Page 1


suburbia Š2011. TS Pinang This work is licensed under the Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 License.

Karya ini boleh diunduh dan disebarluaskan sepanjang tidak mengambil keuntungan finansial darinya. Berikan saran dan kritik anda ke tspinang@yahoo.com. Penggunaan di luar etika penggunaan hasil karya kreatif/intelektual tidak dianjurkan. Meminta lebih baik daripada mencuri.


DAFTAR ISI DAFTAR ISI ............................................................................ 2 KARTOGRAF.......................................................................... 3 TROTOAR .............................................................................. 4 PEMATUSAN......................................................................... 5 VREDEBURG ......................................................................... 6 MONUMEN .......................................................................... 7 JALAN PAHLAWAN ................................................................ 8 MISTIKA URBANA ................................................................. 9 METROPOLESAN ................................................................. 10 NOTA KOTA ........................................................................ 11 SHOPPING MALL ................................................................. 12 PASAR BRINGHARJO ........................................................... 13 SUBURBIA ........................................................................... 14 BIBIR KOTA ......................................................................... 15 KAKI LIMA........................................................................... 16 BAKTERIA KOTA .................................................................. 17 BROSUR WISATA: BALOKAN/SARKEM ................................. 18 PROFIL KOTA: CITA-CITA SETINGGI SLOGAN ........................ 19 WISATA BELANJA: PASAR KLITHIKAN................................... 20 PROGRAM PEMBANGUNAN: PENGGALIAN JALAN............... 21 MURAL KOTA ...................................................................... 22 SPASI HIJAU ........................................................................ 23 TS PINANG .......................................................................... 24


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

KARTOGRAF angka demi angka jatuh di petak-petak peta kota. angka kepala balita-balita, angka kepala anak-anak sekolah, remaja-remaja, dewasa-dewasa, tua-tua bangka. angka-angka kalori yang dimakan setiap hari, angka-angka usia tanah dan batu, angka-angka yang tak henti berjatuhan di petak-petak peta kota-kota kami. berjatuhan dari langit dari bencana dan mimpi-mimpi. dan petak-petak itu kian jejal kian pejal oleh angka dan tanda-tanda, oleh legenda oleh mitos dan statistika, terperangkap di anyaman garis-garis lintang dan bujur, garis-garis kontur dan garis-garis yang menerus, yang putus-putus, yang mengiris petak-petak peta kota-kota kami. kami letakkan di petak-petak itu kotak-kotak tempat kami menghimpun kebahagiaan, menyusun keinginan. kami tuliskan nama-nama di ruas-ruas jalan, di alur-alur sungai, di pepohonan. kami warnai bidang-bidang dari sifatsifatnya, dari warna kulitnya, dari nafsu-nafsu kami sendiri. angka demi angka terbang dari petak-petak peta kota. kami tergagap, kehilangan bilangan yang belum sempat kami ingat. seperti memandang haru foto-foto keluarga, kami pandangi selembar kartograf tanpa legenda.

3


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

TROTOAR petak-petak ubin semen cetak lama-lama habis juga. terkikis tanamtanaman mengiba minta lahan, pedagang kaki lima dengan mobil pick-up dan lapak-lapak berjajar miliknya, dan ribuan sepeda motor yang luber dari jalanan kota. petak-petak ubin semen cetak ini bukan untuk telapak kaki kami, sebab tak ada lagi pejalan kaki di pinggir jalan. pejalan-pejalan kaki kini mengukur panjang rute eskalator shopping mall sambil menghirup oksigen daur ulang dari mesin ac. meninggalkan trotoar-trotoar sepi dikutuk rindu telapak kaki, dikencingi setiap dini hari, diguyur kuah sisa-sisa warung lesehan, ditindik paku-paku tali tenda warung-warung malam. kota kami sudah tua, jalan-jalan beruban, dan trotoar tercukur dari wajahnya. sementara kami hanya perlu sedikit spasi, untuk menyisipkan beberapa larik puisi.

4


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

PEMATUSAN hujan sejak kecil hingga lewat masa dewasa, masih selalu jatuh ke tanah juga. hujan sejak kecil membuat kanak-kanak berlimpah tawa, membuat para dewasa berharap ladang jadi ranum coklat tua. hujan lewat masa dewasa mengguyur kota-kota, menggelontor loronglorong pematus limpahnya, meruapkan bau rahasia aib sepanjang jalan sepanjang jelalat mata turis-turis mencari remaja jalang. kencing tikus kencing kecoa kencing cacing berbaur kencing pemabuk dini hari sepanjang pekan mengambang bersama bandang musim pertama. kota kami tak mampu lagi kencing sewajarnya, ngompol terlalu kembung oleh deras hujan sepanjang hari, sepanjang januari, sepanjang februari. selokan-selokan, sungai-sungai, lorong-lorong pematus air hujan kota kami kalah sudah. tak lagi perkasa menahan pipis, menahan tangis. kota kami perlu tampon pampers berdaya serap tinggi, agar tak basah kasur kami, tak resah tidur kami.

5


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

VREDEBURG sejarah kami ditulis dengan torehan keris di dinding-dinding benteng, dengan derap kuda dan moncong meriam, dengan tembok setebal depa, dengan segala cara pencegah lupa. sejarah kami ditulis di monumen-monumen batu tegak membisu di sudut-sudut kotapraja, menjadi segel keramat jiwa-jiwa yang gelisah dengan masa lalu, takut terlupakan namanya di buku-buku. monumen-monumen batu tegak membisu itu, menikmati kesunyiannya di taman kota berpagar baja, seperti penyair di sudut bar mabuk kata-kata. sejarah kami ditulis dengan hawa istana, kisah perselingkuhan rajaraja, pusaka-pusaka dan filosofia; sebab kekalahan tak boleh diingat, dan memandang langit adalah cara termudah melupakannya. begitulah sehingga sejarah kami basah kuyup oleh ombak samudra kidul, sangit oleh kepundan gunung kami. sejarah kami ditulis dengan pesing air kencing tukang becak, gelandangan, apak kembang kuburan yang membusuk di ceruk-ceruk selokan, ditulis dengan graffiti dan mural, ditulis dengan bendera warna-warni bergambar sakit hati dan perut mual. sejarah kami ditulis dengan hiruk-pikuk pedagang sayuran dini hari, buruh-buruh gendong dan deru truk pick-up, dan embun rasa keringat. sejarah kami ditulis dengan cara yang tak mudah, seperti monumenmonumen batu tegak membisu yang ingin bebas dari peluh gelisah dan rasa bersalah.

6


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

MONUMEN kami rajin mengabadikan kalender dalam prasasti dan patung dan tugu-tugu, memahat dongeng-dongeng dan membingkainya abadi. perunggu, semen, batu, dan adonan pengingat kami lebur kami cetak hingga tetap bentuknya. kami masih gampang kagum pada kenangan, gampang lupa pada cita-cita, gampang abai pada waktu yang sedang berderap berbaris dalam langkah cepat. kami tenggelam dalam lautan slogan dan janji-janji yang kami kemas dalam monumen-monumen di setiap simpang kampung, setiap gerbang desa, setiap batas kota. kami lipat dalam brosur-brosur wisata, dalam buku profil desa dan kota. kami rajin menegakkan lingga kami setinggi yang mampu kami ingat, monumen kesombongan kami yang jantan. begitu rajinnya hingga kami lupa keramat yoni, ibu yang rebah memohonkan maaf atas kebodohan kami pada haribaan bumi.

7


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

JALAN PAHLAWAN seandainya kamilah pemilik nama-nama yang terpampang di penggal-penggal jalan itu, banggakah, malukah, sedihkah rasa kami? begitulah kota-kota kami dirangkum oleh ruas-ruas jalan bernama para pahlawan, kebanggaan pada kuburan begitu dalam mencekam bawahsadar kami, seperti mitos-mitos yang tak mau kami tinggalkan. sudirman, diponegoro, ahmad dahlan, kartini, pahlawan revolusi, pahlawan negeri yang gagah berani, tertulis di papan-papan jalan. jalan yang sempoyongan memanggul mobil motor bus truk andong dan warung-warung tenda dan sampah-sampah. jalan yang asma oleh asap penuh karbon dan molekul timah hitam dan sempit oleh ruang yang berebut ingin. membayangkan jalan-jalan pahlawan ini kami terbayang liang kubur yang sempit dan pengap pula. jalanan kami gagah tak gentar tanpa trotoar cukup lebar. seperti nama-nama yang besar itu harus bersabar menunggui jejalur yang tak cukup lebar untuk menampung kesabaran: sesuatu yang selalu kami uji di setiap simpang dan sepanjang garis marka, walau di atas sadel atau belakang lingkar kemudi kami sering digoda murka. seandainya kamilah pemilik nama-nama yang terpampang di penggal-penggal jalan itu, kami bersyukur ini hanya sebuah andai.

8


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

MISTIKA URBANA kami berjamaah di warung-warung kopi, di sudut-sudut layar browser, mengaji ayat-ayat yang jatuh begitu saja dari ujung-ujung jemari. di jalanan, wajah-wajah memancarkan elektron, kaki-kaki bergegas secepat sms dan sinar pencerahan dari mesin pencari. kami ingin mencari nama, mencari uang, mencari suaka dari fatwa-fatwa ulama. kami berkelana di warung-warung koneksi, di antena-antena jaring-jaring gelombang tinggi, di mana kata dan gambar kami saling berpapas tanpa tubuh dan nafas. kami memecah raga dan jiwa kami berlaksa berjuta kali, datang dan pergi sejauh ai-pi. kami menemukan diri kami sendiri, terserak di sengkarut alam bayang pita-pita frekuensi. kami bersuci dari debu mikro asap solar bus kota dan noda timbal, dengan air hujan penuh limbah mineral. zikir kami nama-nama penghibur terkini, tasbih-tasbih digital di mana kami ungkapkan ketelanjangan kami. tetabuhan dengan ketukan kian cepat mengiringi ekstasi kami, dan kegelapan tak lagi menakutkan. jantungjantung kami membuka, menghisap bergiga-giga bit data dari langitlangit, dari kabel-kabel, dari nomor-nomor akses cepat, dari atmosfer yang kami hirup begitu saja sebagai meditasi. pendar layar kristal menyala-nyala di dalam kami. mungkin bukan tuhan, tapi kami temukan detak hidup kami. adapun tuhan, tak lagi kami cari-cari.

9


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

METROPOLESAN percayalah, kami masih menghitung musim dari sudut rasi-rasi bintang di langit-langit malam. kami panggil dan usir hujan dengan dupa dan kembang-kembang agar konser band pop paling sohor di seluruh bumi tak terganggu langit yang bocor. percayalah, kami telah akrab dengan bilangan biner dan kerdip layar ponsel, akses blackberry dan piranti bergelombang gaib produksi terkini. kami akrab pula dengan konsultasi peramal nasib di inbox pesan langganan kami. gaya kami industri, jiwa kami rumpun padi. percayalah, kami bangga jadi generasi fotokopi. apa yang kami konsumsi sebagai sarapan pagi, sepiring informasi dan instalasi instan alur logika kami, adalah gizi yang membuat kami tumbuh lebih bersinar dalam hirukpikuk kompetisi. kami gunting gaya hidup dot-com dan kami tempel di balik jas hujan saat kami dihajar hujan tropika yang tak mengerti teknologi, tak faham logika ekonomi. percayalah, kami masih menilai kualitas intelektual kami dari aroma terasi di sambal kami, udang asli atau rasa imitasi. kami mengerti waktu tak lagi jadi milik kami, ia telah dibeli oleh mesin-mesin otomasi, membuat kami kehilangan pagi, siang, malam-malam kami. lalu, dalam maraton dari simpul ke simpul di kota-kota kami, kami belajar lupa rupa kami sendiri. semakin jauh pula jarak bumi dari telapak kaki kami. percayalah, kami masih mendambakan mantra dan ritual pemanggil manna untuk mengelupas make-up di wajah kami. dan di tengah tidur kami yang bergerigi, kami payah mengingat kembali apa nama kota kami.

10


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

NOTA KOTA bahkan selembar bumi yang kami pijak ini bukanlah milik kami. kami cuma menjiplaknya dalam garis-garis vektor, mewarnainya dalam bitmap dan konvensi gambar dan angka. kami pandang dalam jarak dekat dan jauh, dalam skala pengganti jengkal dan depa yang tak kuasa lagi membilang rasa lapar kami akan wilayah dan kuasa. kami tak lagi menanam padi varietas unggul atau jagung yang menjanjikan tongkol semontok pinggul. kami menanam mata uang, membungkus mata kaki, mengubur mata hati. kami melarutkan diri dalam adonan afrodisiak yang memicu gairah kami: mani! mani! money! setiap hirup udara yang masuk paru-paru kami ialah psikotropika yang diproduksi dari bong-bong sepeda motor, bus kota, pabrik-pabrik, juga panas hati dan sumpah-serapah. lampu merah kuning hijau, tanpa langit biru, tanpa pencipta yang agung, hanya berkedip-kedip bergantian seperti warna-warna daun di peralihan iklim, seperti lampu-lampu neon-box yang mengiklankan rangsangan seksual dan mimpi-mimpi erotis. iklan-iklan partai, iklaniklan party, kami tancapkan di setiap depa lahan-lahan kami berharap suatu saat dapat menuai rasa kenyang. kami mencatat diam-diam, siapa tertawa siapa menangis, siapa menertawakan siapa yang menangis. kami mencatat diam-diam, kapan bisa terlepas dari belenggu angka dan garis.

11


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

SHOPPING MALL yaitu museum tempat kami menyimpan artefak peradaban kami. di sini kami menarikan ritual pemujaan pada dewa-dewi peradaban kami. kami satukan gerak mikrokosmik dalam geliat hasrat kami akan semesta kehidupan: benda-benda yang kami keramatkan, dengan sabda makrosemesta yang mendikte apa yang mesti kami beli. kami beli. kami beli. kami beli. kami beli pepohonan hutan-hutan kami dalam majalah gaya hidup, kami beli mineral bumi kami dalam ambisi berkecepatan tinggi, kami beli raung kebisingan yang menghidupkan senja-senja kami. yaitu kamar yang hingar untuk pesta topeng kami setiap hari. kostum-kostum yang tak lagi sungguh-sungguh menyiarkan siapa diri, aksesoris penipu lirikan mata dan dengus iri. lihatlah betapa kami betah menari sepanjang hari, menukar keletihan dengan apa saja yang dapat diganti dengan angan-angan kami. yaitu tempat kami melacurkan kemanusiaan kami. sebab harga diri, sudah tak mampu lagi kami beli.

12


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

PASAR BRINGHARJO setiap tetes peluh berniaga dengan harapan dan senyuman sederhana. kadang wajah-wajah tampak terlalu beku sebab udara yang terlalu berat kurang sinar, dan deretan los-los yang terlalu malas menyegarkan diri. bau pewarna batik, bumbu-bumbu dapur, dan lain-lain, dan lain-lain, mengendap seolah kondensasi uap air yang siap menjadi hujan. mentari di pasar ini terbit sejak satu atau dua dini hari, tanpa bayangbayang, dan embun belum lagi dilahirkan sebab subuh masih hamil tua. hari-hari mendewasakan diri dalam oksigen yang tipis, asap sigaret dan bau-bauan campur-baur parfum murahan, minyak rambut murahan, make-up murahan, negosiasi murahan, lagu-lagu murahan. lalu, saat matahari mulai lemas kehabisan nafas, malam pun jatuh begitu saja. dan suara-suara berubah, cuaca berubah, cahaya berubah. baubauan tadi masih tertinggal, seperti kenang-kenangan pengingat uap keringat yang terbawa pulang. setiap senja beralih gelap, cerita-cerita yang lain bersiap. babak baru. agak gelap, memang. namun, siapa saja yang merajut kisah Bringharjo setiap hari, telah paham dan mengerti. dini hari dan senja yang mati, adalah kegelapan tempat mereka berjudi dengan nasib. tanpa puisi.

13


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

SUBURBIA jantung kota kami telah meledak, melesak hingga ke ujung-ujung jemarinya. di ujung-ujung jemari kota kami itu kami menjilati remahremah di pinggir piring-piring makan kami. berserak, bersebaran ke mana-mana, ke setiap ujung jemari bintang mata angin di ingatan kami akan pelajaran geografi. jantung kota kami kian kencang berdetak, kian kami tak punya halaman untuk menghirup nafas panjang di malam yang gerah oleh tagihan kerja besok pagi. jantung kota kami kian riuh oleh degup yang semakin rapat frekuensinya, seperti dentam perkusi yang merajam nyaris tak ada sela untuk sepotong melodi atau solo viola atau sekedar jeda. jantung kota kami kian jauh, dan kami kian menepi kian menenggang jarak agar kami tak pongah dengan langkah kami yang secepat anak panah, agar kami tak lengah dan rengkah tergencet badan-badan mobil berimpit di lampu merah. dan kami kian memanjangkan jarum jam kami agar kami dapat menghitung liter minyak terbakar di tungku sepeda motor kami yang kian lama menyala, kian menipiskan pantat kami saja. jantung kota kami kian hitam oleh jelaga dari knalpot mesin-mesin kendara kami, oleh rupa-rupa maksiat dan muslihat, oleh malam yang telat mengendap. jantung kota kami kian tersengal, kian sering anfal oleh cuaca nakal atau perhitungan neraca yang gagal.

14


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

BIBIR KOTA di bibir sungai kami membangun kampung, imitasi kota-kota kami sendiri dengan jalanan selebar badan dan kamar seluas debar kecemasan kami akan pagi. di situlah tempat kami mengenang sawah-sawah dan pekarangan yang kami tinggalkan jauh-jauh dalam mimpi. kami membangun terasering di bantaran kali lintas kota, punggung nasib kami yang rata, lalu menanaminya dengan tiangtiang bambu dan dinding-dinding bata. di bibir mimpi kami menanam ingatan pada cangkul dan ani-ani, pada luku dan garu, pada tugal dan bebijian palawija, dan air yang kian rajin mengering dari umbul telaga, dan hujan yang kian tak rata, dan gambar cuaca di langit yang kian tak terbaca. lalu kami berduyun mendayung rumah-rumah kami sepanjang kali, menambatkannya di tepi-tepi. lalu kami belajar membaca kerlip serupa bintang di langitlangit kota, pukaunya begitu benderang menyilau mata. di bibir pagi kami masih bermimpi dengan mata terbuka. kami belajar tidur siaga, sebab di kampung ini setiap desah nafas adalah perburuan, dan setiap jengkal waktu adalah ronde kecemasan. dari kampung kami, hingar-denyar kota terdengar riuh begitu rupa. dari atap kota, kami cuma kakus tempat membuang dosa. di bibir sengal nafas kami, kami mulai belajar tanda-tanda muslihat nasib dan menghitung kekalahan. di bibir kota, kami menggumpal jadi ampas permen karet di telapak sepatumu!

15


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

KAKI LIMA di petak lima kaki persegi, kami menghitung jumlah jemari di tangan kiri, sementara kanan kami melambai pada rejeki hari ini. kami sajikan untaian kalung imitasi, nasi sarapan pagi, celana dalam dan kaus kaki, bedil plastik bagi anak-anak yang bercita-cita jadi polisi. juga helm dan korek api, atau aneka batik dan topi-topi. kami dorong gerobak kami sepajang musim sepanjang nafas kami, kami pikul nasib kami sendiri. kami berlari dari peluit polisi praja, dari pengutip iuran kota sebab kami sering kencing di selokan, sebab trotoar yang kami pinjam buat berjaja. di kota ini, bumi bukan milik kami. kami dorong gerobak nasib kami, berharap jalanan tak menanjak dan aspal tak leleh oleh mentari. di petak lima kaki persegi, kami meluruskan kaki, bercengkrama dengan pembeli atau pohon asam jawa perindang jalan kota kami yang jarang tertawa. setua usia peta kota, pohon itu lebih suka diam dan bersabar pada debu solar dan kencing kami; memejam mata saat polisi praja menggelar patroli. kami berdiam, berjalan, berlari, berhitung setiap lima langkah kaki.

16


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

BAKTERIA KOTA kami jalani hidup kami dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. seperti menapaki anak tangga satu-satu. kami memulung di setiap celah dan relung, membongkar sisa-sisa harimu. kami korek kami daur menjadi makanan kami, jadi sarung jadi kain tapih lusuh penghangat tidur kami, jadi penutup mata kami yang basah setiap hari. kami akrab dengan kuman dan bakteri, dengan limbah yang membusukkan diri. sebagai bakteri, kami mengurai sampah dan limbah kota, menyembunyikan bau busuknya. kami urai plastik dan kertas dan logam menjadi sayur-mayur dan beras apkir. kadang kami temukan karet sandal, kadang karet skandal. kadang-kadang kami temukan rahasia yang tercabik-cabik, atau sisa-sisa darah malu. kami tahu semua yang gelap bagimu. kami adalah catatan harian kota ini. kami tahu setiap baris yang terhapus dari laporan resmi, setiap angka yang tergenang di loronglorong selokan, setiap perjanjian yang tersembunyi.

17


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

BROSUR WISATA: BALOKAN/SARKEM kisah kami dimulai sejak derit loko uap lahir di bumi kami. balokbalok jati tua yang dicerabut dari rimba ketangga di gunung kami, meladami kaki-kaki baja kereta bertungku api. sejak itu sejarah kami bergulir, hingga kini. otot-otot yang dicungkil dari ladang-ladang itu, diperas sepanjang matahari. dan malam-malam yang letih menggelapkan mata. lenteralentera merah bersemi, bersama bunga-bunga warna-warni. lampu merah redup, satu ketukan pintu, lalu suara bertalu-talu. seriuh pasar malam, pasar bunga-bunga. gudang balok rel kereta menjadi kesaksian kami saat bentangan baja memenggal garis meditasi raja, mengirisnya dengan lengkingan uap lokomotif, mengejeknya dengan asap hitam. dan rumah-rumah di sepanjang lorong-lorong, berlampu redup merah, tak peduli. bilikbilik murah, ada yang bersih tempat turis asing remaja, ada yang masih menyimpan marah. masuklah ke lorong-lorong kami, siapa tahu di salah satu biliknya kau akan temui catatan nama-nama penyair tua kota kami. kisah kami kini hangat di kedai-kedai bir dan musik blues dan reggae, dan kios-kios buku asing sisa turis, dan drainasi kota yang tersumbat sampah-sampah karet. asap mesin uap telah lama lenyap. tapi derit roda besi dan rel baja masih setia menjeritkan gemuruh sejarah sewarna jelaga.

18


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

PROFIL KOTA: CITA-CITA SETINGGI SLOGAN kota-kota kami adalah kota cita-cita. kami gantungkan impian-impian kami setinggi gapura batas kota, setinggi tiang-tiang bendera; pataka pusaka keramat kami. lalu begitu gembiranya kami dengan semangat yang lucu dan indah itu, sehingga tak penting lagi bagi kami berbagi jalanan berlubang atau angkutan kota berebut start dan finish paling cepat dan penumpang hanya beban tambahan saja, tak penting lagi bagi kami berbagi simpang-simpang yang padat dan polisi jalan pun sampai lupa makna rambu-rambu yang begitu banyak berjejal di sepanjang rute, tak penting lagi bagi kami berbagi trotoar dengan penjual segala rupa benda yang tak ingin bayar sewa tempat di pasar. kami telah cukup bangga dengan slogan kota kami yang lucu dan asyik itu, memajang stikernya di sepeda motor atau baju seragam kami, lalu menikmati setiap mimpi. kota-kota kami adalah kota yang ikhlas, berhati senyaman iklan, sembada, beriman, bertakwa, sehat indah sejuk sekali, kota insani, kota slogan hahahihi. hahahihi. hahahihi. kota-kota kami adalah kota yang kaya cita-cita, penuh kata-kata. kota kami penuh prosa. kota kami miskin peta, miskin rencana, miskin puisi yang benar-benar jadi.

19


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

WISATA BELANJA: PASAR KLITHIKAN siapa mencari akan mendapati. di tepi-tepi jalanan kota, kami gelar sisa-sisa. ampas dari yang pernah singgah dalam catatan belanja, kini tertebar pada selembar tikar, mencoba berkelit menjadi sia-sia. kaca spion dan lingkar roda kami punya, bila kau mencari cara menengok kembali yang tertinggal di punggung silam atau menggelindingkan ingatan ke jalanan berlubang di mana kau pernah tumbang dari sepeda motormu. lampu senter dan keris tua, bila engkau ingin menelisik rahasia malammu namun jerih bila tak bersenjata. shockbraker kompetisi dan tachometer, bila kau cemas dengan degup jantungmu yang kurang gegas. kami gelar semua yang tercerai dari ingatan, kami kumpulkan kembali bagi siapa saja yang rela membeli usia. di sinilah kami berniaga dengan waktu, tawar-menawar yang lama dengan yang baru. sebab kami meyakini siapa mencari akan mendapati, maka suatu saat nanti kau pasti datang kepada kami. mencari jejak-jejak kaki yang hilang tanpa kau sadari.

20


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

PROGRAM PEMBANGUNAN: PENGGALIAN JALAN maka kami mencoba ingkari setiap kali, kota kami sungguh rajin menyakiti tubuhnya sendiri. inikah akibat diet tak sehat bertahuntahun, lalu kini panen penyakit dan organ yang malfungsi? jalanan yang berlubang belum lagi ditambal rapi, jalanan yang rapi digali-gali setiap kali. kami coba abai dan menganggap inilah cara kota kami merawat diri: kompromi dengan infus investasi. masterplan kota kami tanpa rencana. seperti seniman atau penyair setengah jadi: merayakan kemerdekaan setiap hari sebagai topeng kegagalan menaklukkan waktu, menjinakkan diri. lajur jalanan kami yang tepi telah penuh kabel tegangan tinggi dan pipa distribusi air minum kami, kini besi-besi pemotong aspal dan beton mengiris mengelupas lajur tengah, menanaminya dengan serabut optika untuk memanjakan telefon di genggaman kami. jangan tanyakan kapan kota kami menanam hutan di dada kota, dan taman untuk anak-anak kami bermain bola kasti. kota kami sedang sibuk menanam kabel, pontang-panting menjinakkan kolesterol tubuhnya yang kian tak terkendali.

21


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

MURAL KOTA gurat-gurat di wajah-wajah gedung dan badan jembatan, di kaki-kaki jalanan yang mengambang, di pintu-pintu gulung rumah pergudangan mewarnai malam-malam dengan persetubuhan lampulampu merkuri dan cat-cat kaleng aerosol. gurat-gurat di wajahwajah di tubuh-tubuh di kaki-kaki kota kami begitu menuarentakan dan meriah menopengkan emosi kami yang apung antara riang dan gamang, antara sedih dan lupa, antara marah dan cinta, antara hitam yang mati dan kelabu dinding semen sekeras hati. tiba-tiba semua menjadi dinding. semua menjadi dinding. pintu, fondasi, jendela, tiang-tiang, dan genting. semua menjadi dinding. lalu seperti krayon masa kanak-kanak, tiba-tiba warna-warni menuliskan nama-nama salah eja, gambar-gambar muka bermata kelam, kartun-kartun yang pahit, amarah dan ucapan cinta yang bercampur dengan poster sandi iklan aborsi. di dinding-dinding itu. juga wajah-wajah bermunculan dalam lukisan serupa monster dan wayang tradisi. kisah-kisah yang pernah menemani saat-saat menjelang tidur kami. samar-samar, saat senja meredup dan lampu jalanan mulai menguning, denyut dinding-dinding itu mulai berdegup. hidup. lalu gambar-gambar di mural kota sayup-sayup menembangkan gambuh moral kita.

22


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

SPASI HIJAU sepanjang usia kota kami, kian renta ia dengan keriput di wajahnya. uban berwarna abu di dinding-dinding gedung, kaki-kaki jembatan, dan serabut retakan serupa selulit di kulitnya yang bangka. sepanjang usianya kota kami menjadi halaman yang kian penuh tulisan. berjejalan di spanduk-spanduk, rambu-rambu, graffiti dan pamflet-pamflet. bergelantungan di tiang-tiang telefon dan papanpapan reklame. tulisan yang diketik serba tergesa, seperti sajak yang kian jenuh kata-kata, tulisan yang semakin tumpul, semakin pejal, semakin berat dan rapat. wajah kota kami yang uzur itu seperti luntur. warna coklat lumpur sawah yang kian tergusur ke pinggir ingatan, berganti bedak tebal dan polesan stabilo yang menegaskan setiap kata dengan setiap warna. wajah tua yang kian genit dan semakin memuakkan, merebus dendam di dada kami diam-diam. kesumat rindu pada sebidang spasi berwarna hijau, tempat kami berwudu dari elektron kemarau.

23


Suburbia | TS Pinang | Buklet Puisi

TS PINANG

TS Pinang, lahir di desa Semirejo, Pati, 1971. Pernah belajar arsitektur dan perencanaan perkotaan di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan UGM. TS Pinang adalah penyair amatir yang menulis lebih banyak di media internet sejak awal 2000. Ia pernah ikut aktif membuat dan mengelola situs (almarhum) cybersastra.net serta aktif di beberapa komunitas puisi di internet. Puisi dan eseinya dimuat di beberapa antologi bersama seperti Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001), Filantropi (Divisi Sastra FKY XIII, 2001), antologi esei Cybergraffiti (YMS, 2001), Bumi Manusia 1: Ini Sirkus Senyum (Bumimanusia, 2002), Cyberpuitika (YMS, 2002), Dian Sastro for President! (AKY, 2002), Dian Sastro for President!#2: Reloaded (AKY, 2003), Les Cyberlettres (YMS, 2005), Antologi Bungamatahari (Avatar, 2005), Jogja 5,9 Skala Richter (KSI-Bentang, 2006), Tongue In Your Ears (FKY XIX-FKYPressPlus, 2007), 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (Gramedia-Anugerah Pena Kencana, 2009), beberapa koran nasional seperti Republika, Kompas, Jurnal Nasional, Koran Tempo, jurnal BlockNot Poetry , majalah sastra Horison dan beberapa mailing-list maupun situs sastra di internet. Beberapa puisinya juga pernah dibacakan di Radio Suara Jerman Deutsche Welle dan RRI Nusantara II Yogyakarta. Buku puisinya berjudul Kunci (Omahsore, 2009). Situs pribadinya: titiknol.com. 24


Profile for Teguh Setiawan

Suburbia  

Indonesian poetry booklet by TS Pinang.

Suburbia  

Indonesian poetry booklet by TS Pinang.

Profile for tspinang
Advertisement