Issuu on Google+


ENDORSEMENT

M

unculnya sebuah buku Cyber Smart Parenting, telah memberikan kesegaran yang baru bagi dunia pendidikan Kristen di Indonesia. Di tengah realita kepenatan, kekhawatiran, kebutaan, kenaifan, kebingungan dan kesalah-langkahan banyak orang tua, buku ini memberikan suatu harapan baru bahwa di dalam iman Kristiani ada kebijaksanaan yang disediakan oleh Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, Sang Konselor yang Agung (Yesaya 9:5). Sebagai seorang konselor, saya sangat merekomendasikan buku yang ditulis oleh Helen Chou ini untuk dibaca oleh setiap orang tua Kristen yang betul-betul ingin menjadi orang tua yang baik di tengah budaya cyber zaman ini. Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D – Ketua STT Reformed Injili Indonesia, Jakarta.

E

v. Hellen Pratama adalah rekan sepelayanan saya yang sangat gifted dan mempunyai passion dalam masalah-masalah keluarga. Buku ini adalah panduan yang bermanfaat bagi para orangtua untuk mendampingi dan mengarahkan anak-anak mereka yang terlahir dalam perkembangan era teknologi informasi yang luar biasa ini. Rev. Henry Efferin, Ph.D. – Gembala Jemaat GKI Anugerah, Bandung dan dosen teologi di beberapa STT.

O

ASE DI PADANG GURUN KEGERSANGAN NILAI MORAL DAN ETIKA KEHIDUPAN GENERASI PENERUS! Cyber Smart Parenting, sebuah buku yang langka di tengah perkembangan zaman serta era globalisasi di segala bidang dan lini kehidupan kita. Kita semua dihadapkan dengan situasi yang suka maupun tidak suka, tanpa bisa kita hentikan dan tolak, terjadi di hadapan kita dan itulah yang dinamakan tuntutan zaman! Lalu apa daya kita, terutama bila menyangkut anak-anak kita; generasi penerus yang akan memimpin bangsa dan negara di masa mendatang?

3


ENDORSEMENT Memang semua orang punya kekhawatiran yang sama, tapi tidak cukup sampai pada rasa khawatir saja, melainkan kita juga harus mau mengusahakan dan berupaya keras agar semua dampak buruk yang timbul dari pengaruh kemajuan zaman ini tidak sampai merusak dan memupuskan harapan kita sebagai orang tua terhadap anak anak kita! Kata kuncinya adalah kita harus mau peduli dan mau menyediakan waktu untuk mengawal mereka dengan ketat, agar semua pengaruh negatif tersebut dapat kita eliminir semaksimal mungkin. Suka atau tidak suka kita berlomba dengan waktu dalam memberikan nilai-nilai positif, demi menjaga keseimbangan dalam diri setiap anak yang dilahirkan pada era digital ini. Kita sering melupakan pentingnya menanamkan nilai moral dan etika sesuai adat dan budaya ketimuran yang kita miliki! Akhir kata tidaklah berlebihan apabila saya merekomendasikan buku ini harus dibaca oleh semua orang tua yang peduli terhadap masa depan anak-anaknya dan generasi penerus bangsa! Paul Sukran, S.H. – Seorang kakak kebanggaan, pengacara sukses dan pengusaha. Saat ini berdomisili di Jakarta dan Bandung.

S

uka atau tidak, sadar atau tidak, kita sedang berpacu melawan perubahan dan internet yang “menggilas.” Sesungguhnya yang kita “perangi” bukanlah internet, melainkan internet content-nya. Sesuai bebannya sebagai seorang hamba Tuhan yang tetap menjaga nilai luhur, Hellen tetap konsisten dengan misinya dalam membangun generasi baru yang setia akan budaya luhur tersebut. Buku ini mengupas pemahaman mendasar tentang kaidah membangun keluarga cerdas dalam membimbing anak menghadapi internet content. Para orang tua yang peduli, perlu mencernanya dalam menyiasati perubahan-perubahan akibat jejaring internet. Sekarang, sedang! Lioe Sen Fei – Rekan diskusi dari masa lalu, seorang muda dengan pemikiran tajam dan “nyeleneh.” Arsitek sukses yang berkarya dan tinggal di Jakarta.

4


ENDORSEMENT

S

ebuah tulisan yang membukakan wawasan dan solusi yang sangat Alkitabiah bagi para orang tua, bagaimana harus bersikap menghadapi kemajuan teknologi, bukannya terhisap atau bahkan menjadi paranoid. Sebuah tulisan yang patut untuk dibaca. Bukan sekedar tulisan teoritis, tetapi sebuah tulisan yang telah digumulkan melalui pengalaman pribadi, kejujuran, dan keterbukaan yang pantas untuk diapresiasi. Pdt. Rendy Alexander Chuang – Gembala sidang GKBJ Kelapa Gading, seorang rekan hamba Tuhan yang dipenuhi hikmat dan kebijaksanaan seperti orang tua, beliau tinggal di Jakarta.

B

uku ini tidak bermaksud menggurui, namun melalui tulisannya Hellen berusaha menyuguhkan suatu proposal hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia cyber. Meskipun buku ini berjudul Cyber Smart Parenting, namun buku ini juga patut dibaca oleh para anak. Bagi para orangtua ataupun anak yang dipercaya oleh Tuhan untuk hidup di dunia cyber dan rindu untuk dapat hidup sebagai anak Tuhan yang menerangi zaman ini, maka buku ini cocok untuk Anda! Rahmiati Tanudjaja, D.Mis – Dekan akademis SAAT, seorang rekan, sahabat dan kakak rohani yang tinggal di Malang.

H

elen Pratama, dalam buku Cyber Smart Parenting, mengajak kita melihat sebuah fakta dunia di mana generasi cyber ini hidup dan bagaimana perilaku serta nilai-nilai yang mereka hidupi di dunia maya. Ia memberi insight kepada kita semua, baik orang tua, guru dan para pembimbing generasi ini, untuk kembali melihat dan menata ulang strategi pengasuhan dan pendampingan yang harus kita lakukan, sehingga mampu menjadi para pendamping generasi cyber yang smart. dr. Tika Augustine – Seorang sahabat sejiwa penulis, yang passionate terhadap youth culture dan pelayanan bagi kawula muda, pengusaha sukses di Bandung.

5


ENDORSEMENT

D

alam era revolusi teknologi digital ini kita segera akan menyaksikan perubahan maha hebat dalam generasi muda kita. Di lain pihak, bisa jadi, dengan sedih kita juga akan menyaksikan keruntuhan dan kehancuran generasi ini bila kita tidak serius dan bijaksana menyikapi perkembangan yang terjadi. Keluarga Kristen, gereja dan institusi Kristen seharusnya sudah lama bangkit dan siap memberi jawaban. Kita sangat bersyukur karena lewat buku ini, Ev. Helen Chou membeberkan tantangan ini sekaligus memberi arah bagaimana kita bisa menjawabnya. Buku ini sangat penting dan bermanfaat bagi kita yang merindukan kemenangan dalam hidup generasi muda kita. Pdt. Agus Gunawan, M.Th – Rektor STT Bandung

C

yber Smart Parenting dituliskan untuk menciptakan healthy family. Sebuah tulisan penelusuran yang detail, yang menampilkan jalan keluar menarik dan membuka mata orang tua untuk mau sadar belajar dan beradaptasi dengan smart terhadap perubahan pola pikir dan pola hidup. Perubahan yang dipacu oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat yang telah merubah sendi kehidupan termasuk kehidupan berkeluarga. Cyber Smart Parenting akan sangat membantu orang tua untuk menyadari perlunya beradaptasi untuk membina keluarga yang sehat. Beny Limadinata, BSME, MME – Pengusaha, seorang yang peka dan kritis membaca zaman, sahabat diskusi inspiratif dari Bandung.

6


ENDORSEMENT

P

erubahan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan kita. Serbuan dunia maya memasuki setiap kamar dalam rumah tanpa dapat dibendung lagi. Buku ini mengupas secara cermat apa yang sedang terjadi di generasi ini, bagaimana mereka bergulat dengan internet setiap hari. Internet seperti pisau, dapat menjadi sarana yang sangat berguna atau sebaliknya sangat merusak. Kita tidak dapat meng-isolasi diri dari dunia dan perubahannya, cara terbaik adalah dengan meng-insulasi diri dan keluarga, khususnya anak-anak kita. Prinsip insulator adalah seperti mengenakan jaket tebal dan keluar rumah pada musim dingin dan badan kita tetap hangat. Dengan meng-insulasi, kita tetap berada di dunia, tetapi pengaruh buruk dunia ini tidak dapat masuk dan merusak nilai nilai yang sudah kita pegang dan ajarkan Buku ini mengupas dengan detail nilai-nilai dan paradigma apa yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak dan generasi berikutnya. Ibu Hellen menulis buku ini berdasarkan pengalamannya bergelut dengan pelayan generasi dengan segala keunikan dan kerumitannya. Buku ini juga mengupas tuntas apa perbedaan generasi sekarang dengan yang terdahulu dan generasi seperti apakah yang akan muncul di depan. Dilengkapi contoh-contoh kejadian lucu yang terjadi di dalam interaksi orang tua dan anak seputar pergaulan dan dunia pendidikan mereka. Buku yang sangat menginspirasi! Nala Widya – gembala senior, GEIS-El Shaddai Creative Community, seorang rekan yang meminjamkan “matanya� kepada penulis untuk melihat dan memahami generasi muda. Saat ini berdomisili di Bandung.

7


ENDORSEMENT

K

etika dunia dikepung oleh liberasi media yang menawarkan begitu banyak alternatif informasi, ideologi, dan konten (dari yang paling benar sampai yang paling salah), mereka yang bisa menyaring informasilah yang akan survive. Kemampuan berpikir kritis, internalisasi nilai-nilai, dan mengambil sikap, yang seharusnya dimiliki anak, ternyata memang tidak bisa dicapai dengan jalan sekedar protektif atau pengasingan dari media dan teknologi. Ada metode yang jauh lebih baik dan adaptif yang akan Anda temukan dalam buku ini, yang tentunya melibatkan kerjasama antara orang tua dan anak serta pimpinan Tuhan. Firman Sebastian (@priatnof) – Entrepreneur bidang IT di Bandung dari angkatan pertama generasi digital, ia menjadi protege sekaligus sounding board penulis dalam issue technology, juga aktif sebagai blogger.

8


Cyber Smart Parenting oleh Hellen Chou Pratama Hak Cipta Š 2012, Hellen Chou Pratama Penyunting Desain Cover Tata Letak

: James Yanuar : Felly Meilinda : Sanny Winata

DIterbitkan oleh: PT. VISI ANUGERAH INDONESIA Jalan Karasak Lama No.2 - Bandung 40235 Telp : 022-522 5739 Fax : 022-521 1854 Email : visipress@visi-bookstore.com ISBN : 978-602-8073-73-8 Cetakan pertama, Agustus 2012 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seizin Penerbit.

Member of CBA Indonesia No : 05/PBL-BS/1108/CBA-Ina Member of IKAPI No : 185/JBA/2010


Written for; Kevin, Brian and Shian. Three children from God, born in a Cyber generation. A book inspired from the wonder of becoming a mother for them. Your openness, sophistication, and criticality has drawn me to know your culture well. To be a mother and to give my love for you is a beautiful risk!


DAFTAR ISI Kata Pengantar

15

Bab 1 - Pesaing Maya

21

Ragam Tanggapan Orang Tua

Bab 2 - Generasi Netizen

25 33

Dunia Generasi Digital

37

Ciri Khas Generasi Digital

39

Bab 3 - Netizen dan Gadget Canggih

45

Bab 4 - Gadget Canggih dan Dampaknya

53

Dampak Positif

54

Dampak Negatif

57

Bab 5 - Strategi Mengasuh Generasi Digital

81


Dunia Maya, Sebuah “Taman Bermain”

Yang Lain

86

Menjadi Keluarga Cyber Smart

89

Sekilas Mengenal Sistem Keluarga

91

Sistem Ideal Keluarga Cyber Smart

98

Pengasuhan Berfokus pada Nilai-Nilai

101

Media Sebagai Jembatan Koneksi

107

Kiat Praktis Smart dan Safe On-Line

109

Kesimpulan

117

Daftar Pustaka

121

Profil Penulis

125


Kata Pengantar

P

erjalanan dan pengalaman menjadi orang tua, Ibu dari tiga permata hati yang Tuhan percayakan kepada keluarga kami adalah sebuah anugerah tak terkatakan

dari Tuhan. Sejak memulai perjalanan ini, dua puluh tiga tahun yang lalu, saya menyadari betapa luar biasanya kepercayaan yang diberikan-Nya kepada setiap orang tua. Mengutip seorang pakar, saya merasa menjadi orang tua adalah sebuah peran “oxy-moron,� sebuah kehormatan sekaligus tantangan yang besar. Peran ini bisa menghadiahkan kita dengan keindahan dan sukacita yang tak ternilai dan tak terlukiskan, sehingga kita tidak akan rela menukarkannya dengan apapun juga. Namun pada situasi tertentu ia juga mencurahi kita dengan tantangan serta pengalaman yang bisa sangat mematahkan hati, menderaikan air mata pilu dan menawan kita pada rasa frustrasi yang melumpuhkan.

Di awal perjalanan, tidak ada satu orang tua pun yang benar-be-

nar “siap� menjadi orang tua, demikian halnya juga dengan saya. Ironisnya tidak ada sekolah formal yang tersedia bagi kita, untuk mempersiapkan diri dengan jaminan menjadi orang tua sukses. 15


Kita mempelajarinya sambil berjalan, sembari mencoba-coba, kadang melakukan kesalahan dan kemudian memperbaikinya. Ada dua pilihan yang diperhadapkan pada kita: memperbaiki dan bertumbuh melaluinya atau sebaliknya terpuruk dalam keputusasaan berkepanjangan.

Dalam upaya memaknai panggilan dan perjalanan sebagai

orang tua, karena tanggung jawab iman inilah, saya mendapatkan diri menjadi sesama “pejuang� bagi para orang tua lainnya, yang saya jumpai di manapun, baik di lingkungan keluarga, komunitas iman, ruang konseling ataupun ruang seminar dan sebagainya. Kegairahan yang menyala terhadap berbagai isu parenting, bertumbuh dan berkembang seiring perjalanan hidup saya berkeluarga. Dan itu menghantarkan saya pada konsistensi pendedikasian puluhan tahun hidup menggeluti topik tersebut. Tuhan melengkapi diri saya melalui pendidikan formal maupun informal, dalam studi pribadi yang intensif dan ekstensif demi untuk menjadi orang tua, sekaligus rekan sepeziarahan bagi setiap orang tua yang lebih baik lagi.

Sejak tahun 2005 saya mulai melakukan pengamatan yang

khusus pada topik dampak teknologi dan multimedia pada kehidupan keluarga dan khususnya setiap anak yang menjadi anggotanya. Jauh sebelum hari ini, saat putra kami: Kevin baru berumur 10 tahun dan Brian 8 tahun, sebagai orang tua, kami telah dibuat bergumul, menghadapi tantangan pengasuhan terhadap mereka, khususnya Kevin, yang berangkat menjadi pra remaja saat itu. Sama seperti anak-anak Generasi Digital umumnya, ia begitu tertarik dengan permainan on-line games, yaitu Ragnarok. Saya tahu jika saya ingin berbicara dan mendiskusikan hal ini, saya perlu memahami lebih dulu apa yang dimainkannya? Mengapa games ini 16


begitu menarik? Apa bahayanya? Saya memutuskan untuk masuk lewat pintu mereka.

Melalui proses pembelajaran dari pengasuhan anak saya ini-

lah, saya banyak memahami dunia generasi ini dan mulai banyak membawakan seminar topik ini di berbagai tempat. Kurang lebih sejak tiga tahun yang lalu, saya kian intens mendapat undangan membawakan seminar ini. Hampir setiap bulan topik yang menyoal teknologi digital dan multimedia ini selalu ada, bahkan sampai buku ini ditulis dalam beberapa bulan ke depan saya masih terus diundang untuk mengisi banyak jadwal seminar seputar topik sejenis.

Fenomena ini semakin membangkitkan kesadaran saya ten-

tang betapa banyaknya orang tua dan pendidik yang merasa begitu gamang dan frustrasi menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi digital dalam hidup generasi ini. Dan saya memiliki kerinduan yang besar untuk berbagi beban dengan menceritakan pengalaman apa yang telah Tuhan percayakan kepada saya, melalui kesempatan belajar menjadi orang tua bagi tiga anak Generasi Digital di rumah saya dan saat menjadi think-tank mempersiapkan cetak biru Youth Ministry GKI Anugerah Bandung, 2008-2011.

Sejak belasan tahun yang lalu saya memulai kelas-kelas parent-

ing dan memberikan seminar keluarga di berbagai komunitas , dari berbagai kota di Indonesia. Dalam perjalanan panjang ini, entah sudah berapa banyak orang yang saya jumpai bertanya “Kapan saya akan menuangkan apa yang saya pelajari, pahami dan alami ke dalam sebuah buku?� Saya hanya menjawab, “Suatu hari nanti.� Dan rupa-rupanya inilah HARI ITU!�

17


Harapan menuliskan seminar Cyber Smart Parenting menjadi

sebuah buku, dilandasi juga atas dorongan salah seorang rekan dan mentor hidup saya yang telah kembali ke rumah Bapa, Alm. Bapak Jusuf Masawan. Beliau sekitar lima tahun yang lalu, bertanya kapan saya akan menerbitkan buku? Sejak saat itu saya tahu, saya harus menulis. Hingga akhirnya pada salah satu seminar dengan tajuk Cyber Mom yang saya bawakan di komunitas wanita GII Hok Im Tong, Bandung pada bulan Mei 2012, momentum itupun tiba. Saat itu James Yanuar, satu-satunya pria dalam ruangan itu, mengikuti dengan cermat sesi yang saya bawakan dengan santai. James menghampiri saya seusai sesi, menyampaikan komentarnya dan ucapan terima kasih, serta memperkenalkan diri sambil menyodorkan kartu namanya, beliau bertanya mengapa saya tidak menuliskannya dalam sebuah buku. Tidak berhenti sampai disitu James mengirim pesan di inbox, Facebook, SMS, menelepon.. akhirnya proses itupun mengalir, saya menulis dan James mengeditnya. Million thanks, James!

Akhir kata saya bisa mengatakan bahwa setiap anak yang se-

dang bertumbuh dan berkembang di rumah-rumah keluarga di seluruh dunia adalah bagian dari Generasi Digital, sebuah generasi yang lahir dan bertumbuh bersama kemajuan teknologi digital dengan jaringan internet. Multimedia digital menjadi bagian hidup mereka secara tidak terpisahkan. Kesemuanya ini menjadikan mereka berpikir, bertindak dan memutuskan segala sesuatu secara berbeda, sehingga diperlukan pendekatan pengasuhan dan pendidikan yang berbeda pula.

Dan di dalam buku ini, Anda akan mempelajari tentang: Sia-

pakah pesaing maya yang menawan hati anak kita dan cara cerdas menanggapinya. Juga melalui pembahasan mengenai ciri unik 18


Generasi Digital, Anda akan mendapatkan pemahaman mengenai budaya hidup yang membentuk pola pikir, perilaku dan aspirasi anak-anak kita. Saya juga mendiskusikan mengenai manfaat dan sisi gelap gadget canggih, sehingga diharapkan setiap orang tua mendapatkan perspektif yang tepat dan seimbang dalam menyikapi tantangan yang didatangkannya dalam kehidupan anaknya. Dan Anda juga akan menemukan uraian mengenai kiat jitu untuk sukses menghadapi dan mengasuh Generasi Digital.

Harapan saya, Anda para pembaca, bisa menikmati dan terber-

kati oleh buku ini dan saya merindukan apa yang saya tuliskan dapat melengkapi wawasan serta menjadikan Anda orang tua yang Cyber Smart. Carpe Diem, Hellen Pratama, Juli 2012

19


........................................ BAB 1 Pesaing Maya

“There’s something happening here but you don’t know what it is.” −Bob Dylan

21


C Y Ber S m A rt P A rentI n G

“Anak saya keranjingan games.” “Anak saya terus menerus ‘fesbuk-an’!” “Anak saya mengerjakan PR dan belajar di depan komputer, sambil berinternet, mendengarkan musik dari Ipod dan komputernya, saya bingung bagaimana mereka bisa berkonsentrasi jika belajar dengan cara seperti itu?”

B

egitulah situasi beberapa tahun terakhir ini, yang sering dikeluhkan oleh orang tua di ruang konseling saya, maupun ketika saya sedang menyampaikan seminar.

Tidak ada yang pernah membayangkan, bahwa temuan dan

perkembangan teknologi informasi; multimedia dengan jaringan internetnya akan mendatangkan kerumitan yang teramat sangat bagi kehidupan kita, teristimewa pada peran menjadi orang tua ataupun guru di sekolah. Generasi muda, anak-anak yang ada dalam pengasuhan kita di rumah, sekolah maupun komunitas adalah generasi yang bertumbuh besar dengan dikelilingi dan sangat ter22


P es AI nG M AYA

gantung pada teknologi khususnya media digital.

Komputer dapat ditemukan di rumah-rumah bahkan di gang-

gang sempit atau di pelosok sekalipun, di sekolah, kantor, pabrik, dan teknologi digital seperti kamera, video games, Ipod, smartphone, tablet, PSP, dapat dijumpai di mana-mana. Karena mereka terlahir dalam era demikian, generasi ini berpikir semua hal tersebut adalah bagian dari kehidupan alamiah.

Maka tidak mengherankan jika mereka begitu nyaman, sangat

memahami bahkan menguasai “melek� teknologi dibandingkan kebanyakan orang dewasa di sekitarnya. Kesenjangan generasi kini bukan lagi sekedar karena perbedaan usia dan selera hiburan (musik, film dll.), namun juga meluas pada berbagai perubahan yang dihadirkan oleh dampak penguasaan dan penggunaan teknologi digital oleh generasi muda dan di situasi hidup seharihari.

Tidak mengherankan pula jika banyak orang tua yang merasa

sangat tertinggal dalam kemajuan ini, walau sebagian orang tua muda−sebut saja mereka yang terlahir tahun 1984-an−telah tumbuh bersama perkembangan teknologi digital dan internet, namun kebanyakan orang tua khususnya yang lebih senior darinya merasa sangat kewalahan. Mereka menyadari dan mengakui bahwa generasi anaknya adalah generasi yang canggih jauh melampui dirinya. Kesadaran ini bukan saja mendatang23


C Y Ber S m A rt P A rentI n G

kan rasa ketidaknyamanan, banyak orang tua yang telah kehilangan keyakinan diri untuk menjadi pengasuh yang memengaruhi, membimbing dan mendidik anak-anaknya; bahkan tidak sedikit dari mereka yang menemui saya berada dalam “kepanikan” bahkan kefrustrasian dalam menyikapi situasi ini.

Tentu saja reaksi ini sangat bisa dimengerti, karena bagi setiap

orang yang menyadari peran dan panggilan yang diberikan Tuhan kepadanya sebagai orang tua, pada umumnya bermimpi dan berharap menjadi orang tua yang sukses membangun anak-anaknya. Mereka kini diperhadapkan dengan “pesaing maya” yang hadir dan disambut hangat oleh putra-putrinya baik di dalam rumah–kamar tidur, kamar mandi–bahkan kemanapun mereka melangkah. Ironisnya, kita sendirilah yang mengundang “pesaing maya” ini dengan uang kita sendiri, melalui gadget canggih yang kita belikan bagi mereka. Pesaing Maya ini hampir pasti telah mengalahkan banyak orang tua dalam memengaruhi generasi.

Hasil dari 18 riset yang meneliti tingkat pengaruh berbagai

institusi pada kehidupan anak usia 13-19 tahun pada akhir tahun 1980-an melaporkan temuannya sebagai berikut: pada tahun 1960-an urutan pemberi pengaruh dalam hidup anak adalah 1. Keluarga, 2. Sekolah, 3. Teman/Kelompok, 4. Gereja. Tahun 1980-an: 1. Teman/Kelompok, 2. Keluarga, 3. Media. 4. Sekolah. Dan saat ini dalam realita hidup sehari-hari, kita bisa melihatnya secara kasat mata urutan pemberi pengaruh dalam hidup mereka adalah 1. Media, 2. Artis/Figur idola. 3. Teman/Kelompok, 4. Keluarga. Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana sikap yang tepat dalam menyikapi tantangan ini? 24


P es AI nG M AYA

Ragam Tanggapan Orang Tua Ada berbagai macam reaksi keseharian orang tua yang bisa dijumpai dalam menyikapi tantangan teknologi internet; dari yang sangat ketakutan, tidak peduli, hingga yang sangat terbuka tanpa curiga. Reaksi-reaksi tersebut bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu menarik diri (Bubble Way), menyerahkan diri (EGP [Emang Gue Pikirin] way) atau menerima dengan kritis (Smart Way). 1. Menarik diri (Bubble Way) Pada tahun 2010, dalam salah satu seminar bagi orang tua yang diadakan oleh sebuah sekolah menengah di Bandung, seorang ibu dengan cukup emosional bertanya, “Mengapa sekolah harus memberikan tugas yang kemudian mengharuskan para siswa menggunakan internet? Bukankah itu bisa menjerumuskan anak-anak?� Dan kemudian dengan bangga ibu muda ini menambahkan: “Saya tidak memberikan fasilitas komputer dan internet kepada anakanak saya dan saya memastikan tidak pernah akan memberikannya.� Saya tidak tahu apakah hingga saat ini, ibu muda ini masih seyakin saat itu? Sanggupkah ia menjauhkan komputer, multimedia dan internet dari anak remaja nya?

Seperti ibu muda tadi, sebagian besar orang tua menyikapi tan-

tangan dampak teknologi dan internet dengan menarik diri secara ekstrim, berusaha mati-matian untuk menjauhkan anak-anaknya dari jaringan komputer dan internet sama sekali. Sikap ini lahir dari rasa takut dan khawatir yang sangat besar, sebagai niat baik dari upaya mereka untuk memberikan perlindungan maksimal dengan menghindarkan anak dari dampak mengakses internet. Tentu saja untuk sementara waktu, jenis orang tua ini merasa aman dan

25


C Y Ber S m A rt P A rentI n G

terkendali. Mereka telah menciptakan “gelembung udara” yang melapisi anak-anaknya dari jangkauan teknologi dan berbagai realita hidup lainnya yang dianggap bisa membahayakan anak-anak dan menantang “kendali-nya” sebagai orang tua.

Jenis orang tua ini sebenarnya hidup dalam keyakinan semu

dan penyangkalan atas ketakutan-ketakutannya. Sikap ekstrim ini meskipun praktis, hanya akan efektif dalam jangka pendek, karena dalam jangka panjangnya hal ini justru berakibat fatal. Mereka menjadi tidak sempat melatih dan mengasah keterampilan anakanaknya untuk sensitif dan mampu menilai/membedakan sesuatu, sebuah keterampilan hidup yang kritis saat memasuki dan mengarungi kehidupan nyata. Setiap anak membutuhkan hikmat, keyakinan diri serta kemampuan yang terpatri kuat dalam ingatan dan pengalamannya secara pribadi.

Orang tua “Bubble Way” lupa bahwa strategi penyangkalan ini

hanya menunda waktu. Mereka mengakumulasi masalah yang akan dihadapi di kemudian hari dan satu saat “gelembung udara” ini pasti akan pecah, entah karena tekanan dari dalam yaitu “pemberontakan” sang anak atau tekanan dari luar, karena tak lagi mampu menahan derasnya arus ketergantungan sang anak pada teknologi itu sendiri. Bersama pecahnya gelembung itu, maka pecahlah juga pagar perlindungan anak dan “hati” orang tuanya. Entah sudah berapa banyak orang tua yang menangis di hadapan saya dalam kesedihan mendalam karena kini sang anak sama 26


Cyber Smart Parenting