Issuu on Google+

DETaK

1 Edisi 35 | Februari 2014

Edisi 34 /Februari 2014

Harga : Rp 5.000

MEREKA YANG TERANCAM TINGGALKAN KAMPUS

www.detak-unsyiah.com

Lebih kritis dari yang Anda duga


Salam Redaksi

2

3

Edisi 35 | Februari 2014

REDAKSI TABLOID DETaK PENERBIT: Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Universitas Syiah Kuala, SK REKTOR: Nomor 116 Tahun 1995, PELINDUNG: Rektor Universitas Syiah Kuala, PENASEHAT: Pembantu Rektor III, Pembantu Rektor I, II, IV, dan para Dekan di lingkungan Unsyiah. PEMBINA Budi Arianto Dr. Taqwaddin SH PEMIMPIN UMUM Mulya Rizki Nanda SEKRETARIS UMUM Annisa Fatmarinanta BENDAHARA UMUM Mariati LITBANG Herliyanto PIMPINAN USAHA Aria Mustari KESEKREATARIATAN Emi Vovo Sembiring HUMAS Septian Murival PENGKADERAN Tajul Ula PIMPINAN REDAKSI Murti Ali Lingga REDAKTUR PELAKSANA Indri Maulina

Salam Redaksi Salam Semangat-Hidup Pers Mahasiswa! Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan sekalian Alam yang selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Mudah-mudahan menjadi pribadi kebanggaan bangsa dan Negara. Sholawat serta salam mudah-mudahan tetap terlimpah curahkan keharibaan beliau, Baginda Nabiyullah Muhammad SAW, karena dengan perjuangan beliaulah kita mampu mengetahui kebaikan dan keburukan. Semoga kita semua mendapat syafaat beliau di hari kiamat kelak. Mahasiswa sering dianalogikan sebagai agent of change. Namun, disisi lain, ada hal yang harus dikaji dan direalisasikan oleh mahasiswa, yakni mengamalkan tridarma perguruan tinggi yang sampai saat ini sedikit demi sedikit terkikis dalam kehidupan para pemikir ini. Salah satu dari sekian banyak amanat yang diemban mahasiswa, adalah merubah serta memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Disinilah letak pers mahasiswa berperan menjadi “anjing” penjaga bagi tataran kebijakan-kebijakan yang menyimpang, baik dalam garis sesama mahasiswa maupun para elit pejabat kampus, sampai pemerintahan sekalipun. Syukur serta puja bagi sang khalik.

Edisi 35 | Februari 2014

Dengan semangat yang baru dan kerja keras semua Kru DETaK selama ini, kami Pengurusan UKM Pers DETaK Unsyiah periode 2014-2015 ini mempersembahkan Tabloid edisi Ke- 35. Sehingga DETaK kembali dapat menyapa pembaca setia dengan mempersembahkan Tabloid DETaK edisi Ke- 35. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua anggota redaksi yang telah bekerja keras dalam pembuatan tabloid dan seluruh pihak yang telah membantu dan mendampingi kami. Permohonan maaf kami haturkan kepada semua pihak, kekurangan dan kesalahan dalam penulisan di Tabloid mungkin masih banyak terlihat di sanasini. Maka dari itu, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk membenahi kekurangan dan kesalahan kami dan menjadikannya sebagai pembelajaran kearah yang lebih baik kedepannya. Jika ditemukan kata-kata yang terlihat kurang pro dengan kampus, itu bukanlah maksud kami menjelekan kampus. Tapi kami mencoba memberikan yang terbaik untuk kampus dengan memberikan saran dan kritik supaya dapat dijadikan bahan introspeksi bagi kampus tercinta ini. Kedepan semoga Tabloid DETaK dapat di terbitkan untuk edisi berikutnya. Selamat membaca!

Salam Redaksi 2 EKONOMI nMandiri Pegangan Setamat Kuliah

3

WARTAWAN Raihan Nasyur Debby Ispandiari Ryan Aswinsyah Putra Riska Iwantoni Dony Prasetio M.Elmuafasani Putri Nurul Ulfa Putri Nuzira Desi Purnama Sari

LAPORAN UTAMA nKetika SPP Mencekik Kami 6 nUntuk Siapa UKTB ? 7 nKemana Kami Harus Belajar 8 nKeluhan UKT-B 9

WEB MASTER Aditya Fitirianto ALAMAT REDAKSI: Jl. Syech Abdurrauf, Gedung Gelanggang Mahasiswa Prof. A Madjid Ibrahim, Lantai 2 Ruang 02.01, Kampus Unsyiah Darussalam Banda Aceh, 23111. CONTACT PERSON: 085262034035/085760213657, E-MAIL: redaksi@detak-unsyiah.com Lebih kritis dari yang Anda duga

g DETaK/Ryan Aswinsyah Putra

Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat saat Iin disibukkan dengan gerobak dagangannya. Seperti kemarinkemarin, gadis berwajah tirus itu menjalani rutinitasnya sebagai penjual nasi goreng. g Laporan Ryan Aswinsyah Putra dan Riska Iwantoni

POJOK KAMPUS nMaraknya Lapak Liar 4

LAYOUTER Masridho Rambey

MANDIRI, PEGANGAN SETAMAT KULIAH

DAFTAR ISI

REDAKTUR Roza Zulfira Hilda Rahmazani Miftahul Jannah

FOTOGRAFER Sutama Muhammad Riska Hikmah Zulfurqan Zikrillah

DETaK

Ekonomi

REPORTASE nBelantara Ilmu Di Delantara Lambirah

5

LAPORAN KHUSUS nKarena Skripsi Dan D.O 11 nSaat Mahasiswa Jadi Pasien RSJ 12 LINTAS KAMPUS 14 SOSOK nJalan Masih Panjang 15 FOKUS nNarkoba Memenjarakan Hidupku 16 nNarkoba Gerbang Kriminalitas 17 nKetagihan Tapi Menyiksa 18 nMahasiswa dan Narkoba Semakin Tak Terkontrol 19 nData Kasus penangkapan Narkoba 20 CERPEN nCeloteh Awan Pada Langit 21 REPORTASE nMeraup Rupiah Dalam Amukan Laut 22 nKetika Nyawa jadi Taruhan 23 www.detak-unsyiah.com

IN FERNANDA, itulah nama asli mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unsyiah. Setiap malam, merupakan kehidupan lainnya setelah menghabiskan hari di kampus untuk menuntut ilmu. Ia memilih hidup mandiri dengan cara berjualan nasi goreng. Gerobaknya persis di samping kanan gerbang Komplek Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, Banda Aceh. Iin melakoni usaha tersebut semenjak Mei 2012 lalu. Masa depan menjadi pendorongnya membangun usaha. “Selesai kuliah kita belum tentu mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, jika kita berwirausaha dari sekarang, kita akan punya penghasilan. Sekaligus, mungkin nantinya akan membuka peluang kerja untuk orang lain,” jelasnya kepada DETaK, Sabtu malam, 25 Januari 2014. Usaha ini ternyata mendapat dukungan penuh dari orangtuanya. Bahkan, tak jarang, kedua orangtuanya membantu untuk meringankan pekerjaan Iin, seperti memasak lauk pauk sebagai pelengkap nasi goreng. Semua itu tidak lain agar kuliah sabagai tujuan utama anaknya itu tidak terganggu. Mulanya, Iin mengaku kewalahan membagi waktu antara kuliah dan jualan. Namun, karena besarnya keinginan hidup mandiri, Iin tetap berusaha menjalaninya sekuat tenaga dengan meneguhkan hati, bahwa dirinya bisa!

I

www.detak-unsyiah.com

g DETaK/Riska Iwantoni

DETaK

Iin Fernanda

Menariknya, pengalaman ini mampu membuat Iin menilai skala prioritas apa yang harus dilakukan. “Saya tidak ragu-ragu meninggalkan kuliah sebentar untuk berkerja. Pun sebaliknya, ketika usaha masih bisa ditunda, Iin akan mengfokuskan diri untuk belajar,” ungkap gadis 20 tahun ini. Tak hanya Iin. Bisnis juga dilakoni Mukhlis Ramadhan. Pemuda tambun yang memiliki tinggi 168 cm itu menjadikan gerobak merah mudanya sebagai labuhan bisnis. Yaitu menjual yogurt. Dua tahun mengejar ilmu di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jurusan Biologi, Mukhlis mulai bekerja pada tahun 2012. Yaitu sebagai tenaga penjual di salah satu toko parfum

di Darussalam. Dari bekerja sebagai “buruh” kecil tersebut, ternyata telah membangkitkan semangatnya untuk membuka usaha sendiri. Pada awal Mei 2013, Mukhlis pun mulai berjualan yogurt. Masalah-masalah dalam menjalani bisnis tentu selalu ada dan dialami oleh sebagian orang. Tak terkecuali Mukhlis. Namun begitu, pemuda ini menganggap masalah membagi waktu antara jualan dan kuliah bukanlah sebuah masalah, melainkan resiko yang harus dia hadapi.“Mahasiswa tanpa mengalami resiko bukanlah mahasiswa sesungguhnya. Menjalani hidup sebagai orang yang jauh dari orangtua haruslah berani mengambil resiko, karena disitu kita akan belajar menjadi lebih baik ke depannya,” kata mahasiswa angkatan 2010, ini. Karena itu, saat orangtuanya tidak mengizinkan untuk bekerja --karena alasan takut kuliah anaknya terbengkalai--, Mukhlis tak mengubris larangan tersebut. Semua itu tidak lain karena ambisinya untuk berbisnis. Dan dia yakin, usahanya akan berhasil walaupun saat ini belum bisa memberikan penghasilan yang besar. Walau berasal dari keluarga mampu, bukan berarti Mukhlis tak sungguh-sungguh menjalani bisnisnya ini. Buktinya, usaha gerobak merah mudanya itu semakin berkembang. Bahkan, ia berencana akan membuka dua cabang lagi di Banda Aceh. Seiring perjalanan waktu, keuntungan dalam bidang keuangan membuatnya dapat meghidupi diri sendiri. Apalagi nilai kuliah masih bisa dikatakan baik, mau tak mau, melihat perubahan ini, orangtua Mukhlis menyetujui jalan anaknya itu. Tapi tetap dengan syarat, “Kuliah tidak boleh terbengkalai dan wisuda dengan IPK yang cukup baik,” kata

Mukhlis sambil tersenyum. Mukhlis mulai merintis usahanya dengan modal yang dia cari sendiri. Kemudian baru maju dalam tiga bulan terakhir ini. Karena keramahannya dan keteguhannya untuk menjadi mahasiwa yang mandiri. Lain Mukhlis lain lagi Bayu Baguska. Pria humoris yang memiliki hobi berguyon dengan teman-temannya ini, memilih bekerja karena ingin mengisi waktu luangnya pada saat matahari tak lagi menampakkan diri. Pemuda kelahiran Simeulue, 24 juli 1994 ini adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry Jurusan Kimia Fakultas Tarbiyah. Bayu mulai bekerja awal bulan ramadhan tahun lalu karena keinginan sendiri. Tahu, menjadi bahan utama bisnisnya. Untuk memikat pembeli, Bayu lumayan kreatif. Ia metulis “kuch-kuch hot tahu” pada gerobak tahunya. Keinginan Bayu hidup mandiri bukan tanpa alasan. Ia beranggapan, saat menuntut ilmu dan jauh dari kampung halaman, itulah waktunya dia memulai hidup baru. Tidak lagi bergantung dengan orangtuanya. “Kita jauh dari orangtua, saya yakin mereka percaya kalau kita bisa hidup mandiri di tempat baru kita,” ujar bayu. Bayu berusaha agar keyakinan yang dipegang oleh orang tuanya tidak menjadi rusak dan menjadi sebuah kekecewaan. Karena itu, saat berada di depan wajan yang berisi minyak panas, Bayu tetap terlihat ceria dengan melempar senyum hangat kepada setiap pelanggan. Seakan-akan, dia ingin menunjukan, bahwa kerja kerasnya suatu saat nanti akan berbuah manis. “Berakit-rakit dahulu, bersenangsenang kemudian,” kata Bayu sembari tertawa lepas. [] Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Pojok Kampus

4

5

Edisi 35 | Februari 2014

Puluhan ribu mahasiswa yang menuntut ilmu di Unsyiah, ternyata menjadi magnet tersendiri bagi pedagang. Tak pelak, kampus pun dipenuhi lapak-lapak pedagang layaknya pasar.

DETaK

Reportase Edisi 35 | Februari 2014

MARAKNYA LAPAK LIAR

g Laporan Tajul Ula

EJAK pagi hari, suasana “pasar” ini bisa dilihat langsung saat kita memasuki gerbang kampus di Komplek Pelajar Mahasiswa (Kopelma), Darussalam, Banda Aceh. Sepanjang jalan T. Nyak Arief, para pedagang makanan kecil –mulai dari penjual bakso goreng, es campur hingga makanan “tak bergizi” lainnya-- berboyong-boyong menawarkan dagangannya. Menjelang sore, pasar di jalan itu bukannya berhenti. Para pedagang seperti “kompak” berbagi shif untuk berganti lapak. Giliran penjual baju, durian hingga operator selular pun mengambil kesempatan untuk menjajakan dagangannya. Sebagaimana yang terlihat pada Senin sore, 27 Januari 2014. “Mungkin karena gratis dan tidak adaretribusi, makanya mereka membuka pasar ilegal di sini,” ujar Mahfud, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah. Kepada DETaK, Mahfud mengaku tidak merasa terganggu atas kehadiran mereka. Namun, tetap saja kehadiran mereka terlihat merusak pandangan. “Yah, gimana. Ini, kan, kampus masak yang ditemui pedagang makanan semua. Lain cerita jika diluar pintu gerbang kampus. Tidak masalah,” sambung Mahfud. Suasana pasar ini begitu terasa saat DETaK berjalan menyusuri trotoar jalan pada sore hari. Sisi kanan dan kiri, sepanjang jalan, sejauh mata memandang, akan terlihat berbagai jenis dagangan yang dipajang. Mulai baju kaos, sepatu, hingga berbagai jenis buah, akan dengan mudah kita lihat. Sesekali, para pedagang itu dengan ramah menyapa, “Piyoh…. Piyoh….”. Bahkan, tidak sedikit dari pedagang itu menambahnya dengan raut wajah susah, seolah-olah mereka sangat butuh pertolongan. “Lon kapeut thon ino (saya udah empat tahun disini),” ucap Mariani (40 tahun), pedagang buah didepan gedung Geulanggang Majid Ibrahim. Sembari berdiri dan tersenyum, kepada media ini, Mariani mengaku keuntungan sehari- hari yang ia peroleh Rp. 200.000 ribu hingga Rp. 300.000 ribu. Sebenarnya, Mariani sudah berulang kali mendapat peringatan dan teguran, termasuk ancaman digusur. Tapi peringatan itu tak digubrisnya. Alasan Mariani, dirinya terpaksa berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi, ia harus membiayai empat anaknya seorang diri sejak suaminya meninggal dunia. “Peu ta peugeut, tema. Cit nyoetempat ta mita (mau gimana lagi, Lebih kritis dari yang Anda duga

g DETaK/Miftahul Jannah

S

g DETaK/Murti Ali Lingga

cuman ini tempat saya mencari uang),” ujar Mariani, memberi alasan. Walau diakuinya, kadang kala, tetap merasa khawatir jika dirinya benar-benar digusur. Ketika ditanyai apakah ada pajak atau sejenis retribusi yang dibayar untuk berjualan di depan kampus? Mariani menggeleng.“Tidak ada”. Berbeda dengan Mariani. Pedagang durian, Reza dan Fadil, justru mengaku rutin dimintai bayaran sebesar Rp.10.000 per hari. Masalahnya, tidak jelas siapa yang meminta bayaran tersebut.“Katanya mereka dari pihak kebersihan Usnyiah,” papar Fadil. Reza dan Fadil tak serta merta mempercayainya. Namun begitu, keduanya tetap membayar retribusi illegal tersebut dengan alasan tidak lagi harus susah-susah membersihkan sampah dari dagangannya.

Selain itu, Fadil mengaku kehadiran mereka di jalan kampus bukanlah masalah besar. Apalagi pihaknya merasa tidak pernah menganggu lalu lintas atau menyebabkan kemacetan. Dan alasan utamanya, jalan kampus merupakan jalan umum, bukan jalan milik universitas. Menurut Kepala Humas Unsyiah, Ilham Maulana, kehadiran para pedagang itu tidak begitu baik apalagi jika suasananya sudah seperti pasar. Tapi, mengingat Unsyiah juga ingin memperhatikan hajat hidup masyarakat sekitarnya, maka keberadaan mereka tidak dilarang secara resmi. “Tidak ada retribusi apapun yang diambil dari mereka (pedagang). Dan jika ini terus berlanjut, Unsyiah akan mengambil tindakan tegas untuk menertibkan pasar kaget ini,” ujarnya, kepada DETaK, Sabtu, 7

Desember 2013 lalu. Selain itu, Rektor Unsyiah pernah menyampaikan bahwa para penjual durian dan lain-lain di trotoar sekitar kampus tidak boleh menggelarjualannya sebelum jam 16.00. selain itu, mereka juga harus bertanggungjawab terhadap kebersihan tempat yang digunakan. Selama ini, sisa barang dagangan, seperti kulit durian dan lain-lain sering ditinggalkan saja oleh para pedagang, dan ini mengganggu Unsyiah secara langsung. Akan tetapi, Ilham Maulana, berharap para pedagang saling menghargai satu sama lainnya. Unsyiah, sebut Maulana, sudah berusaha dan berupaya memahami masyarakat yang berjualan dengan mentolerir beberapa hal yang mungkin berpengaruh bagi income pedagang. Dilematis, memang. []

www.detak-unsyiah.com

Belantara Ilmu di Belantara Lambirah g Laporan Miftahul Jannah

I bawah sebuah pohon besar nan rindang, delapan orang anak duduk di atas batang kelapa yang telah tumbang. Sebuah papan tulis putih berukuran 1 x 0,8 meter menjadi pusat perhatian mereka. Wajah mereka terlihat serius. Seorang pemuda terlihat sabar. Dengan telaten ia membimbing satu persatu anak-anak itu, melafalkan kata-kata yang terdengar asing di telinga mereka. “Apa bahasa Inggrisnya kucing? Ada yang tahu?” Tanya sang pemuda kepada anak-anak dengan menggunakan bahasa Aceh. Anak-anak mulai gaduh berbisik. Saling tatap satu sama lainnya sambil berbisik-bisik kecil. “Ayo, ada yang ingin menjawab?” pemuda itu kembali mengajak anakanak untuk menjawab. Suasana masih gaduh sampai akhirnya salah seorang anak berteriak lantang, “Cat! Cat!” kata seorang anak dengan percaya diri. Pemuda yang menjadi guru anak-anak itu tersenyum, antara senang dan lucu. Saya, yang sedari tadi serius memperhatikan mereka pun sontak tertawa geli mendengar jawaban lugu itu. Karena, alih-alih menjawab ‘ket’ dalam ejaan Bahasa Inggris. Anak yang menjawab tadi justru melafalkan kata ‘C-A-T’ dengan ejaan Bahasa Indonesia. Itulah salah satu moment menarik saat saya dan teman-teman DETaK mengunjungi Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) Tanyoe, berlokasi di kompleks Dayah Teungku Chik Lambirah, desa Lambirah, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar, 24 Desember 2013 lalu. Siang itu, suasana khas pedesaan seolah menyambut kedatangan kami. Panas matahari yang menyengat bercampur semilir angin dari

D

www.detak-unsyiah.com

permukaan sawah, membawa aroma lumpur yang baru selesai di bajak oleh petani. Tidak jauh dari pepohonan, dimana kegiatan belajar delapan anak-anak tadi, sebuah bangunan sederhana berwarna hijau muda, dihiasi lukisan-lukisan siluet anak-anak yang saling bergandengan tangan berwarna hitam. Tak ketinggalan, tertulis percakapan tentang semangat menuntut ilmu dari tokoh-tokoh imajiner itu dalam tiga bahasa berbeda; Inggris, Arab, dan Indonesia. Tertera pula rangkaian kalimat yang merupakan visi dari taman pendidikan tersebut di salah satu sisi dinding; “Bersama untuk mendidik generasi cerdas, modern, berkarakter, dan islami.” Kami disambut resmi oleh Amir Husni, wakil direktur TPM-T. Kami pun diajak berkeliling melihat-lihat pekarangan TPM-T, sebelum masuk ke dalam bangunan. Di dalam, disalah satu ruang berukuran sekitar 4 x 4 meter yang disulap menjadi perpustakaan mini, media inidisambut langsung Direktur TPM-T, Husnul Khatimah. Kala itu, dengan berbalut pakaian merah muda, alumnus Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry ini tak sungkan bercerita panjang lebar perihal TPM-T. Perempuan yang juga pernah belajar di Muharam Journalist College (MJC) ini merupakan penggagas serta pendiri dan kini diamanahi jabatan sebagai direktur utama taman pendidikan tersebut. Husnul bertutur bahwa pendirian TPM-T ini berawal dari keprihatinannya melihat anak-anak di desanya begitu kecanduan terhadap play station. Berangkat dari hal itu, Husnul mulai memikirkan cara untuk mengalihkan kebiasaan buruk tersebut menjadi hal positif. Terbersit di

benaknya untuk mendirikan sebuah taman baca yang diharapkan dapat menarik perhatian anak-anak untuk lebih gemar membaca dan meninggalkan kebiasaan buruk bermain play station. Pada akhir 2011, Husnul mulai merealisasikan niatnya, ia mendekatianak-anak pengajian didikan ibunya. Suatu hari, ia mengutarakan niatnya untuk membuka taman baca atau perpustakaan kecil. Niat baik itu disambut dengan suka cita oleh anakanak desa Lambirah. Ia pun semakin yakin dengan tekadnya. Berkat dukungan dan bantuan dari tetua desa dan pemuda desa yang tergabung dalam Lambiwood Community, pada tanggal 7 Agustus 2011, taman bacaan yang diimpikan Husnul resmi dibuka. Kata “Tanyoe” yang diambil dari Bahasa Aceh bermakna “Kita” pun dinobatkan menjadi nama TPM-T tersebut. Sehingga setiap tanggal 7 Agustus, diperingati sebagai hari jadi TPM-T dengan mengadakan lomba MTQ antar murid setiap tahunnya. TPM-T kini telah memiliki ruang baca, ruang kesenian, dan ruang belajar yang masing-masing berjumlah satu ruang. Selain itu, sebuah balai pertemuan dengan gaya arsitektur Aceh juga berdiri dengan kokoh di halaman depan TPM-T. Balai pertemuan itu juga difungsikan sebagai balai pengajian oleh masyarakat setempat pada malam hari. Lapangan bola voli, wahana permaian anakanak, bank sampah, serta kolam ikan yang juga dipakai anak-anak untuk adu renang juga ikut melengkapi fasilitas pembelajaran. Dulunya, bangunan yang sekarang difungsikan sebagai ruang baca dan belajar adalah bekas bangunan sementara Sekolah Dasar Lambirah. Musibah gempa dan tsunami 2004 silam menyebabkan sebagian bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lambirah rubuh sehingga perlu direnovasi. Ketika renovasi selesai, kegiatan belajar SD Lambirah kembali ke bangunan semula. Hingga jadilah bangunan sementara terbengkalai tak terpakai. Karena itulah,

Husnul berinisiatif mengalih fungsikan bangunan tersebut menjadi perpustakaan kecil yang nantinya akan dilengkapi koleksi buku-buku bacaan anak. Kini, TPM-T sudah memiliki banyak buku hibah dari beberapa lembaga dan komunitas yang ada di Aceh melalui program one man one book. Mengenai relawan pengajar, Husnul bertutur bahwa mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Mereka merupakan rekan sesama lulusan kampus, mahasiswa yang masih menjalani studi,teman sebaya yang tinggal di Lambirah dan sekitarnya, serta lulusan SMA. Dalam memilih calon pengajar, Husnul, yang akrab dipanggil kak Imah oleh anak-anak Lambirah, tidak memberikan persyaratan khusus. Asal mereka punya komitmen untuk ikhlas berbagi dan berdedikasi serta mampu menyalurkan ilmunya kepada peserta didik, maka siapa saja dengan senang hati akan diterima untuk mengajar anak-anak dari tingkat SD hingga SMP yang belajar di TPM-T ini. “Nggak butuh juga relawan banyak yang nggak komitmen. Kami butuh yang memang punya komitmen,” tegas dara kelahiran 3 Februari itu. Setelah mendengar penuturan singkat Husnul tentang sejarah berdirinya TPM-T, siang itu media ini melanjutkan berkeliling pekarangan TPM-T sambil menyaksikan bagaimana para relawan mengajari anak-anak dengan telaten dan penuh kesabaran. Anak-anak pun semangat mengikuti arahan sang guru. Andrian, murid kelas enam SDN Lambirah mengaku senang dapat belajar di TPM-T. Ia yang sudah dua tahun belajar di TPM-T menyenangi proses belajar sambil bermain serta konsep belajar di alam.“Lebih enak belajar di sini, Kak. Di sini juga bisa main, belajarnya juga di luar,” ujarnya saat ditanyai alasannya memilih belajar sore di TPM-T. Kehadiran TPM-T juga disyukuri Rahmawati, orang tua salah satu murid yang hari itu ikut memantau kegiataan belajar anaknya. “Putri saya dulunya kurang bisa membaca dan berhitung. Berkat dukungan dan bantuan dari adikadik yang ikhlas mengajar tanpa dipungut biaya ini, putri saya sekarang telah menunjukkan kemajuan yang pesat. Putri saya sekarang sudah bisa membaca dan berhitung. Saya berharap TPM-T ini akan semakin maju lagi,” ucapnya ramah sembari merapatkan gendongan bayinya. Pengakuan bangga juga datang dari Geuchik (ketua kampung) Lambirah. “Anak-anak kami telah memiliki banyak perubahan baik darisikap, perilaku, dan pengetahuan.” Adzan ashar menyudahi kisah belajar-mengajar yang penuh dengan tawa ceria dan semangat itu. Beramai-ramai, guru dan murid serta kami, berwudhu untuk kemudian menunaikan ashar berjamaah. **** Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Laporan Utama

6

7

Edisi | Februari2014 2014 Edisi 3535 | Februari

Uang Kuliah Tunggal (UKT), diyakini dapat mengurangi beban masyarakat dalam membiayai pendidikan kuliah anaknya. Tapi apa lacur, peraturan Menteri Pendidikan ini justru membuat mahasiswa terancam, tak dapat melanjutkan kuliah. g Laporan Mulya Rizki Nanda

A

GUS Iqbal, 20 tahun, gelisah. Sesekali ia melongok keluar melihat beberapa rekannya dari jendela kaca. Di sampingnya, Fauzan (19), tidak jauh berbeda. Hari itu, Senin, 20 Januari 2014, Agus Iqbal dan Fauzan menjadi penerus suara teman-teman mahasiswa yang menunggu di luar ruangan. Kedua mahasiswa itu dengan sabar menunggu persamuhan dengan Rusli Yusuf, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unsyiah. Lebih kurang setengah jam, mereka duduk di ruang tunggu. Sesaat kemudian, Rusli Yusuf datang. Ketika dipersilahkan masuk. Fauzan dan Agus berembuk sambil berbisik. Setelah itu, Fauzan pun langsung ke luar ruangan, menemui temanteman yang sedari tadi menunggu. “Ayok, masuk, masuk!” ajak Agus setengah berteriak. Dengan sumringah, mahasiswa-mahasiswa itu mengikuti langkah Agus. Kesempatan yang tidak boleh dibuang, walau tidak menjamin nasib mereka. Mereka langsung masuk ke ruang Pembantu Rektor III, tak menghiraukan perintah satpam yang hanya membolehkan dua orang saja. “Yang mengalami masalah ini bukan cuma saya dan Fauzan, tapi juga semua teman-teman,” kata Agus kepada DETaK, yang turut hadir dalam kelompok mahasiswa itu. Ihwal SPP selangit membuat mereka harus bertemu pejabat rektorat. Sejak diberlakukannya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sesuai Peraturan Menteri Nomor 12/2013 pada 23 Mei 2013 lalu, banyak mahasiswa terancam tak dapat melanjutkan kuliah. Dihadapan Rusli, Muhibbun Amir Syah (20) menyatakan penolakannya terhadap penerapan UKT. Menurutnya, UKT di Unsyiah tidak sesuai dengan prinsip “Si Miskin membantu Si Kaya”. Jika memang SPP tak turun, Lebih kritis dari yang Anda duga

bisa dipastikan dirinya tidak melanjutkan kuliah lagi. “Kami bukan orang kaya, tapi mengapa justru kami yang mensubsidi mahasiswa yang kaya?” tanya Muhib, kesal. Kehadiran mahasiswa korban UKT hari itu merupakan persentase kecil pemberlakuan UKT. Sebagian mereka terancam tak mampu membayar SPP. Pindah kuliah hingga berhenti mengejar cita-cita (pulang kampung halaman), menjadi pilihan terakhir. Tapi menurut Rusli Yusuf, mereka bukanlah mahasiswa yang terancam. Alasannya, karena yang hadir dihadapannya merupakan mahasiswa yang lulus melalui jalur UMB (Ujian Masuk Bersama) dan JMU (Jalur Masuk Umum). Karena itu, Rusli dan bawahannya beramsusi, yang masuk jalur melalui jalur itu dianggap dari keluarga mampu atau kaya. Memang mekanisme UKT ini, sekilas terlihat manis di permukaan. Tapi dibalik itu masih jauh dari apa yang diharapkan dan sangat menyakitkan. Karena, pada kenyataannya, tidak semua mahasiswa yang lulus melalui jalur UMB dan JMU berasal dari keluarga mampu atau kaya. Sebagaimana penelusuran DETaK, tidak sedikit mahasiswa dari dua jalur tersebut berasal dari keluarga miskin. Beberapa mahasiswa mengaku terpaksa ikut jalur UMB dan UMJ (non Reguler) karena tidak lulus pada saat mengikuti SNMPTN dan SBMPTN (Reguler). Bahkan, tidak sedikit mahasiswa tidak memiliki orangtua dan terpaksa dibiayai oleh saudara. Sebagaimana yang dialami Yulianti. Mahasiswi ini justru semakin tak nyaman berada di rumah pamannya, karena tanggungan pamannya juga banyak, harus membiayai pendidikan lima orang anaknya. Paling menyakitkan, beberapa mahasiswa justru mengalami diskriminasi oleh oknum-oknum di biro

rektor saat mengurus penurunan SPP. Kalimat-kalimat penghinaan kerap ditujukan kepada mereka yang datang. Putri, mahasiswa dari Fakultas Hukum, mengaku bingung. “Kami dibilang berbohong, miskin, dan kata-kata menyakitkan lainnya,” ungkapnya. Hal itu dibenarkan Rizki Purnama dan Khaira. Karena dibodoh-bodohi membuat mereka takut untuk kembali mengurus penurunan SPP. “Saat mau ngurus bidikmisi malah kami diusir,” sambung Khaira. Kondisi ini dirasa tidak adil. Betapa tidak, mahasiswa UMB dan UMJ harus membayar SPP dengan besaran SPP diatas Rp. 2.000.000 (Standar Pembiayaan seperti yang dinyatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh). Masalahnya, tidak sedikit mahasiswa yang harus membayar SPP hingga Rp 4.000.000 per semester. Kehadiran UKT dipicu oleh keinginan meniadakan ragam pungutan lain selama masa kuliah (dengan asumsi selesai empat tahun) pada mahasiswa. Sehingga penerapannya dimaksudkan untuk mengintegrasikan seluruh biaya perkuliahan dengan satu kali pembayaran pada besaran yang baku tiap-tiap semesternya. Jumlah biaya kuliah yang dibayarkan setiap mahasiswa akan berbeda-beda tergantung dari kondisi ekonomi keluarga, sehingga akan tercapai prinsip berkeadilan (Subsidi silang--red). Program ini disubsidi oleh pemerintah dengan menggelontorkan alokasi anggaran yang disebut Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Untuk tahun perdana penerapan sistem UKT, Pemer-

Edisi 35 | Februari 2014

di Unsyiah mengalami kendala dan tidak dilakukan sama sekali. “Bagaimana mau tepat sasaran, untuk verifikasi faktual tim verifikasi tidak diberikan biaya operasional. Pulsa saja pakai punya sendiri,” ujar salah seorang tim verifikasi faktual tanpa mau dis-

Ketika UKT Mencekik Kami intah Pusat menyiapkan dana sebesar Rp. 2,7 triliun dengan pengurangan Rp 500 Miliar untuk dana penelitian yang dikelola oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) Dirjen Dikti. Dana ini diberikan kepada 93 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, disesuaikan dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan jumlah mahasiswa serta tingkat kemahalan yang terdapat di daerah. Sehingga tiap-tiap PTN berbeda BOPTN yang diperoleh. Unsyiah memperoleh alokasi sebesar Rp. 24,650,701,648,-. Dari total subsidi itu, kata Rusli Yusuf, hanya 20 persen yang di gelontorkan bagi mahasiswa yang masuk dari jalur non reguler. Sedangkan untuk penentuan kategori pembayaran, Unsyiah mensimulasi dari data yang diisikan oleh calon mahasiswa pada Formulir Pre-Registrasi. Rektor Unsyiah, Samsul Rizal, pernah meminta calon mahasiswa mengisi biodata dengan jujur dan akurat. “Kami akan melakukan uji petik dan uji publik untuk menguji kebenaran data yang diberikan. Jika ditemukan bukti adanya kesengajaan untuk memanipulasi data, maka kami akan mengambil tindakan tegas dan calon mahasiswa dapat dikeluarkan dari Unsyiah bahkan sebelum mulai kuliah,” katanya. Sebaliknya Unsyiah juga akan menerima sanggahan jika ternyata penetapan biaya pendidikan lebih tinggi dari kemampuan ekonomi yang sebenarnya melalui mekanisme verifikasi faktual. Dari sumber DETaK, diketahui, mekanisme verifikasi faktual

www.detak-unsyiah.com

DETaK

Laporan Utama

ebutkan namanya. Tapi pernyataan ini disanggah Ketua Tim Verifikasi, Abdullah Ali. Karena, sebenarnya, tidak ada satu pun tim verifikasi yang membuat laporan untuk melakukan verifikasi. Dana ada tapi tidak ada tim yang mengajukan. “Jika ang-

gota tim buat pasti akan diberikan. Karena memang ada dana untuk verifikasi,” sanggah Abdullah Ali. Silang pendapat itu akhirnya berefek pada mahasiswa. Tidak adanya verifikasi telah membuat biaya SPP per mahasiswa tidak jelas. Ada yang selangit mencapai

lima jutaan, ada pula yang kecil, hanya Rp. 250.000. Parahnya, banyak mahasiswa dari keluarga miskin justru memberi subsidi kepada mahasiswa mampu. Orang miskin membayar biaya kuliah orang kaya. Dunia memang sudah terbalik.!! []

Untuk Siapa UKTB? g Laporan Murti Ali Lingga

ANG Kuliah Tunggal mulai diberlakukan untuk mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014 di seluruh PTN di Indoensia. Kebijakan ini merujuk Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang, Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan Peraturan Menteri tersebut, dijelaskan. UKT diterapkan dengan cara sebagian biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya. Uang kuliah tunggal terdiri atas beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan kelompok kemampuan ekonomi masyarakat. UKT kelompok I dan II diterapkan paling sedikit 5 (lima) persen dari jumlah mahasiswa yang diterima disetiap universitas. Perguruan tinggi negeri tidak boleh memungt uang pangkal dan pungutan lain selain uang kuliah tunggal dari mahasiswa baru program Sarjana (S1) dan program diploma (D -3). Merujuk pada pasal 1 ayat 2 yang berbunyi, UKT ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya. Pada kenyataan di lapangan, masih banyak mahasiswa yang secara ekonomi masuk dalam golongan kurang mampu namun dikenai UKT On Top atau tarif tertinggi. Ini menjadi permasalahan yang baru ketika memasuki semester genap TA 2013/2014. Dalam unit cost ada dua bagian yaitu standar biaya dan tarif maksimum, atau yang dikenal dengan harga eceran tertinggi (HET). Standar yang akan keluar secara periodik ini ditetapkan dengan mempertimbangkan capaian Standar Nasional Pendidikan Tinggi, jenis program studi, dan indeks kemahalan wilayah. Tarif maksimum yang dikenakan

U

www.detak-unsyiah.com

kepada mahasiswa memiliki ketentuan jumlahnya di bawah standar biaya. Karena telah ditanggung oleh pemerintah dengan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, standar satuan biaya ini menjadi dasar untuk mengalokasikan

Dirjen Dikti Nomor 97/e/ku/2013 tentang Uang Kuliah Tunggal. Surat Edaran tertanggal 5 Februari 2013 itu meminta agar perguruan tinggi menghapus uang pangkal bagi mahasiswa baru program S-1 reguler, serta menetapkan dan melaksanakan tarif UKT bagi mahasiswa baru program S-1 reguler mulai tahun akademik

anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk PTN, “Nanti SPP tidak boleh lebih tinggi dari unit cost,” ujar Muhammad Nuh, beberapa waktu lalu di Jakarta. BOPTN, sebut Muhammad Nuh, merupakan instrumen kontrol finansial untuk menetapkan biaya yang ditanggung oleh mahasiswa. selain itu, PTN dapat memungut di luar ketentuan UKT dari mahasiswa baru Program Sarjana (S1) dan Program Diploma non reguler paling banyak 20 (dua puluh) persen dari jumlah mahasiswa baru mulai tahun akademik 2013 – 2014. Lebih lanjut, rencana penerapan UKT sesuai dengan Surat Edaran

2013/2014. Untuk memasukkan mahasiswa ke dalam kategori tertentu, diperlukan proses verifikasi. Beberapa parameter yang menjadi pertimbangan kebijakan adalah pekerjaan orang tua saat ini. Setiap pekerjaan memiliki skor yang akan dikumulatifkan dengan skor-skor faktor penentu lainnya. Misal jika pekerjaan orang tuanya adalah sebagai pejabat tinggi negara atau pengusaha, maka memiliki skor tujuh. Sedangkan jika pekerjaan orang tuanya adalah sebagai buruh tani atau bahkan sudah tidak memiliki pekerjaan maka akan diberikan skor terkecil, satu. Selain pekerjaan orang tua, juga

akan diperjelas lagi dengan data penghasilan kotor orang tua. Dari penghasilan tersebut, data jumlah anak yang saat ini sedang menjadi tanggungan orang tua, tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), listrik, telepon, air, serta foto rumah tampak depan juga diperlukan. Dari skor yang telah didapatkan, indeks kemampuan orang tua dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sudah ditetapkan. Indeks tersebut juga terbagi menjadi tujuh kategori. Tapi, pada pelaksanaannya, justru terjadi banyak penyimpangan. Parahnya, universitas tidak mengantisipasi permasalahan ini secara baik. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa justru menjadi korban ketidakadilan. Sebagaimana yang terjadi pada banyak mahasiswa Unsyiah. Tidak sedikit mahasiswa yang benar-benar dari keluarga kurang mampu justru harus membayar SPP mencapai tiga jutaan rupiah per semesternya. Sedangkan mahasiswa yang berasal dari keluarga menengah hanya dikenakan SPP sebesar Rp. 250.000 hingga Rp 750.000. Bukan hanya di Unsyiah, ratusan mahasiswa Universitas Malikussaleh di Aceh Utara, juga memprotes penerapan UKT yang salah sasaran. Pada 19 November 2013 lalu, sedikitnya 300 mahasiswa melakukan demo dan mendesak pihak rektorat mengevaluasi kembali pengelolaan UKT. “UKT terbagi atas lima kelompok yang berdasarkan pendapatan ekonomi berpeluang memecah belah mahasiswa. Padahal, tujuannya meringankan biaya pendidikan dan menghindari pengutipan tak terduga di kampus. Kami menuntut transparansi alokasi UKT,” jelas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unimal, Firdaus Noezula, dalam orasinya saat aksi tersebut. [] Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Laporan Utama

8

Edisi 35 | Februari 2014

Kemana Kami Harus Belajar! Besarnya SPP yang harus dibayar membuat sebagian besar mahasiswa Unsyiah menjerit. Tak sedikit dari mereka terpaksa berhenti, keluar hingga pindah ke universitas swasta. g Laporan Mulya Rizki Nanda

URMA (55 tahun) hanya

nayong, Banda Aceh, ini tak dapat berkata-kata. Semua beban keluarga ditanggungnya untuk menghidupi keluarga. Suami Nurma, tak dapat lagi bekerja maksimal karena penyakit yang dideritanya. “Sakitnya sudah komplikasi. Darah manis dan hypertensi. Dia tidak sanggup bekerja lagi,” ujar Nurma sambil memandang suaminya, Yahya (59), yang duduk di kursi ruang tamu. “Saya tidak ada lagi sumber tenaga. Tidak sanggup kerja lagi. Sekarang kalau jalan sampai kedepan rumah aja sudah capek,” kaya Yahya, menyambung ucapan istrinya. Disaat beban hidup yang semakin berat, pikiran Nurma semakin kacau balau bila mengingat anaknya, Salihin (20). Bayangkan, keluarga miskin ini diharuskan membayar SPP sebesar Rp. 3.840.000 per semester. Jika tidak, maka Salihin tak dapat melanjutkan kuliah. Salihin merupakan mahasiswa Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Unsyiah. Kepanikan itu begitu nyata tergambar dari wajah Nurma saat DETaK mengunjungi rumahnya di Desa Tanjung Selamat, Darussalam, Aceh Besar. Rabu, 29 Januari 2014. Nurma dan keluarganya menempati sebuah rumah sederhana. Karton bekas dan barang yang tak lagi terpakai terlihat berserakan. Tujuh kursi usang ditambah meja kayu menjadi tempat utama menjamu tamu. Selebihnya hanya ruang kosong tanpa hiasan dinding. Di rumah itu, Nurma tinggal bersama suami dan keempat anaknya. Nurma bukannya tidak berusaha, tapi pendapatannya sebagai pedagang sayur di pinggir jalan sudah sulit untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. “Jangankan bisa bawa uang, kadang saya merugi karena tidak ada pembeli, jika begini bagaimana saya harus membayar uang kuliah anak saya,” ungkap Nurma, menitikkan air mata. Kesedihan Nurma sangat beralasan. Selain harus mengumpulkan uang untuk SPP Salihin, ia juga harus membiayai dua adik Salihin yang masih sekolah. Kondisi itu semakin berat karena Nurma meLebih kritis dari yang Anda duga

g Ilustrator : Aditya Fitrianto

pasrah. Pedagang sayur N bisa di pinggir jalan Pasar Peu-

miliki tanggungan lain --diluar usaha untuk menjaga dapur tetap berasap-- yaitu membeli obat dan biaya rutin perobatan suaminya. Ada hal lain yang membuat Nurma dan Yahya kesal. Sering kali mereka mendapati Salihin yang pulang lebih awal dari biasanya karena dosen tak masuk mengajar. “Padum rugoe menyoe lage, nyan? (berapa kerugian kalau begitu)” kata Yahya. Jika alasan universitas menetapkan Salihin keluarga mampu dengan SPP yang tinggi, sung-

guh sebuah kesalahan besar. Betapa tidak, untuk menutupi kebutuhan SPP, Salihin terpaksa meminta bantuan kakaknya, Sri Wahyuni (23). Masalahnya, Sri Wahyuni hanya sebagai tenaga honorer di SMP 6 Banda Aceh. Bukan dari gaji --yang memang sangat kecil-- melainkan dari usaha meminjam di koperasi sekolah tempatnya mengabdi. “Hutang itu dibayar dengan potongan gaji kakak tiap bulannya,” tutur Salihin, pelan.

Sering kali mereka mendapati Salihin yang pulang lebih awal dari biasanya karena dosen tak masuk mengajar. “Padum rugoe menyoe lage, nyan? (berapa kerugian kalau begitu),” kata Yahya.

Salihin cemas. Bagaimana dia harus membayar SPP pada semester mendatang. Jika tidak turun, bisa jadi dirinya terpaksa berhenti. Sebenarnya Salihin tidak diam diri. Bertepatan dengan hari terakhir pembayaran SPP, bersama temantemannya, ia mendatangi Pembantu Rektor III, Rusli Yusuf. Mereka meminta penundaan pembayaran hingga Februari 2014. Namun Rusli sudah menetapkan bersama-sama dengan Rektor hanya memperpanjang masa pembayaran hingga 30 Januari 2014. Seketika itu pula mereka bergegas membayar SPP. Tapi tidak dengan Bilqis Sahara (19). Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), asal Kota Langsa. Ia tetap tidak mampu membayar. Kondisi hidupnya memang sulit untuk membayar SPP yang jumlahnya mencapai tiga jutaan. Bilqis merupakan yatim piatu korban konflik. Bahkan, hingga kini ia tidak mengetahui keberadaan ayahnya. Sedangkan ibu dan kedua adiknya, 13 tahun lalu, ditembak hingga tewas di depan matanya, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Karena tak memiliki biaya, setamat SMA, Bilqis pernah menganggur. “Saya sangat ingin kuliah, tapi karena tak ada uang saya urungkan mendaftar dan bekerja menjadi baby sitter di daerah Keutapang, Banda Aceh,” ungkap Bilqis. Bilqis mengaku pernah menemui Dekan FISIP, Syarifuddin Hasyim, untuk meminta pertolongan. Disana, Syarifuddin menelepon Nasir Ibrahim, Kepala Biro Kemahasiswaan Unsyiah. Tapi hasilnya tetap nihil. Saat tak ada jalan keluar, Syarifuddin menawarkan bantuan pinjaman uang sebesar Rp 1.000.000. Tapi masalahnya, “Sekarang lagi ga ada uang,” ujar Bilqis, menirukan ucapan Syarifuddin, saat itu. Di Banda Aceh, Bilqis menumpang pada kakak sepupunya. Sedangkan biaya sehari-hari dibantu oleh kakak dari ibunya yang tinggal di Kuala Simpang. Ada rencana mau ambil non-aktif kuliah, tapi, sebut Bilqis, Semester II tidak bisa ambil non-aktif di Unsyiah. []

www.detak-unsyiah.com

9

DETaK

Laporan Utama Edisi 35 | Februari 2014

Mereka yang Terancam Nama : Maya Agutina Jurusan : Ilmu Komunikasi/ FISIP UKT-B : Rp 3.940.000,00

Nama : Safrina Wati Fakultas: Pertanian UKT-B : 3.750.000

Saya ingin uang SPP UKT-B diturunkan, supaya dapat meringankan beban keluarga. Karena penghasilan orangtua saya kecil. Ibu saya tidak memiliki penghasilan yang tetap, “Saya hanya anak yatim” , untuk lulus disini saya sudah bersyukur, tetapi yang sangat menyayangkan jika UKT-B sampai tidak diturunkan. Tolong di dengarkan keluhan saya.

Satu menit naik turun SPP waktu login udah naik lagi. Bahkan pada saat turun saya sempat telepon orang tua. Kalau bisa UKTB ini harus benar-benar sesuai penetapan besarannya dengan penghasilan orang tua. Dengan spp 3.750.000 justru saya menginginkan 3.500.000 dengan tanggungan orang tua lima orang, memang yang kuliah cuma saya. Kakak sudah berkeluarga tapi masih tinggal dirumah. Saya malah idealnya merasa 1 jutaan. Kemarin sya sempat turun 2.000.000an Cuma semenit kemudian naik lagi menjadi besaran semula. Kalau pun segitu, ya saya terima aja daripada gak turun. Orang tua maunya ya supaya turun lah. Karena gak mampu bayar segitu tiap semesternya apalagi ayah mau pensiu n. Mama gak kerja. Orang tua pernah bilang “Kalau misal segitu spp nya bagus pindah ke meulaboh aja.” 5.000.000: kalau ayah bilang gak boleh pindah. Cuma mama suruh saya gak usah kuliah aja kalau spp segitu. Orang tua saya pegawai di bank BCA ayah, ibu IRT. Abang saya kuliah, adek dua sekolah. Kalau saya mau nya pindah. Saya tidak tau cara mengajukan ulang, bahkan tidak tau mengajukannya kemana, tidak pernah mendapat sosialisasi

Nama : Rino Hendra Jurusan : Ilmu Komunikasi/FISIP UKT-B : Rp 5.600.000,00 SPP UKT-B saya terlalu mahal, karena orangtua bukan saya saja yang menjadi tanggungannya, tapi msih ada tanggungan yang lain. Saya mohon pengurangan UKT-B saya.

Nama : Munawir Mirza Fakultas: HUKUM UKT-B : 3.750.000 Lebih baik kayak system yang dulu. Kalau system uang kuliah pangkal meski mahal diwal lebih bagus. Jadi bisa mempersiapkan dari awal untuk membayaran biaya tinggi untuk sekali bayar. Dengan UKTB harus mempersiapkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit setiap semester nya. Orang tua belum tau kalau tiap semester bayar 3.750.000 Cuma saya kalau tidak naik juga masih ada pilihan lain untuk lanjutin kuliah di UIN. Karena 2012 saya masuk UIN. Saya mengira besaran SPP segitu Cuma bayar di semester 1 dan semester 2 aja.

Nama Elsa Utari Misda Afdhalul M. Muhardi Nur Wira Munawarah Murtadha Zaiton Sarina Samsuhadi Ade Herman Saputra Maulya Ridwan Fachrul Malis Sinintia Fitri Lestari Ahmad Maulida Ima Agustina Syafwanti Iqbal Maihani Putra Amalina M. Arib Ramadhan Nur Hayati Yaumil Khairiah Diana Sukma Zaintun Munar Sri Devi Rahayu Ade Sadaqatin Aisyah Ahmad Zaman Huri Narmala Sari Dewi Nanda Ehairani Dian Nashra Utami Atiko Andriani Muhammad Ridha Rudi Wahyudi Fauzan Ikbar

www.detak-unsyiah.com

Fakultas/Jurusan Ekonomi/DKP Ekonomi/DKP Tehnik Kimia KIP/Geografi ISIP/Ilmu Politik KIP/Sejarah Pertanian/Agribisnis Tehnik/Elektro Tehnik/Arsitektur Ekonomi/Manajemen Ekonomi/Akuntasi Kelautan & Perikanan KIP/Biologi KIP/Biologi Tehnik/Kimia Hukum Pertanian KIP/PAUD THP/Pertanian THP/Pertanian Pertanian/Agribisnis Hukum Keperawatan/PSS Tehnik/Geofisika KIP/Geografi KIP/PAUD Pertanian/ Agroteknologi Tehnik/Tehnik Sipil Ekonomi/Manajemen MIPA/Statiska Pertanian/Pertenakan

Nama : Yulianti Fakultas: Pertanian UKT-B : 2.690.000 Yang biayai oom, ayah sudah nggak ada lagi. Saya merasa itu memberatkan oom, nggak enak juga kaarena anaknya juga banyak. Mungkin kalau begitu saya memilih untuk, nggak kuliah lagi. “Pasrah aja”, ucapnya. Kalau pun dibuka lagi, saya pasti nggak akan ngurus lagi.

SPP

Jalur Masuk

Rp 3.320.000,00 Rp 3.430.000,00 Rp 2.450.000,00 Rp 2.190.000,00 Rp 4.970.000,00 Rp 1.880.000,00 Rp 2.770.000,00 Rp 2.450.000,00 Rp 5.440.000,00 Rp 3.690.000,00 Rp 3.750.000,00 Rp 4.190.000,00 Rp 3.960.000,00 Rp 4.090.000,00 Rp 4.350.000,00 Rp 4.090.000,00 Rp 5.220.000,00 Rp 3.690.000,00 Rp 4.280.000,00 Rp 4.220.000,00 Rp 5.590.000,00 Rp 4.030.000,00 Rp 5.100.000,00 Rp 4.400.000,00 Rp 4.990.000,00 Rp 3.940.000,00 Rp 5.670.000,00 Rp 2.800.000,00 Rp 3.800.000,00 Rp 3.750.000,00 Rp 4.100.000,00

JMU(D3) JMU(D3) SBMPTN SNMPTN SNMPTN SBMPTN SNMPTN SNMPTN SNMPTN UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB UMB

Perkerjaan Orangtua Nelayan Wiraswasta PNS Swasta PNS & Guru Pedagang PNS PNS PNS Buruh Almarhum Pensiunan PNS Wiraswasta Guru Petani Pensiunan PNS PNS/Guru Honor Nelayan PNS PNS Wiraswasta Petani PNS PNS Pensiunan PNS PNS Wiraswasta Pensiunan POLRI Nelayan PNS

Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Laporan Utama

10

11

Edisi 35 | Februari 2014

Nama : Liani Sabrina Jurusan : Ilmu Komunikasi/FISIP UKT-B : Rp 3.800.000,00 Saya sangat berharap UKT-B saya dapat turun karena orang tua saya adalah seorang petani, serta masih banyak tanggungan yang lain.

Nama : Fadhila Izzati Jurusan : Ilmu Komunikasi /FISIP UKT-B : Rp 5.060.000,00 Saya merasa UKT-B menjadi kendala saya untuk kuliah. Karena memberatkan kedua orangtua saya untuk membiayai. Jumlah uang kuliah yang harus saya bayar dalam satu semester telalu mahal. Selain biaya semesternya yang mahal, fasilitas yang tersedia juga belum memadai dan belum memenuhi semua kegiatan belajarmengajar. Tahun ini ayah saya pension, dan kondisi ibu saya sekarang menderita stroke. Tentunya membutuhkan biaya pengobatan.

Edisi 35 | Februari 2014

Karena Skripsi dan Ancaman DO

Nama : Muharwadi Jurusan : Ilmu Komunikasi/FISIP UKT-B : Rp 3.800.000,00 Saya merasa UKT-B sangat memberatkan orangtua saya karena nominalnya terlalau besar. Dan orangtua saya penghasilan tidak tetap , dan harus menganggung empat saudara saya yang lainnya. Terlebih fasilitas yang ada alat ini tidak memadai, guna untuk menunjang proses belajar mengajar.

Banyak mahasiswa yang mengalami gangguan jiwa terpaksa menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Penyebabnya, karena tidak selesai skripsi dan ancaman Drop-Out (DO). Tapi, penyebab utama, tetap penggunaan obat-obat terlarang. g Laporan Tajul Ula

Nama :Banu Lailika Jurusan :FKIP UKT-B :3.940.000 Tidak urus. Saya berniat untuk pindah kuliah.

INGGA kini, belum ada data pasti, berapa banyak mahasiswa yang mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini dibenarkan Kepala HUMAS RSJ Banda Aceh, Azizurrahman. Saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat, 24 Januari 2013, Azizurrahman mengaku tidak tahu persis berapa orang mahasiswa yang berada di RSJ. “Kita tidak menghitung sampai segitu. Apalagi, mereka tidak menulis status pendidikan saat masuk ke sini, kecuali status tamat pendidikannya,”

H

ujar pria yang biasa disapa Aziz, ini. Namun begitu, Aziz membeberkan beberapa pasien mahasiswa yang pernah ia tangani langsung. Mulai dari mahasiswa Italia yang sedang menempuh pendidikan Strata Dua (S2), mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah, dan seorang mahasiswi Pertanian Unida. Dan ketiganya masih menjadi pasien rawat jalan. Diakui Aziz, pasien mahasiswa yang mengalami (kecendrungan) gangguan jiwa prevalensinya sangat tinggi, tapi RSJ tidak menghitung bera-

Ns. Hasmila Sari, M.Kep.Sp.Kep.j Spesialis Kejiwaan, Fakultas Ilmu Keperawatan Unsyiah.

Pressure Tinggi, Mahasiswa Stress “Kalau tidak segera diatasi, bisa stress,“ kata Hasmila, saat DETaK menemuinya di salah satu ruang kuliah di Fakultas Keperawatan Unsyiah, Selasa siang, 27 Januari 2014. Hal itu dikatakan Hasmila terkait banyaknya mahasiswa yang mengalami stress karena skripsi yang berdampak pada kuliahnya yang tidak selesai, bahkan Drop-Out. Semua itu dikarenakan Perssure yang tinggi. Beberapa faktor penyebabnya, sebut Hasmila, adalah faktor dari dalam diri, dimana Koping -mekanisme pertahanan diri-nya yang tidak kuat. Pertahanan ini dapat dilihat dari bagaimana mahasiswa melihat pressure. Memang, setiap mahasiswa memandang pressure berbeda-beda. Ada mahasiswa yang memandang

Lebih kritis dari yang Anda duga

DETaK

Laporan Khusus

www.detak-unsyiah.com

www.detak-unsyiah.com

pressure merupakan tantangan, ada yang memandang jika pressure itu seperti beban, bahkan ada yang memandang bahwa pressure itu merupakan ancaman. “Kalau dia kopingnya adaptif, tentunya saat mengalami kesulitan, dia akan mencari dosen pembimbing, atau dosen walinya atau diskusi pada temannya,” ucap wanita berkaca mata ini. Lebih lanjut, Hasmila menjelaskan, mahasiswa yang memiliki Koping kuat, ketika stress saat menyelesaikan skripsi, mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencari solusi agar tidak stress. Misalnya, olahraga, tidur, jalanjalan, dan curhat kepada temannya. Selain itu, penyebab kejiwaan yang dialami mahasiswa adalah

pa jumlah pasien yang berstatus mahasiswa. Karena ketika pasien yang belum bekerja masuk, mereka tidak menulis status pendidikan mereka saat ini, yang mereka tulis ketika masuk adalah tamatan pendidikan saja. “Hingga hari ini, pasien di sini, sebanyak 194 orang merupakan tamatan SMA, sedangkan tamatan perguruantinggi hanya 12 orang,” sebut Aziz. Pasien yang diketahui statusnya sebagai mahasiswa, menurut pengalaman Aziz, rata-rata karena tidak dapat menyelesaikan skripsi, Drop Out (DO), dan tidak selesai-selesai kuliahnya. Sebagai contoh seorang mahasiswi dari Universitas Iskandar Muda (Unida), Banda Aceh. Seorang mahasiswi menjadi pasien rawat jalan karena mengalami gangguan. Sebabnya, mahasiswi itu tidak dapat menyelesaikan skripsi. “Padahal ia merupakan mahasiswi yang pintar,” sebut Aziz. Menurut Aziz, hal tersebut terjadi karena mahasiswi tersebut tidak memiliki manajemen pengendalian diri, sehingga tidak dapat menyelesaikan skripsinya. Sekarang ini pasien tersebut menyelesaikan skripsinya dengan dibantu oleh spesialis psikologis. Kondisi tidak jauh berbeda juga dialami salah seorang mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah. “Tapi Alhamdulillah, mahasiswa itu sudah mampu menyele-

keluarga dan lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa Ilmu Keperawatan Unsyiah pada Tahun 2012, diketahui, rata-rata mahasiswa yang stress pada saat mengerjakan skripsi. Semua itu, sambung Hasmila, karena banyaknya masalah yang dihadapi. Mulai dari ketidakcocokan dengan pembimbing, topik skripsinya yang sulit sehingga pada saat mencari data dilapangannya susah. Termasuk kesulitan dalam pembiayaan saat menyelesaikan skripsi. Semua masalah itu, tanpa sadar telah membuat mahasiswa kesulitan yang pada akhirnya tidak mampu menyele-

saikan studinya dan meraih gelar sarjana,” pungkasnya. Beberapa mahasiswa tingkat akhir yang ditemui DETaK membenarkan bagaimana tekanan yang mereka hadapi saat mengerjakan skripsi. Apalagi ketika waktu “deadline” semakin dekat dengan DO. Salah satunya adalah Hasnul (bukan nama sebenarnya-red). Mahasiswa tingkat akhir di fakultas Teknik Unsyiah ini mengaku bingung dan stress. “Kita ingin menyelesaikan skripsi, tapi pikiran terus dihantui DO. Akhirnya kami depresi dan tidak bisa menyelesaikan skripsi. Makanya tidak sedikit mahasiswa terpaksa hengkang dan pindah kampus walau itu belum menghilangkan stres karena malu,” ungkapnya. Selain masalah tekanan yang dialami mahasiswa di kampus, sebenarnya, sebagain besar penghuni RSJ justru karena terbiasa mengosumsi narkoba, seperti ganja, shabu dan kokain. Setidaknya, berdasarkan laporan Badan Narkokita Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, sebanyak 15 mahasiswa dari berbagai universitas di Aceh terpaksa “mendekam” di rumah sakit jiwa Banda Aceh karena mengalami gangguan jiwa. Mereka harus menjalani rehabilitasi untuk penyembuhan. []

saikan skripsi tepat waktu, bahkan tidak sedikit yang dilakukan hingga bertahun-tahun. “Pressure yang dialami mahasiswa pun semakin besar,” tutur Hasmila. Jadi, solusi yang terpenting dalam menyelesaikan masalah tersebut, salah satunya, komunikasi. Mahasiswa bisa meminta dukungan keluarga dan teman, agar termotivasi saat menyelesaikan skripsi. []

Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Laporan Khusus

12

Edisi 35 | Februari 2014

g DETaK/Masridho Rambey

Saat Mahasiswa Menjadi

Pasien RSJ

Mahasiswa Unsyiah, UIN Ar-Raniry, hingga berbagai universitas swasta di Aceh, pernah menjadi pasien di rumah sakit jiwa Banda Aceh. Walau tak ada angka pasti, tapi, mahasiswa yang mengalami gangguan jiwa tidaklah sedikit. Dibutuhkan kepedulian kampus untuk membantu mereka sembuh. g Laporan Tajul Ula

I SISI lorong panjang, lurus dan berbelok, beberapa pria berpakaian serba hijau, terlihat berjalan-jalan. Ada yang berputar-putar (tak tentu arah), ada yang berdiri diam, ada yang bersiul-siul, ada juga yang hanya duduk sambil menatap kosong langit-langit. Tapi, secara umum, mereka seperti burung yang bebas terbang kesana kesini, menikmati luasnya dunia dalam pandangan mereka sendiri. Satu dari mereka terlihat menyandarkan badannya ke salah satu tiang di lorong itu. Tatapannya tajam. Sambil melambaikan tangan kanannya kepada Saya, dia berkata; “Bro, sini, lu. Ada uang seribu? Atau rokok sebatang?” “Waduh maaf, kebetulan tidak bawa rokok, nih. Nantilah, kapan-

D

Lebih kritis dari yang Anda duga

kapan saya bawa,” kata saya. Lakilaki berambut cepak itu diam tanpa ekspresi. Setelah berbasa-basi, akhirnya, laki-laki itu pun mulai banyak bicara dan menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. “Aku mahasiswa IAIN Jurusan D3 Perpustakaan,” katanya, mengawali percakapan. Namanya Rahmad (21 tahun). Tapi Ia mengaku bernama Ucok. Alasannya simple, agar orang-orang yang datang ke RSJ berfikir jika dirinya berasal dari Medan, Sumatera Utara. Sebagaimana penuturan Rahmad kepada saya, nama samaran itu dibuat agar teman-temannya tidak mengetahui bahwa dia sedang berada dalam masa rehabilitas di RSJ. Padahal, aslinya justru dari Ulee Kareng,

Banda Aceh. Belum lama berbincang, Rahmad –dengan sedikit memaksa- mengajak saya untuk masuk dan melihat kamarnya yang berada di Bale Dahlia, salah satu bale terbagus. Karena, pasien yang berada di bale tersebut merupakan pasien Askes dan khusus di peruntukkan bagi pasien yang sudah mulai sembuh. Saya pun mengikuti langkah kaki Rahmad. Tapi, saya hanya berdiri di depan pintu saja. Karena, setelah beberapa langkah kaki mengikuti Rahmad, justru rasa was-was hinggap dipikiran, walau tidak tahu apa yang saya takutkan. Apalagi, hari itu merupakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya menginjakkan kaki ke rumah sakit jiwa dan belum mengenal kehidupan orang-orang

yang menjadi penghuni di sana. Akhirnya saya mengajak Rahmad untuk duduk pada sebuah kursi besi yang tersusun panjang di depan Bale Dahlia. “Saya sudah dua minggu di sini. Dulu, saya sering kesurupan. Akhirnya, orangtua memasukkan saya ke RSJ,” ujarnya polos. Tapi, berdasarkan pengakuan salah seorang perawat yang kami temui di RSJ, Rahmad menderita penyakit Waham Kebesaran. Yaitu sebuah keadaan dimana penderitanya akan selalu berlagak seperti orang kaya dan memiliki segalanya. Sedangkan menurut cerita ayahnya Rahmad, anaknya itu mengalami gangguan jiwa karena terjatuh dari lantai dua di rumahnya. Tak lama kemudian Rahmad bangkit dari duduknya. Mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana kiri dan membakarnya. Hembusan asap rokok keluar dari mulutnya. Lalu menatap saya dan tersenyum. Mendapat senyuman itu mau tidak mau saya juga membalas senyuman tersebut. Setalah itu, dengan semangat 45, ia mengajak saya ke kamarnya. Raut wajahnya terlihat ceria, apalagi saat ia menunjuk beberapa ranjang. Teman-teman Rahmad (yang juga penderita gangguan jiwa) terlihat tidurtiduran di atas ranjang besi tersebut. Setelah bangga menunjukkan kamarnya, Rahmad pun mengajak kami untuk berjalan-jalan disekitar komplek RSJ dan mengunjungi Bale Seurune. Sebagai informasi, bale ini dikhususkan untuk pasien yang baru masuk. Di bale itu, beberapa pasien berdiri dari balik pintu dan jendela jeruji besi. Tidak banyak suara melainkan tatapan-tatapan kosong tanpa makna. Tiba-tiba, “Dek, jak keuno ile, bi peng le seuribe ngen rukok sibak,” minta salah satu pasien kepada kami. Rahmad mendekati pasien tersebut lalu berjongkok. Rahmad menghisap rokoknya lalu menyodorkannya kepada pasien yang meminta rokok tadi. Rahmad terlihat begitu akrab dengan semua pasien di Bale Seurune. “Inilah persahabatan,” kata Rahmad polos, menjelaskan filosopi hidupnya kepada saya. Hari itu, Rabu, 15 Januari 2014, Rahmad benar-benar memberi sebuah arti persahabatan. *** Keesokan harinya, saya kembali mengunjungi RSJ yang terletak di Jalan Kakap, Lampriet, Banda Aceh, itu, untuk mengunjungi Rahmad. Karena, kemarin saya sudah berjanji untuk kembali menemuinya. Saya pun berjalan dan berputarputar dari satu lorong ke lorong lainnya. Sama persis dengan apa yang saya lihat kemarin, ketika pasien berjalan-jalan bebas. Tapi apa yang saya lakukan bukan karena saya sedang mengalami gangguan jiwa, melainkan mencari sosok Rahmad www.detak-unsyiah.com

13

DETaK

Laporan Khusus Edisi 35 | Februari 2014

yang tidak juga kelihatan batang hidungnya. Padahal, kemarin kami sudah berjanji untuk bertemu lagi hari ini. Saat berputar sana sini, kebetulan saya bertemu salah seorang perawat yang tengah bertugas. Setelah mengetahui apa yang saya cari, perawat tersebut mengatakan jika Rahmad sedang menjalani proses terapi. “Terapinya dalam bentuk permainan game yang dirancang khusus,” ujarnya. Terapi berbentuk game itu, merupakan sebuah permainan yang dirancang oleh perawat-perawat yang sedang menjalani pelatihan di RSJ. Perawat tersebut bercerita sedikit tentang Rahmad. Sosok pria 21 tahun itu merupakan pasien yang sangat suka berjalan, kemanapun yang ia inginkan. Dan selalu eksis layaknya seorang artis di RSJ. Jadi, bisa dibilang, Rahmad merupakan artis di RSJ Banda Aceh. “Berjalan sambil berkreasi, berkreasi sambil berjalan,” sambungnya sambil tersenyum. Memang benar, “Berjalan Sambil Berkreasi, Berkreasi Sambil Berjalan” merupakan motto Rahmad. Dari percakapan singkat saya dengan perawat itu, diketahui, ternyata banyak mahasiswa yang terpaksa “kost” di rumah sakit jiwa. Semua itu tidak lain karena berbagai permasalahan hidup. Seperti masalah keluarga, ekonomi, sosial dan permasalahn kuliah yang tak kunjung selesai. Menunggu Rahmad yang tak kunjung tampak, saya pun kembali berjalan-jalan sambil membayangkan motto Rahmad. “Berjalan Sambil Berkreasi, Berkreasi Sambil Berjalan”. (Ha..ha..ha…) Ajaib, saat jalan-jalan itulah saya melihat sosok Rahmad diantara pasien lainnya. Sama seperti kemarin, mereka mengenakan celana dan baju berwarna hijau yang menjadi seragam di RSJ. Melihat kehadiran saya, Rahmad pun tersenyum. Kepada perawat yang ada di sana, Rahmad mengatakan jika saya adalah temannya dari forum komunikasi, Unsyiah. Saya sedikit bingung, entah dari mana dia dapatkan sebutan itu. Bak tuan rumah yang menjamu tamu, Rahmad mengajak saya masuk ke kamarnya dan menanyakan apa yang saya butuhkan. Saya pun menjelaskan semua maksud tujuan ke RSJ. Bak gayung bersambut, Rahmad langsung mengajak saya keluar kamar dan mengunjungi salah satu bale yang belum saya datangi. Yaitu Bale Jeumpa. Tidak lama saya dan Rahmad sampai di Bale Jeumpa. Tampak seorang perempuan muda berkacamata yang memakai jas putih layaknya dokter duduk disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu, tampak berbincang-bincang dengan seorang pasien. Ia adalah Meycha Dafhonsa, mahasiswi Kedokteran Unsyiah yang sedang menjalani masa Co-Ass di RSJ Banda Aceh. www.detak-unsyiah.com

g DETaK/Mulya Riski Nanda

“Ada keperluan apa?” Tanya Meycha. Sama seperti yang saya jelaskan kepada Rahmad sebelumnya. Tujuan utama saya ke RSJ adalah untuk melihat langsung kehidupan mahasiswa yang menderita gangguan jiwa di RSJ. Bukan untuk melihat sisi negative, melainkan untuk melihat sejauh mana tingkat penderita gangguan jika dari kalangan mahasiswa yang harus di rawat di RSJ. Akhirnya Meycha bercerita panjang lebar. “Disini ada pasien mahasiswa berprestasi, Budi namanya,” kata Meyca. Lebih rinci, Meycha mengatakan, Budi merupakan mahasiswa dari salah satu universitas negeri di Banda Aceh. Budi merupakan mahasiswa yang sangat pintar yang dibuktikan dengan kemampuan bahasa Arab

dan bahasa Inggris yang mumpuni. Budi mampu berbicara menggunakan dua bahasa itu dengan sangat baik. Berdasarkan pengamatan, sebut Meycha, Budi menganut Waham Halusinasi. Hal ini terjadi, bisa jadi, karena terlalu banyak memakai obatobatan terlarang, seperti ganja dan shabu. Saat menjelaskan perihal Budi, tiba-tiba dua perawat terlihat berjalan sambil mengapit seorang pemuda yang memakai celana jeans pendek. Pemuda berkulit hitam manis itu berasal dari Bale Jeumpa. “Namanya Wanda (bukan nama sebenarnya-red). Dia juga mahasiswa,” ungkap Meycha. Rahmad yang sedari tadi setia mendampingi saya, bangkit dan mengajak Wanda untuk duduk ber-

“Nama aku Wanda. Aku dulu kuliah di Stikes Bumi Persada, Lhokseumawe,” kata Wanda, dari balik jendela jeruji besi. sama kami. Seketika wajah wahyu berubah. Raut wajahnya terlihat senang begitu mengetahui dirinya akan diwawancara. Wanda pun duduk tepat disebelah Meycha. Tapi sayang, menurut dua perawat yang membawanya, Wahyu harus melapor kepada perawat yang ada diruang perawat dan kembali ke kamarnya. Setelah berbincang-bincang dengan Meycha, Rahmad berinisiatif mengajak saya untuk menemui

Wanda di dalam ruangannya. Kami pun berjalan menuju ruang di mana Wanda berada. Dari balik jeruji, saya melihat sosok Wanda. Dia melempar senyum saat melihat kehadiran kami. “Nama aku Wanda. Aku dulu kuliah di Stikes Bumi Persada, Lhokseumawe,” kata Wanda, dari balik jendela jeruji besi. Sambil menggoyang-goyang kakinya, Wanda bercerita jika dirinya sudah dua minggu berada di RSJ. Dirinya pernah terlantar di Meu-

laboh, Aceh Barat, sebelum tinggal di Kota Lhokseumawe. Di Meulaboh, pekerjaan Wanda hanya membantu penjual koran tanpa dibayar. Saking sulitnya, Wanda bahkan sempat tinggal di salah satu warung kopi di kota tersebut. Hermansyah, perawat yang mengambil Wanda sebagai pasiennya, mengatakan jika Waham yang dianut pasiennya itu adalah Waham Kebesaran. Dimana, dirinya pernah mengaku jika dirinya adalah seorang ustad keramat, dan dia juga pernah mengaku sebagai tim sukses berbagai partai politik. Wanda, tambah Hermansyah, pada masa kecil terlalu sering dianiaya oleh bapak kandungnya sendiri yang merupakan anggota TNI. Setelah ibu kandungnya meninggal dunia, Wanda mengalami demam panas selama enam bulan. Setelah kejadian tersebut, keluarganya melihat dan merasa bahwa ia sudah mengalami gangguan jiwa, yang pada akhirnya kakak kandung Wanda membawanya ke RSJ. Setelah itu, saya dan Rahmad kembali berjalan menyusuri loronglorong di RSJ. Tentu, sambil bercerita berbagai hal, khususnya masalah kampus dan mahasiswa. Dua hari berada bersama pemuda-pemuda di RSJ Banda Aceh, telah menyadarkan saya. Bahwa beratnya beban hidup dapat dialami siapa saja. Apalagi, dari beberapa pengakuan perawat dan dokter yang pernah bertugas di sana, diketahui, sebagian pemuda menjadi gila karena tekanan hidup, bukan bawaan sejak lahir. Dan jika tak memiliki perisai kuat dan bantuan keluarga, maka satu-satunya jalan adalah dengan “memasung” pemuda-pemuda itu di RSJ. [] Lebih kritis dari yang Anda duga


Lintas Kampus

14

15

Edisi 35 | Februari 2014

g DETaK/Riska Iwantoni

Edisi 35 | Februari 2014

DETaK

Sosok

Rektor Lantik Pengurus UKM Universitas Periode 2013/2014 Darussalam– Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal resmi melantik Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan universitas periode 2013/2014. Pelantikan yang dilaksanakan di Lobi AAC Dayan Dawood itu turut dihadiri oleh Pembantu Rektor III dan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan di Enam Fakultas berikut para undangan dari Perwakilan DPM-U (Depertemen Pemerintah Mahsiswa Unsyiah) dan BEM-U (Badan Eksekitif Mahasiswa Unsyiah) terpilih. Namun, Muhammad Chaldun BEM-U terpilih tak terlihat hadir dan menjadi sorotan Samsul Rizal saat menyampaikan kata sambutan. Samsul Rizal, dalam kata sambutannya mengajak seluruh komponen universitas untuk bekerja sama dalam membangun universitas, ia menginginkan adanya keakraban sesama. Pun tak terkecuali bagi pengurus UKM untuk bisa mengajak mahasiswa yang lain supaya bisa bergabung dengan UKM yang ada hingga jika mungkin dapat membentuk UKM baru di lingkungan universitas yang ia nilai masih minim. “Saya ingin seluruh anggota UKM yang ada untuk dapat mengayomi mahasiswa yang ingin bergabung ke UKM, rangkul mereka, dan kalau bisa ajak mereka membentuk UKM baru karena suatu saat kita pasti akan membutuhkan orang lain.” Samsul Rizal mengharapkan di tahun 2014 ini akan ada UKM baru yang terbentuk, UKM yang sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, situasi, dan kondisi. []

g DETaK/Murti Ali Lingga

Rektor Janjikan Renovasi Gelanggang Mahasiswa

Darussalam – Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), barjanji akan merenovasi Gedung Gelanggang Mahasiswa Prof. A. Madjid Ibrahim. “Jika masalah disana Lebih kritis dari yang Anda duga

(Gelanggang) sudah selesai, saya berjanji akan renovasi secara besar-besaran”, kata Samsul Rizal, di sela-sela acara pelantikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Selasa, 21 Januari 2014. Gedung itu dulu sangat bagus, ketika saya kuliah, namun kondisinya saat ini sangat memperihatinkan. Orang nomor satu di Unsyiah itu mengungkapkan, kekecewaannya terhadap kondisi Gedung Gelanggang Mahasiswa Prof. A. Madjid Ibrahim, yang tidak dijaga dan difungsikan dengan baik sebagai pusat kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa. Ia menyesalkan, ketidakpedulian mahasiswa, dosen, serta penduduk yang ada di lingkungan Unsyiah, terhadap kebersihan kampus. Sehingga tak jarang orangorang menyebut Unsyiah sebagai tong sampah. Lebih lanjut ia menambahkan, bahwa masyarakat Unsyiah mulai jauh dari konsep keislaman, padahal seharusnya dimana seseorang tinggal, maka seseorang tersebut wajib menjaga kebersihan, karna kebersihan sebagain dari iman. []

Kompetisi Film Dokumenter 2014 Resmi Diluncurkan Banda Aceh – Kompetisi film dokumenter Aceh 2014 yang dihelat Aceh Documentary Competition (ADC) resmi diluncurkan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Prof Kacung Maridjan di Balaikota Banda Aceh. Kompetisi yang menjadi ajang mencari talenta pembuat film dokumenter tentang Aceh ini diluncurkan dengan tema ‘The Power of Aceh: Sound of Culture’. Kompetisi film dokumenter ini digelar untuk menggali bakat-bakat kreatif sineas muda Aceh dalam mendokumentasikan pelbagai hal yang menarik di tengah masyarakat. Kompetisi ini akan memilih sejumlah proposal film. Yang terpilih nantinya akan dilatih cara membuat film dokumenter, mulai dari proses penulisan script, penyutradaan, hingga pengambilan gambar. Aceh Documentary Competition pertama kali digelar tahun lalu. Saat itu, ada lima film dokumenter yang berhasil keluar sebagai finalis. Asisten II Pemerintah Aceh Said Mustafa –mewakili Gubernur, berharap kompetisi ini bisa menghasilkan film dokumenter tentang Aceh yang berkualitas. Banyak catatan sejarah dan kisah perjuangan masyarakat yang menarik didokumentasikan. Selain itu, seni tradisional Aceh juga menjadi materi yang menarik. [] www.detak-unsyiah.com

g DETaK/Masridho Rambey

Jalan Masih Panjang... g Laporan Masridho Rambey

“Kami akan terus tinggal di rumah itu! Untuk menjaga martabat kami,” tegas Emma.

www.detak-unsyiah.com

ap.., tap…, tap…,” suara

korupsi (Tipikor). Di sana, ia menjalani rutinitas yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Seusai sholat, bersama para warga binaan lainnya, Darni diberi waktu 10 menit untuk istirahat di mushalla. Waktu berharga ini, mereka gunakan untuk musyawarah dan diskusi berbagai hal. Di dalam rutan, Darni dikenal sebagai sosok yang ramah dan tempat untuk berdiskusi bagi para narapidana. “Dia baik, saya sering bicara dengan dia,” Ujar Hilario (29), salah seorang narapidana. Hal yang sama juga disampaikan Yusaini, Kasubsie Pelayanan Tahanan Rutan Kajhu. “Selama di sini, Darni berkelakuan baik,” jelas Yusaini kepada DETaK, saat media ini berkunjung ke Rutan Kelas II B, Kajhu, Aceh Besar, tiga pekan lalu. Sekedar mengulang, sebelum menjadi tahanan, Darni pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh pada 2012. Saat itu, ia berpasangan dengan Ahmad Fauzi, dosen senior di IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry). Sayang, usaha untuk menjadi orang nomor satu di Aceh gagal. Karena, jumlah suara yang memilih Darni hanya 4.07 persen. Kalah jauh dari Zaini AbdullahMuzakir Manaf yang menjadi pemenang dengan perolehan suara 55.78 persen.

kaki dari sekelom“T langkah pok pria, keluar dari se-

buah minibus berwarna hijau tua. Kendaraan bernomor plat BL 7081 A itu, mengangkut lima belas terdakwa dari Rumah Tahanan (Rutan) Banda Aceh Kelas II B, berlokasi di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Langkah kaki mereka bergerak lambat, selaras dengan wajah yang murung. Satu-per-satu dari mereka digiring masuk ke ruangan berukuran 3 x 2,5 meter, yaitu kamar tahanan sementara di Pengadilan Negeri Kelas 1A, Banda Aceh. Di akhir barisan, tampak seorang lelaki yang berbeda yang mengenakan batik berwarna biru. Lelaki berambut tipis itu berjalan santai sambil melempar senyum kepada orang-orang disekelilingnya. Ia terlihat ceria. Kakinya terus diayunkan menuju terungku, bersebelahan dengan tempat dimana empat belas tahanan tadi berada. Hari itu, 16 Januari 2014, untuk kesekian kalinya, pria kelahiran Pidie, 25 Juli 1961, itu harus mengkuti sidang lanjutan atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Namanya tak asing bagi sebagian besar mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Wajahnya sering dimuat di berbagai media sejak Oktober 2013 lalu. Dia adalah Prof. Dr. Darni M. Daud, MA, mantan rektor Unsyiah. Di rutan Kajhu, terungku Darni terletak di bagian barat rutan. Sel bagian itu, dikhususkan bagi yang terlibat dalam kasus tindak pidana

g DETaK/Masridho Rambey

DETaK

Emma

Setahun berselang, tepatnya pada 17 Oktober Darni resmi mejadi terdakwa kasus korupsi beasiswa Jalur Pengembangan Daerah (JPD) 2009 2010 sebesar Rp. 1.799.347.500. akibat perbuatan itu, Darni M. Daud didak-

wa bersalah dan melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 ayat (1) huruf a, b, ayat (2), ayat (3), UU Republik Indonesia No.31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sudah empat bulan lamanya Darni berpisah dengan keluarga. “Secara manusiawi, saya tentu rindu kepada keluarga,” selorohnya kepada DETaK sesaat setelah sidang lanjutan kasus yang mejeratnya, di Pengadilan Negeri Banda Aceh, 16 Januari lalu. Hal yang sama juga dirasakan Emma (50), istri Darni. Kegamangan dalam menjalani hidup begitu terasa saat berada di rumah. Bila sebelum nya Emma senantiasa melayani kebutuhan Darni, semua itu tidak bisa dilakukannya lagi. Darni harus menjalani hidupnya sendiri di penjara. Kekhawatiran Emma tidak hanya memikirkan kondisi suaminya di penjara, melainkan juga kekhawatiran yang lain. “Kalau bapak di penjara, tetap ada rasa was-was. Takut terjadi apa-apa, apalagi tidak ada lelaki dewasa, di rumah,” kata Emma saat melihat sidang lanjutan suaminya di PN Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Sebenarnya, Darni memilki rumah di kawasan elite Geuche, Banda Aceh. Akan tetapi, keluarganya tetap bertahan di perumahan dinas di komplek kampus Unsyiah, tepatnya di samping Fakultas Pertanian. “Kami akan terus tinggal di rumah itu, untuk menjaga martabat kami,” tegas Emma, saat mengkuti sidang lanjutan suaminya. Ketegasan Emma ini sebuah bentuk harga diri. Tidak peduli, walau pihak Unsyiah telah berulangkali mengusir mereka agar meninggalkan rumah tersebut. Apalagi, rumah itu masih ditempati oleh keluarganya (sesuai peraturan—red), yaitu sampai Oktober 2014. Emma dinikahi Darni pada 1988 silam. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Pharissa (25), Rizqarossa Darni (22), dan seorang anak laki-laki yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar, Ilham Dani (12). Terkait masalah hukum yang dialami suaminya, Emma mengaku sangat menyayangkan hal ini terjadi. “Ini, kan, masalah internal kampus. Seharusnya dapat diselesaikan dengan musyawarah,” lirihnya. ”Masalah seperti ini bisa dengan duduk mufakat, bisa dengan menegur kesalahan orang lain,” tutupnya. Berdasarkan pengakuan saksi Nurhadi, tanaga ahli dari Badan Pengawas Keuangan dan Pengembangan (BPKP) Aceh, terjadi ketidaksesuaian dokumen penyaluran dana ke Unsyiah. “Ada penggunaan dana mahasiswa yang tumpah tindih” tegas Nurhadi. Sidang yang dipimpin oleh Samsul Qamar, SH, tersebut kembali dilanjutkan pada sidang selanjutnya. Karena masih banyak saksi kunci yang harus dihadirkan hakim untuk membuktikan keterlibatan Darni M Daud dalam kasus korupsi dana beasiswa Jalur Pengembangan Daerah (JPD) 2009-2010. [] Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Fokus

16

17

Edisi 35 | Februari 2014

DETaK

Fokus Edisi 35 | Februari 2014

Narkoba Gerbang Kriminalitas

Narkoba Memenjarakan Hidupku sumber : httpm.medanbagus.comnews.phpid=7934

Setelah ditangkap aparat kepolisian karena menggunakan shabu, Aga, harus mendekam di penjara. Mantan mahasiswa Unsyiah ini tengah menanti berakhirnya masa tahanan.

g DETaK/Murti Ali Lingga

Maraknya peredaran narkoba serta banyaknya mahasiswa yang menjadi pengguna aktif narkoba, menambah daftar panjang kompleksitas dunia pendidikan di Aceh. Begitu juga Unsyiah, peredaran narkoba ternyata bukalah hal baru. Kini, keadaan semakin runyam. Karena, mahasiswa tak hanya sebagai pemakai, melainkan sudah menjadi gembong utama peredaran narkoba di Aceh. Apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan Pemerintah Aceh dan pihak universitas khususnya? Berikut Petikan Wawancara Murti Ali Lingga dengan Drs.H.Saidan Nafi SH.Hum, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Kamis, 23 Januari 2014.

Kepala BNNP Aceh, Drs. SaidanNafi SH, M.hum.

g Laporan Putri Nuzira

ASUK Dek,” itulah kata pertama yang mengawali pertemuan saya dengan laki-laki berusia 27 tahun ini, Rabu 22 Januari 2014, ketika saya memasuki ruangan tempat dia mengisi kegiatan sehariharinya. Aga, sosok kurus dengan tinggi 150 cm, merupakan narapidana kasus narkoba yang mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Banda Aceh. Narkoba telah ‘mewajibkannya’ mendekam di penjara selama 5 tahun. Berbeda dengan narapidana lainnya. Hari-hari Aga di penjara, lebih banyak dihabiskan dalam ruangan seluas 2 x 1 meter. Dalam ruangan berwarna kuning itu, terdapat sebuah meja dengan peralatan pangkas rambut di atasnya. “Disini saya menjadi pencukur rambut bagi

M

Lebih kritis dari yang Anda duga

tahanan,” ungkapnya sambil membersihkan helai-helai rambut yang berserakan di lantai. Dari pekerjaan itulah, Aga memperoleh uang walau pun kecil. Pria berkulit putih ini menceritakan. Sebelumnya ia kerap mencukur rambut di dalam sel. Tapi, karena dianggap berbahaya, maka pihak rutan menyediakan tempat khusus bagi Aga. “Karena saat pangkas di dalam sel menggunakan gunting dan dianggap benda berbahaya,” ungkap Aga. Tidak setiap hari Aga memperoleh uang dari kegiatan pangkas. Karena, tidak selamanya narapidana selalu potong rambut. Paling banyak lima orang dalam sehari. Tapi, sering juga tidak ada sama sekali. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menjadi tahanan sejak Oktober

tahun 2012. Aga ditangkap aparat kepolisian di rumahnya di daerah Lam Dingin, Banda Aceh. “Saya sudah lama terjerumus narkoba. Semenjak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu pada tahun 2004,” kata pria bernama lengkap Aga Mikhail Setiawan, ini. “Semua itu karena pergaulan”. Alasan inilah yang paling banyak menimpa remaja-remaja saat ini ketika terjerumus obat-obat terlarang. Nyaris, sejak tahun 2004 hingga tahun 2012 --sebelum ditangkap aparat kepolisian-- Aga menjadi pengguna aktif narkoba jenis shabushabu. Sebelum di tahan oleh polisi, Aga bekerja sebagai satpam disalah satu bank swasta di Banda Aceh selama delapan bulan. Dia juga sempat

mengecap pendidikan di Fakultas Hukum, Unsyiah. “Tapi saya hanya kuliah dua semester dan langsung berhenti. Orangtua tidak mampu membiayai pendidikan saya di Unsyiah. Karena kami dari keluarga kurang mampu. Apalagi adik saya juga masuk kuliah, makanya saya mengalah,” kenang Aga. Selain menjadi pemangkas rambut, lelaki pendiam ini juga mengisi hari-harinya dengan mengikuti pengajian yang diadakan di musholla rutan bersama narapidana lainnya. Tapi Aga tetap berharap, tidak ada lagi generasi muda yang masih “ngotot” menggunakan narkoba. Dan Aga merasakan banyak waktu yang hilang sia-sia karena narkoba. “Narkoba benar-benar menghancurkan hidup kita. jadi, say no to drugs,” pesan Aga, diakhir pertemuan. [] www.detak-unsyiah.com

Berapa jumlah kasus narkoba yang melibatkan mahasiswa di Aceh? Dari data yang kami miliki, pada tahun 2012, sedikitnya 49 mahasiswa terlibat narkoba khususnya shabu-shabu. Tahun 2013 tidak berkurang, tapi meningkat menjadi 88 mahasiswa, sedangkan untuk tahun 2014 (perhitungan sampai dengan 16 Januari), sudah ada 3 orang mahasiswa yang terjaring.

Prosesnya minimal selama enam bulan. Itu masuk masa detoks untuk menghilangkan kebiasaan-kebisaannya dan tidak boleh berkomunikasi selama satu bulan.

Mayoritas, mahasiswa itu berasal dari mana? Tidak ada yang mendominasi, semuanya merata di Aceh. Saya ambil contoh, pada tahun 2013 lalu, ada lima mahasiswa yang tertangkap di Politeknik Venezuela yang berasal dari Sinabang. Selain itu, ada juga tujuh mahasiswa Unsyiah. Parahnya ketujuh mahasiswa merupakan gembong narkoba jaringan internasional. Mereka ditangkap di daerah Jeulingke, Syiah Kuala, Banda Aceh. Untuk Universitas? Pada 2012 lalu, kami (BNNP Aceh), melakukan tes urine di sepuluh Universitas di Aceh. Hasilnya sangat mengejutkan kami. Delapan diantaranya positif menggunakan narkoba. Bisa dikatakan, banyak mahasiswa yang sudah mengosumsi narkoba di Aceh.

Bisa Anda jelaskan, mengapa para pemakai narkoba ketagihan? Karena di dalam narkoba itu terdapat zat aditif, sehingga orang yang mengonsumsinya akan merasa ’fly (kesenangan-red)’, nyaman, bebas dari masalah walaupun hanya sesaat, tapi itulah pengaruh obat tersebut.

Yang menjalani rehabilitasi di BNN berapa orang? Karena kemampuan kita terbatas, hanya dapat menampung 10 orang yang di rehabilitasi di sini. Selain di BNN, dimana lagi mereka menjalani rehabilitasi? Ada beberapa yang menjalani rehabilitasi di rumah sakitj iwa (RSJ) Banda Aceh. Sedikitnya ada 15 orang perangkatan yang dirawat disana. Berapa lama proses rehabilitasi bagi pecandu Narkoba? www.detak-unsyiah.com

Apakah mereka yang menjalani rehabilitasi harus bayar/dipungut biaya? Kalau yang rehabilitasi di BNN itu gratis, tapi, yang dirawat RSJ itu dipungut biaya Rp 75.000 per hari.

Apakah ada hubungannya antara pemakai narkoba dengan aksi kejahatan, mesum atau mencuri? Jelas, ada kaitan antara pengguna dan kasus-kasus kriminalitas seperti yang Anda sebutkan tadi. Contohnya seperti apa? Orang yang sedang mengonsumsi narkoba biasanya suka dengan suara-suara gaduh. Contoh, mendengar music keras-keras, cepat marah karena dirinya sudah tak terkontrol lagi. Selain itu, orang yang sedang nge-drugs hormon seksualnya meningkat, jadi tak bisa dipungkiri kalau ada yang melakukan tindak asusila atau pun yang lainnya. Jika sudah seperti itu, siapa yang harus bertanggungjawab? Semuanya memiliki peran dan tanggungjawab yang sama. Semua lini turun tangan dan semua pihak harus bertanggungjawab. Jadi bukan hanya BNN, POLRI, melainkan harus semua pihak, terutama keluarganya.

bisa terjerumus? Kalau kita lihat secara umum, yang pertama adalah kepedulian keluarga yang kurang. Keluarga tidak peduli lagi terhadap anaknya yang sedang menimba ilmu. Dimana ia tinggal, dengan siapa ia bergaul, bahkan orang tuanya tidak pernah menayakan apa kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan anaknya. Dengan kepedulian yang kurang, anak tersebut mencari jalannya sendiri. Kedua, adalah lingkungan yang tidak kondusif sehingga mereka terjerumus untuk menggunakan narkoba. Tanpa kita sadari, telah terjadi pergeseran nilai, yaitu tidak adanya kontrol sosial yang memang harus diperankan pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda yang tidak lagi peduli terhadap permasalahan ini. Apa yang mendorong mahasiswa menggunakan obat tersebut? Pertama kurangnya rasa percaya diri, lalu adanya peluang sehingga mahasiswa mudah terpengaruh untuk mencoba. Semua berawal dari coba-coba dan mencari pengalaman baru. Apa pesan Anda bagi mahasiswa/generasi muda saa tini? Saya berharap mahasiswa atau siapapun itu, jangan ragu untuk mencari informasi tentang bahaya narkoba. Selain itu, mahasiswa juga harus saling berbagi informasi. Dan mudah-mudahan banyak bermunculan generasi muda sebagai kader-kader yang mengampanyekan bahaya narkoba. Lalu jangan lupa mendekatkan diripa daTuhan, berdoa, dan belajar mengendalikan atau penyelesaian masalah dengan halhal yang positif. []

Sebenarnya, mengapa mahasiswa Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Fokus

18

Edisi 35 | Februari 2014

19

DETaK

Fokus Edisi 35 | Februari 2014

Ketagihan Tapi Menyiksa Puluhan mahasiswa pecandu narkoba terpaksa menjalani rehabilitasi di berbagai tempat di Aceh. Ada yang menolak ada pula yang pasrah. Menyesal namun tak menjamin berhenti menggunakan narkoba, walau telah menjalani proses rehabilitasi.

Sumber : httpt//heglobejournal.comsosial10000-orang-pengguna-narkoba-di-acehindex.php

Mahasiswa dan Narkoba

Semakin tak Terkontrol

sumber : http//asreview-media.as.wwu.eduwp-contentuploads201010Drugs-JOERUDKO.jpeg

g Laporan Murti Ali Lingga

ENYESALAN inilah yang disampaikan Awan (bukan nama sebenarnya-red). Mengenakan kemeja putih berlengan panjang dipadu celana kain berwarna hitam, Awan terlihat segar bugar. Rambut cepaknya mengkilap. “Saat menjadi pemakai aktif narkoba, sebenarnya saya selalu berniat untuk berhenti,” ujar Awan, polos. Awan merupakan salah satu dari tiga belas pengguna narkoba jenis Sabu-sabu (methamphetamine), di kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, jalan Tgk. Daud Beureueh No.145 Lampriet, Banda Aceh. Hari itu, Kamis pagi, 23 Januari 2014, DETaK berkesempatan untuk berbicara langsung dengan Awan di salah satu ruang rehabilitasi di BNNP Aceh. Sambil membakar sebatang rokok, ia pun menceritakan perjalanannya selama memakai narkoba hingga menjadi pasien rehabilitasi BNNP Aceh. Awan bukanlah pemakai baru. Walau usaianya masih terbilang muda, yaitu 26 tahun, tapi Awan sudah mengosumsi narkoba lebih dari 8 (delapan) tahun. Sebenarnya, setelah sekian lama menjadi pecandu, dirinya memiliki keinginan untuk berhenti. Tapi, hal itu sulit dilakukan karena begitu mudahnya untuk mendapatkan barang tersebut. “Keinginan untuk berhenti sih, ada. Namun, rentang waktu untuk tidak mengonsumsinya paling lama hanya sebulanan,” katanya. Jadi, setelah itu, Awan pun kembali dalam dunia khayalannya bersama narkoba. Sebagaimana pengakuan Awan. Saat menjadi mahasiswa, keberanian memakai narkoba jenis shabu-shabu

P

Lebih kritis dari yang Anda duga

karena penasaran, sebagaimana yang dialami oleh anak-anak muda lainnya. Besarnya rasa penasaran itu justru telah menjerumuskan dirinya terlalu jauh dan sulit untuk berhenti. “Awalnya, pengen coba-coba aja. Ingin tahu apa rasanya, gimana, trus lama-kelamaan saya mulai ketagihan, rasanya enak, bisa buat kita fly (kesenangan-red). Pengenya happyhappy aja dan ada rasa bangga setelah menggonsumsinya,” ungkap Awan, menjelaskan awal ketetarikannya

pada shabu-shabu. Bungsu dari empat bersaudara ini menambahkan. Dulunya ia pernah bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh. Sebuah kebanggan tersendiri, apalagi dapat diandalkan keluarga dan menjadi contoh bagi saudara-saudaranya yang lain. Tapi, ironisnya, keparcayaan itu sirna seketika, kala keluarganya mengetahui ia telah menggonsumsi narkoba. Keluarganya pun marah besar.

Parahnya, saat mengosumsi benda haram tersebut, Awan benar-benar “buta” akan bahaya narkoba. Minimnya pengetahuan dan informasi, akhirnya membuat Awan gelap mata dan terus menerus membeli shabushabu. Tidak lain karena ingin fly. “Sampek-sampek keluarga menganggap saya sebagai aib, dan sudah mencoreng nama baik keluarga kami”, ujarnya lirih. Terlihat raut penyesalan diwajahnya. Walau marah, keluarganya tak tinggal diam dan berusaha menyembuhkan Awan dari narkoba. Saat hendak dibawa ke BNNP untuk menjalani rehab, dirinya sempat tidak terima. Bahkan, ketika petugas rehabilitasi dari BNNP menjelaskan bahaya narkoba, Awan tetap tidak terima dan menolak untuk tinggal di BNNP. Tapi, beruntung bagi Awan, dorongan dan desakan orangtuanya

membuat dia mengalah. Jika tidak, boleh jadi Awan belum bisa mengendalikan dirinya saat sakau dan “merindukan” barang haram yang biasa dikosumsinya. “Setelah beberapa bulan di sini, mengikuti pembelajaran, mengenal lebih jauh tentang narkoba, bahaya narkoba maupun dampak yang akan dialami para pengguna, baru kemudian saya tahu”. Bahkan, Awan merasa bersyukur telah dibawa untuk mengikuti program rehabilitasi. “Mungkin ini adalah kehendak Tuhan yang masih memberi saya kesempatan untuk berbuat lebih baik setelah keluar dari sini. Mungkin, ala

biasa karena biasa kali ya”, ucapnya sambil menghisap rokok yang ada di tangannya. Pada dasarnya, sebut Awan, banyak hal-hal yang positif yang ada pada diri sipengguna, tapi, si pengguna itu sendiri menggunakannya kearah negatif, jadi otomatis hasilnya pun juga negatif. Semangat dan motivasi yang diberikan seluruh keluarga, menjadi generator utama bagi Awan untuk bangkit. “Jujur selama disini saya terinspirasi dan termotivasi untuk meninggalkan perbuatan yang telah saya lakukan selama ini. Ya, walaupun dari sendiri ada niat untuk berubah, tapi dorongan lain juga mengalir dari keluarga, intinya bersyukur sekali,” katanya bersemangat. Kini, Awan seperti mendapatkan kembali kehidupannya. Menjalani setapak demi setapak perubahan dengan berbagai kegiatan dan rutinitas yang diadakan BNNP Aceh. Awan dan 12 teman-teman yang menjalani rehabilitasi, diajarkan banyak hal. Mulai yang paling kecil, seperti makan tepat waktu, merokok ditempat yang di tentukan, sholat tepat waktu, sampai menulis jurnal. Di akhir percakapan dengan media ini, dengan semangat Awan mengatakan. “Pokoknya, tempat ini is the best”. Beruntung bagi Awan, dirinya masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Lalu bagaimana dengan generasi di luar sana? generasi yang masih terjerumus dan tak mampu bangkit. Bahkan, tidak sedikit dari mereka menjadi pelaku utama kriminalitas dan kejahatan yang terjadi di masyarakat. Siapa yang harus bertanggung jawab?!! [] www.detak-unsyiah.com

g Laporan Murti Ali Lingga

IAT hati ingin untung berlipat,

penangkapan yang diN justru dapat. Nasib apes inilah yang

dirasakan dua pemuda asal Gayo Lues, Dedi Rahmadan (27) dan Sabirin (24). Keduanya merupakan mahasiswa aktif pada Getsampena Yapila dan Universitas Samudera Aceh. Keduanya terpaksa diamankan Polres Deliserdang, Sumatera Utara, saat berada di Perumahan Stella Residence Blok TT, Kelurahan Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Jumat, 22 November 2013 lalu. Kedua mahasiswa ini kedapatan membawa sabu seberat 10 gram. Berdasar pengakuan Dedi Rahmadan, dirinya sudah berhasil mengirim dua ons sabu ke daerah Kisaran sebelum tertangkap. Ia mau melakukan itu, karena dijanjikan uang jutaan rupiah sebagai upah. “Saya dapat sabu itu dari Perlak. Nyesal aku bang karena bulan 12 ini rencananya aku mau wisuda,” ujar Dedi. Setelah penangkapan dua mahasiswa tersebut, berturut-turut, kasus narkoba menyeret mahasiswa. Mulai dari mahasiswa Universitasnegeri hingga universitas swasta. Sebagaimana terjadi pada lima mahasiswa asal Sinabang. Setelah ditangkap, diketahui, jika kelima pemuda itu merupakan mahasiswa Politeknik Indonesia-Venezuela (Poliven) Aceh Besar. Menanggapi hal tersebut Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Drs Saidan Nafi SH Mhum, mengaku prihatinn, keterlibatan mahasiswa pada narkoba sudah sangat jauh. Bahkan, sebut Saidan www.detak-unsyiah.com

Jumlah Kasus Penggunaan Narkoba Oleh Mahasiswa 2014 2013 2012

g ran

3o

g ran 49 o

g ran

88 o

Sumber: BNNP ACEH, terhitung tanggal 15 januari

Nafi, mahasiswa tidak hanya menjadi pemakai, melainkan juga sudah menjadi penyalur dan bandar. “Ini terbukti saat tertangkapnya tujuh orang mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) di Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Kesemuanya diketahui merupakan gembong narkoba jaringan internasional, di Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh,” ungkap Saidan Nafi kepada DETaK, Kamis, 23 Januari 2014. Sebenarnya, sambung Saidan, pihaknya telah berusaha meminimalisir penggunaan narkoba dikalangan mahasiswa. Pada 2012, misalnya, BNNP Aceh melakukan tes urine di sepuluh Universitas di Aceh. Hasilnya test tersebut sangat mengejutkan, delapan diantaranya positif menggunakan narkoba. Dari data yang diperoleh media ini dari BNNP Aceh, diketahui, pada tahun 2012, sedikitnya 49 mahasiswa terlibat narkoba khususnya shabushabu. Tahun 2013 tidak berkurang, tapi meningkat menjadi 88 maha-

siswa, sedangkan untuk tahun 2014 (perhitungan sampai dengan 16 Januari), sudah ada 3 orang mahasiswa yang terjaring. Terkuaknya sejumlah kasus narkotika dikalangan mahasiswa, membuktikan bahwa generasi muda saat ini merupakan target yang paling rawan terjebak dalam lingkaran

Narkoba. Badan Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan tidak kurang dari 1,1 juta pelajar dan mahasiswa di tanah air telah terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, sehingga diperlukan sosialisasi dan kempanye yang berkelanjutan secara terus-menerus untuk mengurangi tingkat penggunaa zat adiktif berbahaya tersebut. BNNP Aceh, tambah Saidan Nafi, mengaku, telah melaksanakan berbagai sosialisasi secara langsung kepada seluruh lapisan masyarakat. Baik sekolah-sekolah, pemuda desa, serta melakukan seminar untuk mahasiswa. Apalagi, dalam perhitungan BNN Aceh, jumlah pengguna narkoba di Aceh pada 2013 mencapai 10 ribu orang. Jumlah angka yang sangat mengkhawatirkan, apalagi, jika sebagian besar penggunanya justru kaum pelajar, siswa dan mahasiswa! []

Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Fokus

20

21

Edisi 35 | Februari 2014

Mereka Masyarakat Umum embantu Rektor III Unsyiah, Rusli Yusuf menganggap para pelaku bukanlah mahasiswa Unsyiah jika kejadian atau saat ditangkap berada diluar kampus. Pelaku merupakan masyarakat umum. Jika ada mahasiswa Unsyiah kedapatan menggunakan narkoba dan ditangkap di diluar (kampus), maka tidak ada kaitannya dengan Unsyiah. “Mahasiswa sebagai masyarakat umum, di sisi lain sebagai warga yang kuliah Unsyiah. Hal ini harus dipisahkan,” ujarnya. Beliau juga menyayangkan sikap BNN yang terkesan memvonis langsung pelaku adalah mahasiswa dari Unsyiah. Jika memang ada mahasiswa kami yang terlibat atau tertangkap karena narkoba, harusnya disampaikan secara resmi semua data tersebut dan berkordinasi terhadap

P

temuan yang ada. Tapi yang terjadi tidak. Lain sisi, Rusli mengakui, banyak mahasiswa yang terlibat diluar kampus. Bahkan, hampir semua angkatan terlibat penggunaan zat-zat terlarang, mulai ganja, shabu hingga jenis narkoba berbahaya lainnya. Sebenarnya, sambung Rusli Yusuf, Unsyiah sudah berusaha melakukan sosialisasi termasuk mengadakan tes urine. Bila saat tes urine diketahu positif, maka Unsyiah segera memanggil orangtua dari mahasiswa yang bersangkutan. “Selain itu, Unsyiah memberi sanksi akademik yakni skorsing dan bisa juga dikeluarkan. Semua akan dilihat secara matang, karena Unsyiah bukan lembaga hukum,” ung kap Rusli Yusuf.***

Data Kasus Penangkapan Narkoba

n OKTOBER 2013 Rizki Jumaidi Nurdin (25) yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kabupaten Aceh Utara, ditangkap Aparat Satuan Narkoba Kepolisian Resor (Polres) kabupaten itu, Sabtu, pukul 09.00. Warga Paya Terbang, Kecamatan Nibong, Aceh Utara tersebut didapati saat tengah bertransaksi sabu-sabu di desa setempat. n 2 NOVEMBER 2013 Aparat kepolisian Resort Aceh Timur, Sabtu malam, mengelar razian rutin di depan Mapolres setempat. Dalam razia tersebut aparat berhasil menangkap Muhammad Fauzari, warga Kecamatan Peudawa yang berstatus mahasiswa tersebut bersamaan dengan barang buktinya. n 22 NOVEMBER 2013 Mahasiswa Getsampena Yapila dan Universitas Samudera Aceh, ditangkap anggota Polres Deliserdang, Sumatera Utara, lantaran memiliki narkoba jenis sabu. Keduanya ditangkap saat berada di perumahan Stella Residence Blok TT, Kelurahan Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, pada hari Jumat. n 1 DESEMBER 2013 Aparat Satuan Narkoba Kepolisian Resor (Polres) Aceh Timur meringkus Adiansyah (23), Minggu, sekira pukul 19.30. Pria asal Blang Geulumpang, Kecamatan Idi Rayeuk, merupakan pengedar sabu-sabu. Bersama dia, polisi juga mengamankan barang bukti satu paket sabu-sabu seberat lima gram.

g DETaK/Mulya Riski Nanda

n DESEMBER 2013 Tersangka adalah seorang siswi SI (16) madrasah tingkat atas di Aceh Tengah, warga Kecamatan Pegasing kini harus berurusan dengan Polres Aceh Tengah. Ia menjalani pemeriksaan bersama teman prianya, Guh (22). Senin siang. Tak tanggung-tanggung, kekasihnya itu ternyata dikenal sebagai bandar narkoba, yang sudah masuk daftar buruan aparat.

Rusli Yusuf

Lebih kritis dari yang Anda duga

Edisi 35 | Februari 2014

Celoteh Awan Pada Langit

n 18 FEBUARI 2013 Pemuda asal Desa Bandar Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, ditangkap petugas Kepolisian Daerah Aceh karena menyimpan sabu seberat 2,5 gram. Pemuda berinisal HR ini ditangkap saat sedang berkendara di Jalan Mujahir, kawasan Lamprit Banda Aceh, Senin siang. n 2 JULI 2013 Dengan barang bukti 10 gram sabu-sabu dua mahasiswa bertindak nekad melakoni pekerjaan haram sebagai pengedar narkoba. Alasannya, mereka mengaku kesulitan melunasi tunggakan uang kuliah, adalah Sufriani (21) dan Firdaus (21), yang telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di balik jeruji besi Polsek Gandapura, Bireuen. Mereka dibekuk Selasa siang sekitar pukul 14.30.

n 23 Januari 2014 Asfufuddin Bakhtiar (24), ditangkap polisi di Blang Peutek, Kecamatan Padang Tiji, Selasa, sekira pukul 18.00. Warga Kupula, Kecamatan Muara Tiga, Pidie, itu ditangkap polisi saat menjual sabu-sabu kepada petugas yang menyaru sebagai pembeli. Dengan barang bukti 0,83 gram shabu-shabu. []

www.detak-unsyiah.com

DETaK

Cerpen

g Oleh : Sarah

ANGIT melihat Awan sangat cemas. Langit tak tahu mengapa, ia hanya yakin, Awan sedang kesal. Berkali-kali awan menatap ke bawah, memandang hamparan padi yang sudah menguning. Lalu melihat mesjid-mesjid yang dipenuhi jama’ah pada saf pertamanya saja. Awan menggeleng, matanya terpejam. Langit mulai khawatir dan mencoba menenangkan Awan. Tapi kali ini berbeda, indahnya awan pada langit yang biru tak membuat Awan ceria manakala biasanya. Sang Awan selalu ingin merubah warnanya menjadi abu-abu bahkan hitam. Tapi Langit sekuat tenaga merayu agar awan tak melakukan itu. “Kau kenapa Putih? Stop marahmarahmu itu?” Ucap Langit pada Putih, panggilan sayangnya pada Awan. “Aku sebal Lang. Kau lihatlah kelakuan makhluk berbaju itu. tak sesuai dengan fitrah. Mereka adalah sosok yang paling sempurna yang Allah Cipta, tapi secuilpun sikap mereka tak nampak sempurna.” “Manusia manakah yang kau maksud Putih?” “Manusia itu Lang.” Sambil menunjuk pada salah satu kawasan bumi yang masih terhampar tanah luas. “Kenapa mereka rupanya?” “Masak kau tak tau, Lihat mereka itu, makhluk yang masih Muda tapi sudah pikun!” Langit terdiam. Bingung. “Padahal luka panjang bertahuntahun telah mencoretkan kisah buram di hati mereka. Tapi mereka lupa. Padahal air bah raksasa yang hapir menyamai tinggiku pula telah menyita hidup mereka, tapi mereka lupa. Pikun itu namanya.” Langit kembali mencerna katakata membara yang terlontar dari bibir Awan. Menimang-nimang apakah makhluk yang diceritakan Awan itu benar-benar pikun? Tak sempat Langit mencari jawaban, Awan sudah menampakkan wajah merahnya. Dia memandang sesuatu. Langit mengikuti arah matanya. Terlihat dua sejoli terduduk mesra di bebatuan pantai. Keduanya saling menggenggam tangan. Makhluk yang berambut pendek itu memandang si makhluk berkerudung. Yang dipandangnya hanya tersenyum malu. “Dua sejoli itu. kau lihat? Mereka juga pikun. Padahal mereka jelas tau, tanah mereka adalah serambinya Mekah. Islam pertama masuk di Indonesia itu di tanah mereka. Tak malu mereka seperti itu. Pikun itu

L

www.detak-unsyiah.com

namanya.” Langit terlihat kembali berpikir. Otaknya benar-benar berpikir keras kali ini. Dia harus tau apa yang di maksud Awan. Lagi-lagi sebelum Langit mendapat hipotesa jawaban semua kata-kata Awan. Awan sudah berwarna abu-abu. Tanda dia benar-benar marah. “Kau Lihat lang. Di sana!” Awan menunjuk ke arah pedesaan.

tangan berkilau yang terpakai rapi di pergelangan tangannya. Jarum pendek pada jam tangan itu sudah berpose di angka dua, sedang jarum panjang mendarat di angka 6. Orang itu masih saja terlihat santai. Padahal jelas meja kerjanya harus diduduki semenjak setengah jam yang lalu. “Kau bisa liat, Makhluk itu dengan tanpa dosa mencuri waktu. Dia

Makhluk tua renta sedang menanak nasi. Oh bukan, sedang membuat bubur yang sangat cair hampir seperti air dalam perapian. Dia meniup api yang mulai padam. Tangan hitamnya mengusap keningnya yang berkeringat. Polesan hitam kayu bakar membekas mewakili duka sang tua renta di keningnya. Dia terlihat sedih memandang guci di dapurnya. Bisa ditebak. Dia pasti kehabisan beras. “Sayang sekali makhluk itu.” Ujar Langit terharu. “Sayang! Tapi lihat di bagian itu Lang.” kembali Awan menunjuk belahan bumi yang berbeda. tak jauh dari gubuk si tua renta. Terlihat seorang berpakaian hijau keabu-abuan sedang makan siang. Orang itu terlihat sangat santai mengunyah potongan daging rendang dalam mulutnya. Mengkoyak, mennggigit dan Hap masuk ke dalam perutnya. Dia melihat jam

juga lupa. Lupa kalau semenitpun dia tidak melaksanakan kewajibannya, maka haram uang lembaran bertuliskan rupiah itu dipakainya. Pikun itu namanya kan?” kemudian si mahkluk yang santai tadi tiba-tiba berdiri. Piringnya masih terhiasi nasi dan beberapa porongan daging kecil. Dia melihat pirignya sekilas dan pergi. Melihat itu, warna Awan semakin gelap. Awan menyebar kemana-mana hingga Langit tak bisa menampakkan keindahan birunya. “Lihat itu kan lang. makhluk benar-benar pikun. Benar-benar lupa kalau mereka di beri ruh untuk memainkan perasaannya dengan baik. Tapi ruh itu tak mereka gunakan Lang. mereka lebih menggunakan pikiran dan egois mereka. Mereka tak bisa saling menyanyangi, seperti masa Khalifah Muhammad, Lang. mereka tak pantas menduduki tanah serambi

Mekkah itu, Lang!” Langit yang melihat perubahan emosi Awan yang semakin menjadi merasa agak takut. Tapi bila di biarkan. Awan akan megguyur tiada henti semua mkhluk itu. Awan akan mennguyur mereka hingga mereka tak sanggup mengingat lagi apa yang terjadi. “Awan. Tunggu!” terdengar suara langit berteriak di telinga Awan. “Kenapa lagi kau Lang? Tak usah menghentikan aku. Kau tahu sendiri tingkah mereka. Mereka lebih sibuk mengurusi diri sendiri daripada agama mereka. Mereka sudah tak menyimpan agama di hati mereka Lang. mereka menyimpannya di pikiran, mereka gabung dengan perhitungan untung rugi hingga menemukan sebuah rumus Laba tanpa sadar orang disekitarnya rugi.” Langit kembali terdiam. Ia tak bisa mengelak semua yang diucapkan Awan. Langit hanya tertunduk. Mungkin memang harus dingatkan kembali dengan Bala. Pikir Langit. Sedang Awan mulai menjatuhkan tetes-tetes mutiara putihnya. Terutama di daerah yang banyak dihuni oleh orang pikun. Berjamjam sudah mutiara putih bertebaran di tanah rencong. Sungai sudah penuh. Kemungkinan airnya akan meluap dan menghiasi rumahrumah makhluk-makhluk yang katanya sempurna itu. “Awan!” Teriak Langit pada akhirnya. Awan terdiam. Memandang Langit dengan tajam. Sebuah pertanyaan tertulis di atas kepalanya, “ mengapa kau mencoba menghentikan aku lagi, Lang? belum mengertikah kau?” “Awan. Kau tak berhak menghukum mereka. Sekarang LIhat! Ulahmu bukan saja akan merayapi makhluk pikun yang kau bilang. Tapi akan menyentuh tua renta dan berjuta-juta makluk tak bersalah lainnya.” Awan mulai terdiam. “Biarlah Tuhan yang mengurusi mereka. Kau tunggu sajalah titahNya. Dia lebih tahu daripada kita. Biarlah makhluk pikun itu dengan segudang aktivitas kepikunannya, toh nantinya semua itu juga yang akan dia ungkap di akhirat kelak.” Ucap Langit Bijak. Akhirnya Awan kelabu telah sirna digantikan dengan putihnya hamparan kapas yang menghiasi langit Tuhan.****

*Penulis adalah Mahasiswi FKIP Jurusan PBSI ‘11 Lebih kritis dari yang Anda duga


DETaK

Reportase

22

23

Edisi 35 | Februari 2014

g Laporan Hilda Rahmazani

EMILIR angin di daerah Lambada Lhok begitu sejuk. Puluhan kapal kecil berukuran 7x2 meter terparkir rapi di tepi Kuala Gigieng. Satu dua kapal tampak terjebak pasir yang tersembul di atas permukaan kuala. Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Lambada Lhok yang berada di jalan Laksamana Malahayati Km. 10, Kecamatan Baitussalam, Aceh besar, hari itu tampak sepi. Selain tak terlihat adanya ikan segar yang didaratkan, transaksi jual beli ikan pun tampak ‘mati’ dari aktivitas. DI samping PPI itu, beberapa nelayan terlihat duduk santai sambil menyeruput segelas kopi di sebuah warung kopi kecil. Dari warung berkonstruksi kayu itu, terlihat jelas panorama kuala Gigieng yang diliputi pohon bakau di sisi kanan, pohon cemara di depan mata dan perumahan penduduk di sisi kiri. Pemandangan hijau itu terasa memanjakan mata. Sebagian mereka sedang “libur” melaut karena cuaca ekstrim tengah melanda lautan lepas di samudera. “Sekarang lagi musim angin timur. Mulai Desember 2013 hingga bulan Januari 2014. Memang bisa melaut, namun pendapatan kurang. Daripada merugi, lebih baik kami menunda mencari ikan,” ujar Zainuddin, salah seorang nelayan yang duduk di warung tersebut. Memang, Zainuddin kadang tetap melaut. Tapi hanya sebentar dan ja-

S

Lebih kritis dari yang Anda duga

raknya hanya tiga sampai empat kilometer dari bibir pantai. Oleh sebab itu, untuk kebutuhan hidup selama tidak melaut, ayah dua anak ini terpaksa mencari kepiting, tiram, juga mengandalkan pukat darat di bibir pantai.

Kondisi angin yang tidak stabil juga berpengaruh terhadap tangkapan. “Udara tidak bagus sehingga ikan enggan naik ke permukaan.” Imbuh warga desa Lambada Lhok. “Kalau cuaca bagus, biasanya saya peroleh 200-300 ribu per hari, namun jika tidak, hanya Rp 50 ribu per hari. Itupun masih kotor,” jelas pria yang telah menjalani profesi nelayan selama 18 tahun ini, Kamis, 30 Januari 2013, lalu. Berdasarkan pengakuan nelayan di sana, jika cuaca bagus, hasil melaut selama sehari bisa mendapat tangkapan sebanyak 50 kilogram. Tapi, bila tiga hari, hasil tangkapan bisa berkali lipat, 200 hingga 300 kg ikan. Hal yang sama diungkap Syamsuddin (70 tahun). Pria yang sudah 30 tahun lebih melaut ini mengaku kondisi angin sekarang sulit ditebak. “Kalau dulu, kondisi cuaca buruk, kita menunggu 3-4 hari baru stabil kembali cuacanya. Kalau sekarang, terkadang cuaca buruk bisa berbulanbulan.” Ia juga menyebutkan peruba-

Akibatnya, jika ada nelayan yang ingin membawa pulang hasil tangkapan ketika jam delapan pagi, namun harus menunggu hingga jam dua

Edisi 35 | Februari 2014

siang karena kapal tidak bisa melaui kuala tersebut. Tak pelak, ikan tangkapan tak dapat segera dijual. Konsekuensinya, harga ikan menjadi tidak stabil. Contohnya, harga ikan tongkol ukuran kecil, harganya seribu rupiah per ikan. Namun jika pendapatan nelayan sedikit, per ekornya bisa mencapai lima ribuan. Cuaca buruk tak hanya berpengaruh pada pendapatan nelayan. Tidak jarang, kapal nelayan hancur karena kuatnya arus laut. Jika sudah seperti ini, nelayan pun hanya bisa berdoa agar selamat dan tidak meninggal di lautan lepas. Sebagaimana yang pernah dialami Bahagia (30 tahun). “Saat angin timur dan arus laut bertabrakan. Hal tersebut hampir membuat kapal rusak. Ketika itu, yang dapat kami lakukan adalah pasrah dan berdoa,” kisah pawang laot yang telah melaut sejak tahun 2001 ini. (Baca: Ketika Nyawa Menjadi Taruhan--red). Pengalamannya sebagai pawang laot, membuat Bahagia memiliki pengetahuan perihal cuaca. Ia bisa mengenal pola-pola cuaca berbekal naluri dan pengetahuan yang diwarisi dari generasi sebelumnya. “Ketika bulan menginjak hari ke-15, kondisi laut tenang.” Ujar Bahagia berbagi penge tahuan. Beberapa nelayan mengaku menentukan cuaca dengan prediksi sendiri tanpa bantuan pihak terkait yang menangani perihal iklim. Tidak ada pemberitahuan dari lembaga tertentu perihal cuaca yang tidak boleh melaut. Dewasa ini, kondisi yang dialami oleh Zainuddin, Syamsuddin, Bahagia serta nelayan lainnya merupakan hal yang lumrah terjadi perihal peubahan iklim. Kondisi ekstrem yang merupakan implikasi dari pemanasan global kerap terjadi dan mengancap perekonomian masyarakat, tak terkecuali nelayan, yang mencari nafkah dengan bergantung pada keadaan cuaca. Untuk melenggang lepas mengarungi lautan, mereka harus melihat waktu yang tepat untuk berlayar. Jika memang laut cuaca sedang tak memihak, nelayan menunggu amukan laut meredam, demi meraup beberapa rupiah untuk mengekal perut. []

sumber : http//pikiran-rakyat.com

Ketika Nyawa Menjadi Taruhan Cuaca ekstrim dan fasilitas kapal yang tak memadai, kerap menjadi problematikan tersendiri bagi nelayan di Aceh. Mereka menepis rasa takut demi menjaga kehidupan. g Laporan Athiatuzzakiah

www.detak-unsyiah.com

ARUM jam menunjukkan angka 18.20. Matahari baru saja tenggelam. Kala itu, Bahagia (30 tahun), sedang mengangkat tali yang digunakan untuk mengikat kapal di pelabuhan. Tali itu hendak ia bawa ke bagian belakang kapal. Ketika ia berjalan, tiba-tiba, ombak besar menghantam kapal. Kapal pun oleng. Bahagia yang tengah membawa tali hilang keseimbangan dan langsung terjatuh dari atas kapal. Saat itu, tak satupun rekannya yang menyadari jika Bahagia terjatuh ke laut. Kapal terus melaju di atas air, meninggalkan Bahagia yang sedang berusaha menyelamatkan diri di tengah laut lepas. Sejauh mata memandang, tak terlihat daratan kecuali langit yang membentang luas. Gelap mulai merayap menutupi permukaan laut tenang tanpa gelombang. Posisi mereka saat itu berada di laut Kareung Meulati, sekitar 125 mil dari laut selatan yang berdekatan dengan laut Sinabang. Bahagia terus bertahan hingga 15 menit. Seorang temannya yang berada di atas kapal melihat sosok Bahagia dari kejauhan. Akhirnya arah kapal diperlambat dan berbalik arah

J

g DETaK/Murti Ali Lingga

Meraup Rupiah Dalam Amukan Laut

han ini mulai terasa setelah bencana gempa dan tsunami pada 2004 silam. Dulu, angin timur hanya enam bulan dan angin barat enam bulan. Sementara sekarang, pola angin menjadi tidak menentu. Bahkan angin barat sampai delapan bulan lamanya. Angin yang tidak stabil juga brimplikasi pada keadaan ikan. “Udara tidak bagus sehingga ikan enggan naik ke permukaan.” Imbuh warga desa Lambada Lhok itu, pelan. Kondisi sulit ini dirasakan Zainuddin, Syamsudin dan puluhan nelayan di Kuala Gigieng. Karena, Selama melaut, mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk bahan bakar. Sedikitnya dibutuhkan 35 liter per hari dengan harga per liternya Rp. 6000. Terkadang mereka harus berhutang untuk memperoleh bahan bakar. Bisa dibayangkan, bila tidak melaut, dari mana mereka memperoleh uang untuk membeli minyak kapal. Jadi tak mengherankan jika banyak nelayan menanggung hutang yang tak berkesudahan. Masalah lain yang menghimpit penghasilan nelayan Lambada Lhok adalah kuala yang dangkal karena banyaknya pasir. Para nelayan harus menunggu air pasang naik untuk bisa dilintasi kapal. Dulu, sebut Zainuddin, sebelum tsunami, banyak kapal motor besar yang merapat di PPI Lambada Lhok. PPI Lambada memiliki alur khusus bagi kapal untuk mendarat dari muara laut. Kini, kapal hanya bisa melewati alur tersebut di waktu dan kondisi tertentu. “Ada 100 lebih kapal di sini. Namun ada yang mendarat di muara kuala di dekat laut. Tidak bisa masuk ke kawasan ini karena tidak ada alur masuk. Jalur tertimbun pasir. Kalau kuala mengering waktu malam, harus tunggu pagi ketika air pasang,” ungkap pria tamatan setingkat SMP ini.

DETaK

Reportase

www.detak-unsyiah.com

menjemput Bahagia yang sedang berjuang dari kematian di lautan lepas. Bahagia pun selamat. Kejadian itu masih terngiang di mata Bahagia. Tapi, kejadian itu tak menyurutkan pria tamatan SMP itu untuk tetap melaut. Bahkan, Bahagia juga sempat mengalami kejadian

Bahagia saat menjadi nelayan sejak tahun 2001 lalu. Persaingan antar sesama nelayan kerap menjadi salah satu faktor yang menjadi hambatan menjalankan profesi sebagai nelayan. Ayah dari satu anak ini pun sempat menjadi korban ketidaksenangan rekan seprofesinya sendiri.

Banyak kisah yang dialami Bahagia saat menjadi nelayan sejak tahun 2001 lalu. Persaingan antar sesama nelayan kerap menjadi salah satu faktor yang menjadi hambatan menjalankan profesi sebagai nelayan. Ayah dari satu anak ini pun sempat menjadi korban ketidaksenangan rekan seprofesinya sendiri. yang tak kalah tragis. Saat itu, kenang Bahagia, Ombak besar menghamtam kapal miliknya. Hal itu terjadi saat angin timur dan arus laut bertabrakan dan menghantam kapal yang mereka gunakan. Kapal mengalami kerusakan berat. “Ketika itu, yang dapat kami lakukan adalah pasrah dan berdoa,” kisah pria yang yang juga berprofesi sebagai pawang laot ini. Banyak kisah pahit yang dialami

Tapi semua itu bukan menjadi masalah berarti jika dapat diselesaikan secara baik-baik, sebagaimana yang dilakukan pria kelahiran Pidie ini. Selama melaut, Bahagia pernah mendapat penghasilan sebanyak Rp 300 juta. “Pernah sekali. Ketika itu melaut selama tujuh hari dan tangkapan saya senilai 300 juta,” ungkap Bahagia sambil memotong jala di samping kapal miliknya di Kampung

Lampulo, Banda Aceh. Tapi secara umum, pendapatan nelayan sangat tidak menentu. Hal ini dirasakan betul oleh Bahagia. Untuk mampu menghidupi keluarga, ia terpaksa dibantu istrinya yang bekerja sebagai petani di kampung halamanya di daerah Krueng Mane, Sawang, Aceh Utara. Setiap dua bulan sekali, Bahagia menjenguk istri dan anaknya. Jika tidak pulang, maka dirinya akan mengirim uang. “Seberapa yang ada. Kalau gak ada sama sekali, ya, gak ngirim. Sabar sampai ada rejeki,” tutup Bahagia. [] Lebih kritis dari yang Anda duga



Tabloid detak edisi 35 tahun 2014