Issuu on Google+

Kompak Kompak dengan Suami

dengan Suami

SELALU ingin tampil cantik dan serasi dalam berbagai kesempatan bersama suami, dilakoni Lina Meidevita dalam kesehariannya. Perempuan cantik kelahiran Solo, 31 Mei 1969 ini mengatakan, selain untuk menjaga citra suami sebagai pejabat, hal itu dilakoninya guna memelihara kemesraan rumah tangganya.

B

agi Lina, berdandan tak hanya dilakukan jika hendak pergi ke suatu acara. Namun, menurutnya, seorang istri harus tetap memilih busana yang sesuai meski di rumah. Ia mengatakan sebaiknya daster

hanya dikenakan di dalam kamar tidur. Sebagai istri pejabat di lingkungan Polda Bali, ibunda Gde Wirawibawa Eka Putra, Made Ayu Gina, Nyoman Tri Yuliani, dan Bersambung ke halaman 12

Lesbian (2)

Satu Es Krim Berdua HUBUNGAN Bulan dan Windi berlanjut sampai kelas V SD. Saat kenaikan kelas ke kelas V, Windi turut mengisi acara. Tiba-tiba, ibu Windi mendekati Bulan. “Waduh, hubunganku dengan Windi pasti sudah diketahui ibunya,” pikir Bulan ketakutan. Namun, dugaannya salah. Ibu Windi hanya meminta tolong agar Bulan bersedia mengambil gambar Windi saat menari nanti. Perasaan Bulan lega bercampur senang, apalagi ibu Windi berpesan agar di kelas V nanti Bulan tetap duduk sebangku dengan Windi.

Di kelas V Bulan dan Windi kembali duduk sebangku. Suatu ketika, bertepatan dengan hari kasih sayang (valentine) Bulan yang sedang asyik nongkrong di kantin bersama sahabatnya, Koming, memergoki Adi, teman sekelasnya, menyerahkan sekuntum mawar merah kepada Windi. Hatinya panas tetapi ia berusaha meredamnya. Windi yang sempat menoleh ke arahnya tak menunjukkan gelagat bersalah, malahan ia tersipu malu melihat perilaku Adi. Sepulang sekolah, Nunik yang dikenal biangnya gosip, membisiki sesuatu ke telinga Windi. Usai itu, Windi mendekati Bulan langsung melontarkan kata-kata keras. “Kamu tidak perlu memukul Adi. Bersambung ke halaman 12

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Lina Meidevita

Tjok. Istri Putri Hariyani R SOSOKNYA tenang. Gaya bicaranya lembut. Senyumnya seakan tak henti-henti mengembang. Ini lukisan minimal dari ekspresi khas seorang Tjok Istri Putri Hariyani R, S.E. Namun, ada pula potret lain yang mengesankan. Mobilitas keseharian ibu dua anak ini justru belakangan terbilang kencang. Maklum Tjok. Istri —panggilan akrabnya, sudah bukan sekadar ibu rumah tangga biasa. Sejak sang suami, Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., menduduki singgasana Bupati Gianyar, ada seabrek aktivitas yang menyita tempo kesehariannya.

Menggapai Keluarga Sukinah

C

itra tersebut memang mengemuka. Minimal itu tercermin dari balik agenda diskusi, Kamis (10/ 12), di Ruang Sidang Utama Kantor Bupati Gianyar. Tetek bengek urusan kesiapan gawe bertema “Peran Keluarga di Balik Tugas Abdi Negara” yang d i u s u n g K o r a n To k o h dan Tim Penggerak PKK Bersambung ke halaman 12

Menggapai Keluarga Sukinah

Cemburu Cukup 25%

Gaun Tipis untuk Suami

Waspadai jika Suami tiba-tiba Banyak Merokok

CARA ISTRI MERAWAT HARMONI KELUARGA WAYAN Sudibia, S.H., M.H. menjadi salah seorang dari beberapa pria di Ruang Utama Kantor Bupati Gianyar Kamis lalu. Ia betah mengikuti perbincangan tentang dunia kaum perempuan sampai acara usai. Ia menuturkan, bisa berkarier sebagai abdi negara berkat dukungan istrinya yang menjadi guru di Gianyar.

dr. Sri Wahyuni, Sp.K.J.

ISTRI memiliki peran penting dalam kehidupan berumah tangga. Suami sering tidak betah di rumah akibat ulah istri yang membuatnya stres. Menurut psikiater dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.K.J., kecemasan dan rasa cemburu berlebihan merupakan ciri seseorang yang Bersambung ke halaman 13

Wayan Sudibia, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Gianyar, dan istri yang selalu setia mengiringi perjalanan kariernya itu

S

udibia menjadi salah seorang yang pen ting di lingkungan pemerintahan Kabupaten Gianyar. Jabatannya, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat. “Peran istri saya tidak kecil dalam mendorong saya meniti karier,” ungkapnya. Istrinya pun tak kurang bersemangat mengungkapkan kesetiaannya selama mendampingi sang suami. Walau ia seorang guru, mengurus rumah

tangga tetap ditempatkan serbagai tugas penting. “Termasuk melayani kebutuhan suami sehari-hari. Memasak sarapan pagi tugas rutin saya sebagai istri,” ujarnya. Pengalaman hampir serupa dilakoni seorang istri camat di Gianyar. Namanya Ni Made Rai Anggraeni. Suaminya, I Kadek Alit Wirawan, menjabat camat

BERITA TERKAIT BACA HALAMAN 4

Ubud. Ada kisah menarik abdi negara yang berdinas di Badan Kepegawaian dan Diklat Pemerintah Kabupaten Badung ini. “Walau saya PNS, tugas sebagai istri di rumah tetap melekat dalam diri saya,” kata ibu dua anak kelahiran Kerobokan, 7 Maret 1975, ini. Namun, ada satu hal yang mengganjal hati kecilnya. Sejak suaminya memikul tugas sebagai seorang camat ternyata porsi waktu untuk keluarganya jauh berkurang. “Dalam seminggu, hanya dua hari pulang pukul 16.00. Selebihnya dia tiba di rumah sekitar pukul 24.00. Porsi waktu untuk keluarga otomatis sedikit,” ungkapnya. Namun, dirinya berusaha keras memahaminya. Tugas seorang istri dalam melayani kebutuhan lahir maupun batin suami tetap berjalan normal. Hanya saja, imbuhnya, jika suaminya pulang larut malam biasanya langsung menuju tempat tidur. “Padahal, saya masih ingin menikmati suasana berduaan dengan dia. Saya memahami kondisi suami yang lelah. Tetapi, apakah suami mau mengerti juga jika istri mengalami kelelahan sepulang kerja? Jika ada perlunya, istri kan tidak bisa menolak. Walau capek harus tetap melayani...,” ujarnya sambil tersenyum simpul di tengah forum diskusi yang dihadiri sekitar 200 kaum ibu itu. Bersambung ke halaman 13

Pengantar Redaksi SEKITAR 200 perempuan memenuhi Ruang Utama Kantor Bupati Gianyar, Kamis (10/12). Mereka menyimak presentasi psikiater dan Ketua KPAID Bali dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.K.J. tentang “Dampak Psikiatri Konflik Rumah Tangga terhadap Derajat Produktivitas Kerja Suami sebagai Abdi Negara”. Mereka mencerna paparan praktisi manajemen SDM Ida Bagus Purwasila tentang “Standar Nilai Estetika sebagai Cermin Kepribadian Seorang Istri Abdi Negara”. Kaum hawa ini pun mencermati uraian konsultan kepribadian dari D&A Yoke Darmawan tentang “Mutu Kepribadian Istri Abdi Negara: Masalah dan Solusi Etiknya”. Diskusi yang digelar Koran Tokoh dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Gianyar ini dibuka Bupati Gianyar Dr. Ir. Tjokorda Artha Ardhana Sukawati, M.Si. Hadir dalam acara pembukaan Wakil Bupati Gianyar dan sejumlah pejabat teras serta tiga perempuan anggota DPRD Gianyar (Tjokorda Istri Niti Yadnya, Tjokorda Istri Rai, dan Ni Luh Yuniati). Selain anggota PKK, diskusi juga dihadiri ibu-ibu dari Gabungan Istri Wakil Rakyat (Gatriwara), Dharma Wanita Persatuan, WHDI, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Dharmayukti Karini, guru dan aktivis pemuda dari KNPI Gianyar. Beragam kisah menarik di balik aktivitas sehari-hari kaum istri dalam mendampingi suami, terungkap dalam diskusi ini. Laporan diturunkan Koran Tokoh edisi ini dan edisi pekan depan.

Istri Pejabat

harus Suka Baca, Dengar, dan Tanya ETIKA berperilaku harus menjadi bagian penting dalam kehidupan kaum perempuan. Apalagi perempuan yang menjadi istri pejabat publik. “Ini termasuk kaum istri abdi negara,” ujar Yoke Darmawan, konsultan pengembangan kepribadian dan proses belajar dari D&A Organizational Development Sanur ini. Menurutnya, kaum perempuan seharusnya menimbang-nimbang gaya dalam bersikap (posiYoke Darmawan tive attitude). Tidak ada gunanya bersolek jika hati kecil penuh cemburu dan dendam. “Tidak ada guna baju mahal jika tidak ada percaya diri. Tidak ada gunanya perhiasan berkilau jika hanya untuk persaingan tidak sehat. Semua berangkat dari hati Bersambung ke halaman 12 kecil kita,” kata istri Satria Wibawa kelahiran


2

Tokoh

13 - 19 Desember 2009

Ibu PULANG dari nonton ‘2012’ untuk kedua kalinya, Putu Wijaya Amat dan Ami menemukan surat kecil di meja. “Makanan ada di almari dapur, Ibu menjenguk tetangga yang opname di rumah sakit.” Ami yang sudah kelaparan langsung ke dapur. Tetapi, begitu dibuka, tercium bau basi. Ternyata masakan yang disiapkan Bu Amat sudah tidak layak dimakan lagi. Rupanya karena terburuburu, langsung ditutup dalam keadaan masih panas. Sambil ngomel Ami keluar rumah lagi membeli makanan di luar. Sementara Amat karena sebal, mengeluarkan makanan itu dan menghidangkannya di atas meja makan. “Nanti kalau pulang biar dimakan sendiri sama yang masak,” kata Amat menggerutu. Tetapi, kemudian setelah makan sate yang dibeli Ami, pikiran Amat menjadi lebih tenang. Makanan yang sudah basi itu dibungkusnya baik-baik, lalu dibuang di bak sampah depan rumah. “Kalau ibu kamu pulang, jangan bilang masakannya basi. Jangan bilang kita sudah buang. Bilang saja makanannya enak dan habis kita sikat,” kata Amat memberi instruksi pada Ami. Ami tak setuju. “Emang makanan basi enak?” “Bukan begitu, Ami! Kita harus menjaga perasaan ibu kamu. Dia sudah menyempat-nyempatkan masak, padahal harus menengok tetangga yang sakit. Kita harus menghargai jerihpayahnya.” “Tetapi, lain kali bisa diulangi lagi. Masakan masih panas kok sudah ditutup, ya pasti basinya!” “Ibu kamu tidak usah diajari soal masak-memasak.” “Buktinya!” “Namanya orang buru-buru. Pokoknya jangan bilang masakannya basi, tetapi enak!” “Itu namanya bohong!” “Dalam rumah tangga bohong kadang-kadang perlu untuk menjaga harmoni! Hidup ini sandiwara Ami!” “Makanya para pemimpin politik kacau semua karena menganggap sandiwara itu perlu!” ‘Sudah jangan membantah! Pokoknya masakan ibu kamu enak. Titik. Ini bulan Desember, Hari Ibu, kita harus menghormati ibu kamu!” Suara Amat keras memerintah. Ami tak menjawab lagi. Waktu Bu Amat pulang, dia langsung menanyakan apakah semuanya sudah makan. Ami tampak mau berterus-terang, tetapi Amat cepat memotong. “Sudah. Masakannya enak banget. Habis semuanya kita sikat. Ya kan Ami?!!!” Ami memalingkan muka. “Mosok?” “Ya. Bapak sampai tidak bisa tidur karena kekenyangan.” Bu Amat ternganga. “Habis?” “Ya!” “Tetapi, itu kan basi? Soalnya Ibu tadi buru-buru karena tetangga sudah mau berangkat. Di rumah sakit Ibu baru ingat, masakannya masih panas sudah Ibu tutup. Pasti basi! Bau nggak?” “Nggak!” “Bau!” “Bau Ami?” “Nggak! “Bau!” “Bau kok dimakan? Apa kalian tidak sakit perut?” “Nggak! Buktinya habis!” Bu Amat tercengang. “Itu basi kenapa dimakan, Pak?” Amat tidak menjawab. Bu Amat lalu membuka bungkusan tas plastik yang dibawanya dan mengeluarkan dua bungkus bakmi goreng. “Ini Ibu beli di jalan tadi, takut kalian belum makan. Mau makan lagi?” Ami menggeleng. “Nggak, udah kenyang ah. Lagian udah malam. Nggak bagus makan lewat jam sepuluh! Kolesterol!” Tetapi, Amat segera mendekat. Ia mengambil salah satu bungkus bakmi itu dan terus mengganyangnya. Itu memang bakmi langganannya. Bu Amat memperhatikan suaminya makan dengan heran, karena Amat kelihatan lahap sekali. “Katanya sudah kenyang kok makannya seperti orang kelaparan.” “Habis enak!” “Masakan Ibu tadi enak tidak?” “Enak apaan, udah basi begitu!” Bu Amat tercengang. “Memang sudah basi! Kenapa dimakan?!” Amat berhenti makan karena terkejut. Ia sudah kelepasan ngomong lagi. “Itu kan masakan kesenangan Bapak. Karena basi saja jadi tidak enak! Sudah ah! Besok kalau mau makan beli saja di luar, Ibu tidak mau masak lagi!” kata Bu Amat kesal sembari masuk ke kamar. Selera makan Amat langsung hilang. Ia berhenti makan bakmi. Ami melirik sambil berbisik. “Makanya jangan suka bersandiwara, Pak. Pasti kemakan getahnya sendiri!” Amat menjawab kesal. “Bukan bersandiwara Ami, Bapak hanya mau menghormati perasaan ibu kamu. Dalam hidup berumah-tangga kita harus saling menghargai dan menghormati. Nanti kalau sudah kawin kamu baru tahu, tidak selamanya jujur itu baik!” “Itu kuno, Pak. Sekarang kejujuran itu harmoni. Bertengkar sedikit tidak apa, asalkan didasari kejujuran tidak akan menjadi permusuhan. Cobalah!” Amat menggeleng tak setuju. Ia menghela napas panjang. “Memang jadi lelaki serba salah dan harus bisa mengalah,” bisiknya dalam hati. Tak lama kemudian Bu Amat keluar lagi, sudah berganti pakaian. “Jadi masakan yang Ibu bikin itu basi?” Amat tak cepat menjawab, tetapi Ami membenarkan dengan tegas. “Basi!” “Kalau sudah tahu basi kok dimakan?” Ami tak menjawab. Ia menoleh Amat. “Makanan basi tidak usah dimakan, nanti sakit. Kalau sampai masuk rumah sakit seperti tetangga itu hanya gara-gara salah minum, bisa celaka. Sekarang kan banyak mal praktik. Memang enak sakit?” “Memang tidak dimakan!” tiba-tiba Amat memotong. “Apa?” “Karena basi, makanannya tidak dimakan tetapi dibuang!” Ami terkejut. Ia cepat-cepat berdiri dan diam-diam pergi, takut mendengar ibunya akan nyemprot karena masakannya dibuang. Amat juga deg-degan melihat air muka istrinya berubah. Tetapi, tidak. Bu Amat menghampiri Amat dengan tenang. “Selama ini Bapak sering berbohong untuk menghargai perasaan Ibu, tetapi baru sekali ini Ibu merasa dihargai, karena Bapak mau berkata jujur.” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Aspirasi “Ibu-ibu Mendongenglah”

Sampaikan opini Anda Minggu 13 Desember 2009 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 20 Desember 2009

Hindari Kecurangan Dalam Ujian Nasional 2010 SISWA pintar tidak selalu lulus ujian nasional. Anak pintar tidak selalu cerdas. Berarti pendidikan belum berhasil. Perlu pemetaan kualitas dan persoalannya. Maka, ujian nasional tetap diperlukan. Sistem pendidikan sudah bagus, hanya mentalitas yang perlu diperbaiki. Berbagai cara dilakukan guna menghindari kecurangan dalam ujian nasional 2010. Ujian nasional bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Mengapa guru lebih peduli mengajarkan mata pelajaran yang di-ujian nasional-kan, padahal semua pelajaran sama pentingnya? Maksiat di mana-mana. Tanamkan budi pekerti. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (6/12). Topiknya, “Yang harus Diperbaiki Dalam Ujian Nasional 2010”. Berikut petikannya.

UN tetap dijalankan tahun 2010. Ini ditandai Permen Diknas RI 75 tahun 2009 yang mengatur tentang UN 2010. Tahapan pengerjaan UN 2010 pun sudah ditetapkan. Prosedur standar UN 2010 sudah jalan, kalangan yang terkait sudah disiapkan. Jika UN jalan segala persiapan yang Beda UN 2010 tidak dilakukan akan sia-sia. Ada perdan Sebelumnya bedaan antara UN 2010 dan UN Keputusan Mahkamah tahun sebelumnya. Tahun lalu Agung tak memuat tentang tak ada UN ulangan. Ini sapelarangan Ujian Nasional (UN). ma dengan sistem yang

ada pada Ebtanas. UN 2010 memberikan ujian ulangan. UN tahun 2010 tak sepenuhnya menentukan kelulusan siswa. Kelulusan siswa ditentukan salah satunya oleh sekolah. Misalnya nilai UN 9 atau 10 jika tak ditunjang ujian sekolah misalnya budi pekerti atau akhlak nilainya buruk maka siswa tidak lulus. Kurikulum yang digunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Menurut PP Nomor 19 tahun 2005, negara berhak melakukan penilaian terhadap siswa. Bersambung ke hlm. 12

Kumpulan Tulisan Dongeng KUMPULAN 12 tulisan cerita dongeng berjudul “Asal Mula Jalak Bali – Kumpulan Dongeng” telah diterbitkan Balai Bahasa Denpasar bekerja sama dengan Koran Tokoh. Ke12 tulisan tersebut merupakan tulisan yang menjuarai Lomba Menulis Dongeng yang diselenggarakan Koran Tokoh dalam rangkaian acara Festival Keluarga tahun 2007 dan 2008. Buku yang dicetak dalam jumlah terbatas ini menyajikan 12 judul yakni Kete-Kete dan Bebean, Ayam Beranak Itik, Nyoman Ayu, Lima Helai Bulu Burung, Kisah Dukun Cilik yang Baik Hati, Tukang Ukur Sangging, Tekukur dan Balam, Asal Mula Jalak Bali, Dua Benda Ajaib, Teratai Jingga, Lima Pertanyaan dan Enam Jawaban Si Belalang Emas, dan Cerita Gua Lawah.

Susu Segar Organik Tulisan “Beternak di Batu Memasarkan di Bali” menarik pembaca Koran Tokoh. Tulisan yang dimuat Koran Tokoh Edisi 569 (6/12) itu menceritakan Ismail Marzuki memasarkan susu sapi organik segar dari Malang ke Bali. Lita dari Jalan Gajah Mada Denpasar menyatakan ingin mencari produk susu dan mozarella-nya. Kami informasikan, HP Ismail Marzuki : 081 5581 74941. Silakan kontak langsung.

Laporan Banten Lanjutkan Lewat telepon, Bu Tripitasih dari Sanglah menyatakan rasa tertariknya terhadap laporan Koran Tokoh tentang berbagai informasi mengenai banten, dan berharap laporan semacam itu dilanjutkan. Terima kasih Bu, masukannya. Koran Tokoh Oktober lalu secara berseri menyajikan informasi tentang kebutuhan bahan baku upacara di Bali, termasuk banten. Misalnya, Bali perlu 50.000 ton janur dan ron setahun; permintaan buah meningkat; jeruk, kelapa gading, kelapa hijau didatangkan dari Banyuwangi; sarana upacara boleh disederhanakan. Ada hikmahnya memang, jika janur hanya dipasok dari daerah sendiri produksi kelapa di Bali bisa terganggu. Pertanyaan timbul, bagaimana produksi kelapa di Bali sekarang, apakah bisnis kelapa telah memberi keuntungan bagi petani?

Ibu-ibu Mendongenglah! DALAM kesempatan diskusi dongeng dengan ibu-ibu lima tahun lalu, seorang ibu setengah baya menyatakan keluhan. Katanya, ia mencoba mendongeng di depan anaknya umur 4 tahun, tetapi sang anak tidak menaruh perhatian. Sang anak lebih tertarik nongkrong di depan pesawat televisi. Peristiwa kecil itu dapat berarti bahwa sang ibu, calon pelipur lara itu, dikalahkan televisi. Peranan ibu yang seharusnya menjadi tokoh sentral di rumah tangga, ‘dirampas’ kotak ajaib itu. Lebih jauh dapat diartikan, sang ibu merasa khawatir akan pengaruh sajian media elektronik yang terbuka, intim dan bersumber dari komunikasi satu arah itu. Sedikit banyak pastilah tontonan di luar batas kemampuan anak itu akan berpengaruh terhadap pembentukan dan pengembangan pribadi anak. Wah, ngeri juga! Acungan jempol patut ditujukan kepada ibu tersebut yang mencoba mendongeng di depan anaknya. Sang ibu ingin membahagiakan sang putra melalui cerita yang menarik. Melalui kegiatan bercerita itu, bukan hanya tercipta keakraban antara anak dan ibu, tetapi juga tertanamnya nilai-nilai yang menentukan tumbuh kembangnya kepribadian anak. Betapapun menariknya sajian televisi, seorang ibu tetap merupakan tokoh sentral, dan peranan itu tidak dapat disiasiakan. Kedekatan ibu-anak tidak terputus bersamaan dengan penyapihan, tetapi masih berlangsung bahkan sampai memasuki masa sekolah. Bagi anak, ibu adalah segala-galanya. Banyak sekali ibu-ibu yang merasa dirinya tidak mampu bercerita. Bercerita

adalah kewajiban kakek dan ayah, katanya. Kerendahan hati itu tampaknya mentradisi, padahal kedekatan anak lebih banyak bertumpu pada sang ibu. Sikap merasa tidak mampu itu mungkin disebabkan, sejak dahulu tulang punggung rumah tangga (terutama yang berkenaan dengan kebutuhan perut) lebih banyak dibebankan kepada kaum ibu. Peranan tersebut mengakibatkan terbatasnya waktu luang, sehingga tidak ada kesempatan untuk mendongeng. Kegiatan itu kemudian dialihkan kepada sang kakek atau sang ayah. Benar juga, kalau mengacu pada karya-karya sastra klasik, kebanyakan karya itu berasal dari kaum laki-laki jika dibandingkan kaum perempuan. Padahal, dalam Kisah Tantri atau Kisah Seribu Satu Malam, sastra tutur itu diperankan perempuan. Zaman sekarang kerendahan hati itu tidak perlu terjadi. Dari segi kedekatan dan keakraban, ibu lebih memungkinkan memengaruhi anak terutama pada usia sebelum sekolah. Mengenai seorang ibu yang tidak berhasil menarik perhatian anak terhadap cerita yang didongengkan, selain karena faktor kehadiran televisi, mungkin juga karena kekeliruan memilihkan bahan cerita. Tidak sembarang dongeng (cerita rakyat) cocok untuk segala usia. Karena terbatasnya perbendaharaan cerita, sering terjadi seorang ibu menceritakan dongeng ‘Bawang Merah Bawang Putih’ kepada anak yang berumur 3 - 4 tahun. Jelas cerita yang tragis dan dramatis itu tidak termakan anak yang masih kecil. Jangan salahkan anak-anak, kalau mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh, lalu segera berpaling kepada televisi. Untuk anak umur 3 - 4 tahun sebaiknya dipilihkan cerita yang menyangkut lingkungan terdekat anak, seperti benda-

I Made Taro

benda atau hewan di rumah tangga. Misalnya cerita tentang boneka mainan, sepatu, kursi, anjing, kucing, cecak, atau burung. Benda atau hewan yang bercakap-cakap, suka makan, menangis dan tertawa, yang di kalangan orang dewasa dianggap sepele, namun bagi anak-anak kejadian seperti itu sangat istimewa. Pada umur 4 – 5 tahun, dongeng-dongeng sejenis itu dapat dikembangkan menjadi pengenalan kepada jumlah dan perluasan wawasan lingkungan. Di Bali contoh cerita yang baik adalah ‘Siap Selem’ (‘Ayam Hitam’) dan ‘I Lutung lan I Kekua’ (Si Monyet dan Si Kurakura’). Melalui cerita itu dapat diperkenalkan tentang bilangan jumlah, lingkungan rumah yang lebih luas, bentuk dan sifat hewan, dan juga karakter pelaku yang nakal, berani dan mandiri, juga kasih sayang antara ibu dan anak. Di negeri Barat cerita untuk umur prasekolah cukup banyak ditulis pengarangpengarang terkenal. Ketinggalan kita adalah kurangnya usaha untuk menulis atau menerbitkan buku-buku cerita anak yang berasal dari cerita rakyat Indonesia, padahal bahan cerita itu cukup banyak tersebar di kepulauan Nusantara. Cerita rakyat dari Sumatera Utara mengenai anak kucing yang manja

sangat cocok diceritakan untuk anak menjelang masa sekolah. Pada akhirnya anak kucing itu akan menghormati dan mengagumi ibunya dalam berjuang menghadapi kepahitan hidup. Selanjutnya sampai umur 8 tahun, anak-anak masih menyenangi dongeng-dongeng yang terjadi di negeri antahberantah. Mereka amat senang mendengarkan cerita kancil yang cerdik dan menggunakan akalnya melawan hewan-hewan besar yang serakah. Mereka juga senang mendengarkan pengalaman beberapa ekor hewan yang bersahabat atau bermusuhan, hewan-hewan yang licik, dungu, pasrah, serakah, dan sifat-sifat lainnya. Mereka sudah dapat menilai perilaku-perilaku yang patut dan tidak patut diteladani. Dongeng yang agak rumit sangat cocok disajikan kepada anak-anak umur kira-kira 9 – 12 tahun. Anak-anak mulai berusaha ‘memamah’ cerita yang mengandung petualangan. Mereka tertarik kepada alur cerita yang mengandung konflik, problem solving, beserta solusi yang mengandung perenungan. Mereka tidak suka dongeng yang menggurui, tetapi lebih suka pelaku-pelaku yang menggeliat, bertarung dan tampil menjadi pemenang. Untuk anak kelompok umur inilah dongeng ‘Bawang Merah Bawang Putih’ itu cocok disajikan. Di Bali dongeng-dongeng untuk kelompok umur tersebut amat banyak. Contoh, dongeng-dongeng yang terkenal seperti ‘Cupak Gerantang’, ‘Pan Balang Tamak’, ‘Tuung Kuning’, ‘Rare Angon’. Dari Nusantara dapat diangkat dongeng-dongeng seperti ‘Kleting Kuning’, ‘Malin Kundang’, ‘Swidak Loro’. Lebih meningkat adalah cerita yang berhubungan dengan legenda dan mitos seperti terjadinya Selat Bali, terjadinya gerhana, gempa bumi, tsunami. Ada baiknya pula kepada anak

diperkenalkan dongeng-dongeng luar negeri yang terkenal seperti Cinderella, Putri Salju, Hansel dan Gretel, Si Kudung Merah, Pinnokkio, Momotaro. Lebih lanjut (setelah umur 12 tahun) anak-anak akan lebih suka membaca kisah-kisah petualangan. Amat sedikit kisah petualangan yang berasal dari cerita rakyat Nusantara. Di toko buku terpajang banyak kisah petualangan, tetapi kebanyakan berasal dari luar negeri. Misalnya kisah-kisah Tarzan, berlayar mengelilingi dunia, mengenal makhlukmakhluk aneh, menyelam ke dasar laut, bahkan menjelajah ke luar angkasa. Mendongeng adalah kegiatan yang menghibur. Banyak ahli pendidikan yang memasukkan kegiatan itu sebagai kegiatan bermain. Rileks, jauh dari suasana formal, komunikatif, ekspresif, dinamis dan berirama, berkesan dan berpesan. Sesungguhnya bercerita adalah menanamkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Bruno Bettelheim, dalam bukunya berjudul ‘The Use of Enchantment, The Meaning and Importance of Fairytales’, mengatakan bahwa kegiatan mendongeng sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. Perkembangan yang dimaksud meliputi perkembangan holistik, emosional, kognitif, moral, dan sosial. Siapakah yang paling tepat dan seharusnya paling peduli terhadap perkembangan pribadi anak? Tentu orangtua, terutamanya ibuibu. Oleh karena itu, ibu-ibu, jangan sepelekan kesempatan itu. Mendongenglah mulai sekarang! z I Made Taro Pengasuh Sanggar Kukuruyuk

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimili (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimili (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370)639543–Faksimili (0370)628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 2223 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimili (031)5675240 zE-mail: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zWebsite: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


Wanita P Perkasa erkasa

Selain Tegas Satpol PP harus Lembut

Wiwiek Satpam Tak harus Galak Djoko, Tukang Parkir jangan Lupa Senyum Satpol PP Wanita Pertama DKI Jakarta

IA bercita-cita menjadi polisi wanita. Cita-citanya kandas, tetapi akhirnya ia menekuni profesi yang tugasnya mirip polisi. Dialah Wiwiek Djoko (54), wanita pertama yang menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Provinsi DKI Jakarta, 24 tahun silam. Ia pernah menangkap joki three in one. Anaknya terlepas, yang tertangkap hanya bajunya. Ia tak gentar walau pernah dilempari bom molotov pedagang kaki lima. Tetapi, mengapa wanita yang pernah menjadi komandan upacara Hari Ibu ini menyatakan terharu ketika sedang menertibkan lapak pedagang dan terusik hatinya ketika sedang merazia wanita pekerja seks komersial?

Tegas tetapi Lembut Wiwiek dibesarkan dalam keluarga polisi. Ayahnya, Djoko Moeljono, anggota Brimob yang bertugas di Polda Metro Jaya. Ia bertempat tinggal di asrama Polri di Pejaten, Pasar Minggu. Suaminya, Mintoadi, juga polisi, kini purnawirawan. Sebelum pensiun, suaminya menjabat kapolsek di Tangerang. Kini kedua anak mereka menjadi perwira polisi dan TNI AD. “Sejak bocah anak-anak sudah tampak menyenangi profesi kami. Waktu masih kecil si sulung suka mengenakan baret ayahnya, dan kalau ditanya soal cita-cita, ia selalu menjawab ingin menjadi pilot pesawat tempur. Setelah dewasa ia menjadi polisi. Sedangkan adiknya menyatakan ingin menjadi angkatan laut, namun akhirnya menjadi perwira TNI AD,” tutur Wiwiek, sambil berseloroh, ‘jika anak

Wiwiek Djoko

saya empat, mungkin yang dua lagi Angkatan Laut dan Angkatan Udara’. Perempuan kelahiran Semarang ini sangat menyukai sekaligus bangga pada profesinya, meski awalnya ia bercitacita menjadi polisi wanita. Tugas Satpol PP memang menyerupai polisi, seperti melakukan penertiban dan razia. Satpol PP adalah polisi di pemerintahan daerah (kabupaten/kota/provinsi) yang tugasnya mengawal atau menegakkan peraturan-peraturan daerah. Di Pemprov DKI banyak perda, misalnya tentang larangan membuang sampah tidak di tempatnya, mengemis/mengasong di perempatan jalan, merokok di area publik, berjualan di trotoar atau badan jalan. Wiwiek bertugas di Kantor Pemprov DKI sejak tahun 2003 dan jabatannya kini Kepala Bagian Umum Unit Satpol PP Pemprov DKI. Sekarang ia lebih banyak di kantor, tetapi setidaknya seminggu sekali ia turun ke lapangan. Berambut pendek, ber-

tkh/hkm

W

iwiek sempat menjabat komandan (Kepala Satpol PP) ketika bertugas di wilayah Kodya Jakarta Selatan, tepatnya di Kecamatan Mampang Prapatan. Saat itu ia memimpin 40 orang staf yang semuanya pria. Pukul 06.00 ia sudah di lapangan. Jika tugas malam, jam kerjanya usai magrib sampai tengah malam. “Kalau razia PSK atau waria, ya bertugas tengah malam karena operasi mereka umumnya setelah pukul nol-nol,” ungkap Wiwiek. Ia mengendarai mobil dinas bersama anak buahnya berkeliling wilayah mengantisipasi kejadian-kejadian yang perlu ditertibkan. Sabtu dan Minggu, begitu pula pada hari raya seperti Natal dan tahun baru, ia sering bertugas sampai pagi. Terpilihnya dia sebagai “kepala Mantri Polisi PP”, begitu sebutan populer di masyarakat lingkungannya, mungkin karena dirinya selalu bersikap tegas. Juga, karena dilatarbelakangi pengalamannya menjadi pemimpin upacara dalam berbagai kegiatan. Sampai-sampai ia dijuluki “spesialis wanita komandan” di Jakarta Selatan. Dalam peringatan Hari Ibu 2007 tingkat provinsi DKI, misalnya, ia bertugas sebagai komandan upacara.

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 3

seragam coklat muda, lengkap pelbagai atribut di bahu, dada, serta menggenggam radio komunikasi, Wiwiek tampak berwibawa. Apalagi sorot matanya tajam dan kata-katanya tegas, penuh disiplin. Hingga kini tubuhnya masih tegap dan staminanya tampak terjaga. Sebagai anggota Satpol PP fisiknya memang ditempa secara baik, melalui pelatihan karate, silat, mahatma, dan bela diri lainnya. Sampai sekarang pun ia tetap mengikuti kegiatan olahraga rutin, seminggu tiga kali. Tiap berolahraga ia berkeliling lapangan Monas dua putaran. “Sampai setua ini saya masih suka ikut diklat-diklat, seperti diklat penyegaran Satpol PP,” katanya. Kesenangannya berolahraga juga mendorong Wiwiek mengikuti kegiatan senam aerobik. Ia suka line-dance poco-poco, salsa, dan sajojo. Hobi lainnya menyanyi. Ia

mengaku, menyukai lagu-lagu yang dibawakan artis bersuara berat seperti Emillia Contessa dan Titiek Puspa. Namun, penampilannya yang layaknya wanita militer, tidak mengurangi sikap lembutnya sebagai wanita maupun sebagai ibu. Justru sikap lembut inilah yang melatarbelakangi Pemda DKI juga mengangkat kaum hawa menjadi anggota Satpol PP. “Menghadapi dan menangani pelanggar ketertiban tidak cukup dengan ketegasan, tetapi juga dengan kelembutan. Di sini pentingnya peran anggota Satpol PP wanita, baik di lapangan mapun di kantor,” katanya. Sikap lembutnya sebagai wanita inilah yang menyebabkan ia selalu cemas ketika anak-anaknya sakit. Ia selalu berpesan kepada Mas dan Adik, begitu Wiwiek memanggil kedua anaknya, agar selalu berhati-hati dalam pergaulan. Mereka diberi kebebasan bergaul, tetapi juga diarahkan untuk aktif dalam kegiatan olahraga, seperti berlatih karate sejak kecil dan setelah dewasa ikut klub bola voli. Bagi Wiwiek anak tetap anak walau kini sudah dewasa. Ia suka mengontrol walau kini mereka sudah mandiri. Joko Adi Nugroho, si sulung kini bertugas di Polda Jambi, sedangkan adiknya, Adi Murti Wibowo, baru bertugas di Mabes TNI AD. “Kami sering sms-an, “ ujar Wiwiek yang di rumahnya kini hanya berdua bersama suaminya. Terharu, Lucu, Mengerikan Dalam menjalankan tugas di lapangan, diakuinya kadang ada semacam pertentangan batin. Sebagai wanita, hatinya sering terusik dan kadang terharu ketika harus menertibkan lapak pedagang yang berjualan di tempat yang dilarang, seperti di badan jalan atau di trotoar. “Tetapi, demi menegakkan aturan, ya mereka harus ditertibkan karena memang salah,” ujarnya. Begitu pula saat merazia

PROFESI satpam dan juru parkir identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun, bagi Ni Ketut Puspawati dan Ketut Latri demi menopang hidup keluarganya, mereka melakoni pekerjaan itu dengan tekun. “Saya sudah menjadi anggota satpam sejak tahun 1992,” ujar Puspawati. Menurut perempuan asal Mengwi Tani Badung ini, sejak kecil ia menyukai kegiatan laki-laki. Saat di SMA dia ikut ekstrakurikuler karate. Penampilan Puspawati sekilas tampak galak dengan seragam satpamnya. Setelah mengobrol lama siapa pun akan melihat naluri kewanitaannya, banyak tersenyum. Ia menuturkan, sangat menikmati pekerjaannya, walaupun terkadang penuh risiko. Namun, kata ibu dua anak ini, dia lebih suka melihat segi positifnya. “Banyak yang segan karena mungkin melihat tampang saya galak,” ujarnya sembari tertawa. Suaminya yang berprofesi sebagai petani, tidak pernah merisaukan pekerjaan Puspawati. Dia yakin istrinya mampu menjaga dirinya dengan baik. Saat ini Puspawati bekerja di Toko Sakura Denpasar. Dia ditempatkan di lantai II khusus tempat penjualan DVD dan CD. Dulunya, ia bekerja tkh/ast sebagai anggota satpam di Pertokoan Kertawijaya Ni Ketut Puspawati Denpasar. Tahun 2006 tempatnya bekerja bangkrut, dan ia diterima bekerja di toko elektronik tempatnya bekerja sekarang yang mempekertjakannya dalam dua shift, pukul 10.00 sampai 16.00, dan pukul 16.00 sampai 22.00. Jam kerjanya tiap hari, tidak mendapatkan hari libur. Dengan sepeda motornya, ia memerlukan waktu 30 menit menempuh perjalanan dari rumahnya di Mengwi ke tempatnya bekerja di Denpasar. Ia mengatakan, malam Minggu biasanya konsumen banyak berdatangan, sampai mencapai ratusan. Selama bekerja sebagai anggota satpam, ia pernah mendapati konsumennya mencuri kaset DVD. Terhadap kasus semacam ini, langkah awal, biasanya Puspawati mengajak berbicara yang bersangkutan secara kekeluargaan. “Diberi pengarahan saja. Saya tidak mau arogan. Saya lebih suka menyelesaikan dengan cara baik-baik,” kata Puspawati. Terkadang ada juga konsumen yang membuat ulah. Disuruh menitipkan jaket atau tas, malah memberontak dengan seribu alasan. “Akhirnya, saya memberi kesempatan konsumen itu untuk masuk dan berbelanja, tetapi dia selalu saya awasi dari jauh,” tuturnya. Puspawati selalu menjaga hubungan baik dengan kepolisian. Kebetulan toko tempatnya bekerja berdekatan dengan pos penjagaan polisi. “Walaupun kami satpam, bukan harus galak dan angker. Kami juga melayani dengan senyuman. Konsumen yang datang lebih banyak anakanak muda, Saya perlakukan mereka seperti anak sendiri,” ujar Puspawati tentang kiatnya dalam bertugas. Tukang Parkir Suci Lain lagi Ketut Lastri. Perempuan single parent ini menghidupi kebutuhan keluarganya dari penghasilannya sebagia tukang parkir. Dua anaknya yang sudah duduk di bangku SMA dan SMP, membuatnya ekstra kerja keras. Setelah suaminya meninggal, perempuan asal Melaya, Jemberana, ini kebingungan mencari pekerjaan. Berbekal informasi dari kepala lingkungan di wilayah tempatnya mengontrak rumah, ia mendapatkan pekerjaan sebagai juru parkir di Kota Denpasar. Wilayah beroperasinya di kawasan Suci. Tiap hari ia mangkal di sana pukul 09.30 hingga 17.00. Ia mendapatkan 35% dari hasil jasa parkir yang ditanganinya. “Kalau hari raya keagamaan, saya lanjutkan lagi bekerja sampai malam. Untuk mencari uang tambahan,” tuturnya. Ia mendapat keterampilan dari Dinas Perhubungan Kota Denpasar dalam pelatihan dua hari. Lastri mengaku risih saat pertama kali menggunakan pakaian juru parkir dan mengatur kendaraan. Namun, lama kelamaan, ia mulai mahir dan disegani teman-teman sesama juru parkir. “Yang penting halal dan bisa dapatkan biaya sekolah anak-anak,” ujarnya. Lastri pun tak segan-segan memberikan senyumannya kepada warga yang memarkir kendaraannya. Ia menyatakan, tidak mau hanya tkh/ast mengambil uang parkir tanpa memberi pelayanan yang Ketut Lastri baik. –ast

wanita jalanan atau pekerja seks komersial. Wiwiek tak setuju jika orang sering mengatakan Satpol PP suka salah tangkap. Bayangkan, katanya, perempuan jalan sendiri tengah malam. Kalau ternyata wanita baik-baik, setelah diproses di kantor, tentu segera dilepas. Sedangkan yang benar-benar PSK setelah diproses dan diberi pengarahan, mereka juga disuruh pulang. “Kalau sering tertangkap, ya kami bawa ke Panti Kedoya

(panti rehabilitasi milik Dinas Sosial – Red.),” kata Wiwiek. Ada pengalaman lucu yang tak terlupakan. Ketika ia dengan sigapnya menangkap joki three in one, hanya bajunya yang terpegang, sementara orangnya lepas. “Dia memang masih anak-anak. Mungkin karena ketakutan, anak itu meronta dengan sigapnya sehingga lolos, bajunya saja yang tertangkap.” tuturnya sambil tertawa.

Hal mengerikan juga pernah dialami. Wiwiek dan beberapa stafnya dilempari bom molotov ketika menertibkan pedagang kaki lima di bawah jembatan layang Mampang Prapatan. Beruntung, bom melenceng dari sasarannya. Menurutnya, para pedagang itu sering membandel. Beberapa kali ditertibkan, kembali lagi berjualan di tempat terlarang. Tetapi, lama kelamaan tempat itu bersih dari pedagang, setelah dipagari besi. —isw/hkm

Gusti Adnyani Perempuan yang Bergelepotan Oli SAAT traffic light di pertigaan Banjar Petak Singaraja berwarna merah, secara refleks pandangan pengendara sepeda motor yang berhenti di situ sering tertuju ke bengkel di kiri jalan. Sebab, di bengkel sepeda motor itu ada pemandangan langka. Seorang perempuan terlihat bekerja mengutakatik mesin sepeda motor. Perempuan bertubuh ceking itu bernama Gusti Ayu Dewi Adnyani. Meski otot lengannya tak terlalu kekar, ia terlihat kuat dan tak kalah tenaganya daripada suaminya. Gusti Adnyani yang sebelumnya bekerja serbagai tukang jahit pakaian, bekerja di bengkel sejak tahun 2007. Suaminya, Made Ngurah Sumerta, merupakan montir yang membuka usaha sendiri. Semula Gusti Adnyani hanya membantu suaminya, tetapi lamalama merasa ketagihan. Pekerjaan sebagai tukang jahit ditinggalkan, kemudian sehari-hari ia menjadi bagian pekerjaan di bengkel yang dikomandani suaminya di jantung kota Singaraja itu. “Karena terbiasa, saya jadi bisa. Yang penting mau berusaha dan tekun menjalaninya, pasti bisa. Saya pun mampu menangani kerusakan mesin sepeda motor,” ujar Gusti Adnyani yang belajar menjadi montir secara autodidak

itu. Gusti Adnyani lahir di lingkungan keluarga yang hidupnya pas-pasan. Itu yang menjadi salah satu alasannya, mengapa ia memilih bekerja daripada melanjutkan sekolah. Ia mendahulukan kepentingan adik laki-laki satu-satunya untuk bersekolah. “Saya ingin adik saya maju. Keluarga saya tak mungkin menyekolahkan kami berdua. Kini, adik saya sudah bekerja,” tutur perempuan yang hanya memiliki ijazah SMP itu. Semasa remaja berbagai pekerjaan berat sudah pernah dilakoninya; mulai dari pekerjaan serabutan, ikut membantu menggarap sawah, mencari pakan sapi, tukang jahit, dan kini menjadi montir. “Tak ada masalah, karena saya sudah terbiasa hidup susah. Yang penting halal,” ujarnya. Bengkel sepeda motornya itu dikelola berdua saja. Bukan hanya melayani pekerjaan menyervis sepeda motor, Gusti Adnyani juga menyiapkan peralatan yang diperlukan atau yang dibeli pelanggan, hingga mengurus keuangannya. Pandangan mata pengendara sepeda motor yang sedang berhenti di traffic light yang tertuju ke arahnya kadang-kadang membuat Gusti Adnyani risih. Tertangkap kesan mereka keheran-

Gusti Ayu Dewi Adnyani

heranan ada perempuan langka yang mau bekerja di bengkel. Selain banyak orang yang memuji atas keperkasaannya, ada juga yang mencibirnya. Apalagi jika sedang berbelanja ke warung dalam kondisi tubuh bergelepotan oli, ada saja orang yang melontarkan komentar: “Perempuan seharusnya memasak dan mencuci pakaian di rumah saja”. Terhadap cibiran itu Gusti Adnyani menanggapinya dengan guyonan: “Suami saya tak akan dapat istri seperti saya, karena tak ada perempuan yang mau bekerja keras seperti saya. Selama perempuan mampu, mengapa tidak? Saya ingin membantu dan menjadi kebanggaan suami”. Suaminya selalu mendukung keinginannya untuk membantu. Berkat bimbingan suaminya, Gusti Adnyani

tkh/put

makin mahir mengurus bengkelnya. Awalnya memang ada peminta jasa bengkelnya yang tak bersedia sepeda motornya ditangani Gusti Adnyani. “Mungkin karena saya perempuan, mereka tak percaya. Tetapi, itu dulu, sekarang tidak lagi,” tuturnya. Sebagai perempuan, Gusti Adnyani pun memiliki naluri selalu bersikap dan berperilaku lembut. Di bengkelnya, ia pun selalu berupaya memberi pelayanan kepada peminta jasanya dengan lembut. “Pelayanan terus kami tingkatkan agar pelanggan tak berpindah ke tempat lain,” ujarnya. Dalam sehari, bengkel miliknya menangani minimal tujuh sepeda motor. Jika ditotal dengan pendapatan hasil penjualan peralatan sepeda motor, penghasilannya per hari berkisar Rp 400 ribu - Rp 700 ribu. –put


4

Tokoh

Perempuan

13 - 19 Desember 2009

Tips untuk Istri Abdi Negara

Hindari Bau Badan dan Bau Mulut

Endek Sutra Terkesan Mewah Busana untuk Acara Resmi

Bupati Gianyar Cok Ace, Wakil Bupati Gianyar Dewa Made Sutanaya, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Gianyar Wayan Sudibia, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Gianyar di tengah acara pembukaan diskusi kerja sama Koran Tokoh dan TP PKK Gianyar pekan lalu

Pengantar Redaksi: Diskusi kerja bareng Koran Tokoh dan TP PKK Kabupaten Gianyar di Ruang Utama Kantor Bupati Gianyar, Kamis (10/12), menyisakan sejumlah catatan. Berikut sebagian laporannya di muat di halaman 4 edisi ini.

A

DA beragam cara yang bisa dilakukan istri agar suami betah di rumah. Menurut praktisi manajemen sumber daya manusia Ida Bagus Purwasila, istri perlu memerhatikan penampilan diri. “Jika suami pulang kerja, usahakan jangan menggunakan busana yang menimbulkan bau menyengat. Hindari bau badan termasuk bau mulut. Usahakan tampil sebagus mungkin,” katanya. Kalangan istri abdi negara dinilai harus menempatkan aspek penampilan sebagai hal utama. Tiap gerak gerik, ucapan, dan penampilan komunitas ini

cenderung menjadi sorotan masyarakat. Jadi, berpenampilan menarik dan santun jadi mutlak,” kata suami A.A. Sagung Kendran yang pernah menjadi fasilitator John Robert Powers ini. Lelaki yang akrab disapa Gus Purwa ini menyarankan istri abdi negara menghindari ucapan bernada kasar, seperti sebutan “cang” atau “cai” dalam bercakap-cakap. Gus Purwa menyebutkan ada empat tanda konsep diri negatif, antara lain peka terhadap kritik. “Banyak orang yang tak mau dikritik. Usahakan menerima segala kritikan dengan lapang,” ujar sarjana ekonomi yang berkiprah selama 23 tahun di bisnis garmen itu. Sikap negatif perlu dilawan dengan lima konsep diri positif, yakni yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, menyadari bahwa tiap orang

punya perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat. “Menjadi pemimpin harus menyadari bahwa tiap apa yang dikehendaki belum tentu disetujui semua orang. Orang harus berani mengungkapkan kekurangan diri dan berani mengubahnya,” harap alumnus Program Pascasarjana FE Unud ini. —lik

Ida Bagus Purwasila

Tips Membeli Perhiasan Emas

Cek Label dan Karatnya KAUM perempuan harus waspada saat membeli emas. Hal ini karena tak jarang perhiasan emas itu mengecewakan. “Perhiasan emas berubah kemerahan/kehitaman padahal baru sebulan saya membelinya,” ungkap dr. Ida Ayu Putra Suartika, tentang pengalamannya membeli emas. Istri dr. I. B. Semadi Putra, Sp.O.G. ini tak ingin pengalaman pahit itu terulang. Ia membeli emas bukan di toko emas. “Enaknya beli ke teman yang punya emas jika barang rusak bisa dikembalikan. Sebelum

dr. Ida Ayu Suartika

membeli bisa dibawa ke rumah jika tak cocok bisa dikembalikan,” katanya. Untuk mengetahui barang yang ia beli bagus atau tidak, Dayu mengeceknya dengan memakainya secara terusmenerus selama sebulan. “Jika warnanya berubah seperti warna tembaga, bisa komplain,” ujar ibu 4 anak ini. Dayu menuturkan perhiasan emas sempat menyebabkan bekas kehitaman di kulitnya. “Saya tak pernah mengecek label sebelum membeli, apalagi mengetahui berapa kandungan emasnya,” akunya. Menurutnya hal ini perlu dicermati kaum perempuan yang suka membeli perhiasan emas. “Untuk seorang ibu rumah tangga bisa memiliki lebih dari satu set. Hal ini untuk Bersambung ke hlm. 15

Sukma

tkh/ast

BATIK atau endek dapat menjadi busana berkelas dan mewah. “Endek dapat dipakai atasan dan bawahan. Untuk acara sehari-hari dapat dipilih endek katun. Untuk acara resmi endek sutra terkesan lebih mewah. Tenun endek polos yang diisi payet atau bordir pun kini juga diminati istri pejabat,” ujar designer dan pemilik de Galuh Boutique Tjok Abi. Selain itu, kata Tjok Abi, linen sutera dapat menjadi pilihan. Seratnya bagus dan terasa nyaman di badan, cocok untuk gaun, atasan atau celana panjang. Gaun pesta dapat memilih sutra Cina atau sutra sifon. Kainnya lemes dan dingin di badan. “Sutra organda juga bagus. Kainnya tembus pandang, jadi kalau dipakai sebagai rok harus pakai lapis,” katanya. Pakaian semi resmi dapat memilih katun atau linen. Katun menyerap keringat, namun mudah kusut. Jangan pilih polyster karena tidak menyerap keringat. Memilih polyster pilihlah yang bercampur dengan katun agar tidak panas. Untuk bertubuh besar jangan pilih bahan tebal atau bahan yang lemes. Katun dapat menjadi pilihan.

Tjok Abi

Prof. Muninjaya komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seorang pimpinan daerah dikatakan berhasil menyejahterakan masyarakatnya jika pendapatan masyarakat meningkat (income per kapita), termasuk meningkatnya PAD (pendapatan asli daerah), PDRB (product domestic regional bruto), ketahanan pangan, IPM (indeks pembangunan manusia) dan angka pengangguran di masyarakat. Keberhasilan daerah otonomi meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan dilaporkan oleh biro pusat statistik setiap tahunnya sehingga akan di-

BUSANA telah mendapat perhatian serius kalangan perempuan pejabat di Bali. Cirinya, busana yang dikenakan harus menarik, tetapi tetap mengikuti norma kesopanan. Ini cermin kepribadian seorang peremAgung Mega puan Bali. “Penampilan mencerminkan kepribadian seseorang. Saya merasa wajib berpenampilan menarik, tetapi tetap sopan,” kata A.A. Putra Megawati, S.Sos, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Buleleng. Untuk tampil menarik perempuan tak harus mengenakan pakaian mahal dan branded. “Yang penting sesuai dengan karakter, sopan dan nyaman untuk diri sendiri dan orang lain,” kata perempuan kelahiran Gianyar 1956 itu. Sebagai pejabat, Agung Mega, panggilan akrabnya, tak terlalu fanatik memilih busana. Namun, ibu empat orang anak ini selalu mengikuti tren busana terkini. Istri Drs. Dewa Suyadnya, A.P, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng ini mengungkapkan busana pilihannya. Contoh, busana adat kebaya. Dirinya lebih suka mengenakan kebaya bordir daripada brokat. Tekstur kainnya yang tipis kurang nyaman dipakai, apalagi untuk acara formal.

Ada butik langganannya, termasuk istri kalangan pejabat di jajaran Pemkab Bu Ngurah Buleleng. Pemilik butik langganannya selalu menginformasikan jika ada model busana terbaru. “Biasanya kami beramai-ramai ke butik yang ada Denpasar itu. Selain hemat bensin kami juga dapat diskon kalau beli banyak,” katanya. Saat ini, ia dan beberapa istri pejabat di Buleleng lebih suka mengenakan kamen jadi kain bawahan saat berkebaya. “Sejak setahun terakhir, saya dan beberapa teman lebih suka mengenakan kamen jadi. Penggunaanya mudah, tidak ribet dan kami lebih mudah beraktivitas,” katanya. Ia pun mengoleksi busana hasil tradisional Bali, endek. “Saya tak mencari endek mahal tetapi lebih mengutamakan motifnya dan harus beda dengan motif yang lain,” ucap Agung Mega. Selain endek, batik pun menjadi primadona perempuan pejabat dan istri pejabat di Buleleng. Ada tukang jahit khusus untuk merancang busana sebagian mereka. Namanya Ni Ketut Sudarmi. Sekitar 10 tahun sudah perempuan asal Tabanan ini melayani pejabat perempuan dan istri pejabat di Buleleng. Bu Ngurah, begitu ia biasa disapa, mengaku tak alami kesulitan melayani istri pejabat yang membutuhkan jasanya. Kurang lebih 20 orang ibu dari kalangan birokrat baik pejabat perempuan, istri pejabat, maupun pegawai umumnya, yang menjadi pelanggannya. “Mereka tak ada yang cerewet. Biasa-biasa saja. Kebanyakan istri pejabat yang menjahit pakaian di tempat saya suka pakaian yang press body,” tutur Bu Ngurah. —put

Bersambung ke hlm. 15

Cegah Korupsi dengan Reformasi Birokrasi Direktur PMPK (Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan) FK Unud ini. Pimpinan daerah wajib mengubah mainset/cara berpikirnya. Ini harus dipelopori oleh Bupati dan pimpinan daerah lainnya sampai kepala desa. Seorang pemimpin daerah juga harus memiliki rencana strategis untuk mengembangkan wilayahnya dan menumbuhkan komitmen sebagai abdi dan pelayan masyarakat. “Ini harus diintegrasikan dengan strategi peningkatan mutu pelayanan. Prinsip-prinsip total quality management harus bisa diterapkan pada birokrasi pelayanan masyarakat,” ujar guru besar FK Unud yang juga mengajar manajemen kesehatan ini. Keterpaduan visi sebagai individu pimpinan dan visi lembaga akan menjamin semakin berkembangnya mutu pelayanan publik. Jika pimpinan daerah melakukan trik-trik sekadar untuk proses pembenaran, dan mencari keuntungan untuk diri pribadi dan kelompoknya, ini sangat menyalahi prinsip-prinsip reformasi birokrasi. Sepak terjang pimpinan daerah seperti ini telah mencederai nurani masyarakat. Pimpinan daerah adalah orang-orang yang menggerakkan sistem pembangunan di daerah. Karena dipilih rakyat, sudah sepantasnya pimpinan harus memiliki tanggung jawab besar dan

Tak Mahal tetapi Sopan

tkh/ast

Prof. Dr. A.A. Gde Muninjaya, M.P.H. REFORMASI birokrasi mutlak diperlukan di era reformasi jilid dua ini. Hal ini ditegaskan bakal cabup Bangli Prof. Dr. A.A. Gde Muninjaya, MPH. Sasarannya, meningkatnya mutu pelayanan birokrasi kepada masyarakat dan dapat dicegahnya kesewenangwenangan birokrasi yang nantinya akan bermuara pada korupsi dan proses pembenaran lainnya. Di era otonomi daerah, sebagian besar kewenangan pembangunan diserahkan ke pemerintah kabupaten/kota. Sejalan dengan itu, pemkab Bangli juga sudah menerima dan melaksanakan kewenangan pelayanan publik tersebut di wilayahnya. Untuk itu, diperlukan pimpinan daerah yang berani, inovatif, dan trasformatif untuk membangun wilayahnya yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Reformasi harus dimulai dari tekad individu pimpinan daerah. Tak cukup dengan menyusun perencanaan dan membuat peraturan yang mengikat perangkat daerah, tetapi juga harus memunculkan kesadaran baru bahwa daerah memerlukan semangat pembangunan yang baru. “Batasan umum reformasi adalah perubahan total di segala bidang pelayanan yang dikendalikan oleh pemerintah. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar

Ukuran Busana Menarik Perempuan Pejabat

ketahui keberhasilan daerah memajukan daerahnya, dibandingkan dengan kabupaten lain di Bali maupun luar Bali. “Nanti akan terlihat persentase peningkatan capaian pembangunan kabupaten/kota di era otonomi ini,” ujarnya. Muninjaya menegaskan, pembangunan daerah harus mampu memanfaatkan potensi wilayahnya secara maksimal untuk menyejahterakan rakyatnya. Sepak terjang Bupati jangan sampai mencenderai nilai-nilai budaya dasar manusia Bali yang berlandaskan Tri Hita Karana. Berbicara tentang efisiensi anggaran belanja daerah, Muninjaya mengaitkannya dengan peningkatan pendapatan dan bagaimana menggunakan pendapatan itu seefisien dan seefektif mungkin untuk menghasilkan peningkatakan kesejahteraan masyarakat. Arah pembangunan akan tertuang di dalam rencana strategis pembangunan daerah yang disusun 5 tahunan. Efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan daerah sangat tergantung dari jumlah anggaran yang diserap untuk pembangunan daerah. Keberhasilan penggunaan anggaran akan dipotret setiap tahun untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, PDRB, PAD, IPM, ketahanan pangan, dan infrastruktur semaksimal mungkin, termasuk penurunan pengangguran riil. “Jika semuanya berkembang, saya jamin

kesejahteraan rakyat akan tersentuh dan dirasakan rakyat. Otomatis indeks kemiskinan juga turun,” ujarnya. Efisiensi keuangan berdekatan dengan korupsi. Bagaimana kiat seorang Muninjaya mencegah terjadinya korupsi jika kelak ia dipercaya masyarakat Bangli memimpin Bangli? Dengan gamblang Muninjaya mengatakan penyusunan rencana strategis harus jelas indikatornya. Ini dapat dimanfaatkan fungsi pengawasan. Dalam rencana kerja tahunan akan tertuang alokasi anggaran untuk setiap sektor. Atas dasar ini, pemegang anggaran/SKPD (Sistem Koordinasi Pembangunan Daerah) memiliki kewenangan penuh untuk memanfaatkan anggaran yang sudah dialokasikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masingmasing. Inilah yang akan menggerakkan pembangunan sektoral. Celakanya, sekarang ini masingmasing sektor masih lebih senang bekerja sendiri-sendiri. Andaikan masing-masing sektor bisa bekerja lebih terpadu sejak perencanaan disusun, niscaya akan mencegah tindak korupsi. Selain itu, media massa, partai, kampus, mahasiswa, dan LSM juga bisa diperankan sebagai kontrol sosial jika dilakukan secara efektif. Tindak korupsi sudah menjadi tradisi di negara kita. Dalam pandangan Muninjaya tradisi ini perlu dicegah dengan mengefektifkan sistem pengawasan internal dan eketernal. Sistem ini diibaratkan menyapu lantai, sapu yang dipakai harus bersih terlebih dahulu. Begitu pula halnya dengan birokrasi,

pimpinan harus bersih, tidak boleh mengembangkan proses pembenaran dari sesuatu yang sebenarnya tak sesuai dengan nurani masyarakat dan kebutuhan pembangunan. Proses pembenaran kerap terjadi dan dilakukan pimpinan karena kekuasannya tidak dilaksanakan dengan prinsip-prinsip total quality management. Selain itu, DPRD yang memiliki fungsi legislasi, pengawasan, dan penyusunan anggaran, juga dituntut bekerja secara efektif tanpa mengedepankan intrik-intrik politik. Dengan birokrasi yang bebas korupsi, niscaya pembangunan daerah akan lebih maju. Untuk itu, SDM yang cerdas adalah faktor produksi yang sangat potensial untuk menggerakkan pembangunan daerah. Karenanya, SDM di era otonomi daerah harus lebih sehat, lebih cerdas dan dikembangkan motivasinya untuk bekerja lebih produktif. Caranya, dengan membangun infrastruktur yang mampu menjangkau masyarakat luas seperti listrik, telepon, jalan, dan air. Pemerintah harus juga memikirkan untuk lebih memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat agar lebih terbuka pikirannya, berani meyampaikan pendapat melalui forum-forum seperti musyawarah pembangunan. Forum pertemuan seperti ini perlu dikelola dengan baik oleh pimpinan daerah mulai dari kepala desa sampai bupatinya, sehingga keluhan masyarakat dapat dihayati dan dicarikan solusinya. SDM tak terlepas dengan SDA (sumber daya alam). Untuk itu Bangli yang memiliki 30-40% hutan perlu dijaga kelestariannya.

Penggalian pasir yang berdampak pada kerusakan alam di sekitar Gunung Batur juga harus ditertibkan. Jika terpilih menjadi bupati, Muninjaya bertekad akan mengembangkan Bangli sebagai pusat agribisnis berbasis organik. Penggunaan pestisida secara terus-menerus akan merusak alam dan menurunklan kualitas kesehatan masyarakat. Terganggunya kesehatan masyarakat akan berdampak pada anggaran pembangunan, dan kualitas kerja masyarakat. Karenanya, program pemberdayaan masyarakat penting untuk jangka panjang. “Lima tahun memang tidak cukup, tetapi paling tidak saya akan mengembangkan dasar-dasar pembangunan Bangli yang lebih baik ke depan,” ujarnya. Berbicara tentang sosok wakil bupati yang akan mendampinginya maju dalam bursa pilbup mendatang, Muninjaya mengaku telah mengantongi beberapa nama. Paling tidak, wakilnya harus cerdas (memiliki dasar pendidikan yang baik), track record-nya juga terjamin baik, memiliki visi-misi yang sama dalam membangun Bangli, serta mendapat dukungan masyarakat luas. “Kami harus memiliki impian sama dan bisa saling melengkapi. Pemikiran kami adalah berusaha membangun Bangli yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, dan tentu harus lebih baik dari sebelumnya. Pemilihan wakil, juga harus memperhatikan geopolitik Bangli,” ujarnya. –ten


Pendidikan

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 5

D i r g a h ay u ke - 6 3 Pe r g u r u a n R a k y a t S a r a s w a t i P u s a t D e np a s a r

Maju berkat Rasa Memiliki dan Kebersamaan

K a t a

M e r e k a

IB. Yudhara Lima tahun menjadi Dewan Pembina di lingkungan PR Saraswati Pusat Denpasar menorehkan kebanggaan tersendiri bagi IB Yudhara. Peningkatan pendidikan menurut suami Tjok Istri Sri Ramaswati ini akan berhasil jika didukung oleh semua komponen dari tingkat bawah hingga atas. Di Saraswati semua telah berjalan dengan baik dan saling berkoordinasi.

Drs. Gede Putu Dirga

dok/saskara edi

I Gusti Gede Anom

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Badan Pengurus Yayasan PR Saraswati, I Gusti Gede Anom

PERGURUAN Rakyat Saraswati Pusat Denpasar genap berusia 63 tahun. Berbagai keberhasilan di segala bidang telah dicapai. Setelah sukses mendirikan Pascasarjana Lingkungan, kini telah berdiri sebuah Akademi Farmasi yang tengah diperjuangkan agar bisa menjadi sebuah perguruan tinggi. Tiga komponen yang mendukung pendidikan yakni manajemen, pemilik atau yayasan dan masyarakat telah mampu menjadikan perguruan yang berdiri sejak tahun 1946 ini terus tumbuh dan berkembang. Terbukti kini PR Saraswati tak hanya menjadi lembaga pendidikan yang besar namun juga solid dalam mewujudkan cita-citanya.

dok/saskara edi

mengembangkan pendidikan, namun semangat revolusi yang tertanam sejak PR Saraswati Pusat berdiri hingga sekarang tetap terpatri. Gede Anom menambahkan, PR Saraswati Pusat yang

kami,” katanya. Sejarah ini tetap ia kobarkan hingga kini. Tiap generasi menurut pria kelahiran Tabanan, 26 Juli 1928, ini, perlu tahu sejarah PR Saraswati agar tumbuh semangat untuk selalu berjuang memajukan pendidikan,” tambahnya. Untuk itulah tiap perayaan HUT PR Saraswati ada aktivitas berkunjung ke makam pahlawan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawan. Begitu pula kami akan berjuang dengan semangat yang dimiliki para pendahulu kita,” ucapnya bersemangat. Konsep Trihita Karana selalu diusung dalam tiap perayaan HUT PR Saraswati dari tahun ke tahun. Tiap kegiatan, menurut I Gusti Gede Anom, harus mencakup tiga

Tari Saraswati membuka perayaan HUT ke – 63 PR Saraswati Pusat Denpasar

TK 1 Saraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 244474 TK 2 Saraswati Denpasar Jalan Prof. Moh. Yamin IV No. 1 Denpasar. Tlp. (0361) 226056 TK 3 Saraswati Denpasar Jalan WR. Supratman Denpasar. Tlp. (0361) 451275 TK 4 Saraswati Denpasar Jalan Kenyeri Gang Kemuning Denpasar. Tlp. (0361) 225066 SD 1 Saraswati Denpasar Jalan Gadung No. 28 A Denpasar. Tlp. (0361) 245233 SD 2 Saraswati Denpasar Jalan Gadung No. 28 A Denpasar. Tlp. (0361) 245466 SD 3 Saraswati Denpasar Jalan Prof. Moh. Yamin IV No. 1 Denpasar. Tlp. (0361) 227017 SD 4 Saraswati Denpasar Jalan Pulau Salawati No. 4 Denpasar. Tlp. (0361) 233754 SD 5 Saraswati Denpasar Jalan WR. Supratman Denpasar. Tlp. (0361) 462529 SD 6 Saraswati Denpasar Jalan Kenyeri Gang Kemuning Denpasar. Tlp. (0361) 225066 SMP ( Sekolah Lanjut Umum Bawah) Saraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 240570 SMA ( Sekolah Lanjut Umum Atas) Saraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 263287 SMK (SMEA) Saraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 7428994 SMK ( STM) Saraswati Denpasar Jalan Soka No. 47 Denpasar. Tlp. (0361) 462018 SMK (SMF) Saraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 7426379 Sekolah Tinggi Bahasa Asing Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 228047 Universitas Mahasaraswati Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar. Tlp. (0361) 227019 Akademi Farmasi Denpasar Jalan Kamboja No. 11 A Denpasar

Satu hal yang membuat Rektor Universitas Mahasarawati Denpasar ini bangga menjadi bagian dari PR Saraswati Pusat Denpasar. Meski telah menjadi lembaga pendidikan yang besar, status perguruan rakyat tetap melekat dalam diri PR Saraswati. Terbukti biaya pendidikan terjangkau dan dapat dijangkau oleh beragam kalangan atau kerakyatan. yang lengkap, dan menyediakan tenaga pendidik yang berdedikasi. “Bukankah hal tersebut juga cara mendukung proses belajar-mengajar. Kami selalu mengikuti perkembangan pendidikan,” ungkapnya. Peringatan HUT PR Saraswati Pusat Denpasar bukan hanya bernilai seremonial, namun pihaknya mencoba ajang tahunan ini bisa dijadikan sebagai pemupuk persatuan dan kesatuan antarlembaga pendidikan yang ada di PR Saraswati. Lembaga ini memiliki jenjang pendidikan mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi yang berlokasi di tempat berbeda. “Jika kami mengadakan acara, secara otomatis keluarga besar PR Saraswati hadir berkumpul di gedung pusat Jalan Kamboja Denpasar. Mereka bisa mengenal dan bertatap muka satu sama lain,” ucap pria yang menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan PR Saraswati Pusat Denpasar sejak tahun 2000 ini. Semua unit dilibatkan dalam rangkaian HUT ke-63 PR Saraswati Pusat. Anom menegaskan meski usia Saraswati makin tua namun SDM-nya tetap muda. Caranya, pengelola pendidikan terus melakukan inovasi, pengembangan dan mengejar ketertinggalan serta regenerasi SDM agar lembaga kaya ideide besar yang berkaitan dengan dunia pendidikan. PR Saraswati Pusat Denpasar kini sedang mengejar ketertinggalan dari pesaing di luar negeri. “Banyak sekolah asing

didirikan di Bali. Kami tak ingin masyarakat lokal termasuk lembaga pendidikan menjadi kacung di negaranya sendiri,” ucapnya. Ke depan, pihaknya ingin meningkatkan pendidikan hingga ke tingkat internasional. Ia menyadari Saraswati banyak mengalami pasang surut, tapi hal itu disebutnya sebagai romantika Saraswati. “Kini meski kami sudah bisa tertawa lebar dengan hasil yang telah dicapai, namun perkembangan akan terus kami lakukan,” tambahnya. Semua jaringan pendidikan di Saraswati ia harapkan sudah bilingual (dua bahasa) yakni bahasa Inggris dan Indonesia. “Jika perlu kami akan tambah dengan bahasa Jepang dan Mandarin,” ujar Anom. Kunci keberhasilan PR Saraswati Pusat menganut sistem desentralisasi dan sentralisasi. “Tiap unit pendidikan diberikan kebebasan mengatur dan mengembangkan program pendidikan sendiri. Namun persoalan gaji karyawan dipusatkan pada yayasan,” katanya. Gede Anom menolak adanya sistem pendidikan satu atap. Baginya, pendidikan dengan sistem tersebut melanggar hak asasi manusia. “Mereka menempuh pendidikan di sini tanpa paksaan. Jika SD mereka tempuh di Saraswati, dan SMP melanjutkan di sekolah negeri, kami bebaskan. Itu hak siswa. Kami tidak memberlakukan sistem pendidikan satu atap,” tambahnya.—adv /lik

Usung Konsep Tri Hita Karana PENAMPILAN sekaa baleganjur Lila Buwana persembahan SD Saraswati 5 Denpasar mewarnai perayaan HUT ke-63 PR Saraswati yang berlangsung di aula SLUA Saraswati, Selasa (8/12). Keterlibatan berbagai pihak dari semua unit satuan pendidikan di bawah naungan PR Saraswati pusat Denpasar menjadi bukti kebersamaan di lingkungan lembaga tersebut tetap terjalin. Uniknya, sekaa gong yang tampil pada hari itu merupakan gabungan dari beragam unsur dosen, pegawai, karyawan, profesor, dan doktor. “Tak ada yang membatasi kebersamaan kami,”

ucap ketua panitia perayaan HUT ke-63 PR Saraswati Pusat Denpasar Drs. I Made Sukamerta M.Pd.. Konsep Tri Hita Karana diusung dalam perayaan HUT kali ini. Semua kegiatan mengandung unsur ketuhanan, lingkungan dan hubungan antarmanusia. “Ketuhanan dengan mengadakan matur pakeling di Pura Padmasana dan tirtayatra ke Pura Pulaki dan Melanting,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing (Stiba) Saraswati Denpasar ini. Hubungan dengan lingkungan diwujudkan dengan mengadakan bakti sosial di Pantai Mertasari Sanur. Ini sesuai

Sembahyang bersama keluarga besar PR Saraswati Pusat di pelataran Padmasana dok/saskara edi

Jenjang Pendidikan di PR Saraswati Pusat Denpasar

Tjok Istri Sri Ramaswati, S.H., M.M.

dengan tema HUT ke-63 PR Saraswati Pusat Denpasar “Melalui HUT ke-63 PR Saraswati Pusat Denpasar Mewujudkan Pendidikan Bermutu yang Mampu Bersaing di Era Global Berdasarkan Nilainilai Tri Hita Karana”. Berbagai kegiatan pun digelar salah

satunya guna meningkatkan kreativitas siswa. Sukamerta menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan dibuat guna memotivasi aktivitas dan kreativitas keluarga besar PR Saraswati baik di pusat maupun di cabang yang ada. “Kami juga ingin men-

dok/saskara edi

K

ebersamaan dan kekeluargaan mewarnai tiap gerak PR Saraswati Pusat Denpasar. Sikap itulah yang diyakini menjadi kunci keberhasilan satuan pendidikan yang meliputi pendidikan TK hingga perguruan tinggi yang bernaung di yayasan yang didirikan I Gusti Made Tamba (alm.) ini. Kebersamaan dan rasa memiliki tersebut terlihat jelas saat perayaan HUT ke63 PR Saraswati Pusat. Menurut Ketua Badan Pengurus Yayasan PR Saraswati Pusat Denpasar I Gusti Gede Anom di sela-sela perayaan HUT ke-63 PR Saraswati Pusat Denpasar, Selasa (8/12) di aula SLUA Saraswati, kebersamaan akan memunculkan sikap saling memiliki. Sikap inilah yang akan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap tugas. Ini dapat menimbulkan rasa partisipasi dalam diri untuk memajukan lembaga pendidikan ini. Meski kini PR Sarasawati Pusat Denpasar telah menjadi lembaga yang dinilai berhasil

awalnya masih terdiri atas satu tingkat pendidikan SMP yang dulu dikenal dengan sebutan SLU (Sekolah Lanjut Umum) didirikan di tengah kancah revolusi. Saat itu rakyat tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan. Para pendiri Yayasan Saraswati tak gentar. PR Saraswati tetap didirikan guna memerangi kebodohan. “Dulu pendiri Saraswati berkomitmen agar perguruan ini bisa menjadikan rakyat cerdas dengan pendidikan,” ujarnya. Gede Anom mengisahkan PR Saraswati tetap berdiri kokoh hingga sekarang meski dulu pernah menjadi korban pembakaran oleh oknum yang tak dikenal. “PR Sarasawati dianggap tempat pejuang mengenyam pendidikan dan bersembunyi, sehingga ada pihak yang membakar sekolah

hal, yakni ketuhanan, lingkungan dan hubungan antarmanusia. Usia 63 tahun tak membuat PR Saraswati berbangga hati dengan hasil kerjanya yang sudah menunjukkan peningkatan baik di bidang infrastruktur dan suprastruktur. Geliatnya makin terlihat dengan terus melakukan pengembangan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat lokal, nasional dan internasional. Menurut Gede Anom, perjalanan 63 tahun bagi Perguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar berarti bahwa peningkatan diri di dunia pendidikan tak akan berhenti dilakukan. Pihaknya akan senantiasa melakukan inovasi baik di bidang akademik maupun sarana-prasarana. “Kami juga akan senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas pengabdian diri dalam dunia pendidikan beranjak dari keberhasilan di masa lalu untuk mewujudkan visi dan misi Yayasan dan PR Saraswati membentuk sumber daya manusia yang cerdas dan kompetitif,” ujar Anom. Keinginannya menjadikan PR Saraswati bersaing ke taraf internasional makin terlihat. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain perbaikan gedung sekolah, menyiapkan sarana-prasarana pendidikan

Pria yang satu ini telah mengabdi di PR Saraswati sejak tahun 1960. Ia mengawali karier sebagai kepala SLUA Saraswati hingga kini menjadi pengawas bidang non-akademik. Semua organ di PR saraswati dinilainya penuh dengan kekompakan dan solid dalam menjalankan berbagai program salah satunya penambahan sarana-prasarana. “Dalam memutuskan sesuatu semua komponen dilibatkan dengan musyawarah. Itulah yang mmebuat saya bangga akan keberadaan PR saraswati yang besar namun tetap dalam satu-kesatuan,” katanya.

Penanaman bibit bakau di seputaran pantai Mertasari Sanur oleh seluruh keluarga besar PR Saraswati Denpasar

Jalan santai guna memupuk persatuan dan kesatuan di lingkungan Saraswati

jadikan segala kegiatan dalam rangka HUT ke-63 PR Saraswati untuk memperkokoh arti dan makna eksistensi Yayasan dan PR Saraswati pada kehidupan masyarakat serta menggugah partisipasi masyarakat agar ikut aktif membantu suksesnya pelaksanaan misi yang diemban Yayasan dan PR Saraswati,” tambah Sukamerta. Jalan santai juga menjadi kegiatan inti guna memupuk persatuan dan kesatuan keluarga besar PR Saraswati. Minggu (6/12) seluruh siswa, mahasiswa, guru, dosen, pegawai serta yayasan hadir memeriahkan acara jalan santai yang mengambil start di depan kampus pusat Jalan Melati, Surapati, Nusa Indah, W.R. Supratman dan finish di depan Jalan Kamboja. Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Pancaka Tirta Tabanan pun dilakukan guna menghormati jasa pahlawan.–adv/lik


6

Tokoh

Kiprah Wanita

13 - 19 Desember 2009

Istri Perdana Menteri Jepang

Menumbuk Jaja Uli di Raj Yamuna School ISTRI Perdana Menteri Jepang Mrs. Miyuki Hatoyama seakan tahu betul anak-anak Raj Yamuna School sudah menunggu kedatangannya sejak pagi. Usai mengucapkan “terima kasih”, pertanyaan pertama yang diajukannya saat memberi sambutan adalah, apakah anakanak di sini tidak lapar? Hadirin yang duduk di deretan undangan hanya tertawa. “Ya, saya yakin mereka lapar,” kata Miyuki lagi. Miyuki dijadwalkan hadir pukul 11.00 di Raj Yamuna School, Kamis (10/12). Tetapi, istri Yukio Hatoyama ini baru tiba pukul 12.15. Gilirannya memberi sambutan, pukul 12.30. “Biasanya anak-anak istirahat untuk makan kudapan pukul 10.00,” ujar salah satu orangtua murid yang hadir di acara itu. Pukul 12.15, jadwal makan siang. “Jelas anak-anak lapar,” katanya. Meski begitu, antusiasme anak-anak menerima kedatangan Mrs. Miyuki Hatoyama yang didampingi istri Duta Besar Jepang Nobuko Shiojiri mengalahkan rasa lapar yang menyerbu. Anak-anak dibagi dalam berbagai kelompok. Ada yang bertugas menyambut di pintu gerbang; mengalungi bunga, menabuh baleganjur, bermain drumband, dan geguntangan. Ada juga yang bertugas memasak, menari, mendemonstrasikan keterampilan menggambar, dan menyanyikan

Mrs. Miyuki Hatoyama menumbuk ‘jaja uli’ di Raj Yamuna School

lagu berbahasa Jepang. “Raj Yamuna School sangat bagus karena tidak mementingkan belajar akademis saja, tetapi juga pelajaran lain seperti tarian, musik, dan lagu-lagu,” kata Miyuki. Ia juga terkesan karena di Raj Yamuna School banyak anak-anak Jepang belajar di sekolah tersebut dan murid-murid pun belajar bahasa Jepang. Dalam lawatannya ini, Mrs. Miyuki Hatoyama menandatangani prasasti memori kunjungannya ke sekolah yang di-

naungi Yayasan Madokin itu. “Kunjungan Ibu Negara Jepang ini adalah spirit bagi Raj Yamuna School karena lawatannya ini adalah kehendak istri Perdana Menteri Jepang sendiri,” ujar I Made Okin Adnyana, S.E., M.T., M.Si. Ketua Yayasan Madokin. Sejak didirikan tahun 1979, Raj Yamuna School telah menjalin kerja sama dengan sekolah di Jepang. Tiap tahun, mereka mengadakan pertukaran pelajar dan guru. “Kami mengirim anak-anak yang berusia 9-10

Mrs.Miyuki Hatoyama menerima kenang-kenangan berupa gambar karya siswa

tahun agar orang Jepang tahu, anak-anak usia tersebut pun bisa mandiri,” kata Made Okin. “Apa nama masakannya?” tanya Mrs. Miyuki saat berhenti di stan masakan capcay. “Capcay? Apakah seperti masakan di Korea?” katanya lagi. “Ini masakan Cina,” jawab peserta. Miyuki berhenti lama saat di demo membuat jaja uli. Dia terkesan dengan tape ketan dan cara membuat jaja uli. “Ini seperti di Jepang,” ujarnya. Tanpa ragu, ia meminta alu dan menggantikan siswa yang bertugas, menumbuk jaja uli tersebut. “Tolong bahan jajannya dibalik,” pintanya pada siswa yang bertugas. Saat mengunjungi anakanak yang mendemonstrasikan keterampilan menggambar, Mrs. Miyuki mendapat kenangkenangan berupa gambar karya siswa. “Ini untuk saya? Terima kasih,” katanya senang. Senang dan bangga juga dirasakan keluarga besar Raj Yamuna. “Akhirnya bisa tidur Pak,” goda salah satu orangtua murid yang hadir di acara itu pada Okin Adnyana. “Iya, sudah empat hari ini sibuk sekali mengurus persiapan acara,” ujarnya sembari menerima ucapan selamat dari undangan. Raj Yamuna boleh berbangga, karena menjadi satusatunya sekolah yang dikunjungi istri Perdana Menteri Jepang dalam lawatannya kali ini. —rat

Dari kiri: Ketua Yayasan Madokin I Made Okin Adnyana, istri Duta Besar Jepang Nobuko Shiojiri, Mrs. Miyuki Hatoyama, Ny. Okin Adnyana, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali Wayan Suasta, S.H.

Tini Gorda, Dewi Rully, dan Rai Sudiasih Pimpin BKOW Bali

Tini Gorda Ketua BKOW Bali bersama Ketua BKOW sebelumnya Nyoman Masni

Rapat Pimpinan Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Daerah Bali Selasa (8/12), menetapkan Sekretaris Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bali, A.A.A. Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M., menjadi ketua umum BKOW Bali periode 2009 – 2014. Sekretaris umum terpilih Dewi Rully dari Wanita Islam dan bendahara umum Luh Rai Sudiasih dari Iwapi Bali. Dalam rapim yang bertema ‘‘Melalui Rapim BKOW Kita Tingkatkan Peran Perempuan Dalam Pembangunan” itu ditetapkan sebagai ketua I dari Dharma Wanita Pemda, ketua II dari WHDI, ketua III dari Bhayangkari, ketua IV dari A. Khadijah, dan ketua V dari PWKI. Wakil Sekretaris dari Dharma Wanita PU dan Wakil Bendahara dari WKRI. BKOW Bali sebelumnya bernama Badan Musyawarah Wanita Indonesia (BMWI) Provinsi Bali. Perkumpulan ini diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Kartini 21 April 1963 diketuai Ny.

Sami Merati (almarhum). Ketua BMWI/BKOW Daerah Bali sejak terbentuknya sampai tahun 2009 adalah: 1. Ni Wayan Sami (Ny. Sami Merati), tahun 1963 - 1968; 2. Tjokorda Istri Rai Pemayun (Ny. Cokorda Raka Sukawati), tahun 1968 – 1971; 3. Prof. Dra N. K. Mardani Rata, M.S., tahun 1971 – 1974; 4. I Gusti Ayu Suhaeni (Ny. I.Gst Ngurah Pindha), tahun 1974 – 1978; 5. Gusti Agung Ayu Mas (Ny. Dewa Made Beratha) (alm), tahun 1978 – 1983; 6. I Gusti

Ayu Oka Arwati (Ny. I Gst Ngoerah Gde Ngoerah), tahun 1983 – 1987; 7. Luh Putu Roosmiati (Ny. R Masudana), tahun 1987 – 1990; 8. Dra. Ni Luh Nyoman Nitha S (Ny. Ketut Subandi), tahun 1990 – 1994; 9. Ny. Masni, S.H., tiga periode, tahun 1994 – 1999; 1999 – 2004 dan 2004 – 2009. Acara serah terima jabatan Ketua Umum BKOW Bali akan berlangsung di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Bali, Selasa (15/12) pukul 10.00. —ard.

Rai Sudiasih

Dewi Rully

Daftar Winisuda XVII BALI

Angkatan 2007 - 2009 LP3I Bali

Jln. Panglima Besar Sudirman 7X Denpasar, Bali. Tlp. (0361) 264702 (Hunting), Faks. (0361) 247848

Program Business Administration 2007.05.B001.0002 Astri Sulistiani 2007.05.B001.0004 Daniel Putu Wijaya 2007.05.B001.0005 Hary Budianto 2007.05.B001.0006 I Dewa Gede Arda Dhinatha 2007.05.B001.0007 I Wayan Beni Hilmawan 2007.05.B001.0008 I Made Agustini Artha 2007.05.B001.0009 Ika Kartika Sari 2007.05.B001.0010 Jose Manuel Da Costa Soares 2007.05.B001.0011 Komang Ariastuti 2007.05.B001.0012 Dewa Putu Metayana 2007.05.B001.0013 Neni Diana Naru 2007.05.B001.0014 Ni Gusti Ayu Ketut Sutiari 2007.05.B001.0016 Ni Ketut Diah Ayu Sulistiani 2007.05.B001.0017 Ni Komang Puspita Yanti 2007.05.B001.0018 Ni Putu Lilik Erawati 2007.05.B001.0019 Novi Azanita 2007.05.B001.0020 Pande Made Sri Suwar Septiani 2007.05.B001.0021 Erfinsyah 2007.05.B001.0022 Ali Farauzy 2007.05.B001.0023 Erma Naurina Hamiatin 2007.05.B001.0025 Henggi Prionggo 2007.05.B001.0026 I Made Adhiyatna 2007.05.B001.0027 Ida Ayu Mas Indra Dewi 2007.05.B001.0029 Komang Andika Pranata 2007.05.B001.0030 Ni Komang Eryawati 2007.05.B001.0032 Wahyu Nur Iman 2007.05.B001.0033 Hita Dharmayanti 2007.05.B001.0034 I Gede Suwitara 2007.05.B001.0035 I Ketut Agus Sudana Giri 2007.05.B001.0036 Lisna Suwandewi 2007.05.B001.0037 Putu Eka Suastika Intari 2007.05.B001.0038 Yussi Apriliana Sari Program Secretary 2007.05.B002.0039 Kristiningsih 2007.05.B002.0040 Ni Putu Mirah Cristina Apsari 2007.05.B002.0041 Wina Erikawati Program Computerize Accounting 2007.05.B003.0042 Aldi Effendie Hassan 2007.05.B003.0043 Anak Agung Manik Mas 2007.05.B003.0044 Balindriani 2007.05.B003.0045 Cokorda Istri Purnamawati

2007.05.B003.0046 Dian Pramita 2007.05.B003.0047 Dirce Antonia Lapebesi S. 2007.05.B003.0048 Febrian Niriko Raka Shindu 2007.05.B003.0049 I Gusti Ag. Ayu Ardha Nareswari 2007.05.B003.0050 I Gusti Ayu Suprianthi 2007.05.B003.0051 Ida Ayu Kade Andriani 2007.05.B003.0052 Ketut Karmila 2007.05.B003.0053 Ni Luh Ayu Rahmadani 2007.05.B003.0055 Ni Luh Putu Sugianti 2007.05.B003.0056 Ni Made Eva Dwicahyani 2007.05.B003.0057 Ni Nyoman Apriyanti 2007.05.B003.0058 Petronela Maria Goreti Tukan 2007.05.B003.0059 Putu Tika Trisna Dewi 2007.05.B003.0060 Rianto Tantony 2007.05.B003.0061 Sri Utami Ningsih 2007.05.B003.0062 Ade Retno 2007.05.B003.0064 I Made Andika Putra 2007.05.B003.0065 I Made Ferykencana 2007.05.B003.0066 Made Ardi Cuardika 2007.05.B003.0067 Ni Luh Putu Febiyanti 2007.05.B003.0068 Ni Wayan Alit Sucita Dewi 2007.05.B003.0069 Nyoman Sumartawan 2007.05.B003.0070 Vicia Canser 2007.05.B003.0071 Andi Fariza Surya 2007.05.B003.0072 Arief Ridwan Nur 2007.05.B003.0073 Ni Kadek Yuli Ardianti 2007.05.B003.0074 Ni Wayan Ayu Anita Trisnadewi Program Informatics Computer 2007.05.B003.0075 Dani Da Costa 2007.05.B003.0076 Eka Wirastyawan 2007.05.B003.0077 Fahmi Fahlevi 2007.05.B003.0078 Gandi Rizal Fauzi 2007.05.B003.0079 Gawan Udayana 2007.05.B003.0080 Gede Hendra Suartawan 2007.05.B003.0081 Hendrikus Yosef Nahak 2007.05.B003.0082 Henny Esana Silalahi 2007.05.B003.0083 I Komang Rocky 2007.05.B003.0084 I Made Panji Utama Ginarsa 2007.05.B003.0085 I Made Soma Diantara 2007.05.B003.0086 I Wayan Cipta Pranata 2007.05.B003.0087 Megilliandi 2007.05.B003.0088 Mochammad Rizal Fahlevi 2007.05.B003.0089 Ni Wayan Warniati

2007.05.B003.0090 Gusti Ayu Putu Pratiwi 2007.05.B003.0091 Putu Agus Kurniawan 2007.05.B003.0092 Rasuli Ali Fiqri Aziz 2007.05.B003.0093 Kadek Rena Dwi Sutha 2007.05.B003.0094 Yulius Donny Willyano 2007.05.B003.0095 Alvin Andreas 2007.05.B003.0096 Andri Febrianto 2007.05.B003.0097 Deny Eko Susanto 2007.05.B003.0099 Samuel Teguh Sutrisno 2007.05.B003.0100 Slamet Hariyanto 2007.05.B003.0103 I Kadek Adi Yudayana 2007.05.B003.0104 Ketut Agus Suarnawa 2007.05.B003.0105 Ni Luh Gede Wahyususanti 2007.05.B003.0106 Ni Wayan Rahayu Program Travel & Tourism Business 2007.05.B003.0107 Ni Putu Ayu Wulandari 2007.05.B003.0108 Celvia Pratiwi 2007.05.B003.0109 Charles Key 2007.05.B003.0110 Enny Setyowati 2007.05.B003.0111 Gde Shandy Santika 2007.05.B003.0112 I Ketut Adi Wirnata 2007.05.B003.0113 I Wayan Arya Sutawan 2007.05.B003.0114 Merlyn Intan Julian Abineno 2007.05.B003.0115 Tri Suci Hapsari Program Public Relations 2007.05.B003.0116 Erna Ayu Wardiani 2007.05.B003.0118 Gusti Ayu Rai Trisna Indrawati 2007.05.B003.0119 Ida Ayu Vera Rianthi 2007.05.B003.0120 Kadek Marlina Elsera Dewi 2007.05.B003.0122 Ni Nyoman Miariati 2007.05.B003.0123 Novi Arie Wahyuni 2007.05.B003.0124 Prisa Dewi Ismiasih 2007.05.B003.0125 R. R. Ferraricha Isoura Cempaka D 2007.05.B003.0126 Raicho Mandala Program Susulan / Business Administration 2007.05.B003.0062 Indar Dewi Susilowati 2007.05.B003.0053 Radya Bagus Firman Rama Program Susulan / Informatics Computer 2007.05.B003.0173 Nanang Hadi Supriyanto


Bali Membangun

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 7

Bali Mandara

Setelah Setahun Kepemimpinan Mangku Pastika dan Puspayoga “SAAT masyarakat Bali memberi kesempatan, dengan dituntun dharma, bersama masyarakat pula saya akan membangun Bali. menegakkan kebaikan, mewujudkan Bali Mandara (Maju, Aman, Damai dan Sejahtera).” Begitulah, Bali Mandara adalah sumpah pada diri sendiri, sumpah dari seorang putra Bali yang dahulu memiliki darah penderitaan yang mengalir di tubuhnya, sebagai penjual rumput, sehingga ia sangat mengerti dan paham pahit getirnya hidup masyarakat kecil. Pernyataan tersebut tertuang dalam brosur kampanye Mangku Pastika yang berwarna merah, hitam, dan putih yang disebar ke seluruh Bali. Pastika bersama Drs. Puspayoga saat maju dalam pemilihan umum langsung Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Bali. Pemilihan langsung ketika itu adalah yang pertama kali dilaksanakan di Bali dan di Indonesia, yakni Pilgub Bali tahun 2008.

Puspayoga

K

ini kepemimpinan Gubernur Made Mangku Pastika dan Wakil Gubernur Puspayoga berusia lebih dari setahun sejak dilantik 28 Agustus 2008. Banyak komentar ditujukan pada pasangan ini, utamanya berkaitan dengan implementasi visi dan misi Bali Mandara yang diusung keduanya. Sebagian orang mengatakan visi Bali Mandara sudah berjalan. Sebagian lainnya mengatakan belum berjalan,

bahkan ada yang apriori dan mengatakan ‘tidak ada apaapanya dengan Bali Mandara’. Tulisan ini mencoba mengangkat fakta terbatas berkaitan dengan implementasi Bali Mandara mulai dari gambaran singkat latar belakang Bali Mandara, dirangkai dengan APBD Bali 2009. Bali Mandara adalah visi, misi, dan tekad yang dikumandangkan calon Gubernur Bali Made Mangku

Bali Lestari Latar belakang pemikiran visi Bali Mandara adalah kenyataan, Bali sudah terkenal di dunia. Hal itu terlihat dari berbagai bentuk pujian kepada Bali seperti The Island of Paradise, The Island of Thousand Temple, The Last Paradise; panorama alam Bali yang indah, jarak gunung dan laut yang dekat dan kehidupan sehari-hari manusia Bali yang lekat dengan alamnya. Adat, budaya dan apresiasi masyarakat Bali tinggi pada seni budayanya yang dijiwai ajaran agama Hindu, menjadikan Bali daya tarik yang luar biasa bagi masyarakat dunia. Sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia, Bali memang memunyai keunggulan tersendiri dibandingkan destinasi wisata lainnya. Mangku Pastika berpendapat, selama ini banyak keberhasilan dicapai Bali dalam banyak bidang. Namun, harus diakui, sejalan dengan perkembangan dunia yang makin mengglobal Bali pun menghadapi sejumlah permasalahan, tantangan, dan ancaman yang sangat kompleks. Bali kini dihadap-

Gubernur mengunjungi pasien di puskesmas setelah penanaman pohon di Nusa Penida

Gubernur menyerahkan penghagaan pada Hari Aksara

kan beragam persoalan dengan berbagai dimensinya seperti kemiskinan, pengangguran, masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kesejahteraan petani yang relatif rendah juga termasuk lemahnya sistem keamanan serta masih adanya ancaman teroris. Karenanya, untuk membangun Bali lebih baik dituntut perhatian lebih. Tidak hanya untuk menghadapi permasalahan yang belum terselesaikan tetapi untuk mengantisipasi perubahan yang bakal terjadi. Atas dasar pemikiran tersebut, Mangku Pastika berkeinginan keras menjadikan Bali Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera. Keinginan ini dipopulerkan dengan semboyan ‘Bali Mandara’. Selanjutnya semboyan tersebut ditetapkan menjadi visi dalam pencalonannya menjadi gubernur Bali bersama Drs. Puspayoga dalam posisi calon wakil gubernur. Dipastikan Bali Mandara ini lahir setelah Mangku Pastika dan Puspayoga melirik potensi, kondisi, permasalahan, tantangan, dan peluang yang ada serta mempertimbangkan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Bali. Visi Bali Mandara memerlukan perubahan paradigma selaras dengan kondisi yang akan dihadapi. Pastika dan Puspayoga berharap, Bali yang luar biasa tetap eksis, dalam arti alam, budaya dan agamanya tetap lestari. Tata guna dan penataan ruangnya juga diharapkan lestari menghadapi berbagai gempuran pengaruh global sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya masyarakat internasional yang datang ke Bali sebagai konsekuensi dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional. Bali Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera Bali Mandara adalah pandangan tentang Bali sebagai suatu entitas dan identitas yang luar biasa besar, agung, unik, khas, dan tiada duanya di dunia. Ini sesuai pengertian mandara (bahasa Sanskerta) yang berarti agung dan mulia. Mangku Pastika mengadopsi terminologi ini dengan keyakinan, manakala seluruh potensi daerah dan masyarakat Bali bisa dikelola dengan baik dan bijak, di

Mangku Pastika

atas basis kemajemukan dan semangat kebersamaan, ditambah komitmen kuat mempertahankan agama, adat istiadat dan budaya, niscaya Bali akan menjadi besar, agung, dan mulia. Bali Maju adalah Bali yang dinamis. Bali yang terus bergerak menurut dinamika pergerakan dan perkembangan dunia. Bali yang senantiasa bergerak dan maju dengan tetap menjunjung tinggi kesucian dan keikhlasan demi tegaknya dharma . Bali yang maju adalah Bali yang harus tetap mataksu yang senantiasa meningkatkan kualitas sebagai daerah tujuan wisata budaya yang andal, berkharisma, dan religius. Bali yang maju adalah Bali yang modern menurut ukuran dan tuntutan nilai-nilai universal yang tidak menyimpang atau bertentangan dengan agama Hindu dan adat istiadat di Bali. Kemodernan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan peradaban sebagai masyarakat yang berada di perkampungan dunia terbuka. Bali Aman adalah Bali

Pendidikan dan Kesehatan Kini Bali Mandara ditetapkan menjadi rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) Pemerintah Provinsi Bali. Gubernur Made Mangku Pastika secara resmi memasukkan visi Bali Mandara menjadi program pembangunan Provinsi Bali dalam rapat paripurna khusus ke-4 masa persidangan ke-3 DPRD Bali, Selasa 21 Oktober 2008. Dalam pidatonya setebal 25 halaman saat itu, Mangku Pastika mengemukakan, visi dan misi Bali Mandara akan efektif berlaku dalam periode anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Bali tahun anggaran 2009. Untuk mencapai visi Bali Mandara telah dipancangkan tiga misi besar, yaitu : 1. Mewujudkan Bali yang berbudaya, mataksu, dinamis, maju, dan modern berdasarkan Tri Hita Karana. 2. Mewujudkan Bali yang aman, damai, tertib, harmonis serta bebas dari berbagai ancaman. 3. Mewujudkan Bali yang sejahtera dan sukerta lahir batin.

rupiah), digunakan untuk melaksanakan program-program unggulan yang telah ia janjikan dengan penuh semangat saat kampanye Pilgub 2008. Tujuh program unggulan yang ia janjikan dilaksanakan. Di antara program unggulan itu, pendidikan dan kesehatan mendapat perhatian paling besar. Mangku Pastika berkeyakinan, Bali baru akan maju apabila sumber daya manusianya memiliki dasar pendidikan yang baik dan sehat. Dengan pendidikan, segala keterbelakangan, kebodohan dan ketertinggalan bisa ditanggulangi. Karenanya, alokasi anggaran untuk pendidikan tidak boleh kurang dari 20% APBD berjalan. Kalau dirupiahkan, anggaran itu lebih dari Rp.320 miliar. Dalam era Gubernur Dewa Beratha, alokasi dana pendidikan itu sudah cukup besar, namun belum mencapai 20% dari APBD berjalan. Terobosan Mangku Pastika di sektor ini adalah membebaskan anak didik jenjang SD, SLTP hingga SLTA dari uang pangkal. Ke depan, Gubernur bercita-cita membebaskan anak didik negeri dari pungutan SPP. Ia juga memberikan perhatian lebih tinggi dalam bidang pembangunan kesehatan masyarakat. Salah satu program unggulannya adalah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat dalam program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang diharapkan mulai terlaksana dalam tahun anggaran 2010. Program ini merupakan kerja sama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan pola sharing anggaran. Masih banyak program lain yang diharapkan menjadi terobosan dalam era kepemimpinan Mangku Pastika. Contoh, program pengentasan masyarakat miskin dengan bedah rumah, operasi katarak gratis bagi 1.000 penderita katarak, peluncuran kredit tanpa agunan, bursa kerja online. Selanjutnya peningkatan pendapatan petani dua kali lipat pada akhir masa jabatan

Gubernur dan Ny. Ayu Pastika usai bedah rumah di Pucang, Ban, Karangasem

yang dabdab teratur sekala — niskala. Bali yang memiliki keseimbangan antara korelasi kebutuhan hubungan antara manusia dan manusia lainnya, hubungan manusia dan alam lingkungannya serta hubungan manusia dan Tuhan sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Bali yang aman adalah Bali yang terhindar dari ancaman intervensi virus-virus ideologi yang bertentangan dengan Tri Hita Karana seperti terorisme, anarkisme, dan virus non traditional threat lainnya yang mewarnai zaman Kali ini. Bali Damai adalah Bali yang diselimuti atmosfir kesejukan lahir batin serta selalu dalam kondisi tis dan kondusif bagi kehidupan masyarakatnya. Bali Damai adalah Bali yang menggambarkan adanya komunitas masyarakat Bali, baik di perkotaan maupun pelosok perdesaan yang kental dengan suasana briyagbriyug, pakedek pakenyem. Hal tersebut sebagai indikator optimisme masyarakat dalam menatap masa depan yang menjanjikan. Bali Sejahtera adalah Bali yang sukerta sekala niskala, sebagai akumulasi diperolehnya kemajuan, keamanan, dan kedamaian.

Untuk mewujudkan misi besar itu telah ditetapkan pula sepuluh strategi, yakni: (1). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM); (2). Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat; (3). Pengembangan kepariwisataan yang berkualitas dan berkelanjutan; (4). Mengembangkan ekonomi kerakyatan; (5). Meningkatkan peran sektor pertanian; (6). Memantapkan pengembangan koperasi dan lembaga ekonomi kerakyatan lainnya; (7). Mengembangkan industri kecil dan industri menengah lainnya; (8). Memperkuat lembaga tradisional kemasyarakatan; (9). Mewujudkan ketenteraman, kedamaian serta kerukunan hidup bermasyarakat dalam kemajemukan; (10). Mengembangkan sistem keamanan yang berstandar internasional. Serangkaian proses mewujudnyatakan visi, misi, dan program Bali Mandara tersebut Mangku Pastika mengemukakan, RAPBD Bali 2009 yang dirancang sebesar Rp.1.610.445.290.918,00 (satu triliun enam ratus sepuluh miliar empat ratus empat puluh lima juta dua ratus sembilan puluh ribu sembilan ratus delapan belas

tahun 2013, inventarisasi karya budaya untuk diperjuangkan Hak Kekayaan Intelektualnya (HaKi)-nya. Memberi perhatian lebih besar pada pembangunan jaringan air bersih di daerah kering yang menjadi kantong kemiskinan Bali seperti di Kubu, Seraya, Nusa Penida, dan Buleleng. Melaksanakan efisiensi anggaran dan pengamanan Bali melalui sistem pengamanan berstandar internasional serta sejumlah program lainnya. Dengan berbagai progam terobosan yang merupakan implementasi sebagian visi Bali Mandara, Mangku Pastika dan Puspayoga berharap, Bali benar-benar makin maju, aman, damai dan sejahtera. Sebagaimana pernyataan Made Mangku Pastika lainnya dalam brosur kampanyenya. Baginya selama ini, Bali telah banyak memberikan inspirasi. Bali juga memberikan makna begitu besar pada hidupnya. itu ia ingin mewujudkan baktinya pada Bali, mengingat dirinya sangat mencintai Bali. Mangku Pastika menyatakan ingin berbuat tiap saat juga ingin bekerja sebaik-baiknya untuk masyarakat Bali; mengabdi untuk tanah Bali. –adv/ard/rai.


Tokoh

Nusantara

13 - 19 Desember 2009

Warga Majelis Taklim Fadilah

Tak Takut lagi Mandikan Jenazah BANYAK aktivitas sosial perempuan muslim di perkotaan maupun di perdesaan yang bersifat otonom. Walaupun dalam struktur mereka merupakan bagian atau seksi organisasi warga muslim yang dipimpin laki-laki, namun dalam kegiatannya banyak di antara kelompok mereka yang mandiri. Bahkan ada yang membentuk majelis taklim khusus perempuan. Misalnya, Majelis Taklim Fadilah.

R

abu lalu, puluhan p e r e m p u a n berbusana batik dan berkerudung putih tampak berjalan menuju lokasi masjid di Dusun Sari Buana, Desa Tegal, Denpasar. Anggota Majelis Taklim Fadilah pimpinan Hj. Suwartiningsih ini akan menghadiri acara pengajian “Tiap Senin dan Rabu selepas waktu asar sebelum magrib kami mengaji di musala Al Muhajjirin atau di gedung PT Ali Jaya karena belum punya musala sendiri,” katanya kepada Koran

Hj. Suwartiningsih

Tokoh, Rabu (9/12). Dalam tiap acara pengajian mereka belajar membaca Alquran dan menambah ilmu pengetahuan agama. “Sebelum Majelis Taklim Fadilah terbentuk, kaum perempuan muslim di Dusun Sari Buana ini tergabung dalam organisasi Rukun Warga Muslim (RWM),” ujarnya. Sebelumnya Suwartiningsih menjabat wakil ketua Majelis dan kini menggantikan posisi Nur Asmoro (alm) sebagai ketua. Ia menceritakan, ketika masih bergabung dalam RWM, warga perempuannya kurang aktif karena sebagian memandang suami atau kaum lelaki saja yang aktif dalam kegiatan RWM. “Alasannya di rumah menjaga anak-anak sementara suami yang pergi mengaji,” katanya. Dengan terbentuknya Majelis Fadilah tahun 2004, warga perempuan mulai aktif dalam kegiatan majelis yang kini beranggota 196 perempuan terbagi dalam 10 kelompok. “Kegiatan kami buka hanya pengajian, tetapi juga belajar keterampilan serta mengikuti kegiatan Forum Komunikasi

Kegiatan tumpengan untuk merayakan ulang tahun Majelis Taklim Fadilah

Majelis Taklim Indonesia (FKMTI) yang sekretariatnya di Jalan Teuku Umar Denpasar,” ucap istri H. Moch. Sutaman ini. Kegiatan FKMTI yang diketuai Dra. Hj. Lailatut Arofah, M.H. yang pernah diikuti warga Majelis Fadilah ini di antaranya Festival Ketupat Lebaran 15 November lalu. Jenazah dan Kasidah Menurut perempuan yang pernah menjabat ketua Pengajian Almutaqqin saat masih menempati rumah kontrakan di Perumnas Monang-Maning

“Denpasar Festival” Tutup Tahun 2009 DI pengujung tahun 2009 ini, Jalan Gajah Mada dan kawasan Catur Muka (titik 0 km Denpasar) akan kembali menjadi pusat berlangsungnya perhelatan besar, “Denpasar Festival”. Kegiatan ini berlangsung 28 – 31 Desember 2009. “Denpasar Festival” yang sebelumnya dikenal dengan “Gajah Mada Town Festival”, menurut Sekretaris Kota Denpasar A.A.N. Rai Iswara yang didampingi Kabag Humas dan Protokol Kota Denpasar Made Erwin Suryadarma Sena, merupakan perayaan akhir tahun yang terbuka untuk umum dan menampilkan keragaman, kekayaan ekspresi, dan kreativitas yang lekat dengan Kota Denpasar. Agenda Festival meliputi pameran, seminar, aneka Rai ragam hiburan seni dan budaya tradisional maupun modern. Temanya, “Meraih Gemilangnya Hari Esok”. Menurut Rai Iswara, kegiatan ini berdasarkan atas keyakinan yang berakar pada kearifan dan retorika sejarah yang melahirkan spirit. “Ada enam pilar nilai yakni tradisi dan budaya, ekonomi, multikultur, humanis, nostalgia, dan sumber inspirasi, yang akan membuat festival ini semarak,” tandasnya. Tradisi dan budaya, tergambar dalam kehidupan kota dan interaksi sosial dengan atmosfir desa pakraman di tengah kota dan aktivitas ekonomi tradisional. Pilar ekonomi, sebagai inti aktivitas kota Denpasar. Nilai multikultur, tergambar dari adanya hubungan yang harmonis multietnik di kawasan kenangan ini. Pilar humanis, tercermin dari semangat hidup dan etos kerja masyarakat Bali. Nostagia dan sumber inspirasi, sebagai ekspresi sejuta spirit yang terlahir dari kenangan kawasan ini. Untuk merefleksikannya, kawasan Gajah Mada akan dibuat dalam enam zona. Zona industri dan perdagangan atau zona A di timur perempatan Jalan Sulawesi – Kartini, dengan membuat Denpasar great sale dan Gajah Mada Fair. Zona B, di timur perempatan jalan Arjuna – Sumatera, dengan mengetengahkan Denpasar Kuliner Festival. Zona C, di Jalan Veteran depan Bali Hotel digelar Denpasar Textile, dengan acara fashion on the street

dan Denpasar Textile Exhibition. Di zona D, terdapat ruang komunitas dan layanan publik di kawasan Patung Catur Muka. Zona E, di depan Pura Jagatnatha dan Museum Bali, digelar Denpasar Florikultura Nasional 2009. Zona F, di panggung bagian selatan Lapangan Puputan Badung akan digelar kegiatan kreativitas, seni, dan budaya Denpasar sekaligus sebagai tempat puncak acara “Melepas Matahari 2009”. Selain melibatkan usaha menengah kecil dan mikro serta pengusaha lokal, “Denpasar Festival 2009” juga mengundang BUMN yang selama ini bekerja sama dengan Pemkot Denpasar dalam Iswara berbagai kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). “Denpasar Festival 2009” yang diketuai Bendesa Adat Pakraman Denpasar A.A. Putu Oka Suwedja juga akan menampilkan seniman asal desa pakraman Denpasar yang memiliki potensi seni secara turuntemurun. “Kami berharap, festival ini menjadi milik warga Kota, milik kita bersama. Sehingga menjadi satu agenda tahunan yang sangat dinanti-nanti,” tandas Rai Iswara. —wah

Blok III ini, perempuan muslim juga perlu belajar memandikan jenazah. Oleh karena itu, warga majelisnya juga sudah diberi keterampilan memandikan jenazah. “Ini diperlukan ketika yang meninggal, perempuan,” katanya. Sebelumnya jika ada warga perempuan yang meninggal, cukup repot mencari tenaga yang memandikan di kalangan perempuan. “Dengan pelatihan keterampilan ini perempuan warga Majelis Fadilah kini tidak takut lagi, dan bisa memandikan jenazah perempuan secara benar ,” katanya. Ia mengungkapkan sebagian warganya menempati rumah kos-kosan. Jika meninggal ada kalanya pemilik kos tak mengizinkan jenazah dimandikan di tempat kosnya sehingga harus dibawa ke musala. Kegiatan tersebut memerlukan biaya.

Majelis pun memerlukan biaya konsumsi dan biaya lain saat mengikuti pengajian di luar wilayah kelompoknya. “Karena itu kami memungut iuran anggota tiap bulan Rp 2 ribu,” katanya. Anggota Majelis Fadilah kini juga belajar menyanyi dengan membentuk grup musik kasidah yang beranggota 15 orang. “Ada juga kegiatan rutin arisan di kalangan pengurus,” kata ibu dua anak ini. Menurut perempuan yang akrab disapa Hajah Taman ini, kegiatan arisan para pengurus yang terdiri atas 33 orang bisa dimanfaatkan sebagai sarana pertemuan untuk membahas program kerja dan usulan kegiatan. “Kami secara rutin juga mengadakan kegiatan sosial memberi santunan kepada janda miskin dan anak yatim,” katanya. -tin

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

8

SEPUTARKITA

Wisuda LPBA dan Poltek Ganesha Guru SEBANYAK 116 lulusan Poltek Ganesha Guru dan LPBA diwisuda, Kamis (10/12) di Mutiara Ballroom Hotel Nikki Denpasar. Program D-3 Poltek Ganesha Guru sebanyak 13 orang yang meliputi lima jurusan Komputerisasi Akuntansi, delapan jurusan Manajemen Informatika. Untuk program dua tahun LPBA sebanyak 37 orang dan program satu tahun 66 orang. Lulusan terbaik program satu tahun LPBA Ahmad Andika Nursani Jurusan Teknik Informatika, program dua tahun I Made Hendrayana Jurusan Desain Grafis, dan Ni Made Purnamasari D-3 Poltek Ganesha Guru Jurusan Komputerisasi Akuntansi. Menurut Direktur LPBA dan Poltek Ganesha Guru, Dra. Ni Made Astiti M.M.Kom., sampai saat ini mayoritas lulusan Poltek Ganesha Guru dan LPBA terserap dunia industri. Sedangkan Ketua Yayasan Ganesha Guru Nusantara Drs. Dadang Hermawan, Ak., mengatakan Poltek Ganesha Guru dan LPBA memiliki program jaminan penempatan tenaga kerja bagi lulusan di perusahaan yang menjadi mitra kerja. Wisuda juga diselingi penandatanganan perjanjian kerja sama dengan beberapa mitra kerja. —adv/ast

Seminar BEM FK Unud BADAN Eksekutif Mahasiswa Kedokteran Unud bekerja sama dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) menyelenggarakan “Forum Mahasiswa Berbicara Nasional 2009”, (1-3/12) di Hotel Puri Nusa Indah Sanur dan Ruang Theater Widya Sabha FK Unud. Tampil pembicara saat seminar Prof. Ketut Sukardika dan Prof. Muninjaya dengan tema Road to ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2010: One Step Closer Towards Global Health Challenge”.Tujuan acara, menampung ide kritis dan solutif dari rekan sesama calon tenaga kesehatan dalam menyikapi isu sentral persiapan menuju AFTA 2010. —ast

Wisuda XVII LP3I Bali LEMBAGA Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Bali mewisuda 118 sarjananya di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Sabtu (12/12). Kegiatan ini merupakan wisuda XVII LP3I Bali. Lulusan dengan predikat terbaik diraih Julius Dodi Wiliano dengan IP 3,63 dari jurusan Informasi Komputer. Terbaik II Ni Luh Gde Wahyu Susianti dengan IP 3,55 dari jurusan Informasi Komputer, dan lulus terbaik III Ni Luh Putu Lilik Hermawati IP 3,45 dari jurusan Bisnis Administrasi. Dirut LP3I Bali Dra. Ni Nengah Wardani, M.M., mengatakan LP3I Bali terus mengembangkan dengan konsep link & match yakni kurikulum berbasis kebutuhan perusahaan dan istansi yang ada. “Kami memberikan bukti bahwa 90% lulusan LP3I telah diterima bekerja di perusahaan relasi di seluruh Indonesia,” katanya. Dalam acara wisuda ini juga dilakukan penandatangan MoU LP3I Bali dengan Grand Istana Hotel dan Bali Kuta Conventional Resort Center. —tin

Fosiba Gali Dana Gunakan Kisma SUASANA rumah H. Ismoyo S. Soemarlan tiap Kamis selalu ramai. Hampir sebagian besar lantai dasar rumahnya digunakan sebagai tempat pengajian tafsir Alquran yang diasuh H. Kusnadi Mustofa. Komunitasnya disebut Forum Studi Islam Bali (Fosiba) yang mulai aktivitasnya sejak tahun 2001. “Kami tidak ingin mengikat jamaah dengan peraturan administrasi atau organisasi. Siapa pun bisa ikut pengajian kami,” kata Ismoyo. Pengajian Fosiba memiliki tiga lokasi yakni Fosiba Gatsu Timur, Tegal Buah, dan Jimbaran. “Awalnya hanya ada satu Fosiba. Namun, karena jarak tempat tinggal yang berjauhan, kami memecah diri menjadi tiga. Saat ada perayaan hari raya atau ada jamaah kami yang memiliki hajat, kami berkumpul,” ujar suami Sari Prasetya Angkasa ini. Seperti malam itu, Senin (7/ 12), banyak anggota Fosiba berkumpul di rumah anggota Fosiba H. Agus. Mereka tengah menyambut kedatangan H. Agus dan istrinya, Hj. Rindang, dari menunaikan ibadah haji. Ibadah haji dan umroh yang dianggap sulit lantaran terganjal biaya disiasati forum ini dengan menyediakan kaleng mirip celengan yang mereka sebut Kisma (Kotak Istiqomah

anggota yang dananya kurang, kami bergotong royong membantu. Yang penting sudah ada usaha dengan menabung,” tambah lelaki kelahiran 22 Januari 1965 ini. Ismoyo menjelaskan, menggunakan Kisma bisa memacu tiap individu untuk ingat bersedekah. Untuk itu ia mengimbau agar kaleng Kisma diletakkan di tempat strategis yang mudah dijangkau dan sering terlihat.

H. Ismoyo. S. Soemarlan

Amal). Rata-rata tiap anggota memiliki Kisma. “Satu Kisma untuk sedekah, satu lagi untuk tabungan umroh yang mereka simpan secara pribadi,” ujar Ismoyo yang juga pimpinan Uma Sapna Villa ini. Sebulan sekali kaleng Kisma yang berisi hasil tabungan para anggota diserahkan kepada koordinator. “Kisma untuk umroh ditabung anggota yang bersangkutan. Ada juga yang menyimpan di rekening bank lewat Fosiba. Kisma khusus sedekah kami kumpulkan dan serahkan kepada yang berhak,” kata pria yang aktif di Bali Tourism Board ini. Berkat Kisma banyak anggota yang telah melakukan umroh. Sekitar 28 orang yang telah umroh ke Mekah. “Bagi

Punya Ambulance Anggota Fosiba yang terdiri atas beragam kalangan, termasuk pengusaha, ibu rumah tangga dan remaja ini, juga memanfaatkan hubungan silaturahmi dengan membuka informasi lowongan pekerjaan atau yang berhubungan dengan

H. Ismoyo Soemarlan bersama Fosiba dan anak yatim

Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi lahir tahun 1954 merupakan murid Shri Maharaj Shivabalayogi. Sejak usia 19 tahun diinisiasi ke tahap Sanyasin, sebuah kehidupan yang penuh dengan pengabdian dan pelayanan murni kepada Tuhan dan Guru. Sejak 1994, Shri Shivarudra Balayogi memulai perjalanan baru dalam bentuk praktik spiritual Tapas, bermeditasi rata-rata 20 jam sehari secara terus-menerus selama 5 tahun. Puncaknya adalah tercapainya tujuan dari semua bentuk spiritualitas yaitu realisasi terhadap kesadaran Tuhan yang tak terbatas. Saat ini Beliau berkeliling dunia menjalankan misiNya mengajak umat manusia untuk meningkatkan cinta kasih dan mencapai kesadaran Tuhan melalui praktik meditasi dhyana yang dilakukannya dengan pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih. Beliau akan berada di Bali untuk sebuah program Darshan pada: Hari, tanggal : Kamis, 24 Desember 2009 Tempat : Gedung DPRD Bali Renon, Denpasar Pukul : 17.30 wita

Acara Hari, tanggal Tempat Pukul Acara Hari, tanggal Tempat Pukul Acara

usaha. “Kami punya milis. Di situ, anggota bisa memberi beragam informasi seperti lowongan kerja,” katanya. Pengajian yang digelar juga banyak diisi bertukar pikiran terkait perjuangan warganya dalam proses mencapai sukses dalam kehidupannya. Fosiba kini memiliki 500 anggota (sekitar 250 KK). Hal ini memicu Fosiba membentuk Rukun Kifayah atau Rukun Kematian. Dua bulan lalu, Rukun Kifayah Fosiba telah memiliki sebuah mobil ambulance lengkap sarana yang dibutuhkan dalam proses pengurusan warga yang meninggal. “Fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan siapa saja tak pandang agama atau sukunya,” ujar Ismoyo yang juga menjabat ketua Bazda Kota Denpasar ini. —lik

: Agni Hotra : Sabtu, 26 Desember 2009 : Gedung Kesenian Gede Manik, Jln. Udayana Singaraja : 17.30 wita : Agni Hotra : Minggu, 27 Desember 2009 : Gedung Laksmi Graha, Jln. Ngurah Rai Nomor 1 Singaraja : 17.30 wita : Inisiasi, Meditasi Dyhana dan Tanya Jawab

Bapak/Ibu/Saudara diundang dalam program tersebut. Ajaklah keluarga dan teman Anda dan terimalah berkah dari Yogi yang mulia ini agar dapat menjalani kehidupan ini dengan baik. Pakaian adat madya atau bebas rapi.

Informasi lebih lengkap hubungi tlp. 087861243399 dan 081338712444

GRATIS


Usaha

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 9

Penjual Susu Kedelai di Mataram

Ke Rumah Pelanggan tiap Pagi LOMBOK, NTB, dikenal dengan tahu dan tempenya yang enak dan renyah. Makanan berbahan baku kedelai ini telah memiliki sentra-sentra pembuatannya yang tersebar di Mataram dan sekitarnya, seperti Kekalik Ampenan dan Abian Tubuh Cakranegara. Tiap pagi, di sela-sela kesibukan para pekerja membuat tahu dan tempe, perasan sari-sari kedelai yang gurih yang biasa disebut susu kedelai, bisa dinikmati dalam keadaan panas dan hangat. Susu kedelai yang kaya vitamin, protein dan rendah kolestrol ini memiliki banyak manfaat, seperti menurunkan kadar kolestrol, mencegah kanker payudara, mencegah kelainan jantung, mencegah rapuh tulang, meningkatkan daya tahan tubuh, menyehatkan anak dan ibu hamil, memenuhi 30% kebutuhan protein sehari dan juga bisa menghaluskan kulit. “Susu kedelai mengandung Vitamin E yang sangat baik untuk menghaluskan kulit,” kata Nyoman Widarmini, ahli gizi, di Mataram. Mimin, panggilan akrabnya, menganjurkan untuk mengonsumsi susu kedelai, karena nilai proteinnya tidak kalah daripada susu full cream. Penyuka susu kedelai di Mataram tidak hanya bisa mendapatkan susu kedelai di sentra-sentra pembuatan tahu. Kini sudah ada yang bersedia mengantarnya hingga ke rumah-rumah pelanggan tiap pagi. Di Mataram susu kedelai sudah dijajakan dengan rombong yang menetap selain yang dijajakan berkeliling menggunakan sepeda. Sentra pembuatan tahu dan tempe, seperti Kekalik Kijang dan Kekalik Gerisak, Taman Baru dan terutama Abian Tubuh,

memprodusir susu kedelai di sela-sela pembuatan tahu. Abdul Aziz dan istrinya yang bertempat tinggal di Montong, Lombok Barat, sejak tahun 2006 menekuni usaha rumah tangga pembuatan susu kedelai. Azis biasanya berdagang susu kedelai berkeliling di Kota Mataram, sedangkan istrinya berjualan susu kedelai di salah satu kompleks sekolah dasar di Montong. Untuk memikat minat anak-anak, mereka memberi sentuhan rasa susu kedelai dengan berbagai rasa buah, seperti strawberi, melon dan jeruk. Di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Ampenan, Kebon Roek, Pasar Perumnas, Pasar Pagesangan, tiap pagi susu dengan harga Rp 1000 per bungkus itu bisa didapat dalam keadaan masih hangat. – nik

Segarnya Susu Kedelai yang masih Hangat

Badrul dan rombong es susu kedelai

Suyanto

Daur Ulang Mebel Jati J

ENIS usaha yang ditekuni Suyanto memang agak unik yakni mendaur ulang material kayu jati bekas untuk dijadikan mebel dengan desain lama. Material jati bekas itu berasal dari rumahrumah kuno tradisi Jawa, perabot-perabot perlengkapan rumah tangga bahkan bantalan rel kereta api. Yang namanya barang bekas, tentu tidak semua kayu jati itu masih terlihat mulus. Seperti material jati bekas bantalan rel kereta api misalnya, meski terlihat masih kokoh namun tidak utuh lagi. Atau, lemari satu pintu yang sana sini terlihat lubang-lubang bekas di makan rayap. Tetapi, ditangan Suyanto, material yang sudah Suyanto tidak mulus itu dibentuk kembali menjadi mebel yang terkesan yang terkenal kekuatannya, antik. Justru di sanalah daya juga karena kesan antik dari tariknya, selain pada kayu jati produk tersebut.

Kerajinan kayu jati karya Suyanto

“Di kampung saya Ngawi, hampir kebanyakan warganya adalah pengrajin kayu jati karena material itu mudah didapat. Karenanya saya harus pandai-pandai memilih jenis usaha agar tidak sama. Kebetulan belakangan sedang tren kerajinan daur ulang, maka saya pilih daur ulang kayu jati bekas untuk dijadikan mebel, perlengkapan rumah tangga, juga gazebo atau rumah joglo,” tutur Suyanto, saat berbincang dengan Koran Tokoh. Ternyata usaha yang digelutinya sejak 5 tahun lalu ini mendapat respons bagus, khususnya dari konsumen penyuka kayu jati. Mereka tidak masalah kalau kayu jati yang dijadikan produk mabel adalah kayu jati bekas. Mereka juga tidak masalah kalau tampilan produknya tidak kinclong, malah sebaliknya terkesan tua. “Ya, kebanyakan konsumen tidak suka warna-warna ngejreng, mereka suka natural. Justru mereka datang ke saya karena desain-desain produknya tradisional. Itu memang saya sengaja, tidak menyentuh desain modern kecuali atas permintaan konsumen. Begitu juga warna, saya tetap pertahankan warna natural, kecuali konsumen menginginkan warna berbeda,” tuturnya Suyanto yang dulunya petani ini. Harga produk yang ditawarkan relatif jauh lebih murah ketimbang membeli mebel jati baru. Berburu Rumah Untuk mendapatkan material jati bekas, Suyanto rajin berburu rumah-rumah jati tradisi Jawa yang ternyata banyak dijual pemiliknya. Untuk itu Suyanto membelinya secara borongan, proses selanjutnya, ia memisahkan material jati dan bukan jati. “Hanya material jati yang kami manfaatkan kembali,

Lumbung padi yang di jadikan rumah Joglo

sedang kayu jenis lain tidak. Kami memang khusus produk jati, meski kalau ada konsumen minta dari kayu jenis lain, tetap dilayani. Material rumah yang dipreteli itu, kemudian dibentuk menjadi aneka produk perlengkapan rumah tangga,” tuturnya. Ia menyarankan, buat para penggemar jati bekas, atau menginginkan rumah jati tradisi Jawa, bisa berburu di kampungkampung di Pulau Jawa, karena banyak yang menjual. Harganya rumah bekas itu relatif murah, begitupun ongkos angkutnya. Kayu jati yang didapat adalah kayu jati tua bukan muda seperti mebelmebel jati yang banyak dijual sekarang ini. “Perizinan angkutnya pun mudah karena tak perlu izin Dinas Kehutanan,” tambahnya. Salah satu hasil buruan Suyanto adalah lumbung padi yang diperkirakan berusia 100 tahun lebih dari warga Sumber Bening, Ngawi. Lumbung padi ini, diakui pemiliknya, telah bertahan selama empat generasi. “Yang menjual ke saya adalah generasi keempat, usianya sudah 70 tahun,” jelasnya. Karena melihat lumbung padi ukuran 2,5 x 3 meter itu ternyata masih kokoh, kayunya pun masih terlihat mulus, Suyanto merasa sayang kalau harus mempereteli material itu. Justru ia mendapat ide untuk memodifikasi menjadi rumah joglo yang menarik. Tak heran ketika rumah joglo itu dipamerkan, mendapat banyak perhatian pengunjung. Sebagian dari mereka memanfaatkan untuk foto-foto. “Memang banyak yang tertarik, malah ada yang bertanya apakah ini rumah tahan gempa. Saya tentu saja tidak berani menjawab, iya, karena kan untuk membuat rumah tahan gempa ada standarnya sendiri. Kalau saya bilang iya, nanti kalau ada gempa lalu, rubuh, bagaimana? Meski saya juga tahu kalau rumah kayu, bambu, lebih tahan terhadap getaran. Apalagi rumah kayu tradisi penduduk, kan, tidak menggunakan paku sebagai pasak. Lihat ini, joglo ini menggunakan bambu

sebagai pasak. Ini memang sudah ‘pakem’ dari nenek moyang, kalau pasangan jati adalah bambu. Jangan pakai besi, karena besi akan ‘memakan’ kayu,” jelasnya panjang lebar. Cukup banyak yang tertarik membeli joglo dari lumbung padi itu, namun Suyanto belum melepas. “Tawaran terakhir Rp 20 juta, saya kasih harga Rp 30 juta nego,” katanya. Laris Manis Menurut Suyanto, pameran yang diikutinya sekarang sangat menggembirakan. Respons pengunjung sangat bagus, hampir sebagian besar produknya telah terjual. Padahal ia datang dengan membawa produk jati daur ulang sebanyak 2 kontainer. Bisa jadi tingginya tingkat keterjualan karena harganya yang “miring”. “Dagangan saya habis! Yang tersisa hanya rumah joglo dan dua kursi. Saya juga mendapat pembeli yang berjanji untuk membantu penjualan ekspor,” kata Suyanto yang juga giat membudidaya tanaman bonsai. Suyanto terjun ke usaha kerajinan kayu jati karena sudah tradisi turun temurun. Orangtuanya pun pengusaha kerajinan jati, juga karena lingkungan desanya di Ngawi yang hampir sebagian besar adalah pengrajin kayu jati. Hal ini karena material kayu jati berlimpah dan dapat diperoleh

BOTOL-botol susu kedelai yang kental tampak berjejer di dapur sederhana Badrul, salah seorang penjual susu kedelai. Uap hangat masih mengepul dengan aroma yang segar. Rasa gurih ekstrak kedelai ini saat diminum tidak meninggalkan kerasnya aroma kedelai yang biasa mengganggu. Aroma kedelainya nyaris tak terasa. Beberapa penyuka susu kedelai memang mengeluhkan kerasnya aroma kedelai dalam susu kedelai sehingga mereka sering merasa terganggu. “Salah satu penyebab kerasnya aroma kedelai dalam susu kedelai, karena terlalu encer dan cara prosesnya yang kurang baik. Bisa juga karena kualitas kedelainya yang kurang baik,” tutur Badrul. Secara fisik, kedelai yang baik akan terlihat warnanya mengkilat, bersih bening. Kedelai yang dipakai Badrul juga kedelai baru. Kedelai lama akan menghasilkan susu yang warnanya buram, tidak putih bersih, susah diperas, dan mudah basi. Pembuatannya, dimulai dari mencuci kedelai hingga bersih kermudian direndam semalaman. Setelah itu digiling dengan sedikit air hingga halus. Menggilingnya bisa menggunakan jasa di pasar atau di penggilingan kedelai yang sudah tersedia, sehingga tidak perlu membeli gilingan sendiri kalau hanya satu atau dua kilogram. Lalu, tiap satu kilogram kedelai giling ditambah lebih kurang 10 liter air, dimasak hingga mendidih di atas api yang sedang-sedang saja. Kalau apinya panas sekali, susu akan pecah. Setelah mendidih dan diangkat, diamkan sekitar setengah jam agar susu yang dihasilkan tidak cepat basi. Setelah itu diperas menggunakan kain kasa dan saringan berlapis untuk memisahkan ekstrak kedelai dengan ampasnya. Susu kedelai kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol sambil disaring sekali lagi. Botol-botol yang dipakai untuk mengisi susu, harus bersih dan kering untuk menjamin kadar higienisitasnya dan siap dijual. Satu botol berukuran 650 ml dijual Rp 6.000. Satu gelas susu kedelai dingin, Rp 2.000-Rp 2.500. Tiap 25 gram susu kedelai mengandung 6,225 gram protein, kalori 82,75 kkal, lemaknya hanya 4,525 gram, sedangkan susu full cream proteinnya 6,15 gram, 127 kkal dan 7,5 gram lemak. Ahli gizi Mimin menjelaskan, susu kedelai baik untuk pertumbuhan mampu mengganti sel-sel rusak yang membutuhkan protein makanan lebih tinggi. Kelebihan lain susu kedelai cair dibandingkan tahu atau tempe yang juga terbuat dari kedelai atau susu kedelai bubuk, adalah lebih mudah diserap dan dicerna. Kedelai dalam bentuk tahu atau tempe atau bubukan susu, perlu dikunyah dan perlu diremas dalam lambung terlebih dahulu sehingga penyerapan sari-sari nutrisinya agak lambat.- nik secara gratis. “Jadi warga yang ingin jadi pengrajin tak perlu modal membeli material, karena Perhutani memberikan sisa-sisa kayu secara gratis, sebagai gantinya, warga diminta membantu pada musim tanam. Warga juga diperbolehkan mengambil akar-akar jati yang masih tertanam. Buat Perhutani, kerja sama ini menguntungkan karena masyarakat ikut membantu mengangkat sisa-sisa akar jati sehingga tidak menggangu pertumbuhan kayu jati baru,” jelasnya. Kerajinan jati Ngawi telah terkenal dan menjadi salah satu agenda tur. “Banyak wisatawan asing datang. Saya pun awalnya ikut membuat kerajinan kecilkecilan. Ternyata cukup laku, akhirnya saya beralih ke usaha daur ulang. Nah, bisnis ini

ternyata lebih cepat berkembang, mungkin karena belum banyak pemainnya dan harganya pun bersaing,” ujar Suyanto. Diakui Suyanto, unsur promosi dan relasi sangat penting bagi pengembangan usahanya. Untuk pengrajin bermodal pas-pasan seperti dirinya dan pengrajin lain di kampungnya, hal ini adalah masalah tersendiri. “Harus rajin promosi, pameran, juga menjalin relasi. Masalahnya semuanya terbentur uang, biaya. Kalau pameran di Jakarta misalnya, kan butuh biaya. Teman-teman pengrajin di kampung saya, sudah takut duluan kalau membayangkan biaya tinggi. Padahal bagi yang sudah tahu, sebenarnya tidaklah seperti itu. Kita bisa pakai fasilitas Dinas Perindustrian setempat,” tegasnya. —dia

Bangku dari bantalan rel kereta api


10

Tokoh

13 - 19 Desember 2009

Korban Trafficking Terjebak di Sarang Laba-laba Di NTB, Tahun 2006-2008, 156 Korban PERDAGANGAN manusia atau yang dikenal dengan human trafficking telah menjadi fenomena global yang terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Fenomena ini tidak hanya merupakan fenomena sosial biasa melainkan telah menjadi fenomena pelanggaran hukum dan HAM. Kejahatan perdagangan manusia selalu menimbulkan akibat yang sangat serius bagi korban dan keluarganya, masyarakat maupun negara.

Beauty Erawati

D

I Indonesia, undang-undang pemberantasan perdagangan manusia sebenarnya telah cukup lengkap dan memadai dengan lahirnya UU nomor 21 tahun 2007. Namun, sejauh ini, menurut Kombes Pol. Dr. Purnawirawan Irawati Harsono, Ketua Derap Warapsari, salah seorang fasilitator dalam kegiatan Pelatihan Penanganan Kasus Trafficking Bagi Aparat Penegak Hukum di NTB, yang diselenggarakan oleh LBH APIK NTB beberapa waktu lalu, belum maksimal berlaku. “Undang-undang ini baru

berusia dua tahun, aparat penegak hukum kita juga masih belajar,” ujarnya. Seiring berjalannya waktu, aturan ini diyakini bisa melindungi warga negara Indonesia dari kejahatan perdagangan manusia. Pelatihan yang diikuti 30 aparat penegak hukum dari unit PPA kepolisian s e - N T B , kejaksaan dan hakim ini, diselenggarakan APIK untuk men y a t u k a n persepsi aparat penegak hukum dalam penanganan tindak pidana kejahatan manusia. Mengingat begitu seriusnya akibat yang ditimbulkan kejahatan perdagangan manusia ini, dunia internasional memiliki komitmen yang sangat kuat untuk memberantasnya. Aparat penegak hukum di Indonesia termasuk NTB pun, memiliki komitmen yang sama untuk menindak tegas pelaku perdagangan manusia. Akhir-akhir ini, kejahatan trafficking terus meningkat. Berdasarkan data IOM dari bulan Maret 2005 hingga Juli 2006 ada 1.231 WNI menjadi korban trafficking. 55% korban di ekploitasi pada sektor pekerja rumah tangga, 21% pelacuran

paksa, 18,4% pekerjaan formal, 5% dieksploitasi pada tahap transit (khusus buruh migran), dan 0,6% perdagangan bayi. Kasus-kasus yang dibawa hingga ke meja pengadilan kurang dari 1% secara nasional. Di wilayah Polda NTB, menurut Kombes Pol. Drs. William Lameng, Direskrim Polda NTB yang mewakili Kapolda NTB memberikan sambutan pada kegiatan ini, dalam tahun 2008-2009 dilaporkan terjadi 34 kasus perdagangan manusia. “Yang memprihatinkan, ternyata daerah NTB bukan hanya sebagai daerah transit perdagangan orang, melainkan sudah menjadi daerah pengguna dan penyalur,” katanya. Kasus perdagangan manusia di NTB mengemuka dengan jumlah kasus yang terbilang banyak. Berbagai modus trafficking tampak beragam, mulai dari mempekerjakan para perempuan dan anak di kafe-kafe hingga modus TKW. Data kasus trafficking yang diperoleh dari LBH APIK NTB dari tahun 2006-2008, 156 korban. Jumlah kasus trafficking yang ditangani LBH APIK NTB pada tahun 2008, 64 kasus yang terdiri dari trafficking khusus anak 29 kasus dan dewasa 35 kasus. Beauty Erawati, S.H., M.H., Direktur LBH APIK NTB mengatakan NTB terbilang tinggi kasus trafficking-nya. Karena berdasarkan kasuskasus yang ditangani LBH APIK NTB, terlihat bahwa selain sebagai penerima NTB juga kerap dijadikan tempat transit bagi kasus-kasus trafficking yang terjadi selama ini. “Kebanyakan kasus trafficking terjadi pada perempuan dan anak yang berasal dari NTT. Untuk menuju ke Indonesia bagian Barat lewat darat, mau tidak mau mereka harus melewati NTB,” ungkapnya. NTB juga termasuk salah satu ’pengirim’ kasus trafficking. “Banyaknya TKW yang dikirim ke luar negeri, turut menyumbang angka trafficking yang terbungkus rapi dengan kedok buruh migran perempuan,” tandas Beauty. Untuk persoalan ini, ia mengatakan, kurangnya pemahaman perdagangan manusia membuat

masyarakat kadang tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan tergolong dalam perdagangan manusia. Secara umum perdagangan manusia dipahami masyarakat awam adalah menjual orang kepada orang lain. Pemahaman masyarakat akan definisi trafficking masih dianggap kurang. Seharusnya persoalan seputar trafficking harus tersosialisasikan dengan baik pada masyarakat. Ini disebabkan juga pemahaman terhadap definisi trafficking, di masyarakat, aparat penegak hukum, pemerintah dan aktivis belum satu kata. “Suburnya tindak pidana perdagangan manusia ini tidak luput dari pemikiran perdagangan manusia merupakan industri yang paling menguntungkan di antara berbagai kejahatan transnasional lainnya,” kata Pertiwi Roesmanhadi, pembicara lainnya. Tidak seperti halnya barang yang dapat habis sekali dipakai seperti narkoba misalnya, komoditi manusia dapat dijual, dibeli, dan diperlakukan secara kejam berulang kali untuk meningkatkan marjin keuntungan. Tindak pidana perdagangan manusia, dilakukan oleh berbagai kelompok besar dan kecil yang terorganisir atau pun tidak, bahkan oleh anggota keluarga sekalipun. Para pelaku “memangsa” mereka yang lemah secara fisik, emosional atau ekonomi serta mengeksploitasi aspirasi dan mimpimimpi mereka yang tidak berdosa. “Kejahatan ini tidak akan kekurangan calon korban, terutama dari kelompok masyarakat marjinal dan sedang berkembang,” ujar istri mantan Kapolri Roesmanhadi ini. Saat ini data menunjukkan tindak pidana perdagangan manusia terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Sedikit sekali negara yang tidak dipengaruhi atau dirusak oleh kejahatan ini. Fenomena tersebut telah tumbuh dalam skala yang menjangkau seluruh dunia. Jika ditilik lebih jauh, dari seluruh profil perdagangan orang dapat ditemukan di negaranegara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kawasan ini mencakup negara asal, negara transit (persinggahan), dan negara tujuan perdagangan orang. Untuk kasus Indonesia, ketiga konteks ini bisa ditemukan pada perbatasan-perbatasan. Kawasan ini mencakup semua penyebab utama yang dikenal sebagai peletak dasar rantai pasokan. Pelaku tindak pidana perdagangan manusia ini, bisa berupa perorangan (teman, Pelatihan yang diikuti oleh sekitar 30 aparat penegak hukum dari unit PPA kepolisian se NTB, kejaksaan dan hakim diselenggarakan untuk menyatukan persepsi aparat penegak hukum dalam penanganan tindak pidana kejahatan orang.

Betapa rumitnya mengurai mata rantai kejahatan perdagangan orang ini. Korban tergambar berada pada situasi psikologi yang tertekan

keluarga, pemuka masyarakat), calo, sponsor, makelar, penyalur, PPTKI/Korporasi dengan berbagai lini pekerjanya, dan juga penyelenggara negara. “Korban trafficking bagaikan terjebak di sarang laba-laba. sulit untuk keluar dari jaring tersebut,” kata Irawati yang membuat sebuah reportoar yang menggambarkan korban dijerat oleh tali-tali yang bagaikan benang kusut. Di ujung-ujung tali tersebut, banyak pihak yang memegangnya beramai-ramai, seperti aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim), ada orang tua, ada masyarakat, pengusaha, penyalur tenaga kerja dan lainnya. Ia menggambarkan, betapa rumitnya mengurai mata rantai kejahatan perdagangan orang ini. Korban tergambar berada pada situasi psikologi yang tertekan. Berdasarkan UU nomor 21 Tahun 2007, Pedagangan Manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Kalau melihat definisi tersebut, pelaku trafficking terhadap anak di NTB untuk saat ini kebanyakan orang tua. Kerap terjadi kerjasama orang tua dengan aparat desa untuk memanipulasi data anak yang akan dikirim sebagai buruh migran. Dari mulai perekrutan dan memanipulasi data anak saja sudah masuk dalam kategori perdagangan orang, katanya. Kalau mau jujur, tambahnya, ini bukan kesalahan orang tua. Orang tua-orang tua

yang ikut bekerjasama memalsukan data bagi anak-anak mereka, berangkat dari ketidaktahuan belaka. “Orang tua tidak sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu sudah termasuk sebagai kejahatan trafficking berdasarkan UU nomor 21 tahun 2007,” ujar Beauty. Kurangnya sosialisasi tentang trafficking, membuat masyarakat tidak memahami apa yang disebut trafficking. Sejauh ini kasus trafficking terbilang agak sulit melaju hingga meja hijau, dalam pengertian pelakunya dijerat dengan pasal-pasal dalam UU Nomor 21 Tahun 2007. Beberapa kasus yang ditangani LBH APIK NTB, kata Toni Hoban, koordinator program anak LBH APIK NTB, masih memakai undang-undang perlindungan anak untuk kasus trafficking anak atau UU Nomor 39/2006 tentang Perlindungan TKI yang hukumannya ringan dan tanpa restitusi (ganti kerugian bagi korban). Hingga saat ini perjuangan memejahijaukan trafficker (pelaku trafficking) – menjeratnya dengan UU Nomor 21 tahun 2007- terbilang sangat sulit di NTB. Penantian LBH APIK NTB memberikan rasa keadilan bagi korban-korban trafficking di NTB, terutama yang menjadi kliennya, terjawab pada Mei 2009. Untuk pertama kalinya, di NTB kasus trafficking yang terbilang memberikan rasa keadilan bagi korban akhirnya diputuskan di meja hijau. Kasus EM (gadis asal Lumajang), yang pelakunya, I N. Suwita alias Jepang, dijerat dengan UU nomor 21 tahun 2007, dengan tuntutan delapan tahun penjara, akhirnya divonis hukuman

empat tahun penjara, subsider enam bulan dan denda Rp 120 juta, oleh Pengadilan Negeri Mataram 12 Mei 2009. Kartana dari Divisi Anak khusus pendampingan kasus trafficking, LBH APIK NTB menambahkan ada satu kasus lagi yang divonis hakim Pengadilan Negeri Mataram, yakni kasus Yeni asal Probolinggo. Pelakunya Munasir juga dituntut delapan tahun penjara. APIK NTB juga berhasil mengantar kasus ini ke dalam jerat UU nomor 21 tahun 2007 bagi pelakunya. Munasir akhirnya divonis hukuman empat tahun penjara, subsider enam bulan dan denda Rp 120 juta, juga pada bulan Mei 2009. “Klien Apik NTB lainnya, korban trafficking Alya, pelakunya juga dituntut hukuman enam tahun, yang kemudian divonis empat tahun penjara dan denda Rp 120 juta, pada bulan September 2009,” kata Kartana. —nik

Irawati Harsono


Kesehatan Pusat Pengobatan Kencing Manis Nusantara tanpa Operasi

Nulaba

Kondisi seperti ini sangat bervariasi dan terkadang semua gejala di atas tidak dirasakan. Begitu seseorang diketahui mengidap penyakit kencing manis, badan terserang penyakit seper ti kesemutan, cepat lelah, jantung koroner bahkan gangguan luka yang tidak pernah sembuh (gangen). Sering terdengar ketika ada luka yang tidak

kunjung sembuh harus diamputasi (dipotong) Gangguan penyakit kencing manis atau sebab tidak ada obatdiabetes mellitus (DM), adalah penyakit yang nya. Sungguh menakutkan, ketika setiap menggerogoti sistem metabolisme tubuh. inci tubuh harus dibuang hingga menjadi Seringkali seorang penderita tidak merasakan orang cacat permanen. gangguan penyakit kencing manis ini. Begitu juga yang terjadi pada Pak NuKehadiran penyakit ini hampir tidak laba (55) asal Singaraja. Sempat berobat terdeteksi, kadang hanya gejala ringan seperti medis cukup lama, nasering kencing, cepat lapar, gatal sekitar alat mun obat kencing manis saja tidaklah cukup. kelamin, dan badan cepat lelah. Ber tahun-tahun setelah menderita kencing manis Pak Nulaba lukanya yang sembuh, kini berjodoh dipertemukan deakhirnya menderita Pak Nulaba kelihatan lebih ngan ramuan mukjizat dan luka borok yang tak segar dan bersemangat. Sa- terkenal dari Hsen Chii Interkunjung sembuh. Sengat disyukuri Pak Nulaba national. —adv/ard luruh badan sampai kakinya kesemutan dan terasa tebal. Obat antibiotik tak dapat menghentikannya, luka semakin menganga dan terancam diamputasi. Syukur Pak Nulaba segera berobat dengan ramuan dari Mr. Chai di Hsen Chii International, Denpasar. Berkat ramuan kencing manis yang luar biasa dari Mr. Chai Sebelum pengobatan Sesudah pengobatan tersebut, bukan hanya

Ramuan Hsen Chii International sangat aman diminum, karena telah terdaftar di Departemen Kesehatan No. ML 862707004015. Sama sekali tidak ada efek sampingnya. Hsen Chii siap mengatasi berbagai penyakit. Hubungi konsultan senior Hsen Chii., Mr Chai di Jalan Nusa Penida 26, Denpasar, Bali. Telepon (0361) 225388, 264688 dan 7491128. Pukul 09.00 -18.00. Hari besar/Minggu tutup.

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 11


12

Tokoh

13 - 19 Desember 2009

Istri Pejabat......................................................................................................................................................................dari halaman 1 Satu Es Krim..........................................................................................................dari halaman 1

Sebagian para ibu yang menjadi peserta diskusi Koran Tokoh dan TP PKK Kabupaten Gianyar pekan lalu

Padang, Sumatra Barat, 27 Desember 1964, ini. Ada beragam cara untuk membangun perilaku positif. Yoke melukiskan otak manusia seperti sebuah bank. Tiap hari manusia mengirim deposito pikiran, baik atau jahat, melalui otaknya. Namun, itu semua sebaiknya diseleksi. “Otak sebagai bank menyimpan dan memberi komando, mensuplai

tanggapan, informasi, dan menjawab masalah. Depostitokan pikiran positif secara rutin, maka komando yang akan keluar akan otomatis menuju tindakan positif secara otomatis,” jelas alumnus Latrobe University Melbourne ini. Kaum perempuan memiliki modal besar untuk melakukannya. Ini lantaran mereka memiliki 95% porsi ketekunan.

Ini dapat membantu mengubah cara hidupnya dengan cara mengubah jalan pikirannya. “Jika mau, Anda bisa menjadi seseorang yang menarik, ramah, murah senyum, dan berhati tulus,” imbuh putri mantan kapolda Kalimantan Timur ini. Seorang istri harus tertarik membaca, mendengarkan, dan bertanya tentang apa yang

ada di sekitarnya, walau itu masalah sosial maupun politik. “Anda adalah apa yang Anda pikirkan,” ujar magister dari Swinburn Collage Melbourne ini. Pikiran digambarkan sebagai sebuah kekuatan. Istilahnya sepadan dengan makna the power of mind. “Jadi hati-hati dengan pikiran Anda,” tukas konsultan bisnis ini. —sam

Menggapai Keluarga...............................................................................................................................................dari halaman 1 Kabupaten Gianyar tersebut mengundang perhatian serius Tjok. Istri. Komunikasi intensif dibangun terus dengan komunitas TP PKK Kabupaten Gianyar. Maklum Tjok. Istri menjadi orang nomor satu di lembaga ini. Alumnus Fakultas Ekonomi Unud ini bersikeras mengangkat pamor salah satu wadah kaum hawa ini di mata masyarakat, termasuk kaum perempuan. Ini agar gengsi organisasi tadi tak dipandang sebelah mata. Ini dicitrakan melalui beragam program aksi. Fokusnya berkisar seputar upaya penguatan spirit sosial, pelestarian budaya, dan pemberdayaan etos kerja perempuan di wilayahnya. Urusan pemberdayaan harmoni keluarga menjadi salah satu perhatian seriusnya. Ini bukan hanya coba ditekankannya di lingkungan TP PKK. Kaum ibu yang berteduh di bawah di bawah bendera Dharma Wanita Persatuan, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Adyaksa Yukti Karini, maupun Dharma Yukti Karini, ikut diajaknya bergandengan tangan. Tjok. Istri pun melibatkan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dan Gabungan Istri Wakil Rakyat (Gatriwara) di daerah seni ini. Tiga perempuan wakil rakyat di DPRD Gianyar juga ikut serta untuk urusan tadi. Buktinya memang sudah tumplek-blek. Forum diskusi yang digarap bareng Koran Tokoh dan TP PKK Kabupaten Gianyar pekan lalu tersebut menjadi salah satu contohnya. Tjok. Istri mencurahkan perhatian penuh dari awal persiapan hingga kelarnya gawe tersebut.

Itu belum terhitung agenda kegiatan hariannya yang lain. Yang pasti, jadwal kegiatannya saban hari hampir penuh. Ini mulai dari program kunjungan sosial ke perdesaan hingga memimpin rombongan pengrajin berpameran di luar negeri. Kehadirannya membuka kegiatan seremonial yang dihelat pelbagai kalangan di Gianyar pun ikut menyita waktunya. Konsekuensi menjadi istri orang nomor satu di kabupaten ini sudah dibayangkan jauh sebelumnya. Minimal itu terlintas saat sang suami mulai dilirik untuk menduduki kursi Bupati Gianyar, 2004-2008. Saat itu, Tjok. Istri menyadari bakal tak lagi hanya berkutat dengan urusan keluarga maupun adat. Ini jika sang suami dipercayakan memikul tugas seorang bupati. Namun, tanggung jawab tidak enteng di luar dua urusan tersebut ‘tertunda’ dipikulnya saat itu. Pasalnya, momentum politik tempo itu belum mengantarkan sang suami mengemban amanat sebagai Bupati Gianyar. Bayangan tadi terlintas kembali ketika Cok Ace —panggilan akrab suaminya, membisikkan lagi adanya pinangan politik untuk masuk bursa Bakal Calon Bupati Gianyar periode lima tahun berikutnya. “Bagaimana kalau Ajung (panggilan mesra untuk sang suami —red.) maju lagi ke Pilkada Gianyar. Ada permintaan kembali dari masyarakat,” ujar Cok Ace saat itu kepada sang istri. Cok Ace meyakinkan itu sebagai bukan ambisi pribadi. Aspirasi politik untuk lagi maju ke bursa Pilkada Gianyar saat itu murni berasal dari akar rumput. Apalagi,

keluarga besar Puri Saren Ubud merestuinya. Cok Ace belum berani memberikan kepastian sebelum ada restu dari istri dan dua buah hati mereka, Tjokorda Gde Dharmaputra Sukawati (23) dan Tjokorda Gde Bayuputra Sukawati (21). Restu belahan jiwa dan dua buah hati tadi akhirnya tumpah juga. “Saya merestuinya. Walau saat itu saya ragu karena kondisi kesehatan sedang terganggu. Namun, saya meyakinkan diri sendiri untuk mendukung apa pun pilihan terbaik untuk suami,” tukas Ketua K3S Kabupaten Gianyar ini. Singkat kata, Cok Ace pasti maju lagi ke medan Pilkada Gianyar. Uniknya, Tjok. Istri pun seolah mendapat suntikan motivasi deras dari dalam diri. Ada semacam enerji baru yang menerapi kondisi kesehatannya. “Kondisi kesehatan saya lambat-laun pulih. Saya bahkan bisa ikut suami berkampanye. Apalagi dua anak kami yang sedang kuliah di Australia sempat pulang khusus untuk mendampingi suami saya berjuang,” ungkapnya. Namun, rasa gelisah belakangan sempat menyergap batin Tjok. Istri. Ini dirasakan usai masa pencoblosan di bilik suara. “Sebagai istri, perasaan saya tentu was-was. Ini makin terasa saat penghitungan suara dimulai di berbagai TPS,” kata Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gianyar ini. Namun, ketenangan batin menjadi pengobat kegelisahannya. Apalagi, sang suami memintanya ikut menghabiskan masa penentuan hasil pilkada tersebut di rumah suci keluarga besar puri. “Saya dan suami menenangkan diri sambil

bersembahyang di Mrajan Puri Saren. Ini terutama saat malam tiba. Semula saya tentu harap-harap cemas ya…” imbuh Penasehat WHDI Kabupaten Gianyar ini. Tempo sudah larut. Kabar gembira akhirnya sampai ke telinganya. Perolehan suara sang suami dan pasangan Calon Wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Sutanaya, makin di atas angin. “Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, juga dukungan kuat masyarakat Gianyar, termasuk keluarga besar kami. Terima kasih atas kepercayaan kepada suami saya untuk memimpin Gianyar. Semoga suami saya sungguh menjalankan amanat rakyat Gianyar ini sampai masa bakti lima tahun berakhir,” ujar Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Gianyar ini. Seabrek jabatan sebagai istri seorang bupati pun disandang Tjok Istri. Ini menuntutnya mengelola waktu keseharian agar senantiasa berada di tengah pelbagai komponen masyarakatnya. “Walau menyita waktu, saya berusaha keras melakoninya,” kata Ketua Perempuan Pecinta Tanaman ini. Namun, itu bukan berarti tugasnya sebagai ibu rumah tangga terhenti. Tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu dua anak tetap melekat dalam kesehariannya. “Saya masih sempat menjaga kemesraan dengan suami lho…Ini termasuk menyiapkan minuman teh tanpa gula kesukaannya. Inilah cara saya merawat rumah tangga guna menggapai keluarga sukinah,” ujar Ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar ini. —sam

Hindari Kecurangan..................................................................................................................................................dari halaman 2 Untuk itu UN perlu dilak- jabat perlu diperbaiki. sanakan. Jika tidak jalan, maka Ketut Polos bertentangan dengan PP tersebut. Gratis, Prof. Dr. Wayan Maba, Dosen tetap Ada Pungutan Pascasarjana Universitas Anak tak lulus apabila nilai Mahasaraswati Denpasar UN atau ujian sekolah tak men5,5. Bahan ajar sudah diPintar capai kondisikan kurikulum KTSP setetapi tidak Lulus suai dengan perkembagan Siswa pintar ada yang tidak siswa, sehingga tak memberatlulus UN. Biasanya ini terjadi kan siswa. Sistem dikombinasikarena kesalahan teknis dalam kan dengan teknologi informasi, pengerjaan UN, bukan karena ini membuat biaya membengjawabannya. Sistem UN mulai kak. Tak bisa dimungkiri biaya 2003 hingga sekarang memakai pendidikan mahal. Jika itu baik sistem lembar jawaban komputer untuk anak tak masalah. Ada digital. Cara menjawab perlu me- program biaya pendidikan gramakai pensil tipe tertentu dengan tis. Iklannya telah dimuat dialas kaca agar jawaban bisa ter- berbagai media. Padahal di baca pada komputer. Ini sering lapangan tetap ada pungutan terjadi kesalahan. Di sini perlunya biaya kepada siswa. Untuk itu sekolah melakukan sosialisasi ke- iklan sudah ditarik karena tidak pada siswaya. Berbagai cara di- sesuai dengan kenyataan. Wayan Maba lakukan guna menghindari kecurangan UN. Misalnya siswa dilarang membawa HP, ada pe- Pintar tetapi tak Cerdas ngawasan dari tim pemantau inMengapa kualitas UN dulu dependen yang terdiri atas dosen berbeda dengan sekarang. Siswa PT dan swasta, komite sekolah, pintar-pintar sekarang, namun Dewan Pendidikan, Lembaga Pen- tidak selalu cerdas. Padahal jamin Mutu Pendidikan (LPMP). pelajaran lebih banyak dan meWayan Maba reka lebih giat belajar. Sebagian besar siswa berorientsi belajar Lain Koki untuk ulangan agar mendapatkan yang bagus. Tak ada tujuan Lain Masakannya nilai agar pelajaran yang mereka Haruskan siswa lulus? Kalau pelajari bisa melakat dalam diridulu kelulusan lewat ujian seko- nya. Permasalahan lain, guru lah, meski tak lulus ujian tak ada lebih peduli mengajarkan pelajarmasalah baik di sekolah atau di an yang di-UN-kan dibanding lapangan. Berbeda dengan seka- pelajaran lain. Padahal pelajaran rang, jika siswa tak lulus timbul lain juga sama pentingnya. keresahan orangtua. Apakah ini Santa menjadi acuan dalam pembenaan sistem pendidikan? Lain koki lain 65% Ditentukan Siswa masakannya. Ganti menteri lain Sistem pembelajaran di sejuga peraturannya. Biaya penkolah, 65% ditentukan siswa dan didikan pun makin mahal. Ireng 35% guru. Pintar tidaknya siswa ditentukan dirinya sendiri. Sebaik pun guru mengajar, Sistem Bagus, bagaimana jika siswa tak mampu menyerap, Mental perlu Diperbaiki PBM tak bisa berjalan. Untuk itu, UN tiap tahun selalu ada penempatan siswa harus diperubahan sistem. Tiap ganti sesuaikan dengan kemampuanmenteri sistem berubah. Sebaik- nya. Misalnya di sekolah negeri nya sisem pendidikan dibuat atau swasta. Siswa bisa belajar baku sehingga tak membingung- tak hanya di sekolah tetapi di luar kan siswa. Kini sistem sudah sekolah misalnya di rumah. Wayan Maba bagus, hanya mentalitas pe-

Kegamangan Dalam UN Masih banyak keraguan dalam UN. Mahkamah Agung menolak kasasi apakah melarang atau membolehkan. UN dilaksanakan namun tak memengaruhi kelulusan. Jadi buat apa dilakukan. Werda

Banyak Manfaat UN

bukan pendidikan. Seharusnya pendidikan membuat tingkat kriminalitas menurun karena budi pekerti rakyat Indonesia telah terpatri lewat pendidikan. Tetapi, kenyataannya kriminalitas masih merajalela. Berarti pendidikan belum berhasil. Sridam

Bukan hanya karena Pendidikan

Tahun 2010, UN bukan satusatunya menentukan kelulusan. Nilai UN hanya pertimbangan kelulusan. Yang menetukan kelulusan salah satunya materi yang tidak di-UN-kan. Ujian sekolah lebih menentukan dibanding UN. Keputusan MA memang samar, untuk itu Mendiknas mengambil keputusan UN tetap jalan. Meski UN tak satu-satunya menentukan kelulusan, UN memiliki beragam manfaat, seperti sebagai pertimbangan siswa lulus atau tidak di sekolah masing-masing, hasil UN bisa digunakan menuju ke jenjang lebih tinggi, UN memberikan kesempatan siswa yang tahun lalu tak lulus untuk mengikuti UN susulan. UN 2010 untuk pemetaan kualitas. Ini menjadi pertimbangan pemeritah dalam pengucuran dana. UN sebagai syarat melaksankan PP No. 19 tahun 2005 dan UU No 20 tahun 2003. Jadi UN harus tetap dijalankan tiap tahun. Wayan Maba

Ada pendidikan negeri dan swasta. Di sekolah negeri masih ada biaya yang dibantu pemerintah sehingga biaya ringan. Sedangkan swasta yang tidak ditalangi pemerintah cenderung membebankan biaya pada siswanya. Dalam peraturan pemerintah dan undang-undang, biaya pendidikan dibiayai pemerintah dan masyarakat. Anggaran 20% telah dinikmati masyarakat lewat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sekolah selalu mengajarkan kepada anak didik untuk berbuat sesuai dengan norma dan budi pekerti. Sayang, siswa hanya berada di sekolah delapan jam, selebihnya berada di luar sekolah. Lingkungan di luar bisa memengaruhi budi pekerti siswa. Tak semua kelakuan siswa ditentukan pendidikan, namun lingkungan di sekitarnya. Wayan Maba

Mengapa tetap Mahal?

Ada kasus, anak sekolah di SDN di Denpasar. Ada kelompok bimbingan belajar yang dilakukan guru. Karena dituntut untuk belajar berkelompok dan les, anak tertarik ikut les yang diadakan guru tersebut. Tetapi, ada salah seorang siswa yang memiliki sifat dengki dan diskriminatif yang sempat berbohong kepada temannya bahwa tempat les tersebut telah penuh. Pendidikan membuat budi pekerti anak agar menjadi baik. Namun, ada siswa tak tak memiliki budi pekerti. Siapa yang patut disalahkan? Gede Biasa

Pendidikan katanya gratis, tetapi tetap bayar. Pemerintah harusnya mendidik masyarakat untuk bekerja. Dana pendidikan 20% dari APBN, namun mengapa biaya pendidikan tetap mahal? Nara Wijaya

Pendidikan belum Berhasil Tujuan pendidikan, tertanamnya budi pekerti, bukan merusak alam atau berbuat maksiat di mana-mana. Kenyataannya, hasil pendidikan iri hati, dengki. Itu

Les yang Diadakan Guru

Untung orangnya tidak sampai babak belur. Jika sampai terjadi apaapa, kamu bisa ditangkap polisi,” hardik Windi kepada Bulan. Windi yang telanjur termakan hasutan Nunik tak mau mendengar penjelasan Bulan yang samasekali tak merasa melakukan tindakan apa-apa seperti yang dituduhkan Windi. Keesokan harinya, ketika Bulan meletakkan tasnya di bangku, seketika Windi bangkit dari tempat duduknya bergegas pindah tempat. “Kamu tidak usah pindah, biar aku saja,” ujar Bulan kesal melihat perubahan sikap Windi. Bulan pindah duduk ke tempat duduk Arya teman sebangku Adi. Tas Adi kemudian dipindahkannya ke sisi tempat duduk Windi. Jadilah kini Windi dan Adi duduk sebangku. Sejak itu hubungan Bulan dan Windi renggang. Sedangkan hubungan Windi dan Adi kian akrab. Windi terus menghindar dari Bulan. Bulan yang merasa tak cocok duduk dengan Arya kembali pindah ke tempat duduk dekat Koming. Bulan kerap menceritakan kegalauan hatinya pada Koming. Meski duduk sebangku, mereka kerap melakukan komunikasi lewat saling melempar surat. Bulan sering memergoki pandangan kecemburuan Windi memerhatikan keakraban Bulan dan Koming. “Dipikir saya menulis surat cinta kepada Koming,” ujar Bulan. Suatu saat ketika berlangsung pelajaran olahraga, Windi yang biasanya selalu berada di posisi pertama dalam berlari, hari itu berada di belakang Bulan. Rupanya Windi sengaja melakukan itu untuk bisa mendekati Bulan. Ia kemudian mengungkapkan permintaan maafnya bahwa telah menuduh Bulan berbuat yang bukan-bukan. “Aku sudah maafin kok. Kita kan satu

geng, ngapain musuhan,” ujar Bulan kepada Windi. Pada kesempatan berikutnya, Windi terus mendekati Bulan. Ia minta bersalaman agar mereka sah telah berbaikan. Windi meminta Bulan untuk duduk bareng lagi bersamanya, namun Bulan meolak karena sudah merasa nyaman duduk dekat Koming. Perasaan Windi kembali diliputi cemburu. Koming sampai merasa tak enak hati melihat perubahan raut wajah Windi. Bulan tak menanggapinya. Sebagai primadona sekolah, Windi tak pernah lepas dari perhatian teman laki-lakinya. Lepas dari Adi, Windi kembali didekati teman laki-laki sekelasnya bernama Andi. Sekelompok anak kelas V SD ini termasuk Andi, Bulan, Windi, Koming dan beberapa anak lainnya, sepulang sekolah atau pada hari libur kerap nongkrong di sebuah objek wisata yang tak jauh dari sekolah mereka. Lagak mereka seperti orang dewasa, merokok, dan menenggak minuman beralkohol. Saat itu, Windi tak ikut bergabung bersama mereka. “Mengapa kamu tidak merokok Ndi,” tanya Bulan kepada Andi, sambil mengisap batang rokoknya. “Aku sekarang berhenti merokok. Aku akan menuruti anjuran Windi,” kata Andi yang membuat Bulan terhenyak. Terlebih, Andi mengungkapkan keinginannya untuk nembak Windi sebentar. Mereka memang sudah berencana akan ke rumah baru Windi. Perasaan Bulan diliputi api cemburu. Tanpa sengaja, ia yang sedang memperbaiki pedal sepedanya meneteskan air mata. “Mengapa kamu menangis Bulan,” tanya Koming. Bulan menceritakan niat Andi akan nembak Windi. “Tidak mungkin Windi mau me-

nerima cowok kayak Andi,” ujar Koming menghibur. Sepanjang perjalanan ke rumah Windi, Bulan dan Koming terlibat dalam perbincangan serius tentang Windi. Sampai di depan rumah Windi, para teman lelaki sudah duluan masuk ke rumahnya. Tinggal Bulan dan Koming yang masih asyik dengan obrolannya. Windi yang melihat keakraban mereka berdua kembali memperlihatkan raut wajah tak enaknya. “Jangan salah pengertian. Aku sudah punya cowok kok, Bulan yang nyomblangin. Jadi ndak mugkin aku pacaran sama Bulan,” ujar Koming menjernihkan suasana. “Pokoknya, saya ini tidak dianggap perempuan oleh mereka,” ungkap Bulan kepada Koran Tokoh. Andi pun menyatakan niatnya untuk menjadi pacar Windi. Bulan yang sedari tadi berpura-pura tak memperhatikan mereka, sengaja menjatuhkan es krim yang sedari tadi diseruputnya. Semua mata memandanginya. “Sori, aku tidak sengaja,” ujarnya sambil meneruskan bermain-main dengan adik Windi. Koming yang tahu perasaan sahabatnya itu hanya diam saja. Hati Bulan lega tatkala mendengar kata penolakan keluar dari mulut Windi. Andi yang ditolak Windi langsung ngeloyor pulang. Perasaan Bulan sangat senang. Ia tersenyum pada Windi. Bulan kemudian mentraktir es krim semua temannya. Namun, sayang es krim yang disukai Bulan tinggal satu. Akhirnya ia berbagi dengan Windi. “Minum satu es krim berdua itu kenangan yang tak terlupakan sampai sekarang. Waktu itu saya senang sekali karena bisa dekat lagi dengan Windi,” ungkap Bulan kepada Koran Tokoh. –ten

Kompak dengan.................................................................................................dari halaman 1 Ketut Kanya Paramitha Devita ini sering menghadiri acara-acara penting. Untuk acara resmi, ia memilih menggunakan sarimpit. Atasan dari bahan batik sutra yang dimodifikasi dengan payet. Bagian bawah menggunakan sarung. Kadang ia memilih atasan polos dengan payet yang dipadupadankan dengan bawahan songket Bali. Endek juga menjadi favoritnya. Menurutnya, dengan modifikasi, endek dapat disulap menjadi atasan yang mewah dan eksklusif. Istri Kombes Pol. Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra S.H., M.Si. ini juga menyukai gaun panjang atau atasan sampai di lutut dengan dipadupadankan celana panjang. “Tergantung situasi dan kondisi. Kalau ke tempat pernikahan saya lebih suka pakai kain dan kebaya,” kata Lina. Untuk warna, ia selalu menyesuaikan dengan suami. Ia mengatakan sebagian besar warna busana yang dikenakan selalu senada dengan sang suami. “Saya memang selalu ingin tampil serasi dengan suami dalam tiap acara. Kami sering digodain. Kata orang, kami kompak,” ujarnya sembari tertawa. Untuk di rumah, Lina memilih pakaian santai seperti kaus dan jeans. “Khusus daster hanya saya pakai di kamar tidur,” tambah istri Kabid Humas Polda Bali ini. Lina lebih suka menjahitkan pakaian dibanding membeli pakaian jadi. Menurutnya hasilnya lebih pas di badan dan nyaman dipakai. Bah-

kan, ia memunyai tukang jahit khusus di Jakarta. Sementara untuk kebaya, Lina memilih salah satu rumah mode di Denpasar. Baginya, bahan tidak harus selalu mahal, yang penting cocok dan sesuai dengan model yang diinginkan. Agar tidak kebingungan memilih busana saat menghadiri acara, tiap bulan ia selalu menjahitkan satu stel pakaian yang sesuai dan serasi dengan suaminya. Bukan hanya serasi berbusana, Lina tak lupa menyesuaikan dengan tata rias dan rambutnya. Keahliannya berdandan diperolehnya secara otodidak. Ia sering bertanya kepada teman-temannya yang memiliki salon, cara berdandan agar tampak cantik tapi tidak menor. Lina hanya membutuhkan waktu 30 menit. “Hasilnya tak kalah dengan penata rias di salon,” ujarnya berkelakar. Sementara untuk acara bersama ibu-ibu Bhayangkari, Lina mengenakan pakaian seragam kerja. Warnanya merah muda. Ada aturan lain yang harus dituruti seperti menggunakan anting subeng mutiara putih, hanya boleh menggunakan cincin kawin, jam tangan tali hitam, tas dan sepatu hitam. Bagi yang rambutnya panjang harus disanggul cepol. Untuk serah terima jabatan atau peringatan HUT Bhayangkara, ia mengenakan jas sebagai pakaian seragam upacara. Untuk HUT Bhayangkari ia memakai kebaya nasional warna me-

rah muda dipadupadankan dengan kain lurik serta menggunakan sanggul Jawa. Bukan hanya urusan berbusana Lina piawai. Untuk urusan melayani keperluan busana suami, juga menjadi prioritasnya. Tiap hari, Lina selalu menyiapkan keperluan pakaian kerja suaminya termasuk sepatu. Sampai memasangkan lencana pun Lina selalu siap sedia. Waktu anak-anaknya masih kecil, setelah mereka tidur, Lina langsung menyiapkan semua keperluan suaminya malam itu juga. Esok harinya saat suaminya berangkat kerja, ia lebih gampang. Kini, setelah anak-anaknya menginjak remaja, tugasnya lebih mudah. “Anak-anak sudah bisa mengatur dirinya sendiri. Walaupun tidak ada pembantu,” kata perempuan berkulit putih ini. Selalu tampil cantik dan rutin menyiapkan pakaian kerja suami, menurutnya, dapat menambah kemesraan rumah tangganya. “Kelihatan sepele, tapi sangat memegang peranan penting bagi kelangsungan biduk rumah tangga. Kebersamaan membuat hubungan kami lebih harmonis,” kata Lina. Keserasiannya berbusana bersama suami, juga dikagumi keempat putra-putrinya. Terkadang mereka sekeluarga tampil serasi dalam warna busana. Tiap ada kesempatan, selalu dimanfaatkan untuk diabadikan dalam bidikan lensa Sugianyar yang menyukai dunia fotografi. –ast


13 - 19 Desember 2009 Tokoh 13

Gaun Tipis.................................................................................................................................................................................dari Psikiater RSUP Sanglah dr. Sri Wahyuni, Sp.K.J. menaruh harapan agar masalah kelelahan suami istri yang berkarier jangan sampai menjadi pemicu konflik. “Sebenarnya, suami maupun istri, jangan pernah mengungkapkan rasa capek jika pulang ke rumah,” harapnya. Seorang suami harus bisa memahami kondisi istrinya, bahkan selalu menyenangkan batinnya. Sikap istri pun setali tiga uang. Istri juga harus selalu berusaha membuat suami merasa senang saat berada di tengah keluarga. “Ada salah satu kiat yang seharusnya dilakukan istri untuk merawat harmoni keluarganya. Caranya, berikan senyuman kepada suami di kamar tidur dengan mengenakan gaun malam yang tipis dan celana dalam segaris. Jangan sampai gara-gara istri mengeluh capek, suaminya malah lari ke pelukan perempuan lain,” seloroh dr. Yuni. —sam

*

Suasana diskusi hasil kerja bareng Koran Tokoh dan TP PKK Kabupaten Gianyar yang dihadiri kalangan pejabat teras dan sekitar dua ratus perempuan Gianyar pekan lalu di Ruang Utama Kantor Bupati tersebut

Ni Made Rai Anggraeni

Cemburu Cukup 25 %.................................................................dari halaman 1 sedang mengalami stres. “Banyak istri yang terlalu cemburu pada suami. Suami pulang kantor, seluruh badannya diperiksa,” kata istri Gde Sudanarta ini. Menurut dr. Yuni, cemburu dalam kehidupan suami istri ada bobotnya. Jangan luapkan persentase kecemburuan lebih dari 25%. Rasa percaya untuk pasangan hidup itu 75%. “Usahakan percaya kepada suami lebih besar dibanding rasa cemburu,” kata ibu dua anak, Yoga dan Adit, yang mengemban tugas sebagai ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali itu. Angka bunuh diri yang kian tinggi di kalangan laki-laki, menurut dr. Yuni, salah satu

penyebabnya stres. Ini dipengaruhi tekanan psikis yang mereka dapatkan dari rumah maupun tempat kerja. “Semua ingin mendapatkan kenyaman di rumah. Namun, ada istri yang membuat suami tidak betah di rumah,” katanya. Akibatnya, suami mencari kenyamanan di luar rumah. “Dari sini bisa muncul bibit perilaku berselingkuh,” tambah alumnus FK Unud ini. Istri yang suaminya perokok perlu bersikap waspada. Ini terutama jika volume aktivitas merokok suami meningkat. Ini ditambah sikap suami sering murung dan berdiam diri dalam rumah. “Itu berbahaya. Suami yang demikian mungkin sedang menderita stres. Jika dibiarkan dia bisa bunuh diri,” katanya.

Stres membuat gairah seksual laki-laki meningkat. Jika suami mengalami stres akibat beban kerja di kantor diharapkan istri bisa memberikan pelayanan yang memuaskan saat di rumah. “Jangan biarkan sex after lunch sang suami terjadi di tempat lain. Berikan senyum dan layani suami Anda,” pesan dokter ahli kesehatan jiwa yang punya hobi membaca, memasak, dan jalanjalan ini. Tak hanya perselingkuhan, stres dan rasa cemas merupakan salah satu penyebab timbulnya beragam penyakit, seperti hipertensi, maag, jantung. “Sekitar 80% kecelakaan kerja diakibatkan stres,” tambah Staf Medis Fungsional di Bagian Psikiatri RSUP Sanglah ini. —lik

halaman 1


14

Tokoh

Harmoni

13 - 19 Desember 2009

Drs. I Ketut Sudikerta dan Ida Ayu Ketut Sri Sumiatini, S.H. (1)

Beri Kejutan Mawar Merah SENGSARA membawa nikmat. Itulah pepatah yang diyakini mendatangkan keberuntungan bagi Wakil Bupati Badung Drs. I Ketut Sudikerta. Keuletan lelaki kelahiran Pecatu, 29 Agustus 1967, ini menjadi modal menepis semua hambatan dalam meraih kesuksesan di segala bidang, termasuk mendapatkan pujaan hatinya, Ida Ayu Ketut Sri Sumiatini. Kebersamaannya sebagai pengurus senat dan resimen mahasiswa di Universitas Warwadewa, menjadikan kedua sejoli ini kerap melakukan aktivitas bersama. Ketua DPD Golkar Provinsi Bali ini tak banyak mengobral kata cinta. Ia lebih suka menunjukkan perhatian yang besar kepada Dayu Sri, sapaan akrab perempuan kelahiran Tabanan, 6 Juni 1966 ini. Bunga mawar merah menjadi andalan Sudikerta dalam mendekati perempuan yang pernah bercita-cita menjadi polwan ini.

M

enurut lelaki yang juga berprofesi sebagai enterpreneur ini, awal mula hubungannya dengan Dayu Sri sebatas teman biasa. Bahkan, kata Sudikerta, ia sempat

kesengsem pada salah seorang teman Dayu. Dayu sebagai makcomblangnya. “Lewat Dayu saya sempat titipkan salam kepada salah seorang gadis yang mencuri perhatian saya itu,” ungkap

Upacara pernikahan Sudikerta dan Ida Ayu Ketut Sri Sumiatini

Kebersamaan Sudikerta bersama keluarga Sudikerta sambil tertawa. Namun, kebersamaan Sudikerta dan Dayu dalam resimen dan pengurus senat mahasiswa membuat pertemuan kedua sejoli lebih mendekatkan satu sama lain. Begitu dekatnya, sehingga Sudikerta sangat mengenal kepribadian Dayu Sri. Lambat laun perasaan Sudikerta mulai berubah. “Saya mulai mencoba mengenal Dayu lebih dekat. Selain cantik dan berkulit putih, dia juga cerdas,” katanya sembari tersenyum memuji istrinya itu. Tampaknya perasaan Dayu Sri juga sama. Putri ke-4 dari 8 bersaudara kandung ini diam-diam juga menyukai lelaki berkumis tipis itu. Mengingat sama-sama malu, perasaan mereka hanya terpendam di hati masing-masing. Namun, sehari-hari, kata Sudikerta, ia menunjukkan perhatian lebih pada Dayu. Bahkan, ia tak segan-segan

Prioritaskan Pendidikan Anaknya 54% Laki dan Perempuan yang Menikah

M

ERENCANAKAN keuangan keluarga adalah modal untuk kaya. Dalam acara talkshow yang digelar Femina bekerja sama dengan Asuransi Sun Life Finansial beberapa waktu lalu, perencana keuangan Safir Senduk mengungkapkan banyak orang walaupun bekerja bertahun-tahun tidak pernah kaya. Alumnus STIE IBMI Jakarta ini menyata-kan, hal itu terjadi akibat kesalahan dalam mengatur keuangan. Contoh, ada sebuah keluarga yang berpenghasilan Rp 5 juta per bulan. Pengeluarannya Rp 5 juta sebulan. Safir menyebut keluarga tersebut masih dalam kategori miskin. “Ada juga keluarga berpenghasilan Rp 5 juta. Uangnya disisihkan Rp 1 juta untuk kemudian membeli barang konsumtif seperti baju, HP, kendaraan. Yang Rp 4 juta untuk pengeluaran kebutuhan hidup seharihari. Keluarga itu belum bisa disebut kaya, namun pas-pasan,” ucapnya. Keluarga kaya jika penghasilan yang diterima 10% digunakan untuk menabung atau investasi, 30% untuk membayar utang, 10% proteksi diri dan 50% biaya hidup.

Safir Senduk

Nadya Siregar

Kaya tidak bisa diukur dari berapa banyak ia mendapatkan penghasilan atau berapa harta benda yang mengisi rumahnya. Menurut Safir kaya berarti kemampuan membayar semua pengeluaran baik itu pengeluaran wajib, kebutuhan dan keinginan. “Orang disebut kaya jika biaya sekolah atau pendidikan anak bisa terbayarkan. Saat pensiun, mereka masih memiliki sisa uang guna membiayai masa tuanya, dan memiliki proteksi lengkap misalnya berupa asuransi,” kata Safir.

Untuk bisa kaya, seseorang perlu tahu bagaimana bisa mengatur keuangan keluarga. Dalam mengelola keuangan keluarga, diperlukan arah yang jelas. Status dan jenis kelamin bias membedakan arah seseorang meraih masa depannya. “Misalnya lelaki lajang dan perempuan yang sudah menikah memiliki arah masa depan yang berbeda,” kata Safir. Biasanya, salah satu arah masa depan perempuan atau laki-laki yang telah menikah ditujukan demi pendidikan anaknya. Hal tersebut

memberi Dayu hadiah sekuntum bunga mawar merah. Kejutan itu kadang ditunjukkan di depan teman-temannya di kampus. Karuan saja, perilaku dirinya itu diolok-olok teman-temannya. Ia mengungkapkan perjuangan mendapatkan hati Dayu Sri bukan hal yang mudah. “Penuh perjuangan karena Ibu banyak yang naksir,” ungkapnya sembari tertawa. Namun, kegigihan Sudikerta memikat hatinya dengan berbagai kejutan membuat hati Dayu luluh. Untung saja, katanya, orangtua Dayu Sri sangat demokratis. “Yang penting saya sudah bekerja dan bisa membahagiakannya,” pesan beliau. Saat Sudikerta mulai menjalin hubungan dengan Dayu Sri, selain sebagai mahasiswa, ia juga menjadi free lance guide untuk membiayai kuliahnya. Keuletannya sudah ditempa sejak kecil. “Penderitaan yang saya alami telah menumbuh-

ditunjang hasil penelitian Sun Life Financial (SLF) melalui Study of Lifestyle, Attitude and Relationship (Solar). Senior Manager Marketing & Communications SLF Nadya Siregar menjelaskan, di Indonesia Solar dilakukan di tiga kota, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Medan, dengan 1.200 responden yakni Jakarta (600), Surabaya (300), dan Medan (300). Profil responden usia 25 – 35 tahun dan 36 -45 tahun, laki dan perempuan sudah menikah. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan, 54% warga masyarakat Indonesia menyatakan pendidikan sebagai sebuah prioritas. Menurut Nadya, responden mengatakan, mereka ingin memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak mereka, dan sembilan dari 10 responden (88%) melihat asuransi pendidikan sebagai investasi yang penting untuk mengamankan pendidikan anak mereka. Prioritas lain bagi masyarakat Indonesia adalah kesehatan orangtua. Kekhawatiran atas kesehatan orangtua merupakan kekhawatiran utama masyarakat Indonesia, diikuti pendidikan anak dan kesehatan diri sendiri. “64% responden dalam SOLAR 2008–2009 menyatakan kesehatan orangtua merupakan hal yang paling mereka khawatirkan,” katanya. Kekhawatiran terhadap kesehatan orangtua ini didukung kenyataan bahwa banyak dari warga ma-

kan jiwa dan semangat keberanian, tanggung jawab, disiplin, dan kerja keras dalam diri saya. Tiap hambatan menjadi tantangan dalam hidup saya untuk ditaklukkan,” tuturnya tentang masa kecilnya. Pedagang Acung Ia menuturkan, dirinya berasal dari keluarga sederhana. Bahkan ia mengaku kehidupan keluarganya morat-marit. Hidup di wilayah perbukitan yang tandus, keluarganya sangat tergantung pada hasil perkebunan dan peternakan. Saat masih SD, ia harus kehilangan ibu tercinta. “Belum sempat saya mengenyam kasih sayang seutuhnya, Ibu sudah pergi meninggalkan kami,” katanya dengan nada pelan. Tampak matanya berkaca-kaca mengingat kenangan waktu kecilnya. Namun, ia mengaku bangga karena dapat menamatkan pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya itu. Melihat kondisi wilayah tandus dan kemampuan keluarga yang tidak memadai, Sudikerta memutuskan pergi ke Kuta. “Waktu itu turis asing booming di Kuta. Saya mencoba mengadu nasib di sana,” katanya. Untuk melanjutkan sekolah ke SMP Sunari Loka, ia rela menjadi pedagang acung. “Kalau jadwal sekolahnya pagi, saya berjualan sore hari. Kalau masuk siang, jualannya pagi. Waktu itu saya dapat Rp 500.000 sebulan. Zaman itu uang sebanyak itu sangat besar sekali artinya. Saya tambah semangat bekerja,” ujarnya. Banyak manfaat yang ia dapatkan sebagai pedagang acung. Selain untuk biaya hidup, Sudikerta dapat berlatih berbahasa Inggris. Melihat teman-temannya naik sepeda gayung, ia termotivasi untuk bekerja lebih giat. Setelah tabungannya cukup, ia berhasil membeli sepeda. Ada suatu kebanggaan baginya karena ia mampu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan hasil keringatnya sendiri. Tiga tahun menjadi pedagang acung sangat berarti baginya. Ia berhasil tamat sekolah dengan nilai yang bagus dan

Saat pelantikan Sudikerta sebagai Wakil Bupati Badung menguasai bahasa Inggris. Kernet Bemo Tamat SMP, ia melanjutkan ke SMA PGRI 4 Denpasar. Untuk biaya hidup dan sekolahnya, ia bekerja sambil lalu di perusahaan biro perjalanan. Dia rela bekerja rangkap di bidang cleaning service dan ekspedisi. Untuk menambah uang saku, ia menjadi kernet bemo Denpasar-Sanur p.p. Kadang timbul perasaan malu karena ada teman sekolahnya yang menumpang bemo yang ia kerneti. “Kekerasan hidup yang saya lakoni memberi semangat

untuk tetap berjuang dan melupakan sejenak rasa malu saya,” ujar Sudikerta. Setelah ia berhasil melalui semua hambatan dan menuntaskan pendidikan SMA-nya, Sudikerta mencoba mengais rezeki sebagai free lance guide. Untuk lebih memantapkan wawasan dan keterampilannya ia melanjutkan studinya ke Universitas Warwadewa. Awalnya, ia mendaftar ke Fakultas Teknik. Namun, ia merasa lebih sreg di jurusan Sastra Inggris. “Sesuai dengan pekerjaan yang saya lakoni sebagai guide Inggris,” katanya. –ast

Memukul Anak Sebatas Panggul ke Bawah Kemandirian anak perlu dipupuk sejak dini, caranya dengan membangkitkan rasa percaya diri dan pengandalan diri dalam dirinya. Menurut psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dr. Lucia RM Royanto, M.Si., MSpEd., Psi., kepercayaan diri bisa dibangun dengan memberi kesempatan melakukan halhal yang mandiri. Sering terjadi, kehadiran pembantu membuat rasa percaya diri anak menurun. “Apa pun yang ia mau sudah dilayani pembantu, sehingga anak tak memiliki kepercayaan diri melakukan sesuatu,” kata Lucia. Tak hanya itu, Lucia menyarankan orangtua tak selalu melihat anak dari fisiknya. “Karena fisik anak kecil, orangtua sering memberikan kasih sayang yang berlebihan; anak tidak boleh melakukan ini dan itu. Hal itu berakibat buruk terhadap perkembangan saraf motorik anak,” jelasnya. Orangtua, lanjut Lucia, juga perlu memberikan apresiasi terhadap tiap prestasi yang ditunjukkan anaknya. “Jika anak merasa dihargai, rasa percaya diri melakukan sesuatu yang positif akan muncul,” kata Lucia. Bagaimana menangani anak bermasalah? Dokter Lucia menjelaskan permasalahan anak beragam jenisnya, ada anak susah dimengerti, mencari perhatian, bahkan sulit diberi tahu. Dalam hal ini orangtua perlu menunjukkan otoritasnya. Namun, Lucia menyarankan dalam memberikan hukuman kepada Lucia RM Royanto anak, perlu dipertimbangkan agar menghindari hukuman fisik. “Jika anak sudah berperilaku keterlaluan, hukuman fisik bisa dilakukan. Namun, hukuman tersebut jangan terlalu keras dan boleh dilakukan dengan batasan dari panggul (pangkal paha) ke bawah. Jangan memukul anak pada anggota badan panggul ke atas, karena bisa berakibat fatal,” katanya. Lucia juga menyarankan para orangtua membiasakan berdiskusi dengan anak-anaknya. “Jika anak mengalami masalah, ajak dia terbuka dengan jalan diskusi ringan,” katanya. —lik syarakat Indonesia yang mendukung tiga generasi biaya kesehatan. 75% mengatakan mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk biaya kesehatan pasangan mereka, namun 73%

juga mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas biaya kesehatan anak-anak mereka dan 70% bertanggung jawab atas biaya orangtua mereka. Safir Senduk menambahkan,

ada tiga alasan mengapa biaya pendidikan penting disiapkan sejak dini. Selain biaya pendidikan tiap tahun makin meningkat, keadaan ekonomi tak selalu bagus, fisik manusia juga tidak selamanya sehat. —lik


Trendi

Cantik berkat Gigi yang Sehat dan Indah

K

ECANTIKAN seseorang tak cukup dilihat dari wajah atau tubuhnya. Kondisi gigi yang proporsional dan sehat pun turut menjadi penentu kecantikan. Perawatan gigi kini tak hanya sebatas pemeliharaan kesehatan dan pengobatan. Banyak orang beralih pada perawatan gigi demi estetika (keindahan) atau kecantikan. Drg. Dwis Syahriel, M.Kes., Sp.Perio, dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Mahasaraswati Denpasar, mengungkapkan tren perawatan gigi yang sedang digemari antara lain pemutihan gigi, perataan dan aksesori gigi. Hal serupa diungkapkan drg. Dian Kusumah, pemilik Bali International Dental Clinik. Hampir sebagian besar pasien yang datang ke klinik tersebut, laki-laki maupun perempuan, bertujuan merawat gigi demi estetika. Tren itu muncul sejak tahun 2000-an. “Sebelum tahun 2000-an pasien masih berorientasi pada pengobatan gigi dan mulut,” ungkap istri drg. Sucipto ini. Keindahan gigi tak hanya berkat pemberian perhiasan di gigi atau perataan gigi dengan kawat yang memakai beragam desain dan kombinasi. Kini tak sedikit orang tertarik mempercantik organ-organ yang ada di mulut itu, mulai dari dari gusi, akar hingga mahkota gigi, agar lebih cantik dan menarik. Drg. Dian menjelaskan tak sedikit pasien yang datang dalam kondisi giginya rusak. “Gigi

alami maupun buatan, selama 24 jam agar tak mengganggu proses pemutihan gigi. Pemeliharaan berkala pun tetap dilakukan dengan memberi gel selama dua jam dengan skala dua minggu sekali. Pemutihan gigi ini dibolehkan hanya untuk usia 17 tahun ke-atas. “Gigi anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga belum bisa memakai sistem ini,” katanya. Bagaimana jika akar gigi telah rusak? Menurut alumnus FKG Universitas Indonesia 1991 ini, kondisi gigi normal jika minimal 2/3 dari panjang akarnya tertanam di tulang. Jika kondisi akar telah rusak, pencabutan gigi bisa dilakukan. Pasien perlu memberikan gigi buatan di tempat gigi yang telah hilang guna menghindari pergeseran gigi yang membuat gigi renggang. ’Implant’, Tren Terbaru Tren terbaru, penambahan gigi dengan memakai implant yang berfungsi menggantikan akar gigi yang dicabut, yang dimasukkan ke rahang pasien. Dokter Dwis mengatakan,

Penambahan gigi dengan memakai implant

rusak dapat dipercantik dengan beragam cara,” katanya. Jika kondisi akar gigi masih bagus, drg. Dian mengimbau agar tidak dilakukan pencabutan. Ia menyarankan pasiennya menggunakan jaket gigi atau porselin crown jika keseluruhan mahkota gigi mengalami kerusakan. Jaket gigi bisa menutupi bagian mahkota gigi yang rusak. Alternatif lain memakai veener. “Veener adalah sejenis porselin untuk menutupi bagian depan gigi agar tampak lebih menarik dan putih,” ujar ibu dua anak ini. Biasanya peminat veener pasien yang memiliki kondisi gigi berwarna kusam akibat obat-obatan dan yang giginya rusak.

bahan implant yang terbuat dari titanium itu memiliki sifat bisa bergerak seperti gigi asli. Menurut drg. Dian, implant ini bisa bertahan hingga seumur hidup pasien dengan tetap melakukan perawatan setelah pemasangannya, baik di rumah maupun perawatan dokter, dengan jalan menjaga pola hidup, pola makan, dan pola kebersihan mulut dan gigi layaknya gigi asli karena bersifat permanen. Seperti halnya tahapan yang akan dilakukan sebelum memasang kawat gigi, tahapan sebelum memasang implant pun tidak berbeda, yakni diawali pengambilan CT scan untuk mengetahui ketebalan tulang.

drg. Dwis Syahriel, M.Kes.

mulut tak hanya sebatas di kalangan orang yang kondisi giginya rusak. Ia juga banyak menerima pasien berasal dari warga asing dan lokal dengan kondisi gigi sehat. “Hanya saja bentuk gusi tidak proporsional dengan bentuk gigi. Misalnya bentuk gigi pendek sedangkan gusi tebal. Jika tertawa yang terlihat gusi seakan menumpuk dan menutupi gigi. Ini perlu dilakukan pembedahan kecil, gusi dinaikkan agar gigi terlihat lebih panjang. “Perbandingan lebar dan panjang gigi yang proporsional 1 : 1½,” katanya. Tak jarang menurut drg. Dian, ada orang memiliki bentuk gigi dengan perbandingan panjang dan lebar 1 : 1, sehingga terkesan giginya berbentuk kotak. Saat tertawa hanya terlihat tumpukan gusi yang menyembul. Hal ini menurutnya perlu dilakukan pembedahan agar gigi terlihat panjang. Drg. Dwis Syahriel menjelaskan estetika pada gigi pun telah menjadi bahan ajar di FKG Unmas Denpasar. Materi tersebut tak diberikan secara khusus namun diintegerasikan dengan bahan ajar lain seperti periodonsial, protodonsial, konservasi gigi, dan bedah mulut. “Kami sesuaikan bahan ajar dengan permintaan masyarakat dan tren yang tengah berkembang,” lanjutnya. Dwis menambahkan salah satu sarana estetika gigi yang masih mendapat perhatian dari khalayak adalah kawat gigi. Tak hanya untuk meratakan gigi, kawat gigi sering dijadikan aksesori gigi bagi si pemakainya. “Kawat gigi ada dua jenis, bisa dilepas dan juga cekatan.” kata pria asal Situbondo, ini. Secara umum, lanjut Dwis, kawat gigi tak memiliki efek samping jika digunakan dengan prosedur dan aturan yang benar. Sebelum gigi rusak, drg. Dwis menyarankan perawatan gigi dilakukan secara teratur, minimal dengan membersihkan gigi dua kali sehari pagi dan menjelang tidur malam. Tak hanya itu, menjaga kualitas makanan dengan gizi seimbang adalah cara yang tepat. “Dan, secara teratur minimal enam bulan sekali memeriksakan gigi ke dokter gigi, puskesmas atau klinik,” ujar drg. Dwis. —lik

Bentuk Proporsional Pemutihan Gigi Dokter Dian menuturkan, Pemutihan terhadap gigi perawatan kecantikan gigi dan yang berwarna kusam, bisa dilakukan dengan sistem bleaching. Ini dilakukan dengan sinar LED. “Cara ini dilakukan untuk mengubah warna gigi tanpa memengaruhi struktur gigi,” ujarnya. Dengan metode ini, gigi menjadi licin, putih, dan tidak buram. LED mampu mengaktifkan hidrogen peroxida yang berwujud gel agar bisa memutihkan gigi. Dalam waktu dua jam, akan terlihat hasilnya, gigi menjadi lebih putih. “Ini bisa bertahan selama tiga atau empat tahun tentunya dengan perawatan berkala,” ujar drg. Dian. Ia menyarankan usai bleaching pasien tidak mengonsumsi Kawat gigi masih ngetren hingga sekarang makanan yang berwarna, baik

Rileks

13 - 19 Desember 2009 Tokoh 15

Kereta Kuda dari 1,5 Juta Tusuk Gigi SEPINTAS kereta kuda itu biasa saja, hanya ada kesan tua dari kereta pos model abad ke17. Tapi mendekatlah dan bacalah keterangan yang tertera di depan kereta itu, maka pasti Anda tercengang kalau ternyata kereta pos tersebut dibuat dari jutaan tusuk gigi. Baru-baru ini kereta pos berwarna merah dengan roda berwarna kuning ini, dipamerkan di museum “Ripley’s Believe It or Not”. Pembuatnya adalah Terry Woodling, seorang kakek yang berusia 72 tahun. Karena tingkat kesulitan yang tinggi, Terry membutuhkan waktu 15 tahun untuk menyelesaikan karyanya. Berkali-kali gagal, namun ia tak putus asa. Butuh ketekunan dan ketelitian luar biasa untuk merekatkan tusuk gigitusuk gigi itu. Untuk membangun kereta pos itu, Terry mengaku mengeluarkan uang dari koceknya sendiri sekitar 1200 dolar AS atau sekitar Rp 11,4 juta. Ketika bangunan hampir selesai, Terry ingin mendapatkan tempat di mana orang banyak dapat melihat dan menghargai detail keahliannya. Ia mengontak Guinness World Record. Sayangnya, pihak Guinness menolak. Mungkin karena pihak Guinness sudah memiliki rekor sejenis yang kini dipegang oleh Stan Munro, 38, mantan presenter tv. Meski kecewa ditolak Guinness, namun Terry yang asal Warsawa, Indiana, tak putus asa, ia pun berniat menyumbangkan kereta pos buatannya ke museum lokal di Warsawa. Namun entah bagaimana ceritanya, tak lama kemudian muncullah perwakilan dari museum Ripley’s Believe It or Not ke rumahnya. Mereka berniat menjadikan kereta posnya sebagai koleksi museum Ripley’s Believe It or Not.

Hal itu tentu saja membahagiakan kakek Terry. Kerjanya belasan tahun ternyata mendapat penghargaan dari Ripley’s Believe It or Not, yang namanya sangat kondang di dunia. Hanya Tusuk Gigi dan Lem Sejak itu, wartawan pun mulai berdatangan ke rumahnya untuk wawancara. Apresiasi pun datang dari berbagai pihak, bahkan tawaran untuk membuat bangunanbangunan unik pun datang pada Terry. Namun sejauh ini Terry yang mengaku mengerjakan itu hanya sebagai hobi, belum menerima. Awalnya, tutur Terry, tahun 1981 ia melihat replika kereta kuda mungil yang dipajang di jendela etalase sebuah toko. Kereta kuda yang di masanya disebut Concord Coach, pada tahun 1800-an, ketika belum ada kereta api, digunakan Wells Fargo untuk mengangkut orang juga surat-surat guna disebarkan ke seluruh Amerika. “Saya tertarik dan berpikir bisa membuat seperti itu,” ujar Terry yang disebut juga ‘si tuan tusuk gigi’. Tapi nyatanya, keinginan itu tak sempat ia realisasikan, hanya mengendap di benaknya. Sampai akhirnya pada Thanksgiving 1994, ia teringat pada obsesinya itu. Lantas ia pun mulai membangun sedikit demi sedikit kereta pos di garasi rumahnya. Uniknya, dalam membangun kereta kuda itu, Terry hanya menggunakan lem kayu sebagai perekat tusuk. Terry sebenarnya bukan baru pertama kali membuat benda-benda dari kayu kecil. Meski tidak sespektakuler karyanya kali ini, tapi sejak dulu ia mengisi waktunya dengan mengerjakan kerajinan, khususnya benda-benda dari rangkaian kayu kecil-kecil. Namun ia belum pernah membuat atau mem-

Kereta kuda yang terbuat dari 1,5 juta tusuk gigi

bangun benda besar dari kayu kecil atau tusuk gigi. Yang sempat membuat Terry khawatir adalah saat karyanya yang sudah hampir selesai itu, diangkat dengan katrol, jatuh. “Saat itu saya benar-benar shock. Pikir saya, inilah akhir segalanya,” tutur Terry. Untungnya, kecelakaan itu tidak membuat karyanya hancur berantakan. Ketika ditanya media, apakah ia akan mengerjakan proyek besar lagi dengan tusuk gigi, dengan terkekeh kakek Terry mengatakan, rasanya tidak mungkin. “Cukup banyak uang yang saya habiskan untuk proyek itu, jadi tak ada lagi uang untuk proyek lain,” ungkapnya. Pada 24 November lalu, kereta

pos karya Terry diangkut ke museum Ripley’s untuk dipamerkan. Untuk membawanya, kereta itu diurai dalam 45 bagian, kemudian di kirim ke kantor pusat Ripley’s. Terry mengaku bangga karena karyanya itu mendapat banyak apresiasi dari pengunjung. Edward Meyer, Vice President Pameran dan Arsip Ripley’s menyebut karya Terry sebagai salah satu masterpiece. “Dia membangunnya selama 15 tahun, itu membuktikan tekad, dedikasi dan keterampilannya. Karyanya sangat detail dan sempurna. Luar biasa!” ujar Meyer. Diperkirakan karya Terry ini akan menyedot jutaan pengunjung ke museum Ripley’s. —dia

Penutupan KWK di Kursus Kecantikan Issabella

C. Kisdiyantini

Program KWK provinsi Bali tahun 2009 yang dilaksanakan di kursus kecantikan Issabella ditutup Jumat (11/ 12). Kursus Wirausaha Orientasi Perkotaan Provinsi Bali tahun 2009 melalui Pendidikan Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar dan Ragam Kreasi Sanggul Modifikasi ini diikuti 23 peserta. “Kursus dimulai 14 September 2009. Seluruh peserta mendapat fasilitas yang dibutuhkan selama pro-

ses pendidikan dan ujian telah dilaksanakan 5 dan 6 November 2009,” ungkap C. Kisdiyantini, pimpinan Kursus Kecantikan Issabella yang berlokasi di Jalan Tukad Balian no. 18 Denpasar. Selama pendidikan, para peserta mendapat modal kerja atau wirausaha. Kisdiyantini yang akrab disapa Tien mengatakan modal inilah yang direalisasikan dengan mengikuti kursus. Ilmu dari lembaga kursus selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk menambah kemampuan dalam meraih kesempatan kerja, baik sebagai tenaga kerja tetap, maupun tenaga lepas. Kursus Issabella juga memberikan pendampingan dan konsultasi kepada peserta kursus. “Kami juga menyediakan waktu khusus bagi peserta yang memerlukan pendidikan atau latihan tambahan,” tegas Tien seraya mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) provinsi Bali dan kota Denpasar. Ia menambahkan dari peserta kursus ada yang sudah diterima sebagai karyawan tetap maupun honorer di beberapa salon kecantikan. Bahkan ada yang sedang dalam tahap merintis usa-

ha salon kecantikan. Dalam acara penutupan tersebut, Tien juga mengajak peserta untuk berdoa bersama karena ada suami dari salah satu peserta kursus meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara itu, Ketut Nadha yang mewakili Kabid PNFI Disdikpora Provinsi Bali Ni Made Mertanadi, S.H. mengatakan minat masyarakat untuk kursus kecantikan lebih banyak perempuan. Namun, hal tersebut tidak menjadi persoalan. “KWK ini bertujuan mengurangi angka pengangguran. Dengan

mengikuti kursus, peserta diharapkan memiliki lifeskill untuk bekal mencari pekerjaan atau membuka lapangan kerja sendiri. Paling tidak bagi yang sudah lulus kursus, tidak perlu ke salon kalau mau berhias, cukup merias diri sendiri,” tandasnya. Ia juga mengatakan program kursus ini lebih banyak praktik dibanding teori. Waktunya juga singkat bila dibandingkan lembaga pendidikan formal. Tetapi, yang penting peserta tetap bisa mendapat keterampilan. —adv/wah

Peserta KWK foto bersama pimpinan Kursus Kecantikan Issabella

Mencuci Pakaian 1. Untuk pakaian yang baru dibeli sebaiknya dicuci terpisah menempel di baju tersebut. dengan pakaian yang lain dan tidak dicuci dengan mesin 5. Jika menginginkan hasil yang lebih baik dan lebih bersih cuci. Tujuannya, agar aman dari kasus kelunturan. Jika sebaiknya cuci pakaian dengan tangan sendiri. pencucian pertama dan kedua tidak ada masalah, maka 6. Perhatikan label pakaian yang terdapat di leher atau bagian boleh digabungkan dengan pakaian lain untuk pencucian pinggang. Di situ kadang-kadang ada pesan dari pabrik selanjutnya. mengenai perlakuan yang seharusnya dilakukan saat 2. Pilah-pilah pakaian sebelum mencuci berdasarkan tingkat mencuci pakaian tersebut. Ada aturan suhu air, zat kimia kekotorannya. untuk mencuci, cara menyetrika. 3. Jangan rendam kaus, celana, baju, dan lain-lain yang disablon, 7. Jika ada pakaian yang terkena noda makanan atau noda terlalu lama dalam larutan deterjen agar tidak rusak. kimia sebaiknya lekas dibersihkan agar lebih mudah 4. Apabila membeli atau mendapat baju bekas yang pernah dihilangkan nodanya. dipakai orang lain, cuci pakaian tersebut dengan deterjen yang dapat membunuh kuman penyakit-penyakit yang Sumber http://organisasi.org

Cek Label.................................................................................................................dari halaman 4 Endek Sutra.....................................................................................................................................................................dari halaman 4 menghindari kebosanan,” katanya. Kepala Operasional Litama Jewelry Nyoman Duarsa, S.E., Ak., mengatakan, kaum perempuan kerap terkecoh saat membeli perhiasan. Hal ini lantaran terpikat desain bagus, tanpa cermat memilih perhiasan. “Coba lihat berapa kadar atau kandungan emasnya untuk mencegah kerugian saat membeli perhiasan emas,” katanya. Besarnya nilai persentase sangat memengaruhi kualitas emas. Jika kandungan emas lebih sedikit tak mustahil per-

hiasan emas itu akan menyebabkan iritasi kulit dan meninggalkan warna kebiruan. Menurutnya, kaum perempuan perlu dibekali pemahaman untuk mencari kepastian berapa kandungan emasnya. “Pembeli biasanya hanya menanyakan soal itu kepada penjual emas. Padahal label tak sepenuhnya benar,” ungkap Duarsa. Contoh, label emas sebentuk cicin emas tercatat 5 gram, 80 %, dan 22 karat. “Artinya perhiasan tersebut punya berat 5 gram, kadar emas 80 % serta dari jenis emas 22 karat,”

kata bapak 2 anak ini. Ia menambahkan jika tak mengetahui hal ini, terkesan tak ada masalah, padahal pembeli emas sudah tertipu. Untuk menghitung kadar emas itu, kata Duarsa, bisa dengan cara sederhana yakni membagi kadar emas yang tercantum di label dengan kadar emas 24 karat, hasilnya dikalikan 100. “Emas 22 karat memiliki kadar emas 91.6%. Ini diperoleh dari hitungan 22:24x100. Jika di label tercatat emas 22 karat, kadar emasnya 80%, konsumen rugi karena campuran lain lebih

Dari pengamatannya, biasanya istri pejabat menyukai bahan endek katun sutera, kebaya bordir atau sutra linen dan brokat Prancis. Jadi, kelihatan beda dan mewah. Rasanya adem di badan. Tanpa diisi apa pun kelihatan bagus dan menawan. Sekarang ini, kata Tjok banyak dari yang seharusnya. Jika kadar emas 80 %, bahan campurannya sebanyak 20%. Kadar emas 22 karat, seharusnya 91,6 %. Dengan begitu campuran lainnya lebih sedikit,” katanya. —tin

Abi, motif bunga-bunga tembus pandang sedang tren. “Bisa dipakai kebaya, atasan, atau rok. Bisa ditambah bordir atau payet agar bervariasi, cantik dan berkelas,” sarannya. Menurutnya endek/batik dapat dipakai untuk acara formal atau semiformal. Tergantung modelnya mau dibuat apa dan disesuaikan dengan acara; bisa juga untuk atasan dan bawahan. Sementara Rumah Mode Ayulia yang menjadi langganan istri pejabat di lingkungan Kota Denpasar ini berusaha memberi

servis yang baik. “Untuk bahan halus seperti sutera sangat tipis, kami harus esktra hati-hati menjahitnya. Kalau tidak, mudah robek. Untuk memperbaikinya sulit,” kata Sukma, salah seorang stafnya. Selama ini, kata Suksma, istri pejabat lebih suka memilih kebaya untuk berbagai acara. “Bisa untuk upacara adat, atau acara resmi,” ujarnya. Modifikasi kebaya dengan payet dan bordir sangat diminati. Busana ini dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, untuk acara resmi maupun semi resmi.

Hari Sabtu merupakan hari yang paling ramai. Sebagian besar PNS dan istri pejabat menjadi konsumen Rumah Mode ini. Ada hal istimewa yang ditawarkan untuk pelayanan kepada para istri pejabat ini. Untuk jahit kebaya waktu selesainya bisa satu hari. Untuk gaun atau jas dua hari. Bahkan tak jarang, busana diantar ke rumahnya tanpa menambah ongkos. Selain PNS dan istri pejabat, para karyawan bank juga kerap datang ke rumah mode ini. —ast


16

Tokoh

13 - 19 Desember 2009

Promo


tkh 570 XI 13-19 Desember