Issuu on Google+

Volume II/COP/2012

Orangufriends melakukan demonstrasi di depan Kejaksaan Agung RI, 13 April 2012. Orangufriends carries out a rally outside the General Attorneyʼs office, 13 April 2012.

VOICE OF RED APE

Bukan Akhir dari Penegakan Hukum di Indonesia This is not the End of Law Enforcement in Indonesia 5 Maret 2012, di hadapan hakim, staf COP yang berseragam oranye itu memberikan kesaksiannya di Pengadilan Negeri Sangatta atas kematian satu induk orangutan. Hasilnya, 2 orang staff perkebunan kelapa sawit terbukti bersalah atas pembunuhan itu, dan kini menjalani hukuman penjara selama 8 bulan dan denda 25 juta rupiah. Sejak kasus pembantaian orangutan di Kalimantan Timur mencuat ke permukaan, Centre for Orangutan Protection terus mengawal kasus-kasus ini. Ada 3 kasus pembunuhan orangutan di Kaltim, yaitu di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, yang melibatkan perusahaan PT Khaleda Agroprima Malindo, di PT Sabhantara Rawi Santosa di Muara Wahau, dan di PT Prima Cipta Selaras di Muara Ancalong. Semua kasus ini melibatkan para karyawan perusahaan.  Selama proses pengadilan ini, COP dengan didukung oleh Orangufriends telah bekerja keras mempengaruhi jalannya persidangan dengan beragam kampanye yang digelar, baik itu berupa aksi demonstrasi, press release, press conference, dan campaign di internet.  Aksi demonstrasi yang sempat dilakukan di Kejaksaan Agung RI di Jakarta terkait kasus orangutan di

Muara Kaman, mendapat perhatian. Pasalnya, jaksa penuntut umum hanya menuntut 1 tahun penjara bagi 3 terdakwa pembunuhan orangutan. Pihak Kejagung langsung mengambil tindakan untuk menginterogasi jaksa penuntut tersebut. Dari aksi ini juga, sidang kasus orangutan yang digelar di PN Sangatta sempat ditunda selama 2 minggu, karena jaksa menimbangnimbang tuntutan yang akan diberikan. Meski hukumannya tidak maksimal, bahwa para terdakwa hanya mendapat hukuman ringan, mereka tetap dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Mereka hanya dihukum 8 bulan, 10 bulan dan 1 tahun penjara. Yang seharusnya hakim bisa memvonis sesuai dengan undang-undang yang berlaku, yaitu Undang-undang No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, disebutkan bahwa hukuman maksimal penjara 5 tahun dan denda 100 juta.  Tentu saja, vonis ini bukan akhir dari penegakkan hukum di Indonesia, mungkin masih banyak kasus yang belum terungkap. Penegakan hukum juga medan perang yang brutal. Perusahanperusahaan jahat nampaknya juga bersiap menyerang balik. COP harus bersiap menghadapi tuntutan hukum. (yan/COP)

On 5 March 2012, faced to face with the judges, COP staff that wore orange uniform gave testimony at the trial on the death of orangutan mother in Sangatta district court. The result was, two oil palm plantation workers found guilty of killing the orangutan, and they received eight months jail term and a fine of Rp. 25 million.  Since the orangutan slaying cases in East Kalimantan had appeared to the public, Centre for Orangutan Protection always monitored these cases. There were 3 cases of orangutan killings in E. Kalimantan, they were orangutan slaying case in Muara Kaman, Kutai Kartanegara district, that involved PT Khaleda Agroprima Malindo; PT Sabhantara Rawi Santosa in Muara Wahau, and PT Prima Cipta Selaras in Muara Ancalong. All t h e s e c a s e s w e re i n v o l v i n g t h e employers of the companies.  During the trial, COP with the support of Orangufriends had worked hard to sway the trial process by conducting serial campaigns, such as serial rallies, distributing press release to the media, press conference, and cyber campaign.  (Continue reading to page 2...)

Centre for Orangutan Protection Wisma Metropolitan II, 6th Floor, Jalan Jendral Sudirman 29-31 Jakarta 12920 INDONESIA E-mail: info@orangutanprotection.com Facebook: Centre for Orangutan Protection Twitter: orangutan_COP

1


Siswa COP School Batch #2 di Boroasri Menoreh. The students of COP School Batch #2 at Boroasri Menoreh

The authorities paid attention to COP’s rally outside the Attorney General’s Office in Jakarta related to orangutan case in Muara Kaman. The prosecutor only proposed the four men a year in prison. The Attorney General took a c t i o n i m m e d i a t e l y, b y interrogating the prosecutor of this case. Because of this rally also, two orangutan trials at Sangatta district court were postponed, because the prosecutor needed to consider of proper decision this time. 

COP School Batch #2

COP School Batch #2

Selama 3 hari pada 18-20 Mei 2012, Centre for Orangutan Protection mengadakan COP School Batch #2 di Yogyakarta. Sekolah COP ini diikuti oleh 31 pemuda pemudi Indonesia dari berbagai daerah. Selama 3 hari, para siswa mendapatkan materi singkat tentang pengenalan orangutan dan masalahnya. Kebersamaan di Yogyakarta selama 3 hari ini hanya untuk mencapai satu tujuan: orangutan! Siapa yang mau bergabung di COP School berikutnya?

From 18 to 20 May 2012, Centre for Orangutan Protection conducted COP School Batch #2 in Yogyakarta. The COP School was attended by 31 young people from several cities in Indonesia. For 3 days, the students learned a brief introduction of orangutans and their problems, also another subjects. The togetherness in Yogyakarta was only to achieve one purpose: orangutans! Who wants to join in the next COP School?

***

Orangutan di Solo Grand Mall Edukasi tentang orangutan tak hanya bisa diakses melalui kebun binatang atau sekolah, tetapi juga area publik seperti mall bisa juga jadi tempat informasi tentang orangutan. Pada 12-13 Mei 2012, Centre for Orangutan Protection menggelar pameran foto dan tempat informasi untuk pengunjung Solo Grand Mall (SGM). Pameran ini bisa digelar karena ini merupakan bentuk support SGM untuk perlindungan orangutan di Indonesia. Terima kasih SGM!

2

This is not the end of...

***

Orangutan at Solo Grand Mall Education about orangutan not only be accessed at the zoo or school, but also we can obtain the information about orangutan at the public space such as mall. On 12-13, Centre for Orangutan Protection carried out a photo exhibition and also information center for Solo Grand Mall (SGM) visitors. This exhibition could be held as the support of SGM in orangutan protection in Indonesia. We convey our gratitude to you, SGM!

Although the sentence was not in accordance with Law No. 5/1990 on the Conservation of Biodiversity and Ecosystems, that the criminal offenses, will sentence up to five years in jail and a Rp. 100 million fine, but still they found guilty of killing orangutan. The judges only sentenced them for 8 months jail term, 10 months and a year. However, this is not the end of the struggle of law enforcement in Indonesia, because perhaps many similar cases that haven’t revealed yet. The law enforcement is also a b r u t a l b a t t l e fi e l d . T h e b a d companies seem well prepared to fight us back. COP must be prepared to face with the lawsuit. (yan/COP)

Organizer: Centre for Orangutan Protection When & Where: 30 September 2012 Rolling Stone Cafe Jl. Ampera 16, Kemang Jakarta Contact Us: Bintang Dian Pertiwi 085697839024 sound4orangutan@orangutan protection.com Twitter @sound4orangutan www.sound4orangutan.com


Tori akan Hidup Lebih Baik Apakah Anda masih ingat orangutan merokok, Tori? Centre for Orangutan Protection (COP) bertemu orangutan ini pada tahun 2009 di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Surakarta, Jawa Tengah.

The APE Warrior team and Jakarta BKSDA are rescuing Roy.

Mulai 28 Mei 2012, Tori akan berhenti merokok, sebab dimulai pada hari itu juga COP dan TSTJ bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan orangutan di TSTJ. Komitmen TSTJ ini adalah awal yang sangat baik bagi keempat orangutan itu. Kandang-kandang mereka akan diisi dengan beragam enrichment seperti hammock juga tali-tali yang diikat di tiang untuk bergelantungan. Sehingga mereka bisa mengekspresikan tingkah laku mereka, seperti di habitat mereka.  Selain meningkatkan kehidupan orangutan yang berada di dalam kandang, COP dan TSTJ juga akan menjamin kesehatan orangutan-orangutan tersebut. Orangutan yang sebelumnya tidak pernah diperiksakan kesehatannya, akan segera dicek oleh dokter hewan. Sehingga jika ada penyakit akan segera tertangani dengan baik dan cepat.  TSTJ dan COP juga berkomitmen untuk melindungi Tori dan kawan-kawannya dari pengunjung nakal yang memberikan mereka rokok. Tori harus total berhenti merokok, jangan sampai ada pengunjung yang dengan leluasa memberikannya rokok, juga makanan ringan yang tak seharusnya dimakan oleh orangutan. (yan/COP)

Tori will have a Good Life Do you still remember Tori the smoking orangutan? Centre for Orangutan P ro t e c t i o n ( C O P ) met her in 2009 at Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Surakarta, Central Java. On 28th of May 2012, Tori will stop smoking, because starting from that day, COP and TSTJ are working together to improve the orangutan welfare at TSTJ. Not only that, we will make enrichment for 3 other orangutans at TSTJ, namely Didik, Yeti and Doni. TSTJ’s commitment is a good start for the four orangutans. Their enclosure and sleeping cages will furnish with enrichments, such as hammock and also ropes tied to the poles so the orangutans could swing to express their behavior as well as in their habitat. Besides to improve the orangutans in a cage, COP and TSTJ will guarantee the orangutans health. Previously, the orangutan had not been examined, but the veterinarian will check them soon. So, if there are sick orangutans, so they can be handled properly and quickly. TSTJ and COP are also committed to protect Tori and her friends from rogue visitors who give them cigarettes. Tori should be totally stopped from smoking, and the visitor could not easily give them cigarettes or snacks that are supposed to be eaten by orangutan. (yan/COP)

Penyelamatan Roy

APE WARRIOR

Roy, orangutan jantan muda berusia 11 tahun, tidak pernah menyangka akan meninggalkan hutan Kalimantan dan tinggal di kandang sempit. Belum cukup penderitaan Roy tinggal di dalam kandang,  lokasi kandang Roy pun berada di atas parit dan di banyak tumpukan sampah. Sehingga bau sampah dan parit semakin menambah penderitaannya. Sudah 10 tahun Roy tinggal di kandang sempit di daerah Tipar Cakung, di timur kota Jakarta. Bulan April 2012 lalu, untuk pertama kalinya Roy akan kembali menghirup udara bebas. Tim rescue Centre for Orangutan Protection dan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta merescue Roy dari tempat kotor itu. COP dan BKSDA bekerja dengan sangat cepat, sebab tak mau masyarakat di sana marah karena kami mengambil Roy. Maklum, pemilik Roy adalah orang penting di area itu. Setelah obat bius yang disuntikkan ke tubu Roy mulai bekerja, tim langsung berusaha mengeluarkan Roy. Dengan gesit salah seorang anggota tim memotong gembok kandang dengan tang baja, dan Roy pun berhasil dikeluarkan. Kami cepat-cepat memindahkan Roy ke kandang angkut dan segera meninggalkan lokasi tersebut menuju Pusat Penyelamatan Tegal Alur. Tiga hari sebelum Roy kami evakuasi, Roy hampir mati tersengat listrik. Namun takdir berkata lain, Roy masih hidup dan bahkan ia akan menjalani kehidupan baru yang lebih baik. (nik/COP)

Roy had been Rescued Roy, 11 year-old male orangutan, never expected that he would leave Kalimantan forest and lived inside a tiny cage. It’s not enough, his tiny cage located over wastewater ditch and there was a mount of garbage. And these were so smell bad, made him more suffer. Roy had been inside the tiny cage for 10 years in Tipar Cakung area, in the eastern of Jakarta. In April 2012, for the first time, Roy breathed the pure air of freedom. The rescue teams from Centre for Orangutan Protection and the Jakarta Natural Resources Conservation Center (BKSDA) rescued Roy from that dirty place. COP and the BKSDA worked very quickly; we did not want the people there became mad at us because we took over Roy. Understandably, Roy’s owner was an important person in this area. After the anesthetic began to work, without waiting more time our team tried to rescue Roy. Deftly, one of our members cut the padlock with plier steel, and Roy was free now. We immediately moved Roy to the transport cage and left the location, heading for Tegal Alur wildlife rescue centre. Three days before Roy was rescued, he nearly died from electrocution. But Roy was luck, even he still alive and starts a better new life. (nik/COP)

3


Rumahku dan Rumah Temanku My Home and My Friends’ Home Paulinus Kristianto Sungai sekonyer adalah sebuah sungai yang berada di Kalimantan Tengah. Tepatnya berada di tiga desa, yakni Sungai Sekonyer, Teluk Pulai dan Desa Sungai Cabang. Tidak jauh dari tempat tersebut terdapat sebuah desa yang tidak pernah dianggap, desa yang tidak ada nama dan tidak pernah diakui siapa pun. Di sanalah tempat ribuan rumah mereka di gusur dan keluarga-keluarga mereka mati untuk melindungi keluarganya. Mereka adalah orangutan yang masih tersisa di hutan sepanjang DAS Sekonyer, menunggu kapan sebuah alat berat datang dan merobohkan rumah mereka dengan rakusnya. DAS Sekonyer menyimpan banyak harapan dari semua mahluk hidup, tidak terkecuali manusia dan orangutan. Kehidupan orangutan di Sekonyer dan TNTP sangat berbeda. Orangutan di TNTP mendapatkan kepastian rumah dan tempat tinggal dengan makanan yang cukup untuk keluarga dan anak-anaknya setiap sore. Tidak akan ada rasa takut setiap harinya karena orang sudah tahu bahwa kawasan tersebut dilindungi oleh orang-orang yang berseragam. Mereka bisa menghirup udara bebas setiap harinya tanpa takut debu dan bahan kimia mengancam air minum mereka setiap harinya. Namun jauh di seberang Sungai Sekonyer, terdapat ratusan pasang mata merasa iri

4

APE DEFENDER dengan semua yang ada di pembukaan lahan baru dan TNTP. Mereka adalah orangutan mereka semua akan hilang l i a r y a n g m a s i h t e r u s bersama Sungai Sekonyer. (*) membangun rumah baru dan *** mencari hutan baru untuk tempat tinggal dan mendidik Sekonyer River is a river anak-anak mereka kelak. located in Central Kalimantan, Dengan hutan yang hanya among three villages; Sekonyer sedikit orangutan-orangutan liar River, Teluk Pulai and Sungai ini sangat sulit untuk mencari Cabang village. Not far from makan. Sumber mata air pun kini t h o s e p l a c e s , t h e re i s a n berganti dengan parit-parit besar unknown village, the no name yang mengeluarkan air berwarna village and no one recognizes it. aneh. Perkebunan kelapa sawit But, there is a thousand home terus mengejar setiap jengkal would be cleared and the hutan yang tersisa di DAS families die to protect other Sekonyer. families. They are the remaining orangutans along Sekonyer Bagi mereka yang berada di watershed that are waiting the DAS Sekonyer, ini lebih dari tractors to come and to destroy mimpi buruk. Bagaimana tidak, their home. ini adalah hutan terakhir yang berada di luar kawasan TNTP, Sekonyer watershed keeps a hutan yang seharusnya menjadi lot of hopes of all creatures, rumah terakhir bagi orangutan- p a r t i c u l a r l y h u m a n s a n d orangutan liar untuk bertahan di orangutans. The orangutans at l u a r k a w a s a n T N T P. Ya n g Sekonyer and TNTP have a very setidaknya memberikan ruang different life. Orangutans at d a n k e s e m p a t a n b a g i TNTP get certainty home and orangutan-orangutan ini untuk place with sufficient food for terus tumbuh dan berkembang their family and children every layaknya orangutan yang berada e v e n i n g . T h e re i s n o f e a r di kawasan TNTP. because the people know that the place is protected by the Malangnya Orangutan- forest ranger. They can breath orangutan ini terus dihimpit oleh freely without fear of dust and p e r k e b u n a n k e l a p a s a w i t , chemical that threatens the membuat mereka terus hidup water. jauh dari rasa aman serta tidak adanya kepedulian semakin But far away from TNTP, menenggelamkan mereka pada there are hundreds of pairs of kenyataan terburuk bahwa eyes to feel envy. They are the mereka tidak akan bertahan wild orangutans that keep lama di DAS Sekonyer, hanya building their new house and m e n u n g g u w a k t u s a m p a i finding new forest for living and

teaching their children, but the reality in Sekonyer is too bitter. The small forest could not accommodate the current wild orangutans, so they have difficulty in foraging. The spring i s n o w re p l a c e d b y l a rg e channels that come out a strange-colored water. Oil palm plantation continues to pursue every inch of remaining forest in Sekonyer watershed. For those who are in Sekonyer watershed, this is more that a nightmare. Because this is the last forest outside the TNTP which should be the last home for wild orangutans who survive outside TNTP area. Which at least provide a space and opportunity for these orangutans to continue growing and surviving like the orangutans inside the TNTP. They are so pity, because the palm oil plantation continues to expand. This makes the orangutans continue to live in fear, no guarantee of secure. They have to face with the reality that they will be no longer to live in Sekonyer. Just a matter of time until the opening of a new plantation, then they will disappear along with the Sekonyer R i v e r. (*)


Update from East Kalimantan!

Tim APE Crusader di Kalimantan Timur telah menemukan 4 orangutan yang dipelihara ilegal oleh warga Samarinda, tetapi hingga saat ini mereka belum disita. Yayasan BOS menolak membuka pintu mereka untuk orangutan baru, dan Centre for Orangutan Protection tidak setuju jika orangutan sitaan dikirim ke kebun binatang. Dan BKSDA Kalimantan Timur tidak memiliki tempat yang layak untuk menampung orangutan tersebut. Namun begitu, mereka butuh diselamatkan. Secepatnya. Inilah kisah mereka… *** The APE Crusader in East Kalimantan has found 4 orangutans that illegally kept as pets by Samarinda community, but they could not be rescued. BOS Foundation refuses to open their door for the new orangutans, and the Centre for Orangutan Protection refuses if the confiscated orangutan will send to the zoo. And the BKSDA of East Kalimantan does not have appropriate place to accommodate them all. But well yes, they need rapid rescue. Soon. Here is the story of them…

Gundul Gundul tinggal di dekat tumpukan sampah dan dekat dengan kandang kambing. Orangutan betina berusia 21 tahun tersebut dipelihara oleh kakek tua sejak tahun 1990 di Kota Samarinda. K e t i k a b e r a n g s u r- a n g s u r dewasa, Gundul menjadi ancaman bagi keluarga pemiliknya. Saat ini leher Gundul dirantai pada sebuah pohon. Tidak ada tempat berteduh bagi Gundul ketika panas dan hujan.

Rambo

Rambo adalah bayi orangutan jantan yang berumur sekitar 1 tahun yang dipelihara oleh masyarakat di Samarinda. Rambo didapat dari perkebunan kelapa sawit di Sangatta. Saat itu Rambo dan induknya masuk ke dalam area perkebunan dan kemudian diusir secara paksa. Karena ketakutan induk orangutan pun pergi meninggalkan Rambo.

Joko

Keempat orangutan ini sudah dilaporkan ke BKSDA Kalimantan Timur. Namun, mereka belum bisa menyita orangutan tersebut karena tidak ada tempat yang memadai sebelum orangutan-orangutan ini dikirim ke lembaga konservasi. (yan/COP) ***

Gundul

Joko J o k o i s 1 5 y e a r- o l d m a l e orangutan. He is very fat, so he could not move. Moreover, he is only in a tiny wooden cage. Because he lives in a boarding house, every people who live in the boarding house would give him food. But no one knows why he stays there.

Kukuk

Gundul lives near a pile of garbage and goat pen. She is 21 year-old and maintained by an Joko, orangutan berkelamin o l d m a n s i n c e 1 9 9 0 i n j a n t a n , b e r t u b u h g e m u k . Samarinda. Sehingga dia tidak bisa bergerak. Apalagi dia hanya When she was growing up, berada di kandang kayu yang Gundul to be a threat to the owner. Right now, she was tied sempit. up at her neck by chains, and the Karena tinggal di kos-kosan, chains were tied up to a tree. siapapun bisa memberinya There is no shelter to hide from makan. Mungkin itulah yang the sun’s ray and rain at her menyebabkannya obesitas. current place.  Tidak ada yang tahu riwayatnya. Kukuk was kept as pet by a Rambo resident of Hambau village in Kembang Janggut sub-district, Kukuk His name is Rambo. He is a year- Kutai Timur district, East. Kukuk Kukuk dipelihara oleh warga old male orangutan baby that is 2 year-old male orangutan. Desa Hambau di Kecamatan illegally kept as a pet by Kukuk, that should eat fruits and Kembang Janggut, Kabupaten Samarinda resident. leaves at the forest, forced to eat Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kukuk adalah orangutan berjenis The Brimob found Rambo in a rice. And now he loves to eat kelamin jantan yang kira-kira palm oil plantation in Sangatta. lollipop candy, sugar water, At that time, Rambo and his eggs, and do not drink milk. He berusia 2 tahun. mother entered the plantation, loves what his owner eats. K u k u k , y a n g s e h a r u s n y a and they forced to leave the memakan buah-buahan dan plantation. Perhaps, Rambo’s The four orangutans have been dedauan di hutan, terpaksa mother felt fright and left behind reported to the East Kalimantan BKSDA. However, the BKSDA memakan nasi. Dan ia pun jadi Rambo at the area. could not rescue them because sangat suka memakan permen there is no appropriate place to lollipop, air gula, telur, dan tidak take care of them before they meminum susu. send to the conservation institution. (yan/COP)

APE CRUSADER

5


ORANGUFRIENDS ZONE

ORANGUTAN SPG Entah sudah berapa kali aku ikut berpartisipasi menjadi petugas informasi dalam pameran Centre for Orangutan Protection. Karena partisipasiku ini, beberapa teman menyebutku SPG (Sales Promotion Girl) Orangutan. I could not count how many times I joined with the Centre for Orangutan Protection’s exhibitions. Because of this, some friends of mine called me Orangutan Sales Promotion Girl (SPG).

Elizabeth Laksmi

Memberikan edukasi untuk para pengunjung yang hanya sekedar lewat atau mampir, awalnya tidak semudah yang kubayangkan. Aku pikir hanya sekedar duduk di stan dan tebar senyum saja sudah cukup. Tapi tidak hanya sekedar senyum yang dibutuhkan untuk menjaga stan yang penuh informasi dan pengetahuan ini. Tak jarang kegiatan ‘SPG’-ku ini mendapat hardikan, cacian, dan ejekan dari orang-orang yang lewat lapak kami. Pujian? Sepertinya jangan berharap lebih. Seringnya kegiatan SPG kami ini dianggap buang-buang waktu dan nggak penting. Tapi seiring berkembangnya waktu, lama kelamaan banyak juga yang mendukung kegiatan kami. Aku juga harus mengetahui tentang apa yang terjadi dengan orangutan. Dan yah, jujur saja, itu bukanlah hal mudah untukku. Pernah di sebuah pameran, ada seorang bapak yang memakiku dengan suara lantangnya. Karena tulisan yang tertera di banner besar stan kami. Pernah juga ada seorang anak perempuan berkata, ingin menjadi relawan sepertiku dan kawankawanku ini. Rasa bangga menyelimuti hati. Namun tak jarang aku kelabakan karena ditanyai tentang hal-hal yang bersifat medis, yang tidak aku kuasai karena aku bukan dari kalangan medis. Bangga, cuma itu saja yang bisa kukatakan. Di antara jutaan generasi muda, aku dan teman-teman SPGku ini adalah anak muda yang paling cinta tanah air. Benar kata seorang teman, cinta tanah air itu tidak harus selalu maju di medan perang atau menjadi seorang negarawan. Mencintai alam dan menjaga satwasatwa endemik, melindungi mereka juga wujud cinta negara.

6

Kuharap, yang bangga menjadi SPG orangutan dan satwa liar tidak hanya aku dan teman teman SPG-ku saja. Kuharap semua anak muda di negara aneh ini juga bangga memiliki orangutan, satu-satunya kera besar yang ada di Asia. (*)

Providing education for the exhibition visitors who only passing by or just stop by, was not easy as I imagined. At first, I only imagined that I would be sitting and smiling at the people all the time. But, that is not only smiling at the people to be exhibition guide. Often, my ‘SPG’ activity resulted a rebuke, scorn and mock from people who passing by in front of COP’s booth. A compliment? As you wish, I could not expect more. Often, the people consider that this SPG thing is only wasting time and unimportant. But time is changing, and more people support this activity. I have to know on what happened to orangutans. Well, honestly, that is not easy for me. Once in an exhibition, a man swore at me with a loud voice. Because he read the statement on the banner at our booth. There was also a girl who wanted to be a volunteer like me and my friends at Orangufriends. Then, I was very happy. However, often I’m desperate because many people question about the things that related to medical subject, which I’m not good at it because I’m not from medical community. Proud, only that word I could say. Among the millions of young people, me and my SPG-friends are the most nationalist juveniles. My friend has said that, to be nationalist is not always move forward in the real battlefield or to be a politician. I think he is true. Love the nature and keep the endemic animals are also nationalism. Imagine if in the next 5 years. I hope, me and my friends are not only the person who proud of this job, to protect the orangutans. I hope all the people in this weird country can be proud to have orangutans, the only great ape in Asia. (*)


PU B L IC AWA R ENES S SCHOOL VISIT DI SDN 018 SAMARINDA Centre for Orangutan Protection bekerjasama dengan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda mengadakan program school visit di SDN 018 Samarinda pada 30 April 2012. School visit tersebut didasari oleh ajakan teman-teman mahasiswa Ilkom Unmul dalam rangka menyelesaikan tugas akhir salah satu mata kuliah mereka. Jika biasanya tim COP yang menyampaikan materi, kali ini materi disampaikan oleh teman-teman mahasiswa. Materi yang disampaikan berupa slideshow foto dan pemutaran film pendek tentang orangutan. Pembawaan materi oleh mahasiswa Ilkom yang menarik dan enerjik tidak membuat peserta bosan dan mengantuk.

SI ICEL BERKISAH TENTANG HUTAN Icel adalah orangutan jantan yang hidup di dalam hutan. Pada kesempatankesempatan tertentu, Icel berkisah tentang kehidupannya dan teman-temannya di hutan. Icel tidak sendiri, ia bersama teman-temannya, yaitu Kupi si kupukupu, Chocho si kobra, Cicit si burung, dan teman-temannya yang lain. Mereka semua berteman baik dan hidup bahagia di dalam hutan. Namun tibatiba pohon yang menjadi tempat tinggal mereka habis satu persatu karena ditebang oleh manusia. Icel adalah boneka orangutan, begitu juga teman-temannya. Melalui boneka, COP mendongeng tentang bagaimana berharganya hutan itu untuk banyak makhluk hidup. Di satu pohon, bisa dihuni beragam jenis satwa liar. Penyadartahuan tentang pentingnya menjaga alam semesta melalui media boneka diperuntukkan bagi anak-anak usia TK dan SD. Karena media ini dekat dengan mereka dan mudah dimengerti. Pada Mei 2012 lalu, Icel berkisah di Solo Grand Mall, Solo, untuk anak-anak yang datang bersama orangtua mereka ke mall. Setelah ini, ayo kita simak di mana Icel akan mendongeng. (yan/COP) ***

ICEL TELLS ABOUT FOREST

Peserta school visit yang merupakan siswa kelas IV SDN 018, seperti Elena, Amelia, Aulia, Marshanda, merasa sangat senang dengan apa yang mereka dapat hari itu. Mereka jadi mengetahui hal-hal dasar tentang orangutan.

Icel is a male orangutan that lives inside the forest. On a certain occasion, Icel tells a story about his life in the forest. Icel is not living on his own, but he lives with others friends, namely Kupi the butterfly, Chocho the cobra, Cicit the bird, and other friends.

Mereka adalah calon-calon penerus bangsa. Semoga materi ini memunculkan kesadaran mereka untuk menjaga dan melestarikan hutan di Kalimantan Timur. Jika bukan kita dan mereka, siapa lagi? (Indah Tri Misnawati) ***

SCHOOL VISIT AT SDN 018 SAMARINDA Centre for Orangutan Protection in associate with the students of Communication Faculty of Mulawarman University in Samarinda conducted school visit programme on 30th of April 2012. This collaboration was a requirement to complete the final assignment of this faculty. Usually, the COP team presents the presentation about orangutan. But this time, this was the communication students’ turn to deliver the subject. We showed photos as slide show and a short movie about orangutan. The Communication students as the presenter were exciting and energetic, so the students were not sleepy and boring. And the film had caught their attention.

They are good friends and live happily in the forest. But suddenly, humans destroy the tree where they’re living in. Icel is an orangutan puppet, as well as his friends. Through the puppets, COP conducts a storytelling on how valuable the forest for many living things. At one tree, can be a home for a variety of wildlife. Awareness about the importance of preserve the universe through the puppets is intended for children ages preschool and elementary school. Because this media is closest to them and easy to understand. On May 2012, Icel told a story for the children who came to Solo Grand Mall with their parents. And after this, let’s see where Icel will be a storyteller. (yan/COP)

Elena, Amelia, Aulia, Marshanda and other fourth grade students of SDN 018 felt enthusiastic with the school visit. They said that they were very happy, and they gained knowledge about orangutans.

In this enthusiasm, emerged a hope. They would be the next generations of this country. We hope that what we gave for them could raise their awareness of their own to preserve the East Kalimantan forests, especially the animals inside. If not them and us, who else? (Indah Tri Misnawati)

7


ENT M G D OWLE

ACKN

Centre for Orangutan Protection berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dinas Pemadam Kebakaran di Jakarta dan Samarinda yang telah menyumbangkan selang bekas untuk bahan membuat enrichment bagi orangutan di kebun binatang. Orangutan sangat senang dan berterima kasih!

Special Thanks To Fire Department

KRUS

Mangkang

Ragunan

Setelah enclosure pertama selesai dan saat ini dihuni oleh 5 orangutan, tim APE Crusader saat ini sedang membangun e n c l o s u re k e d u a . K a re n a b e s a r, enclosure kedua ini nantinya akan dibagi menjadi dua bagian. Sudah 80% enclosure ini jadi, tiang sudah dipasang, ayunan dari selang pemadam, ban bekas, dan tong air pun sudah terpasang. Diharapkan, sebelum Lebaran tiba, enclosure ini sudah selesai.

Tim APE Warrior telah melakukan perubahan besar untuk orangutan di M a n g k a n g . J i k a d u l u e n c l o s u re orangutan tidak ada sarana bermain agar orangutan bisa mengekspresikan tingkah laku seperti di habitat aslinya, sekarang mereka sudah bisa bermain sepuasnya. Selain itu, tim berperan untuk meningkatkan kapasitas para animal keeper di Mangkang, Tim APE Warrior telah mengadakan pelatihan dan praktek membuat enrichment pakan untuk animal keeper.

Di Ragunan, 14 hammock telah melengkapi kandang tidur dan kandang bermain karantina, sehingga orangutan yang di karantina tidak tidur di lantai lagi. Selain itu, setiap hari Minggu, Orangufriends di Jakarta aktif m e l a k u k a n z o o i n t e r p re t e r g u n a memberikan edukasi tentang orangutan bagi pengunjung kebun binatang.

After the first enclosure was finished and occupied by 5 orangutans, the APE Crusader team is working on the second e n c l o s u re . B e c a u s e t h e s e c o n d enclosure is quite big, so it will be divided into two separate areas. This enclosure is 80% finished; the poles have been installed as well as the hammock, tires and barrels. Hopefully this will finish before Ied Fitr.

8

Centre for Orangutan Protection conveys its gratitude for the Fire Department in Jakarta and Samarinda that have donated the hoses as the materials to make orangutan enrichment at the zoo. The orangutans are very happy and grateful!

The APE Warrior team has made a huge change for orangutans at Mangkang zoo. Before the team arrived, there were no enrichments at all in the enclosure to express orangutans behavior like in their natural habitat, but now the can play all the time. Besides, the team has a role to improve the capacity of the animal keepers of Mangkang. The team has held training and practice how to make enrichments for feeding.

In Ragunan, 14 hammocks for sleeping have installed in the quarantine cages and playing quarantine cages, so the orangutans will not sleep on the floor. Besides, every Sunday, Orangufriends in Jakarta are actively conducting the zoo interpreter to deliver the information about orangutan for the zoo visitors.

ZOO

E T A UPD

Taru Jurug

dalam kandang di kebun binatang ke sistem pulau atau enclosure.

Tim APE Warrior akan memindahkan Tori dan pasangannya Didik ke sebuah p u l a u k e c i l y a n g a d a d i Ta m a n Margasatwa Taru Jurug. Pengerjaan dilakukan awal bulan Juli 2012. Misi COP adalah memindahkan orangutan di

The APE Warriro team will move Tori and her partner, Didik, to a small island inside the Taru Jurug zoo. They were starting to work in Juli 2012. COP’s mission is to move the orangutans inside the cage at the zoo to the island or enclosure system.


Vored