Page 1

1


PROLOG Awal Mulanya

K

au kenal cowok yang rumahnya hanya berjarak beberapa rumah darimu adalah manusia paling

menakutkan yang ada di muka bumi? Saat kau sedang di teras depan rumahmu, hendak mencium pacarmu sebelum ia pulang, sekilas kau mendapatinya di jalan, tidak melakukan apa-apa selain berdiri di sana. Tiba-tiba ia muncul saat kau sedang bergosip dengan sahabat-sahabatmu. Tapi, kemunculannya tidak secara acak juga. Ia seperti kucing hitam misterius yang tahu semua jadwalmu. Jika ia lewat di depan rumah, kau berpikir, nilai ulangan Biologi-ku kali ini pasti jelek. Jika ia memandangimu dengan tatapan aneh, hati-hati, ada apa di belakangmu? Setiap kota memiliki cowok semisterius kucing hitam sepertinya. Di Rosewood, cowok itu bernama Toby Cavanaugh. 2


“Kurasa pipinya memerlukan tambahan perona.” Spencer Hastings mundur dan memperhatikan salah seorang sahabatnya, Emily Fields. “Bintik di wajahnya masih kelihatan.” “Aku punya concealer Clinique.” Alison DiLaurentis beranjak dan berlari menuju tas makeup-nya yang terbuat dari bahan korduroi biru. Emily menatap dirinya di cermin yang diletakkan di atas meja di ruang tamu rumah Alison. Ia memiringkan wajahnya ke kanan, ke kiri, lalu mengerucutkan bibir pink-nya. “Mom akan membunuhku jika melihatku dengan riasan seperti ini.” “Yeah, tapi kalau kau menghapusnya, kami yang akan membunuhmu,” kata Aria Montgomery memperingatkan. Aria sendiri, dengan alasan yang hanya ia yang tahu, melompat ke sana kemari di ruangan ini dengan bra yang belum lama ini ia rajut sendiri dari bulu halus kambing angora. “Yeah, Em, kau kelihatan cantik,” ujar Hanna Marin setuju. Hanna duduk bersila di lantai dan terus berputar untuk memastikan apakah belakang bokongnya terlihat dari jeans Blue Cult-nya yang agak sedikit kekecilan. Hari itu Jumat malam pada bulan April. Ali, Aria, Emily, Spencer, dan Hanna sedang menikmati acara menginap ala kelas enam seperti pada umumnya: merias 3


wajah satu sama lain dengan makeup berlebihan, mengunyah keripik kentang asam asin, dan menonton MTV Cribs dengan tidak serius di televisi layar datar Ali. Malam ini, karpet dipenuhi oleh hamparan pakaian karena mereka memutuskan untuk saling menukar baju-baju mereka selama di kelas enam ini. Spencer mematut kardigan kasmir kuning lemon ke tubuhnya yang ramping. “Ambillah,” ujar Ali kepadanya. “Manis juga kalau kau pakai.” Hanna menarik rok beludru warna hijau zaitun milik Ali ke pinggulnya, menoleh ke arah Ali, dan berpose. “Bagaimana menurutmu? Sean suka tidak?” Ali mengerang dan melempar Hanna dengan bantal. Semenjak mereka berteman pada September silam, yang Hanna bicarakan hanyalah tentang betapa ia mencintai Sean Ackard, salah seorang cowok di kelas mereka di Rosewood Day School. Oh ya, mereka sudah bersekolah di sana semenjak taman kanak-kanak. Di kelas lima, Sean hanyalah seorang murid pendek dengan wajah berbintik-bintik. Tapi setelah liburan musim panas, ia beberapa sentimeter lebih tinggi dan tidak gempal lagi. Sekarang, hampir setiap cewek di kelas ingin menciumnya.

4


Menakjubkan bagaimana orang bisa berubah dalam setahun. Semua cewek, semua kecuali Ali, tahu betul mengenai perubahan itu. Tahun lalu, mereka hanya‌ yah, sekadar cewek di kelas, dan bukan siapa-siapa. Spencer adalah gadis berbokong besar yang duduk di depan kelas dan selalu mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan guru. Aria adalah cewek agak aneh yang lebih suka mengadakan latihan dance alih-alih bermain sepak bola seperti yang lainnya. Emily adalah cewek pemalu, perenang negara bagian yang banyak sekali menyimpan rahasia dalam dirinya. Kau bisa mengetahuinya jika sudah mengenalnya lebih dekat. Dan Hanna mungkin ceroboh dan kikuk, tapi ia membaca semua isi majalah Vogue dan Teen Vogue. Terkadang, ia menyebutkan berbagai istilah fesyen yang tidak diketahui orang lain. Ada yang istimewa tentang mereka semua, itu pasti. Tapi mereka tinggal di Rosewood, Pennsylvania, sebuah kota satelit tiga puluh kilometer dari Philadelphia, dan segala sesuatunya memang istimewa di Rosewood. Bebungaan lebih harum, air lebih enak rasanya, rumahrumah lebih besar. Lelucon warga sekitar, tupai-tupai menghabiskan malam dengan membersihkan sampah dan memangkas rumput dandelion liar di jalan berbatu di tepi jalan sehingga Rosewood tampak sempurna di 5


mata warganya yang penuntut. Di tempat semua tampak sempurna, sulit sekali untuk tampil menonjol. Tapi entah bagaimana Ali dapat melakukannya. Dengan rambut pirang panjangnya, wajah berbentuk hati, dan dua mata biru besar, ia adalah gadis paling memukau di sana. Setelah Ali menyatukan mereka ke dalam sebuah persahabatan—terkadang rasanya seperti Ali menemukan mereka—cewek-cewek itu sekarang tidak lagi menjadi sekadar cewek di kelas yang bukan siapa-siapa. Tiba-tiba, mereka bisa melakukan halhal yang dulu tidak berani mereka perbuat. Seperti mengganti rok menjadi lebih pendek di kamar mandi sekolah setelah mereka turun dari bus sekolah setiap pagi. Atau mengirimkan kertas berisi cap bibir kepada cowok-cowok di kelas. Atau berjalan di lorong sekolah Rosewood Day bersama-sama dengan gaya yang mengintimidasi dan mengabaikan orang-orang yang dianggap pecundang. Ali mengambil lipstik ungu dan memoleskannya di bibir. “Aku siapa?” Yang lain mengerang. Ali sedang meniru Imogen Smith, cewek di kelas mereka yang tergila-gila dengan lipstik Nars-nya. “Tunggu.” Spencer mengerucutkan bibirnya yang berlekuk dan memberikan sebuah bantal kepada Ali. “Masukkan ke bawah bajumu.” 6


“Bagus.” Ali memasukkannya ke bawah polo pinknya, dan semua terkikik. Gosip yang beredar, Imogen telah terlalu jauh berhubungan dengan Jeffrey Klein, siswa kelas sepuluh, dan kini ia mengandung. “Kalian menjijikkan deh.” Pipi Emily merona. Ia memang paling pendiam di antara kelompok itu, mungkin karena ia dibesarkan dalam lingkungan yang superketat. Orangtuanya menganggap semua yang berhubungan dengan kesenangan sebagai kejahatan. “Kenapa, Em?” Ali melingkarkan lengannya di pinggang Emily. “Imogen memang kelihatan gendut kok. Dia semestinya berharap dia memang sedang hamil.” Cewek-cewek itu pun tertawa lagi, tapi tidak selepas sebelumnya. Ali berbakat melihat kelemahan orang lain. Meskipun ia ada benarnya juga tentang Imogen, mereka bertanya-tanya dalam hati apakah Ali juga menjelekjelekkan mereka jika mereka tidak ada. Terkadang, sulit untuk mengetahui hal itu dengan pasti. Mereka kembali menyortir pakaian-pakaian itu. Aria jatuh cinta pada gaun Fred Perry yang sangat rapi milik Spencer. Emily mengenakan rok mini jeans di atas kaki kurusnya dan menanyakan apakah rok itu terlalu pendek. Ali menyatakan bahwa celana jeans Joe milik Hanna terlalu di bawah pusar lalu melepaskannya, dan memperlihatkan celana dalam cowok bertali warna 7


pink permen. Saat ia berjalan melewati jendela ke arah stereo, ia terkesiap. “Ya ampun!” teriaknya sambil berlari ke belakang sofa beludru ungu di dekatnya. Teman-temannya menoleh. Di jendela, mereka melihat Toby Cavanaugh. Ia hanya… berdiri di sana. Menatap mereka. “Ih!” Aria menutup dadanya yang kini hanya mengenakan bra rajutan karena sebelumnya ia telah melepaskan gaun Spencer. Spencer, yang masih berpakaian lengkap, lari ke jendela. “Menyingkir, Tukang Intip!” teriaknya. Toby tersenyum sinis sebelum ia berbalik dan berlari. Saat semua orang bertemu Toby di jalan, mereka memilih menyingkir. Ia setahun lebih tua dari gadisgadis itu. Pucat, tinggi, dan kurus. Selalu berkeliaran sendirian di daerah sekitar rumahnya, seakan sedang memata-matai semua orang. Ada gosip tentang cowok itu. Katanya, ia berciuman dengan anjingnya. Ia juga kabarnya jago berenang, dan orang-orang bilang ia tidak punya paru-paru, melainkan insang. Menurut kabar burung, setiap malam ia tidur di dalam peti mati di rumah pohon di halaman belakang rumahnya. Hanya ada satu orang yang Toby ajak bicara, adik tirinya, Jenna, yang seangkatan dengan Ali dan 8


teman-temannya. Jenna juga gadis konyol menyedihkan meskipun ia tidak semenakutkan kakaknya. Paling tidak, ia bisa bicara dalam kalimat utuh. Ia juga cantik meski agak menjengkelkan melihatnya, dengan rambut tebal dan hitam, mata hijau yang besar dan muram, serta bibir merah yang selalu cemberut. “Aku merasa ternodai deh.” Tubuh Aria yang langsing menggeliat seakan ia terkena bakteri E. coli. Kebetulan mereka baru saja mempelajarinya di kelas. “Berani-beraninya dia menakut-nakuti kita seperti itu!” Wajah Ali merah karena marah. “Kita harus membalasnya.” “Bagaimana caranya?” Mata Hanna yang cokelat terang membelalak. Ali berpikir sejenak. “Kita harus membuatnya menuai badai dari angin yang ditaburnya.” Yang harus dilakukan, jelas Ali, adalah menakutnakuti Toby. Saat Toby tidak berkeliling di sekitar rumah mereka untuk memata-matai tetangga, ia pasti berada di rumah pohonnya. Ia menghabiskan sebagian waktunya di sana, bermain Game Boy atau, mungkin membangun robot raksasa untuk mengebom nuklir Rosewood Day. Tapi, karena rumah pohon itu ada di atas pohon—tentu saja!—dan Toby selalu menarik tangga temali yang ia gunakan untuk naik sehingga tidak ada yang dapat 9


mengikutinya ke atas, mereka tidak bisa mengintip dan tahu-tahu ‘dor!’ mengagetinya. “Jadi, kita membutuhkan kembang api. Untung saja kita tahu di mana semua kembang api itu berada.” Ali menyeringai. Toby terobsesi dengan kembang api. Ia menyimpan roket botol di dasar pohon dan sering menyalakannya ke atas langit dari rumah pohonnya. “Kita menyelinap ke sana. Kita curi satu kembang apinya, dan menyalakan di jendelanya,” jelas Ali. “Pasti membuatnya takut setengah mati.” Mereka menatap rumah keluarga Cavanaugh di seberang jalan. Meskipun hampir semua lampu sudah dimatikan, sekarang belum terlalu malam, baru jam setengah sebelas. “Entahlah,” ujar Spencer. “Yeah.” Aria setuju. “Bagaimana jika ada yang salah?” Ali menghela napas, dramatis. “Ayolah, Anak-anak.” Semua terdiam. Lalu Hanna berdeham. “Kayaknya oke juga.” “Oke deh.” Spencer menyerah. Emily dan Aria mengangkat bahu, mau tidak mau setuju. Ali bertepuk tangan dan menunjuk ke sofa di jendela. “Aku akan melakukannya. Kalian boleh menonton dari sini.”

10


Mereka pun berdesakan duduk di sofa di depan jendela besar rumah Ali dan memperhatikan Ali menyelinap ke jalan. Rumah Toby berhadapan secara diagonal dengan keluarga DiLaurentis dan dibangun dengan gaya Victoria yang serupa. Tapi, kedua rumah itu tidak sebesar lahan perkebunan keluarga Spencer, yang terletak di belakang rumah Ali. Halaman tertutup keluarga Hastings memiliki kincir angin sendiri, delapan kamar tidur, garasi untuk lima mobil, kolam renang bertepian bebatuan, dan sebuah lumbung terpisah. Ali berlari ke halaman samping rumah keluarga Cavanaugh, langsung ke rumah pohon Toby. Tempat itu gelap tertutup bayangan pohon elm dan pinus, tapi cahaya lampu masih dapat membuat cewek-cewek itu melihat bayangan Ali dari jendela. Semenit kemudian, mereka yakin sedang melihat Ali memegang kembang api berbentuk kerucut es krim, mundur sekitar enam meter, cukup jauh sehingga ia dapat melihat cahaya biru di jendela rumah pohon Toby. “Menurutmu, dia akan benar-benar melakukannya?� bisik Emily. Sebuah mobil berlalu, lampunya menerangi rumah Toby. “Nggak,� jawab Spencer, sambil memutar-mutar berlian yang dibelikan oleh orangtuanya karena

11


mendapatkan nilai A pada semua mata pelajaran di rapor. “Ia cuma membual.” Aria menggigit ujung kepangan rambut hitamnya. “Pastinya.” “Bagaimana kita bisa tahu apakah Toby benar-benar ada di sana atau tidak?” tanya Hanna. Mereka pun terdiam. Mereka memang sudah pernah terlibat dalam kenakalan Ali, tapi tidak ada yang berbahaya. Misalnya menyelinap ke kolam air panas di spa Fermata padahal mereka belum mendaftar. Memasukkan pewarna rambut hitam ke dalam sampo saudara perempuan Spencer. Mengirim surat pengagum rahasia palsu dari Kepala Sekolah Appleton kepada Mona Vanderwaal di kelas. Tapi ada sesuatu dengan tindakan Ali saat ini yang membuat mereka merasa… tidak nyaman. Bum! Emily dan Aria melompat ke belakang. Spencer dan Hanna menempelkan wajah ke jendela. Di jalan, suasana masih gelap. Cahaya lebih terang terlihat dari jendela rumah pohon, tapi hanya itu. Hanna memicingkan mata. “Kayaknya itu bukan kembang api.” “Lalu apa?” tanya Spencer sinis. “Senjata?”

12


Kemudian terdengar gonggongan anjing gembala Jerman keluarga Cavanaugh. Gadis-gadis itu pun saling bergandengan tangan. Lampu teras samping rumah menyala. Terdengar suara gaduh nan kencang. Mr. Cavanaugh keluar dari pintu samping. Tiba-tiba, jilatan api kecil muncul di jendela rumah pohon. Kemudian, api itu menjalar hebat. Seperti video yang dipertontonkan oleh orangtua Emily setiap tahunnya saat Natal. Lalu, terdengarlah sirene. Aria menatap teman-temannya. “Apa yang terjadi?” “Menurut kalian…?” bisik Spencer. “Bagaimana jika Ali—” ujar Hanna. “Teman-teman.” Sebuah suara terdengar di belakang mereka. Ali berdiri di ambang pintu kamar. Tangan di kedua sisi tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, lebih pucat dari yang pernah mereka lihat. “Apa yang terjadi?” tanya mereka berbarengan. Ali tampak khawatir. “Entahlah. Tapi itu bukan salahku.” Sirene semakin dekat dan dekat… hingga terlihat sebuah ambulans di jalur masuk mobil rumah keluarga Cavanaugh. Paramedis berhamburan dan bergegas ke rumah pohon. Tangga tali sudah diturunkan.

13


“Apa yang terjadi, Ali?” tanya Spencer sambil membalikkan tubuhnya dan bergegas ke pintu. “Kau harus mengatakan apa yang telah terjadi di sana.” Ali mencegah. “Spence, jangan.” Hanna dan Aria saling memandang. Mereka terlalu takut untuk mengikuti, takut ada yang melihat mereka. Spencer menunduk di balik semak-semak dan menatap jalan. Ia mendapati ada lubang bergerigi di jendela rumah pohon Toby. Ia merasa ada yang merayap di belakangnya. “Ini aku,” ujar Ali. “Apa—” Sebelum Spencer menyelesaikan kalimatnya, paramedis sudah kembali menuruni tangga rumah pohon dengan seseorang yang mereka bopong. Apakah Toby terluka? Apakah ia… mati? Semua gadis itu, baik yang di dalam maupun di luar, menjulurkan kepala untuk melihat lebih jelas. Jantung mereka berdegup lebih kencang. Lalu, sesaat, jantung mereka berhenti berdetak. Itu bukan Toby. Itu Jenna. Beberapa menit kemudian, Ali dan Spencer kembali ke dalam rumah. Ali menceritakan kejadian tadi kepada mereka dengan gaya yang sangat tenang, namun terasa aneh. Kembang api itu menembus jendela dan mengenai Jenna. Tak ada yang melihat Ali menyalakannya, jadi 14


mereka aman asalkan tidak membuka mulut. Lagi pula, kembang api itu milik Toby. Jika polisi akan menyalahkan seseorang, Toby-lah orangnya. Sepanjang malam, mereka menangis dan berpelukan, tertidur, lalu terbangun lagi. Spencer yang paling tegang di antara mereka. Ia bergelung di sofa, hanya mengubahubah saluran televisi dari E! ke Cartoon Network, lalu ke Animal Planet. Saat mereka terbangun keesokan paginya, berita sudah tersebar. Ada yang telah mengaku. Toby. Gadis-gadis itu menyangka pengakuan itu sebuah lelucon, tapi surat kabar lokal memastikan bahwa Toby telah mengakui perbuatannya bermain-main dengan menyalakan kembang api di dalam rumah pohonnya. Ia tak sengaja membuat kembang api itu terlempar ke wajah adiknya dan menyebabkan kebutaan pada mata sang adik. Ali membacanya dengan lantang saat mereka duduk di meja dapur sambil bergandengan tangan. Mereka tahu, semestinya mereka merasa lega. Tapi, mereka mengetahui yang sebenarnya terjadi. Selama beberapa hari di rumah sakit, Jenna histeris dan kebingungan. Semua menanyakan apa yang telah terjadi kepadanya, tapi sepertinya ia tak dapat mengingat apa pun. Menurutnya, ia juga tidak ingat apa yang terjadi

15


sebelum kecelakaan itu. Menurut tim dokter, Jenna mungkin sedang mengalami stres pascatrauma. Untuk menghormati Jenna, Rosewood Day mengadakan pertemuan ‘Jangan Bermain dengan Kembang Api’, yang diikuti acara dansa dan penjualan kue demi menggalang dana. Ali dan teman-teman, terutama Spencer, dengan sangat (terlalu) bersemangat turut berpartisipasi. Tentu saja mereka berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang kejadian itu. Jika ada yang bertanya, mereka hanya mengatakan bahwa Jenna adalah gadis yang baik dan salah satu teman dekat mereka. Banyak gadis lain yang tidak pernah berbicara dengan Jenna mengatakan hal serupa. Sementara Jenna sendiri, ia tak pernah kembali ke Rosewood Day. Ia kini bersekolah di sekolah khusus tunanetra di Philadelphia. Tak ada yang melihatnya lagi semenjak malam itu. Hal-hal buruk tak lagi terjadi di Rosewood. Toby juga tak tampak lagi. Orangtuanya memutuskan untuk menyekolahkannya di rumah saja sepanjang tahun ajaran itu. Musim panas pun berlalu dan pada tahun ajaran depan, Toby akan dikirim ke Maine, ke sekolah khusus untuk remaja yang telah melakukan tindakan kriminal sebagai pengganti penjara. Ia pergi begitu saja pada suatu hari di pertengahan Agustus. Ayahnya mengantarkannya ke stasiun SEPTA. Toby naik kereta sendiri ke bandara. 16


Gadis-gadis itu mengawasi saat keluarga Cavanaugh menebang rumah pohon siang itu. Seakan mereka ingin menghapus keberadaan Toby sama sekali. Dua hari setelah kepergian Toby, orangtua Ali mengajak gadis-gadis itu berkemah di Pegunungan Pocono. Mereka berlima pun melakukan berbagai kegiatan, di antaranya arung jeram, memanjat tebing, dan berjemur di tepi danau. Malam harinya, saat mereka kembali membahas tentang Toby dan Jenna—seperti yang sering mereka lakukan sepanjang musim panas—Ali mengingatkan bahwa mereka tidak boleh sama sekali menceritakan apa yang mereka ketahui kepada siapa pun. Mereka akan menyimpan rahasia itu selamanya. Hal itu akan mempererat persahabatan mereka selamanya, persahabatan abadi. Malam itu, setelah menutup tenda mereka dan masing-masing memasang tudung hoodie kasmir hingga kepala, Ali memberikan gelang tali berwarna cerah untuk mereka. Ia mengikatkan gelang itu ke lengan setiap temannya dan meminta mereka untuk mengikuti kata-katanya: “Aku berjanji untuk tidak mengatakannya hingga aku mati.” Mereka bergerak berputar, Spencer ke Hanna ke Emily ke Aria, mengucapkan hal yang sama. Terakhir, Ali mengikat gelangnya sendiri. “Hingga aku mati,” 17


bisiknya setelah gelang itu terikat, tangannya memeluk dada. Gadis-gadis itu pun meremas tangan teman-teman mereka. Meskipun merasa ngeri, mereka merasa beruntung karena saling memiliki. Mereka mengenakannya saat mandi, saat liburan musim semi ke Washington D.C. dan Colonial Williamsburg—atau untuk Spencer, ke Bermuda—saat berlatih hockey, dan saat flu. Ali berhasil menjaga gelangnya menjadi yang paling bersih di antara mereka, seakan mengotorinya akan menghalangi tujuan utama gelang itu. Terkadang, mereka menyentuh gelang itu dan berbisik, “Hingga aku mati,� untuk mengingatkan betapa dekatnya mereka. Kalimat itu menjadi kode mereka. Mereka paham apa maknanya. Bahkan, Ali mengucapkannya kurang dari setahun kemudian, pada hari terakhir kelas tujuh, pada malam pertama pesta menginap musim panas mereka. Tidak ada yang tahu bahwa dalam beberapa jam kemudian, Ali akan menghilang. Atau bahwa hari itulah ia mati. ***

18


1 Dan Kami Kira Kami Bersahabat

S

pencer Hastings berdiri di atas rumput warna hijau apel di Biara Rosewood dengan tiga orang bekas

sahabatnya, Hanna Marin, Aria Montgomery, dan Emily Fields. Mereka tidak berbicara satu sama lain semenjak tiga tahun lalu, tidak lama setelah Alison DiLaurentis menghilang secara misterius, namun mereka berkumpul kembali demi sebuah upacara untuk mengenang Alison. Dua hari lalu, pekerja bangunan menemukan tubuh Alison di bawah tiang pancang beton di belakang tempat yang dahulu menjadi rumahnya. Spencer melihat lagi pesan yang baru saja ia terima di smartphone Samsung Sidekick-nya. Aku masih di sini, Keparat. Dan aku tahu segalanya.—A

19


“Oh, Tuhan,” bisik Hanna. Blackberry-nya menerima pesan yang sama. Demikian pula dengan Treo milik Aria dan Nokia milik Emily. Selama lebih dari seminggu, masing-masing telah mendapatkan e-mail, SMS, serta Instant Messenger dari seseorang berinisial A. Pesannya kebanyakan mengenai hal-hal yang terjadi sewaktu mereka di kelas tujuh, tahun ketika Ali menghilang. Pesan itu juga menyinggung rahasia-rahasia terbaru… hal-hal yang terjadi baru-baru ini. Spencer menduga A bisa jadi Alison—yang entah bagaimana telah kembali—tapi itu tidak mungkin, kan? Tubuh Ali telah hancur di bawah beton. Ia telah… mati… sejak lama. “Apa menurutmu ini artinya… berkaitan dengan Jenna?” bisik Aria sambil mengusap-usap dagunya yang lancip. Spencer memasukkan ponsel ke tas merek Kate Spade-nya. “Kita tidak boleh membicarakan hal itu di sini. Seseorang mungkin sedang menguping pembicaraan kita.” Ia menatap gugup ke tangga biara, tempat Toby dan Jenna Cavanaugh berdiri di sana beberapa saat lalu. Spencer tidak pernah bertemu Toby sebelum Ali menghilang, sedangkan kali terakhir ia melihat Jenna adalah pada malam kecelakaan itu, dengan kondisi

20


lemah di tangan petugas paramedis yang membawanya turun dari rumah pohon. “Di ayunan?” bisik Aria, artinya taman bermain sekolah dasar Rosewood Day. Di sanalah mereka biasa mengadakan pertemuan khusus dulu. “Sempurna,” ujar Spencer, sambil melewati sekelompok orang yang sedang berdukacita. “Kutunggu kalian di sana.” Siang menjelang sore pada hari yang cerah musim gugur, udara tercium seperti bau apel dan kayu bakar. Balon udara melayang di atas kepala. Sungguh hari yang cocok untuk mengenang seorang gadis tercantik seantero Rosewood. Aku tahu segalanya. Spencer gemetar. Ini pasti sebuah gertakan. Siapa pun A, ia tidak mungkin tahu segalanya. Apalagi masalah Jenna… dan tentu saja rahasia di antara Spencer dan Ali. Pada malam kecelakaan Jenna, Spencer menyaksikan sesuatu yang tidak dilihat oleh temannya yang lain, tapi Ali membuatnya tutup mulut, bahkan terhadap Emily, Aria, dan Hanna. Spencer ingin sekali memberi tahu mereka, tapi saat ia merasa tidak sanggup, ia mengesampingkannya dan bersikap seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi. Tapi… itu terjadi. 21


Malam yang cerah pada musim semi di bulan April sewaktu kelas enam, sesaat setelah Ali melesatkan sebuah kembang api ke dalam jendela rumah pohon, Spencer berlari ke luar. Bau seperti rambut yang terbakar memenuhi udara. Ia melihat petugas paramedis membopong Jenna turun dari rumah pohon dengan berayun di tangga dari tambang. Ali berada di sebelahnya. “Apa kau melakukannya dengan sengaja?” tanya Spencer, penuh ketakutan. “Tidak!” Ali menarik lengan Spencer. “Tadi itu.…” Selama bertahun-tahun Spencer mencoba untuk menepis apa yang kemudian muncul: Toby Cavanaugh mendatangi mereka. Rambutnya kusut dan wajah pucatnya terlihat merah. Ia berjalan ke arah Ali. “Aku melihatmu.” Toby begitu marah sampai-sampai ia gemetar. Ia melirik ke arah jalanan, saat mobil polisi tiba. “Aku akan melapor.” Spencer menarik napas. Pintu ambulans ditutup dan sirenenya meraung meninggalkan lokasi. Ali terlihat tenang. “Yeah, tapi aku melihatmu, Toby,” katanya. “Dan kalau kau melapor, aku juga akan melapor. Ke orangtuamu.” Toby mundur. “Jangan.”

22


“Ya,” sahut Ali. Meskipun tingginya hanya seratus enam puluh sentimeter, ia tampak lebih tinggi. “Kau menyalakan kembang api. Kau menyakiti adikmu.” Spencer menarik lengannya. Apa yang ia lakukan? Tapi Ali menepisnya. “Adik tiri,” gumam Toby, nyaris tak terdengar. Ia melirik ke arah rumah pohonnya lalu ke jalan. Mobil polisi lain mendekati rumah keluarga Cavanaugh. “Aku akan membalasmu,” geramnya. “Awas kau.” Lalu, ia menghilang dari pandangan. Spencer menarik tangan Ali. “Apa yang harus kita lakukan?” “Tidak ada,” jawab Ali santai. “Kita aman.” “Alison….” Spencer berkedip tak percaya. “Kau tidak mendengar apa yang ia katakan? Ia bilang ia tahu apa yang kau lakukan. Ia akan melapor ke polisi sekarang.” “Menurutku tidak.” Ali tersenyum. “Tidak dengan apa yang kuketahui tentangnya.” Lalu ia memalingkan tubuh dan membisikkan apa yang telah ia ketahui tentang perbuatan Toby. Suatu hal yang menjijikkan sampai Ali lupa kalau ia sedang memegang kembang api yang menyala dan melesat dari tangannya, menerobos masuk ke jendela rumah pohon. Ali memaksa Spencer untuk tidak menceritakan kepada orang lain. Ali mengancam apabila Spencer 23


bercerita, ia akan melakukan sesuatu atas diri Spencer. Hanya Spencer yang akan merasakan akibatnya. Takut akan ancaman Ali, Spencer tutup mulut. Ia khawatir Jenna akan bicara sesuatu—pastinya ia akan ingat bahwa bukan Toby pelakunya—tapi Jenna begitu bingung dan ia meracau. Ia bilang tidak ingat sama sekali kejadian malam itu. Lalu, setahun kemudian, Ali hilang. Polisi menanyai setiap orang, termasuk Spencer, tentang kemungkinan adanya orang-orang yang ingin menyakiti Ali. Toby, seketika nama itu muncul di benaknya. Ia tidak bisa melupakan ketika Toby berkata: Awas kau. Namun, menyebut nama Toby sama saja membuat polisi tahu kejadian sebenarnya tentang kecelakaan yang menimpa Jenna—sementara ia juga termasuk orang yang terlibat secara tidak langsung. Selama ini ia tahu kejadian sebenarnya dan tidak bercerita kepada siapa pun. Hal itu juga berarti membocorkan rahasia yang ia simpan selama lebih dari satu tahun kepada teman-temannya. Karenanya, Spencer memilih diam. Spencer meninggalkan lapangan parkir Biara Rosewood. Benar, kan? A tidak mungkin tahu segalanya, seperti pesan yang dikirimkannya. Kecuali A adalah Toby Cavanaugh‌ tapi itu hal yang tak masuk akal. Pesan A 24


untuknya adalah tentang rahasia yang hanya diketahui oleh Ali: sewaktu masih duduk di kelas tujuh, Spencer mencium Ian, pacar Melissa, kakaknya. Spencer mengakui perbuatannya kepada Ali. Tidak ada orang lain yang tahu. A juga tahu tentang Wren, mantan pacar kakaknya, yang minggu lalu bukan sekadar berciuman dengan Spencer. Tapi keluarga Cavanaugh pernah tinggal di jalan yang sama dengan rumah Spencer. Dengan teropong, Toby bisa saja melihat segalanya melalui jendela. Dan Toby ada di Rosewood meskipun saat itu bulan September. Bukankah seharusnya ia sedang berada di asrama sekolah? Spencer memasuki jalan berbatu bata menuju Rosewood Day School. Teman-temannya sudah lebih dulu berada di sana, berkumpul di ruangan olahraga sekolah dasar. Tempat itu berbentuk istana cantik dari kayu, lengkap dengan kubah, bendera-bendera, serta pintu dorong berbentuk naga. Lapangan parkir telah sepi, jalan setapak dari batu bata telah kosong, dan lapangan tempat latihan olahraga telah sepi. Seluruh sekolah telah melupakan kenangan tentang Ali. “Kita semua mendapat pesan dari orang berinisial A ini?� tanya Hanna saat Spencer menghampiri. Setiap orang mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan Aku tahu semuanya. 25


“Aku masih punya dua pesan lainnya,” kata Emily. “Kurasa itu semua dari Ali.” “Aku juga!” keluh Hanna, sambil mengibaskan tangannya ke tangga kubah. Aria dan Spencer juga mengangguk. Mereka saling menatap gugup dengan mata terbelalak. “Pesan apa yang kau terima di ponselmu?” tanya Spencer sambil menatap Emily. Emily mendorong rambut pirang kemerahan yang menghalangi pandangan matanya. “Ini sesuatu yang sifatnya… pribadi.” Spencer begitu terkejut. Ia tertawa dengan lantang. “Kau tak punya rahasia apa pun, Em!” Emily adalah gadis yang jujur, paling manis di atas muka bumi. Emily terlihat marah. “Yah, tapi sayangnya, aku memang punya.” “Oh.” Spencer tersandung pada salah satu anak tangga. Ia menarik napas, berharap dapat mencium tumpukan rumput basah atau ampas kayu gergaji. Justru ia malah mencium bau rambut terbakar, persis seperti pada malam nahas yang dialami Jenna. “Bagaimana denganmu, Hanna?” Hanna mengerutkan hidung kecilnya. “Jika Emily tidak bercerita tentang Ali, aku takkan bicara. Sesuatu yang hanya diketahui oleh Ali.”

26


“Aku juga begitu,” tukas Aria cepat. Ia menundukkan kepala. “Maaf.” Spencer merasa mual. “Jadi, semua memiliki rahasia yang hanya Ali yang tahu?” Semua mengangguk. Spencer mendengus. “Kupikir kita sahabat.” Aria menoleh ke arah Spencer dan mengernyitkan kening. “Jadi, apa isi pesanmu?” Spencer merasa rahasianya tentang Ian tidak seheboh itu. Tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang ia ketahui tentang Jenna. Tapi sekarang, ia merasa bangga mengatakannya. “Rahasia yang hanya Ali yang tahu, sama dengan kalian.” Ia mengibaskan rambut panjang pirangnya ke belakang telinga. “Tapi A juga mengirimkan e-mail kepadaku yang berisi sesuatu yang sedang terjadi sekarang. Rasanya seperti ada yang memata-mataiku.” Mata biru es Aria membelalak. “Sama, aku juga.” “Jadi, ada yang sedang mengawasi kita,” ujar Emily. Ada kumbang kecil hinggap di bahunya. Ia mengibaskannya dengan keras seakan itu hewan yang jauh lebih menakutkan. Spencer berdiri. “Menurut kalian, mungkinkah itu… Toby?” Semua tampak terkejut. “Kenapa?” tanya Aria. 27


“Ia terlibat dalam urusan Jenna malam itu,” jawab Spencer hati-hati. “Bagaimana jika ia tahu?” Aria menunjukkan pesan di smartphone Treo-nya. “Menurutmu ini tentang… Jenna?” Spencer menjilat bibir. Katakan. “Kita masih tidak tahu mengapa Toby mau mengaku menjadi pelakunya,” ujar Spencer, sambil menguji apa yang akan dikatakan teman-temannya. Hanna berpikir sesaat. “Satu-satunya cara Toby mengetahui apa yang kita lakukan adalah jika ada di antara kita yang memberitahukan kepadanya.” Ia menatap yang lain dengan pandangan penuh rasa tidak percaya. “Aku tidak mengatakannya.” “Aku juga tidak,” sahut Aria dan Emily bersamaan. “Bagaimana jika Toby mengetahuinya dengan cara lain?” tanya Spencer. “Maksudmu, ada yang melihat Ali malam itu dan memberitahukan kepadanya?” tanya Aria. “Atau ia melihat Ali?” “Bukan… maksudku… entahlah,” ujar Spencer. “Aku hanya mengucapkannya begitu saja.” Katakan, pikir Spencer lagi. Tapi ia tak bisa. Semua tampak berhati-hati atas satu sama lain. Kira-kira seperti itu semenjak Ali menghilang, persahabatan mereka merenggang. Jika Spencer mengungkapkan yang sebenarnya 28


tentang Toby, mereka akan membencinya karena tidak mengatakan kepada polisi saat Ali menghilang. Mungkin mereka bahkan akan menyalahkannya atas kematian Ali. Mungkin mereka memang semestinya menyalahkannya. Bagaimana jika Toby memang telah… melakukannya? “Hanya pikiranku,” ujarnya. “Mungkin aku salah.” “Kata Ali, tak ada yang tahu selain kita.” Mata Emily berkaca-kaca. “Ia bersumpah kepada kita. Ingat, kan?” “Lagi pula,” tambah Hanna, “bagaimana Toby bisa tahu sebanyak itu tentang kita? Kalau itu teman hockey Ali, atau kakaknya, atau orang yang benar-benar berbicara dengannya, mungkin saja. Tapi ia sendiri membenci Toby. Kita semua benci Toby.” Spencer mengangkat bahu. “Benar juga.” Setelah mengatakannya, ia merasa lega, santai. Ia terobsesi hal yang tak jelas. Segalanya begitu hening. Mungkin terlalu hening. Sebuah batang pohon menghempas, dan Spencer berputar tajam. Ayunannya bergerak maju-mundur, seakan ada yang baru saja melompat dari sana. Seekor burung cokelat hinggap di atas sekolah dasar Rosewood Day, menatap mereka, seakan ia tahu sesuatu juga. “Kurasa ada yang ingin macam-macam dengan kita,” bisik Aria.

29


“Yeah,” ujar Emily setuju, tapi ia tidak terdengar yakin. “Jadi, bagaimana kalau kita mendapatkan pesan lainnya?” Hanna menarik gaun hitam pendeknya ke bawah paha kurusnya. “Paling tidak, sebaiknya kita mencari tahu siapa pelakunya.” “Bagaimana jika kita mendapat pesan lagi, kita saling menelepon?” usul Spencer. “Kita bisa menggabungkan kepingan-kepingan ini. Tapi kurasa sebaiknya kita tidak melakukan tindakan gila. Dan kita harus mencoba untuk tidak terlalu khawatir.” “Aku tidak khawatir,” ujar Hanna cepat. “Aku juga tidak,” tambah Aria dan Emily bersamaan. Tapi saat ada klakson di jalan di luar, mereka melompat. “Hanna!” Mona Vanderwaal, sahabat Hanna, mengeluarkan kepalanya yang berambut pirang dari jendela mobil Hummer H3 kuningnya. Ia mengenakan kacamata hitam berlensa cermin dengan bingkai pink. Hanna memandang teman-temannya dengan tatapan memohon maaf. “Aku harus pergi,” gumamnya, dan berlari menaiki bukit. Selama beberapa tahun belakangan, Hanna telah menciptakan dirinya menjadi salah satu gadis paling populer di Rosewood Day. Ia telah menguruskan badan, 30


mengecat rambutnya dengan warna pirang gelap nan seksi, dengan lemari berisi pakaian rancangan desainer. Sekarang ia dan Mona Vanderwaal—dulu ia juga gadis biasa yang kini telah berubah—berkeliling sekolah, dengan gaya mereka, terlalu keren untuk yang lainnya. Spencer bertanya-tanya apa rahasia besar Hanna. “Aku juga harus pergi.” Aria menarik tas ungu kotornya ke bahu. “Nanti… aku telepon kalian.” Ia bergegas menuju Subaru-nya. Spencer tidak beranjak dari batang pohon itu. Emily juga. Biasanya Emily ceria, tapi kini wajahnya tampak lelah dan murung. Spencer menyentuh lengannya yang berbintik-bintik. “Kau tidak apa-apa?” Emily menggeleng. “ Ali. Dia.…” “Aku tahu.” Dengan kikuk, mereka berpelukan, lalu Emily pergi ke arah hutan, katanya hendak melewati jalan pintas menuju rumahnya. Selama bertahun-tahun, Spencer, Emily, Aria, dan Hanna tidak berbicara satu sama lain meskipun mereka duduk berbaris di kelas sejarah ataupun sedang bersama-sama di toilet sekolah. Namun Spencer mengetahui sesuatu tentang mereka semua, kerumitan dalam pribadi masing-masing yang hanya dapat diketahui seorang sahabat. Misalnya, Emily-lah yang paling sulit menerima kematian Ali. Mereka kerap menyebut Emily 31


‘killer’ karena ia selalu membela Ali mati-matian seperti seekor anjing Rottweiler yang posesif. Di mobilnya, Spencer menghempaskan tubuh di atas kursi kulitnya dan menyalakan radio. Ia memutar tombol dan mendapati 610 AM, stasiun radio olahraga Philadelphia. Entah mengapa, teriakan para lelaki tentang pertandingan membuatnya merasa tenang. Ia berharap, berbicara dengan teman-teman lamanya dapat memperjelas semua. Tapi ternyata ia justru merasa‌ jijik. Saat teleponnya bergetar di sakunya, ia menariknya, menyangka itu dari Emily atau Aria. Atau bahkan Hanna. Spencer mengernyit dan membuka inbox-nya. Spence, aku tidak menyalahkanmu karena tidak memberi tahu mereka rahasia kecil kita tentang Toby. Kejujuran memang bisa membahayakan, dan kau tak ingin mereka terluka, bukan?—A

*

32

Flawless (#2 Pretty Little Liras) by Sara Shepard  

Flawless (#2 Pretty Little Liras) by Sara Shepard

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you