Page 1


DAFTAR ISI

1

5

HORAS JAPAN

16

MALU TERHADAP BUDAYA SENDIRI?

28

34

SUKU NIAS

SUKU KARO

24

20

PERAN GENERASI MUDA UNTUK KEARIFAN LOKAL SUMATERA UTARA

38

SUKU PAKPAK

42

SUKU TOBA

54 SUKU MANDAILING

PEMUDA DAN TEKNOLOGI MERUPAKAN PERPADUAN YANG TEPAT UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA

46

SUKU MELAYU

50

SUKU SIMALUNGUN


Tor-tor Dampol Siburuk Salah satu penampilan tim Horas Japan UKSU-ITB pada Malam Cinta Indonesia 2017 di Ibaraki, Jepang (06/1/18) adalah tari Tor-tor Dappol Siburuk. Tor-tor Dappol Siburuk merupakan salah satu tarian tradisional etnis Batak Toba. Tarian ini menceritakan kisah seekor burung yang patah sayapnya akibat perbuatan manusia yang mengakibatkan burung tersebut tidak mampu terbang lagi. Hal ini membuat sang induk sedih dan berupaya untuk menyembuhkan anaknya. Dengan balutan dedaunan yang berfungsi sebagai obat, kasih sayang, dan perawatan sang induk, burung itu bisa sehat dan pulih bahkan terbang kembali.


HORAS JAPAN


TA RI 7 ETNIS SUM AT E R A UTAR A

ONE DAY TRAVEL. IT POSSIBLE NO HUSBANDS JENNINGS YE OFFENDED PACKAGES PLEASANT HE. REMAINDER ENGROSSED


HORAS JAPAN

HORAS JAPAN

di Malam Cinta Indonesia 2017 Penampilan Budaya UKSU-ITB di Negeri Orang, Jepang

Setiap dua tahun sekali Persatuan Pelajar Indonesia Ibaraki dan Merah Putih Kai menggelar acara Malam Cinta Indonesia. Pada 06 Januari 2018 PPI Ibaraki dan Merah Putih Kai berhasil menggelar Malam Cinta Indonesia yang kedelapan. MCI 2017 mengangkat tema Harmony in Diversity sesuai dengan keadaan Indonesia yang beragam namun tetap harmonis. Pagelaran ini menampilkan berbagai kesenian tradisional dari Indonesia ditambah dengan kesenian tradisional Jepang. Salah satu keunikan dari pagelaran ini adalah adanya penampilan khusus yang didatangkan dari Indonesia. Pihak MCI 2017 mengundang organisasai mahasiswa yang bergerak dalam pengembangan dan pelestarian kebudayaan dan kesenian Indonesia. Tahun ini, UKSU-ITB menjadi salah satu undangan untuk menampilkan kesenian dan kebudayaan Sumatera Utara. PERSIAPAN Mempersiapkan sebuah penampilan untuk tampil di negeri sendiri jauh lebih mudah daripada mempersiapkan penampilan untuk tampil di negeri orang. Begitu pula dengan mempersiapkan Horas Japan. Pembentukan tim Horas Japan dimulai ke-

tika Hendra Dwimax, ketua UKSU-ITB 2017/2018, menunjuk Daniel Pranata Sembiring (MRI 2014) untuk menjadi ketua tim. Persiapan dilakukan dimulai dengan memilih anggota tim. Anggota tim Horas Japan terdiri dari Kristofel Sinaga (MS 2014) sebagai sekretaris, Tio Angie Samosir (MRI 2015) sebagai bendahara, Reinata Nainggolan (TI 2014) dan Yosua Kristian Sinaga (GL 2014) sebagai tim acara dan penampilan, Dwi Ananda Gunawan (TK 2014) dan Yogi Simanjuntak (ME 2014) sebagai tim publikasi dan dokumentasi, dan Agustina Panjaitan (MRI 2014) sebagai tim fund-raising dan sponsorship. Dalam mempersiapkan penampilan yang dibawakan di Malam Cinta Indonesia, tim Horas Japan dibantu oleh pelatih musik dan tari, Septian Siburian dan Naomi Damanik. Pada persiapan penampilan kali ini, tim Horas Japan mengadakan standardisasi bagi seluruh massa UKSU-ITB yang ingin belajar kesenian Sumatera Utara selama 6 pertemuan. Standardisasi dilakukan untuk memberikan calon penampil teknik-teknik dasar untuk menari dan bermain musik Sumatera Utara. Setelah mendapatkan standardisasi,

D WHO EAT SHE DEFECTIVE APPLAUDED DEPARTURE JOY.

calon penari diseleksi oleh Kak Butet Sihombing (UKSU 1990) dan pemusik diseleksi oleh Septian Siburian (UKSU 2013). Dari seleksi yang dilakukan terpilih 14 penampil. Ke-14 penampil berlatih penampilan kesenian yang dibawakan di Jepang selama 2,5 bulan, sejak Oktober hingga Desember 2017. AIRASIA MENJADI SPONSOR UTAMA DAN PERAN ALUMNI Sembari mempersiapkan penampilan, tim Horas Japan juga melakukan fundraising dan sponsorship untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan agar dapat berangkat ke MCI 2017 di Jepang. Tantangan terbesar untuk menyukseskan kegiatan ini adalah biaya tiket pesawat pulang pergi Indonesia Jepang. Berbagai usaha dilakukan untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan. Mulai dari menjual berbagai merchandise UKSU-ITB, menghubungi alumni, menawarkan sponsorship dengan perusahaanperusahaan di Bandung dan Jakarta, hingga tampil di gereja dan pesta pernikahan adat Batak. Begitu banyak cerita dan kesan dalam mengumpulkan dana untuk bisa berangkat ke MCI 2017. Hingga akhir November, tiket penerban-

7


8

HORAS JAPAN

gan masih belum ditangan. Padahal tiket penerbangan diperlukan dalam pengurusan Visa Jepang. Kabar baik datang pada tanggal 04 Desember2017, tim Horas Japan mendapatkan sponsor utama yaitu AirAsia ,salah satu maskapai penerbangan internasional. AirAsia memberikan diskon spesial kepada tim Horas Japan untuk penerbangan Indonesia-Jepang. Selain AirAsia, tim Horas Japan juga mendapatkan sponsor dari Pemerintah Simalungun. Untuk mendapatkan seluruh kebutuhan dana, alumni UKSU-ITB memegang peranan penting. Alumni UKSU-ITB menjadi tempat bagi tim Horas Japan untuk bertanya dan meminta saran. Sumbangsih, kepedulian, dan buah pemikiran yang diberikan oleh alumni UKSUITB menjadi salah satu hal yang tim Horas Japan syukuri dalam keberjalanan acara ini. MENARI DAN BERMUSIK DI NEGERI ORANG Hari yang dinantikan pun tiba. Kamis, 04 Januari 2018, pukul 04.00 pagi seluruh tim penampil Horas Japan sudah berkumpul di gerbang ITB untuk bersiap berangkat ke Jakarta untuk penerbangan ke Jepang. Rute penerbangan yang ditempuh adalah Jakarta-Denpasar-Narita. Perjalanan ditempuh hampir satu hari akibat transit yang cukup lama di Bandara Ngurah Rai, Bali. Tim Penampil tiba di Jepang pukul 07 pagi waktu setempat. Tim Penampil terdiri dari Daniel Pranata Sembiring (MRI 2014), Reinata Nainggolan (TI 2014), Yosua Kristian Sinaga (GL 2014), Devi Florenci (GD 2014), Ucok Samuel Hutapea (GD 2014), Dora Simbolon (TI 2014), Jefri Lumban Gaol (MG 2015), Tio Angie Samosir (MRI 2015), Malida Girsang (TL 2015), Mien Purba (PG 2016), Venry Silaban (GD 2016), Silverius (GD 2016), Nico Samosir (KL 2016), Intan Purba (BI 2016), dan Alsandi Tarigan (EL 2016). Sesampainya di Jepang, tim Horas Japan segera bergabung dengan tim penampil lainnya, bersiap untuk melalukan latihan bersama perdana.

Esok harinya, tanggal 06 Januari 2018, tim Horas Japan kembali melakukan Geladi Bersih bersama seluruh tim penampil dari PPI Ibaraki, IRARI, dan kebudayaan Jepang. Geladi bersih dilangsungkan di Nova Hall tempat berlangsungnya Malam Cinta Indonesia. Pukul 16.30 JST, Nova Hall mulai dipenuhi oleh penonton yang datang dari berbagai daerah di Ibaraki dan sekitarnya. Berdasarkan data yang dimiliki panitia, jumlah penonton yang datang mencapai 600 orang. Penonton yang menghadiri MCI bukan saja orang Jepang, melainkan orang asing yang berada di Ibaraki. Pukul 17.00 JST, acara MCI 2017 dimulai dengan pembukaan oleh MC dan penampilan dari Ikatan Raka Raki Jawa Timur yang membawakan medley lagu daerah Jawa Timur. Penampilan dilanjutkan dengan drama musikal dari tim PPI Ibaraki yang membawakan cerita rakyat Indonesia, Bawang Merah dan Bawang Putih. Tiba saatnya penampilan dari tim Horas Japan yang membawakan penampilan pertama. Penampilan pertama dari tim Horas Japan adalah Tari Kreasi 7 Etnis Sumatera Utara. Pada penampilan ini setiap pasang penari menggunakan baju daerah sesuai etnis yang dibawakannya, adapun ketujuh etnis tersebut adalah Batak Mandailing, Karo, Simalungun, Toba, dan Pak-Pak; Nias; dan Melayu. Setiap tarian etnis diiring dengan musik dan nyanyian yang dimainkan dan direkam oleh tim Horas Japan. Penampilan ini menunjukkan keberagaman etnis, budaya, dan kesenian yang ada di Sumatera Utara dan keberagaman itu berhasil di harmonisasikan menjadi sebuah karya yang menarik dan indah. Tidak kalah dengan penampilan sebelumnya, pada penampilan kedua tim Horas Japan memainkan langsung musik Batak yang dibawa dari Indonesia. Tim Horas Japan menampilkan Uning-uningan Partahuak ni Manuk, sebuah penampilan musik dari etnis Batak

Toba. Uning-uningan ini juga dimedley dengan lagu-lagu daerah Batak Toba. Adapun alat musik yang dimainkan adalah taganing, garantung, hasapi, ogung, sulim, sarune, dan hesek. Terdapat bagian dimana masing-masing alat musik mendapatkan bagian solo, sehingga penonton dapat mendengar secara langsung bunyi dan keunikan dari masing-masing alat musik. Tidak selesai sampai disitu, penampilan dilanjutkan dengan tarian kreasi Tor-tor Dampol Siburuk. Tor-tor ini berasal dari salah satu cerita rakyat daerah Toba. Adapun kisah yang ada di balik tarian ini adalah perjuangan induk burung yang menjaga dan mengurus anaknya yang luka sehingga pada akhirnya dapat terbang dan bermain kembali. Kostum tarian ini disesuaikan dengan menggunakan ulos sebagai sayap burung setiap penari. Kedua penampilan ini sangat diapresiasi oleh seluruh penonton yang berasal dari berbagai kalangan.


Terbersit kebanggaan karena tim Horas Japan dari UKSU-ITB berhasil membawakan dan mengenalkan kesenian dari Sumatera Utara, menari dan bermusik, ke negeri orang. MEMPROMOSIKAN DANAU TOBA Selain mengenalkan budaya Sumatera Utara melalui keseniannya, tim Horas japan juga berhasil mengenalkan kekayaan dan keindahan alam Sumatera Utara kepada seluruh penonton Malam Cinta Indonesia 2017. Bekerja sama dengan Badan Otorita Danau Toba, tim Horas Japan juga membawakan video promosi pariwisata resmi Danau Toba yang diputar dan satusatunya selama open gate. KESEMPATAN BERHARGA Melestarikan budaya Indonesia adalah tugas semua orang Indonesia, bukan hanya tugas pegiat budaya, pemerintah daerah, ataupun penatua adat. Semua orang Indonesia, tanpa melihat usia, pe-

kerjaan, ataupun kekayaannya, bertanggung jawab atas kelangsungan dari budaya kita. Kitalah yang mampu menjaga dan melestarikannya. Mempelajari budaya Sumatera Utara menjadi salah satu tugas yang harus dilakukan oleh Massa UKSU-ITB. Menampilkannya menjadi salah satu kesempatan untuk mengenalkan dan mengenal lebih dalam budaya itu. Apalagi berhasil

menampilkannya di negeri orang, itu adalah kesempatan berharga yang belum tentu datang kembali bagi kita dan budaya kita. Jangan pernah lewatkan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan berkreasi bagi budaya dan kesenian kita, Sumatera Utara! ISEI?!


10

HORAS JAPAN

P E S AN & KE S A N M E REK A

Daniel Pranata Sembiring (Ketua Pelaksana Horas Japan)

KESAN Sangat bersyukur bisa membawa budaya sendiri ke negeri orang. Rasanya semakin mencintai negeri ini setelah melihat orang luar sangat menghargai keberagaman dan kekayaan budaya kita sendiri. PESAN Semoga UKSU-ITB semakin terpacu untuk berkarya bagi budaya Sumatera Utara dan berperan aktif dalam mengenalkan Sumatera Utara kemana saja

Dora Simbolon KESAN Kelelahan yang berbuah manis, semanis madu. PESAN Semoga UKSU go international tidak berhenti sampai di sini, ya.

Reinata Hanna Sophia KESAN Lelah fisik, lelah pikiran, lelah hati, lelah dompet, dan lelah banyak. Tapi semuanya sangat worth it! Bisa berhsail membawa budaya ke luar itu pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan dari semua kelelahan, jadi semakin mengenal dan membentuk diri sendiri. PESAN Untuk penampil yang sudah berangkat jangan menyerah dari UKSU, tetap berkontribusi lebih lagi. Buat yang tidak berangkat, jadikan pengalaman ini sebagai semangat untuk semakin berkarya di mata dunia.

Mien Shavero Purba KESAN So much fun. Dapat banyak pengalaman dan pembelajaran. Senang sekali bisa menampilkan budaya sendiri di negeri orang. PESAN Semoga ISEI bisa sampai kemanamana melalui karya-karya UKSU selanjutnya


Hendra Dwimax Nainggolan Horas Japan menjadi lompatan besar bagi UKSU-ITB untuk dapat berkarya seluas-luasnya. Tidak ada yang dapat membatasi karya, kecuali diri kita sendiri. Horas Japan membuka mata orang-orang bahwa UKSU-ITB tidak sekadar melestarikan seni dan budaya, tapi memiliki kualitas dalam melakukannya. Teruslah berkarya melestarikan budaya kita.


12

HORAS JAPAN

TA N G G APAN M E REK A Chairil Nur Siregar (Pembina UKSU-ITB)

Pengalaman beberapa waktu lalu ke Jepang merupakan langkah awal dan tonggak sejarah UKSU bisa go internasional. Saya rasa hal ini sangat baik karena anak-anak UKSU bisa menampilkan budaya Sumatera Utara ke mancanegara, tidak hanya tampil di dalam negeri saja. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi dan tampil di negara-negara lain juga. Apa yang menjadi evaluasi di Jepang kemaren, semoga dapat diperbaiki di masa mendatang. Saya titip, untuk yang kemaren berangkat ke Jepang, turunkan ilmu dan pengalaman yang didapat kepada adik-adiknya di UKSU, supaya ketika ada kesempatan lagi, adik-adik sudah siap melaksanakannya.

Edison Sihombing

(Ketua IA UKSU-ITB, Ketua Umum UKSU-ITB 92/93) Horas, Ahoy, yahowuu, mejuah njuah, njuah juah Isei... UKSU UKSU-ITB.. Salam Sejahtera, Kita patut bersyukur dan bangga atas terlaksananya kegiatan Horas Japan beberapa waktu lalu. Kenapa? Karena ini kegiatan UKSU ITB yang go international setelah 25 tahun lalu dimana UKSU-ITB juga memperkenalkan budaya Sumatera Utara ke luar negeri (1992 ke Beijing dan Hongkong dan 1993 ke Austria dan Rumania). Kita harapkan kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala namun tidak mengabaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Terima kasih diucapkan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi mewujudkan kegiatan ini. Majulah UKSU-ITB!


Ulyses Sitompul

(Ketua Umum UKSU-ITB 2003) Horas, Ahoy, yahowuu, mejuah njuah, njuah juah UKSU-ITB sebagai bagian dari kemahasiswaan kampus ITB dan juga bagian dari anak bangsa Indonesia memiliki tanggungjawab besar dalam menunjukkan kapasitas dan kemampuan baik dalam membina anggota, sekaligus menjadi bagian penting dalam pembangunan karakter mahasiswa. Kegiatan Horas Japan yang sebelumnya sudah diikuti oleh UKSU-ITB di Jepang pada awal Januari kemarin, jelas menjadi sebuah tonggak perjalanan penting bagi UKSU ITB, baik sebagai unit mahasiswa maupun seb-

Theo Surbakti

(Sekjen IA UKSU-ITB, UKSU-ITB 2007) Horas, Mejuah-juah, Njuah-njuah, Ya’ahowu, Ahoy Adik-adik UKSU-ITB telah berhasil melaksanakan program mereka ‘Horas Japan’ yang menampilkan budaya Sumut di hadapan masyarakat Indonesia, masyarakat Jepang dan warga dunia lainnya di gedung Nova Hall, kota Ibaraki, Jepang. Luar biasa dan Salute untuk adik-adik. Diawali dengan undangan PPI di sana, teman-teman di UKSU-ITB pun terpanggil dan mulai inisiatif mengadakan latihan dan persiapan keberangkatan untuk mengisi program tersebut semenjak pertengahan tahun 2017. Kegiatan selama 1 semester terakhir yang diisi dengan latihan dan persiapan lainnya bahkan hingga pencarian dana yang terkadang mengutus beberapa perwakilan ke Jakarta pasti mempunyai pembelajaran tersendiri. Meski

agai agen pelestarian dan pengembangan budaya Sumut. Keikutsertaan UKSU-ITB pada ajang budaya di Jepang, diharapkan menjadi bagian dari pengenalan budaya Indonesia di kancah internasional. Selain itu, dapat menjadi semangat baru bagi generasi penerus di UKSU-ITB untuk terus menggali, melakukan terobosan dan pemahaman terkait budaya Sumatera Utara. Dalam menyukseskan kegiatan ini dirasakan kerja keras panitia, pengurus, anggota, donatur serta seluruh alumni juga menjadi bentuk nyata bahwa UKSU-ITB telah menjelma menjadi sebuah energi besar terutama jika arah tujuan organisasi semakin jelas dan visi organisasi jelas. Kedepannya kiranya momentum seperti ini akan bisa dilakukan dengan persiapan dan penyiapan lebih baik lagi, dan partisipasi semua pihak termasuk alumni UKSU-ITB juga lebih ditingkatkan. Selain itu, penting untuk UKSU-ITB untuk dapat lebih bersemangat dalam menjalankan roda organisasi UKSUITB kedepan. Iseiii ?? UKSU UKSU-ITB !!! yang didapat kepada adik-adiknya di UKSU, supaya ketika ada kesempatan lagi, adik-adik sudah siap melaksanakannya.

memang kadang menemui halangan dan hambatan, namun akhirnya mereka berhasil hingga titik ini. Melihat semangat kebersamaan mereka, kita menjadi teringat masa-masa dimana masih aktif di UKSU bersama teman-teman kita dulu semasa masih aktif di kampus, terutama dalam berkegiatan di UKSUITB. Bila lihat kiri-kanan, depan-belakang, semua punya tatapan yang sama, semangat yang sama demi mencapai satu tujuan yang dimaksud. UKSUITB punya tempat tersendiri pasti di hati kita masingmasing. Pembelajaran dan kenangan selama berorganisasi jadi dapat menjadi modal dan kenangan tersendiri. Bagi adik-adik kami, selamat telah sampai di sini. Kepada Ketua program Horas to Japan, Daniel Sembiring, serta Ketua UKSU, Hendra Nainggolan, kita berikan apresiasi karena berhasil memimpin temantemannya setim hingga sampai pada titik ini. Well done, bro! Semangat jangan pernah pudar. Kekurangan dan kelebihan biar jadi pembelajaran. Serta, kenangan ini dapat disimpan di tempat khusus di hati masingmasing. Lanjutkanlah perjuangan kalian di UKSU, di studi masing-masing dan biarlah pertemangan antar kalian berjalan baik terus hingga ke depannya. Hubungan dengan alumni yang telah terjalin harap tetap dijaga pula. Ditunggu inisiatif-inisiatif dan perkembangan-perkembangan lainnya dari UKSU-ITB. Bujur, Mauliate, Lias Ate, Diateitupa, Saohagolo


14

HORAS JAPAN

Kevin Situmorang

(Kepala Divisi Musik UKSU-ITB Angkatan 2012, Mewakili Alumni UKSU-ITB di Jepang) Spektakuler! Masyarakat setempat pun, yang belum tentu paham dan familiar dengan budaya Sumut, sangat menikmati dan kagum sekali. Bisa dibilang penampilan kemarin bukan mengharumkan nama UKSU-ITB saja, tapi juga nama Indonesia! Thank you guys! Dengan berlandaskan maksud dan tujuan yg tertera di ADRT, mari ajak lebih banyak orang untuk menghargai dan mencintai budaya milik sendiri. Ayo sebarkan semangat berbudaya kepada seluruh anakanak muda zaman now di Indonesia!

Irvan Brata Tarigan

((Kepala Divisi Eksternal UKSU-ITB angkatan 2012, Mewakili Alumni UKSU-ITB di Jepang)) Penampilan UKSU terbaik yang pernah kuliat! Luar biasa, speechless! Pesanku: Tetap jadi uksu yang kritis dan berprestasi. Isei?!! Majulah UKSU-ITB!


16

ARTIKEL

M ALU T ER HADA P B UDAYA S E NDIRI? OLEH: KRISTOFEL SINAGA (UKSU ‘14)

Sebagai Warga Negara Indonesia kita patut berbangga hati memiliki beragam kebudayaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia merupakan negara dengan jumlah Bahasa terbanyak kedua di dunia(742 bahasa), dengan posisi pertama ditempati oleh Papua Nugini. Selain itu, Sensus BPS 2010 menyebutkan ada 300 kelompok etnis dan 1.340 suku bangsa di Indonesia. Salah satunya adalah suku Batak, yang terletak di Sumatera Utara. Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang terletak di Sumatera Utara. Nama Batak digunakan untuk mengindentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari kawasan Tapanuli dan Sumatera Timur. Suku bangsa yang dikategorikan ke dalam suku Batak yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.

BAHASA Sangat ironis memang karena kebanyakan generasi muda sekarang lebih senang jika mempelajari bahasa asing daripada mempelajari bahasa daerahnya sendiri. Memang baik jika sejak muda kita sudah diajarkan untuk belajar bahasa asing, tetapi alangkah baiknya jika kita juga diajarkan bahasa daerah masing-masing. Apakah kita masih bicara dalam Bahasa daerah(Batak) dengan keluarga dan teman kita? Sangat disayangkan banyak di antara kita yang tidak pernah dan bahkan malu berbicara dalam bahasa daerah. Bila berbicara dalam bahasa Indonesia, apalagi kalau menyisipkan bahasa asing kesannya keren dan menjadi anak gaul. Sebaliknya, jika bicara dalam bahasa daerah dianggap kampungan. Padahal menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan

YE OFFENDED PACKAGE


17

dapat mempererat tali persaudaraan, melestarikan budaya, dan menjaga agar bahasa daerah tidak punah, dan tentunya menggunakan bahasa daerah berarti kita menjungjung tinggi budaya kita masing-masing.

Kain hasil kerajinan tenun suku batak ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, menyambut tamu, dan belakangan ini sudah digunakan dalam dunia fashion modern.

KESENIAN

PERJODOHAN

Apakah generasi muda sekarang masih sadar akan kekayaan budaya yang dimilikinya? Diantara unsur kebudayaan yang dimiliki suku Batak adalah kesenian. Tari Tor-tor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak. Sementara alat musik tradisionalnya adalah Gong dan Sagasaga. Adapun warisan kebudayaan berbentuk kain adalah kain ulos.

Sebagai generasi muda, banyak diantara kita yang takut akan kebudayaan perjodohan di suku Batak. Budaya perjodohan ini sangat ditekankan oleh orang tua kepada anaknya. Kebanyakan orang tua akan menyarankan anaknya untuk mencari jodoh sesama suku batak. Lebih ekstrimnya lagi, seperti contoh

ES PLEASANT HE. REMAINDER ENGROSSED WHO EAT SHE DEFECTIVE APPLAUDED DEPARTURE.


18

ARTIKEL

suku Batak Toba harus berjodoh dengan suku Batak Toba. Keputusan ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Terlepas dari hal itu, adat pernikahan suku Batak merupakan suatu peristiwa yang besar yang melibatkan banyak unsur kebudayaan, seperti bahasa, tarian, pakaian adat, dsb. Pernikahan adat batak akan mempersatukan banyak pihak, karena pernikahan adat Batak tidak akan terjadi tanpa kehadiran hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta(teman sekampung) sebagai saksi pelaksanaan adat yang berlaku. Pernikahan adat Batak merupakan salah satu tolok ukur kesuksesan orang tua dalam adat. Orang tua akan melakukan segalanya agar acara Pernikahan adat Batak anaknya dapat berjalan dengan baik. Pernikahan adat Batak juga dimanfaatkan sebagai sarana berkumpul keluarga besar dari berbagai penjuru tempat perantauannya masingmasing dan sebagai sarana untuk belajar kebudayaan batak.

AKSARA Banyak orang mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk belajar Aksara Kanji dari Jepang, Aksara Hanja dari Korea, dan Aksara Han dari Mandarin. Tentu mengetahui aksara asing merupakan salah satu kebanggaan tersendiri bagi kita. Tetapi, sebagai generasi muda, apakah kita tahu bahwa suku Batak mempunyai aksaranya sendiri? Satu hal yang mungkin generasi muda Batak sudah tidak mengenal dan yang lebih buruknya malu untuk mempelajari adalah “Surat Batak�. Pada zaman dahulu, Surat Batak digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak pada kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Naskah tersebut disebut pustaha. Jadi, sudah saatnya kita sebagai generasi muda Batak menumbuhkan rasa ingin tahu dan suka terhadap kebudayaan daerah kita dan tidak pernah bosan terhadap kebudayaan tersebut. Dan kita juga ada kemauan dan niat dari diri sendiri untuk belajar bahasa daerah, kebudayaan daerah, dan bangga terhadap bahasa dan kebudayaan tersebut, seperti kita bangga bisa berbahasa asing.


PUSTAHA BATAK (Sumber gambar: Google)


20

ARTIKEL

PER AN GE NER ASI MUDA UNTUK KEARIFAN LOK AL SUMATER A UTAR A OLEH: RICARDO SIMAMORA (UKSU ‘14)


Kearifan lokal merupakan salah satu bentuk dari budaya. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup yang mengakomodasi kebijakan dan kearifan hidup (Kemdikbud, 2016). Singkatnya, kearifan lokal merupakan nilai-nilai yang berlaku dalam tatanan masyarakat. Nilainilai tersebut diyakini kebenarannya dan menjadi pedoman dalam keseharian masyarakat. Meskipun kearifan lokal merupakan produk dari masa lalu, namun hal ini harus senantiasa dijadikan pegangan hidup bangsa Indonesia. Kearifan lokal biasanya diajarkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi baik berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Berwujud artinya memiliki bentuk, dapat dilihat, atau dengan kata lain dapat disebut sebagai benda atau barang. Sedangkan tak berwujud berarti tidak dapat dilihat, misalnya ba-

hasa, sastra, kesenian, upacara, adat-istiadat, dan sebagainya. Di Indonesia, kearifan lokal merupakan filosofi dan pandangan hidup yang diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti tata nilai sosial ekonomi, arsitektur, kesehatan, tata lingkungan, dan lainnya. Sebagai contoh, di Sumatera Utara, terdapat sebuah filosofi Dalihan Na Tolu yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Menurut Vergouwen (2004) dalam bukunya yang berjudul “Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba�, dalam adat Batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, yaitu Somba Marhulahula (hormat kepada keluarga pihak istri), Elek Marboru (sikap membujuk atau mengayomi wanita), dan Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga). Filosofi ini sudah diwariskan

turun-temurun yang hingga saat ini menjadi pedoman masyarakat Batak dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi di Indonesia terdiri dari beberapa suku, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Melayu, dan Nias yang masing-masing suku memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun. Namun pada saat ini, nilai-nilai tersebut telah memudar seiring dengan pesatnya perkembangan zaman globalisasi. Contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah berkurangnya minat pemuda dalam melestarikan bahasa daerah. Survey pada tahun 2014 yang dilakukan PODES (survey potensi desa) menunjukkan bahwa di beberapa provinsi di Indonesia seperti Maluku, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan, lebih dari 90% penduduknya ma-


PEJUANG BATAK (Sumber gambar: pixabay.com)


ARTIKEL

sih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari. Hal ini bertolak belakang dengan provinsi Sumatera Utara yang termasuk dalam 5 besar provinsi pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi seharihari terbesar di Indonesia dengan persentase sebesar 55,6%. Jumlah ini tentunya semakin meningkat seiring berjalannya waktu dikarenakan arus globalisasi yang membawa masyarakat khususnya generasi muda semakin jauh dari nilai-nilai yang sudah diwariskan nenek moyang. Generasi muda cenderung lebih menyukai hal-hal yang yang berbau modernisasi karena budaya lokal dianggap kampungan dan ketinggalan zaman, termasuk menggunakan bahasa daerah dalam keseharian. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi sangat memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terutama internet memang tidak dapat dihindari. Arus globalisasi perlahan mengikis nilai yang diajarkan dalam kearifan lokal bangsa Indonesia. Namun, teknologi informasi dan komunikasi tersebut hendaknya dapat pula dijadikan sebagai alat untuk melestarikan kearifan lokal khususnya provinsi Sumatera Utara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemuda dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi adalah penyebaran informasi berkaitan dengan kebudayaan melalui media sosial yang dilakukan secara intens. Bentuk penyajian informasi tersebut tentunya harus sangat diperhatikan agar banyak orang yang tertarik untuk bergabung atau melakukan hal yang sama. Berikut ini adalah contoh-contoh praktis untuk me-

lestarikan kearifan lokal Sumatera Utara : 1. Membuat grup di media sosial yang anggotanya memiliki kesamaan minat dalam kuliner, tradisi, atau kesenian daerah Sumatera Utara. 2. Memasang foto profil akun media sosial yang sedang menggunakan baju daerah atau menggambarkan sebuah kegiatan kebudayaan Sumatera Utara. 3. Membuat video/vlog yang menampilkan hal-hal menarik tentang kebudayaan tertentu di Sumatera Utara dan diupload ke YouTube atau media sosial lainnya. Semakin menarik videonya tentu semakin banyak orang yang akan melihat video tersebut. 4. Membuat tulisan melalui blog atau media sosial lain mengenai kearifan lokal Sumatera Utara. Tulisan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber referensi dan informasi bagi banyak orang. Pada intinya, kemajuan teknologi seharusnya bukan menjadi ancaman bagi generasi muda dalam pelestarian kearifan lokal Sumatera Utara. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan sebagai kesempatan untuk melestarikan budaya dan nilai luhur yang sudah diwariskan sejak dahulu. Pemuda harus kritis dan kreatif dalam menyikapi kemajuan teknologi sehingga “harta� berharga itu tidak punah, melainkan tetap ada untuk selamanya.

23


PEMUDA DAN TEKNOLOGI MERUPAKAN PERPADUAN YANG TEPAT UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA OLEH: HANS HUTASOIT (UKSU ‘14)


ARTIKEL Manusia merupakan individu yang muncul di dunia untuk memberikan dampak selagi ia hidup. Proses pemberian dampak ini diwujudkan dengan adanya perilaku pola pikir dan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Perilaku kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang seiring dengan berjalannya waktu menjadi budaya. Baik secara pribadi maupun kelompok. Kata budaya berasal dari sansekerta, yaitu “budayyah� yang memiliki arti segala sesuatu yang ada kaitannya atau berhubungan dengan akal budi manusia. Budaya memiliki nilai-nilai luhur yang dianggap baik oleh suatu kelompok dan kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi lain untuk menjaga kelestariannya. Dari budaya ini kemudian muncullah teknologi. Teknologi lahir dari kebutuhan manusia untuk mempermudah melakukan kegiatan dan perilaku. Teknologi ada untuk menunjang keberadaan budaya sendiri. Teknologi kemudian hadir dalam bentuk alat-alat canggih seperti mesin dan perkakas yang semakin hari semakin baik membantu manusia. Di masa ini, pemuda tentu tidak dapat dipisahkan dengan kata teknologi. Teknologi menjadi suatu kebutuhan dan terdengar akrab dengan pemuda. Namun, kedekatan ini kemudian menimbulkan penyimpangan yaitu adanya keadaan dimana pemuda melupakan budayanya sendiri. Budaya yang dimaksud adalah tradisi asli yang telah dijaga lama oleh nenek moyangnya. Sumatra Utara menjadi salah satu contoh wilayah yang memiliki budaya yang beragam. Kehidupan masyarakat Melayu yang mendiami pesisir timur Sumatra Utara, Halak Batak yang mayoritas membentuk budaya beragam di sekitar Danau Toba, Ono Niha yang bermukim di Pulau Nias menjadi salah satu contoh keberagaman budaya asli di Sumatra Utara. Budaya-budaya ini berkembang dan tumbuh bersama dan menciptakan Identitas yang kuat akan

25

Sumatra Utara. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat yang menciptakan budaya ini mulai tergantikan oleh generasi yang telah merasakan teknologi canggih dan menciptakan penurunan nilai dari Budaya sendiri. Banyak pemuda di Sumatra Utara yang mulai menghiraukan dan malu akan nilai-nilai yang telah diturunkan oleh generasi sebelumnya. Bahkan banyak anak muda yang tidak tahu akan budaya sendiri karena tidak mendapatkan pengajaran dari generasi sebelumnya. Padahal budaya yang diterima merupakan bagian dari identitasnya sendiri. Anak muda sekarang sebagai pemegang masa depan perlu memerhatikan dari mana identitas dirinya berasal. Budaya mana yang membentuk dirinya dan nenek moyangnya. Anak muda perlu mengenal identitasnya sendiri sebagai bagian dari Budaya Sumatra Utara. Anak muda dan teknologi menjadi suatu perpaduan yang tepat untuk melestarikan budaya khususnya Sumatra Utara. Anak muda sebagai insan yang mudah belajar dapat memanfaatkan teknologi yang didapatkan untuk melestarikan Budaya. Karena pada hakikatnya teknologi hadir guna memudahkan manusia untuk berbudaya. Pendidikan yang tepat menjadi salah satu jawaban penanaman nilai ini bagi pemuda di zaman sekarang. Adanya pendidikan yang menanamkan nilai Budaya Sumatra Utara dapat menimbulkan kesadaran anak muda akan pentingnya menjaga kelestarian Budaya Sumatra Utara sebagai identitas, dan bukan hanya sekedar tahu, anak muda bangga akan budaya yang dimilikinya. Melalui pendidikan berbasis teknologi yang sekarang sudah maju dan juga terfasilitasi pada banyak sekolah di Sumatra Utara pelestarian budaya bukanlah hal yang di rasa sulit.

Sebenarnya bukan tidak banyak masyarakat yang sadar dan mempunyai kapasitas akan pentingnya pelestarian budaya di Sumatra Utara. Banyak sekolah yang sudah menyediakan pelajaran budaya kepada murid-muridnya. Namun, hanya sedikit yang berani mempertahankan keeksisan budaya Sumatra Utara. Keberanian memanfaatkan teknologi dan perkembangan informasi untuk mengenalkan budaya Sumatra Utara kepada banyak pihak merupakan salah satu contoh yang dapat diambil untuk melestarikan budaya. Melestarikan budaya memang bukanlah hal yang dapat dikatakan mudah. Ki Hajar Dewantara sendiri megatakan bahwa budaya adalah bukti hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran. Dan usaha inilah yang diperlukan oleh Anak Muda sekarang yang masih penuh dengan semangat pembelajaran untuk dapat melestarikan budaya Sumatra Utara. Karena budaya sendiri bersifat dinamis. Ketika anak muda Sumatra Utara tidak dapat melestarikan budaya yang sudah lama diturunkan, budaya akan berganti sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat di masa depan tidak akan mengetahui bagaimana budaya yang melatarbelakangi kehadirannya di dunia.


SUKU NIAS


ETNIS Suku Nias adalah salah satu suku di Indonesia yang hidup di Pulau Nias. Orang Nias menamakan diri mereka “Ono Niha” (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai “Tanö Niha” (Tanö = tanah). Bahasa yang mayoritas digunakan oleh masyarakat suku Nias adalah “Li Ono Niha” artinya Bahasa Nias. Menurut mitos dalam syair hoho (sastra lisan Nias kuno) yang berkembang di Pulau Nias, alam semesta beserta seluruh isinya merupakan ciptaan Lowalangi. Di suatu tempat yang bernama Tetehöli Ana’a, Lowalangi menciptakan sebatang pohon kehidupan yang disebut Sigaru Tora’a. Dari buah pohon ini, lahir sepasang dewa pertama bernama Tuhamora’aangi Tuhamoraana’a yang berjenis laki-laki dan Burutiraoangi Burutiraoana’a yang berjenis perempuan.

Sirao, salah satu keturunan dewa pertama itu, menjadi raja di Tetehöli Ana’a. Dari ke-9 keturunannya, terpilihlah anaknya yang paling bungsu yaitu Luo Mewöna. Untuk menenteramkan kedelapan putranya yang lain, Sirao menurunkan mereka ke bumi (Pulau Nias), bersama dengan cucunya, putra dari Luo Mewöna. Dari 9 orang yang diturunkan ini, ada 4 orang yang tidak selamat. Dari ke-8 putra Sirao itu, ada 4 (empat) orang dapat diturunkan dengan selamat ditambah cucunya, dimana 5 orang inilah yang menjadi leluhur mado (marga) orang Nias zaman sekarang.

29


HOMBO BATU (LOMPAT BATU) Merupakan tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat Nias dan meloncati susunan batu yang setinggi 2 (dua) meter. Ajang tersebut diciptakan untuk menguji fisik dan mental para remaja pria Nias menjelang usia dewasa yang akan ikut berperang melawan musuh. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu.


ETNIS

31

TA R I P E R A N G ( F O L U AYA ) Tari Perang adalah lambang kesatria dari suku Nias. Jadi dahulu saat terjadi perang antar suku, para prajurit suku Nias menjaga daerah mereka masing-masing dengan melakukan semacam ronda malam yang mereka sebut dengan Fana’a dengan tujuan untuk melindungi desa dari musuh yang mengendap-endap di malam hari. Saat terdeteksi ada musuh yang hendak menyerang, para prajurit akan memanggil prajurit lain untuk bersama-sama menyerang musuh. Kepala musuh yang tertangkap akan dipenggal untuk dipersembahkan kepada Raja. Persembahan ini disebut juga dengan Binu. Raja yang merasa senang akan mempersembahkan Rai (mahkota) untuk panglima perang. Tak hanya itu, para prajurit juga diberi emas beku sebagai hadiah telah membunuh musuh. TARI MAENA Maena adalah sebuah tarian tradisional Nias yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan. Tarian ini diawali dengan Pantun maena (fanutunõ maena) yang biasanya dibawakan oleh satu orang atau dua orang dan disebut sebagai sanutunõ maena, sedangkan syair maena (fanehe maena) disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam tarian maena dan disebut sebagai sanehe maena/ono maena. Syair maena bersifat tetap dan terus diulang-ulang/disuarakan oleh peserta maena setelah selesai dilantunkannya pantun-pantun maena, hingga tarian maena berakhir. Maena biasanya dilakukan dalam acara perkawinan (fangowalu) dan pesta adat Nias (falõwa/owasa/folau õri). TARI MOYO Merupakan tarian tradisional yang dilakukan oleh para wanita, bernama Tari Moyo. Tarian ini juga sering disebut juga dengan tari elang karena memang gerakannya mirip elang yang sedang terbang. Tarian ini dilakukan pada saat-saat tertentu di suku nias seperti saat ada acara besar, menyambut tamu, upacara adat, atau pernikahan. Tari Moyo sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Awalnya tarian ini dilakukan di dalam istana untuk menghibur raja. Dalam praktiknya, Tari Moyo dilakukan oleh wanita berpasang-pasang. Jumlahnya bisa empat atau lebih. Mereka menggunakan pakaian adat khas Nias dan diiringi musik tradisional khas Nias pula.


32

ETNIS

OMO HADA (Rumah Adat)

PAKAIAN ADAT NIAS


ETNIS

ALAT MUSIK TRADISIONAL NIAS

GÖNDRA

ARAMBA

FARITIA

FETA BATU

FO’ERE

FONDRAHI

KOKO

TUTUHAO

LAGIA

33


SUKU KARO


Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo yakni Brastagi dan Kabanjahe, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo.Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo atau Cakap Karo, dan memiliki salam khas, yaitu Mejuah-juah.


36

ETNIS

SIWALUH JABU (Rumah Adat Karo)

ALAT MUSIK TRADISIONAL KARO

KULCAPI

SARUNE

GENDANG

GUNG & PENGANAK

KETENG-KETENG


ETNIS

TARI PISO SURIT Piso Surit adalah salah satu lagu, syair, serta tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil.

TARI GUNDALA-GUNDALA Tari Gundala - Gundala adalah sebuah tari tradisional masyarakat Karo yang dilakukan untuk mendatangkan hujan. Tarian Gundala - Gundala ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu sebagai kostumnya. Tari Gundala-Gundala ini dilakukan untuk mendatangkan hujan.

TARI TONGKAT Tari tradisional dari Tanah Karo yang satu ini disebut juga Tari Tungkat. Tari ini menggambarkan kepercayaan orang Karo akan adanya roh halus, masyarakat Karo masih mempercayai adanya kekuatan gaib dan roh halus yang akan mendatangkan hal yang negatif pada kehidupan manusia. Dalam beberapa kegiatan kebudayaan, manusia yang memiliki ilmu gaib masih berperan penting untuk berhubungan dengan rohroh halus.

37


SUKU PAKPAK Menurut cerita, nenek moyang dari Suku Pakpak adalah si Kada dan si Lona dari India Selatan India Selatan yaitu dari India Tondal. Mereka pergi merantau meninggalkan kampungnya dan terdampar di Pantai Barus dan masuk hingga ke tanah Pakpak. Dari pernikahan mereka mempunyai seorang anak yang bernama HYANG. Itulah sebabnya nama Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Suku Pakpak. Hyang kemudian menikah dengan putri Raja Barus. Dari pernikahan mereka, lahir 7 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Adapun nama dari anak Hyang dan putri raja Barus adalah : 1. Si Haji; 2. Perbaju Bigo; 3. Ranggar Jodi; 4. Mpu Bada; 5. Raja Pako; 6. Bata; 7. Sanggir; 8. Suari (anak perempuan).


40

ETNIS

RUMAH ADAT PAKPAK

ALAT MUSIK TRADISIONAL PAKPAK

KALONDANG

GENDERANG SISIBAH

GUNG SADA RABAAN

KUCAPI


ETNIS

TATAK MENAPU KOPI Tatak Manapu Kopi ini menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen kopi, menumbuk kopi dan menjemur kopi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi (petani) di kampungnya saat datang musim panen.

TATAK GARO-GARO Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Tatak ini biasa diiringi dengan lagu pertangistangis Menci. Masyarakat Pakpak sendiri menari-kan tarian ini ketika masa panen tiba yang menandakan sukacita masyarakat atas panen yang berlimpah.

TAKTAK DEMBAS SIMANGUDA Tari ini menceritakan tentang doa dan mohon berkat petani yang disampaikan kepada nenek moyang (Sarat spiritual magis yaitu animisme karena menyebut berkali-kali “Mpung�) agar diberi kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan pekerjaan.

PAKAIAN ADAT PAKPAK

41


SUKU BATAK TOBA


ARTIKEL

43

Dalihan Na Tolu Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima.Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu. Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut: 1. Somba Marhulahula: berarti hormat kepada Hula-hula. Hulahula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu(istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri

anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan. 2. Elek Marboru/lemah lembut tehadap boru/perempuan. Berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita(anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang. 3. Manat mardongan tubu/ sabutuha, suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati– hati dengan teman semarga. Kata orang tua-tua “hau na jonok do na boi marsiogoson� yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik Inti ajaran Dalihan Natolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan Natolu menjadi media yang memuat asas hukum yang objektif.


44

ETNIS

R U M A H B O L O N ( R u m a h A d a t B a t a k To b a )

ALAT MUSIK TRADISIONAL BATAK TOBA

GARANTUNG

OGUNG

TAGANING

SULIM

HASAPI

SARUNE


ETNIS

TOR-TOR PANGURASON Tortor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari segala macam bahaya.

TOR-TOR SIPITU CAWAN Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini memiliki kisah yang berasal dari 7 putri kayangan yangn turun ke bumi dan mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Kegunaan dari tarian ini adalah membuang semua penghalang, sebab orang Batak percaya manusia biasanya mengalami kegagalan karna ada penghalang. TOR-TOR TUNGGAL PANALUAN Tortor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Tor-tor Tunggal Panaluan dilaksanakan seorang dukun (Datu Bolon) atas perintah Sang Raja dengan tujuan untuk menolak bala, meminta atau menolak hujan, mengangkat pemimpin atau seorang raja, membentuk kampung baru atau mengambil keputusan untuk berperang. PAKAIAN ADAT BATAK TOBA

45


SUKU MELAYU Salah satu teori menyatakan bahwa sejarah masyarakat melayu berkaitan dengan Sungai Mekong. Sungai Mekong, yang berukuran 4180km panjang, bermula dari Tibet dan melalui Yunnan, wilayah China, Myanmar, Thailand, Laos, Kemboja dan Vietnam. Pakar-pakar Antropologi menjejaki migrasi masyarakat Melayu Proto, yang merupakan pelaut, lebih kurang 10,000 tahun lalu, berlayar menggunakan perahu di sepanjang Sungai Mekong dari Yunnan hingga mencapai Laut China Selatan dan akhirnya mendiami di tempat-tempat berbeda. Teori Melayu Proto berasal dari Yunnan disokong oleh R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slametmuljana dan Asmah Haji Omar. Melayu Proto (Melayu asli) yang pertama sekali datang mempunyai kemahiran dalam bidang pertanian sementara golongan kedua, Melayu Deutro yang tiba sekitar tahun 1500 SM dan mendiami pesisir pantai mempunyai kemahiran menangkap ikan yang tinggi. Semasa berlangsungnya migrasi tersebut, kedua golongan saling menikah dengan masyarakat-masyarakat dari pulau-pulau selatan seperti Jawa, serta penduduk yang berasal dari keturunan Australasia dan Negrito. Bukti – bukti yang mendukung teori ini adalah : • Peralatan batu yang dijumpai di Kepulauan Melayu (lokasi - lokasi yang ditempati masyarakat melayu) sama dengan Peralatan dari Asia Tengah. • Persamaan adat resam Melayu dan Assam. • Bahasa Melayu dan Bahasa Kemboja adalah serumpun karena masyarakat Kemboja berasal dari sumber Sungai Mekong.


48

ETNIS

RUMAH SELASO JATUH KEMBAR

A L AT M U S I K T R A D I S I O N A L M E L AY U

KOMPLANG

JIMBE

GAMBUS


ETNIS

TARI MAKAN SIRIH Tari makan sirih biasanya disebut tari persembahan dan biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau pembukaan acaraacara tertentu. Tarian ini menggambarkan bahwa orang Melayu menghargai hubungan persahabatan dan kekerabatan

TARI MAKYONG Tarian ini adalah jenis dramatari yang sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu. Makyong diperkirakan telah ada hampir seabad yang lalu dan sering kali dipentaskan di pematang sawah selepas memanen padi. Tarian tersebut dipentaskan oleh penari-penari topeng dan diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tatawak

TARI ZAPIN Tari zapin telah lama berkembang di banyak daerah di Indonesia. Tari ini banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan sarat kandungan agama dan tata nilai. Tarian ini mempertontonkan gerakan kaki cepat mengikuti pukulan gendang (marwas). Zapin awalnya hanya dilakukan penari lrlaki namun kini penari perempuan juga ditampilkan

PA K A I A N A D AT M E L AY U

49


SUKU SIMALUNGUN


Suku Simalungun adalah salah satu suku yang berada di provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun. Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku “Si Balungu� dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka


52

ETNIS

RUMAH BOLON

ALAT MUSIK TRADISIONAL SIMALUNGUN

ARBAB

HUSAPI

MONGMONGAN

TULILA


ETNIS

TARI TOPING-TOPING Tortor Toping-toping merupakan sebuah tarian unik yang biasanya dipertunjukkan untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka. Sesuai sejarahnya, tarian ini hanya hiburan untuk kalangan keluarga kerajaan. Tapi sesuai perkembangan zaman, tarian ini sudah menjadi sarana hiburan masyarakat, bukan hanya di Simalungun tapi sudah menjadi tarian milik Sumatera Utara.

TARI MANDUDA Tari Manduda dipertunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya. Tarian menggambarkan kehidupan petani turun ke sawah dengan suasana gembira, mulai menanam padi hingga sampai kepada suasana panen. Gerak memotong padi, mengirik dan menampis padi tergambar lewat gerakan-gerakan tarian ini, yang dilakukan secara gemulai dan lincah.

TORTOR SOMBAH Tarian ini boleh dikata tarian yang sangat populer pada masa ini. Tarian ini lazim dilakukan untuk menyambut kepala daerah atau pejabat suatu instansi pada suatu acara sebagai bentuk penghormatan. Memang, tortor sombah adalah tarian yang dilakukan untuk menghormati Tuhan Maha Kuasa, raja dan undangan suatu hajatan.

PAKAIAN ADAT SIMALUNGUN

53


SUKU MANDAILING


Suku Mandailing secara umum termasuk dalam rumpun budaya Batak. Dahulunya di Sumatera Utara hanya ada suku Batak saja yang berdiam. Tapi kemudian, sebelum abad ke-18, masuklah kaum Paderi dari Minangkabau ke Sumut, tepatnya ke daerah Natal dan Padang Lawas. Nah, sejak itu budaya Minang dan agama Islam yang dibawa oleh kaum tersebut berbaur dengan budaya Batak setempat. Lantas kemudian menghasilkan subetnis baru, salah satunya Mandailing.


56

ETNIS

RUMAH ADAT BATAK MANDAILING

ALAT MUSIK TRADISIONAL MANDAILING

GORDANG SAMBILAN

TULILLA

SULING

SARUNE


ETNIS

TARI ENDENG-ENDENG Tari Endeng - Endeng adalah sebuah tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Tari Endeng-Endeng ini menggambarkan semangat dan ekspresi gembira masyarakat sehari- hari, serta ungkapan kegembiraan Naposo Nauli Bulung (muda - mudi) saat bertanam dan panen raya

TOR-TOR NAPOSO NAULI BULUNG Tari tor-tor naposo nauli bulung biasanya terdiri dari 3 penari wanita dan 3 penari pria, di barisan terdepan (na isembar) adalah para anak gadis yang memiliki marga yang sama misalnya Nasution, maka di barisan belakang (pangayapi) adalah para pemuda yang (harus) bermarga lain misalnya Lubis, atau sebaliknya para anak gadis di barisan depan (na isembar) bermarga Nasution, sedangkan dibarisan belakang (panyembar) harus bermarga Lubis, atau marga-marga lain seperti Rangkuti, Pulungan, Matondang, Daulae, dan Batubara

PAKAIAN ADAT MANDAILING

57


GALERI UKSU

Open House Unit ITB 2017


60

GALERI UKSU

TEMU ALUMNI

LATIHAN MUSIK


KEBERSAMAAN SAAT BERSIH-BERSIH SEKRE

MALAM KEAKRABAN


MEMORI 17 AGUSTUS 2017


GALERI UKSU

HOME TOURNAMENT

OHU 2017

63


64

GALERI UKSU

ACARA SYUKURAN WISUDA

PENAMPIL DI WILWATIKTA


PENAMPIL DI CAREER CENTRE

SHARING ALUMNI


EP I LO G

CENTRE

Sebagai sebuah bangsa yang besar, Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan etnis yang ratusan jumlahnya. Tiap suku atau etnis tersebut memilki budayanya masing-masing. Budaya tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus kita jaga. Sebagai seorang warga negara yang baik, kita harus mengenal budaya kita, bahkan bergerak untuk melestarikannya. Seni dan budaya merupakan jati diri bangsa. Jati diri menunjukkan siapa kita sebenarnya. Apabila kita tidak mencintai budaya kita sendiri, maka kita sama dengan orang yang tidak mencintai dirinya sendiri. Lihatlah betapa bangganya bangsa Jepang dan Korea dalam mempromosikan budayanya ke mancanegara. Lihatlah betapa bangganya masyarakat Indonesia mengagumi budaya bangsa luar. Tidak salah. Jika sebatas kagum. Menjadi salah ketika kita lebih mencintai budaya bangsa lain dibanding budaya kita sendiri. Sekali lagi, budaya adalah jati diri bangsa. Seni dan budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berkaryalah dengan seni dan budaya bangsamu. Jika bukan kita putra putri bangsa ini yang berkarya, lalu siapa lagi yang bisa melakukannya? Jangan mengharap orang lain akan mengapresiasi seni dan budaya kita, jika bukan kita yang mengapresiasi seni dan budaya kita tersebut. ISEI?! HENDRA DWIMAX NAINGGOLAN (KETUA UMUM UKSU-ITB 2017/2018)


REFERENSI ARTIKEL M FOLLOW OUR SOCIAL MEDIA

MALU TERHADAP BUDAYA SENDIRI? • •

@uksuitbofficial

PERAN GENERASI MUDA UNTUK KEARIFAN LOKAL SUMATERA UTARA •

@UKSU_ITB •

@uksuitb

/iseiuksuitb

http://nationalgeographic.co.id http://indonesia.go.id

Analisis Kearifan Lokal Ditinjau dari Keragaman Budaya (publikasi Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2016). Vergouwen, J.C. 2004. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Yogyakarta : LKIS.

PEMUDA DAN TEKNOLOGI MERUPAKAN PERPADUAN YANG TEPAT UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA •

Delvatinson. 2017. Pengertian Budaya, CiriCiri, Wujud Kebudayaan dan Unsur. Diambil dari https://hidupsimpel.com/contoh-daftarpustaka/ . (27 Januari 2018) Nur Taufiq, Muhammad. 2015. Pengertian Kebudayaan Menurut Ki Hajar Dewantara. Diambil dari https://estetika-indonesia. blogspot.co.id/2015/12/pengertian-kebudayaan-menurut-ki-hajar.html . (27 Januari 2017)

SUMBER GAMBAR: HORAS JAPAN Tim Publikasi Malam Cinta Indonesia 2017 ETNIS www.google.com www.pixabay.com EDITOR: Dwi Ananda Gunawan


UNIT KESENIAN SUMATERA UTARA Jalan Ganesha No. 10 Bandung Sunken Court W-06 Institut Teknologi Bandung

Majalah buletinUKSU Edisi I  

Majalah Kesenian dan Kebudayaan Sumatera Utara

Majalah buletinUKSU Edisi I  

Majalah Kesenian dan Kebudayaan Sumatera Utara

Advertisement