Issuu on Google+

NEVER WORK AGAIN

Vol. 7 Jul - Aug 2010

A Myth or A Possibility? Road to Wealth Wealth Is Freedom

Growth Strategies Lucky is Just Preparation Waiting for an Opportunity

Smart Family

Apakah Rumah Kita adalah Asset Kita?

w w w. mo n e y- a n d - i . com

Rp. 25.000,-


Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

3


wordsfrom t h e

c ontents

d i re c to r Special Feature

07

Pimpinan Perusahaan

Alex P. Chandra

Tim Redaksi M&I Magazine

I Pt Agus Ariawan

danielGABE

Never Work Again A Myth or A Possibility?

Kopi Panas Productions

Supported by:

Alamat Redaksi: PT. BPR SRI ARTHA LESTARI Jl. Teuku Umar 110 Denpasar T. (0361) 246706 F. (0361) 246705 E. redaksi@money-and-i.com marcomm@bprlestari.com Direct Sales & Marketing for Advertisement T. 0361 744 884 www.money-and-i.com

Road to Wealth Wealth Is Freedom

13 Economic Focus Bisnis Oleh-Oleh. Menjanjikan, Selama Kunjungan Pariwisata Terjaga

18 Interview with The Millionaire I Ketut Mandia From Waker to Owner

Annisa Era Putri

Desain & Fotografi

Special Feature Never Work Again A Myth or A Possibility?

16 Growth Strategies Lucky is Just Preparation Waiting for an Opportunity

Public Relation

07 11

Pembaca yang budiman, M&I Edisi Juli tampil Lebih tebal. Kami Menambah Content dari 40 halaman menjadi 48 halaman. Yang Terbaru antara lain Note From The Guru, kontribusi dai Pak Hermawan Kartajaya.

20 Entrepreneur Interview Gusti Ngurah Anom

Road to Wealth Wealth Is Freedom

11

Sebagai Majalah bisnis yang memberikan Insight atas Best Practices untuk bidang Wealth Creation, kami mengupayakan lebih banyak interview dan bisnis profilling. Edisi Kali ini Tim kami lebih banyak melakukan Interview kepada Entrepreneur Sukses yang ada di Bali. Adapun yang telah di interview dalam majalah Edisi juli ini adalah I Ketut Mandia, seorang pengusaha advertising dan Gusti Ngurah Anom, pengusaha pasar oleh-oleh.

Economic Focus Selamat membaca.

13

Bisnis Oleh-Oleh Menjanjikan, Selama Kunjungan Pariwisata Terjaga

24 26

Green Business Pak Oles Tokcer Smart Family Apakah Rumah Kita adalah Asset Kita?

29 Polling Millionaire 0% dari Total Responden Tidak Memiliki Tabungan Untuk Masa Depan 30 Leisure Payung Rafting Bali 32 Special Column Introduction to New Wave Marketing 34 Front of Mind Li Jinyuan 36 Literature GIVING 38 Small Biz Home Biz Lukisan Tradisional Kamasan 40 Community Enterprise Membuat Perbedaan dengan Perusahaan Komunitas

Green Business Pak Oles Tokcer

Ilustrasi: Yana

Note: Kritik dan saran dapat dikirimkan ke: redaksi@money-and-i.com

4

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

24

43 High-Tech Index 44 After Hour 46 Sneak Peek Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

5


contr ibuto r

p ro f i l e

f

special eatures Hermawan Kartajaya

Alex P. Chandra

Direktur utama BPR Lestari

Pribadi Budiono

Direktur BPR Lestari

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Suzana Chandra

Managing Director- Lestari Living

Alex P. Chandra

I Made Wenten B.

Direktur utama BPR Lestari

Kabid Support& Operation BPR Lestari

Never work again? Sounds to good to be true‌? Bagaimana kalau katakan bahwa never work again is not a myth, it is a possibility! Dan setiap orang dapat melakukannya.

A

pakah anda suka ide bahwa kita tidak perlu bekerja lagi karena kita harus bekerja. Kita bekerja hanya karena kita memilih untuk bekerja.

We work not because we have to, but because we choose to.. Ya, never to work again, adalah suatu kondisi dimana kondisi finansial kita sudah aman. Kita tidak perlu lagi bekerja untuk memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Bekerja hanya karena kita memilih untuk bekerja, karena kita senang dengan pekerjaannya, karena kita merasa berarti dengan pekerjaan kita. Tentu saja, semua orang menginginkan kondisi seperti demikian. Bagaimana kalau saya katakan bahwa hampir semua orang yang tahu caranya, dan mau melaksanakannya, mampu mendapatkan status never to work again. Sounds a good idea?

6

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

A Myt A Poss h or ibility ?

Jadi bagaimana caranya? PASSIVE INCOME VS LIVING EXPENSE Kuncinya adalah menciptakan passive income. Yaitu income yang didapat dari investasi. Saya ulangi, passive income adalah pendapatan yang diperoleh dari investasi kita. Passive income adalah income yang didapat bukan dari kita bekerja. Passive income adalah ketika uang kita bekerja mencari kepada kita. Dengan investasi, uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja mencari uang. Jadi kunci never to work again, adalah mendapatkan pendapatan dari investasi. Artinya kita harus berinvestasi jika ingin tidak bekerja lagi. Kita harus berinvestasi jika kita menginginkan kondisi dimana kita tidak perlu bekerja kecuali kita memilih untuk bekerja.

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

7


f

f

special e at u re s Remember… kata kuncinya: INVESTASI! Tanpa INVESTASI, never to work again is only a myth. Kata kunci yang kedua adalah living expense, biaya hidup kita. Living expense adalah berapa biaya guna memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari sesuai denganlife style yang kita inginkan. Jika pendapatan dari investasi kita melebihi biaya hidup kita sehari-hari, maka pada saat itulah kita sebenarnya tidak perlu bekerja lagi, kecuali kita memilih untuk tetap bekerja. Ketika passive income melebihi living expense, then at that time we never have to work again. Contohnya: kebutuhan hidup dengan life style yang kita inginkan adalah 10 juta per bulan. Jika kita memiliki deposito sebesar 2 Milyar, bunga 9% pa, maka income dari deposito kita adalah 12 juta per bulan (net setelah dipotong bunga), maka passive income saya 12 juta. Sudah melebihi biaya hidup bulanan saya yang 10 juta. Ketika itulah maka sebenarnya saya tidak perlu lagi bekerja.

special eatures Pilih jenis investasi yang gampang dulu. Saya menyarankan untuk pemula berinvestasi pada tabungan atau deposito dulu yang gampang, sederhana dan relatif aman. Pilih jenis tabungan yang dicicil (installment saving). Minta bank untuk secara otomatis mendebet rekening tabungan transaksi kita ke jenis tabungan investasi ini. Salah satu produk yang saya rekomendasikan adalah tabungan SIKAYA dari BPR Lestari (tapi jangan terpengaruh dengan pesan sponsor ini, jika Bapak/Ibu menemukan produk lain yang lebih baik dari SIKAYA, silakan saja memilih produk yang lain). Dengan mulai kecil-kecil mencicil tabungan, kita mulai membangun our investment portfolio. Portfolio investasi mana yang akan semakin besar, semakin besar dan semakin besar, yang pada akhirnya hasil dari investasi tadi melebihi living expense kita.

Dengan life style yang lebih sederhana, katakanlah 10 juta sebulan, lebih mudah dicapai. Jika kita menginginkan life style yang lebih kompleks, misalnya 100 juta sebulan, tentunya dibutuhkan portfolio investasi yang jauh lebih besar, lebih kompleks, dan lebih lama mencapainya. Prinsipnya adalah kita perlu memperhitungkan dua variable ini; yang satu adalah portfolio investasi yang kita bangun sedikit demi sedikit, dan yang kedua adalah living expense sesuai dengan life style yang kita inginkan. Dengan menyederhanakan life style kita, lebih mudah kita mencapai kondisi never work again. Semakin tinggi target life style yang kita inginkan semakin besar portfolio investasi yang perlu kita bangun.

Ketika investasi yang kita bangun mulai mencapai jumlah yang cukup besar, lakukanlah reposisi terhadap cash kita. SIMPLIFIKASI HIDUP KITA Jika kita menginginkan never to work again, selain mulai membangun portfolio investasi kita, maka cara lain yang dapat ditempuh adalah menyederhanakan hidup kita. Artinya life style-nya di-manage.

Seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Tentunya kita bisa memilih life style yang kita inginkan. Apakah kita mau hidup dengan life style 10 juta sebulan atau 100 juta sebulan atau 1 Milyar sebulan.

Kata kuncinya adalah: MULAILAH SEKARANG!

Semuanya adalah pilihan.

8

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

LEARNING THE GAME OF INVESTMENT Yang perlu kita perhatikan dalam proses membangun portfolio investasi yang kita inginkan adalah kita perlu mempelajari rules of the game dari masing-masing jenis investasi tadi.

Ingat masing-masing investasi, baik business building, real estate investment, maupun stock investment memiliki karakteristik masing-masing yang berbedabeda.

REPOSISI YOUR CASH

Jika kita benar-benar menginginkan kondisi tidak perlu bekerja lagi, maka mulailah membangun investasi kita.

Jenis-jenis investasi di atas mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, return yang berbeda-beda dan membutuhkan ketrampilan yang berbeda-beda pula untuk membangunnya.

Tentunya pilihan investasi akan semakin beragam seiring dengan meningkatnya kemampuan finansial kita.

Begitu konsep sederhananya. Never work again dicapai ketika passive income melebihi living expense.

CREATE YOUR INVESTMENT NOW

Tentunya jenis-jenis investasi tadi membutuhkan ketrampilan yang berbeda-beda.

Misalnya dengan mulai menempatkan deposito yang memberikan return lebih besar. Mulai membeli reksa dana yang juga memberikan return lebih besar. Ketika investasi yang ‘sederhana’ tadi mulai membesar, seiring dengan meningkatnya ketrampilan kita, kita bisa mulai mereposisi asset kita ke jenis investasi yang lain. Jenis-jenis investasi yang perlu dipertimbangkan dalam membangun portfolio investasi kita selain tabungan dan deposito di bank antara lain: membangun bisnis, real estate dan portfolio di saham.

Pelajari dulu rules of the game-nya. Jangan terburuburu terjun tanpa memahami dan mendalami aturan-aturannya. Sebagaimana terjadi dalam setiap permainan, misalnya dalam permainan catur, agaklah sulit dibayangkan untuk bisa menang di pertandingan catur ketika kita tidak memahami teknik bermainnya dengan benar. Dalam investing game, banyak orang melakukan kesalahan dengan langsung bermain tanpa mempelajari rule of the games-nya, teknik-teknik-nya dengan benar. Learning the game of investment akan merupakan investasi anda yang paling berharga dalam proses membangun portfolio investasi anda. Majalah ini akan mengupas teknik-teknik dasar, best practices dalam dunia investasi; baik dalam business building, real estate maupun stock investment. Membaca majalah ini merupakan salah satu proses ‘belajar’ yang mudah-mudahan membantu anda, so you never have to work again… unless you choose to. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

9


roadto

w ealth

road to

w ealth

Alex P. Chandra Direktur utama BPR Lestari

WEALTH IS FREEDOM “enough why, provide necessary how” Motivation is everything ! Semakin kuat motivasi kita, semakin decisive tindakan kita, semakin persistent dan liat daya tahan kita dalam mencapai sesuatu. Sebaliknya tanpa motivasi yang memadai, tenaga kita akan memudar hingga daya tahan kita melemah. Apa yang memotivasi kita “mengejar” kekayaan ? Bagaimana kalau saya katakan bahwa wealth equals freedom. Dengan cukup kaya, kita mempunyai kebebasan. Money freedom, kebebasan financial. Kita tidak perlu bekerja karena kita harus bekerja. Selamat tinggal bos yang menjengkelkan dan pekerjaan yang tidak menyenangkan. Kita bekerja ketika kita memilih untuk bekerja. Tentunya bekerja dengan orangorang yang menyenangkan kita, dalam kondisi yang menyenangkan dan pekerjaan yang memberikan arti bagi kita. Works become our play. Bye-bye modern slavery! Time freedom, kebebasan mengatur waktu sendiri. Kapan mau bekerja, kapan mau berlibur. Kapan menghabiskan waktu dengan teman-teman dan keluarga tercinta tidaklah lagi ditentukan dari jadwal cuti.

10

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Spiritual freedom, kebebasan spiritual. Dengan adanya kebebasan secara finansial dan kelonggaran waktu, menjelajahi dunia spiritual tidaklah menjadi kesulitan. Kita bisa connect dengan Sang Pencipta. Kita juga bisa mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. Memperbanyak kegiatan sosial apapun yang kita inginkan. To create a better world. Physical freedom. Kesehatan adalah kekayaan yang utama. Akibat waktu yang longgar dan dana yang memadai, kita bisa berlatih dengan baik dan mendapatkan nutrisi yang baik. Sehingga kita bisa bugar as long as possible. Jadi, bagi saya menjadi “kaya” bukan hanya sekedar mempunyai banyak uang. Tapi kebebasanlah yang menjadi tujuan utama. Motivasi menjadi kaya bukanlah untuk “uang” an sich, namun apa yang bisa kita lakukan dengan uang dan waktu yang kita miliki. And that’s my motivation. Yang memberikan semangat ketika saya menemui kegagalan. Yang membuat saya bangun lebih pagi, membaca lebih banyak, bekerja lebih cerdas. Dan seterusnya. Motivation is everything. Enough why will provide necessary how. What’s is your motivation? Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

11


f

economic o c us

Bisnis

Oleh-Oleh

Menjanjikan, Selama Kunjungan Pariwisata Terjaga Oleh Prad

O

12

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

leh-oleh, tentu menjadi satu hal penting dalam agenda wisata para traveler. Saking pentingnya hal yang satu ini, belakangan berkembang sisi bisnis yang lain, dimana modernisasi pasar mulai dilakukan, tak terkecuali di Bali. Dulu jika traveler ingin mencari souvenir, Pasar Sukawati dan Guwang menjadi tujuan. Di dua pasar tersebut harga barang yang biasa dibeli cukup murah. Namun.tentu harga murah akan didapat jika kita pintar menawar. Tidak semua traveler suka menawar, banyak dari mereka yang berkategori fix price. Celah ini yang diincar oleh para pebisnis pasar oleh-oleh modern, seperti Krisna, Erlangga, Kahuripan, ataupun yang lain. Nah... economic focus edisi kali ini akan mengulas prospek bisnis oleh-oleh tersebut.

ini ke arah utara, menuju Ubud. Namun, dalam persepsi masyarakat umum, apabila ingin ke Pasar Sukawati, maka rujukannya ialah Pasar yang berada di Guwang. Pasar Guwang ini katanya jauh lebih tradisional dan lebih etnik dibanding yang baru, selain tentunya lebih murah dan harga yang dimilikinya bersaing. Secara umum pun dapat dikatakan bahwa bentuk fisik dari kedua pasar ini berbeda. Pasar Sukawati baru sangat berciri pasar, terutama dengan plang nama besar dan bangunan utama yang menyebar di sisi kanan dan kiri serta berlantai dua. Sementara itu, Pasar Guwang cenderung menyerupai deretan kios di dalam suatu kompleks (karena di depannya terdapat sebuah gapura pura).

Pasar Sukawati yang saat ini eksis sebenarnya ada dua. Pasar Sukawati lama dan baru. Pasar Sukawati yang lama terletak di Guwang tidak jauh dari Ubud dan pasar yang baru terletak beberapa ratus meter dari yang lama

Pasar Guwang sebenarnya memiliki luas area yang cukup besar. Namun, terkadang begitu sampai di area depan saja, anda sudah dijejali dengan tawaran yang sangat-sangat menggoda dari para sales. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

13


f

f

economic o c u s Sebagian besar produk yang ditawarkan adalah produk sandang seperti kaos, baju tidur, baju Barong yang sangat khas Bali, ikat kepala, sarung Bali, seprai, bed cover, selendang Bali, dan celana pantai hingga ke produk yang non-sandang namun tetap berciri Bali seperti lukisan pemandangan, topeng, minyak wangi, aromaterapi, ukiran-ukiran, pahatan, karya seni, kerajinan tembikar dan tanah liat serta mainan anakanak tradisional.

Ya, Pasar Guwang ini sangat memanjakan mata anda terlebih bagi yang gemar belanja akan produk murah dan menarik, dan tentunya tradisional dan etnik. Bagi anda yang membeli dalam jumlah besar, jangan takut dan segan untuk menawar, apalagi yang berbudget pas-pasan. Kuncinya adalah menekan terus dan tawar paling tidak sepertiga dari harga asli suatu produk. Memang cara ini tidak selalu tepat untuk semua varian produk, namun secara umum bisa. Pasar Seni Guwang memiliki bangunan dengan model letter U dan dibangun taman yang cukup rindang ditengahtengah. Taman tersebut cocok untuk beristirahat bagi para pengunjung pasar. Menurut beberapa pengelola kios, biasanya tamu yang berbelanja di Sukawati akan menghabiskan waktu yang lama. “Tujuan mereka ke sini memang berbelanja,

14

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

economic o c us dan mereka memang mengalokasikan waktunya untuk berbelanja. Mereka baru akan berhenti jika sudah menemukan barang yang diinginkan. Beberapa tamu bahkan ada yang datang lagi ke tempat saya setelah berkeliling. Mungkin di tempat lain mereka tidak menemukan kecocokan harga,” terang Made Suarta, seorang pengelola kios. Penjelasan dari Suarta tersebut relatif sama dengan pengelola yang lain. Pengunjung memilih berbelanja ke Sukawati karena memang mereka memiliki banyak waktu di Bali, dan yang terpenting lagi tentu budget mereka memadai. Ketika ditanya mengenai pasar oleh-oleh modern, dan dampak bagi perkembangan pasar tradisional, mereka

mengaku tidak terlalu khawatir. “Kami sudah memiliki karakter pembeli tertentu. Di sini pilihannya banyak, sementara di pasar modern tak sebanyak di sini. Samasama cari makan pak,” kata pengelola yang lain. Bagaimana dengan mereka yang tak memiliki waktu banyak? Tentu datang ke pasar oleh-oleh modern jadi pilihan. So... jadilah tulisan selanjutnya mengarah pada pasar oleh-oleh modern seperti Krisna dan Erlangga. Pasar oleh-oleh modern ini memiliki dua gerai dan keduanya bertempat di kota Denpasar tepatnya di Jalan Nusa Kambangan. Erlangga 2 terdiri dari 2

lantai. Di lantai pertama Anda bisa memilih aksesoris, baju batik, sarung pantai, aneka kerajinan patung dan ukir. Tas dan dompet berbagai model dan bahan ada di lantai dua, juga sandal etnik, topi rajut dan celana pantai. Erlangga Bali juga menyediakan kaos santai untuk pria maupun wanita, juga menyediakan beberapa boneka lucu untuk oleh-oleh buat adik, anak bahkan sampai ke cucu-cucu Anda. Gelang kayu, kalung kayu dan berbagai kerajinan dari kayu lainnya juga pasti akan dijumpai di sini.

Bangunannya cukup luas dan nyaman walaupun sedang ramai-ramainya, sehingga kenyamanan Anda berbelanja bisa terjamin. Anda tidak bisa melakukan penawaran harga di sini seperti halnya di Pasar Seni Sukawati atau Pasar Seni Kuta, tetapi harga yang ditawarkan tidaklah terlalu jauh berbeda dengan yang ada di kedua pasar seni tersebut. Memiliki kerajinan etnik Bali bisa jadi sama sulitnya dengan menentukan kapan waktu luang Anda berwisata ke Pulau Dewata ini.

Beberapa wisatawan baik domestik maupun mancanegara lebih memilih pasar oleh-oleh Erlangga atau Krisna untuk efektifitas. Dibanding dengan Pasar Sukawati, di Krisna dan Erlangga lebih menghemat waktu, terlebih lagi biaya. Kebanyakan dari mereka adalah para peserta seminar, konferensi, rapat, gathering dan lainnya, yang kesempatan berada di Bali tidak begitu banyak. “Awalnya saya dan rombongan ingin ke Sukawati, tapi menurut driver jaraknya lumayan jauh, sementara saya harus sudah balik sore nanti. Driver kemudian mengarahkan ke sini (Erlangga: red). Barangnya bagus dan murah, cukup untuk orangorang di rumah,” jelas seorang pengunjung.

Dari uraian diatas jelas menggambarkan bahwa konektivitas tinggi terjalin antara prospek bisnis oleholeh di Bali sangat tergantung pada tingkat kunjungan wisata. Intinya... selama Bali masih menjadi ‘surga’ bagi wisatawan maka pasar oleh-oleh akan tetap hidup. Terpenting adalah bagaimana mensinergikan beberapa pihak, baik pengrajin, pebisnis bahkan sampai pada tingkat pemerintah daerah. Tertarik bisnis oleh-oleh? (Foto: Dedeth) Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

15


s

s

growth t rate g i e s

growth trategies tersebut. Kemudian kita berkomentar bahwa, kita sedang tidak beruntung dan menganggap keberuntungan ada pada pihak orang lain yang berhasil mengambil kesempatan tersebut. Seperti komentar Ross Brawn, mereka bukan beruntung tetapi mereka telah melakukan persiapan.

I Made Wenten B. Kabid Support & Operation BPR Lestari

Lucky is Just Preparation Waiting for an Opportunity D i Formula 1, orang mengenal Michael Schumacher sebagai pembalap terhebat. Lihat saja rekor yang dimiliki pembalap ini:

- Juara dunia 7 kali, merupakan rekor juara dunia terbanyak yang dimiliki oleh pembalap F1 manapun. Banyak orang berpendapat bahwa ini mungkin akan menjadi rekor yang bertahan sepanjang masa, karena persaingan di F1 semakin ketat. Dan sulit mencari tim dan pembalap yang memiliki performance bagus secara konsisten. - Pembalap F1 yang paling banyak memenangi lomba, yaitu sebanyak 84 kemenangan. - Pembalap yang paling sering naik podium, yaitu 142 kali - Pembalap yang paling banyak mengumpulkan poin dalam sejarah F1.

Melihat rekor yang dimiliki oleh Michael Schumacher, kemudian muncul pertanyaan: “adakah orang di Formula 1 yang memiliki rekor lebih baik dari Michael Schumacher?” Sebelum mencoba menjawabnya, coba lihat catatan dibawah ini: - Mencetak juara dunia (pembalap) 8 kali dengan 3 tim yang berbeda - Mencetak juara konstruktor (tim) 8 kali dengan 3 tim yang berbeda pula Rekor fantastis ini dimiliki oleh Ross Brawn, orang dibelakang Benneton, Ferrari dan Brawn GP tepat pada saat tim tersebut mendapat gelar sebagai juara konstruktor. Seandainya saya diminta membandingkan siapa yang lebih hebat antara Michael Schumacher atau Ross Brawn, maka kemungkinan besar saya akan pilih Ross Brawn. Yang menarik dari perjalanan karir Ross Brawn adalah pada saat musim balap 2009. Ross Brawn yang pada saat itu

16

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

bertanggung jawab sebagai pemilik tim, memulai musim dengan tantangan finansial yang sangat berat. Saking beratnya masalah finansial yang dimiliki, tim ini terancam tidak bisa mengikuti musim balapan di tahun 2009. Dalam situasi yang serba sulit di musim balap tersebut, Brawn GP justru sukses menempatkan pembalapnya untuk finish di urutan pertama dan kedua di seri pertama balapan yang berlangsung di Australia. Padahal di musim balap sebelumnya, urutan pertama dan keduanya diduduki oleh tim papan atas seperti McLaren dan Ferrari. Pengamat F1 menganggap bahwa kemenangan pertama dengan hasil urutan juara pertama dan kedua yang dicapai oleh tim Brawn GP hanyalah sebuah keberuntungan. Tetapi setelah di pertengahan musim balap performance dari tim Brawn GP masih belum bisa terkalahkan oleh tim manapun, maka orang-orang tidak lagi menganggap bahwa kemenangan Brawn GP adalah sebuah keberuntungan. Namun tanggapan Ross Brawn pada saat dimintai pendapat bahwa kemenangannya adalah sebuah keberuntungan direspond dengan singkat: “Lucky is just preparation waiting for an opportunity”. Jawaban halus yang mengaskan bahwa kemenangannya adalah karena persiapan dan perencanaan.

Benar juga apa yang telah disampaikan oleh Ross Brawn: “Lucky is Just Preparation Waiting For An Opportunity“. Bahwa orang yang beruntung bisa memanfaatkan kesempatan yang ada adalah orang-orang yang siap. Dan bagi orang yang belum siap, tentu tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Contoh kasus adalah, di bulan ini kita (BPR Lestari) ingin membentuk tiga bisnis unit. Tentu bisnis unit ini memerlukan pemimpin kan? Ini merupakan kesempatan bagi semua orang untuk dipromosikan sebagai pemimpin bisnis unit. Tetapi, apakah semua orang bisa memanfaatkan kesempatan ini? Ternyata tidak. Hanya orang-orang yang siap yang bisa memanfaatkan kesempatan ini.

Bagaimana caranya kesempatan?

agar

kita

siap

menangkap

Terkadang kesempatan atau peluang bisa kita prediksi bentuknya dan kapan kesempatan itu akan datang, contohnya adalah pada 2015 BPR Lestari merencanakan akan mentargetkan akan memiliki 50 kantor dan bisnis unit. Dalam rencana ini berarti akan ada kesempatan bagi karyawan di BPR Lestari untuk menjadi kepala bisnis unit atau kepala kantor. Seandainya kita menemukan kesempatan dan peluang seperti ini maka yang sebaiknya kita lakukan adalah melakukan persiapan. Lakukan persiapan agar kita sesuai dengan kriteria yang disyaratkan oleh kesempatan tersebut! Tentu saja yang menginginkan untuk menangkap peluang ini bukan kita saja, tapi ada banyak orang lain yang juga menginginkannya sehingga akan terjadi kompetisi guna menangkap peluang ini. Mereka yang bisa menangkap peluang ini adalah mereka yang paling siap. Orang-orang yang melakukan persiapan seperti inilah yang paling “matang”. So,,,,, bersiaplah!!!!

Sudah berapakah kesempatan yang kita lewatkan? Mungkin kita telah melewatkan banyak kesempatan dalam hidup kita karena tidak siap untuk mengambil kesempatan

Memang benar Ross Brawn melakukan persiapan untuk musim balapan tahun 2009 sejak pertengahan tahun 2008. Jauh sebelum tim-tim lain yang biasanya melakukan persiapan pada bulan November atau Desember. Problem bagi tim-tim lain adalah, untuk musim 2009 ada banyak regulasi baru yang berkaitan dengan teknis kendaraan. Ini yang menyebabkan banyak tim yang tidak siap. Bahkan setelah balapan berlangsung hingga tiga seri masih banyak tim yang belum menemukan settingan serta paket kendaraan yang pas. Karena inilah Brawn GP mendapatkan kemenangan di musim tahun 2009.

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

17


interviewwiththe

m illionaire

interviewwiththe M&I: Maksudnya? Bukankan usaha Anda ini masuk skala besar?

I Ketut Mandia

From Waker to Owner Oleh Prad

T

iga puluh tahun kehidupan tercatat dalam ragam lembar perjalanan hidupnya. I Ketut Mandia, pebisnis muda asal Banjar Sente, Desa Pikat kecamatan Dawan-Klungkung ini menjelma sebagai sosok yang diperhitungkan di setiap lingkungan hidupnya. Ibarat kutub Utara dan Selatan, bagai Langit dan Bumi, demikian dia menggambarkan perbandingan hidupnya dulu dibanding delapan tahun terakhir. Bisnis Advertising telah mengubah lembaran baru kehidupannya. Berikut petikan bincang ringan M&I dengan Pak Mandia: M&I: Salam kenal pak, bagaimana kabar usaha Anda sekarang ini? Apakah apa yang Anda geluti sekarang sudah dirancang jauh hari sebelumnya? Mandia: Halo… apa kabar? Ya usaha Advertising saya ini masih berjalan seperti biasa dan belum ada gejolak berarti. Perlu Anda ketahui, usaha saya ini percaya atau tidak, tidak berdasarkan pemikiran yang matang, atau menganalisis perkembangan bisnis dengan hukum ekonomi tertentu. Apa yang saya harapkan jika 20 tahun yang lalu kehidupan saya sangat miskin. Orang tua hanyalah petani biasa dan harus membiayai banyak anak. Untuk sekolah saja saya harus bekerja menjadi waker di sekolah. Pagi membersihkan ruangan guru dan kelas, keluar sekolah bertani. Dari sana guru-guru banyak membantu saya dalam hal biaya sekolah.

18

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Mandia: Itulah sebabnya… jangankan orang lain, saya sendiri kadang tidak mengerti dengan jalan hidup saya ini. Saya mulai dari kuliah saja ya, sebab ceritanya terlalu panjang. Mungkin satu majalah ini tidak akan cukup, biar nanti saja mengalir. Saya dulu kuliah di IKIP Singaraja jurusan Bahasa Inggris, sekitar tahun 1998. Namun saya hanya sanggup menempuh sampai enam semester, sudah tak kuat bayar lagi. Lagian otak saya payah karena harus bekerja sebagai pedagang acung cinderamata di kawasan Lovina dan jual jasa samsat kendaraan. Setelah putus kuliah saya bekerja ke sana kemari sebagai buruh, pokoknya semua jenis pekerjaan kecuali merampok, mencuri… saya ambil. Sampai akhirnya saya bekerja di satu perusahaan Advertising, juga sebagai buruh. Sekian lama bekerja, satu momentum datang, dan saya coba mengambilnya. Awal mendirikan perusahaan ini sangat berat, karena modal yang diperlukan tidak sedikit. Tetapi rupanya saya masih dipercaya orang untuk meminjam uang. Perusahaan berdiri, saya jalankan dengan maksimal sampai jadilah seperti sekarang. M&I: emmhh… cukup perjalanan hidup yang menarik. Tentu berbagai jalan Anda lalui, lantas bagaimana Anda mendapat satu milyar pertama? Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mencapai pemasukan sekian? Mandia: (dahi mengernyit)…saya tidak ingat betul kapan tepatnya. Itu kira-kira terjadi sekitar enam tahun yang lalu. Kebetulan ada tender besar satu perusahaan elektronik. Saya ikut dan berkat izin Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) saya menang. Dan tidak lama kemudian satu perusahaan seluler mengadakan tender pengadaan media outdoor yang nilainya fantastis. Dari sanalah sedikit demi sedikit taraf hidup saya terangkat. M&I: Kalau sekarang ini berapa lama Anda bisa mendapat angka milyaran tersebut? Apakah Anda memiliki metode tertentu, atau seperti Anda katakan tadi, Kebetulankah? Kalau boleh Anda share kiat-kiat tersebut untuk pembaca M&I dan apa yang harus dilakukan jika ingin menjadi Anda. Mandia: ha.. ha.. apa ada kebetulan yang berulangulang? Begini… saya hanya berprinsip pekerjaan itu adalah masa depan. Jika kita bermain-main dengan pekerjaan itu artinya kita mempermainkan masa depan. Dan saya dalam bekerja sama dengan klien, tidak murni saya berpikir keuntungan. Melainkan

m illionaire

bagaimana bisa, klien yang bekerja sama dengan saya itu produknya laku terjual. Bahkan saya tak segan-segan memberi diskon besar pada mereka. Jika produknya laku dan perusahaannya maju, pastilah kita akan dicari lagi. Banyak orang yang bertanya bagaimana bisa seperti saya, dari segi finansial cukup terpenuhi. Saya katakan pada mereka, jangan hanya melihat saya yang seperti ini. Sudahkan Anda bekerja dengan sungguh-sungguh? Ada baiknya kita mengerti riwayat perusahaan yang kita ajak bekerja sama. Bahkan saya siap membantu mereka jika perusahaan tersebut harus dibantu. Saya tidak munafik, memang saya perlu uang tetapi it’s not just about money. Yang penting adalah kita mencari makan jangan dengan cara ‘memakan’ orang. Banyak pihak yang membantu perjalanan hidup saya, bahkan para kompetitor, dan sebagian besar semua itu karena kebesaran Tuhan. M&I: Pelajaran hidup apa yang dapat Anda petik dari perjalanan hidup tersebut, dan bagaimana memadukannya dengan dunia spiritual. Lantas seberapa besar kegiatan spiritual menunjang karier Anda? Mandia: Nah... pertanyaan ini yang paling saya sukai. Spiritual... Anda tentu masih ingat dengan pepatah yang dikemukaan Albert Einstein (Ilmu tanpa Agama Buta, Agama tanpa Ilmu Lumpuh). 150 persen benar pepatah itu. Saya pun demikian adanya. Apa yang saya miliki sekarang tak lebih hanya titipan. Jangan kita menghamburhamburkannya. Saya memulai sesuatunya dengan doa, agar apa yang saya kerjakan mendapat lindungan-Nya. Apa yang saya dapatkan semuanya itu bukan hak mutlak diri sendiri dan keluarga. Saya juga..(terdiam) Anda pasti tahulah apa maksudnya. Mungkin tidak semua pebisnis sukses punya pikiran seperti saya, tapi saya sendiri yakin benar dengan hal itu. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya tak lepas dari kegiatan spiritual. M&I: Apa yang membedakan Mandia yang sekarang dengan Mandia sepuluh tahun yang lalu? Dengan kemampuan finansial yang sekarang, apa masih ada dan ingin berbisnis dalam bidang lain, dimana Anda sama sekali belum pernah menjalaninya? Mandia: Sekarang saya lebih gemuk... ha... ha... Saya tetap seperti yang dulu pola pikir tetap sama. Mungkin sekarang saya lebih banyak punya teman, dan teman saya dari berbagai golongan. Bisnis lain? Saya punya niat bergerak di bidang perkebunan, ya hitunghitung menyambung sejarah masa lalu. Tentu jika sayap bisnis saya mengembang, semakin banyak orang pula yang bisa terbantu, itulah keinginan saya!

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

19


e ntrepreneurinterview

e ntrepreneurinterview

Gusti Ngurah Anom Oleh Prad

A Result of Courage and Accurateness

B

eranjak dari keinginan untuk bisa bangkit dari keterpurukan, Gusti Ngurah Anom atau yang akrab dipanggil Pak Cok ini menjelma sebagai pengusaha sukses lewat motor usaha Pasar Oleh-Oleh Krisna dan Cok Konveksi. Menurut pengusaha muda asal Gianyar ini, keberanian dan akurasi dalam melihat peluang adalah modal awal untuk suksesnya satu usaha. Untuk mengetahui style entrepreneurship Pak Cok, ikuti yuk... petikan wawancara di bawah ini. M&I: Selamat siang Pak Cok, bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan hidup Anda hingga bisa seperti sekarang? Pak Cok: Selamat siang juga, begini... saya dulu tamatan ‘S2’… SD dan SMP maksudnya...ha..ha. Terus terang keluarga saya dapat dikatakan miskin. Untuk sekolah saja harus berjalan kaki dari rumah sampai sekolah kira-kira 3 km. Sayang jalur pendidikan saya hanya sampai SMP. Kata orang tua sudah tidak ada biaya lagi. Saya bisa apa? Pupus sudah harapan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. M&I: Lalu apa yang Anda lakukan setelahnya? Pak Cok: Saya memberanikan diri berangkat ke Denpasar, numpang truk. Maunya sih cari keluarga di sini. Tapi saya tidak tahu alamatnya. Saya juga berpikir apakah mereka mau menampung saya, sementara saya harus bisa makan. Luntang-lantung begitu saja... sampai saya tiba di satu hotel yang ada pos satpamnya. Saya menginap di sana hampir 2 tahun... ya... di pos satpam itu, sambil mencuci mobil tamu hotel setiap malamnya. Selanjutnya saya bertemu dengan pemilik hotel yang juga memiliki konveksi... nama Konveksinya Sidarta. Dari sanalah saya belajar ilmu pertekstilan… sampai betul-betul bisa. Di tahun 1990, singkat ceritanya, saya memberanikan diri mendirikan konveksi. Hampir enam tahun saya masih dibimbing bos saya itu. Baru di atas tahun 2000-an hasilnya terlihat, konsumen sudah langsung datang, ndak seperti dulu... keliling ‘berjualan’. Sejak saat itulah Cok Konveksi terkenal sampai sekarang

20

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

M&I: Dari Cok Konveksi menjadi Pasar Oleh-Oleh Krisna, bagaimana ceritanya itu? Pak Cok: Sewaktu saya masih menjadi tukang cuci mobil (dulu) saya juga sering ngantar tamu-tamu hotel mencari oleh-oleh. Lalu terlintas keinginan untuk mendirikan pusat oleh-oleh . Saya survey ke sana ke mari untuk mencari perbandingan. Hasilnya adalah… barang paling laku di Pasar Oleh-Oleh itu adalah T-Shirt. Lho... saya punya Cok Konveksi… sementara yang saya survey itu membeli dari pihak lain, jelas punya saya bisa lebih murah. Dari sana saya punya feeling usaha ini akan jalan, apalagi banyak relasi di kalangan hotel dan travel agen yang memesan baju di Cok Konveksi. M&I: Kenapa mengawalinya di Jalan Nusa Kambangan Denpasar? Bukankan akses jalan di sana sangat crowded alias sering macet? Pak Cok: Pertanyaan bagus… Pertimbangannya begini. Di Nusa Kambangan itu sudah ada Pasar OlehOleh Erlangga dan sudah terkenal. Justru kalau saya buka dekat situ... sedikit tidaknya dapat imbasnya. Jika di Erlangga sudah penuh, kemana lagi larinya pembeli selain ke saya. Halaman parkir saya perluas… jadilah bus-bus pariwisata masuk ke sana. Semakin lama pembeli makin banyak dan rentetan bus bertambah. Makin macetlah di sana. Warga di sana sampai mengatakan gara-gara Krisna jalan jadi makin macet. Sebelum saya benar-benar dikomplain warga... saya ekspansi ke Sunset Road ini. M&I: Apakah menurut Anda, keberadan Pasar OlehOleh seperti Krisna bisa menyunting denyut nadi pasar tradisional seperti di Sukawati dan yang lainnya? Pak Cok: no comment on that. Tetapi saya melihat kelemahan di sana dan saya manfaatkan di sini. Intinya begini… saya ingin Krisna ini menjadi yang terbesar di Bali. Tapi kalau dicermati… prospek Pasar Oleh-Oleh di Bali ini sangat cerah, utamanya T-Shirt. Di Bali ini kan pusatnya pariwisata, dan sering digelar pertemuanpertemuan baik skala nasional dan internasional.

Pastilah mereka ingin membawa sekedar oleh-oleh saat pulang. Jika sudah ada pusatnya... dan harganya terjangkau, selanjutnya ya ditujulah tempat tersebut. M&I: Bagaimana cara Anda menjaga eksistensi dan menjaga hubungan baik dengan para pemasok barang di luar tekstil? Pak Cok: ehmm… untuk bisa eksis... harus lebih kreatif, tetap berbenah diri dan melakukan ekspansi perusahaan. Setelah di Sunset, saya ingin ekspansi ke Tuban, Singaraja… dan keinginan saya setidaknya ada di kota-kota besar Indonesia. Tentunya barang yang disediakan disesuaikan dengan daerah masing-masing. Sementara untuk barang di luar tekstil... saya biasanya untuk kerajinan atau souvenir membelinya di Gianyar. Membelinya pun tidak di art shop... tetapi di industri rumahan begitu. Harganya bisa lebih murah. M&I: well… terima kasih untuk waktu wawancara yang berharga ini Pak. Semoga pembaca M&I mendapat hal baru dari wawancara ini Pak Cok: Sama-sama… jangan sungkan mampir atau sekedar melepas lelah di sini. (Foto: Dedeth)

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

21


e ntrepreneurprofile berbagai fasilitas keasyikan berbelanja dapat kita temui di sana. Kini Krisna Bali telah hadir di 2 lokasi lain, yaitu di Jalan Nusa Kambangan dan yang satu lagi sangat mudah dijangkau di Jalan Sunset Road, Kuta. Krisna Bali memiliki koleksi yang lengkap mulai dari T-shirt yang lengkap dengan motif-motif khas Bali, souvenir, makanan dan lainnnya.

Pusat Oleh-Oleh

Krisna Bali Ngapain Mahal? Oleh Prad

M

au beli oleh – oleh di Bali? Bukan perkara susah itu. Coba saja datangi pasar oleh–oleh Krisna Bali. Didirikan untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Mei 2007, dimana sang owner bernama Gusti Ngurah Anom. Nah beliau ini juga sekaligus owner dari Cok Konveksi, salah satu pusat produksi baju kaos Bali. Dibawah manajemen Cok Konveksi, Ngurah Anom melebarkan sayap bisnis sehingga berdirilah KRISNA BALI yang bertempat di Jalan Nusa Indah No 79 Denpasar-Bali.

Kalau Bisa Murah

Minat konsumen dengan produk yang dimiliki oleh Krisna Bali tumbuh dikarenakan produknya dikenal murah namun tanpa mengabaikan kualitas. Lahan parkir yang luas, sarana belanja yang lapang serta

Fasilitas lain yang dimiliki Krisna Bali adalah ruang belanja yang nyaman, food court, refresh area dan lainlain. Lengkap kan? Buat yang nunggu istri atau teman belanja, bisa menghabiskan waktu dengan makan dan minum atau duduk-duduk santai. Menurut mereka yang sudah pernah datang ke Krisna Bali, kesan pertama yang muncul adalah kepuasan. Itu semua dikarenakan ‘suguhan’ produk yang beraneka ragam. Dan yang pasti harganya itu… gak mahal-mahal amat. (Foto: Dedeth)

22

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

23


green

b us i n e s s

green

b usiness

ini sudah ada sekitar 19 produk yang telah dihasilkan. Mengingat banyaknya pengembangan Teknologi EM maka Bapak G.N. Wididana memilah menjadi masing-masing divisi dengan tetap berada pada satu payung bernama PT. Karya Pak Oles Tokcer. Sejak Tahun 1993 Pak Oles aktif memberikan seminar nasional dan internasional berbagai ramuan berbahan dasar organik. Satu produk yang dapat dikatakan menjadi brand ikon Pak Oles adalah pengembangan Teknologi EM di Indonesia, Khususnya di bidang kesehatan adalah membuat Brajamusti, Saribing, Balsem Kresno, Salep Ratun, Minyak Anget Rare, Minyak Anget Lingsir, Minyak Rajas, dll. Teknologi EM juga diterapkan dalam pembuatan keramik berkhasiat untuk penyembuhan, yaitu Gelang EM Keramik, Kalung EM Keramik, Piramid EM Keramik, dan Alat Pijat Keramik.

Pak Oles Tokcer Produk Lokal Berkualitas Internasional

Dalam perkembangannya, respon masyarakat terhadap Ramuan Pak Oles tidak hanya berbicara di tingkat nasional tetapi sudah terkenal di mancanegara seperti Jepang, Denmark, Italia, Amerika, Australia dan Korea. Bagimana dengan Anda?

Oleh: Prad

R

Mari kita runut ‘perjalanan hidup’ perusahaan Pak Oles. Adalah Dr. Teruo Higa, seorang guru Besar di Universitas itu sejak tahun 1982 yang turut ambil bagian dalam kisah ini. Setelah memperoleh gelar Phd dalam bidang pertanian dari Universitas Kyushu, dia banyak menulis makalah dan buku ilmiah dalam pertanian termasuk karya-karya yang merinci penelitiannya dengan Effective Microorganisms (EM). Juga telah menulis karya populer bidang pertanian dan bidang ilmu lingkungan lainnya.

Seorang putra Bali mendapat manfaat dari karya-karya sang dokter tersebut. Dr.Ir.G.N. Wididana (Pak Oles) adalah salah satu alumnus Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang dan murid dari Prof.Teruo Higa. Sosok asal desa Bengkel, Singaraja ini tahun 1990 mendapat gelar Master of Agriculture. Kemudian pada awal tahun 1990 itu, Dr. Ir. G.N. Wididana, M.Agr. mendirikan suatu Yayasan Indonesian Kyusei Nature Farming Societies. Sejalan dengan perkembangan pemanfaatan Teknologi EM yang semakin pesat, maka dibutuhkan lembaga sebagai pusat pendidikan, pelatihan dan pengembangan Teknologi EM. Untuk itu didirikanlah Yayasan IPSA hasil kerjasama dengan IKNFS, EMRO (Effective Microorganisme Research Organization) dan Yayasan Bumi Lestari pada tahun 1997. IPSA sebagai tempat berlatih juga sebagai tempat penelitian dan pengembangan Teknologi EM di berbagai bidang.

Prof. Dr. Teruo Higa juga aktif dalam organisasi seperti : Asia Pasific Natural Agriculture Network (APNAN), International Nature Farming Research Center (INFRC), The Flower Association of Japan, The Association for Cleaning the Water of Japan, The World Peace Association of Japan, The Committee to Prevent Erosion of Mountain Fuji, The Kyushu Horticultural Society, The Japan Laser Treatment Societies.

Sebagai bentuk pengembangan Teknologi EM dalam bidang kesehatan, telah dilakukan penelitian dalam bidang kesehatan dan pengobatan yang lebih ditekankan dengan tujuan untuk mengembangkan obat-obatan tradisional. Pada tahun 1998 pengembangan Teknologi EM dalam bidang obat tradisional mulai difokuskan dengan mendirikan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Bokashi. Dari IKOT

amuan Pak Oles Tokcer, slogan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, utamanya Bali. Perkembangan perusahaan Pak Oles ini sangat pesat. Tidak hanya memproduksi minyak kesehatan tradisional, kini bisnis ini sudah merambah ke sektor otomotif, aneka jenis jamu dan minuman.

24

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

ramuan yang amat terkenal yaitu MINYAK OLES BOKASHI. Ramuan serbaguna yang terbuat dari campuran beberapa tanaman berkhasiat obat yang difermentasi dan diekstrak dengan Teknologi EM. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Pak Oles mengembangkan sendiri perkebunan baik di desanya, Bengkel, Singaraja maupun ke kebupaten lain. Selain Minyak Oles Bokashi, diciptakan juga oleh Pak Oles, antara lain: Ramuan Madu dengan berbagai macam khasiat (Madu Geruh, Madu Resi, Madu Sekar, Madu Jamur, dan lainnya), Parem Lantik, Parem Alpha, Banyu Kuntho, Polleng, Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

25


f

f

smar t am i l y

smar t amily

APAKAH RUMAH KITA adalah ASSET KITA?

Oleh Suzana Chandra Managing Director- Lestari Living

“WOW..itu dia rumah impian kita. Rumahnya cantik dan luas, ada tempat buat anak-anak bermain, dapur yang cantik dan ada Home theaternya lagi. .Mahal juga sih, tapi rumah kan ASSET, dan harganya pasti naik!”

P

ercakapan di atas merupakan percakapan saya dengan suami sekitar 10 tahun yang lalu. Saya dan suami berencana membeli rumah yang jauh lebih besar dan di daerah yang lebih elite. Pada saat itu, saya dan suami sudah dalam taraf diskusi akhir dengan pihak penjual, dan sudah mendapat approval dari bank yang akan memberikan kredit KPR kepada kami. Untuk dapat membeli rumah besar itu, kami harus menjual rumah yang kami tinggali pada saat itu dan meminjam uang yang lumayan besarnya ke bank. Tapi menurut perhitungan, pendapatan kami berdua cukup untuk membiayai cicilan KPR setiap bulannya. Kami putuskan mengambil kredit KPR untuk tenggang waktu 15 tahun. Bisa dibayangkan semangatnya kami dan senangnya kami, karena sebentar lagi kami bisa pindah ke rumah idaman. Pada saat yang bersamaan, saya direkomendasi sebuah buku yang berjudul Rich Dad Poor Dad by Robert Kiyosaki. Bagi yang belum pernah membaca buku ini, satu kata yang dapat saya berikan: WAJIB BACA! Untuk mereka yang mau tahu masalah Wealth Creation.

26

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Saya harus percaya bahwa ada Invincible Hands tangan Tuhan) yang menuntun saya. Pada saat ada kebimbangan dalam memutuskan transaksi jual beli rumah impian, tepat saya sedang membaca buku tersebut dan sampai pada halaman dimana Robert Kiyosaki “mengguncang” teori saya masalah asset. Dijelaskan bahwa, rumah impian yang akan saya beli ternyata bukanlah “ASSET”, melainkan bisa menjadi “LIABILITIES”. Beliau menjelaskan bahwa rumah yang kita tinggali, kalau sebagian besar masih dibiayai oleh hutang (Bank), sebagian besar pendapatan kita akan digunakan untuk membayar bunga. Yang biasanya terjadi adalah, tidak adanya lagi leftover income (sisa pendapatan) yang dapat digunakan untuk berinvestasi.

Masih ingat pesan saya di artikel Shoes VS House, bahwa untuk bisa berinvestasi, maka konsumsi kita HARUS dibawah disposable income kita. Kalau sebagian besar pendapatan kita HABIS untuk membiayai rumah kita, maka tidak akan ada lagi yang tersisa untuk berinvestasi.

Pada saat makan malam, saya diskusikan dengan suami bahwa kita tetap akan membeli rumah, tapi prioritas kami adalah rumah sebagai asset , yaitu untuk investasi. Dimana ada pendapatan sewa, dan potensi untuk capital gain dan peningkatan equity dari rumah tersebut.

Kalau demikian yang terjadi, kita akan terjebak dalam Rat Race (baca: lingkaran tikus yang berlari-lari mengejar satu sama lain). Yang akan terjadi adalah kita akan bekerja dan bekerja dan bekerja dan…..bekerja terus menerus cuma untuk membiayai rumah yang kita tinggali. Dan biasanya rumah yang kita tinggali tidak akan dapat memberikan pendapatan. Lha , kita khan lagi tinggal di dalamnya, jelas gak ada pendapatan sewa donk!

Singkat cerita, itu adalah awal muasal dari kegiatan kami berinvestasi rumah. Kami tetap tinggal di rumah awal, tapi membeli rumah sederhana yang kami perbaiki atau beri nilai tambah dan sewakan. Dari hasil sewaan itu, kami membayar bunga bank dan mendapatkan beberapa insentif pajak. Pada saat

Rumah dalam kategori Asset, harus bisa memberikan kita pendapatan. Entah dalam bentuk pendapatan sewa, capital gain (kalau kita jual), ataupun equity (porsi dimana kita bisa jaminkan rumah kita ke bank, dan mendapatkan ekstra pinjaman dana untuk berinvestasi).

nilai dari rumah tersebut meningkat, kami meminta bank untuk mengevaluasi nilainya dan mengambil tambahan pinjaman untuk membeli rumah investasi selanjutnya. Demikian seterusnya sampai kami memiliki total 6 rumah investasi dalam jangka waktu 5 tahun. Sekarang saya tinggal di rumah besar dan cantik, dan memiliki berbagai investasi property yang terus memberikan saya pendapatan, baik dari sisi pendapatan sewa dan juga capital gain.

PING!!..seperti mendapat wangsit, saya tertegun dan menyadari bahwa saya ada di persimpangan jalan, antara memasuki RAT RACE atau WEALTH CREATION. Pilih yang mana ya?

Hal ini bisa saya dapatkan hanya dengan suatu pengertian sederhana mengenai ASSET dan keinginan kuat untuk “menunda untuk memiliki “ dream house selama 10 tahun”.

Bersyukurlah, bahwa yang saya lakukan adalah angkat telepon dan memberitahukan suami untuk membatalkan proses pembelian rumah impian. Kebayang gak sih..suami saya seperti kena petir di siang bolong. Karena selama beberapa tahun ini yang saya inginkan adalah memiliki rumah cantik yang besar. Sudah mau beli..lha disuruh batalkan. Bingung deh suamiku..J

Saya harapkan apa yang saya share dalam artikel ini dapat memberikan sedikit pencerahan , sehingga kita dapat terhindar dari yang namanya RAT RACE. Lebih baik kita berbelok ke Wealth Creation saja. Pasti jauh lebih menyenangkan prosesnya. Hmmmmm…ok, sekarang giliran anda mengevaluasi apakah rumah anda adalah asset anda. Good Luck dan Salam Sukses. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

27


p olling

P

olling kali ini diadakan sekedar untuk mengetahui persepsi atau cara pandang seseorang terhadap satu hal. Dan tentu saja polling ini diharapkan dapat mengetahui tingkat kesadaran menabung responden. Pembaca sekalian, kali ini polling tim redaksi M&I mengangkat tema: “Apakah Anda memiliki tabungan untuk masa depan?� Cara berpikir dan persepsi responden di sini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti; latar belakang pendidikan, strata ekonomi, lingkungan sosial budaya dan psikologis responden.

Hasil verifikasi dan analisa polling pada kalangan karyawan adalah 83,3% mengatakan bahwa mereka

28

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

tidak memiliki tabungan untuk masa depan. Menurut mereka sebagian besar penghasilan hampir habis untuk keperluan sehari–hari. Namun suatu hari nanti mereka terbersit keinginan untuk menabung juga.

0% dari Total Responden Tidak Memiliki Tabungan Untuk Masa Depan

Polling kali ini memberikan beberapa pertanyaan pada berbagai kalangan responden, baik itu dari kalangan karyawan, ibu rumah tangga, dan mahasiswa. Pertanyaan tersebut adalah di antaranya: Apakah Anda punya tabungan untuk masa depan? Apakah penting tabungan tersebut? Jika tidak, pernahkan Anda berpikir di kemudian hari untuk melakukannya?

m illionaire

Sementara itu kalangan ibu rumah tangga sekitar 75% mengatakan bahwa memiliki tabungan. Namun tabungan tersebut hanya untuk jaga – jaga jikalau ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan. Kalangan ibu rumah tangga menyadari pentingnya tabungan untuk hari esok. Yang terakhir dari kalangan mahasiswa: Sebagian besar atau 73,3% dari mereka mengatakan tidak memiliki tabungan, namun mereka juga sepakat bahwa penting untuk memiliki tabungan itu. Hanya menurut mereka untuk saat ini dirasa belum perlu untuk memilikinya.

Kesimpulan: memiliki tabungan untuk masa depan bukanlah satu hal yang urgent, semasih kondisi keuangan seseorang itu belum bisa dikatakan cukup finansial.

Oleh Prad Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

29


l eisure

l eisure

PayungRaftingBali Cheaper than Others Oleh Prad Siapa bilang bermain arung jeram (rafting) mahal? Mungkin “mindset” tersebut akan berubah jika sudah pernah mencoba tantangan Payung rafting. Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar, tepatnya di Kecamatan Payangan, Gianyar, Payung Rafting bisa menjadi solusi murah ber’Rafting’ ria.

menantang untuk dicoba. Sepanjang perjalanan menyusuri sungai yang mengalir deras, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan bali hijau di sebelah kiri dan kanan.

S

alah satu jenis petualangan yang bisa dinikmati Bali tentu salah satunya adalah olah raga Rafting. Selama lebih dari dua belas tahun, Sungai Ayung telah menjadi jalur Rafting terbaik di Bali. Rafting di Bali menawarkan sensasi berbeda dan tentunya sangat

30

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Payung Rafting menjadi Perusahaan Rafting paling hulu di Pulau Bali. Tingkat keselamatan 100% terbukti bahkan sampai hari ini. Payung Rafting’s staf telah mengikuti berbagai pelatihan untuk memastikan mereka adalah yang terbaik di bidang mereka. Payung Rafting bekerja keras untuk mempertahankan dan reputasi pasar sebagai posisi No 1. Karena itu pula Payung Rafting sering menjadi pilihan uji adrenalin baik peminat lokal maupun mancanegara.

I Made Sudariana, ST, pemilik sekaligus pengolala usaha ini mengatakan dirinya mengerti betul dengan kemampuan ekonomi peminat olah raga ini. Tentu tidak semua dari mereka berasal dari kalangan ekonomi atas. Jika kemudian banyak dari warga lokal yang bisa melakukan olah raga ini, tentu sistem marketing Payung Rafting cukup bagus. Seperti yang dikatakan oleh Sudariana yang akrab dipanggil Gubag ini, sebagai satu-satunya Rafting yang dimiliki oleh orang Bali, tentu harus paham dengan kemampuan finansial khususnya warga Bali.

Murah, memang kata tersebut bukan ucapan manis di bibir semata. Banyak pelanggan yang sudah membuktikannya. Bahkan mereka datang ke tempat ini tidak hanya sekali saja. Beberapa perusahaan agen pariwisata menjadikan Payung Rafting sebagai program utama dalam paket-paket tur mereka. Gubag memberikan persentase bagi para tour guide jika merekomendasikan Payung Rafting ke para wisatawan mereka. “Sistem bagi hasil di sini paling bagus dibanding perusahaan Rafting yang lain. Saya dan teman-teman sesama guide yang lain pasti merekomendasikan tempat ini. Pokoknya untunglah di sini” terang Tut Nane, seorang guide di Denpasar. Para wisatawan juga sangat menikmati petulangan ini. “exciting and enjoyable, nice to be here,” ujar seorang bule sesaat setelah turun dari boat mereka. So please come and enjoy it!

“Prinsipnya seperti slogan Pemilu, dari lokal, oleh lokal dan untuk lokal. Itu artinya satu jenis olah Raga menantang ini harus bisa ‘dinikmati’ oleh warga lokal Bali. Saya ingin menghapus kesan mahal olah raga ini, sehingga mereka yang bukan tamu mancanegara tidak ngeri duluan jika ingin mencobanya,” jelas Gubag. Menurut Gubag, skala kesulitan di Payung Rafting ini tergolong menengah. “Tidak begitu ekstrem, namun tidak terlalu mudah. Mereka yang pemula cocok bermain di sini,” lanjutnya.

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

31


special

c olumn

special

Hermawan Kartajaya

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Introduction to

New Wave Marketing K

ita sekarang tinggal di dunia yang serba berubah. Bagaimana manusia berinteraksi, bekerja sama, dan berbisnis benar-benar sudah berbeda dibandingkan sepuluh - duapuluh tahun yang lalu. Tak terbayangkan bahwa komunikasi jarak jauh yang dilakukan secara instan melalui handphone dapat dilakukan oleh semua kalangan, bukan hanya yang kaya. Internet memungkinkan kita berhubungan langsung dengan siapapun di seluruh dunia. Dan dunia yang semakin terbuka ini membuat semua orang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan besar. Semua perubahan teknologi itu juga pada akhirnya mendorong perubahan landscape bisnis secara umum. Kemudahan komunikasi membawa era

32

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

dimana setiap orang dapat bekerja sama satu sama lainnya secara bebas dan langsung, tanpa perlu perantara. Ini pada akhirnya mendorong terjadinya paradox globalisasi. Dan pasar kini telah berubah menjadi semakin kreatif dan mempedulikan permasalahan spiritual yang lebih dalam. Seperti pengamatan Thomas Friedman dalam bukunya “The World is Flat”, dunia telah menjadi datar. Di dunia datar, hal-hal “vertikal” seperti bangsa, negara, suku, agama, usia, pekerjaan, dan status sosial, sudah tidak lagi dibahas. Semua orang sudah terhubungkan sebagai “citizens of the world”, yang setara sebagai manusia. Manusia yang ingin bekerja sama, bermain bersama, dan berinteraksi bersama. Dunia telah menjadi “horizontal”.

Sembilan elemen marketing yang sering saya bawakan dalam setiap kesempatan juga menuju perubahan. STP atau Segmentation-TargetingPositioning sudah berubah. Para individu yang terkoneksi satu sama lain tidak mau lagi di STPkan. Mereka sudah berkumpul dalam komunitas dimana marketer harus bisa diterima dahulu dengan mengklarifikasikan dirinya. Oleh sebab itu, STP menjadi Communitization, Confirmation, dan Clarification. Demikian juga dengan DMS atau D ifferentiationM a r k e t i n g Mix-Selling. Diferensiasi kini harus otentik dan tidak mudah ditiru. Sehingga harus merupakan Codification dari DNA. Sedangkan dalam Marketing Mix, Product menjadi CoCreation karena harus bisa diciptakan bersama pelanggan. Price menjadi Currency karena “floating” seperti mata uang. Place menjadi Communal-activation karena hanya di tempat aktivasi komunitas itulah bisa terbentuk channel informasi dan penjualan. Promotion menjadi Conversation karena pelanggan sudah tidak mau menjadi sasaran promosi lagi. Dan Selling menjadi Commercialization karena individu hanya melakukan transaksi yang adil, bukan sekedar sasaran salesman.

c olumn

Sedangkan Marketing value yang tercipta dari BSP atau Brand-Service-Process, sudah berubah pula menjadi Character, Care, Collaboration. Brand tidak bisa lagi dipaksakan ke benak konsumen, karena hanya karakter yang unik-lah yang akan diingat orang. Service yang biasa sudah menjadi generik. Orang sekarang menuntut kepedulian. Inilah yang disebut Care. Sedangkan Process menjadi Collaboration karena mulai dari hulu sampai hilir kolaborasi harus diupayakan terus dengan berbagai pihak. Process tanpa Collaboration akan menjadi terlalu mahal bagi banyak perusahaan. Konsep baru ini saya sebut sebagai New Wave Marketing, yang sering saya katakan pula sebagai Low Budget, High Impact Marketing. Konsep ini sudah saya luncurkan sejak December 2008, dalam sebuah buku dengan judul “New Wave Marketing” yang diikuti dengan sequel­-nya setahun kemudian berjudul “Connect: Surfing the New Wave Marketing”. Saya percaya bahwa sepuluh tahun lagi, di tahun 2020, pasar akan meninggalkan Legacy Marketing, yang tidak lagi sesuai dengan kondisi kemajuan jaman. Saat itu yang ada hanyalah New Wave Marketing. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

33


front of

m ind

S

iapa tak kenal dengan produk Tianshi? Pasti kita semua mengenalnya. Jika tidak dengan produkproduk kesehatannya pasti orang mengenal karena bisnis MLM-nya (multi level marketing). Beberapa kali saya ditawari untuk ikut dalam jaringan bisnis MLM ini dan beberapa kali pula akhirnya saya ”terjebak” Hingga kemudian saya bebeberapa kali berusaha untuk mencoba “menjalankannya” tapi setiap kali saya berusaha menawarkan dengan segala “trik” selalu gagal karena rasanya setiap orang sudah menjadi anggotanya.

GED telah berkembang menjadi penyedia jasa layanan pengiriman udara yang mandiri. Sejak berdirinya GED telah memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan standar layanan yang sesuai dengan standar internasional untuk sebuah perusahaan courier dan cargo. Selain memiliki jaringan yang tersebar diseluruh Indonesia, kecepatan dan ketepatan waktu penghantaran, keleluasaan waktu pengambilan, informasi tracing dan tracking pengiriman yang akurat dan cepat, GED senantiasa mengedepankan tingkat layanan yang bersumber dari keunggulan sumber daya manusia dalam upaya memenuhi kepuasaan pelanggan.

SERVICES: Same Day Service Layanan pengiriman dengan waktu tiba di kota tujuan pada hari yang sama Overnight Service Layanan pengiriman untuk tiba pada keesokan harinya Regular Service Layanan pengiriman dengan masa tiba 1-2 hari International Courier Service Layanan pengiriman international door to door

Memang Tianshi sudah jadi produk yang begitu sangat popular saat ini. Bukan karena banyaknya outlet seperti McD atau lantaran iklaniklannya bertebaran berulang dimana-mana, tapi karena viral effectnya. Efek dari mulut ke mulut jadi konsekuensi logis dari pilihan strategi multi level marketing-nya. Namun begitu siapa sangka bahwa pilihan ini awalnya hanya karena sang pelopor Li Jinyuan tak cukup punya uang untuk melakukan traditional marketing?

PT. GANESHA EMAS DWIPA Jl. Pulau Kawe No. 53 Denpasar, Bali 80222 Phone : (0361) 264320, 234461 Fax : (0361) 247985 Email : denpasar@ged.co.id Website : www.ged.co.id

Mungkin tak banyak yang mengenal siapa pendiri Tianshi ini sekaligus sejarah hidupnya. Namun jika kita simak banyak hal yang mampu kita “kutip” untuk menambah energi juang kita. Li Jinyuang lahir di kota tua Cangzhou, Cina ditahun 1958. Saat mudanya dia hidup dengan penuh ambisi dan impian. Namun demikian sepanjang sejarah bisnisnya dia selalu saja terlibat dengan kegiatan sosial. Sumbangan-sumbangan sosial untuk berbagai bencana, penyakit hingga concernnya untuk mengangkat masalah pendidikan di China sudah tercatat menghabiskan uangnya lebih dari US$ 200 juta. Di umurnya yang ke 14 tahun saat itu dia memutuskan diri untuk keluar dari sekolah. Dua tahun kemudian dia memulai bisnis pertamanya hingga di tahun 1980 berhasil mendapatkan keuntungan 20 juta Yuan melalui bisnis percetakan. Setelah beberapa kali mencoba bisnis bidang lain dan jatuh bangun. Li Jinyuang mencapai moment “titik balik”-nya, ketika dalam keadaan bangkrut di tahun 1994. Di suatu malam di Swan Lake dia mengatakan pada dirinya sendiri: ,¨Only if I donˇt lose heart, everything can be

34

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

started again” Satu tahun kemudian dia memulai bisnis Tiens Group bersama dengan Zheng Pengran menemukan produk unggulannya: High Calcium Nutrient Powder. Namun begitu kebangkrutan sebelumnya membuat hidupnya dikejar hutang, hingga dia harus harus menjual beberapa pabriknya, mem-PHK sebagian karyawan dan menjual Mercedez Benz kesanyangnya. Tapi dia percaya : “bad things can be turned good account” katanya. Hingga dua tahun kemudian dia sudah meraup keuntungan 2 Milyard Yuan dan kini Tianshi sudah merambah di 190 negara dan sudah memiliki konsumen lebih dari 20 juta keluarga diseluruh dunia.

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

35


l iterature

l iterature

GIVING

Pribadi Budiono Direktur BPR Lestari

Pemberian yang Melahirkan Pemberian BILL CLINTON

G

iving (memberi) merupakan ajakan bertindak dari Bill Clinton. Buku ini menginspirasi kita mencari apa yang sesungguhnya dapat kita lakukan untuk mengubah dunia. Setelah saya membaca buku ini sampai tuntas, saya merasa sangat kecil sekali, namun kita dapat melakukan sesuatu walaupun sekecil apapun untuk merubah dunia. Clinton menuliskan kisah orang-orang yang meninggalkan karier mereka dan menemukan kepuasan batin dari kegiatan baru yakni MEMBERI. Kegiatan-kegiatan Bill Clinton selepas menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat telah membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan jutaan orang. Melalui yayasannya dan melalui karya-karyanya bagi para korban tsunami di Asia termasuk Aceh dan Topan Katrina, ia telah menjadi juru bicara dan teladan di dunia Internasional perihal kekuatan positif dan tindakan memberi. “Kita semua mampu melakukan tindakan besar,” kata Clinton, “Semoga sekian banyak individu dan kisah yang ditampilkan di buku ini dapat membangkitkan semangat dan menyentuh hati kita, serta menyadarkan kita, bahwa keaktifan dan pelayanan kita bisa menjadi agen perubahan yang paling dahsyat di dunia.” Kenapa Bill Clinton sangat aktif dalam kegiatan GIVING (memberi)? Keaktifan Bill Clinton dalam dunia politik yang telah menyita begitu usianya, sebenarnya dalam urusan “MEMPEROLEH” yaitu memperoleh dukungan, memperoleh sumbangan, memperoleh suara, lagi, lagi, lagi dan lagi. Mungkin tanpa sadar yang kita lakukan selama ini dalam urusan “memperoleh juga”. Kalau kita memang melayani dengan baik, barangkali sudah terjadi saling memberi yang imbang. Bagaimana Bill Clinton melakukan kegiatan GIVING (memberi)?

36

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Seperti yang diceritakan dalam buku Giving, bahwa Clinton sangat aktif di sisa umurnya untuk melakukan kegiatan yaitu memberi waktu, uang dan ketrampilannya untuk usahausaha baik yang dapat menciptakan perubahan. Clinton membantu menyelamatkan nyawa, memecahkan masalahmasalah penting, dan membuka peluang lebih banyak kaum muda untuk mewujudkan cita-cita mereka. Wow ….. Luar Biasa. Apakah kita bisa melakukannya, dan bagaimana melakukannya? Cara melakukan yang paling mudah adalah dengan memberi sebagian uang kita. Seperti penggalangan dana pada saat terjadi bencana alam, angin topan, tsunami atau melalui acara-acara yang dipandu melalui televisi atau kita lakukan secara langsung kepada orang yang membutuhkan. Contoh paling kolosal dari memberi uang seperti Bill dan Melinda Gates Fondation (pemilik dan pendiri Microsof ). Kelurga Gates memutuskan mendirikan yayasan dan memberikan $ 35 milyar (Rp. 325 Trilyun) untuk menangani berbagai macam masalah global dengan fokus perhatian pada pendidikan, perawatan kesehatan di negara-negara miskin, pengurangan kemiskinan ekstrem. Mengapa keluarga Gates memutuskan memberikan uang mereka yang luar biasa besar? ”Supaya orang dapat merasakan apa artinya upaya penyelamatan nyawa bagi keluarga yang menderita dan membagikan informasi mengenai semua keberhasilan dan kegagalan supaya orang lain dapat belajar dari usaha-usaha yang Gates lakukan”. Di sebuah konferensi dermawan yang disponsori oleh Hillary dan Clinton di Gedung Putih tahun 2000, Bill Gates mengucapkan sesuatu yang tidak pernah Bill Clinton untuk melupakan yaitu ”Barangkali memberikan uang yang sekarang kita miliki terasa lebih sulit daripada ketika kita mencarinya”.

Demikian Warren Buffet, orang terkaya kedua di AS memberikan sebagian besar hartanya sebesar $ 30 milyar kepada yayasan Gates. Ketiga Bill Clinton menelepon Buffet untuk mengucapkan selamat atas pemberian itu seraya Clinton bertanya apa yang mendorong Buffet melakukan hal itu. Buffet menjawab ”Saya menjadi kaya karena para investor mempercayakan uang mereka untuk saya investasikan, karena mereka percaya uang mereka akan menghasilkan laba lebih besar jika saya yang menginvestasikannya daripada jika mereka menginvestasikan sendiri. Dan saya percaya Bill dan Melinda dapat memanfaatkan uang saya dengan lebih baik daripada saya sendiri”. Ketika Bill Clinton bertanya lebih lanjut tentang keputusannya untuk memberikan hampir seluruh hartanya itu, Buffet berkata. ”Yang saya berikan itu tidak ada artinya. Semua kebutuhan saya dapat saya penuhi dengan kurang dari satu persen kekayaan saya”. Wow......... kalau kita bisa meniru mereka walaupun tidak besar, mungkin di Indonesia tidak ada saudara kita yang tidak bisa makan, tidak ada saudara kita yang tidak mempunyai ongkos untuk berobat, tidak ada saudara kita yang putus sekolah, dan tidak ada yang tidak bisa, namun pertanyaannya kapan ya terjadi pada diri kita? Pembaca yang mempunyai jawabannya.

manfaat dari setiap hewan yang disumbangkan dan untuk menjadikan para penerima bantuan sebagai mitra dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan. Kewajiban ”Meneruskan Pemberian” seperti membuat setiap penerima bantuan dari Heifer menjadi warga yang baik dan menjadi semacam organisasi non profit mini. Hampir 1 milyar orang masih hidup dengan kurang dari $1 per hari dan sekitar 850 juta di antara mereka TIDUR LAPAR SETIAP MALAM. Kita bisa meniru cara kerja Heifer walaupun kita berada di Bali dan bisa kita salurkan secara langsung baik perorangan maupun di-organisasi secara baik. Dan yang lebih hebat lagi, dengan diharuskannya setiap penerima bantuan untuk menjadi pemberi, maka pemberian dari Anda akan terus melahirkan pemberian dan akan menjadi PEMBERIAN BERANTAI. Semoga Anda menjadi salah satu dari orang yang menerapkan Pemberian yang melahirkan pemberian (Pemberian Berantai). Selamat membaca . . .

Tindakan memberi luar biasa, yang pernah Bill Clinton jumpai terjadi tahun 1995 yang dilakukan oleh Osela McCarty. Lebih dari 75 tahun Osela McCarty mencari sesuap nasi dengan mencuci dan menyeterika pakaian orang lain. Ia sendiri berhenti sekolah ketika kelas 6 SD karena harus merawat bibinya yang sedang sakit dan tidak mempunyai anak dan ia tidak pernah lagi kembali ke sekolah dan tidak pernah menikah. Ia tidak pernah punya mobil dan hingga usia 87 tahun ia masih berjalan kaki lebih dari satu mil ke pasar swalayan terdekat untuk belanja kebutuhan seharihari. Selama itu ia terus menabung dan tabungannya terus berbunga. Pada tahun 1995 Osela menyerahkan tabungan seumur hidupnya yang berjumlah $150.000,- untuk diberikan kepada Universitas Southern Mississippi sebagai sumbangannya untuk dana beasiswa bagi mahasiswa kulit hitam Amerika yang membutuhkan. Bill Clinton, dalam salah satu bab memberikan ulasan pemberian yang dapat melahirkan pemberian (Pemberian Berantai). Seperti yang dilakukan oleh Heifer International, bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh kaum yang miskin dan menderita adalah jauh lebih besar daripada sekedar bantuan sementara, yaitu kemampuan menghidupi diri sendiri. Karena itu ia mengirimi mereka sapi, kerbau, kambing dengan syarat. Setiap penerima bantuan hewan dari Heifer DIHARUSKAN MEMBERIKAN ANAK PERTAMA dari hewan itu pada orang lain yang membutuhkan. Syarat tersebut dimaksudkan untuk MELIPATGANDAKAN Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

37


small

b izh o m eb i z

small

b izhomebiz

Apabila ada order dalam skala besar, jelas seniman Kamasan tidak bisa memenuhinya. Karena itu, mereka terpaksa berpaling kepada warna-warna pabrikan (warna kimia) yang gampang didapat. Hanya, dalam proses pewarnaan itu sebagian besar seniman masih menyertakan warna-warna alami untuk mempertahankan kesan natural. “Saat ini, warna-warna alami itu makin sulit didapat. Namun untuk pesananpesanan tertentu, kami masih memakainya. Tentu saja, harganya jadi lebih tinggi,� kata Kondra. Katanya lagi, lukisan yang dihasilkannya pernah terjual sampai 20 juta lebih. Namun ketika disinggung tentang strategi pemasaran hasil karya tersebut, Muriati mengatakan bahwa mereka masih melakukan sistem tunggu. Menurutnya, hasil – hasil karya mereka sudah banyak yang kenal, itu semua tak lepas dari peran sang ayah yang sudah sering mengikuti ajang pameran ke Eropa.

Tetap Eksis Meski Diterpa Krisis

Seniman bersaudara ini memiliki show room untuk memajang karya-karya seni yang dihasilkan keluarganya ini menegaskan, sebagian besar warga Banjar Sangging Desa Kamasan memang menggantungkan hidupnya dari seni lukis wayang. Dengan kata lain, seni warisan leluhur ini sudah

Oleh Prad

B

ila sebuah komunitas seniman begitu lekat dan begitu lama berkembangnya, maka jadilah hasil maha karya tersebut memiliki gaya (style) tersendiri. Seperti halnya lukisan tradisional Kamasan, yang terletak di desa Kamasan, Klungkung. Ciri khas tema yang diambil dari kisah pewayangan tetap bertahan sampai sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai kendala mulai dialami. Mulai dari berkurangnya jumlah pembeli sampai pada ketersediaan bahan dasar pewarna. Meski demikian, para seniman Kamasan tetap bertahan dengan seni warisan luluhur mereka. Tema lukisan Kamasan mengacu pada cerita epos Mahabharata atau Ramayana, begitu juga cerita kekawin Arjuna Wiwaha, Suthasoma. Karenanya, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau Wayang Kamasan terkesan agak tua dari konteks sejarahnya, namun hingga sekarang masih nampak utuh. Menurut kesan para kolektor Internasional, lukisan gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih, tidak ribut dengan detil yang tidak penting

38

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

dan sangat jelas pesan ceritanya. Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang itulah yang membawa daya tarik tersendiri bagi seniman atau wisatawan yang berkunjung ke desa Kamasan. Dua pelukis bersaudara, I Nyoman Kondra dan Mangku Nengah Muriati mengatakan keahlian melukisnya didapat dari sang ayah, Mangku Mura. Dipaparkan Kondra, pewarna yang dipakai untuk lukisan belakangan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Lukisan Kamasan tempo dulu, kata dia, murni memanfaatkan pewarna-pewarna alami yang dihasilkan dari tulang ikan, batu-batuan, tumbuh-tumbuhan dan mangsi yang dilarutkan dengan air (hasil pembakaran arang-red). Sebagian besar dari pewarna alami itu didapatkan dari Nusa Penida atau Pulau Serangan, bahkan ada yang didatangkan khusus dari Cina. Misalnya kencu untuk menghasilkan warna merah pekat. Proses pembuatan warna itu juga perlu waktu relatif lama sehingga dinilai kurang praktis dan efisien.

berkembang menjadi home industry. Sementara akses pemasaran, masih mengandalkan kunjungan dari wisatawan yang datang ke Desa Kamasan. Sangat jarang yang secara khusus memasarkan produknya ke luar Kamasan. Sistem penjualan konvensional seperti ini juga mengharuskan mereka bersaing sesama seniman di sana. “Penghasilan kami memang tergantung dari kunjungan wisatawan. Di saat-saat sepi tamu seperti saat ini, kami hanya bias menunggu, “ terang Muriati. Apa yang dijelaskan dua seniman di atas rata-rata hampir sama dengan seniman lain di Kamasan. Sepertinya adal rantai yang putus antara sistem pemasaran seniman ke tangan pembeli. Sistem pemasaran konvensional seperti itu, bukan tidak mungkin akan semakin menjauhkan pembeli dengan mereka. Tentu kita semua berharap agar lukisan tradisional Kamasan ini tidak akan punah hanya karena kurang cocoknya strategi marketing, setuju?? Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

39


communi t y

e nte rp ri s e

communit y

Membuat Perbedaan dengan Perusahaan Komunitas “Stronger communities – making it our business” Oleh Dicky Lopulalan

A

da sebuah panti asuhan di bilangan Denpasar, Bali. Berbeda dengan panti asuhan di tempat lain. Panti asuhan ini jarang mendapatkan kunjungan donatur, melainkan justru para pedagang. Hah? Pedagang? Iya, setiap pagi, rombongan pedagang sayur keliling (naik sepeda maupun motor) datang ke panti asuhan ini untuk membeli sayur yang akan mereka perdagangkan ke kompleks-kompleks perumahan. Para penghuni panti asuhan ini sebenarnya sama saja dengan panti-panti asuhan lain. Ada 50-an anak lelaki dan 40-an anak perempuan. Usianya bervariasi, dari 5 hingga 18 tahun. Yang membedakan, mereka tidak berpangku tangan menunggu kedatangan para donatur. Melainkan, bekerja memanfaatkan aset yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mau sehat, mau makan sayur, ya beberapa orang bikin kebun sayur, sebagian mereka makan, sebagian lagi mereka jual. Untuk mendapatkan protein, mereka beternak ayam pedaging dan petelur. Tak semuanya mereka makan, kebanyakan mereka jual. Ada juga yang menanam tanaman bumbu dapur seperti jahe, lengkuas, cabe, bahkan pepaya dan markisa. Prinsipnya sama, cukupi kebutuhan sendiri baru sisanya dijual untuk membeli kebutuhan yang lain. Gara-gara itulah mereka tidak lagi terlalu peduli apakah donatur akan datang berkunjug atau tidak. Juga, jadi akrab dengan pedagang sayur, bahkan ada jadi “konsultan” diminta mengajari komunitas lain. Ada lagi cerita lain, sebuah tempat di daerah Gilimanuk, Bali Barat. Ada lingkungan komunitas yang terkena dampak pemindahan terminal bus ke dekat pelabuhan Gilimanuk. Para tukang ojek, supir bemo dan keneknya, hingga supir andong mendadak saja kehilangan lapangan pekerjaan. Banyak yang limbung, tapi sekelompok anak muda menjawabnya dengan

40

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

bertanam adenium atau yang lebih dikenal dengan kamboja jepang. Tanaman ini, yang aslinya memang tanaman gurun, ternyata cocok tumbuh di tanah pasir minim air seperti Gilimanuk. Pasarnya pun bagus. Bibit kecil ukuran 3cm dihargai Rp5.000,00 sedangkan yang satu meter bisa Rp400.000,- Dalam waktu singkat, komunitas tadi bertani adenium dan saling berbagi ruang pekerjaan. Mereka kemudian mendirikan koperasi untuk mengatur usaha mereka agar dapat berjalan baik. Dua cerita di atas ini coba menjelaskan apa itu community enterprise (CE), yang menjadi judul rubrik baru ini. Bahwa, CE adalah satu jenis kegiatan bisnis yang dibangun untuk mempertemukan kebutuhan yang ada dalam komunitas. Sementara bisnis biasa memaksimalkan profit untuk pemilik dan pemegang saham, CE bertujuan menghantar dampak sosial melalui aktivitas-aktivitas yang berkelanjutan secara finansial. Contoh panti asuhan di atas misalnya, usaha kebun dan ternak yang mereka lakukan berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar (makan), sosial (pekarangan panti tertata), dan finansial. Sedangkan contoh kedua, aktivitas menanam adenium justru memberikan dampak positif pergeseran pola kerja, dari pekerja transportasi menjadi petani dan pemilik perusahaan bunga, yang memiliki keberlanjutan modal finansial. Contoh lainnya bisa lebih sederhana. Seorang penata taman lokal mempekerjakan anak-anak putus sekolah untuk melayani jasa pemotongan rumput di kompleks perumahan misalnya. Atau, seorang pemilik café memberikan peluang pekerjaan pada para pengungsi. Atau, dimana tempat tidak ada bank, komunitas bersama-sama mendirikan CU dan menjadikan diri mereka sebagai pemegang sahamnya. Itu semua contoh CE.

e nterprise

Apa yang dilakukan komunitas adat Sanur dapat menjadi contoh konkret. Pada awal-awal kedatangan turis ke Bali pada tahun 1960-an komunitas ini merasa perlu untuk mendirikan yayasan yang bisa menjaga kelestarian lingkungan, sejarah, dan budaya mereka, sekaligus memberi keuntungan ekonomi bagi komunitas. Yayasan ini kemudian menyumbangkan banyak kajian dan pendampingan tentang green atau eco tourism, advokasi dan pendidikan pada komunitas. Aktivitas-aktivitas macam festival tahunan menjadi tempat untuk mempertemukan komunitas dengan konsumen, dan memberikan dampak ekonomi langsung. Untuk menjaga keberlanjutan finansial, dilahirkanlah perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh

Majalah FastCompany sudah dari jauh-jauh hari meramalkan, sebelum krisis ekonomi AS akibat tumbangnya beberapa perusahaan keuangan raksasa, bahwa ada fase dimana kepentingan bisnis dan kepentingan sosial “bukan hal yang bijaksana” untuk dipertentangkan lagi. Bahkan, saran majalah ini, kepentingan ini perlu dipertemukan. Artinya, perusahaan yang dianggap maju dan menang di kemudian hari, adalah perusahaan yang sehat dan punya etika sosial. Sederhananya, mendapatkan keuntungan finansial yang tinggi dan memberikan dampak sosial yang besar untuk komunitas. Oleh banyak ahli ekonomi dunia, pendekatan bisnis berbasis kekuatan komunitas ini sebenarnya jawaban

komunitas. Kegiatannya beragam, dari restoran hingga pengelolaan limbah, di wilayah Sanur. Pengelola dan pekerjaannya adalah anggota-anggota komunitas. Keuntungannya? Ya, untuk komunitas.

atas kegagalan ekonomi berbasis modal individual yang tergantung pada kebijakan segelintir orang.

Pun begitu, masih saja orang ada yang salah kira. Ketika mendengar istilah “memberikan dampak sosial” selalu yang terbayangkan CE hanya sebagai organisasi “not for profit” atau untuk sosial belaka. Pendapat ini ditolak oleh Menteri Pembangunan Komunitas Negara Bagian Victoria, Australia, Peter Batchelor, MP. Menurutnya, “Community enterprise bertujuan menjaga bisnis dan membuat keuntungan – cara mereka menjalankan bisnis dan apa yang mereka lakukan dengan keuntungan itu adalah yang membuat perbedaan.”

Sebagai bentuk komitmen atas pandangan macam ini, FastCompany setiap tahunnya menganugrahkan The Socialist Capitalist Award, yakni penghargaan untuk perusahaan komunitas terbaik. Salah satu contoh perusahaan yang mendapatkan penghargaan ini adalah sebuah perusahaan travel kampus di AS. Perusahaan ini dikelola oleh anak-anak muda putus sekolah yang tinggal di sekeliling kampus Universitas Harvard. Jasa yang mereka tawarkan adalah menjadi pemandu tur keliling kampus Harvard untuk para turis. Luar biasanya, mereka fasih memberi penjelasan pada turis, padahal tak ada yang pernah duduk kuliah di kampus itu. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

41


communi t y

t

e nte rp ri s e

Sepuluh tahun terakhir ini memang menjadi momen penting kebangkitan kembali CE di khasanah ekonomi dunia. Tidak cuma di dunia internasional, tapi juga di tingkat lokal. Kalau itu mau jeli, kita akan menemukan banyak sekali praktik-praktik bisnis berbasis komunitas. Dan, boleh jadi, itu yang ikut menyokong perekonomian Indonesia sehingga tidak hancur berantakan saat dipukul “krisis moneter” tahun 1997 dan krisis global belakangan ini. Dan memang, menariknya dari sejarah CE yang begitu panjang, sejak zaman keemasan Babylonia, praktik CE akan mencuat ke permukaan manakala muncul pergolakan besar dalam dunia ekonomi. Perusahaan komunitas modern pertama yang didirikan oleh sekelompok komunitas penenun kain flannel di Rochdael, Inggris, pada 1844 misalnya lahir sebagai respon atas dampak sosial dan ekonomi yang diciptakan oleh Revolusi Industri. Perusahaan ini menyediakan produk-produk makanan untuk anggota komunitas dan keluarga mereka, dan mematik sebuah gerakan dunia yang memberikan dukungan pada praktek-praktek usaha komunitas yang masih hidup sampai sekarang. Bentuk CE bisa saja berbeda-beda di jaman kontemporer seperti sekarang ini. Bisa dalam bentuk komunitas adat, yayasan, panti asuhan, usaha dagang, perusahaan (CV, PT) atau bahkan inkorporasi berupa jaringan banyak bentuk organisasi yang adaptif dengan kebutuhan dan konteks yang berbeda. Pun begitu, bagian paling menarik dan membedakan dengan perusahaan lainnya, adalah CE punya cara-cara unik dalam merespon kelokalan dan menciptakan peluangpeluang baru untuk partisipasi sosial, ketenagakerjaan, dan penyediaan jasa-jasa yang dibutuhkan. (Dicky Lopulalan for M&I)

Komunitas

* Organisasi Komunitas

high- ech index Box 1: Karakter Community Enterprise - Responsif pada satu atau lebih kebutuhan komunitas yang teridentifikasi - Mencapai tujuan (-tujuan) sosialnya oleh peningkatan perdagangan

- Menciptakan kesempatan untuk komunitas berpartisipasi dalam pembangunan, pelaksanaan dan atau pengelolaan CE - Usaha untuk mencapai keberlanjutan finansial - Menginvestasikan keuntungan kembali ke CE atau komunitas

Tidak semua CE memiliki karakter-kareakter di atas. Karakter-karakter tersebut sebenarnya membantu untuk menginformasikan tujuan-tujuan perusahaan dan cara untuk mengukur kesuksesannya. Jika karakter-karakter ini belum terbangun, ada baiknya untuk bertanya, “kenapa tidak?” (Diadaptasi dari Pearce, J. 2003 Social enterprise in Anytown.) Box 2: CE = Sosial + Bisnis Community enterprise (CE) sebenarnya hasil proses evolusi manfaat sosial dan keterampilan berbisnis. CE menjembatani komunitas dan lingkungan bisnis. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan jumlah perusahaan “pada umumnya” untuk lebih punya tanggung jawab sosial dan organisasi komunitas menjadi lebih “enterprising”.

Community Enterprise

* Bisnis pada umumnya Perusahaan

42

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

RECHARGE B

ila anda memiliki banyak gadget dan suka traveling. Coba bayangkan: anda memiliki sebuah kamera presumer atau DSLR plus sebuah lampu kilat eksternal sudah membuat anda perlu delapan buah baterai berukuran AA. Bila tidak memakai baterai berjenis    isi ulang (rechargeable) maka biaya untuk pembelian baterai sekali pakai (alkaline) menjadi sangat tinggi.  Oleh sebab itu kini anda perlu baterai AAA rechargeable untuk peranti wireless receiver anda.  Atau adakalanya kita perlu baterai isi ulang yang ukurannya tidak lazim, misalkan tipe C ataupun tipe  D, rasanya cukup sulit mencarinya. Untuk masalah itu itu kini Sanyo menyediakan seperangkat baterai Eneloop yang lengkap dan praktis dipakai untuk bepergian.  Paket bernama Sanyo basic family pack ini berbentuk seperti tas kecil berbahan plastik yang transparan. Tampak di dalam kemasannya beberapa buah baterai dan charger. Saat dibuka, kita akan menemukan delapan buah baterai AA dan empat buah baterai AAA. Sebagai charger disediakan sebuah unit quick charger NC-MQR02N yang mampu menampung

empat baterai AA (atau dua baterai AAA). Sebagai info, baterai-baterai ini bernama Sanyo Eneloop yang punya kapasitas 2000 mAh (untuk AA) dan 800 mAh (untuk AAA). Baterai Eneloop adalah terobosan baterai isi ulang baru yang sudah terisi tegangan dan siap untuk langsung dipakai. Berkat teknologi baru, hampir tidak ada memory effect pada baterai jenis ini dan sanggup diisi ulang hingga 1000 kali. Setiap diisi penuh, baterai

YOUR BATTERY

Eneloop masih sanggup mempertahankaan kapasitas listriknya sebesar 85% meski sudah disimpan selama setahun.  Ada yang unik dalam paket Sanyo kali ini. Disini Sanyo menyediakan adapter yang mampu menjadikan baterai AA bisa dipakai untuk perangkat yang seharusnya memakai baterai tipe C dan tipe D. Sanyo memberikan dua adapter tipe C dan dua adapter tipe D yang pemakaiannya sangat mudah, cukup masukkan baterai AA ke adapter sampai terasa bunyi klik. Dengan begitu bila kita perlu memiliki dua baterai isi ulang berjenis C atau D, maka produk Sanyo dengan harga 560 ribu ini bisa dipertimbangkan mengingat betapa mahalnya baterai alkaline tipe D. Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

43


af ter

h ou r

af ter

Tifatul Sembiring Mendadak Ngetop

Nama Tifatul Sembiring belakangan ini mulai banyak dibicarakan. Benar, Menteri Komunikasi dan Informatika ini menuai banyak kontroversi terkait pernyataannya. Belakangan Tifatul kembali berkomentar. Dia mengaitkan persoalan keyakinan umat agama ke dalam polemik video porno artis. Wow!!

Tifatul mengatakan, bagi umat Islam, orang yang mirip Nabi Isa itu yang disalib di bukit Kalvari atau Golgota. Sementara umat Nasrani menganggap, Yesus Kristus itu sendiri yang disalib. “Perbedaan ini kemudian berimplikasi panjang,” terangnya. Tifatul harusnya tahu, persoalan keyakinan yang berusia ribuan tahun itu, dan yang sebenarnya tak pernah diungkit-ungkit kedua umat beragama sebagai perbedaan yang jadi alasan untuk berseteru, tak pantas diangkat dalam kerangka penuntasan video porno. Tifatul pun harusnya tahu, peristiwa penyaliban merupakan momen suci bagi umat Nasrani yang dirayakan tiap tahun di Jumat Agung. Peristiwa penyaliban yang sakral itu tak pantas dibanding-bandingkan dalam tragedi moral. Tifatul seakan mendramatisir, perbedaan keyakinan soal penyaliban di bukit Kalvari itu telah jadi polemik panjang.

Tifatul menegaskan, “orang-orang yang mirip-mirip” ini harus segera ditindak. Dari itu, perlu ada jawaban betul atau tidak bahwa itu mirip artis atau tidak. “Kalau yang mirip ini tidak dituntaskan, akan panjang implikasinya,” tutur Tifatul kala itu kepada wartawan di kantornya Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sayangnya, ungkapan niat baik itu, tak dikemas Tifaltul dengan baik. Polemik video yang amoral dibandingkan dengan perbedaan keyakinan umat Islam dan Nasrani soal penyaliban Nabi Isa.

Tak sekali ini Tifatul bikin gerah beberapa kalangan. Pernah pula Presiden SBY menegurnya lewat pidato di Istana Negara, menyinggung soal Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, tentang konten multimedia. RPM ini menuai kecaman banyak pihak terutama dari kalangan media massa. Ada – ada saja Pak Menteri yang satu ini.

44

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

h our

Biar Gemetar, Sheila Madjid Siap Gelar Konser 25 Tahun Aris Danu Cahyono

INILAH.COM, Jakarta - Sheila Madjid siap menggelar konser 25 tahun. Mengaku masih suka gemetar, Sheila ingin tampil maksimal dengan tetap menjadi diri sendiri. “Rencana konser di Indonesia pada September 2010. Persiapan paling untuk panggung, lagu dan penampilan. Tapi sekarang sudah mulai ngomong sama promotor di sini,” ungkap Sheila tentang rencana konser 25 tahun Sheila Madjid di dunia musik, di Sampoerna Strategic Square, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (21/6) petang. Sheila siap menjual 4.000 tiket. Semuanya terbagi dalam lima kelas: VVIP, VIP, kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Tanpa menyebut berapa harga tiketnya, Sheila saat konser hanya ingin tampil maksimal dan menjadi dirinya. “Untuk konser di Indonesia saya ingin jadi diri sendiri. Saya nggak perlu pakai berlian karena di sini saya ingin menonjolkan diri saya dan lagu-lagu saya. Di sini sudah ada wardrobe dan sponsor, ada tiga baju.” Ia menambahkan, “Saya mempunyai rencana mngundang pemusik Indonesia yang banyak band. Nanti ada Indra lesmana dan beberapa lagi. Yakin dengan konser 25 tahun? “25 tahun bukan baru tapi banyak yang dipelajari. Saya harus coba belajar menghilangkan gemetar, karena sampai sekarang saya masih suka gemetar.” [aji/mor]

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

45


s neakp e e k “ If you have a problem, if no one else can help, and if you can find them, maybe you can hire...

The A-Team “ Oleh Elly Ten Ungkapan di atas, amat popular di tahun 80an di stasiun televisi TVRI. Sekarang anda dapat menontonnya kembali sejak 11 Juni 2010 di bioskop. Dengan judul The A-Team, There Is No Plan B.  Modernisasi, tampak jelas di sana-sini. Mereka bukan lagi mantan sebuah unit perang vietnam yang dijebak, melainkan pasukan Ranger yang dipimpin seorang kolonel. Bayangkan jika mereka adalah mantan pasukan perang vietnam seperti certia aslinya, berapa umur mereka sekarang? Untuk masing-masing karakter di film ini, Hannibal yang menghisap cerutu kalah bersinar dengan Face yang lebih ”eye catching”. Face masih sesuai dengan karakter yang lama seorang flamboyan seperti cassanova, B.A yang biasanya kurang begitu garang masih kalah jauh dengan Mr. T, dan seperti biasa Murdoch tampil dengan segala ”kegilaannya”. The A-Team yang ini lebih mengarah ke genre film laga serius seperti gaya film Die Hard beda dengan aksi petualangan komedi yang pernah ada sebelumnya, jalan cerita yang simpel membuat film ini ringan tetapi aksi-aksi yang cukup keren membriksm “nilai lebih” di film ini. Anda akan lebih sering mengatakan WOW ketimbang berpikir untuk memahami alur dan isi cerita. Tak mudah untuk mendulang kesuksesan film ini di layar lebar, tapi setidaknya anda dapat bernostalgia sekaligus mengisi jadwal weekend

46

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0

Vol. 7 J ul - Aug 2010 -

47


48

- Vol. 7 J ul - Au g 2 0 1 0


M&I magz ed 07