Issuu on Google+

Chanita Christie Sugi

Jadi Nasabah Bank Sampah

Cantik dengan Nail Art

Pesona Serangan

Halaman 4

SEKARANG memoles kuku dengan kuteks saja belumlah cukup. Kuku punya nilai penting dalam penampilan. Kuku bukan hanya dirawat tapi juga dirias sehingga tampak indah dan berbeda. Warna menarik, dengan motif batik, bunga, butterfly, glitter hingga kristal swarovsky menjadi bagian mempercantik kuku. Menurut Chanita Christie Sugi, salah seorang ahli nail art, kecantikan tidak berfokus pada wajah, rambut dan tubuh semata. “Kini trennya mempercantik kuku tangan dan kaki sebagai sentuhan akhir penampilan seseorang. Siapa pun dapat menghias kukunya dengan

Gereja Sumbang Babi Galungan

Halaman 6

NTB Belajar ke Jember Bumi Gora

Halaman 10

Batur Kembali Normal Bencana

Halaman 16

manik kecil, stiker lucu atau air brush. Hanya perlu waktu 15 – 20 menit sudah cantik,� ungkap Chani yang piawai memoleskan berbagai bentuk riasan kuku ini. Perawatan dan seni kreasi kuku kini menjadi daya tarik sendiri. Terutama bagi perempuan yang ingin terlihat penampilannya lebih menarik. “Perempuan cantik dengan nail art, penampilannya akan makin menawan, jika kukunya bersih, rapi juga indah,� ujar pemilik Cutex Nail Salon di areal Carrefour Sunset Road Lt.1 Unit 8 ini. Chani mengatakan, makin hari makin banyak yang menyukai nail art. Penggemar nail art sekarang mulai dari anak-anak hingga kaum ibu. Dengan kecanggihan teknologi, meski kuku dirias samasekali tidak membatasi aktivitas sehari-hari, terutama kegiatan rumah tangga. Kami punya triknya untuk ini. Termasuk siap membantu menangani kuku yang patah dan merawat kuku yang kuning,� ucap istri Sugi ini sumringah. Perempuan yang pernah berguru pada pelatih dari Korea ini, menuturkan kalau keterampilan ini pengembangan manicure dan pedicure yang biasa dilakukan sejak lama. “Selanjutnya Bersambung ke halaman 12 dengan nail

Indonesia Peringkat ke-7 Bencana Alam 2005 Jika Terjadi Gempa Dahsyat hanya Satu Gedung Aman di Jakarta

tkh/rat

dari 500 gunung berapi, 128 di antaranya masih aktif. Tatanan tektonik Indonesia memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, tanah subur, pemandangan indah, banyak kandungan minProf. Dr. Sudibyakto, M.Sc. eral logam, non-logam, dan migas. Dampak negatifnya, In- longsor. donesia rawan bencana geologi Lempeng Eurasia bergerak seperti gempa bumi, tsunami, terus lebih kurang 7 cm per letusan gunung api, dan tanah

Foto bersama usai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara Bank Mandiri dengan BANI dilakukan Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman (nomor 2 dari kiri) dan Ketua BANI Arbitration Centre Priyatna Abdurrasyid (nomor 3 dari kiri)

Bank Mandiri Dukung Sosialisasi Arbitrase BANK Mandiri dan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) bekerja sama untuk menyosialisasikan arbitrase atau lembaga alternatif

HALAMAN 16

Bersambung ke halaman 16

Tidak Unik Karakterisik ini tidak unik. “Tidak hanya Indonesia yang memiliki karakteristik seperti itu. Jadi, jangan menyesal bertempat tinggal di lempengan,� kata Ir. Hardjono Dwijowinarto, CES, Kasubdit Pembinaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah IV, Kementerian Pekerjaan Umum. Dalam 15 tahun terakhir, frekuensi bencana di Indonesia

Tanah Bali Peka Erosi

penyelesaian sengketa di luar pengadilan kepada pelaku usaha. Sosialisasi dilakukan Bersambung ke halaman 12

“KONDISI fisik Bali sering mengundang bencana: erosi, longsor, abrasi, banjir, kadangkadang kebakaran hutan dan kekeringan,� ujar Ir. I Dewa Putu Punia Asa, M.T., Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali. Sebagian besar tanah di Bali terbentuk dari tanah vulkanis muda yang sangat peka erosi. Dataran di sebelah utara pegunungan Buleleng sangat sempit dengan sungai curam yang merupakan sungai kering saat musim kemarau dan banjir saat musim hujan. Ir. I Dewa Putu Punia Asa, M.T. Kondisi ini diperparah, saat curah hujannya tinggi. Semenbulan hujan di bagian utara Bali tara di Bali Selatan, datarannya relatif pendek (3-4 bulan) tetapi luas dan landai. tkh/rat

A

BERITA TERKAIT

tahun, tetapi stabil. “Jangan khawatir, kita beruntung punya gunung api. Gunung api itu ibarat pasak di perut bumi. Jika tidak ada gunung api, pergerakan lempeng itu membuat ’kita jalan-jalan’ sendiri,� papar Sudibyakto.

DALAM catatan Unesco, Indonesia berada di peringkat ke-7 negara paling banyak dilanda bencana alam tahun 2005. “Indonesia ibarat laboratorium bencana,� ujar Prof. Dr. Sudibyakto, M.Sc. dari Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. da beberapa karak teristik risiko ke bencanaan di Indonesia, antara lain Indonesia terletak di persimpangan empat lempeng dunia (lempeng Asia, Benua India, Benua Australia, dan Lautan Pasifik); terletak di pertemuan tiga gugusan pegunungan (pegunungnan Alpine, Circum Pasifik dan Circum Australia); dan memiliki lebih

kian sering terjadi. “Karena itu, perlu kajian tepat, memanfaatkan perencanaan ruang untuk mitigasi bencana,� tambah Hardjono dalam media gathering “Penataan Ruang sebagai Instrumen Mitigasi Bencana di Indonesia� yang diadakan Direktorat Jenderal Bina Program dan Kemitraan, Kementerian Pekerjaan Umum, di Sanur Senin (29/11). Permasalahan dalam penanggulangan bencana saat ini; belum memadainya kinerja penanggulangan bencana yang dikaitkan keterbatasan kapasitas dalam pelaksanaan tanggap darurat serta upaya rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pasca-bencana. Selain itu, masih rendahnya kesadaran terhadap risiko bencana dan masih rendahnya pemahaman terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana meliputi rendahnya kesadaran terhadap upaya pengurangan risiko bencana serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. “Sikap pemerintah dalam penanganan bencana, saat tanggap darurat, royal dengan dana. Berapa pun dana yang diperlukan, disiapkan. Tetapi,

Seharusnya Pertumbuhan Ruang di Bali ke Atas? “Jika menilik ke belakang, ada beberapa kebencanaan yang pernah terjadi di Bali,� katanya. Letusan Gunung Agung terhebat tahun 1963 yang menewaskan 1.148 orang; letusan Gunung Batur tercatat tahun 1849, 1888, 1904, 1927, 1963, 1968, 1974, dan 1994; Bersambung ke halaman 16

BKOW Bali Evaluasi Program Kerja, WHDI Tabanan Serahkan Bantuan Hadiri Konferensi dan Pameran Nasional

PROGRAM WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Provinsi Bali tahun 2010 yang sebelumnya telah disosialisasikan dan dibina ke seluruh kabupaten/kota se-Bali, ditinjau

tim monitoring dan evaluasi dari WHDI Provinsi. WHDI Kabupaten Tabanan mendapat kunjungan Sabtu (27/ 11) di sekretariat setempat. Jadwal monitoring dan evaluasi

Sagung Oka (kedua dari kiri)bersama sebagian pengurus WHDI Provinsi Bali. Tampak Ketua WHDI Prov. Bali IGA Sulasmi Rai (ketiga dari kiri)

ini disesuaikan dengan jadwal Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP) 2010 yang dimotori BKOW (Badan Kerja Sama Organisasi Wanita) Daerah Bali dan Kowani (Kongres Wanita Indonesia) dengan leading sector WHDI Provinsi Bali, yang digelar di Pantai Kedungu, Kediri, Tabanan. Acara yang dihadiri Bupati Tabanan Eka Wiryastuti dan jajaran Pemkab Tabanan, serta seluruh organisasi wanita di Kabupaten Tabanan itu dirangkaikan dengan HUT ke517 Kabupaten Tabanan. Dalam acara GPTPP itu ditanam 1.000 Bersambung ke halaman 12

Dari kiri: Menteri PP dan PA Linda Amalia Sari Gumelar, Erna Witoelar, Tini Rusmini Gorda, Lenny Prasetya, dan Rai Sudiasih

SEPERTI halnya pada tahun garakan Konferensi dan 2007 dan 2008, pada 23-24 No- Pameran Nasional dengan tema vember 2010, di Manggala Wanabhakti, Jakarta diseleng- Bersambung ke halaman 8

IA Selly Dharmawijaya Mantra

Inginkan Endek Sepopuler Batik KINI, image tua, kuno, dan formal pada seni tenun endek sudah bergeser. Sejalan dengan melajunya zaman, endek Bali menjadi bagian mode, dapat diaplikasikan dengan aneka bahan, di antaranya bordir, sulam, payet dan lukis. Endek dapat dikenakan di beragam kesempatan serta oleh segala kalangan dan usia. Endek adalah salah satu kekayaan peninggalan budaya nenek moyang kita yang tak ada duanya di dunia. Sesungguhnya tenunan ini sangat bisa dikembangkan dengan kreativitas tanpa harus kehilangan ciri dasar tenunannya. Corak baru tidak akan menghilangkan motif tradisional, melainkan memperkaya khasanak tenun ikat Bali. Demikian dikatakan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Denpasar, IA Selly Dharmawijaya Mantra, di tengah kesibukannya menjelang Denpasar Festival. Menurutnya, jika ingin endek lebih maju, kuncinya adalah mengembangkan motif tradisional yang kaya ragam menjadi motif modern yang berorientasi pada pasar global. “Sebab, secara umum konsep berbusana perempuan saat ini selain kenyamanan juga desainnya,� ucap Selly Mantra sembari mengatakan pesona endek dan bordir ini akan dihadirkan dalam Denpasar Festival, salah satu agenda tahunan Kota Denpasar. Selly Mantra ingin pengembangan warisan budaya ini kiranya muncul dari ide kreatif para pengrajin endek dan bordir se-Kota Denpasar. Desain endek kedepannya bisa lebih gaya, simpel dan mengikuti tren. Endek tidak hanya tampil elegan namun dapat pula terlihat modis, kasual dan sporty yang bisa menjadikan respon pasar lebih ramai. Ia juga mengatakan kekayaan budaya kreatif sebagai produk unggulan seperti endek dan bordir perlu dikembangkan menjadi produk yang populer seperti batik. Ibu yang dikenal ramah ini punya mimpi endek bisa menjadi busana siap pakai dengan beragam pilihan model. “Jika batik sekarang booming, wajar saja. Perjalanannya panjang, kita sudah kenal batik sejak dulu, tapi baru beberapa tahun terakhir makin diminati. Makanya tidak ada salahnya dari sekarang kita berbuat atas nama endek. Pasti suatu saat akan gebyar dan tren. Hanya saja kita harus sabar mengikuti proses perkembangnnya,� tutur istri orang pertama di Kota Denpasar ini. Selama ini, Dekranasda Kota Denpasar menjalin kerja sama dengan Disperindag Kota Denpasar dalam membina pengrajin agar selain memunculkan variasi produk kain yang bermutu tinggi juga mampu memberikan harga yang terjangkau dan menjadi produk unggulan Ibu Kota Provinsi Bali yang banyak dicari. Begitu juga dengan bordir bisa menjadi perpaduan yang indah serta kesan berbeda kepada mata yang memandang busana kita. “Sebab pada kenyataannya orang ingin tampil menawan tiap saat, bukan hanya saat tertentu,� lanjutnya. Salah satu cara memberikan dorongan, peluang dan ruang lebih besar kepada pengrajin kain tersebut, dipaparkannya Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

5 - 11 Desember 2010

KORAN TOKOH

Kearifan Lokal “Pak Amat, maaf saya tak bisa singgah,” tulis sahabat Putu Wijaya Amat yang kini berada di Sumbawa, “saya langsung terbang ke Mataram. Dari sana naik bus ke pelabuhan, nyeberang ke Sumbawa. Naruh barang di Newmon lalu naik gunung menembus Taliwang untuk mendaki jalan berbatu yang mendebarkan untuk sampai ke Desa Mantar. Desa terpencil di atas langit yang memiliki 7 orang albino.” Amat menunjukkan surat itu pada istrinya. Bu Amat tak mengerti. “Maksud Bapak apa?” “Membuat desa di puncak bukit seperti Desa Mantar itu pasti karena penduduknya tak mau disapu tsunami” “Mosok dulu juga sudah ada tsunami?” “Habis kalau tidak, kok susah-susah bener bikin desa di puncak bukit seperti burung elang. Biasanya desa kan di lembah di dekat sungai supaya bisa bertani. Ini pasti karena nenek-moyang warga Mantar sudah diajari oleh kearifan lokal mereka, di mana hidup yang aman. Kearifan lokal memang luar biasa gunanya jika disimak dengan benar. Tak mengherankan kalau si Ami bilang, di UGM Yogya ada seminar internasional membicarakan bagaimana memanfaatkan kearifan lokal untuk menanggulangi berbagai masalah dunia di masa globalisasi ini. Kita harus malu, karena selama ini sudah mengabaikan kearifan lokal kita yang begitu kaya, gara-gara kesengsem pada gaya hidup mewah yang dipropagandakan iklan-iklan di majalah dan televisi.” Bu Amat cepat-cepat berdiri. Ia tak mau mendengar omelan suaminya lebih lanjut. Ujung-ujungnya pasti ngritik pemerintah. “Pengangguran seperti Bapak itu memang hobinya sambat, ngomel, mencela orang lain,” gerundel Bu Amat di depan kerupuk kulit yang mau digorengnya “coba ambil sapu atau cangkul, bersihkan halaman. Atau, periksa atap kalau ada yang bocor sebab sebentar lagi nusim hujan. Kan lebih bermanfaat. Lakukan yang lebih berguna. Kok sambat-sambat melulu . Memangnya sambat bisa menyelesaikan masalah?” Amat yang ngintip dari jauh, heran mendengar istrinya bercakap-cakap. Lalu dia menyusul ke dapur. “Ada siapa Bu?” “Ngak ada siapa-siapa!” “Lho kok ngomong sendiri?” “Siapa yang ngomong? Orang lagi sibuk goreng begini kok ngomong, nanti hangus! Bapak kalau mau ngobrol, sama tetangga saja. Bacain mereka surat dari Mantar itu!” Amat geleng-geleng kepala lantas pergi ke tetangga yang tampaknya juga lagi nganggur. “Pak Made, apa Ibu pernah ngomong-ngomong sendiri?” tanya Amat iseng-iseng membuka pembicaraan. Pak Made terkejut. “Lho Pak Amat kok tahu?” Amat juga terperangah. “Lha saya nanya, soalnya istri saya suka ngomong sendiri.” Pak Made manggut-manggut. “Waduh kalau begitu sama. Saya kira cuma istri saya. Hampir saja curiga, jangan-jangan istri saya sudah dikerjain orang. Mosok dia ngomong sama ayam, sama anjing. Bahkan sama penggorengan juga!” “Wah Pak Made kok sama persis. Istri saya juga tadi ngomong sama penggorengan. Tetapi, waktu saya pergoki dia tidak mau ngaku. Siapa yang ngomong, katanya. Ngerecokin orang kerja saja. Kalau pingin ngobrol sana sama Pak Made, katanya. Maka saya langsung ke mari. Aneh ya?!” Pak Made manggut-manggut lagi. “Sekarang saya jadi ingat kepada ibu saya Pak Amat. Dia juga suka ngomong sama pohon-pohon.” “Mosok?” “Ya. Bapak saya waktu itu positif menganggap itu kerjaan tetangga yang iri melihat kami mampu beli motor. Bapak saya langsung mengancam tetangga itu, kalau sampai ibu saya terus saja ngomong sama pohon, tetangga saya akan diciduk, karena bapak saya kenalannya banyak tentara. Sejak itu ibu saya berhenti ngomong sama pohon. Tetapi, kesehatannya mundur dan dua tahun kemudian meninggal. Menurut dokter serangan jantung. Tetapi, menurut saya bukan.” “Karena apa Pak Made?” “Karena dia dilarang bicara dengan pohon.” “Oh begitu Pak Made?” “Ya. Bapak saya kan orangnya galak dan egois. Dia tidak pernah mau mendengarkan orang lain bicara. Ibu saya tertekan sepanjang hidupnya. Hanya pohon tempat dia curhat. Dia selalu bilang sama saya, pohon itu adalah sahabat sejati. Dia selalu mau mendengarkan apa yang kita bilang dengan sabar. Tak pernah membantah. Beda dengan manusia yang sukanya ngomong tetapi tak mau mendengar orang lain bicara!” Amat tertegun. Surat dari Mantar itu tak jadi dibacakannya. Dia buru-buru pulang dan ketika ada kesempatan baik, Amat langsung minta maaf pada istrinya. Bu Amat tentu saja tak habis pikir. “Kenapa minta maaf, Bapak salah apa?” Amat menjawab serius. “Bukan hanya nenek-moyang Desa Mantar itu yang menyimak kearifan lokal, kita juga. Ibu juga. Daripada ngomel sama suami yang bawel seperti aku, kan lebih baik ngomel sama pohon atau penggorengan, karena risikonya tak ada. Itu namanya cerdas dan bijak, aku saja yang bego.” Bu Amat tersenyum geli. “O kearifan lokal itu begitu? Ngomong sama penggorengan?” Amat menanggapi lagi lebih serius. “Jangan dilihat penampakannya saja! Ngomong sama pohon dan penggorengan itu nanti seperti kelakuan orang yang terganggu jiwanya. Tetapi, lihat kearifan di dalamnya! Apa salahnya gila-gilaan sedikit, tak apa kan? Daripada sakit jantung atau berantem dengan suami? Ya kan?! Itu kan kiat yang mujarab tetapi murah. Ya kan Bu?!” “Ah tak tahulah, Bapak ngomong apa lagi itu” “Itu dia. Tidak perlu tahu, tidak usah sok tahu, tetapi sudah dilakukan dan jalan. Itu kearifan lokal! Bukan kepinteran tetapi kearifan. Seperti warga Desa Mantar, kalau ditanya sekarang, mungkin tak tahu kenapa mereka bertempat tinggal di puncak bukit. Tetapi, kenapa tidak, kalau di situ air cukup, bisa menanam padi. Ada kelapa, banyak rumput untuk sapi, kebo, kambing dan kuda? Daripada hidup di bawah tetapi terancam tsunami?” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ASPIRASI

“Menyongsong Electronic KTP Tahun 2011” Sampaikan opini Anda Minggu 5 Desember 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 12 Desember 2010

Siapa Cepat Meninggal Kerja Otot atau Kerja Otak? TAHUN 2015 jumlah penduduk lanjut usia Indonesia 10%. Ini berkat umur harapan hidup kian tinggi. Negara akan menghadapi masalah besar jika tidak disiapkan penangannya sejak sekarang. Tiga konsep sehat bagi lansia: berpikiran positif, nutrisi sehat, tetap beraktivitas. Bukan hanya otot yang beraktivitas, juga otak. Siapa yang lebih cepat meninggal, orang bekerja dengan otot atau dengan otak? Masalahnya, banyak orang yang enggan melakukan medical general ceck up. Takut ketahuan sakitnya. Konsep hidup sehat terapkan sejak muda. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (28/11). Topiknya, “Kiat Lansia agar tetap Bugar”. Berikut petikannya.

Perlu Tempat Penitipan Sementara Umur harapan hidup penduduk Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Umur harapan hidup tahun 2000 sekitar 60 tahun, tahun 2010 sudah 70 tahun. Perkembangan ini dikarenakan kemajuan teknologi, kemajuan dunia kedokteran dan pelayanan kedokteran, serta meningkatnya taraf ekonomi. Biasanya umur harapan hidup wanita cenderung lebih panjang daripada pria. Risiko kecelakaan, kematian pada usia lebih muda akibat kecelakaan di jalan raya atau kecelakaan di tempat kerja, jauh lebih besar pada pria dibandingkan wanita. Di sisi lain, pada wanita ada peranan hormon yang menyebabkan wanita dilindungi penyakit-penyakit radiopaskoler pada masa sebelum menopause, sehingga kejadian penyakit jantung lebih sedikit terjadi pada wanita sebelum menopause. Gaya hidup sangat berpengaruh. Merokok merupakan salah satu faktor risiko tinggi kematian pada pria akibat penyakit jantung dan kanker, sehingga cenderung memiliki harapan hidup lebih pendek. Di Bali, wanita di rumah maupun di luar rumah merupakan pekerja tangguh. Aktivitas ini sangat berperan besar. Lansia yang bisa berumur panjang, sehat, dan berbahagia adalah lansia yang aktif, tidak hanya diam,

tiduran, atau duduk tanpa aktivitas apa-apa. Diperkirakan tahun 2015 populasi lansia 10%. Di negaranegara lain sudah ditetapkan, 10% merupakan angka saat negara tersebut akan mengalami masalah besar akibat populasi lansia yang cukup tinggi. Karena, dari segi aktivitas kemampuan bekerja menurun, dari segi ekonomi menjadi beban negara. Jika tidak ditangani dengan baik oleh pemerintah dan semua pihak, akan menjadi beban negara yang harus dipikul bersama. Orang tua/lansia yang sudah tidak bekerja otomatis menjadi tanggungan keluarga. Tetapi, jika keluarganya tak mampu, akan menjadi masalah dan banyak lansia akan telantar. Angka 10% menjadi angka kritis, pemerintah harus menyiapkan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk lansia, sehingga lansia masih bisa tetap aktif dan mandiri, sesedikit mungkin menjadi beban keluarga, bahkan sesedikit mungkin menjadi beban negara. Kalau bisa, menjadi produktif lagi, masih bisa membuat usaha, dsb. sehingga tidak menjadi masalah negara walaupun populasinya 10%. Lansia yang sehat adalah lansia yang aktif, didukung suasana lingkungan, makanan bergizi, dan pikiran yang kondusif untuk itu. Untuk menghadapinya pemerintah dan masyarakat harus menyiapkan diri. Yang sekarang masih muda/produktif harus menyiapkan diri untuk masa depan saat lansia nanti, sehingga tak menjadi beban bagi anak-anaknya. Sudah menyisihkan pendapatan untuk bisa dipakai pada hari tua, tempat tinggal, serta fasi-

litas yang akan dibutuhkan saat lansia. Biar tua tetap mandiri, tak tergantung pada anak dan keluarga. Untuk menjadi lansia sehat dan bugar: pertama, selalu berpikir positif, jangan berpikir menjadi kecil karena sudah tua, merasa tak dianggap; kedua, beraktivitas, berapa pun yang bisa dilakukan harus dilakukan seperti menyapu, menyiram, jalan-jalan. Pilih aktivitas yang tidak malah membuat sakit atau lelah, namun justru membuat kondisi tubuh lebih sehat dan lebih terhindar dari penyakit berbahaya yang sering menyerang lansia akibat tak aktif. Yang sering terjadi di keluarga, lansia terlalu dimanja dan dilayani full, seperti disuapi, semua dilakukan di tempat tidur, itu akan membuat mudah sakit. Dengan hanya tiduran, akan membuat banyak komplikasi muncul seperti infeksi di saluran kencing, infeksi di paru-paru, osteoporosis, atau terhuyung-huyung saat bangun dari tidur; ketiga, nutrisi dengan mengonsumsi makanan sehat. Makanan sehat untuk lansia makanan yang beranekaragam tetapi dalam ketegori makanan sehat dengan jumlah sesuai. Mereka perlu teman, tempat tinggal. Ini kebutuhan pokok yang harus disiapkan sebelum lansia. Menitipkan lansia di panti menjadi masalah, karena di budaya Timur orangtua dihormati dan diberi tempat selayaknya yakni di rumah sebagai rasa bakti pada orangtua. Ada kecenderungan si anak terlalu sibuk sehingga orangtua tidak diperhatikan dan menjadi telantar. Ada pembantu tetapi tidak mengurus dengan baik bahkan berbuat tak benar pada orangtua. Bersambung ke hlm. 12

Bagaimana pandangan Anda terhadap perilaku seks bebas di kalangan remaja? Mn Al Arifin Pengaruh lingkungan dan pergaulan, kurang pengawasan orangtua dan pengetahuan tentang agama.

Putu Deddy Sastrawan Sah-sah saja, selama terhindar dari MBA (married by accident).

Sussy Adie Sangat mengkhawatirkan. Sudah saatnya pendidikan tentang seks masuk kurikulum sekolah, karena remaja kita saat ini lebih banyak waktunya dihabiskan di sekolah ketimbang sama keluarganya. Tidak lupa orangtua juga mengawasi anak dan tahu aktivitas anaknya.

Via Maheswari Tak bisa dipungkiri remaja juga adalah a sexual being, yang punya dorongan seksual. Menyadari kondisi ini, tidak bisa diingkari realita bahwa hidup soal pilihan sehingga remaja pun berhak memilih kapan, dengan siapa, bagaimana dia berperilaku seks. Yang menjadi masalah kemudian adalah, masih terbatasnya informasi yang benar tentang seksualitas sehingga seringkali mereka memilih menjadi seksual aktif tanpa tahu risikonya dan tanpa tahu bagaimana mempertanggungjawabkan pilihannya itu. Sehingga, tugas kita bersama adalah bagaimana menyiapkan remaja yang siap bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri atas apa pun itu termasuk pilihannya untuk seksual aktif atau tidak.

Dewa’yu Murniasih Kita masih menganut adat ketimuran yang kental akan normanorma masyarakat mau pun agama. Tentu perilaku seks bebas di semua kalangan suatu pelanggaran. Seiring perkembangan zaman, informasi yang berbau pornografi mudah didapat, yang dapat mendorong perilaku tersebut. Norma agama dan masyarakat bagai angin lalu namun bagaimana halnya dari segi kesehatan? Memang tidak seperti makan cabai, sekarang makan, sekarang terasa pedas.

GektHu Seks bebas bukan berarti kita harus memusuhi dan menjauhinya. Seks bebas berbahaya, sebaiknya dihindari dan dicegah. Purak Purak Racing Seks bebas di zaman modern ini, gunakan kondom.

Ayoe ‘Biszma’ Arini Free sex cenderung terjadi karena keingintahuan yang besar dari para remaja, tapi mereka belajar seks dengan jalan dan cara yang salah: pornografi. Ini dimulai dari keengganan mereka mengomunikasikan apa itu ‘seks’ dengan orangtua. Makanya, mereka mencari tahu dan mencoba-coba sendiri. Sebenarnya dari kecil mereka harus bisa diberikan sex education. Selain itu, faktor terpenting adalah komunikasi yang terjalin bagus antara orangtua-anak, karena itu adalah kunci utama. Walaupun benteng agama bagus, tapi komunikasi dengan orangtua tak bagus, godaan bisa mengintai kapan saja.

Ayu Dwijayanti Seks itu naluri alami manusia.

Bersambung ke hlm. 12

Usul Rubrik Saya ingin memberi saran kepada Redaksi Koran Tokoh: Redaksi membuat rubrik atau kolom khusus untuk pembaca yang disebut Kolom Surat Pembaca; membuat kuis berhadiah; perbanyak artikel tentang kesehatan, tentang selebritas, dan kolom untuk pertanyaan seputar seluler dan internet. Made Budilana Tejakula, Buleleng budilanalana@yahoo.co.id Penjelasan Redaksi: ‘Kolom Surat Pembaca’ sudah ada yakni ‘KONTAK PEMBACA’. Sebagian pembaca sudah mengisinya. Kami harapkan pembaca lain turut memanfaatkannya. Usul lainnya kami jadikan masukan sesuai dengan unggulan Koran Tokoh: wanita & keluarga, pendidikan, dan kesehatan. Kami imbau pembaca lebih banyak lagi berperanserta menulis artikel kesehatan sesuai persyaratan Redaksi.

Denpasar Menuju Electronic-KTP 2011 PROGRAM electronicKartu Tanda Penduduk alias e-KTP mulai digarap di Bali. Pengadaan KTP yang diproses ecara on-line ini dimaksudkan untuk menghindari seseorang memiliki KTP ganda. Hal ini akan dibuktikan melalui sidik jari pemilik tiap KTP. Kota Denpasar menjadi salah satu kota di Indonesia yang terpilih mengoperasikan e-KTP tersebut. Selain Kota Denpasar, e-KTP ini juga dilaksanakan Kabupaten Badung dan Jembrana mulai tahun 2011. Berarti, satu kota dan dua kabupaten di Bali memperoleh kepercayaan untuk melaksanakan kebijakan nasional ini. Tiga daerah di Bali ini tercatat merupakan bagian 197 kabupaten/kota di Indonesia yang dipercayakan mengerjakan program ini. Total kabupaten/kota di Indonesia, 497. Namun, tahap proses pemutakhiran data penduduk telah dilakukan di seluruh Bali, termasuk Kota Denpasar. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Den-

pasar menyiapkan blanko F1O1 khusus untuk diisi pemilik KTP. Blanko ini menyerupai blanko kartu keluarga. Tetapi, fungsinya untuk mengecek kebenaran biodata penduduk yang memiliki KTP. Data yang di-cross check antara lain meliputi nama yang benar, waktu kelahiran yang benar, atau alamat tempat tinggal yang benar. Data hasil pemutakhiran itu akan dikembalikan ke instansi ini. Operator yang akan melakukan in put dan menyesuaikan lagi dengan data baru yang berasal dari penduduk ber-KTP tadi. Proses pemutakhiran data tersebut dilaksanakan dengan cara melibatkan para klian dinas di masing-masing wilayah di Kota Denpasar. Penduduk di masing-masing lingkungannya akan memperoleh blanko tersebut. Setelah mencocokkan data yang ada di KK dan biodata sebenarnya, blanko tersebut akan disetor ke klian dinas masing-masing. Data hasil pemutakhiran itu akan dikirim melalui teknologi on line ke Jakarta. Data tersebut akan diolah untuk dijadikan data pembuatan e-KTP. Kantor Dinas

Ir. I Nyoman Narendra

Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar akan memberikan NIK kepada tiap warga yang memiliki KTP tersebut. Setelah pemutakhiran data selesai akan dilanjutkan dengan tahap berikutnya. Semua warga yang telah terdata akan diminta datang ke kantor kecamatan masing-masing secara bertahap. Mereka akan dibuatkan foto, menerakan sidik jari, dan menorehkan tanda tangan. Data itu akan secara on line dikirim ke Jakarta. Adanya sidik jari dalam

kebijakan pembuatan e-KTP ini dimaksudkan untuk menghindari adanya KTP ganda. Tiap orang kelak tidak akan gampang memiliki lebih dari satu KTP di tempat yang berbeda. Jika seseorang mengurus KTP baru atau perpanjangan KTP yang telah habis masa berlakunya, maka operator akan mengecek sidik jari yang telah terdata. Begitu juga jika ada penduduk yang telah ber-KTP hendak membuat KTP di tempat lain. Sidik jari yang bersangkutan akan dicek. Jika penduduk ini telah memiliki KTP di suatu tempat, sidik jarinya akan menunjukkan hal itu. Dengan begitu, penduduk ini tidak akan diberi KTP baru. Jika e-KTP mulai berjalan kelak, ada hal-hal yang harus diingat masyarakat. Proses pengurusan untuk perpanjangan e-KTP sebaiknya dilakukan dua pekan sebelum masa berlakunya habis. Ini untuk memudahkan proses up date data di operator pusat. Ini terutama berkaitan dengan sidik jari pemilik KTP yang memohon masa perpanjangan identias penduduknya itu.

Uji coba e-KTP telah dilakukan di Kota Denpasar belum lama ini. Istilah yang digunakan, adalah uji petik e-KTP. Sebagai sampel dilibatkan sekitar 26 ribu penduduk di wilayah Kecamatan Denpasar Barat. Dari uji petik ini ternyata muncul hal-hal yang menjadi masukan untuk perbaikan. Saat ini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar telah mengerjakan pembuatan KTP secara on line. Namun, KTP ini belum memasukkan unsur sidik jari pemilik KTP tersebut. KTP yang dilengkapi sidik jari ini baru akan mulai dioperasikan tahun 2011. Proses pemutakhiran data penduduk diharapkan dapat selesai dihimpun pertengahan Desember 2010 ini. Hasil pemutakhiran ini akan dijadikan data awal untuk pembuatan e-KTP tersebut. Ir. I Nyoman Narendra Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara zStaf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati zNTB: Naniek Dwi Surahmi. zSurabaya: Nora. zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar– Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 z Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


5 - 11 Desember 2010 Tokoh 3


4

Tokoh

MEMBANGUN DARI DESA

5 - 11 Desember 2010

DARI DESA KE DESA

Anda Bertanya Kami Menjawab Budidayakan Jeruk yang Baik Saya petani jeruk. Tahun lalu buahnya cukup banyak. Sekarang tak berbuah. Bagaimana cara mengatasinya supaya mau berbuah? Bagaimana membudidayakan jeruk? Sudarta Bukit, Kutuh, Kuta Selatan, Badung Jawaban: 1. Tanam bibit berlabel untuk menghasilkan buah bermutu. Untuk daerah Bukit, Kuta Selatan, varietas jeruk yang cocok dikembangkan jeruk keprok Tejakula. 2. Untuk penanaman baru, lubang tanaman dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm dengan jarak tanam 4 m x 5 m. Masing-masing lubang tanaman diberi pupuk kandang + 10 kg. Penanaman dilaksanakan saat musim hujan. 3. Lakukan pemangkasan minimal sekali setelah panen, ranting yang dipangkas adalah tunas air, ranting kering dan bagian tanaman yang terserang hama penyakit.

Cegah Tertular Rabies

4. Secara rutin buang dan bersihkan gulma/tumbuhan pengganggu dari sekitar pertanaman pokok. 5. Pemupukan dilakukan dua kali setahun yaitu awal musim hujan (November–Desember) dan setelah panen (Juli– Agustus). Dosis pemupukan per pohon: 75 grm urea + 50 grm SP-36 + 50 gr KCl dan 50 kg kompos. 6. Beri air yang cukup terutama pada bulan-bulan kering agar tanah selalu dalam keadaan lembab. 7. Laksanakan penjarangan buah untuk menghasilkan buah bermutu, seragam, memperpanjang masa berbuah, menjamin kontinuitas produksi dan mengurangi risiko kematian tanaman. 8. Laksanakan pengendalian serangan hama penyakit tanaman (jenis serangan hama–penyakit dan teknis pengendaliannya dapat dikonsultasikan dengan petugas lapangan pertanian).

Saya sangat takut mendengar bahaya rabies. Apalagi kalau lewat di jalan yang banyak anjingnya. Bagaimana cara pencegahan rabies pada manusia? Bagaimana agar hewan peliharaan tidak tertular rabies? Bu Dewi Mambal, Badung

Jawaban: Jika seseorang digigit hewan tersangka/menderita rabies, harus segera mencuci luka gigitan secepatnya dengan sabun/diterjen 5 - 10 menit. Kemudian, luka dicuci dengan air bersih dan diberi alkohol 70% atau yodium tincture. Setelah itu penderita segera ke puskesmas atau rumah sakit atau rabies center, untuk mendapatkan pengobatan. Perlutidaknya mendapatkan suntikan VAR (Vaksin Anti-Rabies) tergantung hasil pemeriksaan dokter. Untuk mencegah hewan peDinas Pertanian liharaan tertular rabies, daftardan Tanaman Pangan kan tiap anjing peliharaan ke Provinsi Bali Dinas Peternakan terdekat, un-

tuk dicatat di kartu identitas HPR. Bagi anjing yang dipelihara sebaiknya diikat atau dikandangkan dan dibawa ke Dinas Peternakan, posko rabies dan dokter hewan untuk mendapatkan vaksinasi rabies secara teratur tiap tahun. Anjing, kucing, dan kera peliharaan sebaiknya jangan dilepas keluar pekarangan rumah supaya tidak membahayakan orang lain. Jika anjing akan dibawa ke luar pekarangan rumah, harus diikat memakai rantai yang panjangnya tidak lebih dari 2 meter dan memakai berangus (penutup mulut anjing yang terbuat dari kulit). Anjing yang dipelihara harus diberi makanan dan perawatan yang cukup. Ajing liar yang tidak berpemilik atau anjing yang hidupnya diliarkan sebaiknya dimusnahkan atau dieliminasi petugas Dinas Peternakan, karena dapat menjadi mediator penularan rabies. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Pesona Serangan Murid 15 Sekolah Jadi Nasabah Bank Sampah Bakar Sate Gunakan Briket Sampah

Alit Darmayuda

tkh/ast

SELAMA ini bank dikenal sebagai tempat menabung uang. Namun, bank satu ini sangat berbeda. Namanya Bank Sampah. Murid dari 15 sekolah di Denpasar menjadi nasabahnya. Siswa datang bukan untuk menabung uang, tetapi mereka menjual sampah dan dibayar dengan buku tabungan. Siswa bisa menarik uang tabungannya kapan saja mereka mau. Ide kreatif beberapa orang pemerhati lingkungan ini ikut memeriahkan Pesona Serangan yang berlangsung di depan areal Pura Sakenan, Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, 26 – 28 November. Ketut Suarnaya, salah seorang staf Bank Sampah mengungkapkan, idenya terbentuk sebagai rasa

keprihatinan beberapa orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. “Kami ingin sedari dini anak-anak diajari mencintai lingkungan dan menjaga kebersihan, selain bisa menghargai uang,” ujarnya. Atas dasar kepedulian untuk menjadikan Denpasar bersih dari sampah, mereka sepakat 26 September 2010 membentuk Bank Sampah Cahaya Partha Jaya. Ia menuturkan, nasabahnya sudah berjumlah ratusan, dari anak TK sampai remaja. Sampah-sampah yang dibeli, kemudian diolah menjadi produk kerajinan yang sangat kreatif dan inovatif. Tak tampak sedikit pun barang kerajinan itu berasal dari sampah yang kotor. Dengan cat warna warni, berbagai vas bunga, kap lampu bisa dihasilkan dari botol mineral dan soft drink. Ia berharap, makin banyak anak-anak yang peduli terhadap sampah dan menjadikan sampah barang berharga. Beberapa sekolah yang berbasis lingkungan seperti SMAN 5 Denpasar, SMAN 6 Denpasar, SMKN 2 Denpasar, dan SMPN 4 Denpasar, ikut berpartisipasi dalam Pesona Serangan. Mereka memajang hasil olahan sampah menjadi barang yang berharga dan menghasilkan uang, mulai dari kompos, aksesori, tas, sandal, buku, alat tulis, dan vas bunga. Beberapa siswa memadati stan Bank Sampah. Mereka ingin berbagi pengalaman

Berbagai kreasi sarana Bank Sampah

untuk dapat lebih menghasilkan 25.000 untuk datang rapat, mereka karya terbaik dari olahan sampah. tidak tertarik. Tujuan kami hanya satu, ingin membebaskan Serangan dari sampah,” ujar lelaki yang Briket dari Sampah Ide kreatif juga datang dari berprofesi sebagai pengusaha ini. Ia menuturkan, dari modal salah seorang warga asli Serangan. Giri Parwata, pengelola Depo Res- sendiri, Giri mengajak tiga pemutu Bumi di Serangan, yang berpro- lung untuk ikut membantunya fesi sebagai pengusaha dan pemer- membuat briket. Dengan berbagai hati lingkungan sedang menggagas pengujian bahkan sampai lima kali, pembuatan briket dari sampah akhirnya usahanya tidak sia-sia. Setelah mampu mengolah sampah organik. Alit Darmayuda kini menerus- organik menjadi briket ia berikan kan usaha itu karena kakaknya, kepada masyarakat secara cumaGiri, sedang sakit. Menurut Alit, cuma. Hal ini dilakukannya untuk sangat sulit mengajak warga Serang- mengetuk hati warga Serangan agar an untuk tertarik mengelola sampah mereka tertarik untuk bergabung. Namun, usaha Giri dan adiknya menjadi barang berharga, apalagi menghasilkan uang. “Untuk meng- memerlukan perjuangan berat. ajak mereka rapat saja sulit. Bah- Sampai sekarang, setelah usaha ini kan, dengan uang pancingan Rp berjalan setahun, belum ada per-

K E S E H ATA N

K U L I N E R

tkh/ast

Kesibukan membuat briket sampah

S A L O N

tkh/ast

&

S PA

PENDIDIKAN

Cara Memelihara dan Menebarkan Benih Gurami

YANG biasa ditempati gurami ialah lubuk sungai dan rawa yang dalam airnya, sehingga kalau dipelihara di kolam di rumah tangga gurami lebih senang nongkrong di pojok-pojok kolam yang berair dalam. Namun, gurami ini dapat pula dipelihara di kolam air tenang yang sempit dan pengap (tetapi berair dalam). Sebab, gurami sanggup dan mampu bernapas secara langsung dari udara dengan alat labirin sebagai alat pernapasan pembantu yang terletak dalam rongga insang. Dalam kolam pemeliharaan, gurami yang berumur 1 tahun mencapai ukuran paling panjang 20 cm, dan tahun kedua mungkin 25 cm, sedangkan pada semester ke-6 hanya mencapi 30 cm. Pertumbuhannya boleh dikatakan sangat lamban, menyebabkan para pembudidaya harus bersabar dalam membesarkan gurami. Bagaimana cara memelihara gurami yang baik? Kolam untuk pemeliharaan gurami tidak perlu istimewa. Bak yang kecil pun bisa asalkan airnya dengan kedalaman rata – rata 1 meter. Untuk membersihkan kotoran yang mengendap di dasar, kolam tersebut diberi pintu/lubang penguras yang mudah dibuka dan ditutup. Makanan yang diberikan berbeda-beda menurut umur dan ukuran benih. Tetapi, agar tidak terlalu disusahkan dalam masalah makan ini, dapat dipelihara dengan sistem potong kompas yaitu pemeliharaan gurami dengan memulai pemeliharaan benih yang berukuran 10 cm dengan padat penebaran 10 ekor tiap 10 m². Potongan/cincangan daun keladi, talas, sente atau daun-daun yang lunak dapat diberikan.

Jumlahnya cukup 1½ kg sehari, bagi 100 ekor ikan. Kalau sudah dewasa sedikit ( ± 20 cm ke atas) jumlah daunnya ditingkatkan menjadi 10 kg sehari untuk 100 ekor ikan gurami. Setelah dipelihara 10 bulan ukuran ± 20 cm kiranya sudah dapat dipasarkan untuk kebutuhan hidangan rumah tangga. Budidaya gurami juga bisa dilakukan dengan kolam terpal. Dalam pembudidayaan hal-hal yang perlu disiapkan: 1. Persiapan lokasi. 2. Persiapan terpal. 3. Persiapan perangakat pendukung. 4. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Air yang dipakai dalam kolam terpal bisa dari sumur gali, sumur bor dan air ledeng. Bagaimana penebaran benihnya? Benih yang dibeli tidak boleh langsung dipindahkan ke kolam terpal. Terlebih jika pengangkutan benih menempuh perjalanan jauh. Selain menyebabkan stres, kematian benih juga bisa disebabkan perbedaan suhu yang mencolok di kolam yang baru. Cara yang baik untuk memasukkan benih ke kolam terpal: 1. Masukkan benih yang terbungkus plastik saat pengangkutan ke dalam kolam terpal 30 menit. Tujuannya untuk menyesuaikan suhu air dalam plastik dengan suhu air di kolam terpal. 2. Setelah 30 menit, buka ikatan plastik dan biarkan semua benih keluar sendiri dari dalam plastik. Narasumber: Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita hatian apa pun dari masyarakat Serangan. Namun, Alit mengaku tidak patah semangat. Alit mengatakan, pembuatan briket sangat mudah. Namun, hambatan selama ini karena ia menggunakan alat manual. Semua dilakukan dengan tangan bukan mesin. “Kami kekurangan modal untuk membeli mesin. Tetapi, kami tetap berjalan pelan-pelan sesuai kemampuan,” kata Alit. Selain pembuatan briket, sampah organik juga dibuat pupuk cair. Daun-daunan dan sampah canang dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam drum. Lubangi drum bagian bawah untuk tempat kran. Isi serutan kayu paling atas. Tambahkan air dan biarkan seminggu. Setelah tercium bau fermentasi, lewat lubang kecil di bawah drum, pupuk sudah bisa dihasilkan. Pupuk cair ini dapat diolah menjadi briket. Caranya, ampas pupuk cair dijemur sampai kering. Kemudian dibakar setengah matang. Kemudian dengan mesin penggilingan, ampas diayak. Hasil ayakan dicampur lem, kemudian dicetak. Proses terakhir penjemuran. Briket siap digunakan. Menurut Alit, nyala briket ini sangat bagus untuk pembakaran. Memang ia mengakui api berwarna merah tidak seperti nyala briket batubara yang berwarna biru. Namun, kata dia, briket ini asapnya sedikit. “Kami sudah mencoba briket ini untuk membakar ikan atau sate dengan panggangan karena kompor khusus briket kami tidak punya. Tetapi, rencana ke depan, kami juga akan mengusahakan pembuatan kompornya,” ujar Alit. –ast


PENDIDIKAN

lebih dari 100 mahasiswa asing. Menurut Sukartha, pengajaran BIPA telah berkembang di dalam negeri maupun di luar negeri. Tidak kurang dari 35 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional. Akan lebih berkembang lagi peluang kerja tersebut jika ketentuan tentang ‘paspor bahasa’ diberlakukan, yakni persyaratan menguasi bahasa level tertentu jika akan memasuki atau bekerja di negara tertentu. Orang yang akan menetap di Jerman, misalnya, dipersyaratkan menguasai bahasa Jerman level tertentu. Jika diberlakukan di ASEAN bagi tenaga kerja asing, maka orang asing yang menjabat manajer hotel di Indonesia juga diwajibkan menguasai keterampilan berbahasa Indonesia level tertentu. “Ini semua peluang kerja bagi lulusan Jurusan Sastra Indonesia lewat pengajaran BIPA,” ujar Ruddyanto. Prof. Dr. Aron Meko Mbete menambahkan, ahli bahasa Indonesia pun berpeluang bekerja di luar negeri, bukan hanya TKW (tenaga kerja wanita). Tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri pun nantinya harus menguasai keterampilan berbahasa negeri tempatnya bekerja di level tertentu, termasuk TKW. “Dengan demikian tidak ada lagi TKW yang disiksa hanya karena tidak memahami perintah majikannya,” seloroh Ruddyanto. Sudah 12 tahun Fakultas Sastra Unud menerapkan pengajaran

Panduan Studi Fakultas Sastra, JSI Fakultas Sastra Unud selama ini memiliki program unggulan dengan target lulusannya bukan hanya diserap pasar kerja tetapi juga siap secara kreatif menciptakan lapangan kerja. Program unggulan itu antara lain proses (penulisan) kreatif untuk memberi nilai lebih pada lulusannya. Jurusan ini melahirkan sarjana bahasa dan sastra yang dapat melakukan analisis linguistik (bahasa), dan sastra (puisi, prosa dan drama), dan filologi (disiplin khusus yang mempelajari naskahnaskah kuno). Mahasiswa juga dibekali berbagai teori pendekatan linguistik dan teori sastra mutakhir agar dapat bersaing dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Mahasiswa yang berminat mendapat pendidikan yang berkualitas agar dapat bekerja sebagai penyunting bahasa di media massa dan penerbitan. Selain itu, mahasiswa disiapkan menjadi wartawan, penulis kritik dan esai, cerita pendek, cerita bersambung dan skenario televisi. Selain pasar kerja yang disebutkan dalam program unggulan tersebut, menurut Ruddyanto, ada lagi peluang kerja lain. Ada bidang kehumasan, periklanan, balai bahasa, dan bahkan pasar kerja yang terkait kegiatan pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Tahun 2010 ini, menurut Ketua JSI Dr. A.A. Putu Putra, M.Hum. di pengajaran BIPA Fakultas Sastra Unud telah terdaftar

tkh/jay

A

nak tadi tetap membandel, tetap masuk Fakultas Sastra. Akhirnya studinya di Fakultas Sastra berhasil diselesaikan. Bahkan, anak tersebut, C. Ruddyanto, kini menjabat kepala Balai Bahasa Denpasar. Dari secuil kejadian itu tergambar bahwa motivasi utama seseorang memilih jurusan atau fakultas di perguruan tinggi untuk menjadi apa atau bekerja apa nanti setelah tamat. Apalagi sekarang, lapangan kerja menjadi incaran utama mahasiswa. Motivasi ini bergema kembali dalam ruang lokakarya siang itu. Setelah tamat Jurusan Sastra Indonesia (JSI) Fakultas Sastra Unud, mau bekerja apa? Sejauh mana pengelola jurusan dan perguruan tinggi negeri tersebut mengupayakan agar tiap lulusannya terserap lapangan kerja? Salah satu kunci penentunya adalah kurikulum. “Kurikulum merupakan urat nadi lembaga pendidikan tinggi,” ujar Ketua Panitia Lokakarya Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum. Persoalannya, bagaimana kurikulumnya, dan bagaimana pula mengimplementasikan kurikulum tersebut. Lokakarya tersebut menampilkan empat pembicara yakni Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko, dan tiga dosen jurusan tersebut berturut-turut Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, S.U. Prof. Dr. Aron Meko Mbete, dan Drs. I Nengah Sukartha, S.U. Sebagaimana ditulis dalam buku

PD I Fakultas Sastra Unud Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S. menerima CD berisi kumpulan teknik menulis karya jurnalistik, teknik wawancara, dll dari Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko

tkh/jay

tkh/jay

BIPA. Menurut Sukartha, rata-rata jumlah mahasiswanya 20 s.d. 30 orang per semester. Prof. Dr. I Wayan Cika menyarankan selain kompetensi dosen pengajar ditingkatkan terus, mahasiswa juga dibekali kompetensi serupa untuk bisa mengajar dalam proses pengajaran BIPA. Namun, menurut pengamatan Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, upaya melibatkan mahasiswa sudah ada, tetapi mahasiswanya yang tidak mau. Menurut Widminarko, kesungguhan mahasiswa sehingga termotivasi bersedia belajar secara proaktif merupakan salah satu faktor penentu berkualitas-tidaknya proses belajar-mengajar di lembaga perguruan tinggi; bukan hanya ditentukan kurikulumnya. Selain kurikulum yang berbasis kompetensi, faktor lain yang turut menjadi penentu adalah kuantitas dan kualitas tenaga pengajar, serta sarana-prasarana belajar-mengajar yang memadai. —dwi

I Nengah Sukartha

Gerakan Siswa Menabung Siapkan Masa Depan

an meningkatkan kesadaran masyarakat luas, khususnya para pelajar untuk menabung. Pembukaan rekening TabunganKu sangat mudah hanya dengan setoran awal Rp 20 ribu dan bebas biaya administrasi bulanan,” ujar ibu Pande Putu Karina Candra, siswi kelas II RSBI SDPN Tulang Ampiang Denpasar ini. Pihak bank turun ke sekolahsekolah untuk melakukan sosialisasi. Seperti yang dilakukan Bank Bukopin Denpasar. “Begitu ada program Gerakan Siswa Menabung (GSM), kami langsung datangi sekolah-sekolah. Ada dua yang menjadi sekolah binaan kami, TK dan SD Al-Azhar Syifa Budi, Bali dan SD Kristen Harapan, Denpasar. Kami konsentrasi dulu di kedua sekolah ini untuk memberikan ceramah dan sosialisasi mengenai perbankan,” ujar Jufri Ahmad, Pemimpin Bank Bukopin Cabang Denpasar. Jufri Ahmad Ia yakin kegiatan yang dilakupenuhnya mendukung ‘Gerakan kan secara berkelanjutan ini akan Siswa Menabung’, karena bertuju- mampu menyukseskan program

Bing beng bang yuk kita ke bank Bang bing bung yuk kita nabung Tang ting tung hei jangan dihitung Tahu-tahu kita nanti dapat untung milih yang terbaik untuk putra sulungnya. Ketika ada Gerakan Indonesia Menabung (GIM) dengan berbagai kemudahan termasuk bebas biaya administrasi, ia memilih ikut program TabunganKu. Dengan setoran awal Rp 20 ribu, ia sudah menyiapkan masa depan untuk putranya. Hal yang sama diungkapkan Pande Nyoman Yuliani. “Kami se-

tkh/sep

Kebiasaan menabung memang harus dike-nalkan sejak dini kepada anak-anak. Hal ini dilakukan Deasy Sucicahyati dengan membukakan rekening untuk Putu Ananda, anaknya yang baru kelas II SD. “Saya menyiapkan sejak dini agar dia terlatih menyimpan uangnya dengan menabung,” ujar ibu dua anak ini. Deasy termasuk jeli untuk me-

RESESI ekonomi yang melanda dunia membuat negara-negara berlomba untuk melakukan perbaikan sekaligus membuat upaya pencegahan dini. Dari hasil pertemu an negara-negara maju, negara-negara berkembang, dan negara-negara yang berpopulasi banyak, ditemukan sebuah benang merah. Salah satu penyebab krisis, kurangnya akses masyarakat untuk berinteraksi dengan lembaga keuangan. “Rata-rata 40% warga masyarakat yang memiliki akses ke lembaga keuangan termasuk yang mendapatkan fasilitas bank. Di Indonesia, angkanya juga sekitar itu,” ungkap Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan kepada Koran Tokoh, Kamis (18/ 11). Dari permasalahan tersebut, muncul gagasan untuk lebih mendekatkan lembaga keuangan dengan masyarakat. Ini pun bagian aksi Global Policy Forum negara-negara G-20 yang beranggotakan negara maju dan berkembang serta memiliki populasi banyak. Aksi nyata itu ditindaklanjuti dengan upaya meningkatkan rasio tabungan masyarakat. “Tabungan memiliki korelasi dengan investasi. Kalau rasio tabungan rendah, investasi juga rendah. Ini menyebankan kita banyak tergantung dari investasi luar negeri. Untuk itulah pemerintah melalui Bank Indonesia membuat gerakan yang meningkatkan rasio tabungan melalui Ge-

tkh/sep

Rata-rata Saldo Tabungan di Bali Tertinggi

Jeffrey Kairupan

rakan Indonesia Menabung (GIM) yang diluncurkan 20 Februari 2010,” jelas Jeffrey. Target GIM dengan program “TabunganKu” ini mendapatkan 1 juta rekening dengan total nominal Rp 500 miliar tahun 2010 dan 5 juta rekening tahun 2011. Sebanyak 71 bank umum dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) serta 1028 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia ikut dalam program ini. TabunganKu merupakan tabungan murah tanpa biaya administrasi dengan bunga 0,75%. Tidak disertakannya fasiltas ATM membuat nasabah tidak dikenakan

biaya administrasi. Setoran awal untuk rekening TabunganKu di bank umum minimal Rp 20 ribu sedangkan di BPR atau bank Syariah Rp 10 ribu. Data BI hingga Juli 2010 menunjukkan sudah ada 616.413 rekening dengan nominal simpanan Rp 529, 6 miliar. Tiga provinsi yang memiliki jumlah rekening terbanyak, Jawa Timur (140.723 rekening dengan saldo nominal Rp 103,9 miliar), DKI Jakarta (92.640 rekening dengan saldo Rp 75 miliar), dan Jawa Barat (90.168 rekening dengan saldo Rp 66,7 miliar). Tiga provinsi yang tercatat jumlah rekeningnyakecil, Bangka Belitung (2.411 rekening dengan saldo Rp 1,37 miliar), Maluku Utara (915 rekening dengan saldo Rp 1,2 miliar), dan Sulawesi Barat (277 rekening dengan saldo Rp 292,4 juta). “Rata-rata saldo tabungan tertinggi berasal dari Bali dengan nilai Rp 2,1 juta. Nominal ini dari jumlah rekening 11.271 dengan saldo nominal Rp 23,4 miliar. Rata-rata saldo terendah Bangka Belitung dengan nominal Rp 569 ribu,” ujar Jeffrey seraya mengatakan di Bali saat ini ada 43 bank umum dan 138 BPR. Ia menambahkan, peluncuran program ini juga untuk memperbanyak jumlah penabung di masyarakat. Berdasarkan survei penduduk antarsensus (Supas) BPS

tahun 2005, sebanyak 58% dari total orang dewasa usia produksi belum berinteraksi dengan bank atau tidak menabung di bank. Ini pula yang membuat banyak orang yang ingin mengembangkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sulit mendapatkan akses fasilitas perbankan. Padahal jika sejak dini memiliki tabungan di bank, namanya akan tercatat dalam bank tersebut dan BI. Ini akan mempermudah bank mencari tahu siapa calon nasabah dalam rangka memberikan fasilitas bank, khususnya kredit. Paket Beasiswa Selain meluncurkan GIM, BI juga meluncurkan Gerakan Siswa Menabung (GSM) 7 November 2010. GSM bertujuan meningkatkan peran daerah dalam mengedukasi dan menyosialisasikan produk TabunganKu di kalangan siswa dan sekolah. “GSM diselenggarakan dalam dua kegiatan besar. Pertama, peluncuran yang bentuk kegiatannya disesuaikan dengan keadaan dan kondisi daerah masing-masing. Kedua, kunjungan bank ke sekolahsekolah untuk sosialisasi selama November-Desember 2010. Untuk menyukseskan program ini, perbankan dan Lembaga Penjamin Simpanan memberikan beasiswa bagi sekolah yang gencar mendukung GSM,” tandas Jeffrey. Penilaian GSM akan dilakukan awal tahun 2011 berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan GSM bulan November dan Desember 2010. Sebanyak 82 paket beasiswa di 41 daerah sudah disiapkan untuk diberikan kepada sekolah-sekolah yang giat menanamkan budaya menabung kepada siswanya. –wah

SECARA idealis lulusan Jurusan Sastra Indonesia (JSI) merupakan ahli bahasa Indonesia yakni bahasa persatuan yang merupakan salah satu aset bangsa Indonesia. Tetapi, setelah menjadi ahli bahasa Indonesia, mereka bekerja di mana? Hal tersebut menjadi bahasan dalam Lokakarya Penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi JSI Fakultas Sastra Universitas Udayana Jumat (26/11). Dalam menetapkan kurikulum, selain mengacu pada aspek idealisme, seyogianya juga tidak mengabaikan aspek pasar. Dalam kaitan ini salah seorang pembicara, Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, S.U. memandang perlu mata kuliah tertentu di JSI dihapus yakni bahasa Sansekerta, bahasa Jawa Kuno, bahasa Belanda, dan bahasa Arab. Kompetensi dimaksudkan selain menarik minat mahasiswa juga bermanfaat bagi masyarakat sehingga ilmu pengetahuannya tidak bersifat teoritis melainkan juga praktis. Pembicara lainnya, Prof. Dr. Aron Meko Mbete mengamini pandangan Kutha Ratna. “Untuk kajian kesejarahan mata-mata kuliah itu memang penting, tetapi bobot relevansinya perlu dipertanyakan,” kata Aron. Yang terasa relevan dengan kebutuhan pasar kerja, kata Widminarko, mata pelajaran penunjang

tkh/jay

Lokakarya Penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi

tkh/jay

Beberapa Mata Kuliah perlu Dihapus dan Diganti

Mau Jadi Apa Masuk Jurusan Sastra Indonesia? “MAU jadi apa kamu masuk Jurusan Sastra Indonesia?” Pertanyaan seorang ayah ini ditujukan kepada anaknya yang akan masuk Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Hal itu diungkapkan C. Ruddyanto dalam Lokakarya Penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana, Jumat (26/11).

5 - 11 Desember 2010 Tokoh 5

Aron Meko Mbete

seperti teknologi informasi, komunikasi, dan psikologi. Wawasan dan keterampilan ilmu-ilmu penunjang semacam ini sangat diperlukan para lulusan JSI di mana pun mereka bekerja dan berprofesi, baik sebagai guru, dosen, penyunting bahasa, di periklanan, kehumasan, penyiaran, maupun sebagai wartawan. Ruddyanto menambahkan, persyaratan mahasiswa memiliki akun, e-mail, sudah menjadi keharusan. “Teknologi informasi ini sudah dikembangkan Balai Bahasa. Dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengajar di Fakultas Sastra,” katanya. Kurikulum JSI Fakultas Sastra Unud sudah mengalami tiga kali revisi. Namun, PD I Fakultas Sastra Unud Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S. menyatakan masukanmasukan dalam lokakarya ini sangat relevan dan akan dibahas dalam rapat khusus. Ia mengisyaratkan juga akan dimanfaatkannya tenaga pengajar dari kalangan praktisi untuk mata kuliah jurnalistik, penyiaran, dan penyuntingan. Dalam upaya menetapkan standar mutu kompetensi lulusan, Rapat Koordinasi Peningkatan Mutu Tenaga Kebahasaan dan Kesastraan tahun 2007, khusus mata kuliah pengembangan profesi, merekomendasikan mata kuliah penyuntingan, penulisan kreatif, retorika, jurnalistik, senematografi/perfilman, kewirausahaan, kepariwisataan, kehumasan, penulisan ilmiah populer, periklanan, dan kepenyiaran. Persoalan yang muncul dalam C. Ruddyanto lokakarya tersebut bukan terkait kurikulum semata, tetapi juga banyak yang terkait implementasiGSM, apalagi jika didukung semua nya. Dalam hal ini Kutha Ratna komponen, seperti orangtua siswa, mengungkapkan, mata kuliah teori guru, pemerintah, dan perbankan. sastra penting tetapi model anaBank Bukopin menargetkan lisisnya hendaknya jangan diajarmendapat 400 rekening baru dari program GSM ini. Hingga pertengahan November 2010, sudah terealisasi 20%. Untuk program TabunganKu, Bank Bukopin mengklaim sudah mendapatkan 600 nasabah yang membuka rekening baru dengan total nominal Rp 1 miliar. Ia yakin kedua program ini akan mampu menjadikan masyarakat semangat menabung. Ike Laura Krisna, Business Development Manager Bank Mandiri Kanwil XI Denpasar mengatakan, program GSM juga mendapat perhatian serius pihaknya. “Saat peluncuran program ini 7 November 2010 di lapangan Puputan Margarana Renon, pihak Bank Mandiri menjadi ketua panitia. Kami juga menghadirkan tiga sekolah binaan kami, yakni RSBI SDPN Tulang Ampiang, SMP 1 Denpasar, dan SMA 1 Denpasar,” ujarnya. Bank Mandiri yang memiliki kantor di seluruh Bali juga menugaskan masing-masing kantor cabang untuk memiliki 2 sekolah binaan yang lokasinya di wilayah kerja mereka. —wah

Nyoman Kutha Ratna

kan terlalu teoritis. Dalam analisis jangan mulai dari teori, sebaliknya mulai dari karya baru ke teori semacam teori grounded. Wajibkan para mahasiswa untuk membaca novel, puisi, dan sebagainya. Hal ini mendapat tanggapan dua orang mahasiswi. Nina mengatakan dalam mengimplementasikan kurikulum mahasiswa sering terbentur terbatasnya bacaan di perpustakaan. Desi mengungkapkan, terasa bosan jika kuliah hanya dalam kelas dan hanya teori. Sedangkan Aron mengungkapkan perlunya mata kuliah bahasa Inggris. Namun, perkuliahan bahasa Inggris selama ini lebih berfokus pada kompetensi kelinguistikan bukan pada keterampilan berbahasa Inggris, baik berbicara, mendengarkan, membaca, maupun menulis. Perihal implementasi kurikulum ini, Widminarko mengharapkan JSI perlu mempertimbangkan merekrut pengajar dari disiplin ilmu lain, seperti psikologi, komunikasi, teknologi informasi. Pengelola JSI juga harus membangun komunikasi dengan para calon pemakai lulusannya, dan melakukan sosialisasi tentang peran lulusannya dalam upaya menciptakan dan memperluas lapangan kerja bagi mereka. Kaji kembali di mana setepatnya mahasiswa JSI melakukan kegiatan praktik kerja lapangan. Dra. Maria Matildis Banda, M.S. menekankan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) harus mengacu pada kurikulum sehingga jenis kegiatannya tidak harus sama dengan mahasiswa fakultas atau jurusan lain. “Mahasiswa JSI dapat ber-KKN dengan kegiatan pementasan teater atau apresiasi sastra,” ujar pengajar JSI Fakultas Sastra Unud tersebut. —dwi

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

Ageng Madya Alit vs Utama Madya Nista Tahun 2007 dalam Rembug Hindu Muda Nasional di Ubud, Gianyar, komponen generasi muda Hindu dari seluruh Indonesia bersepakat, penyederhanaan upacara dalam agama Hindu adalah sebuah kewajiban. Suka-tidak suka, mau-tidak mau, perubahan akan terjadi baik secara evolusi atau revolusi. Dan, implementasi yang paling baik adalah dimulai dari lingkungan desa pakraman. Penyederhanaan upacara menjadi penting karena menurut perspektif saya upacara Hindu di Bali adalah sumber kekuatan taksu Bali (buktinya tiap tahun 7 juta orang luar datang menikmati taksu Hindu di Bali sebagai wisatawan), tapi juga sebaliknya, upacara Hindu di Bali juga penyebab kehancuran ekonomi, kemiskinan, kebodohan dan juga bangkrutnya Bali. Saya tak akan menjelaskan terlalu detail efek domino dari pemborosan upacara itu, tapi yang perlu saya tekankan, karakter manusia Hindu Bali-lah yang harus diubah, bahwasanya, upacara yadnya itu yang terpenting adalah tulus ikhlas, bukan dari segi seberapa besar biaya, seberapa rumit rangkaian upacara atau seberapa lama waktu (eedan) karya. Dan, tentu yang paling bisa secara revolusi menerapkan sistem ini adalah desa pakraman, karena pusat upacara dan upakara ada di pakraman, begitu juga pusat kemiskinan, kebodohan dan kebangkrutan Bali ada di pakraman juga. Syukurlah, dalam satu tahun terakhir ini saya banyak bertemu dengan Jero Bendesa dan para Klian Adat yang berpikiran maju dan revolusioner seperti Bung Karno. Mereka menggunakan kecerdasan berpikir dalam memimpin wilayahnya, dan yang paling menggembirakan mereka sepaham dan sevisi bahwa masyarakat pakraman (baca: orang Hindu Bali), harus diberikan kemudahan dalam menjalankan kewajibannya, termasuk penyederhanaan upacara. Tentu saja, kita bersepakat bahwa kebudayaan Bali, ritual dan wujud bebantenan sajen yang dibuat cantik dan indah oleh orang Bali tidak boleh dihapuskan, tetapi yang dihapuskan adalah ego

manusia- manusia Bali yang selalu mencari jalan untuk membuat upacara agama secara mewah dan ribet. Saya salut dengan rakyat Jembrana dan rakyat Buleleng yang berada di garda paling depan dalam hal penyederhanaan upacara. Pokoknya apa pun tentang reformasi Hindu pasti ada di dua kabupaten ini. Saya angkat topi pada pimpinan agama, griya, pasraman dan pakraman di Jembrana dan Buleleng yang berhasil melaksanakan reformasi Hindu. Setelah bertahun – tahun mereka menyederhanakan upacara, toh nothing happen! Semua berjalan dengan normal dan tidak ada bukti adanya pastu leluhur atau betara kroda karena bantennya sederhana. Nah, kini tugas berat diemban Karangasem, Denpasar, Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Bangli yang merupakan tanah-tanah tua yang masih sedikit ortodok dan fanatik untuk dapat meformasi dirinya. Tidak elok di tengah kebangkrutan Bali, di tengah ekonomi morat-marit di daerah, maraknya umat Hindu yang pindah agama, masih pula gengsi memaksakan upacara agama yang berlebihan. Semua ada waktunya, dan sekarang waktu untuk penyederhanaan Hindu di Bali. Lebih baik dana masyarakat ditabung untuk pendidikan tinggi anak dan cucu dari keluarga-keluarga Hindu di Bali. Dan, melalui kesempatan ini saya imbau, mari kita hentikan penggunaan istilah Utama, Madya, Nista dalam upacara, kastakasta dalam upakara itu sudah cukup menyakitkan umat Hindu terutama bagi mereka yang hidup di garis kemiskinan. Mari kita ganti istilah itu dengan Ageng, Madya, Alit (Hasil Resmi Pesamuan Agung PANDBTK 9 Sep 2010 di Badung). Bagi kaum intelektual, mungkin perbedaan istilah ini bukan jadi soal, tapi di tataran rakyat kecil, sebutan ini sungguh amat memengaruhi sradha dan bakti mereka. Harus diakui, banyak di antara umat Hindu di Bali masih hidup di tataran simbol dan kata-kata, tanpa mengerti maknanya. Mungkin Anda salah satunya.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

NUSANTARA

5 - 11 Desember 2010

Doa Lansia Kerukunan Antarumat Beragama ibarat Akar Pohon Dibangun di Ikemal Bali WARGA Bali yang tergabung dalam Paguyuban Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Bali memiliki tradisi unik dalam merayakan hari-hari besar keagamaan. Anggota paguyuban ini menganut berbagai agama. Keberagaman itu justru memotivasi mereka untuk bahu-membahu dalam merayakan Natal dan Tahun Baru, Galungan dan Kuningan, Ramadan dan Idulfitri. ami akan merayakan Natal dan Tahun Baru 2011 bersama-sama dengan panitia secara umum dari kalangan anggota Ikemal yang beragama Islam,” ujar Samuel Uruilal, S.T., Ketua Ikemal Bali kepada wartawan Koran Tokoh. Ia menjelaskan, anggota Ikemal Bali kini sekitar 1200 KK terdiri atas beragam suku dan agama yakni Islam, Kristen dan Hindu. Juga, memiliki 11 anggota luar biasa yakni warga Bali asal Jawa yang

orangtuanya bekerja di Maluku. Ia menyatakan, perayaan Natal dan Tahun Baru 2011 akan dipusatkan di Kabupaten Jembrana. “Anggota dan keluarga Ikemal akan berangkat ke Jembrana dan kami akan siapkan bus,” kata pria kelahiran Ambon, 23 Juni 1967 ini. Menjelang Natal dan Tahun Baru, Ikemal akan mendatangkan sinterklassinterklas untuk mengisi acara anak-anak, 11 dan 12 Desember. “Sinterklas ini akan hadir di rumah-rumah warga mem-

Samuel Uruilal, S.T.

tkh/tin

bagikan hadiah buat anakanak,” kata Direktur Sekuriti Four Seasons Resort Bali ini. Para sinterklas juga akan hadir di Restoran Puri Bunga Denpasar 12 Desember. “Kegiatan ini akan dihadiri anak-anak warga Ikemal,” katanya. Perayaan Natal dan Tahun

Gereja Sumbang Babi KERUKUNAN antarumat beragama juga dapat dijumpai di lingkungan masyarakat Lingkungan Banjar Alas Arum, Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, terutama saat mereka menggelar perayaan hari besar keagamaan. Pendeta GBI Eklesia Yusak Ayus kepada wartawan Koran Tokoh mengungkapkan, masyarakat Lingkungan Banjar Alas Arum ini dalam dua tahun terakhir bersamasama menghelat acara perayaan Natal dan Galungan. Namun, menurutnya, untuk tahun ini, ia belum mendapat informasi adanya kegiatan bersama semacam itu. Meski begitu, katanya, GBI Eklesia telah menyiapkan acara

Pdt. Yusak Ayus

tkh/tin

perayaan Natal dan Tahun Baru 2011. “Kami akan melaksanakan ibadah pagi 25 Desember, dan esok harinya acara nyanyian

dan menampilkan drama rohani,” tuturnya. Ia mengatakan pihak Gereja telah merencanakan pada hari raya Galungan mendatang ini , akan memberikan sumbangan kepada warga Hindu di Lingkungan Banjar Alas Arum berupa babi. “Kami pilih babi karena sesuai keperluan warga Hindu saat itu. Jumlahnya masih akan dimusyawarahkan,” katanya. Ia menuturkan, selaku warga di banjar ini dirinya sering dilibatkan dalam kegiatan Galungan pada tahun-tahun sebelumnya. “Saya pernah mendapat undangan khusus untuk ikut membantu mendekor pada acara Galungan,” ungkapnya. —tin

Baru 2011 juga akan diisi kegiatan pemberian sumbangan dari warga yang mampu kepada para lansia dalam bentuk kado yang berisi sembako. “Kami pun akan menghibur mereka dengan nyanyian lagu-lagu Maluku,” ujarnya. Samuel mengatakan, Ikemal juga akan melakukan kunjungan kepada para anggota Ikemal yang berada di Tabanan dan Gianyar dalam rangka merayakan Galungan dan Kuningan bersama anggota yang beragama Hindu. Ikemal juga telah menyiapkan beragam kegiatan dalam rangka penggalangan dana untuk pembangunan sekretariat Ikemal dan pembangunan rumah muhabet/rumah duka tahun 2011. Ia menuturkan kerukunan antara umat Muslim dan Kristen semacam itu dalam kehidupan sehari-hari tampak di Ambon, Maluku. Ketika warga Kristen melakukan pembangunan gereja warga Islam turut bergotong-royong membantu. Ketika warga Muslim membangun masjid, warga Kristen membantu tenaga dan material. Dalam bulan Ramadan, umat Kristen turut terlibat dalam kegiatan ronda menjelang makan sahur. “Sikap kerukunan seperti ini yang ingin kami bangun di lingkungan Ikemal Bali,” katanya. Hal tersebut terwujud dalam kegiatan halal bihalal Idulfitri yang diselenggrakan Ikemal beberapa waktu lalu; panitia umumnya dari kalangan umat Kristen. “Kami menampilkan budaya Muslim dan Kristen. Sebagian bahan makanan seperti pisang, singkong dan ikan disumbangkan warga Kristen, yang masak ibu-ibu warga Muslim,” ujarnya. —tin

Setelah Lama Menunggu Batu Ginjal Itu Akhirnya Keluar I WAYAN Teja (55), sehari-harinya pegawai bagian keuangan sebuah apotik. Ia telah mengabdikan hidupnya dengan bekerja keras 35 tahun. Sungguh tidak terpikir olehnya, dirinya akan menderita sakit pinggang (nyeri pinggang) yang luar biasa sakitnya. Kencingnya sering tersendat. Juni 2003 karena sakit yang tidak tertahankan, Pak Wayan mau diajak untuk dironsen. Hasil ronsennya menunjukkan 2 (dua) gambar putih, pertanda ada batu ginjalnya. Ada batu yang sangat kecil dan satunya lagi besar melebar. Pak Wayan mendapatkan obat dari dokter untuk dikonsumsinya. Setelahnya batu kecil itu keluar dalam waktu satu bulan.

Batu ginjal yang keluar dari saluran kencing Pak Wayan Teja

Bentuknya sebesar kacang hijau dan bergerigi. Sakitnya pun agak berkurang, tetapi batu yang besar tetap tidak dapat keluar. Pak Wayan agak berputus asa. Namun setelah melihat kesaksian seorang pasien penyakit batu ginjal yang hampir mirip dengan sakitnya sembuh setelah memakai ramuan Hsen Chii International dari Koran Tokoh. Pak Wayan berketetapan hati melakukan pengobatan yang sama. Karena keterbatasan dana, Pak Wayan berobat dengan ramuan Hsen Chii secara berkala dan mengambil obatnya dengan nyicil.”Toh beberapa bulan kemudian batu yang besar itu sudah jatuh sampai di-

kantung kemih,” ujar Pak Wayan yang kencingnya terkadang agak tersendat keluarnya. “Setelah mengkonsumsi ramuan Hsen Chii International dari Mr. Chai tersebut , batu sebesar 2 cm keluar pagi harinya. Aduh sakitnya sungguh luar biasa. Bisa anda bayangkan batu sebesar itu keluar dari saluran kencing secara utuh. Saya benar-benar kaget,”ujar Pak Wayan lega. Ia dengan sukarela membawa batu itu diperlihatkan kepada Mr. Chai, di Hsen Chii international. Sekarang Pak Wayan hanya perlu memakai Ramuan Hsen Chii International untuk menyembuhkan luka diureternya. Setelah menggunakan ramuan Hsen Chii International kondisi kaki pak Wayan yang biasanya suka pegal, ping-

gangnya yang sering nyeri hilang seketika. Kondisi kakinya lebih baik, ia jadi kuat jalan dan berdiri (badan Pak Wayan rada gemuk, berat lebih dari 90 kg). Dengan kondisinya yang sehat sekarang. Pak Wayan bisa berbuat lebih bagi masyarakat disekelilingnya. Sejak kecil Pak Wayan adalah dalang yang diwarisinya secara turun –temurun. Dalam usianya yang setengah abad, ia juga bertugas sebagai mangku, membantu penyelesaian upacara bagi masyarakat yang membutuhkan. Kini Pak Wayan menjalankan semua kegiatannya dengan wajah makin cerah dan berseri. Ia menyadarinya, sehat itu harta sekaligus gaya hidup. —adv/ard

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji) I Wayan Teja

S

ebutan untuk orang yang lanjut usia itu beragam, misalnya lansia, manula, golongan lanjut umur, wredatama, dan mungkin masih ada lagi. Mereka itu ada yang nasibnya baik, karena dirawat anak-cucu, ada pula yang kurang beruntung karena harus menghidupi dirinya sendiri atau “dibuang” anak-cucu dan familinya. Kehidupan mereka senantiasa mengalami krisis. Istilah ini diungkapkan Romo Paskalis Widastra SVD ketika memimpin Misa Kudus dalam pertemuan Paguyuban Glamur Jumat (26/11) di Gedung Paroki St. Yosef Jalan Sudirman Denpasar. Menurut Romo Pas-kalis, manusia tiap kali mengalami krisis. Namun, hampir semuanya dapat diatasi. Untuk lansia, krisisnya krisis usia. Itulah sebabnya para lansia memerlukan pendampingan, hiburan, perhatian, dan bimbingan. Para lansia memunyai daya kekuatan seperti para biarawati, yaitu dalam hal doa. Doa para lansia dan biarawan-biarawati itu ibarat akar pohon. Akar tidak kelihatan tetapi akar menjadi saluran untuk makanan dari dalam tanah. Tanpa akar tanaman

akan layu. Mengingat bermacam nasib para orang tua itulah, para pendahulu mendirikan paguyuban yang diberi nama Paguyuban Glamur, Golongan Lanjut Umur. Para lansia baik yang nasibnya baik maupun yang kurang baik dihimpun dalam wadah yang menyenangkan ini. Menyenangkan, karena dalam wadah ini mereka mendapat perhatian, bimbingan, hiburan dan pendampingan serta bantuan kesehatan. Sebab, ada sekelompok orang yang masih kuat fisik, mental, kerohanian maupun ekonominya yang berkenan memperhatikan keberadaan mereka. Bu Maria Frans Sidharta, misalnya, sejak berdirinya Paguyuban Glamur senantiasa berusaha untuk mencari donasi. Hasilnya untuk kelangsungan paguyuban dan untuk hadiah pada hari raya Natal dan Paskah. Ia juga menjadi pendamping bagian konsumsi yang biasanya ditangani Bu Ursula. Para lansia yang sudah jarang hadir di pertemuan karena kendala kesehatan, dikunjungi. Ini bagian tugas Pak dan Bu Diaz. Bu Diaz bertugas mendampingi para lansia yang memerlukan

Para oma menyiapkan santap siang

pendampingan. Untuk mengatur acara pertemuan menjadi wewenang Pak Agus Sukidi, sebagai ketua atau koordinatori Paguyuban Glamur. Ia didampingi sekretarisnya, yaitu Pak Andoko Sujatmiko dan bendahara Bu Magdalena. Pertemuan sebualan sekali Jumat keempat. Pak HP Yandi berperan menghubungi orang-orang yang dapat membantu. Ia dibantu BKIA Panti Rahayu. Tiap ada pertemuan ada kesempatan untuk cek tensi. Karena para lansia perlu hiburan, yang paling tepat untuk menanganinya Pak Agustinus Prayitno. Kerohanian dipegang Pak Romanus yang memimpin ibadat, kebaktian, devosi dan perayaan ekaristi. Imam perayaan ekaristi bergantian. Untuk memelihara kesehatan para anggota, Paguyuban Glamur sering mengundang pakar bidang kesehatan seperti Dokter Robert Reverger, Dokter Supartini. Para lansia juga mampu mengumpulkan sumbangan untuk korban bencana alam. Sumbangan telah dirahkan Ketua Glamur Agus Sukidi kepada korban di Boyolali. —Mbah Harto

tkh/sht


KIPRAH WANITA

5 - 11 Desember 2010 Tokoh 7

Rakerda TP PKK Provinsi Bali Rumuskan 7 Butir Keputusan Masih Ada Program yang belum Terlaksana RAPAT Kerja Daerah (Rakerda) Tim Penggerak PKK Provinsi Bali berlangsung Selasa (30/11) di Wantilan Gedung Narigraha, Renon, diawali pengarahan Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika yang dibacakan Wakil Ketua I, Ny. Bintang Puspayoga.

R

akerda dihadiri 222 peserta, terdiri atas TP PKK Kabupaten/ Kota, Kecamatan, se-Bali serta instansi terkait. Evaluasi pelaksanaan program disampaikan para ketua kelompok kerja. Dari laporan itu dapat diketahui, ada program yang sudah terealisasikan, tetapi ada juga program yang belum terlaksana sepenuhnya. Laporan Pokja Evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan TP PKK Kabupaten/Kota se-Bali diawali Ketua Pokja I Ny. Made Artadana. Ia menyampaikan hasil pembinaan di 9 kabupaten/ kota di 57 desa/kelurahan di 57 kecamatan, terkait program penghayatan dan pengamalan Pancasila. Dilaporkan, hampir semua keluarga punya bendera Merah Putih dan mengibarkannya pada hari besar nasional. Juga, memiliki lambang negara, gambar presiden dan wakil presiden. Penataan atau pemeliharaan tempat suci ada yang belum terlaksana akibat kondisinya kurang mampu. “Ceramah atau penyuluhan pola asuh anak, sopan santun, konsep diri, narkoba dan lainnya belum dijadwalkan. Kami telah menyarankan ceramah disisipkan dalam acara arisan,” ujar Ny. Artadana. Kerukunan antarumat beragama terbina dengan baik. Kelompok sosial kemasyarakatan, seperti rukun kematian dan rukun perkawinan sudah ada hingga tingkat dusun. “Yang perlu perhatian, sedikitnya kelompok permainan simulasi, sebab minimnya buku pedoman termasuk alat bermainnya. Belum semua desa/ kelurahan memiliki kelompok pembinaan lansia,” katanya. Ketua Pokja II Dra. Ni Made Suwastini, M.Si. memaparkan, warga masyarakat buta huruf usia 15-47 tahun rata-rata belum didata, tetapi ada desa/kelurahan yang sudah tuntas pemberantasan buta aksaranya. Hal ini ditunjukkan adanya surat keterangan bebas 3 buta dari pemerintah. Belum semua wilayah binaan mendata anak putus sekolah, baik tingkat SD, SMP maupun SMA. “Anak putus sekolah, kami sarankan didata, dikelompokkan ke dalam kejar

Ny. Bintang Puspayoga

paket A, B dan C,” ucap Ni Made Suastini. Terhadap kelompok warga buta huruf usia 15-47 tahun, yang disebut keaksaraan fungsional (KF) yang memunyai keterampilan, diajari calistung (baca tulis dan hitung) sesuai pekerjaannya. “Hampir di semua desa binaan ada KF tetapi sampai saat ini belum terdata dengan baik. Kami berharap ada kerja sama dengan Kelompok Dasa Wisma,” imbuhnya. Sebagian besar desa binaan telah membentuk kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), hanya pengelolaan administrasinya belum sempurna. Yang telah membentuk kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) PKK diminta menyiapkan 6 buku yaitu buku kas, peminjaman, angsuran, iuran pengelolaan, tabungan, dan catatan perkembangan kegiatan per triwulan. Juga, membuat peta UP2K-PKK, pemula berwarna merah, madya hijau yang pemasarannya di desa yang bersangkutan, dan utama berwarna kuning yang pemasarannya keluar desa. “Jika dananya mencapai Rp 15.000.000. dan anggotanya minimal 20 orang, mereka bisa membentuk koperasi, berkoordinasi dengan Dinas Koperasi

setempat dalam kegiatan penyuluhan dan dalam proses mengusahakan badan hukumnya,” ujar Made Suastini. Ketua Pokja III Ny. Lastiyah Sedhawa mengungkapkan secara umum cara mengenakan kain panjang yang baik dan benar agar tidak merusak budaya masih perlu disosialisasikan di kalangan remaja. Masih ada beberapa rumah yang kebersihan lingkungannya perlu ditingkatkan. Jika di Tabanana pemanfaatan tanah pekarangan dan toga cukup baik, di Bangli masih ada persoalan air. Pemakaian jamban di Tabanan berjalan baik, di Jembrana masih ada yang belum memiliki jamban keluarga. Urusan pemilihan sampah organik dan nonorganik belum merata dan masih perlu lebih disosialisasikan di semua desa binaan. “Penganekaragaman menu makanan 3B (Beragam, Bergizi, Berimbang) terlihat masih kurang. Namun, di Badung dan Buleleng cukup baik. Yang hingga ini belum ada di seluruh kabupaten/kota adalah Warung PKK,” katanya. Ketua Pokja IV A.A Gede Raka Dharma Semaya, M.Sc. melaporkan kegiatan posyandu sudah merata. “Hanya saja masih ada yang belum punya buku rencana kegiatan, data jumlah pengunjung, petugas posyandu, bayi lahir dan meninggal yang disertai catatan perkembangannya tiap bulan,” katanya. SDM pengurus dengan latar belakang pegawai umumnya mampu mengelola kegiatan. Namun, pengurus nonpegawai, tidak memiliki kompetensi pengelolaan kegiatan program prioritas. “Pembinaan dari kabupaten dan kecamatan ke desa sangat kurang frekuensinya. Pembinaan hanya dilakukan saat lomba atau ketika ada kunjungan pembinaan provinsi,” ujar A.A Gede Raka. Masih ada kader belum terampil mengelola data, mentransformasikannya ke grafik dan pemetaan wilayah. “Kecuali Badung, Denpasar dan Gianyar kadernya mampu mengambil tugas mengelola data,” tandasnya. Penanaman pohon di pekarangan dan telajakan baru 50%. Kebersihan lingkungan masih memprihatinkan. Masih banyak terlihat tumpukan sampah di pasar tradisional, got dan sungai. Hingga kini belum ada kader PHBS, kader lansia, kader PSN/Jumantik dan kader Sanitasi termasuk kader KB, Yang telah berjalan baik

kebiasaan menabung, di bank, LPD dan menjadi anggota koperasi. Tujuh Keputusan Rakerda Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Tahun 2010 merumuskan 7 butir hasil keputusan sebagai berikut: 1. Menerima dan melaksanakan sepenuhnya hasil Rakernas VII PKK tahun 2010 meliputi bidang kelembagaan PKK, bidang rencana kerja 5 tahun PKK (2010-2015) dan bidang administrasi PKK. 2. Menyosialisasikan hasil Keputusan Rakernas VII PKK oleh TP-PKK Kabupaten/Kota seBali kepada TP-PKK kecamatan dan sampai ke desa/kelurahan wilayah masing-masing terealisasi seluruhnya paling lambat akhir Januari 2011. 3. Penyusunan rencana kerja mengacu pada Millennium Development Goals (MDGs) sebagai pedoman pelaksanaannya. 10 Program Pokok PKK dengan program prioritasnya harus mendapat perhatian TP PKK di semua jenjang. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah. 4. Untuk mendapatkan data dan informasi 10 Program Pokok PKK secara cepat, tepat, akurat

Made Suastini

A.A. Gede Raka Dharma Semaya

Ny. Lastiyah Sedhawa

dan menyeluruh mulai dari tingkat sudah terlaksana sampai tingkat dipadukan dengan kegiatan proDasa Wisma, Desa/Kelurahan, paling bawah. Kegiatan sosialisasi gram PAUD dan posyandu.—ard Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan tingkat Pusat disepakati berlakunya Sistem Informasi Manajemen (SIM) PKK. Di seluruh kabupaten/kota Se-Bali disepakati akhir tahun 2011 hal itu sudah dapat diakses. 5. Waktu pelaporan kegiatan di semua jenjang dilaksanakan satu tahun sekali. 6. Untuk mencapai target Bali Bebas Rabies Tahun 2012 disepakati melaksanakan kegiatan sosialisasi penyakit rabies secara berjenjang. Penyuluhan bahaya rabies dimulai dari kelompok Dasa Wisma. Diadakan gerakan agar warga bersedia anjing peliharaannya mendapat vaksin rabies. Dilakukan pencatatan keluarga yang memiliki anjing yang sudah mendapatkan vaksin rabies dan yang belum. 7. Pedoman pelaksanaan Bina Keluarga Balita (BKB) yang baru disepakati untuk disosialisasikan secara berjenjang. Tahun 2011

Pasar Murah Dharma Persatuan Bali

tkh/ast

Beli Barang bisa Nyicil

Ny. Nyoman Yasa, Ny. Bintang Puspayoga, dan Ny. Made Bakta menikmati kolak di pasar murah

MALAM itu, Susilawati sibuk berbelanja buah-buahan. Ia mendapat telepon dari kakaknya untuk ikut berpartisipasi dalam Pasar murah yang digelar Dharma Wanita Persatuan Pemprov. Bali, Senin s.d. Selasa (29-30/11) di parkir Barat Kantor Gubernur. Sehari-hari perempuan yang bertempat tinggal di Panjer ini berjualan banten. Ia mengajak dua orang karyawan turut membantunya menjaga stan di pasar murah. Hari pertama, ia mengaku untung tipis. Susilawati pertama kalinya ikut pasar murah. Kabar itu baru ia terima malam sebelumnya, sehingga ia berbelanja ekstra cepat tanpa sempat memilih. Apalagi sehari sebelumnya hujan lebat. Ternyata, buah mangga yang dibeli sekeranjang, di bagian bawahnya busuk. Ia harus rela membuang barang dagangannya itu setengahnya. Hari kedua, ia buka lebih pagi. Menjelang siang hari, ia mengaku, dapat bernapas lega. Kerugian hari pertama sudah terbayarkan. Sampai pukul 12.00, barang dagangannya berupa buah mangga, jeruk, apel, lengkeng, sudah habis. Sebagian diserbu ibu-ibu yang sebagian besar berprofesi sebagai PNS. Ketua Panitia Ny. Made Bakta mengatakan, kegiatan pasar murah ini diadakan dalam rangka HUT ke-11 Dharma Wanita Persatuan

Prov. Bali, Hari Ibu, dan menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pasar murah melibatkan 17 stan dari 57 unsur pelaksana SKPD Prov. Bali. Dalam rangka HUT Dharma Wanita, selain pasar murah, juga digelar berbagai acara, seperti bersepeda, seminar, donor darah, berbagai lomba yang melibatkan semua SKPD. “Ini pertamakalinya, semua unsur pelaksana SKPD melakukan kegiatan bersamasama,” ujar istri Rektor Unud Prof. Made Bakta ini. Ketua Dharma Wanita Persatuan Prov. Bali Ny.Nyoman Yasa mengatakan, beragam kebutuhan khas hari raya bisa didapat dalam pasar murah mulai dari sembako, buah-buahan, janur, jajan, kain, kebaya, sandal, aksesori, peralatan rumah tangga, sandal kesehatan, makanan dan minuman. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan membantu para pengrajin yang menjadi binaan Dharma Wanita untuk melakukan promosi. Selain itu, kegiatan yang digelar menjelang hari raya ini juga diharapkan dapat memudahkan para pegawai di lingkungan Pemprov. Bali memenuhi kebutuhannya. Ia mengatakan, pasar murah rutin digelar enam bulan sekali menjelang hari raya. Namun, tahun ini pertamakalinya semua unsur

pelaksana bergabung melakukan kegiatan. Dharma Wanita Pemprov Bali juga menggandeng Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Praja, sehingga para pegawai bisa membeli berbagai barang dengan cara menyicil lewat koperasi. “Mereka diberi kemudahan meminjam uang Rp 600.000 s.d. Rp 1 juta. Kemudian dicicil tiap bulan selama 6 bulan potong gaji. Saat pasar murah mereka dapat menggunakan kupon yang diterimanya untuk berbelanja,” jelasnya. Para pembeli begitu antusias mengunjungi pasar murah tersebut. Stan makanan dan minuman paling ramai dikunjungi konsumen. Ada jajan Bali, es daluman, kolak, dan nasi kuning. Dewi, salah seorang pengunjung pasar murah mengaku tertarik datang ke pasar murah karena ajakan temannya yang berprofesi sebagai PNS. Setelah melihat-lihat kain, ia tertarik membelinya. Temannya, Ayu, pegawai Pemprov. Bali memborong buahbuahan. Sebagian besar PNS memang menyasar perlengkapan upacara karena akan digunakan untuk upacara sugihan Jawa dan Bali. Stan Super Ekonomi (SE) yang menyediakan sembako juga diminati pengunjung. Beberapa karyawan Rumah Sakit Sanglah, tampak memborong sembako, seperti beras, mie instan, minyak goreng, gula pasir, kopi untuk keperluan sehari-hari. Menurut Komang, penjaga stan SE, hari pertama ia dapat berjualan sekitar Rp 5 juta. Harga di pasar‘murah lebih murah dibanding harga di pasaran. “Lebih murah seribu dan lima ratus rupiah lumayan,” ujar Sri, salah seorang pembeli sembako di stan itu. Ny. Bintang Puspayoga hari itu menyempatkan diri melihatlihat semua stan. Bersama Ny. Yasa dan Ny. Made Bakta, setelah lelah melihat semua stan, mereka duduk beristirahat sembari menikmati santapan kolak. –ast

Kini telah hadir minuman kesehatan alami sari alangalang dalam kemasan botol kaca higienis, yang secara ilmiah & turun temurun terbukti mempunyai banyak manfaat & khasiat alami untuk kesehatan: z Meningkatkan stamina z Mengurangi rasa capai, pegal & linu zMeredakan panas dalam & radang tenggorokan z Meredakan demam z Mengaluskan kulit z Mengontrol tekanan darah yang cenderung tinggi zMelancarkan air seni z Membantu mengatasi masalah batu ginjal, batu empedu, keputihan, batuk, mimisan, campak, hepatitis, radang paruparu, asma, penyakit kelamin, gangguan prostat,lemah syahwat, dll.

dingin lebih at nikm

Dibuka untuk keagenan Hubungi: 0361- 3648207

Minuman Sari Alang-Alang tersedia dalam 4 rasa: zNatural (sugar free) z Jahe/ ginger z Nenas / pineapple z Strawberry Minuman Sari Alang-Alang bisa didapatkan di: apotek-apotek,swalayan/ supermarket,restaurant dll.


8

Tokoh

5 - 11 Desember 2010

Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon Komitmen terhadap Lingkungan GERAKAN Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP) telah dilaksanakan di Indonesia sejak 2007. Aktivitas ini dimotori perempuan demi mencegah perubahan iklim yang sangat cepat.

Perjalanan GPTPP di Kabupaten/Kota se Bali 1. Jembrana pada Sabtu (20/11) di Pantai Baluk Rening dengan 23.500 pohon 2. Tabanan, Sabtu (27/11), di Pantai Kedungu dengan 22.500 pohon. 3. Karangasem, Minggu (28/11) di Dusun Pura Sana, Kesimpar, Abang dengan 23.000 pohon. 4. Buleleng, Minggu (28/11) di Desa Pejarakan, Gerokgak dengan 23.000 pohon 5. Denpasar, Jumat (26/11) di Pulau Serangan dengan 10.000 pohon 6. Klungkung pada Rabu (1/12) di Buayang Kaje, Gunaksa dengan 8.000 pohon 7. Kabupaten Gianyar, Rabu (1/12), di Desa Puhu, Payangan dengan 20.000 pohon

T

ujuh organisasi perempuan yang menjadi pemrakarsa yakni Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB); Tim Penggerak PKK; Kowani; Dharma Wanita Persatuan (DWP); Bhayangkari; Dharma Pertiwi; dan Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB). Pada konferensi PBB di Bali 2007 silam, Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono menyampaikan hasil konferensi nasional dengan tema “Kearifan Lokal Perempuan Indonesia Dalam Rangka Penanaman 10 Juta Pohon”, mengantarkan Ibu Negara memperoleh penghargaan dari PBB. GPTPP ini adalah upaya jangka panjang, yang manfaatnya akan dirasakan 10 tahun, 20 tahun bahkan 30 tahun kemudian. Karena itu, kita wajib melaksanakannya dengan cara yang baik dan benar. Meski menaman pohon bukan hal yang baru, namun kegiatan ini dapat menjadi momentum yang strategis, ketika dilaksanakan seluruh komponen bangsa dari tingkat pusat hingga ke pelosok Tanah Air secara serentak. Bukan hal mudah jika tidak dilandasi rasa kesatuan dan semangat yang bulat dari semua pihak. Sebab, dengan kemitraan yang kuat antara organisasi perempuan, pemerintah dan masyarakat sebagai pilar pembangunan memudahkan pelaksanaan kegiatan GPTPP ini. GPTPP sebagai rangkaian kegiatan berkesinambungan yang dipastikan menjadi agenda rutin tahunan. Agar bermanfaat bagi kita semua, diperlukan dukungan semangat

8. Kabupaten Badung, Rabu (1/12) di Banjar Mungu Mengwi dengan 20.000 pohon 9. Kabupaten Bangli Kamis (2/12) di Pura Bukit Penulisan. Dengan 20.000 pohon Dari kiri: Tini Rusmini Gorda, penasihat BKOW Daerah Bali Ny. Ayu Pastika, dan Rai Sudiasih

dan komitmen seluruh komponen masyarakat. Kegiatan gerakan ini tidak hanya dilaksanakan secara nasional, namun terdesentralisasi ke daerah di seluruh Indonesia. “Karena itu, BKOW Daerah Bali, yang secara hirarki adalah organisasi di bawah koordinasi Kowani, siap melaksankan GPTPP 2010, dengan tetap menjalankan koordinasi,” ucap Ketua BKOW Bali A.A.A. Ngr. Ayu Tini Rusmini Gorda. Untuk daerah Bali, organisasi yang menjadi tim pelaksana di tiap Kabupaten/Kota, yakni WHDI dan Iwapi Bali, dengan I Gusti Ayu Sulasmi Rai dan Desak Nyoram Asrihati, sebagai ketua dan sekretaris panitia. Bersama BKOW organisasi yang memayunginya segera melakukan koordinasi dengan organisasi wanita lainnya dan GOW setempat. Secara bersama-sama mereka menyinkronkan jadwal dan lokasi pelaksanaan. Melihat alam Bali mengalami kerusakan parah dalam 10 tahun terakhir, Wahana lingkungann hidup (Walhi), LSM berskala dunia yang fokus terhadap lingkungan hidup mencatat, laju abrasi pantai di Bali dalam 10 tahun terakhir melampaui ambang batas, akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, BKOW Daerah Bali sangat responsif terhadap

pelaksanaan GPTPP 2010. Pada GPTPP tahun ke-4 ini, BKOW dalam pelaksanaannya, sedikit berbeda. “Jika tahun-tahun sebelumnya GPTPP dilaksanakan hanya pada puncak acara, 1 Desember, dipusatkan di salah satu kabupaten secara bergilir. Maka, untuk tahun ini kami melaksanakan di tiap kabupaten sembari menyosialisasikan keberadaan BKOW dan GOW kepada masyarakat luas di Bali,” ungkap Gung Tini didampingi Sulasmi Rai dan Desak Asrihati. Menurut Ketua Panitia Sulasmi Rai, penanaman pohon dapat dilakukan siapa saja. Yang lebih penting adalah masyarakat atau peserta tanam sanggup memelihara berikutnya, mereka dapat menikmati dan merasakan hasilnya. Tentu, katanya, di sini perlu sebanyak

mungkin melibatkan kaum perempuan serta anak-anak atau remaja baik dalam penanaman juga pemantauan dan pemeliharaan sesudah tanam. Selanjutnya dengan diberikannya bantuan bibit pohon produktif dari Kowani melalui panitia GPPT 2010 Pusat, yang ditangani Balai Pengelolaan DAS Unda Anyar Provinsi Bali, sebanyak 170.000 pohon. Bibit pohon ini, berupa bibit durian otong, nangka, mangga, sawo manila, rambutan dan pinang. Semua bibit pohon tersebut untuk disebarkan ke seluruh Kabupaten/Kota se- Bali. GPTPP tahun 2010 yang mengusung tema “Penyelamatan Hutan Pantai dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir” adalah wujud komitmen organisasi perempuan untuk terus membudayakan kebiasaan

“Yang lebih penting adalah masyarakat atau peserta tanam sanggup memelihara berikutnya, mereka dapat menikmati dan merasakan hasilnya”

Acara GPTTP 2010 di Kabupaten Badung

gemar menanam dan memelihara pohon. Sementara bagi daerah yang tanpa pantai dan pesisir dapat tetap melanjutkann tema terdahulu seperti “Pencegahan Pemanasan Bumi”; “Ketahanan Pangan Keluarga dan Konservasi Air”, dengan jenis tanaman yang disesuaikan. Sedapat mungkin di kawasan hutan kota, bantaran situ, danau, sungai dan sebagainya. Dengan koordinasi, dan komunikasi WHDI bersama IWAPI dan organisasi wanita di bawah BKOW secara bersama-sama menjalankan GPTPP dengan jadwal yang telah diatur. Kegiatan awal yang dilaksanakan di Jembrana pada Sabtu (20/11), dihadiri pula oleh Tim Koordinator dan Monitoring Bali, NTB dan NTT. Dengan telah berjalannya kegiatan di seluruh Kabupaten/ Kota, BKOW Bali bersama semua organisasi wanita di dalamnya, Desak Asrihati, sekretaris panita atas nama seluruh organisasi wanita selaku tim pelaksana kerja, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada bupatidan wali kota se Bali, kelompok media Bali Post serta semua pihak yang turut membantu kelancaran pelaksanaan GPTPP 2010 di Bali, dilanjutkan dengan seluruh anggota tim menyerukan: Mari Bersama-sama Selamatkan Bumi Kita. —ard

BKOW Bali....................................dari halaman 1

Dari kiri: Rai Sudiasih, Ketua Kowani Dewi Motik, dan Tini Rusmini Gorda

Konservasi Hutan Pantai dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir. Konferensi dilangsungkan demi meningkatkan pemahaman masyarakat luas dan khususnya perempuan dalam permasalahan lingkungan, sosial dan ekonomi di kawasan pantai dan pesisir. Badan Koordinasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali yang merupakan bagian dari Kongres Wanita Indonesia (Kowanita) salah satu pemrakarsa acara berkesempatan menghadirinya. Kegiatan yang merupakan rangkaian Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP) 2010 ini, memiliki visi membantu program pemerintah dalam pengentasan masyarakat miskin, khususnya pada masyarakat pesisir melalui perbaikan ekosistem pantai dan perbaikan ekonomi masyarakat. Hal pertama yang dibahas yakni Tantangan dan Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Indonesia dalam Perspektif Regional, Nasional dan Global dengan pidato kunci oleh Presiden RI. Selain itu konferensi juga menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Kehutanan serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA). Menurut Ketua BKOW Bali

BKOW, Iwapi, WHDI, Ketua GOW dan Bupati Bangli di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Bangli

A.A.A. Ngr. Ayu Tini Rusmini Gorda, Menteri PP dan PA dalam kesempatan tersebut mengangkat Potensi Perempuan Dalam Kehidupan Masyarakat Pesisir. Di tempat yang sama, juga diungkapkan sumber daya pesisir dan laut sebagai sumber pangan, sumber energi, bahan baku industri kosmetik, ekowisata dan sebagainya oleh para pakar, pelaku industri dan wakil pemerintah daerah. Gung Tini yang menghadiri konferensi bersama salah seorang pengurus Iwapi Bali, Rai Sudiasih, menyatakan juga mendapatkan informasi contohcontoh praktis keberhasilan berbagai pihak serta kearifan lokal dalam pemanfaatan potensi sumber daya pesisir dan laut Indonesia sebagai sumber pangan, sumber energi dan ekowisata. Pada kesempatan tersebut, Gung Tini, selaku Ketua BKOW Bali telah mampu memberikan laporan singkat kepada Menteri PP dan PA mengenai Model Gerakan Perempuan Tanaman dan Pelihara Pohon (GPTPP) 2010 Tahun ke-4 yang direncanakan di wilayah Bali. Pada saat itu pula Gung Tini sekaligus memohon kehadiran Menteri PP dan PA Linda Gumelar terkait rencana penanaman pohon bersama di Kota Denpasar pada pertengahan Desember mendatang. —ard


5 - 11 Desember 2010 Tokoh 9

Perjalanan GPTPP di Kabupaten/Kota se Bali

BKOW, Iwapi, WHDI, Ketua PP-KB Jembrana, Tim Koordinator dan Monitoring Bali, NTB, dan NTT di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Jembrana

BKOW, Iwapi, WHDI, Bupati dan Wakil Bupati Tabanan di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Tabanan

BKOW, Iwapi, WHDI, Ketua TP PKK, dan Ketua GOW Karangasem di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Karangasem

Acara GPTTP 2010 di Kabupaten Buleleng

BKOW, Iwapi, WHDI, Wali Kota Denpasar di acara GPTTP 2010 di Kota Denpasar

BKOW, Iwapi, WHDI, Ketua TP PKK Klungkung di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Klungkung

BKOW, Iwapi, WHDI, Ketua TPPKK Gianyar di acara GPTTP 2010 di Kabupaten Gianyar


10

Tokoh

BUMI GORA

5 - 11 Desember 2010

Pemprov. NTB Belajar dari Kabupaten Jember

Integrasikan Pengembangan BSS dengan Kopi dan Kakao Sebagai satu dari lima penghasil utama Sapi Bali (Bossondaikus), sapi asli Indonesia dengan yang merupakan komoditas unggulan nasional, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencanangkan program Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS) menuju daerah swasembada daging. Oleh karena itulah, NTB-BSS dicanangkan sebagai program unggulan pemerintah NTB di bawah kepemimpinan T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A. dan Ir. H. Badrul Munir, M.M., ini sebagai gerakan untuk meningkatkan produktivitas dan populasi Sapi Bali melalui peningkatan angka kelahiran, penurunan angka kematian dan pencegahan pemotongan betina produktif. Dengan program NTB-BSS dengan target sejuta sapi pada tahun 2013 mendatang, pembangunan peternakan sapi di NTB kini mendapat prioritas untuk mewujudkan NTB sebagai daerah penghasil ternak di Indonesia.

U

ntuk mendukung program ini, Humas Pemprov NTB bersama wartawan yang selama ini melakukan peliputan di Pemprov. NTB mengadakan studi banding ke Pemkab Jember, Jawa Timur (Jatim) selama empat hari, Minggu (22/11) hingga Rabu (25/11) lalu. Rombongan dipimpin Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Setda NTB H. L. Moh. Faozal, S.Sos., M.Si. Dalam studi banding itu, Pemprov NTB bertukar informasi tentang program-program yang dikembangkan Pemkab. Jember karena beberapa program yang dikembangkan Pemkab. Jember tidak jauh beda dengan Pemprov NTB, seperti sapi, kakao, dan kopi. Dalam kunjungan yang diterima Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ka-

Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Setda Pemprov NTB H. L. Moh. Faozal, S.Sos, M.Si. menyerahkan cenderamata alat musik tradisional Lombok, Gendang Beleq dan berbagai info serta produk unggulan Pemprov. NTB yang dikenal PIJAR (Sapi, Jagung dan Rumput Laut) kepada Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Jember, S. Surif Santoso.

bupaten Jember, S. Urif Santoso NTB saat ini sedang fokus meserta pejabat lainnya, L. Moh. ngembangkan program proFaozal menjelaskan, Pemprov. rakyat dan merupakan unggulan

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di NTB Menurun K

ampanye Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Seperti juga yang dilakukan secara nasional maupun internasional, kampanye HAKTP dilakukan pula oleh Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) NTB) secara rutin. Setiap tahunnya seluruh dunia, termasuk di NTB, melakukan kampanye HAKTP pada 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Tanggal ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama sekaligus juga menandai dan diakuinya kekerasan berbasis gender iru memang terjadi di muka bumi ini. Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patria, Minerva & Maria Teresa) pada tanggal yang sama di tahun 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan pengusasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran penguasa Republik Dominika pada waktu itu. Berkali-kali mereka mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa yang berakhir pada pembunuhan keji tersebut. Penghapusan kekerasan

Pemprov. NTB, yakni sapi, jagung dan rumput laut (Pijar). Dipilihnya Jember sebagai daerah kunjungan, karena daerah itu dinilai mempunyai beberapa kesamaan dengan NTB, baik itu komoditi yang dikembangkan, kondisi daerah dan potensinya seperti pengembangan sapi, tembakau, kakao dan kopi. Hal yang sama juga tengah dilakukan di NTB yaitu mengembangkan mengembangkan komoditi-komoditi tersebut. Khusus peternakan sapi, Jember juga cukup dikenal sebagai daerah pemasok daging nasional. “Keberhasilan peternakan sapi di Jember inilah yang perlu dipelajari Pemerintah Provinsi NTB,” ujar Faozal. Asisten II (Bidang Perekonomian dan Pembangunan) Jember S. Urif Santoso, menjelaskan perkembangan perekonomian di daerah dengan luas 3. 293 meter persegi yang dihuni 2,3 juta jiwa ini banyak dipasok dari sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan. Khusus pengembangan sapi, kopi dan kakao, pihaknya sedang berupaya mengembangkan beberapa komoditi itu dengan berupaya mengintegrasikan pengembangan sapi dengan kopi dan kakao. Santoso yang didampingi oleh Kepala Dinas Perhubung-

Kampanye HAKTP 2010 dengan Pemutaran Film dan Workshop

Pendekatan budaya dilakukan LBH APIK NTB untuk mengampanyekan HAKTP

terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM perempuan, pemerintah, maupun masyarakat secara umum. LBH APIK NTB adalah lembaga yang terbilang konsen dalam mengawal penegakan hakhak perempuan NTB untuk bebas dari kekerasan. Sepanjang perjalanan memperjuangkan hakhak dan keadilan bagi perempuan NTB, persoalan budaya yang menyebabkan banyak terjadinya kekerasan terhadap perempuan di NTB adalah salah satu masalah yang masih sangat sulit untuk dihilangkan. Hal inilah yang membuat lembaga ini, mengambil tema budaya dalam peringatan HAKTP tahun 2010 ini yakni, “Melalui Kearifan Budaya Tidak Ada Lagi Kekerasan Terhadap Perempuan”. Spanduk-spanduk kampanye HAKTP yang tampak di sudut-sudut Kota Mataram, didominasi oleh tema-tema budaya seperti, “Budaya aman dan damai adalah “tidak adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak”. Ada juga “Me-

LBH APIK NTB, terus berjuang mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di NTB

lalui budaya “sayang istri dan sayang anak” maka tidak akan ada lagi korban perempuan dan anak”, dan “Budayakanlah berlaku adil terhadap laki-laki maupun perempuan”. Melihat data kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh LBH APIK NTB dalam empat tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan. Mulai tahun 2005 sebanyak 567 kasus, tahun 2006, 580 kasus, tahun 2007, 776 kasus, tahun 2008, 1.263 kasus. Sedangkan di tahun 2009 mengalami penurunan yang cukup berarti yakni sebanyak 751 kasus. Penurunan angka kekerasan tersebut terjadi karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan. Tampaknya pula penurunan angka tersebut terjadi karena semakin banyaknya kelompokkelompok masyarakat yang peduli terhadap persoalan perempuan, yang melakukan pendampingan secara langsung seperti halnya LBH APIK NTB. Indikasi penurunan angka kekerasan bukan berarti usahausaha penghapusan kekerasan terhadap perempuan berhenti. Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya kekerasan terhadap perempuan, seperti berkali-kali diungkap Direktur LBH APIK NTB, Beauty Erawati, S.H., M.H., antara lain penafsiran nilai-nilai agama yang keliru, penerapan hukum yang salah dan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor budaya. “Dari sejak dalam kandungan, kaum perempuan sudah mengalami pembedaan yang signifikan, kemudian lahir, tumbuh dan berkembang hingga dewasa dan tua selalu mengalami pembedaan. Hal inilah yang menjadikan salah satu pemicu kekerasan berbasis gender yang

disebut sebagai budaya patriarki, dan budaya seperti ini masih kental di NTB dan sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya,” kata Diana, Ketua Panitia HAKTP LBH APIK NTB. Pembagian peran antara suami dan isteri yang tidak seimbang, paradigma bahwa lakilaki sebagai pelindung menimbulkan kepercayaan bahwa kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri merupakan bagian dari rasa cinta kasih suami terhadap istri sehingga melanggengkan kekerasan tersebut. Laki-laki sebagai penerus keluarga dan laki-laki adalah pencari nafkah utama mendorong perempuan atau isteri untuk bergantung secara ekonomi kepada suami. Hal ini yang membuat suami berkuasa penuh atas isterinya, sehingga istri kerap diangggap sebagai objek. Peringatan HAKTP ini dilakukan LBH APIK NTB untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan berbagai elemen lainnya seperti media massa, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat/budaya dan lainnya tentang upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kegiatan kampanye HAKTP 2010 yang digelar LBH APIK NTB dilangsungkan Mataram Mall 2 Lantai I pada tanggal 27 November dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pemutaran film tentang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan pagelaran seni budaya NTB. Dilakukan pula workshop dan pagelaran budaya yang dihadiri sekitar 500 orang yang terdiri dari pelajar, masyarakat umum, LSM, instansi pemerintah, tokoh agama, tokoh adat serta wartawan media cetak dan elektronik se-Kota Mataram. —nik

Untuk mendukung program NTB-BSS, Humas Pemprov. NTB bersama wartawan yang selama ini melakukan peliputan di Pemprov. NTB mengadakan studi banding ke Pemkab Jember, Jawa Timur

an dan Kehutanan Kabupaten Jember, Totok Hariyanto, Kabag Humas Pemkab. Jember dan beberapa pejabat lainnya menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan Pemkab. Jember dalam pengelolaan kehutanan dan perkebunan serta peternakan di daerah tersebut. Kepala Dinas Kehutanan Jember, mengaku, Jember merupakan salah satu daerah penghasil kopi specialty (arabika) dengan luas mencapai 375 ha. Aroma dan cita rasa kopi Jember telah diakui secara nasional. Ini terbukti dari berkibarnya kopi Jember di lomba tingkat nasional yang berlangsung beberapa waktu lalu. “Kopi Jember mendapat peringkat I katagori cita rasa dalam lomba nasional di Bali beberapa waktu lalu,” ujarnya. Di sektor peternakan, lanjutnya, Jember merupakan daerah pemasok sapi putih (hisar) nasional. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Jember jumlah sapi yang dipasok hingga

Juni 2010, 225 ribu ekor. Keberhasilan dicapai dengan mengintegrasikan pengembangan ketiga komoditi agar bisa saling mendukung secara berkesinambungan. Namun, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya ini, yakni pengembangan ketiga komoditi itu harus saling mendukung satu sama lain. Misalnya, hasil kulit kakao dan daun kopi dimanfaatkan untuk pakan ternak, sebaliknya sisa kotoran ternak bisa sebagai pupuk kopi dan kakao. Jika hal itu mampu dimaksimalkan Pemprov. NTB, akan dapat membantu pengembangan beberapa komoditi, khususnya program BSS. Saat perjalanan menyusuri perkebunan kakao dan kopi yang diintegrasikan dengan peternakan sapi di Jember, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslikoka), Susanto Abdullah mengatakan potensi NTB untuk mengembangkan ketiga

komoditi itu cukup besar. Kedua daerah ini memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan hal ini. Karena itulah kedua daerah ini beberapa waktu lalu telah mengadakan kerjasama dengan untuk pengembangan kopi specialty (arabika dan robusta) di daerah Lombok Timur dan Sumbawa. NTB memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan ketiga komoditi ini. Saat ini perkebunan kopi terdapat di Pulau Sumbawa seperti di Tepal dan Dompu dengan lahan yang cukup luas. Sedangkan kakao pengembangannya dilakukan salah satunya di Santong Lombok Utara dan beberapa daerah lainnya. Untuk mengembangkan komoditi ini, pemerintah NTB tampaknya bisa melakukan hal serupa dengan Jember dengan mengintegrasikan pengembangan BSS bersamaan dengan pengembangan kopi dan kakao. —nik

Manusia harus Seimbangkan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual spiritual dan nalar akan KOPERTIS Wilatumbuh dengan subur yah VIII mengadakan bila disertai disiplin dharma wacana, Sabtu tertentu dalam jalan (4/12) di ruang sidang kehidupan spiritual. Kopertis Wilayah VIII. Diri manusia ibarat suDharma wacana mengatu laboratorium rakhadirkan Romo Wijasasa yang selalu mengya, Ketua PHDI Jawa kaji segala aspek, baik Timur sebagai narayang tumbuh dari dasumber. Koordinator lam maupun yang daKopertis Prof. Dr. I tang dari luar dirinya. Nyoman Sucipta meDisiplin menempuh ngatakan dharma wakehidupan spiritual cana ini dilaksanakan Koordinator Kopertis Prof. Dr. I Nyoman Sucipta (kiri) merupakan pangkal dalam rangka menyambersama Ketua PHDI Jawa Romo Wijaya utama keberhasilan but hari raya Galungan dan Kuningan. maka ia akan bisa menjadi orang seseorang mencapai keunggulan “Lembaga pendidikan hen- yang intelek. “Kini yang perlu kita jati diri. “Dalam Brhadaranyaka Upadaknya tidak hanya memberikan lakukan sejak awal adalah mengekesempatan kepada peserta didik tahui jati diri kita sendiri,” tegasnya nisad telah ditegaskan bahwa untuk mengembangkan penge- di hadapan peserta dharma wacana nilai-nilai kebenaran subjektif tahuan, tetapi juga menciptakan yang berasal dari kalangan dosen hanya akan diperoleh bila aspek spiritual diunggulkan dalam setting social yang memungkinkan dan mahasiswa Hindu. implementasi pengetahuan yang Ia menambahkan, pertumbuhan kehidupan manusia,” ungkapnya. diperoleh untuk memecahkan kecerdasan, kesehatan spiritual dan Kitab suci Weda mempunyai problem-problem yang ada dalam nalar berjalan serentak melalui otoritas tertinggi dalam menentumasyarakat. Lembaga pendidikan pendidikan formal, pendidikan in- kan kebenaran, sedangkan nalar seharusnya juga menjadi contoh formal, pendidikan nonformal, atau pikiran yang disebut tarka mekehidupan masyarakat yang pengajaran, kerajinan mendalami negaskan nilai-nilai itu untuk menideal,” tandasnya. ajaran agama dan kemampuan meng- capai intuisi humanis. Upanisad Sementara itu, Romo Wijaya himpun pengalaman-pengalaman menyatakan bahwa dengan mendemenyampaikan manusia harus positif diri sendiri maupun orang ngarkan (sravana), refleksi (nidhimampu menyeimbangkan kecer- lain melalui komunikasi langsung yasana) dan meditasi (upasana) seseorang dapat mencapai pengedasan intelektual dan kecerdasan atau tidak langsung. spiritual. Jika hal itu tercapai, Selain itu kecerdasan, kesehatan tahuan intuitif Brahman. –wah


5 - 11 Desember 2010

Tokoh

11

LKP Agung Beri Inspirasi

Ny. Nurjanah Malik Fajar R Nostalgia di LKP Agung

EPUTASI LKP Agung sebagai lembaga kursus kecantikan makin dikenal di kancah nasional. Setelah sebelumnya menjadi tempat magang bagi anak-anak SMK di seluruh tanah air, DPD Himpunan Pengelola Kursus Indonesia (HiPKI) dan Himpunan Seluruh Pendidik dan Penguji Indonesia (HiSPPI) Jawa Tengah pun bersama 120 anggotanya memilih melakukan studi banding ke LKP Agung, Rabu (24/11). Mereka ingin belajar dan mengetahui lebih jauh tentang aktivitas kursus di LKP ini. “Kami sengaja memilih LKP Agung sebagai lokasi studi banding karena memiliki reputasi dan kemampuan dalam mengelola lembaga kursus sehingga mampu menjadi lembaga kursus yang dipercaya masyarakat dan pemerintah. LKP ini juga jaringan kemitraannya luar biasa,” ujar Ketua DPD HiPKI

Tampak Edi Suwaras (paling kanan) beserta rombongan HiPKI dan HiSPPI Jawa Tengah saat studi banding ke LKP Agung

Jateng Edi Waras. Hal senada disampaikan Ketua DPD HiSPPI Jateng Tri Wuryono. Pihaknya merasa kagum dengan upaya LKP Agung melestarikan budaya Bali melalui lembaga kursus kecantikannya. “Sejalan mengajarkan kursus kecantikan, LKP Agung juga ikut melestarikan budaya dengan menyinergikan kedua hal tersebut. Ini bisa menjadi

inspirasi dan menambah wawasan peserta studi banding, serta masyarakat dari daerah lain,” ujarnya. Pimpinan LKP Agung AAA Ketut Agung menanggapi kunjungan ini sekaligus sebagai sarana memperkenalkan budaya Bali khususnya tata rias dan busana adat Bali agar lebih bisa dikenal dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Tutup Tahun 2010, LKP Agung Gelar Berbagai Kegiatan

K

Ny. Nurjanah Malik Fajar (paling kanan) bersama Ny. Hamid Muhammad (empat dari kanan) beserta rombongan

AMIS (4/11), bertempat di Lembaga Kursus dan Kecantikan (LKP) Agung, Jalan WR Supratman No. 303 A Denpasar, tampak beberapa remaja tengah sibuk berlatih tata kecantikan wajah dan kulit. Mereka tampak serius mengikuti arahan AAA Ketut Agung, pemilik LKP Agung. Pemandangan seperti ini memang kerap ditemui di LKP Agung, apalagi lembaga ini sering menerima anak-anak magang dari luar daerah Bali. Meski bangunan berlantai 3 itu serasa sesak dijejali banyak orang, Bu Agung tetap merasa enjoy. “Yang penting mereka mau serius belajar, saya sudah senang,” ujarnya sembari memantau perkembangan anak-

anak magang asal Lumajang, Jawa Timur itu. Sangat terasa suasana kekeluargaan yang begitu akrab satu dengan yang lainnya. Suasana kekeluargaan itu makin kental terasa saat hadirnya tamu istimewa yang baru keduakalinya menginjakkan kakinya di LKP Agung. Ia adalah Ny. Nurjanah Malik Fajar (istri mantan Menteri Pendidikan Nasional RI). Beserta Ny. Hamid Muhammad (istri Dirjen PNFI Kemendiknas) dan 22 orang lainnya yang tergabung dalam Paguyuban Dharma Wanita Kemendiknas ini, Ny. Nurjanah Malik Fajar sempat meninjau kegiatan latihan anakanak magang tersebut. Rasa bangga menyelimuti raut wajahnya. Ia tampak puas me-

lihat apa yang telah dicapai Bu Agung dalam memberdayakan kaum perempuan dengan memberikan life skill khususnya tata kecantikan kulit, tata kecantikan rambut dan tata rias pengantin kepada masyarakat Bali. Bu Agung tak kalah gembiranya atas kunjungan ini. Ia masih ingat harapan besar Ny. Nurjanah Malik Fajar saat pertamakalinya mengunjungi LKP Agung tahun 2006. “Jika saja semua lembaga-lembaga kursus berkomitmen seperti LKP Agung, niscaya 10 tahun ke depan negara bisa maju dan pengangguran berkurang,” ujar Ny. Nurjanah Malik Fajar saat itu. Karena itu, Bu Agung mengaku tak mau mengecewakan harapan besar tersebut. “Hanya dengan keterampilan

saya inilah saya bisa membantu masyarakat. Program pendidikan kecakapan hidup/life skill ini ditujukan bagi masyarakat pengangguran atau putus sekolah yang berminat yang tak bisa meneruskan pendidikannya di sekolah formal. Di samping diberikan keterampilan, mereka bisa mengikuti pendidikan kesetaraan kejar paket B dan kejar paket C yang saat ini berjumlah 160 orang di bawah naungan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di PKBM Agung, Jalan Rampai No. 2 Denpasar. Setelah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi ini, mereka diharapkan masuk ke dunia kerja dengan penghasilan wajar, bahkan jika memungkinkan bisa membuka lapangan kerja sendiri,” paparnya.

Banyak Organisasi Gandeng LKP Agung

Penutupan magang anak-anak SMK N 2 Lumajang di LKP AGUNG (Denpasar-Bali) ditandai dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada salah satu siswa

MENUTUP tahun 2010, LKP Agung menggelar berbagai macam kegiatan. Satu di antaranya Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Payas Agung yang diikuti 37 peserta, Jumat (3/12) di LKP Agung. Ini adalah uji kompetensi ketigakalinya yang digelar LKP Agung sebagai TUK (Tempat Uji Kompetensi) Tata Rias Pengantin Bali dan Tata Kecantikan Kulit di tahun 2010 semenjak berlakunya uji kompetensi pengganti ujian nasional. Uji kompetensi pertama diikuti 57 orang berlangsung 31 Juli-1 Agustus, uji kom-

petensi kedua diikuti 75 orang berlangsung 25-26 September, dan uji kompetensi ketiga diikuti 37 orang berlangsung 3 Desember, dengan mendatangkan penguji dari LSK Pusat dan lokal. Mereka adalah Komang Arizta, Ida Ayu Ratih, dan I Komang Warga (penguji lokal) dan Hj. Sukidjah Sadad (penguji dari pusat). Untuk menutup program magang anak-anak SMK dan uji kompetensi sekaligus penyerahan sertifikat, dirangkaikan dengan acara spektakuler bertajuk “TOKOH Indonesia 2010” yang rutin digelar Ya-

yasan Penghargaan Indonesia, Studio Seven Poduction Jakarta yang diketuai Harry Rahman, Jumat (3/12) di Hotel Sanur Paradise, Denpasar. Istimewanya, hasil riasan peserta uji kompetensi turut diparadekan dalam acara tersebut. Selain dipercaya mengisi acara fashion show busana adat Bali, LKP Agung juga mengisi acara tarian Bali. Anak-anak magang dilibatkan sebagai pagar ayu, anak kejar paket C mementaskan tari Bali, dan peserta uji kompetensi memaradekan busana adat Bali.

Bu Agung saat memberi pelatihan sanggul Bali dan tata rias wajah di Banjar Tarukan, Mas, Ubud Gianyar.

REPUTASI baik LKP Agung sebagai lembaga kursus kecantikan sudah tak diragukan lagi. Karena itu, beberapa organisasi kerap menggandeng LKP yang lebih sering disebut Salon Agung ini untuk pelatihan tata rias, di antaranya Iwapi Kabupaten Gianyar yang berlangsung Sabtu (27/11) di Banjar

Tarukan, Mas, Ubud Gianyar. Pada kesempatan itu AAA Ketut Agung memberikan pelatihan sanggul Bali dan rias wajah Acara tersebut dibuka Ny. Cokorda Artha Ardana Sukawati. Di hadapan puluhan peserta yang hadir, Bu Agung menyontohkan tata rias, sanggul Bali dan busana istri orang nomor satu di

Gianyar tersebut sudah tepat dan bagus. Selain sanggul Bali, Bu Agung juga memberikan pelatihan sanggul modern. Melalui pelatihan ini, Bu Agung berharap nantinya masyarakat mampu memasang sanggul dan merias wajah sendiri dan dengan cepat dan tepat sesuai dengan adat istiadat Bali. Serangkaian Hari Raya

Galungan dan Kuningan serta Hari Ibu, LKP Agung juga telah mengagendakan pelatihan tata rias dan memasang sanggul Bali, Minggu (12/12) di Banjar Lebah, Sumerta Denpasar. Bu Agung mengatakan ini merupakan wujud bakti sosial LKP Agung terhadap masyarakat Bali.

Peserta, model dan Penguji foto bersama saat selesai uji kompetensi Tata Rias Pengantin Bali di LKP Agung (Denpasar-Bali) 03 Desember 2010

Lembaga harus Berani Tampil UNTUK memperkenalkan suatu lembaga pada masyarakat, media informasi mutlak diperlukan. Informasi merupakan salah satu upaya untuk lebih memperkenalkan lembaga sehingga bisa diketahui dan cepat berkembang. Hal ini disampaikan AAA Ketut Agung, pengelola LKP Agung saat menjadi salah satu pembicara dalam Diklat Pengelolaan Kursus Kabupaten/ Kota se-Bali, Rabu (24/11) di BPKP Denpasar.

Ia menegaskan media informasi berperan penting untuk kemajuan suatu lembaga. “Karena melalui informasi dan publikasi ini, masyarakat akan mengenal dan mengetahui keberadaan suatu lembaga,” ujarnya. Meski demikian, ia mengatakan pemanfaatan media informasi ini mesti tepat waktu dan tepat sasaran. Ia mencontohkan untuk menyosialisasikan lembaga kursus kecantikan, sebaiknya sosiali-

sasi dilakukan di hadapan ibuibu atau remaja putri. Melalui media yang tepat, promosi akan mendatangkan keuntungan karena media promosi merupakan jembatan promosi lembaga. Selain itu, agar lembaga makin dikenal, pemilik/ pengelelolanya harus berani tampil. “Fungsi media informasi adalah memberikan informasi yang menarik sehingga mampu menarik perhatian serta mudah diingat dan diterima masyarakat umum,” ujarnya. —ten

A.A.A. Ketut Agung saat tampil sebagai pembicara


12

Tokoh

5 - 11 Desember 2010

Rawat Payudara di Sayan SALAH satu penyakit yang cukup sering terjadi pada wanita dan mematikan adalah kanker payudara, sering kali terdektesi pada saat stadium lanjut dimana terapi yang di berikan seringkali tidak dapat membuat pasien bertahan dan berakhir dalam kesakitan yang luar biasa yang berujung pada kematian. Kanker payudara umumnya terdeteksi saat pemerikaan umum (general check up), screening atau pun bila ada keluhan spesifik umumnya sudah sangat lanjut, misalnya pembesaran payudara atau borok yang tidak sembuh-sembuh. Untuk itu para ahli menyarankan untuk melakukan SADARI

(Periksa Payudara Sendiri) sebagai salah satu screening awal terhadap kanker payudara. Perawatan breast medical spa adalah salah satu cara yang paling mudah dan efektif untuk melakukan SADARI atau mendeteksi adanya keganjalan pada area payudara secara dini. Dengan teknik massage rileksasi dan accupoint pada area punggung dan payudara yang memberikan efek mengendurkan otot dan mempermudah untuk memperlancar peredaran darah serta massage lymphatic drainage untuk pembuangan cairan yang tidak berguna, sangat berfungsi untuk membentuk

payudara sehat dan ideal. Adalah Sayan Aesthetic Institute Dental & Medical Spa di Ubud yang memelopori perawatan breast medical spa di Bali. “Ini adalah satusatunya perawatan breast medical spa di Bali,” ujar dr. Wicak, dokter yang menangani Sayan Aesthetic Institute Dental & Medical Spa. Perawatan dilakukan oleh terapis yang sudah terlatih, perawat yang profesional serta di bawah pengawasan oleh seorang dokter. Selain breast medical spa, Sayan Aesthetic Institute Dental & Medical Spa juga meluncurkan v medical spa, yaitu perawatan organ kewanitaan. —ram

Bank Mandiri.........................................................................................................dari halaman 1 dalam acara “Bincang-bincang Mengenai Penyelesaian Sengketa Bisnis melalui Arbitrase” di BANI Arbitration Center, Kuta, Bali, Sabtu (4/11). BANI yang didirikan pada 2007 oleh Soebekti, Haryono Tjitrosoebono dan Priyatna Abdurrasyid merupakan lembaga independen yang memberikan jasa arbitrase, mediasi dan penyelesaian sengketa di luar pengadilan lainnya. Lembaga ini berkedudukan di Jakarta dengan perwakilan di beberapa kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bandung, Pontianak, Denpasar, Palembang, Medan, dan Batam. Penyelenggaraan arbitrase yang ditangani oleh BANI meliputi sengketa komersial, konstruksi, pelayaran, lingkungan hidup, dan juga kedirgantaraan yang terkait pemanfaatan ruang udara secara komersial. Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman mengatakan, kerja sama dengan BANI merupakan langkah Bank Mandiri merealisasikan komitmen untuk terus tumbuh bersama Indonesia. “Kami berharap melalui sosialisasi arbitrase ini, para pelaku usaha di Indonesia dapat menyelesaikan berbagai permasalahan bisnis dengan cepat dan berbiaya murah, sehingga dapat mendorong dan menjaga momentum pertumbuhan bisnis para pelaku usaha,” ujarnya. Bank Mandiri juga menyediakan layanan perbankan bagi BANI untuk memudahkan lembaga tersebut dalam mengelola keuangan. Penandatangan-

Suasana bincang-bincang mengenai penyelesaian sengketa binis melalui arbitrase di BANI Arbitration Center, Sabtu (4/12) menghadirkan narasumber Ketua BANI Arbitration Centre Priyatna Abdurrasyid, Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman, Prof. Colin Yee Cheng Ong, dan Husseyn Umar

an nota kesepahaman kerja sama itu dilakukan Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman dan Ketua BANI Arbitration Centre Priyatna Abdurrasyid. Melalui nota kesepahaman ini, pengelolaan keuangan BANI baik pusat maupun daerah, seperti Bali, dapat bermitra dengan Bank Mandiri. Saat ini para praktisi bisnis makin menyadari manfaat arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan, terutama bila melibatkan pihak asing. Arbitrase memiliki karakter cepat, efisien dan tuntas dengan menganut prinsip win-win solution dengan sifat putusan yang final sehingga tidak ada lembaga banding atau pun kasasi. Biaya arbitrase juga lebih terukur karena dapat diperhitungkan sejak awal sesuai nilai tuntutan. Penyelesaian sengketa juga dirahasiakan di mana proses persidangan dan putusan arbitrase tidak dipu-

blikasikan. Priyatna Abdurrasyid menambahkan minat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase di Indonesia mulai meningkat sejak pemberlakuan Undang-Undang nomor 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang mengatur tentang tata acara penyelenggaraan arbitrase (arbitration proceedings). “Kami bersyukur dapat bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk lebih memasyarakatkan lembaga arbitrase sehingga sengketa bisnis yang terjadi antar para pelaku usaha dapat diselesaikan dengan cepat. Kami pun berharap BANI dapat berkembang lebih baik lagi karena Bank Mandiri membantu kami dalam mengelola keuangan,” ujar Priyatna. Acara bincang-bincang juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara Bank Mandiri dengan BANI serta saling tukar-menukar cenderamata. –wah

Siapa Cepat............................................................................................................dari halaman 2 Walau orangtua diajak di rumahnya, tetapi mereka tak mendapatkan perhatian semestinya. Sekarang panti hanya bersifat sosial. Suatu saat mungkin dibutuhkan rumah penitipan sementara, di tempat itu bisa dilakukan sesuatu yang positif. Jadi, bukan dibuang, tetapi untuk dirawat, diberi pelayanan kebutuhan fisik dan rohaninya, diberi berbagai macam kegiatan, bisa diajak pulang lagi dan keluarga bisa menengok tiap hari. Jangan seperti sekarang, orangtua ditempatkan di panti seperti terbuang/ ditelantarkan. Lansia seharusnya ditempatkan di tempat yang benar-benar mendapat perhatian positif. dr. I G.P. Suka Aryana, Sp. PD-Kger, staf Pengajar Divisi Geriatri, Penyakit Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah

ada yang alami/tradisional, mengapa tidak dipakai. Di luar negeri, makanan yang dikelola dengan teknologi, lebih murah dibandingkan makanan tradisional. Di Indonesia sebaliknya. Makanan yang sudah melalui pengolahan, lebih mahal, dan kita cenderung memilih itu. Jangan mau diperbudak teknologi. Agar lansia tetap sehat juga perlu diperhatikan aktivitasnya. Dengan beraktivitas, kesehatan, dan semua organ tubuh akan terpelihara dengan baik. Otak dilatih sehingga daya ingat tetap kuat. Jika aktivitas berlebihan memerlukan istirahat. Terapkan tiga konsep: berpikir positif, nutrisi sehat, tetap beraktivitas. Pada lansia, fungsi pendengaran, penglihatan, pasti berkurang dan proses itu harus dilalui. Tetapi, semua itu bisa dilatih. dr. Suka Aryana

Keluhan Umum Lansia

Siapa lebih Cepat Meninggal?

Keluhan umum yang sering muncul di kalangan lansia, nafsu makan berkurang, pernapasan terganggu, pendengaran, penglihatan, dan daya ingat berkurang, muncul rematik. Dapatkan itu diupayakan/disiasati agar keluhan-keluhan itu menjadi sedikit lebih kecil? Ketut Kari

Banyak Makanan Tercemar Sekarang banyak makanan tercemar. Seperti daging ayam yang proses penggemukannya sudah menyimpang, atau pestisida pada pertanian, juga proses produksi dari makanan yang menimbulkan banyak sekali zat berbahaya jika dikonsumsi. Zaman dulu, orangtua kita panjang umur dan sehat. Itu tak terlepas dari nutrisi yang dikonsumsi betul-betul murni dan alami. Zaman sekarang untuk bisa seperti itu, langkah apa yang perlu dilakukan? Sebab, yang kita makan sekarang banyak mengandung toksin, sehingga perlu selektif dan berhati-hati untuk bisa hidup sampai usia panjang dan sehat. Edi

Tiga Konsep Sehat Lansia Kemajuan teknologi membuat aktivitas berkurang. Ini bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit. Kita harus berupaya back to nature (kembali ke alam) tetap bisa berjalan seiring perkembangan zaman. Faktor sehat bagi lanjut usia salah satunya nutrisi sehat. Jika

Yang disebut lansia itu dari faktor umur atau fisiknya. Ada yang berumur 90 tahun, lebih kuat daripada yang berumur 45 tahun, masih mampu menyabit ke sawah. Siapa yang lebih cepat meninggal, orang yang bekerja memakai otak atau yang memakai otot/fisik? Santa

Takut Ketahuan Sakitnya Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sekarang ini, jika sudah sakit baru berobat. Bahkan kecenderungan masyarakat sekarang takut melakukan medical general ceck up (pemeriksaan kesehatan secara umum), karena takut ketahuan sakitnya. Padahal jika penyakit diketahui lebih dini pengobatannya lebih mudah dibandingkan jika diketahui setelah kronis. Jika pada masa tua masih harus bekerja, apa pola seperti ini juga akan memengaruhi usia hidup? Werda

Lupa, Sakit, Mati lebih Cepat Pola hidup sehat perlu diketahui warga masyarakat. Hidup dalam kehidupan sekarang ini, kepentingan makin banyak. Manusia banyak memunyai kebutuhan dan hidup dengan berbagai kepentingan. Kepentingan ini lebih mengarah pada materialis, egois, dan individualis. Di Bali dikenal empat tahapan hidup: masa brahmacari, grehasta, wanaprasta, bhiksu-

Evaluasi Program........................................................................................................................................................dari halaman 1 pohon di sepanjang pantai Kedungu. Dalam monitoring dan evaluasi itu, Ketua WHDI Provinsi Bali I Gusti Ayu Putu Sulasmi Rai, A.Md.Keb. mengatakan, program kerja sudah dilaksanakan WHDI Kabupaten Tabanan. Tetapi, koordinasi antarSDM masih perlu ditingkatkan lagi, terutama koordinasi antarbidang. Ada beberapa pekerjaan rumah untuk WHDI Tabanan yang belum terealisasikan di antaranya, pembinaan WHDI kabupaten ke kecamatan, belum adanya papan nama struktur organisasi, dan iuran wajib anggota. Ketua WHDI Kabupaten Tabanan Sagung Oka Pradnyawati mengakui kekurangan ini dan berkomitmen akan berupaya merealisasikannya secepat mungkin. “Untuk itu kami terus meminta dukungan dan pembinaan dari WHDI Provinsi Bali,” ujarnya. Program lainnya di bidang agama, organisasi, ekonomi, kebudayaan, dan sosial, sudah dinilai baik oleh tim monitoring

Pengurus WHDI Kabupaten Tabanan. Tampak Sagung Oka (berdiri atas, tengah)

dan evaluasi, seperti kelengkapan buku-buku administrasi, serta pengarsipan surat-surat dengan bukti tertulis. Di bidang agama misalnya, telah diselenggarakan dharma wacana dan dharma tula, mengikuti pertemuan kerukunan antarumat beragama, mengikutsertakan anggota WHDI pada tiap acara ngayah, dan membentuk kelompok pasantian; bidang

organisasi, menyelengarakan peringatan HUT WHDI dan hari-hari besar lainnya, sosialisasi program, bekerja sama dengan media untuk menyosialisasikan kegiatan WHDI, mengikuti kegiatan WHDI dan instansi lain, dan mengadakan koordinasi; bidang ekonomi, mengadakan kegiatan penggalian dana; bidang kebudayaan, mening-

katkan pengetahuan anggota tentang budaya nasional dengan pelatihan/budaya seni, dan mengadakan kursus/pelatihan keterampilan; bidang sosial, mengadakan ceramah kesehatan perempuan, dan membantu pemerintah melaksanakan program nasional dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Sementara, kelompok PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) bernuansa Hindu binaan WHDI Tabanan yang sempat mendapat acungan jempol oleh WHDI provinsi atas keberhasilan pelaksanaannya yang ajeg Bali itu, kini kian berkembang dengan adanya tempat penitipan anak (TPA). Pada kesempatan itu, WHDI Kabupaten Tabanan juga menyerahkan bantuan dana kepada WHDI Provinsi yang selanjutnya diteruskan ke WHDI Pusat, untuk korban bencana alam di Indonesia. “Meski jumlahnya kecil, kami berharap ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita,” ujar Sagung Oka. –ten

Inginkan Endek............................................................................................................................................................dari halaman 1 dengan menghadirkan semua komponen yang terkait endek dan bordir di ajang Denpasar Festival. “Pesona Endek dan Bordir Kota Denpasar 2010” ini akan dihadirkan di kawasan jalan Veteran, Denpasar. Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 28 hingga 31 Desember 2010 ini, tiap hari diisi pameran dan Denpasar Great Sale. Selanjutnya pada (28/12) akan tampil Fashion On The Street, (29/12) Fashion Nite On Catwalk mengusung tema Pesona Endek dan Bordir Kota Denpasar 2010 Kreasi Mode 2011 Dalam 100% Indonesia. Selain itu, katanya, masih ada agenda lainnya, yakni diselenggarakannya seminar endek dan bordir. Harapannya, acara itu akan dihadiri para pengrajin, pengusaha, pemer-

hati tekstil endek dan bordir. Ajang Denpasar Festival tahun ini juga menggelar Fashion on The Street. Dapat disaksikan pada 28 Desember, pukul 17.00 di panggung utama di kawasan jalan Gajah Mada, Denpasar. Pesertanya juga pengusaha endek dan bordir kota Denpasar dengan model dari kalangan remaja Kota Denpasar. Dipastikan penggarapan penampilan panggung mereka akan berbeda. “Kalau penasaran, ya, harus datang menyaksikan langsung,” ujarnya promotif. Ada juga Lomba Motif Endek. Pesertanya masyarakat umum, karya dalam bentuk sketsa warna. Kriterianya menitikberatkan pada motif, warna, kreasi dan makna motif, dengan ukuran sketsa warna, panjang 35 cm dan lebar 25 cm. Kesem-

patan masih terbuka hingga 20 Desember. Motif endek peserta lomba, telah terkumpul di Disperindag Kota pada 21 Desember. Akan dipilih tiga pemenang dengan hadiah berupa uang tunai. Ada juga lomba yang lebih bersifat khusus, yakni Lomba Desain Kreasi Endek SKPD. Untuk yang satu ini, motif, warna dan kreasinya langsung dalam bentuk pakaian jadi. Pesertanya diperuntukkan bagi pengusaha atau pengrajin endek. Juga akan dipilih tiga pemenang. Yang menariknya lagi, saat menampilkan karya peserta yang menjadi modelnya orang-orang yang sangat spesial. “Semua akan terjawab di acara Nite On Catwalk,” katanya. Di puncak acara, bakal dilangsungkan penyerahan

penghargaan kepada pengusaha yang berkomitmen memajukan industri endek di kota Denpasar. Pengusaha yang terus-menerus melestarikan dan mengembangkan keindahan endek sebagai warisan budaya. Selly Mantra juga mengingatkan semua pengrajin di Kota Denpasar, jangan hanya memasarkan produknya secara personal, namun proaktif menggunakan media elektronik yang tersedia. Sebab sistem promosi ini menyebabkan peluang pasar yang didapat para pengrajin endek menjadi lebih terbuka. “Namun, keterlibatan semua pihak dalam mempromosikan endek sangat dibutuhkan,” ujarnya. Pemenang lomba desain, Wali Kota sudah memiliki rencana khusus terhadap desain pemenang. —ard

la. Karena ada peluang menjadi Cantik dengan...............................................................................................................................................................dari halaman 1 lupa, karena lupa, lupa makan dsb.dan menjadi sakit, serta art, kuku yang telah dirawat seni, terutama karena ia dituntut karakter kuku yang berbeda- Sementara half tips, untuk pekemungkinan mati lebih cepat. diberi pewarnaan dan diisi mo- fokus terhadap pekerjaan merias beda. “Rasanya seperti melukis nyambungan kuku yang berMade Karya tif-motif indah. Banyak ragam kuku tersebut. di kanvas yang beraneka ra- jangka waktu lebih lama, yang teknik yang digunakan sesuai Chani juga menyampaikan gam. Untuk perawatan customer kita kenal dengan nail extenUmur 40 Tahun motif yang diinginkan,” lanjut- jika bosan dengan polesan cat anak biasanya lebih bersifat tion,” lanjutnya. nya. Nail extention ada yang kuku satu warna atau malas entertaint dan for fun. Beda desudah Ubanan Demi bisa memberikan pe- mengulang cat kuku, nail art ngan orang dewasa yang me- menggunakan bahan dasar Umur kronologis dilihat dari layanan lebih menjangkau menjadi alternatif tepat. Anda mang membutuhkan perawatan bubuk acrylic dan bahan dasar kapan lahirnya, berapa umurnya banyak kalangan, Chani me- bisa kenakan kuku tempelan tangan dan kaki untuk berbagai gel. Untuk saat ini Cutex Nail, sekarang. Ada juga yang dise- nyebutkan perawatan yang ada (nail tips) yang dapat bertahan tujuan baik fashion atau bagian katanya memilih menggunakan but umur biologis, yaitu umur di bengkel Cutexnya, terjang- lebih agar kuku tetap menawan. dari perawatan tubuh sampai gel nail extention, karena aladari sel-sel atau organ tubuh. kau. “Ada manicure for kids by Penempelan pun tersedia untuk dengan alasan kesehatan,” san kesehatan dan ramah lingIni yang biasanya sulit ditebak, gionyx, manicure for woman penyambungan utuh dari pang- tuturnya. Kini ia sedang mem- kungan, hingga sekitar tempat hanya berdasarkan tanda-tanda. dan man by gionyx, dengan kal kuku (full tips) atau yang promosikan metode nail art usahanya merasa nyaman. Untuk lansia dipakai umur kro- harga mulai Rp 30.000,” ujarnya disambung dari pertengahan ekspres dengan desain lebih Yang menjadi andalan menologis. WHO, pemerintah In- sambil mengatakan Qutex juga kuku (half tips). reka yaitu stamping nail art by variatif. donesia, juga negara-negara di ada di Waterbom Park, Kiddy Selanjutnya ia menerangkan Keawetan nail art tergan- Konad. Cepat, murah dan Indah. Asia memakai umur lansia ada- Park dan akan dibuka di Den- gerainya menyediakan ribuan tung aktivitas dan kebutuhan Dan, gel nail colour, nail lah lebih dari 60 tahun. Saat itu, pasar Junction Lt.2 Unit C2. model nail art yang dapat konsumennya. “Kalau nail art colouring dengan bahan dasar organ-organ tubuh atau secara Penggemar fanatik nail art dipilih customer, seperti bunga, pada kuku sendiri, mungkin gel yang lebih tahan lama. umur biologis sudah mulai tu- dan nail extension terus ber- kartun, batik, juga beragam mo- akan kelihatan bagus hanya “Kami juga ada training run fungsinya. Jika memakai tambah, mulai para remaja tif yang berhubungan dengan sampai dua minggu. Tapi kalau center. Training kami berikan patokan umur biologis, tiap or- hingga wanita karier. Sebab, be- acara tertentu. “Sebentar lagi menggunakan kuku palsu (nail pada mereka yang membeli progan tubuh berbeda-beda umur- ragam motif nail art bisa dipilih, kita akan menyambut Natal dan tips), gambarnya bisa bertahan duk dari Cutex Nail Salon, ternya. Ada yang berumur 40 ta- seperti motif bunga, fauna sam- tahun baru, kami menyediakan lama tapi nail tips-nya sendiri utama salon dan spa. Kedepanhun sudah ubanan. Patokan pai bentuk unik dan lucu lain- motif bernuansa Natal dan juga tergantung aktivitasnya,” nya, Cutex Nail Salon juga akan yang tetap dipakai, umur krono- nya. “Kita bisa juga menghiasi- tahun baru. Untuk ini kami siap katanya tersenyum. “Untuk full memberikan training kepada logis. Kita harapkan semua or- nya dengan manik kecil, stiker mempercantik kuku Anda tips biasanya digunakan untuk regular customer yang ingin gan tubuh berumur panjang lucu atau air brush,” cetus dengan harga ringan,” janjinya. jangka yang tidak terlalu lama, belajar nail art sebagai hobi tidan berfungsi dengan baik. Jika Chani sembari menyatakan kaChani merasakan pengalam- karena biasanya lengkap de- dak untuk tujuan komersil,” dilihat dari fungsi organ tubuh, lau melukis kuku merupakan an menarik ketika menemukan ngan desainnya yang paten. pungkas Chani. —ard aktivitas yang memakai otot itu bagus. Kerja otot akan sangat membantu fungsi organ. Tetapi, Facebook Koran..........................................................................................................................................................dari halaman 2 jangan lupa semua organ tubuh digerakkan otak. Jadi, otak juga Di masa remaja adalah masa telekomunikasi dan internet, artikan. Menurut saya free sex masi saat ini, mengakibatkan para harus tetap dilatih. Keduanya labil yang dipenuhi rasa ingin seks bebas tidak begitu ber- itu maknanya siapa saja boleh remaja tanpa batasan umur dapat harus aktif. Kecenderungan ma- tahu, tapi minim rasa tanggung gaung di kalangan remaja. Tapi mengetahui seks bukan menjadi dengan mudah dapat mengakses gambar, film, tayangan dan tulissyarakat sekarang takut ketahu- jawab. Ketika kecil dulu dalam sekarang ini dengan kecang- pelakunya. an penyakitnya. Karena keta- keluarga saya masih cenderung gihan teknologi gaungnya Untuk remaja, bisa kita an yang mengandung unsur kutan ini, gula darah tinggi da- tabu untuk bertanya dan mem- makin santer, mungkin waktu, cegah dengan lebih akrab de- seks. Di mana para remaja cenlam waktu yang lama (pada bahas tentang seks, padahal di dan jarak tidak menjadi masalah ngan saudara/anak yang masih derung memiliki rasa keinginpenderita kencing manis). Per- zaman modern ini, sebaiknya bagi remaja untuk berkomuni- remaja. Saat kita berdiskusi bisa tahuan yang tinggi untuk menmasalahannya, itu merusak or- sex education sudah diberikan kasi serta mengakses sesuatu mengarahkan dia dan memberi coba sesuatu. Kalau sudah began secara pelan-pelan tanpa dan diajarkan sejak dini. Bukan yang diingini. Dalam hal ini kita tahu bagaimana dampak negatif gini, maka pendidikan seks sejak ketahuan karena gejala tak berarti saya mengimbau untuk tidak bisa menyalahkan tek- terhadap masa depannya jika dini merupakan salah satu altermuncul langsung. Biasanya menerapkan seks bebas, tapi nologi karena teknologi seperti seks dilakukan sebelum saatnya natif untuk mengurangi dampak setelah organ rusak, ginjal ru- seorang anak sejak dini telah pisau, bisa positif dan bisa ne- dia menjadi pelaku. negatif dari pergaulan bebas. sak, baru muncul gejala. Itu ber- mengetahui bagaimana perkem- gatif, tergantung remaja. Remaja Saya melakukan ini dan arti sudah parah dan terlambat. bangan organ reproduksinya, sekarang disamping harus di- sampai saat ini masih bisa meVonny A Wijaya Datanglah ke dokter lebih awal, cara menjaga dari pelecehan bekali iptek harus juga dijejali ngontrol perilaku adik yang maPerilaku seks bebas pada resebelum muncul komplikasi dan seksual dan akibat yang terjadi agama dan spriritual oleh sih remaja. maja memang sangat memprimenjaga gula darah tetap nororangtua, orang suci, guru, dan hatinkan, pembekalan tentang mal. Tindakan ini jauh lebih ba- jika telah memasuki masa puber- pemerintah sehingga ada kependidikan seks pada usia dini Ketut Meniarta gus, mudah, dan biaya lebih tas nanti. Pola ini sudah saya seimbangan untuk mengarah ke terapkan pada anak-anak saya sangat diperlukan, penanaman Seks bebas sebagai sebuah murah. Ada tahapan kehidupan masa depan yang lebih bagus. tren pergaulan remaja masa kini nilai-nilai agama menjadi (brahmacari, grehasta, wana- sekarang, saya tidak ingin prasta, bhiksuka). Tahap per- anak-anak mendapat informasi Remaja sangat labil maka unsur merupakan efek dari adanya ke- pegangan yang penting dalam tama, mencari ilmu setinggi- yang salah dari orang lain. yang paling dominan mengisi cenderungan gaya hidup ma- bertindak. Saya rasa tidak hatingginya, dilanjutkan tahapan Banyak remaja yang bertanya fail otaknya, ke sanalah mereka syarakat yang mengutamakan nya orangtua tetapi semua pikebebasan dan hedonisme di hak harus ikut bekerja sama unkedua membina keluarga, dan pada orang yang tidak tepat dan akan bergerak. mengumpulkan harta (ekonomi) akhirnya terjerumus oleh rasa segala sendi kehidupan. Se- tuk memberikan pengertian Subaga Badu yang cukup untuk hari tua nan- ingin tahu yang tidak pada hingga semua orang sangat se- yang benar sehingga remaja tiItu pertanda zaman sudah lalu mendambakan adanya ke- dak terjerumus ke ‘seks bebas’. ti. Memasuki masa tua lebih tempatnya. Bagaimana pun komendekatkan diri pada Tuhan, munikasi efektif dari orangtua berubah, cara berpikir sudah bebasan di dalam mengakmemperbanyak kegiatan rohani. pada anak adalah yang terbaik bergeser perlu adanya panutan tualisasikan dirinya. Namun Pemenang minggu ini: Kita bisa menyiapkan masa tua karena orangtua adalah guru dari pemimpin dan pendalaman sayangnya kebebasan ini jus- Sussy Adie, Via Maheswari, dengan baik, tahu di mana masa- dan sahabat yang utama sebe- terhadap budi pekerti, sering tru mengesampingkan norma- dan Vonny A Wijaya. Hadiah masa kita berada, dan untuk lum seorang anak melangkah berdoa, para remaja diharapkan norma dan etika yang berlaku dapat diambil di Sekretariat diterapkan bersama-sama. Kon- ke sekolah. dekat dengan orangtua dan di masyarakat yang secara Koran Tokoh, Gedung Pers Bali sep hidup sehat tersebut tak guru suci. turun-temurun telah diyakini K. Nadha Lantai III Jalan Kebo hanya untuk lansia, tetapi harus Wayan Edi sebagai pedoman bertingkah Iwa 63A Denpasar, paling disiapkan sejak awal. Gede Eka Sudarmawan laku yang baik. Apalagi dengan lambat Jumat (10/12). Hubungi Dibandingkan dengan bedr. Suka Aryana lum berkembangnya teknologi Free sex sering disalah- kecanggihan teknologi infor- Ayu/Pipit telepon 0361-425373.


PENDIDIKAN

5 - 11 Desember 2010 Tokoh 13

Anak Susah Makan

Nena Mawar Sari

buru anak makan, tak memberi janji kepada anak hanya agar anak mau makan, hindari mengancam, menghukum, agar anak mau makan. Jangan Katakan ‘Nakal’ Orangtua amat menentukan anak memiliki rasa percaya diri atau rendah diri. Sebenarnya hal ini samasekali tak sulit, bahkan banyak orangtua melakukannya tanpa sadar. Nena Mawar Sari, S.Psi. mengungkapkan, ada orangtua yang mengatakan anak bodoh atau nakal. Padahal, ucapan orangtua ini bisa membunuh rasa percaya diri anak. “Orangtua kadang kurang menyadari betapa segala perkataan dan perbuatannya dapat memberi dampak yang besar bagi anak dalam perkembangannya,” tuturnya. Anak juga kadang tampak agresif. Menurut Nena, sifat

agresif atau suka menyerang merupakan bagian yang normal dalam tahapan perkembangan psikis anak. “Hal ini dikarenakan keterampilan berbicaranya belum sempurna serta keinginan kuat untuk mandiri. Anak akhirnya menggunakan tindakan fisik untuk mengungkapkan perasaannya,” jelasnya. Anak yang suka memukul dan menggigit dilukiskannya sebagai sosok anak yang berada dalam tahap perkembangan psikis yang normal. “Tetapi, orangtua harus memberi tahu jika tindakan tersebut salah dan mengajarkan cara lain jika anak hendak mengungkapkan perasaannya,” ujarnya mengutip ucapan Nadine Block, Direktur Eksekutif Center for Effective Discipline di Columbus, Ohio, seperti yang dilansir Babycenter. Menurutnya,orangtua harus membantu anak mengendalikan diri. Ini agar anak bisa belajar bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungannya. “Sebaiknya orangtua cepat merespons dan menindaklanjuti tindakan anak, memberikan konsekuensi yang sama dan memberikan hadiah untuk perilaku anak yang baik,” ujarnya. Menurut Nena, kebiasaan positif lain sebaiknya dikenalkan kepada anak. “Orangtua seharusnya membatasi waktu anak menonton televisi, mengajarkan cara lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya, dan mengajarkan anak meminta maaf,” sarannya. —tin

Kuliah Umum Fikom Universitas Dwijendra

Radio sebagai Perekat Sosial dan Media Edukasi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Dwijendra Denpasar kembali mengadakan kuliah umum dengan menghadirkan Ida Bagus Alit Wiratmaja, S.H., M.H. dari Dewan Pengawas LPP RRI. Materi yang dibawakan “Peranan Radio dalam Layanan Publik di tengah Era Konvergensi Media” Menurut Alit, radio memiliki keunggulan bila dibandingkan media elektronik lainnya. Radio harganya murah, mudah diakses serta bisa dibawa kemana-mana. “Radio juga berperan sebagai perekat sosial dan media informasi edukasi serta pendidikan,” ujarnya di acara yang dilaksanakan Rabu (1/12) di aula Yayasan Dwijendra. Di hadapan seluruh mahasiswa Fikom, Alit juga menegaskan, dalam menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia, perlu didirikan stasiun radio di daerah daerah perbatasan seperti Nunukan, Papua, dan Batam. “Pendirian studio di perbatasan untuk mengimbangi masuknya siaran asing yang banyak didengar oleh penduduk perbatasan sehingga mereka lebih mengenal radio asing dari pada radio dari negara sendiri,” paparnya. Dekan Fikom Universitas Dwijendra Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M. mengatakan kuliah umum merupakan

Ir. A.A.M. Sukadhana Wendha

agenda rutin. “Kuliah umum disampaikan para pakar maupun para praktisi yang sesuai dengan mata kuliah atau relevan dengan mata mata kuliah yang diajarkan di Fikom. Mata kuliah itu diantaranya komunikasi massa, manajemen media massa, manajemen humas, jurnalistik radio televisi dan cetak,” tandasnya. Ia menambahkan, tujuan kuliah umum untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mahasiswa sehingga mereka kelak mampu berpikir secara komprehensif. Dalam kuliah umum banyak pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa. Ini menandakan mahasiswa serius dan kritis. Selain kuliah umum, agenda rutin lainnya adalah workshop fotografi, jurnalistik, dan wajib mengisi siaran radio. Fikom Universitas Dwijendra memiliki radio komunitas Dwijendra Station (Dj. Station). “Radio ini bisa didengar melalui streaming di www.dwijendrafm.weebly.com,” ujar Ratna. Radio ini memiliki visi media pelestari nilai agama, sastra, budaya Bali dan pengetahuan yang informatif dan komunikatif. Radio Dwijendra FM ini juga memiliki misi menyajikan program interaktif di bidang agama, sastra, budaya Bali dan pengetahuan, antara dosen, guru, mahasiswa, dan siswa; memberikan pendidikan dan pelatihan kepada mahasiswa

dan siswa, di bidang penyiaran khususnya radio; memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang MC (master of ceremony) dan olah vokal; memberikan pendidikan dan pelatihan kepada mahasiswa dan siswa, di bidang perawatan dan perbaikan alat-alat elektronika khususnya alat-alat komunikasi elektronik; menyajikan informasi yang aktual dan akurat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kepada lingkungan komunitas

Dekan Fikom Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M. (kiri) bersama Ida Bagus Alit Wiratmaja, S.H.,M.H.

3

Figur Pas Pimpin REI Bali Kelola Bisnis dan Organisasi Sama Baiknya

TAK banyak orang bisa sukses mengelola dua tanggung jawab sekaligus dalam waktu bersamaan, bisnis pribadi dan organisasi. Orang cenderung mengutamakan bisnis pribadi. Tetapi, tidak begitu halnya Ir. A.A.M. Sukadhana Wendha (Gus Indra). Pengusaha sarat penghargaan ini justru membuktikan mampu mengelola bisnis dan organisasi dengan sama baiknya. Di bisnisnya, Gus Indra sudah sangat eksis. Di organisasi sebagai ketua DPD REI (Real Estat Indonesia) Bali, dia dinilai juga mampu membawa organisasi ini berkiprah lebih luas di tingkat nasional bahkan global. Kiprah REI Bali menasional ketika menjadi tuan rumah Rakernas REI Oktober 2009 dan mengglobal ketika Bali terpilih menjadi tuan rumah Kongres ke61 Federasi Real Estat Dunia (FIABCI) Mei 2010. Saat itu Gus Indra bersama pengurus lainnya bertekad memperjuangkan agar peristiwa akbar tersebut bisa diselenggarakan di Bali. “Saya dengan teman-teman melakukan lobi ke Eropa dan Beijing agar Bali bisa terpilih sebagai tuan rumah. Ini penting karena yang kita wakili bukan semata organisasi REI Bali tetapi pariwisata Bali secara umum, apalagi kongres real estat dunia ini menjadi rebutan banyak negara untuk menjadi tuan rumah,” papar Gus Indra. Gus Indra paham, kongres yang dihadiri 1500 profesional properti dan investor tingkat dunia ini merupakan momentum strategis bagi kemajuan bidang properti dan investasi di Bali. Pelaku bisnis properti di Bali bisa belajar pengalaman dari kegiatan tersebut untuk menyiapkan diri bisa bersaing di tingkat global. “Saya bersyukur Bali terpilih menjadi tuan rumah,” ungkapnya. Tambah Wawasan FIABCI (The International Real Estate Federation) merupakan organisasi nirlaba dan merupakan federasi yang beranggotakan 120 organisasi real estat profesional dan

Gus Indra, pribadi yang selalu optimis

mewakili lebih dari 1,5 juta profesional serta 3.300 praktisi real estat. Inilah yang melandasi perjuangan Gus Indra yakni membuka wawasan lebih luas anggota REI Bali. “Saya ingin mengajak rekanrekan seprofesi menambah wawasan. Bali merupakan jendela dunia,

apa yang ada di Bali semuanya menjadi pusat perhatian masyarakat internasional tak terkecuali properti. Karya properti putra daerah tak kalah kualitasnya dibandingkan karya profesional kelas dunia,” kata Gus Indra. Ia menambahkan, properti

merupakan bisnis prospektif. Jika ini ditunjang payung hukum yang baik, Gus Indra yakin iklim investasi dan bisnis properti menjadi lebih bergairah. Gus Indra berharap pemerintah mampu menyediakan payung hukum yang memberikan kebebasan seseorang/investor asing memiliki properti di Indonesia dan Bali seperti di Vietnam, Thailand, dan Singapura. “Di Thailand, orang asing diberi kebebasan memiliki aset properti hingga 75 – 100 tahun. Selain kondisi ini membuat bisnis properti dan investasi makin bergairah, juga besaran pajak yang diterima negara menjadi lebih jelas. Investor tak takut membeli properti karena kepentingan dan asetnya dilindungi negara lewat payung hukumnya. Saya ingin pemerintah Indonesia bisa seperti itu,” harapnya. Perjuangan Gus Indra ibarat ’pelumas’ bagi kepentingan REI Bali ke depannya. Ini seiring tingkat persaingan global di bisnis properti yang makin ketat. “Banyak yang harus diperjuangkan bersama. Saya tak mungkin berjuang sendiri tanpa dukungan teman-teman. Kalau REI Bali dinilai berprestasi, itu prestasi teman-teman semua,” tutur Gus Indra. Atas dasar itulah banyak pihak memprediksikan Gus Indra bakal dipilih kembali pada Musda REI Bali tahun depan. Figurnya dinilai pas memimpin REI Bali. Gus Indra mengakui, REI merupakan organisasi yang turut berperan dalam menunjang profesinya namun bukan sebagai kendaraan pribadinya untuk meraih sukses.

Gus Indra (tengah) bersana delegasi FIABCI Indonesia saat di Amsterdam

Gus Indra (paling kiri) bersama rekan seprofesi saat Rakernas REI. Kompak dan solid

Berpose sejenak saat di Eropa

“Mengelola organisasi harus sama baiknya mengelola perusahaan. Tak ada yang dinomorsatukan atau dinomorduakan. Ini amanah,” katanya. Investor Daerahnya Di kalangan pebisnis properti nasional, nama Sukadhana Wedha cukup dikenal. Pribadinya yang welcome membuat Gus Indra memiliki banyak jalinan pertemanan. Dengan mantan sekjen DPP REI Alwi Bagir Mulachela, misalnya. Pemilik ’Loka Mampang Indah Realty’ di Jakarta ini mengaku jalinan pertemanannya dengan Gus Indra sudah akrab sejak tahun 2007. “Saya kenal beliau (Gus Indrared) sejak 2007. Kenal langsung akrab. Pribadinya sangat baik. Jiwa sosialnya tinggi. Saya dan teman-

dan masyarakat; menyajikan informasi global yang aktual pada bidang pendidikan kepada lingkungan komunitas dan masyarakat; serta menyajikan pengetahuan di bidang agama, sastra, dan budaya Bali. “Radio ini juga kami harapkan menjadi sarana komunikasi interaktif antar-sivitas akademika Yayasan Dwijendra Denpasar dengan masyarakat,” tegas istri Drs. Ida Bagus Wiyana ini. Bagi yang ingin mendalami tentang ilmu komunikasi, jangan ragu lagi untuk melangkah. Fikom Universitas Dwijendra merupakan tempat yang tepat. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Sekretariat Fikom Universitas Dwijendra di Jln. Kamboja no 9 Denpasar, telepon (0361) 8572089. —wah

tkh/sep

tkh/sep

“Penyebab anak susah makan biasanya karena bosan menunya. Alasan lainnya bisa dipengaruhi cara penyajian yang kurang kreatif, kadang juga karena anak diberi camilan atau minuman susu menjelang anak makan. Selain itu, anak susah makan juga bisa disebabkan kebiasaan orangtuanya yang susah makan. Namun, perkembangan ego anak bisa memengaruhi anak menolak makan. Ini bisa menjadi cermin sikap mandiri atau anak sedang sakit maupun sedih,” ujar psikolog Nena Mawar Sari, S.Psi. di depan peserta Diskusi Komprehensif yang diselenggarakan Koran Tokoh bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangli di Bangli Rabu pekan lalu. Kebiasaan makan orangtuanya ikut memengaruhi anak gemar makan atau tidak. Contoh, jika anak melihat ayahnya tidak suka makan sayuran biasanya si anak akan menirunya. “Nah, di sini tugas ibu yang harus pintar mengekspresikan sayuran sebagai menu yang sangat lezat,” katanya. Ada cara yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak tidak sulit makan. Menurut Nena, orangtua sebaiknya mengajak anak makan secara berkelompok, mengurangi camilan di antara jam makan, melakukan variasi menu, menerapkan cara penyajian yang kreatif, membuat nyaman perasaan anak, membiasakan anak makan sendiri, tak memberikan anak makan pada waktu mepet, tak memburu-

tkh/sep

A

Jangan Katakan Anak ‘Nakal’

DA banyak perilaku bocah kerap membuat orangtua sulit mengatasinya. Ada anak agresif, kurang percaya diri, susah makan, atau sulit berkonsentrasi.

Suasana kuliah umum Fikom Universitas Dwijendra Rabu (1/12) di aula Yayasan Dwijendra.

teman di REI Pusat sudah dianggapnya keluarga,” tuturnya. Namun, yang paling berkesan menurut Bagir adalah kiprah Gus Indra sebagai pengusaha sukses yang peduli membangun di daerahnya sendiri. “Kebanyakan properti seperti vila dan hotel di Bali milik investor Jakarta, tetapi Pak Indra justru menjadi investor di daerahnya sendiri. Beliau menjadi motivator rekan-rekannya. Ini yang membuat saya terkesan dan salut pada Pak Indra,” kata Bagir. Bagir yang sekarang duduk di Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPP REI ini berharap Gus Indra bisa terpilih kembali menjadi ketua DPD REI Bali dalam kepengurusan mendatang. “Pak Indra figur yang pas untuk memajukan pembangunan properti

di Bali. Saya berharap beliau dipilih kembali,” harap Alwi Bagir Mulachela. Menurut Wakil Ketua I DPD REI Bali I G.M. Aryawan, Gus Indra merupakan sosok yang mengayomi. “Secara umum Gus Indra memimpin REI Bali cukup baik. Di internal organisasi, dia pribadi yang mengayomi dan cukup mampu mewakili kepentingan organisasi terutama saat Bali punya gawe besar seperti penyelenggaraan FIABCI. Kami dipuji Presiden FIABCI yang menyatakan puas berkongres di Bali. Di bawah kepemimpinan Gus Indra, REI Bali cukup solid,” ujarnya. Mantan ketua DPD REI Bali Kompyang Wisastra Pande menilai semua figur yang pernah menjadi ketua DPD REI Bali merupakan orang-orang yang tepat dan mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. “Semuanya baik. Siapa pun yang dipilih tentu figur yang punya dedikasi dan tanggung jawab yang baik pada organisasi,” tuturnya. Sarat Penghargaan Perjuangan sukses Gus Indra sebagai pengusaha properti lokal paling ekspansif telah ‘dibukukan’ dalam berbagai penghargaan nasional dan internasional. Dua penghargaan bergengsi adalah ’The Best Executive Citra Award 2010’ dari Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal RI Helmy Faisal Zaini dan penghargaan ’Asian Development Citra Award’. Di Bali, Dirut Kusemas Grup ini ditetapkan sebagai salah seorang ’Tokoh Bali Sepanjang Masa’ versi buku & media Ensiklopedi Bali. Saat ini Gus Indra masuk nominasi ’50 Super’, sebuah ajang pemilihan tokoh nasional dari kalangan profesional, pengusaha, pendidik, dll yang dinilai memiliki potensi dalam membangun negeri. Tanggal 22 Desember mendatang, Gus Indra dipastikan menerima lagi sebuah penghargaan bergengsi nasional. —ari

Gus Indra (paling kanan) bersama presiden dan delegasi Kongres FIABCI


14

Tokoh

5 - 11 Desember 2010

4

Pecel sayur

Tak lagi Andalkan Peta TURNI

Bersepeda Motor Bali-Ciamis

8 KAMI tiba di Kota Purworejo pukul 14.00. Setelah sejenak di sini, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Kebumen. Dalam perjalanan menju Kebumen kami harus melewati dahulu kotakota kecil seperti Kutoarjo, Butuh, dan Prembun. Badan kami terasa sangat fit sehingga tidak perlu beristirahat di Purworejo. Kami tidak tahu apakah kondisi tubuh yang fit ini ada kaitannya dengan jus buah naga yang kami minum selama di perjalanan sebelumnya. Namun, dalam perjalanan menuju Kutoarjo kami mengalami masalah. Saya salah membaca peta sehingga saya dan Paman sempat salah jalan, terpisah dengan anggota rombongan yang lain. Selain itu peta yang saya pegang sudah tidak mampu lagi menjadi penunjuk jalan yang kini telah mengalami perkembangan pesat itu. Karena itu saya kemudian mengandalkan pada informasi orang di sepanjang jalan yang kami tanyai. Begitu seringnya saya bertanya, Paman sampai malu jika harus menghentikan motornya di depan orang. Sepertinya pepatah ’malu bertanya sesat di jalan’ kini terbalik menjadi ’banyak bertanya malah malu-maluin’. Saya sempat nyasar ke kota Kemiri padahal seharusnya mengambil arah menuju Kota Butuh. Handphone tidak cukup membantu karena sinyalnya jelek. Dengan bekal petunjuk dari orangorang yang kami tanyai di jalanan, kami balik kembali dan kemudian melewati jalan yang menuju Kota Butuh. Saat menuju Kota Butuh itu sinyal kembali bagus dan saya bisa kembali berkomunikasi dengan anggota rombongan lainnya. Lewat komunikasi itu baru saya tahu ternyata bukan hanya saya dan Paman yang nyasar tetapi juga Eris dan temannya, Dodo. Eris dan Dodo lebih parah, nyasar sampai Gebang. Artinya, Eris menempuh jalan kembali lagi ke Kota Purworejo. Kami tiba di Kota Butuh sore hari dan disambut gembira Pak Rahmat dan Bu Olla yang sudah tiba di kota itu siang hari. Selama menanti kedatangan Eris dan Dodo, kami berempat

menyempatkan berjalan-jalan di sekitar alun-alun Kota Butuh, sambil menikmati camilan gorengan dan dawet ayu, dawet khas Jawa Tengah. Walaupun demikian, perut kami tetap merasa lapar karena belum makan nasi. Kami merasa tidak enak jika makan tidak bersama seluruh anggota rombongan. Karena itu begitu Eris dan Dodo tiba, Paman langsung mengajaknya makan bersama. Mereka menolak ajakan Paman. Ternyata, mereka telah menikmati makan siang dalam perjalanannya yang kesasar itu. Maka, makan bersama ditangguhkan dan melanjutkan perjalanan menuju Kota Prembun. Perjalanan menuju Prembun kami lewati tanpa salah jalan lagi. Sejak itu saya tidak mengandalkan lagi petunjuk peta karena lebih mengandalkan petunjuk orang yang saya tanya di jalanan. Akibatnya, perjalanan kami menjadi lambat. Tetapi, daripada kesasar lebih baik “alon-alon asal kelakon”. Masih di kawasan Kota Butuh itu, kami sepakat mengisi perut di salah satu warung di pinggir jalan. Menu makannya, pecel yang terdiri atas aneka jenis sayur yang telah direbus lalu disiram bumbu kacang yang super pedas. Penyajiannnya sangat ramah lingkungan dengan menggunakan pincuk daun pisang. Pecel yang merupakan salah satu makanan khas Jawa Tengah sering disebut sebagai saladnya Indonesia yang paling enak dinikmati bersama bakwan dan lontong. Mungkin begitu enaknya, atau mungkin begitu laparnya, Paman menghabiskan dua porsi. Pak Rahmat lebih hebat lagi, menghabiskan tiga porsi pecel sayur yang dijual Rp.3000 per porsinya itu. Pukul 16.06 kami tiba di Kota Kebumen. Kota ini dikenal dengan menu masakan khasnya, nasi penggel. Bentuknya seperti nasi timbel yang dibungkus daun pisang namun isinya terdiri atas beberapa butir bola nasi yang menyerupai bola pingpong. Tiap bungkus terdiri atas 8 butir bola nasi yang dilengkapi sayur nangka muda atau gudeg ditambah kikil sapi, tempe goreng, dan kerupuk. Biasanya nasi penggel djual hanya di pagi hari. Tetapi, dalam bulan Ramadan itu nasi penggel dijual sejak sore hingga malam hari. Kota tujuan berikutnya, Cilacap. Perjalanan menuju Cilacap cukup memakan waktu banyak karena relatif jauh. Karena itu kami sepakat menikmati istirahat dahulu di Kota Kebumen, di sebuah stasiun penjual bensin! zAnik Nurlia Agustini

Prof. Drs. Ketut Rindjin dan Dra. Ida Ayu Putu Astini, M.Hum.

Korbankan Karier demi Anak

PASUTRI Rinjin dan Dayu Astini mulai mengayuh biduk rumah tangganya. Lima buah hati lahir dari rahim Dayu Astini. Beban berat mulai dirasakan pasutri ini untuk mengawal kehidupan keluarganya.

B

atin dua sejoli yang naik pelaminan 16 Maret 1967 ini makin berbunga-bunga. Rindjin dan Dayu Astini rupanya tergolong pasangan yang “subur”. Belum lama berumah tangga ternyata Dayu Astini mulai ngidam. Usia kehamilan Dayu Astini terus bertambah. Masa kelahiran sang jabang bayi makin dekat. “Anak pertama kami lahir pas usia kehamilan saya 9,5 bulan. Persisnya 1 Januari 1968. Jenis kelaminnya lelaki. Kami berdua sepakat memberikan nama Kastawa Yudiaatmaja,” lanjutnya. Kelahiran sang buah hati ini membuat kebahagiaan Rindjin dan Dayu Astini bertambah. Generasi penerus keluarganya ikut mendampingi perjalanan biduk rumah tangga pasutri ini. Saat itu, Rindjin dan Dayu Astini memutuskan akan memberikan perhatian lebih banyak kepada ‘putra mahkota’ ini. “Makanya, saya ikut program keluarga berencana. Kami belum merencanakan untuk

Prof. Rindjin dan Dayu Astini saat alan-jalan di Kota Melbourne

punya anak lagi,” katanya. Tetapi, program KB yang diikuti Dayu Astini gagal. Alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang dipakai ternyata bukan jaminan tidak hamil lagi. “Saya hamil anak kedua,” ujarnya. Kehamilan anak kedua ini berjalan normal. “Anak kedua lahir 7 Maret 1969. Jarak usianya 14 bulan dengan anak pertama. Jenis kelamin anak kedua ini perempuan. Kami menamakannya Karmiladewi,” katanya. Rupanya dua anak saja belum cukup bagi pasutri ini. Dayu Astini lagi hamil buah hati ketiga. Saat lahir 6 Juni 1970, Rindjin dan Dayu Astini sepakat memberikan nama

Prof. Rindjin dan Dayu Astini bersama kelima anak saat mulai menginjak usia remaja

Trianasari. “Kehamilan saya menyusul lagi. Anak keempat kami yang bernama Sulistiawati ini lahir 8 September 1971. Jenis kelaminnya perempuan,” ungkapnya. Saat itu, Rindjin dan Dayu Astini tetap melakoni pekerjaan masing-masing. Rinjin menjadi staf pengajar dan menjabat pembantu dekan III FKIP Singaraja sejak tahun 1968. Dayu Astini bekerja sebagai pegawai perpustakaan di kampus tersebut. “Saya bekerja sejak tahun 1967 ketika kampus tersebut masih bernama IKIP Malang Cabang Singaraja,” ujar ibu 5 anak kelahiran Singaraja, 29 Juni 1944, itu. Tetapi, 4 buah hati yang masih ingusan di rumah menuntut perhatian lebih Dayu Astini. Perempuan berdarah keluarga brahmana ini memutuskan untuk berhenti bekerja. Sang suami menyetujui pilihan Dayu Astini. Sejak tahun 1972 urusan anak sepenuhnya memperoleh perhatian Dayu Astini sepanjang hari. “Saya memutuskan berhenti lantaran anak kami sering sakit. Anak-anak juga kurang akrab dengan pengasuhnya. Saya harus mengorbankan karier demi anak,” katanya. Bali Halus Saat waktunya penuh mengurus rumah tangga ternyata Dayu Astini hamil lagi. Kali ini

kehamilan anak kelima dikandungnya. “Anak kelima berjarak 3 tahun dari waktu kelahiran anak keempat. Anak berkelamin perempuan ini diberi nama Fridayana Yudiaatmaja. Si bungsu lahir 12 April 1974,” katanya. Menurut Prof. Rindjin, pengalaman sang istri melahirkan anak tiap tahun sebenarnya bukan contoh yang baik. Ini terutama dikaca dari program KB. “Beban orangtua terasa berat,” katanya. Namun, Prof. Rindjin tetap bersyukur dikaruniai 5 anak. Ia dan istrinya berusaha membesarkan anak-anak dalam didikan yang baik. Kelima anaknya pun diusahakan dekat dengan tradisi upacara masyarakat tradisionalnya. “Anakanak ikut kegiatan upacara manusa yadnya sebelum kawin di Desa Sembiran yang meliputi mesakapan, kepus pungsed, tutug kampuan, tiga bulanan, otonan, menek bajang,” katanya. Khusus tanggung jawab orangtua membesarkan anak dirasakannya bukan perkara enteng. Tanggung jawab yang terbilang berat dialami dalam hal pengasuhan anak. “Ini berkenaan dengan pendidikan dan kesehatan, termasuk pembiayaannya. Tetapi, saya dan istri berusaha keras memenuhi tanggung jawab kami. Hal itu kami jalani berdua sebagai kewajiban orangtua. Kami berdua berusaha untuk mendidik anak dengan cinta kasih,” ujar Prof. Rindjin. Ada pengalaman menarik dalam proses mendidik budi pekerti anak-anaknya, ini terutama waktu menjelang tidur. Prof. Rindjin maupun Dayu Astini membiasakan bertutur beragam cerita untuk mengantar anak tidur. “Selain itu kami berdua mengajak anak bersembahyang,” ujarnya. Sebelum tidur anak-anaknya dibiasakan membaca ceritera bergambar, seperti Mahabarata. “Mereka juga diberi pemahaman pentingnya menaati norma-norma kehidupan. Anakanak diajari agar terbiasa

A.A. Putri Puspawati

Bocah lain di sekolah ini juga rata-rata berasal dari keluarga petani. Ada juga murid yang orangtuanya menjadi buruh pengrajin barang seni ukir di desa itu. “Ayah saya petani, juga pengrajin,” ujar Ni Wayan Warsi, siswa kelas V yang bercita-cita menjadi guru ini. Kebanyakan siswa di sekolah ini mengaku senang bisa duduk di bangku pendidikan dasar itu. “Kami tidak lagi bayar SPP. Tetapi, kami senang jika bisa dapat beasiswa,” ujar I Made Sona (12), salah seorang siswa berprestasi yang duduk di kelas V ini. Ketiga bocah tersebut menekuni pendidikan bersama 169 murid lainnya. Orangtua mereka ratarata bekerja sebagai petani dan buruh. “Adanya dana BOS amat membantu biaya pendidikan anakanak kami,” ujar Muhammad Nahrum, salah seorang gurunya. Menurut pendidik asal Buleleng ini, sekolah ini berdiri tahun 1978. Siswanya berasal dari tiga dusun atau banjar adat, yaitu Dusun Alas Pujung, Dusun Puakan, dan Dusun Paku Seba. “Lulusan SD ini tersebar di berbagai bidang

pekerjaan. Ada yang jadi polisi, jaksa, guru, dan lain-lain,” katanya. Bangunan fisik sekolah ini terbilang lumayan bagus. Fisik gedungnya permanen. Ada 6 kelas ditambah satu ruang guru. Namun, ruang perpustakaan khusus belum dimiliki. Sebuah ruang sempit digunakan sementara waktu untuk tempat buku bacaan. Tetapi, ruang ini tampak tidak memadai berfungsi sebagai ruang perpustakaan. Selain rak buku hanya dipajang beberapa buku mata pelajaran, ruang ini juga penuh sesak dengan peralatan sekolah. Ruang ini lebih terkesan seperti gudang ketimbang perpustakaan. Namun, wajah kalangan guru dan siswanya pekan lalu tampak sumringah. Belasan kardus berisi buku tulis, buku pelajaran, dan alat tulis datang dari sejumlah perempuan pengusaha di Gianyar. Kaum ibu ini pun memberikan sumbangan pendidikan senilai Rp 7 juta. “Ini bentuk kepedulian kami terhadap anak-anak di sekolah ini,” ujar pendiri dan pembina Yayasan Bali Cinta Kasih (YBCK) Dra. A. A. Putri Puspawati, M.M. Menurut pemilik Pata Handi-

Suasana saat kunjungan sosial pendiri, pengurus, dan simpatisan Yayasan Bali Cinta Kasih di SDN 5 Taro

craft and Fashion Tegallalang ini, masa depan pendidikan anak-anak miskin di perdesaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pelaku usaha merupakan salah satu mitra kerja pemerintah yang ikut memikul tanggung jawab yang sama. “Kesadaran ini yang mendorong hati kecil saya dan kaum ibu di YBCK tergerak untuk memberikan bantuan peduli pendidikan ini,” katanya. Kelahiran yayasan ini dibidani Agung Puspawati, Desak Putu Nithi, dan Wayan Sarmi. Ketiga pengusaha ini semula memiliki kelompok arisan kaum ibu pengusaha di Gianyar. “Lambat-laun kami ingin menyisihkan sedikit hasil

arisan untuk kalangan yang memerlukannya. Kami bertiga lalu mengajak belasan ibu-ibu kelompok arisan ini untuk mendirikan wadah. Lalu lahirlah Kelompok Ibu-Ibu Peduli Masyarakat Gianyar,” ungkap istri pengacara Muh. Husein, S.H., M.Pd. ini. Menurut ibu dua anak ini, wadah itu telah berupaya masuk ke sejumlah pelosok kehidupan masyarakat di Gianyar. Selain membantu memberikan sumbangan sembako untuk para janda, juga ada suntikan modal usaha, serta program bedah rumah keluarga miskin. “Setelah kegiatan sosial kemanusiaan ini berjalan mulus, kami melihat keberadaan wadah ini

Karier Akademik Keinginan Dayu Astini untuk bekerja muncul lagi. Ini terwujud setelah kelahiran anak kelima. “Saat itu anakanak mulai besar dan tidak rewel. Saya melamar menjadi guru di SMEAN Singaraja. Lamaran saya diterima. Sejak tahun 1974, saya jadi guru di situ,” ujar Dayu Astini. Pekerjaan tersebut dilakoni tahun 1974-1979. “Saya kemudian pindah sebagai asisten dosen di Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP Singaraja. Saya bekerja sambil melanjutkan pendidikan sarjana di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Saya mulai kuliah tahun1980, tamat tahun 1982,” ujar alumnus Program Pascasarjana Fakultas Sastra Unud ini Sementara Rindjin yang memulai karier akademiknya sebagai asisten dosen FKIP Unair Malang tahun 1963 mulai menduduki jabatan akademik di kampus. “Saya mulai duduk di struktur akademik saat menjabat pembantu dekan III FKIP Unud tahun 1968. Jabatan ini saya pegang sampai tahun 1972,” katanya. Namun, jauh sebelum menapaki karier akademik itu, Rindjin menyimpan cerita menarik. Ini dikenangnya terutama saat mulai mengajar di IKIP Malang Cabang Singaraja 1 Oktober 1965. “Jadi saya pindah ke Singaraja persis setelah terjadi G30S/PKI. Saya berangkat dari Malang naik truk milik seorang teman yang kebetulan membawa barang ke Banyuwangi. Saya terpaksa naik truk karena saya membawa sepeda motor zundap, buatan Jerman. Beberapa kali kami diperiksa dalam perjalanan dari Malang ke Banyuwangi,” kisahnya. —sam

Dayu Astini (duduk ketiga dari kanan) saat lajang bersama temantemannya

Kaum Ibu Peduli Siswa Miskin NI Nyoman Ariyani (8) masih duduk di kelas II SD. Siswi SDN 5 Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar ini, tergolong anak pandai. Prestasinya di kelas membanggakan. Predikat juara umum kelas disabetnya. Namun, Ariyani bukan anak orang kaya. Ayahnya, Wayan Tumbuh, dan ibunya, Ni Wayan Puri, petani sawah. Jika tidak mengerjakan sawah, ayahnya ngangon sampi alias mencari rumput untuk makanan sapi milik orang lain.

menggunakan bahasa Bali halus dalam keluarga, selain bahasa Indonesia,” jelasnya. Tradisi pendidikan keluarga semacam itu rupanya berembus ke luar rumah keluarganya. “Banyak teman yang kaget jika mendengar anak kami bisa menggunakan bahasa Bali halus,” ujarnya. Pendidikan anak di sekolah juga memperoleh perhatian serius pasutri ini. “Kami memeriksa pekerjaan rumah anak yang diberikan gurunya di sekolah. Saya dan istri membantu mengerjakannya di tengah kesibukan kami,” katanya.

sebaiknya dibadanhukumkan. Ini agar kredibilitasnya di tengah masyarakat makin kuat. Dari situlah lahir YBCK,” kisahnya. YBCK dikelola diketuai Desak Putu Nithi, sekretaris Melianty Wibisono, dan bendahara Wayan Sarmi. Kiprah yayasan ini memperoleh respons positif kalangan perempuan pengusaha lainnya di Gianyar. “Anggota yayasan ini terus bertambah. Kegiatan YBCK yang menyentuh kehidupan orang miskin rupanya mengundang simpati kaum ibu pengusaha lainnya untuk ikut terlibat bersama kami,” katanya. Sumbangan sosial kemanusiaan ke SDN 5 Taro itu tidak hanya

dilakukan pembina dan pengurus harian yayasan. Kaum ibu simpatisannya ikut juga, antara lain Kadek Suci, Sang Ayu Kerti, dan Mikaela. Kehadiran mereka disambut antusias kalangan guru, siswa, Perbekel Desa Taro I Wayan Sana, Ketua Komite Sekolah Wayan Linggih, Klian Dusun Alas Pujung Wayan Pica, Klian Dusun Puakan Wayan Mula Arnaya, dan Klian Dusun Paku Seba Wayan Ardawan. Camat Tegallalang Nyoman Darmawan, S.Sos. ikut menyambut kehadiran kaum ibu pengusaha yang baik hati ini. aya berharap bantuan ini dapat digunakan untuk kepentingan sekolah ini,” kata Darmawan. Mantan perbekel ini memberikan apresiasi terhadap komitmen sosial kaum ibu tersebut. “Pengaspalan jalan desa ini juga berkat jasa ibu-ibu ini. Saat menyerahkan bantuan pendidikan di salah satu SD di desa ini sebelumnya, kaum ibu mengundang Bali TV dan Bali Post. Rupanya saat diberitakan jalan desa ini rusak parah waktu itu, bantuan pemerintah langsung turun,” ujarnya. Gerakan peduli sosial semacam itu diharapkan dapat mengetuk hati kecil kalangan lain di Gianyar. “Kiprah YBCK ini merupakan contoh yang baik. Kami berharap langkah ibu-ibu ini dapat mendorong kalangan lain untuk ikut peduli masyarakat miskin,” harap Perbekel Desa Taro I Wayan Sana. —sam


TRENDI

Menikmati Sensasi Pijat Dari Tukang Pijat Tradisional sampai Kursi Otomatis Pijat bukan hanya aktivitas yang digemari orang dewasa. Anak-anak pun senang dipijat asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Beragam cara pemijatan bisa dimanfaatkan, mulai dari memakai jasa tukang pijat tradisional sampai memakai mesin pemijat.

P

ratama telentang di kasur. Ia tidak tidur tetapi sedang dipijat oleh tukang pijat tradisional. Awalnya hanya pemijatan di bagian kaki. Tetapi, lamakelamaan, badannya juga dipijat. Efek pemijatan ini membuat matanya terkantuk dan akhirnya tertidur. Pemijatan yang dilakukan terhadap anak-anak memang beda dengan orang dewasa. Tukang pijat pun berhati-hati saat melakukan pemijatan. “Ada anakanak yang suka dipijat, tetapi ada juga yang nangis sebelum dipijat,” ungkap Ketut Purna, seorang tukang pijat tradisional. Pria yang belajar memijat secara otodidak ini mengatakan

pemijatan yang ia lakukan hanya untuk membantu memperlancar peredaran darah dan melemaskan saraf. Kalaupun terjadi reaksi sakit saat dipijat, itu menurutnya terjadi karena adanya peredaran darah yang kurang lancer atau saraf tegang. Dari pengalamannya memijat, Purna mengatakan ada orang yang dipijat hanya sekali dan ada yang meminta berkalikali. Khusus untuk anak-anak, ia punya tips khusus. Ia akan mengajak si anak bercanda terlebih dahulu dilanjutkan dengan pemijatan ringan. Kalau si anak memberi respons positif, barulah pemijatan dilakukan. Hal ini juga menghindarkan anak trauma jika dipijat.

Menikmati pijat di kursi pijat otomatis

Selain pemijatan oleh pemijat tradisional, pijat bisa dilakukan dengan mesin. Saat ini banyak kursi pijat yang dijual produsen kesehatan. Bentuk alatnya pun bermacam-macam, mulai dari yang berbentuk kursi sampai berbentuk tempat tidur.

Kreasi Singkong MENGONSUMSI singkong atau ubi kayu sebagai pangan alternatif lain penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Aneka ragam olahan singkong diharapkan dapat membangkitkan selera makan masyarakat karena bahan makanan sumber karbohidrat ini sangat mudah didapat dan terjangkau. Berbagai olahan dapat dibuat dari singkong seperti menu di bawah ini: Lontong Singkong Bahan: singkong 1 kg, garam secukupnya, daun pisang secukupnya. Cara pembuatan: singkong dikupas dan dicuci bersih, kemudian diparut. Tambahkan garam dan bungkus dengan daun pisang. Kukus sampai matang. Angkat dan dinginkan, kemudian potong-potong. Siap disajikan sebagai makanan utama bersama lauk pauk. Nasi Ubi Kayu Bahan: ubi kayu/singkong ½ kg, beras 1 kg, daun pandan 4 helai. Cara pembuatan: kupas ubi kayu, cuci bersih, kemudian parut, dan peras airnya. Perbandingan ubi dengan beras ½ : 1. Beras dimasak setengah matang, kemudian campur dengan parutan ubi kayu. Tambahkan daun pandan. Kukus campuran beras dan ubi kayu sampai matang. Nasi ubi kayu ini baik untuk diet diabetes/asam urat.

Sensasi pijat pun bisa didapatkan sambil menikmati aktivitas berjalan-jalan di mal. Bu Atik termasuk penggemar pijatan yang sudah merasakan dampak langsung kursi pijat. Ketika berjalan-jalan di sebuah mal, ia melihat kursi pijat otomatis. Dengan memasukkan uang, kursi akan otomatis memberikan pijatan sesuai waktu yang sudah ditentukan. Biasanya ada ketentuan, berapa uang yang dimasukkan dengan berapa lama waktu pijatan. “Lumayanlah untuk mengurangi penat. Dari kepala sampai kaki mendapat pijatan. Badan menjadi lebih segar dan bisa jalan-jalan lagi,” tandasnya. Selain di mal, beberapa pusat mainan anak-anak juga menempatkan kursi pijat. Biasanya kursi pijat ini digunakan bagi orangtua yang sedang menunggu anaknya bermain. Jadi, daripada hanya bengong menunggu, disiapkan kursi pijat. Untuk mengaktifkan kursi pijat ini, memakai koin seperti yang dipakai di mainan anak-anak. –wah

5 - 11 Desember 2010 Tokoh 15

Pijat untuk Kontrol Asma Anak Penat digempur aktivitas harian yang menguras energi fisik dan mental membuat pijat menjadi salah satu pilihan yang dapat merelakskan jaringan lunak, persendian, pun tensi otak pun ikut melorot. Pijat yang utamanya menyasar masalah di otot akan membantu mengendurkan ketegangan otot serta memperbaiki aliran darah. Kekakuan di daerah tengkuk merupakan salah satu problem harian yang umum dijumpai. Penyebabnya dapat bersumber dari tekanan darah tinggi atau karena “merongkolnya” otot di daerah yang paling rawan stres ini. Bila penyebabnya dilatarbelakangi bukan karena hipertensi, pijat menjadi salah satu alternatif pilihan alami ketimbang harus minum obat. “Penelitian yang dilakukan Field dkk. tahun 1998 terhadap 32 anak penderita asma usia 4 hingga 14 tahun yang secara acak mendapatkan terapi pijat atau terapi relaksasi 20 menit sebelum tidur, tiap hari selama 30 hari. Hasilnya menunjukkan: anak yang termuda memperlihatkan penurunan reaksi kecemasan dan penurunan penggunaan kortisol setelah dipijat. Penurunan kekambuhan asma serta aliran udara serta peningkatan fungsi paru setelah 30 hari pemijatan. Anak yang lebih tua pascaterapi pijat juga menunjukkan penurunan kecemasan. Reaksi asma juga menurun. Anak yang lebih muda memberikan hasil terapi yang lebih baik dibandingkan yang lebih tua. Belum jelas alasan yang mendasari mengapa hal ini terjadi. Penelitian ini menyimpulkan pemijatan tiap hari memperbaiki aliran udara dan mengontrol kumatnya asma,” ujar dr. Ossyris Abu Bakar, M.Biomed. Para olahragawan mendapatkan pijat khusus untuk membantu atlet mendapatkan performa fisik dan kelenturan yang optimal. Dengan pemijatan terapis membantu menurunkan ketegangan dan stres yang terjadi pada jaringan lunak atlet akibat latihan fisik berlebih atau ekstra keras. Terapi pijat pada atlet terbagi tiga; pemijatan sebelum pertandingan berdurasi 15-45 menit, berfungsi untuk membantu

menghangatkan otot tubuh. Pasacapertandingan pijat berdurasi 1-2 jam untuk menurunkan ketegangan dan rasa sakit. Selama proses pelatihan pemijatan rutin dilakukan untuk meningkatkan stamina atlet agar dapat berlatih lebih lama dan keras. “Pijat yang dilakukan dengan alat, misalnya kursi pijat secara otomatis telah dirancang untuk menyasar “titik pijat”. Penggunaannya lebih praktis dan dapat dilakukan dalam rentang waktu sesuai kehendak. Pijat ini cocok untuk merelakskan tubuh secara umum. Untuk terapi pijat pada atlet dan anak asma tentulah memiliki teknik pijat khusus. Tidak ada efek buruk bila ketagihan dipijat tiap hari, asal bukan pijat “plus-plus”, tandas Dokter Ossy. –wah

dr. Ossy

SEKITARKITA

HUT Iwapi Gianyar

Pengurus Iwapi Gianyar bersama Ketua TP PKK Gianyar Ny. Cok Ace dan A.A.A. Ketut Agung usai Pelatihan Sanggul dan Rias Muka bekerjasama dengan Salon Agung menyambut HUT ke-6 Iwapi Gianyar pada 30 November 2010

Sekolah Lab Alam

tkh/sep

Tampak Guru, murid dan para orangtua murid TK Negeri Pembina Denpasar foto bersama saat mengikuti “Sekolah Lab Alam” di Kebun Raya Eka Karya Bedugul Sabtu (27/11)

Nasi Tim Singkong Bahan: singkong diparut kasar 600 gram, kacang tolo rebus 40 gram, kelapa parut 150 gram, garam secukupnya. Bahan isi: daging ayam giling 150 gram, tempe dipotong kecil-kecil 150 gram, santan kental 250 ml, daun kunyit 1 lembar, daun jeruk 1 lembar, batang sereh 1 batang, asam 1 biji, bawang merah diiris halus 5 buah, gula pasir 1 senduk teh. Bumbu yang dihaluskan: laos 1 sendok makan, kunyit 1 iris, jahe 1 iris, cabe besar 2 biji, bawang putih 3 siung, garam secukupnya. Cara pembuatan: rebus santan, daun kunyit, daun jeruk, bawang merah, asam, sereh, dan bumbu yang dihaluskan dengan api kecil. Masukkan daging ayam giling, tempe, dan gula pasir sambil diaduk sampai kuah kering, lalu diangkat. Singkong diparut ditambahkan kacang tolo, kelapa dan garam diaduk jadi satu. Ambil 3 buah mangkuk kecil tahan panas, beri adonan singkong, kemudian tambahkan adonan isi, tutup dengan adonan singkong lagi. Kukus sampai matang. Keluarkan dari cetakan hidangkan dengan gulai daun singkong atau acar wortel dan buncis. –ast Sumber: Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Mengenali Jenis Kulit Yth. Ibu Agung Saya siswi usia 17 tahun. Ingin mengetahui jenis-jenis kulit, agar nantinya saya bisa menyesuaikan dengan jenis make-up dan perawatan yang tepat khususnya untuk usia saya. Selain itu dalam waktu dekat saya ditugaskan untuk menyambut tamu pada acara yang diadakan oleh sekolah saya dengan menggunakan busana adat Bali. Mohon bantuan Ibu busana apa yang dapat saya gunakan. Terima kasih. Sukma, Denpasar Yth. Adik Sukma Sebelum melakukan perawatan atau pun menggunakan make-up, kita memang sebaiknya mengenali terlebih dahulu jenis kulit kita, barulah kemudian memilih produk yang tepat. Berikut ini beberapa jenis kulit. Kulit normal Tampak kenyal, bening, dan halus. Tak perlu menggunakan pelembap dan krim malam, karena kondisi kulit masih bagus. Kulit kering Tampak kasar, bersisik, dan mudah timbul garis kerut-kerut. Kalau diberi make up, kulit tampak kering sekali, alas bedak sulit melekat. Untuk kulit kering pilihlah yang berbentuk cair. Bersihkan kulit dua kali sehari. Bila perlu gunakan krem malam dan krem mata. Kulit berminyak Tampak mengilap, kasar dan tebal serta sering timbul jerawat. Perawatannya harus ekstra hati-hati, bersihkan minimal tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Terutama, bila banyak beraktivitas di jalan. Kulit kombinasi Umumnya pada wilayah pipi tampak normal, sedangkan pada daerah T seputar hidung dan dahi berminyak. Bersihkan kulit dua kali sehari. Dengan mengetahui jenis-jenis kulit, semoga nantinya Adik dapat lebih mudah untuk menentukan jenis perawatan yang tapat untuk kulit Adik. Berikut ini contoh busana tengkuluk lelunakan yang bisa Adik gunakan untuk menyambut tamu. Selamat mencoba.

Usia 105 Tahun Nenek Verna masih Kemudikan Kendaraan MASIH ingat cerita seorang nenek berusia 70 tahun asal Korea Selatan yang berjuang mendapatkan SIM (surat izin mengemudi) mobil? Untuk SIM itu, nenek Cha Sa-soon, mengikuti 960 kali tes tertulis sebelum akhirnya lulus. Dan, nenek Sa-soon pun kini bisa mengendarai mobil yang dia gunakan untuk berdagang sayuran. Oleh Guinness World Record Cha Sa-soon tercatat sebagai orang paling banyak mengikuti tes mengemudi. Ia mengikuti tes hampir setiap hari sejak 2005 sampai akhirnya lulus pada Mei lalu. Nah, rekor yang satu ini juga tak kalah menariknya yakni pengemudi mobil tertua. Nenek Verna Truax, usianya sudah mencapai 105 tahun, namun masih mengendarai sendiri mobil merah kesayangannya, pontiac sunbird LE, untuk bepergian. Nenek asal Parkersburg, Iowa, AS, ini memang terlihat jauh lebih muda daripada usianya yang sudah melewati satu abad. Ia juga sangat energik

dan jauh dari pikun. Baru-baru ini ia pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dalam rangka perpanjangan SIM-nya. “Terakhir kali ke dokter, dia bilang saya baik-baik saja. Saya sehat!” katanya seraya tertawa. Mungkin satu-satunya masalah pada nenek Verna adalah orang harus bersuara lebih keras jika berbicara padanya. Selain itu, tidak ada masalah kesehatan yang berarti. Nenek Verna lahir tahun 1905 dan mulai mengendarai mobil tahun 1920-an, ketika itu agar bisa mengendarai mobil di jalan tidak perlu SIM. “Di masa lalu, kami tidak perlu harus punya SIM untuk mengendarai mobil di jalan,” ujar nenek Verna yang mengaku pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, namun belum pernah kena tilang. Banyak orang tak percaya jika Verna menyebut usianya sudah 105 tahun. Ia tampak energik, dapat berjalan tanpa tongkat. Tapi kebanyakan ia menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Verna Truax

Alur pikirannya tetap tajam, jauh dari pikun. Salah satu hobinya adalah minum kopi setiap pagi. Ia memang perempuan aktif sejak muda. Bersama suaminya (alm.) Leslie, nenek Verna membangun bisnis di bidang kelistrikan dan pipa. Suaminya selalu mendukung dia, termasuk dalam mengemudi kendaraan sendiri. Nenek Verna sebenarnya sadar ketika seseorang berusia usia 105 tahun, akan banyak melakukan kesalahan, termasuk dalam mengendarai kendaraan. Tapi nenek Verna bertekad tetap berhati-hati dalam mengendarai mobilnya. Ia juga tak berani untuk mengemudi terlalu jauh, cukup hanya di dalam kota. Meski sebenarnya ia ingin ke Waterloo dan Cedar Fall, perbatasan kota, seperti yang dilakukannya pada tahun 1980-an. Namun itu terlalu jauh dan akan melelahkan untuk

orang seusianya. Nenek Verna membuka sedikit rahasianya tetap sehat dan awet muda yakni, meminum satu sendok teh sari cuka dan madu yang dicampur dalam segelas air hangat, setiap pagi. “Saya berusaha menjaga kesehatan dengan cara alami. Saya tak suka menjadi ‘pabrik pil’ (sering mengonsumsi obatobatan),” ujarnya. Ketekunannya meminum sari cuka dan madu, sepertinya menunjukkan hasilnya. Buktinya ia tetap sehat, tidak menderita rematik seperti umumnya orang yang berusia lanjut. Meski ia boleh mengendarai kendaraan, namun ada sejumlah ‘syarat’ yang harus dia patuhi dalam mengendarai mobil. Misalnya, ia harus menggunakan kacamata, dan tidak boleh mengendarai mobil pada malam hari. Mobilnya juga harus memiliki spion pada kanan-kirinya. —dia


16

Tokoh

BENCANA

5 - 11 Desember 2010

Bali juga Rawan Tsunami DARI aspek geografi, Bali masuk dalam kawasan potensial rawan bencana. Di selatan Samudra Hindia, terdapat pertemuan lempeng IndiaAustralia dan lempeng Eurasia yang bergerak aktif yang tiap tahun bergeser 5-6 cm. Pergerakan lempeng tektonik ini bisa menyebabkan timbulnya gempa bumi, tsunami dan gunung meletus. Demikian papar Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Director of Disaster Risk Reduction National Agency for Disaster Management (BNPB) kepawa wartawati Koran Tokoh di Jakarta.

terkena. Kuta, misalnya, merupakan salah satu pantai yang punya potensi besar untuk terkena tsunami. Karena itu, di sana dipasang sirine. Tetapi, Sutopo mengaku tidak tahu apakah sirine tersebut masih berfungsi atau tidak. Dengan kondisi demikian Sutopo mengingatkan, hendaknya semua pihak siap dan waspada selalu. Apalagi Bali merupakan daerah padat juga daerah wisata nasional dan internasional. Di Bali memang pernah dilakukan pelatihan menanggulangi tsunami, namun hendaknya upaya preventif ini terus dilakukan untuk melatih tiap warga agar selalu siaga, bagaimana menghadapi kondisi bencana, baik gempa maupun tsunami. “Jadi tidak perlu menanti sirine bunyi atau air laut surut. Ini harus diajarkan berulang-ulang kepada warga masyarakat. Diajarkan sepuluh kali tidak akan mengubah perilaku. Tetapi, harus berulangulang dan terus-menerus sehingga kesadaran tumbuh dan menjadi budaya,” sarannya. Sutopo juga menyarankan, mengingat kondisinya, ada baiknya masalah bencana ini menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah. Jepang telah melakukannya. “Mengubah kultur ’kan, susah. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” ujarnya. Kondisi rawan bencana ini hendaknya juga menjadi pertimbangan dalam menyusun

tata ruang. “Bukan berarti tidak boleh dibangun apa-apa di situ. Tetapi, dibangun dengan syarat tertentu,” katanya. Warga masyarakat dan wisatawan pun perlu diajari atau diberi informasi supaya mereka menjadi lebih tanggap terhadap bencana. Jadi, kata Sutopo, yang namanya bencana harus menjadi bagian integral perencanaan pembangunan. Bencana menurunkan PDB. Sebut saja banjir di Pakistan Juli-Agustus 2010. Bencana itu menurunkan PDB menjadi 2% dari sebelumnya 4,2%. Ketahanan pangan turun hingga 50%. Ekspor turun 50%. “Kita bangun dengan dana besar, sekali terjadi bencana, habis semua,” ucapnya. Seperti terkait meletusnya Gunung Merapi. Di daerah bencana telah dibangun perumahan, warganya hidup mapan, punya segalanya. Ketika terjadi bencana rumah rata, dan hidup kembali nol; menjadi miskin dan kehilangan mata pencarian. Itulah pentingnya pemetaan bencana dan penataan tata ruang. “Artinya, biar bagaimana pun BNPB menyediakan peta, jika tidak digunakan pemerintah daerah setempat, jadi tidak bermanfaat. Jadi semua tergantung pemerintah daerah masing-masing. BNPB tidak punya kewenangan untuk memaksa pemerintah daerah menggunakan peta bencana tersebut,” katanya. Bali sebagai daerah wisata internasional seharusnya go safety. “Misalnya, orang masuk ke hotel, harus tahu, kalau terjadi gempa atau tsunami, mereka tahu saya harus lari ke mana”. —dia

Status Gunung Batur Kembali Normal

tkh/dia

STATUS vulkanik Gunung Batur tidak lagi waspada. Gunung berapi di Kintamani, Bangli, ini, turun satatusnya menjadi normal sejak 19 November 2010. “Tetapi, kami tetap mengimbau masyarakat pengunjung tidak mendaki hingga ke bibir kawah Gunung Batur,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (UPT Pusdalops PB) Provinsi Bali Putu Anom Agustina, S.I.P., M.Si. Penentuan status tersebut bencana gempa yang sama. ditetapkan Pusat Vulkanologi Jika dilihat peta zonasi tsudan Mitigasi Bencana Geologi nami, sumber tsunami di Bali di Bandung berdasarkan hasil bukan hanya dari selatan tetapi pemantauan petugas di pos bisa juga dari utara. “Jadi pemantauan di Bali. hampir sepanjang pantai Bali, Namun, langkah antisipasi berpotensi terjadi tsunami, bencana tetap menjadi tangkalau kita lihat zonanya yang gung jawab pihaknya. Sejumlah merah semua,” katanya. langkah antisipasi sudah Berdasarkan National disiapkan lembaga ini. “Kami Geographic Magazine, sudah menyiapkan sistem Maret 2005, tentang peringatan dini bencana di Bali,” ujarnya. Kesiapan sumber daya manusia dilakukan melalui rekrutmen tenaga andal di bidang komputer. Jumlahnya 42 orang. Mereka ini bertugas sebagai operator di bawah komando ‘Siap Siaga 247’. “Mereka terbagi dalam 3 shift. Jadwal siaganya mulai pagi, siang, dan malam. Ada satu regu jadi petugas cadangan,” jelasnya. Dr. Sutopo Purwo Nugroho Mereka bekerja dalam seika mengacu pada peta pantai yang padat dan rawan buah ruang kendali operasi alias zona gempa, di selatan bencana, Bali tergolong cukup crisis centre di Kantor UPT Bali punya potensi terjadinya tinggi. Begitu juga potensi Pusdalopos PB Bali, Jalan D.I. gempa besar yang bisa memicu tsunaminya. “Tetapi potensi Panjaitan 6 Renon, Denpasar. tsunami. “Potensi gempa besar Sumatera Barat/Padang terMereka bertugas menerima serupa juga dimiliki kawasan tinggi di dunia,” kata Sutopo. pengaduan kebencanaan dari Pangandaran (Jawa Barat) dan Sambil memperlihatkan peta masyarakat melalui call centre sekitarnya.” jelasnya. Sutopo pantai di Bali, Sutopo men251177. “Bencana yang dimakmenambahkan, NTB juga jelaskan, jika terjadi tsunami sud seperti gunung meletus, termasuk memiliki potensi akan menjalar dan banyak yang gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dan sejenisnya” kataIndonesia Peringkat.......................................................................................................dari halaman 1 nya. Informasi adanya bencana

J

dana persiapan bencana seperti untuk riset, sangat minim,” ungkap Sudibyakto. Ia menambahkan, pemegang keputusan tak bisa diberi pendekatan kualitatif, tetapi harus pendekatan kuantitatif. Misalnya, jika terjadi bencana akibat gunung Merapi meletus, kerugian yang mungkin dialami Rp 13 triliun. “Jangan katakan, kawasan Merapi berisiko tinggi saja, agar melek dan mengatakan anggaran tidak cukup,” katanya. Rendahnya kesiapsiagaan terhadap bencana juga dialami masyarakat. Sudibyakto mengatakan, hasil survei yang mereka lakukan, masyarakat Merapi lebih percaya pada alam dan 60% masyarakat Merapi tidak takut lahar. “Mereka menganggap hal itu sudah biasa. Itu sebabnya, pemahaman terhadap risiko bencana perlu dikomunikasikan terus-menerus,” ujarnya.

Menyesuaikan Diri Seharusnya, mengingat karakteristik bencana di Indonesia, pemerintah berpikir bagaimana agar masyarakat terlindungi. “Kita harus menyesuaikan diri,” lanjut pengarah dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini. Apalagi, bencana berdampak terhadap banyak elemen, seperti terhadap bangunan fisik, sarana transportasi, aktivitas ekonomi, dan lingkungan. Sudibyakto menyebutkan, jika terjadi gempa bumi dashyat di Jakarta, hanya ada satu gedung yang aman. “Saya tak mau menyebutkan nama gedungnya, nanti semua berbondongbondong ke sana,” selorohnya. Perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana mengacu pada kajian. Dalam buku Pedoman Penataan Ruang diterbitkan Departemen Pekerjaan Umum disebutkan, berdasarkan informasi geologi dan tingkat risiko letusan gunung berapi, tipologi kawasan rawan letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu tipe A, tipe B, dan tipe C.

Gunung Merapi saat meletus Tipe A, kawasan yang berpotensi terlanda banjir lahar dan tidak menutup kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Selama letusan membesar, kawasan ini berpotensi tertimpa material jatuhan berupa hujan abu lebat dan lontaran batu pijar. Kawasan ini memiliki tingkat risiko rendah (berjarak cukup jauh dari sumber letusan, melanda kawasan sepanjang aliran sungai yang dilaluinya, pada saat terjadi bencana letusan, masih memungkinkan manusia untuk menyelamatkan diri sehingga risiko terlanda bencana masih dapat dihindari). Tipe B, kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lahar dan lava, lontaran atau guguran batu pijar, hujan abu lebat, hujan lumpur (panas), aliran panas, dan gas beracum. Kawasan ini memiliki tingkat risiko sedang (berjarak cukup dekat dengan sumber letusan, risiko manusia untuk menyelamatkan diri pada saat letusan cukup sulit, kemungkinan untuk terlanda bencana sangat besar). Tipe C, kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lahar dan lava, lontaran atau guguran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan lumpur (panas), airan panas dan gas beracun. Hanya diperuntukkan

bagi kawasan rawan letusan gunung berapi yang sangat giat atau sering meletus. Kawasan ini memiliki risiko tinggi (sangat dekat dengan sumber letusan). Pada saat terjadi aktivitas magmatis, kawasan ini akan dengan cepat terlanda bencana, makhluk hidup yang ada di sekitarnya tidak mungkin untuk menyelamatkan diri. Sedangkan tipe kawasan rawan gempa bumi ditentukan berdasarkan tingkat risiko gempa yang didasarkan pada informasi geologi dan penilaian kestabilan. Berdasarkan kawasan tersebut, ada enam tipe kawasan rawan gempa bumi. Tipe A, kawasan ini berlokasi jauh dari daerah sesar yang rentan terhadap getaran gempa. Jika intensitas gempa tinggi, efek merusaknya diredam sifat fisik batuan yang kompak dan kuat. Tipe B, kawasan ini cenderung mengalami kerusakan cukup parah terutama untuk bangunan dengan konstruksi sederhana. Faktor yang menyebabkan tingkat kerawanan bencana gempa pada tipe ini tidak disebabkan satu faktor dominan, tetapi disebabkan lebih dari satu faktor yang saling memengaruhi yaitu intensitas gempa tinggi dan sifat fisik batuan menengah. Tipe C, kawasan ini mengalami

Letusan Gunung Merapi meluluhlantakkan permukiman warga di desa sekitarnya

kerusakan cukup parah dan kerusakan bangunan dengan konstruksi beton terutama yang berada di sepanjang jalur zona besar. Terdapat paling tidak dua faktor dominan yang menyebabkan kerawan tinggi di kawasan ini. Kombinasi yang ada antara lain, intensitas gempa tinggi dan sifat fisik batuan lemah; atau kombinasi dari sifat fisik batuan lemah dan berada dekat zona sesar cukup merusak. Tipe D, kawasan ini cenderung mengalami kerusakan parah untuk segala bangunan dan terutama yang berada di jalur sepanjang zona sesar. Kerawanan gempa diakibatkan akumulasi dua atua tiga faktor yang saling melemahkan. Contoh, gempa di kawasan dengan kemiringan lereng curam, intensitas gempa tinggi dan berada di sepanjang sesar merusak atau berada pada kawasan di mana sifat fisik batuan lemah, intensitas gempa tinggi, di beberapa tempat berada pada potensi landaan tsunami cukup merusak. Tipe E, kawasan ini merupakan jalur sesar yang dekat dengan episentrum yang dicerminkan dengan intensitas gempa yang tinggi, serta di beberapa tempat berada pada potensi landaan tsunami yang merusak. Sifat fisik batuan dan kelerengan lahan juga dalam kondisi yang rentan terhadap goncangan gempa. Kawasan ini memunyai kerusakan fatal pada saat gempa. Tipe F, kawasan ini memunyai kerusakan fatal saat gempa, berada di kawasan landaan tsunami sangat merusak dan di sepanjang zona besar sangat merusak serta di daerah dekat dengan episentrum lokasi intensitas gempa tinggi. Kondisi ini diperparah sifat fisik batuan lunak yang terletak di kawasan morfologi curam sampai dengan sangat curam yang tidak kuat terhadap goncangan gempa. Berdasarkan tipologi kawasan tersebut, peruntukan ruang dibuat. Kawasan rawan letusan gunung berapi bertipe C, tidak layak digunakan untuk dibangun hutan produksi, hutan rakyat, pertanian sawah, pertanian semusim, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, industri, permukiman, perdagangan dan perkantoran. Di kota bisa dibangun hutan kota, dan di desa bisa dibangun kawasan pariwisata, dengan syarat tertentu. Daerah permukiman hanya dapat dibangun di kawasan bertipe A dan B, baik di desa maupun di kota. Di kawasan rawan gempa bumi, peruntukan ruang permukiman, perdagangan dan perkantoran hanya dapat dibangun di kawasan bertipologi A, B, dan C. Kawasan bertipologi D, E, dan F hanya didapat dibangun hutan di daerah kota; serta pariwisata di kawasan tipe D. Peruntukan ruang lainnya tidak layak dibangun. —rat

Putu Anom Agustina

yang masuk ke ruang kendali operasi juga dikoordinasikan dengan lembaga lain seperti Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, Mitigasi, dan Geofisika Wilayah III Denpasar. “Kami jadikan acuan hasil kajian lembaga ini. Jika ada informasi ancaman bencana otomatis operator langsung membunyikan sirine yang terpasang di 6 titik, yaitu Kuta, Seminyak, Kedonganan, Tanjung Benoa, Nusa Dua, dan Sanur,” jelas alumnus S-2 Program MEP Unud ini. Sikap proaktif masyarakat amat diperlukan untuk menunjang kerja efektif Pusdalops PB. Contoh, masyarakat diharapkan memahami gejala dini potensi peristiwa tsunami yang diawali kejadian gempa bumi atau kondisi air laut tibatiba surut menjauh dari bibir pantai. Pria kelahiran Tabanan, 5 Mei 1964, ini menyatakan,penanganan bencana tanggung jawab tunggal Pusdalops PB Bali. Manajemen kerjanya terkait instansi lain yang tergabung dalam satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lainnya seperti Dinas Sosial dan PMI Bali. Menurutnya, Dinas Sosial Provinsi Bali siap siaga dan

telah menyiapkan 620 tenaga taruna siaga bencana (tagana) yang tersebar di seluruh Bali. Ada pula 130 tim reaksi cepat. Sekitar 240 petugas dapur umum juga selalu siaga untuk menangani kebutuhan logistik bencana. Selian itu, 1.500 pemuda peduli bencana ikut disiagakan. “PMI Bali telah siapkan 776 personil tanggap darurat. Jumlah tenaga PMI ini belum termasuk personil di lingkungan kesbangpolimas, serta aparat TNI dan Polri,” jelasnya. Dinas Sosial juga telah menyiapkan stok logistik sebanyak 11.367, 40 ton beras. “Stok logistik ini, termasuk kebutuhan logistik lain, tersebar di tiap kabupaten/kota di Bali,” ujarnya. Sandi Komodo Langkah antisipasi bencana tersebut segera dilengkapi sistem sharing data di ruang kendali operasi Pusdalops PB Bali. Ruang crisis centre ini akan memiliki fasilitas dissaster management information system (DMIS). “Fasilitas ini merupakan sistem teknologi berbasis web. Fungsinya untuk akses dan sharing data kapasitas bencana provinsi dan kabupaten/kota. Tenaga operatornya sedang dilatih khusus berkat bantuan palang merah Prancis,” papar suami Putu primadewi Pendit ini. Selain itu, ada pula fasilitas perangkat komunikasi canggih. Fasilitas ini sedang dibangun di gedung instansi ini. Perangkat komunikasi ini menggunakan sandi ‘Komodo’. Perangkat teknologinya memakai laptop modifikasi yang bisa efektif menjadi alat komunikasi dari lokasi bencana. Komunikasi bersifat audiovisual dan berlangsung tanpa gangguan jaringan. —sam

Tanah Bali...............................................................................dari halaman 1 Banjir Menyergap Tingginya jumlah penduduk, kepadatan wilayah dengan pendapatan yang tidak merata juga menyumbang kerawanan. Sebagian besar daerah aliran sungai serta bantaran sungai dihuni penduduk berpendapatan rendah dengan kepadatan yang relatif tinggi. “Di Denpasar, misalnya, kami tidak pernah melakukan normalisasi alur. Jalan di sekitar sungai tertutup dan tidak bisa dilalui karena sudah disender warga. Tiap hujan, kami selalu merasa was-was. Terlambat menutup atau membuka pintu air, banjir langsung menyergap,” ungkap Punia Asa. Memetakan Risiko “Penataan ruang guna mengurangi dampak Menilai hal tersebut, Prof. Dr. Sudibyakto, M.Sc. bencana harus dilibatkan,” ujar Ir. Hardjono menyebut Bali itu multi-hazard. Sama seperti daerah Dwijowinarto, CES. Wasior, Papua, misalnya, lainnya, Bali perlu memetakan tingkat risiko bencana merupakan daerah urban yang berkembang pesat. yang dihadapi suatu wilayah, seperti kerentanan Tingkat kerawanan bencana di daerah tersebut, wilayah dan jenis bahaya, baik itu primer dan absolut. Kota itu berada di kaki bukit dengan sekunder. Contoh, jenis bahaya primer gunung berapi kemiringan 80% dan berada di bibir sungai. “Tipologi adalah abu, awan panas sedangkan bahaya kawasannya tidak layak untuk didirikan bangunan, sekundernya, lahar. meski tidak seluruh Wasior,” ujar Hardjono. Daerah diK a w a s a n petakan berdasarbencana longsor kan risiko rendah dibedakan atas dan tinggi. Daerah z o n a - z o n a yang memiliki risiko berdasarkan bahaya tinggi, dikarakter dan konkomunikasikan disi fisik alaminya. kepada masyarakat. Berdasarkan “Risiko itu ada hidrogeomorfologinya, yang bisa diterima, ada tiga zona. Tipe ada yang tidak bisa A, yaitu zona berditerima. Tetapi, potensi longsor di daerah lereng guyang fatal, risiko itu nung, lereng petidak bisa dikiragunungan, lereng kira,” ujar tkh/ist Tipologi zona berpotensi longsor bukit, lereng perSudibyakto. berdasarkan hasil kajian hidrogeomorfologi bukitan, dan tebing Dari hasil pemetaan tersebut, pemerintah harus menyusun di- sungai dengan kemiringan lereng lebih dari 40%, saster management plan dengan menentukan dengan ketinggian di atas 2.000 meter di atas prioritas dan bersifat partisipatori. “Dalam permukaan laut. Tipe B, yaitu zona berpotensi manajemen bencana tersebut, dinyatakan bagaimana longsor di daerah kaki gunung, kaki pengunungan, mitigasi bencana yang harus dilakukan dan dibuatkan kaki bukit, kaki perbukitan, dan tebing sugnai dengna standard operation procedure (SOP). Asasnya, SOP kemiringan lereng berkisar antara 21% - 41%, dengan tidak menghambat penanganan dampak bencana,” ketinggian 500 meter s.d. 2.000 meter di atas kata Sudibyakto. Tujuannya, masyarakat tanggap permukaan laut. Tipe C, yaitu zona berpotensi longsor di daerah dataran tinggi, dataran rendah, bencana. Ia menilai, saat ini semua institusi melakukan hal dataran, tebing sungai, atau lembah sungai dengan yang sama saat terjadi bencana. Misalnya, saat kemiringan lereng berkisar antara 0% - 20%, dengan gunung berapi meletus, PMI, Dinas Sosial, ketinggian 0 – 500 meter di atas permukaan laut. Peruntukan ruang zona berpotensi longsor menghitung jumlah korban sendiri-sendiri. dengan tingkat kerawanan tinggi di ketiga tipe zona, Kepentingannya berbeda-beda. PMI untuk menghitung jumlah masker yang diperlukan, Dinas Sosial diutamakan sebagai kawasan lindung. Sedangkan menghitung untuk jatah hidup yang diberikan bagi ruang zona berpotensi longsor dengan tingkat pengungsi. Jika ada SOP, ditentukan institusi A kerawanan rendah tidak layak untuk kegiatan bertugas A, institusi B bertugas B, dst. “Jika yang industri namun dapat untuk kegiatan hunian, ditugasi menghitung jumlah korban PMI, biarkan PMI pertambangan, hutan produksi, hutan kota, yang bekerja, yang lain cukup minta informasi dari perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, dan kegiatan lainnya dengan persyaratan PMI, begitu misalnya,” papar Sudibyakto. Dalam penanganan bencana harus ada leading sec- tertentu. Di Wasior, sudah ada catatan bencana tor. Misalnya, kebakaran hutan dikomandani Kementerian Kehutanan, jika ada huru-hara ditangani sebelumnya. “Kasus di tata ruang, kalau kawasan bencana sebaiknya dihindari,” ujar Hardjono. Kini, polisi. Sudibyakto menyorot pentingnya penentuan sebagian besar wilayah Wasior tak lagi boleh evacuation central building. Jika ada bencana, ditempattinggali. Hanya daerah yang sekiranya ditentukan titik kumpul warga. Untuk itu, perlu tingkat rawan bencana tidak absolut, boleh ditempati perencanaan, misalnya, berapa jumlah titik kumpul dengan rehabilitasi insitu. Hardjono mengingatkan, Bali perlu beradaptasi yang diperlukan, di mana harus dibangun. “Hal itu mempertimbangkan konsentrasi penduduk,” ujar dengan lingkungan. “Melihat kondisi Bali saat ini, Sudibyakto. Apakah ada perbedaan mobilitas seharusnya pertumbuhan ruang di Bali ke atas, penduduk saat siang dan malam hari. Kalau ada, jika bukan lagi horizontal karena tidak mungkin bertahan. gempa terjadi malam hari atau siang hari di suatu Jika tidak, tanah di Bali bisa penuh dengan wilayah, tentu ada perbedaan penentuan titik kumpul. bangunan,” katanya. —rat gempa bumi dashyat (gempa Tabanan tahun 1030; gempa Buleleng tahun 1861; gempa Negara tahun 1890; gempa Negara tahun 1938; Gejor Bali tahun 1915; gempa Bali tahun 1917, gempa Seririt tahun 1976; gempa Karangasem I dan II tahun 1979 dan Karangasem tahun 2004; gempa Bangli tahun 2004). “Gempa tahun 1915 paling fatal, menewaskan 15 ribu orang,” ungkapnya. Selain itu, bencana longsor di Karangasem (1998, 1999); Gianyar (1999), Bangli (2002); serta banjir Buleleng (2002).


tkh_621_xii__5-11_desember_2010