Issuu on Google+

Edisi III, Mei 2011, By Dept. Kominfo BEM FIP UNY Untuk Informasi mengenai Kampus FIP UNY kunjungi website www.mikafip.com

ORGANISASI DAN APATISME Dok. Ospek 2010

Opini

Guru Krisis Kreativitas

G

uru merupakan sosok makhluk serba bisa dan sekaligus memiliki kewibawaan yang tinggi di hadapan murid maupun di masyarakat (Earl V Pullias dan James D Young). Hal 4

Berita Kampus

“Dalam organsasi kita belajar menjadi pemimpin, bertenggang rasa, bagaimana kebersamaan yang mungkin hampir hilang,� ungkap Bambang Saptono, M.Pd., Pembantu Dekan III (PD III) FIP UNY.

Milad KMIP ke-12 Hal 9

M

enurut PD III, jangan sampai mahasiswa tidak peduli dengan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA). Artinya, setelah kuliah langsung pulang, ti-

dak berpatisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan lainnya. Menurut PD III, minat mahasiswa untuk berorganisasi tahun ini meningkat. Hal 2

Batas : Membuka Sisi Kehidupan Borneo Apalah arti nasionalisme jika kita tidak mengetahui keberadaan suku, wilayah, dan keragaman budaya? Kalimantan, pulau yang kental dengan adat dan sumber penghidupan dari alam. Pulau yang memamerkan kecantikan ragam suku budaya Tanah Bangsa. Borneo, seperti itulah orang menyebut pulau terbesar Indonesia. Sayangnya, batas wilayah disana dengan Malaysia tak jelas. Hal 7


2 Berita Utama

Edisi III, Mei 2011

Foto by Andrean/LH

“Sekarang ini rasanya sudah mulai meningkat, sudah lebih baik dari tahun kemarin,” ungkapnya. Pendapat tersebut disanggah oleh Tara Ardianto, Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan (HIMA TP). “Partisipasi teman-teman 2010 saat ini sangat kurang sekali. Entah teman-teman 2009 yang kurang mengayomi teman-teman 2010. Padahal

mereka sangat potensial, namun ketertarikannya ke ORMAWA sendiri sangat kurang,” katanya. Dalam perjalanannya, input mahasiswa selalu berbeda-beda, satu sama lain sangat fluktuatif. Kadang berpartisipasi aktif namun di sisi lain enggan terlibat. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh peran para pimpinan ORMAWA, selain

birokrat secara umum. “Mahasiswa dalam keadaan blank di awal masuk. Mereka belum tahu dunia kampus, baik akademik maupun organisasi. Mereka apatis atau tidak, tergantung dari bagaimana para pimpinan ormawa,” tutur PD III FIP. Agar mendapat perhatian, kebermanfaatan kegiatan mahasiswa pasca perkuliahan menjadi fokus

Redaksi POJOK Mr. Guwek : Aspirasi saya tlah tersampaikan di Audiensi Cojo : Iya tapi tindak lanjutnya tahun depan, dan masa jabatan kita Habis, Sial...

Diterbitkan oleh Dept. Kominfo BEM FIP UNY Alamat Redaksi : Gedung Ormawa FIP Lantai 1, Kampus Karang Malang Yogyakarta 55281 redaksi_mikafip@yahoo.com www.mikafip.com PELINDUNG: Prof. Dr. Achmad Dardiri, M.Hum PEMBIMBING: Bambang Saptono, M.Si Penasehat: Sisca Rahmadona, M.Pd Penanggungjawab: Ali Wafa Mukhtar PEMIMPIN PROYEK: Akhmad Akbarudin REDAKSI PELAKSANA: Rima Sekarani Imamunisaa’ REPORTER: Yocta Nur Rahman, Cipto Wardoyo, Yuliani Haj Mukaromah, Gilang Primada ARTISTIK: Andrean


Berita Utama 3

Edisi III, Mei 2011 utama. “Rasanya cukup bermanfaat. Dari PETIK, ada bedah PKM yang juga diikuti follow up. Ada juga school of teacher (scooter). Kita diberi bekal bagaimana menjadi guru SD yang sebenarnya,” jelas Meilinda, Humas HIMA PGSD kampus UPP 1. Mahasiswa pun memberikan penilaian sebelum memutuskan akan ikut dalam suatu kegiatan atau tidak. Pertanyaan penting tidak bagi saya? akan muncul dalam benak mereka. Jika ternyata hanya keinginan pengurus, tak melihat kebutuhan mahasiswa secara umum, wajar saja mahasiswa apatis. “Mereka merasa tidak akan berguna mengikutinya. Apalagi kalau ada indikasi kepentingan tertentu yang dimasukkan dalam kegiatan tersebut,” kata Bambang Saptono. M.Pd. Selain dari kepengurusan, tentunya ada juga faktor dari dalam diri tiap individu. Beberapa mahasiswa menyatakan tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam HIMA, BEM, maupun UKM. Mereka mengaku lebih suka menghabiskan waktu di kos, rumah, atau jalan-jalan. Ada juga yang mengatakan punya pekerjaan yang dilakukan selepas perkuliahan. Yudan Hermawan, ketua HIMA Pendidikan Luar Sekolah (PLS) mengatakan, “Ada batas yang terasa

antara mahasiswa yang aktif dengan yang tidak. Mahasiswa yang hanya kuliah merasa ORMAWA kurang bermakna. Tanpa ORMAWA, dia masih bisa kuliah.” Meilinda menambahkan, rasanya sia-sia tidak mengikuti kegiatan organisasi. “Di dalam kelas akan tampak mahasiswa mana yang aktif berorganisasi. Terutama saat berdiskusi, terlihat dari cara memberikan masukan dan menyampaikan materi. Kita punya softskill yang dari berorganisasi dan dimanfaatkan dalam perkuliahan.” Bambang Saptono, M.Pd. menyatakan, “Lulus sarjana itu kebanyakan hanya matang secara pengetahuan saja. Hardskill yang ada tidak diikuti dengan softskill. Keadaan tersebut karena mereka tidak mau masuk organisasi.” Hal tersebut didukung oleh Meilinda. “Belajar di kelas itu masih kurang. Di organisasi kita tidak hanya menggunakan teori-teori. Kita belajar menghadapi dan mengatasi fenomena dan permasalahan yang benar-benar terjadi di sekeliling kita.” “Kuliah akan lebih berati jika ditambah dengan kegiatan-kegiatan organisasi,” lanjut Yudan. Rima Sekarani I.N. Yocta, Andrean

Editorial Kebangkitan Mahasiswa Kini Hari kebangkitan nasional tentu tidak bisa kita buang begitu saja esensinya. Terlebih akan ironis jika semua itu hanya menjadi seremonial belaka. Di sinilah peran mahasiswa untuk berkontribusi mengawal perubahan dan revolusi yang nyata. Sejarah perjuangan kebangkitan bangsa ini tak lepas dari kuatnya pemuda saat itu baik dalam idealisme maupun tindak nyata. Mulai dari berdirinya Boedi Oetama, sumpah pemuda, kemerdekaan, hingga era reformasi, pemuda tidak pernah absen. Mereka tergabung dalam organisasi yang menghimpun kekuatan. Saat ini, kita masih membutuhkan organisasi sebagai kendaraan dan senjata untuk mengiring proses kebangkitan bangsa yang belum usai. Apatisme mahasiswa terhadap organisasi tidak lepas dari kepentingan-kepentingan tertentu yang tercium oleh mereka. Organisasi yang ada, hendaknya memahami kebutuhan mahasiswa secara umum, bukan semata keinginan pengurus atau lainnya. Redaksi


4 Opini

Edisi III, Mei 2011

Guru Krisis Kreativitas

G

uru merupakan sosok makhluk serba bisa dan sekaligus memiliki kewibawaan yang tinggi di hadapan murid maupun di masyarakat (Earl V Pullias dan James D Young). Apapun yang terjadi dalam dunia pendidikan, yang pertama disorot adalah guru. Guru adalah aktor utama dari proses belajar dan pembelajaran. Guru secara langsung maupun tidak, mempengaruhi masa depan, khususnya karakter siswa. Guru dituntut memainkan peran idealnya sebagai makhluk serba bisa. Dia harus mampu menjadi tempat berkeluh kesah dan bersandar siswa, teman diskusi, serta inspirasi. Bagaimana dengan guru kita? Potret yang mencerminkan gambaran ideal ter-

sebut masih moniritas. Meminjam istilah Ivan Illich, pemandangan di sekolah justru bagai penjara. Siswa seperti tawanan penjara, guru sebagai seorang diktator, hakim, dan komandan perang. Guru tak lagi membutuhkan kecerdasan, kedalaman ilmu pengetahuan, kepedulian, toleransi, dan tanggungjawab, dst. Yang dibutuhkan hanya berdiri di depan dengan gertakan serta teriakan yang keras sehingga siswa menunduk dan mengangguk. Ketika siswa bersalah, hukuman yang diberikan cenderung bersifat fisik yang akan mencederai pertumbuhan dan perkembangan siswa. Bahkan, memperlemah bangunan jiwa siswa. Mental generasi persekolahan semacam itu adalah

penakut, pengecut, mental orang terjajah yang tak punya rasa untuk melawan. Sekolah adalah lembaga pendidikan. Jika memang ada siswa yang melanggar, sanksi yang diberikan semestinya lebih kreatif dan edukatif, seperti pemecahan masalah, perenungan. Diharapkan muncul kesadaran atas kesalahan, bukan ketakutan. Mengapa guru menakutkan? Menurut Darmaningtyas, mereka yang menjadi guru bukanlah tipe pembaru, tapi orang-orang yang mencari kemapanan dan rasa aman dengan menjadi guru negeri (PNS). Tidak mengherankan jika guru tersebut menyampaikan materi dengan metode seadanya hingga batas waktu yang ditentukan. Darmaningtyas melukiskan profesi guru yang sebenarnya : mendidik, membimbing, dan memberikan inspirasi kepada murid-muridnya. Guru harus sadar bahwa ia adalah pembentuk generasi bangsa, harus tetap belajar, belajar, dan belajar, agar tidak mengalami krisis kreativitas saat berproses bersama siswa. Menjadi guru adalah kebanggaan atas pengabdian pada bangsa dan negara. Renungkan! Laloe Wirya Pemerhati Pendidikan


Opini 5

Edisi III, Mei 2011

Aspirasi Kadaluarsa Foto by Andrean dan Akbar/LH

M

ewujudkan iklim akademik di lingkungan kampus, tak terkecuali di FIP memerlukan berbagai peran civitas akedemika terkait. Dalam perjalanannya tentu akan menemui berbagai masalah. Setiap permasalahan yang ada, dibutuhkan solusi sebagai upaya perbaikan ke depannya. Salah satu langkah itu adalah audiensi. Audiensi merupakan wadah untuk menampung aspirasi mahasiswa mengenai problematika kampus. Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (DPM FIP) memfasilitasi audiensi terbuka bersama dekanat (13/5) untuk saling bertukar pikiran membahas berbagai masalah di seputaran FIP ini. Secara kasat mata, audiensi tersebut mendapat respon yang baik. Meski begitu, jumlah peserta yang datang tidak banyak. Apakah dengan keadaan demikian, audiensi tersebut dapat mencapai tujuan yang diharapkan? Belum lagi dengan solusi yang dibutuhkan. Tidak sekedar ditemukan melainkan bagaimana pelaksanaannya nanti? Perlu dikaji ulang mengenai pelaksanaan audiensi. Bulan Mei, waktu penyelenggaraan audiensi sudah menginjak akhir semester. As-

pirasi mahasiswa yang sudah tertampung kemudian hanya menjadi masukan untuk pihak dekanat di tahun depan. Kebijakan untuk tahun ini, seakan sudah diketuk palu sehingga perbaikan yang dibutuhkan mahasiswa tidak lantas dapat dirasakan dalam waktu dekat. Aspirasi dari mahasiswa pun belum tertampung sepenuhnya karena keterbatasan waktu. Peserta audiensi yang belum mencapai target disinyalir karena waktu pelaksanaan audiensi bersamaan dengan hari pertama pengambilan beasiswa PPA dan BBM untuk mahasiswa FIP. Selain itu, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya audiensi tersebut karena kurangnya sosialisasi, terutama untuk kampus-kampus wilayah. Agar maksud tujuan dapat tercapai, sebaiknya au-

diensi tersebut dilaksanakan di awal tahun, sebelum dekanat mengadakan rapat kerja tahunan. Hasil audiensi mungkin akan segera dibahas untuk menjadi kebijakan sebagai langkah solusi permasalahan dalam dinamika kampus. Pelaksanaan audiensi diusahakan tidak bersamaan dengan event atau kegiatan kampus lain yang urgent sifatnya. Dengan begitu, akan lebih banyak mahasiswa yang mengikuti audiensi tersebut. Sosialisasi hendaknya lebih lama dan tidak terkesan mendadak. Sosialisasi audiensi juga tak hanya berpusat di lingkungan kampus pusat saja, tapi juga mencapai kampuskampus wilayah. Mahasiswa di kampus wilayah pun berhak berpartisipasi dalam semua kegiatan yang dilaksanakan di kampus pusat. Bukan begitu? Yuliani Haj M.


6 Profile

Edisi III, Mei 2011

Mengenal Sang Juru Kunci FIP Foto by : Rima/LH

Oleh : Cipto Wardoyo

TTL : Gunung Kidul, 6 Januari 1961 Profesi : Juru Kunci FIP UNY

S

abar, tekun, sederhana dan apa adanya. Itulah karakter yang tampak dari Pak Slamet, juru kunci FIP UNY. Pria kelahiran Gunung Kidul, 6 Januari 1961 ini berasal dari sebuah keluarga yang begitu sederhana. Kini, bersama keluarganya dia tinggal di Jalan Kaliurang Km 5,5 Gang Kelapa Gading no. 10 Yogyakarta. Setelah menikah Pak Slamet dikaruniai seorang anak yang kini menempuh kuliah di PGSD FIP UNY sejak 2010 lalu. Keterbatasan orang tua membuat pria yang sangat bersahaja ini harus puas dengan pendidikan kejar paket B (setara SMP) yang beliau dapatkan kala itu. Namun Pak Slamet tidak pernah menyesali

keadaan dan tetap senantiasa bersyukur. Berbekal ijazah kejar paket B tersebut akhirnya Pak Slamet diterima bekerja sebagai penjaga di FIP UNY pada tahun 1988. Selama mengabdi, beliau selalu bekerja dengan penuh kesungguhan, kedisiplinan dan tanggungjawab. Berkat ketekunan dan doanya Pak Slamet akhirnya diangkat menjadi PNS pada tahun 2007. Pak Slamet sudah tiba di kampus FIP UNY sebelum pukul 05.30 WIB. Selanjutnya beliau membuka kunci pintu ruangan kampus yang akan digunakan oleh para civitas akademia. Termasuk membuka kunci pintu Gedung Ormawa yang menjadi pusat kegiatan para mahasiswa FIP. Beliau mengaku baru bisa pulang ke rumah bakda sholat maghrib setelah semua ruangan terkunci dengan baik. Rutinitas tersebut dijalaninya selama lima hari kerja, dari Senin hingga Jumat, atau menyesuaikan kegiatan yang ada di kampus. “Mahasiswa sampai malam juga bagus, asal tetap bisa menjaga ketertiban dan bertanggungjawab,” tutur beliau saat ditanya terkait jam malam untuk Ormawa. Beliau berpesan hendaknya para mahasiswa yang ada di Ormawa segera pulang ketika

maghrib tiba. “Peraturan saat ini ditepati. Jika sudah saatnya, hendaknya pulang. Nggak perlu nunggu diuyakuyak (diusir-red),” tutur Pak Slamet yang mengaku juga banyak acara kumpul di kampungnya usai dari kampus. Diluar gaji PNS, Pak Slamet juga mendapatkan honor atas tugasnya memegang kunci. Beliau mengaku kini honor yang didapatkan dari memegang kunci sebesar Rp 50.000,- /bulan. “Sebagai pemegang kunci itu nggak seberapa jika dibandingkan tanggungjawab yang harus diemban,” tutur beliau sambil tersenyum. Sang juru kunci setia FIP UNY ini juga punya beberapa tips untuk mencapai kesuksesan. “Takwa dan apa yang dianut dijalankan sesuai perintah agamanya,” ungkapnya. Beliau mengaku sudah terbiasa dengan kehidupan yang pahit. Sejak bayi beliau juga sudah menjadi anak piatu. Baginya, agama sangat dibutuhkan untuk menjalani masa-masa sulit tersebut. Pak Slamet pun ingin berpesan pada para mahasiswa, khususnya FIP UNY. “Untuk para mahasiswa, belajar dengan sungguh-sungguh, berperilaku yang positifpositif saja, berpakaian rapi dan sopan,” pesannya lugas.


Resensi Film 7

Edisi III, Mei 2011

Batas : Membuka Sisi Kehidupan Borneo

J

aleswari (Marcela Zarianty), seorang perempuan yang ditugaskan perusahaannya untuk mencari penyebab kegagalan program pendidikan CSR di pedalaman Kalimantan. Dengan maksud meneruskan program pendidikan bagi anak Kalimantan yang terhenti, selama 2 minggu ia mencoba mencari tahu terhentinya program. Awal mula perjalanan, ketidaknyamanan sudah memancing emosi Jaleswari. Arif (Arifin Putra), seorang polisi perbatasan membantu masalah perjalanan Jaleswari menuju sebuah kampung perbatasan. Di kampung, Jales bertemu dengan Adeus (Marcel Dommits) dari suku Dayak berlatarbelakang sarjana pendidikan. Pertemuan yang ramah dengan Kepala suku Panglima Dayak (Piet Pagau) mengantarkan Jales tinggal di rumah Nawara (Jajang C. Noer) yang juga merawat perempuan TKI korban penganiayaan, Ubuh (Ardina Rasti). Jales bersemangat untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak. Semangat itu tidak lantas menempel pada Adeus. Ia takut dengan ancaman Othig (Othig Pakis) yang bermaksud mengeluarkan Jales dari kampung karena dianggap akan mengganggu bisnis

Genre Film : Non Fiksi Produser : Marcela Zalianty Sutradara : Rudi Soedjarwo Produksi : Keana Production Durasi : 90 Menit Pemain : Marcela Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C. Noer, Marcel Dommits, Aliyandra

ilegalnya. Tragedi psikologis dan pola hidup masyarakat Dayak merubah pola pemikiran Jaleswari. Dia berambisi meningkatkan taraf hidup masyarakat Entikong. Apalagi dengan adanya Borneo (Aliyandra) yang optimis bersekolah. Bersama Adeus, apakah Jales mampu merubah pemikiran masyarakat Entikong tentang pentingnya pendidikan? Alur kisah yang ditawarkan film ini cenderung lambat dan datar. Mungkin akan membuat penonton

merasa sedikit bosan. Cara pengambilan gambar yang kurang rapi juga terkadang menciptakan ketidaknyamanan saat menonton. Ketidakjelasan fokus cerita juga mungkin akan terasa. Meski begitu, film ini masih sanggup mengguncang nasionalisme dengan menekankan wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia melalui setting Kalimantan Barat. Menampakkan kondisi yang serba terbatas pada masyarakat Dayak. Keinginan dan kenyataan tak mampu diupayakan jika mencoba batas kuasa-Nya. Dari situlah kita diajarkan bagaimanana memahami batas yang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Dari Film yang menonjolkan kenyataan di wilayah perbatasan ini, kita mengingatkan pemerintah akan keseriusan mempertegas hukum perbatasan. Pemerintah seperti disindir untuk memperhatikan kebutuhan pendidikan masyarakat pedalaman. Batas, mengungkap apa yang mungkin dan tidak mungkin. Selamat menonton Film yang syarat dengan wawasan kebangsaan ini! Akhmad Akbarudin


8 Berita Kampus

Edisi III, Mei 2011

GEBYAR AP SEMARAKAN ORMAWA FIP

L

apangan depan ORMAWA FIP nampak semarak, jumat (27/5) sore. Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan (HIMA AP) menggelar Gebyar Administrasi Pendidikan. Acara tersebut merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan sebelumnya dintaranya berupa training penulisan skripsi dan seminar kewirausahaan bagi mahasiswa AP. Acara yang berlangsung sekitar enam jam tersebut menjadi momen untuk penganugrahan bagi dosen Adminstrasi Pendidikan tervaforit yang jatuh kepada Nurtanio Agus M.Pd. Bagi mahasiswa AP sendiri dikompetisikan dua kategori yaitu mahasiswa terbaik dan

tervaforit. Di tingkat HIMA Se-FIP dikompetisikan beberapa kategori, antara lain HIMA tervaforit, kesekertariatan dan kearsipan terbaik, HIMA teraktif, serta pentas seni terbaik. Acara tersebut menjadi sarana untuk saling menjaga hubungan baik antar HIMA baik di pusat maupun di kampus wilayah. Di samping itu, acara tersebut juga menjadi wadah mahasiswa untuk berpaktek kewirausahaan secara langsung. Mashud Syahroni, ketua panitia, mengungkapkan bahwa “Diharapkan dari Gebyar AP kali ini dapat merekatkan hubungan antara jurusan dan mahasiswanya dan pelatihan kewirausahaan.” Meski acara tersebut dilangsung di hari terakhir ku-

liah sebelum memasuki minggu tenang ujian masih nampak antusias penonton untuk mengikuti acara tersebut. Panitia gebyar sendiri membuat acara tersebut dengan konsep panggung terbuka dan mendirikan beberapa stan souvenir dan minuman dengan harga yang relatif murah. Sedangkan untuk pengisi acara sendiri melibatkan seluruh HIMA, serta UKMF Musik Camp. “Bagus, sebagai anak wilayah cukup bangga sudah dilibatkan dalam acara ini, gak ada lagi kata ngapain anak wilayah kesini?” ungkap Trias Mira Hastuti, Mahasiswa PGSD UPPII Bantul, yang menyempatkan waktunya untuk mengikuti acara tersebut.

Yocta

Pendampingan belajar LSP BEM FIP Lingkar studi pendidikan BEM adakan pendapingan belajar. Hope Shelter di daerah Kalasan menjadi sasaran pelaksanaan agenda tersebut. Pendampingan belajar yang baru dilaksanakan dua kali, selasa dan rabu (3-4/5), kedepan akan dilanjutkan kembali setelah Ujian Akhir Sekolah Dasar. Kegiatan tersebut mendapatkan respon yang postif dari anak-anak

penghuni shelter meski pada awalnya terlihat canggung. Anak-anak penghuni shelter diajak untuk belajar sambil

bermain. Mereka belajar matematika dengan media ular tangga dan kartu. Selama kegiatan pendampingan belajar mereka merasa menikmati permainan yang secara tak langsung juga sebagai proses belajar. “Anakanak yang sedang bermain tidak sadar jika sebenarnya mereka sekaligus juga belajar.” Tutur Nimas, salah satu pendamping belajar.


Berita Kampus 9

Edisi III, Mei 2011

PERINGATAN DIES NATALIS UNY KE-47 Sabtu, (21/5) menjadi puncak peringatan Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ke47. Melalui rapat senat terbuka, acara tersebut dihadiri berbagai tamu udangan. Nampak di barisan utama Menegpora, Andi Alfian Mallarangeng dan Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tamu undangan juga berasal dari Rektor PTN dan PTS seYogyakarta dan Jawa Tengah serta tamu undangan lainya. Bertempat di Gedung Auditorium UNY, agenda tersebut berjalan lancar seperti yang telah direncanakan. Pada laporan tahunan yang dibacakan oleh Rektor

UNY Prof. Dr. Rochmat Wahab banyak menguraikan bagaimana komitmen dan upaya UNY memantapkan diri menuju Word Class University (WCU) yang berkarakter. Salah satunya ditandai dengan diterbitkannya buku ketiga mengenai pendidikan karakter yang kali ini berjudul Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktek. Selain itu Rocmat juga mengungkapkan sederet prestasi yang banyak

ditorehkan selama setahun terakhir. Diataranya juara tiga Pimnas di Bali tahun lalu. Per Januari 2011 lalu peringkat UNY di webomatrics (wab rangking universitas dunia) menempati urutan ke 19 dari sebelumnya peringkat 21 diantara perguruan tinggi negeri dan swasta seIndonesia. Prestasi lainya sejak 2008 telah didapatkan 19 hak paten karya dosen UNY. Sedangkan di 2010 sendiri Sentra HAKI UNY mendapatkan 5 HAKI dan pada 2011mendapatkan 7 paten.

Yocta

Milad KMIP ke-12 Bertempat di Lapangan Hijau FIP UNY, Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan (KMIP) merayakan milad ke-12. Organisasi khusus untuk mahasiswa muslim ini memperingati hari jadinya pada tanggal 27 Mei 2011 lalu. Dalam kesempatan itu, hadir Dekan FIP UNY, Prof. Dr. Ahmad Dardiri, M.Hum. Dekan FIP tersebut mengajak anggota KMIP untuk merenungkan kembali perjalanan organisasi selama 12 tahun berkiprah. “Apa

sumbangan KMIP bagi para anggota maupun lingkungan sekitar?” katanya. Beliau juga menjelaskan tentang pentingnya memperhatikan komitmen anggota dan kejelasan program KMIP. Diharapkan, KMIP dapat

ikut mendukung program pemerintah terkait pendidikan karakter. Acara tersebut mengundang pula Ustadz Adi Purwanto. Beliau menyampaikan tausyiah yang dapat dijadikan cerminan demi kemajuan organisasi, khususnya KMIP. “Ketika ingin membangun organisasi, yang pertama diperhatikan adalah efektifitas organisasi tersebut,” ungkapnya. Rima


10 CerPen

H

ani memandang tumpukan buku yang mengantri untuk dibaca. Waktu hampir menunjukkan pukul 1 pagi. Sedari tadi tak ada yang lebih menarik dari proyek novel yang sedang dia kerjakan. Hani tahu seharusnya bukan itu yang dia lakukan. Besok pagi dia ujian semester satu. Kamu harus belajar, Han! katanya pada diri sendiri. Pagi tak akan sanggup dilawan. Dia datang sebelum Hani berhasil menata semangat. Hani meninggalkan sejenak kamar, membasuh wajah kusamnya. Lalu tidur, pura-pura lupa bahwa pagi itu ada ujian. *** Barisan kata yang membentuk pertanyaan itu terlalu rapi untuk diotak-atik. Sebenarnya tidak sulit untuk dikerjakan, bahkan mungkin terlalu mudah untuk Hani. Setengah jam berlalu , kertas ujian masih kosong. Hani mengamati sekitar. Beberapa teman sedang sibuk mencari jawaban dengan cara curang. Melihat itu membuatnya geli. Tak jauh berbeda dengan saat SMA. Setelah lama memainkan pena, Hani menulis kalimat demi kalimat di lembar jawaban. Benar saja, tak sampai 15 menit, semua soal telah

Edisi III, Mei 2011

Janji yang Dinanti Oleh : Rima Sekarani I.N.

ditaklukkan. Hani lalu segera ke luar. Ada hal yang masih ingin dikerjakan dan dirasa lebih penting : menyelesaikan novelnya. *** Hani tak pernah merasa betah di bangku kuliahnya. Sejak awal, dia sudah berkata pada orangtua bahwa sama sekali tak berminat menjadi guru. Dia ingin be-

lajar sastra. Orangtuanya tak ingin mendengar. Mereka mengatakan pada Hani untuk menjalani kuliah di jurusannya sekarang. Jika bisa mencapai angka 3,75 pada indeks prestasi di semester 1, mereka akan mempertimbangkan untuk mendengar keinginan Hani. Hasil nilai semester 1 sudah ada di tangan. Senyum puas terlukis di bibir mungilnya. Dia menata kata yang

akan diutarakan pada orangtuanya. Sementara itu, di sampingnya, ada 2 buah tiket berwarna biru. Dengan pasti, Hani melangkah. *** “Apa Mama bilang? Kamu bisa dapat nilai yang bagus, lebih dari yang kita duga. 3,8. Kamu cocok di jurusan ini!” kata Mama sangat bahagia. “Kamu mampu, Han! Tidak usah kamu berpikir macammacam,” tambah Papa. Hani hanya tersenyum. Dia lalu menyodorkan 2 buah tiket yang sudah disiapkan. “Papa-Mama janji akan mendengarkan Hani. IP Andrean udah lebih dari 3,75. Sekarang biar kutunjukkan apa yang menjadi impianku.” Kedua orangtua Hani mengambil tiket tersebut. Mengamatinya lebih seksama. “Minggu depan, novelnya Hani launching. PapaMama datang, ya,” ungkap Hani. Sesaat, orangtua Hani saling memandang. “Ma, Pa, Hani nggak mau jadi guru. Maaf, ijinkan Hani pindah jurusan,” pinta Hani.


Mereka Bicara 11

Edisi III, Mei 2011

P

enyelenggaraan semester pendek (SP) dinilai belum ada kejelasan yang pasti. Hal tersebut dapat dilihat hingga saat ini informasi yang valid terkait SP belum juga dikeluarkan pihak terkait. Pasalnya menjelang tutup tahun akademik yang lama mahasiswa membutuhkan informasi yang tepat dan tidak terlambat, terlebih informasi akademik yang hanya berkembang dari mulut ke mulut. Salah satu yang menjadi sorotan dalam penyelenggaraan SP adalah kebijakan tersebut dibebankan pada pihak dekanat atau ju-

SP Simpang Siur Oleh : Muthia umi. S, KP 2009

rusan. Ada indikasi bahwa penyelenggaraan SP tidak merata bagi semua jurusan. Tentu hal ini dapat dirasa tidak adil bagi semua mahasiswa yang jurusannya tidak menyelenggarakan SP. Ketidaksiapan lain yang ditunjukkan oleh fakultas adalah masih adanya masalah yang disisakan dari penyelenggaraan SP tahun lalu. Seperti nilai beberapa mata kuliah yang di-SP-kan masih banyak yang belum keluar, juga mengenai status KRS

Fasilitas FIP yang Tidak Memadai Oleh : Arjuna, Mahasiswa TP 2010

Peranan fasilitas dalam proses pembelajaran sangatlah diperlukan karena fasilitas atau sarana dan pra sarana salah satu bagian dari faktor pendidikan. Jika kita melihat dari isi kurikulum, hubungan antara faktor pendidikan haruslah harmonis baik dari satu unsur dengan unsur yang lain. Bagaimana jika salah satu unsur tidak dapat memberikan kontribusi yang selayaknya diberikan? Apakah akan menjamin kesuksesan proses pembelajaran? Jangan salahkan pendidik dan peserta didik, tapi kita harus pertanyakan ba-

gaimana peranan para penyelenggara pendidikan mengatur faktor-faktor pendidikan salah satunya sarana dan prasarana? Bagaimana prestasi akan menjulang jika sarana dan prasarana tidak menunjang??, kita sebagai mahasiswa selalu dituntut untuk berprestasi tapi apa salahnya jika kita menuntut fasilitas yang layak? Jika saya boleh membandingkan FIP dan FIK , serasa langit dan bumi. Prestasi FIK selalu menjulang tinggi, tapi bagaimana dengan FIP?

serta ketidakefektivan lainya. Sebagai saran, pihak fakultas diharapakan segera memberikan kejelasan dan sosialisasi terkait SP secepat mungkin dikarenakan mahasiswa juga tidak mampu mengambil keputusan ambil tidaknya SP bila mendadak. Selain itu ada baiknya SP itu hanya untuk mengulang mata kuliah yang pernah diambil. Berkaca dari tahun lalu , waktu yang singkat untuk SP sangat tidak optimal untuk menambah mata kuliah.

Seberapa besar peranan fasilitas dalam berprestasi? Jika saya boleh berkomentar, fasilitas adalah salah satu alat pendukung dari teori, bagaimana mungkin teori akan berhasil jika tanpa praktek? Bagaimana mungkin praktek dapat dilakukan tanpa adanya alat yang mendukung untuk melakukan itu?? Bagaimana kita bisa belajar dengan tenang jika masih ada ruang tak ber AC, LCD tak berfungsi bahkan ruang kelas yang sempit?? Bagaimana mau berprestasi?


Seleksi Duta Pendidikan

S

enin (30/5) sebanyak 8 mahasiswa dari berbagai jurusan di FIP UNY mengikuti seleksi Duta pendidikan salah satu rangkaian agenda IEF dan sebagai pembukaan untuk Dies Natalies FIP. Bertempat di Abudllah Sigit Hall berbagai peserta berupaya semaksimal mungkin untuk menampilkan Performent dan prensentasi dari makalahmakalah yang mereka buat. Kegiatan tersebut Bertujuan Untuk untuk mencari bibit-bibit unggul mahasiswa FIP. “Yang diharapkan dari acara ini adalah untuk menemukan Icon FIP yang baru, selain itu juga sebagai persiapan untuk mencari mahasiswa berprestasi di tahun 2012.” Ungkap Danar Wijayanti, SC IEF. Diakhir acara seleksi yang

dipandu oleh dua orang juri, Rosita Nur Sita Utami, Mapres UNY 2010 dan Siti Novitaningrum, mantan ketua hima PLB 2010 menetapkan Novantoni mahasiswa Teknologi Pendidikan sebagai pemenang Duta Pendidikan tahun ini. “Selain senang saya juga merasa sedikit terbebani karena ini adalah amanah dan bagaimana mempersiapkan follow up-nya seperti itu.” Ungkapnya. (Yocta)

Diskusi Pendidikan IEF

F

IP UNY (19/5), Salah satu rangkaian agenda Indonesian Education Fair (IEF) yaitu Diskusi Pendidikan yang dilaksanakan di Abdullah Sigit Hall FIP UNY dan di ikuti 80 peserta menghadirkan Prof. Dr. Wuradji sebagai pembicara. “FIP UNY saat ini masih dipandang memiliki nilai yang lebih dibanding FIP lain di Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari peran FIP sebagai pencetak tenaga kependidikan baik

keguruan maupun non keguruan yang kompeten dan profesional”, Ungkapnya. Beliau juga memaparkan kondisi terkini FIP UNY yang dulunya bernama Fakultas Pedagogia ini diantaranya peningkatan kualifikasi dosen ke doktor lambat, proses regenerasi ke guru besar lamban, belum banyak muncul kajian-kajian ilmu pendidikan berbasis kearifan lokal, belum teridentifikasi lulusan FIP di masyarakat,

dan bagaimana parsipasi dosen FIP dalam pemecahan masalah dan kebijakan pendidikan di tingkat nasional. Tuty, peserta diskusi pendidikan mengungkapkan “saya setuju dengan apa yang disampaikan beliau bahwa kemajuan Indonesia dapat dilihat dari kemajuan pendidikannya dan untuk memajukan bukan sekedar tugas guru tapi tugas semua elemen yang berkecimpung dalam pendidikan”. (Yocta)


Lingkar Hijau Edisi Mei