Issuu on Google+

Ayu Witriasih

Praktik Dokter Keluarga

Halaman 3

Gagasan Nasdem Bali

DOKTER keluarga merupakan salah satu bentuk pelayanan medik di Indonesia dengan konsep meningkatkan mutu pelayanan yang menekankan pada prinsip pencegahan sehingga dapat menurunkan biaya perawatan dan pengobatan. Praktik dokter keluarga di Indonesia masih berlangsung dalam tahap awal. Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih sangat ketinggalan. Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Prov. Bali dr. Ayu Witriasih mengatakan, dokter keluarga di Indonesia masih primary health care doctor sehingga yang melaksanakan praktik ini masih dokter umum bukan dokter keluarga yang sebenarnya. Ini disebabkan karena ilmu pengetahuan yang dimiliki dokter keluarga masih sangat terbatas. Di sisi lain, kata satu-satunya dokter perempuan yang berprofesi sebagai dokter keluarga di Bali ini, pasien lebih senang berobat ke dokter spesialis. “Dokter keluarga belum populer di tengah masyarakat. Selama ini, masyarakat berpandangan jika sakit sebaiknya langsung mendatangi

Halaman 5

Taktakan Banyu Celengan Celeng Halaman 7

Makna Logo Bali Devata Halaman 11

Pengurus Demokrat 30% Wanita Halaman 14

laki.�Para penabung ini tidak hanya krama desa individu, tetapi juga kelompok atau sekeh maupun krama tamiu atau warga bukan asli Desa Pecatu,� imbuhnya. Desa Pakraman Pecatu memiliki 1.945 kepala keluarga, 6.960 jiwa. “Krama Desa Pakraman Pecatu yang menjadi anggota LPD kami 6.227 orang,� ujarnya. Manfaat keberadaan LPD di desa pakraman ini telah makin dirasakan krama desa. Mereka tidak hanya dapat meminjam uang tanpa prosedur ketat

seperti persyaratan kredit perbankan. Krama desa juga memperoleh santunan Rp 5 juta untuk biaya upacara ngaben. “Dari laba LPD Pecatu per tahun, Rp 1,5 miliar disetor untuk pembangunan desa pakraman kami,� katanya. Citra kredibilitas LPD menjadi variabel perekat daya tarik nasabahnya. Riset ilmiah pakar

tkh/sep

BERITA TERKAIT HALAMAN 16

Tak Berani Menolak

Ketut Giriarta, S.Pd. M.M.

Dr. Ngurah Suryanata, M.M.

PENGANTAR REDAKSI: Laporan hasil diskusi komprehensif bertopik “Memperkuat Mutu Manajemen Lembaga Perkreditan Desa untuk Memberdayakan Ekonomi Desa Pakraman� yang diselenggarakan Koran Tokoh dan Undiknas University serta didukung Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Bali, Selasa (18/1), masih disuguhkan sebagai laporan utama edisi ini.

Dengan menggerakkan para guru ke arah suasana kerja positif, menggairahkan dan produktif. Melakukan penataan fisik dan administrasi ketatalaksanaan demi disiplin serta semangat belajar siswa yang tinggi. Kepala SD AMI Denpasar ini pun yakin perannya yang tidak mudah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan dapat dijalankannya. Dra.Yulistina, biasa disapa miss Yulis ini mengatakan semua akan berjalan lancar dengan segenap sumber daya yang didayagunakan sedemikian rupa. Ia juga senantiasa mengibarkan semangat bekerja keras, cerdas dan penuh komitmen. Ia menyadari bagaimana pun guru merupakan input yang pengaruhnya sangat besar pada proses belajar. Menurut Yulis, setelah belasan tahun mengabdikan diri di kegiatan mengajar sesuai latar belakang pendidikannya, ia merasa ini hidupnya. Terlebih sejak awal memasuki dunia pendidikan, Yulis selalu terpilih bertanggung jawab sebagai kepsek hingga kini di Yayasan tkh/sep

79% Perempuan Debitur LPD Pecatu untuk Usaha Ekonomi Produktif

MANFAAT LPD (Lembaga Perkreditan Desa) dinikmati kaum perempuan desa pakraman. Sekitar 45% menjadi penabung, 79% kaum perempuannya menjadi debiturnya khusus untuk usaha produktif.

I

Y u l i s t i n a

Bersambung ke halaman 12

45% Perempuan Desa Pakraman Tabung di LPD tulah contoh nyata manfaat langsung ke hadiran LPD di Desa Pakraman Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Menurut Ketua LPD Pecatu I Ketut Giriarta, S.Pd., M.M., lembaga keuangan desa ini memiliki 9.227 nasabah penabung berekening. Ada 2.300 debitur atau pengguna jasa kreditnya. Sekitar 34% perempuan debitur perempuan, 66% debitur lelaki. “Kredit yang diperoleh tidak hanya untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga usaha ekonomi produktif. Jika dipersentase, ada 79% debitur dari kelompok perempuan yang memutar kredit untuk usaha ekonomi produktifnya. Sekitar 21% kredit LPD kami dimanfaatkan kaum laki-laki untuk usaha yang sama,� jelas alumnus Program Magister Manajemen Undiknas University ini. Jumlah 9.227 penabung itu 45% kaum perempuan, 55% penabung kalangan laki-

SUKSES tidaknya kegiatan sekolah salah satunya ditentukan kualitas dan kepemimpinan seorang kepala sekolah (kepsek). Sebagai kepsek ia wajib menjadi motor penggerak bagi SDM di sekolahnya, terutama para guru.

Dra. Agung Puspawati, M.M.

LPD dari Undiknas University Dr. I Gusti Ngurah Putra Suryanata, S.E., M.M. memastikannya dari kajian ilmiah LPD di Kabupaten Badung yang didisertasikan untuk mendapatkan gelar doktor. Data akademik yang dirangkumnya itu mengungkapkan, 43,8% krama desa pakraman di kabupaten terkaya di Bali ini mendepositokan uangnya di LPD. “Minat krama desa pakraman di Badung meminjam kredit lumayan tinggi. Minat masyarakatnya menabung 35%. Apalagi, denyut kehidupan ekonomi masyarakat terus membaik,� imbuh Ngurah Suryanata. Menurutnya, laju perkembangan dunia usaha mikro, kecil, dan menengah di perdesaan mulai menggeliat. Walau usaha ekonomi ini bergerak sebatas kegiatan bisnis di lingkungan rumah tangga (home industry). “Sebagai usaha ekonomi untuk menambah nafkah keluarga kan dapat langsung meningkatkan pendapatan masyarakatnya,� ujar mantan rektor Undiknas University ini. Bersambung ke halaman 12

Wakil Rakyat Janji Perjuangkan LPD WAKIL rakyat Bali di ‘Gedung Renon’ berjanji memperjuangkan nasib LPD sesuai harapan masyarakatnya. Nasib LPD tidak hanya dikaitkan RUU Lembaga Keuangan Mikro. “Revisi perda terkait keberadaan LPD juga menjadi agenda perjuangan politik kami,� ujar Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Tutik Kusumawardhani. Menurutnya, komisi yang dipimpinnya sudah menyerap usulan demi usulan terkait masalah LPD. “Kami terus berkoordinasi dengan Pemerin-

tah Provinsi Bali. Kami juga akan mendorong agar masalah LPD ini dikaji secara matang. Hasilnya dibahas bersama, melibatkan semua unsur masyarakat Bali, di daerah maupun di pusat. Rumusannya pun kelak akan diperjuangkan bersama wakil kita di Bali maupun di pusat,� katanya. Menurut Wakil Ketua Komisi II DPRD Bali Wayan Disel Astawa, usulan penggantian nama LDP belum kelar diputuskan wakil rakyat dan pemerintah daerahnya. Usulan yang disampaikan pemerintah

Ni Made Sumiati

Wayan Disel Astawa

untuk mengganti nama LPD menjadi LPDA atau LPDP belum sepenuhnya direstui lembaga wakil rakyat yang terhormat itu. “Saya menolak usulan tersebut. Jika mau ubah nama LPD kan ibarat mengubah nama warung yang sudah dikenal,� ujarnya. Menurutnya, nilai historis LPD harus dirawat kuat. Lembaga itu memiliki nilai

AMI yang didirikan Budi Pangalela dan Anie Fanawati ini. Ia mengaku klop dengan dengan pemilik yayasan yang memberikannya kepercayaan penuh menangani bidang pendidikannya. “Bu Anie dan Pak Budi luar biasa. Mereka terus melakukan peningkatan sarana dan prasarana yang ada. Di samping selalu menyisihkan dana khusus untuk membantu anak-anak kurang mampu,� ungkap putri pasutri almarhum Parmono dan Rosalia ini. Bukan hanya itu, yang menarik dari sosok kepsek satu ini yakni upayanya mengajak belajar bersama anak berkebutuhan khusus di sekolahnya. Ia menyadari tidak semua anak tumbuh dan berkembang dengan keadaan sama. Ada beberapa anak, katanya memiliki kebutuhan tertentu seperti kelemahan fisik, bermasalah dengan penglihatan, pendengaran maupun anak yang kesulitan berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam kasus seperti ini, katanya guru dan orangtua harus punya kepekaan mengenali kebutuhan anak. Bersambung ke halaman 12

Regulasi Bank Beban Berat LPD REGULASI perbankan permodalan, giro wajib minimenjadi momok bagi mum, aturan struktur perkeberadaan LPD. Padahal, kreditan, dan sebagainya. lembaga keuangan desa “Padahal, LPD kan lebih ini telah membuktikan diri banyak membebani kreditnya sebagai agent of developmelalui konsep manyama braya ment di desa pakraman atau kekeluargaan, bukan khususnya. kelayakan usaha,� imbuhnya. “Karakteristiknya LPD dinilai otomatis akan memang mengandung dapat pengawasan, pembinaan fungsi intermediasi, seBank Indonesia sesuai hingga LPD bisa dikaitkarakteristiknya sebagai lemkaitkan dengan UU Perbaga keuangan. Tetapi, posisi bankan. Tetapi, jika masuk LPD sebagai lembaga keuaregulasi perbankan nisngan mikro nonbank yang unik caya beban berat akan ini tetap harus pertahankan. dipikul LPD,� ujar bankir Ida Bagus Kade Perdana, M.M. “Wakil rakyat Bali seharusnya Drs. Ida Bagus Kade memperjuangkannya. Kini Perdana, M.M. sudah ada UU Perbankan, UU Koperasi. UU Menurut Dirut Bank Sinar ini, banyak yang berkaitan dengan lembaga adat untuk regulasi perbankan yang harus dipatuhi pemberdayaan desa harus dilakukan sekuat LPD jika terjerat ketentuan hukum ini. tenaga, sehingga LPD bisa masuk naungan LPD akan dikenai beban syarat payung hukum ini,� harapnya. —sam tkh/sep

Petualangan Putu Wijaya

Kehadiran Martha Tilaar Kado Istimewa Ultah Perdiknas

Tutik Kusumawardhani

sejarah yang mengakar. “Jangan hanya karena adanya SK menkeu, mendagri, meneg koperasi dan UKM, serta gubernur BI, nama LPD sebagai lembaga keuangan mikro nonbank lantas mau diubah. Walau ada yang menganggap LPD kan hanya sebuah nama,� ujarnya. Bersambung ke halaman 4

Diskusi “Membangkitkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini,� yang digelar Perdiknas, Senin (24/1). Dari kiri: A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, Dr. Martha Tilaar, A.A.A. Ngr. Sri Rahayu Gorda, dan Ida Ayu Sinaryati

UNTUK menghasilkan sosok yang mandiri dan mampu membuka lapangan kerja, perlu ada sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan dan pengusaha. “Pada ulang tahun ke-42 Perdiknas ini, kami menjawab tantangan tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan Martha Tilaar, dalam diskusi

“Membangkitkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini,� ujar Ketua Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, Senin (24/1) di Gedung Perdiknas, Jalan Tukad Yeh Aya, Renon Denpasar. Bersambung ke halaman 4


2

Tokoh

30 Januari - 5 Februari 2011

ASPIRASI Bersama:

Rampok RAMPOK mulai galak. Yang dijarah tak hanya kawasan terpencil. Rumah penduduk juga tak urung disatroni. Putu Wijaya Siskamling segera digalakkan. Tetapi, ada yang tak setuju dan sinis. Mereka menganggap itu akan memanjakan aparat keamanan yang seharusnya bertanggung jawab mengayomi rakyat. Amat ngomel, memprovokasikan perampokan itu adalah dampak perilaku fast food alias makanan siap saji. “Jalan pintas makin laku,” kata Amat, “Orang jadi tak sabaran lagi, maunya serba cepat. Kita sudah dilatih oleh makanan-makanan siap saji itu, benci kepada proses. Mau kaya, tetapi tidak sudi susah-susah banting tulang, lalu gagahi secara paksa dompet orang lain.” Ami tak sepaham. Ia sedang getol mendukung digalakkannya siskamling. Buat Ami siskamling adalah kebangkitan dari gotong-royong yang sudah lama diabaikan. “Tidak sesepele itu, Pak,” bantah Ami.”Jangan dibelokkan faktanya. Masalah rampok ini samasekali bukan persoalan makanan, tetapi soal hukum.” “Hukum?” “Ya hukum, ya masalah sosial-politik-budaya, ya soal kemerosotan moral, dan banyak lagi yang lain-lainnya. Ujung-ujungnya itu soal goyahnya karakter bangsa.” Amat tertawa. “Orang-orang menentang siskamling, Ami, sebab mereka heran, apa gunanya ada aparat kalau akhirnya soal keamanan dikembalikan lagi ke rakyat, dikembalikan lagi ke rakyat? Mosok orang-orang kecil yang sudah memeras keringat sehari suntuk mesti harus menjaga keamanan lagi? Capek deh!” “Lho ini kewajiban semua warga. Yang kaya juga ikut!” “Yahhh, yang kaya paling nanti nyumbang duit, nggak bakalan mau ikut ronda. Lagian rampoknya kan orangorang nekat, mana peduli dia sama pentungan. Yang diperlukan adalah senjata yang bisa nembak mati. Tetapi, satu ditembak yang lain akan datang lagi, bahkan bisa tambah ganas! Seperti tikus! Bukan siskamling yang kita perlukan tetapi mengubah perilaku orang supaya jangan suka main jalan pintas. Perilaku makanan siap saji harus dihilangkan, supaya orang jangan suka merampok lagi tetapi suka kepada proses! Percayalah, kalau mentalnya sudah berubah tidak akan ada lagi orang yang mau ngerampok lagi!” Ami mau menjawab, tetapi Amat cepat-cepat pergi. Ia ke rumah Pak Darmawan. Di situ para warga membahas masalah-masalah yang hangat. “Rampok itu bukan hanya rampok tetapi protes sosial,” kata Pak Darmawan. “Soalnya apa yang kita sebut keadilan tidak bisa lagi dipercaya. Hukum hanya membela yang lebih kuasa. Kebenaran berpihak kepada yang lebih kaya! Lihat bagaimana ringannya hukuman pada Gayus, padahal dia sudah mengakibatkan kerugian material dan moral!” “Jadi tak ada hubungannya dengan kebiasaan makan makanan siap saji?” tanya Amat. Per tanyaan itu terdengar aneh. Semua lalu memandang Amat. “Bagaimana Pak Amat?” “Menurut saya perampokan sekarang ini marak bukan karena semua itu. Itu namanya dipolitIk-politikkan. Penyebab kejahatan rampok itu gampang saja, karena kita sudah dilatih tidak sabar oleh makanan siap saji itu. Akibatnya, kalau ada yang perlu duit, orang tidak mau lagi susah-sudah kerja tetapi pakai jalan pintas. Merampok saja. Biar cepet!” Semua tertawa menyangka Amat bikin lelucon. “Ini bukan lelucon!” sambung Amat sengit. “ Saya katakan ini bukan karena saya tidak setuju ada siskamling-siskamling lagi. Tetapi, karena masalah keamanan masyarakat itu kan resminya bukan tanggung jawab kita. Itu kan tugas aparat keamanan. Jadi tidak perlu ada siskamling. Tutup saja semua restoran siap saji itu supaya orang kembali mau berproses. Siapa yang mau duit harus kerja dong, jangan merampok!” “Jadi tidak perlu siskamling Pak Amat?” “Tidak perlu! Bikin manja aparat saja! Ya nggak?” Semua jadi marah. Mereka putuskan, siskamling tidak perlu dirapatkan lagi. Giliran ronda dimulai malam itu juga. Amat diam-diam pulang. Di meja makan Ami menggebu-gebu. “Kejahatan mulai dinobatkan sebagai keberanian. Bromocorah menjadi selebritas. Dunia hitam tukar kelamin jadi ilmu dagang. Kepintaran, kebijakan, kebaikan sudah ketinggalan kereta. Tiket untuk merenggut sukses sekarang adalah kelihaian. Kelihaian adalah perampokan yang tak kelihatan. Kelihaian adalah pencurian yang keji. Tak ada rasa segan lagi pada yang berwajib. Kemiskinan lewat ambang batas. Yang kaya-raya tidak ketulungan. Di puncaknya, kemanusiaan pupus. Hukum tak bergigi. Orang-orang nekat naik daun. Maka masyarakat resah. Orang kecil tak lagi punya pelindung. Mereka hanya dipakai alat untuk menggapai, tujuan!” “Betul sekali,” sambut Bu Amat, “Jadi apa yang harus kita lakukan?!?” Tiba-tiba Amat menjawab. “Menggencarkan siskamling!” Ami terkejut. “Lho, jadi Bapak setuju siskamling?” “Setuju!” “Kok setuju?” “Karena siskamling itu juga pembelajaran pada proses. Keamanan tidak cukup hanya karena ketakutan pada kehadiran aparat dengan senjatanya, tetapi harus ditumbuhkan, dipelihara dan dijaga bersama dari masyarakat sendiri. Gotong-royong! Itu akan menciptakan keamanan sejati.” Ami bengong. “Terus restoran makanan-makanan siap saji itu bagaimana? Nggak jadi dilarang?” “Nggak usah. Biar saja, nanti kalau banyak yang sakit oleh fast food itu, kan akan tutup sendiri karena tak ada lagi yang beli!” “Kok Bapak tiba-tiba setuju? Disogok Ibu ya?” Amat tidak menjawab. “Habis rapat-rapat melulu tidak pernah dipraktikkan,” kata Bu. Amat, “kalau bapakmu tidak menantang begitu tidak akan dilaksanakan. Malam ini giliran bapakmu yang ronda, Ami.” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

KORAN TOKOH Apa alasan Anda menonton sepak bola, karena permainannya atau pemainnya?

“Dualisme Liga Sepak Bola di Indonesia” Sampaikan opini Anda Minggu 30 Januari 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 6 Februari 2011

Antisipasi Ancaman Rampok

Perlu Sinkronisasi Desa Dinas dan Desa Adat PERAMPOK bukan hanya menyasar rumah terpencil, tetapi merambah kompleks permukiman penduduk Namun, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya sudah bergeser. Mereka tidak tahu apa yang terjadi seolah-olah sengaja menutup telinga. Tidak ada lagi sifat saling runguang. Akhirnya gue-gue, loe-loe. Ada yang membangun pagar tembok rumah tinggi. Tetangga kecurian tidak tahu, dia kecurian tidak diketahui tetangga. Bangkitkan ronda malam di kota. Jauhkan sifat individual. Menjaga keamanan bukan hanya tugas polisi. Peliharalah anjing asalkan tidak terkena rabies. Tetapi, perampok pintar, bawa senjata. Anjing bisa diracun bahkan ditembak. Antisipasi ancaman rampok dan dalam tugas pengamanan warganya perlu ada sinkronisasi antara Desa Dinas dan Desa Adat. Demikian pandangan yang nya. Kriminalitas terjadi karena berkembang dalam Siaran Inter- kesulitan ekonomi. aktif Koran Tokoh di Global Pande FM 96,5 Mnggu ( 23/1). Topiknya, “Ketahanan Keluarga dan Pelihara Anjing Ancaman Rampok.” Berikut Maraknya aksi kejahatan petikannya. akhir-akhir ini sampai perampokan masuk desa muncul, Tak saling ‘Runguang’ setelah munculnya kasus rabies Kalau hanya sebatas ke- dan eliminasi anjing. Anjing tahanan keluarga tidak cukup. merupakan sistem keamanan Harus ditambah ketahanan ma- tradisional di Bali yang sudah syarakat. Sudah menjadi sajian ada sejak lama. Mirip pengsehari-hari di media massa, ke- amanan di dunia Barat yang rawanan dan keamanan masya- menggunakan CCTV. Anjing rakat terganggu. Kepadatan pen- memiliki kepekaan terhadap duduk di kota menjadikan sulit sesuatu yang asing, yang damerapatkan barisan. Hubungan tang tiba-tiba. Setelah muncul antarwarga rentan. Mereka tidak rabies, ribuan anjing dieliminasi tahu apa yang terjadi di tetang- padahal belum tentu terjangkit ga seolah-olah sengaja menu- rabies, sehingga anjing mati tup telinga. Tidak ada lagi sifat sia-sia. Akhirnya kejahatan masaling runguang. Perlu bangkit- suk desa. Hal ini tidak terlepas dari unsur politik yang mekan ronda malam di kota. Ketut Kari manfaatkan situasi sekarang. Polisi, bagian sistem keamanan insidental. Polisi tidak stand by Kesulitan Ekonomi seperti anjing itu. Masyarakat Keluarga unit terkecil dari asyik tidur tanpa memikirkan apa masyarakat. Formula pendekat- pun dan menyerahkan pada anan harus secara komprehensif jing. Walaupun ada polisi tidak dan holistik. Muncul persoalan banyak kejahatan terungkap. Ke ketahanan keluarga. Fenomena depan, masyarakat Bali harus ini gejala di permukaan ber- memikirkan jalan keluar ini debagai kepentingan, implemen- ngan memelihara anjing tasi pada kerusakan alam dan sebanyak-banyaknya, tetapi tilingkungan. Pendekatan tidak dak rabies. Jika perlu, satu rumah hanya di permukaan, namun, memiliki 10 anjing. harus mendasar pada orangGede Biasa

’Gue Gue, Loe Loe’ Maraknya kejahatan karena kemajemukan kita dan kurangnya rasa kegotongroyongan. Penghuni di kota, tidak kenal tetangga. Apalagi dia datang dari jauh. Rasa persatuan jauh, akhirnya gue-gue, loe-loe. Tetangganya kecurian tidak tahu. Kalau desa adat yang kuat mungkin kecurian lebih sedikit. Ada pecalang, dan aturan desa adatnya ketat. Dulu rasa persaudaraan lebih kental. Masyarakat masih memiliki rasa peduli pada orang lain, saling membantu teman lain. Sekarang banyak tanah dibeli pendatang. Perlu pemikiran yang serius dari pemerintah. Santha

Pagar Rumah Tinggi tidak Cocok Kejahatan bukan hanya niat pelaku tetapi ada kesempatan. Tidak bisa mendeteksi akan adanya perampok, tetapi hanya meminimalisir kesempatan itu. Jangan menggunakan perhiasan mencolok. Kewaspadaan perlu ditingkatkan. Saling pedulilah pada yang lain. Model bangunan model sekarang ini menggunakan pagar tinggi. Kesannya cuek dengan tetangga, tidak peduli satu sama lain. Terjadi perampokan tetangganya tidak tahu. Bersambung ke hlm. 12

Gek Adhe Karena pemainnya. Jadi makin semangat nonton sepak bola.

Made Nurbawa Permainannya.

Kan Agus Pindie Karena taktik dan gaya permainannya. Saya suka menonton sepak bola pasti karena tim itu bagus atau tim yang sudah pernah juara semisal Brazil, Inggris, Italia dsb. Begitu juga dengan klub. Kalau klub itu pernah juara pasti kita suka menontonnya.

Dwija Oka Negara Karena permainannya. Sepak bola bagi saya adalah segalanya. Di sepak bola saya bisa dapatkan sebuah tontonan yang menarik, yang membuat mata termanjakan, membuat adrenalin terpacu, apalagi ketika yang main adalah tim kesayangan. Bagi saya ada tiga hal yang membuat dunia ini tidak membosankan, pertama sepak bola, kedua musik, dan yang ketiga wanita. Dan, satu harapan saya yang belum tercapai, melihat sepak bola Indonesia sesuai harapan saya.

Ery Jaya Saya tidak begitu senang nonton sepak bola Indonesia karena pemainnya suka memukul wasit.

Sri Wahyuni Permainannya dong. Sepak bola adalah olahraga yang sportivitasnya tinggi dan harus bekerja sama dengan tim untuk mencapai kemenangan.

Arya Somadi Krishna Saya paling suka nonton sepak bola Liga Spanyol, karena permainannya sangat taktis baik dalam bertahan maupun menyerang. Secara tidak langsung juga suka melihat pemain-pemainnya saat beraksi mengolah si kulit bundar, seperti Messi atau C. Ronaldo. Mungkin liga tersebut juga bagus menjadi acuan bagi pelatih-pelatih di Indonesia dalam melatih klub-klub yang berlaga di LSI atau LPI. Mudah-mudahan Tim Nasional kita berjaya kembali di Asia.

Ngurah Arya Berbicara bola (sepak bola) tidak habis-habisnya. Sebenarnya yang menarik karena permainannya dan pemainnya. Pada era sekarang lihat saja permainan dari tim Barcelona dengan gaya permainan menyerang dengan pemainnya Lionel Messi (Messidona) sebagai pemain terbaik dunia. Untuk Indonesia sepertinya perlu banyak yang harus dibenahi, kalau tidak jangan berharap menjadi tuan rumah piala dunia. Ayo, PSSI kamu pasti bisa!

Surya D’ Bali Saya suka nonton sepak bola karena permainannya yang menyuguhkan strategi dan kolektivitas tim, kemudian baru karena klub favorit.

Putu Sumada Kalau saya suka menonton sepak bola karena keduanya. Untuk menambah pengetahuan tentang teknik bermain, strategi, team work, dan pola permainan masingBersambung ke hlm. 12 masing tim.

Telepon Tri Winarno Bu Tia di Jakarta (HP:081 5117 71994) menanyakan nomor telepon Tri Winarno, pengrajin kancing batok kelapa yang dimuat Koran Tokoh Edisi 625, 2 – 8 Januari 2011 berjudul “Kancing Kombinasi Fiber dan Batok Kelapa”. Nomor telepon Tri Winarno: (0361) 792 0397.

Rubrik Tanya Jawab Saya ingin ada rubrik tanya jawab tentang upakara dan yadnya yang berkaitan dengan agama Hindu. Widi Ani

Dualisme Liga Sepak Bola di Indonesia ORANGTUA cenderung bingung ketika melihat anakanaknya tenggelam dalam hobi sepak bola secara obsesif. Mereka gusar dan berpikir waswas, “Mau jadi apa mereka nanti, bagaimana nanti mereka akan menghidupi dirinya maupun keluarganya?” Tidak satu pun di antara mereka sempat berpikir, barangkali Tuhan sedang menyampaikan sebuah pesan, “Anak ini sengaja Aku ciptakan agar kelak ia bisa mengganti Ronaldo atau Messi. Tanpa kehadiran mereka, dunia tidak lagi indah dan menyenangkan”. Kini situasinya mulai berubah, melihat kenyataan bahwa seorang Bambang Pamungkas menerima gaji sekitar seratus juta rupiah sebulan. Tidak kurang, El, Al, dan Dul, ketiga putra selebritas Achmad Dhani dan bekas istrinya, Maia Esthianti, akan berangkat ke Inggris untuk masuk sekolah sepak bola di Manchester United. Di Tanah Air kini sedang bergulir dua liga sepak bola “profesional”, yakni Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Primer Indonesia (LPI). Kegaduhan menyeruak ketika PSSI sebagai pemegang otoritas LSI menuding LPI sebagai kegiatan ilegal, sementara pihak LPI bersikukuh ingin mengedepankan sepak bola yang benar-benar profesional. Sebelum kegaduhan ini, pencinta bola di Tanah Air seolah me-

nemukan obat mujarab dan harapan baru dengan keberhasilan Timnas Garuda dalam laga AFF (ASEAN Football Federation) di tengah kiprah dan kemelut PSSI yang bertahun-tahun telah gagal mengukir prestasi. Optimisme akan harapan baru ini terlihat dari antusiame pendukung Timnas di Gelora Bung Karno, akhir 2010. Masyarakat menilai betapa besar andil Alfred Riedl, yang meminta dan kemudian mendapat otoritas penuh dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelatih kepala tanpa campur tangan para pengurus PSSI. Andil yang sama juga disumbangkan dua pemain naturalisasi yakni Christian (El-loco) Gonzales dan Irfan Bachdim. Sukses Timnas telah melahirkan harapan baru yang sekaligus menggelorakan roh dari kebutuhan untuk bersatupadu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebelum sukses Timnas Garuda yang fenomenal, situasinya memang tidak menggembirakan mengingat kiprah dan prestasi PSSI yang diragukan pencinta bola. Masyarakat kecewa melihat ketidakberesan di tubuh PSSI, mulai dari mempertahankan mantan narapidana sebagai ketua umum, keberadaan sekjen selama puluhan tahun tanpa pernah diganti, ketidakmandirian pendanaan yang terus-menerus menyusu pada APBN/APBD, rumor-rumor rekayasa hasil pertandingan, dan lain sebagainya. Menpora telah mencoba mengatasi kemelut ini dengan penyelenggaraan Kongres Sepak

Dr. N. Sutrisna Widjaya, M.P.H.

bola Nasional (KSN) di Malang akhir Maret 2010. Tetapi, lagi-lagi hampir semua rekomendasi hasil KSN tidak digubris pihak PSSI. Mereka bersikap seakan untouchable. Mungkin mereka berpikir, jika instruksi/imbauan presiden saja dapat diabaikan bawahannya, mengapa pula PSSI harus tunduk pada rekomendasi hasil KSN? Bagaimanakah kira-kira dampak dari kegaduhan dualisme liga sepak bola bagi persepakbolaan di Bali? Masyarakat Bali adalah penggemar bola. Kendati tidak seheboh pendukung Persebaya dengan bonek (bondo nekat)-nya, kita masih ingat kiprah pendukung fanatik Gelora Dewata yang selalu bergelora. Entah mengapa akhirnya pemilik Gelora Dewata memindahkan home-base-nya ke Sidoarjo dengan mengganti nama klub menjadi Deltras. Belakangan Deltras banyak melahirkan pesepak bola berkualitas yang kemudian di-

jual ke klub-klub lain. Kepergian Gelora Dewata jelas telah membuat kecewa pencinta bola di Bali. Tokoh-tokoh pencinta bola mencoba mengatasi kekosongan ini dengan membangun Persegi Bali FC. Tetapi, apa daya klub ini pun akhirnya berakhir dengan kematiannya. Harapan mendapat dukungan dana dari pemda kabupaten/ kota seluruh Bali kandas di tengah jalan. Untungnya, kekecewaan ini tidak menjadi luka yang terlalu dalam ketika kiprah sepak bola di Indonesia juga mengalami situasi yang sama, miskin prestasi. Pesepak bola profesional masih beruntung bisa menyalurkan bakat dan potensinya pada klub-klub sepak bola di luar Bali. Misalnya, I Komang Putra, Made Wirawan, Wirahadi, Sukadana. Di Bali ada banyak bakat sepak bola yang tidak tergali. Juga, cukup banyak sekolah sepak bola, tetapi ke mana pemain-pemain berbakat kelak akan disalurkan, mengingat ketiadaan klub sepak bola profesional? Kini di Bali ada klub baru, Bali Devata. Ia membawa paradigma baru bahwa liga profesional masih bisa hidup tanpa menyusu pada APBD, atau mendapat kucuran dana dari orang yang benar-benar gila bola sehingga rela berkorban demi kegilaannya. Bali Devata sebagai sebuah badan hukum, mendapat pinjaman modal dari LPI yang lahir dari kerinduan akan adanya kompetisi murni dan profesional yang bebas dari unsur politisasi, penggunaan kekuasaan, rekayasa

hasil pertandingan. Dalam usianya yang sangat muda ia telah menunjukkan kualitasnya dengan memenangi laga tandang 1 – 0 melawan Real Mataram di Jogyakarta, dan mengalahkan Manado United 1 – 0 dalam laga kandang di stadion Dipta, Gianyar. Langkah awal yang bagus, namun masih harus kita nantikan buah dari penerapan paradigma baru, bahwa sepak bola yang dikelola secara profesional, kelak harus membuktikan dirinya menjadi sebuah industri. Irfan Bachdim berkali-kali menyatakan, ia bermain bola demi kegemaran masa kecilnya dan kebahagiaan yang ia peroleh dari bermain bola. Dan, ia pun tidak terlalu peduli dan merasa galau ketika namanya dicoret dari Timnas U-23. Ke depan, kita ingin mendengar dukungan orangtua kepada anak-anak ketika ingin menjalani kegemaran obsesifnya, di bidang sepak bola, atau pada kegemaran lain sehingga kelak mereka menggeluti pekerjaan yang sesuai dengan bakat, potensi, dan dorongan nuraninya. Bukankah semua orang ingin mendapat kebahagiaan dalam menjalani hidupnya? Dr. N. Sutrisna Widjaya, M.P.H. Pendiri Lembaga Pengembangan Citra Diri, penggembar sepak bola

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara zStaf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati zNTB: Naniek Dwi Surahmi. zSurabaya: Nora. zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 z Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 z NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 z Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 z Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com z Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id z Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 3

2

Sukawati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.H. dengan Ni Made Kariani, S.E., S.H.

Pulang ke Bali demi Orangtua Sepasang pengantin Nias

Pengantin yang Menangis TURNI

Petualangan Keliling Nias Putu Wijaya

1 NIAS buat saya adalah sebuah dongeng. Selalu saya bayangkan tempat itu sebagai timbunan harta-karun budaya masa lalu yang menyimpan misteri. Tempatnya yang jauh membuat saya hanya mampu memandangi foto-foto, mengagumi peninggalan dari zaman megalitikum yang dibelajarkan di kelas entologi waktu di SMA. Enam tahun setelah tsunami, saya mendapat kesempatan ke Nias, membonceng 10 finalis lomba foto “Gambara Nias Bangkit 2010� yang mencoba menangkap realitas sosial pascatsunami. Sejauh mana simpati dan bantuan yang berdatangan untuk menaklukkan amukan tsunami, dapat memulihkan Nias? Para fotografer dipancing Posko Delasiga (pemrakarasa lomba foto) untuk menjadi ujung tombak dalam mengoreksi fakta lewat jepretan kameranya. Tanggal 4 Januari, di mall Combridge, Medan, diadakan pameran foto dan peluncuran buku Kamus Nias karya Apollo. Saya didaulat untuk memberikan sedikit sentuhan untuk mengawali acara yang berlangsung hampir seharian itu. Lalu saya bawakan sebuah cerita untuk mengungkap realitas sosial. Saya membuat retorika tentang seorang raja yang kebingungan ingin menolong rakyatnya, seusai tsunami. Rumah-rumah sudah dibangun. uang sudah diberikan, tetapi seorang anak tetap menangis selama 10 tahun. Pasalnya, dia tidak hanya kehilangan harta-benda, tetapi kematian sanak-saudaranya yang akan merupakan luka abadi. Adalah Ibu Suri yang kemudian menjelaskan pada raja, bahwa bukan hanya harta-benda yang harus diberikan, tetapi terapi bagi batin yang pedih. Dan, itu hanya bisa diatasi dengan kasih sayang. Tsunami telah menyebabkan Nias kehilangan 650 jiwa, 35 ribu rumah, 2 rumah sakit, 26 puskemas, 1488 sekolah, dan 230 km jalan menjadi amburadul, 9 pelabuhan rusak berat, 11 ribu hektare berantakan – 2900 hancur permanen, 500 ribu penduduk tanpa hunian serta 150 anak terbengkalai pendidikannya. Apakah semua itu kini sudah terlipur? Kabar burung sudah lama bertiup. “Banjir� bantuan telah membuat Nias yang semula hanya dikunjungi turis yang

HUBUNGAN percintaan Lanang dengan kekasih hatinya, Made Kariani, putri pasutri Nyoman Kasna dan Luh Soma ini, terus berlanjut. Jarak Malang Surabaya bukanlah hambatan bagi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta ini.

ingin berselancar dan nonton peninggalan zaman megalitum, sibuk sudah berbenah.. Jembatan dan jalanan diperbaiki. Ada kesibukan, pembangunan yang memberikan lapangan pekerjaan. Tetapi, bersamaam dengan itu, hadir virus baru. Kebergantungan pada “bantuanâ€?. Akibatnya, konon masyarakat jadi malas. Apakah kecurigaan itu betul? Saya pribadi benarbenar ingin tahu. Bahwa, selalu ada aspek buruk yang merupakan tumpangan gelap dari tiap niat baik, bukan cerita baru. Tetapi, apakah itu akan menciptakan realitas sosial yang dapat membelokkan kepribadian penduduk, sampai pada derajat yang membahayakan? Saya tak sabar untuk menatapnya. Pernikahan Mahal Malam hari sebelum berangkat, di posko kami di Gunungsitoli (Nias Pusat), panitia setempat, memberikan beberapa pesan penting. Diminta para fotografer agar berhatihati terhadap kemungkinan, jika penduduk nanti ada yang minta uang karena sudah dipotret. Hal serupa sempat saya alami dulu di Bali, sekitar awal tahun 1970, ketika menjadi staf peĂąiata artistik dalam film The Adventure in Bali. Penduduk yang rumahnya terkena bidikan kamera, secara tak sengaja pun, langsung minta kompensasi. Tanggal 6 Januari dengan 9 mobil Estrada, tiap fotografer didampingi 3 asisten, menuju Nias Utara. Saya menumpang di mobil Aris, fotografer yang berasal dari Solo. Saya nikmati langit terang dalam perjalanan menyenangkan, terutama karena jalannya bagus. Sepanjang pantai Nias kaya pohon kelapa. Batangnya jangkung dan melengkung, seperti sedang menari. Para fotografer dijadwalkan untuk pergi ke Pantai Putih dan Pantai Merah untuk melihat sisa-sisa keganasan tsunami. Tetapi, sebelum sampai ke situ, iring-iringan kami bertemu upacara pernikahan yang membuat semuanya berhenti dan memotret. Di rumah seorang mempelai perempuan di Sitolu, tiga ekor babi terikat di kebun samping rumah, menanti dipotong. Penduduk sedang membagi-bagikan yang sudah dipotong. Sementara seorang pemain organ tunggal mengiringi seorang perempuan muda menyanyikan lagu dangdut dengan penjiwaan yang mantap. Pengantin perempuan duduk di kamar menanti dimulainya upacara. Ia kelihatan berbahagia dan malu. Anakanak berlarian dan menikmati perhelatan itu sebagai hiburan. Dua orang gadis sedang menempelkan hiasan jantung di dinding depan rumah. Para tetangga berdatangan membantu persiapan pesta. Jam 13.00 tari-tarian akan dimulai dan mempelai pria akan muncul. Bersambung ke halaman 12

Perahu terdampar di Pantai Putih

Lanang dan Kariani menjadi raja dan ratu sehari waktu menikah

S

etelah menamatkan studinya di Universi tas Veteran Nasional Surabaya, Kariani diminta orangtuanya menyusul kakaknya ke Jakarta yang sudah terlebih dahulu bekerja di sana. Dilema dirasakan perempuan kelahiran Sembung, Mengwi, Badung,19 Mei 1973 ini. Di satu sisi ingin bekerja di Malang agar lebih dekat dengan kekasih hatinya. Di sisi yang lain, ia tak ingin membantah nasihat orangtuanya. Tetapi, Lanang sudah memintanya jauh-jauh hari agar ia mencari pekerjaan di Malang. Kariani bingung menentukan pilihan. Dengan berat hati perempuan yang memiliki hobi nonton dan olahraga ini, melanggar perintah orangtuanya. Ia diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta di Malang. Namun, hanya bertahan enam bulan. Setelah itu, Kariani memutuskan menuruti nasihat orangtuanya untuk menyusul kakak kandungnya ke Jakarta. Kariani dan Lanang terpaksa berpisah. Komunikasi mereka lakoni lewat telepon. Waktu itu Lanang masih dalam tahap penyusunan skripsi. Dua bulan mereka tidak bertemu, hanya berkomunikasi lewat telepon. Namun, perpisahan mereka tidak begitu lama. Beberapa bulan kemudian, tiba waktunya Lanang diwisuda. Namun, Lanang sempat merasa khawatir. Dengan kesibukan Kariani, apakah gadis pujaan hatinya itu dapat meluangkan waktu hadir dalam acara yang sangat bersejarah baginya itu. Tiba waktu wisuda, Lanang cemas. Pikiran negatif sempat

terlintas dalam benaknya, jika Kariani tidak datang, berarti dia bukan jodoh saya. Beberapa saat sebelum acara dimulai, hati ayahanda empat anak, Maheswara Perbawa Sukawati, Nidya Kameswari Perbawa, Karina Prameswari Utami Perbawa, dan Raditya Abinawa Sukawati ini, sumringah. Kedatangan Kariani makin memantapkan hati Lanang untuk segera mempersunting perempuan yang memiliki dua gelar kesarjanaan Ekonomi dan Hukum tersebut.

Lanang paling kiri bersama keluarga besarnya di Singaraja

Masa Tua Mbah Simpen

Hari-harinya Dihabiskan di Kamar Kos DALAM sisa umurnya sekarang ini ia benar-benar sendirian. Keluarganya tak ada yang tersisa. Suaminya tewas, demikian juga empat anak lelakinya. Ia tidak lagi bisa bercerita banyak tentang tewasnya suami dan anakanaknya itu. “Tewas dibantai PKI,� hanya itu yang masih diingat Mbah Simpen. Tragedi itu terjadi saat mereka bertempat tinggal di Blitar, Jawa Timur. Sementara, dua anak perempuannya juga telah meninggal setelah mereka

Setelah tamat, Lanang segera menyelesaikan pertanggungjawaban organisasi KMHDI dan segera menyusul pujaan hatinya ke Jakarta. Lanang menumpang di rumah pamannya. Pertama kali Lanang mencoba mengadu nasibnya sebagai agen buku agenda. Ia masuk ke kampuskampus menjual buku agenda. Harga pokok buku Rp 9000, ia jual Rp 11.000. Namun, itu hanya bertahan sebulan. Lanang mengikuti saran pamannya untuk mencoba melamar di perusahaan perkapalan. Namun, di sana pekerjaan administrasi tidak ada. Sudah tiga hari ia hanya duduk di kantor itu tanpa ada pekerjaan yang berarti. Hari keempat dia ditawari ke lapangan. Sampai di sana ia kaget, karena Lanang harus melakukan pekerjaan menggergaji kayu untuk pembuatan dok kapal. Satu hari mencoba, ia tidak kuat lagi. Lanang langsung mengundurkan diri. Beberapa bulan kemudian, dibuka lowongan CPNS di Departemen Kehakiman dan HAM. Lanang mencoba ikut mengadu nasib. Apalagi kedua orangtuanya berpesan padanya: cenik lantange alih, dadi PNS dogen. Syukur dia diterima. Kedua orangtuanya juga ikut senang. Lanang akhirnya berani melamar gadis pujaan hatinya naik kepelaminan. Lanang memboyong Kariani ke rumah asalnya di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng. Setelah upacara perkawinan, Lanang kembali ke Jakarta bersama Kariani. Mereka bertempat tinggal di kos-kosan. Awal mula menjadi CPNS gaji Lanang Rp 180.000. Gaji itu hanya cukup untuk membayar kos sebulan. Untungnya, gaji Kariani sebagai akuntan publik Rp 1.500.000. Kebutuhan hidup mereka berdua selama di Jakarta masih terpenuhi. Tanpa

menikah dengan pria asal Bali. Samasekali tak ada yang bisa dikerjakan Mbah Simpen. Hari-harinya hanya dihabiskan di kamar kos sumpek seluas 2 x 2,5 meter di kawasan Yang Batu, Denpasar. Sebuah tempat tidur lusuh menjadi tempatnya beristirahat. Sesekali dibantu tetangganya ia menghirup udara luar yang sebenarnya juga tak seberapa nyaman. Kaki Mbah Simpen memang tengah sakit akibat terjatuh. Akibatnya jika berjalan ia harus memakai tongkat dan dituntun

tetangganya. Usia yang sudah renta ditambah fisik yang sakit, praktis membuat Mbah Simpen tak bisa berbuat apa-apa untuk mengais rupiah untuk menunjang hidupnya. Saat ditanya kapan ia tiba di Bali, Mbah Simpen tak bisa mengingat dengan pasti. Ia hanya ingat setelah suami dan empat anak lelakinya tewas di tangan PKI, ia pergi bersama anak-anak perempuannya ke Bali. Di Bali kedua anak perempuannya kawin dengan pria asal Bali. “Sekarang anak-anak perempuan saya juga sudah meninggal. Mereka sudah dibakar,� katanya. Ketika ditemui di rumahnya, Mbah Simpen berjalan tertatih disangga tongkatnya sambil dituntun tetangganya. Menurut si tetangga, untuk kebutuhan sehari-hari Mbah Simpen mengandalkan bantuan dari tetangga-tetangganya. Di luar kebutuhan seharihari, Mbah Simpen masih punya tanggungan membayar

Lanang paling kiri bersama kedua orangtuanya dan kedua kakaknya di rumah mereka di Br. Jawa Singaraja

disadari Kariani hamil. Begitu sibuk bekerja, ia mengalami keguguran. Terpaksa ia mengundurkan diri dari tempat pekerjaannya itu, ia hanya bergantung pada Lanang. “Terlintas pikiran untuk keluar dari CPNS. Gaji sangat kecil, apalagi istri keguguran. Saya meminta saran ke orangtua ingin mengundurkan diri,� tuturnya.Namun, kedua orangtunya melarang. Mereka mengatakan akan siap membantu Lanang dengan mengirimkan uang tiap bulan. Bungsu dari empat saudara kandung ini akhirnya mengalah. Air muka Lanang berubah. Tampak bola matanya berkacakaca saat menceritakan liku-liku kehidupan pada awal perkawinannya. Ia mengaku, sangat terharu terhadap pengorbanan istri dan kedua orangtuanya. “Orangtua juga hidup sederhana, tetapi berusaha sekuat tenaga membantu,� ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Lanang meneruskan pengabdiannya sebagai CPNS di Departemen Kahakiman dan HAM. Lanang memutuskan mengontrak rumah yang memiliki tiga kamar tidur. Satu kamar ia tempati bersama istrinya, dua kamar ia sewakan. Kebetulan penyewanya orang asal Bali yang bekerja di Jakarta. Beberapa bulan kemudian, Kariani hamil dan lahirlah anak pertama mereka, Maheswara Perbawa Sukawati, menyusul keluarnya SK PNS Lanang. Maheswara lahir di RSU Persahabatan Jakarta Timur. Karena menggunakan askes, Kariani melahirkan di bangsal. Banyak pasien yang melahirkan waktu itu, ada yang janinnya meninggal di perut ibunya, ada yang sedang berteriak kesakitan. Lanang sempat khawatir anaknya tertukar. Untungnya kejadian itu tidak terjadi. Maheswara lahir dengan selamat termasuk ibunya. Lanang langsung menyambut dengan suka cita dan segera membisikkan gayatri mantram di telinga bayi mungil itu. Kakak Lanang, Nyoman Sudi Mahayasa, setelah menamatkan studinya di ITN Malang, bekerja di perusahaan perkapalan di Jakarta. Setelah menikah, Nyoman memutuskan bertempat tinggal bersama Lanang. Mereka mengontrak rumah bersama. Lanang kembali melanjutkan studi magister hukum di Universitas Diponegoro Semarang. Kebetulan, ia mendapat beasiswa dari kantornya. Bersama

Mbah Simpen

uang kamar kos Rp 100 ribu tiap bulan. Ia bersyukur si empunya kamar kontrakan bisa memaklumi kondisi Mbah Simpen yang memang tidak punya apa-apa. Santunan Jompo Untuk meringankan beban Mbah Simpen, LAZ Yayasan Kesejahteraan Ukhuwwah

beberapa temannya, mereka naik kereta dari Jakarta ke Semarang. Tak banyak hambatan yang dirasakan Lanang, hingga ia menyelesaikan studinya dengan baik dan lulus tahun 2002. Pulang ke Bali Namun, kegembiraan tersebut tak berlangsung lama. Lanang mendapat telepon yang mengabarkan berita buruk. Kakek dan ayahnya berbarengan masuk rumah sakit. Lanang dan Nyoman bingung. Mereka berdua anak laki-laki di keluarga itu. Si sulung sudah meninggal. Walaupun ada kakak perempuan yang bertempat tinggal di kampung kelahiran nya, hati dua bersaudara itu tidak tenang. Untuk pulang mendadak naik pesawat, rasanya tidak mungkin. Tiket pesawat mahal. Lanang dan Nyoman berdiskusi mencari jalan keluarnya. Keputusan diambil. Nyoman mengundurkan diri dari tempat bekerjanya dan segera pulang ke Bali bersama keluarganya. Delapan bulan kemudian, Lanang menyusul pindah ke Bali. Nyoman Sudi Mahayasa, S.T, M.Pd. meneruskan usaha percetakan orangtuanya dan diterima menjadi PNS di SMKN 3 Singaraja. Lanang pindah tugas ke Kanwil Kehakiman dan HAM Provinsi Bali. Lanang bertempat tinggal di rumah kos di Panjer, istri dan anaknya bertempat tinggal di Singaraja. Lahir anak kedua mereka Nidya Kameswari Perbawa yang kini sudah kelas IV SD Saraswasti 3 Renon. Senin sampai Jumat Lanang di tempat kos. Jumat sore ia pulang ke Singaraja. Senin pagi ia balik ke Denpasar. Dua bulan Lanang melakoni rutinitas itu. Tetapi, lama-kelamaan, ia merasa capek. Kariani menawarkan untuk bertempat tinggal di rumah asalnya di Sembung, Mengwi. Lanang mengaku risi apalagi ia belum tahu seluk-beluk bertempat tinggal di desa. Apalagi, ia akan tinggal sendiri di sana tanpa istri dan kedua anaknya. Namun, kata dia, tak salah untuk dicoba. Kariani dan dua anak mereka tetap tinggal di rumah orangtua Lanang di Br. Jawa Singaraja. Pulang kantor, Lanang mengaku hanya diam di rumah. Lama-kelamaan ia merasa kikuk juga. Dua bulan Lanang tak betah. Kebetulan ada rezeki, ia mengontrak rumah di Denpasar. –ast (YKU) menyalurkan dana bantuan kemanusiaan melalui program Santunan Jompo. “Jumlahnya memang tidak seberapa, namun kami berharap bisa meringankan beban para jompo yang sudah tidak produktif lagi,� kata Manajer Operasional YKU Jemy Helmy, S.E. seusai menyerahkan bantuan kepada Mbah Simpen. Menurut Jemy, di Denpasar banyak jompo yang nasibnya kurang beruntung. Di antara mereka ada yang tidak punya pekerjaan tetap, bahkan samasekali tidak punya penghasilan. “Sementara ini, kami akan menyalurkan bantuan kepada lima orang jompo di Denpasar. Mereka sudah kami data identitasnya. Namun, kami berharap ke depan lebih banyak lagi jompo yang bisa kami bantu,� ujar Jemy. Ia menambahkan, untuk donatur yang ingin berpartisipasi membantu meringankan beban hidup kaum jompo bisa menghubungi LAZ YKU. –nang.


4

Tokoh

NUSANTARA

30 Januari - 5 Februari 2011

MENELUSURI KOTA MEKKAH, MADINAH, DAN SEKITARNYA

6

Pesona Masjid Nabawi di Madinah SETELAH Mekkah, tanah suci kedua adalah Madinah. Kota Madinah berjarak sekitar 460 km arah timur laut Mekkah. Menggunakan kendaraan bus dari Mekkah menuju Madinah diperlukan waktu 8-9 jam.

B

erbeda dengan Mekkah yang hawanya panas, udara kota Madinah dingin. Malam hari, suhu udaranya hanya 100c, atau sedikit lebih dingin dibanding Bedugul waktu malam. Meski tidak setua Mekkah, setidaknya Madinah sudah amat terkenal pada abad 6 Masehi. Tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad melakukan hijrah dari Mekkah menuju Madinah, bersama para sahabat dari kaum Muhajirin. Peristiwa ini yang kemudian hari diperingati banyak kaum muslimin dan menjadi titik awah tahun Hijriyah. Penduduk Madinah yang dikenal dengan kaum Anshar menyambut kedatangan Rasullullah dengan hangat dan penuh antusias. Berbeda dengan penduduk Mekkah yang rata-rata bertemperamen keras, masyarakat Madinah lebih lembut dan ramah. Kota tempat tinggal mereka yang semula bernama Tasyrib diganti nama menjadi Madinah yang berarti beradab. Selama di Madinah, Nabi Muhammad dan para sahabat di samping aktif berdakwah juga berupaya menjalin persatuan antarumat beragama dalam hubungan berbangsa dan bernegara, sehingga dikenal saat itu istilah “Piagam Madinah”. Inti piagam itu, mengatur hubungan antarumat dan golongan guna menciptakan persatuan dan keharmonisan dalam masyarakat yang heterogen. Masjid Nabawi Di samping berhawa sejuk, kota Madinah tampak bersih dan teratur, jalan-jalan beraspal mulus yang membentang di antara gedung-gedung bertingkat. Pohon-pohon kurma tampak tumbuh, menghiasi sudut-

Payung raksasa sebagai atap halaman menambah keelokan masjid Nabawi

sudut jalan. Tidak tampak satu pun kabel-kabel yang bergelantungan di atas kota, seperti layaknya di kota-kota di Indonesia. Semua kabel itu tertanam dalam tanah, sehingga kota tampak rapi. Di tengah kota yang sejuk dan bersih inilah terdapat masjid yang amat besar, megah, dan elok, yakni masjid Nabawi. Masjid ini dibangun Nabi Muhammad dibantu para sahabatnya. Keistimewaan masjid ini, di samping megah, di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad bersama sahabatnya, yakni Abubakar As Sidik dan Umar bin Khattab, serta Raudhah, tempat yang afdal untuk berdoa. Tidak mengherankan jika masjid ini banyak diziarahi kaum muslim dari seluruh pelosok dunia. Sebagian besar jemaah haji berziarah ke masjid Nabawi, untuk melaksanakan salat Arbain (40 waktu), meski ibadah ini tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Sebelum dibangun masjid, di lokasi di tengah kota Madinah tersebut pernah digunakan untuk salat para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sebelum kedatangan Nabi Muhammad di Madinah. Pembangunan masjid dilakukan bulan Rabi’ul Awwal tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi, dengan konstruksi yang sederhana, dengan ukuran sekitar 70 x 60 depa atau 35 x 30 meter (seluas 1.050 m2).

Rasullullah terlibat langsung dalam pembangunan masjid Nabawi. Fondasinya terbuat dari batu, temboknya batu-bata, tiangnya batang pohon kurma. Masjid tersebut dibuat dengan tiga pintu. Atapnya dibuat dari dahan kurma. Meski para sahabat telah menyiapkan diri untuk menyumbang dana, guna membangun masjid yang megah, namun Rasullullah tetap bersikeras untuk membangun masjid yang sederhana. Semula kiblat masjid tersebut menghadap Masjidil Aqsha (Palestina), namun kemudian hari kiblatnya berubah, menghadap ke Masjidil Haram. Tahun ke-7 Hijriyah atau 628 Masehi, sepulang dari Khaibar, Rasullullah memperluas masjid ini menjadi berukuran 50 x 50 meter (2.500 m2). Perluasan dan Renovasi Perluasan masjid kembali dilakukan tahun 17 H (638 Masehi) pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, sehingga luasnya mencapai 4.200 m2. Pada pemerintahan Utsman bin Affan, di samping luasnya ditambah, dinding masjid diganti batu berukir dan batu kapur, tiangnya diganti batu berlubang yang diisi besi dan emas. Atapnya diganti kayu al- Saj yang lembut dan tipis. Tahun 707 H, khalifah AlWahid bin Abdul Malik memerintahkan Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Azis, untuk me-

Aqig (batu akik) yang dipahat dengan indah, sementara dindingnya terbangun dari batu hitam yang terukir. Seluruh lantai masjid terbuat dari marmer. Di kubah-kubah masjid, tembok, tiang, dan mihrab (tempat imam salat), dihiasi tulisan kaligrafi yang bentuknya menawan. Era Pemerintahan Saudi Dalam era kerajaan Arab Saudi abad 20, perluasan dan renovasi masjid terus dilakukan bahkan hingga kini. Perluasan pertama dilakukan tahun 1949– 1955 M, sehingga luas lantai masjid menjadi 128 x 91 meter, memiliki 232 tiang yang bagian atasnya dibuat lingkungan yang berlapis emas. Tahun 1951, Raja Abdul Aziz, membeli beberapa rumah dan bangunan di sekitar masjid guna perluasan tempat ibadah ini, dan upaya pembangunannya dilakukan putranya, Pangeran Saud. Tahap kedua, dilakukan pada pemerintahan Raja Fadh bin Abdul Aziz, sehingga masjid Nabawi menjadi bangunan yang benar-benar mengagumkan. Kini masjid ini memiliki delapan menara yang menjulang dengan tinggi 89-103 meter. Tembok bagian luar dan tengah ditutup granit. Di samping dibangun dua lantai di atas tanah juga dibuat lantai di bawah tanah. Masjid juga dilengkapi peralatan modern seperti kamera pengawas, alat pemadam kebakaran, instalasi air, instalasi listrik yang canggih, fasilitas kesehatan serta sound system yang dapat mengirim suara ke seluruh lokasi masjid. Instalasi pengeras suara tersebut dipasang di sela-

sela lubang-lubang tembaga yang ada di dalam tiang-tiang masjid sehingga tidak tampak. Lantai di ruang bawah yang luasnya 82.000 m2 (8,2 ha), dihiasi marmer dari Italia dan Spanyol yang dapat menyimpan kelembaban. Luas keseluruhan lantai I (lantai dasar) masjid mencapai 98,326 m2 dan lantai II 67.000 m2 yakni 8.750 m2 untuk kubah dan 58.256 m 2 untuk salat. Sehingga, luas lantai yang bisa digunakan untuk salat dalam masjid 156.576 m2 yang dapat menampung 268.000 jemaah. Sementara bagian halaman masjid yang bisa digunakan untuk salat seluas 235.000 m2 yang dapat menampung 430.000 jemaah. Kubah Berjalan dan Payung Raksasa Agar tercipta ventilasi yang cukup dan penyinaran yang alami, beberapa tempat di atas lantai dasar (lantai I) dibuat terbuka dan pada saat-saat tertentu akan ditutup kubah yang berjalan. Kubah yang berjalan ini jumlahnya 27 buah, luas masingmasing 324 m2 dengan berat masing-masing 80 ton yang dijalankan di atas rel besi dengan penggerak tenaga listrik. Bagian dalam kubah terbuat dari kayu khusus setebal 20 mm. Kayu tersebut adalah kayu Al-Arz yang didatangkan dari Maroko. Bagian luar kubah adalah keramik yang diimpor dari Jerman dengan dasar granit setebal 25 mm, dan bagian puncak kubah terbuat dari perunggu yang berlapis emas. Untuk menghiasi 27 kubah tersebut diperlukan 67,5 kg emas. Di samping itu, diperlu-

kan 1000 potong batu mazonet dari Kenya yang dibentuk busur dan berlapis emas. Untuk menggerakkan kubah yang amat berat tersebut hanya diperlukan waktu satu menit yang dikendalikan sistem komputer dengan tenaga listrik. Halaman masjid yang begitu luas, pada saat-saat tertentu seperti pada waktu musim haji dan bulan Ramadan juga dipenuhi jemaah. Hal itu mengingat jumlah orang yang menziarahi masjid ini begitu banyak sehingga tidak seluruhnya bisa tertampung dalam ruangan masjid. Untuk menjaga agar jemaah yang berada di halaman tidak kepanasan terik matahari, di luar masjid kini dibuat atap berupa payung-payung raksasa yang amat artistik, dengan garis tengah yang tidak kurang dari 10 meter. Payung-payung tersebut bertengger di sebuah tiang yang artistik pula. Payung dapat mengembang dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan dengan sistem hidrolik yang canggih. Keberadaan payung-payung raksasa di halaman masjid ini menambah keelokan masjid Nabawi. Konon, proyek untuk merenovasi dan memperluas masjid Nabawi tahap kedua, termasuk untuk membuat kubah berjalan dan payung-payung raksasa tersebut pemerintah Saudi mempercayakan pada Yayasan Bin Laden Saudi Arabia. Total biaya untuk pembangunan tersebut tidak kurang dari 30 miliar RS (Riyal Saudi), atau sekitar Rp 75 triliun.

lakukan renovasi dan perluasan masjid. Pada masa ini dibangun empat menara untuk azan, pintu diperbanyak menjadi 20 buah. Ambang-ambang pintu, ujungujung tiang dan atap dilapisi emas. Dinasti Abbasiyah terutama Khalifah Al-Mahdi (779 – 782M), amat menaruh perhatian terhadap Masjid Nabawi. Berbagai upaya perbaikan, perluasan dan renovasi dilakukan sehingga masjid peninggalan Rasulullah ini makin tampak megah. Suprio Guntoro Setelah berakhirnya kekhalifahan Abbasiyah (650 H), perhatian terhadap kota Madinah dan Masjid Nabawi diambil alih raja-raja Mesir. Di antara penguasa Mesir yang amat menaruh perhatian terhadap masjid Nabawi adalah Sultan AlDzahir yang berperan dalam renovasi masjid setelah kebakaran pertama (654 H) dan Sultan Qayit Bay yang berperan merenovasi masjid pascakebakaran kedua tahun 886 H (1481 M). Berakhirnya era kerajaan Mesir tahun 923 H (1517 M), muncul pemerintahan Bani Ustamaniah. Khalifah AlMasjidiyyah (1.265 – 1.277 H) dari dinasti Utsmaniyah jang juga menaruh perhatian besar, dengan mengerahkan para arsitek, ahli bangunan, dan ahli batuan untuk mempercantik masjid peninggalan Nabi Muhammad tersebut. Tiangnya digunakan batu khusus dari Bathha Wadi Al- Kubah masjid terlihat dari atas lantai atas. Kubah ini bisa berjalan di atas rel yang digerakkan sistem komputer

Kehadiran Martha................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................dari halaman 1 Menurut Gung Tini, Perdiknas sebagai pengelola lembaga pendidikan yang ternama di Denpasar, merasa wajib memberikan pengetahuan kewirausahaan bagi anak didiknya lebih awal. Melalui sosok seorang ibu yang sukses seperti Martha Tilaar diharapkan akan membuka pola pikir generasi muda perihal kewirausahaan. Ke depannya mereka memiliki kemampuan berdiri sendiri, mendapatkan kematangan kepribadian dalam proses mengejar peluang. “Kehadiran tokoh perempuan ini menjadi kado istimewa ulang tahun Perdiknas,” katanya. Selanjutnya Dr. (H.C.) Martha Tilaar dalam diskusi yang dihadiri murid SMP dan SMA Nasional, SMK Tenas Denpasar, mahasiswa Un-

diknas University, STIE Satya Dharma Singaraja, para guru dan dosen serta organisasi wanita di bawah BKOW ini mengatakan, tidak mudah mengubah pola berpikir orang Indonesia. Jiwa kewirausahaan generasi mudanya masih lemah. Namun, katanya, pengembangan talenta tiap orang dapat diarahkan. “Sebagai anak muda jangan hanya minta pekerjaan tapi ciptakan pekerjaan bagi sesama. Yang ingin jadi pegawai pemerintah dan pejabat adalah mereka yang tidak mau menanggung risiko,” tandasnya. Kehadiran Martha Tilaar, disertai suami Prof. Dr. H.A.R Tilaar, putrinya Wulan Tilaar, mengungkapkan cikal bakal usahanya kini adalah keberadaan salon di garasi

Ni Nyoman Sinariani

rumahnya berukuran 6x4 meter pada tahun 1970. Dari sini pula, katanya perjalanan bisnisnya teruji. Ketika itu, meski produknya mulai diterima masyarakat, ia sempat ditolak saat hendak

Dari kiri: Made Mudarta, Ida Ayu Sinaryati, Sudiana

menyewa beberapa mal dan plaza terkemuka di Jakarta. Produknya dianggap tidak memiliki image berkelas. Ibu empat anak ini, juga mengatakan pendidikan dan skill adalah modal kehidupan. Karena itu, saat menemani suaminya di Amerika, ia sempat belajar di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. “Semua bermula dari nol. Saya menjadi TKW dulu demi biaya kuliah,” ujarnya. Usai kuliah, komitmennya makin kuat untuk melestarikan budaya Indonesia. “Kita jangan hanya mengandalkan orang Barat atau impor. Apa yang ada di Tanah Air kita, harus dikembangkan,” tandas Martha Tilaar sembari mengatakan semua usahanya berjalan berkat dukungan keluarga. Martha Tilaar, menyatakan ia bukan anak orang kaya. Profesi orangtuanya guru dan ketika itu di Indonesia sulit maju. Ia pun segera beralih profesi dan terus menggali kearifan budaya, khususnya kekayaan alam Indonesia untuk mempercantik wanita Indonesia. “Ayah saya bilang, jika ingin mengubah dunia, mulai dengan dirimu. Jangan menyalahkan pemerintah dan keadaan tapi jadilah manusia DJITU,” katanya. DJITU yakni disiplin, jujur, iman, tekun serta ulet atau kerja keras. Usai acara, Ketua Panita Ida Ayu Sinaryati yang juga Kepala Sekolah SMA Nasional Denpasar mengatakan, dengan kedatangan pembicara sekaliber Martha Tilaar yang sarat pengalaman dan telah meraih berbagai peng-

hargaan baik nasional maupun internasional, diharapkan mampu mendorong dunia pendidikan menumbuhkan jiwa entrepreneurship.. Menurutnya, kalangan guru, dosen dan siswa serta mahasiswa yang hadir meski waktunya singkat, sedikitnya dapat menambah wawasan, memahami konsep dan karakteristik apa yang harus disiapkan menjadi pengusaha. Selanjutnya penuh semangat mempersiapkan strategi individu dalam bidang kewirausahaan. Jiwa wirausaha yang pantang menyerah, diakuinya tidak dimiliki semua orang. “Namun, bukan berarti jiwa itu tidak bisa dibangkitkan. Terlebih dengan perjalanan yang dilalui perempuan hebat seperti Martha Tilaar ditambah semua pengalaman menariknya sangat memberi inspirasi agar mahasiswa kreatif dan inovatif,” ucap Dayu Sinar. Sementara, Ni Nyoman Sinariani pengampu mata kuliah entrepreneurship di Fakultas Ekonomi Undiknas University menambahkan, pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia terampil dari sisi intelektual, tetapi juga pendidikan yang inspiratif. Ia sepakat menanamkan dan membangkitkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Mahasiswa perlu wawasan agar percaya diri, sikap dan kemauan terus menemukan yang baru tanpa takut risiko. “Kewirausahaan membuat orang yang berhasrat besar terhadap sesuatu menjadi mandiri secara finansial dan berkontribusi untuk masyarakat,” cetus perempuan yang di acara

tersebut didaulat sebagai moderator. Dari kacamata seorang dosen, ia juga mengagumi Martha Tilaar, betapa di tengah kesibukannya sebagai pengusaha mampu menelurkan buku-buku yang luar biasa. “Selain itu, Martha Tilaar dalam mengembangkan dan mengelola bisnisnya banyak menggunakan kon-

sep orang Bali, seperti penerapan Tri Hita Karana bahkan sampai Dewi Saraswati. Ia juga mengingatkan kaum muda buka mata dan telinga, ketika bangkit dengan jiwa wirausaha, tak usah khawatir harus mulai dari kecil untuk menjadi besar. Kami dapat semangat dan motivasinya,” kata Sinariani. —ard

Wakil Rakyat...............................................dari halaman 1 Koleganya di Komisi I DPRD Bali Ni Made Sumiati, S.H. menilai, usulan perubahan nama LPD memang sah-sah saja dikaca dari sudut otoritas peredaran uang. Namun, Sumiati sependapat dengan Disel Astawa, soal pentingnya kajian matang untuk mengubah nama LPD. “Lembaga ini lahir dari aset berharga masyarakat Bali.

Dasarnya jelas perda Bali yang sesuai prinsip local genius. Oleh karena itu, kami akan tetap berjuang bersama wakil Bali di DPR pusat,” janjinya. Disel Astawa menambahkan, ada hal-hal prinsip LPD yang juga sedang dikaji, terutama peran LPD yang sudah berhasil menguatkan perekonomian masyarakat desa pakraman. —ten,sam


ORMAS

Nasdem Bali Dideklarasikan

B

Gagas Otonomi Daerah di segala Bidang

ALI kembali mengukir sejarah dengan lahirnya sebuah organisasi masyarakat (ormas) Nasional Demokrat (Nasdem) yang diharapkan mampu menaungi aspirasi masyarakat yang tersumbat. Nasdem Provinsi Bali merupakan provinsi ke-28 yang dideklarasikan dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Deklarasi digelar Senin (24/1) di Hotel Sanur Paradise dan dihadiri sejumlah tokoh Nasdem, di antaranya Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh dan Ketua Dewan Pembina Sri Sultan Hamengku Buwono X. Deklarasi tersebut sekaligus pelantikan pengurus Nasdem Bali.

Nasional Demokrat, menurut Wakil Ketua Nasdem Provinsi Bali Jaya Susila, terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Tak terkecuali bagi anggota partai politik. “Nasdem memerlukan ide-ide cemerlang dalam membangun bangsa. Jika parpol dan tokoh-tokoh masyarakat memberikan idenya, kami yakin Nasdem bakal kaya akan ide dan bisa segera bergerak,” kata Jaya. Antusiasme terhadap Nasdem datang dari masyarakat kecil, para pejabat, elite partai, dan tokoh-tokoh lainnya.

Nasdem lahir bukan untuk menjatuhkan dan memusuhi pemerintah. Bahkan Nasdem berharap bisa menjadi mitra pemerintah dan parpol dalam hal membangun bangsa dengan memberikan ide-ide cemerlang. Deklarasi Nasdem Bali menurut Jaya Susila merupakan keinginan masyarakat Bali. “Nasdem lahir dari kegalauan masyarakat terkait beragam persoalan yang belum menunjukkan penyelesaian yang maksimal,” kata Jaya. Jaya mengakui, pemerintah telah berhasil

Sejumlah tokoh Nasdem hadir saat deklarasi Nasdem Bali Senin (24/1) di Hotel Sanur Paradise

Jaya Susila

menunjukkan beragam prestasi gemilang, seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas keamanan terjaga dengan baik. Namun, menurut Jaya masih banyak persoalan yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah terutama persoalan kemiskinan, tata lingkungan, dan ketidakadilan yang makin merajalela dan tak sesuai dengan UUD 1945. “Coba tengok kondisi hukum kita. Maling ayam diganjar hukuman hingga bertahun-tahun. Korupsi yang merugikan negara hingga miliaran bahkan triliunan rupiah hanya diganjar ringan. Bukankah ini bentuk ketidakadilan,” katanya. Tak hanya itu, persoalan pendidikan pun dinilainya tak menunjukkan rasa keadilan. Kendati dana BOS telah mengalir, Jaya mengakui BOS belum mampu menjadi pemecah masalah pendidikan. “Buktinya masih banyak anak-anak dari keluarga miskin yang tak mengenyam pendidikan kendati BOS sudah digulirkan. Bagaimana bisa bersekolah, kalau mereka tak mampu membeli buku, sepatu, seragam

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

2011, Tahun Anti-Kebohongan AWAL 2011, sejumlah pemuka agama mendeklarasikan tahun 2011 sebagai tahun antikebohongan dan sudah rahasia umum sasarannya pun jelas yakni Sang Presiden SBY dan jajarannya yang dianggap telah membohongi rakyat Indonesia. Sang Presiden pun panik, dan mengundang para pemuka agama untuk tatap muka di Istana Merdeka. Dan hasilnya tidak maksimal, alih-alih menjinakkan gerakan pemuka agama, yang terjadi malah sebaliknya, usai pertemuan, pemuka agama pun bersepakat untuk melanjutkan gerakan moral anti-kebohongan. Suasana juga diperkeruh oleh pernyataan salah satu petinggi partai pendukung sang presiden, ia berkata wajar saja jika pemerintah bohong, maksudnya, untuk kebaikan dan kebajikan rakyat Indonesia. Lho, kok begitu? Lagi-lagi blunder diciptakan oleh elite di Jakarta, rakyat pun marah. Gerakan anti-kebohongan merebak di seluruh Nusantara. Yang membuat saya heran, kenapa manusia di Indonesia ini terutama kaum elite, kaum penguasa tidak pernah berpikir positif pada rakyatnya sendiri. Apa yang dilakukan para pemuka agama, dari perspektif Hindu sudah sangat tepat, bahwa kaum brahmana mempunyai tugas mengingatkan kaum ksatria agar mereka menyadari kesalahan dan kebohongan yang mereka buat, sebagai salah satu masukan dan kritik membangun itu sah-sah saja. Dalam itihasa Maharabata, yang dikenal sebagai kitab politiknya Hindu, kita melihat secara jelas bagaimana kaum Brahmana yakni Maharesi Bhisma dan Maharesi Drona, sebagai bhagawanta Hastinapura, termasuk Maha Awatara Sri Kresna akhirnya turut campur ikut urusan politik Pandawa – Kurawa mengingat kondisi negara Bharata saat itu sedang chaos, hancur lebur. Begitu juga dalam babad Jawa dan Bali, sejarah mencatat Ratu Majapahit, Ibu Tri Bhuwana Tungga Dewi, memerintahkan Sri Aji Kresna Kepakisan yang berstatus Brahmana (Bhagawanta) Majapahit untuk “tedun” ke Bali dan berubah status menjadi Ksatria Dalem (Raja Bali) demi menyelamatkan gonjang – ganjing Bali yang saat itu sedang terbelah karena pemberontakan – pemberontakan lokal. Dan upaya itu sukses!

Maksudnya, tentu saja di abad 21 ini, kita tidak (mau) bermimpi bahwa sang brahmana, sang ulama itu turun tahta menjadi eksekutif, tapi setidaknya nasihat, kritik membangun yang diberikan oleh mereka itu patut dipertimbangkan. Tapi dari semua sengkarut masalah tersebut, ada satu garis merah bahwa tahun 2011 sebagai tahun anti-kebohongan di segala lini. Coba kita tengok beragam manusia di sekeliling kita, tentu kita (sangat) menyadari bahwa ada banyak (sekali) pembohong – pembohong di sekitar kita. Di Indonesia ini, ada banyak menteri pembohong, gubernur juga pembohong, ada bupati/wali kota yang juga suka bo’ong, ada anggota DPR dan DPRD yang bohongnya sudah mendarahdaging, ada aparat hukum yang berperut gendut karena makan kebohongan terus, ada investor yang doyan bohong, ada pemimpin agama dan pemangku adat yang punya proyek bohong, ada pemimpin desa yang juga tukang bohong, ada juga profesor yang jadi konsultan bohong – bohongan, ada juga politisi pragmatis yang doyan bohong dengan doyan ganti – ganti baju partai, dan banyak rakyat kecil yang walau miskin harta tapi juga suka berhohong. Pokoknya banyak pembohong di sekitar kita. Dari sisi pemerintahan, sepertinya tuduhan bohong ini ada benarnya, data kementerian dalam negeri merilis saat ini ada 17 gubernur di Indonesia yang suka bohong dan 155 bupati/wali kota pembohong yang sudah berstatus tersangka dan terdakwa, angka ini dijamin mengalami tren peningkatan dari waktu ke waktu. Di Bali juga kita punya mantan bupati yang suka bohong hingga kini masuk penjara, juga kepala – kepala dinas dan pejabat korup yang suka bohong tinggal tunggu giliran masuk bui. Jadi, hanya satu cara untuk menyelamatkan diri, jangan berbuat kehohongan! Lakukan Tri Kaya Parisudha dengan baik, dan hindari bergaul dengan mereka yang suka bohong, bertemanlah dengan mereka yang baik hati dan jujur. Jika tidak, maka kita akan terlibas dengan karma buruk sebagaimana libasan awan panas wedhus gembel Merapi dan Bromo yang kini meluluhlantakkan tanah Jawa. Mari selamatkan diri, dengan tidak menjadi kaum pembohong seperti mereka.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

yang tentu diwajibkan oleh pihak sekolah,” katanya. Ia menilai seharusnya BOS hanya dikhususkan untuk siswa miskin. Pembiayaan pun tak sekadar operasional sekolah, namun segala keperluan siswa. “Siswa dari keluarga kaya tak berhak mendapat BOS,” katanya. Nasdem lahir guna memberikan ide pemecah masalah tersebut. Kendati baru sepekan Nasdem Bali dideklarasikan, Jaya mengakui telah mengantongi sejumlah ide yang disampaikan dalam Rakernas Nasdem yang digelar Minggu (30/ 1). Rakernas yang juga diisi dengan simposium tersebut digelar di Jakarta. “Simposium akan menghadirkan sejumlah dosen atau praktisi dan pengamat pendidikan dari seluruh perguruan tinggi terkemuka. Dalam simposium tersebut akan dibahas beragam persoalan dan perubahan nasional apa yang diharapkan masyarakat. Hal ini nantinya akan menjadi agenda Nasdem ke depan,” katanya. Bali mengirimkan sekitar 48 anggota dalam Rakernas tersebut. Tak hanya itu, menurut Jaya harapan Nasdem Provinsi Bali adanya otonomi daerah dalam segala aspek juga bakal disampaikan. Nasdem Provinsi Bali memang getol bakal memperjuangkan otonomi daerah di berbagai aspek. Hal ini menurut Jaya sebagai salah satu cara memutus panjangnya birokrasi dalam menangani masalah. “Jika birokrasi yang ditempuh panjang, masalah akan sulit diatasi,” kata pria yang pernah aktif di Kadin Bali ini. “Bukankah organisasi yang bagus jika mampu efisien, efektif dan tercapai sasaran?” ujarnya bernada tanya. Nasdem, tambah Jaya, mendorong terciptanya sistem pemerintahan berdasarkan UUD 1945 yang pertama sebelum diamandemen. Untuk itu, Jaya menambahkan, Nasdem bakal bermitra kepada siapa saja yang ingin melakukan perbaikan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 terutama sebelum ada perubahan. Setelah resmi dideklarasikan, kini giliran Nasdem Bali bakal mendeklarasikan Nasdem di kabupaten/ kota di Bali. “Kami punya target dua bulan untuk mendeklarasikan Nasdem di daerah. Kesiapan daerah sudah 90%,” kata suami Luh Andewi ini. Terkait tanggapan berbagai pihak bahwa Nasdem bakal menjadi parpol, menurut Jaya, untuk saat ini Nasdem akan fokus sebagai ormas. “Ormas jauh lebih independen tak memihak satu golongan. Masyarakat yang sudah tergabung di parpol pun bisa masuk di Nasdem. Karena Nasdem milik semua masyarakat ,” katanya. –lik

30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 5

Pengurus Wilayah dan Badan Nasional Demokrat Provinsi Bali


6

Tokoh

30 Januari - 5 Februari 2011

MEMBANGUN DARI DESA

Mengawinkan Sapi Gunakan Semen Beku

Anda Bertanya Kami Menjawab Lebih Baik Ditambah Susu Bersama ini saya ingin tanyakan terkait probiotik sebagai berikut : 1. Apakah benar ada probiotik untuk ayam sebagai pengganti enzim 2. Benarkah probiotik tersebut diberikan lewat air minum dan akan lebih baik jika air minum ditambah susu (godlac) 3. Berapa dosis penambahan susu tersebut Made Gianyar Jawaban: 1. Benar, memang saat ini ada hasil temuan probiotik untuk ayam, baik untuk ayam pedaging maupun petelur. Di antaranya ada yang berbentuk cair. 2. Berdasarkan pengalamannya beberapa peternak menyatakan penambahan sedikit susu di air minum yang diberi probiotik akan memberikan efek positif terutama untuk ayam potong. 3. Dosis pemberian probiotik cair: 1 cc per liter air minum. Sebenarnya pemberian probiotik saja sudah cukup membantu meningkatkan efesiensi pakan. Namun, jika air mi-

Jati Emas

Kondisi tanah yang bagaimana diperlukan untuk menanam jati emas? Bagaimana punum ditambahi susu akan lebih puknya dan penggunaannya? baik lagi. Menurut pengalaman Suarjana beberapa peternak, susu yang Sengguan, Gianyar diberikan 1 – 2 gram per liter air minum. Jawaban Jati dapat tumbuh baik di taSuprio Guntoro nah kering batuan berkapur, tanah yang miring juga baik ditanami jati karena dapat menjaga kelembaban tanah. Jati kurang cocok di tempat yang datar dan basah. Pada awal penanaman (tahun I) pemupukan sangat diperlukan. Gunakan NPK 100 – Di mana alamat budidaya 200 Gr/ph dan pupuk kandang lele yang telah berhasil di tiap 6 bulan. Pemupukan diBali? Kami ingin mengadakan ulangi lagi hingga tahun ke-3. studi banding.

Budidaya Lele

Nengah Martana Karangasem Jawaban Silakan ke Pondokan di Banjar Cabe, Desa Darmasaba, Badung. Pembudidaya lele ini, merupakan juara III Provinsi Bali tahun 2010, khusus budidaya lele dengan kolam tanah dan kolam terpal.

Cokelat Hitam

Saya petani pemula menggarap cokelat. Dari dua tahun yang lalu saya menanam cokelat, sampai saat ini sudah ada yang belajar berbuah. Namun, sejak musim hujan ini banyak buah cokelat hitam kena penyakit. Apa obatnya? BagaiNarasumber mana cara menanggulanginya? Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan I.K.R. Arsana Perikanan Provinsi Bali Banyuning, Buleleng

Seeder Bantu Tanam Benih Padi lebih Cepat Uji Coba di Subak Umelayu Penatih

PENANAMAN benih merupakan salah satu kegiatan yang berperanan dalam menentukan hasil pertanian. Kebanyakan petani masih memakai cara tradisional dalam kegiatan penanaman benih yang biasa disebut tanam pindah. Cara ini, selain menghabiskan tenaga dan waktu, juga menghabiskan biaya lebih banyak. Seiring perkembangan teknologi, seeder diciptakan untuk menghemat waktu dan tenaga. Seeder pertama kali diujicobakan tahun 2009 di subak Umelayu, Banjar Angabaya, Kelurahan Penatih, Denpasar. Menurut penyuluh pertanian wilayah binaan kelurahan Penatih Made Nuana, alat tanam padi seeder sebenarnya sudah dikenal lama, namun, belum banyak petani yang menggunakannya. “Seeder memudahkan petani dalam melakukan penyebaran benih maupun penanaman bibit. Alat ini membantu petani mengatasi masalah keterbatasan tenaga kerja. Hasil yang didapat juga lebih memuaskan dibanding memakai cara tradisional. Dengan seeder, produksi juga lebih meningkat,” ujarnya. Ia mengatakan, dalam penanaman benih dengan sistem tanam pindah, setelah benih dibuat persemaian, bibit didiamkan 15-21 hari, kemudian baru dipindahkan ke lahan sawah. Jika menggunakan alat tanam seeder, setelah benih direndam 24 jam dan ditiriskan 24 jam, langsung dimasukkan ke alat seeder dan siap ditebar di sawah. “Dengan seeder, benih tidak stres karena harus mengalami pemindahan,” kata Nuana. Ia mengatakan, dengan sis-

I Made Suarta

tem tanam pindah produksi 6-7 ton per hektare. Dengan penggunaan seeder, pupuk berimbang, dan pola tanam legowo 2:1 mampu menghasilkan produksi 8,3 ton per hektare. Nuana menyebutkan, cara tanam padi jajar legowo merupakan teknologi jarak tanam padi dengan kelompok-kelompok barisan tanaman padi yang dipisahkan suatu lorong yang luas dan memanjang. Tipe cara tanam jajar legowo untuk padi sawah bisa dilakukan dengan berbagai tipe yakni legowo 2:1, 3:1, 4:1. Namun, tipe terbaik dicapai legowo 2:1. Jika jarak tanam antarbarisan yang digunakan 20 cm, artinya, tiap 2 barisan tanaman padi akan diselingi 1 barisan kosong sebagai lorong yang lebarnya dua kali jarak antarbaris sehingga luas lorong yang menyelingi 40 cm. Dengan demikian, jarak tanam legowo tipe 2:1, 20 cm (jarak antarbarisan) x 10-15 cm (jarak dalam barisan) x 40 cm (jarak lorong). Ia mengatakan, dengan sistem tanam jajar legowo ini tiap barisan tanam padi dapat menjadi tanaman pinggir. Umumnya, tanaman pinggir menunjukkan hasil lebih tinggi daripada tanaman yang ada di bagian PPL wilayah binaan Penatih Nuana (kiri) dan Ketut Budiawan memegang seeder

Jawaban Lakukanlah sanitasi (pembersihan) kebun. Sebagai upaya awal pencegahan penyakit, lakukan pemangkasan. Usahakan agar cokelat mendapat cahaya cukup dan pungut buah-buah yang telah membusuk dan kemudian bakar. Penyemprotan pestisida kurang efektif pada musim hujan.

Albesia

ISEMINASI buatan yang disingkat IB disebut juga kawin suntik. Dalam perkawinan ini tidak digunakan hewan pejantan, melainkan digunakan sperma yang dimasukkan ke dalam alat kelamin hewan betina lewat alat yang disebut gun. Caranya, sperma disuntikkan ke dalam alat kelamin hewan betin, maka disebut juga kawin suntik. Sperma hewan jantan tersebut diambil dari pejantan pilihan karena IB bertujuan untuk mendapatkan anak yang terbaik dan memperbaiki mutu genetik ternak. Sperma yang diambil lalu diawetkan dengan cara membekukan dan disebut semen beku. Pembekuan dilakukan dengan nitrogen cair. Sperma beku akan dicairkan kembali sebelum digunakan untuk IB.

bertahan lama. Tanpa pembekuan, sperma sapi hanya dapat bertahan hidup 6 jam. Semen beku ini merupakan benda hidup, yang memunyai aktivitas kehidupan seperti bergerak, makan, melakukan metabolisme, memunyai umur, bisa mati dalam jangka waktu tertentu, mudah rusak, dan sangat peka terhadap perubahan suhu. Sifat semen beku ini juga cepat mati oleh kenaikan suhu dan perubahan suhu berulangulang. Metabolisme sperma mencapai nol atau aktivitas kehidupan terhenti pada suhu - 196ºC atau 196ºC di bawah nol. Suhu tersebut hanya dicapai secara stabil oleh Nitrogen (N2) cair. Sperma dalam N2 cair tetap hidup sampai 10 tahun. Membran dari sperma akan robek dan sperma mati apabila terbentuk es, terkena angin, dan terkena cahaya matahari. Metabolisme sperma beku aktif kembali jika dipanaskan pada suhu 37ºC.

Apa kelebihan dan kekurangan IB? Di mana saya bisa menKelebihannya, dapat lahir anak terbaik, dapatkan bibit albesia? karena menggunakan sperma pejantan pilihan. Gede Tangkas Peternakan tidak perlu lagi memelihara pejanBagaimana cara melakukan IB? tan, sehingga dapat menghemat biaya untuk meLangkah pertama melakukan IB, straw yang Jawaban Bibit albesia bisa didapat di melihara pejantan; biaya untuk IB juga relatif sudah di-thawing diusap dengan kapas atau penangkar bibit Jalan Bypass murah. Dengan demikian bibit dari pejantan tissue 2-3 kali. Kedua, gunting sumbat straw di Tohpati Denpasar, penangkar di unggul dapat tersebar ke wilayah yang lebih bagian yang dipres dengan gunting dan sudah Desa Tembuku Bangli, atau hu- luas termasuk ke pelosok-pelosok dengan trans- diusap dengan kapas yang dibasahi dengan bungi Dinas Kehutanan Provinsi Bali Jalan Raya Puputan No 23 portasi yang lebih mudah dibandingakn meng- alkohol 70%. Ketiga, masukkan straw ke dalam Niti Mandala Renon, Denpasar. angkut pejantannya. Perkawinan IB ini juga da- alat inseminasi (gun). Keempat, pakai sarung pat mencegah perkawinan sedarah, mencegah tangan untuk membersihkan bagian belakang Narasumber penularan dan penyebaran penyakit, terutama sapi betina yang akan di-IB dengan lap, serta Ir. I. B. Suryawanta, M.M. A. penyakit yang timbul atau disebabkan melalui bersihkan bibir alat kelamin betina/vulva dengan Penyuluh Pertanian Spesialis perkawina, dan menghindari kecelakaan yang kapas berakolhol 70%. Kelima, siapkan gun Dinas Pertanian Tanaman sering terjadi pada kawin alam seperti karena yang sudah berisi straw (pegang dengan cara Pangan Provinsi Bali pejantan terlalu besar. menggigitnya). Kemudian masukkan satu Kekurangannya, dalam penggunaan IB me- tangan ke dubur (palpasi rektal) untuk memmerlukan keterampilan untuk mendeteksi berahi bantu gun melalui saluran reproduksi (servik). dengan tepat dan diperlukan ketepatan waktu Keenam, semprotkan semen beku di posisi IV. dalam pelaksanaan IB. Selain itu dapat juga Setalah melakukan IB, inseminator membuat terjadi kesulitan kelahiran apabila semen beku catatan tentang kode straw, seperti nama sapi jantan keturunan besar diinseminasikan pejantan, tanggal IB dan sapi betina yang dipada sapi betina keturunan kecil. Dalam pelak- IB. Selain itu inseminator juga mencatat tanggal Saya beternak burung merpati. sanaan IB ini, memerlukan pemantauan yang pelaksanaan IB pertama, kedua, ketiga dan Namun, saat ini merpati saya sering muntah-muntah dan lesu. ketat terhadap semen beku yang digunakan su- seterusnya. Melakukan IB dikatakan berhasil paya semen beku dari sapi yang sama tidak di- jika betina yang di-IB menjadi bunting. FaktorObatnya apa? Pak Kuncoro gunakan dalam jangka waktu yang lama di satu faktor yang memerangaruhi keberhasilan IB, di Denpasar wilayah untuk mencegah inbreeding dan me- antaranya: Kesehatan betina yang di-IB, keJawaban: nurunnya sifat-sifat ginetik yang jelek. tepatan waktu IB, mutu straw, dan keterampilan Kalau gejala merpatinya muninseminator. tah dan lesu, kemungkinan besar Apa yang disebut semen beku? parathypoid. Untuk pengobatan, Semen beku merupakan sperma atau benih Narasumber beri baytril 3 tetes pagi dan sore. yang diambil dari sapi jantan pilihan. Sperma drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M. Si. Bisa juga diberi amoxyline, Dinas Peternakan Provinsi Bali aturannya 1/6 sekali sehari, selama tersebut diproses dan dibekukan sehingga dapat 5 hari. Setelah itu burung dijemur Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan sampai sore. Merpatinya diberi mitentang masalah pertanian umumnya, silakan num sedikit saja, setelah dua hari hubungi alamat ini: baru diberi makanan sedikit juga, begitu seterusnya hingga keliatan RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; merpatinya sehat dan sembuh. E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar;

Merpati Muntah

dalam barisan. Tanaman pinggir juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik karena kurangnya persaingan tanaman Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; Sumber: E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. antarbarisan. “Dengan sistem tanam legowo 2:1, ada ruang Forum Penggemar Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita kosong yang fungsinya untuk Merpati Indonesia.net sirkulasi udara, di samping mempermudah lewat waktu pe- an, jerami yang sudah terkena 10 hari setelah tanam. Pola mupukan, benih pun mendapat- siraman pupuk terbakar sia-sia. ketiga menghalau hama dengan kan sinar matahari secara merata. Pola kedua, penyemprotan cara penyemprotan pestisida orJuga, pengendalian organisme pupuk cair di bibit yang berusia ganik. —ast pengganggu tanaman menjadi lebih mudah dilakukan dalam lorong-lorong,” tambah penyuluh pertanian Ketut Budiawan. Jika sistem tanam 20:20 yang sebelumnya digunakan, hasilnya kurang memuaskan, anakan padi tidak rata dan cahaya matahari kurang optimal. Alat seeder juga sudah dibuat sedemikian rupa mengikuti sistem tanam legowo 2:1. Menurut pekaseh Subak Umelayu I Made Suarta, awal uji coba benih padi ditebar di lahan seluas 5 hektare. Tahun 2010 penyebaran benih sudah ditingkatkan di 15 hektare sawah. Ia mengatakan, dengan alat seeder petani dapat melakukan penanaman benih sendiri dan mampu menanam di lahan saPadi dengan sistem tanam legowo 2:1 wah seluas 50 are dengan rentang waktu 8 jam. Dengan tanam pindah, membutuhkan tiga orang untuk menanam benih di lahan 25 are dan menghabiskan waktu yakni pukul 07.00 sampai 17.00. Menurutnya, alat ini terjangkau untuk dibeli petani. Harganya Rp 800.000 dan tahan sampai 5 tahun. Alat ini terbuat dari kayu dan paralon. Bentuknya sangat sederhana. Menurutnya, jika ingin membuat dan tidak membeli, tukang kayu bisa membuatnya, asalkan diberi contoh. Saat ini jumlah anggota subak Umelayu 82 orang, dan memiliki luas areal sawah 27,19 hektare. Jerami tidak Dibakar Selain menggunakan seeder, Subak Umelayu sedang menerapkan tiga pola baru. Pola pertama, tidak bakar jerami setelah panen. Jerami sisa panen padi dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Pupuk jerami secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi. “Setelah panen jerami ditebar kemudian disemprot pupuk organik untuk mempercepat pelapukan jerami. Tujuh hari baru diolah untuk menjadi pupuk organik yang siap digunakan sebagai pupuk sawah,” ujar Suarta. Sebelumnya, setelah panen, jerami dibakar. Tindakan ini selain mencemari lingkung-


MEMBANGUN DARI DESA drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si.

Penyuluh yang tak pernah Gentar Menjalankan Tugas PEKERJAAN harus sesuai karákter. Bekerja bukan hanya untuk mencari makan. Banyak hal yang harus bisa dicapai dalam pekerjaan. Bekerja merupakan wahana mengembangkan talenta, mengembangkan diri, dan sekaligus mengamalkan apa yang telah Tuhan berikan. Kata-kata itu meluncur dari bibir drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. saat ditanya mengapa ia tampak akrab dengan pekerjaannya sebagai penyuluh. “Saya sangat bangga menjadi penyuluh. Penyuluh itu berasal dari kata suluh, dan suluh itu berfungsi menerangi. Menjadi penyuluh harus bisa memberi informasi kepada masyarakat yang sebetulnya perlu tetapi masyarakat belum tahu,” ujar perempuan yang telah menjadi penyuluh sejak tahun 1986 ini. Ia mengatakan, menjadi penyuluh bukan perkara gampang. Keberhasilan kerja penyuluhan memang relatif. Semua itu tergantung kuantitas dan kualitas tatap muka yang dilakukan. Makin sering bertemu, makin sempurna hasil yang bisa dicapai. Biasanya sekali penyampaian sering belum mendapat respons. Setelah diulangi beberapa kali, baru mendapat tanggapan. “Lain kalau sudah ada kasus, barulah mereka memburu penyuluh,” ujar karyawati Dinas Peternakan Provinsi Bali ini. Leestyawati menuturkan, setelah diberi penyuluhan 3 sampai 4 kali, maka rata-rata perilaku masyarakat petanipeternak baru bisa berubah 80%. Pekerjaan sebagai penyuluh tidak luput dari suka maupun duka. “Susahnya jika saya mendapat tugas malam. Apalagi jika fasilitas tidak mendukung,

karena saya takut naik motor malam-malam. Namun, naik motor malam-malam bukan berarti tidak ada sukanya. Perasaan takut seketika berganti gembira jika sudah tiba di tempat tujuan. Setelah bertemu masyarakat petani-peternak menjadi gembira dan rasa takut sirna begitu saja,” katanya. Walaupun sering mendapat tugas di desa-desa terpencil, ia menyatakan tidak pernah gentar menjalankan tugasnya. Ia bersyukur bertugas di Bali, semua rekan kerja dan petaninya ramah-ramah. Namun, ia tak memungkiri pernah datangnya godaan dari laki-laki. “Saya tidak mau kalah dengan lelaki. Saya ciptakan resep untuk menghadapi lelaki. Saya berprinsip, lelaki dan perempuan itu sama saja. Kalau lelaki menjadikan saya tertawa, anggap saja itu lawakan. Saya berupaya membalas dengan lawakan juga, “ ujar ibu satu anak, Tya, ini. Ia juga menuturkan, dalam memberi penyuluhan yang pertama-tama diperhatikan adalah kemasannya. Semua materi harus sesuai dengan situasi dan kondisi audiens. Menyampaikan pesan tidak selalu dengan ucapan, bisa juga dengan gerak, permainan, dan lain sebagainya.

drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si.

“Saya pernah memberikan penyuluhan, tetapi gagal. Penyebabnya, metode yang saya pakai tidak cocok dengan situasi audiens. Kesalahan saya saat itu kurang mempelajari situasi dan kondisi setempat. Waktu itu, saya hanya menyampaikan materi begitu saja. Ternyata ocehan saya belum bisa dimengerti. Saya kemudian sadar waktu itu saya seperti anak cenik liunan munyi,” kenang perempuan berfostur tubuh mungil dan lincah ini. Agar penyuluhan berhasil, kata Mbak Lees, pertama-tama harus bisa dipahami apa kebutuhan masyarakat. Kedua, cari materi berupa informasi hangat yang telah banyak diterapkan petani lain dan sukses. Ketiga, jaga penampilan; penyuluh harus selalu memunyai kepribadian yang ramah. Perempuan asal Desa Gadungan, Kecamatan Bajra, Tabanan, ini kini sedang memimpikan untuk bisa membuat buku-buku yang isinya sederhana agar mudah dipelajari masyarakat petani. “Sehingga setelah pensiun nanti, buku itu masih

tetap bisa bermanfaat, “ katanya. Impian lain perempuan yang lahir dan besar di Jawa ini, ingin memberikan penyuluhan kepada orang asing dengan bahasa yang lancar. Sampai saat ini, ia mengaku belum bisa memberikan penyuluhan kepada orang asing selancar menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Bali atau bahasa Jawa. Keterampilan berbahasa Jawa ia kuasai, karena ia lahir dan mengenyam pendidikan di Jawa. Selain berkelana di tiap kabupaten di Bali, Mbak Lees juga pernah memberikan penyuluhan di Bandung, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur. Walau harus menempuh perjalan jauh, baginya ini adalah kesempatan meningkatkan kemampuan, memperluas pengetahuan dan menambah jam terbang. Selain itu ia juga sangat aktif memberikan penyuluhan dalam acara Siaran Perdesaan RRI Denpasar dan dalam rubrik ’Membangun dari Desa’ Koran Tokoh. Hal yang membuat ia sangat senang dalam memberikan penyuluhan, jika para petani gemar bertanya dan sungguh-sungguh mengerjakan apa yang ingin dicapai. Ia juga sangat senang, seiring banyaknya para petani yang sekarang menyampaikan keluh kesah/permasalahanya lewat kolom ’Anda Bertanya Kami Menjawab’ di Koran Tokoh. “Dengan begitu saya dengan cepat bisa mengetahui permasalahan petani di lapangan dan bersama penyuluh lainnya dengan segera pula bisa membantu para petani, dengan menjawab semua pertanyaan mereka,” ujarnya. —badra

Terbitkan Hak Milik atas Tanah untuk Desa Adat TANAH memiliki nilai sangat penting bagi kehidupan manusia sebagai komoditas dan faktor produksi yang diminati tiap orang. Pertambahan penduduk membawa dampak terhadap keterbatasan ketersediaan tanah, karena jumlah tanah tetap, sedangkan kebutuhan meningkat. Manusia pun tidak telepas dari tanah, sejak lahir sampai meninggal masih membutuhkan tanah walaupun hanya memerlukan beberapa meter2 untuk kuburan atau tempat untuk melaksanakan upacara ngaben. Konsekuensinya tidak jarang terjadi sengketa yang diakibatkan masalah penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah. Berbagai masalah pertanahan di Bali yang menyangkut “tanah adat “, baik sengketa tanah kuburan maupun tanah druwe desa lainnya, banyak diberitakan di media massa; tidak hanya menyangkut masalah kerawanan sosial tetapi sering menjurus ke ranah kriminal.Adakah upaya yang dapat ditempuh untuk meminimalkan sengketa tanah adat? Berbagai komentar sudah dikemukakan dan berbagai upaya sudah dilaksanakan pejabat maupun para pakar dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang ada. Tetapi, tetap saja sengketa itu bagaikan bara yang sewaktu-waktu akan hidup lagi walaupun tampaknya sudah padam untuk sementara. Untuk mengantisipasi hal yang demikian kiranya perlu diadakan evaluasi terhadap akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya sengketa adat. Salah satunya, tidak adanya kepastian hak atas tanah druwe desa dalam bentuk sertifikat hak atas tanah yang merupakan bukti hak atas tanah. Tanah Ulayat Nama lain tanah adat adalah tanah ulayat yaitu tanah-tanah yang ada sangkut-pautnya dengan hak ulayat (hak-hak desa/persekutuan). Tanah ulayat merupakan pendukung utama kehidupan desa adat

A.A. Sagung Mastini

yang bersifat komunal dan religius-magis antara masyarakat hukum adat dan tanah yang wujudnya berupa hak ulayat. Hak ulayat diakui keberadaannya sesuai pasal 3 UUPA sepanjang menurut kenyataannya masih ada, dan hal ini lebih ditegaskan kriterianya dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No.5 Tahun 1999 tentang pedoman penyelesaian masalah hak ulayat masyarakat hukum adat. Berdasarkan Keppres No.34 Th.2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, terdapat 9 kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota. Salah satunya, penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat. Terbentuknya Desa Adat di Bali, dikaitkan kedatangan Rsi Markandya di Bali pada permulaan abad ke-8 Masehi (Surpha,1993). Desa adat (pakraman) sesuai Perda Provinsi Bali No.3 Tahun 2001 adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang memunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun-temurun dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa yang memunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya

sendiri. Dengan demikian, eksistensi desa adat/pakraman di Bali jika dilihat dari batasan keberadaan sebuah desa adat harus memenuhi ciri-ciri sbb.: 1. Memunyai wilayah, dengan batas-batas yang jelas. 2.Memunyai anggota (krama) yang jelas. dengan persyaratan tertentu, terhimpun dalam banjarbanjar sebagai himpunan kekerabatan yang terkecil. 3. Memunyai kahyangan tiga. 4.Memunyai otonomi baik ke luar maupun ke dalam. 5.Memunyai struktur pemerintahan yaitu awig-awig dan memiliki harta kekayaan(tanah druwe desa : tanah setra, tanah PKD ,AYDS, tanah pura: tegak pura, pelaba pura). Berdasarkan kenyataan tersebut, apa yang diamanatkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Ka. BPN No.5 Tahun 1999, pasal 2, sudah terpenuhi. Yang belum terlaksana, ketentuan pasal 5 yang mencakup: 1.Penelitian dan penentuan masih adanya hak ulayat sebagaimana dimaksud pasal 2 dilakukan Pemerintah Daerah dengan mengikutsertakan para pakar hukum adat, masyarakat hukum adat yang ada di daerah bersangkutan, lembaga swadaya masyarakat dan instansi-instansi yang mengelola sumber daya alam; 2. Keberadaan tanah ulayat masyarakat hukum adat yang masih ada sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dinyatakan dalam peta dasar pendaftaran tanah yang membubuhkan suatu tanda kartografi dan apabila memungkinkan menggambarkan batas-batasnya serta mencatatnya dalam daftar tanah. Serta pasal 6 yang mengatur bahwa pelaksanaan pasal 5 diatur dengan Perda ybs. Pelaksanaan ketentuan pasal 5 dan 6 ini penting, karena hal ini merupakan bahan pertimbangan untuk dapatnya mengajukan usulan agar desa adat (pakraman) dapat ditetapkan sebagai badan hukum sosial yang dapat memunyai hak milik atas tanah. Tanah adat di Bali memu-

nyai 3 fungsi yaitu: 1.Tanah adat berfungsi ekonomis; 2. Tanah adat berfungsi sosial; 3. Tanah adat berfungsi keagamaan. Fungsi sosial tanah adat sesuai dengan fungsi sosial yang diamanatkan pasal 6 UUPA. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 1963 menetapkan badan-badan hukum yang dapat memunyai hak milik atas tanah yaitu: 1.Bank-bank yang didirikan negara; 2. Perkumpulan koperasi pertanian; 3. Badan keagamaan; 4. Badanbadan sosial yang didunjuk Menteri Agraria. Untuk tanahtanah tegak pura dan tanahtanah pelaba pura sesuai ketentuan tersebut sudah ditetapkan menjadi subjek hak milik atas tanah dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK. 556/DJA/1986. Sedangkan Desa adat (pakraman) sampai saat ini belum merupakan subjek hak milik atas tanah, walaupun sebelumnya sudah ada usulan tentang itu oleh PHDI kepada Pemda Tk.I Bali (sekitar tahun 1984). namun ketika itu kriteria tanah ulayat belum jelas diatur dalam juklak. Dengan keluarnya Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan RI No 5 Tahun 1999 yang memuat kriteria yang jelas tentang keberadaan tanah ulayat pada pasal 2, kiranya desa adat (pakraman) yang fungsinya sebagai badan sosial bisa dipertimbangkan sebagai subjek hak milik atas tanah. Penetapan desa adat (pakraman) sebagai subjek hak milik atas tanah, akan berdampak pada dapat diterbitkannya hak milik atas tanah untuk desa pakraman yang dapat memberikan kepastian hak atas tanah, yang merupakan salah satu upaya meminimalisir sengketa tanah khususnya tanah desa adat. zA. A. Sagung Mastini,

S.E., S.H., M.H. Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Warmadewa

30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 7

Taktakan Banyu Celengan Celeng kulit. Tatakan banyu dapat UMUMNYA ibu rumah melestarikan lingkungan menjadi tangga di Bali memelihra satu bersih. sampai dua ekor babi penggemukan, yang kandangnya Melestarikan lingkungan biasanya terletak di belakang artinya beternak babi yang rumah (teba). Babi (celeng) diberikan pakan banyu menyepeliharaan biasa juga dikenal babkan sisa pakan tidak dibuang dengan istilah celengan (tabusembarangan di sekitar rumah, ngan) yang dapat dijual sesehingga tidak ada lalat, nyamuk waktu-waktu, saat yang berdan bakteri pembusuk. Akibatsangkutan membutuhkan uang nya lingkungan di sekitar rumah untuk keperluan rumah tangga, tidak berbau amis dan bersih. mulai dari biaya sekolah anakKotoran babi juga bisa dijadikan anak, keperluan upacara dan pupuk organik melalui metode keperluan lainnya. fermentasi menggunakan mikroPakannya, berasal dari ba efektif. Ternak babi juga banyu dapur atau sisa makanmampu memanfaatkan limbah an keluarga yang bersangkutindustri pertanian seperti dedak an, yang cair maupun padat padi. Cara pemberian dedak padi seperti nasi, daging, buahdicampur dengan banyu diIr. Ni Wayan Siti, M.Si. buahan. Dalam ungkapan tambah sedikit garam. Tujuanumum, sisa bahan makanan dan cairan seperti nya, banyu biasanya cair, kemudian ditambah ini dikenal dengan limbah (waste) keluarga. dedak padi yang kering, sehingga pakan Tetapi, di Bali sisa makanan dan cairan yang menjadi padat dan ditambah garam agar lebih berasal dari dapur lebih dikenal dengan banyu. enak (palatable). Banyu yang dicampur dedak Taktakan banyu berasal dari kata taktakan padi dan garam merupakan campuran yang berarti dasar dan banyu sama dengan air atau mengandung nutrisi tinggi, sehingga air limbah yang berasal dari cucian beras. pertumbuhan ternak babi akan lebih cepat. Banyu sebagai pakan ternak babi juga Secara harfiah taktakan banyu berarti “dasar air”. Dalam konteks kehidupan rumah tangga dicampur dagdag (hijauan) seperti kangkung, tradisional Bali, taktakan banyu berarti babi daun ubi jalar, biah-biah, dan daun singkong. piaraan ibu rumah tangga, yang dipelihara Tujuannya, agar daging babi sedikit sambil lalu, di samping tugas pokok lainnya mengandung lemak dan kualitas daging babi seperti bertani, menjahit. Artinya, mereka tidak meningkat. Sebab, makanan yang berasal dari secara khusus meluangkan waktu memelihara produk hewani mengandung kolesterol tinggi. babi, melainkan sekadar sambilan, yang Hijauan mengandung serat kasar tinggi yang dimaksudkan sebagai “tempat pembuangan” mampu mengikat lemak dibawa ke feses, sisa makanan, nasi, jajan, daging, buah-buahan sehingga lemak sedikit dimetabolisme di dalam atau bahan lainnya yang masih dapat dinikmati, saluran pencernaan. Hijauan di samping yang karena sesuatu hal, harus dibuang. Ternak sumber serat juga sumber vitamin dan minyang biasanya dimanfaatkan sebagai taktakan eral. banyu adalah babi (celeng), karena babi Kotoran babi sebagai pupuk organik. merupakan ternak yang mampu memanfaatkan Kotoran babi bisa diolah menjadi pupuk organik banyu hampir 90%. Artinya banyu saja, tanpa sehingga tidak menimbulkan bau ammonia yang ditambah bahan lain mampu dinikmati dengan dapat mencemari lingkungan. Metode yang lahap. Ada beberapa keuntungan yang didapat, dipakai untuk mengolah babi adalah metode jika babi digunakan sebagai taktakan banyu. fermenetasi menggunakan mikroba efektif. Keuntungan ekonomi antara lain: (1) harga Caranya, kotoran babi yang masih basah, pakan jadi murah, (2) bisa dijual sewaktu-waktu dikumpulkan dicampur serbuk gergaji kayu dan (3) kotoran bisa dijual setelah dijadikan pupuk abu dapur lalu ditambah mikroba efektif. dan (4) biogas untuk memasak dan penerangan. Perbandingannya untuk 100 kg pupuk organik, Keuntungan dalam hubungan dengan diperlukan 70 kg kotoran babi, 20 kg serbuk kelestarian lingkungan, antara lain: (1) tidak ada gergaji kayu/sekam padi dan 10 kg abu dapur lalat (2) tidak berbau busuk (3) lingkungan serta 1 liter mikroba efektif dilarutkan dalam 20 rumah bersih dan (4) meningkatkan kesehatan.. liter air. Kemudian adonan dicampur rata sampai Banyu mengadung nutrien seperti energi, semua kena mikroba efektif, lalu ditutup dengan protein, vitamin dan mineral yang diperlukan terpal disimpan selama satu minggu. Setelah ternak babi untuk kelangsungan hidupnya. seminggu adonan sudah menjadi pupuk Energi berasal dari nasi/kue, protein berasal dari organik yang berbau tape. Pupuk ini dibiarkan sisa ikan/sisa daging/kacang-kacangan, vitamin dulu di tempat terbuka 2 - 4 hari baru dibawa dan mineral berasal dari sisa sayur/buah- ke sawah untuk memupuk sayuran atau buahan. tanaman palawija atau tanaman padi. Jadi Celengan artinya memelihara babi dengan beternak babi bisa dikatakan beternak memanfaatkan banyu (limbah) sebagai berkelanjutan karena daging diberikan untuk pakannya sehingga tidak banyak mengeluarkan manusia, kotorannya untuk tanaman, sisa-sisa uang untuk membeli pakan dan biasa dijual makanan manusia untuk ternak (taktakan sewaktu-waktu saat memerlukan uang. Banyu banyu) yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan pencemaran lingkungan, karena akan menjadi zIr. Ni Wayan Siti, M.Si. busuk, bau amis, lalat/nyamuk banyak dan Dosen Fakultas Peternakan ditumbuhi bakteri pembusuk Yang akhirnya Universitas Udayana. dapat menimbulkan penyakit seperti penyakit


8

Tokoh

KESEHATAN

30 Januari - 5 Februari 2011

Kenali Kanker Lidah Gejala Awal mirip Sariawan

P

dewasa. Lidah merupakan bagian dari rongga mulut, sehingga ada juga sebutan kanker rongga mulut yang dapat menyerang lidah, langit-langit, gusi, pipi, dasar mulut, ruang di belakang gigi. Semua gejala awal seperti sariawan. Kemudian sekitar luka ada pengerasan. Ahli kanker RS Sanglah ini menyebutkan, penyebab kanker rongga mulut secara umum karena merokok, suka minum alkohol, kebersihan rongga mulut yang tidak terjaga, dan orang-orang yang memakai gigi palsu yang tidak baik. Ada

Prof. I.B. Tjakra Wibawa

drg. Nyoman Suardiasa

bagian gigi palsu yang menusuk rongga mulut atau gusi dan menyebabkan luka serta infeksi kronis. Menurutnya, jika kanker lidah ditemukan sejak awal atau pada stadium rendah, dengan operasi yang benar dan tepat

dan dilakukan dokter ahli kanker biasanya dapat disembuhkan. “Jarang ada kematian karena kanker lidah yang sudah ditemukan dalam stadium awal,” ujarnya. Sayangnya, kata Dokter Prima Medika Hospital ini,

tkh/ten

rof. Dr. dr. I.B.Tjakra Wibawa Manuaba, M.P.H., Sp. B (K) Onk mengatakan, gejala awal kanker lidah mirip dengan sariawan. Namun, bedanya, ketika lidah diraba ada pengerasan di sekitar luka. Sedangkan sariawan, luka terasa lunak. Pada sariawan, luka tempatnya berpindah-pindah, sedangkan pada kanker, luka pada tempat yang sama dan tak kunjung sembuh. Makin lama luka makin membesar. Lama kelamaan ada benjolan mengeras seperti bunga kol. Kanker ini lebih banyak menyerang orang

tkh/ast

BAGI Anda yang menderita sariawan tetapi tak kunjung sembuh selama dua minggu, harus waspada. Siapa tahu Anda terkena kanker lidah. Gejala awalnya mirip dengan sariawan. Ada luka di lidah. Jika tidak segera ditangani, kematian bisa mengancam.

Pembukaan Workshop Comprehensif Autistic Spectrum Dissoder ditandai pemukulan gong oleh Sekda Kota Denpasar A.A.N. Rai Iswara didampingi Ny. Antari Jaya Negara, Raini Igan dan Ny. Rai Iswara, Jumat (28/1) di Ruang Praja Utama Kantor Wali Kota Denpasar.

SEORANG remaja laki-laki berkemeja putih dengan dalaman hitam dipadu celana panjang hitam tampil energik membawakan lagu bertitel “Sowri Wowri”. Dengan penuh percaya diri, ia melantunkan tembang hits yang sekaligus menjadi judul album solonya itu, di hadapan 200 peserta Workshop Comprehensif Autistic Spectrum Dissoder, Jumat-Sabtu (28-29/1) di Ruang Praja Utama Kantor Wali Kota Denpasar. Ia adalah Wisnu Albert Sanger (16), seorang anak berkebutuhan khusus yang kini tengah mengenyam pendidikan home schooling Kak Seto. Meski memiliki kekurangan, potensi lain dalam hal ini dunia tarik suara yang menjadi talenta Wisnu bisa dikembangkan sehingga membuatnya percaya diri. “Pandang anak autis sebagai perbedaan bukan abnormal,” ujar Sekretaris Daerah Kota Denpasar A.A.N. Rai Iswara. Komitmen Pemkot Denpasar mewujudkan Denpasar sebagai

tkh/ten

Autis bukan Abnormal

Puspitawati Yasa

Kota Layak Anak diwujudkan dengan dibentuknya Pusat Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus di bawah koordinasi Badan KBPB. Dalam sambutannya, Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan kehadiran Pusat Tumbuh Kembang ini tidak untuk menyaingi pusatpusat autis, melainkan diharapkan menjadi mitra kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu agar dapat tertangani. Untuk itu dibutuhkan kerja sama berbagai pihak, dari pemerintah dan pihak swasta. Kompleksnya permasalahan anak yang berkebutuhan khusus ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak seperti unsur medis, psikologi, dan pendidikan. Dihadirkannya para pakar di bidang tersebut diharapkan mereka menjadi ujung tombak keberhasilan penanganannya di lapangan. Di samping mengenal anak berkebutuhan khusus orangtua juga harus mengenal dunia autis secara mendalam. Dengan menggali dan mengembangkan potensi mereka dan dengan pendidikan yang tepat dapat membangkitkan rasa percaya diri anak autis. Meski sulit bicara, anak autis adalah tkh/ten individu yang mampu berbikir Wisnu Albert Sanger, salah seorang mengenai diri dan kehidupananak berkebutuhan khusus nya. Mereka memiliki potensi

kreatif yang dapat tersalurkan, tentunya dengan memberikan bantuan yang tepat dan berkesempatan mengembangkan diri. Melalaui workshop ini diharapkan semua pihak memiliki pemahaman sama dalam menangani permasalahan autis. Digelarnya workshop ini, kata Ketua Panitia IG.A. Ngurah Raini Igan, merupakan andil kepedulian Kelompok Peduli Anak Berkebutuhan Khusus “Fajar Pagi” yang diketuainya dalam mewujudkan Kota Denpasar sebagai Kota Layak Anak. Workshop ini bertujuan meningkatkan pemahaman bagi seluruh masyarakat Kota Denpasar dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, menghadirkan tiga pembicara yakni dr. Sasanti Yuniar, Sp. KJ. (K), dra. Dian Kristyawati, M.Si. dan Tri Budi Santoso, BSC. OT, M.OT. “Dana yang terkumpul dari acara ini akan kami kembalikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu di Kota Denpasar,” ujarnya. Peserta yang terlibat dalam workshop ini dari kalangan dokter, perawat, terapis, orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, dan guru TK. Puspitawati Yasa, Kepala TK Tunas Kori Denpasar yang tekun mengikuti workshop ini mengisahkan pengalamannya menangani anak berkebutuhan khusus yang sesekali turut belajar bersama di TK-nya. “Sekarang ada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun belajar bersosialisasidi TK kami,” ujarnya. Ia mengamati anak ini masih bisa diajak berkomunikasi, namun terkadang lebih suka menyendiri dan tak bisa diganggu. “Jika anak-anak lain masuk kelas, ia malah ke luar kelas,” ujarnya. Untungnya para guru di TK-nya itu memiliki latar belakang PAUD. Namun, tambahnya lagi, untuk menangani anak semacam ini, dibutuhkan guru dengan keterampilan khusus. “Biasanya, guru diberikan pelatihanpelatihan seperti mendeteksi anak berkebutuhan khusus,” ujarnya. –ten

kanker lidah yang ditemukan dalam stadium akut tidak dapat dioperasi lagi. Ada obat-obatan lain seperti kemoterapi dan radiasi tetapi hasilnya tetap tidak sebaik seperti operasi. Akibatnya, lidah bengkak, tidak bisa makan dan minum, sakitnya luar biasa. Pasien akan meninggal dengan mengenaskan. “Kematiannya bukan karena sel kanker menyebar kemana–mana tetapi lidah itu sendiri membengkak yang mengakibatkan pasien tidak bisa makan,” jelasnya. Untuk pencegahan awal, dengan rutin menjaga kesehatan rongga mulut, rajin gosok gigi dan rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi, sariawan dan kanker rongga mulut dapat dicegah.

Rajin Sikat Gigi Penyakit sariawan sering disebut penyakit ringan. Bahkan, tak jarang, orang malas mengobatinya karena lama kelamaan akan hilang sendirinya. Walaupun dikatakan ringan, sariawan begitu menganggu saat makan. Bibir terasa perih, makanan tak enak, bahkan badan meriang. Dalam bahasa kedokteran, sariawan disebut peradangan atau luka di daerah mukosa (daerah lunak di dalam rongga mulut) seperti permukaan dalam bibir, dalam pipi, gusi, lidah, dan daerah langit-langit. Menurut drg. Nyoman Suardiasa sariawan dapat berupa luka yang kecil sampai dengan diameternya lebih besar. Ia menyebutkan ada banyak pencetus sariawan, trauma atau luka akibat tergigit, atau gigi palsu yang tidak pas. Pencetus lain, alergi makanan seperti penyedap makanan dan alergi pemakaian obat-obatan gigi. Ketidakseimbangan hormon pun bisa berpengaruh misalnya gangguan menjelang menstruasi. Bahkan, stres juga bisa jadi

pemicunya. Penyuka burung perkutut dan kucing ini mengatakan, beberapa orang malah mendiamkan sariawan itu, dan akan sembuh sendiri. Namun, waktu sembuhnya akan lama. Untuk pengobatan sariawan, biasanya dokter memberikan obat salep yang bisa dioleskan di daerah sariawan. Berkumur dengan obat kumur antiseptik juga cukup membantu mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa sakit. “Obat kumur fungsinya untuk membunuh kuman di mulut. Kalau sariawannya berat apalagi sampai badan meriang mungkin perlu minum antibiotik,” katanya. Ia juga menyarankan minum air putih secukupnya, mengonsumsi vitamin C, dan banyak makan sayur dan buah-buahan. Dengan menjaga kebersihan rongga mulut dan rajin menggosok gigi dua kali sehari dan setelah makan, sariawan dapat dihindari. “Jangan lupa banyak makan sayur dan buah-buahan,” saran dokter gigi Pop Medica Clinic ini. —ast


“Bersihkan” Gedung dari Asap Rokok Jakarta Mencontoh New York

TAHUN 2005, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 75 yang intinya di tiap gedung harus disediakan area khusus untuk merokok agar perokok tidak melakukan kebiasaan merokok di sembarang tempat. Sanksi bagi yang melanggar pun cukup berat, ganjaran hukuman penjara 3 bulan atau denda Rp 50 juta. Meski menimbulkan kontroversi, Pergub tersebut terus berlaku. Namun, ibarat macan kertas, pelanggaran terus berlangsung, perokok masih leluasa merokok di luar area yang sudah dibuat dan tentu asapnya mencemari lingkungan perkantoran dan area publik lainnya.

S

eiring makin tidak ter kendalinya polusi udara di Jakarta yang juga disebabkan emisi gas buang kendaraan bermotor yang kerap memadati dan memacetkan jalan, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kembali

mengeluarkan Pergub soal rokok. Ini memang untuk menjawab keluhan masyarakat soal udara bersih di Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kemudian mengimplementasikan Peraturan Gubernur (Pergub) No.88/2010

tentang Kawasan Dilarang Merokok sebagai pengganti Pergub No.75/2005. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan konsumsi rokok terbesar dunia setelah

Cina dan India. Dari data tersebut, diketahui 225 miliar batang rokok habis dihisap 65 juta atau 28 persen penduduk Indonesia tiap tahunnya. Saat peringatan hari antitembakau sedunia, Mei tahun lalu, Menteri Kesehatan, Dr.dr. Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, permasalahan rokok memiliki dampak ganda bagi kesehatan masyarakat. Saat ini, di seluruh dunia tercatat lima juta orang meninggal akibat rokok per tahunnya. Apabila dibiarkan, maka pada 2020 diperkirakan 10 juta orang akan mengalami kematian akibat bahaya rokok. Korban paling banyak ditaksir berasal dari negara berkembang, yang mencapai angka sekitar 70 persen. Ironisnya, sejumlah penelitian menunjukkan jika dampak negatif rokok justru terjadi kepada perokok pasif (second hand smoke/SHS). Menghirup asap rokok orang lain (sering disebut perokok pasif) ternyata jauh lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok sendiri. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat dari bahaya perokok aktif. Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya. Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok tidak terfilter. Sementara, racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. “Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan,” ujarnya. Hasil pengukuran kadar PM2.5 dan nikotin di 34 gedung di Jakarta pada Agustus 2009 menunjukkan tempat khusus merokok (TKM) di dalam gedung tidak efektif melindungi warga dari bahaya AROL (Asap Rokok Orang Lain). Fakta ini juga diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan John Hopkins Bloomberg Scholl of Public Health di tahun yang sama yang menyebutkan serendah apapun kadar asap rokok di udara tetap berpotensi menimbulkan berbagai pernyakit kronis. Agus Dwi Susanto, Sp.P, dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dalam suatu seminar pernah mengatakan, rokok mengandung 4000 zat kimia berbahaya yang 69 di antaranya bersifat karsinogen, atau dapat menyebabkan kanker. Tar dan nikotin, dua zat utama yang terkandung dalam sebatang rokok, dapat memicu terjadinya iritasi paru-paru dan kanker serta menimbulkan efek adiksi atau candu yang memicu peningkatan konsumsi. Di tubuh perokok pasif, kedua zat tersebut bahkan akan terkonsentrasi hingga tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

Seminar James Gwee James Gwee T.H., MBA adalah Direktur Academia Education & Training, sebuah perusahaan konsultansi yang berbasis di Singapura. Dia sangat menguasai bidang sales, motivation, service excellence, leadership, managerial skills, team building, dan personal development. Sekalipun berwarga negara Singapura, James mempunyai pengalaman yang amat luas dan luar biasa dalam memberikan training untuk orang-orang Indonesia. Dia telah memberikan lebih dari 1.200 in-house training untuk lebih dari 680 organisasi dan perusahaan di Indonesia. Kliennya terbentang luas dari kalangan perbankan, asuransi, tour & travel, pengembang real estate, industri manufaktur, transportasi, rumah sakit, telekomunikasi dan sarana publik lainnya. Sekarang ini James telah menjadi top sales trainer and speaker di Indonesia. James juga telah diundang untuk

berbicara di banyak event bergengsi di Singapura, Malaysia, Afrika Selatan, India dan Moskow. Pada Sabtu (12/2) bertempat di Grand Ballroom Hotel Nikki Denpasar, James Gwee akan hadir kembali bersama masyarakat Bali dalam sebuah public seminar bertema “How to Design The Winning Srategy to BOOST your Sales in 2011”. Ia akan berbagi bagaimana merancang strategi yang baik dan tepat sasaran untuk meledakkan omset penjualan di tahun 2011 dan faktor apa saja yang harus kita perhatikan. Seminar ini sangat penting bagi perusahaan dalam mendidik dan mengasah kemampuan para manajer, supervisor, marketing personel, back office dan seluruh karyawan dalam mencapai target perusahaan tahun ini dan ke depannya. Untuk informasi, hubungi telepon 0361 -8517262 atau 7933926 Narayana Production.

30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 9

Dok Diskominfo Pemprov DKI

JABODETABEK

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo ketika menutup TKM di lingkungan Gedung Balai Kota Pemprov. DKI secara simbolis.

Langkah Tegas Sebagai bentuk kepedulian bagi para perokok pasif, khususnya di lingkungan kerja, Pemprov DKI Jakarta berinisiatif menjadi yang pertama dalam ‘membersihkan’ gedunggedung dari asap rokok. Dengan diimplementasikannya Pergub No.88/2010, para perokok aktif kini tak diperkenankan lagi merokok di dalam area gedung, termasuk di ruang atau tempat khusus merokok (TKM). Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo kemudian mengambil langkah konkret dengan menutup TKM yang terletak di lantai 2 blok F di wilayah Balaikota. “Ini hanya simbolis,

tapi intinya kini semua ruangan khusus merokok di dalam gedung ditutup dan ditiadakan. Mereka yang ingin merokok harus di luar gedung,” tegasnya. Penanggung jawab gedung atau tempat usaha yang tidak mematuhi pergub ini, akan dikenakan sanksi berupa publikasi lewat media massa. Selain sebagai perwujudan tanggung jawab moral, jenis sanksi ini diberlakukan mengingat sanksi berupa denda tak kunjung berjalan efektif. Selain menjawab keluhan masyarakat, langkah implementasi Pergub No.88/2010 ini juga sebagai langkah awal

untuk mewujudkan Jakarta yang bersih dari asap rokok. “Kita harus mencontoh New York yang telah memberlakukan larangan merokok di taman kota. Saat ini, kami tengah menggodok rancangan Perda tentang kawasan bebas rokok. Dan bukanlah suatu mimpi jika suatu saat Jakarta bisa menjadi Kota Bebas Rokok,” harap Foke, sapaan akrab gubernur DKI ini. Sebagai upaya serius, Pemprov DKI Jakarta juga melakukan sejumlah langkah secara simultan. Pertama, melakukan sosialisasi dengan menyebarluaskan Surat Edaran Gubernur dan membagikan buku Panduan Gratis (guideline) pelaksanaan Pergub No.88/2010 kepada para SKPD dan pengelolan gedung. Kedua, melakukan sosialisasi kepada asosiasiasosiasi (Organda, PHRI, IRSAM, Asparindo, APPBI, dan lain-lain). Ketiga, memberikan tenggang waktu selama 6 (enam) bulan bagi pimpinan instansi pemerintah maupun swasta dan para pengelola gedung (tempat kerja dan tempat umum) untuk mempersiapkan diri dalam pelaksanaan peraturan tersebut. Sekitar 800 titik mal dan gedung di DKI Jakarta menjadi target penertiban. —isw

Larangan Merokok hanya “Macan Kertas” ASAP rokok memenuhi ruangan kerja ber-AC di sebuah kantor. Sejumlah orang tampak menikmati rokok sambil mata menatap komputer. Di pojok lain tampak beberapa pegawai wanita hanya bisa menutup hidung karena merasa tak kuat dengan asap rokok yang mengepul. “Ya begitulah mereka, merokok seenaknya tanpa memperhatikan yang lain. Begitulah kalau pimpinan sedang tidak ada di tempat. Padahal di sini ada larangan merokok,” ujar seorang pekerja wanita yang akhirnya memilih keluar ruangan. “Itu ada tanda dilarang merokok, tetapi masih saja tidak disiplin,” ujarnya menggerutu sambil menunjuk tanda dilarang merokok yang tertempel di tembok. Situasi seperti itu tentunya masih bisa dijumpai di sejumlah kantor, termasuk kantor pemerintah, sekalipun Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 88 Tahun 2010 tentang kawasan dilarang merokok, telah cukup lama berlaku. Sayangnya peraturan itu hanya menjadi “macan kertas”. “Galak” karena diikuti dengan berbagai sanksi, namun lemah dalam pengawasan. Adanya peraturan tanpa pengawasan yang memadai, tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Hal tersebut juga diamini

dr. Marius Widjajarta, S.E.

oleh dr. Marius Widjajarta, S.E., Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia. “Ya memang benar. Ada banyak peraturan tentang pembatasan merokok itu, namun tidak berjalan. Peraturan-peraturan seperti “tidak bergigi”. Bahkan waktu itu sempat heboh hilangnya ayatayat tentang masalah rokok dalam Undang-Undang Kesehatan. Memang sulit, karena yang kita hadapi adalah “raksasa”. Di sisi lain, pemerintah pun terkesan kurang serius memerangi masalah rokok ini,” papar dr. Marius Widjajarta, dalam percakapannya dengan Koran Tokoh, baru-baru ini. Ketidakseriusan pemerintah

ini membuat konsumen, khususnya, para perokok pasif dirugikan dari segi kesehatan. Mereka mendapat risiko terbesar karena sering terpapar polusi asap rokok. Padahal kalau pemerintah benar-benar serius menerapkan aturan ini, disertai dengan pengawasan memadai, setidaknya banyak perokok pasif terselamatkan. Pihaknya pernah melakukan survei terhadap para perokok, hasilnya, makin tinggi tingkat stres seseorang—baik itu karena beban kerja, masalah tertentu atau kemacetan lalu lintas bahkan— jumlah rokok yang dihisapnya makin banyak. Maka itu berarti para perokok pasif akan makin menderita. Untuk mengatasi masalah ini memang sulit sekali. Tanpa ketegasan pemerintah, semua peraturan itu tidak akan berguna. Itu berarti masyarakat yang merupakan perokok pasif tidak terlindungi kesehatannya. Karena seperti diketahui, di Indonesia, jumlah perokok itu sangat banyak. Bahkan mereka yang masih usia dini, atau tergolong anak-anak pun merokok dengan bebasnya. Penjual rokok pun ada di manamana. Bandingkan dengan Singapura, di mana pengawasan terhadap kawasan dilarang merokok berlaku ketat. Jika melanggar akan mendapat denda yang cukup tinggi. —dia

Ayah Perokok, Anak Terbunuh MUNGKIN cerita sedih seperti ini sudah sering kita dengar, seorang yang tidak merokok akhirnya menjadi “korban” perokok aktif. Tiap hari terpapar polusi rokok, mulai dari berangkat kerja sampai di kantor pun tak bisa menghindar dari asap rokok. Walhasil, meski tidak merokok, pun akhirnya terkena diagnose menderita kanker paru. Dr Marius menceritakan kisah menyedihkan yang dialami temannya. “Ini kisah nyata. Saya memiliki teman perempuan, juga seorang dokter. Suatu ketika ia sakit dan harus melakukan general check up, saat itu baru

diketahui ia menderita kanker paru dalam stadium yang cukup tinggi,” tuturnya. Awalnya sempat terkejut dengan hasil itu. Karena selain tanpa gejala berarti, juga temannya tidak merokok. Lalu apa yang membuat ia menderita kanker paru. Ternyata setelah diteliti, teman dokter Marius ini memiliki ayah perokok berat. Sejak kecil, dia dan saudara-saudaranya “kenyang” dengan asap rokok yang berasal dari sang ayah, yang bisa jadi tidak sadar kalau kegemarannya merokok itu suatu saat akan “membunuh” anak-anaknya. Dari tiga anak yang dimiliki

ayah perokok itu, dua di antaranya (termasuk teman dokter Marius) menderita kanker paru. Yang tragisnya, kedua anak tersebut ternyata perokok pasif. Mereka baru tahu menderita penyakit mematikan itu setelah dewasa, dan tanpa gejala pula. “Teman saya itu akhirnya meninggal, sedang ayahnya sudah lebih dulu berpulang. Yang saya ingin katakan di sini, betapa berbahayanya polusi asap rokok itu bagi orang yang tidak merokok. Bahkan bisa dikatakan mereka perokok pasif akan menerima risiko lebih besar daripada perokok aktif,” tandas dr. Marius. —dia


10

Tokoh

BUMI GORA

30 Januari - 5 Februari 2011

Tradisi Biso’ Tian Suku Samawa Semangat untuk Calon Ibu

Dari semua keistimewaan yang dimiliki perempuan, mengandung dan melahirkan merupakan keistimewaan yang paling tinggi nilainya. Suka cita menjalani masa-masa mengandung adalah kenikmatan tersendiri bagi masing-masing calon ibu. Bukan hanya calon ibu yang bersuka cita, keluarga besar pun ikut merasakan semaraknya suasana rumah ketika kehamilan salah satu anggota keluarga dikabarkan. Utamanya kabar kehamilan anak pertama.

K

ehamilan pertama biasanya mendapat perlakuan lebih ketimbang kehamilan kedua dan seterusnya, baik dari ibu si calon bayi maupun keluarga. Salah satu bentuk perlakuan khusus tersebut adalah dengan melakukan tradisi Biso’ tian. Biso’ tian merupakan tradisi tujuh bulanan suku Samawa. Di Bima tujuh bulan disebut, Kiri Loko sedangkan di Lombok juga secara umum disebut Biso’ Tian dan ada pula yang menyebutnya Beretes. Biso’ tian bertujuan sebagai ungkapan kebahagiaan menanti bayi pertama dari seorang ibu. Selain itu, meramaikan acara tujuh bulanan khas

Sumbawa ini juga untuk memberikan kekuatan dan semangat kepada calon ibu yang baru pertama kali akan mengalami proses luar biasa dalam hidupnya, yaitu melahirkan. “Biso’ tian juga dilakukan sekaligus sebagai acara syukuran atas kehamilan tersebut dan ungkapan suka cita bagi seluruh keluarga besar calon bayi pertama dari seorang ibu tersebut,” ungkap Muhadli, budayawan Samawa di Taliwang Sumbawa Barat. Dalam tradisi Biso’ tian, berbagi rezeki pun menyertainya. Dipilihnya bulan ketujuh untuk melaksanakan tradisi ini, lebih karena bayi dalam kandungan calon ibu telah

Samparumpu, tikar khas masyarakat adat Samawa yang diyakini mampu menangkal hal-hal negatif yang mengarah pada calon ibu dan bayinya. Tujuh lapis kain berwarna-warni sebagai alas tidur calon ibu

Bahiyah

utuh menjadi seorang manusia yang tengah berkembang semakin matang dan siap untuk dilahirkan. Dalam prosesi Biso’ tian, terdapat banyak sekali simbol dan makna kehidupan pada setiap tahapan prosesnya. Kain berwarna-warni tujuh lapis dipakai sebagai alas tidur oleh ibu hamil selama prosesi berlangsung. Tujuh lapis kain ini melambangkan bahwa kehidupan manusia itu betapa tinggi nilainya serupa tujuh lapis bumi dan langit yang kerap diumpamakan terhadap alam semesta ini. Sebuah pegu (wadah khas Samawa terbuat dari kuningan) berisi beras berwarna-warni; hitam, hijau, merah muda dan putih. Yang berwarna putih adalah khusus dibuat dari padi yang disangrai sampai mekar. “Beras warna-warni sebagai pelengkap prosesi ini merupakan lambang kemakmuran yang diharapkan dari sang bayi yang akan lahir,” kata Hasanuddin atau yang dikenal dengan Ace, budayawan di Sumbawa. Sebuah lilin yang diletakkan di atas sebutir kelapa, sebagai lambang harapan si bayi akan menjalani kehidupan di jalan yang benar dan lurus yang disimbolkan dengan lilin yang menyala. Di sisi lain tempat prosesi berlangsung, terdapat sebuah wadah batu ukuran besar yang disebut Teleku’ Batu berisi air yang di dalamnya terdapat bermacam-macam

kembang. Air kembang dari wadah batu ini nantinya akan dipakai untuk memandikan calon ibu. Mandi kembang bagi calon ibu, semacam sakralisasi diri untuk menghadapi saat-saat menakjubkan dalam hidupnya ketika melahirkan nantinya. Yang tidak kalah pentingnya adalah setumpuk uang receh atau logam yang sengaja disiapkan. Jumlah dan pecahannya, tidak terbatas, tergantung kemampuan yang berhajat. Uang logam inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh semua ibu-ibu yang hadir dalam acara tersebut Biso’ tian. Dalam setiap acara Biso’ tian di Sumbawa Barat, selalu disertai dengan makan rujak bersama bagi seluruh undangan yang hadir. Ada kebersamaan secara tidak langsung yang dibangun dalam membuat dan makan rujak bersama ini. Jadi, bukan hanya calon ibu yang biasanya saat ngidam saja yang suka makan rujak, tapi seluruh undangan seolah-olah ikut merasakan seperti apa yang dirasakan oleh calon ibu tersebut. Dalam tiap upacara adat Biso’ tian, seorang yang disebut dengan Sandro Tamang (dukun beranak), memegang peranan yang sangat penting dalam prosesi ini. Sandro Tamang adalah seorang yang diberi kepercayaan oleh masyarakat adat Samawa menjadi “sutradara” acara ini karena memiliki keahlian secara turun temurun. Di atas alas yang disiapkan khusus, calon ibu tidur dengan nyaman. Alas khusus ini terdiri dari selembar tikar yang dibuat secara khusus juga, orang Sumbawa menyebutnya Samparumpu. Tikar ini adalah tikar khas masyarakat adat Samawa yang diyakini mampu menangkal hal-hal negatif yang mengarah pada calon ibu dan bayinya. Untuk melindunginya secara supranatural dari kemungkinan-kemungkinan niat jahat di alam lain, kata Bahiyah, salah seorang Sandro Tamang di Taliwang, Sumbawa Barat Tujuh orang perempuan akan mengambil peran saat

Biso’ Tian, suku Samawa, sakralisasi bagi calon ibu

acara inti Biso’ tian ini. Selain Sandro Tamang, terdapat enam orang lainnya yang akan ikut terlibat dalam prosesi inti Biso’ tian yang disebut Mengas Mentar (mengangkat perut calon ibu menggunakan kain kemudian digoyangkan secara lembut). Enam orang lainnya adalah perempuan yang diteladani di kampung tersebut. Proses Mengas Mentar memberi gambaran secara alami, seperti ketika sebuah kotak berisi sesuatu yang penuh namun tidak sesak, ketika isinya tersebut akan dikeluarkan, maka untuk memudahkan mengeluarkan isi tersebut, biasanya akan digoyanggoyangkan terlebih dahulu agar benda yang berada di dalam kotak tidak lengket pada dinding-dinding kotak tersebut sehingga mudah dikeluarkan. Setelah ini selesai, ibu kemudian perlahan menuju pintu rumah di mana di halaman rumah telah dipenuhi undangan. Saat inilah acara yang paling ditunggu oleh undangan

yang lebih banyak para ibu, berebut uang logam. Membuang kain dan uang logam ini memiliki makna tersendiri. Membuang kain yang dipakai mengas mentar secara simbolik ini bermakna bahwa si ibu tengah menghindari halhal buruk yang akan terjadi pada dirinya dan bayi yang dikandungnya. Agar segala proses persalinan berjalan lancar seperti yang diharapkan. Sedangkan menyebar uang logam adalah simbol berbagi rezeki. Mereka yang berdagang biasanya akan menyimpan uang logam ini sebagai penglaris dagangannya. Harapannya, orang akan ramai belanja dagangannya seramai dan seriuh mereka yang berebut uang logam dalam acara ini. Pada bagian akhir upacara ini, digelar acara makan rujak bersama. Calon ibu dan calon ayah (suami istri) akan mendatangi para tamu undangan untuk mengantarkan rujak. “Bermacam-macam buah dengan rasa yang beragam, manis, asin, asam dan pahit yang

menjadi bahan rujak tersebut bukan sekadar pelengkap acara melainkan simbol pertemuan rasa orang tua calon bayi dengan masyarakat yang kompleks dalam kehidupan bermasyarakatnya,” kata Muhadli. —nik

PENDIDIKAN

S A L O N & S PA

SPIRITUAL & PENGOBATAN

KULINER

K E S E H ATA N


GELANGGANG

Nanik Suryani

Srikandi di Balik Prestasi Lemkari Bali KONTINGEN tuan rumah Pengprov. Lemkari Bali berhasil mempertahankan gelar juara umum dalam Kejurnas Karate Lemkari Terbuka 2011. Mereka memboyong Piala Ngurah Rai. Ini ulangan prestasinya tahun 2008. Saat itu mereka juga meraih juara umum di kejurnas yang dilaksanakan di Nanik Suryani Jembrana. memang tidak mengecewakan.

L

emkari Bali meraih empat keping emas, yang dipersembahkan Putu Ayu Novita Sari di nomor kumite junior -48 kg, Ni Made Tari Sumiadi Putri di kumite junior -59 kg, Made Werayoga di kumite junior -76 kg, dan Nengah Suardana di kumite -60 kg senior. Prestrasi tersebut sekaligus prestasi pengurusnya yang dikomandani seorang srikandi. A.A. Nanik Suryani, sebagai ketua harian. “Kami sudah membuat program rutin menjelang kejurnas. Awalnya level kejuaraan ini kejurda dengan memperebutkan Piala Ngurah Rai. Namun, karena peserta membludak, sampai ada yang dari Malaysia, akhirnya levelnya naik menjadi kejurnas,” ungkapnya. Nanik yang juga Ketua Panitia Pelaksana Kejurnas menuturkan kejuaraan ini dibuat untuk memberi saluran bagi dojo-dojo yang sudah menyiapkan karatekanya. Hasilnya

Prestasi dojo-dojo yang ada di Bali cukup lumayan. Perempuan yang juga ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Bali ini menambahkan prestasi Lemkari Bali sempat mengalami fase sulit tahun 1980-1998. Namun, setelah fase sulit itu terlewati, prestasi karateka Lemkari mulai menampakkan hasil yang memuaskan. Karateka senior yang memiliki prestasi nasionnal masih minim. Tetapi untuk kategori kadet atau pemula, Lemkari Bali sudah memiliki banyak bibit potensial. “Kami melakukan banyak gerakan untuk membuat Lemkari Bali maju. Kami awali dengan evaluasi apa yang sudah dilakukan. Setelah itu, kami membuat perencanaan yang berjenjang, penataan organisasi, pembenahan internal dan membuat job description yang jelas. Hal yang sama juga dilakukan kepada para atlet dan pelatih. Pelatihan mereka terprogram. Tiap tahun kami mengadakan Gashuku (penyeragaman gerak dan teknik) dan rapat

kerja. Majelis Sabuk Hitam tiap tiga bulan punya jadwal keliling kabupaten untuk latihan bersama,” jelas cucu pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai ini. Apa yang dilakukan Nanik bersama pengurus, pelatih, dan karateka memang berat. Tetapi, hasil yang mereka petik cukup membanggakan. Karateka Lemkari Bali kini tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka mampu memberikan yang terbaik. Saat ini terdata 3500 karateka yang bernaung di Lemkari dengan 100 anggota Majelis Sabuk Hitam. Di balik prestasi yang sudah dicapai, Lemkari Bali menghadapi beberapa kendala, di antaranya dana fasilitas dojo. “Untuk mengirim karateka ke kejuaraan di luar daerah, masih sulit untuk mendapatkan sponsor. Tetapi, kami tidak menyerah. Kami terus mencoba melakukan pendekatan agar karateka bias bertanding demi mencapai prestasi maksimal. Mengenai dojo, ada dojo di Kintamani yang karatekanya sangat potensial tetapi fasilitas mereka perlu dilengkapi,” ujar perempuan yang juga aktif di Gapensi dan Asosiasi Tenaga Teknik Indonesia ini. Salah satu upaya yang tengah digarap, membawa Lemkari ke sekolah-sekolah. Masuknya karateka di ajang porprov. membuat peluang untuk lebih memperkenalkan olahraga karate ke sekolah-sekolah. Target Nanik yang lainnya, menjadikan Lemkari sebagai organisasi yang modern yang memiliki database akurat, program kerja yang terukur dan terencana. Ia juga inginkan karateka berprestasi mendapat perhatian dari pemerintah khususnya yang menangani bidang olahraga. –wah

30 Januari - 5 Februari 2011

Unjuk Dansa Kaum Ibu

A

Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Bali dan Ikatan Langkah Dansa Indonesia (ILDI) Bali itu juga menyuguhkan penampilan menarik peserta lain. Kaum istri SKPD Tabanan turut ambil bagian. “Kami mengirim dua kelompok dansa yang bernanung di bawah IODI Tabanan,” ujar Ketua IODI Tabanan Ny. Adi Wiryatama. Menurut istri mantan bupati Tabanan Adi Wiryatama ini, kegiatan dansa di Tabanan bukan barang baru. Semasa menjabat ketua TP PKK Tabanan, dirinya getol menggerakkan program sosialisasi olahraga dansa ke perdesaan. “Keikutsertaan IODI Tabanan dalam eksibisi ini sebagai ajang unjuk kebolehan di tingkat provinsi,” ujarnya. Peserta eksibisi dansa asal Tabanan diikuti kaum istri pejabat SKPD. Ny. Putri Hartawiguna, istri Camat Selemadeg Barat Agus Arta Wiguna, M.Si., ikut bergoyang. “Kami ikut

Roso Daras, CEO Bali Devata Football Club

Menapaki Liga dengan Dukungan dan Doa DALAM satu kesempatan usai launching klub Bali Devata di wilayah Sanur, 5 Januari 2011 lalu, Chief Executive Officer (CEO) Bali Devata, Roso Daras melempar jawaban yang mencengangkan publik bola, tidak saja di Bali, tetapi juga di Ibu Kota. “Target Bali Devata? Juara LPI!” ujar Roso menjawab pertanyaan wartawan seputar target klub. Pernyataan itu mendatangkan banyak komentar. Warga Bali pada umumnya, mendukung, meski, barangkali, masih menyimpan sejuta keraguan. Tetapi tidak sedikit komentar yang menganggap pernyataan itu “asbun”. Kelompok ini menilai, tidak mudah meraih prestasi bagi klub yang baru saja dibentuk. Tidak mudah pula mencapai prestasi puncak di tengah kevakuman prestasi sepak bola Bali di kancah nasional. Masih banyak komentar lain yang bernada meragukan. Roso Daras, mantan jurnalis Kelompok Media Bali Post (KMB) ini berkilah, “Saya ini Soekarnois. Dalam banyak hal, saya mengambil hal-hal positif darinya. Bung Karno mengatakan, ‘gantungkan citacitamu setinggi langit’. Artinya, seandainya Bung Karno menjadi CEO Bali Devata, beliau juga akan menargetkan Bali Devata juara,” kilahnya. Target bagi Roso sama dengan cita-cita. Dan, dia

PT Bali Dewata United ini.

Roso Daras (tengah) saat menjadi panpel pusat charity match Persema vs Indoholland di stadion Gajayana Malang

sudah menggantungkan citacitanya di langit tinggi. “Nah, sekarang cukup bicara cita-cita atau target. Biar dia menggantung di atas sana. Sekarang saya harus berpijak di atas bumi. Berpikir realistis, menapaki tugas step by step. Mewujudkan manajemen sepak bola profesional, bekerja keras dan senantiasa berdoa serta memohon doa restu serta dukungan masyarakat Bali. Itu saja. Soal pencapaian target, mari kita tunggu berakhirnya musim pertama LPI ini November 2011 nanti,” papar penulis sejumlah buku tentang Bung Karno ini. Pada bagian lain, lelaki berbintang Sagitarius ini mengilas balik sejarah lahirnya klub sepak bola Bali Devata. Menurutnya, kehadiran klub sepak bola di Bali adalah sebuah keniscayaan, kalau tidak mau dibilang keharusan. Pasalnya, Bali memiliki sejarah yang panjang

Roso Daras meniup peluit saat launching klub di Sanur

dalam hal ini nama besar seperti Rae Bawa, Putu Yasa, dan I Made Pasek Wijaya sudah redup. Nama-nama baru pun bermunculan, dan berkiprah tidak saja di klub-klub lokal, tetapi juga klub-klub elit di Indonesia lainnya. Tidak hanya itu. klub-klub sepak bola di Pulau Dewata pernah pula lahir dan tenggelam. Sebut saja misalnya Gelora Dewata, Perseden, Persegi, Persikaba Badung, dan tim-tim lainnya. Bersamaan tenggelamnya pesepak bola dan klub-klub yang pernah membawa nama Bali di pentas nasional, tenggelam pula jagat-bola Pulau Seribu Pura. Tahun berganti tahun, masyarakat hanya bisa bermimpi tentang lahirnya sebuah klub sepak bola yang bisa membawa nama Bali di pentas liga nasional. Asa itu muncul medio 2010, manakala Liga Primer Indonesia digagas oleh pengusaha besar Arifin Panigoro (Medco Group), dan Bali menjadi salah satu daerah yang “wajib ikut”. Sejak itu pula, persiapan membentuk sebuah klub di Bali pun dirancang. Tiga nama yang tak bisa dihapus dari berdirinya tim ini: Arya Abhiseka (sekarang GM League LPI), Yon Moeis (sekarang CEO Batavia Union), dan I Made Raymond, penggila bola di Bali. Berkat mereka pula Bali Devata terbentuk. Konsorsium LPI kemudian menugaskan Roso Daras sebagai CEO pertama yang memimpin klub yang bernaung di bawah badan usaha

Dukungan Masif Bertutur tentang perjalanan klub Bali Devata, Roso Daras menyeringai dan berkata lepas, “Saya pribadi bersyukur, Bali Devata mengawali musim kompetisi dengan baik. Pertandingan pertama kami tandang ke kandang Real Mataram di Yogyakarta, menang 1-0. Game kedua kami menjadi tuan rumah, menjamu Manado United, dan kembali memetik kemenangan 10,” paparnya. Saat naskah ini diturunkan, tim Bali Devata baru saja bertolak ke Medan, untuk melakoni laga ketiga yang merupakan laga tandang ke kandang Medan Chief di Lubuk Pakam, Deli Serdang, Minggu, 30 Januari 2011. “Mereka berangkat Jumat pagi, bertanding Minggu, dan kembali ke Bali Senin,” ujar Roso, dan tak lupa memohon doa restu masyarakat Bali tanpa kecuali. Bicara soal dukungan, Roso tak henti-henti mengucapkan terima kasih kepada segenap pendukung Bali Devata. “Saya menganggap, dukungan ini merupakan dukungan masif warga Bali terhadap Bali Devata. Indikasinya sangat jelas waktu laga kandang perdana 23 Januari lalu di Stadion Kapten Dipta Gianyar. Penonton hampir penuh. Sungguh membanggakan. Barangkali karena sudah lama masyarakat Bali merindukan adanya klub sepak bola yang bisa dibanggakan,” ujar Roso antusias. Bukan hanya itu. Satu hal yang ia catat adalah dukungan dari komunitas netters. Tanpa ada komando dari klub, mereka dengan antusias membangun jaringan maya dan mengalirkan dukungannya untuk klub Bali Devata. Sudah ada yang membuat treat di Kaskus, membuat sejumlah account facebook, twitter, bahkan website. “Saya berkesimpulan, potensi netters sangat luar biasa. Karena itu, saya pun tengah menyiapkan staf bidang IT sup-

port untuk mengakomodasi potensi ini. Output-nya bisa berupa membership, online ticket, transaksi merchandise online, dan lain sebagainya,” tutur Roso yang sehari-hari merupakan blogger dengan alamat https:// rosodaras.wordpress.com itu. Sejumlah pendukung Bali Devata bahkan sudah ada yang begitu kreatif menciptakan merchandise berupa kaus untuk suporter. Suporter lain dengan kesadaran dan inisiatifnya membentuk kelompok-kelompok suporter per zona (wilayah). Interaksi di antara mereka juga sudah berlangsung dengan sangat intens dan positif. Dunia maya adalah dunia tanpa batas. Harapannya, warga Bali yang berada di luar Bali, tak kalah antusias dalam memberi dukungan manakala Bali Devata menjalani laga tandang ke kotakota lain. Mencermati bulan-bulan pertama bergulirnya Liga Primer Indonesia, Roso Daras sudah bisa menyimpulkan bahwa, Bali Devata adalah salah satu klub peserta LPI yang memiliki potensi besar untuk menuai sukses ganda. “Artinya, sukses secara prestasi dan sukses secara bisnis,” ujar CEO berusia 47 tahun itu seraya menambahkan, “Ukuran sukses prestasi tentu kalau Bali Devata bisa bertengger di papan atas klasemen liga. Sedang sukses secara bisnis, tentunya klub ini bisa segera independen secara finansial,

11

Dari Eksibisi Dansa IODI Bali

berusaha menyosialisasikan agar dansa makin populer di desa-desa. Gerakan sosialisasi serupa sudah gencar dilakukan sejak 5 tahun lalu oleh Ny. Adi Wiryatama,” ujarnya. Menurut Ny. Titing Suharti, IODI Bali menggelar eksibisi ini untuk makin membangkitkan

semangat berolahraga dansa di kalangan masyarakat. Dansa bukan hanya kegiatan rekreasi, juga masuk cabang olahraga prestasi. “Olahraga dansa sempat dipertandingkan di PON Kaltim 2008. Sayangnya saat itu Bali belum beruntung meraih gelar juara,” kata Ketua Pengprov. IODI Bali ini. Upaya pembinaan olahraga ini terus digalakkan IODI Bali. “Ini kami lakukan untuk mendorong agar masyarakat, terutama kaum ibu di pelosok desa di Bali tidak canggung melakukan olahraga ini,” ujarnya. Menurutnya, olahraga dansa berasal dari negeri seberang. Ragamnya macam-macam, seperti chacha, tango, jive, rumba, salsa, samba, waltz. “Ragamnya dikenal lebih populer di lingkungan dansa ball room berpasangan. Tetapi, IODI mencoba mengembangkannya menjadi langkah dansa atau line dance yang bisa dilakukan secara massal, tidak melulu berpasangan,” jelas istri Wakil Ketua DPRD Bali I G. B. Alit Putra ini. —sam

Ny. Adi Wiryatama

Ny. Titing Suharti, S.H.

Kaum ibu sedang unjuk kebolehan di lantai dansa saat berlangsung eksibisi dansa IODI Bali di GOR Lila Bhuana Denpasar

LUNAN musik berirama chacha mengiringi ayunan langkah kaki sejumlah ibu. Mereka kompak unjuk kebolehan. Irama musik mengiringi gerakan kaki menyilang. Sesekali langkah kaki kaum ibu ini mengayun maju dan mundur. Mereka memperagakan sebuah gerakan dansa yang memukau. Itulah penampilan Klub Dansa Gita Lestari yang dipimpin A. A. Sagung Mas Megawati. Istri panglingsir Puri Kesiman A.A. Ngurah Gede Kusumawardhana ini berhasil mengawal unjuk dansa kaum ibu tersebut. “Kami sudah sering berlatih dan tampil bersama lho... Jadi tampilnya bisa kompak,” ujar mantan penari Bali ini. Klub dansa ini menjadi salah satu dari 16 peserta “Eksibisi Dansa Ikatan Olahraga Dansa Indonesia Bali”, Minggu (23/1), di GOR Lila Bhuana Denpasar. Eksibisi yang diusung bareng

Tokoh

Logo Bali Devata dan Maknanya Naga Banda mencengkeram bola dalam lingkar tridatu. Filosofi: Warna Putih – Hitam – Merah adalah simbolisasi tridatu. Warna tridatu melambangkan ajaran Triguna: satwam, rajah, tamah. Warna putih identik kesadaran atau kebijaksanaan (satwam), warna merah adalah energi atau gerak (rajah) dan warna hitam melambangkan penghambat (tamah). Sedangkan lambang atau simbolnya adalah Naga Banda sebagai simbol keagungan, simbol keistimewaan. Ditilik dari istilahnya, Naga Banda mengandung arti pengikat atau pembelenggu (bandha). Logo Bali Devata, diharapkan membawa spirit tridatu: bijaksana (satwam) yang dalam bahasa olahraga disebut sportif, energik (gerak = rajah), dan kompak-bersatu (tamah), menuju pencapaian prestasi (keagungan). bahkan bisa go public.” Saat ini saja, ia sudah menerima banyak sekali proposal kerja sama, yang beberapa di antaranya mengerucut ke aspek bisnis. “Saya bisa katakan, Telkomsel sudah tertarik untuk menjadikan theme song Bali Devata karya Iwa K menjadi RBT (ring back tone). Sebuah manajemen pengelola area wisata di Canggu juga sudah menyatakan minatnya menjadi sponsor. Bahkan sebuah televisi lokal pun sudah mengajukan penawaran pembuatan program acara rutin hingga siaran langsung setiap pertandingan home di Stadion Dipta. Masih banyak yang lain. Itulah yang satu per satu sedang kami tangani,” urainya. Berkaca dari fenomena tersebut, Roso Daras optimitis,

kehadiran Bali Devata akan membawa dampak positif bagi Bali. Efek domino dari investasi klub yang ditanam, serta konsekuensi bisnis yang mengikutinya, diharapkan memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata. “Dalam satu musim, klub membelanjakan dana antara Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar rupiah. Akan tetapi guliran kompetisinya itu sendiri, serta aktivitas sponsorship yang mengikutinya, ibarat bola salju yang bisa berakumulasi menjadi bisnis raksasa di Bali,” ujar Roso yang juga berpengalaman memimpin sejumlah unit bisnis di Jakarta sebelum direkrut Medco Group untuk menukangi salah satu klub peserta LPI, Bali Devata. —dia

Skuad Bali Devata Football Club Head Coach: Willy Scheepers (Belanda) Assistant-Coach: Petar Segrt (Kroasia) Assistant-Coach: I Made Kawiarda Local Player 1. Ngr. Komang Arya Perdana 2. Agus Purwanto 3. I Nyoman Yoga Eka Putra 4. Nengah Sulendra 5. Agus Winarno 6. Tezar Ari Aksara 7. Asep Tri Aksara 8. Wayan Sukadana

9. Ketut Mahendra 10. Gede Darma Putra 11. Nyoman Armawan 12. Gede Jeno Wiliantara 13. Edi Supriono 14. Komang Adnyana 15. I Made Dwi Arya Dana 16. Komang Mariawan 17. Bosco Cabral

18. Budi Setiawan Hertwig 19. Mulky Alifa Hakim Foreign Player 1. Ali Parhizi (Iran) 2. Pascal Heije (Belanda) 3. Ilija Spasojevic (Montenegro) 4. Guilermo Imhoff (Argentina) 5. Bok Jun-Hee (Korea Selatan)


12

Tokoh

30 Januari - 5 Februari 2011

Praktik Dokter....................................................................................................dari halaman 1 Tak Berani.........................................................................................................................................................................dari halaman 1 dokter spesialis atau ke rumah sakit yang biayanya kadang lebih besar. Padahal, sebagian kasus yang dialami bisa diselesaikan dokter umum. Nantinya hal seperti itu bisa dialihkan ke dokter keluarga yang bisa sekaligus mengedukasi dan melakukan pemantauan kesehatan pasien secara berkelanjutan,” ujarnya. Dokter Ayu, begitu sapaan akrabnya, mengatakan, dokter keluarga merupakan spesialis kesehatan yang memiliki konsentrasi pelayanan kesehatan yang komprehensif untuk tiap individu dan keluarganya dan menggabungkan antara aspek biomedical, kebiasaan hidup, dan sosial. “Prinsip dokter keluarga memiliki pengetahuan tentang tubuh secara keseluruhan, mengetahui tentang konteks sakit, rutin melakukan kontak dengan pasiennya untuk memberikan pendidikan pencegahan dan pendidikan kesehatan. Dokter keluarga juga mengetahui pekerjaan dan aktivitas pasien,” ungkap putri pasangan alm. I GP Riyasse dengan DAK. Suwitri Riyasse ini. Pelaksanaan sistem dokter keluarga, kata istri I GM. Iwan Dusanta Martajaya ini, membutuhkan dokter layanan primer yang andal, yang mampu menerapkan pendekatan kedokteran secara utuh. “Praktik dokter keluarga melayani seluruh keluarga dalam satu rumah termasuk mereka yang bekerja di rumah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa praktik dokter keluarga juga berkaitan dengan praktik kesehatan kerja,” kata dokter keluarga beberapa orang asing yang menetap di Bali ini. Ia menyebutkan, kesehatan kerja juga menjadi bagian ilmu dari dokter keluarga. Praktik dokter keluarga sangat berhubungan dengan praktik kesehatan kerja karena dokter keluarga mengetahui segala permasalahan tentang kesehatan kerja pasiennya. Ia menilai, praktik kesehatan kerja di Indonesia masih dalam tahap awal. Seringkali pada praktiknya, mereka hanya melakukan tindakan klinik sesuai dengan kondisi penyakit pasiennya, sedangkan tindakan

Dokter Ayu dilantik sebagai dokter keluarga oleh Ketua Perhimpunan Dokter keluarga Indonesia ( PDKI) Pusat dr. Sugito Wonodirekso

promotif dan preventif jarang dilakukan. “Perhatiannya masih sebatas pada penyakit,” ujar Kepala Puskesmas IV Denpasar Selatan ini. Untuk menjadi dokter keluarga yang baik, kata dokter Ayu, ia harus memiliki ilmu pengetahuan kesehatan kerja. Begitu juga sebaliknya. Dokter yang menangani kesehatan kerja harus mengetahui teori dokter keluarga. Ia mengutip pernyataan Prof. Azrul Azwar, pendiri dokter keluarga Indonesia, tujuan adanya dokter keluarga sebagai satu solusi mengatasi masalah mutu dan biaya kesehatan bagi pasien. Namun, kenyataannya, dokter keluarga dan praktik kesehatan kerja belum berjalan dengan baik di Indonesia. Dokter Ayu dilantik menjadi dokter keluarga 3 Desember 2010 oleh Ketua Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Pusat dr. Sugito Wonodirekso. Sebelumnya, dua orang dokter keluarga sudah dilantik yakni dr. Darmadi yang juga Ketua PDKI Prov. Bali dan dr. Arcana. Pakar Kedokteran Keluarga (PKK) diberikan Menteri Kesehatan RI Suyudi kepada lima orang dokter di Bali yakni Prof. dr. Agus Bagiada, dr. Darmadi, dr. Widana, Prof. dr. Mangku Karmaya dan dokter Ayu. Ia mengatakan, dokter umum yang sudah dilantik berhak memakai sebutan PKK dan DK. “Tapi ini bukan gelar

karena diberikan dari Kolegium Perhimpunan Profesi,” ujarnya. Mungkin selama ini, ada dokter umum yang sudah melakukan tugas sebagai dokter keluarga. Namun, mereka belum mendapatkan pengakuan. Untuk itu, ia mengimbau kepada para dokter umum untuk mendaftarkan diri menjadi dokter keluarga dan mengikuti kongres yang diselenggarakan tiap tahun. Para dokter bisa meningkatkan ilmu pengetahuannya untuk dapat menjadi dokter keluarga seutuhnya. Dokter keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan/ pelatihan khusus di bidang kedokteran keluarga serta mempunyai wewenang menyelenggarakan praktik dokter keluarga. Dokter Ayu juga tercatat sebagai anggota organisasi internasional dokter keluarga seAsia Pasifik (WONCA) yang rutin mengadakan kongres tiap tahunnya. Selain sibuk menjalani profesinya sebagai dokter, perempuan ini memiliki hobi tata rias wajah dan rambut. Menurutnya, dokter merupakan perpaduan art dan sains. Berdandan menurutnya, tidak hanya untuk kecantikan fisik tapi juga untuk menunjang penampilan dalam bersosialisasi. Sebagai kepala puskesmas, ia selalu menekankan kepada stafnya untuk menjaga penampilan. Tak segan, ia memanggil

“Ada beberapa anak spesial ini yang kami terima, setelah mereka tidak diterima di sekolah lainnya. Tiap anak berhak mendapat pendidikan. Karena itu, saya tidak berani menolak,” ucapnya dan mengatakan hal ini membuatnya bertahan di AMI. Ia merasa yayasan mendukung ketika beberapa waktu silam awal dirinya menerima anak berkebutuhan khusus ini. Yulis juga menyatakan dua anak, yang pertama mereka terima ternyata berhasil. “Kami dapat membuktikan anak berkebutuhan khusus memiliki kelebihan tersendiri. Apalagi jika mendidiknya dengan cinta, hati dan rasa sayang. Suatu saat mereka pasti menemukan jati dirinya. Salah satunya, Wisnu. Anak laki-laki yang energik ini kini sudah tidak berbeda seperti anak pada umumnya. Percaya dirinya tinggi, apalagi ia punya talenta seni yang luar biasa dan sudah biasa manggung hingga di tingkat nasional,” tuturnya. Selain Wisnu, katanya hingga kini di tiap kelas minimal ada tiga anak berkebutuhan khusus. Menangani murid yang spesial ini, Yulis mengatakan tidak melakukannya dengan metode tertentu, namun dengan ketulusan dan cinta kasih. “Setelah mereka merasakan lingkungannya aman dan nyaman membantu kami lebih mudah membimbing,” katanya dan dikuatkan dengan kerja sama guru dan orangtua murid. “Kadang ada anak yang muncul amarahnya sampai meledak. Semua guru siap membantu mengendalikan ledakan perilakunya,” cetus Yulis yang juga menekankan kepada para guru, andaikata yang dalam kondisi stafnya jika penampilannya tidak bercahaya. “Kalau dokter dan perawatnya cantik, rapi, dan bersih, pasien juga akan senang,” tutur mantan Ketua dan Penasihat Tiara Kusuma Prov. Bali ini. Saat masuk ke Puskesmas IV Denpasar Selatan, pasien akan langsung dapat melihat foto berukuran besar di dinding para staf puskesmas menggunakan pakaian khas Bali. –ast

Wisnu dan kepala sekolah SD AMI Yulistina

demikian adalah anaknya, apa yang akan dilakukannya. Yulis mengatakan sebelum bergabung ke kelas umum, ada kelas tersendiri yang disediakan untuk mereka. “Saat ini masih ada empat anak ditangani tersendiri. Tiap anak memerlukan waktu berbeda untuk penyesuaian sampai bergabung di kelas umum. Dengan masuk ke kelas umum ini menjadikan mereka menghargai satu sama lainnya. Murid kami di SMP AMI ada yang mengikuti program dari Kak Seto, mereka juga di ruangan khusus. Secara umum mereka menikmati holis-

tisitas pelajaran. Tak ada diskriminasi terhadap mereka, termasuk olahraga dan agama, demi jasmani dan rohaninya,” paparnya. Penghobi baca ini juga mengaku bangga pada guru-gurunya. “Mereka luar biasa, semua sepakat bertanggung jawab dan memberikan pendidikan sebaik mungkin. Mereka juga penuh semangat meski banyak yang belum berumah tangga. Mereka menyadari jika sukses menangani anak berkebutuhan khusus, maka akan lebih mudah bagi anak-anak lainnya,” katanya antusias. Sekolahnya memiliki agenda

tahunan terkait ulang tahun Yayasan AMI. “Kami biasa mengadakan pagelaran dan tiap tahun pementasannya berbeda. Tahun lalu pada ulang tahun ke12 kami mengadakan berbagai lomba, di antaranya menyanyi, komputer, matematika dan bahasa Inggris. Kami ingin menampilkan bakat anak-anak sekolah di Kota Denpasar,” ucapnya. April nanti mereka juga mengadakan kegiatan AMI Science Technology Competition (Astek) kedua dengan sembilan jenis lomba. Mengingat tahun lalu pesertanya cukup antusias, tahun ini pemilik yayasan, Pak Budi dan Bu Ani, ingin memperluas jangkauan pelaksanaannya. Kegiatannya akan dilaksanakan untuk murid seluruh Bali. “Lomba matematika menggunakan sistem olimpiade,” cetusnya. Dalam lingkungan internal, tiap usai menerima rapor mereka ada kegiatan yang dinamakan “Pesta Kelas”. “Anak didik kami SD dan SMP AMI menunjukkan kebolehannya. Pada saat ini biasanya semua mempersiapkan diri untuk tampil. Tiap kelas bebas memilih menampilkan kebisaannya, apakah melawak, menyanyi atau menari. Di acara pesta kelas ini, semua ikut tampil termasuk anak-anak berkebutuhan khusus,” pungkasnya. —ard

45% Perempuan.................................................................................................dari halaman 1 Denyut kegiatan ekonomi perdesaan itu otomatis membuka akses masyarakat desa mulai ke sektor usaha jasa keuangan. “Kelebihan pendapatannya dapat ditabung di LPD atau lembaga keuangan lain. Mereka juga punya jaminan meminjam kredit guna menyuntik modal usahanya,” katanya. Hasil risetnya juga menunjukkan karakteristik menarik kalangan nasabah LPD di Badung. Kaum pedagang menempati pos jumlah nasabah tertinggi, yaitu 48,1%. “Sekitar 24,4% karyawan swasta, dan 20% petani. PNS, TNI, dan polri hanya 6,7% yang memanfaatkan jasa keuangan LPD di Badung,” ungkapnya. Krama desanya juga difasilitasi akses mudah meminjam kredit dalam jumlah tertentu di

LPD. Variasai besarannya tergantung kemampuan LPD masing-masing. Kisarannya Rp 1 juta-Rp 5 juta. Tingkat suku bunganya bersaing dengan lembaga keuangan lain yang beroperasi di sekitarnya. “Kredit pun diperoleh tanpa jaminan materi. Syarat pinjaman cukup dilengkapi jaminan tertulis klian banjar adat,” jelasnya. Manfaat kehadiran LPD tersebut dirasakan kalangan pelaku usaha. Menurut pengusaha produk seni kerajinan Bali Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M., kalangan pelaku usaha mengandalkan hasil kerajinan dari komunitas pengrajin di perdesaan. “LPD sangat membantu usaha kecil, mikro, dan menengah atau UMKM di Bali. Contoh realnya di Ubud dan sekitarnya. Saya membina banyak

pengrajin di sejumlah desa. Para pengrajin ini rata-rata meminjam modal usaha dari LPD,” ujarnya. Kontribusi LPD amat dirasakan para pengrajin. Ini diungkapkannya dari kenyataan yang dilakukan di Ubud dan Tegallalang. “Masyarakat desanya lebih familiar dengan LPD ketimbang bank. Mereka umumnya lebih mudah dapat kredit LPD. Apalagi kebanyakan para pengrajin di desa belum bankable,” kata mantan ketua Iwapi Gianyar yang dipercaya menjadi koordinator Wilayah Bali, NTB, NTT Iwapi Pusat ini. Ada kecemasan Agung Puspawati jika LPD dibebani aturan perbankan. “Jika syarat kredit di LPD seperti pinjam uang di bank, saya khawatir masyarakat desa akan lari ke rentenir,” katanya risau. —sam,tin

Facebook Koran.......................................dari halaman 2 Pengantin yang......................................................................................................................................................................................................................dari halaman 3 mengenakan stelan jas lengkap plus kacamata hitam dan topi koboi. Saya heran melihat mempelai perempuan tampak sangat sedih dan lelah. Bahkan ketika harus berdiri pun ia dipapah. Saya bisik-bisik menanyakan apaWidi Ani kah itu pertanda ia dipaksa meAda dua hal yang bikin nikah oleh keluarganya. Jawabsaya suka sepak bola, pertama annya mengejutkan. Tangis itu pemainnya cowok-cowok kemerupakan bagian tanda saren. Yang kedua, saya banyak yang karena sejak hari itu ia mebelajar dari sepak bola kalau ninggalkan keluarganya. ingin mendapatkan hasil yang Rata-rata perhelatan pernisempurna dan kemenangan kita kahan yang saya hadiri di Jaharus kompak dan solid di semua posisi. karta, mempelainya penuh senyuman. Tak jarang pengantin Ketut Meniarta ikut memberikan pengarahan paAlasan suka nonton karena da petugas dokumentasi, siapapermainannya yang menarik siapa yang harus diabadikan. apalagi kalo tim yang bermain Melihat kesedihan penganmenunjukkan sportivitas tinggi, tin di Nias, saya berpikir. Betapa pasti sangat menarik. tata nilai sudah bergerak. TaTerus ada juga karena pengis pengantin itu merupakan bagian realitas sosial yang luAntisipasi Ancaman...................................................................................................................................................dari halaman 2 put dari landaan tsunami. TeJuga, untuk mengetahui sejauh mana skill individu dari tiap pemain yang saya saksikan, apalagi pemain idola. Tentunya akan menjadi contoh untuk kita ikuti. Asal nggak bikin ulah yang aneh-aneh.

mainnya yang memiliki teknik “Di sini pernikahan mahal,” permainan yang bagus, sangat kata sopir kami, orang asli Nias menarik untuk ditonton. yang sudah berantau ke Sibolga. “Seorang laki-laki yang Ary Refresh ingin menikah harus mampu Tergantung yang main, ka- menyediakan 30 sampai 50 juta lau pemainnya sekelas Brazil, rupiah untuk jujuran (mas Jerman, Spanyol, jelas saya me- kawin). Karena itu banyak, saya nonton karena cara mainnya kemudian merantau dan kawin yang bagus. Tapi kalau sepak di luar Nias. Saya beristri orang bola Indonesia, saya suka dan Riau.” sering nonton karena selalu diKemudian ia menceritakan, hiasi dengan bentrok. jujuran yang mahal itu menyePemenang kuis minggu ini babkan orang terjerat utang adalah Gek Adhe, Widi Ani, setelah menikah. Yang mengeKan Agus Pindie. Pemenang jutkan, menurut dia, banyak kamendapatkan voucher facial sus kekerasan terhadap peremintensive gratis di House of puan terjadi dalam kehidupan Dura. Hadiah diambil di Sekre- perkawinan. Apakah itu akibat tariat Koran Tokoh, Gedung pihak lelaki merasa sudah memPers Bali K. Nadha Lantai III beli istrinya? “Tak ada yang menggugat Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar, telepon 0361-425373. Hubungi hal itu. Pihak perempuan pun Ayu/Agus, Senin-Jumat pukul diam-diam saja, seperti itu memang sudah sewajarnya begitu,” 09.00-15.00 wita.

Bagaimana memberi perlindungan, kalau pagarnya tinggitinggi. Model rumah pagar tinggi tidak cocok dengan budaya Indonesia. Seharusnya pagar sebatas tinggi orang dewasa. Walaupun pagarnya tinggi, ada celah untuk melihat dari luar sehingga kalau terjadi sesuatu mudah diketahui. Keamanan harus terus ditingkatkan. Becik

ling di perkotaan tidak berjalan seperti dulu. Apalagi orientasi pemberdayaan masyarakat justru mengatakan polisi yang dominan bertugas menjaga keamanan. Sayangnya, polisi pun belum mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Polisi belum mampu mengatasi masalah sosial masyarakat karena masih sibuk mencari keuntungan dan asyik dengan dirinya sendiri. Kita menginginkan polisi yang bersih. Kemandirian di desa pakraman dan ketahanan dalam keluarga sangat diperlukan. Perlu pendekatan moral, dan menanamkan budi pekerti. Kalau solid di dalam sulit orang luar dapat masuk. Kompleksitas masyarakat di perkotaan karena banyak kepentingan. Makin banyak orang datang karena kepentingan tertentu sehingga banyak masalah sosial. Banyak yang menentang aturan hukum agar kepentingan tercapai. Mereka datang ke kota tidak berbekal keterampilan. Mereka hidup di kota dan ingin seperti yang lainnya, tanpa mengetahui apa yang dilakukan hingga bisa sukses seperti itu. Melakukan langkah instan dengan merampok atau hipnotis. Di satu sisi harus introspeksi diri bagaimana keluarga bisa memahami situasi itu, Tingkatkan peran polisi dan peran masyarakat

Harus Sinkron Desa Dinas dan Desa Adat Keluarga perkotaan makin individualistik. Ketika ibu bapaknya bersikap individual, anak-anaknya tidak mendapatkan kenyamanan di rumah. Akhirnya, si anak mencari kenyamanan di luar. Ia mendapatkan perhatian dari luar. Kalau lingkungan bagus dilandasi moral dan harkat yang baik tentu tidak menjadi masalah bagi si anak. Namun, kecederungan dia lari ke komunitas yang salah seperti ranah narkoba. Berapa pun disediakan dana akan habis karena sudah ketergantungan. Kriminitas tanggung jawab polisi, pemerintah, dan warga masyarakat. Ronda bagus namun, jauhkan dari individualitas. Ketika individual dikedepankan ronda tidak akan berjalan dengan baik. Siskam-

peduli lingkungan sendiri. Bali sebagai daerah pariwisata akan ditinggalkan wisatawan. Banyak vila dan turis dirampok. Merembet ke masyarakat yang kecil seperti perampokan di Jalan Patih Nambi Denpasar. Kita mengenal sistem keamanan tradisional yakni di desa pakraman, ada patroli jaga baya dan pecalang. Semua itu terjun bagaimana mengamankan desa pakraman agar masyarakat nyaman dan tamu yang datang ke Bali merasa aman dan nyaman. Antisipasi ancaman rampok dan dalam tugas pengamanan warganya, harus ada sinkronisasi komunikasi desa dinas dan desa adat. Bangun sistem keamanan terpadu, baik untuk penanganan kriminal atau pelanggaran seperti membuang sampah atau menebang pohon sembarangan. Penertiban ini harus dilakukan bekerja sama antara masyarakat dan dinas terkait. Kita harus peduli, kita sadar, tanggung jawab keamanan tidak mungkin diemban polisi saja. Prof. Dr. I Nyoman Budiana, S.H., M.Si. Pengamat Hukum, Dekan FH Unidknas University

kata sopir itu. Saya termenung. Kekerasan terhadap perempuan memang masih banyak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Itu tidak ada hubungannya dengan tsunami. Tetapi, itu menjadi bagian yang tidak bisa didiamkan, ketika wilayah mulai bangkit membangun dirinya. Kaum perempuan Nias merupakan para pekerja yang rajin. Sore hari ketika kami kembali ke posko di Gunungsitoli, kami lewati upacara pernikahan yang lain. Pengantin perempuan tampak menangis ketika hendak diboyong ke rumah pengantin lelaki. Ia dibopong dalam keadaan tersebu-sedu. Kami beruntung memergoki lagi di Sitolu saat mempelai disandingkan. Pakaian adat yang dikenakannya bersanding kontras dengan pengantin laki-laki yang

rakat Bali dengan anjing kontribusinya pasti ada. Dengan memiliki anjing ada upaya preventif. Dengan kemajuan teknologi sekarang, kejahatan tidak terang-terangan. Perampok membawa senjata. Manusia saja bisa ditembak apalagi anjing. Pencuri malam hari sudah membawa senjata tajam. Ini menjadi kendala. Mereka punya akal. Anjing bisa diracun dulu atau ditembak. Anjing Bali tidak seperti herder. Jangan dikaitkan ada perampokan karena anjing dieliminasi. Tidak ada hubungannya. Orang kaya temboknya tinggi. Rumahnya dijaga satpam. Masyarakat tradisional halamannya masih dapat dilihat. Di samping untuk mempertahankan konsep manyama braya, juga memberi kontrol. Kalau temboknya tinggi, bagaimana bisa membantu. Misalnya ada kebakaran tidak bisa membantu. Ketika dihadapkan pada masyarakat heterogen, banyak persoalan. Kalau tidak membanjar, krama hanya menjaga di luar agar rumahnya tidak ikut-ikutan terkena api dalam kebakaran sambil menanti mobil pemadam kebakaran datang. Ini yang harus disentuh desa pakraman. Mereka seyogianya membayar Perampok uang keamanan dan turut berBawa Senjata partisipasi menjaga siskamling. Prof. Nyoman Budiana Terkait ketahanan masya-

tapi, karena bencana alam membuat para lelaki menjadi bertambah miskin, apakah perempuan Nias akan banyak yang akan menjadi perawan tua? Di Pantai Duregaloko, saya lupa pada nasib para perempuan itu. Saya terpana oleh air laut yang mundur sampai puluhan meter akibat gempa. Batu-batu karang yang semula menjadi bagian kehidupan di bawah air, tersembul menjadikan pantai itu seperti dunia baru yang misterius. Air laut yang tenang dan biru, tak urung menimbulkan rasa kecut. Daratan Nias ternyata sangat labil. Banyak jalan yang belum lama diperbaiki sudah rusak lagi, karena tanah sewaktuwaktu bergerak. Bangunan tradisional Nias adalah rumah panggung yang ditopang balok-balok kayu yang tersusun sangat canggih. Atap pun dari daun kelapa yang ti-

dak berbahaya jika terjadi gempa. Bangunan baru yang sudah mulai meninggalkan tiang dan panggung, jadi sangat mengkhawatirkan. Pembangunan dan pemulihan yang mengabaikan kearifan lokal, sangat berbahaya. Semua orang menyadarimnya.Tetapi, membangun sambil menghiraukan kearifan lokal juga tak mudah, karena tak sedikit biayanya. Bagaimana memadukan keduanya memerlukan perencanaan yang bijak. Sebab, sejatinya pembangunan bukan hanya wujud fisik. Pada hari pertama itu, saya merasakan Nias memang sudah dibangun. Tetapi, pertanyaannya masih klise. Pembangunan itu masih di tataran kasat mata. Sulit untuk membantah apa yang diakui sopir kami. Warga asli Nias itu yang menjuluki keadaan huniannya dengan pemeo: “sengsara membuat nikmat”.

Sembahyang Bersama di Pura Erjeruk Gianyar KEGIATAN persembahyangan bersama akan dilaksanakan hari ini, Minggu, 30 Januari 2011, pukul 09.00 di Pura Erjeruk Gianyar. Masyarakat yang berminat dan anggota yayasan bisa hadir pada waktu yang telah ditentukan. Pembina Yayasan Spiritual Dharma Sastra I Putu Ngurah Ardika, S.Sn. mengatakan, persembahyangan saat ini memohon keselamatan dan kesejahteraan, mengingat akhir-akhir ini banyak bencana yang menimpa negeri ini, khususnya Bali. “Kita selaku umat berdoa memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar kita semua terhindar dari segala bencana (memohon keselamatan) serta dianugerahkan kesejahteraan,” ujarnya. Guru Kundalini Ngurah Ardika mengatakan, setelah acara persembahyangan akan diisi dengan dharma wacana dan pembebasan leluhur. Hal ini dilakukan, karena kewajiban selaku umat Hindu yang percaya dengan ajaran Panca Sradha yang salah satu isinya adalah “Percaya dengan adanya leluhur” sehingga ini merupakan dasar yang kuat bagi keturunannya. Sewajarnyalah berbakti pada leluhur serta membebaskan para leluhur dari ikatan tugas niskala sesuai dengan karmanya masing-

I Putu Ngurah Ardika, S.Sn.

masing (ngayah di pura-pura yang ada di Bali). Dan jika para leluhur telah terbebaskan maka beliau akan merestui, melindungi, menuntun kita sebagai keturunannya pada jalan yang benar. Menurut Ngurah Ardika, jika para leluhur telah dibebaskan mereka bisa mulai suatu kehidupan yang baru yang dipenuhi dengan berkah dan kedamaian. Yayasan Spiritual Dharma Sastra juga menyelenggarakan kegiatan meditasi setiap Selasa dan Jumat, pukul 20.00 sampai selesai ber-

tempat di Wantilan Pohgading Ubung Kaja Denpasar Utara dengan punia hanya Rp 10.000 dan setiap Senin, Rabu, dan Kamis kegiatan meditasi dilaksanakan di halaman parkir Yayasan Spiritual Dharma Sastra. Dan, bagi masyarakat umum yang menderita sakit medis maupun nonmedis, permasalahan rezeki, jodoh, keluarga, pekerjaan, leluhur serta telah lama tidak memiliki keturunan jika ingin disembuhkan dengan energi kundalini silakan datang ke Klinik Geria Usadha dan Sekretariat Yayasan Jalan Lembu Sura, Perum. Taman Lembu Sura Kav. I Nomor 3 Br. Pohgading Ubung Kaja Denpasar Utara atau bisa menghubungi telepon ( 0361) 8078842, 8540187. Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra pada Februari, gebyar pengobatan dengan spiritual kundalini, Jumat (11/2), pukul 09.00 sampai selesai bertempat di Gedung RRI Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Sembahyang di Pura Agung Semanik, Pelaga, Petang, Minggu (6/2) pukul 09.00. Tirtayatra ke Pura Pucak Sangkur, Minggu (13/2) pukul 09.00. Malukat di Pura Tirta Empul, Minggu (20/2) pukul 06.00 sudah melebur. Tirtayatra ke Pura Candinarmada Tanah Kilap Denpasar, Minggu (27/2).-ast


KESEHATAN

Sehat dengan Detox Langsing dengan SOQI Terapi di Lala SENAM membuat badan bugar. Kalangan ibu rumah tangga maupun gadis tidak sedikit yang Studio Health mengalaminya. “Tetapi, senam hanya membuat and Weight badan mereka bugar. Kenyataannya, senam belum Management membuat tubuh mereka sehat,” ujar Adolfina Programme Grace Tangkudung, S.Pd., pemilik Lala Studio mengikuti detox camp dan telah Health and Weight Management Programme ini.

B

anyak kaum ibu yang mengeluhkan perut mereka masih buncit. Padahal, mereka sudah bolak-balik rutin mengikuti senam. Ini berarti, ada masalah dengan kesehatan usus dalam perut mereka. Racun yang melekat di dinding usus membuat perut menjadi buncit. Racun tersebut juga menimbulkan keluhan kesehatan lainnya. Selain hipertensi, juga kolesterol, diabetes, asam urat, obesitas, alergi, asma, migraine, susah tidur, maupun sembelit. “Penyebabnya racun yang melekat di dinding usus. Racun ini berasal dari zat makanan yang tidak dapat diserap usus,” ujarnya. Sejak 2006, Grace menjalani terapi detox usus. Terapi ini bukan sekadar untuk pelangsingan tubuh. Istimewanya, terapi

ini menyehatkan raga lantaran membantu mengatasi beragam keluhan sakit. Terapi ini membersihkan aneka jenis racun yang melekat secara menahun di dinding usus. “Racun akan keluar melalui kentut, air seni, maupun feses atau kotoran melalui anus,” jelas pemegang sertifikat Gaya Hidup Sehat yang diteken Menkes RI tahun 2006 ini. Program detoksifikasi ini di Lala Studio Health and Weight Management ini dilakukan tanpa suntikan, tanpa sentuhan fisik, dan tanpa alat listrik. Selain alami, menurut pimpinan John Robert Powers Bali pertama ini, program tersebut pun membuat penampilan tampak ideal. Ini terbukit pengakuan Ida Bagus Purwasila alias Gus Purwa. Presenter dan MC kondang di Bali ini

merasakan hasilnya. “Detox ini bagus benar hasilnya asalkan dijalani secara disiplin,” ujar Gus Purwa. Cerita menarik diutarakan Nan Dana. Pria dengan berat badan 139 kilogram ini mengaku berat badannya turun setelah ikut detox camp. Marlene Graciella pun mengaku pusing (migraine) lenyap setelah ikut terapi ini. Grace Tangkudung yang menjadi pengasuh rubrik “Bugar” di Bali Post Minggu ini menmgaku terpincut dengan program detox sejak 2006. “Saya sudah mengajar senam selama 33 tahun. Saya semula mengira dengan berolah raga rutin akan membuat sehat. Ternyata itu tak otomatis membuang banyak racun atau toksin dalam tubuh saya. Setelah ikut program detox ini, saya langsung merasakan

Grace Tangkudung S.Pd.

hasil yang luar biasa. Berat tubuh saya turun, kondisi terasa lebih fit dan nyaman. Saya ingin berbagi pengalaman berharga ini melalui program detoksifikasi ini,” katanya. Detoksifikasi merupakan proses mengeluarkan racun dan sisa kotoran yang menempel pada dinding usus. Racun dan sisa kotoran ini tertimbun

Proses terapi menggunakan SOQI di Lala Studio Health and Weight Management Programme

Lala Studio Health and Weight Management Programme Jalan tukad Batanghari 47 Denpasar Telepon (0361) 8555606 atau 081 238 43259

Setelah Lama Menunggu Batu Ginjal Itu Akhirnya Keluar I WAYAN Teja (55), sehari-harinya pegawai bagian keuangan sebuah apotik. Ia telah mengabdikan hidupnya dengan bekerja keras 35 tahun. Sungguh tidak terpikir olehnya, dirinya akan menderita sakit pinggang (nyeri pinggang) yang luar biasa sakitnya. Kencingnya sering tersendat. Juni 2003 karena sakit yang tidak tertahankan, Pak Wayan mau diajak untuk dironsen. Hasil ronsennya menunjukkan 2 (dua) gambar putih, pertanda ada batu ginjalnya. Ada batu yang sangat kecil dan satunya

I Wayan Teja

Batu ginjal yang keluar dari saluran kencing Pak Wayan Teja

lagi besar melebar. Pak Wayan mendapatkan obat dari dokter untuk dikonsumsinya. Setelahnya batu kecil itu keluar dalam waktu satu bulan. Bentuknya sebesar kacang hijau dan bergerigi. Sakitnya pun agak berkurang, tetapi batu yang besar tetap tidak dapat keluar. Pak Wayan agak berputus asa. Namun setelah melihat kesaksian seorang pasien penyakit batu ginjal yang hampir mirip dengan sakitnya sembuh setelah memakai ramuan Hsen Chii International dari Koran Tokoh. Pak Wayan berketetapan hati melakukan pengobatan yang sama. Karena keterbatasan dana, Pak Wayan berobat dengan ramuan Hsen Chii secara berkala dan mengambil obatnya den-

gan nyicil.”Toh beberapa bulan kemudian batu yang besar itu sudah jatuh sampai dikantung kemih,” ujar Pak Wayan yang kencingnya terkadang agak tersendat keluarnya. “Setelah mengkonsumsi ramuan Hsen Chii International dari Mr. Chai tersebut , batu sebesar 2 cm keluar pagi harinya. Aduh sakitnya sungguh luar biasa. Bisa anda bayangkan batu sebesar itu keluar dari saluran kencing secara utuh. Saya benar-benar kaget,”ujar Pak Wayan lega. Ia dengan sukarela membawa batu itu diperlihatkan kepada Mr. Chai, di Hsen Chii international. Sekarang Pak Wayan hanya perlu memakai Ramuan Hsen Chii International untuk menyembuhkan luka diureternya. Setelah menggunakan ra-

muan Hsen Chii International kondisi kaki pak Wayan yang biasanya suka pegal, pinggangnya yang sering nyeri hilang seketika. Kondisi kakinya lebih baik, ia jadi kuat jalan dan berdiri (badan Pak Wayan rada gemuk, berat lebih dari 90 kg). Dengan kondisinya yang sehat sekarang. Pak Wayan bisa berbuat lebih bagi masyarakat disekelilingnya. Sejak kecil Pak Wayan adalah dalang yang diwarisinya secara turun –temurun. Dalam usianya yang setengah abad, ia juga bertugas sebagai mangku, membantu penyelesaian upacara bagi masyarakat yang membutuhkan. Kini Pak Wayan menjalankan semua kegiatannya dengan wajah makin cerah dan berseri. Ia menyadarinya, sehat itu harta sekaligus gaya hidup. —adv/ard

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

bertahun-tahun seumur dengan pemilik tubuhnya. Program detoksifikasi ini berusaha membersihkan, menyeimbangkan, dan memulihkan kondisi tubuh. Racun dikeluarkan dan membantu mengempiskan perut buncit. Racun yang menempel di dinding usus dikuras melalui program ini. Penyakit hipertensi, kolesterol, diabetes, asam urat, obesitas, alergi, asma, migraine, susah tidur, sembelit akan hilang. “Yang pasti banyak orang sudah membuktikan hasilnya yang luar biasa. Racun dan kotoran akan keluar dalam bentuk seperti usus, tapi samasekali tak berbau, lho,” yakin Grace Tangkudung. Namun, terapi senam dan detox saja belum cukup membuat seseorang sehat. Jika ingin langsing sebaiknya diteruskan dengan program SOQI. Program SOQI membuat langsing, kulit juga tambah kinclong. “Tetapi, untuk menjadi langsing tentu tidak bisa instan, ada prosesnya. Ini dilengkapi pula dengan produk SOQI lainnya,” ujarnya. —sam

30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 13

Kini telah hadir minuman kesehatan alami sari alangalang dalam kemasan botol kaca higienis, yang secara ilmiah & turun temurun terbukti mempunyai banyak manfaat & khasiat alami untuk kesehatan: z Meningkatkan stamina z Mengurangi rasa capai, pegal & linu zMeredakan panas dalam & radang tenggorokan z Meredakan demam z Mengaluskan kulit z Mengontrol tekanan darah yang cenderung tinggi zMelancarkan air seni z Membantu mengatasi masalah batu ginjal, batu empedu, keputihan, batuk, mimisan, campak, hepatitis, radang paruparu, asma, penyakit kelamin, gangguan prostat,lemah syahwat, dll.

dingin lebih at nikm

Dibuka untuk keagenan Hubungi: 0361- 3648207

Minuman Sari Alang-Alang tersedia dalam 4 rasa: zNatural (sugar free) z Jahe/ ginger z Nenas / pineapple z Strawberry Minuman Sari Alang-Alang bisa didapatkan di: apotek-apotek,swalayan/ supermarket,restaurant dll.


14

Tokoh

KIPRAH WANITA

30 Januari - 5 Februari 2011

Kiat Sukses Dr. Martha Tilaar Biarkan Hasrat yang Bicara

r. Martha, pendiri Martha Tilaar Group ini mengaku banyak melihat dan belajar di Bali mengenai kearifan lokal. Ia pun mengadopsi konsep Tri Hita Karana (THK) dan filosofi Dewi Saraswati dalam menjalankan bisnisnya. Konsep THK diimplementasikannya dalam berbisnis menggunakan hati. Sedangkan filosofi Dewi Saraswati diterjemahkannya sebagai dewi yang memilliki empat tangan yang bisa bekerja seimbang. “Kita bisa mengubah dunia tapi harus mengubah diri dulu. Saya dulu dari bakul jamu, kini bisa berada di forum dunia, bisa memberi inspirasi dunia. Jika Anda punya semangat, talenta, jangan dipendam/dikaratkan. Pakai talenta itu, dikembangkan, dan jangan cepat puas. Pakai jurus DJITU untuk mencapai sukses,” ujarnya. Namun, apa sebenarnya cita-cita Dr. Martha saat SMA, dan bagaimana cara membagi waktu belajar dan berbisnis hingga bisa sukses seperti sekarang? Pertanyaan itu dilontarkan Devi, siswi SMA Nasional Denpasar. Rupanya, cita-cita Dr. Martha menjadi guru. Ia ingin menjadi guru biar bisa lebih pintar dari guru dan bisa mencerdaskan orang lain karena ia merasa kurang. Namun, ibunya selalu berkata, meskipun IQ-nya jongkok, Martha masih punya tangan, mata, hati, tubuh, sehingga tidak boleh merasa minder. “Kamu pakai mata melihat kiri-

kanan, tangan untuk gerak, kaki untuk lari,” demikian motivasi ibunya. Ia sempat menjadi guru dan menikah dengan guru juga/dosen, Prof. Tilaar. Martha mencoba mencari talenta lain yang ada pada dirinya, dan ia pun berdagang. Sempat juga ia berjualan pakaian dan laris manis. Sebagai guru, ibunya menilai Martha tomboi. Karena itu, ia mengenalkan Martha pada temannya seorang ahli kecantikan. Martha terinspirasi ingin seperti dia, cantik sekali. “Ada inspirasi dan selanjutnya harus bisa membagi waktu,” ujarnya. Untuk membagi waktu ini Martha belajar dari filosofi Dewi Saraswati yang bisa seimbang dengan keempat tangannya. Tasbih/genitri diterjemahkannya sebagai iman yang harus tetap dipegang dalam berbisnis; sitar sebagai komunikasi lancar; daun lontar sebagai edukasi, di mana seorang perempuan harus mengisi dirinya dengan pendidikan; dan bunga teratai yang bisa tumbuh di tempat kotor sekali pun. Dari filosofi itu, Martha mengatakan menjadi perempuan harus seimbang, bisa mengatasi suka dan duka, dan harus pintar memilih mana terpenting, jangan mau semua mau, pintar membagi waktu. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma Singaraja I Komang Wida mengungkapkan kebingungannya menentukan skill/ keahliannya di bidang apa. Ia mengaku tidak terlalu fokus

pada satu bidang tertentu. Saat SMA, jurusan IPA, sekarang kuliah jurusan IPS, latar belakang pendidikan berbeda. Komang Wida juga menyampaikan kenyataan remaja di Bali sekarang merasa malu dan gengsi ketika dihadapkan untuk membuat sebuah usaha yg dibangun dari diri sendiri. “Apa trik menarik yang bisa diteladani generasi muda sehingga bisa mengimprovisasi diri ke depan?” tanyanya. “Latar belakang pendidikan berbeda tak masalah, yang penting sekarang fokus pada satu bidang utama, jangan bermimpi,” ujar Dr. Martha. Mulai dari kecil, lakukan dengan cepat, dobrak, dan hilangkan gengsi. Tiap orang harus ada pada pakemnya sendiri, jangan melihat kiri-kanan, lihat diri sendiri. “Jika fokus mengembangkan sesuatu, pasti bisa sukses,” yakinnya. Putri bungsunya Wulan Tilaar Widarto menambahkan cara paling gampang mendeteksi potensi ada di mana adalah di bidang mana/hal apa yang membuat Anda paling diharapkan, yang paling suka Anda lakukan. “Tidak usah takut bahwa background Anda adalah ekonomi tapi nanti Anda menjadi fashion designer, why not?, yang penting Anda harus jujur pada diri sendiri, apa yang paling diharapkan?” tegasnya. Misalnya, mau jualan keripik singkong, tak usah malu kalau itu bisa membuat Anda menjadi miliuner. Cari tahu cara menggoreng, membumbuinya supaya lain daripada yang lain. “Biarkan hasrat Anda yang bicara. Tapi harus jujur dan tekun dan ulet. Jika mau instan akan jadi Gayus Tambunan semua,” selorohnya. Prof. Tilaar turut urun rembug. Terkait enterpreneurship, pakar pendidikan ini menambahkan Dr. Martha ikut serta dalam program pengembangan enterpreneurship di Indonesia bersama-sama de-

I Komang Wida

AA Rai Suciati

Mila

“DOBRAK..dobrak…dobrak. Kita harus punya keberanian untuk mendobrak sesuatu, harus punya mindset yang benar-benar berbeda. Tinggalkan mindset yang menganggap budaya Barat is the best,” ujar Dr. Martha Tilaar menyemangati generasi muda yang hadir dalam diskusi “Membangkitkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini”, Senin (24/1) di Perdiknas Denpasar.

D

Dr. Martha Tilaar

Prof. H.A.R. Tilaar

Wulan Tilaar

ngan Yayasan Ciputra. Tahun lalu, Yayasan ini bekerja sama dengan Kemendiknas mengirim 20 dosen PTN dan PTS ke Amerika untuk mempelajari enterpreneurship yang akan dikembangkan di Indonesia. Sekarang ini Indonesia hanya memiliki sekitar 0,1% penduduk sebagai enterpreneur. “Singapura 7% penduduknya enterpreneur, karena itu mereka maju. Karena itu, enterpreneur harus dikembangkan,” ujarnya. Sampai sesukses ini, apakah Dr. Martha pernah mengalami kegagalan? Bagaimana mengatasi kegagalan itu? Mila, siswi SMA Nasional Denpasar melontarkan pertanyaan. “Dalam kehidupan selalu ada suka dan duka. Dalam usaha selalu ada kegagalan dan kesuksesan,” ujarnya bijak. Memang berat rasanya jika gagal seperti yang pernah dialaminya. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadi, harus harus terus berjuang, jangan putus asa, tetap tekun dan ulet, kuatkan iman, dan harus sabar dengan terus melakukan perbaikan-perbaikan. “Jika dikritik, jangan marah. Justru direnungkan dan perbaiki. Jangan gengsi-gengsian, justru dobrak saja,” ujarnya. Jurus DJITU dalam mendobrak sesuatu itu diilustrasikan Prof. Tilaar pada kehidupan daerah transmigran di Kabupaten Bolangmondo, Sulawesi Utara, yang pernah dikunjunginya tahun 1960-an. Sebagian transmigrannya adalah masyarakat Bali. Ia melihat hasil orang Bali di sana luar biasa. Ada satu kampung Bali di daerah transmigran

Dumoga yang warganya kayakaya. “Orang Bali di Desa Bali yang betul-betul miniaturnya Bali itu sangat suskses,” ujarnya. Pertama kali mendapat inspirasi dari mana membentuk perusahaan Martha Tilaar ini? Apa motivasinya? “Saya sekolah di Amerika tapi tidak tahu budaya sendiri. Saya janji kepada Tuhan jika bisa lulus, saya akan mengembangkan budaya Indonesia khususnya dalam bidang kecantikan,” ujar Dr. Martha menjawab pertanyaan Ni Kadek Setiawati, siswi SMK Teknologi Nasional Denpasar. Setelah menamatkan kuliahnya di Amerika, Dr. Martha menekuni hanya satu kekayaan alam Indonesia dan untuk mempercantik perempuan Indonesia agar kaum laki-laki senang. Sekarang laki-laki pun memakai produknya. “Ini inspirasi dan motivasi saya,” tegasnya. Jika punya keiginan, pasti bisa. Misalnya, saat ini perusahaanya membutuhkan mesin pengering untuk produk tehnya, cara mengepak, dsb. “Jadi, teknologi sangat penting. Dalam hal ini, semua bisa bekerja sama,” ujarnya. “Jangan kecewa menjadi tamatan sekolah kejuruan,” ujar AA Rai Suciati, Guru SMP Nasional Denpasar memberi semangat. Ia yang tamatan SMKI (dulu Kokar) tahun 1970an itu, justru semua anaknya juga masuk ke sekolah kejuruan, hanya satu orang masuk SMA. Bahkan, semuanya kini menjadi guru juga di sekolah kejuruan. Guru keterampilan dan IPS itu menyampaikan ketertarikannya untuk membangkitkan jiwa

kewirausahaan sejak dini pada anak didiknya. “Produk Dr. Martha cocok diberikan pembelajarannya untuk tingat SMP. Bisakah kami minta modulnya sehingga bisa menuntun anak untuk berwirausaha sejak dini?” tanyanya. Martha Tilaar memiliki produk khusus untuk belia yang tepat untuk remaja SMP yang sedang masa pubertas. Karena pengaruh hormon, biasanya anak pada usia ini mulai keluar jerawat atau sakit saat menstruasi sakit. Produk Martha Tilaar tersedia untuk bayi sampai orangtua, ada jamu luar dan dalam. “Untuk mengatasi masalah ini, nanti kami bisa mengajar ke SMP Ibu,” janji Dr. Martha. “Sebagai pemula, bagaimana kiat merintis usaha? Saya mencoba membuka warnet. Bagaimana menjaga hubungan dengan rekan kerja? Sementara sekarang ini tak sedikit orang Bali rekanan dengan kaum ekspatriat yang hanya ingin menikmati hasil tanpa mau berusaha, memanfaatkan tenaga keras kami untuk mendapatkan sesuatu. Yang ada kami membesarkan dia tanpa bisa membesarkan diri. Bagaimana membangun kekuatan dan jaringan luas hingga kami mampu membesarkan diri? Kami juga berharap Dr. Martha bisa hadir di kampus kami memberikan motivasi?” ujar Ketut Sumayana, mahasiswa STIE Satya Dharma, Singaraja. Sekarang ini justru banyak yang mau memesan produk secara on line. Ini bisa dan harus digerakkan. Memperluas jaringan bisa dengan Iwapi.

Dalam bekerja sama harus secara tertulis di hadapan notaris, jangan sampai dibodohin, dikibulin, dibudakin, harus ada hitam di atas-putih. “Jika ada waktu, saya akan sangat bahagia berbagi cerita dengan generasi muda di Tanah Air. Masak 65 tahun merdeka, masih begini,” ujar Dr, Martha menganggapi undangan untuk hadir di kampus STIE Satya Dharma, Singaraja. Ada Yayasan Martha Tilaar yang konsepnya nonprofit. “Kami berharap yayasan ini bisa membantu pemerintah khususnya SMK kami dan SMK lain di Denpasar dan Bali, juga untuk membantu yang kurang mampu,” ujar Kepala SMK Teknologi Nasional Made Mudarta, S.E. Ini dijelaskannya agar mereka ada tempat berpijak untuk membuka mindset mereka sebagai karakter enterpreneur, menumbuhkan jiwa enterpreneur dalam diri mereka. “Ke depanya, kami juga saya berharap Yayasan Martha Tilaar bisa menerima anak magang dari SMK kami agar bisa menggabungkan antara teknologi dengan kebudayaan lokal,” harapnya. Yayasan Martha Tilaar dijelaskan Dr. Martha sudah menjalin kerja sama dengan SMK yang ada jurusan kecantikan/tata rias. Mungkin di SMK yang juga siswanya banyak kaum perempuan ini bisa diadakan beauty class supaya lebih percaya diri. Ketrampilan adalah jalan menuju kesuksesan. “Yayasan ini bisa di bidang kecantikan. Mungkin kerja sama apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi,” ujar Dr. Martha. –ten

Devi

Ni Kadek Setiawati

Made Mudarta, S.E.

Ketut Sumayana

Partai Demokrat Jaring Pengurus

Minimal 30% Perempuan SAAT ini Partai Demokrat Bali sedang melakukan penjaringan pengurus DPD Partai Demokrat periode 2011-2015. Sebagai partai modern partai ini selalu membuat mekanisme yang terbuka dengan sistem fit and propper test, kemudian ada kontrak kerja dan semua harus menandatangani pakta integritas. Demikian diungkapkan Made Mudarta yang terpilih menjadi ketua DPD Partai Demokrat Bali belum lama ini

ketika menerima para aktivis perempuan di Bali, Selasa (25/ 1) di sekretariat partainya. Silaturahmi tersebut dimotori LSM Bali Sruti, dengan mengajak mitra kerjanya di antaranya KPPI, Forum Mitra Kasih, dan LBH APIK. Ketua Bali Sruti Riniti Rahayu menyambut baik keinginan Partai Demokrat untuk memilih orang-orang muda dalam kepengurusannya. “Kami juga berkeinginan agar perempuan masuk dalam ke-

pengurusan parpol. Hal itu agar tidak ada kesan partai politik hanya merekrut perempuan beberapa saat menjelang proses pencalegan dalam pemilu. Itu kurang baik karena perempuan menjadi kurang siap karena belum memiliki banyak pengetahuan maupun pengalaman untuk terjun ke politik, karena belum pernah menjadi pengurus parpol,” ujarnya. Ia mengungkapkan, sampai saat ini keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif masih

Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta didampingi Nyoman Agung Sariawan saat menerima aktivis perempuan Bali. Tampak Luh Riniti Rahayu dan Nyoman Masni

terlalu rendah. Hanya 28 orang di seluruh lembaga legistatif di Bali atau kurang dari 7,5%. Akibatnya, meskipun mereka berkualitas, aspirasi mereka jarang berhasil terpenuhi. Kenyataan ini pun masih jauh dari amanah undang-undang yang mendorong keterwakilan perempuan hingga 30%. “Namun, kami realistis saja, dalam pemilu 2014 keterwakilan perempuan bisa naik sampai 10%,” tambahnya. Riniti menyatakan keyakinannya, sebagai partai besar, Partai Demokrat bisa memahami aspirasi perempuan. Bukan hanya di tingkat provinsi, ke depannya juga ada porsi yang seimbang sampai di tingkat kecamatan dan desa. Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Nyoman Masni menjelaskan, aktivis perempuan yang hadir dalam pertemuan ini merupakan tokoh-tokoh organisasi independen. “Misi kami adalah mendorong meningkatnya partisipasi perempuan dalam kegiatan politik. Karena itu dalam pembentukan pengurus, Partai Demokrat bisa membuka

Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta bersama aktivis perempuan Bali

pintu selebar-lebarnya sehingga perempuan bisa masuk dalam struktur di segala lini. Tentu, hal itu tidak mengabaikan kualitasnya. Kami akan membantu mendorong kaum perempuan untuk berkiprah, bahkan juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitasnya,” papar Nyoman Masni. Menanggapi keinginankeinginan tersebut, Made Mudarta menegaskan, Partai Demokrat juga partainya kaum perempuan, “Empat perempuan yang duduk di DPRD Bali sekarang ini dua di antaranya dari Partai Demokrat. Kami juga akan terus berusaha agar di DPRD Kabupaten/Kota makin banyak perempuan dari partai kami yang duduk di DPRD,”

ujar Mudarta. Ia menyatakan, telah ada komitmen di partainya, dalam kepengurusan di DPD Partai Demokrat Bali, dari 111 personal paling tidak 33 perempuan atau minimal 30% . Made Mudarta menambahkan, perempaun berhak menduduki posisi mana pun. Hal itu disesuaikan juga dengan tugas dan fungsinya. Misalnya, untuk tanggap darurat yang perlu gerak cepat, ya prioritasnya laki-laki, kecuali kalau ada perempaun yang bersedia. Menanggapi harapan para aktivis perempuan yang hadir dalam pertemuan tersebut misalnya tentang jam rapat pengurus malam hari yang kurang tepat bagi perempuan,

Mudarta menyatakan aturannya sudah ada, rapat diupayakan mulai pukul 14.00 dan tidak boleh berlama-lama kalau agendanya memang sudah diselesaikan. “Partai kami punya lembaga Perempuan Demokrat yang merupakan jejaring nasional untuk kaderisasi di kalangan perempuan. Peningkatan caleg perempuan akan kami programkan, termasuk memperhatikan soal nomor urut yang sering jadi masalah,” ujarnya. Ia mengungkapkan, partainya jauh-jauh hari akan meyiapkan caleg. Pertengahan tahun 2012 sudah mulai ada seleksi. Dalam pemilu 2014 pemilih pemula diperkirakan akan mencapai 40% sehingga perlu strategi baru. –ttk.


TRENDI

30 Januari - 5 Februari 2011 Tokoh 15

Pilih Pakaian Dalam yang Sesuai

Perhatikan Kenyamanan dan Kesehatan Penampilan luar tidak akan terlihat maksimal jika tidak ditunjang pakaian dalam (lingerie) yang tepat. Karenanya, perempuan wajib memiliki beberapa jenis pakaian dalam demi membuat tubuh serta penampilan terlihat lebih indah dan menarik.

M

enurut desainer dan pengamat mode A.A. Ayu Maha Kemala, pakaian dalam tidak lepas dari perkembangan mode atau fashion pada umumnya. Tiap tahun pakaian dalam memiliki tren tersendiri. Seperti tren underwear 2011 terbaru dari perancang luar negeri Armani yang diperkenalkan oleh artis cantik Hollywood Megan Fox dan petenis tampan Rafael Nadal. Gung Mas, sapaan akrab Ayu Maha Kemala mengatakan pakaian dalam menjadi bagian paling spesial dari yang dikenakan perempuan. “Sudah menjadi bagian dari industri mode termasuk di negara kita ,” ungkapnya. Ia mengatakan sangat menarik menentukan pilihan pakaian dalam yang bakal dipakai dengan bermacam-macam warna dan model yang tersedia. Terlebih lagi, menurutnya pakaian dalam yang dikenakan sangat membantu penampilan seseorang. Malah ada beberapa orang mengatakan jika pakaian dalam dapat pula menunjukkan perasaan seseorang. Jika bicara warna, hitam, putih, dan nude tetap ada sebab merupakan warna yang tidak terlalu terpengaruh tren. Saat ini menurut beberapa pakar warnawarna menawan seperti merah, safir, pink, biru kehijauan, dan kuning akan makin banyak ditemui. Lebih lanjut desainer muda ini mengemukakan walau dikenakannya di balik pakaian luar, tidak berarti seseorang tak bisa mengenakan pakaian dalam dengan motif beragam. Tidak hanya yang satu warna, juga ada aksen geometris, aksen metal, termasuk motif kulit binatang, renda, ikat, dan sebagainya. “Seperti aksen pada

busana umumnya,” kata Gung Mas yang punya banyak pelanggan artis ini. Ia juga berpendapat untuk kebutuhan pakaian dalam ini, perempuan tidak semata terpaku pada tren tapi kepada manfaat penggunaannya. Perempuan minimal perlu dua jenis, untuk dikenakan seharihari. Belum lagi jika busananya lebih spesifik, jenis pakaian dalam yang dipakai juga lebih khusus. “Dalam memilih dan mengenakannya, tidak bisa sembarangan sebab selain kenyamanan, soal kesehatan pun tak dapat diabaikan,” tandasnya. Secara umum pakaian dalam yang sebaiknya dimiliki yakni, mulai dari celana dalam hipster ketika ingin memakai jeans potongan low rise’ atau di pinggul. Celana dalam ini paling cocok, agar saat duduk, tidak terlihat. Ada juga celana pembentuk perut (pooch shaper), bentuknya seperti celana dalam, tetapi ketat. Celana ini dipakai setelah celana dalam utama untuk menahan perut agar terlihat lebih rata. “Biasanya banyak dikenakan saat perempuan Bali mengenakan pakaian adat. Selain itu dapat juga mengenakan korset agar lekuh tubuh menjadi lebih seksi,” katanya

Gung Mas

keringat. “Mengenai dilengkapi kawat atau tidak, tergantung selera,” ucapnya. Bagi perempuan penyuka gaya klasik dan feminin, agar terlihat tampil natural saat menggunakan padded bra, pilih ukuran cup sesuai bentuk dan ukuran tubuh, supaya payudara terangkat sesuai porsinya dan tidak terkesan tumpah. Jika mengenakan busana ketat, pilih seamless bra dengan motif sesuai selera, misalnya dengan animal print atau floral. Hindari bra dengan embelishmfnya sesuient yang memberi efek berbayang pada pakaian,” tuturnya. Ibu muda ini juga mengatakan perempuan perlu punya bra dengan tali yang letaknya dapat diubah-ubah agar dapat dikenakan dengan beragam atasan. “Saat ini sangat banyak pakaian dalam, baik celana dalam maupun bra merek berkualitas yang bisa dipilih, disesuaikan dengan budget yang ada,” ujarnya. —ard

Tips Periksa Payudara Sendiri Mendeteksi kanker payudara stadium dini sangat mudah, dan bisa dilakukan sendiri di rumah. Pemeriksaan lengkap payudara sendiri dibagi atas beberapa tahap: 1. Melihat Tanggalkan seluruh pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang. Perhatikan payudara Anda: Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris? Apakah bentuknya membesar/mengeras? Apakah arah putingnya lurus ke depan atau berubah arah? Apakah putingnya tertarik ke dalam? Apakah puting/kulitnya ada yang lecet? Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman? Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)? Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan/cekungan? Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas. Setelah selesai, ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, kedua siku ditarik ke belakang. 2. Memijat Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting, untuk untuk mengetahui ada tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui). 3. Meraba Berbaringlah di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu. Periksa payudara kiri, letakkan sebuah bantal tipis di bawah bahu kiri, sedang lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala. Gunakan ketiga jari tengah tangan kanan yang saling

seraya menambahkan korset juga dikenakan saat merasa perutnya buncit. “Celana dalam warna kulit perlu juga dimiliki untuk digunakan dengan busana yang agak transparan,” ucap Gung Mas. “Bagi penghobi olahraga, dapat memilih celana dalam boy-cut hipster yang dipadukan bersama kaos atau tank top. Remaja yang suka rok mini, bisa mengenakan celana dalam seamless agar tak berbayang juga,” lanjut penghobi traveling ini. Berikutnya push-up bra, tepat digunakan dengan kaus atau kemeja ketat. Sebab, bisa mengangkat payudar jadi lebih “Harus kami apakan bangkai anjing besar ini, Pak?” tanya si indah. Miliki juga bra berbahan katun untuk payudara lebih AB memecah lamunan TBDTBS (Teman Baik dari Teman Baik terasa nyaman dan menyerap Saya) pagi itu. “Oke mari kita angkat saja dia dulu ke agak pinggiran jalan, minimal agar tidak menghalangi kalau ada mobil atau kendaraan yang ingin lewat di sini,” ajak TBDTBS itu sambil membungkuk “Bagi penghobi olahraga, dapat memegang kaki bangkai anjing itu. memilih celana dalam boy-cut Lalu dengan bantuan AB-nya, bangkai anjing tersebut pun mereka letakkan di pinggir jalan itu (di bawah pohon rindang), hipster yang dipadukan bersama tetapi masih tetap di bagian depan rumah TBDTBS, bukan di depan rumah tetangga yang pintunya tampak masih tertutup kaos atau tank top. Remaja yang rapat. suka rok mini, bisa mengenakan “Lalu apakah saya tutupi dengan karung atau apa, Pak?” tanya si AB. celana dalam seamless agar tak “Oh, jangan! Justru jangan ditutupi, siapa tahu nanti si pemilik atau anak buah si pemilik anjing atau petugas kebersihan kota berbayang juga” lewat sini kan mereka masih bisa melihatnya...” ujar TBDTBS. Ternyata sampai sore, sekitar pukul 17.00, tak satu pun orang yang peduli, atau apalagi mengambil bangkai anjing yang tergeletak secara terbuka di depan rumah TBDTBS. “Bagaimana, Pak, kita apakan anjing ini, Pak?” tanya si AB. “Oke, karena sudah cukup lama, dan sebentar lagi sudah magrib, ternyata memang sama sekali tidak ada orang yang Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar mengambil maupun menanyakannya, marilah kita kuburkan dia masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para di kebun belakang kita,” ajak TBDTBS itu. pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, Lalu sore itu juga, dibantu beberapa AB (anak buah) silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung TBDTBS itu, setelah tanah digali sedalam lebih kurang 1,5 di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik. meter, bangkai anjing yang bagus dan mulus itu pun dikubur secara baik dan benar, bahkan juga hikmat. Saat penguburan itu, TBDTBS menjelaskan, lima alasan penyebab TBDTBS mau mengubur bangkai anjing milik orang lain itu di kebunnya sendiri. Penjelasannya waktu itu, antara lain: Pertama, karena kebunnya luas. Kedua, karena masih mampu dan sempat

dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil), mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu. Sesudah itu geser posisi jari sedikit ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting susu. Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Untuk memudahkan gerakan, Anda boleh menggunakan lotion atau sabun sebagai pelicin. Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar semakin lebar ke arah tepi payudara; atau secara vertikal ke atas dan kebawah mulai dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Yang penting, seluruh area payudara harus tuntas teraba, tak ada yang terlewatkan. Perlu diperhatikan bahwa masing-masing gerakan memutar harus dilakukan dengan kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan. Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada/iga. Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi bantal dan lengan, lakukan pemeriksaan pada payudara kanan.Kemudian ulangi perabaan seperti poin 3, tetapi dalam posisi berdiri. Untuk memudahkan, bisa dilakukan sambil mandi, saat membalur tubuh dengan sabun. 4. Meraba Ketiak Setelah itu raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan. sumber: http://rumahkanker.com/

Mengubur Bangkai Anjing Orang Lain 2

Konsultasi Kecantikan

Cara Pakai Blush On

melakukannya. Ketiga, karena kalau bukan mereka yang menemukan bangkai anjing itu, siapa lagi yang harus melakukannya? Walaupun waktu salah satu AB-nya sempat sambil bergurai mengatakan, “Kita, kan bisa saja buang bangkai anjing gemuk ini ke depan salah satu rumah kosong atau ke salah satu tanah kosong yang ada di kampung tetangga, Pak!” “Tidak! Itu tidak boleh! Karena, kalau hal itu kita lakukan tentu saja akan bisa menjadi mata rantai lingkaran setan yang bisa saja malah yang menimbulkan masalah maupun kerugian bagi banyak pihak. Janganlah lakukan hal yang kita sendiri tidak suka hal serupa dilakukan orang lain terhadap kita!” jawab TBDTBS bijak. Ada pula alasan keempat. “Kalau saya sebagai kepala keluarga, pimpinan maupun panutan di dalam rumah atau keluarga ini berpikir negatif dan bersikap tidak peduli pada suatu kejadian yang terjadi di depan rumah kita, lalu siapa yang akan kalian percaya atau jadikan panutan dalam kehidupan di dunia yang indah dan sudah selayaknyalah kita pelihara agar minimal bisa tetap indah maupun optimal bisa menjadi lebih indah ini?” jelas TBDTBS lantang dan filosofis tentang alasan keempat yang dimaksudnya tadi. Alasan kelimanya ditambahkan TBDTBS itu. “Karena mengubur bangkai anjing yang bukan milik kita ini sebenarnya memang bukan merupakan bagian atau tugas kita, tapi bagaimana lagi, kalau setelah kita biarkan tergeletak lebih dari setengah hari di tempat yang seharusnya sangat mudah terlihat oleh banyak orang atau terutama oleh si pemilik atau anak buah si pemilik mantan anjing ini atau petugas kebersihan kota yang bertugas siang dan sore pun, ternyata tetap saja tidak ada yang mengurusnya, berarti inilah kesempatan atau keberuntungan bagi kita untuk melakukannya!” jelas TBDTBS sambil tersenyum di depan beberapa AB-nya.

Yth. Ibu Agung Saya siswi usia 18 tahun, senang make-up. Yang ingin saya tanyakan mengenai pemasangan blush on yang tepat. Serta mohon ditampilkan contoh busana payas agung Badung. Ari, Padangsambian Yth. Adik Ari Berikut ini beberapa langkah yang dapat Adik lakukan dalam memasang blush on, Tersenyum di depan kaca untuk mendapatkan apple check dalam personal makeup . Blush on akan membuat wajah terlihat segar. Warna blush on harus senatural mungkin. Semakin terang warna kulit kita, maka pilih warna blush on yang terang seperti pink muda. Untuk kulit cenderung gelap, pilih warna pink gelap atau kecokelatan. Untuk mendapatkan hasil yang senatural mungkin, pilih juga blush on bentuk bubuk dan sapukan dengan kuas. Berikut ini contoh busana payas agung Badung. Selamat mencoba.

Guru Yoga Termuda, Usia 6 Tahun Luar biasa!! Itulah kata yang tepat ditujukan kepada Shruti Pandey, bocah enam tahun asal Uttar Pradesh, India. Di usianya yang masih muda ia sudah menjadi guru yoga. Padahal mempelajari yoga bukan hal yang mudah, diperlukan konsentrasi tinggi dan kemampuan menyatukan tubuh, pikiran, dan jiwa. Karenanya perlu waktu dan ketekunan untuk bisa menguasainya. Tetapi, Shruti Pandey, mampu melakukannya dengan baik. Bahkan ia diangkat sebagai guru yang mengajarkan ilmu yoga kepada murid-muridnya yang semuanya telah usia dewasa. Ia sudah dua tahun menjadi guru yoga di sebuah ashram (retret yoga), di Brahmachand Swami Saraswati Kaivalya Dham Ashram di Allahabad, Uttar Pradesh. Tak heran kalau kemudian dia dinobatkan menjadi guru yoga termuda di dunia. Melihat usia dan fisiknya sepertinya tak mungkin. Tetapi, itulah yang terjadi. Bocah ini sungguh istimewa. Dia tidak memerlukan waktu lama untuk menguasai ilmu yoga. “Dia cepat belajar, juga seorang yang menyukai kesempurnaan. Secara fisik dia memang terlihat

Shruti Pandey

masih bocah. Namun, ketika ia beraksi, orang lupa kalau dia masih bocah. Ia menangkap teknik-teknik yang diajarkan dengan mudah dan cepat, tidak seperti anak-anak seusianya yang mudah bosan terhadap sesuatu. Ya, dia telah menguasai kesabaran yoga,” tutur Hari Chetan, pelatih Shruti Pandey. Menurut Hari, anak didiknya ini hanya memerlukan waktu enam bulan untuk menguasai ilmu yoga hingga bagian-bagian yang tersulit. ”Dalam waktu hanya enam bulan pelatihan, ia mengejutkan semua orang dengan kemampuannya melakukan posisi paling sulit dengan mudah dan sempurna,” ujar pelatih yang membangunn beberapa ashram untuk yoga sejak

35 tahun lalu. Sejauh ini berdasarkan data yang ada, Guinness World of Record belum mencantumkan peyoga termuda di dunia. Guinness hanya mencatat rekor di antaranya, guru yoga tertua, juga kelas yoga terbesar. Dalam catatan Guinness World of Record guru yoga tertua adalah, Bette Claman, berusia 83. Hingga kini Better Claman masih menjadi guru dalam sebuah kelas yoga di Williamstown Yoga Centre, Williamstown, Victoria, Australia. Sruti mulai mengajar jam 5.30 dengan jumlah murid sekitar 30 orang dewasa. Dalam mengajar ia kerap menggunakan legging putih dan t-shirt. Karena ‘ke unikan’ itu, Sruti menjadi ter-

kenal dan kelas yoganya menjadi ‘laris manis’. Muridnya dari berbagai kalangan diantaranya: pengusaha, guru, ibu rumah tangga, dan pensiunan. “Rasanya semua akan berjalan baik jika orang mengikuti apa yang saya instruksikan. Saya merasa seperti menjadi guru sungguhan,” kata Sruti yang awal ketertarikannya pada yoga setelah melihat saudara laki-lakinya melakukan yoga. Kakak Sruti, Harsh Kumar, telah lebih dulu menerima penghargaan atas prestasinya menguasai 84 posisi yoga. Prestasi ini kemudian dicatat dalam Limca Book of Records. Meski demikian, tidak seperti adiknya Sruti, Harsh Kumar tidak pernah menjadi guru yoga seperti adiknya. Shruti telah menguasai beberapa posisi yoga yang paling sulit. Dia bisa menahan seluruh tubuhnya pada kekuatan lengan kecilnya dan menggantung kakinya tepat di atas kepalanya ke belakang. Muridmuridnya kagum pada kemampuan Sruti dalam mengajar. Banyak dari mereka mengaku mengalami perubahan sikap dalam mengatasi masalah kehidupan, setelah mengikuti kelas Sruti. —dia


16

Tokoh

30 Januari - 5 Februari 2011

LEMBAGA PERKREDITAN DESA

Konstruksi LPD harus Diperjelas Suasana diskusi komprehensif terbatas mengupas topik “Memperkuat Mutu Manajemen Lembaga Perkreditan Desa untuk Memberdayakan Ekonomi Desa Pakraman” yang diselenggarakan Koran Tokoh dan Undiknas University serta didukung Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Bali, Selasa (18/1)

Krisis Roh LPD Dalam RUU LKM

GONJANG-GANJING masalah LPD mencuat lagi. Ihwalnya bermula dari masuknya naskah akademik RUU Lembaga Keuangan Mikro ke DPR. Isi naskah ini konon menyerempet ke wilayah lembaga perkreditan desa alias LPD. Kata perkreditan yang melekat dalam LPD disinyalir akan menjerat LPD masuk dalam ketentuan produk perundang-undangan itu kelak jika disahkan wakil rakyat. Keberadaan LPD mau tidak mau akan disamakan dengan lembaga perbankan.

Prof. Raka Suardhana, M.M.

M.S. Chandra Jaya, M.M.

osisi LPD harus dipertegas di te ngah wacana penggodokan RUU tersebut. “LPD jelas berbeda dengan bank. LPD ya LPD, bank ya bank,” ujar pengamat ekonomi Bali Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardhana, S.E., M.M. Menurutnya, RUU LKM menggariskan keuangan mikro sebagai kegiatan sektor keuangan berupa penghimpunan dana dan pemberian pinjaman dan pembiayaan dalam skala mikro dengan suatu prosedur yang sederhana kepada masyarakat miskin dan/atau berpenghasilan rendah. LKM ini menyediakan jasa keuangan mikro bukan bank yang tidak semata-mata mencari keuntungan. Ada tiga bentuk LKM. LKM formal, seperti bank

perkreditan rakyat (BPR) berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 1998 dan koperasi sesuai UU Nomor 25 Tahun 1992. Ada pula LKM berbentuk semiformal, seperti LPD di Bali, Lumbung Pitih Nagari (LPN) di Sumatera Barat, badan kredit kecamatan (BKK) di Jawa Tengah, kredit untuk rakyat kecil (KURK) di Jawa Timur, dan Lumbung Kredit Perdesaan (LKP) di NTB. LKM yang berbentuk nonformal lahir berdasarkan inisiatif masyarakat, ditumbuhkan LSM atau beberapa dinas pemerintah. LKM ini disebut sebagai kelompok swadaya masyarakat (KSM), seperti kelompok simpan pinjam (KSP), kelompok usaha bersama (KUB), kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS).

P

Godok Perda Baru LPD

Prof. Budiana, S.H.

Raka

REGULASI LPD dinilai tidak hanya bermasalah terkait RUU Lembaga Keuangan Mikro. Pengaturan LPD melalui peraturan daerah juga melemahkan posisi hukum lembaga keuangan mikro nonbank ini. “Makanya, muncul usulan revisi Perda tentang LPD dan Perda tentang Desa Pakraman. Tetapi, saya malah berpandangan ekstrem. Kedua perda ini bukan hanya direvisi, tetapi dihapus saja. Masyarakat

Bali harus fokuskan memperjuangkan draf RUU Perlindungan Masyarakat Adat. RUU ini kan perintah konstitusi,” ujar pakar hukum adat Bali Prof. Dr. Nyoman Budiana, S.H., M.Si. Dekan FH Undiknas University ini menilai, dasar hukum LPD dan desa pakraman seharusnya jangan hanya berbentuk perda. “Harus ada UU Perlindungan Masyarakat Adat untuk memayungi posisi hukum dua lembaga adat ini.

Menurut Prof. Raka, LKM di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan NTB kemudian mengalami perubahan status menjadi BPR. “Tetapi, LPD di Bali tetap dipertahankan menjadi LKM semiformal. Operasional LPD layaknya perbankan, tetapi supervisinya di bawah BPD Bali,” kata Dekan FE dan Bisnis Undiknas University ini. Upaya mendongkrak LPD di Bali menjadi BPR bukan tak pernah mencuat ke permukaan. Dorongannya sempat berdenyut tahun 1987 saat penggagas LPD, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, masih menjabat gubernur Bali. “Dalam sebuah diskusi tentang LPD di Sanur tahun 1987, Bank Indonesia mendorong agar LPD diubah menjadi BPR. Tetapi, Prof. Mantra tetap bersikukuh menolaknya,” ujar pengamat ekonomi Universitas Dwijendra M.S. Chandra Jaya. Munculnya wacana RUU LKM dinilai mengusik lagi status LPD sebagai LKM nonbank. Padahal, ketentuan Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 yang diubah dengan Perda Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang LPD menekankan kepemilikan LPD di tangan desa pakraman. Ini tercantum dalam Pasal 1 Ayat 9 yang berbunyi, LPD sebagai lembaga keuangan milik desa yang bertempat di desa. “Desa yang dimaksud di sini, adalah desa pakraman, bukan desa dinas seperti umumnya dikenal,” tandas Prof. Raka. LKM nonformal seperti LPD memang hendak dipayungi draf RUU LKM 2010 sebagai milik desa. Ini sesuai ketentuan Pasal 8 yang menentukan, LKM hanya dapat dimiliki WNI; masyarakat desa atau pemerintah desa/kelurahan; tiap orang hanya memunyai kepemilikan satu LKM. “Tetapi, masyarakat desa atau pemerintahan desa atau kelurahan dalam ketentuan ini kan tidak sama dengan makna desa pakraman di Bali. Desa yang dimaksud RUU ini bisa ditafsirkan desa dinas, bukan desa adat. Tafsir begini kan bisa saja suatu waktu mengusik status LPD untuk diseret-seret sama dengan LKM bank,” ujar Ketua Program Studi Magister Manajemen Undiknas University ini. RUU LKM itu juga bisa memicu masalah lain jika kelak diberlakukan sebagai UU. Posisi LPD akan menguat sebagai

lembaga objek pajak. Ini disebabkan kelembagaan LPD disamakan dengan lembaga perbankan. “Ketentuan perusahaan umum akan dikenakan juga kepada LPD. Kegiatan LPD bisa dipungut pajak jika masuk ketentuan itu. Padahal, LPD jelas memiliki roh yang tidak ada di lembaga perbankan atau perusahaan umum lainnya,” jelasnya. Lagi pula, Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 lugas menggariskan praktik nyata kegiatan LPD dominan untuk memberdayakan krama desa maupun desa pakraman. Ini tertuang dalam Pasal 22 yang menggariskan, pembagian keuntungan bersih LPD pada akhir tahun pembukuan. Pembagiannya ditetapkan untuk cadangan modal (60%), dana pembangunan desa (20%), jasa produksi (10%); dana pembinaan, pengawasan, dan perlindungan (5%); dana sosial (5%). LPD pun tidak bisa disamakan kegiatan LKM bank dicermati dari sisi lapangan usahanya. Ketentuan Pasal 7 Ayat 1 Perda Bali Nomor 3 Tahun 2007 menekankan, LPD menerima/menghimpun dana dari krama (warga) desa dalam bentuk tabungan dan deposito; memberikan pinjaman hanya kepada krama desa; menerima pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan maksimum 100% dari jumlah modal, termasuk cadangan dan laba ditahan, kecuali batasan lain dalam jumlah pinjaman atau dukungan/ bantuan dana; menyimpan kelebihan likuiditasnya pada BPD dengan imbalan bunga bersaing dan pelayanan yang memadai. Ada konsekuensi serius jika LPD terjerat ketentuan RUU LKM manakala kelak menjadi UU. LPD akan mengalami krisis roh dalam ketentuan hukum nasional tersebut. “Jika LPD dipaksakan masuk ketentuan RUU itu jelas tidak klop. RUU ini belum sanggup memayungi roh LPD,” ujarnya. —sam

tradisional Bali. Asalnya kan POSISI Dr. I Gde Made dari zaman Syailendra di Jawa Sadguna, S.E., M.B.A. Tengah. Awalnya artefak ini tergolong strategis di Bank sangat sederhana, tetapi Indonesia Denpasar. Jabatan rohnya sama. Dalam perdeputi pemimpin cabang jalanan sejarah, artefak ini diemban putra kelahiran mengalami sofistikasi di Jawa Tabanan tersebut. Tetapi, Timur. Saat masuk ke Bali, mantan kepala PPATK ini artefak tadi makin diternyata memahami kesempurnakan, jauh lebih gelisahan batin krama Bali sederhana lagi. Namun, saat LPD diseret-seret ke jiwanya tetap sama dengan wilayah RUU Lembaga Keartefak asalnya,” paparnya. uangan Mikro. Awalnya LPD pun begitu. Pria kelahiran 12 Februari LPD digagas kelahirannya 1957 ini menilai RUU untuk memenuhi kebutuhan Lembaga Keuangan Mikro ekonomi sosial, budaya, dan (LKM) yang sudah di tangan religius spiritual masyarakat. wakil rakyat memang masih Format aktivitasnya terbatas menyisakan masalah bagi dan sangat sederhana. Aspek krama desa pakraman di ekonomi LPD yang menonjol. Bali. “Naskah akademik RUU tersebut masih melihat LPD Dr. I Gde Made Sadguna, M.B.A. “Tetapi, karakter dasar dan jiwa LPD tetap berakar pada khususnya dari sisi raganya. spiritual religius Hindu, Raga LPD hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan sosial semata,” kultural, dan sosial masyarakat Bali,” jelasnya. ujar alumnus FE UGM Yogyakarta ini. Penguatan visi dan misi LPD amat Padahal, menurutnya, LPD juga mencakup penting. Menurutnya, visi dan misi ini harus karakter kultural yang berakar dari budaya Bali. mencerminkan 4 pilar tadi, yaitu spiritual “Roh LPD bersumber dari ajaran spiritual religius, kultural, ekonomi, dan sosial. Inilah filosofi dasar LPD. Lembaga ini bukan hanya religius Hindu,” katanya. Regulasi dan supervisi LPD otomatis lembaga perkreditan, tidak hanya melayani harus bersentuhan dengan jiwa atau roh spiri- kebutuhan ekonomi, juga melayani kegiatan tual religius Hindu dan karakter kultural ritual pura, upacara adat, dan lain-lain. “Kita harus memperjelas konstruksi LPD. masyarakat Bali. “Regulasi dan supervisi LPD menjadi krusial ketika lembaga ini hanya dilihat Ini penting menjadi pegangan saat berinteraksi dengan lembaga legislatif dari badan atau raganya,” katanya. Bank Indonesia di Bali sudah berjuang nasional. Mereka bisa memahami posisi dan untuk meletakkan posisi LPD dalam kerangka kepentingan masyarakat Bali. Dengan begitu, spiritual religius, kultural, maupun ekonomi ada perlakuan semestinya kepada sumber dan sosial. Salah satu langkah nyata dilakoni daya kita, termasuk LPD,” harapnya. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah Sadguna ke kalangan pemikir budaya dan Hindu di Unhi serta IHDN Denpasar.Tetapi, di Bali harus memperkuat dan memperdalam menurutnya, konteks perbincangan tidak kajian akademik LPD. “Apa yang dibuat temanteman di Jakarta perlu disuplai dari kita di Bali. hanya mencakup persoalan LPD. “Saya sudah bertemu beberapa tokoh Hasil kajian di Jakarta masih melihat badan Unhi dan IHDN. Saya menyampaikan masukan LPD, kita beri gambaran memadai dari sisi mendasar kepada otoritas akademik Hindu ini. kepentingan Bali,” ujarnya. Sisi krusial hukum LPD harus dikaji lebih Saya melihat dalam arti luas, ada kecenderungan implementasi ajaran Hindu di lanjut. Ini menyangkut regulatory dan superBali cenderung menekankan level individual. visory framework atau pengaturan dan Kajian sistem atau institusional ajaran Hindu pengawasannya. “Sebagai lembaga masih kurang,” ujarnya. intermediasi tentu LPD harus ada yang Kajian akademik LPD khususnya harus mengatur dan mengawasi. Kita harus masuk dalam kerangka institusional yang mempertegas siapa yang mengatur, siapa yang bernapaskan ajaran Hindu. Roh dan mengawasi, bagaimana cara mengatur dan karakternya akan tetap menghunjam ketika mengawasinya. Juga, bagaimana governance. masuk dalam level kelembagaan. Di sini, LPD Artinya, siapa yang mengelola, bagaimana tidak hanya bersentuhan dengan sejarah persyaratannya, profesionalitasnya seperti panjang evolusinya yang tumbuh dari bawah. apa, dan sebagainya,” paparnya. “Urusan manajemen LPD harus diimbangi Kajian akademik juga harus menyentuh pendekatan top down juga. Ini tidak bisa tidak titik krusial lain di wilayah status dan jika LPD akhirnya harus berinteraksi dengan kedudukan LPD. Cakupan wilayah operasional aturan hukum formal,” katanya. dan scope of business LPD harus dipertegas. Langkah Bank Indonesia tidak berhenti di “Ini antara lain hal-hal krusial dalam aspek tataran lingkungan otoritas akademik Hindu. hukum dan regulasi yang perlu dikaji secara “Saat rapat di Pemprov Bali, saya lebih jelas. Jangan menyamakan LPD dengan mengusulkan agar artefak kultural LPD harus lembaga keuangan mirko di daerah lain,” disempurnakan. Ini ibarat pintu gerbang harapnya. —sam

Ajak Berunding Wakil Bali di Pusat

Untuk Perjuangkan Nasib LPD

Pemprov. Bali sedang Rancang Tim Khusus Perda sebagai turunannya nanti kan tidak akan diombangambingkan RUU LKM, UU Perbankan, atau UU sejenis ini. Payung LPD bisa nyantol di UU Perlindungan Masyarakat Adat jika kelak digoalkan wakil rakyat,” kata Bendesa Desa Pakraman Panjer ini. Namun, draf RUU Perlindungan Masyarakat Adat belum ‘bunyi’ di DPR. “Makanya, langkah sementara yang dapat dilakukan merevisi kedua perda tersebut menjadi satu perda baru. Perda baru harus menjadikan LPD berada dalam satu payung hukum dengan desa pakraman,” harapnya. Langkah revisi kedua perda tersebut sudah dirintis Pemerintah Provinsi Bali. Biro ekonomi dan pembangunan sekretariat daerah telah menyiapkan langkah awalnya. “Kami baru menyiapkan tim khusus revisi kedua perda tersebut. Saat ini pemerintah sedang menginventarisir nama-nama anggota tim khusus tersebut,” ujar staf Biro Ekbang Setda Pemprov Bali Raka. —ten, ast

Kusuma Wijaya

Bagus Adhi Mahaputra

Dr. Widhisthini, M.Si.

Dr. Nyoman Subanda, M.Si.

TARIK ulur pendapat mencuat di balik wacana penggodokan RUU Lembaga Keuangan Mikro di DPR. Sejumlah komponen mendesak perubahan nama LPD. Kalangan lain ngotot mempertahankan nama asli lembaga keuangan desa pakraman itu. Pemerintah Provinsi Bali mengusulkan kata ‘perkreditan’ dalam lembaga perkreditan rakyat diganti dengan ‘perekonomian’. Usulan ini ditambah kata ‘adat’ atau ‘pakraman’. Usulan lengkapnya menjadi lembaga perekonomian desa adat atau lembaga perekonomian desa pakraman. Jika disingkat menjadi LPDA atau LPDP. Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali menganjurkan nama lembaga ini sebagai labda pacingkreman desa. Jika disingkat, LPD. Pengamat sosial Universitas

Wira Bhakti Dr. Ni Wayan Widhisthini, M.Si. menilai, LPD sangat terkait suasana kebatinan dan keadaan masyarakat Bali. “Tidak salah jika MDP merespons pergantian nama LPD. Demikian juga dengan usulan Pemerintah Provinsi Bali. Ini saya kira upaya memecahkan masalah LPD di tengah wacana RUU LKM,” katanya. Pengamat politik Undiknas University Dr. Nyoman Subanda, M.Si. bersikap moderat merespons usulan perubahan nama LPD. Ia menggarisbawahi fokus persoalan LPD. “Apa yang seharusnya difokuskan, substansi atau merek. Namanya atau substansinya yang mau dikaji mendalam. Sebenarnya, bagi saya, tidak perlu ada ketakutan jika LPD harus ganti nama. LPD tidak akan kehilangan jati diri, substansinya jelas tetap Bali,” katanya. Tetapi, usulan dan opini tadi

tidak sertamerta menuai restu. Pakar ekonomi yang dikenal sebagai ‘doktor LPD’ Undiknas University, Dr. I Gusti Ngurah Putra Suryanata, S.E., M.M., menyesalkan usulan tersebut. “Saya sedih mendengar nama LPD diganti. Saya hormat sekali pada Prof. Mantra sebagai penggagas LPD. Apresiasi bahkan diberikan kalangan LPD di Kabupaten Badung. Mereka pertama kali menempelkan foto Pak Mantra di semua gedung LPD di Badung,” ujarnya. Pengamat ekonomi FE Unud Wijaya Kusuma senada dengan Ngurah Suryanata. “Saya lebih setuju jika nama LPD tidak diganti,” katanya. Adanya pro-kontra pergantian nama LPD itu dinilai pengamat sosial dan hukum Agung Bagus Adhi Mahaputra sebagai hal wajar. Tetapi, itu diharapkan tidak dianggap sebagai hal sepele. Semua

komponen masyarakat, wakil rakyat, dan pemerintah di Bali harus serius menindaklanjuti solusinya melalui kajian secara mendalam dan komprehensif. Menurut Bagus Adhi Mahaputra, sikap maupun pandangan tadi harus diposisikan secara cerdas. Kajian kritis akademik harus dilakukan untuk memecahkannya. “Pemangku adat dan budaya, tokoh agama, pemerintah daerah maupun pusat, wakil rakyat di daerah maupun pusat, dan komponen lain harus diajak berunding. Ini dimaksudkan agar persoalan LPD jangan hanya berkutat soal namanya perlu diganti atau tidak. Masalah LPD harus dikaji secara mendalam dan dibedah dari berbagai perspektif,” ujar pelaksana tugas ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Bali ini. —sam, tin, ten


tkh_xii_629