Issuu on Google+

#6 2013

Buletin Triwulan

VECO Indonesia

Petani Belajar dengan Berbagi Pengalaman Foto: Anton Muhajir

LONTAR - #6 - 2013

1


Dari Redaksi

Daftar Isi

Agar Lebih Segar dan Terintegrasi PEMBACA yang terhormat. Dua bulan terakhir, sejak Desember hingga Februari lalu, kami di Bagian Publikasi VECO Indonesia memindahkan website dari www.vecoindonesia.org ke web baru kami di www.veco-ngo.org/vecoindonesia. Meskipun demikian, website lama masih ada namun langsung diarahkan ke website baru. Ya, kami sekarang menginduk ke website kantor pusat di Leuven, Belgia. Hal ini merupakan kebijakan dari kantor pusat. Di website tersebut juga terdapat

kantor VECO regional lain, seperti Vietnam, Afrika, dan Amerika Latin. Semua dalam bahasa Inggris maupun bahasa lokal. Dengan tampilan lebih segar, warna hijau dan desain dinamis, kami berharap, website baru ini akan menyegarkan materi-materi publikasi kami selain juga lewat LONTAR ini. Tak hanya untuk kami tapi juga untuk pembaca yang biasa mencari informasi terbaru dari kami. Selamat berselancar. [Redaksi]

2 3 4

Dari Redaksi Editorial Reportase

11 12 14 16 18 19 20

Organisasi Petani Kabar Veco Kabar Mitra Berita Internasional Profil Resensi Poster

Petani Belajar dengan Berbagi Pengalaman

Lontar (n) daun pohon lontar (Borassus flabellifer) yang digunakan untuk menulis cerita; (n) naskah kuno yang tertulis pada daun lontar; (v) melempar. Maka LONTAR bagi kami adalah kata kerja (v) sekaligus kata benda (n). Lontar adalah media informasi untuk menyampaikan informasi tentang pertanian yang memperhatikan nilai-nilai lokal, sesuatu yang terus VECO Indonesia perjuangkan.

Tim Redaksi

Foto: VECO Indonesia

Our Website Moves to Head Office Dear Readers, In the past two months, from December to February, we in the VECO Indonesia Publications Division have been migrating our website from www.vecoindonesia.org to our new site at www.veco-ngo.org/vecoindonesia. Visitors to the old site will be redirected to our new website. Yes, we are now a part of the website of the head office in Leuven, Belgium. This was a decision made by head

office. On the new website you can find all the other regional VECO offices, including Vietnam, Africa and Latin America. All the information is available in English and local languages. With its fresh new look in green, and dynamic design, we hope that this new website will freshen up the material we publish, other than through LONTAR. Not only for us, but for our readers who are looking for information updates from us. Happy surfing. [The Editor]

Penanggung jawab : Rogier Eijkens Redaksi : Anton Muhajir Kontributor : Staf dan Mitra VECO Indonesia Layout : Syamsul "Isul" Arifin Alamat Redaksi VECO Indonesia Jl Kerta Dalem No 7 Sidakarya Denpasar Telp: 0361 - 7808264, 727378, Fax: 0361 - 723217 Email: admin@veco-indonesia.net, anton@veco-indonesia.net Website www.vecoindonesia.org Twitter @vecoindonesia

Redaksi menerima berita kegiatan, profil, maupun tips terkait praktik pertanian berkelanjutan terutama yang terkait dengan mitra VECO Indonesia di berbagai daerah. Tulisan bisa dikirim lewat email ataupun pos ke alamat di atas. Materi publikasi ini dicetak menggunakan kertas daur ulang 50 persen sebagai komitmen VECO Indonesia pada ekologi

2

LONTAR - #6 - 2013


Editorial

Belajarlah di Lapangan, Tak Hanya Kelas

Learning in the Field, Not Just in Class

Beritahu aku, aku lupa. Tunjukkan aku, aku ingat. Libatkan aku, aku mengerti.

Tell me, I forget. Show me, I remember. Engage me, I understand.

PEPATAH Cina ini tepat sekali untuk menggambarkan prinsip utama dalam Sekolah Lapang (SL). Dalam metode ini, petani tak hanya diberi tahu teori di dalam kelas tapi juga ditunjukkan melalui praktik dan pengamatan langsung di lapangan. Para petani tersebut layaknya pelajar atau mahasiswa ketika kuliah atau bahkan lebih dari itu. Semua terlihat bergairah ketika bekerja bersama-sama. Saya melihatnya di Mbay, Nagekeo maupun di Bajawa dan Golewa, Ngada. Dengan metode itu, maka petani lebih bisa menerapkan apa yang mereka pelajari di dalam kelas. Pengertian kelas pun tak berarti secara fisik tapi lebih pada fungsi. Kelas tak melulu berada di dalam ruangan tapi juga bisa di halaman rumah, kebun, sawah, dan seterusnya. Kelas SL bisa di mana saja. Ketika dimulai pada tahun 1 989 di Indonesia, SL didesain untuk belajar tentang pengelolaan hama terpadu. Namun, saat ini SL justru dilakukan pula untuk belajar tak hanya pengendalian hama tapi juga pengolahan pascapanen. Perintis metode SL adalah Badan Pertanian dan Pangan PBB, FAO. Hingga kini, sudah ada lebih dari dua juta petani di Asia yang menerapkan metode SL ini. Keunggulan SL adalah karena sistem belajar ini menjadikan semua peserta, yang semuanya adalah petani, sekaligus sebagai pemandu. Dengan metode ini, maka SL telah mengembalikan pengetahuan petani kepada petani itu sendiri. Inilah alasan kenapa SL harus terus didukung. Petani harus menerapkan pengetahuan mereka sendiri bukan hanya dengan menerima pengetahuan dari luar yang kadang justru membuat mereka melupakan sistem pertaniannya sendiri. [Anton Muhajir]

THIS Chinese proverb is very fitting to describe the main principle of field schools. In this method, farmers not only learn about the theory in class, but are also shown how to do things, through hands-on practical sessions and observations in the field. These farmers are like school pupils or university students; perhaps even more than that. They all look so passionate when learning together. I saw them in Mbay, Nagekeo, and in Bajawa and Golewa, Ngada. Using this method, the farmers are better able to apply what they have learned in class. Even the classroom learning is functional rather than physical. Classes are not always held inside; they can also be held in house yards, gardens, paddy fields and other outdoor spaces. In fact, field school classes can be held anywhere. When first introduced in Indonesia in 1 989, field schools focused on learning about integrated pest management. But today, field schools are run to learn not only about pest management, but also postharvest management. The field school method was pioneered by the Food and Agriculture Organization (FAO). Today, more than two million farmers in Asia learn using this field school method. The advantage of the field school is that this learning system turns all participants, all of whom are farmers, into facilitator. Using this method, the field schools transfer knowledge from farmer to farmer. That is why support for field schools must continue. Farmers have to apply their knowledge themselves not just receive knowledge from outside, which actually makes them forget their own farming systems. [Anton Muhajir]

LONTAR - #6 - 2013

3


Profil Vietnam

Sekolah Lapangan

Petani Belajar dengan Berbagi Pengalaman

Dengan pemandu sesama petani dan praktik di lapangan, Sekolah Lapang memudahkan petani untuk belajar.

DI tengah hamparan sawah di kawasan Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Linda Bate dan Pius Ngetu bersama dua petani lain melakukan pengamatan terhadap padipadinya pada tahun lalu. Dengan maju selangkah demi selangkah, mereka menghitung antara lain bulir padi dan jumlah batang serta mencari hama pada padi. Berjarak sekitar 3 meter dari empat anggota Asosiasi Petani Organik Mbay (ATOM) tersebut, Bambang Hermanto juga mencari hama di rumpun padi lain. Petani sekaligus fasilitator dari Yayasan Pertanian Alternatif Nasional Sumatera Utara (PANSU) ini sesekali memberikan informasi kepada anggota ATOM tentang apa yang mereka amati siang itu. Bambang sudah tiga bulan tinggal di Mbay, salah satu daerah penghasil padi di Pulau Flores, NTT, sebagai fasilitator bagi anggota ATOM. Bersama satu temannya dari PANSU, Bambang yang juga petani, mendampingi petani di Mbay agar bisa beralih ke pertanian organik melalui Sekolah Lapang (SL). Foto-Foto: VECO Indonesia

4

Foto-foto: Anton Muhajir

LONTAR - #6 - 2013


Reportase Siang itu, mereka melakukan praktik lapangan, mengamati tanaman padi berumur sekitar dua bulan tersebut. Sebagai salah satu bagian dari proses belajar, salah satu petani mencatat semua hasil pengamatan tersebut di buku tulis. Mereka belajar langsung dari lapangan, tak cuma teori di dalam kelas. Inilah yang membedakan SL dengan metode belajar lainnya. Ketika belajar menggunakan metode SL, petani tak hanya belajar teori tapi juga langsung praktik di lapangan. Persentase materi SL sekitar 25 persen teori dan 75 persen praktik. Melalui metode ini, petani mengaku lebih mudah belajar. “Saya lebih cepat menyerap apa yang saya pelajari

karena bisa langsung praktik,� kata Pius. Linda dan Pius hanya dua di antara puluhan petani anggota Kelompok Tani Kubota di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Nagekeo yang belajar tentang pertanian organik melalui SL. Di Saung Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Kubota, sekitar 50 petani lainnya sedang belajar membuat mikroorganisme lokal (MOL) dipandu fasilitator dari PANSU. SL merupakan hal baru bagi Pius dan kawan-kawannya di Kelompok Kubota. Mereka baru mulai belajar melalui SL sejak Maret 201 2. Sebelum itu, menurut Pius, petani setempat tak terlalu peduli pada sistem pertanian yang mereka gunakan. Selama SL, Pius dan

anggota Kubota lainnya belajar tentang ekosistem, cara membuat dan memilih benih, cara menanam, serta pengendalian hama. Semua proses dilakukan secara ekologis.

Laboratorium

SL diawali dengan survei dan kontrak belajar. Survei ini antara lain apakah petani setempat sudah punya kelompok tani, apakah kebunnya bisa menjadi media belajar, dan seterusnya. Jika syarat sudah terpenuhi, maka dilanjut dengan kontrak belajar antara pemandu dengan peserta SL. SL mulai dilaksanakan setiap minggu. Lokasi belajar teori selama SL ini

Farmer Field Schools

Farmers Learn by Sharing Experiences With farmer facilitators and practice in the field, field schools are easier for farmers to learn from.

IN the middle of a paddy field in Mbay, Nagekeo District, East Nusa Tenggara, Linda Bate and Pius Ngetu, along with two other farmers, are making observations of last year’s rice crop. One step at a time, they are counting, among other things, the number of panicles and stems, and looking for pests on the rice plants. Around 3 metres away from these four members of Asosiasi Petani Organik Mbay (ATOM), Bambang Hermanto is also searching for pests in

other clumps of rice. This farmer and facilitator from Yayasan Pertanian Alternatif Nasional Sumatera Utra (PANSU) is simultaneously giving information to the ATOM members about what they are looking for that day. Bambang has been living for three months in Mbay, a rice producing centre on the island of Flores, East Nusa Tenggara, as facilitator for ATOM members. Along with a colleague from PANSU, Bambang, who is also a farmer, is supporting farmers in Mbay

through field schools to enable them to switch to organic farming. That afternoon, they were doing practical field work, examining rice plants that were about two months old. As part of the learning process, one farmer is recording all these observations in a notebook. They are learning directly from the field, not just theory in the classroom. This is what differentiates field schools from other learning methods. When learning using the field school

LONTAR - #6 - 2013

5


Reportase

bisa di saung ataupun sawah. Begitu pula dengan lokasi praktik. Tak selamanya mereka di sawah karena juga bisa di halaman saung ataupun di rumah salah satu anggota. Sebagai lokasi praktik penanaman padi, anggota Kubota menggunakan dua petak sawah milik Pius Bate. Lahan ini menjadi semacam laboratorium di mana seluruh anggota kelompok bisa mempraktikkan teori yang mereka pelajari. Mereka sekaligus melakukan pengama-

tan hasil praktik. Di sawah yang menjadi laboratorium inilah petani mengamati dan mencatat apa yang mereka peroleh selama pengamatan tersebut. Petani pun masuk lumpur sawah demi pengamatan tersebut. “Petani harus kotor. Kalau mau hasil lebih baik, kita harus berani kotor,” kata Bambang yang sudah sekitar 30 tahun jadi fasilitator SL. Hasil pengamatan lalu didiskusikan

baik oleh sesama petani maupun bersama pemandu. Hal ini memudahkan petani memahami percobaan yang sedang mereka lakukan. “Kami jadi bisa membandingkan apa yang kami pelajari dengan apa yang kami praktikkan dan sebaliknya,” tambah Linda. Menggunakan sistem pertanian baru yang mereka pelajari dan praktikkan dengan panduan dari tim PANSU, Pius dan kawan-kawannya mengaku kini bisa melihat bahwa sistem baru ini memang

method, farmers not only learn the theory, but also get hands-on practice in the field. The field school material is around 25 percent theory and 75 percent practical. Using this method, farmers confirm it is easier to learn. “I can take in what I am learning about more quickly because I get hands-on practical experience,” said Pius. Linda and Pius are only two of tens of farmers who are members of the Kubota farmer group in Marapokot village, in the Aesesa subdistrict of Nagekeo who are learning about organic farming through field schools. In Saung, another 50 members of the Kubota Water User Farmers’ Association (P3A) are learning to make local micro-organisms, with a facilitator from PANSU. Field schools are a new thing for Pius and his friends in Kubota farmer group. They have only been learning using this method since March 201 2. Before that, said Pius, local farmers didn’t care much about the agricultural system they were using. During the field schools, Pius and the other Kubota members have learned about the ecosystem, how to grow and

select seedlings, how to plant, and how to manage pests. All these processes are done ecologically.

direct observations of the results of their experiments. In these laboratory fields, the farmers observe and report what they see during the observations. The farmers get very muddy making these observations. “Farmers should be dirty. If we want to get better results, we have to be prepared to get dirty,” said Bambang, who has been a field school facilitator for around 30 years. The results of the observations are then discussed among the farmers and with the facilitator. This helps the farmer to understand the experiments they are doing. “We can compare what we have learned with what we are doing, and vice versa,” added Linda. Using the new farming system that they have learned about and practiced with the PANSU facilitator, Pius and his colleagues admit that they can see that this new system is better. As an example, with this new method, they only have to use organic inputs to control pests. Spraying for pests every day can cost the farmers around IDR 8 million. “Now we don’t have to spend any money. All we have to do is clear the weeds,”

Kini Sayur Sehat Lebih Terjangkau di Vietnam

6

LONTAR - #6 - 2013

Laboratory

The field schools begin with a survey and learning contracts. This survey, among others, asks whether the local farmers have farmer groups, whether their gardens could be made into learning centres, and so on. If the criteria are met, the next stage is drawing up a learning contract between the facilitator and the field school participants. Field schools start every week. The theory part of the field school can be learned either inside or outside in the fields, and the practical lessons likewise. While they are not in the fields, they could be in the field huts or at the home of one of the members. As the location for their rice planting practice, the Kubota farmer group members use two paddy fields belonging to Pius Bate. This land becomes a kind of laboratory, where all the group members can put the theory they have learned into practice. They also make

Foto-foto: Anton Muhajir


Reportase lebih baik. Sebagai contoh, dengan metode baru ini, mereka cukup menggunakan bahan-bahan alami untuk mengendalikan hama. Karena setiap hari harus menyemprot hama, petani bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 8 juta. “Sekarang tidak ada mengeluarkan biaya apa-apa. Paling hanya untuk membersihkan rumput,” kata Pius. Ketua ATOM Nobertus Logodai mengatakan, SL merupakan salah satu kegiatan organisasi petani produsen padi ini selain juga Internal Control System (ICS), pemasaran bersama, dan uji coba kebun. Saat ini ada sekitar 200 petani yang tergabung di 17 kelompok. “Menariknya SL karena petani langsung praktik di lapangan. Petani bisa menemukan banyak hal. Mereka juga bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, seperti penyakit. Petani bisa saling melengkapi,” katanya. Menurut Nobertus, metode SL ini berbeda dengan sistem yang biasa diajarkan oleh Petugas Penyuluh Petani (PPL). Penyuluh dari instansi pemerintah ini biasanya lebih banyak teori daripada praktik. Materinya juga searah dari PPL. “Dalam SL, petani menjadi narasumber tak hanya datang, dengar, dan pulang tanpa melakukan. Tak banyak wacana said Pius. ATOM Chair Nobertus Logodai says that the field schools are one of the activities of this rice producer farmer organisation, along with the Internal Control System (ICS), collective marketing and experimental gardens. Today, around 200 farmers are associated in 17 groups. “What makes the field schools interesting is that the farmers can practice what they have learned in the fields. They learn a lot. They can also share their knowledge and experience with each other, for example about diseases. The farmers complement one another,” he said. According to Nobertus, this field school method differs from the way that government agriculture extension workers teach. Their methods usually involve more theory than practice. And delivery of the content is one way: from the extension worker to the farmers. “In field schools, farmers are resource people. They don’t just come and listen, and go home without doing anything. It’s about action, not theory,” added Nobertus.

tapi aksi,” Nobertus menambahkan.

Berlimpah

SL di Mbay sendiri termasuk baru. Sebelumnya, VECO Indonesia dan mitranya di Manggarai dan Bajawa sudah melakukan SL tersebut. Bersama PANSU Medan, lembaga perintis SL di Indonesia, VECO Indonesia menerapkan SL ini bagi petani kopi di kawasan tersebut sejak April hingga Agustus 201 0. Program SL untuk rantai kopi ini dilaksanakan selama satu siklus. Lokasinya di Kecamatan Poccoranaka di Kabupaten Manggarai Timur dan Kecamatan Bajawa di Kabupaten Ngada. Selama empat bulan tersebut, 78 petani yang tergabung dalam empat kelompok di empat desa menjalani seluruh proses dalam SL. Metode belajar dalam

Upscaling

The farmer schools in Mbay are new. Previously, VECO Indonesia and its partners in Manggarai and Bajawa ran field schools. With PANSU Medan, the pioneers of the field school method in Indonesia, VECO Indonesia ran these field schools for coffee farmers in these locations from April to August 201 0. This field school program for the coffee chain was run over one complete cycle. The locations were Poccoranaka subdistrict in East Manggarai district, and Bajawa subdistrict in Ngada district. During those four months, 78 farmers who are members of four groups in four villages completed the entire field school process. The learning method used in

SL adalah dengan pendidikan orang dewasa dan partisipatoris yaitu dengan cara: melakukan, menganalisis, menyimpulkan, dan menerapkan. Karena petani langsung mempraktikkan di lapangan, maka hasil pertanian mereka pun lebih baik. Produksi kopi mereka memang meningkat. Nikolaus Raga, Wakil Ketua Permata yang juga peserta SL di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, memberikan contoh. Biasanya, tiap pohon hanya menghasilkan sekitar 2-3 kg kopi gelondong kering. Kini, satu pohon kopi bisa menghasilkan lebih dari dua kali lipatnya, 5-1 0 kg. Peningkatan produksi tersebut karena petani sudah menerapkan pengetahuan yang mereka pelajari selama SL. Misalnya, mereka kini rajin membersihkan lahan dan pohon kopi. “Dulu saya takut memangkas pohon karena saya pikir makin tinggi pohonnya akan makin bagus banyak hasilnya. Ternyata saya salah,” ujar Nikolaus. SL mengubah pandangan pengetahuan petani sehingga bisa menerapkan sistem pertanian lebih ramah lingkungan. Selain hemat, hasilnya juga lebih meningkat. [Anton Muhajir] field schools is adult, participatory education, which involves doing, analysing, concluding and applying. Because the farmers practiced what they had learned in the fields, their agricultural yields improved too. Coffee production increased. Nikolaus Raga, vice chair of Permata, who was a participant in the field school in Beiwali village in Bajawa subdistrict gave an example. In the past, one coffee tree typically produces around 2-3 kg of dried, peeled coffee. Now a coffee tree can produce more than double that: 5-1 0 kg. This increased production came about because the farmers applied the knowledge they had learned during the field school. For example, they now regularly tidy their land and coffee trees. “I used to be scared to prune the trees because I thought the taller the tree, the more it would produce. Turns out I was wrong,” said Nikolaus. Field schools change farmers’ perceptions, so they are able to adopt more eco-friendly farming systems. As well as being cost-effective, production also increases. [Anton Muhajir]

LONTAR - #6 - 2013

7


Reportase

Foto-Foto: VECO Indonesia

Tak Hanya Petani Tapi juga Pemandu

Pada awalnya Nikolous Raga mengaku agak bingung. Namun, kini dia sudah mahir menjadi pemandu bagi petani lainnya.

SELAIN sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Petani Watuata (Permata), Niko adalah juga pemandu bagi sesama petani. Dia salah satu pemandu di organisasi petani di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur tersebut. Sejak dua tahun terakhir, Niko juga mengajari petani lain tentang cara budi daya hingga pengolahan bagi anggota Permata. Niko merupakan salah satu alumni Sekolah Lapang angkatan pertama di Kabupaten Ngada hasil kerja sama VECO Indonesia dengan Pertanian Alternatif Nasional Sumatera Utara (PANSU) yang dilaksanakan Lembaga Advokasi dan Pendampingan Masyarakat (Lapmas). Kegiatan serupa juga diadakan di Kecamatan Poccoranaka, Kabupaten Manggarai Timur oleh Delsos Ruteng. Dari SL angkatan pertama yang diadakan pada tahun 201 0 ini kemudian dicari peserta-peserta yang potensial menjadi pemandu bagi petani lain.

8

LONTAR - #6 - 2013

Para petani calon pemandu ini dilatih terlebih dulu sebagai calon pemandu melalui pelatihan untuk pelatih atau training of trainer (ToT). Selama 30 hari, ToT diadakan di tiga tempat masing-masing selama sepulu hari yaitu di Manggarai pada 14-23 Mei 2011 , di Bajawa pada 25 Mei - 4 Juni 2011 , serta di Mbay pada tanggal 6-1 6 Juni 2011 . Ada beberapa syarat alumni SL yang bisa menjadi peserta ToT ini. Misalnya tingkat kehadiran di SL 90 persen, mampu berbicara di depan peserta SL, mampu baca tulis, memiliki kebun atau sawah yang dikerjakan, sudah menerapkan hasil-hasil belajar di SL, bersedia melatih petani lainnya di luar desanya, bertanggungjawab terhadap perkembangan kelompoknya, dan mendapat persetujuan dari kelompok SL-nya. Niko menjadi salah satu dari 21 petani yang lulus ToT di Bajawa dan bisa menjadi pemandu bagi petani lain. Nilai akhirnya setelah ToT, meliputi sikap,

pengetahuan, dan keterampilan adalah 6. Sejak dua tahun lalu, Niko pun menjadi pemandu SL. “Setelah dua tahun menjadi fasilitator, saya merasa sudah banyak peserta SL yang berhasil,” katanya. Selain Niko, pemandu lain di Permata adalah Maria Yuliana Aku. Seperti juga Niko, petani perempuan yang akrab dipanggil Lili ini juga mengajari petani lain tentang budi daya kopi. Sebagai pemandu, dia juga membantu peserta SL untuk membuat kurikulum, jadwal, dan rencana SL lainnya. “Semua materi dibuat secara partisipatif bersama peserta,” ujar Lili.

Gambar

Tiap seminggu sekali, Lili dan Niko belajar bersama petani lainnya tentang cara pembuatan pupuk, pemangkasan, hingga pengolahan pascapanen. Dalam tiap kelas rata-rata ada sepuluh peserta dengan dua atau tiga pemandu.


Reportase Sebagai pemandu SL, Lili dan Niko mengaku pada awalnya mendapat banyak tantangan. Bingung mau menjelaskan materi hanya salah satunya. Tantangan lainnya adalah bagaimana bisa menjelaskan materi SL dalam bahasa yang bisa dijelaskan kepada peserta. Menurut Lili, salah satu cara yang dia gunakan adalah dengan media gambar. Bagi peserta SL yang tak mengerti tulis baca, gambar lebih efektif untuk memahami penjelasan pemandu. Wilhelmina Dhay, Bendahara Kelompok Tani Perempuan Pappalaka di Desa Malanusa, Kecamatan Golewa, salah satu peserta SL mengakuinya. Karena tak semua anggota kelompok Pappalaka bisa baca tulis, maka dalam SL mereka pun kadangkadang menggunakan gambar tersebut. Cara lain agar peserta lebih mudah paham adalah dengan praktik. Menurut Wilhelmina, dari seluruh kelas SL, 75 persen di antaranya dilakukan di lapangan. Pemandu menunjukkan

langsung bagaimana cara memangkas, memetik, dan teknik lain dalam budi daya kopi. “Kalau melihat langsung jadi kita tinggal meniru apa yang dilakukan pemandu,” tambahnya. Akhir tahun lalu, misalnya, sekitar 1 5

anggota Pappalaka ini mempraktikkan sendiri cara membuat pupuk organik. Lima anggota sedang sibuk memeras bahan terbuat dari campuran antara bongkol pisang, moke (tuak), dan bahan-bahan lain. Dua lainnya memandu dengan

Not Just Farmers, Facilitators Too Nikolaus Raga admits to being rather confused at first. Now, he’s a skilled facilitator of other farmers.

AS well as being deputy chair of Perhimpunan Petani Watuata (Permata), Niko is also a facilitator of other farmers. He is a facilitator in a farmer organisation in Beiwali village, Bajawa subdistrict, Ngada district, East Nusa Tenggara. For the past two years, Niko has also been teaching other farmers who are members of Permata about everything from cultivation to management techniques. Niko is an alumni of the first round of field schools organised in Ngada district in partnership between VECO Indonesia and Pertani Alternatif Nasional Sumatera Utara (PANSU), and run by Lembaga Advokasi dan Pendampingan Masyarakat (Lapmas). A similar activity was also run in Poccoranaka subdistrict, in East Manggarai district, by Delsos Ruteng. From this first round of field schools held in 201 0, potential facilitators for other farmers were found. These prospective facilitators first went through a training of trainers (ToT)

course. Over a period of 30 days, this training course was held for 1 0 days each in three locations: in Manggarai from 14 to 23 May 2011 , in Bajawa from 25 May to 4 June 2011 , and in Mbay from 6 to 1 6 June 2011 . There were several criteria for field school alumni to become participants in this ToT. For example, a 90 percent rate of attendance at the field school, the ability to talk in front of field school participants, being able to read and write, having a working garden or paddy field, adopting the lessons learned at the field school, being willing to train farmers outside their own village, being responsible for the development of the group, and having the approval of his or her field school group. Niko was one of 21 farmers who passed the ToT in Bajawa, and became facilitators of other farmers. His final score for the ToT, including attitude, knowledge and skills, was six. For the

past two years, Niko has been a field school facilitator. “After two years of being a facilitator, I feel that many of the field school participants have had success,” he said. Another facilitator at Permata is Maria Yuliana Aku. Like Niko, this women farmer who is known to her friends as Lili, also facilitates other farmers about growing coffee. As a facilitator, she also helps field school participants to prepare curriculum, schedules and other field school plans. “All the material is prepared in a participatory way with the participants,” explained Lili.

Pictures

Once a week, Lili and Niko learn with the other farmers about how to make compost, prune, and do post harvest management. In each class, there is an average of 1 0 participants and two or three facilitators. As field school facilitators, Lili and

LONTAR - #6 - 2013

9


Reportase

10

catatan di buku mereka. Di tempat lain, masih di rumah yang sama, ibu-ibu menyiapkan bahan baru, daun-daunan, moke, dan lain-lainnya untuk pupuk baru. Setelah lengkap, bahan tersebut akan disimpan agar bisa terfermentasi dan nantinya siap diperas

seperti bahan yang sudah jadi tersebut. Begitulah sekolah yang efektif bagi mereka, langsung praktik di lapangan. Satu lagi strategi para pemandu yaitu dengan penggunaan bahasa-bahasa lokal. Menurut Niko, penjelasan dari pemandu kadang-kadang susah dimengerti

peserta karena dia tak mengerti istilah dalam bahasa setempat. Karena itu, pemandu SL sebaiknya menggunakan bahasa dan istilah lokal sehingga peserta lebih mudah mengerti. “Kalau pakai istilah ilmiah, peserta malah bingung,” ujarnya. [Anton Muhajir]

Niko admit that initially there were lots of challenges. Being unsure how to explain the material was just one of them. Another was how to explain the field school materials in language that the farmers could understand. According to Lili, one method that she uses is pictures. For the field school participants who cannot read or write, pictures are an effective way for the facilitator to explain things. Wilhelmina Dhay, treasurer of Pappalaka women’s farmer group in Malanusa village, Golewa subdistrict, is one of the field school participants to confirm this. Because not all members of the Pappalaka farmer group can read and write, they sometimes use pictures in their field schools, too. Another method that helps partici-

pants to understand is practice. According to Wilhelmina, 75 percent of all the field school classes are held in the fields. The facilitators demonstrate how to prune and pick, and other coffee cultivation techniques. “If can see how to do it for ourselves, all we have to do is copy what the facilitator does,” she added. At the end of last year, for example, around 1 5 Pappalaka members practiced making organic fertiliser themselves. While five members busily squeeze the mixture made out of banana stems, toddy and other ingredients, two others make notes in their books. In another part of the same house, women are preparing the raw materials – the leaves, toddy and other things –

to make the next round of compost. When everything is ready, the mixture is stored and allowed to ferment, before it is squeezed into compost that is ready to use. That is what makes the field schools so effective for them: they are able to practice what they have learned for themselves. Another strategy the facilitators use is using the local language. According to Niko, the facilitators’ explanations can be difficult for the participants to understand if they don’t understand local terms. So, the field school facilitator should use the local language and local terms to make it easier for the participants to understand. “If you use scientific terms, the participants will just get confused,” he explained. [Anton Muhajir]

LONTAR - #6 - 2013


Organisasi Petani

Foto: VECO Indonesia

SIKAP

Petani pun Bisa Mengolah Coklat Sendiri Di pinggir jalan raya utama Flores antara Ende dan Bajawa, dua petani perempuan sedang menjemur biji kakao di atas para-para. Di dalam ruang pengolahan, dua petani lain sedang membolak-balik biji kakao yang difermentasi. Begitulah suasana di Unit Pengolahan Hasil (UPH) milik Asosiasi Petani Kakao Nangapenda (SIKAP) di Nangapenda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir tahun lalu. SIKAP merupakan organisasi petani kakao di kecamatan tersebut. Saat ini anggota SIKAP sekitar 1 .1 00 petani yang tersebar di delapan desa. Ada 67 kelompok tani yang bergabung dalam SIKAP. Untuk menjalankan programnya, SIKAP memiliki tiga divisi yaitu budi daya, pemasaran, dan pengolahan. Pengolahan pascapanen merupakan salah satu kegiatan SIKAP. Di UPH ini semua petani anggota SIKAP mengirimkan biji kakao untuk diolah. Menurut staf UPH, Abdul Hamid, dalam seminggu, UPH menerima sekitar 2 ton biji kakao kering atau 6 ton basah untuk diproses. Proses ini antara lain sortasi buah, pembelahan, sortasi biji basah, fermentasi, hingga penjemuran. Semua staf yang mengerjakan di UPH adalah juga anggota SIKAP. Mereka bahkan membuat coklat bubuk yang bisa diseduh dan langsung diminum layaknya bubuk coklat di pasar. Jika sekarang sudah mengolah sendiri, pada awalnya petani setempat justru tidak terlalu memberikan perhatian kepada penanganan pascapanen. Bah-

kan, pola tanam pun mereka tidak perhatikan. “Dulu perhatian kami terhadap budi daya kakao hampir tidak ada. Jadinya lebih seperti hutan kakao daripada kebun kakao,� kata Abidin, salah satu anggota SIKAP. Tanpa perhatian dan perlakuan, seperti pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi (P3S), maka hasilnya juga tak terlalu bagus. Tiap pohon hanya menghasilkan 0,5 kg kakao. Rendahnya hasil panen ini diikuti pula dengan rendahnya kualitas kakao petani. Biji kempes sehingga tak layak jual. Kualitas yang buruk mengakibatkan harga pun rendah. Petani hanya menjual seharga Rp 1 2.000 per kg. Bahkan ada yang jual seharga Rp 7.000 per kg. Setelah mengikuti Sekolah Lapang (SL), petani mulai menerapkan P3S. Abidin menjelaskan, dalam SL mereka belajar antara lain tentang praktik sambung pucuk dan sambung samping pohon kakao. SL menjadi kegiatan lain SIKAP selain pengolahan pascapanen. Kini hasil panen tiap pohon meningkat jadi 0,9 kg per pohon. Menurut Ketua SIKAP, Rudolfus Ndae, divisi budi daya yang mengajari tentang P3S. Anggota divisi ini bertugas mendata jumlah komoditas, termasuk berapa bagus dan tidaknya. Tugas lain divisi ini adalah memberikan informasi tentang kakao kepada SIKAP, membantu tim pemasaran desa dalam pemasaran bersama; melakukan kegiatan P3S di kebun; serta membuat promi jamur pengganti EM4 bakteri pengurai untuk

membuat pupuk organik. Adapun divisi pemasaran bertugas mencari kakao-kakao petani dan mengumpulkannya untuk dijual secara kolektif. Dengan metode ini, maka petani tidak perlu lagi menjual sendiri-sendiri. Dulu, sebelum ada SIKAP, petani menjualnya sendiri-sendiri sehingga tergantung pedagang kaki lima yang memainkan harga. Sistem pembelian oleh pedagang kaki lima ini dengan ijon sehingga merugikan petani. Selain itu, rantai pemasaran pun panjang. Menurut Rudolf, rantai pemasaran kakao ini sebelumnya adalah dari petani kemudian ke pedagang kaki lima. Dari pedagang kaki lima kemudian ke pedagang kabupaten. Setelah itu barulah ke Mayora. Dengan adanya pemasaran bersama, maka sekarang lebih pendek. Dari petani ke koperasi lalu ke PT Mayora. Melalui pemasaran bersama, petani juga tidak perlu khawatir akan dicurangi oleh pedagang. Abidin memberikan contoh. Dulu, dari petani 1 0 kg, namun ketika sampai di pedagang bisa 9 atau 8 kg. “Kalau sekarang sudah ada kontrol terhadap mereka dari petani,� ujar Abidin. Harga pun lebih tinggi. Petani bisa mendapatkan harga kakao Rp 1 8.350 per kg plus Rp 1 .500 per kg untuk kakao yang difermentasi. Sejak 1 3 Juni 201 2, Sikap juga mendirikan Koperasi Agroniaga sebagai unit usaha. Organisasi petani memberikan keuntungan berlipat ganda bagi anggotanya.

LONTAR - #6 - 2013

11


Kabar VECO Indonesia

Coklat Sehat saat Hari Kasih Sayang TIM Healthy Food Healthy Living (HFHL) Bali mengampanyekan pangan sehat melalui momentum Hari Valentine. Selain membagikan coklat berbahan baku lokal, mereka juga membagikan flyer, stiker, dan materi kampanye lainnya. Kampanye pada 1 3 14 Februari 201 3 di beberapa lokasi, seperti kampus Universitas Udayana Denpasar, lampu merah Jalan PB Sudirman Denpasar, serta sekolah-sekolah di kawasan jalan Kamboja, Denpasar. Target utama kampanye ini adalah anak-anak muda, seperti pelajar dan mahasiswa. Kampanye ini juga didukung PT Mars, salah satu produsen coklat yang berkantor di Makassar.

Foto-Foto: VECO Indonesia

HFHL merupakan program VECO Indonesia bekerja sama dengan Zuiddag Foundation di Belgia. Melalui program ini, VECO Indonesia berusaha mengenalkan pangan sehata kepada anak-anak muda, terutama di Denpasar dan Solo. Mereka yang aktif berkampanye adalah juga anak-anak muda. Jadi, HFHL adalah kampanye pangan sehat oleh anak muda untuk anak muda. Bentuk kampanye HFHL beragam namun pada dasarnya menggunakan media komunikasi unik dan berbeda. Kampanye pangan sehat saat Valentine yang dikenal sebagai hari kasih sayang adalah salah satunya. “Kami ingin mengenalkan kepada anak-anak muda bahwa coklat termasuk pangan sehat melalui tema Healthy Happy Valentine sekaligus dukungan bagi petani lokal,� kata Ni Putu Estalita, anggota tim HFHL Bali.

Dua Wajah Baru di VECO Indonesia TAHUN baru 201 3 bagi VECO Indonesia juga berarti hadirnya wajah-wajah baru. Sejak Januari 201 3 lalu, VECO Indonesia menambah dua staf baru, yaitu Bernadetta Sutrisnowati sebagai Petugas Lapangan Program HFHL Bali dan Firman Firman Supratman sebagai Koordinator Program Kerinci, Jambi. Wati, panggilan akrab untuk Sutrisnowati, sebenarnya bukan wajah baru bagi VECO Indonesia. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Sarjana Wiyata, Yogyakarta ini pernah bekerja di VECO Indonesia sebagai staf lapangan pada tahun 2005-2007. Setelah sempat bekerja lepas di lembaga lain, seperti HEKS Swiss dan Dian Desa, Wati kini kembali di VECO Indonesia. Berkantor di Bali, Wati akan bekerja dengan anak-anak muda untuk mengampanyekan pangan sehat. Adapun Firman, sebelum bekerja di VECO Indonesia pernah bekerja sebagai Manajer Internal Control System (ICS) di PT Casia-Coop. Alumni Fakultas Hukum Universitas Batanghari Jambi ini juga pernah aktif di Walhi.

12

LONTAR - #6 - 2013


Kabar Veco

Pelatihan untuk Pelatih Koperasi Tani ORGANISASI Buruh Internasional PBB (ILO), Agritera, dan VECO Indonesia melaksanakan pelatihan untuk pelatih atau training of trainers (ToT) koperasi pertanian pada 25-28 Februari di Denpasar, Bali. Kegiatan tersebut diikuti 20 peserta dari organisasi petani, koperasi petani, staf VECO Indonesia, serta Dinas Koperasi. Mereka berasal dari Aceh, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. Selama empat hari, dua pemandu yaitu Tom Wambeke (ILO) dan Christian Gouet (organisasi petani di Perancis), mendampingi peserta belajar tentang MyCoop. MyCoop singkatan dari managing your agricultural cooperative atau mengelola koperasi pertanian Anda. Modul ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi petani jika ingin mendirikan koperasi petani dengan kualitas lebih tinggi, efisien, dan efektif melayani anggota. Rogier Eijkens, Perwakilan Regional VECO Indonesia dalam sambutannya mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya VECO Indonesia untuk mewujudkan koperasi petani di Indonesia.

Merencanakan Strategi Program Lima Tahun ke Depan SEBAGAI bagian dari upaya peningkatan posisi tawar petani, VECO Indonesia mengadakan lokakarya Perencanaan Strategis Program. Lokakarya pada 4-8 Maret 201 3 di Sanur, Bali ini diikuti peserta dari bagian program VECO Indonesia serta beberapa lembaga jaringan, seperti SwissContact dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Hadir pula Perwakilan Regional VECO Vietnam serta dua staf dari kantor pusat Vredeseilanden. Selama lima hari, para peserta yang dipandu Steff Deprez membahas rencana program baru VECO Indonesia lima tahun mendatang, 2014 – 201 9. Ada beberapa perubahan fokus dan lokasi program VECO Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan posisi tawar petani kecil di Indonesia tersebut. Rogier Eijkens, Perwakilan Regional VECO Indonesia, tujuan lokakarya adalah merencanakan program intervensi rantai yang relevan dan realistis di tingkat regional serta mendesain rencana tersebut lebih detail. Proses ini penting karena menjadi dasar bagi VECO Indonesia melangkah ke tahap selanjutnya. “Kita tidak akan mengubah visi dan misi VECO Indonesia. Kita hanya akan menyegarkan kembali,� ujar Rogier.

LONTAR - #6 - 2013

13


Kabar Mitra

Program Kebun Percontohan Kopi Jalesa

Foto-Foto: VECO Indonesia

JALESA melaksanakan program kebun kopi percontohan (demplot) untuk kebun kopi arabika dengan sistem integrasi bidang hortikultura dan pariwisata. Program ini sudah berjalan sejak pertengahan tahun 201 2 lalu. Salah satu bagian dari program ini adalah peremajaan tanaman kopi. Program berlokasi di Lembang (Desa) Sesean Matallo, Kecamatan Sesean Suloara', Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Utara. Tempat ini berjarak sekitar 1 ,5 jam dari Kota Rantepao ke arah utara.

Hasil yang kami harapkan dari program tersebut adalah terbentuknya sebuah kebun pecontohan pengembangan kopi arabika yang akan menjadi model dan contoh bagi petani kopi sekitarnya. Selain itu juga kebun tersebut akan menjadi pusat destinasi wisatawan untuk agrowisata dan akan bermuara pada peningkatan penghasilan masyarakat pada daerah program dan sekitarnya. Jalesa merupakan mitra VECO Indonesia di Tana Toraja. Program di sini adalah pengembangan rantai kopi. Selain menjadi pusat produksi kopi, Toraja juga terkenal sebagai daerah tujuan wisata. [Jalesa]

Semangat Anak Muda Mendukung Pangan Lokal PERKUMPULAN Indonesia Berseru (PIB) seperti mendapat durian runtuh saat komunitas anak-anak muda Dimensi mengontak dan menyatakan minatnya mendukung pangan lokal. Kelompok diskusi anak muda ini dibentuk pada akhir 2011 , berawal dari mahasiswa yang merasa bosan saat berkumpul hanya bersenang-senang untuk diri sendiri. Mereka pun membuat website untuk mengunggah hal-hal yang dianggap penting dan perlu diketahui khalayak luas, terutama anak muda. Dari diskusi setiap dua minggu sekali, berkembang juga program video interview. Saat membaca majalah Respect yang diterbitkan PIB, anak-anak muda ini menyadari pentingnya isu pangan, selain makan di mana dan dengan siapa. Mereka pun meminta PIB berdiskusi tentang pangan 23 Februari 201 3 lalu. Lebih menyenangkan, mereka langung bersemangat mendukung para produsen pangan melalui video interview. Video wawancara petani padi yang menerapkan pertanian alami ini akan disebar ke berbagai pihak dan diunggah di YouTube. Inilah bentuk kepedulian, ekspresi dan semangat anak muda untuk produsen pangan lokal. [Perkumpulan Indonesia Berseru]

14

LONTAR - #6 - 2013


Kabar Mitra

Rapat Perdana Koperasi JANTAN FloresTimur KOPERASI Serba Usaha (KSU) Jantan melaksanakan Rapat Akhir Tahun (RAT) perdana pada 1 8 Desember 201 2 lalu. RAT ini dihadiri 78 peserta dari anggota, pengurus, pengawas, mitra kerja Yayasan Ayu Tani, VECO Indonesia, Koperas Kredit (Kopdit) Remaja, Kopdit San Do Minggo Hokeng, Dinas Koperasi Flores Timur (Flotim), Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Kecamatan Wulanggitang dan Bupati Flores Timur. Ketua KSU Jantan, Aloysius Gedang menyampaikan RAT kali ini merupakan awal baik bagi KSU yang baru berumur satu tahun tersebut. “Saatnya kita meninggalkan pikiran sebagai orang lemah. Kita adalah petani professional dan pengusaha,” kata Aloy. Menurutnya, petani harus bertindak nyata untuk menggerakkan roda KSU Jantan dengan bisnis utama pemasaran kakao. Pada RAT tersebut, Bupati Flotim juga memberikan bantuan satu unit mobil bak terbuka untuk mendukung operasional KSU Jantan, terutama dalam pemasaran Bersama. Bupati juga menegaskan bahwa KSU Jantan akan mendapat 1 petak untuk tempat pelayanan kepada anggota. Setelah dialog, Bupati Flotim juga mengunjungi dan berdiskusi dengan petani di kebun belajar kakao yang difasilitasi YAT, KSU Jantan, VECO Indonesia dan Litbang Maumere.

Perluasan Wilayah Dampingan di Manggarai dan Ngada MULAI Januari 201 3 lalu, VECO Indonesia memperluas wilayah program di Nusa Tenggara Timur (NTT) 1 dalam pengembangan sektor kopi. Wilayah baru tersebut di tujuh desa baru yang masuk Kabupaten Ngada dan Manggarai. Wilayah baru di Manggarai tersebut antara lain Desa Bangka Lalak, Likang, dan Cumbi di Kecamatan Ruteng serta Desa Carep, Kecamatan Langkerembong. Adapun di Ngada di Desa Dadawea, Radabata, dan Were di Kecamatan Golewa. Dengan penambahan ini menjadi sekitar 20 desa di Manggarai dan 1 2 desa di Bajawa. Program pengembangan kopi tersebut dilaksanakan bersama dua mitra yang selama ini bekerja sama dengan VECO Indonesia yaitu Lembaga Advokasi dan Penguatan Masyarakat Sipil (Lapmas) Ngada dan Delsos Ruteng. Selain itu, program juga didukung Rainforest Alliance (RA), lembaga sertifikasi. Fokus program di wilayah-wilayah baru ini adalah untuk budi daya, pengembangan kebun demplot, sekolah lapang kopi, pengembangan media belajar tentang budi daya kopi, dan tes cita rasa kopi. Menurut Henderikus AM Gego Koordinator Program NTT 1 , penambahan wilayah program ini dalam rangka upscaling karena daerah-daerah itu potensial kopi. “Kita perlu untuk meningkatkan kapasitas petani produsen dalam rangka peningkatan produksi, mutu, dan akses ke pasar secara lebih baik,” kata Henderikus.

LONTAR - #6 - 2013

15


Kabar Internasional

1 00 Persen Lokal untuk Bir Terkenal VECO sudah bekerja di Kongo Timur sejak beberapa dekade lalu. Meskipun kondisi di negara tersebut masih labil akibat perang, namun organisasi petani di sana masih terus mendukung anggota-anggotanya. Dan mereka berhasil.

SEJAK 201 0, VECO memperluas kegiatannya ke Kivu Selatan dan Ituri. Kami yakin daerah tersebut tidak hanya butuh bantuan segera tapi juga program pembangunan berkelanjutan dan terstruktur. Jadi, bagaimana warga Kongo memulai hidup mereka? Tentu saja dengan segelas Primus, bir lokal paling terkenal. Tempat pembuatan bir Bralima memiliki cabang di ibukota Kivu Selatan. Bahan-bahan bir ada di label minuman ini: air, gandum, hop (tanaman lokal), gula, dan... beras. Setiap bulan, perusahaan mengolah 360 ton beras. Hingga satu dekade lalu, pedagang dari Pakistan menyediakan beras beras impor dari Asia. Pada tahun 2006, setelah perang besar, Brelima memutuskan untuk mengambil perannya sendiri dalam rekonstruksi sosial ekonomi Kongo. Bekerja sama dengan petani padi

16

LONTAR - #6 - 2013

setempat menjadi hal penting bagi mereka. Saat ini 85 persen beras bahan baku bir datang dari petani lokal. Kami ingin nantinya semua bahan tersebut, 1 00 persen, berasal dari petani lokal. Meskipun demikian, Bralima bukan satu-satunya pembeli beras lokal tersebut. Persaingan bisnis sangat ketat. Perusahaan tambang di daerah sana, Banro misalnya, harus menyiapkan setidaknya 1 0.000 porsi tiap hari dan beras merupakan bagian utama dalam menu tersebut. Pedagang besar seperti DATCO dan OLIVE, menyediakan semua kebutuhan produk. Mereka bahkan mengimpor mayones dari Belgia ke toko makanan dan supermarket. Kini mereka pun mengurangi impor beras dari Pakistan. Salah satu alasannya karena lamanya waktu pengiriman beras dari Pakistan ke Kongo. “Butuh beberapa

tahun beras dari Pakistan bisa mencapai Kongo. Karena itu beras sudah tidak bagus lagi,” kata Ketal, Manajer DATCO di Bukavu. “Beberapa tahun terakhir, kami lebih banyak membeli beras dari Tanzania. Namun, kami tetap lebih menyukai beras lokal,” Ketal menambahkan. Selain membeli beras untuk tempat pengolahan bir, DATCO juga membelinya untuk toko makanan. “Konsumen lokal lebih suka cita rasa beras lokal,” ujarnya. Sejak tahun lalu, VECO mendukung organisasi petani dan koperasi petani padi Kongo di sungai Ruzizi, yang berbatasan dengan Rwanda dan Burundi. Dukungan VECO terutama agar petani bisa menyimpan padinya dengan baik sehingga bisa mengatur penjualannya. Dengan demikian, petani bisa menjual padi dengan harga lebih tinggi. [Vredeseilanden]


Kabar Internasional

Sejak 1 April 2013 lalu, Luc Bonte menjadi direktur baru Vredeseilanden. Dia menggantikan Luuk Zonneveld yang telah memimpin organisasi ini selama empat setengah tahun. Sebelum di VECO, Luc adalah Direktur Eksekutif industri baja Sidmar (ArcelorMittal Ghent). Dia pernah bekerja di beberapa negara, seperti Brazil, Argentina, Amerika Serikat, Australia, China, Kazakhstan, dan lain-lain. Tugas utamanya memastikan metode terkait investasi dan kebijakan perawatan, manajemen produksi, struktur personil, penggunaan air secara berkelanjutan, dan seterusnya. Berikut obrolan dengan laki-laki dari Ghent, Belgia yang juga salah satu pengguna awal energi matahari tersebut

Luc Bonte, Direktur Baru Vredeseilanden Dari perusahaan baja ke LSM pendukung pertanian berkelanjutan, tidakkah itu perubahan karier yang tak biasa?

Sepertinya memang ini perubahan yang tak biasa tapi tidak bagi saya. Mencari ekonomi berkelanjutan selalu menjadi bagian dalam karier saya.

Sejak kapan tertarik bekerja di LSM?

Saya selalu terpesona oleh kerja sama pembangunan dan tema internasional. Pada tahun 2008, saya menjadi presiden Entrepreneurs for Entrepreneurs (EFE) di mana saya memiliki kesempatan menjembatani perusahaan dan LSM. Ada dua sisi misi lembaga ini. Pertama ingin mengumpulkan dana bagi proyek LSM yang mendukung kewirausahaan di Selatan dan kedua ingin meningkatkan komunikasi

antara perusahaan-perusahaan dengan LSM. Saya terutama bekerja di tema kedua.

Dan karena itu Anda tahu tentang VECO?

Tepat sekali. Sebagai Presiden EFE, saya berdiskusi dengan Luuk Zonneveld tahun lalu. Saya jadi tahu lebih banyak tentang VECO. Visi dan misinya tiba-tiba menggoda saya: mendorong kewirausahaan organisasi petani di Selatan, meningkatkan pendapatan keluarga petani dengan pengelolaan rantai pertanian, dan di atas itu semua, mendukung cerita lebih besar tentang keberlanjutan.

Citra seperti apa yang Anda punya tentang VECO?

Nama, tentu saja, saya tahu sekali. Saya juga memiliki gagasan apa yang

VECO perjuangkan. Saya tahu VECO terlibat dalam pertanian dan beberapa isu lain terkait keberlanjutan. Juga keberagaman dan visi bahwa LSM harus keluar dari kandangnya sendiri untuk melakukan perubahan nyata adalah halhal yang membuat saya tertarik. Membangun jembatan antara perusahaan, publik, dan organisasi lain menjadi daya tarik terbesar bagi saya. Sejak tahun lalu, saya harus tahu VECO dengan lebih baik.

Menurut Anda, apa yang dapat Anda berikan kepada VECO?

Saya memiliki banyak pengalaman di dunia bisnis dengan isu lingkungan, bekerja sama dengan banyak orang, dan saya sering berhubungan dengan LSM melalui EFE. Saya yakin bahwa pengetahuan tersebut akan berguna bagi VECO.

LONTAR - #6 - 2013

17


Profil

Rini Merasa 20 Tahun Lebih Muda Pengembangan komunitas anak-anak, dari TK sampai remaja, adalah salah satu kemampuan Buddhi Hastanti Pancarini. Karena itu, ibu dua anak ini mengaku amat menikmati pekerjaan-pekerjaannya sebagai Petugas Lapangan Program Healthy Food Healthy Living (HFHL) Wilayah Solo Raya. Sebelum di VECO Indonesia, Rini pernah menjadi Manajer Program Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi untuk Transformasi Masyarakat, Karanganyar, Jawa Tengah. Alumni S2 Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Solo ini pun selama 13 tahun terbiasa bekerja di tengah masyarakat. Rini menceritakan suka dukanya bekerja dengan anak-anak muda dalam program HFHL.

Apa enaknya bekerja dengan anakanak muda?

Banyak banget. Serasa menjadi muda kembali 20 tahun. Hehehe.. Dari segi hubungan, saya merasakan hubungan emosional sangat positif dalam menumbuhkan semangat "voluntary" mereka. Anak muda itu sering kali membuat kita terbelalak. Kadang kita meragukan mereka apakah bisa kerja. Eh, ternyata mereka punya potensi luar biasa untuk bisa menunaikan tugas dengan sangat baik. Ketika kita beri kepercayaan, mereka ternyata bisa mempertanggung jawabkannya. Saya kagum dengan idealisme, semangat, dan cara mereka bertanggung jawab.

Bagaimana melibatkan mereka dalam program HFHL?

Prinsipnya beri mereka kepercayaan. Jangan terlalu banyak mengatur harus begini dan harus begitu. Kita cukup satu dua kali memberikan arahan tentang apa maksud kita. Mereka akan langsung tanggap dan berkreasi. Jangan lupa juga beri mereka sedikit pujian sebelum kita mengkritik karyanya. Pujian merupakan energi positif dan cukup kuat untuk mengarahkan mereka menghasilkan karya lebih baik. Mereka anak-anak muda yang masih kuliah dan sekolah. Tanggung jawab utama mereka belajar untuk meraih prestasi akademis. Untuk itulah maka pelibatan mereka dalam program HFHL juga harus mempertimbangkan hal ini. Kami selalu mengupayakan kegiatan HFHL dilakukan ketika mereka sudah

18

LONTAR - #6 - 2013

punya waktu "bebas", artinya tidak lagi berada dalam jam-jam sekolah ataupun kuliah. Sebagai media komunikasi internal HFHL Solo Raya kita ada Facebook. Melalui Facebook ini, kami sering melakukan "koordinasi di langit" untuk sebuah kegiatan. Kami selalu berdiskusi tentang berbagai ide kreatif pelaksanaan program HFHL. Di situ dituang percakapan dengan gaya anak muda.

Kenapa harus melibatkan anak-anak muda dalam program ini?

Anak-anak muda adalah pemilik masa depan. Masa depan bangsa ini di tangan mereka. Nah, persoalan sekarang ini adalah justru pada kalangan anak-anak muda ini terbangun tren pola konsumsi makanan serba instan. Fast food. Cenderung tidak sehat. Ketika ada "gerombolan" anak muda lain yang cukup berani melawan tren dan

Foto- Foto: VE CO

Ind on es ia

membangun tren sendiri yaitu pola konsumsi makanan sehat, maka wooow kereeeeenn... Ini menjadi modal sangat kuat untuk melakukan penyadaran konsumen pangan sehat di kalangan anak anak muda.

Apa capaian paling menarik dalam program HFHL di Solo?

Ada kegiatan Gerebeg Pangan Sehat yang diselenggarakan HFHL Solo Raya. Karena menarik maka diliput banyak media televisi dan cetak baik lokal maupun nasional. Kegiatan tersebut sekarang diadopsi Pemkot Solo dan diagendakan sebagai even tahunan. Selain itu, beberapa SKPD di Pemkot Solo juga sudah mulai berbicara tentang pangan sehat. Untuk meraih capaian yang bagus dan menarik tidak bisa kita lepaskan dari jaringan. Karena tangan dan kaki kita cuma dua, maka tidak mungkin meraih dan mewujudkan great thing tanpa bergandeng tangan dengan pihak lain.


Resensi

Cerita Keberhasilan Koperasi Kredit di Kalimantan BERAWAL dari Prancis pada tahun 1 885, Credit Union (CU), lebih dikenal dengan istilah Koperasi Kredit (kopdit) di Indonesia, kini menyebar di berbagai belahan dunia. Indonesia hanya salah satu negara di mana terdapat ribuan kopdit. Kopdit lebih banyak tersebar di daerahdaerah pelosok, termasuk Flores. Salah satu provinsi dengan kopdit terbanyak di Indonesia adalah Kalimantan Barat. Lima pendiri dan pelaku kopdit di Kalimantan membuat buku bersama tentang perjalanan kopdit ini. Buku setebal 247 halaman ini membahas kopdit di Indonesia dan pengalaman para penulis mengelola kopdit. Buku ini terbagi dalam dua bagian besar. Pertama seluk beluk kopdit dan karakteristik kopdit berkelanjutan. Kedua, tentang pengalaman langsung para penulis dalam mengelola kopdit. Bagian pertama berjudul Tentang Credit Union terdiri dari lima bab, yaitu Cerita Credit Union, Filosofi Credit Union, Mengelola Pertumbuhan dan Siklus Hidup Credit Union, Credit Union Berkelanjutan, dan Rencana Suksesi di Credit Union. Adapun bagian kedua terdiri dari empat bab yaitu Kisah Lima Sarjana, Pembebasan Masyarakat, Melek Keuangan, dan Kebebasan Finansial.

Karena itu, secara umum, buku ini menjelaskan landasan filosofis tentang kopdit, pengalaman empiris keberhasilan kopdit, serta motivasi pengembangan kopdit berkelanjutan. Dengan tulisan populer, buku yang diedit AM Lilik Agung ini memberikan informasi komprehensif tentang kopdit meskipun terlalu fokus di Kalimantan Barat. Buku ini penting dibaca bagi para pelaku usaha bisnis pertanian jika ingin belajar tentang keberhasilan kopdit. Sebab, kopdit itu sendiri memang lahir dari kalangan kaum tani yang menyadari pentingnya jaringan kerja sama dalam menghadapi kesulitan dan mengembangkan ekonomi. Kopdit membuktikan bahwa petani ataupun kelompok masyarakat kelas bawah lain pun bisa memiliki dan mengelola usaha mereka sendiri. Buku ini membuka mata untuk membaca sebagian cerita keberhasilan tersebut.

Judul

: Credit Union, Kendaraan Menuju Kemakmuran

Penulis : Munaldus, Yuspita Karlena, dkk Penerbit : Elex Media Komputindo, 201 2

Bunga Rampai Pengetahuan Tanaman Indonesia TAHUKAH Anda, dari lima tanaman pangan utama Indonesia, hanya satu jenis yang merupakan tanaman asli Indonesia? Padilah satu-satunya tanaman asli negeri ini. Adapun empat tanaman lain, yaitu jagung, kedelai, ketela rambat, dan singkong merupakan tanaman “pendatang�. Meskipun demikian, budi daya padi pun baru dikenal justru setelah orang-orang dari Asia bagian utara datang ke Indonesia. Begitulah salah satu fakta menarik di buku Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia ini. Buku setebal 224 halaman ini menjelaskan berbagai tanaman Indonesia tak hanya sejarah tapi juga penggunaannya. Ada tujuh bab dalam buku ini yang terbagi dalam empat bagian besar, yaitu sejarah tanaman-tanaman di Indonesia saat ini, pertanian di Indonesia, berbagai jenis tanaman di Indonesia, serta refleksi tentang masa depan tanamantanaman tersebut. Untuk memudahkan klasifikasi, berbagai jenis tanaman yang ditulis tersebut terbagi dalam tujuh jenis yaitu tanaman di persawahan, tanaman di kebun, tanaman di pekarangan, tanaman bumbu, tanaman obat,

tanaman hias, dan tanaman perkebunan. Pada tiap jenis tanaman, seperti padi, kayu putih, buah nangka, dan seterusnya, terdapat penjelasan tentang asal-usul dan penggunaannya. Informasi dalam buku ini mungkin bukan hal baru karena rata-rata penjelasan tiap jenis tanaman itu relatif pendek, sekitar 500-1 .000 kata. Namun, menariknya buku ini karena menjadikan semua jenis tanaman itu dalam satu buku sehingga serupa bunga rampai tentang tanaman-tanaman tersebut. Buku ini layak dibaca untuk mereka yang ingin tahu tentang sejarah tanaman-tanaman di Indonesia. Lebih sebagai pengetahuan, bukan bekal panduan teknis. Refleksi oleh penulis yang juga mantan Direktur Lembaga Biologi Nasional LIPI menjadikan buku ini juga semacam tawaran menghadapi masa depan keberlanjutan tanaman di Indonesia.

Judul : Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia Penulis : Setijati D. Sastrapradja Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Oktober 201 2

LONTAR - #6 - 2013

19


20

LONTAR - #6 - 2013


LONTAR April 2013