Page 1

No.651/Tahun XII, 10 - 16 Juli 2011

Pridari Karna

Tembang Alam Rindu

Ny. Ayu Pastika

Optimalkan Peran BK3S KEBERADAAN Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) sebagai mitra dalam menangani berbagai permasalahan sosial mendapat dukungan penuh pemerintah daerah Bali. Sebab, dengan jalinan kemitraan yang harmonis, antara BK3S dengan dunia usaha serta pemerintah daerah, akan mampu menekan bertumbuhnya masalah sosial. BK3S Bali memiliki peran

strategis untuk turut menyukseskan pembangunan. BK3S membantu pemerintah dalam menangani dan mengoordinasikan penanganan berbagai permasalahan sosial. Pemerintah tentu berharap BK3S membantu demi pembangunan, yang diupayakan makin menyentuh kepentingan masyarakat. Di bawah kepemimpinan ketua umumnya, Ny. Ayu Pas-

tika, BK3S Bali optimis dengan komitmen tinggi, serta didukung kerja sama dan keterpaduan para pengurusnya, dapat menjalankan fungsi serta peran organisasinya dengan baik. Terbukti dalam periode lima tahun, berbagai kegiatan yang dilaksanakan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, di Bersambung ke halaman 12

Usia Harapan Hidup Bali Tertinggi Nasional

tkh/wah

HASIL Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 menempatkan Bali sebagai provinsi menduduki peringkat usia harapan hidup tertinggi di Indonesia. Usia harapan hidup di Indonesia rata-rata 69 tahun, sedangkan di Bali 72,04 tahun. Hasil Susenas BPS Bali tahun 2009 mengungkapkan, usia harapan hidup setelah umur 0 tahun (E0) meningkat 0,07 tahun dibandingkan tahuntahun sebelumnya. Tahun 2006, angka harapan hidup rata-rata 70,5 tahun, sedangkan tahun 2007 dan 2008 tercatat 70,6 tahun. Usia harapan hidup meningkat tahun 2009 menjadi 70, 67 tahun.

dr. Nyoman Sutedja, M.P.H.

Kabupaten Tabanan menduduki peringkat tertinggi usia harapan hidup di Bali, yakni 74,38 tahun. Peringkat berikut disusul Kota Denpasar 72,96 tahun; Gianyar 72,06 tahun; Badung 71,75 tahun; dan Jembrana 71,73 tahun. Sementara usia harapan hidup terendah berturut-turut ada di Karangasem 67,85 tahun; Buleleng 68,96 tahun; dan Klungkung 69,05 tahun. “Kearifan lokal yang ada di Bali sangat menunjang tingginya angka harapan hidup,� ungkap Kadis Kesehatan Bali dr. Nyoman Sutedja, M.P.H. kepada Koran Tokoh, Jumat (8/7). Ia memaparkan Bali dengan desa pakraman memiliki kekuatan menghimpun masyarakat. Fasilitas berupa balai banjar adat menjadi penunjangnya. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki balai pertemuan yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial. Di Bali, balai banjar ini bukan hanya difungsikan saat ada kegiatan adat, tetapi bisa dimanfaatkan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Kegiatan posyandu lansia digelar tiap bulan. Para lansia datang untuk senam, memeriksakan kesehatan, dan berkomunikasi dengan lansia lainnya. “Ngobrol sesama lansia

Adat Bali Anticerai semacam itu bukan barang baru pada zaman kerajaan tempo dulu. Seorang raja memiliki permaisuri maupun selir. Permaisuri biasanya dinobatkan kepada istri raja yang berasal dari wangsa yang sama. Jika datang dari wangsa lain umumnya

Jaleswari P.

Bersambung ke halaman 12

perempuan yang diperistri raja ini dijadikan selir. Zaman itu, praktik perceraian hampir tidak terdengar terjadi akibat cekcok raja dengan istrinya. Walau raja bisa saja memulangkan pendamping hidupnya yang gagal memberikan keturunan. “Namun, istri raja yang dipulangkan ke rumah keluarga asalnya itu tetap diberi bekal kehidupan yang cukup sampai akhir hayatnya,� ujar Ngurah Agung. Tradisi seorang raja berpoligami pun diakui Panglingsir Puri Peguyangan A.A.

A.A. Ngurah Widiada

BIDUK rumah tangga yang karam bukan hanya terbilang tinggi akhir-akhir ini. Angka perempuan berstatus janda di Bali lebih banyak dibandingkan lelaki yang menduda.

S

eorang perempuan separuh baya tampak gelisah. Sesekali matanya mengintip jam tangan di lengan kirinya. “Sudah hampir pukul 12.00 sidangnya kok belum dimulai ya‌â€? ujarnya kepada wartawan Koran Tokoh di Pengadilan Negeri Denpasar belum lama ini. Usut punya usut ternyata perempuan bertubuh mungil ini sedang menanti giliran sidang gugatan perceraian. Ia menggugat cerai sang suami yang

I Made Purna

bekerja sebagai PNS di Denpasar. Gugatan perdata ini dilayangkan sebulan sebelumnya ke pengadilan umum ini. Percakapan terhenti saat seorang panitera mendekatinya. Sidang hari itu konon segera dimulai. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, bergegas menuju ruang di sayap utara ruang sidang utama. Proses persidangan berlangsung tertutup. Sidang berlangsung sekitar 45 menit. Ia keluar dari ruang

sidang dengan wajah berseri. “Akhirnya hakim mengabulkan gugatan saya untuk bercerai,� ungkapnya setengah berbisik. Perceraian tersebut diakuinya melegakan hati. Dirinya telah terbebas dari belenggu penderitaan batin. “Selama hampir lima tahun saya dan suami cekcok terus-menerus. Saya tidak mau dimadu. Putusan hakim sungguh membuat hati saya plong,� ungkapnya. Ia mengaku sebenarnya bahagia selama awal perkawinan. Dua anak lahir dari rahimnya. Selama itu, perjalanan rumah tangganya baik-baik BERITA TERKAIT HALAMAN 14

Di balik bangunan megah Pengadilan Negeri Denpasar di Jalan PB Sudirman ini tersimpan rekaman data ratusan kasus hukum perceraian

Ngurah Gede Widiada bukan masalah zaman dulu. Status puri semasa era kerajaan di Bali tempo itu merupakan simbol kepemimpinan yang mengakar. Puri menjadi sentral berbagai aktivitas sosial, politik, budaya, maupun keagamaan. Ini otomatis mencitrakan figur raja sebagai simbol prestise di mata masyarakat. “Jika ada wanita yang diperistri raja kan otomatis memengaruhi prestise sosial. Derajat sosialnya naik. Ini stigma sosiologis zaman itu Bersambung ke halaman 12

tkh/dok

Ida Ayu Putu Tirta

Bersambung ke halaman 12

Penduduk Bali 8,09% Janda

tkh/dok

tkh/dok

RAJA Karangasem dulu memiliki 60 istri. Tetapi, semua istri sang paduka ini memperoleh jaminan hidup hingga akhir hayat. Menurut tokoh muda Puri Karangasem, A.A. Ngurah Agung, S.H., M.H., tradisi

itu bisa menghilangkan stress, sehingga umur mereka panjang. Ada juga lansia yang datang ke balai banjar adat bersama cucunya. Dalam kegiatan ini ada fasilitas pendidikan anak usia dini, bahkan lebih lengkap lagi dengan program kombinasi bina keluarga balita,� papar Sutedja. Aktivitas di satu lokasi ini membuat masyarakat mudah mendapat pelayanan. Tugas pemerintah menjadi lebih mudah karena masyarakat juga memberi respons positif. Kearifan lokal lainnya, adalah penanaman nilai-nilai budi pekerti yang diberikan kakek-nenek kepada cucunya tanpa mengesampingkan peran orangtua si anak. Misalnya, penanaman pengetahuan tentang orangtua yang sibuk, tetapi anak mereka diasuh kakek-neneknya. Peran kakek dan nenek dilukiskan sangat sentral dalam memberikan petuah dan contoh. Misalnya, kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Ini menjadi salah satu parameter dalam mewujudkan perilaku hidup bersih dan sehat. Usia harapan hidup juga berkaitan dengan angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. Makin

suatu malam ia memandang langit yang bertaburan bintang, dan ia membayangkan dirinya ada di sana. Mengalirlah liriklirik sederhana yang indah, yang ditulis kemudian direkamnya sederhana dengan iringan dentingan organ yang dimainkannya sendiri. Demikian halnya dengan lagu-lagu lain. Lagu-lagu ciptaannya ini terinspirasi dari alam dan kerinduannya akan masa kecil, serta suami tercintanya yang tak lain adalah Hakim Bom Bali I almarhum I Made Karna, S.H. Tembang rindu itu seolah membawa Pridari

tkh/sep

Ketua BK3S Bali Ny. Ayu Pastika, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan Ketua INTI Bali Cahaya Wirawan Hadi usai penyerahan bantuan di Nusa Penida

SIAPA menyangka, seorang ibu rumah tangga biasa, nenek dengan tujuh cucu, diam-diam berkarya, justru di usianya yang bisa dibilang lanjut. Banyak kerabat dan orang-orang terdekatnya tak percaya mendengarkan hasil ciptaannya. Bahkan, ia sendiri pun mengaku tak percaya bisa berkarya seperti itu. “Saya tak terlalui piawai bermain organ. Saya juga tak pernah berencana menciptakan lagu. Semua mengalir begitu saja bagai air,� ujar perempuan kelahiran Nusa Penida yang karib disapa Pridari Karna ini. Lirik-lirik lagu itu tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya ketika ia membayangkan sesuatu. Misalkan saja ketika

A.A. Ngurah Agung

saja. “Namun, saat anak sulung kami menginjak bangku SMP sekarang ini suami saya tepergok menjalin hubungan khusus dengan perempuan lain. Saya tidak bisa menerimanya,� katanya. Sejak itu statusnya menjanda. Tetapi, ia tidak sendiri menyandang predikat itu di Bali. Dari angka perceraian yang diproses di PN Denpasar khususnya terungkap jumlah perempuan yang menjanda mencapai angka 374 orang selama tahun 2010. Angkanya bertambah 180 janda baru selama lima bulan pertama tahun 2011. Seperti dilansir Koran Tokoh Edisi 650, mantan Humas PN Denpasar Posma P. Nainggolan, S.H. memaparkan rekam kasus perceraian yang diputus PN Denpasar mencapai angka 374 selama tahun 2010. Data yang dikutip dari buku register di Bagian Hukum PN ini mengungkapkan, selama lima bulan pertama tahun 2011 angka kasus perceraian yang masuk ke PN Denpasar mencapai 180 kasus. Lembaga peradilan ini mencatat angka perceraian tergolong paling tinggi dalam kategori perkara perdata yang diproses di pengadilan umum ini. Status janda maupun duda tak selamanya akibat pengadilan mengabulkan gugatan hukum. Janda atau duda dapat pula disandang seseorang lantaran pasangan hidupnya meninggal. Badan Pusat Statistik (BPS) Bali merekam datanya tahun 2009. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2009 lembaga ini mendata jumlah penduduk di Bali 3.556.998 jiwa. BPS Bali merinci jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin. Jumlah perempuan Balisaat itu 1.779.566 jiwa, laki-lakinya 1.777.432 jiwa. Dari data tersebut diungkapkan ada 8,09% jumlah janda di Bali, sedangkan jumlah duda 3,06%. Ini berarti, jumlah janda lebih banyak dibandingkan duda di daerah ini. —sam,ten

Ketua TP PKK Kota Denpasar Ucapkan Selamat Galungan dan Kuningan

HARI suci agama Hindu, Galungan dan Kuningan adalah momentum umat Hindu dengan penuh rasa bakti melaksanakan rangkaian ritual keagamaannya disertai segala tanggung jawab moralnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Galungan yang memiliki arti luhur merayakan kemenangan dharma melawan adharma bahwa sifat adharma inilah yang harus dikalahkan. Dilanjutkan dengan niat yang suci, melakukan pembersihan diri, baik dengan tapa, japa, brata yang dalam bahasa sekarang bisa disebut ’tekad untuk berbuat suci’. Bersama perayaan Hari Raya Galungan pada Rabu (6/ 7) serta Kuningan, pada Sabtu (16/7), Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra, bersama Wakil Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jayanegara serta Ketua

Ny. Antari Jayanegara, Ny. IA Selly D. Mantra, dan Ny. Rai Iswara

Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar Ny. Rai Iswara secara khusus menghaturkan selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Secara bersama mereka mengajak melalui pawedalan jagat atau otonan gumi, pada hari Buda Kliwon Dungulan, sebagai umat Hindu di Bali, untuk bersama ngaturang maha suksemaning idep ke

hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas terciptanya dunia serta segala isinya ini. Kemudian disusul Kuningan pada Saniscara Kliwon Kuningan yang merupakan tonggak hari memperoleh karunia kasih sayang, yang disimbolkan melalui berbagai perlengkapan upakara, sehingga perlu Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

10 - 16 Juli 2011

ASPIRASI

KORAN TOKOH

Perceraian

Bagaimana cara menyelenggarakan bazar yang tepat untuk penggalian dana?

LEMBAGA perceraian ada, untuk menghentikan penderitaan suami istri yang tidak habis-habisnya bercekcok. Tetapi, sebagaimana pemutusan terhadap apa saja, tentu akan terjadi satu kegoncangan. Memang pertengkaran pun habis sudah. Tetapi, benarkah semuanya Putu Wijaya juga selesai? Ketika salah seorang saudara Amat tak henti-hentinya bercekcok, muncul usul dari keluarga agar mereka bercerai saja. Tetapi, ketika yang bersangkutan datang ke Amat untuk minta nasihat, Amat tidak serta-merta memberikan dukungan. Dia mengembalikan pertanyaan itu kepada mereka. “Kalau mau bercerai, coba pikirkan, untuk siapa perceraian itu?” “Ya untuk kami berdua, Pak, sebab kami sudah tidak cocok lagi.” “Jadi untuk menyelamatkan kalian berdua dari penderitaan batin?” “Betul.” “Bagaimana dengan anak-anak?” “Ya mereka juga akan ikut menikmatinya, sebab selama ini mereka juga ikut menderita karena ketidakcocokan kami.” “Bukan sebaliknya? Mereka akan tambah menderita, sebab tidak ada yang benar-benar akan mengurus mereka?” “Kami akan membaginya Pak, kami akan sama-sama mengurus.” “Jadi mereka akan mendapatkan pengurusan dari hanya salah satu kalian. Sebagian hanya dari ibu dan sebagian hanya dari bapak?” “Betul.” “Bagaimana kalau nanti kalian kawin lagi?” “Ya mereka tetap akan kami urus.” “Tetapi, mereka pasti harus berbagi lagi dengan pasangan kalian yang baru yang pasti meminta juga perhatian?” “Ya itu memang risikonya, Pak. Tetapi, tidak ada tindakan yang tanpa risiko. Daripada kami lanjutkan perkawinan yang sudah berantakan ini, lebih baik memulai yang baru.” “Siapa bilang kalian harus melanjutkan pernikahan yang berantakan? Kalian harus melanjutkan pernikahan dengan tidak berantakan. Kembali kepada keadaan ketika kalian mula-mula menikah.” “Tidak bisa, Pak. Semuanya sudah berubah.” “Semuanya akan terus berubah, tidak mungkin tidak. Itulah hidup!” “Maksud Bapak?” “Yang berantakan pun kalau diteruskan akan berubah,” “Tidak mungkin, Pak.” “Tidak mungkin, atau karena kalian tidak mau?” “Kedua-duanya, Pak. Tidak mungkin lagi kami disatukan. Kami juga tidak mau lagi disatukan!” “Jadi kalian memang bertekad untuk berpisah?” “Betul.” “Bagaimana pendapat anak-anak?” “Ya nggak tahu. Mereka menurut saja!” “Mereka terpaksa menurut atau mereka kalian paksa menurut?” “Ya terpaksa, karena keadaannya sudah begini.” “Bagaimana kalau mereka tidak ingin kalian bercerai.” “Tidak bisa. Kami tidak bisa lagi hidup bersama.” “Kenapa?” “Karena sudah terlalu banyak persoalan.” “Persoalan apa saja?” Lalu masing-masing mengungkapkan kebrengsekan yang lain. Amat mendengarkan dengan sabar semua yang mereka katakana. Tetapi, pada akhirnya ia kembali pada pertanyaan. “Apakah anak-anak pernah kalian beri tahu apa masalah kalian?” “Mereka sudah tahu.” “Bukan memberi tahu apa yang sudah mereka tahu. Tetapi, memberi tahu apa yang mereka belum tahu.” “Maksudnya?” “Ya Bapak juga tidak tahu. Coba beri tahu mereka apa yang mereka belum tahu. Jangan disembunyikan!” “Tetapi, mereka masih anak-anak.” “Memang. Tetapi, memberi tahu mereka karena keadaannya terpaksa. Memberi tahu mereka, sebenarnya bukan untuk mereka, tetapi untuk kalian sendiri. Keluarkan semua alasan kalian. Siapa tahu dengan mengeluarkan semua unek-unek itu perasaan kalian juga menjadi ringan. Siapa tahu itu akan mengubah keputusan kalian.” “Sudah terlambat, Pak.” “Terlambat bagaimana?” “Kami masing-masing sudah punya rencana yang lain. Kalau diubah lagi, nanti semuanya jadi berantakan.” “O jadi kalian sudah punya rencana baru?” Tidak dijawab. “Sudah kalian beritahukan rencana baru itu pada anak-anak?” Tidak dijawab. “Kalau begitu, Bapak juga tidak bisa menjawab ya atau tidak. Kalian datang kepadaku bukan untuk mencari jalan yang baik, tetapi hanya untuk menambah suara untuk rencana kalian yang baru itu. Bapak tidak.mau ikut mendukung atau menolak. Bapak lebih memikirkan anak-anak. Mereka selama ini yang menjadi korban perceraian. Dampaknya kini memang belum terasa, tetapi nanti di belakang akan sangat kelihatan.” Suami_istri yang mau bercerai itu lalu pulang. Belakangan Amat mendengar bahwa mereka tidak jadi bercerai. Mereka berusaha untuk memperbaiki hubungan.. Tetapi, itu hanya berlangsung satu tahun. Pada tahun kedua, mereka datang lagi pada Amat. “Kami sudah bercerai, Pak.” “O ya?” “Kami sudah berusaha untuk bersatu, tetapi tidak bisa. Jadi lebih baik kami berpisah saja. Karena, sesuatu yang dipaksakan akibatnya lebih parah, Anak-anak juga setuju.” “O ya?” “Ya.” “Kalau begitu untuk apa kalian datang ke mari?” “Untuk berterima kasih pada Bapak. Bahwa perceraian memang pada dasarnya tidak baik, khususnya untuk perkembangan anak. Jadi, harus dipikirkan matang-matang. Bukan kebahagiaan kami yang penting, terutama kebahagiaan anak-anak harus dinomorsatukan. Tetapi, perceraian itu juga penting dalam rangka jangka panjang, untuk mencegah agar di kemudian hari tidak akan ada lagi peselingkuhan dan kekerasan. Jangan lagi perempuan hanya dijadikan bulan-bulanan, karena perempuan berhak minta cerai. Jangan lagi ada perselingkuhan, sebab itu bisa menjadi penyebab perceraian. Dulu orang takut bercerai atau tidak mau bercerai. Sebagai akibatnya, itu dipakai oleh pihak yang berkuasa di dalam rumah tangga untuk menindas pasangannya. Sekarang itu tidak akan terjadi lagi!” Amat terhenyak

Ayu Dwijayanti Jual kupon aja tapi jangan makanan fast food. Pilih menu tradisional Bali. Ajeg Bali sekalian ber-dana punia.

Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Pacaran dan Reproduksi yang Sehat” Sampaikan opini Anda Minggu 10 Juli 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@radioglobalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 17 Juli 2011

Sanksi Adat yang Bercerai karena Selingkuh BERAGAM penyebab terjadinya perceraian suami-istri. Karena, hanya mengikuti libido seks. Perkawinannya didasari cinta monyet. Karena, emansipasi kebablasan. Desa adat perlu bersikap antisipatif. Nasihat tentang keburukan dan dampak negatif bercerai jangan hanya diberikan saat datang dalam acara perkawinan. Berikan pencerahan sebelum terjadinya kasus. Jangankan desa adat, keluarga dekat pun sering tidak mempan nasihatnya. Tetapi, di Penebel, desa adat sudah berperan. Perlukah soal perceraian diatur dalam awig-awig dan dikenai sanksi adat pelakunya? Di Ubud ada sanksi berupa beras dan macaru. Jika bercerai karena selingkuh tidak boleh datang ke pura. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5, Minggu (3/7). Topiknya, “Apa Peran Desa Adat Cegah Perceraian”. Berikut petikannya.

Bukan hanya Mengikuti Libido Dalam mencegah perceraian, desa adat hanya sebagai fasilitator untuk memediasi kedua pihak yang bertikai. Mereka bertanggung jawab menyadarkan suami, istri dan warga masyarakat bahwa perkawinan merupakan wahana untuk melakukan swadarmanya yang berkontribusi saling memberi dan menerima agar terjalin hubungan harnomis. Kenyataannya, peran desa adat belum maksimal. Pemahaman bahwa lembaga perkawinan sangat diagungkan juga mestinya dipahami desa adat. Bagaimana menyadarkan pelaku perkawinan merupakan tugas penjuru adat. Kawin bukan sekadar mengikuti keinginan libido, tetapi untuk membina rumah tangga yang nyaman dan melahirkan keturunan suputra. Dalam UU Perkawinan sebenarnya hal ini sudah termasuk, karena sebagai lembaga konsoling agar semua pihak menjadi sadar lembaga perkawinan harus dihormati dan disakralkan. Setelah dilakukan perka-

yang sudah menyakiti istrinya tidak terlalu ditanggapi. Istri dipojokkan dan diharuskan menerima yang sudah terjadi dan melupakan semuanya. Penyadaran kepada pihak laki-laki sampai Ubah Aturan Adat sejauh ini belum ada. Gede Biasa Banyak yang menyebabkan kasus perceraian bertambah. Pencerahan Perubahan mata pencaharian masyarakat Bali dari pertanian sebelum Terjadi Kasus ke pariwisata misalnya. Ini suSaat ini teknologi sudah dah mengubah karakter masya- canggih. Orang begitu mudah rakat. Perempuan yang dulunya berinteraksi. Ada facebook dan diam di rumah sekarang sudah ponsel. Hal ini bisa juga menbisa pergi pagi dan pulang ma- jadi pemicu perceraian. Pertalam. Pendidikan emansipasi hanan kita rapuh. Faktor luar mengubah karakter wanita Bali tidak akan mampu menggoyahmenyikapi persoalan yang ada. kan apabila kita memunyai Dulu, mereka tidak memunyai prinsip yang kuat. Desa adat wawasan, mereka hanya me- hanya datang dua kali untuk nerima. Apa pun konsekuensi- menyelesaikan masalah. Yang nya mereka hanya bisa pasrah pertama, saat akan menikah, memenerima keadaan. Sekarang reka berperan dalam prosesi berbeda. Wanita Bali sudah ber- ngidih. Mereka juga memberi pikir ke depan dan bisa mem- nasihat kepada calon mempelai. bela hak-haknya. Menyikapi Setelah itu mereka lepas tangan. ini, aturan adat harusnya segera Seharusnya dijadwalkan tiap mengalami perubahan, meng- berapa bulan atau ada acara terantisipasi kemajuan yang ada. tentu untuk rutin memberikan Dalam tiap masalah, para orang- nasihat perkawinan untuk mentua selalu memberi nasihat jaga kerukunan rumah tangga. kepada para istri “de be sanget- Yang kedua, desa adat ikut berang. Mulih pedalem panake.” peran lagi saat terjadi perceraiPihak wanita tidak dihargai hak- an. Kalau keadaan sudah memahaknya,. Penderitaannya tidak nas, kedatangan tokoh adat tidak dipertimbangkan. Mereka di- efektif. Kalau sudah telanjur mau suruh kembali ke suaminya, ka- cerai bagaimana lagi. Seharusrena alasan anak-anaknya. nya, pencerahan kerohanian diTingkah laku suaminya perbanyak sebelum terjadi kasus. Edi

winan melalui mekanisme hukum dan adat, sebenarnya perkawinan sudah menjadi milik bersama. Pande, Pandak Gede

Bersambung ke hlm. 12

Nithaa Sinthaa Anagh Spenda Jual kupon, lelang, jual makanan, jual barang-barang daur ulang, atau barang-barang kerajinan. Gustut Iswara Buka warung, jual nasi jinggo, es cendol dan krupuk melinjo. Yudi Mahendra Tingkat II Tempatnya strategis, jangan lupa tambahan acara biar seru. Menunya juga enak-enak. Lilik Widya Browiyanto Selenggarakan bazar “barbeku” (barang bekas berkualitas) seperti barang-barang yang tersimpan di gudang namun masih berguna dikumpulkan. Saya yakin, pasti setiap orang punya barang yang tidak terpakai. Kemudian dijual dalam bentuk bazaar, bentuk panitia. Hal tersebut sangat bermanfaat selain ikut menjaga lingkungan dari sampah (barang-barang bekas tersebut), juga bisa menghasilkan dana. Rudal Skud Gunakan cara seefisien dan efektif dalam menyusun rencana bazar dan acara bazarnya. Contohnya, rencanakan sebulan sebelum acara bazar, pastikan barang-barang yang cocok dijual dan diminati pembeli, jangan terlalu tinggi memanfaatkan penjualan, kuponnya minimal Rp 30 ribu, dan yang terpenting adalah menyelenggarakan acara bazar ini lebih baik pada hari raya besar agama/liburan masyarakat. Dengan menggunakan cara ini, hasilnya pasti memuaskan. Yoga Itu Masih D’ngOurre Jual kupon dengan menu yang gak biasa tapi tetap menarik, sehat, enak.

Untung Ada JKBM Mei lalu saya “merayakan” HUT ke-74. Rabu, 29 Juni, bertepatan dengan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, saya mendapat serangan jantung. Karena hari itu hari libur Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, semua rumah sakit libur. Tetapi, UGD kan selalu buka. Jadi, saya dibonceng anak saya menuju UGD Rumah Sakit Sanglah. Sebelum berangkat saya menyiapkan obat-obat sakit jantung yang biasa saya minum dan surat JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara). Kami masuk di UGD Triage, langsung ditanyai, “Bapak pakai Askes atau umum?” Anak saya menjawab, “JKBM”. Dengan napas tersengal-sengal saya dibaringkan di dipan beroda, dipasangi infus dua macam dan diberi bantuan oksigen. Setelah tensi diperiksa dan jantung direkam dengan EKG, saya lalu dibawa ke ruang radiologi untuk dirontgen. Dari sana kembali ke UGD dan diberi obat untuk diminum seketika itu juga. Agaknya mereka menanti reaksi obat tersebut. Selama itu anak saya mengurus surat-surat JKBM dan persetujuan dari RS Wangaya. Setelah anak saya kembali mengurus surat-surat, ia memberitahukan bahwa saya harus dirawat inap. Ketika itu sekitar pukul 11.00. Sampai pukul 12.30 saya belum dipindahkan ke sal. Sementara itu pasien lain mulai berdatangan karena semua poliklinik tutup. Ada yang mengerang-ngerang kesakitan, ada yang hoek-hoek muntah, ada juga anak yang menangis keras-keras sambil meronta-ronta. Saya diberi nasi kotak untuk makan siang, tetapi saya tidak dapat makan karena suasana yang demikian. Rasanya seperti (barangBersambung ke hlm. 12 kali) di Api Penyucian.

Pacaran Sehat dan Reproduksi Sehat TIDAK ada yang lebih indah daripada ‘sehat’, itu ungkapan dari salah seorang pemerhati kesehatan. Betul, betul, betul, kata Ipin. Bagaimana tidak? Kalau sedang sakit apa bisa menikmati pantai yang indah, atau pegunungan yang hijau? Dan, pasti apa pun jenis sakitnya, akan menimbulkan rasa tidak nyaman, menderita, dan memerlukan waktu serta biaya untuk sembuh, itu pun kalau bisa sembuh! Maka tidak salah juga ungkapan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati, karena pencegahan pasti pula memerlukan upaya yang lebih mudah, lebih ringan, dan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan pengobatan. Pengertian ‘sehat’ mengandung aspek ‘sehat fisik’, ‘sehat psikis/mental’, ‘sehat sosial’, dan bolehlah ditambahkan ‘sehat spiritual’. Jadi, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi semua unsur sehat tersebut, dan semua aspek sehat pasti memiliki unsur-unsur pencegahannya. Sebenarnya tidak sulit untuk mengetahui bagaimana kiat-kiat menjaga kesehatan kita, karena pengetahuan tentang hidup sehat secara umum sudah banyak didapatkan di berbagai media massa yang dengan

mudah bisa diakses dari mana pun kita berada. Mungkin masalahnya adalah kita ‘tidak mau’ menjaga kesehatan, dengan mengabaikan sikap dan perilaku hidup sehat dalam keseharian kita, entah disadari atau tidak. Celakanya hampir semua yang ‘enak duniawi’ tidak berdampak baik untuk kesehatan, apa pun itu. Nah sekarang masalah pacaran, yang merupakan peristiwa interaksi asmara antara dua (atau lebih?) individu yang umumnya sosok remaja, meski tidak menutup kemungkinan dilakoni ‘orang tua’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang ada di ipad saya, kata dasar ‘pacar’ memiliki arti teman lawan jenis yang ‘tetap’ dan memiliki hubungan berdasarkan ‘cinta kasih’. Berarti, sebuah hubungan asmara yang tidak memenuhi definisi tersebut tidak bisa dikatakan pacaran. Dan, jika mengacu ke batasan tersebut, ‘pacaran’ itu sudah mengandung nilai-nilai yang sehat karena dilakukan dengan ‘lawan jenis yang tetap’ alias tidak gontaganti pasangan, dan hubungan berdasarkan ‘cinta kasih’, jadi sebenarnya tidak perlu ada ungkapan ‘pacaran sehat’. Terus, apa hubungannya pacaran dengan kesehatan reproduksi? Karena, pacaranlah merupakan langkah paling awal persiapan manusia ke arah

dr. Made Suyasa Jaya, Sp.O.G. (K)

reproduksi atau menuju lahirnya manusia-manusia baru yang tentu harapan kita akan lebih baik secara kualitas dibandingkan pendahulunya. Kesehatan reproduksi, baik pada pria maupun wanita, memegang peran yang sangat penting untuk perkembangan ras manusia menjadi lebih baik, sehingga sangat penting juga menjaga organ reproduksi tetap sehat dan menghindari sikap serta perilaku yang bisa menimbulkan gangguan terhadap sistem reproduksi kita. Penyebab utama gangguan sistem reproduksi adalah penyakit menular seksual (PMS), di samping penyebab lain seperti aborsi dengan berbagai komplikasinya. Pengobatan terhadap infeksiinfeksi pada organ reproduksi sering tidak adekuat karena keengganan datang ke dokter

ahli atau melakukan terapi sendiri yang tidak tepat sehingga malah meningkatkan resistensi (daya tahan) kuman terhadap pengobatan. Keadaan tersebut bisa menimbulkan cacat menetap pada organ reproduksi dan menimbulkan dampak jangka panjang yang sulit disembuhkan. Sekarang coba lihat perilaku pergaulan remaja kita. Tanpa bermaksud menyamaratakan, cukup sering muncul pemberitaan di media massa betapa remaja (pria) senang mencari pekerja seks komersial, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya dan hanya mencari kenikmatan sesaat. Hubungan seks yang tidak aman ini akan bisa menyebarkan penyakit menular seksual terhadap lawan jenisnya. Dan, di pihak wanita, sering penyakit menular seksual ini tanpa gejala klinis yang jelas sehingga terjadi perjalanan infeksi yang bersifat kronis dan ketika ketahuan sudah pada stadium yang berat. Belum lagi kalau individu pengidap tersebut memiliki banyak partner, maka akan terjadi penyebaran penyakit yang susah ditanggulangi. Maka dari itu amat sangat penting untuk ‘merekonstruksikan’ makna pacaran di kalangan remaja. Di dalam hubungan tersebut terkandung nilai-nilai positif seperti kepedulian terhadap pasangan, tanggung jawab terhadap masa depan bersama,

saling menghormati, dan menjaga satu sama lain. Itulah cinta, bukan nafsu semata yang membuat hubungan menjadi egosentris, tidak mempertimbangkan nilai-nilai susila, dan berdampak buruk bagi kelanjutan hubungan tersebut. Apabila timbul dampak negatif dari sebuah hubungan, biasanya yang lebih menderita adalah pihak wanita, karena organ reproduksi wanita yang memegang peran lebih banyak dalam rangkaian proses reproduksi. Karena wanitalah yang memiliki rahim, tempat berkembangnya janin selama 9 bulan lebih, ‘rumah’ pertama bagi seorang ‘calon’ manusia, yang tentu memegang peran sangat penting dalam menentukan kualitas manusia yang dilahirkan dari rahim tersebut. Mudah-mudahan jelas sekarang betapa pentingnya memaknai arti pacaran, terutama untuk para remaja, untuk masa depan yang lebih baik. Bagi para remaja, sadarilah bahwa kualitas masa depanmu akan sangat bergantung pada langkah-langkahmu hari ini. Sesuatu yang berharga tidak pernah bisa kita capai dengan enak-enakan. dr. Made Suyasa Jaya, Sp.O.G. (K) Ketua POGI Cabang Denpasar

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. z Buleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati z NTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


10 - 16 Juli 2011 Tokoh 3

Drs. I Wayan Solo, M.Si. - Dra. Ni Made Nuratih

2

Suasana di tempat kremasi di depan Pura Pasupatinath

TURNI Tirtayatra Thailand-Nepal-India

4 PERJALANAN tirtayatra di Negara Kaki Langit, Nepal, diawali dengan mengunjungi Pura Pasupatinath sebagai pura terbesar, tertua dan terlengkap dalam mahzab Siwaisme di Nepal. Pura ini

Memaknai 24 Jam dan 12 Hari sudah ada sejak abad ke-5 Masehi dan termasuk kawasan budaya dunia. Lokasinya tak jauh dari Bandara Tribhuvana, Kathmandu. Dulu di dekat pura tersebut ada lokasi tempat Bu Teresa bertugas sebagai misionaris. Namun, tempat itu kini sudah berubah menjadi panti asuhan dengan konsep Hindu. Pura Siwa Pasupatinath

sama dengan Pura Dalem di Bali. Dalam pura terdapat lingga besar berlapis emas sebagai simbol pemujaan Siwa dalam wujud monoteisme, Mahadewa atau Tuhan Mahabesar dan Tunggal. Tour leader kami, Putu Ane Edi, menjelaskan pemangku dan orang yang  Bersambung ke halaman 12

PASANGAN I Wayan Solo-Ni Made Nuratih harus melalui perjuangan hidup yang penuh lika-liku. Mereka sempat bertempat tinggal terpisah karena menunaikan tugas negara. Solo di Sawangan, Badung, sedangkan Nuratih di Gegelang, Karangasem. Namun, keduanya memegang prinsip saling menjaga kepercayaan.

S

olo dan Nuratih menikah 16 Oktober 1986. Saat itu Solo berusia 26 tahun, Nuratih 24 tahun. Sebelum mengikatkan diri dalam tali suci pernikahan, mereka sudah merencanakan keluarga yang ingin dibangun. “Sejak awal kami sudah merencanakan memiliki dua anak sebagai penerapan program KB, dua anak lebih baik,� ungkap Nuratih. Perempuan kelahiran 19 September 1962 ini menuturkan begitu menikah, mereka sudah mengatur pola kontrasepsi. Salah satu pertimbangannya,

Jarak Kelahiran Tiga Tahun Merepotkan jarak mereka yang berjauhan. Mereka menunda dulu memiliki momongan agar bisa fokus bekerja. Tujuan lainnya, mengurus agar Nuratih bisa pindah tugas ke Badung dengan alasan mengikuti suami. Tetapi, cara ini tak membuahkan hasil. Hampir setahun mereka mencoba agar bisa pindah tugas namun gagal. Mereka pun memutuskan untuk memiliki keturunan dulu baru mengurus kepindahan. Alhasil, pertengahan tahun 1987, Nuratih hamil. Anak pertama mereka lahir 30 Maret 1988 dan diberi nama I Wayan Windhuraharja S. “Masuk Rumah Sakit Sanglah hingga melahirkan dan menanam ari-ari saya urus sendiri. Setelah semua beres, baru saya beri tahu orangtua dan keluarga,� kenang Solo. Kelahiran Windhu membuat Solo dan Nuratih sibuk. Setelah cuti selama tiga bulan usai, Nuratih kembali bertugas di SD 2 Babakan, Gegelang, Manggis, Karangasem. Ia mengajak ibunya, Ni Wayan Soka, untuk ikut ke Karangasem menjaga Windhu. Sementara Solo yang mengajar di SD 10 Benoa, Sawangan, harus bolak-balik Benoa-Karangasem. Dalam seminggu, minimal dua hari ia berada di Bumi Lahar untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.

Solo dan Nuratih ‘tirtayatra’ di Pura Gunung Salak

Solo dan Nuratih saat mendampingi Windhu diwisuda

Ketika usia Windhu 1 tahun, barulah Nuratih bisa pindah. Ia ditugaskan di SD 13 Benoa. Lokasi sekolah ini tak jauh dari rumah suaminya. Ia pun bisa berjalan kaki menuju sekolah. Memiliki satu anak ternyata belum cukup bagi pasangan guru ini. Mereka mulai merancang kehamilan kedua. “Kami ingin memiliki anak perempuan agar lengkap. Kami mendatangi dokter kandungan untuk berkonsultasi bagaimana caranya agar bisa melahirkan anak perempuan termasuk melakukan foto rontgen di dr. Danun. Karena ada sedikit masalah di rahim. Jadi harus menanti dulu,� ungkap Nuratih. Saran dokter, Solo diminta mengurangi beberapa jenis daging dan memperbanyak makan sayur. Pasangan ini menghindari memiliki anak dengan jeda tiga tahun. Alasannya, jarak tiga tahun atau kurang, mereka akan kerepotan saat mengurus sekolah anak-anak. Misalnya anak pertama lulus SMP, anak kedua juga lulus SD atau anak pertama masuk SMA, anak kedua masuk SMA. Biar tidak repot, mereka merancang jarak anak pertama dan kedua, minimal 4 tahun. Namun, mereka baru bisa memiliki anak kedua, setelah anak pertama berusia 5 tahun. Anak kedua mereka perempuan yang lahir 15 Agustus 1993 dan diberi nama Ni Made Dwijayanti Rahayu. Tiga tahun setelah kelahiran Dwi, keluarga ini pindah ke Jimbaran. Mereka membina

rumah tangga secara mandiri. Sejak kecil, Solo memang sudah dididik untuk mandiri. Ia diberi tanggung jawab untuk mengurus sapi. Tiap hari, ia juga bekerja di kebun. Tetapi, jika jadwal ujian, Solo dan saudarasaudaranya dilarang bekerja di kebun. Semua harus belajar agar memperoleh nilai yang bagus. Selain itu, orangtua Solo sangat mendukung anak-anaknya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Solo menyelesaikan pendidikan S-1 di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Mahasaraswati tahun 1989 dan pendidikan S-2 di Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia tahun 2010. Demikian juga keluarga Nuratih. Pendidikan menjadi investasi bagi mereka. “Keluarga saya sangat memperhatikan pendidikan. Ketika saya memilih kuliah di Mahasaraswati, hanya ada 3 orang termasuk saya dari Pecatu yang kuliah di Denpasar,� ungkap alumnus Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mahasaraswati tahun 1989 ini. Saat ini Nuratih sedang menyelesaikan pendidikan S-2 di Undiksha. Kedua buah hatinya juga diarahkan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Windhu yang sudah menyelesaikan pendidikan Diploma III Perhotelan dan sudah bekerja di hotel ingin melanjutkan ke jenjang S-1. Sementara Dwi sudah lulus SMK juga ingin melanjutkan ke jenjang S-1. –wah


6

Tokoh

NUSANTARA

10 - 16 Juli 2011

Batik Khas Semarangan Diperkenalkan di PKB

Lima Bulan Pertama 2011

180 Perkara Masuk B Pengadilan Agama Denpasar PERKARA perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Denpasar tercatat rekatif tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun di PA tahun 2010 yang dipantau Koran Tokoh tercatat 338 perkara, meskipun naik turun tiap bulan. Dari 338 perkara tersebut, di antaranya 91 perkara merupakan cerai talak (penggugat pihak laki-laki) dan 148 cerai gugat (penggugat pihak perempuan).

T

ahun 2011, Januari hingga Mei sudah tercatat 180 perkara masuk. Januari tercatat 44 perkara, di antaranya cerai talak 14 perkara dan cerai gugat 28 perkara. Februari 38 perkara, di antaranya 8 cerai talak dan 22 cerai gugat. Maret tercatat 24 perkara, yakni 7 cerai talak dan 17 cerai gugat. April 37 perkara masuk, yakni 8 cerai talak dan 29 cerai gugat. Mei 37 perkara, di antaranya 15 cerai talak dan 19 cerai gugat. Pengadilan Agama Denpasar saat ini menjadi proyek percontohan layanan Pos Bantuan Hukum (Pos Bakum) yang akan diterapkan di Pengadilan Agama seluruh Indonesia. Pos Bakum ini melayani konsultasi hukum bagi warga yang kurang

mampu. Menurut Bambang Triyanto, S.H. yang bertugas di Pos Bakum PA Denpasar, Pos Bakum ini merupakan kerja sama antara Mahkamah Agung dan Pengadilan Agama seluruh Indonesia. “Ini merupakan proyek Mahkamah Agung yang akan diterapkan di seluruh Indonesia. Di Denpasar, ini adalah yang pertama, jadi merupakan pilot project,” ujar pengacara yang juga sekretaris Peradin Korwil Bali ini. Menurut Bambang, Pos Bakum ini melayani konsultasi hukum bagi masyarakat kurang mampu yang tengah mengalami masalah yang termasuk wewenang Peradilan Agama, yakni perceraian, waris, pembagian harta, wali hakim, hak peng-

Gedung Pengadilan Agama Denpasar

asuhan anak, dan lain-lain. “Yang pasti Pos Bakum ini merupakan perwujudan amanah Undang Undang Dasar, bahwa fakir miskin dilindungi negara. Miskin di sini selain miskin ekonomi juga miskin pengetahuan hukum,” kata Bambang. Bambang mengungkapkan, sejak berdiri Maret 2011, cukup banyak warga masyarakat kurang mampu yang memanfaatkan layanan Pos Bakum ini.

Hukum Katolik Larang Cerai AJARAN Katolik melarang suami istri yang terikat perkawinan sah bercerai. Ini sesuai sabda Allah yang berbunyi ‘apa yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan oleh manusia’. “Itu artinya, perkawinan bukan saja soal hubungan manusia dengan manusia, tetapi komitmen suami istri kepada Allah,” ungkap Pastor Paroki Roh Kudus Gereja Katedral Denpasar Romo Kristianus Ratu, SVD kepada wartawati Koran Tokoh di Denpasar pekan lalu . Hukum Katolik hanya membolehkan anulasi atau pembatalan perkawinan jika ada alasan tertentu. “Misalnya, salah satu pihak mengalami tekanan akibat ancaman pembunuhan,” jelasnya. Walau ada alasan semacam itu ternyata langkah perceraian sangat sulit dipenuhi pihak gereja. Ini karena hukum Kato-

Romo Kris

tkh/tin

lik sangat keras melarang perceraian. “Bahkan ajaran Katolik mengakui sahnya perkawinan menurut tata cara agama lain. Jika mereka bercerai dan mau kawin secara Katolik hukum menolak. Romo Kris menegaskan,

ajaran Katolik menekankan perkawinan sebagai tanggung jawab. Namun, ia mengakui, fakta di masyarakat ada saja umatnya yang mengalami keretakan rumah tangga. “Tetapi, mereka tak harus bercerai. Kami membantu mencari akar masalahnya dan memberikan solusinya. Buktinya, banyak pasangan suami istri yang bermasalah akhirnya rujuk kembali setelah dipertemukan di gereja,” kata Romo. Jika ada pasangan suami istri beragama Katolik yang mengalami masalah rumah tangga yang menyebabkan keretakan hubungan sampai pisah ranjang, maka yang bisa dilakukan pihak gereja adalah memberikan masa jedah. “Karena kita tak apa yang terjadi di bawah. Jika ada laporan kami akan memanggil pasangan tersebut dan berusaha menye-

BUKU

Sejatinya Menulis Itu tidak Sulit Judul buku Penulis Tebal/halaman Tahun Terbit Penerbit

: Subconcious Mind Writing (Memanfaatkan Kecerdasan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar Dalam Penulisan) : I Ketut Suweca : 182 + xvi halaman : 2011 : Udayana University Press, Denpasar

Buku yang “dipreteli” kali ini berjudul Subconcious (sebetulnya Subconscious) Mind Writing, sebuah judul yang cukup atraktif, provokatif, dan cukup menantang untuk didalami lebih jauh. Sepintas setelah membaca judul buku ini terkesan bahwa dari awal hingga akhir sajian akan menggunakan bahasa Inggris. Ternyata bukan, apalagi di bawah judul “besar” sudah tertera terjemahan bebasnya yang berbunyi “Memanfaatkan Kecerdasan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar Dalam Penulisan.” Satu lagi, dengan mengamati judul buku ini terlintas di benak penulis (peresensi), tak lebih dari hanya sebuah laporan buku. Ternyata, tidak. Buktinya dengan mengandalkan rujukan utama yang ditulis oleh Lynn Pierce dan Joseph Murphy (hal. 177) ternyata masih ada sebanyak 17 buku yang digunakan penulis. Ini suatu pertanda bahwa si penulis (I Ketut Suweca) secara komprehensif telah memainkan peran sebagai joki sekaligus motivator pembangkit pikiran alam sadar dan pikiran bawah sadar. Setelah membaca dan menyimak buku mungil yang berisi sembilan bagian ini (lihat daftar isi), pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa sejatinya menulis itu tidaklah begitu sulit. Resep mujarab yang bisa dipakai adalah dengan mengawinkan atau menyinergikan pemahaman pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Penulis buku telah mengadopsi pandangan Joseph Murphy yang mengumpamakan

pikiran sadar itu sebagai seorang kapten kapal sedangkan anak buah kapal diibaratkan sebagai pikiran bawah sadar. Keduanya tak bisa berjalan sendiri-sendiri melainkan harus bersinergi dan saling berkolaborasi. Murphy memberikan perumpamaan “bahwa pikiran sadar itu sebagai kapten sebuah kapal. Ia memberi perintah kepada orang yang bertugas di kamar mesin yang mengatur semua ketel-ketel uap, mesin, dan instrumen lainnya. Orang-orang di kamar mesin tidak tahu ke mana kapal itu berlayar. Mereka hanya mengikuti sesuai perintah yang diberikan kapten kapal, tidak peduli apakah kapal itu menabrak karang atau tidak, karena mereka patuh secara otomatis. Anak buah kapal yang berada di kamar mesin tidak membantah kapten. Mereka mengikuti perintahnya” (hal. 65-66). Selanjutnya penulis buku juga mengutip pendapat Erbe Sentanu, 2008:86 yang menyatakan, “bahwa umumnya manusia memanfaatkan pikiran sadarnya yang memiliki kekuatan hanya 12% dari seluruh kekuatan pikirannya. Pikiran sadar inilah yang biasa kita maksud ketika menyebut seseorang sedang menggunakan “otak”-nya. Sedangkan yang 88% merupakan kekuatan bawah sadar yang jarang sekali dimanfaatkan secara maksimal (hal. 67).

dalam mendapatkan judul tulisan dan kelengkapan uraian dalam tulisan yang mengacu pada judul tulisan, penulis buku memberikan semacam resep yaitu menghubungkan pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar. Setelah keduanya terhubung, secara otomatis akan ditemukan kecerdasankecerdasan semesta. Kalau hal ini dapat dilakukan niscaya segala jenis informasi dan persoalan dapat dipecahkan dengan bantuan kecerdasan semesta itu. Lebih-lebih pikiran bawah sadar itu sewaktu-waktu dapat diakses oleh pikiran sadar (hal 78). Selain itu, perlu pula ditimbulkan dengan upaya-upaya meditasi, bersembahyang dan berdoa memohon petunjuk ke hadapan Yang Kuasa (hal 73). Kendati kesembilan bagian isi buku ini telah cukup mewakili mengantarkan seorang calon penulis dan penulis pemula untuk menjadi seorang penulis beneran, namun beberapa hal patut dicermati sebagai sebuah “kelalaian” secara redaksional. Daftar pustaka yang ditemMenghubungkan Pikiran Guna mendapatkan inspirasi patkan paling akhir (hal 177-178)

tkh/nang

Jam kerjanya, Senin – Rabu pukul 09.00 – 11.00. Tiap hari lima sampai enam orang datang ke pos. Masalahnya macammacam, namun sebagian besar kasus perceraian. “Penyebab perceraian macammacam, tetapi yang paling sering pertengkaran dalam rumah tangga, masalah ekonomi, ada orang ketiga sampai tidak terima karena dimadu,” ungkap Bambang. —nang

lesaikan masalah,” katanya. Untuk membantu umat yang bermasalah dengan rumah tangga pihak gereja telah membentuk tim konselor. Ada semacam pelatihan bagi pasangan konselor untuk membantu keluarga yang bermasalah. “Sejauh ini sudah ada 100 pasangan suami istri yang mendaftar dan siap mengikuti pelatihan dan seminar konseling,” katanya. Pria asal Flores ini mengatakan, meski kerasnya aturan yang melarang perceraian dalam agama Katolik ini, ada saja orang Katolik yang memaksa bercerai. “Hukum sipil bisa menceraikan. Perceraian itu sah secara hukum negara, tetapi secara hukum Katolik pasangan bercerai tersebut tetap sah sebagai suami istri. Mereka tak bisa menikah kembali selama masih hidup,” tuturnya. Menurutnya, orang Katolik resmi bercerai dalam hukum sipil dan menikah lagi dalam agama lain, maka hak-haknya di gereja dibatasi. “Ia boleh datang ke gereja seperti umat lainnya, tetapi tak boleh menerima komuni, yaitu tubuh dan darah Yesus. Mereka dianggap masih dalam keadaan berdosa akibat menikah lagi,” katanya. —tin semestinya mengambil posisi sebelum lampiran-lampiran karena daftar pustaka itu masih menjadi bagian inti tulisan, sedangkan lampiran-lampiran merupakan bagian penyudah atau bagian akhir. Oleh karenanya, layak lampiranlampiran itu dimunculkan setelah daftar pustaka. Buku-buku yang dirujuk belum alfabetis atau belum diurut sesuai huruf awal nama penulis. Contoh; nama Murphy sebetulnya berada di atas Piere, nama Royan semestinya ditulis di bawah Putra, dan seterusnya. Dalam lampiran 2 tentang “Daftar Hari Penting Nasional dan Internasional” masih terlihat beberapa yang kurang sinkrun. Contoh; 31 Januari Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU), ada singkatan NU, sedangkan pada 19 Februari Hari KOHANUDNAS, di mana kepanjangan KOHANUDNAS belum disebutkan di situ. Begitu pula 9 Februari Hari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Hari Pers Nasional (mulai 1946). Dua “Hari” yang disebut terakhir ini sesungguhnya terdapat kekeliruan. Yang benar adalah HUT PWI 9 Februari (lahir/dibentuk 9 Februari 1946), sedangkan Hari Pers Nasional (HPN) dimulai 9 Februari 1986 dan bukannya tahun 1946. Pemunculan koreksi ini bukan semata-mata ingin meluruskan yang semestinya perlu diluruskan, namun masih ada maksud yang lebih luhur yakni semacam sapaan dan imbauan untuk melangkah maju setapak lagi. Langkah itu tiada lain adalah launcing, atau bedah buku, atau apalah namanya, yang jelas untuk menambah sempurnanya buku ini, dengan menghadirkan tokoh dan pecinta-pecinta buku di seputar kita. Terlepas dari segala kekurangan yang masih ditemui dalam buku ini, penulis (peresensi) berkeyakinan bahwa buku ini amat penting dijadikan pedoman oleh siapa saja (terutama calon-calon penulis dan penulis pemula) untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang bermutu. Banyak kiat dan jurus-jurus jitu yang tersedia dalam buku ini. Selamat membaca dan mencobanya. z Romi Sudhita

ATIK sudah menjadi bagian seni grafis asli Nusantara. Namun, ternyata Kota Semarang sebagai salah satu pusat perdagangan di Indonesia tidak dikenal secara populer seni batiknya seperti kota tetangganya, Yogyakarta dan Solo. Momen Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 dimanfaatkan Pemerintah Kota Semarang untuk mengenalkan batik khas Semarangan yang belum lama bangkit setelah sempat tertidur lama. “Selain memamerkan kain batik dan kemeja-kemeja batik, stan Kota Semarang juga memperagakan bagaimana pembatik membatik di sebuah kain, sehingga pengunjung bisa langsung mengetahui atau bertanya langsung,” kata Ny Vien, pemilik sebuah sanggar batik yang tampil di stan PKB. Vien menjelaskan, batik Semarang jelas memiliki ciri khas terutama pada motifnya, yakni menonjolkan ikon-ikon landmark Kota Semarang. “Motif ini memang relatif baru dikembangkan,” ungkap Vien sembari serius membatik di seulas kain. Ikon-ikon Kota Semarang yang menjadi motif tersebut antara lain Tugu Muda, Lawang Sewu. Pohon Asem, Blekok Srondol. Sebanyak 11 motif telah dipatenkan di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Vien menuturkan, batik Sema-

tkh/nang

Ny. Vien tengah memperagakan pembuatan seni batik khas Semarang di PKB ke-33

rangan juga mengembangkan motif cerita-cerita rakyat yang berkembang di Jawa Tengah, seperti legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan, Jaka Tingkir. Tanggal 24 Juli 2007, Pemerintah Kota Semarang melalui Disperindag meluncurkan batik Semarang melalui sebuah seminar yang membahas mengenai motif dan identitas batik. Disepakati, batik Semarang adalah batik yang diproduksi orang atau warga Kota Semarang dengan motif atau ragam hias yang berhubungan dengan ikon-ikon Semarang. Pengertian itu belum definitif karena tidak menutup kemungkinan masih berlanjutnya penelitian mengenai batik

Semarang. Batik-batik yang dipamerkan di stan PKB, menurut Vien cukup dinikmati pengunjung. Dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu, Vien mengungkapkan pembelinya cukup banyak. “Tergantung bahan dan motifnya. Makin bagus bahan yang digunakan dan makin rumit motifnya maka makin mahal harganya. Seperti batik berbahan sutra bisa mencapai jutaan rupiah,” ungkap Vien. Sayangnya, menurut Vien, orang hanya tahu jadinya, tidak mengetahui bagaimana proses menghasilkan satu helai kain batik yang bisa mencapai satu minggu tergantung kerumitan motifnya. —nang

Festival Hidangan Sahur Hadiah Rp 3 Juta FESTIVAL Hidangan Sahur memperebutkan hadiah uang Rp 3 juta akan berlangsung Minggu (17/7) pagi bertempat di Lapangan Korem Denpasar. Festival yang diselenggarakan Forum Komunikasi Majelis Taklim Ibu-Ibu (FKMTI) Bali tersebut terbuka bagi peserta tim majelis taklim ibu-ibu se-Bali. Tiap tim 3 orang dan tiap majelis taklim dapat mengikutsertakan maksimal 2 tim.

Hidangan sahur dalam bentuk siap saji. Batas biaya maksimal untuk satu set menu Rp 75.000 di luar garnis untuk 5 orang. Formulir pendaftaran disediakan di Sekretariat Panitia Jalan Imam Bonjol 51 Denpasar. Panitia yang diketuai Ir. Hj. Indah Juanita, M.M. tersebut menjelaskan festival akan dimeriahkan berbagai atraksi di panggung terbuka, bazar dan pasar murah. —dwi

Bhakti Sejahtera

Catat SHU Rp 33,9 Juta Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bhakti Sejahtera Roh Kudus Denpasar mencatat SHU (Sisa Hasil Usaha) Rp 33,9 juta. Hal itu terungkap dalam Rapat Anggota Tahunan bertempat di basemen gereja Katedral, Denpasar.

Ketua KSP Bhakti Sejahtera Paskalis Rosali Sinarta memaparkan, kini anggotanya 309 orang. Besarnya modal Rp 332.054.237. Uang yang beredar (yang dipinjamkan) Rp 252.752.000. Total pendapatan Rp 55.068.750. Beban operasi-

Pengurus KSP Bhakti Sejahtera

onal Rp 21.903.000. Sisa Hasil Usaha Rp 33.903.000. Ia mengajak para anggota koperasi untuk mendoakan F.X. Wayan Geria, pendiri koperasi tersebut, Ketua II Hermini Gildus telah meninggal. Pengawas melaporkan, koperasi yang didirikan sembilan tahun yang lalu itu telah berjalan dengan baik dan memberikan banyak manfaat bagi anggotanya. Hal itu dapat dilihat dari perkembangannya yang dapat meningkatkan kekayaannya 17,19%, SHU meningkat 24,45%, Rasio liquiditas 192,55%, Rasio solvabilitas 124,21%, —mbah harto

tkh/harto


PENDIDIKAN Dari Studi Banding ke Fukuoka 9

Ikut Karnaval Dontaku Festival HAKATA Dontaku Festival merupakan salah salah pesta budaya tertua dan terbesar di Jepang. Duta pendidikan Kota Denpasar didaulat mengikuti prosesi karnaval sejauh dua kilometer yang disaksikan ribuan pasang mata.

F

estival ini pertama kali dihelat di Kota Hakata, Perfektur Fukuoka, Jepang, tahun 1179. “Pengunjung festival yang biasanya berlangsung dua hari, 3-4 Mei, biasa menyedot dua juta pengunjung,” ujar Sekjen Non-Profit Organization (NPO) Fukuoka Bali Nagaoka Shoji. Duta kesenian tradisional Bali ambil bagian dalam karnaval Hakata Dontaku Festival, Selasa (3/5), di Fukuoka, Jepang. Sosok rangda yang disimbolkan sebagai pengawal keseimbangan kosmik masyarakat Bali itu dielu-elukan ratusan ribu pasang mata. Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar A.A. Ngurah Gede Widiada memerankan figur rangda dalam festival yang pertama kali dihelat tahun 1179 tersebut. Sementara dua pengurus HPI Bali Ketut Warsa dan Bagus Eka Subagiarta menjadi penari topeng yang ikut mengawal tarian rangda. Duta kesenian Bali didaulat ikut serta dalam acara pembukaan yang diawali prosesi karnaval itu. Sebelum prosesi dimulai, ribuan peserta karnaval berkumpul dialun-alun depan Kantor Jasso. Mereka bukan hanya datang dari perwakilan komunitas budaya lokal Fukuoka. Ada pula peserta pawai dari kalangan mahasiswa asing yang kuliah di Universitas Kyushu. Peserta lain datang dari Korea, Indonesia, Vietnam, Nepal, Cina, AS, Inggris, dan

10 - 16 Juli 2011 Tokoh 5

Ongkos Sekolah Cekak Bocah Yatim hampir Putus Sekolah di Belega, Gianyar

M

Wakil Ketua DPRD Denpasar A.A.Ngurah Gede Widiada di balik pakaian rangda bersama sebagian duta kesenian Bali saat tampil dalam karnaval pembukaan Hakata Dontaku Festival di Fukuoka

Jerman. Peserta karnaval asal Indonesia diwakili sejumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di Fukuoka. Mereka bergabung dalam satu barisan parade dengan duta kesenian Kota Denpasar. “Duta kesenian Kota Denpasar yang ikut festival ini merupakan anggota rombongan yang melakukan studi banding pendidikan di Fukuoka selama 10 hari,” ujar perwakilan NPO Fukuoka Denpasar sekaligus pengurus Dewan Pendidikan Kota Denpasar Kompyang Pujawan. Respons menggetarkan datang dari ribuan pengunjung yang menyemut di sisi kirikanan badan jalan saat parade menampilkan duta kesenian Kota Denpasar. Warga seakan tak henti-hentinya mengeluelukan penampilan duta kesenian ini. Apalagi, saat karnaval sosok rangda dan dua pengawalnya sesekali berusaha menghampiri penonton secara bersahabat. Rangda merupakan salah satu tokoh penting dalam tradisi kesenian Bali. Menurut ahli kakawin Ida Bagus Ngurah, rangda merupakan figur simbolik yang mengemban misi menetralisir ketidakseimbangan kosmik. “Umat Hindu mengenal prinsip biner dalam hidup

yang disebut rwa bhineda. Rangda bertugas menjaga agar kehidupan manusia tidak berat sebelah, apalagi jika itu cenderung ke sisi negatif,” ujar Kepala SMAN 8 Denpasar itu. Menariknya, sosok rangda yang tampil dalam Hakata Dontaku Festival tersebut diperankan Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar A.A. Ngurah Gede Widiada. Panglingsir Puri Peguyangan ini tampak amat menikmati peran yang dimainkannya sepanjang karnaval yang menempuh jarak sekitar dua kilometer itu berlangsung. “Saya baru pertamakali memerankan sosok rangda seperti ini. Saya merasakan ini pengalaman istimewa. Apalagi, tampil di Jepang,” ujar Widiada yang ikut terbang ke Fukuoka sebagai pengurus Komite TK Negeri Pembina Denpasar sekaligus mewakili Wali Kota Denpasar itu. Menurutnya, ada tanggung jawab moril yang besar untuk membawa misi kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Bali di luar negeri. “Sebagai wakil ketua DPRD Kota Denpasar kan bukan hal tabu jika menjadi rangda dalam ajang festival seperti ini. Apalagi, ini misi kebudayaan yang penting untuk mempererat hubungan kemanusiaan pemerintah dan

masyarakat Kota Denpasar khususnya dengan pemerintah Fukuoka. Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian budaya Bali malah bagus jika semua pejabat melepas atributnya dan mau menjadi rangda,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Misi kebudayaan diakui Kompyang Pujawan sebagai misi besar yang dibawa 34 duta pendidikan Kota Denpasar yang terbang ke Fukuoka. Misi kebudayaan tersebut lebih khusus dikerucutkan sebagai misi pendidikan yang hendak ditimba selama berada di Negeri Sakura itu. “NPO Fukuoka Bali sengaja membawa para duta ini untuk mengambil pelajaran berharga dari proses pembangunan dunia pendidikan di Fukuoka,” ujar mantan Ketua HPI Bali ini. Sasarannya ditujukan untuk makin membuka akses lebih luas bagi terejawantahnya program pendidikan berbasis sister school. “Program sister school memfasilitasi adanya pertukaran guru dan siswa dari dari sekolah yang terikat program ini dengan sekolah dari jenjang yang sama di Fukuoka. Kami berharap program sister school ini terus diperluas jangkauannya guna terwujudnya program sister city,” jelas Pujawan. —sam

ASYARAKAT Desa Belega, Gianyar, dulu dikenal sejahtera. Kini ratusan warganya hidup terbelit kemiskinan. Ada bocah putus sekolah. Desa ini memang popular selama era 1980-an. Ini berkat produk kerajinan bambunya. Namun, sinar usaha bisnis tersebut lambat laun meredup. “Sekarang malah hanya satu dua usaha bisnis kerajianan bambu warga yang jalan. Sebagian besar bisnis tersebut sudah mati. Banyak pengrajin yang jadi buruh bangunan dan petani penggarap,” ujar Perbekel Desa Belega IGN Gede Wibawa (47) saat menyambut pengurus dan simpatisan Yayasan Bali Cinta Kasih yang dipimpin A.A. Putri Puspawati, Desak Putu Nithi, dan Ni Wayan Sarmi di wantilan kantor desanya belum lama ini. Ada 178 KK miskin di desanya. Jumlah warga desanya 689 jiwa. Warga dessa ini tinggal tersebar di enam banjar adat. Keluarga miskin ini hanya mengandalkan hasil keringat dari pekerjaan sebagai kuli bangunan dan petani penggarap. Upahnya rata-rata hanya cukup untuk makan sehari-hari tiap keluarganya. “Mereka rata-rata tidak mampu membayar uang sekolah anak-anaknya,” jelasnya didampingi Klian Banjar Adat Jasri Ketut Trisna Jaya, S.S. Bantuan PNPM Mandiri memang sudah mengalir untuk meringankan beban pembangunan warga desa. Tetapi, aliran dana PNMP ini belum mampu mengatasi kondisi terpuruk ekonomi rata-rata masyarakat ini. Walhasil anak putus sekolah pun mulai muncul. Apalagi, dalam kondisi seperti itu ada bocah yatim alias ditinggal mati ayahnya. Salah satunya Putu Widiana (7). Uang sekolahnya cekak. Ia hampir putus sekolah. “Kakeknya yang membiayai sekolahnya. Tetapi, itu juga tetap susah,” ujar Nyoman

Pendiri, pengurus, dan simpatisan Yayasan Bali Cinta Kasih usai menyerahkan bantuan kepada siswa miskin di Desa Belega, Gianyar

Widiana, paman bocah ini. Putu Widiana hari itu beruntung. Bersama belasan bocah sekolah dasar di Desa Belega mereka menerima kucuran bantuan biaya masuk sekolah masingmasing Rp 350 ribu ditambah perangkat tulis-menulis. “Uang tunai yang dibantu Yayasan Bali Cinta Kasih untuk 20 anak tidak mampu ini Rp 7,5 juta. Ini sumbangan kemanusiaan kami. Moga-moga bisa bermanfaat dan mengetuk hati kalangan dermawan lain,” ujar

pembina yayasan Dra. A.A. Putri Puspawati. Pihak yayasan dikawal tiga pendirinya saat menyerahkan bantuan. Hadir pula Judy Tailor, seniman lukis dan dermawan dari Australia, sejumlah ibu pengusaha Gianyar yang bersimpati terhadap kalangan anak desa tersebut, seperti Sang AYu Kerti, Kadek Mikaela, Kadek Suci, Jro Laba, Desak Putri, Desak Masri, Dwi Arini, Agung Ridwan Syahputra, dan Kharisma FH. —sam


4

Tokoh

MEMBANGUN DARI DESA

10 - 16 Juli 2011

Beternak Secara Terintegrasi

Anda Bertanya Kami Menjawab Pucuk Rajuna

untuk memulainya? Berapa harga 1 baglog yang biasanya Bagaimana caranya supaya dipakai itu? pucuk rajuna berbunga? PadaKetut Darta hal pohonnya subur dan sehat Tabanan sekali. Pohon ditanam di tanah. Putu Gede Suarthana Jawaban : Jalan Arjuna 1, Untuk budidaya percobaan No 6 Denpasar awal sebaiknya membudiyakan kurang lebih 50 baglog. Harga Jawaban: per baglog Rp. 2500 - Rp. 3000. Pucuk rajuna merupakan Cara paling mudah, kalau tidak tanaman yang rajin berbunga. ada kubung jamur khusus, bisa Biar mau berbunga, lakukan menempatkan baglod di gudang/ pemangkasan cabang dan rant- ruangan yang lembab. ing yang tua. Kurangi penyiraman, agar bunga terangsang Narasumber tumbuh. Ni Wayan Purnami Pembudidaya Jamur Tiram Narasumber Ketua Karang Taruna Ir. I. B. Suryawanta, M.M.A. Putra Negara Penyuluh Pertanian Spesialis Desa Peguyangan Kaja Dinas Pertanian Tanaman Pangan Tananam Gratis Provinsi Bali Saat ini tanaman apa saja yang bisa kami dapatkan Lebih Memilih secara gratis di BPTH? Selain Tiram Putih di BPTH, di mana lagi kami Banyak sekali jenis jamur, bisa mendapatkan tanaman namun mengapa di Bali banyak gratis? Kadek Surawan petani yang memilih membudiBangli dayakan jamur tiram putih? Di mana saya bisa mendapatkan Jawaban : bibit jamur tiram putih? Sisa stok yang ada di perWayan Midep Gianyar semaian saat ini, jati, mahoni, dan gamelia. Selain di BPTH, bisa juga menanyakan tanaman Jawaban: Petani di Bali banyak mem- di dinas yang membidangi kebudidayakan jamur tiram putih, hutanan baik kabupaten maukarena lebih mudah dalam pe- pun provinsi. meliharaannya, biaya perawatNarasumber an kecil dan untuk mengatur Ir. Hemmy Gretiana suhu dapat dilakukan dengan Elistyaningsih sederhana. Untuk bibit jamur tiram yang berupa baglog, bisa Kepala Seksi Peredaran Benih Balai Perbenihan Tanaman didapat di Dinas Pertanian Hutan Bali dan Nusa Luwus, Belayu, Tabanan dan Tenggara ada juga di Mambal, Badung.

Tiram Putih untuk Pemula Berapa sebaiknya membudidayakan jamur tiram putih untuk pemula biar gak rugi? Bagaimana cara yang mudah,

Budidaya Jamur Bagaimana cara membudidayakan jamur? Di mana dapat membeli buku tentang pembudidayaan jamur? Saya sangat tertarik tulisan di Koran Tokoh Minggu (26/6) “Mari

Beternak Puyuh”, Di mana tempat mencari bibit puyuh? Di mana juga mencari buku tentang beternak puyuh? Dewa Putra Bunutan, Bangli

Beternak Puyuh Saya mohon informasi di mana bisa mendapatkan bibit puyuh? Tiyang dulu pernah beternak puyuh tahun 80 –an, hasilnya becik. Mangkin mau coba malih. Drs. I Made Rena Atmaja Jalan Trengguli No. 11 Tembau, Denpasar Jawaban : Jamur tiram (pleurotus ostreatus) atau jamur tiram putih adalah jamur pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Tubuh buah memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram memiliki nama binomial pleurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan pleurotus eryngii atau king oyster mushroom. Tubuh buah memiliki tudung yang berubah dari hitam, abu-abu, cokelat, hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dengan diameter 5 - 20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran 8 – 11 × 3 - 4 cm. Miselium berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat. Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Pembudidayaan jamur tiram biasanya dilakukan dengan media tanam serbuk gergaji. Selain campuran pada berbagai jenis

Mengapa Simantri harus Bersinergi dengan Desa Wisata

D

ATA statistik Bali menyebutkan angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian tahun 2009 sebanyak 33,44% dan tahun 2010 menjadi 33,01%. Data survei angkatan kerja nasional (sakernas) 2011 menunjukkan jumlah pekerja pertanian di Bali makin sedikit yaitu 28,84 %, walaupun sektor pertanian masih merupakan sektor terbanyak menyerap tenaga kerja. Penurunan jumlah pekerja pertanian seiring menyempitnya lahan pertanian. Lahan pertanian Bali tiap tahun berkurang 750 hektare. Untuk menggairahkan pertanian, tahun 2009 Pemprov Bali menggelar program Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi). Tahap I program dilaksanakan di 10 gabungan kelompok tani (gapoktan) dengan dukungan APBD Bali Rp 2 miliar. Tiap unit Simantri mendapat kucuran dana Rp 200 juta. Ketika masih dalam proses sosialisasi, banyak pihak yang meragukan keberhasilan program ini meng-

Meningkatnya Pendapatan Petani Kurangi Alih Lahan dan Lestarikan Budaya Bali ingat berbagai kendala di masyarakat. Setelah diterapkan, ternyata program berhasil diwujudkan. Intensifikasi dan diversifikasi pertanian yang dilaksanakan telah meningkatkan kesejahteraan petani. Konsep cerdas Pemprov Bali ini kemudian mendapat sambutan positif kaum tani. Puluhan kelompok tani memohon paket Simantri sehingga tahun 2010 Simantri ditambah lagi 40 paket dengan dana Rp. 10,36 miliar. Program Simantri merupakan upaya peningkatan produktivitas petani melalui diversifikasi aktivitas. Kesuksesan 50 unit Simantri ini menguatkan tekad Pemprov Bali membangun 350 unit Simantri hingga akhir tahun 2013. Ini berarti rata-rata 100 unit

Wisatawan menikmati alam persawahan

Simantri baru yang harus dibangun tiap tahun. Simantri yang telah ada tentunya tidak boleh menghilang atau bubar, melainkan harus makin berkembang. Simantri merupakan upaya revitalisasi sektor pertanian untuk meningkatkan penghasilan petani. Pembinaan pertanian secara intensif telah meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Peningkatan kuantitas produk ini diharapkan makin mendekati kebutuhan masyarakat dan secara bertahap akan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Bali. Peningkatan kualitas produk pertanian diharapkan membuat masyarakat Bali mencintai produksi petaninya, termasuk mampu menembus hotel dan restoran untuk konsumsi wisa-

masakan, jamur tiram merupakan bahan baku obat statin. Jamur tiram diketahui membunuh dan mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen. Berikut ini cara membudidayakan jamur tiram yang amat sederhana: Serbuk kayu gergaji dan kapur dolomit atau kapur bangunan diaduk rata. Tambahkan air secukupnya. Didiamkan selama 1 hari. Campuran serbuk kayu gergaji dan kapur dikompos. Selanjutnya, tambahkan dedak dan gypsum, lalu diaduk rata dan ditambah air lagi secukupnya. Masukkan adonan itu dalam kantong plastik yang telah disediakan, dengan kepadatan tertentu. Setelah itu, masukkan cincin dari bambu dengan diameter 4 cm pada bagian atas adonan, lalu plastik diikat. Polibag yang telah berisi adonan itu disusun dalam drum, lalu dikukus selama 8 jam. Selanjutnya, didinginkan sehari semalam. Bila sudah dingin, masukkan bibit jamur di ruang inokulasi secara serasi, dengan cara membuat lubang sedalam 6 cm pada adonan itu. Perhatikan pula suhu ruangan, harus 28 º C - 30° C, dengan kelembaban 92-96 %. Setelah 15 hari di ruang inkubasi, pindahkan media jamur ke ruang budidaya. Tunggu 30 - 40 hari agar meselium jamur tumbuh putih merata. Lalu buka penutup media, dan jamur bisa dipanen 3 4 hari kemudian. Tanpa menebar benih kembali, pemanenan jamur pada media yang sama bisa dilakukan hingga lima kali. Setelah cukup besar, jamur segar tinggal dijual ke pasar. Untuk membeli bibit puyuh, bisa menghubungi Pak Zaenal Arief di nomor 0857 3649 6541 dan 0856 4909 5071, dan bisa juga ke nomor 083894842989. Buku-buku mengenai budi daya jamur dan puyuh bisa dicari, di took-toko buku. Sumber Dari berbagai sumber tawan. Hal ini akan meningkatkan penghasilan petani. Kebijakan tersebut menjadi bagian upaya peningkatan pendapatan masyarakat Bali menjadi dua kali lipat. Pendapatan masyarakat Bali per kapita saat ini Rp. 14,1 juta dan diharapkan akhir tahun 2013 mencapai Rp. 24,1 juta. Peningkatan pendapatan petani akan mengurangi alih fungsi lahan dan melestarikan pertanian serta budaya Bali. Simantri menerapkan konsep ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pertanian dikembangkan secara dinamis mengacu pada kearifan lokal dengan berorientasi pada pertanian modern. Kearifan lokal seperti falsafah Tri Hita Karana yang menuntut keharmonisan kehidupan dijadikan acuan pokok dalam mencapai kesejahteraan. Pertanian modern yang mengarah pada sistem organik terus dikembangkan demi kelestarian alam Bali sesuai sasaran program Bali Clean and Green. Simantri dan Desa Wisata. Simantri menjadikan lingkungan pertanian asri dan lestari. Kawasan pertanian yang asri didukung pemandangan alam yang indah merupakan daya tarik pariwisata. Dari sinilah dapat diciptakan sinergi sektor pertanian dan pariwisata melalui pembangunan desa wisata. Desa wisata dapat dikembangkan menjadi tiga model. Model I seperti di Ubud, wisa-

Wisatawan menanam padi

UPAYA para peneliti dan praktisi peternakan telah memberikan beberapa solusi teknologi antara lain berupa integrasi ternak dalam tanaman perkebunan, tanaman pangan, atau hortikultura. Konsep integrasi tersebut memberikan suatu keuntungan yang sinergis, yakni suatu keuntungan yang berlipat ganda yang diperoleh dari tanaman dan ternak hasil interaksi keduanya. Interaksi dari kedua komoditas usaha tani tersebut terjadi disebabkan pemanfaatan hasil samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman) untuk pakan ternak dan sebaliknya ternak memberikan pupuk kandang pada tanaman. Oleh karena itu, pemerintah akhirakhir ini gencar mengenalkan dan mengakselerasi usahatani integrasi ternak dalam usahatani. Konsep integrasi ternak dalam usahatani tanaman, baik itu tanaman perkebunan, pangan, atau hortikultura, menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak, tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas tanaman. Bahkan keberadaan ternak ini harus dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus dengan produksi ternaknya. Pengelolaan ternak dalam hal ini dilaksanakan gabungan kelompok tani dalam waktu yang bersamaan dengan melaksanakan produksi tanaman. Oleh karena itu, pasokan untuk menunjang pengelolaan ternak sebagian besar diharapkan dapat diperoleh dari sisa hasil pertanian tanaman. Sebagai konsekunsinya, petani tanaman yang akan mengusahatanikan integrasi ternak dalam tanamannya, harus menguasai teknik pemeliharaan dan pemanfaatan ternak secara baik, di amping pengetahuan praktik usahatani tanamannya. Terutama, pengetahuan dalam mengintegrasikan berbagai manfaat ternak pada tanaman dan sebaliknya. Program integrasi ternak dalam usahatani tanaman ini diharapkan dapat, a. Meningkatkan produktivitas usahatani tanaman perkebunan, tanaman pangan atau hortikultura melalui pemanfaatan ternak. b. Meningkatkan pemanfaatan sisa hasil pertanian tanaman perkebunan, tanaman pangan atau hortikultura untuk pakan ternak. c. Meningkatkan pemanfaatan tenaga ternak dan pupuk kandang dalam usahatani tanaman. d Mengembalikan kesuburan tanah melalui pemanfaatan pupuk kandang. e Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan praktis petani dalam pengelolaan ternak yang diintegrasikan dalam usahatani tanaman. f. Meningkatkan pendapatan petani pelaksana program integrasi ternak dalam usahatani tanaman. Beternak secara terintegrasi, bisa mengintegrasikan antara ternak dan tanaman, atau kolam ikan, yang penting komoditas itu bermanfaat satu dengan yang lainnya. Semua ini dilakukan untuk mengoptimalkan hasil. Jadi, jika petani memiliki lahan yang tidak begitu luas bisa dimanfaatkan cara ini, supaya, dalam pemanenan tidak saja menghasilkan satu hasil, namun bisa dibarengin dengan hasil yang lain. Contoh yang sudah banyak dilaksanakam kelompok tani saat ini, yaitu sapi bisa diintegrasikan dengan padi. Gapoktan yang sudah melaksanakan salah satunya ialah kelompok tani Amerta Buana Asih, yang beralamat di Desa Plaga, Kecamatan Busungbiu, Bulelang. Gapoktan ini selain mengintegrasikan sapi dengan padi, juga mengintegrasikannya dengan angggur dan sayuran. Sirkulasinya, sapi ini mendapat pakan dari

jerami kering yang telah diolah dengan sistem permentasi agar lebih mudah dicerna sapi. Sapi– sapi selain mendapat makan jerami juga mendapat pakan sisa–sisa sayuran. Ini merupakan pakan penuh vitamin, yang menyababkan sapi dan anaknya sangat gemuk dan sehat. Kemudian kotoran sapi dimaanfaatkan untuk membuat pupuk padat maupun pupuk cair untuk tanaman sayur, hingga tak susah–susah mengurusi biaya pupuk. Pupuk ini juga dijual untuk tanaman anggur. Selain itu, juga ada kelompok tani yang mengintrigasikan ternak kambing dengan tanaman perkebunan dan sayuran. Kambing mendapat pakan dari tanaman kakao, gamal dan kotoran kambing tersebut dimanfaatkan untuk pupuk tanaman tersebut. Yang lebih menarik, di tengah tanaman tersebut juga ditanami pohon jeruk yang hasilnya juga sangat bagus. Pola intregrasi lain yang juga sangat kreatif, yaitu sapi dengan ikan gurami. Yang menarik dari pola ini, kotoran sapi tidak langsung diberikan untuk pakan ikan. Kotoran sapi diberikan pada cacing, dan cacing ini dipanen untuk pakan gurami. Tanah bekas cacing ini dijadikan pupuk, untuk memupuk pakan yang diberikan kepada sapi. Gapoktan yang telah melaksanakan pola ini, Kolompok Ternak Galang Kangin, Banjar Adnya Sari, Desa Ekasari, Malaya, Jembrana. Petani yang telah memanfaatkan pola terintrigasi ini selain mendapat hasil yang menguntungkan, dapat menghemat biaya produksi, juga sebagai penyelamat lingkungan. Karena, dalam proses bertaninya tidak menggunakan bahan– bahan kimia. Kotoran ternak yang disebut sebagai penghasil gas rumah kaca, sebelum dipakai pupuk ditampung dulu untuk menjadi biogas. Jadi gas methan tidak terlepas ke udara. Ini sudah dibuktikan kelompok ternak sapi di Penyabangan Payangan. Mereka, salah satu kelompok yang mandiri energi. Tiap kepala keluarga memiliki biogas, jadi mereka masak dengan gas namun tidak pernah membeli gas. Keuntungan lain beternak terintegrasi yaitu mencegah kebangkrutan. Contoh, beternak ayam diintegrasikan dengan ikan, jika misalnya beternak ayam gagal masih bisa tetep memanen dari ikan. Beternak secara terintegrasi juga sebagai penghasil pangan sehat. Program pemerintah untuk mewujudkan Bali Cleen and Green juga bisa didukung pola beternak terintrigasi ini. Kesan kandang peternakan yang jorok sekarang sudah tidak ada lagi, karena semua telah termanfaatkan dengan baik. Namun, hal–hal yang harus dperhatikan calon pelaku peternak terintegrasi. 1. Pilahlah komoditas yang cocok, yang sesuai dengan potensi yang ada. Misalnya, kalau di lingkungan sekitar tempat tinggal banyak air, peliharalah babi atau ikan. 2. Pikirkan sarana dan prasarana yang telah ada. Misalnya, kalau sudah banyak punya hijauan, peliharalah kambing, agar semua termanfaatkan dan tidak mulai dari awal. 3. Buat usaha dalam satu kawasan. Artinya, dalam melaksanakan ternak terintegrasi ini tempatnya dalam satu lingkungan, supaya pengangkutannya tidak jauh dan tidak menghabiskan biaya. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

tawan berkunjung dan menginap di desa wisata (disebut model klaster desa wisata). Model II seperti di Ceking (Gianyar) wisatawan hanya mengunjungi desa wisata tanpa menginap (disebut model klaster daya tarik wisata, dulu disebut objek wisata). Model III seperti Desa Sebatu (Gianyar), desa wisata yang tidak dikunjungi wisatawan tetapi mendapatkan manfaat langsung wisatawan dengan memasarkan hasil kerajinan masyarakatnya (disebut model klaster usaha pariwisata). Atraksi yang bisa ditampilkan di desa wisata pertanian antara lain mengajak wisatawan untuk menikmati langsung cara bertani tradisional mulai dari mengolah tanah, menanam bibit hingga memanen. Wisatawan anak-anak pada umumnya menyukai acara ini karena bisa bermain di alam bebas. Acara ini bisa membantu orangtua dalam mendidik anak. Nilai pendidikan yang didapat dari aktivitas bertani seperti menanam padi oleh anak-anak antara lain tumbuhnya penghargaan anak-anak terhadap sebutir nasi. Anak-anak menjadi paham betapa panjangnya proses yang harus dilalui untuk menjadi se-

butir nasi dan mereka mengalami betapa beratnya kerja petani mengolah sawah. Mengalami rasa lelah dan haus serta kepanasan akibat teriknya matahari merupakan pendidikan yang luar biasa bagi anak-anak kota. Pengalaman ini akan mengubah perilaku anak-anak yang tidak mau menghabiskan atau menyianyiakan nasi di piring makannya. Atraksi wisata yang disuguhkan di desa berbasis pertanian tidak hanya di areal persawahan. Subsektor pertanian yang lain seperti perkebunan, peternakan, perikanan juga memiliki daya jual. Subsektor perikanan bisa menjadi daya tarik wisata misalnya melalui wisata memancing dan subsektor perkebunan melalui pengembangan agrowisata. Pengelola desa wisata yang berkompeten bisa menyuguhkan peternakan tradisional sebagai atraksi wisata. Bisa jadi turis akan heran melihat masyarakat bisa hidup walaupun jumlah ternak yang dimiliki sangat terbatas, tidak seperti di negaranya.

membina sekitar 873 desa wisata. Ditargetkan 2.000 desa wisata tahun 2014 untuk menopang pembangunan pariwisata sekaligus memberdayakan masyarakat perdesaan. Dengan demikian peluang Bali untuk menambah jumlah desa wisata masih sangat besar. Pembangunan desa wisata merupakan amanat Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 1991 bahwa kepariwisataan Bali adalah pariwisata budaya. Ini berarti, kebudayaan Bali harus menjadi modal dasar pengembangan kepariwisataan Bali. Masyarakat Bali sebagai pelaku budaya Bali harus berperan penting dalam membangun kepariwisataan Bali. Produk pariwisata Bali seperti atraksi budaya, atraksi alam dan atraksi lainnya harus dikembangkan berdasarkan kebudayaan Bali. Memang tidak mudah mewujudkan amanat perda tersebut, antara lain karena pelaku pariwisata harus mengikuti selera pasar. Bali Post Senin (20/6) memuat jajak pendapat bahwa erotisme dan fauna Peranan Pemerintah menggeser pariwisata budaya. Pemerintah Pusat melalui Sebanyak 53% responden meKementerian Kebudayaan dan nilai pariwisata Bali belum sesuai Pariwisata hingga saat ini sudah budaya Bali. Bali malah dijadikan tempat berkembangnya pariwisata alternatif lain seperti kebun binatang dan wisata malam termasuk erotisme. Untuk menanggulanginya, sebanyak 44% responden menyarankan pemerintah meningkatkan atraksi budaya. Desa wisata merupakan tempat yang tepat untuk pelaksanaan atraksi budaya. Pemerintah Pusat giat membangun desa wisata dan Pemerintah Provinsi Bali bersemangat membangun Simantri. Kedua program peningkatan kesejahteraan rakyat ini harus disinergikan untuk mempercepat pengurangan pengangguran dan kemiskinan di Bali serta melestarikan budaya Bali.

Wisatawan membajak sawah

z Drs. I Wayan Nurjaya, M.Si.


10 - 16 Juli 2011 Tokoh 9

Untuk Galungan dan Kuningan

BUAH pisang di kalangan masyarakat Bali sangat populer disebabkan penggunaannya yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Buah ini bisa dikonsumsi secara langsung sebagai buah segar, juga bisa dalam sajian pisang rebus atau melalui pengolahan terlebih dahulu seperti kolak, sangrae, kue sumping, keripik, selai, juice. Bagi umat Hindu di Bali pisang memiliki nilai spiritual keagamaan. Kebutuhan masyarakat yang meningkat terutama menjelang hari raya, termasuk Galungan dan Kuningan, untuk mengejar harga tinggi, timbul niat di sebagian petani memetik buah pisangnya lebih awal dalam keadaan masih mentah (belum matang). Mereka melakukan tindakan untuk mem-

percepat pematangan dengan menyemprotkan bahan sintetis dari karbit ke buah pisangnya. Padahal penggunaan zat kimia berupa cairan karbit (CaC 2 ), gas ethylen atau acethylen (gas karbit) dan bahan kimia lainnya sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen terutama manusia, serta berdampak negatif terhadap kehidupan dan kerusakan lingkungan. Karena itu, perlu dicari alternatif lain pengganti karbit. Untuk mematangkan buah pisang dengan bahan alami dapat dimanfaatkan bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti ekstrak kulit pisang (cairan yang mengandung bahan alami dari kulit pisang). Ekstrak kulit pisang ini mengandung ethylene alami,

yang aman bagi konsumen termasuk manusia, organisme lain dan lingkungan. Pemeraman dengan gas ethylen paling efektif jika saat buah yang diperam mengandung enzyme oksidase, karena gas ethylen ini berfungsi sebagai ko-enzym. Gas ethylen juga berfungsi mengubah warna kulit buah dari pigmen hijau menjadi pingmen kuning. Penggunaan ekstrak kulit pisang bisa mempercepat pematangan buah pisang 2-3 hari dari biasanya, juga menyebabkan warna kulit buah pisang yang dimatangkan tetap bersih dan mengkilat serta rasanya (organoleptik) daging buah sangat enak atau legit (nyanggel).

pisang raja atau jenis pisang lainnya, dicuci bersih dengan air keran, kemudian kulit pisang tersebut diiris bagian dalamnya, sehingga yang tersisa kulit pisang bagian luar setipis mungkin. Kulit pisang tersebut dipotong kecil-kecil ukuran kirakira 2-3 cm, dikeringanginkan 8 jam untuk mengurangi kadar airnya. Selanjutnya, kulit pisang tersebut ditimbang seberat 200 gram dan dicampur dengan air bersih (air keran) 1000 ml atau perbandingan kulit pisang : air = 2 : 10. Campuran tersebut direbus dengan suhu kamar (400 C) 5 menit. Air rebusan kulit pisang disaring dengan saringan atau kain kasa, dan larutan tersebut dinamakan Cara Membuat ekstrak kasar dari kulit pisang. Kulit pisang yang sudah Ekstrak ini dimasukkan dalam matang berwarna kuning dari alat semprot “spayer” plastik

tkh/dok

Ekstrak Kulit Pisang untuk Matangkan Pisang Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si.

volume 1000 ml secara pelanpelan agar tidak tumpah. Ekstrak ini disemprotkan pada buah pisang yang akan dimatangkan. Penyemprotan dilakukan tiap 12 jam (2 kali sehari) secara merata 2- 3 hari. Selanjutnya, digantung di tempat gantungan, atau bisa di kayu seperti pisang yang dijajakan pedagang di pasar. Dari hasil percobaan ini ternyata pematangan buah pisang lebih cepat rata-rata 2- 3 hari dari tanpa ekstrak kulit pisang. Kelebihan penggunaan ekstrak kulit pisang, karena produk ini berasal dari tumbuh-tumbuhan, sehingga dampak negatif, terutama merusak kesehatan konsumen seperti penyakit karsinoma, kanker dan dampak

KMH ITB Kunjungi Lapas Anak di Karangasem

Hak Anak tidak Dihalangi dan tidak Dihilangkan “Kemarin aku melanggar hukum hari ini aku belajar untuk hari esok ikut membangun”. Semangat itu tertulis di sebuah batu besar hitam di halaman Lapas di Karangasem. Menjadi sebuah pesan bahwa orang yang pernah berbuat kesalahan, masih bisa belajar memperbaiki diri untuk hari esok yang lebih baik dan berguna untuk orang lain. Terlebih yang berbuat kesalahan itu masih tergolong anak. Kamis (23/6), Keluarga Mahasiswa Hindu Vidya Dharma Putra Ganesha Institut Teknologi Bandung (KMH ITB) melakukan bakti sosial kunjungan ke Lembaga Permasyarakatan Anak (LP Anak) Gianyar di Karangasem. Kedatangan KMH untuk memotivasi anak penghuni Lapas, dan membawa pesan bahwa mereka bukan anak yang terbuang dan masih punya masa depan yang cerah. Ketua Panitia Baksos KMH ITB 2011 Ni Putu Ratna Arshariani Putri mengatakan, kedatangan mereka selain memotivasi, juga untuk berbagi suka dan duka

S.H., M.H. mengatakan, lembaganya tetap mendorong agar anak tidak kehilangan hak mereka. Mereka harus tetap diberi pembinaan, agar nantinya bisa menentukan masa depan sendiri. Saat ini, dari puluhan penghuni lapas anak, ada seorang anak, Kadek Sumarjaya alias Lolet, yang sudah melanjutkan sekolah di SMA PGRI 1 Amlapura, dan seoorang lagi, Muhammad Fauzi, yang akan melanjutkan sekolah ke SMK Nasional Amlapura. Berkat pembinaan yang dilakukan, seorang penghuni lapas anak lainnya bernama Yunus, asal Mataram yang sebelumnya buta huruf, kini sudah bisa membaca. Ketut Artha melihat, hak-hak anak seperti yang tertuang dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak harus bisa relevan dan mendapat dukungan meski anak berada di lapas. “Kami selalu berusaha mewujudkan apa yang menjadi hak mereka terutama memperoleh pendidikan. Hak mereka tidak dihalangi atau dihilangkan”, katanya. —arya

Suasana saat baksos KMH ITB

dengan mengajak mereka berbincang–bincang, saling berbagi pengalaman. Mahasiswa ITB jurusan Teknik Telekomunikasi ini mengatakan, KMH berusaha meyakinkan bahwa anak-anak penghuni lapas itu bukan kelompok yang terbuang. Masih ada kesempatan mereka untuk berubah ke arah yang lebih baik. “Caranya dengan terus belajar segala hal demi masa depan.” katanya. Pada kesempatan itu diserahkan sekitar 200 buku bacaan SMP-SMA/SMK, buku–buku bacaan umum seperti buku-buku

agama Hindu untuk perpustakan LP anak tersebut hasil kerja sama dengan sebuah penerbit, dan sejumlah pakaian kepada 15 penghuni LP. Penghuni LP menyatakan sangat senang atas kedatangan KMH ITB, karena selain memberikan semangat, mereka juga dihibur dengan permainan. “Setelah melakukan kunjungan ke Lapas di Karangasem, kami akan melanjutkan kunjungan ke Panti Asuhan Dharma Jati, Klungkung”, kata Ratna Kalapas anak Ketut Artha,

Konsumen tak mau Repot urusan Bengkel

tkh/sep

SEORANG perempuan muda datang ke bengkel mobil di kawasan Jalan Gatot Subroto. Ia minta petugas bengkel untuk melakukan pemeriksaan rutin mobil sedan miliknya. Usai menyerahkan kunci, ia pergi bersama temannya. Menurut petugas bengkel, perempuan tersebut sudah biasa menyervis mobilnya. Ia mempercayakan pemeriksaan mobilnya mulai dari ganti oli hingga pengeceken mesin. Cerita Bu Ria lain lagi. Jika sudah waktunya ganti oli, ia menelepon bengkel langgananya. Bengkel akan datang ke rumah lalu membawa mobilnya ke bengkel. “Saya kadang tidak sempat ke bengkel. Tetapi, saya selalu menyimpan catatan kapan harus ganti oli mesin, oli gardan, termasuk cek aki. Semua ada di catatan. Saya kasi tanda di kalender. Kalau sudah waktunya, tinggal telepon

tkh/sep

Dari kiri: Kadis Perindustrian Prov. Bali Gede Darmaja, Komang Gede Tilik Juli Hartawan, Wayan Budiarta, dan Made Budiasa saat PBMB audensi

Budiasa

bengkel,” ujarnya. Urusan mobil memang bukan domain utama perempuan. Seringkali perempuan yang biasa naik mobil sendiri akan menyerahkan mobilnya untuk diperiksa bengkel. Hal ini dimaklumi karena beberapa pekerjaan memerlukan tenaga. Misalnya, mengganti ban. Walaupun sudah ada dongkrak, tetep saja perlu kekuatan fisik untuk membuka baut-baut yang ada di pelek. Peluang untuk melayani konsumen perempuan dimanfaatkan dengan baik oleh pemilik bengkel. Mereka berupaya memberikan pelayanan terbaik. Sebenarnya tidak ada pembedaan jenis kelamin konsumen, namun konsumen perempuan biasanya tidak mau repot asalkan mobil mereka diservis dengan baik. Dalam memberikan servis, para bengkel juga sering

melakukan kerja sama. Mereka adalah bengkel-bengkel yang terhimpun dalam Perkumpulan Bengkel Mobil Bali (PBMB). “Kami merupakan komunitas yang mewadahi badan usaha perbengkelan kelompok usaha kecil dan menengah. Melalui organisasi ini kami berinteraksi menjalin komunikasi, menggalang kesepahaman, dan mewujudkan kesetaraan bagi anggota,” ujar Sekretaris PBMB I Made Budiasa, S.T.,M.M.Sc. Ia menambahkan, PBMB memiliki misi melaksanakan kerja sama dalam kegiatan perbengkelan dan melakukan pengembangan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Melalui organisasi ini, Budiasa berharap adanya pembinaan manajemen perbengkelan, penyediaan bank data otomotif dan perbengkelan, serta kerja sama untuk memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen. —wah

Ni Putu Ratna Arshariani Putri

negatif lainnya baik bagi manusia maupun hewan dan lingkungan, dapat dihindari. Sebab, ekstrak ini mudah mengalami degradasi (penguraian) di dalam tubuh maupun di alam, sehingga merupakan alternatif lain pengganti bahan kimia (sintetis) yang justru menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia, hewan dan kerusakan lingkungan. Sebab, bahan sintetis sulit diuraikan dan selalu mengumpul atau tereduksi di dalam tubuh sehingga menimbulkan beberapa penyakit dan kelainan. Di kulit pisang terkandung senyawa ethylen yang mampu mempercepat pematangan buah pisang dan juga dapat mengubah karbohidrat menjadi gula sehingga rasanya lebih manis. Pematangan dengan ekstrak kulit pisang juga menyebabkan rasa buah pisang menjadi enak atau legit, serta kulit pisang warnanya mulus dan mengkilat.

Ide kreatif dan inovatif ini muncul dari penulis untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh bahan sintetis (bahan kimia) dengan memanfaatkan produk dari bahan tumbuh-tumbuhan, dengan memanfaatkan kulit pisang untuk dijadikan sebagai bahan/cairan untuk menyemprotkan pisang agar bisa cepat matang atau masak. Hal ini juga disebabkan ketersediaan kulit pisang yang melimpah, akibat penggunaan buah pisang sebagai produk makanan ringan dan camilan, seperti pisang goreng, molen, kolek, sangrae, kue sumping, sehingga memiliki prospek ekonomis dan mendukung program Pemerintah Provinsi Bali, Bali Clean and Green. zDrs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si. Dekan FPMIPA IKIP PGRI Bali


8

Tokoh

PESTA KESENIAN BALI

10 - 16 Juli 2011

menawar, kini sedang gencar berlangsung dalam masyarakat Bali kontemporer. Sebagai bagian peradaban global, masyarakat Bali sedang mengalami perubahan, baik yang bergolak secara internal maupun yang menggedor secara eksternal. Konsekuensinya, terjadi pergeseran nilai. Semua ini berimplikasi terhadap perilaku dan pola berpikir masyarakatnya. Misalnya, mengemuka kecenderungan sadar sesadar-sadarnya akan arti ekomomi-uang dan pasar. Tengok bisnis kesenian dalam jagat pariwisata Bali dan berkesenian di tengah masyarakat lokal. Merupakan suatu persoalan yang dilematis adalah bagaimana para seniman Bali menyikapi atau mengompromikan antara budaya ”tulus” ngayah dan budaya “materialistis” ekonomi-uangpasar yang menggedor hampir dalam tiap lekuk dan sendi kehidupan mereka. Bali diidentikkan jagat seni. Kehadiran beragam ungkapan seni itu seirama dengan denyut dan tarikan napas religius masyarakatnya dalam semangat kolektif sekaseka kesenian di banjar atau dalam ketulusan ngayah di pura. Tetapi, ketika zaman berubah dan kini ketika globalisasi menerjang, tak pelak membawa dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan penghuni jagat ini, termasuk pada masyarakat Bali dan keseniannya. Kesenian Bali tidak lagi hanya untuk persembahan, juga dipertontonkan kepada wisatawan. Seperti kita ketahui era kesejagatan yang lazim bertiup dengan transformasi budaya sudah tentu membawa guncangan besar dan kecil pada tata kehidupan dan perilaku masyarakatnya. Dunia ide dan rasa dalam selimut estetika yang disebut kesenian Bali, rupanya tak juga luput dari “provokasi” semangat zaman. Industri pariwisata sebagai salah satu representasi globalisasi, mengomodifikasikan seni pertunjukan dengan ikutan beragam dampaknya. Menurut Ketut Suwentra, komodifikasi merupakan ideologi pasar. Ideologi ekonomi-uanglah yang menyangga komodifikasi seni pertunjukan Bali dalam jagat kepariwisataan. Sebagai sebuah industri perpanjangan tangan dari kapitalisme, tentu tujuan memperoleh keuntungan sebanyakbanyak adalah yang menjadi kredonya, sementara bagaimana dampak negatif praktik komodifikasinya bukan menjadi domainnya. Sedangkan komodifikasi seni pertunjukan di tengah masyarakat Bali masih berada di wilayah antara ketulusan ngayah, berkesenian untuk masyarakat, dan komodifikasi situasional. “Untuk meminimalisir dampak negatif praktik komodifikasi, kiranya diperlukan kesadaran masyarakat dan kepedulian pemerintah terhadap keberadaan seni pertunjukan Bali sebagai sebuah kristalisasi budaya yang patut diberdayakan posisinya di tengah keniscayaan globalisasi,” imbau Suwentra. zKadek Suartaya

Dari Sarasehan Budaya PKB 2011

Seniman Bali Cemas ketika Seni Dikemas “Seni tradisi melarat, Barong Batubulan perang komisi, Cak Bona tinggal kenangan”. Demikian jeritan yang mengemuka di surat kabar belakangan ini sehubungan kian carut marutnya seni pertunjukan wisata di Pulau Dewata. Pemerkosaan terhadap seni tradisi dan teraniayanya seniman Bali pelaku seni pentas turistik, merupakan cerita laten yang tak pernah menemukan solusi hingga hari ini. Soal seniman berhimpitan pentas naik truk, honor ala kadarnya, standar tarif pentas yang amburadul, kualitas seni yang asal-asalan, sertifikat laik pentas yang semu, adalah sederetan persoalan ruwet yang senantiasa berkemelut di sekitar seni pertunjukan wisata Bali. Objek penderitanya, yang pasti: seni dan seniman.

K

isah pilu jagat seni wisata adalah derita yang umum mendera seni tradisi lokal yang dikemas sebagai objek komoditas di berbagai destinasi dunia. Topik ini diungkapkan sebuah makalah bertajuk Komoditifikasi Seni Pertunjukan Bali yang disajikan dalam Sarasehan Budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011, Jumat (1/7), bertempat di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sebagai narasumber, Dr. I Ketut Suwentra, S.S.T. mengungkapkan, industri pariwisata merupakan

situasi dan kondisi yang memberi ruang dan peluang terhadap komodifikasi seni. “Dalam konteks industri pariwisata, nilai-nilai estetik lokal masyarakat menjadi atraksi andalan. Seni pertunjukan Bali telah dikomodifikasi sejak awal kedatangan para pelancong di Pulau Dewata. Komodifikasi seni pertunjukan Bali dalam jagat kepariwisataan itu juga telah merambah bentuk-bentuk seni pentas yang tergolong sakral,” ujar Ketut Suwentra yang dikenal sebagai Pekak Jegog ini. Sebagai destinasi wisata dunia, papar Ketut Suwentra, Bali, kini,

I Ketut Suwentra

adalah sebuah komoditas. Bali memiliki nilai jual. Adalah industri pariwisata yang makin mengukuhkan Bali sebagai sebuah komoditas. Begitu pesatnya perkembangan pariwisata di pulau ini menyebabkan semua pihak ingin mengkomodifikasikan hampir seluruh lekuk sekala dan niskala Bali, dari gunung hingga laut, dari religi hingga mistik. Anugerah alam Bali dikomodifikasikan tanpa sisa. Danau, sungai, pantai dan laut yang diyakini orang Bali sebagai tempat pembersihan suci kini telah dikomodifikasikan. Gunung, bukit, tebing yang dipercaya orang Bali sebagai bersemayamnya para dewa dan makhluk halus kini juga dikomodifikasikan. Euforia mengkomodifikasikan alam Bali begitu sarat gairah, baik oleh orang Bali maupun pihak luar. “Karena begitu permisifnya paham komodifikasi dijadikan prinsip meraup keuntungan finansial, sehingga nilainilai sakral, terlarang, dan rahasia pun dijajakan sebagai sebuah komoditas,” ujarnya. Komoditifikasi adalah anak cucu kapitalisme yang kini mengungkung afmosfer Bali. Tarik-ulur, konfrontasi dan proses tawar-

Industri pariwisata Bali membuka ruang dan peluang komoditifikasi terhadap kesenian sakral Barong menjadi seni pertunjukan wisata.

tkh/ard

Gambuh Anak-anak Memukau Penonton PKB

Kadek Juni (tengah) pemain terkecil bersama dua temannya

tampil didominasi murid SD. Ada beberapa yang baru lulus SMP,” katanya. Tentang kadar kesulitannya, ia mengatakan, saat mengajarkan bahasanya karena menggunakan dialog bahasa Kawi. “Diperlukan kesabaran lebih, sebab mereka masih dalam usia bermain,” tambah Mangku Susenna. “Untuk kelompok anakanak, persembahan Gambuh dari Karangasem ini yang terbaik dan mampu menghibur selama saya menonton di PKB ini. Apalagi anak kecil yang berperan sebagai Wijil itu, ekspresi dan improvisasinya menggoda,” ujar fotografer senior Bali Ida Bagus Andi Sucirta di tengah kesibukannya membidikkan kameranya ke arah seniman kecil di tengah arena itu. Tokoh seniman dari Karangasem. Ida Wayan Jelantik, lebih menyoroti dari sisi pembibitan. “Ini sangat positif sebab dengan tampil di PKB memberikan motivasi anak-anak, selain punya kegembiraan tersendiri juga tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuannya kemudian hari. Apalagi bicara regenerasi yang memang sangat

Ida Wayan Jelantik dan I Wayan Ringin

Gong Kebyar di Zaman Gebyar BALI tak pernah sepi bunyi gamelan. Denting nada-nada gamelan mengalun dari tengah ritual keagamaan hingga gemerincing jagat keperiwisataan. Hampir tiap banjar atau desa memiliki gamelan. Dari puluhan barung (ansambel) gamelan yang dimiliki masyarakat Bali, dapat dipastikan gamelan Gong Kebyar yang paling merata penyebarannya. Gamelan yang diduga muncul tahun 1915 di Bali Utara ini berfungsi fleksibel, selain sebagai orkestra untuk menyajikan musik instrumental, juga dapat dipakai mengiringi puspa ragam tarian Bali dari tari sakral hingga berjenis tari untuk tontonan sekuler. Keintiman masyarakat Bali dengan gamelan Gong Kebyar dapat disimak dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011. Tampak penonton menyimak dengan antusias tiap penampilan materi acara pergelaran Gong Kebyar yang direntang dalam sebuah parade. Duta Gong Kebyar masing-masing kabupaten/kota unjuk kebolehan dengan sarat gereget, pentas secara membarung alias bersanding. Seluruh kabupaten/kota mengutus duta Gong Kebyar-nya masing-masinng berparade sarat gengsi, baik grup Gong Kebyar Wanita, Gong Kebyar Anak-anak, dan kelompok Gong Kebyar Dewasa. Semua pementasannya di panggung Ardha Candra, dielu-elukan penonton. Gamelan Gong Kebyar menjadi media berkesenian kaum wanita, kalangan anak-anak, dan orang dewasa. Parade Gong Kebyar dalam PKB menyajikan konser musik, mengiringi tari, dan dolanan (Gong Kebyar Anak-anak) atau pragmen tari (Gong Kebyar Dewasa). Lewat parade atau festival Gong Kebyar se-Bali yang telah heboh sejak tahun 1960-an dan mencuat pamornya di arena PKB, gamelan ini berkembang semarak, baik kesemarakan kreativitasnya

maupun luas menyebarannya. Kini Gong Kebyar tak hanya membumi di Bali tetapi telah juga membumbung di seantero dunia. Terbukti grup-grup gamelan dari mancanegara yang pernah tampil di PKB telah menunjukkan kebolehannya memainkan Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar dikembangkan dari gamelan Bali kuno yang disebut Gong Gede. Secara etimologis, kebyar sebagai sebuah istilah dalam bahasa Bali dapat dipandang secara audio dan visual. Secara audio kebyar adalah bunyi yang keras serentak dan secara visual kebyar adalah sinar sesaat yang terang benderang. Secara fisik, kebyar dalam kesenian Bali adalah seni kebyar, baik dalam wujud ansambel Gong Kebyar yaitu gamelan maupun dalam ekspresi seni tari seperti tari Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan, Trunajaya, Margapati yang di tengah masyarakat Bali lazim disebut tari lepas. Kebyar juga dapat dipandang secara estetik konseptual. Jika direnungkan, konsep estetik kebyar telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam perjalanan kesenian Bali. Hampir sebagian besar seni pertunjukan Bali, secara sengaja atau tidak, terpengaruh konsep estetik kebyar yang disebut ngebyar yang secara teknis musikal dalam seni tabuh, misalnya, diungkapkan secara serentak, keras, cepat, ramai, riuh, lincah, aksentuatif, sarat kejutan. Pengaruh konsep estetik kebyar ini begitu luas hampir mewarnai ungkapan musikal sebagian besar gamelan dari gamelan klasik seperti Gender Wayang hingga gamelan berwarna pilu, Angklung. Bagaimana tatabuhan Angklung yang bergirang ngebyar juga dapat disimak di arena PKB dalam mata acara parade Angklung. Konsep estetik kebyar yang terimplementasi dalam sebagian

besar seni pertunjukan Bali ini merupakan cermin bagaimana masyarakat Bali, pada suatu masa, dulu dan kini berinteraksi dan berkomunikasi dengan nilai-nilai kebudayaan. Jika disepakati Gong Gebyar dianggap sebagai tonggak berawalnya era kebyar maka tahun 2015 nanti berarti seabad masyarakat Bali bermesraan dengan kebyar sebagai konsep estetik dan sekaligus simbolik budaya yang dinamis, fleksibel, dan inovatif. Berasyik masyuknya dua generasi dengan kebyar menandai konsep dinamis, fleksibel, dan inovatif itu kontektual dengan aspirasi dan mentalitas masyarakat Bali. Terbukti dalam wujud seni pentas di PKB dan juga di tengah masyarakat, konsep itu disambut baik oleh masyarakat Bali masa kini. Sebagai sebuah ekspresi artistik, Gong Kebyar telah menunjukkan ketegarannya di tengah gebyar globalisasi. Dinamika globalisasi dan hegemoni budaya massa yang telah menggeser keberadaan berbagai bentuk kesenian lokal di berbagai sudut dunia justru tak mampu menundukkan salah satu kesenian Bali ini. Dominasi kesenian dan hiburan massa dalam berbagai bentuk dan kemasannya yang telah menimbulkan daya pesona yang kuat pada masyarakat lokal dan tradisi, sehingga menjauhkan mereka dari warisan kesenian tradisi mereka sendiri, justru sebaliknya memunculkan penguatan estetik-konseptual dan penguatan sosio-kultural. Keberadaannya sebagai ungkapan seni pertunjukan gamelan dan tari makin cemerlang. Posisinya secara internal di tengah masyarakat Bali begitu integral dan sementara itu ekspansinya dalam konteks eksternal di tengah khazanah kesenian dunia kian berbinar. Gong Kebyar telah diperhitunglah sebagai salah satu musik dunia yang penting seperti yang telah ditulis seorang komposer dan guru besar Amerika, Michael Tenzer, dalam bukunya Gamelan Gong Kebyar: The Art of Twentieth-Century Balinese Music. zKadek Suartaya

Proses Terbentuknya Kebudayaan Bali

tkh/ard

TARI Gambuh dianggap jenis kesenian yang sulit. Kesenian klasik ini memiliki gerak tari paling kaya dan dianggap dasar dari semua tarian Bali. Rabu (29/6) siang tarian klasik ini ditampilkan di arena PKB ke33. Penarinya seniman-seniman cilik. Begitu pula penabuhnya, sebagian besar anak-anak. Hasilnya memukau dan memikat perhatian penonton. Tarian tersebut dibawakan Seka Gambuh Prabhajnana, Banjar Saren, Bebandem, Karangasem. Penata tabuh Ketut Suarjana didampingi penata tari I Kadek Mangku Susenna mengatakan di daerahnya seni warisan leluhur ini biasa dipentaskan sebagai pelengkap upacara dewa yadnya, manusa yadnya hingga pitra yadnya. “Anak- anak ini anggota pesraman Prabhajnana. Di pesraman kami memiliki jadwal rutin berlatih seni termasuk Gambuh. Anak-anak terbiasa melihat kakak-kakaknya berlatih. Lama-lama mereka tertarik dan ingin mencoba dan mulailah kami ajari,” ujar Suarjana. Ia menjelaskan, untuk tampil di ajang PKB, sekanya berlatih lebih intensif di Puri Gede Karangasem. Untuk penampilan mereka kali ini, tokoh Panasar dan Wijil dikembangkan menjadi dua pasang. “Pertama, agar tontonan jadi lebih segar. Kedua, kami bisa menyalurkan anak yang punya kemampuan humor cukup baik bisa tampil dengan tetap tidak keluar jalur pergambuhan,” paparnya. Pentas seniman cilik ini, kata Suarjana, diperkuat 38 personel, 23 orang di antaranya terlibat di kelompok penari dan 13 lainnya sebagai penabuh. “Penari yang

sulit. Namun, dengan adanya Gambuh anak-anak ini, berarti tumbuhnya kesadaran yang tinggi agar Gambuh tetap hidup di Karangasem,” katanya. “Saya merasa terharu sekaligus bangga melihat keberanian anak-anak itu. Mereka tampil penuh totalitas. Anak-anak ini generasi yang kami harapkan terus mempertahankan dan menjaga keberadaan seni klasik ini. Saya juga salut melihat penabuhnya, sebab baru kali ini saya melihat Gambuh didominasi anak-anak pemain dan penarinya,” tambah seniman tari I Wayan Ringin. Demi keberlangsungan kesenian klasik di Bali dan khususnya di Karangsem, tokoh muda dari Puri Gede Karangasem, A.A. Bagus Ngurah Agung, yang turut menyaksikan pementasan Gambuh anak-anak ini menyatakan bersedia memasilitasi kelompok ini demi pelestarian. “Kesenian tradisi ini memiliki fungsi yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat kita. Terlebih sebagai masyarakat yang beragama dan berbudaya,” ujarnya. Malam itu Seka Gambuh Prabhajnana mengusung lakon Trate Bang yang mengisahkan Raden Panji Anusapati yang mencari calon istrinya, Diah Langke Sari, yang hilang karena diterbangkan angin puting beliung. Sedangkan Prabu Trate Bang berniat jahat pada Raden Panji. Raden Panji dan Prabu pun berperang mengadu kesaktiannya. Raden Panji berhasil menelusup ke istana Prabu Trate Bang dan di sana ia menemukan Diah Langke Sari. Di ujung cerita, Raden Panji berhasil memboyong calon istrinya ke Keraton Koripan. —ard

Gong Kebyar telah berkembang di luar Bali yang ditampilkan grup gamelan wanita The Ary Suta Center Gamelan Jakarta dalam arena PKB 2011.

Kata acara berasal dari bahsa Sansekerta dari kata car TELAH menjadi kesepakatan para pendukung artinya bergerak dan a di depan kata car artinya tidak. kebudayaan dari awal pembangunan berencana di IndoDengan demikian acara artinya langgeng maksudnya terusnesia yang disebut Repelita (1969), kebudayaan Bali menerus dipatuhi masyarakat secara luas dan turundijiwai Agama Hindu. Ini artinya dinamika kebudayaan menurun. Hal inilah yang disebut adat istiadat dan Bali tergantung apa yang diarahkan ajaran agama tersebut terbentuklah kebudayaan. Tetapi, tujuannya tetap untuk sesuai konsepnya menurut pustaka Suci Agama Hindu. mewujudkan kehidupan bahagia yang disebut Manusia Bali secara umum tidak ada bedanya dengan Atmanastusti yaitu kebahagiaan Atman atau kebahagiaan manusia lainnya, memiliki kelebihan dan kekurangan. rohani. Saat mentradisikan itulah tokoh-tokoh masyarakat Demikian juga dinamika kebudayaan Bali dalam akan memadukan nilai dan hal-hal positif seperti berbagai kehidupan empirisnya, ada yang nyambung konsep kebiasaan yang dianggap baik oleh masyarakat yang sudah idealnya dalam ajaran agama dan ada juga yang jauh ada dalam masyarakat secara luas. Nilai-nilai yang sudah bahkan menyimpang dari ajaran Agama Hindu sebagai ada itu akan bertemu dengan ajaran suci Hindu seperti napas kebudayaan Bali. Realitas hidup memang seperti I Ketut Wiana Sruti, Smrti, Sila. Dari perpaduan inilah terbentuk itu, ada yang benar ada yang salah, ada yang baik ada yang buruk. Karena itu perlunya ada pembinaan agar kebudayaan daerah yang mengemas nilai-nilai Hindu seperti dinamika itu mengarah pada keadaan yang makin baik, makin dekat Sruti, Smrti dan Sila. dengan idealisme pustaka suci Weda sumber ajaran Agama Hindu. Demikianlah halnya dengan proses perkembangan kebudayaan Bali yang dijiwai atau bernapaskan Agama Hindu. Konsepsi proses terbentuknya kebudayaan Bali itu tidak berproses persis sebagaimana Bagian Pertama konsepsinya. Terbentuknya kebudayaan Bal bernapaskan Agama dari Lima Tulisan Hindu itu tentunya melalui proses yang tidak sesederhana teorinya itu. Proses berkembangnya kebudayaan Bali itu ada yang sesuai Sarasamuscaya 260 menyatakan “weda abyasa” artinya Weda dengan esensi nilai-nilai ajaran Agama Hindu, ada juga yang tidak sabda suci Tuhan itu harus ditradisikan umat penganutnya. Dalam sesuai bahkan ada yang prosesnya terbalik dengan konsepsinya. Sarasamuscaya 275 diyatakan: “mangabyasa Dharmasadhana” artinya Seperti Catur Varna dan Wangsa yang amat suci dan mulia itu, mentradisikan pelaksanaan Dharma. Dharma itu isi Weda Sabda suci tetapi proses perkembangannya menjadi Kasta. Tuhan. Ini artinya Sanatana Dharma yaitu kebenaran abadi itu akan Prof. Dr. Koentjaraningrat menyatakan sosok kebudayaan itu nyata menjadi pedoman hidup bagi umat Hindu apabila sudah ada tiga yaitu budaya, ide atau gagasan-gagasan, budaya aktivitas ditradisikan dalam hidup. secara individual maupun dalam kehidupan atau tata laku dan budaya wujud atau berbentuk benda. Kalau sosok di masyarakat dengan berbagai sistem sosialnya. Menurut Swami kebudayaan Bali yang bernapaskan Agama Hindu itu kita bedah dengan Siwananda Weda Sabda, Tuhan itu Prabhu Samhita artinya kumpulan menggunakan konsepnya Prof. Dr. Koentjaraningrat tersebut maka syair suci yang amat berwibawa sehingga umat kebanyakan tidak budaya, ide dan gagasan serta budaya aktivitas atau tata laku tersebut mudah mencapinya. Karena itu dari Weda Sabda, Tuhan itu para sebagai jiwa kebudayaan Bali yang berasal dari ajaran Agama Hindu. Maha-Resi menciptakan rumusan yang Suhrita Samhita yaitu Sedangkan wujudnya kearifan lokal Bali. Agama Hindu itu isinya di rumusan yang lebih ramah dan aplikaitf sehingga lebih mudah mana pun sama. Hanya kemasan luarnya yang berbeda-beda. dijangkau umat dalam segala tingkatannya. Dalam Manawa Misalnya hari raya untuk memenangkan kehidupan berdasarkan Dharmasastra II.6 dinyatakan, Weda Sabda Tuhan itu disebut Sruti. Dharma antara India dan Bali beda bentuk luarnya. Kalau umat Hindu Sabda Tuhan yang didengar (Sruti) Maha-Resi itu ditafsirkan Mahadi India menamakan Wijaya Dasami di Indonesia (Bali) namanya Rsi yang spiritual. Penafsiran Weda Sruti oleh Resi Spiritual itu Galungan. Kata wijaya berasal dari bahasa Sansekerta dan galungan disebut Smrti. Dari Smrti ini dijabarkan lagi oleh Maha-Resi yang berasal dari bhasa Jawa Kuno. Kedua kata itu artinya menang. Di Sastrawan ke dalam Sila Samhita yaitu menjadi Itihasa dan Purana. India, Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun berdasarkan Sila artinya perilaku. yang patut ditiru maupun perilaku buruk yang perhitungan Tahun Surya. Galungan berdasarkan Tahun Wuku sepatutnya dijauhi. Semua Sila itu dalam berbagai bentuk ada di dirayakan tiap Budha Kliwon Dungulam. Kalau kita bedah betul dalam ceritra Itihasa dan Purana. Dengan mendalami Itihasa dan Purana banyak hal yang seperti itu. Misalnya di India ada Hari Raya Sangkara saja umat cukup tahu mana perilaku yang sepatutnya ditiru maupun Puja di Bali ada Tumpek Wariga dalam Lontar Sundaraigama disebut pwrilaku yang sepatutnya dihindari. Semua Sila tersebut ada dalam Payoga Sang Hyang Sangkara. cerita Itihasa dan Purana. Karena itu Vayu Purana I.20 dan Esensi kebudayaan Bali yang bernapaskan Agama Hindu sebagai Sarasamuscaya 39 menyatakan, untuk dapat memahami isi Weda wujud hubungan Bhakti manusia pada Tuhan, hubungan cinta kasih sebelumnya pahami dulu Itihasa dan Purana sebagai media menuju manusia dengan sesama manusia dalam wujud pengabdian yang tulus kesempurnaan Weda. Di Bali Itihasa ini divisualisasikan di Candi ikhlas atau Punia dan menjaga dan memelihra alam berdasarkan Bentar Pura Penataran Agung Besakih, di sana ada arca Ramayana Asih. Inilah implementasi ajaran Tri Hita Karana. Semua dinamika dan Mahabarata di kiri dan kanan tangga pintu masuk candi tersebut. kebudayaan Bali yang bernapaskan Agama Hindu dapat digolongkan Dari Itihasa dan Purana ini para tokoh masyarakat adat dan para ke dalam tiga hubungan tersebut. penggiat dan ahli kebudayaan yang mentradisikan penerapan Weda kedalam tradisi kebudayaan yang disebut Acara dalam Susastra Hindu. z I Ketut Wiana


LINGKUNGAN

tkh/ast

M

enurut Kepala Badan Layanan Umum Pengelola Air Limbah (BLUPAL) Ir. Tjok Bagus Budiana, DJPL, HE volume limbah yang masuk ke pengolahan air limbah di Suwung awalnya sekitar 12 ribu M3 per hari. Namun, sekarang sudah mencapai 22 ribu M3 per hari. Kapasitas instalasi ini didesain agar bisa menampung 51 ribu M3 limbah per hari. Luas tanah yang diharapkan untuk instalasi ini sekitar 17,5 hektare. Yang sudah disetujui baru 10 hektare. Yang terbangun kolam seluas 2,5 hektare. Ia mengatakan, puncak kedatangan limbah pukul 8.0010.00 dan pukul 16.00-18.00. Limbah yang diolah merupakan limbah rumah tangga terdiri atas limbah dapur, kamar mandi, air cucian, dan toilet. Empat sumber air limbah ini sudah disediakan pipa penyalur agar masuk ke sistem pengolahan air limbah DSDP ini. Dengan masuknya proyek DSDP ke rumah penduduk, tidak perlu lagi ada septic tank dan lahan bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Limbah warga masyarakat yang berasal dari pusat kota Denpasar, Sanur, Kuta, Legian, dan Seminyak ini dikumpulkan terlebih dahulu di rumah pompa. Untuk pusat kota Denpasar dan Sanur masuk ke rumah pompa di Sanur. Untuk wilayah Kuta, Legian dan Seminyak masuk ke rumah pompa di Kuta. Ia mengatakan, kandungan limbah domestik terkadang menyertakan lemak, dan daun

Tjok Bagus Budiana

atau serpihan kecil yang semestinya tidak boleh masuk ke sistem pengolahan limbah ini. Saat bercampur di rumah pompa, limbah sudah menyatu. Dari rumah pompa, limbah dimasukkan ke kolam aerasi. Dalam kolam ini terdapat suatu alat yang disebut aerator yang berfungsi mengaktifkan mikroba untuk menghancurkan limbah. “Fungsi aerator mengangkap O2 agar mikroba cukup oksigen untuk hidup. Ditambah proses fotosistesis sinar matahari mikroba akan tumbuh dengan baik. Makin banyak mikroba hasil yang didapat makin baik,” ujarnya. Dalam kolam aerasi limbah tadi diproses dalam dua hari. Setelah masuk ke kolam aerasi, limbah tadi terurai menjadi dua, sebagian keluar berupa air dan sebagian lagi berupa endapan. Air mengalir ke kolam sedimen yang kemudian meng-

Pengolahan limbah cair rumah tangga di Suwung

tkh/ist

Tahap Kedua DSDP Sasar Suli, Ratna, Gatsu LIMBAH cair rumah tangga masih banyak ditemukan mengalir ke Tukad Badung. Meski Denpasar Sewerage Devolopment Project (DSDP) dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali sudah masuk ke kawasan itu, namun belum semua permasalahan limbah cair dari permukiman di bantaran Tukad Badung bisa tertangani. Hal ini diakui Kepala Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Bali Ir. Wayan Budiarsa, Dipl. S.E. “Paling tidak, ada upaya mencegat agar tak seluruh limbah mengarah ke Tukad

Badung. Seperti permukiman di Jalan Diponegoro, jika dibiarkan, semua selokan itu mengarah ke Tukad Badung. Ada prioritas pengerjaannya,” ujarnya. Hasil survei membuktikan pencemaran tertinggi ada di pusat kota Denpasar, Sanur dan Kuta. Kebanyakan limbah cair di kedua pusat daerah pariwisata ini dibuang ke pantai. “Kini sudah mulai tertangani,” ujarnya. DSDP mulai dikerjakan tahun 2003. Satu tahapan dikerjakan selama lima tahun. Tahap pertama menyasar pusat kota dan sekitarnya sebagai

urgent area. Tahap kedua tahun 2009 sampai 2014 menyasar Jalan Suli, Ratna dan Gatot Subroto. Salah satu tujuan DSDP mengurangi pencemaran Tukad Badung. Karena, hilir Tukad Badung adalah dam estuary yang airnya digunakan sebagai sumber air baku dan secara teknologi sangat memungkinkan diolah menjadi air minum. “Saat ini air tersebut sedang diuji. Ini potensi yang dikembangkan minimal untuk meyiram lapangan golf, atau taman untuk menanggulangi isu krisis air tahun 2015,” ujarnya. –ten

tkh/ast

alir ke kanal yang akan dilepas ke badan air dan masuk ke hutan mangrove. Ia mengatakan, kolam aerasi dan kolam sedimen selalu menyisakan endapan. Menurutnya, dalam sistem ini sudah dirancang tiap 10 tahun kolam harus dikeruk untuk diambil endapannya. “Sistem ini sudah didesain seperti itu. Diperkirakan setelah 10 tahun endapan akan muncul setinggi 75 cm. Endapan ini akan dikeruk yang tujuannya agar efektivitas mikroba bisa dipelihara,” jelasnya. Para petugas laboratorium BLUPAL mengecek sampel air olahan limbah ini tiap hari, untuk mengecek bakteri, ph, dan temperaturnya sesuai yang diharapkan yakni kualitas baku mutu air mendekati air irigasi. Tiap bulan tim BLUPAL bekerja sama dengan laboratorium daerah melakukan pengecekan agar baku mutu air sesuai dengan aturan. Menurutnya, aerator merupakan penentu. Sistem ini memerlukan kesadaran masyarakat. Menhol-menhol yang dibangun di jalanan tujuannya untuk operasional dan pemeliharaan. Ia mengimbau warga masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan yang sering terkena banjir, jangan membuka menhol dan mengalirkan air hujan ke dalam menhol. “Dengan membuka menhol, bukan hanya air hujan yang masuk, tetapi sampah ikut terangkut dan ini membahayakan sistem. Kami pernah menemukan bantal guling, bantal tempat duduk dan keset di dalam instalasi. Ini bisa mengganggu kerja mesin,” kata Tjok Budiana. Ia menyebutkan, daslam proyek DSDP II ada penambahan sambungan sebanyak 7200. Penambahan sambungan ini ada yang berasal dari sistem jemput bola dan permintaan warga. Diharapkan sambungan ini sudah selesai tahun 2012. Ia menyatakan, selama kurun waktu 2014 penyambungan ke rumah penduduk masih digratiskan. “Di samping tetap menyambung saluran ke rumah tangga proyek kedua ini

Program Pengendalian Banjir di Tukad Badung hampir Tuntas tertangani. Banjir besar terakhir yang melanda beberapa titik di Kota Denpasar, tak sampai membuat air Tukad Badung meluap. Kini program PU Provinsi lewat BWSBPnya mengarah dari Gatot Subroto ke hulu. Di hulu sekarang perumahan sudah mulai mendesak. “Kami khawatir pendanaan kurang, sehingga nanti keburu bangunan mendesak sungai. Jika sudah itu duluan, akan susah menanganinya,” ujar Komang Putra. Ia menambahkan tahun ini penanganannya ada di Greenkori, Ubung. Sungai yang masih berisiko banjir adalah Tukad Mati

PEMBANGUNAN, penanganan dan pemeliharaan sungai termasuk Tukad Badung dilimpahkan ke Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWSBP). “Kami menangani pembangunan fisik terkait pembangunan struktur seperti penyenderan, gronsil, dan cek dam,” ujar Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai I BWSBP I Komang Putra Antara, S.T., M.T. Pembangunan fisik ini, untuk pengendalian banjir dan pemeliharaan. Program pengendalian banjir di Tukad Badung dikatakannya hampir tuntas, tinggal di hulu yang belum. Untuk penanganannya pihaknya selalu berkoordinasi dengan PU kabupaten/kota seBali. Banjir Tukad Badung tahun 1980-an, dikatakannya akibat tak mampunya alur sungai menampung karena belum dinormalisasi. Normalisasi sungai ini menyangkut pelebaran, pendalaman, bisa juga karena alur berkelok dan menyempit. Pendalaman sungai dilakukan dengan pengerukan. Pengerukan biasanya dilakukan tiap tiga tahun. Ini pun masih bergantung pada dana dari pusat, dan melihat kondisi sungai. “Jika sendimentasi/ endapan tanah dalam sungai 1,5 meter melebihi dasar alur sungai atau jika sudah mengganggu alur sungai, kami ajukan dana untuk pengerukan. Jika memungkinkan, menggunakan alat berat,” ujarnya. Pengadaan pelebaran alur sungai dan penguatan tebing merupakan kewajiban PU Provinsi. Penguatan tebing dilakukan untuk mengamankan permukiman yang ada di sepanjang alur sungai, memperlicin jalannya air menuju muara, dan memperkuat tebing supaya tak terjadi pelebaran. Lebar sungai diseragamkan. Dengan pelebaran ini, batas sungai jelas. Sedangkan, masalah pembersihan sampah menjadi tanggung jawab PU Kota. Jika Kota tak mampu, dikoordinasikan ke Pemprov untuk diusulkan ke Pusat. Sekarang ini, Kota memprogam permukiman mengarah ke alur ke sungai. Tujuannya, agar ada rasa malu jika membuang sampah ke sungai, ke depan. Kendalanya, rumah-rumah yang ada sejak dulu itu susah diubah. Terkait pengendalian banjir di Tukad Badung ini, telah juga dilaksanakan bendung gerak di Buagan, agar saat banjir, air normal lewat ke hilir. Muaranya di estuary dam. Ada dua trash rack sepanjang alur Tukad Badung ini yakni di hilir di Buagan dan bagian hulu di Wangaya. Komang Putra mengatakan sungai dalam kota, dari Jalan Gatot Subroto ke hilir sudah

Ir. Wayan Budiarsa, Dipl. S.E.

di Jalan Pura Demak (Marlboro). Ini dikatakannya akibat tanah sebagai resapan air sudah beralih fungsi menjadi bangunan. Penyebab banjir terakhir adalah akibat bendung-bendung tetap yang seolah membendung sungai. Semua bendungan ini kini telah diprogramkan menjadi bendungan gerak, sama seperti Tukad Badung. “Setelah kami amati, sudah tak terjadi banjir lagi. Kecuali, di daerahdaerah tertentu, dan itu bukan akibat dari sungai yang kita tangani. Itu akibat drainase I Komang Putra Antara, S.T., M.T. yang tak mampu lewat ke sungai /Tukad Mati. Karena mukiman tak begitu jauh,” alur sungai dengan per- tandasnya. –ten tkh/ten

GUNA menangani persoalan sanitasi di bidang air limbah, kini Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sudah dapat menikmati proyek Denpasar Sewerage Development Project (DSDP). Proyek kerja sama pemerintah pusat dengan JICA, Pemprov. Bali, Kota Denpasar dan Kabupaten Badung ini melayani masyarakat yang bertempat tinggal di pusat kota Denpasar, Sanur, Kuta, Legian, dan Seminyak. Sebanyak 8647 sambungan rumah sudah terlayani sejak Desember 2008.

telah memiliki pengolahan limbah. Namun, ia berharap, jika sistem ini sudah dibuatkan SOP, harapan ke depan semua hotel ikut bekerja sama. Bagi hotel yang ikut menyambung akan diberi penghargaan. Menurut dia, roda penggerak sistem pengolahan limbah ini adalah listrik. Saat ini sistem instalasi dikenai tarif listrik bisnis. Sedangkan misi pengolahan limbah ini lebih banyak ke pelayanan umum. Ia berharap, PLN kembali mengkaji tarif agar bisa dimasukkan ke tarif sosial. Bagi masyarakat yang sudah menikmati proyek ini, diharapkan mulai ikut berpartisipasi ikut membayar. Sosialisasi terus digencarkan ke banjar-banjar. Diharapkan September 2011 sudah bisa direalisasikan dan Kolam pengolahan air limbah masyarakat memenuhi kewajibanakan menyasar restoran dan ho- hotel dan restoran biaya shar- tangga dan hotel di Kota nya. Tarif rumah tangga Rp tel di kawasan Sanur, Kuta, ring. Sambungan dalam proyek Denpasar,” ujarnya. 15.000 s.d. Rp 25.000 per bulanLegian dan Seminyak. Untuk DSDP I lebih banyak ke rumah Ia mengakui, sebagian hotel nya. –ast

tkh/ten

22.000 M3 Limbah Masuk Pengolahan Suwung tiap Hari

10 - 16 Juli 2011 Tokoh 7


12

Tokoh

10 - 16 Juli 2011

Optimalkan Peran........................................................................................dari halaman 1 Tembang Alam..........................................................................................................................................................dari halaman 1

Ny. Ayu Pastika berkomunikasi dengan salah seorang murid SDN 4 Suana, Nusa Penida

antaranya program bedah rumah bagi masyarakat miskin, membantu para penyandang cacat, pengobatan gratis bagi lansia serta bantuan bagi penderita gangguan jiwa. “Program ini dapat kami laksanakan dengan baik, berkat dukungan dan kerja sama banyak pihak, baik swasta, BUMN, BUMD serta dunia usaha lainnya. Begitu pula komponen masyarakat lainnya yang kami koordinasikan melalui program corporate social responsibility (CSR),” ujar Ny. Ayu Pastika. Salah satu aksi sosial yang dilakukan di Nusa Penida, beberapa waktu lalu, BK3S Bali menggandeng Perhimpuan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali, bersama menyerahkan bantuan, berupa 100 paket meja dan kursi belajar siswa dan enam paket kursi dan meja guru di SD 4 Suana, Nusa Penida. Pada kesempatan tersebut Gubernur Bali Made Mangku Pastika sempat meminta para guru di sana agar bekerja lebih keras dan sungguhsungguh mengajar serta mendidik siswanya. Sebab, melalui kerja keras dan kesungguhan mengajar akan melahirkan SDM yang cerdas, pintar, memiliki daya juang tinggi, berani juga kuat menghadapi penderitaan hidup ini. “Tidak ada istilah pamrih atau hitung-hitungan, tidak mudah mengucapkan kata lelah karena mengajar serta mendidik anak itu adalah bagian dari yadnya,” lanjut Ny. Ayu Pastika mengutip sebagian ucapan gubernur dalam kegiatan sosial yang juga dihadiri Ketua INTI Bali Cahaya Wirawan Hadi,

Ny. Ayu Pastika saat menyerahkan bantuan kursi roda kepada Wayan Anteg di Singakerta Ubud

Kadis Sosial Bali I Ketut Susrama, Kepala Sekolah SDN 4 Suana Dewa Gede Watuaya, Ketua Komite SD 4 Suana dan beberapa orangtua murid. Belum lama juga ibu tiga anak yang mudah tersentuh atas penderitaan orang lain ini pun melanjutkan aktivitas sosialnya di daerah Gianyar. Salah satunya di Banjar Dangin Labak, Singakerta, Ubud, Gianyar. Sejumlah warga kurang mampu di wilayah tersebut dan wilayah lainnya mendapatkan bantuan kursi roda. Salah seorang yang mendapatkan kursi roda adalah Wayan Anteg (85), yang selama ini hanya berdiam diri di kamarnya akibat lumpuh. Sementara itu Ny. Ayu Pastika tak kalah trenyuhnya begitu mengetahui banyaknya derita yang menimpa keluarga Wayan Anteg.” Keponakannya Made Sumertini mengidap gangguan jantung. Ada juga saudaranya yang lain menderita katarak,” ujarnya sembari mengatakan akan mengupayakan bantuan operasi katarak serta bedah rumah rumah bagi keluarga Wayan Anteg. Laki-laki usia lanjut itu pun merasa sangat terharu, dengan bantuan Ny. Ayu Pastika, terhadap dirinya hingga ia dapat berakvitas di luar kamar. Ia pun tak dapat menahan airmatanya begitu mengetahui kepedulian yang besar dari Ny. Ayu Pastika pada keluarganya yang lain. Menurut Ny. Ayu Pastika, konsep CSR yang dilaksanakan pelaku usaha selama ini selaras dengan falsafah Tri Hita Karana, mewujud-

kan keharmonisan alam Bali serta jadi panduan masyarakat Bali melaksanakan swadarma-nya masingmasing. “Kami juga biasa terjun langsung memverifikasi kebenaran data rumah tangga miskin yang selama ini perlu bantuan,” ujar Ny. Ayu Pastika sembari menambahkan jika kegiatan dengan konsep CSR telah dilaksanakan sejumlah perusahaan di Bali. Komitmen program CSR juga sudah dilakukan Dirut BPD Bali I Wayan Sudja, yang menyerahkan secara simbolis bantuan bedah rumah untuk 300 keluarga miskin se-Bali kepada Ketua Umum BK3S Bali, Ny. Ayu Pastika, pekan lalu. “Ini adalah realisasi komitmen pengusaha dalam membantu dan mendukung program pemerintah untuk memberikan pelayanan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Di tengah aktivitas sosial yang terus- menerus, istri orang nomor satu di Bali ini, menyatakan akan terus menggugah kepekaan perusahan melalui realisasi CSR sebagai tanggung jawab sosialnya sesuai yang diamanatkan undangundang. Di samping berharap ada respons positif masyarakat lainnya sebagai peluang dan kesempatan berperan secara proaktif dalam pelayanan kesejahteraan sosial di masyarakat. Semua penguatan dari berbagai pihak terhadap lembaga kesejahteraan ini secara simultan, katanya perlu dilakukan untuk mempercepat terwujudnya optimalisasi dan efektifnya layanan BK3S Bali. —ard

Memaknai 24 Jam........................................................................................dari halaman 3 masuk ke Pura Pasupatinath harus mengenakan pakaian seperti orang Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji. Karena kami mengenakan pakaian kasual, jadi tidak masuk ke dalam pura. Kami hanya melihat dari luar. Di depan Pura Pasupatinath ada 13 lingga besar tempat pemujaan Mahadewa. Tempat ini biasanya ramai saat hari Siwaratri. Jutaan orang datang ke Pasupatinath untuk melakukan pemujaan Siwa. Saat kami mengunjungi linggalingga tersebut, sedang ada kegiatan syuting acara televisi. Lokasi tersebut dipasangi police line. Untungnya, rombongan pemenang kuis tirtayatra Telkomsel ini masih bisa berfoto di dekat lingga bersama para sadhu. Sadhu adalah orang yang sudah melepaskan diri dari ikatan duniawi. Walaupun ada yang sudah memiliki jabatan tinggi di perusahaan, tetapi kalau ada panggilan jiwa untuk mencari makna aksara mereka akan melepas semua jabatannya. Keluarga akan ditinggalkan untuk memperdalam ajaran spiritual. Namun, jika istrinya ikut, mereka akan bertempat tinggal di ashram untuk melakukan penciptaan-penciptaan spiritual. “Sadhu tidak pernah mandi. Tetapi, badan mereka tidak bau. Rambut yang gimbal pun tak bau. Orang akan berebut untuk mendapatkan restu dari para sadhu,” kata Putu Edi yang juga pemilik SAT Tours. Peserta tirtayatra pun beruntung bisa berfoto dengan para sadhu yang ada di dekat Pura Pasupatinath dan mendapat berkat. Tangan sadhu me-

nyentuh kepala kami dan kami menyentuh kaki mereka. Sebagai punia, kami memberikan koin untuk mereka. Koin-koin ini dikumpulkan untuk disumbangkan lagi ke pura atau ashram. Di depan Pura Pasupatinath juga ada tempat kremasi. Dalam konsep Hindu, saat badan lepas dengan jiwa, kewajiban orang yang masih hidup mengembalikan badan yang mati itu kepada yang punya. Dalam tatanan Panca Maha Bhuta, unsur padat kembali ke padat (dalam hal ini Ibu Pertiwi). Kunci angka Ibu Pertiwi adalah 24 jam. Jadi, kepercayaan masyarakat Hindu di Nepal, sebelum 24 jam, harus diadakan kremasi. Biaya kremasi tidak mahal. Jika dihitung dalam rupiah, tidak akan sampai Rp 100 ribu. Prosesinya sangat sederhana. Mayat dibakar di lokasi yang ada sesuai dengan kasta yang meninggal. Ada kasta Brahmana (paling dekat dengan Pura), lalu Ksatria, Wesya, dan Sudra. Yang paling jauh ada tempat kremasi untuk Candala (orang yang tidak diketahui asal-usulnya). Seringkali kasta Candala inilah yang membantu proses kremasi. Bagi orang kaya, kremasi dilakukan dengan menggunakan kayu cendana. Selesai pembakaran, abu dimasukkan ke dalam kelapa atau tempayan dan dibawa pulang. Jika mayat tidak dikremasi dalam waktu 24 jam, artinya badan yang lepas dari jiwa ini sudah meminjam waktu. Ini harus dikembalikan agar tercipta keharmonisan. Upacara pengembalian ini disebut dengan car atau caru.

Orang yang dekat dengan orang yang meninggal akan menjadi “panitia” upacara pembakaran. Ia mudah dikenali karena mengenakan pakaian serba putih. Setelah upacara selesai, ia akan menggundul kepalanya. Sesampai di rumah, abu tersebut disemayamkan untuk didoakan selama 12 hari agar roh orang yang meninggal mendapat tempat yang sesuai. Bagi orang biasa, doa-doa selama 12 hari hanya melibatkan keluarga. Tetapi, bagi orang kaya, mereka akan mendatangkan para pendeta dan orang-orang suci untuk melakukan doadoa. Di Bali, konsep seperti ini dikenal dengan “ngrorasin”. Roras artinya 12 dalam bahasa Bali. Selama 12 hari ini seharusnya dilakukan pembacaan doa-doa untuk mengantarkan roh orang yang sudah meninggal termasuk menyampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan yang pernah dibuat selama ia hidup. Angka 12 ini berkaitan dengan angka suci Brahma sebagai pencipta. Tujuannya, agar dalam reinkarnasi berikutnya mendapat tempat dan kehidupan yang lebih baik. Karena Pura Pasupatinath ini banyak dikunjungi orang-orang yang tirtayatra, pedagang acung pun memanfaatkan kesempatan. Mereka rata-rata fasih berbahasa Inggris untuk menawarkan barangnya. Jika satu pedagang, barangnya dibeli, yang lain akan menuntut agar barangnya dibeli juga. Dari Pura Siwa terbesar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Changu Narayana sebagai Pura Wisnu tertua di Nepal. –wah

Sanksi Adat.........................................................................................................dari halaman 2 Peran Desa Adat di Penebel Saat perkawinan kita datang beramai-ramai. Pas bercerai tidak ada yang datang. Ini salah kita bersama termasuk masyarakat. Sayangnya, masyarakat kita rasa malunya tinggi. Kalau punya masalah tidak diceritakan. Padahal, masalah bisa dirembukkan dan dicarikan jalan keluar. Di Desa Penebel, desa adat sudah berperan. Yang bermasalah diundang ke banjar. Mereka diajak berembuk bukan untuk memutuskan. Mereka dirukunkan kembali. Nang Tualen

Perceraian perlu Dikenai Sanksi? Perceraian masalah karma. Menurut saya, peran desa adat sudah maksimal. Dalam perkawinan ada dewa saksi dan manusa saksi. Desa adat sudah memberi dukungan. Dalam perceraian, jangankan desa adat, keluarga terdekat saja tidak bisa menahan, karena keputusan terletak pada suami dan istri. Apalagi perbedaan sudah begitu tajam. Saya prihatin angka perceraian di Bali sangat tinggi. Biasanya kalau orang Bali bercerai juga diselesaikan desa adat. Menurut saya, masingmasing desa adat punya kiat tertentu mencegah terjadinya perceraian. Tetapi, kembali lagi pa-

da si pelaku perceraian. Terkadang keluarga terdekat saja memberikan nasihat tidak mempan. Apalagi desa adat yang sudah dalam konteks di luar. Selama ini, kewenangan desa adat sudah dijalankan tetapi belum maksimal dan perlu ditingkatkan. Apa perlu dalam awig-awig dimasukkan mereka yang bercerai dikenai sanksi? Perceraian tidak bisa dipaksakan. Kalau titik temu tidak dipahami, itulah sebab terjadinya perceraian. Tidak ada pasutri yang merencanakan setelah menikah lantas bercerai. Kita tidak bisa mengelola karma karena itu kehendak Tuhan. Syukur kalau perkawinan bisa langgeng sampai tua. Ginawa

Sanksi ’Macaru’ tidak boleh ke Pura Menurut saya, aturan bercerai harus dimasukkan dalam awig-awig untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Pengurus adat juga mempunyai payung hukum yang bisa mengikat masyarakat. Di desa saya kalau bercerai dikenai sanksi beras dan macaru. Apalagi bercerai karena berselingkuh. Dikenai sanksi tidak boleh ke pura. Santha, Ubud

Sulit jika Cinta Monyet Sudah banyak yang me-

nangani persoalan perceraian tetapi sulit. Jarang sekali bisa dirujuk kembali untuk rukun. Apalagi rumah tangga dibangun atas dasar cinta monyet. Kari, Songan

Emansipasi yang Kebablasan Kalau Tuhan saja membenci perceraian mengapa manusia melakukannya. Banyak penyebab terjadi perceraian. Tidak siapnya kedua belah pihak untuk menjalankan perkawinan baik secara lahir, batin, dan finansial. Emansipasi wanita yang kebablasan juga dapat memicu perceraian. Perempuan ke luar pagar sudah berisiko besar. Memberi peluang hal negatif. Kalau bisa mengendalikan diri, hal itu bisa diminimalisir. Dengan kemajuan teknologi dan globalisasi begitu mudah mengakses teknologi informasi sehingga mendekatkan orang yang bisa memicu perceraian. Jawabannya, terletak pada diri kita sendiri. Bagaimana membentengi diri dari hal negatif. Desa adat hanya bisa mengimbau, tidak bisa melarang. Kalau salah satu pihak tidak setuju sampai kapan pun tidak bisa cerai. Peran adat hanya menyadarkan mengapa mereka harus bercerai. Becik

kembali pada masa-masa indahnya dulu. Salah satu lagunya berjudul ‘Alam Rindu’, mengisahkan kerinduannya yang teramat dalam pada sang suami. Namun, ia sadar semua akan sirna, karena tak mungkin bersama lagi, dan hanya bisa dikenang di alam rindu. “Walau Bapak sudah tak ada, namun kasih sayangnya selalu terkenang,” ujar Pridari. Lagu ‘Mimpi’ menceritakan mimpinya melihat bulan berjalan. Konon katanya itu berarti jodoh sudah dekat. Pridari mempercayai itu, mimpi tak sekadar bunga tidur. “Seminggu kemudian, saya menikah dengan Bapak,” ujarnya. Bahkan, pada detikdetik hari bahagia itu, Pridari pun harus berjuang melawan ganasnya ombak pantai Nusa Penida yang harus diseberangi hingga jauh tergerus arus, yang akhirnya sampai pula menuju pelabuhan hatinya yang setia menunggu hingga sore di Kusamba itu. Kenangan itu pun tersurat dalam lagu ‘Harapan’. Lagu lain seperti ‘Musik Padang Rumput’ dan ‘Menghitung Bintang’ lebih banyak menceritakan alam Nusa Penida yang indah, tempat kelahiran ibu Putu Gede Indriawan Karna, Kadek Yogi

Pridari Karna (ketiga dari kiri) bersama sebagian anggota Kharisma Dance

Mawarwati Karna, dan Komang Bayuada Yustiawan Karna ini. Tak kurang dari 50 lirik lagu telah tergores dalam kertas yang ditata rapi. Lagu-lagu berirama tango, salsa, waltz, chacha, balada, rumba, big band swing, country, Melayu, Mandarin, reggae, bahkan lagu rohani itu kini telah terekam dalam empat keping CD sebagai koleksi pribadinya. Ia banyak dibantu Ida Bagus Darnawa dan Ida Bagus Tara dari Griya Pidada Klungkung dalam aransemen lagu-lagunya ini. Juga dukungan teman-teman terbaiknya, Dayu Dani yang juga ikut urun suara dalam lagu-lagunya itu, yang juga tergabung dalam Kharisma

Dance bersama Dayu Indrawati, Endang Minarsih, Inga, Retno, dan Bu Budi. Kharisma Dance ini turut mengiringi tiap penampilan Pridari, salah satunya dalam acara “Mari Berdendang” di Bali TV yang akan ditayangkan, Minggu (17/7). Meski lagu-lagu ciptaan Pridari Karna ini belum ada rencana diluncurkan, toh sudah banyak pihak yang naksir dan meminta izin untuk menyanyikannya. Sesungguhnya, sewaktu bocah Pridari sudah senang menyanyi, namun tak mempunyai keberanian untuk tampil. Ketika menikahi almarhum yang seorang pejabat, para istri kerapkali didaulat menyum-

bangkan suaranya. Mau tak mau Pridari harus tampil ditambah dengan iringan organ yang dipelajarinya dalam waktu dua bulan. Pridari mengaku tak mengalami kesulitan berarti baik dalam mencipta lagu maupun gerak. Alasannya, ia memang memiliki dasar menari. Bahkan, lulusan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar (sekarang ISI) itu, pernah juga dikirim menari dalam misi kesenian, mengisi Pasar Malam Tongtong di Den Haag. Ia juga sempat mengajar khusus anak-anak di sanggar senam irama “Krida Ria” pada tahun 1970an. Sudah menjadi agenda dua bulanan, sanggar ini tampil dalam acara “Arena Anak-anak” di TVRI, lebih dari 10 tahun. “Awalnya, murid kami hanya 16 orang. Selanjutnya berkembang sampai 600 orang,” kisahnya. Tak hanya itu, Pridari juga memiliki seabrek prestasi di bidang tata rias, antara lain Juara I Lomba Tata Rias Pengantin (TRP) Bali Madya tingkat Nasional Tahun 1995 oleh DPP HARPI Melati, dan Juara I TRP Aceh Gayo Lomba TRP 18 Gaya Tingkat Nasional Tahun 1997 oleh DPP HARPI Melati. –ten

Adat Bali..........................................................................................................................................................................dari halaman 1 yang sekarang dipersonifikasi lagi melalaui kebanggaan seorang wanita yang diperistri pejabat,” ujarnya. Tetapi, raja pun menjalankan misi untuk menjaga kesatuan dan persatuan warganya. “Salah satu caranya menerjemahkan misi ini melalui perkawinan politik,” kata Agung Widiada. Praktik perceraian zaman kerajaan dulu diyakinkan jarang yang terungkap ke permukaan. Ini, menurut Ngurah Agung, bukan saja lantaran masih tebalnya rasa malu jika terjadi cekcok dalam keluarga. “Istri zaman dulu itu menjadi simbol pangayah. Status simbolik ini meneguhkan kesetiaan seorang istri untuk total mengabdi kepada suaminya, termasuk ngayah dalam berbagai aktivitas sosial budaya di lingkungan puri,” tambah Agung Widiada. Cekcok suami istri yang bisa berujung perceraian akhirnya seolah tabu dipraktikkan. Apalagi, kata kedua tokoh puri ini, peristiwa perkawinan bagi umat Hindu sungguh dinilai sakral. Perkawinan bukan hanya sebatas hidup bersama sebagai suami istri. “Ada upacara adat dan agama Hindu yang terlibat dalam proses ini. Di sinilah nilai sakralnya perkawinan itu,” ujar Ngurah Agung. Sakralnya perkawinan tadi pun dinilai membuat kehidupan harmonis suami istri sungguh ditekankan. Adat Bali bahkan bisa implisit mengandung makna anticerai bagi sepasang suami istri. Ini tercermin dari tahapan demi tahapan prosesi perkawinan adat Bali. “Seorang perempuan yang kawin biasa, misalnya, harus melalui upacara mapamit di mrajan keluarganya untuk masuk dalam lingkungan keluarga suami. Jika muncul perceraian kan si wanita otomatis harus mapamit lagi ke mrajan keluarga mantan suaminya. Ada lagi upacara untuk diterima di keluarga orangtuanya,” jelas Ngurah Agung. Proses upacara adat semacam itu dinilai mencerminkan adat Bali sebenarnya tidak mudah meloloskan pasutri yang hendak bercerai. Ada konsekuensi adat yang harus

dipikul seorang wanita jika bercerai dengan suami yang mengawininya melalui perkawinan biasa, misalnya. Makna adat Bali yang anticerai tadi juga tercermin dalam konsep pawarangan dan sewala brahmacari. Hal ini ditegaskan Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT Drs. I Made Purna, M.Si. Menurutnya, pawarangan (berasal dari kata warang = kerja sama) merupakan tradisi yang dilakukan orangtua kedua mempelai dalam memberikan nasihat perkawinan kepada putra-putrinya yang menikah yang disaksikan prajuru adat. Ini tidak saja dilakukan saat upacara mapamit seorang mempelai kepada keluarganya, juga jika ada masalah dalam kehidupan keluarga pasutri baru tersebut,” ujar peneliti uatam lembaga yang bernaung di bawah kemenbudpar itu. Nasihat perkawinan yang diberikan itu menekankan pentingnya semua keluarga baru memahami makna sewala brahmacari. Konsep ini mengajarkan perkawinan hanya dibolehkan sekali bagi wanita lajang (deha) dan lelaki bujang (teruna). “Prinsipnya, perkawinan hanya diizinkan sekali saja,” ujar Purna. Pendapat senada diutarakan pengamat sosial Dra Ida Ayu Putu Tirta. Konsep semacam itu masih kuat mengakar dalam kehidupan komunitas adat Bali di perdesaan. Misalnya, kata Dayu Tirta, potret kehidupan adat di desa leluhurnya, Desa Bongaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Ikatan adat masih amat kuat dalam mengawal keutuhan kehidupan rumah tangga warga adatnya. “Ini dikawal dalam awig-awig. Jika ada masalah dalam keluarga selalu adat ikut menyelesaikan,” ujarnya. Itu tidak hanya menyangkut masalah konflik rumah tangga yang bisa mengancam terjadinya perceraian. Adat biasanya menentukan masalah kesakralan masa berpacaran hingga perkawinan. Jika ada kasus perselingkuhan, pihak yang terlibat akan dikenakan sanksi adat yang berat. Ini dianggap aib bagi masyarakat. “Hal yang sama

jika ada anak lahir di luar nikah. Jika ini menimpa orang berkasta biasanya kastanya bisa turun. Di sini saya melihat peran adat Bali sebenarnya amat kuat untuk menjaga keutuhan rumah tangga sekaligus mencegah perceraian,” jelasnya. Tradisi semacam itu, menurut Purna, tidak lagi terasa kuat di wilayah kehidupan masyarakat perkotaan di Bali. Tradisi semacam itu masih kental dijalankan komunitas adat yang tinggal di desadesa tua, seperti Tenganan Pegringsingan, Trunyan, Sembiran, dan lain-lain. “Makanya, dalam kehidupan keluarga di desa-desa tua ini hampir tidak terdengar ada kasus perceraian,” ujarnya. Namun, gambarannya berbeda dengan kehidupan warga di perkotaan. Dalam pendekatan budaya, ini berkaitan dengan konstruksi budaya Bali dalam menempatkan fungsi dan tanggung jawab lakilaki dan perempuan. “Dalam dinamika budaya, tradisi yang dulu dianggap tidak bermasalah justru menjadi perkara ketika masuk

budaya global dan teknologi informasi. Ini membukakan dan menyebarkan budaya lain yang mungkin kontra dengan konstruksi budaya yang ada selama ini,” jelas peneliti gender dan seksualitas LIPI Jakarta Jaleswari Pramodhawardani, Ph.D. dalam percakapan melalaui ponsel dengan wartawan Koran Tokoh pekan lalu. Akibatnya, menurutnya, ‘pemberontakan’ serta resistensi pun terjadi dalam masyarakat perkotaan. Ini harus diletakkan sebagai proses dan bagaimana Bali menghadapi dinamika perubahan itu. Nah, institusi adat juga perlu dilhiat. Pendekatannya harus mengikuti kebutuhan hari ini,” ujarnya. Pendekatan tersebut, menurut Agung Widiada, harus dimulai dengan memperkuat komunikasi dalam keluarga. Ajaran moral agama tetap menjadi modal dasar untuk itu. “Komunikasikan ajaran moral agama ini melalui keteladanan yang baik. Agama jangan hanya dijalankan secara seremonial saja,” harapnya. —sam

Usia Harapan Hidup.........................dari halaman 1 tinggi angka kematian ibu dan bayi, makin rendahlah usia harapan hidup. Tahun 2010 di Bali angka kematian ibu 58,9 per 100.000 kelahiran hidup. Angka absolutnya 37 ibu meninggal saat melahiran pada tahun 2010. Sementara angka kematian bayi di Bali 7,18 per 1.000 kelahiran hidup. Dilihat dari rata-rata nasional, Bali berada di bawahnya. “Angka kematian ibu secara nasional tahun 2010, 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target pemerintah, angka kematian ibu tahun 2015 dipatok 110 per 100.000 kelahiran hidup,” kata Sutedja. Karena dukungan program pemerintah yang bersinergi dengan masyarakat itulah, beragam sosialisasi bidang kesehatan terus digalakkan. Upaya ini membuahkan hasil dengan tingginya usia harapan hidup di Bali yang melampui Yogyakarta. Sebelumnya, usia harapan hidup tertinggi dipegang Provinsi D.I. Yogyakarta. Namun, usianya masih dalam kisaran 72 tahun. Secara nasional, usia harapan hidup mencapai 69 tahun. “Ke depan, tugas dan tanggung jawab kita makin berat. Ini memerlukan koordinasi dan sinergi semua komponen. Apalagi jumlah penduduk Bali terus bertambah. Sensus 2010 menunjukkan penduduk Bali sudah 3,9 juta jiwa. Mari bersamasama menjaga kehidupan di Bali agar derajat kesehatan bisa terus ditingkatkan,” tandas Sutedja. —wah,ten

Ketua TP PKK...........................................................................................................................................................dari halaman 1 dinikmati anugerahnya bersamasama. “Semoga pula dengan bersamasama mulat sarira, persatuan dan kesatuan di Kota Denpasar ini senantiasa terjaga serta kita semua dapat melaksanakan swadharma masing-masing dengan damai,” lanjut Ny. IA Selly D. Mantra. Di balik untaian perayaan Galungan dan Kuningan, ada ungkapan rasa bahagia dari ketiga penggerak PKK di Kota Denpasar ini. Betapa tidak belum lama ini dua penghargaan nasional kembali diraih Kota Denpasar. Ada penghargaan Manggala Karya Kencana, yang diterima Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly D. Mantra terkait prestasi yang menonjol dalam menggerakkan program KB nasional di Kota Denpasar. Di antara kegiatan yang telah dilaksanakannya dalam menggerakkan program KB di Denpasar, Ny. IA Selly D. Mantra telah mem-

bentuk 189 kelompok bina keluarga balita (BKB) yang tersebar di banjar-banjar. Kelompok-kelompok ini pun terus mendapatkan pelatihan sehingga memiliki keterampilan yang cukup dalam menyampaikan program-program KB. Berikutnya penghargaan Prakerti Utama sebagai pelaksana terbaik lomba Kesatuan Gerak PKK KB-Kes, Posyandu dan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Menurut Ny. IA Selly D. Mantra untuk kali ini Denpasar diwakili Kelurahan Padangsambian, yang berhasil menyisihkan 145 kota seIndonesia. Hal ini karena berbagai program terpadu telah pula dilaksanakan demi pelaksanakan KB-Kes di Kota Denpasar, di antaranya revitalisasi posyandu, pemberian insentif pada kader, memberikan kartu miskin serta berbagai kegiatan lainnya. Sedangkan untuk menanggulangi kemiskinan, kata Ny. IA

Selly D. Mantra, pemerintah Kota Denpasar telah memberikan di antaranya bantuan ternak, modal usaha, bantuan untuk penyandang cacat, melakukan bedah rumah, mengadakan kursus berbagai keterampilan, pengobatan gratis dan pendirian sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk kegiatan KB-Kes diarahkan pola hidup bersih dan sehat mulai dari rumah tangga dengan mengolah sampah rumah tangga, kebersihan lingkungan, PSN dan kegiatan inovasi pembuatan bank sampah. Perihal anugerah yang diterimanya langsung dari Wakil Presiden RI Boediono di Kota Baru Parahyangan Bandung pada perayaan Peringatan Hari Keluarga Tingkat Nasional XVII, Ny. IA Selly D. Mantra menyatakan penghargaan tersebut adalah kerja keras semua pihak termasuk kader PKK, masyarakat serta pemerintah.

Lebih lanjut istri Wali Kota Denpasar ini menjelaskan berbagai kegiatan kreatif dan inovatif telah pula dilaksanakan dalam menyukseskan program-program KB di Kota Denpasar. Sebagai Ketua TP PKK Kota Denpasar ia secara terus-menerus menyosialisasikan program KB dipadukan program PKK, yang langsung bersentuhan dengan para ibu di banjar. “Saat ini di Denpasar ada 189 kelompok bina keluarga balita (BKB) yang tersebar di banjar-banjar. Kegiatan inovatif lainnya yang kami lakukan seperti lomba APE (alat permain edukatif) serta mendirikan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus,” tuturnya sembari berharap apa yang diraih warga kotanya kini, mampu memberikan motivasi untuk terus meningkatkan kreativitas dalam mewujudkan keluarga sehat, bahagia dan sejahtera di Kota Denpasar. —ard

Untung Ada...................................................................................................................................................................dari halaman 2 Konon di sana orang-orang yang belum pantas masuk surga harus menderita yang amat sangat menyakitkan karena harus menjalani dan merasakan hukuman sebagai akibat melakukan pelanggaran perintah Tuhan. Orang-orang itu pada mengaduh dengan caranya sendiri-sendiri dengan jeritanjeritan yang memilukan. Konon di sana tidak ada yang memuji Tuhan, bahkan berdoa pun tidak dapat. Itulah sebabnya orang yang masih di dunia wajib mendoakan mereka. Pasien yang sudah ditangani dibawa keluar, tetapi pasien baru datang lagi dan datang lagi sampai malam. Saya tetap masih di UGD. Kata anak saya belum ada tempat bagi saya. Semua tempat penuh. Malam hari saya tidur di UGD. Pagi harinya agak sepi karena poliklinik buka. Kira-kira pukul 14.00

saya dibawa ke sal Ratna kamar nomor 2 C. Di 2 D sudah ada pasien diabetes yang akan diamputasi kakinya. Baunya menyengat sampai di kamar 2 C. Di 2 B tergeletak pasien dengan kulit sekujur tubuhnya sampai muka yang seperti sisik. Ia ditunggui istrinya. Baiknya mereka berdua berkomunikasi secara berbisik-bisik. Di 2 A ada pasien bayi laki-laki berusia lima bulan yang kepalanya terus-menerus keluar cairan. Ia menangis keras-keras. Ia diam kalau kelelahan atau tidur. Begitu bangun, ia menangis lagi keras-keras sambil meronta-ronta barangkali menahan sakitnya. Rasanya sakit jantung saya tidak kunjung mereda. Keesokan harinya si pasien diabetes dibawa ke ruang operasi. Tetapi, tempatnya digantikan pasien lain yang akan

dioperasi usus buntunya. Ruparupanya di desanya ia orang terkenal. Ia ditunggui banyak penunggu yang kesemuanya suka berbicara sehingga berisik sampai pukul 02.00 dini hari. Saya sulit memperoleh ketenangan. Selain diinfus dua macam infus biasa dan infus obat, dibantu oksigen, saya harus pula diobati dengan menyuntikkan obat ke perut saya pagi dan malam. Kata dokter Wignantara, saya harus menerima suntikan 10 kali. Jadi, paling tidak saya harus menginap lima hari lima malam. Setelah pasien di 2 D dioperasi, rasanya tenang karena yang menjaga hanya istrinya. Sakit saya berangsur-angur mereda, tetapi belum boleh turun dari tempat tidur. Saya sangat bersyukur karena para sahabat berkenan membesuk saya yang ditunggui istri dan

anak saya bergantian. Hari keenam (Senin 4/7) saya menerima suntikan yang ke-l0 (terakhir) di perut pukul 14.00. Istri saya dipanggil ke kantor untuk menyelesaikan administrasi. Sesudah itu saya boleh pulang. Lima hari lagi, pascaliburan Galungan, kembali kontrol. Untung, ada JKBM. Walaupun ada obat-obat mahal yang tidak ditanggung JKBM. namun tetap meringankan beban kami Kami sangat berterima kasih kepada Gubernur Bali yang memberikan JKBM. Semoga Tuhan memberkati Bapak Gubernur, para dokter, para perawat (Suster Sudresi dkk) dan para sahabat yang berkenan membesuk, mendoakan dan membantu saya. Mbah Harto Pensiunan guru


JABODETABEK

Jaring Aspirasi Lewat “Kotak Nyablak” KATA nyablak berasal dari bahasa Betawi yang artinya spontan atau ceplas-ceplos. Nah kali ini kata itu dipakai untuk ‘meramaikan’ stan Pemda DKI Jakarta. ‘Kotak Nyablak” begitu nama boks yang mirip boks telepon umum. Ukurannya, 1 meter dengan tinggi 2,5 meter. Di dalamnya ada mike serta layar ukuran 14 inch untuk merekam suara dan mendokumentasikan foto pengunjung yang merekam suaranya di sana.

S

esuai namanya, ‘Kotak Nyablak’, maka pengunjung diberi kebebasan untuk mengutarakan apa saja unek-uneknya bahkan program pertama yang akan dilaksanakannya jika ia menjadi gubernur DKI Jakarta. “Tiap pengunjung mendapat kesempatan berbicara 20 detik. Setelah berbicara pengunjung

Suramadu MAKAM Sunan Ampel, dekat Masjid Ampel Surabaya, kini makin banyak dikunjungi peziarah dan pengunjung lainnya. Apalagi menjelang dan selama bulan Ramadan yang akan tiba tiga minggu lagi ini. Sunan Ampel adalah salah seorang Walisongo. Walisongo (sembilan wali) berjasa besar sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa abad ke-14. Mereka tidak hanya gigih menyebarkan konsesp spiritual islami tetapi juga mengajak masyarakat Jawa yang waktu itu didominasi paham keberagaman yang bermuara anismisme/dinasmisme, menuju pemahaman agama Islam. Di samping keteladanan etika, pola bergaul yang baik, tradisi-tradisi kehidupan masyarakat yang masih magis diarahkan lebih logis. Selain gigih berjuang, para wali ini dikenal sangat dekat dengan masyarakat dan tak pandang bulu dalam membantu masyarakat tak mampu. Wajar, karena besarnya jasa para wali ini, masyarakat tetap menghormati dan menziarahi makamnya secara rutin. Ada yang sekadar berkunjung dan berwisata, ada pula yang berusaha ngalap berkah. Salah satu wali yang hingga kini makamnya menjadi jujukan peziarah adalah makam Sunan Ampel yang berada di kawasan Pegirikan, Surabaya. Walisongo bertempat tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu SurabayaGresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun, peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para walisongo ini lebih banyak dikenang dibanding yang lain. Para Walisongo merupakan intelektual yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan

“Kotak Nyablak”

dapat merekam fotonya. Nanti semua ide ini akan diseleksi, yang terbaik akan diberi hadiah,” ujar petugas ‘Kotak Nyablak’. Menghadirkan ‘Kotak Nyablak’ di areja Pekan Raya Jakarta (PRJ) memang baru pertama kali dilakukan Pemda DKI Jakarta. Entah karena begitu perhatian pada kotanya atau karena sudah begitu gemas terhadap kondisi Jakarta yang semrawut khususnya lalu lintasnya, maka perhatian pengunjung terhadap kotak ter-

sebut relatif tinggi. Malah pada minggu pertama, untuk masuk ke ‘Kotak Nyablak’ pengunjung harus bersabar karena harus antri cukup panjang. Jika dibanding stan Pemda lainnya yang juga berada di Hall B, bisa dikatakan ide menghadirkan ‘Kotak Nyablak’ untuk menjaring aspirasi sekaligus menyedot pengunjung datang ke stan DKI Jakarta ini, cukup berhasil. “Harusnya kotak seperti ini

hadir sejak dulu. Jadi tanpa bertemu gubernur pun, warga bisa menyalurkan aspirasi. Mogamoga saja Gubernur dengerin unek-unek warga,” ucap Ali, warga Johar Baru, Jakarta Pusat, dengan logat Betawinya yang kental. Ia mengaku, di ‘Kotak Nyablak’ itu ia curhat soal kemacetan lalu lintas yang membuatnya stres tiap hari. Tetapi, bukan hanya ‘Kotak Nyablak’ yang menaikkan jumlah kunjungan ke stan Pemda DKI, stan dinas-dinas pun ikut memberi andil. Sebut saja stan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI yang menyajikan pengurusan KTP juga pembuatan akta gratis bagi warga Jakarta. Sementara stan Dinas Kesehatan menyediakan layanan tes gratis untuk gula darah, asam urat dan kolesterol. Malah tiap Sabtu dan Minggu, disediakan dokter untuk pemeriksaan gratis. Tak ketinggalan ada juga layanan tes psikologi bagi anak-anak usia TK dan SD. Namanya serba gratis, apalagi layanan kesehatan, membuat stan ini ramai pengunjung. “Umumnya pengunjung minta tes gula darah, asam urat dan kolesterol,” ujar salah seorang petugas. —dia

Makam Sunan Ampel Diserbu Peziarah

Pemandangan dalam Masjid Ampel

dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan. Mengingat ilmu, tingkat intelektualitas dan pola dakwahnya, Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputra: Sunan Bonang, Siti Syari’ah,Sunan Derajat, Sunan Sedayu, Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, menurunkan anak: Dewi Murtasiyah, Asyiqah,Raden

Husamuddin (Sunan Lamongan, Raden Zainal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya. Kompleks makam Sunan Ampel merupakan salah satu destinasi wisata Kota Surabaya. Keberadaan makam yang telah berusia 500 tahun lebih ini menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, baik dari Jawa Timur maupun luar Jatim, terutama masyarakat muslim. Seperti Fitri, peziarah dari Batujajar Malang yang datang bersama 120 anggota rombongan yang sengaja ke Ampel setelah mengunjungi makam Mbah Bungkul di kawasan Jalan Darmo. Sebagai kawasan wisata, kompleks makam Sunan Ampel memiliki tempat-tempat sakral, seperti area makam Sunan Ampel dan Masjid Agung Ampel. Dua tempat ini tak pernah sepi peziarah, terutama tiap hari Kamis malam pada hari biasa dan selalu membludak tiap ada kegiatan keagamaan di beberapa pondok

pesantren di kawasan Surabaya Utara. Terlebih jelang Bulan Suci Ramadan yang jatuh dua pekan lagi, antusias masyarakat untuk berziarah makin tinggi. Sutaji, salah serang penjaga Masjid Sunan Ampel mengakui jumlah peziarah ke makam selalu terjadi peningkatan menjelang Ramadan, walaupun tidak menutup kemungkinan jumlah peziarah membludak pada harihari biasa. “Adanya acara di pondok pesantren Kedinding dua pekan lalu juga menyebabkan makam Sunan Ampel sesak peziarah,” ungkap Sutaji. Lebih lanjut lelaki yang mengaku mengabdi di Masjid Agung Ampel sejak tahun 1994 itu tidak menghitung secara pasti jumlah pengunjung yang menurutnya mencapai ribuan orang per harinya. Sutaji menuturkan puncak kepadatan peziarah biasanya terjadi sepuluh hari terakhir bulan puasa, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. “Kalau sepuluh hari pertama biasanya malah sepi,” kata Sutaji. Masjid Agung Ampel biasanya juga mengadakan agenda tiap bulan Ramadan, seperti menerima takzil buka puasa dan menyalurkan lagi kepada masyarakat yang datang ke masjid. Adanya haul Sunan Ampel pekan depan tentu juga akan menjadi magnet masyarakat untuk berbondong-bondong ke Kawasan Pariwisata Religi Sunan Ampel Surabaya. Di samping lokasi yang strategis, di sekeliling daerah wisata Ampel ini sudah dilengkapi berbagai penunjang pengunjung, mulai pasar yang menyediakan berbagai produk islami, berbagai suvenir khas Arab dan aneka beragam restoran yang menyediakan menu makanan khas Surabaya. Lokasinya juga mudah dijangkau karena adanya terminal wisata Ampel yang luasnya 1300 meter2 yang mampu menampung idealnya 100 bus, bahkan pada musim ramai mampu menampung 300 bus. —nora

10 - 16 Juli 2011 Tokoh 11

Mencolok, Persaingan Stan Sepeda Motor

P

enyelenggaraan Pekan Raya Jakarta yang selalu bertepatan dengan musim libur sekolah, membuat acara akbar ini selalu ramai pengunjung. Bayangkan pada 10 hari pertama PRJ diselenggarakan, angka pengunjung sudah tembus 1 jutaan orang, dengan rata-rata per hari 100-150 ribuan orang. Diperkirakan hingga PRJ berakhir Minggu 10 Juli ini, angka kunjungan mencapai 4 juta. Ini berarti melampaui tahun lalu yang 3,8 juta orang. Memang tak mengherankan kalau kehadiran PRJ dapat memikat masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,

Tangerang, Bekasi). Selain begitu banyak stan aneka produk yang ikut berpameran, juga karena banjir diskon dan hadiah. Meski kalau dari segi harga tak jauh berbeda bahkan sama dengan di luar, namun diskon yang menggiurkan juga imingiming hadiah, membuat kebanyakan pengunjung tertarik berbelanja, terutama membeli produk fashion, alat rumah tangga bahkan otomotif seperti mobil dan sepeda motor. Lebih dari itu, suatu yang berbeda dengan jika membeli di luar PRJ, adalah umumnya produsen menampilkan juga atau meluncurkan produk-produk terbaru mereka dengan imingiming bonus menarik.

Produsen menyadari animo besar dari masyarakat, di sisi lain, mereka juga menyadari persaingan merebut hati pengunjung sangat ketat. Tak mengherankan 2.600 peserta pameran berlomba-lomba menampilkan acara menarik di stannya. Yang paling terlihat jelas, persaingan sesama produsen otomotif. Stan otomotif, khususnya sepeda motor, merupakan stan paling banyak menyedot pengunjung. Tak mengherankan sesama produsen otomotif, sepeda motor khususnya, adu trik dalam menarik pengunjung mampir. Ada beberapa stan sepeda motor yang juga menampilkan motor-motor modifikasi. Sebut saja Swallow yang memajang Kawasaki Binter Merzy modifikasi. Ubahan yang dipamerkan tergolong ekstrem, dibalur kelir blink-blink di tangki yang dibuat ala leher angsa. Sedangkan Yamaha mengandalkan airbrush, sementara Suzuki mengandalkan dua modifikasi dengan karakter berbeda yakni pada Satria F-150 dan Thunder 125. —dia

Stan otomotif yang dipadati pengunjung

Jakarta Fair Kemayoran selalu Tampil Beda DARI Pasar Malam Gambir di kawasan Monas hingga Pekan Raya Jakarta di bekas bandara udara Kemayoran, dan kini disebut Jakarta Fair Kemayoran, selalu menampilkan hal berbeda. Pasar Malam Gambir bersuasana layaknya pasarpasar malam yang menjadi tempat hiburan rakyat. Jakarta Fair Kemayoran (JFK) makin sarat kegiatan ajang promosi dan transaksi bisnis pelbagai produk. Menurut sejarahnya, dari lokasi yang sama sebagai tempat berlangsungnya Pasar Malam Gambir, muncul gagasan menyelenggarakan Jakarta Fair sebagai ajang menggelar pameran produk yang dimulai sejak 1968. Selanjutnya Jakarta Fair diadakan tiap tahun dalam rangka meramaikan Hari Jadi Kota Jakarta. Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta, sejak 1991 dipindahkan ke bekas bandara Kemayoran yang luasnya sekitar 43 Ha. Dalam penyelenggaraan Jakarta Fair ke-44 tahun 2011 ini atau bersamaan dengan HUT ke-484 Kota Jakarta, benar-benar tampak sebagai ajang transaksi bisnis. Tahun ini yang dimulai sejak 9 Juni dan akan berakhir 10 Juli 2011, diramaikan sekitar 2600 peserta pameran dengan 1300 stan. Pihak pengelola, Jakarta International Expo, menargetkan terjadi transaksi bisnis sekitar Rp 3,5 triliun dari rata-rata jumlah pengunjung yang mencapai 125.000 per hari Beragam jenis barang dan merek menggelar produk di sana, mulai dari makanan, fashion, mebel, elektronik, ponsel, hingga otomotif. Semua barang yang ditawarkan di JFK dengan iming-iming diskon, dan tak ketinggalan hadiah. Kopi jahe instan, misalnya, dalam dua bungkus berisi masing-masing

10 saset, pembeli mendapatkan hadiah satu toples plastik. Penjual atau bagian promosi yang umumnya gadis-gadis belia, cantik, berpakaian mini, cukup lincah bahkan agresif dalam menawarkan produk. Sambil membawa sample barang mereka seperti “menghadang” pengunjung yang lalu-lalang. JFK 2011 kali ini bertema “Jakarta Fair Turut Mempercepat Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia” dan subtema “Melalui Kegiatan Jakarta Fair Mengajak seluruh Bangsa Fokus pada Perbaikan Iklim Investasi, Perluasan Lapangan Kerja, Memajukan Kesejahteraan Rakyat, dan Perkuat Daya Saing Indonesia di Pasar Dunia”. Musim liburan membuat suasana benar-benar seperti pasar malam. Tempat promosi dan hiburan di bekas bandara Kemayoran itu bisa menampung lebih dari 125 ribu pengunjung, area parkir bisa dipadati 10.000 mobil dan 15.000 sepeda motor. Itu pun bisa luber hingga menempati area parkir di luar PRJ bahkan hingga ke jalan. Jika parkir di PRJ hanya Rp 15.000, di luar PRJ Rp 20.000 . Bahkan pada hari-hari pertama dikenal tarif suka-suka hingga mencapai Rp 50.000. Namun, kondisi ini segera dapat ditertibkan. Harga makanan pun agak melambung. Nasi padang yang umumnya Rp 10.000-15.000, di PRJ bisa Rp 25.000. Food Court di belakang Hall E tersedia aneka pilihan menu. Begitu pun di dekat pintu keluar-masuk Hall F di Gambir Expo, di GPN, dan di Open Space juga banyak jajananjajanan seperti Picazzo, Baso Cup, Fiesta. Pedagang kerak telor dengan pikulan-pikulan khasnya berjajar di sepanjang jalan menuju pintu masuk atau di luar area PRJ.

Kawasaki Binter Mercy Modifikasi

Direktur Lembaga Sertifikasi MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) Christina L. Raudatin menyatakan pemerintah mendapat banyak keuntungan, bukan hanya dari segi pertumbuhan ekonomi tetapi juga bisa menjadi sarana efektif bagi pemerintah untuk menjelaskan program-programnya. Memang, dalam JFK ini bukan hanya pengusaha atau kalangan bisnis yang pamer produk, tetapi pihak pemerintah yang diwakili Pemda seluruh Indonesia juga menggelar stan. Isinya tentu pamer produk unggulan, investasi, kepariwisataan, dan lain-lain. Menurut Christina, penyelenggaraan Jakarta Fair dari tahun ke tahun membukukan angka transaksi yang terus meningkat. Ini sebenarnya sudah cukup menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk melahirkan kebijakan baru di bidang industri MICE. Pada acara pembukaan Hartati Murdaya, Dirut PT Jakarta International Expo (EO JFK) yang juga Ketua Panitia Jakarta Fair, berharap, JFK bisa memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Jakarta Fair mampu memberi efek ganda sehingga menjadi solusi nyata bagi permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat,” kata Hartati. Menurut Hartati Murdaya, jika promosi dan missi bisnis peserta Jakarta Fair sukses, dipastikan akan memperluas kapasitas dan kualitas produk barang dan jasa yang dibuat, sehingga produktivitas industri meningkat. Ini berarti investasi juga meningkat dimana-mana, baik peningkatan angka pertumbuhan ekonomi lokal maupun nasional. —isw


10

Tokoh

BUMI GORA

10 - 16 Juli 2011

Tradisi Gunting Bulu dan Turin Tanak

Sedekahkan Emas untuk Fakir Miskin Kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga merupakan anugerah istimewa. Ini pertanda bertambahnya jumlah anggota keluarga. Kelahiran bayi selalu mendapat perhatian khusus dari orangtua dan keluarga. Acara-acara dan syukuran pun mewarnai penyambutannya. Di kalangan umat Muslim di Indonesia, biasanya penyambutan kelahiran bayi sekaligus sebagai ungkapan kebahagiaan keluarga yang mendapatkan anggota baru dalam keluarga tersebut, dilakukan dengan acara cukuran dan aqiqah.

T

radisi penyambutan bayi seperti ini di Sumbawa maupun Sumbawa Barat, dikenal dengan upacara adat gunting bulu (cukuran) yang dilanjutkan dengan turin tanak (turun tanah). Kedua acara ini umumnya digabung dalam satu kesempatan bersamaan dengan aqiqah dan pemberian nama, saat usia bayi berumur tujuh hari. Tetapi, ada yang melaksanakan satu atau dua acara saja, tergantung

kesiapan terutama material untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut. Tradisi gunting bulu dalam masyarakat Samawa masih dilakukan hingga saat ini. “Dalam upacara adat gunting bulu, rambut anak tidak digundul atau dicukur hingga botak melainkan digunting secara simbolik saja,” ungkap H.L. Muhadli, budayawan Samawa di Taliwang, Sumbawa Barat. Di rambut anak yang akan

Nasi putih dan nasi merah serta telur sebagai lambang harapan kesejahteraan bagi si bayi hingga dewasa

Bahiyah

digunting, telah diikat untaianuntaian buah bulu yang terbuat dari emas, perak, atau kuningan. Dulunya, buah bulu dibuat dari emas, sekarang lebih banyak menggunakan perak dan kuningan. “Buah bulu berbentuk daun yang terbuat dari perak dan kuningan tersebut dirangkai dengan sehelai benang,” kata Bahiyah Sandro Tamang yang sering membuat buah bulu. Tiap rangkaian berisi tiga buah bulu. Di ujung benang buah bulu tersebut, diberikan malam atau lilin yang akan digunakan untuk melengketkan buah bulu pada rambut si bayi. Umumnya, rambut bayi yang akan dipotong digantung lima rangkaian buah bulu bahkan ada juga yang lebih. Tradisi ini menyerap kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah dahulu secara simbolik saja. Di zaman itu, anak usia tujuh hari rambutnya dicukur hingga gundul. Lalu rambut tersebut ditimbang seluruhnya. Seberat timbangan rambut itulah berat emas dan perak yang disedekahkan kepada fakir miskin. Acara inti prosesi gunting

bulu ini, akan dilaksanakan oleh pemangku adat dan tokohtokoh masyarakat yang diteladani. Gunting bulu dilaksanakan dalam posisi berdiri. Semua undangan berdiri berjejer menyambut kedatangan si bayi. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada si bayi, yang kelak diharapkan menjadi anak yang berguna bagi orang lain. Dalam gendongan sang ayah, bayi dibawa menuju tetua atau pemangku adat yang akan menggunting rambutnya untuk pertama kali. Disertai doa-doa akan harapan baik bagi si bayi, rambutnya pun digunting bersamaan dengan buah bulu yang telah digantung pada rambutnya. Setelah pemangku adat selesai menggunting bulu si bayi, maka akan berlanjut dengan gunting bulu yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat, orang-orang yang dituakan dalam masyarakat setempat hingga buah bulunya habis. Rambut yang digunting dengan buah bulu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kelapa muda berukuran kecil dan berwarna kuning yang disebut nyir gading berisi air dan bunga-bunga yang dikenal dengan kembang setaman. Ini merupakan simbolisasi bahwa tiap bagian dari manusia yang lahir itu demikian dihargai sehingga ditempatkan pada tempat yang baik (harum dengan bunga-bunga). Dari simbol bunga setaman ini, diharapkan anak tersebut kelak akan menjadi anak yang mandiri, memiliki pikiran yang jernih dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan juga memiliki keluasan cara pandang dalam hidupnya sehingga dapat meraih kemasyhuran atas dirinya. Sesuai dengan doa dan harapan dari orang tua si bayi dan juga masyarakat sekitarnya kelak ia mendapat tempat yang baik dalam kehidupannya

Terapi Ozon Mengantar Anakku Tumbuh Sehat Jantung bocor bawaan karena pertumbuhan sekat pada jantung kurang sempurna atau kelainan struktur jantung sering terjadi pada anak-anak. Dari data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dari 1.000 kelahiran di berbagai daerah, 67 di antaranya mengidap kelainan jantung bawaan (kompas.com). Putri per tama dari Bapak Agus (bukan nama sebenarnya) yang berasal dari salah satu desa di Kabupaten Gianyar, sebut saja Intan (bukan nama sebenarnya) mengalami jantung bocor bawaan. Dari usia sebulan sudah kelihatan tanda-tanda adanya kebocoran jantung, seperti tidur gelisah, sering berkeringat, sesak napas dan tersendat-sendat saat minum ASI. Dokter menyarankan untuk melakukan tindakan operasi, tetapi Pak Agus enggan untuk melakukannya, di samping karena biaya operasi terlalu mahal, ia pun tak tega hati melihat buah hatinya yang masih berumur satu bulan menjalankan pembedahan. Empat bulan Intan mengonsumsi obat-obatan kimia yang dianjurkan oleh dokter, tetapi belum ada perubahan yang terlihat. Orangtuanya

tidak putus asa dengan keadaan Intan seperti itu. Suatu malam pada saat si buah hatinya sudah tertidur, Pak Agus bersama istri tercinta tak sengaja melihat tayangan televisi setempat tentang pengobatan jantung tanpa operasi, yang beralamatkan di Jalan Pulau Nusa Penida No.26 Denpasar, pusat pengobatan komplementer spesialis jantung, stroke, kanker dan penyakit dalam, Klinik Bali Heart Care Center (BHCC). Pak Agus sangat tertarik dengan metode pengobatan klinik tersebut. Keesokan harinya, Pak Agus menghubungi BHCC untuk mendaftarkan anaknya. Beliau datang dan konsultasi langsung dengan Mr. Chai,

yang tidak lain adalah praktisi pengobatan alternatif herbal. Mr. Chai menyarankan untuk mengonsumsi tiga macam obat herbal dan dibantu dengan terapi ozon infus, di mana ozon berfungsi untuk memberikan asupan oksigen ke dalam jantung dan menutup klep jantung Intan. Setelah sebulan Intan mengonsumsi obat herbal, sudah kelihatan hasilnya, tidak berkeringat lagi, minum ASI pun yang dulunya harus sedikit demi sedikit, kini lancar dan nafsu makannya bertambah. Terapi ozon pun rutin dilakukannya, klep jantungnya sudah kembali normal. Intan yang baru berumur lima tahun sudah bisa beraktivitas dan bermain selayaknya anak seusianya. Sering kali ia meminta sendiri untuk mengingatkan orangtuanya untuk membawanya terapi ozon ke Klinik BHCC. Kebahagiaan orangtua Intan muncul kembali, keceriaan dan tumbuh sehatnya Intan mewarnai kegembiraan hidup mereka, “Terima kasih BHCC, anak kami sehat dan ceria kembali,” ucap Pak Agus sembari tersenyum bahagia.

Klinik Bali Heart Care Center Spesialis Jantung, Strok, Kanker dan Penyakit Dalam Lainnya tanpa Operasi Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar. Tlp. (0361) 225388 – 240855 – 7423789 Cabang : Bali : Jln. By Pass Kediri No. 88 G-H, Tabanan Jakarta Barat : Business Park Kebun Jeruk Ruko Blok I No.8 Jln. Raya Meruya Ilir No.88 (Belakang RCTI) Tangerang : Ruko Tol Boulevard Blok G No. 08 Jln. Pahlawan Seribu BSD City Serpong Surabaya : Ruko Villa Bukit Mas Blok RE No.11 Jln. KH Abdul Wahab Siamin Medan : Jln. Wahid Hasyim No.90 Lombok : RD Aeshetic Clinic, Ruko Town Palace Kav. 23, Jln. Sriwijaya, Mataram info@hsenchii-int.com / www.hsenchii-int.com

Gunting bulu dilaksanakan dalam posisi berdiri. Semua undangan berdiri berjejer menyambut kedatangan si bayi. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada si bayi yang kelak diharapkan menjadi anak yang berguna bagi orang lain

karena perangai yang baik pula dalam bergaul. Kelapa muda yang dipakai sebagai wadah untuk menampung rambut tersebut, dipotong bagian atasnya seperempat bagian. Lalu sisi atas kelapa tersebut, dibentuk bergerigi di sekelilingnya yang disebut tumpal pucuk rebung. Setelah berakhirnya acara gunting bulu ini, ada juga yang langsung dirangkaikan dengan acara turin tanak (turun tanah) sebagai simbol bahwa si bayi sudah harus bersatu dengan alamnya. Sebagai simbol ia menginjak bumi, biasanya tanah telah disiapkan dalam sebuah tampi (wadah untuk membersihkan beras khas Sumbawa). Kaki si bayi akan disentuhkan pada tanah tersebut. Upacara turun tanah ini juga biasanya diadakan saat anak berusia tiga bulan. Si anak dibawa turun ke tanah melewati tangga-tangga yang menjadi jalan naik menuju rumah panggung. Saat berada di tanah tersebut, sebuah jaring nelayan — jala dalam istilah masyarakat Sumbawa Barat, ramang dalam istilah Sumbawa, akan dilemparkan kepada si anak yang didampingi orangtuanya. Maka, yang akan kena jaring tersebut adalah si anak, ayah dan ibunya. Ini merupakan simbol si anak dan keluarganya diterima dalam lingkungan dan masyarakat sosialnya. Selain itu, makna jaring ini juga adalah

untuk menjaring penyakit agar si anak terhindar dari sakit yang berbahaya. Dulu, dalam masyarakat tradisi Samawa, bayi-bayi tidak diperkenankan keluar rumah sebelum acara turin tanak sampai usia tiga bulan. Ia akan tetap berada di rumah dan tidak boleh keluar rumah. Tampaknya, cara tradisional ini juga sangat melindungi anak-anak karena tentu saja, selama tiga bulan itu ia akan selalu didampingi oleh ibunya yang tentu juga akan memberikan ASI padanya. Dalam masa itu, ia bisa men-

dapatkan ASI eksklusif. Bagi kaum bangsawan, dahulu, bayi-bayi yang baru lahir dari hari pertama lahir hingga berusia tujuh hari, tidak diperkenankan tidur di tempat tidur. Tidak diperkenankan bersentuhan langsung dengan perabotan yang dibuat manusia. Selama tujuh hari tujuh malam, bayi-bayi ini selalu tidur dalam gendongan atau ayunan. Orang-orang yang berada di sekitarnyalah yang akan bergantian menggendongnya selama tujuh hari tujuh malam. —nik

Lilin yang terbuat dari biji jarak sebagai simbol harapan kehidupan masa depan si bayi akan lapang dan terang menuju kehidupan yang sejahtera


KELUARGA

10 - 16 Juli 2011

Karena masih Cinta

Esok Pagi Sidang Cerai Malam masih “Kumpul” BERAGAM cerita romantika rumah tangga yang di ambang atau tengah menempuh proses perceraian. Salah satunya dialami Ny. Sr. warga kawasan Gatsu Tengah Denpasar yang digugat cerai suaminya, Md. Saat kasus perceraiannya sampai di tingkat banding dan tinggal menanti pengucapan ikrar talak, ternyata pasangan ini masih sering terlihat bertempat tinggal satu rumah. Namun, belakangan ini timbul masalah yang berujung pada kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga sang suami harus duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Menurut penuturan Sr. dengan alasan ketidakcocokan sang suami menggugat cerai. “Saya terima gugatannya, walaupun jujur masih ada rasa cinta sama dia. Bayangkan sampai suatu saat pagi akan bersidang, malamnya kami masih ‘kumpul’,” ungkapnya. Singkat cerita, proses perceraian terus bergulir hingga ke tingkat banding; Sr. berhak atas pengasuhan anak semata wayangnya yang kini berusia tiga tahun lebih, dan tinggal menanti pelaksanaan putusan hakim banding dengan pengucapan ikrar talak sekaligus untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban “calon” mantan suaminya. Nah, ketika menanti pelaksanaan putusan tersebut, Sr. beberapa kali menanyakan perihal kelanjutan proses perceraiannya ini kepada Md. Selama itu pula mereka berdua masih tetap saling berkomunikasi. Sampai suatu ketika, Sr. menanyakan hal itu kepada

suaminya sekaligus meminta uang untuk membeli susu bagi sang anak. Mungkin tidak dalam kondisi emosi yang stabil, akhirnya keduanya terlibat pertengkaran, hingga, seperti keterangan Sr di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang menyidangkannya, Md, melakukan tindakan fisik atas dirinya. Berdasar pengakuan Sr. dan hasil visum, Sr mengalami luka di bagian kepala dan di atas pipi kiri. “Tidak hanya itu Pak Hakim, dia juga menendang kaki saya. Dia juga memukul saya dengan seruling,” ungkap Sr, walau kemudian pengakuan itu dibantah Md. Di depan persidangan, Sr. juga mengungkapkan, apa pekerjaan suaminya selama ini. “Yang saya tahu ia hanya pamit bekerja sampai tengah malam bahkan dini hari baru pulang. Namun, anehnya dia tidak pernah membawa uang. Yang lebih aneh lagi bagaimana ia mampu menyewa pengacara,” papar Sr. yang datang ke persidangan bersama anak dan ibunya. Atas peristiwa yang terjadi 30 September 2010 itulah, Sr lantas membawa kasus ini ke kepolisian yang memaksa Md menjadi pesakitan. Selama Md. ditahan, kini Sr. mencari nafkah untuk anaknya dengan bekerja di sebuah percetakan. “Kalau bilang kasihan sebenarnya juga kasihan, tetapi dia sepertinya tidak tahu diri. Kurang apa saya coba, walaupun kasus perceraian masih jalan, saya masih mau melayani dia sebagaimana biasa,” kata Sr. yang menikah dengan Md. tahun 2002. –nang.

Pasutri Berperkara Mediasi harus Intensif sidangan untuk perkara perdata diatur melalui Perma Nomor 1 Tahun 2008. “Ketentuan ini memperbarui dasar hukum Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2004,” jelas Wakil Sekretaris Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Denpasar I Ketut Ngastawa, S.H. Peran hakim mediasi amat menentukan suami istri yang hendak bercerai akan rukun kembali atau rumah tangganya berantakan. “Mediator berusaha mendamaikan di luar proses sidang formal,” ujar Istiningsih.

tkh/dok

SIDANG kasus gugatan perceraian di Pengadilan Negeri Denpasar tak melulu dikabulkan hakim. Proses mediasi amat menentukan gugatan perdata ini batal di meja hijau. Hakim yang menangani tiap perkara gugatan perceraian tidak langsung memprosesnya. Seorang hakim mediasi akan ditunjuk untuk menengahi suami dan istri yang berseteru. “Tahapan ini ada dasar hukumnya,” ujar Wakil Ketua PN Denpasar Istiningsih Rahayu, S.H., M.H. Ketentuan mediasi di per-

Istiningsih Rahayu, S.H., M.H.

Ketut Ngastawa, S.H.

Namun, menurut Ngastawa, peran hakim mediasi itu juga ditentukan kehadiran seorang advokat yang menjadi pemegang kuasa pihak berperkara. “Peran advokat juga penting dan ikut menentukan proses perdamaian itu,” imbuh advokat senior ini. Proses mediasi biasanya berlangsung 40 hari. Proses mediasi atau mendamaikan pasutri berperkara harus berjalan intensif selama tenggat waktu ini. “Misinya jelas mendorong suami istri ini rujuk lagi,” katanya. Selama itu, menurut Istiningsih, ada perkara gugatan cerai yang berhasil dimediasi. Ini biasanya ditandai adanya tindakan pencabutan berkas gugatan perkara oleh penggugat. “Tetapi, tidak semua berkas gugatan batal diproses hakim,” tambahnya. Sulitnya upaya damai tersebut terbukti dari rekaman data penanganan perkara perceraian di PN Denpasar selama lima bulan pertama tahun 2011. Dari 149 kasus perceraian yang ditangani selama Januari tercatat 47 perkara diputus, hanya tiga kasus dicabut

penggugat. Kasus perceraian yang masuk Februari 153 berkas, diputus 27 perkara, satu berkas gugatan berakhir damai. Satu kasus perceraian yang juga berakhir rujuk tercatat Mei. Tetapi, satu kasus batal cerai ini berasal 154 perkara perceraian yang diagendakan. Semua perkara perceraian yang gagal didamaikan terjadi selama Maret. Perkara perceraian yang tercatat selama bulan tersebut 164 berkas perkara, 37 kasus yang diputus cerai. Namun, dari 162 kasus perceraian yang masuk April tercatat proses rujuk berjumlah lima perkara dengan 51 kasus yang dikabulkan hakim. Kecilnya hasil mediasi di balik tingginya angka perceraian tersebut dinilai Ngastawa mencerminkan cekcok dalam kehidupan rumah tangga bukan lagi semata masalah sosial. “Dulu kan cenderung dianggap masalah sosial yang belum dikait-kaitkan dengan urusan pelanggaran HAM. Sekarang ini kan urusan HAM tadi bisa membuat perkara yang dulu tabu diketahui banyak orang itu muncul di muka publik,” katanya. —sam

Gandrung dan Topeng Riahkan Festival Keluarga Pendaftaran Fun-bike dan Jalan Sehat mulai Kamis (14/7) SESUAI dengan temanya tahun ini, Festival Keluarga yang digelar Koran Tokoh 24 Juli mendatang memiliki ciri khas, yakni tampilnya berbagai kesenian lintasetnis. Selain itu akan diramaikan displai marching band pelajar SD dan parade dokar yang mengusung pasangan suami istri yang telah mencapai usia perkawinan emas (50 tahun) dan perak (25 tahun) dari kabupaten/ kota se-Bali. Ciri khas lainnya, festival berlangsung pagi hingga sore, bertempat di Parkir Timur Renon, Denpasar. Kesenian lintasetnis akan tampil Tari Topeng dan Rampag Kokol dibawakan penari dan penabuh dari Bammus Sunda. Sementara Ikawangi Dewata akan menampilkan Tari Gandrung dan penyanyi yang diiringi musik Kendang Kempul khas Banyuwangi. Flobamora

akan mengerahkan 10 penarinya di panggung memperagakan Tari Ja’i. Sedangkan komunitas asal Timor Timur, Pawatin, akan menamnpilkan Tari TBTB. Diharapkan, penampilan mereka akan turut menyedot pengunjung dari berbagai kalangan lebih banyak lagi. Sebagian pengunjung akan memanfaatkan waktu paginya untuk mengikuti kegiatan sepeda santai dan jalan sehat yang dimulai pukul 06.30. Pendaftaran peserta fun-bike dan jalan sehat akan dibuka mulai Kamis (14/7) (baca halaman 3). Sementara itu stan-stan kuliner beraneka ragam menu masakan, akan memenuhi tepi halaman Parkir Timur Renon, pagi hingga sore, dan di panggung terbuka juga akan memperlihatkan suara merdunya penyanyipenyanyi cilik dan remaja. —dwi

Janda dan Duda Data dan Logika DATA perceraian suamiistri cenderung meningkat, atau terlihat mencolok dibandingkan data kasus perdata lainnya, akhir-akhir ini. Hal itu berdasarkan laporan Koran Tokoh edisi 650 minggu lalu dan edisi 651 minggu ini yang mengutip data di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Denpasar. Logikanya, kian banyak pula jumlah janda dan duda di negara kita. Mana yang lebih banyak? Jika ada waktu senggang, coba hitung di lingkungan tempat tinggal Anda, jika ada, mana yang lebih banyak, janda atau duda? Kehadiran janda maupun duda, selain akibat kematian, juga akibat perceraian. Perceraian, sering berdampak negatif bagi anak-anak yang dilahirkan. Bayangkan, jika tiap pasangan suami istri yang bercerai beranak banyak, berapa anak yang berkurang atau kehilangan kasih sayang dari orangtuanya sebagaimana yang pernah direguknya sebelum terjadi perceraian orangtuanya? Betapa tambah berat beban orangtuanya yang berstatus janda atau duda, jika harus mengurus anak-anaknya sendirian. Bagaimana masa depan anak-anaknya? Jika dilihat dari aspek ini, tampaknya data tentang jumlah janda dan duda, serta beragam faktor penyebabnya, diperlukan sebagai data dasar dalam upaya menekan angka perceraian atau mengatasi dampak negatif perceraian. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (susenas) tahun 2009 menunjukkan, di Bali jumlah janda 8,09% dari jumlah penduduk Bali yang 3.556.998 jiwa, jadi sekitar 287.761 orang, lebih banyak daripada jumlah duda (3,06%), sekitar 108.844 orang. Angka perbedaannya cukup mencolok. Jumlah janda atau duda bisa berkurang. Paling tidak, tiga penyebabnya. Pertama, jika angka perceraian dan angka kematian suami atau istri, bisa ditekan. Kedua, jika janda dan duda itu menikah lagi. Ketiga, jika janda dan duda itu dipanggil Tuhan, meninggal. Jauh lebih sedikitnya jumlah duda daripada jumlah janda di Bali tahun 2009, diduga juga

tkh/dok

Tokoh

Widminarko

dipengaruhi lebih banyaknya duda yang kawin lagi setelah bercerai daripada janda yang menikah lagi. Data belum saya temukan, tetapi asumsi saya berbicara, lebih banyak orang yang memiliki slogan “lebih baik menjanda sampai mati” daripada yang bermoto “lebih baik menduda seumur hidup”. Lebih banyak mantan suami yang berpikir untuk menikah lagi daripada mantan istri. Mengapa begitu? Dalam suatu kurun waktu tertentu, di Amerika Serikat pernah tercatat, angka kematian duda lebih tinggi 50% dibandingkan kematian janda. Di kalangan pria yang beristri, perbedaan angka kematiannya lebih rendah. Tampaknya, pria yang beristri lebih terawat kesehatannya dibandingkan pria yang menduda. Apakah kenyataan itu turut mendorong duda cenderung menikah lagi agar lebih terawat hidupnya? Di negara yang sama, anehnya, angka kesakitan wanita lebih tinggi daripada pria. Wanita lebih sering mengeluhkan kondisi tubuhnya, lebih sering sakit. Akibatnya, dan ini karunia Tuhan yang terselimut, wanita lebih sering memeriksakan diri ke dokter. Walaupun angka kesakitannya lebih tinggi, tetapi karena lebih sering menggunakan pelayanan pencegahan dan kesehatan, angka kematiannya lebih rendah. Usia rata-rata harapan hidup wanita pun lebih tinggi. Di Indonesia, selain usianya lebih panjang, jumlah wanita juga lebih banyak. Tahun 2009 jumlah wanita di Bali 1.779.566.

Pria, 1.777.432. Data susenas menyebutkan, rata-rata harapan hidup penduduk Bali tahun 2009 usia 70,6 tahun. Tetapi, data Riset Kesehatan Dasar menyebutkan, tahun 2010 ratarata harapan hidup penduduk Bali sudah naik, 72,04 tahun. Data di negara kita maupun di negara lain, sejak dulu, mendukung kenyataan bahwa usia harapan hidup rata-rata wanita lebih tinggi daripada pria. Logikanya, lebih banyak pria yang mati lebih dahulu dibandingkan wanita. Lebih banyak janda akibat ditinggal mati suaminya daripada jumlah duda yang ditinggal mati istrinya. Anehnya, saat balita, jumlah anak pria lebih banyak, tetapi setelah dewasa dan tua, jumlah wanita lebih banyak. Mengapa pria lebih cepat mati dibandingkan wanita? Gaya hidup modern cenderung mendorong orang berperilaku yang tak terkendali, misalnya gemar merokok dan minum minuman keras. Yang berperilaku demikian, pria lebih banyak daripada wanita. Padahal kedua perilaku itu terbukti menjadi penyebab kematian manusia berkategori tinggi. Pria pun banyak melakukan kegiatan dan bekerja di tempat kerja yang risiko kecelakaan dan risiko kematiannya relatif tinggi. Tabrakan bus, braaak! Sopir dan kernetnya mati. Keduanya pria. Pria umumnya juga suka menggampangkan gejala penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Pria lebih malas memeriksakan diri ke dokter daripada wanita. Akibatnya, kasus mati mendadak lebih sering terjadi di kalangan pria. Dalam hal kurang hati-hati, ternyata pria juga lebih kurang hati-hati daripada wanita. Oleh karena rata-rata usia harapan hidupnya lebih tinggi, dan jumlahnya lebih banyak, maka jika suatu perceraian mengakibatkan penderitaan hidup, maka dipastikan, yang menderita lebih berkepanjangan dan lebih banyak adalah kaum wanita. Tidak sedikit penderitaan itu diakrabinya bersama anak-anaknya yang ditinggal ayah yang kawin lagi. z WIDMINARKO

Belajar dari Pesan Rama dan Sinta KESENIAN dapat membentuk paradigma kehidupan keluarga yang harmonis. Paradigma ini dapat ditanamkan sejak usia dini melalui dunia tari yang diajarkan di sanggar kesenian. Sekitar 100 bocah tak hanya belajar menari di Sanggar Cilinaya Denpasar. Sanggar tari ini juga menekankan makna dan pesan adiluhung tiap cerita yang tersembunyi di balik semua jenis tarian Bali yang diajarkan itu. “Kisah dan makna semua tarian yang diajarkan harus diresapi anak-anak agar mereka bisa menjiwai saat menarikannya,” ujar koordinator sanggar tersebut Ni Luh Putu Aristyahati. Menurutnya, ada sejumlah tarian yang mengandung makna positif untuk membentuk karakter anak. Misalnya, tarian Rama dan Sinta. Kisah tarian ini mencerminkan pesan kerukunan hidup sepasang suami istri. “Dengan memahami sambil menarikannya otomatis anakanak ditanamkan nilai keharmonisan sejak usia dini,” jelasnya. Pesan positif untuk membentuk karakter anak juga tercermin dari tarian Oleg Tambulilingan. Tarian ini mengandung cerita sepasang remaja yang jatuh cinta. Tetapi, pasangan wanita menjaga diri selama berpacaran. Dia tidak mudah digoda oleh rayuan gombal pacarnya. Ini ditunjukkan melalui salah satu gerakan tari ini. Saat hendak dicium penari pria, si wanita selalu bisa menghindar. Tarian ini biasanya lebih mudah

ditangkap maknanya oleh anak-anak yang telah memasuki usia SMP,” ujarnya. Pesan serupa pun tersimpan di balik gerakan tari Condong dan Panji Semirang. “Intinya, anak-anak tidak hanya belajar menari. Jiwa mereka juga ditanamkan menjadi wanita yang bisa menjaga kehormatan,” katanya. Jika makna dan pesan tarian semacam itu terus-menerus ditanamkan kelak anak-anak sanggar tarinya diharapkan memiliki benteng moral yang kuat dalam kehidupan seharihari. “Jika kelak mereka dewasa, mereka bisa memilih pasngan hidup sesuai ajaran moral yang dipetik dari pesan tari itu,” harapnya. —sam

Menjaga Kerukunan Pasutri

tkh/sam

14

Ni Luh Putu Aristyahati


KIPRAH WANITA

10 - 16 Juli 2011 Tokoh 13

Eva Kusuma Sundari, Aktivis, Politikus, Legislator (I) 1

“Ya..begitulah. Aku belum lama melahirkan, tetapi sudah bekerja kembali karena memiliki tugas dan kewajiban. Rapatrapat kadang berlangsung hingga malam hari. Di sisi lain, sebagai ibu, aku memiliki kewajiban menyusui anak. Terpaksa anak ‘tak impor’ untuk kususui. Bayangkan, aku terpaksa harus menyusui di pojok dapur karena tidak ada ruang menyusui,” tutur Eva Kusuma Sundari, saat berbincang dengan wartawati Koran Tokoh, di ruang kerjanya, di Jakarta, belum lama ini. Ia menceritakan pengalamannya dua tahun lalu ketika bekerja hingga malam di luar rumah, dan saat yang sama ia harus memenuhi kewajibannya menyusui bayinya. Tetapi, ‘vokalis’ Fraksi PDI Perjuangan ini tidak mempermasalahkannya, karena dia menyadari konsekuensi sebagai wanita pekerja yang bekerja di luar rumah, saat bersamaan memiliki bayi di

menjadi politisi, tolong didukung juga dalam mengatasi problem-problem kewanitaan. Bayangkan, saat itu aku masih menyusui, sampai-sampai anak ‘ tak impor’ dan mojok di dapur Century. ‘Tak susui jam 10 malam karena aku lembur. Tak ada tempat, ya terpaksa di dapur,” kata Eva. Sore itu, wartawati Koran Tokoh berkesempatan berbincang panjang-lebar dengan Eva Kusuma Sundari, anggota DPR yang sangat vokal menyuarakan berbagai isu sosial, khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Eva yang Agustus lalu menerima penghargaan UN Office on Drugs and Crime - badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk bantuan penanganan tindak kejahatan dan obat-obat terlarang - atas kontribusinya dalam pemberantasan korupsi, bicara tentang berbagai hal. Mulai dari konstelasi perpolitikan Tanah Air hingga isuisu perempuan. Di bagian lain ia juga menyinggung tentang kehidupannya serta bagaimana ia menyiasati waktunya yang penuh berbagai kesibukan kerja, agar tetap bisa memberi perhatian pada keluarga. Ini memang tidak mudah. Karena ia memang bukan pekerja biasa, yang pergi pagi pulang sore. Tak jarang ia terpaksa pulang

rumah. Yang dipersoalkan, ‘ketidakramahan’ tempat kerjanya terhadap problem kewanitaan. Di antaranya, tidak adanya tempat khusus menyusui, juga tempat penitipan anak di lingkungan DPR. Bisa jadi kegalauan yang sama juga dirasakan para ibu pekerja yang memiliki bayi atau anak batita namun kantornya tidak menyediakan ruang penitipan anak atau ruang menyusui. Meskipun surat edaran tentang perlunya fasilitas tempat menyusui juga tempat penitipan anak di gedung-gedung perkantoran, telah terbit, masih banyak perkantoran baik pemerintah maupun swasta yang belum memilikinya. Padahal ini penting untuk menunjang agar para wanita bisa bekerja maksimal. Keluhan yang sama pernah disampaikan politikus wanita lainnya. “Karenanya aku mendukung ini (adanya tempat penitipan anak/tempat menyusui). Supaya kami bisa optimal

PEREMPUAN di seluruh dunia berharap dapat ikut memengaruhi keputusan-keputusan politik yang menyangkut keluarga, perekonomian, masyarakat dan negara. Politik perempuan adalah politik untuk memperbaiki peradaban. Politik perempuan adalah upaya historis membebaskan manusia dari cengkeraman kekuasaan. Kekuasaan adalah peralatan laki-laki, praktik kekuasaan tersebut telah melembaga dalam filsafat, kultur, hukum, agama, ilmu, seni dan politik. Dengan demikian, peradaban telah dibangun di atas fondasi kekuasaan laki-laki. Dari sejarah bangunan peradaban tersebut kita menyaksikan ketidakadilan manusia. Laki-laki adalah jenis kelamin utama dan perempuan adalah jenis kelamin kedua (the second sex). Akibatnya pemimpin haruslah laki-laki karena laki-laki dianggap lebih unggul, ritual agama harus berdasarkan aturan laki-laki karena perempuan dianggap tidak sesuci lakilaki, ilmu pengetahuan haruslah dikuasai laki-laki karena perempuan tidak mampu berpikir rumit, hukum dimiliki laki-laki karena perempuan tidak memiliki hak, dan lain sebagainya. Akhirnya dunia menyadari kesalahannya,bagaimana mungkin demokrasi diwujudkan jika separuh penduduk dunia menguasai separuh lainnya. Tiada demokrasi tanpa perempuan. Awalnya ketidakadilan tersebut hanya masalah diskriminasi perbedaan jenis kelamin. Namun, dalam diskriminasi tersebut terdapat semua jenis ketidakadilan. Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga, menewaskan perempuan di dalam rumah lebih banyak daripada di jalanan. Jumlah anak perempuan cerdas putus sekolah lebih banyak daripada anak laki-laki karena jika biaya sekolah terbatas, prioritas biaya adalah untuk anak laki-laki. Anggaran pembangunan daerah sangat prolaki-laki, lebih banyak alokasi anggaran untuk perawatan mobil bupati daripada vitamin untuk ibu hamil. Kini dunia serius memperbaiki kebodohannya, peradaban kini dapat dibaca dengan konsep-konsep baru. Konsep-

tkh/dok

Politik Perempuan Politik Harapan

Luh Riniti Rahayu

konsep yang berkeadilan seperti Engendering democrazy, domestic violence, sexual harassment, gender sensitive budget adalah konsepkonsep yang mengingatkan kita akan keadilan. Engendering democrazy memastikan tata peradaban yang adil bagi semua orang. Mengingatkan bahwa perempuan sebagai separuh penduduk dunia berhak ikut menentukan keputusan-keputusan dari urusan keadilan ekonomi, keamanan reproduksi, redistribusi politik sampai hak orientasi seksual. Domestic violence konsep yang menjamin rumah bukanlah tempat yang menyeramkan bagi perempuan. Sexual harassment menjadi konsep hukum baru bahwa laki-laki yang dulu dianggap normal memerkosa perempuan, kini menjadi ukuran mutu peradaban suatu bangsa. Gender sensitive budget mengingatkan para pembuat kebijakan bahwa ada sebab-akibat anggaran yang dialokasikan untuk jalanjalan anggota legislatif dengan angka kematian ibu melahirkan karena tidak ada tabung gas di puskesmas. Memahami ketidakadilan yang dialami perempuan, adalah memahami selengkapnya ketidakadilan manusia. Keadilan bagi politik perempuan bukan sekadar perjuangan menuntut hak individu, melainkan praktik menjadikan perdamaian, kesejahteraan dan menjaga kehidupan. Sekarang kita mengerti, feminisme bukanlah konsep yang berbahaya, seperti ketakutan yang didengungkan banyak pemuka agama dan

pemuka masyarakat bahwa feminisme adalah konsep asing, konsep amoral dan tak beragama.Feminisme sama dengan keadilan yang diperjuangkan kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Guna mencapai keadilan bagi kedua jenis kelamin, perempuan diharapkan ikut memutuskan keputusan-keputusan politik yang akan mengatur seluruh kehidupan di masyarakat. Oleh karena itu perempuan didorong untuk menggunakan hak-hak politiknya agar dapat ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara. Menyangkut hak politik warga negara laki-laki dan perempuan, Negara Indonesia telah meratifikasi konvensi hak politik perempuan dengan UU Nomor 68 Tahun 1958 serta diperkuat UU Nomor 7 Tahun 1984. yang merupakan salah satu prinsip mendasar yang diamanatkan dalam konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on The Elemination of All Forms of Discrimination Against Women atau CEDAW). Bahkan dalam paket UU Pemilu tahun 2004 dan 2009 kebijakan afirmasi untuk mendorong keterwakilan perempuan minimal 30% dalam bidang politik telah terakomodasi. Fakta menunjukkan, 66 tahun Indonesia merdeka, telah 10 kali diselenggarakan pemilu. Persentase perempuan dalam ranah politik masih jauh tertinggal daripada kaum lakilaki. Dalam Pemilu 2004 dan 2009 yang dianggap paling demokratis pun, keterwakilan perempuan dalam struktur kekuasaan dan proses pengambilan keputusan serta perumusan kebijakan publik, masih tetap rendah, baik di lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Anggota legislatif perempuan di tingkat nasional hasil pemilu tahun 2004 adalah 11%, pemilu 2009 mencapai 18%, di Provinsi Bali hasil pemilu 2004 adalah 4,5%, sedangkan tahun 2009 baru mencapai 7,5 %. Minimnya jumlah perempuan dalam proses politik dan jabatan publik berakibat pada ketertinggalan perempuan dalam berbagai bidang ke-

larut malam, bahkan pagi. Kehidupan politisi memang tidak normal. Ini diakui Eva. Bukan hanya politisi laki-laki, tetapi politisi wanita pun mengalami hal yang sama. Namun, untuk kaum wanita ‘beban’ ini menjadi lebih berat karena dia bukan hanya dituntut bekerja sama baiknya dengan kaum laki-laki, tetapi sebagai wanita berkeluarga ia juga dituntut memberi perhatian dan waktunya pada keluarga. Ia harus mendampingi juga membimbing kedua anaknya, Maria Fatima (15) dan Danny Surya Utama Diaz (2), dan senantiasa hadir saat kedua anaknya sedang sangat membutuhkan kehadirannya. “Yang namanya protes, khususnya dari anak, sudah pasti ada sesekali. Tetapi aku berusaha memberi pengertian. Aku juga memahami ada usiausia krusial, saat aku harus terus mendampingi mereka. Biasanya dalam usia belasan tahun, usia pemberontakan, atau usia di atas lima tahun, masa transisi, aku harus nempel ke mereka. Jika pada masa itu, tidak ada masalah, ya aku lepas. Namun, kualitas komunikasi aku intensifkan. Misalnya dengan anakku yang sedang berangkat remaja, kami sering curhatcurhatan. Pokoknya aku berusaha menjadi teman bagi dia. Tidak ada rahasia, dia bebas hidupan, khususnya pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan dan tindakan diskriminasi, serta tindakan kekerasan terhadap perempuan, yang akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan dan kemajuan bangsa secara menyeluruh. Jika kita melihat hasil pemilu pascareformasi, memang telah terjadi peningkatan keterwakilan perempuan di legislatif. Hal ini mengindikasikan harapan masyarakat akan politik perempuan yaitu politik keadilan. Namun, jumlah yang masih sedikit tersebut sebagian terdiri atas tokoh-tokoh populer, para selebritas, perempuan yang berasal dari dinasti-dinasti politik yang belum tentu paham terhadap kepentingan kebijakan afirmasi. Para perempuan aktivis yang paham kepentingankepentingan kaum marjinal dan kelompok minoritas yang terpinggirkan sangat sedikit yang terpilih. Hal ini menunjukkan kebijakan afirmasi untuk mendorong keterwakilan perempuan di Indonesia baru sekadar mendorong jumlah. Jumlah yang belum sampai pada keberadaan perempuan yang bermakna bagi kelompoknya. Jika representasi perempuan hasil pemilu pascareformasi di Indonesia baru sekadar jumlah, belum menunjukkan maknanya untuk dapat membuat proses politik yang transformatif dan mewakili kepentingan perempuan berdasarkan asas keadilan. Maka, perlu adanya strategi-strategi untuk tidak sekadar mendorong jumlah perempuan yang mewakili kelompoknya, namun juga mendorong perempuan dapat melakukan proses politik yang berkeadilan. Guna mewujudkan politik perempuan, politik harapan yang berkeadilan, diperlukan peran parpol untuk mengubah mekanisme internalnya. Mekanisme yang sulit ditembus perempuan harus diubah, parpol hendaknya mampu melakukan pengaderan terhadap perempuan, serta lebih terbuka terhadap perempuan. Jangan hanya terbuka terhadap perempuan yang memiliki uang untuk parpol. Para aktivis dalam gerakan-gerakan perempuan juga memiliki tugas yang tidak mudah, tidak hanya mampu melakukan advokasi namun juga harus mampu melakukan penjaringan-penjaringa internal yang memenuhi kriteria terwujudnya politik perempuan. zLuh Riniti Rahayu Ketua LSM Bali Sruti, Dekan FISIP Universitas Ngurah Rai

Eva dan keluarganya

mengungkapkan apa pun. Aku juga selalu mengecek dia di mana pun berada. Aku memberinya kebebasan, dan dia melaksanakannya dengan bertanggung jawab. Ya, seperti aku ketika muda, mendapat kebebasan dan kepercayaan penuh orangtuaku. Dan, itu aku laksanakan dengan bertanggung jawab,” paparnya. Tetapi, tentu saja, jangan membayangkan sebuah keluarga konventional; sore berkumpul, makan bersama dan semacamnya. Sebagai anggota DPR yang sejak 2004 bercokol di Senayan,

Sabtu ini aku ke Jawa Timur, konsolidasi partai. Jadi jangan dikonstruksikan seperti peran perempuan konvensional, bahwa ibu bangun pagi, memasak, mencuci. Tetapi, aku tetap mengatur waktu dan memberi perhatian untuk keluargaku; untuk anak-anak juga suami. Aku harus membangun pengertian keluargaku, anak-anakku. Aku katakan, famili kita tidak normal tetapi bukannya tidak mutu. Jadi, mari kita bikin bermutu. Itu konsensus kami,” ungkap Eva. —dia

Eva luar biasa sibuk. Ia kini anggota komisi III yang membidangi hukum dan perundangundangan, hak asasi manusia, dan keamanan. Ia juga anggota Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN), salah satu alat kelengkapan DPR RI. Belum lagi tugas-tugas kepartaian yang diembannya. Hampir tak ada waktu libur, bahkan Sabtu dan Minggu. “Bahkan Sabtu dan Minggu, kerap ada acara pertemuan partai. Seperti aku, Sabtu lalu aku penuh ngurus BAKN. Nah,

Ny. Ayu Pastika

Dukung Semua Bentuk Pelestarian “Karena kegiatannya bertujuan melestarikan budaya, tentu wajib kita dukung bersama,” ucap Ketua TP PKK Provinsi Bali, yang hadir mengapresiasi lomba kegiatan kewanitaan di Klungkung ini. Apalagi aktivitas memakai pusung tagel, sebagai perempuan Bali, katanya tidak pernah jauh dari urusan yang satu ini. “Ketika harus menghadiri berbagai undangan, maupun saat mengadakan upacara persembahyangan terutama bagi kita perempuan dewasa, pusung tagel akan menyempurnakan penampilan perempuan Bali,” lanjutnya. Ny. Ayu Pastika yakin, para peserta lomba belajar mengenakan sanggul serta tata rias diri sendiri, bukan hanya untuk lomba, namun menjadi kebisaan yang bermanfaat bagi dirinya untuk aktivitas sehari-hari. “Selama masih tinggal di Bali sampai kapan pun pusung tagel tidak akan berhenti digunakan. Termasuk, jika ingin kita memodifikasi, menjadi modern atau yang lainnya sesuai kegiatan yang dijalankan,” tandasnya.—ard

tkh/dok

Ny. Ayu Pastika

Lomba Memasang Pusung Tagel dan Tata Rias Diri Sendiri

Tak sekadar Raih Muri LOMBA Memasang Pusung Tagel dan Tata Rias Diri Sendiri yang digelar Jumat (24/ 6) di Balai Budaya Klungkung itudinilai Bupati Wayan Candra sebagai hal yang luar biasa. Ini merupakan wujud penjabaran 10 program PKK yang menampilkan ibu-ibu PKK menari pendet. “Ini membuktikan ketika wanita bergerak, laki-laki tak bisa berkutik. Jika wanita luwih dan mampu menunjukkan jati diri sebagai wanita, laki-laki tak akan berdaya,” guraunya. Terlaksananya kegiatan ini juga menunjukkan kinerja PKK. Dari segi ekonomis, ibu-ibu tak perlu mencari salon lagi karena sudah bisa merias dirinya. Dengan keterampilan ini, para ibu juga bisa ber-yadnya kepada tetangga, atau keluarga untuk membantu menyanggul. Di samping itu, melalui kegiatan ini menunjukkan hidupnya organisasi. “Dengan lomba ini diharapkan ibu-ibu bisa menambah wawasan, meningkatkan kemampuan dan memiliki skill di bidang tata rias. Mungkin setelah ini ada minat

tkh/sep

M

ALAM itu pembahasan kasus Bank Century tengah berlangsung seru di Gedung DPR RI. Waktu telah beranjak ke pukul 22.00 WIB. Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi III DPR, tampak tergesa-gesa berjalan ke sudut dapur. Di sana telah menanti bayinya, yang harus segera disusui.

tkh/ist

Tidak Normal bukannya tidak Bermutu

Bu Agung

Wayan Candra

untuk melanjutkan kursus salon pel/kusut, rapi. “Teknik-teknik dan membuka salon,” ujarnya. ini yang saya latih, sehingga mereka bisa menservis sanggul sendiri. Saya berikan juga Kakak Beradik jadi Juri Lomba yang melibatkan teknik praktis membuat sasak, 1.530 peserta ini dinilai Ni sanggul, dan memakai makeNyoman Marminingsih dan Ni up,” ujarnya. Terkait dengan Ketut Marwati secara umum lomba ini, diarahkan agar tata sudah baik. Kedua kakak- rias wajah tidak menor. Busaberadik ini adalah dua di antara na tidak tembus pandang, 50 juri dalam lomba tersebut. usahakan tidak memakai Penilaian meliputi keserasian brokat, dan tidak harus bertata rias wajah, tata rias rambut warna putih-kuning, yang (pusung tagel) dan busana penting bersih. Penggunaan yang digunakan. “Pemasangan kamen menutup mata kaki, dan pusung tagel proporsional, saat berjalan tidak naik. “Saya tidak sampai menyentuh baju. senang bisa mengabdi dan berbagi. Saya juga bangga Busana tak harus akan semangat mereka, termemakai warna nyata apa yang saya sampaikputih-kuning, yang an dapat dipahami dan berhasil penting bersih,” diterapkan. Harapan saya, ilmu ujarnya. tersebut bisa bermanfaat miniAnak Agung mal untuk diri mereka dan bisa Ayu Ketut Agung, diinformasikan ke yang lain,” Pimpinan LKP ujarnya. Agung yang langBu Agung menekankan sung melatih calon lomba ini tak sekadar untuk peserta sebelum meraih Muri, tetapi bagaimana lomba itu mengata- agar masyarakat mengenal dan kan pemakaian pu- bisa memasang pusung tagel sung tagel, tak sebagai salah satu pelestarian harus memakai sa- budaya Bali yang memiliki sak, yang penting makna filosofis. Pusung tagel rapi. Besar pusu- ini melambangkan kedewasaan ngan disesuaikan wanita Bali dalam arti luas. dengan bentuk wa- Sebelum lomba, para peserta tkh/sep jah dan tubuh, diberikan pelatihan terlebih Ni Nyoman Marminingsih sanggul tidak gem- dahulu. –ten dan Ni Ketut Marwati


RILEKS

S

Hamil Saat Hamil

EDANG hamil bisa hamil lagi. Itulah yang dialami Julia Grovenburg dari Arkansas, AS. Ini kasus langka dalam dunia medis. Satu kasus dalam satu juta kelahiran. Adanya kasus ini seolah membantah apa yang tertuang dalam bukubuku pengetahuan umum tentang medis yang menjelaskan, seseorang tidak dapat hamil ketika sedang hamil. Namun, jurnal medis tentang kasuskasus langka mengungkapkan adanya kasus semacam ini.

Kasus yang dialami Julia disebut ‘superfetation’ yang berarti memiliki dua janin dikandung pada waktu yang berbeda, berkembang dalam rahim wanita pada waktu yang sama. Jadi, secara teknis Julia hamil lagi sementara sedang hamil. Kehamilan kedua Julia, diketahui dua setengah minggu setelah kehamilan pertama, saat dia melakukan pemeriksaan rutin. Ketika dilakukan USG,

dokter terkejut karena ada dua bayi berkembang dalam rahim Julia. Awalnya, dokter mengira kembar, namun melihat pola perkembangan yang berbeda, keduanya memiliki besar yang berbeda, ia menyimpulkan kehamilan itu terjadi dalam waktu yang berbeda, dan bukan kembar. Dokter juga yakin, kalau kehamilan kedua terjadi dua setengah minggu setelah kehamilan pertama. “Dokter bingung menjelaskannya. Karena dia tidak pernah memiliki kasus seperti ini. Dia bilang, ini bukan kembar, tetapi saya memiliki dua bayi,” tambahnya mengulang informasi dokter. Menurut Julia, dia dan suaminya, Todd sempat senang ketika mendengar dirinya hamil. Maklum karena kehadiran seorang anak telah tiga tahun ditunggu pasangan ini. Kebahagiaan dirasakan ketika melihat hasil USG ada dua bayi di kandungannya. Meski ada

10 - 16 Juli 2011 Tokoh 15

kebingungan, karena menurut buku-buku medis yang dia baca seseorang tak dapat hamil ketika sedang hamil. Tetapi, kebahagiaan berubah menjadi kecemasan karena ada kemungkinan salah satu bayi yang dikandungnya cacat ketika dilahirkan. Apalagi kemudian dokter yang menangani kasusnya, juga bingung menjelaskan masalah itu. “Dokter kami panik,” ucap Julia yang mengaku bingung kenapa kasus langka itu menimpanya. Apalagi dalam sejarah kehamilan dalam keluarga mereka, tidak pernah ada kasus semacam ini. Semuanya normal. Julia, adalah satu dari 11 kasus kehamilan langka yang pernah dilaporkan. Sejauh ini, belum diketahui persis apa yang menyebabkan kasus ini terjadi. Apakah ada hubungannya dengan upaya Julia dan Todd, yang ingin memiliki anak. “Dokter saya tidak bisa menjelaskan. Bahkan ketika saya menyebut ‘superfetation, dia menatap saya aneh,” tambahnya. Kemudian dia dirawat oleh tim dokter dari Little Rock. Tim dokter di sana pun belum pernah menangani kasus langka itu. Namun, mereka tahu tentang hal ini dari jurnal medis.

SEKITARKITA

XL Luncurkan Bundling iPhone Besarnya minat pasar atas ponsel pintar iPhone, PT XL Axiata Tbk (XL) kembali meluncurkan program bundling dengan produk Apple ini dengan harga lebih terjangkau. Per 8 Juli 2011, masyarakat dan pelanggan XL bisa mendapatkan produk bundling XL dengan iPhone 3Gs – 8GB seharga Rp 4.299.000 (sudah termasuk PPn). Direktur Marketing XL, Joy Wahyudi mengatakan, meskipun sudah lama muncul, namun paket bundling iPhone 3Gs yang dihadirkan XL harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan harga yang sebelumnya ada di pasar. Sebagai smartphone yang sudah dikenal luas, iPhone 3Gs layak dimiliki oleh pelanggan XL yang menginginkan sarana komunikasi sekaligus gadget yang canggih dan komplit dilengkapi dengan koneksi cepat internet unlimited dari XL.”Masyarakat atau pelanggan yang membeli paket bundling XL iPhone 3Gs bisa langsung menikmati bonus yang diberikan tiap bulannya antara lain gratis internet unlimited, 150 menit telpon, 150 SMS, dan 15 MMS selama 3 bulan,” ujarnya. —wah Dari perkiraan semula, kedua bayi Julia akan lahir normal dalam waktu dan hari yang berbeda. Diperkirakan berbeda tiga minggu. Namun demi menjaga segala kemungkinan, termasuk kemungkinan cacat jika dilahirkan dalam waktu yang berbeda terlalu lama, maka diputuskan untuk lahir melalui operasi sesaria dalam hari yang

sama yakni, 2 Desember 2009. “Jillian berkembang begitu cepat sehingga dokter kami berpikir akan lebih baik untuk menyelamatkan kedua bayi. Hudson pertumbuhannya kalah cepat dari Jillian. Kami tidak ingin menempatkan Hudson dalam bahaya dengan melahirkan secara normal,’’ kata Julia. —dia/berbagai sumber

Halo Dura, Saya Heni seorang pegawai swasta. Kulit wajah saya termasuk kulit wajah yang normal, tidak berminyak maupun kering. Tetapi karena kesibukan yang padat, saya termasuk orang yang jarang melakukan perawatan kulit wajah. Kulit wajah terkadang tampak kusam, warna kulit tidak merata, dan terkadang timbul komedo terutama di bagian hidung. Adakah perawatan dari House of Dura yang dapat mengatasi seluruh permasalahan kulit wajah saya? Julia bersama suaminya, Todd

Membuat Tubuh Langsing Kebiasaan yang membuat tubuh menjadi langsing alami tanpa olahraga: 1. The American Journal of Clinical Nutrition melaporkan, orang yang terbiasa sarapan cenderung memiliki lingkar pinggang 5 cm lebih kecil daripada mereka yang enggan sarapan. Sarapan bisa mendorong metabolisme, menyebabkan Anda mengurangi produksi enzim yang meningkatkan kolesterol. 2. Teh memiliki kandungan catechin dan antioksidan. Menurut studi yang diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition, kandungan catechin tertinggi ada di teh hijau dan teh putih. 3. Minum dua cangkir air putih sebelum makan akan membantu Anda menurunkan berat badan 2,2 kg lebih banyak daripada mereka yang tidak minum air sebelum makan. Penelitian dari Virginia Tech ini juga mengungkapkan, air bisa membuat Anda kenyang sehingga Anda cenderung mengurangi makanan hingga 75-90 kalori. 4. Menimbang badan ternyata perlu dilakukan secara rutin, setidaknya sekali dalam seminggu. Sebab melihat jarum timbangan bergerak ke kanan bisa menjadi sinyal bahwa Anda perlu mengurangi makan dan mulai melakukan olahraga sebelum berat badan terus naik. Kebiasaan inilah, menurut Minneapolis Heart Institute Foundation, yang membantu Anda untuk mendapatkan berat yang stabil tanpa berdiet. 5. Cobalah menu yang banyak menyajikan masakan dari ikan, sayuran, nasi, kedelai, mi, teh, dan buah. Semuanya diolah dengan cara sederhana. Cita rasanya yang khas berasal dari minyak kanola, bawang, wortel, dan bokchoy. Tetapi, kurangi sodium (yang merupakan kandungan dalam garam), begitu saran Lilian Cheung, RD, DSc, Direktur Health Promotion and Communication di Department of Nutrition, Harvard School of Public Health.

6. Makan dengan perlahan bisa membantu Anda untuk tetap kurus. Mereka yang membutuhkan waktu 30 menit untuk mengonsumsi semangkuk es krim akan menciptakan lebih banyak hormon “kenyang” daripada mereka yang terbiasa makan dengan cepat, demikian hasil penelitian yang dimuat di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Saat bersantap, hindari sambil nonton TV agar Anda bisa berkonsentrasi dengan makanan lezat yang ada di hadapan Anda. 7. Biasakan melakukan hal yang rutin. Misalnya, makan pada jam yang sama setiap hari. Para peneliti dari Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, California, mendapati tikus yang makan sesuai jadwal dan berpuasa selama 12 jam pada malam hari, livernya mengaktifkan gen yang membakar lebih banyak gula dan lemak. Percobaan ini memang tidak diujikan pada manusia, namun, jika membiasakan diri makan malam tiap pukul 19.00 bisa membantu menurunkan berat badan. Sumber: http://blogbintang.com

Halo Mbak Heni, Kulit wajah yang sehat adalah dambaan setiap orang, khususnya wanita. House of Dura Bali menawarkan serangkaian perawatan “Dura Perfect10” yaitu 10 langkah perawatan guna mendapatkan kulit yang sehat sempurna. Ada pun manfaat dari perawatan “Dura Perfect 10” ini adalah mengangkat sel kulit mati, mencerahkan warna kulit, memberi nutrisi pada kulit, menjaga kekenyalan kulit wajah, memeperbaiki metabolisme kulit, serta memperbaiki sisitem kelenjar limfatik dan pembuluh darah agar dapat bekerja lebih baik. Sepuluh rangkaian perawatan dari ”Dura Perfect10” terdiri dari cleansing, relaxing massage, dura micropeel, steam and vacuum comedo, ekstraksi komedo, skin sterilization with oxygen, dura pure infusion, dura oxygen injection, dura peel off mask, dan pemberian krem anti-iritasi dan sunblock. Perawatan ini bisa diulang setiap bulan sekali. Ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter konsultan kami sebelum melakukan perawatan ini. Semoga pilihan perawatan dari kami merupakan solusi terbaik bagi masalah kulit Anda. Untuk Mbak Heni, kami berikan perawatan Perfect10 gratis, terima kasih.

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Menyiasati Bentuk Mata yang Sipit Yth. Ibu Agung Saya ingin menanyakan bagaimana teknik make-up untuk menyiasati bentuk mata saya yang terkesan sipit. Serta mohon ditampilkan contoh busana modifikasi sederhana. Sinta, Jimbaran Yth. Adik Sinta Berikut ini beberapa teknik make-up yang dapat Adik lakukan untuk menyiasati bentuk mata Adik yang sipit: Bila mata sipit dan tidak memiliki lipatan atau kelopak mata, gunakan scotch tape. Caranya adalah gunting sebesar 2-3 mm, bentuk menjadi seperti bulan sabit dan tempelkan di atas garis samar kelopak mata. Ini akan membentuk lipatan atau kelopak mata. Saat menggunakan eyeliner, jangan membuat garis terlalu panjang sampai melewati sudut mata luar yang akan membuat mata terlihat segaris. Gunakan riasan smoked eyes dengan menggunakan eyeshadow yang berwarna agak gelap seperti cokelat tua, biru tua, ungu tua, hijau tua atau abu-abu tua. Bila Anda ingin menggunakan bulu mata palsu, hindari bulu mata yang terlalu besar dan tebal karena akan terlihat tidak alami. Pilihlah bulu mata berdiameter setengah atau bulu mata satuan. Gunakan maskara agak tebal agar memberi kesan mata bulat. Berikut ini contoh busana modifikasi. Selamat mencoba.


16

Tokoh

10 - 16 Juli 2011

tkh_651_10-16_juli_2011  

tkh_651_10-16_juli_2011

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you