Page 1

Vol. 12 Dec 2010 - Jan 2011

Ideas for BALI Road to Wealth

Sharing is Having More

Growth Strategies Service oh Service‌ To Save A Customer

Smart Family

OMG... Berapa sih penghasilan yang cukup itu? w w w. m on e y- a n d - i.com

Rp. 25.000,-


Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

3


c ontents

f

notefroma ri e nd Seorang kawan saya di salah satu Bank swasta besar mengatakan bahwa sekarang ini bank-nya sedang memberikan loan terhadap hampir 20 proyek besar di Bali. Skalanya Triliun. Wow, jika satu bank saja loan-nya berskala triliun, bagaimana dengan BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Mega, Standard Chartered, CIMB, dan seterusnya. Berapa skala-nya?

Pimpinan Perusahaan

Alex P. Chandra

Tim Redaksi M&I Magazine

Berapa yang self-finance? Berapa yang dananya overseas.

Pimpinan Redaksi

danielGABE

Kemarin di kantor notaris, saya menyaksikan single transaksi 70 Milyar, cash. Itu di satu notaris, bagaimana dengan di kantor notaris lainnya?

Redaksi:

I Pt Agus Ariawan

Reporter

Mudda

Public Relation

Annisa Era Putri

Desain & Fotografi

Kopi Panas Productions

Supported by:

Alamat Redaksi: PT. BPR SRI ARTHA LESTARI Jl. Teuku Umar 110 Denpasar T. (0361) 246706 F. (0361) 246705 E. redaksi@money-and-i.com marcomm@bprlestari.com Direct Sales & Marketing for Advertisement T. 0361 744 884 www.money-and-i.com

Special Feature Ideas for BALI

07

Likuiditas yang membanjiri Bali itu berarti pertumbuhan ekonomi. Growth. Artinya kue ekonominya membesar. Semua melihat Bali sebagai land of opportunity. Jika sekarang Bali kedatangan 2-3 juta wisman setahun-nya, tidak ada alasan untuk bisa melipat tiga dan melipat empat kali dari itu. Semuanya kita punya (kecuali infrastruktur). Potensi growth masih besar.

16 Interview with The Millionaire A. A. Bagus Adhiwirya

Road to Wealth

Sharing is Having More

10 Economic Focus

12

Pasar Tradisional di Denpasar: Ruang Dialog Muara dan Hulu

Salam, Alex P Chandra

Innovative Business

Deus Ex Machina Indonesia

Note: Kritik dan saran dapat dikirimkan ke: redaksi@money-and-i.com

4

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

12 Economic Focus Pasar Tradisional di Denpasar: Ruang Dialog Muara dan Hulu

22 Financial Planning Proses Perencanaan Keuangan

Yang kaya dan yang miskin akan selalu ada dalam sistem perekonomian, challenge-nya adalah agar tidak terjadi pemiskinan yang sistematis. Buat Bali khususnya adalah bagaimana agar pertumbuhan yang terjadi tidak mengekploitasi pulau yang indah namun terbatas ini.

Ilustrasi: Yana

Road to Wealth Sharing is Having More

20 Entrepreneur Interview Albertus Adhitya

Tapi agar kue ekonomi yang membesar itu juga bisa dinikmati oleh semua penduduk dan masyarakat Bali sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan secara signifikan, tentunya menjadi tantangan kita. Bigger pie, bigger portion, begitu seharusnya. Agar jangan pertumbuhan yang terjadi kemudian menghasilkan segelintir elite-elite yang kaya sekaya-kayanya, sementara ada sementara penduduk yang ketinggalan menjadi makin miskin.

Edisi kali ini (dan mungkin juga edisi berikutnya), saya mencoba menulis beberapa ide untuk Bali, pulau yang saya cintai ini. Saya mencoba beragumentasi, bahwa potensi-nya masih sangat besar, bahwa ada beberapa strategi yang bisa kita lakukan, dan terakhir bagaimana agar Bali yang tumbuh modern memberikan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya. The bigger the pie, the bigger the portion.

Special Feature Ideas for BALI

14 Growth Strategies Service oh Service‌ To Save A Customer

Ini bagaikan uang yang dicurahkan dari langit, datang melalui pesawat-pesawat terbang dari seluruh dunia, membanjiri ekonomi Bali dengan likuiditas. It is a good thing, or it is a bad thing?

07 10

28

28 30

Innovative Business Deus Ex Machina Indonesia Smart Family OMG... Berapa sih penghasilan yang cukup itu?

33 Polling Tabungan Sehari-hari atau untuk masa depan? 34 Whats New Hoka Hoka Bento 36 Note from the Guru Selamat Datang Para Netizen! 38 Front of Mind Brain Behind Blackberry Geoff Goodfellow 40 Literature The Power 42 Small Business Depot Bebek Legit 44 47

Community Enterprise Pasar Badung Lebih Dari Transaksi Ekonomi High-Tech Index

48 After Hour 50 Sneak Peek

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

5


co ntr ibu tor

p rof i l e

f

sp ecial eatu res Hermawan Kartajaya

Alex P. Chandra

Direktur Utama BPR Lestari

Pribadi Budiono

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Managing Director- Lestari Living

I Made Wenten B.

Dicky Lopulalan

Antony Japari

Marketing Director & Chief Marketing Officer PT. AJ Central Asia Raya

Direktur Utama BPR Lestari

Suzana Chandra

Direktur BPR Lestari

Kabid Support& Operation BPR Lestari

Alex P. Chandra

Penulis dan fasilitator kewirausahaan sosial

Ideas for BALI

Saya datang ke pulau Bali tahun 1995 sebagai seorang manajer yang dipindahtugaskan dari Jakarta Head Office. Ketika pertama kali di-assign buat tugas ke Bali, saya senang bukan kepalang, yang ada di pikiran saya adalah film RENEGADE (film jadul yang pemainnya Lorenzo Lamas kalau tidak salah). Saya membayangkan kantor saya akan menghadap pantai, dan sepulang kantor saya akan mengganti kemeja dengan pakaian renang. Rumahnya-pun beach front dan naik motor besar.

H

arapan saya tidak terpenuhi. Kantor saya di Denpasar, makanannya tidak cocok, rumahnya di gang di Jalan Suli. Mobilnya cuma Suzuki Forsa dari kantor.

Walaupun demikian sebagian mimpi saya terpenuhi, sepulang dari kantor, saya bisa cepat-cepat ke pantai Kuta, ganti baju di mobil Suzuki Forsa saya, dan belajar bermain surfing. Ada satu kejadian lucu, ketika tim audit dari Kantor Pusat mengaudit kantor saya. Siangnya mereka melihat saya berkemeja, berdasi, beragumentasi dengan mereka, sore-nya mereka melihat saya, salah seorang eksekutifnya, bercelana renang, menenteng-nenteng papan surfing di pantai Kuta.

Now is the end of 2010, sudah 15 tahun saya menetap di Bali. So much has change, but one thing doesn’t change, I love this island. I Love for the first time, and now even more. Dan tulisan ini adalah beberapa pemikiran saya mengenai Bali. Sumbangan pemikiran saya buat Bali, my ideas for Bali.

BALI, THE LAND OF OPPORTUNITY Tahun 1995, ketika pertama kali saya datang di Bali, harga tanah di Renon sekitar 20 juta-an per are. Kini 300 jutaan. Naik 15 kali lipat. Saya membeli tanah rumah saya di Kerobokan 30 juta tahun 2000. Sepuluh tahun berikutnya harga tanah disekitar tempat saya menjadi 300 juta-an. Naik 10 kali lipat dalam sepuluh tahun. Harga tanah yang melonjak berarti permintaan yang melebihi dari supply. Berarti adanya penambahan jumlah penduduk. Berarti adanya pertumbuhan ekonomi. Di kotakota di Amerika, pertumbuhan suatu kota akan selalu dikaitkan dengan ada atau tidaknya industri yang dibangun di kota tersebut. Jika saja General Motor memindahkan pusat operasinya ke kota lain, Detroit akan ikut bangkrut. Di Bali tidak ada industri besar, tidak ada pabrik-pabrik, tidak ada perkebunan besar, tidak ada pertanian besar, tidak ada

6

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

7


f

f

spec ial eature s

sp ecia l eatu res

sumber alam. Hampir semua pertumbuhannya di-drive dari sektor pariwisata. Sepanjang sektor pariwisata-nya dijaga dan tumbuh, Bali akan tetap tumbuh.

Tibet dan Zhuchaiguo walaupun indahnya bukan kepalang, tidak memberikan experience. Kita hanya melihat-lihat saja, not experiencing Tibet. Once is enough.

Bali sekarang punya 2 juta wisatawan yang datang setiap tahunnya. Singapore 4-5 juta. Malaysia sudah tembus 15 juta.

For Bali, once is never enough.

Jadi kalau sekarang Bali dikatakan sudah rame, bayangkan kalau kita tembus 5 juta menyamai Singapore, bayangkan kalau bisa 15 juta seperti Malaysia. Perekonomian akan tumbuh 5 atau 10 kali lipat dibandingkan sekarang, harga tanah hampir bisa diprediksi 5 -10 kali lipat lagi dari sekarang dalam 10 tahun kedepan. Yang saya katakan adalah bahwa opportunity bagi Bali untuk terus menumbuhkan ekonominya belum mencapai titik optimalnya. Masih banyak yang dapat kita capai, so many things we can achieve, but so many things must be done also.

JOURNEY TO THE ROOF OF THE WORLD Beberapa waktu yang lalu, saya bersama dengan beberapa orang teman, travelling ke Tibet dan Zhuchaiguo di Cina. Kita sampai ke Mt. Everest Base Camp, di ketinggian 5200 m. Di Tibet ketemu pak Hermawan yang sedang travelling juga, dia menitipkan bukunya “Ubud” dan “Marketing 3.0” untuk dibawa ke Everet Base Camp. Katanya “kalau yang pergi ke sana pendaki sudah wajar, kalau eksekutif dan pebisnis cari penyakit”. But setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya saya berhasil memberikan Pak Hermawan foto kedua bukunya itu face to face dengan puncak gunung tertinggi di dunia, Mt. Everest. Di Zhuchaiguo, kita menikmati salah satu pemandangan terindah di dunia. Kami tinggal di Intercontinental yang sejak dari Indonesia kami sudah mendengar kabar mengenai keindahan hotelnya. One of the best in China katanya. Well, that was an interesting journey, that I do not want to repeat. Travelling ke Tibet normalnya hanya sekali in a life time. Walaupun view-nya spektakular, saya tidak akan mengulang kedua kalinya. Sekali cukup, dua kali sengsara. Bandingkan dengan wisatawan yang datang ke Bali. Ketika naik bus ke Everest Base Camp, saya berbicara dengan seorang traveller dari Perancis. Dia sudah 2 tahun berkelana, tidak pulang-pulang. Selama dua tahun berkelana itu dia sudah 4 kali ke Bali. Orang-orang yang ke Bali selalu akan tertarik untuk datang lagi. Dalam istilah marketing, Bali memberikan experience. Mereka mengalami yang namanya breakfast di Lanai sambil melihat pantai di pagi hari di Double Six, main boggie board di Pantai Kuta, jogging at the sunrise di Sanur, mabuk di 66.

8

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Intercontinental Zhuchaiguo yang kesohor waluupun indah bangunannya, terasa soulness. Tidak berjiwa. Dingin dan angkuh. Tidak ada taksunya dibandingkan dengan hotel dan resort di Bali. So, I have travelled to the roof of the world, but the best is still in my home, Bali. Artinya, Bali punya banyak sekali potensi. Ini untuk mendukung premise saya bahwa pariwisata di Bali sekarang ini belum apa-apanya. 5 juta atau bahkan 10 juta-pun kita bisa achieve. Potensi ada, tinggal strategi.

SINGAPORE Singapore adalah pulau yang tidak punya apa-apa. Bahkan airpun tidak punya. Singapore harus membeli air dari Malaysia. Ketika Malaysia membuang Singapore, Lee Kuan Yew mengadakan konferensi pers sambil menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa terhadap Singapore tanpa dukungan Malaysia. Singapore berhasil mentransform pulau yang ‘dibuang’ tadi menjadi sebuah power house. Pendapatan perkapitanya mencapai 50ribu USD. Kotanya indah, rapih, bersih dan aman.

Apa yang dilakukan Singapore, sedikit berbeda dengan kita di Indonesia. Saking patuhnya terhadap gerakan Anti Money Laundry, uang masuk ke sistem perbankan kita diperketat seketat-ketatnya. Hanya uang yang benar-benar halal saja yang boleh masuk, yang haram tidak boleh. Saya pikir ini agak aneh, kita yang sedang membutuhkan likuiditas, kok membatasi diri terhadap uang masuk. Pikir saya, biar saja uang masuk, tutup sebelah mata saja, keluarnya baru diketatin. Kalau ada indikasi, kan uangnya bisa di-freeze.

Jadi kalau saya bilang tourism ke Bali belum mencapai apa-apanya, itu dikarenakan karena saya melihat masih banyaknya potensi-potensi yang belum digarap. Bali masih tanah perawan sebenarnya. So many things we can achieve.

DO NOT FIGHT THE FIGHT YOU CAN NOT WIN

Ya, harusnya kita harus sedikit smart-lah.

Dalam mengembangkan industri pariwisata, keluhan yang sering terdengar adalah kurangnya biaya promosi. Dibandingkanlah kita dengan Malaysia yang budget-nya seperti tidak terbatas.

Hal ini mirip dengan yang diajarkan oleh Pak Made Arnawa, mantas boss saya, mentor saya yang mengatakan “kalau uang masuk diterima aja, keluarnya nanti baru kita tanyatanya”.

Saran saya, kalau dana beriklan-nya terbatas, jangan adu iklan. Sudah pasti kalahnya. Jangan bikin sama sekali ads yang digarap secara pas-pasan, dan ditampilkan sekalisekali di CNN. Percuma, buang uang ke laut.

Dalam membangun industri pariwisatanya, Singapore mulai dengan pariwisata belanja. Ketika di Indonesia shopping mall belum seperti sekarang, berbelanja ke Singapore dilakukan oleh orang-orang Indonesia dengan penuh kebanggaan. Uang-uang orang Indonesialah yang paling banyak membanjiri Singapore.

Jika dananya sanggup bersaing, barulah lawan heads on. Kalau tidak, jangan heads on. Sudah pasti kalahnya.

Setelah belanja, mulailah Singapore membangun industri kesehatannya. Jadi ketika ibu-ibu Indonesia shopping, bapak-bapak Indonesia check-up. Setelah industri kesehatan, Singapore mulai mempromosikan sekolah-sekolahnya. Jadi ketika ibu-ibu Indonesia belanja, bapak check-up, anak sekolah. Berikutnya adalah event, pameran, konferensi.

Singapore sebenarnya sukses bukan karena pulaunya yang kaya, atau karena pemandangannya yang indah, atau budayanya yang beragam, melainkan dia secara cerdik memanfaatkan others people money.

Berikutnya adalah industri real estate-nya. Market paling gemuk buat para developer-developer Singapore adalah Jakarta.

Pertama-tama dia membangun pelabuhannya. Lee Kuan Yew dalam salah satu interview di TV yang saya saksikan mengatakan bahwa “keberhasilan Singapore adalah karena berhasil membangun system pelabuhan yang efisien”. Jadi kapal-kapal dagang kemudian senang menggunakan Singapore dibandingkan Hongkong.

Membangun semua itu menggunakan uang-uang orang Indonesia yang ditaruh di bank-bank Singapore.

Dan seperti meniru Hongkong, setelah pelabuhan, Singapore mengundang financial-financial giant untuk membuka kantor cabang atau kantor representatif-nya. Jadilah ia financial hub yang mengelola uang orang-orang Asia Tenggara. Uang-uang orang kaya Indonesia-lah (uang halal dan uang haram) yang membanjiri Singapore. Mereka cukup cerdik untuk tidak terlalu bertanya ‘dari mana asal uang-nya?’. Namun tetap strict terhadap gerakan anti korupsi, jadi jika uang itu kemudian terindikasi korupsi, maka uang tersebut bisa freeze di bank-bank Singapore sampai ada keputusan pengadilan yang tetap. Bisa bertahun-tahun lamanya, bisa selamanya uang tersebut tidak keluar dari sistem perekonomiannya.

Diputar terus tuh uang kita sama mereka.

Berikutnya adalah gambling.

Ibu-ibu bisa shopping till drop, bapak liat pameran, ikut konferensi, terus gambling. Kalau kalah bisa langsung checkup dan kerumah sakit, sementara anak-anak sekolah. Point saya membandingkan cerita Bali dengan Singapore adalah banyak hal yang bisa kita lakukan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali. Jika Singapore yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Bali bisa memberikan kesejahteraan yang begitu dahsyat bagi penduduknya, apa yang bisa dicapai oleh Bali untuk mensejahterakan penduduk-penduduknya tentunya harus bisa lebih dahsyat lagi.

Do not fight the fight you can not win. Film Eat, Love and Pray adalah salah satu massif komunikasi yang murah. Kenapa tidak di-encourage yang model-model begini. Bagaimana dengan lagu-lagu, seperti misalnya jika lagu “Welcome to My Paradise” adalah berbicara mengenai Bali, dinyanyikan oleh Beyonce, dengan klip yang diambil di Pantai Kuta, dan seterusnya. Bagaimana dengan buku dan novel. Ubud Writers Festival sudah dengan sangat baik menggarapnya. Bisa terus ditingkatkan intensitasnya. Lukisan dan art jangan ditanya lagi. Mengapa tidak ada mensponsori event-event pameran pelukis-pelukis internasional dengan lelangnya sekalian. Mengapa lelang Christie tidak ada di Bali ? Komunikasi tidak selalu advertising. Dan hmmm… kelihatannya semua ads pariwisata itu dibikin oleh konsultan yang sama, selalu stereotip, sama, mirip. Malaysia ya begitu, Greek yang begitu, India mirip. Menurut saya kita harus mengambil jalur yang sedikit lain. Tulisan kali ini adalah mengenai perasaan saya bahwa Bali punya banyak sekali potensi. Jika saja kita play the game right, kita punya kesempatan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat Bali. Ada banyak sekali rejeki yang bisa dibagi-bagi. Tulisan bulan depan, adalah tantangan-tantangannya, agar pemanfaatan potensi Bali dapat diwujudkan menjadi kesejahteraan bagi seluruh penduduknya,agar jangan sampai yang terjadi adalah eksploitasi yang ujungnya adalah pemiskinan. Semoga bermanfaat. Salam.

Masih banyak potensi tourism yang belum digarap. Kalau mau gampang, tinggal contoh saja, health tourism, shopping tourism, sekolah, event, konferensi, gambling (???), real estate. Tentunya bisa kita adaptasi sehingga different dengan Singapore.

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

9


ro ad to

w e al th

SHARING IS HAVING MORE

roa dto

w ealth

Alex P. Chandra Direktur utama BPR Lestari

SHARING IS HAVING MORE HAVING MORE A SHARING IS HAVING MORE

SHARING IS HAVING MORE

da satu prinsip yang cukup revolusioner dalam merubah perjalanan hidup saya, terutama dalam Road to Wealth. Yaitu prinsip berbagi. Sharing.

Dasarnya adalah bahwa dunia dan universe menyediakan cukup bagi semua orang, bahwa opportunity itu prinsipnya tidak terbatas. Abundance. Prinsip ketersediaan. Jika berurusan soal uang, biasanya seseorang menjadi tightfisted. Semuanya buat saya. Secara spiritual banyak dijelaskan bahwa sharing akan memberikan lebih banyak lagi rejeki. Membagi bukannya mengurangi melainkan menambah. Saya tidak bisa menjelaskan konsep ini secara spiritual, namun logika-nya, dengan berbagi sebenarnya kita menggunakan konsep leverage.

Jika kita terlalu pelit untuk berbagi keuntungan, maka kita akan sulit mempunyai partner bisnis yang langgeng dan saling menguntungkan. Jika konsep negosiasi kita adalah win-loose, maka keberhasilan kita akan tertunda-tunda. Sebaliknya jika konsepnya adalah win-win, kita akan bisa mempertahankan relationship yang saling menguntungkan sampai selama-lamanya. Partner kita semakin hari, semakin bertambah. That is leverage. Jika kita berprinsip menggaji karyawan hanya cukup agar dia tidak berhenti bekerja, maka kita akan kehilangan karyawan-karyawan yang berbakat. Yang tinggal nanti hanyalah karyawan-karyawan seadanya yang memang tidak punya pilihan lain. Jika kita memikirkan sampai kesejahteraan orang-orang yang

10

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

bekerja dengan kita, agar bagaimana mereka juga mempunyai sukses yang sama seperti kita, maka orang-orang yang berbakat akan semakin setia, semakin bersemangat, semakin kreatif. Perusahaan akan semakin kuat. That is leverage. Ada orang-orang yang menjual property-nya “Tanpa Perantara�. Dia gagal memanfaatkan leverage tenaga orang lain, dan waktu orang lain, hanya untuk menghemat 2-3%. Bagi saya itu bukan tindakan yang terlalu cerdas.

Berbagi comes un-natural buat saya. Saya harus berlatih dan berlatih. Saya dari keluarga pedagang Chinese. Jurus utama yang diajarkan oleh ayah saya adalah prinsip ekonomis dan prinsip akumulasi. Kalau untung 100, makan 50. Kalau untung 200, makan 50. Kalau untung 500, makan 50 juga. Sisanya diakumulasikan dalam bentuk akumulasi modal atau akumulasi asset lainnya. Banyak orang menjadi kaya dengan teknik demikian. Pendapatan sebanyak-banyaknya, pengeluaran sesedikit-sedikitnya. Namun prinsip tadi ternyata setengah benar. Jika saja prinsip akumulasi tadi dilengkapi dengan prinsip berbagi, maka kita leveraged. Kekuatan kita menjadi lima kali, sepuluh kali, seratus bahkan seribu kali lipat. Dan ternyata dengan berbagi, opportunity terus datang dan datang lagi. Ternyata benar dunia ini abundance, berkelebihan, seperti banyaknya air di samudra luas. Masalahnya kedua tangan kita tidak cukup untuk memindahkan isi lautan, kita perlu bantuan. Dan dengan berbagi, kita akan mendapatkan bantuan (leverage) yang disediakan universe. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

11


f

f

econ omic o c us

economic o c u s ekonom dan sejarawan justru melihat sekarang ini “bunga perekonomian” Kota Denpasar sedang mekar-mekarnya. “..tampaknya Denpasar mengalami perkembangan yang menonjol terutama dalam aktivitas ekonomi. Perkembangan di sektor perdagangan misalnya menyebabkan berkembangnya kota-kota baru sebagai pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi. Adanya mobilitas geografis telah mengarah dengan semakin intensnya gerakan mobilitas penduduk seperti urbanisasi.” Tulis I Ketut Ardhana dalam buku Sejarah KotaKota di Indonesia. Perkembangan ekonomi sekarang ini memberikan ruang yang sama luasnya, baik untuk pasar modern maupun pasar tradisional. Urbanisasi yang pesat masyarakat desa ke ibukota tetap tidak dapat meninggalkan kebiasaan, kultur dan religi. Yang juga berarti, membutuhkan keberadaan pasar-pasar tradisional. Baik karena alasan religius, faktor kebiasaan, maupun karena keterbatasan finansial alias mendapatkan harga barang yang murah. Di situs Hindu Parisadha Dharma (www.parisada.org) ada tulisan berjudul Pasar dan Denpasar… Festival dan Jual Beli… (pernah dimuat di rubrik Apresiasi, Bali Post, 7 Februari 2010). Kutipan tulisan itu mengatakan begini:

Pasar Tradisional di Denpasar: Ruang Dialog Muara dan Hulu Oleh: Dicky Lopulalan

Seorang Pejabat Bank Indonesia dalam sebuah seminar di Denpasar tahun ini mengatakan, “Dua hari saja Pelabuhan Gilimanuk terganggu, Bali akan rawan kebutuhan bahan pokok.” Dan, dimanakah tersedia sebagian besar kebutuhan bahan pokok untuk sekitar 3,9 juta jiwa penduduk Pulau Bali? Pasar tradisonal! Tapi, di Denpasar, kota terbesar di Pulau Bali, pasar tradisional seperti sedang kehabisan nafas dan jadi bahan keributan.

P

D Pasar Badung, sebagai pengelola sembilan pasar tradisional di Kota Denpasar, sekarang tengah terengah-engah. Menurut para pengelola, serbuan pasar-pasar modern dalam segala bentuknya: Dari yang sekelas Carrefour, Ramayana, Robinson, hingga Hero, dari Circle K, Minimart, Alfamart, Indomart hingga yang lokal Hardy’s, seperti serangan pasukan kolonial yang datang, bercokol, dan mencabik-cabik sistem pasar yang dibangun PD Pasar Badung. Dan, membuat perusahaan daerah ini sekarat. Alasan tentang tekanan pasar tak cukup kuat untuk anggota Parlemen Kota Denpasar. Mereka lebih setuju, ini masalah ketidakmampuan manajemen PD Pasar Badung dalam berinovasi. Manajemen alias pengelola pasar, oleh anggota DPRD Kota Denpasar, dipandang tidak kreatif dalam mengelola persaingan pasar. Bayangkan, kata mereka, keuntungan yang didapat selama tahun 2009 hanyalah 400 juta saja. Tapi, mengeluarkan biaya untuk pegawai 5,9 milyar (4,5 milyar untuk gaji karyawan) dan biaya operasional 2,3

12

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

milyar. Total: 8,2 milyar. Padahal pendapatan hanyalah 8,6 milyar (Bali Post, 22 November 2010) Observasi jurnalis M&I Mudda Bima di lapangan seolah menjawab preposisi di atas. Pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Denpasar memang sedang mengalami kelesuan tahun-tahun belakangan ini. Pasar Badung, Pasar Kreneng, Pasar Satria, Pasar Hewan Beringkit, Pasar Sanglah, Pasar Renon, mengalami penurunan jumlah pengunjung dan ragam barang yang diperjualbelikan. Penyebabnya bisa beragam; dari kalah bersaing dengan pasar modern, pergeseran pola konsumsi masyarakat, pengaruh media massa yang masif, aksesibilitas yang tidak memadai (jalan sempit dan rusak, becek, dll), tata ruang, dukungan masyarakat, hingga kapasitas pengelola yang terbatas. Pun begitu, observasi itu tidak dapat menjadi dasar untuk menerima penjelasan “kalah bersaing”. Jika melihat situasi di tingkat makro, Pulau Bali, pendapat pasar tradisional “pasti” kalah bersaing dengan pasar modern sangatlah keliru. Para

“Pasar adalah muara dan sekaligus hulu. Sebagai muara, pasar adalah kaki. Sebagai hulu pasar adalah kepala. Pertemuan kepala dengan kaki, atau kaki dengan kepala, tidaklah lumrah. Tapi ini terjadi di pasar. Oleh karena itu pasar adalah satu tempat yang sangat berpotensi penciptaan. Alasannya, karena dalam pasar ada konflik. Dasar sebuah penciptaan adalah konflik. Tentu saja konflik itu diolah sedemikian rupa. Kemudian diberi bentuk sedemikian rupa pula”. Dalam kaitannya dengan keberadaan pasar di kota Denpasar, juga termaktub di tulisan itu. Pasar tidak berbeda dengan ibukota. Ibukota adalah muara dan sekaligus hulu. Orang dan barang mengalir ke ibukota. Selanjutnya dari ibukota orang dan barang itu mengalir kembali ke pelosok-pelosok. Oleh karena itu, ibukota pun memiliki potensi penciptaan. Karena di ibukota tentu ada konflik. Sisi positif dari konflik adalah adanya potensi penciptaan. Seperti ibu kota, pasar bisa dimasuki dari mana saja. Banyak hal baru akan kita lihat kalau masuk pasar dari agama, misalnya. Karena keduanya dari dulu ternyata sangat berhubungan satu sama lainnya. Macam apa hubungan pasar dengan agama? “Agama memang dikatakan memisahkan orang berdasarkan keyakinan dan tata upacaranya. Pasar mempertemukan perbedaan keyakinan itu dalam hiruk-pikuk hingar-bingar festival jual-beli. Festival yang satu ini berlangsung sambung menyambung tak henti-henti selama 24 jam sehari. Festival jual-beli ini terbukti mengalahkan semua jenis festival yang pernah dibuat orang. Misalnya, festival Ogoh-Ogoh, festival Pesta Kesenian Bali, festival Rangda dan Celuluk, dan festival Kerauhan lainnya. Berbagai festival itu kalah oleh sihir pasar, karena festival-festival itu ternyata adalah anak-anak dari Ibu Festival Jual Beli” Pasar juga dapat ditinjau dari aspek sosiologis. Tidak sekadar menjadi tempat pertemuan penjual dan pembeli, melainkan sebuah ruang interaksi sosio-kultural antar masyarakat

Denpasar, bahkan Bali, dengan manusia-manusia dari seluruh penjuru Nusantara. Sebagai contoh, Pasar Badung, tempat ini menjadi ruang interaksi para perwakilan dari berbagai komunitas di Bali dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tidak sekadar berdagang. Sembari menjual barang dagangan yang berasal dari Klungkung, Gianyar, Karangasem, Lombok, Banyuwangi, Yogyakarta, bahkan dari mana-mana di seantero Nusantara dan bertemu dengan para pembeli dari Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Sanur, Singaraja, Klungkung, bahkan wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta datang dari belahan benua Australia atau Eropa. Mereka tidak sekadar belanja, tapi saling berbagi cerita, tentang kehidupan di tempat masing-masing. Tolhas Siregar, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, ketika berhari-hari dan bermalammalam observasi di Pasar Badung, mengatakan, “Sistem politik media gagal mengintervensi kenyataaan sosial. Rakyat punya kenyataan dan sistem komunikasi sendiri.” Contoh paling nyata adalah saat Presiden AS Barack Obama datang ke Indonesia, dan Tolhas sedang berada di Pasar Badung. Tidak ada seorang pun di Pasar Badung yang membicarakan kedatangan Obama. Mereka lebih asik bercerita tentang harga barang, penurunan atau kenaikan produksi, persiapan hari raya, hingga gosip tentang orang yang sama–sama mereka kenal selama bertahun-tahun. “Pasar Badung adalah tempat interaksi sosial milik rakyat yang sangat hidup, religius, dan penuh keakraban,”ujarnya menyimpulkan. Membicarakan nilai-nilai filosofis jelas tidak cukup untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional di Denpasar. Tidak cukup kuat untuk menghalangi kebocoran konsumen yang “ditangkap” pasar-pasar modern. Harus ada upaya-upaya kreatif dan inovatif agar mampu bersaing. Anggota DPRD melihat sebab utamanya ada pada persoalan kapasitas pengelola. Tapi, itu tidak satu-satunya. Pihak eksekutif dan legislatif juga perlu mendorong lahirnya kebijakan yang pro pasar tradisonal. Misalnya berisikan tentang penyediaan lahan parkir yang memadai, tata ruang pasar, atau akses jalan yang lancar. Selain itu, juga, melibatkan partisipasi masyarakat untuk ikut merawat dan menyelamatkan pasar tradisional di kota Denpasar ini. Caranya bisa macam-macam, dari sekadar lebih sering datang ke pasar-pasar tersebut, membangun organisasi pencinta pasar tradisional hingga penyelenggaraan event-event pariwisata, misalnya di kawasan heritage Jl. Gajah Mada dan sekitarnya. Misalnya, festival malam minggu atau festival tahunan. Atau, ide-ide lainnya yang lebih inovatif. Yang jelas, menaikkan pendapatan PD Pasar Badung, itu memang hal penting. Tapi, menyelamatkan momen interaksi sosio-kulutral pasar tradisional di Kota Denpasar juga tidak kalah penting. Itu seperti menyelamatkan ruang dialog kebudayaan di ibukota pulau dan Provinsi Bali. Ruang itu, barangkali, menjadi satu-satunya ruang dialog peradaban muara dan hulu yang tersisa. Tempat di mana proses penciptaan sedang berlangsung. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

13


s

s

growth t rate gi e s

growth trategies

I Made Wenten B.

Kabid Support & Operation BPR Lestari

Service oh Service… To Save A Customer Minggu kemarin saya diminta mengikuti pelatihan intern yang dilaksanakan oleh Lestari Institute. Judul trainingnya “Street Smart Marketing”, yang membawakan adalah pimpinan puncak BPR Lestari, Alex P. Chandra.

J

arang-jarang saya diminta ikut pelatihan intern sebagai peserta, jadi hati ini bertanya-tanya. Kok tumben, kira-kira maksudnya apa?

Setelah training berlangsung saya baru menangkap maksudnya apa, ternyata Pak Alex ingin menitip pesan kepada saya. Salah satu pesan yang ingin disampaikan adalah tentang Service. Bahwa service adalah senjata kita dalam bersaing, karena kita tidak mungkin bersaing dalam harga. Jadi tolong jagain service kita, pastikan kita bisa membangun service sebagai senjata andalan.

14

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Service to Customer, Service Excellence, dan katakata lain yang berisi kata service sangat gampang diucapkan. Tetapi dalam pelaksanaannya ternyata sangat complicated. Ada kepentingan tarik-menarik antara service dengan biaya, antara service dengan security. Dan bahkan kadang kita bingung dan terjebak ke dalam persoalan-persoalan seperti: - Dari semua proses pelanggan berhubungan dengan kita, di bagian proses mana yang kita pilih untuk memberikan service yang excellent, yang lainnya standar saja. Karena kalau kita service secara excellence di semua lini proses, maka biayanya mahal sekali. - Apakah semua jenis pelanggan kita service secara excellence. Atau kita beda-bedakan menurut golongan pelanggan yang kita tetapkan sendiri. - Service excellence seperti apa yang kita berikan? Kita kan tidak bisa memberikan service berupa: proses cepat, administrasi mudah, bunga murah (contoh dalam pelayanan kredit). Sekali lagi terpaksa kita harus memilih satu service berupa benefit yang kita tawarkan. Kita tidak mampu menawarkan semuanya sekaligus. - Masalah terakhir yang muncul setelah kita mendefine service adalah bagaimana membangun budaya service ke dalam organisasi ini. Dan ini adalah tantangan terberat, bagaimana membuat service yang sudah kita define menjadi sebuah sistem yang berjalan secara otomatis dan berkesinambungan. Saya teringat cerita tentang sebuah upaya service yang dibangun oleh sebuah perusahaan penerbangan di Amerika sana, yang diambil dari sebuah buku. Ceritanya seperti ini: Sebuah pesawat sedang bersiap terbang dan sudah menuju landasan untuk take-off. Dan tiba-tiba muncul pengumunan dari pilot bahwa ada larangan terbang karena cuaca buruk. Ini kabar buruk bagi penumpang. Lebih buruk dari pengumuman delay, karena kalau delay penyebabnya biasanya karena masalah teknis, yang ada gambaran kita harus menunggu berapa lama. Nah, kalau larangan terbang karena cuaca buruk, kita tidak tahu sampai kapan cuaca buruk ini; bisa 15 menit, 1 jam, 1 hari, atau lebih lama lagi.

15 menit pertama penumpang yang menunggu di pesawat masih bisa tenang. 1 jam kemudian penumpang mulai gelisah. 1,5 jam penumpang mulai tidak tahan. Salah satu dari penumpang tersebut kemudian bertanya kepada pramugari: “Ibu, sambil menunggu cuaca membaik bisakah anda membawa kami kembali ke terminal. Di antara kami ada yang mulai lapar dan ingin sarapan. Ada yang harus menghubungi rekan bisnisnya karena mereka akan telat datang meeting. Artinya banyak hal berarti yang kami bisa lakukan di terminal daripada di pesawat ini”. Pramugari menjawab:”Tidak bisa, Bapak. Perusahaan kami berusaha memberikan pelayanan yang memuaskan dengan cara memastikan bahwa kami berangkat dan tiba sesuai dengan waktu yang telah kami janjikan. Dan kami sekarang sudah terlambat. Kalau kami membawa penumpang kembali ke terminal, maka akan ada waktu tambahan lagi untuk masuk ke pesawat. Kami khawatir penilaian terhadap layanan kami, dalam hal kecepatan akan berkurang”. Nah lho!! Pada saat membaca cerita ini saya tertawa. Dan langsung teringat jangan-jangan kita (BPR Lestari) melakukan hal yang mirip. Terkadang atau mungkin sering, sebuah organisasi mendesain sebuah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Tetapi kebijakan ini untuk kondisi tertentu, kalau tetap dijalankan akan bisa membuat pelanggan kecewa. Bukan memuaskan. Contoh lain yang mirip seperti ini, adalah proses antrian. Kebijakan nomor antrian dilakukan untuk menjaga agar antrian nasabah berjalan dengan rapi, cepat dan tidak saling serobot. Tetapi kalau pada waktu tidak ada antrian, haruskah kita meminta nasabah untuk mengambil nomor antrian dulu? Contoh lain lagi. Agar proses layanan call center berjalan dengan baik. Kita meminta petugas call center untuk melayani telepon dalam waktu 3 menit, maksudnya agar kita bisa melayani panggilan selanjutnya. Nah apabila waktu sudah mendekati 3 menit, dan penelepon yang online sekarang merasa belum puas tetapi di central telepon sudah ada panggilan selanjutnya. Akankah kita mengakhiri pembicaraan dengan penelepon sekarang? Sengaja di bagian penutup saya tulis dengan kalimat tanya. Alasannya: pertama, karena saya ingin mengajak teman-teman untuk sama-sama berpikir. Kedua, karena saya sendiri belum tahu jawaban yang pasti benar. Selamat berpikir? Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

15


interviewwiththe

m illionaire

interviewwiththe

m illionaire

A. A. Bagus Adhiwirya Oleh Mudda Bima

Adhi, panggilan akrab A.A. Bagus Adhiwirya. Usianya tergolong muda, namun kemampuannya di dunia bisnis telah melampaui batas waktu. Bisnis di bidang hospitality adalah bakat yang melekat dalam dirinya. Hal tersebut setidaknya dirasakan oleh M&I saat menemuinya di Hotel Bali Niksoma, salah satu bisnis keluarga yang dikelola oleh pemuda ramah ini. Sambutan penuh senyum satpam di pintu masuk hingga ke front office membuat perasaan nyaman. Ia sangat dihormati dan disayangi oleh para stafnya. Ia menganggap seluruh stafnya sudah seperti keluarga sendiri.

S

eorang wanita tengah baya bernama Mini mengantarkan minuman di sela-sela interview. Dari gestur ia tak tampak seperti waitress pada umumnya; ia terlihat seperti bagian dari keluarga Adhi. Tak lama berselang Mini menceritakan kebaikan keluarga Adhi kepadanya. Mini mengaku, keluarga dan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi berkat kebaikan Adhi dan keluarga. Air mata berlinang membasahi wajah Mini adalah ungkapan kejujuran untuk melukiskan pribadi seperti apakah yang melekat dalam diri Adhi. Penasaran? Yuk, kita ngobrolngobrol dengan Adhi. M&I: Tolong ceritakan bagaimana perjalanan bisnis Anda hingga sekarang ini? Apakah sejak kecil memang sudah bercita-cita untuk menjadi seorang bisnisman? Adhi: Dari kecil saya selalu ikut orang tua. Kebetulan orang tua bekerja di salah satu perusahaan minyak di Indonesia. Jadi dari kecil saya selalu ikut ke mana-mana; di Balikpapan, Cilacap, pindah ke Jepang dan ke mana-mana. Akhirnya saya masuk SMA di Amerika. Kemudian saya kuliah mengambil Tehnik Mesin. Awalnya saya ingin mengikuti jejak orang

16

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

tua saya. Orang tua bilang di Indonesia prospeknya kurang bagus, akhirnya saya pindah ke Bisnis. Saya mengambil management. Setelah balik saya mencoba untuk bisnis. Memang semua bisnis itu tidak selamanya berjalan lancar, yah. Tahun 2005, awal-awal saya lulus kuliah sempat ikut bisnis Tongkang dan transport batu bara. Karena memang kerjaannya terlalu banyak sekali mafianya, jadi saya bertahan hanya setahun di situ. Akhirnya saya kembali ke sini, untuk ngurusin Bali Niksoma sebagai bisnis keluarga. Selain mengurus di bidang financial, di sini saya mengurus bagian kesejahteraan staf. Bisnis apapun, aset yang paling utama adalah staf. Kalau kita tidak punya staf yang bagus, sebagus apapun tempat bisnis kita, tidak akan bisa berjalan baik. Sebaliknya kalau kita bisa bikin staf bahagia, mereka akan bekerja dengan penuh semangat. M&I: Apakah ada kebijakan khusus dalam hal memperlakukan staf? Adhi: Saya sih menganggap staf saya itu sama seperti anggota keluarga saya sendiri. Kalau kebijakan formal sih tidak ada yang spesifik. Prinsip saya adalah apa yang

mereka patut dapatin, mereka akan dapatin. Saat makan siang bersama, saya memperlakukan mereka sama seperti saudara atau teman-teman saya. Sore, setelah jam kerja usai, mereka saya ajak olah raga bareng. Ini semua saya lakukan agar rasa segan mereka itu hilang. Lebih dari itu, mereka bahkan sangat menjaga saya dan keluarga. Para staf memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Rasa tanggung jawab itulah yang akan mengontrol diri mereka, tanpa saya harus selalu ada di sini. Mereka bekerja dengan hati nurani. Banyak tamu yang datang ke sini berulang kali, tidak mau mencari penginapan lain, alasannya mereka sudah merasa nyaman dengan tempat ini. Merasa bersahabat dengan staf yang ada di sini. M&I: Apa yang meyakinkan Pak Adhi di awal merintis usaha, bahwa tempat ini memiliki prospek yang cukup baik? Adhi: Bali Niksoma sebetulnya sudah dirintis sejak tahun 1987. Baru direnovasi ulang sekitar tahun 2003. Waktu itu saya masih menempuh studi di Amerika. Setelah ayah saya pension, beliau balik ke Bali tak lama setelah peristiwa Bom Bali 2002. Nah, kalau pertanyaannya apa yang meyakinkan

bahwa usaha ini bakal maju? Saya merasa sebagai orang Bali harus bisa maintenance sebuah hotel. Keyakinan itu timbul karena kita merasa memiliki kapabilitas untuk melaksanakan hal tersebut. Dalam bisnis hospitality, orang Bali sudah cukup mumpuni di bidang yang satu ini. Orang Bali juga sudah terkenal dimana-mana bisa melakukan sesuatu yang terbit dari dalam hati mereka sendiri. Saya bersama ayah dan kakak saya akhirnya bisa menonjolkan sesuatu yang lebih. Kalau hospitality sebetulnya tidak susah, yang terpenting adalah service yang baik dan memuaskan. M&I: Kalau dilihat dari percepatan pendapatan yang awalnya dalam hitungan bulan, sekarang ini hitungan hari, apakah itu semua ada sistemnya, atau kebetulan-kebetulan saja? Adhi: Memang semua itu pasti ada sistemnya. Setiap tahunnya kita pasti punya target, prediksi tahun depan seperti apa. Misalnya tahun lalu rich occupation 70 %, tahun ini kita targetkan 80%, tahun depan 85 %. Nah, untuk mencapai angka itu apa yang harus ditingkatkan? Fasilitas kamar kita tambahkan, marketing kita tingkatkan, market kita perluas. Yang jelas ada sistemnya. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

17


interviewwiththe

m illionaire

e ntrepreneurinterview

M&I: Apahak sistem tersebut bisa diajarkan kepada orang lain?

misalnya harus Melaspas dan memenuhi syarat-syarat sesuai dengan kepercayaan saya sebagai umat Hindu Bali.

Adhi: Bisa. Hospitality is not very difficult. Dari awal saya diajarkan oleh kakak saya bagaimana menghitung room costing, bagaimana harus menangani staf, bagaimana kita meningkatkan service, bagaimana kita menghadapi komplain tamu dan sebagainya.

M&I: Warisan apa yang ingin Anda tinggalkan?

M&I: Apa yang disarankan oleh Anda kepada pembaca M&I atau orang-orang seperti saya agar bisa mencapai sukses seperti Pak Adhi? Adhi: Yang utama adalah kejujuran. Jadi kalau merasa tidak bisa, yah minta tolong kepada yang bisa, jangan ada rasa malu. Kalau kita tidak pernah mencoba kita tidak akan tahu sejauh mana kemampuan kita. Kalau merasa kurang, kita minta diajariin. Sebagai atasan pun tidak boleh sombong kepada yang di bawah.

M&I: Dalam perjalanan bisnis Anda sendiri, apakah ada pelajaran penting yang pernah dipelajari? Adhi: Dua kali saya pernah mencoba dan belum berhasil, yang Tongkang dan Restoran Jepang. Saya rasa menjadi pelajaran penting yang pernah saya pelajari. Dua kali saya melakukan kesalahan. Yang pertama barangkali itu bukan merupakan bidang saya. Yang kedua, franchising juga bukan menjadi bidang saya. Saya sebetulnya lebih pas di bisnis dengan family oriented. Yah, sebetulnya pelajarannya kita harus berani rugi dulu baru akan mendapatkan untung. Apa lagi kalau kita baru memulai usaha. Kita akan bekerja keras menghabiskan pikiran, tenaga dan biaya untuk melakukan promosi dan pemasaran. M&I: Masuk ke sisi spiritual, bagaimana Anda mengintegrasikan antara sisi spiritualitas dengan dunia bisnis? Adhi: Sisi spiritualitas bagi saya adalah yang utama. Misalnya saya tiba-tiba harus meeting, sementara ada kewajiban kebutuhan spiritual yang mesti saya penuhi, tentu saya akan mendahulukan kebutuhan spiritualitas ketimbang kepentingan meeting. Toh meeting masih bisa ditunda sementara kebutuhan spiritualitas tidak mungkin ditunda. Sebagai umat Hindu Bali, di awal memasuki gedung baru

18

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Adhi: Wah, kalau ditanya tentang itu saya belum kepikiran, ha ha ha... Yah, saya pikir nama baik lah yah. Menjadi orang yang dihormati oleh orang lain. Mulai dari lingkungan keluar, krama banjar dan seterusnya. Kita hidup dalam lingkungan sosial, maka menjadi penting menjaga hubungan baik dengan sesama. Saya berusaha semaksimal mungkin membina hubungan tersebut, misalnya dengan memenuhi undangan krama banjar, mengikuti kegiatankegiatan sosial. Dua sisi kehidupan, sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial adalah kodrat kehidupan setiap orang yang harus dipenuhi. M&I: Apakah ada kebibasaan-kebiasaan untuk sukses?

Adhi: Pesan klasik yang sering kita dengarkan, “jangan sampai melewati matahari terbit, sebab rejeki kita bisa dipatok ayam”. Pesan ini lah yang saya terapkan sebagai kebiasaan dalam hidup saya. Saya membiasakan diri untuk bangun pagi walaupun malamnya mungkin saya pulang larut. M&I: Selain bisnis di bidang hospitality yang dijalankan saat ini, apakah ada peluang yang Anda lihat, namun belum sempat dijalankan? Adhi: Bisnis property. Saya pikir di Bali masih sangat menjanjikan untuk bidang bisnis yang satu ini. Selain itu, keberadaan saya di Bali membuat saya bisa membagi perhatian untuk menjalankan bisnis saya. Sebuah bisnis yang dijalankan harus diberikan perhatian sepenuhnya, ini prinsip saya. M&I: Apa tesis Anda, sehingga yakin betul dengan prospek bisnis property di Bali? Adhi: Banyak bangat teman-teman saya yang nelpon, “tolong cariin tanah dong…” Nah, itu tesis pertama yang meyakinkan saya. Tanah itu nggak mungkin bertambah, sedangkan jumlah penduduk semakin bertambah. Ini adalah tesis yang kedua. (Foto: Dedet) Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

19


e ntrepreneurinterview

e ntrepreneurinterview

Albertus Adhitya Semangat Berdagang Sejak Kecil Oleh Mudda Bima

A

dhit bisa dibilang sukses dalam mengelola bisnisnya. Akhir tahun 2006 pemuda berbadan tegap ini diutus oleh perusahan jasa outsourcing tenaga security tempat ia bekerja di Semarang. Awalnya Adhit merintis dari nol, tak terasa dalam waktu setahun ia mampu mengembangkan perusahaan tersebut hingga memiliki karyawan yang jumlahnya puluhan. Awal tahun lalu ia mengembangkan perusahaan franchise Auto Bridal, sebuah bisnis jasa layanan cuci mobil dengan fasilitas paling wahid. Adhit mengaku, prinsip-prinsip kepemimpinan yang berpedoman pada filosofi Jawa, Tetek, Tego dan Tegel adalah nilai-nilai kepemimpian yang ia pegang teguh. Selain itu, refleksi pengalaman masa kecil yang sudah gandrung berdagang menjadi modal utama dalam pengembangan bisnisnya. “Tetek artinya, dalam memimpin kalau kita mengedepankan rasa iba yang berlebihan, maka kita tak akan pernah bisa maju. Tego, penerapannya adalah bahwa dalam setiap kebijakan yang kita ambil sudah tentu ada pihak yang

20

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

merasa diuntungkan dan ada pihak yang merasa dirugikan. Kalau kita merasa keputusan tersebut memang yang terbaik, maka kita harus mengesampingkan rasa enak nggak enak itu. kalau kita khawatir ada pihak yang dirugikan, maka perubahan yang lebih baik itu tidak akan ada. Tegel itu tegas. Pengertian lainnya adalah konsisten. Kita tidak boleh plin-plan membuat keputusan,” ungkap pria kelahiran 29 Mei 1983 ini dengan lantang. Dari TK sampai SD kelas dua, Adhit kecil tinggal dengan neneknya di Jembrana. Sepulang sekolah Adhit menjual kue keliling kampung. Hasilnya untuk menambah uang jajan. Menginjak SD kelas tiga, ia tinggal bersama orang tuanya di Denpasar. Kala itu di sekolah lagi ngetrend permainan dengklek. Permainan dengklek menggunakan “gaco” semacam batu pipih atau benda-benda lain yang dibentuk sehingga nyaman untuk dilemparkan ke dalam garis kotak di hamparan tanah. Sewaktu bermain ke tempat saudaranya, Adhit tak sengaja menemukan pecahan keramik yang tak terpakai. Ia lalu membetuk keramik tersebut hingga bulat. Di sekolah gaco milik Adhit terlihat mewah dan mencolok. Teman-temannya pun memesan gaco keramik buatan Adhi. Lagi-lagi ia mendapatkan tambahan uang jajan. “Orang tua saya selalu bilang, kalau belum bisa cari uang, jangan makan yang banyak. Kalau belum bisa cari uang, jangan bergaya”.

Waktu SD itu keinginan saya adalah makanan, otomatis saya harus memutar otak. Adhit menceritakan lagi kisah lain. Dulu waktu kecil, di depan rumahnya ada penjual arum manis menggunakan sepeda gayuh sering melintas. Di bagian belakang sepeda biasanya digantung permen yang berisi undian. Hadiah undian biasanya mainan anak-anak. Adhit kreatif dan kakaknya berpikir, kenapa mereka tidak buat undian serupa dengan hadiah-hadiah yang menarik tentunya. Adhit kemudian membuat undian. Tentu saja teman-teman banyak yang tertarik dengan hadiah-hadiah yang ditawarkan. “Dari situ saya mendapatkan keuntungan. Walau mendapat uang jajan yang pas-pasan dari orang tua, saya tetap bisa memenuhi keinginan saya untuk belanja barang-barang lain seperti anak pada umumnya,” kata Adhit.

baru saya ngecek lagi berapa yang laku. Hasilnya saya bagi dengan penjaga kantin. Dari situlah saya bisa mendapatkan tambahan untuk beli bensin dan juga untuk memenuhi kebutuhan saya yang lain. Lagi-lagi, di kampus saya dikenal oleh teman-teman sebagai juragan kacang ijo. Saya sih cuek aja, yang penting saya bisa menghasilkan dengan jalan yang benar,” demikian kisah Adhit.

Kebiasaaan berdagang terbawa pula waktu zaman Adhit kuliah. Dulu ia diberikan mobil oleh orang tuanya, namun dibekali hanya 50 ribu rupiah setiap minggu untuk alokasi bensin. Dengan kondisi keuangan seperti itu, Adhit hanya menggunakan dari rumah ke kampus saja. Ia tidak mungkin bisa jalan-jalan sepulang kuliah. Adhit lagi-lagi mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa seperti anak-anak yang lain, selain ke kampus juga masih bisa mejeng di tempat tempat lain. “Saya kemudian mencoba jualan es kacang ijo di kampus. Di rumah saya belanja bahan-bahan, kemudian minta tolong pembatu saya untuk memasak. Setiap saya berangkat ke kampus es kacang ijo satu panci sudah siap. Saya masukkan di mobil. Sesampai di kampus saya turunkan, lalu dititipkan di Kantin kampus. Pulang kuliah Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

21


fin an cial

p l a nn i ng

f inancia l

p la nning

A. Gambar: Financial Planning Process

Proses Perencanaan Keuangan

Menetapkan tujuan keuangan dan prioritas

Mengumpulkan informasi yang relevan

Analisa informasi yang ada

Mengawasi Perencanaan Keuangan

Melakukan Implementasi Perencanaan Keuangan

Menyajikan Rekomendasi Perencanaan Keuangan

(Financial Planning Process) Dalam melakukan perencanaan keuangan pribadi atau personal, ada beberapa proses yang akan dilalui dan perlu diketahui. Proses perencanaan keuangan ini dilakukan bukan oleh seorang perencana keuangan, namun oleh individu yang mempunyai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Perencana keuangan hanya memberikan arahan (guidance) dan rekomendasi atau nasihat (advice) kepada individu tersebut pada saat melakukan perencanaan keuangan.

S

ebelum masuk ke dalam proses perencanaan keuangan, kita perlu mempertegas kembali apakah perencanaan keuangan itu? Definisi perencanaan keuangan menurut Certified Financial Planner, Board of Standards adalah proses mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan secara terencana. Tujuan hidup dapat termasuk membeli rumah, menabung untuk pendidikan anak atau merencanakan pensiun. Sebagian orang menggunakan bermacam instrumen keuangan sebelum mereka dapat mencapai semua tujuan mereka. Jadi, beberapa alat keuangan umum yang mendasar seperti saham, obligasi, reksa dana, asuransi jiwa, unit linked, anuitas, produk pasar uang, real estate adalah elemen yang penting dari perencanaan keuangan.

22

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Proses Perencanaan Keuangan Proses perencanaan keuangan (financial planning process) memerlukan enam langkah untuk menolong seseorang melihat secara “big picture� dimana posisi keuangannya. Dengan menggunakan enam langkah ini, seseorang dapat mengetahui posisi keuangannya saat ini, apa yang mungkin dibutuhkan di masa depan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Termasuk dalam proses ini adalah mengumpulkan informasi data keuangan yang relevan, menentukan tujuantujuan hidup, mengevaluasi status keuangan seseorang tersebut saat ini, dan kemudian menentukan strategi atau perencanaan untuk “bagaimana� mencapai tujuan keuangan seseorang tersebut berdasarkan situasi saat ini dan rencana masa depannya.

Penjelasan dari ke-6 langkah Proses Perencanaan Keuangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menetapkan tujuan keuangan dan menentukan prioritas Pada tahap ini seseorang (selanjutnya kita sebut individu) bersama perencana keuangan menentukan tujuan keuangannya, memahami jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut, mendiskusikan bagaimana perasaan individu atas risiko yang mungkin muncul dan selanjutnya memprioritaskannya. Yang perlu ditekankan adalah tujuan tersebut haruslah SMART atau spesifik (specific), dapat diukur (measurable), dapat dicapai (achievable), realistis (realistic) dan punya target waktu pencapaian (target). Contoh dari tujuan keuangan adalah: - Mempertahankan gaya hidup saat ini - Mengakumulasikan kekayaan untuk tujuan pensiun - Proteksi jiwa dan kesehatan - Pendidikan anak - Pembagian warisan secara adil - Kebebasan finansial - Meminimalkan pajak yang dibayar - Dan lain sebagainya.

2. Mengumpulkan informasi yang relevan Langkah berikut yang harus dilakukan sang individu tersebut, dengan bantuan perencana keuangan yang dipercaya adalah mengumpulkan data finansial yang diperlukan sebanyak mungkin untuk merumuskan strategi yang cocok guna merealisasikan tujuan. Semua informasi atau dokumen yang diperlukan harus ditemukan, sebelum mendapatkan nasihat yang dibutuhkan. Informasi mengenai data keuangan dapat diperoleh melalui pengumpulan data, survey, maupun penyebaran kuesioner. Cara apapun yang ditempuh mempunyai kelebihan masing-masing.

Contoh informasi yang harus dikumpulkan yaitu: - Data tentang aset/kekayaan dan kewajiban/utang - Proyeksi pendapatan di masa mendatang - Analisa arus kas dan budget - Tabungan, polis asuransi yang dimiliki - Profil risiko individu - Dan lain sebagainya

3. Analisa informasi yang ada Selanjutnya, individu dan perencana keuangan harus melakukan analisa dan evaluasi atas informasi yang diperoleh untuk menentukan situasi individu saat ini dan menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan individu tersebut. Pada tahap ini perencana keuangan mencoba melihat kekuatan dan kelemahan status keuangan individu dan menganalisa bahaya atau risiko potensial yang mungkin muncul yang dapat menghalangi pencapaian tujuan keuangan. Analisa yang dilakukan termasuk analisa aset, kewajiban dan arus kas, asuransi yang telah dimiliki, serta investasi yang telah dilakukan. Hal ini tergantung dari jenis pelayanan yang diinginkan sang individu. Dari analisa ini, perencana keuangan dapat menilai apakah tujuan keuangan kliennya realistis atau tidak. Jika tidak, sang individu akan disarankan untuk mengubah harapannya. Contoh area yang penting pada saat melakukan analisa dan evaluasi ini adalah: - Prospek karier dan pendapatan nasabah - Akumulasi dana yang sudah terkumpul untuk kebutuhan pensiun - Kepemilikan rumah - Pengelolaan kewajiban (utang) - Dana yang telah dipersiapkan untuk pendidikan - Perencanaan bisnis pribadi - Tabungan yang sudah dimiliki hingga saat ini - Dan lain sebagainya. Vol. 1Vol. 2 D ec 1 0 2 O0 1c t0 -- Nov J an 2 0 1 01 -

23


fin an cial

p l a nn i ng

4. Menyajikan rekomendasi perencanaan keuangan Perencana keuangan harus memberikan rekomendasi perencanaan keuangan yang dititikberatkan pada tujuan keuangan individu berdasarkan informasi yang diberikan dan mengakomodir sejumlah faktor eksternal yang mungkin menghambat pencapaian tujuan keuangan. Perencana keuangan harus memastikan bahwa rekomendasi yang dibuatnya dibangun atas dasar pertimbangan yang sangat hati-hati dari seluruh data kuantitatif dan kualitatif yang terkumpul. Perencana keuangan bersama-sama dengan individu yang menjadi kliennya akan mempelajari rekomendasi tersebut. Tujuannya adalah menolong individu untuk memahami rekomendasi tersebut sehingga individu dapat mengambil keputusan secara tepat dan benar. Perencana keuangan juga harus mendengarkan apa yang dipikirkan oleh individu tersebut dan melakukan revisi atas rekomendasi tersebut apabila diperlukan. Rekomendasi yang dibuat harus komprehensif dan sebaiknya terdiri dari: - Perencanaan warisan dan perencanaan pajak - Perencanaan asuransi, perencanaan pensiun & pendidikan anak - Perencanaan investasi dan alokasi aset - Perencanaan untuk memiliki rumah pribadi - Perencanaan tabungan rutin maupun arus kas - Dan lain sebagainya

5. Implementasi rekomendasi perencanaan keuangan Langkah selanjutnya yang paling penting adalah mengimplementasikan rekomendasi yang dibuat. Ibarat dokter yang sudah memberikan resepnya kepada pasien, maka agar bisa sembuh, pasien tersebut harus menebus resep tersebut. Perencana keuangan dan individu bersamasama mempelajari rekomendasi perencanaan keuangan dan harus sepakat tentang bagaimana rekomendasi tersebut akan dilaksanakan. Perencana keuangan dapat menjadi semacam “pengawas” dalam melakukan koordinasi atas seluruh proses perencanaan keuangan yang terjadi bersama individu dan profesional lainnya, seperti pengacara atau pialang saham.

6. Mengawasi perencanaan keuangan Mengingat proses perencanaan keuangan adalah proses yang dinamis maka diperlukan pemeriksaan dan revisi secara berkesinambungan. Tujuan dan status keuangan individu sangat mungkin berubah tanpa dapat dihindari. Sebab perubahan adalah hal yang absolut. Dan perubahan bisa terjadi baik secara internal (dari individu itu sendiri) maupun secara eksternal (misalnya inflasi dan sebagainya). Pertemuan rutin antara perencana keuangan dengan individu dalam rangka pengawasan ini sangat penting untuk melihat perubahan maupun perkembangan keadaan keuangan individu. Di samping itu juga penting untuk memonitor portofolio aset individu tersebut dan memberikan saran

24

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

f inancia l

p la nning

yang cocok dengan perubahan-perubahan tersebut. Tujuan akhir dari pengawasan perencanaan keuangan ini adalah untuk memastikan bahwa perencanaan tersebut tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Antony Japari

MBA, AAAIJ, DipFP, CLU, ChFC, CPLHI, CPFS, ALMI, AFSI, CFP®, AEPP® Kelahiran Ujung Pandang 1973 ini adalah seorang praktisi keuangan selama lebih dari 13 tahun dan sekarang bekerja sebagai Marketing Director dan Chief Marketing Officer di PT. AJ Central Asia Raya (CAR Life Insurance). Ketertarikannya dibidang perencanaan keuangan bermula pada saat dia diberi kesempatan oleh perusahaan asuransi jiwa joint venture Indonesia – Australia dimana dia bekerja untuk mengikuti training leadership dan financial planning di Sydney, Australia pada tahun 1999. Sertifikasi perencanaan keuangan Chartered Life Underwriter (CLU) dan Chartered Financial Consultant (ChFC) diperolehnya pada tahun 2003 dari Singapore College of Insurance (Singapore) dan The American College, USA. Ujian sertifikasi Certified Financial Planner atau CFP® diikutinya dan lulus pada tahun 2007 dari Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia; afiliasi dari FPSB USA. Pada tahun 2009 ini mendapatkan sertifikasi Associate Estate Planning PractitionerTM (AEPP®) dari Estate Planning Practitioners Ltd. (Singapore) dan The Society of Will Writers & Estate Planning Practitioners (United Kingdom). Sampai saat ini Antony aktif mengajar pada program pendidikan profesi perencana keuangan (CFP®) di Universitas Bina Nusantara Jakarta, FISIP UI Depok, dan beberapa perguruan tinggi lainnya di Jakarta maupun Surabaya. Sebagai perencana keuangan, Antony sering dijadikan sebagai nara sumber perencanaan keuangan di media massa seperti media cetak (majalah Investor, Investor Daily, Bisnis Indonesia, Tabloid Bisnis Uang, Men’s Health Magazine, majalah Swa, Tabloid Kontan, majalah Bisnis Bank, majalah Good House Keeping, Tabloid Ibu & Anak) dan media elektronik (Metro TV, TV7, Smart FM, Radio Bahana, Woman Radio, Cosmopolitan FM, PAS FM). Misinya adalah membantu masyarakat Indonesia agar sadar akan pentingnya melakukan perencanaan keuangan keluarga sehingga bisa mencapai kebebasan keuangan melalui perencanaan keuangan yang benar dan tepat. Ayah dari 3 anak ini sebelumnya sukses sebagai Marketing Director di perusahaan asuransi jiwa lokal lainnya milik suatu kelompok usaha yang sedang berkembang pesat. Pada saat dia bergabung tahun 2006, perusahaan tersebut masih mempunyai aset dibawah Rp. 100 Milyar dan pada tahun 2009 sewaktu dia meninggalkan perusahaan tersebut, asetnya sudah mencapai lebih dari Rp. 5 Trilliun.

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

25


26

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

27


innovative

b us i ne s s

i nnovative

b u sin ess

Jangan kaget bila Anda melihat bagunan unik saat melintasi Jalan Batu Mejan No 8, Canggu, Bali. Bagunan klasik itu adalah gerai milik Deus Bali, yakni perpaduan antara bengkel, retail, restoran dan studio. Retail menyediakan pakaian, papan surfing, sepeda antik dan juga motor antik desain khas Deus.

DEUS EX MACHINA INDONESIA Tongkrongan Bikers Ala Cowboy Oleh: Mudda Bima

M

emasuki kawasan Deus Bali serasa berada di kawasan cowboy. Seluruh bagunan didesain sedemikian rupa hingga memunculkan nuansa tradisional tempo dulu. Show room dan restoran di bagian depan didominasi oleh papanpapan kayu dengan warna alam. Kantor dan studio di bagian tengah berhadap-hadapan hingga menyisakan halaman kosong yang cukup luas di antara kedua

28

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

bangunan tersebut. Di bagian belakang terdapat bengkel kerja, tempat modifikasi sepeda dan motor. Seluruh bagunan menggunakan ornamen tradisional. Menurut Yuliawan, Executive Culinery Deus Bali, Deus hadir di Bali untuk memenuhi kebutuhan para bikers. Konsep dasar Deus dalam modifikasi sepeda dan motor prinsipnya klasik dan simpel. Sepeda menggunakan material ringan hingga nyaman dipakai untuk berolahraga. “Motor-motor yang kita modifikasi legal beredar di Indonesia, dilengkapi dengan suratsurat resmi. Mulai dari motor keluaran lama sampai dengan motor keluaran terbaru. Deus mengandalkan modifikasi dengan gaya simple, unik dan minimalis,” ungkap Adi kepada M&I saat ditemui di sela-sela kesibukannya di gerai Deus. Modifikasi didesain berdasarkan permintaan pemilik, namun tetap disesuaikan dengan standar Deus. Besarnya biaya modifikasi relatif, tergantung pada kemampuan pemilik motor. Misalnya Anda cuma punya budget 3 juta rupiah, maka pihak Deus akan

memberikan alternatif apa saja yang bisa dimodifikasi berdasarkan budget tersebut. Suku cadang yang digunakan tergantung dari keinginan pemilik, mau yang lokal atau yang impor, terserah. Bahkan ada yang sudah bawa suku cadang sendiri. Mengenai waktu pengerjaannya rata-rata sebulan, itu pun tergantung berapa porsen yang dimodifikasi. Kata Adi, Deus yang baru saja dibuka 4 Oktober yang lalu baru dipromosikan di tingkat karyawan dan dan kalangan terbatas. Promosi keluar akan dilakukan tahun depan. “Promosi tetap dilakukan dalam skala kecil-kecilan dulu, misalnya melalui event dengan membuat undangan terbuka melalui pamflet. Saat event berlangsung seluruh produk kita ditampilkan di show room dengan harga diskon tentunya,” ucap Adi menambahkan. Ditanya apa yang meyakinkan hingga berani berinvestasi dengan dana sebesar ini. “Para penggemar motor antik di Bali sangat besar. Selain itu, lokasi Deus yang berdekatan dengan Pantai Batu Bolong kerap

disinggahi oleh para peselancar. Pangsa utama yang kita bidik adalah bikers dan surfer. Ketika mereka ingin makan dan minum sudah ada restoran, ketika mereka pengen belanja pakaian atau papan slancar sudah ada di show room,” jawab Adi. Banyaknya komunitas modifikasi motor di Bali tak menyurutkan semangat Deus Bali. justru beberapa komunitas bikers menjadi partner Deus. Begitu pula dalam hal desain, semuanya sengaja tidak dipatenkan. “Kemarin misalnya kita baru diundang oleh Komunitas Kuda Besi Bali. kita meletakkan diri sebagai perusahaan modifikasi yang profesional. Dalam hal desain, justru kalau ada yang tiru,kita bangga. Berarti orang banyak yang mengenal kita. Tugas kita tinggal mengembangkan. Makanya kita cukup berani untuk mempekerjakan tenaga profesional,” kata Adi mengakhiri perbincangan dengan M&I. (Foto: Dedet)

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

29


f

f

smar t ami l y

s mar t amily

Oleh Suzana Chandra Managing Director- Lestari Living

Yes… lemari baju saya penuh dengan baju kerja yang cantik, beberapa tas dan sepatu cantik juga melengkapi koleksi saya. Tidak ketinggalan handphone model terbaru dan beberapa gold credit card terpampang manis di dompet. Saya juga menjadi pengunjung setia beberapa restaurant dan salon kecantikan. Bapak Ibu sekalian, saya sangat beruntung bahwa saya cepat tersadar dari ‘fenomena tersebut’. Dengan mulai membekali diri dengan “financial intellectual” saya mulai menyadari bahwa bukan hanya tingkat penghasilan yang memegang faktor penting dalam wealth creation, tetapi bagaimana kita membelanjakan penghasilan tersebut juga tidak kalah pentingnya. Kebanyakan kita lupa pada persamaan yang sangat mendasar bahwa jika: Penghasilan lebih kecil dari pengeluaran, maka kita akan berada pada tingkat “tidak cukup” ; Penghasilan sama dengan pengeluaran , maka kita akan berada pada tingkat ‘cukup’. Dan hanya pada saat penghasilan lebih besar dari pengeluaran , maka kita akan berada pada tingkat lebih dari cukup.

OMG...

Berapa sih penghasilan yang cukup itu? “WOW (baca We Oh We)… uang Rp. 50,000 tidak habis padahal sudah ngajak 3 anak sewa motor cilik , terus mampir ke warung, makan buras (semacam semar mendem), minum fruit tea dan pulangnya masih bawa sesisir pisang emas… masih ada kembalian lagi”.

I

tu adalah kejadian setahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Rangkasbitung - daerah Banten yang merupakan kota kelahiran saya. Saya dan kakak ipar saya, sampai tercengang-cengang… dan tidak habis pikir, dijaman ‘gini’ uang Rp. 50,000 bisa bertahan, bisa nyenengin anak-anak, perut kenyang, bawa bungkusan makanan dan sesisir pisang… eh, masih ada sisa uang kembalian. OMG (baca Oh eM Ge – Oh My God). Hal yang sangat berbeda terjadi minggu lalu di Singapore, dimana anak saya masuk ke toko “Candylicious” dan dalam waktu 10 menit keluar dengan tas belanja kecil yang cantik berisi permen seharga Rp. 350,000. Sekali lagi saya mengeluarkan istilah OMG (baca Oh My God!). Apakah ada yang salah dari kedua cerita di atas? Kedua hal yang sama-sama bertujuan menyenangkan anak, tapi melibatkan angka rupiah yang sangat berbeda.

30

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Jadi, berapa sih sebenarnya penghasilan yang cukup itu? Pada saat saya pertama kali bekerja, sekitar 18 tahun yang lalu, penghasilan 1 juta cukup untuk membiayai hidup saya. Pada saat penghasilan naik ke 5 juta, juga cukup. Kemudian naik ke 10 juta, juga cukup saja. Nah lho… kok bisa ya? Penghasilan 10 kali lipat dari awal kerja, tapi kondisi “cukup” tidak berubah. Sempat bertanya-tanya juga, jadi saya perlu penghasilan berapa nih untuk mencapai tingkat “lebih dari cukup”? Fenomena yang terjadi pada diri saya pada saat itu adalah, seiring dengan meningkatnya penghasilan saya, gaya hidup saya juga meningkat berbanding lurus bahkan eksponensial. Yaitu, dimana ada saat-saat tertentu, peningkatan gaya hidup jauh melebihi dari peningkatan penghasilan. Ingat cerita saya mengenai ‘credit card’ pada issue bulan Oktober 2010?

Analisa yang sangat sederhana ya..., tapi yang kebanyakan terjadi adalah kita meremehkan rumus ini. Kita terlena dan terbuai dengan godaan-godaan konsumtif, gengsi dan kemewahan. Kita secara sadar memilih ‘lupa’ akan rumus sederhana tersebut. Seperti cerita saya di atas, adalah ‘pilihan’ saya secara sadar dalam membelanjakan uang untuk menyenangkan hati anak-anak saya. Pilihan tersebut menyebabkan perbedaan pengeluaran sejumlah Rp. 300.000. Kita sering mendengar istilah “life is about choices” (baca: hidup adalah tentang pilihan). Demikian halnya dengan pembelanjaan uang, “It’s all about choices” (baca: semuanya adalah tentang pilihan). Kita memilih secara sadar untuk membelanjakan penghasilan kita baik untuk membeli flat screen TV, berlibur, ganti mobil, menabung, membeli tanah dan lain sebagainya. Dan tentu saja pilihan-pilihan ini akan memberikan konsekuensi, sebagaimana persamaan yang saya jelaskan di atas. Kalau kita kembali lagi ke diskusi “Berapa sih penghasilan yang cukup itu”. Kita kembali lagi ke definisi “cukup” yang notabene sangatlah berbeda dari satu individu ke individu yang lain. It’s all about choices and very personal. Berikut, saya akan menceritakan sedikit pembicaraan saya dengan seorang teman beberapa minggu yang lalu. Kami sedang membicarakan tentang “financial independence”

(kebebasan finansial), yaitu situasi dimana gaya hidup atau lifestyle kita dapat tercukupi TANPA kita harus bekerja secara aktif. Dengan kata lain, uang atau investasi kita bekerja dengan sendirinya dan dapat membiayai gaya hidup kita. Teman saya langsung menjawab, wah kalau gitu, saya masih musti aktif bekerja luaaaaama sekali donk … Mengapa? Karena gaya hidup yang dipilih adalah beberapa mobil mewah, anak-anak sekolah di Harvard - Amerika, rumah besar, dan target liburan keluar negeri paling tidak setahun sekali. Untuk ini, teman saya memerlukan penghasilan dan investasi yang cukup besar, supaya dapat membiayai gaya hidup yang dipilihnya. Berbeda sekali dengan “financial independence” mertua saya. Yang belum lama ini pensiun, karena memang sudah usia pensiun. Investasi sederhana yang mereka lakukan selama bekerja cukup untuk membiayai hidup sehari-hari yang relatif sangat sederhana, dan 1 (satu) kali liburan keluar negeri setiap tahunnya. Untuk ini, saya bilang “they have their financial independence” (mereka memiliki kebebasan finansial). Dua pilihan gaya hidup yang berbeda, menentukan sekali berapa banyaknya penghasilan dan investasi yang diperlukan/diakumulasikan, untuk bisa membiayai gaya hidupnya. Nah, coba diskusikan sejenak dengan suami/istri/pasangan anda. Gaya hidup seperti apa yang diinginkan? Dimana anakanak bersekolah, pendidikan seperti apa yang diharapkan untuk anak-anak dimasa yang akan datang, liburan seperti apa yang dimaui, mobil dan rumah bagaimana yang diinginkan, dimana belanja kebutuhan rumah tangga, jasa medis bagaimana yang diinginkan, umur berapa ingin mencapai “financial independence” dan seterusnya. Dari situ dapat di-’hitung ulang’ berapa sih penghasilan yang bisa dikategorikan cukup. Berapa sih investasi yang harus dimiliki, supaya pada usia yang kita mau, kita dapat mencapai “financial independence”. Kebanyakan yang terjadi, kita tidak merencanakan “gaya hidup” kita. Yang ada adalah “gaya hidup yang impulse”. Yaitu, mendadak, tanpa perencanaan, dan biasanya tanpa tahu darimana sumber pembiayaannya. Kelanjutannya adalah , berapapun penghasilan kita menjadi “hanya cukup” dan bahkan seringkali ‘tidak cukup” untuk membiayai lifestyle kita. Untuk anda yang membaca artikel ini, harapan saya, ‘gaya hidup impulse’ dapat dijauhi. Dari diskusi di atas, ternyata kita sendiri lah yang menentukan berapa penghasilan yang cukup? Selamat berdiskusi dan menentukan gaya hidup yang dijalani dan diharapkan. Good luck...  Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

31


p olling

Tabungan Sehari-hari atau untuk masa depan? Oleh Team Kopi Panas

P

olling kali ini, kami menanyakan kepada responden apakah mereka memiliki tabungan. Dan jika memiliki, jenis tabungan apa yang dimiliki; apakah tabungan yang dapat ditarik sewaktu-waktu untuk kebutuhan sehari-hari ataukah tabungan yang tidak pernah diambil saldonya untuk jangka waktu panjang.

GED telah berkembang menjadi penyedia jasa layanan pengiriman udara yang mandiri. Sejak berdirinya GED telah memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan standar layanan yang sesuai dengan standar internasional untuk sebuah perusahaan courier dan cargo. Selain memiliki jaringan yang tersebar diseluruh Indonesia, kecepatan dan ketepatan waktu penghantaran, keleluasaan waktu pengambilan, informasi tracing dan tracking pengiriman yang akurat dan cepat, GED senantiasa mengedepankan tingkat layanan yang bersumber dari keunggulan sumber daya manusia dalam upaya memenuhi kepuasaan pelanggan.

SERVICES: Same Day Service Layanan pengiriman dengan waktu tiba di kota tujuan pada hari yang sama Overnight Service Layanan pengiriman untuk tiba pada keesokan harinya Regular Service Layanan pengiriman dengan masa tiba 1-2 hari International Courier Service Layanan pengiriman international door to door

PT. GANESHA EMAS DWIPA

32

Jl. Pulau Kawe No. 53 Denpasar, Bali 80222 - Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011 Phone : (0361) 264320, 234461 Fax : (0361) 247985 Email : denpasar@ged.co.id Website : www.ged.co.id

Sebagian besar responden, 97,3% sudah memiliki tabungan, dan ternyata ada responden yang belum memiliki tabungan jenis apapun, yaitu sebesar 2,7%. Dari 97,3% responden pemilik tabungan tersebut, 43,2% di antaranya memiliki 2 jenis tabungan, yaitu tabungan untuk kebutuhan sehari-hari dan juga tabungan untuk jangka panjang. Jenis tabungan jangka panjang yang dimiliki, juga bervariasi; 33% diantaranya memiliki tabungan yang dapat ditarik dalam jangka waktu panjang (semacam deposito); baik untuk bisnis maupun untuk persiapan masa tua, dan 19,4% memiliki investasi masa depan berupa asuransi. Dari hasil polling ini dapat dilihat gambaran bahwa tidak semua orang memiliki kesadaran untuk membuat persiapan dana untuk masa depannya. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

33


whats

New

wh ats

Setelah sekian tahun menunggu kini sebagian masyarakat Bali boleh bergembira karena yang beberapa tahun belakangan ini hanya sebuah “gossip” kini jadi kenyataan. Restaurant Jepang Hoka-hoka Bento sudah hadir dua outlet di Bali, yaitu di Jalan Teuku Umar Denpasar dan di Mall Bali Galleria, Kuta. Bagi mereka yang pernah merasakan sedapnya makanan siap saji khas Jepang ini pasti rasa kangen itu sudah terbayar

34

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

A

walnya Hoka hoka bento adalah sebuah counter yang melayani pesanan menu box khas Jepang untuk dibawa pulang di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, pada tgl 18 April 1985. Namun perlahan berubah menjadi restoran hingga seperti sekarang ini dengan jumlah outlet 131 termasuk dua outletnya di Bali. “Bali merupakan daerah yang sangat potensial untuk industri jasa boga”, demikian jelas Bapak Sugiri, Marketing Manager dari Hoka Hoka Bento. “Hoka Hoka Bento hadir dengan memberikan layanan yang terbaik dan lengkap, antara lain: 2 outlet sekaligus, yakni di Mall Bali Galleria pada tgl 16 November dan Jl Teuku Umar no 52, pada tanggal 26 November 2010, di samping itu juga layanan antar (delivery). Layanan ini bisa di akses

New

di manapun dan bisa mengirimkan pesanan ke semua lokasi di kota yang ada Hoka Hoka Bento antara lain: Jabodetabek, Cilegon, Bandung, Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Bali. Di samping itu khusus untuk di Teuku Umar di sediakan layanan Drive Thru dengan sistem Touch Screen , yang merupakan layanan yang pertama di Indonesia.” Lanjut Bapak Sugiri Dari bincang-bincang kami baru saja kami tahu bahwa ternyata Hoka Hoka Bento adalah merek Dagang Indonesia Asli yang mengusung bisnis restoran cepat saji yang bergaya dan cita rasa Jepang. Jadi restoran ini asli karya anak bangsa. Hal ini cukup mengesankan karena ternyata chain restaurant sekaliber ini biasanya hanyalah hasil franchise dari luar negeri. Luar biasa!

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

35


notefrom t he

g uru

no tefrom the

Hermawan Kartajaya

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Selamat Datang

Para Netizen!

P

ada akhir tahun 2009, di MarkPlus Conference 2010 di Ritz Carlon Ballroom, Pacific Place Jakarta, saya mengatakan bahwa tiga komunitas YWN (Youth, Women, Netizen) ini akan jadi Komunitas Masa Depan. Para Marketer yang mau menerapkan New Wave Marketing (baca: Horizontal Marketing) harus mau fokus pada tiga komunitas itu. Youth untuk merebut Mind-Share, Women untuk Market-Share dan Netizen untuk Heart-Share! Anak muda-bukan orang senior-bisa lebih mudah menerima ide baru. Perempuan- bukan laki laki-akan membeli barang untuk keluarga dan temannya. Sedang Netizen - beda dengan Citizen - lebih menggunakan hati nurani dalam mempertimbangkan suatu pilihan. Netizen sendiri sangat“horizontal”. Beda dengan Citizen yang selalu memikirkan perbedaan aspek “vertikal” seperti bangsa, suku, agama, kekayaan, pangkat, gelar dan sebagainya. Sehingga Netizen bisa dibilang lebih “inklusif”. Yang penting adalah “common interest” dan “affection”. Mereka “bergabung” dalam komunitas berdasarkan kesamaan minat dan afeksi itu tadi.

36

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Jadi tugas para New Wave Marketer sekarang jadi lebih berat dari Legacy Marketer jaman dulu! Mereka mesti diterima atau “confirmed” dulu oleh sesuatu Komunitas, barulah mereka bisa dipercaya ketika berinteraksi sebagai teman! Tapi ada lagi yang perlu diperhatikan saat merangkul Netizen. Yaitu kebebasan berpendapat. Lihat saja pada kasus Paris Hilton beberapa waktu yang lalu. Konon, Paris “kesel” ketika ditahan di Tokyo Airport berjam-jam dan tidak boleh masuk ke Tokyo, karena dicurigai terlibat narkoba. Dan akhirnya tour Asia-nya dibatalkan, padahal Paris sudah dijadwalkan untuk hadir di pembukaan Paris Hilton Bags and Accessories di Pavilion Mall, Kuala Lumpur dan Plaza Indonesia, Jakarta. Mendadak saja pengikutnya di Twitter yang berjumlah dua juta orang lebih jadi kecewa. Muncullah puluhan pesan di Twitter seperti:“Paris Hilton Asia Tour cancelled. I’m so disappointed. Planned to attend her perfume & bag launch @ Pavilion KL.” oleh @erickmly dari Kuala

g u ru

Lumpur. Sedang dari Jakarta, ada @ignatiazora yang men-tweet “Paris Hilton batal tour ke Asia, termasuk ke Indonesia. Padahal tgl 25 gue udh rencana dtg ke acaranya di GI. ”

online paling berhasil, Zappos.com, yang justru tidak menawarkan harga paling murah. Layanan personal dan kemudahan mencari sepatu adalah keunggulan kompetitif mereka.

Di lain pihak, muncul juga komentar seperti yang diungkapkan oleh Marina Mahathir, melalui status Facebook, “Marina Mahathir is quite amused that everyone’s pulling all the stops to make sure Paris Hilton can come to KL, despite a drug conviction and being banned from entering Japan. Maybe we should organize a stop for her in Chow Kit to meet fellow drug users?”

Jadi para New Wave Marketer, beda dengan Legacy Marketer, harus mempertimbangkan “affective factor” ini supaya disukai Netizen. Persaingan jualan di Internet sebenarnya jauh lebih berat dibanding dunia nyata. Karena tidak seperti Legacy Marketer, para New Wave Marketer harus bisa menarik para Netizen bukan hanya dengan harga murah! Tapi harus ada berbagai aspek yang bisa membuat para Netizen FEEL happy ketika “masuk” ke web mereka.

Berbeda dengan komentar sebelumnya, putri sulung mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad ini justru mengutarakan ketidaksetujuannya pada kehadiran Paris Hilton dengan menggunakan Facebook. Jadi dunia virtual dimana para Netizen “beraktifitas” ini memang tempat beradunya hati nurani yang beda-beda! Menjadi tugas New Wave Marketer untuk memahami dan ikut menggunakan “hati nurani” nya supaya bisa memenangkan heart-share. Lantas, bagaimana peranan Netizen dalam dunia bisnis? Konon, tujuh puluh persen dari penjualan tiket Air Asia di Malaysia adalah melalui Internet! Bahkan tulisan www.airasia.com ada di badan pesawat! Sedangkan Plasa.com, yang cucu perusahaan Telkom Indonesia, sudah mengawali jadi online department store untuk para Netizen. Baru-baru ini, CEO-nya Shinta W. Dhanuwardoyo bahkan sudah tanda tangan kerjasama dengan e-Bay, toko lelang online paling ternama di dunia. Kerjasama ini untuk mendorong penjualan produk-produk Indonesia keseluruh dunia. Awalnya dulu, memang banyak orang beli barang di Internet untuk mengejar harga murah. Namun sekarang, harga bukan satu-satunya faktor penting bagi para Netizen. Tapi rasa “nyaman” untuk mendapatkan informasi membuat para Netizen lebih menyukai membeli lewat Internet. Lihat saja toko sepatu

Michael Hauben, yang dikenal sebagai orang pertama yang mencetuskan istilah Netizen, dalam tulisannya, yang dibuat saat usianya baru 28 tahun, sudah menulis bahwa Internet itu merupakan proses Demokratisasi dari segala sesuatu. Semua Netizen akan punya suara dan bisa mengemukakannya. Para New Wave Marketers harus berubah paradigma ketika “berhadapan” dengan Netizen. Para Netizen tidak suka didikte. Tapi mereka suka diajak berinteraksi secara sukarela. Mereka suka melakukan Conversation atau diskusi dua arah, bukan cuma di “hantam” dengan Promosi yang satu arah. Para New Wave Marketer harus jadi seorang Demokrat sejati! Tidak bisa jadi Diktator uang yang “memaksakan” kehendak. Mana mau Netizen menerima begitu saja sebuah produkyang ditawarkan Legacy Marketer! Para Netizen tidak mau sekedar jadi Target Market! Mereka mau jadi “marketer” juga, kalau mereka suka, mereka akan dengan suka rela membantu pemasaran sebuah produk dari marketer lain, asal mereka “jatuh hati”. Jadi? Apa kunci sukses di era “horisontal” ini? Sambutlah para Netizen, karena kini dunia sudah memasuki era mereka. Ingatlah, Love your Customer, Love your Netizen. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

37


f rontof

m i nd

f rontof

m in d

Geoff Goodfellow

T

Brain Behind Blackberry Siapa tak kenal Blackberry, sebuah device mobile phone yang beberapa tahun lalu tidak dilirik orang karena bentuk yang “gendut” dan keypad yang rumit (qwerty). Tapi siapa sangka jika saat ini Blackberry sudah begitu mendunia. Bahkan majalah Fortune Agustus 2009 menyebutkan bahwa RIM, produsen Blackberry sebagai “fastest growing company in the world” dengan pertumbuhan lebih dari 84% dalam jangka waktu tiga tahun.

38

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

api sedikit yang mengetahui bahwa orang dibelakang layar yang menciptakan design technology Blackberry sekarang ini adalah seorang Dics Jockey (DJ). Namanya Geoff Goodfellow, seorang Silicon Valley entrepreneur yang idenya mampu menghasilkan uang sebesar US$ 612 juta. Tetapi herannya tidak sepeserpun dari uang tersebut pernah dia nikmati. Lebih herannya dia tidak terlalu menghiraukannya. (http://blog. trinetizen.com/wordpress/) Memang Geoff adalah seorang yang eksentrik karena dia tidak pernah mematenkan ide-idenya. Menurut New York Times dia adalah seorang yang tidak mau memenjarakan idenya dengan patent tetapi justru dengan melakukan penemuan-penemuan dan mengembangkan ide-ide yang terus berubah, yang lebih baik, lebih cepat dan lebih murah.

Idenya yang disebut RedMail yang kemudian membuatnya masuk ke Research in Motion, RIM Mobile Data, and Ericsson dimulai dari sejak tahun 1982 setelah dia drop out dari SMA. Saat itu dia memulai menciptakan pesan elektronik melalui alat portable yang disebut Electronic Mail for People on the Move. Seperti yang kita nikmati saat ini. Namun diawal tahun dia mengembangkannya melalui alat yang disebut pager. Dia berusaha mendapatkan keuntungan dari teknologi yang diciptakannya itu tapi nampaknya kurang berhasil dan dia memilih untuk ke Praha dan mendirikan sebuah Bar disana. Saat ini Geoff dikenal sebagai orang yang sangat menikmati profesinya sebagai DJ dan semenjak tahun 2006 Wikipedia mencatat dia saat ini mulai sibuk melakukan penelitian yang disebutnya sebagai: the cause, nature and origin of the critical state of disharmony on our planet. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

39


l iterat ure

l ite ratu re

Pribadi Budiono Direktur BPR Lestari

Buku ini merupakan pegangan menuju kekuatan terbesar di semesta. Daya untuk memiliki segala yang Anda inginkan. Tanpa Daya, Anda takkan pernah lahir. Tanpa Daya, tiada satu manusiapun di planet ini. Setiap penciptaan, penemuan dan kreasi manusia berasal dari Daya. Kesehatan sempurna, jalinan hubungan yang luar biasa, karier yang Anda cintai, hidup yang penuh kebahagiaan, dan uang yang Anda butuhkan untuk menjadi, melakukan, dan memiliki segala yang Anda inginkan, semua berasal dari Daya. Hidup impian Anda selalu lebih dekat dengan Anda daripada yang Anda sadari, karena Daya, untuk memiliki semua hal yang baik dalam hidup ini, ada dalam diri Anda. Untuk menciptakan apapun, mengubah apapun, hanya satu yang dibutuhkan yaitu... DAYA

R

honda Byrne memulai perjalanannya dengan film The Secret, yang ditonton oleh jutaan orang seluruh dunia. Disusul dengan buku The Secret, yang menjadi best seller di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa. Kini dengan The Power, Rhonda Byrne melanjutkan karya inovatifnya, mengungkapkan suatu kekuatan tunggal paling dahsyat di semesta kita. Di dalam buku ini Rhonda Byrne ingin menunjukkan kepada Anda cara mendapatkan kehidupan yang menakjubkan. Ada begitu banyak yang perlu Anda ketahui tentang kehidupan dan semuanya indah; bukan hanya indah, namun juga fenomenal. Hidup ini jauh lebih mudah daripada yang Anda sangka dan begitu Anda memahami bagaimana kehidupan ini berjalan dan Daya yang Anda miliki di dalam diri Anda, Anda akan mengalami keajaiban hidup yang seutuhnya dan Anda akan memiliki kehidupan yang menakjubkan.

40

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Kalau untuk menggapai semua itu diperlukan Daya. Apakah Daya itu...? Sebagian besar orang menjalani kehidupan yang menyenangkan tidak menyadari sepenuhnya apa yang membuat mereka mencapai kehidupan menyenangkan itu. Tetapi mereka MEMANG melakukan sesuatu. Mereka menggunakan daya yang merupakan sumber segala sesuatu yang menyenangkan dalam hidup. Tanpa pengecualian, setiap orang yang menjalani kehidupan yang menyenangkan menggunakan CINTA untuk mencapai kehidupan itu. Daya untuk memilki segala sesuatu yang positif dan menyenangkan itu adalah CINTA. Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan Anda. Segala sesuatu yang Anda ingin menjadi, lakukan atau miliki berasal dari Cinta. Tanpa Cinta, Anda tidak akan bergerak. Tidak akan ada kekuatan positif untuk mendorong Anda melakukan apa pun. Anda akan seperti batu. Kekuatan positif Cinta lah

yang memberi Anda Inspirasi untuk bergerak dan memberi Anda hasrat menjadi, melakukan dan memiliki apa pun. Kekuatan positif Cinta dapat menciptakan apapun yang menyenangkan dan mengubah apa pun yang negatif dalam hidup Anda. Hukum tarik-menarik adalah hukum cinta dan hukum inilah yang berlaku dalam hidup Anda. Apapun yang Anda berikan ke dalam hidup ini adalah yang Anda terima kembali dalam hidup. Berikanlah hal-hal yang positif, Anda menerima yang positif. Berikanlah hal-hal yang negatif, Anda dapatkan kembali yang negatif. Kehidupan tidak terjadi begitu saja pada Anda, Anda menerima segala hal dalam hidup Anda berdasarkan apa yang Anda berikan. Anda memiliki kemampuan tak terbatas untuk memikirkan dan membicarakan apa-apa yang Anda sukai dan karena itu Anda memiliki kemampuan tak terbatas untuk menghadirkan segala sesuatu yang menyenangkan dalam hidup ini kepada diri Anda. ”Berikan Cinta, karena ketika mencintai, Anda menggunakan kekuatan paling dahsyat di semesta”. Segala sesuatu di alam semesta ini bersifat magnetis dan masing-masing memiliki frekuensi magnetis termasuk pikiran dan perasaan Anda. Apa pun yang Anda rasakan entah baik atau buruk menentukan frekuensi Anda dan Anda menarik orang-orang, kejadian dan keadaan-keadaan yang berfrekuensi sama. Ubahlah frekuensi Anda setiap waktu dengan mengubah perasaan Anda, maka segala sesuatu di sekitar Anda akan berubah karena Anda berada dalam frekuensi yang baru. Bila terjadi sesuatu yang negatif dalam hidup Anda, Anda dapat mengubahnya. Tidak pernah ada kata terlambat, karena Anda selalu dapat mengubah perasaan Anda. Banyak orang menyerahkan perasaan mereka ke kendali otomatis, perasaan mereka adalah reaksi terhadap apa yang terjadi pada mereka. Namun mereka tidak menyadari bahwa perasaan mereka itulah yang menjadi penyebab segala sesuatu yang terjadi pada mereka. Untuk mengubah segala sesuatu, apakah kondisi keuangan, kesehatan, hubungan atau masalah apa pun juga, Anda harus mengubah perasaan Anda. Singkirkan kosa kata seperti tidak bisa, kacau, mengerikan, menyebalkan dan kata-kata negatif lainnya. Gunakan lebih banyak kata-kata seperti fantastis, menakjubkan, keren, hebat, dahsyat dan luar biasa. Gunakan secara konsisten dan setiap hari maka keajaiban akan menyertai Anda. ”Bagaimana Cara Penciptaan Daya?” Untuk memanfaatkan kekuatan cinta dalam hidup Anda agar menyediakan apa yang Anda inginkan atau mengubah yang tidak Anda inginkan, proses penciptaannya sama saja; Bayangkanlah, Rasakanlah, dan Terimalah. Imajinasi Anda menghubungkan Anda dengan apa yang Anda inginkan. Keinginan Anda dan perasaan cinta Anda menciptakan daya magnet, kekuatan magnetis, yang menarik apa yang yang Anda inginkan ke diri Anda. Bayangkanlah diri Anda sudah bersama dengan keinginan Anda itu. Pada saat

bersamaan, rasakanlah cinta terhadap apa yang Anda bayangkan. Hasratkan apa yang Anda inginkan itu dengan sepenuh hati karena hasrat adalah rasa cinta dan Anda harus mengungkapkan rasa cinta untuk menerima apa yang Anda cintai. Ketika Anda membayangkan segala sesuatu yang positif yang Anda inginkan dan cintai, Anda memanfaatkan kekuatan cinta. Kerahkan imajinasi Anda seluas-luasnya dan bayangkan yang terbaik yang dapat Anda bayangkan apa-apa yang Anda inginkan itu. Apa pun hasrat yang dapat Anda bayangkan sudah ada. Tak masalah apakah itu, bila Anda dapat membayangkannya, ia sudah ada dalam ciptaan. Ketika Anda sudah menyelesaikan peran Anda dalam proses penciptaan, Anda sudah berpindah ke dunia baru yang menyediakan segala sesuatu yang Anda inginkan meski Anda belum melihatnya. Ketahuilah Anda akan menerimanya. Imajinasi Anda lebih nyata daripada dunia yang Anda lihat karena dunia yang Anda lihat berasal dari apa-apa yang Anda bayangkan dan yakini. Apa yang Anda yakini dan rasakan sebagai nyata itulah yang akan mewujudkan ke dalam hidup Anda. Apa pun kisah yang Anda ceritakan, baik atau buruk akan menjadi kisah hidup Anda. Jadi mulailah menceritakan kisah hidup Anda yang menakjubkan dan hukum tarik-menarik, niscaya akan memastikan agar anda memperolehnya. Katakan pada hukum tarik-menarik apa yang Anda cintai setiap hari dengan memfokuskan pada apa yang Anda cintai dan merasakannya. Untuk mengubah perasaan Anda atau menaikkan rasa senang ke tingkat yang lebih tinggi lagi, buatlah daftar dalam pikiran Anda segala sesuatu yang Anda cintai dan kagumi. Tugas Anda adalah mencintai sebanyak mungkin setiap hari. Lakukan upaya sadar untuk menyadari sebanyak mungkin segala sesuatu yang Anda cintai di sekitar Anda, sebanyak-banyaknya setiap hari. Makin besar cinta yang Anda berikan, dan makin besar yang Anda terima. Apa pun yang Anda inginkan, gunakan imajinasi Anda, gunakan berbagai pendukung yang dapat Anda temukan, ciptakan permainan dan bermainlah. Hukum tarik-menarik tidak tahu apakah Anda sedang membayangkan ataukah Anda sedang bermain-main, maka apa pun yang Anda tampilkan dan mainkan di dalam imajinasi Anda akan menjadi nyata. Bertindaklah seakan-akan Anda sudah memilikinya sekarang. Apapun yang Anda bayangkan dengan perasaan cinta Anda, itulah yang Anda berikan kepada hukum tarikmenarik, dan Anda niscaya menerimanya. Bila yang Anda inginkan belum juga didapat, itu hanya soal waktu yang Anda perlukan untuk mengalami frekuensi perasaan yang sama dengan frekuensi yang Anda inginkan itu. Bila Anda merasa sangat senang terhadap sesuatu dan merasa takjub, seraplah energi itu dan bayangkanlah impian Anda. Selamat membaca buku terbaru ”THE POWER” karya Rhonda Byrne, semoga Anda terinspirasi dan sukses. Terima kasih. Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

41


small

b iz

s ma ll

b iz

penikmat kuliner, baik lokal Bali maupun luar Bali. Tak sampai di situ saja, aromanya pun telah menggoda selera para wisatawan dari berbagai belahan benua yang melancong ke Bali. Itu pula yang menjadi cikalbakal kenapa ada banyak coretan di dinding.

Menu Sexy Rasa Menggigit

Depot Bebek Legit

“Waktu itu ada wisatawan Jepang yang mampir untuk menikmati menu spesial kami. Ia ingin sekali mengungkapkan ekspresi kepuasannya. Ingin menuliskan sesuatu, tetapi kami belum punya persiapan khusus. Spontan saya mengeluarkan spidol, lalu meminta dia untuk menulis di dinding. Sejak saat itu, setiap tamu yang ingin meninggalkan kesan dapat membuat coretan di dinding,” ujar wanita tengah baya ini menuntaskan rasa penasaran M&I. Selain menu utama bebek sexy, Depot Bebek Legit juga menyediakan menu lain sebagai alternatif. Terdapat Bebek Goreng, Bebek Bakar, Ayam Goreng, Ayam Bakar, Iga Bakar, Sop Buntut, Sayur Asam, dan lainnya. “Silahkan, Mas. Tuliskan sesuatu di dinding sebelum pulang,” kata Bu Lili. “M&I” begitu goresan yang ditinggalkan di dinding sebelum M&I meninggalkan tempat. Pengen coba yang sexy? Datang saja ke Depot Bebek Legit di Jalan Thamrin No. 63 Denpasar.

Oleh Mudda Bima

Siang itu udara terasa pengap. Sejak pagi hingga tadi raja siang tampak garang menyengat kulit. Kini langit tampak hitam pertanda hujan akan turun. Keringat bercucuran dari jidat dan sekujur tubuh setiap pelintas Jalan Thamrin Denpasar, termasuk reporter M&I yang tengah melakuan reportase di Pasar Badung. M&I memasuki sebuah depot sederhana untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Di atas spanduk yang tergantung di depan terdapat tulisan “Depot Bebek Legit”.

42

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

P

esanan bebek goreng dan sayur asam belum datang. Dinding-dinding tembok depot seakan menjadi magnet yang menarik pandangan mata M&I. Tak seperti depot dan rumah makan umumnya. Di sini tembok bercat dasar putih penuh dengan coretan. Terdapat tulisan nama, tanda tangan, kesan, tanggal bahkan terdapat foto. Bahasa yang digunakan pun bermacam-macam. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah juga terdapat tulisan dengan menggunakan aksara Jepang dan Cina. Pesanan telah tiba di hadapan M&I. Hasrat bertanya pada keanehan baru yang mengusik pikiran ditunda terlebih dahulu demi memenuhi hasrat raga yang mulai kendor. Hmmm… nasi bebek goreng ditambah sayur asam benar-benar memenuhi hasrat M&I, terasa pas di lidah. M&I iseng melirik daftar menu yang tergelatk di ujung meja sembari menikmati es jeruk. Ups, ternyata menu yang M&I pesan tadi adalah menu spesial milik depot tersebut. Di sana tertera tulisan “Bebek Sexy”. Saat memesan, M&I memang tak begitu cermat memperhatikan.

M&I mengeluarkan kamera dari dalam tas hitam khusus perlengkapan liputan. Setiap sudut tak ada yang lewat dari bidikan lensa kamera. Ibu Lili, pemilik Depot Bebek Legit merasa aneh dengan tingkah M&I yang langsung main jeprat-jepret datang menghampiri. M&I memperkenalkan diri. Sejak saat itulah kami mulai berbincang-bincang ngobrol dalam suasana penuh akrab. “Sejak kecil hingga sekarang, saya ini orang yang senang mencoba segala jenis makanan. Ketika bepergian ke suatu tempat, pertama kali yang saya cari adalah makanan khas setempat. Makanya saya tidak pernah belajar khusus memasak, saya hanya lebih rajin mencoba resep baru dengan racikan-racikan yang saya ciptakan sendiri. Dari proses coba-coba tersebut, tak sengaja saya menemukan racikan bebek sexy ini,” tutur wanita asal Malang ini kepada M&I. Menurut Bu Lili, nama bebek sexy sendiri sebagai ekspresi untuk menggambarkan rasa di dalam daging bebek yang telah dibumbui resep racikannya. Pesona bebek sexy Bu Lili telah menggetarkan lidah para Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

43


communi t y

e nte rp ri s e

Pasar Badung

Lebih Dari Transaksi Ekonomi Oleh Mudda Bima Malam yang dingin. Jarum jam tangan menunjukan pukul dua dini hari. M&I menghapiri kedai kecil di bantaran sungai Pasar Badung. Segelas kopi panas dan penganan khas Bali terbuat dari beras ketan bumbu kelapa dan gula cukup menghangatkan badan. Semula hujan rintik, kini semakin deras. Sementara aliran air di Tukad Badung semakin meluap.

co mmunit y

seakan mengisahkan sebuah perjalanan hidup. Mata M&I mulai berat menahan rasa ngantuk. Dua gelas kopi panas dipesan, satu buat M&I satunya lagi buat Si Kakek.

Hujan tak kunjung reda. Atap lapak Mbok Mang dari plastik seadanya tak sanggup lagi menahan guyuran hujan. M&I segera pamit, lalu meluncur menuju teras komplek Pasar Kumbasari. Pasar Kumbasari menjual barang-barang kerajinan khas Bali dan hanya buka pada siang hari. Malamnya, di bagian teras dan halaman lantai dasar gedung dimanfaatkan oleh pedagang sembako untuk tempat lapak. Menjelang pagi, tempat sudah dibersihkan kembali. M&I berdiri mendekatkan badan pada sandaran tembok teras gedung agar dapat mengamati aktivitas pedagang. Tukang suwun (baca: buruh junjung) sibuk menawarkan jasa kepada pengunjung pasar yang sedang belanja. Tak perlu repot menenteng sendiri barang belanjaan dalam jumlah yang banyak, sebab bila Anda mau, sudah ada tukang suwun yang siap mengangkat barang belanjaan Anda dari pasar menuju parkiran kendaraan yang Anda tumpangi. Besarnya upah tergantung kesepakatan dan jumlah barang yang Anda bawa. Umumnya berkisar antara Rp 1000,- sampai Rp 5000,-. Pada malam sebelumnya, M&I berkenalan dengan Ni Ketut Dharmini, tukang suwun asal Klungkung. Wanita beranak satu tersebut datang ke Pasar Badung setiap hari, dari jam delapan malam hingga jam enam pagi. Dua tahun yang lalu, Dharmini awalnya diajak oleh tetangga yang lebih dulu bekerja sebagai tukang suwun. “Awalnya saya merasa canggung dan malu. Apalagi kalau dilihat oleh orangorang yang saya kenal. Tetapi lama-lama saya jadi terbiasa. Penghasilan juga cukup memuaskan,” ungkap Ibu muda tersebut pada M&I. Berkat kerja kerasnya, Dharmini menjadi penopang ekonomi keluarga. Cicilan sepeda motor baru saja ia selesaikan sebulan yang lalu. Motor menjadi kendaraan yang ia gunakan setiap datang ke pasar, siangnya dipakai oleh suami untuk mengantar anak sekolah dan berangkat ke tempat kerja kalau ada panggilan. Maklum suaminya hanya seorang buruh bangunan. Pekerjaan tidak selalu ada.

e nterprise

Suguhan kopi panas cukup ampuh mengakrabkan M&I dengan Si Kakek. Ada kehangatan dibalik tatapan matanya yang mulai redup dimakan usia. Ia biasa dipanggil Ka’Lombok (Ka’ sebutan kakek dalam Bahasa Bali). Seperti namanya, sudah bisa ditebak ia berasal dari Lombok. Ia mengaku datang ke Bali sejak usia muda, tepatnya ia tidak ingat. Sebagian besar pedagang di Pasar Badung mengenal Ka’ Lombok, lebih-lebih pedagang lama. “Waktu itu pasar masih sepi. Jalan belum ada yang diaspal. Belum ada bangunan gedung seperti sekarang. Kalau beli nasi di warung masih dibungkus daun jati,” ucap Ka’ Lombok dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Hujan mulai reda. Jarum jam menunjuk pukul empat pagi. Pengunjung pasar mulai ramai. M&I lekas turun dari gedung Pasar Kumbasari, menyusuri jalan becek akibat guyuran hujan, melewati jembatan kecil yang menghubungkan Pasar Kumbasari dengan Pasar Badung. Kedua pasar tersebut letaknya bersebelahan, dipisahkan oleh Tukad Badung. Pasar Kumbasari khusus menjual barang-barang seni, sedangkan Pasar Badung menjual kebutuhan sembako, bahan kebutuhan persembahyangan umat Hindu, buahbuahan, dan lain lain. Sekarang M&I nongkrong di depan teras toko Jalan Sulawesi, tepat di depan pelataran parkir Pasar Badung. Jalan Sulawesi terkenal sebagai pusat toko tekstil. Teras toko digunakan oleh para pedagang kopi pada malam hari. Mereka berjejer di sepanjang Jalan Sulawesi, mulai dari pertigaan Jalan Hasanudin hingga lampu merah perempatan Jalan Gajah Mada. Seorang kakek datang, lalu duduk agak jauh dari M&I. Pakaiannya tampak lusuh. M&I lalu menggeser posisi duduk agar lebih dekat dengan Si Kakek. Ia terlihat santai, sebatang rokok kretek keluar dari kantong bajunya, disulut dengan korek gas, lalu dihisap dalam-dalam. Kepulan asapnya

Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang menghampri Ka’ Lombok yang sedang asyik menuturkan sejarah Pasar Badung pada M&I. Rupanya dia sudah akrab dengan Ka’ Lombok. Wanita tersebut bernama Ketut Eni, pedagang sembako. Ia istirahat sejenak, menikmati kopi panas setalah bergelut dengan barang dagangan sejak sore. Usianya kini menginjak 42 tahun. Sudah berdagang di Pasar Badung sejak berusia 14 tahun. Ketut Eni mengaku hasil jualannya sekarang semakin menurun. Ditanya kenapa? “Soalnya di Denpasar dulu hanya ada Pasar Badung, Pasar Kreneng dan Pasar Satria, Mas. Sekarang ini pasar hampir ada di tiap desa. Belum lagi ditambah dengan supermarket, juga mini market di mana-mana. Saya ingat dulu banyak orang-orang bule juga belanja di sini. Sekarang mereka ke sini hanya jalanjalan dan foto-foto,” ungkap wanita asal Gianyar ini dengan nada datar. Tak terasa pagi telah tiba. Sinar matahari menyapu sisa-sisa kabut semalam, memantul di antara kaca jendela gedunggedung tua sepanjang Jalan Gajah Mada. Orang dari berbagai penjuru bertemu di satu titik “Pasar Badung” untuk mengais rejeki. Entah bertahan sampai kapan. M&I berlalu meninggalkan Ka’ Lombok dan Ketut Eni yang gelisah. Ada tulisan “Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada” di dinding tembok pada taman, tepat di pertigaan Jalan Gajah Mada – Thamrin. (Foto: Dedet)

K

omang Sumiyasih, biasa di sapa “Mbok Mang”, pedagang sayur kenalan M&I tak mau menyerah pada rutinitas alam di malam itu. Ia bergerak cepat berpacu dengan hujan, menutupi barang-barang dagangannya dengan plastik berukuran lebar agar tak basah. Beberapa jenis barang tak boleh kena air karena gampang membusuk. Beberapa pedagang yang memiliki tenda semi permanen bergegas membantu Mbok Mang, meski tak diminta. “Di sini kami sudah seperti keluarga, Mas. Kalau saya ada acara keluarga, teman-teman di sini pasti saya undang. Begitu juga kalau hari raya, kami saling mengunjungi,” tutur Mbok Mang pada M&I yang numpang berteduh di lapaknya.

44

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

45


communi t y

t

e nte rp ri s e

hig h- e chindex

Extreme Your Shoot! with Fat Gecko

F

at Gecko camera mount, membuat video dan fotografi yang unik menjadi memungkinkan untuk diambil hampir di semua sudut dan di setiap kecepatan yang pernah anda bayangkan. Dengan penggunaan dua kunci penghisap dan sekrup mounting universal, kamera atau camcorder dapat dengan aman dipasang di kendaraan atau benda pilihan anda. Dapat menahan berat maksimal 4 kg . Dengan empat sendi yang dapat disesuaikan dan optional bar extender, mudah untuk membuat gambar di atas kaca depan, sekitar panel instrumen, di atas setang, atau tempat lain dimana standar mount tripod atau kamera tidak akan bisa melakukannya ini adalah salah satu mount ekstrim untuk kondisi ekstrim. Ada beberapa jenis Fat Gecko • Fat Gecko Mini Mount ,menggunakan satu cup penghisap untuk mengamankan kamera compact yang dapat menahan beban maksimal 2kg. • Fat Gecko Bike Mount , Mount kamera yang dipasangkan dengan sepeda. Fat Gecko Gator, memberikan kebebasan untuk pengambilan diam dan rekaman video dalam hampir semua situasi. Untuk harga 1 jutaan alat ini layak dicoba.

46

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

47


af ter

h ou r

a f ter

Sang Laskar Menemukan “Panggung” Baru

MEDIRIA Oleh Mudda Bima

G

aya humor dan kreatif Joger tidak melulu dalam bentuk produk. Manajemen Joger pun dilakukan dengan cara yang sama. Mediria, meditasi yang langsung menimbulkan efek ceria salah satunya. Meditasi dilakukan secara rutin setiap hari Rabu pagi. Diikuti oleh seluruh anggota keluarga Joger (sebutan untuk karyawan). Mr. Joger juga mengundang orangorang di luar anggota keluarga, asal bukan orangorangan, juga bukan orang luar angkasa. Hehehe… Pemanasan dilakukan terlebih dahulu sebelum memasuki inti meditasi. Tentu pemanasan ala Joger, dengan cara penuturan cerita-cerita humor oleh Mr. Joger. Selanjutkan peserta diajak memasuki inti meditasi. “Tarik nafas pelan-pelan, tahan! Hitung

48

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Meditasi Ceria Ala Joger satu sampai tujuh, lepaskan pelan-pelan. Sekarang pejamkan mata lalu berbaring dalam posisi nyaman. Bayangkan pengalaman-pengalaman lucu yang pernah Anda alami. Lalu, tertawalah!” demikian abaaba dari Mr. Joger saat memimpin mediria. Peserta pun tertawa terbahak-bahak. Tetapi, tidak sampai muntahmuntah. Ha ha ha… M&I yang hendak mewawancarai Mr. Joger akhirnya menjadi korban mediria. Efek ceria langsung terasa. Pikiran plong. Segala ketegangan terasa kendor kembali. Termasuk ketegangan menjelang wawancara Mr. Joger. Hmmm… Joger ada-ada saja. Namun, tidak mengada-ada. (Foto: Dedet)

h ou r

A

ndrea Hirata, sang penulis novel LASKAR PELANGI sedang mempersiapkan pementasan karyanya fenomenalnya dalam bentuk teatrikal musik yang akan segera digelar secara akbar dengan dukungan tokoh-tokoh pementasan yang paling wahid di negeri ini. Pementasan drama musical Laskar Pelangi akan mulai digelar 17 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Sebagai sutradara RiriRiza, music dan composer digarap Erwin Gutawa, naskah dan lirik lagu oleh Mira Lesmana, dan pengarah desain artistik oleh Jay Subiyakto. “Dari filmnya yang telah meraih 12 penghargaan internasional, saya yakin dengan karya musical ini juga akan sama. Saya sudah melihat presentasinya, saya yakin akan berhasil juga, karena saya percaya saja. Saya nggak terlalu ikut campur,” terangnya. “Saya selalu katakan dalam hati, yang penting apa yang karya saya hasilkan atau diadaptasi oleh orang lain, harus bertopang pada dua pilar yaitu edukasi dan lokalitas,” tambahnya menegaskan. Laskar Pelangi versi musikal ini dibintangi DiraSugandi, Lea Simanjutak, Eka Deli, penyanyi idola cilik Gabriel, Patton, Bastian, Ashilla dan dari AFI Junior, Teuku Rizki. Waktu pertunjukan pukul 19.00 pada Selasa dan Minggu serta ada waktu tambahan pukul 14.00 pada Sabtu dan Minggu.

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

49


s neakpe e k Mereka dipertemukan kembali kemudian ketika mereka bertugas bersama selama 6 bulan, disitu Yuri mulai jatuh cinta kepada Lara. Kisah epik percintaan ini berkutat antara kisah cinta segitiga diantara mereka. Tapi yang membuat film ini lebih penting, bukan hanya kisah cintanya, tapi cara pandang politikal perang di masa itu. Film ini mampu menyajikan semacam cerita perih dan luka perang dari cerminan cinta segitiga itu. Dimana banyak orang yang menderita kekacauan dan pergolakan di bawah rezim politik tersebut.

Oleh Elly Ten

C

erita klasik epik yang diangkat dari novel sastra di tahun 1958, karya Boris Pasternak ini meraih hadiah nobel. Film yang disutradarai oleh David Lean ini, menceritakan kisah percintaan seorang dokter yang sekaligus penyair. Mengambil latar belakang masa revolusi Rusia pada perang dunia pertama dan Perang Sipil Rusia (1918-1920). Film ini dibagi menjadi: Overture; Intermission; Enter’acte. Diawali oleh Yevgraf Andreyevich Zhivago (Alec Guiness), saudara tiri dari Yuri, yang mencari keponakannya yang hilang. Dibintangi oleh aktor kawakan Omar Sharif yang berperan sebagai Yuri Zhivago. Setelah ibunya meninggal karena sakit hati ditinggal oleh ayahnya, Yuri dibesarkan oleh teman ibunya, yang mempunyai seorang puteri bernama Tonya Komarovskaya, diperankan oleh Geraldine Chaplin, dan setelah menjelang dewasa, akhirnya mereka menikah.

Film ini mendapatkan 5 Oscar, 15 penghargaan dan 10 nominasi lainnya. Meski penyajian cerita seperti opera sabun diiringi melodi yang lembut, tapi pemandangan jalan-jalan yang bersalju di Moskow dan rumah besar di Varykino yang terbungkus oleh es yang ditampilkan membuat film ini tampak berkesan. Film yang berdurasi 3 jam 20 menit ini tidak akan membuat anda bosan untuk menontonnya. Anda benar-benar harus menontonnya sampai di akhir cerita, karena penyajian alur cerita, dan karakter dari masingmasing peran yang dimainkan sangatlah menarik. Dijamin anda akan terbawa untuk memutar film ini berulang kali.

Lalu menceritakan seorang gadis cantik, bernama Lara Antipova (Julie Christie) diusianya yang ke 17, terpukau akan gemerlap kehidupan yang di persembahkan oleh Victor Komarovsky, seorang hakim yang menjadi kekasih ibunya, dan akhirnya mereka terlibat affair, padahal dia sendiri sudah bertunangan dengan Pasha Antipo (Tom Courtenay) seorang remaja pejuang revolusi.. Pada akhirnya Lara hanya dijadikan bahan permainan oleh Victor, yang menyebabkan Lara dendam sehingga menembak Victor di suatu acara pesta natal, sejak itu Yuri mulai menaruh simpatik pada Lara.

50

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

Vol. 1 2 D ec 2 0 1 0 - J an 2 0 1 1 -

51


52

- Vol. 12 D ec 20 10 - Jan 2011

M&I magz ed 12  

M&I magz ed 12

Advertisement