Issuu on Google+

Dukung Museum Dukung Kerajinan Museum

WAJAH Ni Wayan Sarmi tampak sumringah. Ada pengalaman mengesankan sepulang ikut pameran kerajinan di Kamboja belum lama ini. “Pasar barang kerajinan tradisional Bali ternyata bagus di Kamboja,” ujar pengusaha galeri lukisan dan rumah makan I Made Joni Fine Art’s Gallery & Restaurant Ubud ini usai mengikuti diskusi komprehensif bertema “Mewujudkan Kepedulian Konkret Kita terhadap Upaya Pelestarian Budaya di Bali: Menerjemahkan Pesan Tahun Kunjungan Museum 2010” yang digagas Koran Tokoh dan Pemerintah Kota Denpasar, Rabu (24/2), di Pulau Serangan, Denpasar Selatan.

Kerajinan

aat itu, Bu Yuli, panggilan akrab mantan aktivis Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Gianyar ini, tak berangkat sendiri ke Negeri Pagoda itu. Pengusaha batik tradisional Bali dan pemilik Buddha’s Silk and Gallery Ubud Desak Putu Nithi pun menjadi peserta pameran. “Ibu Bupati Gianyar ikut

menemani saya dan Bu Yuli mempromosikan batik tradisional Bali. Wah…ternyata tenunan yang kami bawa dari Ubud laku keras. Dua hari pertama pameran sudah ludes diborong pengunjung pameran,” ujar Desak Putu Nithi saat menemani sobatnya itu berbincang dengan Koran Tokoh. Sementara Bu Yuli menilai, partisipasi pengusaha Bali mengikuti eksibisi produk kerajinan ke luar negeri merupakan salah satu upaya memperluas pasar konsumen asing. Kawasan Asia dinilai masih terbuka untuk digarap Bersambung ke halaman 16

Jadikan Museum Subak Ikon Wisata Tabanan MUSEUM subak menjadi satu-satunya museum irigasi tradisional di dunia. Namun, museum ini belum dikelola secara baik. Padahal, Museum Subak dapat menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan dan sebagai sarana pendidikan.

K

epala Unit Pelak sana Teknis Daerah Museum Subak Sanggulan, Tabanan, Sujana, mengungkapkan ada tiga bagian pokok isi Museum Subak yakni tempat melihat kondisi Bali dalam perspektif subak kaitannya dengan audiovisual, pemajangan alat-alat pertanian tradisional yang merupakan warisan nenek moyang, dan bangunan rumah tradisional Bali. Museum ini juga dilengkapi berbagai sarana pendukung yang berhubungan degan subak. “Ada sawah seluas kurang lebih 1,5 hektare. Ada juga areal hutan, hasil kerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan seluas kurang lebih 1,5 hektare,” ujarnya dalam Diskusi Komprehensif yang diselenggarakan Koran Tokoh dan

Pemkot Denpasar di Agus Restaurant, Pulau Serangan, Rabu (24/2). Dengan sarana ini, pengembangan Museum Subak ke depan diharapkan juga akan menjadi ikon tujuan wisatawan Tabanan, yang sekarang ini ada dua, yakni Danau Beratan di Bedugul dan Tanah Lot. Pihak pengelola telah mengusulkan ke Pemda Tabanan agar museum ini dilengkapi sarana pendukung lain berupa tempat penjualan cendera-

BERITA TERKAIT

BACA HALAMAN 4 dan 5

Sujana

mata dan penjualan makanan khas Tabanan. Sujana telah memiliki ancarancar tempat penjualan cenderamata ini, yakni akan didirikan di ujung utara. Di selatannya, tempat penjualan makanan khas Tabanan. Pengunjung museum akan diajak menyaksikan audiovisual, baru kemudian diarahkan ke tempat pajangan alatalat tradisional pertanian yang Bersambung ke halaman 16

Beri Pengalaman Lahirkan Anak Didik Bijaksana MAKNA Dies Natalis sama dengan perayaan hari Natal, yaitu bersyukur atas kelahiran yang membawa kebahagiaan seperti anggota baru, semangat, pemikiran dan cara berpikir baru. Dengan pemaknaan tersebut diharapkan kegiatan Dies Natalis ke41 Perdiknas tak hanya rutinitas tahunan tetapi lebih jauh lagi, sebagai bahan instrospeksi, apakah tiap hari kelahirannya Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) dan semua jajarannya melahirkan hal baru yang membawa kesejahteraan dan

Pendiri Utama Perdiknas.Drs.Ketut Sambereg,M.M., Nyoman Kundri, Prof.Dr.I Gst.Ngr. Gorda , M.S.,M.M.(alm),I.Gst.Ayu Ratyni (alm)

Pengantar Redaksi: Diskusi Komprehensif bertopik “Mewujudkan Kepedulian Konkret Kita terhadap Upaya Pelestarian Budaya di Bali: Menerjemahkan Pesan Tahun Kunjungan Museum 2010” berlangsung, Rabu (24/2), di Agus Restaurant Jalan Tukad Punggawa Pulau Serangan, Denpasar Selatan. Diskusi yang digelar Koran Tokoh bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar tersebut dihadiri kalangan pemikir kebudayaan dan pariwisata, pengelola museum, kalangan tokoh masyarakat, guru, dan aktivis organisasi. Diskusi menghadirkan subtopik, “Upaya Nyata Mewujudkan Makna Tahun Kunjungan Museum di Bali Tahun 2010” yang dibawakan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bali I Nyoman Murdawan; “Hambatan dan Tantangan di Balik Langkah Konkret Pelestarian Budaya di Bali” yang disampaikan I Nyoman Budi Astra dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali; dan “Terobosan Kreatif Dalam Mencerdaskan Upaya Pelestarian Budaya di Bali” yang dipresentasikan Chairman Smarapura Cultural Heritage Trust Ida Bagus Pangdjaya. Baca berita selengkapnya di halaman 1, 4, dan 5.

perubahan, minimal untuk Perdiknas dan keluarga besarnya. Hidup dimulai dari usia 40 tahun, begitu kata orang. “Karena itu, momentum HUT ini hendaknya dimanfaatkan oleh Perdiknas dan semua jajarannya untuk memulai hari dengan hal-hal baru yang jauh lebih baik, lebih produktif dan lebih bermanfaat,” ujar Sekretaris Perdiknas, A.A.A. Ngr. Sri Rahayu Gorda, S.H., M.M., saat pembukaan Dies Natalis ke-41 Perdiknas di lapangan Perdiknas Jalan Tukad Yeh Aya, Panjer, Denpasar. Senada dengannya pendiri utama Perdiknas Drs. Ketut Sambereg, M.M, mengatakan, lembaga mereka adalah Bersambung ke halaman 7

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Ni Wayan Sarmi

Bali Koleksi Kerang Purba RIBUAN biota laut berumur ratusan juta tahun kini ada di Bali. Selain kerang purba raksasa yang hidup 150 juta tahun silam, ada pula siput purba yang berusia 490 juta tahun. Dua jenis biota laut zaman baheula ini dapat disaksikan di Bali Shell Museum Jalan Sunset Road 819 Kuta, walau itu hanya berupa situs. Suatu siang pekan lalu arus lalu lintas di Jalan Sunset Road Kuta lumayan padat. Sebuah gedung megah berlantai tiga bercat biru laut ini seolah tak menghiraukan sengatan terik mentari maupun hilir mudik laju kendaraan di badan jalan utamanya. Tulisan ‘Bali Shell Museum’ terpampang di tengah tembok depan bangunan. Namun, kesan sekilas gedung

BERUMUR RATUSAN JUTA TAHUN DI BALI SHELL MUSEUM

Mantan Presiden RI Megawati Sukarnoputri diapit President Director Bali Shell Museum Oentoeng Sutanto dan Operational Manager Rey Razak dengan latar belakang situs kerang purba raksasa yang dikoleksi Museum Kerang ini di Kuta

ini tak istimewa. Pandangan kerajinan. Kesannya memang yang menembus kaca di latar bangunan ini tak lebih dari depan lantai satu bangunan ini sebuah galeri barang kerajinan menggambarkan isinya hanya Bersambung ke halaman 16 pajangan rupa-rupa barang

Museum Subak perlu Daya Tarik MUSEUM tidak hanya dilihat dari sisi pariwisata, tetapi juga dari sisi pendidikan sejarah, khususnya purbakala. Tetapi, mengapa isi museum yang justru memiliki nilai sejarah, minim pengunjung. Hal ini karena belum semua museum memiliki daya tarik sebagai penunjangnya. Ini pula yang diungkapkan Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko saat membuka Diskusi Komprehensif di Agus Restaurant Pulau Serangan, Rabu (24/2). Jangankan terhadap nilainilai sejarah purbakala, terhadap hal-ihwal sejarah modern pun pengetahuan generasi muda

Akiko Matsubara (8) SETAHUN sudah Akiko Matsubara menjalin hubungan asmara dengan Wayan Rai. Namun, komunikasi dua sejoli berlainan bangsa ini hanya berlangsung lewat surat-menyurat dan telepon jaringan interlokal. Akiko masih berada di negeri leluhurnya. Sementara Rai tetap setia menanti kembalinya sang calon istri ke Pulau Dewata. Kabar gembira akhirnya datang dari Akiko. Sebuah surat perempuan berpenampilan kalem ini untuk Rai memastikan restu keluarganya di Negeri Sakura. “Saya diberi tahu mengenai restu calon mertua di Jepang untuk memuluskan rencana perkawinan kami,” ujar Rai kepada Koran Tokoh. Restu ibu kandung Akiko memang sudah dalam genggaman tangan. Ini bekal berharga baginya untuk siap-siap terbang ke Bali. Ia akan memulai lembaran baru dalam kehidupan pribadinya. “Saya

umumnya sangat kurang. “Saya kagum ketika menonton tayangan ‘Happy Song’ di televisi, anak-anak begitu hafalnya menyebut judul lagu pop yang ditanyakan. Tetapi, saya prihatin saat menonton Cerdas Cermat, ada anak SMA yang tidak mengenali lagu Halo-halo Bandung,” ungkapnya. Menurutnya, guide (pengantar wisatawan) memiliki peranan besar dalam kunjungan wisatawan ke museum. Berkunjung ke museum pastinya berbeda dengan ke artshop yang biasanya ada tip. “Tetapi, mari kita pikirkan bagaimana semua eksponen masyarakat Widminarko

Bersambung ke halaman 16

Kawin Adat Bali

Akiko Matsubara dan Wayan Rai saat upacara perkawinan secara adat Bali di Sidemen, Karangasem tahun 2000

mulai membayangkan akan menjalani kehidupan baru sebagai istri seorang lelaki Bali. Namun, saya belum tahu pasti akan seperti apa kenyataannya kelak setelah menjadi seorang istri,” katanya. Bayangan itu terus terlintas di benak Akiko. Namun, ia coba meyakinkan diri sendiri tak bakal mundur selangkah pun untuk segera naik ke pelaminan. “Ibu saya juga menaruh harapan besar agar saya harus siap menanggung segala konse-

kuensi setelah memutuskan menjadi istri kelak. Saya dipesan harus total menjadi istri seorang pria Bali beragama Hindu. Saya diminta mulai belajar dan mempraktikkan secara serius adat istiadat dan ajaran Hindu,” ujar Akiko mengenang pesan ibunya menjelang keberangakatannya ke Bali saat itu. Ada satu pesan khusus yang juga masih diingatnya. Bersambung ke halaman 13


2

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

BEdahBErita

Guru Spiritual Putu Wijaya

Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Menjadikan Museum Menarik Minat Pengunjung”

KETIKA selesai menjalani hukuman, bromocorah itu ditanya sipir penjara. “Mau jadi apa kamu setelah

dibebaskan?” Bromocorah itu menjawab mantap. “Mau jadi pemimpin spiritual.” Sipir penjara terkejut. “Kalau begitu selamat bertemu lagi nanti.” Bromocorah itu tersenyum. Sipir penjara langsung melapor kepada atasannya. “Pak, saya kira tidak lama lagi orang yang baru kita lepas itu akan kembali ke mari?” Lalu dia menceritakan percakapan tadi. Kepala Penjara kemudian menyampaikan hal itu pada polisi. Lalu polisi menguntit ke mana bromocorah itu pergi. Ternyata ia bertamu ke rumah Pak Amat. “Pak Amat, saya sudah menjalani hukuman lima tahun atas perbuatan saya yang bejat. Di dalam penjara, saya merenungkan apa yang sudah saya lakukan. Di situ saya bertapa. Berkat kesungguhan saya, saya mendapat pencerahan. Sisa hidup saya ke depan harus saya gunakan untuk penyucian jiwa. Saya ingin membimbing masyarakat untuk mendekatkan dirinya pada kasih sayang dan cinta. Saya akan memberikan pendidikan moral. Apa itu salah?” Amat tertegun. “Pertama,” kata Amat menjelaskan persoalan itu kemudian kepada polisi yang meminta keterangannya, “saya tidak kenal orang itu. Entah siapa yang menyuruhnya datang ke rumah saya. Kedua, dia menanyakan sesuatu yang sulit saya jawab. Apa mungkin bekas orang hukuman yang sudah melakukan kejahatan, bisa memberikan bimbingan moral kepada orang lain. Bukankah dia harus membuktikan moralnya sudah berubah setelah menjalani hukuman. Dia harus membuktikannya seumur hidup. Tidak mungkin, kalau dia sibuk memperbaiki dirinya, ada waktu meluruskan moral orang lain. Kalau toh punya waktu, apa dia bisa? Saya ragu. Dan, yang ketiga, menurut pengalaman saya orang yang ingin berbuat kebaikan, tidak mempropagandakan perbuatannya tetapi berbuat saja. Sebaliknya orang yang berniat jahat, akan mengobral janji membuat kebajikan untuk menyembunyikan maksud jahatnya.” Polisi mencatat semua keterangan Amat. “Jadi kesimpulannya,” lanjut Amat, “orang itu berbahaya, dia harus diawasi! Kalau perlu tarik lagi ke penjara, karena dia belum siap terjun ke masyarakat!” Ami cepat mengoreksi. “Tidak bisa, Pak! Siapa pun tidak bisa dimasukkan ke penjara kalau belum melakukan tindakan kejahatan dan terbukti bersalah di pengadilan!” “Kalau berbahaya?” “Harus ada bukti!” “Untuk apa menanti bukti. Kita harus melindungi masyarakat!” “Tetapi, negara juga harus melindungi kepentingan individu warganya. Masyarakat tidak bisa melakukan tindakan kekerasan terhadap individu warga, meskipun seandainya ada alasan yang kuat untuk itu, karena kita negara hukum. Masyarakat tidak boleh bertindak main hakim sendiri!” Amat tertegun. Dia terpaksa melupakan kasus itu. Tetapi, lima tahun kemudian, ada kabar. Di desa ada guru spiritual yang menjadi sangat terkenal. Ia mengajarkan cinta-kasih kepada masyarakat. Bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Guru itu tidak memungut bayaran. Tetapi, itu justru memancing masyarakat menghujaninya dengan berbagai hadiah. “Ada yang membangun rumah buat guru. Ada yang membelikan mobil. Ada yang menyerahkan jiwa-raganya, mengabdi kepada guru, seperti abdi dalem,” kata seorang ibu yang sempat berobat ke guru itu, tetapi tidak berhasil.. “Penyakit Ibu apa?” tanya Amat. “Saya tidak punya anak.” “Jadi Ibu ke situ minta anak? Terus diobatin?” Ibu itu termenung. “Ya diobati.” “Caranya?” Ibu itu termenung. Tetapi, kemudian setelah didesak dia bicara. “Saya disuruh duduk di pangkuannya.” Amat terbelalak. “Apa?” “Duduk telanjang tanpa mengenakan pakaian selembar pun. Guru juga tidak berpakaian apa-apa, sama dengan saya.” “Terus?” “Ya begitu saja.” “Berapa lama?” “Ya kira-kira seperempat jam.” “Berhasil?” Ibu itu tersenyum. “Belum. Saya kan belum menikah lagi. Nanti kalau sudah kawin kata Guru pasti bisa punya anak. Tetapi, kata Guru, sebelum itu, saya harus rajin ke situ.” Amat tak mampu lagi bicara. Darahnya mendidih. Tak sanggup menahan penasaran dan rasa geramnya, ia langsung pergi ke tempat guru itu. Ia tidak bisa menanti sampai kejahatan itu menjadi kenyataan. Dia harus bertindak. “Ini Pak Amat?” tanya guru itu ketika berhadapan. “Betul.” “Pak Amat sakit apa? Mengapa ke mari? Ini hanya untuk perempuan.” Amat tidak dapat lagi menahan dirinya. “Saya ingin punya anak.” “Tetapi, Pak Amat kan sudah punya satu? Kurang?” “Kurang!” “Kalau Pak Amat sabar dan berusaha sungguh-sungguh, tidak usah berobat pasti akan punya anak lagi.” “Tidak. Saya mau punya anak dengan cara berobat ke mari. Saya mau dipangku telanjang oleh Bapak yang juga telanjang tanpa selembar kain pun!” Guru spiritual itu tertegun. Ia memandang Pak Amat. “Pak Amat serius?” “Lebih serius dari semua ibu-ibu dan para wanita yang sudah ke mari untuk kamu cabuli! Saya tidak percaya bromocorah yang pernah melakukan kebejatan seksual di masyarakat dan sudah diganjar hukuman lima tahun, bisa menjadi guru spiritual. Kamu menipu masyarakat!” Guru spiritual itu terhenyak. Tetapi, Amat sudah siap. Kalau harus diselesaikan dengan tawuran, dia tidak akan mundur. Harus ada orang yang berani menentang lintah masyarakat itu. Tetapi, guru spiritual itu tidak marah. Ia tersenyum pahit. Lalu menjawab dengan sangat mengejutkan. “Terima kasih Pak Amat. Sudah lima tahun saya di sini menjadi guru. Saya menanti masyarakat akan bangkit untuk menentang perbuatan saya. Tetapi, masyarakat kita ternyata begitu bodohnya. Bukan hanya rakyat jelata yang miskin dan rendah pendidikannya, tetapi orang-orang kaya yang terdidik, bahkan pejabat dan wakil rakyat sudah datang ke mari mempercayai semua tipuan saya. Baru hari ini saya puas, karena Pak Amat datang. Jadi masih ada harapan, saya gembira sekali, ternyata masyarakat kita tidak tolol-tolol amat!” Guru itu meraih tangan Amat lalu menciumnya.

Aspirasi

Sampaikan opini Anda Minggu 28 Februari 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 7 Maret 2010

Perlu Dibentuk Komnas Perlindungan Lansia HARAPAN hidup kian tinggi. Tahun 2025 terjadi ledakan lanjut usia (lansia). Masih terjadi perlakuan tidak manusiawi terhadap lansia wanita. Ada perlakuan buruk keluarga suami dan anak, perlakuan baik justru setelah meninggal. Yang menarik warisannya sedangkan sosoknya disiasiakan. Menantu kurang peduli, tetapi mertua juga harus bersikap baik terhadap menantu. Perlu dibentuk Komnas (Komisi Nasional) Perlindungan Lansia. Panti jompo adalah pilihan terakhir, bukan sebagai tempat isolasi. Masa mendatang diperlukan panti-panti jompo swasta. Pemerintah Daerah harus membangun banyak panti jompo, bukan hotel. Desa Adat harus lebih sensitif juga terhadap tindak kekerasan terhadap lansia, fisik, psikologi, finansial, maupun kekerasan seksual. Kapan Jaminan Sosial Lanjut Usia Rp 300.000 per bulan direalisasikan? Bebaskan lansia di panti jompo dari biaya kremasi! Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Radio Global FM 96,5 Minggu (21/2). Topiknya, “Kekerasan pada Lanjut Usia”. Berikut, petikannya.

Perlakuan Buruk Keluarga Lelaki Berdasarkan observasi, diperoleh alasan lansia wanita tinggal di panti jompo khususnya di Panti Tresna Werdha Wana Seraya yakni tidak menikah, tidak memiliki saudara lelaki, menikah namun tidak punya anak, karena mandul atau karena anaknya meninggal. Ada juga janda yang ditelantarkan pihak keluarga suami dan anak, serta akibat kekerasan domestik lainnya. Dari hasil diskusi diketahui adanya perlakuan buruk keluarga lelaki terhadap wanita. Banyak wanita ditelantarkan, disingkirkan secara halus maupun secara kasar. Pemicunya, perempuan dianggap tidak sempurna, misalnya karena tidak bisa melahirkan anak laki atau tidak memiliki anak. Posisi wanita serba salah, tidak menikah, atau menikah tetapi tidak punya anak laki. Berbagai kekerasan yang bisa terjadi seperti kekerasan fisik dapat berupa serangan fisik yang menyebabkan rasa sakit, kecelakaan di tubuh dan kecacatan. Kekerasan psikologi merupakan kekerasan verbal dan nonverbal yang dapat menimbulkan

penderitaan, rasa sakit, duka. Kekerasan ini meliputi kekerasan verbal, penghinaan, ancaman, intimidasi, mempermalukan, dan pelecehan. Memperlakukan orang dewasa seperti bayi, mengisolasi mereka dari keluarga, teman, atau kegiatan lainnya merupakan contoh kekerasan emosional dan psikologikal. Kekerasaan finansial atau eksploitasi material merupakan bentuk penyalahgunaan keuangan, barang milik dan aset milik lansia, seperti mencairkan kertas berharga milik lansia tanpa pengesahan secara hukum; meniru tanda tangan, penyalahgunaan atau pencurian uang atau hak milik, pemaksaan dan penipuan untuk menandatangi dokumen (kontrak atau surat wasiat), dan penyalahgunaan kekuasaan dari pengacara. Kekerasan seksual merupakan tindakan hubungan seksual tanpa persetujuan seperti pemerkosaan, sodomi, pemaksaan untuk telanjang, berbagai bentuk fotografi ketelanjangan. Penelantaran adalah bentuk lain kekerasan. Berdasarkan penelitian di panti jompo milik pemerintah Wana Seraya, penghuninya 130 orang. Sedikit jika dibandingkan 3 1/2 juta penduduk Bali, namun kondisi ini bukanlah generalisasi realitas di Bali. Yang tinggal di sini umumnya karena kemiskinan. Makin banyak orangtua dikirim ke panti jompo, berarti makin banyak warga miskin yang memerlukan

perhatian pemerintah. Hal ini menggambarkan tingkat kesejahteraan daerah bersangkutan. Dari dua panti jompo yang ada di Bali yakni di Biaung dan di Lovina, sebagian besar penghuninya lansia wanita. Di Bali panti jompo baru didirikan tahun 1975. yang awalnya ditujukan untuk membantu para lansia miskin. Ada lansia yang ditelantarkan keluarganya.

Bersambung ke hlm. 16

Membangun dari Desa 3

BERPIKIRAN global sudah merupakan suatu keniscayaan. Namun, pemberdayaan masyarakat di perdesaan lewat kegiatan kelompok, sesuai kondisi dan kehutuhan, tetap dianggap penting. Adakah tuntutan ini relevan dengan keinginan Bali menjadi Pulau Organik dan dengan telah dideklarasikannya Bali Clean and Green 22 Februari 2010? Berdirinya KP4 (Kelompok Pendengar, Pembaca, Pemirsa, dan Penulis Perdesaan) di Bali dirintis sejak Agustus 1983 di 102 desa yakni 2 KP4 di tiap kecamatan. Sebagai hasil rapat kerja Kanwil dan Kantor Deppen Kabupaten se-Bali 8 November 1983, KP4 dikembangkan di luar desa-desa perintis. KP4 bermunculan, apalagi setelah Gubernur Ida Bagus Mantra menilai kegiatan KP4 positif dan menunjang proses pembangunan nasional termasuk dalam upaya menumbuhkan mekanisme komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat. Yang hadir dalam masimakrama bukan hanya gubernur, tetapi lebih disosialisasikan dengan tampilnya bupati, camat, dan pejabat pemerintah lainnya, dalam forum diskusi KP4. Setahun kemudian, 14 Juni 1984, Menteri Penerangan menerbitkan Pedoman Umum Pembinaan Siaran Perdesaan. Sebutan yang dipakainya Kelompencapir. Namun, di Bali tetap digunakan sebutan KP4. KP4 berfungsi sebagai filter/penyaring informasi yang mulai membanjiri masyarakat di perdesaan. Kegiatan anggota KP4, menyerap informasi dari media massa (radio, koran, dan televisi), mendiskusikannya dalam kelompok, memilah dan memilih pesan-pesan yang dapat diterapkan di desanya dalam upaya menciptakan lahan usaha baru dan mengembangkan lahan usaha yang telah ada. Saat itu penyuluh dan juru penerangan berperan sebagai narasumber dalam diskusi kelompok. Namun, mengingat keterbatasan jumlah mereka, permasalahan yang timbul diteruskan subkelompok penulis perdesaan ke media massa atau langsung ke instansi/lembaga yang berkompeten. Permasalahan/ pertanyaan dan jawaban/penjelasan instansi/lembaga tersebut disiarkan/ dimuat di media massa. Terjadilah komunikasi timbal-balik yang efektif. Peran subkelompok penulis tersebut dirasakan manfaatnya oleh pemerintah dan instansinya dalam upaya menimba masukan dan umpan balik terkait pelaksanaan programnya. Hal itu mereka perlihatkan dengan memprakarsai kegiatan pelatihan anggota subkelompok penulis perdesaan. Pelatihan tentang teknik menulis bukan hanya diselenggarakan Deppen atau PWI, tetapi juga diselenggarakan instansi pemerintah daerah. Beberapa instansi yang pernah menyelenggarakan pelatihan teknik menulis bagi penulis perdesaaan adalah Kanwil Departemen Kesehatan, Dinas Pariwisata, Dinas Perkebunan, Kanwil Depdikbud, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Lembaga Daerah Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja, selain Pemerintah Daerah. Bahkan, BKKBN mengalihkan anggaran penerbitan buletinnya menjadi anggaran berlangganan Koran Masuk Desa yang memuat rubrik KB, secara massal. Pimpinan BKKBN beranggapan, buletin yang mereka terbitkan tidak efektif dalam mencapai sasaran jika dibandingkan dana, tenaga, dan waktu, yang dikeluarkan untuk itu. Kegiatan KP4 bukan hanya terkait sektor pertanian, juga berkembang dan dimanfaatkan terkait pembangunan sektor-sektor lain yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di perdesaan. Sinergi telah terwujud saat itu. Tim Pembina yang terdiri atas unsur instansi/lembaga pemerintah dan swasta, termasuk unsur media massa, bertugas melakukan pembinaan dan evalusasi. Salah satu kegiatan evaluasi, berupa Lomba KP4 se-Bali yang sebagian juaranya tampil dalam siaran/tayangan langsung RRI dan TVRI Denpasar, sebagaimana dalam siaran RRI, Dari ke Desa ke Desa. Di lapangan, Tim Penilai bekerja cermat dengan pertanyaanpertanyaan mendetail. Misalnya, ketika pengurus sebuah KP4 di Tabanan menuturkan, mereka membuka lahan usaha baru berupa pemeliharaan ikan di kolam air deras setelah mendengarkan siaran perdesaan di RRI, tim penilai mengecek apa benar siaran itu pernah ada, dan kapan. KP4, khususnya subkelompok pembaca, juga mengusung misi membangkitkan gemar membaca di kalangan masyarakat perdesaan. KMD ditempel bukan hanya di balai banjar, tetapi juga di warung yang ramai pengunjungnya, bahkan di tempat-tempat permandian umum. Setelah memiliki kegemaran membaca, terbuka mereka membaca apa saja. Oleh karena itu dalam suatu lomba KP4, yang dinilai bukan hanya berapa jumlah pelanggan KMD, berapa jumlah pemilik radio dan televisi. Berapa jumlah pelanggan koran dan majalah nonKMD dan bagaimana angka kunjungan warga ke perpustakaan desa, juga dijadikan indikasi dampak positif kehadiran dan kegiatan KP4. Dalam lomba April-Juni 1984, misalnya, keluar sebagai pemenang I KP4 Drupadi II, Desa Buruan, Penebel, Tabanan, pemenang II KP4 Sinar Jagat, Desa Sangkaragung, Negara, Jembrana, pemenang III KP4 Semara Ratih, Bersambung ke hlm. 16 Desa Abiansemal, Badung.

Memaknai Tahun Kunjungan Museum 2010 BERDASARKAN data, angka kunjungan ke museum belum begitu menggembirakan, Hanya 2% penduduk kota-kota besar di Indonesia tertarik berkunjung ke museum di kota mereka. Karena itu dalam Tahun Kunjungan Museum 2010 ini, perlu dibuat berbagai terobosan. Museum harus tampil beda, muncul dengan new brand. Kesan museum di masyarakat umumnya selama ini, tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaannya seadanya. Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik. Sumber daya manusia di museum pun masih perlu ditingkatkan kemampuannya. Kondisi ini diperparah pula penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak pada museum, karena museum dinilai belum bisa dijadikan destinasi yang potensial. Pengelola museum harus mulai berupaya menjadikan museum sebagai rumah memelihara pikiran-pikiran yang tetap hidup daripada sekadar kuburan barang rongsokan. Hanya dengan demikian, museum dapat menjadi tempat belajar dan pencerahan bagi manusia, sekaligus tempat yang menyenangkan. Museum juga harus dijadikan pusat industri budaya, tempat kontemplasi yang inspirasional pemicu munculnya karya kreatif. Museum menjadi bagian industri kreatif. Perlu muncul new brand,

sebuah inisiatif yang bertujuan pada peningkatan awareness masyarakat terhadap museum. Kemas potensi museum secara menarik, atraktif, dan kekinian. Mengingat pengalaman sejarah maupun artefak yang tersimpan di museum dapat dipelajari beragam hal, untuk diambil nilainilainya yang positif bagi kehidupan masa kini, maka harus diposisikan museum juga sebagai inspirator dan motivator bagi masyarakat untuk mengambil hal-hal yang bernilai dari masa lalu yang dimanfaatkan pada masa kini. Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, merupakan institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu museum bisa menjadi bahan studi kalangan akademisi, sebagai dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, atau dokumentasi dan pemikiran imajinatif pada masa depan. Secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani mouseion, yang sebenarnya merujuk pada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh

Made Suantina Ptolemy I Soter tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan manusia makin membutuhkan buktibukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan. Mouseion merupakan bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan llmu Pengetahuan. Salah satu dari sembilan Dewi tersebut adalah Mouse, yang lahir dari Mahadewa Zous dengan istrinya Mnemosyne.Dewa dan dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Mouseion selain tempat suci, pada waktu itu juga tempat berkumpul para cendekiawan yang mempelajari dan menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, dan juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi. Museum pada zaman sekarang dirumuskan pengertiannya sebagai

sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya (Definisi menurut ICOM = International Council of Museeum/Organisasi Permuseuman Internasional di bawah Unesco). Museum merupakan suatu badan yang memunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Museum memunyai fungsi sebagai 1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah; 2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum; 3. Pusat penikmatan karya seni; 4. Pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa; 5. Objek wisata; 6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan; 7. Suaka alam dan suaka budaya; 8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan; 9. Sarana untuk bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan YME. Ketika dicanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum oleh Menbudpar Jero Wacik di pengujung tahun 2009 dijelaskan bahwa kegiatan Tahun Kunjungan Museum pada prinsipnya dilaksanakan di museum seluruh Indone-

sia, tetapi untuk prioritasnya akan diselenggarakan di tujuh provinsi, yaitu di DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 89 museum di Indonesia sudah mengagendakan kegiatan unggulan, selain pameran budaya lokal, upacara adat, pergelaran kesenian dan diskusi, juga ada lokakarya. Pencanangan Tahun Museum ini hendaknya jangan hanya dimaksudkan untuk kepentingan menambah jumlah kujungan wisatawan ke Indonesia, tetapi sebagai sebuah kebijakan pemerintah yang harus menyasar 9 fungsi museum tadi. Jika kita cermati kesembilan fungsi museum tersebut hampir semuanya menekankan pada pencapaian nilai sosial, dan sangat jauh dari tujuan mencari profit secara ekonomi. Misalnya, jika ternyata jumlah pengunjung ke museum pada tahun 2010 ini mengalami peningkatan dan peningkatan tersebut tidak signifikan bagi peningkatan perolehan devisa negara, misalnya, bukan berarti pencanangan tersebut gagal. Mengajak orang untuk mau datang ke museum saja sudah patut diapresiasikan secara positif. z Made Suantina Staf Pengajar Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa Denpasar

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370)639543–Faksimile (0370)628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 2223 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031)5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


Perlindungan Anak

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 3

Tumbuhkan Suasana Peduli terhadap Lingkungan KASUS pemerkosaan yang menimpa anak di bawah umur di kawasan Monang-Maning Denpasar menjadi perhatian serius Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Bali. “Sudah tiga korban siswa di wilayah Monangmaning. Pelakunya belum terungkap,” kata Wakil KPAID Bali Luh Putu Anggreni, S.H. menyatakan ayahnya sedang menantinya di Sanur. Anak tadi menuruti ajakan tersebut dan bersedia dibonceng. Namun, sampai di suatu tempat, anak itu mendapat perlakuan kekerasan seksual hingga alat kemaluannya robek. Usahakan Bergerombol Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Poltabes Denpasar AKP Yohana mengharapkan sebaiknya tiap orangtua memberikan pemahaman pada anak-anaknya. “Sebelum dijemput, jangan mudah dibujuk rayuan orang lain, apalagi tidak dikenal. Biasanya pelaku akan mengiming-imingi anak hadiah cokelat, permen, atau es krim,” ujarnya. Kalau anak-anak pulang berjalan kaki, ia menyarankan,

tkh/ast

K

awasan MonangManing merupakan wilayah permukiman penduduk yang padat dan beragam pekerjaannya. “Dalam kondisi seperti itu perlu ditumbuhkan suasana kekerabatan, penduduk peduli terhadap tetangga atau lingkungan di sekitarnya. Tanamkan dalam diri ‘anakmu adalah anak saya juga’,” ujar Ketua KPAID Bali dr. Sri Wahyuni, Sp.KJ, dalam sosialisasi UU Perlindungan Anak di Monang-Maning, Jumat-Sabtu (19-20/2). Korban tiga kasus pemerkosaan itu, dua siswi SD dan satu siswi SMP. Kasus ketiga menimpa siswi SD yang berusia 7 tahun. Kasus berawal ketika si anak pulang dari kegiatan pengajian di sekolahnya. Dia didatangi laki-laki dewasa yang

Yohana

usahakan bergerombol dengan temannya. Orangtua ajari anakanaknya tahu lingkungan. “Mana namanya Sanur, Renon, Lapangan Buyung, dan tempat-tempat strategis lainnya. Kalau terjadi sesuatu atas dirinya mereka tahu lokasinya. Ingat sepeda motor yang digunakan, dan catat nomor platnya,” saran Yohana.

Ia mengungkapkan, korban pemerkosaan bukan hanya anak perempuan. Pedofil mengincar dan menyukai anak laki-laki. Ia menyarankan, warga masyarakat yang melihat kejadiannya, tidak usah takut menjadi saksi. “Saksi dibolehkan tidak hadir di pengadilan. Dengan disumpah mereka menyatakan hal yang benar, dan dengan membuat keterangan yang dibubuhi tanda tangan mereka bisa tidak datang ke pengadilan,” kata Yohana. Jika melihat barang bukti seperti celana dalam atau darah di lokasi kejadian, jangan disentuh. Hal itu penting untuk penyidikan. Yohana menyarankan warga masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan dan saling peduli satu sama lain. “Perhatikan orang asing (orang yang tidak dikenal) yang tingkah lakunya mencurigakan misalnya mondar-mandir tidak jelas. Kalau ada anak yang dibonceng, perhatikan anak tersebut, apakah dia tampak ketakutan. Perhatikan jika ada anak yang diturunkan di jalan sendirian terutama pada jam yang rawan pukul 13.00-15.30,” paparnya.

Kipem Terus-menerus Dokter Sri Wahyuni menyarankan, aparat banjar sebaiknya jangan berlakukan kipem (kartu identitas penduduk musiman) terus-menerus. “Jangan terjadi, sudah 10 tahun menetap, tetapi masih tidak punya KTP,” katanya. Ia mengungkapkan ada kecenderungan anak mengenakan pakaian meniru artis yang dilihatnya di televisi. Ada yang ikutikutan mengenakan pakaian minim, celana pendek atau baju tank top di jalanan. Kondisi ini bisa menjadi sasaran empuk orang-orang yang mentalnya sakit. “Sebaiknya orangtua mengajari anak perempuan mereka, jangan berlarian di luar rumah tanpa mengenakan baju atau hanya memakai kaus dalam dan celana pendek,” sarannya. Ia mengatakan, ada kecenderungan orang yang mentalnya sakit ingin melampiaskan nafsu bejatnya dan menyukai anak-anak kecil, karena mereka masih bersih belum terinfeksi HIV. Kalau pelaku datang ke lokalisasi PSK, rentan terhadap penyakit kelamin dan HIV/AIDS. —ast

Perhatikan Lingkungan Luar Sekolah Di Gugus R.A. Kartini Rata-rata SD Berkelas Gemuk

tkh/ast

tkh/ast

KASUS pemerkosaan yang menimpa siswa SD di kawasan Monang-maning membuat para guru di kawasan itu segera berbenah diri. Mereka lebih meningkatkan kewaspadaan. Hal itu diungkapkan Plt. Kepala SD 26 Pemecutan Ketut Sukayasa, saat berlangsung sosialisasi UU Perlindungan Anak oleh KPAID Bali kepada para guru di lingkungan Gugus R.A. Kartini. “Setelah kasus pemerkosaan merebak, satpam sekolah ditugaskan mengantar siswa pulang, kalau penjemputnya belum datang,” ujar Sukayasa. SD 26 Pemecutan memiliki 560 siswa, 11 kelas. Perbandingan jumlah siswa dan ruangan kelas yang tersedia, tidak seimbang. “Kami memang memiliki kelas gemuk. Satu kelas diisi 50 siswa,” katanya. Ia mengungkapkan, komite sekolah sudah mengusulkan kepada pemerintah agar ruangan kelas ditambah mengingat kapasitas siswa yang terus bertambah. Hal itu dibenarkan Pengawas SD Gugus R.A. Kartini Ni Wayan Rinun Artini. Gugus ini menaungi 6 SD yakni SD 19 Pemecutan, SD 15 Pemecutan, SD 26 Pemecutan, SD 27 Pemecutan, SD 32 Pe-

Wayan Rinun Artini

Sukayasa

mecutan, dan SD Muhamadiyah 3 Denpasar. Ia menyatakan, rata-rata SD di gugus ini memiliki kelas gemuk. Hal ini, kata Rinun, tidak lepas dari padatnya jumlah penduduk di Monang-maning. Padahal, berdasarkan peraturan mendiknas satu kelas normalnya terisi 28 siswa. “Kelas gemuk dengan satu guru kelas tentu membuat guru sangat kewalahan. Tak jarang guru sampai berteriak

karena suara anak-anak yang gaduh,” katanya. Kepala SD 32 Pemecutan Ni Nyoman Ritini menyatakan, guru tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab pada siswanya. “Pukul 07.00 sampai 12.30, itu tanggung jawab guru. Setelah itu tanggung jawab orangtuanya. Mari kita bersama-sama menjaga anak kita,” ujarnya. Setelah kejadian pemerkosaan ini, kata Ritini, para guru

menuturkan, sejak kasus pemerkosaan itu mereka menjadi lebih berhati-hati terhadap orang asing dan lebih suka bermain di rumah. Mereka mengungkapkan, sudah dipesan orangtuanya agar jangan mudah percaya iming-iming hadiah dari orang tak dikenal. Demi keamanannya kedua bocah ini kini Suari selalu mengenakan celana pendek diberi pengarahan agar lebih di dalam rok sekolahnya. —ast memerhatikan lingkungan sekitar sekolah. Ketut Suari, salah seorang ibu rumah tangga di Monang-maning menuturkan sejak kejadian pemerkosaan ini, ia menjemput sendiri anaknya. “Dulu anak saya suka pulang sendiri,” kata istri Nyoman Gede Sumerta ini. Dua siswa SD 15 Pemecutan Yunika dan Patrisia Dewi

TELAH banyak terungkap kasus penyimpangan seksual, khususnya pedofilia. Yang menggegerkan, Siswanto atau Robot Gedek melakukan sodomi disertai pembunuhan anak di Jakarta dan Jawa Tengah dengan korban 12 anak. Kasus lain, Baekuni alias Babe, diduga melakukan sodomi dan mutilasi pada 8 anak. Juga, pernah terungkap anak-anak di Bali juga banyak menjadi korban pedofil turis asing. Data CASA (committee against sexual abuse) menyebutkan, MM warga Italia melakukan praktik pedofilia pada 14 anak di Buleleng. WSB dan HMR asal Prancis melakukan praktik pedofilia di Karangasem, HPW asal Jerman melakukan pedofilia pada 9 anak di Serangan. Perilaku penyimpangan seksual disebabkan tiga faktor yakni faktor genetik atau keturunan, faktor kepribadian/kejiwaan, dan faktor lingkungan sosial. Ketiga faktor ini saling berhubungan secara implisit. “Mereka umumnya tidak melewati fase falik dengan baik,” ujar Dokter Spesialis Kejiwaan RS Sanglah dr. Wayan Westra, Sp.KJ. Ia mengatakan, anak usia 4 tahun akan melewati fase oedipus complex, saat seorang anak laki-laki dapat sangat dekat dengan ibunya atau saat anak perempuan yang sangat dekat dengan ayahnya. Jika pada masa ini berjalan dengan normal, mereka mendapatkan pendidikan yang baik, rasa kasih sayang cukup, dan pengertian dari orangtuanya, mereka dapat tumbuh dengan normal. Jika pola asuh orangtua salah, dan orangtua tidak mengerti kejiwaan anaknya, akan terjadi, anak laki-laki yang sangat

tkh/ast

bisa Timbulkan Penyimpangan Seksual

Dokter Westra

dekat dengan ibunya tak jarang mereka sampai mengidolakan ibu kandungnya. Ia akan selalu bertentangan dengan ayahnya, bahkan sampai membenci ayahnya. Begitu juga pada anak perempuan yang sampai membenci ibunya. “Kalau orangtuanya tidak memiliki wawasan luas, mereka akan merespons kemarahan anak dengan kemarahan pula. Akhirnya, perkembangan jiwa anak terganggu,” ujarnya. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki terus mengidolakan ibunya. Ia akan tumbuh sebagai laki-laki yang bersifat keibuan. Semua sifat perempuan masuk ke dalam jiwanya. Ia cenderung menyukai laki-laki dan menjadi homo. Begitu juga pada anak perempuan, ia akan terlahir menjadi lesbian. “Secara psikoanalisis, penyimpangan seksual terjadi karena faktor psikologis dan pola asuh orangtua yang salah,” jelas-

nya. Jenis Penyimpangan Ia mengungkapkan, banyak jenis penyimpangan seksual, di antaranya homoseksual yakni seseorang menyukai orang lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita isebut lesbian/lesbi. Eshibisionisme, penyimpangan seksual yang senang memperlihatkan alat vital/alat kelamin kepada orang lain. “Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, dan takut melihat pelaku memamerkan alat kelaminnya,” ujarnya. Fetishisme, perilaku seks menyimpang yang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani /masturbasi dengan melihat dan menyimpan benda-benda kecil milik perempuan seperti gaun, bando, anting, celana dalam, BH. Voyeurisme, pelaku penyimpangan seks ini mendapatkan kepuasan seksual setelah mengintip orang lain yang sedang telanjang, atau sedang mandi. Pedofilia, penyimpangan seksual yang dilakukan orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks/kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur. Bestially, perilaku penyimpangan seksual bagi manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda. Necrofilia, penyimpangan seksual bagi orang yang suka melakukan hubungan seks dengan mayat. Sodomi, pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo)

maupun dengan pasangan perempuan. “Pedofil lebih menyukai sodomi. Mereka tidak melakukan hubungan seksual sebagaimana mestinya, karena dalam hati ada ketakutan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa karena proses oedipus complex-nya tidak dilewati dengan baik,” paparnya. Ia mengatakan, pedofil ingin mencurahkan kemampuan superiornya dengan anak-anak kecil usia 12 tahun ke bawah. Selain memiliki penyimpangan seksual karena bergairah dengan anak kecil untuk memuaskan fantasi seksualnya, tak jarang mereka juga memiliki kelainan kepribadian (psikopat) seperti kasus Babe yang melakukan mutilasi kepada 8 anakanak. “Ketika korban menolak disodomi, ia lalu ingin melampiaskan sakit hatinya dengan melakukan mutilasi,” ungkapnya. Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sering disebut psikopati, pengidapnya sering disebut orang gila tanpa gangguan mental.

tkh/ast

Salah Pola Asuh

Leni

PESATNYA perkembangan teknologi informasi memberikan imbas kepada kehidupan sosial masyarakat. Internet merupakan dunia maya ibarat pisau bermata dua. “Jika dimanfaatkan dengan benar, kita dapat mendapatkan manfaat positif. Jika salah dalam pemanfaatannya, bisa menjadikan anak-anak kecanduan bahkan berperilaku kriminal,” papar

tkh/ast

Bukan hanya Kekerasan Seksual

Di Balik Kasus Pemerkosaan Anak di Monang-Maning

DATA Polda Bali menyebutkan, tahun 2007 terjadi 40 kasus korban kekerasan seksual. Khusus di wilayah Poltabes Denpasar, 27 kasus. Tahun 2008 terjadi 62 kasus korban kekerasan seksual, di antaranya 32 kasus di wilayah Poltabes Denpasar. Dokter Sri Wahyuni menyatakan jumlah sebenarnya diyakini lebih banyak lagi karena diduga banyak kasus yang tidak dilaporkan atau sengaja dirahasiakan karena dianggap aib oleh korban, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya. Yang dimaksud anak dalam UU Perlindungan Anak Dokter Sri Wahyuni adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang dilakukan seseorang/individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik atau mentalnya terganggu. Bentuk tindak kekerasan terhadap anak meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Kekerasan fisik (dipukul, dijambak, ditendang, diinjak, dicubit, dicekik, dicakar, dijewer, disetrika, disiram air panas), kekerasan psikis (dihina, dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki, dibentak, dimarahi, diancam), kekerasan seksual (diperkosa, disodomi, diraba-raba alat kelaminnya, dipaksa oral sex, dipaksa menjadi pelacur, dipaksa bekerja di warung remang-remang). Kekerasan ekonomi (dipaksa menjadi pemulung, pengamen, pembantu rumah tangga, pengemis). Dampak tindak kekerasan terhadap anak yang paling dirasakan yakni pengalaman traumatis yang susah dihilangkan, yang berlanjut pada timbulnya permasalahan lain, baik fisik, psikologis maupun sosial. “Mereka cenderung menyalahkan dirinya, menutup, dan menghukum dirinya. Masyarakat cenderung menyalahkan korban, tidak menghiraukan hak privasi korban. Bahkan, media massa tanpa empati memberitakan kasus yang dialami korban secara terbuka,” ujarnya. Untuk itu, katanya, berbagai upaya pencegahan perlu dilakukan. Pencegahan primer untuk semua orangtua dalam upaya meningkatkan kemampuan pengasuhan dan menjaga agar perlakuan salah tidak terjadi. “Orangtua memberikan perawatan anak dan layanan yang memadai. Kebijakan tempat bekerja yang mendukung, serta pelatihan life skill bagi anak. Pelatihan life skill meliputi penyelesaian konflik tanpa kekerasan, keterampilan menangani stres, membuat keputusan efektif, komunikasi interpersonal secara efektif, tuntunan dan perkembangan anak, termasuk penyalahgunaan narkoba,” paparnya. Pencegahan sekunder, ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya meningkatkan keterampilan pengasuhan, termasuk pelatihan dan layanan korban untuk menjaga agar perlakuan salah tidak terjadi pada generasi berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dengan melakukan kunjungan rumah bagi orangtua yang baru mempunyai anak/tempat tinggal padat untuk melakukan penilaian diri apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada anak di kemudian hari. Pencegahan tersier, layanan terpadu untuk anak yang mengalami korban kekerasan, konseling, pelatihan tata laksana stres. —ast

Jangan Letakkan Komputer di Kamar Anak Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Bali dr. Sri Wahyuni, Sp.KJ. Dokter spesialis kejiwaan RS Sanglah ini mengatakan, seseorang dikatakan kecanduan, apabila dia sudah melupakan tugas utamanya dan fungsi sosialnya. Pelajar atau mahasiwa lupa belajar, karyawan lupa bekerja, suami/istri melupakan pasangannya. Internet menyajikan sesuatu yang tidak memerlukan tindakan fisik, sangat menyenangkan tanpa melelahkan. Anak-anak, khayalannya makin melambung. Untuk meminimalkan efek negatif internet, ia menyarankan, orangtua meningkatkan aktivitas anak-anak di dalam dan lingkungan rumah. “Ajak anak-anak belajar berkebun, berolahraga atau bermain, yang mengajarkan anak-anak keterampilan, ketangkasan, keberanian, dan keperkasaan,” sarannya. Ia mengatakan, jika ada fasilitas intenet di rumah, jangan meletakkan komputer di kamar anak, agar orangtua dapat menga-

wasi saat anak browsing di internet. “Kalau mereka ke warnet beri anak uang saku secukupnya. Jangan sampai pulang melewati pukul 21.00,” tambahnya. Sudah banyak warga masyarakat yang telah menjalankan apa yang disarankan Dokter Sri Wahyuni itu. Misalnya Suartini. Ibu tiga anak ini menuturkan, untuk mengawasi dua anaknya yang sudah kuliah, ia hanya membolehkan mereka ke warnet sampai pukul 21.00. “Kebetulan warnet ada di depan rumah saya. Jadi mudah diawasi,” katanya. Leni, mahasiswi FE Unud, menuturkan walaupun berlangganan internet, ia jarang membuka facebook. “Paling seminggu sekali, itu pun hanya ½ jam,” ujar perempuan usia 24 tahun yang kuliah sambil bekerja ini. Ia mengaku, tidak pernah tertarik berselancar mencari pacar di dunia maya. “Lebih baik cari pacar di dunia nyata. Kita bisa tahu kepribadiannya. Kalau di dunia maya bisa saja dia bohong,” kata Leni. —ast

Bapak Ancam Jual Anak

NASIB naas menimpa dua bocah kakak beradik, DGA (10) dan DAA, asal Tampaksiring, Gianyar. Ayahnya, DKK (26), mengancam akan menjual dua anak tak berdosa ini. “Saya tidak beri uang yang dimintanya untuk berjudi. Dia lalu ancam akan menjual dua cucu saya,” ujar Dsk.KJ (65) ibu kandung DKK kepada Koran Tokoh, pekan lalu, di Denpasar. Sejak dua bulan terakhir, Dsk. KJ meninggalkan rumah keluarganya di Tampaksiring. Ia memboyong menantu, Km. K., dan dua cucunya. “Kalau terus berada di rumah kami di Tampaksiring, saya khawatir dia akan menculik dan menjual cucu saya,” katanya. Menurut istri pelaku, Km.N, Trauma Masa Kecil Prof. Suryani dan dr. Tjok Jaya suaminya tidak memiliki pekerjaan Lesmana, Sp.KJ dalam buku tetap. Anak bungsu dari tiga bersaudara kandung itu diungkapkan Bersambung ke halaman 13 gemar berjudi. “Akibatnya suami

saya jarang pulang ke rumah. Kalau uangnya habis berjudi baru dia pulang,” kisahnya. Sikap kasar kerap ditunjukkan DKK tiap pulang ke rumah. Ini terutama dilakukan jika ia gagal menguras kantong ibu kandungnya untuk berjudi. “Dia pernah merusak rumah dengan linggis karena saya tak memberinya uang,” ujar ibunya. Sikap anaknya itu membuat Dsk. KJ ketakutan. Ia akhirnya memenuhi desakan anak lelakinya ini. “Saya akhirnya menyerahkan sertifikat tanah. Ternyata dia menjual tanahnya. Bahkan isi sebuah kios di objek wisata Tirta Empul pun telah dijual secara diam-diam. Bangunan kiosnya disewakan kepada orang lain,” ujar Dsk.KJ. Kisah tersebut membuat pedih hati Km.N. Bangunan kios tempat menjual barang kerajinan di Tirta

Luh Putu Anggreni, S.H. Empul yang selama ini menghidupi keluarganya telah beralih ke tangan orang lain. “Sepeda motor yang sering saya pakai pergi ke tempat berjualan pun digadaikannya,” katanya. Hatinya makin lirih saat mendengar suaminya mengancam mertuanya. Awalnya DKK meminta sertifikat tanah yang masih disimpan ibunya. Namun, ibunya menolak memberikannya. “Dia lalu Bersambung ke halaman 13


4

Tokoh

Museum

28 Februari - 6 Maret 2010

Lengkapi Fasilitas Teknologi Informasi

Diskusi komprehensif bertopik “Mewujudkan Kepedulian Konkret Kita terhadap Upaya Pelestarian Budaya di Bali: Menerjemahkan Pesan Tahun Kunjungan Museum 2010” berlangsung, Rabu (24/2), di Agus Restaurant Jalan Tukad Punggawa Pulau Serangan, Denpasar Selatan. Diskusi yang digelar Koran Tokoh bekerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar tersebut dihadiri kalangan pemikir kebudayaan dan pariwisata, pengelola museum, kalangan tokoh masyarakat, guru, dan aktivis organisasi

Rancang Paket Wisata Museum

Rabu (24/2). Wardawan mengatakan perlu ada terobosan kreatif untuk menghidupkan museum. Museum harus bisa diberdayakan, dikembangkan, dan dilestarikan sehingga memberi manfaat bagi semua orang. “Dari sisi pendidikan, keingintahuan anak didik untuk berkunjung ke museum sangat minim. Seharusnya dengan berkunjung ke museum, mereka bisa tahu keberadaan leluhur dan peninggalan sejarah. Guruguru bisa membantu memberi penjelasan apa manfaat berkunjung ke museum. Kalau sudah tahu manfaatnya, otomatis mereka akan tertarik berkunjung ke museum,” tandas pria kelahiran Singaraja, 1 Agustus

1960 ini. Masyarakat juga perlu diimbau untuk berkunjung ke museum, minimal museum terdekat. Tetapi, jika imbauan tidak memberi dampak signifikan, perlu ditingkatkan menjadi sebuah peraturan yang relevan untuk mendorong orang berkunjung ke museum. Mekanisme peraturan inilah yang perlu dibahas dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Semua harus duduk bersama untuk mewujudkan museum yang penuh sesak dikunjungi orang. “Kami di Dinas Pariwisata juga sudah memfasilitasi pertemuan Asita dengan Nyoman Gunarsa. Kini sedang dirancang paket wisata Kertagosa. Wisatawan akan mulai menikmati objek Kertagosa dilanjutkan ke museum Gunarsa naik dokar. Kerja sama ini juga akan melibatkan HPI dengan divisidivisi yang ada,” tandas ayah dua anak ini. Untuk mewujudkan impian

Drs. Nyoman Wardawan

VISIT Museum Year (VMY) 2010 sangat menarik dari sisi pariwisata. Tetapi, kenyataannya museum-museum di Bali belum banyak dikunjungi. Warga lokal, wisatawan nusantara, maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke museum sangat minim. “Mereka sepertinya mempertanyakan apa daya tarik museum, apa keuntungannya, dan khusus untuk sektor pariwisata, tentu ada benefit yang bisa didapatkan pramuwisata. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” kata Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali Drs. Nyoman Wardawan dalam Diskusi Komprehensif di Pulau Serangan, Denpasar Selatan,

“Mengenai VMY 2010, Dinas Pariwisata Bali masih menanti apa yang disampaikan pusat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan masyarakat ke museum. Kami juga masih menanti apakah ada anggaran dari pusat, seperti ketika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan Visit Asian Year, ada anggaran untuk kabupaten dan provinsi”

Wisatawan Jepang Senang ke Museum DALAM ‘Visit Museum Year 2010’ ini menarik untuk diketahui turis dari negeri mana yang paling senang berkunjung ke museum saat berlibur di Bali. Informasi ini akan berguna untuk membuat strategi promosi ke target pasar wisata dunia. Sementara jawaban atas pertanyaan itu mesti dinanti sampai program tahun kunjungan museum berakhir, sejauh ini statistik dari satu museum di Ubud menunjukkan bahwa wisatawan Jepang paling banyak berkunjung ke museum. Dalam sebulan rata-rata 2000 orang wisatawan Jepang berkunjung ke museum. Posisi lima besar wisatawan asing yang berkunjung ke museum setelah Jepang ditempati Prancis, Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda. Kesimpulan ini ditarik dari statistik kunjungan wisatawan asing ke Museum Seni Neka, Ubud, tahun 2005-2008. Jumlah kunjungan turis ke Museum Neka dalam periode ini terus meningkat,

mencapai angka rata-rata 70 ribu/tahun. Tahun 2007, misalnya, angka kunjungan mencapai 73.362 orang untuk wisatawan asing dan domestik. Harga tiket masuk ke museum ini Rp 40 ribu/orang, naik sejak Juli 2008 dari Rp 20 ribu. Paralel Peringkat pertama yang ditempati turis Jepang sebagai pengunjung museum paralel dengan peringkat pertama yang senantiasa dicatat wisatawan Negeri Matahari Terbit ini dalam statistik angka kunjungan wisatawan asing per tahun ke Bali secara keseluruhan. Turis Jepang ke Bali dalam beberapa tahun terakhir ini telah mencapai angka di atas 300 ribu. Posisi kedua (sesekali pertama) ditempati wisatawan Australia, namun turis dari negeri Kangguru ini tidak termasuk dalam lima besar wisatawan asing yang berkunjung ke Museum Neka. Mereka masuk dalam kelompok 10 besar. Angka-angka yang ada memperkuat asumsi bahwa

wisatawan Australia lebih senang menghabiskan waktu untuk berselancar atau menikmati hangatnya mentari di pantai daripada ke museum. Wisatawan Prancis dan Belanda yang angka kunjungan totalnya ke Bali jauh di bawah turis Australia, justru masuk ke dalam lima besar. Angka ini memperkuat kesan bahwa wisatawann Eropa tertarik pada museum. Kenyataan bahwa turis Inggris dan Jerman termasuk dalam 10 besar pengunjung museum memperkuat besarnya minat wisatawan Eropa mengunjungi museum di Bali. Angka kunjungan wisatawan per negara asal ke Museum Neka ini mungkin merefleksikan gambaran umum. Jika ini benar, berarti kecenderungan ini bisa dijadikan dasar untuk melakukan promosi pariwisata. Bahan Promosi Statistik tentang asal negara turis yang senang ke museum ini bisa dijadikan bahan untuk merancang strategi promosi wisata agar promosi tepat target. Tiap promosi pariwisata ke Jepang, Korea Selatan,

membuat museum disesaki warga dan wisatawan, Wardawan mengatakan perlu ada standardisasi fasilitas, kualitas, dan sarana penunjangnya. Hal ini mengacu pada pernyataan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang mengatakan 90% museum tidak layak dikunjungi. Kalau sudah ada standardisasi dan layak dikunjungi, ia yakin museum-museum di Bali akan menjadi objek wisata yang menarik. Namun, diakuinya persoalan klasik yang dihadapi adalah dana. Kalau mau memberdayakan atau membangun yang baik, kendalanya dana. “Meski demikian, tidak perlu pesimis tetapi optimis dengan usulkan program yang sudah dirancang. Mudah-mudahan dengan adanya diskusi komprehensif yang digagas Koran Tokoh ini akan menggugah aparat pemerintah yang berwenang untuk memberikan dana sehingga masalah yang dihadapi dalam pengembangan dan pemberdayaan museum bisa dipecahkan,” tandas lelaki yang pernah menjabat kepala Seksi Informasi Pariwisata Dinas Pariwisata Bali ini. Mengenai VMY 2010, Dinas Pariwisata Bali masih menanti apa yang disampaikan pusat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan masyarakat ke museum. “Kami juga masih menanti apakah ada anggaran dari pusat, seperti ketika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan Visit Asian Year, ada anggaran untuk kabupaten dan provinsi. Atau, ada anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan di museum. Mari bersama-sama membuat keberadaan museum lebih bersinar dan dikunjungi banyak orang. Museum bukan hanya sebagai tempat pendidikan dan menyimpan barang tetapi bisa menjadi objek wisata,” tegasnya —wah

LAYANAN museum punya pengaruh terhadap kepuasan dan minat wisatawan datang ke museum. “Ini menjadi kajian akademik yang menarik,” ujar kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Unud Dr. Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc. dalam diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan Pemerintah Kota Denpasar di Agus Restaurant Pulau Serangan Denpasar Selatan itu.

M

enurut sekretaris Bali Tourism Board ini, studi yang dilakukan telah memaparkan adanya variabel penting yang mendorong wisatawan berminat melancong ke museum. Museum harus memfasilitasi agenda kegiatan eksibisi. “Adanya pagelaran menjadi salah satu kiat efektif menggenjot daya tarik arus kunjungan ke museum di Bali. Selain melihat atraksi budaya, pengunjung dapat menyaksikan berbagai macam koleksi. Pelancong yang semula tak mendapat informasi memadai tentang museum menjadi tahu banyak,” katanya. Manajemen Museum Gunarsa disebutkan sebagai pengelola museum yang kreatif menggelar berbagai kegiatan budaya semacam itu. Daya tariknya lumayan kuat untuk mengundang kehadiran wisatawan. Ini sudah dibuktikan saat Museum Gunarsa menggelar Lomba Barong. “Masyarakat pun yang tadinya tak mau datang menjadi tertarik berkunjung ke museum ini. Setelah melihat mereka akan bercerita kepada orang lain,” ungkapnya. Namun, manajemen pengelolaan even menjadi masalah serius pengelola museum di Bali. Agung Suryawan menilai ini bukan masalah sepele. Namun, ada cara yang ditawarkan untuk memecahkan problem pagelaran yang bagus itu.”Jika manajemen museum tak mampu membuat pagelaran yang bagus, sebaiknya mereka bekerjasama dengan event organizer,” harap suami Ir. I G. A. Oka Suryawardhani ini. Menurutnya, program “Tahun Kunjungan Museum 2010” yang dicanangkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, sebenarnya memiliki arti penting untuk mendorong era kebangkitan museum di Tanah Air umumnya, di Bali khususnya. Namun, program untuk menambah daya tarik wisatawan ini belum membumi di kalangan masyarakat kita.

Dr. Ir. Agung Suryawan

“Pak Menteri seharusnya membuat pameran keliling Indonesia untuk menyosialisasikan museum ke tengah masyarakat sekaligus menarik wisatwan datang ke Indonesia. Pameran keliling ini diatur jadwalnya dari satu daerah ke daerah lain. Ini belum tampak sampai sekarang,” ujarnya. Keberadaan Museum Bali mendapat sorotan Agung Suryawan. Menurutnya, masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke museum ini jangan hanya disuguhi pameran benda-benda kuno. “Ini membuat museum ini hampir kehilangan daya tarik,” katanya. Museum Bali diharapkan segera dibenahi pemerintah daerah kita. Saat ini, Museum Bali diamatinya cenderung mengutamakan pameran bendabenda kuno. Ini saja tidak cukup untuk membuat museum ini berdaya tarik. “Museum Bali sudah saatnya dilengkapi fasilitas teknologi informasi,” katanya. Keberadaan museum lainnya di Bali perlu pula mendapat perhatian serius. Ini terutama berkaitan dengan lokasinya yang terpencar-pencar. “Sebaiknya letak hampir semua museum tak terpencar satu dan lain-

Kiat Genjot Daya Tarik Museum di Bali nya. Jangan seperti sekarang ini,” harapnya. Keberadaan museum science di Bali coba digagas Agung Suryawan. Akademisi Unud ini mendesak agar Bali memiliki pula museum science. Jika ada museum ini otomatis beragam perkembangan dunia teknologi dapat dipetik sebagai bahan mengedukasi masyarakat. “Contohnya, ada informasi tentang gambaran tata surya, bentuk bendanya, medan magnet, dan lain-lain. Museum ini pun dapat menyuguhkan berbagai macam koleksi lain, seperti patung binatang purba dinosaurus yang bisa dibuat dari bahan fiber atau alat trasportasi tempoe dulu, seperti dokar dan gedebog. Jika tak bisa dibuat ukuran sesungguhnya, bisa dibikinkan miniaturnya,” katanya. Hal lain yang perlu diperhatikan guna menarik wisatawan datang ke museum adalah fasilitas penunjang interpretasi isi museum. Fasilitas ini dapat membantu pengunjung mendapatkan informasi lengkap tentang benda-benda koleksi museum. “Sarana memberikan informasi ini bisa dengan mencantumkan label maupun alat dijital,” tandasnya. Ada pengalaman menariknya saat melakukan tur pendidikan bersama siswa Denpasar Children Center Queensland, Australia, belum lama ini. Di negeri tetangga ini, ada museum yang memamerkan proses penetasan penyu mulai dari telur menjadi tukik. “Saya baru tahu di sana jika jenis kelamin tukik ini ditentukan oleh suhu lingkungan. Jika panas, menetaskan tukik jantan dan jika dingin tukik betina. Padahal masyarakat Bali memiliki penangkaran penyu terbesar di Pulau Serangan,” ungkap ayah satu anak ini. Kalangan sekolah diharapkan membuat program berkunjung ke museum. Ini dapat digarap melalui kerja sama dengan instansi pemerintah terkait. “Guru bisa menugaskan siswa berkunjung ke museum. Setelah itu mereka diminta membuat tulisan dari hasil kunjungan tersebut. Ini dapat membantu mengenalkan museum sejak dini kepada anak-anak kita,” katanya. —tin

Prancis, Taiwan, dan Belanda, misalnya, sebaiknya diisi penonjolan keberadaan museum di Bali sebagai daya tarik wisatawan. Sebaliknya jika promosi ke Australia atau negara yang menyumbang pengunjung ke museum rendah promosi museum tidak menjadi keharusan. Artinya, promosi wisata hendaknya disesuaikan dengan minat target kunjungan turis yang hendak disasar. Sepersepuluh Dibandingkan wisatawan asing, angka wisatawan domestik yang bertandang ke museum rendah sekali. Misalnya, dari 73.362 orang yang berkunjung ke Museum Neka tahun 2007, hanya 6013 orang di antaranya wisatawan domestik. Angka ini menunjukkan wisatawan domestik hanya sepersepuluh dari total kunjungan wisatawan asing. Rendahnya angka kunjungan turis domestik ke Museum Neka menunjukkan kurangnya minat turis domestik untuk mengenal karya seni lukis. Kenyataan ini juga bisa dijadikan pelajaran bahwa dalam melakukan promosi wisata untuk turis domestik, unsur museum tidak perlu dijadikan prioritas, kecuali mungkin untuk kepentingan darmawisata sekolah atau lembaga pendidikan.

Sutedja Neka di depan museumnya di Ubud

Dikelola Profesional Museum Neka merupakan salah satu museum swasta yang dikelola secara profesional. Museum ini berdiri tahun 1976, tetapi baru dibuka secara resmi 7 Juli 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) Daoed Joesoef. Ketika berdiri, Museum Neka hanya memiliki 45 lukisan, tetapi tahun 2010 ini, koleksi itu berlipat menjadi 350 lukisan. Selain lukisan, Museum Neka juga memajang koleksi 272 keris. “Keris ini sebagian dari pusaka keris kerajaan Bali seperti Karangasem dan Gianyar,” ujar Wayan Pande Su-

tedja Neka, belum lama ini di Ubud. Museum Neka juga memajang sejumlah patung dan foto Bali ‘tempo doeloe’. Foto hitam putih ini merupakan koleksi Robert Koke, warga Amerika yang merupakan salah seorang tokoh pendiri hotel pertama di pantai Kuta tahun 1930-an. Sebelum Museum Neka, di Ubud sudah berdiri Museum Puri Lukisan (1956), sedangkan sesudahnya berdiri beberapa museum yang juga dikelola secara profesional yaitu Museum Rudana (1995), Agung Rai Museum of Arts (ARMA) berdiri 1996, Museum Blanco (1998), dan

Museum Patung Pendet di Nyuh Kuning (2002). Museum-museum swasta di Bali termasuk Museum Seni Lukis Klasik milik pelukis Gunarsa di Klungkung bergabung dalam Himusba. Kehadiran mereka jelas sebagai daya tarik wisata. Tahun 2010 ini pemerintah menggelar Tahun Kunjungan Museum. Selain sebagai daya tarik wisata, museum juga menjadi cultural heritage (warisan budaya) karena menyelamatkan karya seni adiluhung yang pantas diketahui generasi mendatang. z Darma Putra


Museum

Hanya 15% Wisatawan Berminat ke Museum Sarana Prasarana B tak Memadai UDAYA menjadi salah satu keunggulan pariwisata Bali di mata wisatawan mancanegara. Warisan budaya leluhur, seperti kegiatan keagamaan, menjadi daya tariknya. “Ada sekitar 67% pelancong asing ke Bali karena daya tarik budaya,” ujar ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Drs. I Made Sukadana dalam diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan Pemerintah Kota Denpasar di Agus Restaurant Pulau Serangan Denpasar Selatan itu.

di bawah itu. Padahal, museum dinilai sebagai salah satu fasilitas merawat dan mendongkrak citra unggul budaya Bali. “Saat ini, museum kita belum mengundang daya tarik. Catatan kami, minat wisatawan berkunjung ke museum hanya 15%,” ungkapnya. Tamu asing enggan berkunjung ke museum bukan tanpa alasan. “Sarana dan prasarana museum kita umumnya tidak memadai. Tamu kerap merasa tidak nyaman karena kegerahan. Museum kita seharusnya dilengkapi pendingin ruangan alias AC (air conditionare),” ujarnya. Sesuai dengan salah satu fungsinya sebagai tempat studi Made Sukadana terkait peninggalan bersejarah, Namun, menurutnya, per- tamu asing yang tertarik pergi sentase wisatawan yang ber- ke museum sebagian besar kunjung ke museum masih jauh mahasiswa maupun lembaga

Ratnawati Adnyana

kemuseuman. “Tujuan mereka memang khusus mengunjungi museum untuk kepentingan pendidikan,” katanya. HPI tak tinggal diam dengan rendahnya arus kunjungan wisatawan ke museum itu. Menurutnya, untuk memancing minat wisaman yang memang memiliki tujuan berlibur, ada beragam terobosan yang dilaku-

Menambah Jam Buka Museum MUSEUM tidak selalu identik dengan benda kuno. Museum bukan saja tempat untuk rekreasi. Ada proses pembelajaran yang dapat dipetik dari sebuah museum. “Namun, museum harus mampu menyajikan hal-hal terkini,” . ujar Chairman Smarapura Cultural Heritage Trust Ida Bagus Pangdjaya, dalam diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan Pemerintah Kota Denpasar di Agus Restaurant Pulau Serangan Denpasar Selatan itu. Menurut mantan kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali ini, saat mengunjungi museum, pengunjung mendapatkan informasi tentang berbagai benda yang terpajang di dalamnya. “Misalnya saja bagaimana keris itu dibuat dan bagaimana proses penyimpanannya,” ujarnya. Museum dinilai bukanlah semacam gudang menyimpan arsip atau barang bekas. Museum harus didesain sedemikian rupa, sehingga menarik perhatian pengunjung. “Upaya menyesuaikan keberadaan

Ida Bagus Pangdjaya

museum dengan perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu caranya. Begitu tamu masuk, mereka diberikan informasi lengkap melalui fasilitas komputerisasi. Fasilitas ini diakses sendiri oleh pengunjung. Sekali klik mereka dapat informasi sesuai yang diinginkan. Jangan sampai saat pengunjung datang ke museum, petugasnya malah tidak di tempat,” katanya. Keberadaan museum kita mengundang rasa prihatin. Ini jika dibandingkan dengan keberadaan museum di luar negeri. Orang asing amat menghargai museum mereka. Pangdjaya menyontohkan adanya museum penjara di

kan HPI. “Kami mengimbau biro perjalanan wisata agar membuat paket perjalanan wisata yang diselipkan di dalamnya objek wisata museum,” kata Sukadana. Usaha itu telah membuahkan hasil. “Misalnya, paket tur ke objek wisata Batu Karu, Jati Luwih, dan Bedugul di Kabupaten Tabanan ditambahkan jadwal kunjungan ke Museum Subak,” ujarnya. Ide-ide membuat museum menjadi salah satu tempat kunjungan wisatawan senantiasa bermunculan. Selama ini ia membuat kunjungan museum bagi wisatawan yang ingin melihat dan mengetahui seluruh kebudayaan Bali. Padahal, waktu turnya hanya setengah hari. “Museum Bali memiliki beragam koleksi budaya Bali, seperti tekstil, alat upacara, proses upacara mulai dari kelahiran hingga kematian, patung, keris Bali. Dalam waktu setengah hari mereka bisa mengenal kebudayaan Bali lewat museum,” katanya. Beragam usaha memang telah dilakukan HPI Bali. Agar program kunjungan museum ini berhasil, pihaknya pun juga meminta agar pengelola museum bisa memberikan pelayanan maksimal kepada tiap tamu yang berkunjung. Penyediaan fasilitas, sarana-prasarana pun perlu dioptimalkan. Harapan itu diamini pengusaha pariwisata Ratnawati Adnyana. Pemilik Ratna Hotel Beach Sanur ini memiliki segudang pengalaman selama berkunjung ke luar negeri. Menurut istri mendiang mantan hakim agung Ida Bagus Adnyana, S.H., M.H., ini, museum di Eropa umumnya dikelola

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 5 secara profesional. “Museum menjadi daya tarik luar biasa. Berbagai informasi penting dan mendalam dapat ditemukan di tiap museum di Eropa. Pengunjung yang masuk ke museum pun merasa nyaman. Selain kesigarap-

an dan keramahan petugasnya, juga suasana sejuk ruangan membuat pengunjungnya betah,” ujar ibu empat anak ini. Ratnawati adnya setuju dengan dorongan banyak kalangan agar program pembenah-

an museum harus menjadi salah satu prioritas utama pemerintah kita di Pulau Dewata. “Ini jika kita betul-betul ingin mengangkat derajat museum kita setara dengan museum di negara lain,” tandasnya. —lik

“Saat ini, museum kita belum mengundang daya tarik. Catatan kami, minat wisatawan berkunjung ke museum hanya 15%”

Jangan Layani Pengunjung hanya SeninJumat salah satu negara asing. Museum ini menggambarkan secara lengkap isi bangunan penjaranya. “Pengunjung yang datang bisa mengenali benda yang bernama borgol. Mereka juga bisa tahu siapa saja yang pernah dipenjara di situ,” katanya. Bersambung ke hlm. 17

Kiri: Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I Dr. Shri I Gst. Ngrh. Arya Wedakarna MWS III, S.E. (MTRU), M.Si. Kanan: Salah satu pendiri PHDI Shri Wedastera Suyasa (alm.)

Alm. Shri Wedastera Suyasa

Resmi Diakui sebagai Pendiri PHDI SETELAH 51 tahun berdiri, akhirnya sejarah emas itu tergores pada 23 Februari 2010 bertempat di Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar. Secara resmi Ketua PHDI Bali memberikan anugerah pada tujuh orang tokoh Hindu Bali terhadap prakarsanya dalam pendirian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang lahir lewat proses sejarah pada 23 Februari 1959 bertempat di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Adapun sejumlah tokoh yang mendapatkan penghargaan yakni (alm.) Shri Wedastera Suyasa, (alm.) Ida Bagus Mantra, (alm.) Shri Rsi Ananda Kusuma, (alm.) I Gusti Bagus Sugriwa, (alm.) I Wayan Surpha, S.H. dan Ida Bagus Dosther, S.H. Penghargaan ini merupakan sebuah sejarah tersendiri, karena baru kali ini tujuh orang tokoh pendiri PHDI disatukan dan diakui setelah 51 tahun berdirinya PHDI. Penghargaan untuk (alm.) Shri Wedastera Suyasa diserahkan kepada pihak keluarga yang diwakili putra beliau yakni Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Pemberian penghargaan ini, tidak lain adalah sebuah motivasi bagi keluarga besar Shri Wedastera Suyasa untuk melanjutkan perjuangan almarhum. Penghargaan ini langsung diserahkan Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. (Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat). Penghargaan bernomor: 434/

Srtf/PHDI Bali/2010 tanggal 23 Februari 2010, dengan lingga tangan Dr.Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. (Ketua PHDI Bali), Ida Pedanda Istri Oka Sidemen (Dharma Upapathi) dan Ida Pedanda Gde Ketut Sebali Tianyar Arimbawa (Dharma Adyaksa), diharapkan menjadi penyemangat dan simbol bersatunya tokoh-tokoh Bali yang berjuang untuk keberadaan Hindu di Indonesia. Shri Wedastera Suyasa adalah tokoh Bali yang kala itu amat dekat dengan Dr.Ir.Sukarno (Presiden RI Pertama). Bagaimana tidak, saat itu Shri Wedastera Suyasa menjadi tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang menjadi pemenang Pemilu tahun 1955. Wedastera kerap dimintai pertimbangan oleh Bung Karno terkait masalah keagamaan dan budaya Bali. Wedastera dengan cerdas memanfaatkan keberadaannya saat itu sebagai petinggi PNI Bali untuk memberi masukan kepada Bung Karno agar Hindu diakui menjadi agama resmi di Indonesia. Karena, sebelum PHDI lahir, Hindu di Indonesia dianggap sebagai aliran kepercayaan. Walau lebih dikenal politisi dan “Sukarno Bali” Wedastera aktif di sejumlah organisasi keagamaan di antaranya pernah memimpin organisasi Angkatan Muda Hindu (AMH), aktif di lembaga dana punia serta di organisasi Dalem Tegeh Kori. Wedastera dalam sejarah tercatat sebagai salah seorang pencetus dari Universitas Udayana dan Uni-

versitas Marhaen (Universitas Mahendradatta), yang mana kedua universitas ini memang lahir atas prakarsa Bung Karno. Pada zamannya tidak ada tokoh Bali yang lebih terkenal seperti Wedastera alias Pak “W”. Dari remaja hingga orang dewasa, dari petani hingga birokrat, semua mengenal Wedastera. Keberaniannya luar biasa, dan ia tercatat sebagai satu-satunya tokoh Bali, yang disambut ratusan ribu orang yang memenuhi bandar udara Tuban setelah diamankan Bung Karno di Istana Presiden saat negara dalam keadaan bahaya karena gerakan komunis. Wedastera juga berani menentang A.A. Sutedja (Gubernur Bali saat itu) yang menghentikan pidatonya dalam rapat akbar di Lapangan Puputun Badung. Hingga saat ini, belum ada tokoh Bali yang menyamai kharisma dan kecintaan rakyat terhadap sosok Wedastera. Wedastra juga menolak jabatan sebagai Gubernur Bali yang ditawarkan oleh Bung Karno (Presiden RI Pertama) walau saat itu dukungan rakyat Bali dan massa PNI yang mayoritas sangat besar. Ia lebih memilih sebagai pemimpin rakyat dibanding pemimpin birokrasi. Kini secara resmi PHDI menganugerahkan penghargaan dan apresiasi pada Almahurm sebagai pendiri PHDI. Seperti kata Bung Karno, “Jangan Sesekali Meninggalkan Sejarah”. Semoga penghargaan ini bermanfaat demi umat. —adv


6

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Nusantara

Mahasiswa Papua di Bali tak lagi Terima Bantuan Beras KEGIATAN di bidang kesenian, olahraga, sosial, dan keagamaan, menjadi ciri warga Papua yang bertempat tinggal di Bali. Di Bali juga ada beberapa asrama yang ditempati warga Papua yang sedang kuliah. Dulu, Pemerintah Daerah Papua membantu beras, tetapi sekarang bantuan itu tidak ada lagi.

Nicolas Yarise Tow

Warga Papua di Bali tergabung dalam Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Papua (Immapa) Bali yang berdiri tahun 1991. Awalnya bernama Hipmirja (Himpunan Mahasiswa Irian Jaya). Tahun 2000 berganti nama menjadi Immapa. “Alasannya wadah ini bisa lebih merangkul komunitas Papua di Bali, tidak hanya maha-

siswa,” ujar Wakil Ketua Immapa Nicolas Yarise Tow di sekretariatnya, di Jalan Pulau Sula Denpasar. Nico menjelaskan, paguyuban ini punya beragam kegiatan seperti kegiatan sosial, keagamaan, kesenian, dan olahraga. Seminar HIV/AIDS pernah mereka selenggarakan. “Kami pun kerap diminta datang ke SD dan SMP guna memberikan informasi tentang kebudayaan Papua dalam kaitan pelajaran kebudayaan daerah. Kami menjelaskan tentang adat Papua, jenis alat musik, pembagian daerah dan golongan masyarakat,” kata pria kelahiran Jayapura 21 Februari 1985 ini. Mereka secara aktif menggalang dana untuk mengisi kas paguyuban dengan menggelar berbagai kegiatan. “Tiap anggota tak ditarik iuran. Tetapi, kami sedang merencanakan ada iuran anggota,” katanya. Tiap tahun mereka mengadakan acara bazar makanan di

Tarian perang Papua

asrama putri yang terbuka bagi masyarakat umum. Beragam makanan khas Papua disajikan seperti yang berbahan baku ubi-ubian, sagu, yang sudah diolah menjadi papeda, serta ikan kuah kuning. Dalam kegiatan ini mahasiwa putra membantu memasak dan melakukan promosi ke kampus-kampus. Immapa punya kelompok kesenian yang kerap diundang menampilkan tarian khas daerah Papua di hotel atau kafe. “Kami mendapat bayaran lumayan,” ungkapnya. Tahun lalu, kelompok kesenian ini dikontrak tampil tiap Sabtu di sebuah hotel ternama di Bali. Yang ditampilkan tarian perang atau jenis tarian kreasi baru, tergantung permintaan. Nico menjelaskan, gerakan

tarian itu sudah dipadukan dengan budaya daerah di Provinsi Papua seperti Manokwari, Biak, Timika, Raja Ampat, Fak-fak, dan Jayapura. “Kostum dan peralatan menari didatangkan dari Papua. Saat ini kami hanya mengisi acara berdasar undangan,” kata mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Unud ini. Jika jadwal tampil berbenturan dengan jadwal kuliah, katanya, mereka tak bisa memaksakan tampil karena tak akan meninggalkan tugas utamanya di Bali, belajar dan kuliah. Organisasi ini juga memiliki persatuan sepak bola bernama Football Club (FC). Anggota FC beberapa waktu lalu berangkat ke Lombok untuk syuting iklan rokok. “Kami diminta menjadi

Di “Provinsi Bumi Gora” Padi Gora tak Sepopuler Dulu NTB dikenal dengan sebutan Provinsi Bumi Gora. Namun, penanaman padi gogo rancah sekarang tidak sepopuler dulu. Ini berkat kemajuan yang dicapai dalam pembangunan sektor pertanian di daerah ini. Terutama, berkat pembangunan irigasi, sebagian lahan kering sudah bisa ditamani padi sebagaimana umumnya dilakukan para petani.

L

ahirnya sebutan ’Provinsi Bumi Gora’ tak lepas dari kondisi Lombok, khususnya Lombok Selatan, tahun 1960-an. Saat itu ancaman kelaparan melanda Lombok Selatan. Tahun 1966 ratusan orang meninggal. “Kelaparan tersebut menjadi isu nasional,” kenang Siti Maryam yang kala itu menjabat kepala Biro DPRDGR Setda NTB. Kekeringan berkepanjangan mengakibatkan ratusan ribu hektare lahan pertanian gagal

Kondisi tanah di

Dadih Permana

panen. Petani kehilangan mata pencaharian dan akibatnya tak ada lagi persediaan makanan. Lombok Selatan tergolong daerah tipe iklim F, yang mendapat curah hujan sangat sedikit, hanya 1.000 milimeter per dekade. Pemerintah Daerah NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Ruslan Cakraningrat mencari jalan keluar dengan menggelar Operasi Penanggulangan Lombok Selatan. Upaya ini gagal. Pada era kepemimpinan Gubernur Wasita Kusumah, dilakukan Operasi Penanggulangan Wijaya Kusuma. Hasilnya berlum menuntaskan kelaparan di Lombok Selatan. Bukan hanya sangat sedikit curah hujannya, tanah persawahan di kawasan ini kering membatu sepanjang tahun. Jika petani di daerah lain menggunakan pacul, untuk mengolah lahan masyarakat di Lombok Selatan menggunakan linggis.

Hj. Siti Maryam Salahuddin

tanah kering dengan linggis untuk menanam bibit padi tahan kering. Untuk menyiapkan ratusan linggis, Pemda NTB memproduksinya secara khusus..Upaya serius itu akhirnya berbuah manis. Tunas-tunas Gora bermunculan. Sejak itu sosialisasi penanaman padi Gora dilakukan tidak terbatas di Lombok Selatan juga ke seluruh NTB yang tanahnya kering. Pemerintah Daerah NTB mengucurkan dana Rp 150 juta untuk membiayai Operasi Tekad Makmur, termasuk untuk biaya sosialisasi lewat pemutaran film dan sarana lainnya. “Sanggar Seni Budaya Paju Monca Mataram pun ikut melakukan sosialisasi lewat tarian dan pergelaran kesenian,” ungkap Siti Maryam untuk menggambarkan bahwa seluruh komponen masyarakat kompak berpartisipasi menyukseskan program pemerintah daerah. Sedikit demi sedikit kelaparan tertanggulangi dan produksi padi NTB terus meningkat, sampai akhirnya surplus beras. Gogo Rancah mengantar NTB menerima penghargaan dari lembaga pangan dunia Food Association Organization (FAO). Gubernur Gatot Suherman menerima penghargaan tersebut di Italia. Sejak itu Nusa Tenggara Barat dikenal dengan sebutan Provinsi Bumi Gora.

Saat berada dalam kepemimpinan Gubernur Gatot Suherman, Pemerintah Pusat mendatangkan para ahli dari luar negeri untuk melakukan penelitian. Akhirnya ditemukan bibit padi yang tahan dan dapat tumbuh di lahan kering yang tak banyak air. Bibit ini diberi nama padi Gogo Rancah (Gora). Tekad memperjuangkan hak masyarakat Lombok Selatan untuk bebas dari kelaparan dimulai melalui Operasi Tekad Makmur yang dipimpin Gubernur Gatot Suherman. Seluruh sumber daya dikerahkan untuk menyukseskan program ini. “Dua hari ditetapkan sebagai hari libur di lingkungan Pemda NTB, dijadikan hari gotong royong menanam padi Lahan Gora Berkurang Gora di Lombok Selatan,” keMeskipun tidak lagi banyak nang Siti Maryam. Bersama masyarakat Lom- dikembangkan di NTB, padi bok Selatan, pegawai negeri Gogo Rancah hingga kini masih dikerahkan membongkar tanah- ditanam petani terutama di daerah lahan kering seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur bagian selatan, kata Kepala Dinas Pertanian NTB Ir. Pending Dadih Permana. Ribuan hektare lahan masih dimanfaatkan untuk menanam padi Gora di NTB. Para petani melakukan pembongkaran lahan tersebut jauh sebelum turun hujan dengan menggunakan pacul dan linggis. Sejak awal, sebagian besar padi Gora ditanam di lahan Lombok Selatan. Di wilayah tersebut sering mengalami gagal panen karena tidak adanya sarana pengairan/tadah hujan dan karakteristik bulan basahnya sangat pendek yakni 2-3 bulan saja. Lahan padi Gora masih dijumpai di sebagian daerah NTB terutama di Kabupaten Lombok Tengah, karena daerah itu belum secara maksimal bisa terjangkau sistem irigasi, walaupun telah dibangun bendungLombok yang dapat ditanami padi gogo rancah an raksasa Batujai.

Lomba Karaoke

Lagu Banyuwangi dan Campursari LOMBA Karaoke Lagu Banyuwangi (Osing) dan Campursari (Jawa) diselenggarakan Radio Mega Nada 103,2 FM bekerja sama dengan Koran Tokoh Sabtu (6/ 3) mulai pukul 09.00. Tempat lomba CNI Cabang Bali, Istana Kuta Galeria, Blok Broadway 3 Nomor 1, Jalan Patih Jelantik, Kuta. Lomba terbuka untuk umum, pria maupun wanita, tanpa dibatasi usia. Uang pendaftaran Rp 30.000, dan tiap peserta mendapatkan snack dan piagam. Sebanyak 6 pemenang akan menerima piala tetap Koran Tokoh dan Radio

Perebutkan Piala Koran Tokoh dan Radio Mega Nada Mega Nada. Pendaftaran ditutup Jumat (5/3) pukul 16.00, bertempat di Radio Mega Nada, Jalan By Pass Tanah Lot 18 Buwit, Kediri, Tabanan – telepon 081 3386 11211 atau 081 2361 07374. Jumlah peserta dibatasi. Selain untuk membangun tali silaturahmi secara kekeluargaan, lomba ini juga merupakan ajang adu kreativitas dan penyaluran hobi ber-

karaoke. Lagu pilihan (Banyuwangi maupun Campursari) untuk pria: Sing Duwe Isin, Siti, Katon Manise, Jambu Alas, Minggat, Denpasar Arjosari. Pilihan untuk wanita: Gelang Alit, Mendem Roso, Alom, Banyukali, Alon Nganjuk, Leyeh-Leyeh. Radio Mega Nada, satusatunya radio yang memiliki program siaran tetap lintas budaya Bali, Jawa, Banyuwangi, Sunda, dan Madura. Dengan misi sama, Koran Tokoh juga memiliki rubrik Nusantara yang menyajikan kegiatan lintas budaya. —lik sekretariat. Di asrama mereka mendapat fasilitas kamar yang dihuni idealnya 2 orang. Tetapi, di asrama putra, satu kamar bisa dihuni lebih dari 2 orang karena membantu teman yang belum mendapat tempat kos. Tiap asrama ada televisi, ruang dapur, dan tiap orang dibebaskan dari membayar beaya air dan listrik. Tahun 2006 para mahasiswa/ i mendapat bantuan beras dari Pemda Papua. Beras itu dibagikan kepada seluruh mahasiswa/i di Bali yang mayoritas berada di Denpasar dan Klungkung. Tiap orang mendapat 10 kilogram beras. Mereka senang mendapat beras karena meringankan biaya kuliah. “Sekarang sudah tidak ada lagi bantuan beras,” katanya. —tin

bintang iklan salah satu industri rokok terkenal,” katanya. Dana yang terkumpul, menurut Nico, disimpan sebagai kas paguyuban yang dipakai untuk beragam keperluan anggota seperti perayaan Natal, bantuan sosial, maupun untuk peristiwa darurat seperti membantu anggota yang terkena musibah dan mengalami kecelakaan, serta mahasiswa yang terlambat membayar uang kuliah. Tahun 2007, warga Papua di Bali sekitar 250 orang. Di antaranya datang ke Bali untuk melanjutkan studi sebagai mahasiswa murni dan sebagian lagi dalam rangka tugas belajar. “Tiap tahun mahasiswa baru asal Papua di Bali bertambah 3

sampai 5 orang,” katanya.

Di Pulau Sumbawa Gora semula juga dikembangkan di Kabupaten Bima. Setelah sistem pengairan dibangun dan embung-embung berfungsi banyak lahan yang kini mendapat layanan irigasi sehingga luas tanaman padi Gora berkurang. Petani mengolah lahan untuk menanam padi Gora, diawali mencongkel tanah dengan linggis pada musim kemarau. Bongkahan tanah kering tersebut dihancurkan dengan palu besar dari kayu. Kemudian lahan dengan tanah yang telah dihancurkan ini diratakan menggunakan garu (garpu). Pada saat musim hujan turun per-

tama, petani menanam benih. Hasil padi Gora bisa sama Setelah hujan turun beberapa dengan padi sawah, yakni 5 kali dan tanah menjadi lunak, sampai dengan 6 ton per hekpetani membuat pematang dan tare per musim tanam. —nik saluran air. Sekitar satu bulan kemudian, diperhitungkan hujan turun dengan optimal. Pada saat itulah tanaman padi sangat membutuhkan air. Karena pematang dan saluran air sudah siap, sawah tergenangi dengan sempurna. Sejak inilah tanaman padi dipelihara seperti halnya padi di sawah umumnya. Dua bulan kemudian, hujan sudah mulai berhenti bersamaan saat lahan Gora memerlukan pengeringan untuk mempercepat pemasakan bulir padi dan mengurangi kadar air di gabah.

Fasilitas Asrama Di Bali mahasiswa asal Papua dibantu fasilitas asrama oleh Pemda Papua. Mahasiswa disarankan bertempat tinggal di asrama, tetapi tak semuanya bertempat tinggal di srama. “Di asrama kami lebih gampang mengoordinasikannya. Yang tak punya kendaraan bisa diantar jika bepergian,” katanya. Ada beberapa asrama yaitu Asrama Nusa Cenda untuk mahasiswa putra Meraoke, Asrama Wamena Putra dan Asrama Wamena Putri untuk yang berasal dari Wamena. Asrama Putra Papua di Jalan Pulau Sula Denpasar berfungsi juga sebagai


Pendidikan

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 7

SMK Tenas Denpasar

Kembangkan Teknologi Informasi Berwawasan Budaya SEKOLAH Menengah Kejuruan Teknologi Nasional (SMK Tenas) hadir di Denpasar. Sekolah menengah kejuruan yang unggul dalam mutu, terampil, berdaya saing dan berwawasan budaya ini merupakan unit keempat di bawah Perdiknas. Lembaga pendidikan di bawah Perdiknas selalu mengutamakan mutu proses dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkualitas, tak hanya cerdas intelektual tetapi juga cerdas emosional dan cerdas spiritual. Dengan keberadaan SMK Tenas, kepala sekolahnya Ketut Adi Wirawan, S.Kom. didampingi Wakasek Kesiswaan I Made Mudarta, S.E. mengungkapkan, dengan memberikan kemudahan dan efektivitas dalam belajar diharapkan mereka menghasilkan anak didik yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara progresif sesuai dengan perkembangannya.

Guru dan murid SMK Tenas Denpasar

Di SMK Tenas, yoga juga dilaksanakan dalam mata pelajaran olah raga, demi manfaat bagi kesegaran fisik, sebab dengan peredaran darah yang bagus, siswa akan lebih sehat dan lebih terkontrol emosinya. Selain bersinergi pula dengan Bali Usadha Meditasi untuk melatih kesadaran siswa dan melatih mengendalikan pikiran.

Menurut Adi Wirawan meski SMK Tenas keberadaannya masih baru, salah seorang siswanya yakni Mahendra berhasil meraih juara III dalam Wali Kota Cup di bidang olah raga tenis lapangan beregu. Di SMK Tenas, siswa selain dibekali ilmu dan keterampilan bidang teknologi, juga ditanamkan jiwa entrepreneurship (ke-

wirausahaan). Sehingga kelak mereka lahir menjadi insan yang cerdas, berdaya saing serta mandiri dan dengan memiliki jiwa kewirausahaan. Lulusan SMK Tenas tak hanya menunggu lowongan pekerjaan, namun mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri. Dengan guru-guru yang memiliki kompetensi di bidang teknologi dan tersedianya fasilitas berupa lab komputer, lab hardware/perangkat keras, lab multimedia, lab bahasa, laboratorium IPA, hotspot/ wi-fi, LCD, lapangan badminton, perpustakaan, tempat persembahyangan, kantin dan parkir yang nyaman di samping bekerja sama dengan beberapa perusahaan, menjadikan SMA Tenas siap membimbing lulusan SMP yang ingin langsung mendalami bidang teknologi. Dua pilihan jurusan menjadi andalannya yakni multimedia dan jurusan teknik komputer jaringan. Pada jurusan multime-

dia siswa dibekali dengan kemampuan di bidang design, audio dan video editing. Di samping yang lebih utama yaitu siswa akan diberi keterampilan dan kemampuan dalam hal penggunaan software dan ferferal digital imaging, digital illustration dan kemampuan dalam bidang mendesain sebuah website/situs. Lulusan dari jurusan multimedia ini diharapkan mampu menjadi seorang web development, production house, video maker dan animator. Sedangkan di jurusan teknik jaringan komputer, siswa dibimbing untuk dapat merakit, memasang dan mendesain serta mengadministrasi jaringan LAN maupun WAN. Serta yang lebih penting lagi adalah siswa diharapkan mampu mendeteksi kerusakan hardware maupun software serta memelihara server. Lulusan jurusan teknik komputer jaringan diharapkan mampu menjadi seorang teknisi andal. —ard

Dies Natalis Perdiknas Dimeriahkan Acara Musik

Festival Band Battle 2010

SALAH satu acara yang digelar serangkaian acara Dies Natalis ke-41 Perdiknas untuk kalangan pecinta musik digarap Bekma (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Hukum Undiknas Denpasar adalah Band Battle 2010. Mengusung tema Expression Without Drugs, festival band ini bertujuan menampung dan menyalurkan bakat, serta minat di kalangan

mahasiswa dan generasi muda agar terhindar dari penyebaran narkotika dan AIDS. Ajang yang diikuti 40 peserta diketuai Vera Sugiarto ini juga menampilkan band indie Its My Hero dan Hozhi sebagai bintang tamu, serta satu penampilan spektakuler dari band papan atas, XXX. Sementara itu band baru bentukan dari SMK Tenas, turut

meramaikan puncak acara Dies Natalis Perdiknas. Band SMK Tenas yang digawangi Rio Sumanjaya pada bassist, Thimmy Andreas Mario SBY sebagai penggebuk drum, Leonardus Simon Christian Lowa pada gitar serta Evi Riantha Ginting dan Eka Ariati Putri pada vokal selain tampil di acara Dies Natalies juga sempat ikut ambil bagian di Festival Band Battle 2010. —ard

SMP Nasional Denpasar

Integrasikan Yoga ke Kurikulum

Olah raga yoga

Terwujudnya Sekolah Menengah Pertama Nasional Denpasar (SMP Nasional) yang unggul, berdaya saing tinggi, berkarakter dan berwawasan budaya bertujuan menghasilkan SDM yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kecerdasan intelegensi (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang baik, memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara progesif sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan berwawasan budaya. SMP Nasional Denpasar, sejak didirikan pada 2 Januari 1974 mengalami perkembangan cukup baik. Kini dengan status disamakan dan terakreditasi A, SMP Nasional siap mengembangkan bidang akademik bersamaan dengan peningkatan pembinaan dan pengembangan sistem pendidikan serta hubungannya dengan kualitas

bekal pendidikan siswa untuk melanjutkan pendidikannya ke lembaga yang lebih tinggi serta dasar memasuki kehidupan di masyarakat. Drs. I Nyoman Sudana selaku kepala sekolah menyatakan, pengelolaan sekolah dijalankan secara mandiri dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS). Begitu pula dengan kurikulumnya yang mengacu pada standar pendidikan nasional, atas isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana-prasarana, pengelolaan serta penilaian pendidikan demi menjamin tercapainya tujuan pendidikan. “Untuk menyongsong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang makin pesat kami galakkan kemampuan penelitian ilmiah di kalangan siswa dengan mengupayakan keikutsertaan siswa dalam lomba ilmiah remaja,” ujar Sudana. SMP Nasional didirikan untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan nasional bidang

Beri Pengalaman................................................................................................dari halaman 1 lembaga pendidikan para saudara dan para sahabat. Demikian pula dengan dua pendiri lainnya Dr. A.A. N. Oka Suryadinatha dan Dr. A.A.N Eddy Supriyadinatha. Apa yang Perdiknas lakukan adalah wujud komitmen spirit pendiri utama, dalam lembaga pendidikan para saudara dan para sahabat ini membentuk atau melahirkan generasi penerus yang siap secara mental untuk memiliki kemampuan bersaing dalam hidup yang makin ketat ini. Menurut para pendiri Perdiknas, mendidik atau mencetak anak yang cerdas sangat mudah. Dengan memberikan cukup vitamin dan obat-obatan akan lahir anak yang cerdas. Namun, mencetak anak-anak yang pintar makin sulit, karena harus memberikan ilmu pengetahuan yang memadai sesuai keinginan dan harapan mereka, juga fasilitas pendidikan yang memadai. Yang paling sulit, melahirkan anak-anak yang

bijaksana. Di samping memberikan ilmu pengetahuan yang baik, juga harus memberikan pengalaman yang cukup agar kepintaran mereka diikuti pengalaman yang baik demi lahirnya anak-anak yang bijaksana. Perdiknas telah menelurkan berturut-turut Undiknas dan Pascasarjana, SMP Nasional, SMA Nasional dan SMK Teknologi Nasional. Semua yang Perdiknas lakukan adalah usaha menambah bobot pengalaman bagi siswa tentang makna sportivitas, kreativitas, sehingga mereka memahami cara mengelola kemenangan tanpa merusak persaudaraan, cara mengelola rasa kecewa agar tak membuat kecil hati, dan menyadarkan ada yang lebih baik daripada mereka. Ada yang lebih pantas daripada mereka, ada yang di atas dan ada yang harus di bawah. Pengalaman ini akan melengkapi cakrawala berpikir siswa bahwa ada yang

harus dipikirkan selain menjadi pintar dan hebat di kelas. “Harapan kami semoga dengan tema “Melalui Dies Natalis ke-41, Kita Tingkatkan Sportivitas dan Kreativitas yang Berwawasan Budaya” dengan agenda kegiatan Tri Lomba Pramuka (Lomba Cerdas Terampil, Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris dan Pionering) dilaksanakan SMA Nasional, Lomba Teknologi Informasi Microsoft Office (word, excel dan power point) oleh SMK Teknologi Nasional serta Festival Band oleh Bekma (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Hukum Undiknas. “Kegiatan itu bisa memberikan pengalaman yang cukup untuk melengkapi anak didik yang diharapkan mampu melahirkan anak-didik yang bijaksana. Mereka tidak saja dipintarkan di kelas tetapi juga diberikan hal-hal yang tidak mungkin mereka dapatkan di kelas,” ujar Sri Rahayu Gorda. —ard

Band SMK Tenas

pendidikan yang merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia, tercatat memiliki cukup banyak prestasi di antaranya Juara I Olimpiade Agama Hindu Kota Denpasar, juara III Olimpiade Agama Hindu Provinsi Bali, juara III Lomba Microsoft Office. Di bidang olah raga, SMP Nasional pernah meraih juara I Lomba Kriket HUT Kota Denpasar tahun ini. Dalam Porjar, SMP Nasional unggul di bidang karate dan panjat tebing. “Sementara di bidang seni, baleganjur kami bercokol di posisi Harapan I tingkat Provinsi Bali. Selain itu murid kami juga berhasil menjadi juara I Tari Oleg dan Lomba Kording Lingkungan Hidup,” tuturnya. “Sejak tahun ajaran 2009/2010 sekolah kami juga mengintegrasikan olah raga yoga ke dalam kurikulum sembari memperkenalkan meditasi kesehatan untuk seluruh murid,” tandasnya. —ard Panitia Dies Natalis ke-41 Perdiknas Mengucapkan Terima Kasih kepada: 1. Pemerintah Kota Denpasar 2. Ketua TP PKK Kota Denpasar 3. Ketua BNK Kota Denpasar 4. PT Bank Sinar 5. Kelompok Media Bali Post 6. Toko Nyoman Kediri Tabanan 7. Ayulia Boutique 8. FIF 9. IKAL Undiknas 10.PT CNI 11.PT Jasindo 12.Mega Life 13.Esia 14.Toko Asia Jaya Kediri Tabanan 15.PT Indosat 16.KIA Motor 17.PT Coca Cola 18.Pocari Sweat 19.CV Dwijaya Mandiri 20.Talita Flower 21.Colombus 22.Puri Gede Karangasem 23.Ibu Inge Watjika 24.I Made Pria Dharsana, SH.,M.Hum 25.Jiwasraya 26.PT Saka Abadi Semen Tiga Roda 27.BPR Pancakanti Sukawati Gianyar 28.Auto 2000 29.Suzuki Motor 30.Uci 1000 31.Desa Printing 32.Bels (Bali English Language School)

Perdiknas Kembangkan Konsep Senyum

Pengurus Perdiknas Denpasar. Dari kiri: Nyoman Sri Subawa, Gung Tini Rusmini Gorda, Gung Sri Rahayu Gorda

Konsumen adalah pemangku kepentingan yang memiliki peran besar atas berlangsungnya organisasi. Tanpa keterlibatan mereka apa pun produk atau layanan yang ditawarkan tidak akan berarti apa-apa. Ketua Perdiknas periode kepengurusan 2009-2014, A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda berharap, kepercayaan yang ada kini akan terus menggelinding ibarat bola salju, yang makin lama menjadi makin besar. Meski diakuinya hal ini merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi pendiri dan pengurus Perdiknas, di saat pilihan jasa pendidikan makin hari makin beragam. Para pemangku kepentingan yang juga memiliki kontribusi besar dalam keberlanjutan ini adalah civitas akademika yang telah dengan keras berusaha melayani. Menurut Gung Tini, senyum adalah modal yang paling murah tapi memiliki manfaat yang luar biasa. Senyum adalah lengkungan yang meluruskan semuanya. “Meluruskan kebencian menjadi kecintaan, amarah menjadi kesabaran, arogansi menjadi kerendahan hati serta meluruskan perhitungan (kalkulasi) menjadi keihklasan,” ujarnya. Sri Rahayu Gorda Sekretaris Perdiknas mengharapkan, seluruh civitas akademika Undiknas meneruskan konsep senyum tersebut, sebab senyum melambangkan kebahagiaan dan keikhlasan. “Jika kita melakukan sesuatu dengan bahagia dan ikhlas semua akan baik-baik saja,” tandasnya. Pendiri Perdiknas mengakui, pengguna jasa menjadi titik sentral bagi keberlanjutan Undiknas dan lembaga pendidikan lainnya pada masa datang. Daya serap alumni, waktu tunggu alumni akan sangat ditentukan oleh respons para pengguna jasa mereka. Dengan makin menjamurnya perguruan tinggi, makin mudahnya mendapat layanan pendidikan tinggi, makin meningkatkan intensitas ritual seper ti wisuda. Karena itu, Ketua Perdiknas pada kesempatan Dies Natalis dan Wisuda Sarjana S-1 dan S-2 di lingkungan Undiknas ini akan terus bergulir dibarengi pemantauan sistematis dan komprehensif perihal kemampuan alumni memasuki lapangan pekerjaan. Terhadap alumni Undiknas yang tergabung dalam Ikal Undiknas, di tengah iklim yang kompetitif seperti saat ini, dikatakan tak ada kekuatan yang lebih baik daripada membangun jaringan. Tidak saja untuk mempromosikan “lembaga pendidikan para saudara dan para sahabat” ini ke berbagai belahan dunia, namun jaringan tersebut juga bermanfaat mengembangkan potensi yang ada. —ard

SMA Nasional Denpasar

Pertahankan Kegiatan Pramuka

Pramuka SMA Nasional peraih juara III Tri Lomba Kota Denpasar

SMA Nasional, yang juga salah satu dari unit Perdiknas ini ada sejak 31 Desember 1968. Dengan menyajikan sistem pendidikan berkualitas, aktif, kreatif dan mandiri, SMA Nasional akan unggul menjadi favorit dalam sraddha dan baktinya. “Alumni SMA Nasional, dari jurusan IPA sekitar 30% memilih melanjutkan ke STIKES dan FKIP. Sementara 30% lainnya diterima di Unud dan Undiknas, yang kebanyakan memilih fakultas hukum dan ekonomi. Lulusan lainnya juga ada yang siap bekerja karena mereka sudah punya bekal teknologi komputer,” ujar sang kepala sekolah, Ida Ayu Sinaryati, S.ST. Menurutnya, hingga kini untuk kawasan Denpasar, SMA Nasional adalah salah satu dari empat sekolah yang masih mempertahankan kegiatan pramuka. Aktivitas ekstrakuri-

kuler ini sangat bermanfaat menjadi tempat mengembangkan jiwa kepemimpinan dan pembentukan karakter siswa. Bahkan SMA Nasional menghasilkan guru dan pendamping pramuka yang tersebar di Kota Denpasar baik yang mengajar di SD maupun SMP. Aktivis pramuka, baik dari alumni, OSIS, mantan OSIS dan siswa yang masih aktif bergabung dalam sebuah organisasi di lingkungan Perdiknas yang bernama gabungan anak nasional (Ganas). Tujuannya agar benang merah antara alumni SMP, SMA maupun SMK dalam mengembangkan bidang pramuka terus terjalin. Karena itu pula pada Dies Natalis ke-41 Perdiknas beberapa waktu lalu diadakan Tri Lomba Pramuka (Lomba Ketangkasan BarisBerbaris, Lomba Pionering dan Lomba Cerdas Terampil) tingkat SMP se-Kota Denpasar. Ke-

giatan ini berkaitan dengan program pemerintah Kota Denpasar untuk menggalakkan kembali pramuka di bawah pimpinan Wali Kota Denpasar. SMA Nasional beberapa kali pula mendapatkan juara dalam Tri Lomba Pramuka yang diadakan Kwarcab Denpasar. Tiap tahun siswa SMA Nasional selalu ada yang terpilih dalam kelompok Paskibraka Daerah Provinsi Bali. Bahkan pernah pada tahun 2007 yang terpilih sebanyak enam orang. Sementara dalam Porsenijar (Pekan Olah Raga dan Seni Pelajar) Kota Denpasar tim SMA Nasional sering mendapatkan nomor kemenangan di bidang sepak takraw serta atletik. Begitu pula di bidang seni, tim kidung sekolah ini berhasil mendapat juara III pada Utsawa Dharma Gita tingkat Kota Denpasar yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan juara III juga di lomba Palawakya dan Sloka. Begitu pula untuk kording atau mading SMA nasional telah berulangkali mendapatkan juara di berbagai tempat. Yang menarik lainnya dan belum dimiliki sekolah lain di Denpasar, yakni dipilihnya yoga untuk pembentukan caracter building bekerja sama dengan Bali India Foundation dan telah ditandatanganinya perjanjian kerja sama pada 9 September pukul 9 tahun 2009 oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Provinsi Bali. —ard

Untuk informasi dan pendaftaran hubungi : 1. Undiknas Denpasar. Jalan Bedugul 39, Denpasar Telepon (0361) 723868 2. SMP Nasional Denpasar. Jalan Waturenggong 125, Panjer Telepon (0361) 238520 3. SMA Nasional Denpasar. Jalan Tukad Yeh Aya 15, Panjer Telepon (0361) 7929295 4. SMK Teknologi Nasional Denpasar Jalan Tukad Yeh Aya 15 A, Panjer Telepon (0361) 224007


8

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Pendidikan

Program Studi Planologi Unhi Satu-satunya di Indonesia Bagian Timur MENJADI universitas unggulan di Indonesia serta pusat pengkajian dan pengembangan agama dan budaya Hindu Indonesia terbaik di kawasan regional, begitu visi Universitas Hindu Indonesia (Unhi). Maka tak mengherankan, jika dalam aplikasinya, Unhi berusaha menumbuhkembangkan fakultas unggulan.

A

da enam fakultas dengan 12 pro gram studi di lingkungan Unhi, yaitu Fakultas Ilmu Agama dengan program studi ilmu filsafat khusus agama Hindu dan hukum agama; Fakultas Teknik dengan program studi teknik sipil dan perencanaan wilayah dan kota (planologi); Fakultas Ekonomi dengan program studi manajemen dan akuntansi; Fakultas MIPA dengan program studi biologi; Fakultas Kesehatan dengan program studi kesehatan ayurweda; Fakultas Pendidikan dengan program studi pendidikan seni tari keagamaan Hindu, seni karawatin keagamaan Hindu, seni rupa dan ornamen keagamaan Hindu, dan pendidikan agama Hindu. “Program studi planologi Fakultas Teknik Unhi adalah satu-satunya program studi yang dimiliki universitas di Indonesia bagian timur,” ujar Drs. IB Dharmika, M.A. Wakil Rektor I Unhi. Sedangkan program studi kesehatan ayurweda merupakan satu-satunya program studi yang tersedia di Indonesia. “Dalam pengobatan ayurweda, kata kuncinya adalah pengobatan herbal, kembali ke alam. Di Bali begitu banyak bahan yang perlu diolah, diawetkan, dan dikaji secara ilmiah. Di program studi kesehatan ayurweda, semuanya bisa terjawab,” kata Dharmika. Program studi baru di Fakultas Pendidikan, yaitu program studi pendidikan seni rupa keagamaan, seni tari keagamaan, dan seni karawitan juga menjadi unggulan. Fakultas Ilmu Agama Program studi ilmu filsafat dengan kekhususan sastra dan filsafat agama, hukum agama, pendidikan agama dan ilmu agama telah terakreditasi dengan nilai A. Program studi dengan peringkat A diberikan wewenang melaksanakan proses belajar-mengajar secara mandiri yang meliputi penerimaan mahasiswa, kegiatan kuliah, evaluasi belajar, dan menerbitkan ijazah. Mulai tahun ajaran 2002/ 2003 fakultas ilmu agama juga membuka pendidikan mengajar (akta 4) yang memberikan peluang kepada seluruh tamatan S-1 dari segala jurusan seperti fakultas ekonomi, MIPA, dsb. yang berminat menjadi pengajar untuk mengikuti program pendidikan mengajar ini. Dengan keluarkan SK Menteri Agama No. DJ.V/142/SK/2007 progrma studi ini juga dipercaya untuk mengadakan kualifikasi guru-guru agama Hindu di seluruh Indonesia mulai tahun 2009. Secara akademik, program studi ini makin memantapkan dirinya

dengan keluarnya keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 057/O/2007 tentang penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi bagi Guru Agama/Bidang Studi Agama Dalam Jabatan di Seluruh Provinsi di Indonesia. Fakultas Ilmu Agama mengemban amanat dari umat Hindu (melalui Parisada Hindu Darma) supaya Hindu memiliki sebuah perguruan tinggi agar dilahirkan sarjana Hindu yang berkualitas karena sampai saat ini umat Hindu belum memiliki satu pun universitas negeri di Indonesia sehingga Unhi menjadi satu-satunya pemasok lulusan sarjana agama Hindu untuk pemerintah seperti departemen agama, pemerintah daerah, guru agama sejak tahun 1967 sampai sekarang. Fakultas Ekonomi Sejak awal disadari bahwa pendidikan tinggi ekonomi yang harus dikembangkan di Bali dan Indonesia adalah yang berorientasikan pada pembangunan sehingga dalam perkembangannya selalu diusahakan supaya lulusan FE Unhi memunyai orientasi pembangunan Indonesia di samping kekhususan di berbagai bidang. Tujuan FE Unhi antara lain menghasilkan sarjana ekonomi yang berorientasi pada pembangunan dan membantu memecahkan persoalan ekonomi dalam masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, merupakan tugas pokok FE Unhi untuk menghasilkan sarjana ekonomi sekaligus mengembangkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. Keterlibatan tenaga pengajar dan arah berbagai kegiatan penelitian pada permasalahan masa kini juga menjadi cirri FE Unhi yang memiliki program studi dengan peringkat B. Fakultas MIPA Fakultas MIPA Unhi hanya memiliki satu program studi yaitu program studi biologi dengan salah satu pertimbangan, karena perlu dibentuk lembaga khusus yang menangani ilmu-ilmu dasar. Di samping itu, disadari bahwa kebutuhan pembangunan terutama dalam bidang budaya dan kehidupan modern memerlukan ilmu-ilmu dasar yang kuat untuk menunjang ilmuilmu terapan termasuk ilmu agama dan budaya Hindu. Program studi ini terakdreditasi B. Unhi membentuk lembaga penelitian di bidang lingkungan yang disebut PPLH Unhi dalam rangka mengambil bagian dalam upaya mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan de-

Beberapa kegiatan Unhi

ngan menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. PPLH Unhi bertugas mengembangkan dan meningkatkan pemahaman penelitian dan pengkajian lingkungan meliputi budaya, sosial, ekonomi; sumber daya hayati; sumber daya nonhayati; pengendalian pencemaran lingkungan; analisa dampak lingkungan; program pelatihan dan pengembangan. Fakultas Teknik Tujuan pendidikan Fakultas Teknik Unhi adalah menghasilkan sarjana teknik yang berkemampuan ilmiah, berketerampilan profesional, berkepribadian dan berdaya kreasi dalam lingkungannya. Program ini memiliki dua program studi, yaitu program studi teknik sipil dan perencanaan wilayah dan tata ruang (planologi). Program studi teknik sipil juga bertujuan agar masalah pengairan, terutama subak mendapat perhatian, penelitian, kajian serta pengembangan secara ilmiah dari para sarjana lulusan fakultas ini. Program studi perencanaan wilayah dan tata ruang diharapkan dapat meluluskan sarjana yang mampu memberi masukan, evaluasi, dan pemikiran genius mengenai perencanaan wilayah dan tata ruang mengingat hal ini perlu mendapat perhatian secara serius. Fakultas Kesehatan Ayurweda Tuntunan pembangunan yang makin meningkat, membutuhkan sumber daya manusia yang andal dan mampu berkiprah dalam kompetisi global. Apalagi dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 199 tentang ekonomi daerah maka keperluan akan tenaga ahli sesuai keadaan dan potensi daerahnya antara lain di bidang kesehatan sangat diperlukan. Fakultas kesehatan ayurweda yang diselenggarakan Unhi bertujuan untuk menjawab tuntutan pembangunan khususnya di bidang kesehatan yang meliputi kebutuhan akan tenaga profesional yang memiliki kemampuan analisis dalam bidang kelimuan, serta peka terhadap pembangunan khususnya di bidang kesehatan; kebutuhan akan peningkatan kualitas tenaga yang bergerak di bidang kesehatan baik modern maupun tradisional, terutama dalam bidang penelitian; pengadaan tenaga ahli yang berkemampuan untuk meneliti khasiat dan manfaat berbagai bahan obat alami untuk kepentingan kesehatan preventif, kuratif, promotif, dan rehabilitatif serta kosmetika; pengadaan tenaga ahli yang berpotensi untuk melestarikan dan membudidayakan obat alami dan kosmetika tradisional yang merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Misi fakultas ini adalah memacu percepatan kemajuan pendidikan ayurweda di Indonesia; mengembangkan dan menyebarluaskan tenaga profesional kesehatan ayurweda yang mampu berperan aktif serta berintegrasi dengan masyarakat; berkemampuan mengikuti perkembangan peningkatan kualitas kesehatan yang terjadi di masyarakat, baik daerah, nasional, maupun internasional; melaksanakan pendidikan tinggi kesehatan ayurweda menggunakan metode pemelajaran yang efektif dan efisien untuk menghasilkan sarjana kesehatan ayurweda yang sujana. Kembangkan Penelitian Tiap dosen di Unhi wajib menyampaikan satuan acara perkuliahan kepada mahasiswa pada awal perkuliahan. Satuan acara perkuliahan tersebut meliputi tujuan yang akan dicapai, pokok/subpokok bahasan yang akan dibicarakan, teknik pengajaran, cara penilaian keberhasilan belajar-mengajar, pustaka acuan, dan hal-hal yang perlu disampaikan secara terbuka

Seminar Teknik Unhi kepada mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa mampu memahami sejak awal perkuliahan yang akan mereka tempuh. Unhi memiliki 120 tenaga dosen yang ahli dan profesional dengan kualifikasi S-1 dua orang, S-2 109 orang, S-3 sembilan orang. Kampus Unhi yang berlokasi di Jalan Sanggalangit Tembau, Penatih dengan luas bangunan 1,2 hektare di atas tanah seluas 3,5 hektare cukup efektif dalam menunjang proses Tri Dharma Perguruan Tinggi. Unhi memiliki pura, lab bahasa Inggris, lab komputer, lab upakara, asrama mahasiswa, asrama sulinggih, aula dan 20 ruangan kuliah yang sangat nyaman. Unhi juga aktif melakukan berbagai penelitian. Strategi pengembangan penelitian di

Unhi diarahakankepada peningkata jumlah dan pemerataan penelitian, peningkatan mutu dan relevansi penelitian serta perbaikan manajemen penelitian. Kegiatan penelitian yang dilakukan Unhi tahun 2008/ 2009 antara lain Kearifan Lokal Masyarakat Desa Adat Tradisional dalam Pengelolaan Hutan; Strategi Adaptasi Umat Hindu Islam di Desa Pekraman Angantiga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung; Studi Kualitas Air pada Mata Air Banyuwedang, Pemuteran dan Sanggalangit di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali; Kreativitas Wanita Hindu Perdesaan dalam Mewujudkan Budaya Belajar dalam Keluarga, Penelitian di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Penelitian

tahun 2009/2010 antara lain Pengembangan Materi dan Model Pendidikan Multikultur dalam Pembelajaran Agama Hindu; Pandangan Hindu terhadap Fenomena Kekerasan terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga; Transformasi Kearifan Lokal melalui Ungkapan-ungkapan dalam Pertunjukkan Wayang Cenk Blonk di Bali. Selain penelitian, tahun 2009 Unhi juga menerbitkan buku, antara lain Saiwa dan Bauddha di Masa Jawa Kuna, Merkantilisme Pendidikan, serta Ulap-ulap dan Kajang Kebudayaan Bali. Unhi juga aktif dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti seminar tingkat nasional dan regional serta pengabdian kepada masyarakat. Program peng-

abdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan cara memanfaatkan dan menerapkan hasil penelitian maupun hasil pendidikan perguruan tinggi yang dikembangkan dalam bentuk pendidikan kepada masyarakat, pelayanan kepada masyarakat, pengembangan wilayah, kajian tindakan dan kuliah kerja nyata. Beberapa kerja sama telah dilakukan dengan berbagai pihak antara lain dengan Delhi University India, Frankurt University Jerman, Mahkamah Konstitusi Jakarta, Ikatan Naturopatis Indonesia, dan Dirjen Bimas Hindu. Unhi menyediakan 350 beasiswa untuk mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dengan nilai akademik minimal 2,8. —adv


Blambangan Hutan Bakau Blok Bedul

Objek Wisata Baru di Banyuwangi

Perahu wisata bersandar di dermaga Pulau Marengan

DI Banyuwangi, hutan bakau mulai menjadi tempat paling favorit untuk berwisata. Objek wisata baru ini mulai mengalahkan wisata air yang lebih dulu populer. Dari puluhan hutan bakau di Banyuwangi, Blok Bedul di Dusun Blok Solo, Desa Sumberasri, Purwoharjo, paling diminati pengunjung dan mampu menyedot wisatawan lokal dalam jumlah besar. Saat hari libur, kawasan ini bisa mendatangkan pengunjung hingga 1000 orang per hari.

O

bjek paling menarik di Blok Bedul adalah deretan hutan bakau yang memanjang hingga 18 kilometer dan luas 4 hektare lebih. Kawasan ini masih satu rangkaian dengan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Banyuwangi Selatan. Di sini ada Segoro Anakan dan Pulau Marengan yang hutannya masih alami. Konon, nama Blok Bedul berawal dari banyaknya jenis ikan bedul yang banyak ditemukan di daerah tersebut. Bedul, salah satu jenis ikan

gabus, bentuknya mirip ikan tongkol kecil, namun memiliki sirip di punggungnya. Pada zaman penjajahan Belanda. kawasan ini diyakini menjadi tempat pendaratan kapal. Tahun 1967, di kawasan ini sempat dibangun perumahan para veteran perang, tepatnya di Pulau Marengan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Tahun 1971 kawasan ini dikembalikan menjadi hutan alami. “Sejak itu, Blok Bedul menjadi hutan belantara,” kata Kades Sumberasri Suyatno, Kamis (11/2). Karena dikenal angker,

jarang warga berani merambah tempat ini. Baru tahun 1980-an, warga mulai berani masuk. Itu pun harus beramai-ramai, seiring pembukaan lahan hutan produktif. Nelayan yang mencari ikan, kerang, dan udang, mendatangi Blok Bedul. Apalagi kini di pintu masuk Blok Bedul sudah menjadi lahan produktif yang dikelola Perhutani. Mengingat berupa rawarawa, daerah ini sulit dilalui. Warga harus berjalan kaki menuju Segoro Anakan, lalu menyeberang ke Pulau Marengan menggunakan perahu. Ide awal pembanguan Blok Bedul muncul tahun 2003. Kala itu, Suyatno baru terpilih menjadi kades. “Begitu dilantik, saya berpikir potensi apa yang bisa digarap untuk pendapatan desa,” ujarnya. Pemikiran Suyatno akhirnya tertuju pada Blok Bedul yang eksotik. Awalnya, pria ini pesimis. Selain

Terbuka Lapangan Kerja Baru MUNCULNYA objek wisa- tidak lebih dari Rp 50.000. Dengan pekerjaan barunya, nya lapangan kerja baru. Sukari bisa menyekolahkan Sebagian nelayan yang se- anak-anaknya dengan lebih belumnya hanya mengandal- baik dan tiap hari bisa pulang kan tangkapan ikan, kini bisa berkumpul bersama keluarga. menawarkan jasa perahu Pria ini berangkat pukul 08.00, kepada wisatawan. Warung pulang sekitar pukul 17.00. makanan baru pun berdiri. Tugasnya hanya satu, mengSeperti yang dilakukan antar para tamu berkeliling di Sukari (55). Nelayan ini memiliki kawasan Blok Bedul mengpekerjaan baru menjadi sopir gunakan perahu kayu bermotor perahu wisata di Blok Bedul. tempel. Dalam sehari, satu Saat musim liburan, dia mampu perahu bisa melayani 10-15 mengantongi pendapatan Rp trayek perjalanan pulang-pergi. 200.000 per hari. Sebelumnya, Kini, di Blok Bedul terdapat pria ini hanya bertahan hidup tujuh perahu wisata yang siaga. dengan mencari ikan dan Mereka bersandar di dermaga kerang. Hasilnya dalam sehari Bedul, lalu berkeliling ke hutan

Kemanusiaan ta Blok Bedul diikuti terbuka-

Perahu wisata dipenuhi penumpang

Sukari

bakau dan berhenti di dermaga Pulau Marengan. Sekali perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jasa penyeberangan dari Bedul ke Marengan p.p. Rp 4000 per orang. Jasa pelayaran mengelilingi hutan bakau dan berhenti di Marengan p.p. Rp 200.000 per perahu. Satu perahu maksimal bisa terisi 20 orang. Perahu wisata milik Sukari menggunakan bahan baku solar. Tiap perahu dikendalikan seorang nahkoda. Beberapa perahu juga ada yang dilengkapi pemandu wisata. Penghasilan pengemudi perahu dihitung dari jumlah tiket penumpang yang bisa dikumpulkan dalam sehari. Begitu jam kerja selesai, tiket tersebut ditukarkan di bagian keuangan pengelola wisata Bedul. -udi

Jadi Incaran Juru Foto KAWASAN Blok Bedul juga menjadi incaran juru foto. Selain banyak lokasi alami, daerah ini memiliki banyak objek yang menarik untuk dibidik. Semenanjung hutan bakau dan lorong lautan yang membelah pulau selalu menyajikan gambar yang layak diabadikan. Belum lagi burung-burung migran dari daratan Australia yang sering terlihat terbang bergerombol. Suci Larasati (17), siswi SMK Banyuwangi jurusan Tehnologi Informatika (TI), misalnya, mengaku telah mengabadikan beragam gambar yang memiliki nilai jual tinggi. Blok Bedul memberikan inspirasi bagi hobinya dalam dunia fotografi. “Ada banyak momen alam yang bisa saya bidik. Semuanya bagus,” ujarnya. Keinginan Suci mengunjungi Blok Bedul berawal dari informasi yang didapat dari

media massa. Gadis ini penasaran setelah Blok Bedul dikabarkan mendapat Anugerah Wisata Nusantara. Awalnya, dia menduga Blok Bedul hanyalah hutan bakau biasa. “Saya baru tercengang setelah melihat Segoro Anakan yang membelah pulau,” pujinya. Begitu masuk, Suci terperanjat melihat hutan bakau yang masih alami. Pandangannya kian tajam setelah melihat dermaga dari kayu di pinggir Segoro Anakan. Seluruh pemandangan ini tak luput dari jepretan kameranya. Setelah naik perahu dan berkeliling, Suci makin tercengang. Mata gadis ini terus memandangai keindahan hutan bakau yang menghijau. Di tambah lagi di sekelilingnya terdapat beberapa nelayan naik perahu kecil mencari kerang dan ikan. “ Benar-benar momen alami yang langka,” ujarnya.

Suci Larasati

Baru-baru ini, Suci datang bersama belasan teman sekelasnya. Selain melancong, mereka mendapat tugas sekolah membuat tulisan promosi wisata. Tugas ini membutuhkan banyak foto. Dalam sehari, rombongan kecil ini berhasil mendapatkan setumpuk bahan yang akan dijadikan sumber bacaan, sekaligus memberi gambaran kondisi wisata Bedul. Kawasan ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya menyayangi alam. Udara Bedul yang segar juga dirasakan bagus bagi kesehatan pengunjung. –udi.

Suyatno

terbentur aturan, lokasinya cukup sulit dijangkau karena berlumpur. Bersama pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Suyatno memperbaiki jalan setapak yang ada di situ. Setelah pembangunan jalan selesai, berangsur Blok Bedul didatangi warga. Dua tahun kemudian, jalan setapak tersebut mendapatkan bantuan pengaspalan. Bantuan ini menambah semangat warga memoles Blok Bedul menjadi kawasan wisata. Tahun 2007 kawasan Bedul menjadi daerah percontohan model konservasi. Saat bersamaan, pengelola TNAP membuat kesepakatan dengan warga setempat. Isinya, warga ikut dalam program konservasi hutan hutan bakau. Keikutsertaannya ini sekaligus dalam upaya memberdayakan masyarakat melestarikan eksosistem di wilayahnya. Sebagai imbalan, pihak TNAP memberikan lahan seluas 4 hektare untuk diolah menjadi kawasan wisata. “Jadilah wisata Blok Bedul yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),” kata Suyatno. Dengan modal swadaya, warga Desa Sumberasri membangun berbagai fasilitas pendukung. Salah satunya, dermaga perahu wisata untuk berkeliling hutan bakau. Tahun 2009 Pemkab Banyuwangi membangun jalan hampir 7 km ke lokasi secara permanen. Warga membuat dermaga 200 meter di pintu

IKLAN CANTIK

masuk Blok Bedul. Kerja keras Suyatno bersama warganya tak sia-sia. Tahun 2009, wisata hutan bakau Blok Bedul meraih juara umum dan favorit Anugerah Wisata Nusantara (AWN). Daerah ini menyisihkan puluhan objek wisata lain yang lebih dulu populer. Salah satu pertimbanganya, keaslian hutan bakau ini tidak dijumpai di tempat lain. Sejak itu Blok Bedul mulai dikenal, terutama di kalangan warga lokal Banyuwangi. Wisatawan tak pernah sepi, terutama saat musim liburan. Kondisi ini menambah semangat pengelola Blok Bedul untuk berbenah. Mereka menyiapkan berbagai sarana seperti tempat peristirahatan, toilet, dan perahu wisata. Semangat mempertahankan keaslian Blok Bedul bertambah, setelah sebuah LSM Lingkungan asal Jepang, JAIKA, bertandang ke daerah itu. Tahun 2009, JAIKA memberikan bimbingan tata cara konservasi hutan bakau dan pengelolaan kawasan wisata. Mereka juga memberikan pendidikan warga menjadi pemandu wisata berbahasa Inggris. Terpilih 8 pengelola wisata dan 18 pemandu tamu. Rencananya, JAIKA akan memperpanjang programnya melakukan pendampingan konservasi di Blok Bedul. Sejak meraih penghargaan AWN, Blok Bedul juga menjadi tujuan penelitian dan studi banding mahasiswa maupun pejabat pemerintah. Perairan hutan bakau Blok Bedul juga menghasilkan udang, kerang, ikan, dan berbagai jenis ikan

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 9

keluarga berjalan-jalan di tengah hutan Marengan yang masih alami

payau, dalam jumlah besar. Selama tahun 2009, wisatawan asing yang berkunjung ke Blok Bedul 100 orang lebih, kebanyakan mahasiswa dan ilmuwan yang tertarik pada pelestarian hutan bakau. Karena keterbatasan sarana, seluruh tamu bermalam di hotel yang jauh dari Blok Bedul. “Kami telah mengajukan lahan sekitar 25 hektare untuk membangun vila,” kata Suyatno. Untuk mencapai Blok Bedul dari kota Banyuwangi membutuhkan waktu sekitar dua jam. Pengunjung bisa menggunakan roda dua maupun empat sampai di pintu masuk. Setelah itu, berjalan sekitar 200 meter menuju dermaga. Dari tempat ini, pengunjung akan dilayani sejumlah perahu untuk berkeliling melihat hutan bakau. Perjalanan keliling ini akan menyusuri Segoro Anakan yang membelah hutan bakau. Airnya yang tenang membuat perjalanan cukup menyenangkan. Di kejauhan tampak

Dermaga tradisional terbuat dari kayu

beberapa perahu nelayan pencari ikan dan kerang berlalulalang menyusuri perairan areal hutan bakau. Burung-burung migran yang datang dari daratan Australia tampak beterbangan di kawasan itu. Perjalanan menggunakan perahu sekitar 30 menit diakhiri dengan bersandar di Pulau Marengan. Di pulau ini, pengunjung bisa masuk ke hutan dengan berjalan kaki. Di pengujung pulau, pengunjung akan menemukan pantai dengan pasir putih dan ombak besar. Di sebelah kanan tampak Semenanjung Grajagan yang membentang indah. Murahnya biaya, membuat Blok Bedul banyak digandrungi warga dari kecamatan lain. Hampir 80% pengunjung tempat wisata ini adalah warga perdesaan. Mereka biasanya datang berombongan. Beberapa di antaranya terlihat membawa makanan dan menyantapnya di pinggir pulau. —udi


10

Tokoh

Harmoni

28 Februari - 6 Maret 2010

Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si.- Ida Ayu Selly Fajarini, S.E.

TUGAS sebagai wali kota Denpasar membuat aktivitas seharihari Gus Rai sarat kesibukan. Dayu Selly juga ikut sibuk. Pasangan suami-istri ini harus sering melakukan kegiatan kunjungan untuk melihat langsung kondisi dan kebutuhan masyarakat sampai di pelosok desa. Namun, kesibukan tersebut tidak membuat mereka mengabaikan ketiga anaknya.

S

ebelum menjadi wakil Wali Kota, dan kemudian wali kota Denpasar, Gus Rai banyak beraktivitas di dunia bisnis. Ia sempat menjabat ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Denpasar. Saat itu beberapa teman dekatnya sudah memprediksikan, garis tangan Gus Rai kelak akan mengantarnya menjadi pemimpin di daerah ini. Mereka juga mengatakan ia pantas melanjutkan pengabdian yang pernah diemban ayahnya, Ida Bagus Mantra, sebagai gubernur Bali dalam dua periode, 1978 - 1988. Namun, Gus Rai mengatakan, apa yang kini diembannya sebagai wali kota bukan karena dirinya menginginkannya; semata-mata itu karena permintaan rakyat. Konsekuensinya, Dayu Selly pun ikut terjun dalam kesibukan suaminya dalam kancah politik dan pemerintahan. Beberapa jabatan kini diemban Dayu Selly. Misalnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Ketua Dekranas

Berburu Bubur Injin di Sanur

Dayu Selly (paling kiri)

dalam penobatan Putri Sunsilk tahun 1984

Kota Denpasar, Ketua Perkumpulan Pencinta Tanaman, dan Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Denpasar. Semuanya sangat menyita waktunya. Apalagi jika bicara soal kegiatan yang berhubungan dengan PKK dan K3S. Ia langsung turun ke akar rumput. Ibu tiga anak ini menuturkan, ia menemukan dan merasakan pengalaman berbeda dengan kegiatannya di dunia bisnis bersama suaminya dulu. Jika di dunia bisnis mereka yang mengatur waktunya, untuk urusan tugas pemerintahan, ada aturan yang harus diikutinya. Awalnya rasa lelah sempat dirasakan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini. Namun, kelelahannya itu terbayar oleh kepuasan batin yang diterimanya dalam aktivitas barunya itu. “Kalau tidak mendampingi suami sebagai wali kota mungkin saya tidak pernah tahu kondisi dan kebutuhan masyarakiat hingga di ujung kota dan pelosok desa yang beragam. Saya bisa ngobrol langsung dengan warga masyarakat. Saya pun mengalami masuk gang sempit

dibonceng sepeda motor petugas kelurahan. Semuanya menarik dan menambah semangat saya, tidak terasa lagi lelah,” ungkap Dayu Selly. Ia pun menuturkan pengalaman pertamanya turun ke lapangan. Ketika itu Dayu Selly baru saja usai mengikuti rapat PKK. Ia langsung turun ke lapangan untuk melakukan aktivitas sosial. Rombongan PKK ini harus melewati jembatan kecil. Dayu Selly yang mengenakan rok, saat melewati jembatan, roknya robek. Hal itu tidak menghalangi semangat dan aktivitasnya. Perjalanan tetap dilanjutkan. Namun, saat ia harus melompat, robek roknya bertambah. “Itu pengalaman mengesankan dan sangat bermanfaat. Sejak itu tiap menjalankan tugas ke lapangan saya memilih mengenakan pakaian kerja berupa padanan celana panjang,” ujarnya. Kepentingan masyarakat mereka dahulukan, namun ketiga anaknya, I.B. Ngurah Sidhayatra Hijaya Mantra (21), I.A. Uttari Priyadarshini Mantra (18), dan I.A. Nathia Candrika Prakirani Mantra (3,5), bisa memahami, malah mem-

berikan dukungan penuh kepada kedua orangtuanya. Sekali waktu, keluarga yang memiliki hobi sama yakni wisata kuliner ini, jalan bareng mencari rumah makan atau tempat makan baru yang belum pernah mereka kunjungi. Kesukaan mereka itu hingga kini tetap dijalaninya. Tiap ada informasi tentang makanan enak sekalipun itu berada di emperan toko, mereka berupaya mencari dan menikmatinya. “Kami pernah bersama-sama memburu penjual bubur injin (ketan hitam) di Buruan, Sanur. Kami harus dapat merasakannya,” kata perempuan kelahiran 19 Januari 1967 ini. Saat putra sulungnya yang menjalani studi di luar negeri pulang, acara pertamanya adalah makan bersama. Tetapi, karena kesibukan Gus Rai dan Dayu Selly, kadang salah satu dari mereka, tak bisa ikut. Dalam liburan tiap anaknya bisa memilih mau mengunjungi apa dan di mana. “Kalau sudah ada kesempatan, kami selalu bareng sejak baru bangun, sarapan, tur, makan siang, sampai saat tidur tiba. Kami sangat menikmati kebersamaan itu,” tutur Dayu Selly. Putra sulungnya. Gus Ngurah, sebagaimana ayahnya, aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Saat di SMP, ia bergabung dalam klub sepak bola di sekolah dan di banjarnya. Saat di SMA, aktif dalam kegiatan otomotif, bahkan sempat mengikuti

Gus Rai dan Dayu Selly serta ketiga anaknya

beberapa kejuaraan otomotif. Di Melbourne, Gus Ngurah yang kini tengah menempuh jenjang pendidikan S-2 bidang bisnis, dipilih teman-temannya sebagai ketua Teruna-Teruni dan aktif mengadakan kegiatan sosial. Anak yang kedua, Dayu Tari, sempat diarahkan untuk

menjadi pengusaha menggantikan orangtuanya. Namun, Dayu Tari punya pilihan sendiri dan kini tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Unud. Si bungsu, Dayu Gek Nathia, sesekali diajak ibunya ikut dalam kegiatan lomba atau kegiatan posyandu. Di situ

biasanya banyak anak-anak, sehingga ia bisa berbaur bersama mereka. “Saya selalu menyempatkan diri berkomunikasi dengan anak-anak. Dalam kegiatan yang bersuasana santai itu kami sering berdiskusi,” ungkap Gus Rai. —ard,wah

Gus Rai dan Dayu Selly sebelum menikah, saat masih kuliah


Kiprah Wanita

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 11

Kiprah PKK Membangun Keluarga Sehat Sejahtera DENPASAR, kota yang multifungsi dan multistatus. Bukan hanya sebagai pusat pemerintahan Provinsi Bali, juga pusat perdagangan, kota pendidikan, dan sentral wilayah pengembangan pariwisata Indonesia bagian Tengah. Pertumbuhan fisik, sosial-ekonomi, dan social-budaya di kota ini yang meningkat pesat, menjadikan permasalahan kehidupan masyarakatnya pun makin kompleks.

D

alam kaitan ke hidupan sosial inilah makin terasa penting peran Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai mitra pemerintah. Segenap Tim Penggerak PKK, sebagai gerakan pembangunan dari bawah dengan wanita sebagai motor penggeraknya, turut peduli terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam masya-

Mendukung Denpasar Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan rakat Kota Denpasar. TP PKK menjalankan kiprahnya dengan menerapkan 10 Program Pokok PKK demi memberdayakan keluarga, meningkatkan kesejahteraannya sehingga menjadi keluarga yang maju dan mandiri. Juga, meningkatkan taraf kesehatannya dengan mengubah perilakunya agar lebih sadar untuk meningkatkan hidup sehat serta mengembangkan kemandirian. Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Ida Ayu Selly D. Mantra mengatakan, dalam diri seluruh anggota PKK senantiasa ditumbuh-

Kegiatan Posyandu

Ny. Selly.D Mantra

Ny. Antari Jaya Negara

kan kepekaan terhadap berbagai masalah dan isu berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak dan kesiapannya secara bersama-sama berupaya mengatasinya. PKK melalui kelompok-kelompok kerjanya mengelola segenap potensi dan sumber dayanya sebagai mitra pemerintah ser ta lembaga terkait se-Kota Denpasar, demi mendukung terwujudnya Denpasar Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan. PKK selalu siap bekerja

dengan semangat pengabdian yang tinggi agar mampu berperan sesuai kewenangannya, menjalankan pelaksanaan kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, upaya peningkatan pendapataan keluarga, peduli pada lanjut usia (lansia), peduli keluarga miskin, di sektor pariwisata dan kegiatan bersama dalam kesatuan gerak PKK- KB. “Sesuai dengan prinsip PKK, mengacu pada pemberdayaan dan par tisipasi masyarakat, seluruh anggota TP PKK adalah penyuluh, motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, penggerak pengendali, pembina dan pembimbing pemberdayaan kesejahteraan keluarga,” ujar Ny. Selly D. Mantra. Didampingi Ny. Ridawati (Sekretaris PKK), Ny. Ni Nyoman Sri Utari (Wakil Sekretaris), dan Ny. Ni Wayan Suker ti (Wakil Sekretaris), Ny. Selly D. Mantra menambahkan, bahwa untuk dapat menjangkau pembinaan lebih luas, mereka pun aktif mengadakan pelatihan kader-kader

Majukan Ekonomi Kreatif Keluarga dengan Pelatihan Kewirausahaan PERAN Tim Penggerak PKK Kota Denpasar di bidang ekonomi keluarga, diperlihatkan dengan banyak mengadakan pelatihan keterampilan bagi wanita. Jiwa kewirausahaan di kalangan anggota PKK, ibuibu, dan wanita umumnya di Kota Denpasar dibangkitkan demi memajukan ekonomi kreatif. Ditekankan, sebagai calon wirausahawan, yang perlu diperhatikan bukan hanya modal finansial, tetapi juga modal nonfinansial, yakni jiwa kewirausahaan yang tumbuh dan berkreasi secara proaktif dalam diri masing-masing. Dengan pelatihan kewirausahaan, diharapakan para ibu dan wanita umumnya mampu menuangkan ide kreatifnya agar ke depannya dapat membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Untuk itu diperlukan ketekunan dan kesungguhan anggota dan para kader PKK, apalagi kebutuhan hidup makin hari kian meningkat.

Pembukaan pelatihan tata rias

Para ibu yang mengelola home industry pangan, juga diberi pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas produksinya. Juga, diseleng-

Kegiatan diklat tata rias

garakan berbagai pelatihan atau kursus demi peningkatan keterampilan perorangan. Di antaranya, pelatihan tata rias wajah,

perawatan kulit dan rambut, membuat canang dan keperluan upacara, membuat jajan, merangkai bunga dan membuat dupa, serta kursus cara berpakaian untuk berbagai kepentingan. “Pada pembuatan dupa, ditekankan tentang kemasan yang ditampilkan agar dapat menarik minat masyarakat untuk membelinya,” ujar Sekretaris PKK Kota Denpasar Ny. Ridawati. Ny.Sri Utari dan Wayan Sukerti menambahkan terkait aplikasi program penunjang ekonomi ini, PKK Kota juga mengadakan pasar murah tiap menjelang Galungan. Selain menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pasar Tani, kaum wanita di tiap kecamatan pun berkesempatan memamerkan potensi masing-masing dan

menyajikan aneka keperluan hari raya yang dibutuhkan masyarakat. Begitu juga saat ada kegiatan yang diadakan Pemerintah Kota Denpasar, seperti Festival Denpasar, PKK atau kelompok wanita binaan PKK berpartisipasi dengan turut memajang hasil karyanya berupa kerajinan seperti aneka koleksi kain tenun dan bordir, selain membuka stan makanan. Tahun 2010 ini bersamaan dengan ulang tahun ke-18 Kota Denpasar, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantra mengungkapkan akan lebih memprioritaskan program yang benar-benar dapat menyentuh langsung masyarakat seperti kegiatan pelatihan pembuatan banten upacara . Kegiatan ini dimaksudkan juga sebagai upaya untuk melestarikan nilai seni-budaya dan nilainilai luhur agama. Aktivitas ini juga bisa mendukung ekonomi kreatif dan melibatkan banyak orang. Ny. Selly D. Mantra menyerukan semua pihak bekerja sama dalam program ini yang pada akhirnya akan menunjang terwujudnya keluarga yang sejahtera. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua anggota TP PKK beserta seluruh kader PKK se-Kota Denpasar yang telah dengan tulus mentranformasikan kemampuannya tanpa pamrih dalam tugas sosial yang mulia ini . –ard/tim

Pelopor Tingkatkan Pengetahuan TIK Wanita DALAM era terbuka dan global sekarang ini, ada ungkapan, “siapa yang paling mampu menguasai teknologi mereka adalah pemenangnya”. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berperan untuk mendukung dunia industri, bahkan untuk meningkatkan daya saing di beragam bidang. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya, jika pembangunan dalam era global ini tanpa melibatkan teknologi informasi yang memadai, tentu pelaksanaannya akan lambat sekali. Kaum wanita pun dituntut juga memahami keberadaan dan fungsi TIK ini. Dalam upaya untuk meningkatkan pengetahuan

dan keterampilan kaum wanita terhadap TIK. TP PKK kota Denpasar segera bergerak. Salah satunya, menjadi pelopor bidang TIK di Provinsi Bali dengan membuat situs khusus PKK. Begitulah tahun lalu telah diluncurkan situs resminya yakni http://pkk.denpasarkota.go.id di Sekretariat PKK, Gedung Wanita Shanti Graha, Jalan Sudirman, Denpasar. “Jika saya membuka situs kami, senang rasanya karena cukup banyak yang masuk dan merespons. Ada pula kritik dan saran dari PKK banjar- banjar,” kata Ny. Selly D. Mantra. Ia menambahkan, PKK berkerja sama dengan Dinas Kominfo selama sepekan

Ketua TP PKK Kota Denpasar saat peluncuran situs PKK

telah melangsungkan pelatihan bidang TIK untuk kader PKK se-Kota Denpasar di Aula Dinas Kominfo Kota Denpasar. “Di sana mereka memperoleh pengetahuan seperti fungsi dan peran komputer, keamanan komputer, microsoft office , pengenalan internet serta mengolah gambar dengan photoshop. Ia berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kesadaran wanita terhadap pemanfaatan TIK. Kaum wanita dapat mengetahui perkembangan teknologi dan berbagai hal, bukan hanya di wilayah lokal tetapi menjangkau informasi hingga di berbagai belahan dunia lainnya. – ard/tim

sebagai ujung tombak gerakan PKK untuk meningkatkan kualitas, kepedulian, dan komitmennya, dalam memberikan pembinaan dan penyuluhan di 43 desa/kelurahan seKota Denpasar. Di sektor pariwisata, PKK juga tidak ketinggalan. Melalui Pokja I, PKK mengedepankan pelestarian budaya dan adat Bali. Bekerja sama dengan tokoh adat dan seniman Kota Denpasar, PKK melaksanakan pembinaan dan menggelar Parade Gong Kebyar Wanita antar-PKK banjar se-Kota Denpasar. Jika sebelumnya hanya Gong Kebyar Wanita, tahun lalu bertambah dengan Gong Kebyar Anak-anak. “Penampilan Gong Kebyar Wanita selalu dinantikan masyarakat Denpasar. Menjadi lebih semarak lagi dengan hadirnya Gong Kebyar Anak-anak. Betapa meriahnya. Ketika anak-anak tampil, yang menyaksikan selain kedua orangtuanya, nenek, kakek, saudaranya, juga teman dan masyarakat umum. Hal itu terlihat dalam tiap penyelenggaraan parade, penonton tumpah ruah di lapangan Puputan Badung,” ujar Ny. Selly D Mantra. Ia menambahkan, hingga kini tercatat lebih dari 100 Seka Gong Kebyar yang berpartisipasi dalam kegiatan tahunan yang diagendakan Pemerintah Kota Denpasar tersebut. Berkat kiprahnya, TP PKK Kota Denpasar telah mampu meraih berbagai prestasi sampai di tingkat nasional. Di antaranya Juara I Pengelolaan Bina Keluarga Balita (BKB); Prakar ti Madya I Pelaksana Terbaik Posyandu; Prakarti Utama III Terbaik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat; Parakarti Utama II Terbaik Lingkungan Bersih dan Sehat; Parakarti Madya I Pelaksana Terbaik Posyandu dan Juara Lomba Masak Serba Ikan. – ard/tim

Peduli terhadap Sosok Lansia

Ketua TP PKK Kota Denpasar menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba senam lansia

WAKIL Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara mengungkapkan, pelayanan publik berupa penguatan dasar kesehatan juga dilakukan PKK Kota melalui kegiatan Pelayanan Terpadu (Posyandu) Paripurna. Posyandu secara empirik dapat memeratakan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat luas. Yang berarti juga merupakan wahana sistem penyelenggaraan pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia memaparkan, dalam kegiatan posyandu di antaranya ditangani balita dengan penyuapan makanan tambahan sehat, imunisasi, dan pemantauan gizinya. Juga, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pelayanan KB, pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi lansia. “Inilah salah satu bagian tugas TP PKK Kota Denpasar untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat melalui sinergi dengan seluruh instansi terkait,” ujar Ny. Selly D. Mantra. Salah satu kegiatan yang menarik, adanya kepedulian terhadap sosok lansia. Sebab, mereka masih bisa produktif, setidaknya mereka memiliki kelebihan dan keunggulan pengalaman. PKK Denpasar memang menempatkan lansia dalam porsi yang tepat dan menciptakan kondisi dalam proses penanganan dan pemberdayaannya secara manusiawi. Maka, di kota ini muncul kelompok-kelompok lansia dengan segala kebisaannya sebagai hasil pembinaan yang telah diterimanya. Alangkah indahnya, warga lansia pun dapat menempatkan diri sebagai pelaku aktif, kreatif, sehat dan berdaya guna serta penuh semangat dalam mengisi hariharinya. Banyak kegiatan yang dapat mereka ikuti. Penanganannya bukan semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi lebih pada pemberdayaannya baik di bidang ekonomi, sosial, maupun budaya. Di antaranya diselenggarakan lomba senam. Bahkan di beberapa tempat ada yang memiliki perkumpulan janger. Salah satunya, janger dari Tonja yang sempat unjuk kebolehan dalam puncak acara Hari Kesatuan Gerak (HKG) yang diadakan di Kota Denpasar. “Meski penarinya berusia lanjut, semangatnya patut diacungi jempol. Malah ada seorang ibu, kakinya yang sakit sembuh berkat semangatnya setelah menjadi anggota janger,” ungkap Ny. Selly D. Mantra. Di Kesiman juga telah diadakann lomba tari pendet untuk lansia. Selain aktivitas olahraga dan kesenian juga diadakan aktivitas keagamaan dengan mengajak para lansia madharma yatra ke pura, seperti ke Pura Tirta Empul Tampaksiring. – ard/tim


12

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Merariq sebagai Sistem DALAM hal perkawinan, Lombok dikenal masih sangat kental dengan prosesi adatnya. Masyarakat Sasak di Lombok, tidak hanya di pelosok-pelosok desanya, pun di kota masih dapat ditemukan dengan mudah upacaraupacara adat yang berkaitan dengan perkawinan atau yang dikenal dengan merariq. Nilai-nilai adat yang termanifestasikan dalam semangat tradisi yang kental masih dijalankan oleh masyarakatnya, dalam hal proses berumah tangga, sejak perkenalan hingga saling mengenal lebih jauh (Midang- Tokoh edisi 578). Puncaknya adalah merariq.

P

roses perkenalan lebih jauh dalam midang, akan menempatkan perempuan pada posisi tawar yang baik, ia bisa menentukan bersepakat dengan siapa untuk berumah tangga. Keunikan konsep pernikahan adat Sasak yang dikenal dengan merariq pun dimulai. Menurut L. Agus Faturrahman, budayawan Sasak, merariq jangan dilihat sebagai sebuah kata tetapi istilah merariq haruslah diartikan sebagai sebuah sistem dan tidak bisa diterjemahkan setengah-setengah. Dalam merariq, segala proses yang terjadi dilakukan dengan tata cara adat. Setelah kedua belah pihak yang saling mengenal itu sepakat untuk menikah, maka merariq akan dilakukan. Kesepakatan merariq itu akan diwujudkan dengan membawa si calon pengantin perempuan dengan cara “mencuri” diam-diam, sembunyi-sembunyi atau dipalingkan dari orang tuanya. Benar-benar tanpa sepengetahuan orangtua. Bagi dua orang yang sepakat merariq, bisa telah diketahui oleh orangtua si perempuan sebelumnya, bisa juga tidak. Merariq terwujud dengan kesepakatan waktu mbait (mengambil perempuan dari rumah orangtuanya). Waktu mbait juga ditentukan dengan adat, yakni antara waktu magrib dan isya, tidak sembarang waktu. Waktu ini dinilai sebagai waktu yang paling baik untuk mbait. Bagi mereka yang merariq tanpa persetujuan orangtua, maka waktu mbait pun menjadi tantangan tersendiri bagi calon mempelai terutama pihak laki-laki. Karena itulah, ketika seorang anak gadis yang tampaknya telah serius berkenalan dengan seorang laki-laki atau bahkan tidak sama sekali, ia tidak ada di rumah pada waktu usai magrib –di luar kegiatan yang diketahui-, maka orangtua sudah tahu anaknya telah “lari” untuk merariq. Si perempuan harus pandai-

pandai mengalihkan perhatian orangtua dan keluarga di rumah itu agar ia bisa dengan mudah keluar di waktu yang telah disepakati bersama si laki-laki. Demikian pula dengan pihak laki-laki yang biasanya membawa rombongan untuk “mencuri” sang gadis. Bagaimana tidak, rombongan pihak laki-laki harus pandai membaca situasi rumah si perempuan agar dengan “aman” bisa menjemput si calon pengantin perempuan. Sama juga dengan midang, mbait juga punya tata cara dan aturan adat serta menjunjung nilai kesopanan. Saat mbait, dalam rombongan si laki-laki, ada sekelompok perempuan yang sudah dewasa yang bertugas menjemput si perempuan dari dalam rumah atau pun halaman rumahnya. “Yang menjemput, harus dewasa dan telah menikah tidak boleh yang belum menikah,” kata Agus. Si laki-laki dan rombongan lainnya berjaga-jaga di luar halaman rumah. Saat mbait, ada yang sekali langsung berhasil, ada pula yang harus berkali-kali datang selalu gagal. Namun, bagi rombongan pihak laki-laki, ini bukanlah masalah. Di sinilah letak seninya merariq dalam adat Sasak, bagaimana bisa membawa si pujaan hati namun sebelumnya melewati rintangan yang berat. Setelah si calon pengantin perempuan berhasil dibawa, maka tidak diperbolehkan membawanya ke rumah si lakilaki calon pengantin. Melainkan dibawa ke rumah keluarga atau kerabat atau kawan dari calon pengantin laki-laki. Di sanalah si perempuan ini dititipkan sambil menanti proses berikutnya yakni menanti kesepakatan antara dua keluarga, baik keluarga si perempuan maupun laki-laki. Semua aturan adat dalam proses berumah tangga ala Sasak, sarat dengan nilai dan norma yang menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Hal inilah yang dikatakan Agus, bahwa menikah menggunakan adat Sasak sesungguhnya sangatlah berat jika

Jangan Diterjemahkan Setengahsetengah

L. Agus Faturrahman

segala aturan adat diikuti. Ia menjawab ironi yang terjadi di Lombok belakangan ini, bahwa begitu mudahnya orang kawincerai dan menikah usia dini. Dan, ini fakta. Menurutnya, telah terjadi pergeseran nilai adat istiadat dalam hal perkawinan di Lombok sehingga menimbulkan banyak masalah. Para oknum yang tidak memahami aturan adat itulah yang kemudian melakukan tata cara adat setengah-setengah tidak sepenuhnya. Karena jika sepenuhnya melakukan aturan adat dalam merariq, maka hal tersebut bisa diminimalisir. “Beberapa waktu terakhir banyak persoalan merariq yang sampai ke meja hijau. karena urusannya menjadi urusan hukum bukan lagi urusan adat karena tidak dilakukan berdasarkan tata cara adat semestinya. Hal inilah yang membuat merariq kerap kali menjadi kontroversi dalam masyarakat dewasa ini,” tandas Agus. Dalam aturan adat Sasak, usia pernikahan bagi seorang perempuan memang tidak disebutkan secara verbal, melainkan, ada ukuran tertentu yang dianggap bahwa perempuan tersebut cukup umur untuk berumah tangga. “Kriteria perempuan yang dianggap siap berumah tangga dalam masyarakat adat Sasak, ukuran dilihat dari kalau ia sudah bisa menenun dan bisa mengantar makanan ke sawah dengan cara dijunjung,” ungkap Agus. Filosofinya adalah bahwa ketika seorang perempuan sudah bisa menenun berarti ia telah terampil –proses sampai perempuan bisa menenun itulah yang dianggap sebagai pengalaman dalam mempersiapkan diri untuk dewasa. Ia pun dianggap bisa bekerja. Demikian juga dengan ketika ia telah bisa berjalan menuju sawah untuk mengantar makanan bagi keluarga yang

bekerja dengan cara dijunjung. Ini berarti ia telah memiliki kesimbangan yang baik. Orang yang telah mampu menjaga keseimbangan secara tidak langsung dianggap telah dewasa. Setelah proses mbait berhasil dan calon pengantin perempuan ditempatkan di rumah salah seorang kerabat laki-laki, maka mulailah prosesi adat yang lebih serius menuju kesepakatan keluarga untuk menikahkan mereka. Proses selanjutnya tidak hanya melibatkan keluarga dari laki-laki dan perempuan melainkan juga melibatkan masyarakat sosial dan institusi resmi seperti desa atau kecamatan. Dalam waktu paling lambat tiga hari setelah perempuan dibawa “lari”, maka kepala dusun tempat si laki-laki berdomisili akan melakukan pemberitahuan kepada kepala dusun asal si calon pengantin perempuan, bahwa si perempuan tidaklah hilang melainkan sengaja diambil oleh si laki-laki yang berasal dari dusun mereka. Pemberitahuan antar lokasi dan tempat ini yang melibatkan antar institusi sosial dalam tradisi Sasak disebut sejati. Proses berikutnya disebut selabar. Setelah antar dusun telah saling mengetahui, maka tahap berikutnya adalah kepala dusun beserta keluarga dari pihak laki-laki yang diantar oleh kepala dusun dari pihak perempuan secara resmi akan melakukan pemberitahuan kepada keluarga si perempuan. Dalam prosesi pernikahan adat Sasak bukan hanya menjadi urusan keluarga si calon pengantin, melainkan juga secara langsung melibatkan masyarakat sosial pada tahapan

Dalam prosesi pernikahan adat Sasak bukan hanya menjadi urusan keluarga si calon pengantin, melainkan juga secara langsung melibatkan masyarakat sosial pada tahapan tertentu seperti sejati dan selabar. Masyarakat sosial ini diwakili oleh perangkat dari institusi resmi seperti kepala dusun dan kepala lingkungan.

tertentu seperti sejati dan selabar. Masyarakat sosial ini diwakili oleh perangkat dari institusi resmi seperti kepala dusun dan kepala lingkungan. “Selabar bisa saja berlangsung beberapa kali, sebabnya bisa karena keluarga perempuan belum berkumpul semua untuk membahas diterima atau tidaknya proses selabar tersebut secara adat,” kata Agus. Diterima secara adat –melibatkan urusan strata sosial seperti bangsawan atau tidak-, atau diterima secara agama (Islam). Jika si perempuan tidak bangsawan, bisa saja prosesnya selabarnya tidak diterima secara adat tapi diterima secara agama (oleh keluarga tinggal memberikan wali maka proses pernikahan selesai). Tidak lagi ada prosesi adat yang lain. Namun, jika selabar diterima maka akan berlanjut ke proses adat berikutnya, yakni pihak keluarga laki-laki akan datang lagi bersama dengan pemuka agama dan kiai untuk menemui keluarga pihak perempuan guna meminta wali nikah bagi si perempuan. Meminta wali juga, ada aturannya sendiri. Rombongan selabar tadi masuk terlebih dahulu bertemu dengan keluarga perempuan untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka bersama tokoh agama dan kiai tersebut. Dalam rombongan selabar ini terdiri dari Panji sebagai juru bicara, keluarga, kepala dusun dan kepala lingkungan dari

pihak laki-laki. Penerima selabar juga dengan komposisi yang sama. Setelah rombongan selabar keluar barulah pemuka agama dan kiai bersama keluarga terdekat pihak laki-laki dan juru bicaranya masuk untuk secara resmi meminta wali nikah bagi si perempuan. Ketika selabar dinyatakan diterima dan wali diberikan, maka mulailah keluarga kedua belah pihak merencanakan acara akad nikah dan resepsi (jika ada). Maka prosesi berikutnya adalah rombongan peminta wali akan datang secara adat untuk menjemput wali di saat akad nikah akan dilaksanakan di kediaman laki-laki. Dalam saat penjemputan ini maka pihak lakilaki sebelumnya telah menanyakan kepada pihak perempuan berapa jumlah rombongan dari pihak perempuan yang akan menghadiri akad nikah nantinya. Oleh pihak laki-laki akan disiapkan kendaraan untuk menjemput rombongan keluarga perempuan. Semua biaya hingga akad nikah usai ditanggung oleh pihak laki-laki. “Karena ini ketentuan adat, maka semua berlaku fair tidak ada yang saling merasa tidak enak soal biaya, karena telah dibicarakan dengan detil pada proses-proses adat sebelumnya,” katanya. Dua hari berselang, rombongan pihak laki-laki akan datang kembali ke pihak perempuan untuk sebuah proses yang disebut bait bande atau mencari tahu apa yang dibebankan oleh

pihak perempuan kepada pihak laki-laki untuk prosesi adat selanjutnya seperti sorong serah. Di sini mulai bicara dan berdiskusi tentang biaya atau kontribusi masing-masing yang disesuaikan dengan rencana begawe, apakah begawe dengan cara begawe utama, begawe madya atau begawe nista. Dalam prosesi ini ditentukan apa saja yang akan dijadikan seserahan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan. Seserahan bisa berupa kebutuhan untuk perhelatan seperti kerbau dan beras. Untuk menyerahkan segala kebutuhan begawe ini, maka ada namanya acara adat atung bande, yakni mengantar semua kebutuhan begawe secara resmi. Rombongan yang datang biasanya diirtingi gamelan dan bunyi-bunyian. Begitu rumitnya proses pernikahan dalam adat Sasak. Maka jika adat ini dijalankan dengan semestinya, kata Agus, seharusnya kawin-cerai tidaklah mudah terjadi di Lombok seperti akhir-akhirnya. Agus menganggap, peran tokoh-tokoh adat Sasak harus lebih ditingkatkan. Seharusnya para tokoh adat Sasat, sudah mulai berpikir untuk duduk bersama membicarakan persoalan ini dengan serius untuk menyelamatkan anak-anak di bawah umur menikah seperti banyak terjadi saat ini, sekaligus menyelamatkan para perempuan dari perkawinan dan perceraian yang sangat mudah terjadi.—nik

Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak

NTB Kembangkan Desa Prima SALAH satu tujuan pembangunan berbasis gender adalah meningkatkan kualitas hidup perempuan, yakni meningkatkan kapabilitas dasar perempuan di pendidikan dan kesehatan. Kualitas pembangunan manusia di NTB terbilang belum menggembirakan melainkan masih terbelakang. Hal ini bisa diukur dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB yang masih tertinggal dengan provinsi lainnya di Indonesia. Hasil perhitungan IPM periode 2006-2007 menempatkan NTB sebagai daerah yang nilai pembangunan manusianya berada pada level menengah ke bawah dengan skor 66.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP&KB) Provinsi NTB, Dra. Hj. Ratningdiah, M.H. (kanan) saat jumpa pers didampingi Kasubag. Pemberitaan Humas Setda NTB, I G.P. Aryadi (tengah).

“NTB berada di posisi 32 dari 33 provinsi,” kata Dra. Hj. Ratningdiah, M.H., Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP&KB) Provinsi NTB. Untuk meningkatkan derajat dan kualitas perempuan NTB, kata Ratningdiah, saat jumpa pers yang di Kantor Gubernur NTB beberapa waktu lalu, BPP&KB berupaya melakukan terobosan dengan beberapa program unggulan yang berkaitan langsung dengan tupoksi BPP&KB seperti program unggulan yang pertama yaitu Akino, Adono, dan Absano melalui program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak (PKHPA) . PKHPA adalah upaya perbaikan kondisi fisik dan mental perempuan dan anak dalam pemenuhan hak dan kebutuhan hidupnya sebagai bagian hak asasi manusia dari berbagai

bidang pembangunan, terutama pendidikan, kesehatan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sosial budaya, politik, hukum, dan lingkungan hidup. Untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak di NTB, BPPKB NTB mengembangkan Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju dan Mandiri). Desa Prima merupakan sebuah desa percontohan untuk menanggulangi kemiskinan melalui upaya ekonomi disertai pengurangan beban biaya kesehatan dan pendidikan bagi keluarga miskin, dengan memanfaatkan seluruh potensi/sumber daya baik alam maupun manusia. “Diharapkan di desa Prima ini akan tercipta kehidupan khususnya bagi perempuan dan anak yang lebih berkualitas, seperti meningkatnya pendapatan masyarakat, me-

nurunnya angka buta aksara, menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), menurunnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dan meningkatkan partisipasi perempuan di sektor publik,” kata Ratningdiah yang didampingi Kasubag. Pemberitaan Humas Setda NTB, I G.P. Aryadi. Salah satu desa di NTB yang akan dijadikan desa Prima adalah Desa Pengengat Kecamatan Pujut Lombok Tengah. “90% penduduknya buta aksara dan tidak bisa berbahasa Indonesia,” ujar Ratningdiah. Target untuk pengembangan Desa Prima ini hingga tahun 2013 mendatang 200 desa dari 913 desa di NTB, yang terbagi tahun 2010, 20 desa, tahun 2011, 50 desa, tahun 2012, 60 desa dan tahun 2013, 70 desa.—nik


Usaha

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 13

Potensi Desa Menyali dari Rambutan hingga Bokor

D

ESA Menyali terletak di Kecamatan Sawan, Buleleng. Wilayahnya terdiri atas 2 dusun yaitu Dusun Kanginan dan Kawanan. Penduduknya 800 kepala keluarga dengan 2400 jiwa. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh. Sektor pertanian dan industri merupakan sektor unggulan di desa ini.

“Berbagai sektor menunjang perekonomian masyarakat di Desa Menyali. Semuanya perlu dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena sebagian besar masyarakatnya kurang mampu,” jelas Kepala Desa Menyali, Drs. I Made Sujana. Hasil pertanian, perkebunan yang unggul di Desa Menyali adalah buah rambutan. Hasil-

Kerajinan bokor berbagai bentuk

nya mencapai 150 ton pertahun yang didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Bali serta luar Pulau Bali. “Saat ini belum ada pengolahan buah rambutan di desa. Kalau ada bantuan peralatan, rambutan dapat diolah menjadi manisan bahkan bijinya pun dapat diolah. Jika itu dikembangkan, industri rumah tangga akan berkembang,” kata Sujana. Saat ini 40% warga sudaji bergelut di sektor industri. Desa Menyali juga dikenal

dengan kerajinan bokor, salah satu sarana pelengkap upacara keagamaan di Bali. Gede Ardana (39), salah satu pengrajin bokor di Desa Menyali menjelaskan, kerajinan bokor sudah berkembang turun-temurun. Sejak duduk di bangku kelas 3 SD, Ardana sudah mahir membuat bokor. “Waktu itu saya bekerja pada salah satu perajin bokor di desa. Setelah tamat SMA Tahun 1992 saya mulai mengembangkan usaha sendiri,” kata bapak 5 orang

anak itu. Bokor pada tahun itu hanya digunakan sebatas untuk keperluan upacara. Jenisnya beragam mulai dari tempat sesajen, tempat tirta, sangku, wakul, nare, paboan, tempat dupa dan berbagai sarana keperluan upacara lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, kerajinan yang terbuat dari bahan utama aluminium itu pun berkembang. Ardana mencoba untuk berkreasi membaca peluang pasar.

Salah Pola................................................................................................................................dari “Pedofil Penghancur Masa Depan Anak” menulis, pedofil menaruh perhatian pada anak dengan menyampaikan keinginan untuk memberi pendidikan yang lebih baik dan memberi pengalaman melihat dunia luar. Pedofil adalah seseorang yang memilih menunjukkan aktivitas seksual kepada anak prapubertas atau awal masa pubertas atau yang berumur kurang dari 13 tahun. Aktivitas seksual dapat berupa fantasi, keinginan, atau perilaku seksual yang terjadi karena penderitaan atau penghinaan dari seseorang atau pasangan hidupnya. Juga, sering terjadi pada orang-orang yang sewaktu kecil mengalami trauma seksual yang dilakukan pedofil. Berdasarkan usia anak-anak yang disasar, pedofilia dikelompokkan dalam teleiofilia, orang dewasa yang menyenangi pasangan yang sudah matang secara fisik, infantofilia, orang dewasa yang tertarik

dengan anak yang berumur di bawah 5 tahun. Mereka yang aktivitas seksualnya memilih remaja pubertas atau anak di bawah umur (13-16 tahun) diklasifikasikan hebofil (tertarik terhadap perempuan) atau efebofilia (tertarik pada laki-laki). Cara pelaku pedofilia melampiaskan dorongan seksualnya pada anak-anak beraneka ragam di antaranya memamerkan diri mereka pada anak-anak, menanggalkan pakaian anak-anak, memerhatikan anak-anak yang tanpa busana sambil melakukan masturbasi tanpa diketahui korban atau masturbasi di depan anak-anak dengan meraba genitalia korban. Pedofil perempuan cenderung memiliki usia lebih muda, 22-23 tahun. Biasanya mereka dimasukkan dalam kriteria gangguan psiatri khususnya depresi atau gangguan kepribadian.

Pedofil mengalami masa kecil dengan kekerasan, isolasi, atau penghinaan. Setelah dewasa menjadikan dirinya sebagai orang yang menyenangi kekerasan. Prof. Suryani menulis, trauma akibat kekerasan seksual yang dialami waktu kanak-kanak, dapat juga menimbulkan gangguan panik setelah ia dewasa. Sering kali mereka ketakutan berada sendirian atau di tempat umum. Gangguan stres pascatrauma, gejalanya, bayangan kejadian traumatik terulang kembali, mudah marah, sulit tidur, dan tegang. Jika anak mengalami kekerasan seksual dan tidak mampu mengatasi penderitaannya, kemungkinan anak itu depresi seperti kosentrasi berkurang, kepercayaan dirinya berkurang, merasa masa depan suram, pesimis, nafsu makan berkurang. Penderitaan yang dialami anakanak yang sukar dipahaminya, dapat

halaman 3

menyebabkan gangguan jiwa berat berupa gangguan psikosis (gila). Ia sering mengamuk, menjerit, curiga, menarik diri dari pergaulan, alami ketidakmampuan dalam bekerja yang biasa dilakukan. Rawan HIV/AIDS Berdasarkan penelitian, kata Dokter Westra, setelah korban dewasa, ada kecenderungan seolaholah dia ingin meneruskan kenikmatan yang pernah dirasakan. “Dulu dia menjadi korban kini dia menjadi pelaku, apakah dengan maksud balas dendam atau menikmati kedaan itu dan ingin mempraktikkannya,” ujarnya. Jika pelaku sodomi orang yang mengidap virus HIV/AIDS besar kemungkinan korban pedofilia akan tertular karena sodomi dapat merusak jaringan anus anak. “Virus masuk lewat aliran darah karena rusaknya jaringan anus,” katanya. —ast

Tahun 2005, Ardana mencoba melirik pasar luar negeri. Kerajinan bokor miliknya tak hanya didesain untuk kepentingan upacara keagamaan Umat Hindu melainkan digunakan untuk berbagai keperluan hotel dan diekspor. Produk kerajinannya mulai dari cermin, nampan, tempat laundry, pas bunga, kotak tisu, tempat perhiasan, aksesoris, box sepatu, pot bunga, keranjang sampah dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Harganya beragam sesuai dengan desaind, bahan, ukuran dan bentuk. Nampan 1 set yang terdiri dari 3 jenis mulai dari ukuran kecil, sedang dan besar dijual seharga Rp 35.000. Tempat aksesoris dengan 3 jenis ukuran dipasarkan dengan harga Rp 22.000 perset. Pemasarannya langsung melalui buyer, artshop dan agen. Ardana juga aktif mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri untuk memasarkan produk kerajinannya seperti, Jakarta, Yogyakarta, Hongkong dan Singapura. Tiga kali dalam sebulan, Ardana mengekspor produk kerajinannya ke luar negeri. “Paling banyak diekspor ke Amerika Serikat dan Italia. Jumlahnya tak tentu sesuai kebutuhan pasar. Cermin

Drs. I Made Sujana

I Gede Ardana

adalah produk yang paling diminati oleh konsumen luar negeri. Saat ini kami sedang mengerjakan pesanan 500 pcs cermin,” kata Ardana. Ardana dibantu 14 karyawan untuk mengerjakan pesanan. Bahan baku dibeli langsung di Kota Singaraja. “Tak ada kendala masalah bahan baku dan pemasaran. Kami kekurangan tenaga dan kewalahan melayani pesanan,” tambah Ardana. Menyiasati hal itu, Ardana juga bekerja sama dengan perajin lainnya yang tergabung dalam Kelompok Sari Mekar. Omzet penjualannya mencapai Rp 25 juta hingga 40 juta tiap bulan. Perawatan bokor sangat sederhana. Setelah digunakan untuk berbagai keperluan, kerajinan bokor dicuci dengan sabun detergen. “Dikeringkan dengan lap dan dijemur hingga kering. Jangan biarkan ada titik-titik air yang tersisa sebelum disimpan dalam plastik atau lemari,” kata Ardana. Selain kerajinan bokor, ada juga yang membuat kerajinan blek pindang (tempat untuk merebus pindang). Wayan Mudaksa (70) menekuni kerajinan blek pindang sejak 1980. “Saya memulai usaha ini tanpa modal. Pemesan yang

langsung menyediakan bahan. Kami hanya membuat bentuknya,” jelas bapak 8 orang anak itu. Mudaksa dibantu oleh istrinya, Ketut Darsih (65) untuk menyelesaikan pesanan blek pindang. Tiap bulan, Mudaksa tak pernah sepi pesanan. “Sehari kami menyelesaikan 50 blek pindang harganya Rp 1.500-2.000 perblek. Hasilnya cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” kata Mudaksa. Mudaksa dan istrinya berharap mendapat bantuan modal dan peralatan untuk meningkatkan usahanya. —put

Wayan Mudaksa

Bapak Ancam.......................................................................dari ancam mertua saya. Kalau tidak mau memberikan sertifikat tanah, dia akan menjual dua anak kandung kami. Ini dia sampaikan di hadapan kedua anak kami. Anak-anak ketakutan, terutama anak perempuan saya yang selalu gelisah dan takut bertemu pria dewasa setelah mendengar ancaman ayahnya itu,” ujar Km.N. Sikap suaminya itu lambatlaun membuatnya cemas. Atas ajakan mertuanya, Km.N. memboyong dua buah hatinya mengungsi ke tempat persembunyian di luar Tampaksiring. “Kami tinggal berpindahpindah demi menghindari ancaman suami saya. Belakangan ada pesan singkat dia kirim melalui HP. Isinya dia

Kawin Adat

bilang mau membawa dan menjual anak saya ke Jawa. Saya makin takut merasa terus dikejar-kejar bayangan suami yang mau menculik anak kami,” ujar Km.N. Sebagai istri yang terus berada di bawah intimidasi, Km.N. akhirnya melaporkan suaminya ke Polda Bali. Tanda bukti lapor bernomor TBL/125/ II/2010/Bali/Ditreskrim yang diteken 18 Februari 2010 itu masuk perkara penggelapan dengan terlapor DKK. “Polisi bilang itu sebagai laporan awal. Nanti penyidik akan mengembangkan kasusnya ke arah perdagangan anak. Saya minta kasusnya segera diproses secara hukum. Saya, mertua, dan dua anak

halaman 3

saya, tidak aman selama suami belum dibuat jera oleh polisi. Tiap hari kami dihantui rasa takut didatangi suami,” ujar Km.N. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali mendesak agar polisi serius menindaklanjuti laporan kasus yang menjurus ke arah perdagangan anak tersebut. Menurut Wakil Ketua KPAID Bali Luh Putu Anggreani, S.H., pelakunya harus segera disidik agar tidak terus mengintimidasi secara psikis anak, istri, dan ibunya. “Penyidik polisi dapat saja menjerat pelaku dengan pasal kekerasan terhadap anak jika sudah ada ancaman yang keluar dari mulut pelaku,” tandasnya. —sam

............................................................................dari halaman 1

Ibunya meminta agar Akiko jangan sering pulang ke Jepang setelah menjadi seorang ibu rumah tangga. Akiko dipesankan lebih mengutamakan perhatian untuk keluarga barunya di Bali. “Jika rindu kan bisa melalui telepon,” ujar Akiko menirukan ucapan ibunya. “Adik kandung saya pun ikut mendukung saya menikah dengan orang Bali. Dia bilang calon suami saya itu sudah jodoh yang diberikan Tuhan. Saya berbahagia menerima dukungan ini,” kisahnya. Akiko kemudian memastikan jadwal keberangkatannya ke Bali. Sebelum terbang ia mengemasi barang bawaannya. Sebagian buku koleksi pribadi diberikan sebagai

kenang-kenangan kepada kalangan sobat karibnya. Sebuah mobil miliknya dilego ke tangan seorang kenalannya. Akiko hanya menyiapkan pakaian seperlunya untuk dibawa ke Bali. “Ini ditambah sedikit harta warisan keluarga,” ungkapnya. Hari keberangkatan Akiko akhirnya tiba. Mobil pribadi seorang sobatnya sudah diparkir di depan rumah orangtuanya. Empat sobat karibnya siap mengantar Akiko ke Bandara Narita Tokyo. “Saya pamit kepada Ibu. Kami berpelukan sambil menangis. Ibu tampak sedih sekali melepas keberangkatan saya,” katanya. Sebelum menuju pesawat udara Akiko menyempatkan diri ke tempat persembahyangan umat Shinto (Narita San Sin Shoji) di salah satu sudut bandara. “Saya sembahyang meminta keselamatan sekaligus pamit kepada leluhur. Saat itu saya merasa itulah mungkin kesempatan terakhir saya bersembahyang di tempat ibadah tersebut,” ungkap Akiko. Kapal terbang yang ditumpangi Akiko telah mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, awal Mei 2000. Akiko melangkah pasti menuju ruang penjemputan penumpang. “Saat itu saya melihat Rai dan temannya datang menjemput. Saya gembira sekali ketemu Rai,” aku Akiko. Setelah bercakap-cakap sejenak, Akiko diantar calon suami dan temannya ke rumah salah seorang kerabat Rai di Sanur. Inilah rumah tumpangan sementara Akiko. “Saya

lalu diajak Rai menemui keluarganya di Sidemen. Hati kecil saya senang sekali. Ini lantaran semua keluarga menyambut kedatangan saya dengan suka cita,” kisahnya. Setelah menginap beberapa hari di rumah salah seorang kerabat Rai di Sanur itu, Akiko lalu indekos. Lokasi rumah kontrakannya tak jauh dari kediaman kerabat calon suaminya tersebut. “Saya kemudian diajak Rai lagi ke Sidemen. Saya mengikuti acara kumpul keluarga yang sedang membicarakan rencana perkawinan kami. Keluarga memutuskan acaranya akan berlangsung menurut adat Bali dan agama Hindu di rumah calon mertua. Waktunya dicarikan hari baik (dewasa) yang jatuh Agustus 2000,” katanya. Hari baik yang ditentukan pun datang. Akiko dan Rai mengenakan busana adat perkawinan tradisional Bali. “Saya masuk Hindu lalu menikah secara adat Bali dengan Rai. Upacara perkawinan dipimpin seorang pemangku dan dihadiri keluarga besar suami serta warga banjar adat,” katanya. Usai upacara adat dilanjutkan resepsi sederhana. “Teman-teman saya dari Jepang yang ada di Bali ikut sibuk menjamu tamu saat resepsi. Mereka mewakili kehadiran keluarga saya yang ada di Jepang,” katanya. Setelah resmi menjadi istri Rai, ada kesibukan baru Akiko. Kegiatan belajar menenun songket menjadi salah satu aktivitas barunya. “Saya tekun belajar menenun songket Bali. Saya buat desain sendiri,” katanya. —sam


14

Tokoh

Jabodetabek

28 Februari - 6 Maret 2010

Jakarta tetap Kebanjiran Menggelontor Air ke Laut atau ke Dalam Tanah?

K

anal Banjir Timur (KBT), sebelumnya sering disebut Banjir Kanal Timur (BKT) dan memang itu yang salah kaprah tetapi telanjur populer. Namun, Humas Pemprov DKI berpendapat yang lebih tepat adalah KBT yakni kanal penanggulangan banjir di bagian timur Jakarta, sementara kanal penanggulangan banjir barat Jakarta adalah KBB (Kanal Banjir Barat) yang sudah dibangun Dinas Pengairan masa pemerintahan kolonial Belanda tahun 1920 dan mulai beroperasi tahun 1923. KBB berfungsi untuk membuang limpahan air ke Laut Jawa melalui Muara Angke di Teluk Jakarta. Sementara KBT yang juga dirancang setelah KBB baru terealisir. Sebenarnya, KBT oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah digagas tahun 1973 dengan konsultan Belanda ketika Pemerintah Indonesia membuat Rencana Induk Pengendalian Banjir di Jakarta. Tahun 1979-1986 dilakukan survei oleh gabungan konsultan Prancis, kemudian Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 1990an yang membantu studi pelaksanaan pembangunan KBT. Hingga era reformasi, meski Jakarta sering banjir, belum juga dimulai pembangunannya. Rencana pembangan KBT sejak awal terkendala masalah biaya besar yang tidak mungkin diatasi DKI Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta selalu menyatakan tidak sanggup mendanainya sendiri. Pemerintah Pusat diharap andilnya karena sebagai ibu kota negara, Pemerintah

Pusat yang berada di wilayah DKI harus turun tangan. Pusat seperti baru terjaga setelah Jakarta dilanda banjir besar tahun 2002. Awal 2002, tanggal 2-3 Februari 2002, seluruh wilayah Jakarta benarbenar tergenang. Bukan hanya aktivitas warga terganggu, juga kegiatan pemerintahan terhambat. Bahkan, kawasan-kawasan elite yang sebelumnya aman, tergenang pula. Akses dari dan menuju bandara pun tersendat akibat banjir. Perekonomian juga lumpuh. Karena itu Gubernur DKI Jakarta, saat itu Sutiyoso, akhirnya bertekad merealisasikan pembangunan KBT. Lagi-lagi persoalan klise Jakarta mencuat. Kendala utama, penggusuran perumahan warga. Sebab, meski akhirnya Pemerintah Pusat bersedia mengucurkan bantuan, proses penggusuran dan masalah ganti rugi paling memusingkan Pemprov DKI. Proyek KBT sepanjang 23 km dengan lebar 18 m meliputi 13 kelurahan memerlukan biaya sekitar Rp 4,3 triliun. Dari biaya tersebut, 60% untuk pembebasan lahan. Total lahan yang harus dibebaskan sekitar 274 hektare. Sutiyoso yang memimpin DKI Jakarta selama dua periode dan telah membangun proyek besar bagi Jakarta, seperti merehabilitir pembangunan air mancur Bundaran HI, pemagaran Taman Monas, mewujudkan transportasi jalur khusus (busway), hingga akhir pemerintahannya Oktober 2007, baru menyelesaikan 60%. Penggantinya, Fauzi Bowo, sejak dilantik menjadi gubernur

Yayat Supriyatna

DKI Oktober 2007, punya kepedulian yang hampir sama terhadap masalah pengendalian banjir dan kemacetan lalu lintas. Bahkan kedua persoalan tersebut menjadi program utamanya. Maka, selain pembebasan lahan terus dilakukan, pembangunannya pun dikebut. Akhir Desember tahun lalu, KBT sudah tembus ke laut. Upaya Fauzi Bowo menyelesaikan pembangunan KBT dan infrastruktur terkait, selain mencari dukungan dana ke pemerintah pusat juga mendapatkan pinjaman lunak dari luar negeri. Selain itu, tentu saja dana yang disediakan melalui APBD Pemprov DKI Jakarta. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999v tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2010, KBT merupakan bagian rencana tersebut. Paragraf 7 Sistem Prasarana Wilayah, Pasal 21, butir 2 menyebutkan, “Pengembangan prasarana pengendalian banjir yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas prasarana pengendalian banjir 100 tahunan dengan tetap mempertimbangkan debit minimal aliran mantap berserta kualitas.” Pengembangan prasarana dimaksud meliputi normalisasi aliran 13 sungai, penyempurnaan sistem aliran Kanal Barat dan Cengkareng Drain untuk bagian barat, penyempurnaan sistem aliran Cakung Drain, Sungai Sunter, dan pembangunan Banjir Kanal Timur. Mengacu Perda dimaksud, proyek KBT yang diharap selesai tahun 2010 optimis bisa terealisir. Bahkan diharapkan, jika terjadi banjir pada masa musim hujan awal tahun ini, keberadaan KBT sudah bisa dirasakan manfaatnya. Dengan tertampungnya luapan air sungai ke KBT dan kemudian tembus ke laut, maka wilayah-wilayah genangan di bagian timur Jakarta bisa dikurangi. KBT dibangun memang untuk mengatasi banjir yang rutin melanda Jakarta. Sebagaimana pembangunan KBB yang diarahkan untuk mengatasi banjir di wilayah barat Jakarta, KBT untuk mengatasi banjir di wilayah timur Jakarta. Namun, sebagaimana pernyataan yang sering dikatakan Gubernur DKI Fauzi Bowo, adanya KBT bukan berarti Jakarta lolos dari masalah banjir. Jakarta akan tetap banjir tetapi dengan adanya KBT banjr di Jakarta bisa berkurang hingga 50%. Tetap saja Banjir Jakarta banjir, sudah lama terjadi dan berulang hampir saban tahun. Sekitar 40% wilayahnya berada di bawah permukaan air laut. Di wilayah Ibu Kota ini mengalir 13 sungai yang kemudian bermuara ke Teluk Jakarta. Di antara 13 sungai tersebut, Sungai Ciliwung sering meluap pada musim hujan. Sungai yang berhulu di daerah Cianjur lalu melewati Bogor, alirannya juga cukup deras. Setelah KBT bisa dioperasikan sejak awal tahun 2010, benarkah area banjir di Jakarta mulai berkurang? Atau, berkurangnya cukup signifikan? Realitasnya belum seperti yang

Meski Kanal banjir Timur (KBT) dianggap belum sempurna, keberadaannya bukanlah sia-sia. Dari 13 sungai yang mengalir ke Jakarta, 5 sungai melintas di wilayah timur Jakarta. Lima aliran sungai yang melintas di timur dan bermuara di KBT adalah Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Manfaat pembangunan KBT di wilayah timur Jakarta ini antara lain: 1. Mengurangi Kawasan Genangan Banjir Di wilayah timur Jakarta terdapat beberapa titik lokasi yang sering menjadi langganan banjir atau genangan air. Karena itu, dengan adanya KBT diharapkan genangan air di titik tersebut dapat teratasi sehingga mengurangi potensi banjir. Beberapa titik lokasi tersebut, antara lain: AMI ASMI Perintis Kemerdekaan, Kebon Nanas, Rawa Bunga, Cipinang Jaya, Cipinang Indah, Cipinang Muara, Pulo Mas, Bulu Perindu, Malaka Selatan/ Pondok Kelapa, Ujung Menteng, Kelapa Gading, Komplek Walikota Jakarta Utara, Babek TNI Rorotan.

Banjir di Jakarta

JAKARTA yang kerap dilanda banjir, selama ini selalu berpikir bagaimana membuang luapan aliran sungai secepat mungkin ke laut yang kemudian direalisasikan melalui proyek Kanal Banjir Timur. Tetapi, bukan mengedepankan pemikiran bagaimana meresapkan air sebanyak mungkin dari luapan sungai dan genangan air hujan itu ke dalam tanah atau perut bumi.

Fungsi Kanal Banjir Timur

diharapkan. Hujan sebentar saja, genangan terjadi di manamana. Pengamat perkotaan Yayat Supriyatna mengatakan, Jakarta bebas banjir memang tidak mungkin sesuai kondisi geografisnya. Namun, apa yang diupayakian pemerintah dalam mengatasi banjir selalu bersifat keproyekan yang tentunya memerlukan dana besar. “Yang dilakukan pemerintah selalu bersifat struktural, dengan proyek besar dan dana besar. Mengapa tidak dilakukan yang nonstruktur dan melibatkan masyarakat,” kata dosen Jurusan Planologi atau Perencana Perkotaan pada Fakultas Teknik Universitas Trisakti Jakarta ini. Secara prinsip, katanya, keberadaan KBT bisa mengurangi banjir hingga 30%, sementara wilayah yang dilindungi, tidak semuanya termasuk wilayah kanal, seperti Kalibata, Bidara Cina yang tetap dilanda banjir. Dalam mengatasi banjir, untuk Jakarta yang kondisi tanahnya flat/datar akan memunculkan sedimentasi jika pemeliharaannya kurang optimal. Dengan proyek kanal seperti KBT, selain pembangunannya berbiaya besar pemeliharaannya pun memerlukan dana besar. Apalagi masalah sungai juga masih dijejali buangan sampah warga, dan masalah penanganan area resapan di bagian hulu sungai juga tidak maksimal sehingga aliran sungai kian besar dan deras ke daerah hilir. “Mengapa tidak membuat sodetan-sodetan, sistem polder, dan memperbanyak sumur resapan,” ucap Yayat Supriyatna. Bukan ke Laut tetapi ke Dalam Tanah Dalam upaya mengatasi banjir ditekankan untuk diterapkan penegakan hukum. Yayat menilai tepat salah satu kebijakan Pemprov DKI bahwa semua warga Jakarta diharuskan membuat sumur-sumur resapan. “Tetapi, jika sebatas imbauan tanpa sanksi tegas, tak ada dampaknya,” ujarnya. Bagi individu-individu yang membuat sumur-sumur resapan di rumahnya beri insentif berupa pengurangan pajak, dan bagi kelompokkelompok masyarakat atau mereka yang secara kolektif membuat sumur resapan, beri bantuan untuk membangun sumur resapan. Dengan cara demikian kepatuhan warga untuk membuat sumur resapan bisa terealisir. Yang melanggar harus ditindak tegas. Yayat mengatakan, yang harus dikedepankan bukan bagaimana menggelontorkan aliran sungai secepatnya ke laut, tetapi bagaimana memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. Selain menjaga kestabilan dan kondisi air tanah, memperbanyak resapan air juga bisa mengurangi kecepatan instritusi air laut ke wilayah daratan. Kecenderungan di kota-kota besar dunia, seiring berkembangnya kota yang tentunya mengurangi lahan-lahan terbuka, maka yang harus dipikiran bagaimana bisa menginjeksikan sebanyak mungkin jumlah air ke perut bumi. — is

industri, pergudangan dan juga pemukiman yang cukup padat, selain wilayah di bagian utara yang juga dilalui KBT. Dengan adanya KBT, beberapa wilayah akan terlindungi dari potensi banjir, termasuk juga beberapa permukiman di wilayah tersebut. Secara langsung permukiman yang akan terlindungi, termasuk wilayah yang dilalui KBT, yakni 13 kelurahan. Dua kelurahan di Jakarta Utara, yakni Marunda dan Rorotan. Sedangkan 11 kelurahan berada di Jakarta timur, yakni: Kelurahan Cakung Timur, Ujung Menteng, Pulogebang, Pondok Kopi, Malaka Jaya, Malaka Sari, Pondok Kelapa Duren Sawit, Pondok Bambu, Cipinang Besar Selatan dan Cipinang Muara. Di kawasan ini terdapat pusat perdagangan Kelapa Gading.

3. Prasarana Konservasi Air Pembangunan KBT tak hanya bermanfaat bagi pengendalian banjir di wilayah timur Jakarta, melainkan juga berfungsi sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air baku. Air yang berada di kanal (aliran) akan diatur sedemikian rupa agar tidak semuanya langsung terbuang 2. Melindungi Kawasan ke laut melalui pintu-pintu Industri, Pergudangan yang telah tersedia. Pada mudan Permukiman sim kemarau air tetap berWilayah Jakarta Timur di- tahan di kanal dan tidak dialirkenal sebagai pusat kawasan kan ke laut untuk penyediaan

air bagi masyarakat maupun prasarana konservasi air 4. Prasarana Tranportasi Air dan Rekreasi Untuk jangka panjang, pembangunan KBT sebagai sarana transportasi air dan juga sarana rekreasi. Untuk sarana transportasi telah disiapkan beberapa prasarana untuk turun naik penumpang, terutama di tempat-tempat waduk serta pintu air yang sudah dimulai pengerjaannya. Untuk sarana transportasi ini, rute yang ada tidak bisa langsung dari Cipinang menuju Ujung Marunda, melainkan harus berhenti di beberapa pintu untuk melanjutkan lagi ke pintu berikutnya. Sebagai sarana rekreasi, selain masyarakat dapat menikmati transportasi air, ke depan masyarakat juga bisa jogging atau jalan kaki di pinggir sungai. Keluarga juga dapat memanfaatkan pinggiran KBT yang rencananya akan ditanami beberapa tanaman untuk penghijauan area sehingga menambah suasana teduh 5. Sarana Olahraga Air Potensi air di KBT, terutama di titik kanal yang memiliki ukuran panjang lebih dari 100 meter, sangat potensian dijadikan sarana olahraga air. Bahkan pihak KONI berniat menjadikan KBT sarana olahraga air. — is/hkm

Kanal banjir timur

Upaya Holistik Atasi Banjir Jakarta Pemprov menanggulangi BANJIR di Jakarta tak bencana banjir tidak kecil. bisa dilepas dengan keBelum lagi petugas yang beradaan Sungai Ciliwung harus diterjunkan. Untuk yang berhulu di Kabumengan-tisipasi banjir paten Cianjur, Jawa Barat, tahun 2010, Dinas Sosial dan bermuara di Teluk menyiapkan ribuan peJakarta. Sebagian Daerah tugas. Dari unsur masyaAliran Sungai (DAS) rakat 857 orang, Satuan Ciliwung Tugas Sosial dan Taruna mulai Cianjur, Bogor, Siaga Bencana (Tagana) Depok, bukan kawasan 5.032 orang, Pekerja Soresapan ideal karena adasial Masyarakat (LSM) 96 nya alih fungsi untuk orang. Unsur personel perumahan, jalan, dan organik meliputi 232 orkegiatan pembangunan ang dari Dinas Sosial, 225 lainnya. Sementara di dari Suku Dinas Sosial, Jakarta, di bantaran Cilidan 362 orang dari Unit wung juga dipenuhi huniPelaksana Tugas Dinas. an warga. Karena itu banKepala Dinas Sosial jir di Jakarta tak lepas dari Pemprov DKI Jakarta Drs permasalahan Ciliwung . Budihardjo, M.Si. mengGubernur DKI Jakarta ungkapkan, pihaknya juga Fauzi Bowo dalam suatu menyiapkan peralatan kesempatan mengatakan, Fauzi Bowo seperti mobil dapur untuk mengatasi permasalahanCiliwung tidak bisa hanya diselesaikan umum, mobil tangki air, tenda, perahu dolpin, Jakarta. Kendalanya cukup banyak, terutama di perahu karet, motor tempel, jaket pelampung, sepanjang aliran Ciliwung karena aliran Ciliwung dapur umum. Selain itu juga logistik yang terdiri berasal dari luar Jakarta, sehingga penataan atas sembako, lauk pauk, susu, dan pakaian. Ciliwung tidak bisa lepas dari sistem hulunya. Contoh, pada musim hujan aliran Ciliwung Ketegasan Pemprov DKI membawa banyak sampah dan debit yang Begitu banyak yang disiapkan sebelum mengalir juga sangat tergantung pada land use banjir, dan aparat pemerintah sangat sibuk kala di hulu. banjir benar-benar tiba. Ini selalu berulang. Di bagian hilir, yakni di sepanjang bantaran Karena upaya-upaya untuk meminimalkan damKali Ciliwung di Wilayah Jakarta, masih banyak pak bencana banjir, oleh sebagian pengamat warga bertempat tinggal di sana. Jika memindah- masih dinilai belum optimal. Satu di antaranya kan warga di bantaran kali perlu juga dipikirkan yang dipandang bisa mengurangi luapan banjir masalah sosialnya karena mereka umumnya pu- adalah kalau Pemprov DKI tegas dalam menata nya mata pencaharian di sekitar tempat tinggal- kawasan bantara kali. nya. Memang tak sedikit upaya yang dilakukan. Kalangan pengamat pernah mengusulkan, Upaya pemerintah untuk mengatasi banjir terutama dimotori pakar lingkungan, Dr Emil akibat luapan Ciliwung adalah melaksanakan Salim, mantan Menteri Negara Lingkungan normalisasi Ciliwung dengan meningkatkan Hidup. Jika warga di bantara kali enggan dipin- kapasitas Kanal Banjir Barat. Sesuai pembagian dah, lingkungan bantaran itu harus tetap dijaga. tugas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Karena itu Emil Salim mengusulkan semua rumah Provinsi, Ciliwung (melalui 2 Provinsi) merupaharus menghadap ke sungai sehingga bantaran kan kewenangan dan tanggung jawab Pusat, kali akan menjadi halaman depan, bukan halaman mulai dari pembangunan (normalisasi), pemebelakang sehingga kebersihan sungai akan lebih liharaan dan pengerukan serta perbaikan turap/ baik. Alternatif lain, merelokasikan hunian warga tanggul yang longsor. supaya bantaran Ciliwung lebih maksimal Memang DKI sudah membuat rencana dijadikan area hijau atau daerah resapan. matang soal Ciliwung, dan masyarakat berPemprov DKI Jakarta sebenarnya telah mem- harap, apa yang dikatakan Gubernur bisa diberikan pilihan, bagi warga DKI Jakarta (yang realisasikan terkait persoalan Ciliwung. memiliki KTP DKI) diberi prioritas menempati Dalam rangka pembenahan tata ruang peRusunawa, jika tidak akan dikembalikan ke nanggulangan banjir dan lingkungan hidup, kampung halaman mereka. program Pempov DKI ke depan adalah meDua pilihan itu tidak menarik warga sekitar normalisir Ciliwung menjadi lebih kurang 50 Ciliwung. Padahal biaya-biaya yang dikeluarkan meter. —is


Kesehatan Sakit Jantung 11 Tahun Sembuh Dalam Waktu Sebulan ada hari tanpa se- jantung, pembesaran jantung serta sak dan keluhan terjadi pengapuran pada klep jantung jantung. Sang suami (stenotic mitral valve, aotic regurg, left pun ikut menderita. atrium enlarged). Ia sering absen Kondisi yang dialami Bu Ayu, terus menjalankan tugas- menggerus keuangannya. Dua rumah nya karena Bu Ayu dan tiga mobil ludes dilego untuk memsering tidak mampu biayai pengobatannya selama 11 tahun menolong dirinya ini. Karena kesehatan jantungnya sulit saat penyakit jan- diobati, dokter berkali-kali pula mengtungnya menyerang. ingatkan agar Bu Ayu segera melakKetika serangan sanakan operasi klep dengan biaya sejantung muncul, kitar Rp 200 juta. baik siang atau maSeminggu menjelang keberangkatanlam Bu Ayu bisa nya ke Jakarta, suami Bu Ayu mengpingsan berkali-kali. ajaknya berkunjung ke balai pengobatan Ia pun segera di- jantung sehat “Bali Heart Care Center” bawa ke rumah sa- (BHCC). Mendengar pengobatan alterkit. Selama lebih natif di BHCC tanpa operasi dan bisa dari 9 tahun penya- mengobati sakit jantungnya, Bu Ayu kit jantungnya se- sempat meragukannya. “Dokter saja ring kumat, Bu Ayu menyarankan operasi, karena tidak ada hanya satu minggu obatnya di dunia ini. Apa dengan terapi di rumah, sisa wak- alat dan ramuan bisa menyembuhkan, tunya selalu di- aneh kedengarannya,” ujar Bu Ayu. habiskannya di ru- Karena sang suami bersikeras ke mah sakit. BHCC, akhirnya Bu Ayu bersedia. “Sejak penyakit Sambil duduk di kursi roda ia datang saya kumat, saya ke BHCC untuk diperiksa. Setelah meselalu dibantu oleh lihat data medis Bu Ayu, Mr. Chai dari suami. Semua pe- Hsen Chii International mengambil kekerjaan rumah tang- simpulan, memberikan beberapa resep ga seperti ke pasar, ramuan herbal diikuti dengan terapi memasak, mem- EECP dan terapi darah EBOO. bersihkan rumah, “Sungguh luar biasa khasiatnya, dan lainnya dikerja- hanya dalam waktu tiga hari saja kan oleh suami dan kondisi saya yang tadinya lemas saudara saya. Pe- tidak bertenaga, tiba-tiba pulih. Saya Ibu Ayu Adnyani Putri kerjaan saya hanya bisa pergi ke pasar, naik tangga, metidur dan menonton masak dan mengerjakan pekerjaan Ibu Ayu Adnyani Putri (40) adalah TV. Bergerak sedikit saja, jantung rumah tanpa bantuan. Saya juga bisosok yang tegar. Menjalani pen- saya pasti kumat,” kata Bu Ayu. sa melayani suami sebagaimana deritaan selama 11 tahun bukanlah hal Setelah menderita gangguan mestinya,” kata Bu Ayu tersenyum yang mudah. Diakuinya sejak hamil jantung tidak teratur dan bertahun- sembari mengatakan saat ini setelah anak satu-satunya ia sudah merasa- tahun, ia terus mengonsumsi obat- menjalani terapi selama satu bulan, kan gangguan pada jantung. Karena obatan medis. Serangan demi se- ia bisa membawa motor sendiri sering kelelahan, jantungnya terasa rangan jantung silih berganti dialami- tanpa diantar oleh suaminya. Baginya berdebar dan detaknya tidak merata. nya, dokter menyimpulkan adanya ini pengalaman luar biasa, sakit janSejak tahun 1998 ia mengalami tensi yang terus meningkat mencapai tung 11 tahun, diobati hanya dalam gangguan jantung, sesak, dan nyeri. 170/100 dan terjadi gumpalan darah waktu satu bulan. “Terima kasih Dokter pernah menyarankan untuk yang menjadikan makin parahnya klep BHCC,” ujarnya. —adv menggugurkan kandungannya, karena khawatir jika kehamilanUntuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: nya dipertahankan bisa meBali Heart Care Center renggut nyawa Bu Ayu. Karena Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy merasakan sulit hamil dan perJalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) nah mengalami keguguran, Bu 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Ayu tetap pada pendiriannya unEmail: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com tuk meneruskan kehamilannya. Setelah melahirkan anak Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg perempuan satu-satunya, terBHCC kirim ke 9168. nyata gejala sakit jantung terus (untuk kelancaran silakan buat janji) menggerogotinya. Hampir tidak

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 15


16

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Dukung Museum.......................................................................................................................................................dari halaman 1 sebagai pasar besar. “Saya setuju dengan pandangan pengamat ekonomi Undiknas University Prof. Sri Darma yang menyebutkan kita pun jangan melupakan potensi pasar konsumen di Nusantara. Ada 250 juta jumlah penduduk Indonesia. Ini salah satu pasar besar lho…” ujar istri seniman lukis Ubud I Made Joni ini. Promosi produk usaha bisnis di Bali diharapkan tak sampai keteteran. Selama ini, berbagai even promosi memang sudah gencar dikerjakan di Pulau Dewata. Banyak pengusaha kita telah berpromosi lewat Ubud Festival, Pesta Kesenian Bali, Kuta Karnival, Sanur Village Festival, Nusa Dua Festival, Denpasar Festival, dan lainlain. “Promosi melalui berbagai festival ini menjadi peluang pengusaha kerajinan kita memperluas pasar produknya,” katanya. Namun, Bu Yuli menaruh harapan besar agar upaya menge-

nalkan produk usaha bisnis tersebut tak hanya berhenti di situ. Selain promosi melalui festival budaya maupun pameran ke negeri jiran, perhatian terhadap keberadaan museum kerajinan di Bali tak kalah mendesak. “Saya mendukung adanya ide Wali Kota Denpasar yang mengusulkan Bali perlu punya museum kerajinan,” ujarnya. Keberadaan museum kerajinan tersebut cocok dengan bergulirnya program “Tahun Kunjungan Museum 2010” yang dicanangkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik. “Ini momen yang bagus bagi pemerintah kita di Bali untuk mewujudkan gagasan membangun museum kerajinan tersebut,” katanya. Jika ide tersebut terwujud tentu museum kerajinan tadi bakal menjadi satu-satunya dan pertama di Indonesia. “Ini otomatis akan menjadi daya tarik tersendiri bagi upaya mengembangkan wisata

belanja,” imbuhnya. Namun, potensi kalangan guide atau pemandu wisata dan biro jasa perjalanan wisata diharapkan jangan sampai diabaikan dalam menggarap promosi produk usaha bisnis tersebut. Ini pun jika terwujud museum kerajinan Bali. Peran dua komponen pariwisata ini dinilai amat besar dalam membantu membuka akses pasar bagi wisatawan. “Mereka menjadi ujung tombak untuk membantu mempromosikan produk usaha bisnis lokal kita kepada wisatawan,” lanjutnya. Itu sudah dibuktikan Bu Yuli selama membantu mengelola galeri lukisan maupun usaha rumah makannya selama ini. Agenda promosi lebih banyak dilakukan melalui para guide dan biro jasa perjalanan wisata. “Galeri lukisan dan rumah makan saya banyak dibantu promosinya oleh temanteman guide dan biro jasa per-

jalanan wisata. Saya pantas berterima kasih kepada teman-teman ini. Mereka yang membuat promosi dari mulut ke mulut sampai akhirnya rumah makan saya khususnya bisa punya pelanggan seperti sekarang,” ujarnya. “Kabarnya, ada 5.000 guide di Bali. Betapa potensialnya akses pasar lokal jika semua guide ini diajak terlibat,” tandasnya. Ada cerita menarik dari balik pengalaman Bu Yuli merintis usaha bisnis rumah makannya. Semula ia lebih banyak terlibat mengelola manajemen galeri lukisan. Namun, dua kali bom yang menimpa Bali sempat membuat krisis ekonomi akibat sepinya kunjungan wisata ke daerah ini. “Saya kemudian mencoba membuka usaha rumah makan. Wah ternyata prospeknya bagus,” katanya. Namun, ide tersebut tak

Perlu Dibentuk..............................................................................................................................................................dari halaman 2 Misalnya seorang wanita menikah, tak lama kemudian suaminya meninggal, ia dianggap beban oleh pihak keluarga suami. Ia disingkirkan secara halus. Posisi wanita Bali dalam kehidupan sosial seperti pengungsi di rumah suaminya. Bersyukur kalau diperlakukan baik. Jika tidak dan kembali ke rumah keluarganya sendiri pun sering dianggap pengungsi. Betapa perempuan Bali kehilangan identitas diri. Ketika tidak diterima di manamana, ke manakah mereka harus pergi? Panti jompo Wana Seraya pernah mengalami masalah ketika terjadi penolakan adat atas penguburan 4 jenazah. Kita harapkan adanya bantuan pemerintah kepada lansia di panti jompo, dengan membebaskannya dari segala biaya kremasi. Sisi positifnya, banyak kegiatan yang diperoleh para lansia yang ada di dua panti jompo Bali ini. Misalnya kegiatan keagamaan. Di sana mereka juga bisa saling berbagi, mengingat hal-hal positif yang pernah dinikmati dalam kehidupan sosial sebelumnya. Mereka pun mampu melakukan pekerjaan sederhana seperti membuat tusuk sate dan sapu lidi.

Gayatri Mantra Dosen Akpar Mataram, anggota Forum Komunikasi Mitra kasih Bali, mahasiswa S-3 Kajian Budaya Unud

Tinggal di Panti atas Kesadarannya Saya sempat ke panti jompo dan berbincang-bincang dengan salah seorang dari mereka. Ada warga panti jompo yang atas kesadarannya tinggal di panti, dengan alasan tidak ingin merepotkan anaknya. Dia bahagia tinggal di sana dengan sesama lansia dan menjadikannya memiliki kesibukan. Di keluarga saya, tiap anak berbicara nantinya ingin mengajak saya jika sudah lansia. Lansia lebih banyak mendapat kekerasan psikologis, seperti dikata-katai atau dimaki-maki anaknya, meski itu dilakukan tidak dengan niat sengaja.

Maria, Sidakarya

Ledakan Lansia Tahun 2025 Kriteria lansia yang dapat diterima di panti jompo minimal berumur 60 tahun dan dalam keadaan miskin. Status miskinnya juga diakui desanya, dengan surat resmi. Sangat diperlukan keberadaan panti jompo, karena tingkat harapan hidup lansia kian tinggi di Indonesia, dulu 68 tahun kini 71,5 tahun. Maka, akan terjadi ledakan jumlah lansia tahun 2025. Di Bali terjadi peningkatan. Tahun 2004 jumlah lansia yang tercatat di Dinas Kesehatan 600-an, tahun 2005 menjadi 1,6 juta.

Gayatri Mantra

Yang Menarik Warisannya Dalam masyarakat Bali yang menarik dari orangtua adalah

dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan seseorang dalam kesengsaraan, sedang ia wajib memberi kehidupan, perawatan dan pemeliharaan kepada orang itu, karena hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak banyaknya empat ribu lima ratus rupiah. Caranya, melaporkan ke Gde Biasa polisi terdekat, atau konsultasi dengan LBH. Ke depannya, perlu didorong ada Komnas Perlindungan Lansia.

warisannya, sementara sosoknya dianggap merepotkan. Sering pula saat hidupnya orangtua disia-siakan dan dilayani justru setelah meninggal, seperti saat ngaben. Ada empat yang tidak bisa ditingalkan dalam hidup ini, yakni lahir, mati, usia tua, dan sakit-sakitan. Dosa besar, anak yang menelantarkan orangtuanya. Anak harus membalas budi orangtuanya.

Panti Jompo Swasta

Gayatri Mantra

Ke depannya akan banyak muncul dan berkembang pantiBangun Panti Jompo, panti jompo swasta. Ini alternatif lain bagi mereka yang mampu. bukan Hotel Namun, jangan karena memiliki Masihkah undang-undang meuang mengirim orangtua ke panti lindungi fakir miskin dan anak jompo. Mereka di sini tidak berarti telantar? Pemerintah Provinsi Bali terisolasi dari kehidupan sosialnya dibanding membangun hotel lebih Gayatri Mantra baik membangun panti jompo. Saat ini bantuan yang semestinya diPenelantar Orangtua peroleh lansia sepertu susu, maringan dan yang lainnya mubisa Dilaporkan? kanan lai mengendur. Bisakah para penelantar orangMade Jujur tua dilaporkan? Ke mana melaporkannya? Jika melaporkan mungkinJSLU untuk Lansia kah identitas kita dirahasiakan deBKKBN dalam Portal Republik mi menghindari konflik dengan tetangga. Khawatirnya jika yang me- Indonesia (2008) menyatakan pemelaporkan diketahui, akan terjadi rintah menargetkan tahun 2010 sebanyak 2,7 juta lansia telantar akan balas dendam. Sangging mendapatkan Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Rp 300.000/per bulan. Bantuan ini bersifat permanen karePerlu Komnas na merupakan social security, tidak Perlindungan Lansia seperti bantuan langsung tunai (BLT). UUD 1945 pasal 34 mengama- Departemen Sosial melalui Direktorat natkan negara memelihara fakir Pelayanan Rehabilitasi Sosial (Yahmiskin dan anak telantar. Tetapi, rehsos) menyatakan, masih ada 1.5 fakta di jalanan, anak-anak yang juta lansia telantar yang belum memmiskin dan menggepeng, lebih ba- peroleh JSLU. Syarat lansia telantar nyak ditangkapi ketimbang dipeli- menerima JSLU, golongan fakir hara negara. Pengejaran dan pe- miskin, bukan penyandang cacat nangkapan pihak aparat menim- yang telah mendapatkan bantuan, bulkan pengalaman traumatik bagi bukan lansia yang berada di panti anak. Sementara makelar dan ge- atau mereka yang telah menerima peng dewasa tetap menggunakan program bantuan lain seperti BLT, bayi dan anak-anak sebagai ins- atau termasuk dalam asuransi ketrumen bisnisnya. Dalam UU No. sehatan untuk warga miskin (askes23 tahun 2004 tentang Penghapus- kin). Persoalannya, bagaimana lansia yang miskin, telantar di jalanan tanan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pa identitas, tidak bernaung di ba(PKDRT), dijelaskan tentang tinwah institusi apa pun dapat mengedak kekerasan penelantaran. Pasal tahui dan mendapat akses jaminan 9 berbunyi: (1) Setiap orang diini dengan mudah. Perlu kontrol malarang menelantarkan orang dalam syarakat untuk mengawasi pelaklingkup rumah tangganya, padahal sanaan program tersebut? menurut hukum yang berlaku Gayatri Mantra baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan dan pemeliDurhaka haraan kepada orang tersebut. (2) Mereka yang merasa memiliki Penelantaran sebagaimana dimak- orangtua, adik atau kakak yang sud pada ayat (1) juga berlaku bagi tidak menikah, tidak punya anak, tiap orang yang mengakibatkan jangan ditelantarkan. Itu sikap dan ketergantungan ekonomi dengan tindakan biadab serta durhaka. cara membatasi dan/atau melarang Bagaimana masalah ketenagakerjaan untuk bekerja yang layak di dalam yang ditelantarkan dengan tak jelas, atau di luar rumah sehingga korban bisakah ditarik ke tindak pidana? berada di bawah kendali orang terGusti Gautama sebut. Pasal 49 berbunyi: Dipidana dengan pidana penjara paling lama Laporkan Tindak 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000 , tiap orang Penelantaran yang menelantarkan orang lain daHarus ada kemauan masyarakat lam lingkup rumah tangganya menegakkan undang-undang dengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal melaporkan tindak kekerasan dan 9 ayat (1); menelantarkan orang penelantaran. Aparat hanya melain sebagaimana dimaksud dalam nanggapi jika ada laporan. KePasal 9 ayat (2). Penelantaran juga tenagakerjaan bukan masalah yang ditindak dalam KUHP pasal 304- saya kaji tetapi jika para pensiunan 309. Pasal 9 berbunyi: Barangsiapa yang usia lanjut tidak mendapatkan

haknya, mereka bisa melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang dan ada undang-undang yang telah mengaturnya.

Gayatri Mantra

Menantu Kurang Peduli Anak lebih peduli warisan ketimbang nasib orangtuanya. Begitu juga yang namanya menantu kurang peduli pada mertua.

Vera, Tabanan

Desa Adat perlu Sensitif Desa adat hendaknya mulai sensitif terhadap persoalan kesejahteraan warganya; menjadi mediator penyelesaian konflik internal keluarga. Panti jompo bukan tujuan akhir sebagai rumah tinggal lansia. Jika terjadi persoalan dalam keluargsa mintalah pertolongan pihak lain. Dengarkan pendapat yang positif sehingga tak terjadi penelantaran orangtua. Di Bali masih ada fenomena saat masih hidup orangtunya ditawari minum saja tidak. Tetapi, ketika mereka meninggal, keturunannya membuat sesaji seperti sodha untuk roh orangtuanya. Diharapkan sikap perilaku seperti ini diubah.

Gayatri Mantra

otomatis muncul di benaknya saat merintis lahirnya rumah makan tersebut. Bu Yuli memberikan apresiasi yang dalam untuk koleganya semasa masih aktif sebagai pengurus Iwapi Gianyar. Ketua Iwapi Ginyar tempo itu, Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M., Desak Putu Nithi, dan sejumlah pengurus lainnya hampir tak jemu mendorongnya mencoba merintis usaha bisnis kuliner itu. “Dorongan teman-teman inilah yang membuat saya akhirnya berani mencoba merintis bisnis rumah makan ini,” katanya. Hatinya makin lega setelah

usaha rumah makannya berjalan bagus. Bisnis kuliner ini tak hanya dikelolanya sendiri. Salah satu putrinya, Kadek Dwi Arini, S.E., M.M., ikut nimbrung mengusungnya. Anak keduanya ini memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan tercatat salah satu lulusan tercepat Program Magister Manajemen Undiknas University. Bekal ilmu ekonomi ini diharapkan dapat ditularkan Kadek dalam membantu sang ibu mengelola usaha bisnis keluarga tersebut. “Walau Kadek sebenarnya tetap ingin meraih cita-citanya menjadi pe-

gawai negeri sipil,” ungkap Bu Yuli. Sementara putri sulungnya Putu Eka Yuliani tercatat sebagai salah satu pelukis dari sedikit perempuan seniman lukis di Bali. Putu telah menyabet ijazah sarjana seni lukis dari STSI Denpasar. “Anak sulung saya sekarang punya punya studio lukisan yang berada satu lokasi dengan galeri lukisan kami. Di sini dia mengekpresikan bakat seninya. Sementara putra bungsu, Nyoman Trio Arisaputra, masih kuliah di FE Unud,” katanya. —sam

Jadikan Museum................................................................................................dari halaman 1 jumlahnya sampai saat ini 251 macam. Dari ruang pameran, pengunjung diajak singgah di rumah tradisional Bali. “Di sini ada bangunan tradisonal Bali yang sangat spesifik; ada bale daja, balel dauh, bale dangin, dapur, klumpu, termasuk bale ketungan. Ini bangunan khas Bali yang sangat disenangi wisatawan,” ujarnya. Ia menyebutkan wisatawan Prancis dan Jerman menduduki peringkat tertinggi dalam deretan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Museum Subak. Terkait pengembangan di Museum Subak, pengelola berkeinginan, setelah para pengunjung menyaksikan rumah tradisional Bali, diajak menyaksikan aungan (saluran irigasi tertutup yang ada di subak), dan saluran terbuka (telabah). Pengunjung kemudian

digiring ke tembuku (tempat pembagian air) dan menuju sawah tempat kegiatan para petani. Di sawah ini direncanakan akan ada atraksi penggunaan alat-alat pertanian yang dipajang tadi, seperti nengala, dan kegiatan yang berkaitan dengan menanam padi, dll. “Mudah-mudahan tahun 2011 bisa diwujudkan,” ujarnya berharap. Dari tempat ini, baru kemudian pengunjung diarahkan ke hutan di sebelah utara sawah, melewati jalan setapak, dan ke luar tepat di tempat parkir. Dari ancer-ancernya ini diharapkan Museum Subak bisa menyajikan kekinian, sehingga bisa meningkatkan kunjungan wisatawan. Berkaitan dengan Visit Museum Year 2010 sekaligus mempromosikan keberadaan mu-

seum ini, pengelola Museum Subak menggelar Lomba Utsawa Dharmagita dan Lomba Jegeg Bagus, Maret mendatang. Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan Unud Agung Suryawan dalam diskusi tersebut, bahwa salah satu cara promosikan museum adalah menggelar kegiatan di museum setempat. Sujana mengungkapkan, pengelola Museum Subak juga telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan agar anak-anak sekolah bisa diarahkan mengunjungi museum ini. Sementara ini, menurut Sujana, baru pelajar SD dan SMP dari Kabupaten Gianyar dan Badung serta Kota Denpasar yang banyak mengunjungi museum ini. —ten

Museum Subak...................................................................................................dari halaman 1 yang memiliki peranan penting seperti ini dilibatkan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke museum,” ujarnya. Terkait fungsi museum sebagai sarana pendidikan sejarah, Widminarko mengungkapkan contoh angka kunjungan wisatawan mancanegara ke sebuah museum yang didominir wisatawan Jepang dan Belanda. Dalam sejarah, kebetulan kedua negara tersebut pernah menjajah Indonesia. Ini petunjuk, adanya keterkaitan erat antara sejarah masa lampau dan kunjungan ke museum. Ini bisa menjadi pertimbangan dalam pemerintah dan pengelola museum mengambil kebijakan operasional, kebijakan di bidang promosi, misalnya.

Ia juga nenegaskan telah adanya pengelola museum yang menyelenggarakan kegiatan tertentu sebagai daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke museumnya. “Pengelola museum perlu kreatif dan inovatif dalam upaya menjadikan museumnya menarik untuk dikunjungi. Contoh, pengelolaan Museum Subak di Tabanan yang idenya antara lain muncul dari almarhum I Gusti Ketut Kaler dan ditindaklanjuti Gubernur IB Mantra tahun 1981. Sarana daya tarik bisa dikaitkan dengan kebutuhan dan selera masyarakat zaman sekarang,” ujarnya. Kompleks Museum Subak bisa dilengkapi sarana berkemah pelajar. Sambil berkemah, katanya, mereka melihat langsung petani melakukan

kegiatan di sawah menggunakan peralatan yang mirip dengan isi museum. Atau, anak-anak diberi kesempatan bergelepotan lumpur turun ke sawah mencoba peralatan tersebut. “Jadi, anak-anak tidak hanya melihat peralatan subak di dalam museum. Ini bisa dijadikan daya tarik,” paparnya. Ia mengungkapkan apa yang pernah dilihatnya di Ubud. Sebuah restoran yang menyediakan tempat kemah pelajar. Para pelajar sangat senang diberi kesempatan turun ke sawah walau tubuhnya bergelepotan lumpur. Atraksi seperti ini dimungkinkan, kerena Museum Subak memiliki lahan sawah yang bisa dimanfaatkan oleh pengelola untuk berkreasi dan berinovasi. —ten

Konflik Bali Koleksi...........................................................................................................dari halaman 1 Menantu dan Mertua Konflik menantu dan mertua seperti yang umum tampak sebagai tetap asli seperti pertama kali beragam jenis kerang di museum ini terus berkembang. Sedangkan anak artshop di berbagai pelosok ditemukan di Timur Tengah. Nama pun dari berbagai belahan dunia. hanya menghormati orangtuanya kawasan wisata utama di Bali. Latin biota laut ini phl;iceratina Namun, kerang purba khususnya pada saat meninggal. Seorang pria berperawakan ammonites. Kalangan ilmuwan berasal dari Maroko dan Dewa Winaya tinggi menyambut kehadiran Ko- menyebutnya pula nautilus. Madagaskar. Sekitar 9 jenis ikan hiu ganas ran Tokoh di pintu masuk. Lelaki “Inilah kerang purba yang hidup Mertua juga harus bernama Rey A. Razak itu opera- 150 juta tahun silam. Kami yang telah diawetkan juga dapat Bersikap Baik tional manager di museum memperolehnya di Maroko,” ditemukan di museum ini. katanya. Uniknya, ada mumi hiu gergaji. Dua Tidak semua menantu tidak tersebut. Rey, panggilan akrab pria sisi moncongnya menyerupai Ada pula kerang purba raksasa kelahiran Denpasar 12 April 1969, memperhatikan mertua. Sebagai orang Bali percaya adanya hukum ini, menuntun langkah ke lantai dua yang telah dibelah dua. Sisi tengah gergaji. Panjangnya sekitar dua karma. Jika seorang mertua baik ke- bangunan ini. Setelah mendaki kerang tampak artistik. Jika meter. “Bisa dibayangkan jika pada menantu, dengan menganggap- belasan anak tangga, ada ruang dibayangkan desainnya sekilas panjang moncongnya segitu, berapa nya sebagai anak sendiri yakin lumayan luas. Sebuah layar moni- seperti permukaan marmer. Namun, panjang badan hiunya,” ujar Rey. nantinya akan terjalin pula hubung- tor menempel di salah satu dinding teksturnya lebih halus ditambah Menariknya, mas kawin kerang an yang baik dengannya. ruang kecil. “Ini tempat khusus bagi corak warna kehidupan bawah laut masyarakat pedalaman di Papua Bu Sri, Denpasar pengunjung untuk menyaksikan yang memikat. “Selain warna-warni New Guinea ada pula di sini. film dokumenter tentang koleksi seperti kehidupan di bawah laut, Desainnya beragam bentuk. “Kami Panti Jompo biota laut di museum ini. Durasi warna merah belahan permukaan juga mengoleksi busana perang bukan untuk Isolasi filmnya 10-15 menit,” jelasnya. kerang ini tampak seperti warna masyarakat pedalaman ini yang Ada pula ruang khusus badan darah. Inilah sebenarnya perpaduan memakai pernak-pernik kerang Pada masa depan ada kecenderungan muncul banyak panti jom- konservasi sumber daya alam. warna dan darah bermacam biota pula,” katanya sambil menunjuk po swasta mengingat berubahnya Letaknya persis berhadapan bawah laut yang membatu selama sebuah baju yang menyerupai pemahaman masyarakat terhadap dengan tempat pemutaran film berjuta tahun dalam cangkang rompi. keinginan merawat orangtua. Feno- dokumenter tadi. “Ruang khusus kerang raksasa ini,” paparnya. Ratusan jenis bekicot yang mena kebutuhan panti jompo hen- ini konon menjadi salah satu syarat Selain kerang purban raksasa, hidup di hutan pedalaman Papua daknya digunakan untuk intros- yang harus kami fasilitasi untuk museum ini juga mengoleksi situs juga dipamerkan museum peksi sosial perihal kesejahteraan di menjadi lembaga konservasi biota purba sisa tanaman laut yang ini.Uniknya, warna bekicotnya Bali. Tiap orang pasti akan tua. laut dalam bentuk museum zool- dimakan rayap. Usianya ratusan macam-macam. “Warna bekicot Penelantaran dan kemiskinan pada ogy. Ya…kami coba penuhi syarat ribu tahun. “Situs ini masuk dipengaruhi jenis tanaman yang lansia merupakan kejahatan keklasifikasi batu mineral,” jelasnya. dimakannya semasa hidup di hutan manusiaan dan harus dihentikan. tersebut,” katanya. Situs lipas laut purba pedalaman Papua,” lanjutnya. Potret dramatis mulai terasa Panti jompo penting, ditujukan unMuseum tersebut memtuk kesejahteraan lansia bukan untuk saat memasuki ruang pameran si- (selenopeltis) menjadi daya tarik tus biota laut purba. Suguhan lain isi museum ini. Lipas ini fasilitasi pula ruang khusus yang isolasi, diskriminasi. Panti jompo sebaiknya menjadi pertama dimulai dari sebuah situs menyerupai kecoa di daratan. berfungsi sebagai showroom. alternatif terakhir dan menjadikan yang menyerupai potongan kayu Umurnya 490 juta tahun. Ini jenis Ruangan ini memamerkan beragam rumah sebagai tempat impian kelu- seukuran diameter badan anak situs paling tua yang dikoleksi Bali jenis barang kerajinan yang diolah arga tiga generasi untuk hidup ber- kecil. Situs ini ternyata batang Shell Museum. Ukuran paling dari bahan baku kerang. “Barang sama secara harmonis Semoga rumah tanaman yang telah membatu besar hewan laut ini semasa zaman kerajinan ini dibuat 263 pengrajin. tetap menjadi impian bagi para lansia beratus tahun silam. “Situs batu ini purba kira-kira 30-20 kali ukuran Hasil kerajinan mereka dipamerkan untuk dapat tinggal berbahagia. sebenarnya bukan barang baru,” kecoa. dan dijual di sini,” ujar Rey. Komnas Lansia untuk di Bali agar Ada pula diorama biota laut di Situs biota bawah laut purba segera dibentuk. Penghargaan dan ujar Rey. Namun, Rey buru-buru lantai tiga museum ini. Kerang laut yang langka dikoleksi di negeri ini penghormatan manusia agar ditegakkan dan UU serta teks-teks ke- melempar pandangan ke sudut lain. ini beragam jenis dan rupa. Bali dapat menjadi sumber pengetahuan agamaan dijadikan praksis dalam Ia menunjuk dua kerang raksasa Shell Museum mengoleksi 10-12 bagi kalangan pendidikan. “Ini juga kehidupan bersama. Penanganan lan- yang dipajang bertetangga. Lebar ribu spesies kerang dari sekitar 250 menjadi daya tarik wisatawan yang sia berbasis banjar penting sehingga kerang ini hampir semeter. Kerang ribu spesies kerang di muka bumi. berkunjung ke Bali,” katanya. adat dapat memediasi potensi konfik ini masih utuh. Kondisinya konon Asal negara yang menjadi habitat —sam anggota masyarakatnya agar tidak ada lagi penyingkiran, kekerasan dan .................................................................................................dari halaman 2 penelantaran lansia. Jika terjadi indikasi kekerasan dan penelantaran Mereka mengharapkan motivaKini kondisi dan kebutuhan Pengurus KP4 yang benarlansia agar segera dilaporkan pada benar dikelola lewat pendekatan masyarakat di perdesaan sudah ti- tor hadir di desa, sebagaimana pihak berwenang misalnya kepolisi- kualitatif, umumnya tampil men- dak sama dengan tahun 1980-an. Tenaga Kerja Sukarela BUTSI yang an. Kontrol sosial sangat diperlukan jadi penggerak masyarakat dalam Banjir informasi lebih dahsyat. ditempatkan di daerah perdesaan agar pemerintah memberi prioritas pembangunan di desanya. Aparat Teknologi makin canggih. Tuntutan tahun 1970 dan 1980-an. Mahabagi penanganan lanjut usia. desa pun tampak bergairah. Jika masyarakat berkembang. Keinginan siswa yang sedang ber-Kuliah Kerja Terlebih lagi BKKBN dalam akan menyelenggarakan kegiatan di tahu terhadap teknologi baru di Nyata di perdesaan pun dapat berPortal Republik Indonesia (2008) desanya atau desanya akan di- sektor pertanian, misalnya, menjadi peran sebagai motivator, jika memenyatakan pemerintah menargetkan kunjungi pejabat pemerintah, ekse- salah satu kebutuhan mereka. reka benar-benar diberi pembekalan tahun 2010 sebanyak 2,7 juta lansia kutif maupun legislatif, yang me- Mereka pun ingin tahu lebih jauh secara komprehensif sebelum turun telantar akan mendapatkan Jaminan reka cek bukan hanya kesiapan tentang pertanian organik dengan ke desa. Sosial Lanjut Usia Rp.300 ribu per konsumsinya, pengeras suaranya, pendekatan tekno-ekologis. Mereka Perlunya warga masyarakat bulan. Bantuan ini bersifat perma- pembawa acaranya, penerima pun perlu bimbingan atau dapat bergabung dalam kelompok, dan nen, tidak seperti Bantuan Langsung tamunya, tetapi juga dicek apakah mengakses situs untuk menemukan bagaimana mereka memandang Tunai. Departemen Sosial melalui penulis perdesaan sudah siap men- teknik mutakhir mencegah penyakit penting kehadiran motivator, dapat Direktorat Pelayanan Rehabilitasi jalankan tugasnya. Kegiatan dan rumput laut atau teknik bertanam dilihat sekarang ini di Kecamatan Sosial menyatakan, masih ada 1.5 juta dampak positif kehadiran KP4, ju- nilam dan lidah buaya yang berpo- Busungbiu, Buleleng, khususnya di lansia telantar yang belum mem- ga menjadi bagian kriteria penilaian tensi ekspor. Mereka telah ber- Pucak Sari, Sepang, Sepang Kelod, peroleh JSLU. Lomba Desa di Bali. Hal itu terjadi pikiran global, tetapi tetap meman- dan Tista (bersambung). Gayatri Mantra di Bali, tahun 1980-an. dang penting kehadiran kelompok. WIDMINARKO

Membangun dari


Panggung

International Java Jazz Festival

Diikuti 150 Grup

Personel BAIO Band. Dari kiri: Yuri Mahatma, Dodi Sambodo, Bony Rywis, Kachir Maitakai, Cepi Kusmiadi, dan Astrid Sulaiman (duduk)

“CHIR…suara alatnya agak jauhin dikit, biar nggak terlalu keras,” ujar salah seorang personel BAIO (Bali Intertribal Organization) Band kepada vokalis berambut gimbal di sisi kanannya. “Kalau aku jauhin, aku nggak bisa nyanyi,” sahut Kachir dengan logat kental Papuanya sembari terus memainkan alat yang menge-

luarkan suara krecek-krecek. Menjelang akhir lagu, ia mengambil alat lainnya. Kali ini alat itu dipukulkannya ke paha dan gemanya didengarkan ke mi-

krofon. Kachir juga berbekal satu tas alat musik yang mengeluarkan bunyi bermacammacam. Ada yang berbunyi gemericik seperti air, ada juga seperti suara halilintar. Pada saat berlatih Selasa (22/2) itu di studio Farabi Lembaga Pendidikan Musik, ia memang masih mencari-cari suara alat mana yang pas masuk dan pas waktu masuknya. Begitu juga personel lain, mereka kerap saling memberi masukan. Suasananya begitu akrab dan mereka

tampak menikmati alat musik yang mereka mainkan. Dua minggu terakhir ini mereka memang berlatih lebih intensif, dua kali seminggu. Setelah 1,5 jam melatih lima lagu yang akan mereka tampilkan dalam ajang International Java Jazz Festival 2010, tanggal 5-7 Maret di Jakarta International Expo, mereka istirahat sebentar dan kembali melanjutkan berlatih. BAIO Band terbilang grup jazz pendatang baru, terbentuk

Menambah Jam.............................................................................................................................................................dari halaman 5 “...ada dua hal yang sering dipertentangkan antara kebudayaan dan pariwisata. Ada pemikiran, kalau kebudayaan maju pariwisata ditinggalkan. Padahal, kata Pangdjaya, kalau itu digandeng bersamasama, budaya dapat menghidupi pariwisata. Sebaliknya, pariwisata dapat mengembangkan kebudayaan” Ada contoh lain lagi yang dituturkan Mantan Sekda Buleleng ini. Ia mengisahkan keberadaan museum di Roma, Italia. Banyak pelancong yang sengaja beramai-ramai ke tempat ini. “Mereka bisa melihat benda dan proses budaya di sana. Apalagi saat berlangsungnya upacara misa di gereja Vatikan. Banyak umat Katolik yang berkunjung,” katanya. Situasi perang pun ternyata tak membuat orang enggan berkunjung ke Israel. Ini karena ada sebuah rumah ibadah umat Islam dan Kristen di negara ini. “Walau ada perang, tamu tetap datang berkunjung ke masjid dan gereja tersebut. Di sini pemerintah mengatur dan memberi informasi lokasi perang dan wilayah yang aman,” jelas mantan kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini. Ia menilai, ada dua hal yang sering dipertentangkan antara kebudayaan dan pariwisata. Ada pemikiran, kalau kebudayaan maju pariwisata ditinggalkan. Padahal, kata Pangdjaya, kalau itu digandeng bersama-sama, budaya dapat menghidupi pariwisata. Sebaliknya, pariwisata dapat mengembangkan kebudayaan. “Budaya dan pariwisata harus disejajarkan dan bagaimana pariwisata berkembang melindungi budaya. Kearifan lokal yang harus mendinamisir ini,” ujarnya. Prinsip utamanya, bagaimana mengubah pola pikir manusianya dalam kemajuan pariwisata. “Manusianya diajarkan berpikir global, namun tindakannya tetap lokal,” tambahnya. Itu dapat dimulai dari diri warisan manusianya. “Kalau ada baju atau tempat tidur

Diskusi komprehensif bertopik “Mewujudkan Kepedulian Konkret Kita terhadap Upaya Pelestarian Budaya di Bali: Menerjemahkan Pesan Tahun Kunjungan Museum 2010” berlangsung, Rabu (24/2), di Agus Restaurant Jalan Tukad Punggawa Pulau Serangan, Denpasar Selatan, guna merespons gagasan Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra yang mengusulkan agar Bali memiliki museum kerajinan di tengah menggelindingnya program “Tahun Kunjungan Museum 2010” yang dicanangkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik

orang tua kita zaman dulu sebaiknya disimpan baik. Walau anak cucu kita tidak mengenalnya, tetapi melalui barangbarang miliknya yang masih tersisa, mereka bisa mengenalinya,” kata mantan kepala Dinas Sosial Provinsi Bali ini. Sebaiknya program pengelolaan museum tak mengikuti jadwal kerja birokrasi. Ini akibatnya museum hanya melayani

pengunjung saat waktu petugas birokrasi pemerintah. “Biasanya museum hanya dibuka SeninSabtu, sementara jam buka setengah hari saat Jumat karena hari pendek. Kalau memang dibuka untuk umum, waktu bukanya ditambah. Selain itu, setelah museum dibuka jangan dibiarkan begitu saja. Harus ada dewan kurator yang langsung memberi masukan kepada kepala

museum,” ujarnya. Ke depan, kata Pangdjaya, kalangan budayawan, khususnya ahli museum diharapkan dilibatkan dalam sebuah dewan kehormatan museum. Ini untuk mengangkat gengsi museum sebagai salah satu tempat kebanggaan kita. Ini pun penting agar petugasnya bangga bekerja di museum. “Mereka tidak merasa dimuseumkan,” katanya. —ast

APTISI seharusnya bisa lebih Hebat Sabtu,10 Februari 2010 saya menghadiri Rapat Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Wilayah VIII di- Kampus Unhi. Ini kali pertama saya hadir di rapat semenjak dilantik menjadi Rektor Universitas Mahendradatta akhir tahun 2009. Rapat ini istimewa karena selain dihadiri Rektor/Ketua PTS seBali, juga hadir pimpinan yayasan/ BPH dan Kopertis Wilayah VIII. Bayangan awal saya, dalam rapat APTISI akan banyak muncul ide, argumentasi atau program-program yang bersifat keluar alias mendidik masyarakat, mengingat yang berkumpul adalah para rektor dan tokoh pendidikan. Tapi saya salah sangka, rapat tersebut berlangsung sangat normatif, bahkan lebih pada forum yang dipenuhi oleh curhat para sesepuh pendidikan tinggi di Bali. Belum lagi para peserta dari masing-masing PTS datang dengan ego sektoralnya. Ada juga salah satu pimpinan PTS dan yayasan, yang selalu menyanjung PTS sendiri dan tampaknya mereka (walau bergelar profesor atau doktor) tapi juga tetap belum paham arti “kesetaraan” dalam konteks asosiasi. Sangat disayangkan. APTISI punya kekuatan besar, sebuah sinergi dari lebih 52 PTS di Bali tapi mereka

hanya bicara hal-hal normatif dan tradisional. Saya setuju, ada saatnya PTS itu bersaing, ada saatnya PTS itu bersinergi, tapi kesannya PTS masih bersaing di tataran menjaring mahasiswa. Seharusnya APTISI dibawa ke arah yang lebih jelas, misalkan bagaimana APTISI meminta pertanggungjawaban Universitas Udayana yang makin getol menjaring mahasiswa lewat jalur ekstensi dan menghabiskan jatah mahasiswa yang seharusnya didapat ke PTS. Atau bisa juga, APTISI menggebrak dengan program kegiatan yang langsung bersentuhan dengan user seperti memberi pencerahan pada masyarakat tentang apa bedanya PT dengan lembaga kursus dan APTISI tidak hanya sukses di tataran kegiatan seremonial atau menghadiri undangan. Ternyata, kemegahan gedung pertemuan, deretan titel profesor dan doktor atau hebatnya latar belakang seseorang tokoh yayasan, tidak menjamin akan muncul ide segar yang jauh dari kesan “Normatif, Biasa, Birokratis”. Akhirnya,saya pun mendahului meninggalkan acara sebagai wujud “protes” akan kondisi itu. Protes dari seorang rektor termuda di Indonesia yang cinta pada APTISI. —adv

Rektor Universitas Mahendradatta

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

Bali Diwakili Dua Band tahun 2009 yang digawangi Yuri Mahatma (gitar), Astrid Sulaiman (piano), Dodi Sambodo (bass), Bony Rywis (drum), Cepi Kusmiadi (perkusi) dan Kachir Maitakai (vokal). Masing-masing mereka telah memiliki jam terbang tinggi dalam urusan manggung. Sebut saja Yuri Mahatma, pimpinannya. Pria kelahiran Jakarta ini lumayan sering mengikuti kegiatan musik jazz. Tetapi, untuk peristiwa besar seperti International Java Jazz Festival, ini adalah kegiatan kedua yang ia ikuti. Pertama, tahun 2008. “Ini yang kedua. Dan, saya bergabung dalam BAIO band,” ujarnya. Selain BAIO Band, ada Tropical Transit Band yang akan mewakili komunitas jazz Bali dalam peristiwa bertaraf internasional tersebut. BAIO akan tampil tak lebih dari 45 menit membawakan lima lagu komposisi orisinal, yaitu “Tatsuya”, “Song for Mina”, “Minuano”, “Balakaciprut”, dan “Ade Nona”. Konsep musiknya, memadukan musik modern dan unsur etnis. Menurut pengamatan Yuri, banyak grup band yang mengakomodir unsur etnis. Tetapi, unsur etnis hanya sekadar hiasan/tempelan. Bahkan ada kecenderungan dipaksakan, sehingga menjadi tak harmoni. “Dengan lagu-lagu komposisi sendiri, kami lumayan berhasil mengakomodir unsur etnis itu sehingga menjadi mix. Dari sisi musik modern, lagu yang dipilih juga yang bisa ngejazz,” ujar instruktur gitar di Farabi ini. Diikuti 150 Grup International Java Jazz Festival bukanlah ajang kompetisi melainkan perhelatan/ pesta musik jazz. Kurang lebih 150 grup musik jazz Indonesia akan tampil dalam ajang bergengsi itu. Ini lebih banyak mereka manfaatkan untuk belajar dari musisi-musisi yang telah memiliki nama besar yang akan tampil seperti John Legend, Manhattan Transfer, Babyface, dan Toni Braxton. Dari pengalamannya berkecimpung di dunia musik selama 17 tahun, Yuri yang sempat belajar musik ke Leiden, Belanda, tahun 19901991 ini menyimpulkan bahwa kemampuan bermusik/skill itu hanya 50% membuat seorang musisi menjadi besar. Sementara 50%- nya network dan profesionalisme. Dari segi kemampuan, Indonesia dinilainya tidak kalah. Tetapi, dari segi profesionalisme, musisi Indonesia masih keteteran, masih belum siap ‘menjual dirinya’. Dari perhelatan musik itu Yuri bisa melihat perbedaan etos kerja antara musisi Indonesia dan musisi asing. Musisi Indonesia, rata-rata disibukkan dengan ‘ngamen’ (bermain harian yang sifatnya reguler), sehingga proses belajarnya menjadi tersendat. Apalagi di Bali, jumlah musisi relatif sedikit, tempat bermain lumayan banyak. Jadi mereka dimanjakan kesempatan untuk ‘ngamen’. Di luar negeri, jumlah musisi banyak sekali, tetapi tempat mainnya sedikit. “Jadi mereka benar-benar mengasah dirinya sebaik mungkin. Mereka lebih total belajar,” ujarnya. –ten

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 17

Asty Ananta

Tak pernah Berhenti Belajar Gadis yang satu ini memiliki energi luar biasa. Beragam profesi disandangnya, mulai aktris, penyanyi, presenter, hingga aktivis sosial Hari-harinya, hanya diisi dengan bekerja dan bekerja. “Aku mencintai semua pekerjaanku. Bagiku bekerja bukan sekadar bekerja, tetapi aku menikmatinya. Jadi di sana juga ada kesenangan. Dengan begitu, meskipun banyak pekerjaan, aku tetap bisa menikmatinya,” ungkap AstyAnanta. Dunia akting, menyanyi, presenter, masing-masing memiliki seni tersendiri dan meAsty Ananta nuntut kemampuan yang berbeda. Itu sebabnya, Asty dia tidak pernah berhenti belajar tentang segala sesuatu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya. “Aku ingin berbuat yang terbaik, mendapatkan hasil yang terbaik. Itu sebabnya aku selalu berusaha memperkaya diri dengan cara belajar dan belajar,” tutur gadis kelahiran Semarang ini. Kerja kerasnya selama ini, membuahkan hasil. Di bidang akting, ia mendapat kesempatan membintangi sejumlah sinetron di antaranya; Cewek Komersil dan Cinta Anak Kampus. Begitu juga aktivitasnya di dunia presenter yang tak kalah padatnya. Sampai sekarang ia masih memandu sejumlah acara televisi termasuk talk show. Di dunia tarik suara, Asty tergolong pendatang baru, namun tawaran manggung sudah mulai membanjir. “Alhamdulilah, semua lancar. Aku mensyukuri semua pemberian Tuhan ini dan berusaha mengerjakannya sebaik-baiknya sejauh aku mampu,” tuturnya. Diakui Asty, dalam meniti karier, selain kerja keras, ia juga merasa mendapat banyak keberuntungan dan kemudahan. Tahun lalu ia mendapat undangan menyanyi di Inggris dan Italia. “Ini sungguh tak disangka-sangka. Padahal aku belum punya album, tapi mereka (klien) memercayai aku untuk menyanyi. Bagi aku, ini bukan hanya kepercayaan tetapi juga penghargaan yang diberikan buat aku. Aku benar-benar bersyukur,” kata artis yang mengawali kariernya dari bintang iklan shampoo ini. Seolah belum cukup dengan seabreg kegiatannya di dunia entertainment, Asty pun aktif di sejumlah kegiatan sosial, di antaranya kegiatan-kegiatan yang membawa isu lingkungan dan kesehatan. Tahun lalu, Asty dipercaya menjadi duta “One Man One Tree’ yakni program untuk menggalakkan penanaman pohon. Asty mengaku antusias menjalani pekerjaan tersebut. Apalagi, masalah lingkungan, khususnya tanaman bukan hal baru baginya. Sejak kecil ia sudah menyukai tanaman. “Selama menjadi duta’One Man One Tree’, aku mendapat banyak pengalaman berharga. Suatu ketika, dalam salah satu kunjungan ke sebuah sekolah di bilangan Cileduk, aku benarbenar surprise dan terkesan, murid-murid di sana sangat mengerti tentang global warming dan efeknya. Di hadapan kami mereka dengan bersemangat menjelaskan tentang hal tersebut. Bagi aku, murid-murid yang masih belia, sudah memahami persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini, sungguh suatu yang positif,” tutur Gadis Tiara Sunsilk & Gadis Tiara Favorit 2000 ini dengan antusias. Yang juga mengesankan Asty dalam aktivitasnya di bidang lingkungan adalah kunjungannya ke hutan tropis Harapan di Jambi, yang juga merupakan pusat pemeliharaan burung hasil kerja sama antara Birdlife Indonesia dengan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), organisasi internasional pelindung burung di kota Sandy, Inggris. Hutan ini juga merupakan hutan pertama sebagai percontohan restorasi ekosistem hutan produksi.”Kami ke sana bikin film dokumenter tentang pelestarian hutan, yang kemudian diputar dalam konfrensi perubahan iklim (UN Climate Change Conference 2009) di Copenhagen, Denmark. Pengalaman aku di sana rasanya luar biasa sekali. Aku mendapat banyak ilmu, jadi tahu jenis-jenis binatang baru,” ucap pemeran film ‘Untukmu ‘(2003) ini. Selain aktivitas sosial di bidang lingkungan, anak tertua pasangan H. Hendra TW dan Hj. Yuntianungrum ini, juga aktif sebagai relawan peduli anak-anak penderita kanker. Asty tergolong cukup lama berkecimpung di bidang ini. Salah satu akttivitasnya antara lain mengunjungi anak-anak penderita kanker di RS Dharmais, Jakarta. “Menyenangkan dan membahagiakan bisa berbuat sesuatu yang berarti buat orang lain,” ujarnya. Asty juga selalu berusaha melibatkan orang-orang terdekatnya dalam kegiatan-kegiatannya. “Aku mengajak mereka. Misalnya mengajak berkunjung ke RS Kanker Dharmais atau acara kunjungan sosial lainnya. Dengan begitu aku bisa tetap dekat dengan keluarga, sembari menunjukkan pada mereka tentang persoalan-persoalan sosial di hadapan kita,” tandasnya. —dia

Suhu Yo Sembuhkan Saraf Kejepit NAMA saya Sanjaya, umur 57 tahun. Saya sudah lama menderita sakit tulang punggung selama lebih kurang 1,5 tahun. Menurut dokter, sakit yang saya alami bersumber karena adanya saraf yang terjepit yang diakibatkan dari aktivitas atau tindakan secara mendadak sehingga terjadinya pergeseran urat saraf di daerah punggung. Sekian lama saya menderita sakit saraf kejepit tetapi saya baru mengetahuinya ahir-akhir ini setelah saya memeriksakan ke dokter ahli saraf tentunya. Menurut dokter, sakit punggung yang saya rasakan bersumber dari saraf punggung yang terjepit atau lebih umum dengan sebutan saraf kejepit. Mulanya saya hanya merasa pegal di daerah punggung, ini berawal setelah saya pernah terjatuh dari tangga. Saya pikir ini

tidak akan berdampak apa-apa karena memang saat kejadian saya tidak merasakan sakit apa pun. Tetapi, lama-kelamaan saya merasakan ada yang ganjil, saya mulai merasakan sakit di area punggung dan bahkan menjalar ke kaki. Saya sempat tidak bisa berjalan hampir satu bulan. Berdiri saja rasanya nyeri luar biasa. Oleh dokter saya disarankan fisioterapi (dipanaskan, digetar/seperti digigit semut dan ditarik). Menurut dokter saraf, penyakit saya tidak dapat sembuh total. Salah satu alternatif adalah operasi, namun risiko kegagalannya lebih besar apalagi biaya yang mahal membuat saya berpikir dua kali untuk melakukan operasi. Untungnya saya diberitahu oleh anak saya agar datang dan berobat ke Klinik Suhu Yo yang bisa menyembuhkan penyakit yang berhubungan

Sanjaya

dengan urat saraf dan salah satunya saraf kejepit. Saya pun langsung mencoba pengobatan alternatif di Klinik Suhu Yo dan ternyata benar, saya tidak salah pilih, cukup dengan melakukan terapi listrik tiap seminggu tiga kali dan akhirnya benarbenar di luar dugaan saya. Hanya dua bulan saya sudah dinyatakan sembuh total tentunya dengan biaya yang murah hanya Rp 70.000. Terima kasih Suhu Yo. Berkat Suhu Yo saya jadi sembuh total. —adv


18

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Kesehatan


Trendi

28 Februari - 6 Maret 2010 Tokoh 19

Anak-anak perlu Bermain Isi Hari Libur di Alam Terbuka Melihat Pohon dan Binatang LIBURAN awal tahun 2010 dimanfaatkan Diana Triyantini bersama keluarga ke Bali. Ibu tiga putra ini, Nathan, Jerry, dan Ferry, mengunjungi beberapa objek wisata di Bali. Kebun Raya Eka Karya Bedugul dan Bali Safari and Marine Park termasuk pilihannya. “Di sekolah, anak-anak mendapatkan pengetahuan mengenai tumbuh-tumbuhan dan binatang dari buku, selain mendapatkannya dari majalah, dan televisi. Akan lebih lengkap lagi jika anak-anak bisa melihat langsung tumbuh-tumbuhan dan binatang tersebut,” kata Diana asal Medan, Sumatera Utara. Di Kebun Raya Bedugul ini mereka bisa melihat kaktus berbagai rupa. Kaktus yang biasanya tumbuh di lahan tandus dan panas, ternyata juga bisa tumbuh di daerah dingin seperti Bedugul. Di tempat ini mereka juga bisa menikmati keindahan aneka bunga anggrek. Tanaman yang dijuluki ’permata belantara’ ini dipajang di lokasi yang ekosistemnya mendekati habitat aslinya. Bentuk dan warna bunganya beraneka ragam. Di kebun anggrek ini, ada tanaman yang baru disapih, mulai tumbuh, mulai berbunga, hingga bunga yang sedang mekar. Semua terlihat indah. Setelah puas memandangi kaktus dan anggrek, anak-anak bisa berlarian sepuasnya di hamparan rumput Kebun Raya. Penataan rumput di dasar pepohonan pinus dan cemara yang menjulang tinggi menjadikan udara terasa segar. Tak hanya Nathan, Ferry, dan Jerry, yang menikmatinya, tetapi juga Diana dan suaminya. Kepala UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali-LIPI N. Lugrayasa menjelaskan, upaya pengenalan anak peduli terhadap lingkungan terus dlakukan pihaknya. “Ada program rute pendidikan lingkungan (repling) yang digelar dengan melibatkan anak-anak SD hingga SMA,” tandasnya seraya menambahkan, tiap tahun 420.000 pengunjung kebun raya ini. ‘Keliling Hutan’ Objek lain yang bisa dijadikan lokasi belajar bagi Diana dan keluarga adalah Bali Safari and Marine Park di Kabupaten Gianyar. Di sini anak-anak bisa melihat beragam satwa, mulai dari yang jinak seperti burung kakaktua hingga yang liar seperti singa. Mereka juga bisa menikmati hiburan yang ditampilkan binatang-binatang yang sudah terlatih.

BERMAIN di alam terbuka, bermain sambil berolahraga, perlu dilakukan sejak dini. Jika aktivitas yang dilakukan secara tepat dan benar, akan merangsang pertumbuhan anak. Bermain di pasir di tepi pantai dan di lapangan rumput di pegunungan bisa menjadi pilihan. “Sejak kecil, anak-anak bisa diajak bermain di pasir. Dengan berlari-lari di pasir akan menguatkan otot paha dan betis. Kalau bermain di pegunungan seperti Bedugul

dengan oksigen tipis, napas yang dihirup akan lebih dalam. Ini akan memacu jantung sehingga jantung kuat, pembuluh darah lancar,” ujar Prof. I Gusti Ngurah Nala, M.P.H., ahli faal yang juga dekan Fakultas Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia. Prof. Nala mengatakan salah satu jenis olahraga adalah olahraga pendidikan. Olahraga ini wajib dikenalkan kepada anakanak sejak usia dini. Tujuannya, menanamkan rasa tanggung

jawab dan jiwa sportivitas. Dalam olahraga pendidikan ini bisa juga ditanamkan nilai-nilai kerja sama. Contohnya, berlari-lari, bermain loncat tali, atau bermain bola di dataran tinggi. “Kalau olahraga yang dilakukan itu tepat, akan membuat jantung kuat, pembuluh darah lancar, otot berkembang baik, tulang menjadi padat dan kokoh. Kelebihan lainnya, bermain di alam terbuka, bagus untuk indera penglihatan,

Prof. Ngurah Nala

oksigen yang dihirup makin banyak, dan nafsu makan meningkat,” tandas pria asal Bondalem, Buleleng ini. —wah

Anak-anak bermain di alam terbuka

Pengunjung bisa menikmati wisata “keliling hutan”. Dari kendaraan khusus, bisa disaksikan kehidupan satwa liar. Semua habitat binatangbinatang ini dibuat mendekati habitat aslinya. Anak-anak biasanya berteriak jika melihat binatang melintas di jalan yang akan dilalui kendaraan. Ada juga yang sibuk menunjuknunjuk binatang yang sedang bersembunyi. Selama perjalanan ini ada pemandu yang menjelaskan asal binatang, aktivitas yang rutin dilakukan, dan bermacam informasi lainnya. Salah satu binatang yang menarik perhatian anak-anak Diana adalah meerkat, mamalia yang berasal dari Kalahari, Afrika Selatan. Satwa kecil, lucu, mungil, dan menggemaskan ini merupakan satwa baru di Bali Safari and Marine Park. “Ada tiga ekor meerkat yang menempati area yang berada tepat di sebelah Restoran Tsavo Lion,” kata Maylia Kartika SP, marketing communications Bali Safari and Marine Park. Pihak Bali Safari and Marine Park sengaja menempatkan meerkat di area Restoran Tsavo Lion agar suasana Afrika lebih terasa ketika pengunjung berada di restoran. Dengan hanya dibatasi kaca yang tebal, para tamu dapat memperhatikan langsung aktivitas yang dilakukan meerkat selain melihat singa Tsavo di bagian lainnya. Meerkat termasuk dalam golongan mamalia terkecil namun ajaibnya mereka kebal terhadap racun sehingga mereka dapat memakan satwa seperti kalajengking dan ular. “Ketiga meerkat ini didatangkan dari Taman Safari Indonesia, Bogor, untuk menambah koleksi satwa di Bali Safari and Marine Park terutama satwa Afrika,” ujar Maylia. Bali Safari and Marine Park juga memiliki wahana baru, Fresh Water Aquarium. Di area ini pengunjung dapat melihat pemandangan akuarium air tawar yang telah ditata dengan cantik dan manis. Berbagai macam tumbuhan dan ikan di dalam akuarium menambah pesona akuarium air tawar yang dibuat berbeda daripada akuarium lainnya. Deputy General Manager Bali Safari and Marine Park Danis Manansang mengatakan Fresh Water Aquarium Bali Safari menawarkan sebuah konsep

outdoor dengan ekosistem yang dibuat mendekati habitat aslinya. “Dengan konsep outdoor aquascaping, akuarium ini didukung kehadiran spesies ikan yang eksotis seperti canna barca dari India, arowanan super red dari Kalimantan dan ikan lainnya seperti african tiger fish, lung fish, wolf fish, borneo stingray dan cihcla temensis. Ada 11 akuarium yang berisikan hijaunya tanaman air dengan sentuhan pencahayaan alami sehingga membuat tampilan akuarium terlihat lebih eksotis,” ujar Danis. Maylia menuturkan, anakanak sangat antusias melihat satwa-satwa yang berada di Bali Safari and Marine Park. Kebanyakan anak-anak datang bersama orangtuanya. Minat anak-anak sangat besar untuk mengenal satwa, hal ini dapat dibuktikan dengan banyak anak-anak yang bertanya kepada staf edukasi dan pemandu ketika mereka berada di dalam trem. Bali Safari and Marine juga membuat berbagai kegiatan berkaitan dengan satwa untuk anak-anak antara lain lomba mewarnai dengan mengundang beberapa anak TK di Gianyar. Mereka juga mengundang anak-anak untuk menonton pertunjukan gajah dan koleksi satwa. Pihak Bali Safari and Marine melakukan kunjungan ke sekolah TK ataupun SD dengan program safari goes to school. Tim edukasi mereka mendatangi sekolah-sekolah dan memberikan pendidikan mengenai satwa. Tersedia juga paket khusus untuk grup anakanak sekolah yang ingin mengunjungi Bali Safari and Marine Park. Perkuat Memori Anak Pengamat pendidikan anakanak Tjok. Mingguwathini mengatakan, pembelajaran dengan karyawisata sangat bagus untuk memperkuat memori anakanak. “Anak-anak yang diajak langsung menuju objek pendidikan dengan cara berwisata akan mendapat pengalaman langsung. Mereka bisa melihat, memegang, dan mendengar. Ini membuat memori tentang objek langsung direkam anak, baik tentang kegunaan objek maupun bahayanya,” ujar Kepala TK Negeri Pembina Denpasar ini. —wah

Bocah Terkuat di Dunia Pecahkan Rekor Push-up Udara BOCAH terkuat di dunia, Giuliano Stroe, lima tahun, kembali membuktikan ‘otot besinya’. Barubaru ini, bocah yang telah meraih penghargaan Guinness World Record itu, kembali memecahkan rekor dunia push-up udara selama 20 kali, sesuatu yang biasanya dilakukan oleh atlet dewasa. Sebab push-up udara tergolong berat, apalagi untuk seorang bocah. Tumpuan kekuatan ada pada tangan, sementara kedua kakinya terangkat, tidak menyentuh tanah.

D

i hadapan pemirsa televisi Italia, Giuliano Stroe pertama-tama mengangkat kedua kakinya tegak lurus ke atas, ia hanya bertumpu pada dua tangannya. Lalu, perlahan menurunkan kakinya hingga berjarak sekitar 30 cm dari lantai. Dalam posisi itulah, ia melakukan push-up sebanyak 20 kali.

Seruan KPAID Bali

adalah ayahnya sendiri, Iulian Stroe, 33 tahun, mantan atlet senam Rumania yang kini menetap di Italia. Sejak bayi, menurut sang ayah, Iulian Stroe, 33 tahun, mantan atlet senam, ia telah membawa Giuliano ke gym, menemaninya berlatih. Usia dua tahun, Giuliano meminta ayahnya melatihnya angkat beban. Tiga tahun berlatih, membuat tubuh Giuliano tidak seper ti anak-anak pada umumnya. Ototnya bahu dan lengannya menyembul, perutnya seperti ‘papan cuci’ . Tubuhnya benar-benar telah terbentuk. Pada awal usia lima tahun, Giuliano mulai menekuni bodybuilding. Tahun lalu, Giuliano meraih rekor Guinness pertamanya, ketika ia mampu melakukan handstand walk (berjalan dengan bertumpu pada dua tangan sementara dua kaki tegak lurus ke atas) dengan cepat sejauh 10 meter. Di antara dua kakinya diletakkan beban bola berat. Dan, ‘air pushup’ menjadi rekor keduanya. “Anak saya sangat senang kelihatan macho, dia juga bangga karena dikenal di Italia, negara di mana ia tinggal,” ujar Iulian Stroe yang juga mengaku bangga dengan prestasi anaknya. Namun, tambahnya, Giuliano

tetaplah seperti anak-anak pada umumnya. Ketika ia bosan berlatih atau jenuh, ia pergi bermain bersama teman-temannya. “Ia juga suka melukis dan nonton film kartun,” ucap Iulian. Sejak berhasil meraih rekor Guinness pertamanya, Giuliano, mendapat julukan bocah terkuat di dunia. Ia sering diundang tampil di berbagai acara pertunjukkan juga televisi, untuk mendemonstrasikan kemampuannya. Koran Metro melaporkan, sebelumnya julukan bocah terkuat dunia diberikan pada Richard Sandrak, bocah asal Ukraina yang sejak usia tiga tahun dilatih ayahnya bodybuilding. Richard percaya bahwa akan mendapat ‘sesuatu’ dari olah raga itu. Ketika ia menjadi terkenal, Richard yang juga dijuluki ‘little hercules’ , mendapat tawaran ke Amerika. Di sana ia tetap menekuni bodybuilding juga berkarier di dunia hiburan, di antaranya tampil di sejumlah film. Richard telah 17 tahun, kabarnya, ia telah kehilangan minatnya pada olah raga tersebut. Sepertinya, Giuliano akan mengikut jejaknya. —dia/telegraph

Pengaruh Pikiran Ibu

MARAKNYA kasus pelecehan seksual terhadap anak sepatutnya menjadi perhatian semua pihak.

Saran untuk Orangtua: 1. Tingkatkan komunikasi dalam keluarga, dan pahami hak dan kewajiban anak. 2. Biasakan bercerita sebelum tidur dengan topik kebaikan dan keburukan. 3. Perbanyak aktivitas fisik anak dengan berolahraga, bermain musik atau yang lainnya. 4. Perbanyak pertemuan kekeluargaan dengan tetangga, untuk membangkitkan suasana kekeluargaan sehingga kepedulian anak-anak di sekitar tempat bertempat tinggal dapat ditingkatkan. 5. Tanamkan kewaspadaan pada anak-anak jangan mudah menerima ajakan, atau pemberian yang tidak jelas dari siapa pun tanpa seizin orangtua atau guru. 6. Ajarkan anak meminta pertolongan pada orang saat terdesak atau dengan berteriak sekuat tenaga. 7. Anak perempuan jika pergi ke sekolah agar mengenakan celana pendek di dalam rok untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan. —ast

Dibutuhkan kekuatan tangannya serta konsentrasi penuh, untuk menjaga agar posisi kakinya tidak turun menyentuh lantai. Aksi mengagumkan bocah taman kanak-kanak ini, mengantarnya meraih Guinness World Record kedua kalinya. Giuliano Stroe mulai berlatih angkat beban pada usia dua tahun. Pembimbingnya

Giuliano Stroe rutin berlatih

Melindungi Anak-anak Saran untuk Penegak Hukum: 1. Jika ada kasus anak, lihatlah umur korban. Jika umurnya di bawah 18 tahun, apa pun latar belakang kasusnya, tuntutlah pelaku sampai tuntas dengan menggunakan UU Perlindungan Anak. 2. Perlakukan korban anak-anak seperti memperlakukan anak kita sendiri. 3. Lindungi korban anak dari eksploitasi media massa. 4. Perlindungan anak harus selalu diutamakan, agar anak tetap memunyai masa depan.

Guilliano Stroe peraih rekor guinness kedua dengan push up udara

DI Indonesia, 22 Desember dirayakan sebagai hari Ibu. Ibu merupakan gudang kebenaran dan kebudayaan. Walaupun bumi itu satu, tanaman yang tumbuh beraneka ragam jenisnya, tergantung benih yang ditaburkannya. Rahim ibu melambangkan ibu bumi. Sebagaimana benih pikiran yang ditaburkan di situ, demikianlah buah yang dihasilkannya. Karena itu seorang ibu harus memupuk pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik. (dalam agama Hindu disebut Tri Kaya Parisuda). Hanya

dengan demikianlah ia akan memperoleh anak-anak yang berbudi luhur. Kini kita dapatkan banyak anak-anak yang tidak baik kelakuannya. Ini juga disebabkan pikiran pada ibunya, dan kemungkinan besar juga dipengaruhi lingkungan atau teman-temannya. Ada sebuah contoh cerita. Aryamba lahir di Kerala. Ia teladan kebajikan yang sempurna. Ia melewatkan seluruh waktunya untuk merenungkan Tuhan dan melakukan perbuatan yang mulia. Sebagai hasilnya, Shangkaracharya lahir sebagai putranya. Shangkaracharya dapat menjadi jagadguru ‘guru dunia’ karena pikiran-pikiran luhur ibunya. Putlibai, ibu Mahatma Gandhi, melewatkan hidupnya dalam kontemplasi kepada Tuhan. Ia biasa melakukan tirakat tidak akan

makan, jika belum mendengar kicau burung kukuk. Suatu kali kebetulan suara burung kukuk itu tidak terdengar. Gandhi yang pada waktu itu masih kecil, tidak tega melihat ibunya berpuasa lama. Ia pergi ke belakang rumah lalu menirukan suara burung kukuk. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan memberi tahu ibunya bahwa ia bisa makan karena telah terdengar kicauan burung kukuk. Putlibai merasa sangat sedih karena ia tahu putranya berbohong. Ia menangis, “Oh Tuhan! Dosa apa yang telah kulakukan sehingga aku melahirkan anak yang berbohong?” Menyadari, ia telah menyebabkan ibunya sangat sedih karena berdusta, Gandhi bersumpah bahwa sejak saat itu ia tidak akan berbohong. Penting sekali para ibu memberikan pelatihan nilai moral kepada anak-anaknya

sejak masa kanak-kanak. Seorang ibu tidak boleh mengabaikan kesalahan anak-anaknya. Ia harus menghukum anak-anaknya jika mereka menyimpang dari jalan kebenaran dan menjujung tinggi jika berbuat baik. Ibu Gandhi adalah wanita yang sangat berdisiplin dan murni hatinya. Seper ti kata pepatah, “yatha raja thatha praja.” Sebagaimana rajanya, demikianlah rakyatnya. Mudah-mudahan kita bisa mengambil makna ceritera tersebut supaya rumah tangga kita selalu mendatangkan kasih sayang; di mana ada kasih di situ ada Tuhan, di mana ada Tuhan di situ ada kedamaian dan kemakmuran. Bu Pande Cekomaria, Gang Banteng 108 Peguyangan Kangin


20

Tokoh

28 Februari - 6 Maret 2010

Promo


tkh_xi_581_28_feb.-6_mar._2010