Issuu on Google+

Manajemen Diri Atasi Dilema PEREMPUAN memiliki ruang yang terang benderang tapi tanpa disadari ruang geraknya terbatas. Pernyataan itu terlontar dari bibir perempuan satu ini, saat ditemui usai tampil dalami seminar memperingati Hari Ibu tahun 2010 di Wantilan Kantor Bupati Karangasem, pekan lalu. Diakuinya, ada dilema kritis di era informasi ini ketika menyinggung kebangkitan perempuan. Betapa perempuan dituntut bersikap elegan dan memiliki penguasaan diri yang tinggi saat berhadapan dengan publik di samping sebagai ibu yang penuh cinta kasih, peng-

Sepuluh Anaknya Dokter Halaman 14

Pada Gelahang tanpa Akta

ADMINISTRASI pencatatan bentuk perkawinan biasa atau nyentana tidak bermasalah jika pasutrinya hendak memperoleh akta. Namun, pasutri yang kawin secara pada gelahang belum bisa mengantongi akta perkawinan dari instansi pemerintah.

BERITA TERKAIT HALAMAN 9

kawinan mulai berlaku. Awalnya, pasutri yang kawin nyentana sulit mendapatkan akta perkawinan dari dinas catatan sipil. Format akta perkawinan menempatkan status laki-laki sebagai purusa, bukan pradana. “Beruntung

Bersambung ke halaman 12 Agung Sudiana

tkh/ten

A

da terobosan me narik dilakukan Pemerintah Provinsi Bali ketika UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Per-

tkh/ten

SISTEM patrilineal di Bali relatif mencair. Hak waris perempuan mulai mendapatkan pengakuan adat. Putusan majelis desa pakraman menjadi rujukannya. Sistem patrilineal telah mengakar sebagai pilihan garis kekerabatan masyarakat Bali. Sistem yang menganut garis keturunan laki-laki ini telah menjadi konsensus turun-temurun. “Selama itu, implikasinya serius bagi keberadaan perempuan Bali. Misalnya, hak waris perempuan tidak diakui selama berabad-abad dalam kehidupan masyarakat adat Bali,� ujar antropolog FS Unud Dr. Dra. Ni Made Wiasti, M.Hum. Tetapi, aktivis Pusat Studi Wanita Unud ini sudah bisa menarik napas lega. MDP (majelis desa pakraman) telah

Semiloka yang diikuti kalangan pemerintah dan akademisi

tkh/ten

Akui Hak Waris Perempuan Bali

tkh/sep

Dr. Ni Made Wiasti, M.Hum.

Pemerintah Provinsi Bali berani menerobosnya dengan menambahkan catatan tambahan status purusa si perempuan yang kawin nyentana itu,� ujar pengamat hukum adat I Ketut Sudantra, S.H., M.H. Tetapi, instansi pemerintah di Bali ternyata belum seberani itu ketika menghadapi praktik perkawinan pada gelahang. “Perkawinan pada gelahang masih tanpa akta perkawinan. Saya heran, mengapa dinas kependudukan dan catatan sipil tidak berani menerbitkan akta perkawinan bagi pasutri yang kawin pada gelahang yang memastikan suami maupun istri tetap berstatus purusa di keluarga masing-masing. Pemerintah harus berani membuat terobosan,� harap pengamat hukum FH Undiknas University Dr. Ida Ayu Sadnyini, S.H. Pemerintah daerah di Bali tetap merujuk dasar legalitas formal. Akta pasutri yang kawin pada gelahang hanya diterbitkan jika dasar hukum formalnya pasti. “Misalnya, ada perda atau peraturan gubernur yang mengaturnya. Jika ada dasar ini, kami baru berani menerbitkan aktanya,� ujar Dra. Anak Agung Istri Agung dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar. Menurut Kadis Kependudukan dan Catatan Kota Denpasar Ir. Nyoman Narendra, kepastian hukum penerbitan akta perkawinan pada gelahang amat diperlukan instansinya. “Kami masih harus melakukan kajian akademik dengan para ahli hukum adat agar ada titik temunya,’ ujar Narendra. Pencatatan maupun akta perkawinan amat penting setelah berlakunya UU Perkawinan tahun 1974. Administrasi per-

Dra. A.A. Istri Agung

tkh/dok

Pecahkan Rekor “Winisuda Doktor Tertua�

Dr. Rai Setiabudhi, S.H.

Ir. Nyoman Narendra

PANITIA Peringatan Hari Ibu ke-82 Provinsi Bali memberikan penghargaan kepada 4 tokoh wanita dan 1 media massa. Yang menerima penghargaan sebagai Tokoh Wanita Bali Penuh Inspirasi, Ny. Ayu Pastika, Ny. Bintang Puspayoga, dan Ni Nyoman Masni, S.H. Yang menerima penghargaan Wanita Tokoh Lingkungan, Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. Satu-satunya media massa yang menerima penghargaan sebagai Media Pemerhati Perempuan, Koran Mingguan Tokoh. Penghargaan diserahkan di panggung Jalan Matahari Terbit, Sanur, Minggu (12/12) pagi, lokasi finish Fun Bike yang dilepas Gubernur Mangku Pastika di Parkir Timur Lapangan Niti Mandala Renon. Kegiatan tersebut merupakan kerja bareng Panitia Hari Ibu ke-82 Provinsi Bali yang dimotori Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Daerah Bali, menggandeng Radio CDBS yang saat itu merayakan hari ulang tahunnya yang ke-21, disinergikan dengan peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK, dan HUT Dharma Wanita Persatuan (Baca juga halaman 14). – ten.

abdian dan setia pada keluarga. Lantas bagaimana menyiasatinya? A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda pun bicara strategi mencapainya. Menurut Ketua BKOW Provinsi Bali ini, kita seringkali memandang pada pintu yang tertutup terlalu lama, sehingga tidak melihat bahwa ada pintu kesempatan lain yang terbuka. “Kita seringkali pula memandang dan menyesali kegagalan, krisis dan masalah yang menimpa terlalu lama, menjadikan kehilangan harapan dan semangat melihat kesempatan lain

Kawin Pada Gelahang Jadi “Pintu Darurat�

Bersambung ke halaman 12

kawinan ini bukan hanya tuntutan undang-undang. Pencatatan maupun penerbitan akta tersebut berguna membuktikan telah terjadi peristiwa perkawinan. Selain itu, administrasi tersebut memudahkan proses pengurusan akta kelahiran anak yang dilahirkan tiap pasutri. Menurut pengamat hukum adat Agung Sudiana, dasar legalitas yang diperlukan instansi pemerintah itu seharusnya menjadi kajian Majelis Desa Pakraman Bali. Lembaga ini diharapkan memiliki kewenangan untuk membuat produk hukumnya. “Ini dasar untuk melahirkan pergub pada gelahang tadi,� ujarnya. MDP Bali bukan tidak peduli terhadap hal itu. “Putusan MDP, termasuk awig-awig sebagai cermin hukum yang hidup dalam masyarakat terkesan tidak punya makna hukum. Pemerintah cenderung mencari dulu ada tidaknya dasar hukum tertulis hirarkis. Cara berpikir ini membuat hukum adat seolah tidak punya makna hukum. Padahal, jika hukum adat dinilai hukum yang hidup dalam masyarakat, pemerintah tidak perlu ragu-ragu lagi mengakomodirnya,� katanya. Menurut Dr. Rai Setiabudhi, S.H., M.S., perkawinan mengandung unsur privasi atau pribadi. Artinya, perkawinan meletakkan manusia sebagai pribadi. “Aspek hukumnya perdata. Asasnya kesepakatan atau perjanjian kedua belah pihak, antarkeluarga, lalu jadi hukumnya,� ujar Ketua LPM Unud ini. Menurut mantan dekan FH Unud tersebut, masalah hukum tidak semata berkaitan dengan upaya mencari dasar yuridisnya. “Masyarakat sudah berkembang sedemikian rupa. Jika tidak ada dasar hukum, upayakan mencarinya melalui teori hukum, seperti prinsip rechtmategheid atau doelmategheid (manfaatnya). Jika manfaatnya besar, mengapa tidak berani cari terobosan hukum yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, “ ujarnya. Menurut Sudantra, ada Bersambung ke halaman 12

tkh/ten

Yang Patut Diteladani

PENGANTAR REDAKSI: Seminar dan Lokakarya bertopik “Perkawinan bagi Umat Hindu di Bali�, digelar Bali Shanti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unud dan Koran Tokoh, Senin (6/12), di Kampus Program Pascasarjana Unud. Setelah disajikan dalam laporan khusus edisi 622, berikut rangkuman II semiloka yang dipandu pakar hukum adat sekaligus Ketua Bali Shanti LPPM Unud Prof. Dr. I Wayan P.Windia, S.H., M.Hum. itu.

Penghargaan Hari Ibu

A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda

tkh/dok

Dirgahayu Hari Ibu

Dr. Ni Wyn. Widhiasthini, S.Sos.

Ida Bagus Gde Wananjaya, S.H.

STATUS hukum suami dan istri tidak hilang dalam perkawinan pada gelahang. “Hasil riset tim dari Perhimpunan Dosen Hukum Adat Bali mengungkapkan, dalam perkawinan pada gelahang, hubungan hukum mempelai di rumah keluarga masing-masing tidak lepas,� jelas I Ketut Sudantra, S.H., M.H. Perkawinan pada gelahang tetap menegaskan status purusa suami dan istri di keluarga masing-masing. Suami harus mengemban tanggung jawab keluarga istri maupun keluarganya. Suami dan istri pun memikul kewajiban (swadharma), yaitu Bersambung ke halaman 12

Denpasar Great Sale 2010 28 Hingga 31 Desember JALAN Gajah Mada menjadi ikon perdagangan untuk Kota Denpasar. Denpasar Great Sale yang segera digelar dapat mencitrakannya sesuai nilai yang dimiliki. Arena niaga yang merupakan simbol perekonomian Denpasar dengan nuansa tradisional yang kuat di tengah kehidupan multikultur. Gajah Mada sebagai wilayah akulturasi dan inkulturasi pertama di Bali ini, menjadi salah satu inspirasi pemerintah untuk mengembangkannya menjadi kawasan heritage yang lebih baik. Karena itu, kawasan Gajah Mada dan seputar Patung Catur Muka pun sembilan hari lagi akan tampil beda dengan hadirnya ajang spektakuler akhir tahun “Denpasar Festival 2010�, sejak 28 hingga 31 Desember. Menurut Wali Kota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra, sesungguhnya Denpasar Festival melalui salah satu programnya Denpasar Great Sale adalah ajang bagi

IB. Rai Dharmawijaya Mantra

para pencipta, penggagas dari segala jenis produk. Jika selama ini mereka sudah punya tempat tersendiri, dengan hadir di Denpasar Festival ini, adalah mengisi ruang yang disediakan bagi mereka untuk lebih bisa berkompetisi menciptakan sesuatu. Bersambung ke halaman 12

Perempuan Penghuni Lapas Curhat

70% Dicerai

HARI itu naas bagiku. Aku mau saja disuruh mengganti kartu ATM nasabah, walau aku tahu kartu itu bukan miliknya. Aku merasa seperti terkena hipnotis, aku mau melakukannya. Aku baru bekerja setahun. Namun, aku tidak menyangka ini akan terjadi padaku. Pemilik kartu ATM akhirnya melapor, uangnya raib. Aku akhirnya mengaku karena kelalaianku nasabah dirugikan. Karena salahku, aku harus bayar ganti rugi Rp 12 juta. Kini aku sedang dalam proses persidangan. Aku

sudah menghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) tiga bulan. Aku tidak tahu sampai kapan harus di sini. Aku hanya khawatir, bagaimana hidupku nanti setelah keluar. Apakah masih ada orang yang menerimaku bekerja. Terkadang aku menangis sendiri merenungi nasibku. Walau keluargaku selalu menjengukku dan memberiku semangat untuk tetap sabar, pikiran negatif terus berkecamuk di kepalaku. Begitulah penuturan Cantik, seorang penghuni Lapas Denpasar, kepada wartawati

Koran Tokoh, saat berkunjung ke lapas tersebut bersama Forum Perempuan, Selasa (14/12). Usia Cantik masih muda, 20 tahun. Ia salah seorang penghuni dari 99 orang di blok perempuan. Pelaksana Harian Lapas Denpasar I Wayan Landriana, S.H. mengatakan, saat ini penghuni Lapas Denpasar 954 orang. Padahal daya tampungnya 350 orang. Warga binaan perempuan berjumlah 99 orang, dan anak berjumlah 12 orang. Sisanya laki-laki. Sebagian Bersambung ke halaman 13

tkh/sep

Dari kiri: Prof. Suryani, Ni Wayan Sari Galung, Luh Anggreni, dan I Wayan Landriana dalam acara kunjungan Forum Perempuan ke Lapas Denpasar, Selasa (14/12).


2

Tokoh

19 - 25 Desember 2010

ASPIRASI

KORAN TOKOH

Ibu “Aku tak ingin menjadi seorang ibu, aku tidak ada bakat!” kata Ami kepada kawannya. Kawan Ami tertawa. Putu Wijaya “Menjadi ibu tak perlu bakat, karena kita memang sudah dilahirkan sebagai calon ibu. Kamu tidak bisa menolak, Ami!” Ami hampir saja mau melabrak, tetapi temannya itu mengangkat tangan. “Tidak usah debat. Kita berbeda pendapat. Kamu kutub utara, aku kutub selatan. Biar saja terus berbeda. Ini negara bineka tunggal ika!” Ami keki sekali. Sampai di rumah dia menumpahkan kekesalan pada ayam. Ayam peliharaan bapaknya yang tak pernah takut pada motor Ami, bahkan suka manja, hampir saja dilindasnya. Bu Amat berteriak dari dapur. “Ami!” Ami mendadak membelokkan motor. Tetapi, ayam itu masih keserempet. Kakinya pincang. Dengan panik ayam itu menyeret kakinya ke dapur. Bu Amat keluar dari dapur dan menatap heran. “Ada apa Ami?! Itu kan ayam kesayangan bapakmu?” Ami tak menjawab. Ia sibuk mengurus pergelangan tangannya yang terkilir. “Ayam juga kalau terlalu dimanjakan bisa ngelonjak!” Bu Amat tidak menjawab. Dia tahu kepala Ami sedang tidak di kepalanya. Dia hanya mengawasi. Tetapi, kemudian ia tertawa karena Ami menabrak pintu. Malam hari Bu Amat baru bertanya, karena Ami tidak keluar makan malam. “Ada apa Ami?” “Tidak ada apa-apa.” “Kalau tidak kenapa ayam bapakmu dilindas?” “Habis!” “Habis apa?” Ami menggeleng. Amat muncul membawa ayam yang sedang diurutnya dengan minyak kayu putih. “Apa salah ayam ini Ami?” tanya Amat. Ami menarik napas panjang. “Jangan bawa ayam masuk ke kamar Ami!” “Tetapi, apa salahnya?” Amat mau masuk tetapi Bu Amat mencegah. “Ayamnya jangan dibawa masuk Pak, nanti berak!” “Tetapi, apa salahnya. Bapak juga lihat kejadian tadi. Ayam ini tahu sekali kamu tidak akan melindasnya, makanya dia makan terus. Yang salah bukan dia, tetapi Bapak yang menabur gabah di situ!” Crot, crot, tiba-tiba ayam itu berak. Ami berteriak. Amat cepat berbalik, tetapi tahi ayam itu sudah berjatuhan ke lantai. Bu Amat cepat mengambil alat pel dan membersihkan lantai. Pagi-pagi Amat masih mengurut kaki ayam itu sambil sambat. “Aku juga tidak mengerti, apa salah kamu, sampai ditabrak?!” “Sudah Pak, jangan ngomel terus. Pasti Ami ada masalah.” “Ya jelas. Tetapi, apa hubungannya dengan ayam ini? Sebentar lagi telur-telurnya netas. Kasihan kalau dia pincang.” “Anakmu itu tidak mau menjadi seorang ibu.” Amat tercengang, lalu melepaskan ayamnya. “Apa? Ami tidak mau menjadi seorang ibu?” “Ya. Dia merasa dirinya tidak berbakat.” “Ah? Emangnya kalau mau jadi ibu harus berbakat?” “Ya itu yang dia bilang tadi.” Amat langsung berdiri hendak ke kamar Ami. “Sudah berangkat dari tadi, Pak.” “Berangkat ke mana? Ini kan hari Minggu!” “Katanya mau ikut senam kebugaran di lapangan.” “Senam kebugaran? Sejak kapan dia mau ikut-ikutan senam? Badannya kan masih bagus, tak perlu ikut senam!” “Senam itu bukan hanya untuk melangsingkan badan, Pak. Untuk kesehatan. Banyak orang kurus kolesterolnya tinggi, senam bisa membantu membakar kolesterol .” “Ah itu alasan saja, karena dia tidak mau disuruh ikut membersihkan rumah. Itu salahnya kalau kita umumkan Minggu ini kita mau bongkar kamar-kamar.” Amat benar. Ami baru pulang tengah hari. Amat langsung menegur. “Kalau keberatan ikut membersihkan rumah, bilang saja terus-terang, Ami. Tidak akan dipaksa. Tetapi, jangan bilang tidak ada bakat jadi ibu!” Ami tertegun. Dia menatap bapaknya. “Apa Pak?” Amat hanya menggeleng. Ami jadi tersinggung. Lalu dia mencari ibunya. “Ibu sudah bilang apa saja pada Bapak?” “Tidak bilang apa-apa. Ibu cuma bilang kamu kecewa, karena kamu merasa tidak punya bakat jadi seorang ibu. Ya kan? Kamu kan kemarin curhat sama Ibu sebab merasa tidak punya bakat jadi seorang ibu?!” “Betul! Tetapi, saya tidak kecewa!” “Kalau tidak, kenapa mesti cari alasan ikut senam, padahal Ibu mau membongkar kamar supaya jangan jadi sarang tikus?” “Sebab, saya tidak terima kalau pekerjaan bersih-bersih itu dijadikan pekerjaan perempuan. Saya tidak mau kalau pekerjaan di dapur itu dijadikan pekerjaan ibu-ibu! Saya tidak mau kalau tanggung jawab ngurus rumah itu dijadikan pekerjaan perempuan! Saya tidak mau perempuan dijadikan koki, babu, pelayan di rumah dan laki-laki gentayangan di luar rumah mengelus-elus ayam!” Amat menghampiri. Ami malah meningkatkan lagi suaranya. “Saya menolak kaum ibu dianggap budak di dalam keluarga. Apa-apa kalau tidak beres, mesti perempuan yang disalahkan. Kalau ada pasangan tidak punya anak, pasti perempuannya yang dianggap mandul. Jadi laki-lakinya kesempatan main poligami! Padahal menurut dokter, kalau pasangan tidak punya anak, suaminya wajib diperiksa terlebih dahulu, bermasalah atau tidak. Kalau memang tidak bermasalah, baru boleh menyalahkan perempuan. Saya tidak bakat jadi ibu, karena kaum ibu itu dianggap budak dalam rumah tangga!” Bu Amat mengangkat tangan dan menunjuk suaminya. “Bilang semua itu pada Bapak, jangan sama Ibu!” Ami berbalik dan hampir saja mau menyemprot Amat. Amat buru-buru angkat tangan. “Tidak perlu Ami! Bapak sudah dengar semuanya! Bahkan sebelum kamu katakan juga Bapak sudah tahu. Sebab itulah yang sering dikatakan Ibu kamu pada Bapak. Ibulah yang selalu mengingatkan Bapak apa sebenarnya tugas seorang suami dan apa sebenarnya arti seorang ibu. Kalau tidak ada ibu kamu yang benar-benar menjalankan perannya sebagai seorang ibu, meluruskan pikiran Bapak yang bengkok, Bapakmu ini sudah lama keblinger!” Ami terpana. Mau bicara tetapi Amat langsung memotong. “Jangan ragu, Ami! Kamu sangat berbakat jadi seorang ibu, persis seperti ibu kamu! Tetapi, kenapa ayam Bapak kamu labrak, padahal ayam itu kan sebentar lagi jadi seorang ibu!” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Peran Pengadilan Adat Atasi Konflik Adat” Sampaikan opini Anda Minggu 19 Desember 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 26 Desember 2010

Tanam dan Pelihara Pohon Dua Bulan Dipantau KAUM perempuan membuat terobosan. Bukan hanya gerakan menanam pohon, tetapi juga memeliharanya. Dalam gerakan November dan Desember 2010 ini sudah ditanam 10.000 bibit di Bali. Yang ditanam sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Selain untuk melestarikan lingkungan, juga bisa dipetik hasilnya. Dua bulan kemudian dipantau, yang mati diganti. Semua komponen masyarakat harus berpartisipasi. Jangan terulang, mahoni ditebangi karena akan dibangun ruko. Sanksi hukum harus tegas. Tetapi, jika memang 10 ditebang, 100 akan ditanam. Ambil hikmah cerita kakek. Tanam pohon hari ini, manfaatnya dirasakan anak cucu 10 atau 20 tahun mendatang. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (12/12). Topiknya, “Jangan hanya Gemar Menanam, juga Rawat Pohon.” Berikut, petikannya.

Dua Bulan Dipantau Perempuan memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga. Perempuan juga penggerak kegiatan apa pun, termasuk perempuan peduli pada kerusakan alam Bali. Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP) 2010 merupakan wujud kepedulian kaum perempuan menyikapi kerusakan alam. Hasilnya untuk jangka panjang 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan. Bukan hanya menanam tetapi juga memelihara pohon. Kegiatan ini menjadi momentum strategis karena dilaksanakan semua komponen bangsa dengan BKOW (Badan Kerja sama Organisasi Wanita) Bali sebagai leading sector. Kami berharap, gerakan kaum perempuan ini dapat menularkan keprihatinan terhadap kerusakan alam untuk lebih peduli menanam dan memelihara pohon. Di Bali gerakan ini dimulai dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) bekerja sama dengan Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Kegiatan ini disinergikan ke seluruh Bali. Sebanyak 10 ribu

bibit sudah ditanam. Mulai dari Jembrana (20/11), Buleleng dan Karangasem (28/11), Badung, Denpasar, Gianyar dan Klungkung (1/12), Bangli (2/12). Diawali pada peringatan Puputan Margarana, yang semangatnya menjadi inspirasi gerakan ini dilandasi kebersamaan dan kesatuan, bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Diharapkan masyarakat peduli ikut memeliharanya. Kami akan turun kembali dua bulan berikutnya untuk memantau, kalau ada kerusakan akan diganti. Harapan kami, menanam, memelihara dan hidup, dan berdaya guna. Kerusakan alam sudah direspons Pemprov. Bali dengan terwujudnya program Bali Green and Clean. BKOW juga meresponsnya. Program kami satukan juga dengan TP PKK seluruh Bali. Pemerintah sangat merespons positif kegiatan perempuan ini. Kami berharap, masyarakat ikut bergabung. Yang ditanam tahun ini bibit produktif di antaranya durian, mangga, sawo, rambutan, pinang. Bukan hanya penghijauan tetapi sekaligus menghasilkan untuk kesejahteraan masyarakat. Di Jembrana, misalnya, kami memberi bantuan 100 mangrove karena kami melihat banyak pantai yang alami abrasi. Mari kita jalankan kegiatan ini untuk meyelamatkan lingkungan. Kegiatan ini kami harapkan dapat membuat pembabat hutan

menjadi malu. A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M. Ketua BKOW Daerah Bali

Minta Bibit Saya memiliki tanah kosong sekitar ½ hektare. Tetapi, saya tidak punya bibit untuk ditanam. Kalau boleh, saya minta bibit, agar tanah saya tidak longsor. Vera Tabanan

Mahoni Dibabat Dibanguni Ruko Di Pusat, saat menanam pohon disiarkan langsung di televisi. Namun, dalam pengamatan saya, setelah ditanam tidak ada usaha untuk memelihara agar pohon tersebut bisa menjadi hutan. Itu yang tidak seimbang. Akhirnya, pembabat hutan liar tetap eksis seolah-olah mereka dilindungi pihak tertentu. Berapa jumlah hutan di Indonesia yang dibabat liar. Hutan di Indonesia terus berkurang ribuan hektare. Dulu Jalan Mahendradatta Denpasar banyak ditanami pohon mahoni. Pohon yang ditanam belum besar sudah dibabat karena ada pembangunan ruko. Yang perlu diperhatikan, sanksi hukum kepada pembabat hutan. Kalau tidak ada sanksi penanaman pohon sia-sia. Gede

Bagaimana kiat praktis mencegah ancaman virus HIV AIDS menyerang ibu dan anak? Purak Purak Racing Gunakan kondom sesuai dengan SNI untuk hubungan seks yang berisiko. Dewa Nying Putra Wiryawan Para suami diharapkan jangan berganti-ganti pasangan dalam berhubungan, bila suami positif mengidap HIV/AIDS diharapkan menggunakan kondom dalam berhubungan. Jangan sampai menularkan virus ini ke istri dan menurunkan generasi yang mengidap virus tersebut. Dewa’yu Murniasih Penularan virus HIV/AIDS salah satunya melalui hubungan badan, oleh karena itu, bersikaplah saling setia dengan pasangan. Jika si ayah pernah “jajan” di luar, gunakan pengaman (kondom) saat berhubungan dengan si ibu yang “bersih”. Jika telanjur si ibu tertular dan mengandung, sejak dini rajin kontrol ke paramedis/medis (si bayi tidak dilahirkan secara normal dan tidak diberi ASI oleh si ibu). Novii Purwaa Rajin berdoa. Sussy Adie Dengan perilaku seksual yang aman, seperti setia pada pasangan atau menggunakan kondom, setiap injeksi obat pastikan jarum suntik yang digunakan adalah baru dan sekali pakai. Rama Dong Dong Penularan HIV/AIDS ke ibu dan anak tak lepas dari pengaruh si ayah yang membawanya dari luar. Jadi yang paling penting untuk mendapat pengawasan adalah suami. Coba untuk menanamkan sikap saling setia dan percaya satu sama lain. Jangan sekali-kali mencoba untuk “jajan” di luar bagi suami, walaupun sudah ada kondom itu samasekali tidak menjamin virus ini tidak dapat menular. Jika ibu sudah tertular dan sedang mengandung, hendaknya saat melahirkan dengan cara operasi dan tidak memberikan ASI kepada si anak. Hal ini sudah terbukti anaknya tidak tertular. Made Sandiego Ditekankan pada ayah agar selalu setia kepada istri dan jika ayah sudah tertular HIV harus menggunakan kondom jika berhubungan seks dan rutin berobat. Untuk ibu dan anak hindari menggunakan jarum suntik bekas dan harus dalam keadaan steril. Diah Rosaria Kaum perempuan harus secara aktif membentengi diri dan melakukan pencegahan penyebaran HIV/AIDS yang dmulai dari diri sendiri dengan memperbanyak pengetahuan tentang bahaya, penularan dan pencegahan HIV AIDS. Cara pencegahannya antara lain dengan menggunakan kondom bila melakukan hubungan seksual, selalu setia dengan pasangannya masing-masing, melakukan transfusi darah harus selalu menggunakan jarum suntik steril. Jika ibu hamil positif menderita HIV/AIDS maka sebaiknya melahirkan dengan operasi caesar. Hal ini untuk mencegah tercampurnya darah dan lendir ibu yang telah terinfeksi virus dengan darah bayi.

kan bibit buat usulan lewat organisasi di masing-masing kabupaten agar diteruskan ke BKOW Daerah Bali. Memang kami akui, kegiatan tanam dan pohon ini banyak tan10 Ditebang pelihara tangan. Paling tidak kami sudah 100 Ditanam ada usaha untuk merespons Bagi yang ingin mendapat- kerusakan lingkungan. Sanksi

sudah ada, tergantung orangnya. Walaupun aksi ini kecil, menunjukkan sudah adanya inisiatif dari perempuan untuk ikut berpartisipasi mengendalikan lingkungan. Lima ditebang 10 ditanam, 10 ditebang 100 ditanam. Bersambung ke hlm. 12

Menghidupkan Lembaga Peradilan Adat Bali LEMBAGA peradilan adat (raad van kertha) di Bali populer dalam kehidupan masyarakat adat Bali tempo silam. Tetapi, keberadaan lembaga peradilan ini dihapuskan pemerintah pusat tahun 1951. Dasarnya UU Darurat Nomor 1 tahun 1951. Terbitnya UU Nomor 14 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman bahkan memperkuat ketentuan penghapusan lembaga peradilan adat tersebut. Dalam salah satu penjelasannya, UU Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman menyebutkan, peradilan adalah peradilan negara dimaksudkan untuk menutup semua kemungkinan adanya atau akan diadakannya lagi peradilan-peradilan swapradja atau peradilan adat yang dilakukan bukan badan peradilan negara. Ketentuan ini sekali-kali tidak bermaksud untuk mengingkari hukum tidak tertulis melainkan hanya akan mengalihkan perkembangan dan penerapan hukum itu kepada peradilan-peradilan negara. Dengan ketentuan, hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dengan mengintegrasikan diri dalam masyarakat, telah terjamin sepenuhnya perkembangan dari penerapan hukum tidak tertulis itu akan berjalan secara wajar. Ketentuan ini makin mempertegas proses pe-

negakan hukum tidak lagi melibatkan lembaga peradilan adat. Padahal, peradilan adat di Bali amat populer pada masa sebelum berlakunya UU Darurat Nomor 1 Tahun 1951. Saat itu, berbagai kasus adat masyarakat Bali diselesaikan melalui meja peradilan adat ini. Dalam sejumlah referensi sejarah hukum, keberadaannya dimulai sejak era 1930-an. Namanya raad van kerth. Lembaga peradilan adat ini merupakan hasil bentukan pemerintah kolonial Belanda zaman itu. Tugasnya, menata sistem kehidupan sosial budaya masyarakat adat Bali. Dalam perkembangannya, peradilan adat di Buleleng maupun Klungkung yang populer dengan sebutan Kerta Ghosa amat menonjol perannya dalam masyarakat adat masing-masing. Hilangnya dasar pengakuan yuridis peradilan adat tersebut ternyata membawa konsekuensi serius. Masalah ini pernah terungkap dalam diskusi terbatas yang diadakan Harian Bali Post tahun 2004. Salah satu pemuka Hindu, Ida Bagus Gunadha, saat itu mengatakan, sejak dihapuskannya lembaga peradilan adat (raad van kertha) ternyata membuat umat Hindu di Bali tidak dapat mengecap cita rasa keadilan dalam bidang agama dan adat. Gunadha yang saat itu menjabat sekjen PHDI Pusat mengutip sebuah contoh. Menurutnya, jika umat Hindu kehilangan pratima ternyata proses hukum di lembaga peradilan umum

Drs. Made Sudjana, S.H., M.M., M.B.A.

hanya menyoroti sisi kerugian materialnya. Ternodanya nilai sakral benda suci umat Hindu itu tak terjangkau hukum negara. Masalah serupa dirasakan pula dalam banyak kasus adat, seperti sengketa tanah di berbagai desa pakraman. Potensi konflik amat tinggi setelah lembaga peradilan adat tidak lagi diakui negara. Padahal, masalah adat semacam itu hampir selalu gagal menyulut potensi konflik sosial masyarakat adat. Masalah hukum adat yang berkaitan dengan sisem kekeluargaan di Bali pun begitu. Masalah perselingkuhan, konflik dalam rumah tangga, pembagian waris, maupun perceraian cenderung berhasil diselesaikan sesuai rasa keadilan masyarakat adat jika ditangani lembaga peradilan adatnya. Dalam bukunya bertitel Aneka

Catatan tentang Hukum Adat Bali, ahli hukum adat Bali Mr. Gde Panetje menegaskan pula hal itu. Putusan-putusan pengadilan adat (raad van kertha) sungguh mengikat dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun dan memengaruhi tatanan sosial budaya masyarakat Bali. Mr. Panetje juga meyakinkan dalam tulisannya, hukum adat Bali, sebagaimana hukum adat lainnya, bersifat tidak tertulis justru untuk mengenal dan mencintai normanorma hukum adat itu. Putusan pengadilan adat jelas amat menentukan arah perkembangan masyarakat hukum adat Bali. Masyarakat adat lebih percaya dengan putusan lembaga peradilan adatnya. Ada rasa keadilan yang sebenarnya tercermin dari tiap putusan hukum adatnya. Dasar legal formal memang telah menghapuskan keberadaan lembaga peradilan adat di Bali. Tetapi, kenyataannya, peran lembaga peradilan adat masih hidup dalam kehidupan sementara masyarakat adat Bali. Contoh, keberadaan lembaga kertha desa di Desa Pakraman Sanggulan, Kecamatan Kediri, Tabanan. Ada majelis hakim kertha desa yang terdiri atas tokoh masyarakat, seperti mantan bendesa adat, tokoh masyarakat yang disegani, berwawasan luas, dan punya kemampuan manajerial, sarjana hukum yang memiliki keahlian dalam ilmu hukum adat, maupun mantan pejabat pemerintah, serta pensiunan TNI/Polri.

Fungsinya amat dirasakan dalam menangani sejumlah kasus di masyarakat adatnya. Misalnya, cekcok seorang istri yang diduga berselingkuh dengan suami tetangganya. Masalahnya bisa diselesaikan di tangan majelis hakim kertha desa dan membuat para pihak yang bertikai berdamai. Contoh lain, ada sebidang tanah milik seorang warga. Ada bagian kecil pekarangan lahan kosong itu sudah bertahuntahun dijadikan jalan umum oleh warga. Tetapi, warga ini mengklaim itu sebagai miliknya. Sengketa ini bisa diselesaikan lewat majelis hakim kertha desa. Dasar itulah yang mendorong adanya gagasan untuk menghidupkan lagi peran lembaga peradilan adat di Bali. Jika lembaga ini bisa dilegalformalkan keberadaan kembali tentu bisa menekan beban pengadilan umum menangnai perkara masyarakat. Tetapi, perkara yang ditangani lembaga peradilan adat tentu kasus-kasus ringan. Drs. Made Sudjana, S.H., M.M., M.B.A. Hakim kertha desa di Desa Pakraman Sanggulan; advokat serta pengajar hukum konstruksi program Magister Teknik Sipil Universitas Tarumanegara Jakarta

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara zStaf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati zNTB: Naniek Dwi Surahmi. zSurabaya: Nora. zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar– Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 z Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


19 - 25 Desember 2010 Tokoh 3

tkh/anik

6

Gerbong-gerbong kereta mengelilingi Kota Kroya

Kroya Kota yang Dikelilingi Rel Kereta TURNI

Bersepeda Motor Bali-Ciamis

10

kemasan pop mie instan. Pagi itu udara kota Kroya terasa sangat dingin. Tetapi rasa dingin itu segera lenyap setelah saya menikmati alam Kroya saat matahari terbit. Kami melanjutkan perjalanan. Daerah Kroya ternyata berbukit-bukit dan dilingkari rel kereta api lintas Jawa. Dari bukit yang kami lalui saya mengabadikan kereta api yang lewat sebelum memasuki terowongan yang cukup panjang yang berada persis di bawah kami berdiri. Kami melewati daerah Sampang dan melaju ke daerah Maos. Setelah matahari mulai bersinar penuh kami mulai merasakan gersangnya jalanan. Debu beterbangan menghalangi perjananan apalagi jika berpapasan dengan kendaraan besar. Selama dalam perjalanan mata saya tidak lepas dari petunjuk jalan dan peta mudik. Papan nama di salah satu kantor desa di pinggir jalan memberi petunjuk bahwa kami sedang berada di daerah Gumilir. Secara spontan tangan saya mencoret nama Gumilir di dalam peta. Akhirnya pintu gerbang Cilacap terbentang di depan mata. Kami semua bersorak. Itu berarti tinggal 12% perjalanan lagi saya tiba di kampung kelahiran di Ciamis yang sudah hampir setahun saya tinggalkan. Kami melewati daerah pelabuhan pinggir pantai dan makin jauh meninggalkan pusat Gumilir. Akhirnya tibalah kami di sebuah kawasan pesisir yang ditumbuhi rindangnya pohon kelapa berderet rapi sepanjang jalan. Terlihat gubukgubuk sederhana tempat pengrajin mengolah air nira kelapa menjadi gula merah. Kami singgah di salah satu gubuk. Kami berkesempatan melihat proses pembuatan gula merah khas Cilacap. Istimewanya, kami diberi suguhan ’tuan gubuk’, singkong yang direbus dalam olahan gula. Dari gubuk ini kami melaju menuju bagian kawasan Cilacap lainnya. Pukul 14.30 kami tiba di daerah Teluk Penyu. Di Cilacap terdapat masjid

KROYA biasanya sepi, bahkan sering disebut kota tua. Sebab, di sini masih banyak bangunan sisa peninggalan kolonial terutama Belanda. Tetapi, ketika kami tiba, kota itu terasa ramai, ramai pemudik. Tepat di seberang posko mudik tempat kami beristirahat terdapat sebuah kios makanan atau jajanan khas Kroya. Naluri wanita saya berjalan aktif meskipun malam telah tiba. Sebelum melangkah ke kios tersebut saya melongok isi tas, memeriksa apakah masih ada ruang untuk tempat oleh-oleh. Sepertinya makanan khas daerah Jawa Tengah cenderung hampir sama, sebangsa keripik dan kue-kue kering. Mata saya tertuju pada satu keripik olahan yang belum ada di dalam tas saya. Namanya, lanting. Bentuknya sederhana membuat saya tidak tertarik. Tetapi, karena diberi warna yang bermacammacam dan boleh mencicipi, akhirnya saya membeli secukupnya. Selain gurih, juga renyah. Usai berbelanja, Eris mengajak saya mencari makanan. Pilihan kami jatuh pada soto Kroya. Soto Kroya disajikan bersama kerupuk. Kerupuknya berukuran besar, kemudian dipotong-potong dan berwarna-warni. Terlihat sederhana, tetapi terkesan meriah. Di posko mudik, saya tidur setelah semua anggota rombongan tidur, sekitar pukul 21.00. Rupanya malam itu saya tertidur pulas. Saya terbangun setelah mendengar panggilan untuk beribadah sahur dari corong mikrofon masjid dan musala yang silih bergantian. Pukul 03.00 kami terbangun kemudian mencari makanan untuk sahur. Kawan-kawan langsung menyerbu warung kecil di pinggir posko. Tetapi, saya tidak mengikuti mereka. Saya hanya membuka Bersambung ke halaman 13

Prof. Drs. Ketut Rindjin dan Dra. Ida Ayu Putu Astini, M.Hum.

Berkorban demi Pendidikan Anak

D

AYU Astini mulai mengajar di Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah FKIP Singaraja. Jika berangkat kerja, seorang pembantu rumah tangga diserahi kepercayaan mengurus rumah, termasuk menjaga lima anaknya.

Rindjin dan Dayu Astini bersama lima anaknya yang saat itu mulai menginjak usia remaja

“Sekitar 2 tahun waktu istri saya 24 jam penuh bersama lima anak. Setelah itu anak-anak mulai bisa saya tinggal, sehingga saya putuskan istri bekerja lagi tahun 1979. Seorang pembantu kami percayakan mengurus rumah, dia juga akrab dengan anak-anak,� ujar Prof. Rindjin. Kesibukan Rindjin dan Dayu Astini melakoni karier akademik lumayan menyita waktu. Tetapi, pasutri ini tetap sepakat untuk membagi perhatian dengan urusan anak di rumah. “Terutama pendidikan

anak. Sejak usia dini, saya usahakan dekat dengan anak jika sedang ada di rumah. Saya bacakan cerita-cerita moral untuk mereka resapi, seperti Ramayana dan Mahabarata. Anak yang sudah bisa membaca diberi buku ceritanya biar dia baca sendiri dan mencerna isinya,� jelas Prof. Rindjin. Ada pembagian tugas Rindjin dan istrinya dalam hal cara membimbing pendidikan anak di rumah. Pasutri ini mengaku pendidikan di keluarga amat penting. “Makanya,

saya dan istri bagi tugas. Jika saya di rumah, saya berusaha menemani anak-anak dalam belajar. Jika saya bertugas ke luar Singaraja, istri saya lebih banyak berperan mendidik anak-anak, terutama membimbing mereka belajar,� katanya. Ketua Yayasan Usia anak-anaknya terus bertambah. Anak sulung, Kastawa Yudiaatmaja, memasuki umur anak taman kanak-kanak. Putra pertamanya ini tidak perlu repot mencari sekolah. “Anak sulung saya sekolah di TK yang dikelola Yayasan Sekolah Laboratorium Unud Singaraja. Empat anak saya juga akhirnya mengikuti jejak kakak sulungnya masuk

Prof. Rindjin disalami Pak Harto saat penguasa Orde Baru itu membuka Munas III dan Temu Karya Ikatan Sarjana Pendidikan Indoensia tahun 1994 di Istana Negara Jakarta

TK ini,� ujarnya. Yayasan pendidikan ini mengelola jenjang pendidikan TK sampai SMA. Citra positif sekolah yang dikawal yayasan ini lumayan bergengsi di Bali. “Saya kebetulan menjadi ketua yayasannya,� ujar Prof. Rindjin. Awalnya, yayasan tidak mudah membangun gedung sekolah. Sebagai ketua yayasan, Rindjin berusaha memutar otak. “Saya coba meminjam uang di bank. Tanah saya di Desa Sembiran menjadi jaminan kredit bank untuk membangun sekolah tersebut,� katanya. Keberadaan sekolah ini rupanya menjadi pilihan baru kalangan orangtua siswa. Muridnya tidak hanya anakanak Buleleng. Ada pula siswa Bali dari luar Buleleng, bahkan anak-anak dari luar Bali tidak sedikit yang menekuni ilmu di sekolah ini. “Mutu pendidikannya bagus. Lima anak saya terbukti saya sekolahkan sejak TK sampai tamat SMA di Sekolah Laboratorium Unud Singaraja,� ungkapnya. Sebagai ketua yayasan, Rindjin juga memberikan perhatian terhadap mutu proses pembelajaran. Ada salah satu hal menarik ditekankan saat bertemu kalangan guru di sekolah ini. Semua guru diharapkan tidak hanya memberikan tugas berupa pekerjaan rumah kepada siswa mereka. “Saat PR selesai dikerjakan, siswa harus menunjukkan ada tanda tangan ayah atau ibunya di rumah. Ini untuk mendorong agar orangtua siswa juga aktif mengontrol hasil belajar putraputrinya,� tutur Prof. Rindjin. Rupanya, Rindjin bukan tipe pimpinan bergaya NATO alias no action, talk only. Seruannya untuk kalangan guru itu juga dipraktikkan di rumahnya. “Anak-anak saya semua sekolah di lembaga pendidikan ini. Anak-anak saya otomatis harus mengikuti aturan

sekolahnya. Sebagai orangtua, saya dan istri selalu berusaha membimbing jika anak-anak belajar, terutama jika kesulitan mengerjakan PR mereka. Hasil pekerjaan anak-anak nanti ditunjukkan kepada saya atau istri. Salah seorang dari kami yang menekennya untuk kelak diperiksa gurunya di sekolah,� ujarnya. Pendidikan anak diakui Rindjin bukan hanya urusan sekolah. Orangtua berperan besar dalam ikut menentukan sukses tidaknya pendidikan anak-anaknya. “Sebagai pendidik, saya dan istri tentu memahami hal ini. Makanya, kami selalu berusaha berada di tengah mereka. Kebersamaan ini amat terasa saat sarapan dan makan malam. Biasanya kami duduk dan makan bareng anakanak. Ini kesempatan juga untuk membuka komunikasi dengan anak-anak di meja makan,� paparnya. Komunikasi itu tidak hanya dilakukan saat pasutri ini berada di rumah bersama anakanaknya. Jika sedang sibuk di kampus biasanya Rindjin berusaha berkomunikasi jarak jauh. Komunikasi dengan istri yang berada sekampus dengannya tentu tidak kelewat sulit. “Jika ada hal-hal mendesak di rumah baru pembantu rumah tangga kami menelepon ke kantor,� katanya. Urusan pendidikan anak ternyata tidak selamanya mulus dikawal pasutri ini. Keluarga ini menyadari ongkos sekolah putra-putrinya bukan perkara enteng. “Kami bukan tidak pernah kesulitan membiayai pendidikan anak-anak. Sebagai keluarga yang punya 5 anak berusia sekolah pasti pernah ada kesulitan itu. Cara mengatasinya ya saya pinjam dulu di bank. Jika ingin sekolahnya anak-anak berhasil memang harus ada pengorbanan orangtua,� kata Prof. Rindjin. —sam

Mendagri (saat itu) Amirmachmud menerima kenang-kenangan dari Rindjin dan Dayu Astini saat salah satu menteri dalam era Orde Baru itu berkunjung ke Desa Sembiran


4

Tokoh

19 - 25 Desember 2010

MEMBANGUN DARI DESA DARI DESA KE DESA

Anda Bertanya Kami Menjawab

Peran Jamur Dalam Pengendalian Hama Tanaman Kelapa

Cara Membuat Biogas Kotoran Apa ada biogas untuk babi dan kalau ada di mana bisa mendapatkannya untuk di daerah Tabanan? Gede Oka Tabanan Jawaban: Biogas dapat dibuat dari semua jenis kotoran ternak. Di Bali kebanyakan biogas dibuat dari kotoran sapi, babi, dan kambing. Di Bali biogas sudah banyak dibuat kelompokkelompok tani ternak di seluruh kabupaten dan kota. Untuk informasi lokasi biogas di daerah Tabanan dapat dihubungi Dinas Peternakan telepon 0361 811 023 Bisa minta info probiotik di mana membelinya? 085238448812 Jawaban: Probiotik bisa didapatkan di toko tempat menjual makanan ternak di seluruh Bali. Bagaimana cara mengolah kotoran ternak menjadi gas, kompor, dan penerangan? Ketut Singaraja Jawaban: Kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar, salah satunya adalah biogas. Untuk menjadi biogas kotoran ternak harus diolah terlebih dahulu melalui proses fermentasi dalam ruangan atau bak kedap udara yang disebut digester. Fermentasi kotoran ternak dalam digester dilakukan bakteri yang berasal dari dalam kotoran itu dan menghasilkan gas methan. Gas ini merupakan bahan yang mudah terbakar dan dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar yaitu untuk menyalakan kompor, untuk lampu penerangan, dan penghangat ruangan.

Cara membuat biogas: 1. Kotoran ternak diencerkan dengan air sampai terbentuk bubur cair. Untuk kotoran sapi dan kerbau, bubur kotoran dapat dibuat dengan mencapur 2 bagian kotoran dan 3 bagian air. Untuk kotoran babi, kambing dan ayam, bubur kotoran dibuat dengan mencapur 1 bagian kotoran dan 2 bagian air. 2. Bubur kotoran tersebut dimasukkan ke dalam ruang kedap udara yang disebut digester. Untuk produksi 5 liter bubur per hari membutuhkan digester berukuran 1,5 m². 3. Biogas yang siap untuk bahan bakar akan terbentuk pada hari ke-20. Jika digester diisi tiap hari dengan bubur kotoran, biogas dapat digunakan tiap hari untuk memasak, lampu penerangan, dan penghangat.

tidak bekerja sehingga tidak menghasilkan biogas. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Jawaban: Pada hakikatnya benih dan biji itu sama. Namun, jika benih dengan bibit, baru ada bedanya. Benih merupakan bakal tanaman, dan bibit sudah berbetuk tanaman. Narasumber Bagaimana sifat jamur metarhzium anisopliae? I Made Artika Berberapa sifatnya yang penting: 1. Bersifat tular Dinas Perkebunan tanah. 2. Mudah diisolasi dan dibiakkan .3. Dapat Provinsi Bali tumbuh cepat di berbagai substrat (media tumbuh).

Jadilah Anggota Subak Abian Abiansemal terkenal sentral cokelatnya, tetapi mengBudidaya Belut di Penebel apa tidak pernah ada penyuSaya pernah mengikuti luh datang ke Desa Mumbul, pembudidayaan ternak linAbiansemal? dung, dan saya sangat terta081805374148 rik. Di mana saya bisa mendapatkan bibit belut/lindung? Jawaban: Bagaimana pemasarannya? Di Dinas Perkebunan Pro- Kalau boleh lihat di mana vinsi Bali ada Kantor UML (Unit peternak yang sudah berhasil Manejemen Lapangan) dan di terlebih kalau ada di Denkabupaten ada KCD (Kantor pasar? Pak Ketut Sukantra Cabang Dinas) yang bertugas Citarum, Gang 99 C. No 2 memberi pembinaan. Basis pola Untuk memberi penjelasan pembinaan kami, subak abian. Di mana saya bisa mententang biogas menjadi kompor Jika Bapak/Ibu sudah masuk dan penerangan dapat dilihat dalam anggota subak abian daptkan bibit belut? Saya melalui gambar berikut : otomatis akan mendapatkan ingin mencoba membudidayakan belut sekala rumah tangga.

Pak I Gede “Agus” Suryawan Lingkungan, Roban, Bitera, Gianyar

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam marawat biogas:1. Diupayakan agar digester tidak kemasukan air hujan. Jika kebanyakan air, fermentasi tidak dapat berlangsung dengan baik sehingga produksi biogas tidak maksimal. 2. Digester tidak boleh retak, pecah atau bocor. Jika tidak kedap udara berarti fermentasi

pembinaan dari penyuluh. Kalau belum termasuk dalam anggota subak abian, dan jika ada permasalahan yang perlu dipertanyakan/perlu pembinaan mohon diinformasikan ke Dinas Perkebunan Provinsi maupun ke Kantor Cabang Dinas Kabupaten. Apa beda benih sama biji? 03613632665

KWANGWUNG (oryctes rhinoceros) merupakan hama tanaman kelapa yang sangat penting untuk diperhatikan. Tingkat serangan yang serius hama tersebut dapat menurunkan produksi kelapa hingga 50%. Bahkan pada tanaman kelapa muda umur kurang dari 2 tahun, seranganya dapat merusak titik tumbuh sehingga tanaman akan mati. Salah satu agensia hayati yang potensial untuk mengendalikan serangan oryctes sp, adalah jamur metarhizium anisoplinae. Dari hasil pemantauan di lapangan diketahui penyebaran jamur ke sarangsarang orytes sp dapat menurunkan intensitas serangan maupun populasi hama tersebut.

Jawaban: Bibit belut belum ada sumbernya di Bali, namun jika ingin mencari bibit belut bisa diseleksi dari belut yang dijual untuk dikonsumsi di pasaran. Informasi tentang sumber bibit ada di Solo dan Surabaya. Pangsa pasar belut di Bali cukup luas, dari pasar tradisional sampai swalayan bahkan restoran. Di Bali belum ada petani yang secara langsung profesional mengembangkan budidaya belut tetapi di Dusun Tegeyang, Penebel, sudah dicoba. Narasumber Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

4. Tidak bersifat patagonik terhadap tanaman. Dalam perkembangannya jamur metarhizium anisopliae dapat berkembang dengan baik dalam suhu 23-25º C dengan kelembapan 80-91%. Pertumbuhan

jamur dalam media membentuk koloni berwarna hijau tua atau gelap, konidiofor banyak bercabang-cabang, konidia berbentuk oval dan pertumbuhan jamur sangat cepat. Bagaimana metode aplikasinya? Aplikasi jamur metarhizium anisopliae dilaksanakan di sarang-sarang oryctes rhinoceros yang telah ada atau di trapping (perangkap) yang disiapkan. Jamur metarhizium anisopliae ditaburkan secara merata di trapping atau sarang-sarang alam, lalu diaduk merata atau dapat juga dilakukan dengan menanam larva oryctes sp yang mati terserang jamur metarhizium anisopliae. Gejala larva oryctes sp instar tiga yang terserang jamur metarhizium anisopliae adalah tumbuh larva mati kaku dengan warna hijau olive. Kelembaban media sekitar 70% kemudian ditutup serasah agar kelembapan terjaga sehingga jamur tidak terkena sinar matahari langsung. Sumber Dinas Perkebunan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Pejantan Babi yang Baik Saat ini saya mempunyai empat induk babi. Namun, saya sangat ingin ke depannya memelihara pejantan babi. Bagaimana ciri-ciri pejantan babi yang baik? Pak Dewa Bangli Jawaban: Keberhasilan suatu usaha peternakan khususnya peternakan babi sangat tergantung pemeliharaan induk maupun pejantan yang memiliki sifatsifat yang baik, di samping faktor makanan yang juga sangat menentukan keberhasilan dalam

memelihara babi. Ciri-ciri pejantan babi yang baik secara umum di antaranya: kepalanya ringan, halus dengan rahang yang ramping dan telinga terkulai. Pandangan matanya tajam, tubuh panjang (di punggung agak melengkung dan kuat). Patut diperhatikan bahunya. Pejantan yang baik bahunya lebar, dalam dan rata dengan punggung. Kaki kuat, lebih-lebih kaki belakang dengan tumit yang kuat. Penting diperhatikan juga, kuku yang baik bagi pejatan seharusnya rapat, simetris dan bersih. Jum-

lah puting susu cukup banyak 12-14 buah dan genap, serta perut bagian bawahnya rata. Sifat babi pejantan agresif dan bersemangat. Khusus babi saddle back, memiliki warna tubuh hitam dengan warna putih berbentuk pita yang lebar mengelilingi bahu sampai kedua kaki depan. Warna putih ini besarnya bervariasi, ada yang sempit dan ada yang lebar. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Bugbug Siapkan Induk Udang Bernilai Ekspor INSTALASI Pusat Pengembangan Induk (broodstock center) Udang Vaname di Pantai Lepra, Desa Bugbug, Karangasem, kini siap sebagai penyedia induk udang vaname di Indonesia. Sebanyak 40.000 induk udang vaname siap dikirim ke Situbondo untuk selanjutnya dipasarkan di pasar dalam negeri. Instalasi tersebut merupakan cabang Instalasi Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Jatim, dibangun tahun 2008. Koordinator pelaksana broodstock center udang vaname di Desa Bugbug Kadek Ariawan menjelaskan, udang vaname merupakan udang asli Hawai, Amerika Serikat, yang dikembangkan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Awalnya udang jenis ini sulit untuk dikembangkan di Indonesia, karena faktor iklim. Namun, setelah diadakan riset, Balai Budidaya Air Payau Situbondo berhasil mengembangkan udang vaname yang disesuaikan dengan iklim di Indonesia. Selanjutnya udang ini disebut udang vaname nusantara 1 (F1) yang hingga kini telah berhasil dikembangkan menjadi udang vaname nusantara 5 (F5). Saat ini sedang dikembangkan vaname nusantara 7 (F7). “Namun, bukan berarti F7 lebih baik daripada F1 maupun F5,” kata Ariawan. Ariawan menuturkan, rasa udang vaname sebagaimana udang laut umumnya, manis dan sangat disukai wisatawan mancanegara. Selama ini bibit udang tersebut didistribusikan ke beberapa petambak udang, paling besar diarahkan ke petambak di Jatim. Sebelum dibangun broodstock center udang vaname di Desa Bugbug, Balai Budidaya Air Payau Situbondo melakukan survei di beberapa kota di Indonesia hingga ke NTB dan Papua untuk mencari lokasi yang tepat dalam pengem-

Tahun 2011, Ekspor Udang merupakan komoditas penting untuk memenuhi permintaan konsumsi dalam negeri dan ekspor. Dalam periode 2010 – 2014, produksi udang di Indonesia diharapkan dapat meningkat 74,75% yaitu dari 400 ribu ton menjadi 699 ribu ton (terdiri atas udang vaname dan windu). “Ke depan Indonesia diharapkan dapat menjadi negara eksportir untuk induk udang vaname. Sejak tahun 2005 pemerintah mencanangkan budidaya udang sebagai salah satu komoditas unggulan revitalisasi perikanan,” ujar Ariawan. Dikatakan, tahun ini Indonesia masih melakukan impor induk vaname 320 ribu ekor. Sedangkan kebutuhan dalam negeri 900 ribu hingga 963 ribu ekor per tahun. Tahun 2011 Indonesia menargetkan produksi Lokasi Broodstock Center di bawah bukit induk vaname Nusantara I (F1) bangan udang vaname. Bupati berbentuk pelet (panjang dan 1,3 juta ekor, sehingga IndoneKarangasem I Wayan Geredeg lingkaran pakan sama) untuk sia berpeluang untuk melakukan yang memang berjiwa peng- udang di atas ukuran juvenil ekspor induk vaname. —arya usaha menangkap peluang itu, sampai calon induk ukuran dan mengusulkan agar brood- kurang dari 100 gram. Setelah stock itu dibangun di Karang- memiliki berat rata-rata 42 gram, asem. “Broodstock dibangun di udang vaname bisa dijual Desa Bugbug karena memiliki dengan harga Rp. 20.000/ekor. keunggulan dari segi kualitas “Di Hawai harga udang vaname air, lokasinya sepi dan terlidung bisa mencapai Rp. 350 ribu per ekor,” kata Ariawan. di balik bukit”, kata Ariawan. Petugas Balai Layanan Isntalasi Pusat Pengembangan Induk di Desa Bugbug Usaha Produksi Kerawang I dibangun menghabiskan dana Made Suwita mengatakan, prosekitar Rp.42 miliar yang ber- ses penyaringan air laut dilasumber dari APBN. Luas kukan secara ketat dengan lahannya sekitar 4,2 hektare, teknologi tinggi agar kandungberlokasi di pinggir pantai. Se- an air laut masih mengandung mentara ini pengembangan bakteri yang layak untuk budibibit udang dilakukan tenaga daya udang. Penyiapan sumber magang dari Situbondo. Jika air laut menggunakan pompa tenaga tersebut sudah mahir, dengan debit 60 m2. Setelah baru akan dirintis mengembang- masuk tendon, air melalui prokan pembibitan udang di ka- ses penyaringan sebelum dilangan masyarakat sekitar. distribusikan ke penampungan Sistem pemeliharaannya terakhir. menggunakan sistem bak deSatu ekor udang dapat ngan volume tiap bak mencapai bertelur 75.000 dengan berat 2.000 ekor. Digunakan tiga jenis induk sebesar 35 gram untuk pakan khusus seperti powder, udang vaname dan berat 75 – starter, dan brower. Powder 100 gram untuk udang windu. berbentuk tepung untuk ukuran Sejak beroperasi Mei 2009 udang dari post-larva sampai Pusat Pengembangan Induk ukuran udang kurang dari 1 Udang Vaname Bugbug siap gram. Starter, pakan berbentuk melayani pesanan bibit udang granular untuk udang ukuran calon induk dari berbagai pengjuvenil (3-5 gram). Brower, pakan usaha udang.

K E S E H ATA N

S A L O N

SPIRITUAL & PENGOBATAN

&

S PA

K U L I N E R

PENDIDIKAN


PENDIDIKAN

19 - 25 Desember 2010 Tokoh 5

Membaca Pelatihan Otak Tengah dengan Mata Tertutup Tingkatkan Memori dan Konsentrasi Orangtua harus Pahami Jenis Kecerdasan Anaknya tingkat konsentrasi optimal, otak penglihatan visual cortex bekerja dengan adanya aliran listrik yang menimbulkan cahaya terang. “Elemen cahaya ini diperlukan visual cortex untuk melihat benda-benda yang ada tanpa menggunakan indra penglihatan mata kita,” ungkapnya.

SAAT ini orang telah banyak melakukan stimulasi otak tengah. Manfaat metode pelatihan aktivasi otak tengah ini ternyata luar biasa, salah satunya meningkatkan memori dan konsentrasi. Metode pelatihan aktivasi otak tengah ini kini sudah terbukti menciptakan anak-anak memiliki konsentrasi tinggi. Makin tinggi tingkat konsentrasi anak, makin cepat ia mengalami perkembangan sel otak. Demikian dituturkan Franky I Hadikantro, pemilik Genius Mind Consultancy (GMC).

I

a mengatakan metode pelatihan otak tengah ini terbukti mengoptimalkan kinerja otak kanan dan otak kiri. Aktivasi otak kiri menciptakan anak cenderung unggul dalam bidang logika, hitungan, bahasa, membaca, menulis dan analisis. Aktivasi otak kanan, anak cenderung unggul dalam bidang kepribadian, kreativitas, seni, penampilan dan implementasi. “Dengan aktivasi otak tengah mereka bisa meningkatkan daya paham, dan mempertinggi kreativitas, sehingga dengan mudah menemukan potensinya,” katanya. Ia menuturkan, aktivasi otak tengah ini turut menjaga bagaimana anak bisa mengendalikan emosi mereka. “Jika EQ (emosional) dan SQ (spiritual) sudah bagus, dengan sendirinya IQ (intelektual) anak akan meningkat,” tuturnya. Ia memberi contoh seorang siswi kelas VI SD, yang hampir dikeluarkan dari sekolah lantaran nilai-nilai akademisnya sangat buruk. Orangtuanya sempat bingung dan berusaha mencarikan solusi bagi putrinya itu dengan melakukan aktivasi otak tengah. “Setelah mengikuti pelatihan, rasa percaya diri si anak bangkit. Ia merasa memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan selain prestasi di sekolah. Sebelumnya ia anak yang gemar menari namun memiliki kesulitan menghafal gerakan tarian. Kini ia lebih mudah menghafal se-

mua gerakan tarian dan orangtuanya sangat mendukung hobi menari putrinya itu. Berkat rasa percaya diri itu pula, ia bisa meningkatkan prestasi di sekolah,” kisahnya. Ia mengatakan hampir sebagian besar orangtua memiliki masalah tentang anaknya. “Sebagian besar mereka mengadu punya anak yang kurang percaya diri,” katanya. Banyak orangtua tak mengerti cara mengatasinya. Bahkan tak sedikit orangtua salah mengasuh anak. “Saya salah seorang orangtua yang pernah melakukan kesalahan itu,” katanya. Ia menceritakan bagaimana ia harus berpisah dengan anak pertamanya 2 tahun untuk merantau ke Jakarta bersama istri dan anak paling kecil. “Selama terpisah, anak saya bertempat tinggal bersama neneknya di Denpasar,” kisahnya. Jarak jauh dengan si anak membuat si anak bermasalah dalam hal prestasinya di sekolah. “Nilai–nilai di sekolah mengalami penurunan bahkan untuk mencapai nilai 7 saja sangat sulit,” keluhnya. Ketika ia kembali hidup bersama dengannya, ia sadar si anak mengalami masalah tentang emosinya. “Tiap ada masalah, anak saya menangis sendiri di kamar, seperti tak memiliki tempat curhat. Mungkin itu pengalaman masa lalunya yang terbiasa sendiri menghadapi masalahnya,” lanjutnya. Sebagai orangtua ia harus

Setelah diaktivasi otak tengah, Kiki dengan mudah menyusun bola-bola warna dengan mata tertutup

melakukan sesuatu untuk mengembalikan rasa percaya diri si anak. “Secara perlahan saya lakukan pendekatan kepada anak saya dengan memosisikan diri saya sebagai teman. Lama-lama ia mau terbuka terhadap semua masalahnya. Saya pun memberikan pelatihan aktivasi otak tengah ia pun berhasil menstabilkan emosinya,” ungkapnya. Menurut dia, anak yang memiliki emosional bagus otomatis akan berbahagia. Suasana hati yang berbahagia ini memudahkan memberi stimulasi karena anak sedang rileks. Ia mengatakan metode pelatihan aktivasi otak tengah ini dilakukan antara lain melalui gelombang suara. “Kami memiliki sarana musik khusus untuk membantu anak mencapai tingkat konsentrasi tertentu dengan lebih cepat,” ungkapnya. Hal penting lainnya dalam belajar konsentrasi ini dengan metode permainan yang menyenangkan. “Kami mengajak mereka ikut kegiatan senam otak serta menonton video lucu,” ucapnya. Salah satu bentuk keterampilan anak dari aktivasi otak tengah, mereka bisa membaca dengan mata tertutup. Menurutnya ketika orang memiliki

Pilih Pasta Gigi Metode palatihan aktivasi otak tengah ini pun harus didukung makanan sehat yang dikonsumsi anak. “Makanan pun turut memengaruhi kerja otak karena ada beberapa jenis makanan yang dapat melemahkan kinerja otak,” ujarnya. Ia menyarankan orangtua untuk tak memberikan jenis makanan yang dapat melemahkan kerja otak seperti minuman bersoda, mie instan, cafein dan vitsin. “Selain makanan, orangtua harus hatihati memilihkan pasta gigi buat anak. Kandungan florida yang berlebihan di pasta gigi menyebabkan pengerasan kelenjar otak yang berfungsi sebagai penghasil hormon,” ujarnya. Ia mengatakan metode pelatihan otak tengah ini terbukti meningkatkan kecerdasan otak. “Pelatihan konsentrasi secara rutin membuat otak mengalami pertumbuhan yang menyebabkan neuro trasmiter bekerja lebih cepat sehingga otak mampu berpikir lebih cepat. Inilah yang dikatakan otak cerdas,” ungkapnya. Masalahnya, sebagian orangtua hanya mengukur kecerdasan anak dari nilainilai di sekolah. Padahal, ada 9 kecerdasan anak, dan tiap anak punya kecerdasan berbeda. “Orangtua harus memahami jenis kecerdasan anak dan mendukungnya. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Dengan begitu dengan sendirinya nilai-nilai di sekolah turut meningkat,” tuturnya. –tin

Lansia, Kerja Otot dan Otak harus Seimbang

tkh/ast

AGAR menjadi sehat, kerja otot dan otak harus seimbang. Apalagi, bagi para lansia. Dalam era modern, kerja otak harus lebih ditingkatkan karena memberi hasil lebih besar. Perkembangan suatu bangsa dilihat dari penguasaan keilmuan. Kerja otak dituntut lebih besar melalui pendidikan yang tujuannya mengasah kecerdasan otak manusia. Dengan kombinasi yang baik, manusia bisa sehat secara fisik dan piskis. Demikian diungkapkan Prof. Made Bakta. Ia mengatakan, otak anak kecil berbeda dengan orang dewasa. Masa balita merupakan Prof. Made Bakta masa keemasan untuk menstimulus kerja otak dengan baik. dibarengi pemenuhan kebutuhKetika memasuki usia dewasa, an. Memasuki masa lansia, kerja kerja otak makin banyak karena otak makin menurun karena

proses penuaan. Ia menambahkan, manusia tidak mungkin menghentikan laju penuaan karena itu proses alamiah. Namun, laju penuaan dapat dihambat dengan melatih kerja otak agar tetap berfungsi dengan baik. Membaca merupakan salah satu kiat sehat untuk melatih otak lansia tetap aktif. Membaca melatih otak untuk terus berkreasi sehingga penuaan dapat dihambat. Suasana damai dan tenang di rumah juga memegang peranan penting dalam kerja otak lansia. Mengobrol dengan cucu atau sanak keluarga membuat mereka merasa tetap sehat. Jika pendapatnya didengarkan, memberikan suasana jiwa yang lebih baik. Metabolisme pertukaran zat dalam otak menjadi lebih baik

sehingga memberi pengaruh pada kerja ototnya. Selain membaca, menonton berita di televisi merupakan hiburan yang baik bagi lansia. Pertemuan rutin dengan para lansia membuat otak aktif yang akan berdampak sangat baik. Proses berpikir menjadi lancar, dan pikun bisa dihambat. Namun, kata dia, kerja otak ini bagi lansia juga harus dibarengi kerja otot seperti melakukan jalan santai atau senam lansia. Dengan kerja otot yang teratur keseimbangan otak dan otot dapat dijaga. “Kalau dibiarkan tidak banyak bergerak, otot mengecil sehingga lansia sering menderita banyak keluhan. Dengan kondisi fisik yang lemah kerja otak juga akan menurun,” ujar Rektor Unud ini. –ast

K

EMAMPUAN beraktivitas dengan mata tertutup bukanlah tujuan utama aktivasi otak tengah. Kemampuan ini hanya merupakan tanda bahwa otak tengah telah aktif. “Setelah distimulasi otak tengah mereka, tiap anak memiliki keterampilan berbeda, salah satunya membaca dengan mata tertutup,” ujar Aina Hidayati, S.Psi. salah seorang pengajar di GMC. Ia mengungkapkan, Kirana salah seorang anaknya yang mengikuti pelatihan otak tengah. Ia mengatakan tertarik mengikutkan putrinya itu ikut pelatihan otak tengah untuk meningkatkan memori otaknya. Setelah 6 bulan mengikuti pelatihan, Kiki begitu ia biasa dipanggil, memiliki kemampuan membaca tulisan dan menebak gambar dengan mata tertutup. “Proses pelatihan sampai ia melakukan hal itu secara bertahap,” ungkap Aina. Ia mengatakan, tiap anak memiliki kemampuan berbeda dalam hal mencapai konsentrasi. Metode membaca dengan mata tertutup ini lebih efektif melatih konsentrasi. Menurut Aina, saat kondisi mata terbuka lebih banyak mendapat stimulasi dari semua arah sehingga lebih sulit berkonsentrasi. Ia mengatakan, proses untuk mencapai konsentrasi tingkat tinggi sehingga mampu membaca dengan mata tertutup ini melalui tahapan. Dalam pelatihan konsentrasi ini, sesungguhnya membuka teropong mata ketiga sehingga

Aina Hidayati, S.Psi.

anak dapat melihat benda apa saja di depannya tanpa melihat dengan mata. Tahapan pelatihan konsentrasi ini yakni melatih kepekaan penciuman si anak dengan mata tertutup. “Sebelum melakukan pelatihan ini, kami memberi stimulasi dengan gelombang suara selama 2 hari,” ungkapnya. Tahapan berikutnya melatih penciuman sekaligus perabaan. Ia mengata-

“Setelah distimulasi otak tengah mereka, tiap anak memiliki keterampilan berbeda, salah satunya membaca dengan mata tertutup”

kan pada tahapan ini, anak bisa merasakan tulisan di kertas seolah timbul yang tak mungkin dilakukan orang umumnya. Setelah itu, mereka dilatih membaca tulisan dengan mata tertutup. “Pada tahap awal jarak tulisan dibuat sedekat mungkin dengan mata dan hidung, kemudian secara tahap demi tahap, tulisan itu ditarik dari 30 cm sampai 3 meter,” ungkapnya. Menurutnya jarak pandang yang bisa ditembus “mata ketiga” anak ini tiap anak berbeda. “Kemampuan jarak pandang dengan mata tertutup ini makin lama kian memanjang ke depan, kanan dan kiri kemudian ke bawah. Jika konsentrasi anak sangat bagus, bisa melihat benda dari arah belakang tanpa menoleh. Bahkan anak berbakat dalam hal ini bisa melihat benda di balik dinding,” ungkapnya. Ia mengatakan Kiki memiliki kemampuan jarak pandang sampai ke bawah. Oleh karena itu, ia dapat membaca tulisan yang berada di bawah telapak kaki atau menebak gambar di bawah telapak kaki dengan mata tertutup. Selain memiliki konsentrasi bagus, menurut Aina hasil aktivasi otak tengah mempercepat pertumbuhan anak. Hasil pelatihan aktivasi otak tengah pada Kiki setelah mengikutinya 6 bulan terbukti mempercepat pertumbuhan 12 s.d. 15 cm. “Aktivasi otak tengah ini turut memacu pertumbuhan hormon, menstabilkan emosi dan mengubah karakter,” tuturnya. – tin

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

Kultur Penelitian di Kalangan Akademisi BAGI sebagian orang, menjadi ilmuwan atau intelektual adalah sebuah cita-cita, gengsi dan juga menunjukkan status terhormat di masyarakat. Secara standar formal, intelektual masih diukur dengan sejauh mana pencapaian gelar pendidikan tertinggi, apakah itu sarjana, master atau doktor profesor. Dari pemetaan jenis pekerjaan, seorang intelektual identik dengan pekerjaan sebagai guru dan dosen, pekerjaan yang berhubungan dengan pendidikan. Jadi, tanpa disadari, gelar ilmuwan dan intelektual telah memiliki spesifikasi paten, walaupun pengertiannya masih amat minimalis. Tapi ada hal penting yang dilupakan (atau justru tidak diketahui) oleh sebagian masyarakat, bahwa seorang (yang mengaku) intelektual harus menguasai (aktif) bidang penelitian, apalagi jika intelektual itu mengabdi di ranah sekelas universitas misalnya. Sebagaimana yang diamanatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, bahwa penelitian bagaikan urat nadi dari pendidikan tinggi. Bagi saya selaku rektor termuda di Indonesia, visi saya tentang kampus adalah tempat di mana ilmu pengetahuan mengalami dinamika. Dari kampus, teori-teori akan diperdebatkan, dari kampus, konsepsi keilmuan akan diciptakan, dan dari dunia kampus juga akan muncul ilmu-ilmu baru yang diadaptasi dengan kebutuhan masyarakat pada setiap titik zaman. Sehingga ilmu pengetahuan adalah sebuah hal yang timeless, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Tentu saja, melihat demikian hebatnya definisi intelektual atau ilmuwan, maka seharusnya orang-orang di dalamnya juga samasama hebat dan berkualitas. Kesimpulannya, penelitian adalah sebuah syarat mutlak bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan tinggi. Tapi sayang sekali, dalam pengamatan saya di Indonesia, khususnya di Bali sebagian besar para ilmuwan dan intelektual kita sangat minim kontribusinya terhadap penelitian. Para sarjana, magister, doktor dan juga profesor yang kini mengabdi di perguruan

tinggi tidak lebih dan kurang hanya terbatas sebagai tenaga pengajar atau dosen yang pintar menghadapi mahasiswa, tapi tak pandai berhadapan dengan sesama intelektual. Buruknya lagi para intelektual kampus itu ternyata lebih memilih sibuk menjadi panitia kegiatan, mengejar proyekproyek, ramai jadi konsultan atau merendahkan harga diri dengan nyambi kejar setoran dengan mengajar di beberapa perguruan tinggi sekaligus. Yakinlah, dengan fenomena itu, bahwa kualitas dosen-dosen baik itu negeri atau swasta yang kini tersebar di banyak perguruan di Bali, tidak lebih dari “intelektual dagang”, mereka adalah golongan dosen yang hanya maksimal dalam money oriented, minus pengabdian serta terbelakang dalam hal penelitian. Padahal, yang namanya perguruan tinggi seharusnya ikut berkontribusi terhadap masalah bangsa, terutama dosennya harus memberi sumbangsih penelitian, juga lembaga pengabdian di setiap perguruan seharusnya eling membimbing masyarakat menuju kecerdasan maksimal. Mengelola perguruan tinggi, tidak sekadar mengelola kampus dan mahasiswa, tapi harus ada paradigma bisa mengelola masyarakat melalui Tri Dharma. Syukurlah kultur itu sudah dimulai oleh Universitas Mahendradatta, yang pada hari ini, 19 Desember 2010 bertepatan dengan hari lahir Yayasan Mahendradatta yang ke-48, lembaga ini meluncurkan Mahendradatta University Press dan juga peluncuran Jurnal Ilmiah Fakultas yang diterbitkan per-fakultas dan per-program studi. Begitu juga Unmar, mungkin satu-satunya PTS yang juga menerbitkan Jurnal Ilmiah Mahasiswa di kawasan Nusa Tenggara. Sudah saatnya, paradigma intelektual dan ilmuwan diubah dan disempurnakan. Sudah sepantasnya, tugas utama dari seorang ilmuwan adalah meneliti. Meneliti adalah urusan inisiatif dan idealisme, peneliti tidak harus menunggu dana hibah atau anggaran, bagi saya meneliti harus menjadi gaya hidup intelektual, sebuah komitmen akan swadharma sebagai guru pengajian.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

NUSANTARA

19 - 25 Desember 2010

Pohon Natal Limbah Kaca 90% Melayani Pasar Ekspor

BERBAGAI kreasi pohon natal turut mewarnai hari raya umat nasrani ini. Pohon cemara yang identik sebagai pohon natal, tak hanya dibuat dari plastik atau asli pohon cemara. Pohon natal juga bisa diciptakan dari bahan baku limbah atau barang bekas.

Pohon cemara dari limbah kaca

Lukman Hakim

tkh/lik

L

ukman Hakim, misalnya. Pengrajin kaca ini memanfaatkan peluang natal dengan menciptakan kreasi pohon cemara dari bahan limbah kaca. Pohon natal kaca tersebut tampak elegan dan terkesan mahal. Kilauannya akibat pantulan cahaya lampu yang diletakkan di pohon, membuat pohon bak berlian. Inilah yang membuat pohon cemara kaca yang ia ciptakan banyak menyedot perhatian wisatawan asing. “Konsumen kami 90% pasar ekspor seperti Belanda, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat,” ujarnya saat ditemui wartawati Koran Tokoh di rumahnya Jalan

Buana Raya Denpasar. Tentang besarnya minat luar negeri ini Lukman Hakim menyatakan, hal itu dikarenakan warga asing umumnya menyukai benda-benda bernilai seni. “Mereka menganggap pohon natal kaca ini mengandung unsur seni tinggi,” tambah pria kelahiran Sumenep, Maduran, 41 tahun silam ini. Peluang usaha pohon natal kaca baru ia tangkap sejak tahun 2002. “Padahal saya memulai usaha sebagai pengrajin barang-barang dari kaca sejak tahun 1999,” katanya. Ide itu pun ia dapat dari salah seorang koleganya. Lukman memang menggeluti penciptaan dan penjualan aneka lampu dan dekorasi dengan bahan limbah kaca. Ketika momen natal tiba, pesanan pohon natal lebih tinggi dibanding barang lain. “Dua bulan menjelang natal, saya sudah menjual sekitar 100 pohon,” tambahnya. Lukman membuat pohon natal kaca dengan berbagai ukuran, 60 cm hingga 2 meter. Harganya pun bervariasi, Rp 300 ribu hingga Rp 2 juta. Omzet penjualannya meningkat menjelang natal. Ia menjelaskan omzet penjualan

Aneka barang kerajinan dan lampu dari limbah kaca

tkh/lik

tkh/lik

pohon natal kaca mencapai 100 jutaan rupiah. Ia menuturkan, proses pengerjaan pohon natal kaca tidak rumit. Dalam waktu sehari, Lukman bisa membuat sebuah cemara kaca. Selain limbah kaca yang ia dapatkan dari salah seorang pengepul limbah kaca, ia memanfaatkan lem dan kawat sebagai perekat. Pengerjaan barang-barang kerajinan kaca tak ia kerjakan sendiri. Lukman dibantu sembilan tenaga kerjanya yang ia gaji dengan sistem borongan. Ditiru Orang Sebelum pohon natal dari limbah kaca, Lukman pernah mencoba membuat pohon natal dengan bahan kawat. “Namun, pengerjaannya cukup rumit dan perlu waktu lama. Sehingga, saya beralih menggunakan bahan kaca,” kata bapak tiga anak ini. Sebagai seorang wiraswastawan, Lukman merupakan sosok yang tak pernah berhenti berkreativitas. “Saya tak mau hanya monoton dengan satu produk. Meski bahan sama, saya selalu ingin berinovasi membuat aneka kerajinan atau barang yang bisa diterima pasar. Tentunya tanpa meninggalkan produk lama,” ujarnya. Terkadang, mantan karyawan perusahaan swasta ini merasa kecewa jika hasil karyanya ditiru banyak orang. “Pernah saya membuat salah satu dekorasi lampu yang belum pernah ada orang yang menciptakannya. Setelah sebulan saya pajang di artshop saya, mulai bermunculan produk yang sama dengan yang saya ciptakan,” ungkap pemilik Fiah Artshop ini. —lik

Natalan Gereja Paroki Santo Paulus Singaraja

16 Anak Ikuti Komuni Pertama GEREJA Katolik Paroki Santo Paulus Singaraja Kamis (16/12) siang terlihat sepi. Aktivitas umat belum terlihat di gereja yang beberapa bulan lalu sempat mengalami konflik di lingkungan internalnya itu. Dari dalam ruangan di salah satu bangunan yang tepat berada di sebelah kiri gereja, muncul lelaki yang menyapa hangat dengan senyum cerah secerah baju kuning yang dikenakannya. “Siang Mbak, Pagi ini mendung ya, tetapi beruntung tidak turun hujan. Meski suasana mendung, hati kita harus tetap cerah ya Mbak,” sapanya ramah. Kami lalu duduk di kursi ruang tamu yang ada di sudut ruangan bangunan itu. Romo Yohanes Handriyanto Wijaya, Pr., demikian lelaki itu, pemimpin Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Singaraja yang baru. Ia resmi bertugas di Singaraja sejak Juli 2010. Sebelumnya, Romo Yohanes Handriyanto bertugas di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosari Kabupaten Gianyar, 9 tahun. Lelaki kelahiran Semarang itu menuturkan, perayaan Natal menitikberatkan pada dua hal yaitu tradisi dan persiapan hati. “Ada dua hal tentang natal yang biasanya dilakukan umat Katolik yaitu tradisi dan persiapan hati. Tradisi Gereja Katolik menekankan unsur ibadah natal dan tidak ada perayaan,” katanya. Ibadah na-

tkh/put

Romo Yohanes Handriyanto Wijaya, Pr.

tal dirayakan dua minggu, meliputi Misa Malam Natal, Misa Natal Pagi, Misa Keluarga Kudus, Misa Tahun Baru dan Misa Penampakan Tuhan atau yang dikenal dengan Misa Tiga Raja. “Jadi persiapan umat menyambut Natal lebih pada persiapan membuat ibadah itu meriah. Ada pelatihan petugaspetugas yang bertugas saat ibadah dilakukan, begitu pula menyiapkan anak-anak yang ikut memeriahkan Natal,” tutur Romo Yohanes Handriyanto. Tradisi merayakan Natal tidak hanya di gereja melainkan tradisi perayaan di rumah, berkumpul bersama keluarga. Romo Yohanes Handriyanto menyebutnya sebagai pesta

keluarga yang mencerminkan kerukunan dan perdamaian dalam keluarga. “Keluarga yang mengalami bahwa ada Tuhan yang hadir dalam kehidupan mereka,” ucapnya. Hal terpenting dalam Natal yaitu persiapan hati yang merupakan unsur batiniah. “Persiapan hati adalah inti dari peristiwa Natal. Allah menjelma menjadi bayi dan turun ke dunia berarti Allah mau hadir dalam hidup manusia masuk dalam suka-duka kehidupan manusia,” jelas Romo Yohanes Handriyanto. Kegiatan-kegiatan sosial juga dilakukan umat Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Singaraja. Di antaranya, membagikan sembako kepada keluarga yang kesulitan merayakan Natal. Aksi sosial ini tidak hanya untuk umat Katolik melainkan untuk orang di sekeliling umat yang kesulitan. Minggu (19/12) ini juga diadakan donor darah oleh umat di gereja. Peragaan kecil berupa pementasan drama lagu akan mengawali perayaan Natal di Gereja Katolik Paroki Santa Paulus Singaraja. Pementasan drama lagu ini diharapkan mampu mengantarkan umat untuk masuk dalam keheningan ibadah Natal. Ada yang istimewa dalam perayaan Natal tahun ini di Gereja Katolik Paroki Santa Paulus Singaraja. “Ini

Hiasan Natal

Lambang dan Peluang Bisnis M

INGGU (19-122010) ini, umat kristiani sudah mulai menyiapkan pesta Natal. Demikian pula para pedagang pernik-pernik Natal sudah siap menggelar dagangannya. Memang, tiap pemuka agama senantiasa menganjurkan kepada umatnya agar dalam merayakan hari raya keagamaan mengutamakan unsur spiritualitas dan kesederhanaannya; demikian pula nasihat para tetua kepada yang muda-muda. Kenyataannya, suasana pesta tetap mendominasi perayaan keagamaan yang satu ini. Suasana pesta inilah yang dimanfaatkan para pedagang sebagai peluang bisnis, antara lain dengan membuat dan memperdagangkan replika-replika Natal dan berbagai pernak-perniknya. yang indah. Di toko swalayan Tiara Dewata, misalnya. Di sana telah terpampang replika pohonpohon natal artifisial (tiruan) yang dibuat dari plastik dengan berbagai pernak-perniknya yang beraneka ragam. Para pedagang

Aneka macam replika pohon Natal (belum dihias)

han kepada umat manusia yang sudah berlangsung sejak berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Juruselamat manusia, bahkan Penyelamat dunia. Bintang juga melambangkan dan tanda serta pengingat bagi manusia bahwa Tuhan selalu menepati janji-Nya. Di sekeliling pohon Natal dipasang lilin, bahkan juga di da-

Topi Sinterklas

tidak perlu mengetahui apa yang disimbolkan atau dilambangkan pernak-pernik itu. Namun, umat Katolik, terutama yang sudah dewasa diharapkan mengetahuinya dan bersedia untuk menjelaskan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Pohon Natal merupakan pohon cemara yang dihias. Pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia. Boleh juga melambangkan Kristus dan jiwa manusia. Dalam doktrin kristiani ada tiga keutamaan, yaitu iman, harap, dan kasih. Manusia hendaknya selalu berharap kepada Tuhan. Ia tidak boleh putus asa (asa = pengharapan). Semua ujung daun cemara mengarah ke atas. Kenyataan ini mengingatkan manusia bahwa segala pikirannya pada masa Natal hendaknya senantiasa diarahkan ke atas, ke surga tempat singgasana Allah Yang Mahakuasa. Di ujung pohon Natal dipasang replika bintang keemasan yang cemerlang. Bintang melambangkan tanda surgawi akan janji Tu-

“Ibadah natal dirayakan dua minggu, meliputi Misa Malam Natal, Misa Natal Pagi, Misa Keluarga Kudus, Misa Tahun Baru dan Misa Penampakan Tuhan atau yang dikenal dengan Misa Tiga Raja” bukan tradisi tiap perayaan Natal tetapi menjadi istimewa dalam perayaan Natal tahun ini,” kata Romo Yohanes Handriyanto. Anak-anak yang dianggap dewasa akan diikutsertakan dalam perjamuan pada malam Natal. “Upacaranya semacam inisiasi bagi anak-anak yang dianggap dewasa. Istilahnya ’Komuni Pertama’ atau ’Sambut Baru’. Mereka akan dikhususkan untuk ikut menerima roti dan anggur. Setelah upacara, mereka wajib untuk hadir di gereja beribadah tiap hari Minggu,” jelas Romo Yohanes Handriyanto. Ada 16 anak yang akan mengikuti proses Kumuni Pertama. Usianya rata-rata kelas 5 SD. Anak dalam usia itu dianggap sudah dapat menjaga dirinya sendiri. Mereka yang terlibat dalam Komuni Pertama ini diharapkan mampu menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya. —put

tkh/hrt

han dan di ranting-rantingnya. Tetapi, karena api lilin mudah membakar daun cemara, sekarang diganti lampu kecil-kecil yang kerlap-kerlip berwarnawarni. Lilin juga melambangkan Kristus yang adalah terang dunia. Lilin Kristus, Lumen Christe. Manakala kita melihat terang lilin kita menjadi teringat bahwa Kristus telah datang mengusir kegelapan. Di dahan-dahan dan rantingranting pohon Natal juga dipasang hiasan lingkaran yang diberi pita. Lingkaran seperti dalam lingkaran Adven, melambangkan kasih yang sejati, yaitu kasih yang tidak berujung dan tidak berpangkal, kasih yang tiada akhir dan senantiasa berlangsung dan berkarya tanpa berhenti, kasih yang terusmenerus, tidak hanya dalam masa Natal tetapi sepanjang masa. Ada hiasan replika Sinterklas. Sinterklas melambangkan kemurahan hati dan segala niat baik yang kita rasakan sepanjang bulan Desember. Sekarang pedagang pernak-pernik Natal juga menjual topi Sinter-

tkh/hrt

klas. Apakah yang mengenakannya sungguh akan menjadi orang yang bermurah hati? Ataukah, hanya gaya-gaya, mentang-mentang bisa membelinya? Walahualam. Di dahan dan ranting pohon Natal juga digantungkan replika hadiah-hadiah. Kelihatannya hanya bungkusan kecil tetapi ini melambangkan hadiah dari Tuhan yang paling berharga, yaitu hadiah berupa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Yesus Kristus lahir ke dunia sebagai hadiah bagi umat manusia. Kita boleh berdoa, “Deo Gratias” Syukur kepada Allah, Terpujilah nama-Mu yang Kudus. Engkau telah berkenan menghadiahkan Putera tunggalMu kepada kami. Di samping pohon Natal juga dipasang replika kandang Natal tempat Yesus lahir. Kandang merupakan lambang kesederhanaan. Adakah kandang hewan milik petani yang indah gemerlapan dihiasi lampu hias? Tidak ada. Tetapi, oleh para pedagang, kandang yang sederhana tadi disulap menjadi kandang mewah. Di luar kandang ada patung tiga orang Majus yang menyembah kanakkanak Yesus. Patung ini melambangkan kasih yang tulus untuk menyembah Sang Almasih, dan lambang sifat suka mempersembahkan sesuatu yang berharga dengan tulus dan rela. Karena, dalam Kitab Suci orang Majus tadi datang

dari jauh untuk mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Dengan replika orang majus itu siapa pun yang melihatnya diharapkan untuk memiliki semangat seperti dia (mereka) orang Majus itu. Di ranting-rantingnya juga dipasang replika dibuat dari permen cokelat. Tongkat permen cokelat ini melambangkan para gembala. Tetapi, di sekitar kandang juga ada replika para gembala. Para gembala adalah lambang pribadi pemimpin yang berjiwa sederhana menyayangi domba gembalaannya (baca: anakbuahnya). Gembala juga melambangkan umat kristiani yang harus siap memberikan pertolongan kepada sesamanya untuk kembali ke pangkuan Gereja, jika ada saudaranya yang menjauh dari Tuhan dan Gereja-Nya. Tidak boleh ketinggalan, replika malaikat, yang digambarkan sebagai bayi bersayap (seperti Cupido dalam Mitologi Yunani, hanya tanpa panah dan busur). Para malaikat-lah yang memberi tahu para gembala bahwa Kristus telah lahir di Bethlehem. Paduan suara para malaikat menyanyikan lagu Gloria: Gloria in exelcis Deo, et in terra pax bone voluntatis. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang tinggi dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkehendak baik. (Bone voluntatis = yang berkehendak baik atau yang berkenan kepadaNya). Umat kristiani juga diminta seperti para malaikat untuk memberitakan kabar gembira kepada segala makhluk. Dalam Pesan Natal Bersama Tahun 2010, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) memilih tema “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia” (cf. Yoh. 1:9). Yang dimaksudkan dengan Terang sesungguhnya tidak lain adalah Yesus Kristus. Menurut iman kristiani, Yesus Kristus adalah Terang Dunia, Sang Juru Selamat, Tuhan beserta kita (Immanuel), dan masih banyak lagi julukan yang disandangkan kepadaNya. —Mbah Harto

Pernik-pernik Natal

tkh/hrt


KEMANUSIAAN

19 - 25 Desember 2010 Tokoh 7 tkh/nur

Komitmen Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi

Pabrik Kursi Roda akan Dibangun di Tohpati

D

penyandang cacat akan mempercepat pemenuhan hak-hak dasar dan pelayanan yang maksimal bagi penyandang cacat. Untuk itu, melalui forum ini diharapkan dapat diketahui jenis pelayanan yang tersedia di lembaga pelayanan penyandang cacat yang ada di Bali dan teridentifikasinya kebutuhan penyandang cacat di Bali. Rucina mengungkapkan rencana YKIP untuk membangun pabrik kursi roda dan pusat rehabilitasi penyandang cacat di Tohpati, Denpasar.

Sinergikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali yang diwakili sekretarisnya, Drs. I Gusti Made Bagiadi, M. Si. membuka lokakarya ini dengan mengungkapkan bahwa dana pemerintah untuk menanggulangi masalah sosial sangat kecil, oleh karena itu perlu diwujudkan sinergi antara pemerintah dan swasta. Peraturan perundang-undangan menyebutkan tiap perusahaan wajib melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR)

melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Program ini sudah dilaksanakan di Bali, namun masih harus terus ditingkatkan. Pemerintah telah bekerja sama dengan 41 Badan Usaha Milik Negara yang beroperasi di Bali dan dunia usaha di luar BUMN dalam pelaksanaan CSR. Ia mengharapkan jejaring yang dibangun merupakan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan lembaga pelayanan penyandang cacat. Dalam lokakarya ini tiap

tkh/nur

ALAM upaya membangun dan memperkuat kemitraan lembaga pelayanan penyandang cacat di Bali, Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) bekerja sama dengan volunteer service organization (VSO) mengadakan lokakarya 11-12 Desember 2010 di Harris Resort Kuta dihadiri 21 lembaga pelayanan penyandang cacat di Bali. Direktur YKIP Rucina Ballinger menyatakan, terbangunnya jejaring pelayanan rehabilitasi terhadap

Suasana lokakarya YKIP

IPTEK

Mencermati Ancaman Gelombang “Nanotek” 2

Masuk Lewat Isu Lingkungan Oleh Suprio Guntoro DALAM fenomena global, salah satu isu penting adalah isu lingkungan. Saat ini isu lingkungan sama pentingnya dengan isu HAM dan demokratisasi, sehingga negaranegara yang tidak patuh terhadap kebijakan-kebijakan global menyangkut lingkungan akan bisa mendapatkan sanksi. Atau, jika produk negara-negara tertentu tidak memenuhi standar keamanan lingkungan, akan bisa diboikot. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi yang menelurkan Protokol Kyoto, yang ditandatangani 10 Desember 1997, melahirkan kebijakan penyelamatan lingkungan hidup dengan mengurangi pemanasan global melalui penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Ada tiga kerangka usaha untuk penurunan emisi GRK dalam protokol Kyoto, yaitu (1) Joint Implementation (JI), yakni usaha penurunan emisi GRK melalui kerja sama unsur negara-negara maju, (2) Clean Development Mechanism (CDM) yakni pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan di negara berkembang yang bekerjasama dengan negara maju, dan (3) Emission Trading (ET), yakni perdagangan jatah batas emisi GRK antara negara maju. Kebijakan global di bidang lingkungan ini pun, akhirnya akan memengaruhi kebijakan dalam perdagangan, dan untuk negara-negara berkembang posisinya bisa menjadi sulit. Contoh, penambangan batu bara di Indonesia yang harus dilakukan dengan penebangan kawasan hutan. Belum lagi pembakaran hutan untuk membuka kebun sawit, atau pencemaran air laut/sungai oleh industri tertentu. Sebelumnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat telah mengarahkan industrinya dengan menggunakan teknologi-teknologi bebas polusi, bebas gas rumah kaca, dan hemat energi, karena industri di negara-negara tersebut kini tengah diarahkan pada aplikasi nanotek. Tampaknya isu lingkungan menjadi salah satu pintu masuk pengembangan nanotek. Kare-

na, dengan nanotek bukan saja kualitas produk bisa lebih baik, tetapi dampak lingkungan juga dapat ditekan. Dengan demikian, industri yang berbasis nanotek akan dapat menghasilkan produk yang dapat memenuhi standar dari kebijakan global. Contoh untuk industri manufaktur, produk ban mobil di Indonesia saat ini masih menggunakan karbon hitam sebagai penguat. Padahal karbon merupakan produk berpoluasi tinggi. Kini di negara-negara maju, industri karet mulai memproduksi ban mobil dengan nano komposit clay, sehingga diharapkan ban mobil akan lebih kuat, ringan, tahan lama dan bebas polusi. Jika teknologi konvensional masih dipertahankan, dengan sendirinya pabrik-pabrik ban ini di era nanotek akan bangkrut. Industri mobil yang berbasis nanotek nantinya juga akan dapat memproduksi mobilmobil yang lebih ringan, sehingga akan mengurangi penggunaan bahan bakar. Di samping itu juga akan menumbuhkan industri-industri yang mengemisikan gas buang dan limbah yang jauh lebih sedikit. Ke depan penggunaan energi hidrogen sebagai sumber energi yang bersih juga akan banyak dilakukan. Nanotek memang sangat menolong dalam mengatasi persoalan polusi. Namun, jika Indonesia tidak segera mampu menerapkannya pada produkproduk industri, pada saatnya kita akan mengalami kesulitan besar. Peluang Industri Pertanian Perkembangan nanotek sesungguhnya sangat membuka peluang bagi pengembangan industri pertanian, baik di subsektor hulu maupun hilir. Di hulu, teknologi ini akan dapat menciptakan jenis-jenis alat mekanisasi yang lebih kuat, lebih ringan serta penggunaan bahan bakar yang berpolusi rendah. Penggunaan traktor yang lebih ringan dengan daya kerja yang cepat, dan besi yang elastis akan mendukung daya kerja petani dalam budidaya. Mesin perahu (penangkap ikan) yang berpolusi rendah dan getaran ringan juga akan mendukung aktivitas para nelayan. Di subsektor hilir, peluang

bidang nanotek, seperti yang kini tengah dirintis LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) serta sebuah lembaga Swasta, yakni “The Mochtar Riady Centre”, yang juga menfokuskan kegiatan risetnya di bidang biomolekuler. Salah satu karya peneliti LIPI yang cukup membanggakan adalah temuan teknologi pembentuk partikel ukuran nanometer yang kini tengah dipatenkan. Temuan ini nantinya akan dapat mendukung kemajuan di bidang teknologi transportasi berbahan bakar partikel hidrogen dan oksigen yang bisa diperoleh dari air. Alat pembentuk nanopartikel tersebut dapat digunakan untuk bahan-bahan mineral, logam, keramik, serta obat-obatan, dll Kini di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong, juga sedang dilakukan penelitian nanopartikel baja yang diarahkan pada partikel baja yang lebih ringan, sehingga nanti dapat diciptakan mobil-mobil yang bobotnya lebih ringan hingga 30%. Sedangkan nanoteknologi di bidang nanokimia memiliki konstribusi penting dalam pengembangan energi yang ramah lingkungan. Sedangkan “The Mochtar Riyadi Centre for Nanotecnology and Bioengineering” (MRCNB), lebih menfokuskan risetnya pada pemanfaatan sumber daya lokal untuk substitusi impor, melalui riset material dan manufaktur, medisin, dan biomolekuler. Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, dalam sambutan pembukaan Simposium Nanoteknologi dan Katalis Internasional di Puspitek Serpong 14 Juni lalu mengatakan, nanoteknologi merupakan suatu paradigma baru dalam pengembangan teknologi yang akan terus berkembang pesat pada masa mendatang. Memang kita termasuk terlambat, tetapi jika tidak segera memulai, kita akan makin tertinggal. Karena itu, pemerintah termasuk pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang serius terhadap Perkembangan kegiatan-kegiatan riset terutama di Indonesia Meski termasuk terlambat, di bidang nanotek. (Penulis, namun beberapa lembaga kini peneliti BPTP Bali, Ketua Yayasan mulai mengarahkan risetnya di Bali Tekno Hayati). industri pertanian berbasis nanotek akan lebih besar. Kini Departemen Perindustrian menitikberatkan pembangunan industri pada 4 bidang, yakni (1) industri berbasis pertanian (agro industri), (2) industri alat transportasi, (3) industri telematika dan (4) industri manufaktur (terutama tekstil, alas kaki, elektronika, kertas dan ban). Dari ke-4 aspek tersebut, sektor pertanian merupakan pensuplai bahan baku terbesar. Untuk agro industri jelas bahan bakunya berbasis pertanian. Di luar itu produk-produk pertanian juga dapat mensuplai industri manufactur, seperti karet untuk ban, kapas dan benang untuk tekstil. Bahkan dalam industri transportasi ke depan lebih banyak menggunakan bahan bakar dan bahan baku organik (bio fuel, bio solar) dan bahan pelindung (karet) yang terbuat dari produk pertanian. Namum, industi-industri tersebut hingga masa Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini masih menggunakan teknologi konvensional yang pada era nanoteknologi nanti produknya tidak ada lagi di pasaran global. Kondisi ini akan menekan peluang bisnis Indonesia di bidang industri, dan pertanian baik di pasar global, regional maupun nasional. Jika tetap menggunakan teknologi konvensional, kita akan sulit bersaing dari aspek harga karena industri berbasis nanotek, biaya prosesingnya akan jauh lebih murah. Akibatnya, meski kaya sumber daya alam, tetapi kita tetap miskin, karena tetap menjadi konsumen, sekaligus sebagai peminta-minta bantuan dan utang ke sana-ke mari. Karena itu inilah saatnya riset-riset di bidang pertanian khusus pada agro industri maupun industri hulu seperti industri pupuk dan pakan diarahkan pada basis nanotek, agar ke depan kita bisa menjadi produsen yang tangguh. Tidak hanya menjual produk mentah, tetapi lebih banyak produkproduk jadi yang bernilai ekonomi tinggi.

Direktur YKIP Rucina Balinger dan Drs. I Gusti Made Bagiadi, M. Si. dari Dinsos Bali

lembaga menyampaikan layanannya dan lembaga lain diminta untuk mengamati potensi terjalinnya kerja sama. Dibahas pula masalah yang memengaruhi penyandang cacat di Bali dan selanjutnya disusun rencana bersama untuk bekerja sama meningkatkan pelayanan terhadap penyandang cacat di Bali. Sekilas Rucina Ballinger Acara ini digagas Rucina Ballinger, M.A., Direktur YKIP dengan fasilitas dari Harris Resort Kuta. Rucina yang kerap dipanggil “Bu Agung” ini kelahiran Amerika Serikat bertempat tinggal di Ubud bersama suaminya, Anak Agung Gede Putra, dan kedua putranya. Dia datang ke Bali pertama kali tahun 1974 untuk meneliti kebudayaan Bali. Dia menjadi direktur YKIP sejak Desember 2003 dan juga sebagai ketua Dewan Manajemen YKIP sejak Mei 2008. Keterlibatannya di YKIP dimulai ketika tragedi bom Bali I 12 Oktober 2002 dalam kegiatan untuk menghilangkan trauma para korban. Sebagai direktur, Rucina berupaya mewujudkan misi YKIP yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali korban bom melalui program kesehatan dan pendidikan. YKIP mendapat dana dari the Annika Linden Foundation. Saat itu YKIP mengirim beberapa korban bom ke Australia dan beruntung mereka bisa diselamatkan. Melalui Program Kembali, YKIP telah menyantuni hampir 500 anak agar bisa terus bersekolah dan tidak putus sekolah. YKIP bertekad menyekolahkan anakanak korban bom hingga ke universitas jika dana mengizinkan. Sampai saat ini, tiap anak peserta Program Kembali tetap dipantau di rumah dan di sekolahnya oleh petugas YKIP minimal 4 kali setahun sambil membagikan biaya untuk mereka. YKIP dilengkapi Dewan Penasihat yang terdiri atas Aloysius Purwa, M.B.A. (District Governor for Rotary D3400 Indonesia) dan Dr. Anak Agung Asmarajaya (ahli bedah plastik) RSUP Sanglah, sedangkan Dewan Pengawas Dr. Ida Bagus Tjakra Manuaba (ahli bedah RSUP Sanglah). Dari delapan tahun mengurusi orang cacat, tampak Rucina memiliki sesuatu yang

berharga, yaitu komitmen pengabdian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. Komitmen harus dimiliki tiap abdi masyarakat, karena tidak selalu kegiatan sosial ini menyenangkan, bahkan lebih sering menuntut pengorbanan. Komitmen merupakan sesuatu yang tidak kasat mata, sesuatu yang intangible, sebagaimana halnya sikap mental. Memang pada hakikatnya, hanya orang dengan sikap mental baiklah yang akan mampu menunjukkan komitmen yang baik. Ibarat dalam peperangan, seorang jenderal yang baik adalah

jenderal yang memiliki komitmen, jika tidak, ia akan segera lari meninggalkan arena ketika perang dimulai. Dengan komitmen yang terwujud dalam ketekunan dan kesungguhan kerja, tiap langkah pasti menapak maju. YKIP mengajak relawan yang berkenan bergabung mewujudkan misi YKIP. Untuk mengetahui YKIP bukalah homepage www.ykip.org. Relawan juga bisa menyampaikan sumbangan melalui rekening YKIP di Bank Permata Cabang Denpasar atau kontak pakbill2003@yahoo.com - nurjaya

Kini telah hadir minuman kesehatan alami sari alangalang dalam kemasan botol kaca higienis, yang secara ilmiah & turun temurun terbukti mempunyai banyak manfaat & khasiat alami untuk kesehatan: z Meningkatkan stamina z Mengurangi rasa capai, pegal & linu zMeredakan panas dalam & radang tenggorokan z Meredakan demam z Mengaluskan kulit z Mengontrol tekanan darah yang cenderung tinggi zMelancarkan air seni z Membantu mengatasi masalah batu ginjal, batu empedu, keputihan, batuk, mimisan, campak, hepatitis, radang paruparu, asma, penyakit kelamin, gangguan prostat,lemah syahwat, dll.

dingin lebih at nikm

Dibuka untuk keagenan Hubungi: 0361- 3648207

Minuman Sari Alang-Alang tersedia dalam 4 rasa: zNatural (sugar free) z Jahe/ ginger z Nenas / pineapple z Strawberry Minuman Sari Alang-Alang bisa didapatkan di: apotek-apotek,swalayan/ supermarket,restaurant dll.


8

Tokoh

BLAMBANGAN

19 - 25 Desember 2010

Tradisi Membaca Lontar di Kemiren

Berisi Kisah Perjalanan Nabi Yusuf

KOMUNITAS Using, Banyuwangi, memiliki cara unik untuk mengusir bencana. Selain upacara selamatan, mereka menggelar tradisi membaca lontar. Lontar yang dibaca, berisi kisah perjalanan Nabi Yusuf. Meski tak berbentuk lontar asli lagi, kitab itu tetap dikeramatkan. Keunikan buku ini tidak hanya pada isinya. Lontar Yusuf ditulis menggunakan huruf Arab dan berbahasa Jawa kuno. Tulisan Arabnya menggunakan gaya gandul.

T

radisi membaca lontar cukup po puler di kalangan masyarakat Using, terutama di bagian barat kota Banyuwangi. Di antaranya, Desa Kemiren, Bakungan, Olehsari, dan sejumlah desa di lokasi atasnya. Dari sekian desa itu, Desa Kemiren yang paling subur menggelar tradisi membaca lontar. Di Desa ini ada kelompok warga yang secara khusus melestarikan budaya tersebut. Kebanyakan mereka sudah berusia lanjut. Membaca lontar merupakan perbaduan budaya Jawa dan Islam. Ini terlihat dari prosesi dan gaya membaca kitab tersebut. Pembacaan lontar selalu didahului ritual selamatan menggunakan sesaji khusus terbuat dari berbagai masakan dan hasil bumi. Di arena pembacaan lontar dibuat altar kecil. Di tempat ini lontar Yusuf diletakkan, termasuk sesaji yang digunakan. Ritual diawali doa bersama dipimpin sesepuh setempat. Para pembaca lontar berkumpul membentuk formasi melingkar. Di tengahnya diletakkan sesaji dan berbagai makanan. Usai doa, mereka menyantap makanan tersebut. Sesaji tetap ditempatkan di atas altar. Prosesi

dilanjutkan menyalakan api tangkep, api unggun terbuat dari arang ditaburi kemenyan. Bau mistis menyeruak begitu kemenyan ditaburkan di atas api. Sebelum dibaca, lontar Yusuf diasapi di atas api tangkep selama beberapa menit. Lontar yang dibaca diletakkan di atas bantal yang dibungkus kain putih. Pembaca pertama, warga yang dituakan. Menggunakan pengeras suara, warga membaca dengan khusuk. Hurufnya Arab, tetapi bahasanya Jawa. Jadi, warga tak sulit mencerna maksud tulisan lontar itu. Para pembaca diwajibkan menggunakan baju sembahyang. Ada empat jenis gending yang digunakan melagukan lontar kuno itu yakni asmarandana, sinom, pangkur, dan durmo. Gending-gending ini cukup populer di kalangan suku Jawa. Namun, khusus warga Using, gending itu memiliki sedikit perbedaan. Pembacaan lontar biasanya dimulai sekitar pukul 20.00 dan berakhir pagi hari. Warga membaca bergiliran. Tiap peserta tidak diberi batasan waktu. Rata-rata, satu orang membaca dua hingga tiga

A.A. Tahrim

lembar tulisan. Selama pembacaan lontar, semua peserta menyimak dengan serius. “Kami juga harus begadang semalaman,” kata A.A Tahrim, Kades Kemiren, Senin (13/12). Untuk menghindari ngantuk, tuan rumah yang mengundang kelompok pembaca lontar menyuguhkan makanan dan kopi. Di sela menanti giliran, pembaca bisa menikmati kopi. Namun, dilarang pergi dari tempatnya. Mereka tetap duduk bersila di atas lantai sambil menanti giliran membaca. Lagu yang digunakan diserahkan kepada masing-masing pembaca. Tidak diketahui pasti kapan tradisi membaca lontar ini mulai muncul. Menurut Tahrim, tradisi itu sudah ada sejak zaman dahulu. Diyakini, budaya ini merupakan akulturasi antara Hindu dan Islam di Banyuwangi. Lontar Yusuf berbentuk buku. Buku ini juga dicetak terbatas. Rata-rata, warga Using Kemiren memiliki buku tersebut. Tebalnya sekitar 100 halaman. “Kalau lontar aslinya kami tidak tahu,” katanya. Sesuai namanya, lontar

rumah anggota tiap Rabu dan Kamis malam. Agendanya, selain arisan, diisi pembacaan lontar. “Kegiatan ini untuk melestarikan budaya membaca lontar agar tidak punah,” kata Mbah Sukar. Satu paguyuban biasanya terdiri 16-20 orang. Jumlah inilah yang membaca lontar semalam suntuk secara bergiliran. Mereka rata-rata berumur di atas 50 tahun. Meski demikian, suaranya tetap Yusuf berisi kisah Nabi Yusuf. terdengar melengking dan Kisahnya dimulai dari masa nyaman didengarkan. Pembaca kanak-kanak hingga perjalanan lontar seluruhnya kaum laki-laki. sucinya yang menakjubkan. Perjalanan Nabi ini menjadi teladan bagi umatnya. Karena itu, lontar tersebut selalu dibaca ketika ada hajatan dan ritual lainnya. Tak hanya sekadar tolak bala, pembacaan kitab ini sekaligus menambah kekuatan ADA iringin gamelan beribadah bagi pembacanya. “Kami terilhami dengan per- khusus sebelum ritual membaca jalanan Nabi Yusuf yang penuh lontar dalam acara selamatan perjuangan,” ujarnya. Pria ini yang mengundang rombongan mengaku tak mengetahui siapa pembaca lontar. Namanya penulis asli lontar tersebut. gamelan sukro, terdiri atas alat Diyakini, lontar itu peninggalan musik gong, gambang, bonang, para wali yang menyebarkan kendang dan saron. Selain suaranya, gending ajaran Islam di Blambangan. Sepintas, pembacaan lontar yang digunakan berbeda deini mirip para sinden Jawa ngan gamelan Jawa. Ada tiga bernyanyi. Bedanya, cengkok- jenis gending yang populer nya tak selembut para sinden. yakni gero, biskalan dan geruk. Berbeda dengan tadarus yang Tiga lagu ini dimainkan bermembaca dengan nada cepat, ulang-ulang. Dalam acara membaca lontar harus meng- hajatan gamelan sukro digunakan gaya lembut karena mainkan siang hingga sore. mengikuti nada gending yang Malamnya, khusus membaca lontar. Penabuh gamelan sukro digunakan. Di Desa Kemiren, pembaca- 7 orang. Mereka mulai pentas sekitar an lontar menjadi kebiasaan rutin. Para pembaca membuat pukul 10.00 dan berakhir paguyuban khusus dan meng- menjelang pukul 19.00. gelar arisan. Mereka bergilir ke “Gamelan ini ciri khas warga

HUT ke-22 LPD Pecatu

Pelayanan Prima sebagai Cerminan Nilai Budaya DALAM HUT-nya yang ke-22, tanggal 12 Desember 2010, LPD (Lembaga Perkreditan Desa) Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali, kembali menunjukkan komitmennya untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dan nasabahnya demi mewujudkan tingkat kesejahteraan ekonomi yang lebih baik. Komitmen itu menjadi prinsip utama bagi seluruh staf dan manajemen LPD yang pernah menyabet prestasi sebagai LPD terbaik di Kabupaten Badung dan Provinsi Bali tahun 2005 itu. Peringatan HUT LPD Pecatu yang berlangsung meriah tersebut mengangkat tema ‘Cerminan Nilai Budaya Dalam Perspektif LPD Dalam Menjawab Tantangan Global’. Ini cukup menarik karena disadari, lajunya pertumbuhan LPD Pecatu tak bisa dipisahkan dari pesatnya perkembangan pariwisata di Badung. “Kami mengangkat tema budaya karena kami menyadari lajunya pertumbuhan LPD tak bisa dipisahkan dari majunya sektor pariwisata budaya di Pecatu,” kata Kepala LPD Pecatu I Ketut Giriarta, S.Pd., M.M. Ia menambahkan, cerminan nilai budaya tak hanya pada komitmen LPD dalam turut mendukung pembiayaan nasabahnya yang bergerak di bidang usaha pariwisata, tetapi juga memberikan segala kemudahan bagi mereka yang ingin menekuni usaha yang terkait

Kepala LPD Pecatu I Ketut Giriarta, S.Pd., M.M.

pariwisata seperti peternakan dan kerajinan. “Bahkan kami memberikan kemudahan kredit/pinjaman tanpa agunan (KTA) sampai Rp 20 juta. Ini khusus untuk warga masyarakat Desa Adat Pecatu. Mereka hanya menyertakan KTP dan rekomendasi dari kelian banjar setempat. Tujuannya, membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat menuju kesejahteraan lahir batin,” ungkap Giriarta yang sudah mengabdi 22 tahun ini.

Wabup Badung Sudikerta menyerahkan bantuan yang diterima Kepala LPD Pecatu

Gamelan sukro mengawali pembacaan lontar

Menurut Giriarta, masyarakat Pecatu layak mendapatkan kemudahan dari LPD karena keberadaan LPD Pecatu berasal dari, oleh dan dikembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat Desa Adat Pecatu. “Kami inginkan keberadaan LPD ini bisa menunjang keberhasilan masyarakat sesuai potensi dan profesi masing-masing terutama dalam menjawab tantangan global dengan memberikan pelayanan yang mudah, murah, dan cepat,” kata Giriarta. ‘Cerminan Nilai Budaya Dalam Perspektif LPD Dalam Menjawab Tantangan Global’, diwujudkan LPD Pecatu dengan turut mendukung proses pembelajaran adat dan budaya lewat seka maupun sanggarsanggar budaya, meningkatkan pelayanan prima kepada nasabah, memberikan nilai tambah untuk meningkatkan daya saing dan meningkatkan budaya menabung, menjalin partnership dengan berbagai pihak serta memberikan nilai produk yang murah dan bermanfaat bagi masyarakat seperti KTA. “Tujuannya, agar sektor ekonomi masyarakat bisa tumbuh,” ujar I Ketut Giriarta. Kegiatan Sosial Memperingati HUT ke-22, LPD Pecatu melaksanakan berbagai kegiatan sosial seperti memberikan beasiswa kepada 19 anak berprestasi yang kurang mampu hingga lulus SLTP, menyantuni 75 anak penyandang cacat Desa Adat Pecatu, punia kepada pemangku serta melaksanakan lomba beleganjur. Dalam kesempatan yang dibarengi undian berhadiah bagi penabung, deposan, sibermas, dan peminjam itu, Wabup Badung Drs. I Ketut Sudikerta menyerahkan bantuan senilai Rp 15 juta kepada anak-anak dari RTM serta kepada para penyandang cacat yang diterima Ketua LPD Pecatu I Ketut Giriarta, S.Pd., M.M. Kinerja LPD Pecatu hingga akhir November 2010, aset Rp 150 miliar (tahun 2009, Rp 128,6 miliar), laba Rp 5 miliar lebih (tahun 2009, Rp 4,1 milyar). —ari

Menurut Tahrim, banyak hal aneh ketika prosesi membaca lontar digelar. Salah satunya, para pembaca tidak mengantuk selama menanti giliran membaca. Mereka juga tidak merasakan lelah meski duduk berjam-jam. Pagi harinya, para pembaca tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka kebanyakan para petani. Minat generasi muda untuk belajar membaca lontar masih minim. “Kami sudah mulai mengajari para pemuda untuk belajar. Namun, peminatnya masih minim,”

keluhnya. Saat ini baru ada satu kelompok pemuda setempat yang mulai menekuni belajar membaca lontar. Tradisi membaca lontar ini menjadi aset berharga bagi desa setempat. Ditambah lagi, tak semua desa Using memiliki ritual tersebut. Karena itu, membaca lontar dijadikan salah satu bagian kegiatan pariwisata. “Kami sudah memasukkannya dalam agenda kegiatan wisata Kemiren. Namun, wisawatan yang berminat masih minim,” ujar Tahrim. —udi

Gamelan Sukro Awali Baca Lontar Using. Jadi tidak bisa ditinggalkan,” kata Mbah Saki (60), pemilik kelompok gamelan sukro, Senin (13/12). Meski terlihat sederhana, alunan musik sukro cukup memikat. Ketiga gendingnya dimainkan berulang dalam durasi waktu agak panjang. Warga yang mengundangnya hanya ditarik bayaran Rp 300.000. Ini termasuk sinden yang bertugas melantunkan gending-gending. Menurut Mbah Saki, penabuh sukro kebanyakan menabuh hanya untuk menyalurkan hobi. Aliran gamelan sukro mirip musik angklung. Bedanya, musik tradisional ini menggunakan bonang. Model musiknya juga lembut. Sehingga suasananya tepat bagi sebuah upacara hajatan. Zaman dahu-

Mbah Saki

lu, kata Mbah Saki, gamelan ini menjadi penyemangat warga yang punya gawe, sekaligus menambah kemeriahan pesta. Karena identik dengan upacara, gamelan ini juga disakralkan. Mirip dengan pembaca lontar, para penabuh gamelan sukro rata-rata sudah berusia lanjut. —udi

Buku ‘Keris Bali Bersejarah’ Diluncurkan sia, tahun 2010. Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan rasa bangganya bahwa salah satu putra daerahnya telah menjadi pelopor budaya keris di Bali. “Rasa cinta kepada bangsa dan negara dengan melestarikan benda-benda warisan budaya seperti keris telah ditunjukkan Pak Suteja Neka. Beliau telah menjadi bukti sejarah dari keberadaan keris di Bali,” ujar Gubernur. Seorang Pejuang Demikian halnya Sekjen SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) K.P.A. Wiwoho Basuki TjokrohadiJejeneng Mpu Keris Pande Wayan Suteja Neka ningrat yang menilai dengan bukunya ’Keris Bali Bersejarah’. pribadi Suteja Neka MOMEN penting dan bersejarah sebagai pribadi pejuang. Dedikasi bagi dunia perkerisan berlangsung dan kecintaannya yang tinggi ketika Minggu (12/12) pukul 10.00 terhadap seni dan budaya keris Wita, di Museum Seni Neka (Neka khususnya, diwujudkannya dengan Art Museum), Jalan Raya Sang- membangun paviliun khusus keris di gingan Ubud, Gianyar, Bali, museumnya. “Buku tersebut akan tercatat diluncurkan buku ‘Keris Bali Bersejarah’. Hadir dalam kesempatan sebagai sumber referensi penting itu, Gubernur Bali Made Mangku dalam literatur perkerisan. Pak Suteja Pastika, Bupati Gianyar Tjokorda Neka telah berhasil menghimpun dan Oka Artha Ardhana Sukawati, menelaah berbagai aspek berkaitan pelingsir Puri Ubud Tjokorda dengan keris Bali. Buku ini banyak Kerthyasa, Sekjen SNKI, kolektor, mengungkap berbagai hal tentang pecinta serta pengamat budaya keris Bali yang selama ini belum pernah ditulis dalam literatur keris. Buku ‘Keris Bali Bersejarah, Neka perkerisan dunia,” ungkapnya. Art Museum’ yang dicetak dlam jumlah terbatas ini banyak dicari para Sumbangsih pecinta dan kolektor keris yang saat Bagi pribadi Suteja Neka, buku itu belum dapatkan bagian buku. ’Keris Bali Bersejarah’ merupakan Bahkan sebagian di antaranya rela sumbangsihnya kepada dunia seni menanti buku ini dicetak kembali. Ini yang selama ini telah memberikannya karena buku karya Pande Wayan Suteja Neka dan Basuki Teguh Yuwono yang memuat karakteristik lengkap mengenai keris ini, dinilai layak menjadi sumber referensi literatur perkerisan Nusantara bahkan dunia. Buku berukuran 30 x 22 cm, setebal 321 halaman dengan berat 1,5 kg ini boleh dikatakan buku keris paling lengkap, eksklusif, dan istimewa. Buku bersampul depan keris pusaka Ki Gagak Petak dari Kerajaan Buleleng ini, salah satu koleksi Neka Art Museum. Penerbitnya, Yayasan Dharma Seni Museum Neka, Ubud, Bali, Indone-

1

Sumber Referensi Literatur Perkerisan Dunia kebahagiaan. Dalam bukunya Suteja Neka mengungkapkan, “Mendapat kebahagiaan dari dunia seni, kembalikan kebahagiaan itu kepada dunia seni itu”. Buku ’Keris Bali Bersejarah’ memuat materi tentang seluk-beluk keris, Bab I - VII. Dalam buku ini juga ditampilkan berbagai artefak keris tangguh sepuh koleksi Neka Art Museum yang diuraikan secara komprehensif mulai dari aspek etimologis, historis, filsafat, masa pembuatan, karakteristik bentuk, teknik pembuatan, tuah, pamor, bahan, dll hingga tradisi yang berkaitan dengan keris dalam tata kehidupan masyarakat Bali. Dalam Bab I diuraikan tentang ’Keris Dalam Pandangan Masyarakat Nusantara’, Bab II ’Sekilas Sejarah Seni Tempa Keris di Nusantara’, Bab III ’Karakteristik Keris Bali’, Bab IV ’Bagian-bagian Keris Bali’, Bab V ’Tahap-tahap Proses Pembuatan Bilah Keris’, Bab VI ’Keris Dalam Kehidupan Masyarakat Bali’ dan Bab VII ’Keris Bali Bersejarah Neka Art Museum’. Buku ini juga menyajikan ciri-ciri bentuk keris Bali dengan mengurai detail tiap bagian keris, baik bilah, warangka, hulu dan kelengkapan lainnya yang dilengkapi gambar dari artefak sesungguhnya. Sesuatu yang dulu sangat dirahasiakan dan mulai terlupakan, kini dipaparkan dalam buku ini. —ari

Suteja Neka (2 dari kiri) bersama Gubernur Bali Mangku Pastika (pukul gong) dan Sekjen SNKI Wiwoho Basuki Tjakrahadiningat (3 dari kiri) sesaat peluncuran buku ’Keris Bali Bersejarah’


TRADISI

19 - 25 Desember 2010 Tokoh 9 tkh/sep

Muput Upacara Kawin

Lewat Layar Teleconference puncak kesibukan manusia dalam berinteraksi sosial dalam berbagai urusan. Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya berdasarkan dharma, dan menata pergaulan sebaikbaiknya. Namun, kata dia, sangat penting melaksanakan panca yadnya yang merupakan ciri utama orang dalam berumah tangga. Tetapi, kenyataannya, hampir seluruh harta yang didapatkan digunakan untuk upacara perkawinan. “Bahkan, ada yang sampai mengutang di bank, LPD, atau meminjam dari temannya. Padahal, seharusnya jangan sampai seperti itu demi upacara perkawinan,” ujarnya. Keistimewaan seorang istri, tidak ada bedanya dengan Dewi Sri, yaitu memunyai keturunan dan membawa kebahagiaan serta layak dipuja. “Kalau memarahi istri sama artinya memarahi Dewi Sri. Kalau istri marah, suami harus mengalah. Seorang suami tidak hanya melakukan yadnya dengan upakara, tetapi membahagiakan keluarga termasuk praktik yadnya dalam keseharian,” jelas Sudiana. Perkawinan merupakan wadah melakukan kebiasaan suci, tidak boleh saling menghujat. Menjadi contoh prilaku yang baik terhadap anakanaknya. Suami istri juga belajar mengatur hubungan seks yang layak. Tidak melakukan hal yang dilarang agar mendapatkan anak suputra. Wanita sebagai istri datang memberi penerangan ke rumah suami, tidak merebut harta suami atau mertuanya. Walaupun mungkin ada perempuan yang tidak baik, tetapi seharusnya ia datang menjadi sinar dalam keluarga tersebut. Dalam perkawinan diajarkan untuk melatih pengendalian diri. Terkadang, kata Sudiana, karena saking capeknya melakukan tanggung jawab keluarga, istri bisa melakukan KDRT. Ada istri memutilasi suami. Ada istri membacok suami. “Perkawinan dikira sekadar upacara atau kewajiban suami istri. Padahal, di dalamnya terkandung arti yang sangat luas,” ujarnya. tkh/sep

MENURUT Hindu, perkawinan merupakan yadnya, anugerah Tuhan. Tiga hal penting terkandung di dalamnya, yaitu dharmasampati, praja dan rati. “Perkawinan merupakan fase penting dalam ajaran Hindu. Seseorang memasuki tahap kedua dari catur asrama, yaitu grahasta asrama,” ujar Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Dalam kehidupan perkawinan, seseorang telah diikat sumpah sekala dan niskala. “Ketika melangsungkan perkawinan upacara mempelai disaksikan tri upasaksi (manusa saksi, dewa saksi, dan bhuta saksi),” ujar staf pengajar Institu Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini. Status hukum seseorang yang sudah melangsungkan perkawinan dari brahmacari menjadi grahasta. Secara psikologis, mempelai semula dianggap belum. Saat kawin menjadi dewasa dengan berbagai konsekuensi yuridis dan sosiologisnya. “Perkawinan bertujuan mulia guna melahirkan anak suputra. Anak yang nantinya dapat membebaskan roh leluhurnya tujuh tingkat ke atas dan tujuh ke bawah. Begitu penting arti perkawinan sehingga dianggap sangat sakral dalam ajaran agama Hindu,” paparnya. Kitab Manawa Dharmasastra menguraikan tujuan perkawinan. Dharmasampatti berarti suami-istri bersama-sama mewujudkan pelaksanaan dharma. Praja berarti melahirkan keturunan, sementara rati berarti menikmati kehidupan seksual dan kepuasan indra lainnya. Perilaku penting dalam perkawinan sepasang suamiistri harus menjalankan dharma, baik sekala maupun niskala. Mereka harus mencari artha untuk tuntutan kesejahteraan, juga wajib menjalankan kama sebagai syarat melahirkan keturunan. “Ketika remaja, anak masih dipimpin ayah-ibunya. Ketika kawin, dia memimpin dirinya sendiri. Dulunya anak masih tergantung orangtua,” katanya. Masa grehasta merupakan

Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si.

Ketua Bali Shanti LPPM Unud Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Si. (paling kiri) tercenung menyimak jalannya semiloka bertema “Perkawinan bagi Umat Hindu di Bali” di Ruang Pertemuan PPs Unud yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., Dra. Anak Agung Istri Agung, dan I Ketut Sudantra, S.H., M.H.

Dalam sloka suci disebutkan, jika perempuan hidup dalam kesedihan, keluarga akan hancur. “Jika wanita tidak dihormati, keluarga itu akan hancur seolah-olah keluarga itu dihancurkan secara gaib,” jelasnya. Kalau perempuan dibuat bersedih, hasil upacara yang dilakukan tidak ada pahala. Kalau istri membuat banten, tetapi suaminya terus marahmarah tidak akan ada pahalanya. Jika istri bahagia, suami akan bahagia melihat istrinya. Begitu juga anak-anaknya ikut bahagia. Wanita diluksikan sebagai lambang ‘ibu pertiwi’. Dalam sloka disebutkan, apabila wanita disayang, para dewa akan senang. Dalam teori dan sloka suci disebutkan seperti itu. Namun, ia menilai, dalam keseharian umat Hindu belum menjalankannya dengan baik. “Banyak kasus perceraian. Mengapa orang Bali senang bercerai. Padahal dulu sangat sulit bercerai? Salah seorang korban perceraian mengatakan pada saya, sejak kawin dengan suaminya, saya merasa bagai hidup di neraka. Senangnya akhirnya bisa bercerai. Jadi dia merasa senang bisa bercerai,” ujar Sudiana. Ketika terjadi perceraian, banyak masalah terjadi. Ada rebutan keturunan dan juga masalah mapamit. Mantra sulinggih menyatakan, saat upacara mapamit hanya matur piuning, artinya melepaskan istri dari rumah suami dan kembali ke rumah asalnya. “Kalau perkawinan dengan saudara sepupunya bagaimana mau mepamit karena satu sanggah. Ini yang sulit dijawab, karena yang dipakai hukum kepercayaan. Sekarang ada perkawinan dengan keris, adegan atau daksina. “Bahkan, baru-baru ini ada muput upacara perkawinan via teknologi layar teleconference 3G. Perkawinan unik ini berlangsung karena si suami sedang bekerja di kapal pesiar di Miami. IItrinya sudah mengandung di Bali. Upacara perkawinan dilakukan bersamaan di dua tempat di Miami dan Bali. Saat natap banten, kedua mempelai yang berjauhan ini ikut natap dengan menggunakan teleconference. Mungkin nanti dengan perkembangan ke depan, sulinggih bisa muput upacara hanya via internet,” ujarnya. —ast

RUMUSAN hasil Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertopik “Perkawinan bagi Umat Hindu di Bali” bakal dilampirkan dalam sebuah buku yang segera diterbitkan Bali Shanti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unud. Menurut Ketua Bali Shanti LPPM Unud Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Si., berbagai hal menarik dan kritis dari forum tersebut menjadi sumbangan berharga guna memperkaya isi buku tersebut. Usaha penerbitan buku perkawinan umat Hindu di Bali tersebut memperoleh apresiasi Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko. “Soal rencana membuat buku tentang perkawinan tentu baik. Hanya saja, bukunya nanti tidak hanya berkaitan dengan perkawinan, juga sekaligus memuat hal-ihwal

yang terkait perceraian menurut hukum adat Bali. Keputusan pesamuhan ke-3 Majelis Desa Pakraman sebagai dokumen historis, perlu dilampirkan,” harapnya. Ia setuju menyebut keputusan Pesamuhan ke-3 MDP Bali sebagai simbol revolusi sosial, merupakan tonggak perkembangan baru. “Yang jadi pertanyaan, apakah keputusan MDP bisa dijadikan bukti penguatan formal terhadap tradisi yang berkembang di Bali. Jika bisa, keputusan MDP itu bisa dijadikan pegangan untuk mengabaikan aturan hukum formal yang tidak sejalan,” ujarnya sembari mengutip pendapat Dr. Rai Setyabudhi bahwa perkawinan ngerorod bisa mengabaikan “izin orangtua” jika perkawinan jenis ini masih berkembang menjadi tradisi di masyarakat

tkh/sep

Hasil Semiloka akan Dibukukan

Widminarko

Bali. Jika demikian halnya, keputusan MDP pun dapat dijadikan “dasar hukum” bagi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk menerbitkan akta bagi pasutri yang melaksanakan perkawinan pada gelahang karena menurut keputusan MDP perkawinan ini dibenarkan berkembang dalam kehidupan masyarakat tradisional Bali. —sam

Keputusan Pesamuhan Agung III

Majelis Desa Pakraman SEBUAH revolusi sosial mencuat dari forum Pesamuhan Agung III Majelis Desa Pakraman (MDP), 15 Oktober 2010 di gedung Wiswasabha Kantor Gubernur Bali Renon, Denpasar. Berikut kutipan selengkapnya. Sistem kekeluargaan patrilineal (kapurusa) yang dianut orang Bali beragama Hindu menggariskan hanya keturunan berstatus kapurusa dapat mengurus dan meneruskan swadharma (tanggung jawab) keluarga. Sistem swadharma berkaitan dengan parahyangan (keyakinan Hindu), pawongan (umat Hindu), maupun palemahan (pelestarian lingkungan alam sesuai dengan keyakinan Hindu). Konsekuensinya, keturunan berstatus kapurusa saja yang memiliki swadikara (hak) terhadap harta warisan. Sementara keturunan berstatus pradana (perempuan) tidak mungkin dapat meneruskan swadharma. Statusnya disamakan dengan orang yang meninggalkan tanggung jawab keluarga (ninggal kadaton). Seseorang yang berstatus pradana dianggap tidak berhak atas harta warisan dalam keluarga. Kenyataan dalam masyarakat menunjukkan ada orang ninggal kadaton. Tetapi, dalam batas tertentu masih dimungkinkan melaksanakan swadharma sebagai umat Hindu (ninggal kadaton terbatas). Ada pula kenyataan orang ninggal kadaton yang sama sekali tidak memungkinkan lagi bagi mereka melaksanakan swadharma sebagai umat Hindu (ninggal kadaton penuh).

Mereka yang dikategorikan ninggal kadaton penuh tidak berhak sama sekali atas harta warisan. Mereka yang ninggal kadaton terbatas masih dimungkinkan mendapatkan harta warisan didasarkan atas asas ategen asuwun (dua berbanding satu). Mereka yang tergolong ninggal kadaton terbatas adalah perempuan yang melangsungkan perkawinan biasa; laki-laki yang melangsungkan perkawinan nyentana/nyeburin; telah diangkat anak (kaperas sentana) oleh keluarga lain sesuai dengan agama Hindu dan hukum adat Bali; dan menyerahkan diri (makidihang raga) kepada keluarga lain atas kemauan sendiri. Berdasarkan fakta-fakta di atas, Pasamuhan Agung III Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali memutuskan kedudukan suami-istri dan anak terhadap harta pusaka dan harta gunakaya. Isi putusannya, suami dan istrinya serta saudara lakilaki suami dan istrinya mempunyai kedudukan sama dalam usaha menjamin harta pusaka dapat diteruskan kepada anak dan cucunya untuk memelihara atau melestarikan warisan imateriil. Selama dalam perkawinan, suami dan istrinya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta gunakayanya (harta yang diperoleh selama dalam status perkawinan). Anak kandung (lakilaki atau perempuan) serta anak angkat (laki-laki atau perempuan) yang belum kawin mempunyai kedudukan sama terhadap harta gunakaya orangtuanya. Anak kandung

(laki-laki atau perempuan) serta anak angkat (laki-laki atau perempuan) berhak atas harta gunakaya orangtuanya sesudah dikurangi 1/3 sebagai duwe tengah (harta bersama) yang dikuasai (bukan dimiliki) anak nguwubang (melanjutkan swadharma atau tanggung jawab) orangtuanya. Anak berstatus kapurusa berhak atas satu bagian dari harta warisan, sedangkan anak berstatus pradana (ninggal kadaton) berhak terbatas atas sebagian

atau setengah harta warisan yang diterima seorang anak berstatus kapurusa. Dalam hal pembagian warisan, anak yang masih dalam kandungan mempunyai hak sama dengan anak yang sudah lahir sepanjang dia dilahirkan hidup. Anak yang ninggal kadaton penuh tidak berhak atas harta warisan, tetapi dapat diberikan bekal (jiwa dana) oleh orangtuanya dari harta gunakaya tanpa merugikan ahli waris.

Acara Denpasar Festival 2010 Selasa 28 Desember 2010 Culinery Competition, 10.00 –15.00: Lomba Memasak Betutu di Lapangan Puputan Badung; Junior Chef Competition di Panggung Zona Culinery - Pertunjukan Jalanan, 10.00 –15.00: Kompetisi Catur Jalanan; Mural Conspiracy di Lapangan Puputan Badung - Layanan Publik, 10.00 –16.00: Layanan Kesehatan; . Arsip dan Perpustakaan Daerah dan Pelayanan Pambuatan KTP - Opening Ceremony, 17.00 –19.00: Parade; Tarian Kontemporer; Jegog Jazz ; Ayu Laksmi di Kawasan Catur Muka - Music Accoustic, 19.00 –22.00: Live Music Accoustic Performance di Zona Culinery - Panggung Utama, 19.00 – 23.00: Young Sounds of Bali; Musisi-musisi muda berbakat yang menampilkan karya sendiri; The Hydrant di Panggung Selatan Lapangan Puputan Badung Rabu 29 Desember 2010 Culinery Competition, 10.00 –12.00: Lomba Memasak Babi Guling ; Junior Chef Competition di Lapangan dan Panggung Selatan Lapangan Puputan Badung Pertunjukan Jalanan, 10.00 –15.00: Kompetisi Catur Jalanan di Lapangan Puputan Badung - Layanan Publik, 10.00 –17.00: Layanan Kesehatan; Arsip dan Perpustakaan Daerah dan Pelayanan Pambuatan KTP - Music Accoustic, 19.00 –22.00: Live Music Accoustic Performance di Zona Culinery Panggung Utama, 18.00 –23.00: Fashion on Nite ; Young Sounds of Bali; Navicula.di Panggung Selatan Puputan Badung Kamis 30 Desember 2010 Pertunjukan Jalanan, 10.00 –15.00: Kompetisi Catur Jalanan di Lapangan Puputan Badung - Layanan Publik. 10.00 –17.00: Layanan Kesehatan; Arsip dan Perpustakaan Daerah dan Pelayanan Pambuatan KTP - Music Accoustic, 19.00 –22.00: Live Music Accoustic Performancedi Zona Culinery Panggung Utama, 18.00 – 23.00: Young Sounds of Bali; Gong Kebyar Anak-anak; Kesenian Pengembangan; Pementasan Prembon Arja di Panggung Selatan Puputan Badung Jumat 31 Desember 2010 Prosesi Melepas Matahari 2010, 20.00 –00.00: Parade Drum Band Anak-anak; Lomba Menggambar Anak-anak; Pertunjukan Gamelan Instrumental Klasik; Pawai Melepas Matahari 2010; Pertunjukan Kesenian Jogeg Bumbung; Kesenian Calon Arang; Wayang Kulit Inovasi; Pertunjukan Musikali Puisi dan Teater; Pertunjukan lagu-lagu menandai detik-detik menjelang pergantian tahun 2010 menuju tahun 2011. —ard

Libatkan Ilmuwan Dalam Paruman Banjar masalah). Namun, realitanya sekarang ini, justru BANJAR merupakan persekutuan hidup yang banyak agama membuat masalah. bisa memberi rasa aman, nyaman dan tentram bagi masyarakatnya. Karena itu, banjar atau desa pakraman Ada tiga hal yang mempengaruhi perilaku manusia hendaknya juga mengundang ilmuwan, baik ilmuwan yakni makanan, gaya hidup, dan kesehatan. Kesehatan karena memiliki pendidikan formal tinggi maupun ini terkait juga dengan pemikiran sesorang. Jika terlalu ilmuwan karena kaya pengalamnnya. Para ilmuwan realistis atau bahkan tak realistis akan membuat sakit, yang dimiliki banjar ini perlu diajak dan dilibatkan stres. “Jadi berpikirlah secara idealis dan realistis,” dalam paruman atau urun rembug menyelesaikan ujarnya. masalah masyarakat yang ada di banjar tersebut. Selanjutnya Wiana memaparkan pendidikan Hindu “Coba berikan peranan pada masing-masing individu adalah suatu proses pendidikan dengan menjadikan masyarakat untuk menyampaikan pemikiranajaran Hindu sebagai materi pokok proses pendidikan pemikiran meraka,” ujar Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. tersebut. Pendidikan Hindu itu, mendidik peserta didik dalam orasi ilmiahnya berjudul “Tujuan Pendidikan untuk menjadi manusia individu yang mandiri, Hindu Merubah Perilaku dan Kebiasaan Hidup” yang berkualitas lahir dan batin, seimbang sehat, kuat moral disampaikan dalam Dies Natalis VI IHDN Denpasar dan mental, serta memiliki sikap hidup bersama dengan di depan Rektor UNHI Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D., mentaati swadharmanya menurut tahapan hidupnya serta undangan lainnya, Rabu (15/12) di aula berdasarkan asrama dan varna serta juga memahami setempat. dirinya hidup di bumi ini bersama dengan alam dan Ketua Sabha Walaka Parisada Pusat ini semua mahluk hidup di atas bumi ini. Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. menegaskan banjar hendaknya bisa mengembangkan Untuk menanamkan nilai-nilai ajaran agama ke tiga hal, yakni menguatkan sradha/keyakinan pada dalam lubuk hati sanubari peserta didik, Wiana Tuhan, mengembangkan budi, dan metta (bakat). Namun, perkembangan mengatakan membutuhkan metodelogi yang tepat. C. Panunzio (dalam ini harus tetap bertumpu kepada kepribadian tetapi dapat memberikan Puja.1963:15) menyatakan bahwa pendidik hendaknya dapat penghidupan bagi masyarakat. Contohnya, budaya yang dimiliki umat memberikan tiga hal pada peserta didik yakni ilmu pengetahuan dengan Hindu dengan tempat sucinya dikembangkan dengan diorama-diorama jujur, penerangan jiwa, dan memperhatikan perkembangan diri setiap yang bisa menarik kunjungan wisata. Hal ini bisa menciptakan lapangan anak didik. Menentukan ajaran agama, memilihkan ilmu yang diberikan kerja, dan wisatawan yang datang pun wisatawan spiritual. kepada peserta didik, dan pendidikan seni yang menyangku minat Sekarang ini manusia sudah berubah, ada degradasi moral. Dulu, bakat, amat membutuhkan analisa yang cermat terutama bagi mereka hubungan antarmanusia itu baik karena berdasarkan kasih sayang. yang menyusun kurikulum pendidikan. Untuk itu, agamawan, ilmuwan, Tetapi, sekarang ini hubungan baik berdasarkan kepentingan. Seringkali dan seniman wajib bekerja secara terpadu untuk membantu ahli-ahli timbul rasa iri, benci, dendam, marah , dsb. akan sesuatu hal. Dalam pendidikan menyusun kurikulum pendidikan. “Karena itu pendidikan ajaran umat Hindu ada ilmu-ilmu yang bisa diterapkan untuk bukan hanya mendidik manusia menjadi terampil atau ahli mencari mengendalikan perlilaku-perilaku negatif ini. Suami Ni Made Riken nafkah, tapi pendidikan itu mendidik manusia paham menata Suryati ini menegaskan agama hendaknya sebagai problem solver kehidupannya secara benar, baik dan wajar sebagai penghuni bumi (pemecah masalah), bukan sebaliknya sebagai problem creator (pembuat inibersama mahluk hidup lainnya,” paparnya.—ten


10

Tokoh

19 - 25 Desember 2010

BUMI GORA

Kapolda NTB Brigadir Jendral Arif Wachyunadi

1

Hobi Fotografi dan Dokumentasikan Karya yang “Bercerita” tkh/ist

tkh/nik

R

upanya motto ini tidak secara denotatif dapat diartikan begitu saja, melainkan makna yang dalam yang terkandung di dalamnyalah yang menjadi perhatian Kapolda yang hobi fotografer ini. Karena itulah, motto tersebut menjadi prinsip yang dipegang teguh ayah dua anak (Sigap Prahardika dan Harnas Prihandito) ini, bukan hanya dalam menjalankan tugas-tugasnya di institusi kepolisian, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang ingin disampaikan jenderal bintang satu ini adalah inisiatif menjadi salah satu hal penting bagi tiap orang dalam menjalankan tugas dan tanggung

tentunya padat, Arif selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobi fotografinya dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Menurutnya, hobi ini bisa disalurkannya sambil menjalankan tugas-tugas kamtibmas. Misalnya saja pada Dalam mengagumi karya alam yang diberikan Sang Pencipta di bumi NTB, kunjungan-kunjungan bersama tidak hanya menikmatinya bersama kamera dan sederet lensa-lensanya. anggota kepolisian Polda NTB Namun, ia jugaArif mengajak serta istri tercintanya untuk menikmati, berpetualang dan menjelajahi objek-objek di objek-objek wisata, Arif sewisata. Arif Wachyunadi bersama Megasari Manhatanti (tengah) di puncak Gunung Rinjani lalu menyempatkan diri memotret tiap momen maupun kein- pentingnya adalah mendoku- tugas, mulai dari objek wisata- daerah tempatnya bertugas dahan objek wisata tersebut le- mentasikan tiap kegiatan, tiap nya, peristiwa dan fenomena sebelumnya, NTB-lah yang wat lensa kameranya. Selain momen dan tiap peristiwa yang sosialnya dan sebagainya. Ia paling lengkap objek wisatamenyukai objek-objek alam dan terjadi. Karena itulah, karya- sangat tertarik memotret apa nya. “NTB memiliki objek pegunungan, ia juga kerapkali karya fotografi Arif selalu me- saja termasuk juga objek-objek wisata yang sangat lengkap, memotret momen-momen keber- rupakan foto yang “berbicara dengan “human interest” yang ada objek wisata alam, pesamaannya dengan para ang- atau bercerita”. “Saya ingin me- baik. gunungan, pantai, hingga dagota polisi baik dalam tugas- miliki dokumentasi tentang suDari mata kameranya, Arif sar lautnya serta objek-objek Kapolda NTB Brigadir Jendral Arif Wachyunadi (kanan) tugas resmi maupun saat-saat atu wilayah yang selengkap- mengagumi kekayaan dan wisata budayanya yang besedang melakukan “tarung” peresean (tarung khas pepadu Lombok) santai. lengkapnya di mana pun saya keindahan objek wisata di NTB, ragam. Dan, keindahan itulah dengan Gubernur NTB T.G.H. M. Zainul Majdi (kiri) Hobi ini ternyata bukan bertugas,” ujar Kapolda. Ia seperti Gunung Rinjani, Gu- yang mampu memberinya dalam suatu kesempatan semata-mata menyalurkan ingin memiliki dokumentasi nung Tambora, Gili Trawangan, kepuasan untuk mewujudkan jawab di mana pun ia berada. kedinasan di institusi kepolisi- kesenangan bernuansa seni, yang dibuatnya sendiri pada Pulau Moyo, dan Pulau Saton- dokumentasi karya fotografiSeseorang yang memiliki an, sudah tentu sebagai pim- melainkan juga yang tak kalah tiap wilayah tempatnya ber- da. Menurutnya, dari beberapa nya. “Belum saya temukan obinisiatif yang baik, menurutnya, pinan, Arif adalah orang yang jek wisata selengkap NTB,” akan dapat membawa diri tegas dan disiplin. Namun, di katanya. dengan baik pula. Ia menyadari balik itu, banyak orang tidak Sebagai daerah yang medalam kehidupan manusia mengetahui sisi lain suami dari miliki objek-objek wisata yang selalu ada yang lebih tinggi. Megasari Manhatanti ini. Inilah memukau, NTB memang telah “Apapun kedudukan kita, pasti sisi lain Kapolda NTB yang menjadi tujuan wisata bagi para ada yang lebih tinggi di telah 25 tahun menjadi polisi pelancong. Kunjungan wisata atasnya,” ujarnya. Inisiatif juga ini, memiliki hobi fotografi yang ke NTB yang terus meningkat, dapat menjadi modal utama bagi digelutinya dengan sungguhmenjadi salah ssatu perhatian tiap orang dalam menjalankan sungguh.Terutama dalam hal Kapolda, terutama dalam pengtugas-tugas dan tanggung ja- hobi ini membuat pembawaanamanan wisatawan asing. Kawab negara, seperti di insti- nya menjadi lebih santai dan rena itulah, polisi pariwisata tetusinya. Pimpinan lebih suka mudah akrab dengan siapapun. lah dibentuk di NTB seperti di dengan mereka yang memiliki Arif adalah sosok yang raGili Trawangan Lombok Utara, inisiatif yang baik dalam men- mah dan menyenangkan. Hobi Senggigi Lombok Barat dan jalankan tugas-tugasnya, bukan fotografi yang digelutinyalah Lakey selalu menunggu perintah. yang tampaknya berpengaruh Dompu. Peningkatan kapaKarena dengan inisiatif itu, dalam diri dan pembawaannya sitas dan kapabilitas polisi parisemua pekerjaan bisa diselesai- sehingga membuat ia lebih wisata juga ditingkatkan. “Sekan dengan efektif dan efisien. flesikbel dalam bersikap. Bagaitidaknya polisi pariwisata harus Tidak mudah memang untuk mana tidak, dalam hobi fotografi mengerti dan memiliki wawasan seseorang memiliki inisiatif itu, seni menjadi bagian yang tentang objek wisata di mana yang baik, jika tidak benar-benar tak terpisahkan. Intuisi yang ia ditugaskan dengan melakudilandasi dengan tanggung ada dalam diri seseorang yang kan pelatihan-pelatihan bagi jawab yang baik pula. Demi- mencintai seni membuat orang polisi pariwisata,” ujarnya. kianlah, pandangan pria kelahir- tersebut lebih peka dan memiliki Yang tidak kalah pentingnya, an 14 Mei 1960 ini. empati yang baik terhadap polisi pariwisata harus memiliki Sebagai seorang polisi, sekitarnya. kemampuan berbahasa Inggris pembawaan keseharian Arif Sebagai seorang Kapolda Kapolda NTB Brigadir Jendral Arif Wachyunadi bersama para anggota polisi dari Polda NTB, Polresta Bima, untuk memperlancar tugasPolres Bima, Polres Dompu, dan Polres Lombok Timur, di puncak Gunung Tambora terkesan kaku. Dalam tugas dengan aktivitas tugas yang tugasnya. —nik

tkh/ist

“Jawab sebelum ditanya, lakukan sebelum diminta”. Kalimat ini meluncur tegas dari bibir Brigadir Jendral Arif Wachyunadi, Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam sebuah wawancara khusus dengan wartawati Koran Tokoh, Naniek I. Taufan, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. “Apanya yang dijawab jika belum ada pertanyaannya? dan apa yang dilakukan jika tidak ada perintah untuk melakukan apa?”.

LKP Agung Gandeng Koran Tokoh

Gelar Pelatihan Gratis di Banjar Lebah diri sendiri,” ujarnya. dapat kunjungan dang Hubungan Masyarakat Para peser ta dari SMK 1 Sala- dan Hubungan Industri Drs. tampak bersematiga, Jawa Tengah Niam Abadi mengatakan ngat mengikuti pejurusan Tata Ke- dipilihnya LKP Agung selatihan berdurasi cantikan sebanyak bagai tempat studi banding empat jam tersebut 32 orang didam- dikarena LKP ini dinilai yang diberikan pingi empat guru mampu memberikan motipemilik LKP Agung pembimbing. Ke- vasi kepada anak didik AAA Ketut Agung, datangan mereka mereka sesuai dengan M.M. Mereka lebih ini bertujuan me- bidang yang mereka tekuni. bersemangat lagi lihat langsung “Bali dikenal sebagai ikon karena hasil tata pembelajaran dan wisata dan budaya. Kami rias dan sanggul pelatihan di LKP ini berharap anak-anak dapat dari pelatihan itu sehingga mampu termotivasi bahwa dari sisi langsung dilombamenjadi lembaga budaya seperti tata kecankan. Peserta yang kursus yang diper- tikan ini bisa juga dibisnisberhasil meraih jucaya masyarakat kan untuk kehidupan mereka ara I, II, III mendan pemerintah, kelak. Mereka juga bisa dapatkan pelatihan serta jaringan ke- membandingkan pembegratis tentang tata mitraannya yang lajaran yang didapat di kecantikan kulit, begitu luar biasa. sekolah dengan praktik tata kecantikan Mereka juga di- nyata di lapangan seperti di rambut, dan tata suguhkan tarian LKP Agung. Dan, ternyata rias pengantin di Puspanjali yang bu Agung tak hanya berLKP Agung. Dan, ditarikan oleh anak- gerak di LKP tapi diuntuk 20 peserta anak didik LKP kembangkan ke bidang tata terbaik diusulkan Agung. Wakil Ke- rias lain,” ujarnya. Peserta pelatihan menampilkan hasil pelatihan tata rias dan sanggul didampingi tokoh adat. Tampak AAA Ketut Agung (tengah) mendapatkan pala Sekolah Bi–ten beasiswa pelatihan gratis di menurut AAA Ketut Agung bangsih kepada masyarakat sialisasikan penggunaan LKP Agung pada periode merupakan bentuk yadnya- Bali,” ujarnya. Pelatihan tata sanggul Bali dan busana 2011. nya kepada masyarakat Bali. rias wajah dan sanggul ini adat Bali yang baik dan benar Pelatihan gratis yang “Hanya dengan bentuk ini pun tegasnya lagi merupakan di era global ini. “Selain menkerap digelar LKP Agung ini saya bisa memberi sum- salah satu upaya menyo- dukung Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan dan ajeg Bali, pelatihan ini juga bertujuan agar semua perempuan Bali khususnya di Kota denpasar mampu memasang sanggul sendiri,” ujarnya. Reputasi LKP Agung di Bali sebagai lembaga kursus kecantikan kian mendapat tempat di hati masyarakat. Reputasi baiknya pun kian dikenal sampai ke kancah nasional. Kerapkali, LKP Agung dijadikan tempat studi banding atau tempat magang bagi AAA Ketut Agung saat memberikan pengarahan kepada peserta anak-anak SMK di seluruh Pelatihan Tata Rias Wajah, Membuat dan Memasang Sanggul Bali AAA Ketut Agung memberikan pengarahan tentang tata kecantikan, tata rias pengantin Bali dan busana adat Bali dan Modern didampingi tim kosmetika Sari Ayu, Minggu (12/12 ) Tanah Air. Jumat (17/12), kepada anak-anak SMK 1 Salatiga, Jawa Tengah yang melakukan studi banding ke LKP Agung, Jumat (18/12) di Banjar Lebah Sumerta Denpasar LKP Agung kembali men-

SERANGKAIAN Hari Raya Galungan dan Kuningan serta peringatan Hari Ibu, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung bekerja sama dengan Koran Tokoh menggelar Pelatihan Tata Rias Wajah, Membuat dan Memasang Sanggul Bali dan Modern, Minggu (12/12) di Banjar Lebah, Sumerta Denpasar. Pelatihan gratis yang diikuti 100 peserta dari PKK Desa Sumerta itu dibuka Tim Penggerak PKK Kota Denpasar diwakili Ny. Ketut Robin, dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Denpasar Timur Ny. Ida Bagus Alit, dan tokoh adat. Dalam sambutannya, Ny. Ketut Robin mengatakan sangat menyambut baik kegiatan ini. “Dengan keterampilan yang mereka miliki, kini para ibu tak perlu lagi pergi ke salon sehingga bisa menghemat pengeluaran. Harapan kami ke depan, dengan bekal keterampilan ini mereka bisa membuka usaha sendiri. Minimal keterampilan ini bermanfaat untuk


KESEHATAN

Health Ambassador 2010

Kampanyekan Kesehatan Mulai dari Diri Sendiri

Health Ambassador 2010 I G.A Istri Sari Devi

KESADARAN dalam menjaga kesehatan merupakan hal yang sangat mendasar dalam mencegah timbulnya suatu penyakit. Untuk menciptakan kesehatan masyarakat secara global tidak hanya menjadi tanggung jawab dokter dan staf paramedis, namun juga diperlukan suatu partisipasi aktif masyarakat itu sendiri. Demikian disampaikan Ketua panitia Pemilihan Health Ambassa-

dor 2010 Ida Ayu Tri Wedari, dalam malam grand final, Sabtu, (11/12) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar. “Pentingnya melibatkan semua komponen masyarakat menjaga kesehatan lingkungannya yang pada akhirnya akan berujung pada peningkatan kualitas kesehatan masing-masing individu,” ujar perempuan yang akrab disapa Ujek ini. Kegiatan yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud ini merupakan perhelatan yang ketiga, tahun sebelumnya dilaksanakan pada tahun 2006 dan 2009. Tema tahun ini “Melalui Budaya Bali, Kita Tingkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (Trough Balinese Culture We Improve Our Clean and Healthy Living).” Peserta, remaja Bali usia 16-20 tahun yang memiliki kepedulian tinggi terhadap peningkatan kualitas kesehatan di daerahnya. Saat pendaftaran tercatat 43 orang peserta yang disaring menjadi 10 finalis. “Mereka ini telah melakukan health education di SMP 1 dan SMP 3 Denpasar. Mereka mengikuti masa karantina 10 – 11 Desember di Hotel Santhi Denpasar. Saat karantina mereka diberi pembekalan oleh pembicara andal seperti Ir. Oka Saraswati, dr. Eka Cipta Sari, Sp.KK, dan Petugas Dinas Kesehatan Kota Denpasar,” ujar Ujek. Kepala Dinas Kesehatan Prov. Bali dr. Nyoman Sutedja dalam sambutannya mengatakan sangat mendukung pemilihan duta kesehatan ini. Ujek mengaku berbangga, per-

Panitia Pemilihan Health Ambassador 2010

helatan tahun ini tergolong sangat meriah, selain dihadiri pejabat dari Provinsi Bali dan Putri Bali 2010, 360 tiket terjual habis. “Kesuksesan malam ini tentunya tidak lepas dari kerja keras rekan-rekan panitia Health Ambassador 2010,” ujar mahasiswi FK semester V ini. Ia menambahkan, suatu terobosan baru dari Fakultas Kedokteran Unud yang telah memperoleh banyak pujian dari civitas akademika universitas – universitas yang ada di Indonesia. Para peserta tampil memukau dan menawan dalam balutan busana Tjok Abi dan Monika Weber serta tata rias wajah dan rambut dari Tude Togog. Setelah melalui proses seleksi yang panjang, akhirnya terpilihlah IGA Istri Sari Devi mahasiswi Fak. Ekonomi Unud sebagai Health Ambassador 2010, IA Prasasti Asih Dewi siswi SMAN 4 Denpasar sebagai runner up I sekaligus Talented Ambassador 2010, Made Nian Anggara siswi SMAN 1 Denpasar sebagai runner up II, dan A. A. A. Lani Ratnasari mahasiwi Fak. Teknik Unud sebagai Favorite Ambassador 2010. “Saya benar-benar tidak menyangka akan terpilih sebagai Health Ambassador 2010, karena awalnya saya tidak percaya diri mengikuti pemilihan ini,” ujar IGA Istri Sari Devi atau yang akrab disapa Gung Is ini. Health Ambassador memperoleh hadiah berupa uang tunai Rp 1.500.000 dari Impression, voucher senilai Rp 500.000 dari Rudy Hadi Suwarno, bingkisan dari Oriflame, Rai Wáter Sport, Bali Zoo Park, serta beasiswa dari Unud. Pembantu Dekan III FK Unud Dr. dr. Dyah Paramita Duarsa, M.Si. mengatakan, setelah terpilih menjadi duta kesehatan ini, nantinya Health Ambassador akan menjalankan tugasnya selama setahun sebagai role model kesehatan di Bali serta sebagai edukator dan inisiator di kalangan masyarakat luas untuk mengajak mereka menjaga kesehatan lingkungan dan kesehatan diri. —ast

Praktis saya tidak bisa berjalan, seluruh kaki saya jadi lumpuh,” ucapnya.. Untuk mengatasi luka, menurutnya ia disuntik dan diberi antibiotika oleh dokter. Sayangnya, luka itu tidak kunjung sembuh juga. Saya sampai bosan mengonsumsi obat dari dokter.Yang paling mengagetkan lagi, setelah sekian lama berobat ke dokter saya malah dianjurkan untuk diamputasi sebab kaki saya sudah terlanjur membusuk (gangren). “:Dokter mengatakan kaki saya harus sesegera mungkin diamputasi supaya lukanya tidak melebar hingga ke bagian atas kaki. Tentu saja saya menolak keras vonis dokter itu, selain memang tidak siap melakukannya, Rupanya keluarga saya juga tidak memberi izin. Sekarang, haraan satu-satunya bagi saya dan keluarga adalah mencari pengobatan alternatif,” papar Ibu Asa.. Selanjutnya Ibu Asa merasa ber-

Tokoh

11

IDI Dorong Dokter Tingkatkan Kompetensi ILMU pengetahudi RS Bali Med (6/11) an dan teknologi terus yang diikuti sekitar 400 berkembang pesat. dokter. Pembicara dr. Para dokter dituntut Hariyasa Sanjaya, terus meningkatkan Sp.OG. dan pembicara kompetensinya sedari IDI Wilayah Bali, hingga mampu membakti sosial bedah miberi pelayanan terbaik nor di Desa Belog Sibagi masyarakat. Dedan, Petang, Badung mikian disampaikan dr. (7/11) yang juga diduI Ketut Suyasa, Sp. B., kung angkatan 84 FK Sp. OT (K)., Spine, daUnud (acciput) dan RS lam perayaan HUT keBadung. Sebanyak 80 60 Ikatan Dokter Indodokter ikut berpartinesia (IDI) Cabang sipasi dalam acara terDenpasar. sebut. Bekerja sama dengan RS Surya HuIa berharap, para sada dan Puskesmas dokter dapat menjaDenpasar Barat II, wab semua tantangan sebanyak 50 dokter ikut di era persaingan beberpartisipasi dalam bas dan terus belajar agar tidak ketinggalan. Ketua panitia dr. Ni Nyoman Ermy Setiari, M.Kes, Ketua IDI Denpasar pemberantasan sarang dr. I Ketut Suyasa, Sp. B., Mantan Ketua IDI dr. I Putu Budhiastra, nyamuk di Br. Bumi IDI Cabang Denpasar dan sekretaris IDI Denpasar dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked. Santi Denpasar (14/11). sebagai organisasi profesi memiliki anggota sekitar 1500 untuk dapat berkomunikasi terutama Acara HUT, Minggu (12/12) dokter di Denpasar dan Badung. Ber- dengan pasien harus terus diasah. diawali dengan jalan santai, dan bagai kebijakan dikeluarkan, salah “Memberi penjelasan kepada masya- diteruskan dengan potong tumpeng, satunya agar surat izin praktik di- rakat awam memerlukan komunikasi pembagian door prize, dan hiburan perbaharui tiap lima tahun dengan tepat agar tidak terjadi kesalah- band dari anak-anak dokter. tujuan, agar para dokter terus mem- pahaman. Untuk itu, kemampuan Penghargaan diberikan kepada perbarui ilmunya. “Aman bagi dokter berkomunikasi juga harus terus mantan Ketua IDI yang telah medan juga aman bagi pasien,” ujarnya. dilatih,” paparnya lebih jauh, senada miliki kontribusi besar demi meSelain terus meningkatkan kom- dengan tema yang digaungkan majukan organisasi tersebut. Mereka petensi diri, kata dia, kemampuan tahun 2010 ini, “Perkokoh Solidaritas tersebut, Prof. dr. Ida Bagus ManuProfesionalisme dalam Menyong- aba, Sp.OG, dr. Putu Wirya Masna, song Era Globalisasi.” Sp.T.H.T, Prof. dr. Agus Bagiada, Sp. Ketua panitia HUT dr. Ni Nyo- Biok, Prof. dr. Nyoman Mangku man Ermy Setiari, M. Kes. menye- Karmaya, M. Repro, dr. Purwa butkan, berbagai kegiatan telah di- Samatra Sp, S. (K), dr. Made Darmadi, lakukan dalam rangkaian HUT, semi- M.P.H., dr. Nyoman Sueta, P.A.K., dr. nar Sertifikasi dan Pengisian Borang Putu Budiastra, Sp. M. –ast

Pemotongan tumpeng oleh Ketua IDI Denpasar yang diserahkan kepada mantan ketua IDI pertama Prof. Manuaba

Karena Diabetes hampir Kehilangan Kaki Terselamatkan Ramuan Herbal Hsen Chii Tidak ada seorang pun yang rela kehilangan kaki atau menjadi cacat seumur hidup. Begitu juga dengan Ibu Asa (40), salah seorang pasien Hsen Chii International. Perempuan yang berdomisili di Bali ini, kakinya terancam diamputasi, akibat luka yang sudah membusuk dan sukar sembuh (gangren diabetes). Ibu Asa merasa beruntung ancaman itu bisa dihindari setelah mengenal ramuan herbal dari Hsen Chii. Dengan senang hati ia pun bersedia berbagi pengalamannya. Ibu Asa menderita diabetes melitus sejak lama. “Saya selalu patuh pada anjuran dokter untuk rajin mengonsumsi obat pengontrol gula darah. Saya memang merasa agak mendingan kalau makan obat kimia tersebut. Namun, rasa nyaman itu tidak bertahan lama. Masalahnya meski rajin mengonsumsi obat medis, pola makan saya tidak disiplin. Semua makanan kesukaan, saya makan dengan lahap. Mungkin karena dokter secara khusus tidak menyuruh saya untuk pantangan terhadap makanan tertentu. Dokter hanya diminta untuk membatasi makanan yang manis-manis,” tuturnya. Bertahun-tahun Ibu Asa cukup merasa nyaman dengan obat medis. “Padahal ketika itu saya selalu makan berlebihan. Setelah beberapa lama kemudian, tanpa terasa mulai timbul luka kecil di kaki saya yang disertai kesemutan. Luka itu semakin hari semakin membesar dan melebar mulai dari telapak kaki hingga ke mata kaki.

19 - 25 Desember 2010

untung memperoleh informasi dari teman kerjanya dan juga koran “Tokoh” di Bali yang menyebutkan bahwa, gangren diabetes atau kaki diabetik bisa disembuhkan hanya dengan ramuan herbal berbentuk tablet dari Hsen Chii International, tanpa operasi atau amputasi. Saya pun teratirk mencobanya,” tandasnya.. Singkat cerita, setelah berkonsultasi dengan Mr. Chai Ibu Asa mendapat nasihat dan petunjuk cara pemakaian ramuan herbal diantaranya produk Manjusaka, Optimum, Octogenarian, Orbitalized dan Ling Zhi berikut taburan bubuk obat. Hasilnya, kaki Ibu Asa menjadi berkurang bengkaknya dan lukanya mulai mengering. “Kalau dulu kaki saya mati rasa (baal), sekarang setelah memakai ramuan herbal dari Hsen Chii International selama 6 bulan, kaki saya dinyatakan telah pulih 95 persen. Perlahan-lahan mulai tumbuh jaringan baru, perdarahannya pun sudah terbatas, dan kaki saya juga sudah dapat merasakan sesuatu. Hingga kini saya masih rajin mengonsumsi ramuan herbal dari Hsen Chii International, karena saya ingin berobat sampai sembuh. Gula darah saya juga sudah terkontrol, dibawah 140 pp,’ ucapnya sembari mengatakan dirinya dan keluarganya merasa sangat bahagia karena terbebas dari ancaman amputasi. “Yang pasti saya tidak jadi kehilangan kaki. Terima kasih saya ucapkan kepada Hsen Chii International,” pungkasnya.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimile (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

Mantan ketua IDI menerima penghargaan dari Ketua IDI Denpasar


12

Tokoh

19 - 25 Desember 2010

Kawin Pada......................................................................................................................................................................dari halaman 1 Denpasar Great.................................................................................................dari halaman 1 kewajiban sekala dan niskala secara terus-menerus atau dalam jangka waktu tertentu. “Jangka waktunya tergantung kesepakatan pasangan suami istri beserta keluarganya,” jelasnya. Makna tanggung jawab tadi berkaitan dengan kewajiban (swadharma) dan hak (swadikara) seseorang dalam keluarga serta masyarakat (desa pakraman atau banjar adat). Kewajiban tersebut berhubungan dengan aktivitas keagamaan sesuai ajaran Hindu. Kewajiban ini pun bertalian dengan tempat suci (parhyangan) dalam keluarga maupun masyarakat. “Selain itu, kewajiban ini menyangkut pula aktivitas kemanusiaan (pawongan) serta kegiatan memelihara lingkungan alam (palemahan),” jelasnya. Sementara hak (swadikara) seseorang dalam keluarga dan masyarakat berhubungan dengan pewarisan harta kekayaan keluarga dan leluhur. Hak ini juga berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas milik desa adat, seperti tanah desa, tempat suci, dan kuburan (setra). Kewajiban dan hak terse-

but bisa melekat dalam diri suami dan istri jika enggan kawin biasa maupun nyentana. Ini untuk menghindari terjadinya kaputungan alias camput keluarga anak lelaki maupun perempuan tadi. “Perkawinan pada gelahang sudah diakomodir MDP Bali. Bentuk perkawinan ini menjadi semacam ‘pintu darurat’ bagi calon mempelai dan keluarganya jika anak mereka tidak dapat menjalani kawin biasa maupun kawin nyeburin. Maksudnya jangan sampai keluarga ini tidak memunyai keturunan. Keluarga ini menghendaki keturunan yang kelak meneruskan kewajiban dan hak orangtua serta leluhur masing-masing,” ujarnya. Pilihan bentuk perkawinan pada gelahang ini menjadi solusinya. Tetapi, perkawinan ini dinilai pengamat hukum Ida Bagus Gde Wananjaya, S.H. sebagai cenderung hanya menonjolkan alasan pemenuhan hak waris. “Agar suami dan istri tetap dapat warisan di keluarganya masing-masing. Tetapi, apakah ada alasan lain yang lebih elegan di luar itu. Kajian akademik harus terus

Pada Gelahang...........................................dari halaman 1 perintah undang-undang untuk itu. Ia mengutip ketentuan UU Pokok Kekuasaan Kehakiman. “Sesuai UU Pokok Kehakiman, hakim wajib menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Ini termasuk hukum adat Bali. Susah jika hakim tidak paham hukum adat Bali,” ujarnya. Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Si. menilai, keputusan MDP Bali tidak harus diadopsi menjadi perda atau pergub. Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi, eksistensi hukum adat ada, hidup, diakui, kuat, dan ada yang menguatkan. “Hukum adat sudah ada, juga kuat, tetapi harus dikuatkan,” ujarnya. Menurutnya, putusan MDP Bali pun tidak harus menjadi hukum positif. Terminologi bahasa Bali melukiskannya sebagai pasikiang kasobyahang. “Sesuai asas hukum, kesepakatan yang dianut secara

sah akan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang bersepakat. Jadi, putusan MDP Bali itu otomatis menjadi semacam undang-undang bagi krama desa pakraman di Bali. Masalahnya, umat Hindu di Bali taat atau tidak,” serunya. Ada kelemahan yang disinggungnya dalam konteks itu. “Kita kan terlalu memuja-muja hukum negara, mengabaikan hukum adat. Akibatnya, jika ada kasus perceraian, penyelesaian secara hukum adat dianggap tidak sah. Ini gara-gara kita mengacanya dari hukum nasional. Apalagi jika perceraiannya tidak disertai bukti otentik yang dialami terutama jika ada umat Hindu yang bercerai mau kawin lagi dengan calon pendamping hidup dari kalangan agama nonHindu. Jika dia mau kawin lagi dengan sesama umat Hindu sih tidak ada masalah,” jelas guru besar FH Unud yang gemar bergurau ini. —sam,wah,tin

dilakukan untuk mengungkapnya,” harap Wananjaya. Adanya hak yang masih melekat tadi memang membawa konsekeunsi dalam ritual perkawinannya. Upacara mapamit alias ritual khusus pelepasan tanggung jawab maupun kewajiban (swadharma) salah satu mempelai seperti dalam perkawinan biasa maupun nyentana pun tidak melekat dalam perkawinan ini. “Tanggung jawab dan kewajiban anak yang lahir dari perkawinan ini ditentukan menurut kesepakatan ayah dan ibu kandungnya,” tambahnya. Namun, kesepakatan ayah dan ibu kandung itu belum cukup. Menurut pengamat sosial Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si., sepasang suami istri harus memiliki kesepahaman menyangkut kewajiban maupun hak anak dalam perkawinan pada gelahang. “Jangan sampai alasan praktis dan instan membuat hal-hal begini terabaikan. Adat bu-

daya dan hukum Hindu harus dijadikan dasar untuk mengakomodir tuntutan harmoni dalam kehidupan perkawinan masyarakat Bali,” harap tenaga akademik Kopertis Wilayah VIII yang diperbantukan di Universitas Wirabhakti Denpasar itu. Ada satu catatan kritisnya. Catatan itu berkaitan dengan harmoni dalam hubungan perkawinan sepasang suami istri. Kasus yang dicontohkan terkait peristiwa perkawinan nyentana. “Ceritanya, ada keluarga yang punya 2 anak perempuan. Anak pertama kawin nyentana, tetapi tidak punya anak. Anak kedua kawin biasa dan punya anak. Masalah dihadapi anak sulung yang kawin nyentana. Untuk bisa memiliki keturunan, apakah seorang istri yang telah kawin nyentana harus kawin nyentana lagi agar punya keturunan. Hukum Hindu seharusnya memberikan jawabannya,” harap Widhiasthini. —sam

Akui Hak..........................................................dari halaman 1 mendongkrak status perempuan Bali dalam masyarakat adatnya. Hak waris perempuan, khususnya perempuan anak telah memperoleh pengakuan MDP,” ujarnya. Forum Pesamuhan Agung ke-3 lembaga adat ini belum lama berselang menjastifikasinya. “Dulu perempuan bukan ahli waris. Sekarang MDP telah memutuskan perempuan berhak mewarisi separuh warisan lakilaki,” ujarnya. Putusan tersebut dinilai sebagai dinamika perkembangan baru. Status hukum waris perempuan Bali dalam keluarga mendapatkan kepastian. “Saya menilainya sebagai sebuah revolusi sosial, khususnya putusan revolusioner dalam mengangkat martabat perempuan Bali,” ujarnya. Tetapi, Wiasti ternyata belum sepenuhnya plong. “Apakah putusan MDP itu, dalam praktiknya, sungguh berjalan. Apakah perempuan memang akan dapat waris separuh dari laki-laki. Saya yakin ini tetap tidak mudah. Walau saya percaya, putusan MDP itu bersifat

mendasar,” katanya. Keraguannya beralasan pula jika mengutip penuturan lain Wiasti. Di satu sisi, ia memberikan apresiasi terhadap pengakuan hak hukum perempuan Bali terkait putusan MDP mengukuhkan penghapusan upacara patiwangi. “Ini artinya dalam perkawinan umat Hindu di Bali tidak diakuinya endogami kasta atau wangsa atau lainnya. Perempuan atau lakilaki Bali boleh kawin tanpa batas kasta tertentu,” ujarnya. Tetapi, di sisi lain, Wiasti meragukan praktiknya. “Walau ada putusan penghapusan upacara patiwangi. Kenyataan banyak kasus perkawinan antarwangsa yang menimbulkan masalah,” katanya. Hal serupa dilukiskannya dalam kebebasan perempuan Bali dari praktik kekerasan. “Ajaran Hindu memang memberikan kedudukan nyaman bagi istri, perempuan dihargai dan dihormati. Ini gambaran ideal ajaran Hindu. Dalam praktik justru sebaliknya. Banyak perempuan masih mengalami tindakan kekerasan,” imbuhnya. —tin, sam

Tanam dan Pelihara..................................................................................................................................................dari halaman 2 Tidak boleh surut, jangan kecil hati. Tini Gorda

Yang Ditanam sesuai Kebutuhan

Ambil Hikmah Cerita Kakek Jangan lupa, menanti tumbuhnya pohon itu lama, bisa bertahun-tahun, sehingga perlu ketegasan pemerintah. Kalau ditebang 5, tanam 10, artinya tidak akan ada pohon yang besar, tersisa yang kecil-kecil. Menanam lebih mudah daripada memelihara. Sama seperti membuat anak, memeliharanya susah. Saya punya cerita yang bisa diambil hikmahnya. Seorang kakek usia 80 tahun menanam pohon kelapa. Cucunya bertanya untuk apa menanam pohon toh kakek nanti akan meninggal dan tidak melihat hasilnya. Kakek itu menjawab, pohon ini saya tanam untuk kamu, dan anak cucu saya kelak. Seandainya pemimpin di negeri ini mengambil hikmah dari cerita ini tidak ada hutan gundul di Indonesia. Becik

Kami kaum perempuan menyosialisasikan kegiatan ini untuk menunjukkan perempuan di Bali tidak ada masalah yang signifikan. Tidak ada masalah dengan adat. Perempuan tahu membagi waktu, kapan harus ke adat, kapan di organisasi, dan terjun di masyarakat. Ruang sangat terbuka lebar dan harus dimanfaatkan. Sesuai tema Hari Ibu tahun ini kegiatan ini pun harus bisa disinergikan. Banyak kegiatan perempuan kurang dipublikasikan. Terima kasih kepada Koran Tokoh yang sudah mengapresiasikan kegiatan kaum perempuan. Dalam gerakan tanam dan pelihara pohon ini yang ditanam pohon produktif. Selama dua minggu kami mencari masukan dari pemerintah dan masyarakat setempat, apa yang mereka Usulkan Tanaman butuhkan. Tiap wilayah berbeda Sarana Upacara sesuai kebutuhan mereka. Program ini merupakan Tini Gorda bagian program pemerintah pusat, penanaman pohon 1 miliar. Perempuan ikut berparBapak Tanam tisipasi dan kami harapkan diIbu Pelihara respons masyarakat. Ini bukan hanya tugas pemerintah tetapi Kegiatan tanam pohon ini tugas kita bersama. Komitmen belum disinergikan dengan yang kami gaungkan untuk anak petani. Paling hanya sebatas cucu kita kelak. Sejak bocah Tabanan di Pupuan, Gianyar di ditanamkan gemar menanam dan Payangan, daerah-daerah yang memelihara pohon. Program ini memang basis petani. Tidak medigencarkan sejak tahun 2007. rata ke semua petani. BagaiKami memang menerima banyak mana agar program ini dapat masukan, mengapa tidak tanam meningkatkan taraf hidup petanaman bahan upacara. Mudahtani. Artinya, bapak yang memudahan tahun 2011 bisa dinanam ibu yang memelihara. akomodir saran-saran masyaSantha rakat. Tanaman untuk sarana Kembangkan upacara kami usulkan tahun Tanaman Multifungsi 2011. Yang penting kesiapan kita Bagaimana kalau kita kem- memeliharanya. Bagaimana bangkan tanaman multifungsi masyarakat sanggup memelihara yang berkhasiat obat dan dapat dan sedapat mungkin mendapatkan manfaatnya. Mari berjuga memenuhi sarana upacara gandeng tangan melakukan dan sebagai penyejuk atau gerakan ini bersama-sama. perindang dan juga lumbung Tini Gorda hidup. Bagus kalau bisa sampai merata ke semua kabupaten. Pengalaman Jangan sampai saya dari Bangli harus mencari bahan itu ke Forum Sekar Gianyar. Kami, Forum Sekar, sudah Ketut Kari Songan melakukan kegiatan ini duluan.

tan, pinang, nangka, dan sawo. Jangan pesimis. Berikan kami semangat. Kami berharap gerakan perempuan ini didukung. Bapak-bapak, harus optimis, gerakan ini pasti ada hasilnya. Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan partisipasi perempuan, namun merupakan spirit bagi pembangunan. Mari kita bersama-sama optimis menyelamatkan lingkungan. Hasil kegiatan ini memang baru dinikmati 10 atau 20 tahun ke depan. Kita berbuat untuk anak cucu kita. BKOW Bali sebagai salah satu komponen masyarakat turut memikul tanggung jawab ini. kita mengajak seluruh Berbuat Mari warga masyarakat Bali untuk untuk Anak Cucu optimis menyelamatkan lingSebanyak 23 ribu bibit po- kungan. Motivasikan, manfaathon sudah ditanam di Karang- nya untuk kemudian hari. asem seperti mangga, rambuTini Gorda Namun, dalam pelaksanaan kami kesulitan mendapatkan bibit. Birokrasinya berbelit-belit. Dulu saat kami menanam di kaki Gunung Agung, dicemooh saat pilkada pertama Karangasem. Mereka mengatakan, mengapa membuang duit, tidak akan ada hasil. Setelah ditanam kami serahkan pengawasan kepada desa adat. Entah, dipelihara atau tidak. Di daerah Penatahan, program ini berjalan. Boleh buat program tetapi rutin diawasi agar tidak hanya retorika. Wayan Sutama

Di sini akan terbentang khazanah kemasyarakatan dan segenap potensi kebudayaan dan kreativitas yang tumbuh dan berkembang di Kota Denpasar. Ke depannya, dengan sendirinya akan muncul mana industri masyarakat yang geliatnya paling dominan dan menjadi unggulan. “Inilah yang selanjutnya perlu memperoleh dukungan untuk lebih dikembangkan lagi. Tentu diikuti pula dengan yang lainnya,” ujar Rai Mantra. Ia mengatakan, yang utama dari kehadiran Denpasar Great Sale ini adalah menggiring pengrajin dan pengusaha pada industrialisasi kreatif berbasis budaya unggulan. Bagaimana pengusaha menciptakan ide dan kreasi suatu produk. Kemudian pemerintah kota mengakomodir dan memberikan aksesbilitas. Jika idenya bagus dan kreativitasnya tinggi, Rai Mantra yakin pembeli akan datang. “Malah pada Denpasar Festival kali ini juga dilaksanakan berbagai lomba kreativitas yang hasilnya nanti bisa kita lihat bersama,” katanya dengan harapan dari semua sisi ada peningkatan dibanding tahun lalu. Sementara itu menurut Kadis Perindag Kota Denpasar, I Wayan Gatra kehadiran Denpasar Festival memang memberikan ruang berbeda bagi pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan usaha mikro kecil

I Wayan Gatra

dan menengah (UMKM) yang selama ini terus digalakkan secara serius oleh pemerintah Kota Denpasar. Dengan kembali menghadirkan kegiatan wisata belanja yang mengambil main focus di kawasan Gajah Mada ini, masyarakat akan berbondongbondong hadir. Apalagi, makin banyaknya peserta yang dilibatkan baik dari pedagang yang sudah ada di kawasan setempat, seperti kuliner, retail atau pun pedagang di Kumbasari. Sedangkan di lingkungan sekitarnya juga digelar Denpasar Great Sale yang menyasar beragam produk unggulan lokal, seperti handicraft, spa, perak, kepompong, bambu, bakery. Toko swalayan di Kota Denpasar juga turut melakukan great sale, mulai besok tanggal

20 hingga 27 Desember di lokasinya masing-masing. Gatra juga mengatakan semua kegiatan di dalam Denpasar Festival mendukung program pemerintah selama ini menjadikan Denpasar hadir dengan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mengingat pula Denpasar adalah kota jasa (service city) yang akan dapat memberikan kesempatan kepada para pengusaha untuk memperkenalkan produknya, menambah pendapatan pedagang, pengrajin serta toko swalayan dan pengusaha retail. Namun, katanya momen ini merupakan tantangan bagi pengusaha untuk memberikan layanan optimal kepada masyarakat dengan kualitas produk dan harga bersaing mulai dari kebutuhan pokok sampai dengan kebutuhan konsumtif lainnya sehingga kegiatan ini betul-betul dapat memberikan kepuasan kepada konsumen. Hasil lain yang ingin dicapai dari program ini adalah bahwa produk dari Kota Denpasar diharapkan mampu bersaing di pasar global baik dari segi kualitas maupun desain. Begitu pula terjalinnya kerja sama bisnis dengan para buyer sehingga dapat meningkatkan realisasi pendapatan serta memberikan kontribusi besar terhadap PDRB Kota Denpasar. “Di samping itu, kami juga berharap terjadinya kontak dagang secara berkesinambungan dengan para buyer,” ucap Gatra. —ard

Manajemen Diri.................................................................................................dari halaman 1 yang sudah terbentang di depan,” tutur Gung Tini yang mengaku berguru kepada semua orang ini. Menyiasati dilema yang ada, perempuan harus memanajemeni diri agar dapat mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas melalui pendidikan serta keterampilan. “Para perempuan mesti menyadari dan menemukan hal terbaik dalam dirinya; membuka kunci kekuatan dengan menemukan potensinya; membangun fokus untuk mencapai tujuan; tahu cara mendapatkan ide; menguatkan motivasi dari dalam diri serta mengatasi mental block yang menghambat pencapaian,” tutur dosen Fakultas Hukum Undiknas ini. Tiga langkah yang mesti ditapaki ketika ingin mengenali potensi diri katanya dengan mengubah sikap, memperbaiki citra diri serta terus bekerja dan berkarya. “Citra diri yang positif secara alamiah akan membangun rasa percaya diri, yang merupakan salah satu kunci sukses. Saya setuju dengan sebuah kalimat pepatah luar negeri “You are what you think”, yang maksudnya jika kita memiliki citra diri positif, maka kita akan mengalami berbagai macam hal positif sesuai dengan apa yang kita pikirkan,” ujar istri A.A. Bagus Ngurah Agung ini antusias. Menurutnya, perempuan mesti terus-menerus memperbaiki diri demi mencapai kesempurnaan, baik fisik, pikiran maupun spiritual. Seiring dengan kualitas personal dan profesional yang lebih baik, maka suatu saat tujuan pun tercapai. Manajemen diri pun menurutnya menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan dengan apa yang diucapkan dan diperbuat. Integritas seperti inilah yang diharapkan akan timbul dalam diri perempuan. Bagi Ketua Perdiknas Denpasar ini, perempuan memiliki kekuasaan untuk mengarahkan semangat,

Suasana seminar Manajemen Diri Proses Menuju Sukses di wantilan Kantor Bupati Karangasem

emosi, naluri, kecenderungan, perasaan, suasana hati, sikap dan perilaku menuju sebuah hasil akhir. “Sehingga tak pelak lagi seluruh kehidupan kuncinya sederhana. Begitu feel good about ourselves, orang-orang di sekitar kita pasti bisa merasakan pancaran energi kita,” cetusnya dan berkomitmen menebarkan harmonisasi kehidupan melalui konsep Tri Hita Karana . Pendapatnya, untuk meningkatkan nilai dan kualitas hidup, kita memerlukan teman, relasi, kolega, mitra atau orang yang dapat mendukung dalam pengembangan kehidupan pribadi maupun profesional kita. Karena itu, perlu membangun kualitas jaringan orang-orang dalam kehidupan ini. “Penting bagi kita perempuan dapat memahami, menguasai keterampilan membangun dan memelihara jaringan demi mencapai impian. Sebuah jaringan akan selalu memperluas cakrawala dan wawasan. Pengayaan skill ini sudah pasti akan menjadi poin tersendiri dalam menjalani karier,” akunya. Namun yang terpenting dalam pandangannya adalah motivasi diri untuk terus melakukan perbaikan. Sebab, perubahan besar senantiasa berawal dari dalam diri. Mengidentifikasi dengan penuh sadar sikap mana yang menghambat dan mana yang mendorong untuk maju dan sukses. “Ketika kita sudah menikmati tiap proses memperbaiki diri,

berarti juga telah memiliki kemampuan menjadikan segala sesuatu indah, membanggakan, dan membahagiakan,” yakinnya. Sementara sukses di matanya adalah ketika seseorang mencapai potensi secara optimal sesuai kapasitas masing-masing. Tentu saja untuk mengembangkan kapasitas dibutuhkan sebuah proses yang berkorelasi dengan pernyataan bahwa sukses adalah sebuah perjalanan. “Dalam arti untuk mencapai sebuah sukses besar wajib mempersiapkan diri secara optimal, bidang fisik, mental, dan spiritual dengan memiliki passion atau semangat yang tak kunjung padam,” katanya. Selanjutnya berorganisasi, dan berkarya adalah urusan jiwa. Urusan kemajuan dan perkembangan batin. Tidak mudah memang, membagi waktu antara organisasi, kerja dan keluarga. Namun, berbekal manajemen diri yang tepat, semuanya tetap berjalan baik tanpa saling mengganggu. Apalagi, banyak karakter dasar wanita yang justru bisa menjadi faktor kunci kesukesan. Sebut saja kesabaran, kematangan emosi, dan kemampuan berkomunikasi. Di samping itu bekerja akan membuat seseorang hidup, bermakna, berarti dan lebih bahagia. Sebagaimana ungkapan Albert Einstein, Berupayalah tidak hanya menjadi manusia yang sukses, tapi juga menjadi manusia yang bernilai. —ard


KESEHATAN

Bulaksari

Kampung ‘Bebas Asap Rokok’

K

esediaan 65 kepala keluarga dengan 225 jiwa itu didasari keinginan hidup di lingkungan yang sehat. Apalagi, ada payung hukum yaitu Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2008 tentang Kawasan tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) yang disahkan 22 Oktober 2008. Namun, perda ini berlaku aktif setelah satu tahun disahkan, sebagai tenggat waktu untuk

melakukan sosialisasi. Semula, yang melaksanakan perda tersebut dari kalangan hotel. Namun, pelaksanaannya sangat sulit dilakukan pengawasan. Namun, kawasan bebas rokok mulai merambah di perkampungan yang padat penduduk. Satu-satunya warga kampung yang padat penduduk di Surabaya yakni Warga RT 07 RW 06 Kampung Bulaksari, Wonokusumo, Kecamatan Semampir, berani

tkh/sby

TIDAK mudah meyakinkan warga untuk berhenti merokok. Apalagi yang sudah bertahun-tahun merokok. Untuk meyakinkan warga agar berhenti merokok dibutuhkan waktu dua tahun. Kesadaran untuk berhenti merokok dilakukan warga RT 07 RW 06 Bulaksari, Kelurahan Wonokusumo, Surabaya. Kampung padat penduduk di kawasan Surabaya Utara itu berani menyatakan ‘Bebas Asap Rokok’.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

mendeklarasikan sebagai kampung bebas asap rokok. Tiap pojok gang menuju kampung ini dibangun asbak berukuran besar. Mereka satu suara terkait dengan bahaya asap rokok. Moh Fail, tokoh masyarakat di kampung itu menyatakan, untuk menyadarkan warga agar tidak merokok sangat sulit. ‘’Saya perlu waktu

Suasana saat pendeklarasian Kampung Bulaksari bebas asap rokok

tkh/sby

dua tahun agar warga tidak merokok di tempat umum,’’ katanya. Meski telah berhasil menyadarkan warga terbebas dari asap rokok, tidak berarti para bapak dan anak muda di kampung itu berhenti merokok samasekali. Yang dilarang, merokok di luar rumah karena mengganggu orang lain yang tidak merokok. Mereka yang doyan merokok tetap dibolehkan merokok namun tidak boleh di sembarang tempat. ‘’Saya melihat perda larangan merokok ini sudah diterapkan di kantor-kantor. maka kami ingin mencoba untuk menerapkan di Kampung Bulaksari,’’ kata Fail. Warga yang tetap merokok diimbahu untuk tidak merokok di luar rumahnya. Untuk menandai jika warga RT 07 RW 06 Bulaksari merupakan kawasan bebas rokok, dipasang spanduk berukuran 30 cm x 1 meter bertuliskan ’Zona Bebas Asap Rokok’. Juga, di tiap mulut gang dibangun asbak berukurabn 40 x 40 cm . Asbak ini sebagai tanda jika ada orang yang merokok dan akan masuk ke dalam gang harus mematikan rokoknya dan membuang puntungnya di asbak tersebut. Deklarasi bebas asap rokok di kampung ini dihadiri Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pekan lalu. Risma menyambut baik inisitaif warga ini sekaligus memberikan apresiasi yang tinggi. ‘’Saya sangat terkesan terhadap kampung di RT 07 RW 06 Bulaksari ini karena warganya kreatif dengan membuat kegiatan yang positif. Kampung ini perlu dicontoh kampung lain,’’ katanya. Memang, sudah banyak prestasi yang diraih kampung ini, yakni sebagai kampung merdeka dari sampah (2006), kampung green clean (2008), kampung bebas narkoba (2008) dan kampung aman Polrestabes sebagai juara II (2010). Kampung ini juga dipenuhi warna-warni aneka bunga yang ditanam warga setempat di pot bunga depan rumah mereka masing masing. Bahkan saat ini ada sedikitnya 2000 bunga terdiri atas mawar, bougenvile, palm, dan nusa indah. —sby

19 - 25 Desember 2010 Tokoh 13

Bude Karwo Penderita Kanker di Jatim Meningkat PENDERITA kanker di Jawa Timur dalam kurun waktu lima tahun terakhir terus meningkat. Tahun 2005 terdapat 1.600 penderita, tahun 2008 meningkat menjadi 3.821 penderita dan tahun 2010 menjadi 4. 736 penderita. “Kanker menjadi pembunuh nomor satu di dunia,” ungkap Ny. Hj. Nina Soekarwo saat membuka Sosialisasi Program Kerja Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Jawa Timur, di Empire Palace, jalan Blauran Surabaya, Kamis (16/12). Menurut Bude Karwo, kanker adalah masalah komplek dan merupakan masalah bersama. Penyakit ini telah menyatukan seluruh masyarakat untuk saling membantu dalam suatu gerakan melawan kanker. Kunci keberhasilan penanganan kanker melalui pengobatan secara tepat pada stadium dini, mengingat kanker tidak memberikan tanda spesifik. Untuk itu diperlukan kewaspadaan masyarakat sehingga dapat menekan angka kejadian kanker yang ditangani pada stadium lanjut. Agar penanggulangan kanker bisa berhasil efektif maka perlu dibangun jejaring kerja sama antara pemerintah dalam hal ini instansi kesehatan, pengusah, kalangan profesi serta Lembaga Swadaya masyarakat (LSM). Kerja sama jejaring itu mencakup pemerintah, dalam hal ini instansi kesehatan kabupaten/kota agar dapat mengajak para dokter turun ke masyarakat untuk pencegahan dini karena kanker banyak menyerang masyarakat kurang mampu. “Sebanyak 15 persen kan-

Suasana kegiatan sosialisasi program kerja YKI Cabang Jatim

ker menyerang masyarakat kurang mampu serta pendidikannya rendah, sehingga mereka minim pengetahuan mengenai pencegahan kanker,” imbuhnya Bagi kalangan swasta, mereka dapat sharing melalui community social responsibility (CRS). “Jika mereka digandeng, maka dana CSR-nya akan tepat sasaran,” tutur Bude. Karena itu YKI cabang Jatim mempunyai program untuk menyosialisasikan langkahlangkah pencegahannya. Untuk langkah awal, YKI akan turun lapangan guna menyosialisasikan programnya ke lima kabupaten yaitu: Ngawi, Lamongan, Jombang, Tuban, dan Madiun mengingat kanker di daerah tersebut sangat tinggi. Untuk itu, Bude Karwo mengimbau istri bupati dan wali kota selain menjadi ketua PKK

juga menjadi ketua YKI di daerah. “Karena PKK mempunyai akses pada tingkat grass root. Jika ketua PKK dan ketua YKI dapat bersinergi, insya allah akan efektif membantu pemerintah dalam menekan angka penderita kanker, khususnya penderita kanker perempuan,” tandasnya. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dr. Dodo Andono mengatakan, jumlah penderita kanker, utamanya kanker servik dan kanker payudara tiap tahunnya meningkat. Jumlah penderita kanker servik mencapai 16 kasus per 1000 orang, sedang kanker payudara mencapai 26 kasus per 100 ribu orang. Kinerja YKI bisa maksimal jika didukung YKI kabupaten/ kota sehingga siap menghadapai tantangan untuk mewujudkan Jatim yang sehat dan sejahtera.

Kroya Kota............................................................................dari halaman 3 besar. Letaknya di tengah jantung kota. Kami salat ashar di sini. Dalam kondisi lalulintas yang padat sore itu kami mulai melihat orang berbondongbondong berbelanja. Kebanyakan mereka membeli kebutuhan idulfitri yang sebentar lagi akan datang. Ketika saya sedang membolak-balik peta yang sudah kucel tiba-tiba saya dikejutkan Eris yang berlari ke arah salah satu mobil yang terparkir di halaman masjid. Rupanya Eris mengenal salah seorang penumpang mobil tersebut. Mereka berbincang-bincang di dekat mobil tersebut, sampai akhirnya Eris dan orang itu mendekati kami dan saling memperkenalkan diri. Ternyata orang itu adalah salah seorang dedengkot seni daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia juga dikenal sebagai seniman sastra dan lukis. Selain karya sastra dan lukisan dia

juga banyak membuahkan karya arsitektur dengan instalasi-instalasi yang berkualitas. Walaupun sudah sering menikmati hasil karyanya, pertamakalinya saya bertatap muka langsung dengan seniman yang bernama Acep Zam-zam Noor itu, justru itu terjadi di Cilacap. Ia baru pulang dari Yogyakarta setelah mengikuti pameran lukisan di sana. Maghrib makin mendekat dan kami bersepakat untuk berbuka puasa di Masjid Besar Cilacap. Saya pun membungkus satu porsi pecel lengkap dengan sayur-mayur hijaunya sebagai persediaan di perjalanan. Paman memutuskan untuk melanjutkan perjalanan langsung menuju daerah Banjar. Ah, petang itu makin terbayang di pelupuk mata kami, rumah dan keluarga di kampung kelahiran. zAnik Nurlia Agustini

70% Dicerai............................................................................................dari halaman 1 sebagai pemakai. Namun, saat main ke café dijebak teman sendiri. Ia menyesal. Ia harus merelakan dirinya di penjara sampai masa hukumannya berakhir tahun 2012. Prof. Suryani mengajak semua korban narkoba merenungkan, apa latar belakangnya sampai menjadi pemakai. “Kalau Anda bisa menemukan apa penyebabnya, batin Anda bisa bebas. Keluar dari lapas tidak menjamin Anda bebas, kecuali Anda berani menolak dan berhenti bergaul dengan teman-teman pemakai, baru Anda bisa bebas,” pesannya. Korban narkoba lainnya, Anna, mengatakan hukuman yang diterimanya tidak setimpal dengan kesalahan yang ia perbuat. Ia merasakan hukuman terlalu berat karena dirinya korban. Mendengar curhat para penghuni lapas, Prof. Suryani mengaku prihatin. Seharusnya mereka diobati bukan dihukum. Kasihan bagi si pemakai, mereka harus bergaul dengan pelaku kejahatan lain. Padahal, mereka perlu direhabilitasi. Hes, korban lainnya, menginginkan ada sosialisasi tentang hukum. Apa hak mereka. Mungkin perlakukan para pembina sudah sangat maksimal, tetapi ketika ada perubahan dalam hukum, mereka juga perlu tahu karena sering terjadi pelaksanaan di lapangan berbeda. Hes mengaku prihatin, karena sebagian besar perempuan penghuni Lapas Denpasar perempuan produktif. Kami perlu dukungan LSM. Tingkat perceraian perempuan di lapas mencapai 70%. Ketika perempuan menjadi

penghuni lapas, para suami meninggalkan mereka begitu saja. Setelah keluar mereka juga diisolasi masyarakat. Anggota DPRD Kota Denpasar Wayan Sari Galung yang hadir saat kunjungan ke lapas menyatakan setuju jika pemakai narkoba dibina. Suami Pergi Kisah lain dituturkan Ik, ibu satu anak. Dulu, ia pernah bekerja sebagai TKW di Taiwan. Karena mengikuti suaminya, ia pindah ke Bali dan direkrut menjadi pekerja rumah tangga oleh salah satu yayasan penyalur tenaga kerja. Ia dipekerjakan di salah satu keluarga. Namun, baru tiga hari ia bekerja, ia mengaku tidak betah. Pekerjaannya banyak dan ia dijanjikan gaji Rp 500.000. Ia nekad mencuri laptop dan menjualnya untuk ongkos pulang ke Jawa. Naas baginya, ia tertangkap langsung. Lima bulan sudah ia jalani hidup di penjara. Suaminya pergi meninggalkannya. Ia pasrah. Anaknya yang baru berusia tiga tahun dititipkan di rumah orangtuanya di Jawa. Ia menyesal, tetapi apa dikata. Sisa hukumannya lagi 5 bulan. Setelah keluar lapas ia berencana kembali bekerja menjadi TKW. 20 Sipir Perempuan Dewa Ketut Jaya salah seorang staf Lapas Denpasar mengatakan, penghuni baru biasanya dimasukkan terlebih dahulu ke ruang isolasi. Ruangan ini fungsinya untuk pengenalan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan. Setelah seminggu atau paling

tkh/sep

Nasi Keras Bel, penghuni lainnya, mencoba berbagi kisah. “Nasi yang diberikan keras tidak seperti nasi yang biasa dimakan di luar lapas. Untungnya masih ada sayur, telur, dan daging,” ujarnya. Lain lagi penuturan

Beverly warga Filipina. Dengan menggunakan bahasa Inggris ia mengaku kulitnya gatal karena air yang digunakan mandi kotor. Mendengar keluhan warga binaannya, Landriana menjawab, memang begitu beras yang dikirim ke lapas. “Nasi keras bukan karena salah dalam proses memasak, tetapi memang kualitas berasnya seperti itu,” katanya. Ia mengatakan, jatah bagi seorang warga binaan Rp 8500 sudah termasuk nasi, laukpauk, sayur untuk tiga kali makan dalam sehari. Ia mengungkapkan, tahun 1997 Lapas Denpasar memang kekurangan air, sampai mendatangkan mobil tanki. Tetapi, sejak sudah ada sumur bor dan di blok perempuan ada tower, kekurangan air sudah ditangani. Sampai sekarang, kata dia, belum ada laporan dari warga binaan, masalah air kotor. “Mungkin saja pengaturan air kurang merata. Keadaan di lapas sudah over load. Satu kamar dihuni sampai 10 orang. Pengaduan itu akan kami sikapi,” ujarnya. Suryani meminta, karena nasi keras alangkah baiknya jika tetap panas, sehingga masih layak untuk dimakan. Ia berpesan kepada penghuni lapas, tujuan dihukum agar sadar dan tidak mengulangi kesalahan. Yang terjadi biarkan lewat, setelah keluar dari lapas hendaknya menjadi manusia baru. Ret, korban kasus narkoba, menuturkan banyak mengalami perubahan sejak di lapas. Ia lebih sabar dan tabah. Ia sudah berhenti tiga tahun lalu

Ketua KPAID Prov. Bali dr. Sri Wahyuni menyerahkan bingkisan kepada salah seorang penghuni lapas

Curhat penghuni anak-anak kepada Ketua LPA Nyoman Masni

tkh/sep

besar, 36%, kasus narkoba. F. Romana, salah seorang sipir perempuan mengatakan, kasus narkoba terbanyak di blok perempuan. Selebihnya penipuan, pencurian, dan penggelapan. Tidak ada kasus pembunuhan. Prof. dr. Luh Ketut Suryani mengaku terkejut ada anak yang dihukum dan ditempatkan di Lapas Denpasar. Padahal, lapas anak sudah ada di Karangasem. Ia mengaku khawatir, bisa jadi anak tersebut dulunya tidak memakai narkoba malah belajar menjadi pemakai narkoba di lapas ini. Wayan Landriana menambahkan, ada 6 anak, hanya dititipkan, karena masih proses peradilan. Beberapa anak menjadi penghuni lapas karena putusannya pendek tiga atau empat bulan sehingga tidak dipindahkan ke LP Anak. Prof Suryani hanya mengingatkan kepada staf lapas, sebulan waktu yang sangat lama, apalagi lebih dari sebulan. Anak bisa belajar apa saja di lapas, termasuk belajar menjadi pemakai narkoba. Namun, Landriana berkilah, blok anak terpisah. Namun, kata Suryani, tetap saja itu tidak menjamin. “Apakah tidak bisa dipindahkan ke lapas khusus anak,” saran Suryani. Landriana berjanji akan mempertimbangkannya.

Meditasi bersama Prof. Suryani

lama sebulan penghuni dipindahkan ke blok. “Kalau mereka melakukan pelanggaran, kami masukkan mereka ke sel agar mereka jera,” ujar lelaki yang pernah bertugas di Papua ini. Penghuni biasanya suka ribut malam hari, bahkan sampai melakukan kontak fisik. Penghuni lain akan berteriak. Ada saja masalahnya, kehilangan barang atau ketersinggungan. “Kalau sudah begini, kami masukkan ke sel, agar mereka jera,” kata Dewa. Namun, ia mengakui, penghuni lapas sudah di luar kapasitas. Dengan jumlah petugas termasuk staf 125 orang, mereka kewalahan. Saat piket mereka bergantian sekitar 10 orang. Tentu tak semuanya bisa diawasi dengan baik. Piket petugas bergantian, mulai pukul 07.00 sampai 13.00, diganti lagi petugas piket lainnya sampai pukul 19.00. Ganti lagi petugas lain sampai pukul 01.00. Begitu seterusnya. Hal itu dibenarkan Sipir perempuan F. Romana. Ia juga tidak membantah sering terjadi gesekan antara penghuni. Masalah sepele bisa jadi ribut. Air mandi kurang, ada yang duluan nyerobot. “Saya tidak menyalahkan mereka, mungkin pikirannya ruwet, memikirkan anak atau suami. Kami hanya berprinsip, melayani mereka dengan baik,” lanjutnya. Selama bekerja 25 tahun di lapas ada cerita lucu, manis, kadang juga membuat Romana terharu. “Kadang saya tertawa mereka bisa lepas bercanda.

Saya senang mereka mau curhat dengan jujur. Tetapi, kadang aturan dan kebijakan sering berbenturan. Kami menghadapi manusia bukan kertas. Mereka punya perasaan. Ini menguatkan kami, membuka pikiran kami untuk bersyukur, masih bisa bebas menghirup udara segar, dan tetap memberi pelayanan,” tutur ibu dua anak remaja ini. Saat ia memutuskan bekerja menjadi sipir penjara, ia mengaku sudah siap risikonya. Ia mengaku bekerja di lapas sebagai pekerjaan mulia, bisa melayani orang. Suami dan dua anaknya sangat mendukungnya. Sabtu, Minggu, harusnya libur. Namun, ia mengaku lebih suka bekerja karena waktu bezuk biasanya ramai. Jumlah sipir perempuan terbatas hanya 20 orang sehingga libur harus bergantian. Untuk kasus narkoba, penghuni juga mendapatkan penanganan dokter. Ada dua dokter umum yang siap melayani mereka. Pembinaan umat Kristiani tiap hari Minggu, Senin, dan Rabu. Untuk Muslim hari Senin, Kamis, dan Jumat. Untuk Hindu hari Senin, Rabu, dan Purnama Tilem. Selain itu, ada juga penyuluhan dari Kementerian Agama tentang kerohanian. Curi HP Salah seorang penghuni Lapas Denpasar seorang anak perempuan yang lagaknya seperti laki-laki. Usianya masih muda, 14 tahun, baru kelas I

SMP. Tak tanggung-tanggung, kejahatan yang ia lakukan membobol toko HP bersama temannya. Ia belum tahu berapa lama hukuman yang akan ia terima karena masih dalam proses persidangan. Setelah tepergok mencuri, ibunya melontarkan pertanyaan kepadanya, ‘mengapa kamu mencuri, apakah kebutuhan kamu kurang di rumah’. Gadis itu hanya tersenyum jika mengingat pertanyaan ibunya itu. “Saya hanya ikut teman,” akunya polos. Made, teman gadis tadi. Dialah yang mengajaknya membobol toko HP. Sebanyak 38 HP dan 200 voucher isi ulang dicurinya. Made, baru kelas 6 SD. Ibunya bekerja sebagai pedagang dan bapaknya tidak bekerja. Ia sudah mengenal rokok. Uang jajannya sehari Rp 5.000. Tetapi, ia mengaku itu tidak cukup. Sebelumnya ia memang suka mencuri, tetapi tidak pernah tertangkap. Ketua Forum Mitra Kasih Bali Luh Anggreni, S.H. mengatakan, kegiatan kunjungan ke Lapas Denpasar dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti-kekerasan terhadap Perempuan (25/11), Hari Hak Asasi Manusia (10/ 12) dan Hari Ibu (22/12). “Kami bekerja sama dengan segenap LSM perempuan di Bali. Selain berbagi keceriaan, penghuni kami ajak bermeditasi bersama Prof. Suryani,” kata Anggreni. –ast


KIPRAH WANITA

19 - 25 Desember 2010

Hj. Siti Maryam (83)

“Peraih Gelar Doktor Tertua”

Hj. Siti Maryam

tahun bolak-balik MataramBandung. Sorot mata putri VII Sultan Bima Muhammad Salahuddin ini selalu berbinar manakala bicara tentang pendidikan. “Selama masih mampu, kapan pun dan di mana pun, saya akan terus mengejar ilmu. Ilmu pengetahuan itu tidak terbatas, saya sungguh sangat menikmatinya,” katanya kepada wartawan usai mengikuti upacara wisuda. Meski ia lahir dan hidup dalam lingkungan yang membatasi kiprah perempuan, namun dalam pembatasan yang ketat tersebut, paling sedikit ia berhasil memperjuangkan pendidikannya sendiri. Di tengah situasi perang kemerdekaan dan kemudian terjadinya pergolakan politik yang tak menentu, sekolahnya sempat tertunda. Sambil menanti saat yang tepat bersekolah kembali, ia mendirikan organisasi Rukun Wanita Bima tahun 1948. Ia memasilitasi

perempuan-perempuan Bima agar tak tertinggal, juga peduli pada kesehatan kaum perempuan dengan mendirikan biro konsultasi dan klinik bersalin di lingkungan istana. Akhirnya, keteguhan hatinya untuk menempuh pendidikan membuahkan hasil. Ia menjadi warga Nusa Tenggara Barat I yang menjadi sarjana, tahun 1960. Keberhasilannya lulus sebagai winisuda angkatan I Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini seakan menjadi titik tolak emansipasi perempuan NTB. Hj. Siti Maryam Salahuddin dikenal bukan semata-mata sebagai putri raja, tetapi lebih karena kualitasnya sebagai tokoh perempuan yang “melesat” mendahului zamannya. Ia tak perlu berteriak-teriak soal kesetaraan, tetapi membuktikannya dengan kemampuan dan kerja kerasnya. ’Ina Ka’u Mari’ – gelar kebangsawanan yang disandangnya – “mendobrak” kungkungan terhadap perempuan dengan memperjuangkan pendidikannya, bahkan hingga usia lanjutnya. Dalam karier birokrasinya, Siti Maryam merupakan kebanggaan NTB yang memperoleh penghargaan khusus dari Presiden Soeharto tahun 1974. Saat itu ia menjadi yang pertama dan satu-satunya perempuan Indonesia yang diserahi tugas sebagai asisten gubernur. Di tangannyalah, dokumen dan sejarah Kesultanan Bima terselamatkan. Ia mengabdikan seluruh hidupnya bagi dirinya, orang lain, kebudayaan dan sejarah yang hampir saja terpenggal. –nik.

Yang Unik Dalam Peringatan Hari Kesatuan Gerak ke-38 PKK

Ketua TP PKK Prov. Bali Ny. Ayu Pastika dan Dewan Penyantun TP PKK Bali Gubernur Bali Mangku Pastika

HARI Kesatuan Gerak (HKG) ke-38 PKK diperingati Selasa (14/ 12) di Gedung Narigraha, Renon, Denpasar. Temanya, “Dengan Semangat Hari Kesatuan Gerak PKK Kita Satukan Langkah Gerak PKK Dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Kehidupan Bangsa”. Banyak acara dalam peringatan tersebut terkesan unik. Misalnya, tampil seka gong wanita Dharma Wanita Persatuan dan TP PKK Provinsi Bali. Selain mengalunkan tetabuhan, juga mengiringi tarian yang dibawakan pengurus dan anggota PKK. Saat istirahat beberapa hadirin didaulat naik panggung untuk menyumbangkan suaranya. Para kepala SKPD, ketua TP PKK Kabupaten/Kota, Pengurus PKK Provinsi tampil termasuk Ketua TP PKK Provinsi Ny Ayu Pastika yang berduet dengan Dewan Penyantun TP PKK Bali Gubernur Bali Mangku Pastika. Juga, digelar peragaan senam lansia, kegiatan kelompok Posyandu Paripurna Balita dan Lansia Banjar Blong Denpasar, pelayanan kesehatan gratis kepada balita dan lanisa, serta pameran hasil kerajinan kelompok usaha

peningkatan pendapatan keluarga (UP2K)-PKK dan hasil tanaman pekarangan. Ketua Penyelenggara Ny. Bintang Puspayoga mengungkapkan sesuai hasil Rakernas VII PKK, peringatan tahun 2011 ditetapkan 4 Maret. Peringatan tahun 2010 ini merupakan peringatan terakhir yang dilaksanakan dalam bulan Desember. “Puncak Peringatan HKG PKK kali ini, dirangkaikan dengan penutupan Posyandu Paripurna Balita dan Lansia Binaan TP PKK Provinsi Bali 2010,” katanya. Kegiatan yang menunjang peringatan HKG PKK tahun ini di antaranya kegiatan Posyandu Balita dan Lansia di 9 lokasi di seluruh Bali, yang pembukaannya dilangsungkan di Desa Mayong, Seririt, Buleleng. Tiap posyandu melakukan aktivitas mengumpulkan data menyangkut status gizi balita, penimbangan balita, ibu hamil dan lansia. Juga, berbagai penyuluhan seperti pemberian makanan tambahan (PMT), ASI Eksklusif, anemia pada ibu hamil, penyakit menular, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) serta peranan PKK dalam membina serta pemanfaatan tanah pekarangan secara maksimal. “Bagi lansia kami melakukan pemeriksaan kesehatan, senam, pembagian paket bahan mentah, PMT selingan untuk balita dan lansia,” ujarnya. Bintang Puspayoga juga menyampaikan telah melaksanakan pembinaan dan menyalurkan bantuan kepada 57 desa/kelurahan binaan TP PKK berupa peningkatan kemampuan dan keterampilan kader menggerakkan kegiatan PKK, melaksanakan sosialisasi kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KBKesehatan di semua kabupaten / kota, melaksanakan gerakan perempuan tanam dan pelihara

Ny. Ayu Pastika di lokasi Posyandu Paripurna Balita dan Lansia

Hj. Nafisah Ahmad Zen Shahab

Ke-12 Anaknya Sarjana, 10 Dokter

Hj. Nafisah dan anak bungsunya dr. Nur Dalilah

sekaligus jadi bapak, mengurus rumah tangga dan mencari nafkah, “ papar perempuan kelahiran 1 Agustus 1946 ini. Dulu, sebulan sekali pergi ke Jakarta untuk membeli baju-baju dan macam-macam kain lainnya ke pusat grosir Tanah Abang bersama suaminya. Nafisah sering ikut ke Jakarta kendati sering dilarang karena suaminya mengkhawatirkan dirinya akan kelelahan. “Untung saya dulu suka ikut, jadi tahu manamana pelanggan suami saya, “ ungkap Nafisah. Kini 14 Dokter Ia menuturkan, mendidik 12 anak memang tidak mudah. Anakanak kadang nakal, kadang protes karena kedua orangtuanya menerapkan disiplin keras. Namun, ia tidak pernah melakukan kekerasan terhadap anak. Jika anak tampak bandel, kadang seperti ingin memukulnya, tetapi hati keibuannya jauh menguasai dirinya sehingga hal itu tak pernah dilakukan. “Melahirkan anak itu susah, kok dipukul. Saya selalu sayang pada mereka, “ kata Nafisah. Dengan kasih sayang, anak akan mudah mengerti. Kalau anak dikerasi, akan makin keras atau melawan. “Jadi harus dengan kelembutan,” ucap nenek 30 cucu ini. Jika terpaksa harus marah, ia berusaha menunjukkan bahwa hal itu dilakukan karena rasa sayangnya kepada anak-anak Kedisiplinan yang diterapkan, pulang sekolah anaknya tidak boleh nglayap. Kalau terlambat

harus telepon. Sebelum mahgrib harus sampai di rumah. Sore harus belajar, nonton TV boleh asalkan sesudah belajar atau setelah pukul 20.00. Baju dan peralatan sekolah harus disiapkan malam hari agar keesokan hari tidak kelabakan. “Ketika masih kecil saya siapkan, tetapi setelah besar, hal itu harus dilakukan sendiri, “ tutur Nafisah. Sarapan pagi pun bersama-sama, begitu pula makan malam duduk mengelilingi satu meja. Jika mau belajar kelompok, ia selalu meminta agar anak dan teman anaknya belajar di rumahnya. Alasannya, supaya Nafisah bisa mengawasi. Kadang anaknya protes, ‘nanti Mami repot’. “Repot apa, paling buatkan makanan kecil atau mie, “ begitu tangkis Nafisah, dan anak-anak pun menurut. Nafisah dan suaminya, menanamkan pada putra-putrinya, belajar atau menuntut ilmu itu tidak ada batasnya, mulai kecil hingga ajal tiba. Soal anak-anak yang akhirnya banyak menjadi dokter itu tak lepas dari “promosi” si sulung, Idrus Alwi yang secara tidak langsung menggiring adik-adiknya masuk fakultas kedokteran. Ia kuliah di Universitas Indonesia. Tiap pulang ke Palembang ia selalu bercerita tentang asyiknya kuliah di kedokteran, sehingga adik-adiknya kepincut dan setelah lulus SMA melamar ke fakultas kedokteran. Orangtuanya pun mendukung, namun diusahakan masuk universitas negeri; di kampus mana pun tak soal asal negeri. “Kuliah di negeri kan biayanya lebih murah, “

alasan Nafisah. Dulu dia dan suaminya sejak anak-anak masih kecil sudah menyiapkan biaya buat sekolah mereka. Semua tabungan itu akhirnya habis untuk biaya sekolah. Sepeninggal suami, Nafisah berusaha tetap bersemangat. Ia yakin bisa. Dengan bekerja keras dan atas pertolongan Tuhan, jalan keluar menghadapi kesulitan itu pasti terbuka. “Saya selalu serahkan kepada Yang di Atas,” ujarnya. Dan, itu juga dilakukannya hingga sekarang. Kepasrahan Nafisah ini juga dipuji anak bungsunya, Dalilah. Dokter umum di RS Permata Cibubur ini mengatakan, meskipun ibunya dibilang gemuk dengan berat 82 kg tetapi tidak punya penyakit macam-macam seperti tekanan darah tinggi, jantung, ginjal, diabetes, asam urat, yang kini justru menimpa kalangan muda. “Mami ini benar-benar orang gemuk yang sehat dan makmur. Tensinya normal, gula darahnya dan kolesterolnya normalnormal saja, “ tutur dr. Dalilah. Nafisah membenarkan, dengan mengatakan dirinya sampai sekarang masih bebas makan, Selain sayur dan buah juga ikan, bahkan masih suka daging, Dari 10 dokter anaknya, 7 orang dokter spesialis. Tiga anak yang dokter umum telah mendaftar untuk menempuh pendidikan spesialis, antara lain spesialis kulit. Ke- 12 anaknya sudah berkeluarga. Nafisah juga punya dua menantu yang berprofesi dokter, dan kini dua cucunya baru lulus dokter. Jadi, semua ada 14 dokter di lingkungan keluarganya. Kalau ia sakit, dokter yang menangani biasanya putra-putrinya sendiri. Kini ia bertempat tinggal bersama anak sulungnya di Perumahan Puri Sri Wedari Cibubur sejak lima tahun lalu. Namun, tiap Lebaran ia pulang ke Palembang . Enam orang anak bertempat tinggal di Depok dan Jakarta, lainnya di Tegal, Balikpapan, dan Palembang. Anak-anaknya sering memperebutkan kehadirannya agar bertempat tinggal atau menginap di rumahnya. Cucu-cucu pun senang mengajaknya bepergian. “Kebetulan saya juga masih senang jalan-jalan, “ kata Nafisah sembari tersenyum.—is

Gubernur Made Mangku Pastika beserta Ibu bersepeda berboncengan dalam Fun Bike yang digelar serangkaian peringatan Hari Ibu ke-82, Minggu (12/12) pagi

Seka gong Dharma Wanita Persatuan dan Tp PKK Provinsi Bali bersama Ny. Ayu Pastika

pohon di kabupaten/kota. Tingkat provinsi dipusatkan di Desa Gerokgak, Buleleng. Juga, mengadakan rakerda dan sosialisasi BKB. “Kami juga melaksankan bedah rumah 8 KK miskin di Buleleng bekerja sama dengan BK3S Provinsi Bali. Berbagai lomba juga dilakukan, seperti lomba lingkungan bersih dan sehat, PHBS serta posyandu teladan tingkat provinsi,” paparnya. Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika membacakan sambutan Ketua Umum PKK Ny. Hj Vita Gamawan Fauzi, S.H. yang berharap dewan penyantun memberikam bimbingan, bantuan dan fasilitas pada gerakan PKK agar memunyai kontribusi nyata terhadap peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa lebih maju. Diungkapkannya, pelaksanaan Rakernas VII PKK di Jakarta 27 30 Juli 2010 telah menghasilkan beberapa materi penting untuk diperhatikan. Guna meningkatkan kinerja kader diharapakan kepedulian semua pihak. Telah pula dilaksankan Jambore Kader PKK Tingkat Nasional 8 hingga 11 November di Islamic Centre Bekasi. Menurut Ayu Pastika kader PKK harus tetap memiliki motivasi untuk melaksanakan tugas dan

fungsi utamanya, yaitu berusaha memberdayakan dan menyejahterakan keluarga. Selama 38 tahun gerakan PKK telah mendukung proses pembangunan bangsa, menunjukkan keberhasilan yang mendapat pengakuan dan penghargaan lembaga nasional maupun internasional. PKK melalui 10 program pokoknya turut menanggulangi kemiskinan, di antaranya melalui usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) dan usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS). Gubernur Mangku Pastika selaku Dewan Penyantun TP PKK Bali mengatakan program pokok PKK mesti dilaksanakan dengan terarah dan berkesinambungan sehingga nantinya mampu memotong lingkaran kemiskinan, di perdesaan maupun perkotaan. Mangku Pastika yakin PKK mampu menjadi garda terdepan dalam membangun cita-cita bersama demi keluarga yang sehat dan sejahtera sebagai awal terbangunnya masyarakat Bali yang maju, aman, damai dan sejahtera. Mangku Pastika pun menyampaikan apresiasi dan kekagumannya pada penampilan seka gong wanita beserta para penarinya. —ard

Ny. Bintang Puspayoga bersama Pengurus TP PKK Provinsi tampil berdendang

tkh/sep

SELASA, 23 November 2010, Gedung Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Universitas Padjadjaran, bergemuruh oleh tepuk tangan panjang seisi gedung, termasuk para guru besar Unpad. Saat itu sedang berlangsung prosesi Wisuda Unpad lulusan Gelombang I Tahun Akademik 2010/2011 untuk sesi I. Standing applaus diberikan secara khusus kepada salah seorang winisudanya. Suara bergemuruh mengiringi langkah pelan Hj. Siti Maryam Salahuddin menaiki tangga menuju panggung wisuda. Sang Rektor, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, telah siap memindahkan tali toga sekaligus menandakan nenek 83 tahun ini resmi menyandang gelar Doktor Bidang Filologi di Fakultas Sastra. Ucapan selamat sebagai winisuda doktor tertua dengan IPK 3,44 tak lupa disampaikan secara khusus oleh Rektor, saat memberi sambutan. Data yang ada di website Rekor Muri saat ini, pemegang rekor “Peraih Gelar Doktor Tertua” antara lain B.R.A. Mooryati Soedibyo yang meraih gelar doktor dalam usia 79 tahun pada tahun 2007, dan Dr. Ahmad Wasim Darwis, S.H., Sp.N. (79) tahun 2005. Selama Siti Maryam mengikuti perkuliahan sekitar tiga tahun di universitas ini, Unpad memberi perhatian yang lebih padanya. Begitu juga saat sidang promosi gelar doktornya, Humas Unpad melakukan liputan khusus untuk website resmi universitas ini selama siding berangsung. Siti Maryam selama menjalani “kuliah senjanya” tiga

N

AFISAH (64), boleh dikata sosok ibu masa kini. Perempuan asal Palembang ini bisa menjadi inspirasi perempuan dalam mendidik putra-putrinya. Beberapa hari lalu, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang memintanya sebagai narasumber karena dinilai sukses mendidik semua putra-putrinya menjadi sarjana. Juni lalu Nafisah mendapat penghargaan Muri sebagai keluarga pencetak dokter terbanyak. Ke-12 anaknya (7 perempuan, 5 laki-laki) berhasil menempuh pendidikan tinggi. Sepuluh anak di antaranya dokter, satu sarjana kimia, dan seorang lagi menekuni bidang desain. Putra-putri Nafisah adalah Dr. Dr. Idrus Alwi Sp.PD., KKV FECS FACC (spesialis kardiovaskular), drg Farida Alwi, dr Shahabiyah, MMR (Dirut RSU Islam Harapan Anda di Tegal), dr Muhammad Syafiq, Sp.PD. (spesialis penyakit dalam), dr Soraya Sp.A. (spesialis anak), dr Nouval Shahab Sp.U. (spesialis urologi sekarang menempuh pendidikan untuk gelar Ph.D. di Jepang), dan dr. Isa An Nagib Sp.OT. spesialis ortopedi. Tiga anaknya yang dokter umum, dr. Fatinah (Wakil Direktur RS Ibu dan Anak Permata Hati Balikpapan), dr. Zen Firhan (bertugas di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center), dan dr. Nur Dalilah (dokter umum di RS Permata Cibubur). Anak keempat, Durah Kamilia, menekuni bidang desain, dan Zainab (anak ketujuh) menekuni bidang kimia (kini menempuh S-2 kimia di Unpad Bandung). Hingga anaknya yang keenam, perempuan yang kini masih tampak cantik ini mengasuh dan mendidik putra-putrinya bersama suaminya, Alwi Shahab, pedagang kain di Palembang. Namun, tahun 1996, suaminya wafat. Saat itu tiga anaknya masih di SMA, dan seorang lagi sedang kuliah. “Anak-anak harus terus sekolah, jadi saya harus bangkit,” kenang Nafisah. Mulailah ia menangani toko kainnya. Jika dulu sekadar membantu suami jika urusan rumah sudah selesai, sepeninggal suami dialah yang mengendalikan toko sepenuhnya. “Memang ada dua karyawan, tetapi mereka sekadar membantu. Jadi sejak Bapak tidak ada, saya jadi ibu

tkh/humas

Tokoh

Para aktivis dan pemerhati perempuan di sela-sela acara finish Fun Bike Hari Ibu di Matahari Terbit, Sanur. Dari kiri: Ketua Iwapi Bali Desak Asrihati, Pemimpin Umum Koran Tokoh Widminarko, Ketua WHDI Prov. Bali IGA Sulasmi Rai, Ketua LPA Prov. Bali Ni Nyoman Masni, S.H., Ny. Bintang Puspayoga, Ketua BKOW Bali A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, dan Ketua LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Bali Budawati

tkh/sep

14

Para aktivis perempuan dari berbagai organisasi turut menari Poco-poco dalam acara finish Fun Bike Hari Ibu di Matahari Terbit, Sanur. Tampak (tiga dari kanan) istri Wakil Gubernur, Ny. Bintang Puspayoga

Pemenang Kegiatan Lomba HKG 2010 Kesatuan Gerak PKK-KB Kesehatan: Pelaksana Terbaik 1 Desa Kayubihi, Bangli; 2. Desa Gelgel, Klungkung, 3. Desa Gulingan, Badung - Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga: Pelaksana Terbaik 1 Desa Gulingan, Badung; 2. Desa Gelgel, Klungkung, 3. Desa Kayubihi, Bangli - Pelaksana Terbaik Posyandu: Pelaksana Terbaik 1 Desa Gelgel, Klungkung; 2. Desa Kayubihi, Bangli; 3. Tegal Badeng Timur, Jembrana Pelaksana Terbaik Lingkungan Besih dan Sehat: Pelaksana Terbaik 1 Desa Pulukan, Jembrana; 2. Desa Gulingan, Badung; 3. Desa Gelgel, Klungkung - Kegiatan Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna (PKTP): Pelaksana Terbaik PKTP Cabang Kabupaten/Kota; Juara 1, 2 dan 3: Karangasem, Tabanan, Klungkung - Pelaksana Terbaik SMA: Juara 1, 2 dan 3: SMA 1 Kuta Utara, Badung; SMKN 2 Tabanan; SMAN 5 Denpasar. Pelaksana Terbaik SMP: Juara 1, 2 dan 3: SMPN 1 Kuta Selatan, Badung; SMP Siladarma, Denpasar; SMP 2 Sukawati, Gianyar. Pelaksana Terbaik SD: Juara 1, 2 dan 3: SD 6 Bondalem, Buleleng; SD 4 Kuta Utara, Badung; SD 7 Kawan, Bangli.—ard


TRENDI

Aksesori Perak Bakar Tahan Lama dan Klasik

Animo masyarakat menggunakan perhiasan atau aksesori berbahan perak makin marak. Perak selain menawarkan berbagai macam model juga makin indah dilengkapi dengan kombinasi batu permata. Hal ini diungkapkan Yuliatini, seorang pengrajin dan pengusaha perak saat ditemui di workshop-nya. ksesori perak bakar kini memikat banyak konsumen. Selain warnanya yang menarik, perak jenis ini diminati karena lebih tahan lama dan terkesan sangat klasik. Tampilan sederhana tetapi elegan itu mampu menarik minat para wanita yang menyukai perhiasan unik,’’ jelas Tini. Ia mengatakan jenis bros perak bakar memang cukup banyak peminatnya. Pembuatannya sesuai pesanan. Sejak tujuh tahun lalu, ia telah mem-

Yuliatini

Selly D. Mantra

buka usaha penjualan pernak pernik modern, seperti penjepit rambut, gelang, anting-anting, cincin, dan kalung dari ribuan permata dan bahan lainnya. Produk aneka macam batu permata ini memang diperuntukkan bagi pembeli dari mancanegara. “Karena konsumennya tamu asing makanya jenis aksesorinya juga lebih modern dan lebih beragam desainnya atau sesuai pesanan. Mereka pun kebanyakan memilih aksesori yang bisa digunakan kapan saja,“ ungkap pemilik Hitakara Costume Jewelerry ini. Bahkan demi meningkatkan

kemampuannya mengenal berbagai permata yang asli dengan segala manfaatnya, Tini berencana mengambil pendidikan khusus Stone Healing di luar negeri tahun depan. Pasar yang luas dan terus berkembang saat ini, justru makin memacunya lebih kreatif dalam menekuni bisnis aksesori wanita ini. Apalagi, model aksesori ini terus berkembang, baik dari sisi tampilan maupun bahan yang dipergunkan. “Aneka aksesori ini akan terlihat lebih bagus dan cantik jika dikenakan. Apalagi dihiasi batu permata, kesan mewah pasti

Kue dari Ubi Kayu SRLAIN dapat diolah menjadi berbagai makanan, ubi kayu dapat dibuat tepung yang bisa diolah menjadi kue. Penampilannya bisa dibuat menarik. Berikut resepnya. Tepung Ubi Kayu Bahan: Ubi kayu 1 kg. Pembuatan: Kupas singkong , kemudian cuci, buatlah sawut (diiris kecil), lalu jemur. Dibuat tepung kemudian diayak. Kue Kering Keju Bahan: Mentega 200 gram, tepung ubi kayu 150 gram, tepung terigu 150 gram, kuning telur 25 gram, vanili secukupnya, susu bubuk 10 gram, keju 200 gram. Pembuatan: Parut keju 100 gram, campur dengan mentega. Kocok sampai kembang, kemudian masukkan telur dan aduk rata. Masukkan susu dan tepung, aduk rata. Cetak kecil-kecil sesuai selera. Olesi bagian atasnya dengan kuning telur, tambahkan parutan keju di atasnya. Panggang sampai kuning kecokelatan.

Dadar Tepung Ubi Kayu Bahan: Tepung ubi kayu 125 gram, tepung terigu 125 gram, telur ayam 1 butir, air 400 cc, garam secukupnya, minyak kelapa 1 sendok makan, pewarna hijau secukupnya, dan aroma rasa pandan. Pembuatan : Buat dadar terlebih dahulu, caranya, campur tepung, telur, garam, dan air. Aduk rata, tambahkan aroma pandan. Jika dirasa kurang, air bisa ditambah. Ambil teplon untuk membuat dadar. Kemudian sisihkan. Siapkan vla untuk isi di dalam dadar. Bahan vla: susu 300 gram, gula pasir 150 gram, tepung maizena 40 gram irisan nangka. Pembuatan vla: campurkan susu dan gula, masak sampai mendidih. Larutkan maizena dan sedikit air. Masukkan ke dalam susu aduk rata. Masak hingga mendidih. Terakhir tambahkan irisan nangka. Dinginkan, kemudian ambil dadar isi dalamnya dengan vla. –ast

terlihat,” paparnya sambil memperlihatkan ratusan permata koleksinya. Tini menjamin produk aksesori batu permata yang ia jual berkualitas tinggi. Ia sangat selektif memilih dagangannya, sehingga terkesan modelnya eksklusif. Mengenai harga, tergantung desain, ukuran, kombinasi bahan serta proses pengerjaanya. Makin sulit desainnya, makin tinggi harganya. Begitu pula kombinasinya, makin bagus makin mahal harganya. Ketua Dekranasda Kota Denpasar I.A. Selly D. Mantra mengatakan kerajinan seni, khususnya perak memiliki daya tarik tersendiri. Makanya jika berada di luar Bali ia memilih

19 - 25 Desember 2010 Tokoh 15 menggunakannya. Dengan perak, banyak orang yang tak dikenalnya menyapanya dengan ucapan‚ “Dari Bali ya?“ “Ini berarati selain sebagai pelengkap busana aksesori juga memiliki fungsi sebagai alat komunikasi budaya,” kata istri Walikota Denpasar ini. Selly Mantra menambahkan prospek bisnis aksesori cukup menjanjikan, sembari memperlihatkan bukti prospektifnya pengusaha binaannya ini. Pameran menjadi salah satu ajang yang tepat untuk mempromosikan produk unggulan ini. Namun, ia berharap peserta yang pernah mengikuti pameran tidak terburu merasa pasrah, jika hasilnya tidak seperti harapan, ketika diukur

dari penjualan. “Investasi promosi sangat dibutuhkan. Pameran seharusnya memberikan manfaat untuk melakukan promosi, sedangkan penjualan memang ada even pameran dagang tersendiri,“ katanya. Ia mengingatkan Bali sebagai etalase dan pintu gerbang kegiatan ekspor Indonesia sangat berpeluang untuk melakukan pengembangan pasar, dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Selly Mantra juga menyampaikan jika ingin menjadi anggota atau binaan Dekranasda Kota Denpasar agar memperoleh fasilitas promosi produk dan informasi kerajinan Kota Denpasar secara gratis, harus

memenuhi persyaratannya. Pertama, warga Kota Denpasar (KTP asli kota Denpasar). Kedua, benar pengrajin dan bukan merupakan pengumpul barang. Ketiga, memiliki tempat usaha (workshop). Keempat, jenis kerajinan bersifat kerajinan yang kreatif dan inovatif. Kelima, karya orisinil dan bukan merupakan plagiat barang anggota dekranasda. “Pendaftaran dapat dilakukan secara online atau secara manual dengan mengisi formulir pendaftaran anggota, dapat diambil di bagian Ekonomi Kantor Walikota Denpasar. Tim Monitoring akan mensurvei tempat dan kelengkapan lainnya,” ujarnya. —ard

Wanita-wanita Tersubur di Dunia Menjadi wanita subur adalah dambaan setiap wanita di dunia. Meski demikian hanya sedikit wanita menginginkan terus-menerus hamil dan melahirkan anak di sepanjang hidupnya. Mereka yang sedikit ini berpandangan kehamilan tak perlu diatur, mereka akan menerima kapan pun hal itu datang. Karena itu, mereka menolak menggunakan kontrasepsi atau pun pengaturan masa kesuburan dengan menggunakan sistem kalender. Wanita tersubur di dunia yang tercatat dalam Guinness World Record adalah istri Feodor Vassilyev (1707-1782), seorang petani asal Shuya, Rusia. Istrinya melahirkan 69 orang anak. Ia menjalani 16 kali proses kelahiran kembar dua, tujuh kali persalinan dengan anak kembar tiga, dan empat kali melahirkan anak kembar empat. Dari 69 anak, 67 anak dilahirkan dengan selamat. Nama istri Vassilyev ini tidak diketahui persis, juga datadata kehamilan. Data-data tentang mereka hanya diperoleh sepengal-sepenggal dalam majalah The Gentleman’s Magazine terbitan London tahun 1783, juga artikel tahun 1790 dan 1933, namun itu pun tidak lengkap. Namun karena data-data tak lengkap, muncul keraguan akan kebenar-

Livia Ionce bersama suami dan anak anaknya pada tahun 2008

an informasi tersebut. Meski begitu Guinness Book of Record tetap mencatat istri Feodor Vassilyev itu sebagai wanita terbanyak melahirkan anak. Sampai ada bukti otentik bahwa data itu tidak benar. Sampai sekarang belum pernah ada wanita yang tercatat mampu melampaui rekor istri Feodor Vassilyev. Suatu ketika tahun 1983, muncul kabar wanita asal Cili, Leontina Espinoza memiliki 58 orang anak. Belakangan diketahui, informasi tersebut palsu. Espinoza yang kemudian meninggal, ternyata hanya memiliki 16 orang anak. Konon, kabar yang diembuskan itu hanya demi mendapat tun-

jangan dari pemerintah. Tapi yang pasti kebenarannya adalah istri Duggars dari Arkansas, yang melahirkan 19 orang anak— beberapa di antaranya kembar— semuanya hidup hingga kini. Sampai sekarang istri Duggars tercatat sebagai wanita paling banyak melahirkan anak. Ke-19 anak ini hidup sejahtera karena Duggars adalah pria cukup berada. Yang kini mendekati rekor keluarga Duggars adalah Livia Ionce, 44, imigran Rumania yang menetap di Kanada sejak 1990. Kini keluarga besar itu menetap di Abbotsford, British Columbia. Livia Ionce melahirkan anak ke-18 tahun 2008 dan

sampai sekarang belum terdengar lagi apakah mereka telah menambah anggota keluarga baru atau tidak. Ke-17 anak-anak mereka berusia berkisar dari 20 bulan sampai 23 tahun. Keluarga sekarang memiliki 10 anak perempuan dan delapan anak lakilaki. Namun rekor Livia ini, kini disamai oleh Kelly Bates, 43, yang belum lama ini melahirkan anak ke-18. Kelly menikah dengan Gil, 23 tahun lalu, dan dia hampir setiap tahun melahirkan anak. ‘Ribut-ribut’ soal wanita tersubur, sebenarnya di Indonesia pun ada perempuan yang layak menyandang rekor tersubur di dunia saat ini. Bahkan rekornya mampu melampaui istri Duggars yang dikabarkan menjadi wanita paling banyak melahirkan saat ini. Wanita asal Indonesia itu bernama Eros, warga Purwakarta. Dia dikabarkan 25 kali melahirkan. Namun di antara itu, hanya 18 anak yang bertahan hidup dan konon beberapa di antaranya sudah menikah. Eros dan suami serta anak-anaknya tinggal di Kampung Tegal Kalapa, Desa Citeko, Pleret. Suaminya, Asrp bekerja sebagai tukang becak, sementara Eros berjualan makanan. —dia/dari berbagai sumber

Sumber: Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Eyeshadow Tahan Lama Yth. Ibu Agung Saya, ibu rumah tangga usia 36 tahun memiliki putri usia 15 tahun. Dalam waktu dekat anak saya akan mengikuti lomba busana adat ke pura. Kebetulan saya tertarik dalam hal merias dan saya yang akan merias anak saya nanti untuk mengikuti lomba tersebut. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara dalam mengaplikasikan make-up agar eyeshadow dapat tahan lama, serta mohon ditampilkan contoh pemakaian busana untuk mengikuti lomba busana ke pura. Terima kasih. Astini, Padangsambian Yth. Ibu Astini Saat ini ada banyak produsen kosmetik menciptakan eyeshadow dengan formula tahan lama. Tetapi ada kalanya produk ini tetap tak mau melekat lama, terutama pada kulit ber minyak. Tr ik untuk mengakali agar eyeshadow bisa tahan lama: coba oleskan eyecream (krim mata) pada bagian kelopak mata sebelum mengaplikasikan eyeshadow. Saat masih dalam keadaan lembap, segeralah aplikasikan eyeshadow dengan cara menepuknepuk lembut dengan aplikator atau jari tangan. Dibandingkan eyeshadow jenis krim, eyeshadow jenis bubuk umumnya tahan lebih lama. Eyeshadow bubuk memiliki tekstur lebih kasar, sehingga dapat melekat sempurna pada kelopak mata. Berikut ini contoh pemakaian busana adat ke pura untuk lomba. Selamat mencoba.

Pada Suatu Malam di Cengkareng PADA suatu malam, ketika kami (Mr & Mrs Joger) pulang dari Singapura, melihat dua wanita muda tampak takut campur cemas dihampiri dua petugas berseragam biru tua di Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng. Dari agak kejauhan (jarak ± 10 meter), saya ikut mengamati penampilan maupun bahasa tubuh mereka. Kedua wanita muda berpenampilan sederhana itu tampak makin cemas dan makin takut, sedangkan kedua bapak-bapak berseragam biru tua itu kelihatan memegang lengan salah seorang wanita tadi. Saya merasa tidak tahan lagi untuk tidak mendekat ke arah mereka. Dari jarak sekitar 2,5 meter, saya bertanya: “M aaf ada apa ini?”. Kedua wanita muda dan kedua petugas berseragam biru itu menoleh ke arah saya. Bapak yang tampak lebih senior dengan santai menjawab: “Ini mereka, kan TKW, mereka harus keluar melalui gate (pintu gerbang) III!”. Lalu tampak kedua petugas berseragam biru berusaha meyakinkan kedua wanita muda untuk ikut mereka ke “gate” III. Kedua wanita muda tampak menggeleng-gelengkan kepala tanda mereka tidak mau. Karena melihat mulai adanya tanda-tanda pemaksaan, saya lebih mendekat lagi ke kedua wanita muda itu, lalu sambil menoleh ke arah kedua petugas berseragam biru yang tampak makin tidak sabar itu, secara sopan saya bertanya: “Maaf, karena apa Bapakbapak bersikeras mengajak mereka ke suatu tempat yang mereka tidak inginkan?”. Sambil tetap berusaha menarik lengan salah seorang dari dua wanita muda itu, salah seorang dari kedua petugas itu (tanpa menoleh ke arah saya) menjawab singkat: “Mereka ini, kan TKW. Menurut aturan mereka harus melalui Gate III!”. “Wah, maaf Pak, dari mana Bapak-bapak bisa begitu yakin kalau mereka ini pasti TKW?”. Tanpa menjawab pertanyaan “konyol” saya itu, tampak kedua petugas itu agak marah, dan salah seorang petugas itu mulai memegang lengan dan tas jinjing salah seorang dari “TKW” itu. Nah, waktu itulah saya merasa terpaksa untuk lebih mendekat lagi, dan secara kilat berusaha melepaskan cengkeraman tangan si

petugas, dan secara serius saya berujar sambil memandang ke mata petugas yang mulai merasa heran dan terganggu atas kehadiran saya di wilayah kekuasaannya itu. Dengan sedikit heran campur garang, si petugas yang lebih tua bersabda: “Ini mereka kan TKW, dan menurut aturan, mereka berdua harus keluar air port dari Gate III!”. Lalu secara polos, saya tanya pada kedua wanita muda itu: “Karena apa kalian tidak mau keluar melalui Gate III sesuai aturan?” Sambil melihat cemas ke berbagai arah, salah seorang dari wanita muda itu menjawab: “Kami berdua sudah ada yang menjemput, Pak!”. “Siapa yang menjemput kalian?” tanya saya. “Keluarga kami, Pak!”. jawab mereka. Suasana menjadi sepi sejenak. Tetapi, kemudian suasana sepi itu mulai terganggu lagi, karena salah seorang petugas yang tampak lebih muda bersabda: “Kalian jangan mambandel, ya!”. Lalu petugas yang tampak lebih berpengalaman menambahkan tegas: “Ini semua, kan sudah diatur demi keamanan kalian sendiri, ayo ikut kami!”. Melihat mulai adanya suasana frustrasi di antara mereka berempat, saya berlagak tetap santai mengajukan pernyataan dan pertanyaan: “Oke,mungkin saja memang ada aturan yang mewajibkan para pahlawan devisa kita untuk keluar dari Gate III demi kebaikan dan keamanan mereka, te tapi bagaimana kalau ternyata mereka sudah merasa cukup aman, dan ternyata juga tidak mau keluar melalui gate yang ditentukan aturan?” tanya saya. Suasana menjadi hening sejenak, kedua wanita muda itu tampak berusaha menjauh dari kami bertiga (saya & kedua petugas itu), sambil menoleh ke arah ban berjalan ke tempat pengambilan barangbarang mereka. Lalu setelah berunding, kedua petugas itu mendekati saya, dan bertanya pada saya: “Bapak ini siapa, karena apa, kok ikut campur urusan ini?”. “Lho, apakah penting siapa saya, atau mungkin ada suatu yang salah yang sudah saya tanyakan atau katakan pada Anda?” jawab saya dengan pertanyaan bernada heran dan kesal. “Tetapi, ini kan

sudah ada aturannya, Pak. Semua TKW kalau pulang dari luar negeri supaya tertib, harus selalu keluar dari Gate III, karena sudah disediakan penjemputan demi keamanan mereka!” sergah petugas itu. Dengan tetap sopan, tetapi sedikit agak jengkel, saya menjawab: “Maaf Pak, kalau memang demi keamanan para TKW, bagaimana kalau mereka tidak merasa perlu mendapat pengamanan yang kita sediakan?”. Lalu tampak ada dua petugas berseragam biru lain mendekat ke arah dua kolega mereka. Mereka tampak berunding serius sambil kadang-kadang sedikit menoleh ke arah saya dan ke arah kedua wanita muda itu. Wajah dan bahasa tubuh keempat petugas itu tampak agak kurang senang. Melihat dan merasakan suasana yang kurang nyaman itu saya mengajukan ajakan, “Maaf, Bapak-bapak, saya yakin Bapakbapak hanya melaksanakan tugas sesuai aturan, te tapi bagaimana, kalau kita bersama mereka (kedua TKW) itu keluar sebentar melalui gate ini, lalu kita lihat langsung, apakah benar mereka sudah dijemput keluarga mereka. Kalau nantinya memang ternyata tidak ada pihak keluarga yang menjemput, barulah kita ajak mereka keluar melalui Gate III sesuai aturannya”. Ajakan saya yang baik, sopan dan tidak mengandung unsur negatif itu diiyakan. Lalu kami berempat membantu kedua wanita muda tadi untuk mengangkat barang-barang bawaan mereka keluar melalui gate itu. Ternyata ada beberapa orang (tua, muda, bahkan anakanak) berpenampilan sederhana berteriakteriak (kecil) gembira menyambut pahlawan devisa (pahlawan keluarga) mereka yang kembali ke Tanah Air. Lalu saya pun terhentak, karena sadar, bahwa saya sudah cukup lama membiarkan istri saya (Mrs. Joger yang penyabar) menanti dengan barang-barang bawaan kami di bandara. Setelah saling bersalaman gembira dengan kedua “TKW” dan beberapa anggota keluarganya, saya mengucapkan terima kasih kepada keempat petugas tadi. JOGER


16

Tokoh

19 - 25 Desember 2010

KIPRAH PEREMPUAN tkh/sep

Catatan dari Dialog LSM Perempuan

Jangan Pandang Janda Sebelah Mata DATA Direktorat Reskrim Polda Bali menyebutkan, jumlah kejahatan terhadap anak di Bali tahun 2008 120 kasus, tahun 2009 122 kasus, dan tahun 2010 125 kasus. Bahkan, kejahatan yang dilakukan terhadap anak perempuan lebih banyak. Data kekerasan terhadap perempuan sampai bulan Desember 2010 mencapai 70 kasus yang diadukan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP) Prov. Bali. Kenyataan ini membuat Forum Komunikasi Perempuan Mitra Kasih Bali bekerja sama dengan para LSM perempuan di Bali berdialog dengan pihak eksekutif dan legislatif, Rabu (15/12) di Wantilan DPRD Provinsi Bali.

S

ebagai pembuka anak-anak dari Sang gar Ari Yayasan Ketut Alon Mas, Ubud binaan KPAID Bali, melakukan pementasan barong dan kera. Hiburan ini menyampaikan pesan, masih banyak orang berperilaku seperti kera melakukan kekerasan terhadap anak-anak. Ketua DPRD Provinsi Bali A. A. Oka Ratmadi dalam pengantarnya mengatakan, perempuan berkedudukan sama dalam undang-undang. Mengapa perempuan takut untuk berkiprah dalam berbagai lini kehidupan. Laki-laki harus sadar

diri kekuatan perempuan luar biasa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari banyak ketidakadilan yang menimpa perempuan. “Perempuan bisa kerja apa saja, asalkan dia menguasai iptek. Perempuan sudah diberi kesempatan, harus diambil,” ujarnya. Ia mengaku miris, masih ada yang memandang sebelah mata kepada para janda. Padahal, status janda bukan karena mereka menginginkannya, tetapi banyak penyebabnya, suami meninggal atau terjadi KDRT sehingga mereka memilih bercerai. “Semoga ini bisa men-

jadi bahan renungan,” ujarnya. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bali Ni Made Sumiati, S.H. mengatakan, pekerjaan perempuan dari bangun tidur sampai mata suami terpejam. Perempuan dalam sloka agama disanjung, namun, dalam pelaksanaannya masih banyak terjadi kekerasan terhadap dirinya. Wakil; rakyat asal Karangasem ini mengatakan sudah melakukan banyak hal untuk menyuarakan suara perempuan. “Di Bali sudah ada dua perda yang dihasilkan, Perda Trafiking serta HIV/ AIDS, dan Perda Inisiatif untuk Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak,” kata Sumiati. Menurut Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Tuti Kusumawardani jika perempuan memunyai kemauan dan mampu berperan aktif, pasti mampu. Ia sudah membuktikan. Ibu tiga anak ini melangkah dari awal, mulai bekerja ikut orang, lalu bergerak menjadi pengusaha, namun, tidak melupakan tugas sebagai ibu dan istri. Perjuangan perempuan di DPRD sangat berat karena di di tingkat provinsi hanya 4 orang. Namun, ia mengaku tidak akan surut memperjuangkan nasib perempuan.

tkh/sep

Dari kiri: Prof. Wayan Windia, Made Sumiati, Tuti Kusumawardani, dan Luh Putu Haryani

Ketua DPRD Prov. Bali A.A. Oka Ratmadi memberi sambutan dalam acara dialog isu perempuan dan anak di Wantilan DPRD Bali

Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali Luh Putu Haryani mengatakan pihaknya sedang gencargencarnya menyosialisasikan konsep gender agar masyarakat tahu apa itu gender. Isu gender ada di berbagai lini kehidupan. Perempuan harus pintar. Indeks prestasi perempuan di Bali sangat rendah, padahal ibu pendidik utama bagi anak. Isu bidang ekonomi, laki-laki mendapatkan gaji lebih besar daripada perempuan, padahal beban pekerjaan sama. Saat menstruasi perempuan harus tetap bekerja. Rendahnya perempuan dalam memperoleh akses kredit sehingga menghambat kemajuan ekonomi perempuan. Isu gender bidang politik perempuan sedikit memegang jabatan. Pejabat eselon II hanya 5 orang laki-laki 29 orang, eselon III 58 orang laki-laki 192 orang, eselon IV 209 orang laki-laki 453 orang. Jumlah PNS laki-laki 4543 dan perempuan 2310. Hasil Pemilu 2009, 390 anggota DPRD terdiri atas 28 perempuan dan laki-laki 362 orang. Isu kesehatan, angka kematian ibu dan anak meningkat, walau di Bali masih berada di bawah angka nasional. Transportasi masih bias gender, tangga sangat tinggi sehingga kalau naik tangga menggunakan rok akan terlihat dari bawah. Ia mengatakan, sudah melakukan banyak hal, mewujudkan perencanaan dan

pengelolaan anggaran daerah yang responsif gender, di samping mengembangkan jaringan kerja sama dengan LSM perempuan. Menurut Wayan P Windia dari Majelis Utama Desa Pakraman Bali, perempuan Bali tak perlu merasa terpinggirkan, sudah ada aturan yang mengakomodir kepentingan perempuan dan anak. Paruman MUDP sudah mengakomodir hak perempuan. Kedudukan laki dan perempuan sejajar, anak perempuan berhak mendapatkan warisan orangtuanya, jika terjadi perceraian harta guna kaya dibagi dua, dan anak bisa diasuh ibunya sampai batas yang disepakati bersama, dan si ayah wajib memberikan nafkah. Paruman Agung MUDP juga memutuskan arti meninggal kedaton, meninggalkan rumah tapi tidak lagi memeluk agama Hindu maka mereka tidak berhak atas harta warisan. Ia mengajak pemuka adat, membuat produk hukum yang memihak perempuan. Windia menegaskan, kalau ingin tahu tentang hukum adat Bali, ada tiga hal yang harus dikuasai yakni agama Hindu, tahu sistem sosial di Bali (desa pakraman, subak), dan kekerabatan. Sri Wigunawati mengaku prihatin banyaknya tukang suun anak-anak, anak korban traficking/seksual, kornban bencana, anak lahir tanpa mendapat hak sipil, korban

narkoba, gepeng, harus ada perda bagi mereka. Berapa anggaran yang disiapkan untuk itu, siapa yg bertanggung jawab? Ardiaska dari Aliansi We Can mengatakan, sudah lebih dahulu menyosialisasikan kampanye antikekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Tabanan. Sasarannya, sekolah, masyarakat, dan desa pakraman. Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH A{IK) Nengah Budawati mengajak semua peserta dialog untuk membubuhkan tanda tangan di kain putih yang bertuliskan change maker we can sebagai kepedulian untuk menghentikan KDRT. Stop kekerasan terhadap perempuan divisualisasikan dalam bentuk tarian dan lagu. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bali Komang Suarsana mengatakan, KPI sudah membuat acuan program penyiaran khususnya televisi, tetapi faktanya masih banyak televisi yang tayangannya merendahkan perempuan. Sajian televisi lokal sudah diingatkan agar dikembalikan roh dan spiritnya ke pakemnya. Luh Haryani mengakui anggaran belum maksimal tapi usaha akan terus dilakukan. Menurut Sumiati, isu pendidikan sudah ada kejar paket, masalahnya data anak yang belum mendapatkan

pendidikan belum jelas. Masalah perdagangan perempuan sudah ada perda tinggal diawasi saja serta penanganan dan pendampingan konselor. Korban bencana ada tupoksi perkasus di kabupaten/kota. Penanganan gepeng hanya mengimbau, harus ada kejelasan apakah ada sanksi bagi pemberi uang kepada gepeng. Dr. dr. Dyah Paramita Duarsa, M.Si. dari Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Prov. Bali mengatakan, estimasi orang dekat dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bali meningkat terus. Total sampai Oktober 2010, 7319. Denpasar menduduki peringkat teratas disusul Badung. Malah isu teranyar, istri mengidap HIV jumlahnya mencapai 200 orang yang kebanyakan didapat dari suami. Mungkin masih banyak lagi yang belum terdata. Berapa bayi tanpa dosa yang akan lahir dengan banyaknya ibu yang menderita HIV. Walaupun sudah ada perda, sepertinya tidak cukup, harus ada komitmen anggaran dana untuk bisa menanggulanginya. Sofie salah seorang perwakilan Gaya Dewata mengaku, banyak stigma terutama pelanggaran HAM, diusir dari suatu tempat, yang mereka alami. Padahal, kata Sofie, dari segi pendidikan, mereka sangat mumpuni. Ia berharap, mereka diberi kesempatan berkreativitas sesuai dengan kemampuan mereka. –ast


tkh_623_xii__19-25_des._2010