Issuu on Google+

No.642/Tahun XII, 8 - 14 Mei 2011

Ari Murti

Putus Penyebaran HIV Rahasia Membuka Jendela Hati Bacalah falsafah biji, sanggup terdampar sendiri dalam kesunyian Tabah menghadang rintang, panas, hujan, dan badai Tumbuh besar menyangga langit, membentang sayap ranting dedaunan Akar kokoh menyimpan air kehidupan, menyangga bencana Teduh berteduh pengembala, dipayung hijau daun merimbun Batang dan jari ranting sebagai rangka peneduh mahluk berbudaya. Bunga dan buah pemberi senyum serta kehidupan Biji-bijinya bertebaran memenuhi jagat raya

biji

Biji itu tetap sunyi, pantang menyapa ataupun menunjuk dada Namun, makhluk pasti mengangguk Karena merasakan baktinya Bukalah jendela hati dan selipkan niat kebajikan, walau untuk sebutir

Sepenggal puisi tersebut dilantunkan Ari Murti sebagai sebuah penghargaan dan penggambaran fungsi bidan yang diibaratkan layaknya sebutir biji. Kendati kecil, mampu memberi efek luas terhadap kesehatan ibu dan anak. Terutama, dalam hal pemutusan mata rantai penyebaran HIV/AIDS melalui ibu ke janin. Penularan HIV/AIDS tak hanya menyebar melalui hubungan seksual atau pun penggunaan jarum suntik. Penularan HIV/AIDS pun bisa melalui ibu hamil ke janin. Inilah yang mendorong Rotary Club Nusa Dua bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Badung kembali menggelar Pelatihan Peningkatan Intensitas Rujukan Preventive Mother to Child Transmition (PMTCT) bagi Bidan dalam rangka uji coba kegiatan Provider Initiative HIV Testing & Concelling (PITC) pada ibu hamil. Jika sebelumnya pelatihan diberikan kepada 40 bidan se-Kecamatan Kuta Selatan. Kali ini, pelatihan digelar untuk 40 bidan se-Kecamatan Kuta. Pelatihan yang digelar Jumat dan Sabtu (29 s.d. 30 April) tersebut dipusatkan di Puskesmas Kuta 1. Bersambung ke halaman 12

Ada Garam Beryodium tak Sesuai Standar “SAYA selalu membeli garam yang ada mereknya. Jika garam tak bermerek, saya berpikir dua kali untuk membelinya,� ujar Desak Ernawati, dosen Fakultas Kedokteran Unud.

H

tkh/sep

al serupa juga dilakukan Rahma wati, ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di Tanjungbungkak Denpasar. “Saya selalu membeli garam bermerek, karena ada tulisan

garam yang bermerek benarbenar mengandung yodium. “Saya kan tidak bisa mengeceknya,� jawab Rahma seraya tertawa. Penelitian yang dilakukan Adi Saputra, mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unud pada Februari-April yodiumnya. Kalau yang tidak 2011 terhadap 60 sampel garam bermerek, saya ragu terhadap bermerek di Kota Denpasar kualitasnya. Apalagi, tidak ada menemukan merek garam yang penjelasan apa pun di kemasannya,� papar ibu satu anak BERITA TERKAIT itu. HALAMAN 9 Meski begitu, ia tidak yakin

Bersambung ke halaman 9

Jangan letakkan garam dekat kompor agar kualitas garam tetap terjaga

MINGGU (1/5) sekitar pukul 10.30 para peserta lomba tata rias wajah untuk menghadiri undangan adat Bali mulai unjuk kebolehan. Mereka mempraktikkan bekal pelatihan yang didapatkan di LKP Agung sejak 1 s.d. 25 April. “Sebenarnya saya tidak terlalu bisa berias,� ujar salah seorang peserta. Meski demikian, ia mengaku akan berusaha maksimal. Paling tidak, ia berusaha menyesuaikan warna busana dengan warna make up yang dipilihnya. Peserta lain juga tak mau kalah. Mereka

Hesty Dewi Rahman

Lompat Keluar Lingkaran Menurut Hajjah Hesty Dewi Rahman, S.P. yang biasa disapa Hesty ini, meski latar belakangnya berbeda dengan usaha yang dilakoninya, tidak menjadikan halangan baginya terus berkarya. Memilih usaha handicraft sebagai fokus bisnisnya, diakuinya tidak datang tiba-tiba. Anggota BKOW Bidang Sosial Kemasyarakatan ini pun menceritakan pengalamannya pada Tokoh.

Jurus Cerdas Berkebun Emas Rulli Kusnandar

tkh/sep

Seribu Guru PAUD Ikuti Lomba Tata Rias

yang memiliki rata-rata kadar yodium di bawah dan di atas kadar yodium yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI. Adi, dalam penelitiannya yang menggunakan sampel enam pasar tradisional dan enam supermarket di Denpasar menyebutkan, kadar yodium dari 60 sampel garam beryodium yang terbagi menjadi 13 merk garam diperoleh dari hasil uji kadar yodium dengan menggunakan metode iodometri di Laboratorium Kesehatan Daerah Bali. Dari hasil uji tersebut diperoleh rata-rata kadar yodium untuk merek Jago adalah 69.78 ppm, rata-rata kadar yodium merek Srikaya 69.37 ppm, rata-rata kadar yodium merek Dolpin 92.77 ppm, rata-rata kadar yodium merek Refina 77.22 ppm, ratarata kadar yodium merek Ikan Terbang 73.35 ppm, rata-rata kadar yodium merek Miwon 54.00 ppm, rata-rata kadar yodium merek Prima 23.98 ppm, rata-rata kadar yodium merek Cap Kapal 40.02 ppm, rata-rata kadar yodium merek Ibu Bijak 31.78 ppm, rata-rata kadar yodium merek Kuda Lumping 60.29 ppm, rata-rata kadar yodium merek Teri Besar 43.33 ppm, rata-rata kadar yodium merek Progizi 38.05 ppm, dan rata-rata kadar yodium merek Cap Flipper 25.58 ppm. Secara keseluruhan, dari 60 sampel garam beryodium

MENJADI pengusaha memang menjadi pilihan awal saat wanita ini masih di sekolah menengah atas. Ia ingin lebih maju dibandingkan keluarganya yang lain. Ia memacu dirinya selalu bekerja maksimal.

Sebagian guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang mengikuti lomba tata rias

berbekal cermin untuk melihat hasil polesan make up di wajah mereka. Dirjen PAUDNI Kemendiknas Hamid Muhammad, Ph.D., tak mau ketinggalan menyaksikan aksi 1.000 guru PAUD se-Kota Denpasar serta 50 peserta kehormatan terdiri atas anak-anak yang pernah mengikuti kursus di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung tersebut. Sebelumnya, sejak pukul 07.30, para peserta berdatangan ke areal lomba yang digagas Tim Penggerak PKK Kota Denpasar bekerja sama dengan Koran Tokoh, LKP Agung, Crrante

Berita terkait Muri baca juga di halaman 3 dan 16

Cosmetic, dan catering service Ny. Warti Buleleng di depan Pura Jagatnatha, Denpasar. Mereka segera menempati tempat duduk sesuai nomor peserta yang juga sudah ditempel di deretan kursi di belakang kursi undangan. Empat puluh delapan di antaranya bersiap-siap di belakang panggung. Guru-guru PAUD ini unjuk kebolehan menampilkan tari Puspanjali diiringi seka gamelan wanita dari Banjar Lebah. Laporan ketua panitia disampaikan Ny. Robin, dilanjutkan sambutan Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Mantra. Bersambung ke halaman 16

BERINVESTASI emas bisa dilakukan siapa pun dan di mana pun. Bukan hanya orang yang banyak uang yang bisa membeli emas. Anda pun bisa membeli emas dan memulai berinvestasi emas. Bukan tidak mungkin. Rulli Kusnandar punya resep jitu berinvestasi emas dengan cara yang belum pernah terpikirkan semua orang sebelumnya. Semua orang bisa berinvestasi emas. Modal yang diperlukan relatif sedikit yakni sesuai kemampuan finansial Anda. “Dan, memulailah memetik kebun emas setelah mempraktikkan strategi kebun emas ini,� kata Rulli. Kenapa harus emas? Menurut Rulli, emas memiliki beragam kelebihan sebagai media investasi yaitu aman. Berinvestasi emas aman terhadap biaya pajak, broker, administrasi dan sebagainya. Emas kebal terhadap inflasi. Pada investasi lain, inflasi dan deflasi akan meggerogoti nilai aset. “Berbeda dengan emas. Justru makin tinggi laju inflasi, makin tinggi harga emas,� ujarnya. Menurut data statistik, bila inflasi 10%, harga emas naik 13%, bila inflasi 20%, harga emas naik 30%, bila inflasi 100% harga emas naik 300%, dan seterusnya. Bandingkan dengan deposito. Jika menyimpan uang di bank dalam bentuk deposito dengan bunga 5% per tahun, minimal uang yang harus Rulli Kusnandar

Bersambung ke halaman 12

Semua berawal ketika ia melihat lingkungan temannya yang datang dari keluarga pengusaha, kehidupannya berkecukupan. Hal ini lantas memunculkan obsesinya menjadi pengusaha sukses. “Latar belakang keluarga saya ABRI. Bahkan kebanyakan saudara bekerja tidak jauh dari seragam yang sama, tapi ini bukan halangan,� ungkap istri Haji. A. Rahman ini. Ia menyatakan, justru kondisi itu membuatnya

memilih melompat keluar lingkaran demi bisa mengatur hidupnya sendiri. Bekerja di kargo sebagai manajer operasional, lantas berpindah tempat sebagai pemasar hingga bekerja di travel agent pun dilakoninya. Ia mulai usaha garmen kecilkecilan. “Kami memproduksi sandal dan baju untuk diekspor ke Australia dan Amerika,� ucap perempuan kelahiran Denpasar tahun 1970 ini. Ketika itu, diakuinya ia masih wara-wiri naik motor mengurus berbagai hal sambil membawa karung. “Sampai ada yang nyeletuk, insinyur apaan bawaannya karung. Untung juga saya berasal dari anak kolong yang tahan banting dan tahan malu,� tambah putri ketiga dari enam bersaudara pasutri H. Moch. Imam Buchari dan Hj. S. Taslimah ini tergelak. Bersambung ke halaman 12

Roadshow Seminar Sembilan Kota di Bali Mudahnya Jadi Pengusaha

SUNGGUH beruntung bangsa dan negara Indonesia memiliki salah satu putra terbaik yang bernama Gede Dermawan, PsT. Dilatarbelakangi karena keinginannya yang sangat mendalam untuk bisa berarti bagi sesama dan seisi alam semesta ini, maka dia mendirikan Sekolah Pencetak Pengusaha (SPP) pada 23 November 2010 di Denpasar, Bali. SPP lahir melalui perenungannya yang dalam dan panjang selama 2,5 tahun. “Saya yakin SPP diberkati dan direstui oleh Tuhan YME dan seluruh umat manusia, karena memiliki visi dan misi mulia,� ujar pria yang sudah belasan tahun menjadi vegetarian ini.

Gede Dermawan, PsT.

Melalui SPP, dia ingin mencetak sebanyak mungkin pengusaha di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Di samping mendapat kebebasan, menjadi pengusaha itu sangat mulia karena bisa menciptakan lapangan kerja, menyerap Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

8 - 14 Mei 2011

KORAN TOKOH

ASPIRASI

Apa manfaat sejak remaja aktif di organisasi?

Cuci Otak Benarkah otak bisa dicuci? Ami punya jawaban yang membuat Amat berpikir. “Baju bisa dicuci Darah bisa dicuci. Uang bisa dicuci. Bahkan dosa bisa dicuci. Tetapi, otak tidak!” kata Ami. Putu Wijaya “Pendapatmu tidak akan disetujui para teroris itu Ami!” sergah Amat. “Kenapa?” “Karena mereka sudah mencuci otak beberapa saudarasaudara kita, sehingga mereka rela membunuh dan bunuh diri, tidak seperti kebanyakan manusia yang tidak mau membunuh atau bunuh diri karena itu tidak dibenarkan agama!” “Itu bukan karena otaknya dicuci!” “Lalu karena apa?” “Karena mereka tidak mampu lagi untuk membantah!” “Itu dia akibat dicuci, otaknya jadi tidak mampu lagi melihat segala sesuatu sebagai manusia yang sadar, waras dan berbudaya!” “Bapak keliru!” Amat tertawa. “Kamu jangan ngeyel!” “Bapak yang keliru! Itu bukan karena otak dicuci tetapi otaknya sudah dilumpuhkan!” “Memang dicuci itu maksudnya begitu! Fungsinya sebagai alat untuk berpikir waras diacak, sehingga kacau, akalnya diobrakabrik sehingga tidak bisa berpikir seperti orang yang waras!” “Karena itu, bukan dicuci, tetapi dibikin lumpuh!” “Lumpuh karena dicuci!” “Tidak bisa! Otak tidak bisa dicuci. Di dalam otak ada jutaan urat saraf yang halus yang tidak bisa dibersihkan. Ditumbuhkan supaya liar, bisa!” “Ya itu namanya dicuci!” “Tidak bisa!” Bu Amat muncul melerai. “Sudah-sudah! Apa-apaan ini! Anak sama bapak cakarcakaran melulu kayak kucing sama anjing. Dicuci atau dirusak yang jelas otak jadi tidak beres!” Amat dan Ami lalu diam. Malam hari Amat berbisik pada istrinya. “Aku khawatir, Bu. Anakmu itu sekarang suka ngeyel!” “Bapaknya juga!” “Kok aku?! Mosok dia bilang cuci otak itu tidak bisa? Itu kan?” “Kan apa?” “Tanda dia mulai pikirannya aneh.” Bu Amat tertawa. “Pak, anakmu itu hanya bercanda. Dia hanya iseng-iseng ngajak Bapak berdebat, maksudnya hanya untuk menghibur supaya Bapak tidak kesepian. Sama saja kita suka pura-pura ngajak dia berantem waktu masih kecil. Maksudnya menghibur, Pak.” Amat tidak percaya. Dia menanyakan kepada para tetangga, apa anak-anak mereka ada yang suka berpikir aneh. “Lho anak zaman sekarang semuanya aneh, Pak Amat,” kata tetangga, “kalau bukan aneh, bukan anak zaman sekarang namanya. Kita dulu waktu anak, kan menurut saja apa kata orang tua. Tetapi, sekarang kalau tidak membantah, mereka tidak puas jadi anak kita. Normal, Pak.” Amat menggeleng. “Bukan itu maksud saya. Apa anak Bapak pernah mengatakan bahwa cuci otak itu tidak mungkin?” “Mosok?” “Sebab, otak tidak bisa dicuci. Diacak-acak memang bisa!” Tetangga tertawa. “Ya dicuci itu diacak-acak Pak Amat!” “Tidak bisa!” “Kok tidak? Yang dilakukan orang-orang radikal itu kan mencuci otak anak-anak kita, supaya acak, sehingga mereka itu mau saja melakukan hal-hal yang tidak betul. Misalnya membenci orangtuanya!” “Itu namanya merusak, bukan mencuci, kata anak saya!” “Memang mencuci itu maksudnya merusak!” Amat diam. Malamnya dia berbisik lagi pada istrinya. “Tetangga kita itu nggak pernah mengerti kalau diajak ngomong.” “Ngomong apa?” “Mosok dia bilang mencuci itu merusak.” “Mencuci apa?” “Otak.” “Memang!” “Memang bagaimana?” “Memang mencuci otak itu merusak otak. Supaya pikiran kita jadi terbalik. Makanya orang tega menjadi teroris, membunuh orang, sampai membunuh dirinya juga tidak masalah. Kan Bapak yamg selalu bilang begitu?” “Bukan itu maksudku!” Bu Amat menatap suaminya. “Bukan?” “Bukan! Maksudku, seperti kata Ami itu, otak tidak bisa dicuci. Otak itu penuh saraf-saraf halus. Kalau dicuci akan rusak. Jadi kita mesti mendudukkan persoalannya sekarang. Yang dilakukan para teroris itu dalam merekrut orang, bukan mencuci, bukan membersihkan, tetapi merusak, mengacak, mengeruhkan! Kalau kita bilang mencuci, itu seperti kita membenarkan otak kita disucikan, dibenerkan. Padahal dilumpuhkan. Jadi itu salah.” Bu Amat kaget. Dia memandang suaminya tak percaya. Tetapi, dia tidak mau membahas soal itu lebih lanjut. Hanya besoknya dia menegur Ami. “Ami, kamu jangan mencuci otak Bapak lagi. Sekarang ngomongnya sudah mulai aneh. Ngeyel!” “Ngeyel bagaimana?” “Mosok dia mulai ikut-ikutan bilang otak itu tidak bisa dicuci, seperti yang kamu candakan itu!” “O ya?” “Ya. Coba ajak bicara dia lagi, nanti telanjur. Kamu jangan main-main sama orangtua!” Malam itu juga, Ami bicara empat mata dengan Amat. “Jadi Bapak sekarang setuju dengan Ami?” “Soal apa?” “Bahwa otak tidak bisa dicuci.” “Memang otak tidak bisa dicuci. Dirusak bisa!” “Jadi Bapak setuju dengan Ami?” “Bukan soal setuju atau tidak. Memang otak tidak bisa dicuci. Baju bisa dicuci. Otak tidak.” Ami mengangguk. Setelah itu ia termenung sedih. “Bapak tahu kenapa saya sedih?” “Ya! Pertanyaan itu yang Bapak tunggu. Sebab, hanya dalam satu hari kamu sudah bisa mencuci otak Bapak. Alangkah lemahnya pertahanan bangsa kita sekarang ini. Dikocok sedikit sudah acak!” Ami mengangguk. Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Wacana Sai Baba tentang Ajaran Weda” Sampaikan opini Anda Minggu 8 Mei 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@globalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 15 Mei 2011

Pekerja Demo tidak Efektif BERAGAM masalah dihadapi pekerja perempuan. Upah tidak sesuai dengan beban pekerjaannya. Sebaliknya, sedikit-sedikit tidak masuk kerja, karena upacara adat, anak sakit, bahkan juga kalau suami sakit. Sudah ada Undang-undang Ketenagekerjaan, tinggal pengusaha melaksanakannya. Outsourcing, bukan hanya momok bagi perempuan tetapi juga bagi laki-laki. Tidak memberikan masa depan. Tetapi, pekerja swasta, buruh, umumnya jelas bidang pekerjaannya. Berbeda dengan pegawai negeri sipil. Karena itu, kepada PNS perlu juga diberlakukan sistem kontrak. Demo (unjuk rasa secara terbuka) salah satu cara mengungkapkan aspirasi pekerja. Tetapi, demo kurang efektif. Bisa ditunggangi berbagai kepentingan. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (1/5). Topiknya, “Perlakuan terhadap Perempuan Pekerja”. Berikut, petikannya.

Posisi Perempuan Dilematis Selama ini hak perempuan masih diabaikan dalam perburuhan. Perusahaan ingin tenaga perempuan yang fresh. Banyak masalah terjadi di balik itu, masalah upah yang tidak sesuai, beban pekerjaan yang tidak seimbang dengan upah, belum lagi bicara masalah reproduksi. Jika berbicara masalah upah dan buruh, ini berhubungan dengan hak hidup dalam tiap negara sama. Namun, sampai sekarang belum ada kemajuan contohnya perempuan Bali sangat dilematis. Ketika mereka melangkahkan kaki keluar rumah dan masuk ke dunia kerja posisi mereka dilematis. Mereka harus kerja optimal dulu di rumah baru bisa melangkah keluar. Mereka tidak bisa menghindari fenomena di luar termasuk outsourcing. Sudah merupakan ancaman. UU Nomor 13 Tahun 2007 sudah mengakomodir hak perempuan

ketika meninggalkan kerja untuk cuti, dan masa haid diperhatikan. Namun, ketika bersinggungan dengan kepentingan kapital, pengusaha cenderung masih mengabaikan hak perempuan. Pekerja perempuan menjadi stres. Belum lagi adanya pelecehan seksual. Ini bukan wilayah privat tetapi sudah masuk ke ruang publik. Dalam areal publik apa saja bisa terjadi. Masyarakat seharusnya memberi kesempatan yang sama, bagi pekerja laki-laki dan perempuan. Pemerintah juga harus memberi perlindungan. Padahal di satu sisi pekerja perempuan seperti TKW memberi devisa besar bagi negara. Mereka rela bekerja di luar negeri meninggalkan suami dan anak. Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos. M.Si., Dosen PNS Kopertis Wilayah VIII

’Outsourching’ tidak Beri Masa Depan Sedih melihat keadaan karyawan perempuan. Kaum perempuan dianaktirikan bos, misalnya harusnya mereka cuti haid atau melahirkan. Belum lagi outsourcing tidak memberikan tenaga kerja perempuan atau laki untuk mendapatkan masa depan yang baik.

Perempuan melahirkan karena ’korban’ laki-laki, tetapi belum bisa menyamakan arti laki dan perempuan. Akhir-akhir ini ABG memakai celana pendek yang merangsang pelecehan seksual. Mudah-mudahan para orangtua dan keluarganya mampu memberikan nasihat kepada mereka tentang berpakaian sopan. Menonjolkan aura dari tubuh bukan budaya kita. Sutama, Kerobokan

Tidak Bekerja Alasan Suami Sakit

Ayu Dwijayanti Jadi mandiri, berani berpendapat dan menambah teman. Ini penting lho pas kita masuk ke dunia kerja, bikin percaya diri jadi bertambah karena sering berhadapan dengan orang banyak, yang pasti banyak hal baru yg bisa jadi bekal masa depan. Gie Arya Siva Wawasan tambah luas, mental lebih matang, dan ke depannya sangat bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Organisasi melatih seseorang menjadi lebih mandiri dan tahu situasi. Menyentuh Langit Senja Menjadi percaya diri dalam menghadapi suatu yang ada. secara sadar melaksanakan UU Ketenagakerjaan. Perempuan jangan selalu ditindas. Pande

Buruh Sama dengan Kuli Buruh sama dengan kuli, pekerja. Dewa/facebook

Lindungi Pekerja di Luar Negeri Semoga pemerintah melalui instansi terkait lebih melindungi para pekerja di luar negeri. Mari kita tingkatkan profesionalisme pekerja. Made Sandiyasa/facebook

PNS tidak Jelas Pekerjaannya

Sistem kontrak bagus, menumbuhkan semangat dan tanggung jawab asalkan pelaksanaannya jangan terlalu mengada-ada. PNS juga perlu sistem kerja kontrak karena selama ini pekerjaannya tidak jelas. Beda dengan buruh yang pekerjaan sudah pasti jelas. Agung Ngurah Bagus / facebook

Sedikit-sedikit alasan ada upacara adat. Kalau anaknya sakit tidak bekerja. Apalagi suaminya sakit, dia tidak bekerja. Kalau bekerja di luar negeri alasan itu tidak bisa dipakai. Di mana–mana perusahaan menggunakan tenaga kerja peremDijajah Bangsa Sendiri puan untuk memancing. Justru Pekerja perempuan dibatasi ada gurauan, laki-laki malah lebih sulit mencari pekerjaan. kontrak yang berupa peraturan Edi, Denpasar perusahaan dan perjanjian kerja. Sanksinya secara linier. penduduk Indonesia Laksanakan Jumlah kebanyakan perempuan. PerUU Ketenagakerjaan soalan gender kepentingan pePerempuan memiliki ko- rempuan. Mengapa pengusaha drat melahirkan dan ibu rumah tidak konsekuen. Khusus di tangga. Ketika berbicara dalam Bali mengapa tidak mengelola konteks lebih luas hal ini me- sumber daya manusia dengan rupakan kekuatan. Proses kerja baik. Fokus satu bidang misalyang baik harus didukung sum- nya pariwisata. Jangan sampai ber daya manusia yang baik. kita merasa dijajah bangsa Semua pihak yang bermain da- sendiri. lam proses ekonomi, harus Joe, Denpasar

Mengapa Diupah Murah?

Mengapa tenaga kita diupah murah? Karena, berlaku hukum pasar dan karena tenaga kerja membutuhkan kerja. Harus diterima perlakuan perusahaan. Kalau bangsa ini ingin maju, kurangi tenaga buruhnya. Bangsa kita kurang dihargai di luar negeri dibandingkan bangsa lain. Kualitas SDM rendah. Pemerintah kurang perhatian. Baca tulis tidak bisa tetapi berani ke luar negeri dengan modal nekat. Tidak memperhitungkan apa yang bakal terjadi, bisa diperkosa. Kalau mau, bentuk partai buruh. Agar suaranya bisa diperjuangkan di parlemen. Becik, Tuban

Perempuan jangan Cengeng

Bagi perempuan pekerja, kondisi inilah yang dihadapi. Menjalani kodrat mereka tetap berburu dengan waktu terikat pekerjaan dan keluarga, terjadi ketertarikan kepentingan sangat kompleks. Ketika berhadapan dengan outsourcing jangka waktunya sangat rendah. Lulus S-1 usia 21 tahun. Usia 22 tahun sudah menikah. Berapa lama dia mampu bertahan dalam situasi sebagai pekerja. Bukan hanya masalah outsourcing yang mengancam, julukan tidak profesional seperti sering meninggalkan pekerjaan juga melekat. Outsourcing tidak hanya momok bagi perempuan tetapi juga laki-laki. Perusahaan ingin tenaga kerja fresh dan berkualitas. Saya menyarankan, untuk menyukseskan UU Ketenagakerjaan, diperlukan moralitas. Perhatikan hak bagi perempuan pekerja dalam arti luas. Untuk menyalurkan aspiasi buruh, sebaiknya mereka menggunakan saluran yang ada. Bersambung ke hlm. 12

Empat Misi dan Tiga Sayap Program Sai Baba Tulisan Kedua dari Empat Tulisan SAI BABA menyatakan dalam buku Satyam Siwam Sundharam, kelahirannya bermisi suci untuk mengembalikan jalan raya kuno membawa manusia dekat dengan Tuhan. Jalan raya kuno yang dinyatakan Sai Baba itu adalah Weda, Sastra dan Upanisad. Untuk mengembalikan Weda membawa orang makin dekat dengan Tuhan ada empat misi arahan program yang dilakukannya yaitu: Pertama: Weda Posana artinya menumbuhkembangkan keagungan Weda untuk mengantarkan manusia menuju jalan Tuhan mewujudkan hidup bahagia. Mengembalikan jalan Weda membawa manusia menuju jalan Tuhan tidak berarti orang itu harus ahli Weda seperti mendalami ilmu pengetahuan duniawi. Weda itu ibarat gudang obat. Ambil obat yang dibutuhkan sesuai dengan penyakit yang diderita.. Tidak perlu semua obat itu diambil dan dipakai. Tempuh salah satu jalan Tuhan yang ditunjukkan Weda itu dengan sungguh-sungguh. Sebab, Weda memang menyediakan banyak jalan menuju jalan Tuhan. Sai Baba menyatakan pujalah Tuhan menurut Nama dan Rupa yang paling disukai dan dengan cara yang biasa dilakukan. Hal inilah salah satu bukti kegiatan para pengikut Sai Baba bukanlah suatu sekte atau aliran kepercayaan. Apalagi disebut aliran sesat. Sai Baba menyatakan Weda itu mengandung lima hal yaitu widya artinya Weda mengan-

dung ilmu pengetahuan; wiweka ajaran tentang metode analisis; Karma siksana, pengetahuan tentang menertibkan perilaku; Sat sila, tentang membangun karakter; Desa abhimana, artinya dorongan untuk mengabdi pada tanah kelahiran. Kedua. Widwat Posana artinya melindungi orang-orang yang mendalami ajaran suci Weda. Tujuan Sai Baba bukan melindungi orangorang yang mendalami Weda dengan kekuatan kekuasaan politik, militer maupun ekonomi. Sai Baba melindungi orang-orang yang mendalami Weda dengan wejangannya yang menanamkan keyakinan yang mendalam bahwa barang siapa yang mendalami Weda akan terlidungi hidupnya oleh kesucian Weda. Mendalami Weda adalah menanamkan lima pilar suci Weda. Lima pilar suci Weda itu menurut Sai Baba adalah Satya, Dharma, Prema, Santi dan Ahimsa. Lima pilar suci Weda itulah yang wajib disemaikan dalam lubuk hati tiap bhakta dengan penuh keyakinan. Lima pilar itulah yang akan melindungi bhakta dalam hidup ini. Kalau keyakinan ini dapat masuk ke dalam hati sanubari maka orang tersebut akan merasa aman kalau hidup untuk mendalami dan mengamalkan ajaran suci Weda. Mendalami Weda dengan melakukan kegiatan rohani seperti menyanyikan kidung-kidung suci dengan mengulang- ulang nama suci Tuhan. Melakukan kegiatan pengabdian kepada sesama ciptaan Tuhan sesuai dengan swadharma masing-masing. Pengabdian itu dilakukan dengan penuh semangat

I Ketut Wiana

tkh/dok

ber-yadnya. Ketiga, Bhakta Raksaka, artinya melindungi orang-orang yang tekun ber-bhakti pada Tuhan. Sai Baba menyatakan bahwa jnyana, karma dan bhakti memang memiliki pengertian yang berbeda-beda. Namun, ketiga hal itu tidak dapat dipisahpisahkan. Ketiga hal itu ibarat gula batu, demikian Sai Baba mengumpamakan. Bentuk, berat dan rasanya memang berbeda-beda. Namun, ketiga hal itu menjadi satu dalam gula batu tersebut. Mengembangkan jnyana dan karma adalah untuk dipersembahkan pada Tuhan dengan dasar bhakti. Para bhakta artinya mereka yang menyembah Tuhan akan mendapat perlindungan dari Tuhan kalau sembah bhakti-nya itu didasarkan pada jnyana dan karma yang benar. Sai Baba menanamkan keyakinan pada para pengikutnya melalui wacana-wacananya bahwa seseorang yang sunggug-sungguh ber-bhakti pada Tuhan berdasarkan jnyana dan karma akan mendapatkan rasa aman yang mendalam dalam hidupnya. Keyakinan itulah yang ditanamkan secara mendalam oleh Sai Baba. Keempat, Dharma Raksaka.

artinya melindungi kemurnian dharma.Sai Baba menyampaikan bahwa siapa saja yang melindungi dharma pasti akan dilindungi dharma pula. Mereka yang sungguhsungguh hidup berpegang pada dharma akan dilindungi dharma pula. Dharma itu kebenaran, kewajiban dan kebajikan. Sai Baba mengajarkan agar hal ini diyakini sedalam-dalamnya. Orang tidak boleh ragu untuk hidup berpegang pada dharma. Itulah empat tujuan kelahiran Sai Baba dalam hidupnya. Para pengikut Sai Baba memiliki wadah Sai Study Group di tingkat internasional, regional, nasional dan daerah propinsi sampai kabupaten. Lembaga ini sebagai wadah penyelenggaraan pendidikan nonformal untuk mempelajari dan mendalami Weda. Ada tiga sayap organisasi Sai ini yaitu sayap spiritual, sayap pendidikan dan sayap pelayanan. Sayap spiritual melakukan pemujaan Tuhan dengan konsep namasmaranam artinya memuja Tuhan dengan mengingat dan mengulang-ulang pemujaan nama Tuhan dengan menyanyikan atau mengidungkan nama-nama suci Tuhan. Pemujaan Tuhan dengan konsep namasmaranam ini cara pemujaan Tuhan zaman Kali. Sebab, zaman Kali ini menurut Sai Baba tidak dianjurkan beragama dengan cara yang sulit dan menjadi beban hidup yang memberatkan umat. Tujuan pemujaan Tuhan itu harus dapat menanamkan lima pilar suci Weda pada lubuk hati sanubari umat. Sayap kedua, pendidikan. Sai Baba menyatakan pendidikan dewasa ini lebih banyak mengajarkan peserta didik untuk mencari nafkah. Sangat jarang pendidikan itu mengajarkan peserta untuk mengelola hidup yang baik. Hidup yang baik itu harusnya menyeimbangkan pendidikan untuk mengembangkan pendidikan karakter dan keteram-

pilan. Sai Baba menyatakan dalam kitab Wacana Musim Panas bahwa pendidikan itu harus dimulai dengan sraddha, baru budhi dan terakhir pengembangan meta atau bakat. Ini artinya pendidikan itu hendaknya mengutamakan pendidikan sraddha untuk meyakini Tuhan dengan mendalam, selanjutnya pengembangan budhi untuk mencerahkan hati nurani, baru dilanjutkan pengembangan meta yaitu bakat untuk menjadi SDM terampil dan ahli. Kalau di balik, pendidikan mengutamakan mengembangkan bakat menjadi orang terampil dan ahli dalam suatu bidang, peserta didik bisa mabuk atau gelap hati nuraninya karena merasa ahli. Sayap pelayanan untuk pengabdian atau disebut sevanam. Sayap pelayanan inilah yang merupakan puncak pengamalan ajaran suci Weda. Tidak ada artinya orang rajin memuja Tuhan dan memiliki pengetahuan yang tinggi tentang Weda tetapi mereka menutup mata pada kenyataan alam yang rusak dan terjadinya kesenjangan sosial yang parah. Udara, air dan tumbuhan yang disebut tri chanda dalam Weda tercemar dan merana. Dalam masyarakat ada yang amat kaya dan di sampingnya ada yang amat miskin. Yang kaya tidak hirau pada yang miskin. Inilah yang ditangani dengan sayap pelayanan dalam program Sai Study Group di seluruh dunia. Empat misi dan tiga sayap kegiatan inilah menjadi pegangan pengamalan ajaran suci Weda: Satya, Dharma, Prema, Santi dan Ahimsa. I Ketut Wiana Pengamat Masalah Sosial dan Keagamaan

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. z Buleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati z NTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


TATA RIAS

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 3

Guru PAUD Didaulat Menari

Bayangkan Murid agar tak Grogi “SUKSES!� seru seorang penari Puspanjali di acara Lomba Tata Rias Wajah untuk Menghadiri Undangan Adat Bali dengan Peserta Terbanyak saat menuruni anak tangga panggung.

tkh/sep

I

Ni Ketut Arini

Ni Made Sariyani

bu berkebaya hijau itu lantas tertawa bersama rekan-rekannya di belakang panggung. Suasana belakang panggung itu ramai. Ibu-ibu saling mengevaluasi tarian yang mereka persembahkan. “Saat nyeledet, saya melihat gerakan teman. Lho kok begitu? Ya, diikuti saja,� katanya. Kekeliruan kecil itu tak diketahui penonton. “Tapi bagus Bu,� timpal yang lain. “Kami baru latihan saat gladi resik, langsung dengan penabuh,� ungkap Ni Luh Putu Yogantari guru TK Dwi Tunggal. Tari Puspanjali ini memang acara spontanitas. Sekitar 30

Kegiatan Kreatif Dua Kebijakan PERKEMBANGAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia baru 56%. Ini masih jauh dari target yang diharapkan yakni 75% pada tahun 2015. Untuk mencapai target tersebut, tahun ini Mendiknas sudah mendeklarasikan gerakan nasional PAUD seluruh Indonesia. Ditjen PAUD dan PNFI menjadi satu manajemen. “Tempat Penitipan Anak (TPA), Taman Bermain/Playgroup, TK, dan satuan PAUD sejenis yang berbasis posyandu, BKB, termasuk yang di rumah-rumah ibadah, menjadi satu kesatuan. Ini disebut PAUD. Nanti sebutannya, PAUD TK atau PAUD Taman Bermain,� ujar Dirjen PAUD-PNFI (PAUDNI) Kemendiknas Hamid Muham-

tkh/sep

selama ini bukan menjadi program prioritas pemerintah. Sejak berkembangnya PAUD tahun 1946, dengan berdirinya taman kanak-kanak (TK), PAUD hanya fokus ke TK yang menangani anak usia 46 tahun. Padahal sebenarnya PAUD mencakup kelompok usia 0-6 tahun. Kelompok ini baru dimulai 2002. “Sejak 2010 Mendiknas sudah menetapkan PAUD menjadi salah satu program prioritas yang harus diakselerasi ke depan. PAUD tidak lagi disebut PAUD formal, nonformal ataupun informal. PAUD adalah PAUD,� tegasnya. Hamid Muhammad, Ph.D. Terkait lomba tata rias mad, Ph.D. yang digelar TP PKK Kota Lambannya perkembangan D e n p a s a r b e k e r j a s a m a PAUD secara nasional diakui Hamid Muhammad dikarenakan Bersambung ke halaman 8

Maharani perlu Ketenangan

tkh/sep

DI antara keramaian dalam lomba tata rias wajah yang tercatat dalam rekor Muri urutan ke-4858 ini, ada satu sosok yang berperan penting. Namanya Ni Nyoman Ari Maharani yang bertugas menjadi pewara kegiatan tersebut. “Tiap acara yang dihadiri Wali Kota Denpasar, saya kerap menjadi pewara,� ujarnya. Maharani memang bertugas di Bagian Protokol Setda Kota Denpasar. “Sekitar 80% pegawai di bagian protokol bisa menjadi pewara,� ujar perempuan kelahiran Denpasar, 17 Juli 1985 ini. Bekerja di bagian protokol, mau tak mau, memang harus Ni Nyoman Ari Maharani belajar berbicara di depan umum. “Saya belajar secara Fakultas Ekonomi Unud ini. otodidak,� ungkap sarjana Semua materi yang disampaikan

saat menjadi pewara, disusunnya sendiri. “Saya juga belajar dari senior cara menjadi pewara di acara pemerintah seperti ini,� katanya. Menurut Maharani, menjadi pewara acara resmi lebih mudah dibandingkan menjadi pewara acara santai. “Kalau acara resmi, susunan acara sudah terpaku. Kalau acara santai, harus memiliki banyak perbendaharaan kata agar suasana hidup,� tuturnya. Apalagi, jika acara berubahubah. “Kalau sudah seperti itu, yang diperlukan adalah ketenangan,� katanya. Selain itu, sebagai pewara, menurutnya, wajib memiliki hobi membaca. “Dengan begitu, kita bisa memperkaya perbendaharaan kata,� cetusnya. —rat

Ny. Bintang Puspayoga menjadi salah seorang penari kehormatan dalam tari Tenun bersama ibu-ibu SKPD Denpasar.

guru PAUD se-Kota Denpasar mewakili masing-masing gugus turut serta. “Semua guru yang ikut, rata-rata sudah bisa menari. Kami tinggal memadukan gerakan,� kata Ketut Sudiasih, guru TK Astiti Darma. Meski ini adalah kali pertama guru-guru PAUD menari bersama di depan umum, mereka mengaku tidak canggung. “Supaya tidak grogi, saat menari kami bayangkan yang menonton murid-murid kami saja,� kata Yogantari seraya tertawa. Berbeda dengan mereka, para penari dari kalangan ibuibu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Denpasar lebih siap. “Jadwal latihan kami 10 kali sebelum pentas,� ungkap Ni Made Sariyani, Bagian Promosi Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Sariyani melatih bersama dua pelatih tari; Agung Susila pensiunan SMKI 3 Batubulan dan Ni Nengah Sumetri dari SD 3 Saraswati. Latihan tiap pukul 17.00, selama dua jam di kantor Wali Kota Denpasar. Mereka yang terlibat, pada dasarnya bisa menari. “Ada juga yang senang dan memiliki minat tinggi, tapi belum terlalu bisa menari,� katanya. Selain itu, ibu-ibu SKPD sudah beberapa kali pentas. “Waktu pemecahan rekor Muri lomba tengkuluk lelunakan tahun lalu, ibu-ibu juga

Penabuh Seka Puspasari Banjar Lebah Sumerta, Denpasar, saat pentas

menari. Tetapi saat itu, yang dibawakan tari Pendet. Sekarang, tari Tenun,� ujarnya. Di antara 43 penari itu, ada istri Wakil Gubernur Bali Ny. Bintang Puspayoga, istri Wali Kota Denpasar Ny. IA. Selly D. Mantra, istri Wakil Wali Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara, istri Sekretaris Kota Denpasar Ny. A.A.N. Rai Iswara, istri Ketua DPRD Kota Denpasar Ny. Wayan Darsa, dan istri Pimpinan Kelompok Media Bali Post Ny. Satria Naradha.

Puspasari Banjar Lebah, Sumerta, Denpasar didaulat menjadi penabuh. “Sehari sebelum acara, kami diberi tahu kalau ada tari Puspanjali juga. Kami langsung latihan malam itu juga untuk menyamakan persepsi,� ungkap Ni Ketut Arini, pelatih tabuh. Arini mengaku, tak terlalu sulit untuk menyamakan persepsi antara penabuh. Mereka terbiasa pentas dalam beberapa kegiatan. “Kadang-kadang kami diundang ke Sanur Paradise Plaza untuk pentas,� ujar Arini. Meski begitu, 10 hari sebelum Langsung Latihan Dalam acara tersebut, Seka pentas, mereka berlatih secara

Tarian Puspanjali yang dibawakan guru-guru PAUD se-Kota Denpasar

rutin, selama dua jam. “Kami memang biasa berlatih sebelum pentas. Apalagi kalau ada odalan, gendingnya panjang, jadi harus dihapal,� tutur Arini. Seka yang dibentuk tahun 1979 ini pun beberapa kali tampil di Pesta Kesenian Bali. Saat lomba di Kota Denpasar, penari seka ini menduduki juara harapan pertama. Para penabuh di sekaa wanita ini sudah generasi ketiga. “Beberapa penabuh ada yang tua juga, seperti saya,� kata Arini yang mengelontorkan ide pembentukan seka tabuh wanita di banjarnya ini. —rat


6

Tokoh

NUSANTARA

8 - 14 Mei 2011

IPHI Bali Rintis Koperasi Syariah

M

enghadirkan dua p i m p i n a n Koperhaji Pusat masing-masing Ketua Umum Koperhaji H Sriyono, S.H., M.H., M.B.A. dan Kadiv Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Ir Suhada, M.B.A. selaku pembicara utama saresehan dimaksudkan menyosialisasikan keberadaan Koperhaji sebagai koperasi primer Indonesia. Narasumber lainya, Habib Masyhur Ridlo, S.E. Kadiv Umum Jasa Syariah dan Kerja sama Koperhaji Pusat serta I Gede Indera, S.E., M.M. Kepala Bidang Bina Lembaga Koperasi-UKM Provinsi Bali. “Pendirian koperasi di wilayah ini merupakan kepanjangan operasional Koperhaji yang ada di pusat sekaligus kewajiban

M

tkh/nang

IKATAN Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Bali tengah merintis perindirian koperasi berbasis syariah. Guna mendapatkan gambaran tentang kelayakan usaha dibukanya koperasi tersebut di wilayah Bali beserta cabang-cabang pembantu di daerah, Sabtu (1/5) di aula Stikom Bali digelar sarasehan bersama pimpinan Koperasi Syariah Persaudaraan Haji Indonesia (Koperhaji) Pusat.

Pesta Kerahiman Ilahi

Suasana sarasehan/dialog perintisan Koperasi Syariah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Wilayah Bali

organisasi. Di Bali ini termasuk awal mengingat gairah dan potensi anggota IPHI di Bali cukup bagus,” ujar Ketua IPHI Bali, Ir. Maman Supratman. Menurut Maman, lewat dialog yang juga mengundang lembaga-lembaga ekonomi umat termasuk BPRS, lembaga zakat dan ormas Islam ini dimaksudkan untuk membangun sinergi dengan berbagai komponen. “Yang pasti kami ingin membangun bersama-sama umat untuk memajukan ekonomi Islam di Bali ini,” tegas Maman. Menurut Maman, pendirian koperasi oleh jamaah haji di Bali ini diyakini akan berjalan baik mengingat potensi anggota yang cukup banyak. Dengan jumlah anggota yang selalu bertambah tiap tahun, kata Maman, diharapkan Koperhaji ini nantinya bisa berkontribusi untuk

peningkatan perekonomian umat Islam. “SK-nya sudah turun dengan ketua H. Hasan Aeni, tinggal kami bicarakan lebih lanjut unit-unit usaha apa yang akan dijalankan,” kata Maman. Koperhaji ini merupakan Koperasi Primer Nasional yang berpusat di Jakarta, berdiri Oktober 2010 dengan sistem syariah. Bali merupakan wilayah baru sebagai tempat pengembangan koperasi di daerah. Ketua Koperhaji Pusat Drs. H. Sriyono menjelaskan tujuan Koperhaji meningkatkan taraf hidup anggota khususnya dan masyarakat umumnya. “Selain ini kami ingin berpartisipasi dalam gerakan ekonomi rakyat serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional,” jelas Sriyono. Beberapa unit usaha yang dapat dikembangkan Koperhaji

antara lain jasa keuangan syariah, agen biro perjalanan wisata, pengolahan limbah dan perdagangan umum seperti retail, kontraktor, hotel. Usaha di bidang jasa juga bisa dikembangkan seperti manajemen perhotelen, jasaboga, transportasi. Terkait pengembangan Koperhaji di wilayah dan daerah, Ketua Divisi Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, Ir. Suhada, memaparkan perlu dibina pola kemitraan dengan menggunakan pendekatan optimalisasi koperasi syariah yang sudah ada di daerah masing-masing. Kalangan perbankan di Bali juga menyambut baik rencana pendiran Koperhaji di Bali ini. Seperti disampaikan Afrizal Naim, pimpinan Bank Bukopin Cabang Denpasar, pihaknya siap mendukung permodalan koperasi ini. —nang

Tablig Akbar Motivasi Berhaji dan Bersedekah TIAP muslim pasti menginginkan bisa pergi beribadah haji, namun tidak semua bisa melaksanakannya. Untuk itu perlu kembali dibangkitkan motivasi dengan memahami hakikat ibadah haji. Untuk itu Minggu (1/5), Forum Remaja Masjid (Formad) Denpasar menggelar Moslem Gathering dan Tablig Akbar bertema “The Spirit of Umrah and Hajj” bersama da’i asal Jakarta, Ustaz Zacky Mirza, bertempat Masjid Al Ihsan Sanur. Guna menyemarakkan suasana kegiatan tersebut, panitia juga menghadirkan artis Ibu Kota, Dude Harlino. Di hadapan hadirin yang didominasi kaum hawa, Ustaz Zacky menjelaskan, sesungguhnya ibadah haji itu tak ubahnya miniatur perjalanan hidup manusia. “Seperti juga hidup manusia, pergi haji juga perlu bekal persiapan yang cukup, materi maupun rohani. Demikian pula hidup kita yang akan sampai pada titik berkumpul di akhirat juga memerlukan bekal yang cukup,” ujarnya. Untuk pergi haji ke tanah suci Mekkah harus melewati beberapa tahapan. Demikian juga hidup manusia juga melewati beberapa tahapan. Yang pertama, kata Ustaz Zacky, manusia hidup di alam roh, kemudian pindah ke alam rahim ibu, lantas ditransfer ke alam dunia. “Sesuai namanya, hidup di dunia ini singkat dan hanya sementara. Selanjutnya manusia berpindah ke alam barzah atau alam kubur, untuk kemudian dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar di hari kebangkitkan kelak,” paparnya. Untuk memotivasi berhaji, ia menegaskan, berangkat haji bukan semata-mata soal uang, namun yang terpenting niat yang kuat. “Banyak kejadian, orang yang tidak memiliki uang cukup, atas izin Allah, Insya Allah

Ustaz Zacky Mirza

bisa berangkat haji,” tandasnya. Ia lalu menceritakan sebuah kisah seorang tukang sayur yang bisa beribadah haji karena niatnya yang kuat. Dengan niatnya itu ia sedikit demi sedikit mengumpulkan uang hasil jualannya. Suatu ketika ada pembeli kaya raya yang terkesan terhadap kemauan penjual sayur itu. “Singkat cerita, si kaya raya ini menghadiahi penjual sayur uang Rp 120 juta untuk biaya haji. Penjual sayur ini akhirnya bisa melaksanakan niat-

nya,” ungkap Ustaz Zacky. Tabligh akbar yang dikemas dalam format dakwahtainment ini makin semarak dengan hadirnya aktor Dude Harlino. Di hadapan hadirin, pesinetron dan bintang layar lebar ini lebih banyak berbagi motivasi untuk giat bersedekah. Menurutnya dengan banyak bersedekah apa yang kita niatkan bisa terkabul termasuk niat berangkat beribadah haji. “Insya Allah tahun ini saya akan melaksanakan umrah. Namun, yang terpenting

salah satu kiat agar niat kita terlaksana adalah rajin-rajin bersedekah kepada sesama. Lakukan semampunya,” ujar pemeran film Dalam Mihrab Cinta ini. Tablig akbar yang berakhir menjelang waktu dhuhur itu berlangsung tidak membosankan lantaran diisi dialog interaktif dengan pengunjung. Panitia juga membagibagi doorprize kepada hadirin yang bisa menjawab sejumlah pertanyaan terkait acara. Pembawa acara juga mengajak dua orang hatkh/nang dirin berbagi pengalaman spritiual ketika menunaikan ibadah haji dikemas sedemikian rupa untuk memotivasi hadirin bisa melaksanakan ibadah haji. Sebelum dua pembicara utama tampil, hadirin dihibur penampilan nashid dari anggota Formad. Setelah itu disambung tausiyah Ustaz Asep asal Purwakarta yang mampu membius hadirin dengan gayanya yang kocak. Ustaz ini banyak mengajak hadirin untuk selalu meneladani Rasulullah dengan mengikuti apa yang dicontohkannya. —nang

INGGU 1 Mei lalu, di gereja Katedral Denpasar dilangsungkan Misa Peringatan Pesta Kerahiman Ilahi . Hari itu, hari Minggu pertama sesudah Paskah, Pesta itu ditandai gambar (lukisan) Yesus yang Maharahim dipasang di depan, di samping altar. Sr. Faustina menulis dalam buku hariannya (BukHar) tentang penampakan Yesus 22 Februari 1931, “Sore itu ketika aku berada di kamarku, aku melihat Tuhan Yesus berbusana jubah putih. Tangan kanan-Nya terangkat seperti gestur memberikan berkat dan tangan kiriNya berada di dada-Nya. Dari busana-Nya yang tersingkap di dada-Nya keluar dua sinar besar, yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna putih. Kemudian, Yesus bersabda, ‘Lukiskanlah sebuah gambar tepat seperti yang kaulihat ini dan sertakan tulisan di bawahnya, “Yesus AndalanKu” (Inggis: Jesus I Trust in You) Aku ingin gambar itu dihormati, mula-mula di kapelmu (Inggris: chapel), kemudian di seluruh dunia. Aku berjanji, jiwa yang menghormati gambar itu, ia tak akan binasa. Aku menjanjikan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka mulai di dunia ini., khususnya pada jam kematian mereka. Aku akan membela mereka seperti kemuliaan-Ku (BukHar I:18). Dua sinar itu melambangkan darah dan air. Yang putih melambangkan air yang menguduskan jiwa-jiwa. Yang merah melambangkan darah yang memberi hidup bagi jiwa-jiwa. Dua sinar itu keluar dari kerahiman-Nya ketika hati-Nya dibuka dengan tombak ketika Yesus disalibkan (cf. BukHar I:18). Sr. Faustina Kowalska lahir di Polandia 25 Agustus 1905.

Lukisan/gambar Yesus yang Maharahim dipasang di samping altar gereja Katedral Roh Kudus Denpasar

Sebagai suster ia sering mendapat penampakan Yesus. Semua pengalamannya itu ditulisnya dalam buku hariannya. Kini suster Faustina sudah dibeatifikasi dan dinyatakan sebagai santa, Santa Faustina. Dalam penampakan Yesus kepada Sr, Faustina 22 Februari 1931, setelah berbicara tentang lukisan, kemudian Yesus minta supaya diadakan pesta Kerahiman Ilahi, “Aku mau supaya ada pesta Kerahiman. Aku mau supaya gambar itu diberkati secara mulia pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Hari Minggu itu harus menjadi Pesta Kerahiman.” (BukHar I:18) Kepada Sr. Faustina, Yesus bersabda lagi, “Aku mau supaya hari Minggu pertama sesudah Paskah menjadi Pesta Kerahiman. Mintalah supaya abdi-Ku, Mikael Sopocko (seorang pastor), pada hari itu mengumumkan ke seluruh dunia tentang kerahiman-Ku. Siapa yang pada hari itu mendekati Sumber Kehidupan ia akan menerima pengampunan

atas segala dosanya dan dibebaskan dari hukuman. (BukHar I:130) “Memang benar, hari Minggu pertama sesudah Paskah adalah Pesta Kerahiman Ilahi, tetapi harus disertai perbuatan belas kasihan…” (cf. BukHar II:162). Pilihan Minggu Pertama sesudah Paskah ternyata juga sesuai dengan pertimbangan teologis.dalam kaitannya dengan karya keselamatan. Yesus disalibkan pada hari Jumat Agung menjelang Paskah, Ia minta mulai hari itu dilakukan Novena Agung (doa istimewa sembilan hari berturutturut pada jam yang sama, pukul 15.00) dan berakhir Sabtu menjelang Hari Minggu Kerahiman. Hari Minggu dirayakan. Yesus juga menghendaki agar novena seperti itu juga dilakukan pada kesempatan yang lain (cf. BukHar I:142 dan 231) yang dimulai Jumat. Baik juga tanpa dibatasi dengan novena. Tiap hari pada jam 15.00 siapa pun disilakan berdoa Koronka Kerahiman Ilahi. —mbah harto

Pentas Seni dan Pendidikan Islam

Delapan Siswa SD Wakili Badung

Drs. H.Muhammad, S.H., M.H., dan Drs. Arfa’i Syukri, A.MA tkh/lik

KELOMPOK Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kabupaten Badung telah menetapkan 8 wakil dalam Pentas Keterampilan Seni dan Pendidikan Agama Islam Tingkat SD se-Provinsi Bali 21 Mei mendatang. Penetapan itu dilakukan berdasarkan hasil lomba bertajuk “Pentas Keterampilan Seni dan Pendidikan Agama Islam Tingkat SD seKabupaten Badung”, Sabtu (30/4) di Masjid Nurul Huda,

Tuban. Pesertanya, siswa-siswi SD yang beragama Islam. Ketua KKG PAI Kabupaten Badung Drs. H.M. Arfa’i Syukri, A.MA. menjelaskan, jumlah peserta 197 anak. Mereka mengikuti empat jenis lomba, yakni tilawah dan saritilawah 60 anak, pidato 40 anak, lomba busana muslim 60 anak, dan azan 37 siswa. Pengawas PAI, Kemenag Kabupaten Badung Drs. H. Muhammad, S.H.,M.H., menambahkan, selain menyiapkan

generasi muda berprestasi lewat kegiatan lomba. pihaknya menggelar pembinaan berupa pelatihan maupun pertemuan rutin bulanan dengan guru agama Islam. “Pertemuan biasanya diisi tukar pendapat terkait penyusunan silabus, RPP, metode pembelajaran, dan informasiinformasi terbaru terkait pendidikan Islam,” jelasnya. Arfa’i menjelaskan aspek penilaian tilawah dan saritilawah antara lain fashohah dan adab, ketepatan tajwid, lagu dan suara, intonasi dan ekspresi vocal. Penilaian lomba azan mencakup kefasihan, adab, vokal dan kejernihan suara, lagu dan variasi nada. Penilaian lomba pidato dari aspek kesesuaian isi, bahasa, ekspresi dan intonasi. Ditetapkan delapan siswa yang menjadi wakil Badung dalam Pentas PAI Provinsi Bali, yakni Lomba Pidato Aluf Ro’siya Rabah (SD 4 Tuban) dan Dika Putri Kartika Sari (SD 6 Jimbaran), Lomba Tilawah dan Sari Tilawah Mohammad Rosi Saputra dan Muh. Agung Tri Laksono (SD 2 Tuban), Lomba Azan dan Iqomah Saiful Rifki Adnan (SD 1 Tuban) dan Ryan Dion Fadjuani Baedlawi (SD 2 Tuban), Busana Muslim Bellatrik Kadarwati P dan Ranu Febriyan Harisma (SD Cahaya Bangsa Kuta). –lik

Upaya Lahirkan Calon Dai INDONESIA memerlukan banyak pendakwah agama. Untuk itu perlu diadakan pembinaan generasi muda untuk menjadi dai. Lomba pidato agama Islam dijadikan salah satu cara mencari bibit unggul dai Islam. “Lomba pidato juga untuk melatih mental anak-anak,” ujar Ketua KKG PAI Badung Arfa’i Sukri. Ia menambahkan, pelatihan keterampilan dai bisa dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler pengajaran agama Islam. “Materi pidato bisa terkait sejarah Islam atau rukun tkh/lik Aluf Ra’siyah Rabah Islam. Sehingga, lewat pidato secara tidak langsung siswa ju- Provinsi Bali. “Tahun 2010, pidato ia siapkan bersama ayahga belajar tentang agama,” Ra’siyah juara I Pentas Seni se- nya. Tema yang dipilih “Menkatanya. Kabupaten Badung, tahun 2011 syukuri Nikmat Allah”. “Panitia kembali menjadi wakil Badung,” menyediakan judul. Peserta Dua Kali Wakili Badung katanya. yang mengembangkannya,” ujar Aluf Ra’siyah Rabah meruRa’siyah menuturkan, bel- siswa kelas V SD 4 Tuban ini. pakan salah seorang siswa yang ajar pidato Islam dari ayahnya, Ra’siyah juga aktif menjadi bercita-cita menjadi dai. Pen- Abdur Rasyid Hani yang kerap MC di berbagai acara keagamaan capaian cita-cita itu sedikit de- menjadi MC di berbagai acara. di lingkungan tempat tinggalnya. mi sedikit telah ia rintis. Hasil- “Di sekolah tidak ada ekstra- “Mungkin Ini yang membentuk nya, Ra’siyah telah dua kali kurikuler pidato Islam, jadi saya mental Ra’siyah sehingga berani menjadi wakil Badung dalam lebih banyak belajar di rumah,” tampil di depan umum,” kata lomba Pentas Seni tingkat katanya. Materi dalam lomba ibunya, Masyani. —lik


TRENDI

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 5

Fixie ibarat Gula Sepeda Fixie Minimalis dan Limited Edition S Kehadiran sepeda fixie bukan hanya sebagai alat transportasi. Sepeda fixie sudah menjadi gaya hidup di kalangan anak muda. Sepeda yang bisa dirakit dengan pilihan warna sesuka hati ini awalnya digunakan artis-artis di Jakarta. Kini, penggunanya sudah merambah hingga ke Denpasar.

R

abu sore Dobi bersiap dengan sepeda fixie warna kuning miliknya. Sore itu ia akan berkumpul dengan temantemannya di Renon untuk acara Rabu Ride. Mengayuh sepeda dari Padangsambian menuju Renon bukan masalah bagi pria yang memiliki nama lengkap Ida Bagus Dobi Suandika ini. Ia termasuk remaja yang rajin berolahraga khususnya basket.

Santoso Lie

tkh/sep

“Awalnya saya hanya mendengar dari teman-teman soal sepeda fixie. Fixie sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Saya penasaran lalu mencari informasi. Ternyata sepeda fixie itu cocok untuk anak muda. Sepeda bisa dirakit sendiri sesuai keinginan dan warna yang dipilih juga sesuai kehendak hati. Warna mencolok biar kelihatan seru,” ujar siswa SMAN 1 Denpasar ini. Dobi pun mendatangani toko sepeda Planet Bike untuk

Sepeda fixie yang digandrungi anak muda

mencari bagian-bagian yang akan dirakit menjadi sepeda fixie. Karena ingin membuat sepeda fixie berkualitas tinggi, ia pun memilih bagian-bagian yang bagus walau konsekuensinya harga lebih mahal. “Total biaya untuk membuat sepeda rakitan ini Rp 3 juta,” kata penggemar yang ikut komunitas Good Boys Ride Fixie ini. Dengan fixie model ride yang belakangan ia ubah menjadi model trick, Dobi kerap berkumpul dengan penggemar fixie. Selain bersepeda hingga ke Seminyak dan Kuta, anakanak muda ini juga sering berdiskusi tentang fixie dan tukar informasi mengenai sepeda ini. Hal ini patut diacungi jempol. Daripada mereka melakukan kegiatan yang tidak berguna dan berdampak negatif, jauh lebih baik baik mereka bersepeda sambil menambah wawasan dan teman. Budiawan, pemilik Planet Bike mengakui anak muda merupakan segmen fixie. Sepeda dengan warna-warna norak ini mencermin jiwa muda yang penuh dengan gejolak. Perkembangan fixie di Bali tak bisa dilepaskan dari tren yang terjadi di Jakarta. “Banyak artis-artis yang menggunakan sepeda fixie, misalnya Tora Sudiro dan DJ Riri. Kalau sudah artis yang pakai, anak muda pasti ingin. Dampak ini yang terjadi. Anak muda pun keranjingan fixie,”

paparnya. Pria asal Tabanan ini menambahkan jika dulu anak muda memilih motor sebagai alat transportasinya, kini bisa dibilang ada perubahan. Ia memperkirakan persentasenya 50:50 antara pengguna motor dengan pengendara sepeda. Ini dibuktikan dengan seringnya terlihat gerombolan anak-anak muda naik sepeda di sore dan malam hari. Aneka sepeda melaju di jalan raya. Namun, fixie selalu menjadi pusat perhatian. “Fixie itu memiliki keunikan karena gayanya minimalis, warnanya norak, limited edition, dan menjadi bagian dari lifestyle. Makanya jarang ada orang pakai sepeda fixie menggunakan pakaian olahraga. Kombinasi gaya pakaian dan sepeda yang unik inilah yang mendapat perhatian. Saya yakin, kalau ada 2 orang naik sepeda di jalan raya. Satu pakai MTB, satu pakai fixie, pasti fixie yang lebih diperhatikan,” ujar pria yang juga gemar bersepeda ini. Sepeda fixie ada dua, rakitan pabrik atau rakitan sendiri. Untuk rakitan pabrik, ada merek Zenith FX keluaran Polygon. Sepeda ini dibandrol mulai harga Rp 3,9 juta. Menurut Budi, pabrik sangat memperhatikan ciri khas fixie khususnya pembatasan. Artinya limited edition ini sangat dijaga. “Polygon hanya mengeluar-

kan 100 unit sepeda fixie. Kami tahu sepeda fixie sedang digemari. Karena itu, kami berupaya melayani konsumen yang ingin memiliki fixie. Tetapi kami tetap fokus di mountain bike (MTB),” ungkap Santoso Lie, Head of Public Relations and Communications Polygon. Alumnus Universitas Bina Nusantara Jakarta ini mengakui fixie menjadi tren di kalangan anak muda yang ingin menunjukkan tkh/sep aktualisasi diri. Salah satunya caranya dengan membuat sendiri sepeda yang sesuai dengan jati diri mereka. Di kalangan pemilik fixie, jarang sekali ditemukan sepeda model sama. Masingmasing pemilik ingin membuat sepeda dengan ciri khasnya sendiri. Untuk keamanan, ada tiga model rem, doltrap, torpedo, dan free wheel dengan rem depan. Untuk merakit sepeda fixie, Budiawan memberikan langkahlangkahnya. Pertama pilih bodi dan garpu yang sudah menjadi satu bagian. Pilihannya ada besi dan aluminium. Selanjutnya pilih pelek. Ada ukuran 3 cm, 4 cm, atau 5 cm. Kemudian pilih blok depan dan belakang berikut roji dan ban. Langkah berikutnya pilih crank yang berisi gear dan tongkat pedal sekalian dengan pedal. Lalu pilih tiang sadel, sadel, dan pengunci. Untuk stang, ada tiga pilihan, bull bar, stang balap, atau race bar. Pegangan stang dengan adaptor atau bentuk bangau bisa menjadi pilihan. Jangan lupa memilih selop untuk stang. Setelah semua bagian lengkap, barulah memilih aksesoris seperti lampu. Jika ditotal, biaya yang dikeluarkan Rp 1,5 jt. Tetapi itu tergantung stok barang yang tersedia. Selanjutnya pemilik tinggal merakit yang memerlukan waktu 4 jam. Begitu sepeda selesai, acara menggowes pun bisa dimulai. –wah

“Semangat Asli Indonesia bersama Kesegaran Teh Botol Sosro” Objek foto:

Harus mengandung unsur Teh Botol Sosro Biaya Rp 75.000 sudah termasuk: 1. Pendaftaran lomba foto + satu liter Teh Botol Sosro 2. Pendaftaran workshop fotografi + makan siang + kudapan 3. Pendaftaran lomba foto on the spot 4. Sertifikat peserta

Hadiah:

Sekretariat Koran Tokoh Gedung Pers Bali K. Nadha Lantai III Jln. Kebo Iwa 63 A Denpasar, Bali Tlp. 0361-425373

Juara 1 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 2.000.000 Juara 2 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 1.500.000 Juara 3 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 1.000.000 Juara Harapan (3 orang): @ Sertifikat, Bingkisan, Uang Tunai Rp 750.000 Juara Favorit Pilihan Facebooker (1 orang): Sertifikat, Bingkisan, Uang Tunai Rp 750.000

WORKSHOP FOTOGRAFI DAN LOMBA FOTO ON THE SPOT Tema Workshop: Mahir Memotret Model

Narasumber: Anom Manik

Waktu Kegiatan: Hari/Tanggal : Minggu, 29 Mei 2011 Waktu : 09.00 - selesai Tempat : Wantilan Bali TV, Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar Dicari: Tiga Pemenang Lomba Foto on the Spot. Rebut Berbagai Macam Doorprize Menarik!

Waktu kegiatan: Batas akhir pengumpulan foto : 18 Mei 2011 (cap pos) Penjurian foto : 20 Mei 2011 Pemilihan foto favorit : 21 Mei – 28 Mei 2011 terakhir pukul 12.00 wita Pengumuman pemenang : 29 Mei 2011 Penyerahan hadiah : 29 Mei 2011

Contact Person: Ayu/Agus (0361-425373), Ratna (081 657

Budiawan

tkh/wah

mendatangkan berkah. Anakanak muda yang mau tahu tentang sepeda ini biasanya bergerombol ke toko. Dari luar akan terlihat, toko ramai. Eksesnya, orang-orang berdatangan, mulai dari sekadar melihat-lihat atau langsung membeli. Untuk merakit sepeda fixie, Budiawan memberikan langkah-

langkahnya. Pertama pilih bodi dan garpu yang sudah menjadi satu bagian. Pilihannya ada besi dan aluminium. Selanjutnya pilih pelek. Ada ukuran 3 cm, 4 cm, atau 5 cm. Kemudian pilih blok depan dan belakang berikut roji dan ban. Langkah berikutnya pilih crank yang berisi gear dan tongkat pedal sekalian dengan pedal. Lalu pilih tiang sadel, sadel, dan pengunci. Untuk stang, ada tiga pilihan, bull bar, stang balap, atau race bar. Pegangan stang dengan adaptor atau bentuk bangau bisa menjadi pilihan. Jangan lupa memilih selop untuk stang. Setelah semua bagian lengkap, barulah memilih aksesoris seperti lampu. Jika ditotal, biaya yang dikeluarkan Rp 1,5 jt. Tetapi itu tergantung stok barang yang tersedia. Selanjutnya pemilik tinggal merakit yang memerlukan waktu 4 jam. Begitu sepeda selesai, acara menggowes pun bisa dimulai. –wah

Bengkel Sepeda Kecipratan Tren sepeda fixie ternyata memberi keberuntungan juga untuk bengkel sepeda. Beberapa pembeli sepeda memilih merakit sepedanya di bengkel sepeda. Salah satu bengkel sepeda yang melayani perakitan fixie adalah Wayan Sukarta (40) di Jalan Nangka Utara. “Untuk merakit satu fixie memerlukan waktu 3-4 jam. Biaya merakit untuk velg besar Rp 60 ribu, velg biasa Rp 20 ribu,” ujar pria yang sudah menekuni profesinya sejak 12 tahun silam. tkh/sep Suami Nym. Sukri (38) Wayan Sukarta dibantu istrinya sedang merakit sepeda fixie di bengkelnya ini menambahkan sepeda fixie memiliki keunggulan model dan saat ini sedang tren di masyarakat. Dalam satu hari, Sukarta bisa menyelesaikan perakitan tiga sepeda fixie. “Lumayanlah untuk menambah Mensyukuri pencapaian 100 juta pelanggaan serta menyambut pendapatan keluarga,” ujar ayah perayaan HUT ke-16, Telkomsel mempersembahkan berbagai kegiatan menarik kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan yang Luh Putu Juliantari (17) ini.

SEKITARKITA

Gebyar HUT Telkomsel

“Untuk merakit satu fixie memerlukan waktu 3-4 jam. Biaya merakit untuk velg besar Rp 60 ribu, velg biasa Rp 20 ribu” Menurut Budiawan, pemilik Planet Bike, bengkel yang merakit sepeda fixie di Denpasar masih kurang. “Di Bandung, bengkel rakit sepeda fixie bertebaran. Biasanya mereka buka di dekat toko sepeda. Di toko sepeda bisa saja merakit tetapi karena konsumen banyak jadi harus antre. Makanya konsumen memilih di bengkel. Ini merupakan peluang bisnis yang menguntungkan,” tandasnya. Untuk merakit sendiri di rumah juga bisa asalkan konsumen memiliki kunci-kunci lengkap. “Kalau di toko merakit bisa 2 hari karena kesibukan harus antre. Kalau di bengkel antara 3-4 jam selesai,” imbuh Budiawan. —sep,wah

Lomba Foto Koran Tokoh & Teh Botol Sosro

Syarat dan Ketentuan: 1. Hasil pemotretan dengan kamera digital. 2. Karya asli peserta dan belum pernah menang lomba atau tidak sedang terikat kontrak dengan pihak lain. 3. Kirim dalam bentuk cetak ukuran 5R paling banyak 5 karya untuk setiap peserta disertai copy foto dalam CD berupa file JPEG sisi terpanjang minimum 3000 pixel resolusi 300 dpi minimal 2 MB. 4. Peserta wajib menyertakan informasi tentang judul foto, lokasi pemotretan, nama, alamat dan nomor telepon atau handphone yang mudah dihubungi pada selembar kertas yang ditempel pada bagian belakang foto. 5. Peserta wajib menyertakan informasi tentang judul foto, lokasi pemotretan, nama, alamat dan nomor telepon atau handphone yang mudah dihubungi pada selembar kertas yang ditempel pada bagian belakang foto. 6. Foto bersama CD dikirim dalam amplop tertutup dengan mencantumkan tulisan ‘Lomba Foto Koran Tokoh dan Teh Botol Sosro’ di sudut kiri atas amplop Foto Koran Tokoh danPanitia dikirim Lomba ke:

epeda fixie mengusung konsep minimalis dan identik dengan norak. Warna sepeda fixie kebanyakan warna-warna mencolok, seperti merah, kuning, oranye, dan pink. Makin tidak serasi warna yang dipadukan, makin mudah menarik perhatian orang. Ini juga yang membuat banyak anak muda kepincut sepeda single gear atau fix gear ini. “Perkembangan teknologi juga membuat informasi tentang fixie menjadi cepat. Apa yang tren di Jakarta cepat merambat ke daerah termasuk Bali. Karena penggemar banyak, otomatis toko sepeda kecipratan. Sepeda fixie ibarat gula. Orang jadi berdatangan ke toko sepeda,” ungkap pemilik Planet Bike, Budiawan. Pria yang baru lima tahun mengelola toko sepeda ini menuturkan, kehadiran sepeda fixie

diusung Telkomsel tidak hanya sekadar penjualan produk telekomunikasi dengan harga terjangkau namun juga melakukan kegiatan rohani dan berbagai dukungan terhadap dunia pendidikan, sosial hingga pagelaran hiburan gratis. GM Sales & Customer Service Telkomsel Regional Bali Nusra, Syaiful Bachri mengatakan, Bulan Mei merupakan bulan yang spesial bagi Telkomsel, karena itu Telkomsel akan memberikan sesuatu yang istimewa untuk masyarakat Bali. Kegiatan tersebut diantaranya roadshow Panggung Keliling (Pangling) Kartu As bekerjasama dengan SCTV, TelkomselBlackBerry Roadshow (3- 9 Mei) di Mall Bali Galeria, Kuta. Peresmian penggunaan pembayaran SPP secara digital dengan menggunakan layanan T-Cash oleh siswa SMA Negeri 1 Singaraja. Telkomsel juga menggelar Dharma Shanti pada pertengahan bulan Mei. Dharma Shanti Telkomsel nanti akan diisi dengan ceramah keagamaan, pertunjukan seni dan musik kerohanian, serta pengumuman 20 orang pemenang TELKOMSEL Ibadah Hindu dengan hadiah tirtayatra ke India. –wah

Dana Punia XL Program dana punia melalui SMS yang digarap XL bekerja sama dengan PHDI Bali mendapat respons positif dari masyarakat. Hal ini terungkap setelah dilakukan sosialisasi ke banjar-banjar. Bahkan ada usulan agar punia untuk Pura-Pura yang ada di Bali ini tidak hanya terbatas nominal Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu. Ada yang mengusulkan hingga Rp 100 ribu. Saran lainnya, dana punia bisa dilakukan secara otomatis tiap bulan agar pelanggan XL tidak repot berkali-kali mengirim SMS. Menurut GM Sales Operation East II Dji Yannes yang didampingi Martono, Manager Management Service East Region, semua saran itu akan ditampung dan ditindaklanjuti. 13 Pura yang mendapat donasi adalah Pura Besakih, Ulun Danu Batur, Sakenan, Luhur Pasatan, Segara Rupek, Batukaru, Kancing Gumi, Pusering Jagad, Goa Lawah, Pulaki, Lempuyang Luhur, Silayukti, dan Andakasa. Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana berharap punia ini tidak hanya dilakukan XL tetapi semua perusahaan yang beroperasi di Bali. Menurutnya, lancarnya perekonomian Bali tak lepas dari taksu Bali yang memiliki ribuan Pura ini. Ke depan, jumlah Pura yang mendapat punia akan ditingkatkan lagi. —wah

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

OTOKRITIK ... KULTUR SURIAK SIU (2) PADA edisi sebelumya, saya menulis salah satu revolusi mental yang harus segera dituntaskan adalah menghapus rasa iri hati (matsarya) di kalangan sesama manusia Bali. Walau tampak remeh, tapi masalah jele iri hati ini sudah sangat menggejala dan bahkan sudah mendarah daging. Perasaan iri hati ini bukan hanya dimiliki oleh sekelompok elite atau tokoh masyarakat mapan saja, tapi sudah sampai menggejala hingga di keluarga-keluarga di desa. Contoh lainnya adanya konflik desa adat, dualisme lembaga agama, persaingan para bangsawan di puri-puri di segala hal, sikap un-fair para politisi hingga urusan niskala macam budaya cetik, black magic, ilmu desti yang masih ada di sekitar kita, ya itu adalah akibat sifat iri hati yang sudah men-DNA dalam darah manusia Bali. Hanya sedikit dari saudara kita, punya sikap sportif, positive thinking, dan sikap gentleman atas prestasi dan perjuangan orang lain. Nah, karena itulah saya ingin sedikit menyampaikan dampak turunan dari sikap iri hati itu tadi secara khusus, yakni dengan munculnya sikap dan kultur suriak siu. Agak susah mengartikan “suriak siu” dalam bahasa Indonesia memang, tapi lebih kurang berarti bersorak-sorai beramai-ramai, sikap yang hanya berani bersuara dan bertindak dalam gerombolan massa. Lebih gampangnya (meminjam istilah anak muda), ya sikap pengecut dari warga kita yang tidak berani bersuara dengan kesendiriannya. Hal ini bisa dilihat dari keberanian sikap generasi Bali yang agak kurang berani beragumentasi di depan umum. Ibaratnya jika sudah berhadapan satu banding satu, face to face, mereka sangat non-debatable dan tidak percaya diri. Anti-tesisnya, sikap suriak siu ini akan versus dengan kultur de ngaden awak bise dan kultur depang anake ngadanin, tentu dua kultur ini akan pasti dimunculkan dalam kondisi orang Bali sebagai individu dan personal, bukan ketika mereka berada dalam komunitas seribu. Hal lainnya, saya menilai, di kalangan anak muda Bali, kita masih sangat melihat sikap suriak siu ini dengan kentara, semisal bagaimana sikap-sikap fair, sikap ksatria kerap dikalahkan oleh faktor kuantitas atau jumlah. Banyak anak-anak muda Bali yang cerdas dan brilian dalam organisasi seka teruna-teruni, tapi suara mereka tenggelam dengan suara suriak siu teman-teman mereka yang (kebetulan) kurang cerdas tapi punya banyak pendukung yang sama-sama kurang cerdas pula. Hal senada juga terjadi di lingkungan desa pakraman, bahwa masih

ada sumber daya manusia Bali yang pintar-pintar, bergelar sarjana dan punya pengalaman yang mumpuni, tapi kadang mereka tidak pernah dilibatkan atau diajak bicara dalam paruman warga, ya itu dia, karena faktor iri hati yang berlebihan dan juga membludaknya budaya suriak siu. Maka tak heran, banyak awig-awig, keputusan paruman, sanksi-sanksi warga (kasepekang) dominan disutradarai oleh pimpinan jenis suriak siu. Logikanya, suara-suara orang pintar, orang cerdas dan terdidik akan kalah di tataran gerombolan suriak siu. Tentu hal ini sangat berlawanan pada mental character building yang ditanamkan Bung Karno dalam gerakan revolusi karakter. Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Suci Weda Itihasa Maharabata, diajarkan bahwa peran Panca Pancawa pada awalnya memang terkubur dengan suriak siu-nya Kurawa yang berjumlah mayoritas. Tapi akhirnya suara kebenaran Pancawa yang berjumlah lima ini, akan tetap bisa mengalahkan jumlah mayoritas bodoh dan dengki walau berjumlah 20 kali lipat itu. Dan sastra Weda sudah menjamin, selama kita berani bersuara demi dharma maka dharma itu akan melindungi kita. Lalu apa yang seharusnya dapat kita lakukan? Yang pertama, mari dimulai dari keluarga. Setiap keluarga orang Bali agar mendidik putraputrinya menjadi generasi yang jujur, sportif, berani bersuara akan kebenaran. Tentu saja, orang-orang tua kita di Bali juga harus memberikan contoh dan teladan dalam merevolusi sikap itu. Yang kedua, perbaiki sistem kepemimpinan di semua tataran di Bali. Gejala kepemimpinan suriak siu biasanya muncul dari pemimpin yang tidak cerdas, berpendidikan rendah, non-karismatik dan tidak percaya diri. Jangan lagi menempatkan pemimpin feodal yang antidemokrasi yang menjadikan suriak siu sebagai tameng kepemimpinan. Bongkar dan bongkar sekarang juga! Otokritik ini saya persembahkan untuk diri saya, yang mewakili jutaan jiwa-jiwa anak muda Hindu di Indonesia ini, yang mungkin hingga detik ini belum memperoleh kesadaran bahwa “bersatu itu kuat dan kuat itu karena bersatu”. Jika Bali kuat dan bersatu-padu, maka tak langsung kita akan membantu kondisi bangsa Indonesia yang sedang sakit ini. Bali harus menjadi teladan, dan keteladanan itu cuma bisa muncul dari hati yang bersih, jiwa yang sehat dan kecerdasan spiritual yang tinggi sebagaimana yang dicontohkan oleh leluhur kita.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI / PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


4

Tokoh

8 - 14 Mei 2011

MEMBANGUN DARI DESA

Manfaat Garam untuk Budidaya Perikanan

Anda Bertanya Kami Menjawab Budidaya Lele di Jamban? Saya mendengar isu yang tidak mengenakkan. Saking mudahnya memelihara lele, saya sampai tidak berani membeli pecel lele. Ada info, lele itu dipelihara di jamban. Apakah benar seperti itu terjadi? Sering orang memelihara belut di jamban kotoran babi dan diisi jerami di atasnya. Hingga belut itu cepat sekali besar. Tidakkah ada pengaruhnya jika kita memakan belut yang memakan kotoran itu, misalnya kita menjadi gatal? Pak Santa Ubud Jawaban Sebaiknya Pak Santa sekalikali jalan-jalan ke tempat pembudidayaan lele. Apakah benar mereka memelihara dengan cara seperti itu. Sebenarnya kabar lele tahan banting dan bisa hidup di mana saja, pada kondisi yang paling kotor sekalipun, seperti di jamban (kakus) itu, tidak benar. Dalam

kondisi keasaman tertentu, seperti di jamban lele tidak akan bisa hidup dengan baik. Kabar seperti itu mungkin diembuskan zaman dulu, namun zaman sekarang pembudidaya sudah tidak sulit lagi memelihara lele, sudah ada teknologinya yaitu pembudidayaan lele kolam terpal. Jadi tak perlu susahsusah memelihara lele di jamban. Kalau ada yang melepaskan lele ke jamban, itu hanya iseng, bukan untuk tujuan produksi yang dipasarkan. Budidaya lele sekarang sudah sehat, karena sudah ada pakan lele yang disediakan untuk itu. Di sekitar Ubud, misalnya di Tegalalang dan Kedewatan, banyak pembudidaya lele yang menggunakan kolam terpal. Terkait belut, memang kalau lingkungan yang terlalu kotor tidak akan mengasilkan ikan yang aman untuk dikonsumsi. Mestinya para pembudidaya menggunakan probiotik untuk keamanan air yang dipakai budidaya. Hingga tidak menimbulkan hal-hal negatif seperti

yang dikhawatirkan Pak Santa. Narasumber Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Anjing Diikat Jadi Galak? Rabies sangat menakutkan. Tetapi, susah juga kalau anjing sudah gede diikat, malah jadi galak. Mengapa anjing yang diikat menjadi galak? Bagaimana cara mengajak anjing jika diajak jalan, olahraga pagi misalnya? Bagaimana tips memelihara anjing secara baik dan benar? Nyoman Rudita Tampaksiring Jawaban Anjing galak karena ia protes/ berontak. Anjing juga perlu bersosialisasi. Pemilik anjing yang memelihara anjing dengan cara mengandangkan atau merantai harus tetap mengajak anjing kesayangannya berjalan-jalan dengan tetap memperhatikan faktor keamanan. Gunakan rantai

untuk memudahkan mengendalikan anjing dengan panjang 1-2 meter. Untuk anjing yang agresif (galak) gunakan bronsong mulut (muzzle mouth) saat diajak jalanjalan. Jangan biarkan anak-anak (di bawah 15 tahun) mengendalikan anjing tanpa pedampingan orangtua atau orang dewasa. Berikankan pakan dan air minum dalam jumlah yang cukup serta dapat dijangkau anjing. Mandikan 1-2 kali seminggu untuk mencegah penyakit kulit. Ajak anjing bermain dan jalanjalan. Sediakan rumah/kandang untuk berlindung dari panas dan hujan, alas tidur yang bersih, lembut, dan nyaman. Periksakanlah anjing kesayangan secara berkala ke dokter hewan, vaksinasi lengkap termasuk vaksin rabies. Pemberian obat cacing tiap 3 bulan sekali. Sterilisasi untuk mencegah kelahiran anak-anak anjing yang tidak diinginkan. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Kelompok Tani Lumbung Pusaka Leluhur

Memiliki “Tabungan” 2 Ton Bibit

Sebidang lahan yang dikelola petani Kelompok Lumbung Pusaka Leluhur

TIAP kali musim tanam tiba, para petani di di Dusun Paik, Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, selalu meminjam uang kepada rentenir dengan bunga yang tinggi untuk membeli bibit padi dan tanaman hortikultura seperti tembakau dan untuk kebutuhan pemeliharaan lainnya. Jeratan rentenir dengan pinjaman berbunga tinggi ini kerap membuat mereka kesulitan karena terlilit utang yang harus dibayar tiap kali musim panen tiba sehingga mereka tidak dapat menikmati hasil panen dengan maksimal. Bahkan mereka kerap merugi karena hasil panen sering tidak mampu menutupi pinjaman dari rentenir yang telah berbunga tinggi itu. Demikian penuturan Mulyadi Fajar, ketua kelompok tani di Desa Pandan Wangi kepada wartawati Koran Tokoh. Berangkat dari kondisi ini, para petani di daerah ini sepakat membentuk sebuah perkumpulan sebagai tempat mereka berkumpul, berdiskusi, berbagi dan saling membantu untuk meringankan beban ekonomi terutama untuk kebutuhan penanaman dan pemeliharaan tanaman dengan membentuk kelompok tani yang diberi nama Lumbung Pusaka Leluhur. Kelompok tani yang terbentuk tahun 2005 ini yang kini beranggotakan 72 petani di desa

tersebut telah memberikan banyak manfaat bagi mereka. Mulyadi Fajar menjelaskan, perkumpulan ini sebagai wadah silaturahmi yang dapat mempererat persaudaraan sehingga membuat rezeki menjadi lancar karena kebersamaan yang mereka bangun dilandasi rasa senasib. Mereka dapat bergotong royong dan saling menolong jika kesulitan datang. Kegiatannya antara lain mengumpulkan padi atau gabah tiap kali musim panen tiba dari masing-masing anggota yang disimpan sebagai semacam kas mereka. Padi atau gabah ini digunakan atau boleh dipinjamn saat anggota yang membutuhkannya yakni saat menjelang musim tanam atau penggarapan sawah. “Pinjaman ini akan dikembalikan saat panen dengan persentase kelebihan pengembalian 20% dari jumlah pinjaman tersebut,” kata Mulyadi. Misalnya, jika anggota meminjam satu kuintal, ketika musim panen, mereka mengembalikannya satu kiintal lebih 20 kg. Tidak hanya gabah atau padi yang dapat dipinjam, juga uang untuk biaya pemeliharaan atau perawatan selama musim tanam. Kelebihan pembayaran tersebut ditabung untuk kepentingan anggota, yang tiap saat dapat dipinjam bahkan tidak harus untuk kebutuhan tanam dan perawatan, melainkan juga

Kegiatan petani Kelompok Lumbung Pusaka Leluhur menjemur gabah

untuk kebutuhan sehari-hari. Jika anggota meminjam uang, namun tidak dapat mengembalikannya dalam bentuk uang dapat mengembalikannya dalam bentuk padi atau gabah seharga pinjaman ditambah kelebihannya. Mereka bersepakat, jika panen tidak terlalu baik mengingat akhir-akhir ini cuaca tidak dapat ditebak sehingga panen sering gagal, mereka tidak harus mengembalikan pinjaman tersebut saat itu melainkan dapat mengembalikannya pada panen berikutnya. Jika panen sedikit, kelompok ini tidak memaksa anggotanya untuk mengembalikan pinjamannya, melainkan boleh digunakan untuk keperluan keluarga lebih dulu. Pinjaman tersebut bisa dibayar pada panen berikutnya dengan kelebihan 40%. “Jika panen baik berikutnya, tidak jarang anggota peminjam yang dengan kesadaran sendiri mengembalikannya lebih dari itu. Karena, semua itu akan kembali untuk membantu anggota lainnya,” ujar Mulyadi Makin lama, tabungan cadangan kas mereka makin ba-

nyak sehingga dapat membantu para anggotanya yang rata-rata memiliki lahan sendiri sebagai warisan leluhur ini lepas dari jeratan rentenir. Hingga tahun 2010, kas kelompok tani ini berkembang pesat dengan ‘tabungan’ dua ton bibit dan lebih dari dua ton padi yang dapat digulirkan sebagai pinjaman kepada anggota. Benih Padi Gunung Usaha lain yang dilakukan kelompok tani ini, memperbanyak benih padi gunung yakni padi merah dan padi lase di tujuh titik di daerah tersebut. Namun, upaya ini masih gagal karena dalam cuaca panas rata-rata benih mati. Ke depan upaya memperbanyak benih padi gunung ini akan terus dilakukan demi meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok. Saat ini upaya memperbanyak benih padi hitam dan padi merah juga tengah dilakukan di Kecamatan Terara, Lombok Timur. Secara bersama-sama anggota kelompok tani ini melakukan pembibitan minyak nabati

HUJAN menyebabkan ikan mengalami gangguan. Banyak ikan yang kelihatan stres, terutama yang dibudidayakan di air tergenang. Semua ini disebabkan perubahan lingkungan. Mengenai pemanfaatan garam pada ikan, yang digarami bukan ikan yang berada di lautan, namun ikan yang berada di kolam atau di aquarium. Garam di dalam budidaya ikan memiliki beberapa fungsi. Ada suatu mekanisme di dalam tubuh ikan dengan lingkungannya berkaitan dengan garam ini. Tubuh ikan itu juga menyimpan garam yang dikonsumsi lewat pakannya. Garam yang ada dalam tubuh ikan, pada suatu kondisi tertentu bisa terganggu/bisa keluar dari tubuh ikan, misalnya tersebut terluka dan stres. Ketika ikan mengalami gangguan fisiologis akan terganggu keseimbangan dalam tubuhnya. Ikan yang dipelihara dalam satu tempat yang airnya tergenang seperti lele, ketika dalam kekentalan air tertentu, tiba-iba bisa terjadi pengenceran karena hujan. Saat terjadi pengenceran itulah garam itu bisa tertarik keluar melalui insang. Hal ini mengakibatkan ikan akan mengalami gangguan fisiologis dan ikan akan sakit. Gangguan fisiologis bisa dirinci dampaknya, pada proses insimatif, proses sirkulasi darah pertukaran hemoglobin dan sebagainya. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengatasinya. Di sinilah saatnya garam diperlukan. Biasanya ketika hujan deras ikan yang biasa dipelihara di kolam tergenang itu akan mengalami gangguan yang ditunjukkan/dikenal secara awam itu mengalami stres, hingga mengalami kematian. Semua ini bisa terjadi karena ikan mengalami dehidrasi kemudian terganggunya osmoregulasinya (keseimbangan tekanan osmosis antara lingkungan dan bagian dalam tubuh ikan). Garam bisa sebagai penyeimbang tekanan osmosis antara dalam tubuh ikan dan di luar tubuhnya. Garam juga berfungsi sebagai pengendali parasit tertentu misalnya ekto parasit (parasit yang menyerang di bagian luar tubuh). Spesies jamur dengan kadar garam tertentu juga bisa dikendalikan. Garam ini juga bisa mengendalikan pengaruh negatif nitrit dan amoniak. Kalau dalam lingkungan budidaya itu banyak terjadi pembongkaran bahan organik maka akan menghasilkan amoniak, dan akan teroksidasi menjadi nitrit bersifat beracun pada ikan. Kalau nitrit ini masuk ke dalam sistem peredaran darah melalui lembar insang, akan menggantikan hemoglobin dalam darah ikan. Sehingga, karena hemoglobin terlepas dia tidak bisa mengikat oksigen, meskipun ikan bernapas. Oksigen yang tidak terikat akan menyebabkan terganggu sistem fisiologis dalam tubuh ikan. Apakah semua jenis ikan perlu digarami kolamnya? Ada saatnya garam tersebut diperlukan tetapi tidak selalu. Ada perlakuan yang sifatnya secara berkala bukan rutin. Secara berkala menaburkan larutan garam ke dalam aquarium hanya untuk pencegahan parasit atau untuk mencegah pengaruh negatif nitrit yang terlarut dalam air. Di pasaran sekarang banyak dijual atau dipasarkan garam ikan. Garam yang diproduksi untuk kepentingan budidaya ikan ini sudah dimurnikan dan tidak mengandung unsur lain kecuali natrium klorida (NaCl). Artinya, garam beryodium yang ada di dapur tidak lepas untuk itu. Sampai sekarang penggunaan garam beryodium belum pernah menunjukkan pengaruh negatif pada ikan. Jadi garam tersebut bisa dipakai hanya kalkulasi ekonomi garam beryodium lebih mahal. Garam khusus ikan sudah dimurnikan. Garam yang langsung dari laut masih mengandung magnisium dan masih mengandung senyawa yang lain. Disarankan jika ingin menggunakan garam untuk kegiatan budidaya ikan pakailah garam ikan. Tetapi, memang jika berada di desa

yang terpencil sulit untuk mendapatkan garam jenis itu. Maka, harus pandai-pandai/harus telaten mengamati selama perlakuannya. Pilihlah garam ikan, jika garam ikan tidak ada maka pilihlah garam beryodium, garam beryodium itu dalam prosesnya itu sudah dipisahkan dengan unsur lain, kemudain unsur lain digantikan yodium dan yodium ini bermanfaat sebagai disinfektan. Solusi lain, jika tidak ada garam ikan/garam beryodium, bisa digunakan garam krosok. Hanya saja garam kerosok yang diproduksi dari pantai masih dalam karung dan belum diolah masih banyak kotorannya. Jika dilarutkan maka warnanya akan kecokelatan, jadi sebaiknya garam kerosok tersebut dilarutkan, disaring, dan baru dipakai. Kadar pemakaian kalau dipakai hanya untuk perawatan secara berkala, maka ini hanya membutuhkan 250 gr untuk 1m³ air. Perlu dipahami 1 m³ air itu artinya kalau misalnya kolam tersebut bentuknya empat persegi panjang lebar 1 meter, panjang 1 meter, kedalam air 1 1m³. Jika membeli garam, disarankan membeli garam yang putih warnanya, supaya tidak terlalu kecokelatan, karena jika kecokelatan garam tersebut bisa mengandung zat besi. Ini akan bisa menjadi masalah. Untuk pengendalian ektoparasit, bisa digunakan 500 gram tiap 1m³ air. Jangka waktunya maksimum 1 jam perendaman untuk dilarutkan menjadi larutan. Setelah itu disebarkan ke kolam, setelah 1 jam diencerkan, dan tambahkan air ke dalam kolam. Untuk pengendalian jamur perlu dosis tinggi dan harus lebih berhati-hati. Kalau memang tidak ada bahan-bahan lain, sekarang ada bahan kimia yang lebih spesifik untuk pengendalian jamur. Dalam kondisi darurat bisa digunakan garam, karena untuk jamur kebutuhannya sampai dengan 1 kg tiap 1 m³ air. Caranya, larutkan dulu baru disebarkan. Setelah 30 menit air kolam tersebut diencerkan atau ditambahi air lagi. Kalau ikan lele/gurami diserang lintah, itu membutuhkaan garam lebih banyak lagi. Kebutuhan garam bisa sampai 2 kg untuk 1 m³ air. Dalam kasus lintah hanya waktunya harus diamati betul, biasanya setelah 15 menit lintah lepas tetapi tidak mati. Jika ingin menambah dosis lagi lebih tinggi dari 2 kg itu memang lintahnya akan mati namun mati pula ikannya. Maka, saat lintahnya sudah lepas segeralah pindahkan ikannya, jadi ini yang namanya pemandian cepat (metode perlakuan pemandian cepat). Siapkan bak atau gunakan terpal, kemudian ikan yang digigit lintah dimasukkan ke sana. Setelah ikan dipindahkan, air bekas dibuang ke darat bukan ditempat yang berair lagi, agar lintah yang ada di bekas air tadi mati. Kadang penggunaan larutan garam bisa dicampur larutan kunyit untuk pengobatan. Di antaranya, pengobatan luka bekas parasit agar tidak berjamur. Kunyit tidak hanya mengandung antibiotik tetapi juga mengandung yodium. Apakah garam ditaburkan di kolam, secara periodik atau pada kasus-kasus tertentu? Pada kasus hujan deras, untuk kolam-kolam yang tergenang biasanya ada permasalahan yang terjadi. Dampak hujan deras dapat mengencerkan air di kolam yang biasa tergenang terutama kolam lele. Ini menyebabkan terjadinya gangguan tekanan osmosis. Untuk menambah atau untuk membuat keseimbangan dapat digunakan garam. Jangan dulu tergesa-gesa menggunakan bahan-bahan kimia meskipun itu direkomendasikan untuk pengendalian penyakit. Gunakan bahan-bahan organik, bahan-bahan yang ramah lingkungan antara lain garam. Jika menggunakan bahan kimia, apabila terjadi kesalahan dampaknya akan lebih parah dibandingkan menggunakan bahan yang alami seperti bahan oraganik. Narasumber Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

yang terbuat dari daun nimba dan srikaya untuk memberantas hama padi. Yang dipakai pupuk organik yang berasal dari kotoran sapid dan kerbau. Para petani yang tergabung dalam kelompok ini lebih banyak memakai pupuk organik dan secara bertahap terus mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai akhirnya nanti mereka benar-benar mampu menghasilkan padi organik yang sehat bagi masyarakat. —nik


KESEHATAN

Rambut Rontok bisa Jadi Pertanda Gondok

kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Sedangkan pada hipotiroidisme, umumnya disebabkan oleh suatu penyakit yang disebut Hashimoto thyroiditis. Hashimoto thyroiditis juga disebabkan oleh serangan sistem imun terhadap kelenjar tiroid, cuma dampaknya berlawanan dengan penyakit grave. Penyebab lain hipotiroidisme, operasi pembedahan yang mengangkat kelenjar tiroid dan terapi radiasi pada pasien kanker. Penyebab lain yang lebih sedikit jumlahnya yakni infeksi virus dan obat-obatan seperti lithium. “Hipertiroidisme tidak selalu menimbulkan gejala,” kata dr. Cock. Kalau pun muncul biasanya berupa sering merasa gelisah, lemah, moody, dan kelelahan. Selain itu, tangan sering gemetaran/tremor, detak jantung cepat dan tidak beraturan, sering mengalami masalah dr. I Made Cock Wirawan, S.Ked. pernapasan walau sedang Grave, sistem pertahanan beristirahat. Penderita hipertubuh/sistem imun menyerang tiroidisme juga bisa mengalami kelenjar tiroid. Karena diserang, gejala berkeringat berlebihan,

“PERAN utama garam yodium adalah untuk mencegah terjadinya hipotiroid dengan memperbanyak asupan yodium dalam makanan,” ujar dr. I Made Cock Wirawan, S.Ked. dokter di Rumah Sakit Tentara Pembantu Atambua, Gerbades, Atambua, NTT.

H

leher bagian depan yang befungsi memproduksi hormon tiroid yang gunanya untuk mengatur metabolisme makanan menjadi energi,” kata laki-laki kelahiran Denpasar, 29 Juli 1976 itu. Umumnya hipertiroidisme disebabkan oleh suatu penyakit yang dikenal dengan nama Grave’s Disease. Pada penyakit

ipotiroidisme adalah suatu kondisi yang mana kelenjar tiroid tidak mampu memproduksi hormon tiroid sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sebaliknya, hipertiroidisme adalah suatu kondisi yang mana kelenjar tiroid terlalu banyak memproduksi hormon tiroid. “Kelenjar tiroid terletak di

tkh/rat

tkh/rat

Ada Garam........................................................................................................................dari halaman 1

Desak Ernawati

dr. Luh Putu Sri Asmini

diperoleh rata-rata kadar yodium 53.81 ppm dengan standar deviasi 21.66, di mana kadar terendah diperoleh dari merk Cap Kapal yaitu 20.34 ppm dan kadar yodium tertinggi diperoleh dari merk Dolpin yaitu 180.24 ppm. “Standar kandungan yodium yang ditambahkan dalam garam yang ditetapkan pemerintah adalah 30-80 ppm,” ujar Ketut Sutiari, Kepala Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unud. Menurut Sutiari, kelebihan atau kekurangan yodium dalam garam sama berisikonya. Masalah yang dapat ditimbulkan akibat kelebihan yodium garam yaitu hipertiroidisme. “Kelainan ini dipicu juga oleh kelebihan yodium bukan dari yodium garam akan tetapi dari yodium makanan seperti ikan laut, rumput laut, dll.,” ungkapnya. Sebaliknya, masalah yang dapat ditimbulkan akibat kekurangan yodium garam adalah hipotiroidisme. “Jika terjadi kekurangan yodium secara terus-menerus dalam waktu yang lama, maka dapat menimbulkan goiter alias gondok,” paparnya. “Saya baru tahu kalau kelebihan yodium juga bisa kena gondok,” kata Rahma terheran-heran. Asumsinya, hanya orang yang kekurangan yodium yang bisa menderita gondok.

kualitas garam beryodium, yaitu faktor produksi, distribusi, konsumsi, dan penyimpanan. Garam beryodium merupakan salah satu produk yang wajib menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI), sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 1991 tentang SNI. Adi merujuk data Bappenas tahun 2004 yang menyebutkan, saat ini terdapat 366 perusahaan garam beryodium dengan 40 merek, namun hanya 236 perusahaan yang menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan SNI; 196 perusahaan dibina pada tahun 1999-2002. Produksi garam beyodium digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan aneka pangan dengan total kebutuhan lebih kurang 1.025.000 ton/tahun dan 85% perusahaan memproduksi garam beryodium yang memenuhi syarat. Selain itu, berbagai survei kecil di beberapa kota menunjukkan masih banyak kemasan garam yang mengklaim mengandung yodium, namun kandungan KIO3 kurang dari 30 ppm sebagaimana dipersyaratkan. “Faktor konsumsi garam beryodium juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas garam,” kata Sutiari mengingatkan. Data Bappenas tahun 2009 menyebutkan, secara nasional, sejak tahun

Pemantauan Garam dr. Luh Putu Sri Asmini, M.Kes. Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar mengatakan, tak pernah melakukan penelitian sejauh itu. “Yang kami lakukan adalah pemantauan garam beryodium dan penyuluhan,” katanya. Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Denpasar melakukan pemantauan di 43 desa di Denpasar. Di tiap desa, dipilih satu SD sebagai sampel. Siswa kelas 4-6 dipilih untuk diberikan penyuluhan. “Mereka disuruh membawa garam yang dipakai di rumah dan diberi penyuluhan tentang pentingnya menggunakan garam beryodium,” papar perempuan yang menjabat kepala dinas sejak tahun 2006 itu. Jika garam yang mereka gunakan di rumah bukan garam beryodium, maka akan diberi tahu. “Murid-murid kami imbau untuk memberitahu orangtua mereka mengenai garam beryodium,” lanjutnya. Dari pantauan tersebut, mereka menemukan siswa yang membawa garam tak beryodium. “Tetapi, jumlahnya tidak banyak,” kata Sri Asmini. Sutiari menyebutkan, ada empat faktor yang memengaruhi

masak, bukan saat masakan matang. Saya tidak tahu tindakan itu bisa mengakibatkan berkurangnya kadar yodium garam,” kata Rahma. “Kalau dulu, saya menambahkan garam saat terakhir. Sekarang, saya tambahkan garam bersamaan dengan memasukkan sayuran,” kata Desak. Alasan Desak, menambahkan garam bersamaan saat memasukkan sayuran ke panci atau wajan, bisa mempertahankan kesegaran sayur. “Kalau dulu, warna kangkung bisa hitam. Dengan cara itu, kangkung tetap segar. Soal kadar yodium garam bisa berkurang, saya Ketut Sutiari tidak tahu pasti. Yang pasti, 1995 sampai dengan tahun 2003, cara memasak seperti itu tidak terjadi peningkatan persentase membedakan rasa makanan,” rumah tangga dengan kon- kata Desak. sumsi garam beryodium secara Tak Pernah Mengecek cukup dari 49.8% menjadi Hasil penelitian Adi lain73.2%. Meski begitu, kesalahan cara penggunaan garam nya, terkait sistem pelabelan beryodium juga berpengaruh dari 60 sampel garam yang terhadap kualitas garam. “Cara distandardisasi dengan SNI penggunaan garam beryodium terungkap, dari 60 sampel sebaiknya ditambahkan setelah garam seluruhnya (100%) masakan telah matang. Jadi, telah mencantumkan nomor garam beryodium di sini sama registrasi BPOM (MD) pada seperti garam meja. Ini di- kemasannya. Untuk kode lakukan untuk menghindari produksi hanya 10% (enam penurunan kadar yodium garam sampel) yang telah menyang ditambahkan akibat cantumkan kode produksi, proses pemasakan,” papar sedangkan 90% (54 sampel) tidak mencantumkan kode Sutiari. Mengenai cara penyimpan- produksi. Untuk pelabelan an, sebaiknya garam beryodium berat bersih 53.3% (32 sampel) disimpan di dalam wadah telah mencantumkan berat tertutup, tidak terpapar oleh bersih pada kemasan garam sinar matahari dan tidak di- sedangkan yang tidak menletakkan berdekatan dengan cantumkan berat bersih pada sumber api (panas langsung). kemasan garam sebesar 46.7% “Hal ini dapat menurunkan (28 sampel). Padahal, sesuai Peraturan kandungan yodium yang ada Perindustrian di dalam garam tersebut,” kata Menteri Sutiari. “Sejauh cara penyim- Republik Indonesia Nomor 42/ panan dan cara penggunaan- M-IND/PER/11/2005 Tahun nya bagus, maka hilangnya 2005 tentang Pengolahan, atau menurunnya kadar yodium Pelabelan dan Pengemasan di dalam garam tidak akan Garam Beryodium disebutkan, terjadi,” imbuhnya. Dengan pada wadah/kemasan garam begitu, garam beryodium beryodium harus tertera kedengan kadar yang sesuai terangan yang jelas/terang standar akan tetap memberikan yang dicetak yaitu nama/ merek perusahaan, kandungan manfaat. “Selama ini saya selalu kalium yodium 30-80 ppm, menambahkan garam saat me- berat isi setiap kemasan dalam

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 9

kulit terasa hangat kemerahan dan kadang gatal, sering buang air besar dan kadang diare, rambut rontok. “Bisa juga, walau makan normal namun badan mengurus,” katanya. Sedangkan gejala hipotiroidisme antara lain rambut kasar dan tipis, kulit kering, kuku rapuh, kulit kekuningan, gerakan badan sangat lambat, kulit dingin, tidak kuat cuaca atau kondisi lingkungan yang dingin, sering merasa cepat lelah, malas dan lemah, masalah dalam memori atau ingatan, depresi, sulit konsentrasi serta mengalami susah buang air besar dan gangguan haid pada wanita. “Biasanya pasien akan ke dokter jika gejala tersebut muncul. Nah, dari gejala yang muncul, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang,” ujar pemilik blogdokter.net itu. Pemeriksaan penunjang atau laboratorium dilakukan untuk mendeteksi kadar hormon tiroid di dalam darah. “Pengobatan terhadap hipertiroid tergantung kondisi

pasien,” ujarnya. Untuk kondisi yang ringan biasanya diberikan obat antithyroid sedangkan pada kasus berat dapat diberikan radioaktif iodine. Metode pengobatan yang lain yakni dengan pembedahan namun jarang dilakukan. Pengobatan hipotiroidisme dengan menggunakan obatobatan pengganti hormon tiroid yang dalam waktu beberapa minggu pasien sudah mengalami perbaikan. “Kasus hipertiroid dan hipotiroid banyak dijumpai saat saya masih menjalani pendidikan dokter di RS Sanglah, tahun 2000-2001,” ungkap lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu. Biasanya kasus hipotiroid banyak terjadi pada penduduk yang berasal dari daerah pegunungan. Kasus gangguan gondok yang kerap terjadi adalah struma/ goiter atau pembesaran kelenjar gondok/tiroid. Membesarnya kelenjar terjadi karena kelenjar tiroid bekerja terlalu keras. Hal ini bisa terjadi pada kondisi hipotiroid atau hipertiroid.

“Gondok itu nama awam untuk kelenjar tiroid. Jadi, hipertiroid dan hipotiroid merupakan penyakit gondok. Penderita kelainan kelenjar gondok biasanya 80%-90% adalah kaum hawa. Sedangkan laki-laki sangat jarang,” papar dr. Cock. Yodium diperlukan tubuh, karena yodium adalah bahan baku untuk memproduksi hormon tiroid. Terkait hasil penelitian Adi Saputra, yang mengungkapkan ada garam yang beredar di pasar tradisional dan supermarket di Denpasar yang mengandung kadar yodium kurang dari 30 ppm dan lebih dari 80 ppm, dr. Cock mengatakan hal tersebut tidak masalah selama asupan makanan yang lain cukup. “Sumber yodium kan tidak hanya dari garam, bisa dari makanan laut dan sayursayuran yang tumbuh dekat pantai. Tetapi, jika asupan lain tak mencukupi, ya jadi masalah. Itu sebabnya, penderita gondok banyak yang berasal dari daerah pegunungan,” ulasnya. – rat

satuan gram atau kilogram, tanggal pembuatan/produksi (kode produksi), nomor pendaftaran dari Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, dan alamat perusahaan. Drs. I Wayan Gatra, M. Si. Kepala Dinas Perindustrian

dan Perdagangan Kota Denpasar mengatakan, selama ini pihaknya tak pernah mengecek garam. “Terkait SNI, yang kami periksa biasanya barang elektronik, tabung gas, dan selang gas,” ungkapnya. Jika bekerja sama dengan BPOM memeriksa makanan, yang

mereka periksa umumnya kode registrasi dari BPOM dan masa kadaluwarsa produk serta alur distribusi produk. Misalnya, siapa produsennya, siapa yang mendistribusikan, dan dijual ke mana saja. “Itu saja yang kami cek,” pungkasnya. —rat


8

Tokoh

8 - 14 Mei 2011

11

Brigjen. Pol. Arif Wachjunadi dan Megasari Manhatanti

tkh/anik

SERANGKAIAN perjalanan ke wilayah pelosok desa dan ke polsek-polsek yang dilakukan Arif sebagai kapolda NTB, merupakan sarananya untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada masyarakat NTB. Tanti selalu ikut dalam perjalanan tugas suaminya itu. “Bapak turun ke polsek-polsek, saya kan juga ingin tahu bagaimana kondisi ibu-ibu Bhayangkari di sana,” ujarnya.

Jalan menuju Kota Lumajang lewat jalur selatan

Hangatnya Kripik Jahe Manisnya Buah Makecu Bersepeda Motor Ciamis-Bali

9

tkh/anik

PUKUL 17.00 kami sudah memasuki kawasan Lumajang, melewati medan jalan yang berkelok-kelok, banyak tikungan. Kami berjalan di bawah kaki gunung Semeru. Maka, tidak mengherankan udara terasa dingin. Beberapa kali kami berhenti sejenak untuk menghilangkan rasa dingin, tetapi tidak selalu berhasil. Yang terjadi justru kami sering tambah kedinginan. Akhirnya kami sepakat untuk melawan hawa dingin dengan terus melaju, menjauh dari kaki gunung Semeru. Beberapa kali juga kami berusaha mencari warung, namun hasilnya nihil. Jangankan warung, rumah warga pun masih sedikit dalam perjalanan menuju kota Lumajang lewat jalur selatan ini. Jika ada, rumah penduduk tampak jauh dari jalan raya. Upaya mencari warung akhirnya berhasil. Kami singgah di sebuah warung dan memesan kopi, untuk menghangatkan badan. Saya heran melihat penduduk di sini seperti tidak sedikit pun merasa kedinginan. Mereka tampak nyaman dengan udara seperti itu. Di warung ini kami tidak banyak menemukan makanan kecuali aneka jenis makanan yang terbuat dari pisang. Untuk mengatasi rasa dingin, saya menenggak mi-

nyak kayu putih dengan harapan bisa menghangatkan tubuh. Ternyata, cara ini cukup jitu. Pohon-pohon menjulang tinggi di kanan-kiri jalan menemani kami dalam perjalanan kali ini. Akhirnya kami tiba di pusat kota Lumajang. Kami bernapas lega karena udara di kota ini tidak begitu dingin. Kami istirahat di alun-alun kebanggaan masyarakat Lumajang. Di sini anggota rombongan saling memijat setelah beberapa bagian tubuh terasa kaku, bahkan keram, akibat kedinginan. Setelah rasa lelah terobati kami sepakat untuk mencari makanan. Kami berkesempatan menikmati beberapa masakan khas Lumajang yang dijual di Pusat Jajanan Rakyat (PJR) di tengah kota, tepatnya di Jalan Wachid Hasyim. PJR merupakan salah satu wadah bagi pedagang Lumajang untuk menjajakan produk makanannya. PJR buka sore hingga larut malam bahkan sampai menjelang pagi. Tempat ini cukup ramai dipadati warga termasuk anak-anak mudanya yang menjadikan PJR ini sebagai tongkrongan mereka. Kesan saya, pedagang di PJR menjual berbagai makanan dengan harga murah meriah sehingga dapat dijangkau semua kalangan. Jenis makanan yang bisa dinikmati di sini di antaranya jajanan pasar seperti cenil. lapis, onde-onde, apem, bikang, kue lapis dan rujak cingur. Untuk makanan beratnya ada bakso Lumajang, ayam bakar Lumajang, dan nasi rawon dengan aneka jenis minuman termasuk es campur klojen. Juga, terdapat aneka makanan berbahan baku pisang. Ayam bakar Lumajang men-

Pusat Jajanan Rakyat di Kota Lumajang pada waktu malam

jadi pilihan kami. Ditemani tempe penyet, hmm, menu ini cukup menggugah selera kami. Kami juga menikmati keripik jahe untuk menghangatkan badan. Keripik jahe terasa unik dan cukup bermanfaat bagi kami dan kami tidak melewatkannya untuk kami bawa sebagai nyamilan dalam perjalanan dan tentunya oleh-oleh untuk teman-teman kami di Bali. Makan di Lumajang mengingatkan saya pada salah satu warung favorit saya di Bali yaitu Warung Lumajang yang terletak di Jalan Pidada. Warung makan ini menjadi tempat favorit saya karena harganya murah dan rasa sajiannya enak. Beraneka jenis pula makanan yang dihidangkannya, sangat cocok bagi kami kaum urban di Bali yang ingin berhemat. Di PJR kami menemukan salah satu buah yang cukup menarik dan sangat langka ditemukan yaitu buah makecu. Bentuknya seperti buah apel namun isi dalamnya seperti sawo. Buah mekicu juga dikenal dengan sebutan apel susu. Rasanya pun sangat manis seperti susu. Namun, buah ini memiliki getah cukup banyak sehingga perlu berkumur setelah memakannya karena getahnya akan dengan mudah lengket di mulut. Beruntung kami bisa mencicipi buah mekicu ini, karena buah mekicu hanya ada dalam waktu tertentu; buah ini termasuk buah musiman. Puas rasanya kami menikmati kuliner di Lumajang, apalagi kami langsung menyantapnya di tempat yang dikhususkan sebagai pusat makanan kota ini sehingga banyak pilihan. Pukul 19.00 kami berangkat melanjutkan perjalanan. Ransel kami bertambah muatan. Beberapa makanan ringan akan kami jadikan oleh-oleh seperti keripik jahe, stik talas, ketela ungu, dan tentunya keripik pisang. Dari Lumajang kami melakukan perjalanan menuju Jember. Untuk mencapai Jember kami harus melewati beberapa kota seperti Wonorejo, Kelakah, Randuagung, Jatiroto, Tanggul, dan Rambipuji. Kami jadwalkan tiba di kota Jember sebelum tengah malam. zAnik Nurlia Agustini

Kegiatan Kreatif..................................................................dari halaman 3 dengan Koran Tokoh, LKP Agung, Crrante Cosmetic, dan Catering Service Ny. Warti Buleleng, dan uniknya lagi diikuti guru PAUD se-Kota Denpasar, Hamid Muhammad mengapresiasi ini suatu kegiatan kreatif yang menggabungkan dua kebijakan sekaligus. “Program untuk mengakselerasi pendidikan vokasi dan melibatkan PAUD di dalamnya. Dua porsi yang berbeda dilibatkan dalam satu wadah,” ujarnya. Mulai tahun ini Kemendiknas mendorong adanya PAUD terpadu. Misalnya, sudah memiliki TK yang sudah ada izin operasional, melayani kelompok usia 4-6 tahun, maka untuk melayani kelompok di bawahnya bisa membuka

kelompok bermain atau TPA, tetapi dalam satu lembaga yang sama. Sehingga, lembaga PAUD terpadu ini nanti akan didorong ke depan agar bersama-sama bisa memberikan layanan terbaik pada masyarakat. Yang perlu diingat jangan sampai rebutan sasaran. Ini yang harus diatur di lapangan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota. Jangan sampai sudah dibangun lembaga, dibangun lagi lembaga sejenis. Ini bukannya menambah akses pendidikan, tetapi hanya memindahkan anak dari satu lembaga ke lembaga lain. Lebih lanjut disebutkannya sebentar lagi akan dikeluarkan permendiknas tetang lembaga PAUD, syarat, dsb. untuk pembinaan PAUD ke depan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni masalah kelembagaan, lembaga PAUD itu harus jelas, ada izin operasionalnya, lembaganya seperti apa, siapa pendidiknya, peserta didiknya. Demikian juga kelompok bermain, TPA, dsb. Kemendiknas sudah mengeluarkan standar PAUD yang sama tahun 2009 dengan Permendiknas No. 58 yang mengatur tentang kurikulum, sarana prasana, dan pendidik. Standar minimal pendidik PAUD seharusnya S-1 PAUD. Lulusan D-2 PGTK juga bisa sebagai pendidik PAUD, tetapi syarat minimal adalah SMA/setara ditambah dengan pelatihan yang terakreditasi. “Ini yang nanti akan disosialisakan,” ujarnya. –ten

Tanti tidak ingin hanya bicara di kantor, tetapi ingin tahu langsung kondisi keluarga polisi itu seperti apa sehingga mengerti kebijakan apa yang harus diambilnya menyangkut hal yang berhubungan langsung dengan kegiatan Bhayangkari. Dalam melakukan serangkaian perjalanan itu, tidak jarang Tanti dan Arif diamdiam pergi tanpa pengawalan, bahkan pernah tidak diketahui ajudan dan sopirnya sedang pergi ke mana. Suatu hari, ajudan dan para sopir di kediaman pribadinya sempat kebingungan menemukan di mana mereka berada. Sebab, di rumah tidak ada. Saat itu Arif mengejar keindahan sun set di tepi Pantai Senggigi. Mereka tidak mesti menanti ajudan dan sopir untuk bisa mengabadikan momen yang hanya terjadi dalam hitungan detik itu. Pengabdian kepada negara dalam menjalani tugas-tugas sebagai polisi yang menyita banyak waktu, tidak membuat Arif Wachjunadi lupa tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang suami bagi Megasari Manhatanti dan sebagai ayah bagi kedua anaknya. Bukan hanya Arif yang mengemban tugas negara, namun juga Tanti. Karena di balik kekuatan Arif menjalankan tugas-tugas negaranya, Tantilah orang yang memiliki peran yang paling penting, yakni sebagai alarm baginya. Tanti merupakan sinyal pengingat utamanya. Meski tidak pernah terkatakan, tetapi betapa Tanti harus selalu mengelus dada tiap kali ‘rasa cemburunya’ pada saat-saat waktu Arif terbagi dengan tugas-tugasnya. Belum lagi selama mendampingi Arif, ia harus rela berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Terkadang hanya dalam hitungan bulan, ia harus mengangkat koper mengikuti suami tercinta. Beratnya tugas yang diemban Arif, juga dirasakan Tanti. Namun, sebagai istri polisi, ia telah berjanji akan siap dan sanggup menjalankan tugas mendampingi suaminya sebagai abdi negara. Ia berdiri di atas kesetiaannya pada suami, bangsa dan negara. Ia menerima tugas negara mendampingi sang prajurit di mana pun dan kapan pun. Segala konsekuensi yang menyertai perjalanannya menjadi istri polisi, ia terima dengan lapang dada. Ia membuka diri untuk menerima segala suka dan duka menjadi istri polisi seraya menikmati hikmahnya dengan penuh penghayatan. Ikhlas dan legowo, dijadikan kata kuncinya. Kesetiaan dan pengorbanan Tanti inilah yang membuat Arif menempatkannya pada posisi yang paling istimewa di hatinya. Sesibuk apa pun, Arif masih menyempatkan diri membantu Tanti dalam hal mengurus anak. Di matanya, semua urusan yang menyangkut rumah tangga dan anakanak, menjadi tanggung jawab bersama, meskipun memang, Tanti yang memegang peranan terdepan sebagai manajernya. Arif bukanlah suami dan ayah yang egois, yang menyerahkan segala urusan rumah tangga kepada istri semata. Tidak ada pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam hal ini, yang ada adalah pembagian kerja untuk menyukseskan rumah tangga dan mengantar anak-anak mereka mendaki tangga sukses

pula. Kesibukannya di luar rumah untuk bekerja, tidak membuat Arif mengekang atau membatasi ruang gerak Tanti. Ia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada istrinya untuk berkespresi, bergaul dan bersosialisasi secara wajar. Ini dilakukannya juga untuk memberikan kesempatan kepada Tanti untuk makin tahu lebih banyak tentang perkembangan dunia luar. Sebab, dari pergaulan dan aktivitas bersoasialisasi, orang akan melihat berbagai persoalan yang nyata dan dapat pula melihat jalan keluarnya. Dengan begitu, Tanti bisa berkesempatan belajar lebih banyak lagi. Ketika istri memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dan bergaul dengan lingkungannya, suamilah yang sedapat mungkin menggantikan peran ibu bagi anak-anak di rumah. Tidak ada hal yang harus membuat seorang laki-laki malu untuk melakukan tugas rumah tangga, apalagi dalam hal mengurus anak-anak, ketika istri sedang memiliki kesibukan lain. Laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga, yang telah dibangun dengan cinta dan kasih sayang, dengan pengertian dan pengorbanan, posisinya sama. Sejak Mengenakan Popok Bagi anak-anaknya, Arif merupakan sosok ayah yang senantiasa dekat dalam mengurus mereka. Karena itu, ketika anak-anak mereka masih sekolah, Arif selalu menyempatkan waktunya untuk mengantar jemput buah hatinya. Tanggung jawab Arif tidak sampai di situ, bahkan sang Kapten saat itu pun, dalam senggang waktunya yang tepat, kerapkali menyiapkan sarapan bagi kedua anaknya, jika dilihat Tanti sibuk dengan urusan rumah tangga lainnya. Biasanya, dalam menjalani rumah tangga, polisi memiliki dua pilihan. Ada yang memilih hidup terpisah dengan alasan, istri bekerja di satu kota atau alasan agar sekolah anak-anak mereka tidak berpindah-pindah. Ada pula pasangan yang memilih istri selalu mengikuti ke mana pun suami bertugas, meski harus meninggalkan profesi yang telah ditekuni sejak sebelum menikah. Kedua pilihan ini sama baiknya, kata Arif, karena tergantung komitmen masing-masing pasangan.

Hingga SMP Anak-anak harus Bersama Orangtua

Arif dan Tanti kerap mengajak anaknya berekreasi, salah satunya ke pantai

“Kesuksesan rumah tangga itu terletak pada kuatnya pasangan itu memegang komitmen satu sama lain,” ujar Arif. Dalam kondisi tugas seorang polisi yang berpindahpindah, Arif dan Tanti merupakan pasangan yang kompak. Sejak menikah, Tanti memilih mendampingi suami berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sepahit apa pun kenyataan itu, ia hadapi dengan tersenyum. Ia selalu dekat dengan suaminya. Keluarga kompak ini juga selalu mengajak anak-anak mereka, ke mana pun kepala rumah tangga ini bertugas. Inilah salah satu komitmen yang dibangun Tanti dan Arif, sejak mereka memutuskan untuk berumah tangga. Juga, anak-anak mereka, hingga usia Sekolah Menengah Pertama, harus ikut ke mana pun ayahnya ditugaskan. Dalam hal ini, Arif yang juga pernah mengalami hal yang sama saat bocah, bertempat tinggal berpindah dari satu kota ke kota lainnya bersama orangtua yang bekerja sebagai PNS Kehutanan, rupanya sudah memperhitungkan benar komitmennya soal anak-anak ini. “Dari kecil sampai SMP, anak-anak harus ikut bersama

kami,” katanya. Inilah prinsip hidup berumah tangga yang disepakati Arif dan Tanti. Alasan utama Arif mengharuskan anak-anak ikut ke mana pun ia pindah tugas, ia ingin senantiasa menyaksikan perkembangan anak-anaknya secara langsung. Dalam usia inilah pertumbuhan anak-anak mengalami perubahan yang luar biasa pesat. Ia ingin terlibat langsung proses pembentukan karakter anak-anak mereka. Arif tidak ingin sedetik pun kehilangan kesempatan untuk menyaksikan tiap tahapan perkembangan anak-anaknya. Bisa menyaksikan langsung tiap tahap proses pertumbuhan anak-anaknya sejak usia dini merupakan kebahagiaan yang harus disyukuri. Anak-anak, baginya adalah buah rezeki yang tak ternilai titipan Ilahi yang luar biasa. Maka, dengan bangga Arif mengungkapkan bahwa dirinya merasa berbahagia bisa berdampingan dengan anak-anaknya sejak lahir sampai dianggapnya dapat hidup mandiri. “Saya nikmati semua waktu bersama mereka, sejak saya mulai belajar mengenakan popok untuknya,” ungkapnya bangga. —nik

Kemesraan Arif dan Tanti bersama kedua anaknya


TATA RIAS

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 7

Bu Agung saat memberikan pelatihan tata rias di Tabanan. Tampak Bu Agung sedang mendemontrasikan tata rias pengantin Bali payas agung Tabanan. Pada kesempatan itu didemontrasikan pula tata rias pengantin Sunda Siger, Yogya Putri, dan tata rias pengantin gaun panjang oleh para pakarnya dari pusat

LKP Agung Gandeng Koran Tokoh mengatakan pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan tata rias dan busana pengantin Bali khususnya payas agung Tabanan. “Kami juga menampilkan tata rias pengantin Yogya Putri, Sunda Putri, Sunda Siger, dan gaun panjang, sehingga para peserta pelatihan bisa melihat perbedaannya. Jika payas agung Tabanan, yang membedakan dengan payas agung daerah lain adalah pemakaian selendang berwarna mencolok di pinggang yang disebut

ketengsun dan selendang srining angin sebagai penutup dada,” ujarnya seraya menunjuk model busana pengantin payas agung Tabanan. Bupati Kabupaten Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti diwakili Asisten II, I Gusti Ngurah Anom Antara menyatakan dukungannya terhadap acara pelatihan ini. Dalam sambutan tertulisnya, ia berharap keterampilan tata rias baik untuk diri sendiri maupun orang lain bisa ditingkatkan, mengingat ada kecenderungan para ibu di

usia yang makin lanjut, makin kurang memperhatikan tata rias dirinya. Terlebih lagi jika para ibu disibukkan dengan urusan rumah tangga, sehingga tak ada waktu lagi untuk memperhatikan penampilan dirinya. Padahal jika dilihat arus perkembangan zaman, saat ini ibu-ibu tak hanya dituntut mampu menyelesaikan segala urusan rumah tangga, namun juga harus mampu menampilkan sisi lain yakni penampilan yang elegan. Apalagi, seringkali keberhasilan seorang suami ditunjang oleh penampilan seorang istri yang mampu menampilkan dirinya secara utuh. Untuk itu sangat diharapkan pelatihan gratis ini akan dapat memberikan bekal pengetahuan bagi para ibu untuk dapat dipakai acuan guna meningkatkan tata rias dirinya serta dapat menangkap

TUK Agung Gelar Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin

SEBANYAK 26 pemilik salon di Bali yang sehari sebelumnya sempat mengikuti pelatihan tata rias di Tabanan, kembali mendapatkan pelatihan gratis di LKP Agung, Selasa (3/ 5). Mereka diberikan pelatihan sehari penuh mencakup wawasan teori tata rias pengantin, membuat bunga tangan, gunung-gunungan, keris-kerisan, ketupat, dll. untuk kelengkapan tata rias pengantin Yogya. Demikian halnya dengan roncean bunga melati untuk tata rias pengantin Sunda. Mereka dibimbing langsung para pakarnya dari pusat. Para peserta tampak antusias menyimak materi yang langsung dipraktikkan. Pimpinan Lembaga Media Rias Jakarta Koen Muljono mengatakan penyelenggaraan pendidikan keterampilan khususnya rias pengantin ini merupakan upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Nusantara.

Rabu (4/5) sampai Kamis (5/ 5), ke-26 peserta pelatihan itu mengikuti uji kompetensi tata rias pengantin Barat, Yogya, Sunda Putri, dan Sunda Siger, bersama 75 peserta lain di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung. Ini merupakan uji kompetensi kelima yang digelar TUK Agung setelah tak ada lagi ujian nasional. Uji kompetensi ini merupakan peserta terbanyak yakni 101 orang. Peserta uji kompetensi tata rias pengantin gaun panjang sebanyak 23 orang, tata rias pengantin Yogya Putri 26 orang, tata rias pengantin Sunda Putri 26 orang, dan tata rias pengantin Sunda Siger 26 orang. Pemilik TUK Agung Anak Agung Ayu Ketut Agung memaparkan uji kompetensi ini digelar dua hari. Hari pertama, uji kompetensi tata rias pengantin Barat dan Yogya. Hari kedua, uji kompetensi tata

Gelar Pelatihan Gratis di Tabanan RATUSAN wanita yang tergabung dalam organisasi wanita di Kabupaten Tabanan mengikuti pelatihan tata rias, membuat dan memasang sanggul Bali, busana pengantin Bali payas agung Tabanan, tata rias pengantin Yogya Putri, Sunda Putri, Sunda Siger, dan tata rias pengantin gaun panjang, Senin (2/5) di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan.

P

elatihan gratis yang dimotori Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung bekerja sama dengan Koran Tokoh, Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan dan didukung Pemkab Tabanan serta kosmetik Inez ini, tak hanya diikuti peserta dari Tabanan, namun juga dari 26 pemilik salon yang tersebar di Karangasem, Buleleng, Jembrana, Badung, Denpasar, dan Gianyar. Anak Agung Ayu Ketut Agung, Pimpinan LKP Agung

Sebagian peserta uji kompetensi tata rias pengantin Sunda Siger berfoto bersama Bu Agung dan Ibu Ida (paling kiri)

peluang bisnis dari keterampilan merias ini. Ini akan mampu membuka lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain, di samping turut juga melestarikan tata rias Bali. Dukungan besar terhadap pelatihan ini juga disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan Ny. I Komang Gede Sanjaya. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat minimal bisa merias diri sendiri, ditularkan pada ibu-ibu lain, dan tidak menutup kemungkinan membuka peluang usaha, di samping upaya melestarikan busana adat Tabanan. “Mudah-mudahan ke depannya bisa terjalin kerja sama serupa dengan semua pihak, sehingga bisa melestarikan busana adat kita khususnya busana adat Tabanan,” ujarnya. –ten rias pengantin Sunda Putri dan Sunda Siger. Sebelum menata rias pengantin, peserta terlebih dahulu membuat bunga tangan pengantin Barat dan keterampilan anyaman janur untuk tata rias pengantin Yogya. Untuk uji kompetennsi kali ini, TUK Agung bekerja sama dengan Lembaga Media Rias Jakarta sebagai pelatih. Selain diuji penguji lokal yang berkompeten, dihadirkan pula penguji dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), Ibu Umi dan Ibu Ida. Selepas mengikuti uji kompetensi, peserta yang dinyatakan lulus, berhak mengantongi sertifikat dari lembaga sertifikasi kompetensi. “Dengan mengantongi sertifikat ini, kredibilitas mereka lebih diakui di masyarakat,” ujar Bu Agung. Selain sebagai tempat uji kompetensi tata rias pengantin, TUK Agung juga merupakan tempat uji kompetensi tata kecantikan kulit. –ten

LKP Agung memberikan diskon 50% bagi yang berminat mengikuti pelatihan tata kecantikan kulit, tata kecantikan rambut, dan tata rias pengantin. Keuntungan lain, peserta pelatihan mendapatkan bonus pelatihan tata rias pengantin Bali modifikasi dan modern, langsung dari Anak Agung Ayu Ketut Agung.

LKP AGUNG Jln. WR Supratman No. 303 A Tohpati, Denpasar dan Jln. Anggrek No. 12 Denpasar Tlp. 0361-233850, 7421987, 081 1393602

Sebagian peserta uji kompetensi tata rias pengantin Sunda Putri berfoto bersama Bu Agung, Kasi PLS Disdikpora Kota Denpasar Ni Made Artha Widiani, Ibu Ida, Ibu Sri Pratiwi Cestu (penguji dari LSK), dan Bapak Andika (Disdikpora Kota Denpasar)

Peserta uji kompetensi tata rias pengantin gaun panjang berfoto bersama Bu Agung

Buruan Daftar….. Hanya Rp 1,5 juta


12

Tokoh

8 - 14 Mei 2011

Putus Penyebaran...................................................................................................................................................dari halaman 1 Lompat Keluar..................................................................................................dari halaman 1 Rotary Club Nusa Dua memang getol melakukan kegiatan dalam rangka pemutusan mata rantai penyebaran virus mematikan tersebut. Ari Murti sebagai salah seorang anggota Rotary Club Nusa Dua pun giat menggandeng berbagai pihak terutama pemerintah guna merealisasikan program Bali menekan angka penderita HIV/ AIDS. Tak hanya memerangi HIV/AIDS, kepedulian terhadap penderita HIV/AIDS diwujudkan dengan menulis serta menerbitkan buku “Terbuang” yang menyuguhkan tulisan tentang realita penderita HIV/ AIDS. Bagi perempuan berjilbab ini, pelatihan PITC tak hanya menjadi perhatian lembaga Rotary Club Nusa Dua, namun juga menjadi cita-citanya ingin menjadikan masyarakat Indonesia terhindar dari virus HIV/ AIDS. “HIV/AIDS belum ditemukan obatnya. Cara paling ampuh adalah memutuskan mata rantai penularannya. Jika Indonesia bisa menekan HIV/AIDS, berarti Indeks Pembangunan Manusia Indonesia kian meningkat. Itu bisa menjadi salah satu faktor menyukseskan program pemerintah dalam MDGs 2020,” jelasnya. Melibatkan bidan dalam hal

Dari kiri depan: dr. Elly Swandewi Murti, M.Kes., Arimurti, Putra Sutedja, dan Kepala Puskesmas Kuta 1 dr. IB Djanardana (depan paling kanan) bersama para peserta pelatihan PITC di Puskesmas Kuta 1, 29 s.d. 30 Mei 2011

pemutusan mata rantai penyebaran HIV/AIDS dari ibu ke janin menurut Ari murti tepat dilakukan. Sebagai tenaga kesehatan yang memiliki hubungan paling dekat dengan ibu hamil, diharapkan bidan mampu memberi konseling kepada ibu hamil agar mau melakukan tes HIV/AIDS lewat VCT (Voluntery Conselling Testing). Tentu saja hal itu dilakukan tanpa paksaan dan sudah mendapat persetujuan dari si ibu hamil. Pendekatan melalui bidan memberi efek positif. Terbukti, setelah pelatihan tersebut digelar, yang awalnya tidak diperoleh data terkait jumlah ibu

hamil yang menderita HIV/ AIDS, kini, menurut Kepala Dinas Kesehatan Badung Putra Suteja, dari 164 ibu hamil yang didata, empat ibu hamil terjangkit HIV. Total menurut Putra, penderita HIV/AIDS di Badung sejumlah 635 jiwa. “Jika sejak dini kita tahu ibu hamil terjangkit HIV/AIDS, usaha penyelamatan janin bisa dilakukan baik dengan pemberian obat-obatan maupun operasi caesar,” tambah Putra Suteja. Badung, menurut Putra, telah menyiapkan empat tempat VCT yakni di Klinik Sekar Jepun RSUD Badung, Semara Usadha di Puskesmas Kuta Selatan, Rijasa Puskesmas Kuta 1, dan Abian Semal.

Mudahnya Jadi................................................................................................dari halaman 1 banyak tenaga kerja, mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan, menurunkan tingkat kriminalitas dan meningkatkan kesejahteraan. Saat ini Indonesia baru memiliki jumlah pengusaha kira-kira 0,2% dari total jumlah penduduknya. Agar suatu bangsa bisa makmur maka minimal 2% dari total jumlah penduduknya harus menjadi pengusaha. Gede Dermawan sangat mendukung program pemerintah yakni GKN (Gerakan Kewirausahaan Nasional). Terbukti dia sudah berkali-kali menjadi pembicara seminar wirausaha di Denpasar. Sudah ada ribuan orang yang mendapat manfaat dari seminar yang dia bawakan. “Semua ilmu yang saya bagikan adalah ilmu praktis yang sudah saya praktikkan dan terbukti membuat diri saya bisa bangkit dari keterpurukan. Mari kita dukung sepenuh hati program pemerintah yakni GKN agar Indonesia cepat makmur, apalagi Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah,” ujar Gede Dermawan. Gede Dermawan adalah Presiden Direktur PT Dermawan Berkelimpahan (Dermawan Group), pendiri dan pemilik Sekolah Pencetak Pengusaha, Dermawan Resources, Dermawan Magazine, berikutnya Dermawan Print Shop dan Dermawan Property. Tiap seminar yang diselenggarakan SPP selalu dihadiri ratusan orang, pada intinya semua orang tertarik menjadi pengusaha. Melihat fakta yang menggembirakan tersebut, Gede Dermawan merasa terpanggil untuk melakukan roadshow seminar sem bilan kota di Bali dengan

mengusung topik Mudahnya Jadi Pengusaha. Pada seminar ini dia ingin berbagi ilmu cara membasmi mitos yang menyesatkan tentang pengusaha, memprogram diri menjadi pengusaha sukses, memilih komunitas pengusaha yang berkualitas, membebaskan diri dari lilitan utang buruk, membuka usaha nyaris tanpa modal, jurus mendapatkan modal, meledakkan omset berkesinambungan, mengembangbiakkan usaha dengan cepat dan membuat peternakan uang yang direstui Tuhan. Jadwal roadshow seminar, (1) Denpasar: 8 Mei pukul 10.00, (2) Amlapura: 14 Mei pukul 14.30, (3) Singaraja: 15 Mei pukul 10.00, (4) Gianyar: 21 Mei pukul 14.30, (5) Tabanan: 22 Mei pukul 10.00, (6) Semarapura: 28 Mei pukul 14.30, (7) Mangupura: 29 Mei pukul 10.00, (8) Bangli: 4 Juni pukul 14.30, (9) Negara: 5 Juni pukul 10.00. “Setelah roadshow seminar sembilan kota di Bali, saya bersama tim akan melanjutkan roadshow ke seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan kontribusi positif untuk Indonesia agar minimal 2% dari total penduduk Indonesia menjadi pengusaha tercapai,” ujar pria yang selalu bersemangat ini. Siapa pun Anda, apa pun latar belakang Anda dan dalam situasi kondisi apa pun Anda saat ini, kabar gembiranyanya Anda masih punya kesempatan besar menjadi pengusaha sukses. “Melalui kesempatan yang baik ini dengan kerendahan hati kami mengundang Bapak Gubernur Bali, bupati, camat, lurah, kepala desa, kelian dinas, rektor, dosen, kepala SMA/

PENDIDIKAN

SALON & SPA

PERCETAKAN

K E S E H ATA N

SPIRITUAL & PENGOBATAN

SMK, serta seluruh kepala dinas di instansi pemerintahan yang ada di Bali. Kami juga mengundang para pengusaha, calon pengusaha, para karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa/mahasiswi dan pengangguran. Besar harapan kami agar pihak-pihak yang kami undang ikhlas meluangkan waktu untuk menghadiri seminar kami,” ujar Gede Dermawan selaku penggagas seminar ini. Bagi masyarakat Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya yang ingin mengetahui tentang SPP dan seminar Mudahnya Jadi Pengusaha dapat menyaksikan dialog interaktif pada Sabtu (7/5) pukul 20.00 di Bali TV dan juga mendengarkan dialog interaktif pada Kamis (5/5) pukul 07.00 di Radio RRI Singaraja dengan narasumber Gede Dermawan. “Saya punya keyakinan, jika orang lain bisa menjadi pengusaha sukses, maka saya juga pasti bisa,” kata pria yang rutin tiap bulan menjadi narasumber tentang wirausaha di Bali TV. Gede Dermawan menjamin tiap orang yang mengikuti seminar ini, pulang langsung bisa menjadi pengusaha. Bagi Anda yang mengetahui kabar baik ini, harap menyebarluaskan ke sanak keluarga, sahabat, teman, kenalan, dan setiap orang yang ingin mengubah nasib ke arah lebih baik. Dengan melakukan tindakan ini, maka kemudahan-kemudahan dalam hidup pasti menghampiri Anda. Harga tiket hanya Rp 100 ribu, hari-H Rp 200 ribu (coffee break) khusus 20 orang pendaftar pertama satu tiket berlaku untuk dua orang dan ikut undian berhadiah. Tiket bisa dibeli di kantor SPP, jalan Badak Agung 1 B Renon, Denpasar. Hubungi, (0361) 212 0018 (Putri), 087 862 342 138, 081 339 636 689 (Rini). Pembayaran via transfer: BCA 611 036 7706, BRI 0368 - 01 - 022156 - 50 – 2 a.n. Gede Dermawan. SPP akan membuka 108 cabang di seluruh Indonesia, ini adalah peluang yang sangat prospektif, menguntungkan dan juga ikut mencerdaskan bangsa. Bagi Anda yang tertarik menjadi partner kami, silakan menghubungi 082 144 825 038 /087861339 839 (Gede Dermawan, PsT). Kunjungi website kami, www.sekolahpencetakpengusaha.com, email info@ sekolahpencetakpengusaha.com.

Menurut dr. Elly Swandewi Murti, M.Kes., Sekretaris KPA Kabupaten Badung, pemeriksaan atau counselling testing diperlukan guna mencegah sejak dini penularan virus tersebut dari ibu ke janin atau disebut Preventive Mother to Child Transmition (PMTCT). Guna mengaktifkan kegiatan PMTCT, maka salah satu kegiatan Provider Initiative Testing & Conselling (PITC) pada ibu hamil digelar dengan melibatkan bidan, yang menjadi salah satu tenaga kesehatan yang masih dipercaya masyarakat membantu dalam hal pemeriksaan kehamilan maupun persalinan. Membuat ibu hamil mau melakukan tes HIV bukanlah hal yang mudah. Biasanya, menurut Ari Murti, pemeriksaan HIV mandek lantaran si ibu tak memiliki biaya menuju tempat VCT. Selain itu rasa malu dan takut membuat mereka enggan memeriksakan diri. “Di Puskesmas Kuta Selatan telah ada mobile clinic yang mampu menjangkau ibu hamil yang hendak memeriksakan diri,” tambah Ari Murti. Geliat Rotary Club Nusa Dua tak hanya terkait HIV/AIDS. Rotary Club Nusa Dua juga menggelar operasi bibir sumbing gratis khusus masyarakat kurang mampu. Bagi masyarakat yang berminat mengikuti program “Rotary Club Nusa Dua Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis”, bisa mendaftarkan diri di sekretariat bedah RSUP Sanglah, dengan Prof. Dr. Asmara Jaya. —lik

Dalam perjalanan merintis usaha, garmennya pupus beralih menjadi PDS Cargo. Tugasnya rangkap, mulai jadi direktur, pemasar sampai melatih karyawan. Namun, disela-sela kesibukannya, ia masih sempat mengajar di Tadika Puri. “Ini demi orangtua, yang ingin anaknya bekerja mengenakan seragam,” cetus Hesti yang tidak pernah membiarkan waktunya lowongnya tak berguna. “Karena, saya ingin menggunakan otak dan tenaga yang ada seoptimal mungkin, pagi saya bekerja di kargo, sore mengajar,” kata anggota Persatuan Wanita (PW) Muslimat NU Bali, Seksi Sosial Kependudukan ini. Nilai positif dari tangga perjalanan pekerjaannya pun ditangguknya. Ia menjadi sangat menguasai bagaimana berinteraksi dengan buyer asing yang berkelas, para supplier serta klien lainnya. Sejumlah pengalaman berharga dan kebiasaan Hesty terjun langsung melayani klien makin menjadikan rangkaian kemudahan serta modal baginya menjadi sosok entrepreneur tangguh yang sukses. “Dengan dukungan dan kerja sama dari suami menjadikan semuanya lebih mudah,” ucap perempuan yang energik ini. Pada tahun 2003, Hesty menancapkan bendera CV Lentera Bali. “Ketika itu bisa dikatakan saya tidak pernah bertemu sinar matahari, sebab produksi kap lampu kami yang menggunakan material ramah lingkungan hingga 2008 sangat digemari dan booming,” kata Hesty yang mengungkapkan rasa syukurnya dengan menunaikan ibadah haji. “Selain ungkapan

keberhasilan yang dinikmatinya kini. “Alhamdulilah, dari hari ke hari makin banyak orang yang aware atas eksistensi kap lampu produksi Lentera Bali. Artinya, makin banyak orang yang menyukai karya kami,” ujar ibu Reza Zanitra DaDari kiri: Tini Gorda, Farida Hanum, Sri Tukardi, Dewi Sinaryati, Hesty D. Masitah, Endang Kadarsih nanjaya, Raddin Almira Dewi, syukur pada Tuhan, menggunakan Reihana Alderia Rhesty dan Ramah Haji Plus dengan fasilitas terbaik Rusydi Atthoillah Samil ini. menjadikan kenangan indah yang Atmosfer kerja yang baik pun tak terlupakan. Selain Ibadan, kami ia pertahankan di tengah suasana juga traveling sekaligus memper- kekeluargaan, tanpa mengabaikan oleh pengetahuan yang luar biasa,” segi profesionalitas. Sementara saat tambah Komisaris Lentera Bali ini. weekend menjadi momen istimewa Kini permintaan kap lampu baginya. Sebab, saat itulah ia total buatan usahanya yang berlokasi di memberikan waktunya untuk jalan Athena, Denpasar ini terus keluarga. Bisa saja, mereka beristimengalir. “Apalagi dengan tiga mu- rahat, rekreasi, atau pun sekadar jasim di negara pelanggannya yakni lan ke mal bersama. Hal terpenting Australia, Jerman dan negara- baginya adalah senantiasa menjaga negara di Eropa lainnya menjadi- keterbukaan dengan keluarga. kan celah bisnis kap lampunya Sekarang, sambil menjalankan sangat potensial. “Tiap hari tukang usahanya Hesti tak lupa bersosialikami minimal mencetak 200 pieces sasi, dengan memilih berorganisasi. kerangka kap lampu, sebab di du- Baginya ini adalah pergaulan secara nia, hanya kap lampu buatan Bali positif. “Selain pergaulan, ada juga yang handmade dan memiliki ke- pengetahuan, pola pikir dan keunikan tersendiri,” ucapnya sambil mampuan berkomunikasi di dalammenekankan ia telah membuktikan nya, sekaligus pula kita dapat memmenjadi sukses tidak semata berikan sumbangsih,” katanya dan dengan modal besar. menyampaikan salah satunya yakni Memiliki kecerdasan, disiplin, upaya organisasinya PW Muslimat kejujuran serta tanggung jawab dan NU, dalam menghadirkan Khofifah selalu berdoa, terbukti mampu Indar Parawansa pada HUT ke-48 membuat Hesty mendapat tiket BKOW belum lama ini. —ard

Pekerja Demo....................................................................................................dari halaman 2 Mereka bisa rembuk lewat media massa atau lembaga terkait, LSM. Pemerintah tidak hanya membuat peraturan tetapi juga perlu melakukan kontrol di lapangan. Saat ini, kontrol pemerintah sangat kecil. Demo salah satu cara menyalurkan aspirasi tetapi kurang efektif. Akhirnya ditunggangi berbagai kepentingan. Perlu ada grand design tertentu ke arah politik. Nanti kalau sudah tercapai kaum buruh bisa ditinggalkan. Ini yang harus diwaspadai. Perempuan pekerja mengalami dilematis belum lagi masalah pelecehan seksual. Perempuan memegang kunci. Kalau tidak ada kesempatan hal-hal seperti itu tidak

terjadi. Cara berpakaian juga menjadi masalah. Dari rumah memakai pakaian yang sedang tren. Sampai di kantor baru diganti. Itu juga cari masalah karena menggunakan pakaian mini. Pengusaha meminimalkan outsourcing, dan buat peluang usaha yang banyak. Berikan investor melakukan penanaman modal buka sektor bisnis sebanyak-banyaknya. Arahkan pola kerja pemerintah mengikuti swasta. Pemerintah sudah mengikuti pola kerja perushaan swasta. Tetapi, perekrutan SDM-nya belum. Perempuan sudah mampu mengelola dirinya dengan baik, apa pun jenis pekerjaan mereka sebelum keluar dari rumah. Perempuan ber-

jibaku dengan pekerjaan fisik. Di mana kesempatan pemerintah memberikan perhatian kepada pekerja lepas seperti tukang suun. Apa yang dapat diperbuat untuk mereka. Perempuan dengan berbagai keunggulan dan keterbatasan serta peran kodrati, tetap mampu berjalan optimal asalkan membekali diri sehingga menjadi sumber daya manusia yang baik. Perempuan tidak kalah saing dalam arena asalkan mampu kuatkan posisi dengan SDM lain dan selalu berpikir optimis. Jadikan kodrat sebagai suatu kekuatan dan kebanggaan. Perempuan tidak boleh cengeng. Dr. Ni Wayan Widhiasthini

Jurus Cerdas...............................................................................................................................................................dari halaman 1 didepositokan Rp 5 juta. Tabungan di bawah Rp 5 juta tak bisa didepositokan dan bunganya hanya 1% s.d. 2% per tahun bahkan saldo di bawah Rp 1 juta bunganya 0%. Jika berinvestasi dengan emas, dengan uang 1 juta bisa mengonversikan emas seberat 3,5 gram yang nilai kenaikan per tahunnya sekitar 20% sampai 37%. “Kenaikan harga emas ini dari tahun ke tahun cukup besar kira-kira mencapai 20% s.d. 40% per tahun,” ungkapnya. Ia menuturkan, faktor lain yang berpengaruh terhadap harga emas yakni ketika terjadi kepanikan finansial. Seperti yang terjadi tahun 1998 dan 2008 lalu, harga emas meroket karena orang kehilangan kepercayaan terhadap uang kertas. Harga emas naik jika harga minyak naik. Kenaikan harga emas ini pun terjadi ketika tak diimbangi pasokan emas dunia dan ketika terjadi situasi politik. Emas mudah dicairkan. Tak seperti investasi properti, deposito, saham, obligasi, kendaraan atau pun karya seni yang perlu waktu untuk pencairan. “Kemungkinan nilainya juga akan menyusut karena inflasi, pajak, administrasi dsb., berbeda dengan emas yang bisa segera dicairkan di toko emas, pegadaian bahkan bank syariah dengan proses cepat. Nilainya pun mengikuti harga pasaran internasional yang terus menguat,” katanya. Emas mudah dipindahkan, tahan lama, dan merupakan aset yang bisa dipegang, bersifat sangat pribadi serta hanya sedikit risiko karena tak ada biaya penyusutan nilai. Emas bebas pajak dan administrasi karena pemerintah menganggap emas sebagai bahan baku perhiasan,” katanya. Menurutnya, berinvestasi emas memiliki risiko rendah, namun memberi keuntungan signifikan.

Saat krisis keuangan melanda, sementara harga saham anjlok, properti susah terjual, harga emas justru naik. Likuiditasnya pun tinggi. “Kapan saja, Anda perlu uang, saat itu bisa langsung menjualnya,” kata Rulli. Emas juga bagus untuk diversifikasi. Ketika kita sudah berinvestasi saham, obligasi, properti atau lainnya membeli emas bisa menjadi alternatif yang baik. Saat ini investasi emas tengah banyak diminati orang. Hal ini mengingat harga emas cenderung meningkat dan sebagai tindakan jaga-jaga ketika terjadi krisis ekonomi, politik, sosial atau mata uang, karena harga emas justru naik. Khusus bagi yang berencana naik haji, berinvestasi emas sangat menarik. Saat ini biaya naik haji untuk satu orang kira-kira mencapai Rp 35 juta s.d. 40 jutaan. Sebagai alternatif, bisa menyiapkan dananya dengan emas. Tahun 1990-

an untuk pergi haji perlu 250 s.d. 300 gram emas. Sedangkan saat ini hanya 150 gram emas. “Hal ini karena harga emas dari tahun ke tahun meningkat,” katanya. Metode kebun emas ini ditemukan Rulli Kusnandar, pria kelahiran Bandung, 18 Mei 1968 pada tahun 2007 dan mengenalkan metode kebun emas ini dalam berbagai seminar tahun 2009. Pendidikan menengah atas ditempuhnya di SMA 1 Bandung. Ia sempat kuliah di Bina Nusantara selama satu tahun dan STBI Bandung Jurusan Informatika selama dua tahun. Ia pernah bekerja di Gajah Tunggal sebagai programmer (1990 s.d. 1991) dan Tugu Pratama Indonesia (1991 s.d. 2002) dengan posisi terakhir sebagai manajer teknologi informasi. Tahun 2002 ia memilih keluar dan memimpin perusahan bidang teknologi informasi. Tahun 2004, usahanya bangkrut. Tahun 2004 pula, ia bangkit dari keterpurukannya itu dan mendirikan bisnis pencucian mobil di Jakarta Selatan dan minimarket. Sejak tahun 2005, ia pun aktif mengisi berbagai seminar bisnis di lebih dari 60 kota seIndonesia. Ia sekarang lebih dikenal dengan sebutan “Jobless Professional” karena kegiatannya hanya menekuni bisnis internet marketing www.KebunEmas.com, menjadi affiliate Clickbank dan berinvestasi emas. Rulli Kusnandar akan hadir di Bali dalam Seminar “Jurus Cerdas Berkebun Emas yang dihelat

Minggu (15/5) pukul 17.00-selesai di Hotel Nikki Denpasar. Ini adalah seminar Kebun Emas yang pertama di Bali dan seminar kedua mungkin belum tentu diadakan. Dalam seminar itu, Rulli akan mengupas habis bagaimana berinvestasi emas dengan cara yang belum pernah terpikirkan orang sebelumnya. Ia akan mengungkap langkah-langkah berkebun emas dengan cara yang sederhana, bahkan dengan cara mudah Anda bisa mengumpulkan emas sebanyak mungkin dalam hitungan tahun, bulan, minggu sampai per hari. Menurutnya dengan metode berkebun emas ini bukan tidak mungkin Anda bisa mengumpulkan emas 1,5 Kg gram dalam hitungan minggu, memiliki emas dengan hanya sepertiga dari harga emas, mengamankan berapa pun kekayaan Anda hingga ratusan tahun ke depan. Materi lain seperti bentuk emas mana yang cocok untuk media berinvestasi, apakah bentuk perhiasan, koin atau batangan? Serta kapan waktu yang tepat untuk memetik kebun emas kita. Semua akan terjawab dalam seminar ini. Harga tiket VIP Rp 275 ribu dan VVIP Rp 375 rb. Tiket bisa diperoleh di seluruh Toko Buku Gramedia pusat kota (221026), Gatsu (416560) dan Bali Galeria (758082) dan tiket juga dibeli di Asia IMC, Jalan Tukad Barito No. 8C Panjer Denpasar, Aditya Printing, Jalan Tukad Pakerisan No. 79 Panjer Denpasar dan Jalan Kapten Agung No. 6 Denpasar. Untuk informasi, pendaftaran silakan menghubungi telepon (0361) 8787189, 081 337 887 789, 081 805 536 333. Pembayaran tiket bisa ditransfer ke rekening BCA 049 895 8888 a.n. Ni Made Dewi Saraswati dan BNI 018 089 0404 a.n. Ni Made Dewi Saraswati.


8 - 14 Mei 2011 PRESTASI Oka, Pemuda Pelopor Nasional Elok Subekti, “Kartini Surabaya”

yang Buka Klinik Herbal

P

Dia nekad, mengobati orang desa dengan pengobatan bekam dan herbal. ‘’Orang desa, setelah diterapi banyak mengidap penyakit. Saya memperkenalkan pengobatan bekam dan herbal kepada warga desa secara gratis,’’ katanya. Dengan sering melakukan bakti sosial, serta membaca buku dan mengikuti seminar, pengetahuannya tentang herbal makin bertambah. Hingga, akhirnya ia memberanikan diri membuka klinik dengan pengobatan bekam dan herbal. Saat wartawan Koran Tokoh berkunjung ke klinik herbalnya pekan lalu, terlihat tidak sedikit pasien yang datang ke Rumah Herbal Toga Citra, milik Elok Subekti ini. Mereka melakukan konsultasi, terapi maupun yang hanya membeli obat herbal untuk mengobati penyakitnya. Di klinik itu, Elok dibantu dua terapisnya. Dalam waktu singkat Rumah Herbal Toga Citra ramai dikunjungi pasien. Namun, perjuangan membangun klinik pengobatan bekam dan herbal ini tidak dilalui dengan mulus. Saat mulai menekuni pengobatan ini Elok Subekti ditentang anak-anaknya. Justru larangan anaknya itu makin membuat Elok Subekti nekat dan terus menekuni pengobatan ini. ‘’Orang berbuat baik dengan mengobati sesama yang sedang sakit kok dilarang. Karena itu, saya terus beraktivitas dengan mengobati pasien meski ada tentangan dari keluarga,’’ katanya. Namun, setelah melihat ibunya tetap bersemangat, akhirnya keempat anaknya luluh hatinya dan berbalik mendukung seratus persen aktivitas itu. Bahkan, kini ada seorang anak dan kemenakannya yang mengikuti jejaknya.

11

Dengan Bunga Kering Bantu 20 Anak Asuh

INDONESIA kaya beragam jenis tanaman. Ada sekitar 3.000 tanaman herbal. Mulai dari bunga kerisan, bogenfil, mawar, buah, kulit dan biji. Dari jumlah itu, ada 940 jenis tanaman obat atau simplisia yang bisa dijadikan obat penyembuh penyakit. Namun, kekayaan alam yang melimpah itu belum dimanfaatkan. emerintah, seharus nya membentuk lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan tentang manfaat herbal. Dengan adanya lembaga pendidikan yang mengajarkan manfaat herbal, akan muncul herbalisherbalis muda. Demikian penuturan seorang herbalis wanita, Elok Subekti, yang memperoleh ‘Kartini Award 2011’, 21 April lalu. Elok, yang menyukai tanaman sejak kecil ini dinobatkan sebagai pencetus pengobatan herbal di Jawa Timur khususnya Surabaya. Saat ini, herbalis wanita sangat minim. Umumnya, wanita tidak memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak. Padahal, cita-cita R.A. Kartini, wanita harus sama dengan laki-laki, termasuk dalam hal mendapatkan pendidikan. Yakin, akan kemampuannya, Elok Subekti, yang dilahirkan di Mojokerto, 19 Maret 1967 ini, gemar membaca buku khususnya tentang herbal. Sejumlah buku yang membahas herbal dilahapnya. Dengan seringnya membaca buku, ibu empat anak ini makin paham dan yakin bahwa beragam tanaman yang ada di Tanah Air bisa dijadikan obat yang mujarab. Dari jenis tanaman bunga, buah, kulit dan biji-bijian itu Elok Subekti memproduksi sendiri sembilan item herbal yang bisa menyembuhkan penyakit. Pemilik Rumah Herbal Toga Citra, di kawasan Pondok Rosan I Wiyung, Surabaya, ini menuturkan, ia mulai mendalami herbal tahun 2002 dengan belajar secara autodidak. Elok Subekti sering berkeliling dengan menggelar bakti sosial ke desa-desa di Jatim dan Jateng.

Tokoh

D

Elok Subekti

Sebelum diobati, lebih dahulu pasien didiagnosa penyakitnya. Setelah itu, baru dicarikan obatnya. Pengobatan, bisa menggunakan bekam dan obat. Ada dua jenis resep yang menjadi andalannya yakni untuk kista dan impotensi. Untuk impotensi, beberapa herbal yang dibutuhkan biji kucai dan jahe merah. “Pasien yang menderita impotensi biasanya juga mengidap diabet. Sebelum diberi resep, pasien di-treatment untuk mengetahui penyebab impotensi,’’ ujarnya. Ada ceritanya yang mendorong Elok membuka klinik. Saat itu tahun 2008, ada seorang wanita penjual sayur yang mengeluh mengidap penyakit kista rahim. Wanita yang tergolong miskin ini hampir tiap hari menjajakan dagangan ke rumah Elok. Karena tidak tega melihat derita wanita itu, Elok tertantang untuk menyembuhkan berbekal pengetahuannya tentang tanaman obat. “Setelah diterapi, muncul reaksi, keluarkan darah. Tetapi, setelah diterapi satu bulan penyakit kistanya sembuh,’’ katanya. Setelah itu, klinik rumah herbalnya mulai ramai didatangi pasien. “Dalam melakukan terapi pengobatan, ada empat fase (4 R) yang harus dilewati, yakni, realis, rileks, regeneration dan refanction,” kata Nurul, salah seorang terapis di Rumah Herbal Toga Citra. —sby

I tengah ibu-ibu anggota Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Sintang asyik tekun belajar merangkai bunga kering di Denpasar 25 April lalu, terdapat sesosok laki-laki yang mendampinginya. Ia, I Gusti Agung Ngurah Oka Ambarawa Kusuma, S.E., diundang Iwapi dan BKOW Daerah Bali untuk menyadi pelatih para tamunya dari Kalimantan Barat itu. Oka, begitu ia biasa disapa, pemuda pelopor nasional di bidang usaha pembuatan bunga kering. Penghargaan itu ia terima tahun 2004. Oka lahir di Surabaya. kini menetap di Banjar Kaja Dalung, Kuta Utara. Oka telah menekuni pembuatan bunga kering sejak tahun 1983, saat masih duduk di bangku SMP. Ia membuat bunga kering dan membuka usaha bunga kering ini tahun 1990 dengan bermodal Rp 75.000 untuk membeli soder. Untuk membuat kreasi bunga kering ini, Oka tak asalasalan. Ia selalu berupaya membuat bunga kering sesuai model bunga aslinya. Inilah yang menjadi ciri khas karyanya. Oka tak hanya mahir hal merangkai bunga melainkan berbakat dalam kegiatan seni lainnya seperti membaca puisi dan bermain sinetron. Berkat prestasinya kini yang telah mengoleksi banyak piagam penghargaan. Namanya kian melambung saat ia mendapat kesempatan menghias istana presiden menjelang HUT RI tahun 2001 atas rekomendasi Gubernur Bali. “Tiga hari tiga malam saya sedikit tidur untuk menyelesaikannya. Karena, saya merasa membawa nama Bali,” kata pemilik usaha Kusuma Florest ini. Selain sibuk sebagai pegawai Pemerintah Badung, Oka menekuni hobinya berkreasi

I Gusti Agung Ngurah Oka Ambarawa Kusuma, S.E.

dengan sampah untuk ia olah menjadi berbagai jenis kerajinan daur ulang, seperti berbagai jenis bunga terbuat dari daun kering, biji-bijian, buah kering, serat dan kulit pohon. Dengan tangan dinginnya sampah yang tak berguna ia sulap menjadi produk seni berkualitas ekspor. “Selain ramah lingkungan, bahan yang digunakan sangat melimpah,” ujar pria yang masih membujang ini. Usahanya ia lakukan di rumahnya yang melayani permintaan dari pemilik artshop yang tersebar di berbagai daerah seperti Kuta, Ubud dan

tkh/tin

Sukawati. “Selain itu ada juga permintaan untuk diekspor ke berbagai negara,” kata anak ke2 pasangan I Gusti Ayu Ketut Sukahati dan I Gusti Ngurah Sutedja, ini. Kerajinan bunga kering bisa ditemui di pusat-pusat kerajinan maupun di artshop. Harganya bervariasi dari Rp 3.000 sampai Rp 25.000 per tangkai. Jika dalam bentuk rangkaian, harganya lebih mahal yakni Rp 25.000 sampai jutaan rupiah. Peminat bunga kering cukup tinggi. Hal ini karena penampilannya yang unik bisa dipakai untuk hiasan ruangan

sampai untuk hand banquet. Permintaan bunga kering ini memuncak tahun 2002; sebulan Oka bisa mendapat penghasilan Rp 750 juta. “Saat ini agak menurun. Ini bukan hanya untuk bunga kering tetapi saya rasa menimpa semua jenis kerajinan. Namun, penghasilan masih mencapai Rp 10 juta rupiah per bulan bahkan bisa lebih,” katanya. Menurutnya usaha bunga kering ini sangat menarik. Bahan yang ada melimpah, tak harus membeli, bahkan banyak orang senang karena ia telah membantu membersihkan sampah dari lingkungannya. Saat ini pelaku usaha bunga kering ini masih terbatas. Hal ini membuat harga jenis kerajinan ini bisa bertahan. Keuntungan usaha ini bisa 300 s.d. 400%. “Yang terpenting jika ingin menekuni usaha bunga kering, hilangkan rasa malu, karena kerjanya seperti pekerjaan pemulung,” katanya. Kendala lain, cuaca. Cuaca buruk bisa menghambat proses pengeringan bahan. Ia mengatakan sifat bahan berdasarkan musim. Untuk itu ia harus pintar-pintar menyetok bahan. “Jika ada permintaan memakai bahan tertentu yang ada pada musim tertentu, jika tak pandai menyetok akan kehabisan. Jika bahan sudah habis, mau cari di mana terpaksa menolak permintaan,” ungkapnya. Untuk memperoleh ide ia banyak belajar dari buku soal teknik dasar, selanjutnya ia kembangkan sendiri. Dari usaha ini ia dapat membantu 20 anak asuh. Selain membuat bunga kering, ia banyak memberikan pelatihan merangkai dan membuat kerajinan bunga kering kepada empat kelompok usaha di Desa Petang dan Dalung. “Kebetulan kegiatan tersebut tiap kelompok mendapat bantuan modal dari Pemda Badung,” katanya. —tin

Opening Gedung Wisesa Group

Tawarkan Produk Berkualitas dengan Layanan Berkelas

IGA Indrawati, S.E., pengusaha fashion yang mengangkat citra busana tradisional Bali

S

oft opening gedung Wisesa Group yang berlokasi di Jalan Raya Hayam Wuruk No. 199 Denpasar, berlangsung Selasa (3/6). Fasilitas gedung yang sangat representatif ini sekaligus memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat yang menginginkan produk berkualitas dengan layanan berkelas dalam satu tempat. Wisesa Group menaungi beberapa bidang usaha seperti salon, butik, klinik spesialis kulit, kantin dan sekolah musik. Penyempurnaan dari fasilitas gedung merupakan upaya untuk memanjakan customer dengan pelayanan dan kenyamanan maksimal. Dengan memusatkan produk dan layanan dalam satu gedung (one stop service), diharapkan apa yang menjadi kebutuhan customer selama ini bisa diwujudkan. Seperti dituturkan owner I Gusti Ayu Indrawati, S.E., perluasan gedung Wisesa dimaksudkan untuk makin mendekatkan diri dengan customer yang selama ini sudah setia terhadap produk dan layanannya.

“Gedung yang sudah kami rehab ini kami perluas sematamata demi kenyamanan customer. Kami ingin memanjakan customer dengan memberikan yang terbaik,” ujar wanita penyuka fashion ini. Menurut Indrawati, customer yang berkunjung tak hanya bisa menikmati layanan salon kecantikan tetapi juga busana-busana berkelas yang terpajang rapi di butiknya. Atau mereka yang ingin merawat kesehatan kulitnya, bisa langsung datang ke Erha Clinic di sebelahnya. Ibu-ibu yang sedang mengantarkan putraputrinya bersekolah musik di lembaga musik Farabi, juga bisa menikmati layanan di salon. “Intinya kami memberikan apa yang dibutuhkan customer dalam satu gedung sekaligus untuk memudahkan mereka mendapatkan pelayanan,” tutur wanita ayu yang awet muda ini. Salon dan Butik Ayulia Indrawati paham, kebutuhan masyarakat Bali khususnya kaum wanita terhadap perkembangan fashion dan perawatan

kecantikan khususnya di kotakota besar cukup tinggi seiring kiprah wanita yang makin menyadari pentingnya penampilan. Keberadaan salon dan butik dengan produk-produk berkualitas, menurut Indrawati, jelas menunjang penampilan seseorang. “Kalau tata rias wajah sudah bagus kemudian ditunjang oleh busana yang fashionable, saya yakin penampilan seseorang makin memiliki daya tarik. Cantik tanpa didukung busana yang pas, ya… kurang bagus. Demikian sebaliknya, berbusana mewah tapi tanpa diikuti riasan wajah yang ideal, hasilnya juga kurang pas. Antara kecantikan wajah/kulit dengan busana, idealnya harus pas. Sama-sama mendukung,” papar pengusaha salon dan butik Ayulia ini. Erha Clinic Dalam kesempatan yang sama, Indrawati juga menawarkan layanan Erha Clinic miliknya. Klinik spesialis kulit yang sudah beroperasi sejak 2007 ini, telah menjadi langganan banyak istri pejabat dan wanita profesional. Erha Clinic menjadi solusi perawatan kulit secara intensif dan terintegrasi. Kini, Erha Clinic, melayani tujuh hari dalam seminggu (Minggu tetap buka). Customer bisa berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit dan tenaga medis bersertifikasi. Customer akan mendapatkan perawatan kulit sesuai dengan jenis dan karakter kulit yang dimilikinya. “Erha Clinic merupakan salah satu klinik spesialis kulit yang paling ideal. Kami yakin mampu memberikan pelayan-

Ny. Bintang Puspayoga didampingi IGA Indrawati (kanan) saat pemotongan pita peresmian gedung Wisesa Group

an prima kepada customer yang ingin merawat kulitnya tetap sehat, segar dan indah sebab kulit yang sehat adalah cermin dari kecantikan alamiah seorang wanita,” tutur pengusaha papan atas ini. Pengusaha Kreatif Di kalangan istri-istri pejabat, IGA Indrawati dikenal sebagai sosok pengusaha yang kreatif. Dirinya mampu melihat peluang sekaligus memanfaatkannya di kala pengusaha lain belum sempat memikirkannya. Kesan ini muncul ketika istri Wali Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra turut menghadiri acara soft opening gedung Wisesa Group. “Saya turut merasa bangga dengan kehadiran gedung ini.

Ini mencerminkan tingginya kepedulian seorang pengusaha terhadap perkembangan sekaligus kebutuhan terhadap fashion khususnya di kota-kota besar. Bu Indrawati adalah sosok pengusaha kreatif yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat Bali terhadap fashion masa kini. Produk-produknya sanggup mendorong peningkatan citra busana tradisional Bali. Ini sesuai misi kami untuk menggairahkan pengusaha dalam memproduksi busana-busana modifikasi maupun kebaya tradisional dari bahan batik, endek, dll. Kota Denpasar perlu orang-orang kreatif seperti itu dan Bu Indrawati sudah menjadi pioner bagi perkembangan fashion di Kota Den-

pasar,” kata Ny. Selly D. Mantra turut bangga. Ditambahkan, jika dulu wanita kurang percaya diri bahkan malu memakai busana tradisional, kini justru sebaliknya. Busana tradisional yang dimodifikasi sudah menjadi ikon busana wanita di Bali. “Saya ingin terus Ny. IA Selly Mantra, secara intensif mendorong pemakaian busana tradisional

menggalakkan pemakaian busana tradisional dalam berbagai acara karena inilah kebanggaan kita sekaligus ciri dan identitas wanita Bali,” kata Ny. Selly bersemangat. Selain Ny. Selly D. Mantra, istri pejabat lainnya yang hadir adalah istri Wagub Bali AA Puspayoga Ny. Bintang Puspayoga dan banyak undangan dari kalangan pendidik, pengusaha, profesional, dll. Dalam kesempatan tersebut, juga ditampilkan beberapa desain busana modifikasi dan kebaya tradisional yang cukup menawan. Perpaduan warna dan corak serta desain yang fashionable, membuat busana yang diperagakan sejumlah peragawati ini, terkesan eksklusif dan memikat. Tak sedikit tamu undangan yang terkesan dan akhirnya memboyong sejumlah busana. –ari


10

Tokoh

BUMI GORA Tradisi Unik Pulau Bungin

8 - 14 Mei 2011

Sebelum Menikah buat Fondasi Batu Karang

Salah satu syarat yang menjadi kewajiban laki-laki Bungin yang hendak menikah dan akan bertempat tinggal di pulau ini, membuat daratan baru dari karang sebagai tempat tinggalnya kelak bersama keluarganya

Dengan luas pulau 8 hektare dan 873 kepala keluarga (KK) atau 3.079 jiwa, Pulau Bungin disebut-sebut sebagai yang terpadat di dunia dengan kepadatan penduduk empat orang untuk tiap 100 meter persegi. Pulau Bungin memang sangat padat penduduk. Rumah penduduk yang tertata rapat hanya dengan jarak antar rumah 1-1,5 meter. Arsitektur rumah-rumah di Pulau Bungin adalah rumah panggung terbuat dari kayu khas Bungin dan atapnya terlihat merata menutupi luas pulau. Saking rapatnya, ada beberapa rumah yang atapnya bertemu.

D

i pulau ini tidak tampak pepohonan apalagi rerumputan. Hanya ada beberapa pohon kelapa yang tidak tinggi karena sengaja dipangkas oleh penduduk untuk menghindari jatuhnya buah kelapa di atap-atap rumah penduduk yang padat. Hal inilah yang membuat hewan seperti kambing di pulau ini tidak pernah menikmati makan rumput atau tumbuhan lainnya. “Kambing di sini makan kertas dan plastik atau sesekali sisa daun pisang pembungkus belanjaan pasar para ibu,” kata Sofyan, Kepala Desa Pulau Bungin. Warga Pulau Bungin adalah keturunan Suku Bajo, Makassar dan bahasa yang dipakai di pulau ini adalah Bahasa

Bajo. “99% warga Bungin bersuku Bajo,” kata Sofyan. Ada juga orang Jawa, Lombok dan Sumbawa yang tinggal di sini. Pulau unik ini terletak di perairan laut Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya berada di sebelah Utara Pulau Sumbawa dan secara administratif, Bungin termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Alas. Untuk mencapai pulau ini, dari Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, berjarak 70 km ke arah Barat. Sedangkan jika dari Mataram, menghabiskan waktu berkendara empat sampai lima jam perjalanan ke arah Timur sampai Pelabuhan Poto Tano sebagai pintu masuk Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa

Barat lalu menuju Alas Kota Pelabuhan masa lampau. Dari daratan sepanjang jalan di Alas, pulau Bungin bisa terlihat karena jaraknya 4 km arah utara dari Alas. Dari Alas, hanya perlu waktu 40 menit menyeberang dengan perahu motor ke Pulau Bungin. Sejak tahun 2005, telah dibangun jalan yang menghubungkan daratan Alas dengan Pulau Bungin yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit. Keunikan pulau ini ada pada sejarah terbentuknya dan keberadaan penduduk yang mendiami pulau ini. Secara turun temurun masyarakat Pulau Bungin menyimpan cerita tentang keberadaan leluhur mereka di pulau ini. Dahulu, ketika nenek moyang mereka yang berasal dari Bajo, Sulawesi Selatan, memilih tinggal di pulau tersebut untuk alasan keamanan, menghindari perampok dan pencuri yang selalu mengganggu istri-istri dan keluarga para nelayan. Ceritanya berawal dari pendatang dari Bajo yang tinggal di sini awalnya menetap di Pulau Panjang sekitar Pulau Bungin. Namun, karena kesulitan air bersih mereka pun berpindah ke Bajo Rai yang letaknya di daratan Labuhan Alas sebelah Utara. Di sanalah mereka akhirnya menetap. Tiap sore, para

penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan ini mulai turun melaut hingga pagi tiba. Jadilah kampung ini tanpa lelaki setiap malamnya. Hal ini mengundang para penjahat, perampok dan pencuri mengganggu istri dan keluarga mereka serta merampas harta benda mereka. Ini terus menerus berlangsung sehingga terasa sangat mengganggu dan para suami yang nelayan ini merasa khawatir dan waswas meninggalkan keluarga tiap kali turun melaut. Inilah yang kemudian mendorong salah seorang tokoh di tempat tersebut yang juga seorang pelaut yang dikenal dengan nama Panglima Mayo untuk mendatangi sebuah gundukan pasir putih di tengah laut perairan Sumbawa itu yang luasnya tidak seberapa untuk kemudian mengumpulkan karangkarang mati untuk dijadikan tempat tinggal. Ia adalah seorang pejuang asal Sulawesi Selatan dan orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Bungin ini tahun 1818. Ia adalah seorang pemberani yang dikenal ditakuti oleh para perompak dan penjahat perairan. Ia lalu mendirikan rumah di tempat tersebut dengan luas lokasi seadanya dan memboyong keluarganya dari Bajo Rai untuk tinggal di Pulau Bungin. Lokasi gundukan pasir putih

Vertigo Lenyap, Tubuh Segar Bila vertigo mendera, semua benda yang ada disekitar seolah-olah bergerak dan berputar. Ini bisa membuat penderita mual dan kehilangan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah menjadi tinggi yang terjadi secara tiba-tiba. Satu setengah tahun yang lalu vertigo mengganggu aktivitas Ni Wayan Karyawati (56), yang beralamat di Jln. Sahadewa, Denpasar. Perempuan yang berprofesi sebagai guru ini awalnya sering mengalami pusing. Pusing itu sering muncul secara tiba-tiba dan mengakibatkan ia kehilangan keseimbangan dan nafsu makannya menjadi berkurang. Dengan seringnya mengalami kejadian tersebut, ia menjadi khawatir akan keadaannya. Karena khawatir dan aktivitasnya terganggu, Karyawati mendatangi salah satu rumah sakit yang ada di Denpasar untuk berobat. Setelah dilakukan cek-up, ternyata pengawas di salah satu sekolah ini mempunyai tekanan darah tinggi yang diakibatkan oleh pusing-pusing/vertigo dan

Ni Wayan Karyawati

apabila hal tersebut dibiarkan kemungkinan besar stroke akan menyerang Karyawati. Ia pun mengonsumsi obat terus agar kondisinya menjadi lebih baik. Namun, yang masih menjadi ganjalan Karyawati ketika keluhan itu muncul dan ia mengonsumsi obat, dengan

seketika rasa sakit itu terasa lenyap. “Saya merasa jadi ketergantungan mengonsumsi obat yang berbahan kimia”, ujarnya. Suatu ketika Karyawati melihat Bali TV, kebetulan acara TV tersebut memuat tentang Klinik Bali Heart Care Center/Hsen Chii International dimana pengobatanya menggunakan metode pengobatan komplementer. Perasaan Karyawati pun merasa senang dan tertarik untuk berobat di Klinik Bali Heart Care Center guna mendapatkan kesembuhan. Dengan semangat Karyawati mendatangi Klinik Bali Heart Care Center untuk melakukan konsultasi. Oleh Mr. Chai, ia disarankan untuk melakukan terapi EBOO (Filter Ozone Darah) dan juga mengonsumsi herbal untuk pembenahan sistem metabolisme tubuhnya. Setelah melakukan perawatan kira-kira dua minggu, Karyawati langsung merasakan hasil yang luar biasa. “Setelah saya melakukan terapi Ozone, lemaklemak dalam darah semua keluar dan tubuh terasa segar dan ringan. Saya mengonsumsi herbal lebih kurang se lama satu bulan. Dengan pengobatan kombinasi tersebut, rasa pusing/vertigo yang sering muncul kini lenyap”, ujarnya sambil tersenyum. Karyawati sekarang tetap melakukan perawatan guna menjaga kesehatannya dan kini ia tidak lagi mengonsumsi obat kimia seperti biasanya.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke:

Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

sebagai cikal bakal Pulau Bungin itu, kini di atasnya berdiri masjid sebagai tempat ibadah warga Bungin, Masjid Al Ikhlas. Bungin berasal dari kata Bubungin yang berarti gundukan pasir. Pulau Bungin adalah pulau karang bentukan yang luasnya terus bertambah seiring bertambahnya penduduk. Cukup lama ia dan keluarganya menetap di tengah laut itu dan tampaknya dalam kondisi yang aman. Keamanan yang dirasakan keluarga Panglima Mayo ini, menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya di Bajo Rai untuk mengikuti jejaknya. Namun, bagaimana mereka tinggal sementara daratan hanya secuil? Naluri bertahan dan ingin terbebas dari rasa takut dan ancaman, membuat mereka berpikir kreatif, yakni dengan menimbun areal yang telah ada di sekitar rumah Panglima Mayo tersebut dengan karang-karang mati. Mulailah areal Pulau Bungin bertambah sedikit demi sedikit mengikuti jumlah penduduk yang ingin tinggal di sana hingga akhirnya seluar 8 hektar dan akan terus bertambah. Tiap keluarga baru atau pasangan yang ingin menikah terutama pihak laki-laki dan memilih akan menetap di sini, memiliki kewajiban membuat daratan baru dari karang-karang mati yang diambil dari sekitar lokasi Pulau Bungin. “Mereka harus bersedia dan wajib menyiapkan lokasi untuk rumah mereka nantinya,” kata Sofyan. Dalam aturan adat tentang perkawinan warga Bungin, yang telah disepakati bersama, diatur pasangan muda-mudi yang hendak menikah wajib membangun lokasi sendiri untuk mendirikan rumah mereka. Mereka diwajibkan membuat fondasi rumah dari batu karang yang disebut talassaq. Butuh waktu tujuh bulan hingga satu tahun bagi seorang laki-laki Bungin untuk mengumpulkan batu karang untuk ditumpuk pada sisi luar pulau yang telah ditentukan dengan luas sekitar 7 x 12 meter persegi. Setelah lokasi baru ini terbentuk, barulah mereka boleh menikah dan mendirikan rumah dan aturan turun

Sejak dibuat jalan yang menghubungkan Pulau Bungin dengan daratan Alas, transportasi anak sekolah menjadi lancar

temurun di pulau ini dan ini “wajib” hukumnya. Dalam pengumpulan karang-karang ini, calon mempelai dibantu oleh keluarga dan masyarakat secara bergotong royong. Jika dulu mencapai Pulau Bungin hanya dengan perahu motor sekarang telah ada jalan yang menghubungkan Pulau Bungin dengan daratan Alas sepanjang 750 meter. Akses jalan yang terbuka ini membuka harapan bagi cita-cita anak Bungin untuk mendapat pendidikan yang layak. Di Bungin baru ada PAUD, TK dan dua SD. Untuk melanjutkan SMP dan SMA, anak-anak Bungin harus ke daratan Alas. Sudah banyak ojek dan bemo umum sebagai transportasi mereka dengan membayar Rp 4.000 PP. Keunikan Pulau Moyo membuat banyak wisatawan terutama mancanegara mendatanginya. Menurut Sofyan, kapal-kapal pesiar yang menuju Pulau Moyo dan Pulau Komodo secara rutin dua kali sebulan mampir di Pulau Bungin untuk menyaksikan keunikan dan budaya yang ada di pulau ini seperti tari-tarian khas, atraksi joget dan pencak silat khas Bungin. Saat para wisatawan berkunjung ke tempat ini kegiatan kesenian ini digelar di dermaga pada sebuah panggung yang telah disiapkan. Penduduk Bungin sangat mencintai pulaunya. Mereka yang telah turun temurun tinggal di sini tidak pernah berpikir untuk membeli tanah dan pindah rumah ke daratan. Peti kalamndan isian kepeh

bubungin, pdi dendamku malenan tana bungin. Syair berbahasa Bajo ini adalah pengikat masyarakat dengan leluhur dan Pulau Bungin. Syair itu berarti, banyak peti sudah kuisi dengan uang atau penghasilan dari Bungin, sakit hatiku jika meninggalkan tanah Bungin.”Banyak godaan ketika berada di darat tetapi juga ada rasa tidak aman karena pencurian meskipun bisa melaut sampai berbulan-bulan, masyarakat Bungin pasti kembali,” kata Sofyan. Mereka tidak akan meninggalkan pulau ini dan telah terbiasa dengan ancaman musim angin dan ombak yang menghantam-hantam pulau mereka. Setiap 15 hari pada bulan purnama bulan Januari hingga Maret, pada malam hari air laut selalu naik hingga 30 cm di kolongkolong rumah mereka. Sedangkan pada April hingga Juli air naik pada siang hari. Mereka akan tetap bertahan di sana dan terus memperluas areal Pulau Bungin dengan cara reklamasi alami dari batu karang. Namun, ujar Sofyan, di bagian Selatan pulau ini sudah tidak bisa sama sekali direklamasi karena sudah sangat dalam. Di bagian Timurnya, hanya bisa menambah hingga tiga rumah saja. Sedangkan di bagian Utara masih tersisa lahan yang bisa diperluas dengan tumpukan batu karang sekitar 20 rumah. Di bagian Barat yang rupanya masih bisa terus berkembang seluas setengah dari pulau ini. Jika demikian, tampaknya pada akhirnya luas pulau Bungin tidak akan lebih dari 16 hektare. —nik

Pulau Bungin, konon pulau terpadat di dunia


14

Tokoh

KIPRAH WANITA

8 - 14 Mei 2011

tkh/sep

Menyanyikan lagu happy birthday sebelum pemotongan tumpeng

Dari Talkshow HUT ke-48 BKOW Bali

Bukan karena semuanya baik, kita menjadi tersenyum Tetapi karena kita tersenyum semuanya menjadi baik Bukan karena peringatan hari ulang tahun, jadikan hari ini indah dan bahagia Tetapi, karena kita bahagia, peringatan ulang tahun hari ini menjadi indah

D

emikian untaian pe tikan syair puisi yang diucapkan Ketua Umum BKOW Bali A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda di acara HUT ke-48 BKOW di Hongkong Garden Restaurant, Sanur pada Selasa (26/4). Di kesempatan yang sama, Gung Tini sapaan akrabnya, mengungkapkan sebuah harapan agar pada usianya yang cukup dewasa, masyarakat lebih mengenal keberadaan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali ini. Selanjutnya dengan bergabungnya sebagin besar organsisasi wanita se-Bali di dalamnya, eksistensi BKOW juga dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik, khususnya dalam pemberdayaan perempuan di segala bidang. HUT ke-48 BKOW tahun ini, mengusung tema “Kita pun bisa Sukses” yang sekaligus juga menjadi topik talkshow. Sebab, menurut Gung Tini sukses merupakan hak dan dapat dicapai semua orang. Sekaligus juga merupakan cita-cita hidup, agar sukses dalam karier, dalam keluarga serta bermasyarakat yang akhirnya bermuara pada sukses dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kegiatan HUT ke-48 kali ini, ditangani Alisa Khadijah Bali. Asosiasi Muslimah Pengusaha se-Indonesia, Bali yang diketuai Z. Nurindahwati, S.H. ini menjadi leading sektor kegiatan HUT BKOW tahun ini. Karena itu, organisasi wanita yang berdiri pada tahun 1997 oleh Ikatan Cendekia Muslim Indonesia (ICMI) ini, yang bertanggung jawab atas rangkaian acara, dan telah dilaksanakan dengan baik. “Kehadiran Khofifah hasil lobi dari PW Muslimat NU Bali, melalui ketuanya Dra. Hj.Any Hani’ah Saifudin, M.A,” papar dosen Fakultas Hukum Undiknas University ini. Penanggung jawab acara ditugaskan secara bergiliran. Tahun depan rencananya leading sektor-

nya akan dipegang oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Bali. Ketua Panita HUT Ir. Farida Hanum dari organisasi Alisa Khadijah, juga menyampaikan kalau sebelum acara talkshow, dilaksanakan kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat banyak. Kerja sama dijalin antara BKOW dengan PINTI dan INTI Bali, FIF, FIB dan PWKI, PMI Kota Denpasar didukung pula oleh Pusat Oleh-oleh Kerajinan Khas Bali, Rama Shinta. Kegiatan di antaranya donor darah dan pemberian tanda kasih kepada 20 tukang suun di Pasar Badung. “Acara ketika itu lanjutkan dengan kunjungan ke lapas wanita di Kerobokan,”

maka perempuan dapat meningkatkan perannya di ranah publik dan politik. Kepedulian menyemangati dan mengajak perempuan agar mau berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya melalui organisasi dikatakannya agar mereka dapat mengekspresikan pemikiran, perkataan serta perbuatannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat mengembangkan potensi diri sendiri demi berkontribusi dalam pembangunan telah dilaksanakan

Menyerap dengan Positif Bahwa apa pun bentuk pemberdayaan perempuan tujuannya menumbuhkan kemandirian, rasa percaya diri serta meningkatkan kualitas hidup agar mampu memilih peran serta berpartisipasi aktif

Sebagian pengurus BKOW Bali bersama rombongan GOW Sintang

Rai Iswara

membangun kesejahteraan. Menurut Pengurus Sekretaris Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata (PC FSP Par) Badung Ni Wayan Cici Suriastini, tema talkshow acara HUT BKOW cukup menggelitik. Begitu pula Khofifah dalam pemaparannya menarik, universal dan mudah dimengerti. “Kami dari SP PAR Badung yang cukup lama bermitra dengan BKOW, menyerap dengan positif semua informasi yang ada di tempat acara dan kami merasa mendapat tambahan wawasan,” ucapnya. Cici juga mengatakan kalau dirinya dan para perempuan memang harus mandiri, tangguh dan lebih baik lagi sehingga bermanfaat bagi orang lain. Terlebih ketika perempuan berani maju selangkah dari kegiatan rutinitas demi dapat terlibat dalam pembangunan bangsa, dan keseimbangannya tetap terjaga, di sanalah interaksi positif terjadi. “Apalagi seperti disampaikan Ibu Khofifah, perempuan sudah diberikan memilih jalan hidupnya,” lanjutnya. Seorang mahasiswi STIE Satya Dharma Sri, juga menyampaikan hal senada bahwa benar kini perempuan boleh memilih apa yang ingin dilakukannya. Namun, bersamaan pula dilontarkan harapan agar para orangtua memberikan

dukungan sepenuhnya atas potensi-potensi yang dimiliki anakanaknya, agar diperoleh hasil yang optimal, apalagi dalam realisasinya berguna bagi masyarakat. Tak kurang Sekretaris Kota Denpasar Rai Iswara pun mengapresiasi pernyataan Khofifah bahwa kesuksesan berkonsep gender, bukan agar perempuan sederajat dengan laki-laki, namun perempuan diberi kebebasan memilih jalan hidupnya. Ia pun mengatakan Kota Denpasar telah memberi ruang yang luas bagi perempuan untuk berkarya dan berprestasi. Sementara Kusmiary Bram, yang juga tampil memimpin Paduan Suara Alisa Khadijah menyanyikan Lagi Indonesia Raya, Mars BKOW dan Ibu Kita Kartini ini, sebagai bagian PW Muslimat NU menyampaikan jika, Ibu Khofifah bukan hanya milik warga NU namun ia adalah satu perempuan milik bangsa ini yang mampu berbagi dengan perempuan lainnya melalui kemampuan dan pengetahuannya. Di samping itu, melalui dirinya Ibu Khofifah menyatakan bangga dapat menjadi pembicara dan melakukan sharing ilmu di acaranya BKOW yang dihadiri oleh 36 organisasi wanita se-Bali.ini. —ard

tkh/ist

Bukan karena mudah, kita menjadi yakin bisa Tetapi karena yakin bisa, semua menjadi mudah

katanya. Sementara itu ulasan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Linda Amalia Sari Gumelar pada buku “Kita pun Bisa Sukses” yang ditulis Ketua Umum BKOW Bali dan diluncurkan saat HUT BKOW kali ini, mengungkapkan dengan peningkatan kualitas diri dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki, baik untuk akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam pembangunan,

tkh/ist

Bukan karena tiada rintangan, kita menjadi optimis Tetapi karena optimis, maka rintangan terasa tiada

Ni Wayan Cici Suriastini

tkh/sep

Paduan suara Alisa Khadijah

BKOW Bali. Gung Tini bersama unsur panitia lainnya pun meyakini organisasi cukup besar manfaatnya, di dalamnya banyak hal yang bisa dipelajari. Selain wadah pengembangan diri juga menjadi pemelajaran bekerja dalam tim atau bekerja sama melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Lebih jauh lagi di dalam organisasi pula jiwa kepemimpinan seseorang akan lebih mudah terasah. Sebab, organisasi merupakan laboratorium yang sangat tepat untuk membiasakan orang melatih serta menumbuhkan kepercayaan diri menjadi pemimpin. Sebagaimana diungkapkan Ketua DPP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dalam talkshow, dengan melakukan interaksi dengan siapa saja dan di mana saja, akan diperoleh nilai tambah. Hal ini pun terjadi di dalam berbagai aktivitas BKOW sesuai dengan program dan keanekaragaman organisasi yang ada, maka dalam realisasinya pelaksanaannya selalu terjadi interaksi di antara organisasi internal maupun dengan organisasi di luar BKOW. Dewi Sinaryati, Endang Kadarsih, Luh Rai Sudiasih, Hesty Dewi Masitah dan jajaran anggota GOW Sintang yang juga hadir sependapat dengan apa yang disampaikan Khofifah.

tkh/sep

Tiap Interaksi Beri Nilai Tambah

Sri

Kusmiary Bram

tkh/sep

Suasana Talk Show “Kita pun bisa Sukses” di Hongkong Garden Restaurant Sanur


KESEHATAN

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 13

Workshop AIDS Hasilkan 9 Rekomendasi

Dr. Mita

H

adir dua pembicara pertama, Dra. Ke tut Tuti Karnasih, M.Si. Kepala Bagian Kesejahteraan Biro Kesra Setda Provinsi Bali dan Dr. Chyntia Sulamin, Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Ketut Tuti Karnasih mengungkapkan, pertama AIDS ditemukan di Bali tahun 1987. Saat itu ada orang Belanda yang sakit dan tidak kunjung sembuh di Rumah Sakit Sanglah. Setelah diteliti diketahui ia menderita AIDS. Tahun 19872003, AIDS lebih banyak ditularkan pengguna narkoba lewat jarum suntik. Tahun 20032010 mulai bergeser ke hekteroseksual (penularan melalui hungan seks). Yang menjadi kekhawatiran saat ini, penderita AIDS di kalangan usia produktif umur 16-49 tahun. Kasus AIDS di Bali sudah menyebar ke seluruh kabupaten/kota. Tertinggi di Denpasar, disusul Buleleng, Badung dan Bangli. Data ini terungkap dari orangorang yang mau memeriksakan dirinya secara sukarela dan hasil pemeriksaan ibu-ibu hamil. Data lebih valid sulit diungkap jika warga masyarakat tidak mau secara sukarela memerikakan dirinya. Menurut hasil survei, diperkirakan tahun 2010 di Bali 7.000 orang yang menderita AIDS. Dalam Rapat Koordinasi dan Komitmen Pencegahan HIV/AIDS di Sanur 7 Mei 2004, telah dihasilkan 8 butir komitmen yang dikenal dengan “Komitmen Sanur”. Ke-8 komitmen tersebut, meningkatkan penggunaan kondom pada tiap aktivitas seksual berisiko; meningkatkan jangkauan dan cakupan kegiatan pengurangan dampak buruk pada semua penggunaan narkoba; meningkatkan pelayanan dan dukungan yang kom-

Anggreni

prehensif termasuk pemberian ARV pada tiap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS ); mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA; memperkuat dan memberdayakan peran dan fungsi KPA Provinsi/Kabupaten/Kota di Bali; mengupayakan dukungan peraturan perundangan dan penganggaran; meningkatkan kampanye penanggulangan HIV/AIDS; menggalang keterlibatan semua komponen masyarakat. “Lima tahun lalu penyebar utama AIDS jarum suntik, sekarang pelanggan seks. Banyak lelaki yang telah memiliki pasangan, masih juga senang berlangganan seks. Jumlah penduduk Indonesia 240 juta jiwa, namun 3,1 juta suka ‘membeli seks’. Artinya 220% pria dewasa suka membeli seks. Ada juga 230.000 pengguna narkoba tertular melalui jarum suntik. Selain itu 800 GWL (gay, waria, lesbian ) tertular HIV. Ada 1,6 juta wanita menikah dengan pria yang risiko tinggi mengidap HIV/ AIDS, dan 230.000 pekerja seks komersial yang mengidap HIV/ AIDS”, “ ungkap Dr Chyntia Sulamin. Ia menambahkan, sekitar 3.000 bayi baru lahir akan terkena AIDS. Tahun 2007 ada 4.000 ODHA di Bali. Setelah dihitung kembali tahun 2010 ternyata terjadi peningkatan hampir 100%,.yakni 7000. Sudah ditemukan ibu, bayi dan anak yang tertular. Sejak tahun 2006 ditemukan bayi yang positif HIV/AIDS 30 anak lebih. Penderita AIDS di Bali 99% orang lokal dan 1% orang asing. Di antara 100 wanita tuna susila berdasarkan survei 2010, sebanyak 22% terkena AIDS. Salah satu sasaran MDGs (Tujuan Pembangunan Milenium), memerangi HIV/AIDS, telah menjadi

prioritas. Percapaian targetnya kurang dari 0,5%, tetapi saat ini posisinya sudah 0,1%. Hambatan yang dihadapi, rendahnya penggunaan kondom. tingginya penularan melalui hubungan heteroseksual, adanya mutasi petugas terlatih, kasus IMS masih cukup banyak, adanya petugas yang masih bekerja rangkap, belum meratanya ketersediaan layanan kesehatan komprehensif untuk IMS, HIV/AIDS, dan kurangnya kesinambungan pengelolaan dan pembiayaan program. Juga, masih ada petugas layanan yang belum mendapat pelatihan dan masih ada kabupaten yang tidak menyediakan dana pengendalian HIV/ AIDS. Les Khusus AIDS Salah seorang peserta workshop, Dr. Mita Duarsa, mengungkapkan, rendahnya pengetahuan remaja terhadap AIDS sangat menyedihkan. Pendidikan tentang AIDS perlu ditekankan lagi. “Kalau perlu, dibuka les khusus tentang AIDS”, kata Mita. Ia menambahkan, perlu pengawasan ketat terhadap tempat yang berisiko tinggi. “Kalau lokalisasi WTS dibubarkan, orang-orangnya malah masuk ke rumah tangga, tempat indekos dan masuk ke salon. Pelacuran makin sulit diungkap,” katanya. “Sebaiknya pemegang kebijakan menerima jika ada lokalisasi tempat-tempat yang berisiko tinggi. Namun, dijaga ketat, buatkan program khusus pengawasannya, misalnya berkalaborasi antara KPA, Dinas Kesehatan, LSM dan lain sebagainya,” sarannya. Ia mengharapkan, ‘Komitmen Sanur’ benar-benar dilaksanakan. termasuk menyediaan anggarannya. Supaya anggarannya tidak muncul, hilang, dan muncul lagi. Jangan selamanya tergantung donor dari luar. Sebab, yang tertular warga masyarakat kita juga. Anggreni dari Forum Perempuan Mitra Kasih menyatakan perempuan Bali apa bisa memaksakan suami memakai kondom. Perempuan yang tahu suaminya berisiko tinggi, terkadang tidak berdaya untuk menyuruh suaminya memakai

kondom. “Diperlukan sosialisasi,” katanya. Penggerebekan yang menangkap orang tua berselingkuh seks memberikan teladan bagi anak-anaknya. Halhal seperti ini, kata Anggreni, perlu diintensifkan agar tidak ada orang tua sibuk berselingkuh, sehingga anak-anaknya ikut-ikutan. Menurut Ketut Tuti Karnasih, KPA telah mengadakan kegiatan melalui ekstra kurikuler. Juga, sudah membentuk kolompok siswa peduli AIDS dan narkoba, dan kelompok mahasiswa peduli AIDS. Di masyarakat, sudah dibentuk kader desa peduli AIDS. “Yang perlu lebih diintensifkan publikasi tentang AIDS lewat media massa,” ujar Kristian, peserta workshop. Layar Tancap Di tengah suasana workshop yang kian serius, Bu Cok dari DPRD Klungkung mengungkapkan, banyak kalangan yang malu memeriksankan diri terkait AIDS. “Bagaimana caranya agar kita bisa tahu, calon menantu terkena AIDS? Supaya nanti saya bisa rayu calon menantu agar tidak perlu malu memeriksakan dirinya,” tanyanya. Ia mengharapkan, forum seperti workshop ini ‘dibawa’ ke masyarakat. Seperti pada zaman ada Jawatan Penerangan. Saat itu, penyuluhan juga dilakukan lewat layar tancap kepada masyarakat luas. Dr. Cyntia Sulamin menegaskan, pemeriksaan pranikah memang perlu, tetapi bukan hanya HIV/AIDS. Kalau hanya AIDS diperiksa, nanti malah timbul kembali diskriminasi. “Kempanye lewat layar tancap akan dilakukan tahun ini, namun masih dalam proses,” kata Ketut Tuti Karnasih. Workshop yang berlangsung hampir 3,5 jam ini, merumuskan 9 rekomendasi: Masukkan AIDS ke dalam kurikulum sekolah. penanganan HIV/AIDS agar secara terintergrasi, penyuluhan melalui layar tancap kembali diaktifkan; anggaran supaya lebih besar dan kontinu, buat perda AIDS di Kota Denpasar, Tabanan, Karangasem, dan Bangli; mantapkan pelaksanaan

tkh/badra

tkh/badra

PROVINSI Bali peringkat ke-5, setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Papua dalam hal penderita HIV/AIDS. Walau pemerintah dan LSM sudah melakukan langkah tindakan, pengidapnya masih juga terus bertambah. Demikian diungkapkan Dr. Luh Riniti Rahayu, Ketua LSM Bali Sruti, dalam membuka workshop “Memerangi HIV/AIDS Dalam Rangka Pencapaian MDGs 2015 di Bali” yang diselengrakan di RRI Denpsar, Sabtu (30/4). Workshop tersebut menghasilkan 9 rekomendasi.

Kristian

Bu Cok

Competition Contest UMC Plawa

Diikuti 140 Peserta

UNIVERSAL Mega Centra (UMC) Plawa punya cara tersendiri mempersiapkan peserta didiknya dalam menghadapi Lomba Mental Aritmatka-Sempoa dan Matematika Terbuka tingkat regional Bali dan Nasional yang akan berlangsung September mendatang. Tak hanya mengadakan latihan secara berkala di centre, UMC Plawa menggelar acara lomba in-

ternal UMC Plawa bertajuk “UMC Plawa Competition Contest and Lucky Draw” di Ruang Topaz, Hotel Nikki, Denpasar (1/ 5). Sebanyak 140 peserta ikut serta dalam ajang lomba tersebut. “Peserta tak hanya siswa UMC Plawa. Siswa di sekolah-sekolah yang selama ini menjadi mitra UMC Plawa juga ikut serta,” jelas ketua panitia kegiatan Putu Adhi-

tya Permatasari, S.E.. Ada beberapa jenis lomba yang dihadirkan dalam acara tersebut, yakni Sempoa, IQ-Maths (Math Logic), I-Maths, Mewarnai Diagram Sel, dan Mengingat Kata. Siswa tak hanya mengikuti aneka macam perlombaan. Semangat siswa dipompa dengan hadirnya lucky draw. “Kami sediakan hadiah menarik seperti sepeda dan handphone,” tambahnya. Lucky draw menurut Adhitya hanya dikhususkan bagi siswa yang tepat waktu dalam melakukan pembayaran biaya kursus. “Tujuan kami hanya ingin mengajarkan siswa untuk disiplin,” tambahnya. “Kursus di UMC Plawa banyak keuntungannya. Selain mampu mengoptimalkan fungsi

Peraih sepeda dalam penarikan lucky draw

otak anak, meningkatkan konsentrasi, daya ingat dan rasa percaya diri, serta mengajarkan disiplin, juga memberikan hadiah menarik,” tambah pimpinan UMC Plawa Fr. Susi Mariani, S.T.. – adv/lik

Informasi hubungi:

UMC Plawa Para Juara UMC Plawa Competition Contest and lucky draw

Jalan Anggrek No.28 Denpasar, Bali Telepon: (0361) 9199993 ; Faksimile : (0361)232364

tkh/badra

Penderita AIDS 99% Orang Lokal -Laksanakan 8 Komitmen Sanur - Perlu Dibuka Les Khusus AIDS – Aktifkan Penyuluhan Lewat Layar Tancap

Dari kiri: Dr. Luh Riniti Rahayu, Dr. Chyntia Sulamin, Dra. Ketut Tuti Karnasih dan Drs. Made Suantina (pemandu)

Program 7 T pada ANC dan persuasi oleh petugas untuk pasangan yang berperilaku berisiko (PITC); perlu ada

komitmen, konsistensi, dan action para pemegang kebijakan; tingkatkan kualitas dan kuantitas SDM konselor

dan penambahan jumlah pelayanan untuk HIV/AIDS; partisipasi media massa perlu ditingkatkan.—badra


RILEKS

Batita Dikontrak Jadi Pemain Sepak Bola Profesional LAGI-LAGI YouTube membawa ‘rezeki’ bagi seseorang. Kali ini yang mendapat ‘rezeki’ lewat penampilan di YouTube adalah anak berusia 18 bulan, Baerke van der Meij yang videonya sedang menendang bola diunggah orangtuanya di situs tersebut. Sebenarnya tidak ada maksud dari orangtua Baerke yang memamerkan kelucuan anaknya di YouTube, untuk menjadikan anaknya selebriti atau semacamnya. Mereka hanya iseng dan ingin mengungkapkan betapa lucunya batita (bawah tiga tahun). Tetapi, yang terjadi adalah suatu yang di luar dugaan. Video yang bertajuk “Amazing football/soccer talented boy from the Netherlands 1,5 year old!!!!” itu menjadi popular dan dikunjungi hampir 1 juta orang.

B

cah melakukan tendangan bebas dari jarak 1,5 meter dengan sangat akurat. Tiga bola yang ditendangnya masuk ke dalam boks, tidak meleset. Baerke dinilai memiliki talenta yang bagus di bidang sepak bola. Klub sepak bola VVV Venlo, tak akan membiarkan bibit unggul ini sia-sia atau bahkan dicaplok klub lain, maka segera mereka menghubungi orangtua Baerke untuk menawarkan kontrak sebagai pemain bola profesional selama 10 tahun. Luar biasa. Mendapat tawaran mengejutkan itu, orangtua Baerke tercengang sekaligus gembira. Surat kontrak pun dibuat dan ditandatangani sendiri oleh si bocah Baerke. Seperti umumnya bocah yang belum bisa menulis dan membaca, dan hanya bisa menggambar tak berbentuk alias coretcoretan, maka itulah yang dia lakukan saat dimintakan tanda tangan. Di atas kertas kontrak itu dia membuat coretan-coretan berupa lingkaran. Seusai menandatangani kontrak maka Baerke van der Meij, bocah 18 bulan asal Belanda ini, resmi menjadi pemegang rekor baru ‘Pemain Bola Profesional Termuda di Dunia’. BaerBaerke van der Meij saat memasukkan bola ke akan mendapat ke kotak mainannya pendidikan sepak

eragam komentar pengunjung masuk merespons aksi Baerke, di antaranya menyebut tendangannya seperti David Beckham, ada juga yang menyebut sebagai calon Dennis Bergkamp atau calon pengganti Arjen Robben, pesepak bola andalan Belanda. Buntutnya, para petinggi klub bola VVV Venlo yang bermarkas di kota Venlo, Belanda, ini tertarik dan ingin melihat kepiawaian Baerke dan akhirnya mengontrak batita ini untuk menjadi pemain sepak bola klub tersebut selama 10 tahun. Maklum, dalam video itu si bo-

Baerke seusai menandatangani kontrak sebagai pemain sepak bola klub VVV Venlo

bola yang akan mengasah bakatnya di bidang itu hingga 10 tahun ke depan, sesuai dengan masa kontrak. Tetapi, sebelum mendapat tawaran kontak, Baerke diundang VVV Venlo untuk hadir dalam latihan bersama anggota klub lainnya di stadion sepak bola Venlo De Koel.

Di sana dia berlatih bersama gelandang bintang klub tersebut, Ken Leemans. Di sana juga para pemain serta petinggi klub melihat kepiawaian Baerke menendang bola. Setelah ‘tes’ mereka pun memutuskan merekrut Baerke menjadi pemain profesional klub mereka

8 - 14 Mei 2011 Tokoh 15

dalam jangka waktu 10 tahun. Jika ingin ditelisik lebih jauh, mungkin tidak heran kalau Baerke memiliki bakat sepak bola. Dulu, kakeknya, Jan van der Meij adalah pemain sepak bola andal yang tergabung dalam klub tersebut, 1958-1960 dan 1964-1965, dan sampai kini pun mereka sekeluarga masih tinggal di kota Venlo. “Di mana posisi dia (di lapangan) atau akan ditempatkan sebagai apa, belum ditentukan. Namun, yang bisa kami katakan adalah dia memiliki tendangan kaki kanan yang sangat baik dan akurat, juga tekniknya. Tetapi, yang terpenting adalah dia memiliki ‘gen’ sepak bola dari kakeknya,” ujar VVV Venlo dalam siaran persnya. Untuk memperkenalkan pemain termuda di dunia itu pun, klub mengadakan jumpa pers khusus sekaligus merilis tanda tangan Baerke yang berupa orat-oret di atas kertas kontraknya. Sebelumnya Guinness World Record juga mencatat wasit sepak bola termuda di dunia yang memimpin sebuah pertandingan. Dia adalah Samuel Keplinger asal Jerman yang berusia 9 tahun 302 hari, ketika ia memimpin pertandingan antara SSV Bobingen dan SV Reinhartshausen di Bobingen, Bavaria, Jerman yang berkahir dengan skor 0-0. —dia/berbagai sumber

Rhifa

Tak akan Pindah Berganti-ganti nomor ponsel dulu sering dilakukan Nurholifha yang akrab disapa Rhifa. Ia selalu berusaha mendapatkan kualitas terbaik. Karena itu, hampir semua produk operator pernah dicoba. Beberapa bulan lalu, ia mencoba Kartu As. Ternyata apa yang digembar-gemborkan via iklan benarbenar terbukti. “Pakai Kartu As kalau mau menelepon kemana-mana biayanya murah. Pokoknya harga terjangkau. Malahan bisa dapat gratis kalau menelepon ke sesama pengguna Telkomsel. Untuk SMS jangan ditanya, puas deh,” ujar penyiar di radio Duta FM ini. Rhifa mengaku ponsel lebih banyak digunakan untuk menelepon dan SMS. Dengan Kartu As, ia mendapatkan kepuasan dan tidak akan pindah lagi ke produk lain. “Saya puas pakai Kartu As. Biayanya hemat dan jangkauannya luas,” ujarnya. Perempuan kelahiran Denpasar ini menuturkan dirinya pernah ke Nusa Penida. Di sana, sinyal yang mantap hanya Telkomsel. Operator lain sinyalnya “main-main” alias kadang ada kadang tidak. Ini pun makin menegaskan pilihannya untuk tidak beralih lagi ke operator lain. Walaupun memberi pujian untuk Telkomsel yang sudah memiliki 100 juta pelanggan ini, Rhifa tetap memberi saran. “Telkomsel harus terus memberikan yang terbaik untuk pelanggan. Mungkin dengan menambah hadiah-hadiah untuk pelanggan,” tandas perempuan yang juga staf administrasi di Santi Sastra Production (SSP) ini.

Memilih Sepeda Bersepeda menjadi rutinitas masyarakat disela-sela kesibukan. Banyaknya acara fun bike juga membuat meningkatnya penjualan sepeda. Namun, bagi yang ingin memilih sepeda, berikut tips yang diberikan oleh Santoso Lie, Head of Public Relations and Communications Polygon. 1. Pilih sepeda sesuai keperluan. Artinya, sebelum membeli sepeda, Anda harus mempertimbangkan sepeda yang akan dibeli itu untuk dipakai apa. Biasanya ada dua macam penggunaan sepeda. Pertama untuk aktivitas biasa, misalnya ke kantor, jalan-jalan, atau olahraga ringan. Kedua, untuk aktivitas khusus, misalnya balap atau olahraga ekstrem seperti off road. Pilih toko yang mampu memberikan edukasi terkait penggunaan sepeda termasuk garansi sepeda yang ingin dibeli. 2. Setelah menentukan keperluan prioritas, lakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Pengukuran geometri ini berguna untuk menentukan model sepeda yang sesuai. Jangan sampai sepeda yang dibeli terlalu kecil atau terlalu besar. Ukuran yang sesuai akan membuat pengguna sepeda nyaman saat mengayuh sepeda. Muaranya adalah niat bersepeda untuk menjadikan badan sehat akan tercapai. Sebaliknya, jika ukuran sepeda tidak sesuai, bukannya sehat yang didapat tetapi sakit di sekujur tubuh. 3. Sesuaikan pilihan sepeda dengan kemampuan finansial. Jangan memaksakan diri untuk membeli sepeda mahal hanya karena ingin dibilang punya sepeda bagus. Hal terpenting adalah Anda bersepeda dengan nyaman. 4. Jika masih ada sisa dana, silakan melengkapi sepeda dengan aksesori dan melengkapi diri dengan apparel seperti helm, kacamata, selop, celana sport, dan sepatu. 5. Selamat bersepeda sebagai bagian dari aksi nyata go green dan mengurangi emisi karbon. —wah

Halo Dura, Perkenalkan nama saya Bu Wati. Saya berumur 43 tahun dan seorang ibu rumah tangga. Saya tergolong orang yang jarang melakukan perawatan khusus untuk kulit wajah karena sibuk dengan urusan rumah tangga. Di bagian pipi dan dahi terdapat bercak-bercak hitam menyerupai flek wajah, sehingga sangat mengganggu penampilan. Adakah krim khusus perawatan kulit untuk masalah kulit seperti saya? Halo Bu Wati, Proses penuaan di tubuh mengakibatkan perubahan hormonal yang banyak membawa dampak buruk, salah satunya di kulit. Perubahan kelembaban dan kadar kolagen di kulit, diperburuk oleh pengaruh dari luar seperti sinar matahari, polusi, dan kosmetik dapat menyebabkan kerusakan kulit, salah satunya flek wajah. House of Dura menghadirkan produk Duraskin untuk memperbaiki masalah –masalah kulit dan mengurangi tanda-tanda penuaan dini, seperti flek-flek di wajah sehingga kulit tampak sehat dan awet muda. Perawatan flek wajah diawali dengan penggunaan Sunblock Oil Free (SOF). Untuk menghindari efek buruk sinar ultraviolet. SOF ini tidak lengket dan tidak berminyak dan berfungsi untuk melindungi kulit dari efek paparan sinar ultraviolet A. Sangat sesuai dengan kulit berminyak. SOF ini juga dilengkapi dengan Sun Profector Factor (SOF) 30. Untuk perawatan di malam hari, diawali dengan penggunaan fair cream sebagai skin tone corrector yang mengandung alpha arbutin yang dapat mengurangi produksi melanin sehingga dapat meratakan warna kulit serta memudarkan hiperpigmentasi (flek). Setelah penggunaaan fair cream dilanjutkan dengan mengoleskan Green 17 intensive repair cream yang mengandung kandungan vitamin A yang dapat merangsang pertumbuhan sel-sel kulit baru, meningkatkan produksi kolagen dan serat elastin sehingga kulit menjadi lebih kenyal, kencang, sekaligus tampak lebih bersinar. Semoga jawaban kami bisa membantu masalah Bu Wati. Salam hangat dari House of Dura Bali.

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Make-up untuk Menutupi Bekas Jerawat Ibu Agung yth, Mohon bantuan untuk cara pengaplikasian concealer yang tepat untuk menutupi bekas jerawat dan noda hitam di wajah. Serta mohon ditampilkan contoh busana pengantin modifikasi untuk membuat foto prewedding. Yuli, Denpasar Adik Yuli yth, Berikut ini cara menggunakan concealer untuk menutupi bekas jerawat dan noda hitam: 1. Setelah menggunakan foundation, aplikasikan concealer dengan spons/kuas pada bekas jerawat (warna hijau) atau noda hitam (warna kuning/terang) di wajah. Pengaplikasian dengan jari lebih sulit, tidak rapi dan ada kemungkinan jari tidak bersih. 2. Aplikasikan concealer berwarna beige/natural di atas aplikasi concealer pada langkah 1. 3. Aplikasikan bedak tabur/bedak padat. Berikut ini contoh busana modifikasi sederhana yang bisa digunakan untuk membuat foto prewedding S e l a m a t mencoba


TATA RIAS

8 - 14 Mei 2011

Ny. Warti Buleleng

Dukung dengan Jasa Boga S

OSOK Ny. Warti Buleleng sudah tak asing lagi di Bali. Namanya sudah melekat di jasa pelayanan katering. Penikmat jasanya tak hanya masyarakat Bali, namun sudah masuk ke kalangan pejabat pusat. Cita rasa masakannya yang khas seakan membuat pelanggannya tak mau ke lain hati. Bagaimana sepak terjang Ny. Warti Buleleng, demikian sapaan yang melekat pada Ni Ketut Warti, hingga bisa mendulang sukses di bidang jasa boga? Berikut penuturannya.

Ny. Warti Buleleng saat menerima piagam Muri “Saya memulai semua ini dari nol,” ujarnya. Perempuan sepuh kelahiran Sibang Kaja 72 tahun silam ini mengisahkan dirinya memang memiliki kegemaran memasak sejak kecil. Semua

keluarga dan kerabatnya memiliki naluri memasak. Ibu kandungnya pedagang nasi. Warti kecil kerap kali membantu ibunya memasak bahkan turut berjualan untuk membantu menafkahi hidup.

“Kelas enam SD saya sudah bisa menanggung urusan dapur. Saya memetik sayur kacang atau bunga dan menjualnya sendiri ke pasar. Saya juga berjualan nasi bungkus, jukut bejek, lodek. Itu menyenangkan bagi saya,” ujarnya. Kegemaran memasak terbawa sampai ia berstatus PNS di RS Wangaya sebagai perawat. Di luar kedinasan, Warti kerap menitipkan dagangan nasi bungkusnya ke warung-warung di sekitar tempat kerjanya itu. Setelah dinikahi I Gusti Ngurah Made Buleleng (alm.) tahun 1942, kebiasaan itu masih terus dijalaninya. Hingga akhirnya, suaminya menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Badung tahun 1978, otomatis pula Warti menjabat Ketua Dharma Wanita Pendidikan dan Kebudayaan, sekaligus juga menjabat Ketua Dharma Wanita Unit Gabungan Kabupaten Badung. Sekitar tahun 1984, tiap kantor dinas dan lembaga diwajibkan menyelenggarakan penataranpenataran pada pegawainya. Dharma Wanita diminta menangani konsumsi para peserta. Warti menunjuk salah seorang stafnya untuk menangani ini. Namun, banyak keluhan yang didengarnya, rasa makanannya kurang enaklah, nasinya belum matanglah, sering terlambatlah, dsb. Akibatnya, sebagai Ketua Dharma Wanita, Warti ditegur kadis yang tak lain suaminya sendiri. Dari sini hatinya terketuk dan langsung terjun mengelolanya. Dalam pelaksanaannya, Warti dibantu saudara-saudara yang pintar memasak serta putraputrinya. Sejak konsumsi ditangani Warti tak pernah ada keluhan dari peserta penataran maupun kadis. Kepercayaan ini terus berlanjut, bahkan kantor-kantor dinas lain pun mulai meminta Dharma Wanita P dan K Badung menangani konsumsi untuk kegiatan dinas mereka. Januari 1989, Kantor Bupati Badung mengadakan jumpa pers terkait pelantikan Bupati Badung Alit Putra. Meski belum memiliki peralatan lengkap dan tenaga andal, Warti memberanikan diri menyanggupi permintaan penyediaan kon-

sumsi. Banyak pujian didapatkan Warti bahwa masakannya enak. Para wartawan rupanya membawa berita ini ke mana-mana. Hingga akhirnya seorang wartawan menghubungi Warti sekitar Juni 1989. Ia menginformasikan untuk menangani konsumsi training center atlet PON Bali berjumlah 200 orang dengan rincian empat kali snack dan tiga kali makan selama 1,5 bulan. Informasi tersebut dilanjutkan dengan penunjukkan KONI Bali kepada Warti untuk menangani konsumsi atlet PON. Tak mudah memang, karena semuanya harus disesuaikan dengan kalori yang telah ditentukan dokter. “Kami memasak didampingi dokter untuk menyesuaikan kandungan gizi dan kalori pada makanan. Sebagai perawat, saya mengertilah sedikit-sedikit,” ujarnya. Tugas berat ini pun bisa dilalui Warti dengan baik. Bahkan, ia dipercaya menangani konsumsi atlet PON hingga empat kali berturut-turut. Jabatan Ketua Dharma Wanita sudah ditanggalkannya sejak suaminya dimutasi ke Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tahun 1987. Kesibukannya mulai berkurang. Ia memutuskan mengahiri tugasnya sebagai tenaga kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Keputusan ini membawa hikmah baginya dan keluarganya. Ia bisa bebas mengembangkan usaha tata boga di Denpasar didukung seluruh keluarganya, hingga sepakat memberi nama “Catering Service Ny. Warti Buleleng” pada usahanya itu. Dengan moto “berkarya sepanjang masa bermanfaat sepanjang hayat”, katering yang beralamat di Jalan Genetri No. 4 Denpasar ini selalu berusaha memuaskan pelanggannya sebagai prioritas kinerja mereka. Kepercayaan-kepercayaan terus bergulir terhadap katering Ny. Warti Buleleng, seperti jamuan makan saat peletakan batu pertama Pecatu Graha oleh Tommy Soeharto yang dihadiri pejabat-pejabat pusat sekitar tahun 1991, dan penanganan terbesar adalah jamuan makan dalam rangka acara presiden di Istana Tampak Siring 18-21 April 2010 dengan jumlah tak kurang dari 1.500 orang.

Seribu Guru............................................................................................dari halaman 1 Acara kolosal ini tercatat dalam rekor Muri dengan No. 4858/R. Muri/V/2011 sebagai Lomba Tata Rias Wajah untuk Menghadiri Undangan Adat Bali dengan Peserta Terbanyak. Piagam Muri diserahkan Senior Manager Muri Paulus Pangka kepada Dirjen PAUDNI Kemendiknas Hamid Muhammad, Ph.D., yang diteruskan kepada tiga penerima piagam Muri. Mereka adalah Ny. I A. Selly D. Mantra, Ketua TP PKK Kota Denpasar sebagai pemrakarsa acara, Crrante Cosmetic sebagai pendukung acara diwakili Kepala Cabang Bali-NTBNTT Alex Martin Pangemanan, dan catering service Warti Buleleng juga sebagai pendukung acara. Kegiatan tersebut menjadi ajang tontonan masyarakat luas. Penonton makin membludak ketika 43 istri-istri Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Denpasar tampil cantik mengenakan kebaya merah muda dengan kain endek Denpasar menarikan tari Tenun. Di

Ny. A.A.N. Rai Iswara, Ny. IA Selly D. Mantra, dan Ny. Antari Jaya Negara

deretan paling depan, tampak tiga srikandi Pemkot Denpasar, yakni Ny. I A. Selly D. Mantra, Ny. Antari Jaya Negara, dan Ny. A. A. N. Rai Iswara. Turut bergabung juga ibu nomor dua di Bali Ny. Bintang Puspayoga, mantan Pembina IGTKI Kota Denpasar, dan Ny. Satria Naradha. Seorang perempuan paruh baya tampak ikut menari di antara kerumunan

penonton. Laki-laki sepuh yang sejak Sabtu menyaksikan gladi resik dan bertanya-tanya tentang acara tersebut juga tampak hadir di sana. “Besok pagi saya akan minta anak saya mengantarkan ke sini,” ujarnya ketika mendapat penjelasan wartawan Tokoh Sabtu (30/4) bahwa ada lomba tata rias yang juga menampilkan tarian dari ibu-

ibu pejabat Pemkot Denpasar. Usai lomba yang hanya diberikan waktu 30 menit oleh dewan juri tersebut, para undangan dan peserta menyaksikan parade busana pengantin Bali payas agung oleh model siswi-siswi SMAN 7 Denpasar dan SMKN 5 Denpasar. Riasannya merupakan hasil karya 38 peserta uji kompetensi di LKP Agung. Istimewanya lagi, 18 di antara peserta uji kompetensi ini adalah sameton dari Lombok. Dari 1.050 peserta lomba, ke50 dewan juri menetapkan pemenang I, II, III, Harapan I, II, III, dan 50 peserta terbaik. Juara I Made Dwi Mahayani, TK Anugrah; Juara II Ni Made Kasiyani, S.Pd., TK Putra Pertiwi; Juara III Ni Putu Ayu Reswari, TK Pelita Bangsa; Harapan I Ida Ayu Tira Shakuntala, TK Handayani; Harapan II Luh Made Rus Preti Dewi, TK Pelita Bangsa; Harapan III I Gusti Ayu Sukmadewi, TK Swa Dharma. —ten

Bayu, Bellinda, Bagus

Tiga Bersaudara Koleksi Piala

Bayu, Bellinda, Bagus, tiga siswa berprestasi Bali Public School bersama orangtuanya

MELIHAT ibunya Tjokorda Istri Tuty Ismayanthi, sering menjadi presenter berbagai acara, Bayu dan Bellinda tertarik menekuni dunia tersebut. Melihat bakat kedua anaknya, Bu Tjok langsung turun tangan mengasah bakat putra sulung dan putri keduanya itu. Ia mengajarkan cara berbicara dan intonasi membaca di depan cermin. “Agar lebih mudah mengarahkannya,” kata mahasiswa teladan II se-Bali, NTB, NTT 1998 wakil Undiknas Denpasar. Usaha mantan juara dan atlet nasional beladiri kempo 1990-1998 ini tidak sia-sia. Berbagai prestasi telah diraih anak-anaknya. Tanpa disadari, putra bungsunya Bagus juga mewarisi bakat ayahnya I GP. Satvika Adhi Putra yang suka melenggak-lenggok di catwalk. Dalam tiap kesempatan, ketiga bersaudara selalu diikutkan lomba. Bu Tjok menyemangati mereka dengan membelikan almari sebagai

tempat piala. Bayu, Bellinda, dan Bagus, terpacu memenuhi almari tersebut dengan koleksi piala. Bu Tjok bersama suami menuturkan, saling berbagi tugas mengasuh dan mengembangkan bakat ketiga putra-putrinya. “Pokoknya kami gotong-royong dalam mengasuh dan mendidik mereka. Anak-anak sudah diajarkan mandiri sejak usia dua tahun. Mereka belajar mandi dan makan sendiri. Lumayan membantu tugas kami walau tanpa pembantu,” kata lulusan cumlaude S-2 Magister Manajemen Unud ini. Saat ini ketiga putra-putrinya bersekolah di Bali Public School Renon. Dengan diary book, Bu Tjok dan suaminya bisa memantau perkembangan dan kegiatan ketiga putraputrinya di sekolah. Ia mengaku bangga dengan perkembangan bahasa Inggris putra-putrinya karena semua buku di sekolah menggunakan bahasa Inggris.

Rekor Kedua PKK Dukung Kemandirian Guru MENURUT Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. I.A. Selly D. Mantra, pelaksanaan acara lomba kali ini adalah serangkaian Hari Pendidikan Nasional dan HUT ke-61 Ikatan Guru TK Indonesia Kota Denpasar. Lebih dari 1.000 orang peserta, yang terdiri dari guruguru PAUD se-Kota Denpasar turut dalam kegiatan ini. Dalam kegiatan ini, kata Selly Mantra, ada manfaat yang diperoleh mereka, yakni minimal para ibu guru mandiri dalam berhias. “Mereka, para guru ini tidak harus selalu ke salon, baik untuk make up maupun memasang sanggul. Mengingat aktivitas adat atau upacara agama di Bali cukup padat, etika perempuan bisa mendandani dirinya sendiri berarti pula mereka mampu menekan atau mengurangi pengeluaran,” tutur Selly Mantra didampingi Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. A.A.N. Rai Iswara. Selly Mantra juga menyampaikan, kegiatan memecahkan rekor Muri ini adalah yang kedua kalinya bagi PKK Kota Denpasar. “Yang pertama terlaksana pada April tahun silam dengan menggelar lomba tengkuluk lelunakan. Ketika itu kami membawakan tari Pendet. Kali ini kami memilih mementaskan tari Tenun dengan riasan kepala

mengenakan gelung lelunakan,” ucapnya sembari menambahkan kalau para ibu yang tampil ratarata sudah memiliki dasar menari. “Walau ada juga salah seorang ibu yang memang tidak bisa menari, namun dipacu semangat dan dukungan yang lainnya setelah ikut berlatih, akhirnya bisa juga,” lanjutnya. Bagi istri orang pertama di Kota Denpasar ini, apa pun bentuk potensi kearifan lokal perlu mendapat perhatian. Seperti tari tradisional Tenun, yang diciptakan oleh I Nyoman Ridet

dan I Wayan Likes sekitar tahun 1957. “Tarian Tenun ini melukiskan wanita Bali sedang menenun, dengan segala keindahan gerakan memintal benang, mengatur benang dan keterampilan tangan dan jari pada kegiatan menenun dalam suasana yang menyenangkan. Gambaran ini juga menyiratkan kemandirian, yakni bagaimana masyarakat harus bisa memenuhi kebutuhan sandangnya secara mandiri dan tidak bergantung pada pihak luar,” paparnya. Ramai-ramai menarikan tarian tenun selain untuk kebersamaan, dikatakannya, tarian menenun ini juga ada hubungannya dengan Kota Denpasar yang tengah menggiatkan pemakaian tenun ikat, khususnya endek. “Disamping itu di dalamnya juga termuat tujuan pelestarian budaya, seiring pula dengan program pemerintah, menuju Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan,” ujarnya. Ia menambahkan, dirinya tak akan pernah bosan dengan segala upaya mengajak masyarakat Kota Denpasar khususnya dan Bali umumnya untuk mengabdi dan beryadnya sesuai bidang masingmasing termasuk dengan menggali dan melestarikan budaya daerah sebagai wujud kecintaan kepada Pulau Dewata tercinta ini. —ard

Dalam menjalankan bisnisnya ini, Ny. Warti selalu menyisihkan penghasilannya untuk berderma ke panti asuhan, panti sosial, dan kerap mensponsori beberapa kegiatan di Bali. Penghargaan Bisnis Bali sebagai Pengusaha yang Melakukan Tanggung Jawab Sosial terhadap Bali dalam Rangka HUT ke-7 Bisnis Bali tahun 2008 hanyalah salah satu dari sekian penghargaan yang diperolehnya. Pun, sebagai Juara I Pengusaha Menengah Berprestasi di Sektor

Perdagangan dalam Rangka Hari Koperasi ke-57 tahun 2004 oleh Pemkot Denpasar. Tepat 1 Mei 2011, serangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional, HUT IGTKI Denpasar serta mendukung Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan, Ny. Warti Buleleng turut mensponsori kegiatan kolosal yang digelar TP PKK Kota Denpasar, Koran Tokoh, dan LKP Agung dalam Lomba Tata Rias Wajah untuk Menghadiri

Undangan Adat Bali. Atas partisipasinya dalam penanganan konsumsi dan pengadaan piala, Ny. Warti Buleleng dianugerahi piagam Muri sebagai penyelenggara pendukung kegiatan tersebut. “Sebagai warga Kota Denpasar, saya turut mendukung tiap kegiatannya. Apalagi, kegiatan ini bagian dari upaya pelestarian budaya. Saya hanya bisa mendukung dengan jasa boga yang saya miliki,” ujarnya bersahaja. —ten

tkh/sep

Tokoh

Ny. I A. Selly D. Mantra

Dulu ke Salon Sekarang bisa Merias Sendiri senada. “Kami berharap para guru PAUD menjadi mandiri dalam hal tata rias. Kalau dulu ke salon, sekarang bisa merias sendiri,” kata Kepala PAUD Davinsio ini. Tahun lalu, lomba sanggul modifikasi pernah dilaksanakan di wantilan Bali TV. Saat itu pesertanya hanya guru TK. Ke depan, mereka merancang lomba berbusana adat berpasangan. Artinya guru PAUD dan pasangannya akan dilibatkan. —wah

LOMBA tata rias yang melibatkan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) yang mencakup TK dan kelompok bermain seDenpasar mendapat apresiasi positif dari peserta. Mereka antusias mengikuti kegiatan ini dan berharap hal serupa menjadi agenda rutin. Banyak hal yang bisa didapat dari rangkaian lomba tata rias menghadiri undangan adat Bali ini. “Guru-guru menjadi tahu tentang dasar-dasar tata rias dan dengan penguasaan ilmu tata rias, mereka tak perlu repot lagi ke salon kalau mau merias diri. Cukup merias diri sendiri dan ini termasuk penghematan karena biaya ke salon bisa dipangkas,” tutur Made Aryningsih, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kota Denpasar. Sebelum lomba dilaksanakan di halaman depan Pura Jagatnatha, Denpasar, para peserta mendapat pelatihan dari Salon Agung. Pelatihan dilakukan dalam empat angkatan. Masing-masing angkatan pesertanya 60. Setelah mereka menguasasi dasar-dasar tata rias ini lalu dilombakan. Kepala TK Widya Kumara Kumba ini menambahkan kegiatan

lomba tata rias ini merupakan bagian dari pelestarian budaya lokal. “Denpasar sedang gencargencarnya mengembangkan kota kreatif berbasis budaya. Melalui lomba ini, kami ingin ikut menjadi bagian dari pelestarian budaya,” tandasnya seraya mengatakan di Denpasar terdapat 80 TK dan 256 kelompok bermain. Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Denpasar Ida Ayu Wedawati menyatakan hal

Ida Ayu Wedawati

Made Aryningsih

“Mereka jadi terpacu terus belajar,” kata konsultan manajemen dan investasi di beberapa perusahaan swasta di Bali ini. Jadwal sekolah putra-putrinya

Senin sampai Jumat. Sabtu libur. Waktu libur dimanfaatkan Bu Tjok dan suaminya mengajak mereka jalan-jalan. Minggu untuk kegiatan tirtayatra.

“Hampir semua pura di Bali dan Jawa pernah kami kunjungi,” tutur Director of Finance & Accounting Bali Royal Hospital ini. –ast

tkh/sep

16

Nama: Putu Bayu Satvika Kelahiran: Denpasar, 17 Agustus 2001 Sekolah: Kelas IV B Bali Public Scholl Renon. Hobi: basket, beladiri kempo. Prestasi: Juara I Lomba Story Telling Kategori B se-Denpasar; Juara II Lomba Reading Poetry Kategori B se-Denpasar (Ayo Berkreasi Mari Beraksi April 2011); Semifinalis English Olympiade Maret 2011; Juara Finalis Berbakat Lomba Fotogenik Kategori B dan Finalis Berbakat Lomba Fashion Casual Kategori B (Perfect Health, Februari 2011). Nama: Kadek Manik Bellinda Satvika Kelahiran: Denpasar, 25 Maret 2004 Sekolah: Kelas I A Bali Public School, Renon Prestasi: Juara Harapan I Lomba Fotogenik Kategori A dan Finalis Berbakat Lomba Fashion Casual Kategori A (Perfect Health, Februari 2011); Juara Harapan I Lomba Mewarnai Kategori B se-Denpasar April 2010; Juara Harapan II Lomba Fashion Casual se-Bali dan Juara Favorit Lomba Fashion Casual Santy Sastra Production, Maret 2009. Nama: Komang Bagus Putra Satvika Kelahiran: Denpasar, 25 Maret 2005 Hobi: bermain sepatu roda Sekolah: TK B Bali Public School Renon Prestasi: Juara Harapan II Lomba Mewarnai Kategori B se-Denpasar (Ayo Berkreasi Mari Beraksi, April 2011); Finalis Berbakat Lomba Fotogenik Anak dan Finalis Berbakat Lomba Fashion Casual Anak (Perfect Health, Februari 2011). Orangtua: Ayah: I GP. Satvika Adhi Putra, S.E. Kelahiran: Solo, 24 Juni 1976 Hobi: travelling Pekerjaan: wiraswasta, mantan karyawan Lippo Bank, ABN Amro Bank, dan mantan staf Badan Narkotika Provinsi Bali Ibu: Tjokorda Istri Tuty Ismayanthi, S.E., M.M. Kelahiran: Puri Peliatan, 26 Juli 1976 Alamat: Jalan Gunung Wayang Nomor 99 Kerobokan.


tokoh_642_8-14_mei_2011