Page 1

travelifeindonesia.com

Rp 60.000 EDISI SEPTEMBER 2019

EAT . EXPLORE . EXPERIENCE

GONG JATILUWIH

USUNG KONSEP ECO FRIENDLY DIGANDRUNGI GENERASI MASA KINI Restaurant and Lounge scan barcode online review

DESTINATION

DISCOVER

BERBURU GILI

JELAJAH SUMBA BARAT

20

34

16


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 6

TRAVELIFE KONTEN EAT . EXPLORE . EXPERIENCE

GONG JATILUWIH

USUNG KONSEP ECO FRIENDLY DIGANDRUNGI GENERASI MASA KINI Restaurant and Lounge

COVER STORY I MADE ADA

10

SANG MAESTRO GARUDA YANG MENDUNIA

DESTINATION

20

BERBURU GILI

24

34

16

ACCOMODATION 5 AKOMODASI TENDA MEWAH

DISCOVER JELAJAH SUMBA BARAT


7 | SEPTEMBER 2019

TRAVELIFE

TRAVELIFE travelifeindonesia.com

EAT . EXPLORE . EXPERIENCE

Pemimpin Redaksi: Made Arya Kumara Direktur Pemberitaan: Putu R. Sani Kembara Redaktur Eksekutif: Nimas Muti Editor at Large: Denis Koordinator Liputan: Suka Atmaja Tim Redaksi: Redaktur Senior: Natha, Julyan, Bayu Putra, Nika Putri, Harris FR, Visual & Grafis: Mertayasa, IT & Development: Adi Setiawan, Reza Budi Pradana Marketing & Sosial Media: Rita Wulandari Support Redaksi: Rangga Hariwangsa Publisher TRAVELIFE INDONESIA Office Jl. Pulau Batanta Gg. 7 No. 6 Denpasar Telp: +628193816868 Email: redaksi[at]. travelifeindonesia.com

FACEBOOK travelifeindonesia TWITTER travelifeindonesia INSTAGRAM travelifeindonesia ISSUU travelifeindonesia

Editor Notes

Travelife Indonesia merupakan media cetak dan daring berbentuk majalah yang dipublish setiap bulan menyajikan informasi seputar wisata Indonesia dan dunia

Tidak terasa kita telah tiba pada edisi September 2019 dari Majalah Travelife Indonesia. Edisi kali ini mengulas tentang Gong Jatiluwih Restaurant and Lounge sebuah resto yang berlokasi di daerah tujuan wisata Jatiluwih dengan panorama hamparan sawah berundag nan menghijau. Meski. Tempat ini tampak serasi dengan lingkungan sekitar. Hal ini lantaran materi yang digunakan merupakan bahan-bahan alami. Seperti penggunaan bahan kayu sebagai pilar dan lantai. Ditambah penggunaan ilalang sebagai atap yang menaungi dari terik dan hujan.


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 10

I MADE ADA MAESTRO PATUNG GARUDA

scan barcode online review

SANG

MAESTRO GARUDA

YANG MENDUNIA Master Wood Carver

S

etiap masa ada tokohnya dan setiap tokoh ada masanya. Tokoh-tokoh ini akan muncul pada momentum yang tepat dan setiap dari mereka akan mampu menjadi inspirasi dan penggerak bagi generasi di zamannya. Begitulah estafet perputaran dunia ini selalu memunculkan nama-nama cemerlang yang silih berganti menghiasi perputaran zaman. Presiden Soeharto memberikan penghargaan Upakarti kepada Made Ada untuk dedikasinya dalam pelestarian seni dan budaya Bali khususnya seni ukir patung.


11 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE

negeri. Beberapa Presiden Indonesia lainnya pun sempat berkunjung ke museumnya yang terletak di daerah Gianyar ini mulai dari presiden B.J Habibie, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan patung garuda dari desa Pakudui ini juga ada bercokol di salah satu museum di Rusia dan sampai saat ini ketika ada pertemuan kepala Negara atau kunjungan kenegaraan, karya-karyanya selalu menjadi pilihan sebagai cinderamata. Sebut saja Annual Meetings IMF-World Bank 2018 yang baru saja berlangsung di Nusa Dua. Pertemuan bergengsi itu merupakan agenda keuangan tahunan terbesar dunia. Seribu miniatur patung garuda buatannya disiapkan sebagai merchandise untuk delegasi Negara-negara peserta IMF yang semakin mengukuhkan namanya sebagai pematung garuda di mata internasional.

Bila ditelisik di era kini, kita dapat menemukan sosok I Made Ada atau yang lebih dikenal sebagai Sang “Maestro Garuda� dengan karya yang telah mendunia. Julukan itu disematkan sebagai penghargaan untuk dedikasinya dalam pelestarian seni dan budaya Bali khususnya seni ukir patung. Dunia global pun melalui organisasi WIPO (World Intellectual Property Organization) di bawah perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan pengakuan atas kreativitas seni patung

garudanya yang selama ini plakat tersebut diletakkannya di salah satu sudut museumnya. Karya-karya fenomenal banyak lahir dari sosok pria kelahiran 18 Agustus 1948 ini. Namanya mulai dikenal ketika Presiden Soeharto berkunjung ke rumahnya dan membeli semua karyanya pada tahun 1981. Tak pelak patung Garuda hasil karyanya menghiasi berbagai sudut istana kepresidenan mulai dari istana Bogor, istana Tampak Siring, hingga sejumlah kantor kepresidenan di luar

Maestro seni ukir asal Banjar Pakudui, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar ini mengungkapkan, karya-karyanya mampu mendunia tak terlepas sentuhan teologis dari filosofi Bali yang merepresentasikan nilai-nilai budaya orang Bali berlandaskan ajaran agama Hindu. Inilah yang menjadi kekuatan tak terpisahkan dan memunculkan spirit taksu yang menjiwai karyanya. Made Ada sendiri mempelajari ilmu mematung yang diwariskan secara turun-temurun dari ayahnya, I Nyoman Kampih ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar sekitar tahun 1966. Bermula dari sang kakek kemudian menurun ke orang tuanya dan kini dirinya merupakan generasi ke 3 di keluarganya yang konsisten menggarap kerajinan tangan dalam bentuk berbagai jenis patung bernafaskan Bali.


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 12

“

Filosofi Garuda itu penyelamat segala isi alam bersama Wisnu. Pemelihara alam beserta isinya, I Made Ada

Dalam persepsi Made Ada yang dituangkan melalui seni patung Garuda, ukiran patung harus menggunakan bahan kayu terbaik agar mampu bertahan hingga beberapa generasi serta detail ornament pun dibuat bervariatif untuk menambah kesan indah ketika patungpatung tersebut diletakkan dalam ruang khusus sebagai elemen dekoratif baik bangunan baik berupa kuil, pura, rumah bali, istana, ataupun menjadi artefak yang dipakai dalam upacara adat keagamaan. Karena seni ukir kayu harus memiliki nilai-nilai yang seimbang antara spiritual, religius, dan aspek-aspek yang bersifat komersial. Ketiga aspek inilah yang memberikan value lebih di hati, tak hanya bagi para seniman tapi juga di mata penikmatnya.

Mendirikan Museum

Kecintaannya terhadap seni ukir membuatnya terdorong untuk mendirikan sebuah Museum Patung Garuda yang diberi nama Ada Guna Museum diresmikan langsung oleh presiden ke 5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri di

tahun 2002 silam sebagai upaya sepenuh hati membangun areal apresiasi bagi penikmat karya patung khususnya patung garuda. Di Ada Guna Museum, terdapat patung garuda setinggi lima meter yang membuat pengunjung terbengongbengong . Bukan hanya soal ukuran, mereka juga takjub atas ‘kerumitan’ ukirannya itu.

Imbasnya kini sepanjang kawasan Pakudui bisa dilihat berbagai ukuran patung garuda. Masyarakatnya sekitarnya juga telah menjadikan kegiatan mematung sebagai salah satu pendapatan utama mereka, sehingga tidak keliru jika dengan potensi yang dimiliki Desa Pakudui, Tegallalang, Gianyar ini kemudian disebut dengan

Museum tersebut ia dedikasikan untuk mengingat perjalanan giat seni patung di Desa Pakraman Pakudui, yang memang identik dengan patung garuda sebagai ikon-nya. Dengan adanya museum itu ia berharap wilayahnya mampu menjadi sentra kerajinan patung garuda terbesar di Bali dengan harapan akan terus berkembang sebagai salah satu tujuan desa wisata garuda yang ramai dikunjungi turis mancanegara. Selain museum untuk membangkitkan minat generasi muda dan mengenalkan seni ini secara langsung ia pun membuka kelas mematung (Wood Carving School) yang dibuka untuk umum yang sangat ramai di datangi tamu mancanegara.

Bahkan perbelekel Kedisan Dewa Ketut Raka mengatakan pencanangan Desa Wisata Garuda Village Pakudui sudah mampu berjalan dengan baik yang merupakan inisiatif masyarakat setempat salah satunya Made Ada dengan keberadaan Museum dan Gallery miliknya. Keberadaan Museum itulah yang memperkuat jati diri Desa Kedisan sebagai sentra pembuat kerajinan Patung Garuda. Kedepan melalui program Kedisan Berseri (Bersih, Sejahtera dan Religius) dengan memanfaatkan dana secara optimal pemerintah Desa Kedisan akan menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan meningkatan

Garuda Village.


13 |13 SEPTEMBER | JULI 20192019 TRAVELIFE

infrastruktur untuk menunjang akses dari dan menuju desa. “Desa Kedisan sudah tergabung dalam 17 desa wisata sudah pasti ke depan program kami lebih fokuskan pada pariwista yang di dalamnya meliputi peningkatan insftrastruktur sebagai penunjang pariwisata dan pemberdayaan masyarakat setempat” ujar Dewa Ketut Raka. Namun ia juga berharap terhadap pemerintah Kabupaten Gianyar agar turut memberikan perhatian utamanya infrastruktur sebagai penunjang pariwista melihat kini desa Kedisan mulai ramai dikunjungi sebagai destinasi seni dan kreativitas.

Made Ada menyambut kedatangan presiden ke 5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri untuk peresmian Ada Guna Museum

Impian Membangun Patung Dewata Nawa Sanga

Keseimbangan pembangunan di sektor pariwisata sangat penting agar tidak semua bertumpu pada Bali selatan dan tengah untuk itu diperlukan pengembangan destinasi pariwisata baru salah satunya dengan membangun patung Dewata Nawa Sanga diseluruh penjuru Bali. Seperti dapat dilihat saat ini pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana yang telah rampung dikerjakan secara nyata menjadi maskot dan sumber pendapatan baru bagi warga sekitarnya termasuk pemerintah daerah. “Ini salah satu pengembangan wisata kreatif berbasis budaya Bali. Bercermin dari keberhasilan ini, saya berharap patung Dewata Nawa Sanga bisa diwujudkan untuk bisa menjadi maskot wisata Bali. Patung ini mestinya diwujudkan di semua penjuru sesuai pengider bhuwana,” sarannya. Ia mengatakan patung Dewata Nawa Sanga bisa diwujudkan sesuai pengider bhuwana (tata letaknya). Dewa Wisnu dibangun Perangkat Desa Kedisan


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 14

Proses pembuatan patung Garuda di studio gallery Made Ada yang terletak di Banjar Pakudui, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar di arah Utara, Dewa Sambhu (Timur Laut), Dewa Iswara (Timur), Dewa Maheswara (Tenggara), Dewa Brahma (Selatan), Dewa Rudra (Barat Daya), Dewa Mahadewa (Barat), Dewa Sangkara (Barat Laut) dan Dewa Siwa (Tengah). Pengider bhuwana ini juga diharapkan memberikan kekuatan kepada generasi muda Bali dalam menjaga Bali. Ia mengatakan dengan membangun patung pengider bhuwana ini, secara ekonomi potensi terbangunnya kesejahteraan masyarakat akan sangat terbuka. Dikatakannya pendekatan pembangunan pariwisata yang masih bersandar pada pengembangan

destinasi alam sudah harus diimbangi dengan merangkul para pelaku seni kreatif di Bali.

Promosi Pariwisata dan Peningkatan Infrastruktur

Minimnya promosi pemerintah untuk seni patung keluar negeri menjadi hambatan terbesar proses pengenalan seni patung Garuda di luar Negeri. Dahulu ketika zaman pemerintahan presiden Soeharto seniman diberikan ruang khusus untuk ikut menggelar promosi seni. Untuk itu disarankan perlu secara khusus pemerintah menyiapkan dana promosi seni dan budaya. Ia mengatakan promosi bicara tentang branding, sehingga dana promosi tidak dapat dipakai

hitungan linear. Misalnya keluar diperlukan dana sekian untuk promosi di luar negeri, lalu income yang kita dapat berapa? Sebab menghitung manfaat dari branding bukan dengan cara seperti itu, namun harus dipantau dari sisi seberapa besar efek eksistensi iklan pariwisata kita di luar negeri, itu yang penting. Untuk mendukung pariwisata berkelanjutan selain promosi aspek penunjang seperti infrastruktur jalan perlu diperhatikan. Menurutnya Kemacetan akibat sarana jalan yang sempit dan tidak bertambah panjang serta lebar untuk menuju dan dari kawasan wisata menjadi ancaman pariwisata, selain


15 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE

hal dasar sangat dasar lain seperti penataan kabel bawah tanah dan pengelolaan sampah yang turut membangun citra pariwisata. Untuk itu ia sangat berharap terhadap pemerintahan saat ini lebih peduli terhadap kondisi pariwisata saat ini khususnya Ubud apalagi Ubud mempunyai pejabat teras yaitu wakil Gubernur agar lebih peka turun melihat kondisi yang makin

crowded. Pelestarian Seni dan Budaya

Kepedulian terhadap Bali harus menjadi tanggung jawab moral semua pihak. Tak hanya manusia Bali dan penduduk Bali, investasi yang datang ke Bali juga harus selaras dengan pembangunan Bali berkonsep Tri Hita Karana.

Ia berpandangan, ada hal-hal khusus yang harus dipahami pemodal jika ingin berinvestasi. Seperti halnya dapat dilihat Ubud yang mengandalkan budaya dan puri sebagai salah satu daya tarik wisata hingga kini tetap eksis. Dan pengembangan pariwisata semacam ini dapat dijadikan role model. Di mana dalam pembangunan akomodasi pariwisata sangat memperhatikan kearifan lokal setempat sebagai nilai jual utama. Untuk itu, Made Ada berharap pemimpin di Bali harus memahami spirit ini. Diperlukan pendekatan khusus terhadap Bali, terutama dari sisi pendekatan kearifan lokalnya. ‘’Jangan biarkan pemodal

mengendalikan perkembangan Bali. Kita sebagai manusia Bali dan komponen lainnya harus memiliki mentalitas yang positif dalam mengawal Bali,’’ sarannya. Selain pemerintah Made Ada juga mengajak generasi muda Bali untuk ambil bagian dalam pelestarian seni patung tradisi. Karena dari tahun ke tahun minat seniman patung tradisi semakin berkurang karena beralih ke sektor lain, seperti pembangunan property yang marak di samping juga disebabkan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat generasi muda enggan berkesenian patung tradisi.


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 16 18 | JULI 2018

GONG JATILUWIH

USUNG KONSEP ECO FRIENDLY DIGANDRUNGI GENERASI MASA KINI Restaurant and Lounge scan barcode online review

Lanskap Gong Jatiluwih dilihat dari udara Tidak lengkap bila mengunjungi Desa Wisata Jatiluwih tanpa mampir ke restoran satu ini. Berlokasi di destinasi wisata yang diakui dunia, Gong Jatiluwih Restaurant menawarkan sensasi bersantap makan sembari menyaksikan panorama persawahan dan pegunungan. Apalagi bangunan tempat makan yang telah beroperasi tiga tahun ini dirancang unik hingga disebut instagramable alias cocok dijadikan lokasi berfoto. Ditunjang dengan aneka menu makanan yang memanjakan lidah membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan momen seru bersama kerabat terkasih.

Bangunan Gong Jatiluwih Restaurant and Lounge tampak menonjol di antara hamparan sawah berundag nan menghijau. Meski demikian, tempat ini tampak serasi dengan lingkungan sekitar. Hal ini lantaran materi yang digunakan merupakan bahan-bahan alami. Seperti penggunaan bahan kayu sebagai pilar dan lantai. Ditambah penggunaan ilalang sebagai atap yang menaungi dari terik dan hujan. Sehingga dari kejauhan tempat ini laksana saung berukuran besar yang cocok digunakan melepas lelah sembari beraktivitas. Nuansa Klasik Manager Gong Jatiluwih Restaurant, Agus Pramuji Wardhana menjelaskan bahwa tempat ini dibangun untuk mendukung kebutuhan kuliner di tengah pesatnya


17 |SEPTEMBER SEPTEMBER2019 2018 TRAVELIFE

perkembangan pariwisata di Desa Jatiluwih. Sebagai salah satu destinasi yang kerap dikunjungi para pelancong dari berbagai belahan dunia, sudah seharusnya tempat wisata ini ditunjang oleh berbagai sarana dan pra sarana, termasuk restaurant. Tempat ini pun menjadi tempat bersantai sekaligus melepas lelah para wisatawan seusai mengelilingi kawasan Jatiluwih lewat aktivitas

tracking.

“Melihat karakter wilayah Jatiluwih yang masih alami, kami menghindari penggunaan

beton yang biasa digunakan pada bangunan modern. Maka kami pun menghadirkan sebuah tempat makan bernuansa klasik dengan menggunakan bahan natural dan ramah lingkungan. Kami tidak menebang pohon untuk membangun melainkan memanfaatkan bahan-bahan bekas pakai atau sistem recycle,� ujar pria yang akrab disapa Wayang ini. Tak disangka konsep eco friendly yang ditujukan untuk menjaga keberlangsungan lingkungan itu justru menjadi daya tarik bagi anak-anak muda yang gemar

berswafoto. Segera setelah dibuka, tempat ini menjadi ikon baru di Jatiluwih sebagai tempat mengabadikan momen yang akan dibagikan ke jagat maya. Tidak hanya menarik minat wisatawan dari kalangan muda masa kini, tempat ini juga sering dikunjungi wisatawan kalangan corporate yang ingin melaksanakan gathering di kawasan wisata tersebut. Keberadaan Gong Jatiluwih tidak hanya menarik minat wisatawan lokal maupun domestik, tapi juga para pelancong dari mancanegara. Mereka yang datang sangat tertarik dengan


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 18 18 | JULI 2018

Menu yang ditawarkan mulai dari western food, masakan khas nusantara, hingga ala mediteranian

konsep arsitektur tradisional ditambah latar belakang pemandangan indah tiga gunung yang mengitari desa tersebut. Di waktu tertentu, seperti pada bulan purnama, panorama di sekitar kawasan Jatiluwih semakin mempesona. Karena itu setiap bulannya bertepatan dengan malam bulan penuh, terdapat suguhan live music di Gong Jatiluwih. Wayang mengatakan jika pada event bertajuk “Full Moon Night� itu pihaknya mengundang para seniman musik, baik dari kalangan genre jazz maupun blues. Meski antusiasme wisatawan untuk mengunjungi Desa

Jatiluwih sangat tinggi, namun nyatanya tidak banyak akomodasi penginapan yang tersedia untuk wisatawan yang ingin bermalam. Melihat adanya peluang tersebut, pihak Gong Jatiluwih membuka fasilitas perkemahan di kawasan tersebut. Tentunya kegiatan bermalam di tengah-tengah hamparan persawahan menjadi pengalaman unik bagi wisatawan. Terutama mereka yang ingin menikmati suasana yang tenang dan sejuk khas pedesaan. Pizza Tungku dan Teh Beras Merah Soal makanan, tidak perlu

khawatir karena Gong Jatiluwih menawarkan beragam sajian yang siap memuaskan lidah para pengunjung. Menu yang ditawarkan mulai dari western food, masakan khas nusantara, hingga ala mediteranian. Salah satu menu ala barat yang cukup diminati adalah Italian pizza. Jenis pizza ini digemari tidak hanya karena porsinya yang pas dengan rasa yang lezat, melainkan cara pengolahannya yang unik yaitu menggunakan tungku tradisional. Sehingga tercium aroma khas kayu kopi yang menjadi bahan bakar tungku tersebut. Ada pula berbagai pilihan menu masakan nusantara yang


19 |SEPTEMBER SEPTEMBER2019 2018 TRAVELIFE

disajikan ala prasmanan. Wayang menuturkan soal bahan masakan, pihaknya berusaha memanfaatkan hasil pertanian dan perkebunan yang dibudidayakan masyarakat lokal. Seperti beras yang merupakan komoditi andalan masyarakat jatiluwih yang masih agraris. Maupun sayuran segar yang tersedia melimpah di sekitar tempat tersebut. Salah satu hasil pertanian di Jatiluwih yaitu beras merah, juga tersedia di Gong Jatiluwih. Namun jangan heran bila di restoran ini, beras merah tidak dimakan melainkan diminum. Hal ini merupakan inovasi lainnya di Gong Jatiluwih, yaitu pengolahan beras merah menjadi teh hangat yang siap dinikmati dalam suasana Jatiluwih yang dingin. Penasaran? Ayo segera agendakan waktu untuk berwisata ke Desa Jatiluwih dan mampir juga ke Gong Jatiluwih Restaurant. Tempat ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WITA.

Live Music di Gong Jatiluwih Restaurant and Lounge


TRAVELIFE

SEPTEMBER JULI 2019 2019 | 18 | 20 18 | JULI 2018

BERBURU PULAU GILI Hang Out

Di Gili berburu senja adalah salah satu kegiatan yang diincar wisatawan. Pulau dengan lebar sekitar 1,5 kilometer di Lombok Utara ini memang menjadi lokasi tepat berburu momen matahari terbenam dan terbit.

Kepulauan Gili di Lombok menggoda turis dengan pantainya yang indah serta biota lautnya yang beragam. Namanya mencuat ke permukaan pada tahun 1990an sebagai destinasi liburan alternatif selain Bali yang kala itu mulai ramai.

Pulau di tepi Garis Wallace ini mengoleksi lebih dari 30 gili, istilah lokal untuk “pulau kecil.� Untuk saat ini, tiga yang paling kondang ialah Gili Meno, Air, dan Trawangan. Trio yang lazim disingkat Gili Matra ini telah lama tercantum dalam sirkuit turis. Mengunjunginya, juga snorkeling di antara

ketiganya, merupakan paket excursion tour yang marak ditawarkan di Bali. Tapi beberapa Gili lain kini mulai tertangkap radar turis, terutama mereka yang bertaburan di pesisir barat Lombok dan menghadap Bali. Gili Nanggu adalah contohnya.


21 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE

Pulau yang bersemayam di barat daya Lombok ini sudah memiliki penginapan yang membidik segmen keluarga. Gili Nanggu bisa dijangkau menaiki perahu kayu dari Pelabuhan Tawun dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Bertetangga dengan Gili Nanggu ialah Gili Sudak, pulau yang juga telah memiliki penginapan—Nirvana Resort.

Restoran tepi pantai di resor ini merupakan persinggahan populer banyak pelancong berkat panoramanya yang fotogenik. Usai menyantap makan siang, tamu diundang bermain kano dan snorkeling. Tur island hopping ke Gili Nanggu dan Sudak ditawarkan para operator perahu di Pelabuhan Tawang dengan tarif Rp270.000.

Tur ini lazimnya digabung dengan lawatan singkat ke Gili Kedis, pulau mungil yang sebenarnya lebih mirip gosong (pulau pasir). Kecuali beberapa batang pohon di jantungnya, Gili Kedis tak berpenghuni. Kita bisa mengelilinginya dengan berjalan kaki dalam waktu singkat. Selain trio Nanggu, Sudak, dan Kedis, kawasan barat daya Lombok masih


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 22

Kebanyakan wisatawan di Gili merupakan wisatawan mancanegara.

menyimpan sejumlah gili lain dengan lanskap atraktif, contohnya Gili Layar, Asahan, dan Gede. Yang terakhir ini bahkan telah dihuni empat penginapan, salah satunya Via Vacare, resor elok yang memikat turis asing dengan motonya yang unik: “the art

of doing nothing.�

Kebersihan pulau dan kesegaran udaranya yang bebas polusi juga menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh Kepulauan Gili. Pemandangan yang indah ditambah dengan bersihnya lingkungan sekitar tentu membuat Anda betah berlama-lama di gili ini. Kenapa bebas polusi? Karena di kepulau Gili tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor. Sarana transportasi hanya sepeda gayung, yang disewakan penduduk lokal, dan cidomo - sejenis kereta kuda yang umum dijumpai di Lombok. Jumlah cidomo yang boleh beroperasi pun dibatasi hanya 32 unit saja. Aktivitas yang populer dilakukan para wisatawan sendiri adalah scuba diving, snorkeling, bermain kayak

dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau. Untuk mencapai pulau antar Gili wisatawan harus menyeberang menggunakan kapal bermotor atau speedboat. Tarif kapal motor dari Bangsal menuju Gili Trawangan cuma Rp 15 ribu sekali jalan. Sedang untuk speedboat, siapkan uang Rp 800 ribu untuk 10-15 orang pulang-pergi. Bagi anda yang berlibur secara backpacker juga tak

perlu khawatir karena di gili ini banyak penginapan murah yang juga menawarkan paket snorkling. Untuk makanan, para backpacker bisa membeli nasi campur khas Lombok yang dijual sepanjang jalan dengan range harga 1015 ribu rupiah. Sementara untuk berlibur ala traveller, resort sampai hotel berbintang pun bisa dengan mudah ditemui di sana. Tentu saja beragam fasilitas mewah ditawarkan. Tipe terendah hingga tertinggi seperti tipe Superior, masih memiliki


22 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE JULI 2018 | 21

luas 29 meter persegi dengan pilihan matras king maupun twin. Tiap kamarnya dilengkapi dengan TV LCD dengan saluran internasional, peracik kopi dan teh, kotak keamanan, serta pendingin udara. Masingmasing kamar dilengkapi balkon atau teras privat. Selain pelayanan dengan standarisasi internasional, hal baru lainnya di resortresort ini adalah kehadiran Club. Tamu akan dimanjakan dengan pelayanan yang mumpuni. Harga kamarnya inklusif sarapan untuk dua orang, sesi afternoon tea dan sajian koktail di club lounge, hingga proses check-in dan check-out khusus. Tentu dengan harga yang lebih mahal.


TRAVELIFE

SEPTEMBER JULI 2019 2019 | 24 | 24

5 AKOMODASI TENDA MEWAH Hang Out

Lima properti di Indonesia yang menawarkan akomodasi berwujud tenda, tapi dengan pelayanan bintang lima. Menjangan Dynasty Setelah lama vakum, kawasan barat laut Bali kembali dilirik investor. Selain The Menjangan Resort yang beroperasi sejak 2002, kini

telah tersedia Plataran Menjangan yang diresmikan akhir tahun lalu. Agustus 2016, giliran Prime Plaza meluncurkan Menjangan Dynasty Resort. Berbeda dari tetangganya, Menjangan Dynasty menyuguhkan konsep glamping. Properti ini menaungi 28 tenda yang

masing-masingnya dilengkapi televisi dan pemutar DVD. Bermukim di semenanjung, Menjangan Dynasty menyuguhkan panorama lautan di ketiga sisinya. Pulau Menjangan bisa dilihat langsung dari tenda. Saat cuaca cerah, tamu bisa mengintip gunung-gunung di Jawa Timur.


25 |25 SEPTEMBER | JULI 20192019 TRAVELIFE

Sandat Glamping Tents Bagi Sandat, glamping adalah salah satu bentuk penginapan ramah lingkungan. Tafsir itulah yang coba diejawantahkannya melalui penggunaan bahanbahan natural dan daur ulang. Di luar filosofi hijau tersebut, Sandat mengutamakan kemewahan dalam aspek desain, dan pendekatan yang diusungnya cukup unik: kombinasi antara

kesederhanaan Bali dan keglamoran Italia. (Sandat adalah sister property Glamping Canonici di Mirano.) Di tenda tipe Penjor misalnya, tamu bisa menemukan kriya lokal dan lantai rustic yang berpadu dengan kandil dan cermin bergaya Venetian. Sandat, bagian dari Secret Retreats, menawarkan lima tenda dan tiga lumbung. Yang terakhir ini mungkin lebih

tepat disebut “glambarn� berhubung bentuknya berandang. Trizara Resor ini bertengger di lahan seluas tiga hektare di puncak Lembang. Mencapainya sangat mudah, sebab jalan menuju resor seluruhnya sudah beraspal. Usai melewati gerbang resor yang mirip India Gate di Delhi,


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 26

Glamping atau glamour camping makin diminati wisatawan saat ini

tamu akan disambut oleh staf resepsionis di bawah sebuah tenda lapang yang berada tak jauh dari pilar berarsitektur Mughal. Sentuhan India ini merupakan inisiatif dari sang pemilik, Kunal Topandasani. “Saya ingin memberikan sedikit sentuhan India,� ujarnya. Trizara mengoleksi 47 tenda dengan kapasitas dua hingga empat orang. Tenda untuk tamu pasangan terpisah jauh dari tenda untuk keluarga. Setiap tenda dilengkapi balkon yang menghadap lembah dan gunung. Pemandangan terbaik tersaji di pagi hari saat mentari menyembul di balik gunung dan kabut menyelimuti lembah.

Walau ideal sebagai wadah menyepi, resor ini menawarkan banyak aktivitas yang menarik, seperti kelas yoga di pagi hari, piknik di sore hari, bermain board game, dan berkumpul di api unggun di malam hari. The Canopi Akhir tahun lalu, tahap pertama Treasure Bay Bintan diluncurkan. Megaproyek ini menampung sejumlah properti yang di tata mengelilingi sebuah laguna berukuran 50 kolam renang

Olimpiade. The Canopi adalah salah satu resor yang dibuka di tahap pertama ini. The Canopi menaungi 41 tenda yang dilengkapi taman di mana tamu bisa memasang hammock dan menggelar pesta barbeku. Kompleks Treasure Bay terkoneksi ke hutan bakau, dan di sinilah The Canopi menggelar banyak aktivitas outdoor seperti trekking dan tur kayak. Amanwana Diresmikan pada 1993, Amanwana adalah perintis


27 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE

glamping di Indonesia. Resor ini berlokasi

di tepian Pulau Moyo, Sumbawa. Kehadirannya seolah menyadarkan banyak orang bahwa kawasan yang jauh dari sirkuit turis pun bisa menjadi magnet dunia, setidaknya bagi kaum VIP yang mendambakan privasi. Beberapa mantan tamunya adalah madam dari Kerajaan Inggris, pangeran asal Belanda, bintang film Mandarin, serta diva asal Amerika. Amanwana menyuguhkan 20 tenda putih yang berbaris di kaki pepohonan rindang. (Kata staf resor, Putri Diana dulu menginap di tenda nomor 20.) Saban sore, rusa berkeliaran di antara tenda. Pagi harinya, tamu akan dibangunkan oleh suara kawanan monyet.


JULI 2018 | 31


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 32

FESTIVAL JATILUWIH 2019

Glorifying Dewi Sri for Prosperity and Harmony

Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih mengadakan sebuah festival yang bertujuan mempromosikan destinasi wisata yang telah diakui UNESCO tersebut. Tahun ini festival Jatiluwih bertajuk Glorifying Dewi Sri for Prosperity and Harmony – Memuliakan Dewi Sri untuk Kesejahteraan dan Harmoni yang akan berlangsung dari tanggal 20-22 September 2019. Memuliakan Dewi Sri mengandung pemahaman dan pesan agar proses yang terdapat di Jatiluwih ini menjadi perhatian semua pihak untuk diyakini dan dijalankan sebagai laku lampah memelihara dan melestarikan padi dalam relasinya sebagai aspek penting

dalam memaknai kelahiran dan kehidupan untuk kesejahteraan dan harmoni. Hal ini berelasi erat dengan pemaknaan Tri Hita Karana sebagai hubungan integral antara Tuhan, Manusia dan Alam. Berbeda dengan penyelenggaraan di tahun sebelumnya, tahun ini Festival Jatiluwih melibatkan organisasi kepemudaan Karang Taruna Desa Jatiluwih serta team dari Duta Hijau Bali 2019, duta wisata dan lingkungan . Hal lainnya yang menarik yaitu dibuatnya patung anyaman Dewi Sri berukuran jumbo di areal persawahan DTW Jatiluwih. Pemandangan ini pun menjadi momen langka yang menyedot perhatian para wisatawan yang berkunjung.

Selain sebagai ajang promosi pariwisata desa wisata jatiluwih, kegiatan ini juga bertujuan mengangkat kesenian traditional, memberikan edukasi tentang pertanian dan penting nya menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ada pula kolaborasi antara musisi kelas dunia seperti Balawan Ethnic Fusion dengan sanggar di Jatiluwih akan semakin meningkatkan semangat serta kreatifitas masyarakat untuk terus menghasil kan karya. Selain menikmati musik, kesenian, kuliner dan beberapa workshop yang menarik para pengunjung juga bisa bermalam sambil menikmati indahnya alam jatiluwih di D’uma Jatiluwih camping Ground, harga sewanya pun sangat terjangkau.


TRAVELIFE

SEPTEMBER 2019 | 34

JELAJAH SUMBA BARAT Destination

Menikmati kawasan minim Rp400.000-650.000 per hari, turis di mana tradisi tribal dan termasuk sopir dan bensin. megalit masih hidup. Rute Bandara Tambolaka di Sumba Barat bisa dijangkau menggunakan Lion Air dari Jakarta via Denpasar. Opsi lain adalah terbang menggunakan TransNusa dari Denpasar. Transportasi Alat transportasi umum tersedia di dalam kota. Tapi di bandara, opsi satu-satunya adalah kendaraan sewaan yang lazim disebut “oto� oleh warga sekitar. Tarif sewanya bervariasi, antara

Aktivitas Kuda merupakan bagian integral dalam kehidupan warga Sumba, dan Pasola adalah ajang bagi kaum pria mereka untuk mempertontonkan kemahiran berkuda dan kejantanan. Festival budaya yang terkesan barbar ini akan membawa imajinasi kita ke film-film kolosal semacam Lord of the Ring. Digelar di beberapa lapangan rumput di awal Februari dan Maret, perhelatan tribal ini menampilkan atraksi saling melempar lembing kayu dari atas kuda, antara dua

kelompok dari kampung yang berbeda. Meski lembing mereka tak dilengkapi mata logam tajam, korban luka kerap jatuh di kedua belah pihak, termasuk di kalangan penonton yang berdiri terlalu dekat dengan medan laga. Pasola umumnya dimulai dengan tradisi menangkap cacing laut atau nyale di pantai. Sumba adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang masih mempraktikkan tradisi megalit. Warganya menguburkan jenazah di makam berbahan batu besar yang diangkut secara manual. Di desa-desa pedalaman, makam-makam tersebut diatur dalam formasi melingkar di


35 | SEPTEMBER 2019 TRAVELIFE

alun-alun mungil di tengah desa. Sementara di kawasan yang lebih urban, makam diletakkan di depan rumah. Di sejumlah tempat, pengaruh agama Kristen telah menciptakan akulturasi yang unik dalam wujud makam batu berhiaskan simbol salib atau wajah Yesus. Di kawasan pedalaman, warga Sumba hidup secara komunal di rumah-rumah panggung beratap jangkung yang dilapisi ilalang. Tinggi atap bisa mencapai 25 hingga 35 meter. Dihuni satu keluarga besar, tiap rumah terdiri dari beberapa kamar dan sebuah dapur yang berlokasi di tengah bangunan. Penampilan warga

kadang menyeramkan (kaum pria gemar menyelipkan parang di pinggang), tapi mereka sejatinya sangat ramah. Adalah wajar bagi pelancong untuk disambut layaknya kerabat dan diminta menginap di rumah mereka. Tur ke desa-desa adat bisa dilakukan menggunakan kendaraan sewaan atau dengan membeli paket tur yang ditawarkan oleh penginapan. Penginapan Digarap oleh arsitek Yori Antar, Rumah Budaya (Jl. Langgalero, Kalembu Ngaa Bangga; memiliki misi melestarikan kebudayaan Sumba dari ancaman modernisme. Selain

menampung museum, rumah penyambutan tamu, serta gerai suvenir, tempat ini menyediakan penginapan sederhana dengan tarif mulai dari Rp300.000 per malam, termasuk sarapan untuk dua orang. Pastor Robert, tokoh masyarakat sekaligus pengelola Rumah Budaya, kerap menyuguhkan tarian adat oleh remaja sekitar kepada para tamu. Selancar dan memancing adalah dua aktivitas bahari utama di Sumba. Bagi mereka yang mudah mabuk laut, tur ke pantai-pantai tersembunyi adalah opsi yang ideal. Sumba adalah pulau yang dibingkai oleh pantai berpasir putih dan cokelat.


400.000

Profile for Travelife Indonesia

Travelife Indonesia Magazine  

Travelife Indonesia Magazine  

Advertisement