Scuba Holic #22

Page 1

FREE // AGUSTUS 2017 // #22

a b u Sc lic Ho

Atraksi Lumba & Satwa Liar sebagai Sarana Edukatif, Benarkah?

stop

sirkus lumba! Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

1


by

2

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


by Irwan Hermawan

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

3


Scuba

Holic

diterbitkan

oleh

Unit Selam UGM, sebagai media informasi

dan

komunikasi

mengenai

dunia

penyelaman.

Majalah ini memiliki versi online yang dapat diunduh di website resmi Unit Selam UGM. TIM PENYUSUN Penanggung Jawab

editorial notes Cobalah mengetik kata "dolphin circus" dalam mesin pencari Google. Maka akan muncul beberapa artikel yang mengulas masih adanya sirkus lumba di Indonesia pada halaman pertama. Berlanjutlah pada halaman kedua, ketiga, dan seterusnya. Apakah kalian menemukan judul-judul yang serupa? Ya, pertunjukan lumba-lumba keliling memang masih menjadi isu kontroversi yang ada di Indonesia. Beragam bentuk penolakan, baik melalui media tertulis maupun berupa aksi telah banyak dilakukan oleh beberapa lembaga perlindungan hewan selama bertahun-tahun. Namun, hingga saat ini masih saja ditemukan tenda-tenda besar dengan foto lumba-lumba dan satwa langka lainnya terpampang jelas di depannya. Scuba Holic edisi spesial kali ini akan membahas tentang fenomena sirkus lumba yang ditemukan langsung di Yogyakarta oleh para reporter Scuba Holic. Fakta-fakta seputar lumba-lumba juga akan diulas supaya para pembaca semakin mengenal mamalia cerdas ini secara lebih dekat. Selamat membaca dan salam bahari!

4

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

Alifa Amila Fathoni Pimpinan Umum NR Novika Pimpinan Redaksi Elisabeth Astari Redaktur Miftah Idfa Syafinah Achmeilia Budiarti Distribusi Rika Karunia Laring Layout Angga Putra Pratama Cover Aji Nugroho Alamat Redaksi: Sekretariat Unit Selam UGM, Gelanggang Mahasiswa UGM, Jalan Pancasila nomor 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Website : www.selam.ukm.ugm. ac.id Twitter : @selamugm Facebook : Unitselam UGM Instagram : @selamugm


Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

5


D A F T A R

I S I

26 Dive Notes Environment

8

Kecerdasan Lumba-Lumba yang Tereksploitasi

Dive Destination 10

Surga Dunia di Kalimantan Timur

Marine Bites 14 Lumba-Lumba Maui

Aqua Sounds 16 Atraksi Lumba & Satwa Liar sebagai Sarana Edukatif, Benarkah?

Ekspedisi Sulawesi Tenggara WWF Indonesia

30 Gear Up Buoy dari Bahan Tepat Guna

32 Profil Unyilers Katherina Tjandra, Kenalkan Konservasi ke Masyarakat dengan Beragam Cara

34 Dive Event Walikota Cup Surabaya ke 723

35 Unyil Review Dolphin Tale

Dive JPEG 20 Who's Bubbling 22 Angelina Pane, Sadarkan Kepedulian terhadap Satwa melalui Animal Friends Jogja 6

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

36 Vakansi Di Balik Semua Senyuman


Foto: Spesial

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

7


Environment

Kecerdasan Lumba-Lumba

yang Tereksploitasi Teks : Marwandhana Letto Foto : Spesial

Dewasa ini aktivitas eksplorasi tengah gencar dilakukan hingga menjadi sebuah tren tersendiri. Sayangnya, eksplorasi tanpa diimbangi dengan etika dan ilmu hanya akan menjadi eksploitasi. Eksploitasi sumber daya alam yang kenyataannya kini marak terjadi. Tak hanya pohonpohon di hutan, pun satwasatwa di dalamnya tak luput dari tindakan eksploitasi. Jika bertanya bentuk eksploitasi apa yang dilakukan oleh manusia terhadap mereka, jawabannya adalah beragam. Segala tindakan yang merenggut kebebasan dan kesejahteraan satwa tersebut adalah tindakan eksploitasi. Salah satu tindakan eksploitasi yang kerap terjadi yakni pemanfaatan bakat satwa untuk menghasilkan keuntungan, seperti pertunjukan keliling lumba8

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

lumba. Kecerdasan lumbalumba yang melebihi mamalia laut lainnya menyebabkan satwa ini paling banyak diincar, terutama jenis lumbalumba botol hidung yang mudah didapat. Lumbalumba mudah untuk dilatih dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, sehingga tak sedikit para pelaku pencari untung yang menangkap mereka dari laut dan memindahkan ke sebuah kolam dari satu tempat ke tempat yang lain untuk dipergunakan dalam pertunjukan hiburan atau sirkus keliling. Lumba-lumba sendiri termasuk mamalia laut, yang bernapas menggunakan paru-paru, berkembang biak


Environment dengan cara melahirkan dan menyusui anaknya, sama seperti mamalia darat pada umumnya. Setiap tahun lumba-lumba bermigrasi, namun penyebarannya tak bergantung suhu dan kadar garam perairannya, karena mereka tergolong hewan yang mampu beradaptasi pada lingkungannya dengan baik. Sebagian besar dari mereka hidup dalam koloni dan berkomunikasi menggunakan ekolokasi. Jenis makanan lumbalumba pun sangat beragam, mulai dari ikan, cumi-cumi, gurita, kepiting, udang hingga plankton.

Ketika ada kumpulan ikan, kelompok lumba-lumba akan berpencar dan beberapa dari mereka menyelam di bawah kumpulan mangsa tersebut lalu menggiringnya ke permukaan dengan cara berenang dalam formasi yang rapat. Oleh karena itu lumba-lumba adalah top predator dalam suatu perairan yang berfungsi menjaga populasi dari mangsanya. Nah, bisa bayangkan jika pertunjukan lumba-lumba keliling yang katanya ‘menghibur’ itu tidak segera dihentikan?

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

9


DIVE DESTINATION

Surga Dunia

di Kalimantan Timur Teks & Foto : Esa Alfi

Siapa sih yang tidak mengenal Kepulauan Derawan? Yap, Kepulauan Derawan yang seringkali dikenal dengan sebutan ‘Surga Dunia di Kalimantan Timur’ ini berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Keindahan wisata bahari yang dimiliki kepulauan ini sudah tidak diragukan lagi bagi para wisatawan Indonesia maupun Mancanegara, khususnya di dunia penyelaman. Sedikitnya terdapat empat pulau yang terkenal di Kepulauan Derawan, yaitu Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Pada bulan April 2016 lalu, saya 10

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

beserta seorang teman berkesempatan mengunjungi Kepulauan Derawan untuk mengikuti Jambore FoPMI VII Derawan. Kegiatan ini merupakan acara tahunan bagi klub dan komunitas selam mahasiswa seIndonesia, dimana FinDC Universitas Mulawarman berkesempatan sebagai tuan rumah kali ini. Kami pun berangkat menuju Bandara Sepinggan, Balikpapan sehari sebelum acara dimulai. Sesampainya di Samarinda, kami menuju ke kesekertariatan FinDC Unmul yang akan menjadi basecamp kami sampai keesokan harinya. Sore hari usai


Dive Destination dibukanya Jambore FoPMI VII, kami memulai perjalanan menuju dermaga Tanjung Batu, Berau menggunakan bus kecil. Perjalanan menuju Dermaga Tanjung Batu sangatlah panjang, lebih dari 24 jam melewati hutan-hutan yang ada di Kalimantan Timur. Dari dermaga lalu kami menyeberang menuju Pulau Derawan dengan kapal klotok berukuran sedang selama kurang lebih tiga jam. Selama perjalanan kami ditemani indahnya matahari tenggelam yang membuat rasa lelah kami tidak terasa. Kami pun sampai di Pulau Derawan saat hari sudah mulai gelap. Titik pertama yang kami selami adalah Jetty Point, yang berada tak jauh dari dermaga. Meski berada di dermaga, keindahan biota bawah lautnya terbilang cukup bagus.

Banyak ikan karang dan biota laut lainnya yang saya temui saat di bawah. Setelah penyelaman pertama, kami menuju titik penyelaman kedua, yaitu Dharma Point, menggunakan kapal tidak jauh dari tempat awal. Pada saat penyelaman kedua arusnya cukup kuat, tetapi tidak menyurutkan semangat kami karena bertemu dengan penyu yang sedang beristirahat. Pulau Kakaban Tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Kakaban. Perjalanan ditempuh menggunakan kapal kurang lebih selama tiga jam. Pulau Kakaban merupakan pulau yang unik, karena di tengahnya terdapat sebuah danau bernama Danau Kakaban.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 11


DIVE DESTINATION

Danau ini merupakan campuran air hujan dan air laut hasil penyerapan pori-pori tanah sehingga menghasilkan habitat endemik yang berbeda dari danau lainnya di dunia. Menariknya lagi, di danau ini terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat, yang diperkirakan ribuan tahun lalu terperangkap dan berevolusi untuk berfotosintesis, yaitu Golden Jellyfish dan Moon Jellyfish. Pulau Sangalaki Perjalanan kami selanjutnya menuju Pulau Sangalaki ditemani oleh keindahan matahari tenggelam 12

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

dan lumba-lumba yang melompatlompat di samping kapal, membuat semua orang di kapal kegirangan. Pulau Sangalaki merupakan pulau kecil yang dijadikan tempat konservasi penyu oleh BKSDA. Saat berjalan mengelilingi pulau, kita akan menemukan jejak penyu di mana-mana. Sedangkan saat malam hari, kita dapat melihat penyu yang sedang bertelur dengan syarat tidak mengganggu dan menggunakan flash karena dapat membuat penyu trauma untuk datang kembali ke pulau ini. Untuk kegiatan penyelaman, terdapat banyak spot


penyelaman yang berada di pulau ini, khususnya bagi yang ingin melihat pari manta. Kami sempat melakukan satu kali penyelaman di spot Manta Avenue, sebelum akhirnya kami kembali ke Pulau Derawan untuk mengakhiri trip kali ini. How to get there : Pesawat dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta – Bandara Kalimarau, Berau Travel reguler dari Bandara Kalimarau, Berau – Dermaga Tanjung Batu Speed boat dari Dermaga Tanjung Batu – Pulau Derawan Speed boat dari Pulau Derawan – Pulau Sangalaki/Kakaban/Maratua/ Sangalaki Contact person : Penginapan dan Dive Center : Danakan Dive Center Mas Icuk - 081347229602 Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 13


Marine Bites Siapa sih yang tidak kenal dengan hewan lucu satu ini? Ya, dia adalah lumba-lumba. Di perairan dunia, terdapat banyak spesies lumbalumba, salah satunya adalah lumba-lumba Maui. Lumbalumba Maui merupakan subspesies dari lumba-lumba Hector (Cephalorhynchus hectori) dan biasa dijumpai di perairan Selandia Baru. Kata “Maui” dalam lumbalumba ini berasal dari te Ika-a- Māui, yakni bahasa Maori untuk Pulau Utara New Zealand. Akan tetapi, bahasa Maori sendiri untuk lumba-lumba ini adalah popoto. Lumba - lumba Maui (Cephalorhynchus hectori maui) sering dijuluki sebagai “hobbit of the sea” karena panjang tubuhnya hanya sekitar 1,7 meter dan merupakan salah satu spesies lumba-lumba terkecil di dunia. Lumba-lumba

ini hidup secara berkelompok dan umumnya terdapat di sepanjang pantai atau perairan dangkal dengan kedalaman kurang dari 20 meter. Ciri khas yang ia miliki yakni perpaduan warna kulit abu-abu dan putih, moncong yang pendek serta sirip punggung bulat. Ia menggunakan bio sonar untuk navigasi, berkomunikasi, dan mencari makanan, yang tidak lain adalah ikan kecil dan cumicumi. Saat berumur 7-9 tahun, ia akan memiliki kematangan seksual dan hanya menghasilkan satu anak tiap 2-4 tahun. Lumba-lumba ini dapat bertahan hidup selama 20 tahun, namun karena perkembangbiakkannya yang termasuk lambat sehingga kini lumba-lumba Muai tergolong dalam salah satu hewan langka yang hampir punah.

Lumba-Lum 14

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


Oleh Intan Nur Musyarrofah Foto : Spesial

mba Maui Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 15


Aqua Sounds

Atraksi Lumba & Satwa Liar sebagai Sarana Edukatif,

Benarkah?

Oleh NR Novika

Keramaian perayaan Sekaten di Alun-Alun Selatan Yogyakarta menarik perhatian siapa saja yang melaluinya. Sebuah tenda biru besar berdiri di bagian timur alun-alun, seakan ditonjolkan sebagai wahana utama bagi pengunjung Sekaten Jogja saat itu. Di sekelilingnya terpasang beberapa spanduk dan umbul-umbul dengan warna mencolok, bertuliskan “ Datang dan Saksikan!!! Pentas LumbaLumba dan Satwa Langka�. Beberapa foto lumba-lumba menjadi latar tulisan, ada yang tengah melompat dari air, menahan bola dan hula hoop di moncongnya. Terpampang jadwal pertunjukan yang digelar empat kali

16

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

dalam sehari, kecuali pada akhir pekan, ada lima kali pertunjukan. Beberapa pengunjung Sekaten yang sebagian besar orang tua dan anak-anak telah mengantre di depan loket sejak pukul 9 pagi. Loket tiket dibagi berdasarkan kelas atau posisi tempat duduk, seperti pada pertunjukan konser. Harga tiket berkisar mulai dari Rp 35.000 hingga Rp.100.000. Pukul 09.30 WIB pintu masuk dibuka dan pengunjung mulai memasuki arena pertunjukan. Terdengar alunan musik pop yang diputar sangat kencang, diikuti suara laki-laki yang menyambut para pengunjung dengan lantang.


“Pertunjukan ini diselenggarakan oleh Diana Enterprise bekerja sama dengan PT Impian Jaya Ancol Jakarta!! Terima kasih Diana Enterprise udah datengin lumbalumba, daripada harus jauh-jauh ke Jakarta!!�, ucapnya. Sementara itu, dua ekor lumba-lumba hidung botol tengah berenang mengitari sebuah kolam yang terletak di pusat arena besar tersebut. Kolam yang secara jelas tampak terlalu sempit untuk mereka huni selama satu bulan penuh di AlunAlun Selatan ini. Atraksi sepasang berang-berang dan seekor singa laut yang diberi nama Zaskia mengawali pertunjukan siang itu. Setiap berhasil melakukan atraksi yang diinstruksikan, mereka diberi dua ekor ikan oleh sang pelatih. Para penonton menyaksikan dengan terkesima, bertepuk tangan dan tampak terhibur.

Tanpa disangka di tengah-tengah penampilannya, Zaskia tiba-tiba berjalan mendekati kolam lumba-lumba dan melompat masuk ke dalamnya. Sang pelatih nampak terkejut dan mencoba memancing Zaskia keluar dari kolam dengan ikan-ikan di tangannya, namun tak berhasil. Zaskia terus berenang mengitari kolam seolah menikmati segarnya air kolam dan tak mau keluar. Menyadari kebingungan penonton, pembawa acara kemudian memberitahukan bahwa pertunjukan saat itu terpaksa dibatalkan dan penonton akan dialihkan pada jadwal berikutnya. Penonton yang kecewa mulai mengosongi arena satu per satu. Penasaran dengan apa yang akan dilakukan para pelatih, saya berbalik arah dengan alasan ada barang yang tertinggal. Saat itu saya melihat para pelatih menggunakan jaring besar untuk mengeluarkan Zaskia dari kolam secara paksa. Salah satu pelatih menyadari kehadiran saya dan berteriak dengan garang pada penjaga pintu masuk untuk membawa saya keluar. Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 17


Aqua Sounds Begitulah atraksi yang saya lihat di dalam tenda biru besar itu, sebelum kemudian saya melihat keseluruhan atraksi hingga sesi foto bersama lumba-lumba berakhir. Sebuah atraksi yang telah dilarang di hampir seluruh dunia karena dianggap mengancam hewan-hewan tersebut secara psikis dan fisik. Saat ditanya, pihak penyelenggara mengaku bahwa pertunjukan ini adalah sarana edukasi, khususnya bagi anak-anak, tentang lumba-lumba sebagai hewan mamalia, bukan ikan. Mengenai prosedur pengangkutan dan perawatan, mereka tidak menjelaskan secara detil, yang jelas sesuai dengan standar yang diperlukan. Mereka menambahkan bahwa ada dokter hewan dari pihak Ancol yang mengecek kondisi lumba-lumba asal Karimunjawa dan Pekalongan ini secara berkala.

18

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

Namun, beberapa lembaga perlindungan kesejahteraan hewan, seperti Animal Friends Jogja menolak keras adanya kehadiran pertunjukan ini. “Semua pihak yang berhubungan sudah kita kasih surat, dari Dinas Pendidikan sampai PAUD, karena target mereka ini anak-anak PAUD dan TK. Tapi pihakpihak tersebut tidak merespon. Padahal di Jakarta itu Dinas Pendidikan sudah memberi respon terkait hal ini dan sempat mengundang teman-teman JAAN (Jakarta Animal Aid Network) untuk diskusi. Sementara teman-teman di Balikpapan juga sudah beraudiensi dengan Dinas Pendidikan daerah setempat, mereka bersama-sama menolak sirkus lumba-lumba di sana�, kata aktivis perlindungan hewan dari Animal Friends Jogja, Angelina Pane.


AQUA SOUNDS

Dilansir dari mongabay.com, terdapat lima kebebasan yang harus dipahami sebagai pedoman kesejahteraan satwa internasional, yaitu bebas dari lapar dan haus; rasa takut dan tertekan; penyiksaan fisik dan panas; rasa sakit, cidera, dan penyakit; serta bebas mengekspresikan kebiasaan normal. Masih adanya pertunjukan lumba-lumba keliling salah satunya juga karena masih banyak masyarakat yang tertarik untuk melihat pertunjukan ini. Jika orang tua ingin mengajarkan anak-anak mengenai lumba-lumba, mereka bisa melakukannya dengan melihat langsung di laut. Namun, jika hal tersebut tidak memungkinkan, orang tua masih bisa mengenalkan anak-anak tentang lumba-lumba melalui bacaan di buku atau menonton tayangan edukatif melalui film dokumenter daripada menonton sirkus lumba-lumba keliling yang justru bisa disalah artikan oleh mereka.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 19


Dive JPEG

Nice corals by M. Oki Zulqisthi Si Cantik Violet by Irwan Hermawan

20

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


Dive JPEG

Ciluk, ba! by Dwi Agus Nurswantoro Capturing Underwater by M. Fatkhan Farifudin

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 21


Who's Bubbling Angelina Pane adalah salah seorang pendiri Animal Friends Jogja. AFJ merupakan Organisasi Non Profit di Jogja yang berkomitmen meningkatkan kepedulian terhadap hewan melalui edukasi proaktif di komunitaskomunitas, advokasi, kampanye, penyelamatan, dan bekerjasama dengan organisasi serta komunitas lain. Semenjak didirikan hingga sekarang, AFJ terus berusaha untuk mengurangi penderitaan dan populasi berlebih melalui perawatan medis, sterilisasi, adopsi untuk hewan terlantar dan tersiksa, serta mengedukasi anak kecil dan orang dewasa mengenai kepedulian hewan dan konservasi alam. Di tengah sibuknya Angelina Pane atau yang akrab disapa Mbak Ina, tim Scuba Holic beruntung memperoleh kesempatan untuk bertemu dan wawancara langsung dengan Mbak Ina.

Angelina Pane Sadarkan Kepedulian terhadap Satwa melalui Animal Friends Jogja by: NR Novika

22

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


Who's Bubbling Bagaimana awal mula terbentuknya Animal Friends Jogja (AFJ)? AFJ ini dibentuk oleh enam orang pendiri yang awalnya beberapa belum saling kenal. Kami bergerak sendirisendiri, karena saat itu di Jogja masih belum ada Organisasi Non Profit yang bergerak di perlindungan dan kesejahteraan hewan. Sampai kemudian kami dipersatukan oleh JAAN (Jakarta Animal Aid Network) yang ternyata sama-sama tempat kami berkonsultasi. Berbicara mengenai hewan, hingga kini masih banyak terdapat peragaan lumba-lumba keliling yang sering disebut dengan sirkus lumba. Bagaimana menurut Mbak Ina mengenai kegiatan tersebut? Manusia saja kualitas hidupnya kalau lagi keliling menurun, apalagi satwanya? Mereka pasti merasa lebih nyaman tidur di rumah daripada di tenda, demikian juga yang dirasakan satwanya. Bayangkan

saja mereka yang tadinya punya habitat sendiri kemudian dipaksa hidup di kurungan selama satu bulan penuh. Waktu surat edaran penghentian sirkus lumba keliling keluar, hanya BKSDA Jogja yang menuruti. Jadi memang tidak ada sirkus lumba keliling waktu itu. Tapi tiba-tiba ada lagi dan pihak penyelenggara sirkus mengaku pedoman peragaannya sudah disahkan. Bagaimana mungkin disahkan tanpa sepengetahuan kami para aktivis terkait perumusan draft-nya? Sedangkan draft tersebut menurut kami benar-benar konyol, seolah hanya pesanan dari mafia sirkus. Poin-poin yang diperbolehkan untuk peragaan itu memang menunya sirkus ini, seperti lumba-lumba itu bisa bermain bola. Hanya lompat lingkaran api saja yang dihapuskan, lainnya tetap boleh. Ini kan aneh. Mau membuat press release seperti apa, itu jelas melanggar pedoman kesejahteraan hewan satwa, terutama untuk lembaga konservasi.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 23


Who's Bubbling Sudah ada berapa sirkus lumba yang masih digelar di Indonesia yang pernah Anda temui dalam tiga tahun terakhir? Memang ada beberapa perusahaan yang sampai saat ini masih menggelar sirkus lumba, seperti Ancol, Taman Safari, dan Wersut Seguni Indonesia. Nah, kalau Wersut Seguni Indonesia ini biasanya berpindah, dari Magelang mereka lalu ke Jogja. Selanjutnya ke Surabaya. Dari Surabaya terus pindah ke Kediri. Kebanyakan penonton mereka itu masyarakat lokal. Mereka membodohi para orang tua yang anaknya menderita autis dengan berkata bahwa berenang bersama lumba-lumba bisa menyembuhkan anaknya. Padahal belajar dengan kucing pun juga bisa menunjukkan respon yang sama. Hanya saja karena mereka jarang bertemu lumba-lumba, jadi pihak penyelenggara bisa menarik biaya yang mahal di mana-mana. Banyak sekali orang tua yang terperdaya. Mereka sampai nonton tiga kali. Bagaimana tindakan temanteman Animal Friends Jogja (AFJ) menanggapi kegiatan sirkus lumba ini? Beberapa pihak yang berhubungan sudah kami kirimkan surat, termasuk Dinas Pendidikan Yogyakarta dan PAUD, karena memang target mereka siswasiswi PAUD dan TK. Tapi eenggak ada balasan sama sekali. Padahal Menteri Pendidikan saja sudah memberi respon dan sempat mengundang teman-teman JAAN untuk diskusi. Teman-teman di Balikpapan juga sudah beraudiensi dengan Dinas Pendidikan setempat

24

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

mengenai penolakan sirkus lumbalumba yang ada di sana. Kami pernah menanyakan seseorang yang kebetulan beliau adalah salah satu pengajar. Ternyata mereka ini dipaksa untuk membawa murid ke sirkus. Ketika saya tanya mana surat dari Dinas Pendidikan, ternyata enggak ada dan undangannya melalui telepon saja. Jadi secara tidak resmi. Ya kita tidak tahu perjanjian antara pihak sirkus dan kepala sekolahnya itu bagaimana. Biasanya sih tiket gratis. Waktu kami sempat ngobrol dengan BKSDA, kami mendapati bahwa ternyata ada beberapa persayaratan di dokumen penyelenggara sirkus yang tidak dipenuhi, termasuk nomor tagging. Padahal itu merupakan salah satu persyaratan yang penting. Kalau enggak ada nomor tagging darimana kita tahu itu lumba-lumba dapat darimana. Berarti kan dia tidak terdaftar. Bagaimana dengan proses edukasi ke masyarakat pada awalnya hingga saat ini? Di awal, kami berenam memakai dana pribadi untuk masuk ke acara di kampung-kampung. Target kami ke anak-anak dengan harapan orang tuanya juga ikut mendengarkan pada saat acara berlangsung. Karena jika langsung menargetkan orang tua, mereka cenderung menganggap sepele. Berbeda dengan anak kecil yang cenderung lebih antusias. Sering kami ajak anak-anak yang berumur 8-9 tahun pertama kali berdekatan dengan hewan seperti kucing dan anjing. Karena selama ini para orang tua banyak yang


WHO IS BUBLING

mendoktrin kalau ada anjing lempar batu saja. Padahal anak-anak ini sebenarnya juga ingin menyayangi dan berdekatan dengan mereka, tapi sudah dilarang di awal. Sewaktu edukasi kita juga enggak melulu ngomongin satwa, tapi kita juga ngomongin tentang buang sampah di tempatnya, memilah sampah melalui games dan program “Temanku Alam dan Satwa�. Karena kita semua berhubungan. Harus ada penghargaan dengan kehidupan lain. Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 25


Dive Notes

Ekspedisi Sulawesi Tenggara WWF Indonesia Oleh Irwan Hermawan Berawal dari tawaran seorang teman, saya mengikuti ekspedisi WWF Indonesia kawasan Sulawesi Tenggara pada bulan Oktober 2016 lalu. Saat itu saya berperan sebagai seorang volunteer dokumentasi yang mengambil foto dan video seluruh kegiatan selama ekspedisi berlangsung. 26

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


Dive Notes Saya terbang dari Jogja menuju Kendari pada Jumat, 15 Oktober 2016. Sampai bandara saya langsung dijemput oleh rekan dari WWF dan bertolak menuju pelabuhan. Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa kita akan tinggal di sebuah kapal selama ekspedisi berlangsung, yakni kapal FRS Menami milik WWF. Ekpedisi yang kita lakukan mencakup wilayah perairan pesisir timur Sulawesi Tenggara dari Kabupaten Konawe Utara, Konawe, Kabupaten Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe Kepulauan. Pada penyelaman pertama saya di Pulau Saponda Selatan, banyak schooling ikan kecil berenang

mengikuti tim kami. Namun, di tengah penyelaman tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup keras. Ternyata aktivitas pengeboman nelayan di perairan ini masih banyak dilakukan. Berbeda dengan penyelaman saat di Pulau Labengki, Kabupaten Konawe Utara yang cukup menarik perhatian saya. Kontur dasar berupa dinding atau wall dengan perairan yang jernih, ikan - ikan kecil dan gerombolan ikan Sweetlips berenang di hamparan terumbu karang yang beraneka ragam, menjadikan penyelaman di sini sangat sayang untuk dilewatkan. Bahkan kabar menyebutkan kalau kima terbesar kedua di dunia ada di sini. Namun sayang saya tidak menemuinya.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 27


Dive Notes

Tempat penyelaman yang paling miris adalah di Pulau Bahubulu, Kabupaten Konawe Utara. Di titik ini saya melihat hamparan terumbu karang yang sedang dimakan olah bintang laut duri atau Acanthaster yang membahayakan kehidupan terumbu karang. Begitupun ikan Napoleon dan kerang Triton telah lama menjadi satwa yang terancam punah akibat penangkapan yang berlebihan.

28

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

Penyelaman terakhir saya lakukan di Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan. Saat di sini, kami mencoba sebuah metode untuk memanggil ikan yang cukup unik. Saya dan rekan saya turun di kedalaman sekitar 15 meter dan mulai menggosok botol. Tak lama kemudian gerombolan besar ikan ikan kecil muncul entah darimana. Wow, pemandangan yang tidak lazim ini benar - benar kami nikmati seperti pertunjukan opera bawah laut!


Dive Notes Tanpa terasa 10 hari sudah kami berlayar, dan ekspedisi pun berakhir. Kami berlayar pulang menuju teluk Kendari dan saya kembali ke Jogja keesokan harinya. Dengan banyaknya pelajaran, teman dan relasi baru, semua itu menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman berharga bagi saya yang tak terlupakan.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 29


Gear Up

BUOY

dari Bahan Tepat Guna Oleh: Benarifo A. Foto: Dokumentasi Unit Selam UGM Di beberapa kalangan, istilah ‘buoy’ terdengar cukup asing. Namun tidak demikian bagi masyarakat pesisir. Buoy adalah sebuah benda yang biasanya dapat kita temukan mengambang di lautan lepas. Benda yang kerap juga disebut pelampung ini pada dasarnya berfungsi sebagai penanda atau tempat bersandar kapal bagi para pelaut. Proses pembuatan buoy sendiri tidak boleh sembarangan, mengingat gelombang dan arus air laut yang kuat dapat menerjang benda tersebut setiap saat. Pada pelaksanaan Reef Covery yang ke-7 bulan September lalu tepatnya di Sangkapura, Pulau Bawean, Jawa Timur, Unit Selam UGM mencoba membuat sepuluh buah buoy dengan menggunakan barangbarang bekas sebagai

30

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017


Gear Up

bahan dasarnya. Pada awal pembuatan terasa cukup rumit. Kami harus menyusun beberapa botol bekas 1,5 liter dengan bingkai kayu bekas berukuran panjang dan lebar 4x4 cm. Kemudian setiap sisi antar botol direkatkan dengan menggunakan lem atau lakban dan diisi dengan styrofoam bekas supaya lebih padat. Untungnya, kami dibantu oleh The Trekkers yang menyediakan kami kain kedap air sebagai bahan pembungkus sekaligus finishing. Buoy yang telah diikat hingga rapat kemudian diberi paralon yang terpasang lampu bersensor cahaya sebagai penanda.Pemasangan buoy saat itu sangat memberikan harapan yang besar di masyarakat, supaya tidak ada lagi kapal yang melempar jangkar sembarangan yang mampu merusak terumbu karang di area tersebut.

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 31


Profil Unyilers

Katherina Tjandra Kenalkan Konservasi ke Masyarakat dengan Beragam Cara Oleh: Elisabeth Astari

Katherina Tjandra adalah seorang Pride Program Manager di RARE, salah satu Non-Governmental Organization yang bergerak di bidang konservasi dan masyarakat. Beliau adalah lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Awal bekerja di dunia NGO, ia tergabung di The Nature Conservancy dan Conservation International setelah

32

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

lulus kuliah kuliah dan ditempatkan di wilayah TN Komodo, Flores. Sejak saat itu ia terus bergelut di dunia NGO, terutama yang bergerak di ranah konservasi laut. Berkat kecintaan dan keahliannya itu, beliau lantas bergabung di RARE (Rare Animal Relief Effort) yang berbasis di Bogor hingga saat ini.


Profil Unyilers

Rare sendiri memiliki keunikan, yaitu fokus terhadap perubahan perilaku manusia (behaviour change/behaviour adaptation). Sasaran program konservasinya adalah mengajak masyarakat untuk mengubah perilakunya agar tujuan konservasi bisa tercapai dan masyarakat yang terlibat bisa memperoleh manfaatnya. Menurutnya, bekerja di dunia ini membuatnya merasa bisa menyumbang sesuatu untuk Indonesia, meskipun sangat kecil. Bekerja dengan masyarakat dan bekerja untuk alam Indonesia memberikan arti besar baginya.

“Saat ini program Rare fokus pada bagaimana mewujudkan perikanan berkelanjutan agar masyarakat nelayan bisa terus mendapatkan hasil dari laut dan masyarakat Indonesia tetap bisa mengonsumsi ikan�, ujarnya saat kami bertanya mengenai pelestarian spesies.

Menyangkut pada isu Scuba Holic edisi 22 mengenai kegiatan peragaan lumba-lumba keliling, ia berpendapat bahwa sebaiknya segera dihentikan karena lumba-lumba yang dibawa keliling akan kehilangan sensor alamnya. Menurutnya harus ada pula peninjauan ulang latar belakang bagaimana mendapatkan lumba-lumbanya. “Apakah menangkap dari alam kemudian dijadikan spesies keliling, ataukah hewan tersebut terdampar atau sakit dan secara fisiologis tidak dapat dikembalikan ke alam bebas?�, lanjutnya. Prosedur analisa dan perizinannya harus ketat dan melibatkan banyak pihak serta para ahli. Ia menambahkan di Indonesia kini telah ada forum mamalia laut yang memiliki pengetahuan memadai, sebaiknya bisa dilibatkan dalam penilaian ini. Banyak sekali cara pendekatan atau sosialisasi ke masyarakat mengenai pelestarian hewan yang dilindungi. Rare sendiri memiliki kampanye Pride (kampanye bangga). Sosialisasinya dengan cara-cara yang menyenangkan dan melibatkan masyarakat itu sendiri. Beliau juga menegaskan bahwa sosialisasi bisa dilakukan dengan banyak cara dan tidak melulu dengan pertemuan dan pemberian informasi sepihak agar masyarakat lebih mudah memahami. Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 33


Dive Events

Walikota Cup Surabaya ke-723 Oleh : Indinna Shofia Memasuki Ulang Tahun Kota Surabaya ke-723, Pengurus POSSI Kota Surabaya kembali menyelenggarakan Kejuaraan Selam Walikota Cup Surabaya pada 27-28 Agustus 2016 lalu. Kejuaraan nomor kolam diselenggarakan di Kota Surabaya, sementara nomor laut diselenggarakan di Pantai Pasir 34

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

Putih Situbondo, Jawa Timur. Banyak dipertandingkan nomor laut seperti Surface Bifins dan Orientasi Bawah Laut (OBA). Cuaca cerah saat itu cukup mendukung kegiatan lomba. Sebanyak 246 atlet selam dari 41 klub selam di Indonesia mengikuti kejuaraan ini. Peserta dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, hingga kalangan militer bergantian melakukan pemanasan dan bersiap mengikuti kategori perlombaan yang diikuti, tak terkecuali tim dari Unit Selam UGM yang diwakilkan oleh lima orang anggotanya. Kondisi laut yang cukup berarus pun menjadi tantangan tersendiri bagi peserta khususnya nomor OBA untuk mencapai titik yang dituju. Dalam perlombaan ini, Unit Selam UGM berhasil meraih medali perak oleh Indinna Shofia di nomor Surface Bifins 3000 m.


Unyil Review

Dolphin Tale Dolphin Tale merupakan sebuah film keluarga yang mengisahkan tentang persahabatan seekor lumba-lumba dengan manusia. Film yang dirilis Warner Bros pada tahun 2011 ini terinspirasi dari kisah nyata Winter, seekor lumba-lumba tak berekor yang ditemukan di bibir pantai pada Desember 2005. Kisah pertemananan lumbalumba dan manusia ini dimulai saat seorang nelayan menemukan Winter dan membawanya ke Rumah Sakit Clearwater Marine untuk diberi pengobatan. Seorang bocah berumur 11 tahun bernama Sawyer (Nathan Gamble) lalu membawa Winter dan merawatnya. Sawyer adalah bocah penyendiri yang menghabiskan harinya dengan menyendiri di dalam bengkelnya. Kemunculan Winter tidak disangka membuat Sawyer menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama tidak dia rasakan. Sayangnya, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ekor Winter harus segera diamputasi. Dolphin Tale adalah sebuah tontonan ringan mengenai kegigihan bertahan hidup dan kasih sayang. Terlihat dari usaha Winter yang pantang menyerah meski tak memiliki ekor dan Sawyer yang sekuat tenaga mencoba membantu sahabatnya itu.

Oleh: Catharina Rika Foto: Spesial

Film yang juga dibintangi oleh Harry Connick Jr., Cozi Zuehlsdorff, Ashley Judd, dan Juliana Harkavy ini sukses membuat seluruh penontonnya tersentuh dan terinspirasi akan pesan yang disampaikan. Warner Bros dan Charles Martin Smith lantas membuat sekuel kedua dari film ini (Dolphin Tale 2) yang dirilis bulan Oktober 2014. Sungguh film yang menarik untuk disaksikan bersama keluarga Anda di rumah! Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 35


Vakansi

Di Balik Semua Senyuman Oleh : Talitha Ambarsary Otje Foto : Spesial

“Senyuman‌ itukah yang kalian cari dariku? Miliaran rupiah, dollar, yen, dan apalah lagi itu yang menjadi motivasi kau ku tak paham Aku juga punya, mengumpat di balik senyumku, Ada itu lebih dari miliaran ceritaâ€? Untuk setiap kata terucap yang tak bisa dimengerti. Mungkin seperti itulah kehidupan lumbalumba yang hidup di penangkaran. Mereka jauh dari birunya laut dan gemercik ombak.

36

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017

Pada pertunjukkan yang kerap disebut peragaan lumbalumba apalah itu, yang mereka dengar tiap harinya bukanlah sapaan hangat keluarga dan teman, melainkan suara peluit, kencangnya musik, dan riuhnya tepuk tangan yang mengganggu. Sungguh memilukan. Ketika mereka memilih untuk tidak menarik kembali napasnya, di situlah mereka sudah tidak kuasa membendung penderitaan yang ada di penampungan.


VAKANSI

Belum lagi alat filtrasi yang bising, serta kaporit yang terus mengikis kulit. Tak banyak pula bayi lumba-lumba yang dalam penangkapannya direnggut langsung dari sang induk. Bagaimana bisa bertahan lama di mimpi buruk itu? Saya adalah manusia biasa, saya tidak tinggal di air ataupun mempunyai sirip. Tapi, saya adalah manusia. Manusia yang layaknya tinggal di rumah dengan keluarga. Makan dengan nasi serta lauknya. Pergi bersosialisasi dan bekerja. Saya berada di mana seharusnya saya berada. Seperti itu kira-kira analoginya. Lumba-lumba mempunyai habitat sendiri, laut tanpa batas. Samudera luas dan liar yang berani, lebih berani daripada manusia yang menusuk dengan benda tajam, memasang jaring yang lebar. Alangkah pengecutnya. Jangan anggap bahwa manusia tahu persis bagaimana kehidupan lumbalumba dengan membuat tempat penangkaran semirip mungkin. Tetap saja itu kandang. Tetap saja itu penjara.

Kawan, percayalah, aku senang melihat anakmu, keluargamu tertawa Tapi kumohon jangan kau renggut hidup dari keluargaku Ini bukan rumahku, aku tidak melihat ibu, tidak lihat bapak apalagi tetanggaku di samudera seberang Tidakkah sekiranya kawan tau bagaimana rasanya rindu ingatkah kawan dengan rasa rindu itu? Aku terkurung‌ di laut baru tak berhuni Suara-suara bising yang menusuk telingaku Memaksa jiwaku, membendung luar biasa rasa sakit... perih Menghantam tubuhku tuk jadi kacungmu ! Terasa sekali, amat terasa, kau menginjak-injak martabat kaumku ! Dan rasa sayang itu, hahaha, sudah pupus, layu, ditelan umurku Aku sudah gila, tapi kau lebih gila Senyuman itukah, yang kalian kalian cari dariku?� Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017 37


38

Scuba Holic | Edisi 22 | Agustus 2017