Issuu on Google+


Segenap Pengurus Dan Pengelola Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang MENGUCAPKAN

Selamat atas diraihnya gelar Strata 1 (S 1) kepada kakanda dan Ayunda:

m

Mat A

I

Pd. in, S.

alina

Nov

.I

, S.H Onsy

an H

Lukm

Sos.I

, S. akim

I

.Sos.

to, S Irwan

Selamat menempuh hidup baru kepada:

Lukman Dan Siti Alfiatun Hasanah, S.Pd.I

Feri Setyawan, S.Sos.I dan Diah Oktarini, S.Pd.

Mastura Alkaf, S.H.I dan H.Taufik Rahim, ST

Ehdi Amin, S.Pd.I dan Sapitri, S.Pd.I

Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

2

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Kado kilat Ukhuwah II Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi. Yuk, ikuti tips-tips berikut untuk meningkatkan motivasi belajar kita:

3. Belajar Dari Internet

1. Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar. Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar. Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil

Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri.

5. Cari Motivator

Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahkan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.

2. Belajar Apapun Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-lainnya.

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.

4. Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.

3


Surat Pembaca

Kenyamanan Rusunawa Kurang Assalamu’alaikum Wr. Wb Sebelumnya saya minta maaf, saya hanya mewakili mahasiswa Bidik Misi ingin menyampaikan kejanggalan ataupun keluhan kami kepada pihak Rektorat IAIN Raden Fatah Palembang terhadap keadaan Rusunawa yang kami tempati ini. Saya merasakan tidak adanya perhatian yang baik dari pihak rektorat ataupun pihak yang mengurusi mahasiswa Bidik Misi. Baik itu dalam bidang peraturan, penjagaan keamanan, maupun dalam bidang kebersihan. Tidak jarang seorang satpam keamanan yang kesehariannya hanya asik-asik saja, dan petugas kebersihan yang penuh dengan tanda tanya besar. Rusunawa ini juga sering ditempati oleh guru-guru diklat, yang sebenarnya tidak ada transparansinya bagi kami, dan bahkan tidak jarang mengganggu ketenangan kami. Dalam kesempatan yang baik ini, saya dan teman-teman hanya ingin menyampaikan bahwa kami membutuhkan perhatian yang dapat menunjang kesuksesan kami, karena menurut saya, perhatian dan penjagaan guru-guru diklat lebih diutamakan dibandingkan dengan penduduk tetap rusunawa ( Mahasiswa Bidik Misi ). Semoga pihak rektorat dapat merespon secara positif keluhan kami, sehingga terwujudnya mahasiswa Bidik Misi yang memiliki kualitas yang lebih dari mahasiswa lainnya. Wassalamu’alaikum

*Imron Mahasiswa semester 3 Adab / SKI

Kembali ke Jati diri Asalamu’alaikum Wr.Wb. Sebelumnya saya berterimakasih kepada LPM Ukhuwah yang telah memuat pendapat dan unekunek saya dalam majalah kita ini. Sebagai kampus Islam yang memiliki kaderkader yang akan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan sudah selayaknya IAIN memiliki generasigenerasi Islam, yang tidah hanya paham dengan urusan masing-masing. Islam bukan hanya sekedar label dan jilbab hanya dijadikan sebagai formalitas, namun harus benar-benar dimaknai karena hal itu sendiri adalah tanggung jawab yang harus dijaga oleh kita semua guna untuk menjadikan IAIN ini benar-benar menjadi kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, tidak seperti sekarang ini para mahasiswa khususnya kaum wanita banyak yang tidak memakai kode etik dan tata tertib mahasiswa, Saya hanya berharap kepada mahasiswa IAIN Raden Fatah agar tidak melupakan statusnya sebagai mahasiswa yang bercirikan Islam.

*Penti Mahasiswa semester 3 Dakwah / KPI

4

Saatnya, Talk Less

Do More

Saya hanya satu dari sekian banyak mahasiswa yang ada di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang ingin bertanya kepada Rektor. Semuanya sudah tahu kalau saat ini rektor kita baru dilantik untuk kedua kalinya. Kemudian adanya perubahan dalam birokrasi IAIN Raden Fatah, seperti perubahan beberapa pembantu rektor dan lain sebagainya. Saya hanya ingin meminta kepastian dari pihak rektor tentang beberapa hal, yaitu Bagaimana dengan nasib mahasiswa di beberapa Program Studi yang belum mendapat akreditasi ? Kemudian kapan IAIN akan menjadi UIN ? akankah selamanya itu hanya menjadi kabar burung ? Semoga, bapak Rektor kali ini tidak hanya banyak bicara, melainkan banyak bekerja dan memberikan yang terbaik untuk IAIN Raden Fatah yang saya cintai ini.

* M. Anas Tarbiyah / PAI “08

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Beranda

Punggawa Muda Yang Berkarya R

asa letih dan penat masih terasa ketika harus liputan pada saat berpuasa. Hanya bisa menahan dahaga, dan amarah kala menemui narasumber yang enggan memberi komentar atas pertanyaan yang dilontarkan oleh punggawa muda Ukhuwah. Ya, punggawa muda. Wajar jika saya menyebutnya punggawa muda, hal ini dikarenakan reporter majalah Ukhuwah edisi ke-23 ini rata-rata baru menginjak semester tiga dan lima, semester yang masih belia, labil, minim pengalaman dalam hal wawancara, dan sangat rentan. Namun, meski kondisi punggawa muda Ukhuwah begitu, nampak satu hal yang dapat meredam itu semua. Ialah semangat baru yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Semangat Ukhuwah namanya. Meski kondisi LPM Ukhuwah yang pada saat itu sedang tidak stabil karena mengalami yang namanya perpanjangan kepengurusan, hal ini tidak menjadi masalah yang serius. Karena dengan adanya Semangat Ukhuwah dari punggawa muda. Tak lupa pula, kami mengucapkan syukur Alhamdulillah atas segenap rahmat dan karunia-Nya, yang selalu memberikan kami kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan Majalah Ukhuwah Edisi XXIII dan dapat mempersembahkannya kepada Sobat Ukhuwah (pembaca majalah Ukhuwah). Sama seperti majalah-majalah Ukhuwah sebelumnya, Majalah Ukhuwah edisi XXIII kali ini masih tetap mempertahankan rubrik-

rubrik sebelumnya. Seperti laporan utama (LapuT), laporan Khusus (lapsus), laporan daerah (lapda), laporan perjalanan (lapjan), berita seputar kampus yang terangkum dalam rubrik Institusiana, dan rubrik artikel dan opini yang merupakan kiriman dari mahasiswa, dosen, ataupun pekerja sosial yang mengkritisi keadaan negeri ini, ataupun kota Palembang sekarang. Sebagai pemanis, kami tetap menghadirkan rubrik kreasi yang berisikan cerita pendek (cerpen), puisi, anekdot. Selain itu, agar kita lebih mengenal budaya-budaya apa saja yang ada di Sumatera Selatan, kami menghadirkan rubrik budaya dan pentas. Tidak baik rasanya jika kabar di lingkungan sekitar kita tidak dimuat, oleh karena itu ada rubrik Lingkungan yang mengupas tentang kondisi lingkungan sekitar kota Palembang. Dampak pra dan pasca sea games XXVI yang akan diselenggarakan di kota Palembang menjadi tema laput dalam majalah Ukhuwah edisi ke-23 ini. Disertai dengan hasil pengamatan dari pengamat ekonomi yang dikemas

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

dalam rubrik wansus. Untuk lapsus, kami mengangkat tema masa depan mahasiswa beberapa jurusan di IAIN Raden Fatah yang sampai sekarang masih belum mendapat akreditasi. Kondisi mistis dari pulau sungsang yang terkenal dengan sebutan Segitiga Bermuda Sumatera Selatan, terletak di Kabupaten Banyuasin membuat kami tertarik untuk menjadikan ini laporan daerah. Demikian sekilas isi dari majalah Ukhuwah edisi ke-23 kali ini kami hadirkan ke ruang baca para Sobat Ukhuwah. Kepada Punggawa Muda Ukhuwah, saya ucapkan terimakasih yang telah dengan susah payah, harus bolak balik menemui narasumber, yang telah ikhlas mengucurkan keringatnya demi selesainya pembuatan majalah Ukhuwah edisi ke-23 ini. Semoga perjuangan Punggawa Muda akan menjadi awal yang baik bagi lembaga yang kita cintai ini. Tetap berkreasi Punggawa Muda. Yakin, Pasti, dan Akan menjadi lebih baik dari hari ini.

n Redaksi

5


Daftar Isi

Kado Kilat Ukhuwah Surat Pembaca Beranda Daftar Isi Editorial Karikatur Laporan Utama Wawancara Khusus Profil Kontak Alumni Kolom Cerpen Artikel Opini Institusiana Science Syiar Resensi Laporan khusus Lingkungan Artikel Pentas Laporan daerah Budaya Laporan Perjalanan Puisi Anekdot

:3 :4 :5 :6 :8 :9 : 10 : 16 : 20 : 21 : 23 : 25 : 28 : 32 : 38 : 44 : 46 : 48-56 : 49 : 51 : 54 : 57 : 59 : 62 : 65 : 68 : 70

Laporan Utama

Lahan Hijau menjadi korban kota Internasional

BOX REDAKSI Majalah Ukhuwah edisi 23 DITERBITKAN OLEH: Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang periode 2010-2011 PEMIMPIN UMUM: Raden Marsofyan PEMIMPIN REDAKSI DAN KOORDINATOR LIPUTAN: M. Anasrul Dwi Novriyansah EDITOR: Iwan Charistian, Erick Rahman, Dwi Latifah REPORTER: Nova, Habibi, Ghufron, Latifah, Heni, Mayang, Fauzan, Sri Rizkia, Rizki Fauziani, Sofyan, Uwie, Dwi Indarwati, Rizky Dwi Tya, Azizah, Anas, Suparmanto, Devi, Kurnia, Shindy, fuspita Sari, Doni, Imam, Bagus, Aan, Andika, Puji, Iwan Rosadi, Annisa, Widi, Efrianto. LAYOUTER: Suparmanto FOTOGRAFER: Fauzan, Anas, Suparmanto KARIKATUR: Uwie KEUANGAN DAN USAHA: Nurazizah, Habsa, Habibi IKLAN DAN DISTRIBUSI: Andika Saputra dan Sepri Yunita Struktur Pengelola Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang Periode 2010-2011. Pemimpin Umum: Raden Marsofyan Pemimpin Litbang: Imam Mahfuz Ali Pemimpin Redaksi: M. Anasrul Dwi Novriyansah Pemimpin Usaha: Nur Azizah Sekretaris Umum: M. Ghufron Pelaksana Litbang: Aan Triansyah, Nova Yulita, Winda Astuti Redaktur Pelaksana: Iwan Cheristian, Heni Yulianti, Iwan Rosadi Redaktur Berita: Erick Rahman, Annisah, Dwi Latifah Redaktur Online: Bagus Kurniawan Layouter: Ridiansyah Fotografer: Suparmanto Pelaksana Keuangan: Nyayu Ummi Habsah Pelaksana Usaha: Habibi M. Aridi, Yuyun Isabela Koordinator Iklan Dan Distribusi: Sefri Yunita, Andika Saputra Koordinator Rumah Tangga: Efriyanto, Sri Riskia, Riski Fauziah Reporter: M. Alfan, Shindi Rahayu, Eka Hardiyanti, Dwi Listianti, Fuspita Sari, Mutia Tanseba Andani, Mayang Sari, Dwi Indarwati, Sri Asmawati, Siti Khodijah, Fauzan, Mislina, Widi Widyawati, Risky Dwi Tya, Kurniawati, Puji Mustika Sari, Ma’arij A’la, Devi Selvhia Sari, Doni Maryanto

Redaksi menerima tulisan dalam bentuk artikel, opini, resensi, puisi dan lain sebagainya. Tulisan yang masuk ke meja redaksi menjadi hak sepenuhnya Redaksi.

6

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang Menggucapkan Selamat Kepada Indonesia Atas Prestasinya Menjadi Juara Umum di SEA Games XXVI Palembang-Jakarta

Segenap Pengurus dan Pengelola Lembaga

Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah Mengucapkan

Selamat atas Dilantiknya : Prof. DR. H. Aflatun Muchtar, MA

Sebagai Rektor IAIN Raden Fatah Palembang Periode 2011-2016 Semoga IAIN Raden Fatah Palembang akan jauh lebih baik. UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

7


Editorial

Dibalik Momen Besar Tepat pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, semua mata dunia akan tertuju pada kota pempek Palembang, dikarenakan akan menjadi tempat berlangsungnya upacara pembukaan pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara, SEA Games ke-26. Menjelang itu, tampak perubahan yang sangat positif dari sektor pembangunan dan ekonomi. Kita lihat dibangunnya beberapa venue yang menjadi tempat penyelenggaran olahraga, kemudian dibangunnya hotel-hotel berbintang yang dapat dijadikan tempat menginap para turis yang akan melancong ke Palembang nanti. Selain itu, nampak perubahan juga dirasakan di sektor perekonomian, karena dengan adanya perhelatan akbar seperti SEA Games yang diselenggarakan di Palembang, akan memacu sendi perekonomian ke arah positif, Palembang akan lebih dikenal dunia, suvenir-suvenir khas yang menjadi target pelancong akan laris manis terjual, dan Palembang akan benarbenar menjadi kota Internasional. Namun, dibalik itu semua, kita melupakan beberapa hal atau beberapa aspek. Yaitu, dalam bidang ekonomi, akankah benar-benar mampu menyejahterakan rakyat, sedangkan kita ketahui, pada pelaksanaan SEA Games nanti, hanya orang-orang tertentu saja dan pengusaha-pengusaha besar saja yang mampu ikut andil, sedangkan Unit Kegiatan Masyarakat (UKM) mikro tidak akan mampu bersaing dengan pengusahapengusaha suvenir dan lain-lain yang sudah ternama. Dari aspek sosial, belum ada kejelasan dari pemerintah tentang penertiban para gembel dan pengemis. Sedangkan pelaksanaan SEA Games sudah hanya menghitung hari. Akankah para gembel dan pengemis diasingkan keluar kota Palembang. Tentu kita tidak mengharapkan hal seperti ini. Permasalahan lainnya yang tidak kalah penting yaitu mengenai pembangunan. Lahan hijau di Palembang kalau kita amati mengalami penyusutan yang begitu cepat. Semua disulap menjadi bangunan yang megah nan tinggi. Tanpa memikirkan dampak yang disebabkan oleh penebangan lahan hijau tersebut. Itulah kenapa, kota Palembang sekarang semakin panas

8

dan terasa gersang. Hal ini dikarenakan lahan hijau yang ada di kota ini sudah berkurang. Pembangunan tanpa memikirkan lingkungan sekitar tentu akan dapat berdampak negatif bagi kita sebagai warga. Tidak ada lagi penahan kalau terjadi banjir, tidak ada lagi lahan yang menjadi Paru-Paru kota, dan tidak akan ada lagi pemandangan hijau yang dapat menyegarkan mata kita. Hal ini sangat miris sekali, ketika kota Palembang sudah menuju Kota Internasional, tetapi ada beberapa hal yang menjadi korban dari metamorfosa tersebut. Kami hanya berharap, agar sebelum pelaksanaan SEA Games XXVI nanti di Palembang pemerintah benar-benar memikirkan, tidak hanya memikirkan keuntungan satu pihak saja tetapi juga memikirkan kesehjateraan rakyat, karena diadakannya perhelatan akbar ini tentunya ingin memajukan kesehjateraan rakyat.

n Redaksi

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Karikatur

Uwie

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

9


Laporan Utama

Alih-Alih menjadi Kota Internasional - Lahan Hijau menjadi korban Palembang-Ukhuwah, terpilihnya Palembang, Sumatera Selatan menjadi salah satu tuan rumah pelaksanaan SEA Games XXVI ternyata tidak semua warga menilai positif dengan hal itu. Ada beberapa alasan dan faktor yang menyebabkan warga menilai negatif dengan pelaksanaan SEA Games nanti salah satu diantaranya Lingkungan Hijau. Wenny, salah satu mahasiswi IAIN Raden Fatah mengaku perihatin dengan lingkungan hijau yang ada di kota Palembang. Menurutnya kota Palembang tidak seperti dahulu yang cuacanya sangat panas seperti sekarang yang kita rasakan, itu semua dikarenakan lingkungan hijau di Palembang semakin mengalami pennyusutan akibat pembangunan yang tidak teratur dan cenderung tanpa adanya Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Ia juga menambahkan tidak seharusnya lingkungan hijau menjadi korban dari maraknya pembangunan di Palembang. “Bukankah lingkungan hijau sering disebut sebagai paru-paru kota, apabila paru-paru kota sudah tidak ada lagi, bagaimana kota itu akan hidup. Artinya, kita memerlukan paruparu kota kembali dengan kapasitas yang cukup luas, agar rotasi udara di Palembang tidak sekotor sekarang.”Tambahnya. Hal senada juga diungkapkan Manda, salah seorang warga Palembang yang berkediaman di Jalan Simanjuntak, Pahlawan. Dia juga menambahkan meskipun kota Palembang sekarang sedang menuju kota bertaraf Internasional, alangkah baiknya jika lingkungan hijau seperti halnya taman dan lain-lainnya tidak menjadi korban dari pembangunan-pembangunan. “Karena, tidak ada gunanya menjadi kota Internasional jika malah membuat pelancong tidak nyaman dengan cuaca yang panas akibat tidak adanya paruparu kota.” Tuturnya menambahkan. Dia juga menambahkan, ada beberapa kota di luar negeri yang tetap mempertahankan ruang hijaunya seperti Selandia Baru, Jepang, dan lainnya terbukti kota-kota tersebut masih tetap digandrungi oleh pelancong. Anwar Sadat, Ketua Wahana Lingkungan Hijau

10

Indonesia (Walhi) provinsi Sumatera Selatan ditemui di ruang kerjanya (16/09) mengatakan realitasnya llingkungan hidup SUMSEL itu sekarang bisa dikatakan dalam kondisi yang memperihatinkan. Misalnya dalam sektor kehutanan, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang keduanya sama-sama berada dalam kondisi yang memperihatinkan karena beralihnya fungsi akibat berbagai pembangunan, serta wilayah perkotaan khususnya kota Palembang yang saat ini sangat minim sekali ruang terbuka hijau akibat gencarnya pembangunan, dan rawa-rawa yang selalu ditimbun untuk pembangunan yang ketika turun hujan dapat berakibat banjir. Lebih lanjut Anwar Sadat menambahkan bahwa pembangunan seperti pembangunan Palembang Sport and Convention Center (PSCC) dan pembangunan Undermall tidak memiliki AMDAL yang jelas. “Berdasarkan mandat dari perundang-undangan No 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, menyatakan Pemerintah Daerah (Pemda) wajib menyiapkan lahan hijau terbuka sebesar 20 % yang merupakan ruang terbuka hijau publik, tetapi saat ini di Palembang, ruang terbuka hijau hanya tersisa sekitar 3 % saja dari luas kota Palembang yang mencapai 40.000 hektare, dan itupun masih terus berkurang karena pemanfaatan pembangunan. Demikian pula di sektor rawa yang juga mengalami penyusutan dan beralih fungsi akibat kepentingan private baik perusahaan besar ataupun kecil misal untuk kepentingan SEA Games yaitu pembuatan venue. Sehingga membuat sektor rawa dari 22.000 hektare rawa yang tersisa berjumlah 6500 hektare. Menjadi soal karena tidak ada kejelasan dari pemerintah mengenai rawa yang dikonservasi atau dilindungi karena sebagai daerah resapan air. Ini yang seharusnya tidak boleh berlih fungsi.” Ungkap Anwar Sadat. Hal yang sama juga ditakutkan oleh Roni (nama samaran) salah satu warga Jakabaring. Tambahnya, jika lahan rawa yang ada di Jakabaring tetap dibangun untuk SEA Games, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi banjir cukup besar di Jakabaring akibat daya serap air yang semakin berkurang akibat pembangunan menjelang SEA Games 2011 nanti. “Apalagi pelaksanaan SEA Games nanti pada

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Laporan Utama

Kolam Retensi GOR Sriwijaya yang merupakan ruang terbuka hijau sebelum dibangun PSCC bulan November yang notabenenya sudah memasuki musim hujan, akan sangat miris dan memalukan jika pelaksanaan SEA Games nanti justru terjadi banjir di Jakabaring, dan membuat tidak nyaman mulai dari atlet, official, bahkan penonton yang ingin menyaksikan langsung perhelatan akbar tersebut.” Tambahnya. “Saya hanya bisa berharap, semoga pasca pelaksanaan SEA Games nanti, Jakabaring tidak menjadi kota yang mendapat julukan kota banjir karena keseringan banjir.” Harapnya.

- Gepeng masih menghantui Palembang Meski kita selalu mendengar wacana Palembang bermetamorfosa menjadi kota Internasional, ternyata masih ada beberapa tradisi negatif yang masih terpelihara. Masih bertebarannya gembel dan Pengemis di jalan protocol Palembang. Wenny, mahasiswi IAIN Raden Fatah ketika dikonfirmasi di rumah

kosnya menyatakan masih ada nya Gepeng di Palembang akan berdampak buruk terhadap pencitraan kota Palembang di mata pelancong yang akan hadir menonton SEA Games XXVI nanti. Dia juga menambahkan, akan lebih baik jika pemerintah dalam waktu dekat ini gencar untuk melakukan penertiban terhadap Gepeng agar ketika pelaksanaan SEA Games nanti para GEPENG sudah masuk panti dan lebih mudah bagi pemerintah untuk mengontrol para GEPENG tersebut. Dalam pengamatan Ukhuwah pada (30/09) kemarin, masih tampak Gepeng di pinggri-pinggir jalan dekat Masjid Agung, di halte-halte yang tidak terpakai dan juga di perempatan lampu merah Rumah Sakit Charitas. Mulai dari usia anak-anak, sampai usia senja. Sebagian dari mereka mengaku memang tidak memiliki tempat tinggal dan juga tidak memiliki keluarga. Oleh karena itulah, mereka menjadi seperti itu. Hasbullah Tuwi, ketua Dinas Sosial kota Palembang,

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

saat ditemui Ukhuwah (03/08) di ruang kerjanya mengatakan untuk masalah penertiban Gepeng itu sendiri dari pihak Dinas Sosial sudah bertindak tegas kepada mereka dengan cara razia didampingi oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), Polisi, dan Polresta setiap hari razia, itu pun dilaksanakan secara rutin sebelum menjelang SEA Games nanti. “Saat ini para Gepeng yang terjaring razia hanya dibina, diberi nasehat agar tidak lagi kembali ke jalan. Para gepeng tersebut didata dimana tempat tinggal dan siapa orang tuanya. Setelah didata para Gepeng tersebut terutama yang berusia di bawah umur diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi kesalahannya. Kemudian mereka dikembalikan ke orang tua mereka masingmasing serta disaksikan oleh ketua RT setempat dan lurah.” Ungkap Hasbullah. Hasbullah mengaku, memang saat ini penanganan masalah anak jalanan, gelandangan dan pengemis (gepeng) belum berjalan

11


Laporan Utama

semaksimal mungkin karena hingga saat ini Metropolis belum mempunyai tempat pembinaan khusus gepeng seperti panti sosial Center untuk gepeng di Bambu Apus, Jakarta. Ditambahkan Hasbullah, sejumlah penertiban yang dilakukan tersebut sebagai target jangka pendek Pemerintah Kota dalam rangka menghadapi SEA Games XXVI pada November ini. “Dengan adanya razia rutin, sepanjang jalan ruas utama dan venues olahraga bakal dipastikan bebas dari gepeng, jadi jangan sampai saat acara SEA Games berlangsung nanti, masih banyak gepeng yang berkeliaran, itu tentu bakal memberikan kesan kurang baik bagi kita (Palembang) di mata dunia luar.� Tukasnya.

Atas : Tunawisma di Palembang yang duduk tergulai di dapan sebuah pagar. Tengah: Pengemis di Palembang habis mencari rejeki dengan mengumpulkan barang bekas. Bawah: seorang gemebl yang sedang tidur di pinggir jalan.

n Tim Laput

Manusia di Mata Tuhan adalah sama, yang membedakan hanyalah Iman dan Taqwa By: Ukhuwah ‘11

12

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Laporan Utama

SEA Games XXVI Palembang, Sukses dengan Catatan

Meskipun sudah dikatakan sukses, ternyata SEA Games XXVI Palembang dan Jakarta menyimpan tinta hitam dibalik tinta emas yang terukir indah dalam catatannya. Sukses dengan catatan, itulah SEA Games XXVI.

SEA Games XXVI, Sukses dengan Catatan -

Palembang-Ukhuwah, namun dibalik kesuksesan itu semua, terdapat sejumlah catatan penting yang berharga bagi Indonesia dalam pelaksanaan event dua tahunan ini. Yuni, siswi dari salah satu sekolah yang ada di Palembang yang menyaksikan pertandingan SEA Games secara langsung di Jakabaring Sport City (JSC). Menurutnya, terdapat pemandangan yang tidak mengenakkan ketika dia datang langsung ke JSC, antara lain Wisma Atlet terlihat seperti rumah susun, hal itu karena para atlet menjemur pakaiannya di jendela kamar, bahkan ada juga yang memasang bendera salah satu negara peserta SEA Games di Jendela. Selain itu, masalah SEA Games tidak hanya sampai di sini, tepatnya pada hari Jumat (18/11) lalu, ratusan volunteer (salah satu sebutan panitia SEA Games, red) melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Inasoc provinsi Sumatera Selatan (sekarang Bank SumselBabel). Aksi unjuk rasa tersebut dilatarbelakangi oleh adanya sms gelap yang menyatakan bahwa para volunteer diberhentikan sebelum pesta olahraga SEA Games usai pada 22 November.

Eka, salah satu volunteer mengaku terkejut dengan adanya sms gelap tersebut. Menurutnya, bukankah kontrak kerja mereka sampai tanggal 23 November, tapi kenapa hanya sampai hari ini (18//11). Fikri, salah satu volunteer yang ikut aksi tersebut mengatakan, meskipun tidak ada hitam di atas putih para volunteer kerja, tapi secara lisan ketika dalam pelatihan volunteer, Liason Officer (LO) dan Workforce satu hari di Gedung pertemuan asrama haji, mengatakan bahwa kontrak kerja para panitia sampai tanggal 23 November. “Tetapi, faktanya volunteer pada hari ini dinyatakan berhenti kerja melalui sms yang saya terima�. Ungkapnya sambil menunjukkan isi sms kepada crew Ukhuwah. Setelah bertemu dengan Maryama, Sekretaris Inasoc Sumsel, Yogi, koordinator aksi mengatakan, bahwa pihak Indonesia SEA Games Organization Comitte (Inasoc) tidak tahu sama sekali mengenai pemberhentian ratusan volunteer sebelum tanggal 23 November, terlebih pemberhentian tersebut melalui sms. Yogi juga menambahkan, yang ditakutkan rekan-rekan volunteer ini yaitu akan terjadi indikasi korupsi di KONI Sumsel, karena pihak Inasoc sendiri tidak tahu mengenai pemberhentian kerja para volun-

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

teer tersebut. “Bayangkan, jika volunteer dalam satu hari menerima upah sebesar Rp 200.000,-, dikali lima hari dari kami diberhentikan, alhasil totalnya mencapai Rp 1.000.000,per satu volunteer, dikali total volunteer yang mencapai satu ribu sekian, maka akan mengahasilkan uang berjumlah Rp 1 Milyar lebih, nomimal yang cukup besar. Itulah kenapa pada hari ini (18/11) kami berdemo di depan kantor Inasoc�. Ungkap salah satu volunteer yang tidak mau disebut namanya. Berbeda lagi dengan Dedi Gumelar, ketua Komisi X DPR RI yang dikutip dari salah satu surat kabar online. Ia mengatakan, keberhasilan prestasi yang diraih Indonesia dalam ajang SEA Games 2011 lalu, patut diapresiasi oleh semua pihak. Dia menilai, di balik itu, masih terdapat catatan terhadap penyelenggaraan yang dilihat masih terdapat banyak beberapa kekurangan. Dedi mencontohkan, adanya korban meninggal dunia pada final cabang olahraga sepakbola SEA Games 2011 antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Gelora Bung Karno, Senin (21/11). Menurutnya, hal itu sangat disayangkan, karena ini adalah ajang internasional yang seharusnya sudah dipersiapkan secara matang, termasuk masalah penonton.

13


Laporan Utama Hal lain yang menjadi sorotan, adalah masalah pada penyelesaian venues (tempat pertandingan, red) pertandingan, yang masih terdapat kekurangan. Dedi mengatakan, catatan itu cukup penting, karena venues dayung di Cipule hingga berakhirnya event dua tahunan ini, masih belum rampung. Venues renang di Palembang, juga ditemukan terdapat tembok yang retak, dan belum diperbaiki hingga saat ini. Selain venues, catatan juga terdapat di masalah transportasi di Jakabaring, Palembang. Dia melihat, usaha pemerintah atau Inasoc untuk menciptakan udara yang bebas polusi, dengan memakai mobil berjenis BBG (bahan bakar gas), tidak diimbangi dengan kebijakan yang dibuat, yakni dengan terbatasnya mobil BBG tersebut. Dedi juga mengatakan, untuk menghindari kejadian serupa, jika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah turnamen internasional, hal yang harus dilakukan adalah, membuat perencanaan anggaran yang baik. Menurutnya, pada pagelaran SEA Games lalu, kendala anggaran sangat mempengaruhi jalannya penyelenggaran, seperti pembangunan venues. “Kedepan harus diperbaiki masalah anggaran tersebut, dan tidak lagi dapat mengandalkan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), karena memang sudah terencana waktunya, sehingga tidak dapat menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada.” Imbuhnya. Dina, salah satu warga Palembang mengaku tetap bangga dengan prestasi yang ditorehkan kota Palembang sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara SEA Games XXVI. “Meski di sana-sini banyak kekurangan dan kritikan, tetapi saya tetap bangga, karena Palembang adalah kota pertama di luar

14

Pulau Jawa yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan event Internasional seperti SEA Games XXVI ini. Semoga akan ada event Internasional yang lebih besar lagi di Bumi Sriwijaya nanti untuk ke depannya.” Tambahnya. - Nasib

JSC, seharga 2,2 Trilyun pasca SEA Games Palembang-Ukhuwah, pasca berhasilnya kota Palembang sebagai tuan rumah pelaksanaan SEA Games XXVI, disertai tempat upacara pembukaan dan penutupan, membuat nama Palembang terkenal, baik di kancah nasional maupun internasional. Jakabaring Sport City (JSC) menjadi sorotan dunia selama pelaksanaan SEA Games XXVI. Padahal sebelumnya, Jakabaring hanyalah sebuah rawarawa. Namun, berbeda dengan sekarang, Jakabaring berubah menjadi kota olahraga yang ada di Sumatera Selatan. Hal itu karena adanya event nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 lalu, dan event internasional SEA Games XXVI pada November lalu. Lantas, bagaimana nasibnya pasca SEA Games. Pemprov Sumatera Selatan, seperti yang dikutip dari salah satu media online mengklaim, ada perencanaan bagi masa depan JSC. Termasuk masalah pembiayaan. Alex Noerdin, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan mengatakan, sangat serius dalam mengerjakan JSC, dimulai dari tahap pembangunan yang hanya memiliki waktu 11 bulan sampai ke pembiayaan yang mencapai Rp 2,2 triliun lebih untuk membangun JSC. “Sebesar Rp 1,6 triliun kami peroleh dari pihak ketiga dengan beragam bentuk seperti hibah, CSR, dan lain-lain."

Ungkap Alex Noerdin. Untuk pemeliharaannya saja, diperkirakan dana yang dibutuhkan sebesar Rp 4-5 miliar setiap bulannya. "Itu masih dalam proposal dan akan kami coba kurangi anggarannya. Pemprov Sumsel akan membagi-bagi pendanaan tersebut, sehingga yang dibebankan ke APBD hanya sedikit saja." Tambah Alex Noerdin. Pemprov Sumsel juga sudah mempersiapkan rencana jangka panjang untuk JSC yang sudah dipikirkan sebelum tempat tersebut di bangun. Salah satunya dengan menjadikan JSC sebagai Sport University. "Master plan sudah ada dan pembangunan saranan tambahan juga sudah berjalan. Diperkirakan akhir tahun 2013 Sport University tersebut sudah mulai menerima mahasiswa baru," jelas Gubernur. Selain menjadi Universitas Olahraga, Alex mengaku hingga saat ini JSC sudah mendapat tawaran untuk menggelar event internasional. Yang terdekat adalah Kejuaraan Dunia Sepak Takraw Super Series pada 16-19 Februari 2012 mendatang. "Selain takraw, kami sudah mendapat tawaran untuk menggelar event sepatu roda dan ski air. Padahal kami belum menjual atau melakukan penawaran." papar Alex. Setelah mendapat kepercayaan menggelar SEA Games 2011, target utama Alex selanjutnya adalah menjadikan Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2019. "Pada 2018 rencananya kami akan melakukan bidding untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2019. Kami serius melakukan bidding, dan saya rasa Palembang mampu menjadi tuan rumah." Tambah Alex.

n Tim Laput

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Laporan Utama

Daftar Perolehan Medali SEA Games XXVI (Jakarta-Palembang) Negara Indonesia Thailand Vietnam Malaysia Singapura Filipina Myanmar Laos Kamboja Timor Leste Brunai Darussalam

Emas 182 109 96 59 42 36 16 9 4 1 0

Perolehan Medali Perak 151 100 92 50 45 56 27 12 11 1 4

Perunggu 143 120 100 81 73 77 37 36 24 6 7

Total 476 329 288 190 160 169 80 57 39 8 11

Miniatur ciri khas setiap negara peserta SEA Games XXVI

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

15


Wawancara

Palembang

Butuh Ruang Terbuka Hijau Bagaikan durian runtuh, itulah yang dirasakan seluruh warga SUMSEL pasca terpilihnya Sumatera Selatan menjadi tuan rumah pelaksana SEA Games XXVI. Kota palembang sontak menjadi perhatian, tidak hanya dari kasus wisma atlet yang selalu kita lihat di televisi-televisi, tetapi juga dari berita-berita lainnya, seperti dari sektor pembangunan dan perekonomiannya. Palembang disulap menjadi kota Internasional. Terbukti semakin ramainya gedung-gedung pencakar langit yang menempati tanah Palembang. Namun, apakah pembangunan tersebut sudah benar adanya, dan tidak pernah melupakan asas-asas mengenai dampak lingkungan. Apakah sudah melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebelum melakukan pembangunan ? Lantas berapa lahan terbuka hijau yang tersisa ? Berikut, wawancara ekslusif Ukhuwah dengan Anwar Sadat, Ketua Umum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Selatan, ditemui di kantor Walhi pada 16 September 2011

Apakah pembangunan yang selama ini dilakukan menyalahi aturan lingkungan hidup ?

Anwar Sadat Ketua WALHI SumSel

16

Pada dasar dan spiritnya, pembangunan dimaknai upaya kolistik terpadu yang ditujukan dalam mensejahterakan masyarakat, kemudian dalam konteks ekonomi lingkungan hidup juga terjaga eksistensi keberadaannya. Merujuk pada esensi terhadap dua hal yang menjadi misi pembangunan tersebut, kemudian kita lihat dengan realitas yang ada konteks pembangunan Palembang Sumatera Selatan dalam tatanan itu memang kontradiktif misalnya pada aspek penyejahteraan masyarakat, bisa kita tinjau dengan merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2010 yang menunjukkan SUMSEL masuk dalam salah satu provinsi termiskin dari 10 provinsi yang ditetapkan. Artinya, Sumsel yang notabenenya provinsi yang kaya akan sumber daya alam justru masuk dalam 10 provinsi termiskin. Dalam konteks ekologi atau lingkungan hidup, saya kira ini juga tidak sejalan dengan kaidah-kaidah lingkungan hidup karena realitasnya llingkungan hidup SUMSEL itu sekarang bisa dikatakan dalam kondisi yang memperihatinkan. Misalnya dalam sektor kehutanan, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang keduanya sama-sama berada dalam kondisi yang memperihatinkan karena beralihnya fungsi akibat berbagai pembangunan, serta wilayah perkotaan khususnya kota Palembang yang saat ini sangat minim sekali ruang terbuka hijau akibat gencarnya pembangunan, dan rawa-rawa yang selalu ditimbun untuk pembangunan yang ketika turun hujan dapat berakibat banjir. Benarkah, pembangunan tersebut dapat juga berdampak negatif bagi llingkungan ?

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Wawancara Saya kira demikian, dibandingkan dengan asas manfaat yang ada tetapi tidak signifikan dengan akibat yang ditimbulkan dengan pembangunan tersebut. Apa pentingnya nilai ekologi dibanding nilai ekonomi ? Saya kira berelasi, tidak menjadi satu hal kontradiktif. Hanya saja pada penekanannya, ekonomi yang dibangun tidaklah ekonomi yang kapitalistik, tidak hanya mengarah kepada upaya untuk membuka ruang kepada investor dengan menyingkirkan hak-hak masyarakat luas. Kalau itu yang terjadi, maka akan berkorelasi dengan lingkungan yang rusak. Tetapi jika yang tercipta ekonomi populistik maka akan memberi ruang dan peran juga terhadap keberadaan lingkungan hidup yang lebih stabil. Misalnya, rakyat diberi ruang dan peran untuk memanfaatkan SDA-nya dan bisa mendorong masyarakat untuk juga melakukan pelestarian lingkungan. Apakah pembangunan selama ini sudah merujuk pada AMDAL ? Amdal ini pada satu sisi kadang hanya diletakkan sebagai syarat formalistik yang mana kala kemudian memang secara faktualnya esensi dari rencana pembangunan yang akan dilakukan dalam satu wilayah itu tetap akan mengancam lingkungan tetapi masih akan dipaksakan untuk melakukan pembangunan. Tidak hanya itu, dari beberapa aktivitas juga yang tidak memiliki AMDAL dapat mengancam lingkungan seperti pembangunan gedung Palembang Sport and Convention Center (PSCC), pembangunan UnderMall yang sampai sekarang belum ada AMDAL-nya. Kemudian perusahaan-perusahaan yang mendirikan di kawasan hutan yang belum mendapat izin dari kementerian, bagaimana mungkin jika mereka memiliki AMDAL sedang keberadaannya sendiri menyimpang. Apa saja syarat pembangunan yang baik dalam kacamata WALHI ? Menurut saya esensinya, pembangunan itu tidak hanya berpandangan bahwa investor sebagai penguasa dalam pembangunan yang menganggap pemilik modallah yang bisa menggearakkan roda pembangunan. Kalau seperti itu pola pikirnya, itu berarti masyarakat sekarang berada dalam pola pikir yang sesat dan salah. Seharusnya masyarakatlah yang sejatinya menjadi pelaku utama dalam pembagunan ini. Karena kemudian, yang terjadi selama ini mengganggap tanpa investasi roda pembangunan itu sulit, itu yang keliru. Menurut saya, tanpa investasi sekalipun kita bisa meningkatkan pembangunan, karena dalam sistem yang berbeda negara pasti memiliki anggaran-anggaran meskipun tidak begitu banyak tetapi bisa men-

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

dorong masyarakat untuk mengelolah Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Kemudian memberdayakan masyarakat dengan cara menyuntikkan modal, kemudian meningkatkan kapasitasnya dalam membentuk kelompok-kelompok unit usaha melalui koperasi. Ini memungkinkan untuk bisa dilakukan dengan tidak menumpukkan investor sebagai penguasa yang mampu mengeksploitasi SDA yang kita milliki. Berdasarkan data walhi, berapa persen lingkungan hijau Palembang yang tersisa ? Berdasarkan mandat dari perundang-undangan No 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, menyatakan Pemerintah Daerah (Pemda) wajib menyiapkan lahan hijau terbuka sebesar 20 % yang merupakan ruang terbuka hijau publik, tetapi saat ini di Palembang, ruang terbuka hijau hanya tersisa sekitar 3 % saja dari luas kota Palembang yang mencapai 40.000 hektare, dan itupun masih terus berkurang karena pemanfaatan pembangunan. Demikian pula di sektor rawa yang juga mengalami penyusutan dan beralih fungsi akibat kepentingan private baik perusahaan besar ataupun kecil misal untuk kepentingan SEA Games yaitu pembuatan venue. Sehingga membuat sektor rawa dari 22.000 hektare rawa yang tersisa berjumlah 6500 hektare. Menajdi soal karena tidak ada kejelasan dari pemerintah mengenai rawa yang dikonservasi atau dilindungi karena sebagai daerah resapan air. Ini yang seharusnya tidak boleh berlih fungsi. Benarkah pemerintah seperti melegowokan pembangunan-pembangunan ? Realitasnya memang seperti itu, karena pemerintah sendiri mengganggap investasi sebagai peluang terbaik untuk meningkatkan hasil PHD, dan juga terkadang ada kepentingan antara penguasa dengan pengusaha. Artinya telah menjadi rahasia umum, dengan relasi yang baik antara penguasa dengan pengusaha yang memberikan pundi-pundi kepada misalnya penguasa. Dan oleh karena itu, investasi seakan menjadi panglima dalam pembangunan. Harapan Anda dengan adanya SEA Games dan pembangunan di Palembang ? Saya pikir yang palling penting harus adanya review atau peninjauan ulang kembali, misalnya review perizinan terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki peran yang cukup destruktif terhadap lingkungan maupun keberadaan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Selanjutnya, harus ada langkah-langkah penegakkan hukum terhadap para pelaku kejahatan lingkungan ini. Misalnya pengusaha yang menjalankan usaha tidak sesuai dengan prosedural dan mencemari lingkungan. n Fauzan, Anas

17


Wawancara

SEA Games bukan Momen Sesaat Palembang, Sumatera Selatan saat ini tengah dihadapi perasaan senang, suka cita, dan tidak menutup kemungkinan juga rasa sedih dan cemas pun masih kita rasakan. Rasa senang dengan adanya perhelatan akbar internasional South East Asian Games (SEA Games XXVI) di kota Palembang, kita bangga dengan prestasi kota palembang yang berhasil menjadi tuan rumah penyelenggara, bahkan upacara pembukaan dan penutupan dilaksanakan di kota pempek Palembang. Namun, rasa cemas juga pasti muncul di benak pikiran kita. Karena setelah penyelenggaraan SEA Games, apa yang kita dapat nanti. Kemudian secara ekonomi, akankan perekonomian rakyat Sumatera Selatan akan meningkat pasca SEA Games, akankah rakyat kecil dapat menikmati hasil dari penyelenggaraan SEA Games ? Berikut penelusuran crew Ukhuwah dengan Pandriadi, SE. Msi. pengamat ekonomi kota Palembang sekaligus Pembantu Dekan 1 Fakultas Ekonomi Universitas IBA Palembang pada 13 Agustus 2011 lalu.

Apa dampak ekonomi dengan adanya SEA Games di Palembang ? Pada dasarnya SEA Games itu adalah “sasaran antara”, karena tujuan terakhir sebenarnya kita mengadakan SEA Games di SUMSEL ini, tidak hanya akan berakhir saat SEA Games itu berakhir tetapi ada tujuan lain yaitu tujuan lebih lanjut yakni investasi. Sebab yang datang ke Palembang tidak hanya atlet dan officialnya tetapi juga akan membawa investor, hal inilah yang diinginkan. Dengan adanya SEA Games ini, diharapkan ada investor untuk datang ke SUMSEL lebih lanjut. Jadi, dampak terakhir dari sea games ini yakni meningkatkan investasi. Bagaimana dengan pernyataan mendatangkan investor maka mereka akan “berkuasa”? Ya, pada dasarnya investor itu tidak ada masalah sepanjang kita bisa membuat regulasi-regulasi dengan benar, artinya Investor yang kita perlukan memang diperuntukan untuk menggerakkan perekonomian suatu negara, hal ini karena kita tidak selalu menggunakan investor dalam negeri, di satu sisi kita harus menarik investor asing sepanjang keberadaan investor ini dengan regulasi. Regulasi yang diberikan misalnya dengan perizinan-perizinan yang memang harus mereka penuhi, artinya aturan-aturan retribusi atau pajak yang memang sudah ditentukan dengan baik. Artinya keberadaan mereka nanti akan memberikan sumbangan multiplayer efek. Benarkah, investor asing itu akan “membunuh” perekonomian usaha-usaha mikro ?

Pandriadi, SE. M.Si.

18

Ya, secara fakta itu bisa terjadi tetapi memang dengan makin mengglobalnya dunia mau tidak mau kondisi tersebut harus dihadapi tidak hanya di Indonesia tetapi disetiap negara akan mnengalami globalisasi ekonomi. Tinggal sekarang ini bagaimana sektor-sektor dalam negeri memang betul-betul siap menghadapi persaingan itu. Kalau kita mau melepaskan diri dari pengaruh investasi asing juga tidak

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Wawancara mungkin bagi suatu negara termasuk Indonesia. Oleh karena itulah, jalan yang paling realistis adalah membuat industri-industri dalam negeri lebih siap untuk bersaing karena selama ini kebijakan kita memang cenderung memanjakan industri-industri dalan negeri. Misalnya pemerintah menetapkan pajak atau barang impor yang terlalu tinggi, menetapkan kuota yang terbatas dengan tujuannya adalah membatasi barangbarang luar negeri untuk masuk dalam negeri. Sehingga dilindungi oleh regulasi dengan aman di bawah kebijakan pemerintah. Tetapi apabila pemerintah menandatangani kerja sama antar negara perdagangan bebas perjanjian di Asia Tenggara, Pasifik, WTO, itu sudah menjadi komitmen dan tidak ada jalan lain kecuali mempersiapkan diri. Jadi tidak ada salahnya, sebab apabila kita berbicara masalah globalisasi ekonomi maka akan ada dua sisi yaitu peluang dan tantangan. Peluang dan Tantangan yang seperti apa ? Peluangya kita bebas memasukan barang kemanapun, cuma tantangannya orang luarpun bebas masuk ke Indonesia, sebab sebanyak apapun barang yang masuk kita tidak akan tersisih, tetapi apabila kita tidak siap bersaing maka kita tidak akan bertahan dan tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada di dalam negeri. Jadi, kita harus memperbaiki kualitas produk kita, hal itulah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pengusaha. Jadi persaingan itu tidak akan terjadi kalau kita mempunyai daya saing. Akankah perekonomian rakyat menjadi sejahtera dengan adanya SEA Games ? Kalau ukuran rakyat untuk sejahtera rasanya masih jauh dari hal itu. Tetapi memang dampak temporernya akan terlihat dari SEA Games. Kita tahu usaha-usaka kecil di Palembang memang dilibatkan dalam hal ini, karena apabila SEA Games sampai tidak terlaksana banyak sekali pengusaha-pengusaha akan rugi karena pengusa-penguasa kita sekarang ini sedang bersiap-siap sekarang membuat souve-

nir misalnya dengan produk khas-khas palembang, baju-baju, kaos-kaos sudah dibuat, topi, dan mungkin atribut-atribut yang lain mereka sudah siap dari jauhjauh hari artinya memang dalam jangka pendek akan dirasakan manfaatnya. Tingkat kehunian hotel misalnya, restoran, tempat wisata, itu akan meningkat dalam pelaksanaan SEA Games. Setelah berakhir SEA Games masyarakat kecil tidak akan merasakan lagi, karena tujuan kita dari awal itu adalah untuk menarik minat investor. Toh kalu investor masuk akan membuat lapangan pekerjaan yang secara tidak langsung akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Apa yang seharusnya dilakukan masyarakat ? Pada dasarnya, masyarakat harus hiperaktif menyambut pelaksanaan SEA Games nanti. Artinya masyarakat jangan hanya berdiam diri, serta jangan hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan SEA Games nanti. Masyarakat harus ikut serta menyukseskan SEA Games. Dengan cara menciptakan usaha kecil dalam pembuatan souvenir dan makanan khas Palembang. Dengan cara seperti itulah, rakyat juga dapat merasakan keuntungan kitamenjadi tuan rumah dari event internasional seperti SEA Games. Apa harapan anda dengan adanya SEA Games XXVI di Palembang ? Harapan saya pada hakikatnya sama seperti harapan masyarakat umumnya, berharap dengan adanya SEA Games akan ada perubahan baik itu sektor ekonomi ataupun sektor yang lain, tentu perubahan yang jauh lebih baik dari sekarang. Kemudian, saya juga berharap keuntungan dari SEA Games ini jangan hanya terhenti ketika SEA Games itu berakhir, tetapi pasca SEA Games keuntungan itu masih dapat rakyat rasakan. Selain itu, jangan pernah jadikan SEA Games sebagai momen sesaat yaitu setelah berakhir SEA Games, maka berakhir pula peluang untuk menjadikan rakyat Sumatera Selatan khususnya Palembang menjadi makmur.

n Erick, Anas

Coming Soon, Newsletter Ampera, Buletin Musi, dan Koran Limas.

Pastikan Berita Sekitar Kampus Ada Di Tangan Anda UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011

19


Profil

Hendri Zainuddin Alumni IAIN Raden Fatah T

erbayangkah kita menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), menjabat sebagai ketua KNPI Palembang, Ketua Umum KAHMI Kabupaten Banyuasin, Manajer Sriwijaya FC (2009-2010), dan Ketua Umum PS Banyuasin, serta Ketua Umum Perbasi Banyuasin dan Sumsel dan masih banyak lagi, adalah Hendri Zainudin yang dapat mewujudkannya. Pria kelahiran 4 desember 38 tahun silam ini memang aktif di organisasi kemahasiswaan baik di dalam kampus maupun di luar kampus, karena itu tidak heran jikalau ia menduduki jabatan-jabatan penting seperti di atas. Siapa sangka, pria dengan segudang prestasi ini merupakan salah satu alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang. Ia memulai pendidikannya pada 1980 di Sekolah Dasar 280 dan menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1986, kemudian melanjutkan pendidikannya di MTs Negeri II Palembang tamat 1989, dan setelah itu melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah I Palembang dan menamatkannya tahun 1992. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di IAIN Raden Fatah Palembang dengan mengambil Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin dan tamat 2003 dan dalam waktu bersamaan ia juga menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Sjakhyarti Palembang dan akhirnya sejak tahun 2005 tercatat sebagai mahasiswa Strata Dua (S 2) di Universitas Sjakhyarti dan juga mahasiswa Magister Manajemen Universitas Tridinanti Palembang. Mojang Palembang satu ini resmi mempersunting Surastiningsih (Wiwid) pada 1994 yang kala itu masih menempuh pendidikan di IAIN Raden Fatah, tidak heran jika dia sudah menikah ketika masih kuliah, karena HZ (sapaan akrab) sudah bekerja ketika kuliah dan membayar kuliah dengan biaya sendiri. Ayah dari Harain Aisa Altzura (6) juga mendirikan Pondok Pesantren Tahfidz alquran Raudlatul Qur’an di Payamaran Ogan Ilir. Dan saat ini ia masih menjabat sebagai Direktur Teknik dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT. Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM). Saat ini, HZ tidah hanya berkarya dalam bidang

20

Hendri Zainudin Sa.g. M.M. bisnis saja, tetapi juga aktif dalam tulis menulis. Terbukti dengan terbitnya empat buah buku yang sekarang sudah dipasarkan di toko-toko buku terdekat. Antara lain, tuntunan ibadah kemasyarakatan, Fadhilah suratul Yasin, dan lain sebagainya. Selain itu, dia juga aktif dalam menulis artikel di beberapa harian umum yang ada di kota Palembang. (Adv).

UKHUWAH/EDISI/23/Desember/2011


Ukhuwah