Page 1


CMYK

SELASA 13 JULI 2010

13

Kepala Pos Rekayasa Perampokan „ Panik Audit Data Kurang Rp 36 juta RITUAL Imam ritual (tengah) saat memimpin ritual adat tolak bala di Bundaran Tugu BI Jl PKP Mujahidin Sintang, Senin (12/7). Masyarakat Dayak Kanayant yang tergabung dalam Himpunan Keluarga Samang Layo (Hikayo) Sintang ini berharap Pemilukada ulang akan berjalan damai dan kondusif.

TRIBUN PONTIANAK/ SLAMET BOWO SANTOSO

Berharap Pemilukada Berjalan Damai „ Hikayo Gelar Ritual Adat di Tugu BI SINTANG, TRIBUN - Masyakepolisian rakat Dayak Kanayant yang Dalam menggelar ritual tergabung dalam Himpunan adat tersebut diakui Slamet, Keluarga Samang Layo (Hipihaknya memang tidak terlekayo) Sintang menggelar upabih dahulu meminta izin kepacara adat tolak bala di Tugul BI da dewan adat dayak (DAD) Jalan PKP Mujahidin Sintang, Kabupaten Sintang. Namun Senin (12/7) karena pelaksanaan ritual adat Tujuan ritual adat meminta demi kebaikan bersama diTRIBUN/SBS kepada penguasa alam atau rinya merasa yakin tidak akan Jubata agar Pemilukada ulang di Apolonius mendapat komplain dari pihak empat kecamatan Kabupaten manapun. Sintang berjalan aman dan tertib. Ma“Saya pikir tidak perlu meminta ijin syarakat Dayak berharap tidak ada kepada pihak manapun karena ini bukan konflik terjadi dikarenakan urusan politik. untuk mendukung calon bupati mana“Kita ingin hidup damai, jangan pun. Ritual ini berdiri sendiri bertujuan sampai terjadi hal-hal yang tak diin- untuk kebaikan bersama. Kita justru ginkan baik jelang pemungutan suara khawatir kalau meminta izin, dikira ulang dan untuk seterusnya,” ujar koor- agenda kita ini dipolitisir,” katanya. dinator ritual adat, Ignasius Slamet. Hal senada dikatakan tokoh adat Menurutnya, dengan pita putih yang yang memimpin jalanya ritual, mereka kenakan artinya untuk menjaga Apolonius Apo. Dia mengatakan, tidak kedamaian Kabupaten Sintang agar ada upaya mendukung pasangan cabup terjaga. Ritual yang dipimpin dua tokoh dan cawabup tertentu dalam ritual adat adat, Apolonius Apo dan Petrus Darip tersebut. Ritual adat yang digelar murni ini berlangsung mulai pukul 12.00 WIB untuk menjaga keamanan Kabupaten hingga pukul 13.00 dan dijaga ketat Sintang agar tetap kondusif.

Muhammad Jumali

“Ini memang kita maksudkan agar pada saat pelaksanaan pemilukada ulang nanti tetap berjalan lancar tanpa diwarnai hal-hal yang tak diinginakan,” ujarnya. Kapolres Sintang AKBP Firly R Samosir, di ruang kerjanya mengatakan pihaknya menyambut baik ritual adat tersebut. Karena sudah memenuhi prosedur yang benar seperti memasukan surat izin. “Kita menyambut baik acara seperti ini apalagi untuk mendukung agar Kabupaten Sintang tetap kondusif, artinya mendukung kepolisian,” ujar kapolres. Terpisah, Kasat Resrkim Polres Sintang AKP DS Lumbantoruan SIK menyatakan saat ini pihaknya telah memproses penangguhan tiga tersangka pemotongan babi di rumah Wabup Sintang. Satu di antara tersebut adalah Kadis Pertanian Sintang. “Penangguhan merupakan hak tersangka. Maka kita memutuskan memberikan penangguhan padanya dengan melihat keseriusan untuk mematuhi aturan hukum yang berlaku berdasarkan KUHP,” ujar lumbantoruan. (sbs)

TRIBUN/SBS

Sintang ini merasa kedekatan tersebut kerap dibangunnya, tiap kali dipindah tugaskan. “Di manapun saya bertugas selalu dekat dengan media dan rekan-rekan wartawan. Mereka sudah saya anggap sebagai patner kerja. Hal ini selalu saya lakukan, demi keterbukaan informasi kepada masyarakat,” ujarnya pada Tribun, belum lama ini. Jumali merasa tidak ragu untuk berbagi informasi dengan media apalagi terkait pekerjaannya. Dengan begitu dirinya mengaku pola kemitraan antara kejaksaan dengan masyarakat luas tetap terjaga dengan baik tanpa menganggu pekerjaan utama dirinya sebagai aparat penegak hukum. “Kalau informasi itu memang diperlukan masyarakat, untuk apa harus ditutup-tutupi. Apalagi kita juga harus sadar bahwa keterbukaan informasi merupakan hak masyarakat banyak. Termasuk dalam hal penegakan hukum di negara

Kita tidak menemukan adanya unsur perampokan. Tidak sedikitpun ada cacat pada bangunan tersebut, bahkan bekas tapak kaki pun tidak ada. AKP SLAMET NANANG W TRIBUN/DOK

Kasat Reskrim Polres Sanggau

bantuan Polres untuk melakukan penyelidikan,” kata Kasat. Terlihat Bingung Di depan polisi, Sawaludin juga bercerita bahwa dirinya tak berani melawan karena jumlah perampok sangat banyak. Selain itu, mereka juga membawa senjata tajam. Namun, saat olah tempat kejadian perkara, Sawaludin terlihat bingung. Inilah yang membuat polisi curiga. Setelah didesak, Sawaludin akhirnya mengaku. Dirinya tak pernah dirampok. Dia menyebutkan hasil audit keuangan terjadi selisih sebesar Rp 36 juta dan itu membuatnya bingung. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Sawaludian kini meringkuk di tahanan Mapolres Sanggau. “Saya yang merancang semua ini,” kata Sawaludin. Atas tindakannya tersebut, Sawaludin telah melanggar pasal 242

KUHP tentang sumpah palsu dan keterangan palsu dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun penjara. Berdasarkan hasil olah TKP, memang polisi menemukan berbagai kejanggalan. Semua orang yang berada dalam ruangan dikumpulkan untuk diperiksa. “Kita tidak menemukan adanya unsur perampokan. Tidak sedikitpun ada cacat pada bangunan tersebut, bahkan bekas tapak kaki pun tidak ada,” kata Kasat. Melihat kejanggalan itu, pihak kepolisian pun melakukan interogasi mendalam pada semua orang yang berada di kantor pos termasuk Sawaludin. “Dari pengakuan dua karyawan PT SMP mereka tidak mendengar suara mencurigakan pada malam itu. Keterangan Sawaludin pun tidak masuk diakal,” kata Kasat. (mrl)

Pengakuan Istri PEMBUKTIAN rekayasa perampokan yang dilakukan Kepala Kantor Pos Parindu, Sawaludin cukup menguras pikiran pihak kepolisian Polres Sanggau. Setidaknya polisi membutuhkan waktu sekitar 15 Jam untuk mengetahui rekayasa tersebut. Semenjak menerima laporan sekitar pukul 02.00 WIB, polisi melakukan penyelidikannya dan sekitar pukul 17.00 diketahui yang bersangkutan telah melakukan rekayasa. Uniknya pengakuan tersebut dikatakan langsung oleh Galuh Wiraningsih (33) istri Sawaludin. “Istrinya mengaku bahwa sebenarnya tidak ada perampokan. Dari pe-

ngakuan inilah, kita menyimpulkan yang bersangkutan telah memberi keterangan palsu pada polisi,” kata Kasat. Sementara untuk penanganan selanjutnya, Kasat mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan lanjutan untuk selanjutnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau. “Kita masih melakukan penyelidikan. Terkait keberadaan uang sebanyak Rp 36 juta, itu bukan kewenangan polisi karena kita tidak menerima laporan terkait masalah itu. Sepintas tersangka mengatakan pihaknya salah hitung,” kata Kasat (mrl)

Nonton Final PD 2010 Bersama DPRD Sanggau

Kepala Kejaksaan Negeri Sintang

Media sebagai Partner DUA puluh tahun bertugas sebagai jaksa, membuat Muhammad Jumali merasa dekat dengan media maupun wartawan. Kepala Kejaksaan Negeri Sintang (Kajari) yang baru beberapa bulan bertugas di

SANGGAU, TRIBUN - Polisi akhirnya secara resmi menahan Sawaludin (47), Kepala Kantor Pos Parindu, Kabupaten Sanggau, Senin (11/7). Dia diduga merekayasa perampokan di kantornya, sebesar Rp 36 juta, Jumat (9/7) lalu. Sawaludin mengaku pada polisi, rekayasa itu sengaja dilakukan untuk menghilangkan jejak setelah audit data menyimpulkan uang sebesar Rp 36 juta milik nasabah tidak bisa dipertanggungjawabkannya. Menurut Kapolres Sanggau, AKBP I Wayan Sugiri, melalui Kasat Reskrim AKP Slamet Nanang Widodo, awalnya tersangka mengaku kebingungan untuk menutup data kekurangan dana tersebut. “Tersangka sempat berpikir untuk bunuh diri. Namun pada akhirnya dia memilih merekayasa sebuah perampokan Rp 36 juta yang tidak bisa dipertanggungjawabkannya itu,” kata Kasat saat ditemui di Mapolres Sanggau, Senin (12/ 7) kemarin. Rekayasa perampokan ini dilakukan oleh Sawaludin pada Jumat dini hari tepat di antara pintu kantor dan pintu menuju kamar kecil Kantor Pos Parindu. Dengan bermodalkan lakban kuning, ia mengikat kedua kaki, tangan, dan bagian mulut seperti layaknya telah terjadi kasus perampokan. “Saya melakukannya sendiri dan tidak seorang pun yang menyaksikannya,” kata Sawaludin pada polisi. Tidak lama kemudian, Galuh Wiraningsih (33) istri Sawaludin bersama dua anaknya serta Harjono (25), karyawankaryawan Kantor Pos Parindu melihat yang bersangkutan dalam keadaan terikat. Melihat kondisi itu, merekapun melepaskan ikatan tersebut dengan disaksikan oleh dua orang karyawan PT SMP yang pada saat itu menjaga alat berat di kawasan Kantor Pos. Setelah dilepas dari ikatannya, Sawaludin langsung melapor ke Polsek Parindu yang mengatakan ia baru saja dirampok oleh tiga orang bersenjata lengkap. “Saat itu pihak Polsek langsung meminta

ini yang menjadi tugas dan kewenangan kami,” kata pria pernah 12 tahun bertugas di Lampung ini. Azas keterbukaan informasi publik melalui berbagai media masa yang ada diakui ayah dua orang anak ini bukan merupakan pengetahuanya yang baru baginya. Karena itu sudah dipahami sejak belum bertugas sebagai seorang jaksa. Dia juga mengaku pernah beberapa tahun bertugas sebagai seorang wartawan di sebuah media terkemuka nasional. “Beberapa tahun saya bertugas menjadi wartawan dan paham benar dengan dunia jurnalisme, sehingga dunia wartawan sudah tidak asing lagi. Bahkan saya sempat mendapatkan sertifikat pelatihan jurnalisme yang masih saya simpan sebagai pengalaman,” ujarnya. Bukan baru satu dua kota yang telah ditempatinya untuk bertugas menjalankan fungsi sebagai penegak hukum, namun sudah hampir seluruh wilayah di Indonesia ini pernah menjadi tempat bertugasnya. Mulai dari Sumatera, Irian Jaya, dan sekarang di Kalimantan Barat. (sbs)

Andreas Nyas Tuding Wasit Kejam Tak cuma masyarakat, anggota DPR Sanggau dan Muspida pun antusias ingin menonton final Piala Dunia 2010 antara Belanda dan Spanyol. Mereka menggelar acara nonton bareng di lobi Gedung DPRD Sanggau, Senin (12/7) dini hari.

K

etua DPRD Sanggau, Andreas Nyas, mengaku kesal dengan kepemimpinan wasit, Howard Webb. Bagaimana tidak, 14 kartu kuning dan satu kartu merah yang dikeluarkan Webb dinilai menjadi pemicu pertandingan menjadi kurang menarik. “Dari awal saya sudah menduga, pertandingan final ini akan membosankan jika wasit botak ini yang menjadi pengadil lapangan. Wasit ini sangat kejam, sedikit-sedikit tiup peluit,” ketus Nyas Kekesalannya makin menjadi tatkala tim idolanya Be-

TRIBUN PONTIANAK/MARLEN SITINJAK -

NOBAR- Ratusan orang nonton bareng (nobar) di halaman kantor Bupati Sanggau, Senin (12/7) dini hari.

landa, tidak berhasil menjadi juara lantaran kalah 0-1 atas Spanyol. Nyas menuding yang menjadi penyebab kekalahan tersebut adalah akibat buruknya kepemimpinan wasit asal Inggris itu. Sembilan kartu kuning dan satu kartu merah yang dihadiahkan wasit pada pemain-pemain Belanda dirasa kurang tepat. “Saya sudah memperhatikan wasit ini sejak piala dunia ini dimulai. Dia begitu

gampang mengeluarkan kartu sehingga para pemain tidak bisa bermain lepas dengan gayanya masing-masing. Para pemain takut dibuatnya,” kata Nyas. Dari pengamatan Nyas, satu kesalahan fatal yang dilakukan Webb dalam pertandingan itu adalah ketika pemain Belanda, J Heitinga dihadiahi kartu merah setelah menerima dua kartu kuning yang mengharuskannya meninggalkan

PEGASUS Parfum

MENJUAL PARFUM ISI ULANG BERKWALITAS DENGAN HARGA MURAH Keuntungan beli Parfum di Pegasus

1. Pegasus Parfum hanya menjual Parfum yang Berkwalitas 2. Harga Parfumnya Termurah diPontianak 3. Harga botol Parfumnya Termurah di Pontianak 4. Semua Jenis botol Parfum yang di jual Bergaransi 5. Konsumen mendapatkan Kupon yang bisa ditukar dengan Parfum 6. Racikan Parfum sesuai dengan Keinginan Konsumen 7. Takaran Racikan Parfumnya Pasti Pas 8. Jenis Pafumnya Bervariasi (400 Parfum) 9. Dapatkan Parfum Gratis untuk 100 Pembeli Pertama

Jl. Imam Bonjol Komplek UNTAN No.P-10 (Di Samping Lesehan Pegasus) Jl. Gusti Hamzah (Pancasila) No.6 Pontianak - Kalbar

CMYK

arena pertandingan. Dikatakan Nyas, jika saja kartu merah itu tidak ada maka hasil pertandingan akan berbeda. “Kalau saya lihat dari awal, seharusnya pertandingan itu harus diakhiri dengan adu pinalti. Kedua tim ini berimbang dan sama-sama memiliki peluang emas,” kata Nyas. Sekalipun demikian, Nyas mengatakan bahwa Spanyol sangat pantas menjadi juara dunia. Diakuinya, kolektifitas para pemain bintang sepak bola negeri matador itu sulit dibendung tim manapun di jagad ini. Secara khusus, Nyas memberi poin khusus pada kiper Iker Casilas dan Andres Iniesta, pencipta satu-satunya gol dalam pertandingan itu. “Mereka berada satu tingkat di atas Belanda,” kata Nyas yang semenjak awal pertandingan tampak was was ketika para pemain Spanyol melakukan penyerangan ke jantung pertahanan Belanda. Tidak hanya Nyas, Kapolres Sanggau AKBP I Wayan Sugiri dan Wakapolres, Kompol Surakiyo juga merasa kesal lantaran Belanda gagal menjadi juara. (marlen sitinjak)


ePaper Tribun Pontianak  

Selasa 13 Juli 2010 Edisi 702 Tahun II