Page 1

DETaK

Demokratis, edukatif, dan komunikatif

Edisi I/ April 2012

www.detak-unsyiah.com

Digital Newspaper

Jurnal Ilmiah, Siapkah Unsyiah? “ “

Yang terpenting ialah membenahi infrastruktur terlebih dahulu untuk menunjang kebijakan ini ke depannya --Samsul Rizal--

Di sini saya berharap Kemendiknas harus crosscheck (meninjau ulang, -red) dulu ke seluruh penjuru Indonesia baru baru bisa menentukan keputusan --Furqan Ishak Aqsa--

ke halaman 2

Bagaimana tidak memberatkan, hanya sedikit mahasiwa Unsyiah yang mampu melatih dirinya dalam hal menulis, bahkan sebagian dosen masih jarang memberikan tugas yang memacu kemampuan menulis mahasiswa. --Saifuddin Bantasyam--

Lebih kritis dari yang anda duga

aturan ini. Furqan Ishak Aqsa misalnya. Secara umum, Presiden Mahasiswa Unsyiah ini melihat kebijakan Dikti itu dirasa belum relevan untuk diterapkan secara serempak di seluruh Indonesia karena taraf pendidikan di Indonesia yang belum merata secara keseluruhan. Dalam pandangannya, kebijakan seperti itu hanya cocok diterapkan di negara-negara maju yang mana tingkat sumber daya manusia, infrastruktur, dan prasarananya sudah memadai. Bagi mahasiswa nomor satu di Unsyiah ini, keputusan Dikti itu sekaligus bermakna perjuangan untuk meraih sarjana menjadi lebih berat lagi mahasiswa. “Di sini saya berharap Kemendiknas harus crosscheck (meninjau

K

eputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Indonesia yang mewajibkan lulusan peguruan tinggi menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnah ilmiah sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana disambut beragam oleh intelektual kampus Unsyiah. Mulai dari mahasiswa biasa, presiden mahasiswa, dosen, pengamat pendidikan, hingga rektorat punya pandangan tersendiri akan hal ini. Ada yang pro, pun juga tak kurang yang kontra. Bagi yang pro, melihat aturan baru ini merupakan jembatan untuk perbaikan kualitas lulusan kampus ‘Jantong Hatee Rakyat Aceh’ menjadi lebih baik di masa depan. Namun, bagi yang kontra, melihat realitas faktual Unsyiah belum sepenuhnya siap menjalankan

Indeks Sosok

Wawancara Eksklusif

Nuril Annisa

Denny Iskandar:

halaman 4

Ukir Prestasi Dengan Menulis

halaman 5

Jangan Langsung Memberatkan Mahasiswa

detakunsyiah

@ukmpersdetak


DETaK

Laporan Utama ulang, -red) dulu ke seluruh penjuru Indonesia baru baru bisa menentukan keputusan,” harapnya. Senada dengan Furqan, Saifuddin Bantasyam, dosen Fakultas Hukum ini juga melihat peraturan itu sebagai ‘beban’ tambahan bagi mahasiswa. “Bagaimana tidak memberatkan, hanya sedikit mahasiwa Unsyiah yang mampu melatih dirinya dalam hal menulis, bahkan sebagian dosen masih jarang memberikan tugas yang memacu kemampuan menulis mahasiswa,” paparnya. Memberatkan, menurut Saifuddin, karena budaya menulis di kalangan mahasiswa masih belum bisa dikatakan bagus. Menurutnya, kebanyakan mahasiswa masih baru hanya akan menulis jika memang mendapat tugas dari dosen. Padahal, seharusnya, mahasiswa harus mengasah kemampuan menulisnya bukan hanya karena tuntutan tugas dari dosen, melainkan juga karena kesadaran bahwa sebagai kaum intelektual, mahasiswa mutlak harus mempunyai kemampuan menulis. “Paling tidak akan berguna di bagian akhir semester yaitu menulis skripsi,” kata Saifuddin. Sedangkan Otto Syamsuddin Ishak, dosen Fakultas Pertanian melihat bahwa peraturan itu tidak bisa serta merta langsung diterapkan secara serempak di seluruh fakultas di Unsyiah. Ia menilai bahwa penerapan jurnal ilmiah sebagai salah satu syarat sarjana harus diterapkan secara bertahap. Setidaknya, dalam pandangan Otto, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan pihak rektorat sebelum benar-benar mengaplikasikan aturan itu di Unsyiah. “Pertama, harus didahului dengan sebuah periode prakonLebih kritis dari yang anda duga

disi. Kedua, harus disesuaikan Fakultas Keguruan dan Ilmu dengan level sebuah pendidi- Pendidikan (FKIP) Unsyiah kan S1, S2 dan S3. Dan ketiga, ini menekankan pentingnya harus disesuaikan dengan nilai fasilitas yang memadai sebeakreditasi itu sendiri.” lum peraturan ini benar-benar Jika tiga hal tersebut direalisasikan. dapat diterapkan, Otto yakin “Jika kebijakan ini sudah aturan jurmampu mencakup nal ilmiah pada infrastruktur itu bisa saja yang memadai dan direalisasimenunjang, maka kan dalam sah-sah saja kebip r a k jakan ini dijalankteknya di an, bahkan akan lapangan. sangat berefek “Dimana baik bagi para manantinya hasiswa untuk giat akan termenulis. Namun, maktub jika kebijakan ini d a l a m dipaksakan, tetap agenda jalan namun denpengemgan tampilan asalbangan asalan,” katanya. Unsyiah (Baca: wawanyang terencara eksklusif cana, berdengan Konsultahap, dan tan Pendidikan, sistematis. “Jangan LangSaya bisa sung Memberpastikan atkan Mahasuatu saat siswa!”). --Otto Syamsuddin Ishak-akan memBagi mahabuahkan siswa Unsyiah hal yang sendiri, aturan itu positif. Agendanya ditransfer juga disambut beragam. Sepke dalam mata kuliah Met- erti salah satunya yang diodologi,” ujarnya lagi. katakan oleh Ressi Winanda, Selain itu, dalam hal mem- mahasiswi Psikologi Fakultas biasakan budaya menulis di Kedokteran (FK) Unsyiah. kalangan mahasiswa, Otto Baginya, aturan itu membuatjuga menekankan pentingnya nya lebih tertantang untuk mememberi apresiasi kepada ma- nampilkan kualitasnya dalam hasiswa dan dosen yang meng- menghasilkan karya tulis ilmihasilkan karya ilmiah populer ah sebagai seorang mahasiswa. dan bisa dipertanggungjawabIa mengapresiasi langkah kan sesuai subtansi keilmuan yang dibuat Dikti. Menurutyang digeluti. Hal itu dipan- nya, jika aturan itu berhasil dangnya akan memberikan diterapkan di seluruh Indonemotivasi tersendiri bagi maha- sia, justru dapat menambah siswa untuk bisa menghasilkan referensi bacaan karena mahakarya tulis ilmiah. siswa sudah melahirkan karya Sedangkan dalam pandan- tulisnya sesuai bidangnya magan konsultan pendidikan, sing-masing. Dengan demikiDenny Iskandar, aturan ini an, referensi bacaan pun akan sebenarnya cukup baik untuk lebih banyak berasal dari karya mendongkrak kualitas lulu- mahasiswa indonesia, bukan san Unsyiah. Namun, dosen dari karya mahasiswa luar neg-

“ Pertama, harus didahului dengan sebuah periode prakondisi. Kedua, harus disesuaikan dengan level sebuah pendidikan S1, S2 dan S3. Dan ketiga, harus disesuaikan dengan nilai akreditasi itu sendiri. ”

digital-newspaper edisi I/ April 2012

2

eri seperti saat ini. Tak hanya itu, Ressi menganggap aturan baru yang dikeluarkan melalui surat edaran Dikti pertanggal 27 Januari yang ditujukan kepada seluruh direktur/rektor/pemimpin perguruan tinggi lainnya di seluruh Indonesia ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Sulit menulis karya ilmiah? Bagi Ressi, esensi menulis karya ilmiah hanya menuangkan sedikit hasil skripsi yang diprakarsai mahasiswa. “Lagian kalau (publikasinya melalui) online kan tidak perlu dicetak, hanya dibawa ke institusi, misalnya Unsyiah,” jelasnya. Ressi yakin bila aturan ini diterapkan akan memudahkan mahasiswa ke depannya dalam mencari referensi untuk melakukan penelitian-penelitian baru, bahkan bisa mencegah tindak kejahatan pendidikan plagiarisme. “Nah, kalau jurnal ilmiah dipublikasikan, tentu kemungkinan untuk plagiat itu kecil. Orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan plagiat dengan sistem kerja yang canggih,” tutupnya. Lain dengan Ressi, lain pula pandangan Muhammad Irvan. Mahasiswa angkatan 2008 Fakultas Pertanian (FP) Unsyiah ini melihat aturan baru itu layaknya dua sisi satu mata uang. Di satu sisi, akan membuat kualitas lulusan mahasiswa betul-betul mempunyai potensi, namun di sisi lain aturan itu dirasakan akan memberatkan mahasiswa. “Ketika melihat dari sisi intelektualitas mahasiswa, maka pengadaan aturan baru tersebut sangat baik, karena nantinya mahasiswa akan lebih serius dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Dengan begitu, ketika kita lulus kuliah nantinya, kita (mahasiswa, -red) benar-benar mempunyai potensi,” tuturnya. detakunsyiah

@ukmpersdetak


Laporan Utama

DETaK

digital-newspaper edisi I/ April 2012

3

Lebih lanU n t u k perlu dikembangkan waktu syiah untuk dikaitkan dengan “ Hanya Fisip jut, Irvan menitahap per- sekitar satu tahun karena be- situs masing-masing fakultas. lai sebetulnya yakni lum memiliki kelulusan,” kat- “Jadi, tinggal di-upload saja (Fakultas Ilmu So- tama, aturan yang untuk kelu- anya tanpa merinci prodi yang (jurnalnya).” ada sekarang lusan per- dimaksud. Namun, khusus Bahkan, sebenarnya, menusial dan Politik, sebenarnya tama setelah bagi prodi yang mempunyai rut cerita Samsul Rizal yang sudah cukup -red) yang belum bulan Agus- akreditasi C, Samsul menar- kini telah didapuk menjadi bagus. Aturan tus, Samsul getkan waktu 6 bulan untuk Rektor Unsyiah, sebenarnya memiliki jurnal yang dimaksud yakin aturan menyiapkan akreditasi dan setiap fakultas di Unsyiah Irvan adalah akan ber- infrastruktur yang menunjang mempunyai jurnal ilmiahnya ilmiah sendiri kare- itu aturan mengejalan 40 % agar dapat menjalankan per- masing-masing. Selama ini, nai jumlah Satjurnal-jurnal itu juga diterbitna masih fakultas di Unsyiah, aturan itu. uan Kredit Seyaitu untuk Soal mekanisme penerbitan kan rutin tiga kali dalam setabaru. ” mester (SKS) prodi/juru- karya ilmiah nantinya, Samsul hun. yang harus san yang menyebut akan dilakukan se“Hanya Fisip (Fakultas --Samsul Rizal-dipenuhi serta mempunyai cara online. Jadi, tinggal me- Ilmu Sosial dan Politik, -red) pembuatan akreditasi A. maksimalkan fungsi Puksi Un- yang belum memiliki jurnal skripsi sebagai syarat kelulu- Untuk prodi/jurusan lain denilmiah sendiri karena masih san sarjana. gan akreditasi di bawahnya, Anggita Rezki Amelia, Muallifah, Al Mukarramah, Bagi Irvan, Jika saja ia akan dijalankan secara bertaDwi Febriansyah Putra mempunyai pilihan, ia lebih hap. “Untuk prodi yang masih memilih akan menolak aturan b a r u , tersebut. Tapi kalau tidak, “kalau pun nantinya akan diterapkan, ya, kita harus siap,” katanya. Lalu, bagaimana pandangan rektorat sendiri mengenai hal ini? Samsul Rizal, yang saat diwawancara DETaK masih berstatus sebagai Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) menyatakan bahwa Unsyiah secara resmi telah menerima pemberitahuan aturan jurnal imiah itu. Ia juga mengatakan Unsyiah menyambut baik aturan baru dari Dikti itu. “Tentunya Dikti mengambil kebijaksanaan ini sebab Indonesia sendiri masih menduduki peringkat terendah dalam menulis di kancah internasional,” ungkapnya. Soal penerapan di Unsyiah, Samsul Rizal mengatakan akan diterapkan secara bertahap, mulai dari program studi (prodi) yang mempunyai akreditasi tertinggi, hingga prodi/ jurusan yang belum terakreditasi. “Yang terpenting ialah membenahi infrastruktur terSurat Edaran Dikti Perihal Publikasi Karya Ilmiah, (Sumber: dikti.go.id) lebih dahulu untuk menunjang kebijakan ini ke depannya.” Lebih kritis dari yang anda duga

detakunsyiah

@ukmpersdetak


DETaK

Sosok

Nuril Annisa

digital-newspaper edisi I/ April 2012

4

Ukir Prestasi Dengan Menulis

Cut Lusi Chairunnisak | DETaK

S

iang itu matahari berada tepat di atas ubunubun. Teriknya membuat orang-orang mencari tempat berteduh dan hanya menyisakan sedikit orang yang berlalu-lalang. “Pemerintah Mahasiswa Universitas Syiah Kuala”, tulisan berwarna hitam yang melekat di papan triplek putih menghiasi dinding ruangan itu. Beberapa kali mahasiswa Unsyiah keluar-masuk ruangan itu, ruangan seluas lapangan basket yang merupakan tempat para politisi kampus melaksanakan tugasnya. Mereka sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara, ‘Aceh Young Voters Education’. “Saya akan menuju ke sana, tunggu sebentar ya!” jawabnya di seberang telepon. Nuril Annisa, begitu nama lengkap perempuan berkulit kuning langsat dengan segudang prestasi yang membuat dirinya begitu dikenal se-antero Unsyiah itu. “Sudah lama menunggu?” tutur Nuril, nama panggilannya yang biasa disapa. Perempuan yang memiliki hobi menulis ini pernah menjadi mahasiswi berprestasi kedua tahun 2010 se-Unsyiah. Tak sampai di situ, ia juga pernah menyandang Best Medical Student Award Fakultas Kedokteran Unsyiah 2011 lalu. Dalam dunia menulis, gadis kelahiran 8 Februari 1990 ini mengaku sudah gemar menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Lebih kritis dari yang anda duga

“Kalau dulu kan cuma nulis-nulis semacam diary saja,” akunya. Namun kegemarannya ini memuncak ketika ia sekolah di Melbourne, Australia. “Awalnya karena di sana saya banyak membuat tugas sekolah, jadi diwajibkan menulis, namun kemudian saya mencoba menulis di blog. Cuma catatan kecil selama saya di sana,” ujar gadis penerima beasiswa Australian International Academy of Education periode 2005 sampai 2007 itu. Nuril yang menjalani profesi sampingan sebagai tentor Bahasa Inggris di Sony Sugema College Banda Aceh ini terus mengasah ilmunya dengan bergabung di komunitas menulis Forum Lingkar Pena (FLP). Terhitung sejak 2008 silam, ia tercatat sebagai salah satu anggota FLP cabang Banda Aceh. Ketekunannya mengenyam ilmu menulis terus menuai keberhasilan, meski kritikan masih sering dialamatkan ke beberapa tulisannya. Tahun 2009, Kamoe Publishing menerima naskah antologi cerpen miliknya, “Rumah Matahari Terbit”. Tulisan pertama yang diterbitkan itu kelak menjadi motivasinya untuk terus menulis. Putri dari pasangan Niswanto dan Mutia ini terus melejitkan gerak penanya, berselang satu tahun giliran “Sebilah Sayap Bidadari” yang menjadi tulisan besar di

sampul antologinya. Nuril juga memiliki antologi cerpen dan puisi yang lain, seperti “Tsunami Kopi”, “Pengantin-pengantin Al-Quds”, dan “Long Distance Friendship”. “Tahun ini harus siap satu buku. Jangan asyik antologi terus, harus ada peningkatan!” katanya penuh semangat. Ketika menulis, Nuril mengaku memiliki kebiasaan sendiri. Ia suka mengkhayalkan hal-hal yang tidak ada di dunia nyata, seperti halnya menulis dongeng. Seperti salah satu cerpen berbahasa Acehnya, “Sebuah Cerita dari Lam Langet” yang berhasil mendapatkan juara 3 Lomba Cipta Cerpen Bahasa se-Aceh. Ia menjelaskan tempat seperti ‘lam Langet’ itu adalah ‘dalam langit’. Tak jarang teman sejawatnya di FLP menggodanya dengan lelucon seperti “kamu itu sudah terjangkit skizofrenia (penyakit gila –red).” Penyakit psikologis yang pengidapnya mampu melihat dan mendengar lebih, “Mereka (temanteman) bilang gitu karena kebiasaan saya yang kalau lagi nulis langsung melambung jauh,” tutur gadis pecinta warna ungu dan merah ini. Kebiasaan lain yang lazim dilakukannya ketika menulis adalah sering “bersemedi” di tepi pantai. “Saya suka mendengar suara ombak, tapi terkadang juga sambil mendengar musik di MP3 (pemutar musik –red),” jawabnya.

Menurutnya, untuk menjadi penulis haruslah gemar membaca dan jangan sungkan untuk memperlihatkan tulisan kita kepada orang lain, bahkan siap menerima kritikan. Meski memiliki banyak kesibukan, latih diri untuk setiap hari menulis. “Walau pun cuma (menulis) status di facebook, karena menulis ini kalau tidak diasah terus, bisa mulai belajar dari awal lagi,” tutur personil grup nasyid Ceudah ini. Sejak mengenal dunia kepenulisan dan kerap mengikuti berbagai perlombaan, Nuril mengaku memiliki sebuah pencapaian terbaiknya. Ia menjadi jawara dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional X, cabang Penulisan Cerpen di Pontianak tahun 2010 lalu. “Saya senang sekali karena sebelum-sebelumnya tidak pernah dapat juara satu. Apalagi ini tingkat nasional,” kenangnya. Namun, gadis yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa PSDM) Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Unsyiah itu saat ini tidak bisa fokus untuk penulisan fiksi semata. Tugas besarnya saat ini adalah menyelesaikan skripsi yang belum juga rampung hingga kini. Baginya, hidup itu harus selalu diisi dengan aktifitas. Lebih baik merangkak daripada diam. Karena intinya satu; bergerak. “Semoga bulan lima nanti udah bisa wisuda,” harapnya dengan sesungging senyum. [] detakunsyiah

@ukmpersdetak


DETaK

Wawancara Eksklusif

digital-newspaper edisi I/ April 2012

5

Denni Iskandar

Konsultan Pendidikan dan Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unsyiah

“Jangan Langsung Memberatkan Mahasiswa!� Anggita Reski Amelia | DETaK

K

eputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) mengenai pemublikasian makalah sebagai syarat bagi mahasiswa S1, S2 dan S3 dalam menyelesaikan studinya hingga kini masih menyisakan berbagai polemik di lapangan. Kontroversi kebijakan yang tertulis dalam surat edaran Dikti itu kian hangat diperbincangkan. Ada yang pro dan tak sedikit pula yang kontra, tentunya dengan argumentasi masing-masing yang bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana pandangan civitas akademika dalam melihat hal ini? Denni Iskandar, konsultan pendidikan dan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unsyiah menjawab hal tersebut dalam wawancara eksklusif bersama DETaK Unsyiah pada Rabu pagi, 14 Maret 2012 di Ruang Kuliah Umum (RKU) III Unsyiah. Berikut petikan wawancaranya. Bagaimana Anda menanggapi keputusan Dikti? Sistem pendidikan tinggi di Indonesia sudah berjalan baik selama ini, di mana pada mahasiswa S1 ditetapkan tugas akhir bernama skripsi, disusul S2 dengan tesis, dan S3 dengan disertasi. Namun realitas di lapangan masih saja memberikan gambaran sisi lain dari tugas-tugas akhir yang bukan hasil karya mahasiswa itu sendiri. Bekerja sama dengan oknum-oknum yang memberi pelayanan penulisan masih saja beredar dan ini sangat mengkhawatirkan sistem pendidikan kita. Disinyalir karya ilmiah itu banyak yang plagiat, maka inilah yang melatarbelakangi kebijakan ini muncul. Untuk apa? Karena dengan dimuat di jurnal maka mudah dideteksi siapa-siapa saja yang melakukakan plagiat dalam tulisan mereka nantinya. Menurut saya, dalam penjabaran teorinya, kebijakan Dikti ini cukup bagus, namun implementasi di lapangandan kontrol kualitas itu masih lemah. Maka perlu ada terobosan seperti kebijakan ini, hanya saja kebijakan Lebih kritis dari yang anda duga

ini belum mampu menyeimbangi infrastruktur dan prasarana yang ada. Bagaimana Anda menilai sikap dari mahasiswa itu sendiri ketika keputusan Dikti dikeluarkan? Menyikapi pro dan kontra di mana terjadi penolakan mahasiswa maka bisa dipahami, di mana kebijakan ini semakin mempersulit mahasiswa karena menjadi syarat kelulusan. Jelas saja hal ini semakin menyuburkan kembali jejak mafia-mafia yang menjadi aktor di balik skripsi dan jurnal ilmiah yang diprakarsai orang lain selain mahasiswa itu sendiri.

bahayakan mahasiswa itu sendiri. Lantas di mana nantinya akan dimuat? Dan berapa banyak yang akan dimuat? Ini menjadi pertanyaan besar dalam benak mahasiswa. Seharusnya Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, -red) memperhatikan hal ini sebelum membuat keputusan. Apakah dengan dikeluarkannya keputusan ini, bisa dikatakan semakin sulit bagi seorang mahasiswa untuk menjadi sarjana? Kembali lagi dengan realitas yang terjadi pada perguruan tinggi yang ada di Indonesia, dari jurnal-jurnal lokal yang dikeluarkan masing-masing perguruan tinggi, di mana masih minim bahkan masih ada yang belum memiliki jurnal. Jika kebijakan ini sudah mampu mencakup pada infrastruktur yang memadai dan menunjang, maka sah-sah saja kebijakan ini dijalankan, bahkan akan sangat berefek baik bagi para mahasiswa untuk giat menulis. Namun, jika kebijakan ini dipaksakan, tetap jalan namun dengan tampilan asal-asalan.

Apakah menurut Anda keputusan ini tidak memberatkan mahasiswa? Dilihat dari segi baiknya jelas keputusan ini bernilai positif. Ini merupakan berita gembira untuk ke depannya dapat melahirkan sarjana-sarjana yang berkualitas. Menurut saya, keputusan ini dapat mencegah tindakan plagiarisme yang semakin mencemari dunia akademik. Dengan ditampilkan jurnal ilmiah, maka bagi siapa saja yang melakukan plagiat dengan sendirinya terbukti oleh sistem yang bekerja. Namun perlu diketahui Harapan Anda ke depan terkait kepuhal ini masih menjadi momok menakutkan tusan ini? bagi mahasiswa jika menjadi syarat keluSaya berharap keputusan ini jangan langlusan sarjana kalau tidak didukung realitas sung memberatkan mahasiswa. Jika dinilai yang ada di lapangan. memang keputusan ini bernilai positif, artinya niat pemerintah untuk memperbaiki Bagaimana dengan kesulitan menulis sistem pendidikan tinggi di Indonesia sanjurnal ilmiah itu sendiri? gatlah baik. Ini berita bagus, namun lagiPembuatan artikel jurnal ilmiah tidaklah lagi pemerintah harus bisa melihat ke lasulit, karena pada dasarnya ialah mengubah pangan di mana masih terdapat kekurangan cara penyampaian dari skripsi ke format ar- sana-sini yang mana menjadi penghambat tikel yang lebih singkat dan padat. Apalagi dalam menjalani kebijakan ini. jika ditinjau didukung dengan kurikulum yang mencan- dari Unsyiah sendiri, saya berharap rektor tumkan cara pembuatan jurnal ilmiah, ten- Unsyiah segera memastikan bahwa semua tunya semakin membantu mahasiswa dalam prodi dalam waktu cepat akan menghasilkan penulisan jurnal nantinya. Nah, yang jadi jurnal, sehingga Unsyiah menjadi mapan persoalannya, apakah jurnal ilmiah nantinya dalam menerbitkan jurnal ilmiah ke depanmerupakan cara penyampaian dari skripsi nya dan ini merupakan langkah yang baik atau tidak? Jika tidak, maka ini akan mem- untuk kebaikan mahasiswa pastinya. [] detakunsyiah

@ukmpersdetak

Jurnal Unsyiah, Siapkah Unsyiah?  

Digital Newspaper UKM Pers DETaK Unsyiah

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you