Kronologi Kejadian dan Rilis Sikap Aliansi UII Bergerak

Page 1


Ibrahim Malik; Pelaku Kekerasan seksual TUTUP RAPAT KAMPUS DARI SEMUA PELAKU KEKERASAN SEKSUAL! Kronologi Kejadian dan Rilis Sikap Aliansi UII Bergerak Kronologi Kejadian Perlu diingat: 1. Kronologi yang kita dapat merupakan cerita dari penyintas 2. Pencantuman di dalam rilis ini dilakukan atas sepersetujuan penyintas 3. Kasus yang dicantumkan tidak diurutkan berdasarkan tahun kejadian Namun berdasarkan waktu tim kami mendapatkan pengaduan 4. Nama penyintas disamarkan. 5. Kasus yang kami masukan hanyalah kasus awal yang kami terima, selain 2 kasus ini masih ada beberapa kasus lain yang masuk dalam pengaduan Kasus Pertama Namaku Z (disamarkan) dan ini kisahku. Sebuah musibah menimpakku tepat pada 11 April lalu. Waktu itu, aku sedang chatting melalui Direct Message Instagram dengan seorang kawan masa kuliah, Ibrahim Malik namanya. Ibrahim Malik adalah kawan lama semasa menempuh kuliah. Kami adalah mahasiswa UII Yogyakarta angkatan 2012, aku Jurusan Psikologi dan Ibrahim Malik di Arsitektur. Kami sama-sama lulus di tahun yang sama, 2016. Kurang lebih 2-3 tahunan kami tidak berkomunikasi dan baru dipertemukan kembali lewat pesan-pesan yang malah berujung kemalangan. Kami terus berbalas pesan selama kurang lebih dua hari. Lalu kemudian Ibrahim Malik mengajak Video Call melalui Direct Message Instagram yang tidak berlangsung lama, karena sinyal yang tidak mendukung dan aku hanya melihat wajah Ibrahim Malik sekilas. Pesan demi pesan terus berlanjut dan tibalah pada malam kemalangan. Ibrahim Malik menelfonku lewat WhatsApp, ia mendapatkan kontakku lewat pesan-pesan kami sebelumnya. Seperti umumnya percakapan, obrolan kami diawali dengan ritual basa-basi. Saling menanyakan kabar satu sama lain, sampai pada akhirnya aku merasa ada yang aneh dengan percakapan kami. Tibatiba Ibrahim Malik memintaku untuk memposisikan sedang berhubungan seksual, ia memintaku untuk memeluk guling dengan posisi tertentu lalu ia menanyakan reaksinya. Aku semakin merasa ada yang tidak beres ketika aku diminta untuk memegang alat vitalku diiringi dengan kalimat-kalimat vulgar darinya. Aku benar-benar shock, aku mengenal Ibrahim Malik sebagai sosok yang agamis, cerdas, dan sopan. Mengingat bahwa Ibrahim Malik pernah dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi di kampus kami, dan kabarnya sekarang sedang kuliah di luar negeri. Tidak kalah penting, saya juga mendengar Ibrahim Malik juga sedang dipromosikan sebagai kandidat dosen di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di kampus kami, UII Yogyakarta. Dua hari setelah itu, aku mulai speak-up melalui Snapgram, dan seketika banyak pesan masuk yang membuatku semakin terkejut. Beberapa kawan memberitahuku bahwa memang Ibrahim Malik sudah menjalankan aksinya sejak 2-3 tahun yang lalu dan aku sama sekali tidak tahu. Aku semakin bingung dan bertanya-tanya, sampai akhirnya aku dihubungi oleh seorang psikolog yang juga menangani korban-korban pelecehan seksual yang dilakukan Ibrahim Malik dalam rentang waktu 2017-2018. Aku mulai mendapat info tentang kasus-kasus sebelumnya. Bahkan kabarnya, ada salah seorang korban yang trauma berat. Aku semakin bingung, dari sekian banyak kasus, mengapa pelaku masih dibiarkan berkeliaran bebas tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


Kasus Kedua Aku adalah X, alumnus Universitas Islam Indonesia. Kejadian ini terjadi pada tahun 2016 ketika aku masih terhitung muda di kampus ini. Ibrahim Malik merupakan kakak tingkat yang waktu itu belum lulus. Saat itu aku lagi di perpus, posisinya meja yang ada sofanya, dan aku duduk di lantai. Dia datengin aku dan duduk di sofa, sebelahku. Sekadar basa basi aja karena posisinya lagi nugas, ga bisa fokus ngomong sama pelaku. Terus dia ngeliat tangan aku dan bilang, kalau bulu tangan aku terbilang banyak sebagai cewe. Dia nyeletuk soal mitos mitos cewe yang punya bulu lebat. Setelah itu dia bilang kalau ada urusan di Ulil, trus bilang kalau belum pulang kabarin ya. Stay di perpus, dia samperin lagi. Tapi aku ga nungguin dia, aku pulang. Sampe kos dia chat dan kirim link yahoo answer. Yang mana membahas kalau cewek itu bulunya banyak tandanya hasrat sex nya tinggi dan gimana dia kalau melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Aku semakin jijik, tapi aku kuatin buat bales untuk menyangkal topiknya. Pelaku dengan percaya diri mengatakan bahwa pembicaraan seperti itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh orang dewasa bahkan ke lawan jenis sekalipun.

Analisa Kasus dan Rilis Sikap Aliansi UII Bergerak Kenapa Kita Harus Melawan Kekerasan Seksual? 1. Pengalaman terhadap penindasan dapat menyebabkan misalnya, penerimaan/ kepatuhan, keseluruhan atau sebagian, dari kelompok tertentu yang subordinat dalam masyarakat, entah disebabkan penindasan yang telah diinternalisasi atau karena mereka merasa tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan diri dengan status quo yang tampaknya tak bisa digoyahkan. 2. Kekerasan seksual berdasarkan definisi yang disebubkan dalam Pasal 1 Butir 1 Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian seara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik. 3. Kita hari ini hidup di dalam masyarakat yang seksis. Perempuan dijadikan komoditas, objek, serta stereotip gender bahwa perempuan seharusnya hanya berada di dapur, kasur dan sumur. Ini akhirnya membuat perempuan berada di posisi kelas dua dalam hubungan masyarakat hari ini. 4. Salah satu contoh objektifikasi perempuan adalah menjamurnya industri film pornografi, iklan-iklan produk kecantikan. Dengan memanfaatkan juga melanggengkan stigma terhadap tubuh perempuan. Alhasil, tubuh perempuan dapat dengan mudah dijadikan sebagai hasrat seksual pelaku pelecehan. 5. Tak jarang, penyintas yang mendapatkan pelecehan tersebut memilih diam. Ini adalah konsekwensi logis atas budaya ketertundukan yang telah diciptakan ribuan tahun dan juga dilanggengkan oleh masyarakat berkelas hari ini. Relasi timpang dalam masyarakat hari ini mengamini terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan. Budaya ini membuat pelaku kekerasan seksual merasa punya otoritas lebih besar daripada orang-orang sekelilingnya. Membuat ia merasa memiliki kontrol lebih, termasuk seenaknya menjadikan siapapun sebagai objek seksual dengan menegasikan consent dari pribadi di luar dirinya. Ini tidak mungkin terjadi jika posisi antar individu setara. 6. Kekerasan seksual tidak terbatas pada sekedar masalah individu (sakit mental,dsb). Namun berurat berakar pada sosial masyarakat yang mendukung sebuah tindakan itu terjadi. Seksisme, membuat kekerasan seksual terhadap perempuan diwajarkan. Kenikmatan seksual


menjadi terpisah dari interaksi manusia dengan upaya penghilangan kontrol atas otoritas tubuh penyintas. 7. Di dalam masyakat yang seksis tak jarang, penyintas kekerasan seksual justru disalahkan, bahkan bukan hanya itu. Pelaku kekerasan seksual dianggap memiliki posisi yang setara dengan penyintas. Yang akhirnya menjadi landasan para birokrasi pemangku kebijakan untuk melindungi pelaku. 8. Maka, melihat bahwa seksisme adalah budaya yang sudah mendarah daging dan merupakan penyakit sosial kita hari ini, dibutuhkan dukungan penuh terhadap siapapun yang berani menceritakan pengalaman kekerasan seksual (speak up). Kita melihat, perjuangan akan lingkungan yang terbebas dari kekerasan seksual tidak dapat dibebankan oleh individu penyintas. Butuh aksi kolektif untuk menendang para pelaku kekerasan seksual di lingkungan manapun, tak terkecuali institusi pendidikan. Karena di dalam masyarakat yang seksis, perempuan, ditambah dirinya merupakan penyintas atas tindakan kekerasan seksual kebanyakan merasa kecil dan tak punya daya untuk melawan budaya yang sudah tertanam di dalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat hari ini.

Analisa Terhadap Kekerasan Seksual yang Dilakukan Ibrahim Malik Ibrahim Malik adalah alumnus Universitas Islam Indonesia Jurusan Arsitektur tahun 2016. Segudang prestasi ia torehkan dalam berbagai bidang perlombaan. Tidak hanya mentereng dalam perlombaanperlombaan, ia juga merupakan salah satu pendiri organisasi CLI (Central Language Improvement), sebuah lembaga yang bergerak di bidang bahasa asing dan dibawahi langsung oleh kampus. Tak cukup berhenti disitu, prestasinya semakin mentereng setelah dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi tahun 2015 oleh UII. Z adalah penyintas kesekian atas kekerasan seksual yang dilakukan oleh Ibrahim Malik. Kami mendapatkan informasi dari beberapa penyintas bahwa sebelumnya beberapa kasus pernah terjadi dan sudah dilaporkan ke bidang kemahasiswaan. Tetapi, karena saat itu posisi Ibrahim Malik sudah alumni, maka pihak kemahasiswaan menyarankan penyintas untuk melaporkan ini melalui jalur pidana, hanya saja saat itu penyintas belum siap dan sementara memilih untuk konseling secara psikologis terlebih dahulu. Hal yang disayangkan adalah, saat informasi ini sudah sampai ke bagian kemahasiswaan, Ibrahim Malik tetap mendapatkan ruang dalam acara-acara seminar yang diadakan oleh UII.1 Tak hanya itu, pelaku juga mendapatkan ruang untuk menjadi narasumber dalam salah satu program branding kampus yang berjudul Program Inspirasi UII.2 Realitas ini memantapkan analisa kami bahwa ada upaya kampus untuk mengabaikan fakta bahwa ada pelaku kekerasan seksual di lingkungan UII. Ditambah glorifikasi berbagai pihak yang besar terhadap Ibrahim Malik juga dapat mendukungnya untuk melakukan kekerasan seksual kembali. Dalam sub bab “Kenapa Kita Harus Melawan Kekerasan Seksual� kami telah menjelaskan bahwa “Relasi timpang dalam masyarakat hari ini mengamini terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan�. Dalam kasus Ibrahim Malik, luasnya akses pelaku di lingkup kampus dan terbebasnya dia dari kasus kekerasan seksual di masa lalu membuat ia leluasa melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan khususnya di lingkungan UII berulang kali. Ini juga tidak terlepas dari objetifikasi perempuan dikombinasikan dengan timpangnya otoritas antara individu satu dengan lainnya di masyarakat kita hari ini. Karena budaya hari ini mengajarkan untuk 1

https://fcep.uii.ac.id/blog/2018/05/03/arsitektur-ftsp-uii-hadirkan-ibrahim-malik-alumnus-arsitektur-uiijelajahi-ibukota-hingga-eropa/ 2 https://www.youtube.com/watch?v=EhTWF5pJdwc


memperlakukan manusia sebagai objek, mudah saja bagi orang-orang seperti Ibrahim Malik untuk memperlakukan orang yang seolah berada di bawah tanggung jawabnya sebagai objek hasrat dirinya– dalam hal ini kebutuhan seksual. Saat kasus terbaru terjadi lagi, di medio april 2020, Penyintas Z dihubungi oleh psikolog UII dan langsung mendapatkan konseling secara psikologis. Setelah itu, Penyintas bersama-sama dengan psikolog menghubungi pihak kemahasiswaan untuk melaporkan hal yang terjadi. Saat itu, pihak kampus menyarankan ke delik pidana karena pelaku sudah lulus sehingga aturan yang ada tidak bisa untuk menjerat pelaku. Saat itu, pihak kemahasiswaan menyampaikan bahwa akan menghubungi penyintas untuk perkembangan lebih lanjut, tapi pihak kampus saat itu bergerak lambat. Atas lambannya upaya tersebut, Z mengambil inisiatif untuk menghubungi pihak lain diluar kampus sebagai kuasa hukumnya dan juga memberikan peringatan kepada rekan organisasi dakwah di kampus agar tidak memberikan ruang kepada Ibrahim Malik sebagai pembicara di agenda-agenda offline ataupun online. Hal ini direspon positif oleh ketua lembaga tersebut dengan menyebarkan peringatan melalui pesan Whatsapp (atas izin penyintas) kepada rekan-rekannya, dan tersebar luas. Pesannya berbunyi seperti ini: Bismillah, ikhwah fi diin semua, mohon maaf menyela waktu di Ramadhannya, saya mau menyampaikan arahan dan kabar yang barangkali tidak mengenakkan, namun penting untuk kebaikan risalah Islam kita. Saya baru saja mendapat laporan oleh salah seorang akhawat (alumni) yang meminta tolong kepada lembaga dakwah sekalian, serta pihak-pihak terkait di UII, untuk tidak lagi menjadikan orang beratas namakan: IBRAHIM MALIK 2012 sebagai pemateri, penceramah, tokoh kampus, dan berbagai tindak glorifikasi serta publikasi lainnya terhadap beliau; baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Adapun laporan yang saya terima ialah, pelaku telah melakukan berbagai tindak kejahatan seksual —yang telah terbukti dari analisis psikologi. Kejahatan seksual yang dimaksud meliputi tindak secara fisik, maupun secara digital. Untuk sekarang, pelaku sedang diproses secara hukum oleh pelapor dan pihak berwenang lainnya. Himbauan ini saya sampaikan dan saya sebarluaskan dengan persetujuan pihak pelapor. Harapannya, untuk meningkatkan awareness teman-teman sekalian; dan mengurangi afeksi pelaku terhadap orang-orang lainnya yang berpotensi menjadi korban. Himbauan ini berlaku dan dicabut hingga pelaku insyaf dan kembali ke jalan al-Haq Islam. Mohon diperhatikan, dan mohon saling menjaga satu sama lain. Semoga Allah meridhoi UII. - Rumi Azhari, Ketua Umum Lembaga Dakwah Al-Fath UII 2019-2020


Namun, upaya baik ini mendapatkan respon negatif dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tingkat Universitas. Pihak DPM melalui perwakilannya Fadillah Adkiras, meminta ketua LD Al-Fath untuk menurunkan pesan peringatan yang sudah tersebar luas. Alasan yang ia pakai adalah karena Ibrahim Malik merupakan orang yang terkenal dan penyebaran tersebut dapat membuka aib. Menurut analisa kami, upaya yang dilakukan oleh DPM secara langsung mengecilkan keberanian penyintas dalam melawan kekerasan seksual. Tidak hanya itu, atas dasar nama baik kampus, DPM juga berperan melindungi Ibrahim Malik sebagai pelaku kekerasan seksual. Betapa ironisnya, semua kemudahan diberikan untuk perlindungan dan pembelaan terhadap pelaku kekerasan seksual, berbanding terbalik dengan sikap terhadap penyintas kekerasan seksual. Dalam kasus kekerasan seksual, keselamatan dan perlindugan penyintas merupakan prioritas utama dalam situasi apapun. Hal ini didasari pada: dalam masyarakat yang seksis posisi perempuan tidak setara. Dalam kekerasan seksual para penyintas bukan saja mengalami kekerasan seksual namun di banyak kasus juga disalahkan atas kekerasan seksual yang menimpanya. Sementara para pelaku kekerasan seksual bukan saja melakukan kekerasan seksual, melainkan mereka dilindungi dan secara tidak langsung dibenarkan melakukan tindakan tersebut. Ini terbukti begitu nyata dalam kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Ibrahim Malik. Kasus-kasus sebelumnya, hanya menjadi angin lalu bagi birokrat kampus dan ia masih menjadi pengisi acara-acara yang diadakan di kampus UII. Per hari ini, Rabu, 30 April 2020, dari infomasi yang kita dapatkan data jumlah korban lebih dari lima orang. Hal ini direspon kampus bahwasanya mereka tidak dapat menindak kasus-kasus yang ada dikarenakan pelaku sudah bukan mahasiswa aktif UII. Sedangkan kasus-kasus sebelumnya hanya menjadi angin lalu dan direspon negatif oleh kampus yang tidak memihak pada korban. Pelaku masih diberi ruang di lingkungan kampus.Hingga saat ini juga, kami masih mempunyai harapan pada kampus untuk bersama-sama mengawal kasus ini hingga selesai. Untuk itu, berikut kami sampaikan sikap dari aliansi ini: Sikap Aliansi UII Bergerak 1. Menuntut Ibrahim Malik meminta maaf kepada penyintas dan mengakui bahwa dirinya telah melakukan kekerasan seksual. Kedua hal tersebut disampaikan secara terbuka oleh Ibrahim Malik di depan publik. 2. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersolidaritas terhadap penyintas dengan menyerukan dukungannya sampai semua tuntutan ini dipenuhi 3. Menuntut Rektor Universitas Islam Indonesia untuk memberikan pernyataan ke publik bahwa akan menutup semua akses Ibrahim Malik di lingkungan kampus baik offline maupun online. Termasuk tidak memberikan kesempatan Ibrahim Malik menjadi dosen Universitas Islam Indonesia di masa yang akan datang jika memang dia akan mencalonkan diri sebagai dosen. 4. Menuntut Universitas Islam Indonesia untuk SEGERA membentuk tim adhoc yang berpihak pada penyintas guna menyelidiki kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Ibrahim Malik. Sebagai bentuk kontrol bersama dari banyak pihak, maka tim adhoc terdiri dari: a. Perwakilan dari pihak rektorat b. Tim psikolog yang selama ini mendampingi penyintas c. Tim bantuan hukum yang terdiri dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UII dan tim bantuan hukum lain yang dipilih oleh penyintas d. Mahasiswa yang terdiri dari perwakilan DPM yang dipilih berdasarkan perspektif keberpihakan terhadap korban sepenuhnya, perwakilan KM UII


yang terdiri dari LPM Universitas dan kampus, Aliansi UII Bergerak, perwakilan mahasiswa yang fokus terhadap isu Hukum dan HAM seperti KAHAM UII 5. Mendukung Universitas Islam Indonesia untuk menjamin keamanan penyintas. Termasuk mendapatkan jaminan akses pendampingan psikologi 6. Menuntut Universitas Islam Indonesia untuk membentuk tim penyusun draft regulasi khusus penanganan kasus kekerasan seksual yang berpihak pada penyintas di lingkungan kampus UII dan untuk SEGERA disahkan. Tim terdiri dari anggota tim adhoc penanganan kasus

Kita telah melihat bagaimana birokrat kampus UII abai terhadap pelaku kekerasan seksual. Di satu sisi DPM UII mencoba meredam keberanian penyintas untuk menggalang dukungan luas. Dari dua kondisi objektif tersebut, kami paham betul siapa yang kita lawan. Sebuah institusi pendidikan yang melanggengkan budaya seksisme. Menjadi pembantu atas tak terputusnya rantai sejarah penindasan perempuan dalam masyarakat berkelas hari ini. Ditambah, tak satu pun dari kita yang kebal terhadap pengaruh sosial tempat kita hidup dan tumbuh. Ilusi ilmu pengetahuan arus utama hari ini selalu mengatakan bahwa kita “bebas� untuk membuat keputusan sendiri sebagai individu. Tetapi itu adalah ilusi. Keputusan individu dibuat dalam masyarakat yang sudah ada sebelumnya dengan sejarahnya sendiri. Ia tidak terlepas dari budaya masyarakat yang dominan hari ini. Budaya masyarakat dominan hari ini selalu mengajarkan jika kamu ditindas, kamu tidak akan bisa melawan balik karena kamu tidak punya kekuatan yang cukup untuk melawan. Di bagian “Kenapa Kita Harus Melawan Kekerasan Seksual?�, tesis nomor satu, kami sudah mangatakan bahwa penindasan (dalam hal ini kekerasan seksual) dapat menyebabkan ketertundukan/kepatuhan. Karena objektifikasi pada dasarnya telah menciptakkan pelemahan harga diri seksual perempuan dan meyakini bahwa laki-laki dan perempuan tidak mungkin dapat menyusun pandangan yang sama. Penyintas akan cenderung merasa, entah orang yang melakukan kekerasan seksual atau institusi pendidikan tempat yang seharusnya memberikan perlindungan, memiliki status quo yang kuat dan tak tergoyahkan. Atas dasar itu, tanpa mengesampingkan upaya pendekatan-pendekatan konseling kepada penyintas, kami melihat butuh upaya lebih daripada itu. Perjuangan melawan kekerasan seksual tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada penyintas. Belajar dari kasus sebelum-sebelumnya, perlawanan terhadap kekerasan seksual adalah perjuangan yang terjal dan berliku. Maka dari itu dibutuhkan uluran tangan solidaritas dari kita semua untuk terlibat secara aktif memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan mendesak hari ini. Dibutuhkan gerakan yang luas dan terbuka bagi siapa saja yang mau terlibat aktif memperjuangka hak-hak para penyintas dan menciptakan lingkungan yang bersih dari para pelaku kekerasan seksual. Tanpa solidaritas aktif dari kita semua, tidak akan ada lingkungan UII yang terbebas dari kekerasan seksual. Tanpa perlawanan, Ibrahim Malik akan terus diberikan ruang oleh pihak kampus. Terakhir, tak henti-hentinya apresiasi yang begitu besar teruntuk para penyintas yang sudah berani melawan segala bentuk kekerasan seksual. Kami bersama kalian! Keberanian penyintas adalah semangat kami untuk terus berjuang hingga keadilan bagi korban dapat direbut. Tidak berhenti disitu saja, kemenangan dalam kasus ini akan menjadi batu loncatan perjuangan melawan kekerasan seksual di kemudian hari.


HIDUP PENYINTAS! LAWAN KEKERASAN SEKSUAL DI KAMPUS! #ibrahimmalikpredatorseksual #uiitidakaman Rabu, 30 April 2020 Aliansi UII Bergerak

INDIVIDU DAN ORGANISASI/KELOMPOK YANG MENDUKUNG

Organisasi 1.Social Movement Institute 2.Pembebasan Kolektif Yogyakarta 3.Kamisan Makassar 4.Aksi Kamisan Jogja 5.PLUSH (People Like Us Satu Hati) 6.LBH Yogyakarta 7.KAHAM UII 8.HRLS UNAIR 9.Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) 10.WCC DIAN MUTIARA Malang 11.Pusat Pengembangan Hukum dan Gender FH UB 12.IWD Yogyakarta 13.Lingkar Studi Sosialis 14.YLBHI 15.Lavender Study Club 16.LPM Ekonomika FBE UII 17.LPM Keadilan FH UII 18.LPM Kognisia FPSB UII 19.LPM Linier FMIPA UII 20.LPM Pilar Demokrasi FIAI UII 21.Aliansi tanpa nama kampus 22.KORKOM IMM UMY 23.HMI FH UII 24.Landless (Labour and Class Struggle Study) 25.MAP Corner-Klub MKP 26.Lingkar Diskusi Publik UNY 27.Siempre

28.Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Nasional 29.HIMMAH UII 30.Aliansi Satu FPSB 31.SP KINASIH 32.Alliance for Smashing the Patriarchy (ASP) 33.GERPUAN UNJ 34.Jaringan Muda Setara 35.KARPUAN UAI 36.Swarasaudari 37.Aliansi Taman Keadilan 38.SC Komaka 39.CLD FH UII 40.Dispensi UII 41.Komunitas Ilkom UII 42.Indonesia Feminis 43.Rumah Pelangi Indonesia 44.Queer Language Club 45.Organisasi Perubahan Sosial Indonesia 46.International Program FH UII angkatan 2012 47.perEMPUan 48.LBH Semarang 49.Lingkar Studi Feminis Tangerang 50.RRR Kolektif 51.Resister Indonesia 52.Front Santri Melawan Kekerasan Seksual 53.Space UNJ 54.Hollaback! Jakarta

55.Aliansi Mahasiswa untuk Kesetaraan UNJ (AMUK UNJ) 56.Pembebasan Makassar 57.PMII rayon FAI UMI 58.Komite Sahkan RUU PKS Makassar 59.Kelas Perempuan Setara Kutai Timur 60.GMNI Kutai Timur 61.Feminis yogya 62.UTY Bergerak 63.UKDW Bergerak 64.Lingkar Studi Kerakyatan Samarinda 65.Resistance Jakarta 66.Sosialis Muda Malang 67.Lingkar Studi Kerakyatan Kutai Timur 68.Muda Melawan Semarang 69.Komunitas Perempuan Agora 70.Women's March Yogyakarta 71.Cakrawala mahasiswa Yogyakarta 72.Federasi mahasiswa kerakyatan 73.Rumah Gender FUPI UIN Sunan Kalijaga 74.Feminist Event 75.Srikandi UII 76. Sanggar Terpidana FH UII 77. PerempuanFeminis 78. UKM Voli FH UII 79.Sc Rumaka


Individu 1.Eko Prasetyo 2.Herlambang P. Wiratraman, HRLS FH Unair 3.Alghiffari Aqsa 4.Rizaldi Ageng 5.Fakhrurrozi 6.Yusril Mukav 7.Dean 8.Irhas Hery Rizkatillah 9.Wiryawan 10.Marshal nizar ismail 11.Ardhi oktavian 12.Lutfi mubarok 13.Dhia Al Uyun - Dosen FH UB Malang 14.Yustika Ardhany 15.Rozi Afandi 16.Alfi Nurjannah (Fakultas Hukum UII Angkatan 2018) 17.Ardya Syafhana (International Program Fakultas Hukum UII Angkatan 2016) 18.Arief Hasanul Husnan Nasution (International Program Fakultas Hukum UII Angkatan 2018) 19.Kinas putra ariska 20.Syafiatudina 21.Adi 22.Wahyudin afrizal 23.Hariya P.B 24.Alfin fauzan 25.Muh. Mega 26.Ahdiyatul Pratama 27.Balee 28.Ayiek 29.M. Rasyid Ridho 30. Dian Noeswantari 31. Julio B Harianja 32. Satria U.W.P 33. Ibtihajar M. A. 34.Abdullah Chilmi 35.Azka Shalihah 36.Dwi Mairani M 37.Aulia Rahmi 38.Dona Puji L 39.Trissa Dhiani I 40.Arief Ridhi K 45.Dian Septianie Rahayu 49.Kalih puspitasari

50. Muktiono 51.Linda Sudiono 52. Diego Randi 53. Mirisa Hasfaria 54. Nadine Kusuma 55.Renni Anisa Pertiwi 56.Bodhi IA 57.Owi 58.Widya 59.Travis 60.Ulfah kurniawato 61.Siti Nurkhalimah 62.M. Taufik Firdaus 63.Firda 64.Windi zaskia kusuma putri 65. Sita Aripurnami 66. Nualita Hanatita (UGM) 67.Widya Dewi (FBE UII) 68.Nuanissa H. S (FBE UII) 69.Muhammad Reza (FBE UII) 70.Zulfikar Mubarak Maren Saputra (FTI UII) 71.Muhammad Dhani Alfigo (FTSP UII) 72.Danish Aiman (UiTM Malaysia) 73.Burhan (FBE UII) 74.Ahmad Firdaus Bin Ahmad Rizal (UiTM malaysia) 75.Rasydan MHasan (UiTM Malaysia) 76.Shahirul Azri (UiTM Malaysia) 77.Rashiqah Ramzi (UiTM Malaysia) 78.Aleea ZN (UiTM Malaysia) 79.Kiffah Ilmi (UiTM Malaysia) 80.Shiddiq Nabil (UiTM Malaysia) 81.Aiman Adib (UiTM Malaysia) 82.Shafiqah A (UiTam Malaysia) 83.Clarissa Tria (UIN Surakarta) 84.Rayfi Mohammad (FIAI UII) 85.Amelia Septianingsih (FBE UII) 86.Chanif Adhyaksa M (UNDIP)

87.Arya Budi M (UNDIP) 88.Farrel Ewaldo (UNDIP) 89. M Ravee Mahadhika 90.Agnes Dwi Lestari 91.Sukma Rodiyah 92.Salsabila 93.Rian Bagus Istyawan 94.Fahmi Umuluddin 95.Muhammad Iqbal Saputra 96.Ihsan Hafiz Pujiana 97.Hilda Allysia Sukmaningrum 98.Putra Kartika Praja 99.Agum Abimanyu 100.Ahmad Taufik 101.Eka Aditiya Satria Nugraha 102.Salsabella Sania Putri 103.Hanif Firmansyah 104.Muhammad Fahri Wicaksana 105.Farhan Asis Aby 106.Mirza Ajeng Thiasari 107.Sita 108.Vicky 109.Silvia Febriani 110.Nailah hikmatul Ulya 111.Sarah rahma agustin 112.Siti Nor Azizah 113.Zippo surya A putra 114.Mardiana 115.Saifudin 116Adhilatul husna 117.Rinnavia 118.Reneza K putri 119.Maulidia Paramitha 120.Iche Eis H 121.Annisa Jofani Tanjung 122. Ely Al-yahya 123. Diah Maryana 124. Naimah Thalib 125. Dinanjaya Pramono 126. Andra Noormansyah 127. Rinaldy Yumadhika 128. Putih 129. Aulia 130. Melani Aulia 131. Frisky 132. M. Daffa Rizky Ansor 133. Dewi Irawati 134.Anggun Nur Cahyati 135.Ahmad Alkhawarizmi 136. Reyhan Rezon


Narahubung 0858-6976-3735 (Karunia) 0821-9954-7063 (Made)