Page 1

16 SEPTEMBER

29

TAHUN 2012

Kelopoan, Idola Baru yang Membara BANYUWANGI – Watudodol sudah lama jadi salah satu ikon wisata pantai di Banyuwangi. Namun beberapa tahun terakhir ini, pengunjung Watudodol seolah kian menyusut. Warga lebih menyukai pantai Klopoan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, yang hanya berjarak sekitar 300 meter sebelah utara Watudodol. Pantai ini tumbuh menjadi idola baru yang makin digemari pengunjung. Tak hanya data pengunjung yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah warga yang mengais rezeki dari kawasan pantai Kelopoan Bangsring ini pun semakin banyak. Mulai dari deretan warung, jasa parkir, penjual kerang, jasa penyewaan perahu

Anggaran Wisata Terlalu Kecil

dan sebagainya. Meski demikian, pengelolaan wisata Pantai Kelopoan Bangsring tersebut bukan tanpa masalah. Sejumlah warga dan pemilik warung di pantai tersebut, memprotes Karang Taruna selaku pengelola lokasi wisata tersebut pada 27 Agustus 2012 lalu. Banyak ketidakadilan yang dirasakan oleh warga selaku penjual jasa di tempat wisata tersebut. Soal tarikan dan alur dana, penempatan warung, serta sikap arogansi oknum pengelola, menjadi bahan protes pada pengelola yang dikomandani Muhammad Taufiq ■  Baca Kelopoan...Hal 35

Baca Halaman 35

LAUT BIRU : Fasilitas gedung baru di kawasan Pantai Kelopoan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi (kiri). Panorama pantai Kelopoan di Desa Bangsring (bawah).

Perlu Dibentuk BUMD Pariwisata SEMENTARA itu, aksi para pedagang dan warga di sekitar tempat wisata Pantai Kelopoan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, pada 27 Agustus 2012 lalu, rasanya perlu menjadi perhatian Pemkab Banyuwangi. Bukan lantaran konflik warga versus pengelola wisata yang perlu diperhatikan, tapi soal pengelolaan wisata di Bumi Blambangan. Wilayah Banyuwangi yang secara geografis berada di ujung timur Pulau Jawa ini, dikenal memiliki banyak potensi wisata pantai.

Banyak pula potensi wisata yang menyuguhkan keindahan alam. Bila dicermati, hampir semua lokasi wisata itu bukan sepenuhnya milik Pemkab Banyuwangi. Sebut saja destinasi wisata unggulan segi tiga berlian yakni penyu hijau di Pantai Sukamade, ombak G Land (Pantai Plengkung), dan Kawah Gunung Ijen. Pantai Sukomade di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran itu sepenuhnya di bawah kendali Taman Nasional Meru Betiri

(TNMB). Sedangkan Pantai Plengkung masuk wilayah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) ■  Baca Perlu...Hal 35

FOTO-FOTO: GALIH COKRO/RaBa

Ngadat, Diganti Lampu Buatan Sendiri Ratusan Pemohon MLAKU BARENG

Finis di Depan Gesibu BANYUWANGI – Posisi garis start dan juga finis acara Mlaku Bareng Pakde Karwo dan Gus Ipul pada 23 September mendatang sudah ditetapkan. Panitia memilih ruas Jalan Diponegoro depan Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) Blambangan sebagai lokasi finis. Sedangkan garis start dipilih ruas Jalan Kartini di depan gedung wanita Paramitha Kencana ■  Baca Finis...Hal 35

FemalE Takut Banjir Keringat BERKERINGAT itu merupakan salah satu ciri tubuh yang sehat. Hal itu merupakan bagian dari proses metabolisme tubuh untuk mengeluarkan zat sisa pembakaran akibat aktivitas tubuh. Namun, tidak semua orang tidak suka dengan kondisi tubuh yang berkeringat. Seperti yang dialami Novia Ayu Lestari. Fotomodel kelahiran 28 November 1995 itu mengaku tidak suka bila tubuhnya berkeringat. Rasa risi dan gerah pun membayangi saat butiran keringat mengalir dari pori-pori kulitnya. “Aku nggak suka keringatan,” akunya. Novia pun kurang menyukai aktivitas berlebihan yang bisa memacu keringat. Termasuk aktivitas olahraga di luar ruangan. Meski demikian, dia tetap melakukan olahraga tertentu seperti jogging dan bulutangkis. “Aku bisanya cuma jogging dan bulutangkis. Selain itu, aku hanya suka nonton,” katanya. (nic/bay) NIKLAAS ANDRIES/RaBa

http://www.radarbanyuwangi.co.id

IMB Ditolak BPPT

BANYUWANGI - Beberapa titik traffic light di Banyuwangi sering ngadat. Akibatnya, arus lalu-lintas menjadi kacau. Lantaran biaya peremajaan lampu lalu-lintas butuh dana besar, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika pun menyiasati dengan lampu bikinan sendiri. Seperti yang terjadi di perempatan Bank BNI di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi. Pekan lalu, traffic light itu sering padam dan tidak berfungsi. Selain itu, traffic light tersebut sering korslet, sehingga menyala tidak normal. Lampu warna hijau dan merah tidak berfungsi secara normal. “Ada beberapa titik yang sudah kita usulkan agar diremajakan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Agus Siswanto. Agus mengungkapkan, pada tahun 2013 pihaknya mengusulkan peremajaan delapan titik traffic light. Empat titik akan dipasang di Kecamatan Banyuwangi, tiga titik di Kecamatan Genteng dan satu titik di Kecamatan Gambiran. Hanya saja, Agus belum bisa memastikan apakah anggaran APBD 2013 memadai untuk anggaran pengadaan traffic light ■  Baca Ngadat,...Hal 35

PERBAIKAN: Pekerja memasang lampu baru di traffic light perempatan Bank BNI Banyuwangi.

GALIH COKRO/RaBa

BANYUWANGI - Untuk menertibkan penataan bangunan, pemerintah daerah memperketat proses penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) baru. Hanya bangunan yang sudah memenuhi ketentuan yang diterbitkan IMB-nya. Salah satu yang wajib dipenuhi pemohon IMB adalah, gambar bangunan yang akan didirikan. Pemohon sebelum mengajukan IMB, harus mendesain terlebih dahulu bangunan yang akan didirikan dalam bentuk gambar. Selama ini, syarat untuk melampirkan gambar dalam berkas permohonan IMB kurang menjadi perhatian pemohon. Permohonan IMB jarang melampirkan gambar dan menyerahkan pembuatan gambar itu kepada petugas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang. Saat ini, praktik seperti itu tidak diperbolehkan lagi. Sebelum mengajukan IMB, pemohon harus terlebih dahulu me-

DOK. RaBa

Abdul Kadir

nyiapkan gambar bangunan yang bakal didirikan. “Kalau tidak ada gambar, kita tidak akan memberikan rekomendasi penerbitan izin IMB,” ujar Plt Kepala Dinas PU Bina Marga, Cipta Karya, Tata Ruang Banyuwangi, Mujiono. Selain harus melampirkan gambar, lanjut Mujiono, pemohon juga harus memperhatikan lokasi bangunan dengan garis sempadan jalan ■

 Baca Ratusan...Hal 35

Melihat Proses Pembuatan Kapur Tradisional di Kotakan, Situbondo

Hanya Bekerja bila Ada Pesanan Cuaca yang sangat panas akhir-akhir ini cukup menyiksa warga Kota Santri Situbondo. Namun, kondisi ini justru membuat para pembuat kapur meraup keuntungan. NUR HARIRI, Situbondo BEKERJA membuat kapur tidak seperti kebanyakan pekerjaan lain. Saat matahari menyengat merupakan saat yang sangat tepat untuk mengolah kapur mentah menjadi kapur siap dipakai untuk bahan bangunan. Seperti yang terjadi di Desa Kota-

Kelopoan, Idola baru yang membara

ambil dari bukit di Desa Kotakan. Prosesnya, setelah bahan kapur mentah itu diambil dan ketika panas datang, maka mereka harus menyiapkan tempat untuk pembakaran kapur tersebut. “Bahan ini diambil di gunung desa sini, setelah dikumpulkan, kami menempatkannya di atas tungku, baru kemudian dibakar,” ujar Didik, salah seorang pekerja kapur. NUR HARIRI/RaBa Dalam satu kali pemPROSES: Para pekerja menyiapkan kapur untuk dibakar di Desa Kotakan, Situbondo. bakaran, itu membutuhkan, Kecamatan/Kabupaten Situ- bekerja di bawah terik matahari, se- kan setara dengan tiga hingga empat bondo ini. Beberapa orang terpaksa telah kapur mentah itu mereka truk kayu ■  Baca Hanya...Hal 35

Dalam istilah kuliner disebut ‘Degan Bakar’

Perlu dibentuk BUMD pariwisata

Cocok untuk pelesir dengan alasan studi banding pariwisata

email: radarbwi@gmail.com/radarbwi@jawapos.co.id


30

Minggu 16 September 2012

Obral Besar di Hi – tech Mall Hot Sale

Cuci Gudang di Hari terakhir OBRAL besar – besaran di hari terakhir pameran Hi – Tech Mall Hot Sale. Seluruh merk terkenal notebook, printer dan tablet android beramai – ramai menawarkan produknya dengan harga sale di hari terakhir pameran ini. Mulai notebook mulai Rp 1 jutaan, tablet android mulai Rp 500 ribuan, obral PC game, hingga aksesori dengan harga termurah. Dapatkan juga gratis internetan dari TelkomselFlash hingga 600MB untuk pembelian modem, tablet android dan notebook. Ditambah dengan voucher dari Indobook mulai Rp 30 ribu hingga Rp 60ribu. Potongan harga khusus juga diberikan oleh Microsoft, bila anda membeli Windows original. Dan pastikan anda selalu

BANYUWANGI

membeli produk IT yang bergaransi resmi dari distributor resmi. Obral Sale Notebook Terkenal Bergaransi Resmi Menurunkan seri terlaris, Axioo Pico CJM D623 kini ditawarkan hanya Rp 2.199juta. Toshiba NB 510 pun turun dari Rp 3.22juta jadi Rp 3.12juta. Lenovo S110 N2800 yang sebelumnya dipatok dengan Rp 2.999juta sekarang cukup Rp 2.769juta saja. Tak ketinggalan, Toshiba C600-1013U yang ikut turun dari Rp 4.4juta jadi Rp 4.2juta. Zyrex Cruiser LW4243 dari Rp 4.25juta jadi Rp 3.999juta. Acer AOD 270 – 268 yang dipatok Rp. 2.949juta. Fujitsu LH531V hari ini bisa dibawa pulang dengan Rp 5.5-

BANYUWANGI

juta. Sedangkan, Asus 1015 ditawarkan dengan Rp. 3.1juta. Penggemar

BANYUWANGI

Sony Vaio E14112 EG seharga Rp. 5.599juta.

DENPASAR

Tablet Android Termurah,Terjamin dan Banjir Bonus Di jajaran tablet, Mypad 103 dibandrol Rp. 899ribu. Vandroid T21 ditawarkan dengan harga spesial Rp. 699ribu dari harga Rp 799ribu bila anda menukarkan ponsel/modem segala kondisi. Efioo E4 kini bisa didapat dengan Rp. 1.3juta gratis kacamata 3D dan microSD 4GB. A Note CP-706pun lebih murah kini cukup Rp 1.099juta saja. Inforce Midea seharga Rp. 1.075juta. Cyrus TVpad Wifi ditawarkan Rp. 1.350juta. Treq A10 G duo 3G 8Gb dengan Rp. 1.799juta gratis leather case dan screen protektor, Realpad Nias cukup dengan Rp. 975ribu dari harga Rp 1.025juta gratis leather case dan microSD 4GB. Samsung Tab 7.7 dengan

BANYUWANGI

Rp. 5.499juta gratis book cover original, desktop dock dan screenguard. Dan jangan lupa untuk datang ke Android Corner untuk mendapatkan konsultasi android gratis. Selain itu juga ada penawaran aksesoris mulai kamera digital, software, CCTV,mouse, SDcard, MP3, headset hingga Flashdisk jangan sampai dilewatkan. Hadiah langsung mulai headset, speaker, tablet android, printer hingga notebook dan juga mug eksklusif bergambar foto diri setiap hari juga jangan anda lewatkan. Demi kenyamanan, jangan lupa untuk selalu membeli produk bergaransi resmi ya. Anda belum kebagian? Buruan datang, jangan sampai anda menyesal lho. Ingat IT, Ingat Hi-Tech Mall dong. (*)

BANYUWANGI

• Rumah 2 Lantai •

• Hotel Dikontrakkan •

• Staff Accounting/Admin •

• Cellular World •

• Avanza ‘11 •

• Daihatsu Promo •

Djl rmh 2Lantai Jl. Adi Sucipto LT 1742m2 LB 600m2 Strategis Hub. 08123461944

Dikontrakkn HOTEL ANDA, Jl. Basuki Rahmat 34, cck utk usaha. H: 081233034703

Dibutuhkn sgr: Staff Accounting/Admin. Syarat: L/P, min SMK (Akunt), usia 2035th, jujur, suka kerja keras, sebut gaji dminta, diutamakan yg potensial. Lamaran ke PO BOX 153 Bwi.

Kesempatan berkarir di Bali, dibutuhkan, SPG/SPB, pendidikan min. SMU/ sederajat. Tinggi min 160cm dan 170cm, komunikatif, pendapatan Gaji + bonus + asuransi kesehatan. Plus Mess karyawan. CV lengkap kirim ke Cellular World, Jl. Teuku Umar no. 60 Denpasar Bali PO BOX 80114. Info lebih lanjut Hubungi: HRD (0361) 8522669

Avanza G ‘11, htm, plat P (Bdws), 146jt, DP 46,3 @3.252.000x47bln. 087806514066

Miliki All new Xenia DP mulai 25 jutaan, Terios, Sirion, Luxio, Gran max DP mulai 15 jutaan. Info Daihatsu terbaru hubungi: Hadi 081 233 432 555 / 0815 5970 5555

• Tenaga Poltek Mesin • BANYUWANGI

BANYUWANGI

• Jl. Raya Kalipuro •

• Mutiara Blambangan •

Jual tanah cepat butuh uang, sblh Jl. Raya Kalipuro 1265m2, Jl. Kec. Kalipuro 5345m2, tanah kebun Jati 5975m2, tanah kebun Jati 8610m2. Harga nego - murah. Hub: ADE, 081334223999

Djl 2 Ruko gandeng di Mutiara Blambangan (Brt Bank Mandiri) Hub.03337751000

• Rogojampi 740m2 • Dijual tanah LT 740m2 sebelah terminal Rogojampi harga 250 juta (nego) Hub. 081338333153, strtegis, mobil bs msuk

• Bulusan + 2,4 Ha • Tanah di pnggir pantai L + 2,4 Ha, sebelah slatan MBP Bulusan 1jt/m2. 081353027992

• Karangrejo 850m2 • BUTanah dijual, lok Karangrejo Bwi, LT 850m2, hrg 230jt. Rmh Dkontrakkn d Kertosari Bwi, 2,5jt/thn. Hub.08813606165, 081353581017

• Jajag 1500m2 • Tanah dijual daerah Jajag, L 1500m2 (30x50m), bisa untuk ternak ayam, sebelah sudah ada kandang, harga 80 juta nego. Hubungi: Edy 085 258 751 525

• Tanah SHM 2265m2 • Jual tanah SHM, LT 2265m2, strategis pinggir jalan Pantura Stb-Bwi. Serius hubungi 087757973796

• Kalipuro 11x20m • Dijual tanah,11X20m Kalipuro, Banyuwangi. Harga jual 50 juta (nego). Lokasi strategis 50m dari Jln Raya (sebelah perum Kalipuro Asri). Hub Edi:081234989440/085859857994.

• Jl. Agus Salim • Dijual Ruko 2Lt, lok Jl. KH. Agus Salim blkg Untag, Bwi. Hub: 081233669969

Dibutuhkn sgr Tng D3 Poltek Mesin, skill pmesinan, pglmn 3th, kirim ke HRD PT Blambangan Foodpackers Indonesia, Jl. Sampangan 1 Muncar. H: 0333 593479

• Karyawan Distro • Dbthkn sgr Krywan Distro: (Pramuniaga), min SMU, mess, bsdia dtmptkn luar kota. Tmg Admin (pnglmn), sales/marketing. Hub: Amugerah (sltn Untag) Jl. Agus Salim Bwi. Tlp: 0333427190 / 087755894440

• Cellular World •

• Mercy C180 ‘97 • Mercy C180 ‘97 terawat, htm metlik, plat L. Hub: 081237451527 / 085792151827

• Kijang Grand Extra ‘93 •

• Toyota Innova ‘08 •

• Promo Daihatsu •

Kijang Grand Extra ‘93 1,5CC, abu2, a/n sndiri, terawat mulus, H. 68jt. 081336351669

PromoDaihatsuDisc.bsar2an,readystockXirion, disc 7jt, Terios, Grandmax disc 5jt, Luxio 8jt. DptknhdiahdiblnSept.Hub:Vira081336244377

• Nissan Grand Livina ‘07 •

• GrandMax 09/11 •

• Suzuki Grand Vitara ‘08 •

Dijual Nissan Grand Livina XVI tahun 2007 abu-abu metalik, harga 152,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176 , 0811351148

Dijual Daihatsu Gran Max S401 RP PMREJJ HA (pick-up) th 09/011 1,5cc/1.3cc, hrg 77,5 jt / 85 jt nego, brg istmw, bisa cash/kredit, H: (0333) 631526 – 635176, 0811351148

Dijual Suzuki Grand Vitara JLX MT (Jeep) tahun 2008 merah metalik, harga 175 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hub: (0333) 631526 – 635176, 0811351148

• Toyota Kijang ‘98 •

• KIA Picanto ‘05 •

• Nissan X-Trail ‘06 •

Dijual Toyota Kijang Stenin kf 70 spr tahun 1998 hitam, harga 72,5 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176 , 0811351148

Dijual KIA Picanto MT tahun 2005 abu-abu metalik, harga 90 juta nego, barang istimewa, bisa cash/kredit, hubungi (0333) 631526 – 635176 , 0811351148

Dijual Nisan XTrail tahun 2006 silver stone, istimewa, type STT ful audio, jok kulit nopol cantik asli (P) BWI harga nego, hubungi: (0333) 393036 - 082140769069

Kesempatan berkarir di Bali, dibutuhkan, Cashier, pendidikan min SMK Akuntansi/ sederajat, umur max 27 tahun. Staff IT, pendidikan min D2 Teknik Informatika, Pria. Lamaran dikirimkan ke Cellular World, Jl. Teuku Umar no. 60 Denpasar Bali PO. BOX 80114. Info lebih lanjut hubungi: HRD (0361) 8522669

Dijual Toyota Innova G Solar tahun ‘08, pemakaian 09, abu-abu metalik, harga 215juta nego, bisa cash/kredit, tukar tambah. Hubungi 082142194111, 081335897888

• Toko + Rumah Genteng • Djl Toko+rumah tkt2, full prabot, strtgs. Jl. Kembar Lt 310/490m2, uk. 10x31m, marmer, ksn jati, Tk Sriwijaya Jl. Gajahmada 274 Gtg-Bwi. H. Sugiarto 081233499888, 03170338181

SITUBONDO • Ruko & Tanah • Ruko + GD 3240 m2 Jl. Argopuro 15B Stb, Ruko 205 m2 & tnh 3360m2 dkt "ROYAL" Mrt. Tnh TG 25750m2 PNJ- KDL, samping sungai. Tnh 9600m2 Jl.Ry.Bwi KM 17 STB Arjasa. Tnh KP 10x20 (30jt) Jl. Ry Arjasa. H. 082333008871

BANYUWANGI

PEMBERITAHUAN BANYUWANGI • Global CCTV • Ingin rumah Anda dipantau dari luar kota melalui handphone? Global CCTV menerima service dan p e m a s a n g a n C C T V. H u b u n g i : 08121626627 (call/SMS)

• Terapi Doa • Dengan ridho Allah terapi doa membantu anda menyembuhkan penyakit Diabetes, hipertensi, stroke jantung koroner, dll. Tidak terbukti, tidak bayar. Insya Allah. Hub: 081336740396

• STNK •

• Travel Tosa •

Hlg STNK Nopol P 2837 YN, an. Sriyatun, Canga’an RT01/01 Banjulmati, Wongsorejo

Travel Tosa, Sbya/Juanda/Jember/Bwi. Hubungi: 0333 - 880029 / 081336252165

Sehubungan dengan makin maraknya aksi penipuan yang memanfaatkan iklan jitu di Koran Radar Banyuwangi kami himbau kepada masyarakat terutama pemasang iklan jitu di Radar Banyuwangi untuk waspada dan berhati-hati. Bila Anda menerima telepon, SMS dengan mengatasnamakan petugas dari Radar Banyuwangi maka segera konfirmasi ke Radar Banyuwangi (0333) 412224. Radar Banyuwangi tidak bertanggungjawab atas semua transaksi yang terjadi selain pemasangan iklan baris secara resmi di Radar Banyuwangi.

SITUBONDO • STNK • Hlg STNK Nopol P 2323 EJ, an. Herwan Eko P, SH. Jl. Madura 34 RT01/05 Mimbaan, Panji

Rust Evader Teknologi Atasi Mobil Keropos NEO Rust Evader merupakan perangkat pencegah karat secara elektronik pada kendaraan roda empat yang memiliki keuntungan dibanding anti karat semprot konvensional. Anti karat elektronik ini memberikan perlindungan total luardalam pada kendaraan dari serangan karat. Sistem ini merupakan penemuan terbaru dan merupakan solusi terbaik untuk perlindungan kendaraan. Anti Karat Elektronik lebih praktis dan efektif, tidak melubangi bodi mobil, tidak berbau dan tidak menetes. Alat ini melepas aliran listrik statis berukuran kecil ke seluruh metal bodi mobil. Hal ini dapat menghambat terjadinya proses karat dan korosi di bagianbagian bodi mobil yang sudah mengelupas cat pelindungnya. Jadi mulai saat ini, Anda jangan sembarang menyemprot mobil Anda dengan anti karat. Sebab jika sembarangan maka yang terjadi adalah body mobil Anda akan terkikis sebab ada partikel-partikel pasir yang akan melompat ke fender sehingga akan membuat mobil Anda berkarat. Kondisi jalan yang buruk, lompatan kerikil serta jalan yang berlubang bisa dengan mudah merusak lapisan ini dan meng-ekspose chassis besi yang rentan terhadap karat. Bagaimana solusinya? Salah satunya adalah menggunakan Neo Rust Evader, anti karat mobil elektrik (yang dapat) melindungi mobil bagian dalam dan luar mobil. (Neo) Rust Evader memompa elektron berlebih ke dalam bodi kendaraan, sehingga menciptakan efek kondensator antara bodi mobil dan noda Neo Rust Evader. Karena elektron yang terpengaruh ini lepas dari bodi kendaraan melalui celah pelindung yang ada, mereka menghalangi proses terbentuknya karat dan menangkal karatan pada mobil tersebut. Neo Rust Evader ini memberikan lima tahun garansi karat untuk mobil Anda. Alat ini dapat dipindahkan ke mobil lain, tidak menimbulkan bau, tidak mengganggu sistem elektronik mobil, dan produk teknologi tinggi ini dilengkapi sistem microchip dari USA. Jadi segera lindungi mobil Anda dengan Neo Rust Evader, bisa didapatkan di Aguung Variasi, Jl. A. Yani 84, (0333) 413226, Banyuwangi. Profil bisa dilihat di (www.neorustevader.com) (adv)

ISTIMEWA

TEKNOLOGI BARU: Jika mobil Anda ingin bebas dari karat, gunakan Rust Evader yang bisa didapatkan di Aguung Variasi Jalan A Yani Banyuwangi.

Pemimpin Redaksi/Penanggung jawab: Rahman Bayu Saksono. Redaktur Pelaksana: Syaifuddin Mahmud. Redaktur: Ali Sodiqin. Koordinator Liputan: Agus Baihaqi. Staf Redaksi: AF Ichsan Rasyid, Abdul Aziz, Niklaas Andries,Sigit Hariyadi, Ali Nurfatoni (Banyuwangi), Edy Supriyono, (Situbondo). Fotografer: Galih Cokro Buwono. Editor Bahasa: Minhajul Qowim. Lay Out/Grafis: Khoirul Muklis, Cahya Heriyanto, Ramada Kusuma Atmaja. Pengembangan Usaha: Elly Irwan Suryanto, Benny Siswanto. Iklan: Sidrotul Muntaha, Tomy Sila, Yusroh Abdillah. Desain Iklan: Mohammad Isnaeni Wardan. Keuangan: Citra Puji Rahayu. Kasir: Anissa Windyah Sari. Pemasaran: Gerda Sukarno Prayudha, Iwan PENDORONG PERUBAHAN DAN PEMBARUAN Setiono, Samsuri (Situbondo). Administrasi Pemasaran: Anisa Febriyanti. Perpajakan: Cici Irma Setyani. Administrasi Biro Situbondo: Dimas Ayu Dewi Fintari. Penerbit: PT Banyuwangi Intermedia Pers. SIUPP:1538/SK/Menpen/ SIUPP/1999. Direktur: A. Choliq Baya. Alamat Redaksi/Iklan: Jl. Yos Sudarso 89 C Banyuwangi, Telp: (0333) 412224-416647 Fax Redaksi: 0333-416647, Fax Iklan/Pemasaran: (0333) 415153, Biro Genteng: Jalan Raya Jember nomor 36 Genteng, Telp: (0333) 845860. Biro Situbondo: Jl. Wijaya Kusuma No. 60 Situbondo, Telp : (0338) 671982. Email: radarbwi@jawapos.co.id, radarbwi@yahoo.com, radarbwi@gmail.com. Rekening: Giro Bank Mandiri Nomor Rekening 1430002019030. Surabaya: Yamin Hamid, Graha Pena Lt .15, Jl Ahmad Yani 88 Telp. (031) 8202259 Fax. (031) 8295473. Jakarta: Gunawan, Jl Raya Kebayoran Lama 17, Telp (021) 5349311-5, Fax. (021) 5349207. Tarif Iklan Display: hitam putih Rp 22.500/mmk, berwarna depan Rp 35.000/mmk, berwarna belakang Rp 30.000/mmk, Iklan Baris Umum: Rp. 22.000/baris, Lowongan: Rp 50.000/baris, Sosial: Rp 15.000/ mmk. Percetakan: Temprina Media Grafika, Jl Imam Bonjol 129 Jember Telp (0331) 320300.  Wartawan Radar Banyuwangi dilarang menerima uang maupun barang dari sumber berita.

 Wartawan Radar Banyuwangi dibekali dengan kartu pers yang dikenakan selama bertugas.



Materi iklan/advertorial di luar tanggung jawab Radar Banyuwangi


31

Minggu 16 September 2012

Wisata Numpak Becak BANYUWANGI - Banyak peluang yang bisa digarap untuk meraih pendapatan di sektor pariwisata. Yang ditawarkan tak melulu pesona kekayaan sumber daya alam yang ada di Bumi Blambangan. Perbedaan kultur dan situasi kehidupan warga sehari-hari pun bisa digarap sehingga layak jual. Seperti yang dilakukan sekelompok tukang becak di Kota Gandrung ini. Akhir-akhir ini, sering kita jumpai agen travel yang membawa rombongan turis mancanegara menikmati wisata numpak becak. Bila rombongan itu tiba, para tukang becak yang mangkal di sekitar Pasar Banyuwangi dipastikan dapat rezeki nomplok. Hanya dengan keliling beberapa menit di pusat kota, para tukang becak itu bisa mendapat penghasilan lebih. (c1/bay)

MENIKMATI: Sekelompok turis mancanegara naik becak di Jalan PB. Sudirman, Banyuwangi.

GALIH COKRO/RaBa

ADA APA LAGI

Nyolong di Dua Rumah Sekaligus GLAGAH - Nasib apes menimpa Anton Setiawan, 19. Warga Jalan HOS Cokroaminoto, Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, ini ditangkap warga saat membobol rumah milik Supartini, 56, di Lingkungan Gaplek, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah Jumat malam kemarin (14/9). Warga akhirnya menyerahkan Anton ke Polsek Glagah, karena diduga mencuri telepon seluler (ponsel). Untuk keperluan pemeriksaan, tersangka untuk sementara dijebloskan ke ruang tahanan polsek sambil menjalani pemeriksaan. “Diduga tersangka ini sering mencuri,” cetus Kapolsek Glagah AKP Jupriyadi. Dugaan ini, berdasar dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik polsek, dan barang bukti (BB) yang didapat dari tangan tersangka saat ditangkap warga di lokasi kejadian. “BB yang dibawa tersangka itu ada dua buah ponsel, dan satu dompet,” ujar Jupriyadi. Dalam keterangannya pada polisi, tersangka ternyata sudah beraksi di rumah Islamiyah, 56, sebelum beraksi di rumah Supartini. Jarak rumah Islamiyah ini hanya beberapa meter dari rumah Supartini. “Setelah mencuri di rumah Supartini, lalu dia geser ke rumah Islamiyah,” terang Kapolsek Jupriyadi. Saat melakukan pencurian di rumah kedua korban ini, tersangka mulanya mengetuk pintu rumah. Setelah tidak ada jawaban, baru masuk dan mengambil barang yang ada di rumah. “Di rumah kedua korban, tersangka ini sama-sama mengambil ponsel, di rumah Supartini juga mengambil dompet,” sebutnya. Kapolsek menyebut, pihaknya masih melakukan pengembangan pada tersangka. Sebab, dari bukti yang ada di dompet hasil kejahatan tersangka, ternyata ada surat-surat motor. Surat motor itu bukan milik kedua korban. “Tersangka masih kita periksa untuk pengembangan,” katanya.(abi/bay)

BAGAIMANA INI

GALIH COKRO/RaBa

Terminal Bayangan Kambuh Lagi RUAS jalan di utara SPBU Karangente di Jalan Brawijaya, Banyuwangi, ini termasuk salah satu lokasi favorit awak angkot. Sambil menunggu penumpang bus yang turun di perempatan Karangente, mereka memarkir angkot di tepi jalan tersebut. Seolah lokasi itu sudah menjadi terminal bayangan dari terminal Brawijaya. Padahal, seharusnya angkutan umum dilarang mangkal di lokasi tersebut. Selain terlalu dekat dengan Terminal Brawijaya, mereka juga melanggar rambu lalu-lintas. Lihat saja, deretan angkot malah parkir persis di bawah dua buah rambu larangan berhenti. Bagaimana ini? (gal/c1/bay)

Camat Akan Pertemukan Warga SONGGON - Aksi warga yang menutup paksa penambangan pasir di Dusun Arjosari, Desa Bedeweng, Kecamatan Songgon, Kamis (13/9) lalu membuahkan hasil. Sebab, hingga kemarin tidak ada aktivitas penggalian pasir di lahan persawahan tersebut. Meski begitu, beberapa tuntutan warga terkait persoalan tersebut juga belum ada titik terang. Hanya saja, aksi protes warga tersebut menjadi rumusan pemerintah kecamatan untuk mencari solusinya. Terkait tuntutan warga tersebut, Camat Songgon Hardiono mengaku akan segera menindaklanjuti persoalan tersebut. ’’Kita akan segera pertemukan warga dengan pejabat desa dan pengelola,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin. Dia menjelaskan, sebenarnya sesuai aturan sudah jelas, jika penambangan tersebut tidak berizin alias ilegal. Sebab, sampai detik ini pemerintah daerah tidak pernah mengeluarkan izin. ’’Kalau aturannya jelas, penambangan itu tidak kantongi izin,’’ katanya. Meski demikian, masih kata dia, jika sudah menyangkut kebutuhan. Maka, duduk persoalannya tentu akan berbeda. ’’Tapi, agar masalah ini tidak

ALI NURFATONI/RaBa

RUSAK: Tidak ada aktivitas penggalian pasir di lahan persawahan Dusun Arjosari, Desa Bedewang, Kecamatan Songgon, kemarin.

berkepanjangan dan lekas klir, semua akan duduk bareng,’’ janjinya. Menurut dia, persoalan warga versus

Ditelantarkan Suami, Lapor Polisi PANJI - Merasa ditelantarkan, seorang ibu rumah tangga bernama Suidah, 36, warga Dusun Barat RT 04/09 Desa Curah Jeru, Kecamatan Panji, Situbondo, melaporkan suaminya sendiri yang berinisial RD ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Situbondo, Jumat (14/9) lalu. Kepada polisi, ibu dua anak itu mengaku bahwa dirinya telah lama ditelantarkan. Menurutnya, berbulan-bulan dirinya tidak pernah diberi nafkah lahir dan batin. “Saya sudah lama tidak diberi nafkah. Jadi saya lapor polisi,” katanya. Data yang berhasil dikumpulkan, penelantaran yang dilakukan suaminya itu terjadi sejak November 2011 lalu. Sejak saat itulah dirinya tidak pernah diberi nafkah. Di satu sisi, terlapor masih tetap memberikan biaya kepada kedua anaknya. “Saya sudah empat tahun tidak dikumpuli dan sekitar 10 bulan saya ditinggal,” katanya. Selain itu, saat kejadian, sebenarnya terlapor yang berprofesi sebagai guru itu juga hendak menceraikan Suidah. Namun, oleh Suidah niat sua-

minya itu ditolak. “Saya tidak mau dicerai. Kami sudah punya dua anak. Bagaimana nasib dua anak saya kalau saya cerai,” imbuhnya. Bahkan, oleh pihak keluarga terlapor, ibu dua anak itu mengaku pernah diusir hingga dua kali. Sang suami lebih memilih tinggal dengan wanita idaman lain yang diduga adalah muridnya sendiri. “Saya diusir dua kali. Saya malah tidak diperhatikan. Dia memilih tinggal bersama perempuan itu,” paparnya. Kasubag Humas Polres Situbondo, AKP Wahyudi, membenarkan adanya laporan terkait kasus penelantaran tersebut. “Setelah mendapat laporan itu, kami masih mendalami kasus tersebut,” ujar AKP Wahyudi kemarin (14/9). Dikatakannya, jika terlapor terbukti melakukan penelantaran terhadap Suidah, maka terlapor akan dijerat Pasal 49 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Jika laporan itu nanti terbukti dan terlapor benar-benar melakukan, maka akan dijerat Pasal 49 tentang KDRT,” tegas AKP Wahyudi. (mg1/c1/als)

pengelola agar lekas klir, maka harus ada pertemuan. Dalam pertemuan itu, nanti bisa disimpulkan solusi yang

terbaik. ’’Kalau ada komunikasi yang baik, sebenarnya warga tidak akan bertindak seperti itu,’’ paparnya. Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan warga menolak penambangan pasir di Dusun Arjosari, Desa Bedewang, Kecamatan Songgon. Kamis (13/ 9), mereka menggelar unjuk rasa di lokasi penambangan di areal persawahan itu. Mereka juga menutup paksa aktivitas penggalian tersebut. Pada kesempatan tersebut, warga melayangkan beberapa tuntutan. Antara lain mereka meminta mengembalikan saluran irigasi seperti semula. Sebab, dampak pengoperasian mesin backhoe itu telah merusak saluran irigasi. Kedua, bekas galian harus segera direklamasi. Pasalnya, lahan tersebut merupakan lahan produktif. Selain itu, mereka minta ganti rugi terkait kerusakan jalan akibat hilir-mudik truk pengangkut pasir. Tuntutan selanjutnya adalah larangan adanya penggalian. Sebab, sejauh ini, penambangan tipe galian C tersebut tidak ada persetujuan warga. ’’Stop penambangan pasir. Warga di sini tidak ada yang sepakat,’’ desak Hadi Yitno, salah satu tokoh masyarakat kemarin. (ton/c1/als)


34

Minggu 16 September 2012

Sajak - sajak

Jenang Merah # perayaan diri dari ibu aku tiru cara mengolah ketan putih campur gula merah “Aduklah, sampai likat.” aku tersenyum ketika tetangga menerima piring-piring jenang merah tanda awal remaja # pohon keluarga aku timang arum kecil dalam pangkuan dalam selimut shalawat orang-orang mengambil piring jenang merah tanda syukur kehidupan # bulir-bulir dari pintu datang seseorang mengirimkan jenang merah air mata suka cita : cicipilah

Mengaduk Sampah aku tak pernah suka siapapun mengaduk-aduk tempat sampah di samping rumah seolah ingin tahu rahasia rumah tangga kita mata-mata memperhatikan setiap plastik yang terbuang kertas, sisa makanan, bahkan bungkus pembalut seolah ingin tahu derajat keluarga kita dari yang terbuang hilang sudah jangan diungkit apalagi dicari biar jadi sesuatu yang diingat-ingat seumpama ikat pertalian kubuang jangan kau mengaduk-aduk sampah di samping rumah sebab ruang hidup kita sudah berubah Sekar Arum. Penyair nasional.

Lubang Cahaya pejamkan mata dan lihatlah semesta bintang-bintang membentuk lingkaran jalan menuju matamu hitam dan berlubang terowongan kisah-kisah cahaya bertabrakan: gelap serupa kulitmu yang kusukai pejamkan mata, dan lihatlah segala yang terurai berawal dari cahaya

13oppa.wordpress.com

KOREAN STYLE:Artis Korea sangat digandrungi remaja Indonesia hingga gaya rambut dan busananya ditiru.

KOREA FEVER Melanda Remaja

DEMAM Korea melanda dunia, salah satunya negara Indonesia. Pecinta Korea berasal dari banyak kalangan. Terutama kalangan remaja putri. Di mana-mana banyak yang membahas tentang Korea selatan. Budaya Korea yang lagi ngebuming banget ini nih mempunyai banyak tanggapan, baik positif maupun negatif. Hampir semua channel di televisi atau media massa memuat mengenai Korea. Dunia Korea seakan telah membius masyarakat Indonesia dengan film, lagu, boy band, girl band, dan artis Korea itu sendiri berwajah tampan dan cantik. Didukung dengan tubuh yang proposional. Penampilan mereka tentu didukung dengan gaya berbusana yang menarik, dengan memadukan warna-warna cerah dan nuansa ceria yang membuat penampilan mereka modis dan memberi kesan imut. Para remaja ketika ditanya lebih suka mana antara film produksi Korea atau film produksi Indonesia? Mereka kebanyakan akan menjawab lebih suka film produksi Korea. Bahkan, mereka ingin meniru gaya hidup yang ada dalam drama Korea. Menurut mereka, apa yang ada budaya Korea itu sesuatu yang mengagumkan dan sering mereka sebut

Oleh: Zhiana Chairun Siswa R-SMA-BI Negeri 1 Banyuwangi

keren. Sehingga artis-artis Indonesia banyak yang meniru style Korea yang happening. Sampai-sampai berdampak buruk bagi negara Indonesia, karena negara Indonesia dicap sebagai negara latah yang tidak bisa menampilkan karyanya sendiri. Di sisi lain masyarakat Indonesia lebih menyukai produk Korea dan berkurangnya rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia . Mereka terlalu mendewa-dewakan kebudayaan dan produk Korea. Menganggap bahwa produk Indonesia tidak ada apa-apanya. Mereka menghabiskan waktu dengan menonon drama Korea, yang dapat mereka lihat di televisi atau DVD. Drama Korea seakan menjadi tontonan wajib keluarga. Semakin banyak waktu yang mereka habiskan dengan hal itu. Tanpa mereka sadari, mereka sama saja dengan dijajah. Mereka tidak akan sadar telah terlena dengan drama/film yang disajikan. Ini membuat tingkah dan pola pikir menjadi pasif dan tidak mau aktif, mengembangkan hal-hal yang lebih

i b h bi k waktu kt berguna ketimbang menghabiskan hanya untuk melihat drama Korea. Begitu pula dengan makanannya. Makanan yang berasal dari Negeri Gingseng itu sekarang sudah masuk dalam daftar menu makanan restoran Indonesia. Banyaknya restoran yang membuka menu masakan Korea mengakibatkan tergesernya menu masakan Indonesia. Karena para pebisnis memanfaatkan demam Korea untuk membuka restoran yang menyajikan masakan Korea. Mereka berlomba-lomba menyajikan masakan Korea. Dari semua hal itu dapat diambil sisi positifnya. Semakin banyak pebisnis yang membuka restoran yang menyajikan makanan Korea, membuka peluang pekerjaan bagi para pengangguran. Generasi muda terinspirasi dengan adanya budaya Korea. Munculnya girl band dan boy band di Indonesia, termasuk salah satunya. Mengibarkan kembali boy dan girl band Indonesia yang sempat lenyap di dunia musik Indonesia. Dan menjadikan demam K-Pop ini menjadi suatu bisnis yang dimanfaatkan oleh beberapa kalangan. Misalnya, produser, media massa, bahkan situs-situs internet (website) dan juga tempat kursus. Banyak reamaja

k iK P d d yang menyukai K-Pop dan K K-drama, yang mengakibatkan mereka tertarik dan ingin belajar bahasa Korea atau hangul. Selain untuk bisnis kursus yang menguntungkan si pebisnis, hal ini juga berdampak baik bagi generasi muda, karena menambah bahasa asing yang mereka kuasai. Orang Korea sangat cinta dengan budaya mereka. Dengan cara mempromosikan apa saja tentang Korea melalui film mulai dari makanan, pakaian adat, dan latar yang digunakan sering mengambil tempat wisata di Korea. Selain untuk syuting juga untuk promosi keindahan. Contohnya Pulau Jeju dan Pulau Nami. Kalau di Indonesia setara dengan Pulau Bali. Hal ini patut dicontoh untuk memprosikan Negara Indonesia, yang mempunyai begitu banyak kebudayaan ke khalayak internasional. Jangan tenggelamkan budaya negara kita sendiri, akibat dari munculnya budaya luar yang mungkin lebih bagus. Mari kita cintai produk Indonesia dan mengibarkan budaya Indonesia go international. Dengan rasa bangga, kita tunjukan budaya dan produk Indonesia dan menghargai hasil karya generasi muda Indonesia.(*/irw)

Kepada: Mbakyu Oleh Dyah Hana*

Banyuwangi 18 Januari 2009. Hai Mbakyu, apa kabar? Kuharap semoga sampean baik-baik saja di Jogja. Karena adikmu yang sudah dua puluh tahun meninggalkan rumah diam-diam ini juga baik, meskipun pada akhirnya nanti sampean tahu bahwa aku di sini sedang tidak baik. Aku tak ingin membahas permasalahan kita dulu. Apalagi tentang Pak Subarno, perjaka tua yang sampean tawarkan padaku dan memaksaku memilih kabur bersama Kang Salim kekasihku yang saat itu menjadi sales peralatan dapur pendatang dari Banyuwangi. Aku hanya ingin menanyakan masalah putriku, hasil pernikahanku dengan Kang Salim. Maaf, aku tak memberitahu sampean tentang hal ini. Aku sudah menikah dengannya lima belas tahun lalu, setelah aku berhasil melanjutkan kuliah di Banyuwangi sambil bekerja menjadi akuntan toko furniture. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Tapi aku punya sedikit masalah yang tak bisa kupecahkan seorang diri. Aku butuh bantuan sampean untuk masalahku kali ini. Dua hari ini putriku tak bicara denganku, bahkan sedikit senyum pun tak di isyaratkannya. Sepertinya dia masih marah, meski kemarahannya tak sebesar awal ku melarangnya keluar rumah malam hari. Memang hari itu hari ulang tahunnya, dan dia meminta izin padaku untuk merayakannya bersama teman-teman barunya di pantai terdekat. Sebagai seorang ibu, aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Apalagi dia masih anak-anak, dan sebelumnya dia selalu pergi bersamaku. Maklum saja, ayahnya sudah meninggalkan kami ketika usia kandunganku masih delapan bulan. Ibu mana yang tak khawatir kala putrinya yang masih bau kencur keluar tanpa ada pengawasan orang tua? Meski memberi kebebasan, pasti semua akan selalu bertanya, di mana putriku sekarang? Apa yang dilakukannya saat ini? Selamatkah dia? Tak lain dengan aku yang juga seorang ibu, terlebih aku mengasuhnya seorang diri. Ku akui, aku memang sedikit protektif terhadap anak. Nanda—begitu nama putriku—ketika usianya tujuh tahun tak pernah kubiarkan bermain atau tidur di rumah tetangga yang jarak rumahnya lebih dari kira-kira 100 meter, dan aku menyiapkan alat bermain lengkap di rumah untuk mencegah keinginannya bermain di luar rumah. Walhasil, Nanda tak pernah meminta izin ke rumah temannya untuk sekadar bermain bersama. Seminggu yang lalu, Nanda tiba-tiba duduk di meja rias yang ada di kamarku dan menanyakan hal-hal yang menurutku kurang logis bila ditanyakan oleh anak-anak. “Bu, orang cantik itu seperti apa?” Aku tak menggubrisnya, karena pertanyaan itu memang bukan pertanyaan yang penting ketika aku sedang memilah dan memilih arsip Laporan Keuangan lembaga

sosial yang ku kelola. “Bu, kenapa diam?” sekali lagi dia mengulangi pertanyaannya yang menurutku konyol. “Memang harus dijawab?” singkat ku menanggapinya. “Terserah, seperti yang Ibu tahu.” “Seperti…” “Sepertiku?” sergahnya cepat. Aku hanya tersenyum dan mengangguk, dengan begitu dia akan berhenti bertanya. Dan prediksiku benar, Nanda segera keluar setelah isyarat singkatku ditangkapnya. Entah angin apa yang membuatnya seperti itu, yang pasti tugasku saat ini adalah berusaha membiayai pendidikannya yang saat ini masih duduk di kelas VII SMP. *** Ku kira, pertanyaan itu tak memberi pengaruh besar terhadap sikapnya pada hari selanjutnya. Tapi yang terjadi berikutnya justru lebih tak kuduga, sepulang sekolah Nanda membawa beberapa kantong belanjaan. Ketika kutanya dari mana uang belanjaan itu, jawabnya mengambil uang tabungan di rekening pribadinya. Memang aku telah membuatkan rekening untuknya sejak dia duduk di bangku kelas lima SD, agar dia bisa belajar hidup hemat sejak usia dini. Makanya aku tak bisa menyalahkannya ketika dia menggunakan uangnya, karena aku tak pernah mentransfer uang sedikit pun di rekeningnya. Waktu itu aku hanya bisa mencari tahu apa yang dibelinya diam-diam, karena keterbukaan itu sudah terkikis pelan. Yah. Saat senja menyapa hari yang tak indah bagiku itu, kudapati Nanda membiarkan barang belanjaannya berserakan di kamar kira-kira seluas dua puluh lima kilometer itu. Tampak di situ sepotong T-shirt warna pink, dan sepertinya putri semata wayangku itu sengaja membeli ukuran yang lebih kecil dari biasanya. Bisa kubayangkan bila Nanda yang memakainya, bentuk dan lekuk tubuhnya pasti terlihat jelas. Ditambah dengan bawahan yang kulihat di atas tempat tidurnya, celana jeans bawah pinggang yang mengecil di bagian betis. Sedang tampak di sudut utara kamar berposter Dangdut Hotest Singer itu, Nanda sedang mencoba memakai eyeliner yang tadinya berserakan di meja riasnya. Menurutku caranya berdandan kurang rapi, meskipun hasilnya terlihat cukup bagus untuk anak seumuran dia. Tapi bagiku Nanda masih terlalu kecil untuk melakukan hal-hal sekonyol ini. Riasan wajahnya beres, Nanda segera membuka sebuah kotak kardus yang ternyata berisi sepatu high heel. Aku tak bisa menangkap apa yang dipikirnya kali ini. Tak lama, dia segera menjauh dari meja rias dan melenggang bak model professional. Sesekali dia mendekatkan wajahnya tepat di depan kaca, sesaat kemudian tersenyum. Tak jarang dia melihat menerawang ke cakrawala, dan tak meninggalkan senyum itu. Aku masih belum tahu

apa yang dia pikirkan, hingga perubahan itu sepertinya memberiku sebuah problem besar. Saat itu aku tak menegurnya, atau sekadar mencari tahu mengapa perubahan sikap itu tiba-tiba saja muncul pada dirinya. Bagiku, ada yang lebih penting dari sekadar mengawasi gerak-geriknya. Bekerja untuk keberhasilan pendidikannya. Karena hidup dan mati seseorang tak ada yang

bisa menerka. *** Hari itu aku masih belum juga menyadari bahwa aku memiliki PR besar tentang putriku. Bahkan, dua hari selanjutnya pun aku masih belum menyadari, ketika dia tiba-tiba menanyakan tentang cinta ketika kuantar dia ke sekolah. “ Bu, Ibu dulu pernah pacaran?”

Aku hanya mengangguk. Karena waktu itu konsentrasiku hanya tertuju pada jalan raya yang cukup sesak, maklum pagi itu sekelompok mahasiswa sudah mengadakan demonstrasi mengkritik kenaikan harga BBM. “Sungguh, Bu?” “Iya.” singkat ku menjawab. Lama baru kudengar lagi suaranya. “Pada Ayah, Bu?” tambahnya sedikit terkejut “Yah.” “Lalu, bagaimana ceritanya?” Aku sedikit oleng, untung aku bisa mengimbangi suasana kota yang cukup ricuh waktu itu. Meski tak seramai di Jogja, demonstrasi itu membuat jalan raya hari ini sepenat jalanan Jakarta. Lagipula, aku masih belum begitu lihai mengendarai sepeda motor. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, tak mungkin aku menceritakan tragedi itu pada Nanda yang masih berusia tiga belas tahun. Terpaksa kucari alasan yang kurasa paling tepat. “Orang yang berkendara itu tak baik berbicara, apalagi bercerita tentang masa lalu. Nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Masih ingat kan kata Pak Polisi di Balai desa kemarin?” sanggahku sedikit berbohong. “Kalau begitu, orang jatuh cinta itu bagaimana?” tambahnya tak terima pembicaraan kami terhenti di situ. “Memang penting buatmu?” Nanda diam, tak dijawab pertanyaanku. Aku tak berpikir macam-macam tentang hal ini. Tak mungkin Nanda yang masih kecil merasakan cinta, tambah lagi dia anaknya sedikit pendiam dan selalu mengikuti apa yang kukatakan. “Nan!” panggilku seperti orang tua Banyuwangi memanggil putrinya. “Tidak, Cuma tanya” jawabnya dari belakang. “Memang teman kamu punya pacar?” kucoba mengorek informasi. “Iya, Bu.” “Tapi kamu tidak kan?” tambahku sedikit memberi isyarat bahwa aku melarangnya pacaran. Dia tak menjawab. Selang beberapa detik, dia angkat bicara. “Tidak.” Jawaban singkat itu akhirnya terlontar juga, setidaknya aku bebas dari masalah ini. “Masih kecil tidak usah pacaran dulu, biar selesai dulu sekolahnya.” tambahku menguatkan laranganku. *** Permasalahan itu memuncak dua hari lalu. Hari itu hari Minggu, tepat saat ulang tahunnya. Kulihat teman-temannya sudah menunggu di depan rumah. Kulihat mereka berempat, dua laki-laki dan dua perempuan. Namun yang masuk ke rumah dan menghadapku justru seorang temannya yang wanita. Selang tak berapa lama, Nanda keluar mengenakan kostum yang kemarin dia beli dan dia coba di kamar. Bahkan,

aksesori dan dandanannya pun tak bergeser sedikit pun. Aku mulai curiga, pasti ada yang tak beres dengannya. Ketika kutanya, dia mulai menunjukkan sikap paniknya. “Mau ke mana, Nak?” Matanya melirik ke arah temannya, tampak sekali kalau dia merencanakan sesuatu yang tak kusukai. “Nonton seblang, Bu.” ucapnya lirih. Aku tak habis pikir, dari mana dia punya rencana seperti itu. Padahal aku belum pernah mengajaknya menyaksikan ritual adat milik salah satu desa di Banyuwangi itu. “Tidak usah ikut. Kamu di rumah saja, di sana terlalu ramai untuk kamu yang masih kecil. Nanti kamu tidak bisa jaga diri.” cegahku saat aku membaca majalah tata boga di ruang tamu. “Bu, hari ini ulang tahunku. Aku cuma ingin hari ini berkesan seumur hidupku, Bu.” desaknya mencoba memberi alasan. “Kamu itu diberi yang baik minta yang tak baik. Sudah, tidak usah.” putusku tegas. “Wes, kalian berangkat saja. Nanda tidak ikut.” tambahku meminta temannya untuk segera pergi. Ku lihat air mata Nanda sudah memenuhi pelupuk matanya yang lebar, dia segera meninggalkanku dan beranjak ke kamarnya. Aku tak peduli, yang terpenting bagiku adalah keselamatannya. Tak mungkin kubiarkan dia mendekati tempat yang rawan kriminalitas seperti acara ritual seblang, karena aku paham betul bahwa banyak orang yang memanfaatkan kesempatan untuk berbuat jahat di tempat keramaian. Aku lebih tahan melihat dia menangis daripada mendengar kabar yang tak sedap di telinga tentang kenahasannya. Ku ikuti dia yang bergegas menuju kamarnya. Ku dengar suara musik begitu keras dia putar, dan aku mengerti kemarahannya. Ku biarkan saja dia, ku coba memberi kesempatan padanya untuk menunjukkan kemarahannya, seperti emosi yang biasa dia luapkan pada waktu sebelumnya. Entahlah, Mbakyu. Tapi hari itu aku mulai tahu begitu cemasnya seorang Ibu terhadap anak gadisnya. Mungkin begitu juga Ibu ketika beliau melarangku bergaul dengan sembarang orang, termasuk juga Mas Totok, hingga kepergianku ke Banyuwangi dan pernikahanku yang tak pernah direstui oleh Bapak dan Ibu. Ku harap Nanda tak begitu, Mbakyu. Ku harap Nanda tahu mana yang terbaik baginya dan peduli juga atas perasaanku sebagai Ibunya, meski sepertinya akan sulit terjadi. Mungkin dengan doa kalian semua, aku mampu mendampingi putriku melewati masa remajanya dengan baik. Terima kasih, Mbakyu. Sudah banyak mendengar keluh-kesahku dari jauh. Salam hormat pada Ibu dan Bapak. Sebuah kisah milik Ibu dari seorang remaja putri. *) Penyuka sastra.


BERITA UTAMA

Minggu 16 September 2012

35

HALAMAN SAMBUNGAN

Anggaran Wisata Terlalu Kecil SEMENTARA itu, pengelolaan wisata di Bumi Blambangan dinilai oleh belum maksimal oleh Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Ru liyono masih belum maksimal. Fasilitas penunjang di hampir semua tempat wisata di Kota Gandrung, dirasa juga terkesan apa adanya. Anggaran untuk penyediaan fasilitas di tempat wisata, belum mendapat perhatian serius dari pihak eksekutif hingga saat ini.

Padahal, fasilitas tersebut sangat diperlukan. “Anggaran untuk wisata memang sangat kecil,” cetus Ruliyono yang juga wakil ketua Badan Anggaran (Banggar) DPRD Banyuwangi itu. Untuk tahun anggaran 2012 ini, eksekutif memang banyak menganggarkan kegiatan Pariwisata. Tapi, jelas dia, anggaran itu lebih banyak dipakai untuk kegiatan infrastruktur seperti jalan menuju ke Gunung Ijen, dan

promosi pariwisata berupa Tour de Idjen, dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). “Untuk fasilitas di tempat pariwisata sangat kecil sekali,” katanya. Promosi besar-besaran tentang Pariwisata di Banyuwangi tanpa diimbangi dengan ke si apan para pengelola wisata, hasilnya juga kurang maksimal baik itu dari segi pendapatan asli daerah (PAD), atau pun manfaat yang akan diperoleh ma syarakat.

“Pendapatan dari lokasi wisata hanya dapat dari pajak, untuk retribusi pengunjung hampir tidak ada,” sebutnya. Menurut Ruliyono, sejumlah

Punya Karakter yang Pas sebagai Rest Area n PERLU... Sambungan dari Hal 29

Demikian pula dengan Kawah Gunung Ijen yang berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso itu, pengelolaannya menjadi wewenang Kantor Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Selain ketiga tempat wisata itu, ada juga kawasan Pantai Pu lau Merah di Kecamatan Pesanggaran. Ada juga Pantai Grajagan di Kecamatan Purwoharjo. Pantai Pulau Merah maupun pantai Gragajan adalah kawasan KPH Perhutani Banyuwangi Selatan. Demikian pula dengan wisata Rowo Bayu di Kecamatan Songgon yang berada di kawasan KPH Perhutani Banyuwangi Barat. Pun sebagian besar Pan tai Watudodol berstatus kawasan milik KPH Perhutani Banyuwangi Utara. Bahkan, Pantai Boom yang berada di jantung Kota Gandrung itu ternyata merupakan wilayah kerja PT Pelindo III. Tempat wisata Pantai Kelopoan di Desa Bangsring itu, meski belum disahkan sebagai lokasi wisata, ternyata termasuk salah satu tempat wisata pantai yang statusnya benar-benar mi lik Pemkab Banyuwangi. La han seluas empat hektare yang ada di Pantai Kelopoan itu, sepenuhnya milik pemkab yang pengelolaannya diserahkan pada Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (Disper tahutbun) Banyuwangi. “Be lum ada payung hukum

(pemkab) mengelola wisata,” cetus Kepala Dispertahutbun Banyuwangi, Ikrori Hudanto. Bila Dispertahutbun dipaksakan untuk mengelola wisata itu, maka bisa menyalahi aturan. Karena itu, agar lebih save bila pengelolaan wisata Pantai Kelopoan itu diserahkan pada pihak ketiga yakni Karang Taruna Kecamatan Wongsorejo. Selanjutnya, pengelola tersebut bisa menyetor retribusi sebagai penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). “Dulu (Pantai Kelopoan) seperti hutan dan tidak terawat, kini mampu menyumbang PAD sebesar Rp 9 juta setiap tahun,” kata Ikrori. Penyerahan pengelolaan wisata Pantai Kelopoan Bangsring kepada pihak ketiga tersebut mendapat dukungan pe nuh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Ba nyuwangi. “Pengelolaan wisata memang seharusnya diserahkan pada yang profesional, itu bisa pihak ketiga,” ujar Kepala Disbudpar Banyuwangi, Su prayogi saat ditemui di ruang kerjanya. Meski membidangi masalah pariwisata, Suprayogi mengaku SKPD yang dipimpin juga tidak bisa mengelola wisata seperti Pantai Kelopoan. Bahkan bila dipasrahi untuk mengelola tempat wisata, Disbudpar barang kali memilih menolak karena merasa tidak mampu mengelola. “Jujur saya angkat tangan, karena bukan profesional di bidang itu,” ujar Suprayogi. Suprayogi menyebut, sampai saat ini, tempat wisata di Pantai Kelopoan itu sebenarnya belum

disahkan sebagai lokasi wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Bila memang arahnya akan dibuat wisata, apakah itu sudah layak dan perlu dilakukan penelitian kelayakannya. “Pantai Kelopoan itu sebenarnya hanya pantai dengan beberapa warung,” sebutnya. Sampai saat ini, Suprayogi menyebut belum pernah diberi penyerahan oleh pemkab untuk mengelola tempat wisata tersebut. Tapi bila dikelola oleh masyarakat ternyata hasilnya bisa lebih baik, maka hal itu dianggap sebagai solusi yang terbaik. “Pembangunan itu pada dasarnya bisa membuat masyarakat sekitar lebih baik, kalau dengan dikelola seperti ini sudah bagus, kenapa tidak,” katanya. Bila Pantai Kelopoan itu akan di manfaatkan untuk tempat wisata, sebenarnya harus jelas jenis dan karakternya. Wisata Pantai Kelopoan itu untuk rest area, wisata kuliner, atau wisata buatan. “Semua ini harus diperjelas dulu, jadi untuk promosinya juga enak,” terang Suprayogi. Sementara itu, posisi lokasi wisata Pantai Kelopoan sangat berdekatan dengan Bali, dikenal memiliki potensi wisata yang cukup bagus dan khas. Pendapat berbeda disampaikan oleh anggota Komisi 1 DPRD Banyuwangi, Suminto. Wakil rakyat yang dikenal cukup kritis ini menyebut, pemkab sudah waktunya membentuk badan usaha milik daerah (BUMD), yang itu khusus mengelola pariwisata. “BUMD Pariwisata sudah diperlukan,” katanya.

BUMD perusahaan daerah aneka usaha (PDAU), se benarnya bisa mengelola bidang pariwisata. Tapi karena kondisi PDAU yang selalu tidak sehat, tentu tidak akan menjanjikan bila diberi tugas mengelola wisata. “PDAU merugi terus, dan itu tidak efektif,” sebut wakil rakyat yang membidangi ma salah hukum dan pemerintahan ini. Langkah membentuk BUMD pariwisata ini, jelas Su minto, tentu akan selaras dengan k e b i ja k a n Bu p at i Ab d u l lah Azwar Anas yang mempromosikan potensi wisata di Kota Gandrung secara besar-besaran. “Wisatawan banyak berdatangan, ini tanpa di imbangi dengan kesiapan tempat wisata, saya rasa juga kurang maksimal dalam menyumbang PAD,” cetusnya. Suminto mengaku, secara pribadi mendukung penuh bila pemerintah akan membentuk BUMD pariwisata ini. “Pantai Kelopoan itu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tempat wisata, view bagus dan lokasinya juga sangat strategis karena berada di tepi jalur poros jurusan Bali,” sebut politisi Partai Hanura itu. Suminto optimistis, bila Pantai Kelopoan dikelola secara profesional akan menjadi tempat wisata yang menjanjikan. Pelabuhan ASDP Indonesia Ferry (PT IF) Ketapang yang sering macet dan antre, tentu bisa menjadi tempat alternatif untuk beristirahat. “Pantai Kelopoan cocok untuk wisata rest area,” katanya. (abi/bay)

Tukar Kupon pada Jam Kerja n FINIS... Sambungan dari Hal 29

Ketua Panitia Mlaku Bareng, Syaifuddin Mahmud mengatakan, pemilihan lokasi start dan finis secara terpisah ter sebut demi memudahkan pe serta dalam menempuh rute yang ditetapkan. Selain rute yang tidak memberatkan,

peserta juga berpeluang mendapatkan hadiah utama berupa dua unit sepeda motor Honda. Syaifuddin menambahkan, acara Mlaku Bareng tersebut terbuka untuk umum dan gratis. Agar bisa mendapatkan tiket Mlaku Bareng, peserta cukup menukarkan guntingan iklan Mlaku Bareng Pakde Karwo dan Gus Ipul yang tercetak di

halaman koran ini. ‘’Tukarkan guntingan iklan itu dengan tiket Mlaku Bareng di kantor Radar Banyuwangi di Jalan Yos Sudarso 89-C Banyuwangi pada jam kerja,’’ ujarnya. Acara tersebut didukung Pem prov Jatim, Pemkab Banyuwangi, Dispora, PT. MPM Honda, FIF Spektra, Bank Ja-

tim, UD. Kencono Elektronik Banyuwangi, Diler Banyuwangi Mo tor, Diler Garuda Motor Banyuwangi, MPM Motor Banyuwangi, Diler Garuda Motor Rogojampi, Diler Garuda Jaya Motor Srono, Diler Sumber Jaya Maha Sakti, Teh Pucuk Harum, percetakan Tirto Arum, SPBU Jalan Banterang, dan JTV Banyuwangi. (bay)

Pengadaan Membutuhkan Dana Besar n NGADAT,... Sambungan dari Hal 29

Pengadaan traffic light membutuhkan anggaran yang cukup besar, karena satu titik traffic light sangat mahal. Harga pengadaan untuk satu titik traffic light paling murah berkisar Rp 250 hingga Rp 350 juta. Sehingga, pengadaan traffic

light tidak bisa dilakukan secara bersamaan karena mem butuhkan anggaran sangat besar. Untuk menyiasati lampu sering korsleting, lanjut Agus, pihaknya melakukan perawatan rutin. Dalam perawatan rutin tersebut, perbaikan tidak dilakukan secara total. Mereka hanya fokus memperbaiki pada ti tik yang korsleting. “Kalau

lampunya mati, ya kita ganti lampu,” tegasnya. Seperti yang dilakukan pada traffic light yang ada di Kelu rahan Kertosari. Di titik itu, traffic light memang sering korsleting dan mati. Untuk mengatasi persoalan itu, pihaknya harus kerja keras melakukan perawatan. Perawatan tidak membutuhkan anggaran

yang besar, karena lampu bisa didesain sendiri Dinas Perhubungan. Karena itu, untuk mengatasi lampu yang mati tidak perlu me lakukan pengadaan. Tapi cukup dengan cara mengganti lampu yang mati dengan hasil bu atan sendiri. “Kita sudah memiliki tim untuk membuat lampu,” katanya. (afi/c1/bay)

lo k asi wisata di Banyuwangi ini sebagian besar milik Taman Nasional (TN) di bawah kendali Kementerian Kehutanan, dan milik KPH Perhutani. Agar bisa maksimal pengelolaan dan pendapatan, Pemkab Banyuwangi seharusnya bisa melakukan kerja sama dengan pihak pengelola tersebut. Dengan ada kerja sama, maka juga bisa mendapatkan retribusi dari pengunjung,” ungkapnya. Dari deretan lokasi wisata di Banyuwangi ini, lanjut dia,

sepertinya hanya wisata Pantai Kelopoan, Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, yang semua lahannya milik pemkab. “Agar bisa mendapatkan PAD yang maksimal, pemerintah harus serius mengelola Pantai Kelopoan,” pintanya. Sementara itu, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Suprayogi menyebut, sejumlah fasilitas sebenarnya sudah dibangun di beberapa tempat wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

“Di Wisata Bedul, kita sudah membangun jembatan,” katanya. Suprayogi mengakui, banyak tempat wisata di Banyuwangi ini dikelola Taman Nasional di bawah Kementerian Kehutanan dan milik KPH Perhutani. Dan saat ini, jelas dia, pe merintah daerah sedang melakukan penjajakan untuk kerja sama. Kerja sama itu bisa langsung disampaikan kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut). “Semoga kerja sama itu bisa terwujud,” ujarnya.(abi/bay)

GALIH COKRO/RaBa

SIANG SEPI: Deretan warung milik warga yang mengais rezeki di Pantai Klopoan, Desa Bangsring, Kecamnatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Beberapa Persoalan Masih Jadi Catatan n KELOPOAN... Sambungan dari Hal 29

Konflik pengelolaan wisata pantai Kelopoan pun sempat melebar. Hingga akhirnya, pemerintah Desa Bangsring dan Muspika Wongsorejo pun harus turun gunung. “Warga protes karena ada yang tidak selesai,” cetus Camat Wongsorejo Alief Rahman Kasiyono. Camat Alief mengaku, pemerintah kecamatan ti dak pernah tahu proses pe ngelolaan Pantai Kelopoan Bangsring itu. Karena selama ini, pengelolanya juga tidak pernah memberi laporan atau pemberitahuan. “Pemerintah desa

ternyata juga mengaku tidak pernah diberi tahu,” sebutnya. Persoalan pengelolaan Pantai Kelopoan itu, jelas Alief, me mang sempat memanas. Beberapa kali pertemuan, terpaksa harus dilakukan untuk menuntaskannya. Warga dan Karang Taruna Desa Bangsring, ada yang merasa dilangkahi dan tersinggung dengan pengelola tempat wisata yang mengatasnamakan diri sebagai Karang Taruna. “Semuanya kita kumpulkan, akar permasalahan ternyata kurangnya komunikasi,” katanya. Karang Taruna yang mengelola tempat wisata itu, menyebut Karang Taruna tingkat

Kecamatan Wongsorejo. Meski anggotanya juga ada warga Desa Bangsring, tapi dalam pengelolaan tidak melakukan ko munikasi dengan Karang Taruna Desa Bangsring, juga dengan pemerintah desa setempat. “Muhamad Taufiq selaku pimpinan karang taruna itu bukan warga Desa Bangsring,” kata Camat Alief. Tapi persoalan itu untuk sementara sudah bisa diselesaikan. Ini setelah dilakukan pertemuan dengan semua elemen di kantor Kecamatan Wongsorejo pada 5 September 2012 lalu. “Meski ada beberapa catatan, semoga permasalahan benar-benar tuntas,” ujarnya.(abi/bay)

Terbitkan 2.266 IMB hingga September n RATUSAN... Sambungan dari Hal 29

Utamanya, bangunan yang akan didirikan di pinggir jalan raya. Mujiono menambahkan, ba ngunan yang didirikan di sepanjang jalan arteri, ja rak as jalan dengan pagar bangunan minimal 10 meter. Sedangkan untuk jarak pagar dengan bangunan yang akan di dirikan minimal 10 meter. “Ba ngunan sepanjang jalan Sukowidi hingga Wongsorejo, jarak bangunan dengan as jalan minimal 20 meter,” ungkapnya. Sedangkan bangunan yang akan didirikan sepanjang jalan nonarteri, ungkap Mujiono, jarak antara pagar dengan bangunan minimal lima meter. Begitu juga untuk di sepanjang jalan kabupaten dan provinsi, jarak pagar dan bangunan

minimal lima meter. Sementara itu, untuk bangunan yang didirikan sepanjang jalan lingkungan, jarak pagar de ngan bangunan minimal tiga meter. “Ketentuan itu, harus dituangkan dalam bentuk gambar,” jelas Mujiono. Bagi bangunan yang tidak memenuhi ketentuan itu, IMBnya tidak akan diterbitkan. Bagi pemohon yang ngotot mendirikan bangunan tanpa IMB, pemerintah daerah akan bertindak tegas dan akan melakukan pembongkaran. Untuk diketahui, pada tahun 2012 permohonan IMB di Badan Pelayanan Izin Terpadu (BPPT) membeludak. Hingga 10 September 2012 lalu, jumlah pe mohon IMB yang masuk di kantor BPPT Banyuwangi mencapai 2.568 pemohon.

Dari jumlah 2.568 pemohon yang masuk, tidak semuanya dikabulkan. BPPT hanya menerbitkan IMB sekitar 2.266 pemohon saja. “Sedangkan yang 302 pemohon lainnya ditolak, karena tidak memenuhi ketentuan yang berlaku,” ujar Plt Kepala BPPT Banyuwangi, Abdul Kadir. Sebagian besar yang ditolak itu, kata Kadir, pemohon tidak melampirkan gambar bangunan dan melanggar ketentuan sepadan jalan. Pemohon yang ditolak itu, masih me miliki kesempatan untuk mengajukan IMB kembali. Pihaknya akan diproses kembali jika pemohon sanggup me menuhi ketentuan yang ada. “Yang jelas, ketentuan melampirkan gambar dan garis sepadan jalan tidak bisa ditawar,” tegas Kadir. (afi/bay)

Cerita Rakyat Beda dengan Waktu Pembakaran Tiga Hari Nonstop Referensi dari Belanda

n HANYA...

Sambungan dari Hal 29

Makanya untuk memastikan pengambilan kapur mentah, itu dilihat juga dari banyaknya kayu bakar yang siap serta panas yang panjang. Nah, saat panas yang menyengat itulah, kapur mentah tersebut dibakar dengan memakan waktu yang tergolong cukup lama, yakni membutuhkan waktu sekitar tiga hari. “Jadi pas panas, itu baru dibakar selama tiga hari dan dalam waktu itu, api tidak boleh padam,” imbuhnya. Karena itulah, pengolahan kapur yang secara tradisional itu membutuhkan api yang sangat panas dan panjang, hingga batuan kapur tersebut hangus di dalam tungku yang sudah disiapkan itu menjadi kapur gamping, “Setelah tiga hari itu nanti menjadi gamping,” kata Enik, salah seorang yang juga pembuat kapur. Selanjutnya, setelah proses pembakaran selesai, kapur gamping tersebut itu dihaluskan. Caranya tidak dengan digiling

melainkan hanya dengan disiram air, kapur gamping tersebut akan halus dengan sendirinya dan menjadi kapur bahan bangunan siap pakai. Namun, pekerjaan para pembuat kapur tersebut itu dapat dikatakan musiman, sebab seminggu terkadang hanya satu kali pembuatan. “SetengahhariitudapatRp20ribu,tapiseminggu yacumabisaduakali.Tapikebanyakancumasatu kali pembuatan,” jelas Enik. Celakanya, jika hujan turun, para pekerja itu terpaksa harus kembali menganggur. Sebab mereka tak bisa mengambil kapur mentah di bukit Kotakan saat hujan dengan alasan keselamatan. Selain itu, ada saat hujan turun, mereka juga tidak akan dapat mengolah kapur karena prosesnya membutuhkan api yang sangat panas. “Kalau ada hujan paling sebulan sekali baru bisa membuat kapur. Itu pun kadang temanteman ragu karena tidak ada panas. Jadi kalau musim hujan, kami tinggal kerja serabutan,” katanya Enik. Sebenarnya para pekerja kapur itu juga mengeluh karena penghasilannya kurang

mencukupi. Meski begitu, mereka menyadari itulah rezeki yang harus diterimanya. “Kalau dibilang cukup, ya cukup. Tapi sebenarnya masih kurang,” keluhnya. Sementara itu, seorang pengepul kapur gamping, Hariyanto mengakui, upah produksi para pekerja tersebut tidak terlalu besar. Dalam sekali pembuatan kapur, para pekerja yang terdiri dari delapan orang diberikan borongan sebesar Rp 500 ribu. “Sekali bakar itu mereka dapat Rp 500 ribu,” jelasnya. Hariyanto menambahkan, meski penghasilannya tidak seberapa, namun dirinya dan para pekerja itu tetap setia melayani apabila ada warga yang memesan kapur ba ngunan. “Kami memproduksi kalau ada yang pesan saja. Karena tenaga dan alat-alatnya sangat terbatas,” pungkasnya. Sementara itu, Didik berharap, dalam waktu senggang dan tidak sedang ada borongan membuat kapur, ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan. “Kami kan juga kerja serabutan selain membuat kapur. Kami hanya bisa berharap ada kerjaan yang lebih baik,” harap Didik.(bay)

n MAKAM... Sambungan dari Hal 36

Ini cukup identik dengan sebutan ‘’Ki Abang’’ yang berarti merah. Namun, tanaman berdaun merah tersebut baru ada beberapatahunterakhir.Yangmenanampagarberdaunmerah itu adalah warga yang merawat makam tersebut. Dilihat dari bentuk makamnya, patut diduga bahwa Ronggo Satoto beserta istrinya sama-sama sudah menganut Islam. Sebab, jika tidak menganut Islam, makam tersebut tak akan membujur ke utara. Apalagi, keduanya sa ma-sama membujur ke arah utara. Sehingga berdasar arah makam, dugaan bahwa Ronggo Satoto muslim sangat mendekati kebenaran. Namun, lantaran tidak ada re ferensi yang menyebutkan terkait keyakinannya, maka tim koran ini hanya menggunakan cerita masyarakat dan bentuk atau ciri-ciri makam sebagai alat identifikasi keyakinan. “Ka laupun ada referensi, tapi yang menulis Belanda. Saya tetap tidak percaya,” kata Samsul, warga Desa Gombolirang. Sementara itu, jika Wong Agung Wilis mendirikan langgar di Bali dan Ronggo Satoto dimakamkan secara Islam, tidak masuk akal kan jika Rempeg Jogopati dianggap tidak muslim. Sementara, Agung Wilis adalah ayah Rempeg Jogopati dan Ronggo Satoto adalah guru spiritualnya. Ataukah mereka bertiga sama-sama belum muslim, seperti referensireferensi yang berkembang selama ini. Berdasar data yang bisa ditemui di lapangan, apakah dugaan itu masuk akal? Silakan, pembaca yang menyimpulkan. (c1/bay)

BAYU SAKSONO/RaBa

MENDUNG: Pohon sirsak juga menghiasi kompleks makam Ki Abang di Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.


MINGGU l 16 SEPTEMBER 2012 l HALAMAN 36

Mengenal

Senopati Ronggo Satoto

FOTO–FOTO: BAYU SAKSONO/RaBa

KI ABANG: Tanaman berdaun merah mengelilingi kompleks makam Senopati Ronggo Satoto di Desa Gombolirang, Kabat, Banyuwangi.

Makam Dipagari Tanaman Merah KAMI pun mendatangi makam Ronggo Satoto atau yang dikenal dengan sebutan Ki Abang. Makam Ronggo Satoto berada di pemakaman umum Dusun Kertosari, Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. “Di sini banyak makam tua, karena dulu dijadikan pemakaman para prajurit Macan Putih,” kata Samsul, warga Desa Gombolirang. Makam Ronggo Satoto berposisi paling selatan di kompleks pekuburan tersebut. Di selatan makam tersebut sudah tidak

ada lagi makam lain, sudah sa wah penduduk. Makam Ronggo Satoto membujur ke utara seperti halnya makam orang Islam pada umumnya. Kini, makam Ronggo Satoto telah dalam keadaan diplester. Na mun, lapisan semen tersebut diperkirakan baru saja dibangun. Puluhan tahun lalu, makam ter sebut hanya berupa tumpu kan batu bata besar yang biasa digunakan membangun tembok keraton Kerajaan Macan Putih. Kini, di makam tersebut hanya terdapat satu batu

bata ukuran besar bertuliskan “Senopati Ronggo Stoto” bukan “Satoto”. Tidak jelas siapa yang menulis dan meletakkan bata ukuran besar khas keraton Tawang Alun itu. Menurut masyarakat sekitar, dulu bata besar bertulis itu tidak ada. Di samping makam tersebut, yaitu di sebelah timurnya, ada satu makam yang dipercayai sebagai makam sang istri. Makam itu berjajar dan berimpit layaknya makam keluarga. Namun, tidak diketahui dengan jelas siapa nama istri Ronggo Satoto. Arah makam itu sama-sama

BARU: Lapisan semen menutup seputar makam Ronggo Satoto di Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

Lebih Tua daripada Wong Agung Wilis PADA masa tersebut, usia Ronggo Satoto diperkirakan lebih tua daripada Wong Agung Wilis. Bahkan, berdasar cerita turun-temurun di Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, usia Ronggo Satoto sebaya sekaligus merupakan sahabat karib ayah Wong Agung Wilis. Sehingga, selain dihormati karena kemampuan olah tubuh dan pikirannya, senopati berjuluk Ki Abang tersebut juga dihormati karena usianya yang matang dan pengalamannya. Wong Agung Wilis pun menganggap Ronggo Satoto satusatunya orang yang tepat sebagai senopati di

masa itu. Menurut cerita turun-temurun warga setempat, Ronggo Satoto diduga seorang muslim yang taat. Selain dipercaya Agung Wilis menjadi seorang senopati yang bertanggung jawab atas ribuan pasukan Blambangan, Ronggo Satoto juga dipercaya mendidik anak-anak Agung Wilis. Salah satunya adalah mendidik pangeran Rempeg Jogopati. Ketuaan dan pengalamannya tidak hanya membuat dia semakin pandai dalam mengatur strategi perang, tapi juga semakin bijaksana memandang hidup. (c1/bay)

membujur ke utara. Kini, di sekitar makam tersebut ada banyak tanaman berwarna merah n  Baca Makam...Hal 35

NAMA Ronggo Satoto kurang begitu familiar di tahu,” jelas salah satu perangkat Desa Gomtelinga warga Banyuwangi, apalagi masyarakat bolirang, Umar. Menurut Umar, asal usul nama Abang sebagai Indonesia. Dalam sejarah, yang lebih terkenal ju adalah Ronggo Warsito. j lukan Ronggo gg Satoto karena sewaktu kecil, Ronggo Satoto suka Pada sejarah Blam baame ngadu binatang ngan, yang lebih terkenal al yang namanya ki adalah sosok Rempegg abang (mirip jangkrik). Jo go pati dan ayahnya,, Binatang kecil itu hidup Wong Agung Wilis. Na-di rerumputan dengan mun, sejatinya ada so-d s ok lain yang juga ber-cciri khas warna merah. pe ran besar dalam seNah, masyarakat dulu menyebut bi najarah Blambangan, yakd ni Ronggo Satoto. Dia ttang itu ki abang. Jadi, ma syarakat Ba nyuadalah panglima perang m wangi ini sejak dulu di zaman Wong Agung w tidak mengenal adu Wi lis. Ronggo Satoto ti bergelar senopati, aayam seperti halnya masyarakat Bali. Waktu dan dialah yang di sem itu yang diadu adalah but masyarakat Duit sun Kertosari, Desa bi natang ki abang itu. “Tetapi ini dugaan, kaGombolirang, Ke ca“T rena sejarah itu kan masa matan Kabat, sebagai re lalu. Kita sama-sama tiguru spiritual Rempeg la dak tahu,” kata Umar Jogopati. da diplomatis. Sayang, belum ada dip Semasa hidup, kata Umar, referensi yang bisa diS Ronggo Satoto dipercaya gunakan untuk meRo sebagai pemimpin pasukan ngungkap jati diri Seseb Blambangan dengan gelar nopati Ronggo Satoto. Bla senopati. Dia memimpin Sehingga, tim koran ini sen KHAS: Batu nisan ma ribuan pasukan di bawah hanya bisa melakukan rib kam Senopati Ro ng go Sa tot o ter komando Wong Agung pe nelusuran secara kom bu at da ri ba ta merah berukuran be Wilis. Konon, Ronggo Satoto tutur dari mulut ke Wil sar. dipercaya menjadi senopati mulut. Menyibak dipe karena ke mampuannya ce rita rakyat secara kar dalam tu run-temurun itu d l olah kanuragan yang bertujuan mencari second opinion untuk me- luar biasa. Ilmunya tinggi dan kebal segala bentuk senjata tajam. Selain itu, dia juga sangat membela ngungkap jati diri Senopati Ronggo Satoto. Rupanya, masyarakat lebih populer menyebut tanah leluhur dan rakyat kecil. Alasan lain yang lebih mendasar adalah karena Ronggo Satoto dengan sebutan Ki Abang. Warga Dusun Kertosari di Desa Gombolirang dan se- Ronggo Satoto sebagai orang yang cerdas. Pikikitarnya pun hingga saat ini menyebut Ronggo rannya tajam dan strategi perangnya sangat luar Satoto dengan sebutan Ki Abang. “Tidak semua biasa. Bahkan, taktik dan strategi perang yang orang tahu jika ditanya tentang Ronggo Satoto, digunakan Agung Wilis patut diduga merupakan tapi jika ditanya tentang Ki Abang, mereka pasti hasil olah pikir sang senopati tersebut. (c1/bay)

Radar Banyuwangi 16 September 2012  

Radar Banyuwangi

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you