Issuu on Google+

wake up! DON’T FORGET YOUR [RE]KREASI ROOTS ANTIKAPITALISME AND DON’T SELL OUT! | table of content |

capitalism [2] cursed suicide [7] mengapa kapitalisme menyebalkan [10] konsumerisme [16]


behind the

redaksi editor: rex layouter: rex kontributor rex dendi dipa aemte mite adieu blog www.wakeup-zine.blogspot.com

scene

email rexoholic@yahoo.com phone no thanx!

Copyleft c 2010 Wake Up! Hak Cipta dilindungi Allah Swt. Silakan dibajak! Silakan diperbanyak!


O LO R P

G O OG R L P O O R L P O

R P

G

PR O

L G O O PR L G

. YAINI TNI S U I K IS D R E L B ITU AN D U AMLA L A KA H DI YA A LN D A OA S

LO

OG

?

! T ! UA M M LU

N K A K A

A M

K P A A D R TI A

H

wake up!

1


welcome Sejujurnya saya agak takut juga membahas antikapitalisme. Bukan apaapa, zine-zine yang membahas tentang hal ini sudah luar biasa banyak. Segala macam kebusukan kapitalisme sudah diekspos habishabisan oleh banyak pihak. Saya khawatir Wake Up! edisi 3 ini akan terjebak ke dalam repetisi basi, pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan tentu saja membosankan. Namun saya tetap nekat untuk membahas kapitalisme, sebab sampai detik ini kapitalisme memang masih ada. Masih terus berdenyut seperti jantung Nicholas Flamel, seorang alkemis imortal yang konon tidak pernah mati. Mengapa kapitalisme tidak kunjung runtuh? Adakah yang salah dari gerakangerakan para antikapitalisme sejagat? Apa yang menyebabkan kapitalisme begitu kuat? Apa yang sebenarnya harus dilawan dari kapitalisme? Hmm. Barangkali

3 2

wake up!


zine sederhana ini belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi siapa tahu saja dengan pembahasan yang diusahakan seunik mungkin, dengan menggunakan perspektif antikapitalisme yang baru dan segar, akan membuat diskusi di dalam zine ini menjadi menarik. Aamiin. Oh iya, sekadar informasi, Wake Up! zine terbit setahun sekali. Mengingat zine ini dikerjakan sendiri (edit, layout, menulis, dan memaksa orang-orang untuk menjadi kontributor) saya kira zine ini terbit setahun sekali adalah wajar adanya. Ditambah dengan kesibukan saya bekerja, mudah-mudahan kalian pun memakluminya. Hehe. Satu lagi, Wake Up! edisi 3 kali ini sengaja saya tampilkan penuh warna. Bukan lantaran saya bosan dengan warna hitam-putih, melainkan saya ingin melakukan hal-hal yang baru (sekalian belajar layout juga. Hihi) Oke, semoga berkenan! (Rex—editor Wake Up!)

wake up!

3


12

wake up!


H

ari itu Taman Ganesha kuyup dibasahi hujan. Apa yang diutarakan Pi, seolah mengingatkanku akan surat elektronik yang pernah aku kirimkan kepada beberapa temanku jauh beberapa tahun sebelum pembicaraanku dengan Pi terjadi: “Apa sih kapital itu? Uang yang dijadikan komoditas, kemudian komoditas itu digunakan untuk menciptakan uang lebih banyak lagi.” Lalu secara simplistik aku menyimpulkan, “Jadi per definisi, Pak Min yang jualan di depan Masjid Al-Jihad itu juga harusnya disebut kapitalis. Karena dia punya uang, terus uangnya itu dia jadiin modal. Dia beli kelontongan, dengan modal itu, yang kemudian dia jual untuk memperoleh profit. Lalu kapitalisme mana yang kita lawan?” (kirakira isinya gitu). Sungguh menyedihkan, bukan? Masalah kapitalisme sebenarnya nggak bisa dilihat secara simplistik kayak gitu. Setidaknya kita harus tahu sejarah dan konteks perkembangan kapitalisme itu kayak gimana. Biar kita tahu sikap apa yang bisa kita ambil terhadap kapitalisme. Apa sih kapitalisme itu? Kenapa sih bisa ada kapitalisme? Terus apa sikap kita, sebagai Muslim, terhadap kapitalisme? Disklaimer: tulisan ini bukan berarti aku yang paling tahu dan kamu tidak tahu. Bisa jadi kamu lebih tahu dari aku. Jadi, aku mau sharing aja apa yang aku tahu. Sekitar abad kelima masehi, Kerajaan Romawi Barat mengalami kehancuran. Wilayah-wilayah yang dulu dalam naungan Romawi Barat kini selalu dihantui teror dari serangan bangsa-bangsa “barbar”, para perompak Arab yang berdiam di Sisilia dan Malta, dlsb. Untuk menjaga stabilitas dan menyatukan wilayah yang dikuasainya, raja-raja yang menguasai wilayah tersebut

akhirnya memberikan wewenang kepada para komandan wilayah untuk mengelola wilayahnya yang waktu itu sebagian besar berupa tanah pertanian (feudum). Oleh karena itu kita lebih mengenal komandan-komandan wilayah tesebut sebagai kaum feodal atau tuan tanah. Feodalisme berkembang di Eropa Barat, Eropa Utara, sebagian wilayah Skandinavia (juga Kepulauan Jepang) yang waktu itu merupakan wilayah pinggiran peradaban Romawi Kuno, Islam, dan Cina. Feodalisme mengasumsikan bahwa masyarakat itu laiknya sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya. Sehingga komandan wilayah harus dapat melindungi anggota masyarakatnya seperti laiknya kepala keluarga. Masyarakat feodal biasanya terdiri dari raja dan keluarganya, panglima militer, tenaga kerja dan angkatan perang, serta komandan wilayah. Tapi itu dalam tatanan masyarakat feodal yang “sekuler”, dalam masyarakat feodal berbasis agama peran raja digantikan paus dan seterusnya digantikan oleh para uskup. Feodalisme melarang berbagai bentuk riba; mengizinkan kepemilikan pribadi selama digunakan untuk beramal kepada sesama, mengabdi kepada yang lebih tinggi, atau melindungi mereka yang lebih lemah kedudukannya; dan setiap perdagangan yang dilakukan harus dalam kerangka harga-yang-adil (just price). Lalu ada di mana posisi para borjuis? Pada waktu itu kaum borjuis adalah kaum yang secara kultural dianggap hina dan secara moral dianggap jahat. Karena kebanyakan dari mereka adalah para rentenir Yahudi, atau pedagang yang mengambil untung di luar harga yang adil. Sehingga

wake up!

13


tatanan masyarakat feodal bahkan dianggap lebih rendah dari petani-hamba (serf) yang ada di lapisan bawah masyarakat feodal. Pascakemenangan Perang Salib I, perdagangan, dan pertukangan yang dilakukan oleh kaum borjuis semakin marak. Mereka mendirikan kota-kota benteng (burgus) di sepanjang jalur perdagangan menuju Laut Tengah. Burgus adalah kota yang dibangun khusus untuk kegiatan dagang dan industri. Namun begitu, kaum feodal sering melakukan teror terhadap kaum borjuis. Banyaknya serangan yang dila-kukan oleh kaum feodal terhadap burgus-burgus itu, akhirnya menyebabkan kesa-daran kelas kaum borjuis lahir. Untuk menghadapi berbagai teror itu, mereka bersatu membuat liga yang mempersatu-kan burgus-burgus ke dalam pesekutuan militer dan ekonomi. Kini posisi kaum borjuis semakin kuat dan sedikit demi sedikit menyisihkan kedudukan kaum feodal dari para raja. Dengan mengembangkan benih-benih perbankan yang disemai oleh Peuperes Commilitones Christi Templique Solomonici atau yang lebih kita kenal sebagai Knight Templar—yang diberangus oleh Paus Clement V tahun 1312—mereka dapat memberikan sokongan dana kepada para raja feodal untuk membiayai perang atau ekspedisi penjelajahan laut. Akhirnya pada sekitar abad keenambelas feodalisme pun hancur. Dari kegiatan dagang, industri, dan pertukangan yang dilakukan oleh kaum borjuis tersebut lambat laun berkembang merkantilisme. Merkantilisme menekankan pada perdagangan ekspor-impor. Ekspor barang harus lebih tinggi dari pada impor barang. Walau mengimpor, itu pun harus diusahakan dari pengusaha negeri sendiri, sehingga kekayaan (yang waktu itu berupa emas) bisa mengalir ke dalam negeri. Tapi apa yang dilakukan oleh kaum borjuis-merkator itu dikritik oleh para Fisiokrat di Perancis. Menurut mereka, satu-

14

wake up!

satunya kegiatan ekonomi yang produktif adalah dengan mengem-bangkan pertanian, perkebunan, atau pertambangan (pengolahan lahan atau tanah, sesuai dengan namanya physiocrate: physis: alam, bumi; cratos: kekuatan). Sedangkan perdagangan atau industri itu sama sekali tidak alamiah dan tidak produktif. Karena selama pemerintah menerapkan kebijakan merkantilisme, kekayaan hanya beredar di kalangan tertentu saja dan menciptakan ketidak-stabilan karena pemerintah tergantung pada aliran kekayaan dari luar. Maka pada abad ke-17 lahirlah fisiokratisme. Kaum fisiokrat merupakan salah satu produk dari upaya kaum borjuis untuk melakukan rasionalisasi dalam rangka menghancurkan nilai-nilai moral, atau agama yang dianut kaum feodal-agamawan. Hal ini bisa dilihat dari paradigma kaum fisiokrat terhadap alam yang mekanistik: "Laissez faire et laissez passer, le monde va de lui mĂŞme!", biarkan saja, jangan ikut campur, biarkan alam berjalan sendiri. Alam semesta ini seperti sebuah jam yang diciptakan dengan aturannya sendiri, melakukan perubahan (hambatan atau dukungan yang dipaksakan) pada aturan itu hanya akan merusak tatanan semesta. Karena fisiokratisme menekankan pada segala bentuk pengolahan alam sebagai “kegiatan yang produktifâ€?. Maka sejak itu banyak lahan yang dipagari (enclose) sehingga banyak petani penggarap, yang dulunya mengabdi kepada komandan wilayah, kini menjadi pekerja lepas. Kini mereka menjadi golongan tanpa lahan garapan. Sementara itu meluasnya wilayah jajahan Inggris dan terjadinya revolusi industri pada akhir abad


18 atau awal abad 19 jumlah pekerja lepas semakin banyak. Maka lahirlah kelas pro-letar. Sampai di sini kita dapat katakan bahwa benih-benih kapitalisme rasional merupakan perjuangan kelas borjuis untuk melepaskan diri dari hegemoni kaum feodal. Bermula dari kesadaran kelas kaum borjuis dengan mendirikan liga-liga burgus, mengembangkan merkantilis-me, dan fisiokratisme—me-rupakan fase akumulasi pri-mitif kapitalisme. Istilah kapitalisme itu sendiri sebenarnya baru dikenal pada paruh ke d u a a b a d 1 9 mela-lui karyaarx pun tidak p e r n a h

karya Werner Sombart dan Max Weber. Bahkan Adam Smith dan Karl Marx pun tidak pernah menggunakan istilah kapitalisme—Marx cuma menggunakan istilah kapitalis untuk merujuk kaum borjuis yang melakukan akumulasi kapital. Menurut Max Weber, kapitalisme itu merupakan (1) system ekonomi yang mengorganisasi upaya pengejaran dan pengumpulan kekayaan demi kekayaan itu sendiri (dalam istilah Sombart: erwerbsprizip), (2) usaha itu haruslah yang berkelanjutan dan ditopang dengan usaha perhitungan rasional atas kapital, (3) yang salah satunya adalah dengan menggunakan akuntansi, dan yang paling penting adalah (4) keberadaan buruh lepas (wagelabor). Sebelum kelahiran kapitalisme rasional, biasanya kapitalisme disebut dengan istilah kapitalisme irasional atau masa akumulasi primitif.

wake up!

15


Lalu, bagaimana sikap kita, sebagai muslim, atas kapitalisme? Islam jelas-jelas nggak mendukung sikap pencarian kekayaan untuk kekayaan itu sendiri. Alasan keberadaan manusia itu bukan untuk sekadar mengejar kekayaan dengan mengakumulasi kapital. Islam memang tidak senang dengan para pemalas—karena umumnya mereka tergantung pada orang lain dengan meminta-minta. Tapi Islam juga nggak mau kita teralienasi oleh kerja dan pencarian dunia. Dan kerja dalam konteks islam tentu berbeda dengan konsep kerja dalam konteks kapitalisme. Lalu apakah Pak Min bisa kita katakan sebagai kapitalis juga? Tentu saja tidak. Bahkan Pak Min berjualan hanya untuk menyambung hidupnya, bukan untuk menimbun kekayaan. Muslim pun tidak pernah melihat alam sebagai sesuatu yang mekanistik. Apakah sunnatullah atau, yang dalam bahasa para hukama, kausalitas itu hukum besi yang mekanistik? Tentu saja tidak. Bahkan Dia senantiasa sibuk mengurus makhluknya. Tidak seperti anggapan mereka yang mengatakan tuhan menciptakan alam dengan aturannya lalu membiarkannya berjalan sendiri seperti sebuah jam. Wa Allahu A`lam bi'sh-Shawwab. Bacaan lebih lanjut: Dede Mulyanto, 2010, Kapitalisme: Perspektif Sosio-Historis.

16

wake up!


cursed suicide Teks oleh: Aemte Mite

S

esuatu yang berlebihan itu tidak bagus. Bak sinden jalanan yang memoles wajahnya dengan kadar kosmetik di luar takaran lazimnya, seperti itulah wajah buruk nan mematikan kapitalisme dengan zirah pendidikannya. Padahal setiap ideologi mempunyai sistem proteksi untuk menangkal penetrasi nilai-nilai atau ide-ide destruktif bagi kelangsungan hidup idenya yang melambung dari meriam ideologi lain di luar dirinya. Selain itu setiap ideologi yang produktif memiliki sistem perkembangbiakan yang khas. Salah satu manuver untuk menjaga idenya agar terproteksi dan berkembangbiak adalah lewat bidang pendidikan.

Bagaimana tidak dikatakan seperti itu sementara pendidikan merupakan area yang paling strategis dalam memayungi sebuah ide dari hujanan air ide-ide rusak menurut pandangannya? Selain itu juga area pendidikan menjadi pijakan bagi eksodusasi generasi-generasi pengemban idenya menuju area lain di luar otoritasnya. Ingatkah kita bahwa ribuan tahun silam dari tanah gersang di daratan Arabia, Nabi Muhammad Saw. mulai menaburkan benih-benih ajaran agung yang diturunkan Jibril dari Yang Maha Mendidik melalui pendidikan? Beliau Saw. mendidik orangorang terdekatnya agar bisa ikut merapat ke dalam barisan guna mempropagandakan ajaran langit terakhir yang digenggamnya di tengah manusiamanusia yang tidak terdidik dengan benar. Dengan pendidikan yang beliau Saw. lakukan terhadap orang-orang terdekatnya itulah ajaran langit terakhir yang mengeliminir kedua ajaran langit sebelumnya menjadi rata sampai daratan Spanyol. Dengan pendidikannya pula yang berdasarkan AlQuran dan Sunnahnya, warisan yang sejak lama beliau tanamkan di tanah-tanah kaum Muslim dapat terjaga dari hantaman ide-ide rusak dari luar selama berabad-abad. Dan nyatalah sejak pendidikan Islam ideologis dihancurkan si laknat Kemal, kelangsungan hidup ide-ide Islam membawanya dalam kondisi sekarat tak terawat. Begitulah ketika suatu senjata pelindung sebuah ide (di)hilang(kan): ide yang tadinya hidup ditopang raga dalam bentuk negara menjadi sekarat dalam bentuk remah-remah. *** Begitulah sekiranya dan sekudunya ketika sebuah ideologi bertiwikrama dalam sebuah negara: melanjutkan hidup dengan melangkahkan kaki menuju tanah lain dan mempunyai rumah sebagai alat proteksi dari cuaca di luar. Sayangnya, kapitalisme yang sekarang tengah menjadi raja di negeri ini tidaklah demikian. Ia yang seharusnya mendidik anak-anak jajahannya menjadi bakal calon komprador kepanjangan petaka selanjutnya yang bakal lebih menghebohkan bagi kaum perlawanan, malah menciptakan ketidakadilan yang menyenangkan bagi kaum perlawanan yang berpikir. Dengan sedikitnya kaderkader boneka tali dari tangan pemodal maka kematian kapitalisme dengan sendirinya akan tercepatkan. Sebab, seberapa pun bergelimangnya uang yang mereka miliki untuk mencharge baterai boneka-boneka mereka di negara dunia ketiga,

wake up!

9


CU RS ED

mer e k a tidaklah dapat pernah membeli teori In-telijensia Swarm sampai mengakibatkan rakyat lumpuh dan tak pernah bisa bergerak me-lakukan insureksi atas bala yang diciptakan para pemodal. Ketidakadilan dalam pendidikan yang digelar kapitalisme senyatanya telah merusakkan fondasi-fondasi aparatus yang memiliki fungsi sebagai penopang kelangsungan janin-janin busuk yang dikandung dalam rahim kapitalisme. Maka tidaklah heran ketika di tengah-tengah masyarakat kita dapati pemuda-pemudi (bahkan anakanak!) yang jauh dari sentuhan pendidikan ideologis. Mereka terpasangi bom waktu dan chip ide hedonis yang akan meluluhlantakkan kehidupannya dalam kurun waktu tertentu. Di sisi lain, janin-janin busuk yang dikandung kapitalisme pun sering mem-prematur-kan dirinya sendiri untuk keluar dari selangkangan ibunya untuk membela keajegan yang mengandungnya. Namun prematur tetaplah prematur yang tidak akan pernah dapat tegak berdiri lantang membela yang lain. Serupa HAM yang sejak dalam kandungannya sudahlah berstandar ganda karena ditopang oleh akalakal manusia yang terbatas; serupa pilihan suara tuhan dalam demokrasi yang tak dapat dipilih; serupa kata-kata keadilan yang tak pernah adil; serupa jargon kebebasan yang membatasi; serupa kesetaraan jen-der yang pada hakikatnya tidak per-nah mau setara; serupa dialog antar agama yang senyatanya merupakan persuasi ke arah p l u ra l i s m e ; d a n serupa janinjanin busuk lainnya y a n g

10

wake up!

E D I C I U S

Maka pada akhirnya, terlantarlah ide-ide yang dikandung kapitalisme itu oleh sebab komprador-komprador yang makin menyusut karena kapitalisasi dalam pendidikan yang diciptakannya. Dan sejak saat itulah dengan tambahan beberapa waktu ke depan, kapitalisme akan mengalami kondisi sekarat yang menyedihkan karena sedikit bangsat yang menopangnya. Dalam statistika kapitalisme, komparasi antara kaum terpelajar (baca: terprogram untuk menjadi komprador) dan kaum tidak terpelajar membuktikan bahwa kuantitas kaum terpelajar itu menyusut. Padahal mereka adalah nahkoda kapal bernama KAPITALISME (mari kita doakan agar cepat karam). Sementara itu, ekses dari kesenjangan tersebut adalah tumbuhnya benihbenih insureksi di tubuh masyarakat. Dan saat itulah, saat penyusutan komprador kapitalisme berjalan, dari arah lain berjalan pula resurgensi ide yang sebelumnya


telah dibenam secara kejam. Kemudian, pada satu titik nanti, benturan terjadi. Clash! Kerakusan kapitalisme yang menjelajahi bidang pendidikan pada akhirnya menjadi senjata makan tuan yang lumayan ampuh. Dengan sendirinya, kavling tanah berpola persegi panjang sudah tersedia; epitaf dan batu nisan sudah tinggal pasang; dan potongan-potongan kembang plumiera acuminata yang harumnya semerbak siap tabur di atas tanah merah. Dan mereka yang idenya telah dibenamkan dalam-dalam oleh traktor kapitalisme meriuhi langit dengan suara-suara kemenangan. Kemenangan yang tercipta di saat awan hitam menjadi sesuatu yg representatif bagi komprador tua yg tersisa meratapi kematian kapitalisme pada lutut sendiri; tidak pada lutut musuh. Ia bunuh diri. Terkutuk pula. []

wake up!

11


KONS UMER ISME SALAH KA

PITALISM

3 4

wake up!

E ATAU KO

NSUMEN?


D

alam perspektif kapitalisme, pasar adalah raja. Barang siapa yang berhasil menyenangkan banyak konsumen, maka dialah yang akan memenangkan pertarungan. Perusahaanperusahaan kapitalis akan melakukan apa pun demi menarik hati para konsumen. Itu sebabnya perusahaan-perusahaan kapitalis terlihat begitu gencar dalam melakukan beragam promosi agar dagangannya laris manis tanjung kimpul. Survival of fittest. Siapa yang kuat dialah yang akan bertahan. Tak jarang sesama perusahaan kapitalis pun saling berseteru, berkompetisi, dan berusaha untuk menjadi sang pemenang. Maka dikepunglah kita dengan beragam macam iklan produk. Pakailah sabun ini supaya kulitmu putih, belilah motor ini supaya kamu terlihat keren, makanlah permen ini supaya mulutmu wangi, minumlah obat ini supaya tubuhmu sehat, dan lain sebagainya. Maka pergilah kita ke supermarket untuk berbelanja. Aneka barang dagangan terhampar di depan mata, seperti memanggil-manggil: “Beli kami! Beli kami! Keluarkan kami dari ruangan yang dingin ini!” Kemungkinan besar produk yang paling gencar berpromosi itulah yang akan kita beli. Semakin sering kita membeli, semakin kita akan dianggap sebagai seorang konsumtif. Well, memangnya kenapa kalau kita konsumtif? Memangnya salah kalau kita berbelanja? Jika memang budaya konsumerisme itu salah, lantas siapa sebenarnya yang patut disalahkan? Kapitalisme atau konsumen? Hampir kebanyakan orang pasti langsung menuding kapitalisme sebagai biang keroknya. Kapitalisme telah memberikan imaji-imaji kebahagiaan palsu secara massif ke dalam bentuk barang dagangan. Namun, bisakah sejenak saja kita merenung sebentar, sambil menatap jemari tangan kita yang sedang menunjuk. Ya, ketika kita sedang menunjuk, satu jari mengarah ke depan dan tiga jari lainnya mengarah ke diri kita sendiri! Dalam tulisan saya kali ini, tidak peduli saya akan dicaci, izinkanlah saya untuk menyalahkan konsumen. Menurut Thomas Hobbes, secara alamiah setiap orang pasti akan mencari cara agar kebutuhan dirinya terpenuhi. Dari pernyataan Hobbes tersebut, saya dapat

menyimpulkan bahwa para produsen kapitalis memenuhi kebutuhan dirinya dengan cara memproduksi suatu barang agar bisa diperjual-belikan. Para Konsumen memenuhi kebutuhan dirinya (makan, minum, gaya, hasrat, dll) dengan cara berbelanja. Secara logika, adalah wajar jika para pedagang menawarkan dagangannya. Dan adalah bodoh jika para pedagang tidak pernah menawarkan dagangannya. Selama tidak ada unsur penipuan dan tidak bersifat koersi (pemaksaan), setiap orang bebas mempromosikan dagangannya. Bukankah Rasul juga pernah mengatakan bahwa usahamu mendekati takdirmu? Jika kita ingin dagangan kita laku, maka berusahalah untuk membuat dagangan kita laku. Kalau kata Homicide dalam Barisan Nisan, “Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan.” Menurut saya, perusahaanperusahaan kapitalis pun seperti itu. Mereka (para kapitalis) selalu berusaha untuk membuka segala pintu kemungkinan supaya dagangannya laku. Kembali kepada budaya konsumerisme, yang jika memang budaya tersebut adalah salah, menurut saya kesalahan tidak melulu berada di pundak kapitalisme. Mereka hanyalah pedagang, yang adalah wajar jika mereka terlihat begitu agresif dalam menjajakan dagangannya. Dalam kapitalisme, menurut Ludwig Von Mises, konsumenlah yang berdaulat. Konsumenlah yang berkuasa. Kapitalisme hanya menuruti apa keinginan konsumen. Perusahaan-perusahaan kapitalis tidak akan membuat suatu produk dagangan jika konsumen tidak menginginkannya. Ya, dari pemikiran Mises tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya keputusan “membeli” atau “tidak” tetap ada di tangan konsumen. Jika sedang di supermarket, kitalah sang raja. Kita bebas memilih dan tidak memilih. Kapitalis hanya menawarkan, perkara laku atau tidak, tetap tergantung konsumen. Tidak ada koersi di sana. Lagi pula, seperti yang Adam Smith katakan, setiap perdagangan terjadi “oleh kesepakatan bersama dan atas keuntungan bersama”. Jadi, sebenarnya dalam transaksi jual-beli itu telah terjadi simbiosis mutualisme antara pedagang (kapitalis) dan konsumen. Kita sering melihat bagaimana seseorang yang, katakanlah, antikapitalisme

wake up!

5


gencar menyalahkan kapitalisme sebagai biang kerok dari lahirnya budaya konsumer-isme, tapi di sisi lain ia masih saja membeli dan menggunakan produk-produk terbaru kapitalis (handphone, komputer, TV (!), me-sin cuci, buku-buku, rice cooker, dll) dan merasa asyik-asyik saja dengan semua itu. Tanpa sadar mereka pun menikmati gaji hasil dari sistem upah yang diterapkan oleh perusahaan kapitalis tempat mereka bekerja. Termasuk saya, tentu saja. Saya ingat, dulu saya pernah mencoret tembok depan supermarket Depok Town Square dengan menggunakan pylox, yang bertuliskan: “Stop Budaya Konsumerisme!”. Saat itu saya berpikir bahwa kelahiran malmal di kota Depok telah membuat warga Depok menjadi konsumtif. Saat itu saya tidak berpikir, bahwa kelahiran mal-mal di kota Depok pun bukan hanya atas keinginan pihak pengusaha yang kapitalistik, tapi juga karena memang sebagian besar warga Depok menginginkan hal itu terjadi. Jika tidak, tentu mal-mal tersebut akan bangkrut dengan sendirinya. Nyatanya, mal-mal itu masih berdiri tegak lurus menghadap langit. Pengunjungnya pun selalu

3 6 2

wake up!

berdatangan. Sekali lagi, konsumen pun turut memiliki andil dalam kelahiran budaya konsumerisme. Barangkali di antara pembaca ada yang kurang senang dengan pembahasan saya di atas dan akan berkata, “Tapi kan kapitalisme telah menggiring orang untuk beli, beli, dan beli. Kapitalisme telah berhasil membodohkan umat manusia tentang ilusi kebahagiaan dalam bentuk barang. Kapitalisme mencret itu telah berhasil membodohkan masyarakat sehingga tak ada lagi yang bisa membedakan apa itu want dan apa itu need! Kapitalisme telah membuat semuanya menjadi bias, sehingga fungsi pun telah berubah menjadi gengsi!” Oke, kalau dibilang menggiring mungkin iya, namanya juga pedagang. Sama kayak di pasar, para pedagang berteriakteriak, “Ember antipecah! Ayo beli, dijamin tidak akan pecah!”, “Sayang anak, sayang anak! Mainan untuk anak anda, ayo beli!”, “Dipilih, dipilih, dipilih!”, dll. Apakah ada yang salah dengan hal itu? Saya kira tidak. Dan tentang “membodohi” masyarakat, saya kira pernyataan itu terkesan sangat sok paling pintar sendiri. Pernyataan itu secara tidak sadar telah menggambarkan bahwa


wake up!

3 7


kebanyakan masyarakat itu bodohbodoh, sehingga gampang di-bodohi sama iklan, dan dirinya adalah si pintar nan cerdas yang tidak mudah dibohongi citra-citra yang ditawarkan oleh iklan. Menurut saya itu tidak bijak. Saya yakin masyarakat kita sudah tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Lagi pula, mengenai want dan need, se-tiap individu memiliki keinginan dan kebu-tuhan yang berbeda. Jadi, menurut saya, para konsumen membeli karena memang mereka ingin membeli, tidak ada koersi dari kapitalisme. Sekali lagi, kapitalisme hanya menawarkan dagangan, hasil akhir tetap ada di konsumen: beli atau tidak. Konsumtif atau tidak, keputusan itu ada di tangan konsumen. Jadi, jika kita benar-benar amat sangat antikapitalisme dan benar-benar amat sangat ingin menghentikan budaya konsumerisme, maka mulailah dari diri sendiri. Hentikan segala macam perilaku konsumsi terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh kapitalisme, seperti yang dilakukan oleh para Wong Sikep[1]. Itu pun kalau kita mampu. Kalau ternyata tidak mampu, apa boleh buat, ternyata kita memang senang menyalahkan kapitalisme, padahal kapitalisme itu pada dasarnya berada di bawah kendali kita! Sebelum menutup tulisan ini, sepertinya perkataan Jurgen Habermas asyik juga untuk kita simak, “Ketika kita ingin belajar kapitalisme, sesungguhnya kita belajar dari manusia itu sendiri.� (Rex) Footnote: [1] Wong Sikep adalah sebutan untuk masyarakat Samin.

8

wake up!


wake up! Pada suatu sore saya berkunjung ke infoshop Institut-A, membeli sebuah buku yang berjudul Mengapa Kapitalisme Menyebalkan. Judul itu menarik, dan akhirnya saya memiliki ide untuk menodong pertanyaan tersebut kepada teman-teman saya di facebook. Mengapa kapitalisme menyebalkan? Mau tahu jawaban mereka? Let’s check it out!

Maaf saya tidak dapat menjawab... walaupun saya membenci kapitalisme... ironisnya perusahaan tempat saya mencari nafkah salah satu contohnya, walaupun samar... yang pasti saya dilematis. ~Iyun X Bootboys~ Simple, yang kaya makin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Itu salah satu alasan kenapa kapitalis menyebalkan. Dunia hanya milik kaum pemodal. ~Teppe D'kingpin~

MENGAPA KAPITALISME MENYEBALKAN?

Kapitalisme menghancurkan pasar tradisional, kapitalisme menjadikan pekerja/buruh bagaikan robot, kapitalisme menciptakan ketergantungan untuk rakyat atau negara yang lemah ~Andri Chevil Prihantoro~

wake up!

17


Sebenernya "kapital" itu tidak selalu menyebalkan. Tapi ketika kata itu ditambah dengan "isme" maka menjadi sebuah paham yang orientasi utamanya adalah kapital alias modal alias uang atau segala sesuatu yang terkait dengan itu, seperti power atau kekuasaan. kapitalisme sama menyebalkannya dengan sosialisme, paham yang sangat kontradiksi dengannya. Kedua paham itu menjadi menyebalkan karena memperjuangkan sesuatu lebih dari porsinya (ghuluw). Dalam Islam dituntut untuk sukses secara kapital namun juga memiliki jiwa sosial yang proporsional. ~Aditya “Sa’i” Abdurrahman Abu Hafizh~

Why i hate capitalism so much? Coz' capitalism stole my virginity.... HAHAHAHA... Iyalah rex... hutan yang masih perawan aja di embat apa lagi cewe perawan... ~Resmita Bhakti “Keep On”~

Karena mereka hanya memberikan ilusi... Mereka selalu bicara tentang kebebasan untuk meraih keuntungan yang akhirnya melegalkan penghisapan kehidupan. Mereka bicara tentang demokrasi ekonomi, kenyataannya hanya yang bermodal kuat yang mendapatkan tempat... ~Rizal Rabusi “Punk Ilegal”~

Hihihi, menurut saya mah kapitalisme memang punya 'kelebihan', termasuk sosialisme. Hanya saja, pada satu sisi. Sedangkan pada sisi-sisi yang lainnya mereka tidak mempunyai keseimbangan. Mengapa? Karena mereka sama-sama berada pada kutub ekstrem (ada yang bilang ghuluw tuh di atas), jadinya ngaco deh banyak hal darinya, njomplang istilahnya mah. Gampangnnya sih begini, kapitalisme itu goblok soal sosial, sedangkan sosialisme itu autis soal kapital. Nah, Islam seimbang dalam berbagai hal. ~Ahsan Hakim~

Sefakat dengan kata kang Adit. Kafitalisme itu bikin yang kaya makin kaya yang miskin makin Fafa. Bikin hidup layaknya hutan rimba, yang kuat makan yang tidak berdaya. Fadahal hiduf bukan untuk mencari harta semata, tapi untuk beribadah kepada-Nya. ~Seto Buje~

18

wake up!

Karena membuat hutan gundul, buat uang kertas. :D ~Agung Satriawan~ Kapitalisme membiarkan kekayaan alam dikuasai kapitalis & memaksa rakyat membiayai negara. menyebalkan bukan. ~Alde Baran~

MENGAPA MENYEBALKAN?


Kapitalisme menyebalkan karena ISME nya , andaikan gak pake isme ( capital ) pastinya tidak akan menyebalkan…. Karena pada dasarnya hal-hal yang sudah terikat dengan kata isme di belakangnya adalah hal yang menyebalkan. Sekarang kalo capital itu sendiri, tidak pernah menyebalkan, karena tiap insan yang hidup pasti membutuhkan capital untuk survive dalam ngejalanin kehidupannya, dan tinggal bagaimana caranya mendapatkan capital itu sendiri. Oh ya tambahan dikit hanya ada satu isme yang tidak menyebalkan di dunia ini (menurut gw sih) ya itu "SIUNGISME" dan ajarannya taufikologi. ~Siunk “Ovik” Maulana Gadink~ Kapitalisme ditambah keserakahan mengubah manusia jadi setan.... ~Hermanto Budi~ Gara-gara kapitalisme hidup gw jadi susah.... Kadang rasa syukur itu pun harus pupus bila melihat kenyataan.... ~Begundal Blacklist~ menyebalkan..., ya... mungkin karena saya gak dapat kesempatan aja jadi bagian dari kapitalisme itu sendiri. Mungkin kalo ada kesempatan menjadi bagian dari kapitalisme, mungkin saya akan menyenanginya.... ~Iman Bin Tanghitam~ Kapitalisme bikin ilfil. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Kentara banget penguasa udah cincai-cincai ama orang kaya.... Cape badan ini, tuan! ~Alga Biru ~ Itulah kapitalisme... jangan heran... dari pada mengeluh mendingan usaha terus untuk "mampusin" tuh yang namanya kapitalis... beres.... ~Bunda Revolusi ~ Kapitalis = pelit ~Benz Red's~

Gimane ga nyebelin tuh isme, Bang Rex. Kebangetan dokoh ama duit, apaan aja didagangin ampe orang masih didagangin juga. Dikate celana dalem kali. Kalo kate bocah sekarang mah dagangnyaa lebay! Klo kate penggede-penggedenya tuh isme mah; orangorang pasti sejahtera deh hidupnya kalo nerapin tuh isme. Katanya nih Bang, kalo nyang atas dapat untung entar nyang di bawahbawahnya bakalan kebagian dah. Kayak model gelas ditumpuk-tumpuk dibikin piramid terus diisin aer gitu, kalo nyang atas penuh otomatis luberannya ngisiin gelas-gelas nyang di bawahnya. Nah abang bayangin dah tuh kalo tumpukan gelasnya setinggi pu'un jengkol, kapan nyang paling bawah kebagian aernya?! Entu juga kalo kaga keburu pecah nahanin berat gelas-gelas penuh nyang diatasnya. Jadinya sekarang orang kepaksa dah rebutan biar bisa naek ketumpukan nyang lebih atas. Hasilnya abis dah tuh muka pada bengebbengeb. (sambil dengerin Rat Race, The Specials). Makanya Bang Rex, aye empet banget dah ama tuh isme, ama ke-egois-an para penggede-penggedenya apalagi ama ketega-annya ma orang laen, bener-bener kejem (sok peduli ama orang padahal mah bodo amat!). ~Wahyu Tsubagakure ~ []

Kapitalisme itu bisa menyebabkan manusia menjadi tamak. ~Abdi “Petet” Halim ~

wake up!

19


“Seorang pengusaha yang tertekan dengan bunga ribawi akan dipaksa untuk berfikir dan bertindak dalam bingkai pengembalian utang secepat mungkin, ini adalah logika riba. Semakin tinggi tingkat suku bunga, maka akan semakin besar intensitas tekanan itu. Oleh karena itu, yang terjadi adalah eksploitasi sumber daya alam yang besar‌â€? ~Mulyanto, Argumentasi Sains atas Bahaya Riba~

Anti-Mammon Relasi Riba dan Kerusakan Lingkungan

K

By: Dendi Dipa

erusakan lingkungan di atas permukaan bumi kian hari semakin mengkhawatirkan. Bumi sebagai satusatunya planet yang kita ketahui memiliki kehidupan, kini tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Kita telah menyaksikan bagaimana hutan hujan-hutan tropis di beberapa negara Dunia Ketiga semakin menyusut dan rusak. Kerusakan ini terjadi karena tingginya laju deforestasi di negara-negara tersebut. Karena segala sesuatu di bumi ini saling terinterkoneksi, berjalinberkelindan, kerusakan lingkungan di satu tempat akan berakibat pada terganggunya keseimbangan lingkungan di tempat lain. Kerusakan hutan-hutan hujan tropis di negara-negara Dunia Ketiga terbukti menjadi salah satu faktor naiknya suhu planet bumi.

20

wake up!


Selama beberapa dekade terakhir suhu planet bumi semakin meningkat. Menurut pengamatan NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS), tahun 2005 merupakan tahun terpanas dalam seabad terakhir di mana suhu planet bumi meningkat sebesar 0,8 derajat Celcius (Pikiran Rakyat, 26 april 2007, halaman 20). Naiknya suhu planet bumi menyebabkan es dan gletser-gletser di Arktika dan Antartika, yang terbentuk selama ribuan tahun, mulai mencair drastis. Mencairnya es dan gletser ini berakibat pada rusaknya habitat dan rantai makanan berbagai hewan kutub, sehingga mereka terancam punah. Begitu pula dengan populasi terumbu karang. Karena tidak dapat beradaptasi dengan kenaikan suhu bumi yang (diper)cepat, kini mereka terancam mati karena mengapur. Tidak hanya terumbu karang saja yang terancam, keaneka ragaman hayati yang lain di planet bumi—termasuk spesies m a n u s i a i t u sendiri—pun akan terancam kelestariannya. Menurut People Against Interest-Debt (PAID) Network, krisis lingkungan yang terjadi sekarang ini hanyalah satu dari sekian banyak krisis (krisis ekonomi dan keuangan, krisis sosial, krisis kemanusia-an, dan lain-lain) yang diakibatkan oleh diterap-kannya suatu sistem ekonomi berbasis riba (usurious economic system). Di mana sistem ekonomi ini lestari dengan bertopang pada dua pilar: riba dan uang kertas (fiat money) (lihat Abdul-Razzaq Lubis: 1998)[1]. Selama ini—alih-alih mengkritik penerapan sistem ekonomi berbasis riba, berbagai aktivis lingkungan lebih giat mengkritik dua lembaga moneter dunia, yaitu IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia (World Bank) serta berbagai formula ekonomi yang ditawarkan kedua lembaga tersebut. Padahal apabila diperhatikan lebih jauh, berbagai persyara-

tan itu hanyalah upaya agar negaranegara peminjam mau menggenjot volume pro-duksi komoditas yang dimilikinya—dengan dalih sebagai upaya untuk melunasi utang kepada dua lembaga moneter dunia tersebut. Seperti yang kita tahu, seseorang yang meminjam uang dengan bunga pinjaman harus mengembalikan uang yang dipinjamnya tersebut sebesar pokok pinjaman ditambah bunga pinjaman yang telah disepakati. Itu artinya untuk melunasi utangnya tersebut, peminjam harus berupaya untuk meningkatkan volume produksi komoditasnya. Adanya bunga pada suatu pinjaman nyata-nyata dapat memberikan tekanan pada peminjam untuk memicu volume produksi komoditasnya, dan kebanyakan aktivitas peningkatan volume produksi tersebut lebih sering dilakukan tanpa memerhatikan dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam perspektif ilmu fisika atau biologi, aktivitas peningkatan volume produksi tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan entropi planet bumi. Menurut huk u m termodinamika kedua, semakin tinggi tingkat entropi suatu sistem, semakin ting-gi pula tingkat ketidak-teraturan sistem tersebut. Semakin tinggi upaya eksploitasi sumber daya alam, semakin tinggi tingkat entropi planet bumi. Semakin tinggi ting-kat entropi planet bumi, semakin tinggi ketidakteraturan (kerusakan) planet bumi.[] Catatan: [1] Abdul-Razzaq Lubis et al., 1998, Jerat Utang IMF?: Sebuah Pelajaran Berharga Bagi Para Pemimpin Bangsa—Khususnya Indonesia, Mizan, Bandung.

wake up!

21


ini masih jajal. alias belum kelar.


wakeup 3