Page 1

Ke Solo Jual Cincin Ibu

Putu Rai Manik Suastika

Sukses Didik Spa Therapist

Sri Astuti

Halaman 4

Sehitam Kulit Obama Halaman 14

Dieksekusi tetap Berbuntut Aston

Halaman 16

Tas Cantik Limbah Plastik Trendi

Halaman 19

tkh/ast

“INGIN ahli di bidang spa? Kini telah dibuka pelatihan spa bagi masyarakat baik pria dan wanita,� ujar Manajer Bintang Therapis School Putu Rai Manik Suastika Sari, S.H. yang akrab disapa Icha ini. Pelatihan spa merupakan program kegiatan Bintang Therapist School sejak tahun 2009 selaku lembaga kursus dan pelatihan di bidang spa di Bali yang mendapat kerpercayan Disnaker Provinsi Bali sebagai penyelengggara kegiatan pelatihan spa. “Hasil pelatihan sejak 2009 lalu, kami telah meluluskan banyak siswa ahli di bidang spa dan hampir seluruhnya kini telah bekerja,� ujar perempuan kelahiran Denpasar 14 Maret 1970 ini. Menurutnya, pelatihan ini menciptakan para ahli di bidang

Martabak

Gubernur Bali Mangku Pastika menanam pohon Buddhis disaksikan para yogi dan Presiden Direktur Museum Rudana Putu Supadma Rudana dan pemilik museum Nyoman Rudana

Gaungkan Kedamaian ke Seluruh Dunia

Bersambung ke halaman 13

Konsep Yoga saling Mencintai SEHARI-HARI kita sudah praktikkan yoga. Saling mencintai merupakan konsep yoga. Kita bisa belajar dari konsep jari tangan. Tetapi, mengapa sebagian orang Bali takut belajar yoga karena dianggap dapat membuat gila? Ada yang mencuri pratima, ada yang saling membunuh. termasuk asana. Kemudian napas tersengal-sengal angkian ngansur itu termasuk pranayama. Kita sering mengeluh, mengapa letak pura sulit dicari. Saat menapaki pura yang letaknya di atas gunung, napas kita tersengal-sengal. Ini implementasi terjadinya hubungan manusia dan lingkungan. Kita berterima kasih kepada tumbuh-tumbuhan di sepanjang perjalanan. Paru-paru menjadi dingin dan sejuk. Sesampai di pura, kita merasa ‘plong dan melupakan yang lain, hanya memikirkan Tuhan. Setelah menenangkan diri, sampai di pelantaran pura terdengar suara binatang dan suara genta yang indah dari pemangku. Kemudian umat bersembahyang dan nunas tirta, dan terakhir menikmati

BERITA TERKAIT

pratima, dan saling membunuh. Ia menuturkan, bhakti pada Tuhan, cinta sesama, dan kasih pada semua makhluk hidup merupakan konsep yoga. Namun, sebagian orang Bali sudah kehilangan rasa cinta, kasih, dan rasa sayang sehingga semuanya dianggap musuh. “Sebagian orang Bali takut belajar yoga karena dianggap dapat membuat gila. Padahal, di dunia ini banyak kegilaan: gila perempuan, gila judi, juga gila materi. Dengan belajar yoga kita memang menjadi gila. Namun, gila untuk mencintai Tuhan dan kebenaran,� ujarnya. Ia menegaskan, yoga bukan hanya terbatas pada gerakan. Seperti tukang sapu sudah melakukan gerakan yoga dan meditasi. Dengan kesabarannya ia membersihkan sampah yang terus-menerus jatuh dan melaksanakan kewajibannya. “Lagu de ngaden awak bisa menjadi cermin konsep yoga untuk mensyukuri segala sesuatu yang kita dapatkan. Menurunnya rasa cinta pada

HALAMAN 17

Bersambung ke halaman 17

tkh/ast

D

i depan peserta Bali Yoga Festival 2010 di Ubud, Jumat (5/11), Ida Pedanda Made Gunung mengungkapkan, orang Bali sebenarnya sejak dulu sudah menerapkan konsep yoga dalam kehidupan seharihari. Istilah yoga kurang dikenal, padahal sudah dilakoni turun-temurun, mulai dari makan, berpakaian, tidur, termasuk terefleksikan dalam arsitektur rumah. Ia mengungkapkan beberapa contoh. Saat makan dilarang menghadap ke selatan. Saat makan tidak boleh bicara. Sebelum makan harus berdoa dulu. Arsitektur tradisional Bali juga menggunakan konsep yoga. Saat menghaturkan banten ke merajan, umat Hindu naik turun pelinggih. Ini sudah

Ida Pedanda Made Gunung

lungsuran. Kita mengatakan tidak tahu yoga, padahal sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua lini kehidupan kita dipenuhi konsep yoga. Artinya, orang Bali semuanya bersaudara. Namun, ia menyayangkan konsep yoga sudah tidak terpakai lagi ketika terjadi degradasi moral. Sudah ada orang Bali mencuri

BALI Yoga Festival 2010 berlangsung di Museum Rudana, Ubud. Ide ini muncul dari sekelompok orang yang menamakan diri seka demen Bali yang sangat mencintai Bali. Tema “Energy from Nature� diangkat atas saran Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Peserta Bali Yoga Festival 2010 dari berbagai kalangan, mulai dari praktisi yoga, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar, tanpa dipungut biaya. Ketua Panitia Made Suardewi berharap, Bali Yoga Festival 2010 dapat memberi kedamaian lahir dan batin bagi masyarakat Bali, Indonesia, dan dunia. Bali Yoga Festival 2010 diisi kegiatan pencerahan dan edukasi yang disampaikan para yogi yang sudah dikenal dan dikagumi masyarakat Bali, di tingkat nasional, dan internasional seperti Ida Pedanda Made Gunung, Merta Ada, dr. Gede Kamajaya, Kadek Suambara, Prabu Dharmayasa, dan Ida Pandita Nabe Ratu Bagus. Festival juga diisi kegiatan mencetak telapak tangan para yogi di batu, dan penanaman pohon Budhhis bersama Gubernur Bali Mangku Pastika. Pemilik Museum Rudana Nyoman Rudana berharap, momentum ini dapat menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan dunia, dan akan dikenang serta dilaksanakan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Ia berharap, gagasan Presiden Direktur Museum Rudana Putu Supadma Rudana menjadikan tanggal 5 November sebagai hari yoga nasional dapat dijadikan cikal bakal para yogi mendoakan bumi agar selamat. “Melalui yoga kita mohonkan agar beban para korban bencana nasional menjadi lebih berkurang, dan tidak ada bencana menerpa bumi,� ujarnya. Ia menegaskan, peringatan hari

PENGANTAR REDAKSI: Di Museum Rudana, Ubud, 5-7 November 2010 berlangsung Bali Yoga Festival 2010 yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari praktisi yoga, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar. Gubernur Bali Made Mangku Pastika membuka dan menandatangani prasasti dan menanam pohon Buddhis bersama para yogi. Laporan festival tersebut dapat dibaca di Halaman 1 dan Halaman 17.

tkh/ten

Anggrek bulan

yang membeli anggrek di tempat saya,� ujar PNS di Dinas Pendapatan Kota Denpasar yang kerap disapa Metta ini. Dari enam perkantoran di Denpasar dan Kuta yang menyewa tanaman hiasnya sebagai pemanis ruang, dominan memilih anggrek. Ada sekitar 100 anggrek koleksinya ke luar per bulan. Per tanaman disewakan Rp 55 ribu per bulan. Ini sudah termasuk perawatan yang biasanya dilakukan tiap minggu. Awal dibuka tahun 2003, Metta Orchid memang khusus menyediakan tanaman anggrek. Lambat laun Metta mengembangkannya dan mengoleksi berbagai tanaman hias outdoor maupun indoor. Tanaman yang temasuk kategori indoor, yang biasanya tidak kuat terhadap paparan sinar matahari langsung seperti anthurium,

tkh/ten

Sebagian Besar Dipasok dari Luar Bali

Metta dengan anggrek koleksinya

kelompok aglaonema (donakarmen, lipstick, snow white, siamaurura), kelompok tanaman liben (chiangmay, perak), bambu rezeki, dan kaktus hias. Koleksi tanaman outdoor di antaranya kelompok palem, puring, prasok, tricolor, wali songo, kembang kertas, kamboja, teratai. Sebagian besar tanaman ini dipasok dari luar Bali, yakni Batu, Malang. Beberapa tanaman dari daerah lain seperti kembang kertas dipasok dari Kediri, palem bregu Jember, palem merah, adenium, dan anggrek bulan dari Jakarta. Tiap Rabu sore, truk penuh muatan berbagai tanaman hias ini datang dan menurunkan muatannya di kompleks penjual tanaman di Tanjung Bungkak. Tanaman lain yang dipasok dari beberapa daerah di Bali, di

antaranya bunga sandat, kamboja, jempiring, puring, dan pohon mangga (Marga, Tabanan), anggrek bulan (Samsam dan Bedugul, Tabanan), kamboja, anggrek dendronium (Karangasem), dan teratai (Tohpati, Denpasar). Metta mengungkapkan, meski anggrek bulan lokal juga dikembangkan di Samsam dan Bedugul, kualitasnya masih kalah dibandingkan yang dikembangkan di Jakarta. “Jumlah kuntum bunga anggrek lokal lebih sedikit ketimbang yang dari Jakarta. Anggrek asal Bedugul ini pun besar kemungkinannya gagal ketika dibawa ke Denpasar,� ujarnya. Banyaknya kuntum dan besaran pohon anggrek berpengaruh pada harga jualnya. —ten

BERITA TERKAIT “ KOTORAN WALET DAN KELELAWAR RANGSANG...� DI HALAMAN 20

yoga bukan untuk berfoya-foya tetapi sebagai pengingat agar kita lebih mendoakan bumi. Para yogi diyakini memiliki kekuatan yang lebih dari manusia biasa. Gubernur Bali menyambut baik kegiatan Bali Yoga Festival 2010. Hal itu selaras dengan pernyataannya dalam simakrama (30/10) di Wantilan DPRD Bali, ketika seorang penanya Made Sudana meminta Gubernur memberi bantuan Rp 1 juta untuk tokoh yang suka yoga semadi untuk memperdalam yoga. Gubernur Bali menanggapinya dengan mengatakan, banyak orang asing datang belajar yoga. Bahkan, 70% buku yoga ditulis orang asing. Ia ingin ada yoga yang khusus dikembangkan di Bali yang memiliki ciri khas Bali. Gubernur mengharapkan, ke depan pariwisata Bali dikenal sebagai pariwisata budaya yang salah satu motivasinya turis datang ingin belajar yoga. Apalagi banyak pakar yoga di Bali. Dengan ditunjang lingkungan bersih, makanan sehat dan organik akan terwujud green province. Ia mengharapkan Bali Yoga Festival 2010 dapat membangun sumber daya manusia yang sehat dan kompetitif sekaligus bersemangat, dan dapat menyelaraskan kearifan lokal. “Kita hendaknya mampu memaknai berbagai bentuk yoga dalam konsep holistik, untuk membangun integritas diri mewujudkan keharmonisan tatanan masyarakat Bali,� tandas Gubernur Bali. Ia mengatakan, ada tiga kekuatan yang sering dilupakan, yakni mental, moral, dan nilai kebersamaan. Ketiga kekuatan ini merupakan landasan universal. Ia mengajak para pencinta yoga mampu mengembangkan nilai universal dan menyinergikan kearifan lokal dengan nilai modern. —ast

Hijau di Perkotaan Minimal 30% Kawasan

Anggrek tetap Eksis

SETELAH adenium, gelombang cinta (anthurium), dan euphorbia sempat diburu pecinta tanaman, sekarang ini belum ada booming tanaman hias baru. Hal ini diungkapkan Desak Made Mettayuni, S.E., pemilik Metta Orchid di kawasan jalur hijau Tanjung Bungkak, Denpasar. Meski demikian, anggrek dikatakannya selalu eksis. “Anggrek disukai sepanjang zaman. Mungkin karena jenis tanaman hias ini kelihatan eksklusif, cantik, dan tahan lama. Tiap hari pasti ada saja

Jadikan 5 November Hari Yoga Nasional

PEMILIK sebuah warung makan di kawasan Jalan Cokroaminoto Denpasar sedang bersiap membuka warungnya. Seorang perempuan setengah baya memperbaiki beberapa letak barang dagangannya. Tak jauh dari berdirinya warung itu, ada plang ’Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) Denpasar’. “Saya cuma bekerja di warung ini. Bos saya yang Rumawan Salain menyewa lokasi warung ini. Katanya yang menyewa ini juga menyewa dari pemilik asli. Dulu di sini warung tenda, sekarang sudah

semipermanen,� tutur perempuan yang berjualan di atas lahan ’jalur hijau’ itu. Selain warung makan, di kompleks bangunan semipermanen itu juga ada beberapa mobil yang parkir. Ternyata selain disewakan kepada pemilik warung, bangunan itu juga disewakan ke pemilik mobil yang tidak punya lahan parkir. Menurut informasi, lahan yang berada dekat perbatasan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung tersebut merupakan RTHK Denpasar atau yang sering disebut Bersambung ke halaman 13

BKOW Siap Laksanakan Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara 2010 MENANAM pohon bukan hal baru bagi masyarakat. Namun kegiatan tersebut dapat menjadi satu momentum strategis, ketika dilaksanakan seluruh komponen bangsa dari tingkat pusat hingga ke pelosok Tanah Air dan secara serentak. “Hal ini bukan sesuatu yang mudah, jika tidak dilandasi rasa kesatuan dan semangat yang bulat dari semua pihak,� ujar Ketua Umum Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali, A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda. Katanya, dengan adanya kemitraan yang begitu Bersambung ke halaman 16

Dari kiri: Tini Rusmini Gorda, Dewi Motik, dan Dewi Rully


2

Tokoh

7 - 13 November 2010

KORAN TOKOH

Kearifan Lokal Amat membaca sebuah makalah seminar internasional di Yogya. Putu Wijaya Isinya bagaimana peran kearifan lokal dalam berbagai masalah dunia yang memasuki era global: Awal tahun 60-an, ada kejadian penting di Bali yang tak dirayakan. Sebuah peristiwa yang mungkin akan memerlukan waktu panjang sekali untuk berulang. Hari Raya Nyepi, yang merupakan tahun baru Caka Bali, jatuh bersamaan dalam satu hari dengan Hari Raya Idulfitri. Nyepi yang berarti mati geni (tidak boleh menyalakan api, tak boleh beremosi, harus mawas diri dan berkontemplasi) mengharuskan orang Bali senyap. Tidak satu pun orang boleh berkendaraan. Jalanan lengang. Tak ada yang boleh bekerja. Lampu listrik padam, bahkan malam hari rumah sakit pun diatur sedemikian rupa sehingga gelap. Tetapi, hal itu samasekali tidak memberi batas umat muslim yang hampir ada di tiap kota di Bali merayakan kegembiraan dan kemenangannya setelah berpuasa selama satu bulan dalam bulan Ramadan. Nyepi dan Idulfitri berlangsung berbareng dalam satu hari, tanpa mengurangi salah satunya. Aman dan damai. Peritiwa itu menjadi penting, ketika sesudah reformasi muncul banyak bentrokan yang konon bersumber perbedaan agama. Ambon, Poso dan yang terakhir di Bekasi, Jakarta, misalnya. Ada tindakan kekerasan yang mengakibatkan pengrusakan rasa aman yang harus dibayar dengan korban jiwa. Apakah kemerdekaan yang semula diperjuangkan dengan cara meredam perbedaan agar dapat menjadi satu persatuan yang kuat dalam melepaskan diri dari sekapan kolonial, telah memicu perselisihan? Apakah kemerdekaan (khususnya sesudah reformasi) membuat orang membablaskan kepentingan pribadinya tak peduli mengganggu kepentingan (kemerdekaan) warga lain? Dalam kearifan lokal Bali ada yang disebut rwa bhineda. Dua hal berbeda yang selalu ada pada segala sesuatu. Masyarakat dibelajarkan sejak awal untuk menerima adanya yang berbeda dalam segala sesuatu. Kearifan ini merupakan semacam pembelajaran untuk melihat perbedaan itu sebagai keragaman. Dengan merujuk pada falsafah negara Pancasila yang oleh Bung Karno, pencetusnya, bisa dikristalisasikan menjadi eka sila yakni gotong-royong, hidup dalam keragaman bukanlah cacad tetapi justru kekuatan. Penegasan yang secara spiritual dilakukan dalam kehidupan, sangat lunak lewat kebiasaan-kebiasaan. Di Bali ada ilmu bermasyarakat yang disebut nempahan raga. Nempahang raga merupakan kemampuan seseorang, teknik bergaul yang mengajarkan bagaimana individu menempatkan dirinya dalam kerumuanan (kelompok maupun masyarakat). Seperti aktor-aktor dalam drama menyusun blocking, tiap individu harus paham menempati posisinya yang tepat, agar mampu bergerak dalam irama kelompok (hidup bersama) sebagaimana yang tersirat dalam gotong-royong. Sebuah bukti yang sangat indah bisa dibaca dalam fenomena yang seakan mempraktikkan teori relatif Einstein dalam kehidupan spiritual orang Bali. Di Bali ada bukit memanjang yang membelah Bali menjadi Bagian Utara dan Bagian Selatan. Bagi orang Bali secara spiritual tempat yang tinggi (bukit), tempat yang sakral. Makin rendah, makin kurang sakral sehingga pantai atau laut menjadi bagian yang dianggap paling nista (rendah). Arah yang sakral disebut kaje, yang lebih rendah disebut kelod. Dalam praktik kaja dan kelod itu menjadi penunjuk arah. Bagi orang Bali Selatan kaje adalah Utara dan kelod adalah Selatan. Sebaliknya bagi orang Bali Utara, kaje adalah Selatan dan kelod adalah Utara. Perbedaan sebutan ini membuat semua orang Bali Utara kalau pergi ke Bali Selatan harus menukar arah kaje dan kelod-nya. Demikian juga sebaliknya. Perbedaan yang merupakan kebalikan itu, sering menimbulkan kelucuan dalam pergaulan, tetapi tak pernah menjadi persengketaan. Perbedaan diselesaikan dengan damai oleh gotong royong, karena orang Bali juga percaya apa yang disebut desa-kala-patra. Desa-kala-patra adalah waktu-tempat dan keadaan yang dianggap sebagai kunci hidup orang Bali. Inilah yang menjadi sendi atau converter yang membauat tiap orang Bali menjadi selaras, masuk dalam harmoni atau berhasil nempahang raga, di mana, kapan dan dalam keadaan apa pun. Dengan demikian perbedaan yang disikapi sebagai keragaman bukan sesuatu yang baru. Sudah dikenal, diperhitungkan dan dijinakkan sehingga ketika keragaman muncul, selalu dilihat dari sudut persamaannya sehinga nuansanya tidak pernah menyulut sengketa tetapi justru jadi sumber kekuatan. Keberagaman itulah yang membuat harmoni menjadi semarak dan indah. Keraifan lokal seperti itu sebenarnya ada di seluruh Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Dengan memberikan reinterpretasi dan reposisi pada kearifan lokal itu, hidup dalam keragaman tidak akan merupakan kesulitan. Bahwa keragaman kemudian ada yang mengupayakannya menjadi perbedaan, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan, adalah fenomena politis yang kini mengacaukan dunia dan menjadi biang kerok permusuhan dan kemudian peperangan yang tak habis-habisnya. Saya percaya, jika kearifan lokal dibangkitkan kembali, cinta pada kemanusiaan dikedepankan, dunia sebagai milik bersama yang secara bergotong-royong dirawat, akan membuat planet kita yang tercinta ini, lebih nyaman, sejahtera dan harmonis. Siapa yang harus memimpin? Jika negeri adikuasa yang memimpin, akan selalu terasa sebagai semacam dominasi. Sama ketika bahasa Melayu Pasar yang merupakan bahasa minoritas di Indonesia, dipilih sebagai bahasa nasional Indonesia (yang memiliki lebih dari 700 bahasa), sehingga tidak timbul persoalan, minoritas mesti mendapat tempat yang lebih layak dalam era global yang sedang dimasuki dunia di millenium ketiga ini. Amat tertegun seusai membaca. “Bagaimana Pak? Setuju atau tidak setuju?” tanya Ami. Amat masih belum menjawab. “Lho terus-terang saja, Bapak mengerti tidak?” desak Ami menggoda. Tetapi, Amat tetap bergeming. “Diam itu berarti setuju atau tidak setuju?” Tiba-tiba Amat berdiri, lalu pergi meninggalkan Ami. Tentu saja Ami terkejut, lalu mencoba menyusul. Tetapi, Bu Amat cepat menahan. “Ami, biarkan bapakmu!” “Tetapi, kenapa Bapak marah, padahal Ami kan hanya nanya, apa beliau setuju atau tidak?” “Kalau bapakmu begitu, artinya dia sedang memikirkan hal itu.” “Tetapi, setuju atau tidak? Kalau setuju tak apa, tidak setuju juga tidak apa. Ami hanya ingin tahu opini Bapak! Memang salah kalau saya ingin tahu, apa opini generasi tua terhadap pikiran seperti itu?” “Kalau kamu sendiri bagaimana?” “Lho jangan dibalik! Ami yang bertanya jangan ditanya!” Bu Amat tersenyum. “Sebenarnya kamu bukan bertanya, kamu pasti ingin mengatakan pendapatmu sendiri. Kamu setuju atau tidak?” Ami tertegun. “Setuju tidak, Ami?!!” “Kenapa harus setuju atau tidak? Kebenaran itu tidak harus disetujui atau ditolak! Kebenaran itu tidak perlu dijadikan bahan pertengkaran dan permusuhan! Jadikan kekayaan batin untuk memperkaya wawasan!” Waktu itu Amat muncul sambil tersenyum. “Bapak gembira, bukan Bapak, tetapi kamu yang mengucapkan itu, Ami!” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ASPIRASI Bagaimana mengatasi kemacetan di Denpasar terkait usulan dimajukannya jam masuk sekolah?

“Sinergi Pariwisata Pertanian Sejauh Mana?” Sampaikan opini Anda Minggu 7 November 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 14 November 2010

Kintamani Perlu Master Plan PERSOALAN yang ada di Kintamani masih seperti dulu-dulu. Pemandangan Batur yang indah terhalang bangunan. Pedagang acung seolah memaksa tamu. Tarif boat dinaikkan saat tamu berada di tengah danau. Tanpa penataan menyeluruh, timbul kekhawatiran Danau Batur bakal tercemar. Padahal potensi Kintamani luar biasa. Agrowisata bisa dikembangkan, dilengkapi jalur trackking. Pelanggaran tata ruang sering dilakukan orang lokal. Awalnya coba-coba, tidak dikenai sanksi, maka jalan terus. Kintamani memerlukan master plan. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (31/10). Topiknya, “Potensi dan Kendala Pembangunan Kintamani”. Berikut, petikannya.

Belum Ada Master Plan Wisata Kintamani sangat terkenal sejak dulu. Pemandangan yang indah menyatu dengan alam dan udara yang sejuk. Namun, saat ini kendalanya dalam pengembangannya. Semestinya, pemerintah sebagai motor penggeraknya. Namun, sampai saat ini master plan pengembangannya belum ada. Kalau ada investor datang, karena master plan belum jelas, mungkin mengurus izin akan sulit. Masyarakatnya juga pasti antipati. Secara moril pengusaha wajib memikirkan kesejahteraan karyawannya. Sebagai mitra pemerintah dalam membangun wilayahnya, pengusaha hendaknya menjadi wajib pajak yang baik. Seandainya semua komponen benar-benar berperanserta, apa yang diharapkan bisa tercapai. Saat ini yang tergarap sangat minim. Pengusaha tidak memegang legal formal. Ada keinginan

baik dari pemerintah untuk mengembangkan sektor pariwisata dalam membangun Bangli ke depan. Sangat disayangkan, pemerintahan sebelumnya belum melihat potensi yang luar biasa dari pariwisata. Memang membutuhkan biaya. Namun, tidak melulu harus digelontorkan dana besar. Sedikit demi sedikit, akan berdampak lebih baik, investor akan datang, ketertarikan masyarakat akan dampak positif pariwisata mulai tumbuh. Saya menilai, pemerintahan Bangli terdahulu kurang serius. Saya merasakan, pembangunan Kintamani tanpa arah. Semuanya serba tidak terkendali, karena pemerintah tidak memberi pengawasan. Kami berharap, dalam pemerintahan yang sekarang, ada perubahan. Pariwisata Bangli dibangun untuk menyejahterakan masyarakat. Membangun restoran untuk mendatangkan tamu. Bangli memiliki danau dengan hasil ikan yang berbeda dengan daerah lain. Hampir tidak ada keluhan terhadap rasa ikannya. Pemanfaatannya belum optimal. Kalau ini dimanfaatkan dengan baik, akan berdampak bagi pencari nafkah yang menjual ikan. Belum lagi di Kintamani ada petani bawang, cabai, tomat, ini

bisa dijadikan komunitas pariwisata. Masyarakat pun pelanpelan bisa merasakan bahwa hasil mereka diserap pariwisata. I Ketut Putranata, S.S.T. Par., M.B.A. Praktisi Pariwisata, Ketua PHRI Bangli

Jangan sampai Danau Tercemar Kelemahan Kintamani tidak ada tempat menginap wisatawan. Biasanya tamu hanya makan di sana dan kembali ke Ubud, sehingga tidak terkesan Kintamani sebagai kawasan pariwisata. Belum lagi pemandangan Danau Batur banyak ditutupi. Apakah restoran yang berlokasi di Kintamani itu milik pemerintah atau siapa? Jangan sampai lamakelamaan kebersihan danau tercemar. Dari jalan Tampaksiring ke Kintamani banyak pedagang buah berjejer dalam rumah bedeng yang tidak dikemas sempurna. Mengapa pedagang buah ini tidak ditata dengan baik? Santha

Kembangkan Agrowisata dan ’Trackking’ Tukang acung memaksa pembeli. Pemandu wisata terkena semprot dari agen. Bersambung ke hlm. 13

Membangun Sinergi Pertanian dan Pariwisata BAGI sebagian orang yang belum memahaminya, pariwisata sampai saat ini masih sering disoroti sebagai penyebab berkurangnya lahan pertanian, bukan sebagai penyelamat pertanian. Pariwisata juga sering dipojokkan, sebagai alat untuk mengeksploitasi sumber daya alam, bukan sebagai alat pemelihara sumber daya alam dan lingkungan. Pariwisata seolaholah alat untuk mencetak uang, yang hanya mementingkan materi tanpa memperhatikan faktor kebutuhan batin orang-orang yang terlibat. Pariwisata sering diidentikkan sebagai pelayan bagi pendatang/orang asing, bukan sebagai penghargaan terhadap pendatang/orang asing. Ketika pariwisata dipandang sebagai alat untuk mencetak uang, mulailah dibangun segala kebutuhan atau fasilitas wisata. Tampaknya, pengertian pariwisata sebagai pencetak uang inilah yang telah membutakan dan melekat di benak orang-orang yang hanya setengah paham tentang pariwisata. Dibangunnya fasilitas wisata yang mengambil lahan pertanian, menjadi awal kesalahan pelaksanaan pariwisata. Salahkan pariwisata? Tidak! Yang salah, pelaksanaannya, bukan

Ni Made Eka Mahadewi, M.Par

nyuluhan; (3) dukungan pemerintah memasilitasi segala kemudahan penyaluran hasil-hasil pertanian, seperti tersedianya infrastruktur jalan yang melancarkan distribusi hasil pertanian, pasar rakyat yang dekat dengan hasil pertanian; (4) penataan lahan pertanian yang layak untuk dikunjungi, tanpa mengubah tata guna lahan pertanian; (5) masyarakat desa paham akan pentingnya pariwisata melalui pemahaman sapta pesona (keamanan, kenyamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kenangan); (6) masyarakat perlu membentuk kelompok sadar wisata yang dibentuk kepala desa untuk menjalankan gerak pariwisata desa; (7) masyarakat desa memunyai lembaga keuangan desa yang mampu dan dipercaya untuk menerima dan mengelola keuangan desa. Dengan terpenuhinya persyaratan tersebut, diyakini segala kemudahan dapat dilakukan untuk membangun dan mengembangkan desa, baik dari sisi pertanian maupun pariwisata.

konsepnya. Tentunya, kita tak mau berkutat pada segala kesalahan yang telah terjadi. Yang menjadi tugas kita sekarang, bagaimana membangun pertanian yang dapat menjadi bagian pariwisata. Bukan membangun pariwisata yang mematikan usaha pertanian. Ada hal-hal yang paling mendasar yang perlu diperhatikan dalam membangun dan usaha pertanian yang dapat memberikan dampak positif bagi berkembangnya pariwisata, atau bahkan sebaliknya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: (1) komitmen masyarakat petani untuk membangun desanya melalui perNi Made Eka Mahadewi, tanian; (2) bantuan pemerinM.Par tah dalam memberikan subsidi bahan pengembang pertanian, Mahasiswa Program Doktor – baik berupa bantuan modal S-3 Pariwisata Unud, Dosen usaha/kerja, pupuk serta pe- Kepariwisataan STP Nusa Dua

Ayu Dwijayanti Memajukan jam sekolah berakibat anak-anak bangun lebih awal dan mengurangi jam tidur, akibatnya loyo di sekolah dan mengurangi kualitas pendidikan. Seharusnya pemda berani segera merealisasikan penggunaan angkutan massal bertarif wajar dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Ketut Suketama Memajukan jam masuk sekolah bukan alternatif penyelesaian yang tepat apalagi untuk jangka panjang. Perlu kajian yang mendalam sebelum mengambil suatu keputusan publik. Apakah dengan usul itu tidak menimbulkan masalah baru? Gust Dung Dung Gust Memajukan jam sekolah sangat kurang efektif. Kasihan mereka di sekolah sudah capek belajar dan berkreativitas, sekarang malah disuruh buru-buru sekolah. Yang ditakutkan sekolah nanti jadi rumah ke dua untuk istirahat. Kalau fisik sudah capek ngapain aja malas dan tidak semangat. Dalam mengatasi kemacetan pemerintah buat saja kereta mini yang menghubungkan masing masing tempat umum strategis dengan tarif yang murah. Lestari Komang Kemacetan lalu lintas di Denpasar disebabkan pertambahan jalan tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan pribadi. Tapi hal tersebut merupakan efek dari tidak tertatanya trayektrayek angkot dengan baik sehingga untuk mencapai suatu tempat, warga harus naik turun beberapa angkot dan tentu saja akan menghabiskan ongkos yang cukup besar. Dengan dimajukannya jam masuk sekolah, pemerintah mungkin mempertimbangkan dapat mengurangi rush hour/jam sibuk di beberapa titik, sehingga orang yang kerja dan anak yang sekolah tidak terlalu bertumpuk kepadatannya. Hal tersebut mungkin dapat ‘sedikit’ mengurangi kepadatan kendaraan di jalan, tapi tidak dapat mengatasi kemacetan, karena akar permasalahannya terletak pada sarana transportasi umum yang kurang memadai. Salah satu solusi terkait hal tersebut, yaitu agar masingmasing sekolah menyediakan angkutan untuk menjemput/antar murid-muridnya seperti yang diterapkan di beberapa sekolah di luar negeri. Sehingga volume kendaraan di jalan pada rush hour dapat dikurangi dan jam masuk sekolah pun tidak perlu dibuat terlalu pagi yang dapat menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi siswa. Ngurah Arya Mengatasi kemacetan lalu lintas di Kota Denpasar (Metro), terkait usul dimajukannya jam masuk sekolah, usulan ini bisa saja dilaksanakan dulu sambil mengkaji alternatif yang lain untuk menghindari kemacetan di Kota Denpasar yang makin parah. Dengan dimajukan jam masuk sekolah, misalnya dari semula jam 07.30 menjadi 06.30, tentu awalnya banyak permasalahan, jadi perlu penyesuaian atau adaptasi untuk mengubah suatu kebiasaan. Apalagi sekarang jam 06.00 itu sudah terang. Atau bisa saja sekolah yang dimajukan pada titik-titik yang sering macet. Piercing Miracle Miracle Kalau memajukan jam sekolah belum terbukti pas, contoh Jakarta yang sudah menerapkan, jalan masih tetap macet di sana-sini. Volume kendaraan yang perlu ditata. Solusinya, kita tingkatkan penggunaan masyarakat terhadap kendaraan umum, yang mana jalurnya diatur untuk mencapai tempat umum atau permukiman. Bemo yang ada sekarang sebenarnya sangat bagus selain ukurannya kecil dan isinya banyak bisa sampai 12 penumpang. Cuma penataan dan jalurnya dibuat lebih detail, sesuai kebutuhan transportasi masyarakat di tiap desa, kelurahan dan Bersambung ke hlm. 13 banjar.

Siswa SMP Bersepeda Motor DAPAT kita saksikan di jalan raya, pagi, siang, maupun sore, berangkat dan pulang sekolah banyak murid sekolah naik sepeda motor. Di antaranya, yang masih duduk di bangku SMP. Hal ini ditunjukkan pakaian seragam yang mereka kenakan. Masyarakat kita seakan-akan tidak peduli bahwa perilaku tersebut merupakan salah satu pelanggaran terhadap peraturan berlalu lintas. Kesannya, masyarakat menganggap pelanggaran terhadap peraturan merupakan hal yang lumrah. Umur mereka di bawah 17 tahun, yang karena faktor usia mereka belum bisa mendapatkan SIM C. Mereka tidak memarkir sepeda motornya di kompleks sekolah karena peraturan sekolah juga tidak membolehkan siswa SMP bersepeda motor. Mereka memarkir sepeda motor di rumah-rumah warga masyarakat sekitar sekolah yang melihatnya sebagai peluang bisnis dengan menyediakan tempat parkir. Polisi lalu lintas yang selalu rajin berjaga di jalan-jalan dekat sekolah juga menutup mata, seakan-akan tidak ada pelanggaran. Hal ini juga sepertinya sudah disadari adanya oleh para orangtuanya. Demikian juga, para gurunya. Perilaku melanggar peraturan sudah kita biarkan berjalan dengan aman dan baik sejak anakanak duduk di bangku SMP. Perilaku anak SMP bersepeda motor hanyalah salah satu contoh perilaku yang melanggar peraturan. Perilaku seperti itu kita biarkan tumbuh dengan baik dan subur di kalangan generasi muda dengan berbagai alasan. Kalau perilaku melanggar ini dibiarkan tumbuh dengan baik, akan menjadi suatu kebiasaan, dan selanjutnya juga akan menanamkan nilai di benak generasi muda bahwa perilaku melanggar merupakan hal yang dibolehkan dan sah. Jika mereka sudah menjadi generasi dewasa dan bekerja di berbagai instansi dan lembaga, mengelola bisnis, mereka pun akan mengembangkan perilaku yang sama, sehingga ke depannya tinggal kita lihat suatu fenomena bahwa negara ini akan dipenuhi berbagai pelanggaran. Apakah peraturan yang ada sudah tidak tepat lagi atau kita yang membiarkan perilaku yang salah itu tumbuh dengan subur? Seharusnya hal ini perlu direnungkan dan dipikirkan para orangtua, polisi, guru dan wakil rakyat dan pemerintah serta masyarakat. Apakah peraturannya perlu dikaji ulang sehingga ada revisi? Marilah kita benahi budaya bangsa ini mulai dari membenahi hal-hal kecil dulu seperti mengembangkan sikap dan perilaku yang benar tetapi memiliki pengaruh besar terhadap penguatan budaya yang baik. N. N. Kerti Yasa Warga Denpasar

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara zStaf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati zNTB: Naniek Dwi Surahmi. zSurabaya: Nora. zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar– Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 z Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


7 - 13 November 2010 Tokoh 3

Terperosok di Kebun Cabai TURNI

Bersepeda Motor Bali-Ciamis

4

Ngawi kota berikutnya yang kami tuju. Sebelum tiba di Ngawi kami harus melewati kota Caruban dan daerah Padas. Padas merupakan kawasan menuju Ngawi yang kami lewati dengan sangat berhati-hati karena jalannya banyak yang berlubang dan cenderung sempit. Padahal, jalan tersebut juga dilewati kendaraan berat lintas provinsi. Di kawasan itu motor yang kami kendarai bersama Paman Syam menyalip truk tepat di jalan lurus. Ketika mulai menyalip barulah kami sadar bahwa yang kami dahului itu truk gandengan yang relatif panjang. Pada saat yang sama terlihat truk gandengan lain yang melaju dengan kecepatan tinggi datang dari lawan arah. Mereka membunyikan klakson dan memainkan lampu dim untuk ’mengusir’ motor kami. Paman malah mempercepat motornya seakan-akan ingin menabrak truk yang melaju dari arah depan itu. Dengan sigap Paman membelokkan motornya ke tepian jalanan sebelah kanan tanpa mengurangi kecepatan. Hasilnya, kami berdua terperosok ke sebuah kebun cabai. Gundukan tanah merah dan pohon-pohon cabai itu yang menhentikan laju sepeda motor kami. Kami menoleh ke sekeliling, tetapi tidak melihat temanteman anggota rombongan kami lainnya. Paman dan saya memanggil-manggil mereka. Lima meter dari posisi kami saya melihat Pak Rahmat dan Bu Ola pucat-pasi karena mengalami kejadian persis yang kami alami. Ternyata Eris dan temannya berada di seberang jalan, masih di posisi lajur jalan yang benar. Kami temukan sebuah tas besar dan sebuah kaca mata hitam di pinggir kebun. Jelas barang-barang itu bukan milik anggota rombongan kami. Di antara kerumunan perdu ada kelap-kelip lampu sein yang masih menyala. Ternyata yang terperosok ke kebun cabai bukan hanya anggota rombongan kami. Eris yang pertama kali mengetahui kejadiann itu langsung menolong orang tersebut. Rupanya salah seorang dari mereka benarbenar membutuhkan pertolongan. Bapak yang mengendarai motornya terlihat masih duduk bertafakur sedangkan

PUKUL 08.00 kami tiba di kota Jombang. Kota Jombang mengingatkan saya pada Ryan si tukang jagal manusia. Bulu kuduk saya sempat merinding membayangkan keganasannya memotongmotong organ tubuh manusia. Namun, pemandangan kota yang asri dan bersih segera melenyapkan bayangan itu. Beberapa sepanduk Go Green menghiasi kota ini. Kesan yang timbul, Pemda Jombang sangat serius mengampanyekan program Go Green. Di Jombang kami hanya beristirahat sekadar untuk mencari pengisi perut. Ini merupakan hari kedua kami tidak berpuasa. Di sini kami hanya membeli beberapa makanan ringan karena tidak ada warung makanan yang buka. Kami hanya membeli dodol jenang yang merupakan ’kue cokelat’-nya Kota Jombang. Kue dodol jenang yang sempat kami jadikan sarapan ternyata tidak cukup menghibur perut kami yang lapar. Akhirnya kami singgah di kota Kertosono untuk mencari pengisi perut. Jika di Bali ada sate ikan lilit, di Kertosono ada juga sate ikan, yaitu sate ikan lele. Sate ikan lele yang cukup gurih ini bisa dicampur bumbu kacang dan dinikmati bersama secangkir teh hangat. Lokasi penjualnya yang di pinggir sawah menambah rasa nikmat santapan ini. Perjalanan kami lanjutkan menuju Kota Nganjuk. Kami tiba pukul 10.00 di Kota Angin ini. Disebut kota angin, karena pada bulan-bulan Juli sampai September angin kencang selalu menerpa wajah kota ini. Kota ini juga pantas disebut Kota Klenteng. Hampir di beberapa tempat di kota ini terdapat rumah ibadah klenteng yang juga dijadikan objek wisata. Yang cukup dikenal, Klenteng Hok Yoe Kiong.  Bersambung ke halaman 16

TRAGEDI bom di Sari Club dan Paddy’s Pub Legian, 12 Oktober 2002, mengantarkan Irjen Pol. Mangku Pastika mengemban tugas ganda. Selain menjabat kapolda Papua, suami Ayu Pastika ini dipercaya mengemban tugas sebagai ketua Tim Investigasi Bom Bali.

Irjen Pol. Mangku Pastika saat menjabat Ketua Tim Investigasi Bom Bali

J

am terbang Pastika di kepolisian lumayan panjang. Pengalamannya tidak pendek selama berdinas di bidang reserse yakni sejak berpangkat kapten. Berbagai jabatan kemudian diembannya sebelum menjabat kapolda Papua. Kariernya bahkan terus bersinar seiring bertambahnya wawasan Pastika di sejumlah bidang tugas keahlian. Ini berkat pendidikan yang ditempuhnya di International Crime Inteligency Course di Inggris tahun 1987 dan Counter Dissaster Training Course tahun 1992. “Dari sini saya menguasai cara menangani masalah jika terjadi bencana alam (natural dissaster) maupun bencana akibat ulah manusia (man with

Semalam Suntuk di Lokasi Bom

Mangku Pastika (paling kiri) ikut ngayah di Pura Batur

dissaster),� jelasnya. Cara menangani masalah terorisme ditimba Pastika saat menekuni pendidikan nonformal tersebut. Terorisme merupakan salah satu bagian masalah bencana yang diakibatkan ulah manusia. Selain itu, man with dissaster juga mencakupi aksi penyanderaan maupun kecelakaan pesawat udara dan tabrakan kereta api. Wawasannya juga bertambah saat menekuni ilmu management of serious crime course di Canbera, Australia, tahun 1993. “Saat itu, pesertanya para kepala polisi dari negara-negara bagian di Australia. Saya satu-satunya peserta tamu. Mick Keelty yang kemudian menjadi kepala Polisi Federal Australia juga ikut kursus ini,� jelasnya. Bekal pengalaman studi di luar negeri itu sungguh berharga bagi Pastika. Ilmu tersebut diakuinya amat membantu dirinya saat menjalankan tugas sebagai ketua Tim Investigasi Bom Bali 2002. “Bekal ilmu itu amat membantu saya saat mengemban tugas menangani tragedi bom Bali itu,� katanya. Manajemen Reserse Instruksi Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar siap dilaksanakan Pastika. Namun, ia harus bersabar sehari menanti jadwal penerbangan dari Jayapura ke Cengkareng. “Saat menerima perintah tersebut, jadwal penerbangan ke Jakarta sudah lewat. Saya harus menanti jadwal pesawat terbang esok hari. Saya akan terbang ke Cengkareng dulu, baru ke

tkh/edi

Pintu gerbang masuk Kota Ngawi

Komjen Pol. Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

tkh/edi

12

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika (kanan) menyalami Ketua Tim Penggerak PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung saat berlangsung Lomba Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi di Nusa Dua Fiesta 2010

Denpasar. Saat itu, tidak ada penerbangan langsung dari Jayapura ke Denpasar,� ungkapnya. Hari keberangkatan tiba. Pastika menumpang pesawat yang membawanya transit di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Tiba di bandara internasional ini, ia langsung menumpang pesawat terbang yang mengangkasa menuju Bandara Ngurah Rai. “Selama itu, saya terus memantau perkembangan peristiwa tersebut dari media massa,� katanya. Berita di media massa menjadi salah satu referensi untuk memulai menyiapkan langkah strategis dan taktis menangani kasus bom tadi. “Sebagai orang yang ditunjuk memimpin tim investigasi, saya membayangkan salah satu tanggung jawab utama saya berkaitan dengan manajerial. Proses pengungkapannya harus ditata melalui manajemen organisasi yang baik. Saya harus membuat sebuah mekanisme organisasi kerja yang dapat mengefektifkan fungsi tiap sumber daya yang ada. Ini berguna agar semua pekerjaan kelak bisa berjalan secara terintegrasi,� paparnya. Proses penanganan kasusnya diyakini Pastika saat itu masuk kualifikasi manajemen reserse. “Jadi, harus tahu persis jenis pekerjaan yang dihadapi, termasuk jenis sumber daya yang ada. Saya harus membuat organisasi kerjanya agar lebih terarah,� lanjutnya. Konsep dasar manajemen itu mulai dirajutnya saat pesawat udara yang ditumpanginya lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. “Saya merancang konsep tersebut selama terbang dari Cengkareng ke Bali,� kisahnya. Curhat Budi Setyawan Kapolda Bali Brigjen Pol. Budi Setyawan menarik napas lega saat menyambut kedatangan Pastika di Bandara Ngurah Rai. Budi Setyawan merasa kehadiran Pastika amat membantu dirinya menangani proses pengungkapan tragedi kemanusiaan tersebut. “Penugasan saya sebagai ketua tim investigas itu disebut Pak Budi sebagai sudah menolong dirinya dalam mengungkap kasus ini,� ujar Pastika yang tiba di Bandara Ngurah Rai 17 Oktober 2002 itu. Saat itu Budi merangkul pundak Pastika. Dua perwira

tinggi ini berjalan menuju mobil dinas Kapolda Bali menuju markas Polda Bali di Jalan W.R. Supratman Denpasar. Selama perjalanan, Budi menyampaikan berbagai langkah investigasi awal yang sudah dilakukan pihaknya. Tindakan pengamanan telah dikerjakan untuk mengawal proses investigasi awal. Tim forensik telah menjalankan tugasnya untuk membuka langkah penyidikan dini. Saat itu, Pastika dilapori pula, langkah investigasi awal telah ditangani Tim Interpol Mabes Polri, termasuk bantuan Ditserse Polda Jawa Tengah. “Pak Budi juga menginformasikan, ada banyak pejabat Polri lain yang ikut membantu, termasuk dukungan pihak asing untuk membantu kerja aparat Polri,� jelasnya. Selain itu, Budi Setyawan juga sempat curhat kepada Pastika. Ini gara-gara adanya selentingan yang konon menyebut-nyebut dirinya sedang asyik menikmati dugem di sebuah diskotek saat peristiwa bom itu terjadi. “Padahal, menurut Pak Budi, dia saat itu sedang bersembahyang di Pura Uluwatu. Saat bom meledak, tak lama kemudian Pak Budi sudah berada di lokasi bom,� kisahnya. Curhat Budi itu dimaklumi Pastika. Menurut Pastika, sosok Budi dikenalnya sebagai perwira tinggi Polri yang akrab

dengan dunia spiritual. “Saya yakin Pak Budi punya pengalaman spiritual yang panjang. Ini bisa jadi yang membuat dia saat itu berani meyakinkan, kasus bom Bali dijamin akan terungkap dalam waktu sebulan dengan mempertaruhkan jabatannya sebagai kapolda,� kata Pastika. Bagi Pastika, keyakinan Budi Setyawan itu sempat membuatnya terkejut. Proses investigasi kasus bom tersebut dinilai Pastika bukan pekerjaan gampang. “Proses pengungkapannya tidak bisa memakai jaminan seperti itu. Tetapi, Pak Budi mengaku kehadiran saya sebagai ketua Tim Investigasi diyakini sebagai buah dari permohonan spiritualnya juga,� ungkap Pastika. Ke Lokasi Bom Bekal informasi berharga sudah dikantongi Pastika dari Budi Setyawan. “Saat larut malam saya baru ke TKP di Legian. Saat itu tidak ada lampu, gelap. Saya kurang puas mengamati lokasi tersebut. Malam itu saya tidak pulang. Saya tidak tidur semalam suntuk. Pukul 06.00 saya keliling ke sejumlah titik yang ada di TKP,� kisahnya. Sepulang dari TKP, konsep organisasi kerja yang telah dirancangnya dimatangkan lagi. Inilah panduan Pastika untuk mengelola kerja tim investigasi yang dikomandaninya. Pukul 08.00, Jumat 18 Oktober 2002, Pastika menggelar rapat. Semua pejabat terkait sesuai bidang tugas masing-masing dikumpulkan. Saat rapat dimulai, Kapolda Bali Budi Setyawan membuka pembicaraan. Budi menjelaskan, mulai hari itu, proses penyelidikan dan penyidikan diambil alih Pak Pastika. Budi akan khusus berkonsentrasi menangani masalah keamanan. “Saya kemudian memaparkan tugas tim investigasi sesuai konsep perencanaan yang telah saya siapkan sebelumnya,� kenang jenderal bintang tiga ini. —sam


4

Tokoh

BUMI GORA

7 - 13 November 2010

Berangkat ke Solo dengan Jual Cincin Ibu Tahun 2010, Sri Astuti kembali berdiri di podium utama untuk menerima penghargaan Pemuda Andalan Nusantara, sebagai yang terbaik I nasional bidang pemberdayaan masyarakat. Penghargaan ini diserahkan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng di Solo dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat nasional. Pada puncak peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2008 dan 2010, Sri Astuti menyumbangkan kebanggaan bagi NTB.

T

ahun 2008, ia juga berhasil menjadi juara I SP3 (Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan) Nasional. Sarjana Peternakan lulusan Universitas Mataram tahun 2006 ini demikian gigih mengembangkan potensi yang ada di Sumbawa Barat. Ia tidak memilih kota untuk mencari lapangan pekerjaan, namun turun ke desa, agar ilmunya bisa diaplikasikan. Keterbatasan fisik, tidak menghalanginya untuk mendedikasikan diri bagi pembangunan sumber daya manusia di perdesaan. Cacat akibat polio yang menyerangnya sejak kecil, yang membuat kaki sebelah kanannya mengecil, tidak membuatnya minder dan putus harapan. Ia sadar keterbatasan kondisinya. Namun, ia tidak meratapi keterbatasannya itu, melainkan bangkit penuh semangat dengan dukungan hebat dari orangtuanya, Muchtar H.Ibrahim (alm) dan Salamah. Orangtuanya tidak pernah malu melihat keterbatasan kondisi fisik Sri. “Saat kecil, orangtua saya sering menggendong saya untuk mengikuti berbagai perlombaan, jika kaki saya terasa kumat sakitnya. Ini yang melecut saya agar berarti bagi orang lain,” ungkapnya. Ia mengaku tidak menyimpan citacita yang muluk-muluk secara ekonomi, melainkan ia terus memupuk cita-cita agar kelak ia bisa bermanfaat bagi orang lain. Dari sanalah ia berangkat. Ia memulai segala aktivitasnya dari hal-hal kecil yang bisa dan nyaman dilakukannya dengan keterbatasan yang dimilikinya itu. “Desa memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Dengan sedikit sentuhan dan keseriusan, potensi itu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakatnya,” katanya. Prestasi ini diraih Astuti bukannya tanpa perjuangan. Dengan tekun dan sabar, perempuan kelahiran Lombok Barat 27 tahun lalu ini menjalankan tugas pengabdian di masyarakat dalam bidang pendidikan, peternakan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam Program Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tahun 2007 bertajuk ‘Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan’ ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan mengabdi pada masyarakat. Kala itu, Sri, panggilan akrabnya, ditempatkan di Desa Persiapan Dasan Anyar Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat sebagai salah seorang tenaga pendamping program SP-3 Provinsi NTB dengan tugas menggali dan mengembangkan potensi desa. Dari sanalah ia mulai memanfaatkan ilmu yang telah diperolehnya dari bangku kuliah demi kepentingan masyarakat di sekitarnya. Ia menjadi sarjana yang diharapkan mampu menjadi penggerak dan pemikir serta dapat menjadi motivasi bagi masyarakat. Kala itu, Desa Dasan Anyar Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat merupakan desa baru yang dimekarkan dari desa induk yaitu desa Goa sehingga banyak hal yang harus

Sri mengajar di PAUD Bukit Lempayan

dibenahi salah satunya di bidang pendidikan. Masih banyak warga masyarakatnya yang belum memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Bekerja sama dengan pemerintah dan pemuda desa tersebut, ia mengelola dan menyelenggarakan pendidikan keaksaraan dan pendidikan anak usia dini bagi masyarakat desa melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bukit Lempayan di desa tersebut. Programnya Keaksaraan Paket B setara SMP. Warga belajar yang ikut serta dalam program ini berjumlah 40 warga dan telah melaksanakan ujian nasional kesetaraan yang diikuti 19 orang warga belajar. Selain paket B, PKBM ini juga menyelenggarakan pendidikan nonformal lainnya, yakni paket A, C dan PAUD (pendidikan anak usia dini). Tidak hanya itu, peserta belajar dilatih keterampilan berwirausaha yang menekankan pada potensi yang dimiliki masing-masing peserta. Usaha tersebut berupa pembuatan sandal spon dan pandan, yang dikelola warga belajar dan pengelola PKBM, usaha kios untuk keperluan sehari-hari, usaha pengelolaan tambak ikan bandeng dan udang serta usaha cetak foto digital bagi pemuda. Tempat belajar bagi warga awalnya merupakan sebuah tempat yang dipinjamkan oleh masyarakat. Namun, tahun 2009, PKBM ini memiliki gedung belajar permanen dengan dukungan dari PNPM Mandiri perdesaan tahun 2009, sehingga warga belajar menjadi lebih nyaman. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada bidang pendidikan, melainkan juga bidang peternakan yang menjadi dasar keilmuannya. Limbah peternakan yang dinilai dapat menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan dimanfaatkan dengan mengolahnya menjadi pupuk organik. Dengan membentuk kelompok kecil dari tidak banyak orang yang tertarik untuk mengerjakan hal ini di awal kegiatannya, kini produksi pupuk organik dari kelompok ini telah banyak dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah

Kabupaten Sumbawa Barat untuk mengembangkan pertanian organik seperti sayuran, padi, lidah buaya dan jagung yang disebarkan hampir di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat. Saat ini,setelah program SP3 usai, ia tidak berhenti. Sri lalu melepas kontrak kerja di salah satu dinas di Kabupaten Sumbawa Barat dengan terus menekuni kegiatan yang telah dirintisnya itu terus berlanjut dengan tetap terfokus pada pengembangan usaha pemberdayaan masyarakat melalui kelompok usaha penggemukan sapi dan pembibitan sapi Bali serta melanjutkan usaha pengelolaan pupuk organik. Ia menjadi Pembina Kelompok Peternak Neng Le Laki Desa Batu Putih Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Dengan tujuh orang anggota kelompok yang ikut dalam usaha ini awalnya, kini telah berkembang menjadi dua kelompok usaha. Anggotanya para pemuda yang belum memiliki pekerjaan. Dari populasi awal 52 ekor, dalam waktu 10 bulan berkembang menjadi 68 ekor. Para anggota kelompok dibina dalam pelaksanaan kegiatan inovasi dan penerapan teknologi tepat guna agar terjadi peningkatan pengetahuan dari anggota kelompok yang dibina tersebut. Aktifnya Sri dalam menggerakkan masyarakat ini membuatnya mengikuti seleksi hasil kegiatan Program SP-3 secara nasionalyang diikuti pemuda dari seluruh Indonesia yang mewakili provinsi masing-masing. Dengan penuh percaya diri, tahun 2008, ia mewakili NTB untuk memaparkan kegiatan yang telah dan sedang dilakukannya bersama masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah daerah terus mendukung tiap langkah pemberdayaan yang dilakukannya. Kerja keras dan ketekunannya selama ini memberdayakan masyarakat akhirnya mengantarnya meraih Juara Nasional SP-3 Berprestasi Tahun 2008. Prestasi yang diraihnya memicu ia untuk terus berkarya dan berinovasi, dan hal tersebut terus dipantau. Perkembangan usaha dan kegiatan yang diselenggarakan tersebut, membuat ia kembali mengikuti

Sri Astuti, Penerima Penghargaan Pemuda Andalan Nusantara seleksi tingkat nasional tahun 2010. Rupanya, apa yang sudah dilakukan Sri, mendapat apresiasi yang luar biasa dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, sehingga sekali lagi, ia mendapat kehormatan sebagai Pemuda Andalan Nusantara tahun 2010. Keseriusan dan dedikasi Sri Astuti dalam memberdayakan masyarakat dengan keterbatasannya, cacat pada kaki akibat polio sejak kecil, mengundang perhatian Kementerian Pemuda dan Olahraga, melalui Deputi Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga dan Asdep Kewirausahaan Pemuda, yang kemudian memberikannya bantuan pengobatan dan pengadaan alat bantu penopang tubuh berupa kaki palsu agar ia mampu lebih baik secara fisik. Melalui Program The China ASEAN Youth Camp 2009, Sri Astuti, S.Pt. dengan beberapa rekan pemuda Indonesia berprestasi lainnya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan pemuda di Gungxi, Cina. Prestasi nasional yang telah diraihnya, tentulah bukan hanya kebanggaan bagi dirinya dan orangtuanya, melainkan kebanggaan bagi NTB. Namun, dua kali menerima penghargaan dari negara tersebut, ia belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Menurutnya, tiap kali ia berangkat untuk menerima penghargaan, termasuk saat hendak berangkat ke Cina tahun 2009, biaya perjalanan hingga Jakarta-NTB ia tanggung sendiri. “Tahun ini, untuk berangkat ke Solo, saya menjual cincin ibu saya,” katanya. Dari apa yang telah dilakukannya, ia tidak berharap imbalan apa-apa, melainkan jika pun ada perhatian, ia berharap perhatian itu ada tertuju pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang dilakukannya agar masyarakat mendapat manfaatnya. “Saya tidak pernah bersedih, tetapi saya akan terus berjuang untuk itu,” tegasnya. Harapannya ke depan, ia ingin agar pemuda-pemuda kampus yang pintar dan memiliki keahlian mau kembali ke kampung membangun desa agar dapat memberdayakan masyarakat di desa demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sri tidak akan berhenti dengan kegiatan pembangunan yang ditekuninya kini. Pada pertengahan atau akhir November tahun ini, oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, ia telah diminta untuk bersiap-siap mengikuti program pelatihan kepemimpinan internasional di Cina. “Saya sudah diminta untuk mengosongkan jadwal saat itu, karena ada kemungkinan untuk berangkat ke Cina,” ujarnya. —nik

Pembuatan instalasi biogas di Kelompok Peternak Neng Le Laki Desa Batu Putih Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat

Siaran Hari Pahlawan Bina Vokalia Bali DALAM rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2010, Bina Vokalia Bali asuhan Ibu Amelia Manuaba akan tampil membawakan lagu-lagu perjuangan di TVRI Bali, Senin (8/11) pukul 19.00. Ada 13 lagu perjuangan yang akan dibawakan oleh paduan suara anak-anak (Fay Baihaqi, Adi, Annisa, Kesya, Imada, Zia, Mang Po, Kevin, Sarah, Janice, Restu, Cok De, Shinta), Kuartet D’Gem$ (Yani Manuaba-Baihaqi, Ni Putu Laksmi Dewi, Hartanto Widagdo, Wijaya Kurniawan, Fenny Rosita), Cok De serta Restu. ”Lagu-lagu kwartet yang kami bawakan termasuk lagu klasik Indonesia dengan tingkat kesulitan yang tinggi,” ujar Yani Manuaba. Lagu yang akan mereka bawakan, antara lain lagu ”Bumiku Indonesia” karya Lilik Sugiarto; ”Pantang Mundur” karya Titiek Puspa; ”Melati di Tapal Batas”, ”Indonesia Pusaka”, ”Gugur Bunga” karya Ismail Marzuki; ”Tanah Airku” karya Ibu Sud. ”Karya-karya komponis Indonesia tersebut membangkitkan rasa patriotik tapi sayang jarang orang tahu dan kami bangga bisa menyanyikannya. Apalagi, anak-anak sekarang jarang ada yang tahu lagulagu perjuangan. Ironisnya, lagu perjuangan nyaris hilang dari

KULINER

Paduan Suara Anak-anak Bina Vokalia Bali

perjuangan,” imbuh Yani. Dalam pementasan itu, mereka berupaya tampil maksimal. Selama ini, Bina Vokalia Bali dikenal berhasil melahirkan penyanyi berkualitas. Yani Manuaba adalah juara BRTV Bali jenis seriosa tahun 1985, 1987, 1988, 1990, dan 1992. Ni Putu Laksmi Dewi juara BRTV Bali jenis seriosa tahun 1993 dan 1995 serta juara BRTV tingkat nasional tahun 1995. Hartanto Widagda juga juara BRTV Bali jenis seriosa tahun 1988, 1990, dan 1992. Wijaya Kurniawan pernah menjadi juara BRTV Bali jenis seriosa tahun 2007, 2008, dan 2010. Begitu pula Cok De yang menjuarai BRTV Bali jenis seriosa tahun 2009 dan Restu

S A L O N

juara BRTV Bali jenis seriosa tahun 2010. Paduan suara anak-anak Bina Vokalia Bali secara rutin mengisi siaran ‘Musikal’ TVRI Bali sejak tahun 2008. Fenny Rosita adalah pianis yang mengiringi lomba BRTV Bali sejak tahun 1989. Bina Vokalia Bali juga memiliki pengalaman internasional seperti mengikuti Festival Paduan Suara di Melbourne tahun 1983 dan di Tokyo tahun 1985; juara 2 paduan suara jenis lagu klasik di Sydney tahun 1992; juara 2 paduan suara jenis lagu tradisional di Sydney tahun 1992; dan juara 1 paduan suara jenis lagu rakyat di Romania tahun 1993. —rat

&

S PA


. n . ti u g g

ti i

Pakan Ternak Menipis

Anda Bertanya Kami Menjawab

Ayam Tiren Apa dan bagaimana yang disebut ayam tiren? Bu Martinah Denpasar Jawaban: ’Tiren’ merupakan singkatan ’ayam yang mati kemaren’. Ayam yang telah mati itu dipotong sebagian pedagang yang tidak bertanggung jawab dan dijual dalam bentuk daging atau karkas. Daging ayam tiren tidak layak dikonsumsi karena sudah mengalami penyimpangan dari daging ayam

yang normal. Tidak jarang daging ayam tiren sudah memasuki proses pembusukan. Ayam tiren sering dijual saat permintaan terhadap daging meningkat, misalnya menjelang hari raya. Konsumen sebaiknya waspada dan tidak tergiur harganya yang murah. Beberapa cara mengenali daging ayam tirem: 1. Daging ayam sehat berwarna putih sampai merah sangat muda. Konsistensinya kenyal dan aroma khas segar. Sedangkan daging ayam tiren

berwarna lebih merah atau lebam, konsistensinya tidak kenyal dan aroma tidak segar, amis bahkan tidak sedap. 2. Karkas ayam normal terlihat bersih, sedangkan dalam ayam tiren sering terdapat bercak-bercak darah di antaranya di daging dan kulit. 3. Hati ayam tiren berwarna coklat hitam atau gelap. Hati ayam normal berwarna cokelat muda. Di usus ayam tiren terdapat banyak darah pada kapiler usus. Pembuluh darahnya banyak terisi darah beku. Jadi harus teliti sebelum membeli. drh. Ni Wayan Leestyawati Dinas Peternakan Provinsi Bali

Budidaya Jamur Tiram Berikut pertanyaan dan jawaban sekitar budidaya jamu tiram putih gunakan baglog. Tulisan tentang budidaya tersebut dimuat Koran Tokoh Edisi 614 (17 – 23 Oktober 2010) di halaman MEMBANGUN DARI DESA. Berapa banyak baglog yg harus dimiliki untuk skala rumah tangga/bisnis dan berapa luas lahan yang diperlukan? Pak Nengah di Tabanan Jawaban: Secara umum budidaya jamur tiram digolongkan dalam skala rumah tangga. Jika memiliki 1000 sampai 4000 baglog dengan kapasitas produksi rata-rata 3 sampai 10 kg per hari. Untuk skala bisnis jika memiliki lebih dari 5000 baglog dengan kapasitas produksi rata-rata 15 kg per hari. Lahan untuk budidaya bisa membangun rumah jamur sederhana dari bambu berdinding bedeg, per 1000 baglog perlu luas 3 x 4 meter,

atau dapat juga memanfaatkan Bagaimana cara mengantisibangunan setengah jadi/ pasinya? bangunan yang tidak terpakai. Pak Sudarma Karangasem

Gema Program Simantri di Blahbatuh

Tak Khawatir lagi Harga Pupuk Kima Naik PROGRAM simantri (sistem pertanian terintegrasi) mulai bergema di Desa Blahbatuh, Gianyar. Hal itu telah diperlihatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sari Tani dengan menerapkan pengolahan kencing dan kotoran sapi menjadi pupuk, pengusir hama padi, dan biogas. Penghematan biaya sudah mulai dirasakan para petani. Mereka pun tak khawatir lagi walaupun ada isu harga pupuk kima bakal naik. Anggota gapoktan ini meliputi petani di 6 subak yakni Subak Tegal, Subak Uma Desa, Subak Baan, Subak Buwogan, Subak Klawanan, dan Subak Babakan. Ketua Gapoktan Sari Tani Nyoman Tara menjelaskan, pihaknya telah mendapat bantuan dana simantri Rp 192.400.000 dari Pemerintah Provinsi Bali. Dana tersebut telah dimanfaatkan untuk membeli 20 ekor sapi, biaya membangun kandang, membeli alat pengolahan biogas, dan keperluan lainnya. Dalam operasionalnya mereka mendapat bantuan pendamping petugas penyuluh pertanian, Wayan Segara dan Gusti Nyoman Suarsa. Untuk mencarikan pakan sapi dan perawatan lainnya seperti termasuk membersihkan kandang, dibebankan pada 20 anggota kelompok; tiap orang diserahi 1 ekor sapi. Lokasi pelaksanaan program kurang lebih 300 meter dari Kantor Desa Blahbatuh. Tempat ini dianggap strategis, karena berada di tengah lahan persawahan milik anggota kelompok tani.

Kami anggota kelompok ternak Mekar Sari, tidak semuanya mempunyai lahan untuk menanam pakan ternak. Sebagian besar mencari pakan ternak di luar. Masalahnya sekarang bahan pakan ternak di luar menipis karena dibangun permukiman. Mungkin 5 tahun lagi di Desa Dalung tidak ada lahan kosong lagi. Bagaimana cara supaya kelompok ternak kami tetap ajeg dan bisa tetap memelihara ternak? Pak Eni Kelompok Mekar Sari 1 Desa Dalung, Badung Jawaban : Di Desa Dalung lahan pertanian sawah masih ada. Solusinya untuk mengatasi pakan ternak, saat panen padi tolong jerami-jeraminya jangan dibakar. Jerami ini mari kita olah dicampur konsentrat, jadilah silase. Ini adalah proses amuniasi jerami yang sangat baik untuk pakan sapi. Jangan disia-disiakan jerami padi ini, nanti akan kami turunkan petugas untuk bisa mengolah jerami ini agar menjadi pakan sapi yang berkulalitas. Pakan sapi dari jerami ini dapat meningkatkan pertumbuhkan berat badan sapi mencapai ½ kg per hari. Kalau masih ada lahan yang kosong kami akan bantu secara cuma-cuma bibit rumput raja/rumput gajah. Saat ini yang kami telah siapkan lahannya di Sobangan sekitar 10 hektare. Nanti bibit ini kami sebarkan di seluruh polosok Kabupaten Badung. Sehingga, petani tidak perlu menghabiskan waktunya untuk mencari rumput di sawah; memerlukan 15 menit saja untuk memberi pakan 2 ekor sapi. Ir. Made Badra, M.M. Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung

Tips apa yang dapat dijadiJawaban: kan acuan dalam membeli bagBudidaya jamur putih dalog instan? pat terserang hama seperti lalat, Bu Surtini Denpasar kutu batok, semut, kecoa bahkan ulat. Antisipasinya, selalu jaga kebersihan rumah jamur Jawaban: 1. Belilah pada produsen dari segala macam kotoran yang sudah terpercaya serta pengundang hama, terutama menyediakan layanan konsul- setelah panen atau sedang metasi sebelum dan selama budi- lakukan perawatan. daya. 2.Jangan tergiur harga yang murah atau bentuk fisik Apa kelebihan membeli yang bagus. 3. Pastikan pro- baglog instan dibandingkan dusen baglog dapat memberi membuat sendiri mulai dari garansi kerusakan baik selama medianya? proses pengiriman maupun sePak Gede Gianyar lama masa tunggu sampai panen pertama, lebih kurang 1 Jawaban: bulan. 4. Tanyakan jenis jamur Banyak sekali keuntungantiram putih apa yang paling nya, terutama untuk pemula sesuai untuk lokasi Ibu ber- atau yang hanya coba-coba, budidaya. antara lain: 1.Efisien waktu dan untung-ruginya Apakah budidaya jamur biaya, praktis dan ekonomis. tiram juga memiliki risiko 2.Risiko kegagalan sangat kecil Ina Priliasari, S.H. terserang hama dan hama apa bahkan bisa dikatakan tidak Telepon 0361 920 6672 saja yang bisa menyerang? ada. 3.Mudah mengalkulasi HP 081 33 77 66 400

Nyoman Tara

tkh/tin

Menjelang pukul 11.00, mereka sibuk memberikan pakan sapi. “Kami mengelola 20 ekor bantuan sapi dari pemerintah dan 3 ekor hasil swadaya kami,” kata Nyoman Tara. Kawasan dilaksanakannya program simantri ini tampak bersih dan bebas bau kotoran sapi. “Kami telah menyiapkan kolam untuk memelihara ikan yang pakannya dari limbah kotoran sapi,” ujarnya. Di kawasan ini terdapat beberapa bangunan yakni kandang sapi, rumah pengolahan pakan dan pengolahan biogas dari kencing dan kotoran sapi. “Saat ini, kami mencari pakan di sawah karena persediaan rumput masih sangat melimpah. Namun, kalau toh nanti persediaan rumput menipis kami tidak merasa khawatir karena kami telah diberi keterampilan tentang cara mengolah

tkh/tin

a

MEMBANGUN DARI DESA

Proses pengolahan kencing sapi menjadi bio-urine di Blahbatuh

Wayan Sadiya L.

tkh/tin

jerami menjadi pakan,” ujarnya. Ia menuturkan, dalam sehari satu ekor sapi menghasilkan 8 kg kotoran dan 1 bak berkapasitas 3,375 m³ kencing baru bisa penuh dalam sebulan. Sebelum dipakai menjadi pupuk, kotoran sapi diolah dalam wadah tanki menjadi biogas. Limbah registernya dibuat sebagai pupuk. Sementara kencing sapi tak bisa langsung dipakai sebelum dihilangkan gas amoniaknya. Setelah diproses 8 jam, kencing sapi bisa disiramkan atau disemprotkan ke tanaman padi. Ia mengatakan, pemupukan dengan kotoran dan kencing sapi itu sudah diterapkan di areal persawahan seluas 5 hektare milik anggota kelompok. Beberapa anggota sudah memanen padinya. Nyoman Alus, salah seorang petani yang sudah merasakan manfaatnya. “Bulir tanaman padi kami lebih padat, kuningnya merata, tak ada lagi hama tanaman seperti walang sangit, kupu putih, setelah mendapat pupuk kotoran dan disemprot biourine sapi. Bahkan tanaman padi yang hampir gagal panen akibat virus tungro berhasil diselamatkan setelah disemprot biourine dan diberi pupuk kotoran sapi,” tuturnya. Nyoman Alus pun kini tak perlu lagi memakai pestisida kimia untuk memberantas hama. “Biourine ini saya semprotkan 2 kali seminggu dan terbukti mengusir hama dan mencegah virus tungro berkembang,” katanya. Dengan memakai pupuk organik berasal dari kotoran sapi ini, para petani mengaku lebih menghemat biaya. Petugas PPL merekomendasikan pemakaian pupuk 2 kg urea, 2 kg MP3 Ponska dan 3

kg pupuk organik per are. Nyoman Alus hanya menerapkan 50% dari yang direkomendasikan itu dan menambah ½ liter kencing sapi per are untuk menyuburkan tanaman padi seluas 40 are miliknya. Setelah panen, menghasilkan 91,2 kg per are, atau 9,1 ton per hektare. Ia menuturkan, sebelumnya mengeluarkan ongkos untuk membeli 2 kg pupuk urea seharga Rp 64.000 dan 2 MP3 Poska Rp 92.000, sesuai yang direkomendasikan. Dengan mengganti kedua pupuk kimia itu dengan memakai 18 liter kencing sapi di lahan 40 are, ia mengaku mampu menghemat ongkos Rp 138.000. “Padahal saya hanya menyemprotkan 2 kali dan sedikit terlambat melakukan penyemprotan,” katanya. Menurut aturannya, penyemprotan dilakukan saat usia padi berumur 15 hari, seterusnya dengan jarak per tujuh hari. Sedangkan Alus baru melakukan penyemprotan setelah padinya berumur 50 hari dan saat itu 15% tanaman sudah diserang virus tungro. “Dengan disemprotkannya biourine, virus tungro tak bisa berkembang,” katanya. Dengan tersedianya pupuk kotoroan dan kencing sapi ini, kini warga Gapoktan Sari Tani tidak merasa khawatir meski ada isu harga pupuk kimia bakal naik sampai Rp 3 ribu per kg. Biogas Selain menjadi pupuk, kotoran sapi diolah menjadi biogas. Gas dari kotoran sapi ini kini telah dimanfaatkan beberapa warga untuk keperluan dapur rumah tangga. Biogas ini juga sudah dimanfaatkan untuk memasak berbagai hasil kebun seperti kacang, jagung dan kedelai yang direbus untuk camilan serta memasak air untuk minuman kopi saat mereka berada dalam kegiatan bersama. Wayan Sadiya L, salah seorang warga yang telah memanfaatkan biogas kotoran sapi ini untuk memasak. Ia merasa terbantu dengan adanya biogas ini dan bisa menghemat pemakaian kayu bakar. Sebelum memakai biogas ia memakai kayu bakar, termasuk untuk membuat minyak kelapa. Satu kali masak, ia memerlukan 1 ikat kayu bakar yang ia beli Rp 10 ribu. Kini biogas itu juga ia manfaatkan untuk memasak makanan keperluan warung nasinya. “Rasanya tetap enak, tak berbeda dengan rasa makanan yang dimasak dengan kayu bakar,” katanya. Warga menggunakan ban dalam mobil untuk menampung biogas untuk dibawa pulang ke rumah. “Isi gas dalam satu ban ini hanya bisa dipakai memasak satu jam,” ujar Wayan Sadiya L. —tin

DARI DESA KE DESA

7 - 13 November 2010 Tokoh 5

Penggunaan Probiotik pada Unggas

Tingkatkan Produktivitas, Tekan Angka Kematian SALAH satu upaya meningkatkan produktivitas atau meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, dengan aplikasi penggunaan probiotik. Probiotik merupakan mokroorganisme yang hidup dalam makanan suplemen yang memiliki efek menguntungkan dalam tubuh dengan meningkatkan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Saat ini telah dikembangkan beberapa jenis probiotik ternak, namun kebanyakan masih terbatas pada ternak ruminsia. Probiotik untuk ternak ruminsia (sapi, kambing, kerbau) yang ditemukan peneliti BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ) Bali adalah Bio–Cas, tahun 2004. Hasil beberapa penelitian menunjukkan, penggunaan BioCas pada sapi Bali dapat meningkatkan pertumbuhan ternak tersebut; bahkan dapat meningkatkan bobot lahir sapi. Dengan ditemukannya probiotik untuk unggas (ayam), diharapakan akan dapat membantu petani untuk meningkatkan keuntungan usahanya. Penggunaan probiotik ini di samping dapat meningkatkan produktivitas juga dapat menekan angka kematian, terutama pada ayam pedaging. Saat ini pihak BPTP Bali telah memproduksi probiotik ayam yaitu Bio-B maupun Bio-L.

Apa manfaat pemberian probiotik pada unggas? Pemberian probiotik pada ternak unggas dapat memberikan beberapa manfaat, di antaranya : 1. Mempercepat pertumbuhan (pada ayam pedaging) atau meningkatkan produksi telur (pada ayam petelur). 2. Meningkatkan berat telur. 3. Menghemat penggunaan pakan. 4. Menekan angka kematian. Bagaimana teknik pemberiannya ? Probiotik unggas yang diproduksi BPTP Bali untuk ayam petelur disebut Bio-L dan pada ayam pedaging (broiler) disebut BioB. Probiotik ini berbentuk cair, di dalamnya mengandung beberapa jenis mikroba yang diisolasi dari intestinum unggas, antara lactobacillus yang dapat membantu pencernaan makanan. Agar efektif dan efisien, probiotik ini diberikan melalui air minum. Dengan berbentuk cairan, probiotik akan mudah dilarutkan dalam air. Berapa dosisnya? Pada ayam petelur (Bio-L) diberikan dengan dosis : 1 cc/liter air minum. Pada ayam pedaging (Bio-B) diberikan dengan dosis: 1 cc/liter air minum. Pada ayam petelur, digunakan setelah ayam pada fase bertelur, dan pengaruhnya akan lebih nyata setelah ayam melampui fase puncak produksi, atau jumlah telur sudah di bawah 85%. Pada ayam pedaging diberikan sejak awal pemeliharaan (DOC), hingga akhir masa pemeliharaannya. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian Bio-L pada ayam petelur 1 cc/liter air minum dapat meningkatkan produktivitas telur 10 – 12%, yakni dari rata – rata 75% menjadi 85%. Pemberian probiotik pada level yang lebih tinggi justru kurang efektif, karena hanya meningkatkan produktivitas 5%. Di

samping itu pemberian probiotik (Bio-L) dapat meningkatkan bobot telur rata-rata 4 gram, dari 67 gram menjadi 71 gram/butir. Meski produktivitasnya meningkat, pemberian Bio-L tidak menyebabkan meningkatnya konsumsi pakan, bahkan konsumsi pakan cenderung menurun. Hal ini menyebabkan FCR (Feed Convertion Ratio) turun dari rata-rata 2,35 menjadi 1,93. Dengan demikian penggunaan probiotik (Bio-L) di samping meningkatkan produksi juga mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Pemberiaan Bio-L tidak memengaruhi warna telur dan komposisi telur, tetapi dapat meningkatkan kandungan protein telur dan menurunkan kadar kolesterol. Hasil analisis ekonomi menunjukkan, penggunaan Bio-L dapat meningkatkan nilai keuntungan usaha ayam petelur, Dengan menggunakan asumsi 1.000 ekor ayam (layer), keuntungan tiap bulan Rp. 5.379.000 (P0) menjadi Rp. 7.731.000 (P1) atau dengan kata lain terjadi peningkatan 40,98%. Meningkatnya keuntungan tersebut terutama disebabkan adanya peningkatan out put akibat meningkatnya produksi telur, sedangkan tambahan in put berupa biaya probiotik jauh lebih kecil dibandingkan tambahan out put. Penggunaan probiotik (Bio-B) pada ayam pedaging dalam dosis 1 cc/liter air minum dapat memberi peningkatan pertumbuhan. Pada umur 6 minggu, rata-rata berat badan ayam yang mendapatkan probiotik lebih tinggi 100 -120 gram dibanding ayam yang tanpa diberi probiotik. Penggunaan probiotik Bio-B, juga menyebabkan penghematan konsumsi pakan. Selama 6 minggu rata-rata tiap ekor dapat menghemat pakan 180-200 gram. Hal ini menyebabkan FCR menurun dari 1,64 (tanpa probiotik) menjadi 1,51. Hasil pemotongan menunjukkan, produksi karkas pada ayam yang memperoleh Bio-B meningkat dari 67,46% (kontrol) menjadi 68,34%. Di samping itu, hasil proximate analysis menunjukkan, pada ayam perlakuan kandungan protein dagingnya meningkat dari rata-rata 23,08 % menjadi 26,76%, sebaliknya kandungan lemak menurun dari 10,32 % (kontrol) menjadi 3,96 %. Penggunaan Bio-B pada ayam pedaging juga dapat meningkatkan keuntungan ratarata 21,86%.

Hal apa yang perlu diperhatikan untuk mengaplikasikan probiotik? Untuk mengaplikasikan probiotik (Bio-L maupun Bio-B) ada beberapa hal yang patut diperhatikan, antara lain: 1. Tempat penyimpanan harus teduh (jangan terkena sinar matahari langsung). 2. Ruangan kering dan tidak lembab. 3. Wadah segera ditutup jikab masih ada probiotik yang tersisa dalam wadah. 4. Masa penyimpanan maksimal 2 bulan. 5. Jaga selalu kebersihan tempat air minum dan selalu gunakan air minum yang bersih. Narasumber: Dra. I. G. A. Sukartini Adnyana, Apt., M.Kes. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

DEEPAVALI LAKSMI PUJA AWAL November ini, hampir 1 miliar umat Hindu dunia merayakan hari raya Deepavali Laksmi Puja, hari raya untuk memuliakan Dewi Laksmi sebagai sumber dari kemakmuran dan kasih sayang. Sakti Dewa Wisnu ini dikenal dengan beberapa nama seperti Dewi Sri (India) dan Dewi Kwam Im/Guan Yin (Cina), sehingga perayaan Laksmi Puja ini menjadi semarak di berbagai belahan dunia. Bagaimana dengan di Bali sendiri? Sujatinya di Bali sudah banyak memiliki hari raya yang berkaitan dengan peran Dewi Laksmi sebagai Dewi Kemakmuran, semisal adanya perayaan hari raya Dewi Sri atau memuliakan Betara Rambut Sedana, jadi memang benar bahwa walaupun berbeda nama dan gelar, tapi maknanya tetap satu. Yang membuat istimewa, bahwa Deepavali atau festival cahaya ini dirayakan dalam nuansa prihatin. Di tengah situasi bangsa Indonesia yang sedang diguyur tragedi Merapi dan Mentawai, belum lagi mulai meleduknya beberapa gunung-gunung di lingkaran cincin api Nusantara, yang setiap saat bisa menjadi bencana. Jadi, sudah seharusnya, siapa pun yang merayakan Deepavali kali ini, harus berjiwa toleransi, berjiwa teposeliro dan solider dengan kondisi bangsa. Diharapkan melalui Laksmi Puja kali ini, bangsa Indonesia mendapatkan berkat dan perlindungan dari Ibu Laksmi yang selama ini juga berperan sebagai Ibu Kasih Sayang di samping kita kenal peran Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara. Sebagaimana kita lihat dalam catatan sejarah dan teks akademik sastra-sastra Weda, bahwa tanah Jawa Dwipa, tanah Suwarna Dwipa (Sumatera), Bali Dwipa dan Nusantara senantiasa disebut- sebut dalam sejarah Hindu sebagai agama tertua di jagat raya. Maka tidaklah mengherankan, sebagian kalangan di Indonesia menganggap bahwa apa pun bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah wujud dari hubungan sebab akibat antara manusia, alam dan leluhurnya. Dan, disinilah peran Wisnu dan Laksmi secara filosofi menjadi

jelas dan benderang. Kita patut prihatin, bahwa bangsa ini sudah makin menjauh dari nilai-nilai ritual dan penghormatan terhadap alam itu sendiri. Saat ini mayoritas manusia Indonesia mengabaikan sisi-sisi tradisional dari sebuah sistem alam dan leluhur yang padahal usianya jauh lebih tua dari agama-agama pendatang yang ”baru” masuk Indonesia pada abad IV sampai abad XVI. Atas nama sebuah paham sepihak yang bernama monoteisme, agama-agama baru ini menghujam dan menghancurkan nilai-nilai budaya lokal Nusantara. Mungkinkah ini penyebab bahwa alam dan leluhur murka dengan tingkah laku manusia- manusia Indonesia dan mengirimkan peringatan dengan bencana kejadian longsor Wasior, tsunami Mentawai dan wedhus gembel Merapi. Bedanya, paham Siwa Budha selalu merangkul budaya kuno, dua agama ini selalu toleransi terhadap kebudayaan apa pun. Tidak ada justifikasi bahwa kebudayaan sebelumnya dicap sebagai berhala, murtad, kafir, haram dan lain sebagainya. Maka tak heran, Sabdo Palon Nayogenggong pun menyatakan bahwa Hindu dan Buddha disebut sebagai agama Budi, karena tidak pernah merendahkan siapa pun. Manusia bolehlah cerdas mandraguna, bertitel profesor, doktor, master dan sarjana tapi janganlah melupakan sejarah Nusantara dan senantiasa berpikir seimbang antara sekala niskala, vertikal dan horizontal, itu semua karena kita berpijak di tanah tua bernama Nusantara dengan segala sistemnya. Maka tak salah esensi dari perayaan Deepavali Laksmi Puja pada hari ini, bahwa dengan memohon kepada Ibu Dewi Laksmi, Sang penguasa tanah pertanian dan kemakmuran di seluruh jagat raya, agar kiranya Sinar Suci Dewata tidak pernah beranjak dari tanah Nusantara, terutama tanah Jawa Dwipa dan tanah Swarna (Sumatera) Dwipa yang kini sedang koyak. Swasti Depawali Laksmi Puja ...

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

NUSANTARA Tarian Caci dari Manggarai

7 - 13 November 2010

Tari Velabhea Bawakan Pesan Sportivitas Terinspirasi Kehidupan Masyarakat Sentani

ATRAKSI mirip tradisi perang pandan di Karangasem ada di Manggarai, Flores. Seni tradisional ini melukiskan adu cambuk dua penari lelaki di atas panggung. Dua arjuna ini berusaha menarik perhatian lawan jenis melalui unjuk kebolehannya di atas pentas.

D

i panggung Nusa Dua Fiesta 2010 belum lama ini tampil atraksi seni tarian unik dari tanah Flores ini. Dua lelaki saling balas memukul. “Hanya saja cambuk dalam tarian Caci memakai rotan,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai Barat, NTT, Drs. Paulus Selasa. Menurutnya, tarian Caci merupakan seni tari tradisional yang hidup di tengah komunitas masyarakat Manggarai. Karya seni ini tidak saja menonjolkan sisi artistik. “Caci juga membawa pesan pergaulan dan jiwa sportivitas. Tetapi, tarian ini memang juga menonjol unsur kekerasan dan sadistiknya,” katanya. Namun, menurut Paulus, tarian ini sebenarnya berasal dari potret kehidupan nyata masyarakatnya. Seni pertunjukan ini, menurut tokoh Manggarai Barat. P.Y. Don Bosco Wahi, merupakan seni permainan rakyat yang diawali nyanyian adat (kelong). Nyanyian yang dibawakan sebuah kelompok masyarakatnya akan disambut kelompok lainnya. Nyanyian dalam bahasa daerah itu akan diikuti gerakan yang disebut tandak atau danding oleh kelompok tersebut.

Sebenarnya lagu Kelong hanya khusus dinyanyikan untuk memanggil roh leluhur yang telah meninggal. Nyanyian ini dilantunkan untuk mengundang roh nenek moyang itu agar hadir bersama menyaksikan atraksi Caci. Tembang Kelong menjadi penentu digelarnya atraksi Caci. Saat atraksi hendak dimulai biasanya para lelaki yang hendak saling adu cambuk melakukan gerak persiapan. Gerakannya ditampilkan seindah mungkin diiringi bunyi gong dan tambur. Sejumlah lagu daerah setempat ikut menyemarakkannya. Untuk memancing reaksi lawan biasanya para penari Caci akan berjalan sambil menari mengelilingi arena berbentuk lingkaran. Sesekali mereka menunjukkan sikap menantang lawannya. Atraksi seni ini melibatkan dua kelompok pemain Caci. Tiap kelompok biasanya terdiri atas tiga atau lebih pemain. “Banyak sedikitnya jumlah pemain caci tergantung luas arena pertunjukan,” jelas mantan ketua Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) ini. Saat atraksi dimulai, seorang pemain menjadi pemegang pecut atau larik. Lawannya siap menangkis dengan tameng

Rujak Cingur Sedati Pelanggannya Pejabat

Bu Nur Aini

MEMBANGUN suatu usaha tidak mudah. Perlu waktu dan kesabaran sebelum menjadi besar. Itulah yang dialami Bu Nur Aini, pemilik warung Rujak Cingur Sedati di kawasan Juanda, Surabaya. Salah satu makanan khas arek Suroboyo itu tidak sulit ditemukan wisatawan yang baru tiba di Bandara Internasional Juanda. Sebab, letaknya sekitar 5 km dari Bandara Juanda. Rujak Cingur, me-rupakan perpaduan rujak dengan cingur (mulut sapi). Santapan kuliner ini terdiri atas buah segar seperti pencit (mangga muda), nanas, bengkoang, kedondong, dicampur tahu, tempe, kangkung, lontong, cingur, dan kerupuk serta bumbu rujak dan petis. Harga rujak cingur biasa Rp 17.500, rujak cingur spesial Rp 22.500 per porsi. “Usaha kuliner ini saya bangun dengan penuh perjuangan. Sebelum besar seperti sekarang, saya sempat berjualan rujak cingur di emperan ru-

mah, tujuh tahun,’’ ungkap Bu Nur Aini yang telah menekuni bisnis rujak cingur sejak 14 tahun lalu, kepada wartawan Koran Tokoh. Sebenarnya sebelum menekuni bisnis kuliner, sarjana agama lulusan perguruan tinggi di Surabaya ini sempat bercita-cita menjadi pegawai negeri. Ia pernah menjadi guru agama di TK hingga di SMA. Namun, berkat jiwa wirausahanya akhirnya cita-cita menjadi pegawai negeri ditinggalkan. Sebelum menekuni bisnis kuliner aneka rujak mulai rujak manis, rujak cingur spesial, rujak cingur biasa, rujak cingur Madura dan aneka jus ini, ibu tiga anak ini pernah mencoba bisnis garmen dengan menjadi agen pakaian. Namun, akibat krisis moneter 1997 usahanya gulung tikar. Saat itulah, muncul ide untuk membangun usaha kuliner di depan emperan rumahnya, yakni berjualan rujak cingur. Usahanya mulai dikenal dan menemukan ciri khasnya, yakni rujak cingur yang tidak amis dan kental dengan rasa mantap. Petis dipilih yang spesial kemudian diolah kembali dengan komposisi tertentu. Tidak sedikit pejabat tinggi negara dan pejabat pemerintahan, artis, politisi, tokoh agama, menjadi pelanggannya. ‘’Saya sering melayani tamu VIP di Bandara Juanda,’’ katanya. Juara I Festival Jajanan Bangau 2005 ini dipercayai menjadi duta dalam Festival Jajanan Bangau 2007 yang digelar di 4 kota yakni Bandung, Jakarta, Surabaya dan Medan. –sby

Rujak Cingur

Don Bosco Wahi

yang terbuat dari kulit kerbau. Pemegang pecut hanya boleh mengayunkan pecut ke arah sebatas pinggang sampai kepala lawan. Para pemainnya saat tampil memakai aksesori indah di kepala. Namanya pangga, terbuat dari kulit kerbau berbentuk tanduk yang dibaluti kain yang dibentuk menyerupai tanduk kerbau. Di tengah tanduk ada aksesori berbentuk ekor kuda jantan sebagai simbol keperkasaan. Tubuh pemain Caci saat tampil bertelanjang dada. Mereka hanya mengenakan songket adat Manggarai sebatas pinggang. Belakang pinggang diikati giring-giring yang meng-

gelantung agar saat menari dapat mengeluarkan irama yang merdu. “Pembuka pukulan dilakukan para tokoh adat yang menggagas gelar acara tersebut. Tamu dari luar daerah setempat yang menangkisnya,” ujar suami Fin Magung ini. Larik atau pecut (mbete) dibuat dari kulit kerbau kering. Jika diayunkan mengenai badan lawan bisa menyisakan luka terbuka. Biasanya penyerang mengayunkan pecutnya ke tubuh lawan. Sementara penangkis berupaya menghindari sabetan pecut dengan sebuah tameng atau perisai dari kulit kerbau dan sebuah tereng dari sebatang bambu kering yang ukurannya 2-3 meter. Semua pemain Caci sudah siap menerima risiko. Mereka harus mahir memukul dan memblokade pukulan lawan. Setelah pukulan berhasil dihindari penangkis mengeluarkan suara (paci) sebagai ekspresi kehebatan. Tradisi menarikan karya seni ini konon tersebar merata di seluruh kampung Manggarai. Tarian ini umumnya ditampilkan setelah panen hasil ladang kering maupun sawah tiap tahun. “Atraksi Caci lazim disuguhkan Juli-Oktober yang dikenal sebagai musim panen padi,” jelas Don Bosco. —sam

Atraksi seni pertunjukan Caci dari Manggarai Barat di Nusa Dua Fiesta 2010

Olah seni gerak seniman tari Velabhea dari Sentani Papua di Nusa Dua Fiesta 2010

P

ERISTIWA perang saudara Suku Sentani ternyata bisa menginspirasi lahirnya karya seni gerak yang memukau. Karya seni pertunjukan itu dikreasikan sebagai tarian Velabhea. Karya seni ini ditampilkan amat atraktif di panggung Nusa Dua Fiesta 2010. Atraksi seni tari tersebut sebenarnya mengisahkan peristiwa perang saudara di salah satu suku di bumi Papua. Para penari mengekspresikan gerakan saling serang memakai senjata tradisional ke arah musuh. Gerak tariannya melukiskan usaha dua kelompok saudara dalam satu suku untuk saling mempertahankan diri. Mereka hendak membela kelangsungan hidup kelompoknya. Karya seni tari pertunjukan itu memang sengaja memindahkan cerita peperangan tadi itu ke panggung kesenian. Peralatan perang ikut dibawa ke

atas pentas. Semua penarinya dilengkapi senjata khas, seperti panah, parang, dan tombak. Dikisahkan, peperangan tersebut berlangsung siangmalam. Ada korban jiwa bahkan yang menjadi taruhan. Belasan seniman yang tampil di panggung tersebut bernaung di bawah bendera Sanggar Seni Okina, Kabupaten Jayapura. Tarian perang Velabhea itu merupakan sebuah karya seni gerak yang terinspirasi kehidupan nyata masyarakat asli di sekitar kawasan Danau Sentani. Perang saudara selalu menimpa masyarakat desanya. Dari cerita itulah muncul sebuah garapan tari yang dicetuskan para seniman Papua hingga menjadi ikon budaya Sentani hingga kini: Tarian unik, lengkap dengan kostum Papua, yang didominasi bulu burung Cendrawasih. Gerakannya dipadu iringan musik tradisional Papua. Menurut Koordinator

Sanggar Seni Okina, Corry Ohey, duta seninya bukan baru sekali tampil di arena Nusa Dua Fiesta. “Ini penampilan kami yang kedua. Seniman kami tampil perdana saat Nusa Dua Fiesta 2001. Kami berharap melalui tarian yang kami bawakan dalam kegiatan bertaraf internasional ini, seni budaya kami dapat dikenal dan dipromosikan kepada masyarakat dunia,” harap Corry. Para seniman tari yang tampil diterbangkan dari Sentani. Partisipasi masyarakat asli tersebut dinilai sebagai komitmen memperkenalkan aneka seni dan budaya daerahnya. “Tari ini bukan hanya kami tampilkan saat fiesta ini. Tarian ini selalu ditampilkan saat pergelaran adat di Papua. Sanggar kami pun sering membawakannya ke berbagai daerah maupun luar negeri. Semoga seni dan budaya Papua lebih dikenal saudarasaudara kita di daerah lain,” katanya. —sam

PTPN XI

Kaji Penggabungan Pabrik Gula RENCANA penggabungan sejumlah pabrik gula (PG) di Jawa Timur baru pada tahap melakukan kajian. Dari kajian tersebut diketahui berapa kebutuhan tebu ideal untuk memenuhi kapasitas giling bagi PG agar dapat menghasilkan gula bermutu tinggi dan harga pokoknya (unit cost) bersaing. Kebutuhan tebu diproyeksikan ke dalam luas areal lahan dan tingkat produktivitas dicapai agar sistem dan manajemen produksi yang berkelanjutan dapat dilaksanakan. Hal itu dikemukakan Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara XI Ir Adig Suwandi, M.Sc. kepada wartawan Koran Tokoh di Surabaya pekan lalu. Ia mengatakan tidak mudah melakukan amalgamasi PG. “Selain pertimbangan ekonomis dan finansial, tentu perusahaan mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan, termasuk bagaimana penyaluran tenaga kerja yang selama ini menggantungkan hidupnya pada PG,’’ katanya. Menurut dia, komunitas lokal yang selama ini mendapatkan multiplier efek PG juga menjadi pertimbangan. Karena itu, PTPN XI berharap ada dukungan lahan dari pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat sekitar kalau memang PG tetap ingin dipertahankan keberadaan dan keberlanjutan operasinya. Dalam era liberalisasi perdagangan sekarang, PG tidak hanya bersaing dengan sesama produsen di dalam negeri, juga luar negeri. Momentum naiknya harga gula dunia yang sekarang mencapai kisaran USD 700-745 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium) menyusul perubahan iklim yang berdampak terhadap menurunnya stok global, hendaknya mendapat perhatian serius untuk mengawali kebangkitan dan kejayaan kembali industri gula nasional. Sebagai tanaman yang relatif tahan terhadap berbagai gejo-

lak iklim, tebu dapat menjadi pilihan petani. Tugas PG, membina petani agar dapat menyelenggarakan praktik budidaya terbaik dan mengolahnya menjadi gula kristal. Dalam pertemuan koordinasi yang dihadiri Gubernur Soekarwo, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf, serta jajaran manajemen PTPN X dan XI, kata dia, ditegaskan segera dibentuknya tim teknis. Tugasnya, antara lain menyusun grand strategy revitalisasi PG di Jatim. Setelah rampung, konsepnya akan dibahas bersama para bupati/wali kota yang di daerahnya terdapat PG khususnya dalam penyediaan lahan yang memungkinkan tidak adanya lagi idle capacity. PTPN XI berharap, nantinya semua tebu untuk sebuah PG berasal dari sekitarnya, bukan dari tempat yang jauh dengan konsekuensi ongkos transportasi mahal. Misalnya, kebutuhan ideal untuk 3 PG di Kabupaten Probolinggo (Wonolangan, Gending dan Padjarakan) yang secara keseluruhan berkapasitas 3.700 ton tebu per hari (tth), potensi lokal 140.000 ton dari 555.000 ton kebutuhan. Kekurangan tebu, menurut dia, terpaksa diambilkan dari Lumajang yang mengalami surplus. Itu pun masih dengan asumsi lama giling minimal yakni 150 hari. Secara finansial, bagi PTPN XI sebenanarnya masih lebih menguntungkan memanfaatkan semua tebu Lumajang dengan meningkatkan kapasitas PG Djatiroto dari 5.500 menjadi 10.000 atau bahkan 12.000 tth. Tetapi, dalam upaya menjaga keseimbangan tebu antarwilayah agar PG-PG Probolinggo tetap beroperasi, manajemen memutuskan peningkatan kapasitas PG Djatiroto baru ke arah 7.500 tth. Demikian pula 3 PG di Kabupaten Situbondo di luar Asembagus (Wringinanom, Olean, dan Pandjie) dengan kapasitas total 4.500 tth, kebutuhan ideal tebu 675.000 ton,

“Selain pertimbangan ekonomis dan finansial, tentu perusahaan mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan, termasuk bagaimana penyaluran tenaga kerja yang selama ini menggantungkan hidupnya pada PG”

kemampuan lokalnya hanya 110.000 ton sehingga sisanya harus didatangkan dari tempat lain Sebanyak 5 PG lingkup PTPN XI di kawasan Madiun dan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Dukungan pemerintah kabupaten/kota terhadap penyediaan lahan budidaya tebu tampaknya menjadi faktor penting. —sby

Makin Didengar Makin Asyiiik...


USAHA

7 - 13 November 2010 Tokoh 7

“Menjual Indonesia” Melalui UMKM HAMPIR bisa dipastikan, tiap pameran produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jakarta, baik di Jakarta Convention Center, Gedung UKM, Balai Kartini, maupun di tempat lainnya, selalu dipadati pengunjung. Umumnya mereka ibu-ibu dan kebanyakan antusias membelinya, terutama produk-produk kerajinan, aksesori dan makanan.

tkh/dia

juga tak kalah unik, bahan rotan bisa menjadi aksesori perempuan berupa tas tangan yang unik, elegan dan bernilai klasik namun trendi. Tak mengherankan, sementara pelaku UMKM menilai pameran UMKM merupakan ajang promosi, transaksi sekaligus pembelajaran. Di arena pameran mereka saling lirik kreasi, model, dan inovasi, yang bisa mendatangkan inspirasi untuk mewujudkan produk baru yang bisa lebih diterima konsumen. Dari sini bisa diprediksi pula, dalam pameran mendatang produk atau model apa yang akan disuguhkan pelaku UMKM. Sebab, dari pasar kekinian, bisa diteropong bagaimana reaksi pasar akan datang. Transaksi tidak hanya bersifat lokal dan instan/seketika. Dalam pameran juga muncul kerja sama jangka panjang, termasuk dengan buyer luar negeri. Misalnya, permintaan toko-toko suvenir, galeri, butik, bisa berlaku untuk jangka panjang. Dari permintaan mereka, model dan kreasi bisa berkembang cepat dan variatif, karena pengelola butik atau galeri cukup paham bagaimana karakteristik konsumen mereka, sehingga lewat kerja sama ini produk UMKM makin meningkat, tidak hanya dalam

Berbagai kerajinan hasil inovasi UMKM berbahan baku rotan

Peran BUMN dan Perbankan Dari suatu pameran, kita bisa melihat dan mengamini, mengapa sektor UKM tampak terus menggeliat maju. Dukungan pemerintah, BUMN, dan pihak swasta termasuk perbankan, tak diragukan lagi makin meningkat. Setidaknya itu bisa dilihat dari kiprah mereka dalan kucuran dana kredit, dan pembinaan yang dilakukan terhadap pelaku usaha di sektor UMKM. Dalam tiap pameran, BUMN dan perbankan yang menjadi mitra binaan selalu tertera di stan-stan pameran. Kucuran kredit bagi UMKM ada yang langsung kepada pelakunya maupun melalui kerja sama dengan bank lain serta koperasi. Bank Internasional Indonesia (BII), misalnya, melalui linkage program kerja sama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di berbagai kota telah menyalurkan dana hampir setengah triliun rupiah. Melalui program ini BPR memperoleh penguatan permodalan dalam mengembangkan usaha UMKM. Hingga akhir 2006 saja, jumlah BPR yang bernaung di bawah linkage program BII mencapai 90. BII melakukan linkage program sejak tahun 2003 hingga sekarang dan kolektibilitasnya tergolong lancar. Selain itu melalui koperasi, BII juga melakukan kerja sama, di antaranya dengan Koperasi Paguyuban Pedagang Mie & Bakso Megapolitan Indonesia (PPMMI). Bank yang memiliki lebih dari 230 cabang di seluruh Indonesia itu, yang juga hadir di Mauritius, Mumbai, dan Cayman Island, mengucurkan dana untuk UMKM dan koperasi sebagai komitmen BII untuk ikut berperan dalam pemberdayaan UMKM agar dapat menikmati jasa perbankan. (sumber : BII online). Bank lainnya dalam pengucuran kredit disertai pula upaya pembinaan dan pelatihan, khususnya untuk pelaku UMKM. Kegiatan ini sangat menguntungkan pelaku UMKM, lebih-lebih yang masih dalam skala mikro dan kecil. Selain mendapatkan modal usaha/ modal kerja, mereka memperoleh pengetahuan, baik tentang manajemen, pemasaran, maupun hal-ihwal kualitas produk. Hal ini memberikan prospek yang cukup menjanjikan bagi hidup dan tumbuh-kembangnya UMKM.

A Nira tak akan Buat Produk Nomor Dua MEMBUAT dan menjual sesuatu yang berbeda menjadi obsesinya. Kala itu, A.A. Sagung Dyah Krisna Dewi, yang memulai bisnisnya tahun 1993, berpikir harus melakukan terobosan agar berhasil dalam bisnis. “Saya pelajari, barang jualan saya sama saja dengan pedagang lainnya di Kuta. Itu karena saya hanya membeli produk dan menjualnya kembali,” tuturnya. Karena itu, Dyah mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang berbeda. “Biar susah, nggak masalah,” imbuh pemilik A. Nira Batik ini. Sejalan dengan keinginannya, permintaan akan sarung pantai atau sarung warna sangat tinggi. Turis Kanada dan Afrika menjadi pelanggan dengan permintaan sarung warna tertinggi. Sekali pesan, mereka minta hingga 2.000 lembar sarung. “Permintaan itulah yang mendorong saya agar fokus pada pembuatan sarung warna,” ungkap Dyah. Turis Kanada dan Afrika itu pula yang mengajarkan Dyah agar membuat produk dengan kualitas nomor 1. “Tidak perlu membuat produk kualitas nomor 2 atau bahkan nomor 3,” begitu pesan mereka, yang terus diingatnya. Dyah pun manut. Kualitas menjadi perhatian utamanya. Kain rayon yang menjadi bahan dasar sarung warnanya, dipilih yang terbaik. Untuk pasar domestik, kain rayon kelas RCM, RK1 dan RK2 menjadi pilihannya. Untuk pasar luar negeri, ia memilih kain rayon kembar mayang. Harga kain rayon kembar mayang berpatokan pada kurs dolar. Jika digunakan untuk pasar domestik, harga jual bisa terlalu mahal. Tetapi, bagi pasar ekspor, hal itu tak masalah. “Persamaannya, semua jenis itu kain itu tidak mudah molor dan tidak luntur jika diwarna,” ucap Dyah. Selain kain, ia juga memilih zat pewarna berkualitas, rhemasol. “Dalam

proses pewarnaannya, semua diukur. Warna yang ada tak boleh asal dicampur,” paparnya. Di samping kualitas bahan dasar, Dyah juga berusaha membuat produk yang kompetitif. Keunggulan lain dari sarung warnanya, ciri khas motif. “Sarung warna buatan saya memiliki motif Bali yang sangat dominan,” kata Dyah. Perempuan Bali sedang mandi di sungai atau perempuan Bali dengan anaknya berbusana adat Bali menjadi salah satu motifnya. Karena itu pula, sarung warnanya bisa disulap menjadi lukisan. Sarung warna bermotif Bali buatannya pun dikerjakan secara khusus oleh pelukis di Ubud. “Kreativitas orang Ubud dalam dunia seni sangat tinggi. Jika ada proses mal yang kurang memadai, motif itu mereka tambahkan sendiri sehingga hasilnya lebih bagus,” tutur Dyah. Maka, tak mengherankan jika ongkosnya lebih mahal dibandingkan dengan pembuatan sarung warna motif lainnya. Jika motif lain hanya perlu ongkos

tukang Rp 10.000 per lembar kain, maka motif Bali ini memerlukan ongkos tukang Rp 17.000 per lembar kain. Motif yang didapatnya bersumber macam-macam, mulai dari gambar di berbagai buku bahkan sampai hasil jepretannya sendiri. “Terkadang, saya memotret untuk membuat motif,” ujar Dyah. Motif yang desainnya agak susah, dibuat secara khusus. Hasilnya, paling banyak hanya 10 lembar sarung warna per hari.

tkh/dia

M

eski pameran UMKM sering di adakan, di antaranya oleh Smesco, Inacraft, atau penyelenggara lainnya, dalam pameran sering ditemukan produk baru, model baru atau keunikan baru. Seakan-akan sudah menjadi pengetahuan umum, produk UMKM utamanya yang terkait kerajinan tangan, sarat inovasi. Peserta pameran bersifat nasional sehingga UMKM dari pelbagai provinsi atau bahkan kabupaten/kota memajang produkproduk unggulannya yang selalu mengedepankan produk dan model baru yang unik yang merupakan kreasi dan inovasi pemilik UMKM. Bagi pengunjung, pameran merupakan arena berburu barang/produk baru yang sedang trendi atau akan menjadi trendi. Bagi peserta pameran/pelaku UMKM, momen tersebut menjadi ajang promosi yang efektif dan transaksi yang menggembirakan. Arena pameran juga menebarkan inspirasi di antara sesama UMKM maupun pengunjung. Misalnya, bahan yang sama, seperti rotan, oleh pelaku UMKM bisa dibuat menjadi kap lampu yang menawarkan citra pencahayaan apik sesuai peruntukan interior. Sementara pelaku UMKM lain

produksi tetapi juga kreasi.

Stan Kabupaten Buleleng dalam suatu pameran di Jakarta

Bagi pihak bank, jaminan pengembalian kredit boleh diharap menjadi lancar. Bank-bank besar yang menggandeng koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga mempermudah akses pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha, utamanya di bidang permodalan. “Institusi” semacam koperasi dan LKM yang keberadaannya tersebar di banyak tempat lebih dikenal masyarakat dan secara psikologis masyarakat (pelaku UKM) terutama yang mikro/kecil tak merasa enggan dengan birokrasi yang memang lebih simpel walaupun tetap dalam aturan main sesuai peraturan yang berlaku. Hal tersebut selaras dengan apa yang pernah dikemukakan pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Wakil Ketua Umum Kadin Sandiaga S. Uno beberapa waktu lalu mengemukakan, saat ini terdapat sekitar 51 juta unit UMKM, dan 99% merupakan unit usaha mikro. Sekitar 99% unit UMKM belum disentuh lembaga pembiayaan. Mereka dinilai tidak bankable karena tidak punya kolateral/jaminan aset. Pemerintah tak menutup mata, dan tampaknya juga memahami kondisi ini. Belakangan ada kecenderungan untuk menjadikan koperasi dan LKM sebagai cannel atau kepanjangan tangannya dalam mengulurkan kredit kepada UMKM. Maka, tak mengherankan jika penyaluran kredit untuk UMKM terlihat sangat fenomenal, terus meningkat. Hingga tahun ini diperkirakan sekitar 65.000 UMKM telah mendapatkan pembinaan BUMN dalam program kemitraan. Program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang dilakukan BUMN merupakan bagian tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) dan 1-2% dari matahari untuk mengeringkan kain,” ungkap Dyah. Jika langit terlihat mendung, Dyah tak berani melakukan proses pewarnaan. “Nanti hasilnya malah tidak bagus,” katanya. Cuaca yang tak menentu seperti sekarang, disiasatinya dengan cara menyimpan kain yang sudah digambar dan siap diwarna. “Saat sinar matahari mencukupi untuk pengeringan, barulah kami lakukan pewarnaan,” ujar ibu tiga anak ini. Hemat energi, itulah yang dilakukannya. Selain mengandalkan sinar matahari saat proses pengeringan, Dyah juga hemat dalam pemakaian listrik. “Ruangan kerja didesain terbuka, jadi kami tak memerlukan pendingin ruangan,” ujarnya. Begitu pula saat proses pencelupan. “Kami pakai tungku kayu bakar,” ungkap perempuan kelahiran 4 September 1970 ini. Selain itu, pembuangan limbah produksi pun jadi perhatiannya. “Kami harus memperhatikan lingkungan dalam berbisnis. Karena itu, kami menyiapkan tempat pembuangan limbah khusus,” ujar Dyah.

keuntungan BUMN untuk misi sosial, di antaranya untuk pemberdayaan UMKM. Sebagaimana kita ketahui dan banyak diungkap para ekonom, UMKM memiliki peranan sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Lebih dari 90% seluruh usaha merupakan UMKM yang menyerap 70% tenaga kerja. Kadin Indonesia juga kian intens memperhatikan UMKM. Kadin pernah memperkirakan pertumbuhan sektor ini bisa mencapai level 25-30% dari tahun ke tahun, yang sebelumnya hanya di kisaran 20%. Pembiayaan yang berpihak pada sektor usaha mikro, juga akan mendorong pemberdayaan yang mengarahkan unit usaha tersebut naik kelas. Melalui pelbagai program, pemerintah khususnya yang menghadirkan peran BUMN, sektor UMKM kian mendapat tempat dan perhatian besar. Ini bertolak dari krisis tahun 1997, saat sektor ini dinilai cukup tangguh, dan terbukti mampu mengurangi jumlah penganggur. Boleh dibilang, perhatian pemerintah terhadap UMKM cukup baik, tinggal intensitas dan kesungguhannya yang perlu ditingkatkan, agar usahausaha UKM ini - pinjam istilah Sandiaga S Uno - benar-benar naik kelas. Label/Merek Dagang Dari informasi yang kami kais di lapangan dari pelaku-pelaku UMKM, dan lebih khusus lagi mereka yang acap mengikuti pameran UMKM, ada beberapa catatan yang perlu dipikirkan bersama. Pertama, soal akses ke perbankan guna meningkatkan usaha masih dirasakan sulit oleh pelaku UKM. Namun, masalah ini telah banyak dibahas, dan pemerinah sudah membentangkan beberapa alternatif, walaupun ada

beberapa BUMN atau di kalangan perbankan yang terkesan “mengklaim” sebagai mitra binaan setelah UMKM bersangkutan sudah lancar berjalan; bukan didekati atau diajak bermitra saat mereka tertatih-tatih mencari suntikan modal. Kedua, pengetahuan perihal kualitas produk, serta manajemen usaha, pemasaran, memang banyak UMKM yang masih memerlukan pengetahuan tersebut. Di sinilah kehadiran BUMN sebagai mitra binaan sangat diharapkan.. Ketiga, terkait brand/label atau merek dagang. Banyak pelaku UMKM yang mengabaikannya, bahkan tak hirau samasekali kendati sudah memiliknya. Jangankan mereka yang di tingkat mikro, UMKM kecil dan menengah yang sudah menjual produknya ke mancanegara pun sering “menghilangkan” merek yang sudah dimiliki, asalkan barangnya laku. Ini memang bukan kesengajaan melainkan memang atas pemintaan buyer di luar negeri. Bayangkan furniture berkelas, antik, yang diciptakan lewat keterampilan piawai, penuh kreasi dan tentu dengan sentuhan seni tinggi, tak boleh menerakan tanda apa pun bahwa itu made in daerahnya, apalagi made in Indonesia. Alasan buyer jujur juga walau menyakitkan, yakni akan dipasang labelnya sendiri. Begitu pun tas kulit reptil, yang di toko-toko pusat perbelanjaan mewah di Jakarta berharga jutaan rupiah, dipesan buyer di luar negeri dengan wanti-wanti “jangan mencantumkan brand”. Sebab, tengkulak luar negeri inilah yang akan memasang brand miliknya untuk dipasarkan di negaranya atau ke negara lainnya. Mengapa Anda tidak ngotot mencantumkan label Anda, atau menuliskan identitas “made in Indonesia”? Pertanyan ini acap penulis lontarkan dalam tiap wawancara jika menjumpai kasus

AA Sagung Dyah Krisna Dewi

pernah putus. “Mereka pelanggan tetap A. Nira Batik,” ujar Dyah. Mereka biasanya meluangkan waktu secara khusus datang ke Bali untuk memesan sarung warna buatannya. Jika tidak, mereka Andalkan Sinar Matahari cukup mengirim informasi pesanan Mengontrol proses secara ketat, melalui surel atau faksimile, dengan itu pula yang dilakukan istri AA mencantumkan nomor seri produk Ngurah Manik M. ini. Tak jarang, yang diinginkan. “Kami menyimsejak proses awal ia rajin mengecek pan dan memberi nomor seri semua demi menjaga kualitas. data pesanan pembeli yang Pemesan dari luar negeri, menyerahkan motif sendiri. Hal ini biasanya juga menyiapkan motif untuk memudahkan kami dalam sendiri. Motif itu dibuat mal, bertransaksi,” paparnya. digambar di kain, kemudian Selain itu, Sarinah Department diwarna. Kain yang sudah diwarna Store di Jakarta dan Malang diberi malam agar tak luntur, lalu menjadi pelanggan tetap lainnya. dicelup dengan cara direbus. Pelanggan Tetap “Mereka mengecek kami ke Setelah diangkat, kain diberi malam Karena keseriusannya dalam lapangan; apakah betul kami lagi dan dikeringkan. menjaga kualitas, pesanan dari turis “Kami mengandalkan sinar Kanada, Thailand, dan Afrika tak memproduksi sendiri dan bagaimana kami menjaga kualitas,” urai Dyah. “Saya berkomitmen penuh soal kualitas. Meski permintaan sepi, saya tidak akan membuat produk nomor 2,” lanjutnya, serius. Selain sarung warna, Dyah juga membuat barang lain yang terbuat dari sarung warna seperti dress, tedung (payung Bali), dan sarung bantal. Ia membuka toko sebagai tempat memajang produknya. Pembeli grosir dan retail ia layani. Tetapi, tentu saja, harga jualnya berbeda. Jika harga grosir sarung warna dengan minimal order 100 lembar sebesar Rp 41.000, maka ia menjual sarung warna Rp 75.000 untuk motif orang dan Rp 100.000 untuk motif bunga, per lembar. Yang menarik, Dyah selalu mencantumkan “Made in Indonesia” di label produknya. “Saya A.A. Sagung Dyah Krisna Dewi saat mengikuti pameran di Jakarta katakan pada pembeli saya di luar

negeri, di label yang mereka kirim, saya tambahkan “Made in Indonesia”, untuk menunjukkan produk buatan negara mana. Mereka tidak keberatan,” paparnya. Mitra Binaan Sejak dua tahun lalu, A. Nira batik tergabung dalam mitra binaan BNI 46. Dyah juga tergabung dalam kelompok UMKM Kota Denpasar. “Tergabung dalam kelompok UMKM Kota Denpasar dan BNI 46 memberi saya peluang memperluas pasar,” ujar Dyah. Alasannya, ia kerap mendapat

semacam ini. Jawaban pengerajin atau pelaku UMKM rata-rata sama, “para buyer akan membatalkan pesanan jika dirinya mencantumkan brand atau merek dagang di produknya”. Maka, demi kesinambungan usaha, dan demi karyawan yang hanya puluhan orang bahkan dalam hitungan jari, pesanan luar negeri yang “bersyarat tanpa label” itu selalu diterimanya. Seorang staf di suatu kementerian yang banyak terlibat menangani UMKM, tak memungkiri kenyataan tersebut. Bahkan, katanya, di antara negara jiran pernah pesan batik lebih dari seribu potong ke pengrajin Indonesia, dan setelah batik itu dikirim, di sana dicap dan diklaim sebagai batik buatan negaranya. Para UMKM kita tidak sedikit yang menjual atau melakukan ekspor skala kecil (kirim barang atas pesanan), mulai dari perhiasan, tas, kap lampu, hiasan dinding, batik, tenun, furniture, dan lainnya tanpa merek dagang, yang kemudian “diklaim” sang pemesan sebagai produknya. Dengan kata lain, produk Indonesia terjual di mancanegara tetapi bukan atas nama Indonesia. Padahal dari segi kualitas sangat bagus dan karakteristiknya “sangat Indonesia” Jika demikian berarti “Menjual” Indonesia lewat UMKM, bukan Indonesia menjual lewat UMKM”. Tentunya kita sebagai bangsa Indonesia prihatin menyaksikan realitas tersebut. Kementerian Koperasi dan UMKM, serta institusi lain, seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BUMN, yang bidang garapannya di antaranya menangani UMKM, tuntutan buyer di luar negeri terhadap penghilangan label produk kita yang kemudian diganti merek dagang mereka, hendaknya menjadi perhatian serius. Bukankah kualitas produk, karakter, atau nilai seni produk Indonesia merupakan identitas Indonesia yang berarti pula identitas bangsa? Kita perlu berupaya bersama, bagaimana membuat posisi tawar kita terjaga dan syukur tinggi, tanpa mengorbankan identitas bangsa. Dalam produk Cina yang remeh temeh saja, seperti peniti, jepit rambut, selalu tertulis made in China. Inilah yang semestinya kita upayakan juga. Produk kita khususnya produk UMKM yang terkait kerajinan, diakui dan diterima, serta banyak dipesan luar negeri, tetapi nama Indonesia “ditenggelamkan”. Seandainya posisi tawar UMKM di mata buyer luar negeri cukup tinggi, hal ini akan mendongkrak usaha UMKM terus berkembang dan nama Indonesia pun moncer di mancanegara. zSri

Iswati

Wartawan Koran Tokoh

kesempatan pameran ke luar daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta. Meski fokusnya saat pameran adalah promosi, tetapi ia selalu mendapat pembeli. “Saat pameran di Jakarta, saya mendapat pesanan dari Prancis,” ungkapnya. Di Bali, A. Nira Batik juga sering mengikuti pameran seperti saat Nusa Dua Fiesta. Tahun ini, A. Nira Batik mendapat penghargaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN sebagai Mitra Binaan Teladan Kategori Usaha Produk Busana, Perhiasan dan Aksesoris Fashion. PKBL BUMN Award merupakan sebuah ajang penghargaan yang diprakarsai oleh Kementerian Negara BUMN RI sebagai upaya untuk memberikan apresiasi terhadap kesuksesan dan keberhasilan yang sudah dicapai para mitra binaan dan BUMN pembina. Tiap BUMN pembina diminta mengirim 10 mitra binaannya, lalu disaring menjadi 3 besar dan dipilih satu mitra binaan teladan. “Tahun ini temanya Pemberdayaan Alam Menuju Indonesia Hijau. Saya bersyukur bisa menang,” ucapnya, senang. —rat

Kini telah hadir minuman kesehatan alami sari alangalang dalam kemasan botol kaca higienis, yang secara ilmiah & turun temurun terbukti mempunyai banyak manfaat & khasiat alami untuk kesehatan: z Meningkatkan stamina z Mengurangi rasa capai, pegal & linu zMeredakan panas dalam & radang tenggorokan z Meredakan demam z Mengaluskan kulit z Mengontrol tekanan darah yang cenderung tinggi zMelancarkan air seni z Membantu mengatasi masalah batu ginjal, batu empedu, keputihan, batuk, mimisan, campak, hepatitis, radang paruparu, asma, penyakit kelamin, gangguan prostat,lemah syahwat, dll.

dingin lebih at nikm

Dibuka untuk keagenan Hubungi: 0361- 3648207

Minuman Sari Alang-Alang tersedia dalam 4 rasa: zNatural (sugar free) z Jahe/ ginger z Nenas / pineapple z Strawberry Minuman Sari Alang-Alang bisa didapatkan di: apotek-apotek,swalayan/ supermarket,restaurant dll.


8

Tokoh

7 - 13 November 2010

RSU Manuaba dr. I.A. Ratih Wulansari, Sp.PD., K.R., M.Kes. Jln. Cokroaminoto No. 28 Denpasar Tlp. (0361) 426393, 437143 E-mail: manuaba@indosat.net.id

DIRGAHAYU KORAN TOKOH

RSU Manuaba dr. I.A. Chandranita Manuaba, Sp.OG., M.M. Jln. Cokroaminoto No. 28 Denpasar Tlp. (0361) 426393, 437143 E-mail: manuaba@indosat.net.id


DIRGAHAYU KORAN TOKOH HUT KE-12 9 NOVEMBER 2010

7 - 13 November 2010 Tokoh 9


10

Tokoh

7 - 13 November 2010

DIRGAHAYU KORAN TOKOH HUT KE-12 9 NOVEMBER 2010

Jalan Danau Tandakan BIWA No. 5 Sanur Telepon/faksimile 0361 28 65 64, Wah Flexi: 0361 7469607 E-mail: info@biwa-bali.org Website: www.biwa-bali.org & www.balipinkribbon.com

Jln. Mayjen Sutoyo Tiara Dewata


DIRGAHAYU KORAN TOKOH HUT KE-12 9 NOVEMBER 2010

7 - 13 November 2010 Tokoh 11


12

Tokoh

7 - 13 November 2010

DIRGAHAYU KORAN TOKOH HUT KE-12 9 NOVEMBER 2010

Anak Muda harus Kreatif Peluang yang dibuka pemerintah dalam menunjang pemberdayaan pemuda cukup banyak. Salah satunya di bidang kewirausahaan, dengan program bantuan block grant untuk kelompok usaha pemuda produktif (KUPP) di seluruh kabupaten/ kota di Bali ini.

K

Tidak Perlu Berbondongbondong Jadi PNS

asi Pemberdayaan Pemuda Disdikpora Provinsi Bali A.A.A. Ariani W., S.H., M.Si dalam seminar sehari bertema “Anak/Remaja sebagai Generasi Muda Bangsa dalam Pembangunan NKRI” yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Bali di Aula Disdikpora, Renon, Kamis (4/11) mengatakan program Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang dapat diikuti pemuda di Bali diantaranya Pemilihan/seleksi Paskibraka; Pramuka; Pertukaran Pemuda antar-Provinsi; Pertukaran Pemuda Luar Negeri; Pertukaran Kapal Pemuda Nusantara; Pemilihan Pemuda Pelopor; Pelatihan Kewirausahaan Pemuda; Pelatihan Ketahanan Nasional Pemuda , serta Block Grant untuk Pemuda. “Khusus untuk block grant atau dana bantuan langsung ini, diberikan pada KUPP, sentra pemuda dan lembaga kepemudaan. Anak-anak muda yang kreatif dapat dengan mudah mengakses bantuan yang dibuka pemerintah ini. Tidak perlu berbondong-bondong mendaftar menjadi calon pegawai negeri sipil (PNS). Bagi yang sudah memiliki rintisan usaha, dapat memanfaatkan program KUPP ini. Usahanya bisa berupa apa saja, berjualan canang, kuliner atau lainnya. Dengan catatan dijalankan secara berkelompok, beranggotakan minimal lima orang, usia terendah 16 tahun dan maksimal 30

A.A.A Ariani W

Oka Wisnumurti

tahun. Selanjutnya ajukan proposal diketahui lurah atau kepala desa. Dilengkapi pula rekomendasi dari Disdikpora kabupaten/kota setempat,” paparnya sambil mengatakan saat ini tengah menggarap dan mengembangkan potensi kewirausahaan pemuda di Karangasem, Singaraja, dan Nusa Penida. Ariani juga menjelaskan pemuda dapat pula mengikuti program sarjana penggerak pembangunan perdesaan (SP3) yang telah dilaksanakan sejak 1989. “SP3 ini diperuntukkan bagi mereka yang telah menyelesaikan studi sarjana. Bersedia diterjunkan ke desa dan mampu menggerakkan masyarakat, mendinamisasikan aktivitas pemuda di sana serta mengawal ke proses perubahan. Dalam kegiatan yang berlangsung tiga tahun ini SP3 diberikan honor dan mengikuti seleksi SP3 berprestasi,” lanjutnya. Psikolog Retno IG. Kusuma

Ni Nyoman Masni

Retno IG Kusuma

menambahkan di era global akan muncul pengaruh baik positif maupun negatif. Untuk yang positif, sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi, disiplin dan iptek dari bangs lain yang maju. “Untuk meningkatkan kemajuan bangsa kita, yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita,” ujarnya. Sedangkan sisi negatifnya, seperti pada aspek ekonomi. Dengan membanjirnya produk luar negeri berupa aneka makanan cepat saji, menjadikan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri. Hal ini menunjukkan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat. “Anak muda banyak yang lupa identitas diri sebagai bangsa Indonesia karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat,”imbuhnya. Sementara itu Drs. A.A.G. Oka Wisnumurti, M.Si, lebih menegaskan jika pendidikan tidak berkarakter, menjadi salah satu sebab terjadinya kemerosotan mental anak muda. Guru sekadar datang ke sekolah mengajar, apakah murid menerima atau tidak, mengerti atau tidak itu bukan menjadi urusannya. Demikian juga murid, ke sekolah hanya sekadar menjalankan kewajiban, entah mau belajar atau tidak. “Di sini semua harus mau mengubah diri agar memberikan fibrasi postif pada diri dan lingkungan dan bahkan pada bangsa,” kata

RSU Manuaba

RSU Manuaba

dr. I.B. Tatwa Yatindra, Spu.

dr. Ahadia Yumi, K.S., Sp.OG.

Jln. Cokroaminoto No. 28 Denpasar Tlp. (0361) 426393, 437143 E-mail: manuaba@indosat.net.id

Jln. Cokroaminoto No. 28 Denpasar Tlp. (0361) 426393, 437143 E-mail: manuaba@indosat.net.id

mantan Ketua KPUD Bali ini. Wisnumurti juga mengingatkan jati diri Indonesia adalah Pancasila, sebagai ideologi negara; UUD 1945, pandangan hidup serta dasar negara dan NKRI selaku bentuk negara. Sejarah penting untuk disimak tanpa harus terjebak pada kemasyuran masa lalu. Perlu merumuskan peran pemuda saat ini dalam membangun dan mengembangkan jati diri bangsa di tengah gempuran globalisasi. Mengingatkan semua generasi muda kembali ke pilar-pilar yang menjadi karakter budaya bangsa Indonesia. Ketua LPA Bali, Nyoman

Masni, S.H., sebagai pelindung FAD Bali, mengharapkan dengan terselenggaranya seminar ini mampu mengingatkan dan menggugah nasionalisme generasi muda. Ia menekankan pula, anak agar muda tetap bersemangat dalam kondisi apa pun. Mau membekali diri dengan keterampilan yang bisa menunjang untuk bersaing dalam era global ini. Selain itu dapat melakukan hal-hal positif dan terus berjuang untuk meningkatkan peranan dalam pembangunan. Meningkatkan terus dinamika serta aktivitas sehingga tidak terjebak dalam keputusasaan. —ard


7 - 13 November 2010 Tokoh 13

Hijau di........................................................................................................................dari halaman 1 Sukses Didik ..................................................................................................................................................................dari halaman 1

Salah satu titik kawasan jalur hijau di Jalan Cokroaminoto, Denpasar Utara, ini sudah beralih fungsi menjadi “ruang terbuka bisnis kota”. Tetapi, papan nama bertuliskan “Ruang Terbuka Hijau Kota” tetap berdiri kokoh hingga saat ini

jalur hijau. Informasi ini dikuatkan dengan adanya plang RTHK Denpasar yang hingga kini masih terpasang. Ruang terbuka hijau memegang peran penting dalam pembangunan perkotaan, terutama terkait upaya merancang masa depan perkotaan. Untuk mewujudkannya, tiga pilar utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial harus saling bersinergi. Undang-Undang Penataan Ruang (UUPR) No. 26 Tahun 2007 menyebutkan ketentuan agar alokasi RTH di kawasan perkotaan sekurang- kurangnya 30% dari luas kawasan perkotaan, yang 2/3-nya RTH publik dengan distribusi disesuaikan dengan sebaran penduduk. Namun, minimnya RTH di daerah perkotaan disebabkan tidak tegasnya regulasi yang mengatur ketentuan penyediaan RTH, adanya permintaan yang tinggi dari masyarakat untuk membangun, pola pembangunan yang cenderung horizontal, dan hilangnya budaya menanam dari masyarakat perkotaan. RTH memiliki pengertian

ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) untuk mendukung manfaat langsung dan atau tidak langsung yang dihasilkan RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut. Putu Rumawan Salain, seorang pengamat tata ruang pernah menyampaikan luas lahan Kota Denpasar paling kecil di antara kabupaten/kota lainnya yaitu 127,78 km2, dengan jumlah penduduk (tahun 1999) 390.230 orang. Ini berarti kepadatan ratarata untuk tiap km2 sekitar 3.054 jiwa. Kini, data itu tentu telah berubah atau meningkat. Itu berarti akan terjadi berbagai perubahan, khususnya yang berhubungan dengan kepadatan. Komposisi ideal untuk ruang terbangun dengan tidak terbangun adalah 40% : 60%. “Saat ini Denpasar, kawasan RTH masih di atas 30%. Ini berbarti sudah memenuhi ketentutan UU dan ini harus dijaga. Bagaimana

menjaganya, tentu melalaui pengaturan dan pengendalian yang ketat,” tegasnya. Namun, ia melihat yang menjadi kendala adalah lahan RTH tidak semuanya milik pemerintah. Jika kawasan itu milik warga masyarakat, tentu pemerintah harus memikirkan kepentingan masyarakat itu juga. “Satu hal yang harus dilakukan pemerintah menggandeng desa pekraman dalam menerapkan aturan RTH. Bali ini kekuatannya di desa pekraman. Kalau desa pekraman sudah kuat dan tegas dalam menegakkan aturan, saya yakin pelanggaran bisa diminimalkan,” tandas pria yang juga Ketua Dewan Pendidikan Denpasar ini. Mengacu pada konsep Bali clean and green, ia menyoroti green architecture harus didukung semua komponen. Tidak bisa hanya Denpasar atau Badung yang melakukannya tetapi harus semuanya dan berkesinambungan. Aplikasinya pun harus didukung penegakan hukum yang tegas terhadap yang melanggar serta mengandung efek jera yang melanggar. –wah

spa. “Agar dengan keahlian dan keterampilan spa yang mereka miliki dapat mempermudah mendapat pekerjaan di dunia spa baik dalam maupun luar negeri,” tutur alumnus Fakultas Hukum Unud ini. Tujuan Bintang Therapist Shcool memberikan pelatihan ini terbukti sangat efektif bisa menciptakan para terapis spa yang terampil dan mahir di bidang spa. “Setelah lulus, kami menyalurkan pekerjaan bagi mereka ke berbagai tempat spa. Karena inilah tujuan dasar kami, sukses mendidik menjadi spa therapist,” tutur ibu Shangrila Revia Parameswari Prascita dan Verenchya Kayana Prameswari Prascita ini. Ia mengakui prospek usaha spa ini masih bagus. Hal ini dilihat usaha ini memberikan keuntungan secara pasti mengingat pengguna jasa spa selalu ada. Apalagi peminat turis mancanegara terhadap spa bernuansa Bali cukup tinggi. “Spa bernuansa Bali ini bisa terlihat dari gerakan pemijatan, pemakaian aroma terapi pada minyak massage dan lulurnya. Inilah salah satu materi yang diberikan Bintang Therapist School,” katanya. Tak mengherankan, jika pemi-

nat kursus spa di Bintang Therapist School datang dari berbagai daerah, antara lain dari Surabaya, Jakarta, Medan dan kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan kini tak sedikit perusahaan di Bali yang meminta kursus privat. Salah satu perusahan asing di Karangasem yang meminta Bintang Therapist School memberikan pelatihan spa bagi para karyawannya. Karena hal inilah Bintang Therapist School mendapat kepercayan pemerintah Bali sebagai lembaga kursus dan pelatihan di bidang spa karena dinilai berpengalaman dan memadai dari segi sarana prasarana. Setelah mengikuti pelatihan, mereka tak dibiarkan begitu saja. Bagi pengusaha pemula akan diberikan pengawasan dan pendampingan. Sementara bagi yang belum punya usaha disalurkan pekerjaan di spa sebagai therapist. Selama ini peserta pelatihan telah di tempatkan di spa di Bali antara lain Ladies Spa, Srikandi House Beauty Body Treatment, Cendana Spa, Baruna Spa dan masih banyak lainnya. “Peserta telah mengantongi sertifikat dari Disnaker selaku mitra Bintang Therapis School,” tuturnya. Ia menuturkan pelatihan ini merupakan peluang bagi mereka

untuk meningkatkan pendapatan. Hal ini mengingat permintaan terhadap jasa spa therapist di Bali maupun luar negeri sangat tinggi. “Permintaan tak hanya datang dari spa di Bali melainkan dari para pengguna di luar negeri antara lain Turki, Cina, Malaysia, Dubai dan Nigeria,” tuturnya. Icha mengatakan sampai saat ini kewalahan melayani permintaan therapist di Bali maupun luar negeri baik di hotel maupun di spa. Istri Gina Prascita, S.Tp. ini menuturkan peserta mendapat beragam materi penting di bidang spa, antara lain Balinese massage, manicure dan pedicure, human anatomy, kesehatan dan nutrisi kulit, aroma terapi, facial, hairspa, reflexology, thai massage dan materi lainnya. “Bahan dan peralatan disediakan Bintang Therapist School dan diakhir pelatihan peserta mengikuti ujian dan mendapat sertifikat spa yang secara resmi ditandatangi Disnaker,” ungkapnya. Saat pelatihan, para siswa belajar melakukan prosedur pengurutan badan yang baik, prosedur persiapan kerja, pengenalan treatment spa, postur tubuh, performance dan lainnya. Salah satu contoh materi yang diajarkan mani-

cure dan pedicure yakni para siswa belajar dan mengerti cara melakukan perawatan kaki dan tangan sesuai prosedur perawatan kuku, membuat nilai seni pada kuku seperti membetuk kuku, membersihkan, massage kuku dan mengecat kuku,” urainya. Menurut Icha selain mendapat pengetahuan teori spa yaitu apa itu spa, jenis-jenis terapi dan manfaat spa, sejarah spa peserta belajar mengenai sejarah aroma terapi, definisi dan cara kerja. Materi tata cara komunikasi dengan tamu pun tak kalah penting, bagi para peserta untuk menciptakan kepuasan konsumen. Pelajaran ini diberikan melalui materi service squence yaitu cara berkomunikasi dengan tamu dan mengetahui tahapan pekerjaan yang harus dilakukan sesuai prosedur. “Secara lengkapnya, peserta mendapat 14 materi,” tuturnya. Icha mengatakan waktu kursus selama satu bulan tiap Senin s.d. Jumat bertempat di Bintang Therapis Shcool yang berada di Jalan Mertasari Ruko 50 C Sidakarya. “Kini dibuka cabang baru Bintang Therapist Shcool di Jalan Hayam Wuruk 208 Denpasar,” pungkasnya. —tin

Facebook Koran...........................................................................................................................................................dari halaman 2 Masyarakat golongan atas dan dapatkan, tanpa didukung dengan bawah harus terlibat dalam penen- kedisiplinan penduduk, tentunya tuan jalur di tiap desa, kelurahan masalah tetap akan ada. dan banjarnya karena kita semua ingin kelancaran dalam bertransSilvia Kunthie portasi. Hemat biaya dan menguHome schooling. rangi polusi.

Nanik Kusuma Ada tiga tindakan yang patut diperhatikan dan menjadi pertimbangan, yaitu pembangunan jalan raya, pemberdayaan angkutan umum mengoptimalkan manajemen lalu lintas. Cobalah, kita sebagai pengguna jalan mematuhi setiap rambu-rambu lalu lintas yang ada dengan demikian kemacetan bisa kita hindari.

Putu Sumada Adanya wacana mengatasi kemacetan dengan memajukan jam masuk sekolah tentunya pasti ada dampak baik dan dampak buruknya. Dampak baiknya, “mungkin” jalur sekolah yang mengalami kepadatan kendaraan akan sedikit berkurang namun dampak buruknya, tentu akan diterima para siswa dengan bangun dan berangkat ke sekolah lebih awal sehingga penerimaan pelajaran tidaklah maksimal. Menurut saya, tentunya dicari dulu letak permasalahannya atau penyebab utamanya. Penyebab kemacetan adalah pertumbuhan jumlah kendaraan tidak seimbang/diimbangi dengan jumlah ruas jalan yang ada. Hal ini tentu merupakan suatu dilema bagi pemerintah, apakah membatasi jumlah kendaraan atau menambah jumlah ruas jalan. Bila membatasi jumlah kendaraan tentunya ada kemungkinan bisa terlaksana dengan catatan mengatur trayek angkutan kota atau bus Sarbagita dengan tepat. Bila menambah ruas jalan tentunya membutuhkan waktu dan dana cukup besar dan hal ini pun juga harus tetap direncanakan dan diwujudkan. Tapi perlu diingat, makin banyak kemudahan fasilitas yang di-

repotnya minta ampun. Memajukan jam sekolah pelajar bukan sebuah solusi, itu hanya menggeser jam macet saja.

Sussy Adie

Sebaiknya jam sekolah tetap saja. Yang dimundurin jam kerja Kenapa harus murid disuruh pegawai, jam 9 - 17 atau jam 10 mengalah, membangunkan anak 18, biar bisa antar anak sekolah dulu. kecil pukul 06.00 saja dia sudah Khrisna Sanjaya Pratama menangis. Pegawai banyak yang mengantar anak sekalian kerja kan Mungkin pengembangan bussama saja. Saya setuju dengan Sdri. way bisa dibuat di Denpasar dan Sylvia, home schooling saja biar sekitarnya. seperti shuttle bus, gramurid tak perlu ke sekolah tiap ha- tis namun jalurnya mungkin bisa diri, biaya sekolah sangat tinggi perluas, bukan ke hotel-hotel saja. sekarang. Sudah banyak orang yang studi Luh Ketut Ari Abadi banding ke luar negeri, terutama Cara mengatasinya yaitu 1. yang negeri Cina dan Belanda, Menekan penggunaan kendaraan kenapa tidak ditiru konsistensi pribadi; jumlah jalan dan kapasitas masyarakat di sana yang banyak jalan di kota Denpasar dapat bersepeda dalam aktivitasnya, tak dikatakan tidak bertambah, sedangperlu harus meluangkan waktu kan jumlah pengguna jalan baik khusus untuk bersepeda karena pengendara sepeda motor maupun sudah dilakukan tiap hari. mobil bertambah pesat dari tahun Saya sangat tidak setuju kalau ke tahun. Menekan jumlah kendaramengatasi kemacetan di Bali an yang ada saat ini, yaitu dengan dilakukan dengan membuka jalan menciptakan sistem transportasi baru karena biasanya memakai umum yang murah, mampu menlahan subur, dan kendaraan yang jangkau tempat-tempat dengan masuk Bali terus bertambah. Kalau cepat, aman, menarik, dan bersih. tidak ada aturan tegas untuk Sehingga nantinya akan mampu membatasi jumlah kendaraan, mengalihkan para pengguna kenhasilnya akan sama saja. daraan pribadi berpaling ke public transport 2. Pengalihan pusat keramaian yaitu; sekolah-sekolah, Nooraspaty Krishna Kemacetan memang tak bisa mal, kantor, supermarket dikemdiatasi seperti membalikkan bangkan keberadaannya di daerah telapak tangan. Saya ingat sewaktu pinggiran kota. 3. Peningkatan kuamasih di Jepang, di sana masyara- litas pendukung tranportasi yaitu katnya rata-rata tidak mempunyai pelebaran jalan, perbaikan kualitas mobil. Ini dikarenakan mau ke jalan, pembuatan jalan-jalan altermana-mana sudah ada kendaraan natif. Sedangkan menurut saya, umum yang siap mengantar dan pengalihan jam masuk sekolah ongkosnya pun murah. Sehingga hanya mengalihkan persoalan sesecara otomatis kemacetan dapat mentara tanpa menyelesaikan maditekan karena satu kendaraan salah, di kemudian harinya permamengangkut banyak orang. Kalau salahan ini akan muncul kembali. pemerintah memang mau mengatasi kemacetan untuk jangka panjang, Luh Sudiani mulailah menata fasilitas kendaraan Sebagai daerah yang memiliki umum. Saat ini mau ke mana-mana aktivitas padat yang tidak didukalo tak punya kendaraan pribadi kung dengan kedisiplinan berlalu

Made Yudistira

lintas ya pasti deh jalan akan macet. Jadi pertama yang mesti diperhatikan adalah tingkat kedisiplinan masyarakat untuk berkendaraan. Kemudian pemetaan wilayah padat kendaraan mungkin bisa dijadikan satu jalur. Bila memungkinkan untuk daerah sekolah yang padat saat jam masuk mungkin disebabkan karena pengantar siswa lebih dominan menggunakan kendaraan roda empat sehingga lebih banyak memakai ruas jalan untuk parkir. Pengantar bisa menggunakan sepeda motor atau jasa antar jemput dari sekolah.

Novi Wirani Pihak sekolah menyediakan kendaraan/mobil antar jemput sekolah. Hal ini bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan instansi pemerintah terkait atau swasta. Bisa juga dengan mengeluarkan kebijakan, yaitu anak-anak sekolah diwajibkan menggunakan sepeda gayung. Hal-hal tersebut dapat mengurangi kemacetan dan dengan sepeda dapat ikut serta mengurangi polusi udara.

Silver Quien Orang yang berkendara kurang tertib dan mementingkan diri sendiri. Semua orang mempunyai kesibukan yang berbeda. Dari pada memajukan jam sekolah lebih baik kita perbaiki diri. Kita dalam berkendara jikalau sudah tertib lalu lintas niscaya tak akan pernah ada macet di jalan. Jalan pintas dan jalan alternatif kan sudah ada.

Bali Russian Centre Berangkat lebih awal lagi. Pemenang minggu ini: Nooraspaty Krishna, Gust Dung Dung Gust, Made Yudistira. Hadiah dapat diambil di Sekretariat Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha Lantai III Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar, paling lambat Jumat (12/11). Hubungi Ayu/Pipit telepon 0361-425373.

Kintamani Perlu............................................................................................................................................................dari halaman 2 Kalau begini lama kelamaan tamu akan hilang. Agen akan mengalihkan tujuan wisata ke tempat lain. Kintamani harus ditata dengan baik. Kembangkan agrowisata. Turis bisa langsung memetik buah di kebun, misalnya buah jeruk. Bisa juga dikembangkan untuk trackking. SDM harus ditata lebih baik. Edi

Yang Melanggar Orang Lokal Untuk pengembangan pariwisata perlu kerja sama pemerintah, masyarakat, pengusaha dan dunia pendidikan untuk memberi pelatihan dan pencerahan pariwisata. Saat ini terkesan tidak ada terobosan karena master plan belum ada. Banyak pedagang acung yang memaksa tamu, turis hanya makan dan kencing terus balik lagi. Dulu Kintamani mau dikembangkan, terbuka untuk umum. Masyarakat merelakan tempat mereka dibongkar. Ada trotoar di sana. Perumahan penduduk ditukar guling dengan tanah Dinas Kehutanan. Ironisnya, sudah hampir 10 tahun tanah tersebut belum bersertifikat. Masyarakat tidak percaya lagi. Pariwisata mentok. Ada yang membangun restoran besar Tidak ada tamu, restoran tutup, pedagang acung tidak mendapatkan lahan. Mereka ekspansi ke tempat lain. Jumlah mereka makin banyak. Wisatawan yang datang sedikit sehingga pedagang acung rebutan. Dagang acung terkesan memaksa. Mereka akhirnya

berperilaku di luar kaidah yang diharapkan. Jika ditata dengan baik, promosi Kintamani dapat dilakukan para pemandu wisata. Dari promosi mulut ke mulut mulai dari turis yang satu kepada temannya yang lain. Itu lebih efektif dibanding pasang iklan. Murah, efektif, dan efisien. Wisatawan datang ke Kintamani melihat pemandangan. Beda dengan tamu datang ke Jimbaran untuk makan ikan bakar. Pemandangan yang indah dapat dilihat dari bibir jurang. Bagi yang punya uang mereka membangun restoran tanpa mengindahkan penataan yang baik. Mereka tidak peduli yang penting fasilitas. Mereka sah-sah saja karena master plan belum jelas. Bangun restoran di tepi jurang. Akhirnya restoran tutup terkesan kurang baik. Saat ini ada 16 restoran yang dimiliki sebagian besar penduduk lokal. Umumnya yang berani melakukan pelanggaran justru orang lokal. Belum adanya aturan yang jelas, mereka boleh-boleh saja. Apalagi sudah dicoba tidak ada larangan. Mereka jalan terus. I Ketut Putranata

Pemandangan Indah dari Penelokan

wisata, tamu yang mau ke Trunyan naik boat dari Kedisan. Sampai di tengah danau, supir mematikan boat dan meminta uang tambahan. Sampai di Trunyan, para tamu juga dipaksa menyumbang. Keluhan lainnya, berdasarkan pengamatan para pemandu wisata di lapangan, di Penelokan dan Danau Batur harga tiket dinaikkan tidak sesuai dengan harga yang tercantum. Mengapa tidak kerja sama saja dengan bendesa adat Trunyan dan Kedisan. Pemandu wisata khusus lokal dan masyarakat jangan memaksakan kehendaknya. Made Yadnya, Karangasem

Perlu ‘Call Centre’ Apa pun permasalahannya tetap perlu perbaikan. Perlu ada call centre. Tiap permasalahan dievaluasi. Kelompok masyarakat diorganisir dengan baik. Siapa pun yang menghalangi danau, perlu dilaporkan. Kejadian yang tidak mengenakan perlu koordinasi dan pemahaman mendalam. Nang Chekov, Payangan

Berlolaborasi dengan Adat

Sebagai orang Kintamani asli saya malu. Sesampai penumpang di tengah danau, supir mematikan boat dan meminta uang lebih. Persoalan ini kemudian di-blow up media akhirnya banyak calon wisatawan batal ke Trunyan. Orang yang menyeberang ke Trunyan sangat terbatas. Akhirnya, melihat ada Harga Tiket Dinaikkan tamu seolah-olah itu kesemAda keluhan pemandu patan para supir mendapatkan

Kintamani memiliki pemandangan yang indah yang sudah mendunia. Itu bisa dilihat dari Penelokan. Tinggal pemerintah dan masyarakat tulus menatanya. Darmayoga, facebook

rezeki lebih. Sampai akhirnya mereka memeras untuk mendapatkan penghasilan. Kami berharap dapat bekerja sama dengan media untuk mengubah citra buruk Trunyan ini. Kami ingin masyarakat tahu, Kintamani ingin berbenah. Saat ini pariwisata belum tertata. Kembali lagi pemerintah tetap menjadi motor penggerak. Pemerintah sedang melakukan persiapan. Kami pelaku pariwisata menanti tindakan nyata pemerintah. Sangat baik jika berkolaborasi dengan adat. Kalau masyarakat adat ikut berperan, hasilnya pasti lebih baik. Pariwisata Denpasar dan Badung berkembang cepat. Ada stimulus dari pemerintah, regulasi jelas, master plan jelas, swasta ikut berperan. Kalau tidak ada master plan yang benar, kerusakan banyak. Sekarang waktunya Pemkab Bangli memulai, agar pertumbuhan pariwisata tertata baik. Lingkungan kumuh karena ada pembangunan museum yang mengambil lokasi lahan pedagang. Pembangunan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga terlihat lingkungan kumuh. Begitu pembangunan ini rampung, relokasi pedagang sudah tertata, pemandangan akan kembali indah. Perlu waktu dan proses. Baru berjalan, pasti banyak kendala. Semua keluhan Kintamani akan ditampung, bersamasama melakukan perbaikan. Studi banding sudah dilakukan. Saatnya pemerintahan yang sekarang tidak hanya berpikir tetapi melakukan tindakan secepat-cepatnya. I Ketut Putranata


Tokoh

KESENIAN

7 - 13 November 2010

Prayitno Ingin Pentaskan Wayang

“Obama Datang ke Indonesia”

tkh/badra

B

ARACK OBAMA akan datang – tetapi diundur – pasti jadi datang November ini – tetapi batal ke Bali. Teka-teki kedatangan presiden Amerika Serikat ini menjadi bahan gunjingan di masyarakat sejak lama. Sambutan khusus yang khas pun telah disiapkan di beberapa tempat atau daerah yang bakal dikunjunginya. Prayitno merupakan salah seorang pengagumnya di Bali. Bertolak dari kekagumannya itu ia terinspirasi membuat Wayang Golek dengan tokoh Barack Obama.

Prayitno

tersebut. Itu yang membuat saya sangat kagum dan betul“Saat berlangsung kampa- dan pola berpikirnya yang betul menghargai sosok nye calon presiden di AS, sangat demokratis. Akhirnya ia presiden pertama AS berkulit Obama tampil dengan visi, misi berhasil memenangkan pemilu hitam itu,” ungkap Prayitno.

Prayitno mengungkapkan kekagumannya itu dengan cara yang lain daripada yang lain. Ia menyiapkan pembuatan Wayang Obama, walaupun wayang itu tidak harus diberikan kepada Obama. “Saya membuat wayang Obama bukan karena Obama akan mengunjungi Indonsesia yang menurut rencana semula akan mampir di Bali. Pembuatan Wayang Obama itu saya siapkan begitu Obama memenangkan pemilihan presiden,” ujarnya. Bukan Prayitno yang langsung mengerjakannya. Setelah mengambil contoh dari fotofoto Obama dari depan, belakang, atas dan dari samping, lalu saya menyerahkannya kepada sebuah perkumpulan pembuat wayang di Jakarta untuk mengerjakannya. “Ini hanya sebagai wujud penghargaan dan apresiasi saya terhadapat Obama. Tidak ada tujuan saya untuk membuat sensasi biar saya dibilang wah atau hebat. Hanya saja secara kebetulan ada rencana Obama akan berkunjung ke Indonesia. Walaupun ia tidak mengunjungi Indonesia Wayang Obama tetap saya buat dan sekarang sudah ada,” tuturnya. Kini Prayitno memiliki impian lain. Ia ingin memen-

Martabak Afrika Sehitam Kulit Obama

Gerobak martabak Africa

KUE martabak mungkin sudah tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Tetapi, pernahkah Anda mencoba menikmati martabak dari Yogya yang kini populer dengan nama Martabak Afrika? Yang hendak menikmati martabak Yogya tak perlu jauhjauh datang ke Kota Gudeg. Bagi warga Bali, cukup datang ke Pusat Oleh-Oleh Erlangga 2 yang berada di Jalan Nusa Kambangan Denpasar. Di situ Anda akan menemukan banyak stan makanan. Salah satu stan makanan yang cukup menarik perhatian, milik Dewi Boestami, yang menjual martabak Afrika. “Kedai martabak Afrika ini saya buka sejak 15 Agustus lalu,” tuturnya saat ditemui wartawati Koran Tokoh, Jumat (5/11). Ia menuturkan, awal usahanya itu dari keinginannya mengelola usaha untuk menambah pendapatan keluarga. “Tetapi, saya ingin jenis usaha yang tak terlalu menyulitkan,” kata wanita kelahiran Denpasar 23 April 1978 ini. Ia mencari informasi sekitar usaha franchise. “Karena saya pikir dengan cara membeli franchise saya tak terlalu repot,” lanjutnya. Pilihannya jatuh pada martabak Afrika yang secara

kebetulan ia temukan dalam sebuah kegiatan pameran untuk produk-produk franchise di Bali. “Awal ketertarikan saya pada martabak Afrika ini dari namanya yang nyeleneh,” kata ibu dua anak, Danan dan Danishara, ini. Menurutnya nama menu yang nyeleneh ini sangat penting bagi pengelola usaha makanan. “Nama menu yang unik merupakan daya tarik bagi orang agar mereka mencoba,” tuturnya. Apalagi martabak Afrika ini belum ada di Bali. Hal itu makin menambah semangatnya untuk membuka kedai martabak Afrika di Denpasar. Menurut Dewi, pemilihan nama Afrika untuk martabak buatan mahasiswa di Yogyakarta ini dari warnanya yang hitam seperti kulit orang Afrika umumnya. “Dan, seperti warna kulit Presiden AS Barack Obama yang keturunan Afrika,” selorohnya. Warna hitam ini dari pemakaian oreo yang dihancurkan. Dewi tertarik membeli franchise martabak Afrika ini, padahal tak sedikit produk makanan yang di-franchise-kan. “Selain harga tak terlalu tinggi,

Dewi Boestami

tkh/badra

14

Prayitno dengan wayang golek Barack Obama koleksinya

taskan Wayang Obama ini bersama dalang-dalang Indonesia, termasuk Bali. Selain Wayang Obama, di Rumah Wayang dan Topeng yang dikelolanya terdapat banyak wayang lain, wayang tradisi maupun modern. “Saya ingin mengalaborasikan itu semua, misalnya dengan lakon ‘Obama Datang ke Indonesia’. Syukur- syukur Obama mampir di

Bali dan bersedia berkunjung ke Rumah Wayang dan Topeng yang saya kelola di Gianyar,” kata Prayitno. Di rumah itu, Prayitno mengoleksi 4.670 wayang dan 1.178 topeng. Wayang dan topeng koleksi Prayitno terpajang rapi di rumahnya yang berlokasi di Kubu Bingin, Banjar Tengkulak Tengah, Kemenuh, Gianyar. Di rumah ini bukan

hanya terdapat beragam wayang dan topeng dari seluruh pelosok di Indonesia, tetapi juga yang berasal dari luar negeri. Rumah Wayang dan Topeng ini didirikan tahun 1998. “Karena kami memunyai visi dan misi pelestarian, pendidikan, dan hiburan, tempat ini kami namakan Rumah Wayang dan Topeng. Di bangunan yang bernama rumah ini berlangsung kegiatan yang dinamis dan eksis. Pengunjung yang datang boleh memotret, meniru, asalkan jangan membelinya. Rumah ini kami harapkan menjadi tempat perwujudan dari hasil perenungan para pendahulu kita,” ujarnya. Ia menyatakan keyakinannya di Bali wayang dan topeng akan lestari karena selain menjadi seni pertunjukan, wayang dan topeng juga menjadi seni ritual. Dan, sepengetahuan saya, katanya, kesenian wayang dan topeng ini tidak pernah terkontaminasi unsur politik. “Wayang dan topeng merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang patut selalu dijaga dan dilestarikan. Dalam dunia pewayangan dan pertopengan banyak filsafat hidup yang patut dijadikan acuan dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Jangan sampai warisan budaya yang adi luhung berpindah tangan ke orang lain,” ujarnya. —badra

Barong, Seni Magis yang Memesona Turis Martabak Africa

keinginan pemilik martabak Afrika ini pun tak muluk-muluk,” katanya. Dengan membeli franchise martabak Afrika seharga Rp 12 juta kemungkinan balik modal dalam 6 bulan dengan rata-rata penjualan 20 martabak per hari. “Saya kira itu sangat mungkin,” katanya optimis. Apalagi menurutnya martabak merupakan jenis makanan yang enak dan bisa disantap kapan saja. Apalagi dari segi rasa, martabak Afrika lebih lembut. Selain enak dinikmati pagi hari, bisa sebagai menu makan siang, atau mereka yang ingin ngemil malam hari. “Inilah jenis makanan yang bisa merangkum semua jam makan,” katanya. Keputusan Dewi tak meleset. Dalam musim liburan saat Pusat Oleh-oleh banjir pengunjung, kedai martabak Afrika Dewi pun kecipratan rezeki. “Pernah sehari mendapat Rp 700 ribu,” tuturnya. Dewi membayar uang sewa tiap 3 bulan sekali. Meski uang sewa bayar di muka, ia tak begitu cemas lantaran jika sepi, pasti ada saat-saat waktunya ramai seperti musim liburan dan menjelang pergantian tahun yang sudah di depan mata yang dapat menutupi ongkos saat pembeli agak turun. Menurutnya, enaknya memiliki usaha franchise, tanpa perlu susah mencari tempat berjualan. Hal ini karena banyak pemilik toko yang menawarkan diri. “Harga sewanya pun tak terlalu mahal,” katanya. Ciri khas martabak Afrika lainnya adalah aneka topping

yang merupakan penghias martabak sekaligus berpengaruh pada rasa. “Satu cara untuk memenangkan persaingan terletak pada cara pembuatan topping-nya,” kata perempuan yang memiliki hobi traveling dan wisata kuliner ini. Dalam menciptakan kreasi topping, Dewi memperhatikan keinginan semua pembeli. “Bagi yang suka gurih, bisa memilih topping keju, atau topping stroberi untuk memberikan rasa lebih segar. Bagi penikmat makanan asin pun tak perlu khawatir topping kacang dan jagung bisa menjadi pilihan. Bahkan mereka yang menginginkan martabak Afrika yang kriuk-kriuk bisa memilih topping oreo,” paparnya. Dewi pun menciptakan topping karamel yang paling dicari pembeli. “Mereka mengatakan topping karamel ini manisnya sensasional,” katanya. Saat ini di kedai Dewi ada 8 jenis martabak Afrika dengan beragam rasa. Selain keju, jagung, kacang, oreo, srtoberi, cokelat dan karamel ada juga pelangi dan bluberri. “Jika enak, pelanggan pasti akan balik. Itu yang saya terapkan,” tutur istri Monteverdo Barnsley Boestami ini. Ia menuturkan, pemilihan lokasi berjualan menjadi pertimbangannya. “Meski martabak Afrika ini memakai gerobak, saya memilih menyewa tempat di dalam. Hal ini untuk menjaga higienitas makanan,” katanya. —tin

BARONG bak menjadi maskot Bali yang telah memesona masyarakat mancanegara. Dalam konteks dunia kepariwisataan, tari barong merupakan salah satu seni pertunjukan Bali yang “wajib” ditonton turis yang melancong ke pulau ini. Seni pertunjukan barong yang oleh para pemandu wisata dipopulerkan dengan sebutan “Barong and Kris Dance” ini dapat disaksikan begitu mudah dengan tiket yang relatif murah seperti di Batubulan, Singapadu, dan Celuk, ketiganya di Sukawati. Sebenarnya, barong masih disakralkan masyarakat Bali. Ihwal kesenian ini menjadi seni turistik dimulai tahun 1930-an. Seorang pelukis asal Jerman, Walter Spies, yang bertempat tinggal di Ubud sering mengajak teman-teman Barat-nya menonton drama tari Calonarang di Tegal Tamu dan Pagutan, saat ada odalan di pura setempat. Untuk dapat menyaksikan seni pertunjukan Calonarang tanpa perlu menanti odalan, atas saran Spies, seni pentas yang sakral itu dibuatkan bentuk profannya dengan tetap mempertahankan penampilan barong dan rangda. Kontruksi inilah dengan pengembangan dan pemadatannya, yang kini lazim dinikmati wisatawan. Wisatawan kiranya belum banyak yang tahu bahwa di Bali terdapat beragam jenis barong yang umumnya masih diusung begitu takzimnya oleh masing-masing komunitasnya. Barong yang jumlahnya puluhan di Bali diperkirakan merupakan pengaruh Barongsai Cina. Pakar tari Prof. Dr. I Made Bandem menduga kuat, asal-muasal tari barong dari Singa-barong Cina yang muncul pada dinasti T’ang (abad ke-7 sanpai ke-10) yang menyebar ke seluruh Asia Timur, termasuk Indonesia. Pada awalnya tari ini merupakan pengganti pertunjukan singa sesungguhnya dalam sirkus oleh orang-orang yang mengadakan perjalanan,

mengikuti festival, dan mencari dana. Umumnya wujud barong merupakan simbolik dari binatang seperti tampak pada Barong Ket atau Ketet, Barong Macan, Barong Bangkal, Barong Gajah. Barong Landung berupa dua manusia laki dan perempuan bertubuh tinggi besar mirip Ondel-ondel Betawi. Yang pria disebut Jro Gede bertubuh hitam, berwajah angker lengkap taringnya. Yang perempuan berkulit putih yang selalu menyunggingkan senyum dengan matanya yang memicing sipit, disebut Jro Luh. Ada juga Barong Blasblasan atau Barong Kedingkling yang memakai topeng melukiskan tokoh-tokoh epos Ramayana. Berutuk adalang barong yang seluruh tubuh pemainnya ditutup rumbai-rumbai dari daun pisang kering atau keraras. Barong ini memakai topeng-topeng primitif. Dulu, biasanya sebagian besar barong itu sering mengadakan pementasan ngelawang, yaitu pentas seni secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pergelaran seni secara nomaden ini biasanya dapat dijumpai pada hari raya Galungan dan Kuningan. Ketika itu, di pempatan agung atau di depan balai banjar sering dapat disaksikan misalnya pementasan Barong Bangkal, barong yang berkepala babi jantan. Selain menyajikan atraksi tari dengan iringan gamelan babarongan, pada puncak tariannya dilakukan bauh-bauhan yaitu mengejar penonton yang berani menantang. Atraksi kejar-kejaran ini berlangsung seru dengan riuh sorak-sorai serta tawa ria penonton. Dari semua jenis barong tersebut, Barong Ket atau Ketet yang paling umum dikenal masyarakat Bali. Secara visual Barong Ket merupakan bentuk kombinasi dari singa, macan atau lembu. Bulu-bulu putih barong ini dibuat dari praksok dan ada pula yang menggunakan

bulu-bulu unggas. Keseluruhan tubuhnya meriah dengan ornamen berukir, berprada kuning emas dan dengan kemilau binar-binar kacanya. Secara mitologis, Barong Ket diidentikkan dengan raja hutan alias banaspati raja yang umumnya dikeramatkan di Pura Dalem masing-masing desa. Membawakan tari barong, selain harus memiliki keterampilan seni tari mesti juga disangga fisik prima dan tenaga ekstra. Bayangkan saat menari bersama pemain belakang, harus mengusung beban 15-20 kg berat barong yang terbuat dari kayu, bambu, kulit sapi, gelas, dan rumbai-rumbai. Dalam durasi 20-30 menit, duet sepasang penari barong harus menunjukkan koreografi dengan kepala yang tertindih dan ruang napas yang sempit. Pesona sebuah tarian barong lebih menjadi tanggung jawab pemain bagian depan, kendati kerja sama dengan pemain belakang tak bisa diremehkan, yang disebut tukang atau juru bapang tersebut. Di tengah kiprahnya sebagai seni wisata, pertunjukan barong masih energik memesona masyarakat. Dalam konteks ngayah, pertunjukan ritual magis Calonarang, misalnya, penampilan tari barong pada awal pertunjukan selalu dinanti-nanti penonton. Bahkan dalam suasana yang komunal, sering tidak cukup dengan hanya satu penampilan tukang bapang namun bisa hingga tiga yang semuanya berusaha menyuguhkan ciri khas dan kelebihannya masingmasing. Ada penampilan Barong Ket dengan properti pajeng dan ada pula yang menari dengan kipas di kaki. Budaya ngayah masih mengipas barong, sebagai simbol kebajikan, untuk dihormati, disayangi, dikagumi masyarakat Bali serta memesona wisatawan. zKadek Suartaya

Di tengah kiprahnya sebagai seni pertunjukan turistik, pertunjukan barong masih energik memesona masyarakat Bali


KESEHATAN

HATI-HATI membeli minuman kemasan. Jangan hanya membeli karena harga murah, tetapi kesehatan diabaikan. Perhatikan juga waktu kadaluwarsanya. Pesan ini disampaikan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia setelah meneliti sejumlah produk minuman kemasan yang ternyata mengandung bakteri berlebihan.

D

ari 21 merek air minum kemasan yang diteliti, 11 di antaranya bermasalah, dengan total bakteri yang ditemukan 10 ribu sampai 100 ribu koloni/ml. Padahal, menurut Standar SNI 01-3553-2006, kandungan mikrobiologi maksimal 100 sampai 1.000 koloni/ml. “Kami telah menyampaikan hal itu pada Badan POM, juga pada produsen air minum yang bersangkutan. BPOM sudah memberi respons dan akan mengambil langkah sesuai temuan ini. Jadi kita tunggu saja apa tindakan BPOM. Produsen, beberapa di antaranya memberi tanggapan, namun ada juga yang tidak memberi respons sampai sekarang,” ungkap Ida Marlinda Loenggana kepada wartawati Koran Tokoh di Jakarta. Dari 11 produk minuman kemasan itu, 9 di antaranya mendekati ambang batas yakni Pretige, Top Aqua, Air Max, Caspian, Club, Pasti Air,Vit, Prima, De As. Dua lainnya melebihi batas yakni Ron88 dan Sega. Menghadapi temuan seperti ini, ungkap Ida, pihaknya tidak bisa berbuat banyak selain menyampaikan kepada yang berwenang (BPOM), juga minta

klarifikasi dari produsen yang bersangkutan. “Jadi sifatnya hanya memberi masukan, dan itu telah kami lakukan sebelum masalah ini dipublikasikan,” tambahnya. Menjawab kemungkinan YLKI akan mengambil langkah hukum, Ida mengatakan, tidak. Langkah hukum hanya bisa jika ada pengaduan dari konsumen. Seperti halnya melakukan class action masalah listrik beberapa waktu lalu. Disebutkan, penelitian dilakukan YLKI Maret hingga Mei 2010, dengan sampel yang diambil dari sejumlah tempat seperti pasar tradisional, swalayan, dan yang dijual di malmal. Ada 21 merek minuman kemasan yang diteliti, termasuk merek terkenal, juga yang samasekali tidak dikenal tetapi beredar di tempat-tempat tertentu. Sejumlah produsen yang diminta klarifikasi, ungkap Ida yang membidangi masalah kesehatan di YLKI, umumnya memberi tanggapan positif dan berjanji akan memeriksa kembali produknya. Namun, mereka mengatakan dugaannya, bakteri berkembang setelah usai masa produksi. Jadi kemungkinannya, kata

Ida Marlinda Loenggana

mereka, saat proses distribusi dan proses penyimpanan sampai produk ke tangan penjual. Misalnya, jika air kemasan terpapar sinar matahari dalam jangka waktu lama, akan memungkinkan berkembangnya bakteri dalam air. “Itu alasan mereka. Namun, mereka berjanji akan lebih memperhatikan masalah ini. Produsen seharusnya bertanggung jawab dalam memenuhi standar keamanan juga melakukan pengawasan sampai barang itu sampai di tangan konsumen. Hal ini demi keamanan dan keselamatan konsumen,” tambahnya. Hal lain yang juga menjadi perhatian, masalah kadaluwarsa produk. Sebab, sejumlah produk yang ditemui tidak mencantumkan waktu kadaluwarsa dalam tiap produknya. “Jadi bukan hanya di dus tetapi harus

Batuk, Pilek, Demam, Gejala Meningitis R

ADANG selaput otak atau meningi tis masih merupakan ancaman serius bagi bayi dan anak-anak. Penyakit ini menular dan sebagian besar menyerang balita. Gejalanya, batuk, pilek, demam 3-7 hari. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, kematian mengancam. Tiap bulan Rumah Sakit Sanglah Denpasar menerima 1-2 kasus meningitis. “Meningitis merupakan peradangan atau infeksi di selaput otak karena berbagai penyebab, bisa bakteri, kuman, virus, atau penyebab lain,” papar dr. I Gusti Ngurah Suwarba, Sp.A. Secara umum di Bali kasus meningitis lebih banyak disebabkan bakteri atau biasa disebut meningitis bakterial. Bakteri ini banyak jenisnya, tergantung usia pasiennya. “Meningitis pada bayi usia di bawah 1 bulan biasanya lebih banyak disebabkan kuman ecoli. Di kalangan usia 1-2 bulan disebabkan bakteri pneumokokus. Bakteri lain juga ada tetapi kasusnya lebih sedikit,” paparnya. Ada juga meningitis yang disebabkan virus atau disebut meningitis aseptic. Jenis mendi tiap produk minuman gelas. Ini sesuai standar SNI,” tandasnya. Ia menambahkan, pihaknya juga menemukan ada produk yang nomor registrasinya berbeda antara yang di dus dan di kemasan. Masalah ini harus menjadi perhatian bersama, juga masyarakat sebagai konsumen agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan. Jangan hanya karena harga murah, masyarakat membeli dan mengonsumsinya tanpa memperhatikan aspek-aspek tersebut. Pihaknya juga berharap adanya sanksi tegas pada produsen nakal untuk memberi efek jera. –dia.

Bu Riana seperti Mendapat Jantung Baru Usia Bu Riana 61 tahun. Sejak dua tahun lalu ia sering merasakan jantungnya berdebar. Jalan sedikit saja sudah sesak dan kadang jantungnya sering terasa seperti diperas-peras. Sejak konsultasi ke dokter jantung Bu Riana setia mengonsumsi obat medis. Tetapi, malang tak dapat ditolak, Bu Riana mengalami serangan jantung pada Oktober 2009. “Saya masuk rumah sakit karena sesak, lemas, nyeri dada kiri, tangan kiri kesemutan, perut terasa kram dan berkeringat sampai basah,” ungkapnya. Ia mengaku cepat dilarikan ke rumah sakit oleh anaknya. “Saya harus menginap ICU jantung selama tiga hari. Hasil obervasi menyatakan jantung saya mengalami kebuntuan atau penyumbatan (jantung

Bu Riana

koroner) di beberapa tempat dan mengalami pembesaran jantung (cardio megali),” katanya. Setelah keluar dari rumah sakit, Bu Riana dianjurkan dokter jantung untuk operasi atau tindakan pemasangan ring (stent). Namun, ia menolak karena tidak berani. Sejak itu Bu Riana mengonsumsi lebih banyak obat lagi. Kondisinya makin payah. Ia menjadi cepat lelah, sulit untuk makan normal dan di malam hari sering tidur agak gelisah. Menurut dokter jantung di Tabanan, jika Bu Riana tidak bersedia operasi sangat sulit sembuh dan harus makan obat seumur hidup. Karena rasa takut menjalani operasi, kondisinya makin lemah. Akhirnya Bu Riana mencoba berobat ke Bali Heart Care Center (BHCC) . “Saya melihat kesaksian Bu Ayu dari Pasar Kereneng yang telah sakit jantung selama 11 tahun, akhirnya sembuh setelah mendapatkan terapi dari klinik BHCC di Jalan Pulau Nusa Penida 26 , Denpasar ini,” ungkapnya. Bu Riana pun mendapatkan terapi kombinasi dengan peralatan canggih seperti terapi EBOO (filter ozone darah), EECP yakni menumbuhkan pipa darah baru kolateral serta pemakaian herbal penguatan organ dan pembenahan sistem metabolisme tubuhnya. Sungguh luar biasa, hanya memerlukan dua minggu saja kondisi jantung Bu Riana yang sering berdebar hilang. Ketika tidur dan makan ia merasakan kondisinya membaik. “Dulu saya sulit makan dan sering sesak setelah makan. Terapi yang saya jalani dua bulan sungguh menjadikan diri saya seperti mendapatkan tubuh dan jantung baru,” ujarnya tersenyum. Bu Riana sekarang bisa beraktivitas kembali, seperi berjalan jauh, makan nikmat, dadanya tidak berdebar dan tidak terasa ditusuk-tusuk lagi. Kram di perutnya juga hilang. “Saya kini bisa merasakan tidur yang nikmat, tidak ada lagi momok rasa nyeri yang menakutkan di malam hari. Ketika saya bangun pagi badan juga terasa segar seperti dulu lagi,” lanjutnya. Ia juga mengatakan sempat menyesal ketika tahun lalu tidak mau mengikuti ajakan anaknya untuk berobat di BHCC akibat tersiksa nyeri jantung. “Namun, sekarang saya bersyukur. Rupanya tidak ada kata terlambat untuk berobat. Hasil echocardiographi menunjukkan perbaikan yang signifikan. Kini saya bebas dari obat-obatan kimia yang wajib saya konsumsi seumur hidup. Sebuah pengalaman yang saya rasakan sangat fantastis,” tandasnya. —ard

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

tkh/ast

Hati-hati Beli Minuman Kemasan

7 - 13 November 2010 Tokoh 15

Dokter Suwarba

ingitis yang lain disebabkan kuman TBC atau disebut meningitis TB. Namun, yang paling berbahaya dan akibatnya fatal serta menimbulkan kematian pada bayi usia di bawah 2 tahun, meningitis bakterial. Angka kematian mencapai 25-30%. Sisanya, menyisakan kecacatan seperti lumpuh, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran atau gangguan mental. Beberapa kasus meningitis juga menyerang anak-anak usia sekolah dan orang dewasa. Namun, prosentasenya lebih sedikit dibandingkan balita. Sistem kekebalan anak yang belum sempurna memudahkan bakteri ini menyerang. “Tiap bulannya 1-2 kasus ditangani RS Sanglah,” jelasnya. Umumnya, gejala awal batuk, pilek, dan demam 3-7 hari. Radang selaput otak dipicu infeksi tenggorokan. Dalam kondisi tertentu kuman dapat menyebar melalui aliran darah dan penyebaran langsung. Misalnya, penderita sudah menderita radang telinga (curek) sebelumnya. Infeksi terjadi di belakang telinga atau carier gigi. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini akan

menyebar dan menyerang selaput otak. Gejala dilanjutkan dengan munculnya kejang dan kesadaran menurun. Pada bayi usia sebulan meningitis biasanya disebabkan proses kelahiran. Bagi bayi yang lahir karena ketuban si ibu pecah sebelum waktunya, rawan terserang meningitis. Ia menyatakan, tidak semua gejala meningitis menimbulkan kejang. Pada bayi yang ubunubunnya masih terbuka, ubun ubunnya akan terlihat tegang, besar, dan menonjol. Tanda tersebut menunjukkan sudah ada tekanan yang meningkat dalam otak. Namun, ia menegaskan, meningitis selalu disertai menurunnya kesadaran. Penyakit ini menular seperti penyakit batuk, pilek. Untuk memastikan gejalanya, biasanya dilakukan pemeriksaan lumbar fungsi yakni mengambil cairan otak di punggung. “Sebanyak 2-3 cc cairan diambil, diperiksa di laboratorium untuk mencari apakah penyebabnya bakteri atau virus,” ujar dokter bagian

neorologi anak SMF Ilmu Kedokteran Anak FK Unud/RS Sanglah ini. Kadang pasien menolak karena beranggapan dengan pengambilan cairan, pasien bisa lumpuh. Padahal, kata Dokter Suwarba, walaupun kelumpuhan itu terjadi bukan karena pemeriksaan tersebut tetapi memang akibat penyakit tersebut. Ia menyatakan, lumbar fungsi tidak berbahaya sepanjang dilakukan tenaga profesional dengan teknik yang benar. Beri Antibiotik Untuk menangani meningitis bakteri, penderita diberi obat antibiotik. Namun, kata dia, yang paling penting dalam penanganan penyakit ini diagnosa yang benar sehingga dapat diberikan terapi yang sesuai jenis penyebabnya. Pengobatan berbeda-beda sesuai jenis penyebabnya. “Pengobatan meningitis tergantung kecepatan diagnosis dan kecepatan terapi,” ujarnya. Mengingat meningitis dapat berakibat kematian atau cacat, ia menganjurkan pentingnya dilakukan tindakan pencegahan dengan jalan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi. Dianjurkan untuk melakukan imunisasi untuk mencegah meningitis. –ast


16

Tokoh

HUKUM

7 - 13 November 2010

Kepailitan Hotel Aston Bali Resort & Spa

Sudah Dieksekusi tetap Berbuntut KASUS kepailitan Hotel Aston Bali Resort & Spa, Tanjung Benoa, Badung, telah dilakukan eksekusi 12 Oktober 2010. Namun, tampaknya kasus kepailitan yang dikabulkan Pengadilan Niaga Surabaya 10 November 2009 itu, masih berbuntut.

P

T Dewata Royal Internasional (DRI) sebagai pengelola lama membentuk Tim Investigasi Kepailitan Hotel Aston Benoa Bali (TIKHABB). Tim ini ditugaskan untuk menelusuri proses kepailitan hingga berakhir eksekusi. Ketua TIKHABB yang juga sebagai kuasa hukum Dirut PT DRI Rustandi Jusuf, Agung Mattauch, mendatangi PN Niaga Surabaya. Tujuannya, meminta Hakim Pengawas PN Surabaya menunjuk auditor independen untuk mengaudit pekerjaan Swandy Halim, selaku kurator Hotel Aston Bali

Resort & Spa. “Banyak dugaan penyimpangan yang kami temukan,” kata Agung Mattauch didampingi rekannya yang tergabung dalam TIKHABB, di Pengadilan Niaga Surabaya. Akibat penyimpangan itu, katanya, kliennya kehilangan aset senilai Rp 600 miliar yang disita Bank Mandiri selaku kreditur. Ia menjelaskan, salah satu penyimpangan yang dilakukan Swandy di antaranya menyangkut transfer sejumlah uang milik DRI ke rekening pribadi kurator. Swandy juga diduga tidak menggunakan budel pailit sebagaimana mestinya. Menurut pengacara asal

Agung Mattauch

Palembang yang berkantor di di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, ini, kurator Swandy Halim dalam menangani sengketa antara PT DRI dan Bank Mandiri tidak independen. Menurut dia, Swandy Halim sudah dilaporkan ke Mabes Polri dengan tuduhan pasal 234 UU nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Ke-

wajiban Pembayaran Utang jo pasal 266 KUHP dan atau 372 KUHP tentang keterangan palsu dan atau penggelapan. (LP No.tBL/344/XI/2009/Bareskrim). “Semua buktinya sudah kami serahkan ke penyidik Bareskrim Mabes Polri,” ujar Agung Mattauch. Di tangan kurator Swandy Halim, Hotel Aston Bali Resort & Spa dilelang senilai Rp 182 miliar. Menurut Agung, hotel tersebut tidak dalam keadaan pailit. Sebab, hingga saat ini okupansinya mencapi 98%. Dalam eksekusi semua barang dalam hotel yang tidak masuk budel pailit ikut tereksekusi. Jaminan pihak ketiga berupa tanah yang menjadi jaminan dan diblokir BPN juga ikut tersita. “Terhadap semua itu kurator harus bertanggung jawab,” katanya. Dalam kaitan ini, Hakim Pengawas Mulyanto menyatakan akan mempelajari permintaan TIKHABB. Mulyanto minta

Ponsel Putus-Nyambung di Nusa Penida BTS terlalu Jauh Site akan Ditambah KETUT ARIAWAN rutin bersembahyang di Pura Dalem Ped, Nusa Penida saat piodalan. Dari Bali daratan kadang ia berangkat sendiri, kadang bersama teman kantornya. Perjalanan menyeberang dari pelabuhan Padangbai menuju dermaga di Nusa Penida ditempuh dalam waktu satu jam jika cuaca normal. Keluhan yang sering muncul saat Ariawan yang berprofesi wartawan ini berada di Nusa Penida, sinyal telepon selulernya putus nyambung.

Ketut Susila Dharma

“Sinyal GSM maupun CDMA sama saja, kadang bagus kadang jelek. Ini membuat jengkel kalau lagi asyik-asyik menelepon tiba-tiba putus,” ujarnya. Hal yang sama ketika

Sekilas suasana di Nusa Penida

ia melakukan koneksi internet. Karena jaringan yang tidak stabil, proses pengiriman lewat surat elektronik pun tersendat dan lebih sering gagal. Menanggapi hal tersebut, Commerce Manager Telkom Flexi Bali Nusra A.A. Bagus Segara mengakui memang sering ada gangguan jaringan CDMA. Salah satu alasan, seringnya terjadi gangguan dengan Flexi karena jarak dengan Base Transeiver Station (BTS) terlalu jauh. “Solusinya, kami sudah plot beberapa repeater. Tetapi, yang menjadi kendala, proses administrasi dan anggaran di Surabaya. Mudah-mudahan Oktober ini di Nusa Lembongan dan Nusa Penida umumnya bisa lancar,” tegasnya. Sementara itu GM NO Telkomsel Bali Nusra I Ketut Susila Dharma mengatakan

tidak ada kendala khusus saat penggunaan jaringan Telkomsel karena seluruh pihak kooperatif dan ketersediaan aspek pendukung lainnya juga cukup memadai di Nusa Penida. “Kondisi coverage Telkomsel di Nusa Penida ada dua site yaitu di sekitar Nusa Penida dan Sakti, serta satu site di Pulau Lembongan ditambah lagi terdapat 9 titik yang menjadi bagian Program USO. Jumlah site itu belum optimal karena pengguna an layanan Telkomsel oleh warga lokal serta turis juga relatif tinggi,” paparnya. Ia mengatakan, dalam waktu dekat pihyaknya akan menambah minimal empat site baru di Nusa Penida. Ia menambahkan potensi yang besar di Nusa Penida baik dari segi keindahan alamnya serta potensi masyarakatnya membuat Telkomsel terpanggil tanggung jawab sosialnya untuk dapat memberikan efek ganda bagi pembangunan perekonomian di sana melalui jaringan telepon untuk berkomunikasi dengan masyarakat di luar Nusa Penida serta melalui layanan serta produk Telkomsel yang dijual lewat outlet atau toko. Untuk saat ini, penggunaan layanan Telkomsel di Nusa Penida masih didominasi voice, kemudian disusul SMS dan layanan data. “Telkomsel sebagai operator yang ‘Paling Indonesia’ berharap dapat berkerja sama lebih baik dengan pemerintah daerah agar proses penambahan jaringan di Nusa Penida dapat segera terealisasi dengan baik dengan prinsip saling mendukung. Harapan lain juga bagi warga setempat agar dapat meningkatkan/menjaga infrastruktur telekomunikasi selular yang ada. Tujuannya agar warga dapat selalu terbantu dari sisi layanan komunikasinya demi mendukung pembangunan ekonomi warga Nusa Penida maupun update informasi bidang pendidikan bagi anak-anaknya melalui internet sehat,” tandas Susila. —wah

Hotel Aston Bali Resort & Spa

TIKHABB melayangkan permintaan itu secara tertulis berdasarkan prosedur yang ditentukan. Sejak Lama Silang sengketa Hotel Aston Bali Resort & Spa sudah berlangsung sejak lama. Awalnya, tahun 1996, pihak hotel Aston melalui PT Dewata Royal International (PT DRI) selaku pemegang saham terbesar

mengajukan kredit ke Bank Exim (sekarang Bank Mandiri-red), senilai 14 juta dolar AS. Pinjaman itu diterima dalam bentuk rupiah senilai Rp 42 millar. Tahun 1996 hingga 2009 pihak Aston telah membayar utang senilai Rp 70 milliar. Kemudian, Pengadilan Niaga Surabaya memutus pailit dan asetnya disita kreditur. PT DRI dinilai tidak memenuhi kewajibannya sehingga akhir Juni 2008 fasilitas

kredit itu dinyatakan gagal. Jika ditambah bunga dan denda nilainya mencapai 22 juta dolar AS. Karena itu, Bank Mandiri memailitkan PT DRI yang kemudian dikabulkan Pengadilan Niaga Surabaya 10 November 2009. Setelah dinyatakan pailit, muncul PT Karya Teknik Hotelindo (PTKTH) sebagai pemenang lelang. Eksekusi berlangsung 12 Oktober 2010. —nor

BKOW Siap............................................................................................................dari halaman 1 kuat antara organisasi perempuan dan masyarakat sebagai pilar pembangunan, memudahkan pelaksanaan kegiatan tanam dan pelihara pohon ini. Menurutnya, gerakan perempuan yang bakal berlangsung pada 1 Desember akan datang ini, merupakan inisiasi kebersamaan tujuh organisasi perempuan, salah satunya Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Karena acaranya tidak hanya dilaksanakan secara nasional, tapi terdesentralisasi ke daerah di seluruh Indonesia. BKOW Bali yang tergabung di dalam Kowani ini siap melaksanakan dengan melakukan koordinasi dengan Ketua Umum Kowani Dr. Hj. Dewi Motik Pramono, M.Si. “Untuk daerah kita ini, organisasi perempuan yang akan menjadi tim pelaksana dari BKOW adalah Iwapi dan WHDI. Untuk persiapan, kami akan mengadakan koordinasi lebih lanjut hari ini,” katanya. Menanam pohon merupakan upaya sederhana namun berarti besar. Jika dilakukan tidak baik, maka upaya tersebut menjadi sia-sia. Guna melanjutkan apa yang menjadi harapan Ibu Negara Ani Yudhoyono pada tahun 2007 lalu, yakni mengajak kaum perempuan di seluruh pelosok Indonesia berkontribusi bersama mengatasi perubahan iklim dengan memulihkan kerusakan alam melalui gerakan perempuan tanam dan

“Menanam pohon merupakan upaya sederhana namun berarti besar. Jika dilakukan tidak baik, maka upaya tersebut menjadi sia-sia”

Sulasmi Rai

tkh/dok

pelihara. Melalui kegiatan ini dapat dilihat betapa keberadaan dan dukungan perempuan sebagai aset dan potensi bangsa dibutuhkan demi upaya mengelola, memanfaatkan dan melestarikan lingkungan dalam rangka pembangunan berkelanjutan. Tahun 2010, merupakan tahun keempat pelaksanaan gerakan ini. Sebenarnya temanya‚ Penyelamatan Hutan Pantai dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Namun menurut Gung Tini, menyesuaikan dengan kondisi wilayah, diperkenankan mengangkat tema sebelumnya yakni Konservasi Air Melalui Revitalisasi Situ/ Hutan Kota. Tema ini katanya, diangkat untuk menunjukkan tentang pentingnya pelestarian sumber daya air sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan utamanya ketahanan pangan keluarga, bangsa dan masyarakat pada umumnya. Sementara itu Ketua Iwapi Bali Desak Nyoman Asrihati, didampingi Ketua WHDI Bali I Gusti Ayu Sulasmi Rai mengungkapkan, gerakan ini sengaja diberi judul tanam dan pelihara, maksudnya agar pohon yang ditanam terus dipelihara pertumbuhannya. Sebagaimana tahun sebelumnya dalam tanam pelihara ini, peserta tanam selain memelihara juga diharapkan terus memantau tanamannya, jika perlu melakukan penggantian terhadap tanaman yang mati. Di samping itu menurut Desak

Asrihati

tkh/dok

Asrihati, kegiatan yang dilakukan ini merupakan kegiatan mulia. Di mana para perempuan akan bersatu dan bertekad untuk menyelamatkan lingkungan demi anak cucu kelak. Selanjutnya, berdasarkan informasi dari Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran (BPDAS) Unda Anyar Ir. Djoni Hardjono, untuk Bali tersedia jenis bibit seperti durian hongkong, nangka, mangga, sawo manila, dan pinang, dengan jumlah 170 ribu variatif. Dengan penyediaan bibit ini, peran perempuan dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian lingkungan harus terus dilanjutkan. Dengan jumlahnya yang relatif besar, maka perempuan diharapkan dapat berkontribusi dan berperan aktif mendukung pembangunan berkelanjutan. Selama ini kedekatan perempuan dengan lingkungan sekitarnya, membuat perempuan lebih peka dan arif menjaga lingkungan. Kaum perempuan juga diharapkan sebagai menjadi motor penggerak yang berpotensi menggerakkan masyarakat dan lingkungannya. Sebab pada dasarnya perempuan merupakan kelompok masyarakat yang paling strategis untuk diberdayakan. “Dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, perempuan harus mewujudkan kemandirian dan pemberdayaan perempuan serta berperan pada tiga pilar pembangunan, yaitu: ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” ucap Gung Tini. —ard

Terperosok di...............................................dari halaman 3 istrinya terlihat kejang-kejang seperti orang yang berpenyakit epilepsi. Paman meminta maaf kepada seluruh anggota rombongan atas kejadian tadi dan berjanji sebagai pimpinan rombongan akan lebih berhati-hati. Setiba di Kota Ngawi, langsung kami memarkir sepeda motor di sebuah stasiun penjualan premium. Di tempat ini kami beristirahat relatif lama. Dalam waktu istrirahat ini saya dan Paman baru sadar ternyata kami berdua mengalami beberapa luka kecil akibat kejadian naas tadi. Dengan obat-obatan lengkap yang kami bawa, kami obati luka-luka kami. Setelah satu jam beristirahat kami menjalankan motor berputar-putar di kota ini. Tujuannya, mencari warung makan. Akhirnya yang dicari kami temukan yakni sebuah warung di pinggir jalan yang

menjajakan makanan khas Ngawi, tahu tepo. Tahu tepo sejenis ketoprak. Bedanya, kacang gorengnya tidak dihaluskan dengan bumbu lain tetapi ditaburkan di atasnya dan kecambahnya dihaluskan bersama daun seledri. Tahu tepo ini dilengkapai juga bakwan. Kami membayar Rp. 5000 per porsi. Selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Sragen. Sragen merupakan kabupaten perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kami ingin segera meninggalkan wilayah Provinsi Jawa Timur, karena ingin segera memasuki provinsi ketiga dalam perjalanan mudik kami dari Bali menuju Ciamis, naik sepeda motor, yakni Provinsi Jawa Tengah. Kami melaju, Jawa Tengah telah menanti kedatangan kami. Anik Nurlia Agustini


SPIRITUAL

7 - 13 November 2010 Tokoh 17

komponen tubuh kita. Ia memberi contoh, buah purna jiwa. Sifatnya panas yang mampu menguatkan pikiran. Orang yang memakan buah purna jiwa diyakini menjadi sangat berwibawa. Orang yang mencapai semadi, mampu melihat aura. Dengan mata terpejam ia dapat melihatnya. Dengan belajar spiritual, kita bisa melihat dari yang halus. Materi terbentuk dari atma dan jiwa kita. Ilmu modern hanya melihat jiwa kasar. Padahal, untuk mencapai spiritual yang tinggi perlu keseimbangan lahir dan batin. Saat bersembahyang pikiran kita bersih. Namun, setelah itu kembali kotor karena karma dan jnana yoga belum dipraktikkan. Apalagi kita mampu menyempurnakan dengan raja yoga, maka moksa akan dapat dicapai.

tkh/ast

PENEKUN meditasi usadha Merta Ada mengatakan, orang Bali sepatutnya bersyukur bertempat tinggal di Bali. Energi magma bumi bersilangan di bawah pulau Bali. Ini merupakan pertemuan luar biasa antara energi positif dan negatif. “Kalau kita ingin menjadi tenang dan mencapai moksa, Bali tempatnya. Beberapa ahli spiritual dunia menemukan dua tempat yang diyakini memiliki sinar spiritual tinggi yakni Bali dan satu tempat di sebuah danau di Peru,” ujarnya.

I

Merta Ada sedang mengajarkan meditasi usadha

a menyatakan, ada empat unsur alam yakni air yang bersifat mengurai dan melekat, tanah bisa dirasakan berat atau

ringan, kasar atau halus, keras atau lembut, api dirasakan bagai panas atau dingin, dan angin terasa kembang kempis. Keempat unsur ini membentuk

Yoga Mudah Dipelajari Pelajaran kanda pat kini tidak sulit lagi dipelajari. Dr. Gede Kamajaya yang membawakan materi tantra yoga mengupasnya dengan gamblang. Yoga ini mudah dipelajari bahkan oleh orang sibuk sekalipun. Ia mendapatkan ilmu ini dengan belajar dari para tetua di Nusa Penida tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Ia ramu menjadi pelatihan yang praktis dan mudah diikuti. Pada prinsipnya, tantra yoga merupakan pencapaian semua yoga, untuk kesehatan dan kedamaian batin. Tantra

menunjukkan usaha keras dalam mentransformasikan kehidupan dari bentuk yang kasar menuju persatuan dengan Tuhan dengan kesadaran tanpa batas yakni suatu keadaan melampaui ikatan-ikatan relativitas. Tantra pada dasarnya merupakan cara meditasi praktis dengan prinsip yang positif. Meditasi Angka Prabu Darmayasa mengungkapkan, tiap orang memiliki cinta kasih spiritual terhadap sesama. Tetapi, jika tidak awas maka perbedaan-perbedaan lahiriah seperti suku, warna

tkh/ast

Bali dan Peru Miliki Sinar Spiritual Tinggi

Para yogi menerima persembahan Anugerah Angkus Prana dari Museum Rudana

kulit, tinggi-rendah atau kayamiskin di masyarakat, akan menghancurkan cinta kasih spiritual tersebut. Lewat pelatihan yoga dan meditasi akan tercapai ke-

sehatan, ketenangan, kesadaran diri, konsentrasi lebih baik, kemantapan batiniah, pemikiran positif, dan kebangkitan spiritual. Materi meditasi angka

Paola dan Gobind Ungkapkan Pengalaman Spritualnya SALAH seorang praktisi yoga asal Italia yang bekerja di India Paola Clodoveo menyatakan, suatu kebanggaan dapat menimba ilmu dari pakar yoga di Bali. Perempuan usia 52 tahun ini kebetulan berada di Ubud selama sebulan. Ia menuturkan, awal mula ia

tertarik yoga ketika berusia 20 tahun. Ia berkonsentrasi pada karma yoga. Waktu itu Paola belajar selama dua minggu di Lama Tzong Khapa Institute di Pomma Pisa, Italia. Kemudian ia menjalani vipassanna (silent meditation) seminggu di Ladak India.

Ia mengatakan, banyak manfaat diperoleh dengan bermeditasi. “Saya merasa lebih tenang, mampu lebih berkonsentrasi, dan lebih bersemangat,” tuturnya. Kini ia rutin melakukan yoga tiap hari. Ia mengaku, yoga telah memberikan banyak

I Dewa Nyoman Artha

I Dewa Nyoman Artha

MASYARAKAT Denpasar dan Bali tak lama lagi bakal menikmati layanan ‘Pasti Pas’ dari semua SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Program ‘Pasti Pas’ merupakan kebijakan Pertamina yang didukung penuh oleh kepengurusan DPC Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi) Bali masa bakti 2010 – 2014 yang dilantik barubaru ini. Dukungan kuat para pengurus Hiswana Migas Bali ini diwujudkan dalam komitmen bersama anggota/pengusaha SPBU. Ini sesuai visi dan misi Pertamina bersama Hiswana Migas Bali untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. Paling tidak, program yang sudah berjalan ini terealisasi sepenuhnya hingga tahun depan. Semangat para pengusaha SPBU anggota Hiswana Migas Bali ini, tak lepas dari peran Ketua DPC Hiswana Migas Bali terpilih I Dewa Nyoman Artha. Pria kelahiran Br. Kawan, Bangli inilah yang memotivasi anggotanya untuk berbenah. Ayah satu putri ini memang tak ingin berlama-lama merealisasikan apa yang menjadi salah satu program prioritasnya ini mengingat dampaknya sangat positif bagi semua pihak. Belum genap dua pekan dilantik, sudah ada beberapa kali pertemuan yang membahas soal ini. “Program ‘Pasti Pas’ sudah menjadi sebuah tuntutan demi pelayanan kepada masyarakat. Di era yang serba cepat ini, kami harus mampu melayani dengan lebih baik. Kami targetkan tahun depan semua SPBU sudah ‘Pasti Pas’,” papar pemilik beberapa SPBU dan bisnis penunjang terkait lainnya ini. Perlu Pengorbanan Bagi anak ketiga dari empat bersaudara ini, bersedia menjadi orang nomor satu di sebuah organisasi sangat strategis ini tentu membawa konsekuensi tersendiri. Tanggung jawab besar yang dibebankan di pundaknya, tentu membutuhkan pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga yang tak kecil. “Ini konsekuensi yang harus saya terima. Saya bersedia menjadi ketua tentu sudah memikirkan konsekuensinya. Saya bersyukur

Gebrakan Baru Sebagai ketua sebuah organisasi yang berperan sangat penting, Artha sadar, memberikan layanan terbaik mesti ditunjang oleh fasilitas IT yang memadai. “Kami akan menyediakan layanan hotline seperti e-mail dan website. Paling tidak, berbagai informasi, keluhan hingga permasalahan yang dihadapi anggota, bisa cepat diakses. Demikian sebaliknya, apa yang menjadi kebijakan organisasi juga bisa diketahui langsung anggota sehingga komunikasi nyambung terus. Ini sebuah gebrakan yang kami buat demi kemajuan dan suksesnya bisnis rekan-rekan anggota Hiswana Migas Bali. Kami juga menerima saran bahkan kritik dari pihak manapun terkait layanan kami sehingga ada upaya untuk terus berbenah,” demikian pengusaha sukses yang kini merambah bisnis properti ini. Kepengurusan DPC Hiswana Migas Bali periode 2010-2014, Ketua I Dewa Nyoman Artha, WK I (Bidang BBM) Ir. Dewa Putu Ananta Wijaya, MBA, WK II (Bidang Non BBM) I Nyoman Mardana, SH, Sekretaris Ida Bagus Ramaputra, WS Drs. I Nyoman Laput Artana, Bendahara I Ketut Arya Adiguna, SH dan WB I Wayan Rastika. —ari

tkh/ast

Saatnya Layanan ‘Pasti Pas’ rekan-rekan sesama pengusaha siap all out mendukung kebijakan program yang kami susun bersama ini. Saya berterima kasih karena diberikan kesempatan dan kepercayaan besar ini,” ungkap pria berkulit putih bersih ini. Penghobi baca buku bisnis ini menambahkan, layanan ‘Pasti Pas’ tak hanya memberikan kenyamanan dan keuntungan kepada masyarakat tetapi semua pihak yang terkait dalam bisnis ini (pengusaha SPBU dan Pertamina -red) akan mendapatkan nilai tambah yang cukup signifikan. Diakuinya, memang tak mudah merealisasikan program ‘Pasti Pas’ ini karena biaya investasi yang harus dikeluarkan pengusaha tidak kecil. “Tetapi pengusaha sepakat untuk berbenah dan kami akan berjuang bersamasama apalagi pihak bank sudah menawarkan kemudahan kepada anggota. Sudah saatnya membenahi tampilan menuju layanan kelas dunia,” kata mantan ketua bidang SPBU dan bendahara Hiswana Migas periode sebelumnya ini. Pengusaha yang menggeluti bisnis SPBU di usia 27 tahun ini menegaskan, berbenah menuju layanan ‘Pasti Pas’ membawa dampak pada tingkat margin yang lebih tinggi kepada pengusaha SPBU. “Itu sebabnya saya mengajak rekan-rekan untuk bersama-sama berbenah. Kami pun mengimbau Pertamina agar mencabut aturan yang menurunkan margin bagi pengusaha SPBU yang belum menerapkan program ini dan memberikan reward kepada pengusaha yang sudah memiliki layanan ’Pasti Pas’. Tujuannya agar pengusaha tambah bersemangat untuk berbenah,” ungkapnya bijak. Bagi pria santun ini, berbenah tak hanya dalam lingkup pendistribusian BBM yang lancar tetapi juga meliputi tampilan SPBU (lingkungan hijau dan asri, memiliki fasilitas umum yang lengkap, nyaman dan aman), SDM, manajemen dan hal-hal terkait lainnya. Ini penting mengingat Bali adalah etalase dunia. “Peran dan kontribusi pengusaha SPBU memberikan layanan berkualitas bagi dunia kepariwisataan di Bali cukup besar. Pariwisata yang gegap gempita bila tak didukung lancarnya distribusi BBM, pasti akan menuai masalah. Sekali lagi, mari kita bersama-sama memberikan layanan terbaik untuk masyarakat,” ajaknya.

yang diberikan bertujuan untuk membangkitkan tenaga kundalini demi terwujudnya cinta kasih spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia. –ast

Paola Clodoveo bermeditasi bersama mahasiswa IHDN Bangli

70 Orang Tamat Pendidikan Kepemangkuan SEBANYAK 70 orang menamatkan pendidikan kepemangkuan lanjutan yang ditutup Minggu (31/10) oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Prov. Bali Drs. I.G.A.K. Suthayasa, M.Si. di aula kantor setempat. Pelatihan ini kerja sama Maha Warga Bujangga Waisnawa (MWBW) dengan Kantor Kementerian Agama Prov. Bali, PHDI, dan IHDN. Ketua Panitia Ngurah Citra mengatakan, peserta berasal dari pemangku dadia MWBW dan sebagian ngayah sebagai pemangku pura khayangan jagat di Bali. Pendidikan dilaksanakan tiap Minggu mulai 25 April selama 24 kali pertemuan dalam kelas dan 6 kali di luar kelas. Narasumber calon diksa Guru Mangku Gede Anom dari Gria Gablogan dan beberapa rsi bujangga waisnawa yang telah mendapat panugerahan Ida Rsi Nabe serta penglingsir moncol pusat MWBW. Pola pendidikan mengutamakan 70% praktik dan 30% teori dengan materi utama praktik panca yadnya, peneleban sastra Bali

energi dan spirit dalam menjalani rutinitasnya sebagai pekerja kemanusiaan untuk perempuan dan anak di India. Masalah Kita Ego Praktisi Yoga Gobind menuturkan, ada suatu pengalaman spiritual yang mengantarkannya akhirnya menekuni meditasi. Gobind pernah merasakan dirinya meninggal. Setelah itu, ia banyak membaca buku spiritual dan mulai bergerilya mencari guru spiritual. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Daripada susah mengubah pikiran lebih baik mengubah gerakan. Kemudian ia mulai fokus bermeditasi. Ia menyadari, dalam kehidupan, kita sebenarnya tidak memunyai masalah dengan dunia luar. Masalah kita adalah ego kita sendiri. “Manfaat yoga adalah menimbulkan kesadaran pada diri kita bahwa saya, kamu dan kalian adalah sama yakni satu badan. Apa pun masalah itu, ada dalam diri kita,” ujarnya. –ast

dan ngerajah, dang guru acarya, dan prewertaka yadnya. Ketua Moncol Pusat MWMW dr. Nyoman Sugitha, Sp.A. menyatakan salah satu program moncol pusat melakukan upaya peningkatan sumber daya manusia melaui pendidikan pemangku dan calon diksa. “Dengan adanya pendidikan kepemangkuan ini akan ada persamaan persepsi tentang tata cara pelaksanaan upakara di wilayah masing-masing,” ujarnya. Namun, ia mengakui tiap desa pakraman ada variasi dalam pelaksanaan upakara, tetapi setidaknya ada standar minimal yang dapat dijadikan pedoman dalam penerapannya dan sesuai dengan Weda. Juga, direncanakan akan diadakan pelatihan pemangku dan calon diksa di Nusa Penida. “Sudah ada 21 KK yang berminat untuk mengikutinya,” ujarnya. Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Prov. Bali Drs. I.G.A.K. Suthayasa, M.Si. mengatakan, pemangku memiliki peran penting dalam melakukan pembinaan umat. Untuk itu, mereka tidak hanya perlu dibekali kecakapan perihal upakara tetapi perlu mengerti, memahami, dan menghayati tiap makna dalam upakara. Mangku Suradnya dan istrinya Mangku Yuliani, asal Buleleng, yang terpilih menjadi peserta terbaik mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat dalam upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia pemangku. Setelah pemberian pin kepada seluruh peserta, dilangsungkan penggalangan dana untuk korban bencana alam. Hasilnya diserahkan kepada Ketua II PHDI Prov. Bali, Made Raka Santeri untuk diteruskan ke pihak yang berhak menerimanya. –ast

Ida Rsi Nabe, Guru Mangku Anom, Drs. I.G.A.K. Suthayasa, dr. Nyoman Sugitha, dan Made Raka Santeri

Konsep Yoga........................................................................................................................dari Tuhan, karena kita tidak paham Tuhan itu berada di mana. Tuhan itu apa yang engkau lihat dan apa yang engkau rasakan. Tuhan ada di manamana, memenuhi alam semesta, menciptakan semuanya dan ada dalam ciptaan-Nya,” paparnya. Ia menegaskan, saling mencintai merupakan konsep yoga. Kita dapat belajar dari konsep jari tangan. Mulai dari ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari

manis hingga telunjuk memunyai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau salah satunya tidak ada, kita tidak akan mampu melakukan sesuatu secara sempurna. Yoga merupakan gabungan olah badan dan olah pikiran menyatu menjadi satu keindahan. Menurut Ida Pedanda Gunung, ada tingkatan belajar yoga di Bali. Awalnya senang

belajar yoga. Kemudian akan melewati tahap-tahap mulai dari ego, samara, dan sunia. Awalnya, kenal yoga dan tahu sedikit, egonya mulai muncul. Kemudian merasakan samara, ada murid perempuan mulai ada perhatian. Misalnya mengucapkan, “Kamu cantik pakai baju itu”, meskipun dalam hati. Kita memang akan melewati fase ini. Terakhir melewati sunia artinya semuanya indah.

tkh/ast

halaman 1

Ketika dipukul orang lain sampai kepala kita benjol, kita tidak melakukan apa-apa. Ada yang mengatakan itu tindakan bodoh. Namun, itulah seorang spiritualis. Apakah Anda bisa bersikap seperti itu? Jika bisa, tingkatan sunia sudah Anda capai. Artinya, yoga menimbulkan kesadaran, kesehatan jasmani dan rohani, dan kebahagiaan serta kedamaian bagi umat manusia. –ast


18

Tokoh

DALAM KENANGAN

7 - 13 November 2010

Bu Alit Sumantri Aktivis Wanita Pekerja Keras

Kenangan saat Bu Alit Sumantri bersama suami (kanan) dan Toyo Subroto pemangku Pura Alas Purwo (Banyuwangi) dalam suatu acara keluarga, 1 Agustus 1997

PADA suatu hari, ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali merasa trenyuh hatinya memergoki beberapa anak putus sekolah karena tidak punya biaya, di dekat pura di Desa Seraya, Karangasem. Untuk makan saja sulit, orangtuanya hanya petani musiman. Serombongan ibu tersebut tergerak hatinya untuk membantu mereka dengan biaya urunan.

P

enemuan ibu-ibu WHDI sepulang dari kegiatan perbaikan pura di Desa Seraya tersebut ditindaklanjuti. Alhasil, 14 anak yang mengenyam pendidikan SD dan SMP di Karangasem dibiayai pendidikannya oleh WHDI. Inilah sepenggal kiprah anggota WHDI Bali di bawah pimpinan ketuanya, Bu Alit Sumantri, yang meninggal 27 Oktober dan dipelebon di Krematorium Kertha Semadi Mumbul Nusa Dua, Selasa (2/ 11). Selama memimpin WHDI Bali sejak berdirinya tahun 1990

hingga tahun 2006, karakter dan kebiasaan pribadi Almarhumah telah turut mewarnai kiprah organisasi ini. Kegiatan di bidang sosial-keagamaan, kemanusiaan, dan pendidikan dalam upaya memberi keterampilan kepada kaum wanita dan anak-anak serta remaja, tampak dominan. “Ini bagian upaya kami untuk melakuan yadnya. Marilah wanita-wanita Hindu di Bali, bersatu, bergabung, untuk meningkatkan srada bhakti,” pesannya menjelang Musda WHDI Bali 7 Mei 2006. Keterlibatan Almarhumah dalam kegiatan ngayah atau tirta yatra ke pura, menurut

kesan tokoh agama Hindu I Ketut Wiana, luar biasa. “Sampai menginap di pura berharihari. Saya sering bersamanya,” ungkapnya. Organisasi WHDI di tingkat pusat sudah ada sejak tahun 1970-an. Ketua pertama pengurus pusatnya, Bu Sindya. Pengurus ini yang mengusulkan agar dibentuk WHDI Daerah Bali. Terbentuklah 9 September 1990, diketuai Bu Alit Sumantri. “Bu Alit ini yang banyak bergerak selanjutnya dan sangat aktif,” kesan Bu Ayu Suhaeni Pindha, salah seorang pemrakarsa berdirinya WHDI Pusat. Tentu, karakter dan kebiasaan Almarhumah yang menjadikan dirinya akrab dengan kegiatan sosial dan kemanusiaan ini tidak baru terbentuk sejak memimpin WHDI. Kiprah semacam itu sudah terlihat saat Almarhumah menjadi staf Front Nasional Bali tahun 1960-an. Sebagai fungsionaris parpol terbesar saat itu, PNI, Almarhumah sering terlibat dalam kegiatan penggalangan massa lewat wadah Front Nasional. Misalnya, tahun 1964, saat berlangsung penggalangan massa untuk bekerja bakti

Perhatian Pemerintah Melemah PKBI Bangkit Selamatkan Mereka dari Kemiskinan dan Kematian Sia-sia

tkh/dok

“Selamatkan Mereka dari Kemiskinan dan Kemjatian Siasia” adalah tema seminar kegiatan ilmiah Musyawarah Nasional XIV Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Jakarta belum lama ini. Tema tersebut relevan dengan kondisi sekarang, karena menurut BPS, jumlah KK miskin di Indonesai saat ini sekitar 33,6 juta jiwa, 14,15% dari total penduduk Indonesai yang mencapai 237,56 juta jiwa berdasarkan SP 2010. Begitu juga tentang angka kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas saat ini 307/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi 35/ 1000 kelahiran hidup. Kematian ibu Indonesia tersebut merupakan angka tertinggi di ASEAN. Menurut Unicef, The State of the World’s Children, 2004, angka kematian ibu di Indonesia 380/100.000 kelahiran hidup. Sebagai pembanding tahun yang sama Filipina 170, Vietnam 95, Malaysia 30, Thailand 36, Singapura 6, Brunei Darussalam 0.

Nyoman Mangku Karmaya

Karenanya peserta Munas menghendaki revolusi keluarga berencana dalam merespons tantangan tingginya kematian ibu dan aborsi tidak aman di Indonesia. Isu penting yang juga menjadi pembahasan seksama dalam munas tersebut, perwakilan remaja dalam semua tingkatan organisasi. Di tingkat

“Perwakilan remaja di PKBI dimaksudkan untuk menyuarakan aspirasi remaja di tingkat lokal, nasional, dan internasional...”

nasional, PKBI memiliki dua orang perwakilan remaja, Youth Representative dan Youth Alternate yang selain masuk dalam komposisi pengurus harian, juga mewakili PKBI di tingkat regional IPPF. Perwakilan remaja di PKBI dimaksudkan untuk menyuarakan aspirasi remaja di tingkat lokal, nasional, dan internasional, sekaligus merupakan sarana regenerasi kepengurusan PKBI. Di Bali, pengurus PKBI telah berimbang antara perempuan dan remaja. Menurut Ketua PKBI Bali Prof. Dr. dr Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro., program ramah remaja di berbagai daerah di Bali adalah Kisara (kita sayang remaja), Daku (dunia remajaku seru), Bina Anaprasa, Kamu dan Aku, dan sebagainya. Menurut Ketua PKBI Pusat demisioner Drs Rizal Malik, M.A. dalam era reformasi sekarang ini program keluarga berencana di Indonesia tidak lagi menjadi perhatian utama yang diindikasikan dengan melemahnya kelembagaan KB

menanam ketela pohon di daerah timbunan pasir yang berasal dari muntahan Gunung Agung tahun 1963. Dalam kegiatan yang melibatkan ribuan orang dari berbagai kalangan dan dipusatkan di Kayubihi, Bangli, itu, peran Almarhumah sebagai sosok wanita sangat menonjol, di tengah sederet aktivis lainnya yang sebagian besar pria. Dalam kegiatan pemberatasan hama tikus secara massal di Bali tahun 1960-an, Almarhumah juga turut berdiri di barisan depan. Rumahnya di Jalan Anggrek 9 Denpasar, sering dijadikan markas kaum wanita, pelajar, dan mahasiswa, saat merencanakan suatu kegiatan bersama. Almarhumah dikenal mereka sebagai orang lapangan, pekerja keras, yang protektif dan berhati sabar. “Kadang-kadang mereka datang atau menelepon saya jika kangen. Secara spontan mereka pernah menyelenggarakan perayaan ulang tahun saya, sekaligus merayakan hari lahir Bung Karno,” ungkap sosok aktivis yang memiliki hari lahir sama dengan pendiri PNI itu, 6 Juni, empat tahun yang lalu. Aktivitasnya dalam kegiatan partai dan ormas mengantardi tingkat kabupaten/kota. Inilah saatnya PKBI bangkit mengobarkan semangat untuk meningkatkan peran dan kontribusinya dengan mengajak berbagai pihak untuk meningkatkan perhatian, dukungan dan upaya pemenuhan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi termasuk KB. Melalui peran tersebut, PKBI dapat secara optimal mendukung implementasi kesepakatan Konferensi Internasional Ke-

kan Almarhumah mendapat kepercayaan menjabat ketua Gerakan Wanita Marhaenis Kabupaten Badung dan kemudian anggota DPRDGR Kabupaten Badung. Setelah pemilu 1971, Almarhumah lebih banyak aktif dalam kegiatan profesinya sebagai guru SD. Menurut penuturan kerabat dekatnya, Bu Suarsa, Almarhumah pernah menjabat kepala SD 23 dan SD 16 Dangin Puri Denpasar. Namun, perhatiannya terhadap partai yang turut mewarnai perjalanan kariernya, tak pernah luntur. “Dalam peringatan ulang tahun PNI/Marhaenisme 4 Juli 2007 di Sanglah, beliau hadir walaupun berjalan tertatih-tatih dan dituntun,” ujar aktivis PNI tahun 1960-an, I Gusti Putu Toger. Toger bersama banyak kolega Almarhumah lainnya hadir dalam upacara nyiramin maupun pelebon Almarhumah. Suasananya seperti reuni. Rumah Suka Duka maupun Krematorium Kertha Semadi tempat berlangsungnya prosesi upacara menurut agama Hindu itu penuh sesak para kerabatnya dan tampak dominan hadirnya tokoh dan mantan aktivis wanita dari berbagai kalangan. Hadir pula kerabatnya di Persatuan Werdatama RI (PWRI). Pada hari-hari terakhirnya, Almarhumah menjabat ketua KerukunanWanita Werdatama dan wakil ketua PWRI (pensiunan sipil) Bali hingga tahun 2008. Almarhumah lahir 6 Juni 1930 di Jro Kukuh Tabanan dengan nama I Gusti Ayu Alit Sukertini. Menikah dengan karyawan Pemda Bali, I Gusti Ngurah Bagus Sumantri (almarhum) dari Puri Pacekan Jembrana, tanpa dikaruniai anak. Keluarga besar kedua pihak menyepakati untuk melaksanakan prosesi upacara di Denpasar dan Nusa Dua sesuai dengan amanah Almarhumah yang minta dikubur/diaben di Denpasar. Amanah tersebut tertuang dalam surat pernyataan tertulis di atas kertas segel 26 Juli 1999 diketahui beberapa orang saksi. Surat pernyataan tersebut disimpan I Gusti Ngurah Bagus Suryaningrat, anak yang diasuh pasangan suami-istri tersebut sejak usia 2 hari, dan kini telah bekerja di samping kuliah. z WIDMINARKO

pendudukan dan Pembangunan (ICPD) serta pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Dalam munas tersebut terpilih menjadi ketua periode 2010–2014, Dr. Sarsanto Wibisono Sarwono, Sp.OG. Munas diakhiri hiburan, di antaranya menghadirkan musik akustik pengamen anak-anak jalanan Jakarta sebagai bagian dari program PKBI “peduli anak jalanan”. – dws.

Sekolah Perhotelan, Ya SHS Menghasilkan SDM Perhotelan Andal yang sudah Bekerja di Hotel Berbintang dan Kapal Pesiar di Seluruh Dunia

Selamat dan Sukses

Koran Tokoh

pada Hari Ulang Tahunnya yang ke-12 Program Umum Perhotelan 18 Bulan Jurusan: Perhotelan Program Khusus 12 Bulan a. Jurusan F&B Service/Bartending b. Room Division c. F&B Product d. Pastry & Bakery P & G costume, Australia

2. Program Umum Perhotelan yang terdiri dari: Melatih keterampilan di bidang restoran, bar, kantor depan, tata graha, tata boga, patiseri dan kasir. M.Yunus, Carnival Cruise Line, USA

SURABAYA HOTEL SCHOOL

Kampus: Jln. Joyoboyo No.10 Surabaya Tlp. (031) 563 3608, Faks. (031) 567 9422 www.shs-sby.com-www.facebook.com/info.shs

KIPRAH WANITA

Dari kiri: Tandy M. Ringoringo, Dayu Wid, dan Melly St. Ange, masing-masing memegang buku “The Song of My Heart”

Terbitkan “The Song of My Heart”

BIWA Dukung Kreativitas Penyandang Cacat “Jika mereka memberi nama kami penyandang cacat, kami ingin menjadi penyandang cacat yang ‘bisa’. Bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk kehidupan kami dan kehidupan orang lain,” ungkap Dayu Wid, penulis buku “The Song of My Heart”. Ungkapan ‘berarti bagi orang lain’ juga mendasari eksistensi Bali International Women’s Association (BIWA) untuk aktif di berbagai kegiatan sosial. BIWA pun terlibat dalam penerbitan buku kumpulan puisi ini. Dayu Wid yang memiliki nama lengkap Ida Ayu Wiadnyani Manuaba lahir sebagai anak yang normal. Namun, saat berusia 15 tahun, putri keempat Ida Pedanda Jelantik Putra Tembuku ini menderita sakit panas yang mengakibatkan pelemahan otot tulang punggung. Selama setahun, ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Setahun berikutnya, perempuan yang memiliki hobi melukis dan menulis ini belajar berjalan. “Masa-masa sulit bagi saya untuk menerima keadaan. Saya menjadi orang yang minder dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Pulang sekolah saya langsung masuk kamar. Saya benar-benar terpuruk dan meratapi kondisi tubuh saya. Keluarga sering mengajak saya pergi berjalan-jalan, tetapi saya tolak karena saya malu bertemu orang lain,” ungkap mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Warmadewa ini. Tahun 2006 menjadi tahun perubahan dalam diri Dayu Wid. Ia sudah berani keluar rumah dan berjalan-jalan. Dalam sebuah kesempatan, ia bertemu Pak Sarma, seorang penyandang cacat yang berjualan di pasar Tampaksiring. Sarma yang memberikan informasi adanya Yayasan Senang Hati (YSH) yang semua anggotanya penyandang cacat. Akhirnya Dayu Wid berkunjung ke yayasan yang jaraknya hanya 1 km dari rumahnya itu. Di YSH, ia meresa terenyuh dan menangis. Ternyata ada orang lain yang kondisinya lebih parah. Dayu Wid memutuskan bergabung dengan yayasan itu. “Keminderan saya membuat saya menutup diri, sampai tidak tahu kalau ada YSH di dekat rumah. Sejak melihat YSH, saya merasa menemukan dunia baru yang penuh keceriaan. Di yayasan yang diketuai Putu Suriati ini, saya mengisi hari-hari dengan melukis dan menulis,” paparnya. Lukisan, puisi, dan cerpen ia hasilkan dari berbagai inspirasi. Dayu Wid tak kenal lelah. Ia terus berusaha untuk menunjukkan eksistensinya. Ia ingin masyarakat menyadari orang cacat tidak perlu terus dikasihani tetapi harus diberi kesempatan seperti orang normal. Di yayasan ini, ia juga bertemu Tandy M. Ringoringo, perempuan asal Houston, Amerika Serikat, yang sudah lima tahun menetap di Bali. Tandy merupakan ibu angkat anak-anak YSH. Mantan computer project manager Shell ini kerap mengajarkan cara merajut kepada anak-anak YSH. Hasil rajutan dijual untuk memenuhi keperluan yayasan. YSH memiliki 270 anggota yang tersebar di seluruh Bali. Awal tahun 2010, Dayu Wid bersama Tandy bertemu Melly St. Ange, presiden BIWA, dalam acara Asia Bali Dancing Festival. Mereka saling bercerita tentang aktivitas yang dilakukan masing-masing. Dayu Wid mengungkapkan mimpinya memiliki buku yang memuat puisi-puisinya. Melly sangat antusias mendengar impian Dayu Wid. Ia menyarankan Dayu Wid membuat proposal untuk penerbitan buku itu. “Proposal Dayu Wid saya sampaikan ke pengurus BIWA. Semua sepakat untuk memberi dukungan. Kami memberikan dana Rp 10 juta untuk biaya penerbitan. Kami kagum terhadap spirit Dayu Wid bersama teman-temannya yang memiliki keterbatasan kondisi fisik tetapi tidak mau terbelenggu dalam keterpurukan. Membantu untuk menerbitkan buku ini merupakan bukti nyata kami mendukung kreativitas penyandang cacat,” ungkap Melly yang sempat menitikkan air mata ketika Dayu Wid membacakan puisi yang ada dalam buku bersampul kuning itu. Buku berjudul “The Song of My Heart” diluncurkan 21 April 2010 di Four Season’s Hotel, Jimbaran. Peluncuran buku ini tak lepas dari dukungan John Sullivan, manajer hotel tersebut. Buku berisi puisi berbahasa Indonesia dan Inggris serta lukisan ini merupakan karya Dayu Wid bersama penyandang cacat lainnya, Anak Agung Gede Ngurah Putra Agung dan Ni Ketut Desiani. Buku ini dijual di pasaran dengan harga Rp 50 ribu. Hasil penjualan disisihkan untuk membeli sembako bagi anak-anak cacat yang ada di Bali. Buku dwibahasa ini bahkan sudah sampai ke Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. Tahun depan Dayu Wid berencana membuat buku kumpulan cerpen. Ia mengimbau penyandang cacat yang memiliki hobi menulis untuk bergabung dalam komunitas D’AD. BIWA pun menyemangati Dayu Wid dan penyandang cacat lainnya untuk terus berkreasi. “BIWA merupakan organisasi sosial yang berdiri tahun 1974. Kami memiliki 300 anggota yang berasal dari 29 negara termasuk Indonesia. Syarat utama menjadi anggota BIWA, perempuan yang memiliki kepedulian sosial untuk membantu masyarakat yang kekurangan. Kami juga banyak bekerja sama dengan BK3S Provinsi Bali. Fokus BIWA lebih banyak di bidang pendidikan dan kesehatan perempuan dan anakanak,” papar Melly. Untuk mengumpulkan dana, BIWA kerap mengadakan lelang dan bazar. Minggu (7/11), BIWA mengadakan Bazar Amal Natal 2010 “Belanja sambil Beramal”. Hasil kegiatan yang diselenggarakan di Kuta Central Park (Kuta Galleria Shopping Arcade) ini akan digunakan BIWA untuk membiayai proyek bakti sosial bagi pendidikan dan kesehatan perempuan dan anak-anak di Bali. –wah


TRENDI

Tas Cantik dari Limbah Plastik

B

ISNIS mengolah karung plastik bekas pembungkus beras menjadi barang siap pakai kini banyak dirambah masyarakat Bali. Setelah sebelumnya sempat memproduksi produk tas dari bahan kain blacu dan kain parasut, Lis sapaan akrab Ni Made Lis Yuliathi, S.E. ini pun mulai ikut melirik bahan kampil ini. Bukan sekadar ikut-ikutan, tapi lebih pada komitmennya untuk selalu menyerukan kepeduliannya pada alam lewat katakata “Stop Using Plastic”, “No More Plastic”, “Keep Bali Clean”, “Say No to Plastic” yang terpampang di beberapa produk tas blacu dan parasutnya. Sejak April 2010, Lis mencoba memanfaatkan limbah plastik yang tetap akan menjadi limbah jika tak diolah tersebut. Berbekal informasi dan beberapa literatur, salah satunya artikel yang diterbitkan Koran Tokoh (21 Februari 2010) tentang bisnis ini yang sampai menembus pasar ekspor, tak jarang Lis harus keluar masuk toko beras dan warung-warung nasi di Ubud untuk membeli kampil. Selebihnya, disumbangkan oleh beberapa temannya. “Biasanya, sebagai imbalan saya bikinkan mereka tas kampil,” ujar perempuan kelahiran Ubud, 23 Juli 1977 itu. Hasil produksi kampilkampil itu berupa tas slempang, tas ransel, tas jinjing, tas laptop, dan travel bag. Untuk memberi nilai eksklusif, bagian dalam tas diberi spon dan kuring. Ada juga yang dipadukan dengan jeans dan payet. Harga yang ditawarkan untuk tas-tas cantik itu mulai Rp 25 ribu sampai 75 ribu tergantung tingkat kesulitan mendapatkan bahan bakunya dan tingkat kesulitan pengerjaannya. Produk terbaru dari bahan kampil ini berupa dompet. Kampil dipotong-potong kecil kemudian dianyam. Tak cukup berkutit di kampil, Lis juga melirik bekas pembungkus plastik kopi kemasan, kotak minuman dan kotak susu yang di dalamnya mengandung aluminium foil. Plastik kopi itu disulapnya menjadi tas kosmetik, kotak susu menjadi tempat mainan, tempat koran, tempat sampah, dan kotak susu menjadi tas yang cantik. Kini limbah plastik ini pun mulai dikembangkannya ke produk sandal. Untuk membuat desain baru, Lis banyak terinspirasi dari beberapa koleksi tasnya dan hasil browsing di internet

ngan harapan meminimalkan mengaku dalam sebulan, ratapenggunaan plastik. “Karena rata mampu menjual 75 produk. keberadaan mini market ini di Ke depannya, Lis bermimpi daerah pariwisata Ubud, jadi ingin memiliki workshop khumayoritas pembelinya kaum sus dan mempekerjakan tetap ekspariat yang respect ter- beberapa tenaga penjahit pehadap global warming. Mereka rempuan, serta mengekspor tidak melihat bagus tidaknya produksi tasnya ini ke luar netas yang dihasilkan, tetapi lebih geri secara berkesinambungan. kepada penghargaan terhadap Dan, yang paling penting, ia sampah yang akhirnya bisa sudah berbuat sesuatu untuk dipergunakan kembali menjadi turut menjaga lingkungan dengan memanfaatkan kembali sesuatu,” ujarnya. Lis juga mencoba meng- limbah plastik menjadi sesuatu ambil peluang pasar ekspor. Ia yang berguna. –ten mencoba menitip produknya pada seorang temannya di ChiLis Yuliathi cago dan sahabatnya yang keuntuk model terbaru. Untuk betulan berada di Argentina. Lis mengerjakan desain-desain ini, Lis mengaku memiliki tenaga penjahit khusus. “Saya membuat contoh dulu, jika hasilnya bagus saya teruskan,” ujar istri Anak Agung Gede Bagus Eka Putra, S.E. ini. Sampai saat ini produk daur ulang limbah plastiknya yang diberi label ‘jasmine recycled product’ itu lebih banyak didistribusikan ke mini market Tino yang dikelolanya dan ke bebeBeberapa produk limbah plastik rapa mini market terdekat de-

7 - 13 November 2010 Tokoh 19

Jangan Abaikan Faktor Kesehatan Barang-barang yang sudah dipakai lalu dibuang tak selamanya menjadi sampah. Ada barang-barang yang bisa diolah kembali menjadi barang bermanfaat. Bahkan ada yang menjadikan usaha pengolahan barang bekas ini menjadi industri rumah tangga. “Industri rumah tangga ini selain bermanfaat bagi diri sendiri juga bermanfaat bagi orang lain. Pertama, bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Kedua, bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Semua ini termasuk ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan saat situasi sulit,” ujar Sri Harta Mimba, Ph.D., dosen ekonomi Unud. Dalam mengembangan ekonomi kreatif dengan bahan bekas hingga menjadi barang daur ulang, ada hal-hal yang harus diperhatikan. “Jangan abaikan faktor kesehatan, keselamatan dan keamanan, serta lingkung-

Sri Harta Mimba

an. Barang yang dihasilkan dari barang bekas harus memperhatikan ketiga faktor tersebut,” tegas pengamat masalah sosial dan ekonomi yang juga Direktur Research and Development Institute (RDI) ini. Mimba menyebutkan barang-barang yang bisa diha-

silkan dari industri daur ulang misalnya kertas, bingkai foto, kotak pensil,dan tempat sampah. Banyak lagi barang-barang yang bisa dihasilkan asalkan kreatif dalam proses produksi. Untuk itu perlu adanya tukarmenukar informasi antara kelompok-kelompok yang sudah berkecimpung di bidang ini. Pemerintah pun harus ikut dalam menyosialisasikan penggunaan barang daur ulang agar masyarakat mendapat pemahaman yang komprehensif. “Di satu sisi pemerintah harus melakukan edukasi mengenai barang daur ulang. Di sisi lain, masyarakat harus mulai memikirkan keperluan barangnya harus sesuai keperluan dan fungsi. Kalau perlu tempat sampah, pakai tempat sampah daur ulang yang terbuat dari drum bekas. Tidak usah mencari tempat sampah mahal,” papar alumnus University of Groningen, Belanda ini. —wah

Cegah dan Kendalikan Penyakit Infeksi Mencegah dan Pengendalian Penyakit Infeksi: 1. Jaga kebersihan tangan. 2. Tidak sembarangan membuang dahak. 3. Lakukan etika batuk. 4. Gunakan masker jika menderita batuk. 5. Rumah dan tempat bekerja harus mempunyai ventilasi yang cukup sehingga aliran udara lancar. 6. Jaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat bekerja. 7. Terapkan pola hidup sehat Melakukan Etika Batuk: 1. Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan tisu atau sapu tangan. 2. Segera buang tisu yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah. 3. Cuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun atau pencuci tangan alkohol. 4. Gunakan masker. Langkah Mencuci Tangan: 1. Basahi tangan dengan air mengalir. 2. Ambil sabun cair dalam botol, usapkan di tangan secara merata, mulai dari bagian telapak dan sisi luar kedua tangan. 3. Bilas dengan air bersih. 4. Lap dengan lap kering. —ast Sumber: Ruang Anak RS Sanglah

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Make up Praktis Yth. Ibu Agung SAYA ibu rumah tangga usia 26 tahun, mempunyai satu orang putri. Saya tertarik untuk belajar menggunakan make-up. Yang ingin saya tanyakan adalah makeup apa yang praktis untuk diaplikasikan agar mata terlihat lebih indah. Selain itu, mohon ditampilkan contoh busana modifikasi tanpa menggunakan baju, ser ta berapa biaya yang harus saya keluarkan jika mengikuti kursus kecantikan di tempat Ibu. Terima kasih. Yuli, Denpasar Yth. Ibu Yuli Berikut ini hal praktis yang dapat Ibu lakukan untuk membuat mata terlihat indah Perkuat ketajaman mata Dengan menggunakan black mascara akan terlihat luar biasa pada semua orang. Bahkan cukup dengan maskara, mata kita akan terlihat beda, tanpa perlu menambahkan eyeshadow atau riasan mata lainnya. Arahkan kuas dari pangkal bulu mata hingga ke ujungnya. Jangan lupa untuk menggulirkan kuas maskara agar tak ada helai bulu mata yang terlewat, plus maskara tidak akan menggumpal. Berikut contoh busana modifikasi. Untuk kursus kecantikan kita menyiapkan tiga paket, yakni tata kecantikan kulit, tata kecantikan rambut dan tata rias pengantin. Biaya yang Adik keluarkan hanya Rp 1.500.000. Untuk informasi lebih lanjut bisa datang langsung ke tempat kami di Jalan Anggrek No. 12 Kreneng Denpasar, telepon 0361 - 233850, 231985 Selamat mencoba.

Bocah tidak Makan dan Minum Empat Tahun ORANGTUA mana yang tak sedih jika anaknya menolak makan dan minum. Tapi bagaimana jika anak tidak bisa makan dan minum selama bertahun-tahun. Kesedihan itu dialami oleh pasangan Kevin Harrison dan Catherine. Pasalnya, anak bungsu mereka tidak makan dan minum selama empat tahun. Daniel, begitu nama bocah empat tahun itu, fobia akan makanan dan minuan. Memorinya tentang itu begitu menyakitkan sehingga ia tidak mau diberi makan atau minum apa pun selama empat tahun. Hal itu bermula saat Daniel masih bayi dan menderita acid reflux yang parah. Sejak itu ia menjadi takut pada makanan dan minuman. Selain itu, Daniel juga didiagnosa menderita autis. Satu-satunya cara mengatasi fobia Daniel adalah dengan menaruh tabung di perutnya yang berisi cairan yang mengandung zat yang diperlukan tubuhnya. Kondisi Daniel ini tergolong langka dalam dunia medis dan sampai sekarang belum ditemukan cara menyembuhkannya. Tapi sejauh ini tubuh Daniel cukup tangguh dan berjuang memper tahankan hidupnya. Orangtuanya pun tak kenal menyerah dalam mengusahakan kesembuhan anaknya. Sebenarnya orangtua Daniel telah membawa anaknya ke rumah sakit terkenal, Great Ormond Street Hospital di

prosedur medis serta operasi, namun tidak membawa hasil. Tahun 2009 lalu, bocah malang ini diserang flu babi yang menyebabkan ia menderita pneumonia. “Anda bisa membayangkan bagaimana perasaan saya sebagai ayah, duduk melihat anak saya dengan semua peralatannya di meja, tabungtabung dan mesin. Saya ingin tkh/dailymail melihat anak saya makan seDaniel dengan peralatannya, tabung dan mesin perti anak kecil London, cukup jauh dari lain-nya. Itu sangat berarti bagi rumah mereka di Carlton, kami sekeluarga,” ujar Kevin Nottingham. Tetapi di sana (41). “Bagaimana jika terjadi pun para dokter dibuat bingung dan tidak menemukan sesuatu pada saya dan Catcara untuk menyembuhkan herine. Karena itu kami ingin Daniel dapat makan sendiri. Daniel. Tak sedikit biaya dan Saya ingin dia mandiri,” waktu yang dikeluarkan tambah Kevin. Kevin dan Catherine meorangtua Daniel demi kesembuhan anaknya. Namun miliki dua anak. Anak tertua, sejauh ini belum ada titik Hannah, begitu trauma melihat adiknya menolak materang. Kini harapan mereka ber- kanan dan minum dan hanya gantung pada sebuah klinik mengonsumsi sesuatu yang unik di Austria. Untuk itu me- dimasukkan dalam tabung di reka harus menyediakan perutnya. “Fobia makan dan minum dana sekitar 20.000 poundsterling untuk biaya per- itu timbul dari pikirannya.Dan sampai sekarang dokter jalanan dan pengobatan. Sebenarnya, Daniel telah tidak bisa membantu agar menjalani berbagai macam Daniel bisa mengatasi ma-

salah tersebut. Para dokter di Great Ormond Street adalah dokter berpengalaman, namun mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap Daniel.” “Satu-satunya kesempatan kami adalah membawa Daniel ke University Hospital di Graz, Austria, karena mereka mengatakan dapat menangani kondisi Daniel. “Masalahnya, kasus Daniel sangat jarang, bahkan di Graz. Mereka pernah menangani kasus seperti itu dan berhasil, namun itu terhadap anak muda yang usianya 22 tahun lebih,” tutur Kevin. Berbagai teknik dilakukan di Graz, termasuk membangkitkan kesadaran pentingnya makanan dan minuman. Namun pasien mereka kali ini adalah seorang bocah yang baru berusia empat tahun. Diperlukan pendekatan berbeda untuk membangkitkan keinginan bocah itu untuk makan dan minum. “Daniel adalah anak kecil yang memiliki semangat juang tinggi. Ia juga dapat mengatasi autisnya. Tapi bagaimana ia bisa terus bertahan jika tidak dapat makan dan minum,” tutur Kevid dengan wajah sedih. “Rasanya tidak adil melihat apa yang dialami Daniel. Dia masih begitu kecil. Melihat dia makan melalui selang dan harus duduk diam selama proses berlangsung. Untuk itu kami harus memegangnya agar proses itu berjalan lancar,” katanya. —dia/dailymail.co.uk


20

Tokoh

MOZAIK

7 - 13 November 2010

Kotoran Walet dan Kelelawar Rangsang Tanaman Berbuah HASIL olahan pupuk organik yang dilakukan Anak Agung Putu Sukada, S.Ag. ternyata berasal dari sejumlah jenis kotoran hewan. Bahan bakunya diperoleh dari puluhan ton kotoran hewan, seperti kambing, sapi, kuda, kelinci, burung walet, kelelawar dan gajah. Kotoran hewan ini diperolehnya dengan cara membeli dari pemilik hewan tersebut.

K

otoran hewan tersebut tidak sepenuhnya diolah menjadi pupuk organik. Kotoran hewan tersebut diolah sebagai bahan campuran pupuk. Hasil olahannya berupa macam-macam pupuk organik. Ada pupuk organik khusus tanaman adenium, tanaman indoor, rumput, dan pupuk serba guna untuk jenis tanaman lain. “Selain pupuk siap pakai, saya menjual bahan pupuk organik, antara lain kotoran hewan, pasir Malang, tanah murni dan pakis,” tutur pria asal Denpasar ini. Harga kotoran hewan ini bervariasi. “Tarifnya tergantung harga pembelian dari pengepul,” katanya. Ada jenis kotoran hewan paling sulit diperolehnya. Jenis kotoran tersebut berasal dari

A.A. Putu Sukada dan tanaman hias yang memakai pupuk organik yang diproduksi industri kecil miliknya

burung walet dan kelelawar. “Harga kotoran burung walet saya beli per ons Rp 50 ribu dan kotoran kelelawar Rp 50 ribu per 5 kilogram,” katanya. Ia menjelaskan, kotoran burung walet dan kelelawar berguna untuk membuat tanaman cepat tumbuh. Selain itu, kotoran jenis ini berguna untuk merangsang proses pembuahan tanaman buah. “Kotoran walet dan kelelawar pun tidak berbau,” imbuhnya. Kotoran walet dan kelelawar, termasuk kotoran kelinci, cocok untuk pupuk tanaman indoor. “Karena baunya tak menyengat,” kata pria kelahiran 43 tahun silam ini. Kotoran kambing, kerbau, sapi, dan gajah cocok untuk tanaman outdoor. Bau jenis kotoran hewan. ini lebih menyengat. “Kotoran hewan

tkh/tin

ini jangan langsung diberikan pada tanaman. Jika begitu tanaman bisa mati. Jadi, kotorannya harus dicampur bahan pupuk lain,” jelasnya. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap kotoran kambing, kelinci, burung walet dan kelelawar didatangkan dari Malang. Kotoran kuda diperoleh dari Sumbawa dan Pulau Sumba. “Sekali pengiriman kotoran kuda bisa 12 ton per bulan. Harganya Rp 10 juta,” katanya di sela-sela kesibukannya melayani pembeli pupuk. Kotoran kambing didatangkan dalam jumlah banyak dari Malang. “Satu truk kotoran kambing, saya beli Rp 500 ribu, belum termasuk ongkos transpor. Total ongkosnya Rp 2,2 juta,” katanya.

Meski kebutuhan kotoran kelinci cukup banyak, namun ia hanya bisa menyediakan per kampil. Harga kotoran kelinci per kampil Rp 500 ribu. Harga jual kotoran hewan ini bervariasi. Kotoran kambing Rp 5 ribu per 5 kilogram; kotoran kerbau, sapi, dan gajah Rp 15 ribu per 20 kilogram. “Karena persediaan terbatas, kotoran burung walet, kelelawar, dan kelinci untuk dipakai sendiri,” jelasnya. Bahan lain untuk pupuk organik berupa humus daun dan sabut kelapa. Humus berasal dari daun akasia kering, sementara sekam dari pengepul yang dibeli Rp 200 ribu per truk. Selain daun akasia, humus daun juga dari tanaman jarak dan biji kapuk. —tin

Tinggi Permintaan Pupuk Organik PENGOLAHAN pupuk organik yang dikelola Anak Agung Putu Sukada dipusatkan di Desa Demung, Kediri, Tabanan. Usaha ini dikerjakan di atas lahan seluas 25 are. Dalam pengerjaannya Sukada dibantu 5 karyawan. Sebelum berkembang ke usaha pengolahan pupuk, ia berjualan tanaman hias di stan miliknya, UD Agung Mutiara, di Renon, sejak tahun 2005. Keinginannya membuat pupuk organik ini karena kebutuhan pupuk organik di Bali sangat tinggi. “Di sini saja bisa menghabiskan 15 ton per bulan,” kata ayah satu anak ini. Usahanya banyak mendapat pesanan dalam jumlah besar dari kalangan pengusaha hotel. Akibat cukup tingginya permintaan terhadap pupuk organik ini ia mengaku sempat kewalahan mencari bahan baku. Proses pengolahan pupuk organiknya dilakukan memakai sistem fermentasi. Sistem ini memerlukan waktu seminggu. Ini terhitung sejak awal pengolahan hingga menjadi pupuk siap pakai. Jika ingin mengolah pupuk organik sendiri, menurutnya, caranya mudah. Bahan 1 kuintal

Sebulan 15 Ton

kotoran sapi ditambahkan 1 kuintal kotoran kambing. Lalu, 1 kuintal sabut kelapa yang sudah dihaluskan ditambah 5 kuintal sekam. “Lebih baik memakai sekam bakar, sekam hasil fermentasi, daripada sekam mentah. Sekam bakar memberikan suhu lebih panas untuk tanaman. Setelah semua bahan dicampur lalu biarkan adonan diam selama 2 hari untuk menghilangkan hawa panas,” tuturnya. Selain pemakaian pupuk organik, tanaman masih perlu pupuk kimia. Hanya saja dosis pemakaiannya sedikit. “Pemakaian pupuk kimia ini untuk doping saja. Contoh, 4 karung pupuk organik hanya perlu ¼ ons pupuk kimia,” katanya. Tempatnya berdagang seluas 6 are itu merupakan tanah miliknya. Keuntungan menjual tanaman hias bisa lebih 100%. Keuntungan bersih pupuk organik mencapai 30%. “Karena di lahan pribadi, saya bisa menjual tanaman dan pupuk dengan harga lebih murah. Jika mengontrak lahan, harus menghabiskan biaya per are Rp 2 juta per tahun,” kata Sukada yang juga mengontrakkan tanahnya untuk usaha tanaman hias di Denpasar itu. —tin

Spirit Bersih-bersih

Pantai Nusa Dua

Kreatif Puring Rp 2.500 Menjadi Rp 25.000 DI Bali, tanaman puring umumnya dipakai sebagai tanaman pagar, tumbuh besar di media tanah. Tak jarang dipakai juga sebagai salah satu sarana mebanten. Masyarakat Bali kerap menyebutnya don kayu. Ada beberapa jenis puring lokal seperti puring, merah, hijau, keriting. Karakteristik daunnya cantik dengan berbagai macam warna. Jenis puring lokal ini di Denpasar biasa dijual Rp2.5003.500 per pohon. Pebisnis tanaman asal Malang dan Jakarta, memanfaatkan peluang ini. Beberapa

tanaman puring lokal Bali yang mereka beli Rp 2.500- Rp 3.500 itu bisa dijual kembali Rp 25.000-Rp 50.000. Mereka menyebutnya tanaman puring hias dengan media pot. Beberapa di antaranya ada yang disebut puring apel dan puring teri. “Mereka kreatif, beberapa tanaman puring lokal Bali itu dikembangkan dengan sistem stek atau kawin silang,” ujar Metta. Ketika ditanya tentang kegemaran jenis tanaman hias saat ini, Metta mengaku belum ada yang mencolok. Me-

Beberapa tanaman puring lokal yang disulap menjadi puring hias

nurutnya, kegemaran tanaman hias yang sewaktu-waktu bisa mendongkrak harga satu jenis hingga puluhan juta rupiah itu hanyalah permainan pedagang dan kolektor tanaman. Meski ia tak menampik sempat juga ada pengalaman lucu saat munculnya tanaman anthurium (gelombang cinta). Sebelum tanaman ini menjadi primadona, Metta telah membeli 5 bibit di Malang seharga Rp 125 ribu. Setelah dikembangkan 6 bulan, yang

tingginya baru mencapai 5 cm, anthurium koleksinya ini ditawar Rp 5 juta. “Tetapi, belum saya lepas. Waktu itu anthurium sedang top-topnya. Saya berpikir jika makin besar akan makin mahal harganya,” ujarnya. Sayang, prediksinya salah. Reputasi jenis tanaman gelombang cinta itu lambat laun kian turun. Akhirnya, setelah 2 tahun mengembangkannya, hanya laku Rp 500 ribu. —ten

Tata Rias Bali

Aksi bersih-bersih sampah plastik di Pantai Nusa Dua

RATUSAN warga membaur bersama puluhan karyawan BTDC. Mereka bergerak ke kawasan Panta Nusa Dua untuk melakukan aksi bersih-bersih. Kegiatan tersebut berlangsung tiap hari selama berlangsungnya Nusa Dua Fiesta 2010, 15-19 Oktober lalu. Menurut Ketua Umum Panitia, I Gusti Ketut Purnaya, S.H., M.Si., ada tanggung jawab moril manajemen pariwisata di kawasan itu untuk mengembuskan spirit Bali Clean and Green. “Spirit tersebut tercermin dari aksi bersih-bersih yang dilakukan bareng warga. Aksi bersih-bersih pantai ini bahkan tidak hanya dilakukan saat berlangsung Nusa Dua Fiesta. Kami melakukan tiap saat,” kata Purnaya di sela-sela kegiatan bertitel Beach Clean Up itu. Saat itu, sampah plastik menjadi perhatian

A.A.A. Ketut Agung

TRADISI tata rias tradisional Bali harus dipelihara di tengah arus perkembangan tata rais modern. Salah satu upayanya, dapat dilakukan melalui berbagai ajang kompetisi. “Lomba Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi di Nusa Dua Fiesta 2010 menjadi salah satu cara kita melestarikannya,” ujar Bupati Badung A. A. Gde Agung di sela acara lomba tersebut di Nusa Dua belum lama ini. Namun, menurutnya, ajang kompetisi semacam itu harus dikelola secara profesional. “Lomba di Nusa Dua Fiesta ini

dapat menjadi contoh yang baik. Pelaksanaannya amat well organized. Saya sungguh apresiate,” katanya. Ketua Tim Penggerak PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung berharap kegiatan lomba tersebut dapat mendorong makin kuatnya kecintaan masyarakat terhadap warisan tata rias tradisional. “Kegiatan ini menunjukkan respons kecintaan masyarakat Bali amat tinggi terhadap daya tarik tata rias tradisional kita di daerah ini,” katanya. Dunia tata rias tradisional ternyata tetap memperoleh

Setelah dipersunting I G.N. Agung Ardana tahun 1982 yang mendukung penuh hobinya itu, Agung langsung membuka salon di kediamannya di Jalan Anggrek Denpasar. Waktu itu ia berstatus guru SD. Waktu senggang sepulang mengajar dimanfaatkan untuk mengelola salon dengan dibantu dua karyawan. Salonnya terbilang ramai. Pelanggannya waktu itu lebih banyak pelajar SMA yang minta rambutnya dipotong, dikriting, di-creambath atau diblow. Makin ramai lagi jika malam Minggu menjelang momen wakuncar. Permintaan memakai sanggul saat itu masih sedikit, sebatas ibu-ibu pejabat. Perempuan yang genap berumur 51 tahun Oktober lalu ini mengaku belajar membuat sanggul secara autodidak. Ia banyak belajar dari melihat dan

Damayanti

IGK Purnaya

mencoba-coba sendiri. Salah satu sanggul terbaik yang dipakainya sebagai contoh adalah sanggul hasil karya Ny. Prof. Ngoerah. Agung makin banyak mendapat pembelajaran ketika dia kerap diminta B Oka (istri gubernur Bali saat itu) di PKK Provinsi, mengenalkan sanggul Bali dengan memberikan pelatihan membuat dan memasang sanggul ke kabupaten-kabupaten. Sejak itu grup paduan suara pun memakai sanggul Bali saat pentas. Tahun 1983, Agung mulai mendalami tata rias pengantin.

tkh/edi

Ny. Ratna Gde Agung

tempat di hati masyarakat. Menurut Dra. A.A.A. Ketut Agung, M.M. , kenyataannya tampak dari perkembangan pesat bisnis tata kecantikan, termasuk usaha salon dan tata rias dari tahun ke tahun. Pemilik Salon Agung yang sudah berkecimpung di dunia kecantikan sejak tahun 1979 ini menyimpan cerita menarik sepanjang kiprahnya itu. Meski tanpa restu orangtua, semasa gadis Agung kerap mengikuti kursus-kursus salon. Larangan orangtuanya cukup beralasan, profesi salon saat itu belum menjanjikan. “Mereka ingin saya belajar sampai pendidikan tingkat tinggi untuk bekal hidup saya nanti,” ungkapnya. Namun, itu tak menyurutkan niatnya terjun di dunia kecantikan. Rupanya, bakat dari sang nenek yang seorang perias tetap memotivasi dirinya.

tkh/sep

tkh/edi

tkh/dok

Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

utama peserta aksi bersih-bersih pantai tersebut. “Kawasan wisata ini merupakan kawasan bertaraf internasional. Kenyamanan wisatawan bisa terganggu jika lingkungan pantai dikotori sampah plastik. Apalagi sampah plastik sukar terurai menjadi tanah,” ujar Public Relations Manager BTDC, Damayanti. Selain untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai, kata dia, kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan pantai atau laut sehingga terwujud pantai yang bersih, indah, dan lestari. “Sampah merupakan masalah cukup serius di berbagai belahan dunia, termasuk di Bali. Salah satu kawasan yang terganggu dengan adanya sampah adalah laut,” imbuh Purnaya yang juga menjabat direktur operasional BTDC itu. Sampah plastik di lautan sangat membahayakan, selain merusak pemandangan dan mencemari lingkungan, juga mengancam biota laut dan lingkungannnya. Menurut Purnaya, kegiatan aksi bersih-bersih ini bertujuan untuk mengajak warga masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, yang dimulai dari lingkungan keluarganya hingga ke lingkungan masyarakat lebih luas. “Seyogianya kebersihan dimulai dari lingkungan keluarga. Jika kebersihan lingkungan bisa terjaga, saya optimis kebersihan di lingkungan masyarakatnya dapat terwujud,” jelasnya. —sam

Ia banyak belajar dari nenek suaminya, Ratu Istri (alm) yang tak lain tukang payas di Puri Gede Tabanan. Agung juga diwarisi alat-alat rias tradisionalnya seperti tiuk pengurisan dan gelung agung. Saat itu Agung mengaku belum banyak ada penata rias pengantin di Denpasar. “Yang saya tahu hanya ada empat penata rias tradisional yang ada di puri-puri,” ujarnya. Tahun 1986 sampai 1990, sudah mulai banyak yang mengambil prospek bisnis ini. Agung pun sudah mulai memberikan kursus membuat dan memasang sanggul serta kursus tata rias pengantin Bali. Agung iseng mengiklankan salonnya di sebuah radio swasta yang saat itu menyiarkan serial ‘Saur Sepuh’. Hasilnya, tiap hari bisa sampai 100 orang yang mengunjungi Bupati A.A. Gde Agung berada di tengah kesibukan Lomba Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi di Nusa Dua Fiesta 2010. Tampak Ketua Panitia NDF 2010 I G.K. Purnaya, Sekda Badung Kompyang R. Swandika, Dirjen PNIF Hamid Muhammad, Dirut BTDC Made Mandra, dan Pemimpin Umum Koran Tokoh Widminarko

salonnya. Salon Agung pun kerap tutup hingga pukul 23.00. Salonnya makin kebanjiran pesanan memakai sanggul terutama ketika hari raya. Perkembangan dunia kecantikan termasuk tata rias pengantin Bali dengan payas agungnya kian berkembang pesat tahun 1996. Dari pengamatan Bu Oka waktu itu, pemakaian payas agung kian rancu. Karena itu, masih pada zaman kepemimipinan Gubernur IB Oka, Bu Oka mengimbau dan menyosialisasikan agar payas agung hanya diperuntukkan saat melakukan upacara sakral, tak diperkenankan untuk menyambut tamu. Karena antusiasme masyarakat lokal dan ekspatriat besar akan payas agung ini, muncul ide untuk memodifikasinya. Jadilah yang kerap kita dengar saat ini dan banyak dikenakan masyarakat umum yakni payas agung modifikasi. Agung yang kerap dipercaya sebagai instruktur dan juri tata rias menyatakan optimis dunia kecantikan di Bali khususnya tata riasnya akan terus berkembang. “Semasih budaya Bali itu lestari, tata rias akan terus berkembang. Ini bisnis masa depan yang menjanjikan,” ujarnya. —ten


tkh_617_xii__7_-_13_november_2010  

tkh_617_xii__7_-_13_november_2010

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you