Page 1

Spirit MAGAZINE

Tri Hita Karana “Karena hidup bukan tentang diri sendiri dan orang lain, tapi lebih dari itu adalah bagaimana menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar dan Tuhan agar tercipta kebahagiaan�


APA AJA ISINYA?

Pasukan Pengayah⁶ DUDU²⁹ Cerita Kawan³⁰

UTAMA

SUKA

Tri Hita Karana³

Welcome Party⁷

BHAKTI Bakti Sosial⁹ Tirta Yatra¹³

PURA Agung Kilisuci¹⁵ Praba Bhuana¹⁶ Dwija Dharma¹⁷

1

SENI BUDAYA Yowana Bhakti¹⁸

KOMUNITAS Analog Surabaya²¹

MOMENT TPKH DAY¹¹ TFG¹⁹

EXTRA TRIVIA Filosofi Rumah Bali²³ Pura Besakih²⁵ Galungan²⁸


Om Swastyastu Salam bahagia dari kami Tim Redaksi Majalah Spirit . Tak terasa kepengurusan TPKHITS telah berjalan selama satu tahun. Semangat dari pasukan ngayah sebelumnya, telah membawa semangat dalam kepengurusan ini. Mengusung visi penguatan internal di bawah pimpinan Ida Bagus Tedja Prana Sukma, TPKH-ITS menghadirkan perubahan baru kedepannya. Pada kepengurusan TPKH-ITS 2017/2018 ini, tepatnya di Departemen Media Informasi, kami mempersembahkan Spirit Magazine.

-

Kami menyajikan pandangan-pandangan budaya Hindu dari hal yang paling mendasar. Halhal kecil yang sesungguhnya penting namun sering dianggap sepele. Selain itu, kami juga menyajikan liputan kegiatan-kegiatan TPKH-ITS yang telah berlangsung pada kepengurusan ini. Selamat membaca!

Om Shanti Shanti Shanti Om

Salam, Tim Redaksi

Tim Pembina Kerohanian Hindu Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya tpkh.its.ac.id tpkhits |

TPKHITS |

@ppm4598c |

tpkh.its.ac.id

2


Trri Hita Karana Secara etimologis bahasa Sanskerta, istilah Tri Hita Karana berasal dari tiga kata yaitu Tri artinya tiga, Hita artinya bahagia, dan Karana artinya penyebab. Jadi Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan. Kebahagian akan terwujud apabila kita telah mampu mewujudkan suatu hubungan yang selaras dan seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan s esamany a, dan ma n u sia dengan lingkungan. Atas dasar pengertian keharmonisan inilah maka umat Hindu tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, atau untuk memisahkan kepercayaan dari kepercayaan besar lainnya di dunia. Dalam ajaran Tri Hita Karana yang menjadi unsur sentral adalah manusia, karena hanya manusia yang memiliki tiga kemampuan hidup yaitu Bayu (kemampuan untuk hidup), Sabda (kemampuan untuk bersuara), dan Idep (kemampuan untuk berpikir). Tri Hita Karana bermakna sebagai tiga hal yang mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan yakni

3

Parhyangan, yaitu hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan Tuhan, Pawongan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan Palemahan, yaitu hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan alam. Kaitan Tri Hita Karana dengan falsafah Tri Murti, Tri Kahyangan, dan Tri Kaya Parisudha, adalah untuk mencapai tujuan hidup yang sejahtera lahir dan batin (mokshartam jagaditaya ca iti dharmah), manusia hendaknya mampu melaksanakan Tri Kaya Parisudha: pikiran yang baik, perkataan yang baik dan benar, dan perbuatan yang baik untuk dapat terwujud kesehatan jasmani dan rohani. Upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam (palemahan) tidak mungkin dapat ter wujud dengan baik bila ia melupakan bhakti kepada Tuhan (parhyangan), dan tidak menebarkan cinta kasih kepada sesama umat manusia (pawongan).


Dalam penerapan sehari-hari, konsep Tri Hita Karana dapat disesuaikan dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Karena pada dasarnya setiap kepercayaan mengajarkan kebaikan, dan hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar tidak kalah pentingnya dengan hubungan dengan Sang Pencipta. Keseimbangan antara hubungan setiap individu dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam akan menciptakan perdamaian di dunia. TAHAPAN PENGAMALAN TRI HITA KARANA

Awig-awig desa adat dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Dalam perkembangan selanjutnya diharapkan awig-awig bersifat eksibel dan memiliki

1. Dalam Kehidupan Individu

daya tahan dalam menghadapi arus globalisasi.

Tri Hita Karana harus ditanamkan dalam kehidupan

4. Dalam Kehidupan Kerja

individu, yaitu bakti kepada Tuhan, mengabdi pada sesama sesuai dengan swadharma (profesi atau

Dalam ruang kerja tercermin adanya unsur - unsur Tri

bakat masing-masing) dengan dasar saling hormat

Hita Karana. Sebagai contoh. dalam sawah dan

menghormati dan sayang-menyayangi berdasarkan

ladang ada tempat pemujaan untuk mendoakan agar

yadnya dan menjaga kelestarian alam secara aktif merupakan implementasi dari ajaran Tri Hita Karana.

mereka dalam bekerja mendapatkan wara nugraha Ida Sang Hyang Widi Wasa. Di bagian hulu sawah ada Pura Bedugul. Ladang memiliki Pura Alas Rasmini.

2. Dalam Kehidupan Keluarga

Dengan selalu ingat memuja Tuhan mereka memiliki

Setiap anggota-anggota keluarga hendaknya

kerjanya secara seimbang.

kesadaran untuk memperhatikan ruang dan alat-alat percaya dan rajin berbakti kepada Tuhan, saling menyayangi sesama anggota keluarga dan

5. Dalam Kehidupan Global

menanamkan cinta kasih dengan alam lingkungan. Untuk membangun sikap itu hendaknya tempat tinggal ditempati dengan tempat pemujaan yang memadai. Halaman rumah hendaknya ditanami apotek hidup dan taman keluarga. Hal ini akan dapat menumbuhkan rasa bakti pada Tuhan.

Dalam Kitab Yajur Weda dinyatakan bahwa “Tuhan beristana di alam semesta (Bhuana Agung) yang bergerak maupun yang tidak bergerak�. Demikian juga dalam lontar Mpu Kuturan dinyatakan bahwa Bali dikembangkan sebagai Padma Bhuana (Wiana, 2004:272).

3. Dalam Kehidupan Desa Adat / Desa Pakraman

Di sembilan penjuru Bali terletak Kahyangan Jagat. Kahyangan Jagat itu adalah tempat pemujaan pada

Di setiap desa seharusnya ada unsur-unsur Tri Hita

sembilan manifestasi Tuhan yang disebut Dewata

Karana yaitu adanya parhyangan sebagai tempat

Nawa Sangga. Pura Pusering Jagat sebagai Pusar

melakukan srada dan bhakti kepada Tuhan, ada

Bali. Begitu pula Pura Besakih sebagai Huluning Bali

pawongan yaitu tata tertib yang menata hubungan

Rajya, yang terletak di Timur Laut. Hal ini

antara anggota krama desa dan pelemahan yang

menggambarkan bahwa Tuhan ada di mana-mana.

adalah wilayah desa adat dengan batas-batas desa

Kesembilan Pura Kahyangan Jagat ini bertujuan untuk

yang jelas dan pasti. Oleh karena itu, setiap desa adat

memotivasi umat Hindu ke arah mana pun pergi

memiliki awig-awig yang mengandung sukerta tata

hendaknya selalu ingat memuja Tuhan.

agama.

4


Pasukan Pengayah 2017/2018

5


Proses pemilihan Ketua Harian TPKH - ITS 2017 /2018 telah usai. Dari 3 bakal Kahar, terpilihlah Ida Bagus Tedja Prana Sukma sebagai Ketua Harian, yang tentunya akan membawa hal baru pada kepengurusan satu periode ke depan. Membawa visi pengembangan internal, diharapkan agar tercipta sebuah kondisi dimana pengembangan eksternal bisa lebih baik pula. Internal yang baik akan mampu menciptakan rasa kekeluargaan antar anggota. Rasa kekeluargaan perlu diciptakan karena kita semua pada hakikatnya adalah sama, jangan saling membedakan. Dalam kekeluargaan juga didukung rasa partisipatif, karena tanpa anggota, sebuah keluarga hanyalah kata-kata semata. Setiap pergantian pasti ada perubahan. Pergantian kepengurusan 2017/2018 bergerak demi sebuah perubahan yang lebih baik. Namun kami berkomitmen, akan membuat langkah awal untuk berubah dari kebiasaan

lama. Kami berharap , langkah awal yang kami buat, akan diteruskan oleh adik-adik kami. Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan Terima Kasih untuk semua pihak yang telah membantu kepengurusan ini, dari pihak dosen, anggota angkatan 2014, 2015, 2016, 2017, dan juga pihak ITS serta Pura Segara Kenjeran. Kami dari Badan Pengurus Harian 2017/2018 mempersembahkan sebuah karya perubahan untuk TPKH-ITS. Tidak ada perubahan yang bisa terjadi dengan instan, dan kami bertekad untuk memulainya.

It takes both sides to build a bridge - Fredrik Nael

6


SUKA

WELCOME PARTY MAHASISWA BARU 2017

Awal semester ganjil merupakan waktu untuk memulai kehidupan sebagai mahasiswa baru bagi angkatan 2017. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperkenalkan kehidupan kampus. Mulai dari acara resmi dari kampus, hingga organisasi mahasiswa melaksanakan kegiatan sebagai sarana bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih jauh tentang dunia kuliah. Umumnya acara tersebut bertajuk “welcome party”, dimana mahasiswa baru disambut dengan perayaan-perayaan. Hal ini juga terjadi di organisasi kerohanian hindu, TPKH-ITS. Tiap tahun, TPKH-ITS melaksanakan Welcome Party mahasiswa baru yang lebih sering disebut “WP”. Sama seperti kegiatan serupa, WP mempunyai tujuan sebagai penyambutan mahasiswa baru yang beragama Hindu. Kegiatan ini, dilaksanakan dibawah naungan Departemen PSDM TPKHITS, yang saat ini dipimpin oleh Made Krisnadi Kumara, seorang mahasiswa Teknik Sipil asal

7

Bali yang kini menempuh semester 5. Kegiatan yang dilaksanakan di Wantilan Pura Segara Kenjeran ini, diisi dengan kegiatankegiatan yang tentunya bermanfaat, mulai dari pengenalan pengurus harian TPKH-ITS, penjelasan tiap departemen di TPKH-ITS, pengenalan dosen-dosen Hindu di ITS, hingga games.


Kegiatan yang paling menarik adalah games. Tiap games dilakukan berkelompok dan secara komunal oleh mahasiswa baru 2017. Game yang dilaksanakan tidak hanya untuk mencari kesenangan semata. Namun terdapat esensi yang terselip pada masingmasing games. Misalnya games untuk meningkatkan rasa solid, komunikasi, kepemimpinan, dan kepekaan antar sesama. Tujuan dari diadakannya WP, yaitu untuk meningkatkan interaksi dan rasa kekeluargaan, baik antar sesama mahasiswa anggota TPKH-ITS, antar mahasiswa baru TPKH-ITS, maupun mahasiswa anggota TPKH-ITS dengan mahasiswa baru TPKH-ITS, ungkap Made selaku Kepala Departemen TPKH-ITS “Kami berharap agar semua tujuan atas diselenggarakannya acara ini tercapai dengan baik dan khusus untuk mahasiswa baru diharapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, khususnya mahasiswa perantau dari luar Surabaya dan

tentunya agar bisa berbaur dengan sesama mahasiswa baru dan juga anggota TPKH-ITS lainnya sebagai sebuah keluarga baru�, ungkap Surya Wijaya selaku Ketua Panitia. Dengan segenap dukungan dari pengurus, anggota dan juga dosen-dosen TPKH-ITS, dan Sweca dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Astungkara dalam pelaksanaan kegiatan Welcome Party ini senantiasa diberikan kelancaran dari awal sampai dengan akhir kegiatan.

8


BHAKTI

Satyadharma Bhakti Sebagai mahasiswa hindu yang berada di tanah Jawa sudah sebuah keharusan untuk terjun langsung ke dalam lingkungan masyarakat untuk mengetahui keluh kesah mereka. Terlebih umat hindu di Jawa merupakan minoritas yang sangat membutuhkan perhatian lebih. Untuk itu, mahasiswa TPKH ITS mengadakan kegiatan bakti sosial. Dilaksanakan selama 3 hari 2 malam pada tanggal 2729 Oktober 2017, kegiatan ini mengangkat tema “Satyadharma Bhakti�. Satyadharma terdiri dari Satya = Setia, Dharma = Kebaikan, kebenaran, Bhakti = Bakti. Jadi, dengan tema ini diharapkan TPKH tidak pernah absen dalam menebar kebaikan bagi sesama. Dan juga diharapkan jiwa Satya bisa tertanam dalam anggota TPKH dalam melaksanakan Dharma Bhakti. Tentunya dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Karena dalam ajaran hindu kita juga diajarkan untuk sebisa mngkin berbuat baik kepada sesama atau bermanfaat bagi sesama.

9

Pada tahun ini, kegiatan bakti sosial dilaksanakan di Pura Dewi Ratih, Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Pura ini dipilih karena sedang dalam proses pembangunan, sehingga tepat bagi mahasiswa TPKH-ITS untuk memberikan bantuan. Selain itu, Kediri mempunyai hubungan erat dengan sejarah Hindu di Bali yang notabenenya sekarang sebagai pusat budaya Hindu di Bali. Pada baksos tahun ini kegiatan yang dilakukan antara lain: mengecat tembok, memasang tegel, memasangan bata kori agung, membuat papan tulis, dan membuat tempat selendang.


BHAKTI

Pura Dewi Ratih memiliki pasraman yang terletak di dalam pura. Namun kegiatan pasraman sedang vakum. Untuk itu, mahasiswa membuat papan tulis, diharapkan agar dapat membangkitkan pasraman untuk generasi penerus di Desa Jambu. Pada malam hari, dilaksanakan sharing session yang membahas tentang sejarah pura hingga kondisi umat Hindu setempat. Mahasiswa juga menampilkan pertunjukkan bagi warga sekitar. Diiringi dengan gamelan khas membuat warga yang datang makin banyak seiring berjalannya waktu. “Dari acara ini, kami berharap dapat memberikan nilai positif bagi masyarakat dan mahasiswa. Selain itu, mahasiswa diharapkan sadar bahwa cara untuk meningkatkan rasa bakti kepada Ida Sang Hyang

Widhi Wasa tidak hanya dengan sembahyang, tetapi juga dengan mengabdi kepada masyarakat yang sedang membutuhkan. Sesuai ajaran pawongan pada konsep Tri Hita Karana� ungkap Cok Yoga selaku ketua panitia Bakti Sosial 2017

KETINGGALAN BERITA TPKH? GAK PERLU KAWATIR,UPDATE DI

tpkh.its.ac.id


MOMENT

11

TPKH Day


MOMENT

12


BHAKTI

TIRTAYATRA Tirtayatra adalah niat tulus untuk mengunjungi tempat-tempat suci atau tempat bersejarah dan tempat-tempat lain yang dikeramatkan. Tirtayatra bertujuan untuk melihat dari dekat tempat bersejarah untuk menyaksikan secara n y a t a t e m p a t- t e m p a t p e n t i n g d a l a m pertumbuhan dan perkembangan agama Hindu, agar dapat mempertebal Panca Sradha (lima keyakinan) dan kebenaran terhadap sejarah perkembangan ajaran Hindu. Tirtayatra sebenarnya sudah banyak dilakukan umat Hindu sejak dulu dan sejalan dengan kemajuan serta meningkatnya kesejahteraan maka tempat suci yang dikunjunginya semakin meluas serta umat mulai menyadari, bahwa tirtayatra sebagai salah satu cara melakukan yadnya.

13

Begitu pula TPKH-ITS. Sebagai organisasi berlandaskan ajaran dharma, TPKH-ITS melaksanakan kegiatan Tirtayatra pada tanggal 27 April sampai 29 April 2018. Tirtayatra yang dilaksanakan adalah berupa kegiatan sembahyang bersama anggota TPKH ITS ke pura - pura sekitar Jawa Timur Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dan juga menunjukkan rasa syukur kita terhadap apa yang telah beliau berikan selama ini. Selain itu, kegiatan yang juga merupakan aplikasi untuk menyeimbangkan spiritual dan akademik ini diharapkan dapat membentuk


BHAKTI

kepribadian mahasiswa ITS menjadi lebih baik, sehingga semua ilmu yang diperoleh dapat diamalkan sesuai ajaran agama.

Dwija Dharma. Pada hari yang sama, pukul 12.30 peserta melanjutkan perjalanan terakhir menuju Pura Penataran Agung Praba Bhuana.

Berangkat pukul 21.30 tidak menyurutkan minat teman – teman TPKH-ITS untuk megikuti Tirtayatra yang dilaksanakan Departemen Internal ini. Hal ini terbukti dengan peserta yang ikut lebih dari 50 orang.

Kegiatan ini mungkin terasa melelahkan, tapi keseruan dan kebahagiaan bisa bersembahyang bersama teman-teman yang kita dapatkan.

Peserta berkumpul dulu di Pura Segara Kenjeran dan bersiap untuk berangkat. Keseruan dan kehangatan sebagai keluarga terasa selama perjalanan dalam bus. Pura per tama yang dikunjungi adalah Pura Penataran Agung Kilisuci yang selanjutnya peserta bermalam di Kediri. Keesokan harinya, peserta melanjutkan perjalanan menuju Pura

Rian selaku ketua pelaksana berharap Anggota TPKH dapat meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus refreshing dari penatnya minggu perkuliahan, anggota TPKH dapat berkumpul bersama meningkatkan kekompakan, dan anggota TPKH dapat menambah wawasan tentang pura-pura di Jawa Timur

14


Pura di Jawa Timur

Pura Penataran Agung Kilisuci Pada zaman Kerajaan Kahuripan terdapat seorang

Dewi Kili Suci yang merupakan bibi dari Sekar Taji

raja yang bernama Airlangga. Raja tersebut memiliki

dilinggihkan di pura ini dan terjadi perubahan nama

seorang putri Sanggramawijaya Tunggadewi yang

pura.

seharusnya mewarisi tahta Airlangga, namun putrinya menolak untuk menjadi raja dan memilih

Untuk perkembangan umat saat masa orde baru

untuk hidup sebagai petama yang bernama Dewi Kili

terjadi pengurangan yang signiďŹ kan dalam jumlah

Suci. Kisah inilah yang mengispirasi umat hindu yang

umat yang dulunya 40 kk tiap desa dalam 52 desa di

tinggal di kota madya kediri untuk memberi nama

kota kediri sekarang hanya berjumlah sekitar

pura mereka Pura Penataran Agung Kilisuci.

30s.d.40 kk satu kota kediri.

Sebelum Pura tersebut didirikan dan karena

Hal ini disebabkan oleh ketakutan umat saat

keterbatasan jumlah umat, pemerintah membantu

kepemimpinan Pak Harto dimana jika umat tidak

mendirikan dan memberi lahan tempat untuk

mengikuti apa yang beliau percaya maka ditakuti

dijadikan pura. Pada tahun 1960an pura ini awalnya

akan diancam. Namun sekarang sudah terjalin

terletak di tengah kota (sekarang digunakan sebagai

hubungan baik antara satu umat dengan umat lain

kantor DPRD) setelah 16 tahun akhirnya para

ini dibuktikan dengan adanya organisasi yang

sesepuh umat mendapat tempat seperti sekarang

dibentuk untuk mempertemukan pemuka agama

ini.

dari berbagai agama yang biasa diadakan pada hari Jumat.

Sebelum bernama Pura Penataran Agung Kilisuci pura ini bernama Pura Sekar Taji dan dari tahun 2004

Piodalan Pura Penataran Agung Kilisuci ini

para pengurus pura mulai berusaha untuk menata

dilaksanakna pada purnama ke 6 yang dihadiri oleh

diri secara sekala dan niskala, dimulai dari

hampir semua umat kediri dan dipimpin oleh

pembangunan berbagai sarana dan dilakukan

pandita. (deva)

upacara ngenteg linggih. Pada upacara tersebut

15


Pura di Jawa Timur

Pura Praba Bhuana Keberadaan pura ini tidak terlepas dari perkembangan umat di Blitar. Keberadaan Hindu mulai tahun 1960an di pulau Jawa belum bernama Hindu, melainkan merupakan aliran kepercayaan yang bernama Buda Jawi Wisnu, saat tahun tersebut orang-orang berpindah kepercayaan yang mereka anut. Pada saat itu umat Buda Jawi Wisnu ditekan karena kalau memang mereka beragama maka harus memiliki orang suci, tempat suci, dan kitab suci. Akhirnya para tokoh agama mencari sumber - sumber agama Hindu, buku pertama yang didapat merupakan buku Upadesa yang dijadikan sebagai pegangan utama Hindu di Blitar. Untuk menjawab tuntutan dari agama lain maka umat Hindu di Blitar membangun pura pertama Di Bundosewu, Wilayah Bumpang dan pura yang ketiga merupakan pura ini. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan padmasana yang dibuat pada saat itu berbentuk seperti bunga teratai karena

sebagai tempat duduk. Pada tahun 1967-1992 umat yang ada di Kenda Rejo semakin berkembang, Pura mengalami penambahan luas tanah dan serta ada pembangunan sarana baru. Pada tanggal 22 Maret 1999 diadakan peletakan batu pertama Padmasana yang dibentuk seperti candi penataran yang ada di Jawa. Empat bulan setelah peletakan batu pertama diadakan upacara melaspas dan pada tahun 2005 dilaksanakan upacara ngenteg linggih. Untuk saat ini umat di desa pura ini ada sekitar 200 kk yang tersebar di sekitar pura dimana kurang lebih 95% umat merupakan penduduk asli Blitar. Odalan pura ini dilaksanakan saat purnama ke tiga dan setiap hari dilaksanakan persembahyangan bersama dihadiri oleh umat sekitar. (deva)

16


Pura di Jawa Timur

yang tumbuh di lahan tersebut dan kemudian mencetak batu bata sendiri. Dari tahun 1984 hingga sekarang banyak saudara saudara yang membantu, kita pernah dibantu oleh ibu ibu PHDI dan organisasi lainya. Perlu diketauhi pula mayoritas pekerjaan umat merupakan buruh tani. Ini juga merupakan salah satu keresahan yang disampaikan oleh Pak Edi Susilo dimana umat disana sangat mengharapkan bantuan yang dapat meningkatkan sumber daya manusia dan ekonomi. Seperti yang dianalogikan oleh Pak Edi bahwa mereka ingin diberikan pancing bukan ikan karena mereka ingin dapat memancing sendiri dan tidak bergantung oleh ikan jika mereka diberi ikan terus.

Pura Sari Dwija Dharma Pura Sari Dwija Dharma dibangun dengan berbagai macam halangan mulai dari pembangunan, lahan, maupun biaya. Pura ini merupakan pura yang ke 2 dimana pura pertama adalah Pura Kawitan. Sama seperti Pura Penataran Agung Kilisuci dimana pada tahun 1965 - 1970 terjadi banyak umat yang berpindah kepecayaan karena situasi saat itu. Saat ini terdapat umat sebanyak 41 kk pada kecamatan Kandat. Tanah yang digunakan sebagai Pura ini merupakan pemberian salah satu umat yaitu, Bapak Sukadi. Pembangunan pura ini dimulai dengan memotong pohon bambu

17

Selain itu seluruh kegiatan upacara yang dilaksanakan di Pura Sari Dwija Dharma dipegang oleh pemangku. Namun pemangku selaku kepala keluarga juga harus mengurus perekonomian keluarganya dengan bertani. (deva)


SENI BUDAYA

Yowana Bhakti Kesenian dan keagamaan dalam perspektif Hindu di Indonesia yang universal tak dapat dipisahkan. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seiring berjalannya waktu, banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan upacara tertentu atau sebagai pelengkap upacara tersebut. Upacara keagamaan tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Tempat suci baik pura hingga merajan dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari penganut Hindu. Pregina (penari) dalam semangat ngayah mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Hal inilah yang membuat umat Hindu sangat dekat dan senang untuk berkesenian. Mahasiswa Hindu ITS yang tergabung dalam TPKH-ITS adalah salah satu contoh komunitas anak muda Hindu yang cinta akan kesenian terutama kesenian daerah Bali. Departemen SMB (Seni dan Minat Bakat) TPKH-ITS sebagai depar temen yang mewadahi dan memfasilitasi bidang seni dari mahasiswa anggota TPKH-ITS, memiliki agenda Yowana Bakti. Yowana Bakti merupakan sebuah kegiatan yang menjadi wadah untuk bertukar ilmu kesenian oleh mahasiswa anggota TPKH-ITS. Kegiatan yang dilaksanakan

seminggu sekali pada hari Jumat ini, dilaksanakan di Pura Segara Kenjeran. Kegiatan yang dilakukan di Yowana Bakti dilakukan secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki akan mendapat latihan menabuh gamelan Bali. Tak hanya menabuh, di Yowana Bakti juga diajarkan tari untuk laki-laki. Tari Wirayudha dan Gopala adalah salah satu contoh tari Bali yang diajarkan untuk laki-laki. Tak jauh berbeda dari laki-laki, pada perempuan juga belajar tari Bali. Beberapa tari Bali yang pernah diajarkan yaitu Tari Sekar Jagat, Tari Oleg Tamulilingan, Tari Sekar Jagat, Tari Puspawresti, Tari Rejang Dewa, hingga Tari Pupanjali. Kesenian TPKH-ITS telah terkenal luas. Hal ini dibuktikan dengan seringnya tampil sebagai pengisi acara. ITS Expo, Piodalan Pura Segara, dll adalah sebagian kecil acara yang pernah diisi oleh TPKH-ITS. Nudra Pradivta, selaku Kepala Departemen SMB TPKH-ITS berharap Yowana Bakti bisa menarik minat teman-teman TPKH untuk ikut ser ta dalam melestarikan seni dan budaya, serta ikut ngayah dalam kegiatan-kegiatan pura.

18


TPKH Family games MOMENT

19


MOMENT

20


KOMUNITAS

Analog Surabaya Fotografi analog atau biasa juga disebut fotografi film adalah ketika kita menengok ke masa lampau dimana kamera masih menggunakan media film untuk menangkap gambar. Kamera analog / kamera film ini diproduksi di massa 60-an hingga awal 2000-an dan tentu saja sekarang ini sudah dihentikan produksinya. Berganti dengan era fotografi digital dengan sensornya yang makin hari makin canggih. Fotografi analog berbeda dengan digital yang hanya perlu “klik” dan gambar langsung dapat kita simpan. Fotografi analog? sedikit lebih rumit. Semuanya serba manual, mulai dari mencari fokus sampai menjadi gambar yang bisa langsung kita lihat. Tapi kerumitan itu tidak menghentikan para pecinta setianya untuk tetap bertahan. Seperti para anggota komunitas Analog Surabaya. Tim Spirit Magazine melakukan obrolan ringan dengan salah satu pendirinya. Yuk disimak!

21

Halo Ta, gimana awal mula Analog Surabaya terbentuk? Hai. Dulu didirikan oleh 5 orang para analog enthusiast: Tata Pinandhika (saya), Rifqy Muzaki, Gusti Hastadewa, Aditya, dan Angga. Awalnya dari cangkruk tengah malam di kosan temen tanggal 26 Februari 2017 Siapa yang punya ide duluan? Ake sube :) Nah ta, nah. Kenapa kepikiran buat bikin komunitas? Dulu di Surabaya udah ada 2 klub fotografi analog (Surabaya Analog Fotografi & Kokaang Saja) tapi anggotanya tua-tua, buat ngobrolnya kadang kurang nyambung hehe. Jadi buat komunitas baru untuk mewadahi anak muda biar lebih mudah bergaul Sekarang anggotanya udah berapa banyak Ta? Sekarang kira-kira udah 127 orang. Dari mahasiswa bahkan ada dosen fotografi juga gabung bareng kita


Acaranya ngapain aja? Kita buka pameran foto analog dan bazzar kamera dan perlengkapan fotografi analog. Kita ngundang pedagang dari Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Bali. Ohiya, kita juga ada Talkshow fotografi dari pembicara Fajar Hidayat dari HyperCatLab tentang Basic Analog Photography dan Basic Photobook dari Cangkruk Buku Foto

Ini dia Tata, yap yang kanan

Kegiatannya apa aja? Dulu pas baru kebentuk kita hunting pertama di Pasar Pabean, terus berlanjut tiap 2 bulan sekali trus kita kasi nama rekreasi keluarga

Apasih yang bikin acara kemarin berkesan buat kamu? Kemarin acaranya di luar ekspektasi, karena banyak perubahan jadwal kita ngira acaranya bakal sepi. Tapi ternyata yang dateng rame. Kita juga pesimis sama bazaar yang kita adain karena minat fotografi analog di Surabaya ngga sebesar di daerah lain. Tapi pesimis berubah jadi manis. Kemarin bahkan ada yang beli kamera langka Canon seharga 46 Juta. Wah menarik banget, jadi pingin ikutan. Caranya gimana? Gampang banget. Tinggal dm di instagram @analog.surabaya

Hunting ala Analog Surabaya!

Selain hunting foto, apa lagi? Kita punya banyak kegiatan sih. Cuci film bareng, kumpul bareng, sampai ngisi workshop juga

Terakhir Ta, apa harapannya buat komunitas ini? Semoga komunitas ini makin rame dan bisa tetap eksis di tengah gerusan kamera digital Mantap! Sukses terus! Suksma bro.

Ngisi workshop? Iya. Kita lumayan sering dapet job buat ngisi workshop fotografi. Kita pernah diundang Jawa Post untuk ngisi workshop di KenPark, ngisi Fakultas Ekonomi UNAIR, SUTOS, Geldboom, Ultah Surabaya Youth, dan banyak lagi... Denger-denger kemarin Analog Surabaya ngerayain 1st Anniversary ya? Yap bener banget. Kemarin pas 17 Maret kita buat event di Qubicle Surabaya

Highlight acara kemarin. Karena komunitas fotografi analog jadi difotonya pake kamera analog juga

22


EXTRA TRIVIA

FILOSOFI RUMAH BALI Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis sesuai ajaran Tri Hita Karana. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspekaspek tersebut. Rumah adat Bali ternyata dibangun sesuai dengan filosofi Asta Kosala Kosali. Asta Kosala Kosali merupakan "Fengshui"-nya Bali. Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali. Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali pada abad 14, juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan

23

Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur. Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh Samyaga. Lebih jauh dikemukakan, bahwa Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur, tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya. Dalam kisah tersebut, hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna. Kemudian secara turuntemurun oleh umat Hindu dianggap sebagai dewa arsitektur. Karenanya, tiap bangunan di bali selalu diser tai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma. Upacara demikian dalam setiap tahap pembangunan. Hal ini bertujuan minta restu agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, bangunan memiliki jiwa Bhuana Agung (alam makrokosmos) sedangkan manusia adalah bagian


EXTRA TRIVIA

dari Bhuana Alit (mikrokosmos). Antara manusia dan bangunan yang ditempati harus harmonis, agar tercipta keseimbangan Karena itu, dalam membuat bagunan harus sesuai dengan tata cara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Asta Kosala-kosali. Asta Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan pemilihan lahan, hari baik (dewasa), serta pelaksanaan yadnya. Penataan bangunan yang satuan pengukurannya didasarkan oleh anatomi tubuh pemilik rumah. Mereka tidak menggunakan satuan baku tetapi menggunakan ukuran tubuh seperti: Ÿ

Ÿ

Ÿ

Musti, ukuran ukuran kepalan tangan dengan ibu jari yang menghadap ke atas Hasta, ukuran sejengkal tangan manusia dewasa dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka Depa, ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)

Selain itu juga Konsep ini juga berpegang kepada 9 atah mata angin (Nawa Sanga). Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri. seperti misalnya: Ÿ

Ÿ

Ÿ

Dapur, karena berhubungan dengan Api maka Dapur ditempatkan di Selatan, Tempat Sembahyang karena berhubungan dengan menyembah akan di tempatkan di Timur Karena Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan di Utara dimana Gunung berada begitu pun seterusnya.

Bagian-bagian dari rumah Bali: Ÿ Pamerajan adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Ÿ Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga Ÿ Bale Sakepat digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga lain yang masih kecil. Ÿ Bale Tiang Sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu Ÿ Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda seni. Ÿ Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen. Ÿ Paon (Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga. Ÿ Aling-aling adalah bagian masuk yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk. Ÿ Angkul-angkul berfungsi sebagai gapura jalan masuk. Landasan Filosofis Asta Kosala Kosali Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung. Pembangunan perumahan sebagai Bhuana Agung dan manusianya sebagai Bhuana Alit Unsur- unsur pembentuk. Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan Dewata Nawasanga. Landasan Etis Tata nilai dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah hilir. Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Nista Mandala. Begitu banyak pertimbangan yang diambil dalam tiap langkah pembangunan rumah di Bali khususnya bagi umat Hindu. Dalam gerusan perkembangan arsitektur yang cenderung minimalis, kita sepatutnya menjaga, nilai-nilai yang sudah diwariskan. (HINDUBALI; BABAD BALI)

24


EXTRA TRIVIA

Pura Besakih Pura Besakih merupakan pura terbesar yang ada di Bali yang tepatnya terletak di Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem. Dulu, tempat sebelum dibangunnya Pura Besakih hanya terdapat kayu-kayuan dalam sebuah hutan belantara. Sebelum adanya selat Bali ( Segara Rupek ) Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut, pulau ini bernama Pulau Panjang atau Pulau Dawa. Di suatu tempat di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya. Karena ketinggian ilmu bhatinnya ,kesucian

25

rohaninya,serta kecakapan dan kebijaksanaan beliau maka oleh rakyat,beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang. Pada mulanya Resi Markandeya bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawasetelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.


EXTRA TRIVIA

Demikianlah kemudian beliau berangkat ke tanah Bali disertai pengikutnya yang pertama yang berjumlah 8000 orang dengan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Sesampainya ditempat yang dituju,beliau memerintahkan pengikutnya agar mulai merambas hutan. Akan tetapi Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji). Kemudian beliau memerintahkan pengikutnya untuk

menghentikan perambasan. Dengan hati yang sedih beliau kemudian mengajak pengikutnya untuk kembali ke Jawa. Beliau kembali ketempat pertapaannya semula untuk mohon petunjuk kepada sang Hyang Widhi.Setelah beberapa lamanya beliau berada dipertapaannya, timbul cita-citanya kembali untuk melanjutkan merambas hutan tersebut. Pada suatu hari yang baik,beliau kembali berangkat ke tanah Bali. Kali ini beliau mengajak pengikutnya yang kedua berjumblah 4000 orang yang berasal dari desa Aga yaitu penduduk yang mendiami lereng Gunung Rawung .

26


EXTRA TRIVIA

Turut dalam rombongan itu para Pandita atau para Rsi. Para pengikutnya membawa perlengkapan beserta alat-alat pertanian dan bibit tanaman untuk ditanam di tempat yang baru. Setelah tiba di tempat yang dituju, Resi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara n u g r a h a H y a n g W i d h i Wa s a , S a n g Yo g i Markandeyamemerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikutpengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan. Demikianlah pengikut Rsi Markandya yang berasal dari Desa Aga ( penduduk lereng Gunung Rawung Jawa Timur ) menetap di tempat itu sampai sekarang.

27

Ditempat bekas dimulainya perambasan hutan itu oleh Sang Rsi/Yogi Markandya menanam kendi (caratan) berisi air disertai 5 jenis logam yaitu: emas,perak,tembaga,perunggu dan besi yang disebut Panca Datu dan permata Mirahadi ( mirah yang utama ) dengan sitertai sarana upakara selengkapnya dan diperciki Tirta Pangentas ( air suci ). Tempat menanam 5 jenis logam itu diberinama Basuki yang artinya selamat. Kenapa disebut demikian,karena pada kedatangan Rsi Markandya yang ke dua beserta 4000 pengikutnya selamat tidak menemui hambatan atau bencana seperti yang dialami pada saat kedatangan beliau yang pertama. Ditempat itu kemudian didirikan palinggih. Lambat laun di tempat itu kemudian didirikan pura atau khayangan yang diberi nama Pura Basukian. Pura inilah cikal-bakal berdirinya pura –pura yang lain di komplek Pura Besakih. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan pura ditempat itu dimulai sejak Isaka 85 atau tahun 163 Masehi. Pembangunan komplek pura di Pura Besakih sifatnya ber tahap dan berkelanjutan diser tai usaha pemugaran dan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kemasa. (inputbali.com)


EXTRA TRIVIA

Hari Raya Galungan Hingga dewasa ini sebenarnya masih cukup sulit memastikan kapankah pertama kali merayakan Galungan karena ada beberapa sumber yang mengatakan tahun yang berbeda. Galungan adalah hari kemenangan Dharma melawan Adharma atau hari kemenangan Dewa Indra melawan raksasa Mayadanawa. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Lontar tersebut berbunyi: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Pada tahun 1103 Çaka Galungan pernah berhenti dirayakan. Entah apa alasannya pada saat itu. Hal

tersebut terjadi ketika raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan. Hingga masa pemerintahan dipegang oleh raja Sri Dhanadi, Galungan masih belum dirayakan. Konon pada saat itu banyak musibah yang datang tak henti-hentinya dan umur para pejabat kerajaan menjadi pendek. Saat Raja Sri Jaya Kasunu bertahta, Galungan kembali dirayakan sejak tahun 1126 Çaka. Artinya selama 23 tahun Galungan pernah tidak dirayakan di Bali. Konon ada yang mengatakan bahwa Raja Sri Aji Jaya Kasunu pernah melakukan beryoga semadhi di pura Dalem Besakih dan akhirnya mendapat pawisik dari Bhatari Durga. Dalam pawisik tersebut, Bhatari Durga meminta Raja Sri Jaya Kasunu agar merayakan kembali haru raya Galungan setiap hari Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku sebelumnya. Selain itu disarankan juga agar seluruh umat hindu memasang penjor pada hari penampahan Galungan atau tepatnya satu hari sebelum Hari raya Galungan. (inputbali.com)

28


DUDU Yoga Dari Indra Untuk Ucapan ndra nyari makan Dari Untuk Ucapan

Dari Untuk Ucapan

Indra pasukan ngayah anyar kapan ngayah lagi ?

Made Patih Salam buat patih nudra (skudlur) biar cepet moksa dan diberkahi sebuah skill untuk melucu, sebenernya saya gak malu buat ngucapin langsung tapi mungkin ini salah satu sarana lain untuk menyampaikan. Terima kasih

Dari Untuk Ucapan

Sudar Ekalawya 2015 Sekarang udah jadi 15++ nih gak kepingin kumpul-kumpul lagi gitu? Hahaha

Rika Dari Laksmana Untuk Ucapan Keep in touch ya walaupun nanti udah ada dijalan masing2, kita bisa kok :)

DARI UNTUK DENGAN UCAPAN

29


Kalian ngerasa gak sih kalau kuliah itu bikin capek tapi ngangenin? Walaupun dituntut selalu siap menghadapi segala bentuk tugas, jam perkuliahan yang kadang overtime, bahkan godaan bolos. Ini dia curhatan dari kawan-kawan kita tentang semangat dan kepenatannya nya!

capek aku organisasi terus. sehari 6sks. 4sks organisasi. 3sks kuliah. sekian curhatan w. terimagaji 2sks deng gimana sik -Puspa

Yang bikin semangat? Telor pasjuuuuuuum WiďŹ , ac, makanan di kantin jugaaa Terus apalagi yaa, kalau jenuh sih biasanya aku tinggal ingat alasan aku memulai semua ini (?) dan alasanku mau kuliah ya karena aku pingin orang tuaku hidup tenang dan bahagiaaaa -Tantri

30


Selamat ngayah Selamat mengabdi


-

Spirit MAGAZINE

tpkh.its.ac.id

Spirit Magazine TPKH-ITS  
Spirit Magazine TPKH-ITS  
Advertisement