. Idealnya harga cabai

rawit “hanya” Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu per Kg,” harapnya. Sayang, tren penurunan harga tersebut tidak diikuti beberapa jenis bumbu lain. Bawang merah, misalnya, setelah beberapa waktu lalu harganya melonjak dari Rp 16 ribu menjadi Rp 24 ribu, kini bawang merah tetap dipasarkan ke tangan konsumen seharga Rp 24 ribu per Kg. Bahkan, harga tomat masih terus naik. Saat ini konsumen bisa mendapatkan satu Kg tomat dengan harga Rp 10 ribu per kg. Padahal, sekitar empat hari lalu, harga tomat “hanya” Rp 8 ribu per Kg. (sgt/c1/bay)


MINGGU l 3 FEBRUARI 2013 l HALAMAN 36

Pesanggaran Gudang Wisata Alam

ABDUL AZIZ/RaBa

MULUS: Jalur menuju Pulau Merah sekarang sudah dilapisi hotmix.

Kondisi Jalan Lebih Bagus KEKAYAAN alam di Ke camatan Pesanggaran ternyata juga ditangkap secara baik oleh Pemkab Banyuwangi. Pada 2012 lalu, hampir semua jalan menuju Kecamatan Pesanggaran diperbaiki. Jalan yang diperbaiki tersebut terhitung mulai Kecamatan Tegalsari, Bangorejo, Siliragung, hingga Pesanggaran. Perbaikan jalan di semua pen juru tersebut dilakukan menjelang event berkelas international, Tour De Ijen. Kebetulan, salah satu rute dalam balap sepeda tersebut menuju Pulau Merah. Kondisi itu tentu bertolak belakang dengan kondisi jalan pada tahun sebelumnya. Hampir semua jalan menuju Kecamatan Pesanggaran hancur dan sulit dilalui kendaraan roda dua dan empat. Jalan Kabianem, misalnya, tahun lalu dipenuhi lubang yang cukup da lam dan lebar. Sehingga, pada saat hujan, jalur tersebut tak ubahnya kolam ikan. Hal sama juga terlihat di sepanjang jalan di Kecamatan Bangorejo menuju Siliragung. Jalan mulai Desa Kebondalem sampai Sukorejo penuh lubang menganga dan sangat membahayakan para pengguna jalan.

Saking parahnya jalan yang rusak di sepanjang jalur tersebut, pada Oktober 2012 warga setempat menggelar aksi menanam pohon pisang di tengah jalan. Aksi itu sebagai bun tut kekecewaan kepada pemerintah karena jalan tersebut tak kunjung diperbaiki. Lebih ke selatan lagi, jalur masuk Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung, juga banyak berlubang. Meski tak separah jalan di Kecamatan Tegalsari dan Bangorejo, tapi men jamurnya jalan berlubang di Kecamatan Siliragung juga sangat mengganggu pengguna jalan. Kondisi serupa juga terlihat di Kecamatan Pesanggaran. Semua jalan menuju tempat wisata, termasuk ke Pulau Merah, sangat jelek; penuh lubang. Jika hujan turun, air menggenang di jalan raya. Hal itu tentu bisa mengurangi minat wisatawan berkunjung ke berbagai tempat wisata eksotik di Kecamatan Pesanggaran. Namun, di akhir 2012, jalan berlubang sudah mulai tak terlihat. Semua jalan menuju Kecamatan Pesanggaran, mulai Kecamatan Tegalsari, Ba ngorejo, hingga Siliragung, kini telah diperbaiki. Sehingga, para wisatawan kini tak perlu canggung berkunjung ke tempat wisata di Kecamatan Pesanggaran. (azi/c1/bay)

KABUPATEN Banyuwangi me miliki banyak kekayaan wisata yang menarik. Salah satu daerah yang memiliki wisata alam adalah Kecamatan Pesanggaran. Wilayah ujung selatan Bumi Blambangan tersebut menyimpan kekayaan alam berupa hutan dan laut yang cukup menarik dikunjungi. Sebut saja Pulau Merah atau yang oleh turis asing disebut Red Island di Desa Sum beragung. Ada juga Pantai Lampon di Desa Pesanggaran. Pe sanggaran juga memiliki kekayaan laut lain yang sering di kunjungi wisatawan, yaitu Teluk Ijo, Pantai Rajegwesi, dan Pantai Sukamade di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) atau masuk Desa Sarongan. Selain menyimpan kekayaan wisata pantai yang cukup menarik, di Kecamatan Pesanggaran juga ada tempat bersejarah,

seperti Gua Jepang di TNMB dan beberapa tempat bersejarah lain. Wisata alam di Kecamatan Pesanggaran itu memang sangat menarik bagi wisatawan domestik maupun asing. Bahkan, hampir setiap hari tempat-tempat tersebut ramai wisatawan. Para pelajar, orang tua, dan turis asing, tampak menikmati lokasi-lokasi yang masih alami tersebut. Jadi, selain penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu yang selalu menjadi polemik, ternyata banyak sekali kekayaan alam di Kecamatan Pesanggaran yang layak dikunjungi. Apalagi, untuk menikmati semua keindahan alam terebut, pengunjung tak perlu merogoh kocek untuk bayar karcis. Untuk berkunjung ke berbagai tempat wisata di Pesanggaran, hanya butuh ongkos transportasi. Enak kan? (azi/c1/bay)

Objek Wisata di Pesanggaran Pulau Merah

Pantai Lampon

Teluk Ijo

Pantai Rajegwesi

Pantai Sukamade

Gua Jepang ALI NURFATONI/RaBa

MENANTANG: Peselancar beraksi di pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

MEDAN BERAT: Jalan tanah dan harus menyeberangi sungai menuju kawasan Sukomade.

BAYU SAKSONO/RaBa

Lokasi Penyu Sukamade Sulit Dijangkau BERKUNJUNG ke Pantai Sukamade bukan hanya bisa menikmati keindahan pantai. Pengunjung juga bisa menikmati serunya melihat langsung penyu hijau bertelur di malam hari. Sayang, jalur yang dilalui menuju

Pantai Sukamade rusak berat. Maklum, jalan tersebut masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang kondisi hutannya masih alami. Karena termasuk kawasan hutan lindung, jalur tersebut dibiarkan begitu

saja. Perjalanan dari kawasan desa terdekat menuju Pantai Sukamade sekitar tiga jam, bahkan bisa lebih. Sebab, mengacu kondisi jalan dan cuaca. Sebelum berkunjung ke Pantai Sukamade, para turis kebanyakan menginap di

RUSAK: Abrasi di Pantai Lampon membuat kawasan wisata ini sedikit kurang enak dipandang.

ABDUL AZIZ/RaBa

TERKENAL: Pasir putih terhampar di pantai Pulau Merah.

Pulau Merah Paling Mudah KAWASAN Pulau Merah di Desa Sumberagung termasuk kawasan wisata di Kecamatan Pesanggaran yang paling mudah dijangkau. Sejauh ini, kawasan pantai tersebut m e n j a d i j u j u k a n f av o r i t wisatawan. Menikmati pemandangan di pantai tersebut juga tidak dipungut biaya alias gratis. Meski begitu, setiap pengunjung tetap dikenakan jasa parkir kendaraan. Ombak laut di sepanjang pantai tersebut juga menarik minat para peselancar (surfer). Bahkan, pada tahun 2012, ombak di pantai terebut dijadikan arena surfing para peselancar muda berbakat nasional. Di sana juga pernah digelar

pertemuan dan rapat koordinasi Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Banyuwangi. Selain itu, Pulau Merah juga menjadi jujukan para fotografer. Sebab, ombak plus air laut yang jernih sangat menarik diabadikan dengan jepretan kamera. Di sejumlah kawasan pantai tersebut sudah dipasang berbagai larangan bagi para pengunjung. Misalnya, dilarang membuang sampah di laut. Itu sebagai upaya menjaga air laut supaya sedap dipandang. Tidak hanya itu, warning la rangan mandi di laut juga di pasang. Itu semata-mata agar tidak terjadi malapetaka. Mengingat, keselamatan pengunjung harus diutamakan. (ton/c1/bay)

ABDUL AZIZ/RaBa

Abrasi Parah di Pantai Lampon SATUďšşSATUNYA jalan aspal menuju lokasi wisata yang belum tersentuh perbaikan Pemkab Banyuwangi adalah jalan menuju Pantai Lampon, Desa Pesanggaran. Sepanjang lima kilometer jalan aspal menuju Pantai Lampon hancur. Kerikil tajam bertebaran di sepanjang jalur yang melintas di tengah hutan jati tersebut. Kondisi itu tentu membuat para pengunjung Pantai Lampon tak nyaman. Padahal, bila jalannya bagus, wisatawan bisa menikmati sejuknya udara hutan selama perjalanan.

Selain masalah jalan, hal lain yang juga cukup mengganggu keindahan Pantai Lampon adalah abrasi yang terjadi sejak setahun lalu. Hampir separo bibir pantai di sisi barat kawasan tersebut ambrol terbawa ombak. Kerusakan itu hingga kini belum diperbaiki pihak berwenang. Tentu hal itu membuat wisatawan kurang nyaman berkunjung ke tempat tersebut. Meski demikian, kerusakan jalan dan abrasi tersebut tak menyurutkan minat para wisatawan berkunjung ke sana. Setiap hari puluhan pe-

ngunjung datang ke tempat tersebut. Kerusakan jalan dan abrasi seolah tak mengurangi minat pengunjung menikmati indahnya Pantai Lampon yang ombaknya besar itu. Di sana, mereka juga bisa menikmati angin kencang sambil berteduh di bawah pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pantai. Jika jalan rusak dan abrasi di Pantai Lampon tersebut segera diperbaiki pemerintah, maka semakin hari jumlah pe ngunjung, baik domestik maupun asing, bisa dipastikan akan bertambah. (azi/c1/bay)

Kecamatan Kalibaru. Setelah itu, mereka naik kendaraan yang biasa digunakan off road yang disediakan pihak hotel. Ketika sampai di Pantai Sukamade, para turis asing itu kebanyakan menginap di penginapan yang disediakan pihak TNMB. (azi/c1/bay)


Radar Banyuwangi 3 Februari 2013