Page 1

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB

EFFORT IN URBAN COPRODUCTION PROCESS A LESSON LEARNED IN CONVERTING GASOLINE PUMP STATION TO OPEN SPACE IN SURABAYA Valid Hasyimi(1), Djoko Santoso Abi Suroso(2) (1)

Program Studi Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB. (2) KK Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

Abstraksi Pertumbuhan kota yang sangat pesat menjadi salah satu penyebab minimnya ketersediaan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan. Padahal, pertumbuhan kota harus disesuaikan dengan kapasitas lingkungan agar tetap terjadi keseimbangan baik dari segi ekonomi maupun ekologis. Perencanaan yang tidak berbasis ekologis akan menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, seperti polusi, meningkatnya suhu di perkotaan, kerentanan terhadap bencana, dan lain-lain. Hal ini akan berdampak pada kondisi fisik dan psikologis masyarakat, seperti stres, penurunan produktivitas kerja, penurunan kualitas kesehatan, dan lain-lain. Hal ini dialami oleh Kota Surabaya di Tahun 1990-an dimana pada tahun tersebut kondisi lingkungan sudah sangat buruk. Kota Surabaya menjadi kota yang sangat tidak nyaman untuk ditinggali karena pencemaran lingkungan dan udara di tengah perkotaan yang semakin panas akibat pembangunan fisik kota yang tidak diimbangi dengan pembangunan RTH. Oleh karena itu, muncullah desakan untuk segera membuat RTH baru sebagai penyeimbang lingkungan dan ruang terbuka publik. Kota Surabaya telah menerima beberapa penghargaan terkait dengan kesuksesannya dalam mewujudkan tata kota ramah lingkiungan. Penghargaan tersebut antara lain Adipura tahun 2006-2011, Adiwiyata, Kalpataru, Wahana Tata Nugraha, Rekor Muri untuk Taman Kota, ASEAN Environmentally Sustainable City Award, dan lain-lain. Dalam

rangka

mewujudkan

konsep

tata

kota

berbasis

lingkungan,

Pemerintah Kota Surabaya membuat sebuah program unggulan yang diberi nama Surabaya Eco City. Program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk melaksanakan pembangunan kota yang memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomis dan ekologis. Lahan SPBU memiliki nilai lahan yang sangat tinggi karena lokasinya yang sangat strategis. Pada umumnya, lahan SPBU terletak di jalan besar suatu kota yang ramai oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu, sebuah usaha yang cukup sulit bagi pemerintah untuk merubah lahan SPBU menjadi lahan dengan nilai

JURNAL PERENCANAAN  WILAYAH  DAN  KOTA  SAPPK  1  NO.1   1  


ekonomis yang lebih rendah seperti taman kota. Lahan bekas pom bensin pada umumnya ditinggalkan oleh penggunanya karena dua sebab, yang pertama adalah karena usaha pom bensin yang dilakukan kurang menguntungkan, dan yang kedua karena masa kontrak lahan dengan pemerintah sudah habis dan tidak diperpanjang lagi. Selain itu, lahan eks SPBU pada umumnya sudah kehilangan kesuburan tanahnya, karena selain sudah mengalami pengerasan dengan beton, kandungan bahan bakar minyak (BBM) di dalam tanah yang tentunya sangat mencemari tanah tersebut sehingga tanah tersebut hanya memiliki kemungkinan kecil untuk bisa ditanami tanaman kembali. Oleh karena itu, butuh inovasi untuk membuat lahan tersebut kembali subur dan memungkinkan untuk ditanami kembali. Keberhasilan Pemerintah Kota Surabaya telah menjadikan taman-taman di Kota Surabaya menjadi percontohan bagi kota lain, tidak hanya di Indonesia, tapi juga kota-kota di luar negeri. Saat ini, pemerintah DKI Jakarta, Kota Semarang, dan Kota Solo sudah mulai mengikuti strategi pemerintah kota Surabaya dalam membuat Ruang Terbuka Hijau dari lahan eks SPBU yang tidak sesuai guna lahannya. Mereka mengubah lahan eks SPBU yang secara RDTR difungsikan sebagai RTH menjadi taman kota. Walaupun luasnya tidak begitu besar, namun pemerintah kota optimis untuk menjadikan langkah tersebut menjadi awal peningkatan luas RTH di wialayah pemerintahan mereka masing-masing. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis proses implementasi kebijakan konversi lahan SPBU menjadi taman kota dan menganalisis faktor paling dominan dalam keberhasilan implementasi kebijakan tersebut. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif. Data-data terkait penelitian ini didapat dengan metode wawancara, observasi, telaah literatur, dan survey instansi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan content analysis. Keberhasilan pembuatan taman kota dari lahan Eks SPBU ini tidak lepas dari berbagai faktor, antara lain kuatnya isu, latar belakang, dan tujuan kebijakan;

kepemimpinan;

faktor

internal

pemerintah;

dan

faktor

eksternal

pemerintah. Berdasarkan hasil penelitian, dari keempat faktor tersebut didapatkan bahwa faktor kepemimpinan-lah yang menjadi faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan implementasi kebijakan tersebut. Kata Kunci : RTH, Kebijakan, Kepemimpinan, Taman Kota, Alih Guna Lahan, SPBU

2 JURNAL  PERENCANAAN  WILAYAH  DAN  KOTA  SAPPK  1  NO.1    


Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB

JURNAL PERENCANAAN  WILAYAH  DAN  KOTA  SAPPK  1  NO.1   3  

Effort in coproduction process, a lesson learned in converting gasoline pump station to open space  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you