Page 1

Melihat dan menahan diri

25 tahun Stichting Leer Anderen Helpen


‘Melihat dan menahan diri’ 25 tahun Stichting Leer Anderen Helpen

1989 - 2014

Diterjemahkan oleh: Donald Tjia

Februari 2016


Kata pengantar Ide untuk menerbitkan sebuah buku peringatan Ulang Tahun datang bersama sama setahun yang lalu kepada saya. Saya sangat senang bahwa saya mampu mengembangkan ide ini dengan bantuan banyak orang. Saya terkejut dimana para mantan anggota dewan SLAH memberikan reaksi pada saat awal yang sangat antusias dan jelas dalam kontribusinya. Awal niat saya adalah untuk merekam perjalanan dari dokter-dokter mata secara penuh, tetapi pada kenyataan lebih dalam, ternyata pengajuan itu tidak tepat karena akan terdapat tumpang tindih yang besar dan teks nya akan jadi sedikit. Semua dokter mata SLAH diundang untuk menempatkan pengalaman pribadinya diatas kertas. Beberapa diantara mereka bertindak cepat dengan antusias namun beberapa harus didorong. Saya sangat terkesan dan tersentuh oleh tulisan Ibu Hj. Murni Hamid yang mendukung kami di Medan. Tanpa beliau proyek mata di Karya Kasih tidak akan terjadi. Buku ini adalah kumpulan dari cerita, anekdot dan pengalaman pribadi dalam memberikan pandangan tentang motivasi penulis dalam partisipasinya dalam proyek SLAH. Saya percaya bahwa hal ini memberikan kesan baik dan 足suatu kenyataan bahwa organisasi kecil seperti SLAH mampu memberikan kinerja yang luar biasa melalui berbagai upaya. Inilah yang ada dalam pikiran saya dan saya berharap setiap orang akan mengambil dan membacanya dalam keindahan hidup.

Frans Ros Utrecht, Mei 2014

Versi Bahasa Indonesia ini diterjemahkan oleh seorang 足sukarelawan, dokter mata Donald Tjia, dalam hubungan 足dengan Richard Kurniawan dan karena itu bisa mungkin mengandung kesalahan. Utrecht, Februari 2016


Daftar Isi 3

Kata Pengantar

5

Daftar Isi

6

25 tahun SLAH di Indonesia

Donald Tjia

10

‘Tiba-tiba’

Arnoud Boesten

13

Kelompok orang istimewa

Paul van Asdonk

15

Bekerja di Lingkaran Zamrud (Indonesia)

Jaap van der Pol

20

Semua awal akan sulit

Ibu Hamid

25

Kisah dari tiga zaman

Anton Blankestijn

32

Akan dilihat dari jembatan

Jo Veldkamp

37

Operasi mata yang ke 4.000 di Karya Kasih

Frans Ros

42

Darah, keringat dan airmata

Frits Dubois

45

Indonesia, budaya lain yang memperkaya kehidupan Anda

Maarten Rol

46

Angka dan manusia

Siep van der Veen

50

Biaya kesadaran di Medan

Nynke de Jong

52

The Work of Love

Hian Oei

56

Papua, Anda akan melakukannya sementara

Rinald Stout

62

Segelintir pengalaman

Maribel Seré

64

Dalam jangka pendek

Ton Smit

67

Bangka, proyek gembira telah dimulai

Monica Landesz

70

Peter Bolmers

72

Jika kita tidak melakukan apa-apa, pertanyaannya siapa yang akan membantu orang-orang itu? Indonesia, negara yang tidak akan Anda lepaskan

Wilda Batubara

74

Saya memberi sesuatu, tetapi mereka memberikan kembali

Sicco thoe Schwartzenberg Ivan Gan

80

Agoes, terima kasih banyak!

84

Sup Hijau

Folkert Tegelberg

86

Jauh dari rumah untuk saling belajar

Suzy Njoo

87

SLAH, berkontribusi pada kualitas hidup

Dolf van Oostrum

90

Cara batu, harapan baru

94

Penyiaran: Lokasi, Dokter dan Jumlah Operasi

100 Direksi SLAH melalui tahun 105 Ucapan Terima Kasih 5


2002

n

n

uk an

ke -

ke -

AH

4. 00

0

0

0

3. 00

ke -2 .0 0

0

SL

ke -1. 00

nt

n

Pa sie

Pa sie

n

be

Pa sie

Pe m

2001

Papua

Pa sie

Karya Kasih, Medan

1999

1996

persiapan

1994

1992

1989

Indische Oceaan

25 tahun

SL A H d i Indonesia


Ambon

2014

2013

2012

2011

2009

2006

2004

SL

lo

AH

sp

ek

ke -

25

ta

0

hu n

a誰 ti

0

5. 00

6. 00

ke -

ra si H

Pa sie n

Pa sie n

Mamasa Waena

Mamasa

Bangka

Sumba


Donald Tjia Spesialis Mata

‘Tiba-tiba’ Pembentukan Yayasan SLAH, Stichting Leer Anderen Helpen Pada musim dingin tahun 1958, Saya tiba di Nederland dengan Ibu saya. Saya, anak bungsu dan berusia 11 tahun. Ayah dari Ibu saya seorang Belanda yang tinggal di Indonesia sebagai guru sekolah. Saya lahir di Pulau Bangka, Indonesia adalah Tanah Airku. Bangka terletak di UtaraTimur Pulau Sumatera dan di Barat-Utara Jakarta. Saudara saya yang perempuan pada waktu itu sudah menikah dan tetap tinggal di Indonesia bersama dua orang kakaknya. Dengan demikian perasaan pribadi saya di satu sisi Indonesia adalah negara ayah saya dan Nederland adalah negara Ibu saya. Seperti banyak migran-migran yang kembali lainnya, saudara perempuan saya juga kembali ke Nederland. Setamat sekolah kedokteran, saya melanjutkan untuk spesialisasi mata di Vrije Universiteit Amsterdam. Saya praktek di rumah sakit mata di Leiderdorp, Amsterdam dan Hoofddorp dimana saya tinggal sampai sekarang. Musim semi 1989, pada saat saya bekerja di Poliklinik Mata RS. St. Elisabeth Leiderdorp. Saya bertemu dengan seorang pasien baru yang memeriksakan matanya, general check up. Saya berbicara panjang lebar tentang penyakit mata yang menjadi perhatian besar pekerjaan saya, dimana penderita dapat memperbaiki kualitas hidupnya. Saya

bercita-cita agar keinginan saya ini dapat diakses oleh masyarakat yang tidak mampu di dunia, terutama di Indonesia. Pasien ini ternyata direktur dari Asuransi kesehatan Alphen & Omstreken yang kemudian bergabung dengan ZLO (Ziekenfonds Leiden & Omstreken) lalu dengan CZH (Centraal Ziekenfonds Haarlemmermeer) untuk menjadi Z&Z sampai sekarang. Tak lama setelah konsultasi ini, Direktur Asuransi Alphen menyumbang 25.000 Gulden sebagai dana untuk keinginan dan hasrat saya. Saya mendapat dukungan keuangan dan saya terkejut. Kurang dari dua minggu kemudian, mantan Direktur CZH mengundang saya untuk membicarakan explorasi project. Judulnya saya tak tahu. Pada saat saya menerima dan berbagi tentang latar belakang profesi masing-masing, mendadak saya ditanya asal usul dana. Ternyata, dengan keyakinan dan bersemangat, saya mengatakan negara yang indah, Indonesia dan Pulau Bangka dimana hati saya berada. Disana banyak orang yang tidak mampu membayar perawatan mata meskipun Pulau Bangka penghasil timah no.1 di dunia. Seminggu sebelum wawancara ini, saya menerima seorang pasien di tempat praktek saya di Hoofddorp. Pasien ini berasal dari Medan dan diarahkan oleh dr. Yve Boen 9


(VUmc). Pasien ini memberitahukan bahwa di Medan banyak orang miskin dan tidak mampu membayar perawatan mata. Sepupunya adalah Direktur Rumah Sakit di Medan. Serentak saya berfikir dimana tempat yang baik untuk memulai operasi mata? Dan disana fasilitasnya bagus. Apalagi pasien ini dikirim ke Academisch Medisch Centrum di Nijmegen. Disana pasien tersebut ditolong dengan prioritas. Tak lama kemudian saya dengar dari Direktur Asuransi CZH bahwa mereka akan menyumbang 25.000 Gulden (Âą 12.000 Euro). Tentu kedua Direktur ini saling membicarakan niat dan keinginan saya. Dengan komitmen ini muncul modal 50.000 Gulden dalam 1 bulan. Modal yang besar ini mengharuskan saya untuk bertindak cepat merealisasikan rencana saya. Saya segera menghubungi Bp. Arnoud Boesten, Direktur Rumah sakit saya, St. Elisabeth Ziekenhuis di Leiderdorp. Dia menyarankan, kenapa kita tidak memben-

tuk satu yayasan untuk membantu orang tidak mampu membayar perawatan mata? Maka jadilah nama yang sesuai dengan nama yayasan. Saya mendapatkan nama yayasan dari poster-poster palang merah ‘Leer Anderen Helpen’-Mengajar Orang Lain untuk Menolong Sesama, sewaktu mereka mengunjungi Ibu saya di Zwolle. Begitulah 10

nama Stitching Leer Anderen Helpen (SLAH) dilahirkan dan dibuat akta notaris sebagai bentuk hukum. Tahun-tahun selanjutnya SLAH mendapatkan sumbangan keuangan kira-kira sebesar 200.000 Gulden (100.000 Euro) yang menjadikan posisi keuangan yang kuat, juga kelanjutan aktifitasnya. Dewan pimpinan SLAH dari masa perintisan dibentuk oleh Bp. Arnoud Boesten dan saya sendiri selaku Bapak Pendiri. Tak lama kemudian Bp. Jaap van der Pol, PNS pensiunan dari bagian keuangan kotamadya Harlemmermeer ikut bergabung untuk mengurus keuangan SLAH. RS. Elisabeth menyediakan fasilitas, sumberdaya dan bantuan kesekretariatan oleh Saskia Oudgenoeg yang mengurus laporan. Kemudian fokus pada perekrutan dokter-dokter mata. Ia bekerja penuh tanpa kompensasi meskipun jauh dari rumah, meskipun biaya perjalanan dan akomodasi dibayar oleh SLAH. Selain itu membentuk

jaringan fasilitas logistik untuk membeli alat-alat dengan harga yang paling murah, akurat dan efisien sampai ke tujuan. Itulah salah satu tujuan dari yayasan lokal Karya Kasih di Medan dimana telah didirikan ruang operasi mata permanen disana. Dokter mata Paul van Asdonk dari Utrecht


mendengar SLAH dengan maksud dan tujuannya dan menghubungi kami. Dulu ayahnya bekerja di KLM sebelum Indonesia merdeka. Disitulah hubungan dia dengan Indonesia berawal. Dr. Paul adalah yang pertama dikirim SLAH ke Medan. Setelah itu selalu ada dua dokter yang dikirim untuk menjamin kelangsunagn operasi, halangan karena sakit, umpan balik dan pertimbangan/perawatan lain.. Bp. Jos van Bergen (ex pramugara KLM), tetangga dan pasien saya ikut memeriksa banyak relawan untuk SLAH, selain membuat wawancara saya di pers lokal dan publikasi umum. Bp. Franklin Blom, juga pasien saya, bekerja di KLM cargo, berhasil melakukan hal yang sama. KLM terbang ke Medan via Abu Dhabi, tempat tujuan project SLAH atas budi baik dari Bp. Bert Simon / Oom Bert, Station Manager Garuda Indonesia di Belanda. Setelah barang-barang tersebut tiba di Indonesia, masih ada hal lain yang penting diurus, misalnya masalah bea cukai dan izin-izin. Jaringan setempat sangat penting untuk keberhasilan misi kami, juga transportasi darat, budaya lokal dan pengetahuan berbahasa Indonesia. Tidak ternilai mediasi dan komitmen para relawan setempat seperti dr. N.A Budhiparama, Dir. Medik RS St. Elisabeth Medan (berhubungan baik dengan RS. St. Elisabeth Ziekenhuis di Leiderdorp), Pastor Johannes Veldkamp, Bp. Richard Kurniawan, Ny. Hj. Hamid Sp.M yang lancar berbahasa Belanda dan menseleksi pasien dan merehabilitasi, para dokter lokal di Medan dan para perawat medis. Drs. Benny Lirungan, Kepala Kanwil Bea Cukai, Bp. Imral Nasution, Ketua Kadin Sumatera Utara dan last but not least adalah Bp.

Agoes Soelaiman dari Pulau Bangka dan Bp. Amir Danoehoesodo mantan Kepala Kanwil Kejaksaan Sumatera Utara. Mereka semua bertanggung jawab atas dukungan logistik, dukungan umum dan keramahtamahan. Juga para relawan dari Sulawesi dan Papua Barat. Mereka mengurus para dokter SLAH setelah bekerja keras supaya bisa santai dan relax agar keesokan harinya bisa segar, efisien dan cepat. Di negeri Belanda, kita berterimakasih kepada Bp. Jerry Vermie, Bp Justus Hollander, dan Bp. Henk Koning. Jerry sebagai travel agent SLAH dan mempermudah kami membawa barang lebih banyak dari yang diijinkan. Justus Hollander adalah bendahara SLAH yang cukup lama dan juga sebagai Kepala Apotek RS. Rijnland, sebelumnya di RS Elisabeth. Dalam kapasitasnya dia menyediakan obat-obatan yang diperlukan untuk dikirim ke Indonesia. Percetakan Koning memberikan urusan cetak secara gratis.

Pada tahun 1995, Jaap van der Pol, sekretaris SLAH, mencapai usia pensiun dan mengundurkan diri. Fungsi ini diambil alih oleh Bp. Anton Blankenstein sampai tahun 2007. Selama periode itu dia banyak mengambil inisiatif kegiatan dan perkembangan sehingga memberikan kemahsyuran SLAH. Selain itu dia melakukan penggalan11


gan dana dan keanggotaan baru. Mereka tertarik menerima laporan buletin berkala, Oculaire, dimana sejak 2010 SLAH mempunyai website sendiri, www.slah.nl Karena keadaan pribadi, saya bersedia mengisi jabatan direktur namun pengalaman masih merupakan hal yang istimewa. Komitmen saya, membantu orang lain dan membantu SLAH. Donald Tjia

dr. Budhi Parama â€

12


Arnoud Boesten, Sp.S Direktur RS Elisabeth Leiderdorp, Ketua SLAH 1989-2007

Kelompok orang istimewa

Adalah Donald Tjia yang bertanya apakah saya tertarik untuk mempererat hubungan dengan RS St. Elisabeth di Medan di segala bidang? Donald dan saya bersama bekerja di RS. St. Elisabeth Leiderdorp. Dia sebagai dokter spesialis mata dan saya sebagai dokter spesialis saraf juga sebagai direktur perawatan. Kedua Rumah Sakit tersebut didirikan oleh kongregasi agama yang sama dari Breda dan memiliki banyak kontak sejak tahun 60’an. Saya setuju namun pada saat itu, kami sedang sibuk mempersiapkan fusi, tetapi tetap memberikan sedikit waktu untuk project di Indonesia. Donald, tanpa lelah, bekerja mengatur peraturan bersama untuk hubungan Medan – Belanda dengan membentuk organisasi bagi orang-orang yang tidak bisa membayar sendiri operasi katarak. Itu tidak mudah.

Banyak orang-orang penting dan organisasinya untuk memberikan persetujuannya untuk bekerja sama dalam hal apapun dalam satu tujuan. Saya mendengar beberapa kejutan dan hal-hal rumit yang timbul dan saya mengagumi dedikasi dan kekuatan Donald. SLAH, tidak ada yayasan dimana saya menjadi ketuanya, memberikan banyak kesenangan. Akhirnya, semua orang berkarya di Medan, kita bekerja sama melakukan operasi. Dokter mata setempat melakukan seleksi awal pasien-pasien. Donald menemukan sejumlah dokter mata untuk menjadwalkan giliran. Ide awalnya adalah mengajar dokter mata setempat untuk mengoperasi mata dengan standart Belanda. Nama yayasan juga ‘Belajar membantu orang lain – Leer Andere Helpen’. Peran saya di yayasan itu sederhana saja. Untuk mitra di Indonesia, pengelolaan RS St. Elisabeth Leiderdoep (sekarang RS. Rijnland) sangat penting karena RS ST. Elisabeth ini berdiri di balik proyek. Fungsi ini lebih simbolis dan yayasan SLAH membutuhkan ketua untuk memimpin. Dalam 23 tahun sebagai direktur Rumah Sakit, tidak ada yayasan yang memberikan begitu banyak kesenangan. Kedua dokter mata yang berada dalam daftar yang pergi ke Medan adalah satu set orang yang tertentu. Saya sangat termotivasi, kerja keras 13


dan mampu mengukuhkan semua aspek yang dibutuhkan, memperingkas, mengatur dan mengumpulkan dana, mengatur alatalat medis, mengatur jadwal dan banyak lagi yang dilakukan oleh sekelompok kecil dokter mata. Pertemuan dengan dewan SLAH selalu memberikan pengalaman. Ada banyak hal untuk menetapkan agenda tetapi semua tergantung dari kesepakatan bersama, semua orang memiliki sumbangsih masing-masing.

begitu besar, sehingga hubungan dengan masyarakat bertambah dan membutuhkan dana yang lebih besar untuk mewujudkan semua yang kita inginkan. Dewan tidak bisa menarik Bp. Anton Blakenstijn yang telah mengambil peran itu. Bersama istrinya dia berjuang tanpa lelah untuk SLAH, adalah sumber daya yang tidak ada habisnya dalam melakukan tugasnya. Saya sangat menyesal harus mengucapkan selamat tinggal kepada SLAH karena kepindahan saya ke Aruba. SLAH adalah bukti bahwa inisiatif kelompok kecil swasta, tanpa banyak birokrasi, tanpa subsidi pemerintah bisa berhasil dengan sukses membantu orang-orang yang mengalami kesulitan di tempat lain di dunia. Arnoud Boesten, Sp.S

Setelah kacau, seperti biasa, tetapi masih bisa dibahas dan diatur. Tentu ada subjek yang tertinggi dan terendah. Ada juga upaya untuk melakukan kegiatan ke bagian lain di Indonesia dengan masalah mereka sendiri. Orang lain niscaya menulis tentang itu. Yang penting kita bisa melakukan kerjasama dengan sejumlah besar komitmen dokter mata memang berhasil dengan sangat baik setelah melakukan semua upaya. Tidak mungkin untuk secara khusus mengucapkan terima kasih kepada semua orang untuk semua pekerjaan. Satu nama harus disebutkan. Pada saat yayasan telah menjadi 14


Paul van Asdonk, Sp.M Spesialis Mata

Bekerja di Lingkaran Zamrud (Indonesia)

Dari tanggal 20 April sampai 16 Mei 1990, dr. Paul van Asdonk Sp.M melakukan perjalanan untuk mengeksplorasi kemampuan yang sesungguhnya untuk menyalurkan bantuan permasalahan mata. Hal itu untuk memperjelas masalah sebelum para dokter mata Belanda dikirim kesana. Perjalanan pertama ke Medan dilanjutkan setahun kemudian untuk melacak penyebab kemacetan yang terjadi di Karya Kasih. Perjalanan ini belangsung dari 14 Agustus sampai 24 Agustus 1991.

Laporan evaluasi dari dr. Paul van Asdonk sebagai dokter mata yang dilakukan di Sumatera yang dilakukan sejak tanggal 20 April sampai 1990. Rencana perjalanan : •

Dari hari Jumat 26 April sampai 27 April saya akan berada di Yayasan Karya Kasih

•

Dari Sabtu, 27 April sampai Senin, 30 April di Pangururan, Pulau Samosir.

•

Dari 2 Mei sampai 10 Mei di Jakarta, dimana saya dapat menghadiri Simposium yang diselenggarakan oleh Badan Opthalmologi.

•

Akhirnya dari 11 Mei sampai 16 Mei berada kembali di Medan.

Dari 28 hari saya berada di Indonesia, ada 11 hari hari kerja. Ini berarti pekerjaan poliklinik rawat sebanyak 30-40 orang perhari di Medan, 2 hari di Samosir sebanyak 110 orang pasien diperiksa oleh saya sendiri dan yang lain sebanyak 120 orang diperiksa oleh 2 dokter mata dari Medan. Total saya memeriksa sekitar 400 orang. Sayangnya adalah, saya tidak mempunyai izin kerja, berarti saya tidak bisa melakukan operasi. Meskipun keterampilan komitmen, dan kemampuan organisasi yang besar dari dr.Budhiparama, kami tidak berhasil melakukan operasi di RS Elisabeth Medan. Juga sikap dari dokter mata lokal yang kurang kooperatif terjadi pada 2 kesempatan operasi yang dijadwalkan ternyata dibatalkan pada menit terakhir. Pasien-pasien diperiksa dengan alat-alat sederhana saja. Lampu tangan dan oftalmoskop direct Heine juga saya pakai untuk pemeriksaan indirect. Dua metode tadi hampir semuanya dikerjakan oleh dokter mata lokal. Klinik mata Karya Kasih dikunjungi oleh orang-orang dengan segala macam masalah mata, misalnya yang buta, malahan kasus yang sudah tidak ada harapan lagi. Banyak pemikiran kedua, mereka orangorang miskin namun banyak diantara mereka yang mempunyai penghasilan, ini 15


karena saya tinggal cukup lama disitu sehingga pengamatan saya menjadi lebih luas. Pekerjaan poliklinik ditangani oleh 5 orang dokter mata, Karya kasih adalah lembaga Katolik namun semua dokter mata adalah Muslim kecuali 1 orang saja. Pemeriksaan pasien-pasien mengungkapkan bahwa penderita katarak jauh lebih sedikit daripada yang kita duga. Dari 500 pasien, hanya 10 saja penderita katarak. Mengapa tidak banyak pasien yang memeriksakan matanya dan melaporkannya, kita tidak tahu. Kebanyakan pasien mempunyai penyakit mata karena peradangan kornea dan mata inti. Sering tidak diobati sehingga kebutaan menjadi sebab utama. Sering sekali saya menemukan pterygia. Menurut pendapat saya, kita bisa membantu. Tehnik bedah dokter local sangat kasar meskipun mempunyai efek. Pasien katarak dibantu dengan bius lokal, biasanya intercapsulair, lain kesempatan extracapsulair. Tehnik bedah baru akan dipertimbanagkan dan diterapkan untuk perbaikan. Saya melihat 4 operasi, sterilitas ruang operasi Karya Kasih sangat moderat. Di RS Elisabeth lebih bagus. Jika ada kebutuhan operasi, pasien atau Lions Club harus bayar. Jika suatu masa akan dipasang mikroskop bedah di Karya kasih, sterilitas harus dijamin. Jika ada AC, operasi bisa dilakukan di Medan. Terutama jika ada kesadaran diantara penduduk lokal. Operasi pterigium juga bisa dilakukan, sedangkan cangkok cornea membutuhkan sterilitas yg lebih tinggi dan pasca perawatan yg baik. Operasi ini sering gagal di Indonesia. Selain itu saya juga memeriksa orangorang di Pulau Samosir dimana Danau Toba berada. Populasinya sekitar 100.000 orang diantaranya 36.000 tinggal di Pangururan. 16

Berkat upaya dari Pastor Leo Joosten bersama 2 orang dokter mata dari Medan, kami membagi tugas dengan baik. Ada sedikit pasien katarak (4 orang) dan penderita pterigium 4 orang. Presbyopia (terlalu lama) sering terjadi. Bersama Pastor Leo Joosten saya mengunjungi pasien-pasien dikampung naik sepeda motor atau mobil dan memeriksa mata mereka. Pada saat seminar di Jakarta, saya mendapat kehormatan untuk bertemu dengan banyak orang termasuk Prof.Mardiono dari sebuah Universitas disana. Beliau meminta untuk terus dilaporkan aktivitas di Sumatera. Bagi saya pada saat itu tidak mungkin untuk menilai situasi, misalnya Pulau Nias atau Pematang Siantar di Sumatera Utara. Disitu untuk memeriksa pasien, dipergunakan aktivitas misi. Bekerja sama dengan SLAH, Bank Mata, Lions Club Medan dan Yayasan Karya Kasih dgn dr.Budhiparama sebagai lembaga sosial Katolik untuk memastikan perawatan mata dimasa depan bagi masyarakat Sumatera Utara, tanpa membedakan jenis, warna dan agama. Terutama untuk orang miskin, mereka harus menyadari ada bantuan untuk penyakit mata. Dr.Budhi Parama memberitahukan kepada Gubernur untuk melibatkan otoritas kesehatan setempat dan saya berharap agar pekerjaan dokter mata di Sumatera Utara dapat dilanjutkan. Mendapatkan izin kerja sementara tidak menjadi masalah jika diminta. Dengan kebijaksaan dan diplomasi rakyat, para dokter mata di Sumatera Utara akan jelas menyangkut proyek social yang ditujukan khusus untuk perawatan mata pasien miskin dan penyuluhan tehnik operasi modern untuk dokter mata setempat. Laporan berikut, kekosongan proyek Karya Kasih.


Beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Medan yang kedua, Dr.Tjia mengatakan bahwa dr.Budhiparama mengabarkan izin kerja belum terbit. Dan meminta saya untuk mengundurkan keberangkatan. Dalam rapat sebelumnya diberitahukan izin kerja tidak menjadi masalah, ternyata menjadi kesimpulan premature. Berkonsultasi dengan Bapak Boesten, Ketua SLAH dan Direktur RS Rijnland, dan dr. Tjia, saya tetap melakukan perjalanan ke Medan. Secara pribadi saya akan belajar apa masalah dari izin kerja itu. Pada saat tiba saya dengan taksi menuju ke Karya Kasih, disana untuk pertama kali saya disambut oleh Ibu Privine Bath dan oleh dr. Budhiparama Hal pertama yang saya perhatikan adalah renovasi ruang tidur untuk para dokter mata. Penginapan ini jauh lebih nyaman dari kamar yang saya tempati tahun lalu. Ruang operasi sudah dipasang lampu operasi yg tergantung, sebuah mikroskop dan obat-obatan tersusun di kotak-kotak diruang operasi. Suhu sangat tinggi, lebih dari 30C, terlalu tinggi untuk kebanyakan obat. Kulkas belum ada. Dokter mata lokal yang melakukan operasi bebas di Karya Kasih tidak diizinkan lagi dan semua obat-obatan yang berbasis ruang operasi dibawa pergi. Banyak orang-orang di Indonesia terlibat dengan badan amal. Diantaranya Dr.Budhi Parama sebagai pemerkasa dan orang ke 1 sebagai mesin utama. Dia memiliki banyak hubungan tingkat tinggi dengan orang-orang politik, perusahaan, polisi dan gereja Katolik, memastikan proyek ini harus berhasil. Orang lain yang juga aktif adalah dr.Stevens (akupunktur), Ibu Privine Bath dan Pastor Jo Veldkamp. Di Karya Kasih sendiri, ada Ibu Dr. Hamid yang bekerja selama 2 hari sepekan sebagai dokter mata. Dia telah memulai tugasnya,

seorang wanita berumur 60an, sangat ramah dan mau bekerja sama dengan dokterdokter Belanda. Dia fasih berbahasa Belanda dengan rapi. Saya bersama Dr. Budhiparama membahas secara rinci apa saja yang bisa dilakukan oleh dokter Belanda disini. Ada beberapa alasan untuk memberikan izin kerja : 1. Ada kecurigaan dokter mata local. Ada ketakutan bersaing dalam pengambilan pasien yang akan mengurangi pendapatan mereka. Dokter mata lokal tidak ada kebutuhan mendesak untuk pelatihan. 2. Kebanyakan dokter mata lokal Muslim, Proyek Karya Kasih adalah Katolik. Proyek Lions netral. 3. Permintaan izin kerja menuju ke Jakarta dan dikembalikan. Inspektur Jendral Kesehatan ragu menandatangani jika dokter local tidak setuju. Jika Inspektur Kesehatan tanda tangan, Gubernur akan menarik. 4. Bapak Imral Nasution, ketua Kadin/ Chamber of Commerce, menanyakan maksud dan motivasi dokter mata Belanda untuk bekerja di Medan. Saya menyatakan bahwa dari 8 dokter mata Belanda, 5 diantaranya lahir di Indonesia, karena itu ada motivasi idealistis, mereka rata-rata berpengalaman 40 tahun-an dibidangnya. Mereka ingin berbakti. Saya tidak mungkin terus menunggu berulang kali untuk memperoleh izin kerja. Setiap kali ada saja alasan mengapa tidak berhasil. Ada issue bahwa tumpukan dokumen ada di dalam lemari pejabat dan tidak bisa dibuka sehingga inspektur tidak bisa menandatanganinya.

17


Semua ini saya ikuti, dimana saya pada akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang masa tinggal di Medan, izin kerja terlalu lama untuk ditunggu dan informasi kepada masyarakat akan menjadi terlalu singkat dan pasien-pasien untuk ditangani menjadi terlalu sedikit akibatnya tindakan operasi akan sedikit saja. Selain itu saya harus mempertimbangkan praktek pribadi saya di Nederland.

KESIMPULAN: Titik sentral adalah kelayakan ruang operasi di Karya Kasih. Saat itu Karya Kasih sudah banyak material bernilai lebih kurang Rp750jt dan memadai untuk operasi dengan bius local. Namun izin kerja tetap penting. Saya kecewa karena tidak bisa bekerja dan melakukan operasi. Saya masih berpikir dan menyarankan agar Karya Kasih memberikan alasan yang tepat dan baik. Sejauh itu sudah banyak tenaga dan dana yang diinvestasikan dalam proyek ini. Ketika mulai dijalankan dengan hanya 1 dokter mata saja, kelihatan bersemangat. Juga reaksi masyarakat, dokter mata local, kalangan universitas dan kalangan politisi harus ditunggu. Bagi saya meskipun terjadi proses kemunduran, saya dapat mendidik lagi pada kunjungan kedua ini. Untuk alasan ini, saya sekarang dan masa yang akan datang, saya tetap bersedia untuk SLAH. Paul van Asdonk

18


Jaap van der Pol Sekertaris SLAH 1989 - 1995

Semua awal akan sulit

Donald Tjia yang mendirikan Stichting Leer Andere Helpen (SLAH) adalah dokter mata kami. Ketika Donald sebagai dokter mata di RS Elisabeth (sekarang RS Rijnland) Leiderdorp mendirikan Yayasan bersama dr. Arnoud Boesten direktur rumah sakit, dia menayakan melalui istri saya Nel, jika saya ingin bergabung dengan Yayasan. Beberapa saat lagi saya akan pensiun, dulu saya bekerja sebagai Kepala Departemen Keuangan kota Hoofddorp di Haarlemmermeer. Saya masih mempunyai waktu luang. Begitulah, saya ditunjuk menjadi sekertaris SLAH sebagai anggota sukarela. Saat awal, yayasan tidak produktif untuk tujuan yang dimaksudkan, itu memang tidak mudah. Ternyata, di Medan, Donald memulai merintis sebuah yayasan sebagai batu pijakan. Donald yang kadang-kadang ke Indonesia, dan bisa berbahasa Indonesia, berhasil melakukan pendekatan dengan salah satu dokter mata wanita yang sudah tidak mengoperasi lagi dan Pastor Jo Veldkamp. Mereka mendirikan satu yayasan yang bisa kami hubungi. Dia juga mengusahakan dan memperoleh izin kerja dengan kolaborasi dengan Gubernur untuk mengimpor mikroskop dan alatalat lain. Sedangkan di Kedutaan Indonesia di Den Haag, visa kunjungan harus diatur. Donald dan saya melalui seorang karyawan 20

kedutaan bersedia membawa pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan disamping dana. Para dokter mata ,sangat terpuji, menawarkan jasanya tanpa pamrih, hanya biaya perjalanan saja yang dibayar. Harus ada leaflet dan poster yang dapat digantung di ruang tunggu dokter mata. Bp Henk Koning dari percetakan Koning, siap mengurus segalanya gratis. Banyak surat surat lamaran dikirimkan, hasil yang baik sekali. Dokter-dokter mata juga melakukan hal yang terbaik. Sudah ada perusahaan yang menawarkan lensa gratis guna keperluan operasi katarak. Seperti yang saya dengar, ada orang yang menjual rumah liburannya pada kantor perumahan dan menyumbangkan sebesar 37,500 Gulden kepada SLAH. Awalnya saya membuat sendiri laporanlaporan dari rapat-rapat, kemudian sekertaris Arnoud Bousten mengambil alih tugas ini. Selain itu harus ada laporan tahunan dimana dokumen itu berasal dari bendahara. Kami berteman baik dengan Nel van Santen dan suaminya di Heemstede, dimana ada satu villa bernama Zuiderkruis dan seorang wanita muda Jepang. Satu ruang dipakai untuk menganut agama mereka bersama orang-orang Jepang yang tinggal didaerah ini. Agama mereka, saya pikir Budha, dan ber-


basis di Jepang, dugaan saja, dibiayai dari sana. Prinsip mereka banyak melakukan pekerjaan yang baik. Mereka dengan dinas pertamanan kotamadya membersihkan tanaman liar secara sukarela. Nel van Santen pernah bertemu dengan mereka juga ketuanya Kaori Ide dan memintanya untuk membantu dana sebuah yayasan dengan mengadakan bazaar. Kaori dan teman-temannya setuju, mereka berbicara bahasa Belanda dengan baik. Mereka tinggal disebuah rumah mewah, villa dengan taman yang besar luas, dimana akan banyak tenda-tenda makanan, warung pasti hadir. Jelas akan banyak membantu organisasi dengan banyaknya teman dan kenalan. Tanggal ditentukan pada hari minggu pada musim panas dan publikasi banyak dibuat. Cuaca pada musim panas yang indah, ketika sudah banyak orang menunggu sebelum pukul sembilan pagi gerbang dibuka, hari yang sangat nyaman. Kami berhasil mengumpulkan 6.000 Gulden ( kira-kira 3000 Euro ) netto. Dana itu ditransfer Kaori ke rekening kami. Dalam banyak hal, kami menerima uang tunai dan material untuk keperluan dokterdokter mata di Medan.

Dalam anggaran dasar adalah termasuk usia maksimal, saya pikir itu alasan yang baik untuk mengundurkan diri. Pada hari Rabu 23 Agustus 1995, saya ditawari makan malam oleh Yayasan di Alphen aan de Rijn, juga bersama Pastor Jo Veldkamp yang kebetulan datang dari Medan. Ini sangat saya hargai. Itu membuat saya sangat baik dan pekerjaa di Yayasan dilanjutkan dengan cara yang dinamis. Saya juga sangat menghargai para dokter mata kami yang menempatkan pengalaman dan pengetahuannya tanpa pamrih untuk orang lain. Pengalaman dan pengetahuan yang tersedia dimasukkan kedalam praktek dari Yayasan (SLAH). Suatu pujian, mengingat ulang tahun yang ke 25 akan dicatat oleh sejarah secara berkelanjutan. Jaap van der Pol

Jumlah dokter mata yang bersedia membantu bertambah. Saya membaca di Koran tahun 2007 yang saya simpan, pada thn 1992 pekerjaan itu baru mulai dan dari tahun 1992 – 2007 sudah lebih dari 6.000 orang dioperasi. Berarti ada perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan mereka. Juga di Papua dimana tidak ada dokter mata ketika itu, pekerjaan dapat berjalan dengan baik karena usaha dari Dr. Hian Oei. Pada tgl 13 July 1995, saya mencapai usia 72 tahun dan sebagai sekertaris Yayasan. 21


22


Toba meer 23


24


dr. Hj Ibu Murni Hamid Spesialis Mata en docent Universiteit van Medan

Kisah dari tiga zaman (Berdasarkan kisah nyata).

Dalam proyek mata, Ibu Hamid (Alm) memainkan peran sentral. Dia bertubuh kecil tapi berjiwa besar. Anda tidak bisa tidak mencintainya. Buku ulang tahun ini digali oleh sudut pandang para dokter Belanda. Ibu Hamid memberikan pandangan dari sisi Indonesia nya. BiograďŹ ini begitu menarik dan inspiratif dalam mana kami telah memasukannya secara integral.

1.

Zaman pendudukan Belanda.

Saya dilahirkan di Batavia, di zaman pendudukan Belanda, pada tanggal 4 April 1929. Kedua orang tua saya berasal dari Jawa Tengah, tetapi kemudian pindah ke Batavia, sehingga kami bersaudara semua dilahirkan dan dibesarkan di Batavia. Berbeda dengan pendapat umum, bahwa hidup orang pribumi dipersulit oleh kaum penjajah, masa kanak-kanak saya adalah masa penuh kebahagiaan. Ayahku bekerja sebagai “boekhouder� di salah satu perusahaan Belanda yakni De Hollandse Beton Maatschappij, dan hidup kami berkecukupan, walaupun tidak kaya. Saya bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) Kristen Protestan sampai dengan kelas 7. Disekolah kami harus membiasakan diri berbahasa Belanda dengan

teman-teman bahkan di rumah. Itulah sebabnya bahasa Belanda menjadi bahasaibu saya yang kedua, walaupun saat ini saya sudah tidak sefasih dulu lagi, karena jarang mempergunakannya. Setelah lulus dari HIS, saya diperbolehkan masuk HBS (Hogere Burger School) yang juga Kristen Protestan, tanpa ujian masuk karena angka-angka saya baik. Sekolah itu kebanyakan pelajarnya berbangsa belanda dan hanya sedikit orang pribumi seperti saya. Walaupun demikian, hubungan saya dengan teman-teman sekelas baik-baik saja, meskipun berbeda bangsa, bahkan agama. Saya senang bersekolah disitu karena kami juga mendapat mata pelajaran bahasa asing, seperti Bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Tapi sayang, belum sampai satu tahun penuh pelajaran disekolah itu, perang dunia kedua pecah, tentara jepang pun masuk.

25


II

Zaman pendudukan Jepang.

Sesudah bangsa Jepang menduduki negeri ini, kami disekolah diharuskan belajar bahasa dan tulisan Jepang. Tiap pagi kami harus berdiri di lapangan sekolah, menaikkan bendera Jepang, lalu kami harus membungkuk kearah Jepang untuk Kaisar Hirohito. Kami harus menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yakni Kimigayo. Siang hari kami harus makan bersama diruangan makan dengan meja-meja panjang dan makan bekal sendiri yang dibawa dari rumah. Tapi kami lebih banyak berada di luar sekolah. Kami harus membabat rumput di lapangan yang dikemudian hari menjadi lapangan terbang Kemayoran Jakarta.

Zaman itu adalah zaman yang sangat susah, semua barang-barang bahkan makanan di angkut ke Jepang, sehingga rakyat di Indonesia serba kekurangan dalam segalanya, terutama sandang pangan. Saya ingat, bahwa pernah untuk membuat baju, ibuku menggunakan gorden jendela untuk dibuat rok, sedangkan untuk membuat blus dipakai kain tetra yang biasa untuk popok bayi. Orang-orang Belanda ditangkap dan di masukkan ke dalam ‘internerings kamp’. Kamp tahanan ini hanya untuk wanita 26

dan anak-anak, sedangkan laki-laki tidak jelas dibawa kemana, kabarnya harus kerja paksa. Kami sering sembunyi-sembunyi ke pagar kamp-kamp wanita dengan membawa makanan seperti ubi, pisang dan lain-lain untuk ditukar dengan baju-baju (barter) dari tawanan-tawanan Belanda. Pada waktu itu semua orang yang pernah bekerja di perusahaan Belanda dicurigai sebagai mata-mata Belanda, demikian juga dengan ayahku. Pada suatu hari ia mendapat panggilan menghadap di kantor polisi Jepang (Kampeitai), yang sangat ditakuti masyarakat karena kekejamannya yang terkenal. Ayah harus berdiri di halaman kantor dari pagi sampai sore tanpa istirahat dibawah terik matahari yang membakar. Ayah bersama dengan banyak orang lain harus berdiri tegak dengan di awasi oleh polisi-polisi Jepang yang menyandang bayonet. Banyak yang jatuh pingsan, tapi Ayah kuat dan dapat berdiri terus sampai sore hari. Sesudah diinterogasi Ayah dinyatakan bersih dan bukan mata-mata Belanda sehingga diperbolehakan pulang. Waktu itu banyak orang yang kesulitan mendapatkan sesuap nasi, karena beras hilang dari penyimpanan, konon diangkut ke Jepang. Aku ingat bahwa untuk makan sekeluarga Ibu menyediakan sedikit nasi di tampah (seperti piring besar dari bambu), di lapisi daun pisang dan di atasnya diletakkan nasi dengan lauk pauk seperti tahu, tempe dan sayuran untuk makan seluruh keluarga. Kami duduk bersila di atas tikar dan makan bersama sedikit nasi dan lauk pauk itu. Begitu seterus nya kehidupan kami di zaman pendudukan Jepang itu hingga kemudian suatu hari bom atom di jatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki, tentara Jepang pun menyerah dan dengan panik dan kocar-kacir meninggalkan Indonesia.


III

Zaman kemerdekaan

Sesudah Jepang menyerah, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya Indonesia pun merdeka setelah berabad-abad dijajah oleh bangsa asing. Nasionalisme pun bergejolak, Semangatpun berkobar-kobar tapi keadaan masih jauh dari normal. Belanda masih ingin kembali dan dibantu oleh sekutunya Amerika dan Inggris melakukan agresi militer. Pertempuran sporadis pun terjadi di jalanan. Pernah dalam suatu tembak-menembak, rumah kami terkena peluru yang untungnya tidak menembus tembok, karena tembok terbuat dari granit. Tetapi disebelah rumah, dua orang tetangga kami tertembak, satu di

paha dan satu lagi di dada. Saat itulah timbul keinginanku untuk ikut berjuang dan bergabung dengan PMI. Saya ditugaskan di rumah sakit pusat di Jakarta (CBZ atau Centraal Batavia’s Ziekenhuis) yang sekarang menjadi RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Disana saya ditempatkan di ruang bedah untuk membantu pejuang-pejuang yang terluka dalam pertempuran. Ketika-sekolah-sekolah dibuka kembali, saya yang waktu itu pelajar SMA, kembali bersekolah. Pulang sekolah saya masih tetap membantu di rumah sakit untuk beberapa tahun lamanya.

Setelah lulus dari SMA di tahun 1948 saya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ketika saya masih mahasiswa di tingkat II, kami mahasiswa-mahasiswa dihimbau untuk mengajar di sekolahsekolah menengah. Waktu itu guru-guru sekolah menengah berkewarga-kenegaraan Belanda banyak yang sudah pulang ke negerinya, sehingga jabatan guru banyak yang kosong. Saya dan kawan-kawanpun menerjunkan diri dalam dunia pendidikan, disamping harus menekuni Sekolah Kedokteran.

Pada tahun 1955 saya sudah selesai menjalani Co-schap, tetapi akibat kesibukan mengajar, maka saya menunda-nunda ujian Arts I saya. Tapi akhirnya pada tahun 1960 saya sadar bahwa tujuan saya adalah menjadi dokter dan bukan menjadi guru. Maka saya mendaftar kembali di Fakultas Kedokteran UI, tetapi saya mendapati kenyataan tidak dapat diterima lagi karena saat itu kurikulum sudah berubah. Waktu itu saya sudah menikah dengan Abdul Hamid Mahmud yang juga mahasiswa sekaligus guru seperti saya. Kamipun sepakat untuk meneruskan studi di Medan, yaitu di Fakultas Kedokteran USU. Dan untuk mendapat Brevet Spesialis, kami harus kembali ke Fakultas Kedokteran UI selama setahun. Demikianlah sesudah menjadi Spesialis Mata, kami tetap menekuni hobby kami, 27


yaitu mengajar. Kami mengajar di Universitas Methodist Indonesia (UMI) dan Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), disamping praktek dokter partikulir. Begitulah rutinitas kami setiap hari, yaitu praktek dan mengajar. Kemudian pada suatu hari di tahun 1992, saya mendapat undangan untuk menghadiri rapat di Rumah Sakit St. Elisabeth. Undangan tersebut dari dr. N.A. Budhi Parama, yang waktu itu menjabat sebagai Direktur RS St. Elisabeth. Disanalah saya pertama kali bertemu dengan Pastoor Johannes Veldkamp, yang sampai sekarang menjadi teman baik saya. Pada rapat itu dibicarakan mengenai sekumpulan dokter-dokter mata Belanda yang tergabung dalam SLAH, yang ingin menyumbangkan tenaga mereka dengan cara melakukan operasi-operasi cataract secara gratis di Medan. Berita itu saya sambut dengan heran dan terharu. Heran karena mereka adalah orang-orang asing, tapi mau menyumbangkan tenaga mereka dengan sukarela untuk orang-orang yang tidak mereka kenal. Terharu karena mereka termasuk bangsa yang dulu telah menjajah kami selama 3 abad, dan sekarang mau kembali untuk menolong bangsa kami. Sungguh mereka adalah orang-orang yang berhati mulia. Maka dibentuk Badan Kerja Sama Pencegahan dan Penanganan Penyakit Mata (BKS P3M), yang terdiri dari Fakultas Kedokteran UMI (saya sebagai wakilnya), Balai Pengobatan Karya Kasih, dan satu Badan Pemerintah yakni MKGR sebagai pelindung. Saya diangkat menjadi Ketua Tim Medis. Dan di Balai Pengobatan Karya Kasih akan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan persiapan-persiapan untuk operasi cataract. Walaupun saya seorang Muslim, saya tidak keberatan untuk bekerja di ling28


kungan orang-orang Katolik. Malahan yang dulunya orang-orang menganggap bahwa Karya Kasih hanya untuk pengobatan orang-orang Katolik, sesudah mereka melihat saya yang selalu memakai tudung kepala (hijab), maka banyak orang-orang Muslim yang datang berobat, termasuk mereka yang mau menunaikan Ibadah Haji, atau yang sudah menjadi Haji pun banyak yang menjadi pasien kami. Saya juga membawa 2 refraksionis yang bekerja di praktek saya, Midah dan Adi, untuk membantu di Karya Kasih. Mereka juga orang Muslim, dan sama seperti saya adalah sukarelawan, tidak ada yang menggaji. Maka kedua refraktionis itu saya beri uang ongkos jalan dari kantong saya sendiri. Walaupun demikian, mereka tidak pernah mengeluh dan selalu setia melakukan pekerjaannya. Suasana di Poliklinik Mata selalu ramai dan ceria. Kami selalu tertawa dan bercanda dengan perawat-perawat. Pokoknya suasana selalu ramai dan menyenangkan, apalagi kalau Pastoor Jo atau dokter-dokter Belanda datang. Dan setiap kali dokter-dokter sudah selesai melakukan operasi, maka sebelum mereka pulang ke negeri Belanda, kami adakan pesta perpisahan, dengan makan-makan di restoran. Saat-saat seperti itu semakin merpererat tali persaudaraan antara saya, perawat-perawat Karya Kasih, dan dokter - dokter Belanda. Pada tahun 1999 saya mendapat undangan dari SLAH, untuk menghadiri Hari Ulang Tahun SLAH yang ke-10 di Belanda. Kebetulan waktu itu saya akan melakukan perjalanan tour di Eropa bersama kakak saya, dan rencananya setelah selesai tour, kami tidak akan pulang bersama rombongan tour, melainkan kami akan pergi ke Belanda selama 1 minggu. Di Zurich, anak saya yang tinggal di Kanada bergabung

dengan kami, dan kami menjalani tour dari Swiss ke Jerman, Belanda, Belgia, Paris, lalu menumpang ferry ke London. Di London kami berpisah dengan rombongan, dan meneruskan perjalanan ke Amsterdam. Di Airport kami dijemput oleh dr. Frans Ros, yang datang sambil membawa satu buket bunga yang cantik. Kami menginap beberapa malam di rumah dr. Frans Ros di Utrecht, dan kami juga diajak jalanjalan oleh dr. Frits Dubois. Dari rumah dr. Frans Ros kami pindah ke rumah dr. Hian Oei de Ulverhout. Dari sana kami jalanjalan ke Amsterdam dengan Thea dan Anton Blankesteijn. Juga ke Universitas Leiden dengan Jill Van Den Berg (dulu Jill Wesselink). Kami juga pergi ke Rotterdam mengunjungi teman. Saya juga menyempatkan diri untuk menjumpai kawan lama saya Sr. Laura Oosterveer (pensiunan Direktris Rumah Sakit St. Elisabeth Medan) yang waktu itu tinggal di Klooster di Breda. Beliau sangat senang dengan kedatangan kami, dan kami bernostalgia tentang masa lalu. Sr. Laura pernah mempunyai proyek untuk orang-orang yang sakit kusta, yang diberi sebidang tanah untuk bercocok tanam dan membuat furniture. Dan kalau orang-orang tersebut sakit mata, beliau selalu minta pertolongan saya. Perjalanan kami di Belanda walaupun sangat singkat, tapi sangat menyenangkan. Kembali ke Medan, hidup kembali seperti biasa. Praktek dan mengajar di universitas, dan 2x seminggu ke Karya Kasih. Semua itu saya jalani dengan gembira dan sepenuh hati. Sampai suatu hari di tahun 2008, datang berita yang menyedihkan. Dr. Ton Smit datang membawa berita bahwa SLAH tidak mendapat izin lagi dari pemerintah, untuk melakukan operasi cataract di Karya Kasih. Semua alat-alat untuk operasi akan dipindahkan ke Ambon, karena jasa mereka dibutuhkan disana. Sungguh suatu ironi bahwa 29


niat baik mereka dilarang di Medan, tapi di Ambon justru dibutuhkan. Maka dengan demikian kamipun menutup Poliklinik Mata di Karya Kasih. Pada hari terakhir praktek di Karya Kasih saya memesan nasi kotak dari suatu restoran sebagai tanda terima kasih pada semua perawat-perawat yang telah membantu saya selama saya bertugas di Karya Kasih. Suasana saat perpisahan itu sangat mengharukan dan banyak yang mengucurkan air mata. Selesailah sudah tugas di Karya Kasih, tapi tidak selesai hubungan dengan perawat-perawat Karya Kasih yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Walaupun kami berlainan suku dan agama, tapi hubungan bathin kami tetap dekat sampai sekarang.

Beberapa dari perawat - perawat yang sekarang masih bekerja di Karya Kasih masih sering datang ke praktek saya, hanya untuk melepas rindu dan mengenang masa lalu. Begitupun dengan pasien-pasien yang dulu berobat ke Karya Kasih, masih banyak yang datang ke praktek saya. Mereka semua merindukan pengobatan di Karya Kasih yang sekarang sudah ditutup. Mereka semua berharap suatu hari Poliklinik Mata di Karya Kasih akan dibuka kembali. Saya hanya bisa turut mendo’akan semoga harapan mereka itu suatu hari akan terkabul, dan SLAH akan mengirim dokter - dokternya lagi ke Medan. 30

In Memoriam Bapak H. Raja Inal Siregar (Gubernur Sumatra Utara) Dr. N. A. Budhi Parama (Direktur RS St. Elisabeth) Dr. Waldemar Tambunan (Dekan FK UMI) Sdr. Adi (Refraksionis) Zr. Laura Oosterveer (Direktur RS St. Elisabeth) Dr. Hj. Ibu Murni Hamid


Toba meer


Anton Blankestijn Sekertaris SLAH 1995 - 2007

Akan dilihat dari jembatan Kepercayaan dari sukarelawan

Mengapa dilihat dari jembatan ? Saya adalah satu-satunya dalam Dewan Stichting Leer Anderen Helpen (SLAH) yang bukan dokter mata atau memiliki kedekatan apapun dengan rumah sakit. Jika pembicaraan dalam pertemuan dewan dalam sisi tehnis, saya beralih. SLAH berarti seorang relawan yang tanpa kompensasi keuangan dapat melakukan tugasnya tanpa pamrih, juga para dokter mata terkait. Bagaimana anda akan sukarela meskipun kaya dan bukan seorang dokter mata? Pada medio 1995, saya berjuang dengan mata saya dan dokter keluarga saya merujuk pada dr. D.T.T. Tjia (Donald), spesialis mata, yang berpraktek di Hoofddorp. Ketika saya duduk dikursi pasien, saya melihat foto-foto yang nampaknya diambil didaerah tropis. Dia melihat minat saya dan mikroskop mata dikesampingkan, dan dia mulai bercerita dengan bergairah mengenai Stichting Leer Anderen Helpen dimana dia sebagai pendirinya. Ternyata, itu adalah sebuah yayasan yang mengirimkan dokter-dokter mata ke Medan (Sumut) untuk memberikan perawatan mata dan jika perlu mengoperasi. Tiba-tiba dia berkata, kami perlu seseorang yang mampu menggalang dana. Apakah itu tepat buat anda? Apa yang bisa saya jawab?

32

Antusiame dan persuasive Donald begitu besar dan saya hanya bisa menjawab spontan “ya”. Kemudian saya pernah bertanya bagaimana idenya muncul dan mengundang saya? “instuisi” jawabnya tertawa. Setelah beberapa waktu saya ditelpon oleh Donald, ”malam ini saya akan jemput anda dan memperkenalkan anda pada rapat dewan di RS Rijnland di Leiderdorp”. Pertemuan itu cukup ramai karena selain dewan, ada dua orang dokter mata yang baru kembali dari Papua, yaitu dr. Hian Oei dan dr. Frits Dubois. Mereka berada disana untuk eksplorasi tapi mereka mendapatkan kesempatan untuk melakukan 37 operasi katarak. Salah satu hal yang meyakinkan saya dari kepimpinan yang ketat dan efisien dari ketua dr. Arnoud Boesten. Arnoud Boesten adalah direktur RS Rijnland yang berkantor di Leiderdorp dan Alphen aan de Rijn dimana beliau bersama Donald Tjia mendirikan Stichting Leer Anderen Helpen pada tahun 1989. Pada saat itu saya ditambahkan di dalam daftar. Arnoud menatap saya dengan berat dan bertanya apa yang dapat dilakukan untuk yayasan. Terus terang saya belum berpikir untuk itu. Saya beringsut gugup dikursi dan saya merasa semua mata tertuju kepada saya. Saya perhatikan, yayasan tidak menerbitkan


bulletin informasi untuk pendonor dan belum mempunyai database. Saya pikir, saya bisa membuat data basis donor dan menerbitkan bulletin sebagai salah satu kegiatan pertama saya. Arnoud Boesten mengangguk setuju tanpa komentar dan melanjutkan ke agenda berikut. Itulah pengenalan saya yang pertama dengan SLAH. Atas saran Hian dan Frits Dubois, SLAH akan beroperasi di RS Dian Harapan di Waena Papua, disana tidak ada dokter mata. Setelah ada dua dokter mata dalam satu tim, Hian dan Loes isterinya berangkat ke Irian Jaya/Papua. Dengan menggunakan alat-alat yang dipasang oleh SLAH, mereka membentuk bagian mata dari RS Dian Harapan yang mengorganisir bagian mata di wilayah lain yang tidak terjangkau. Seorang Dokter umum setempat telah berhasil menyelesaikan pelatihan sebagai dokter mata di Sulawesi untuk memperkuat bagian mata dari RS Dian Harapan setelah menyelesaikan studinya. Bagian mata ini dapat berdiri sendiri berkat upaya organisasi Dr. Oei, dimana hal itu adalah yang ideal untuk organisasi yang memberikan bantuan. Oleh karena itu saya bertanya kepada diri sendiri mengenai tugas menyusun database donor-donor untuk pihak yang berkepentingan. Selain itu saya terlibat dengan bulletin bernama “Oculaire� Percetakan Koning dari Hoofddorp mempunyai hati yang baik kepada yayasan dan memberikan kepala surat, amplop, mendesign logo dari yayasan, mencetak brosur dan “Oculaire� secara gratis. Pada setiap awal tahun, brosur Oculaire diterbitkan, terdapat juga kartu giro untuk menentukan sumbangan sendiri. SLAH tid-

ak pernah menggalang dana secara agresif. Penekanannya pada penempatan setiap orang dalam yayasan yang tidak sepenuhnya bekerja dan tertarik bertamasya pada proyek-proyek yang dibuat. Pada periode saya (1995-2007), kami mengoperasi di Karya kasih Medan (Sumut), Dian Harapan di Waena (Irian Barat) dan kemudian di Bangka. Hal itu berlangsung lancar? Jawabanya sangat jelas. Tidak! Masalahnya adalah mendapatkan izin yang tepat yang memungkinkan seseorang dapat bekerja sebagai dokter mata di Indonesia. Indonesia adalah sebuah Negara dengan angka prosentase kebutaan tertinggi, dimana tidak ada sistim asuransi kesehatan social, dimana orang miskin tidak diberikan bantuan medis. Untuk merekalah dokter mata Belanda pergi ke Indonesia untuk perawatan mata cumacuma. SLAH mengatur posisi netral dengan ketat antara suku jenis, agama atau aliran politik. Hanya orang yang tidak mampu memenuhi syarat dokter mata Belanda. Satu nama harus disebutkan disini, adalah Ny. Hj. Dr. Murni Hamid Sp.M. dia adalah seorang guru di Universitas Islam Medan dan dia aktif berpartisipasi dalam project mata ini. Dia melakukan pra seleksi dan menurus pasca operasi. Juga para mahasiswa magang datang ke Karya Kasih ketika dokter mata Belanda datang kesana. Sebagian besar dokter mata memandang dengan kecurigaan meskipun ada sikap netral yang jelas. Sebagai titik sentral di Medan adalah Pastor Jo Veldkamp yang memegang kekuasaan atas Karya Kasih. Dia adalah kontak penting antara masyar33


akat medis dan administrasi pemerintahan Sumut. Berkat keterampilan organisasi dan ketekunan para dokter mata, project ini bisa berhasil meskipun semua dimulai dari awal. Karya kasih menyediakan ruang operasi permanen. Pada umumnya, dalam setahun dikirim tiga tim dokter, mereka dijemput oleh Pastor Jo Veldkamp di bandara, oleh sebab itu mereka aman dan lancar saat melalui petugas bea cukai. Itu sangat penting karena mereka membawa serta alat-alat medis dan obatobatan. Bea cukai tidak mempermasalahkan jika kotak-kotak obat harus dibuka. Jika tim dokter akan berangkat dari Schipol, saya menjabat tangan mereka dan biasanya saya berhasil mengusahakan tempat-tempat duduk yang lebih baik untuk mereka dan saya juga mengurus kotak-kotak besar yang berisi obat-obatan yang harus dilengkapi dengan berbagai cap. Saya menceritakan hal ini setelah dokter mata tiba dan itu akan menyenangkan jika mereka dapat beristirahat dengan baik. Para staf/crew airlines juga sangat membantu. Jerry Vermie, petugas travel dari Yayasan sudah dapat memastikan kelebihan bagasi selalu dapat diterima selalu. Donald Tjia dilahirkan di Pulau Bangka, meskipun orang tuanya pindah ke Jakarta pada waktu dia berusia enam bulan, dia tetap mempertahankan hubungannya dengan pulau itu. Donald melakukan hubungan dengan teman-temannya, Bp. Agoes Soelaiman dan Bp. Amir Danoehoesodo. Meskipun mereka tinggal di Jakarta, mereka tetap ada hubungan dengan Bangka. Dengan keterlibatan mereka, Bangka memulai dengan sebuah project mata. Bp. Agoes adalah direktur dari perusahaan transport internasional yang besar, sehingga petugas 34

bea cukai banyak dikenal. Bp. Amir adalah seorang mantan hakim pension yang pernah study di Utrecht, bisa berbahasa Belanda, lisan dan tulisan dengan sempurna seperti Ny. Dr. Hamid di Medan. Dia mengurus semua izin-izin dokter-dokter mata yang akan bekerja di Bangka, terbang melalui Jakarta. Ketika mereka tiba di Jakarta, mereka bertemu dengan Bp. Agoes dan Bp. Amir. Mereka segera melewati petugas bea cukai dengan cepat. Mereka tuan rumah yang baik. Ketika Dr. Tjia berada di Pangkalpinang untuk suatu pembicaraan, tiba-tiba datanglah seorang perawat dengan panik menyatakan ada seorang gadis kecil dengan cedera di matanya, dia jatuh di aspal ketika bermain. Tidak ada dokter mata, tetapi untunglah ada dokter bius. Donald menyuruh agar gadis itu dibawa ke ruang operasi dan mengoperasinya dengan hasil memuaskan bersama operasi plastik. Donald meyakinkan saya bahwa dalam beberapa saat bisa sembuh total. Orang tuanya bahagia dan bersyukur. Manfaatnya dari operasi di Bangka adalah tersedianya dokter bius. Orang dewasa dibius lokal, anak-anak harus dibius total. Ada orang tua membawa anak kecil yang hampir buta karena katarak berat. Dokterdokter mata SLAH bekerja begitu lama sehingga mereka mampu mengoperasi kedua matanya. Ketika mereka datang lagi ke Bangka, orang tua dan anaknya tidak digendong lagi tetapi datang sendiri naik sepeda tanpa bantuan. Dokter mata adalah pahlawan saya. Mereka bukan hanya top di bidang mereka, tetapi mereka juga hebat jika menemui tekanan. Begitu mereka berangkat dari Holland yang dingin, mereka dihadapkan dalam lingkaran tropis dibawah kondisi yang berbeda dari Holland yang mereka sudah terbiasa. Sekali


terjadi tidak ada listrik dan gensetnya tidak jalan, kemudian dilanjutkan dengan lampu senter. Pasien tidak menyadari hal ini. Hari berikutnya dia bisa melihat lagi. Dokter mata tetap pahlawanku! Anton Blankestijn

Amersfoort, Kerststallen actie 2005

35


Jo Veldkamp Pater Kapusijn di Medan

Operasi mata yang ke 4.000 di Karya Kasih Medan, Jumat 9 Febuari 2001

Jumat pagi di Karya Kasih, kegiatan dimulai seperti biasa. Pada pukul 06.30, sebanyak 13 pasien dibangunkan untuk berpakaian dan makan pagi. Pasien-pasien yang akan dioperasi diinapkan semalam sehingga mereka cukup istirahat dan jika dalam keadaan darurat dapat segera ditangani. Pada pukul 07.00 pagi pasien-pasien berkumpul dikantor untuk diberikan petunjuk apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah operasi dilakukan. Pada saat itu juga 2 orang suster membuat persiapan didalam ruang operasi. Pukul 08.00, 2 orang dokter mata Belanda datang, dari Siep van der Veen dari Herenveen dan dr. Nico Buisman (alm.2011) dari Apeldoorn ke kantor. Yang akan dioperasi pertama adalah 2 orang pasien, mereka dibius lokal dr. van der Veen. Sedang dr. Buisman memeriksa pasien-pasien dari hari sebelumnya dikantor dokter. Itu merupakan kegiatan sehari-hari dimana kami melihat hasil operasi hari-hari sebelumnya. Pasienpasien yang dulu menderita setengah kebutaan atau benar-benar buta, kini dapat melihat kembali. Suka cita dan rasa syukur. Setelah pasien-pasien diperbolehkan pulang, pasien-pasien yang baru dioperasi hari ini harus diamati dulu sejenak. Sementara itu, diluar ada berbagai aktivitas. Pasien-pasien yang boleh pulang, dijemput

oleh 3-4 anggota keluarga dan ada kelompok yang mengantarkan pasien yang akan dioperasi hari ini. Akhirnya ada kelompok pasien baru yang membuat perjanjian untuk penelitian oleh dokter mata lokal, mereka harus rela menunggu beberapa bulan. Pukul 09.00 pagi ada 40 pasien yang telah terdaftar untuk menghadap dan diperiksa oleh Ibu Hj. Dr. Murni Hamid Sp.M. Ibu Hamid adalah dokter mata dengan pengalaman yang luas. Karena usianya, dia tidak mengoperasi lagi, beliau mempunyai klinik mata sendiri dan beliau adalah seorang dosen di Universitas Islam di Medan. Sejak tahun 1992, beliau telah berkecimpung dalam proyek mata ini dan beliau datang setiap hari Rabu dan Jumat berama 2 orang asisten nya untuk melakukan penelitian dan pemeriksaan dan seleksi pasien yang memenuhi syarat untuk dioperasi dan melakukan pemeliharaan setelah operasi dilakukan. Beliau telah memeriksa lebih dari 30.000 orang yang berarti lebih dari 50.000 orang telah melakukan konsultasi. Ibu Hamid dan 2 orang asistennya melakukan semua ini secara sukarela kecuali biaya perjalanan untuk 2 asistennya. Jumat adalah hari yang istimewa, pasien yang ke 4.000 akan dioperasi. Seperti pasien yang ke 3.000, seseorang dipilih untuk 37


38

sebuah nama Pasaribu, yang berarti seperti “bapak ribu�. Diluar sana ada sebuah layar tv agar semua orang dapat mengikuti jalannya operasi. Banyak pejabat hadir, diantaranya wakil Gubernur Sumatera Utara, Ketua Pemerintahan Provinsi, wakil Walikota Medan dan ketua DPRD Sumatera Utara. Pertama kali kami diizinkan untuk menyambut mantan Gubernur Sumut, Bapak Raja Inal Siregar. Beliau pada tahun 1992 sebagai pelindung SLAH, membuka proyek mata ini dan beliau masih merasa terlibat dalam proyek ini. Pukul 10.00 pagi tim dokter dan perawat sudah siap untuk mengoperasi, namun hal ini tertunda karena para tamu diajak melihat beberapa cuplikan berita dan persiapan kamar operasi. Dokter van der Veen

kerja sama dari semua instansi. Sekitar 10.45 operasi selesai. Para tamu penting, dapat melihat ke ruang operasi dan mengucapkan selamat kepada pasien dengan keberhasilan operasi ini. Ibu Bp. Pasaribu juga mengucapkan kata-kata singkat berterima kasih, sangat bagus! Para tamu penting mendapatkan cedera mata dari acara ini. Mereka masih berbincang bincang sebentar dan pukul 11.30 semua pulang. Didalam undangan telah diberikan informasi penting Karya Kasih dan proyek mata ini, sehingga semua dapat dijelaskan dengan baik. Pertemuan ini direncanakan dengan hatihati karena pukul 12.30 orang Muslim pergi ke mesjid untuk ber sholat jumat. Sementara itu Ibu Hamid telah memeriksa pasien dan beliau harus menghadiri bagian akhir

harus mengoperasi pukul 10.15, jika tidak obat bius harus diulang. Diluar, dr. Buisman menjelaskan gambar pelaksanaan operasi di layar monitor. Wakil Gubernur dalam pidatonya mengucapakan banyak terima kasih dan bersyukur atas proyek ini dapat berjalan walaupun dengan sarana yang terbatas dan untuk masyarakat tanpa membedakan suku, ras ataupun agama. Beliau menjanjikan dukungan penuh untuk masa yang akan datang. Maka dari itu kita mengundang para pejabat untuk mendapatkan

dari operasi. Para perawat harus mempersiapkan ruang operasi lagi untuk operasi sore. Semua pasien diberi makan, kegiatan operasi berjalan seperti biasa lagi. Untuk dunia luar, maupun untuk kita semua, adalah sangat berguna untuk memberikan perhatian khusus pada operasi yang ke 4.000. Pada tahun 1992, setelah banyak persiapan dan perdebatan, proyek ini dimulai, tidak ada yang dapat menerka bagaimana semuanya akan terjadi.


Itulah awal dari “kita akan melihat”. Sementara itu ada Stichting Leer Anderen Helpen SLAH di Belanda dan Yayasan BKS dari Medan. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat baik. Para dokter datang dengan antusiasme yang besar. Sukacita dan rasa syukur dari masyarakat selalu menjadi daya tarik mereka. Setiap kali jika 2 orang dokter datang, ada saja pasien yang benarbenar buta. Beberapa hari setelah mereka dioperasi, mereka dapat melihat lagi, orang-orang, pohon, warna. Berulang kali mereka mengatakan “itulah maksud kami”.

agama menjadi bersama sama. Karya Kasih merupakan pusat Katolik. Ibu Hamid adalah seorang Muslim, juga para asisten nya. Beliau adalah juga seorang dosen di Universitas Islam di Medan. Namun beliau membiarkan para mahasiswanya melakukan kuliah praktek di Karya Kasih. 10 tahun yang lalu, hal itu tidak mungkin terjadi. Sebagian besar pasien juga Muslim. Hal ini menyebabkan keterbukaan yang luar biasa untuk agama agama lain, sehingga Medan tidak mengenal fanatisme. Jo Veldkamp

Selain fakta bahwa begitu banyak orang menjadi sembuh, proyek ini memberikan dampak yang besar. Itu bukan hanya SLAH dan para dokter yang pasti memberikan

Nico Buisman †

bantuan, banyak para sponsor yang juga memberikan mendukung proyek ini secara finansial. Garuda Indonesia dan Singapore Airlines memberikan 40 kg barang bawan lebih dari normal untuk membawa obat obatan, lensa dan alat-alat medis. Impor barang-barang ke Indonesia sangat sulit, banyak izin yang diperlukan. Bea cukai membiarkan semuanya ini lewat tanpa dokumen maupun izin. Proyek ini di Medan, membawa rakyat dan 39


Frans Ros Spesialis Mata

Darah, Keringat dan Airmata

Pada tahun 1985, saya datang pertama kali ke negara asal saya untuk menghadiri konferensi Perdami - NOG yang diadakan di Jakarta. Pada tahun 1993, saya ditanya oleh dokter mata Paul van Asdonk apakah saya mau mengoperasi di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan SLAH menjadi bagian penting dari hidup saya. Pada tahun 1990 saya bersama dokter mata Hian Oei pergi ke Medan untuk tugas SLAH. Hal pertama yang saya alami ketika keluar dari pintu pesawat dan tiba di Indonesia adalah perasaan diselimuti oleh selimut yang hangat, saya ingat betul. Kemudian, saya, kecuali Bandara Medan dan Karya Kasih, tidak banyak melihat kota Medan karena dari sejak pagi sampai malam terus bekerja. Makan malam keluar diajak oleh Richard Kurniawan dan Jo Veldkamp ke sebuah restaurant yang jauh, namun sangat baik dan kita bisa menikmati makanan yang lezat. Untungnya Richard dengan cepat mendapat informasi bahwa kami tidak suka ber karaoke. Saya menemukan antusiasme yang luar biasa, keceriaan, etos kerja dan dedikasi dari semua orang yang terlibat dalam proyek mata Karya Kasih. Dalam hubungan ini, Pastor Jo Veldkamp, karena energy yang tidak ada habisnya, Ibu Dr. Hj. Murni Hamid dan Richard Kurniawan sebagai ahli tehnik dan jago makan yang mendapatkan penyambutan terhormat. Juga semua pujian untuk Sr. Crispina, 42

pemain pingpong yang paling antusias dari Medan dan sekitarnya, yang kemudian diikuti oleh Sr. Ignasia dan banyak sustersuster kamar operasi Karya Kasih yang sering bekerja dari matahari terbit sampai senja dengan membersihkan alat-alat operasi yang akan dipergunakan lagi hari berikutnya. Untungnya, banyak dari antara mereka diberikan kesempatan dengan bantuan dan dukungan keuangan untuk melanjutkan pendidikan dan memberikan jasanya untuk peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Menyenangkan, dari jalan jalan bersama, kita dapat berkonsultasi dengan teman tentang masalah mata. Itulah yang yang mendorong saya memberikan kualitas kerja, terutama didaerah tropis yang mempunyai prinsip tersendiri. Bersama Hian Oei saya berkontribusi memperkenalkan formulir operasi katarak di Medan, juga kami memetakan hasil dari 7 tahun operasi melalui ceramah “blood, sweat and tears�


juga dalam bentuk poster pada kongres tahunan NOG, Nederlands Oogheelkundig Gezelschap pada tahun 2000. Dengan perasaan campur aduk saya berpikir kembali mengenai pelatihan ini, karena kami memeriksa pasien yang dipanggil, mengedit status-status dari malam sampai pagi dan pada siang hari pasien dioperasi. Tetapi akhirnya ada kepuasan dan kepastian bahwa hasil operasi di Medan keadaannya lebih meyakinkan dan meningkat. Sayangnya pada tahun 2001 keberhasilan Karya Kasih dibayangi oleh endemisme pasien pasien endothamistis ketika dokter mata dr. Maarten Rol dan saya berada di Medan. Kita terpaksa menghentikan operasi lebih awal. Menurut saran kami tidak lama setelah kami kembali, dan kami mengirimkan team ahli yang terdiri dari Jan van Meurs, Wilda Batubara (mereka adalah dokter yang bisa berbahasa Indonesia), Ton

petualangan saya bersama Maarten Rol di Medan dan sekitarnya. Pada tahap berikutnya, saya ke Medan dengan Monika Landesz. Implantasi sekunder dengan lensa Artisan yang tidak sengaja, ternyata sangat indah. Segala sesuatu saya berfikir dengan rasa syukur dan dari fakta SLAH telah membuktikan batas kemampuan saya, saya datang untuk memahami betapa pentingnya ada tim yang bisa jadi baik. Dan saya tahu sekarang bahwa alat-alat operasi dan situasi kerja di RS Diakonessenhuis Utrecht tidak buruk amat. Selain pengalaman menunjukkan mitra lokal yang berpengaruh dan sangat kuat , karena jika tidak, proyek pasti gagal. Bekerja dengan SLAH dan orang lain, saling membantu, itulah harapan saya pada setiap dokter mata muda. Frans Ros

Boks (ahli sterilisasi) dan Noor Teterisa (suster operasi). Setelah analisa lengkap diketahui penyebabnya adalah adalah kontaminasi batch ampul dengan asetikolin. Penyelidikan ini menghasilkan protocol operasi dan sterilisasi di Karya Kasih menuruti standard publikasi British Journal of Ophthalmology. Saya menemukan kepuasan dalam 43


Frits Dubois Spesialis Mata

Indonesia, budaya lain yang memperkaya kehidupan Anda Pada tahun 1992, saya beruntung dikirim oleh SLAH. Setiap tahun saya sudah melihat keinginan untuk melihat budaya lain yang memperkaya diri anda bukan sebagai turis melainkan sebagai “penduduk� yang berkarya. Selama 14 tahun saya pergi ke Medan dan bekerja disana selama 3 minggu di Karya Kasih, sebuah rumah sakit kecil ditengah kota dengan berbagai fasilitas medis yang baik. Ada dokter gigi, dokter umum dan bagian kebidanan dengan bagian anak-anak yatim dan bagian orang lanjut usia. Kami mengoperasi sebagian besar dari pasien-pasien yang hampir buta karena katarak matang. Berarti, terlepas dari agama, semua pasien dapat berkunjung kesana. Kami bekerja sama dengan seorang dokter mata wanita muslim yang sudah berumur, yang melakukan perawatan prenatal dan postnatal bersama perawat bedah Indonesia. Selain ada pembantu rawat yang kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggeris, namun bekerja dengan sangat memuaskan, terutama seseorang yang ditunjuk, dapat segera menyelesaikan tugasnya sendiri. Saya teringat dengan seorang ibu berusia 33 tahun dan mempunyai 3 orang anak, dapat melihat anak-anaknya pertama kali setelah dioperasi. Atau peristiwa dimana saya mendapatkan sebuah Rosario sebagai ungkapan rasa syukur setelah dioperasi, namun saya harus mengembalikannya karena saya bukan Katolik. Mungkin mereka

bisa berkarya kembali secara independent tanpa bantuan kami, mencari pekerjaan dan mendapatkan uang untuk keluarga. Selain itu kami mengetahui bahwa tidak semua pasien dapat dioperasi. Bekerja di poliklinik juga sangat instruktif, kami melihat patologi mata secara terus menerus selama 3 minggu. Dari anak anak tanpa mata dan harapa bahwa “dokter putih� dapat menyembuhkannya. Ada pula penyimpangan yang bisa disembuhkan tetapi karena kemiskinan, hal ini tidak bisa dilakukan. Sayangnya, soal izin resmi mempersulit untuk mengoperasi disana, meskipun kami selalu memiliki izin yang lebih resmi, namun orang Indonesia pun sulit untuk bekerja di Belanda. Dirumah, saya sering berpikir apa yang dikeluhkan banyak orang di Belanda. Saya beruntung diizinkan untuk melakukan hal ini. Saya juga menikmati Negara yang harumnya, suaranya, orang-orangnya dan makanan nya yang selalu lezat. Saya merenung, saya ingin segera kembali. Frits Dubois

45


Maarten Rol Spesialis Mata

Angka dan manusia

46

Oleh Donald Tjia, dokter mata seperti saya, yang bekerja di RS Rijnland di Leiderdorp, saya dibuat antusias untuk SLAH, sebuah yayasan yang didedikasikan untuk memerangi kebutaan di Indonesia. Masalah kebutaan di Indonesia besar dan perlu di tindak lanjuti. Dokter dokter SLAH membantu dengan berbagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas terutama operasi katarak. Salah satunya adalah bantuan untuk menghemat waktu dengan seleksi pasien terlebih dahulu.

Frans, saya melakukan pelayanan operasi beberapa kali di Medan dan sekitarnya.

Seorang wanita yang berusia 24 tahun pupil putih rangkap, datang ke poliklinik. Dia tidak harus dioperasi kata asisten karena ada diabetes dan hamil tua. Dokter Frans Ros dan saya meng operasi dia menurut cara seleksi kami. Operasinya berhasil dan untung tidak ada penyimpangan diabetes di retina. Dengan

Selanjutnya metode operasi lebih disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan (intracasuler,extracapsuler dengan atau tanpa inplantasi lensa buatan, jahitan, metode lampiran, insisi lebih kecil dll) Selain di Medan, operasi dilaksanakan juga diluar kota. Ini didampingi oleh perayaan

Tetapi dengan penyesuaian proses, ternyata dapat meningkatkan produktivitas. Jelang antara operasi dapat menghilangkan waktu karena harus berpakaian kembali. Hanya dengan bersarung tangan dan membilas dengan alcohol dan penggantian setiap waktu, banyak kehilangan waktu. Hal itulah banyak digunakan agar hasil operasi lebih banyak meskipun resiko infeksi lebih tinggi sedikit.


adat dan pengaanugerahan simbol adat berupa selendang yang disematkan di bahu oleh pejabat setempat lengkap dengan jamuan makan dan tabuhan gendang di malam hari. Namun kami di pantau secara ketat. Kegiatan operasi diawasi oleh video kamera dan saya harus menjawab pertanyaan mengenai tehnik ikatan. Saya belajar untuk membawa tombol dari jahitan nylon lebih dalam dari dari yang saya gunakan di Belanda. Pada hari sebelum kunjungan kami,

tetapi tidak ada fasilitas seperti rumah sakit swasta di Belanda. Setelah kembali ke rumah, setiap nilai uang menjadi lebih berharga.

ternyata semua pasien telah dilihat oleh seseorang yang bekerja di suatu inspektorat. Saya pikir, kekuatan yang berseberangan terletak dari kerjasama dan dedikasi manusia. Lebih penting lagi, adalah transfer ilmu yang bisa diperluas. Bekerja didaerah tropis memiliki semua secara dinamis, bebas dari peraturan yang menyesakkan,

menyenangkan kehidupan kami. Tentu kami tidak dapat melupakan para suster, mereka mempunyai komitment yang sangat besar. Selain itu adalah Richard Kurniawan yang bertindak sebagai, kami menyebutnya “vliegende keep� (keeper terbang).

Maaf saya tidak dapat menyebutkan semua nama yang membuat kami dapat melaksanakan tugas di Medan. Saya membatasi dengan menyebut Dr. Hj. Hamid, Sp.M, dokter mata yang melakukan praeseleksi dan perawatan pasca operasi. Pastor Jo Veldkamp yang mengurus sisi organisasi dan selalu mencoba

Maarten Rol

47


48


49


Siep van der Veen Spesialis Mata

Biaya kesadaran di Medan

Sejal tahun 1998 sampai 2012, saya melakukan perjalanan ke Indonesia sebanyak 10 kali dengan beberapa rekan untuk melakukan operasi katarak. Pada kesempatan ini saya bisa bekerja untuk SLAH di berbagai proyek. Setiap perjalanan memiliki kesan tersendiri bagi saya.

50

Saya mempunyai kenangan dan sangat menyukai proyek pertama di Medan. Dalam waktu 2 kali setahun, dua orang dokter mata SLAH dikirim kesana. Ini

Karya Kasih didirikan oleh Gereja Katolik Roma, di kompleks itu ada biarawan dan biarawati bekerja, termasuk Pastor Jo Veldkamp yang merupakan coordinator kegiatan operasi mata yang berhasil. Melalui kerja sama dengan dokter mata local, dr. Hamid yang melakukan seleksi awal operasi dan pasca operasi, sehingga kami bisa mulai operasi dengan segera. Kami juga tinggal di kompleks. Hari demi hari dimulai dengan bunyi bel pada pukul 5 pagi untuk membangunkan para perawat dan pegawai

semacam Puskesmas dimana perawatan medis diberikan ditengah kesibukan dokter gigi, akupunktur dan klinik bersalin, juga diantara kegiatan rumah lanjut usia terutama orang tua dengan dimensia/pikun. Ini semua terletak terletak dalam beberapa bangunan ditepi sungai dengan halaman yang luas. Disini ditanam juga sayuran, ada tempat menjemur pakaian dan ayam yang dapat berkeliaran dengan bebas.

lain yang bekerja didapur. Sebelumnya sudah terdengar bunyi panggilan sholat dari sebuah mesjid didekatnya. Sesaat lagi terdengar musik dan nyanyian dari gereja yang juga merupakan bagian dari kompleks yang didatangi oleh umatnya. Pada malam pertama setelah tiba, kami harus segera membiasakan diri dan itu lewat dengan segera. Kami dapat menikmati makanan Indonesia yang lezat dengan leluasa.


Walaupun Karya Kasih awalnya didirikan atas inisiatif Gereja Katolik Roma, namun semua yang datang tidak dibedakan atas dasar agama. Sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim begitu juga dengan pasien. Ini dapat kita lihat bahwa bantuan sesama manusia, agama tidak memerankan apapun. Pasien yang dirawat adalah orang-orang yang tidak mampu dan tidak dapat membayar biaya operasi. Setiap pasien diminta untuk menyumbangkan sesuai dengan kemampuan mereka. Beberapa pasien membayar dengan sejumlah uang atau dengan sayur mayur atau buah-buahan. Karya kasih juga telah bekerja dengan biaya sadar. Dari Belanda kami mendapatkan semua material operasi

steril dan di kemas dengan rapi untuk diberikan. Contoh, di Karya Kasih kain kasa yang diperlukan digunting dulu, dilipat dan disterilkan oleh perawat. Sarung tangan bekas dicuci, dikeringkan lalu dipakai lagi oleh bidan. Saya selalu menikmati bekerja di Karya Kasih dan saya mendapat kehormatan untuk menyaksikan ulang tahun operasi mata yang ke 4.000 dan yang ke 5.000. Ini adalah publikasi luas yang disiarkan

melalui stasiun TV lokal. Memperingati kesempatan itu saya masih menyimpan kenang-kenangan yang berada di tempat khusus di kantor saya di Heerenveen. Sayang, setelah beberapa tahun Pastor Jo Veldkamp pensiun, terjadi re organisasi di Karya Kasih. Hanya kehidupan para lanjut usia yang dipertahankan. Kegiatan lain dihentikan termasuk operasi mata. Untung tidak ada proyek baru. Indonesia membutuhkan banyak perawatan mata. Saya memberikan kontribusi untuk proyek SLAH di Bangka, Ambon dan Sulawesi. Berpartisipasi dalam proyek proyek ini memberikan kepuasan yang besar melalui bantuan langsung dirasakan oleh pasien yang bersangkutan dan juga memberikan pandangan luas untuk bekerja bagi praktek saya di Belanda. Seperti disebutkan tadi, ada banyak yang harus dikerjakan dan saya berharap dapat senantiasa bekerja sama dengan SLAH di masa depan, banyak hal kerja yang membantu masyarakat. Siep van der Veen

Sulawesi

51


Nynke de Jong Spesialis Mata

“The work of love”

Karya Kasih If we saw them walking the streets of Medan, this tall, casually dressed, attractive young couple, we’d think they were just two more European tourists out for a good bargain or a peek at the exotic. How wrong we would be. Dr. Fritz Dubois and Dr. Nienke DeJong, from Utrecht, Holland, are ophthalmologists. And they are more. They are exceptionally compassionate and giving human beings. This year, for the fourth consecutive year, they spent their holiday living at the Kariah Kasih home on Jl Mongisidi and performing eye operations for those who are among the neediest of Sumatra. Fritz was here for three weeks; Nienke joined Fritz for two of the three weeks, since they have a two year old daughter in Holland who did not accompany them. “Beberapa baris kalimat dari sebuah artikel Donna Woodward pada tahun 1995 untuk surat kabar di Medan”

Betapa enaknya kan jika hal itu ditulis untuk kami. Those were the days, dan apakah itu waktu yang sudah lama. Dua tahun dari masa lalu, sekarang berumur 21 tahun dan

52

kini ia menjadi mahasiswa kedokteran tahun ketiga dan siapa tahu ia akan ke Medan beberapa tahun lagi sebagai dokter mata. Pada tahun 1992, Frits dan saya pergi ke Medan untuk pertama kali. Saya sedang hamil 6 bulan dan merasa baik-baik saja. Kemudian kami menghabiskan tahun demi tahun selama beberapa minggu disana dan tinggal ditepi sungai yang indah. Keduanya memberikan kepuasan yang besar bagi kami untuk terlibat dalam kegiatan kedokteran mata ini. Perasaan kami, adalah kami telah melakukan hal yang benar peduli. Wajah orang yang telah selesai menjalani operasi merupakan hari emas bagi semua. Tentu banyak kekecewaan yang kami alami karena banyak hal yang bisa diobati di Belanda tetapi disini tidak bisa dilaksanakan, seperti Retina detachment, glaucoma dsb, itu sulit dilakukan. Hal penting lain adalah suasana dan iklim di Indonesia dan makanan yang lezat. Sayangnya Frits selalu menerima makanan yang pedas dihari yang pertama yang menjadi beban untuk perutnya dan kemudian harus ganti dengan nasi kering dan pisang.


Namun kemudian kami menemukan cara dengan menelan Diacure pada hari-hari pertama dan kemudian kami makan semua makanan dengan sambil memuji-muji lezat. Kami juga banyak bersenang senang dengan Marita dan Jan yang selalu kami temui selama bertahun-tahun tinggal disana. Kami main tenis di Medan Club yang sangat modis dan tampak colonial. Pada awalnya kami sangat malu ada 4 anak laki laki yang berdiri di pinggir lapangan untuk memungut bola tenis tetapi segera mulai terbiasa, aneh itu. Setelah beberapa minggu tinggal di Medan, itu selalu cukup untuk penyesuaian kembali dengan Belanda, poliklinik dengan semua keluhan matakering, lelah‌apa bedanya? Semua apa yang telah dimanjakan jauh didunia lain. Disini kami memiliki lensa Torik Multifokal, disana kami melihat kekuatan dan tumpukan yang tinggi, kemudian kami ambil, itu saja. Tetapi kita memiliki profesi indah dimana dengan begitu sedikit sumber daya, muda namun mampu meningkatkan mutu hidup masyarakat di negara negara lain seperti di Indonesia. Nynke de Jong

53


Hian Oei Spesialis Mata

Papua, Anda akan melakukannya sementara

7 Spesialis Mata di Dian Harapan

24

365

Laporan tentang dampak SLAH di Indonesia khususnya di Papua dan Sumatera Utara dan laporan singkat asal mula dan dan perkembangan RS Dian Harapan di Waena – Papua, dimana SLAH telah memainkan peranan penting. Dokter mata Frans Ros, dewan SLAH, yang mengatur perayaan ulang tahun SLAH yang ke 25, meminta saya untuk menulis diatas kertas sebagai bagian dari album 25 tahun SLAH. Pada tahun 1990, dokter mata Donald Tjia bertanya apakah tertarik untuk pekerjaan mata di Medan, Sumatera Utara. Keberatan utama saya pada waktu itu adalah situs resmi dimana saya dapat bekerja sebagai dokter mata. Lahir dan dibesarkan di Indonesia, saya tahu mereka tidak setuju bila orang asing bekerja di Indonesia terutama petugas medis. Hal lain adalah bagaimana organisasi setempat, apakah itu organisasi permanen atau organisasi yang lahir dari antusiasme dan idealism tanpa masa depan tentang operasi mata harus berfungsi. Sesorang yang mengenal Donald Tjia tahu bahwa dia penuh ide-ide dan sangat optimis, selain mempunyai tenaga untuk berjuang. Pengalaman saya di Indonesia dan ketenangan merayap di Belanda selama bertahuntahun, bagaimanapun menyatakan “Lihat dulu, baru percaya”. Jadi saya pergi ber56

sama istri saya Loes ke Medan – Indonesia sebagai liburan dan bertemu dengan mitra lokal disana. Singkatnya, saya dapat mengatakan itu adalah pengalaman yang sangat istimewa, dan masih banyak masa depan dalam urusan mata dengan SLAH selama dua minggu. Banyak pasien dan keluarganya sangat senang, puas dan memberikan dorongan luar biasa. Dr. Budhi Parama (alm.), Pastor Jo Veldkamp, Richard Kurniawan, dr. Hj. Murni Hamid Sp.M, dr. Steven Nauli, para dokter lain, para perawat, para eksekutif Karya Kasih. Mereka jelas tidak hanya tiang ditempat saja tetapi “pelaku” untuk menjalankan proyek tersebut selama bertahun tahun. Tentu juga berkat upaya dokter dokter mata Belanda yang datang dan para anggota dan dewan SLAH juga agen perjalanan Jerry Vermie yang memberikan kontribusi dan fakta bahwa para dokter mata hanya perlu melakukan perjalanan dan pekerjaan mata. Sangat disayangkan proyek di Medan kandas setelah bertahun-tahun berjalan, tetapi kita melihat kembali pada para pasien dan keluarganya yang telah memperoleh manfaat selama bertahun tahun sejak kedatangan dokter dari Belanda. Setelah tahun 2007, secara hukum tidak mungkin bekerja sebagai dokter di Indonesia tanpa persetujuan dari Konsilium Kedokteran Indonesia, namun hal itu terjadi di banyak Negara termasuk Belanda.


Apa dampaknya dari kedatangan SLAH di Papua? Setelah liburan dengan Loes di Papua, saya berbincang dengan dr.Budi Subianto seorang teman sekolah yang bekerja di Departemen Kesehatan Papua. Dia bertanya apakah SLAH bersedia datang kesana karena belum ada dokter mata. Ini berarti bahwa SLAH bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Propinsi Papua.

optik disana. Juga mereka menyediakan kacamata murah untuk pasien yang tidak mampu. RS Dian Harapan tumbuh dari poliklinik kecil menjadi rumah sakit yang nyata. Hal ini dimungkinkan berkat adanya kerjasama dengan Cordaid yang dimulai dari tahun 2000 dan diperpanjang sampai tahun 2001 karena berbagai kekurangan yang dite-

Dokter mata Frits Dubois dan saya dikirim ke Papua. Operasi mata dilakukan di Waena dan Merauke. Drg Didik Irawan juga disertakan sebagai pegawai dari Departemen Kesehatan Propinsi Papua. Hal ini disertai dengan pengumuman untuk pelamar SLAH. Dia mengatakan bahwa Keuskupan Jayapura adalah bangunan rumah sakit swasta (RS Dian Harapan) yang lebih baik dan bukan rumah sakit pemerintah. Akhirnya dikirimlah dua orang dokter mata SLAH kesana. Folkert Tegelberg, Jan van Meurs, Paul van Asdonk, Donald Tjia, Ton Smit dan Frans Ros. Kemudian situs dasar menjadi gedung RS Dian Harapan yang baru selesai dipergunakan untuk memberikan perawatan mata dan operasi. Dua mantan ahli kacamata Belanda, Ge de Man dan Cees Zirkzee mengadakan lokakarya optik untuk calon penerus bagian optik setempat. Mereka sekarang memimpin staf lokal tentang

mukan oleh Cordaid. Kerjasama ini telah berakhir. Cordaid telah menjadi saham standard di RS Dian Harapan untuk perawatan mata dan telah menjadi ujung tombak kebijaksanaan perawatan. Hasilnya, dokter yang bekerja disitu ditawarkan untuk belajar spesialisasi mata di Manado, Indonesia. Saat ini dr.Yanuar Ali sedang melakukan nya. Untuk dapat memakai bagian mata Cordaid, RS Dian Harapan mencari seorang dokter mata untuk melakukan pekerjaan persiapan. Di Indonesia sepertinya tidak ada seseorang yang berminat untuk pekerjaan ini. Pastor Jan van der Horst (alm.) salah seorang pendiri rumah sakit dan dewan Yayasan, mengatakan setelah 60 tahun saya ingin bekerja dinegara yang sedang berkembang. Hal ini saya katakan kepada Pieter Kok, penasihat medis Cordaid. Mereka menetap57


58

kan bahwa dokter mata Oei dari Breda ingin datang ke Papua bersama Loes isterinya. Saya pergi tahun 2001 bulan Juli. Didukung oleh pengalaman di Sumatera Utara, penguasaan management dan tinggal bertahun tahun di Pulau Jawa, saya pikir petualangan saya di Papua tidak akan menimbulkan masalah. Bagaimanapun, dalam prakteknya

mata dimana tidak ada yang dapat hadir dalam program “outreach�.

menunjukan hal yang berbeda. Masalahnya adalah mengubah peraturan dari anggota dewan lokal dimana selama beratahun tahun tidak biasa dengan adanya perubahan untuk aturan jangka pendek. Belakangan, semua sangat mengerti bahwa perkembangan di Papua tidak sebanding dengan Jawa maupun Sumut. Memerlukan banyak waktu untuk membuat sebuah bagian mata yang baik dan abadi yang sangat penting untuk perawatan mata. Oleh karena itu kuantitas perawatan mata dan operasi mata tidak dapat berkembang cepat. Untunglah dr.Yanuar Ali menyelesaikan pelatihan matanya dengan cepat sehingga dapat memperkuat Departemen Opthalmologi RS Dian Harapan pada tahun 2003. Karena inilah dan berkat kerjasama yang baik, Departemen Ophtalmologi dapat memberikan pelayanan perawatan mata lebih baik. Papua hanya memiliki satu dokter

mata pada pasien-pasien pengunjung RS Dian Harapan dan untuk seluruh masyarakat Papua melalui program outreach. Ini berarti bahwa akan ada perbaikan, perluasan, perpanjangan poli mata, kamar tunggu, logistic dan pelatihan karyawan perlu segera menjadi nyata. Pembelian peralatan yang lebih baik, terdiri dari mikroskop dan lain-lain dimungkinkan melalui kerjasama dengan Cordaid dan Yayasan Oogzorg ver ver weg Dichtbij (StOVWD) di Breda.

Dengan dua dokter mata, kemungkinan dapat mengatur 10 sampai 12 proyek outreach setiap tahun melalui RS Dian Harapan. Karya Departemen Opthalmologi menyebar dan memberikan pelayanan perawatan

Setelah saya berhenti bekerja di poli mata, pekerjaan itu seluruhnya saya serahkan kepundak dokter mata Yanuar. Itu memerlukan beberapa saat sebelum saya diganti. Untungnya diketemukan seorang calon wanita yang setelah beberapa tahun dipersiapkan. Dia baru selesai pelatihan sebagai dokter mata. Kandidat ini tumbuh dan besar


di Papua, seorang dokter umum. Mentalitas dan budaya pulau ini tidak asing untuk dia. Berkat hibah dari St Oogzorg Verweg en Ditchbij di Breda, dia mulai pelatihan di Bandung selama dua tahun. Beruntung dia berada dalam komunitas perawatan mata di Rs Dian Harapan, sehingga mendapatkan bias dari lingkungannya. Pertumbuhan dan

perkembangan departemen Opthalmologi juga berarti staf dan management juga harus tumbuh dalam proses menjadi dewasa. Rencana induk disusun dengan menggunakan konsultan dari Bandung. Dalam bisnis rumah sakit, dimana pemiliknya adalah Keuskupan Jayapura dan Yayasan Dian Harapan disepakati bahwa rumah sakit harus tumbuh hingga 150 ranjang. Rencana induk ini akan menjadi kelanjutan dari rumah sakit ini dalam kegigihannya untuk menjalaninya tanpa bantuan dana dari luar. Terlepas dari rencana induk, adalah mendirikan poliklinik luar didaerah Workwana pada jarak dua jam berkendara, dimana ada juga ketentuan tepat waktu untuk melakukan tindakan dibawah pengawasan seorang bidan. Dengan cara ini rumah sakit yang beriringan dengan proyek perawatan mata merupakan unit kesehatan mata

masyarakat yang sempurna sesuai dengan keinginan Keuskupan untuk lebih mendistribusikan perawatan medis yang mudah dijangkau bagi masyarakat Papua. Ini sesuai dengan program Cordaid untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak di Indonesia. Dalam kosultasi dengan dewan SLAH, disepakati bahwa selama saya dapat dukungan dari Cordaid dan organisasi lainnya, SLAH bisa lebih fokus ke daerah lain. Peralatan pada saat ini dan produk konsumen dari SLAH di Dian Harapan disediakan untuk pekerjaan saya. Ketika kemudian dokter mata SLAH mengunjungi Dian Harapan, mereka dapat bergiliran mempergunakan fasilitas rumah sakit. Dasar Departemen Ophtalmologi di RS Dian Harapan dan pelayanan perawatan mata telah diletakan oleh kedatangan SLAH meliputi daerah kerja dari Papua Nugini Barat sampai Papua. Secara pribadi, saya mendapatkan bahwa pembicaraan saya dengan Donald Tjia, seorang dokter mata yang antuasiasnya untuk memulai proyek mata di Medan, 25 tahun yang lalu, telah berdampak yang tidak terbayangkan luar biasa pada kehidupan saya dan Loes selama 25 tahun terakhir. Bekerja sama dengan rekan dokter mata, anggota dewan dari Stichting Leer Anderen Helpen, Cordaid, Stichting Oogzorg Van Ver en Dichtbij dan semua mitra lokal menghasilkan persahabatan yang nilai tambah yang besar di keberadaan kita. Konsekuensi untuk para tunanetra dan keluarganya di Indonesia sungguh tidak terhitung. Besarnya manfaat dari RS Dian Harapan dan kehadiran SLAH disana, sangat besar. Di rumah sakit, pada tahun 2001 – 2013 hampir 45.000 penderita, berdasarkan 59


60


daftar pemeriksaan dan sekitar 4.000 orang telah dilakukan operasi. Selama program outreach, sekitar 15.000 orang pasien telah diteliti dan telah dilakukan sekitar 2.000 operasi mata. Selain itu diberikan juga 2.000 kacamata.

lebih botak, lebih ubanan, lebih kurus dan menjadi lebih pasrah. Kami telah mempunyai pengalaman hidup yang jauh lebih kaya. Saya dan tidak ketinggalan, Loes, mengucapkan selamat kepada Stichting Leer Anderen Helpen yang telah mencapai hasil indah selama 25 tahun. Kami harap untuk tetap bersama, dalam bulan Mei ini. Hian Oei, Bali

SLAH, Cordaid, Stichting Oogzorg Ver Weg Dichtbij, sponsor kecil besar dan para individu dari Bagian Mata RS Dian Harapan, pendukung dalam arti luas, memiliki waktu yang relative singkat untuk menyadari perlunya sebuah rumah sakit permanen. Selama waktu yang hebat ini, saya menjadi

61


Rinald Stout Spesialis Mata

Segelintir pengalaman Karena saya dilatih di VUmc, saya sudah mendengar dari awal bahwa dokter mata Donald Tjia berinisiatif untuk melaksanakan operasi katarak di Indonesia. Saya masih ingat bahwa hal ini menggiring antusias dari Dick Vonhof dan Hans Zaman. Juga JF Boen mengatakan Hian Oei juga memiliki kerja keras saat bergabung dengan SLAH. Cerita ini dihidupkan dan saya membiarkan Donald mengetahui bahwa saya juga ingin pergi, memberikan akar yang tumbuh di Timur Jauh ( Asia Tenggara). Adalah adil bagi Donald yang menunjuk saya untuk me-

62

lakukan operasi dan mendapatkan banyak pengalaman. Perlu beberapa tahun sampai pada tahun 2005 sebelum saya untuk pertama kalinya pergi ke Indonesia untuk SLAH. Bersama Lieuwe de Vries, saya dikirim ke Medan Sumatera. Di Karya Kasih kami melakukan operasi selama 3 minggu. Sementara itu saya dikirim selama 5 kali oleh SLAH, ini segelintir pengalaman. Tiga kali ke Bangka, pulau tempat kelahiran Donald Tjia, dan terakhir ke Ambon.


Saya pergi bersama rekan yang dipertemukan dan sangat menyenangkan. Sering kali saya belum mereka sebelumnya (Lieuwe de Vries, Folkert Tegelberg dan Maribel Sere). Kami saling mengenal dengan baik dan mengajarkan bermacam-macam keterampilan. Semoga saya lebih sering ditugaskan oleh SLAH. Rinald Stout

63


Maribel Seré Spesialis Mata

Dalam jangka pendek

Saya mendapat kehormatan dari dokter mata Wilda Batubara untuk dilantik. Dia tidak hanya mengajar saya tehnik extracapsuler tetapi juga mengenai budaya Indonesia. Saat pertama kali di Sumatera ,saya tidak akan lupa,…..setelah perbedaan budaya segera saya menyadari bahwa Negara ini akan menaklukan hati saya. Hari pertama di Karya Kasih, kami melihat bagaimana kami diperlukan oleh satu demi satu pasien yang menderita katarak, lebih-lebih yang kedua matanya menderita katarak. Betapa indahnya untuk dapat melihat pada hari berikutnya, menikmati dan akhirnya mereka bisa melihat keluarganya lagi.

64

Disini, kami yang melakukannya ! Karena setiap orang bisa melihat lagi, kami menjadikan pekerjaan kami di Indonesia jadi lebih berarti, lebih layak. Wilda, Rinald….terima kasih atas pengalaman yang tidak terlupakan ini, dan jika “the kids”, anak anak saya, menjadi besar saya akan lebih yakin lagi. Maribel Seré


Ton Smit Spesialis Mata

Bangka,

Proyek gembira telah dimulai

Setelah pengantar Ophthalmologi Tropis, saya pertama kali pergi ke Medan bersama dokter mata Donald Tjia ke Karya Kasih dimana disitu Pastor Jo Veldkamp memegang kuasa dengan etos kerja dan dedikasi masyarakat kurang mampu yang menderita katarak.

dengan 2 orang perawat dari Medan untuk memulai operasi dan menemani operasi selanjutnya. Pada awal pertama operasi, dirayakan dihadapan banyak pejabat dengan banyak pidato. Seorang ibu yang pertama dioperasi, setelah satu jam, berbicara dengan mikrofon dihadapan para tamu, untuk berbagi pengalaman. Para tamu

Pada tahun 2002 proyek Bangka akan dimulai, saya pergi sekali lagi bersama Donald Tjia. Kami bekerja sama dengan Yayasan Mata Terang yang dipimpin oleh Bpk. Agoes Soelaiman yang meskipun semakin tua tetap bertaruh dengan maksimal untuk proyek ini. Juga Bpk. Amir Danoehoesodo yang berbahasa Belanda dengan fasih. Sayang beliau telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Semua ini SLAH terlibat melalui Donald Tjia.

duduk dengan kursi plastik hijau di hadapan panggung upacara. Tepuk tangan gemuruh dari setiap orang. Istri Walikota diperkenankan untuk membuka eyecup, tutup mata, pada hari berikutnya. Setiap malam di tempat tertentu diadakan acara pesta untuk menghormati awal pelaksanaan proyek.

Pastor Jo Veldkamp datang pertama kali

Salah satu hal yang paling mengenaskan saya adalah pada saat saya mengoperasi seorang anak laki-laki berumur 4 tahun. Sebenarnya sejak hari pertama, orang tu67


68

anya sudah datang ke klinik untuk menayakan apakah saya dapat melakukan sesuatu mengobati kebutaan anak lelaki mereka. Kedua matanya menderita katarak dimana pupil sudah putih sekali. Kami curiga apakah dia menderita amblyopia (mata malas) yang tidak dapat disembuhkan lagi. Adalah orang tuanya yang mengatakan bahwa anak selalu ada pupil putih. Oleh karena itu kami ragu-ragu mengoperasi karena membutuhkan bius total. Oleh karena itu kami menganjurkan agar dibawa ke rumah sakit mata di Jakarta dan berharap ada sponsor dari Bangka. Mungkin kami akan

minat keluar masuk keruang operasi untuk melihat apa yang terjadi dan asisten operasi yang memeras balon dengan tangan selama satu jam lebih pada 12 kali per menit untuk memberikan anastesi pada bagian tersebut.

mengatakan “ya� jika mereka menayakan apakah dapat dioperasi pada kunjungan kami berikutnya. Tetapi kami tidak bisa ingat lagi. Lagi pula untuk memberikan semangat proyek, kami berangkat lagi ke Bangka setengah tahun kemudian. Yang mengejutkan kami adalah, kami diberitahu ada anak laki-laki berumur 4 tahun dan hanya 1 operasi saja. Dia perlu dioperasi dengan bius total artinya harus ke rumah sakit kecil milik pemerintah disana. Itu adalah hal terakhir yang kami tunggu. Mengoperasi di rumah sakit dengan berbagai dokter spesialis yang dengan penuh

Ketika kami berkunjung kesana lagi setahun kemudian, dan meminta anak tersebut datang ke klinik, kami mendengar bahwa dia bisa melakukan apa saja. Perawat ingin menjemput dia dari rumahnya. Mengejutkan, dia mengendarai sepeda kecil. Kami memeriksa matanya dan menenangkan hati kami, bahwa lensa Artisan tetap berada ditempat dengan megahnya. Kami melihat dia beberapa tahun kemudian beberapa kali dan secara mengejutkan dia mendapatkan penglihatan yang berguna.

Kami telah mengoperasi kedua matanya dalam satu session dan dipasang lensa Artisan.Pada hari berikut kami tidak dapat menyelidiki keadaan nya. Dua minggu kemudian kami pulang meningalkan Bangka dengan perasan yang tidak enak karena kami tidak mempunyai kejelasan hasil pasca operasi.


Pengalaman ini, pada tahun lalu, ketika kami bersama dokter mata Michiel Blok, berada di Bangka untuk mengoperasi. Ada seorang anak dengan buta bilateral dengan katarak matang. Kami dalam keraguan apakah operasi bisa memperbaiki visus, karena kami takut amblyopia mendalam. Kami memeriksa lagi pada hari berikutnya dan anak kecil itu masih dalam keadaan visus rendah. Tiga hari kemudian kami berwisata ke pantai. Penuntun perjalanan kami adalah Ibu Hafsah, 75 thn, seorang Cina yang dapat berbahasa Inggris, meminta kami apakah ingin melihat rumah anak kecil yang akan

sama ketika dioperasi katarak. Pernah dioperasi pada tahun sebelumnya dan hanya satu katarak saja, sementara yang satu lagi dalam keadaan baik. Jadi kami sering mendapat kejutan karena komunikasi yang berulang-ulang tidak selalu mudah dimengerti. Kali terakhir kami di Bangka, ada banyak orang tua muda dengan katarak matang dua-dua mata dan kami mengoperasinya. Kami mendapatkan kesan bahwa masih banyak pekerjaam untuk tahun mendatang. Ton Smit

dioperasi katarak tadi. Kebetulan kita lewat. Kami mengatakan ya. Sampailah kita disebuah rumah kecil dengan beberapa keluarga dan mengatakan bahwa anak kecil tersebut bekerja ditanah pertanian. Mereka bisa memanggilnya. Sekitar 15 menit anak itu datang dengan naik sepeda motor. Ibu Hafsiah mengatakan dengan antusias bahwa anak itu dioperasi karena katarak. Kami melihat seperti air yang dibakar. Bagaimana mungkin, 3 hari yang lalu ia buta, sekarang sudah naik sepeda motor. Sayangnya ada salah pengertian dalam komunikasi. Anak itu memang berusia

69


Monika Landesz Spesialis Mata

Jika kita tidak melakukan apa-apa‌‌. Pertanyaannya, siapa yang akan membantu orang-orang itu? Pada tahun 2004, saya melalui rekan Wilda Batubara, masuk dalam kontak dengan SLAH. Pertama kalinya pada tahun 2005, saya pergi bertugas bersama Frans Ros. Itu merupakan pengalaman ganda yang sangat menyenangkan. Semua cerita mengenai Indonesia yang diberitahukan oleh orang tua, keluarga dan teman teman saya, mulai menjadi nyata. Saya membawa buku “Rubberâ€? dari MadelonSzekely-Lulofs untuk dibaca agar saya bisa membayangkan keadaan setempat dengan suasana hampir 100 tahun yang lalu. Bagi saya, pada saat saya bekerja di Indonesia, yang amat terlihat adalah antusiasme para perawat lokal selama bertugas. Program sehari harus selesai meskipun harus dilakukan dalam beberapa waktu. Kita juga harus berimprovisasi dengan sumber daya yang ada, membuat kami mengembangkan cara berpikir yang berbeda dalam cara bertindak. Ini mempengaruhi cara kerja kami di Belanda. Jika suatu alat kerja tidak bekerja dengan sempurna, kami harus memikirkan cara lain agar dapat bekerja terus. Listrik mati, gempa bumi kecil sewaktu operasi, saya alami semua di Indonesia, tapi pekerjaan tetap harus dilanjutkan. Sejauh ini saya telah 2 kali bertugas, 1 kali ke Medan dan tugas kedua ke Bangka dan saya melakukannya dengan senang.

70

Saya menyadari setiap kali, masalah utama adalah buta katarak yang masih harus dilakukan utnuk dipecahkan dengan prosedur yang relative sederhana. Saya yakin meskipun Anda melakukan hanya sekitar 100 pasien setiap tugas operasi, hal itu sangat berguna. Karena itu saya amat mendukung dan berpartisipasi proyek proyek SLAH, karena jika tidak melakukan apa apa, siapa yang akan membantu orang orang ini. SLAH sudah berjalan sejak 25 tahun yang lalu dengan pasang surut. Dengan beberapa tugas setiap tahun, tentu perlu waktu untuk direnungkan oleh pendiri Yayasan yang membanggakan ini. Monica Landesz


71


Peter Bolmers Spesialis Mata

Indonesia, negara yang tidak akan Anda lepaskan

Seperti kebanyakan dari kita, berkenalan dengan Indonesia sejak usia muda. Di perpustakaan, buku Indonesia tentang Nusantara, sastra kuno dan kegiatan ekonomi dengan mudah dapat ditemukan. Oleh karena itu, saya dan Ria berangkat kesana setelah lulus pada tahun 1970-an dengan tas, tiket pulang pergi ke Jakarta dan sejumlah alamat akomodasi di Indonesia. Kami berkelana sekitar 2 bulan. Tetunya kami mengikuti kursus bahasa Indonesia dulu dan sangat hati-hati karena isteri saya Ria sedang mengandung. Selain itu, kehamilan merupakan perkenalan yang baik untuk melakukan kontak dengan masyarakat Indonesia. Negara itu tidak pernah terlupakan terutama jika anak-anak sedang keluar. Saya tidak kebetulan datang dan masuk SLAH. Tugas pertama saya bersama dokter mata Rinald Stout pergi ke Bangka dan saya merasa hebat, kerja keras, melakukan operasi dan mendapat penghargaan dari masyarakat setempat. Meskipun pada mulanya kami harus membuat komentar pada spanduk yang dipasang didepan rumah

72

sakit. Pak Agoes dan para isteri pejabat setempat telah mengatur segalanya seolah olah tidak ada dokter mata. Berkat Pak Agoes dan para pasien yang baik hati, kami setiap malam memilih “ china atau ikan “, namun itu tidak menjadi masalah meskipun rasa masakan nya hampir selalu sama, seperti terlalu banyak kecap manis. Pada akhir pekan, kami mengunjungi resort-resort yang indah. Dalam tugas berikutnya, saya pergi lagi dengan Rinald dan Lieuwe de Vries ke Ambon dimana kami melihat sejumlah banyak referensi ke Belanda. Didalam minibus seringkali nama Belanda didengar, juga cerita para pemain bola Belanda yang asalnya dari Maluku. Di Rumah Sakit Haulussy kami merasakan sedikit netral bersama rekan kerja kami dan kami dapat menyelesaikan program dengan baik. Dikatakan,Afrika adalah virus yang tidak bisa terrlepas dari Anda, juga berlaku untuk Indonesia. Peter Bolmers


73


troebele lenzen

74


Wilda Batubara Spesialis Mata

“Saya memberi sesuatu,

tetapi mereka memberikan kembal ’

Elegance,

July 2009. Teks dari Monique van der Sande.

Ayah saya berasal dari Indonesia, ibu saya dari Maastricht dan saya lahir di Sumatera. Rumah orang tua saya adalah rumah panggung, jam 6 pagi panik berbunyi dan nasi disiapkan untuk sarapan pagi. Pada waktu ke Belanda, saya berusia 9 tahun. Semuanya benar-benar baru bagi saya, saya tidak bisa berbicara dalam bahasa Belanda. Saya senang bekerja dan saya belajar kedokteran di Leiden dan memilih bedah mikro setelah itu ke opthalmologi. Saya bekerja sebagai dokter bedah mata di Phaco Centrum Den Bosch bersama 2 rekan sejak hamper 13 tahun yang lalu. Saya selalu menghargai keinginan untuk melakukan sesuatu bagi tanah air saya. Jadi ada ide untuk menjadi relawan dalam setahun untuk beberapa kali melakukan operasi. Tetapi sebagai ibu dari 3 orang anak, saya tidak bisa segera mewujudkan keinginan itu. Jadi saya berkata, paling mudah adalah 2 tahun sekali saya bisa pergi. Suami saya mempunyai perkerjaan sendiri, sebagai psikoterapis, menyetujui rencana saya. Ketika saya pertama kali pergi ke Indonesia, dan meninggalkan anak-anak berusia 2, 4 dan 6 tahun, pahlawan terbesar tetap berada dirumah dan saya selalu mengatakan, saya mencintai dia selama sudah 19 tahun. Pekerjaan sukarela yang saya lakukan dari SLAH, Stichting Leer Anderen Helpen,

dijalankan oleh para dokter mata yang antusias dan berjuang secara pro bono di Indonesia. Kami hanya mengoperasi orang-orang yang tidak mampu membayar biaya operasi. Bulan Febuari yang lalu saya pergi ke Sulawesi Tengah bersama 2 asisten operasi. Kami memerlukan 2,5 hari untuk sampai ke tujuan yang terpencil. Kebanyakan orang yang dioperasi karena buta katarak. Setelah dioperasi, mereka dapat melihat kembali dengan baik. Mereka tidak hanya melihat kembali dengan baik, tetapi kehidupan mereka bertambah baik tanpa bantuan orang lain. Saya ingin mengoperasi dengan baik, bagus dan rapi. Sering saya berpikir dengan segi praktis pekerjaan saya dan saya tidak menyadari arti operasi katarak untuk mereka. Anak-anak saya menyukai sekali apa yang saya lakukan meskipun jelas mereka merindukan saya saat saya pergi. Mereka mengatakan bahwa orang-orang tidak bisa melihat apa-apa ya. Dan kita membuat mereka melihat kembali dengan baik. Saya tetap mengirimkan sms kepada anak-anak saya. Mereka tahu bahwa saya sibuk dalam kondisi kehidupan masyarakat disana, karena pada 3 tahun yang lalu suami saya mengambil cuti panjang selama 1 tahun di Sumatera Utara, daerah yang sangat miskin. Anak-anak saya bersekolah disana juga. Mereka melihat dengan jelas, tidak ada air dari kran dan belum tentu mereka bisa makan setiap hari. 75


Suami saya suka pergi ke Indonesia karena ingin mengetahui sisi saya dari segi yang lain. Dia hanya membutuhkan beberapa kata dari saya dan seketika itu dia sudah membereskan kopernya. Jika saya berada di Indonesia, memang sisi saya yang lain akan terlihat. Di Belanda saya seringkali disalahpahami, di Indonesia masyarakatnya lebih banyak waktu, sikap mereka adalah salah satu keterbukaan. Ini adalah satu tata karma yang saya rindukan di Belanda. Jika saya melakukan operasi di Indonesia, saya bekerja dan berlibur. Rekan-rekan saya yang muda ada disana, �kalau anda perlu

pergi kesana, biarkan kami mengatur disini. Memang saya tidak diterima di Indonesia, dokter mata disini hanya akan melihat hati kita saja. Mereka takut persaingan tetapi itu omong kosong, karena kami mengoperasi

76


hanya untuk orang yang tidak mampu saja. Di Indonesia banyak korupsi, saya sudah banyak berpergian disini tetapi yang paling akhir mempunyai kesan yang paling istimewa karena kami begitu jauh di pedalaman. Saya selalu menempatkan pasien secara pribadi dan ditemukan suatu hal yang menakjubkan. Lingkungan disini melakukannya dengan tidak mengambil jarak dengan pasien. Yang menyedihkan adalah orang-orang yang menjadi buta karena siasia dan saya tidak dapat membantu, misalnya mereka mempunyai tekanan darah tinggi dimana dapat diperbaiki dengan obat

tetes, tetapi mereka harus membeli dengan harga yang terlalu mahal. Kalau listrik padam, saya tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Orang orang lain dapat membantu tetapi peralatan tidak ada.

Setiap tahun saya diperingatkan dan itu tidak jelas berada dimana. Kami selalu berpikir bahwa kami sebagai dokter bertahun-tahun cukup mengetahui setiap sindrom, tetapi jika kami menemukan sindrom baru, kami harus menciptakan tehnik operasi baru. Kontak dengan pasien sangat istimewa, kadang kadang setelah operasi mereka spontan berdoa untuk saya, kadang kadang berterima kasih sambil menangis namun kami tetap banyak tertawa. Sehingga ada pasien yang mengatakan “ saya tidak tahu apa yang harus saya berikan, tetapi saya hanya punya beberapa jeruk saja“. Asisten operasi mengatakan “ itu tidak boleh dibawa masuk ke pesawat”. Juga ada yang mengatakan “lucu Anda telah mengoperasi 150 orang tapi bagaimana jika anda pergi nanti, masalah tidak terselesaikan. Lalu saya berkata, “saya telah melakukan operasi untuk 150 orang, saya memberi mereka sesuatu, tapi mereka memberi saya sesuatu lagi”. Jika saya pulang selalu penuh dengan makanan. Saya banyak belajar dari sikap kesepakatan orang ini, mereka tidak melawan atau menangis marah ,saya punya hak itu “Mereka tidak punya apa-apa dan puas. Mereka membuat saya untuk terus berpikir tentang bagaimana mengenai hal itu terjadi dalam kehidupan.” Wilda Batubara

77


78


79


Sicco thoe Schwartzenberg Spesialis Mata

Agoes, terima kasih banjak

80

Ada pertunjukan apa di Bangka? Begitu banyak orang yang menderita katarak matang disana, orang tua dan orang orang muda, sering juga terdapat “legally blinding�

jemahkan teks-teks dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Dua minggu lebih banyak tamu-tamu datang dan ada juga tamu penting, Kepala Polisi

secara rangkap. Dibawah kepemimpinan dan inspirasi dari Agoes Soelaiman, Monika Landez dan saya, kami melakukan lebih dari 150 operasi selama 2 minggu lebih. Sebagian besar katarak namun ada juga pterygia dan aftercataract. Untuk membantu kesempatan ini Agoes meminta keponakannya Elvira untuk ikut serta. Vera sementara ini belajar di Twente, Belanda. Dia bisa berbahasa Belanda dan sementara ini menganggur. Kami beruntung mendapatkan penterjemah ini karena dapat menmbantu menter-

dengan polisi wanita, tentara dan orangorang politik. Semua orang menentukan “partaken PR�, operasi katarak gratis hanya untuk orang yang tidak mampu. Semua orang ingin berfoto. Sebelumnya kami telah begitu banyak masuk surat kabar, sebagian berbahasa Tionghoa. Mengesankan, semua contributor poliklinik, kamar operasi mempunyai komitment dan antusias untuk beroperasi. Kunjungan san-


gat efisien sebelum dan sesudah operasi. Dan juga, selalu ada Agoes yang penting untuk organisasi dan menguasai semua nuansa politik, dimana kami yang berasal dari Belanda tidak tahu apa apa. Dengan gerakan tangan yang ajaib disertai dengan beberapa rupiah disana sini, dia mengatur semuanya dimulai dari bea cukai dan diakhiri‌. Iya, dia tidak pernah berhenti.

Masa yang tidak dapat dilupakan, dimana sangat baik untuk dapat membantu banyak orang dengan bantuan orang lain untuk mencegah kebutaan. Sicco thoe Schwartzenberg

“Agoes, anda hebat! Terima kasih, tanpa anda proyek ini tidak mungkin.�

81


82


83


Ivan Gan Spesialis Mata

Sup hijau

Dengan senang saya mengenang kembali pada masa 23 Oktober sampai 8 November 2009. Tim, termasuk dokter mata Frans Ros, kelompok relawan Stichting Samenwerking Vlissingen Ambon (SSVA) juga termasuk Ronald Elderkamp, Frits Willie, Evelin Haliwela, isteri saya Florence dan saya sendiri, bekerja keras selama 2 minggu dengan cara yang tidak mungkin : 211 operasi katarak, 2 implantasi sekunder, 1 iridektomi perifer, 1 after cataract, 10 exsisi pteriydia. Ini semua tidak mungkin terjadi tanpa antusiasme dan inspirasi dari tim lokal yang tidak melewatkan percikan api kepada kami. Satu ditambah satu adalah mudah, seperti

84

kata pepatah. Pemenang yang utama adalah para pasien mata dari Maluku. Mereka datang dari jauh dan luas, juga dari pulau pulau kecil disekitarnya, ke RS Otto Kuyk (Otto Kwik) untuk berobat mata. Tetapi yang paling saya sukai adalah berenang dikolam renang salah seorang tamu kami yang tinggal bersama tim. Kami memuji diri kami sendiri bahwa kami beruntung berada ditempat yang segar setelah seharian bekerja keras dipanas terik tropik. Bagian bawah kolam tidak terlihat karena sup hijau yang menghampar di lantai dasar, membuat kesenangan kami tidak berkurang‌.. Ivan Gan


85


Folkert Tegelberg Spesialis Mata

Jauh dari rumah untuk saling belajar

Pada periode 1993 -2009 saya ke Indonesia beberapa kali untuk proyek mata. Saya telah bekerja bersama dokter-dokter mata dan saya pergi ke lokasi yang menarik dan berbeda dari Belanda, yaitu Medan, Bangka, Papua dan Ambon. Pekerjaan disana berbeda dengan Belanda, bukan hanya syarat-syarat kerja saja tetapi alat alat dan bahasa. Namun setelah bekerja keras seharian, kami semua bisa bersantai dan menikmati makanan Indonesia yang lezat. Bekerja sama dengan dokter mata lain, merupakan pengalaman yang sangat baik. Setelah bekerja kami berdiskusi banyak bukan saja mengenai sepak bola tetapi juga mengenai wanita cantik, politik atau mobil dan lain-lain. Bukan! pembicaraan itu akan memecah konsentrasi kami, pekerjaan kami :opthalmologi. Itu adalah waktu untuk memperhatikan dan berpikir! Akibatnya kami mendapatkan ide-ide baru yang kemudian dinilai dan diuji. Meningkatkan logistik, tehnik bedah dan “lean thinking� adalah contohnya. Berbagai penyakit kami temui disana dan ini kami bahas bersama. Jika pulang ke Belanda, kami berkonsultasi dengan dewan SLAH dan dokter mata lain dan itu sangat inspiratif.

86

Melihat pengalaman-pengalaman ini kembali, saya berpikir ada sedikit pengetahuan dan keterampilan yang dapat dibawa ke Indonesia. Tetapi kami harus saling banyak belajar. Itu akan lebih baik jika interaksi ini terjadi dengan dokter-dokter mata Indonesia. Sementara itu banyak orang miskin dan buta membutuhkan kembali penglihatannya, itulah fokus upaya kami. Saya berterima kasih kepada Yayasan untuk kesempatan yang telah ditawarkan kepada saya. Folkert Tegelberg


Suzy Njoo Spesialis Mata

SLAH, berkontribusi

pada kualitas hidup

Alasan saya untuk memilih opthalmologi saat itu adalah untuk berkontribusi pada kualitas hidup. Hal apa yang dapat dilakukan dengan lebih baik dari pada mengoperasi orang-orang yang dinyatakan akan buta? Karena saya lahir di Indonesia ( saya datang ke Belanda pada waktu saya berumur 8 tahun). Itu jelas saya pernah tinggal di Indonesia dan saya menawarkan bantuan saya. Saya tahu lebih banyak dari pada rekan-rekan saya yang dikirim SLAH, tetapi ingin menunggu sampai anak-anak saya lebih besar. Dua tahun lalu saya bertemu dengan dokter mata Wilda Batubara, dialah penyebab saya mendaftar menjadi relawan.

Tugas pertama saya adalah pada akhir tahun 2002 dengan Siep van der Veen ke Mamasa, Sulawesi. Sayang, alat-alat yang kami perlukan tidak datang pada waktunya sehingga kami harus mengecewakan banyak orang. Kebanyakan mereka datang dari jauh, tetapi mereka tidak marah. Hidup itu

keras dan kami menanggapinya. Ditempat tugas kami di Mamasa, kami terpaksa melakukan perjalanan yang lebih dari sekedar budaya. Kami menyaksikan “pemakaman� tradisional. Kalau orang penting meninggal, secara adat dia duduk diletakkan dikursi didalam rumah tradisional dikelilingi oleh keluarga dekat. Kami dengan tulus diundang untuk membawa makanan dan minuman. Pada lain kesempatan, kami berada di resepsi pernikahan dengan makanan lengkap. Pada kedua kesempatan tersebut jelas kami tidak dikenal, tetapi hal itu tidak menghentikan mereka untuk tetap mengundang kami. Selama kami tinggal di Wisma Mamasa, saya bertemu dengan seseorang yang bekerja sama di NGO. Dia menyarankan kami

87


ke Pulau Sumba, karena disana banyak masyarakat yang sukar melihat. Setelah saya kembali ke Belanda saya mengusulkan hal ini ke dewan SLAH. Beberapa bulan kemudian, Wilda melakukan survey kesana, kemudian pada bulan Febuari kami berdua pergi ke Pulau Sumba. Seperti pada akhirnya, perjalanan ini tidak sia-sia. Misi ini berhasil. Kami banyak menemukan cacat mata pada orang orang disana, dimana kami sayangnya tidak dapat melakukan tidakan. Sangat menyedihkan karena hal ini banyak terjadi dan mempengaruhi orang-orang muda. Kami melihat juga banyak sindrom lainnya yang bisa diobati di Belanda, tetapi tidak mungkin dilakukan di Pulau Sumba dengan keadaan situasi yang demikian. Di saat seperti itu saya menyadari bahwa saya hidup di sisi belahan dunia yang baik, oleh karena itu saya harus bahagia. Betapa indahnya hal itu dan adalah SLAH yang betapa kecilnya, dapat memberikan sumbangsihnya kepada

88

orang-orang untuk dioperasi, sangat besar artinya,‌..sangat besar maknanya, benarbenar “ a life changing event “ suatu peristiwa perubahan hidup. Saya mengharapkan dapat lebih sering untuk bertugas secara berkesinabungan demi mencapai tujuan SLAH yang mulia. Suzie Njoo


Sumba

89


Dolf van Oostrum Dokter medik, Direktur Rumah Sakit dan Ketua SLAH dari 2007

Cara Baru – Harapan Baru

Pada tahun 2006 saya bertemu dengan dr. Frans Ros. Saya sudah berhubungan dengan SLAH selama 20 tahun. Beliau meminta saya untuk menjadi ketua SLAH. Kami sudah saling mengenal sewaktu saya menjabat sebagai direktur medis RS Diakonessen Utrecht. Pada waktu itu SLAH memerlukan ketua baru karena ketua yang terdahulu Arnoud Boesten akan menjabat suatu pekerjaan di Aruba pada 1 Januari 2007. Saya menyetujuinya dan segera saya dihadapkan dengan perubahan-perubahan administrasi dan operasional. Hal yang utama adalah soal keuangan yang tidak baik. Kemudian hal tersebut dapat diatasi dan sumbangan-sumbangan/donasi berjalan walaupun krisis moneter terus berlanjut. Dalam pimpinan SLAH waktu itu ada dua posisi yang kosong, Bp. Blankenstijn (Sekretaris) dan Bp. Van Bockel mengumumkan bahwa mereka akan mengundurkan diri karena usia pensiun. Bp. Blankenstijn sudah sebelas tahun bertugas dan Bp. Van Bockel yang sudah tiga tahun menjabat sebagai bendahara memiliki pekerjaan lain. Saya senang bertemu dengan Bp. De Rave yang bersama saya bekerja sebagai direktur medis selama lebih dari 10 tahun. Dia menyetujui duduk sebagai bendahara. Lebih sulit lagi mencari seseorang untuk posisi 90

sekretaris. Namun setelah 1 tahun, saya bertemu Bp. Van der Steen yang menjadi sekretaris baru. Saya berhasil, sementara dia diganti oleh Bp. Hulleman. Setelah itu masalah datang dengan cepat. Projek Medan yang merupakan projek pertama, putus. Sebelumnya SLAH mengirim dua tim dokter mata setiap tahun. Kemudian satu tim per tahun dan tahun 2007 ditutup. Penyebabnya, gubernur daerah diganti dan Ps. Jo Veldkamp pulang ke Belanda karena pensiun. Dia bertahuntahun mendukung kegiatan SLAH disana dan merupakan pendukung yang penting. Projek kedua di Bangka tahun 2002. Juga dua tim dokter mata dikirim kesana setiap tahun. Disana ada Bp. Agus yang mempunyai fasilitas izin kerja dari pejabat lokal. Jika beliau tidak ada, projek ini akan putus. Selain itu, dokter mata setempat tidak setuju adanya projek ini. Projek SLAH yang ketiga di Irian Barat. Pada tahun 2001, projek ini ditutup setelah melakukan lebih dari 400 operasi. Projek ini dirintis oleh Dr. S. Hoei dan dilanjutkan oleh ‘cordaid’ dan telah membangun klinik mata permanen, dimana sekarang ada satu orang dokter mata Indonesia melanjutkan tugas disana. Mudah-mudahan dokter mata kedua akan bergabung tahun depan.


Para pimpinan SLAH menyadari harus melanjutkan tugasnya di Indonesia atau tempat lain di dunia. Melalui Pastor Buijs, SLAH juga aktif di Mamasa, Sulawesi pada 2009 namun dihentikan pada tahun 2013 karena pejabat daerah dan dokter mata dari Makassar tidak setuju dengan projek ini. Mereka ingin mengerjakan sendiri meskipun harus berkendara selama delapan jam dari Makassar. Pada tahun 2008, SLAH bekerja sama dengan yayasan lain di Belanda, Stitching Samenwerking Vlisingen Ambon (SSVA). Vlisingen adalah satu kota di Belanda dengan banyak populasi orang Ambon bekerja sama dengan kota Ambon (Kota Kembar). Dalam hal ‘kembar’ ini, adalah pariwisata, perikanan, industri, lingkungan hidup dan layanan kesehatan diantaranya juga termasuk soal masalah kesehatan mata. Pada tahun 2009, dengan dukungan penuh dari otoritas SLAH, dimulailah aktivitas di Ambon. Mula-mula dua kali setahun teapi dalam tiga tahun berikutnya hanya satu kali setahun. Bersama SSVA, Kotamadya Ambon dan SLAH mempunyai ide untuk mendirikan sebuah klinik mata. Ambon mewujudkan gedung dan mendidik dokter setempat untuk menjadi spesialis mata. SSVA dan SLAH menyediakan alat-alat medis. Arsitek Belanda tanpa pamrih melakukan konsep bengunan klinik ini. Pada tahun 2011 rencana ini sudah terbentuk dengan lengkap. Semula direncanakan pelatihan dokter medis dari Ambon untuk belajar menjadi spesialis mata di RS. Universitas Manado.

Pada November 2013, Klinik mata di Ambon Utara resmi dibuka. Tim dokter SLAH kebetulan berada disana. Sebanyak 450 pasien diperiksa dan 120 diantaranya dilakukan operasi. Para dokter mata yang mengikuti pelatihan lulus ujian dan pada tahun 2014 terdaftar sebagai dokter spesialis mata. Kontribusi SLAH mengenai perawatan mata akan berubah. SLAH tetap menyediakan tenaga bantu yang bersama dokter mata Indonesia membantu pasien-pasien yang sulit pengobatannya, kontribusi pelatihan dan lain-lain. Bersama dengan SSVA dan Kota Ambon, SLAH dengan bangga dapat memberikan sumbangsih struktural untuk kesehatan mata di pulau yang jauh. Tahun 2013, SLAH mulai survey untuk projek-projek baru di Sumba. Survey jelas meskipun projek kecil, team pertama dikirim pada musim semi 2014. Upaya kami mengalami penurunan dengan semakin sulitnya memulai projek baru. Indonesia bukan negara berkembang lagi. Para pimpinan SLAH berfikir untuk mencari projek baru di negara lain, meskipun begitu Indonesia tidak dilupakan. Pada tahun 2011 kami kontak dengan Zr. Van Passen. Dia bekerja di Pematang Siantar seumur hidupnya untuk rehabilitasi dan masalah kesehatan lain. Dia berupaya untuk memulai projek mata, tapi tidak mendapat persetujuan pejabat setempat. Begitu halnya dengan IDN (Indonesie Diaspora Nederland). Masa depan SLAH harus mencari tempat lain didunia. Tahun 2013 kami berbicara dengan Dr. Hugo Tempelman, dokter Belanda yang sudah bekerja bertahuntahun di Globersdal Afrika Selatan. Dia membangun sistem perawatan mata yang 91


berjalan dengan baik. SLAH berniat untuk bekerja disana, tapi Asosiasi Spesialis Mata Nasional dan Otoritas Afrika Selatan tidak menyetujuinya. Tahun 2012, kami bertemu dengan dokter penyakit tropis Belanda, dr. Annemarie Wessels. Dia sudah bekerja sepulh tahun lebih di Haiti Utara. Bersama suaminya, seorang arsitek, mereka mendirikan klinik umum untuk melayani populasi 100.000 penduduk . Dia melakukan segala macam operasi seorang diri. Kadang-kadang dokter spesialis dari Jerman dan Amerika datang untuk membantu operasi-operasi yang lebih besar. Semoga SLAH bisa mendirikan projek baru disana. Pada musim semi 2013, SLAH mengirim dua dokter untuk menjajaki kemungkinan projek baru disana. Kondisi dan situasi disana sederhana dan primitif. Dan perjalanan

92

kesana memerlukan waktu tiga hari. Waktu kerja hanya dua minggu dipotong dua hari Minggu. Namun SLAH tetap berkeinginan memulai projek mata karena sesuai dengan tujuan SLAH. Dimana saja kemiskinan bisa terjadi. Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa SLAH tidak berada di lautan yang sepi. Kita sejak awal selalu siap dan mendorong untuk bekerja sama secara berkesinambungan sehingga tujuan para pendiri SLAH tercapai. Dolf van Oostrum


93


Penyiaran:

Lokasi, Dokter dan Jumlah Operasi

Medan (dan sekitarnya) 1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998 1999

2000

94

Februari April

van Asdonk | Tjia Oei

September Februari Juni November Februari Mei Augustus November Februari Juni September November Maret Mei

Dubois | de Jong Oei | Ros van Asdonk | Tegelberg Dubois | de Jong van Asdonk | Tjia Oei | Ros Dubois | de Jong Tegelberg Tjia | Oei Dubois | de Jong Tegelberg | van Meurs van Asdonk | Schellekens Tjia | Oei Rol | Ros

Juli November Februari Mei September November Augustus November Februari Mei September November Februari Juni

Dubois | Ketels Tjia | de Vries Van Asdonk | Oei Tjia | Schellekens Tegelberg | van Meurs Dubois | de Jong Oei | van der Veen Van Meurs | de Vries Dubois | Ketels Tjia | Smit Oei | Ros Buisman | van der Veen Ketels van Asdonk | Tjia

jumlah

25

Tanjung Pura Kisiran Kabanjahe

83 106 86

Belawan

115 120

Nias

77 130 155

Pasien ke-1.000

115 110 147 126

P. Sidempuan

115 122

Penyabungan P. Sidempuan Sipirok Pasien ke-2.000 Sidikalang

150 127 102 136 148 148 167 151 133

Pasien ke-3.000

167 121

Evaluasi 1

98 141 78 126


2000 2001

2002

2003 2004

2005

2006

2007

September November Februari Mei Juni November Maart April November Februari Maret Februari April September November Maret Mei Juli November Febr April Oktober Oktober

Smit | Schaling Dubois | Ketels Buisman | van der Veen Tegelberg | van der Pol Tjia | Smit Rol | Ros van Asdonk | van Meurs | Teterisa | Bocks Batubara | van der Veen Dubois | Ketels Batubara | van der Veen Dubois | Ketels Dubois | Ketels Batubara | van der Veen Stout | de Vries Rol | Ros Dubois | Ketels Landesz | Ros Schaling | Hwan Batubara | Sere Dubois | Ketels Batubara | van der Veen De Jong | Landesz Batubara | van der Veen

146 152

Pasien ke-4.000

154 157 19

endophthalmitis Evaluasie 2

43 48 97 129 124 136 136

Pasien ke-5.000

152 140 66 170 128 131 148

Pasien ke-6.000

135 145 138 167

total

Papua

6.495

jumlah

November 1999 September 2000 April Oktober 2001 Juni

Oei | Dubois Tjia | van Asdonk Oei | Ros Tegelberg | van Meurs Tjia | Smit

2001

mulai Hian Oei Dian Harapan

1995

Juli

eksplorasi mulai

39 54 216 132 95

total

536 95


Bangka 2002 Maret November

jumlah

Tjia | Smit

99

Tjia | Smit

43

2003 April Oktober

Tjia | van Asdonk

59

2004 November 2005 Februari

van Asdonk | Smit

83

Buisman | van der Veen

62

2005 November 2006 November

Stout | Tegelberg

94

Smit | Blok

114

2007 April Oktober

Stout | Seré

105

Smit | Blok

132

2008 Oktober 2009 Oktober

De Jong | Landesz

116

Bolmers | Stout

125

2010 Oktober 2011 November

Dubois | Ketels

136

Blok | Smit

156

2012 November 2013 Oktober

Landesz | Schwartzenberg

157

Blok | Smit

157

Smit | Blok

106

total

1.744

Ambon                    bekerjasama dengan SSVA                                  jumlah 2009 Februari

2009 Oktober 2010 Maret 2011 November 2013 November

Dubois | Smit | Tegelberg R en J Elderkamp | Eveline Inge | Jacques | Marco Ros | Gan | Elderkamp | Haliwela | Creijghton | Wille Blok | Rulo | Smit | De Lima

308

221 236

Bolmers | Stout | de Vries

98

Dubois | Ketels

113 total

976

Haïti                                                                                            jumlah 2013 April

96

Dubois | de Jong

Eksplorasi, kunjungan kerja

0


Mamasa                                                                                     jumlah 2009 Februari 2010 Februari 2011

Februari

2012 November 2013 Februari

Batubara | Huybers

78

Batubara | Huybers

161

Batubara | van der Veen

102

Njoo | van der Veen

0

Instrumentasi akhir

Batubara | Knijn

32 total

373

Sumba                                                                                         jumlah 2014 Februari

Batubara | Njoo

114

Orang-orang di italic adalah profesional medis yang mendukung Spesialis Mata kami di situs.

Operasi angka dengan lokasi 10.238

Haiti

10.000

Sumba

9.000

Papua

8.000

Mamasa

7.000

Ambon

6.000 5.000

Bangka Medan

4.000 3.000 2.000 1.000 0

97


Yang mana, di mana 1992 - 2014? 1992

1993

1994

1995

1997

1999

2000

2000

Wilda Batubara 2002

2003

2004

2005

2006

2007

2009

2010

Michiel Blok 2003

2006

2007

2010

2011

2013

Peter Bolmers 2009

2011

Nico Buisman †

1999

2001

2005

Frits Dubois

1992

1993

1994

1995

1995

1996

1997

1999

Paul van Asdonk

Ivan Gan 2009 Siong Hwan 2005 Nynke de Jong

1992

1993

1994

1995

1997

2006

2008

2013

Huub Ketels

1996

1999

2000

2000

2002

2003

2004

2005

Monika Landesz 2005

2006

2008

2012

Jan van Meurs

1995

1997

1998

2000

2002

Suzy Njoo

2012

2014

Hian Oei

1992

1993

1994

1995

1995

1996

1997

1998

Ruud van der Pol

2001

Maarten Rol

1996

2001

2004

Frans Ros

1993

1994

1996

1999

2000

2001

2004

2005

Alex Rulo

2010

2002

2003

2004

Erik Schaling 2000

2005

Peter Schellekens

1995

1997

Sicco thoe Schwartzenberg

2012

Maribel Seré 2005

2007

1999

2000

2001

2001

2002

Rinald Stout 2004

2005

2007

2009

2011

Folkert Tegelberg

1993

1994

1995

1997

2000

2001

2005

2009

Donald Tjia

1992

1994

1995

1996

1996

1997

1999

1999

Siep van der Veen

1998

1999

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Lieuwe de Vries

1996

1998

2004

2011

Ton Smit

98


2002

2003 2004

2011

2013

2014

2000

2002

2003

2006

2010

2013

1999

2000

2001

2004

2005

2006

2009

2010 2013

2013

2009

Medan Papua 2006

2007

2009

2010

2011

2013

Bangka Ambon Mamasa

2000

2001

2002

2007

2011

2012

2002 2003

Haiti Sumba 99


Ketua:

Arnoud Boesten

Sekertaris:

Jaap van der Pol

Sek. administrasi

Saskia Oudgenoeg

Bendahara:

Justus Hollander

Anggota dewan:

Donald Tjia

2001

2000

1996

1995

1992

1989

Direksi SLAH melalui tahun

Anton Blankestijn

Jan Wisselink

Hian Oei Paul van Asdonk

100

2001

2000

1996

1995

1992

1989

Ton Smit


2014

2013

2011

2009

2008

2007

2005

2003

Dolf van Oostrum Gert van der Steen

Tontijn Hulleman Chantal Baayens

Burg de Rave

Eduard van Bockel Monika Landesz Frans Ros

2013

2011

2009

2008

2007

2005

2003

2014

Frits Dubois

Wilda Batubara

101


102


TERIMA KASIH Terima kasih kepada semua penulis atas tanggapan yang cepat, saran dan ucapan kritis. Saya senang, mereka mengambil istirahat dan waktu senggang disamping waktu mereka yang sibuk, untuk berkontribusi pada buku yang unik ini. Tanpa dukungan penuh dari Anton Blankestijn, mungkin buku ulang tahun ini tidak siap terbit tepat waktu. Ketika saya mengemukakan niat saya, secara spontan dia menawarkan bantuannya. Anton, sebagai redaktur, mengambil semua artikel dan seketika mengeditnya. Pengamatan yang tajam, kritik dan saran yang membangun telah memberikan dukungan yang besar kepada saya dalam mempersiapkan nya. Margaret van Heel, Penerbit Helium, memiliki antusiasme dan kreativitas yang dalam mana buku ini akhirnya menjadi seperti apa yang saya pikirkan. Frans Ros mei 2014

103


Catatan Penerbit Melihat dan menahan diri diterbitkan pada kesempatan ulang tahun ke-25 Stichting Leer Andere Helpen (SLAH). Yayasan ini didirikan pada tahun 1989 untuk memerangi kebutaan di Indonesia. Yang bekerja di Yayasan ini hanya para sukarelawan openuh tanpa pamrih. Buku ini diproduksi atas kerja sama dengan Frans Ros, Anton Blankestijn, Ton-Tijn Hulleman, Jo Veldkamp, Margreet van Heel, Donald Tjia, Richard Kurniawan dan Abbot Medical Optic sebagai penyandang dana. Teks:

Mantan direksi Yayasan dan para dokter mata yang berpartisipasi

Fotografi:

Dokter-dokter mata yang berpartisipasi

Desain dan implementasi:

Margreet van Heel (Helium, grafische vormgeving)

Cetakan:

Scan Laser

ISBN: 978-90-79841-07-3

Uitgeverij Helium

Š 2016 Stichting Leer Anderen Helpen

www.slah.nl

Semua hak dilindungi. Tidak ada dalam publikasi ini dapat dicetak ulang, disipan dalam arsip otomatis dan atau perintah umum dari yang bersangkutan dalam bentuk apapun atau dengan cara apapun, elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari Stichting Leer Anderen Helpen.

Stichting Leer Anderen Helpen Paul Huflaan 49 3584 GB Utrecht Belanda SLAHinfo@gmail.com www.slah.nl Donasi: NL02INGB0006037652


Sejak didirikan pada tahun 1989, Stichting Leer Anderen Helpen telah melakukan lebih dari 10,000 orang operasi mata untuk masyarakat yang tidak mampu di Indonesia. Lebih dari 20 dokter dokter mata Belanda bekerja tanpa pamrih di Medan, Bangka, Ambon, Papua, Sulawesi, dan Sumba. Didalam buku ini terdapat cerita pengalaman dan foto-foto merek.

www.slah.nl

ISBN 978-90-79841-07-3 90000 >

9 789079

841073

www.uitgeverijhelium.nl

Profile for Uitgeverij Helium

Melihat dan menahan diri  

The Bahasa Indonesia version of the book "Zien en Afzien" written by the eye doctors of the SLAH.

Melihat dan menahan diri  

The Bahasa Indonesia version of the book "Zien en Afzien" written by the eye doctors of the SLAH.

Advertisement