Page 1


1 Aku sudah mati, tapi ini tidak terlalu buruk. Aku sudah belajar untuk menerima keadaan ini. Aku menyesal tidak dapat memperkenalkan diri sebagaimana mestinya, tapi aku sudah tidak punya nama lagi. Hampir tidak ada dari kami yang punya. Kami kehilangan nama seperti kehilangan kunci mobil, melupakan nama seperti melupakan hari jadi. Namaku mungkin diawali dengan huruf “R�, tapi hanya itulah yang kupunya sekarang. Ini lucu karena dulu sewaktu aku masih hidup, aku selalu lupa nama orang lain. Temanku “M� berkata ironisnya menjadi zombi adalah segalanya lucu, tapi kau tidak bisa tersenyum karena bibirmu sudah busuk. Tidak ada dari kami yang benar-benar menarik, tetapi kematian sudah lebih berbaik hati kepadaku daripada 2


kepada sebagian zombi. Aku masih dalam tahap-tahap awal pembusukan. Baru kulit kelabu, bau tidak enak, lingkaran gelap di bawah mataku. Aku hampir bisa dipercaya sebagai seorang pria dari Kaum Hidup yang membutuhkan liburan. Sebelum aku menjadi zombi, aku pasti seorang pengusaha, bankir atau pialang, atau pemagang yang sedang mempelajari seluk-beluk pekerjaan, karena sekarang aku mengenakan pakaian yang lumayan bagus. Pantalon hitam, kemeja abu-abu, dasi merah. Kadang-kadang M mengolokku. Dia menunjuk dasiku dan mencoba tertawa, suatu geraman yang mendeleguk tertahan jauh di dalam perutnya. Pakaian M sendiri jins sobek-sobek dan kaus putih polos. Kaus itu sekarang sudah tampak sangat mengerikan. Seharusnya dulu dia memilih warna yang lebih gelap. Kami senang bergurau dan berspekulasi tentang pakaian kami. Pilihan busana terakhir inilah yang merupakan satu-satunya indikasi tentang siapa kami sebelum kami menjadi bukan siapa-siapa. Sebagian tidak sejelas pakaianku: celana pendek dan sweter, rok dan blus. Jadi kami menebak-nebak acak. K au du lu pra mu s aji. K au du lu m a h a si s wa. Mengingatkan pada sesuatu? Tidak pernah. Tak seorang pun yang kukenal memiliki ingatan yang spesifik. Hanya pengetahuan samar, sekelumit jejak, dari sebuah dunia yang sudah lama hilang. Kesan-kesan kabur akan kehidupan lampau yang bertahan seperti sensasi anggota badan yang sudah diamputasi. Kami mengenali 3


peradaban—bangunan, mobil, dunia secara keseluruhan— tetapi tidak ada peran pribadi kami di dalamnya. Tidak ada sejarah. Kami hanya di sini. Kami melakukan yang kami lakukan, waktu berlalu, dan tidak ada yang mengajukan pertanyaan. Tetapi, seperti yang sudah kukatakan, ini tidak terlalu buruk. Kami mungkin kelihatan tidak berpikir, tetapi sebenarnya sebaliknya. Roda-roda gigi kemampuan untuk meyakinkan itu memang berkarat, tetapi masih berputar, hanya semakin melambat sampai gerakan luarnya hampir tak kentara. Kami menggumam dan menggeram, kami mengangkat bahu dan mengangguk, dan terkadang beberapa patah kata terucap. Tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Tetapi, memang membuatku sedih bahwa kami lupa nama kami. Dari semuanya, bagiku inilah yang sepertinya paling tragis. Aku merindukan namaku sendiri dan berduka untuk nama semua yang lain, karena aku ingin sekali mencintai mereka, tapi aku tidak tahu mereka siapa.

.

.

.

Kami yang berjumlah ratusan ini tinggal di bandara terbengkalai di luar sebuah kota besar. Kami tidak membutuhkan naungan atau kehangatan, itu sudah jelas, tetapi kami senang ada dinding dan atap di atas kepala kami. Jika tidak, kami pasti hanya berkeliaran di padang debu terbuka di suatu tempat, dan itu pasti menyeramkan. Tidak memiliki apa-apa sama sekali di sekeliling kami, tidak 4


ada apa pun untuk disentuh atau dipandang, tidak ada garis nyata apa pun, hanya kami dan rahang langit yang menganga. Kubayangkan seperti itulah rasanya purnamati. Suatu kekosongan yang amat luas dan mutlak. Kurasa kami sudah di sini lama sekali. Seluruh dagingku masih utuh, tetapi ada zombi-zombi tua yang tinggal kerangka dengan tempelan kerat-kerat otot, kering seperti dendeng. Entah bagaimana otot itu masih meregang dan mengerut, dan mereka terus bergerak. Aku tidak pernah melihat seorang pun dari kami “mati� karena usia tua. Bila dibiarkan saja dengan makanan melimpah, mungkin kami akan “hidup� selamanya, entahlah. Bagiku masa depan sama kaburnya dengan masa lalu. Sepertinya aku tidak mampu memaksa diriku memperhatikan apa pun di sebelah kanan atau kiri masa sekarang, sedangkan masa sekarang tidak benar-benar mendesak. Kau boleh berkata kematian membuatku santai.

.

.

.

Aku sedang naik eskalator ketika M menemukanku. Aku menaiki eskalator beberapa kali sehari, setiap kali benda itu bergerak. Ini sudah menjadi ritual. Bandara ini telantar, tetapi kadang listriknya masih menyala lemah, mungkin mengalir dari generator darurat yang tergagap jauh di bawah tanah. Lampu membersit dan layar berkedip, mesin terlonjak bergerak. Aku memuja saat-saat seperti ini. Perasaan bahwa segala sesuatunya mulai hidup. Aku 5


berdiri di undakan eskalator dan mendaki bagaikan sukma memasuki Surga, impian manis masa kecil kita itu, yang sekarang hanya lelucon hambar. Setelah mungkin tiga puluh kali mengulang, aku mendaki dan mendapati M sedang menungguku di puncak. Sosoknya terbentuk dari puluhan kilogram otot dan lemak yang menyampiri kerangka setinggi sekitar 185 sentimeter. Wajahnya yang menakutkan, dengan janggut, botak, memar, dan busuk, mulai tampak saat aku mendekati puncak tangga. Apakah dia malaikat yang menyambutku di gerbang? Mulutnya yang compang-camping merembeskan ludah hitam. Dia menunjuk tak jelas dan menggumam, “Kota.� Aku mengangguk dan mengikutinya. Kami akan keluar untuk mencari makan. Kelompok berburu membentuk di sekitar kami selagi kami melangkah terseret-seret menuju kota. Tidak sulit menemukan rekrutan untuk ekspedisi semacam ini meskipun tidak ada yang lapar. Pikiran yang terfokus merupakan kejadian langka di sini, dan kami semua mengikutinya bila itu mewujud. Jika tidak, kami pasti hanya berdiri menganggur dan mengerang sepanjang hari. Kami sering sekali berdiri menganggur dan mengerang. Tahun-tahun berlalu seperti itu. Daging melisut pada tulang kami dan kami berdiri di sini, menunggu daging itu hilang. Aku sering bertanya-tanya berapa usiaku.

.

6

.

.


Kota tempat kami melakukan perburuan untungnya dekat. Kami tiba sekitar tengah hari keesokan harinya dan mulai mencari daging. Rasa lapar yang baru ini sungguh aneh. Kami tidak merasakannya di perut kami—sebagian dari kami bahkan tidak punya perut. Kami merasakannya di semua tempat secara merata, suatu sensasi ambles, melesak, seolah sel-sel kami mengempis. Musim dingin lalu, ketika begitu banyak Kaum Hidup bergabung dengan Kaum Mati dan mangsa kami menjadi langka, aku melihat beberapa temanku akhirnya purnamati. Transisi itu tidak dramatis. Mereka hanya melambat, lalu berhenti, dan setelah beberapa saat aku sadar mereka sudah menjadi mayat. Mula-mula itu menggelisahkanku, tapi tata krama melarang kami memperhatikan bila salah satu dari kami mati. Aku mengalihkan pikiranku dengan mengerang. Kurasa dunia sebagian besar sudah berakhir karena kota-kota yang kami jelajahi busuk seperti kami. Bangunan-bangunan ambruk. Mobil berkarat menyumbati jalan. Sebagian besar kaca pecah, dan angin yang mengalir menembus gedung-gedung tinggi yang kosong merintih seperti binatang yang ditinggalkan untuk mati. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Penyakit? Perang? Keruntuhan sosial? Ataukah hanya kami? Kaum Mati yang menggantikan Kaum Hidup? Kurasa itu tidak begitu penting. Begitu kau tiba di ujung dunia, hampir tidak penting rute mana yang kauambil. Kami mulai mencium bau Kaum Hidup saat kami mendekati sebuah gedung apartemen bobrok. Bau itu 7


bukan bau keringat dan kulit, melainkan letup-letup energi kehidupan, seperti bau tajam hasil ionisasi kilat dan lavender. Kami tidak menghidu bau itu dalam hidung kami. Bau itu menghantam kami lebih ke dalam, di dekat otak kami, seperti wasabi. Kami berkumpul di gedung itu dan mendobrak masuk. Kami mendapati mereka terkumpul di sebuah apartemen unit kecil dengan jendela-jendela dipalangi papan. Pakaian mereka lebih buruk daripada pakaian kami. Mereka berbalut rombengan kotor, dan mereka semua sangat perlu bercukur. M akan digayuti janggut pirang pendek sepanjang sisa keberadaan Berdaging-nya, tetapi semua yang lain dalam rombongan kami berdagu licin. Ini salah satu bonus kematian, satu hal lagi yang tidak perlu kami cemaskan. Janggut, rambut, kuku... tidak ada lagi melawan keadaan biologis. Tubuh liar kami akhirnya terjinakkan. Pelan dan kikuk tetapi dengan komitmen yang teguh, kami meluncurkan diri ke arah Kaum Hidup. Letusan shotgun mengisi udara berdebu dengan bubuk mesiu dan darah. Darah hitam memerciki dinding. Hilangnya sebelah lengan, tungkai, sebagian batang tubuh, ini diabaikan, ditepiskan. Hanya masalah kosmetis kecil. Tetapi, beberapa dari kami menerima tembakan di otak, dan kami roboh. Rupanya masih ada sesuatu yang bernilai dalam spons kelabu yang layu itu, karena jika kami kehilangan otak, kami adalah mayat. Zombi-zombi di kiri dan kananku menghantam lantai dengan suara gedebuk lembap. Tetapi, 8


jumlah kami banyak. Kami menang kekuatan. Kami menyerang Kaum Hidup itu dengan ganas, dan kami makan. Makan bukan urusan yang menyenangkan. Aku menggigit dari lengan seorang pria, dan aku benci itu. Aku benci jeritannya karena aku tidak suka rasa sakit. Aku tidak suka melukai orang, tetapi inilah dunia sekarang. Inilah yang kami lakukan. Tentu saja jika aku tidak melahap habis pria itu, jika aku menyisakan otaknya, dia akan bangkit dan mengikutiku kembali ke bandara, dan itu mungkin membuat perasaanku lebih tenang. Aku akan memperkenalkannya kepada semua zombi, dan mungkin kami akan berdiri melamun dan mengerang beberapa lama. Sekarang sudah sukar mengatakan apa arti “teman”, tetapi itu mungkin mendekati. Jika aku menahan diri, jika aku menyisakan cukup banyak.... Tetapi, itu tidak kulakukan. Aku tidak sanggup. Seperti biasa aku langsung menuju bagian yang sedap, bagian yang membuat kepalaku menyala seperti tabung gambar di televisi. Aku memakan otaknya, dan selama sekitar tiga puluh detik, aku memiliki ingatan. Kilasan-kilasan pawai, parfum, musik... kehidupan. Lalu itu memudar. Aku pun berdiri, dan kami semua terseok-seok keluar dari kota, tetap dingin dan kelabu, tetapi merasa sedikit lebih baik. Bukan “baik”, persisnya, bukan “bahagia”, sudah tentu bukan “hidup”, tetapi... sedikit tidak terlalu mati. Inilah hal terbaik yang bisa kami lakukan. Aku mengekor di belakang kelompok sementara kota menghilang di belakang kami. Langkah-langkahku agak 9


lebih berat daripada langkah yang lain. Ketika aku berhenti sebentar di sebuah lubang di jalan yang terisi air hujan untuk membersihkan darah kering dari wajah dan pakaianku, M berbalik menghampiri dan menepuk pundakku. Dia mengetahui ketidaksukaanku pada beberapa rutinitas kami. Dia tahu aku agak lebih peka daripada kebanyakan zombi. Kadang dia menggodaku, memilin rambut hitamku yang berantakan menjadi kepangan dan berkata, “Anak perempuan. Benar-benar... anak perempuan.� Tetapi, dia tahu kapan harus serius menanggapi kemurunganku. Dia menepuk bahuku dan hanya menatapku. Wajahnya sudah tidak mampu lagi menampakkan banyak nuansa ekspresi, tetapi aku tahu apa yang ingin dia katakan. Aku mengangguk. Kami pun melanjutkan berjalan. Aku tidak tahu mengapa kami harus membunuh orang. Aku tidak tahu apa yang dicapai dengan menggerogoti leher seorang pria. Aku mencuri apa yang dia miliki untuk mengganti apa yang tidak kupunya. Dia lenyap, dan aku tinggal. Inilah hukum yang sederhana namun tak berakal dan semau-maunya dari legislator gila di langit. Tetapi, mengikuti hukum ini membuatku tetap mampu melangkah, jadi kupatuhi semuanya sampai ke yang sekecil-kecilnya. Aku makan sampai aku berhenti makan, lalu aku makan lagi. Bagaimana ini bermula? Bagaimana kami menjadi seperti diri kami sekarang? Apakah karena semacam virus misterius? Sinar gama? Suatu kutukan purba? Atau sesuatu yang lebih absurd lagi? Tidak ada yang banyak 10


membicarakan hal itu. Kami di sini, dan seperti inilah adanya. Kami tidak mengeluh. Kami tidak mengajukan pertanyaan. Kami mengerjakan urusan kami saja. Ada sebuah jurang antara diriku dan dunia di luarku. Sebuah celah yang begitu lebarnya hingga perasaan-perasaanku tak mampu menyeberanginya. Pada saat mencapai sisi seberang, teriakanku sudah melemah menjadi rintihan.

.

.

.

Di gerbang Kedatangan, kami disambut segerombolan kecil zombi, yang memandang kami dengan mata atau rongga mata lapar. Kami menjatuhkan bawaan kami ke lantai: dua pria yang hampir utuh, beberapa tungkai berdaging, dan sebuah batang tubuh tanpa tangan dan kaki, semua masih hangat. Sebut saja itu makanan lebihan. Sebut saja itu makanan pesan-bawa. Teman-teman kami sesama Kaum Mati menjatuhkan diri dan berpesta tepat di sana di lantai seperti binatang. Kehidupan yang tersisa dalam sel-sel itu akan menghindarkan mereka dari purnamati, tetapi Kaum Mati yang tidak berburu tidak akan pernah benar-benar puas. Seperti para pelaut yang kehabisan buah segar, mereka akan melisut dalam kekurangan itu, lemah dan selamanya kosong, karena rasa lapar yang baru itu sebenarnya monster kesepian. Dengan bersungut-sungut dia menerima daging cokelat dan darah suam-suam kuku itu, tetapi yang diidamkannya adalah kedekatan, rasa terhubung 11


yang muram itu, yang mengalir antara mata mereka dan mata kami pada saat-saat terakhir itu, seperti semacam film negatif cinta. Aku melambai kepada M lalu memisahkan diri dari kerumunan. Aku sudah lama terbiasa dengan bau menyengat Kaum Mati, tetapi bau busuk yang naik dari tubuh mereka hari ini terasa sangat menusuk. Bernapas memang opsional, tetapi aku perlu udara. Aku mengeluyur memasuki lorong-lorong penghubung dan menaiki sabuk berjalan. Aku berdiri di atas sabuk itu dan mengamati pemandangan bergulir melintasi dinding kaca. Tidak banyak yang dapat dilihat. Landasan pacu berubah hijau, ditumbuhi rerumputan dan belukar. Pesawat jet tergeletak tak bergerak di pelataran beton seperti paus yang terdampar, putih dan monumental. Moby Dick, akhirnya tertaklukkan. Sebelumnya, sewaktu aku masih hidup, aku tidak mungkin sanggup melakukan ini. Berdiri diam, mengamati dunia melewatiku, nyaris tidak memikirkan apa-apa. Aku masih ingat upaya. Aku ingat target dan tenggat, sasaran dan ambisi. Aku ingat aku punya tujuan, selalu ada di mana-mana sepanjang waktu. Sekarang aku hanya berdiri di sini di atas sabuk berjalan, ikut berkelana. Aku sampai di ujung, berputar, dan kembali di arah sebaliknya. Dunia telah disuling. Menjadi mati itu mudah. Setelah beberapa jam melakukan ini, aku melihat sesosok perempuan di sabuk seberang. Dia tidak terhuyung atau mengerang seperti sebagian besar dari kami. Kepalanya 12


hanya terkulai dari sisi ke sisi. Aku suka cirinya itu, bahwa dia tidak terhuyung atau mengerang. Aku mengadu pandang dan terus menatapnya sementara kami mendekat. Untuk waktu yang singkat kami bersisian, hanya terpisah beberapa langkah. Kami berpapasan, lalu melanjutkan bergerak ke ujung ruang yang berlawanan. Kami berbalik dan saling memandang. Kami menaiki sabuk berjalan lagi. Kami saling berpapasan lagi. Aku menyeringai, dan dia balas menyeringai. Pada saat kami berpapasan yang ketiga kali, listrik bandara mati. Kami berhenti pada posisi sejajar sempurna. Aku mendesiskan sapaan, dan dia membalas dengan ringkukan bahunya. Aku menyukainya. Aku mengulurkan tangan dan menyentuh rambutnya. Seperti aku, pembusukannya baru pada tahap awal. Kulitnya pucat dan matanya cekung, tetapi tidak ada tulang atau organ tubuhnya yang terpampang. Selaput pelangi matanya bernuansa sangat muda dari warna kelabu aneh yang dimiliki Kaum Mati, warna campuran timah dan tembaga itu. Pakaian kuburnya berupa rok hitam dan blus putih ketat. Aku menduga dia dulunya seorang resepsionis. Tersemat di dadanya sebuah lencana nama dari perak. Dia punya nama. Aku menatap lekat-lekat lencana itu. Aku mencondongkan badan dekat-dekat, menempatkan wajahku hanya beberapa inci dari dadanya, tetapi itu tidak membantu. Huruf-huruf itu berpusing dan berbalik dalam pandanganku, aku tidak bisa menahan agar semuanya diam. Seperti biasa, 13


huruf-huruf itu membingungkanku, hanya sederet garis dan bintik yang tak berarti. Satu lagi ironi kaum kami menurut M—dari lencana nama sampai koran, jawaban atas berbagai pertanyaan kami tertulis di sekeliling kami, dan kami tidak tahu cara membaca. Aku menunjuk lencana dan menatap zombi perempuan itu di mata. “Ini... namamu?” Dia menatapku tanpa ekspresi. Aku menunjuk diriku sendiri dan melafalkan sisa penggalan namaku sendiri. “Rrr.” Lalu aku menunjuk dirinya lagi. Pandangannya jatuh ke lantai. Dia menggeleng. Dia tidak ingat. Dia bahkan tidak memiliki nama satu suku kata pun, seperti yang M dan aku miliki. Dia bukan siapa-siapa. Tetapi, tidakkah aku selalu berharap terlalu banyak? Aku menjangkau dan meraih tangannya. Kami melangkah di luar sabuk berjalan dengan lengan kami terentang melintangi pemisah. Perempuan ini dan aku telah jatuh cinta. Atau yang tersisa dari cinta. Aku ingat seperti apa cinta dulu. Ada faktor-faktor emosi dan biologi yang rumit. Ada ujian-ujian pelik yang harus dilalui, hubungan yang harus ditempa, pasang dan surut serta air mata dan angin pusar. Cinta dulu suatu cobaan, semacam latihan dalam penderitaan, tetapi hidup. Cinta yang baru ini lebih sederhana. Lebih mudah. Namun kecil. 14


Pacarku tidak banyak bicara. Kami berjalan sepanjang koridor-koridor bandara yang menggema, sesekali melewati zombi yang sedang memandang ke luar jendela atau memandangi dinding. Aku berusaha memikirkan hal-hal untuk diucapkan, tetapi tidak satu pun muncul. Kalaupun ada yang muncul, aku mungkin tidak bisa mengucapkannya. Inilah rintangan terbesarku, yang terbesar dari semua bongkah batu besar yang menyeraki jalanku. Dalam benakku aku fasih, aku mampu mendaki perancah kata yang menjelimet untuk mencapai langit-langit katedral tertinggi dan melukiskan pikiran-pikiranku. Tetapi, saat aku membuka mulut, semuanya runtuh. Sejauh ini rekor pribadiku adalah lima suku kata yang bergulir sebelum suatu... hal... mengganjal. Padahal aku mungkin zombi paling cerewet di bandara ini. Aku tidak tahu mengapa kami tidak berbicara. Aku tidak dapat menjelaskan keheningan menyesakkan yang menggantung di atas dunia kami, memutus kami satu dari yang lain seperti kaca pembatas di ruang kunjungan penjara. Kata depan terasa menyakitkan, kata sandang sangat sulit, kata sifat menjadi prestasi liar yang terlalu tinggi. Apakah kebisuan ini suatu cacat fisik yang nyata? Salah satu dari banyak gejala Kaum Mati? Atau apakah kami hanya tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan? Aku berusaha bercakap-cakap dengan pacarku, menguji beberapa frasa kikuk dan pertanyaan dangkal, mencoba mendapatkan suatu reaksi darinya, sentakan pikiran apa saja. Tetapi, dia hanya menatapku seolah aku aneh. 15


Kami melayap beberapa jam, tanpa arah, lalu dia menggenggam tanganku dan mulai menuntunku ke suatu tempat. Kami melangkah tersandung-sandung menuruni eskalator yang berhenti dan keluar menuju landasan pacu. Aku mendesah letih. Dia mengajakku ke gereja. Kaum Mati telah membangun sebuah tempat suci di landasan pacu. Pada suatu saat di masa lalu yang jauh, ada yang mendorong semua truk bertangga dan menyusun menjadi lingkaran, membentuk semacam amfiteater. Kami berkumpul di sini, kami berdiri di sini, kami mengangkat lengan kami dan mengerang. Para Tulang tua menggoyang-goyangkan kaki dan tangan mereka yang tinggal tulang di lingkaran tengah, menyerukan khotbah kering tanpa kata dengan suara parau dari balik seringai penuh gigi. Aku tidak mengerti apa ini. Kurasa tak satu pun dari kami mengerti. Tetapi, inilah satu-satunya waktu kami bersedia berkumpul di bawah langit terbuka. Mulut kosmos yang sangat luas itu, dengan gunung-gunung jauh seperti geligi pada tengkorak Tuhan, menguap lebar untuk melahap kami. Untuk menelan kami ke tempat yang mungkin memang tempat kami. Pacarku tampaknya jauh lebih saleh daripada aku. Dia memejamkan mata dan mengayunkan lengannya dengan cara yang hampir kelihatan tulus. Aku berdiri di sebelahnya dan mengangkat kedua tanganku dengan kaku. Karena suatu isyarat yang tak diketahui, mungkin terpikat oleh semangat pacarku, para Tulang menghentikan 16


khotbah mereka dan memandangi kami. Salah satu dari mereka maju ke depan, menaiki tangga kami, dan meraih pergelangan tangan kami. Dia menuntun kami turun memasuki lingkaran dan mengangkat tangan kami dalam genggamannya yang bercakar. Dia mengeluarkan semacam raungan, sebuah suara yang tidak wajar seperti ledakan udara dari terompet berburu yang rusak, nyaring mengejutkan, menakutkan burung-burung hingga terbang meninggalkan pepohonan. Jemaat bergumam menjawab, dan selesailah sudah. Kami sudah menikah. Kami kembali ke tempat duduk tangga. Kebaktian dilanjutkan. Istri baruku memejamkan mata dan mengayunkan lengannya. Hari sesudah pernikahan kami, kami mempunyai anak. Sekelompok kecil Tulang menghentikan kami di aula dan menyerahkan anak-anak itu kepada kami. Bocah lelaki dan bocah perempuan, keduanya sekitar enam tahun. Yang lelaki berambut pirang ikal, dengan kulit kelabu dan mata kelabu, mungkin dulunya Kaukasoid. Yang perempuan lebih gelap, dengan rambut hitam dan kulit cokelat keabuan, bayang-bayang gelap melingkari matanya yang berwarna baja. Dia mungkin tadinya Arab. Para Tulang mendorong mereka maju dan mereka memberi kami senyum ragu, lalu memeluk kaki kami. Aku menepuk mereka di kepala dan menanyakan nama mereka, tetapi mereka tidak punya nama. Aku mendesah, lalu istriku dan aku meneruskan berjalan, bergenggaman tangan dengan anak-anak baru kami. 17


Aku tidak benar-benar mengharapkan ini. Ini tanggung jawab besar. Kaum Mati yang masih kecil tidak memiliki naluri makan alami seperti yang dewasa. Mereka harus dirawat dan dilatih, dan mereka tidak akan pernah tumbuh. Dikerdilkan oleh kutukan kami, mereka akan tetap kecil dan membusuk, lalu menjadi kerangka kecil, bergerak tetapi kosong. Otak mereka berkelotak kaku dalam tengkorak mereka, mengulang rutinitas dan ritual sampai suatu hari, aku hanya bisa berasumsi, tulang-tulang itu sendiri akan terurai, dan begitu saja mereka tiada. Lihat mereka. Perhatikan mereka sementara aku dan istriku melepaskan tangan mereka dan mereka berkeliaran ke luar untuk bermain. Mereka saling menggoda dan meringis. Mereka bermain dengan benda yang bahkan bukan mainan: staples, cangkir, dan kalkulator. Mereka terkikik dan tertawa, meski suara itu terdengar tercekik melalui tenggorokan kering mereka. Kami sudah menggelantang otak mereka, merampok napas mereka, tetapi mereka tetap bergelantung di tubir karang. Mereka menolak kutukan kami selama mereka bisa. Aku memperhatikan mereka menghilang memasuki cahaya siang yang pucat di ujung aula. Jauh di dalam diriku, di sebuah ruang yang gelap bersawang, aku merasakan sesuatu berdenyut.

*

18


2 Sudah waktunya makan lagi. Aku tidak tahu sudah berapa lama sejak perburuan terakhir kami, mungkin hanya beberapa hari, tetapi aku merasakannya. Aku merasakan listrik di kaki dan tanganku mendesis, melemah. Aku terus melihat imaji-imaji darah yang tak kunjung henti dalam benakku, warna merah kesumba yang memukau itu, mengalir melalui jaringan-jaringan merah muda cerah dalam jala-jala yang rumit dan bentuk-bentuk lukisan Pollock, berdenyut dan bergetar dengan kehidupan. Aku menemukan M di pujasera sedang berbicara dengan beberapa gadis. M agak berbeda denganku. Dia benar-benar tampak menikmati kehadiran wanita, dan kosakatanya yang di atas rata-rata memikat mereka seperti ikan karper yang 19


terpesona, tetapi M menjaga jarak. Dia meremehkan mereka. Para Tulang pernah mencoba menjodohkannya dengan seorang istri, tetapi dia hanya melenggang pergi. Kadang aku ingin tahu apakah M memiliki filosofi tertentu. Mungkin bahkan pandangan hidup. Aku ingin duduk bersamanya dan mencomot otaknya, segigit kecil saja di suatu tempat di lobus depan untuk mencicipi pikiran-pikirannya. Tetapi, dia terlalu tangguh untuk bisa serapuh itu. “Kota,” kataku, sambil meletakkan satu tangan di perut. “Makanan.” Gadis-gadis yang sedang berbicara dengannya menatapku dan pergi dengan langkah terseret. Aku sadar aku membuat sebagian orang gugup meski aku tidak tahu mengapa. “Baru... makan,” ujar M, merengut sedikit kepadaku. “Dua hari... lalu.” Aku mencengkam perutku lagi. “Rasanya kosong. Rasanya... mati.” M mengangguk. “Perka...winan.” Aku memelototinya. Aku menggeleng dan mencengkeram perutku lebih keras. “Perlu. Panggil... yang lain.” Dia mendesah dan berjalan keluar, menabrakku keras sewaktu melewatiku, tetapi aku tidak yakin itu disengaja. Dia, bagaimanapun, zombi. Dia berhasil menemukan beberapa lainnya yang bernafsu makan, dan kami membentuk kelompok kecil. Kecil sekali. Kecil yang tidak aman. Tetapi, aku tidak peduli. Aku tidak ingat pernah merasa selapar ini. 20

Warm Bodies bab 1  

baca Warm Bodies bab 1