Page 5

OPINI

Jumat 3 Agustus 2012

41

LEBARAN

Mudik Gratis ke Madura BANYUWANGI - Kabar gembira bagi warga Pulau Madura yang ingin mudik ke kampung halaman. Administratur Pelabuhan (Adpel) Tanjung Wangi mulai kemarin (2/8) membuka pendaftaran mudik gratis dengan rute Banyuwangi-Sapeken, Madura. Calon penumpang kapal mudik gratis itu sudah mulai bisa mendaftar di kantor Adpel. Kepala Adpel Tanjung Wangi, Sri Sukesi mengatakan, tahun 2012 Pemprov Jatim menyediakan kapal dari pelabuhan Tanjung Wangi. Kapal dengan tujuan Sapeken itu disediakan untuk mengangkut pemudik asal Pulau Sapeken yang ada di perantauan. Untuk pemberangkatan perdana, ungkap Sukesi, akan berangkat dari pelabuhan Tanjung Wangi pada 16 Agustus 2012 mendatang. Pemberangkatan kapal mudik gratis itu akan disesuaikan dengan kapasitas angkut kapal. “16 Agustus, pukul 09.00 pelayaran pertama kita berangkatkan,” tegasnya. Sedangkan PT Indonesia Fery (IF) Ketapang, pada angkutan lebaran 2012 menyiapkan 35 armada. Semua armada kapal itu akan dikerahkan untuk melayani arus mudik pada lintas Ketapang-Gilimanuk. Dibandingkan 2011 lalu, jumlah armada kapal yang beroperasi mengalami penambahan. Pada angkutan lebaran tahun lalu, PT IF hanya mengoperasikan 32 kapal saja. “Ada tambahan kapal baru sebanyak tiga unit,” tegas Pemimpin PT IF Ketapang, Waspada Heruwanto melalui Manager Operasional, Saharuddin Koto. Tiga kapal pendatang baru adalah KMP Yunice, LCT SMS dan LCT Herline. “Dengan jumlah kapal yang ada, kemungkinan besar tidak ada kapal tambahan pada angkutan lebaran nanti,” tegas Saharuddin. (afi/als)

TRANSPORTASI

KA Sritanjung Akan Tambah Gerbong AC BANYUWANGI - Mulai angkutan lebaran tahun 2012 mendatang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) daerah operasi (Daops) IX Jember akan mengoperasikan KA Sritanjung kelas ekonomi yang dilengkapi fasilitas gerbong ber-AC. Kereta jurusan Banyuwangi-Jogjakarta itu akan beroperasi sebelum angkutan lebaran digebyar. Selama ini, lima gerbong KA Sritanjung beroperasi tanpa dilengkapi gerbong ber-AC. Pada angkutan mudik mendatang, PT KAI Daops Jember akan menambah gerbong penumpang menjadi tujuh gerbong. “Dua tambahan gerbong itu akan dilengkapi fasilitas pendingin ruang atau AC,” ujar Manager Humas PT KAI Daops IX Jember, Gatut Sutiatmoko. Saat ini, dua gerbong penumpang ber-AC sedang dalam pengerjaan. Gerbong ber-AC itu didesain berbeda dengan gerbong ekonomi non AC dan kondisinya akan lebih nyaman untuk penumpang. Diperkirakan, lanjut Gatut, sebelum lebaran tiba, dua gerbong ber-AC sudah selesai dirangkai dengan lima gerbong kelas ekonomi lainnya. “Tarif tiketnya berbeda dengan kelas ekonomi non AC,” tegasnya. Penumpang kelas ekonomi AC, ungkap Gatut, berkisar antara Rp 100 hingga Rp 120 ribu. Untuk tujuan dengan jarak 500 km, tarifnya sebesar Rp 100 ribu. Sedangkan untuk tujuan lebih dari 500 KM tarifnya sebesar Rp 120 ribu. “Rencananya, mulai 3 Januari mendatang, kita juga akan mengoperasi KA Logawa kelas ekonomi ber-AC jurusan Jember-Porwokerto,” katanya. (afi/als)

ADA APA LAGI

Saya Kuliah di Rumah SORE ini, setelah beberapa menit mencari kelas mana yang saya butuhkan, dan melihat-lihat beban kuliah, jadwal kuliah, dan profil profesor, maka saya putuskan mengambil 3 kelas di 3 universitas berbeda. Kelas-kelas tersebut adalah “Internet History, Technology, and Security” dari University of Michigan selama 7 minggu, kelas “Introduction to Astronomy” dari Duke University selama 9 minggu, dan kelas “Chemistry: Concept Development and Application” dari Rice University selama 10 minggu. Setelah puas memilih kelas yang saya inginkan, saya langsung mendaftar. Proses pendaftaran tidak bertele-tele dan tidak menuntut syaratsyarat dokumen yang sering kali menghalangi kita kuliah. Saya hanya perlu mengisi nama lengkap dan alamat email. Proses pendaftaran hanya memakan waktu beberapa detik. Semua kuliah ini akan saya lakukan dari rumah atau dari mana pun asalkan ada sambungan internet, dan tanpa biaya pendaftaran, biaya kuliah, biaya materi, mau-

BANYUWANGI – Kenyataan pahit dialami Sukesi, 65, warga asal Desa Undaan Wetan, Kecamatan Turen, Malang, ini. Betapa tidak, di usianya yang semakin senja, janda tersebut ditelantarkan anaknya. Kini, dia terpaksa menumpang di rumah orang lain di Dusun Pasar, Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Ceritanya, puluhan tahun silam perempuan tersebut pernah dicerai suaminya. Kemudian, sang suami menikah lagi dengan perempuan lain. Padahal, kala itu pasangan tersebut baru saja mendapat momongan. ’’Waktu saya ditinggal suami. Anak saya baru berumur dua tahun,’’ ungkapnya. Selain ditinggal sendiri, putranya yang bernama Ngatiran itu juga dibawa sekalian. Alasannya, saat itu ekonomi sang suami lebih baik dan masa depan sang anak lebih menjanjikan. ‘’Anak saya dibawa ke Banyuwangi. Saya tetap di Malang ikut orang tua saya,’’ katanya. Meski sang anak dirawat mantan suaminya, namun Sukesi mengaku sering mengirim uang. Hal tersebut demi membantu mencukupi kebutuhan anaknya. Namun, kemudian kiriman rutin itu diminta dihentikan oleh sang suami. ’’Saya gak boleh lagi ngirim. Katanya sudah cukup,’’ kenangnya. Singkat kata, kini anaknya sudah menjadi orang berpendidikan dan menjadi salah seorang kepala sekolah. Namun, keinginan untuk ikut anaknya tersebut di Desa Barurejo, Kecamatan Silir Agung, ditolak mentah-mentah oleh sang anak. ’’Saya ditolak itu tanggal 3 November 2011 lalu. Saya gak boleh tinggal di sana. Saya diusir,’’ terangnya. Padahal, dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah di Malang pun sudah dijual. Orang tuanya juga sudah meninggal. Harapan satu-satunya adalah ikut putra tunggalnya itu. ’’Cuma satu harapan saya, mumpung masih ada umur, saya ingin bersanding dengan anak dan cucu-cucu saya,’’ ujarnya, dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu, dirinya pergi ke rumah salah satu saudara di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Tak berapa lama kemudian, ada riak-riak kecil terdengar di telinganya. ’’Saya menangis di sawah. Lalu ada orang tanya saya. Baru saya cerita dan akhirnya tinggal di ibu ini (Endang Supiyati, Red),’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin. (ton/als)

O l e h

INES PUSPITA * gratis secara online kepada khalayak. Pendidikan kelas dunia yang selama ini hanya bisa dinikmati orang-orang pilihan itu ternyata juga bisa dinikmati banyak orang. Sampai saat ini sudah ada 16 universitas yang bergabung dalam COURSERA dan tersedia 111 kelas. Universitas-universitas terkenal, seperti Stanford University, Princeton Univer-

sity, The University of Edinburgh, University of Toronto, telah bersumbangsih dalam proyek ini. Belajar Filosofi sampai quantum mechanics, nanoteknologi dan genetika, sangat memungkinkan dilakukan di rumah dan tidak perlu menunggu kita punya uang beratus-ratus juta untuk ke luar negeri. Meski kuliah ini gratis dan online, saya tidak bisa menganggapnya enteng. Ada kelas bersama para profesor yang perlu saya hadiri, kegiatan interaktif bersama mahasiswa lain, tugas-tugas mingguan, quiz, bahkan ujian akhir. Di kelas-kelas tertentu, peserta harus memiliki background yang kuat di beberapa bidang. Misalnya kelas astronomi yang menuntut mahasiswa menguasai ilmu Aljabar. Peserta kuliah tentu harus fasih berbahasa Inggris. Walaupun tidak ada tes bahasa Inggris, tapi yang tidak mampu mengikuti kuliah dengan baik tentu akan gugur atau tidak lulus. Saya senang karena di tengah kesibukan mengajar murid, memberikan pelatihan

ke berbagai daerah, dan sederet kesibukan lain, saya masih bisa mengenyam pendidikan tinggi bersama profesor-profesor kelas dunia. Saya membayangkan saya bisa memasak sambil kuliah dan sesekali berinteraksi dengan mahasiswa lain. Saya bisa mengerjakan tugas saya ketika mengantre di bank atau supermarket. Saya bisa membaca buku sambil menunggu putri saya main sepak bola. Tidak hanya karir saya yang bisa meningkat atau meluas dengan pendidikan tinggi yang saya ambil di berbagai universitas top dunia tersebut. Yang jelas, sebagai manusia saya menjadi lebih baik, berilmu, dan terdidik. Saya adalah seorang guru dan seorang ibu, apa jadinya generasi yang saya didik apabila saya berhenti belajar? Tidak ada halangan lagi bagi siapa pun untuk menikmati pendidikan tinggi. Halangannya hanya ada pada diri kita sendiri. Selamat belajar! *) Aktivis Kemerdekaan Berpendidikan Indonesia asal Banyuwangi.

Dakwah Para Preman

ALI NURFATONI/RaBa

MERANA: Sukesi, 65, di rumah Endang Supiyati, di Dusun Pasar, Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, kemarin.

Dicerai Suami, Ditolak Anak

pun biaya ujian. Semua gratis karena program yang saya ikuti yang digagas beberapa profesor dari University of Standford tersebut sudah didanai para donatur. Setelah melihat profil para profesor yang akan mengajar, saya semakin semangat belajar. Tetapi, tidak cuma profil profesor yang membuat saya semangat, bahan-bahan ajar gratis (baik buku maupun website) juga membuat saya semangat. Beginilah rupanya revolusi pendidikan abad ke21, efisien, fleksibel, dan mudah diakses. Dari pengalaman saya ini, saya semakin tidak mengerti setiap kali mendapati segala halang-rintang, persyaratan, dan biaya yang harus ditanggung di Indonesia. Bukankah sekarang sudah bukan zamannya lagi menghalangi orang lain untuk maju? Bagaimana cara saya bisa kuliah gratis di berbagai universitas sekaligus itu? Jawabnya COURSERA (https://www. coursera.org). COURSERA ber-partner dengan banyak universitas kelas atas dunia untuk memberikan kuliah

SEJALAN dengan kehendak Allah dan garis takdir yang telah tertulis dalam catatan keabadian, menjelang Ramadan beberapa tahun lalu serombongan preman (8 orang dipimpin Solikin) dari Terminal Brawijaya, Karangente, Banyuwangi, belajar dakwah dan iktikaf selama tiga hari di musala Haji Farid, belakang kampus Untag Banyuwangi. Rombongan preman itu heterogen dan sangat awam dalam agama. Tapi jika ada yang mengatakan bahwa orang awam ilmu agama tidak boleh berdakwah, itu sama saja memprotes Allah. Sebab, Allah menceritakan semut dan burung hud-hud yang berdakwah (An-Naml: 18 dan 22-24). Kalau semut dan burung (binatang) saja bisa berdakwah, kenapa manusia awam dilarang? Bukankah kalimat dakwah itu singkat? Mereka hanya berkata, “Mari ke masjid, mari kita salat.” Bukankah kata-kata yang baik itu sedekah? Apakah kita harus menunggu sekolah dai tiga tahun untuk sekadar mengucapkan, “Mari kita ke masjid?”. Para preman juga butuh paham dan amal agama, karena agama itu kebutuhan pokok, lebih pokok dari makan dan minum. Kalau orang mati karena tak makan, tidak dihisab. Tetapi, kalau orang mati tidak beriman, itu celaka. Tertib ini tidak ada hubungan dengan Orda Lama

atau Orda Baru, ini adalah Orde Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Sayang sekali, orang-orang yang ahli agama justru menghujat mereka. Mereka menganggap bahwa orang-orang bodoh telah mengambil peran agama. Padahal, orang-orang bodoh itu bukan “mengajar”, melainkan hanya sekadar “mengajak”. Ulama pasti tahu bahwa “mengajak” adalah kewajiban semua orang, sedangkan “mengajar” adalah kewajiban ulama. Dengan dakwah, selain mengajak orang kembali ke jalan Allah, juga belajar sabar dan menerima apa pun perlakuan orang saat berdakwah; diusir, dicaci maki, bahkan difitnah. Lantaran dakwah itu di jalan Allah, diterima saja. Tidak membalas kejahatan dan keburukan dengan kejahatan atau keburukan yang lain. Melainkan dibalas dengan kebaikan pula. Insyaallah, Allah akan menolong hamba yang kesulitan. Selama program khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid) mereka berkeliling mendatangi tetangga musala atau masjid, menyapa orang di jalan, mengetuk pintu-pintu rumah yang tertutup, mengajak orang ke masjid atau musala dan mengajak umat untuk taat kepada Allah. Setiap malam mereka belajar membiasakan diri qiyamullail atau tahajud. Sering mereka menangisi ke-

O l e h

JAVAS ABU LILY * bodohan dan ketidakpantasan mereka memikul tanggung jawab dakwah ini. Sekali lagi, mereka hanya sekadar “mengajak”, bukan “mengajar”. Dakwah ini tidak menyalahnyalahkan orang lain. Tidak bicara ikhtilaf (perbedaan masalah fikih), tidak bicara politik, tidak bicara bisnis, dan tidak minta sumbangan. Mereka hanya bicara apa yang diamalkan, yakni enam poin materi dakwah. Pertama, laailahaillallah Muhammad Rasulullah. Kedua, salat lima waktu tepat waktu dengan khusyuk dan khudu’. Ketiga, ilmu dengan zikir. Keempat, ikramul muslimin atau akhlak yang mulia dan memuliakan

sesama muslim. Kelima, ikhlas. Keenam, dakwah dan tabligh. Mereka tidak bicara selain itu. Tidak mengkritik dan tidak menyinggung siapa pun. Pure hanya bicara agama. Dakwah yang genuine digali dari syirah nabawy dan membumi ini sangat dibutuhkan. Alim ulama harus banyak berdakwah juga karena itu amanah Allah. Dakwah mengajak orang shalat, berimplikasi positif terhadap keamanan. Dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 45 di sebutkan salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hukum yang ada saat ini tidak mampu menyelesaikan masalah. Seandainya hukum bisa mengubah penjahat jadi baik, maka penjara sepi. Faktanya tambah lama penjara makin over capacity. Hukum yang berlaku saat ini terlalu mengandalkan akal manusia. Sedang akal manusia jangkauannya terbatas. Bagaimana mampu mengubah ribuan orang yang sementara ini lalai. Sederhana saja, ajak orang salat. Insyaallah kejahatan tidak ada. Dakwah ini juga menguatkan ideologi negara. Seperti sila pertama Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa, itu kan tauhid. Nah, meski mereka preman, dalam dakwah ini mereka menguatkan tauhid. Mereka ingin bahagia lewat agama. Sebab, kejayaan manusia dan

kejayaan umat Islam tidak ada hubungan dengan apa-apa yang ada di 7 petala langit dan 7 petala bumi. Hanya di dalam qudrat Allah, hanya dalam pertolongan Allah. Kadang pengikut dakwah ini dituduh tidak bertanggung jawab kepada keluarga karena meninggalkan mereka cukup lama. Itu paham keliru. Justru mereka paling cinta keluarga, kebutuhan keluarga saat ditinggal sudah dipersiapkan. Saat berharihari meninggalkan keluarga, ada kerinduan mendalam terhadap mereka. Tetapi, mengejar kebahagiaan dan ridha Allah memang perlu pengorbanan. Seperti halnya Hajar ditinggal Ibrahim di padang tandus demi berdakwah di jalan Allah. Inilah inti kekuatan orang yang diantar dan yang mengantar bersama dengannya. Keperluan yang diantar dan yang mengantar yang akan mencukupi. Maknanya qudrat Allah bersama mereka. Pertolongan Allah bersama mereka. *) Aktivis Jamaah Tabligh Banyuwangi.

ANDA punya artikel? Penjaga gawang rubrik Opini Radar Banyuwangi siap menerima. Tulisan Anda akan dibaca seluruh masyarakat Banyuwangi dan Situbondo. Silakan kirim ke email: artikelradarbwi@gmail.com

Radar Banyuwangi 3 Agustus 2012  

Radar Banyuwangi

Radar Banyuwangi 3 Agustus 2012  

Radar Banyuwangi

Advertisement