Issuu on Google+

June, 2010

07


{CONTENT} 07/JUNE/2010

24

DESTINATION

Doa, Dupa, dan Ziarah (Tetirah) Kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana milik Sunan Gunung Jati kini masih terawat baik.

TRAVEL CHOICE

68 Kota Bandar Tua yang Molek Bangunan lawas yang terawat dan bangunan baru megah.

CULTURE

HANG OUT

46

96 Ayunkan Langkah, Saatnya Salsa

Tanjidor, Berjuang dalam Arus Zaman

Mengasyikkan dan bisa bikin kecanduan.

Biasanya kesenian ini dimainkan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah.

WORLD CITY

40

LEISURE

108

Kutub Selatan di Christchurch

Sensasi Mendaki, Memanjat, dan Merayap

Tiba-tiba saja Badai Antartika berkecepatan 40 kilometer per jam menghantam kami selama 30 menit. Dahsyat!

PHOTOGRAPHY

74

Sejumput Mimpi di Parangtritis

4 travelounge

OntimE

June, 2010


Dear Travelounge,

u hen ewakt aca s a t t -Ha mb , karno ertarik me leluounge a Soe t l r h e a a v a y d r a a n r e di Ba rat. S umbuh, da arai HaDear T ah ini matera Ba g l k a N ja y a u ilihl Pa tang am mbac e Padang, S liputan soa u tahu ten i. Pilihan-p ai e m a is nil bar aks Say kat k tertul rikan , saya se red erang pulnya di Jakarta g direporta dia membe utandak b m a s lip ma me a di yan untuk itulis karen . Karena la an tempat ang d rima kasih r a y ih ja a il s g p hur sa, t yan ir. Te uar bia tempa ata tanah a rau. L n tempatis pariw uta an lip bagi dunia h a b tam nya. kasi W, Be Erlen

Kapan bikin reportase tentang perjalanan yang murah meriah. Baik yang ke luar negeri maupun yang dalam negeri. Jangan cuma menulis tempat-tempat yang mahal dong. Banyak lho yang butuh informasi travelling yang asyik tapi nggak bikin kantong deg-degan. Atau, boleh nggak kalau pembaca yang menuliskan pengalamannya? Saya punya beberapa perjalanan yang hemat anggaran. Ada yang ke Bali, ada yang ke Bangkok. Bagaimana menuliskannya untuk Travelounge? Sayangnya saya tidak punya foto-foto sebagus yang ditampilkan majalah ini. Bernada R, Jakarta Berna, Travelounge menerima tulisan pembaca berdasar pengalamannya pribadi. Silakan kirim ke kami. Soal foto, kirim dahulu yang ada. Jika kurang, kami bisa membeli dari sindikasi foto sepanjang tidak merusak cerita Anda.

Travellers, Ini foto gue dengan beberapa teman waktu liburan awal januari 2010 lalu. Kebayang gak ini di mana? Yang pasti bukan di gurun pasir di Afrika Utara dong. Ini waktu gue dengan teman-teman kantor liburan ke Vietnam. Ada tempat, namanya Mui Ne Beach. Sekitar dua jam perjalanan dari Ho chi Minh City. Kalau dari HoChi Minh, ada sleeping bus yang bisa disewa berkelompok. Seorang jatuhnya kena US$ 7 sampai 15. Tergantung pinter-pinternya

DOK. PRIBADI LINA S.

6 travelounge

OntimE

June, 2010

nawar. Namanya sleeping bus sebab memang bisa dipakai untuk tidur. Mui Ne pantainya bagus. Lihat aja pasirnya tuh. Di sebelahnya ada gurun kecil dengan bukit kecil yang bisa dipakai buat sand sliding alias prosotan. Tertarik? Lihat foto gue ama temen-temen gue dulu ya. Kalau tulisan panjangnya, gimana kalau Travelounge yang bikin liputan ke Vietnam. Bagus kok, mungkin belum tergarap seperti Thailand aja.

Lina S, Jakarta


Sudah banyak apartemen mewah dengan nilai investasi tinggi di ibukota. Namun Essence menyajikan nilai tambah tersendiri.

Hening dan Ramah

Lingkungan Di jantung ibukota para pengembang berlomba membangun apartemen mewah dengan super block yang meliputi mal, perkantoran dan hotel. Namun Essence Apartment memilih untuk menghindari hiruk pikuk itu dan murni mengembangkan hunian. Mengusung konsep pure private & resort residences, dari luas total area 5,3 e, 70% didedikasikan sebagai landscape hijau beserta fasilitas dan infrastruktur. Sisanya 30% untuk empat tower apartemen serta satu gedung serviced apartment dan club house. Berlokasi di kawasan elite Darmawangsa, Jakarta Selatan, apartemen yang dikembangkan PT Prakarsa Semesta Alam ini sangat strategis, dekat dengan berbagai fasilitas publik, simpul kegiatan dan gaya hidup. Dalam ’pelukan’ Kemang dan Kebayoran Baru, Essence sangat dekat dengan kawasan bisnis dan hiburan, pusat perbelanjaan, rumah sakit dan sekolah internasional. Kawasan Darmawangsa yang lebih hening, bersih, sejuk, hijau, rindang dan nyaman menjadi selling point utama Essence. Saat ini tower pertama, Eminence Tower sudah selesai dibangun dan dihuni. Sedangkan South Tower sedang dalam tahap finishing dan akan diserahterimakan mulai Oktober 2010. Tower ketiga, East Tower baru memasuki tahap fondasi dan akan selesai awal 2012. Sedangkan North Tower tengah dimatangkan konsepnya. Selain typical unit, Essence membangun pula town house di lantai

8 travelounge

OntimE

June, 2010

dasar tower, serta penthouse. Interior Essence memancarkan kemewahan bernuansa klasik modern dengan banyak penggunaan marmer, parquet dan kayu. Warna-warnanya didominasi cokelat, cream, maroon dan emas. Fasilitasnya antara lain private lift dan semi furnished unit dengan kitchen cabinet, cooking hood, microwave & stove pada South Tower, East Tower dan North Tower. Tiap tower memiliki kolam renang dan fitness center masing-masing. Untuk fasilitas bersama, tersedia spa, apotik, function hall, minimarket, florist, tempat laundry, lapangan tenis, gazebo, kamera CCTV, tempat bermain anak dan tempat yoga. Selain itu, Essence bekerjasama dengan beberapa konsultan terbaik kelas dunia seperti Peddle Thorp International Australia untuk desain arsitektur, EDAW Australia untuk desain landscape, Hirsch/Bedner Associates Singapura untuk desain interior, Barry Arnold Associates Los Angeles, AS untuk lighting,

Wiratman & Associates untuk desain struktur, Jones Lang LaSalle untuk building management, dan Procon untuk leasing agent. Essence juga lebih peduli lingkungan. ”Kami sedang dalam proses kerja sama dengan beberapa pemasok material yang peduli lingkungan, seperti Bosch untuk kitchen appliances ramah lingkungan, dan Toucan eco floor untuk lantai parquets dari kayu hutan konservasi yang diproduksi dan dikelola secara berkelanjutan,” tutur Ivada L Santoso, Marketing Director PT Prakarsa Semesta Alam. Bahkan pengembang membangun instalasi pengolah air limbah sendiri. Tak pelak, nilai investasi Essence cukup tinggi. Saat ini harga sewa unit berkisar USD 800 – 2000. Kini 100% Eminence Tower sudah terjual dan 210 unitnya sudah dihuni, 40% di antaranya oleh ekspatriat. Sedangkan penjualan unit South Tower sudah mencapai 70% dan East Tower mencapai 30%. ”Meskipun banyak kompetitor dan target market kian sempit, berkat keunggulan lokasi dan fasilitas kami, penjualan tetap berjalan dengan baik,” ujar Ivada. Kepeduliannya akan lingkungan memberinya lagi nilai tambah. 


Editor’s Note

Prasidono Listiaji Executive Editor

P

embaca, pernahkah Anda berpikir belajar punya tenggat berhenti? Saya menduga, kebanyakan Anda menjawab tidak. Apapun alasan Anda, kami sependapat. Tak akan pernah orang berhenti belajar. Setiap kali muncul pekerjaan baru, selalu muncul peluang belajar hal-hal baru. Begitupun ketika majalah ini diterbitkan. Cover majalah adalah hal rutin yang kami kerjakan tiap minggu. Tapi ketika harus menggarap majalah perjalanan, urusan cover ternyata sesuatu yang berbeda. Perjalanannya lebih panjang. Di Travelounge OntimE, beban terberat untuk cover ada di tangan Arcaya Manikotama. Tentu selain tugas utamanya menjaga gawang perwajahan majalah ini. Sebelum diserahi menggarap Travelounge, Koko, begitu kami menyapanya, lebih banyak berkutat dengan desain-desain iklan untuk media-media Tempo. Menggarap sebuah majalah secara utuh adalah hal baru buatnya. Kami bersyukur, penugasan itu disambut pria kelahiran Yogyakarta 30 tahun lalu ini dengan antusias. Kuncinya adalah semangatnya untuk belajar. Anak pertama dari dua bersaudara ini sejatinya tak punya latar belakang dunia kreatif. Persentuhannya dengan dunia grafis baru terjadi ketika menempuh pendidikan di Program D3 Komunikasi Jurusan Advertising Fisipol UGM. Selebihnya otodidak. Saat menggarap edisi pertama, cover dengan model Nadine Candrawinata baru jadi satu malam menjelang naik cetak. Latar foto berubah dari konsep awal. Menggabungkan dua foto untuk cover ternyata tak semudah ketika melakukannya untuk iklan. Kejadian itu membuat Koko belajar membuat strategi baru untuk eksekusi cover. Konsep harus diterjemahkan rinci. Dimulai dengan membuat dummy

10 travelounge

OntimE

June, 2010

Koko mempersiapkan pemotretan untuk Tanjidor

pose guide, menetapkan toning cover, hingga detail property, serta angle dan pencahayaan pemotretan model.Tak berhenti di situ, Koko juga menemani Rita Nariswari, editor, dalam pemilihan wardrobe. Di studio foto, ia mendampingi Rully Kesuma mendirect fotografer.Kadang ia turun langsung memeragakan pose yang diinginkan untuk cover. Jika kelak Koko harus berhenti menjadi graphic designer, bisa jadi itu karena ia memilih menjadi photo stylist. Peluang yang diperolehnya dari kemauan untuk terus belajar. Pembaca, kamipun berharap Anda terus belajar. Bahkan ketika tengah berlibur. Tentang budaya, adat, atau tradisi lokal tempat kunjungan wisata. Untuk itu Travelounge akan terus mendampingi Anda.


Letter from Soekarno-Hatta Airport Hariyanto Kepala Cabang Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Bandara Soekarno – Hatta

T

raveler dan pengunjung bandara yang budiman, melalui program kerjasama antarpemerintah, Bandara Internasional Soekarno Hatta telah mendapatkan bantuan asistensi peningkatan kapasitas sekuriti bandara dari OTS (Office of Transport Security), Australia, dan TSA (Transportation Security Administration), Amerika Serikat. Keduanya merupakan lembaga di bidang aviation security di negara masing-masing.

Kedua lembaga itu telah mengirimkan timnya beberapa kali ke Bandara Soekarno Hatta untuk, pertama, meninjau kapasitas keamanan bandara dan memberikan rekomendasi temuan-temuannya untuk ditindaklanjuti diperbaiki. Kedua, untuk meninjau ulang sejauh mana tindak lanjut proses perbaikan itu telah dilakukan. Dari beberapa butir rekomendasi itu, di antaranya adalah soal perbaikan sekuriti di wilayah barrier atau perimeter kawasan bandara; di area airside; di bidang Security Check Point (SCP), dan tentang CCTV airport (Closed Circuit Television). Di wilayah barrier atau perimeter kawasan terluar bandara, direkomendasikan untuk mengurangi masih adanya masalah sosial di kawasan terluar bandara, seperti penggunaan tempat MCK (mandi, cuci, kakus) sungai barrier bandara oleh penduduk sekitar; adanya ternak penduduk yang berkeliaran di kawasan luar bandara, dan masih seringnya pagar kawasan dilanggar. Terhadap masalah ini, kami telah melakukan perbaikan pagar kawasan, larangan penduduk masuk kawasan perimeter, dan bantuan pembuatan 12 MCK bagi kampung-kampung di sekitar bandara. Jika masalah sosial ini makin teratasi akan dapat meningkatkan kualitas sekuriti di areal bandara.

12 travelounge

OntimE

June, 2010

Sesuai rekomendasi, di area airside atau aphron, kini dilakukan pengetatan pendataan mobil yang keluar masuk. Setiap mobil berbahan bakar bensin yang masuk harus dilengkapi alat pemadam api, dan juga pendataan dan seleksi yang lebih ketat terhadap seleksi pegawai yang akan bekerja di airside. Sedangkan tentang peningkatan kapasitas Security Check Point (SCP) di terminal 1 dan 2, juga telah dilakukan pengetatan dan peningkatan kualitas ketelitian pemeriksaan setiap calon penumpang. Kami juga terus memperbaiki standar Standard Operation Procedur (SOP) dari pemeriksaan di setiap desk SCP. Termasuk di sini adalah penambahan personil petugas keamanan bandara sesuai rekomendasi. Sedangkan terhadap rekomendasi untuk semakin memberdayakan fungsi dan peran CCTV sebagai alat penginderaan jarak jauh di areal bandara, kami telah menindaklanjuti dengan membuat sentral monitoring CCTV yang memantau seluruh areal bandara, dan mensinergikan sistem jaringan CCTV di terminal 1, 2, dan 3. Untuk semakin meningkatkan kapasitasnya, kami juga telah membentuk sebuah divisi khusus di bidang pemanfaatan CCTV, yakni Divisi Quality Control dan CCTV. Itulah beberapa hal yang telah kami lakukan untuk semakin meningkatkan kapasitas sekuriti di area Bandara Internasional Soekarno Hatta. Semua upaya ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan kelayakan penumpang, pengantar, dan pengunjung bandara yang kita cintai ini.

Selamat menikmati perjalanan. Salam dari Soekarno Hatta.


Publisher PT Tempo Inti Media Chief Executive Officer Bambang Harymurti Managing Director Gabriel Sugrahetty Editor in Chief S. Malela Mahargasarie

Cover Note

Executive Editor Prasidono Listiaji Travelounge Editor Rita Nariswari Project Coordinator Endang Sarsito On Time Board Editor Deni Krisnowibowo Gito Nugroho Agus Candra

SEJARAH Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung. Dokumentasi Eropa abad ke-16 menyebutkan adanya sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda. Karenanya, orang Eropa menyebutnya sebagai Sunda Kalapa. Kota ini kemudian diserang Fatahillah, yang mengubah namanya menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir Jakarta. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Juni ini Jakarta memperingati hari jadinya yang ke 483. Selamat ulang tahun Jakarta.

Staff Writer Wahyuana Photography Editor Rully Kesuma

COVER • Model Maudy Koesnaedi • Photographed by Nunu Nugraha • Dress by Fiorucci (Plaza Indonesia (021 3107579), Mall Taman Anggrek (021 5639362), Grand Indonesia (Seibu Dept. Store), Plaza Emporium Pluit (Sogo) • Makeup by Oscar Daniel (08161871598) • Background image Tanjidor Tiga Saudara • Cover Design Arcaya Manikotama

Design Arcaya Manikotama Kemas M. Ridwan Guest Editor Burhan Solihin Nur Khoiri Copy Editor Habib Rifai Advertising Nurulita Pasaribu (Manager) Ana Gustini Boy Maula Pangribowo Agung Susetyo Business Development Meiky Sofyansah Circulation & Promotion Winda Laksana Ismet Tamara Rachadian Nashidik Secretary Silvia Husnaeni (Marketing) Ria Puji Lestari (Production) Office Kebayoran Center Blok A11-15 Kebayoran Baru, Mayestik Jakarta 12240 Phone +62 21 7255625 Fax. +62 21 7255645, 7206995 email: travelounge@mail.tempo.co.id

Contributors Ayos Purwoaji. Mahasiswa Desain Produk Institut Teknik Surabaya ini memiliki hobi menulis, traveling dan fotografi. Ia sering melakukan perjalanan, dan mendedikasikan blognya sebagai kumpulan travelouge dengan konsep kolektif. Lahir di Jember, 6 Mei 1987, Ayos sudah menjadi blogger sejak 2007 dan Anda bisa melihat jejak serta menemuinya di hifatlobrain.blogspot.com.

Candra Malik. Pria yang lahir di Solo, Jawa Tengah, 25 Maret 1978, ini memulai kariernya sebagai jurnalis sejak 1999. Pernah bergabung di Jawa Pos mulai 2000, pada 2008 aktif sebagai jurnalis lepas di berbagai media cetak. Di luar itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel. Sejak tiga tahun lalu, ia juga mengelola sebuah kedai kopi 24 jam nonstop di Solo, Jawa Tengah.

Printing PT Temprint Prasetya M. Brata. Pria 40 tahun ini sehari-hari menjabat Ketua Yayasan Dharma Bumiputera, lembaga pendidikan di bawah sebuah kelompok usaha asuransi jiwa di Indonesia. Ia juga pengajar di MMUI, trainer mind management dan hypnosis dalam aplikasinya untuk pengembangan diri dan bisnis, praktisi hypnotherapy yang berafiliasi kepada Indonesian Society of Clinical Hypnosis, Master Practitioner Neurosemantics-NLP.

14 travelounge

OntimE

June, 2010


AP PHOTO/ LEE JIN-MAN

Style

Pisau Swiss Army secara luas telah digunakan di luar kebutuhan tentara. Hal ini disebabkan karena fungsinya yang sangat berguna, instrumen multifungsi, dan tersedia dalam berbagai ukuran dan kombinasi fungsional. Bahkan astronot NASA memiliki pisau Victorinox sebagai perlengkapan standar mereka. Model unggulan lain dari Victorinox, adalah model SwissChamp, yang telah menjadi penghuni di New York Museum of Modern Art 's.

Lady Gaga

Tidak Ingin Mati Saat Berlibur “Saya juga tahu bahwa alkohol akan membunuhku suatu saat nanti.

enyanyi Ladi Gaga memang pekerja keras. Ia terus berpindah dari panggung ke panggung. Di selasela pentas, ia menyempatkan diri melakukan rekaman album berikutnya dan membuat klip video untuk lagu Alejandro. Penyanyi yang merajai Grammy 2010 itu pun digosipkan kelelahan. Tapi, saat pentas di Swedia, ia menya-

P Tenda Keluarga

Jika bosan menginap di hotel “wah”, mungkin saatnya Anda mencoba berkemah saat berbur. Kemah juga ada yang berukuran cukup besar dan berpenampilan menyenangkan seperti produksi Eureka ini.

16 travelounge

OntimE

June, 2010

Tenda berukuran 6 x 3 meter ini bisa menampung hingga 12 orang. Jika ingin sedikit privasi, ruangan dalam tenda bisa disekat menjadi dua kamar, bahkan tiga sekalian. Pintu tenda ini juga tidak hanya satu, tapi tiga. Tenda seharga US$ 860 ini juga dilengkapi dengan jendela dari plastik sehingga, saat hujan, kita masih bisa memandang ke luar. Dengan berat 32 kilogram, cuma butuh dua orang untuk menanganinya. Pembuatnya Eureka, perusahaan yang sudah berpengalaman lebih dari seabad dalam urusan pembuatan tenda. 

takan baik-baik saja. Ia memang bekerja sangat keras, tapi ia tidak kelelahan. “Saya tahu saya bekerja sangat keras dan memacu diri,” katanya. “Saya juga tahu bahwa alkohol akan membunuhku suatu saat nanti. Tapi saya lebih baik tidak mati saat berlibur. Saya lebih memilih mati di panggung dengan penggemar saya,” katanya. 

Alas Hiking Hiking saat berlibur memang menyenangkan, apalagi jika dilakukan di daerah yang belum pernah kita jelajahi. Nah, jika ingin hiking, jangan lupa mengenakan sepatu khusus hiking seperti buatan Wenger dari Swiss. Sepatu kulit ini sangat nyaman, pas, dan menggunakan sol yang antiselip saat melewati jalanan terjal. Seperti namanya, Wenger Alpen Trapper Insulated Boots dibuat oleh Wenger,

satu dari pembuat pisau lipat serbaguna terkenal selain Victorinox. Selain urusan pisau, Wenger mengedarkan barang-barang lain dengan “aroma” Swiss, seperti jam dan sepatu seperti ini. Sepatu ini dilepas US$ 149. www.shoebuy.com 


Style

Malawi adalah salah satu negara di dunia yang kurang berkembang dan paling padat penduduknya. Perekonomian sangat bergantung pada sektor pertanian, dan masyarakatnya sebagian besar tinggal di desa. Pemerintah Malawi sangat bergantung pada bantuan luar untuk memenuhi perkembangan kebutuhan

Pada tahun 2007, diperkirakan bahwa 33.200.000 orang hidup dengan penyakit di seluruh dunia, dan AIDS diperkirakan telah menewaskan 2,1 juta jiwa, termasuk 330 ribu adalah anak-anak. Penelitian genetika menunjukkan bahwa AIDS berasal dari Afrika tengah-barat selama akhir abad ke-19 atau awal ke-20.

Teropong Malam Saat berlibur, teropong tidak pernah ketinggalan. Tapi bagaimana jika ada ingin menikmati pemandangan malam hari saat berkemah di pinggir hutan? Anda bisa memanfaatkan teropong malam buatan ATN ini. Teropong malam ini tipe binokular—kedua mata digunakan— bukan teropong monokular se-

perti model bajak laut itu. Teknologi yang dipasang adalah iluminator inframerah dengan tenaga baterai. Baterai litium yang digunakan bisa bertahan setidaknya 10 jam dan bisa memperbesar sampai lima kali ukuran. Dengan berbekal teropong seharga US$ 2.000 ini, suasana berlibur bakal lebih menghibur. 

Lampu Kemah Ramah Lingkungan

Perbekalan Backpacker Jika bosan berlibur ala eksekutif,

Madonna

Ke Malawi Bukan Berlibur “Saya memiliki komitmen dengan ratusan bocah yang menjadi yatim-piatu karena AIDS,”

adonna rajin ke Malawi, negeri terbelakang di Afrika. Setahun dua kali ia berkunjung ke wilayah itu. Tapi Madonna ke Malawi tidak untuk berlibur. “Saya memiliki banyak proyek di sana dan saya pergi untuk mengeceknya,” kata Madonna. Penyanyi yang tetap seksi meski usianya sudah lebih dari setengah abad itu memang me-

M

18 travelounge

OntimE

Jika sudah berkemah, idealnya ideologi ramah lingkungan akan makin kuat. Lebih kuat lagi jika kita juga menerangi tenda atau kegiatan malam kita dengan lampu ramah lingkungan seperti LightCap/200 ini. Lampu pengganti lilin ini mendapat energi dari cahaya matahari. Dengan empat jam mendapat

sinar matahari, baterai isi ulangnya bisa memberi tenaga untuk empat lampu LED selama dua atau tiga jam. Saat dipakai, lampu dengan harga sekitar US$ 20 ini dipasang pada botol minum yang memiliki mulut berdiameter 2 inci. Setelah lampu dipasang, botol air itu pun menyala indah seperti lilin. 

AP PHOTO

mungkin saatnya mencoba menjadi backpacker. Namanya juga backpacker, seluruh perbekalan bisa dimasukkan dalam satu ransel dan produk JanSport ini, seri Big Bear 82, bisa menjadi pilihan. Ransel ini berukuran besar, 100 liter, pas untuk membawa perbe-

kalan selama sepekan. Di bagian depan dilengkapi kantong untuk membawa barang-barang yang butuh dijangkau dengan cepat. Kantong untuk membawa botol minuman juga manis terpasang di samping tas. Tas ini bisa Anda gunakan dengan mengeluarkan US$ 120. ebags.com 

June, 2010

miliki ikatan dengan Malawi. Dua bocah Malawi, misalnya, ia adopsi. Di sana Madonna juga membangun sekolah untuk perempuan. “Saya memiliki komitmen dengan negeri itu dan ratusan bocah yang menjadi yatim-piatu karena AIDS,” kata Madonna dalam wawancara Interview Magazine edisi Mei. “Saya pergi ke Malawi karena berbagai alasan.” 


Style

Salah satu contoh awal dari remote control dikembangkan pada 1898, oleh Nikola Tesla. Dia adalah salah satu kontributor paling penting untuk kelahiran industri listrik komersial, dan terkenal revolusioner dalam perkembangan di bidang elektromagnetisme di 19 awal 20 abad dan akhir. Tesla juga memberikan kontribusi dalam teori-teori pembentukan robotika, radar, ilmu komputer, perluasan balistik, fisika nuklir , dan fisika teoritis.

PENGINTIP DARI ANGKASA

Nexus One CAMERA 5 megapixels 2X digital zoom User can include location of photos from phone's AGPS receiver CELLULAR & WIRELESS 3 UMTS bands HSDPA & HSUPA GSM/EDGE (Quad band) Wi-Fi (802.11b/g)

Bluetooth 2.1 + EDR A2DP stereo Bluetooth PROCESSOR Qualcomm QSD 8250 1 GHz OPERATING SYSTEM Android Mobile 2.1 CAPACITY 512 MB Flash 512 MB RAM 4 GB Micro SD Card (Expandable to 32 GB)

Para pembuat film bisa lega. Kini ada helikopter remote control yang dapat memotret dan mengambil gambar video. Kameranya ada di bagian depan motor dan komputer bisa mengatur arah kamera, sudut pengambilan gambar, serta tentu saja ketinggian heli dan kecepatannya. Bisa juga untuk mengintai tetangga, eh, musuh. Air Hogs Hawk Ey US$ 65. 

Guru Robot di Balik Ponsel Google “Ini cara ampuh untuk mengusir mantan pacar.”

FOTO : FORTUNETECHLAND

nda boleh menyebutnya Raja Midas modern. Perangkat apa pun yang disentuh Steve Jobs tiba-tiba menjadi mesin uang. iPod, iPhone, dan iPad—dan entah “i” apa lagi—adalah buktinya. Zaman dan kanker pankreas yang membelitnya tampaknya belum bisa menghentikan pikiran brilian bos Apple Inc itu.

A

Tapi fantasi soal masa depan gadget bukan monopoli Jobs. Andy Rubins punya impian lain yang mungkin akan mengendalikan zaman. Namanya memang tak dikenal, tapi dialah salah satu otak proyek ponsel Google dan sistem operasi Android. Karena sistem Android dibagikan secara gratis kepada produsen ponsel, seperti Samsung,

Motorola, LG, Sony Ericsson, ponsel ini langsung meroket. Survei NPD menunjukkan, pada awal 2010 ini, penjualan ponsel Android di Amerika Serikat mengalahkan iPhone. Rubins adalah guru gadget. Salah satu hobinya adalah main helikopter mini dengan remote control. Saking “gila”-nya pada gadget, rumahnya

dipasangi pintu dengan pemindai retina mata. Jika ada tamu datang, pemindai retina itu akan mencocokkan dengan pusat data. Bila cocok, pintu akan terbuka dan selamat datang di rumah pencinta robot yang ada di bukit dekat Lembah Silikon. Yakinlah, “Ini cara ampuh untuk mengusir mantan pacar,” kata Rubin bercanda. 

Layar Sentuh di Meja Sihir tak cuma milik Steve Jobs. Sihir tak hanya hadir di iPad dan iPhone. Teknologi layar sentuh yang begitu menyihir dunia ternyata juga dihadirkan oleh Light Blue Optic. Peranti segenggaman tangan itu bisa memproyeksikan apa yang ada di layar komputer ke meja, seperti foto, video, atau halaman web. Gambar yang ada di meja itu bisa diklik, digeser persis seperti di iPad. Karena produk baru, alat ini belum dijual di pasar. Produk tersebut ada di lightblueoptics.com. 

20 travelounge

OntimE

June, 2010

GANTUNG SESUKAMU Taruh kamera sesukamu. Itulah yang ingin ditawarkan tasbih ajaib ini. Ini adalah tripod mini yang memungkinkan kamera saku ditaruh untuk pengambilan gambar yang tak biasa. Bentuknya seperti kaki-kaki robot yang fleksibel. Namanya Gorrillapod Magnetic. Karena perkakas ini terbuat dari magnet neodymium yang kuat, Anda bisa menempelkan tripod ini miring atau sesuka Anda. Joby Gorillapod Magnetic US$ 25; tersedia di joby.com 


Style

Prancis memiliki sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia menurut WHO pada tahun 1997.Namun setelah tahun 2000, WHO memutuskan tidak untuk membuat daftar peringkat sistem kesehatan di dunia karena masalah kesehatan menjadi semakin kompleks. Di Prancis tingkat harapan hidup rata-rata mencapai 79.7 tahun.

Mercedes-Benz adalah sebuah merek mobil dari Perusahaan DaimlerChrysler (dulunya dikenal sebagai Daimler-Benz), yang dikenal umum dengan nama Mercedes. Mercedes-Benz adalah perusahaan mobil tertua di dunia. Mobil mereka terkenal memilik kualitas tinggi.

AP PHOTO/PHILIPPE WOJAZER, POOL

Terjebak ala

Tom Hank Siapa pun pasti tak mau terjebak di bandara seperti Tom Hank di film Terminal: harus berjam-jam menunggu penerbangan berikutnya. Mau menginap di hotel sayang, menunggu di bandara badan remuk. Tapi jangan khawatir, “duri” perjalanan seperti itu akan segera hilang. Duo desainer Rusia Alexey Goryainov dan Mikhil Krymov telah mengembangkan Sleepbox. Ini sekotak ruang berukuran 2 x 1,4 x 2,3 meter. Bentuknya mirip photo-box. Ruangan mini dilengkapi furnitur mewah, seperti TV, LCD, koneksi Internet, kasur, meja-kursi untuk kerja. Anda bisa menyewanya per 15 menit, dan Anda tak pernah akan pernah merasakan sengsaranya Tom Hanks. Tersedia di arch-group.org.  HOTEL DI ATAS RODA

Gairah Carla Bruni afsu besar, waktu kurang. Itulah yang dialami Ibu Negara Prancis Carla Bruni. Ia mengeluh soal suaminya, Presiden Nicolas Sarkozy, 54 tahun. Kata Bruni, ia jarang dibelai Sarko, yang punya panggilan sayang “Hot Bunny”. Rupanya, Sang Kelinci itu kelewat sibuk melayani kepentingan negara ketimbang melayani nafsu istrinya. “Urusan negara bikin kami

N

22 travelounge

OntimE

June, 2010

kesulitan bercinta,” kata model seksi kelahiran Turin, Italia, yang punya nama lengkap Carla Gilberta Bruni Tedeschi itu. Hal tersebut diungkapkan oleh Jonathan Alter, redaktur senior Newsweek, sekaligus penulis buku In the Promise: President Obama, Year One. Alter mendapat cerita itu dari Michelle Obama (istri Presiden Amerika Serikat Barack Obama). Rupanya, saat berkunjung ke Gedung Putih

beberapa waktu yang lalu, Nyonya Sarkozy bergosip dengan Nyonya Obama. Bruni mengaku, di masa awal-awal menikah dengan Sarkozy, ia kerap bercinta sampai-sampai pernah membuat seorang kepala negara menunggu. “Apakah kamu pernah seperti itu?” ujar Bruni, seperti dikisahkan Alter dalam bukunya, In the Promise. Michelle pun tertawa kebingungan. “Tidak,” kata Michelle tersenyum malu. 

Petualangan seru bisa dimulai dari sebuah hotel di atas roda. Itu kalau Anda ingin pelesiran dengan cara yang berbeda. Tak pakai pesawat, tak pakai hotel. Pilihannya ada pada Rotel (rolling hotel) atau hotel di atas roda mobil. Tawaran inilah yang disodorkan Rotel Tours, sebuah biro wisata asal Jerman yang telah berumur 50 tahun. Saat siang hari, Anda duduk di bagian depan mobil. Ketika malam hari, Anda bisa bercengkerama di kamar tidur di bagian belakang mobil. Kendaraan yang dipakai adalah Mercedes 0404 dengan 26 kursi dan dan 26 tempat tidur. Mobil wisata ini beroperasi di Afrika, Eropa, dan Asia. Tertarik? Coba lihat situs ini www.rotel.de. 


DESTINATION

NASKAH: Wahyuana, Ivansyah | FOTO: Toni Hartawan

Kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana milik Sunan Gunung Jati kini masih terawat baik.

24 travelounge

OntimE

June, 2010


La Ilaha Illallah... La Ilaha Ilallah... La Ilaha Illallah...

D

i bangsal Pesambangan kompleks makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, suara zikir Imam seperti mendengung, menggema karena terpantul oleh dinding-dinding kompleks pemakaman. Puluhan peziarah—serombongan dengannya—turut melantunkan doa-doa, mengikuti alur zikir lelaki setengah baya

itu. Sudah lebih dari satu jam mereka duduk bersila menghadap pintu Lawang Gedhe, membaca Tahlil, Yasin, dan Shalawat Nabi pada siang bakda duhur itu. Posisi ini berarti seporos lurus ke arah kuburan Sunan Gunung Jati di puncak gunung. Mereka percaya, ruh Sunan yang dimakamkan di sana dapat membantu mendekatkan diri dengan-Nya, memberinya berkah, dan melapangkan jalan hidup. Sementara itu, ratusan peziarah lain berde-

June, 2010 OntimE

travelounge

25


DESTINATION

Ia percaya, selama ritual doa berlangsung, air dalam botol itu akan mendapatkan limpahan energi spiritual yang, jikalau diminum, insya Allah, akan bisa membantu menyembuhkan sakit saudaranya

PARA JURU KUNCI. Mereka berjualan air karomah yang diambil dari sumur-sumur di area makam.

sak-desakan keluar-masuk kompleks makam, untuk antre mendapatkan tempat berziarah, menabur bunga, membaca Al-Quran, bersedekah, serta berbaur dengan sejumlah pengemis dan para juru kunci makam. Imam dan rombongannya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Dengan naik bus, mereka telah menjalani wisata ziarah Walisongo, yaitu wisata mengunjungi makammakam sembilan wali penyebar Islam di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16. Pada hari pertama dan kedua, mereka berziarah di makam-makam wali di seputar Surabaya dan Lamongan, Jawa Timur. Hari ketiga di Tuban, Kudus, dan Semarang, Jawa Te-

26 travelounge

OntimE

June, 2010

ngah. Dan di hari keempat di makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. “Sudah empat kali saya berkunjung ke sini,” ujar Imam. Ia mengaku berziarah ke makam Sunan Gunung Jati, selain untuk wisata dan beribadah, untuk mendapatkan ‘karomah’ obat mujarab bagi kesembuhan saudaranya. Sudah tiga tahun saudaranya sering demam dan sesak napas yang tak kunjung sembuh meski telah diobati dokter. Untuk mendapatkan karomah itu, Imam menaruh satu botol air mineral di depan pintu Lawang Gedhe tempatnya berdoa tadi. Ia percaya, selama ritual doa berlangsung, air dalam botol itu akan mendapatkan limpahan energi spiritual yang, jika-

lau diminum, insya Allah, akan bisa membantu menyembuhkan sakit saudaranya. Di Cirebon, rombongan Imam ini rencananya tinggal dua hari. Selain ke makam Sunan Gunung Jati, mereka mengunjungi berbagai situs peziarahan Islam di Cirebon. Sunan Gunung Jati (1478-1568) atau Syarif Hidayatullah diyakini sebagai wali paling berpengaruh dalam pengislaman Jawa wilayah bagian barat. Ia juga pendiri dan raja pertama Kasultanan Cirebon. Kompleks makam seluas 5 hektare yang telah berusia lebih dari enam abad itu terdiri atas sembilan tingkat pintu utama, yakni pintu Lawang Gapura di tingkatan pertama, pintu Lawang Krapyak, Lawang


DESTINATION

BANGSAL PESAMBANGAN. Seporos lurus dengan makam Sunan Gunung Jati di puncak kesembilan.

Pasujudan, Lawang Gedhe, Lawang Jinem, Lawang Rararoga, Lawang Kaca, Lawang Bacem, dan Lawang Teratai di puncak kesembilan. Wisatawan hanya diizinkan berkunjung sampai di bangsal Pesambangan, di depan pintu Lawang Gedhe, di tingkatan pintu keempat. Sedang pintu kelima sampai kesembilan terkunci rapat, hanya sesekali dibuka khusus bagi anggota keluarga Kerajaan Cirebon atau orang yang mendapat izin khusus dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Pintu kelima dan seterusnya juga biasa dibuka pada momen-momen tertentu, seperti pada malam Jumat Kliwon, Maulud Nabi, Gerebeg Idul Fitri, dan Gerebeg Idul Adha. Pada saat itu, dari pintu satu hingga pintu ketujuh dibuka untuk umum, tapi pengunjung tetap dilarang menerobos sampai ke bangsal Teratai, tempat kuburan Sunan Gunung Jati beserta istri-istrinya bersemayam. Pengunjung dilarang memotret, apalagi mengambil video. “Itu sudah peraturan. Harus ditaati,” ujar pak Ta-

wi, pemandu wisata, sekaligus juru kunci makam, kepada Travelounge. Selain warga muslim, tak sedikit warga keturunan Tionghoa yang melakukan ziarah ke makan Sunan Gunung Jati. Di makam itu mereka melakukan ritual doa, membakar hio, dan bersedekah uang kepada para pengemis di sekitar lokasi. “Salah satu istri Sunan Gunung Jati, bernama Ong Tien Nio, adalah putri Kaisar Yung Lo dari Cina. Jadi kehadiran warga keturunan Tionghoa kemari untuk menziarahi leluhur mereka juga,” kata Hasan, 70 tahun, bekel sepuh atau lurah juru kunci pemakaman Sunan Gunung Jati. Para peziarah pribumi berdoa di depan pintu Lawang Gedhe, sementara peziarah Cina berdoa dan membakar dupa di bilik depan pintu Lawang Merdhu. Di dalam kompleks makam ini juga terdapat Masjid Dog Jumeneng atau Masjid

ta mengunjungi situs-situs peninggalan Sunan Gunung Jati. Ini tak lepas dari sejarah Cirebon. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karya besarnya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), mengisahkan Cirebon muncul dalam arus utama sejarah Nusantara baru sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Cirebon masuk dalam arus utama sejarah Nusantara tak lepas dari peran dan kiprah Sunan Gunung Jati. Jejak wali penyebar Islam itulah yang kini menjadi tujuan ziarah ribuan wisatawan. Di antaranya empat bangunan keraton di Cirebon, yakni Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabon, yang semuanya keturunan Sunan Gunung Jati. Sepeninggal Sunan, 1568, Kesunanan Cirebon pecah menjadi tiga pemangku adat, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan, yang masing-masing membawahi

STASIUN KEJAKSAN. Stasiun tertuadi Cirebon dan menjadi salah satu tujuan wisata bangunan kolonial.

Agung Sunan Gunung Jati, yang berkapasitas 3.000 orang. Masjid ini dulu dibangun oleh orang-orang India Tamil setelah mereka takluk dalam usaha penyerangan yang gagal terhadap Sunan Gunung Jati. Terdapat pula Paseban Besar, tempat menerima tamu; Paseban Soko, tempat musyawarah; dan Gedung Jimat, tempat penyimpanan guci-guci kuno dari era Dinasti Ming, Cina, dan keramik-keramik Belanda. Setiap malam, kompleks makam ramai didatangi peziarah. Malam, dalam kosmologi Jawa, dipercaya sebagai waktu terbaik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Wisata ke Cirebon identik dengan wisa-

wilayah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Perguron Keprabon. Belakangan, Keraton Kanoman pecah, memunculkan keraton baru, yakni Kacirebonan. KERATON KASEPUHAN DAN KANOMAN Bangunan ini dirancang dengan corak eklektik, arsitektur perpaduan Sunda, Jawa, Islam, Cina, dan Belanda. Keraton Kasepuhan merupakan istana tertua di Cirebon. Didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mohammad Arifin II, cicit Sunan Gunung Jati. Dalam keraton terdapat banyak bangsal, June, 2010 OntimE

travelounge

27


DESTINATION yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Diantaranya bangsal Prabayaksa, dindingnya dibangun dari keramik Dinasti Ming 1424, Cina, dan keramik Delf Blue, Belanda, 1745. “Hadirnya keramik-keramik Cina dan Belanda menunjukkan semangat multikulturalisme dari Keraton Cirebon sejak awal dibangun. Ini kerajaan Islam yang menghormati dan mengakui agama dan kebudayaan lain,” ujar Muhammad Maskun, lurah Keraton Kasepuhan, kepada Travelounge.

Sedangkan Keraton Kanoman didirikan pada 1588 oleh Sultan Kanoman I atau Sultan Badridin. Museum keraton ini menyimpan banyak peninggalan Sunan Gunung Jati, di antaranya kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana, yang dulu dipakai langsung oleh Sunan Gunung Jati, dan masih terawat baik hingga kini. Aktivitas wisata di kedua keraton ini tak lepas dari wisata ziarah. Banyak pengunjung bersemadi dan membakar kemenyan di bawah kereta Singa Barong dan Tandu

kukan prosesi jamasan atau penyucian benda-benda pusaka kerajaan, dan aneka sesaji digelar di bangsal Agung Panembahan. Ribuan peziarah datang, membaca Al-Quran, berdoa, dan pada puncak perayaan berebut nasi tumpeng Gerebeg Maulud di alun-alun keraton. Perayaan yang sama juga digelar pada kesempatan Gerebeg Syawal di hari raya Idul Fitri dan Gerebeg Idul Adha. Prosesi yang juga dilaksanakan di Keraton Kanoman. MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA Tak jauh dari Keraton Kasepuhan, di Alun-alun Cirebon, terdapat masjid keramat dan salah satu masjid tertua di Jawa yang dibangun 1489 oleh Walisongo. Masjid ini merupakan pasangan dari masjid keramat lain dalam sejarah Islam di Jawa, yakni Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Ketika masjid Demak dibangun Walisongo, Sunan Gunung Jati meminta izin membangun masjid kembarannya di Cirebon. Tidak seperti masjid-masjid yang didirikan Walisongo pada umumnya, yang mempunyai bentuk atap tajug (berbentuk

ATAS. Petilasan Plangon, tempat peziarahan dan mencari pesugian, ramai pada Jumat Kliwon. BAWAH. Gua Sunyaragi, bekas tamansari keraton Cirebon.

Museum Keraton Kasepuhan menyimpan aneka koleksi bernilai tinggi, seperti wayang golek, topeng, keris, meriam, mebel, dan berbagai macam senjata api, samurai, serta perlengkapan perang hasil pampasan dari armada perang Portugis pada abad ke-15. Di museum juga tersimpan Kereta Singa Barong, yang telah berusia 500 tahun, serta Tandu Garuda Mina, yang dianggap suci dan keramat.

28 travelounge

OntimE

June, 2010

Garuda Mina di Keraton Kasepuhan atau tirakatan di bawah kereta Paksi Naga Liman dan Jempana di Keraton Kanoman. “Kadang ada yang bertapa sampai beberapa hari,” ujar Maskun. Mauludan, atau peringatan hari lahir Nabi Muhammad pada tanggal 12 bulan Maulud dalam kalender Jawa, merupakan puncak peziarahan di kedua kompleks keraton ini. Pada perayaan Mauludan, dila-

piramid) bersusun dengan jumlah ganjil, Masjid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan di atasnya tidak dipasangi mahkota masjid. “Seperti juga dalam cerita pendirian masjid Demak, masjid ini juga dipercayai dibuat dalam waktu semalam oleh para wali. Untuk menandai peresmian kedua masjid, pada waktu magrib para wali salat berjemaah di Masjid Agung Cirebon, dan pada subuhnya mereka salat berjemaah di Masjid Agung Demak,” ujar Abidin, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon. Masjid ini selalu ramai dikunjungi ribuan peziarah setiap hari, terutama pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Biasanya orang datang untuk berzikir dan tirakat malam di sini. Para peziarah percaya akan mendapatkan berkah dan kemudahan dalam hidup jika melaksanakan ibadah dan tirakatan di masjid wali ini. PETILASAN SUNAN KALIJAGA Cerita tentang Walisongo tak lepas dari salah satu walinya yang paling berpengaruh, yaitu Sunan Kalijaga, yang juga


DESTINATION

KERATON KASUPUHAN CIREBON. Bangunan ini masih seperti 600 tahun lampau. Bangsal tempat raja menerima pisowanan para tamu dan punggawa kerajaan.

mempunyai jejak di Cirebon. Petilasan Sunan Kalijaga terletak di barat Sungai Sipadu di Jalan Pramuka, Desa Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Dikenal juga sebagai Taman Kera, karena ada ratusan kera yang hidup di situs ziarah sekaligus taman konservasi ini. Sebagai situs peziarahan, setiap hari puluhan orang datang untuk ziarah dan berdoa. Bulan Ramadan merupakan masa paling ramai di petilasan ini. Ribuan orang datang untuk berdoa atau sekadar berwisata. Petilasan ini dipercaya juga sebagai tempat mencari ‘pesugihan’ di Cirebon. MAKAM SYEKH SITI JENAR Sosok kontroversial dalam sejarah Walisongo adalah Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang. Makamnya dipercayai berada di Desa Kemlaten, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tak jauh dari situs petilasan Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu musuh besarnya. Makam itu sederhana, hanya berupa satu cungkup kuburan 180 x 90 sentimeter yang dipayungi kelambu putih. Situs ini salah satu situs peziarahan penting di Cirebon yang tak pernah sepi dikunjungi wisatawan peziarah. Mereka biasanya zia-

Museum keraton ini menyimpan banyak peninggalan Sunan Gunung Jati, di antaranya kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana, yang dulu dipakai langsung oleh Sunan Gunung Jati, dan masih terawat baik hingga kini. rah menabur bunga, berdoa, membaca Al-Quran atau sholawat Nabi di lokasi makam keramat ini, terutama pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Selain situs-situs wisata ziarah berbasis jejak Sunan Gunung Jati seperti ditulis di atas, di Cirebon masih banyak situs ziarah lain. Di antaranya Masjid Merah Panjunan, Masjid Pejlagrahan, Masjid Jagabayan, Situs Kejawan, Situs Ketandan, Situs Makam Syekh Maghribi, dan Petilasan Pengeran Drajat, Gua Sunyaragi, dan taman wisata Plangon. Selain itu, masih ada situs-situs peziarahan Cina, seperti makam Sam Cay Kong, Klenteng Dewi Welas Asih, dan Klenteng Winaon. KLENTENG DEWI WELAS ASIH Cirebon sejak awal merupakan kota

multikultur. Posisinya yang berada di pinggir Pantai Utara Jawa memungkinkan menjadi oasis akulturasi banyak kebudayaan, agama, dan ras. Salah satunya Cina. Di Cirebon terdapat Klenteng Dewi Welas Asih atau Klenteng Tiau Kak Sie, yang merupakan klenteng tertua dan tempat peziarahan masyarakat keturunan Cina. Dibangun pada 1595, klenteng ini berada di Jalan Kantor Nomor 2, Desa Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Tak jauh dari wilayah Keraton Kasepuhan. Di serambi klenteng terdapat sebuah jangkar sepanjang 2 meter, yang dipercaya sebagai jangkar bekas peninggalan armada Laksamana Cheng Ho, yang pernah berkunjung ke Cirebon sekitar tahun 1430-1433. Klenteng Dewi Welas Asih tak pernah sepi sebagai pusat peribadatan dan peziarahan orang Cina di Cirebon. ď Ž June, 2010 OntimE

travelounge

29


M O V I E

ENTERTAINMENT

The Ghost Writer

Sutradara: Roman Polanski Aktor: Ewan McGregor, Pierce Brosnan, Kim Cattrall, Olivia Williams Produksi: Summit Entertainment (2010) Genre: Drama

T

ak semua penulis buku beruntung karya dan namanya terkenal. Beberapa penulis buku kadang harus puas sebagai penulis yang namanya tidak pernah muncul sebagai byline. Merekalah yang disebut ghost writer, yakni penulis yang membuat karya untuk memenuhi pesanan penulis lain, dan namanya tidak muncul di penerbitan. Film ini berkisah tentang profesi itu. Film karya sutradara peraih Oscar, Roman Polanski (The Pianist), bercerita tentang The Ghost (Ewan McGregor), yang mendapatkan pekerjaan untuk menyelesaikan sebuah naskah biografi mantan Perdana Menteri Inggris Adam Lang (Pierce Brosnan), setelah penulis sebelumnya

MOVIEWEB/FRANCOIS DUHAMEL

Iron Man 2 Sutradara: Jon Favreau Aktor: Robert Downey Jr, Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Scarlett Johansson Produksi: Paramount Pictures (2010) Genre: Laga/Petualangan

Academy Awards (atau lebih dikenal dengan sebutan Oscar) yang pertama diselenggarakan terjadi pada tanggal 16 Mei 1929, di Hollywood Roosevelt Hotel. Tiket masuknya hanya $ 5 dan hanya 270 orang yang meng-

hadiri acara tersebut. Upacara tersebut hanya berlangsung selama 15 menit. Film yang meraih penghargaan Outstanding Picture, Production (sekarang disebut Best Picture) adalah film Wings yang mengisahkan tentang pilot pesawat tempur Perang Dunia I. Film bisu ini disutradarai oleh William A. Wellman dan dirilis oleh Paramount Pictures.

30 travelounge

OntimE

ditemukan meninggal dengan dugaan motif bunuh diri. Untuk itu, The Ghost harus menemui Adam Lang di pulau pribadinya, yang didiami dengan istrinya, Ruth, dan asisten pribadinya, Amelia. Dalam waktu bersamaan, seorang bekas menteri kabinet Lang membuat tuduhan bahwa Lang telah melakukan kejahatan perang, dengan menyerahkan seorang tahanan teroris kepada CIA untuk disiksa dan diinterogasi. Penampilan apik Pierce Brosnan dan sentuhan tangan sutradara Roman Polanski seakan telah menjadi taruhan untuk memastikan bahwa film ini layak ditonton.  Wahyuana

Anton Chekhov’s

The Duel

Sutradara: Dover Koshashvili Aktor: Andrew Scott, Tobias Menzies, Fiona Glascott, Nial Buggy, Michele Fairley Produksi: Duel Production (2010) Genre: Drama

SATU LAGI karya sastra besar Rusia difilmkan di Hollywood. Kali ini novel panjang Anton Chekhov, The Duel, 1891, yang diadaptasi menjadi naskah film oleh Mary Bing. Mengambil latar belakang kisah di sebuah kota kecil di kawasan Kaukasus yang memiliki kebudayaan

June, 2010

MERUPAKAN KELANJUTAN dari Iron Man 1. Setelah menang dalam pertempuran dengan Iron Monger di episode 1, identitas Iron Man, yang disembunyikan Tony Stark (Robert Downey Jr), mulai terkuak oleh pers, masyarakat, maupun pihak militer, dalam sekuel ini. Pihak militer menginginkan teknologi baju zirah yang digunakan Stark untuk terbang digunakan untuk kepentingannya. Tony Stark, yang sudah bertobat tidak lagi berbisnis di bidang senjata, menolak keinginan militer ini. Pers dan publik yang telah mengetahui bahwa misteri Iron Man adalah Stark mulai mengejar-ngejarnya pula, untuk mengetahui rahasia di balik teknologi andalan Stark ini. Tony Stark selalu waspada terhadap orangorang di sekitarnya yang penuh kepentingan. Ia hanya percaya pada dua orang paling dekatnya, yakni Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) dan James Rhodes (Don Cheadle.  W

campuran antara Asia dan Eropa. Film ini berkisah seputar hubungan antara seorang aristokrat angkuh, pemalas, tukang ngibul, suka minum, bernama Laevsky (Andrew Scott) dan seorang ilmuwan zoologist sombong bernama Von Karen (Tobias Menzies), yang amat

bangga sebagai asisten Charles Darwin serta Herbert Spencer—dua ilmuwan paling berpengaruh saat itu. Bagi penggemar karya-karya sastra Rusia, film ini menarik karena mereka ingin melihat novel yang berisi tentang konflik nilai itu dikemas dalam sebuah film. 


DESTINATION TEXT: Wahyuana, Ivansyah | PHOTO: Toni Hartawan

32 travelounge

OntimE

June, 2010


La ilaha il Allah ... La ilaha il Allah ... La ilaha il Allah ...

I

n the Pesambangan ward of Sunan Gunung Jati’s burial complex, Astana Village, Cirebon, West Java, the voice of prayers of a Muslim priest echoed because reflected by the walls of the burial complex. Dozens of pilgrims - a group with him, also recited the prayers, following the middle-aged man’s recitation. It has been more than an hour they sat cross-legged facing the Lawang Gedhe door, reading prayers from the Holly Quran, Yasin, and Prayers of the Prophet (Shalawat Nabi) that afternoon. This position aligns straight towards the tomb of Sunan Gunung Jati at the top of the mountain. They believe, the spirit of the Sunan that is buried there, can help them draw closer to God, achieve blessing, and ease the way of life. Meanwhile, hundreds of other

June, 2010 OntimE

travelounge

33


DESTINATION pilgrims, goes in and out of the burial complex, to stand in line to get a place of pilgrimage, bestrew flower, reading the Quran, give charity, mingle with a number of beggars and grave keepers. This Muslim priest and his entourage came from Kediri, East Java. Riding the bus, they have undergone Walisongo pilgrimage tour, a tour to visit the tombs of the nine guardian spreaders of Islam in Java in the 15th and 16th centuries. The first and second day, they were on a pilgrimage at the tombs of the guardians around Surabaya and Lamongan, East Java. The third day in Tuban, Kudus, and Semarang, Central Java. And on the fourth day, at the tomb of Sunan Gunung

SUNAN GUNUNG JATI (1478-1568), OR SHARIF HIDAYATULLAH, BELIEVED TO BE THE MOST INFLUENTIAL GUARDIAN IN THE

ISLAMIZATION OF JAVA IN THE WESTERN REGION. HE IS ALSO FOUNDER AND FIRST KING OF THE

CIREBON SULTANATE. Jati, Cirebon, West Java. “I have visited this place four times,” said the Priest. He admitted a pilgrimage to the tomb of Sunan Gunung Jati and in addition to the worship and tourism, he also intended to get a miracle for the healing of his brother. It has been three years that his brother often have fever and shortness of breath that never recovered even already having doctor treatments. To obtain the miracle, the priest put a bottle of mineral water at the front of Lawang Gedhe door where he prayed earlier. He believes, during the progress of a prayer ritual, the water in the bottle will get an overflow of spiritual energy which if being drank, ‘Inshallah,’ will be able to help cure his sick siblings. In Cirebon, the group was planning to stay for days. In addition to the tomb of Sunan

34 travelounge

OntimE

June, 2010

Gunung Jati, they also visit various Islam pilgrimage sites in Cirebon. Sunan Gunung Jati (1478-1568), or Sharif Hidayatullah, believed to be the most influential guardian in the Islamization of Java in the western region. He is also founder and first king of the Cirebon Sultanate. His burial complex covering a five hectares area, which has existed for more than six centuries, consists of nine levels of the main door, that are Lawang Gapura at the first level, Lawang Krapyak, Lawang Pasujudan, Lawang Gedhe, Lawang Jinem, Lawang Rararoga, Lawang Kaca, Lawang Bacem , and Lawang Teratai at the ninth level. Tourists are only allowed to visit the until the Pesambangan ward, in front of Lawang Gedhe Lawang, on the fourth lev-

el. The doors in the fifth until the ninth level are locked, only occasionally opened specifically for members of the Cirebon royal family, or people who received special permission from the Keraton Kasepuhan Cirebon. The doors in the fifth upto ninth level are also opened in certain moments, such as on Thursday nights, Celebration of the Birthday of Prophet Muhammad, Idul Fitri, and Idul Adha. On these occasions, the doors from the fist to the seventh level are opened for public, but visitors are still forbidden to go into the Teratai ward, a place where the grave of Sunan Gunung Jati and his wives resides. In this burial complex, visitors are prohibited from taking pictures, also record a video. “That is the rules. Must be obeyed,


DESTINATION about a tour to Cirebon is precisely by making pilgrimages to the sites heritage of Sunan Gunung Jati? Not only his burial complex in Mount Sembung, but also many of sites with his legacy scattered in Cirebon. This is infact inseparable from the history of Cirebon. Writer Pramoedya Ananta Toer in one of his greatest work, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), tells that Cirebon appears in the mainstream history of the archipelago only since when Islam was brought in by the native traders. Traces of the guardian spreaders of Islam has now become a pilgrimage destination of thousands of tourists. Among them are the four palaces in Cirebon namely Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, and Keprabon, which are all descendants of Sunan Gunung Jati. After the death of Sunan, in the year 1677, Kesunanan Cirebon separated under three cultural leaders namely Sultan Sepuh, Sultan Anom and Panembahan, each of which oversees a particular area, namely Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, and Perguron Keprabon. Later, Keraton Kanoman ruptured which led to a new palace that is Kacirebonan. KERATON KASEPUHAN AND KANOMAN The building is designed with an eclectic style, mixed architecture; blend between Sundanese, Javanese, Islam, Chinese and Dutch. Keraton Kasepuhan is the oldest palace in Cirebon.Founded in

“said Mr Tawi, tour guide, as well as grave keeper, to Travelounge. Apart from the Muslims, a lot of Chinese citizen can be found undergoing pilgrimage to the grave of Sunan Gunung Jati. In the burial site they perform the praying rituals, burning incense, and give charity to the beggars in the location. “One of the wife of Sunan Gunung Jati, named Ong Tien Nio, was the daughter of Emperor Yung Lo from China. Therefore the presence of Chinese residents here are also to pay a religious visit to their ancestor “said Hasan (70), head of the grave keepers of the Sunan Gunung Jati burial complex. Native pilgrims pray at the Lawang Gedhe door, while the Chinese pilgrims pray and burn incense in front of the Lawang

Merdhu door. Inside the burial complex we can found the Dog Jumeneng Mosque, or Great Mosque of Sunan Gunung Jati which has a capacity of 3000 people. This mosque was built by Tamil Indian people, after they were subdued due to the failed attempt to attact Sunan Gunung Jati. There is also Paseban Besar, a place to receive guests; Paseban Soko, a place of deliberations; and Gedung Jimat, a place to store ancient ewers from the Ming Dynasty era, and European-style ceramic mainly from the Netherlands. Every night, this burial complex is still crowded by pilgrims. Tonight, in the Javanese cosmology is believed as the best time to communicate with God. Is it really that what is interesting

1529 by Prince Mas Mohammad Arifin II, great-grandson of Sunan Gunung Jati. In this palace there are many wards, each of which has its own function. Among them are Prabayaksa ward, the walls were built of ceramics from the Ming dynasty of China in 1424, and Delf Blue ceramic from Delft, Netherlands, 1745. The Delft Blue relief tells the story of the fight of descendants of Adam Habil and Qobil, and the romance story between Harun and Siti Zulaikah. “The presence of Chinese and the Dutch ceramics shows a spirit of multiculturalism June, 2010 OntimE

travelounge

35


DESTINATION from the palace of Cirebon since the beginning of construction. This is an Islamic empire that respects and recognizes other religions and cultures, “said Muhammad Maskun, official of Keraton Kasepuhan to Travelounge. The museum in Keraton Kasepuhan stores various high valued collections such as traditional puppets, masks, kris, weapons, furniture, various kinds of guns, samurai, and supplies the result of reparations from the Portuguese war fleet in the 15th century. In the museum is also stored the Singa Barong Carriage

the Javanese calendar, is the culmination of pilgrimage tourism in both of these palace complexes. In the celebration of Mauludan, a procession called Jamasan is conducted, this is a procession of purification of the royal heritage objects, and various kinds of offerings are put in the Panembahan Agung ward. Thousands of pilgrims come, read the Qur’an, praying, and at the climax of the celebration they will compete over the Grebeg Maulud Rice Cone at the palace square. A similar celebration is held on the occasion of the celebration of Idul Fitri and Idul Ad-

THOUSANDS OF PILGRIMS COME, READ THE QUR'AN, PRAYING, AND AT THE CLIMAX OF THE CELEBRATION THEY WILL COMPETE OVER THE GREBEG MAULUD RICE CONE AT THE PALACE SQUARE.

which is 500 years old, and Garuda Mina Stretcher which is considered holy and sacred. Meanwhile, Keraton Kanoman was founded in 1588 by Sultan Kanoman I or Sultan Badridin. This palace museum holds many relics of the palace of Sunan Gunung Jati, among them are Paksi Naga Liman carriage and Paksi Jempana which was used by Sunan Gunung Jati, and is well maintained until now. Tourist activity in both of these palace is inseparable from the pilgrimage tourism. Many visitors meditate and burn incense under the Singa Barong carriage and Garuda Mina Stretcher in Kasepuhan Palace, or under the Paksi Naga Liman carriage and Jempana Kanoman Palace.”Sometimes people meditate even for several days,” said Maskun. Mauludan, or commemoration of the Prophet Muhammad’s birthday on the 12th day in the month of Maulud from

36 travelounge

OntimE

June, 2010

ha. Similar processions are held in the Kanoman Palace. SANG CIPTA RASA GREAT MOSQUE Not far from the Kasepuhan Palace, in the Cirebon Square, there is a sacred mosque, and one of the oldest mosques in Java, which was built in 1489 by Walisongo. This mosque is the twin mosque of another sacred mosque in the history of Islam in Java, namely the Great Mosque of Demak, in Demak, Central Java. When

the mosque was built in Demak by Walisongo, Sunan Gunung Jati requested permission to build a similar mosques in Cirebon. Unlike the other mosques built by Walisongo in general that have pyramid shaped roof compound at an odd number, Sang Cipta Rasa Great Mosque has a pyramid roof but there is no mosque crown placed on top of the pyramid roof. “As well as in the story of the building of the Demak mosque, the mosque was also believed to be made overnight by the guardians. To mark the inauguration of the two mosques, on the evening the guardians prayed at the Great Mosque of Cirebon and in the morning they prayed ant the Great Mosque of Demak,” said Abidin, head of the Department of Tourism and Culture of Cirebon City. Sang Cipta Rasa Great Mosque is one of the mainimportant sites of the Sunan Gunung Jati pilgrimage tourism series. The mosque is always crowded by thousands of pilgrims every day, especially on Thursday nights or Tuesday nights. Usually people come to perform night prayer here. The pilgrims believe that they will get blessings and conveniences in life if they conduct worship and prayer in this mosque. PETILASAN SUNAN KALIJAGA The story of the Walisongo is inseparable from one of the main guardian that is considered to be most influential, namely Sunan Kalijaga, who also has a trace in Cirebon. Petilasan Sunan Kalijaga is located at the west side of the Sipadu River, in Jalan Pramuka, Kalijaga Village, Harjamukti District, City of Cirebon.Also known as Monkey Garden, because there are hundreds of monkeys that live in this pilgrimage site which also is a conservation park. As a pilgrimage site, every day dozens of people come for pilgrimage and prayer. Ramadhan is the busiest period in these ruins. Thousands of people come to pray, or just for a visit. It is believed that this place is a place to look for mammon in Cirebon.


DESTINATION

GRAVE OF SYEH SITI JENAR The controversial figure of in the history of Walisongo is Syeh Siti Jenar or Syekh Lemah Abang. His tomb is believed to be located in Kemlaten Village, Harjamukti District, Cirebon. Not far from Sunan Kalijaga ruins site, who is one of his enemy. The grave is simple, just a single cone of grave with the size of 180 x 90 centi-

meters with white mosquito netting umbrella. This site is an important pilgrimage site in Cirebon that is always crowded by tourist pilgrims. They usually undergo pilgrimage, bestew flowers, pray, read the Qur’an or the Shalawat of the Prophet in this sacred location, especially on Thursday or Tuesday nights. In addition to the pilgrimage tourism sites based on the trails of Sunan Gunung Jati as written above, in Cirebon, there are still many other pilgrimage sites. Among others are Merah Panjunan

Mosque, Pejlagrahan Mosque, Jagabayan Mosque, Kejawan Site, Ketandan Site, Burial Site of Syekh Maghribi, and Petilasan Pengeran Drajat, Gua Sunyaragi, and Plangon Garden. In addition there are Chinese pilgrimage sites like the Tomb of Sam Cay Kong, the Dewi Welas Asih Temple and Winaon Temple. DEWI WELAS ASIH TEMPLE Cirebon since the beginning is a multicultural city. Located at the edge of the northern coast of Java, enables Cirebon to become the oasis of acculturation of many cultures, religions and races. One of them is the Chinese culture.In Cirebon, there is the temple of Dewi Welas Asih or Tiau Kak Sie temple which the oldest temple and is a place of pilgrimage of the Chinese community. Built in 1595, this temple is located at Jalan Kantor No. 2, Panjunan Village, Lemahwungkuk District, Cirebon. It is located not far from

the Kasepuhan Palace. In the foyer of the temple lies an anchor two meters long that is believed to be an anchor relicts from the fleet of Admiral Cheng He who visited Cirebon around the year 1430-1433. The Dewi Welas Asih temple is always crowded as a worship and pilgrimage site of the Chinese people in Cirebon.

WEEKLY PEAK SEASON: THURSDAY NIGHT

T

he Tourism Department in Cirebon recorded an average of 900013000 people, daily visit various tourist attractions in Cirebon. Thursday night is the peak of every week.Thursday night is believed to be a day full of blessing in the Javanese spiritual cosmology. On that day, there are additional 21000-24000 tourists who come to visit the various tourist sites. Especially the burial complex of Sunan Gunung Jati, Kasepuhan and Kanoman Palace, Sang Cipta Rasa Great Mosque, Petilasan Sunan Kalijaga, Merah Panjunan Mosque, Plangon, Kejawan Site, Tomb of Sheikh Siti Jenar, and the burial site of Sheikh Maghribi. ď Ž

June, 2010 OntimE

travelounge

37


Agar Liburan Ekstra Nyaman wisatanya ada tempat hiking, jogging, rafting, bungy jumping atau tempat bersepeda yang asyik. Repot kan, jika baru sekali coba, Anda sudah memble.

WWW.BLACKCELEBKIDS.COM

Soal baju juga jangan dianggap enteng. Jangan sampai Anda bawa mantel bulu ke tempat yang cuacanya panas. Bawa baju yang fleksibel, tidak gampang kusut dan ringan dibawa.

Menjelajah tempat serta atraksi menarik adalah salah satu syarat agar liburan nikmat. Karena itu persiapannya harus matang.

ernah terdiam kaku saat menghadapi penjual cinderamata di negara tempat berlibur? Kakunya bukan gara-gara terserang stroke, tapi karena komunikasi macet, tak mengerti bahasa para penjualnya.

P

Pasti dongkol, ya?! Jika bahasa dan budaya setempat tak dipahami, seindah apapun tempat wisatanya, pastilah tetap tak nyaman. Agar urusan ‘jiwa’ ini tak terganggu, ada beberap trik yang sebaiknya Anda cermati. Pertama, sebelum pergi ke daerah tujuan, pelajari bahasanya. Ini penting, tak hanya untuk urusan tawar menawar cinderamata, tapi juga saat tersesat di negara orang. Sudah buta arah, bingung juga cara bicaranya, konyol, kan? Kedua, pelajari cita rasa makanannya. Caranya? Sebelum pergi, cobalah singgah dulu ke restoran yang menyediakan makanan khas daerah tujuan. Paling tidak, Anda bisa mempunya bayangan makanan apa yang akan dipilih bila sampai kelak. Jangan sampai urusan makanan menjadi trouble maker saat berlibur. Selanjutnya adalah urusan stamina. Sebaiknya jaga stamina menjelang dan saat liburan. Apalagi kalau di daerah tujuan

Kelima, masih menyangkut perlengkapan, terutama jika Anda berpergian dengan si kecil. Jangan lupa membawa diapers. Pilihlah diapers yang fleksibel dan nyaman dipakai si buah hati. Misalnya Sweety yang memiliki tiga varian. Yaitu Sweety diapers, Sweety Clothlike, dan Sweety fitpantz. Sweety diaper reguler atau Sweety fit pantz cocok digunakan jika bepergian pagi-siang hari di dalam kota. Jika perjalanan jarak jauh dan malam hari, sebaiknya bawa Sweety Clothlike Diaper atau Sweety Fit Pantz. Kelebihan lain, Sweety juga tersedia dalam berbagai kemasan. Dari kemasan satuan, reguler hingga kemasan jumbo pack berisi 10, 20 atau 40 buah. “Dengan berbagai varian dan kemasan ini, membuat Sweety menjadi sangat fleksibel disesuaikan dengan waktu serta jarak bepergian,” ujar Risa Trisanti, Senior Brand Manager Sweety. Produk ini juga terbuat dari bahan non woven yang sangat lembut dan memiliki pori-pori untuk sirkulasi udara sehingga nyaman dipakai. Tapi, Anda tetap dianjurkan untuk tetap jeli mengoleskan minyak atau lotion agar kulit sang buah hati tidak lecet. “Maklum lah kulit bayi memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda,” kata Risa. Untuk lebih amannya lagi, jangan lupa, menyimpan diapers di tempat teduh, yang tidak terkena langsung sinar matahari. Nah, lengkap sudah persiapan untuk jalanjalan ke luar kota. Anda nyaman, si kecil pun aman. Selamat berlibur! (Sdj)


WORLDCITY

NASKAH: Andree Priyantio

40 travelounge

OntimE

June, 2010


June, 2010 OntimE

travelounge

41


WORLDCITY

ISTOCK.COM

ISTOCK.COM

Garden City Christchurch dikenal sebagai Garden City, sebuah nama yang memang layak. Jika dilihat dari atas, kita akan terpukau dengan jumlah pohon yang tumbuh seperti hutan di seluruh pinggiran kota, dengan sebuah sungai yang memotong pusat kota.

Tiba-tiba saja Badai Antartika berkecepatan 40 kilometer per jam menghantam kami selama 30 menit. Dahsyat!

42 travelounge

OntimE

June, 2010

S

aya beruntung, selama tinggal di Selandia Baru, saya sempat menelusuri jejak Tasman dengan berkunjung ke South Island itu. Dari tempat tinggal saya selama di negeri Burung Kiwi ini, di Wellington, pulau selatan ini sesungguhnya tak terlalu jauh. Semula saya berencana melakukan perjalanan dengan kapal laut. Namun saya berubah pikiran. “Lebih cepat lebih baik,” pikir saya. Perjalanan pun akhirnya saya lsayakan dengan pesawat, pada Ahad pagi. Brr ... meski sudah memakai baju monyet -istilah yang saya pakai untuk menyebut pakaian dalam antidingin- plus sweater dan jaket, toh angin tak henti-hentinya menusuk hingga ke tulang sumsum. Bahkan sejak di dalam bus menuju Bandara Wellington. Meski bus dilengkapi pemanas ruangan, hawa dingin tetap terasa. Maklumlah Juni merupakan bulan menuju musim dingin.

Wellington memang jauh dari Kutub Selatan, tapi letaknya di tepi laut di pojok selatan North Island -Selandia Baru terdiri dari Pulau Utara dan Selatan- membuat angin berembus kencang. “Ini belum apa-apa,” ujar seorang teman yang ikut terbang. “Belum ketemu salju aja udah menggigil, gimana kalau ketemu.” Saya cuma tersenyum kecut sambil menggigil kedinginan. Dari Wellington Airport, yang mungil dibanding Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan terasa sunyi, saya memilih terbang dengan Air New Zealand. Pesawat terbang rendah dan saya pun lagi-lagi bergumam melihat sekelumit pemandangan nan indah dan bersih. Mulai dari laut yang biru, gunung, hingga pandang rumput yang terhampar luas bak permadani dengan segerombolan domba atau biri-biri. Di negeri ini jumlah domba jauh


WORLDCITY

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

Mengelilingi Kota Menyewa mobil dianjurkan untuk kemudahan transportasi jika Anda mengunjungi Chrischurch pada akhir pekan. Walaupun jalur bis umum sudah memadai, tetapi pada akhir pekan di beberapa titik, bus umum menjadi sukar ditemui. Jangan khawatir tersesat jika Anda memilih untuk bepergian menggunakan mobil atau sepeda, karena tata kotanya mudah dipahami.

lebih banyak dari manusianya. Tak terasa 30 menit berlalu, pesawat sudah bersiap akan mendarat di Bandar Udara Christchurch, kota terbesar di pulau selatan yang terkenal dengan Gunung Cook—-diambil dari nama Kapten James Cook, penjelajah asal Inggris dan orang Eropa kedua setelah Abel Tasman yang berhasil mencapai Selandia Baru. Christchurch alias Gereja Kristen adalah kota ketiga terpadat setelah Auckland dan Wellington dengan populasi sekitar 372.600 jiwa (sensus Juni 2009). Kota ini, yang dikenal sebagai kota konservatif, merupakan perwujudan model pemukiman Church of England atau Gereja Inggris pada Abad ke-19. Dari data pariwisata internasional, kota ini sering pula disebut Kota Taman, The Garden City. Setibanya di Bandara Chrischurch yang kecil dan biasa saja tapi bersih kami berja-

lan menyusuri jalan setapak bertanda kaki warna biru menuju International Antarctic Center atau beken disebut Antartic World, yang merupakan simulasi Kutub Selatan. Di tempat yang fantastis inilah saya pertama kalinya mengalami sensasi dan menggigil Kutub Selatan (Antartika). Melakukan eksplorasi tanpa mesti pergi ke wilayah yang diselimuti salju. Bukan hanya itu, di sini saya belajar untuk menghargai sejarah benua dan lingkungannya. Sebelum masuk museum simulasi Antartika saya mencoba lebih dahulu menumpang Hagglund, mobil dengan roda mirip tank yang biasa dipakai untuk mengantar para awak peneliti di Kutub Selatan. Oya, di tempat inilah para peneliti dari seluruh dunia yang akan ke Pusat Antartika Internasional berkumpul dan dilatih. Duduk di belakang, supir mewanti-wanti bahwa perjalanan yang akan dilalui mirip

kondisinya seperti di Kutub Selatan. Tegang juga. Benar saja Hagglund menikung tajam, menggulung, dan menuruni bukit. Itu belum seberapa. Hagglund tiba-tiba melintasi jembatan dengan jurang yang dalam. Agak mual. Akhirnya sampai juga kami kembali ke halaman Antartic World. Ah, begini toh rasanya berwisata ke Kutub Selatan. Kami lalu segera masuk ke dalam museum. Wuiih, rasanya tak ada yang tak menarik. Banyak anak-anak dan wisatawan mancanegara, terutama Jepang, yang asyik memperhatikan simulasi 3D dan 4D di sana. Saya masuk ke dalam ruangan di mana wisatawan merasakan perjalanan selama 17 menit “Ke dalam Matahari yang membeku”. Film perjalanan yang direkam di Kutub Selatan ini sungguh luar biasa berkat suguhan sistem suara dan permainan lampunya. Dari sana saya menuju ke “sarang” June, 2010 OntimE

travelounge

43


ISTOCK.COM

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

WORLDCITY

penguin biru kecil. Sampai akhirnya tiba di ruangan Snow & Ice Experience. Tempat ini cocok bagi Anda yang belum pernah merasakan salju. Masuk ke ruangan ini saya diminta memakai jaket dan sepatu khusus karena suhu di tempat ini mencapai minus 18 derajat Celsius. Benar juga kata teman dingin suhu di luar belum ada apa-apanya. Tiba-tiba saja Badai Antartika berkecepatan 40 kilometer per jam mendera kami selama 30 menit. Dahsyat! Nggak kebayang kalau benar-benar ada di Kutub Selatan sana: Mati rasa! Ah, tak rugi rasanya merogoh kocek hingga NZ$46 (sekitar Rp 296 ribu) untuk masuk dan NZ$20 (sekitar Rp 129 ribu) untuk naik Hagglund. Setengah hari bersenang-senang di dalam Antarctic World, saya naik bus menuju Cathedral Square, pusat kotanya Christchurch. Menikmati udara dingin yang kini jadi biasa-biasa saja sembari mencicipi coklat dan fudge karamel khas Christchurch. Di Cathedral Square berdiri sebuah gereja Kristen Anglican yang bergaya renaisans. Gereja ini dibangun pada 1864 dan rampung pada 1904. Kehadiran gereja ini menandai kehadiran perumahan Anglican yang baru di Catenbury. Sekarang gereja ini menjadi ikon Christchurch.

44 travelounge

OntimE

June, 2010

Gereja Anglican Christchurch dibangun arsitek Inggris Sir George Gilbert Scott dan arsitek Selandia Baru Benjamin Mountfort. Pintu utama gereja yang berukuran besar ini menjadi jalan masuk pengunjung ke lobi utama gereja. Adapun bangunan lainnya yang menyambung hingga memanjang ke belakang merupakan bagian dari gereja. Bangunan utama gereja lebih rendah namun melebar dengan ukiran-ukiran yang khas dan unik mulai dari altar hingga ke mimbar utama. Atapnya terbuat dari kayu disokong tembok bebatuan asli Catenbury nan kokoh. Bagian gereja yang paling tinggi tersimpan lonceng. Di sini pendeta kerap menyampaikan kutbah atau meniup terompet saat perayaan akhir tahun. Untuk sampai ke atas Anda mesti menaiki 134 anak tangga. Dari sini Anda bisa melihat keindahan kota, Port Hills, Catenbury Plains, dan Pegunungan Alpen Selatan. Selesai berkeliling gereja saya pun nongkrong di depan halaman gereja yang luas dengan taman yang bentuknya hampir melingkar. Saya tak sendirian karena hampir semua wisatawan yang melawat ke kota ini bercengkrama di sini, memandangi burung-burung dara yang hinggap dan mencaplok remah-remah. Selepas makan ikan dan kentang goreng

(fish and chips) yang merupakan gorengan populer di Negeri Kiwi ini saya pun beranjak menuju City Mall, kawasan pejalan kaki mirip di Pasar Baru. Dari sana saya tembus ke Oxford Terrace yang dikenal populer dengan kafe, bar, dan restorannya. Persis di seberang Oxford Terrace berdiri kokoh monumen penghormatan bagi pejuang-pejuang Selandia Baru yang ikut Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Monumen ini dikenal dengan nama Jembatan Kenangan (Brigde of Remembrance). Tak jauh dari sana, di sini semua memang serbadekat dan mudah dicapai dengan hanya berjalan kaki tanpa sedikitpun merasa lelah karena udaranya bebas polusi, bertenger kompleks Dewan Provinsi (Provincial Council Building). Bangunan yang dibangun pada 1858 hingga 1865 ini mengingatkan kita pada istana raja-raja Inggris di masa lampau. Rasanya adem dan ayem. “Coba Kali Ciliwung kayak gini,” celetuk seorang teman saya. Kami pun tertawa terbahak-bahak. Si bule pendayung jadi salah kaprah. “Anda dari mana?” katanya. “Saya dari Indonesia,” kata saya. “I see,” ujar dia lagi. “Saya pernah ke Bali. Beautiful,” tuturnya tersenyum ramah. Selama perjalanan ia menjelaskan pelba-


WORLDCITY Festival

TIPS LIBURAN KE NEW ZEALAND

Salah satu festival rutin di Christchurch adalah SUMMERTIMES. Acara ini berlangsung dari Desember hingga akhir Februari dan menarik penonton sampai 100.000 orang. Terdiri dari musik, seni, budaya, dan acara olahraga. ISTOCK.COM

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

gai lokasi yang kami lintasi. Perahu mengitari kota di antara rerumputan dan pepohonan yang batangnya merunduk meneduhi kami. Air sungai yang jernih itu menjadi habitat bebek dan burung. Rileks dan damai sekali. Sampai-sampai kami sudah kembali ke Taman Hagley. Semua sudah, apalagi? Kebun Raya! Rasanya belum afdol jika tak singgah ke taman seluas 21 hektare yang dibangun pada 1863. Ditandai penanaman pohon ek Inggris sebagai penghormatan atas pernikahan Pangeran Albert dengan Putri Alexandra dari Denmark. Karena Kebun Raya inilah Christchurch dijuluki Kota Taman. Di Kebun Raya ini bersamayam aneka koleksi tanaman eksotis dan langka. Ada Taman Air, Kompleks Konservasi Alam, Taman Mawar, hingga Museum Canterbury yang dibangun pada 1868 oleh ahli geo-

logi kenamaan asal Jerman, Julius von Haast. Jika Anda ingin tahu sejarah Bangsa Maori, bangsa asli Selandia Baru maka datanglah ke museum ini. Selesai muter-muter saya akhirnya ngaso sejenak di Pusat Kesenian yang ada di Kebun Raya. Menghisap sebatang rokok sembari menikmati segelas Cappucino hangat. Melihat-lihat sesama pelancong yang sibuk mencari suvenir khas Christchurch. Tanpa terasa langit mulai menghitam. Udara kian terasa dingin. Saya pun beranjak menuju ke penginapan di Middle Park Motel yang mirip pondokan di tengah hutan ini. Middle Park adalah motel taman yang dipenuhi pepohonan nan rindang seperti di Kebun Raya. Tak terasa waktu bergerak cepat. Baiklah, ini saat meringkuk dengan selimut super tebal. ď Ž

C

hristchurch adalah satu dari sekian banyak kota yang wajib dikunjungi kalau Anda berlibur ke Selandia Baru (New Zealand). Kota ini dikelilingi banyak taman yang ditata sangat rapi. Ada Sungai Avon yang berliku indah di tepinya dihiasi rumput halus dan pohon poplar serta beringin putih. Berikut catatan yang harus diingat jika hendak berlibur Selandia Baru. 1. Selandia Baru memakai mata uang New Zealand Dollar (NZ$). Kurs saat ini 1 NZ$ sekitar Rp 6.200. Jangan lupa menukarkan rupiah Anda sebelum berangkat, karena di sana agak sulit menemukan money changer. Kalau tak mau repot, bisa menggunakan Traveller Cheque atau kartu kredit kalau sudah benar-benar kepepet. Jadwal buka Bank di NZ mulai jam 09.30-16.00 waktu setempat. 2. Negara ini memakai voltase listrik 240 volt dan kebanyakan menggunakan colokan listrik 3 lubang. Kalau ingin mencari listrik dengan voltase 110 hanya bisa dijumpai di hotel-hotel atau apartemen. Jangan lupa membawa adaptor jika tak ingin alat elektronik Anda tinggal menjadi kenangan. 3. Penduduk Selandia Baru tidak biasa menerima uang tip. Jadi bukan menjadi keharusan memberikan tip bila Anda menerima pelayanan jasa atau ketika makan di restoran. 4. Pastikan Anda membawa koleksi pakaian casual/santai sebanyak mungkin. Jangan sampai salah kostum, karena gaya hidup penduduk di negeri ini santai. Gunakan pakaian resmi hanya jika ingin mengunjungi kasino atau tempat resmi dan ibadah. 5. Jika ingin mencoba menyetir mobil, negeri ini menerapkan peraturan lalu lintas standar internasional dengan mengemudi di jalur sebelah kiri (seperti di Indonesia). Harga bensin di tiap pom bensin berbeda-beda karena dikelola swasta. Rata-rata 1 liter = NZ$ 2,1 (sekitar Rp 14 ribu) 6. Jangan lupa melirik masa berlaku paspor Anda. Semua pengunjung internasional wajib memiliki paspor yang masih berlaku minimum untuk 3 bulan ke depan dihitung pada saat waktu kedatangan. Visa tak diperlukan bagi pengunjung yang berdomisili kurang dari 3 bulan.

June, 2010 OntimE

travelounge

45


L U G G A G E

TEMPO/PANCA SYURKANI

EXPLORE

Dicari:

KOPER ENTENG Pilihan koper ringan semakin banyak, bahkan ada yang khusus untuk kaum Hawa.

A

ddie M.S. sebagai konduktor tak pernah lepas dari perjalanan. Manggung sana, manggung sini, walhasil, ia pun mempunyai koleksi koper berbagai ukuran. Dari kecil hingga superbesar. Koper tersebut digunakan oleh semua anggota keluarga. Namun ia memilih yang paling nyaman untuk bepergian, yakni ukuran

46 travelounge

OntimE

June, 2010

sedang tapi masih tergolong cukup ringan. Bagi pria 50 tahun ini, tentengan itu harus bisa dibawa ke kabin, sehingga tak perlu repot memasukkan ke bagasi dan membuang waktu menunggu bagasi turun saat tiba di bandara tujuan. Menenteng koper ringan memang membuat perjalanan lebih asyik. Pelancong pun tak semata-mata ditun-

tut memilah-milah barang dan menatanya dengan baik, tapi juga dibikin lebih enteng. Untuk membantu pelaku perjalanan dengan frekuensi tinggi, produsen tas dan koper, Samsonite, meluncurkan koper ultraringan. Bahkan dari namanya sudah menunjukkan kondisi itu, yakni B-Lite. Berat koper hanya 2,2 kilogram dengan menggunakan bahan paling ringan, yakni perpaduan antara nilon dan poliester. Meski ringan dengan nilon, koper tetap kuat. Diluncurkan bertepatan dengan hari ulang tahun Samsonite ke-100, koper yang disebut ultra-light ini tersedia dalam pilihan warna biru dan hitam dengan kisaran harga Rp 1,75-2juta. Untuk keamanan, tetap dihadirkan kunci TSA. Presiden Samsonite Greater Asia Dr Ramesh Tainwala dalam peluncuran produk tersebut April lalu di Jakarta menyebutkan, membuat koper yang ringan mungkin mudah. Namun, bagian sulitnya, koper itu juga harus kuat dan tahan lama. Soal koper yang bisa dibawa ke kabin, sebenarnya ada beberapa pilihan. Di antaranya Travelon Underseater Carry-On Bag, yang memang dirancang agar mudah ditaruh di bawah tempat duduk. Ukurannya disesuaikan dengan ruang yang tersedia. Tersedia juga beberapa kantong di bagian luar untuk menyimpan bawaan dalam ukuran kecil. Harganya berkisar pada Rp 1,1 juta. Kipling pun menawarkan produk ringan khusus untuk perempuan. Berlabel Kipling Women’s Brixen Super Light Trolley. Memakai bahan kain dan nilon. Pilihan warnanya cukup banyak, di antaranya merah, ungu muda, cokelat, juga biru. Harga berkisar Rp 1,3 juta. Khusus penggemar koper bermotif, Kipling juga mempunyai pilihan untuk yang memang khusus dibawa ke kabin, yakni Kipling Brixen PJ Super Light Cabin, dengan estimasi harga Rp 1,3 juta. Ukuran trolley 24 sentimeter. Materialnya berupa crinkle nylon dengan berat 2,5 kg, kapasitas sekitar 30 liter. Sebenarnya banyak pilihan koper ringan dan pilihan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Yang nyaman, tentu seperti saran Addie M.S. tadi, yang bisa dibawa ke kabin. ď Ž RITA

Pilih-pilih

Koper Pertama-tama, jangan tergiur oleh warna dan bentuknya yang aduhai. Yang harus awal-awal dicek adalah kualitas ritsletingnya. Bisa jadi koper tampak indah. Tapi, baru beberapa kali dipakai, ritsleting macet atau jebol. Koper pun tak bisa ditutup dan tak mungkin Anda pakai lagi. Bila kejadiannya di rumah, mungkin tidak

perlu khawatir. Namun, bila terjadi dalam perjalanan ke luar kota atau luar negeri, Anda akan kerepotan karena harus membeli koper pengganti. Kemudian perhatikan bahan yang digunakan. Nilon termasuk yang kuat. Roda pun tak boleh diabaikan. Bila roda tersendat, perjalanan akan terhambat. Karena itu pilih koper dengan roda kualitas terbaik. ď Ž


RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA

Total Atasi Stroke Jumlah penderita muda terus mengalami kenaikan hingga mencapai 16 persen dari total penderita stroke yang ada saat ini.

ak peduli gaya hidup Anda sehat atau tidak? Kalau begitu, sebaiknya pola pikir Anda harus segera direvisi. Karena gaya hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, hobi minuman beralkohol, kurang olahraga, pola makan amburadul, serta berat badan berlebih ternyata menempati urutan teratas penyebab berbagai penyakit. Contohnya teDR WID PATRIA W. SPS, kanan darah Direktur Medis RSPP tinggi (hipertensi) dan kencing manis (diabetes mellitus). Kedua penyakit ini sering disebut sebagai pemicu utama stroke. Tragisnya, seperti disebutkan Dr Widya Sarkawi, SpS , spesialis saraf dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), saat ini terjadi kecenderungan kalangan usia produktif (dibawah 40 tahun) mengalami stroke. “Hal ini disebabkan gaya hidup tidak sehat tadi. Jumlahnya terus mengalami kenaikan hingga mencapai 16 persen dari total penderita stroke yang ada saat ini,” paparnya. Spesialis saraf lain dari RSPP, Dr Suryo Atmodjo Saleh, SpS, menuturkan tindakan pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengobati penyakit penyebab

T

stroke, melakukan check up teratur, minimal satu tahun sekali disertai menjalani pola hidup sehat. “Jika penyakit pemicu stres tersebut bisa diatasi dengan baik, maka risiko stroke bisa turun hingga 80 persen,” tegasnya. Namun, tak jarang serangan stroke juga datang tiba-tiba. “Keluarga harus segera membawa ke rumah sakit, maksimal kurang dari tiga jam sejak terkena serangan.” ujar Suryo. Masa tiga jam itu di kalangan medis disebut sebagai golden period. Yaitu saat yang sangat berpengaruh terhadap kondisi penderita. Untuk menghindari serangan mendadak itu, kenali gejala yang biasa muncul menjeDR WIDYA SARKAWI, SPS lang stroke. Yaitu lemah atau spesialis saraf mati rasa di wajah, lengan atau kaki, terutama di satu sisi bagian tubuh. Selain itu, sulit berjalan, pusing, gerak tubuh kurang atau tidak terkoordinasi, muntah-muntah, atau kesulitan bicara (pelo atau cedal), bahkan pingsan mendadak atau kejang. Terhadap penderita stroke, dokter akan melakukan beberapa tindakan medis, diantaranya memperbaiki sirkulasi darah dan aliran nafas (airway), pemberian nutrisi serta cairan untuk menjaga keseim-

bangan asupan dalam tubuh. Tak kalah penting juga menurut Suryo, adalah mencegah timbulnya penyakit sekunder. Seperti infeksi paru-paru, saluran kencing, serta lecet dibagian belakang tubuh (akibat berbaring terlalu lama). Fasilitas lengkap tentunya dibutuhkan untuk merawat pasien terkena stroke. RSPP sendiri, telah memiliki fasilitas diantaranya stroke unit lengkap dengan dokter handalnya. Juga peralatanan canggih yang disebut Endovaskular untuk diagnostik dan terapi dini stroke. Alat ini dimasukkan secara endovaskular melalui arteri femoralis. “Endovaskular biasanya digunakan dalam tiga jam pertama serangan stroke terjadi,” papar Dr Wid Patria W. SpS , Direktur Medis RSPP yang juga ahli saraf. Tak cuma itu, RSPP juga dilengkapi fasilitas MRI (Magnetic Resonance Imaging), dengan teknik penggambaran penampang tubuh, untuk mengetahui secara detil jaringan pembuluh darah yang tersumbat atau mengalami perdarahan. Juga Multi Slices CT Scan (64 Slices) dan Gamma Camera yang dioperasionalkan dibawah kedokteran nuklir. “Alat ini sangat canggih karena mampu mendeteksi seberapa normal penyerapan darah dalam jaringan otak,” ujar Wid Patria. Istimewa lagi, di RSPP juga ada Club Stroke yang dikelola mantan penderita stroke. Klub ini penting untuk memfasilitasi para insan pasca stroke agar pulih kepercayaan dirinya dan dapat hidup mandiri, sehingga memungkinkan untuk dapat melakukan aktivitas sosial di tengah masyarakat. Paling tidak, mereka dapat saling berkomunikasi, juga bisa menyebarluaskan pengetahuan yang memadai tentang penyakit stroke, dan melaksanakan kampanye budaya hidup sehat untuk menDR SURYO ATMODJO cegah timbulSALEH, SPS, nya serangan Spesialis Saraf stroke atau stroke ulang. Asal tahu saja, serangan stroke ulang berakibat jauh lebih fatal, karena rendahnya tingkat pengetahuan tentang stroke dari kalangan insan pasca stroke, keluarga bahkan dari kalangan tenaga kesehatan sendiri. Mengatasi stroke memang harus total. zINFORIAL


WORLDCITY SENSATION OF THE SOUTH POLE AT

CHRISTCHURCH

City Christchurch is the largest city in the South Island of New Zealand with a 2006 population of over 350,000. It is on the edge of the Canterbury plains and is a major stepping off point for touring the South Island.

You have probably heard the name of this Dutch explorer who was also a merchant who died in Batavia. He is Abel Janszoon Tasman or also known as Abel Tasman. He did not just explore all the way to Indonesia but also to the south end of this earth: New Zealand, precisely in the South Island of this country.

TEXT: Andree Priyantio

48 travelounge

OntimE

June, 2010

I

was fortunate that during my stay in New Zealand I was able to follow the trace of Tasman by visiting the South Island of this Kiwi Bird Country. I originally intended to take a boat ride from the capital city of Wellington. But I changed my mind. As Vice President Jusuf Kalla said, “The sooner the better,” therefore I rethought. I have been on a boat ride anyway. Travel to the South Island, was began by a plane ride from Wellington, on Sunday morning. Brr ... despite already wearing a romper —- the term I used to refer to anti-cold underwear —- plus a sweater and a jacket, the coldness of wind continues to pierce to the rib bones. I rode a bus to Wellington Airport. Although the bus is equipped with heater, it still felt cold. This is be-


June, 2010 OntimE

travelounge

49


WORLDCITY

50 travelounge

OntimE

June, 2010


WORLDCITY cause June is the month entering winter. Wellington is far from the South Pole, but the location is by the sea at the south corner of the North Island —- New Zealand consists of North and South Island —making the wind blows pretty hard. “This is nothing,” said a friend. “You have not yet met snow and you are already shivering, what if you do.” I can only smile wryly while shivering with cold. Soon we arrived at Wellington Airport, a tiny airport if compared to Soekarno-Hatta Airport. And, it was certainly quiet.

lambs. In this country, the number of sheep is greater than the number of human. I did not realize and it has already been 30 minutes, the plane was preparing to land at Christchurch Airport, the largest city in the South Island which is famous for Mount Cook —- taken from the name of Captain James Cook, a British explorer and second European after Abel Tasman who successfully reached New Zealand. Christchurch or the Christian Church is the third most populous city after Auckland and the Wellington with a population

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

Antarctic World, which is a simulation of the North Pole. In this fantastic place for the first time I experienced sensations and chills of the South Pole (Antarctica). Conducting exploration without necessarily going into the area of land covered with snow and ice. Not only that, here I became to know and appreciate the history of the continent and its environment. Before I entered the Antarctic Simulation museum I tried the Hagglund ride before hand, a car with wheels like a tank, which is usually used to transport the crew of researchers at the South Pole. This is the place where researchers from all around the world who will go to the International Antarctic Centre gather and train in order to prepare themselves. Sitting in the back, drivers warned that the journey would be similar to the condition in the South Pole. I was feeling tense. Sure enough, Hagglund went through sharp corners, rolled up and down the hill. But that was not the worst part. Hagglund suddenly crossed the bridge with deep ravines. I felt a little nausea, fortunately I did not eat that much.

Airport TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

Christchurch International Airport is a major transit airport for international and domestic travellers. There are international services to and from Australia, Japan and Singapore and frequent daily flights to and from most New Zealand airports.

Air New Zealand plane finally took off. From the air I tried to compare with the dense Jakarta. “Where are the humans,” I said as I look at the quite streets. “This is New Zealand, not Jakarta, man!” my friend replied with a laugh. The aircraft flew low and I again mumbled as I saw at a glance the beautiful and clean scenery. Starting from the blue sea, mountains, until the grassland spreading like a carpet with a bunch of sheep and

around 372600 inhabitants (census of June 2009). Christchurch, known as a conservative city, is a manifestation of the Church of England settlement model or the Church of England in the 19th century. In the data of international tourism, the city is often referred to as “The Garden City”. Arriving at the airport Chrischurch small and casual but clean I will walk down a path marked with blue feet to the International Antarctic Center or popular is called

Finally we arrived at the Antarctic World. Wow, so this is how it feels to take a trip to the South Pole. I immediately went into the museum. It seemed that there was nothing interesting. Many children and foreign tourists, especially Japan, absorbed their attention to the 3D and 4D simulation there. I then went into the room where tourists experienced the 17 minutes journey “Into the frozen Sun”. This travel film which was recorded at the South Pole was incredible, thanks to the sound system and lighting technology. From there I headed over to the “nest” of the little blue penguin. Then I eventually arrived at the Snow & Ice Experience room. This place is suitable for you who have never felt snow. Before entering this room I was asked to wear a jacket and special shoes because the temperature at this place reached minus 18 degrees Celsius. My friend was right when he said that the cold temperature outside is nothing. June, 2010 OntimE

travelounge

51


WORLDCITY

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

Suddenly the Antarctic Storm at 40 miles per hour speed whacked us over 30 minutes. Awesome! I cannot imagine how it would really feel if I was really at the South Pole: Numb! Ah, it is worth to spend NZ$46 (about Rp296 thousand) to enter and N $20 (around Rp129 thousand) to ride the Hagglund. Half day of fun in the Antarctic World, I rode the bus to Cathedral Square, the centre of Christchurch city. I enjoyed the cool air which now I have become used to while tasting the chocolate and caramel fudge typical of Christchurch. In Cathedral Square stands an Anglican Christian church with renaissance style. This church was built in 1864 and completed in 1904. The presence of this church marks the presence of the Anglican housing that was new to Catenbury. Now the church has become an icon of Christchurch. The Anglican Christchurch was built by a British architect, Sir George Gilbert Scott, and a New Zealand architect, Benjamin Mountfort. The large main door of the church became the entrance to the main lobby of the visitors of the church. As for the other buildings which connect faraway to the back is part of the church.

52 travelounge

OntimE

June, 2010

The main building is lower but spreads widely with typical and unique carvings starting from the main altar to the main platform. The roof is made of wood supported with walls made of strong typical Catenbury stones. In the highest part of the church there is a bell. Here the preacher often conducts sermons and blow a trumpet at end of year celebrations. To reach the top you must climb 134 stairs. From here you can see the beauty of the city, Port Hills, Catenbury Plains and the Southern Alps. After walking around the church I sat down and relaxed in the church yard which is very spacious and surrounded by a garden. I am not alone because almost all the tourists who visited this town hang out here, while watching the pigeons that perch and eat the crumbs. After eating fish and chips which is a popular dish of this Kiwi Bird Country, I headed to City Mall, a pedestrian zone which is similar to Pasar Baru. From there I went to Oxford Terrace, a place popular for its cafe, bar and restaurant. Precisely across Oxford Terrace is a monument which stands to respect the fighters who joined the New Zealand World War I and World War II. This monument is known as the

Bridge of Remembrance. Not far from there -here everything is close and accessible by foot without the slightest feeling of tired because the air is free of pollutants- stands the Provincial Council Building. This building which was built in 1858 until 1865 reminds us of the kings of England in the past. The buildings does not only have beautiful architecture but also framed with a smooth glass and mosaic ceilings and tiles. This complex is located at the edge of the River Avon. Tired of walking, I tried to compile a trip by riding a wooden boat like in Venice. They call it Punting on the Avon River. It felt cool and calm. “If only the Ciliwung River is like this,” said a friend of mine. We then laughed out loud making the rower misguided. “Where you from?” he said. “I’m from Indonesia,” I

Get around The bus service has been greatly improved in recent years. Buses interconnect through the enclosed airport-style Bus Exchange on the corner of Colombo and Lichfield Streets. A standard bus fare is $2.90 cash or $2.20 with a MetroCard smart card.


WORLDCITY said. “I see,” he said again. “I’ve been to Bali. Beautiful,” he said while smiling kindly. During the trip, he explained the various locations that we passed. The boat went around the city in between the grass and trees that shade us. The clear water of the river becomes the habitat of ducks and birds. It felt so relaxing and very peaceful. Soon we arrived back at Hagley Park. I already took a ride on the bus, and also the boat. Now it is time to ride the tram. This classic tram that can still be found in Eastern Europe took me for a drive around the main tourist sites such as Cathedral Square, Cathedral Church, Kiwi House, and Southern Encounter Aquarium. The total distance traveled was as far as three kilometers. I have visited most of the tourism place. What else? Botanical Garden! My trip will not be complete if I did not visit this 21 hectares garden which was built in 1863,

while enjoying a glass of warm Cappuccino. Looking around I found travelers busy looking for souvenirs typical of Christchurch. Here, the crosses culture and art are on display, in the galleries, cinema, and theater. Unrealized, the sky began to darken. The air felt colder. I then headed to the hotel, the Middle Park Motel, which is similar to the lodgings in the middle of the forest. Middle Park is a garden motel which is filled with trees like in the Botanical Gardens. The time seemed to move fast. Well, this is the time to curl up with a super thick blanket.

New Zealand Vacation Tips CHRISTCHURCH is one of the many cities that must be visited if you are on vacation

are open from 09:30 to 16:00 local time.

2

This country uses 240 volts of electricity voltage and mostly uses threehole electrical outlet. If you want to look for electricity with a voltage of 110, you can only found in hotels or apartments. Do not forget to bring an adapter if you do not want to say goodbye to your electronic devices.

3 4

It is not a custom of the New Zealand residents to receive tip. So it is not a necessity to give tips when you receive services or when eating in restaurants. Make sure you bring a collection of casual clothing as many as possible. Do not wear wrong costume, because the lifestyle of the residents in this country is casual. The usage of official clothing is only when you want to visit the

TEMPO/ANDREE PRIYANTIO

marked by the planting of an English oak tree in honor of the wedding of Prince Albert and Princess Alexandra from Denmark. Because of this botanical garden, Christchurch is well-known as the Garden City. In this Botanical Garden there are various kinds of rare and exotic plants. There is also a Water Park, Nature Conservation Complex, Rose Garden, and also the Canterbury Museum which was built in 1868 by renowned German geologist Julius von Haast. If you want to know the history of the Maori people, New Zealand’s native people, then you should visit this museum. After going here and there, I finally took a moment to rest at the Art Center of the Botanical Gardens. I smoked a cigarette

in New Zealand. The city is surrounded by many gardens which are laid out very neatly. There is the beautiful Avon River winding around the edge decorated with fine grass and a poplar and white banyan tree. The following notes are some tips that you should consider when going on a holiday to New Zealand.

1

The currency of New Zealand currency is the New Zealand Dollar (NZ$). The current exchange rate is approximately1NZ$ equals to Rp6200. Do not forget to exchange your Rupiahs before you leave, because there you will find difficulty to find a money changer. If you want no hassle, you can use the Traveller Cheque or Credit Cards. The Banks in NZ

casino, official places and places of worship.

5

If you want to try driving a car, this country implements the international traffic rules to drive on the left hand lane (as in Indonesia). The price of gasoline at every gas station varies due to private management. The Average price is 1 liters for N $2.1 (about Rp14 thousand)

6

Do not forget to check your passport validity. All international visitors required to have a passport valid for at least three months ahead of time, calculated at the time of arrival. Visa is not required for visitors who plan to visit less than three months.  June, 2010 OntimE

travelounge

53


M U S I C

Opera 2010

Album ini menampilkan penyanyi opera terbaik dunia.

ukses dengan album Opera 2009, EMI Classics kembali mengeluarkan album Opera 2010. Berisi 40 lagu, baik solo maupun duet, dengan waktu putar hingga 2,5 jam. Album menampilkan penyanyi opera terbaik dunia. Dari si tenor Luciano Pavarotti, si soprano bintang New York Metropolitan Opera Angela Ghiorghiu, si soprano asal Prancis Natalie Desay, Sarah Brightman asal Inggris, si tenor dan konduktor asal Spanyol Placido Domingo, hingga artis-artis opera klasik pendatang baru, seperti Joyce DiDonato, Diana Damrau, Elina Garanca, Vivica Genaux, dan Philippe Jaroussky. Serta sejumlah penyanyi legendaris dari masa lalu, seperti Victoria de Los Angeles, Teresa Berganza, Mirella Freni, Lucia Popp, dan Franco Corelli. Ada lagu komposisi lama dari Mozart, yakni Die Holle Rache, yang dinyanyikan Natalie Dessay dengan suara tenor yang kuat dan berkarakter. Ada pula tembang Vivaldi, Agitata da Due Venti, yang dibawakan Vivica Genaux. Luciano Pavarotti sendiri membawakan dua buah lagu karya Mascagni, yakni Ed anche Beppe amo dan Suzel, bon dì (Cherry Duet).  Wahyuana

ENTERTAINMENT

S

Artis: Luciano Pavarotti, Angela Gheorghiu dkk Label: Emi Classic (2010) Format: VCD Genre: Opera Klasik

Lovevolution

Country

Artis: Glenn Fredly Label: Sonny Music Entertainment (2010) Format: VCD Genre: Pop

Music

INI MERUPAKAN album perpisahan Glenn Fredly setelah 15 tahun berkarier sebagai salah satu penyanyi solo pop papan atas Indonesia, yang diluncurkan pada awal Januari lalu. Selanjutnya, ia menyatakan akan mengundurkan diri dari ingar-bingar pentas musik industri Ibu Kota dan akan kembali ke kampung halamannya, Ambon, Maluku. Peluncuran album ini juga diikuti dengan konser perpisahan Glenn Fredly berjudul sama dengan judul albumnya yang digelar di Esplanade Theatre, Singapura, pada Feb-

ruari lalu, yang menggapai sukses besar. Album ini berisi lagu-lagu solo Glenn, seperti Cuma Kamu, Brown Eye Girl, Lovevolution, Let’s Say Love, Pelangi, Tersimpan, Nyali Terakhir, serta Aku dan Sepedaku. Musik dan lagu Brown Eye Girl digarap dengan mantan istrinya, artis Dewi Sandra. Sedangkan lagu Let’s Say Love merupakan hasil kerja sama Glenn dengan Endah n Rhesa dan Sandhy Sondoro. Lagu tersebut berisi ajakan menjadi agen perubahan dengan menebar kebaikan dalam kehidupan. Lagu-lagu Glenn tak hanya tentang cinta, tapi juga bercerita tentang persahabatan, lingkungan, dan cerita-cerita kehidupan sehari-hari. Album ini ia garap bersama sejumlah rekan musisinya, seperti Rayendra Sunito (drum), Bonar Abraham (bas), Andre Dinuth (gitar), Harry Anggoman (keyboard), Kena Lango (keyboard), dan Niki Manuputy (saksofon).  W

SIAPA TAK kenal Willie Nelson, raja musik country Amerika Serikat. Sosoknya tak hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga aktivis, aktor, penulis lagu, produser, dan salah satu ikon pop culture Amerika Serikat yang berpengaruh, dengan gaya hidup dan penampilannya yang liberal, berambut panjang, bertopi layaknya koboi, bergaya hippies, sekaligus environmentalist. Penampilan panggungnya nyentrik, dengan gitar bolongnya yang tampak usang dan bolong di sana-sini. Sudah banyak album yang ia keluarkan. Pada 1999, ia mendapat gelar Grammy sebagai artis legendaris sepanjang masa. Album ini yang ia garap bersama T. Bone Burnett ini berisi 15 lagu. Tembang ciptaan Nelson di antaranya Man With the Blues, yang menjadi lagu pembuka album ini. Bersama T. Bone, ia juga menulis Satan Your Kingdom Must Come Down, I am a Pilgrim, dan Nobody Fault but Mi-

Artis: Willie Nelson Label: Rounder/Pgd (2010) Format: VCD Genre: Country, Blues

ne. Album juga berisi sejumlah lagu lama Nelson bersama Ernest Tubb, seperti Seamen Blues, Merle Travis, Dark as a Dungeon, serta buah kerja samanya dengan Doc Watson dalam lagu Freight Train Boogie. Dalam album ini, Nelson bekerja sama dengan banyak musisi, seperti master banjo Riley Baugus, pemain bas Dennis Crouch, dan tentunya T. Bone.  W

HIGHLIGHTS: Lagu I Gotta Feeling dari album The E.N.D milik The Black Eyed Peas sudah 47 pekan berada pada tangga 100 lagu puncak Billboard.

54 travelounge

OntimE

June, 2010


CULTURE NASKAH: Rita Nariswari FOTO: Nunu Nugraha

Biasanya kesenian ini dimainkan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah. Adakah regenerasi penggiat kesenian ini?

I

lham bergegas pulang ketika sekolah usai. Napas bocah ini masih tersengalsengal ketika tiba di rumah kakeknya, Gang Kecapi V Nomor 27, Kelurahan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sang kakek alias engkong telah menunggu dan menyambutnya dengan senyuman. Bocah yang masih berusia 8 tahun itu adalah salah satu anggota grup kesenian Betawi, tanjidor. Kelompok tanjidor Tiga Bersaudara ini dikomandani oleh Sait, 65 tahun, yang tak lain sang kakek itu. Dan di antara sembilan cucunya, tampaknya hanya Ilham yang menunjukkan hasratnya pada kesenian khas Betawi ini. Sama seperti halnya di antara lima anak

56 travelounge

OntimE

June, 2010

Sait, yang benar-benar jatuh cinta pada tanjidor, ya, hanya Minan, 29 tahun. Pada Minan-lah agaknya tongkat estafet budaya tanjidor akan diwariskan. Ia telah memainkan alat musik tanjidor sejak duduk di sekolah menengah pertama. Tak mengherankan jika kini Minan sering diminta mewakili ayahnya di berbagai forum, termasuk bila ada pertemuan di Lembaga Kebudayaan Betawi. Minan dianggap sudah dapat mengelola kelompok kesenian ini, meski belum sepiawai babe-nya dalam memainkan alat tiup piston. Alat musik tiup ini, menurut Sait, berperan besar mengarahkan irama dalam pentas


ANDRI (11) Siswa kelas 5 SD yang merupakan cucu dari pak Sait.

June, 2010 OntimE

travelounge

57


CULTURE tanjidor. Tak seperti grup musik modern, instrumen tanjidor tak bisa berdiri sendiri. Bila ditiup tanpa alat pendukung yang lain, piston tak bisa membangun irama. Gampang-gampang susah memainkan orkestra tanjidor. Itu karena tanjidor tak ada partitur khusus, yang mempermudah mempelajarinya secara sistematik. Lagu dan iramanya diwariskan dari generasi ke generasi berdasarkan pengalaman mendengar dan merasakan. “Iramanya di hati kita sendiri,” ujar Sait. Karena itu, menurut dia, latihan menjadi hal utama. “Kalau latihan semalam dua jam saja, seharusnya dua

bulan udah bisa satu lagu,” katanya meyakinkan. Sayangnya, tak semua pemuda maupun anak-anak telaten dalam soal ini. Walhasil, regenerasi pemain tanjidor dibilang kedodoran. Lihat saja, para pemainnya rata-rata berusia di atas setengah baya. Pada grup Tiga Saudara, personelnya kebanyakan di atas 60 tahun: Niih Jujung, 63 tahun, Salim 63 tahun, dan Saman, 68 tahun, dan tentu saja Sait sebagai konduktornya. Sama seperti Sait, ketiganya memiliki komitmen besar untuk mempertahankan kesenian Betawi ini. “Pokoknya kita emang udah punya niat buat nerusin. Kalau udah dipanggil (Sait), wajib datang, kerjaan lain kita tinggalin,” kata Jujung. Di luar orang-orang tua itu, beruntung masih ada Ilham, Minan, dan Mul, 23 tahun, yang baru bergabung dua tahun. Pemuda yang satu ini tak lain adalah keponakan Sait. Grup tanjidor rata-rata memiliki 7-9 pemain. Instrumen yang digunakan adalah piston, klarinet, tenor, trombon, bas, tam-

58 travelounge

OntimE

June, 2010

bur, beduk, panil, dan kecrek. Namun secara umum dibagi dua jenis, alat musik tiup dan pukul, meski ada juga perkusi, yang diwakili oleh kecrek. Dalam kompisisi yang lebih lengkap, ditambahkan gong dan kempul. Yang menjadi ciri khas adalah bas. Bentuknya melingkar dan, saat pemainnya beraksi, alat musik itu membelit tubuh. “Tenaganya harus gede,” ujar Saman, sang peniup. Alat ini pun termasuk barang paling an-

pengundang, inginnya mendengar lagu-lagu dangdut. “Nah, contohnya kayak yang di Tangerang jadinya, itu bukan tanji, itu jibus,” ucap Sait. Grup jibus lebih variatif dalam pilihan lagu dan banyak mendendangkan irama dangdut. Sebenarnya yang asli, menurut Sait, adalah tanji. “Ciri khas tanji itu seragam. Terus harus lengkap ada sembilan orang,”

B AG I P E M A I N T UA , M E R E K A R ATA- R ATA BISA MEMAINKAN H A M P I R S E M UA A L AT M U S I K . tik di antara perangkat yang ada. Sudah beberapa kali diperbaiki karena tak menghasilkan suara yang prima lagi. Di dekat logonya, ada merek dan tahun produksi— MJH Kessels “Jilburg” Bass 1894. Benar-benar sudah kuno. Konon, ada unsur mistis juga pada alat ini. “Suka ngambek, jadi dimainkan apa enggak, ya, harus dibawa,” Saman menuturkan. Bentuk kemarahannya itu, ya... berupa kerusakan, seperti alat tidak berfungsi atau suaranya menjadi fals. Menurut Sait, setiap anggota paling tidak memainkan satu jenis instrumen atau alat musik. Bagi pemain tua, mereka ratarata bisa memainkan hampir semua alat musik. Misalnya, Sait sering kali dengan piston, bas dipeluk Saman, tambur dipukul Salim, beduk dibunyikan Jujung, Mul kebagian meniup tenor, Midan memainkan trombon, dan Ilham dengan kecreknya. Sait menyebutkan, lagu-lagu yang paling sering adalah lagu-lagu Betawi dan Sunda, seperti Jali-jali dan Kicir-kicir. Namun biasanya setiap kali pertunjukan akan dibuka maras. Lagu-lagu yang dibawakan memang lagu lama, tidak ada lagu baru. Dari alat musik yang tersedia pun tak bisa lahir tembang anyar. Dulu, memang ada lagu-lagu campuran, seperti Portugis dan Belanda, tapi kini sudah tak lagi dilantunkan. “Kalau ada, saya mau belajar,” kata Sait. Sayang sekali, kini tidak ada lagi yang paham dan piawai soal lagu-lagu lama itu. Ada kecenderungan tanjidor kini “berakulturasi” dengan dangdut. Ini bisa dipahami karena banyak

katanya. Menjadi tanjidor kalau ada tambahan sinden. “Sinden itu jidoran, ada ngibing juga,” ia menambahkan. Grup Tiga Saudara kadang-kadang diminta tampil lengkap dengan penyanyi dan penari, dan biasanya penari dan penyinden diambil dari sanggar lain. Kadang tak melulu penari Betawi, tapi juga jaipongan, dan tentunya dengan tembang-tembang Sunda untuk pengiringnya. Biasanya, pentas terbagi dalam 2 sampai 3 babad membawakan maras, kemudian disusul lagu-lagu Betawi, ditambah tembang Sunda. “Biasanya dari jam 9 pagi sampai 4 sore. Lagu Betawi biasanya di pembukaan,” tutur Sait. Cuma, memang, jadwal mentas grup tanjidor semakin jarang. Kebanyakan penyelenggara keriaan di kampung-kampung Betawi saat pernikahan maupun khitanan lebih memilih organ tunggal atau orkes dangdut. “Kalah dah bersaing dengan dangdut,” ujar Sait. Akhirnya hanya acara-acara khusus yang menjadi langganan Tiga Saudara. “Paling enggak kalau lagi rame sebulan 2-3 kali,” kata Sait. Padahal, pada zaman jayanya, setiap ada pesta, grup ini ambil bagian. Dalam pesta pernikahan atau sunatan, biasanya pengantin atau bocah yan ghendak disunat diarak dan diiringi oleh orkestra tanjidor. Kemudian dulu tanjidor juga kerap ambil bagian dalam perayaan hari-hari besar, seperti Lebaran dan Cap Go Meh. Masa itu kini tinggal kenangan. Pemain tanjidor kini terus harus berjuang mencari generasi penerusnya.


CULTURE 1. Sait (60) pemain pistone, merupakan pendiri grup Tanjidor Tiga Saudara yang dibentuk pada tahun 1973. 2. Minan (29) pemain trambone, merupakan anak dari pak haji Sait. 3. Mul (25) pemain tenor. 4. Sait (60) pemain pistone, merupakan pendiri grup Tanjidor Tiga Saudara yang dibentuk pada tahun 1973. 5. Niih Jujung (63) pemain bedug, bekerja sebagai koordinator pasar malam.

3

1

2

4

5

June, 2010 OntimE

travelounge

59


CULTURE

K ATA TA N J I D O R D I N YATA K A N B E R A SA L DA R I BAHASA PORTUGIS, “ TA N G E R” , YA N G D A L A M BAHASA INDONESIA BERARTI BERMAIN MUSIK.

KELUARGA TANJIDOR

B

erdiri pada 1973, Tiga Bersaudara melambangkan kecintaan tiga kakak-adik pada kesenian Betawi. Adalah Suit, Ganan, dan Sait. Kini yang ada tinggal Sait. Kedua kakaknya sudah menghadap Yang Mahakuasa. Sebenarnya bukan ayah mereka yang menurunkan warisan seni ini. Sait justru belajar dari abang iparnya. Orang tua itulah yang kemudian berpesan agar tanjidor terus dipertahankan dan diwariskan kepada anak-cucu. Dengan bendera Tiga Saudara itulah, amanat dipegang teguh. Grupnya sebenarnya tak hanya menghantarkan tembang dengan iringan tanjidor, tapi mereka juga memainkan gambang kromong. Namun peralatannya itu kini hanya teronggok di rumah. “Kalau gambang kromong, orangnya banyak, lebih susah ngumpulinnya,” kata Midan. Grup ini pun kini tak bisa rutin latihan, bertahun-tahun pentas bareng, mereka sudah paham alat masing-masing. Juga sangat hafal tembang-tembang yang biasa dibawakan. Mereka kumpul kalau ada panggilan saja. Cuma si kecil Ilham yang rajin mengasah kemampuannya. Baru belajar dua tahun, ia senang menjajal semua alat, meski ia punya harapan untuk pilihan instrumennya. “Pengen maen tambur,” ucap pelajar kelas II Sekolah Dasar Negeri 6 Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini, riang. Sehari-hari para pemain mempunyai profesi berlainan. Jujung adalah penyelenggara

60 travelounge

OntimE

June, 2010

pasar malam. Saman tak lain adalah buruh untuk bidang apa pun. Salim berdagang, sedangkan si pemuda Mul sehari-hari membuat ketupat. Bagi mereka, tanjidor adalah segalanya. Beruntung, Sait tak hanya didukung oleh kerabat, tapi telah memiliki penerus pemegang tongkat kepemimpinan, anak dan cucu. Tiga Saudara sebenarnya bukan satu-satunya tanjidor di Jakarta Selatan. Masih ada di Warung Buncit dan Cijantung. Juga di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Depok, Tangerang dan sekitarnya, hingga ke Bogor.

WARISAN PORTUGIS

A

bad ke-18 sering kali disebut menjadi awalnya kelahiran tanjidor. Dibawa oleh bangsa Portugis ketika masuk ke negeri ini. Kata tanjidor dinyatakan berasal dari bahasa Portugis, “tanger”, yang dalam bahasa Indonesia berarti bermain musik. Di Portugal, kesenian ini biasanya dimainkan pada saat pawai militer atau upacara keagamaan. Lantas pemainnya disebut tangedor. Tak mengherankan kalau kemudian nama yang merebak adalah tanjidor. Namun grup musik ini kemudian lebih dikenal lagi pada zaman penjajahan Belanda. Benar-benar merebak pada abad ke-19. Pemainnya dikenal sebagai budak-budak tuan tanah dari Negeri Kincir Angin. Karena itu, dikenal juga sebagai Slaven-orkes. Grup dibentuk karena para penguasa itu membutuhkan hiburan. Jalan yang dipilih adalah

membentuk orkestra dan yang dikerahkan tentu saja orang-orang di sekitarnya. Para pekerja di vila maupun rumah mereka kemudian diajari musik dan melantunkan berbagai irama dalam keriaan yang mereka gelar. Valckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada zaman itu, tercatat memiliki grup musik yang terdiri atas 15 pemain alat musik tiup, ditambah pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Ketika penjajah kembali ke negerinya, kelompok musik itu tak langsung bubar. Mereka bertahan, meski kemudian tembangtembang tak lagi bersentuhan erat dengan Belanda dan Portugis. Lebih fokus pada lagu-lagu Betawi bercampur Sunda. Ketika masa penjajahan, yang mereka bawakan antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Cakranegara, dan Welmes. Irama lebih pada mars dan waltz. Sedangkan lagu-lagu Betawi yang dimainkan di antaranya Jali-jali, Surilang, Cente Manis, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Stambul, dan Persi. Lantas tembang Sunda semisal Kangaji dan Oncom Lele. Pada 1950-an, kebanyakan grup tanjidor pentas keliling alias ngamen untuk mencari nafkah. Mereka tampil di depan rumah-rumah elite seperti Menteng atau Kebayoran Baru. Hanya, aksi seni mereka dipangkas keputusan pemda DKI Jakarta pada 1954, yang melarang grup tanjidor main di pusat kota. Mereka pun akhirnya memilih tampil di pinggiran kota.  Berbagai Sumber


CULTURE

THIS ART IS USUALLY PLAYED TO ACCOMPANY A WEDDING OR IN DISTRICT PARADES. IS THERE A REGENERATION OF THE MASTERS OF THIS ART?

TEXT: Rita Nariswari PHOTO: Nunu Nugraha

62 travelounge

OntimE

June, 2010


June, 2010 OntimE

travelounge

63


CULTURE

It is quite difficult to be involved in the tanjidor orchestra. That is because tanjidor has no specific musical score, which makes a study systematic.

I

lham rushed home after school was dismissed. He was still panting when he arrived at his grandfather’s house, Gang Kecapi V No. 27, Jagakarsa, South Jakarta. His grandfather aka Engkong was waiting for him and greeted him with a smile. The 8 years old boy is a member of the Betawi Arts Group, tanjidor. Tanjidor, this group of three brothers is lead by Sait years old, 65, who is none other than Ilham’s grandfather. And among the nine grandchildren, it seems only Ilham who shows passion in this art typical of Betawi. Just as it is among the five children of Sait, who really fell in love with tanjidor was only Minan, 29 years old. To Minan, the art of tanjidor most likely will be passed. He has been playing the musical instrument tanjidor since he was still in junior high school. It is therefore not surprising if now Minan is often asked to represent his father in various forums, including if there is a meeting in the Betawi Cultural Institution. Minan is considered to be able to manage this arts group, although he is not yet as good as his father when playing the musical instrument brass piston. This music instrument, according to Sait, plays a major role in directing the rhythm on a tanjidor performance. Unlike a modern music group, the tanjidor instruments can not stand alone. When blown with no

64 travelounge

OntimE

June, 2010

other supporting device, the piston can not build a rhythm. It is quite difficult to be involved in the tanjidor orchestra. That is because tanjidor has no specific musical score, which makes a study systematic. Songs and rhythms are passed down from generation to generation based on the experience of hearing and feeling. “The rhythm is in our own hearts,” said Sait. Therefore according to him, practice becomes the main thing. “If you practice two hours a night, within two months you should already be able to play one song,” he said convincingly. Unfortunately, not all children and youngsters are patient in this matter. As a result, regeneration of tanjidor players is insufficient. The players are mostly middle-aged people. In this group of three brothers, its personnel are mostly over 60 years: Niih Jujung, 63 years old, Salim 63 years old, and Saman, 68 years old, and of course Sait as the conductor. Just like Sait, all three have a great commitment to preserve this art of Betawi. “We have the intention to preserve this culture. Therefore if Sait calls, we should come, other work we will leave,“ said Jujung. Besides the old people, fortunately there is still Ilham, Minan, and mul, 23 years old, who had joined for two years. This young man is none other than the nephew of Sait. A Tanjidor group normally has 7-9 play-

ers. The instruments used are the piston, clarinet, tenor, trombone, bass, various kinds of drums, panels, and an instrument like percussion called kecrek. Generally the instruments are divided into two types, instruments played by blowing and striking, although there is some percussion, represented by kecrek. In a more complete composition, gongs and a music instrument called kempul are added. What becomes the main characteristic is the bass. It has a circular shape and, when the player is in action, the instrument is wind around the body of the player. “The energy of the player must be big,” said Saman, the blower. This instrument becomes the most antique item in between the existing instruments. It has already been repaired several times due to no longer producing excellent sound. Near the logo, there is the brand and year of production - MJH Kessels “Jilburg” Bass in 1894. It is really quite old. It was foretold that there is also a mystical element to this instrument. “It likes to sulk, so whether it is played or not it should be brought,” Saman said. The form of anger is damage, like an appliance that is not functioning or the results of the voice becomes not good. According to Sait, each member should at least play one type of musical instruments. Older players normally can play almost any instrument. For example, Sait often plays the piston, Saman plays the


CULTURE This instrument becomes the most antique item in between the existing instruments. It has already been repaired several times due to no longer producing excellent

bass, Salim and Jujung play the drums, Mul blows the tenor, Minan plays the trombone, and Ilham plays the kecrek. Sait mentioned, the songs that most often are played are Betawi and Sundanese, songs, such as Jali-Jali and Kicir-kicir. But usually each time the show will be opened with anxiety. Songs that are usually played are really old song, no new songs. From the available instruments new songs cannot be developed. Before, there was a mix of songs, such as Portuguese and Dutch, but now it is no longer played.”If there is, I want to learn,” says Sait. Unfortunately, now no one is knowledgeable and savvy about those old songs. There is a tendency that now tanjidor acculturated with dangdut music.This is understandable because many of the audience are eager to hear dangdut songs. “Well, for example like what happened in Tangerang, it was not tanji

June, 2010 OntimE

travelounge

65


CULTURE but jibus” said Sait. Jibus music groups are more diverse in song selection and a lot of them play the dangdut rhythm. Actually, the original one according to Sait, is tanji. “The characteristic of tanji is universal. It should be complete with nine people, “he said. It becomes tanjidor if there is an additional singer called the sinden. “The sinden is Jidoran and also ngibing too,” he added. The group of three brothers is sometimes asked to perform complete with singers and dancers. The singers and dancers are usually taken from another studio. Sometimes they invite not exclusively Betawi dancers but also Jaipong dancers, and certainly with Sundanese songs to accompany the dance. Usually the performance is divided in two to three chronicles and then followed by Betawi and Sundanese songs. “Usually it takes place from 9am to 4pm. Betawi songs are usually in the opening track, “said Sait. Only, indeed, the orders of tanjidor performance are becoming increasingly rare. Most people in Betawi villages holding weddings or circumcisions prefer a single organ or dangdut orchestra. “We loose if competing with dangdut,” said Sait. Finally, only special occasions that becomes subscription to the group of three brothers, besides there are still some events in Gandul, South Jakarta. Most orders are to perform at graduation ceremonies at the University of Indonesia, graduation in some schools, and also performing as a request of the Depok Mayor’s office. “Normally we play 2-3 times a month,” said Sait. In the days of prime, whenever there is an event, this group took part. In weddings or circumcisions, usually the couple or boy about to be circumcised is walked in a procession accompanied by the orchestra of tanjidor. Once, tanjidor also often took part in the celebration of holy days, such as Idul Fitri and Cap Go Meh. Those days are now a distant memory. Tanjidor players continue to struggle to find its generation of successors.

PORTUGUESE HERITAGE

T

he 18th century is often called as the beginning of tanjidor. It was brought by the Portuguese when coming to this country. The word tanjidor was derived from the Portuguese word, “tanger”, which in the Indonesian language means to play music. In Portugal, this art is usually played during military pa-

66 travelounge

OntimE

June, 2010

rades or religious ceremonies. The players were called tangedor. No wonder if then the name spread is tanjidor. However, this kind of music group is then better known again in the days of the Dutch colony. It then becomes really popular in the 19th century. The players are back then known as the slaves of the landowners of the land of Windmills. Therefore, the group was then known also as Slaven-orkes. The group was formed because the authorities were in need of entertainment. They then chose to form an orchestra and of course recruiting the people in the surrounding areas. The workers at the villas as well as their homes are then taught to play music and sing a variety of rhythms in the festivity that they hold.

IN THE

1950

S, MOST OF

THE TANJIDOR GROUPS GO AROUND TO PERFORM FOR A LIVING. THEY PERFORM IN FRONT OF THE ELITE HOUSES IN THE AREA OF MENTENG, KEBAYORAN BARU.

Valckenier; one of the General Governor of the Netherlands at that time was recorded to have a musical group to enliven various parties. The group consists of 15 wind instrument players, plus the gamelan players, Chinese flute players, and Turkish drummers. When the invaders went back to their country, the band did not immediately disperse. They survived, though the songs they played no longer are Dutch and Portuguese. They focus more focus on Betawi and Sundanese songs. In the colonial period, among the songs they played are, Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Taktak, Cakranegara, and Welmes. The rhythms of these songs are more to be March and Waltzes. Meanwhile the Betawi songs played are Jali-jali, Surilang, Cente Manis, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Stambul, and Persi. Sundanese songs played are Kangaji and Oncom Lele. In the 1950s, most of the tanjidor groups go around to perform for a living. They perform in front of the elite houses in the area of Menteng, Kebayoran Baru. However, the artistic action was suddenly cut by the decision of the Jakarta regional government in 1954, which prohibits tanjidor group to play in the city center. They then decided to perform in the suburbs. That is why their development occurs in Tangerang, Depok, and Bogor.  Various Sources

Family of Tanjidor ESTABLISHED in 1973, the group of three brothers symbolizes the love of the three brothers towards the Betawi arts. They are Suit, Ganan and Sait. Now, the only one remaining is Sait. Both his brother has already passed away. Their father was actually not the one who passed the legacy of this art. Sait actually learned from his brother-in-law. His parents in law really loved the Betawi arts. The old man was then the one who ordered tanjidor to be preserved and passed on to their children and grandchildren. With the flag of the Three Brothers the mandate is adhered. Actually, this group does not only deliver songs with the accompaniment of tanjidor, but they also play ‘gambang kromong’. However the instrument of gambang kromong now just sits at home. “More people are required to perform the Gambang Kromong, therefore it is much more difficult,” said Midan, although the equipment is actually adequate. This group now is unable to do the routine practice, however many years performing together; they already understand every instrument well. Also they are already very familiar with the usual songs performed. They gathered only if there is a call. Only the little one who diligently practices, that is Ilham. He has only been learning for two years, he enjoys trying all the equipments, even though he had a hope for the choice of instrument. “I want to play the drum,” said the second grade student of SD O6 Elementary School Jagakarsa, South Jakarta, happily. The players have different profession on their daily life. Jujung is a night market organizer. Saman is none other than labor for any field. Salim is a trader, while mul daily makes ketupat (rice cake). For them, tanjidor is everything. Lucky, Sait is not only supported by relatives, but already have a successor to the leadership among his children and grandchildren. These three brothers actually is not the only tanjidor in South Jakarta. There are still also groups from Warung Buncit and Cijantung. Also in West Jakarta, East Jakarta, Depok, Tangerang and its surroundings, up to the Bogor area. 


Kota Bandar Tua yang Molek

Travel

Choice

Bangunan lawas yang terawat dan bangunan baru megah.

NASKAH: Ayos Purwoaji & Dwi Putri Ratnasari FOTO: Ayos Purwoaji

68 travelounge

OntimE

S

emarang selalu unik. Sebagai salah satu kota bandar tua, ia jadi saksi dari silang budaya di masa lampau. Eropa (Belanda), para pedagang dari Cina, dan penduduk pribumi Jawa adalah tiga etnis yang pernah hidup dalam kurun waktu dan tempat yang sama. Dan itu memberi corak yang khas pada perkembangan Kota Semarang. Hingga kini, jejak kota peranakan itu masih bisa dinikmati, misalnya jika kita berkunjung di kawasan Kota Lama di Semarang bagian utara. Ratusan bangunan kuno dengan arsitektur bergaya bangunan Eropa boleh jadi dapat memancing imajinasi para pelancong untuk mengenang masa silam. Tak sekadar sebagai tempat bangunan-bangunan tua berada, di kawasan Kota Lama ini denyut kehidupan sosial-budayanya pun masih menyisakan semangat klangenan gaya lama. Misalnya saja, tradisi sabung ayam yang masih hidup. Ada beberapa tempat lain yang

June, 2010

bisa menjadi tujuan para pelancong di Kota Semarang. Salah satunya Kampung Cina Semawis, yang pada akhir pekan berubah menjadi pasar malam. Sementara itu, bagi mereka yang akan berburu matahari tenggelam, datanglah di Tanjung Mas. Mengagumi patung Dewi Kwan Im di Pagoda Avalokitesvara, dan menikmati pesona malam Semarang dari Bukit Gombel. KOTA LAMA Menyusuri kawasan Kota Lama bisa dengan beberapa cara. Paling praktis mengendarai mobil atau sepeda motor. Jalanan lebar memudahkan Anda untuk mengitari area seluas 32 hektare cuma dalam 5 menit. Tapi yang paling asyik adalah berjalan kaki. Ayunan langkah dan mencecap aroma masa lampau yang terpancar dari bangunan-bangunan kuno adalah sebuah kemewahan yang tidak ternilai. Beberapa lokasi yang direkomendasikan untuk dikunjungi antara lain Gereja Blenduk dan Gedung

Opera Marabunta. Kedua bangunan ini memiliki ciri arsitektur unik, yang membedakan dengan gedung lain di sekitarnya. 1. Gereja Blenduk Mulanya gereja kecil yang dibangun Reverend J. Lipsus pada 1750. Gereja ini merupakan gereja Protestan pertama di Semarang. Pada 1794, Ir W. Westmaas dan Ir H.P.A. de Wilde melakukan renovasi besar-besaran. Pada awalnya bentuk kubah Gereja Blenduk tidak seperti yang terlihat sekarang. Baru pada 1894 kubah berbentuk setengah bola ini dipasang. Gereja Blenduk memiliki denah oktagonal atau segi-delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik ini anggun sekaligus gagah. Sampai hari ini masih terawat dan berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting yang teduh. Taman kecil ini sering digunakan sebagai lokasi pemotretan pre-


Travel

Choice wedding dan jika malam berubah menjadi tempat beristirahat para tunawisma. 2. Gedung Opera Marabunta Terletak di Jalan Cenderawasih, syahdan adalah gedung pertunjukan tonil atau sandiwara. Dapat dibayangkan zaman dulu gedung ini bagaikan Broadway, para meneer dan mevrouw berdandan rapi untuk menyaksikan pertunjukan. Gedung Marabunta memiliki ikon dua patung semut merah raksasa pada atapnya. Saat ini beralih fungsi sebagai gedung serbaguna yang biasa menjadi tempat pesta perkawinan. 3. Stasiun Tawang Menyusuri Kota Lama, jangan lupakan mampir ke Stasiun Tawang di sebelah utara. Tempat pemberhentian kereta ini adalah salah satu yang paling tua di Pulau Jawa, yang dibangun pada 1914. Hingga saat ini stasiun masih berfungsi dengan baik untuk pemberhentian kereta eksekutif dan bisnis. Hanya sayang,

pada musim hujan, tempat ini terendam oleh banjir rob, yang tidak pernah absen di Semarang. Permasalahan banjir musiman itu pulalah yang menyebabkan pemerintah Belanda membangun kolam raksasa di muka Stasiun Tawang. Polder besar ini malah sering kali dijadikan wahana wisata alternatif bagi sebagian orang. Sekadar duduk di bangku semen yang tersebar di pinggir kolam. 4. Adu Ayam Namun, Kota Lama tidaklah melulu masalah bangunan dan wisata arsitektural. Di sudut lain, jauh di dalam kawasan Kota Lama, ada aktivitas pemantik adrenalin: adu ayam. Acara ini diadakan setiap hari saat matahari bertengger di atas kepala. Sejak pagi, di Gang Telkom, seruas gang yang menghubungkan Jalan Letjen Suprapto dan Jalan Kepodang sudah ramai oleh para penjual ayam. Biasanya berjenis ayam Bangkok, yang memang cocok untuk diadu.

Tidak ada yang istimewa pada pasar ayam tersebut. Baru pada siang harinya, setelah para peserta siap dan arenanya sudah digelar, pertarungan dimulai. Pemandangan acara adu ayam ini sangat unik, apalagi dilakukan di sebuah gang yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua bercorak kolonial. Apalagi kegiatan adu ayam saat ini mulai jarang, kecuali di Bali, di mana sabung ayam atau tajen masih menjadi budaya. 5. Gang Telkom Salah satu spot menarik lain adalah tembok di Gang Telkom, yang dijuluri akar sebesar pergelangan tangan. Ingatan kita pun akan melayang menuju reruntuhan Angkor Wat di Kamboja, yang sempat digunakan sebagai latar dalam film Tomb Raider. “Itu dulu bekas kotoran burung yang di dalamnya ada bibit beringin. Jadinya sekarang seluruh temboknya penuh akar,� kata Mulyono, seorang penjual ayam.

June, 2010 OntimE

travelounge

69


ADU AYAM. Adu ayam ini cukup unik karena diadakan di sebah gang sempit, di antara bangunanbangunan kuno peninggalan kolonial Belanda.

Travel

Choice

Ada pula mercusuar antik di ujung dermaga, yang menjadi satu-satunya mercusuar di Jawa Tengah. Mercusuar kuno ini dibangun pada zaman kolonial untuk memperlancar transportasi pengiriman gula ke luar negeri.

70 travelounge

OntimE

6. Semarang Contemporary Art Gallery Bagi para penikmat seni, luangkanlah waktu sejenak untuk mengunjungi Semarang Contemporary Art Gallery, yang terletak di Jalan Letjen Suprapto, yang dulu merupakan bagian dari De Groote Postweg atau Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Gedung yang bergaya kolonial Spanyol ini dulu adalah kantor perusahaan Winkel Maatschappij, yang dipunyai tuan H Spiegel. Pada1905, gedung ini diambil alih Tasripin, pengusaha pribumi, untuk dijadikan kantor dealer sepeda motor dan perusahaan farmasi. Pabrik Limun Fresh diketahui membeli bangunan ini dan digunakan hingga tahun 1990-an. Akhirnya, pada 2008, seorang arsitek cum kolektor, Chris Darmawan, seorang arsitek dan pencinta seni, mengubahnya menjadi galeri seni. l KAMPUNG CINA DAN SEKITARNYA 1. Pecinan Semawis Semarang adalah pintu masuk utama kebudayaan Cina ke Jawa Tengah. Maka, tidak mengherankan jika banyak klenteng tua dan pecinan. Tempat tinggal komunitas Tionghoa paling masyhur di Semarang dimulai dari ujung utara Jalan Beteng-Pekojan-Jagalan-Pedamaran

June, 2010

serta sejumlah gang, antara lain Gang Baru, Gang Mangkok. Kawasan pecinan ini mempunyai tujuh klenteng. Hampir setiap gang memiliki klenteng di ujungnya, dan yang paling besar adalah Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Klenteng yang didirikan pada 1746 ini pada awalnya hanya untuk memuja Kwan Im. Namun, kemudian berkembang menjadi klenteng besar, yang juga memuja berbagai dewa-dewi Tao. Pada akhir minggu, ruas jalan kecil itu berubah menjadi pasar malam penuh ornamen khas Cina. Biasa disebut Pasar Semawis. Saat senja tiba, pasar ini mulai menampakkan geliatnya. Para pedagang menggelar lapak dan para pengusaha makanan mulai menata kursi serta memanaskan tungku. Semakin malam semakin ramai.

Sebagai kota bandar, para pelaut pergi dan datang ke Semarang sejak zaman kiwari. Tanjung Mas adalah tempat kapal mereka bersandar. Di Pelabuhan I, yang menjadi tempat singgah kapal-kapal kayu bisa menjadi alternatif pelepas penat. Ada pula mercusuar antik di ujung dermaga, yang menjadi satusatunya mercusuar di Jawa Tengah. Mercusuar dibangun pada 1884 untuk memperlancar transportasi pengiriman gula ke luar negeri. Menyaksikan matahari tenggelam menjadi keasyikan tersendiri di tempat ini.

Barang yang dijajakan meliputi makanan, mainan anak, aksesori, hingga peralatan ibadah. Berbagai atraksi pun digelar. Namun, yang paling digemari adalah karaoke jalanan. Peminat paling banyak para lansia. Dengan setelan necis hem, celana panjang, dan sepatu pantofel, mereka mendendangkan nyanyian berbahasa Mandarin.

nah unik. Disebut demikian karena beberapa kecamatan terletak di daerah perbukitan atau biasa dikenal dengan daerah Semarang Atas, sedangkan sisanya berada di Semarang Bawah. Adanya perbedaan ketinggian inilah yang memungkinkan para pelancong dapat menikmati pemandangan Kota Semarang dari perbukitan. Salah satu spot menarik di Semarang Atas adalah Tanjakan Gombel di Jalan Setiabudi. ď Ž

2. Pelabuhan Tanjung Mas

3. Pagoda Avalokitesvara Semarang memiliki obyek baru yang menarik, yaitu Pagoda Avalokitesvara. Sebenarnya ini adalah tempat ibadah. Pagoda yang baru selesai dibangun pada 2006 ini tercatat sebagai pagoda tertinggi di Indonesia oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia. Bertempat di Watugong, Semarang Atas. Dibangun di atas sebuah bukit oleh Po Soen Kok, seorang taipan sukses di Semarang. 5. Tanjakan Gombel Semarang terkenal sebagai sebuah kota yang memiliki kontur ta-


How To Get

Semarang

KERETA API Semarang memiliki dua stasiun besar, yakni Stasiun Poncol dan Stasiun Tawang. Banyak pilihan kereta yang dapat digunakan apabila Anda berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta, menuju Stasiun Tawang, seperti Argo Muria, Kamandanu, Argo Bromo, dan Argo Anggrek untuk kelas eksekutif, sedangkan untuk kelas bisnis dapat menggunakan Senja Bisnis, Fajar Bisnis, Gumarang, ataupun Sembrani. Jika berangkat dari Bandung, Anda dapat menggunakan kereta Harina. Dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Anda dapat memilih berbagai macam kereta kelas bisnis dan eksekutif. Stasiun Tawang Jalan Taman Tawang 1, Semarang 50175 (024) 354 4544, 358 2859 Stasiun Poncol Jalan Imam Bonjol No.115 Semarang Utara (024) 3544496 PESAWAT Pilihan moda transportasi ini sangat tepat untuk wisatawan yang tidak ingin membuang waktu perjalanan lebih banyak. Garuda Airlines, Mandala, Sriwijaya Air, Lion Air, dan Batavia Air dapat menjadi pilihan maskapai yang menyediakan jadwal penerbangan menuju Bandar Udara Ahmad Yani, Semarang, setiap hari. Selain penerbangan domestik, bandar udara ini menyediakan penerbangan internasional.

Bandara Ahmad Yani Jalan Puad Ahmad Yani Semarang Barat Telepon 024 7608735, 7612281, 7612282, 608 Fax: 024 7603506 www.ayaniairport.com

hingga Rp 1,05 juta per malam. Jalan KH Wahid Hasyim 125-127, Kranggan Semarang 50138 T. +62 24 357 6000 F. +62 24 357 6060 http://semestahotel.com

BUS Satu lagi akses yang memudahkan Anda berkunjung ke Semarang adalah menggunakan jasa perusahan otobus. Berangkat dari Yogyakarta menuju Terminal Terboyo, Semarang, hanya memakan waktu tiga jam menggunakan bus patas dengan fasilitas AC, seperti Nusantara, Ramayana, atau Joglosemar. Sedangkan dari Solo cukup dengan waktu dua setengah jam dengan menggunakan jasa PO Rajawali. Untuk keberangkatan dari Surabaya, dapat memilih Jawa Indah atau Indonesia dengan memakan waktu sekitar tujuh jam. Adapun dari Jakarta, Anda dapat menggunakan jasa PO Nusantara, Lorena, atau Pahala Kencana. Terminal Terboyo Jalan Terboyo Raya Semarang Timur 024 6581924

HOTEL CIPUTRA Berada tepat di Simpang Lima, sebuah pusat keramaian yang menjadi ikon Kota Semarang, Hotel Ciputra menawarkan berbagai fasilitas termasuk pusat belanja lengkap dengan berbagai gerai eksklusif, yang berada tepat di samping bangunan hotel. Setiap Minggu pagi, kawasan Simpang Lima akan berubah menjadi sebuah pasar serba ada. Pengunjung hotel dapat dengan mudah melihat atau bahkan ikut merasakan langsung serunya mengitari

Semarang adalah pintu masuk utama kebudayaan Cina ke Jawa Tengah. Maka, tidak mengherankan jika banyak klenteng tua dan pecinan.

Travel

Choice

WHERE TO STAY IN SEMARANG HOTEL QUIRIN Hotel yang sebelum direnovasi bernama Hotel Queen ini terletak tidak jauh dari pusat belanja terbaru di Semarang, Paragon Mall, yang memudahkan akses Anda untuk berbelanja kebutuhan atau sekadar cuci mata di mal berdesain futuristik ini. Di seberang hotel terdapat deretan penjual sate ayam khas Madura dengan konsep lesehan dan rasa jempolan. Jalan Gajah Mada No. 44-52 Semarang Tel: 024-354-7063 Fax: 024-354-7341 HOTEL SEMESTA Hotel yang pengelolaannya berbasis syariah ini terletak di daerah Kranggan, kawasan Pecinan yang sangat terkenal di Semarang. Dengan menawarkan konsep heritage and modern harmony, hotel ini memasang tarif kamar dari Rp 550 ribu

Simpang Lima di tengah hiruk-pikuk keramaian jantung Kota Semarang. Jalan Simpang Lima, Semarang Telp: 62-24-8449888 Fax: 62-24-8447888 www.hotelciputra.com HOTEL GRAHA SANTIKA Hotel bintang empat yang terletak tidak jauh dari Simpang Lima. Tamu hotel ini tidak perlu pusing memikirkan buah tangan untuk dibawa pulang ke rumah. Sebab, ruas jalan antara Simpang Lima dan Tugu Muda ini terkenal sebagai pusat oleholeh kuliner khas Semarang. Tarif kamar berkisar Rp 1 juta per malam. Jalan Pandanaran No. 116-120 Semarang 50241 Phone: (62-24) 8413115, 8413121 Fax: (62-24) 8413113 ď Ž

STASIUN TAWANG. Stasiun kereta api berdiri sejak 1914 ini memang selalu terkena dampak banjir rob. Tak heran jika pihak kolonial Belanda membangun kolam besar untuk mengantisipasinya.

June, 2010 OntimE

travelounge

71


i era teknologi komunikasi saat ini, mobilitas yang tinggi bukan halangan lagi untuk tetap terhubung dengan siapa pun. Liburan sambil bekerja pun bukan lagi hal yang luar biasa. Itulah yang menyebabkan Dedy Maryadi yang sehari-harinya sibuk di sebuah perusahaan periklanan papan atas di Jakarta, tetap bisa berkomunikasi lewat dunia maya di mana pun berada. Sabtu dan Minggu pun lebih banyak dihabiskannya untuk urusan pekerjaan seperti syuting iklan di lokasi yang terkadang memaksanya tak pulang ke rumah. Komputer jinjingnya seri Soulmate dari Advan seakan tak terpisahkan dalam setiap langkahnya, termasuk ketika bersama istri dan anaknya menjadi bagian dalam family gathering rekannya semasa kuliah dalam komunitas Terompah di kawasan air terjun Cilember, Bogor. Liburan tak lagi jadi penghalang buat dirinya. “Yang terpenting notebook itu harus mampu mengakomodasi semua kebutuhan saya, termasuk untuk urusan pekerjaan yang butuh kemampuan tinggi,” ujar Dedot, sapaan akrab Dedy Maryadi. Notebook Division Manager Advan Tjandra Lianto menjelaskan bahwa semua jajaran produk notebook terbaru Advan sudah dilengkapi dengan fitur Wi-fi serta kemampuan baterai 6 cell yang tahan lama. “Harga notebook dan laptop menjadi semakin terjangkau dibandingkan sebuah personal computer. Notebook semakin dipilih karena simple, hemat listrik, dan mobile,” jelas Tjandra Lianto. Menurut Tjandra Lianto, jika kebutuhannya lebih banyak untuk pekerjaan, maka notebook Advan seri Soulmate sangat cocok, termasuk saat berlibur sekali pun. Tapi jika pengguna lebih suka berselancar di dunia maya dan jejaring social, serta memerlukan ketahanan baterai yang lebih memadai, Advan menyediakan seri Vanbook dan CULV yang bisa dijadikan pilihan bijak. Sementara untuk penyuka multimedia, seri AMD mampu menyuguhkan hiburan atau game yang lebih optimal. Dedot pun merasa sangat terbantu dengan kinerja komputer jinjingnya yang memungkinkannya tetap terhubung dengan dengan rekan kerjanya pada saat berlibur. “Fasilitas wi-fi harus jadi fitur standar yang tak bisa ditawar. Saat ngenet di area hot spot akan sangat terbantu dengan sinyal yang lebih stabil,” kata Dedot mengomentari fitur di notebook miliknya. Ya, fitur webcam, wi-fi, DVD-RW, dan juga port untuk HDMI (High Definition Multimedia Interface) sudah semakin dibutuhkan pengguna komputer jinjing. Jika tak berada di area hot spot, Dedot mengaku mengandalkan modem USB untuk koneksi internet. Dengan begitu, Dedot tak lagi merasakan ada penghalang yang membatasi ruang geraknya. Di mana pun dan kapan pun Dedot dengan mudah terhubung, terutama oleh rekan kerjanya yang kadang mengontaknya melalui social networking saat hari libur. Solusi “connecting everywhere” pun ditawarkan Advan untuk memenuhi beragam kebutuhan pengguna komputer jinjing. Ibaratnya, apa pun kebutuhannya, koneksi tetap terjalin. Untuk itu, tambah Tjandra Lianto, Advan telah bekerja sama dengan Telkomsel meluncurkan produk bundling notebook Advan plus modem dan kartu Telkomsel yang akan memberikan keleluasaan penggunanya berinternet ria kapan pun dan di mana pun berada, termasuk saat berlibur sekali pun. z

72 travelounge

OntimE

June, 2010


PHOTOGRAPHY

SEJUMPUT MIMPI DI PARANGTRITIS

NASKAH DAN FOTO: Lukas Setia Atmaja, (Penikmat Fotografi)

74 travelounge

OntimE

June, 2010

A GLIMPSE OF DREAM IN PARANGTRITIS


Seorang penyair muda menuliskan baris-baris sajak di blog-nya:

A young poet wrote his lines of poem in his blog:

Tidak ada yang pernah mengerti Apa yang laut katakan pada pantai melalui ombak-ombaknya yang besar padahal pantai tetap diam tak menjawab. ‌ Parangtritis, Yogya konon lebih dari sekadar pesisir dari samudera luas di selatan Pulau Jawa. Di bawah laut sana, ada wilayah sakral kagungan dalem Kanjeng Ratu Kidul alias Nyai Loro Kidul. Setiap tahun, ada saja dari kita yang hilang, tertelan ombak laut selatan. Dan orang ramai kemudian pelan-pelan menyakininya sebagai tumbal, seserahan yang dibawa Kanjeng Ratu. Begitu sebuah legenda menjelma sebagai kepercayaan.

No one ever understood what the ocean says to the beach through the big waves meanwhile, the beach remains silent with no answer

Kanjeng Ratu Kidul, masih menurut legenda itu, adalah kekasih spiritual Raja Mataram pertama, Panembahan Senopati. Pantai Parang kusumo, pantai yang tidak jauh dari Parangtritis, merupakan tempat rendezvous mereka, kala sedang memadu kasih. Pada hari-hari tertentu, di Parang

It was foretold that Parangtritis,Yogya is more than a coastal area of the ocean in the south of Java Island. Beneath the sea, lies a sacred territory ruled by the Queen of the southern ocean wellknown as Nyai Loro Kidul. Every year, some people are missing, swallowed by the southern ocean waves. People then slowly believe that missing people are brought by the Queen. That is how a legend incarnates to become a belief. The Queen of South, still according to legend, was

June, 2010 OntimE

travelounge

75


PHOTOGRAPHY

Kusumo dilakukan persembahan sesajian atau labuhan bagi Kanjeng Ratu. Ribuan peziarah datang untuk sebuah tirakat. Diluar legenda, Parangtritis adalah pantai yang elok. Lihatlah! Saat pasang surut maupun naik, terhampar luas pasir halus, dan selalu demikian. Di atasnya para pengunjung bergerak hidup, mulai dari sekadar dudukduduk menikmati pagi atau sore di pantai sambil makan jagung bakar, minum wedang ronde, atau sekadar bermain pasir. Tengoklah, beberapa delman kecil mondarmandir sepanjang garis pantai membawa penumpang yang ingin merasakan “naik delman istimewa ku duduk di muka.� Sensasi yang ditawarkan adalah delman yang berjalan menyusuri tepian ombak. Begitu dekatnya dengan air laut, terkadang delman oleng oleh hempasan gelombang yang datang. Parangtritis adalah degup jantung ratusan keluarga yang hidup disekitarnya. Mulai dari pemilik warung, penginapan, penjual bermacam makanan dan minuman, tukang delman, pengamen hingga juru parkir. Juga para nela-

the spiritual lover of the first King of Mataram, Panembahan Senopati. Parang Kusumo Beach, a beach not far from Parangtritis, was a place of their rendezvous, at the time they were making love. On certain days, in Parang Kusumo, offerings or sacrifices are made for the Queen. Thousands of pilgrims come to pray. Beyond the legend, Parangtritis is a lovely beach. Look! During high tides and low tides, you can see the fine sand area spreading all the way, and it has always been like that. The visitors of the beach moves lively, ranging from just sitting around enjoying the morning or evening at the beach, while eating roasted corn and drinking typicall drink called wedang ronde, or just playing with sand. There are some small horse carriages pacing along the coast line carrying passengers who want to try the ride. Sensation offered is a horse carriage that runs along the edge of the surf. So close to the sea water, sometimes the cart is swerved by the pounding waves that come.

76 travelounge

OntimE

June, 2010


PHOTOGRAPHY

June, 2010 OntimE

travelounge

77


PHOTOGRAPHY

78 travelounge

OntimE

June, 2010


PHOTOGRAPHY

yan yang bermodal perahu motor dan jaring sederhana. Bilamana ombak besar datang, perahu mereka terpaksa mangkir di pesisir pantai. Gumuk pasir Parang Kusumo, merupakan salah satu tempat yang eksotik di sekitar Parangtritis. Lokasinya hanya dua kilometer dari sana. Tempat ini menjadi tempat favorit bagi para penikmat fotografi. Jika beruntung, saat musim hujan kita akan menemukan kolam-kolam air pada lembah diantara bukit-bukit kecil pasir halus. Refleksi air memberikan pemandangan yang unik. Parangtritis adalah pantai pertemuan para kaum muda. Jika Sabtu malam tiba, dan manakala bulan sedang penuh, mereka seperti dimabuk asmara. Ebiet G. Ade, musisi lawas itu pernah melantunkan “Mimpi Di Parangtritis”:

Engkau terlena dalam pelukan dingin malam Matamu terpejam Kembang masih erat kau genggam Butir pasir beterbangan Sinar bulan berkilauan Kau tersenyum dalam diam Kau tertidur makin lelap Seperti bintang wajahmu gemerlap Kudekap erat sukmamu Kuselimuti tubuhmu

Parangtritis is the heartbeat of hundreds of families who live nearby, starting from the owner of the stalls, lodging, various food and beverage vendors, horse carriage owners, street singers, also the fishermen whose only equipment is a motorboat and a simple net. When the big wave comes, their boat is forced to be absent and stay on the coast. Parang Kusumo sandbanks, is one of the exotic places near Parangtritis. It is located only two kilometers away. This place becomes a favorite place for photography enthusiasts. If lucky, during the rainy season you will find pools of water in the valleys between the small hills of smooth sand. The reflection of water provides unique scenery. Parangtritis is a beach where young people come to gather. On Saturday nights, and especially on the full moon, the place is filled with romantic couple. Ebiet G. Ade, a senior musician had been singing “Dream in Parangtritis (Mimpi di Parangtritis)”:

You fall asleep in the arms of the cold night your eyes are closed while in your hands flowers are still held tight sand grains scatters Moonlight shimmers You smiled in silence you sleep more soundly your face glitters like the stars I held you tightly And cover your body

June, 2010 OntimE

travelounge

79


EXPLORE

G A D G E T

AP PHOTO/MANU FERNANDEZ

Smartphone

Si Pintar untuk Bisnis dan Hiburan Kaki tangan pebisnis yang bisa menawarkan hiburan pada saat rileks.

J.D. POWER dan rekannya belum lama ini menggelar penelitian tentang tingkat kepuasan pengguna ponsel di Amerika Serikat. Sebenarnya yang tim ini cermati adalah smartphone dan telepon standar. Namun yang akan dibahas di sini hanyalah smartphone—perangkat yang lengkap untuk bisnis sekaligus menyenangkan karena aplikasinya berlimpah dan beragam. Hasilnya, mayoritas para pengguna smartphone di Amerika Serikat menunjuk iPhone di

posisi pertama dalam soal kepuasan. Sedangkan Blackberry berada di peringkat kedua. Dari kompilasi para pengguna itu pula, tim peneliti membuat rekomendasi terhadap manufaktur untuk lebih memperhatikan kontennya, ditambah dengan kecepatan koneksi yang lebih tinggi agar bisa mengunduh dan mengirim dokumen dalam waktu singkat. Kebanyakan pengguna menganggap penting GPS karena mereka gemar mengunduh aplikasi yang banyak meski ja-

rang menggunakannya. Ini memang baru gambaran di Amerika Serikat. Bisa jadi, di negara lain pilihan jatuh pada merek lain. Karena pilihan menyangkut perilaku dan kegemaran seseorang yang sudah pasti berbeda-beda. Apalagi produk smartphone terus bertambah. Smartphone mengacu pada bentuk personal digital assistant (PDA), namun kini muncul lebih memberi banyak hiburan. Walhasil, tak hanya para pebisnis yang memerlukannya, tapi yang butuh hiburan pun memilihnya. Bagi pelaku bisnis, smartphone adalah tangan kanannya. Ketika kakinya melangkah ke mana pun, di belahan dunia mana pun, ia tetap bisa melakukan bisnis seperti ketika berada di Tanah Air. Segala sesuatu ada di genggamannya. Bagi pelaku bisnis, mencari data klien, memantau pasar saham dan uang, membuat jadwal pertemuan bisnis, mengecek status proyek, hingga membuat proposal cukup dengan perangkat digital ini. Sejumlah smartphone pun membuat Anda terhubung dengan komputer di kantor atau di rumah. Artinya, Anda menerima surat elektronik dalam inbox dan membalasnya seperti halnya melakukan di desktop di rumah. Dalam waktu yang sama. Demikian juga dengan dokumen lain yang berada di rumah. Smartphone juga merupakan perangkat multimedia, sehingga sederet hiburan pun melekat padanya. Anda bisa menyimpan dan menengok kembali foto dan video keluarga maupun rekan bahkan memutar sebuah film layar lebar. Bisa juga memutar MP3 di kala Anda tengah rileks berwisata atau berada di jeda antarpertemuan bisnis. ď Ž RITA | BERBAGAI SUMBER

4 Ciri Smartphone PRODUKTIVITAS /GAYA HIDUP. Smartphone adalah alat untuk mengelola dan mengatur kalender acara dan melakukan pekerjaan.

80 travelounge

OntimE

June, 2010

INTERNET. Kebanyakan bisa mengakses Internet dan tampilan layar penuh. Beberapa bisa terhubung via Wi-Fi dan 3G untuk kecepatan lebih tinggi.

MULTIMEDIA. Sebagai ponsel bisnis sedikitnya memiliki kamera 2 megapiksel dengan zoom dan kemampuan untuk merekam dan memutar kembali audio dan video.

SPESIFIKASI TEKNIS. Kebanyakan ringkas, termasuk pilihan tampilannya dan daya tahan baterai bisa sampai sehari.

4

Pilihan

Versi Consumers Research BLACKBERRY BOLD Pro: Prosesor terbaik, tampilan beresolusi tinggi, QWERTY keyboard yang lebar, push email, Wi-Fi, GPS, Bluetooth. Kontra: Tebal, web browser lamban, kualitas penerimaan telepon rendah, harga tinggi. SAMSUNG OMNIA Pro: Full smartphone, Opera web browser, WiFi, Window Mobile Office bagi pebisnis. Kontra: Windows Mobile lambat saat terhubung, ukuran headphone jack tidak standar, layar sentuhnya agak merepotkan. APPLE IPHONE 3 GS Pro: Lebih cepat dibanding iPhone 3G, stereo Bluetooth, video recording, cut, copy, paste, picture messaging, memori tinggi. Kontra: Tidak bisa menggunakan lebih dari satu kali aplikasi pada waktu bersamaan, tidak ada cara untuk menata aplikasi berdasarkan kategori. BLACKBERRY CURVE 8900 SERIES Pro: Superbfull QWERTY keypad, push email yang terbaik and data syncing, memori bisa diperbesar, menggunakan koneksi Wi-Fi model terbaru, kualitas telepon baik. Kontra: Tidak bisa mengirim HTML email, web browser lamban, memiliki kekurangan pada Wi-Fi dan/atau GPS, menggunakan jaringan EDGE yang tidak secepat 3G.


INFOHOTEL

Daya tarik Indonesia mengundang sebuah operator hotel menambah jaringannya. KRISIS keuangan yang melanda dunia tak mampu meruntuhkan Indonesia. Kekuatan ekonomi Indonesia inilah yang menjadi salah satu daya tarik operator hotel, Accor, untuk menambah jaringannya. Tak tanggung-tanggung, delapan hotel sekaligus. Rencananya, kedelapan hotel yang berlokasi di Padang, Surabaya, Manado, Balikpapan, Kuta, Denpasar, Jakarta, dan Bangka itu akan dibuka sebelum akhir 2012. “Indonesia dengan kekuatan ekonomi dan semakin bertambahnya volume wisata domestik menawarkan kesempatan yang signifikan untuk pengembangan,” kata Michael Issenberg, Accor Asia Pacific Chairman and Chief Operating Officer menjelaskan pengembangan Accor di Indonesia saat jumpa pers di Jakarta, Senin (24/5). Issenberg menambahkan, pihaknya lebih menitikberatkan pada pengembangan hotel segmen menengah, seiring banyaknya permintaan. ”Prospek untuk harga segmentasi yang sensitif semakin menguat,” kata Issenberg. Pengembangan Accor di Indonesia, lanjutnya, juga mencermati perkembangan domestik dan permintaan wisata di Asia. Saat ini, Accor mengoperasikan 39 hotel di seluruh Indonesia. Dengan pe-

HENDRA KUSUMAH | TEMPO

ACCOR Indonesia

Kembangkan Delapan Hotel Baru ngembangan itu, maka jaringan hotel ini akan memiliki 55 hotel dan 9.500 kamar pada 2012 nanti. Accor yang hadir di Indonesia sejak 1993 telah mengembangkan jaringannya di 17 kota di seluruh Indonesia dengan berbagai brand, seperti Sofitel, Pullman, MGallery, Novotel, Mercure, Suitehotel, Adagio, ibis, all seasons, Etap Hotel, Formule 1, Hotel F1, dan Motel 6. Sebagai informasi, Ibis merupakan brand pertama dari Accor yang buka di Indonesia dan masih berlanjut hingga saat ini. Sedangkan brand Pullman akan muncul pada akhir tahun ini dengan diresmikan-

nya hotel Pullman Legian, Bali. Sementara brand all seasons pertama kali muncul di Indonesia pada 2005 di Legian, Bali pula. ”Indonesia berada di garis depan dari pengembangan brand di Asia,” kata Gerard Guillouet, Vice President Accor Indonesia, Malaysia, dan Singapore Sebelumnya Accor telah berkomitmen pada beberapa pengembangan lainnya seperti Novotel Bangka, Novotel Tangerang, Mercure Simatupang, Mercure Bali Kuta Harvestland, Mercure Solo, Mercure Banjarmasin, dan all seasons Yogyakarta.  TIM INFO TEMPO

Hotel-hotel Baru Jaringan Accor Mercure Padang Berlokasi di daerah pengembangan baru dan dekat dengan kantor pemerintahan, bank dan aktivitas bisnis lainnya. Mecure Padang menawarkan 143 kamar, satu restoran dan bar, ballroom seluas 650 meter persegi, empat ruang pertemuan, kolam renang, spa, dan pusat kebugaran. all seasons Gajah Mada Berlokasi di daerah komersial di pusat Jakarta, berbatasan dengan Chinatown dan daerah komersial perkotaan yang masih asli, dikenal sebagai ”Kota”. all seasons Gajah Mada akan me-

nyediakan 130 kamar, satu restoran dan bar, serta tiga ruang pertemuan dan dijadwalkan diresmikan pada 2012.

rabaya Basuki akan memiliki 180 kamar.

all seasons Bangka Dengan kapasitas 159 kamar, satu restoran dan bar, serta berlokasi di pusat kota Pangkal Pinang, Hotel ini akan dibuka pada 2011.

ibis Manado Menghadap ke teluk Manado dan berjarak dekat ke pusat kota, kantor pemerintahan dan berseberangan dengan Manado Town Square, ibis Manado akan memiliki 120 kamar. Hotel ini dijadwalkan buka pada 2012.

ibis Surabaya Basuki Rahmat Berlokasi di jantung kota Surabaya memiliki akses mudah ke pusat perbelanjaan terbesar dan pusat eksibisi kota. Pada saat pembukaan akhir 2012, ibis Su-

ibis Balikpapan Akan buka pada awal 2011 di pesisir timur Borneo. Hotel ini berlokasi dekat dengan Novotel yang sudah ada dan pusat kota. ibis Balikpapan akan memiliki

156 kamar. all seasons Bali Denpasar Berlokasi di area komersial dan administratif ibu kota dengan 160 kamar. all seasons Bali Denpasar akan diresmikan pada 2011 dan akan menjadi all seasons kedua di pulau tersebut. ibis Bali Kuta Akan berlokasi di sekitar daerah keramaian Kuta, berdasar pada kekuatan permintaan akan hotel kelas ekonomi di area ini. Pada saat pembukaan di 2011, hotel ini akan memiliki 180 kamar.


UNIQUE

Sumur Berundak Chand Baori

AP PHOTO/VIRGIN GALACTIC, MARK GREENBERG

W i s a t a

Angkasa Luar Tiketnya US$ 200 ribu (sekitar Rp 1,8 miliar) untuk sekali perjalanan.

New York, Amerika Serikat – Destinasi kian tak terbatas, ke luar angkasa pun bisa, dan turis pun bisa memandang bumi dari luar. Salah satu paket wisatanya adalah perusahaan penerbangan angkasa luar komersial dari Amerika Serikat ini mengumumkan, tahun ini akan memberangkatkan turis angkasa luar yang pertama. Mereka akan naik pesawat angkasa luar Spaceship Two, yang ditembakkan dengan roket ke angkasa luar dari pesawat jet White Knight Two di ketinggian sekitar 90 ribu kaki. Pesawat itu selanjutnya akan melayang di angkasa luar selama 2,5 jam pada jarak sekitar 110 kilometer di atas permukaan bumi. Pada jarak itu, penumpang bisa leluasa melihat bumi yang tengah berputar di tengah kegelapan angkasa luar. Dirasakan juga sensasi melayang bebas gravitasi beberapa menit selama di angkasa luar. Tiketnya US$ 200 ribu (sekitar Rp 1,8 miliar) untuk sekali perjalanan. Pesawat akan membawa dua kru pesawat dan enam turis. Sebelum berangkat, para calon penumpang dikarantina satu minggu untuk mendapatkan pelatihan modul penerbangan dan latihan penyesuaian kehilangan berat badan selama di angkasa. Menurut bos Virgin Galactic, Richard Branson, pihaknya telah mengumpulkan uang US$ 30 juta (sekitar Rp 300 miliar) dari 150-an calon penumpang yang rela antri dan bersedia membayar di muka. Di antara penjual paket, XCor dengan pesawat Lynx menawarkan tarif paling murah, hanya US$ 100 ribu per orang untuk sekali jalan. Sebelumnya, sudah ada Russian Space Agency, yang memberangkatkan pesawat Space Adventure untuk membawa turis sipil. Tak hanya melayang beberapa jam, turis akan tinggal selama beberapa hari di stasiun angkasa luar Rusia, Soyuz. Biayanya mahal, US$ 35 juta (sekitar Rp 350 miliar). Pengusaha Malaysia, Sheikh Muszaphar Sukor, telah menjadi orang keenam yang mencoba tur ini pada 2007.  W

82 travelounge

OntimE

June, 2010

Rajasthan, India – Sumur penampungan air Chand Baori di Desa Abhaneri, Bandikui, Rajasthan, India, merupakan sumur penampungan air paling unik di dunia. Sumur atau dalam bahasa lokal disebut bawdi atau baoli ini merupakan sumber air vital di desa tersebut. Tidak seperti laiknya sumur air biasa, sumur ini dibangun ke dalam tanah, dengan arsitektur berundak-undak melingkar, melebar ke atas, membentuk sebuah kerucut. Sehingga komposisinya memudahkan para penduduk setempat untuk berjalan dari tangga ke tangga saat mengambil air. Dinding bermotif tangga-tangga dari batu bata disusun simetris bertingkat. Sumur Chand Bouri memiliki kedalaman 13 meter, terdiri atas 13 tingkatan dinding berundak dengan rute jalan melingkar, dengan 3.500 tangga yang menghubungkan bibir sumur dari atas hingga bawah. Dibangun pada abad ke-10, sumur ini dibangun untuk mengatasi kesulitan air di wilayah tersebut. Musim kemarau yang panjang mendorong penduduk membuat sumber air yang bisa sekaligus berfungsi sebagai bak penampungan air hujan, sehingga menjadi tandon air sepanjang tahun. Sumur ini dibangun di seberang Candi Harshat Mata.  W

Tur Bebek Rotorua Rotorua, Selandia Baru – Sebuah tank militer amfibi bekas sisa Perang Dunia II disulap menjadi angkutan keliling kota dalam paket “Rotorua Duck Tour”. Tank dimodifikasi sehingga lincah bergerak di darat maupun air. Di dalam terdapat tempat duduk untuk 20 orang dengan bak terbuka. Angkutan unik itu disebut dengan conductor. Wisata terdiri atas dua paket, yakni wisata 90 menit mengelilingi situs-situs dalam kota dan mengarungi Danau Rotarua yang terkenal indah dan menawan serta paket 120 menit dengan tambahan menyusuri hutan dan bukit-bukit Pegunungan Tarawera. Selama perjalanan, juga diceritakan oleh pemandu tentang sejarah conductor. Dalam sejarahnya, tank amfibi ini dikembangkan General Motors pada 1942 sebagai kendaraan perang vital pada masa Perang Dunia II. Tank ini semula diberi nama “DUKW”, namun sering dipelesetkan menjadi “duck” atau “bebek” karena bentuknya yang seperti bebek dan kemampuannya beroperasi di darat maupun di air.  Wahyuana | dari berbagai sumber


HOLIDAY

Musim Liburan Penuh Daya Pikat



ย—ย†ยƒยŠยย—ย•ย‹ยยย›ยƒวกยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยย’ยƒยยŒยƒยย‰ ย‹ยย‹ยย‡ยย‰ย‰ย‡ยŽยƒย”ย’ย‡ย–ยƒย—ยย–ย—ย ยย‡ยย‡ยย–ย—ยยƒยย†ย‡ย•ย–ย‹ยยƒย•ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ย–ย‡ย”ย’ย‹ยŽย‹ยŠย‰ย—ยยƒยย‡ยยŒยƒยย—ยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒย†ยƒย ย„ย‡ย”ยย‡ยŽย‹ย–ย†ยƒย”ย‹ย”ย—ย–ย‹ยย‹ย–ยƒย•ย•ย‡ยŠยƒย”ย‹วฆยŠยƒย”ย‹วค ย‡ย’ยƒยยŒยƒยย‰ย–ยƒยŠย—ยย‘ย”ยƒยย‰ย–ย—ยƒย„ย‡ยย‡ย”ยŒยƒย›ยƒยย‰ ย–ยƒยย’ยƒย•ยƒย†ยƒย”ย–ย‡ยŽยƒยŠยย‡ยย„ยƒยย‰ย—ยย„ย‡ยย–ย‡ยย‰ ย†ยƒยย•ย‡ยยƒย–ย’ย‡ยย„ยƒย–ยƒย•ยŠยƒย”ยย‘ยย‹ย•ยƒย•ย‹ ย„ย‡ย”ย•ยƒยยƒยƒยยƒยวฆยƒยยƒยย›ยƒยย‰ย•ย‹ย„ย—ยย’ย—ยŽยƒ ย†ย‡ยย‰ยƒยย„ย‡ย”ย–ย—ยย’ย—ยยย‡ย‰ย‹ยƒย–ยƒยย•ย‡ยย‘ยŽยƒยŠวค ย‹ยย‹วกย™ยƒยย–ย—ยย›ยƒย—ยย–ย—ยยย‡ยย—ยย„ยƒยย‰ยยƒย ย„ย‡ยย–ย‡ยย‰ย„ย‡ย”ยŒยƒย”ยƒยย‹ย–ย—วกย†ยƒยยย‡ยย…ยƒย‹ย”ยยƒย ยŠย—ย„ย—ยย‰ยƒยยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒย†ย‹ยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยยยƒยŽย‹ย‹ยย‹วค ย‡ยŽย‹ย„ยƒย–ยยƒยย•ย‡ยย—ยƒยƒยย‰ย‰ย‘ย–ยƒยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒย•ยƒยƒย– ยย‡ย”ย‡ยย…ยƒยยƒยยƒยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยวกย–ย‡ยย–ย—ย„ย‡ย”ยยƒยยยƒวค ย‘ยŠวกยย‡ย”ย‹ยƒยย‰ยƒยย’ย—ยย†ย‹ย„ยƒย‰ย‹ย•ยƒยยƒย’ย—ยŽยƒวค

Diproduksi oleh TIM INFO TEMPO

ย‘ย–ย‘วฃย‘ย—ย”ย‡ยย–ย‹ย—ย•

SDA


HOLIDAY

Pesona Liburan

di Tanah Air Bila ingin lebih sehat, keluarlah dari rutinitas dan manfaatkan liburan. Banyak tujuan wisata domestik yang bisa menyehatkan kita.

ย‘ย–ย‘วฃย‹ยƒยยย†ย”ย›ยƒยย–ย‘



ย„ย‡ย•ยƒย”วคยƒย’ย–ยƒยย‡ยย…ย‘ยย–ย‘ยŠยยƒยย„ย‹ย”ย‘ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ยƒย•ย‹ยย‰ ย†ยƒยยŒย‘ย•ย‡ย”ย†ย‹ย‡ยŽยƒยย†ยƒย›ยƒยย‰ย–ย‡ยŽยƒยŠ ยย‡ยยƒย•ยƒย”ยยƒยย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยย‡ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ ย†ย‡ย•ย–ย‹ยยƒย•ย‹ย†ย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒวคยƒยŠย—ยยŽยƒยŽย—  ย•ย—ยย•ย‡ย•ย†ย‡ยย‰ยƒยย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย—ยย–ย—ยอบอฒอฒวฆ อณวคอฒอฒอฒยย‡ยŽย‘ยย’ย‘ยวกย”ยƒย–ยƒวฆย”ยƒย–ยƒย–ย‡ย”ย†ย‹ย”ย‹อตอฒย‘ย”ยƒยย‰วค

ย—ย•ย‹ยยŽย‹ย„ย—ย”ยย‹ยƒยยย‡ยยŒย‡ยŽยƒยย‰วค ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠยƒยย‰ย‰ย‘ย–ยƒยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒ ย›ยƒยย‰ย–ย‡ยŽยƒยŠยย‡ยŽย‡ย™ยƒย–ยยƒย ยŠยƒย”ย‹วฆยŠยƒย”ย‹ย†ย‡ยย‰ยƒยย•ย‡ยย‘ยŽยƒยŠ ย†ยƒยย„ย‡ยย‡ย”ยŒยƒวกยŠย‡ยย†ยƒยยย›ยƒ ย•ย—ย†ยƒยŠย„ย‡ย”ย•ย‹ยƒย’ย—ยย–ย—ยย„ย‡ย”ย–ยƒยยƒย•ย›ยƒย†ยƒย ย„ย‡ย”ย‡ยย”ย‡ยƒย•ย‹วคย‹ย„ย—ย”ยƒยย›ยƒยย‰ย†ย‹ย”ย‡ยย…ยƒยยƒยยƒย ย„ยƒย‹ยวกย†ย‡ยย‰ยƒยย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย’ย‹ยŽย‹ยŠยƒยย›ยƒยย‰ ย†ย‹ย†ยƒยย„ยƒยยƒยย•ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠยƒยย‰ย‰ย‘ย–ยƒยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒวก ย–ย‡ยย–ย—ย„ย‹ย•ยƒยย‡ยย›ย‡ย‰ยƒย”ยยƒยยŒยƒย•ยยƒยย‹ย†ยƒยย”ย‘ยŠยƒยย‹วค ย—ย–ย‹ยย‹ย–ยƒย•ย†ยƒยยย‡ยŒย‡ยย—ยŠยƒยยƒยย‹ย„ยƒย– ยย‡ย•ย‹ย„ย—ยยƒยยย‡ย”ยŒยƒย†ยƒยย•ย‡ยย‘ยŽยƒยŠย„ย‹ย•ยƒย•ย‹ย”ยยƒ ยยƒย”ย‡ยยƒยย›ยƒวกย–ย‡ย”ย‰ยƒยย–ย‹ยยƒยย‘ยŽย‡ยŠยย‡ย„ยƒยŠยƒย‰ย‹ยƒยƒย ย†ยƒยยย‡ย‰ย‡ยย„ย‹ย”ยƒยƒยวกย†ย‡ยย‰ยƒยย•ย—ยƒย•ยƒยยƒ ยย‡ยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒยƒยย›ยƒยย‰ยย‡ยย–ยƒยŽวคยƒยย„ย‹ยŽยƒย‹ยย‰ย‹ย ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยย†ย‡ยย‰ยƒยย†ยƒยยƒย›ยƒยย‰ยŽย‡ย„ย‹ยŠ ยŠย‡ยยƒย–วกยย‡ยย‰ยƒย’ยƒย–ย‹ย†ยƒยยย‡ยย‹ยŽย‹ยŠย–ย—ยŒย—ยƒย ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ย‹ย–ยƒยยƒยŠยƒย‹ย”วคย‡ย•ย‘ยยƒย‘ย„ย›ย‡ยย’ยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ยƒยยƒยŠย‹ย”ย•ย—ย†ยƒยŠย†ย‹ยƒยย—ย‹ย†ย—ยย‹ยƒวกย–ยƒยยŽยƒย‰ย‹ยŠยƒยย›ยƒ ย•ย‡ย„ยƒย–ยƒย•ยƒยŽย‹ย†ยƒยย‘ย‰ย›ยƒยยƒย”ย–ยƒวค ยƒยŠย—ยยŽยƒยŽย—ยย‹ย•ยƒยŽยย›ยƒวก ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย–ย‡ย”ย’ย‹ยŽย‹ยŠ ย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ยย‡ย‰ยƒย”ยƒย†ย‡ยย‰ยƒยย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ย–ย‡ย”ย„ยƒย‹ยย†ยƒยย–ย‡ย”ย’ย‘ย’ย—ยŽย‡ย”ยย‡ย†ย—ยƒย†ย‹ย•ย‹ยƒวก ย˜ย‡ย”ย•ย‹ ย‘ย•ย‹ยƒวกยŽย‡ยย„ยƒย‰ยƒย•ย™ยƒย•ย–ยƒ ย‡ย”ยยƒยย†ย‹ ย„ย‹ย†ยƒยย‰ย’ยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวกย›ยƒยย‰ย„ย‡ย”ย’ย—ย•ยƒย–ย†ย‹ย‡ย”ยŽย‹ยวค

84 travelounge

OntimE

June, 2010

ย‘ย–ย‘วฃย†ย”ย‹ ย”ย‹ยƒยย–ย‘

ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒยย‡ย”ยƒย‹ยŠย’ย‡ยย‰ยŠยƒย”ย‰ยƒยƒยยย‡ย†ย—ยƒ ย•ย‡ย–ย‡ยŽยƒยŠยŠยƒย‹ยŽยƒยย†วกย•ย‡ย†ยƒยย‰ยยƒยย—ย”ย—ย–ยƒยยย‡ย–ย‹ย‰ยƒ ย†ย‹ย†ย—ย†ย—ยย‹ยƒยŽยƒย›ย•ย‹ยƒวคย‡ยย‡ยย–ย—ยƒยย’ย‡ยย‡ยยƒยย‰ ยย‡ย”ย—ย’ยƒยยƒยยŠยƒย•ย‹ยŽonline votingย†ย‹ย™ย™ย™วค ย‰ย‘ยƒย•ย‹ยƒวคย†ย‡วกย†ยƒยopen votingย†ย‹ยยƒยŒยƒยŽยƒยŠ ย’ยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒอดย†ยƒยอดยย‹ยŽย‹ย ย‘ย•ย‹ยƒวค ย‹ย”ย‡ยย–ย—ย” ย‡ยย†ย‡ย”ยƒยŽย‡ยยƒย•ยƒย”ยƒย ย‡ยย‡ยย–ย‡ย”ย‹ยƒยย‡ย„ย—ย†ยƒย›ยƒยƒยย†ยƒยยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ศ‹ย‡ยย„ย—ย†ย’ยƒย”ศŒวกยƒย’ย–ยƒย‹ย”ย™ยƒยย†ยƒย” ยย‡ยย‰ย—ยย‰ยยƒย’ยยƒยวกยย‹ยย‹ย–ย‡ยŽยƒยŠย„ยƒยย›ยƒยย„ย‹ย”ย‘ ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยƒย•ย‹ยย‰ย›ยƒยย‰ยย‡ยย‰ย‰ยƒย”ยƒย’ ย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹วคย”ย—ย•ยยƒย•ย—ย ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยยยƒยย…ยƒยย‡ย‰ยƒย”ยƒศ‹ย™ย‹ย•ยยƒยศŒยย‡ ยƒยยƒยŠย‹ย”ยย‡ยยƒยย‰ย†ย‹ยƒยย—ย‹ยย›ยƒย•ย‡ยยƒยย‹ย

ยƒย›ยƒย–ยƒย”ย‹ยย’ยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย–ย‡ย”ย„ย—ยย–ย‹ ย…ย—ยย—ย’ย„ย‡ย”ยย‹ย„ยƒย”วคยƒย–ยƒย‡ยย„ย—ย†ย’ยƒย”ย†ยƒยยƒย†ยƒย ย—ย•ยƒย–ย–ยƒย–ย‹ย•ย–ย‹ยยย‡ยย—ยยŒย—ยยยƒยย’ย‡ยย‹ยย‰ยยƒย–ยƒย ยŒย—ยยŽยƒยŠย™ย‹ย•ยยƒยย›ยƒยย‰ย’ยƒย†ยƒอดอฒอฒอถย„ย‡ย”ยŒย—ยยŽยƒยŠ อทวกอตอดยŒย—ย–ยƒย‘ย”ยƒยย‰ย†ยƒยยย‡ยย‰ยŠยƒย•ย‹ยŽยยƒยย†ย‡ย˜ย‹ย•ยƒ อ„อถวกอบอฒยย‹ยŽยŽย‹ยƒย”วกยย‡ยยŒยƒย†ย‹อธวกอถอทยŒย—ย–ยƒย‘ย”ยƒยย‰ ย†ย‡ยย‰ยƒยย’ย‡ยย‰ยŠยƒย•ย‹ยŽยƒยย†ย‡ย˜ย‹ย•ยƒอ„อธวกอตอฒยย‹ยŽย‹ยƒย” ย’ยƒย†ยƒอดอฒอฒอปวคยƒยŽยƒยยย—ย”ย—ยย™ยƒยย–ย—ย›ยƒยย‰ ย•ยƒยยƒยŒย—ยยŽยƒยŠย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยยยƒย•ย‹ย‘ยยƒยŽศ‹ย™ย‹ย•ยยƒย•ศŒ ยย‡ยย‹ยย‰ยยƒย–ย†ยƒย”ย‹อณอณอณวกอตอทยŒย—ย–ยƒย‘ย”ยƒยย‰ยย‡ยยŒยƒย†ย‹ อณอณอปวกอณอทยŒย—ย–ยƒย‘ย”ยƒยย‰วกย†ย‡ยย‰ยƒยย–ย‘ย–ยƒยŽย’ย‡ยย‰ย‡ยŽย—ยƒย”ยƒย ย†ยƒย”ย‹ย’อนอณวกอนอฒย–ย”ย‹ยŽย‹ย—ยยย‡ยยŒยƒย†ย‹ย’อณอดอบวกอนอน ย–ย”ย‹ยŽย‹ย—ยวค ยƒย†ย‹ย„ย‹ยŽยƒย™ยƒย”ย‰ยƒยย‡ย‰ยƒย”ยƒยŽยƒย‹ยย•ยƒยŒยƒ ย„ย‡ย”ย„ย‘ยย†ย‘ยย‰วฆย„ย‘ยย†ย‘ยย‰ยย‡ย–ยƒยยƒยŠยƒย‹ย”ยย‹ย–ยƒวก ยย‡ยย‰ยƒย’ยƒยย‹ย–ยƒย–ย‹ย†ยƒยย–ย—ย”ย—ย–ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ย’ย‡ย•ย‘ยยƒ ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยย‡ย„ยƒยย‰ย‰ยƒยย•ย‡ยย†ย‹ย”ย‹ย›ยƒยย‰ย•ย—ย†ยƒยŠ ย†ย‹ยƒยย—ย‰ย‡ย”ยƒยŠยยƒยย—ยŠยƒยยย‡ย’ยƒย†ยƒยย‹ย–ยƒวค ย‡ย•ยย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒยย‡ยย‹ยŽย‹ยย‹อตอตย†ยƒย‡ย”ยƒยŠ ย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ย•ย‡ย„ยƒย”ยย—ยŽยƒย‹ย†ยƒย”ย‹


KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR

Perjalanan dari Danau Teluk Gelam

OKI tak hanya punya Danau Teluk Gelam, tapi juga karnaval budaya dan atraksi lomba perahu di Sungai Komering yang mempesona. Dari namanya, Ogan Komering Ilir (OKI) memang tidaklah sepopuler kota-kota tetangganya, semisal Palembang dan Lampung. Namun dengan segala potensi yang dimilikinya, salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Selatan (Sumsel) ini diyakini bisa mensejajarkan namanya atau mungkin mengalahkan popularitas para tetangganya. Dengan luas wilayah 19.023,47 kilometer persegi, OKI merupakan kota terluas di Sumsel dengan 75 persennya merupakan rawa-rawa yang sebagian dimanfaatkan untuk pertanian tanaman pangan, perikanan, perkebunan dan peternakan seperti unggas air dan kerbau rawa. Sementara sisanya yang berupa daratan dimanfaatkan untuk permukiman dan sebagiannya dibiarkan sebagai hutan.

Alam yang masih asri adalah karunia Sang maha Pencipta yang diberikan kepada Bumi Bende Seguguk, sebutan lain OKI. Maka, tak berlebihan jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sektor pariwisata. Seperti dijelaskan Ishak Mekki, Bupati OKI,�Kabupaten OKI merupakan daerah yang kaya akan keindahan alam seperti Pulau Maspari, Sungai Komering, Danau Teluk Rasau, Pantai Sungai Lumpur, dan tentunya Danau Teluk Gelam.� Ini, baru sebagian saja. Di samping Danau teluk Gelam yang sohor itu, OKI juga masih memiliki sederet kesenian tradisional yang tak kalah menarik, di antaranya Pesta Rakyat Midang Morge Siwe, dan Lomba Bidar Tradisional. Jika Danau teluk Gelam dikenal sebagai tempat asyik untuk olah raga air, yang dilengkapi arena bermain lengkap bagi anak-anak, Pesta Rakyat Midang Morge merupakan karnaval budaya yang diikuti oleh sembilan marga di Kota Kayuagung. Pelaksanaannya pada Hari Raya Idul Fitri ke-3 dan ke-4, berupa arak-arakan bujang dan gadis yang mengenakan pakaian adat. Sedangkan Lomba Bidar, menyajikan atraksi menarik berupa lomba perahu yang dilakukan di Sungai Komering. Danau Teluk Gelam memang tak sekadar aset daerah. Namun, milik nasional. Karena selain pernah menjadi maskot Kabupaten OKI saat menjadi tuan rumah penyelenggaraan PON XIV di tahun 2004 silam, Danau Teluk Gelam juga ditetapkan sebagai area Jambore Nasional Pramuka IX dan Sea Games 2011 mendatang. Untuk mendukung pengembangan pariwisata ini, sepuluh hotel dan penginapan juga tersedia di kabupaten dengan 707.672 jiwa (data 2009) ini. Meski sampai saat ini, sektor pariwisata masih menempati urutan keenam kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, semangat untuk terus mengembangkan sektor pariwisata ini tak pernah pupus. Karena OKI masih memiliki peninggalan sejarah seperti Bukit Batu, Negeri Silop (negeri yang hilang), rumah seratus tiang, serta rumah adat Kayuagung yang tak kalah mempesona, dan pastinya hanya bisa ditemui di tanah asalnya. Dan untuk urusan wisata kuliner, OKI juga surganya makanan. Mulai dari pindang, pempek, kolak durian, sampai buah-buahan yang khas seperti durian, duku, serta srikaya, semua ada di sini. z INFORIAL


HOLIDAY

ย•ย‡ย„ย‡ยŽย—ยยย‡ยย‹ยŽย‹ยŠวกยย‹ย–ยƒยŠยƒย”ย—ย•ยย‡ยย‰ยŠย‹ย–ย—ยย‰ ยย‡ย„ย—ย–ย—ยŠยƒยย†ยƒยย„ย‹ยƒย›ยƒย—ยย–ย—ยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยวค ย‹ยยƒ ย‹ยย‰ย‹ยย’ย”ยƒยย–ย‹ย•วกยƒยย„ย‹ยŽย•ยƒยŒยƒย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยย’ยƒยย‡ย– ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ยƒย”ย‹ย„ย‹ย”ย‘ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวคย‹ย–ยƒ ย–ย‹ย†ยƒยย’ย‡ย”ยŽย—ย’ย—ย•ย‹ยย‰ยย‡ยย’ย‡ย”ยŠย‹ย–ย—ยย‰ยยƒยย„ย‹ยƒย›ยƒ ย–ย”ยƒยย•ย’ย‘ย”ย–ยƒย•ย‹วกย’ย‡ยย‰ย‹ยยƒย’ยƒยวกยยƒยยƒยวกย”ย‡ยย”ย‡ยƒย•ย‹ ย†ยƒยย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวคย‡ยยƒยย†ย—ย’ย—ยย†ย‹ย•ย‡ย†ย‹ยƒยยƒยวค ย’ยƒยŽยƒย‰ย‹ย„ย‹ยŽยƒยย‹ย–ยƒย–ย‹ย†ยƒยยย‡ยย’ย—ยย›ยƒย‹ ย‹ยยˆย‘ย”ยยƒย•ย‹ย›ยƒยย‰ยย‡ยยƒย†ยƒย‹ย–ย‡ยย–ยƒยย‰ย–ย—ยŒย—ยƒย ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวกย†ยƒยย™ยƒยย–ย—ย—ยย–ย—ยย„ย‡ย”ยŽย‹ย„ย—ย”ย–ย‡ย”ย„ยƒย–ยƒย•วค

ย‘ย–ย‘วฃย‘ย—ย”ย‡ยย–ย‹ย—ย•

ย’ย”ย‘ย˜ย‹ยย•ย‹ย’ยƒยŽย‹ยย‰ยƒย”ยƒย–ย›ยƒย‹ย–ย—ยƒยย‰ย‰ย”ย‘ย‡ย…ย‡ยŠ ยƒย”ย—ย•ย•ยƒยŽยƒยยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย’ยƒยŽย‹ยย‰ย‹ยย—ย”ย›ยƒย‹ย–ย— ย”ย‘ย˜ย‹ยย•ย‹ยƒย’ย—ยƒวกยยƒยย—ยยŠยƒยย›ยƒอณอธย†ยƒย‡ย”ยƒยŠ ย›ยƒยย‰ยย‡ยย›ย‡ย”ยƒย’อปอฒย’ย‡ย”ย•ย‡ยย™ย‹ย•ยยƒยย†ยƒย ย™ย‹ย•ยยƒย•วคย‡วฆอณอธย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย‹ย–ย—ยƒย†ยƒยŽยƒยŠ ยƒยย†ย—ยย‰วก ยƒยยƒย”ย–ยƒวกย‘ย‰ย›ยƒยยƒย”ย–ยƒวกยƒย–ยƒยวกยƒยŽย‹วก ย‘ย„ยƒวกยƒย”ยƒยยƒย–ยƒย—วกยƒยยƒย‘ย”ยƒยŒยƒวกย‘ยย„ย‘ยวก ย‡ยยƒย”ยƒยย‰วก ยƒย™ยƒวกย—ยย„ยƒย”วกยƒยยƒย†ย‘วก ยƒยย‰ยƒยŽยƒยย‹วกย‘ยย‘ย†ย‘ย†ยƒยย—ย’ยƒยย‰วคยƒย”ย‹ อณอธย†ยƒย‡ย”ยƒยŠย‹ย–ย—วกย’ย‡ยย‡ย”ย‹ยย–ยƒยŠยย‡ยย—ย†ย‹ยƒย ยย‡ยย‡ย–ยƒย’ยยƒยอณอฒย†ยƒย‡ย”���ƒยŠย—ยย‰ย‰ย—ยŽยƒยวค ย‡ยย†ย—ยย—ยย‰ย•ย—ยย•ย‡ย•ย’ยƒย”ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย–ยƒยยƒยŠ ยƒย‹ย”ย–ยƒยŠย—ยย‹ยย‹วกย‡ยย„ย—ย†ย’ยƒย”ย–ย‡ยŽยƒยŠยย‡ยย›ย‹ยƒย’ยยƒย อบอฒยย‡ย‰ย‹ยƒย–ยƒยย•ย‡ย’ยƒยยŒยƒยย‰อดอฒอณอฒย—ยย–ย—ย ยย‡ยย’ย”ย‘ยย‘ย•ย‹ยยƒยย†ย‡ย•ย–ย‹ยยƒย•ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ย‘ยย‡ย•ย–ย‹ยวค วฒย‡ยย‹ยย‰ยยƒย–ย†ย—ยƒยยƒยŽย‹ย†ย‹ย„ยƒยย†ย‹ยย‰ย–ยƒยŠย—ย ยŽยƒยŽย—วกวณยยƒย–ยƒย‹ย”ย‡ยย–ย—ย”ย”ย‘ยย‘ย•ย‹ยƒยŽยƒยย‡ย‰ย‡ย”ย‹ ย‡ยย„ย—ย†ย’ยƒย”วก ยƒย–ยŠย—ยŽยƒยŠย”ย‹วค ย‹ยƒยย–ยƒย”ยƒยย‡ย‰ย‹ยƒย–ยƒยย›ยƒยย‰ย’ย‘ย’ย—ยŽย‡ย”วกย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ยƒยŽยƒยยย‡ย”ย—ย’ยƒยยƒยย•ยƒยŽยƒยŠย•ยƒย–ย—ย›ยƒยย‰ย–ย—ยย„ย—ยŠ ย’ย‡ย•ยƒย–วกย•ย‡ย…ยƒย”ยƒย‰ยŽย‘ย„ยƒยŽย•ย‡ยย‹ย–ยƒย”อดอฒย’ย‡ย”ย•ย‡ยย†ยƒย”ย‹ ย–ย‘ย–ยƒยŽย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย‹ยย–ย‡ย”ยยƒย•ย‹ย‘ยยƒยŽวคย‘ย–ย‡ยย•ย‹ ย•ย—ยย„ย‡ย”ย†ยƒย›ยƒยƒยŽยƒย ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย„ย‡ย‰ย‹ย–ย—ย„ย‡ย•ยƒย” ย†ยƒย”ย‹ย†ย‡ย•ยƒยŠย‹ยย‰ย‰ยƒยย‘ย–ยƒวคย‹ย†ยƒยยŠยƒยย›ยƒย˜ย‡ย‰ย‡ย–ยƒย•ย‹วก ย‰ย—ยย—ยย‰วกยŽย‡ยย„ยƒยŠวกย•ย—ยย‰ยƒย‹วกย‰ย—ยƒวกยƒย‹ย”ย–ย‡ย”ยŒย—ยวก ย†ยƒยยƒย—ย†ยƒยยŽยƒย—ย–ยƒยวกย–ย‡ย–ยƒย’ย‹ยŒย—ย‰ยƒยย‡ย„ย—ยวกย•ยƒย™ยƒยŠวก ยย‡ย„ย—ยย”ยƒย›ยƒวกยย‡ย„ย—ยย„ย‹ยยƒย–ยƒยย‰ย†ยƒยยŽยƒย‹ยวฆยŽยƒย‹ยวค ย‡ย–ย—ยƒยŽยƒยย‰ยƒยย„ยƒย™ยƒยŠยŽยƒย—ย–วกย’ย‡ยย‰ยƒยยƒย–ยƒย ย„ย—ย”ย—ยย‰วกย’ย‡ยŽย‡ย’ยƒย•ยƒยย’ย‡ยย›ย—วกยย‡ยย‰ยƒยยƒย–ย‹ ย‰ย—ยย—ยย‰ย„ย‡ย”ยƒย’ย‹วกยƒย–ยƒย—ย‹ยย—ย–ย„ย‡ย”ย–ยƒยย‹ ยย‡ยย‰ยŠยƒย†ย‹ย”ยยƒยย•ย‡ยย•ยƒย•ย‹ย’ย‡ยย‰ยƒยŽยƒยยƒยย›ยƒยย‰

86 travelounge

OntimE

June, 2010

ย–ย‹ย†ยƒยย–ย‡ย”ยŽย—ย’ยƒยยƒยวคย‡ยย‰ยƒยŽยƒยยƒยย‹ยย‹ย–ย‹ย†ยƒย ยŠยƒยย›ยƒยย‡ยŽย‹ย„ยƒย–ยยƒยฯยŽย‘ย”ยƒย†ยƒยยˆยƒย—ยยƒวกย–ยƒย’ย‹ยŒย—ย‰ยƒ ยยƒยย—ย•ย‹ยƒย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ย„ยƒย‰ย‹ยƒยย†ยƒย”ย‹ยƒยŽยƒยวคย‡ยƒย†ยƒยƒย ย•ย‘ย•ย‹ยƒยŽย†ยƒยย„ย—ย†ยƒย›ยƒยยƒย•ย›ยƒย”ยƒยยƒย–ย›ยƒยย‰ยƒย•ยŽย‹ ย†ยƒยยƒยŽยƒยย‹ย•ยƒยย‰ยƒย–ยย‡ยยƒย”ย‹ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยวค ย—ยยƒยย–ยƒยยย—ยย‰ยย‹ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยƒยŽยƒย ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒ ยย‡ยย†ย‘ยย‹ยยƒย•ย‹ย–ย—ยŒย—ยƒยย—ย–ยƒยยƒย™ย‹ย•ยยƒยย†ยƒย ย™ย‹ย•ยยƒย•วค ยƒยย‰ย’ยƒย•ย–ย‹วกยย‹ยย‹ย’ย‹ยŽย‹ยŠยƒยย—ยย–ย—ยย–ย—ยŒย—ยƒย ย„ย‡ย”ยŽย‹ย„ย—ย”ยยƒยย‹ยย„ยƒยย›ยƒยย†ยƒยย„ย‡ย”ยƒย‰ยƒยวคย‡ยย–ย—

ยƒยย—ยยŒย‹ยยƒยย‡ยย‹ยŽย‹ยŠย—ยย–ย—ยยย‡ยย‹ยŽย‹ยย‹ ยย‡ย„ย‡ย„ยƒย•ยƒยย†ยƒยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ย•ย‡ยย†ย‹ย”ย‹วกยย‹ย–ยƒย–ย‡ย–ยƒย’ยŠยƒย”ย—ย•ยย‡ยย‰ย—ยย’ย—ยŽยยƒย ย‹ยยˆย‘ย”ยยƒย•ย‹ย–ย‡ยย–ยƒยย‰ย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ยƒย ย’ย”ยƒยย‹ย”ยƒยƒยย„ย‹ยƒย›ยƒวคย‹ยƒย›ยƒย›ยƒยย‰ยย‡ย•ย–ย‹ ย†ย‹ย’ย‡ย”ยŠย‹ย–ย—ยย‰ยยƒยยย‡ยย…ยƒยย—ย’ย—ยย–ย—ย ย–ย”ยƒยย•ย’ย‘ย”ย–ยƒย•ย‹วกย’ย‡ยย‰ย‹ยยƒย’ยƒยวกยยƒยยƒยวกย”ย‡ยย”ย‡ยƒย•ย‹วก ย„ย‡ยŽยƒยยŒยƒย†ยƒยย„ย‹ยƒย›ยƒย–ยƒยย–ย‡ย”ย†ย—ย‰ยƒวคยย—ยยย›ยƒวก ย„ย‹ยƒย›ยƒยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยย•ย‡ยย†ย‹ย”ย‹ ยŽย‡ย„ย‹ยŠยย—ย”ยƒยŠย†ยƒย”ย‹ย’ยƒย†ยƒย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวค ย‡ยยƒย”ยƒยย‰ย•ยƒยƒย–ยย›ยƒยย‹ย–ยƒย„ย‡ย”ย‰ย‡ยย„ย‹ย”ยƒ ยย‡ยยŒยƒยŽยƒยย‹ยย‡ยŠย‹ย†ย—ย’ยƒยวกยยƒย”ย‡ยยƒยย‡ย‰ย‡ยย„ย‹ย”ยƒยƒย ยย‡ยย„ย—ยƒย–ยย‹ย–ยƒยŽย‡ย„ย‹ยŠย•ย‡ยŠยƒย–วคย‹ยยยƒย–ย‹ยŽยƒยŠ ยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒย†ยƒยย„ย‡ย”ย•ย‡ยยƒยย‰วฆย•ย‡ยยƒยย‰ยŽยƒยŠวค ย‹ย„ย—ย”ยƒยย•ย‡ยŠยƒย”ย—ย•ยย›ยƒยย‡ยยŒยƒย†ย‹ยย‘ยย‡ยย–ย—ย ย›ยƒยย‰ย–ย‡ย’ยƒย–ย—ยย–ย—ยยย‡ยย›ย‡ยŠยƒย–ยยƒยย•ย‡ย”ย–ยƒ ยย‡ยย›ย‡ย‰ยƒย”ยยƒยยŒยƒย•ยยƒยย‹ย†ยƒยย”ย‘ยŠยƒยย‹ย•ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠ ยƒยย‰ย‰ย‘ย–ยƒยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒวค Danis Purwono

BUGAR DALAM PERJALANAN ยƒยŽยƒยย•ย‡ย–ย‹ยƒย’ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวกยย‡ยŽย‡ย–ย‹ยŠยƒยย•ย‡ย”ย‹ยย‰ยย‡ยย†ย‡ย”ยƒฯย‹ย•ย‹ยยย‹ย–ยƒวคย‹ยŽยƒยยƒย‹ยยย‡ยย†ยƒย”ยƒยƒย ย†ย‹ย†ยƒย”ยƒย–ย†ยƒยยย‡ยย—ยย‰ยย‹ยยยƒยวกย„ย‡ย”ยŠย‡ยย–ย‹ยŽยƒยŠย†ยƒยยย‡ยŽย—ยƒย”ย•ย‡ยŒย‡ยยƒยวคยƒยย—ยยƒยย„ย‡ย„ย‡ย”ยƒย’ยƒ ยƒยย–ย‹ย˜ย‹ย–ยƒย•ย„ย‡ย”ย‹ยย—ย–ยƒย‰ยƒย”ย–ย—ย„ย—ยŠย–ย‡ย–ยƒย’ย„ย—ย‰ยƒย”วค x ยƒยย—ยยƒยย’ย‡ย”ย‡ย‰ยƒยย‰ยƒยย•ย‡ย–ย‹ยƒย’ยŒยƒยย•ย‡ย”ย–ยƒยŒยƒยŽยƒยวฆยŒยƒยŽยƒยย„ย‹ยŽยƒยย†ยƒยยƒย‹ยย’ย‡ย•ยƒย™ยƒย–ย–ย‡ย”ย„ยƒยย‰ ยƒย–ยƒย—ยยƒย’ยƒยŽยŽยƒย—ย–วคย‡ย”ย‡ย‰ยƒยย‰ยƒยย†ยƒยย‰ย‡ย”ยƒยย„ยƒย†ยƒยยŒย—ย‰ยƒย„ย‹ย•ยƒย†ย‹ยŽยƒยย—ยยƒยย„ย‹ยŽยƒยย†ยƒ ยย‡ยย‰ย‡ยย†ยƒย”ยƒย‹ยย‘ย„ย‹ยŽวกย„ย—ย•ย†ยƒยยย‡ย”ย‡ย–ยƒยƒย’ย‹วค x ย‡ย”ยƒยยยƒยย‘ย–ย‘ย–วฆย‘ย–ย‘ย–ย„ย‡ย–ย‹ย•ย†ยƒยยยƒยย‹ย•ย‡ย…ยƒย”ยƒย–ย‡ย”ยƒย–ย—ย”วคย‡ยย…ยƒยย‰ยยƒยย†ยƒยยย‡ยย†ย—ย”ยยƒย ย‘ย–ย‘ย–วฆย‘ย–ย‘ย–ย’ยƒยย–ยƒย–ย†ยƒยย’ย‡ย”ย—ย–ย—ยย–ย—ยยย‡ยย„ยƒยย–ย—ยย‡ยย†ย‘ย”ย‘ยย‰ย†ยƒย”ยƒยŠยย‡ยย„ยƒยŽย‹ยย‡ ยŒยƒยย–ย—ยย‰วค x ย‹ยย—ยยŽยƒยŠยƒย‹ย”ย›ยƒยย‰ย…ย—ยย—ย’ยย‡ย•ยย‹ย’ย—ยย–ย‹ย†ยƒยยย‡ย”ยƒย•ยƒยŠยƒย—ย•วกย†ยƒยยŠย‹ยย†ยƒย”ย‹ยƒยŽยย‘ยŠย‘ยŽ ย—ยย–ย—ยยย‡ยย…ย‡ย‰ยƒยŠย†ย‡ยŠย‹ย†ย”ยƒย•ย‹วค x ย‡ยยƒยยƒยย„ยƒยŒย—ย†ยƒยย•ย‡ย’ยƒย–ย—ย›ยƒยย‰ยƒย‰ยƒยยŽย‘ยย‰ย‰ยƒย”วค x ย‡ย’ยƒย•ยยƒยย•ย‡ย’ยƒย–ย—ยย†ยƒย†ยƒยยยƒย‹ยยยƒยยย‡ย†ย—ยƒยยƒยย‹ศ‹ย„ย‡ย”ย‰ยƒยย–ย‹ยƒยย†ย—ยƒวฆย†ย—ยƒยย›ยƒย•ย‡ย…ยƒย”ยƒ ย„ย‡ย”ย•ยƒยยƒศŒวกย–ย‡ย–ยƒย’ย‹ยŒยƒยย‰ยƒยย•ย‹ยŽยƒยย‰ยยƒยยย‡ย†ย—ยƒยยƒยย‹วค x ย‡ย”ยยƒย’ยƒย•ยŽยƒยŠย–ย‡ย”ยƒย–ย—ย”วกยŒยƒยย‰ยƒยยย‡ย”ย‘ยย‘ยยยƒย”ย‡ยยƒย”ย‘ยย‘ยย†ยƒย’ยƒย–ยย‡ยย›ย‡ย„ยƒย„ยยƒย ยย‡ยย—ย”ยƒยย‰ยƒยย‘ยย•ย‹ย‰ย‡ยย†ยƒยย’ย‡ยย‰ย‡ยย–ยƒยŽยƒยย†ยƒย”ยƒยŠวค x ยƒยย‰ยƒยยย‡ยย—ยŽยƒย‹ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย†ยƒยŽยƒยยย‡ยƒย†ยƒยƒยยŽยƒย’ยƒย”วค ยƒยย‰ยƒยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ยŽย‡ย„ย‹ยŠย†ยƒย”ย‹ยŽย‹ยยƒยŒยƒยย–ยƒยย’ยƒยยƒยยƒยวค


ad v

BANDA ACEH

Bandar Wisata Islami Indonesia Visit Banda Aceh Year 2011 akan menjadi bukti betapa tanah Rencong ini tak hanya kaya wisata religi, namun juga alam yang memukau.

H

abis gelap terbitlah terang. Sepertinya kondisi itulah yang hendak dicapai Banda Aceh. Semenjak tragedi tsunami meluluhlantakkan wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera ini, praktis begitu banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan demi membangkitkan kembali harapan dan cita-cita. Salah satunya adalah menggairahkan kembali pariwisata Aceh sehingga diharapkan mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di kota Banda Aceh sekaligus mewujudkan visi menjadi Bandar Wisata Islami Indonesia. Itu sebabnya, pada 2010 ini Pemerintah Kota Banda Aceh terus melakukan berbagai persiapan seperti melakukan serangkaian kegiatan promosi, peningkatan kapasitas SDM pelaku wisata, pelestarian situssitus bersejarah, pengembangan dan penataan objek-objek destinasi wisata dan penyelenggaraan event wisata dan budaya. Dengan semboyan ”Visit Banda Aceh Year 2011” beberapa konsep wisata pun ditawarkan. Mulai dari Wisata Spiritual, Tsunami Heritage Trail, Banda Aceh Heritage, Wisata Seni dan Budaya, Wisata Kuliner, dan Wisata kawasan regional Basajan (Banda Aceh, Sabang dan Jantho) yang diharapkan bisa melahirkan pengalaman berwisata yang menarik. Sejarah mencatat, Aceh merupakan daerah pertama yang menerima Islam di Nusantara. Bahkan, saat ini Aceh adalah daerah yang terkenal sangat kental dalam melaksanakan Syariat Islam di Indonesia. Itulah mengapa daerah ini identik dengan sebutan ”Serambi Mekkah. Tentunya, sejarah perkembangan Islam, kehidupan masyarakat Islami, situs-situs bersejarah, makam-makam para ulama besar, dan pemberlakuan Syariat Islam di Aceh adalah sebuah keunikan dan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan peminat wisata spiritual. Salah satu contoh situs yang paling

sering dikunjungi wisatawan, adalah Masjid Raya Baiturrahman. Terletak di pusat kota Banda Aceh, masjid yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) ini dulunya merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Hingga saat ini, masjid ini menjadi simbol religius, keberanian, dan nasionalisme, sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh. Buat wisatawan yang ingin mengetahui kedahsyatan terjadinya tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, bisa menyaksikan lewat keberadaan situs-situs tsunami yang masih tersisa dan sangat menarik seperti PLTD Apung, Museum Tsunami, Kapal Apung Lampulo (sebuah kapal yang terbawa gelombang Tsunami dan terdampar di perumahan penduduk), Memorial Park, dan lain sebagainya. Di samping itu, Banda Aceh juga merupakan lokasi riset bagi para ilmuwan dunia yang tertarik untuk meneliti masalah tsunami. Banda Aceh yang telah berusia 805 tahun ini sendiri sebenarnya telah lama memiliki kekayaan berupa bangungan situs bersejarah, baik peninggalan pada zaman kerajaan maupun pada masa kolonial Belanda. Seperti Gunongan, Putro Phang, Kherkhoff, makam rajaraja, yang menarik untuk dipelajari. Begitu pun dengan keberagaman seni dan budayanya, semua dapat dinikmati di Banda Aceh. Misalnya tari saman, yang sangat terkenal di mancanegara. Sedangkan wisata alamnya, pasca tsunami kini telah pulih kembali. Sebut saja misalnya, tempat wisata Laut Lampu’u yang begitu indah. Dan untuk menyambut pencanangan Kota Banda Aceh sebagai daerah kunjungan wisata pada tahun 2011, Pemerintah Kota Banda Aceh mulai membenahi objek wisata maupun situs bersejarahnya. "Pemko terus berbenah diri dan berupaya mengimplementasi kota Islami dalam rangka mewujudkan tahun

kunjungan wisata 2011," kata Wali Kota Mawardy Nurdin. Pembenahan infrastruktur pendukung pariwisata lainnya seperti hotel, restoran dan penyediaan fasilitas pelayanan publik, serta SDM, menurut Mawardi juga perlu dilakukan sehingga wisatawan menjadi nyaman selama di Banda Aceh. ”Karena seberapa pun kerasnya kita memperindah fasilitas namun jika tidak disertai dengan pelayanan yang baik dan profesional terhadap wisatawan, tentu akan berimbas buruk terhadap kemajuan dunia pariwisata itu sendiri,” ujarnya. INFORIAL


HOLIDAY

Traveling Nyaman dengan Kartu Kredit Bagaikan pasangan serasi, traveling serasa tak lengkap tanpa menggunakan kartu kredit. Temukan sebanyak mungkin manfaat kartu kredit untuk perjalanan Anda. ย‘ย–ย‘วฃฯย‹ยˆย—ย”ยˆย‡ยย†ย‹

วฒ

ยƒย’ยƒย–ยยƒยวกย–ยƒย”ย‹ยˆ ย•ย’ย‡ย•ย‹ยƒยŽย—ยย–ย—ย ยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒ ยย†ยƒย•ย‡ยยƒย”ยƒยย‰ ยŒย—ย‰ยƒวจวณย‡ยย‹ยย‹ยƒย ย„ย—ยย›ย‹ย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹emailย†ยƒย”ย‹ ย•ย‡ย„ย—ยƒยŠยยƒย•ยยƒย’ยƒย‹ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒยยย‡ย’ยƒย†ยƒ ย’ยƒย”ยƒย’ย‡ยŽยƒยย‰ย‰ยƒยยย›ยƒวค ย‹ยยƒย†ย‹ย–ย‡ยŽย—ย•ย—ย”ย‹ยŽย‡ย„ย‹ยŠ ยŽยƒยยŒย—ย–วกย–ย‡ย”ยย›ยƒย–ยƒย–ย‹ยย‡ย–ย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ย’ย‡ย”ย‘ยŽย‡ยŠย†ย‹ ยƒยย–ยƒย”ยƒยย›ยƒย†ย‡ยย‰ยƒยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒย ย•ย‡ย…ยƒย”ยƒonlineยย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒยยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–วค ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยย•ย‡ย”ย—ย’ยƒย•ยƒยย‰ยƒย–ย•ย‡ย”ย‹ยย‰ย†ย‹ยŒย—ยย’ยƒย‹วก ย–ย‡ย”ย—ย–ยƒยยƒย†ย‹ยย—ย•ย‹ยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยย†ยƒยevent ย–ย‡ย”ย–ย‡ยย–ย—วค ยƒย”ย‹ย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยย‹ย–ย—ย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ยŽย‹ยŠยƒย– ย„ยƒยŠย™ยƒยยƒย•ย›ยƒย”ยƒยยƒย–ย•ยƒยƒย–ย‹ยย‹ย„ย‡ย”ยย‡ย•ย‡ยย’ยƒย–ยƒย ยŽย‡ย„ย‹ยŠยŽย‡ยŽย—ยƒย•ยƒยย‡ย”ย‡ยย…ยƒยยƒยยƒยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒย ยย‡ย”ย‡ยยƒย†ยƒย”ย‹ยŒยƒย—ยŠยŠยƒย”ย‹ย†ย‡ยย‰ยƒยยŽย‡ย„ย‹ยŠ ยย—ย†ยƒยŠวกย„ย‹ยƒย›ยƒย›ยƒยย‰ย‡ยย‘ยย‘ยย‹ย•ย†ยƒยย–ยƒยย’ยƒ ยŠยƒย”ย—ย•ยย‡ยย‰ย‰ยƒยย‰ย‰ย—ย”ย‡ยย…ยƒยยƒวฆย”ย‡ยย…ยƒยยƒ ยŽยƒย‹ยยย›ยƒวคย‡ยย‰ยƒย’ยƒย†ย‡ยย‹ยย‹ยƒยวซยŽยƒย•ยƒย ย’ย‡ย”ย–ยƒยยƒวกย”ย‡ยย…ยƒยยƒย„ย‡ย’ย‡ย”ย‰ย‹ยƒยยŽย‡ย„ย‹ยŠยย—ย†ยƒยŠ ย†ย‹ย™ย—ยŒย—ย†ยยƒยย–ยƒยย’ยƒยŠยƒย”ย—ย•ยย‡ยย‰ย‡ยŽย—ยƒย”ยยƒย ย„ยƒยย›ยƒยย‡ยย‡ย”ย‰ย‹ย—ยย–ย—ยยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒยย–ย‹ยย‡ย– ย—ยย–ย—ยย„ย‡ย’ย‡ย”ย‰ย‹ยƒยวกย…ย—ยย—ย’ยŠยƒยย›ยƒยย‡ยย‰วฆยยŽย‹ย ย–ย‡ยย’ยƒย–ย–ย—ยŒย—ยƒยย›ยƒยย‰ย†ย‹ย‹ยย‰ย‹ยยยƒยย•ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒ ย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ยŽยƒยย—ยยƒยย•ย‡ย…ยƒย”ยƒ onlineวค ยŽยƒย•ยƒยยŽย‡ย„ย‹ยŠย‡ยย‘ยย‘ยย‹ย•ย–ย‡ยย–ย—ย•ยƒยŒยƒวก ยยƒย”ย‡ยยƒย–ย‹ยย‡ย–ยŽย‡ย„ย‹ยŠยย—ย”ยƒยŠยยƒย”ย‡ยยƒย–ย‡ยŽยƒยŠ ย†ย‹ย’ย‡ย•ยƒยย†ยƒย”ย‹ยŒยƒย—ยŠยŠยƒย”ย‹ย†ยƒยย„ย—ยยƒยย’ยƒย†ยƒ ย•ยƒยƒย–peak-seasonวคย‹ย†ยƒยยย‡ยย‰ย‰ยƒยย‰ย‰ย— ย”ย‡ยย…ยƒยยƒย›ยƒยย‰ยŽยƒย‹ยยย›ยƒวกยยƒย”ย‡ยยƒย†ย‡ยย‰ยƒย ยย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒยยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย•ย‡ย•ย‡ย‘ย”ยƒยย‰ย–ย‹ย†ยƒย ย’ย‡ย”ยŽย—ยย‡ยย‰ย‰ยƒยย‰ย‰ย—ยƒย‰ย‡ยย†ยƒย›ยƒยย‰ย–ย‡ยย‰ยƒยŠ

88 travelounge

OntimE

June, 2010

ย„ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยยƒย”ย‡ยยƒcash flowย–ย‹ย†ยƒยย–ย‡ย”ย‰ยƒยย‰ย‰ย— ย‘ยŽย‡ยŠย”ย‡ยย…ยƒยยƒtravelingวค ยƒยย’ยƒย•ยƒยย‰ยƒยย›ยƒยย‰ย•ยƒยย‰ยƒย–ย•ย‡ย”ยƒย•ย‹วก ย†ย‡ย™ยƒย•ยƒย‹ยย‹travelingย†ยƒยย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยƒย ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย•ย—ยŽย‹ย–ย—ยย–ย—ยย†ย‹ย’ย‹ย•ยƒยŠยยƒย ย•ย‡ย”ย–ยƒย–ย‡ยŽยƒยŠยย‡ยยŒยƒย†ย‹ย‰ยƒย›ยƒยŠย‹ย†ย—ย’ย„ยƒย‰ย‹ ยย‡ย„ยƒยย›ยƒยยƒยย‘ย”ยƒยย‰ย†ย‹ยƒยยƒยŠย‹ย”วคยƒยŽยƒยŠ ย•ยƒย–ย—ย‹ยย†ย‹ยยƒย–ย‘ย”ยย›ยƒวกยƒยย ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒ ศ‹ ศŒยย‡ยย…ยƒย–ยƒย–ยย‹ยŽยƒย‹ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ยยƒย”ย–ย— ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยย‡ยย…ยƒย’ยƒย‹ย’อถอณอนวกอณอบยย‹ยŽย‹ยƒย”ย’ยƒย†ยƒ ยƒย”ย‡ย–อดอฒอณอฒยƒย–ยƒย—ยย‡ยย‹ยย‰ยยƒย–อดอดวกอทฮจ ยŒย‹ยยƒย†ย‹ย„ยƒยย†ย‹ยย‰ยยƒยย’ยƒย†ยƒยƒย”ย‡ย–อดอฒอฒอป ย›ยƒยย‰ย•ย‡ย„ย‡ย•ยƒย”ย’อตอถอฒวกอทยย‹ยŽย‹ยƒย”วคย‡ยย–ย— ย•ยƒยŒยƒย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยƒยย•ยƒยƒย–travelingย„ยƒยย›ยƒย ยย‡ยย›ย—ยย„ยƒยย‰ย†ยƒยŽยƒยยย‹ยŽยƒย‹ย–ย‡ย”ย•ย‡ย„ย—ย–วค

ยƒยยŠยƒยย›ยƒย†ยƒยŽยƒยยŠยƒยŽยย‡ยย‡ย•ยƒย ย–ย‹ยย‡ย–วกยŠยƒย”ย—ย•ย†ย‹ยƒยย—ย‹ย„ยƒยย›ยƒยยŠยƒยŽยŽยƒย‹ยย›ยƒยย‰ ยย‡ยย„ย—ยƒย–ย‘ย”ยƒยย‰ย•ยƒยย‰ยƒย–ย–ย‡ย”ย‰ยƒยย–ย—ยย‰ย†ย‡ยย‰ยƒย ย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยƒยยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–วคยƒย‰ยƒย‹ยยƒยยƒ ย–ย‹ย†ยƒยวกย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ยย—ย”ยƒยŠย†ยƒยยย—ย†ยƒยŠย–ย‹ย†ยƒยยŠยƒยย›ยƒย–ย‡ย”ย•ย‡ย†ย‹ยƒ ย—ยย–ย—ยย–ย‹ยย‡ย–ยยƒยย—ยยŒย—ย‰ยƒยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ยŽยƒย‹ยยย›ยƒย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ยŠย‘ย–ย‡ยŽวกย–ย‡ยย’ยƒย–ยยƒยยƒยวก ย–ย‡ยย’ยƒย–ย„ย‡ย”ย„ย‡ยŽยƒยยŒยƒย›ยƒยย‰ย–ย‡ยย–ย—ย•ยƒยŒยƒยƒยยƒย ยย‡ยย‰ย—ย”ยƒยย‰ย‹ย„ย‹ยƒย›ยƒย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวคย‹ย–ยƒยย„ยƒยŠ ยŽยƒย‰ย‹ย†ย‡ยย‰ยƒยpoint rewardย›ยƒยย‰ย„ย‹ย•ยƒ ย†ย‹ยย—ยย’ย—ยŽยยƒยย†ยƒยย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ย–ย—ยยƒย”ย†ย‡ยย‰ยƒย ยŠยƒย†ย‹ยƒยŠย–ย‡ย”ย–ย‡ยย–ย—วค

ย—ยยƒยย‡ยย‰ยƒย’ย”ย‡ย•ย‹ยƒย•ย‹ยย‡ย„ย—ย–ย—ยŠยƒยยƒย travelingย’ยƒย†ยƒยยƒย•ยƒย„ยƒยŠวกย„ยƒยยย–ย‹ย†ยƒยยŒยƒย”ยƒยย‰

ย‘ย–ย‘วฃย‘ย—ย”ย‡ยย–ย‹ย—ย•


HOLIDAY

ยŠยƒย”ย‰ยƒวฆยŠยƒย”ย‰ยƒย’ย”ย‘ยย‘ย–ย‹ยย‡ย–ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒย ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ยยƒย•ยยƒย’ยƒย‹ย†ย‘ยย‡ย•ย–ย‹ยย†ยƒย ย‹ยย–ย‡ย”ยยƒย•ย‹ย‘ยยƒยŽย†ย‡ยย‰ยƒยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒย ย’ย‡ยย‡ย•ยƒยยƒยยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ยƒยย†ย‹ย”ย‹ ย”ยƒย˜ย‡ยŽย‡ยย–ย‡ย”วค ยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย– ยŒย—ย‰ยƒ ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒยย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยย–ยƒย ยยƒยŽยƒยŠยย‡ยยƒย”ย‹ยวกย›ยƒยยย‹ยŠยƒย”ย‰ยƒ ย•ย’ย‡ย•ย‹ยƒยŽย—ยย–ย—ยย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒย ยย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒยย‡ย”ย’ยƒย–ย‹ย‹ย”ยŽย‹ยย‡ย• ย„ยƒย‰ย‹ย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–  วคย’ย‡ย…ย‹ยƒยŽ ยƒย”ย‡ยย—ยŽยƒย‹ย’อดอปอฒ ย”ย‹ย„ย—ย†ย‡ยย‰ยƒยยƒย”ย–ย—ย”ย‡ย†ย‹ย–  ย†ยƒยยยƒย”ย–ย—ย‡ย„ย‹ย– ย—ยย–ย—ย ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒยอตอธยย‘ย–ยƒย–ย—ยŒย—ยƒยวกย†ย‹ ยƒยย–ยƒย”ยƒยย›ยƒย—ยƒย”ยƒย„ยƒย›ยƒวกย‡ยย’ยƒย•ยƒย”วก ยƒย–ยƒย”ยƒยวกยƒยยƒย•ย•ยƒย”วกย‡ยย†ยƒย”ย‹วก ย‘ย–ย‘วฃยƒยย…ยƒย›ย—ย”ยยƒยย‹ ย—ย’ยƒยย‰วกยƒยยƒย†ย‘วกย‹ยƒยวก ยƒย›ยƒย’ย—ย”ยƒวก ย†ยƒยย‹ยย‹ยยƒย†ย‡ยย‰ยƒยย’ย‡ย”ย‹ย‘ย†ย‡ ยย‡ยย›ย‡ยŽย‡ยย‰ย‰ยƒย”ยƒยยƒยย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยย”ยƒย˜ย‡ยŽ ยƒย‹ย”วค ย’ย‡ยย‡ย•ยƒยยƒยอณอทวฆอตอฒย’ย”ย‹ยŽอดอฒอณอฒย†ยƒยย’ย‡ย”ย‹ย‘ย†ย‡ ยƒยย ยย‡ยย›ย‡ยŽย‡ยย‰ย‰ยƒย”ยƒยยƒยย”ยƒย˜ย‡ยŽ ยƒย‹ย” ยย‡ย„ย‡ย”ยƒยย‰ยยƒย–ยƒยอดอนย’ย”ย‹ยŽวฆอดอนย‡ย‹อดอฒอณอฒวค ย†ย‹ยŽยƒยœยƒ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย†ยƒย”ย‹ย–ยƒยย‰ย‰ยƒยŽอดอดวฆอดอน ย‡ย‹อดอฒอณอฒย†ย‡ยย‰ยƒยย–ยƒย™ยƒย”ยƒยยŠยƒย”ย‰ยƒย–ย‡ย”ย„ยƒย‹ย ยƒย‰ย‹ย’ย‡ยŽยƒยย‰ย‰ยƒย ยƒย”ย—ย†ยƒย›ยƒยย‰ย‹ยย‰ย‹ย ย†ยƒยย…ย‹ย…ย‹ยŽยƒยย†ย‡ยย‰ยƒยย„ย—ยย‰ยƒอฒย’ย‡ย”ย•ย‡ยย—ยย–ย—ย ย„ย‡ย”ยŽย‹ย„ย—ย”ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ ย”ยƒย˜ย‡ยŽย‡ย”ย˜ย‹ย…ย‡วก ย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย– วค ย’ย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย– ย†ยƒย’ยƒย– ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยวค ยƒยยŒยƒย”ยƒยย‰ย„ยƒยยย’ย‡ยย‡ย”ย„ย‹ย–ยยƒย”ย–ย—ยยƒย”ย–ย— ย‹ยƒยย–ยƒย”ยƒยย›ยƒbuy one get one free ย—ยย–ย—ย ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยย‡ยยƒย™ยƒย”ยยƒยย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย›ยƒยย‰ ย’ย‡ยย„ย‡ยŽย‹ยƒยย–ย‹ยย‡ย– ยƒย”ย—ย†ยƒ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒยย‡ ยย‡ยย‰ย‰ย‹ย—ย”ยยƒยวคย‹ย•ยƒยŽยย›ยƒย•ยƒยŒยƒย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒย ยย•ย–ย‡ย”ย†ยƒยวกยย‡ยย—ย†ย‹ยƒยย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยdiscount ย›ยƒยย‰ย†ย‹ย„ย‡ย”ย‹ยยƒยยƒยยยƒยย†ย‹ย”ย‹ย›ยƒยย‰ย„ย‡ย”ยƒยยŠย‹ย” ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒ อณอทย’ย‡ย”ย•ย‡ยย—ยย–ย—ยย’ย‡ยย„ย‡ยŽย‹ยƒยย–ย‹ยย‡ย– ย’ยƒย†ยƒย’ย‡ย”ย‹ย‘ย†ย‡ยƒย”ย‡ย–อดอฒอณอฒยŽยƒยŽย—วคยƒยŽยƒยŠ

ยƒย”ย—ย†ยƒยย‡ย•ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠย†ย‡ย•ย–ย‹ยยƒย•ย‹วคยƒยยยƒยŽยƒยŠ ย•ยƒย–ย—ยย›ยƒย’ยƒยย‡ย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย‹ยย‰ยƒย’ย‘ย”ย‡ย”ย—ย‹ย•ย‡ ยย‡ยยƒย”ย‹ยย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยspecial price ย†ย‹ย„ย‡ย„ย‡ย”ยƒย’ยƒ ย•ย‡ยŽยƒยยƒอตยŠยƒย”ย‹อดยยƒยŽยƒยยŠยƒยย›ยƒย†ย‡ยย‰ยƒย ยŠย‘ย–ย‡ยŽย–ย‡ย”ยยƒยยƒย†ย‹ย•ย‡ยŒย—ยยŽยƒยŠยย‘ย–ยƒย„ย‡ย•ยƒย”ย†ย‹ ยย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ย„ย‹ยƒย›ยƒอธอทอฒฮชฮชย†ย‘ยŽยƒย”ย‹ยย‰ยƒย’ย‘ย”ย‡วค ยƒยยƒยŠย‹ย”ย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ ย”ย—ย’ย™ย‹ย•ย•ย„ย‡ยŽยŽ ย‘ย–ย‡ยŽวก ย‡ยย‰ยƒยย„ย‹ยƒย›ยƒย–ย‡ย”ย•ย‡ย„ย—ย–ยยƒย•ยƒย„ยƒยŠย„ย‹ย•ยƒ

ย”ย—ย’ ย‘ย–ย‡ยŽ ย‘ย”ย‹ย•ย‘ยวกยƒยŠย‹ย† ย‘ย–ย‡ยŽวกย‡ย‰ย‡ยย…ย› ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ยยƒย’ยƒยŽย’ย‡ย•ย‹ยƒย” ย›ยƒย–ย–ยƒยย†ย—ยย‰ย†ยƒย ย‘ย–ย‡ยŽ ย—ยย‹ยŽยƒยย‰ ย–ยƒย”ย”ย—ย‹ย•ย‡ย†ยƒยยย‡ยย‹ยŽย‹ยย‹ยย‡ย•ย‡ยย’ยƒย–ยƒย ยƒยย†ย—ยย‰ ยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒยย’ย‘ย–ย‘ยย‰ยƒยยŠยƒย”ย‰ยƒย•ยƒยย’ยƒย‹ อนอฒย’ย‡ย”ย•ย‡ยย—ยย–ย—ยย‘ย”ยƒยย‰ยย‡ย†ย—ยƒวคย”ย‘ย‰ย”ยƒย ย‡ยย‡ยย–ยƒย”ยƒย‹ย–ย—ยƒยยย—ยย‘ย’ย‹ย discount ย–ยƒยย„ย‡ย”ยŠย‡ยย–ย‹ย†ย‹ย•ย‹ย–ย—วคยย–ย—ย ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒยdiscountยŠย‹ยย‰ย‰ยƒอทอฒย’ย‡ย”ย•ย‡ย ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย†ยƒยŽยƒยยย‡ย‰ย‡ย”ย‹ยย‡ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยย—ยย‘ย’ย‹ย ย—ยย‹ย•ย…ย‘ย—ยย– ยย‘ย–ยƒย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ย‡ย†ยƒยวกย—ย”ยƒย„ยƒย›ยƒวกยƒยย†ย—ยย‰วก ยย—ยŽยƒย‹อดอฒย’ย”ย‹ยŽยŠย‹ยย‰ย‰ยƒอตอฒ ย—ยย‹ยย‡ยย†ยƒย–ยƒยย‰ ย‡ยยƒย”ยƒยย‰วกยƒยŽย‹ยย’ยƒย’ยƒยวกย‡ยย’ยƒย•ยƒย”ฦฌ ยƒยยƒย•ย•ยƒย”ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยย†ย‹ย”ย‹ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒย ย„ยƒย‰ย‹ย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒย”ย–ย—ย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยยย—ยย‘ย’ย‹ย ย„ยƒย‹ยย‹ย•ยƒย†ยƒยยƒย•ย–ย‡ย”ย…ยƒย”ย†วคย”ย‘ย‰ย”ยƒยdiscount special priceย—ยย–ย—ยยŒยƒย”ย‹ยย‰ยƒยยŠย‘ย–ย‡ยŽ ย†ย‹ย„ย‡ย”ย‹ยยƒยย†ย‹ย„ย‡ย„ย‡ย”ยƒย’ยƒย”ย‡ย•ย–ย‘ย†ยƒยยŠย‘ย–ย‡ยŽย†ย‹ ย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ย”ย›ยƒย†ย—ย–ยƒวกย™ย‹ย•ย•ย„ย‡ยŽยŠย‘ย–ย‡ยŽวก ย”ย—ย’ ยƒยยƒย”ย–ยƒวกยƒยย†ย—ยย‰วกย‡ย†ยƒยวกยƒย–ยƒยวกย—ย”ยƒย„ยƒย›ยƒวก ย‘ย”ย‹ยœย‘ยวกย†ยƒยยŒย—ย‰ยƒยŠย‘ย–ย‡ยŽวฆยŠย‘ย–ย‡ยŽย–ย‡ย”ยยƒยยƒ ย†ย‹ยย‘ย–ยƒวฆยย‘ย–ยƒย–ย‡ย”ย•ย‡ย„ย—ย–วคยƒยƒย–ย‹ยย‹ย–ย‘ย–ยƒยŽยƒย†ยƒยŽย‡ย„ย‹ยŠ ยƒยยƒย•ยƒย”วกย‡ยยƒย”ยƒยย‰วกย‘ยŽย‘ย†ยƒย ย‘ย‰ยŒยƒ ย†ยƒย”ย‹อณอทอฒยŠย‘ย–ย‡ยŽย›ยƒยย‰ย„ย‡ยย‡ย”ยŒยƒย•ยƒยยƒย†ย‡ยย‰ยƒย ยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยŒย—ย‰ยƒยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒย ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยย†ย‹ย”ย‹วค ยย‡ยย›ยƒยยƒยยƒยยยƒย”ย‡ยยƒยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒยยŒยƒยย‹ยยƒย ย’ย‡ยย‡ย”ย‹ยยƒยƒยย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ย†ย‹ยŒย—ย–ยƒยƒยย–ย‡ยย’ยƒย– ย‡ยŽยƒย‹ยย‹ย–ย—ย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยยย‡ยยƒย”ย‹ยย†ย‡ยย‰ยƒย ย’ย‡ย”ย„ย‡ยŽยƒยยŒยƒยƒยย†ย‹ย•ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠย†ย—ยย‹ยƒวคย‡ยŽยƒย‹ย ยยƒย•ยยƒย’ยƒย‹ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒยย†ย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย•ย‡ยŽยƒยŽย— ย‹ย–ย—ย•ย‡ย•ย‡ย‘ย”ยƒยย‰ยŒย—ย‰ยƒย„ย‹ย•ยƒยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒย ย†ย‹ย„ย‡ย”ย‹ยยƒยยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยย†ย‹ย”ย‹วกย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ ยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•executive loungeย†ย‹airportย›ยƒยย‰ ย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยย”ย‹ย™ย‹ยŒยƒย›ยƒย‹ย”ย„ย‡ยŽย‹อณย‰ย”ยƒย–ย‹ย•อณยย‡ ย•ย‡ย”ย‹ยย‰ย†ย‹ย–ยƒย™ยƒย”ยยƒยย—ยย–ย—ยย’ย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยยƒย”ย–ย— ย•ย‡ยŽย—ย”ย—ยŠย”ย—ย–ย‡ย†ย‘ยย‡ย•ย–ย‹ยย†ยƒยย‹ยย–ย‡ย”ยยƒย•ย‹ย‘ยยƒยŽวก ยŒย‡ยย‹ย•goldย†ยƒยplatinumวคย‡ย”ยยƒย‹ย–ย†ย‡ยย‰ยƒย ย’ย”ย‘ย‰ย”ยƒยย†ย‹ย•ยย‘ยย’ย‡ยย„ย‡ยŽย‹ยƒยย–ย‹ยย‡ย–ย†ย‡ยย‰ยƒย ยย‡ยย›ยƒยยƒยยƒยย†ยƒยŽยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวกยยƒย”ย–ย—

ยƒย”ย—ย†ยƒ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒวคย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยยƒย”ย–ย— ยย”ย‡ย†ย‹ย– ย‹ย•ยƒยŽยƒย–ย‹ยย—ยวกยยƒย•ยƒย„ยƒยŠย„ย‡ย”ยŠยƒย ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยย†ย‹ย”ย‹ยŒย—ย‰ยƒย†ยƒย’ยƒย–ยย‡ยยƒยยˆยƒยƒย–ยยƒย

90 travelounge

OntimE

June, 2010

ยƒย–ยƒย•ย’ย‡ย”ยŽย‹ยย†ย—ยย‰ยƒยย–ย‡ย”ยŠยƒย†ยƒย’ยย‡ย…ย‡ยŽยƒยยƒยƒย ย’ยƒย†ยƒย•ยƒยƒย–ย„ย‡ย’ย‡ย”ย‰ย‹ยƒยย†ย‡ยย‰ยƒยยย‡ยย†ยƒย”ยƒยƒย ย—ยย—ยย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ยŒยƒย†ย‹ยยƒย’ยƒยย•ยƒยŒยƒยŠย‹ยย‰ย‰ยƒ ย’อณอฒอฒยŒย—ย–ยƒวค ย‡ยย‡ยย–ยƒย”ยƒย’ย‡ยย„ย‡ยŽย‹ยƒยย–ย‹ยย‡ย–ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยƒยย†ย‹ย”ย‹ย‘ย–ย‘ยย‘ย–ย‹ย•ยย‘ยย•ย—ยย‡ย ย•ย—ย†ยƒยŠยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒยย’ย‡ย”ยŽย‹ยย†ย—ยย‰ยƒย ยƒย•ย—ย”ยƒยย•ย‹ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย’อถอฒอฒยŒย—ย–ยƒ ย—ยย–ย—ยยยƒย”ย–ย—silverวกย’อธอฒอฒยŒย—ย–ยƒย—ยย–ย—ยgold ย†ยƒยย’ย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยยƒย”ย–ย—platinumย†ย‹วฆcover ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย’อทยย‹ยŽย‹ยƒย”วคยƒยยŠยƒยย›ยƒย‹ย–ย—ยยŠย—ย•ย—ย• ย’ย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยยƒย”ย–ย—ยŽยƒย–ย‹ยย—ยยƒยย†ย‹ย”ย‹วกย•ย‡ย…ยƒย”ยƒ ย‘ย–ย‘ยยƒย–ย‹ย•ยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒยย’ย‡ย”ยŽย‹ยย†ย—ยย‰ยƒยยƒย–ยƒย• ยย‡ย–ย‹ย†ยƒยยย›ยƒยยƒยยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย’ อดอทยŒย—ย–ยƒยƒย’ยƒย„ย‹ยŽยƒย’ย‡ย•ยƒย™ยƒย–ย–ย‡ย”ยŽยƒยย„ยƒย–วกย„ยƒย‰ยƒย•ย‹ ย–ย‡ย”ยŽยƒยย„ยƒย–วกย„ยƒย‰ยƒย•ย‹ยŠย‹ยŽยƒยย‰ย†ยƒยยย‹ย•ยย‘ยย‡ยย•ย‹ ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวค MERENCANAKAN PERJALANAN DENGAN KARTU KREDIT ยƒย‰ย‹ยย†ยƒย›ยƒยย‰ย‹ยย‰ย‹ยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒย travelingย„ย‡ย”ย•ยƒยยƒย–ย‡ยยƒยยƒย–ยƒย—ยย‡ยŽย—ยƒย”ย‰ยƒวก ย„ย‡ย„ย‡ย”ยƒย’ยƒย–ย‹ย’ย•ย„ย‡ย”ย‹ยย—ย–ย•ย‡ย–ย‹ย†ยƒยยย›ยƒ ยย‡ยย„ยƒยย–ย—ยย†ยƒยย‡ย”ย‡ยย…ยƒยยƒยยƒย ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย›ยƒยย‰ยย—ย†ยƒยŠย†ยƒยยŽย‡ย„ย‹ยŠ ย‡ยย‘ยย‘ยย‹ย•วคย‡ย”ย–ยƒยยƒวกย…ยƒย”ย‹ยŽยƒยŠย‹ยยˆย‘ย”ยยƒย•ย‹ ย•ย‡ย„ยƒยย›ยƒยยย—ยย‰ยย‹ยย–ย‡ยย–ยƒยย‰ย–ย‡ยย’ยƒย–ย–ย—ยŒย—ยƒย ย›ยƒยย‰ย‹ยย‰ย‹ยย†ย‹ยย—ยยŒย—ยย‰ย‹ย•ย‡ย”ย–ยƒยย‡ย‰ย‹ยƒย–ยƒยยƒย’ยƒ ย•ยƒยŒยƒย›ยƒยย‰ยƒยยƒยย†ย‹ยŽยƒยย—ยยƒยย†ย‹ย•ยƒยยƒวค ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒวกย…ย‡ย”ยยƒย–ย‹ยƒย’ยƒยยƒยŠยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย• ย†ยƒย”ย‹ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย›ยƒยย‰ยย†ยƒยย‹ยŽย‹ยย‹ ยย‡ยย†ย—ยย—ยย‰ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยย‡ย–ย‡ยย’ยƒย–ย›ยƒยย‰ ย†ย‹ย–ย—ยŒย—วคย‡ย–ยƒยŠย—ย‹ย•ย‡ย…ยƒย”ยƒยยƒยย•ย‹ยยƒยŽยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย• ย›ยƒยย‰ย†ย‹ย•ย‡ย†ย‹ยƒยยƒยย‘ยŽย‡ยŠยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย—ยย–ย—ย ยย‡ยย—ยยŒยƒยย‰ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวคย—ยŽยƒย‹ย†ยƒย”ย‹ ย’ย‡ยย‡ย•ยƒยยƒยย–ย‹ยย‡ย–ย†ยƒยยŠย‘ย–ย‡ยŽวคย’ยƒยยƒยŠยยƒย”ย–ย— ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย›ยƒยย‰ยย†ยƒยย‹ยŽย‹ยย‹ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒย ย’ย”ย‘ยย‘ย•ย‡ย•ย—ยƒย‹ย–ย—ยŒย—ยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยย†ยƒวซ ย–ยƒย—ยƒย’ยƒยยƒยŠยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย„ย‡ยย‡ย”ยŒยƒย•ยƒยยƒ ย†ย‡ยย‰ยƒยย„ย‹ย”ย‘ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย–ย‡ย”ย–ย‡ยย–ย—ย›ยƒยย‰ ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒยยย‡ยย—ย†ยƒยŠยƒยวค ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒวกยŒยƒยย‰ยƒยยŽย—ย’ยƒย‰ย—ยยƒยยƒย poin reward ยƒย–ยƒย—ย’ย‡ยยƒย™ยƒย”ยƒยdiscount ย›ยƒยย‰ย„ย‹ย•ยƒย†ย‹ยยƒยยˆยƒยƒย–ยยƒยย†ยƒย”ย‹ย’ย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยƒย ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ยย†ยƒย†ย‹ยย‘ย–ยƒย–ย—ยŒย—ยƒยวคย‡ยย‰ยƒย ยย‡ยยƒยยˆยƒยƒย–ยยƒยยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย•ย‡ย…ยƒย”ยƒ ยยƒยย•ย‹ยยƒยŽยย†ยƒย–ยƒยยŠยƒยย›ยƒยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยยƒย ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ยย‡ยย—ย†ยƒยŠยƒยยยƒยย—ยยŒย—ย‰ยƒ ยย‡ย—ยย–ย—ยย‰ยƒยวคยƒยย—ยยŒยƒยย‰ยƒยยŽย—ย’ยƒวกย•ย‡ย–ย‹ยƒย’ ย’ย‡ยย‰ย‡ยŽย—ยƒย”ยƒยย•ย‡ย„ยƒย‹ยยย›ยƒย–ย‡ยŽยƒยŠย†ย‹ยƒยย‰ย‰ยƒย”ยยƒย ย•ย‡ย…ยƒย”ยƒยยƒย–ยƒยย‰ย•ย‡ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ยย†ยƒย„ย‹ย•ยƒย–ย‡ย”ยŽยƒยย•ยƒยยƒย–ยƒยย’ยƒยย‡ยย‰ย‰ยƒยย‰ย‰ย— ยƒยย–ย‹ย˜ย‹ย–ยƒย•ยŽยƒย‹ยยย›ยƒวคย‡ยŽยƒยยƒย–ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยย†ยƒวจ TIM INFO TEMPO


HOLIDAY



ย‡ย”ย•ยƒยย–ยƒย‹ยย‡ยย‹ยยยƒย–ย‹ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒย ย–ยƒยย’ยƒยย‡ยย‹ยย‹ย”ยยƒยย„ยƒยย›ยƒยยŠยƒยŽ ย–ย‡ยย–ย—ยย‡ยยŒยƒย†ย‹ย‹ย†ยƒยยƒยย„ยƒยย›ยƒย ย‘ย”ยƒยย‰วค ยƒยŽย–ย‡ย”ย•ย‡ย„ย—ย–ย•ย—ย†ยƒยŠ ย•ย‡ยยƒยย‹ยยย—ย†ยƒยŠย†ย‹ย™ย—ยŒย—ย†ยยƒย ย†ย‡ยย‰ยƒยยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ย›ยƒยย‰ย†ย‹ย•ย‡ย†ย‹ยƒยยƒยย„ยƒยย ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹electronic bankingศ‹e-bankingศŒวค ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹วกย„ยƒย‹ยย—ยย–ย—ย ยย‡ย’ย‡ย”ยŽย—ยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยยƒย—ย’ย—ยย—ย”ย—ย•ยƒย ยย‡ย—ยƒยย‰ยƒยย”ย—ยยƒยŠย–ยƒยย‰ย‰ยƒยƒย–ยƒย—ย’ย—ยย„ย‹ย•ยย‹ย•วก ย„ย‹ย•ยƒย†ย‹ยŽยƒยย—ยยƒยย•ย‡ย…ยƒย”ยƒย„ย‡ย”ย•ยƒยยƒยƒยย–ยƒยย’ยƒ ยย‡ยย‰ย‰ยƒยย‰ย‰ย—ยย‡ยย›ยƒยยƒยยƒยย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยวค ยƒย”ย‡ยยƒวกย†ย‹ย„ย‡ยŽยƒยŠยƒยย†ย—ยย‹ยƒยยƒยยƒย’ย—ย ยยƒย•ยƒย„ยƒยŠยย‡ยŽยƒยย…ย‘ยย‰วกยŒยƒย”ย‹ยย‰ยƒยe-bankingย•ย‹ยƒย’ ย•ย‡ย†ย‹ยƒยย‡ยŽยƒย›ยƒยย‹ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ย›ยƒยย‰ย†ย‹ย‹ยย‰ย‹ยยยƒยวค

Transaksi Tanpa Batas

Melalui e-Banking

Tanpa mengganggu aktivitas traveling, berbagai transaksi rutin dan situasional perbankan dapat dilakukan kapan dan di manapun.

ยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•ย‡วฆย„ยƒยยย‹ยย‰ย›ยƒยย‰ย–ย‡ยŽยƒยŠย—ยย—ย ย†ย‹ย‰ย—ยยƒยยƒยยƒย†ยƒยŽยƒยŠphone bankingวกวกย•ยย• bankingวกยŠย‹ยย‰ย‰ยƒinternet bankingวค ยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย• e-bankingยย‡ยย—ยย‰ยย‹ยยยƒยย•ย‡ย•ย‡ย‘ย”ยƒยย‰ ย†ย‡ยย‰ยƒยยย—ย†ยƒยŠยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย’ย‡ยย„ย‡ยŽย‹ยƒยย–ย‹ยย‡ย–วก ยย‡ยย‡ย•ยƒยยŠย‘ย–ย‡ยŽยƒย–ยƒย—ย’ย—ยย—ยย–ย—ยย„ย‡ย”ย„ย‡ยŽยƒยยŒยƒ ย†ย‹ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹merchantวคยƒย•ยƒย„ยƒยŠย’ย—ย ย†ย‡ยย‰ยƒยยย—ย†ยƒยŠยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยยƒยย‡ยยƒย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ ยย‡ย—ยƒยย‰ยƒยย›ยƒยย‰ย†ย‹ย„ย—ย–ย—ยŠยยƒยย•ย‡ยŽยƒยยƒย†ยƒยŽยƒย ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยยƒย–ยƒย—ยย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยย‡ย™ยƒยŒย‹ย„ยƒย ย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยยŽยƒย‹ยยย›ยƒวค ยƒย†ย‹ย–ยƒยยƒย†ยƒยŽยƒย‰ย‹ย…ย‡ย”ย‹ย–ยƒ ย’ยƒยย‹ยย•ย‡ย•ย‡ย‘ย”ยƒยย‰ย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ยŽย—ย’ยƒยย‡ยย„ยƒย›ยƒย” ย„ย‡ย”ย„ยƒย‰ยƒย‹ย–ยƒย‰ย‹ยŠยƒยย”ย—ย–ย‹ยย„ย—ยŽยƒยยƒยยยƒยย—ย ย•ย—ย†ยƒยŠย–ย‡ย”ยŽยƒยยŒย—ย”ยย‡ยย—ยŽยƒย‹ย’ย‡ย”ยŒยƒยŽยƒยยƒยย—ยย–ย—ย ย™ยƒยย–ย—ย›ยƒยย‰ย…ย—ยย—ย’ยŽยƒยยƒวค ยƒย”ยƒย›ยƒยย‰ย’ยƒยŽย‹ยย‰ย—ยย—ยยƒย†ยƒยŽยƒยŠ ย„ย‡ย”ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ยŽย‡ย™ยƒย–วคยƒย•ยƒย„ยƒยŠยŠยƒยย›ยƒ ย’ย‡ย”ยŽย—ย†ยƒย–ยƒยย‰ยย‡ยย‡ย•ย‹ยย›ยƒยย‰ยƒย†ยƒย†ย‹ ย•ย‡ยย‹ย–ยƒย”ย–ย‡ยย’ยƒย–ย„ย‡ย”ยŽย‹ย„ย—ย”ย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ยŒยƒย”ย‹ยย‰ ย†ยƒยŽยƒยยŒยƒย”ย‹ยย‰ยƒยย„ย‡ย”ยŽย‘ย‰ย‘ย‡ย”ย•ยƒยยƒวก ย‹ย”ย”ย—ย•วกวกย”ย‹ยยƒย†ยƒยวคย—ยย—ย’ ย†ย‡ยย‰ยƒยยย‡ยยƒย•ย—ยยยƒยยยƒย”ย–ย—ยย‡ ยย‡ย•ย‹ยวกย’ย‹ยŽย‹ยŠย„ยƒยŠยƒย•ยƒย†ยƒยยย‡ย–ย‹ย ยย†ยƒวค ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒวกย’ย‹ยŽย‹ยŠยŽยƒยŠยย‡ยย—ย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยวก ย‹ยยˆย‘ย”ยยƒย•ย‹ย•ยƒยŽย†ย‘วกยƒย–ยƒย—ย–ย”ยƒยย•ยˆย‡ย”ย›ยƒยย‰ ย†ย‹ย‹ยย‰ย‹ยยยƒยวค ยƒย‰ย‹ยยƒย•ยƒย„ยƒยŠย›ยƒยย‰ยŒยƒย—ยŠย†ยƒย”ย‹ยƒยย•ย‡ย• วกยˆยƒย•ย‹ยŽย‹ย–ยƒย•phone banking ย›ยƒยย‰ยย‡ยŽยƒย›ยƒยย‹ ย•ย‡ยŽยƒยยƒอดอถยŒยƒยย†ยƒยอนยŠยƒย”ย‹ยย‡ยย—ยย‰ยย‹ยยยƒย ยยƒย•ยƒย„ยƒยŠยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ย–ยƒยย’ยƒย„ยƒย–ยƒย• ย™ยƒยย–ย—วคยƒย›ยƒยยƒยยƒยย†ย‹ย”ย‹ยƒยŽยŽยย‹ย•ยƒยŽยย›ยƒวก ยยƒยยƒยŽยƒย›ยƒยยƒยphone banking ยƒยยยƒยย†ย‹ย”ย‹วก ย†ยƒย’ยƒย–ยย‡ยย›ย‡ยŽย‡ย•ยƒย‹ยยƒยย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยยƒยย‡ยยƒ ย–ยƒย‰ย‹ยŠยƒยวคยƒย”ยƒยย›ยƒย…ย—ยย—ย’ยย‡ยย‰ยŠย—ย„ย—ยย‰ย‹ ยย‘ยย‘ย”ย–ย‡ย”ย–ย‡ยย–ย—วกยยƒย•ยƒย„ยƒยŠย•ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒ ยƒยยƒยย†ย‹ยŽยƒย›ยƒยย‹ย‘ยŽย‡ยŠยย‡ย•ย‹ยย’ย‡ยยŒยƒย™ยƒย„

ย‘ย–ย‘วฃย‡ยŽยŽย›ยยย‡

ศ“Interactive Voice Responseศ€ ศŒย›ยƒยย‰ยƒยยƒย ยย‡ยย„ย‹ยย„ย‹ยย‰ย†ยƒยŽยƒยยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ ย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยย–ยƒย‰ย‹ยŠยƒยวค ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ย•ยย•ย„ยƒยยย‹ยย‰ ยƒยย†ย‹ย”ย‹วกย…ยƒย”ยƒยย›ยƒยŽย‡ย„ย‹ยŠยย—ย†ยƒยŠยŽยƒย‰ย‹วคย—ยย—ย’ ยย‡ยย‰ย‡ย–ย‹ยย’ย‡ย•ยƒยย•ยย•ย†ย‹ย–ย‡ยŽย‡ย’ย‘ยย•ย‡ยŽย—ยŽย‡ย”วก ยŽยƒยŽย—ยย‹ย”ย‹ยยย‡ยย‘ยย‘ย”ย›ยƒยย‰ย–ย‡ยŽยƒยŠย†ย‹ย–ย‡ยย–ย—ยยƒยวค ย‡ย•ยƒยยย›ยƒย’ย—ยย•ยƒยย‰ยƒย–วคย•ย‹ยย‰ยยƒย–ย†ยƒยยย—ย†ยƒยŠ ย•ย‡ย•ย—ยƒย‹ยˆย‘ย”ยยƒย–ย›ยƒยย‰ย–ย‡ยŽยƒยŠย†ย‹ย–ย‡ยย–ย—ยยƒยวก ย•ย‡ยŽยƒยยŒย—ย–ยย›ยƒยย‡ยย‰ย‹ยย—ย–ย‹ย’ย‡ย”ย‹ยย–ยƒยŠยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ ย•ยย•วค ยƒย›ยƒยยƒยย„ยƒยยย‹ยย‰ ย–ยƒยยยƒยŽยƒยŠ ยย—ย†ยƒยŠยย›ยƒวคยƒย•ยƒย„ยƒยŠย–ย‹ย†ยƒยย’ย‡ย”ยŽย—ยย‡ยย‰ย‡ย–ย‹ย ย•ยย•ยย‡ยŽยƒย‹ยยยƒยย…ย—ยย—ย’ยย‡ยย‹ยŽย‹ยŠยย‡ยย—ย›ยƒยย‰ ยƒย†ยƒวกย•ย‡ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒย†ยƒย’ยƒย–ยย‡ยŽยƒยย—ยยƒยย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ ย’ย‡ย”ย„ยƒยยยƒยย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ย•ย‡ย†ย‹ยƒวคย‡ยƒยยƒยยƒย ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ย’ย—ยย–ย‡ย”ยŒยƒยย‹ยยยƒย”ย‡ยยƒย’ย‡ย•ยƒย ย›ยƒยย‰ย†ย‹ยย‹ย”ย‹ยย•ย‡ย…ยƒย”ยƒย‘ย–ย‘ยยƒย–ย‹ย•ย–ย‹ย†ยƒยยƒยยƒย ย–ย‡ย”ย•ย‹ยย’ยƒยย†ย‹ย’ย‘ยย•ย‡ยŽวกย•ย‡ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒยƒยย†ยƒย–ย‹ย†ยƒย ย’ย‡ย”ยŽย—ยย‡ยย‰ยŠยƒย’ย—ย•ย•ย‡ยย–ย‹ย–ย‡ยย•ย†ย‹ย’ย‘ยย•ย‡ยŽวค

ย‡ยƒยยƒยยƒยยŒย—ย‰ยƒยย‡ยยŒยƒย†ย‹ย’ย‡ย”ยŠยƒย–ย‹ยƒย ยƒยยย—ยย‘ย’ย‹ยวคย—ยŽยƒย‹อณอปย‡ย‹ยŽยƒยŽย—วกย•ย‡ย–ย‹ยƒย’ ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ย‹ยย–ย‡ย”ยย‡ย–ยƒยยย‹ยย‰ย—ยย‘ย’ย‹ย ย†ย‹ยŽย‡ยย‰ยยƒย’ย‹ย’ย‡ยย‰ยƒยยƒยย–ยƒยย„ยƒยŠยƒยย„ย‡ย”ย—ย’ยƒ ย‘ยย‡ยย›ยƒยย‰ยŠยƒยย›ยƒย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ย‰ย—ยยƒยยƒย ย—ยย–ย—ยอณศ‹ย•ยƒย–ย—ศŒยยƒยŽย‹ย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹ศ‹one time passwordศŒย›ยƒยย‰ย†ย‹ยย‹ย”ย‹ยยย‡ยŽยƒยŽย—ย‹ยย‡ย†ย‹ยƒ ยƒย–ยƒย•ย’ย‡ย”ยย‹ยย–ยƒยƒยยยƒย•ยƒย„ยƒยŠวค ยƒย‰ย‹ย’ยƒย”ยƒย’ย‡ยŽยƒยย…ย‘ยย‰ยยƒย•ยƒยย‹ยย‹ยƒย†ยƒ ย„ย‡ย”ยƒย‰ยƒยย’ย‘ย–ย‘ยย‰ยƒยยŠยƒย”ย‰ยƒยƒย–ยƒย—ย†ย‹ย•ยย‘ยย›ยƒยย‰ ย„ย‹ย•ยƒยย‡ย”ย‡ยยƒย†ยƒย’ยƒย–ยยƒยย•ยƒยƒย–ยย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒย ยยƒย”ย–ย—ย†ย‡ย„ย‹ย–ย†ยƒยยยƒย”ย–ย—ยย”ย‡ย†ย‹ย–ย—ยย–ย—ย ย’ย‡ยย„ยƒย›ยƒย”ยƒยยƒยย‡ยยƒย–ย”ยƒยย•ยƒยย•ย‹วคยƒยย ย’ย‡ยย‡ย”ย„ย‹ย–ยยƒย”ย–ย—ย†ย‡ย„ย‹ย–ย•ย‡ยŽยƒยŽย—ยย‡ยย„ย—ยƒย–ย’ย”ย‘ยย‘ ยย‡ยยƒย”ย‹ยย•ย‡ยŠย‹ยย‰ย‰ยƒยยƒย•ยƒย„ยƒยŠยย‡ยย†ยƒย’ยƒย–ยย‹ยŽยƒย‹ ยŽย‡ย„ย‹ยŠย•ยƒยƒย–ยย‡ยย‰ย‰ย—ยยƒยยƒยยยƒย”ย–ย—ย†ย‡ย„ย‹ย–ย—ยย–ย—ย ย„ย‡ย”ย„ย‡ยŽยƒยยŒยƒวควณย‡ยย‰ยƒยย–ย‹ย†ยƒยยย‡ยย„ยƒย™ยƒย—ยƒยย‰ ย–ย—ยยƒย‹วกย•ยƒย›ยƒย†ยƒย’ยƒย–ยย‡ยย‹ยย‹ยยƒยŽยยƒยย”ย‹ย•ย‹ยย‘ ยย‡ยŠย‹ยŽยƒยย‰ยƒยยƒย–ยƒย—ยย”ย‹ยย‹ยยƒยŽวกวณย—ยŒยƒย”ย‘ย„ย‡ย”ย–ย•ยƒยŽยƒยŠ ย•ยƒย–ย—ย’ย‡ยย‡ย‰ยƒยย‰ยƒยย†ย‹ย”ย‹ย‡ย„ย‹ย–วค TIM INFO TEMPO

92 travelounge

OntimE

June, 2010


HOLIDAY

Berlibur ke Timur Kawasan Indonesia bagian timur menyimpan potensi pariwisata. Dukungan infrastruktur makin menguat. Tunggu apa lagi?

ย—ย‰ย—ย•ยƒยย’ย—ยŽยƒย—ย›ยƒยย‰ยย‡ยยŒยƒย†ย‹ ยยƒย”ยƒยย–ย‡ย”ย‹ย•ย–ย‹ย ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒ ย•ย—ย†ยƒยŠยŽยƒยยƒย†ย‹ยƒยย—ย‹ย†ย‡ยย‰ยƒย ย’ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย›ยƒยย‰ ยย‡ยยƒยยŒย—ย„ยยƒยวคย‡ยยŠยƒย•ยƒย ย’ยƒยย‘ย”ยƒยยƒย—ย•ยƒยย–ยƒย”ยƒย‹ยย‹ยยƒยย‹ยยย‡ยย‘ยยŒย‘ยŽ ยยƒย”ย‡ยยƒย•ย‡ย„ยƒย‰ย‹ยƒยย„ย‡ย•ยƒย”ย™ย‹ยŽยƒย›ยƒยŠยย›ยƒย–ย‡ย”ย†ย‹ย”ย‹ ย†ยƒย”ย‹ย’ย‡ย‰ย—ยย—ยย‰ยƒยวกย’ย‡ย”ย„ย—ยย‹ย–ยƒยวกย’ย‡ย•ย‹ย•ย‹ย” ย’ยƒยย–ยƒย‹วกย†ยƒยยŽยƒย—ย–ยƒยวคยƒย”ยƒยย–ย‡ย”ย‹ย•ย–ย‹ยย‹ยย‹ ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ยยƒยย’ย‡ยŽย—ยƒยย‰ยƒย†ยƒยย›ยƒย„ยƒยย›ยƒย ย’ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ยƒยŽยƒยย›ยƒยย‰ย†ยƒย’ยƒย–ย†ย‹ยŒยƒย†ย‹ยยƒย ย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ย‘ย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒวค ย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย„ยƒย‰ย‹ยƒยย‹ยย—ย”วกย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ย„ยƒยŠยƒย”ย‹ย–ย‡ย”ยยƒย•ย—ยย•ยƒยŽยƒยŠย•ยƒย–ย—ย’ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ย›ยƒยย‰ ยŽยƒย›ยƒยยย‡ยย’ย‡ย”ย‘ยŽย‡ยŠยƒย…ย—ยย‰ยƒยยŒย‡ยย’ย‘ยŽวก ยยƒย”ย‡ยยƒย†ยƒย‡ย”ยƒยŠย†ย‡ยย‰ยƒยยŽย—ยƒย•ย™ย‹ยŽยƒย›ยƒยŠ ยŽยƒย—ย–ยย›ยƒย›ยƒยย‰ยŽย‡ย„ย‹ยŠย„ย‡ย•ยƒย”ย†ยƒย”ย‹ย’ยƒย†ยƒย†ยƒย”ยƒย–ยƒย ย–ย‡ยย–ย—ยย‡ยย›ย‹ยย’ยƒยย•ย‡ยŒย—ย–ยƒยย‡ยยƒย›ยƒยƒยยƒยŽยƒย ย„ยƒยŠยƒย”ย‹วคย‘ย–ย‡ยย•ย‹ย–ย‡ย”ย’ย‡ยย†ยƒยย‹ยย‹ยŽยƒยŠย›ยƒยย‰ ยย‡ยย‡ยย’ยƒย–ยยƒยยย„ย‘ยวกยƒยŽย—วกย†ยƒยย‡ย”ยยƒย–ย‡ ย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ย‹ยยƒยŽยƒยย‰ยƒย ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยย†ย‘ยย‡ย•ย–ย‹ยย†ยƒยยยƒยย…ยƒยย‡ย‰ยƒย”ยƒวค ย‡ยŽยƒย‹ยยย‡ยย‹ยŽย‹ยย‹ยยƒย”ยƒยย–ย‡ย”ย‹ย•ย–ย‹ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ย„ยƒยŠยƒย”ย‹ย›ยƒยย‰ยย‡ยยƒยย’ยƒยยยƒยย…ย‹ย”ย‹ยยŠยƒย•

ยย„ย‘ยวกยƒยŽย—ยย—วกย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ ยย‘ย–ยƒยย‡ย’ย—ยŽยƒย—ยƒยวกย–ยƒย ยย—ย”ยƒยย‰ย•ยƒย”ยƒย–ยย‹ยŽยƒย‹ ย•ย‡ยŒยƒย”ยƒยŠย†ยƒยย„ย—ย†ยƒย›ยƒย›ยƒยย‰ ย…ย—ยย—ย’ย–ย‹ยย‰ย‰ย‹วคย—ยŒย—ย† ย™ยƒย”ย‹ย•ยƒยย•ย‡ยŒยƒย”ยƒยŠย†ยƒย ย„ย—ย†ยƒย›ยƒย›ยƒยย‰ย•ยƒยย’ยƒย‹ ย•ยƒยƒย–ย‹ยย‹ย„ย‹ย•ยƒย†ย‹ยŽย‹ยŠยƒย– ยƒยย–ยƒย”ยŽยƒย‹ยย‰ย‡ย†ย—ยย‰วฆ ย‰ย‡ย†ย—ยย‰ย‹ย„ยƒย†ยƒยŠวกย–ย‡ยย’ยƒย–วฆ ย–ย‡ยย’ยƒย–ย’ย‡ยยƒยยƒยยƒยวก ย”ย—ยยƒยŠวฆย”ย—ยยƒยŠย”ยƒยŒยƒวก ย„ย‡ยย–ย—ยวฆย„ย‡ยย–ย—ย ย’ยƒย–ย—ยย‰ย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ยยƒย‹ย– ย†ย‡ยย‰ยƒยยย‡ย’ย‡ย”ย…ยƒย›ยƒยƒย ย‘ย–ย‘วฃย”ย‹ย‹ย†ย‘ย†ย‘ ย†ยƒยยย‡ย’ยƒยŠยŽยƒย™ยƒยยƒยวก ยย‘ยย—ยย‡ยย’ย‡ย”ยŒย—ยƒยย‰ยƒยวกย„ย‡ยย–ย‡ยย‰วฆย„ย‡ยย–ย‡ยย‰วก ย•ย‡ย”ย–ยƒย’ย‡ยย‹ยย‰ย‰ยƒยŽยƒยย„ย‡ย”ย•ย‡ยŒยƒย”ยƒยŠยŽยƒย‹ยยย›ยƒวค ยƒย›ยƒย–ยƒย”ย‹ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย›ยƒยย‰ย†ย‹ยย‹ยŽย‹ยย‹ ย‘ย–ยƒยย„ย‘ยยŠยƒยย’ย‹ย”ย•ย‡ย„ยƒย‰ย‹ยƒยย„ย‡ย•ยƒย”ย†ย‹ ย†ย‘ยย‹ยยƒย•ย‹ย‘ยŽย‡ยŠย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย’ยƒยย–ยƒย‹วค ยƒยŽย‹ยย‹ ย–ย‹ย†ยƒยยŽย‡ย’ยƒย•ย†ยƒย”ย‹ยŽย‡ย–ยƒยย‰ย‡ย‘ย‰ย”ยƒฯย‹ย•ยย›ยƒย›ยƒยย‰ ย•ย‡ย„ยƒย‰ย‹ยƒยย„ย‡ย•ยƒย”ย†ย‹ยย‡ยŽย‹ยŽย‹ยย‰ย‹ย‘ยŽย‡ยŠย’ย‡ย”ยƒย‹ย”ยƒย ย†ยƒยย–ย‡ยŽย—ยวกย•ย‡ย’ย‡ย”ย–ย‹ยƒย—ย–ยƒยย†ยƒวกย‡ยŽย—ย ยย„ย‘ยวกย‡ยŽย—ยยƒยŽยƒยวกย†ยƒยย‡ยŽย—ยยƒย‰ย—ยƒยŽยƒวค ยƒย—ย–ยƒยย›ยƒยย‰ยŒย‡ย”ยย‹ยŠวกยŽยƒยย‰ย‹ย–ย›ยƒยย‰ย„ย‹ย”ย—วก ย—ย†ยƒย”ยƒย›ยƒยย‰ย„ย‡ย”ย•ย‹ยŠวกยƒยย‰ย‹ยย›ยƒยย‰ย„ย‡ย”ย–ย‹ย—ย’ ยƒย‰ยƒยยย‡ยย…ยƒยย‰วกย’ย‡ย”ยƒยŠย—ยย‡ย…ย‹ยŽย›ยƒยย‰ยŠย‹ยŽย‹ย” ยย—ย†ย‹ยย†ย‡ยย‰ยƒยยŽยƒย›ยƒย”ย™ยƒย”ยยƒวฆย™ยƒย”ยย‹ย†ย‹ ย’ย‡ย”ยƒย‹ย”ยƒยยย›ยƒวกย†ยƒยย–ย‹ย’ย‘ย‰ย”ยƒฯย‹ยย‘ย–ยƒย›ยƒยย‰ ย„ย‡ย”ย„ย—ยย‹ย–วฆย„ย—ยย‹ย–วกยย‡ยย’ย‘ย•ย‹ย•ย‹ยยƒยยย„ย‘ย ย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ย†ยƒย‡ย”ยƒยŠย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย›ยƒยย‰ยย‡ยยƒยยŒย—ย„ยยƒยวค ยƒยยŠยƒยย›ยƒยย„ย‘ยวกย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยย†ย‘ยย‡ย•ย–ย‹ย ย†ยƒยยยƒยย…ยƒยย‡ย‰ยƒย”ยƒย›ยƒยย‰ย„ย‡ย”ยย—ยยŒย—ยย‰ยย‡ ยƒยŽย—ยย—ย•ยƒยย‰ยƒย–ยย‡ยย‰ยƒย‰ย—ยย‹ยย‡ยยŠยƒย•ยƒย ย‘ย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย†ย‹ย‡ย”ยยƒย–ย‡วกย–ย‡ย”ย—ย–ยƒยยƒย‘ย„ย›ย‡ย ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย’ย‡ยย‹ยย‰ย‰ยƒยŽยƒยย•ย‡ยŒยƒย”ยƒยŠวคย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒ ย’ย‡ยย‹ยย‰ย‰ยƒยŽยƒยย•ย‡ยŒยƒย”ยƒยŠย›ยƒยย‰ย†ย‹ยย‹ยŽยƒย‹ยยŠยƒย• ย†ย‹ย‡ย”ยยƒย–ย‡ยƒย†ยƒยŽยƒยŠย„ย‡ยย–ย‡ยย‰ย’ย‡ยย‹ยย‰ย‰ยƒยŽยƒย ยย‘ยŽย‘ยย‹ยƒยŽวคย‡ยยŠยƒย•ยƒยย„ย‡ยย–ย‡ยย‰ย‹ยย‹ย–ย‡ย”ยŽย‡ย–ยƒย

ย’ยƒย†ยƒยŒย—ยยŽยƒยŠยย›ยƒย›ยƒยย‰ย…ย—ยย—ย’ย„ยƒยย›ยƒยย†ยƒย ย—ยย—ยยย›ยƒยยƒย•ย‹ยŠย†ยƒยŽยƒยยย‘ยย†ย‹ย•ย‹ย„ยƒย‹ยวค ย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยŽยƒย‹ยยย›ยƒย†ย‹ย‡ย”ยยƒย–ย‡ย›ยƒยย‰ ยŒย—ย‰ยƒยย‡ยยƒย”ย‹ยยย‹ยยƒย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยยƒย†ยƒยŽยƒยŠ ย‘ย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยƒยย–ยƒย‹ย—ยŽยƒยยƒย†ยƒยŠยƒวกยƒยยƒย— ย‘ยŽย‹ย”ย‡วกยƒย–ย—ยย‰ย—ย•วกย†ยƒย ย—ยย—ยย‰ ยƒยยƒยŽยƒยยƒวก ย•ยƒยŽยƒยŠย•ยƒย–ย—ย†ยƒย”ย‹ยŽย‹ยยƒย‰ย—ยย—ยย‰ยƒย’ย‹ย›ยƒยย‰ ยยƒย•ย‹ยŠยƒยย–ย‹ยˆย†ย‹ยƒยŽย—ยย—ย–ยƒย”ยƒวคย‡ยŽยƒยยƒยย‰ยƒยวก ย‡ย”ยยƒย–ย‡ย†ย‹ย”ย‡ยย‘ยย‡ยย†ยƒย•ย‹ยยƒยยย‡ยยŒยƒย†ย‹ย†ยƒย‡ย”ยƒยŠ ย–ย—ยŒย—ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย‹ยŽยย—ย’ย‡ยย‰ย‡ย–ยƒยŠย—ยƒยย†ย‹ย†ย—ยย‹ยƒวก ยยŠย—ย•ย—ย•ยย›ยƒย›ยƒยย‰ย–ย‡ย”ยยƒย‹ย–ย†ย‡ยย‰ยƒยย‹ยŽยย— ย’ย‡ยย‰ย‡ย–ยƒยŠย—ยƒยฯยŽย‘ย”ยƒย†ยƒยยˆยƒย—ยยƒวกย”ย‡ยย‘ยย‡ยย†ยƒย•ย‹ ย†ยƒย”ย‹ย‘ยยˆย‡ย”ย‡ยย•ย‹ ยŽยย—ย™ยƒยย—ย†ยƒยƒยŽยƒย…ย‡ยƒย†ย‹ ย‡ย”ยยƒย–ย‡วกย„ย‡ย„ย‡ย”ยƒย’ยƒย™ยƒยย–ย—ยŽยƒยŽย—วค ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย„ยƒยŠยƒย”ย‹ย’ย—ยย†ย‹ยย‹ยŽย‹ยย‹ ยƒยŽย—วกย—ยŽยƒย™ย‡ย•ย‹ย‡ยย‰ยƒยŠวคยƒยŽยƒยŠย•ยƒย–ย—ย’ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ ย›ยƒยย‰ยย‡ยยŒยƒย†ย‹ยƒยย†ยƒยŽยƒยย›ยƒยยย‹ย‡ยŽย—ยยƒยŽย—วค ยƒยย‘ย”ยƒยยƒยƒยŽยƒยย›ยƒยย‰ยย‡ยย—ยยƒย—ย†ย‹ย†ย—ยย—ยย‰ ย‘ย„ย›ย‡ยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย„ยƒย”ย—วกย›ยƒย‹ย–ย— ย‡ยย„ยƒย–ยƒยย‡ยŽย—ย ยƒยŽย—ย›ยƒยย‰ย†ย‹ย”ย‡ย•ยย‹ยยƒยย’ยƒย†ยƒย‡ย‹อดอฒอฒอธวค ย‡ยย„ยƒย–ยƒยยย—ยย‹ยย‰ย›ยƒยย‰ยย‡ยย„ย‡ยย–ยƒยย‰ย†ย‹ ยƒย–ยƒย•ย‡ยŽย—ยยƒยŽย‹ย•ย‡ย‹ยย‹ยย‡ย”ย—ย’ยƒยยƒยยŒย‡ยย„ยƒย–ยƒย ยŽย‡ยย‰ยย—ยย‰ย’ย‡ย”ย–ยƒยยƒย†ย‹ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒย†ยƒยยย‡ย–ย‹ย‰ยƒ ย†ย‹ย†ย—ยย‹ยƒย•ย‡ย–ย‡ยŽยƒยŠ ย‡ย’ยƒยย‰ย†ยƒยย”ยƒยย…ย‹ย•วค ย‹ยย‹วกย„ย‡ย”ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒยย‡ยย„ย‘ยวกยƒยŽย—วกย†ยƒย ย‡ย”ยยƒย–ย‡ยย‹ยƒยยย—ย†ยƒยŠย†ย‡ยย‰ยƒยย–ย‡ย”ย•ย‡ย†ย‹ยƒยย›ยƒ ย‹ยยˆย”ยƒย•ย–ย”ย—ยย–ย—ย”ยยƒย—ย’ย—ยย•ยƒย”ยƒยยƒย–ย”ยƒยย•ย’ย‘ย”ย–ยƒย•ย‹วค ยƒย•ยยƒย’ยƒย‹ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒย ยƒย”ย—ย†ยƒ ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒ ยย‡ยย„ย—ยยƒย”ย—ย–ย‡ย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒย ยƒยยƒย”ย–ยƒวฆ ยย„ย‘ยวก ยƒยยƒย”ย–ยƒวฆยƒยŽย—วกย•ย‡ย”ย–ยƒ ยƒยยƒย”ย–ยƒวฆ ยƒยยƒย†ย‘วฆย‡ย”ยยƒย–ย‡ย•ย‡ย„ยƒย‰ยƒย‹ย†ย‡ย•ย–ย‹ยยƒย•ย‹ย„ยƒย”ย— ยย‡ย–ย‡ยย’ยƒย–วฆย–ย‡ยย’ยƒย–ย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย’ย‘ย–ย‡ยย•ย‹ยƒยŽย‹ย–ย—วก ย–ย‡ย’ยƒย–ย†ย‹ยย—ย•ย‹ยยŽย‹ย„ย—ย”ยƒยย‹ยย‹วคย‹ยŠยƒย”ยƒย’ยยƒยวก ยŠยƒย†ย‹ย”ยย›ยƒย’ย‡ยย‡ย”ย„ยƒยย‰ยƒย ยƒย”ย—ย†ยƒยยƒยย’ย— ยย‡ยย‹ยย‰ยยƒย–ยยƒยยย—ยยŒย—ยย‰ยƒยย™ย‹ย•ยƒย–ยƒย™ยƒยย†ยƒย ยย‡ยย„ย‡ย”ย‹ย•ย—ยย„ยƒยย‰ย•ย‹ยŠย’ย‘ย•ย‹ย–ย‹ยˆย–ย‡ย”ยŠยƒย†ยƒย’ ย‡ยย‘ยย‘ยย‹ย”ย‡ย‰ย‹ย‘ยยƒยŽย†ย‹ยยƒย™ยƒย•ยƒยย–ย‹ยย—ย”

ยย†ย‘ยย‡ย•ย‹ยƒวค TIM INFO TEMPO

94 travelounge

OntimE

June, 2010


HANGOUT

96 travelounge

OntimE

June, 2010

AYUNKAN LANGKAH, SAATNYA SALSA


NASKAH: Rita Nariswari FOTO: Ano

MISTERE Nightclub & Bar Lantai Dasar, The Ritz-Carlton Jakarta Jalan Lingkar Mega Kuningan kav E1.1 No. 1 Mega Kuningan, Jakarta 12950

Mengasyikkan dan bisa bikin kecanduan.

Kapasitas 100-120 orang (duduk)

Operasional Champagne Lounge: 18.00–02.00 (Senin-Sabtu) Mistere Live: 21.00–03.00 (hari biasa) dan 21.00–04.00 (Rabu, Jumat, Sabtu) Hiburan MUMM Champagne Lounge: 19.30–23.00 Live Band: 22.00–02.45 (Rabu, Jumat, Sabtu, dan hari libur)

D

i Mistere Nightclub & Bar, lantai dasar Hotel Ritz-Carlton, kawasan Mega Kuningan, keriuhan mulai terasa sekitar pukul 21.00 WIB. Lihat saja, bangku sofa, juga area lantai dansa untuk menari salsa, sudah penuh oleh pengunjung. Musik Latin yang dihantarkan oleh Primavera Band begitu menggoda, sehingga tamu pun menggoyangkan kaki dan badan. Lea, Ika, juga beberapa kawan lain, pun tak sanggup untuk tidak turun, masuk pusaran musik dansa, goyang pinggul dan putar badan, bereaksi satu sama lain dalam pelataran tari. Malam ini mereka datang ke klub sengaja mendedikasikan jiwa dan raganya untuk menari salsa. Ini semacam jadwal rutin sebulan sekali di klub bagi Lea dan Ika di hotel bintang lima ini. Lea bahkan sebelumnya belajar menari salsa di Mistere. “Dan sejak itu, saya jadi addicted,” ujarnya sembari terbahak di ujung malam saat saya temui di lounge. Mistere biasa dipenuhi para pencinta salsa pada hari Selasa dan Kamis karena pada hari itu musik Latin dan salsa diistimewakan. Tentu, juga tariannya. Beragam mereka yang datang kemari. Ada yang santai dengan jins dan kaus, ada yang mengenakan jas, ada pula yang memakai batik. Mistere memang membuka pintu untuk beragam orang. “Asyik dan benar-benar menyehatkan,” ujar Ika tentang salsa. Tak hanya di Mistere ia beraksi di lantai salsa. Saking cintanya pada tarian ini, perempuan yang suka melancong itu pun tak absen mengunjungi pelbagai klub salsa saat di negeri orang. “Tidak seperti di Indonesia. Kalau di negara orang, banyak lelaki yang mengajak turun melantai dan kebanyakan me-

SALSA. Mereka datang ke klub sengaja mendedikasikan jiwa dan raganya untuk menari salsa.

S A L S A D I K E N A L S E B A G A I TA R I A N B E R PA S A N G A N , D I I R I N G I M U S I K YA N G M E L I B AT K A N I R A M A P E R K U S I Y A N G R U M I T D A N C E P A T.

reka hebat dalam menari. Kalau di sini, yang jago biasanya guru saja,” tuturnya sembari tertawa. Salsa dikenal sebagai tarian berpasangan, diiringi musik yang melibatkan irama perkusi yang rumit dan cepat. Gerak tari dibangun oleh tempo delapan ketukan; dengan dua bar yang terdiri atas empat ketukan. Pola tarian ini menggunakan gerak tiga langkah pada setiap empat ketukan, satu ketukan dilewatkan. Namun ketukan yang dilewatkan ditandai dengan sentakan kaki, tendangan, sentilan, dan sebagainya. Pada salsa berpasangan—bisa juga solo atau grup—biasanya pihak pasangan prialah yang harus piawai menari. Dialah yang mengarahkan pasangannya, akankah berputar, melangkah kiri-kanan, atau sekadar bergoyang. Sedangkan si wanita cukup mengikutinya: diputar, ditarik, diayun, atau diangkat. Semakin malam, Ika, Lea, dan teman-temannya kian larut dalam irama asal Kuba tersebut. Entakan musik menggairahkan, sehingga orang pun takkan tahan untuk tak bergoyang. June, 2010 OntimE

travelounge

97


HANGOUT

COCKTAIL. Selain champagne seperti label namanya, cocktail adalah minuman ‘wajib’ sambil menikmati salsa.

Di ruangan yang interiornya ditata oleh Hirsch/Bedner Associates (HBA) dari Amerika Serikat/Singapura ini, tak ada biaya khusus untuk bersalsa. Orang bisa datang dan bergoyang. Pendapatan klub tentu saja dari minuman dan makanan yang disuguhkan. Ada minuman ringan, cocktail, bir, dan martini untuk pilihannya. Tak setiap hari Mistere Mumm Champagne Lounge, yang beroperasi mulai pukul 18.00, menggelar Latino Night. Hanya seminggu dua kali, Selasa dan Kamis. Namun, di hari lainnya pun, entakan Latin tetap kental. Misal, setiap Rabu ada Zouk Kizomba Night, dengan musik dari Brasil, dilengkapi dengan tarian tango dari pasangan Bruno dan Luisa. Keduanya ini juga mengajar salsa pada Selasa dan Kamis. Sabtu pun gempita dengan musik Latin. Berlabel Funtastica Latin Salsa dengan musik meringue, tango, salsa, hip-hop, bhacata dengan DJ Iono Cubanito. Mistere tak hanya punya satu ruang untuk hiburan. Ada pula Mistere Live di sebelah kiri Mistere Mumm Champagne Lounge. Memi-

MISTERE MARTINI LO U N G E M E M P U N YA AT M O S F E R YA N G LEBIH TENANG DAN LEGA.

98 travelounge

OntimE

June, 2010

liki panggung dan bar sendiri, namun tidak saling mengganggu karena sistem pengaturan ruang yang kedap suara sehingga masing-masing band pun tak harus bersaing. Hanya, ruang ini baru dibuka pukul 21.00, dan panggung pun diisi oleh grup dengan personel dari Kanada, Selandia Baru, Kolombia, dan Indonesia dengan nama band S.O.S (Sound of Soul). Terdiri atas satu wanita dan lima pria. Di dalam Mistere Mumm Champagne Lounge, ada satu pinBILIAR. Bar menjadi lengkap dengan fasilitas meja biliar bagi mereka yang tak ingin tu menuju lounge berdansa dan hanya bersantai dengan menyodok bola. lain. Atmosfernya lebih tenang dan lega, itulah Mistere Martini Lounge. juta untuk ruang karaoke besar. Pilihan lagunya lebih dari 1.000 lagu dengan jenis Ciri khasnya meja biliar. Di sini, selain duduk sambil minum dan makan, ta- beragam pula—pop, rock, pop rock, R&B, mu bisa menyodok bola. Di lantai atas ada jazz, dangdut. Lagu Indonesia, asing, Karaoke Rooms dengan total sembilan ru- hingga Mandarin. Gloria Vera Kristie, Manajer Humas ang. Ada dua ruang besar yang bisa membuat tamu bisa menatap kerumunan tamu Ritz-Carlton, menyebutkan, Mistere beroperasi dari Selasa-Sabtu. Hari Minggu dan pemain band di Mistere Live. dan Senin tutup untuk umum. Namun Penggunaan ruang dengan minimal justru, selama dua hari itu, manajemen pembelian (minuman + makanan) Rp 3 memberi kesempatan bagi tamu yang juta untuk ruang karaoke kecil dan Rp 6


HANGOUT

BEATS PER MINUTE. Tarian latin yang mengundang tubuh untuk melangkah, meliuk, bahkan melompat.

ingin mengadakan acara privat. Bisa jadi kemeriahan ala Latin pun tak pernah berhenti di lantai dasar hotel bintang lima ini.

Entakan ala Kuba Salsa dalam bahasa Spanyol berarti saus atau rasa pedas. Salsa juga menunjukkan pembauran aneka bahan. Barangkali gambarannya seperti yang dituturkan oleh pakar studi Latin Profesor Deborah Pacini Hernandez tentang jenis tarian ini. “Salsa adalah produk dari Pan-Karibia, musisi salsa kebanyakan orang Puerto Riko, ira-

manya berasal dari Kuba, sedangkan dalam konteks sosial, salsa menjadi Latino barrios di New York.� Tarian ini berasal dari Kuba, tapi kemudian menyebar ke Puerto Riko dan Kepulauan Karibia. Lantas lebih kenal sebagai tarian Amerika Latin karena memang digandrungi di berbagai negara di Amerika Selatan. Selain itu, penggemarnya tersebar hingga Spanyol, Portugal, Italia, Prancis, Amerika,Serikat, dan negara-negara Eropa Timur. Namun, di Amerika Utara, gaya tari dan musik memiliki perbedaan. Maka muncullah yang disebut salsa Amerika. Di dalamnya ada dua alir-

an: salsa Los Angeles dan salsa New York. Di mana pun, salsa selalu menunjukkan suatu hal yang dinamis dan sensual. Gaya menarinya membutuhkan gerakan setiap bagian tubuh. Dari kaki, tangan, bahu, hingga bagian tubuh. Melangkah, melompat, berputar, meliuk. Musik dengan 150 bpm (beats per minute) hingga 250 bpm. Pada salsa New York, ada pengaruh dari jazz dan mambo. Namun, kalau Anda mencari kotanya salsa, terbanglah ke Kolombia. Cali, ibu kota Kolombia, disebut sebagai Capital de la Salsa. Salsa ada di mana-mana, di setiap pesta, klub malam, hingga berbagai festival. Di sini Anda harus siap melangkah, bergoyang, dan berputar. ď Ž June, 2010 OntimE

travelounge

99


INTERVIEW

100 travelounge

OntimE

June, 2010


FOTO: Candra Malik ILUSTRASI: Aga Dilaga

�Hidup saya 24 jam untuk seni rupa. Ini sudah suratan nasib saya dari lahir sampai mati,�

D

i usia 71 tahun ini, Oei Hong Sien masih bersuara lantang di dunia seni rupa Indonesia. Ia malangmelintang dari Ibu Kota sampai kota-kota kecil dari urusan memburu karya pelukis hebat hingga sekadar membuka pameran lukisan. �Hidup saya 24 jam untuk seni rupa. Ini sudah suratan nasib saya dari lahir sampai mati,� kata mantan anggota Board of Directors Singapore Art Museum & Art Retreat ini. Sejak istri tercinta, Wilowati Soerjanto, meninggal (1992), Oei Hong Sien semakin tenggelam dalam dunia seni rupa. Sebagai kolektor dan kurator kelas wahid, ia disebut sejarawan seni Dr Helena Spanjaard dari Belanda sebagai tokoh sentral yang memberi pengertian tentang dunia seni rupa modern Indonesia yang penuh warna, ekspresif, dan kadang misterius. Siapa sangka, Oei Hong Djien juga seorang dokter lulusan Universitas Indonesia (1964) dan spesialis patologi dari Pathologische Instituut pada Katholieke Universiteit Nijmegen di Belanda (1968). Alih-alih praktek dokter, ia malah banting setir menjadi grader tembakau. Ketajaman indra penciumannya menentukan kualitas panen tembakau. Oei Hong Djien menerima Candra Malik, kontributor Travelounge, bercengkerama di rumahnya di Jalan Diponegoro 74, Magelang, Jawa Tengah. Apakah Anda memiliki nama selain Oei Hong Djien? OHD. Singkat saja. Ketika orang-orang

lain mengganti namanya dengan nama Indonesia, saya tidak. Saya cukup menyingkat nama Oei Hong Djien menjadi OHD supaya mudah diingat dan menjadi brand. Sejak lama orang-orang lebih mengenal nama itu daripada nama panjang saya. Saya tidak punya nama alias. Apakah Anda mencantumkan gelar dokter di depan nama OHD? Silakan saja kalau Anda mau menuliskannya karena saya memang lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1964. Lalu, saya mengambil spesialisasi patologi di Belanda selama dua tahun. Namun, saya mengurungkan rencana hidup sebagai dokter karena ayah saya, Oei Kok Hie, mendadak meninggal dunia dan mewariskan sebuah perusahaan tembakau di Magelang. Kakak saya yang di Belanda dan adik di Amerika Serikat tidak bisa pulang sehingga mau tidak mau sayalah yang harus mengurusi bisnis keluarga ini. Sejak kecil, sebenarnya saya tidak interested pada tembakau dan tidak pernah belajar apa-apa dari ayah. Akhirnya, saya secara otodidak menjalankan usaha ini dengan belajar dari bakul-bakul ayah saya. Ini murni keadaan yang memaksakan. Syukurlah, waktu itu saya bisa cepat beradaptasi. Lalu, apakah Anda akhirnya berjodoh dengan tembakau? Bukan hanya dengan tembakau, tapi juga dengan seorang perempuan cantik. Mendiang istri saya, Wilowati Soerjanto, juga ber-

asal dari keluarga pebisnis tembakau, kerabat dekat PT Djarum di Kudus. Dari situlah saya diminta membantu sebagai grader atau penentu kualitas tembakau setiap musim panen. Saya masih mengerjakan hal itu sampai sekarang. Grader adalah ahli tembakau. Saya sangat mengandalkan mata untuk melihat kondisi fisik tembakau, hidung untuk mengukur ketajaman aromanya, tangan untuk merasakan kulit daun tembakau, dan lidah untuk mencecap. Sesekali tembakau itu saya sulut untuk diisap dalam satu-dua sesapan. Pekerjaan ini sangat rumit, tidak ada sekolahnya, seperti pekerjaan kolektor lukisan. Ketajaman intuisi diasah setiap hari. Semua dipelajari dari pengalaman. Waktu Anda habis di kebun tembakau, bagaimana bisa kemudian menjadi kolektor lukisan? Saya sibuk berurusan dengan tembakau hanya ketika musim panen tiba. Pada tahun-tahun pertama meneruskan perusahaan ayah, memang waktu saya melulu habis untuk itu. Namun, sesungguhnya saya lahir dari keluarga yang mencintai seni rupa. Sejak dulu, dinding rumah kami selalu penuh dengan lukisan-lukisan dari zaman Hindia Belanda. Demikian pula di rumah kerabat kami, baik itu di Jakarta maupun Semarang dan daerah lain. Kalau tidak ada lukisan yang dipajang di rumah, tidak enak rasanya. Seni rupa adalah atmosfer kehidupan sehari-hari. Di situlah saya lahir dan tumbuh. June, 2010 OntimE

travelounge

101


INTERVIEW

Jadi, saya mempelajari seni rupa secara gradual, sangat pelan-pelan, dari benar-benar tidak mengerti apa-apa dan berselera rendah hingga sangat menguasai seni rupa modern Indonesia dan bercita rasa sangat tinggi. Dari sekadar menikmati koleksi lukisan di rumah, membeli lukisan murahan dan reproduksi, hingga memburu karyakarya besar dan mendirikan museum ”OHD Museum of Modern & Contemporary Indonesian Art” di Magelang. Wikipedia menyebutkan Anda mengoleksi lukisan karya Picasso, Van Gogh, Monet, dan Rembrandt, serta memiliki 10 ribu koleksi lukisan. Benarkah itu? Ah, jangan terlalu dilebih-lebihkan. Banyak data Wikipedia yang perlu diklarifikasi. Saya hanya memiliki reproduksi karyakarya mereka. Dari mana saya mendapat uang untuk membeli lukisan-lukisan supermahal itu? Ha-ha-ha-ha…. Tiap pulang

102 travelounge

OntimE

June, 2010

dari mengunjungi museum-museum seni rupa di Eropa, saya selalu menyempatkan mampir ke museum shop untuk membeli poster-poster Picasso, Van Gogh, Monet, dan pelukis-pelukis dunia lainnya. Kadang membeli di pinggir jalan. Itu saja yang saya mampu. Tentang jumlah koleksi, mana mungkin saya punya 10 ribu lukisan? Mau ditaruh di mana? Dipajang di setiap jengkal rumah ini saya tidak cukup. Di dalam museum saja idealnya digantungkan 150 lukisan. Jadi, data Wikipedia itu perlu diteliti ulang logikanya, ha-ha-ha…. Saya paling-paling hanya memiliki 10 persen dari yang disebutkan itu. Koleksi saya sekitar 1.500 lukisan. Dan, karena saya tidak berorientasi bisnis, tak ada lukisan yang saya jual. Di antara koleksi saya, ada lukisan karya Affandi, S. Sudjojono, Srihadi Sudarsono, Hendra Gunawan, Lee Man Fong, Ahmad Sadali, Widayat, Popo Iskandar, A.D. Pi-

rous, dan Nyoman Gunarsa. Sedangkan dari kalangan perupa muda kontemporer, saya mengoleksi karya Nasirun, Entang Wiharso, Pupuk D.P., Eddie Hara, Heri Dono, Agus Suwage, Ugo Untoro, Nyoman Masriadi, Dedi Paw, Rudi Mantofani, Yuswantoro Adi, dan banyak lagi. Sejak kapan Anda menjadi seorang kolektor lukisan? Sejak kapan, ya? Saya sendiri lupa, haha-ha…. Yang pasti, siapa pun orangnya layak disebut kolektor lukisan ketika ia tidak lagi punya ruang kosong di dinding rumahnya namun tetap saja membeli lukisan, ha-ha-ha…. Membeli lukisan itu adiktif. Saya tidak bisa berhenti. Kekurangan space untuk memajang lukisan adalah problem setiap kolektor sejati. Bagaimana sebaiknya seseorang membeli dan mengoleksi lukisan?


INTERVIEW Buka mata. Jangan hanya buka telinga. Lihat langsung lukisan yang akan dibeli. Jangan hanya mendengarkan kata orang dan nama pelukisnya. Saya tidak mengoleksi nama-nama besar, tapi karya-karya besar. Saya lebih suka mengoleksi secara intensif, bukan ekstensif. Jadi, jangan sungkan untuk menemui langsung pelukisnya dan bertanya ini-itu seputar lukisan yang akan dibeli. Tentang proses kreatifnya dan sesuatu yang diungkapkannya lewat lukisan itu. Jangan pernah mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli lukisan hanya dari melihat karya itu di Internet! Kemajuan zaman—teknologi dan informasi—dalam banyak hal memang menguntungkan. Namun dalam hal-hal tertentu justru menyesatkan. Tentukan pula lebih dulu: Anda kolektor atau investor. Membeli lukisan untuk dikoleksi atau dijual lagi. Dua keadaan ini memberikan sudut pandang yang berbeda dalam memburu lukisan. Seorang kolektor menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, untuk satu lukisan. Ia

berdasarkan mood dan kondisi saat itu. Banyak pula pelukis muda yang hebat. Sedangkan untuk pelukis-pelukis dunia, saya mendapatkan pengetahuan tentang mereka dari buku dan berkunjung ke museummuseum seni rupa di Eropa. Saya lebih suka datang langsung ke rumah atau galeri pelukisnya daripada ke museum milik pemerintah. Kita tahu sendiri bagaimana pemerintah mengelola museum. Tak ada museum baru sejak Bung Karno, dan tak ada anggaran untuk membeli lukisan baru. Lebih baik berkomunikasi langsung dengan pelukisnya, melihat ia melukis, atau datang ke pamerannya. Itulah yang saya lakukan. Hidup saya 24 jam untuk seni rupa. Ini sudah suratan nasib saya dari lahir sampai mati, ha-ha-ha…. Saya membuka pameran, menulis sambutan, menilai karya mahasiswa seni rupa hingga pelukis profesional, memberi lectures, menerima wawancara, dan sebagainya. Bagaimana Anda melihat perkembangan seni rupa saat ini? Sebagai kolektor, saya melihat para ko-

Saya sangat suka dansa! Saya adalah raja pesta dansa, ha-ha-ha ... membaca buku-buku seni rupa, dan pada akhirnya mengambil keputusan sendiri tanpa peduli apa kata selera pasar. Dari seluruh koleksi lukisan, adakah satu yang paling dicintai? Waduh, susah sekali menjawab pertanyaan itu. Setiap lukisan memiliki kisahnya sendiri dan membekas di hati. Bisa saja lukisan ini dulu sangat saya sukai, namun tergeser lukisan lain meski bukan berarti kemudian saya jual. Lukisan pertama yang saya beli di pinggir jalan di Magelang sewaktu remaja, misalnya, saat ini mungkin hanya berharga Rp 10. Sudah tidak saya pajang lagi karena malu, ha-haha-ha…. Tapi ia mendapat tempat khusus di hati karena menjadi jejak dari perjalanan panjang saya sebagai kolektor lukisan dan kurator seni rupa. Terlalu banyak old masters yang saya sukai—yang sebagian besar sudah meninggal. Itu pun tidak setiap karyanya masterpiece. Ada yang luar biasa, tapi banyak pula yang biasa-biasa saja, karena lukisan dibuat

lektor baru memiliki cara yang berbeda dalam mengoleksi lukisan. Sekarang galeri seni rupa bagaikan jamur di musim hujan. Sayang, mereka lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas, dan investasi adalah motivasi utama mereka. Ini cara mengoleksi yang keliru. Membangun suatu koleksi bermutu tinggi dengan cara demikian, menurut saya, hampir tak mungkin. Lebih baik jika membangun museum dan memajang koleksi untuk dinikmati publik secara leluasa, mempublikasikannya dengan buku, atau menggelar diskusidiskusi. Anda terlihat bugar dan sehat di usia 71 tahun, adakah keluhan tertentu? Saya sangat sehat. Sampai detik ini tidak ada satu pun penyakit yang nempel di tubuh saya. Tidak diet atau melakukan treatment khusus yang neko-neko. Semua makanan saya lahap tanpa pilih-pilih karena memang enak dimakan, ha-ha-ha…. Saya murah senyum, dan bahkan suka sekali tertawa. Saya tidak pikun, masih tegak ber-

jalan tanpa tongkat, dan tidur lewat tengah malam meski harus bangun pagi. Dan, yang paling penting, saya masih datang ke pesta-pesta sebagai pusat perhatian, ha-haha…. Apa rahasianya? Dansa! Saya sangat suka dansa! Saya adalah raja pesta dansa, ha-ha-ha…. Itukah kesibukan Anda selain sebagai kolektor lukisan dan grader tembakau? Ya. Sejak lima tahun lalu, saya rajin berdansa. Bisa 4-5 jam sehari. Dansa ini sungguh gila, lebih hebat dari olahraga macam apa pun. Dulu saya menyukai tenis lapangan, namun sekarang saya lebih memilih dansa karena bisa saya lakukan di pestapesta dan dengan pasangan dansa siapa pun. Saya berbeda dengan orang-orang tua lain, yang hanya duduk malas di kursi, diam sebagai penonton, atau sibuk dengan hidangan. Saya selalu ke tengah arena dan berdansa berjam-jam tanpa letih. Saya menguasai berbagai jenis dansa, dari Argentinen tango hingga goyang dangdut, ha-haha…. Saya belajar dari instruktur dari Singapura, Filipina, Jakarta, Semarang, dan Bali. Bahkan, saya sampai sekarang masih menjabat Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Magelang. Saya pedansa tertua di Jawa Tengah. Saya suka mengikuti show dan lomba sekadar untuk bersenang-senang. Bagaimana Anda bisa begitu menyukai dansa? Tentu saja, karena suasana gembira yang diciptakan, ya. Dansa adalah satu-satunya olahraga yang diiringi musik yang indah. Bagi saya, ini memberikan kebahagiaan lahir-batin. Sebagai dokter, saya merekomendasikan dansa sebagai olahraga terbaik bagi manula. Tidak ada kata terlambat, tidak perlu khawatir pula dengan kondisi tubuh yang mulai melemah. Saya bahkan memulainya di usia 66 tahun! Kita bisa berolahraga sambil bersosialita dengan teman-teman lama dan baru. Ini jauh lebih baik daripada menghabiskan umur di rumah. Lebih dari itu, dansa sangat bagus untuk kesehatan jantung, kelenturan otot, penggerak sendi, memori, koordinasi alat-alat gerak dan refleks, serta sangat bagus untuk postur tubuh. Seorang pedansa tak akan pikun. Saya memiliki koordinasi tubuh yang baik sehingga tidak mudah tergelincir bahkan di tempat yang licin sekalipun. Dansa juga memacu hormon endorfin, yang bikin jiwa-raga segar bugar. 

June, 2010 OntimE

travelounge

103


PEOPLE Maudy Koesnaedi

Pertama, Kedua, dan Selanjutnya

T

ahun ini seperti halnya tahun lalu, perhelatan besar digelar Maudy Koesnaedi, 35 tahun. Dua pentas sandiwara Betawi sudah digarap None Jakarta 1994 ini. Ia menjadi produser sekaligus pemain. Setelah pada 2009 dengan Cinta Dasima, yang memang sudah dikenal sebagai kisah berlatar belakang masyarakat Betawi, pada pentas kedua yang digelar pada 14-15 Mei lalu di Gedung Kesenian Jakarta, ia menyuguhkan tontonan yang lebih kompleks. Panggung menampilkan kisah Si Doel Anak Modern, yang diangkat dalam film pada 1970-an namun diadaptasi dengan budaya Betawi. “Jadi agak retro-lah. Meski dengan ilustrasinya tetap Betawi, tapi lebih modern,” kata Maudy. Pemainnya tak lagi abang dan none dari Jakarta Utara, tapi seluruh wilayah Jakarta. Lantas yang terlibat berasal dari berbagai angkatan. Total sekitar 35 orang. “Secara kreatif lebih ribet,” ujarnya. Tak hanya busana dan rambut palsu, bahkan lagu pun sulit dicari karena orang lebih kenal dengan tembang-tembang 1980-an ketimbang 1970-an. Maudy pun tak hanya memiliki tanggung jawab di belakang layar sebagai produser. Ia juga ikut mentas dan berperan sebagai Ibu si Doel. Pentas tersebut diberi judul Doel antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung

104 travelounge

OntimE

June, 2010

Nunggu Dipetik. Di balik kalimat cukup panjang itu, ada makna khusus tentang buaya dan burung merpati. Selama ini, kata sang produser, orang punya anggapan bahwa buaya itu pasti tidak setia karena pria dengan sebutan buaya darat berkonotasi negatif. Padahal justru buaya itu sesungguhnya adalah hewan yang setia. Dia cuma punya satu pasangan. Sebaliknya, merpati, yang selalu dibilang suci, justru ketika terbang, ia ke sana-kemari dan pasti menclok ke betina lain. Ketika pertama kali mengadakan pentas Betawi, Maudy sebenarnya tak menyangka kiprahnya akan berlanjut. Namun para pejabat pemerintah daerah DKI Jakarta rupanya kesengsem dengan langkah kreatifnya. Bahkan ia didorong untuk membuat panggung lebih besar dan diharapkan digelar menjelang ulang tahun Jakarta. Lantas, bila dilakukan terus rutin, diharapkan tentunya menjadi daya tarik baru dari pariwiTEMPO/ NUNU NUGRAHA sata kota ini.  RITA

Orang punya anggapan bahwa buaya itu pasti tidak setia karena pria dengan sebutan buaya darat berkonotasi negatif. Padahal justru buaya itu sesungguhnya adalah hewan yang setia.

BUSANA: Citra Gallery - The Catwalk Mal Kelapa Gading 3.


PEOPLE Nugie

Jatuh Cinta pada Pangandaran TELAH mengunjungi banyak tem-

kotor,” ujarnya.

pat wisata di Tanah Air, penyanyi pop Nugie mengaku benar-benar terkejut menemukan keindahan Pantai Pangandaran. “Ruarr biasa, gue baru pertama kali ke sini. Menurutku, ini pantai terindah di Jawa,” ujar pemilik nama lengkap Agustinus Gusti Nugraha ini. Kehadirannya di Pangandaran pun tak sengaja, tak semata untuk tujuan jalan-jalan, tapi karena ia sedang ikut membintangi film trilogi Merah Putih garapan sutradara Yadi Sugandi, yang mengambil syuting di Pangandaran.

Kesempatan dua minggu di Pangandaran untuk syuting film tak disiasiakan Nugie. Setiap hari ia menghabiskan waktu bersepeda ria di sepanjang pantai. Sudah tiga tahun belakangan ini ia maniak gowes sepeda ke mana pun pergi. “Tentu saja aku tak lupa membawa ‘seli’-ku (sepeda lipat). Di sela-sela istirahat syuting, setiap hari gue 30-45 kilometer putar-putar naik sepeda, dari pelosok hutan di taman nasional hingga ke pantainya,” katanya.

“Di sini lengkap, ada pantai dan pasir putih yang indah, ada taman nasional dengan banteng-bantengnya, gua-gua Jepang, grand canyon, tempat selancar, berlayar ke laut lepas, masuk hutan, ada banyak hotel dan penginapan bagus, dan toko-toko suvenir menarik. Juga ada budaya kepercayaan Nyi Roro Kidul yang masih kental. Terus terang gue langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Seperti Kuta, Bali, tapi sedikit masih

Nugie tidak mengerti kenapa Pangandaran selama ini miskin promosi. Memang ia akui infrastruktur jalan masih buruk sehingga perlu waktu lama menggunakan mobil dari Jakarta. Namun, dengan pesawat Cessna 208 Caravan, yang dioperasikan Susiair bertarif Rp 600 ribu sekali jalan, untuk mencapai Pangandaran cukup 45 menit dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.  Wahyuana

TEMPO/ NOVI KARTIKA

TEMPO/PANCA SYURKANI

Candil

Liburan Kenangan

SEPERTI para pekerja dunia hiburan, yang sering kali bergerak dari satu tempat ke tempat lain, Dian Dipa Chandra, 35 tahun, kesulitan membuat jadwal liburan dengan keluarga jauh-jauh hari dan secara rutin. Walhasil, untuk sekadar menikmati sebuah kota, ia pun melakukannya di sela-sela pekerjaannya manakala manggung di luar kota. Biasanya salah satu yang dicarinya adalah makanan lokal. Dan pemilik suara dengan lengkingan tinggi yang akrab dipanggil Candil ini ternyata menyukai hidangan yang serba gurih. Bukan berarti ia mengabaikan liburan keluarga, meski sulit, ia berusaha melakoninya paling tidak setahun sekali. Beruntung, dua buah hati pria kelahiran Bandung ini masih balita sehingga permintaan berwisata pun belumlah gencar. Dan, untuk liburan bersama itu, ia punya kenangan khusus. Waktu itu, anak sulungnya, Biya, merayakan ulang tahun, dan saat manis itu dijadikan acara untuk kumpul keluarga dengan berwisata ke negeri tetangga. “Itu benar-benar penuh kenangan,” ucapnya. Maklum, pada saat si bocah berulang tahun itulah keluarga, termasuk nenek, melepas kangen bersama. Benar-benar liburan yang meriah. 

106 travelounge

OntimE

June, 2010


Bersemadi di

Jimbaran Ada beberapa tempat yang mendapat anugerah karena berlimpah dengan bebunyian yang menenangkan jiwa. Bunyi dan suara itu bertebaran. Setiap dentingannya bisa memberikan pengaruh pada orang di sekitarnya. Suara yang ritmis dan keras seperti besi beradu punya dampak buruk bila terus-terus didengar. Begitu juga dengan suara mesin yang bergetar dan sedikit menderu, tak terlalu bagus untuk kesehatan manusia. Padahal dalam kenyataanya, bagi yang hidup di kota-kota besar, tak pernah bisa meminta atau pun menghindari suara mesin yang kadang memekakan telinga. Suara knalpot yang beraneka warna tapi umumnya membuat dada terasa deg-degan. Belum lagi ditambah dengan asap dan beragam aroma yang tak semuanya sedap. Bagi yang tiap hari terpapar dengan suara dan bebunyian yang meneror itu, amat membutuhkan kesempatan untuk sejenak mendengarkan angin berdesir. Demi keseimbangan. Di beberapa kebudayaan, India salah satunya, mempercayai bunyi lonceng punya pengaruh positif, yaitu mengusir aura jahat. Setiap kali pijat ala India, ada lonceng yang dibunyikan di sekujur tubuh. Gelombang bunyi lonceng bisa menyingkirkan gelombang negatif yang melekat. Nah, ada beberapa tempat yang mendapat anugerah karena berlimpah dengan bebunyian yang menenangkan jiwa. Ada sebuah tempat yang bisa membuat orang mendengarkan angin semilir, gemericik air, dan tentunya bisa

mendengarkan harmoni alam. Rangkaian bebunyian yang menenangkan. Jimbaran, Bali salah satu tempat yang mendapatkan anugerah itu. Tempatnya tenang, udaranya bersih, segar dan lapang. Seakan berada disebuah beranda menghadap laut yang tenang. Hadir dan memandang alam di Jimbaran, Bali sudah membuat orang tenang. Apalagi menyempatkan untuk secara khusyuk mendengarkan sajian harmoni yang terus-terusan diperdengarkan oleh alam Jimbaran. Itulah salah satu cara paling mudah bersemadi di Jimbaran. Habiskan sepanjang hari menikmati keindahan alam. Berjalan santai. Mendengarkan semilir angin. Merasakan sapuan buih air laut. Hangatnya pasir pantai. Suara burung yang sesekali terdengar mampu membawa keteduhan. Bila Anda membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, Jimbaran memang pilihan yang pas. Ada banyak tempat, hampir sepanjang pesisir pantai ada vila yang apik dan eksotik. Barangkali Villa Gending Kedis yang artinya kicauan burung ini bisa memenuhi kebutuhan Anda. Jimbaran, suara, dan harmoni adalah paduan yang tak tergantikan. Sajian harmoni alam itulah yang tak akan bisa ditemui di manapun. Bila Anda merindukan mendengarkan orkestra suara-suara yang menenangkan, sempatkan ke Jimbaran. ď Ž NARA PATRIANILA

June, 2010 OntimE

travelounge

107


LEISURE

108 travelounge

OntimE

June, 2010


ensasi pada keterjalan merupakan rangkaian kata kunci sehingga Harry Suliztiarto, 55 tahun, tidak pernah lepas dari aksinya di tebing. “Kita merasakan sensasinya itu luar biasa,” pendiri sekolah panjat tebing Skygers di Bandung pada 1980 itu menegaskan. Sensasi itu pula dimunculkan dalam keragaman. Sebab, setiap tebing memiliki kecuraman yang berbeda, memiliki ketinggian yang berlainan, dan memiliki lekuk-lekuk yang sudah pasti tidak per-

S

nah sama. Sensasi itulah yang membuat pelakunya tidak pernah putus-putusnya mencintai kegiatan ini. Awalnya boleh jadi bukan sensasi yang menggoda seseorang ketika beraksi dengan perlengkapannya: harness, tali-temali, alat belay serta rapel, dan lain-lain. Seperti halnya Harry muda. “Heroik kesannya, kayak Rambo,” ujarnya sembari terbahak. “Olahraga yang laki banget,” ia menambahkan. Bayangkan cadas yang berdiri kokoh di tengah lingkungan alami. Adalah seo-

NASKAH: Rita Nariswari FOTO: Dok. Skygers Bandung

June, 2010 OntimE

travelounge

109


LEISURE

rang jagoan yang ingin mendaki, memanjat, dan merayap pada dinding-dindingnya. Kegiatan alam ini, menurut Harry, sebenarnya bisa dijajal siapa pun. “Tidak perlu seorang atlet,” ucapnya. Sebab, ada beberapa tingkatan, mulai yang mudah dengan kemiringan 10 derajat, di mana orang masih bisa berdiri tegak alias mendaki. Ada pula dengan kemiringan 70-80 derajat di mana, orang benar-benar harus merayap. Setiap tebing pun memiliki tawaran berbeda-beda, ada satu sisi bisa untuk tingkat pemula dengan level mudah, di sisi lain ada dengan level tinggi yang memerlukan pengalaman panjang. Ada tiga hal yang mempengaruhi tingkat kesulitan. Pertama, kemiringan lin-

tasan. Kedua, bentuk pegangan. Ketiga, jarak atau tumpuan kaki dan tangan. Semakin miring tentunya semakin sulit. Ketika badan sudah tidak berdiri tegak, berarti kemiringan sudah semakin besar dan semakin sulit. Bila pegangannya semakin besar tentu semakin mudah, bila kecil dan hanya dipegang jemari tentu semakin sulit. Lantas, bila jarak semakin jauh, sudah pasti tingkat kesulitan semakin sukar pula. Tingkat yang sulit biasanya pada kemiringan 70 derajat, yang disebut grade 5,1. Bagi pemula, kata Harry, panjat tebing juga merupakan rekreasi. “Tidak sulit, malah mudah, jadi tidak perlu khawatir,” ucapnya. Bagi kebanyakan orang tua, hal itu mungkin juga mengundang kecemas-

M O D A L 1

2

Keterampilan, tapi yang satu ini perlu dilatih. Melatih membagi tenaga antara kaki dan tangan penting karena yang dibutuhkan tidak hanya kekuatan tangan mengangkat tubuh.

110 travelounge

OntimE

U N T U K

June, 2010

Pintar berstrategi. Untuk mencapai sebuah titik/point diperlukan strategi dalam memilih jalur. Karena kadang jalur yang dipilih menentukan tingkat kesulitannya.

an, seperti halnya yang dirasakan ibunda pria yang telah berkecimpung 30 tahun di dunia panjat tebing itu. “Tapi justru di sini kita belajar soal keamanan,” katanya. Di sekolah panjat tebing satu-satu di Indonesia, Skygers, pendidikan tingkat dasar merupakan hal yang esensial. “Pada tingkat ini yang diajarkan bukan untuk pintar memanjat, tapi pintar memasang pengaman. Pengaman inilah yang membuat Anda selamat,” ujar Harry. Pendidikan dasar biasanya dilakukan selama empat hari. Pesertanya tak cuma orang yang memang menaruh minat pada tebing, tapi juga hingga kalangan eksekutif, yang biasanya diprogramkan oleh perusahaannya Apalagi, menurut tim psikolog yang

M E R A Y A P 3

Bobot harus dijaga. Kalau terlalu berat, tidak mungkin bisa merayap. Kebanyakan bertubuh ramping, selain juga kokoh disertai tangan-tangan yang kuat.

4

Terus berlatih, tapi jangan memaksakan diri. Jangan sampai jemari menjadi bengkak. Sebab, bila dipaksakan, bisa memicu kerusakan pada otototot jari.


LEISURE Di Mana Bisa Merayap Bagi pemula, kata Harry, panjat tebing juga merupakan rekreasi. “Tidak sulit, malah mudah, jadi tidak perlu khawatir,” ucapnya.

pernah ambil bagian dalam panjat tebing bersama Skygers, Harry menyebutkan, ada manfaat dari panjat tebing bagi peningkatan kepercayaan diri seseorang. Selain juga melatih kepercayaan seseorang terhadap orang lain. Sebab, sering kali panjat tebing dilakukan bersama-sama, ada rekan yang memasang perlengkapan, dan lain-lain. Panjat tebing meliputi tiga kegiatan, yakni mendaki, memanjat, dan merayap. Pada tingkat mudah lebih banyak mendaki dan yang menjadi tumpuan adalah kaki dan memerlukan keseimbangan. Posisi kebanyakan berdiri. Bila kemudian level naik, biasanya dibutuhkan memanjat, di mana tangan mulai ikut berperan, dan yang terakhir, di mana gerakan bertumpu pada tangan. Tangan sudah harus terlatih dan benar-benar piawai. Lantas lahan yang dijajal saat ini tak lagi tebing alami, tapi juga papan panjat buatan yang tersebar di berbagai kampus dan juga pusat rekreasi serta pusat belanja. Keduanya sama-sama membuahkan rekreasi meski dengan beragam perbedaan. Bila yang dicari unsur petualangan, panjat tebing di tebing alamilah yang harus dipilih. Pada setiap tebing akan ditemukan kemiringan, pijakan, dan tentu saja beragam hal yang berbeda yang membuat tantangan dan membuahkan rasa petualangan lebih besar. “Untuk

menjajalnya, diperlukan pengalaman, tidak perlu keterampilan khusus seperti di papan buatan,” paparnya. Setiap kali kita menemukan tantangan yang berbeda dan selalu banyak tantangan. “Rasa penasaran tinggi. Di sini kita mengalahkan diri sendiri,” katanya. Sebaliknya, di dunia olahraga panjat tebing dengan dinding buatan, tidak ada unsur petualangan. Segala sesuatunya terukur, semisal jarak, dan lebih menekankan pada keterampilan karena kecepatan pun menjadi penentu kemenangan. “Biasanya yang sudah ke panjat tebing di alam tidak senang jenis panjat papan buatan. Meski ada juga yang seneng kedua-duanya,” ucapnya. Dalam jenis panjat tebing olahraga, yang dicapai adalah mengalahkan orang lain. Biasanya atlet dengan prestasi baik senang berlatih di alam. Biasanya dua hari di alam, lima hari di dinding. Dengan cara seperti, ia benarbenar akan terampil memanjat. Tangan, kaki, dan tubuh mempunyai peran dalam menjajal kegiatan ini. Tangan harus kuat, badan harus seimbang, dan pintarpintar memilih pijakan. Disebutkan, belajarnya seperti halnya orang belajar naik sepeda atau bermain ski di lantai es. Ada gerakan dasar, tapi diperlukan latihan terus-menerus. Bila tidak, jangan bayangkan bisa bergaya mirip Spiderman. 

LEMBAH Harau, Payakumbuh. Tebing berada di kawasan cagar alam dan suaka margasatwa seluas 270,5 hektare. Di sini tebing yang bisa dijajal bervariasi, dari 50 meter hingga 150 meter. Dengan pemandangan hamparan sawah. Tebing Lingga, Trenggalek. Tepatnya berada di Desa Nglebo, Karangan, Trenggalek. Medan sangat menantang dengan tinggi tebing hingga 350 meter. Tebing Parang, Purwakarta. Terletak di Kampung Cihuni, Purwakarta. Posisi di sisi selatan Waduk Jatiluhur. Ada tiga tower yang terbentang sepanjang 1,5 km. Jenis batuan tebing ini adalah andesit. Sepikul, Watu Limo, Trenggalek. Berada di tengah hutan jati yang terletak di Desa Watu Agung, Kecamatan Watu Limo, Trenggalek. Merupakan gunung batu dengan dua tower, masingmasing setinggi 200 meter dan 250 meter. Menjadi salah satu tebing favorit pemanjat tebing di Jawa Timur. Selain keempat di atas, masih banyak tebing yang tersebar di daerah lain, seperti Aceh dan Nias.

June, 2010 OntimE

travelounge

111


TRAVELLER’SNOTE

M

e

n

i

k

m

a

t

i

Sungai Danube di Tiga Negara FROM THE EDITOR Travelounge menerima kiriman tulisan dan foto dari pembaca mengenai perjalanan wisata yang dilakukan. Tulisan berupa pengalaman pribadi si penulis dan diketik maksimal 5.000 karakter dan dilengkapi 4 hingga 8 foto hasil jepretan pribadi. Tulisan dikirimkan ke alamat redaksi Travelounge.

NASKAH DAN FOTO

HARIYANTO Kepala Cabang Utama PT Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta

112 travelounge

OntimE

June, 2010

ama Sungai Danube, atau dikenal juga dengan sebutan Donau dalam bahasa Jerman dan Belanda, akrab di telinga mereka pecinta musik klasik. Komponis Austria Johann Strauss menceritakan tentang keindahan sungai ini dalam sebuah gubahan waltz, An der schĂśnen, blauen Donau yang artinya Di tepi Sungai Danube yang Indah dan Biru.

N

Pemandangan dari Istana ke seberang Sungai Danube sangat indah.

Pada perjalanan dinas Factory Acceptance Test ke Oslo, Norwegia, Maret lalu, saya mendapat kesempatan menikmati keindahan sungai ini. Tak tanggung-tanggung, saya bisa memandangi sungai ini dari tiga kota di tiga negara dalam satu perjalanan, yakni Wina, Austria; Bratislava, Slovakia; dan Budapest, Hungaria. Sungai Danube adalah sungai terpanjang di Eropa mengalir hingga 2850 kilo-


meter. Ia satu-satunya sungai Eropa besar yang mengalir dari barat ke timur. Sumbernya ada di Jerman, tepatnya di Hutan Hitam (Schwarzwald), dan berakhir di Laut Hitam, Rumania, tepatnya di Delta Danube. Alirannya melalui sisi Alpen, kemudian Dataran Rendah Pannonis, juga Dataran Rendah Rumania. Airnya menjadi sumber kehidupan bagi sebagian daerah Eropa Tengah dan Selatan.

Theresia. Sayang saya tak bisa berlama-lama di Wina. Hari ketiga, saya dijemput Duta Besar RI di Slovakia, Bapak Harsha Josoef, untuk mengunjungi Brastilava, Ibukota Slovakia. Negara pecahan Czeko-Slovakia dengan penduduk 10 juta orang. Brastilava terkenal dengan kastil-kastil dan gadis-gadis cantiknya. Ada ungkapan di Slovakia, di antara 10 gadis Slovakia,

makanan khas angsa goreng, tanpa roti, melainkan dengan nasi yang dibawa dari rumah pak Harsha. Wah, luar biasa lezatnya. Keesokkan harinya baru kami berangkat ke Budapest. Sesungguhnya, jika memasuki Budapest dari Wina melalui jalan air, kita akan tahu kenapa ibukota Hungaria ini dinamakan demikian. Menurut cerita pak Harsha, begitu memasuki Bu-

Jika memasuki Budapest dari Wina melalui jalan air, kita akan tahu kenapa ibukota Hungaria ini dinamakan demikian. Pertemuan pertama saya dengan Sungai Danube terjadi di Wina. Ibukota Austria ini terkenal dengan pertunjukan opera dan orkestra, tempat lahirnya pemusik-pemusik hebat dunia seperti Mozart, Strauss, dan pertunjukkan opera musik klasik dari Vienna Philharmonic Orcestra yang terkenal. Saya menginap di Hotel Astoria, yang terletak di tengah kawasan pedestrian dan opera house. Sayang, saya tak sempat menikmati pertunjukkan opera dalam perjalanan ke Wina kali ini. Namun, sekedar menikmati sore sambil memandang ke bebek atau angsa berenang di air Danube yang jernih sungguh mengundang perasaan romantis tersendiri. Tentu saja, saya tak hanya berdiri di tepi Danube. Seharian saya menikmati Wina. Berjalan menuju Karntner Strasse, tempat yang dikhususkan bagi para pejalan kaki, di mana terdapat beberapa museum utama Wina, seperti Naturhistoriches Museum dan Kunsthistorisches. Tur saya tutup dengan mengunjungi Istana

12 di antaranya pasti cantik. Aha, 12? Ya, sebab yang dua adalah teman 10 gadis tadi yang pasti juga cantik. Melalui Sungai Danube, khususnya antara April-September, sebenarnya wisatawan juga bisa mengunjungi Wina di Austria dari Budapest di Hungaria pergi pulang. Dari Budapest ke Wina sekitar 5 jam dengan kapal jetfoil, sementara dari Wina ke Budapest hanya 4 jam dengan hovercraft. Namun kami tak langsung ke Budapest, melainkan ke Brastilava. Brastilava tidak terlalu besar, populasinya cuma 500 ribu orang. Ini cuma 10 persen penduduk Wina. Brastilava juga dibelah Sungai Danube, dengan kastilkastil kunonya yang terkenal, seperti Kastil Brastilava sebagai landmark kota, Kastil Devin, Kastil Cevenry Kamen, dan lainnya. Kami jalan-jalan di Centrum Walk, dekat hotel kami menginap, Redisson Blu. Memandang kastil-kastil itu dengan latar depan Danube sungguh sangat indah. Malamnya diundang Duta Besar makan malam di pedesaan dengan

dapest dari Austria, sebuah pemandangan yang indah akan menghampiri mata kita. Suatu dataran yang terbelah menjadi dua oleh Sungai Danube. Daerah berbukit di bagian barat disebut Buda, sedangkan dataran di sebelah timur adalah Pest. Buda sendiri berarti tinggi, yaitu daerah sisi Danube yang lebih tinggi dan didiami para bangsawan, Sedangkan Pest, adalah daerah sisi Danube yang lebih rendah, yang didiami rakyat biasa. Di Budapest saya menyempatkan datang ke Old Market, gedung parlemen, juga Istana Presiden yang semua menghadap ke Sungai Danube. Pemandangan dari Istana ke seberang Sungai Danube sangat indah. Budapest dengan gedunggedung kunonya adalah kota yang indah meskipun banyak jalan yang macet seperti kota-kota besar lain. Penduduk Hongaria berjumlah 15 juta orang, sekitar 5 juta mendiami Budapest dan sekitarnya. Kunjungan satu hari ke Budapest saya akhiri dengan mengunjungi Hero Square, landmark kota ini. ď Ž June, 2010 OntimE

travelounge

113


ONLOCATION

Stasiun King’s Cross Pada 1 September kala itu, Harry Potter kebingungan mencari Peron 9¾ di Stasiun King’s Cross, London, Inggris. Ia hanya menemukan Peron 9 dan Peron 10 serta sebuah tembok batu bata pemisah selebar 1 meter di antara keduanya.

114 travelounge

OntimE

June, 2010


AP PHOTO/UNIVERSAL ORLANDO RESORT

Pada tiket perjalanan yang digenggamnya tertulis, ia harus mengendarai kereta Hogwarts Express, yang menunggu di Peron 93/4. “Kamu harus yakin Peron 93/4 ada di antara keduanya, tembuslah untuk menemukannya,” saran ibu Ron Weasley, teman seperjalanan, yang lalu menjadi karibnya. Dengan penuh keyakinan, Harry Potter dengan troli penuh barang bawaan lantas menabrakkan diri ke dinding tembok pemisah itu. Dan, kita tahu, ia berhasil menembus tembok, dan mencapai dunia lain. Di balik tembok, ia menemukan kereta uap Hogwarts Express yang akan membawanya ke Stasiun Hogsmeade, stasiun fiksi di desa fiksi Hogwarts, Skotlandia. Dalam cerita, Desa Hogwarts adalah tempat sekolah sihir berasrama Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry, yang menjadi tujuan Harry menuntut ilmu. Kereta Hogwarts Express hanya berjalan dua kali selama setahun, yakni 1 September untuk menjemput siswa baru dan bulan Juni untuk mengantar siswa libur sekolah. Itulah salah satu adegan dalam film Harry Potter and the Philosopher’s Stone (2001). Film pertama dari tujuh seri film Harry PotTak jarang, di sana pemerintah kota menyubsidi film untuk mempromosikan kotanya. ter, yang sudah tak asing lagi bagi anak-anak dan remaja di seluruh dunia. Adaptasi dari seri novel fiksi petualangan Harry Potter karangan J.K. Rowling, penulis asal Inggris. Popularitas film Harry Potter telah mencipta legenda Peron 93/4 atau Platform 93/4 ini di Stasiun King’s Cross, stasiun sungguhan di London. Di sentral lalu lintas kereta api London ini, kini tersedia dinding bertulisan “Platform 93/4”, yang menjadi obyek wisata Harry Potter Tour di London. Sesungguhnya Peron 93/4 terletak di anta-

ra Peron 9 dan Peron 10. Namun, karena kedua peron itu menjadi jalur lalu lintas kereta api yang sibuk, pihak pengelola stasiun kemudian membuatkan lokasi dinding batu bata yang mirip di film namun di lokasi yang lebih aman, dan ditulisi dengan plakat “Platform 93/4” dengan sebuah troli yang separuh menembus dinding tembok. Dinding itu juga populer disebut Harry Potter Wall. Stasiun King’s Cross sendiri memiliki sejarah panjang. Stasiun yang dibangun pada 1852 ini sarat peristiwa sejarah dan mempunyai arsitektur gotik Inggris, yang juga menarik untuk tujuan wisata. Platform 93/4 di Stasiun King’s Cross hanyalah salah satu bagian dari tujuan Harry Potter Tour. Dalam paket wisata selama 10 jam dengan biaya 455 pound sterling (sekitar Rp 6 juta) untuk dua orang, selain ke King’s Cross, peserta berkunjung ke dua situs utama Harry Potter di London, yakni Universitas Oxford dan Katedral Gloucester. Paket tur dua hari malah lebih murah, 400 pound sterling (sekitar Rp 5,5 juta) untuk dua orang, mengunjungi 10 situs syuting Harry Potter yang tersebar di London. Sebagian besar setting dari sekolah sihir Hogwarts mengambil lokasi syuting di Universitas Oxford, universitas tertua dan ternama di Inggris yang didirikan pada 1096. Di antaranya perpustakaan Bodleian, didirikan pada 1602 dan menyimpan 8 juta buku, yang menjadi interior kelas Hogwarts, perpustakaan, rumah pengobatan Hogwarts, dan hall tempat Harry dan Ron Weasly bela-

jar dansa kepada Profesor McGonagall. Kemudian Gereja Christ Church, didirikan pada 1546 berarsitektur gotik, salah satu bangunan di dalam Universitas Oxford, yang menjadi ruang kelas besar dan ruang makan dari sekolah sihir Hogwarts. Di sinilah, dalam film pertama Harry Potter and the Philosopher’s Stone, Harry dikerjai Voldemort di hari pertama di sekolah. Pilihan Universitas Oxford menjadi setting film tak lepas dari sang penulis novelnya, J.K. Rowling, yang juga alumnus Oxford. Pariwisata Universitas Oxford mengatakan ada peningkatan kunjungan wisata hingga 40 persen sejak suksesnya film Harry Potter. Sementara itu, Katedral Gloucester, didirikan pada 678, salah satu gereja tertua di Inggris, dengan lorong-lorongnya yang luas, gelap, berwajah kuno, dan terkesan seram, digunakan untuk syuting lorong-lorong sekolah Hogwarts. Pengambilan gambar di katedral ini sempat diprotes jemaat katedral, karena Harry Potter, yang bercerita tentang dunia sihir, dianggap bertentangan dengan agama yang diagungkan katedral. Pengarang J.K. Rowling sendiri sejak awal menginginkan seluruh film berlatar belakang London, seperti juga novelnya, dan menggunakan aktor-aktris Inggris. Itulah kenapa tak ditemukan bintang-bintang Hollywood dalam film ini. Beberapa seri terbaru, seperti film keenam Harry Potter and the Half-Blood Prince, mengambil syuting di Wellington, Selandia Baru, tapi plot tetap bercerita tentang London.  Wahyuana June, 2010 OntimE

travelounge

115


EXPLORE

C U L I N A R Y

NASKAH & FOTO: Febrianti

Renyah, Gurih, Legit

dari Padang

Jangan bayangkan masakan Minang itu hanya yang pedas dan sarat santan, seperti rendang, dendeng balado, atau gulai. Selain itu, masih ada ratusan resep camilan yang enak—ada yang renyah, gurih, dan legit—yang layak dijadikan buah tangan ketika Anda pulang dari Sumatera Barat. Bahkan kini aneka camilan dari berbagai daerah di provinsi ini mudah didapatkan di beberapa toko oleholeh di Padang. Misalnya di gerai Christine Hakim di Jalan Nipah Nomor 38, Padang, dekat jembatan Siti Nurbaya atau di Rohana Kudus, Jalan Rohana Kudus 74, Padang.

Keripik Sanjai Keripik Sanjai atau keripik balado ini awalnya merupakan penganan khas Bukittinggi, yang dibuat di daerah Sanjai. Namun kini di Padang juga sudah banyak yang memproduksi keripik balado ini. Penganan ini terbuat dari singkong yang diiris tipis membujur panjang, digoreng kering, lalu diolesi saus pedas dari racikan cabai, bawang merah, merica, dan gula. Keripik balado dari Bukittinggi rasanya pedas karena cabai lebih dominan dibanding gula, sedangkan buatan Padang lebih manis, walau rasa cabai masih terasa. Keripik balado dijual seharga Rp 20 ribu per setengah kilogram atau Rp 10 ribu untuk kemasan 250 gram.

Gelamai Penganan yang satu ini biasanya dijumpai saat pesta perkawinan di beberapa daerah. Di Pariaman dan Payakumbuh dinamai gelamai, sedangkan di dae-

116 travelounge

OntimE

June, 2010

ga yang dibungkus dalam kambut mungil atau sejenis anyaman pandan, satu kambut Rp 5.000.

Kue Sapik

rah Muaro Sijunjung dinamai kalamai. Namun resepnya masih sama. Mirip dodol, warnanya cokelat tua mengkilat, tapi rasanya lembut di lidah. Legit serta agak berminyak karena menggunakan santan kental. Bahannya tepung ketan, santan, dan gula merah. Dibuat seharian dalam kuali besi yang sangat besar dengan pengaduk yang mirip dayung sampan. Gelamai dijual dalam wadah cantik dari keranjang rotan. Satu keranjang Rp 20 ribu. Ada ju-

Resepnya sama dengan kue semprong di Jawa. Hanya bentuknya yang beda, tidak digulung seperti semprong, tetapi, saat diangkat dari cetakan pemanggang, dalam kondisi masih panas kue ini dilipat dan dijepit. Karena itulah namanya kue sapik. Garing dan manis. Terbuat dari tepung beras, telur, gula pasir, santan, dan bubuk kulit kayu manis. Ada juga


EXPLORE CULINARY bilih goreng yang dicampur serundeng kelapa dan kentang goreng. Harganya Rp 20-42 ribu.

yang terbuat dari ketan hitam, sehingga warnanya cokelat kehitaman dan dinamai kue sapik sipulut hitam. Dikemas dalam kantong plastik transparan dan disusun rapi. Harganya Rp 10-15 ribu.

Aneka Rendang Kering

Kerupuk Jangek Kerupuk yang satu ini terbuat dari kulit kerbau, rasanya gurih dan agak asin. Ukurannya mulai sebesar bola pingpong karena menggelembung saat digoreng, tapi ada pula yang selebar telapak tangan. Pas untuk teman sajian soto Padang atau sate Padang Kerupuk jangek ini dibuat dari kulit kerbau yang dibakar, lalu direbus dan dijemur hingga kering. Kerupuk jangek goreng dijual Rp 12 ribu per kemasan, yang cukup untuk satu toples sedang. Ada juga dengan variasi serundeng kelapa Rp 15 ribu per kemasan.

menjadi renyah dan wangi. Ada juga kue arai pinang yang dicampur dengan saus dan rebusan gula. Harga kemasan setengah kilogram Rp 11 ribu dan pakai saus gula Rp 20 ribu.

Karak Kaliang Karak kaliang merupakan makanan khas Bukittinggi, Agam, dan Limapuluh Kota. Bentuknya seperti angka delapan, nama lainnya kerupuk 88. Warnanya kuning dari kunyit. Cita rasanya gurih dengan aroma kunyit. Makanan kecil ini sudah ada sejak zaman Belanda. Bahan bakunya tepung singkong, kunyit, dan garam. Adonannya dicetak seperti angka delapan, lalu digoreng garing. Harganya Rp 14 ribu untuk kemasan setengah kilogram.

Kacang Tojin Kacang tojin sebenarnya makanan kecil saat Lebaran, yang harus ada dalam toples-toples di rumah orang Minang. Karena rasanya gurih dan renyah, biasanya kacang ini paling duluan habis. Kini menjadi penganan kecil andalah oleholeh khas dari Padang. Sebenarnya sama dengan kacang bawang goreng. Terbuat dari kacang tanah kupas, dipilih yang berukuran agak kecil agar garing saat digoreng. Sebelum digoreng, kacang tanah ini dibumbui dengan bawang putih. Setelah digoreng, dicampur dengan bawang goreng serta daun seledri goreng sehingga warna hijau daun seledri menambah kontras kacang goreng. Satu kemasan kacang tojin ukuran setengah kilogram dijual seharga Rp 27 ribu.

Arai Pinang Kue yang satu ini juga kudapan khas Lebaran, namun sudah diproduksi untuk oleh-oleh. Rasanya renyah, gurih, dan wangi minyak kelapa. Bahannya sederhana, hanya tepung beras yang disangrai, santan, garam, dan sedikit kapur sirih agar hasilnya renyah. Adonan ini dibulatkan, lalu dipipihkan dengan arai pinang (mayang/bunga pinang). Lalu digoreng. Saat dicetak, diolesi minyak kelapa sehingga kue arai pinang

118 travelounge

OntimE

June, 2010

Rendang dari Padang tidak hanya rendang daging. Kini ada pula rendang kering yang dijual untuk kudapan. Mirip abon, tapi aromanya khas rendang karena bumbunya sama. Rendang kering ini dari Payakumbuh. Bisa berupa rendang runtiah atau rendang daging yang disuwir, rendang telur, rendang paru, rendang belut, rendang daun ubi kayu, hingga rendang pakis. Semuanya renyah dan

Pisang Sale Pasaman Penganan ini dibuat di Pasaman, menggunakan pisang emas atau pisang manis sehingga ukurannya hanya sebesar telunjuk. Lembut di lidah dan manis, namun tidak terlalu legit dan lengket seperti pisang sale Aceh, karena satu per satu pisang sale ini dibaluri tepung dan digoreng sehingga bagian kulitnya renyah. Cara pembuatannya, pisang emas yang matang pohon dijemur di panas matahari berharihari sebelum digoreng dengan tepung. Harganya Rp 24 ribu per kemasan 250 gram.

kering, bisa disimpan berbulan-bulan di toples untuk lauk nasi goreng atau nasi putih. Rasanya juga tidak terlalu pedas, hingga masih bisa dinikmati anak-anak. Jangan dibayangkan rendang telur itu menggunakan telur bulat. Rendang ini

Ikan Bilih Goreng Ikan bilih merupakan ikan asli dari Danau Singkarak. Ukurannya sebesar ikan teri. Dijadikan oleh-oleh khas Singkarak dalam bentuk digoreng kering. Enak untuk camilan atau bisa ditambahi sambal cabai merah atau cabai hijau goreng yang dimakan dengan nasi putih. Variasi lain selain digoreng biasa, ada juga bilih goreng tepung, rendang bilih kering, atau

menggunakan telur yang dicampur tepung beras dan digoreng tipis, lalu dipotong-potong persegi empat dan direndang. Hasilnya menjadi rendang telur nan renyah. Cocok untuk kudapan dengan teh manis, karena rasanya agak manis yang berasal dari santan. Harga aneka rendang ini Rp 20-45 ribu per kemasan. ď Ž


QUOTE

Apapun Bisa

Nikmat Prasetya M. Brata KETIKA MENDENGAR dokter me- untuk audience dan klien. Bukan cuma soal remeh semacam itu. ngatakan saya tidak boleh makan pedas dan asam, sepersekian detik kemudian benak sa- Ketika terkena bell’s palsy —kelumpuhan separuh wajah akibat terganggungnya syaraf ya bilang, “hmm .. okeyyyy...” Sepertinya saya mulai terbiasa —bahasa kerennya uncon- ke-7— saya segera acceptance dan dengan riscious competence— menerima segala keada- ngan membatalkan beberapa job pelatihan. Bahkan ketika dokter kandungan memberian yang tidak diharapkan yang saya beri tahu bahwa jabang bayi yang sudah hidup muatan perasaan ‘tidak menyenangkan’. tujuh bulan dalam rahim isteri saya dinyataAkibat dilatih pengalaman berkali-kali, kan meninggal dan harus dikeluarkan, saya maka sewaktu menghadapi situasi yang tidak saya harapkan, di mana situasi itu tidak langsung acceptance. “Okeyyyy”, kata benak saya. Ikhlas karena memang sudah terjadi. akan berubah sedikitpun karena sudah Saya baru menangis setelah mendengar menjadi sejarah masa lalu —meski baru suara kesedihan ayah saya di ujung telepon berlangsung sekian detik yang lalu — saya langsung acceptance dan langsung loncat ke saat memberitahu berita ini. Lalu apakah itu berarti saya tak pernah pertanyaan “Bagaimana selanjutnya?” Semarah atas kondisi yang memua itu berlangsung sangat cepat dalam pikiran saya. ... selama ini saya di- lenceng? Tentu pernah. Namun setelah dilatih pengMisalnya, saat mengajar tibuat menderita oleh alaman dan program berpiba-tiba listrik padam dan mic kir acceptance dan ‘lihat ke mati, saya langsung meletakkeinginan-keinginan depan’ itu, marahnya merukan mic dan melanjutkan biyang gagal dicapai pakan pilihan, dan mengancara dengan lebih keras tandung niat baik memperbaiki pa membuang-buang waktu padahal kebutuhan menunggu panitia bertindak. saya sudah terpenuhi. keadaan. Marah konstruktif, bukan destruktif. Tentu saja jika saya bicara di Kembali ke soal ‘pedeshadapan 100 orang peserta. asem’ tadi. Ujian keberhasilMungkin beda ceritanya jika saya bicara di stadion olahraga dengan lebih an saya atas konsep acceptance datang saat bubur bikinan Rina, sang asisten di rumah, dari 2000 peserta, maka bukan cuma saya yang acceptance, pesertapun ujian acceptance. terhidang di meja makan. Tidak ada sambal. Ketika LCD mati saya segera mendayagu- Untung di rumah masih ada ‘kerupuk kampung’ dan abon sapi. Saya suka rasa manis nakan sumber daya yang tersedia di ruangjuga. Saya kembali melakukan prosesi accepan, seperti flipchart dan spidol, atau whiteboard untuk menulis atau menggambar sesua- tance dengan mengatakan dalam benak ‘okeyyyy’. Lantas saya racik asesori non-pedestu. Semua saya lakukan tanpa bertanya keasem ke dalam mangkok bubur. Saya hipada panitia “Kok begini sih?”, atau, “Kenalangkan referensi rasa, tampilan, dan aroma pa nih?”, apalagi sampai menggerutu. Saya pikir, pertanyaan-pertanyaan reaktif dan ber- bubur yang biasa saya makan di masa lalu. Saya lihat wujud bubur itu apa adanya. Saya orientasi kepada masa lalu tadi, di samping lihat apa yang terlihat. Saya cium aroma butidak produktif karena menghabiskan wakbur sebagaimana adanya. Saya cium apa tu, juga membuat suasana jadi tambah ruyang tercium. Lalu saya suapkan bubur ke wet, yang berisiko mengganggu ‘state’ saya dalam mulut saya. Saya merasakan apa yang untuk memberi nilai tambah yang terbaik

terasa. Saya perkuat rasa manis dari abon sapi kesukaan saya. Saya kunyah pelan dan saya terima apa yang saya rasakan, lalu saya beritahu pikiran saya “Inilah makanan yang enak”. Ajaib! Bubur yang di masa lalu saya cemooh dalam pikiran, saya hujat sebagai ‘bubur apaan tuh?,’ yang saya vonis sebagai tidak enak, saat itu juga berubah menjadi enak. Beberapa menit setelah makan, perut saya kenyang. Kenyang yang sama dengan jika saya makan sop buntut ‘Cut Meutia’ dengan dua sendok sambal plus jeruk limau. Sekarang ketika saya disodori baso, bakwan, dan sop-sop-an, sudah bisa menikmatinya tanpa sambel dan jeruk nipis. Rupanya selama ini saya dibuat menderita oleh keinginan-keinginan yang gagal dicapai padahal kebutuhan saya sudah terpenuhi. Waktu kecil ibu sudah memasakkan nasi-sayur bayam-tempe-tahu, tapi saya ogah menyantapnya gara-gara ingin ayam goreng. Saya ngambek dan bikin ibu jengkel garagara saya mengejar keinginan, bukan kebutuhan yang sudah tersedia. Saya tidak tahu, apakah sungkem saya kepada ibu setiap lebaran sudah berhasil menghapuskan dosadosa kedurhakaan saya. Kalau saya akhirnya bisa menikmati makanan yang sebelumnya tak saya ‘anggap’, setelah melalui proses ‘menerima’ dan ‘menghapus referensi rasa masa lalu’, merasakan apa yang terasa saja, ‘mensyukuri apa yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan) telah tersedia’. Itu berarti, dengan struktur pengalaman yang sama, di semua keadaan —bahkan yang kita namakan sebagai kesialan, musibah, penderitaan— bisa kita rasakan nikmat.  June, 2010 OntimE

travelounge

119


HEALTH

Plastik untuk

Piknik Bentuk beragam, warna beraneka, tapi pilihlah yang aman.

ISTOCK.COM

ata piknik boleh jadi jarang digunakan sekarang. Dalam kamus, maknanya tak lain bepergian untuk bersenang-senang. Arti lainnya tentu saja bertamasya. Kata piknik kerap digunakan pada 1970-an dan banyak ditempel ketika bepergian itu dilakukan dengan keluarga. Dan bayangan kebanyakan orang, kegiatan ini selalu dilengkapi bekal lengkap dari rumah, sehingga, di mana pun ketika lapar, mengisi perut pun dengan mudah dilakukan. Sekarang memang semangat orang untuk membawa bekal

K

dari rumah mulai mengendur. Restoran dengan mudah ditemukan. Namun, bila Anda membawa orang tua dengan gangguan kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, membawa bekal pun menjadi cara agar perjalanan lebih lancar. Begitu juga bila mempunyai anak usianya di bawah lima tahun. Artinya, bekal tetap sesuatu yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Jika ternyata Anda melakukan perjalanan darat dengan jalur yang dilalui tidak ramai, rumah makan pun hanya ditemui pada ti-

tik-titik tertentu, kenapa tidak membawa makanan dari rumah, yang kemungkinan besar lebih bersih dan sehat? Tentu sebaiknya dipilih yang praktis. Di samping untuk bekal untuk penderita atau anakanak, harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhannya. Namun, bila untuk orang kebanyakan, sebaiknya di perjalanan, selain membawa makanan padat yang mudah dipersiapkan, ada baiknya membawa minuman dan makanan yang segar, seperti buah-buahan. Soal wadah, ada banyak pilihan saat ini. Dalam warna-warni cerah dan bentuk macam-macam. Untuk anak-anak bahkan wadah dimunculkan dalam bentuk menarik, berupa bentuk makanan maupun binatang. Semuanya menggunakan plastik, yang merupakan istilah umum untuk polimer, material yang bisa dibentuk beragam sehingga fungsional. Jenis plastik umumnya terbagi dua, yakni termoset, yang tidak bisa dida-

ur ulang, seperti melamin dan peralatan listrik; dan termoplastik, yang bisa didaur ulang, yang biasanya digunakan untuk kantong plastik, botol, teflon, pipa, serta wadah makanan dan minuman. Masalahnya, meski ringan dan kuat sehingga mempermudah membawa makanan ke mana pun, plastik memiliki beberapa kelemahan, yang ujungujungnya bisa mengganggu kesehatan dan lingkungan. Misalnya, beberapa jenis plastik tidak tahan panas. Kemudian, bila tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya, akan memicu gangguan kesehatan. Beberapa jenis plastik juga membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk bisa terurai secara alami. Dr Yadi Haryadi, pakar pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, dalam diskusi beberapa waktu lalu menyebutkan, plastik terdiri atas bahan kimia dan bisa membahayakan

Wadah yang Aman 1. Memiliki simbol gelas dan garpu. 2. Tertulis “Food Grade�. 3. Tercantum “Approved by FDA�. Setiap negara juga memiliki badan yang berwenang untuk memberi

120 travelounge

OntimE

June, 2010

perizinan, selain FDA yang merupakan badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat, bisa jadi ada nama lembaga setara, tergantung negara. 4. Merek plastik atau wadah merupakan merek dagang yang dipatenkan. ď Ž


yang kita konsumsi. Yadi menyatakan peluang migrasi juga semakin tinggi bila plastik bersentuhan dengan makanan berlemak, asam, asin, dan berbentuk makanan semipadat, seperti kue basah. Ia menambahkan, bila bahan kimia itu masuk ke makanan, bahan itu dapat masuk ke dalam tubuh ketika kita mengkonsumsinya. Jika hal itu berlangsung terusmenerus, akan menyebabkan gangguan kesehatan. Agar makanan menjadi bahan yang aman untuk tubuh, tempatkan pada wadah yang tepat. Caranya tidak terlalu sulit. Ada beberapa simbol yang menunjukkan bahwa wadah tersebut aman untuk tempat makanan dan minuman, bahkan juga aman untuk proses pemanasan di pemanggangan, microwave, dan sejenisnya. Tidak perlu seISTOCK.COM

kesehatan karena bahan kimia dari plastik berpindah ke makanan. Proses ini disebut migrasi dan dipercepat oleh tiga hal: panas, minyak, serta waktu. Ia menyebutkan, semakin tinggi panasnya, proses migrasi bahan kimia pun berlangsung

lebih cepat dan tentu saja dalam jumlah yang lebih banyak pula. Sementara itu, minyak merupakan bahan yang dengan cepat melarutkan bahan-bahan kimia. Bila terjadi berulang kali, tentunya semakin tinggi jumlah bahan kimia yang akhirnya pindah ke makanan

mua simbol yang harus tercantum dalam satu produk, salah satunya saja yang tercantum sudah menjadi jaminan untuk keamanan. Misal ada tulisan “Food Gradeâ€?, gambar sendok dan garpu, atau persetujuan dari badan pengawas obat dan makanan negara tertentu, karena setiap negara memiliki lembaga sejenis. Pada setiap wadah juga lazimnya tertera kode jenis plastik yang akan mempermudah proses daur ulangnya. Namun kode ini tidak menunjukkan keamanan dari wadahnya. Kode yang berupa segitiga tersebut dicantumkan untuk mempermudah proses pemilihan di pabrik daur ulang. Nah, kode ini harus dibedakan atau tidak dicampuradukkan dengan tanpa keamanan si tempat makanan tersebut. ď Ž RITA SIMBOL LAIN YANG HARUS DIKENALI 1

Simbol microwave dengan garis bergelombang. Tanda

ini menunjukkan wadah aman untuk proses pemanasan atau penghangatan di microwave. 2 Simbol oven save dengan dua garis horizontal. Artinya, wadah bisa masuk dalam pemanasan di oven karena tahan akan suhu tinggi. 3 Simbol grille save dengan jejeran segitiga yang menunjukkan bara api. Aman untuk pemanggangan. 4 Simbol freezer save (gambar bunga salju). Maknanya bisa digunakan untuk menyimpan makanan atau minuman dalam suhu rendah (ruang pembeku di lemari es). 5 Simbol dishwasher save (gambar gelas terbalik dengan tetesan air). Aman untuk dicuci dalam mesin pencuci piring. 6 Simbol cut save (gambar pisau) menunjukkan bahan bisa digunakan untuk memotong-motong bahan makanan. ď Ž

June, 2010 OntimE

travelounge

121


WHAT’SON

Juni TEMPO/ RULLY KESUMA

Festival Danau Sentani 2010.

14

Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, menjadi pusat kemeriahan selama lima hari dimulai 1 Juni. Keberagaman tradisi dan budaya di Jayapura akan dipertunjukkan kepada khalayak. Salah satunya menari di atas perahu, yang memang menjadi ciri khas budaya Sentani. Menari di atas perahu itu membutuhkan keterampilan khusus karena, bila penari tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, perahu oleng dan ia pun tercebur ke danau. Menari di atas perahu biasanya dilakukan saat warga membawa kayu yang akan dipakai untuk membuat rumah pertemuan adat.

Festival Tari Indonesia X. Festival dua tahunan sejak 1992 ini akan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai Indonesia. Selain Indonesia, ada penari dari Jepang, Korea, Singapura, Jerman, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris, Kamboja, dan Afrika Selatan. Walhasil, acara juga melibatkan ratusan koreografer, penari, serta pengamat seni. Pergelaran diadakan di Taman Ismail Marzuki dan Institut Kesenian Jakarta pada 14-17 Juni.

TEMPO/PUSPA PERWITASARI

Tahun ini akan bertema “Powering the Future” dan digelar bertepatan dengan 40

tahun Institut Kesenian Jakarta, yang jatuh pada 26 Juni. Yang membikin lebih istimewa adalah sejumlah karya maestro tari Indonesia akan mengisi panggungpanggungnya, selain juga diskusi seni. 

122 travelounge

01

OntimE

Festival juga menampilkan atraksi merokok di atas air, yang biasa dilakoni penduduk wanita di sekitar Danau Sentani. Aksi ini sebenarnya untuk melawan hawa dingin saat mereka menyelam danau untuk menangkap ikan. Sebelum masuk ke air, perempuan itu merokok, kemudian bagian apinya dimasukkan ke dalam mulut. Dengan api rokok dalam mulut itulah mereka menjelajahi kedalaman danau untuk menangkap ikan. Tak hanya tradisi Sentani yang bisa dinikmati pengunjung, budaya luar daerah yang tumbuh di sini pun akan memeriahkan pesta budaya ini.

15 Festival Penyu Internasional. Sebagai puncak program ekowisata yang dilakukan Yayasan Pulau Banyak, di pulau yang terletak di Kabupaten Aceh Singkil ini akan digelar Festival Penyu Internasional 2010 pada 15-21 Juni. Kegiatannya berupa kenduri laut yang biasa diadakan warga, kemudian juga dakwah agama, hiburan, tari tradisional, serta opera penyu. Di samping juga beragam lomba, seperti lomba blog spot, memancing, menyelam, dan surfing.

17

Festival Singkawang. Kota di Kalimantan Barat ini gencar memperlihatkan kekayaan budayanya. Pada 17-19 Juni, digelar Festival Singkawang. Kegiatan akan menampilkan ragam budaya dan wisata yang ada di Kalimantan Barat, di samping Indonesia. Kesenian pun ditampilkan, seperti sumpit, barongsai, pencak silat, dan aneka sajian khas Singkawang. Pada 23-26 Juni, kota ini menggelar upacara adat Naik Dango, sembahyang padi mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan (Jubato). 

22

TEMPO/ CHEPPY A. MUCHLIS

Pasar Kangen Jogja 2010. Program ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran lingkungan dan pelestarian penyu langka di Pulau Banyak sekaligus mengangkat budaya lokal. Duta Penyu Nasional, Deddy Mizwar, dikabarkan akan hadir dan acara pun dimeriahkan oleh sejumlah artis Ibu Kota. 

June, 2010

Ingin merasakan suasana pasar tradisional yang menawarkan aneka sajian khas Kota Gudeg dengan kemeriahan khusus, saatnya hadir di kota ini pada 22-28 Juni. Selama tujuh hari, di kompleks Taman Budaya Yogyakarta akan digelar Pasar Kangen Jogja 2010, yang tak hanya menawarkan aneka makanan, tapi juga pertunjukan seni tradisi, juga yang unik yang semakin langka yang membuat pengunjung makin mengenal dan tambah kangen dengan Yogya. 


OUR AIRPORT 124 INSIDE 126 FLIGHT INFO 129 MAP 138 ONJOB

June, 2010 OntimE

travelounge

123


ONJOB

NASKAH: Wahyuana FOTO: Nunu Nugraha

Keamanan Bandara:

Mengendus Yang

Tak Terendus Di setiap terminal, seorang penumpang biasanya akan dua kali menghadapi pemeriksaan petugas keamanan bandara

S

eorang calon penumpang pesawat ketinggalan tasnya di x-ray keamanan bandara Bandara Soekarno Hatta. Tampaknya, tas ini sengaja ditinggal. Pemiliknya buru-buru pergi, seolah tak peduli. Petugas keamanan, lantas mengumumkan temuan ini berkali-kali melalui pengeras suara. Setelah beberapa jam, seseorang yang mengaku suruhan, datang hendak mengambil tas. “Kami tolak. Hanya boleh diambil pe-

124 travelounge

OntimE

June, 2010

miliknya langsung,” ujar Eko Sulianto, petugas keamanan bandara (aviation security officer). Setelah cekcok protes dan makimaki dari orang suruhan, tak berapa lama, sang pemilik tas akhirnya datang sendiri. Sesuai prosedur, karena mencurigakan, tas baru akan diserahkan setelah dibuka dan diperiksa dulu didepan pemilik tas bersama petugas dan saksi. Ternyata di dalamnya ditemukan alat isap sabu-sabu. “Akhirnya kami menggeledah seluruh barang dan pakaian yang melekat di tubuh sang pemilik, dan ditemukan 11 bungkus sabu-sabu,” ujar Eko, yang telah 28 tahun bekerja sebagai petugas keamanan bandara Soekarno Hatta. Itulah sekelumit cerita suka duka petu-

gas keamanan bandara. Tugas mereka memastikan tidak adanya barang-barang yang membahayakan penerbangan dan seluruh keamanan fasilitas bandara. Kadang dimaki calon penumpang, karena meminta kesediaannya diperiksa dan mengikuti prosedur. Banyak orang belum aware dengan prosedur pemeriksaan airport. “Mentang-mentang pejabat atau orang berpengaruh, menolak diperiksa. Padahal tak peduli siapapun, setiap masuk airport harus melalui pemeriksaan kami,” ujarnya. Menurut Eko, yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Pos Pengamanan Bandara Soekarno Hatta, kini standard pemeriksaan setiap penumpang makin ditingkatkan ketelitiannya. “Antisipasi bahaya terorisme dan penyelundupan narkoba,” ujarnya. Bahkan, di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, —yang menjadi airport percontohan dalam pengelolaan bandara di Indonesia, dan penerima Bandara Award 2009 untuk kategori penanganan keamanan terbaik bandara di Indonesia— proses dan prosedur pemerik-


ONJOB

Menjadi Petugas Aviation Security PROFESI aviation security atau petugas keamanan bandara memiliki dua jenjang yakni yunior dan senior. Mereka berstatus sebagai pegawai Perum Angkasa Pura II, perusahaan pengelola Bandara Soekarno Hatta. Tergantung kebutuhan, kadang Angkasa Pura membuka lowongan profesi ini, namun tak setiap tahun. “Biasanya diumumkan

saan setiap calon penumpang lebih teliti dan detail. “Di Terminal 3, setelah melewati x-ray dan detektor alat, setiap penumpang bahkan harus melepas sepatu dan ikat pinggang untuk diperiksa,” ujar Zaedan, komandan Petugas Keamanan Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Di setiap terminal, seorang penumpang biasanya akan dua kali menghadapi pemeriksaan petugas keamanan bandara, pertama di desk SCP Bagasi (Security Check Point), yakni meja pemeriksaan ketika hendak memasuki area check in, dan kedua di meja SCP Kabin, yakni sebelum memasuki area boarding lounge. “Di Terminal 3, pemeriksaan di SCP Kabin dilakukan lebih ketat lagi, karena sesudah melakukan proses check in, penumpang bisa bertemu kembali dengan pengantarnya di meeting point area, sehingga ditakutkan ada transfer barang baru, sementara bawaan sebelumnya sudah masuk bagasi,” ujar Eko, bapak tiga anak yang penggemar berat jazz ini. Menurut Kundiwarta, instruktur dan petugas keamanan bandara senior, ba-

rang-barang yang dilarang dibawa penumpang dan pengunjung airport di antaranya; barang dari logam seperti pisau yang mempunyai panjang lebih dari 5 centimeter, pemotong kuku, gunting, silet, korek gas, barang bermagnit, dan zatzat kimia yang termasuk dalam kategori dangerous goods seperti explosive liquid (mudah meledak), gas, playable liquid, playable solid, benda-benda oksidasi (mudah bereaksi kimiawi), racun, dan barang-barang hayati tumbuhan maupun hewan yang dilarang. “Disamping itu, setiap airline biasanya juga punya standard aturannya sendiri. Air Asia misalnya, mereka menolak membawa barang-barang security item seperti senjata api,” ujar Kundiwarta. Kini Bandara Soekarno Hatta yang terdiri dari 3 terminal mempunyai sekitar 880 personil keamanan bandara. “Jumlah itu masih kurang. Idealnya sekitar 3.000-an. Karena kami tak hanya bertanggung jawab di dalam area airport hingga ke aphron, tetapi juga seluruh kawasan bandara,” ujar Kundiwarta.

di websitenya,” ujar Eko Sulianto. Syaratnya mudah, cukup lulus SMA, memiliki pengetahuan IT, sedikit kemampuan bahasa Inggris, fisik dan psikologis bagus, tinggi sekitar 170 centimeter, dan umur tak lebih dari 22 tahun. Setelah lolos seleksi awal mereka akan mendapatkan pendidikan Kesamaptaan selama 1 – 2 bulan di Pusat Pendidikan dan Latihan Polisi Militer, Cimahi, Jawa Barat. Setelah lulus, selanjutnya akan menjalani pendidikan Basic Keudaraan selama 1 – 2 bulan di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), Curug, Tangerang, Banten. Begitu lulus, langsung bekerja. Tugasnya untuk keamanan dan patroli luar airport. Sekitar 3 – 4 tahun bekerja, kemudian akan masuk pendidikan lagi untuk jenjang Yunior Aviation Security (Yunior Avsec) selama 1 – 2 bulan di STPI. “Lulus jenjang ini baru akan jadi petugas pemeriksa di desk security,” ujar Eko Sulianto. Setelah bekerja 5 – 6 tahun, akan mengikuti pendidikan Senior Aviation Security di STPI selama 1 bulan. “Materinya lebih tentang manajerial, lulus akan jadi supervisor ,” ujar Sulianto. Selain itu, juga ada pendidikan sekitar 2 minggu untuk mendapatkan sertifikasi Surat Kecakapan Profesi (SKP) dari Direktorat Keamanan Penerbangan, Departemen Perhubungan, berupa keahlian menggunakan alat-alat pemeriksaan seperti x-ray dan prosedur operasional aviation security lain.

June, 2010 OntimE

travelounge

125


INSIDE

Metro Aeropolis T E R M I N A L ua orang pasangan paruh baya, jelang tengah malam, datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Tak hendak check in pesawat untuk sebuah perjalanan, tapi pasangan ini menuju area komersial di lantai dua. Si bapak pergi ke cafe untuk menonton siaran bola, sementara ibu pergi ke department store untuk belanja. Tak berapa lama, sepasang muda-mudi masuk area sama, menuju sebuah cafe karaoke di lantai satu, hendak bersenang-senang. Begitulah kini pemandangan sehari-hari di Terminal 3. Terminal yang tak hanya sebagai area transportasi pesawat, tetapi juga sebagai tempat belanja, wisata, hang out, dan lokasi bisnis. “Konsepnya menjadikan airport sekaligus sebagai mini metropolitan city dan area bisnis. Seperti trend ban-

D

126 travelounge

OntimE

June, 2010

3

dara-bandara di dunia saat ini,” ujar Salahudin Rafi, General Manager Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Konsep inilah yang membedakan Terminal 3 dengan Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Terminal 1 dan terminal 2 masih berkonsep lama, area komersial hanya bisa dikunjungi para calon penumpang pesawat yang telah melalui proses check in tiket. Di terminal 3, area komersial diubah menjadi area publik, yang bisa diakses semua orang, baik calon penumpang maupun pengunjung bandara non penumpang. Para calon penumpang pesawat yang telah melakukan proses check in tiket, juga bisa bertemu lagi dengan pengantarnya di area publik ini, sesuatu yang tak bisa dilakukan di terminal 1 dan 2. Sehingga area

NASKAH: Wahyuana FOTO: Dwianto Wibowo

publik selalu ramai pengunjung. “Banyak yang datang belanja atau main saja. Mereka senang belanja disini, karena barang yang dijual dijamin berkualitas tinggi, tidak ada barang bajakan, dan berada dilokasi yang pasti aman, karena kami menerapkan standar security kualitas tertinggi,” ujar Salahudin Rafi. Seperti sebuah mal area publik seluas 6.000 meter persegi itu, tersedia 22 tenan komersial, dari karaoke, departemen store, cafe, apotik, hingga pijat refleksi. Sejumlah brand-brand ternama yang mengisi ruang ini, diantaranya Keris Departemen Store, Hikaru Cafe, Diplomat Cafe, Baso Ino, Ananda Book Store, Intispa Refleksi, Laras Resto, California Fried Chicken, KMB Drugstore, Warung Padang, Monash Eksekutif Lou-


INSIDE

nge, Circle-K, Kedai Kopi Starbuck, Kentucky Fried Chicken, kedai kopi dan donut JCo, hingga fasilitas ATM center dan Musholla. Lokasi area publik ini terletak di lantai 1 dan lantai 2 terminal 3. Jika Anda datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, tempat itu dapat ditemukan di pintu sebelah kiri dari pintu kedatangan, dimana diatas pintu tertulis kata sambutan selamat datang untuk para pengantar (accompanying) dan penjemput. Dengan interior ruang yang terbuka, serba kaca, Anda juga bisa melihat lalu lintas pesawat-pesawat di lingkungan Bandara Soekarno Hatta melalui ruang ini. “Sudah banyak yang melakukan pre-wedding foto session di lokasi ini, karena memang pemandangannya menarik,” ujar Hariyanto, Kepala Cabang Ban-

dara Soekarno Hatta PT Angkasa Pura II. Menurut Danang Parikesit, ketua umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, konsep Terminal 3 sebagai metro aeropolis airport sesuai dengan trend bandara-bandara internasional saat ini. “Dulu airport ya terminal, kini difungsikan juga sebagai open space atau area publik. Seperti trend bandara-bandara mutakhir di Skandinavia. Konsep ini semula dipelopori dalam manajemen stasiun kereta api,” ujarnya. Boarding lounge terminal 3 juga berbeda dengan di terminal airport lain, yang biasanya dibagi dalam gate-gate jalur penerbangan airline. Di terminal 3, semua penumpang dijadikan satu dalam sebuah bo-

arding lounge yang luas dan lapang. “Untuk menghindari kesumpekan sekaligus penghematan ruang,” ujar Danang Parikesit. Bandara yang diresmikan sejak 15 April 2009 ini, diharapkan mampu menarik pengunjung hingga 3 juta pertahun. Kini setiap hari rata-rata dikunjungi sekitar 8.000 pengunjung. Dua maskapai penerbangan yang melayani jalur penerbangan domestik, yakni Mandala Airline dan Airasia Indonesia Airline, kini berpangkal di terminal ini. Kini baru ada 1 pier (sub terminal) yang telah selesai dibangun dan telah beroperasi. Dalam rencana pengembangan Terminal 3 hingga 2013, rencananya akan dikembangkan hingga memiliki 5 pier, yang diharapkan mampu menampung trafik penumpang dan pengunjung hingga 18 June, 2010 OntimE

travelounge

127


INSIDE

ECO

MODERN AIRPORT SELAIN bandara metro aeropolis yang berkonsep modern dan futuristik, Terminal 3 dibangun dengan menggunakan bahan-bahan yang bersifat pro lingkungan, sebuah isu penting dan sensitif dalam industri pembangunan bandara saat ini. Tiang-tiang penyangga bangunan dan atap bangunan Terminal 3 dibuat dari bahan Aluminium

Salahudin Rafi, General Manager Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

lebih terkelola lebih baik di Terminal 3. juta orang pertahun. Sebuah sky conneting Troli disediakan gratis. Sedangkan toilet juga akan dibangun dengan eskalator dijamin bersih dan tersedia air 24 jam. Ini penghubung antara Terminal 3 dengan penting, karena toilet sering jadi baromeTerminal 2 dan Terminal 1. Sehingga penumpang tinggal berdiri di eskalator untuk ter kualitas layanan sebuah bandara. Juga disediakan fasilitas e-reservation, yaberpindah antar terminal, tidak harus repot naik shuttle bus seperti yang selama ini itu fasilitas online melalui komputer touchscreen untuk pemesanan hotel; comberlangsung. Sebuah station kereta api mon use travel, yakni konter pemesanan rencananya juga akan dibangun tepat ditaksi bandara. Disediakan water drinking depan terminal 3, menghubungkan degratis di setiap ruang, dan petugas bandangan jalur kereta api ibukota yang berpura yang akan selalu ramah sat di stasiun Manggarai. “Kalau kereta api tersedia, DI TERMINAL 3 TERDA- terhadap setiap pengunjung. “Setiap petugas security akan PAT FASILITAS E-REkunjungan ke bandara menSERVATION, YAITU FA- meminta ijin dengan mejadi lebih mudah dan muSILITAS ONLINE MELA- nangkupkan tangan di dada rah,” ujar Salahudin Rafi. LUI KOMPUTER terlebi dulu, jika ingin meMenurut Danang ParikTOUCHSCREEN UNmeriksa penumpang dan baesit, sejumlah bandara di InTUK PEMESANAN HOwaannya, dan akan mengdonesia juga telah mencoba TEL; COMMON USE untuk mengadopsi konsep TRAVEL, YAKNI KON- ucapkan terima kasih sambil open space airport ini, seper- TER PEMESANAN TAK- tersenyum setelah melayani,” ujar Rafi. ti bandara di Padang dan SI BANDARA. Di terminal 3, konter chek Makasar. “Yang sering telein akan tutup 40 menit lebih awal sebedor dalam pengelolaannya adalah kualitas layanan terhadap setiap pengunjung. Apa- lum jadwal take off pesawat. “Penumpang yang lewat dari jadwal itu, pasti tidak bisa lagi kecenderungannya masih mengabaimelanjutkan rencana penerbangannya. Jakan hal-hal detail kecil seperti kebersihan, toilet, dan lain-lain,” ujar Danang Parikesit di jangan sampai terlambat kalau di terminal, minimal 1 jam sebelum penerbangan memperingatkan. harus sudah siap,” ujar Solahuddin Rafi. Sebagai bandara modern dengan layanPeraturan ini berbeda dengan layanan di an paripurna, Salahudin Rafi menjamin Terminal 1 dan 2, yang masih sering menkenyamanan pengunjung di Terminal 3. Di area ini tak ditemukan lagi praktek tak- toleransi penumpang yang telat atau mepet waktu dengan jadwal penerbangannya. si gelap, ojek gelap, pengemis, tukang Peraturan ini sesui standard internasional, obat, calo tiket atau pedagang asongan di agar keberangkatan pesawat selalu bisa teterminal 3. “Masalah sosial sudah tidak pat jadwal. ada di terminal 3, karena pengantar dan Ingin jalan-jalan, belanja, atau hang out pengunjung tidak berkeliaran, tetapi berdi airport sambil melihat pesawat-pesawat, kumpul di meeting point area,” ujar Rafi. datang saja ke Terminal 3.  Berbagai layanan seperti toilet, troli, juga

128 travelounge

OntimE

June, 2010

Composit yang ringan, murah, effisien, bisa dengan cepat dibongkar pasang, dan tidak merusak lingkungan. Tiang-tiang atap aluminium dibuat tinggi, sehingga menimbulkan efek kesan ruang yang luas dan modern. Struktur bangunan banyak menggunakan kaca sehingga lebih murah, menimbulkan efek lebih terbuka dan luas, sekaligus terkesan modern dan bersih. “Banyak yang bilang kami meniru Changi (Singapura) atau Swarnabumi (Bangkok), padahal tidak benar. Penggunaan aluminium composit karena lebih pro lingkungan dan murah. Terminal ini jauh lebih modern dan luas daripada Changi dan Swarnabumi,” ujar Salahudin Rafi, General Manager Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Sebagai eco airport yang sadar lingkungan, selama 10 jam bandara ini juga tidak menggunakan listrik untuk penerangan ruang. Arsitektur bangunan yang banyak menggunakan kaca dan sistem pengaturan ruangnya, memungkinkan penggunaan cahaya matahari secara langsung untuk alat penerangan disiang hari hingga jam 5 sore. “Asalkan tidak mendung dan matahari bersinar terang ya,” ujar Rafi. Berbagai sarana lain, seperti fasilitas pengelolaan limbah, juga dibuat dengan standard modern airport yang pro lingkungan. 


FLIGHTINFO

Domestic Flight

JAM DAN TERMINAL KEBERANGKATAN BISA BERUBAH KARENA KONDISI TERTENTU.

D E P A R T U R E

AIRLINE

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

GARUDA

Balikpapan

GA 0510

Every day

06:30

2F

INDONESIA

Balikpapan

GA 0514

Every day

11:30

2F

Balikpapan

GA 0516

Every day

13:40

2F

Balikpapan

GA 0518

Every day

15:10

2F

Balikpapan

GA 0520

Every day

16:40

2F

Balikpapan

GA 0522

Every day

21:35

2F

Bandar Lampung

GA 0132

Every day

06:30

2F

Bandar Lampung

GA 0134

Every day

16:15

2F

Banjarmasin

GA 0530

Every day

06:30

2F

Banjarmasin

GA 0534

Every day

11:50

2F

Banjarmasin

GA 0536

Every day

18:15

2F

Batam

GA 0150

Every day

06:00

2F

Batam

GA 0152

Every day

12:30

2F

Batam

GA 0156

Every day

17:00

2F

Denpasar

GA 0402

Every day

09:20

2F

Denpasar

GA 0404

Every day

10:20

2E

Denpasar

GA 0406

Every day

11:30

2F

Denpasar

GA 0408

Every day

14:10

2F

Denpasar

GA 0410

Every day

15:40

2F

Denpasar

GA 0412

Every day

18:30

2F

Denpasar

GA 0414

Thu

19:50

2F

Denpasar

GA 0418

Every day

21:35

2F

Jambi

GA 0130

Every day

07:15

2F

Jambi

GA 0136

Every day

15:10

2F

Malang

GA 0290

Every day

07:00

2F

Manado

GA 0600

Every day

10:50

2F

Mataram

GA 0430

Every day

09:30

2F

Mataram

GA 0432

Every day

18:00

2F

Medan

GA 0180

Every day

06:00

2F

Medan

GA 0182

Every day

07:45

2F

Medan

GA 0184

Every day

09:30

2F

Medan

GA 0186

Every day

10:50

2F

Medan

GA 0188

Every day

13:00

2E

Medan

GA 0190

Every day

14:00

2F

Medan

GA 0192

Every day

16:20

2F

Medan

GA 0196

Every day

18:50

2F

Padang

GA 0160

Every day

06:00

2F

Padang

GA 0162

Every day

10:25

2F

June, 2010 OntimE

travelounge

129


FLIGHTINFO DomesticFlight D

E

P A

R

T

U

AIRLINE

130 travelounge

OntimE

R

E

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

Padang Palangkaraya

GA 0164

Every day

16:00

2F

GA 0550

Every day

08:50

2F

Palembang

GA 0110

Every day

06:00

2F

Palembang

GA 0112

Every day

08:00

2F

Palembang

GA 0114

Every day

10:00

2F

Palembang

GA 0116

Every day

11:40

2F

Palembang

GA 0118

Every day

14:20

2F

Palembang

GA 0120

Every day

16:40

2F

Palembang

GA 0122

Every day

17:50

2F

Pangkalpinang

GA 0128

Every day

06:30

2F

Pangkalpinang

GA 0138

Every day

13:15

2F

Pekanbaru

GA 0170

Every day

07:00

2F

Pekanbaru

GA 0174

Every day

11:45

2F

Pekanbaru

GA 0176

Every day

16:25

2F

Pontianak

GA 0500

Every day

06:05

2F

Pontianak

GA 0502

Every day

11:00

2F

Semarang

GA 0230

Every day

06:00

2F

Semarang

GA 0232

Every day

07:00

2F

Semarang

GA 0234

Every day

09:15

2F

Semarang

GA 0236

Every day

11:10

2F

Semarang

GA 0238

Every day

13:20

2F

Semarang

GA 0242

Every day

16:40

2F

Semarang

GA 0244

Every day

18:00

2F

Semarang

GA 0246

Every day

19:00

2F

Solo

GA 0220

Every day

06:00

2F

Solo

GA 0222

Every day

09:35

2F

Solo

GA 0224

Every day

14:20

2F

Surabaya

GA 0300

Every day

05:00

2E

Surabaya

GA 0304

Every day

07:00

2F

Surabaya

GA 0306

Every day

08:00

2F

Surabaya

GA 0308

Every day

09:00

2F

Surabaya

GA 0310

Every day

10:00

2F

Surabaya

GA 0312

Every day

11:00

2F

Surabaya

GA 0314

Every day

12:00

2F

Surabaya

GA 0316

Every day

13:00

2F

Surabaya

GA 0318

Every day

14:00

1C

Surabaya

GA 0320

Every day

15:00

1C

Surabaya

GA 0324

Every day

17:00

1C

Surabaya

GA 0326

Every day

18:00

2F

Surabaya

GA 0328

Every day

19:00

2F

Surabaya

GA 0330

Every day

20:00

2F

Surabaya

GA 0332

Every day

21:00

2F

Ujung Pandang

GA 0602

Every day

08:30

2F

June, 2010

TERM


FLIGHTINFO BADAN UJI TERBANG AIRLINE

KARTIKA AIR

BATAVIA AIR

Pada 1914, didirikan Bagian Uji Terbang di Surabaya dengan tugas meneliti prestasi terbang pesawat udara untuk daerah tropis.

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

Ujung Pandang Ujung Pandang

GA 0604

Every day

07:10

2F

GA 0610

Every day

15:10

2F

Ujung Pandang Ujung Pandang

GA 0612

Every day

19:30

2F

GA 0650

Every day

21:10

2F

Ujung Pandang

GA 0652

Every day

06:10

2F

Yogyakarta

GA 0202

Every day

06:00

2F

Yogyakarta

GA 0204

Every day

08:00

2F

Yogyakarta

GA 0206

Every day

10:00

2F

Yogyakarta

GA 0210

Every day

13:20

2F

Yogyakarta

GA 0212

Every day

14:30

2F

Yogyakarta

GA 0214

Every day

16:00

2F

Yogyakarta

GA 0216

Every day

17:00

2F

Yogyakarta

GA 0218

Every day

19:00

2F

Sampit

3Y 0740

Wed

13:00

1B

Batam

3Y 0750

Tue,Wed,Thu, Sat, Sun

10:00

1B

Batam

3Y 0750A

Tue

16:30

1B

Batam

3Y 0752

Tue,Thu, Sat

10:00

1B

Palembang

3Y 0770

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

09:15

1B

Sampit

3Y 0740

Sat

13:00

1B

Ambon

7P 0851

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

00:50

1B

Balikpapan

7P 0631

Every Day

15:30

1B

Balikpapan

7P 0655

Every Day

06:45

1B

Bandar Lampung

7P 0505

Every Day

08:00

1B

Banjarmasin

7P 0361

Every Day

18:00

1B

Batam

7P 0571

Every Day

07:10

1B

Batam

7P 0573

Mon,Tue

16:20

1B

Batam

7P 0577

Every Day

11:40

1B

Bengkulu

7P 0551

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

12:55

1B

Denpasar

7P 0741

Every Day

18:45

1B

Denpasar

7P 0743

Every Day

13:05

1B

Gorontalo

7P 0621

Wed,Fri

01:30

1B

Jambi

7P 0541

Every Day

09:00

1B

Jambi

7P 0543

Every Day

14:30

1B

Jambi

7P 0545

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

07:00

1B

Kupang

7P 0711

Every Day

05:00

1B

Malang

7P 0243

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

10:00

1B

Manado

7P 0635

Every Day

08:40

1B

Mataram

7P 0761

Every Day

09:15

1B

Medan

7P 0591

Every Day

07:00

1B

Medan

7P 0593

Every Day

13:10

1B

Medan

7P 0595

Every Day

16:30

1B

June, 2010 OntimE

travelounge

131


FLIGHTINFO DomesticFlight D

E

P A

R

T

U

AIRLINE

AIRFAST

132 travelounge

OntimE

R

E

DESTINATION

FLIGHT NO

Medan

7P 0597

Every Day

10:00

1A

Padang

7P 0581

Every Day

15:45

1B

Padang

7P 0583

Every Day

10:45

1B

Padang

7P 0585

Every Day

07:00

1B

Palangkaraya

7P 0371

Every Day

11:50

1B

Palembang

7P 0511

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

17:25

1B

Palembang

7P 0515

Every Day

09:00

1B

Palembang

7P 0515A

Mon,Tue

13:15

1B

Palu

7P 0671

Every Day

16:05

1B

Pangkalpinang

7P 0521

Every Day

09:35

1B

Pangkalpinang

7P 0523

Every Day

14:20

1B

Pekanbaru

7P 0561

Every Day

16:40

1B

Pekanbaru

7P 0563

Every Day

08:20

1B

Pekanbaru

7P 0565

Every Day

10:40

1B

Pontianak

7P 0201

Every Day

06:00

1B

Pontianak

7P 0203

Every Day

10:05

1B

Pontianak

7P 0205

Every Day

14:05

1B

Pontianak

7P 0207

Every Day

11:40

1B

Pontianak

7P 0209

Every Day

17:15

1B

Pontianak

7P 0211

Wed,Thu,Sat,Sun

12:35

1B

Semarang

7P 0311

Every Day

07:00

1B

Semarang

7P 0315

Every Day

15:40

1B

Surabaya

7P 0341

Every Day

16:25

1B

Surabaya

7P 0343

Every Day

06:00

1B

Surabaya

7P 0345

Every Day

17:15

1B

Surabaya

7P 0347

Every Day

19:20

1B

Surabaya

7P 0651

Every Day

09:15

1B

Surabaya

7P 0701

Every Day

15:20

1B

Surabaya

7P 0725

Tue,Thu,Sun

07:15

1B

Surabaya

7P 0735

Mon,Wed,Sat

07:15

1B

Tanjung Pandan

7P 0531

Mon,Tue

10:25

1B

Ternate

7P 0643

Every Day

01:30

1B

Ujung Pandang

7P 0661

Every Day

10:30

1B

Ujung Pandang

7P 0731

Wed,Sun

10:10

1B

Ujung Pandang

7P 0843

Tue,Thu,Fri,Sun

22:45

1B

Ujung Pandang

7P 0845

Mon,Wed,Sat

22:45

1B

Ujung Pandang

7P 7331

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

08:20

1B

Yogyakarta

7P 0321

Mon,Tue

18:00

1B

Yogyakarta

7P 0325

Every Day

14:45

1B

Yogyakarta

7P 0327

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

12:50

1B

Surabaya

AP 0001

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

07:00

1C

Surabaya

AP 0001A

Mon

22:00

1C

June, 2010

DAY

TIME

TERM


FLIGHTINFO BAGIAN PEMBUATAN PESAWAT UDARA AIRLINE LION AIR

Pada 1930 di Sukamiskin dibangun Bagian Pembuatan Pesawat Udara yang memproduksi pesawatpesawat buatan Canada AVRO-AL, dengan modifikasi badan dibuat dari tripleks lokal. Pabrik ini lalu dipindahkan ke Lanud Husein Sastranegara.

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

Ambon

JT 0790

Every Day

01:30

1A

Balikpapan

JT 0762

Every Day

18:45

1A

Balikpapan

JT 0758

Every Day

09:55

1A

Balikpapan

JT 0760

Every Day

06:15

1A

Balikpapan

JT 0764

Every Day

12:45

1A

Balikpapan

JT 0766

Every Day

14:40

1A

Banda Aceh

JT 0304

Mon,Tue,Thu,Sun

08:35

1A

Banjarmasin

JT 0320

Every Day

06:15

1A

Banjarmasin

JT 0324

Every Day

11:00

1A

Banjarmasin

JT 0326

Every Day

15:30

1A

Banjarmasin

JT 0328

Every Day

19:55

1A

Batam

JT 0374

Every Day

07:00

1A

Batam

JT 0378

Every Day

13:30

1A

Batam

JT 0304

Wed,Fri,Sat

08:35

1A

Batam

JT 0370

Every Day

10:45

1A

Bengkulu

JT 0636

Every Day

08:30

1A

Bengkulu

JT 0634

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

13:20

1A

Bengkulu

JT 0630

Every Day

17:45

1A

Denpasar

JT 0012

Every Day

13:05

1A

Denpasar

JT 0024

Every Day

16:45

1A

Denpasar

JT 0010

Every Day

20:40

1A

Denpasar

JT 0016

Every Day

18:15

1A

Denpasar

JT 0018

Every Day

15:00

1A

Denpasar

JT 0020

Every Day

09:35

1A

Denpasar

JT 0022

Every Day

11:35

1A

Jambi

JT 0608

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

13:15

1A

Jambi

JT 0604

Every Day

09:25

1A

Jambi

JT 0606

Every Day

17:30

1A

Kendari

JT 0728

Every Day

13:55

1A

Manado

JT 0742

Every Day

13:30

1A

Manado

JT 0770

Every Day

18:35

2E

Manado

JT 0776

Mon,Tue,Wed,Sun

05:00

1A

Mataram

JT 0652

Every Day

13:35

1A

Mataram

JT 0650

Every Day

19:15

1A

Medan

JT 0200

Every Day

07:35

1A

Medan

JT 0300

Every Day

07:00

1A

Medan

JT 0302

Every Day

09:00

1A

Medan

JT 0380

Every Day

06:00

1A

Medan

JT 0382

Every Day

13:35

1A

Medan

JT 0384

Every Day

14:05

1A

Medan

JT 0394

Every Day

08:00

1A

June, 2010 OntimE

travelounge

133


FLIGHTINFO DomesticFlight D

E

P A

R

T

U

AIRLINE

134 travelounge

OntimE

R

E

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

Medan

JT 0306

Every Day

17:35

1A

Medan

JT 0308

Every Day

21:00

1A

Medan

JT 0386

Every Day

19:15

1A

Medan

JT 0396

Every Day

15:35

1A

Medan

JT 0398

Every Day

11:00

1A

Padang

JT 0350

Every Day

07:45

1A

Padang

JT 0354

Every Day

16:35

1A

Padang

JT 0356

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

19:00

1A

Padang

JT 0352

Every Day

12:30

1A

Palembang

JT 0334

Every Day

14:10

1A

Palembang

JT 0338

Every Day

12:00

1A

Palembang

JT 0340

Every Day

07:00

1A

Palembang

JT 0330

Sun

09:30

1A

Palembang

JT 0330

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

09:05

1A

Palembang

JT 0332

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

19:30

1A

Palembang

JT 0336

Every Day

17:05

1A

Pangkalpinang

JT 0610

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

06:50

1A

Pangkalpinang

JT 0618

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

17:00

1A

Pangkalpinang

JT 0616

Every Day

11:55

1A

Pekanbaru

JT 0294

Every Day

15:40

1A

Pekanbaru

JT 0388

Every Day

06:50

1A

Pekanbaru

JT 0390

Every Day

09:15

1A

Pekanbaru

JT 0392

Every Day

18:10

1A

Pontianak

JT 0714

Every Day

13:35

1A

Pontianak

JT 0710

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

06:15

1A

Pontianak

JT 0716

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

15:20

1A

Pontianak

JT 0712

Every Day

09:30

1A

Semarang

JT 0506

Every Day

13:45

1A

Semarang

JT 0504

Every Day

09:45

1A

Semarang

JT 0510

Every Day

17:25

1A

Solo

JT 0536

Every Day

07:30

1A

Solo

JT 0538

Every Day

15:30

1A

Surabaya

JT 0570

Every Day

06:50

1A

Surabaya

JT 0572

Every Day

08:40

1A

Surabaya

JT 0584

Every Day

21:40

1A

Surabaya

JT 0582

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

19:55

1A

Surabaya

JT 0696

Every Day

17:10

1A

Surabaya

JT 0574

Every Day

10:10

1A

Surabaya

JT 0576

Every Day

12:35

1A

Surabaya

JT 0578

Every Day

15:15

1A

Surabaya

JT 0580

Every Day

19:55

1A

Ujung Pandang

JT 0774

Every Day

11:55

1A

Ujung Pandang

JT 0778

Every Day

08:25

1A

June, 2010


FLIGHTINFO PESAWAT RI-X AIRLINE

MERPATI AIRLINE

AIRASIA

Pada 1948 berhasil dibuat pesawat terbang bermotor dengan menggunakan mesin motor Harley Davidson diberi tanda WEL-X hasil rancangan Wiweko Soepono dan kemudian dikenal dengan register RI-X.

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

Ujung Pandang

JT 0782

Every Day

16:40

1A

Ujung Pandang

JT 0788

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

18:00

1A

Ujung Pandang

JT 0798

Every Day

22:15

1A

Ujung Pandang

JT 0772

Every Day

20:20

1A

Ujung Pandang

JT 0776

Thu,Fri,Sat

05:00

1A

Ujung Pandang

JT 0784

Every Day

18:00

1A

Ujung Pandang

JT 0792

Every Day

05:30

1A

Yogyakarta

JT 0552

Every Day

07:45

1A

Yogyakarta

JT 0556

Every Day

13:15

1A

Yogyakarta

JT 0568

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

19:00

1A

Yogyakarta

JT 0550

Every Day

15:00

1A

Yogyakarta

JT 0554

Every Day

17:00

1A

Yogyakarta

JT 0558

Every Day

10:10

1A

Yogyakarta

JT 0562

Every Day

06:15

1A

Bandar Lampung

MZ 0206

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

16:20

2F

Banjarmasin

MZ 0582

Mon

17:20

2F

Denpasar

MZ 0644

Mon

05:30

2F

Sampit

MZ 0538

Tue,Wed,Thu,Sat

10:00

2F

Surabaya

MZ 0334

Mon,Tue,wed,Thu,Fri,Sat

20:00

2F

Surabaya

MZ 0336

Fri

20:00

2F

Ujung pandang

MZ 0762

Every Day

05:00

2F

Ujung pandang

MZ 0774

Mon,Tue,wed,Thu,Fri,Sat

21:30

2F

Ujung pandang

MZ 0802

Wed,Fri,Sun

05:30

2F

Ujung pandang

MZ 0882

Tue,Fri,Sun

11:00

2F

Batam

QZ 7552

Mon,wed

11:30

3

Denpasar

QZ 7514

Every day

14:15

3

Denpasar

QZ 7518

Every day

21:05

3

Denpasar

QZ 7510

Every day

06:35

3

Denpasar

QZ 7512

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

10:50

3

Medan

QZ 7492

Every day

07:00

3

Medan

QZ 7496

Every day

15:05

3

Padang

QZ 7526

Thu,Fri,Sat,Sun

15:40

3

Pekanbaru

RA 0142

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

07:15

3

Pekanbaru

RA 0146

Every day

17:30

3

Pontianak

RA 0160

Mon,Wed,Fri,Sun

09:50

3

Surabaya

QZ 7210

Every day

08:00

3

Surabaya

QZ 7218

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

17:55

3

Ujung pandang

QZ 7086

Thu,Fri,Sat,Sun

16:15

3

Yogyakarta

QZ 7340

Every day

06:00

3

Yogyakarta

QZ 7344

Every day

15:05

3

June, 2010 OntimE

travelounge

135


FLIGHTINFO DomesticFlight D

E

P A

R

T

U

AIRLINE

R

E

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

REPUBLIK REPUBLIK EXPRESS AIRLINE EXPRESS AIRLINE

Balikpapan

RH 0803

Tue,Thu,Sat

05:00

1A

Denpasar

RH 0807

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

18:00

1A

MANDALA AIR

Balikpapan

RI 0394

Every Day

06:00

3

Balikpapan

RI 0396

Tue,Wed,Thu,Fri,Sun

11:20

3

SRIWIJAYA AIR

136 travelounge

OntimE

Bengkulu

RI 0134

Every Day

07:40

3

Denpasar

RI 0592

Every Day

09:05

3

Denpasar

RI 0598

Fri,Sun

20:25

3

Jambi

RI 0022

Every Day

11:10

3

Jambi

RI 0026

Sun

15:20

3

Padang

RI 0088

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri

14:10

3

Padang

RI 0060

Fri,Sun

11:20

3

Pangkalpinang

RI 0110

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

16:45

3

Pangkalpinang

RI 0114

Sun

15:50

3

Pekanbaru

RI 0070

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

19:15

3

Pekanbaru

RI 0072

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

09:45

3

Pekanbaru

RI 0072A

Mon

14:00

3

Pontianak

RI 0250

Mon,Tue,Wed,Thu,Sat

07:25

3

Pontianak

RI 0256

Fri,Sun

07:25

3

Semarang

RI 0290

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

06:00

3

Semarang

RI 0294

Every Day

16:25

3

Semarang

RI 0292

Every Day

13:35

3

Semarang

RI 0298

Wed,Thu,Fri,Sun

19:20

3

Surabaya

RI 0272

Mon,Tue,Fri

16:35

3

Surabaya

RI 0280

Every Day

08:45

3

Surabaya

RI 0270

Every Day

09:45

3

Surabaya

RI 0276

Every Day

17:50

3

Surabaya

RI 0278

Mon,Tue,Wed.Thu,Sat

20:00

3

Yogyakarta

RI 0342

Every Day

19:55

3

Yogyakarta

RI 0344

Fri,Sun

19:35

3

Yogyakarta

RI 0350

Every Day

10:50

3

Balikpapan

SJ 0160

Every Day

06:10

1B

Bandar Lampung

SJ 0086

Every Day

16:30

1B

Bandar Lampung

SJ 0088

Every Day

07:00

1B

Bandar Lampung

SJ 0098

Every Day

16:20

1B

Bandar Lampung

SJ 0096

Every Day

10:00

1B

Banjarmasin

SJ 0172

Every Day

10:00

1B

Batam

SJ 0032

Every Day

08:10

1B

Batam

SJ 0034

Every Day

11:00

1B

Bengkulu

SJ 0090

Every Day

13:15

1B

Denpasar

SJ 0260

Mon,Tue,Sat,Sun

13:15

1B

Jambi

SJ 0060

Every Day

08:15

1B

June, 2010


FLIGHTINFO PESAWAT BELALANG AIRLINE

TRIGANA

EXPRESS AIR

Pada 1958 berhasil diterbangkan prototip pesawat latih dasar "Belalang 89" yang ketika diproduksi menjadi Belalang 90. Pesawat yang diproduksi lima unit ini dipergunakan untuk mendidik calon penerbang di Akademi Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat.

DESTINATION

FLIGHT NO

DAY

TIME

TERM

Jambi

SJ 0062

Every Day

16:20

1B

Malang

SJ 0248

Every Day

13:55

2E

Malang

SJ 0250

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

07:00

1B

Medan

SJ 0010

Every Day

09:05

1B

Medan

SJ 0014

Every Day

19:35

1B

Medan

SJ 0016

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

16:20

1B

Padang

SJ 0022

Every Day

16:10

1B

Padang

SJ 0020

Every Day

12:35

1B

Palangkaraya

SJ 0190

Every Day

12:10

1B

Palembang

SJ 0082

Every Day

06:30

1B

Palembang

SJ 0080

Every Day

19:10

1B

Palembang

SJ 0084

Every Day

17:55

1B

Pangkalpinang

SJ 0070

Every Day

06:45

1B

Pangkalpinang

SJ 0072

Every Day

09:30

1B

Pangkalpinang

SJ 0074

Every Day

12:55

1B

Pangkalpinang

SJ 0076

Every Day

16:50

1B

Pangkalpinang

SJ 0078

Every Day

18:00

1B

Pekanbaru

SJ 0040

Every Day

12:20

1B

Pontianak

SJ 0180

Every Day

06:00

1B

Pontianak

SJ 0182

Every Day

14:30

1B

Pontianak

SJ 0184

Every Day

18:10

1B

Semarang

SJ 0222

Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

18:05

1B

Semarang

SJ 0224

Every Day

08:10

1B

Semarang

SJ 0220

Every Day

19:15

1B

Solo

SJ 0210

Every Day

09:10

1B

Solo

SJ 0214

Every Day

16:45

1B

Solo

SJ 0212

Every Day

18:05

1B

Surabaya

SJ 0266

Every Day

08:30

1B

Surabaya

SJ 0254

Every Day

10:10

1B

Surabaya

SJ 0256

Every Day

20:00

1B

Surabaya

SJ 0258

Wed,Fri

08:15

1B

Surabaya

SJ 0260

Wed,Thu,Fri,Sun

13:15

1B

Surabaya

SJ 0268

Every Day

05:45

1B

Tanjung Pandan

SJ 0050

Every Day

06:20

1B

Tanjung Pandan

SJ 0052

Every Day

14:55

1B

Tanjung Pinang

SJ 0038

Every Day

19:00

1B

Ujung pandang

SJ 0592

Every Day

05:30

1B

Ujung pandang

SJ 0590

Tue,Wed,Thu,Fri,Sat,Sun

11:35

1B

Pontianak

TN 0708

Tue,Thu,Sat

13:50

1C

Ujung Pandang

TN 0782

Mon,Wed,Fri,Sun

06:30

1C

Ujung Pandang

XN 0800

Mon,Tue,Wed,Thu,Fri,Sat

05:00

1B

June, 2010 OntimE

travelounge

137


FLIGHTINFO

Airport Map

138 travelounge

OntimE

June, 2010


June, 2010

07


Travelounge // June, 2010 // 07