Issuu on Google+

Tanpa Komunikasi tidak Ada “Kejahatan Hipnotis�

Kekaguman terpancar dari wajah penonton yang menyaksikan ajang bergengsi Pemilihan Putri Bali 2010, Jumat (4/9) di Gedung BI Denpasar. Sorot mata mereka tertuju ke12 finalis Putri Bali 2010 yang mengenakan gaun kebaya mewah yang berkesan glamour. Para finalis itu tampak cantik dan anggun bagai putri raja. Di balik keindahan gaun-gaun bertema royal taste itu, ada tangan kreatif seorang perempuan muda yang tak hentihentinya mencoba sesuatu yang berbeda dari yang lain. Dia adalah Shinta Chrisna. “Dengan memakai karya-karya saya ini, saya ingin agar semuanya tampil bagai putri raja yang cantik, ayu, anggun, dan memesona serta mencerminkan keindahan dan kecerdasan sebagai seorang putri,�ujar pemilik nama lengkap I Gusti Ayu Shinta Chrisna, S.E., M.M. ini. Meski ke-28 gaun yang lebih banyak memilih warna gold (emas) ini dipersiapkannya dalam waktu singkat, tak lebih dari satu bulan, tak mengurangi nilai glamour yang memang lekat pada karya-karya Shinta Chrisna. Ini bisa dilihat dari beberapa koleksinya yang dipajang di butik Shinta Chrisna di Jalan WR Supratman No. 279 Denpasar.  Bersambung ke halaman 12

Halaman 2

Pemimpin Muda dari Bali Forum Anak Daerah

Halaman 10

Jadikan Lumintang Pusat SSB Halaman 16

Tito dan Rafik

Ingin Jadi Pemain Bola Top

Tito (kiri) dan Rafik

TITO masih berumur 7 tahun. Tetapi, bakatnya menjadi calon pesepak bola Bali yang andal kelak sudah mulai terlihat. Gocekan si kulit bundar yang diperagakan bocah SD ini bukan hanya mampu mengecoh gerak lawannya. Tito memiliki bobot tendangan jarak jauh yang keras dan lumayan terarah melesat ke arah gawang.

Bakat besar Tito itu kini ditempa di Sekolah Sepak Bola (SSB) Mandala Putra Denpasar. Bocah ini mengaku bercita-cita menjadi seorang pesepak bola profesional. Padahal, bocah penggemar berat bintang muda Argentina Lionel Messi ini tergolong anak berprestasi akademik terbaik di SD 22 Dauh Puri Denpasar. Tito menjadi ju-

Fikom Undwi

Perintis Media Literacy

Dua Srikandi Ikut Gawangi SSB Nusantara

Bu Lestari (kiri) dan Bu Neli

SEKOLAH Sepak Bola (SSB) bukan hanya dikawal sejumlah mantan pemain Perseden. Ada dua srikandi, Sri Lestari (58) dan Ari Suneli (50), selalu setia ikut meng-

Tiru Kompetisi Liga Pelajar Bali Post ara umum hasil ujian di sekolahnya itu. “Tetapi, citacitanya tetap ingin jadi pemain bola terkenal. Sebagai orangtuanya, kami dukung apa maunya Tito,� ujar sang ayah, Kadek Sugiarto. Tito tidak sendiri menggantung mimpi menjadi bintang sepak bola besar dari Bali. Rafik Firmansyah pun tidak kalah semangat meyakinkan citacitanya untuk menjadi pemain bola top. “Saya ingin jadi pemain bola terkenal seperti Christian Ronaldo,� ujar Rafik yang masih duduk di bangku kelas V SD Kesiman, Denpasar Timur, itu. Impian bocah berbakat semacam Tito dan Rafik memang masih beruntung dapat diasah di SSB. Menurut pemilik sekaligus pelatih SSB Mandala Putra, M. Robi, ada enam pelatih di SSB ini. Selain dirinya, juga ada pelatih senior H. Ardi yang dulu sempat dipercaya menjadi penjaga gawang nasional semasa jaya PSSI Garuda era 1970-an. Sementara Robi tercatat sebagai mantan pemain andalan Persatuan Sepak Bola Buelelng (Persibu). Jumlah anak berbakat sepak bola yang dibinanya bersama H. Ardi kini mencapai 180 anak. Jika semua anak ini bercita-cita menjadi pemain profesional niscaya Bali akan menyumbang bocah berbakat besar untuk mengharumkan jagat persepakbolaan nasional kelak.

Belasan bocah berbakat sepak bola yang bernaung di bawah panji Sekolah Sepak Bola (SSB) Nusantara sumringah usia berlatih di Lapangan Puputan Margarana Renon belum lama ini

Bibit Unggul Pesepak Bola Bola kaki yang digiring seorang bocah berhasil melewati dua pemain belakang lawan. Sekali sontek bola menembus gawang yang juga dikawal seorang bocah. Peluit panjang wasit memastikan kesebelasan pencetak gol bertubuh mungil itu unggul atas tim lawannya. Kaum bocah yang sedang berlatih tanding tadi sedang digenjot menjadi bibit unggul di Sekolah Sepak Bola (SSB)

Widiari: Bermain Catur banyak Manfaatnya CABANG olahraga catur berbeda dengan beladiri. “Catur merupakan jenis olahraga yang minim risiko luka yang sering dialami atlet,� ujar MNW Ni Putu Widiari S.S.S., F.A., peraih gelar Master Nasional Wanita dalam Kejurnas Catur di Bekasi tahun 1999 itu. Itulah yang membuat Widiari terpincut menekuni cabang olahraga adu otak ini. Padadal, sebelum terjun ke olahraga catur, ia sempat melirik olahraga beladiri. Namun, hal itu tak berlangsung lama, akibat

SSB Perseden

Merintisnya Tahun 1994

KAUM bocah yang berbakat mengocek bola kaki di Bali mengukir prestasi di pentas nasional. Mereka digembleng sejumlah mantan jagoan lapangan hijau. Gemblengan berjalan dalam pasang surut perjalanan sekolah sepak bolanya sejak pertama kali digagas tahun 1994 di Kota Denpasar. Nusantara. Mereka rutin berlatih saban Minggu pagi di Lapangan Puputan Margarana Renon. Mereka berumur 9-14 taM. Subadi hun. “Anak-anak ini dipecah dalam tiga kelompok umur (KU), Mohammad Subadi (66). Berdirinya SSB Nusantara yaitu KU 9-10 tahun, KU 11-12 tahun, KU 13-14 tahun,� ujar berawal dari inisiatif Subadi, Saisalah seorang pelatih seniornya ful Bahri, Kusnadi, Nyoman Ambara, Sutawan, Solihin, dan Suwandi. Mereka ini tercatat BERITA TERKAIT sebagai mantan pemain PerHALAMAN 4 dan 16 satuan Sepak Bola Denpasar (Perseden). Mereka menggantung mimpi besar untuk mencetak generasi baru pesepak bola Bali. “Kami bentuk SSB tahun 1994. Awal terbentuk bernama SSB Perseden. Kemudian salah gerakan dengan lawan bernama SSB Denpasar. Nama menyebabkan salah satu SSB Nusantara lahir belakatangannya patah. ngan,� jelas kakek tiga cucu Ia pun memutuskan ingin asal Kampung Wanasari Denmenekuni olahraga catur. “Ini pasar itu. menjadi hobi yang menyeSSB Perseden menjadi cikal nangkan. Bahkan bermain catur bakal lahirnya SSB Nusantara. dengan memilih lawan anggota Ada belasan anak yang digemkeluarga, waktu bersama ke- bleng di SSB Perseden tempo luarga menjadi lebih banyak,� itu. “Mereka sempat dikirim kata perempuan yang kerap mewakili Bali dalam ajang kommenghabiskan waktu bermain petisi sepak bola anak tingkat catur dengan suaminya itu. nasional menyambut peringatan Menurutnya tak semua Hari Olahraga Nasional (Haororang apalagi kaum perempuan nas) tahun 1997 di Aceh. Saat menyukai jenis olahraga meng- itu, mereka menduduki peringasah otak ini. Mengingat ba- kat empat besar nasional,� ungnyak orang berpendapat, catur kapnya. identik permainan kaum pria. Ada sejumlah nama anak “Padahal beragam manfaat didik SSB Perseden yang beyang bisa diperoleh dari olah- lakangan menekuni sepak bola raga ini. Catur bisa meng- sebagai pemain profesional. hilangkan stres. Karena dalam Mereka telah malang-melintang  Bersambung ke halaman 12 di beberapa klub yang mengi-

Catur Masuk Sekolah Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Dwijendra (Undwi) Denpasar, Ida Ayu Ratna Wesnawati, awal September 2010 meyudisium 28 sarjana komunikasi. Acara yudisium ke–21, bagi mereka yang dinyatakan berhasil menuntaskan studi S-1 di Fikom Undwi berlangsung penuh suka cita di Hotel Nikki, Denpasar. Mahasiswa yang diyudisium kali ini, 95 % telah bekerja. Artinya, Fikom membantu meningkatkan mutu SDM di tempat mereka berkarier. Keberhasilan ini merupakan salah satu bagian penting dari seluruh proses akademik yang dilaksanakan Fakultas Ilmu Komunikasi. Fikom, kata Ratna secara terus menerus mengupayakan perbaikan dan inovasi sesuai dengan prinsip dan norma yang berlaku dalam pengelolaan perguruan tinggi. Fikom Undwi bukan hanya mendidik mahasiswa menguasai ilmu komunikasi, juga memberikan keterampilan yang diperlukan di dunia kerja. Menurut Ratna, dengan telah dilaksanakannya upacara kelulusan tersebut bukan berarti semuanya selesai. Mereka, para sarjana harus terus meningkatkan kualitas serta dapat berinovasi membangun sikap kewirausahaan.  Bersambung ke halaman 12

 Bersambung ke halaman 12

Pengantar Redaksi Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) jatuh tiap 9 September. Laporan utama Koran Tokoh edisi ini menyajikan pernak-pernik kegiatan olahraga di balik peringatan tersebut. Sajiannya membidik aktivitas olahraga di lingkungan bocah berbakat dan kaum perempuan.

 Bersambung ke halaman 12

Dekan Fikom Undwi Ida Ayu Ratna Wesnawati dengan piala kemenangan Lomba Film Dokumenter

gawanginya. Maklum suami mereka mantan pesepak bola. Sri Lestari menikah dengan Subadi, sementara Ari Suneli bersuamikan Saiful Bahri. Subadi

dan Saiful tercatat mantan pemain bola Perseden tempo silam. Sementara Bu Lestari, panggilan akrab Sri Lestari, sudah berkecimpung dalam urusan sepak bola sejak cikal bakal SSB Nusantara lahir di Kota Denpasar. Ibu tiga anak ini bahkan belakangan dipercaya menjadi Kepala Sekolah SSB Nusantara. Sementara Bu Neli, panggilan akrab Ari Suneli, menjadi bendahara SSB ini. Sejarah SSB tersebut tersimpan rapi di kepala Bu Lestari. Nenek tiga cucu yang masih menjabat kepala SDN 18 Pemecutan, Denpasar Barat, itu, banyak berkisah tentang kecintaannya pada dunia sepak bola kaum bocah. Bahkan, ia ikut berada di belakang barisan para penggagas kelahiran SSB Denpasar tahun 1994. Kiprahnya di balik pasang surut perjalanan SSB tersebut pun hampir tak pernah surut. Guru vokal di Bina Vokalia Bali ini ikut menyalakan suluh motivasi saat digagasnya SSB Perseden.

MNW Widiari

kuti kompetisi liga sepak bola Indonesia. Selain Komang Mariawan, ada Yuliawan, Adi Wirahadi, Ardita, Beni Lukman, Johan Charles, dan Mohamadan. Kiprah SSB Perseden hanya bertahan empat tahun. SSB ini bubar tahun 1998. Aktivitas SSB pun sempat vakum. Namun, setahun kemudian SSB Denpasar lahir. Penggagasnya sejumlah pentolan yang sebelumnya melahirkan SSB Perseden, yaitu Subadi, Kusnadi, dan Sutawan. “Tahun 1999 kami bentuk lagi SSB dengan nama SSB Denpasar. Semangat membentuk SSB ini didorong adanya kabar PSSI Pusat akan menggelar kompetisi SSB nasional,� jelasnya. Saat itu, Tjokorda Pemecutan meminjamkan lahan milik puri sebagai tempat berlatih. Ada sekitar 40 anak seusia murid SD menjadi anak latihnya. Keterampilan mengocek bola mereka digenjot tiga penggagas SSB tadi. “Dari sini lahir nama sejumlah pemain muda yang cukup dikenal, antara lain Pasek Alit,� ujarnya. Agenda kompetisi nasional kelompok usia anak kemudian siap-siap digelar PSSI Pusat. Ajang seleksi kesebelasan wakil Bali berlangsung. SSB Denpasar memilih 20 anak yang dinilai mampu memperkuat tim yang akan mengikuti seleksi daerah. Dari 7 kesebelasan yang ikut seleksi, kesebelasan SSB Denpasar lolos mewakili Bali. Mereka dipercaya mengikuti kompetisi nasional di Yogyakarta. “Saat itu, PSSI masih dipimpin mendiang Marsekal (Purn) Kardono. Setelah kompetisi nasional tersebut, anak-anak SSB Denpasar ikut pula kompetisi di Jakarta maupun Bekasi,� lanjut Subadi. Gema SSB Denpasar pun tenggelam usai mengikuti ajang kompetisi nasional tersebut. Tetapi, semangat sejumlah pelatihnya untuk melahirkan SSB baru belum pudar. Subadi, Nyoman Ambara, dan Saiful Bahri melahirkan sebuah wadah baru lagi bernama SSB Nusantara tahun 2002. “Ada 70 anak yang bergabung. SSB inilah yang bertahan sampai sekarang,� ungkap Subadi. —sam


2

Tokoh

12 - 18 September 2010

FACEBOOK KORAN TOKOH

Idulfitri 2010 PADA hari idulfitri muncul tamu yang tak dikenal. Amat puraPutu Wijaya pura saja tahu, lalu menerimanya dengan ramah. Lalu, terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab Amat sangat berhati-hati jangan sampai kedoknya terbuka. Di samping itu ia berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangannya. Tiap bongkah ia bolak-balik, mencoba menyibak, siapa gerangan tuan itu, tetapi sia-sia. Setengah jam pertama lewat, tetapi masih tetap gelap. Cangkir teh tamu itu sudah kosong. Amat berbasa-basi menawarkan jika ia boleh menambah isi cangkir itu. Maksudnya untuk mengingatkan kalau itu kunjungan basa-basi yang sudah masanya diakhiri. Tetapi, tamu itu mengangguk, ya, cangkirnya boleh diisi lagi, sekiranya tidak memberatkan. Amat berseru memanggil Ami, yang memang tidak ada di rumah. Tentu, Ami tidak keluar-keluar. Yang muncul Bu Amat yang sudah hendak jalan ke tetangga. Ia mengerti apa yang dimaksudkan suaminya, lalu mengangguk sopan, membawa cangkir masuk. Tetapi, kemudian keluar dengan sebuah gelas penuh teh, mungkin supaya tidak perlu bolak-balik lagi. Amat membuang muka karena kecewa. Apa boleh buat sudah telanjur. Ternyata istrinya juga menyodorkan setoples kacang sebelum kemudian pamit pergi ke tetangga. Mau tak mau Amat terpaksa memainkan kehadiran kacang itu. Ternyata dengan kacang kapri percakapan menjadi lebih renyah. Amat mulai mendapat informasi, tamu itu sudah menjalani perjalanan panjang sebelum menemukan rumah Amat. Ia menyebut-nyebut kapal laut, kereta api, dan kemudian pesawat terbang. Amat lalu menduga orang itu datang dari Jakarta. Tidak ada kereta api di pulau yang lain. Lalu Amat ingat beberapa kenalannya yang tinggal di Jakarta. Barangkali ini salah seorang anggota keluarga Ikra atau Soegianto. Ia datang pasti karena mendapat rekomendasi dari mereka. Dengan harap-harap cemas Amat menanti salah satu nama temannya itu melompat dari mulut tamu itu. Tetapi, setengah jam lagi berlalu, itu tak terjadi. Tamu itu setelah memujikan kegurihan dan kerenyahan kacang yang katanya paling enak dari semua kacang yang pernah dicicipinya, ia malah banyak bertanya tentang kesehatan Amat. Apa Amat sudah mulai punya keluhan asam urat atau darah tinggi. Mungkin diabet atau jantung berdebar-debar. Apa Amat rajin berolahraga. Belum punya pantangan makan? Masih berani makan sate kambing dan duren? Bagaimana kalau kopi. Berapa kali minum kopi sehari. Dan, merokok? Ketika mendengar Amat tidak merokok dengan penuh perhatian ia menanyakan bagaimana Amat bisa menghindar dari rokok yang menjadi alat pergaulan itu. Apakah Amat memang tidak merokok sejak awal, tetapi tampaknya itu mustahil, karena merokok sudah jadi identitas semua pemuda yang aktif. Jadi bagaimana caranya Amat keluar dari cengkeraman rokok yang menjadi salah satu pembunuh kejam itu. Amat mulai meyakini, orang itu pemadat yang berusaha untuk membebaskan dirinya dari nikotin tetapi selalu gagal. Bukan karena cengkeraman nikotin itu tak bisa dihindari, tetapi karena sebenarnya ia tak sungguh-sungguh ingin berhenti merokok. Ia tampak menikmati ceritanya sendiri yang selalu gagal lagi, gagal lagi, bercerai dengan rokok. Tiba-tiba ia menanyakan apakah Amat tidak pernah merasa takut, karena sudah melakukan dosa. Bukan dosa yang dilakukan dengan sengaja tetapi dosa-dosa yang tak diketahui, semacam kekhilafan atau kekurangtahuan. Amat terkejut. Ia mulai lebih berhati-hati menjawab. Curiga, sehingga ia berusaha lebih banyak mendengar daripada bicara. Celakanya orang itu menganggap Amat sangat tertarik dan tekun mendengar. Sambil tak henti-hentinya mengunyah kacang, ia menceritakan ada berapa tingkat dosa yang biasa dilakukan manusia, tanpa disadari pelakunya. Pertama, katanya, dosa bagi yang membiarkan perbuatan berdosa dilakukan. Seperti melihat ada pencuri. Kalau diam tidak berusaha menghalangi pencuri itu melakukan praktik jahanamnya merugikan orang lain,. Orang yang melihat itu berarti setuju dan ikut mencuri. Hukumannya sama saja. Kedua, dosa yang tidak peduli terhadap orang-orang yang sudah melakukan dosa. Tidak pernah berusaha untuk memberikan teguran atau bimbingan agar orang yang berdosa itu sadar pada perbuatannya. Jangan-jangan pendosa itu melakukan dosanya karena tak tahu itu perbuatan dosa. Bagi yang tahu tetapi membiarkan orang itu sesat, hukumannya sama. Orang itu berarti ikut membantu melakukan perbuatan dosa. Ketiga, dosa bagi yang tidak mau memaafkan mereka yang berdosa karena ingin menghukum agar pendosa itu kapok. Seorang yang berbuat dosa yang terlalu besar, mungkin sudah tertutup mata hatinya, sehingga ia tidak melihat perbuatan itu dosa. Jadi bagaimana mungkin dia akan insaf. Sementara itu seseorang yang berbuat dosa yang terlalu besar, mungkin sadar perbuatannya itu tidak termaafkan. Jadi ia pasti malu datang untuk minta maaf, sebab ia sadar perbuatannya itu sulit dimaafkan. Nah, kata tamu yang misterius itu, bagi yang tahu kondisi orang itu, dan membiarkannya tetap berada dalam kegelapan dosa, berarti yang bersangkutan juga berdosa. Hukumannya sama saja. Bahkan bisa lebih berat, sebab orang yang tak mengetahui dan orang yang tak berdaya itu tindakannya tidak lagi terkendali, karena ia seperti orang yang tidak berkemampuan. Sebaliknya orang yang berdaya yang tidak punya kesulitan bertindak untuk mencegah dosa itulah yang akan menanggung dosanya. Sampai di situ, Amat, sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Kacang di toples tinggal separuh. Sudah hampir tiga jam ia mendengar tamu yang tidak punya perasaan dan mungkin sinting itu, menyita waktu Amat. Bahkan sudah 2 kali Amat sempat tertidur ketika ia menguraikan teori-teori tentang dosa, tetapi tiap kali Amat terbangun lagi, orang itu masih terus di situ. Makan kacang dan bicara. Amat memutuskan hendak berdiri. Tetapi, orang itu lebih cepat lagi bangkit dan menahan Amat duduk. Tidak, katanya, sudah cukup kunjungan saya kali ini. Terima kasih atas penerimaan Pak Amat yang begitu baik, sekarang saya mau melanjutkan perjalanan lagi, katanya sambil menangkap tangan Amat. Amat tak sampai hati mengelakkan tangannya, apalagi ketika orang itu mencium tangannya, lalu bergegas pergi. Amat tetap duduk di kursi, tak sudi mengantarkan, untuk menunjukkan rasa kesal. Ketika Bu Amat pulang, ia terkejut melihat suaminya bengong di kursi. “Kenapa Pak? Kok dari tadi bengong melulu. Mosok makan kacang sampai setengah toples, nanti bibirnya lumpangan lagi. Mau minum lagi?” Amat terkesima. Ia sekarang baru sadar siapa yang tadi bertamu. “Ayo Bu, kita ke rumah Pak Bimantoro untuk mengucapkan idulfitri!” Bu Amat tercengang. “Lho bukannya dia musuh kita yang sudah memfitnah Bapak korupsi uang warga yang mau dipakai untuk membangun sekolah?” “Betul. Dan, sekarang sudah terbukti itu bohong!. Dia pasti malu besar. Dia orang berpendidikan tinggi, pasti dia tidak akan berani minta maaf karena ia tahu fitnahnya yang kejam itu sukar dimaafkan. Kita ke sana saja, jangan biarkan dia berdosa. Sekarang, mumpung masih siang.” Amat mengganti baju dan sandalnya. “Ayo Bu!” Bu Amat tak membantah, hanya penasaran. “Kenapa Bapak jadi berubah pikiran? Bukannya Bapak yang kemarin menolak keras waktu diajak untuk silaturahmi maaf-maafan ke situ?” “Ya. Tetapi, tadi kedatangan tamu. Dia bilang tolonglah orang yang tidak berani mengakui dosanya, supaya berkurang dosanya dan supaya kamu sendiri tidak berdosa karena sudah membiarkan orang terus berdosa. Ayo Bu!” Bu Amat heran. “Tamu siapa? Memang tadi ada tamu?” “Sudah kok ngomong terus. Ayo cepet! Nanti keburu malam.” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ASPIRASI Sarana olahraga apa yang perlu dikembangkan untuk anakanak? Apa alasannya?

“Program Bedah Rumah di Bali” Sampaikan opini Anda Minggu 12 September 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 19 September 2010

Tanpa Komunikasi Hipnotis tak Terjadi GENDAM dan ’kejahatan hipnotis’ makin marak; sudah masuk perkantoran. Jangan layani, jika ada orang mencurigakan bertanya tentang sesuatu. Kesannya kita tidak ramah. Tetapi, ini salah satu cara menghindarinya. Tentu, bilang dulu “maaf” lalu menghindar. Tanpa diawali komunikasi, hipnotis tak akan terjadi. Juga, biasakan diri berpikir rasional. Jangan pandang matanya. Perlukah tayangan hipnotis di TV dilarang? Demikian pandangan yang berkembang dalam siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu ((5/9). Topiknya “Mengantisipasi Kejahatan Ilmu Gendam.” Berikut petikannya.

Berpikirlah Rasional Dalam ilmu kesehatan jiwa, hipnotis digunakan untuk tujuan positf, yaitu terapi mental dan emosional. Terutama, mengubah keadaan alam bawah sadar yang perlu diperbaiki. Seperti kebiasaan buruk atau rasa takut terhadap suatu hal. Sampai saat ini di Indonesia, stigma tentang hipnotis buruk dan ada di daerah abu-abu. Hipnotis selalu dihubungkan dengan kejahatan, pemaksaan kehendak atau kuasa kegelapan. Hipnotis, fenomena alam biasa. Kita sering mengalami suasana hipnotis berhari-hari. Dalam 10 menit pertama ketika perhatian kita alihkan penuh terhadap suatu hal, misalnya menonton TV atau film, kita bisa ikut menangis atau tertawa melihat pertunjukannya. Ini berarti kita masuk dalam suasana hipnotis. Kejahatan hipnotis makin banyak. Ia memanfaatkan suasana yang kita miliki secara alamiah di tubuh. Masuk secara by pass ke alam bawah sadar. Ketika kita

stres, banyak masalah dipikirkan dalam waktu bersamaan, maka pikiran kritis lepas. Saat bergolak berpikir besok harus bayar uang sekolah anak, padahal uang belum ada, tiba-tiba ada orang menawarkan keajaiban. Uang Rp 10 ribu bisa menjadi Rp 20 ribu, kita langsung tertarik. Faktor berpikir kritis terbuka sehingga apa yang disampaikan orang tersebut dengan cepat masuk ke alam bawah sadar kita. Di dunia psikiatri, tiap berhadapan dengan pasien psikiater menggunakan metode komunikasi dalam suasana hipnotis. Beberapa orang menyamakan hipnotis dengan kondisi menyerupai tidur. Dapat secara sengaja dilakukan kepada seseorang. Hipnotis adalah tidur fase pertama. Mata tertutup namun masih mendengar suara dan dapat menjawab pertanyaan. Tiap orang pernah mengalami. Dalam segala suasana kita bisa terhipnotis, utamanya saat membiarkan pikiran alam bawah sadar terbuka. Misalnya, memusatkan perhatian pada sesuatu. Saat membaca buku atau menonton televisi, kita berpusat pada satu pikiran, saya harus dapatkan sesuatu atau saya harus menonton sinetron ini. Dalam kondisi fokus, tiba-tiba ada yang

lewat dan mengatakan anaknya baru saja tabrakan dan sekarang di UGD. Karena kondisi kosong, kita langsung memasukkan informasi tersebut tanpa critical factor , pikiran langsung masuk ke alam bawah sadar dan secara otomatis mengikuti apa yang diminta atau diinstrusikannya. Misalnya, bersedia memberikan isi dompet dan jam demi membantu kesedihannya. Dasar hipnotis adalah komunikasi. Dengan intonasi tertentu, seseorang mudah melakukan hipnotis pada orang lain. Saat berkomunikasi dalam satu-dua menit pertama sudah bisa. Tanpa komunikasi lebih dahulu tidak mungkin masuk ke alam bawah sadar. Banyak cara dapat dilakukan untuk menghindari kejahatan hipnotis. Mungkin orang berpikir mengapa semudah itu orang melakukan hipnotis kepada orang lain. Ya, karena pikiran kita sangat mudah terbuka dan tertutup menerima informasi. Jika ingin menghindari kejahatan hipnotis, kita wajib dalam kondisi berpikir rasional. Apa yang dibicarakan orang, kita siap melogikakan serta menganalisis dalam pikiran. Penjahat hipnotis selalu melihat situasi dan kondisi, seperti dalam situasi ramai, saat sendiri atau sedang kebingungan. Waspadalah di tempat umum, terutama tempat terbuka. Jangan melayani pertanyaan ke-

Nur Salim Sirkuit untuk balap motor agar remaja tidak trek-trekan di jalan raya. Siapkan juga perlengkapan balap motor yang aman. Ayu Dwijayanti Wahana bersepeda, karena dengan bersepeda merupakan langkah awal pembentukan fondasi untuk mendapatkan kebugaran fisik, merangsang motorik kasar agar lebih gesit dan sigap. Sehingga, nantinya pertumbuhan fisik anak pun akan lebih baik. Eka Juni Artawan Olahraga tradisional. Melindungi dan mengembangkan nilai warisan budaya serta meningkatkan nilai ekonomis, di samping sebagai wahana menumpahkan nostalgia bagi para orang tua selaku pelaku tradisi lama. Legawa Dewak Sarana olahraga yang perlu dikembangan untuk anak-anak, lapangan bulu tangkis. Alasannya, negara kita sangat disegani dunia di bidang bulu tangkis, dan akhir-akhir ini prestasi kita terus menurun jadi alangkah bangusnya kita kembangkan olahraga yang telah mengharumkan negara Indonesia. Ayu Bonchu Olahraga yang paling cocok, sepak bola, karena kita tahu bagaimana keadaan dunia sepak bola kita. Apakah kita puas hanya menonton negara lain di televisi yang memperebutkan juara dunia? Anak-anak perlu dididik sejak dini agar bisa menjadi bibit yang profesional dan bisa mengangkat nama negara di dunia olahraga. Adi Sudianggara Olahraga sepak bola bagus untuk anak-anak, selain untuk membugarkan badan, sepak bola juga sarana olahraga untuk mendidik kebersamaan dan kerja tim yang baik. Tidak jarang sepak bola menjadi olahraga yang disukai semua kalangan karena bisa dijadikan olahraga yang bagus baik dalam bidang jasmani maupun prestasi. Pemenang Ikuti kuis ini di halaman Facebook Koran Tokoh. Tiga komentator terbaik mendapatkan hadiah berupa voucher makan di Warung Be Pasih untuk lima orang.Pemenang minggu ini: Ayu Dwijayanti, Legawa Dewak, dan Ayu Bonchu. Hadiah harap diambil di Sekretariat Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha Lantai III (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar, telepon 0361-425 373. Hubungi Pipit/Ayu tiap Senin-Jumat pukul 09.00-15.00. tika dua orang yang mencurigakan bersamaan menanyakan sesuatu. Jika ada pertanyaan di mana rumah si A atau si B, jawab dengan pendek dan cepat putuskan pembicaraan dengan mengatakan ’saya tidak tahu’. Pertanyaan beruntun dapat menggiring kita ke dalam kondisi bingung. Jika ada orang yang mencurigakan menepuk bahu dan sekaget apa pun kita, jangan membuka komunikasi atau melibatkan diri dalam pembicaraan. Segera tinggalkan. Hati-hati terhadap penawaran keuntungan berlipat dalam waktu sekejap. Jika suatu saat, di tempat umum distop dan dikatakan meme-

nangkan undian ini dan tu, katakan ’saya tidak perlu’. Banyak teman merasa dengan mengambil undian akan mendapatkan segalanya. Padahal untuk mendapat hadiah, harus membeli kulkas, mesin cuci dan sebagainya. Begitu kita masuk dalam hipnotisnya logika tidak bekerja lagi. Walau kita tidak perlu benda tersebut tetapi kita beli. Ketika ada orang di sebelah kita, tiba-tiba jantung berdebar tanpa penyebab, ini sinyal dari alam bawah sadar, hindari dia. Ketika tiba-tiba mengantuk tanpa penyebab di tempat umum, cepat lari ke kamar mandi dan cuci muka. Bersambung ke hlm. 12

Memancing Kepedulian terhadap Program Bedah Rumah DATA Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 mengumumkan ada 134.804 rumah tangga miskin (RTM) di Bali. Data lembaga ini biasanya dipublikasikan tiga tahun sekali. Oleh karena itu, BPS baru mengumumkan data baru RTM tahun 2011. Padahal, Pemerintah Provinsi Bali telah mengupayakan pemberdayaan RTM secara terprogram dan berkelanjutan, terutama sejak kepemimpinan Gubernur Made Mangku Pastika dan Wakil Gubernur A.A. Ngurah Puspayoga. Berdasarkan verifikasi data real terbaru, jumlah RTM di Bali selama dua tahun terakhir mengalami penurunan. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan penurunan RTM 10 ribu tiap tahun. Selama hampir dua tahun terakhir penurunan angka real RTM tersebut sudah terjadi. Penurunan tersebut tentu berkat komitmen dan konsistensi Pemerintah Provinsi Bali mewujudkan berbagai program yang menyasar upaya pengentasan RTM di daerah ini. Program bedah rumah merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali untuk menanggulangi masalah kemiskinan masyarakatnya. Program ini berawal dari permintaan bantuan masyarakat kepada pemerintah untuk mereno-

vasi rumah yang dihuni RTM pada pertengahan tahun 2009. Saat itu, ada sekitar 850 proposal yang berisi permohonan bantuan dimaksud yang diterima Pemerintah Provinsi Bali. Dari sinilah, Gubernur Bali merespons permintaan masyarakat tersebut melalui program bedah rumah. Pemerintah Provinsi Bali kemudian menyusun dan menetapkan kriteria untuk memutuskan warga yang dinilai layak menerima bantuan pengentasan RTM melalui program bedah rumah tersebut. Ada 14 variabel dasar yang dijadikan acuan standar untuk menetapkan RTM tersebut. Keempat belas variabel tersebut, adalah luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter2; jenis lantai bangunan tempat tinggal dari tanah/bambu/kayu berkualitas rendah; jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/kayu berkualitas rendah; tidak mempunyai fasilitas tempat buang air besar (jamban/kakus); sumber penerangan rumah tangga bukan dari listrik; sumber air minum dari sumur/mata air tak terlindungi/ sungai/air hujan; bahan bakar untuk memasak sehari-hari dari kayu bakar/arang; tidak mengonsumsi daging/susu/ayam dalam satu minggu; tidak mampu membeli pakan baru untuk tiap ART dalam setahun; frekuensi makan kurang dari tiga kali per hari untuk tiap ART; tidak mampu berobat ke pus-

A.A. Gde Anom Wartawan

kesmas/poliklinik; lapangan pekerjaan utama KRT, yaitu petani gurem/pekerja bebas dengan upah per bulan kurang dari Rp 600 ribu; pendidikan tertinggi KRT sekolah dasar atau tidak pernah sekolah; dan tidak mempunyai aset/tabungan/barang berharga bernilai lebih dari Rp 500 ribu. Pemerintah Provinsi Bali memprioritaskan program bedah rumah ini di empat kabupaten. Sampai saat ini program bedah rumah yang telah direalisasikan 325 unit RTM, yaitu 100 unit RTM di Buleleng, 100 unit RTM di Karangasem, 75 unit RTM di Bangli, dan 50 unit RTM di Klungkung. Anggaran yang digunakan untuk merealisasikan program ini bersumber dari APBD Provinsi Bali. Sebanyak 500 unit RTM telah ditargetkan untuk mene-

rima bantuan program yang sama. Sumber anggarannya berasal dari APBD Perubahan Tahun 2010. Untuk itu, Dinas Sosial Provinsi Bali, melalui instansi terkait di kabupaten/ kota, segera mendata RTM yang layak meneria bantuan bedah rumah ini. Dinas Sosial Provinsi Bali menerjunkan 41 petugas khusus untuk melakukan tugas pendataan RTM yang akan dinilai layak menerima bantuan tersebut selama masa liburan Lebaran tahun ini. Dasar penetapan RTM tersebut sesuai 14 variabel yang menjadi acuan standar tadi. Pendataan dilakukan agar realisasinya kelak tepat sasaran. Data yang masuk ke Dinas Sosial bersumber dari laporan resmi kepala dusun dan kepala desa yang memiliki RTM. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti petugas Dinas Sosial langsung ke tempat tinggal warga yang dilaporkan memenuhi syarat sebagai RTM. Petugas melakukan verifikasi langsung ke lapangan. Verifikasi ini dilengkapi foto kondisi bangunan rumah serta data real latar belakang kehidupan keluarga yang bersangkutan sesuai 14 variabel yang ditetapkan pemerintah. Program ini ternyata memperoleh respons positif berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat kampus termasuk ikut mendukungnya. Ini dibuktikan lewat kepedulian Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Pihak kampus ini siap membantu melakukan verifikasi data melalui mahasiswanya yang sedang melakukan praktik kuliah kerja nyata di Tianyar, Karangasem. Jauh sebelum itu, Ayana Hotel pun telah menunjukkan kepedulian sosialnya untuk mendukung program Pemerintah Provinsi Bali tersebut. Kepedulian itu diwujudkan melalui pemberian bantuan anggaran khusus untuk program bedah 51 unit bangunan RTM di Dusun Pucangan, Desa Bang, Karangasem, tahun 2009. Pihak hotel berbintang ini bahkan berencana mengucurkan lagi anggaran untuk membantu program bedah rumah ini. Pemerintah terus berusaha merespons kebutuhan masyarakat miskin untuk memperoleh rumah tinggal yang layak huni. Selama ini, kondisi bangunan fisik RTM yang telah menerima bantuan tersebut memang jauh dari kelayakan sebuah tempat hunian. Pemerintah berharap kondisi tersebut akan makin banyak memancing kepedulian komponen lain untuk mendukung upaya pemberdayaan kehidupan RTM di Bali. zA.A. Gde Anom Wartawan Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara z Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 z Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 z NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 z Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id z Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 z Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


12 - 18 September 2010 Tokoh 3

Cegah Pasutri Kawin-Cerai 7-Habis

Stori

4

Ki Ageng S. Dewantara

Ki Ageng Sonny Dewantara PARANORMAL Ki Ageng Sonny Dewantara sudah memutuskan berhenti main film layar lebar. Tugas kemanusiaannya saat ini lebih banyak dicurahkan membantu melayani orang lain yang menghadapi macam-macam masalah. “Terutama orang yang memerlukan jasa bantuan saya untuk membantu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapinya,” ujar pria ganteng yang telah membintangi puluhan “film panas” ini dalam percakapan dengan Koran Tokoh di kawasan Renon, Denpasar, pekan lalu. Masalah kawin-cerai yang marak terjadi dalam masyarakat memperoleh perhatian Ki Ageng. Menurutnya, perkawinan itu pilihan hidup yang mengandung nilai sakral. Perkawinan terjadi atas kehendak Allah SWT. “Makanya, nilai sakral perkawinan harus dijaga suami maupun istri,” ujarnya. Tetapi, perceraian sepasang suami istri bisa saja susah dihindari. Kasus keretakan rumah tangga, apalagi sampai jatuh putusan hendak berpisah, niscaya dapat dicegah. Ki Ageng mengaku pernah merukunkan pasutri yang sering cekcok, bahkan rumah tangga pasutri yang sudah di ambang kehancuran. Kasus kawin-cerai dinilai lebih banyak disumbang penyebabnya oleh hawa nafsu duniawi. Ini disebutkannya sebagai penyakit utama yang kerap merusak mahligai rumah tangga. “Rohaninya harus disentuh agar tumbuh kuat spirit menghadapi persoalan rumah tangga. Spirit ini kelak akan membantunya menghadapi masalah tersebut dengan pikiran jernih dan hati bersih,” jelas Ki Ageng. Ki Ageng prihatin pula dengan kasus narkotika dan obat-obatan terlarang yang merajalela di tengah masyarakat kita. Ini khususnya berkaitan dengan kecanduan para pemakainya. Anak-anak muda kita banyak yang terjerat dalam kasus kecanduan barang haram ini. Ki Ageng mengaku, dirinya sudah beberapa tahun belakangan membantu memulihkan kondisi pecandu narkoba. Hasilnya, para pasiennya telah hidup bebas tanpa narkoba lagi. “Saya dapat memastikan seseorang itu pemakai narkoba atau bukan dari wajahnya. Tetapi, saya pun bisa menyembuhkannya dari kecanduan sebagai pemakai hanya dalam waktu dua jam. Saya sudah membuktikan itu di hadapan kalangan pejabat, termasuk BNN,” ujarnya. Itulah sekelumit perjalanan hidup yang kini ditekuni paranormal yang dulu lebih dikenal sebagai aktor laga Sonny Dewantara itu. Ia sudah memastikan untuk meninggalkan dunia kaum selebritas. “Dunia keartisan itu memang nikmat luar biasa. Jika bernasib baik pasti kita dapat mereguk kenikmatan yang tidak mungkin bisa dirasakan orang lain. Namun, dunia artis penuh maksiat. Saya sudah kenyang nikmatnya kehidupan duniawi keartisan. Di sana terjadi pertemuan orang-orang ganteng dan cantik,” katanya. Namun, menurut Ki Ageng, kenikmatan itu ternyata hanya semu. Dunia artis memang dapat menghasilkan kepuasan, tetapi itu tidak lebih dari kenikmatan sesaat. “Ini terutama jika artisnya tidak memiliki iman kuat, tidak tahan godaan duniawi,” ujarnya. Pilihannya sudah bulat untuk menjalani kehidupan seperti sekarang. “Saya tidak ingin mengulangi kehidupan masa lalu saya di dunia film. Peran saya yang dianggap berani beradegan panas dengan lawan main di film laga dulu memang sempat membuat saya dijuluki Al Pacino-nya Indonesia,” katanya. Saat masih belum memakai gelar “Ki Ageng”, dirinya lebih dikenal sebagai Sonny Dewantara. Wajahnya lebih populer berkat perannya yang “panas” saat bermain film bareng Inneke Koesherawaty, Meriam Bellina, Anna Sherley, Anita Carolina, dan aktris film berani lainnya saat itu. “Saya sudah meninggalkan dunia glamour kalangan artis itu,” kata Ki Ageng yang mengaku belakangan dirinya lebih nyaman menjalani kehidupan di Pulau Dewata. —sam

Ucapan Telkomsel

Komjen Pol. Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Kerja Keras untuk Keluarga

PASUTRI Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri telah dikaruniai sepasang buah hati ketika keluarga ini sudah memiliki rumah mungil di kawasan Perumnas Depok. Namun, kerja keras dan hidup hemat selalu menjadi teman setianya saban hari.

Gubernur Bali Mangku Pastika dan Bu Ayu Pastika bersama Menbudpar Jero Wacik dan umat Hindu lainnya bersembahyang saat upacara Puncak Karya Panca Bali Krama di Pura Besakih beberapa waktu lalu

M

aklum cicilan ru mah tersebut ma sih menjadi tanggungan keluarga bhayangkara ini. “Saat kami kredit rumah tersebut, Bapak (Pastika) kuliah di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Saya membuka usaha menjahit, juga salon kecantikan. Ini untuk nambahnambah bayar cicilan kredit rumah,” ujar Bu Ayu Pastika, istri putra Buleleng yang menjabat gubernur Bali itu. Keterampilan menjahit dan membuka salon kecantikan terasah saat Ayu baru menikah. Saat itu, pasutri ini masih menumpang di Asrama Brimob Kelapa Dua, Bogor. “Saya kursus menjahit dan salon kecantikan, juga memasak. Sebagai istri salah seorang komandan di asrama tersebut kan saya harus menjadi contoh bagi para istri anak buah Bapak.

Bekal keterampilan tersebut saya tularkan kepada ibu-ibu bhayangkari di asrama. Jika para suami bertugas ke luar kota dalam waktu relatif lama kan para istri ada kesibukan,” ujarnya. Ternyata hasil kursus tersebut berguna saat Ayu dan buah hatinya diboyong sang suami menghuni rumah mungil mereka di Perumnas Depok. Ayu dapat ikut menambal kebutuhan ekonomi keluarganya. Pastika pun senantiasa mencerminkan sikap keteladanan bagi anggota keluarganya. “Bapak itu seorang pekerja keras. Saat tinggal di Perumnas, Bapak memanfaatkan lahan sempit di belakang rumah. Bukan hanya sayur-mayur yang ditanam, juga di situ dijadikan tempat beternak ayam boiler,” kenang Bu Ayu. Ada empat ekor ayam

Mangku Pastika bersama mendiang ibunda tercinta, almarhumah Ni Nyoman Kinten

betina petelur yang dipelihara. Empat butir telur saban hari dipanen dari usaha ternak unggas ini. Telur yang terkumpul selama beberapa hari bisa sekilogram atau dua kilogram. Telur kiloan ini dijual Ayu ke warung terdekat rumah mereka. “Untuk konsumsi keluarga pun kami tak perlu beli telur,” katanya mengenang masa sulit kehidupan ekonomi keluarganya saat itu. Sementara Pastika menuturkan, saat berbisnis kecilkecilan itu ia masih berpangkat kapten polisi. Menurut mantan kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN) ini, berkebun sayur-mayur di lahan sempit di belakang rumah merupakan inisiatifnya. Bermacam jenis sayuran tersebut ditanam sendiri alumnus terbaik Akabri Kepolisian tahun 1974 ini. Saban petang, sepulang ke rumah, Pastika membersihkan rumput sekaligus menggemburkan tanah yang dipakai menanam bayam, kemangi, serai, cabai, dan lain-lain itu. Sementara Ayu yang menyirami sayur-mayur tersebut. Ini salah satu kesibukan bareng pasutri ini di rumah mereka. Prinsip Hidup Kerja keras itu sudah tertanam kuat dalam pribadi Pastika sejak bocah. Spirit ini ditularkannya kepada sang istri. “Bapak memang seorang pekerja keras sejak dulu. Beliau menjadi suri teladan bagi saya, termasuk anak-anak. Saya selalu didorong Bapak agar memegang teguh prinsip untuk mencari makan dengan hasil keringat sendiri,” ujar Bu Ayu. Itulah prinsip Gubernur Bali Mangku Pastika berada dalam barisan senam massal menyambut peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 2009 di Denpasar

hidup yang kukuh dipegang seorang Pastika. Putra kedua dari 6 bersaudara kandung ini enggan menengadahkan tangan menerima uluran bantuan orang lain hanya lantaran belas kasihan, walau uluran bantuan tersebut datang dari orang-orang terdekat keluarganya. Ini terbukti saat mertuanya sesekali hendak mengirim lauk untuk melengkapi menu santapan keluarga kecilnya. “Bapak secara halus selalu menolaknya. Beliau merasa urusan nafkah keluarga sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga,” lukis Bu Ayu. Ada cerita lain yang menggambarkan betapa Pastika memang menggambarkan seorang suami yang bertanggung jawab terhadap nafkah keluarganya. Saat menempati rumah mungil mereka di Perumnas Depok ternyata energi listrik untuk penerangan kediamannya amat terbatas. “Arus listrik kala itu hanya hidup dua jam saat menjelang malam tiba di kompleks perumahan kami. Kami hanya dapat menikmati hiburan TV selama dua jam itu,” kenang Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali ini. Kondisi itu rupanya mengundang rasa iba sang mertua. Mertua lelaki Pastika terutama mencoba mengirimkan sebuah accu sebagai sumber energi listrik untuk menghidupkan televisi di rumah menantunya. “Lagi-lagi Bapak

menolak secara halus accu pemberian ayah saya itu,” imbuhnya. Lambat-laun orangtua Ayu memaklumi prinsip hidup yang ditanamkan sang menantu dalam keluarga kecilnya. Ibu kandung Ayu, Ni Wayan Rupet, bahkan akhirnya berulang kali meyakinkan manfaat positif prinsip kerja keras yang ditanamkan menantunya kepada putrinya itu. “Orangtua saya mendukung prinsip hidup Bapak. Saya diberi tahu Ibu agar selalu mendukung suami. Mama saya bercerita pengalaman memulai hidup berkeluarga beliau bersama Ayah dulu. Kondisi ekonomi keluarga beliau berdua juga awalnya pas-pasan,” ungkap Bu Ayu mengutip cerita ibu kandungnya tadi. Sebagai seorang istri, Ayu pun merasa beruntung memperoleh jodoh seorang Pastika yang memiliki pendirian yang kuat. “Justru kehidupan kami seperti itulah yang membuat saya makin cinta dan sayang sama Bapak,” akunya sumringah. Pilihan hidup berumah tangga diyakini membawa berbagai konsekuensi. Salah satu konsekuensi itu berwujud kesediaan suami maupun istri untuk menerima kondisi suka dan duka kehidupan keluarganya. “Sebagai istri otomatis saya harus selalu siap mendukung apa pun yang baik dari suami. Dukungan ini harus diberikan seorang istri selalu dalam kondisi apa pun. Saya harus selalu bisa menghadapinya bersama Bapak. Suami istri harus saling mengisi,” jelasnya. Keteladanan semacam itu dipetiknya pula dari sikap hidup ibu mertuanya, mendiang Ni Nyoman Kinten. Almarhumah ibu kandung Pastika tersebut dilukiskan sebagai sosok yang pernah menjalani kehidupan ekonomi keluarga yang tidak enteng. Ini menginspirasinya dirinya sebagai seorang menantu untuk memiliki spirit hidup tidak cengeng. “Almarhumah ibu mertua itu juga sosok yang tahan ujian hidup. Saya pun belajar dari jalan hidup beliau yang selalu menghargai dan mendukung suami,” tandas ibu tiga anak ini. —sam

Gubernur Bali Mangku Pastika bersama para Ida Pandita Mpu dan panitia Karya Pura Lempuyang Madya


4

Tokoh

GELANGGANG

12 - 18 September 2010

Diah dan Pramita Petembak Andalan Bali Doorrrrrrrr……………! Suara tembakan menakutkan bagi sebagian besar orang termasuk kaum perempuan. Namun, bagi kedua perempuan cantik ini senapan bukanlah barang yang menakutkan. Memegang senapan dan melakukan tembakan, membuat mereka merasa bangga dan lebih gagah. “Ada suatu keasyikan tersendiri ketika menembak,” tutur I Gusti Agung Diah Pramesti, salah seorang atlet petembak Bali. Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia) Cabang Klungkung. Program 1000 pelajar yang digagas Perbakin Bali memang dikhususkan menyasar siswa untuk mencari atlet muda berprestasi di seluruh Bali. “Awal mula hanya iseng mencoba menembak, tetapi kok jadi ketagihan,” tutur staf

tkh/ast

A

wal mulanya ia mengaku takut mendengar suara tembakan. Namun, lama-kelamaan, setelah makin digeluti, ia menjadi tertantang. Bagi istri Cok. Gede Putra Tri Andayana ini, menembak memberikan banyak manfaat secara emosional. Ia mengaku menjadi lebih tenang, sabar dan dapat mengontrol emosi. “Karena, kalau saya menembak memerlukan konsentrasi tinggi dan fokus untuk mengenai sasaran,” ujarnya. Selain itu, kata Diah, sangat penting melatih pernapasan dan menjaga stamina. Semua persyaratan secara fisik itu sudah dipenuhi Diah. Sebelum menekuni dunia menembak, Diah merupakan atlet renang. Olahraga renang ditekuninya sejak kelas 5 SD. Ketika masuk SMP Negeri Semarapura, Klungkung, ia tertarik mencoba ikut kegiatan ekstrakurikuler menembak di sekolahnya. Pembinanya, alm. Hj. Yusuf dan A.A. Sayang yang merupakan pengurus

Pramita Suari sedang melakukan ancang-ancang menembak

Disdikpora Prov. Bali ini. Cukup lama ia melakukan penyesuaian. “Sekitar 2 tahun, saya menyesuaikan diri agar lebih memahami senapan. Caranya, dengan biasa memegangnya dan membersihkannya dengan mengelap, agar perasaan takut dan degdegan hilang,” kata perempuan usia 20 tahun ini, yang baru beberapa bulan lalu melangsungkan pernikahan. Setelah menamatkan SMPnya di Klungkung, Diah melanjutkan ke SMAN 1 Denpasar. Di sekolahnya itu, tidak ada ekstrakurikuler menembak. Ia langsung bergabung dalam pembinaan atlet muda menembak. Untuk pelatihan kering, biasanya tidak menggunakan peluru. Ia melakukan pelatihan di rumah seperti di depan cermin, bagaimana posisi menembak yang benar. Pelatihan fisik ia lakukan tiap Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 16.00 di lapangan Renon. Pelatihan fisik berupa lari untuk melatih otot. Pelatihan menembak di Lapangan Pakse Bali Klungkung tiap Jumat dan Sabtu pukul 17.00 s.d 20.00. Saat ini ia memegang senjata api kaliber 22 dan senapan angin ARM laras panjang. Diah menikah di usia yang sangat muda. Menurutnya, keinginan menikah karena ia dan suaminya yang bekerja di kapal pesiar ini ingin menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hubungan yang mereka jalani. “Suami sangat mendukung dan tidak melarang. Saya juga tidak

tkh/sep

Bola Ditendang ke Depan Lari ke Belakang

Kadek Ariani

IBU-IBU anggota PKK pun sekarang bermain sepak bola. Inilah cara yang dilakukan ibuibu PKK Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, dalam rangka memeriahkan peringatan HUT ke-65 Republik Indonesia baru-baru ini. Pertandingan sepak bola tersebut diikuti 10 banjar yang ada di Desa Beraban. Ketua Panitia Peringatan Hari Nasional Desa Beraban Ketut Sunarwa, S.T. mengungkapkan dalam dua tahun terakhir acara peringatan HUT RI melibatkan seluruh warga masyarakat berjalan santai. Kali ini, kata karyawan Bali Nirwana Resort ini, para ibu PKK memberi ide. Mereka ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dan unik yakni pertandingan sepak bola perempuan. “Ternyata sambutan warga masyarakat sangat luar biasa,” ujarnya. Begitu antusias ibu-ibu, selain berlatih di lapangan umum Desa Beraban, juga ada yang berlatih di pantai Tanah Lot. Sunarwa mengatakan, peraturan pertandingan dibuat longgar. Jika biasanya pemain sepak bola 11 orang, sepak bola perempuan ini 15 pemain. Antusias penonton pun luar biasa. Apalagi Bupati Tabanan Eka Wiryastuti berkenan hadir membuka acara tersebut. Mulai dari anak kecil sampai orang tua memadati lapangan umum Desa Beraban. Jepun Club yang diusung Banjar Beraban berhasil menjadi juara I mengalahkan tim Banjar Dukuh dalam final. Tim ini dilatih Ketut Muliarta dan Nyoman Sentra, yang keduanya pemain sepak bola Werdhi

Sesana Beraban Tabanan. Kadek Ariani, istri Kepala Dusun Banjar Beraban I Nyoman Sukajaya, turut memperkuat tim Jepun Club. Menghadapi pertandingan, mereka berlatih seminggu tiga kali, pukul 16.00 sampai 19.00. Sukajaya yang selalu mendampingi timnya saat berlatih sering dibuat tertawa terbahakbahak melihat ulah para ibu PKK bermain sepak bola. “Cara menendang bola salah. Bola yang ditendang ke depan, malah lari ke belakang,” tuturnya. Namun, Sukajaya memberikan salut. “Saat bertanding, pemain sepak bola perempuan sangat sportif. Saat mereka berhadapan dengan lawan di lapangan dan berebut bola, tak tampak rasa permusuhan. Mereka malah saling tos,” ujarnya. Tidak pernah Mimpi Hobinya berolahraga membuat Nengah Budi Astiti langsung setuju ketika dipilih

tkh/sep

Sunarwa

menunda kehamilan. Semua saya serahkan kepada Tuhan,” tutur perempuan yang masuk dalam program atlet andalan Bali ini.

Takut Kena Peluru Sebagaimana Diah, suara tembakan awalnya juga membuat atlet menembak lainnya, Made Ayu Pramita Suari, ketakutan. Apalagi, awalnya ia sempat berpikir, takut terkena peluru. Sampai-sampai ia menutup telinganya saat bunyi tembakan. Ia mengaku tangannya gemetar saat mengangkat senjata. “Keringat dingin sampai keluar saking takutnya,” tuturnya sembari tertawa mengingat kejadian itu. Selama tiga bulan, ia mencoba bersahabat dengan senapan angin yang digunakan untuk berlatih. Keinginan mendalami menembak sangat didukung keluarganya. Bahkan, ibunya sering mengantarnya berlatih. Lamakelamaan, Pramita akhirnya benar-benar mencintai olahraga menembak. Namun, saking sibuknya berlatih, pelajarannya sempat tertinggal satu semester saat SMP. Pramesti mencoba melakukan perbaikan agar kesibukannya berlatih tidak mengganggu pelajarannya di sekolah. “Untungnya, penurunan nilai saya segera terkejar. Hanya satu semester turun,” ujarnya. Dalam program 1000 pelajar, Pramita mendapatkan juara II sehingga ia bersama Diah masuk dalam pembinaan atlet muda menembak. Prestasi yang paling anyar yang diraihnya mendapatkan emas dalam beregu bersama Diah dalam PON XVII di Kaltim. Dalam hari ulang tahun Kota Jakarta 2010 ia mendapatkan Juara III ARM perseorangan. Ia mengaku sudah memunyai pacar. Sang pacar pun diminta mengerti kondisinya sebagai atlet menembak. Kalau ada masalah, ia berusaha mencari jalan keluarnya segera, dan tidak mau persoalan pribadinya memperkuat Jepun Club. Ibu berlarut-larut dan menganggu rumah tangga usia 40 tahun ini konsentrasi berlatih. waktu di SMA, suka bermain bola voli dan lompat jauh. Tugas Budi Astiti dalam Jepun Club sebagai back. Sebagai pemanasan dalam berlatih, pemain diharuskan berlari keliling lapangan dua kali. “Lumayan capek. Waktu pertama berlatih kaki rasanya sakit luar biasa. Tetapi, lama kelamaan jadi terbiasa,” tuturnya. Sementara itu, Kadek Ariani, ibu dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi ini menyatakan tidak pernah mimpi menjadi pemain sepak bola. Ia mendapat tugas sebagai penyerang. “Memang, saya suka senam aerobik. Tetapi, bermain sepak bola tidak pernah,” akunya. Setelah tiga kali berlatih, ia mengaku baru bisa mengenali teknik pertandingan. Perempuan usia 35 tahun ini mengaku baru bisa mengoper bola setelah berlatih berkali-kali. Tetapi, menurutnya, kesukaannya bersenam aerobik menjadi modal napasnya tidak ngos-ngosan saat di lapangan. I Nyoman Sukajaya menuturkan, kalau memang bisa eksis, ia ingin terus mengembangkan kegiatan tim Jepun Club ini. –ast

Jika Ibu-ibu PKK Main Bola

Budi Astiti

Perbakin Gagas Program 1000 Pelajar

Sukajaya

Biasanya menjelang pertandingan, ia melakukan relaksasi ke salon dan jalan-jalan bersama teman-temannya. “Agar lebih santai dan tidak tegang,” kata Pramita. Putri pasangan Nengah Siam Kastawan dan Gst. Ayu Putu Sari Ningsih ini awal mulanya sempat diolok-olok kakak laki-lakinya. “Biasanya perempuan takut dengar suara tembakan. Kok ini berani. Ajari kakak menembak juga,” ujarnya mengutip olokan kakaknya itu. Pramita menawakan sang kakak untuk ikut ke lapangan. Namun, sesampainya di lapangan, kakaknya mengurungkan niatnya karena merasa takut mendengar suara tembakan. “Sejak itu, saya tidak diledek lagi. Apalagi beberapa prestasi sudah saya capai. Keluarga bangga pada saya,” puan yang akrab disapa Manik ujarnya sumringah. ini. Atlet yang dalam kondisi hamil, kata dia, biasanya cuti Minim Peminat Menurut Humas Perbakin dan hanya melakukan pelatihan Bali Nyoman Sri Mudani, S.H. kering di rumah. Ia menilai, peminat meatlet yang berlatih di lapangan diperkenankan membawa senja- nembak di kalangan generasi ta ke rumah dengan persetujuan muda khususnya perempuan induk organisasi. “Senjata angin masih minim. Dengan prodapat dibawa pulang untuk gram 1000 pelajar yang digelar pelatihan kering di rumah tanpa Perbakin, ia berharap, akan peluru. Mereka biasanya ber- ditemukan atlet muda menemlatih bagaimana cara memegang bak khususnya perempuan. senjata dan posisi berdiri dan Sebagai apreasiasi pemerintah membidik sasaran,” kata perem- kepada atlet berprestasi, Diah

tkh/ast

Diah Pramesti dengan senjata andalan

dan Pramita yang berhasil mendapatkan emas dalam PON di Kaltim diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di Disdikpora Provinsi Bali. Mereka juga menerima uang pembinaan. Manik berharap, para pengusaha ikut memberi kontribusi dengan menjadi bapak angkat agar pembinaan atlet berkesinambungan. “Apalagi menembak merupakan olahraga unggulan Bali,” katanya. –ast


PENDIDIKAN

Kutemukan Diriku Kembali Lewat Pancaran Mata Ibu Penting bagi yang Merasa Putus Asa

AYA tidak pernah tahu orangtua saya. Mereka meninggal saat saya masih bayi. Tetapi, ketika Ibu (Prof. Suryanired) meminta kami untuk merasakan kehadiran ibu kandung dan masuk ke dalam matanya, saya merasa bergetar seperti ada yang menarik saya. Saya bisa merasakan kehadiran ibu kandung saya. Padahal saya tidak tahu wajah ibu saya,” ungkap perempuan berumur yang mengikuti workshop Buku Menembus Pancaran Mata Ibu-Kutemukan Diriku Kembali tulisan Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp. KJ. (K) dan dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp. KJ. di Wantilan DPRD Bali Sabtu (21/8). Seorang peserta lain mengungkapkan ketakmampuannya menghadirkan sosok ibu kandungnya. “Saya merasakan kebencian mendalam pada ibu saya. Sejak kecil saya selalu mendapat siksaannya. Setelah saya telusuri ternyata dulu ibu saya juga mendapat perlakuan sama dari orangtuanya,” ujarnya. Laki-laki paruh baya itu juga mengakui sempat nundung (mengusir) ibunya dari rumah. Setelah merasa sangat berdosa, ia akhirnya meminta maaf kepada ibunya. “Jika dalam kehidupan seseorang melakukan tindak kekerasan, mudah marah pada istri/suami/anak-anaknya, melakukan pemerkosaan, dll. berarti ada ‘sesuatu’ dengan masa lalunya. Dan, itu erat kaitannya dengan orangtua kita,” ujar Suryani yang saban Sabtu sore tak mengajak masyarakat umum melakukan meditasi di Wantilan DPRD Bali ini. Sukses tidaknya seorang anak dalam kehidupannya, seperti yang dipaparkan dalam buku kecil setebal 96 halaman ini, ditentukan proses yang terjadi dalam kandungan ibu yang erat hubungannya dengan kondisi fisik, mental, dan spiritual ibu. Demikian pula dalam proses bagaimana anak itu dilahirkan sangat dipengaruhi kondisi ibu. Suami, lingkungan, dan Tuhan, hanya sebatas memengaruhinya, dan bagaimana pengaruhnya itu sangat ditentukan ibu yang bersangkutan. Seperti keadaan tak nyaman pertama yang dialami janin setelah lahir dengan menangis, dapat diatasi dengan menghisap susu ibunya yang memberikan kenyamanan. Anak mulai merasakan kasih sayang, cinta, dan perasaan dihargai serta kehadirannya memang diharapkan ibunya. Semua ini memberikan memori dasar dalam mengembangkan mental anak untuk menghadapi kehidupan ini. Dijelaskan pula, manusia terdiri atas fisik, mental, dan spirit. Spirit merupakan gabungan energi ibu, energi bapak, dan energi Tuhan yang terbentuk sejak terjadinya konsepsi yang merupakan sumber kehidupan, sumber pengetahuan, dan sumber kemampuan manusia. Saat spirit terbentuk, sudah mulai terjadi komunikasi antara spirit individu atau roh/atma atau apalah namanya dengan ibu dan bapaknya serta dengan

I K L A N C A N T I K

Tuhan. Hubungan energi antara empat komponen ini, yakni energi ibu, energi bapak, spirit individu dan Tuhan, bisa berjalan dengan baik, jika ibu dan bapaknya menyediakan situasi spiritual. Suryani mengatakan, jika seseorang merasa putus asa dan sudah tak memiliki jalan dalam menghadapi masalah hidupnya, bisa mencoba metode ini yakni menembus pancaran mata ibu. “Mohon pada Tuhan untuk bisa bertemu ibu kandung. Dengan syarat di alam bawah sadar harus bisa menerima ibunya apa adanya: Bahwa ibunya adalah orang yang penting, menghargai ibu sebagai orang yang sangat berperan penting dalam kehidupannya dan merupakan bagian dirinya. Tetapi, jika masih ada rasa dendam, jengkel, marah, tak mungkin bisa masuk ke mata ibu,” ujarnya. Ide memasuki pancaran mata ibu dan menggunakan energi ibu yang merupakan bagian diri pribadi muncul saat adik Suryani mengalami kebingungan luar biasa, tidak tahu apa yang harus dilakukan karena semua usahanya mentok. Melalui telepon, Suryani meminta adiknya yang berada di luar negeri itu meditasi dan setelah itu memohon kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan ibu kandungnya. Setelah merasakan berhadapan dengan ibu kandungnya, Suryani meminta ia merasakan mata ibunya dan masuk lebih dalam sampai energi ibunya menghidupkan kembali energi

Luh Ketut Suryani

Cok Bagus Jaya Lesmana

yang ada dalam dirinya. Proses ini dapat diulang sewaktu-waktu saat energi diri mulai memudar, saat tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam mencapai kebahagiaan hidup. Ibu dalam pancaran matanya yang menatap dengan keheningan, cinta kasih,

dan semangat yang tak pernah pudar memberikan kekuatan baru untuk hidup lebih bersemangat, lebih bergairah, lebih menerima dan pasrah. Semua sudah diatur Tuhan. Tergantung kemampuan kita memilih yang terbaik untuk dijalani. —ten

Buku ‘Menembus Pancaran Mata Ibu-Kutemukan Diriku Kembali’

12 - 18 September 2010 Tokoh 5

I Made Kartawan, S.Sn., M.Si.

Lolos Program Magang Tuning System di Jepang instrumen gamelan sangat Dosen ISI Denpasar penting dalam menopang ini memiliki kompetensi para musisi menciptakan secukup membanggakan. buah karya,” jelas mantan Tak hanya kemampuan staf honorer Bidang Kesra akademiknya yang teruji, Pemkot Denpasar ini. tetapi keahliannya di bidang tuning system Dengan meningkat(melaras instrumen ganya kualitas bidang pemelan-red) mengantarkan larasan, ayah dua anak ini dosen muda ini, lolos daberobsesi untuk lebih lam program magang di memasyarakatkan ilmu ini Kunitachi Music Acadkarena dilihat dari orienemy, Tokyo, Jepang. tasi ekonomi, cukup prospektif. “Ilmu ini memang Kartawan (37), adamasih langka dan tidak lah figur yang dinilai tesetiap orang mau dan pat oleh ISI Denpasar mampu memahami penmengikuti magang selatingnya keahlian ini. ma 2 bulan mulai 15 SepPadahal kalau mau, petember hingga 15 Noluangnya sangat bagus, vember 2010. Program baik di dalam maupun luar magang itu sendiri menegeri,” urai lelaki asal rupakan implementasi Sidakarya, Denpasar dari program hibah ISelatan ini. MHERE yang dimenangI Made Kartawan, S.Sn., M.Si. kan ISI Denpasar. JuMenurut pengagum rusan yang memenangmaestro karawitan Bali I kan hibah adalah Karawitan dan Kriya. Wayan Beratha ini, dalam orientasi ekonomi, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan jurusan seniman seharusnya tak hanya bergantung pada Karawitan ini layak mewakili lembaga seni hasil karya saja tetapi memiliki kegiatan lain terdepan di Asia ini karena kompetensinya di yang mampu menunjang karya-karyanya. bidang Methodology Tuning System, sangat “Menciptakan karya lagu, idealnya memahami diperlukan. Keberangkatannya diharapkan tak pelarasan atau tuning system instrumen hanya meningkatkan kualitas kompetensinya musiknya. Jadi ada satu kesatuan yang apik dan sendiri tetapi juga mampu menemukan hal-hal harmonis sehingga karya yang dihasilkan adalah baru yang dapat disumbangkan untuk lembaga, karya yang bermutu dan bernilai seni tinggi. Saya ingin berbagi keahlian ini pada mahasiswa seniman dan masyarakat Bali. “Bagi saya ini lebih merupakan tantangan karawitan,” janjinya. untuk meningkatkan kualitas kompetensi saya di bidang tuning system,” ujar suami Ni Made Sarat Penghargaan Supeni ini. Kartawan yang mengabdi sejak Pengajar mata kuliah Akustika dan tahun 2003 ini bersyukur mendapat kesempatan Organologi ini memang tergolong dosen aktif berharga tersebut. Baginya, tak semua orang dalam menularkan sekaligus menimba ilmu. bisa mendapatkan kesempatan ini. Pengalamannya di luar negeri sebagai duta seni Untuk ikut program magang, Sekretaris maupun magang dan belajar, cukup panjang. LP2M ISI Denpasar ini mengatakan syaratnya Beberapa negara itu antara lain, Malaysia, harus lolos seleksi dan sesuai persetujuan di Jepang, Jerman, Swiss, Denmark, Belgia, Italia, antaranya dari Rektor ISI Denpasar, Direktur Amerika Serikat, dll. DGHE-IU Jakarta, Direktorat Ketenagaan dan Penghargaan internasional yang diraihnya Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian adalah memproduksi gamelan untuk University Pendidikan Nasional, dan Sekretariat Negara. of Illinois, mengajar dan melaras gamelan di Di mata Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Swarthmore College dan Shenandoah UniverWayan Rai S, M.A, Kartawan adalah salah satu sity serta untuk grup gamelan Mitra Kusuma di dosen ISI yang prospektif. Sebagai dosen Washington DC, workshop dan mengajar di karawitan, dia memiliki kemampuan teknis yang University of Maryland, sebagai visiting artist baik. “Dia penabuh dan komposer yang andal di Cornell University, Amerika Serikat dan di di samping wawasan keilmuannya bagus. Easmont School Music. Juga meraih pengKartawan juga seorang pelaras gamelan yang hargaan untuk kegiatan mengajar serta magang sudah dikenal masyarakat,” ujar Prof. Rai. di Embassy of The Republic of Indonesia di Washington DC. Penghargaan ini diraihnya hanya dalam kurun 2007-2008. Berbagi Keahlian Dalam berkarya pun, dosen energik ini mampu Tuning system (pelarasan gamelan Bali), tutur pemilik UD. Cendana Suci ini, adalah ilmu/kemam- menciptakan beberapa karya berkualitas, baik secara puan untuk meneliti/mengkaji keselarasan instrumen kelompok maupun mandiri sejak 2001 sampai musik atau secara spesifik gamelan Bali. “Pelarasan sekarang. Launching album ’Tabuh-tabuh ini sangat penting dalam sebuah karya musik Bali. Baleganjur’ dengan Bali Record, menata kreasi Bisa dibayangkan jika lagu yang diciptakan seni- Baleganjur ’Yowana Lalita’ sebagai predikat terbaik mannya bagus, penabuhnya atau musisinya bagus di Denpasar adalah sedikit dari puluhan karya namun pelarasan instrumennya atau suara gamelan mandirinya. Bagi Kartawan, apa yang ditekuninya tak bagus, tentu tidak akan dapat menghasilkan per- merupakan bentuk pengabdian dan sumbangsih tunjukan karya seni yang maksimal. Pelarasan pada untuk almamaternya. —ari

Krishna - Ganesha – Bhagawad Gita Bulan September ini, adalah bulan suci bagi 1 miliar umat Hindu di seluruh dunia termasuk Hindu di Bali. Dua hari raya besar sedang diperingati yakni Hari Kelahiran Maha Awatara Sri Krishna (3 September) dan Hari Kelahiran Dewa Ganesha (12 September). Suasana cukup meriah, mungkin karena jagat Nusantara sedang menggandrungi serial kartun Little Krishna dan Ganesha yang ditayangkan di TPI. Jadi makin banyak orang Indonesia merasa tercerahkan dengan adanya serial tersebut. Dan, bagi sebagian intelektual dunia, Krisha dan Ganesha mempunyai peran penting dalam ilmu pengetahuan, kenapa? Karena jika kita bicara tentang Krishna dan Ganesha, maka kita akan berbicara mengenai Hindu sebagai agama tertua di alam semesta. Krishna adalah satu dari sepuluh Awatara Wisnu, tetapi dalam Weda, hanya Krishna sendiri yang disebut Maha Awatara, karena ada campur tangan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau dalam bahasa Weda sebut sebagai Param Brahman (Tuhan) yang ikut mewujud sebagai personifikasi Krishna. Keistimewaan Maha Awatara Krishna karena melahirkan ajaran ilmu pengetahuan tertinggi yakni “Bhagawad-Gita”, kumpulan dialog spiritual dengan Arjuna di Kurukshetra. Maka sejak itu Bhagawad-Gita menjadi Kitab Suci Pemersatu Hindu Dunia. Lalu, sosok Ganesha adalah figur dewata pengetahuan, karena perannya sebagai penulis dari Catur Weda ketika Maharsi Wyasa menerima wahyu dari Tuhan dan Ganesha dengan bantuan taringnya menuliskan wahyu–wahyu tersebut. Akibatnya ribuan perguruan, sekolah dan universitas di negara–negara Hindu menggunakan Ganesha sebagai lambang intelektual termasuk di Indonesia. Tetapi, tampaknya umat Hindu di Nusantara masih belum familiar dengan perayaan Hari Kelahiran Ganesha, padahal dalam purana disebutkan bahwa peran Saraswati, Laksmi dan Ganesha adalah Tri Tunggal yang tidak bisa dipisahkan dalam menyebarkan ilmu

pengetahuan. Maka,saya menyambut baik komunitas Siwa Budha di Bali merayakan Ganesha Caturthi sejak tahun 2007 di Pura Jagatnatha Denpasar dengan tema budaya Bali. Sungguh bahagia melihat komponen Hindu Nusantara bersatu padu dengan landasan Pancasila. Selaku Rektor, tentu saya wajib mendukung ide–ide revolusioner yang digagas oleh generasi muda. Terlebih, mengadakan perayaan hari kelahiran Sri Krishna dan Dewa Ganesha yang merupakan simbol dari ilmu pengetahuan adalah wujud penghormatan pada semesta. Simaklah sloka Bhagawad-Gita ketika Sri Krishna menasihati Arjuna, satusatunya yadnya tertinggi di zaman kaliyuga adalah Jnana Yadnya (Yadnya Ilmu Pengetahuan ) dan umat manusia diharap untuk menjadi kaum Ksatria Ilmu Pengetahuan, Jnana Yajnah Paramtapa (BG IV-33). Ada dua contoh sejarah yang selalu saya jadikan pegangan untuk mencintai Bhagawad-Gita dan Sang Maha Awatara. Pertama, pengakuan Bung Karno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams dari Amerika Serikat, yang menyatakan Bung Karno termasuk seorang waisnawa (penganut ajaran Wisnu). Walau Bung Karno seorang Islam, ia mengaku sejak zaman perjuangan hingga kemerdekaan Bung Karno disiplin membaca Bhagawad-Gita dari A sampai Z sebanyak lima kali dalam hidupnya. Maka tak heran,karena kegemarannya membaca Weda, Bung Karno berhasil meletakkan dasa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Semboyan Negara, Semboyan Militer,Gelar-Gelar Kepahlawanan yang diadopsi dari ajaran leluhur Hindu. Kedua, tidak banyak yang tahu dalam Babad Bali, salah satu Raja Bali yang berstana di Klungkung, Ida Betara Sri Aji Kresna Kepakisan dengan bangga menyematkan nama Kresna dalam gelar abhisekanya. Ini berarti, leluhur orang Bali adalah penganut Wisnu yang taat. Jadi jika leluhur Indonesia saja sangat bangga dengan Krishna dan selalu membaca Bhagawad-Gita, kenapa kita tidak ?

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

S A L O N

&

S PA


6

Tokoh

NUSANTARA

12 - 18 September 2010

Teknologi Canggih Memudahkan Belajar Alquran TEKNOLOGI canggih telah memudahkan orang belajar membaca Alquran. Ada Alquran talking book, ada pula digital Alquran player. embaca Alquran talking book tidak perlu takut salah. Alatnya tak hanya bisa dipakai untuk belajar membaca Alquran, melainkan juga bukubuku lain seperti ilmu pengetahuan apa saja yang berlabel ‘talking book’. Satu buku memakai satu memori,” kata Juli Yastini, Sales Counter Readboy Gramedia Denpasar. Ia menuturkan, cara kerja talking book cukup sederhana, karena dilengkapi memori dan pena elektronik. “Dengan pena ini, orang tinggal menunjuk

tkh/tin

Juli Yastini menunjukkan model digital Alquran player tipe RDQ-99

bacaan kalimat yang ingin didengarkan, maka akan muncul secara otomatis bunyi bacaan tersebut,” tambahnya. Ada dua jenis talking book yaitu tipe V20 dan V9. Tipe V20 memiliki fitur lebih lengkap daripada V9, yaitu tersedia ka-

mus dengan terjemahan tiga bahasa. Talking book tipe V20 bisa memunculkan judul, sementara tipe standar cuma memakai kode. Menurut Juli, talking book untuk Alquran sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 2005. Di Jakarta peminatnya cukup banyak. Sebab, berbagai kemudahan ditawarkan di dalamnya. “Jika lelah membaca, pembaca tinggal tunjuk kalimatnya dengan pena, otomatis akan muncul suara bacaannya untuk didengarkan,” kata perempuan kelahiran Singaraja, 29 Juli 1991, ini. Ia mengatakan belajar dengan talking book ini sangat efektif. Selain ada guru pengajar otomatis, ada program pelatihan atau tes. “Ada pelatihan soal yang dijawab sang pembaca dengan menunjuk gambar atau huruf yang menjadi jawaban dengan pena. Jika jawaban salah, akan keluar bunyi salah, dan sebaliknya. Sehingga, pem-

Menu Spesial Lebaran

Kare Buntut Bumbu Bali

Kare buntut

DALAM menyambut Lebaran, Jempiring Restaurant Aston Denpasar Hotel menawarkan menu spesial yang khusus disajikan selama bulan September. Menunya berupa main course Kare Buntut beserta nasi dan minuman Pretty Tampak Siring. Kare buntut merupakan menu spesial yang sengaja dirancang khusus

tkh/ast

dengan bumbu khas Bali. Executive Chef Aston Denpasar I Made Jesna mengatakan, buntut biasa disajikan sebagai sup dengan kuah bening. Namun, kare buntut ala Jempiring Restaurant memiliki kekhasan karena memadukan bumbu genep Bali yang terdiri atas beberapa bumbu ditambah

rempah-rempah yang biasa digunakan untuk masakan khas Bali. Untuk membuat buntut sapi menjadi bersih, perebusan pertama memerlukan waktu 3 jam. Kemudian air rebusan dibuang, dan buntut kembali direbus. Agar rasa tidak amis, saat perebusan kedua buntut diberi bumbu merpoa yang merupakan campuran irisan wortel, tomat, daun prei, dan beberapa rempahrempah. Kemudian, ditambahi bumbu kare yang diambil dari bumbu genep Bali. Bumbu genep Bali lebih menonjolkan kunyit yang memberi warna kuning dan rasa khas bumbu Bali. Untuk membuat buntut menjadi empuk, diungkep dengan sedikit air, agar bumbu meresap ke dalam buntut. Terakhir diberi santan. Penyajian kare buntut ini sangat spesial menggunakan ingke (piring dari jalinan bambu) sebagai daya tarik tamu. Sebagai peneman kare,

baca secara otomatis bisa mengukur kemampuan dirinya. Kecepatan suaranya pun bisa diatur,” ujarnya. Selain talking book kini tersedia digital Alquran player. “Kelebihan digital Alquran, ukurannya mungil dengan banyak fitur. Antara lain berisi Alquran 30 juz 114 surat, ada hadist dan tafsir serta doa-doa, pengatur waktu salat, terjemahan dalam 25 bahasa, 17 pilihan hadist dalam teks Arab oleh AlSudais, As-Suraim, Ar-Rifal, dan Al-Ajmi. Digital Alquran ini dilengkapi petunjuk arah kiblat sehingga warga muslim tak akan bingung ketika hendak salat,” katanya. Digital Alquran ini pun bisa dipakai memutar video dan audio MP3, serta bisa menampilkan gambar. “Terdapat beragam tipe, model dan fitur. Tiap tipe punya keunggulan,” katanya. Tipe digital Alquran produk AlMu’allim ini seperti Tipe MTQ110, Tipe Eq-300, Tipe RDQ-66, RDQ-99. “Banyak yang berminat terhadap tipe RDQ-99, karena layarnya warna dan daya tahan pemakaiannya mencapai 10 jam,” ujarnya. —tin disajikan dua sambal yakni sambal terasi dan sambal cabe. Beda dua sambal ini hanya dari tambahan terasi. Satu sambal bahannya cabe dan tomat yang direbus, sedangkan sambal terasi menggunakan bawang dan terasi bakar. Selain sambal, kare buntut disajikan dengan acar dan krupuk. Ia mengatakan, dalam masakan Indonesia, krupuk menjadi suatu keharusan. Sedangkan acar berfungsi sebagai penetral rasa karena kare berkuah santan.

Pretty Tampak Siring

Radinda Ayu Maharatri

Ingin Jadi Guru Bahasa Inggris “Dinda mau kayak itu,” kata bocah perempuan itu kepada ibunya sambil menunjuk ke arah televisi yang saat itu sedang menayangkan fashion show anak-anak. Karena permintaan putri bungsunya itulah akhirnya pemilik nama lengkap Ni Ketut Radinda Ayu Maharatri ini diikutkan les modeling. Pengalaman pertama mengikuti lomba fashion show Busana Casual tahun 2009 di Sanur tak pernah bisa dilupakan bocah kelahiran Singaraja, 2 Oktober 2004 ini. Waktu itu ia mendapat nomor urut 5. Saat waktunya harus tampil berlenggok di panggung, Dinda tak berani muncul. Sampai beberapa nomor terlewati, dan akhirnya Dinda berani muncul setelah penampilan peserta nomor 9. “Habis, Dinda deg-degan. Tetapi, setelah di panggung nggak deg-degan lagi. Soalnya Dinda mau dapat pialanya,” ujar siswi kelas I B SDN 1 Sesetan ini. Di akhir acara, Dinda berhasil menggondol juara favorit. Pengalaman menarik lainnya juga diungkapkan orangtuanya Drs. Ketut Suarjana dan Ni Luh Wisma Heri. Ketika itu Dinda masih bersekolah di TK. Saat mengikuti Lomba Busana Pesta, Dinda tak mau berlaga di panggung. Bukan karena takut atau grogi, tetapi karena musiknya slow. “Dinda nggak mau, musiknya jelek,” ujarnya saat itu. Dengan sedikit rayuan, akhirnya Dinda mau tampil walaupun jalannya agak cepat tak sesuai irama musik. “Dinda senangnya sama musik yang ajeb-ajeb,” ujar ayahnya tersenyum. Juni lalu, Dinda meraih The Best Fotogenik Kategori A yang digelar Pelangi

Nama Ni Ketut Radinda Ayu Maharatri Panggilan Dinda Kelahiran Singaraja, 2 Oktober 2004 Orangtua Drs. Ketut Suarjana/Ni Luh Wisma Heri Saudara (kakak) Ni Putu Ranny Pradipta dan I Made Ryan Dwi Raditya Sekolah Kelas I B SDN 1 Sesetan

Production dan Jak Resto. Saking senangnya, sepanjang perjalanan pulang dengan mobilnya Dinda tak mau melepas genggaman pialanya. “Dinda kuat kok pegangnya,” ujar Dinda pada ibunya. Tak hanya di modeling, adik Ni Putu Ranny Pradipta dan I Made Ryan Dwi Raditya ini juga sempat mengukir prestasi di bidang menari. Beberapa tari Bali sudah dikuasainya yakni Puspanjali, Pendet, Condong, Rejang, dan sekarang ini sedang mempelajari tari Tenun. Satu lagi prestasi Dinda yang cukup membanggakan keluarganya adalah terpilihnya dia sebagai salah seorang model iklan sebuah perusahaan konveksi (baju renang) di Jepang. Dua bulan lalu, Dinda dan beberapa model dari Bali sudah syuting. Rencananya setelah 20 September ini akan ada pengambilan gambar kembali. Ketika ditanya tentang cita-citanya kelak, Dinda yang hobi berenang dan main komputer ini menyebut ingin menjadi guru bahasa Inggris. “Dinda suka aja,” katanya polos. Rupanya, ayahnya sudah membiasakan Dinda berkomunikasi dengan bahasa Inggris. “Yang ringan-ringan saja, seperti greeting, menyebut nama-nama warna, binatang, dll. Basic-nya dari pelajaran dia saja. Yang paling penting saya mengajari membaca dan mengucapkan. Karena saat pengucapan inilah yang sering salah,” ujar Suarjana yang bekerja di bidang pariwisata ini. –ten

Hobi Berenang, fashion show, main komputer Cita-cita Guru Alamat Jalan Tukad Buaji Gg. Lotus No. 14 A Dps. Prestasi Terpilih Juara I Foto Terbaik Fotogenik, Pelangi Production & Jak Resto, 2010; Juara I The Best Ten Lomba Casual Bebas, Mal Bali Galeria, Bali Beauty Nite, 2008; Juara I Lomba Tari Puspanjali, 2008. Pelangi Production: 08980725657, 0361 9173131

IDULFITRI Silaturahmi Menyambung yang Putus

K

ITA sambut Idul Fitri 1431 H tiga hari yang lalu dengan mengumandangkan gema takbir, tahmid dan tahlil yang keluar dari hati yang dalam sebagai ungkapan rasa syukur atas terlaksananya ibadah puasa. Setelah kita melaksanakan ibadah puasa sebagai bentuk pelatihan dan pendidikan diri, tentu akan terkesan dalam diri kita kuatnya rahman dan rahimNya dan kita merasakan kenikmatan lahir dan batin. Lebih dari itu kita merasakan pula kembali pada jati diri, pada nurani, pada fitrah dan kemanusiaan kita. Hidup yang indah adalah hidup yang penuh iman dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Hidup yang dipenuhi saling mendoakan satu sama lain. Para sahabat Nabi SAW setelah selesai salat idulfitri saling menemui sahabatnya dengan menyampaikan doa taqoballahu minna wa minkum, semoga Allah mengabulkan ibadah-ibadah kami dan ibadah Anda. Suasana kedekatan hati, keakraban, kita rasakan setelah menunaikan ibadah puasa dan setelah kita kembali pada jati diri kita. Bapak ibu berpeluk mesra, demikian pula anak-anak, sanak saudara dan handai tolan, dengan hati yang lapang saling berjabat tangan, saling memaafkan sehingga sekat dan jarak tak ada yang membuat kesenjangan yang saling menjauhkan. Yang ada perasaan persau-

daraan kelapangan hati dan saling mempererat tali kasih sayang satu sama lain. Bahkan di hati kita teringat pula dan rindu pada pendahulu yang sudah almarhum atau almarhumah, teringat akan jasa dan kebaikannya pada waktu hidupnya. Karenanya kita menyempatkan diri untuk ziarah ke kuburannya mendoakan dan memohonkan ampunan pada Allah serta mohon kekuatan agar kita bisa melanjutkan dan menyempurnakan cita-cita almarhum dan almarhumah Ibnu Sina dalam kitabnya ‘Al-Irsyrat al-Tanbihat’ melukiskan gambaran seorang yang dengan semangat Allah Akbar, yang dikumandangkan seorang muslim pada hari idulfitri, seperti seorang yang arif yang bebas dari ikatan raganya. Dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi namun yang dari dirinya terdapat sesuatu yang nyata. Ia selalu gembira dan banyak senyum. Betapa sejak ia telah mengenal-Nya hatinya telah terpenuhi kegembiraan. Semangat jiwa yang bersih, lapang dan damai dalam diri seseorang akan menimbulkan dan memperkokoh tali persaudaraan berdasarkan tali kasih sayang dan ketulusan.

Untuk minuman Lebaran disajikan Pretty Tampak Siring. Menurut Ass. Food and Beverage Manager Ferry B.F. Sihotang, minuman ini terbuat dari buah strawberry segar, es krim strawberry, dan jus jeruk. “Ketiga bahan ini diblender untuk menghasilkan minuman yang spesial dengan rasa asam manis. Jeruk yang dipilih jeruk sunkist. Selain untuk mmberi warna juga membuat rasa menjadi lebih segar dan khas ada asam manisnya,” ujarnya. Food & Beverage Director Reiky M. Alfaridzi menambahkan, selama ini orang mengenal appetizer atau hidangan pembuka yang berfungsi sebagai pembangkit nafsu makan dengan salad atau canape. Sebenarnya, kata Reiky, minuman bisa juga dijadikan hidangan pembuka untuk menambah nafsu makan. “Kelenjar di mulut yang mengeluarkan enzim akan

membantu menciptakan rangsangan agar tubuh menjadi berselera untuk makan. Tidak masalah digunakan menu appetizer berupa jus,” jelasnya. Menurut Public Relations Manager Adinda Ashrinintya, menu spesial Lebaran seperti paket ketupat lengkap opor dan gulai tersaji bagi tamu

Rasul ullah mendefinisikan orang yang bersilaturahmi dengan sabdanya: laysa al muwashil bil mukafi walakin almuwashil an tashil man qatha’ak; bukanlah bersilaturahim orang yang membalas kunjung-

H. M. Taufik As’adi, S.Ag.

an atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah menyambung apa yang putus (HR Buchori). Maka rumah tangga kita masing-masing kita jadikan pelabuhan yang aman dan tambatan yang kokoh bagi tiap anggota keluarga: bapak, ibu, anakanak, suatu basis dan tempat yang secara teratur dan harmonis seluruh keluarga berkumpul, berkomunikasi dan memperbincangkan hal-hal yang menjadi tantangan kehidupan ke depan. Jadikan keluarga sebagai satuan kehidupan masyarakat yang terkecil yang memunyai fungsi dan peran yang strategis dalam menumbuhkan kepribadian yang harmonis yang akan menjadi fondasi yang kokoh bagi bangunan masyarakat dan bangsa ke depan. Semoga idulfitri yang kita laksanakan dengan memberikan makna di hati kita masingmasing dan memancarkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin z H. M. Taufik As’adi, S.Ag. Ketua MUI Bali yang menginap selama hari raya Lebaran. Kebanyakan tamu lokal berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang kini membanjiri Aston Denpasar. Kare buntut dan Pretty Tampak Siring menjadi menu andalan Aston Denpasar dalam menyambut Hari Raya Lebaran. —ast

Peneman acar dan krupuk

tkh/ast


12 - 18 September 2010 Tokoh 7

LKP Agung Segera Gelar Uji Kompetensi

200 Beasiswa Uji Kompetensi untuk Bidang Tata Kecantikan Kulit dan Tata Rias Pengantin Bali

Dirjen Pendidikan Non Formal (PNFI) Hamid Muhammad, M. Sc., Ph.D. (kiri) tampak didampingi Kabid. PNFI Kota Denpasar Drs. Nyoman Nada, M.Si. saat meninjau peserta pelatihan di LKP Agung sebelum uji kompetensi berlangsung

SETELAH dipercaya seba gai satu-satunya tempat uji kompetensi (TUK) kecantikan kulit di Bali, TUK Agung yang bernaung di bawah Yayasan Kecantikan Agung kembali dipercaya Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Pusat menjadi tempat uji kompetensi (TUK) tata rias pengantin yang digelar Sabtu (31/7) sampai Minggu (1/8) di Jalan WR Supratman Nomor 303A Tohpati, Denpasar. Hal ini sangat disyukuri pengelolanya, Dra. A.A. Ayu Ketut Agung, M.M. “Dengan dipercayainya kami sebagai penyelenggara uji kompetensi, kami makin bisa meningkatkan kompetensi semua anak didik dan masyarakat luas yang selama ini sudah memiliki keterampilan di bidang tata rias pengantin, termasuk anak-anak lulusan keterampilan terkait di lembaga kursus lainnya,” ujarnya Uji kompetensi adalah pengganti ujian nasional yang sudah tidak ada lagi sejak 2009. Tujuan uji kompetensi tata rias pengantin ini tak lain diperuntukkan bagi mereka yang telah berprofesi sebagai penata rias pengantin makin diakui kemampuannya oleh masyarakat luas. Sehingga, makin terpacu pula untuk memberikan pelayanan yang profesional kepada pengguna jasa. Di tengah kesibukan para peserta didik melakukan pelatihan untuk persiapan uji kompetensi, dikejutkan dengan kehadiran Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D. dan jajarannya. Tamu kehormatan ini menyaksikan secara langsung kegiatan pelatihan tata rias pengantin di LKP Agung di Jalan Anggrek No.12 Denpasar, yang kebetulan instrukturnya adalah

anak-anak kejar paket C yang telah terampil sebagai perias pengantin. Kedatangan Dirjen PNFI ini ke Bali serangkaian Lomba Prestasi Pengelola Kesetaraan se-Indonesia di Sanur. Hamid Muhammad memberi semangat kepada peserta kursus. “Kedatangan Dirjen PNFI di tengah kesibukannya untuk melihat secara langsung kegiatan kursus dan pelatihan ini merupakan suatu kehormatan bagi kami,” ujar Agung. Ia menuturkan Dirjen PNFI telah banyak memberikan dorongan semangat kepada peserta didik. Mereka yang tak sempat mengenyam pendidikan formal diimbau untuk tak berkecil hati. Karena, dengan mengikuti pendidikan nonformal pun mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan mandiri seperti yang telah dilakukan anak-anak kejar paket C di LKP Agung. Bahkan, seorang peserta kejar paket C bernama Kadek Yuniari Sari, karena prestasinya sempat diboyong ke Singapura dalam rangka “Indonesian Today” dan berhasil menyabet juara I dari 26 provinsi peserta. Prestasi ini tentu saja membanggakan Agung. Kepercayaan masyarakat luas ini akan dijaganya dengan baik dan sekaligus menjadikan kesempatan bagi Agung untuk lebih meningkatkan kompetensi lulusan tata rias pengantin baik yang merupakan anak didik LKP Agung maupun lulusan lembaga kursus tata rias pengantin lainnya. “Dengan uji kompetensi ini, peserta akan memiliki legalitas/sertifikat untuk diakui menjadi penata rias profesional,” ujarnya di sela-sela uji kompetensi tata rias pengantin Bali payas agung yang diikuti 57 peserta. “Dari

A.A. Ayu Agung (tengah) diapit Ketua Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Tata Rias Pengantin Pusat Dra. Suyatmi Harun (kiri) dan sekretarisnya, Irein Ibrahim, bersama 57 peserta uji kompetensi tata rias pengantin

57 peserta yang ikut uji kompetensi ini, semua dinyatakan lulus,” ujar Agung. Ia menambahkan, di bidang tata rias ini tak sedikit anak didiknya berkesempatan merias kalangan pejabat pusat dan daerah, maupun kalangan selebritis lokal dan nasional. Ini amat dibanggakan dan disyukurinya karena anak didiknya telah mampu menunjukkan kemampuan mereka sebagai

penata rias profesional, di samping minimal bermanfaat juga bagi diri mereka. Eksistensi LKP Agung dalam bidang tata rias tak diragukan lagi. LKP ini juga kerap bekerja sama dengan pihak lain untuk mengadakan kursus tata rias. Salah satunya pihak yang diajak bekerja sama tersebut, adalah Tim Penggerak PKK Kota Denpasar. Kerja sama ini telah terlaksana

belum lama ini. Tak mengherankan jika kepercayaan demi kepercayaan diberikan kepada LKP ini. Melihat kesuksesan pelaksanaan uji kompetensi tata rias pengantin itu, Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Dirjen PNFI Kementerian Pendidikan Nasional, melalui Kepala Sub. Direkrorat (Kasubdit) Peningkatan Mutu Kursus Drs. H. Yusuf Muhy-

iddin, M.Pd. memberikan 200 beasiswa masing-masing Rp 300 ribu bagi mereka yang belum dan ingin memiliki sertifikasi uji kompetensi di bidang tata kecantikan kulit dan tata rias pengantin Bali. Bantuan sebesar Rp 300 ribu itu dialokasikan untuk biaya uji kompetensi, konsumsi peserta dan model, akomodasi penguji termasuk penginapan serta transportasi Denpasar-Jakarta

(PP). Mengingat, jumlah penguji tata kecantikan di Bali belum mencukupi, hanya ada tiga orang. Uji kompetensi ini akan digelar di LKP Agung, 25-27 September 2010 untuk tata rias pengantin Bali sebanyak 100 peserta dan 100 peserta lainnya untuk bidang tata kecantikan kulit, 1-3 Oktober 2010. Uji kompetensi ini dibagi menjadi tiga angkatan, yakni dibatasi 35 peserta per harinya. —ten

Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Bidang Tata Rias Pengantin Bali yang digelar LKP Agung bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kota Denpasar dan Disdikpora Provinsi Bali belum lama ini. Tampak Agung mendemontrasikan cara membuat tengkuluk lelunakan saat acara pembukaan disaksikan Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantra


8

Tokoh

MEMBANGUN DARI DESA

12 - 18 September 2010

Geliat Simantri di Buleleng diterapkan di 16 desa di 7 kecamatan diharapkan menjadi media belajar yang menumbuhkan semangat dan inovasi bagi masyarakat untuk kembali melirik sektor pertanian. “Sektor pertanian saat ini menjanjikan dari sudut pandang peningkatan ekonomi masyarakat. Perlu motivasi di kalangan masyarakat untuk mengoptimalkan potensinya,” kata Merthajiwa. Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng telah mengupayakan berbagai upaya yaitu melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mengembangkan induk produktif dan penggemukan sapi jantan. “Pengembangan populasi ternak akan terus diupayakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan khusus di daerah kering sudah dioptimalkan dengan program integrasi pertanian,” jelas Merthajiwa. Integrasinya melalui pengolahan limbah pertanian dan sampah pasar menjadi pakan ternak sapi, selain pengembangan rumput gajah sebagai pakan sapi. “Yang terjadi selama ini, saat musim kemarau di daerah kering, masyarakat menjual sapinya karena sulit mencari rumput atau pakan lainnya. Harga jualnya rendah. Sebenarnya ketersediaan pakan ternak mencukupi kebutuhan ternak sapi di Buleleng. Tahun ini beberapa kelompok ternak telah dilatih untuk memanfaatkan limbah perkebunan dan

tkh/put

POPULAI ternak sapi di Buleleng meningkat. Data Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng menyebutkan, tahun 2005 jumlah ternak sapi 121. 276 ekor, tahun 2008 146. 631 ekor. Pengembangan induk produktif terus ditingkatkan dengan memperbanyak sapi betina dan penggemukan sapi jantan. Pengembangannya melalui sistem pertanian terintegrasi (simantri).

Drh. Gede Arya Citra

Ir. Putu Merthajiwa

ampah organik diolah menjadi pakan ter nak, limbah ternak diolah kembali menjadi pupuk organik dan biogas. Geliat simantri ini diharapkan mampu mengurangi penganggur perdesaan dan meningkatkan kelestarian lingkungan. “Pertanian yang terintegrasi akan mampu menciptakan sanitasi desa yang bersih

berkat pengolahan sampah yang baik. Semua desa di Buleleng diarahkan menuju desa bersih dengan pengolahan sampah organik sehingga menghasilkan produk pertanian organik dan aman dikonsumsi masyarakat,” kata Ir. Putu Merthajiwa, Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Buleleng. Program Simantri yang

S

Tape Jerami bisa Tahan Setahun pertanian untuk diolah menjadi pakan ternak,” ujar drh. Gede Arya Citra, Kepela Seksi Pakan Ternak Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng. Dari 27 kelompok ternak di Buleleng, 12 kelompok yang menjadi sasaran penerima kegiatan pengembangan usaha pertanian terintegrasi tahun ini. Kelompok ini tersebar di 6 kecamatan yaitu Gerokgak, Busungbiu, Seririt, Banjar, Sawan, dan Kubutambahan. Salah satu limbah pertanian yang diolah sebagai pakan sapi, jerami. Jerami dapat diolah menjadi tape jerami dengan kandungan protein yang baik untuk sapi. “Setelah diolah menjadi tape jerami dapat disimpan dan daya tahannya hingga setahun. Jadi, masyarakat tak perlu khawatir jika musim kemarau tiba karena bisa memanfaatkan pakan tape jerami,” jelas Gede Arya. Tape jerami juga dapat dikombinasikan dengan pakan lainnya untuk menambah asupan protein sapi seperti olahan kulit kacang, kulit kakao, kulit kopi, dan limbah organik lainnya sesuai potensi desa. —put

Kelompok Niki Sato Sanggalangit

Ketut Wijana

KELOMPOK ternak sapi di Buleleng yang telah mengukir prestasi dan mewakili Bali ke tingkat nasional beberapa pekan lalu adalah Kelompok Niki Sato. Perjuangan dan upaya anggota kelompok untuk menyejahterakan anggota dengan menciptakan lapangan kerja membuat kelompok ternak yang berlokasi di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak (40 km dari kota Singaraja) ini menjadi contoh warga lainnya untuk membentuk kelompok ternak. Kelompok Niki Sato selain mengembangkan populasi ternak sapi juga memanfaatkan dan mengolah limbah ternak sapi menjadi produk yang bernilai ekonomi. Limbah ternak sapi oleh beberapa anggota juga digunakan sebagai biogas untuk memasak tiap hari. “Kami memiliki visi mengembangkan pertanian di lahan kering yang berwawasan ekologis. Nama Niki Sato kami sepakati sebagai upaya untuk memelihara binatang berkaki empat,” jelas Ketut Wijana, S.Pd, Ketua Kelompok Niki Sato. Niki Sato terbentuk tahun 2003 dengan beranggotakan 28 orang. “Awal terbentuk memang sulit untuk mengubah

pola pikir masyarakat dan mengajak mereka tergabung dalam kelompok. Setelah Niki Sato terbentuk, syukurlah warga yang lain juga termotivasi untuk membentuk kelompok-kelompok tani,” tambah Wijana. Pembentukan kelompok menurut Wijana mempermudah proses pembinaan dari petugas, mempercepat proses berproduksi yang berdampak pada peningkatan pendapatan anggota dan utamanya penggalangan kerja sama dan peningkatan rasa persaudaraan antaranggota. Hingga saat ini, sapi milik kelompok Niki Sato 290 ekor dengan jumlah populasi kelompok 636 ekor selama periode tiga tahun terakhir. Upaya anggota kelompok untuk mengembangkan sumber daya manusia dan peningkatan taraf perekonomian membuahkan hasil. Aset kelompok dan bentuk inventaris per 31 Desember 2010 terhitung RP 348.128.000 dan modal bergerak senilai Rp 502. 472. 840. Tiap anggota membayar Rp 1000 per bulan dengan simpanan pokok Rp 10.000 per bulan. Pendapatan kelompok berasal dari pertokoan kelompok, koperasi kelompok, hasil bagi usaha ternak, serta pengolahan

DALAM penelitian epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara kejadian kanker dan makanan. Hal ini menyebabkan timbulnya pemikiran bahwa dalam makanan tertentu terkandung bahan yang dapat mencegah terjadinya penyakit kanker. Salah satunya, umbi ubi jalar ungu yang mengandung antioksidan yang berupa zat antosianin. Ubi jalar ungu selain dibuat ekstrak juga sudah dibuat dalam bentuk sirup (imo syrup) dan wine (sweet wine), yang mengandung zat aktiosidan berupa antosionin (zat warna ungu alami ) sebanyak 0,6 – 0,8 mcg/ml. Berdasarkan hasil penelitian Laboratorium Farmakologi FK Unud sejak tahun 2005 deketahui bahwa ekstrak ubi jalar ungu dapat menurunkan kadar MDA (malondialdehine) dalam darah dan organ tubuh seperti hati, jantung dan usus mencit. Artinya memiliki aktivitas antioksidan cukup tinggi. Kedua, dapat menghambat pertumbuhan sel–sel kanker payudara dan sel kanker leher rahim (servik). Ketiga, ubi jalar ungu dapat menurunkan kadar kolesterol dan asam urat. Keempat, ubi ungu dapat menurunkan tekanan darah, sehingga dapat mencegah penyakit stroke akibat tekanan darah tinggi. Namun, jika mengomsumsi ekstrak ubi ungu ini tidak dianjurakan bagi penderita penyakit diabetes, mengalami tekanan darah rendah, serta khusus untuk sweet wine, dilarang untuk wanita hamil dan usia di bawah 21 tahun. Apa yang dimaksud zat antioksidan? Antioksidan adalah bahan yang menangkap elektron bebas yang dilepaskan radikal bebas tanpa menyebabkan instabilitas pada melekul, sehingga dapat mengurangi kerusakan DNA. Manohara Mahenjaya, Bangli (Berkomentar lewat telepon) Ubi ungu diproduksi di Bangli. Bukan hanya ubi ungu jalar yang berasal dari Bangli melainkan loloh cem-ceman juga. Ini sudah diturunkan dari jaman leluhur kita terdahulu, berupa obat-obatan dari dedaunan dan umbiumbian. Dapat kita lihat contohnya yaitu orang-orang tua yang sampai bungkuk pun masih tetap sehat, berbeda dengan apa yang dikonsumsi orang di kota yang serba canggih. Orang kota sering mengonsumsi makanan cepat saji. Sedangkan orang desa mengonsumsi yang dari alam berupa dedaunan karena akan terasa lebih segar. Bukannya apa-apa tetapi kita harus bersyukur pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa karena kita akan diberikan umur yang panjang dengan cara mengonsumsi makanan-makanan yang diwariskan leluhur kita. Gubernur Made

Mangku Pastika pun memproklamirkan pemakaian pupuk organik dan kita harus mendukung untuk menciptakan Bali hijau. Jika kita sudah melihat rumput atau tanaman hijau, pikiran kita akan menjadi tenang. Lain ketika kita berdiri di kota, yang akan kita temukan yaitu tanaman padi beton dan alangkah panas dan pengapnya. Apalagi situasi yang sekarang ini serba panas. Untuk itu, mari kita lestarikan pertaniaan karena bertani itu merupakan perbuatan yang luhur. Alfa, Ciungwanara (Bertanya lewat telepon ) Apa perbedaan ubi ungu dengan ubi biasa? Apa yang menyebabkan jika kita terlalu banyak mengonsumsi ubi, kita sering buang gas? Penyakit kanker itu merupakan penyakit yang mematikan nomor dua di dunia. Apakah ada sosialisai dari Pemerintah Provinsi Bali, agar untuk ke depannya Bali bebas dari penyakit kanker? Jawaban: Perbedaan ubi jalar ungu dengan ubi yang biasa yaitu umbi ungu jalar ungu mengandung antosianin (zat warna ungu alami) yang lebih tinggi. Ini bersifat sebagai antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas penyebab penyakit kanker itu. Yang menyebabkan kita sering membuang gas setelah mengonsumsi ubi yaitu disebabkan reaksi pencernaan dan buang gas itu berguna untuk melancarkan pencernaan. Pemerintah sudah meyosialisasikan karena itu sudah merupakan hasil penelitian di Badan Perncanaan Pembanguan Daerah Provinsi Bali. Adakah makanan selain ubi jalar ungu yang mengandung zat antioksidan? Selain ubi jalar ungu yang banyak mengandung antioksidan, contohnya strowbery, dan strowbery ini juga mengandung antosionin. Asupan makanan yang mengandung antioksidan contohnya tempe, alpukat (V.E), dan tauge. Kalau untuk kesuburan, misalnya pepaya, jeruk, jambu biji dan buah ini juga dapat menangkal virus DHF. Kemudian yang banyak mengandung vitamin A yaitu wortel, tomat, dan pisang raja, ini juga banyak mengandung antioksidan. Narasumber: Dra. I. G. A. Sukartini Adnyana, Apt., M.Kes. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Bali

tkh/put

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini:

Biogas dari limbah ternak sapi

limbah padat dan cair ternak sapi. Limbah padat dan cair dari ternak sapi dimanfaatkan sebagai pupuk bokasi, bio urine, dan biogas. Niki Sato mendapat pembinaan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Buleleng dan BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kabupaten Buleleng. Daya produksi pemanfaatan limbahnya 200 ton per tahun. “Pemasarannya melalui pedagang dan dari mulut ke mulut. Tiap hari ada saja warga yang membeli pupuk untuk kebutuhan lahan pertanian maupun untuk tanaman hias. Pengelola hotel dan vila juga memanfaatkan pupuk bokasi dan bio urine,” kata Wijana. Kelompok Niki Sato saat ini telah menyiapkan pesanan 40 ton pupuk dari petani Kabupaten Karangasem. Pemanfaatan limbah padat dan cair untuk biogas diakui Wijana produktif. “Jika untuk masak dalam kapasitas rumah tangga, pemanfaatan biogas produktif. Jika satu rumah tangga memiliki 3 ekor sapi, sudah cukup membuat biogas

sebagai bahan bakar untuk memasak,” ucap Wijana. Kendalanya, pembelian alat-alat penunjang biogas yang tak terjangkau warga. Hingga saat ini hanya 4 warga yang menggunakan bahan bakar dari hasil biogas limbah ternak sapi. Itu pun dipandang berbahaya karena instalasinya masih sederhana yaitu menggunakan bahan plastik. “Juga, rawan bocor karena hanya terbuat dari plastik,” tambah Wijana. Tak sulit untuk mencari pakan sapi di daerah kering. Kelompok Niki Sato telah memiliki pabrik pakan mini yang mengolah limbah pertanian menjadi pakan ternak. Limbah pertanian yang diolah yaitu kulit kacang menjadi pakan ternak sapi dan babi. Hasil olahan limbah pertanian juga bernilai ekonomis. “Sedapat mungkin, jangan ada limbah organik yang terbuang selama masih bisa dimanfaatkan, akan kami upayakan,” ucap Wijana. Kelompok Niki Sato telah mengasuransikan anggotanya, asuransi jiwa. Keunggulan, potensi dan motivasi kelompok mengembangkan diri dan lingkungannya, mengantarkan kelompok Niki Sato ke tingkat nasional mewakili Bali tahun ini. Sebelumnya, berbagai penghargaan tingkat Provinsi Bali telah diraih seperti juara I Kelompok Terbaik Tingkat Provinsi Bali, Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Provinsi Bali, Juara III Koperasi Tani Tingkat Provinsi, dan penghargaan Ikatan Senat Mahasiswa Peternak Indonesia.—put

tkh/put

tkh/put

Manfaatkan Limbah Padat dan Cair Ternak Sapi sebagai Pupuk, Bio Urine dan Biogas

DARI DESA KE DESA Ubi dan Buah yang bisa Mencegah Kanker

Pabrik pakan mini

RRI Denpasar: SMS 081 337 337 586; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita


MEMBANGUN DARI DESA

12 - 18 September 2010 Tokoh 9

Simantri, Sebuah Model Revitalisasi Pertanian SEJAK digulirkannya program pertanian terintegrasi tahun 2009 yang sekarang disebut Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi), pembangunan pertanian Bali telah memasuki era baru. Gagasan Simantri berawal dari obsesi Gubernur Bali Made Mangku Pastika untuk menjadikan pertanian di Bali berorientasi pada produk organik. Sebuah gagasan besar, sekaligus tidak sederhana dan memerlukan proses panjang, tetapi memang penting untuk dimulai.

U

ntuk menghasilkan produk organik, tentu diperlukan sarana produksi (pupuk, pestisida, dan pakan) yang organik pula. Untuk memperoleh sarana produksi organik secara efisien, model pertanian terintegrasi merupakan jawaban yang tepat. Model integrasi akan mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal, sehingga ketergantungan pada sarana produksi dari luar secara bertahap dapat dikurangi. Primatani dan Simantri Kelahiran Simantri yang kini diterapkan di 50 desa di Bali, tidak bisa dipisahkan dengan program Badan Litbang Pertanian yang disebut Primatani (Program Rintisan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi-Teknologi Pertanian). Primatani dilaksanakan Badan Litbang Pertanian mulai tahun 2005, dan sebagai penanggung jawab di tiap provinsi, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian). Konsep Primatani dimulai akhir tahun 2004, yang dilatarbelakangi kenyataan lambatnya proses alih teknologi dari lembaga-lembaga penelitian kepada para pengguna khususnya petani. Karena itu, Primatani diharapkan dapat mendorong percepatan transfer inovasi, dari aspek teknologi maupun kelembagaan di tingkat masyarakat. Salah satu ciri khas Primatani, adanya perencanaan yang rinci serta ukuran yang jelas dalam tiap evaluasi perkembangan. Karena itu, sebelum kegiatan Primatani dimulai, lebih dahulu dilakukan identifikasi potensi, masalah dan minat petani melalui

kegiatan PRA (Partisipatory Rulal Appraisal). Di samping itu dilakukan “Base Line Survey” untuk memperoleh data dasar terkait sakla usaha tani, aplikasi teknologi, produktivitas usaha tani serta pendapatan rumah tangga petani. Dengan data tersebut disusunlah “Rancang Bangun Model Agribisnis” yang juga direncanakan di suatu lokasi (desa). Dalam rancang bangun ini tertera antara lain “road map” dan tahap-tahap kegiatan serta model evaluasi untuk mengukur perkembangan. Dengan demikian dalam Primatani, di samping dilakukan dengan perencanaan yang mantap, juga serba terukur perkembangannya, baik dari aspek teknologi, produktivitas maupun pendapatan. Khusus Primatani di Bali di samping prinsip-prinsip keterencanaan dan keterukuran tersebut, ada orientasi model spesifik, yakni model pertanian “tekno-ekologis” yakni pertanian yang selaras dengan alam (ekologis) dengan sentuhan teknologi maju. Model pertanian ini, tidak menekankan pada maksimalisasi produksi komoditas dominan melainkan berorientasi pada keragaman (diversifikasi) fungsional atau integrasi. Integrasi atau diversifikasi fungsional, tidak hanya terpadu, dari beberapa komoditas. Dalam model integrasi, akan terjadi hubungan atau rantai pemanfaatan zat-zat makanan (biomassa) antara dua atau lebih komoditas, sehingga terbentuk siklus produksi yang tertutup. Contoh, integrasi antara tanaman padi dan ternak sapi, yakni limbah (jerami) padi bisa diolah untuk pakan sapi dan limbah (kotoran dan kencing) sapi bisa diolah untuk pupuk

tanaman padi. Dengan demikian akan terjadi efisiensi dalam biaya untuk pakan maupun pupuk, serta penghematan lahan untuk penyediaan pakan. Daerah Bali yang selama ini banyak bergantung pada sarana produksi dari luar dan pemilikan lahan pertanian yang relatif sempit, maka penerapan model pertanian integratif diharapkan dapat menjawab kedua tantangan tersebut. Setelah meyaksikan langsung model Primatani di Desa Pucaksari dan Sepang Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Maret 2009, Gubernur Bali yakin model Primatani yang berbasis integrasi ini cocok dikembangkan di Bali. Tak sekadar wacana, maka sejak Oktober 2009, model pertanian integrasi yang ada di 8 lokasi Primatani di Bali, diadaptasi dan diterapkan di 10 lokasi di Bali, dan tahun 2010 ditambah 40 lokasi, sehingga jumlahnya menjadi 50 lokasi, dengan sebutan Simantri. Integrasi Antarinstansi Meskipun Simantri baru berjalan awal, dan pengaruhnya terhadap produktivitas maupun pendapatan petani belum terukur, namun program ini telah membawa denyut baru bagi pembangunan pertanian di Bali. Ada beberapa fenomena menarik yang terkait program Simantri. Pertama, adanya komunikasi dan interaksi yang intens antara instansi-instansi yang terkait dengan pertanian di Bali. Memang, ada syarat utama yang tak tertulis dalam pengembangan pertanian integratif, yakni “sebelum mengintegrasikan usaha tani, institusi-institusi pembina harus bersedia meintegrasikan programnya lebih dahulu”. Syarat ini, mesti dipenuhi, mengingat dalam Simantri terdapat komoditas-komoditas dan kegiatan yang menjadi urusan lintas dinas dan lintas sektor yang harus diintegrasikan. Sejak program Simantri digulirkan, kegiatan-kegiatan pertemuan dan koordinasi lintas instansi pun kerap digelar. Tidak hanya antarinstansi lingkup pertanian, tetapi juga dengan dinas-dinas atau institusi di luar sektor pertanian. Dengan makin intensifnya komunikasi antarinstansi pembina, pemahaman terhadap

Gubernur Mangku Pastika sedang meninjau kegiatan pertanian terintegrasi di Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng

berbagai masalah di suatu wilayah oleh masing-masing instansi akan makin baik. Jika interaksi ini bisa didorong terus-menerus, ke depan, sinergi program antarinstansi akan makin kuat. Tentu ini akan amat menguntungkan masyarakat. Selama ini, terutama sejak era reformasi, koordinasi antara dinas-dinas lingkup pertanian makin lemah. Lahirnya konsep Simantri yang merupakan modifikasi Primatani akan dapat memperkuat kembali koordinasi tersebut, bahkan tidak hanya antarinstansi di sektor pertanian, juga melibatkan sektorsektor lain, di luar pertanian. Dengan demikian, Simantri membuka peluang bagi pembangunan pertanian ke era baru, yakni era yang menekankan pada integrasi guna mengoptimalkan potensi dan misi berbagai instansi, serta integrasi usaha tani yang berorientasi pada efisiensi melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Integrasi Usaha Tani Program Simantri yang berorientasi pada integrasi usaha tani merupakan jawaban tepat atas problem pertanian di daerah Bali, saat kini pemilikan lahan pertanian di Bali relatif sempit. Di kawasan persawahan pemilikan lahan rata-rata hanya 0,3-0,4 hektare/KK, dan di daerah perkebunan sekitar 0,80,9 hektare/KK. Dengan pemilikkan lahan seluas itu jika hanya menggunakan cara bertani konvensional (monokultur), sulit bagi petani untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak, apalagi untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Rendahnya pendapatan bertani secara konvensional menyebabkan generasi muda makin menjauhi pertanian. Karena itu model pertanian yang ada mesti dibenahi, yakni dari orientasi maksimalisasi satu komoditas, menjadi ke arah diversifikasi fungsional atau integrasi. Dengan model pertanian integrasi diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi, baik dari aspek biaya (input), maupun dari penggunaan lahan dan biomassa, sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan serta menekan risiko usaha tani. Lahirnya konsep Simantri yang merupakan modifikasi Primatani, cepat atau lambat akan memperkuat koordinasi antarinstansi dalam pembinaan petani. Dengan demikian, Simantri diharapkan akan membawa perubahan pembangunan pertanian di Bali dalam era yang lebih maju, sebuah langkah nyata yang diharapkan bisa menjadi contoh revitalisasi pertanian di Indonesia. Meskipun belum ada data peningkatan produktivitas dan pendapatan petani, mengingat program ini baru dimulai, kini kesadaran untuk mengintegrasikan kegiatan usaha tani, terutama ternak dan tanaman di kalangan petani kooperator makin kuat. Kesadaran untuk mengurangi ketergantungan pada sarana produksi dari luar dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal yang

Gubernur Mangku Pastika (tengah) sedang meninjau kegiatan pertanian terintegrasi di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng

ada makin tumbuh. Dalam integrasi tanaman dengan ternak, limbah tanaman diolah untuk bahan pakan dan limbah ternak berupa faeces (kotoran) dan urine bisa diolah untuk pupuk tanaman. Dengan demikian akan terjadi efisiensi dalam penggunaan pakan, pupuk, maupun pestisida. Di samping itu, dengan pola integrasi dalam rantai ekosistem, kelak diharapkan akan memunculkan relung-relung baru, yang dapat menghasilkan produk dan lapangan kerja baru. Seperti, adanya integrasi tanaman padi dan sapi, bisa memunculkan relung-relung baru, yakni budidaya jamur merang dan ikan (mina-padi). Dengan demikian model pertanian ini akan dapat menjawab tantangan ke depan yakni ketersediaan lapangan kerja di perdesaan. .

Hal ini dikarenakan dalam pertanian integrasi, sapi memiliki posisi strategis sebagai sumber daging maupun sebagai sumber pupuk dan energi. Sapi Bali merupakan komoditas penting, yang banyak diperdagangkan ke luar daerah. Bali merupakan provinsi yang memiliki populasi sapi terpadat di Indonesia, dengan kepadatan rata-rata. 112 ekor/ km2, disusul Jawa Timur dengan kapadatan sapi 96 ekor/ km2. Dalam Simantri, tiap kelompok binaan memperoleh bantuan 20 ekor sapi beserta fasilitas kandang dan pengolahan limbah ternak untuk memproduksi bio- gas, pupuk padat, dan pupuk cair. Untuk membantu mempercepat pengembangan ternak sapi, tiap pedagang antarpulau dikenai kewajiban menyetor 1 (satu) ekor sapi dara tiap pengiriman 360 ekor sapi ke luar Bali. Sehingga, tiap tahunnnya akan diperoleh sumbangan sekitar 130 ekor sapi betina dara yang akan diberikan kepada kelompok-kelompok binaan Simantri. Jika program Simantri ini berhasil, tentu akan dapat meningkatkan pendapatan petani pelaksana secara nyata. Simantri yang merupakan pengembangan dari Primatani bisa menjadi contoh model revitalisasi pertanian yang hingga kini masih sedang mencari bentuknya. Sebagai bentuk pengembangan Primatani, model Simantri merupakan program yang serba terencana dan terukur.

Contoh Revitalisasi Pertanian Agaknya Gubernur Bali tidak mau kepalang tanggung untuk menyukseskan program Simantri ini. Seluruh jajaran dinas-dinas dan instansi terkait dikerahkan, baik dari aspek pembinaan maupun pendanaan. Bahkan, kini tim motivator untuk Seimantri pun dibentuk, yang anggotanya berasal dari berbagai instansi. Ini suatu bukti betapa besar perhatian Gubernur Bali terhadap masa depan pertanian di daerahnya, suatu langkah yang belum pernah dilakukan gubernurgubernur Bali sebelumnya. Jika mantan gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, Harapan menjadikan tanaman jagung sebagai titik ungkit dalam Ide Simantri patut kita pengembangan pertanian, sambut secara positif, mengGubernur Bali menjadikan ingat program ini diharapkan ternak sapi sebagai titik ungkit. akan dapat membawa pertanian

di Bali ke era baru, yakni era pertanian yang lebih menekankan pada efisiensi, keuntungan usaha, dan ramah lingkungan, serta mendorong kemandirian petani dalam pemenuhan sarana produksi melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Karena itu, partisipasi Pemerintah Kabupaten sebagai ujung tombak dalam otonomi, amat diperlukan, agar kegiatan ini berjalan sesuai dengan road map dan rancang bangunnya. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten juga bisa memperbanyak lagi lokasi Simantri sesuai potensi dan kebutuhan daerahnya, tanpa harus menanti prakarsa Pemerintah Provinsi. Dengan rancang bangun yang ada, sebagai pedoman, bukan hanya Pemprov dan Pemkab yang dapat mengambil peran dari Simantri, tetapi juga bisa melibatkan Pemerintah Pusat, perbankan, BUMN, swasta, koperasi, LSM dan yang paling penting peran petani secara swadaya. Hal ini perlu dipahami, mengingat untuk menjalankan program Simantri sesuai dengan road map agar berhasil membuat perubahan kondisi masyarakat, diperlukan dana yang tidak kecil dan waktu yang relatif panjang, sehingga diperlukan dukungan banyak pihak. Untuk itu, tim Simantri yang ada di provinsi perlu menyosialisasikan program ini ke berbagai pihak, termasuk ke pihak swasta, BUMN dan LSM yang mungkin dapat berperan di samping tetap memperkuat koordinasi antartim yang telah ada. z Suprio Guntoro

Peneliti BPTP-Bali, Ketua Yayasan Bali Tekno Hayati


10

Tokoh

BUMI GORA

12 - 18 September 2010

Posko Terpadu di Bandara Selaparang

Demi Kenyamanan TKI yang Mudik ke NTB

Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi melakukan sidak di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.untuk memastikan fasilitas moda transportasi yang nyaman bagi pemudik

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini arus mudik tidak terlalu ramai. Biasanya H-10, arus mudik di Nusa Tenggara Barat sudah mulai terlihat. Namun, pada tahun 2010 ini, hingga H-5 tidak tampak lonjakan berarti. Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Terminal Mandalika, Mataram dan Bandara Selaparang terlihat masih normal. “Hanya ada kenaikan sedikit, tidak tampak kenaikan yang signifikan,” kata Kepala Terminal Mandalika, Susanto. Ini terjadi rupanya karena para pemudik terutama dalam NTB sendiri, dari Mataram ke Bima, Dompu, dan Sumbawa mulai menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi.

M

eski pada H-5 belum ada lonjakan berarti, kenaikan jumlah pemudik yang melewati pelabuhan, terminal dan bandara terjadi H-3 dan H -2 lebaran sudah tampak. Diperkirakan kenaikan jumlah penumpang di masing-masing lokasi sekitar 12-15 % dari keadaan normal. Jumlah penumpang di tiga lokasi tempat pelayanan penumang mudik yakni di Pelabuhan Lembar (Lobar), Terminal Mandalika (Mataram) dan Bandara Selaparang masih dalam kondisi normal belum terjadi lonjakan. Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi M.A., saat sidak ke sejumlah tempat pelayanan penumpang mudik lebaran mengimbau kepada semua pihak terkait untuk berupaya

memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat terutama pemudik. Untuk memastikan kenyamanan para penumpang, gubernur sempat naik ke KMP Dharma Ferry 9 yang terparkir di Dermaga 2 Pelabuhan Lembar. Di kapal, gubernur berkeliling memeriksa kelengkapan kapal termasuk juga sempat berbincang dengan beberapa penumpang yang kebanyakan merupakan pemudik ke daerah Jawa. Kepala Cabang PT ASDP Indonesian Ferry Pelabuhan Lembar Kaimudin Maliling mengatakan pelabuhan Lembar setiap tahunnya selalu mempersiapkan diri dalam melayani arus mudik dan balik lebaran. Untuk tahun ini saja, pihak pelabuhan menyiapkan 19 unit armada yang tahun sebelumnya hanya 17 unit armada pelayaran.

Momen lebaran ini juga banyak dimanfaatkan para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal NTB untuk pulang kampung ke Lombok dan Sumbawa. Angka kepulangan TKI via Bandara Selaparang, cukup signifikan. Para TKI menempati 70% dari jumlah kursi yang tersedia di armada pesawat. “Rata-rata dari mereka menempati load sector sampai 70%,” ungkap General Manager PT. Angkasa Pura I, Bandara Selaparang Mataram, I Ketut Erdi Nuka. “Tampaknya para TKI yang pulang ini lebih banyak dari Malaysia,” tandasnya. Ia menambahkan, prediksi arus mudik secara umum meningkat mulai H-3. Peningkatan angka pengguna jasa dapat mencapai 3.600 orang baik yang datang maupun yang berangkat. Mengingat kepulangan TKI ini rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, maka pengamanan khusus juga berlaku di Bandara Selaparang, Mataram. Kapolda NTB, Brigjen Pol. Drs. Arif Wachyunadi, menegaskan keamanan dan kenyamanan bagi kepulangan TKI asal NTB menjadi prioritas posko pengamanan di Bandara Selaparang. “Selama ini banyak keluhan dan indikasi TKI yang baru datang kerap merasa kurang aman dan nyaman. Maka dibukalah Pos Terpadu di Bandara agar indikasi seperti itu tidak terjadi lagi,” ungkap Arif saat jumpa persnya di Bandara Selaparang, usai melakukan pemantauan bersama Gubernur NTB dan Muspida Provinsi NTB beberapa waktu lalu. “Saudara-saudara kita yang TKI ini, harus merasakan aman sampai mereka tiba di tempat tujuan,” katanya. —nik

Serah Terima Pengurus FAD Provinsi Bali

Dari Bali Lahir Pemimpin Muda Indonesia Anak Indonesia… Luar Biasa… Anak Indonesia… Merdekaa…Yaa Itulah yel-yel anak Indonesia yang selalu digemakan dalam tiap kegiatan Forum Anak Daerah (FAD) Bali. Sebagaimana pagi itu, Senin (6/9), saat berlangsungnya acara “Serah Terima Jabatan Pengurus Forum Anak Daerah Provinsi Bali Periode 2010 -2011” di Aula BP3A (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Denpasar. FAD merupakan organisasi anak-anak di Bali yang bernaung di bawah Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali. Organisasi ini bergerak di bidang perjuangan dan perlindungan terhadap hak anak, sebagai tindak lanjut amanat UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Para mantan duta anak Bali bergabung di dalamnya. Berkat kegigihan penggagasnya, Kadek Ridoi Rahayu, duta anak Bali tahun 2005, akhirnya terbentuklah FAD Bali tahun 2006. Duta anak Bali tersebut datang dari seluruh kabupaten/kota di Bali. Ketua FAD pertama Kadek Ridoi Rahayu, wakil ketua Raditya, sekretaris Cristina, dan bendahara Wisnu Arya Wardhana. Inilah wadah yang diciptakan anak, diorganisir anak, dan berjuang untuk anak. “Dukungan LPA Bali, menjadi modal utama kami,” kata Kadek Ridoi Rahayu alias Doi. Dalam menjalankan roda organisasi, Doi mengutip pesan Ketua LPA Bali Nyoman Masni, S.H.: “Ini organisasi kalian, jadi kalian tidak perlu menanti patokan dari siapa pun untuk menjalankan organisasi ini. Selama apa yang kalian rumuskan tidak bertentangan dengan kebenaran dan masih dalam batas kewajaran, Ibu akan selalu memberikan dukungan.” Beragam kegiatan telah

Ni Nyoman Masni

dilaksanakan FAD. Melalui LPA yang bermitra dengan BP3A, mereka sempat mempresentasikan program kerjanya di depan Gubernur Bali (waktu itu Dewa Made Berata). Tiap Sabtu sore atau Minggu pagi, mereka meluangkan waktu mencari tempat-tempat ramai untuk menyebarkan brosur. Selain menyebarkan brosur tentang program dan kegiatan organisasinya di sekitar patung Catur Muka, lapangan Puputan Badung, pura Jagatnatha serta sekitar JalanYudistira di Denpasar, mereka juga datangi sekolah-sekolah.

Berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Karangasem dan memotivasi teman sebaya mereka di Munti Gunung untuk tetap bersekolah dan tidak turun ke jalan sebagai gelandangan dan pengemis, merupakan kegiatan lainnya. Anak-anak FAD ikut memasyarakatkan UU tentang Perlindungan Anak di berbagai kesempatan termasuk menjadi narasumber di radio. FAD pun menggelar Mimbar Anak Bali (MAB) yang sejak tahun 2007 menjadi agenda rutinnya. MAB diikuti perwakilan anak dari kabupaten/kota se-Bali. MAB dijadikan salah satu wujud pemenuhan hak anak dalam bidang partisipasi. “Seiring perkembangan paradigma anak dalam menatap kemajuan global, anak perlu didengarkan suaranya dalam proses pengambilan kebijakan atau keputusan yang berkaitan dengan kepentingan terbaik untuk anak,” ujar Doi. Dalam MAB dirumuskan Deklarasi Suara Anak Bali yang kemudian diserahkan kepada Pemerintah Daerah serta dipresentasikan di tingkat nasional dalam kegiatan Kongres Anak Indonesia (KAI). Dalam MAB ini pula ditetapkan duta anak yang akan mewakili Bali dalam KAI yang diselenggarakan tiap tahun bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli.

Maitri bersama Linda Gumelar Menteri PP dan Anak

Ridoi Rahayu menerima penghargaan dari Pesiden

Dalam acara serah terima pengurus FAD tersebut, Doi menekankan pentingnya dijaga eksistensi FAD Bali agar dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat umum dan pemerintah bahwa anak-anak juga dapat memberikan kontribusi. Pemimpin Muda Indonesia Tahun 2004 pertamakalinya duta Bali mengikuti KAI. “LPA Bali berdiri tahun 2003. setelah setahun barulah kami menangani anak-anak duta Bali untuk mengikuti KAI. Sejak keikutsertaan Bali dalam KAI yang ke2 tahun 2005 hingga 2010 anakanak Bali selalu ada yang terpilih sebagai Duta Nasional. “KAI tahun 2010 di Bangka Belitung menetapkan peserta dari Kabupaten Jembrana, Ketut Hari Putra Susanto, menjadi Duta Kesehatan,” ujar Ketua LPA Bali Nyoman Masni. Mereka bukan hanya mampu tampil di KAI, tambahnya, sejak tahun 2007 anak-anak yang direkomendasikan LPA Bali berhasil terpilih sebagai Pemimpin Muda Indonesia. “Malah tahun ini tiga orang lolos masuk 10 besar. Akhirnya Ida Ayu Upawati dari Klungkung, I Gst. Ngurah Bayu Permadi dari Jembrana dan Maitri dari Denpasar terpilih menjadi Pemimpin Muda Indonesia Tahun 2010,” ujarnya. Masni mengungkapkan, pemilihan Pemimpin Muda Indonesia salah satu program kerja sama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Unicef, telah dilaksanakan sejak tahun 2004. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari anak yang memunyai jiwa kepemimpinan dan peduli terhadap perlindungan dan hak-hak anak, serta menyuarakan hak-hak anak. Tiap tahun ditetapkan tiga orang dari

Wahyu Adi Raditya

seluruh Indonesia. Tahun 2007 merupakan tahun istimewa bagi FAD Bali, sebab ketuanya Kadek Ridoi Rahayu, duta dari Gianyar ini, mendapatkan penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia. Perempuan yang kini melanjutkan kuliahnya dalam studi Kesehatan Masyarakat ini dikenal sangat aktif dalam memimpin organisasi baik di sekolah maupun dalam masyarakat sejak masih di bangku SMP. Doi bersama teman-temannya juga aktif mengampanyekan pencegahan kekerasan dan eksploitasi anak, terutama untuk tujuan seksual komersial. Hal ini terkait Bali sebagai daerah tujuan wisatawan yang sangat rentan terhadap kasus pedofilia. Untuk itu, anak-anak harus tahu bagaimana melindungi diri mereka. Menyusul prestasi seniornya, I Gede Wahyu Adi Raditya wakil

Anak-anak Bali Dalam KAI Ke VI

Badung, sukses terpilih sebagai Pemimpin Muda Indonesia tahun 2009. Wahyu saat ini terpilih sebagai ketua FAD periode 2010 -2011, menggantikan Doi. Ia terlibat dalam kegiatan pemasyarakatan hak-hak anak sejak tahun 2004 dengan fokus partisipasi anak. Mahasiswa semester III Fakultas Kedokteran Unud ini berpendapat, Indonesia memunyai tantangan besar untuk menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan standar kesehatan ibu dan anak. Kini ia mulai disibukkan berbagai agenda FAD tahun ini. Tahun ini Bali kembali berhasil menampilkan Pemimpin Muda Indonesia 2010. Dia adalah Ni Putu Maitri Nara Suari, Duta Anak Bali 2009, perwakilan Kota Denpasar. Murid SMAN 4 Denpasar ini menyertakan esai ’Anak dan Internet’, dua variabel terintegrasi untuk Indonesia dalam berkas seleksi pemilihan.

Ia menceritakan kegemarannya menyelami dunia maya dan membangun jaringan anak. Dia tidak pernah terlepas dari laptopnya untuk menyusun karya tulis, penelitian ilmiah, menulis blog, mengirim tweet serta mengurus facebook account organisasinya dalam rangka menyosialisikan hak-hak anak. Dalam waktu dekat, 14 -18 September, Maitri berkesempatan menghadiri “International Forum on Women in Urban Development and Commemoration of the 15 the Anniversary of the Fourth World Conference on Women” di Shanghai, Cina. Meitri akan berangkat ke Cina bersama beberapa anak berprestasi lainnya, baik dari Forum Pemimpin Muda Indonesia, Forum Anak, Penulis Muda Indonesia, Pemenang si Bolang Award serta Forum Anak dari Surakarta dan Provinsi Papua. —ard

Pengurus Forum Anak Daerah Provinsi Bali Tahun 2010/2011 Dewan Pembina Provinsi: 1. Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali; 2. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali; 3. Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali; 4. Ketua LPA Provinsi Bali Dewan Pembina Kabupaten/Kota: 1.Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota; 2. Kepala Badan Pemberayaan Perempuan Kabupaten/Kota; 3. Kepala Dinas Sosial Kabupaten/Kota; 4. Kelompok Kerja LPA Kabupaten/Kota. Badan Pengawas: 1. Kadek Ridoi Rahayu; 2. Putu Aditya Saputra; 3. Ida Bagus Mandhara Brasika. Ketua Umum: I Gede Wahyu Adi Raditya; Wakil Ketua I Ida Ayu Upawita Dewi; Wakil Ketua II Sri Mahadhana; Sekretaris Ni Komang Meni Purwasih; Bendahara Ni Putu Maitri Nara Suari Komisi Pendidikan dan Pengembangan SDM: Koordinator Gusti Ngurah Arya Bayu Permadi; Anggota Putu Nandika Wintari; Komisi Kesehatan, Seni dan Budaya: Koordinator I Ketut Hari Putra Susanto; Anggota I Gede Arum Gunawan; Komisi Perlindungan Khusus dan Pengabdian Masyarakat: Koordinator Yanita Ristanti Purwitadewi; Anggota Ni Kadek Indri Sugiantari; Komisi Partisipasi dan Pemberdayaan Anak: Koordinator Dentika Ayu Laksmi Zahara; Anggota Sy. Made Ardhia Pramayanti; Komisi Jaringan, Informasi dan Komunikasi: Koordinator Putu Rusta Adijaya; Anggota Putu Gde Adhi Paramanandana; Komisi Organisasi: Koordinator Pande Komang Gede Bayu Wikrama; Divisi Humas dan Kesra Putu Dyah Pradnyaswari; Divisi Kesekretariatan Ida Ayu Manik Sudewi; Divisi Produksi, Dana dan Usaha Ida Bagus Alit Saputra. Pengurus Harian Wilayah Kota Denpasar: Ni Kadek Yudha Hestynatalia; Badung Made Febby Wijaya; Gianyar Sang Made Lanang Prasetya; Klungkung Ida Bagus Gede Baskara; Tabanan Ni Putu Risa Egryani; Karangasem Ni Made Wiwin Sutaryani; Bangli Ni Kadek Mia Risdayanti; Buleleng Dewa Kadek Darmada; Jembrana Ni Putu Cahya Andri Suari.


12 - 18 September 2010 Tokoh 11

SEKITARKITA Wali Kota Tertibkan Penduduk MASALAH adminsutrasi kependudukan di Kota Denpasar masih bikin pusing Wasli Kota Ida Bagus Rai Dharmawidjaja Mantara. Saat ini warga kota ini yang telah mengantongi KTP ada 614.512. Ini data yang tercatat 6 September 2010. Rai Mantra menaruh perhjatian serius terhadap tingfginya tingkat lkepadatan penduduk di wilayahnya. Kondisi ini rawan memancing terjadinya anekan persoalan sosial. Oleh karena itu, Rai Mantra menegaskan harapannya agar para camat, lurah, kepala desa di Kota Denpasar bahimemabhu menertibkan adminsitrasi kependudukan . Ini salah satu cara menekan terjadinya terus lonjakan kepadatan penduduk tersebut. Beradasarkan data Dinas Kependudukan dan Capil Denpasar, Keluarahan Sesetan di Denpasar Selatan menempati peringkat tertinggi tingkat kepadatan penduduk. Peringkat kedua dan ketiga diikuti Pemogan dan Pemecutan Kaja. Sementara laju pertamabahan penduduk tertinggi berada di Padangsambian Kelod, Ubung Kaja, dan Pemogan. Gambaran ini menunjukkan pergerakan arus urbanisasi warga desa ke kota mengalir deras. Langkah penertiban adminsitrasi kependudukan yang ditegaskan Rai Mantra menjadi salah satu upaya menekan laju kepadatan penduduk tadi. —sam

Pompa Jantung Harry Normal Kembali

Harry Wirajaya

Akhir tahun 2009 kesehatan Harry Wirajaya (67) diuji. Ia sulit tidur, sesak napas, dan batuk. Dada Harry sering seperti tertindih ba-

rang berat. Kerena sesak napas, Harry dirujuk ke dokter paruparu. Namun, keluhannya tak kunjung membaik, bahkan makin menjadi-jadi. Selain sulit

bernapas normal kini keadaanya ia makin sulit berjalan jauh. Kakinya mulai membengkak. Paru-parunya terasa seperti dibanjiri air. Hasil pemeriksaan akhir dokter paru-paru menyatakan, kemungkinan Harry menderita gangguan jantung. Selanjutnya ia dirujuk ke spesialis jantung di Denpasar. Diagnosa kateterisasi dokter spesialis jantung mengatakan kondisi penyakit jantungnya positif dan mengalami kebuntuan atau koroner. Dari hasil echo chardiographi menyatakan jantung Harry mengalami pembengkakan. LV sistolik menurun dengan fungsi jantung hanya 22 % (minimum 53 %). Kondisi pompa jantung yang sangat parah inilah yang membuat kakinya bengkak, paru-paru kemasukan air. Saat diagnosa dibuat Harry sudah tidak bisa tidur terlentang, layaknya tidur orang normal. Ia hanya bisa tidur duduk, telungkup di atas meja. Tidur pulas tidaklah mungkin, hanya sesaknya sedikit berkurang. “Saya seperti bernapas di dalam air, sulit menarik napas panjang,” katanya. Melihat kondisinya demikian dokter jantung mengharuskan Harry segera diopname. Ketika di ICU di rumah sakit kondisinya cukup memprihatinkan. Hasil dari kesimpulan di rumah sakit, harus dilakukan tindakan operasi atau tindakan pemasangan stent. Hasil akhir dari diskusi dokter jantung, di jantung Harry sulit dipasangi stent atau cincin. Sebab, penyumbatan di pipa

darahnya ternyata sangat panjang. Harus dilakukan bypass jantung di luar Bali atau di Singapura. Namun, keluarga tidak mengizinkannya berobat ke luar Bali, karena kondisinya parah. Jangankan naik pesawat, jalan saja sudah sesak bukan main. Akhirnya disepakati berobat ke Bali Heart Care Center (BHCC). Berdasar hasil diagnosa Mr. Chai, pengobatan yang harus dijalani meliputi tiga tahap. Pertama, terapi medical ozon, yaitu membersihkan darah melalui filter sebanyak 3500 cc dari unsur lemak dan kolesterol sambil mengeluarkan cairan dari paru-paru penyebab sesak. Kedua, terapi EEHCP, sistem yang menumbuhkan pipa pembuluh darah jantung secara alamiah,. Ketiga, terapi herbal, gunanya meningkatkan kinerja organ jantung dan seluruh organ lainnya agar saling menunjang. Setelah mendapatkan terapi selama 30 hari, kondisi Harry mulai pulih. Ia sudah bisa tidur nyenyak di tempat tidur. “Kini kaki saya tidak bengak lagi, sudah normal. Saya bisa berjalan 1 km tiap hari, malah saya bisa bepergian ke Surabaya,” katanya. Hasil echo chardiographi juga menunjukkan peningkatan pada pompa jantungnya. “Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Terapi di Bali Heart Care Center (BHCC) juga pengalaman yang menyenangkan sekaligus murah,” ujarnya penuh syukur.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)


12

Tokoh

12 - 18 September 2010

Tanpa Komunikasi.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................dari halaman 2 Dalam radius beberapa meter ada orang yang sedang memperhatikan kita. Juga hindari suasana tersebut dengan mengucap doa. Anak Ayu Sri Wahyuni, psikiater

Mimpi Dihipnotis Empat hari lalu saya bermimpi. Ada seseorang yang menyuruh saya mengatakan sesuatu. Secepat itu pula saya sadar, saya kena hipnotis. Malah saya balik mengatakan ’saya tidak harus mengikuti perintah Anda tetapi Anda harus mengikuti perintah saya’ Apakah yang dalam mimpi ada benarnya, dan jika dilakukan, akan efektifkah mencegah hipnotis?. Bagaimana cara mengenali orang yang akan melakukan hipnotis? Ketut Kari

Cara Gila Jadi Kaya Tidak mudah belajar hipnotis. Banyak penerapannya menyimpang. Digunakan sebagai cara gila menjadi kaya. Masyarakat umum hendaknya mengantisipasi agar tidak terkena hipnotis. Sri Wahyuni

Doa Benteng Ampuh Jika tidak menjawab saat disapa atau ditepuk, terkesan menciptakan masyarakat Bali yang egois. Meski orang tak di-

kenal menyapa harus kita menjawab. Perkuat potensi diri jika tidak ingin terkena hipnotis. Jika kita kuat, apa pun yang datang dari luar akan mental. Sebagai orang beragama semua ada doanya masing-masing. Doa sangat ampuh untuk membentengi dan menghindar dari hipnotis. Edi

Membeli karena Hipnotis? Apakah seorang salesman atau salesgirl memiliki kemampuan menghipnotis? Banyak kasus terjadi. Orang yang semula tidak ingin membeli sesuatu, karena kemampuan bicara penjual akhirnya membeli. Padahal setelah dibeli barang tersebut tidak bermanfaat. Apakah di sini ada unsur hipnotis? Kasus lainnya, saat menabung di bank, ada staf yang menawarkan kartu kredit, karena komunikasi juga menjadikan seseorang bersedia membuat kartu kredit. Setelah kartu di tangan ternyata tidak digunakan. Apakah ini juga ada unsur hipnotisnya? Gde Biasa

Katakan Maaf lalu Menghindar

Jika tidur dalam fase empat semua mimpi kita ingat. Semua orang secara alamiah memiliki kemampuan hipnotis. Kemampuan ini oleh seorang insinyur atau dokter bisa digunakan dalam pekerjaannya untuk yang baik, atau justru demi kejahatan. Hipnotis kuncinya yaitu kemampuan komunikasi. Kita punya kemampuan menangkal. Seperti dengan penguatan spiritual. Agar tidak dikatakan terkesan egois, katakan maaf untuk kemudian menghindar. Jika logika berpikir kita baik, akan bisa merasakan seseorang yang bolak-balik berjalan di depan kita. Mengapa orang tersebut membuntuti kita. Dari sini kita berpikir untuk segera menjauh. Bisa juga kita lagi jalan depan lapangan tiba-tiba ada orang menawarkan jam atau permata. Dia mengatakan baru turun dari kapal dan telah berkeliling dua hari, ternyata kitalah orang yang berhak membelinya. Ketika merasa tersanjung critical factor hilang, langsung mau ke ATM. Akhirnya kita tahu bahwa permata tersebut terbuat dari plastik berwarna. Selanjutnya lapor polisi setelah kena gendam. Selalu tingkatkan kewaspadaan dan critical factor harus diasah. Sri Wahyuni

Larang Acara

Hipnotis di TV Mimpi bukan bunga tidur tetapi petunjuk dalam kehidupan Apakah benar menurut Romi kita. Mimpi terjadi tiap kita tidur Rafael, jika orang yang tidak dan tergantung fase tidurnya. mau dihipnotis ia tidak akan Ada mimpi yang diingat dan tidak. kena hipnotis. Kedengarannya

lucu, orang yang akan dihipnotis ditanya dahulu, kecuali untuk acara infotainment. Kenyataannya pelaku hipnotis orang jahat. Sebaiknya larang acara hipnotis di TV. Apa benar kata Ki Gendeng Pamungkas orang yang senang dengar musik jarang kena hipnotis. Facebook, Mardika di Kuta

Fokus ke Musik Musik bisa jadi penangkal hipnotis, sebab membuat pikiran jadi fokus. Kalau bisa dengarlah lagu-lagu rock biar kuping menjadi panas. Facebook, Teddy & Desy

Doa sebelum Bepergian Bentengi diri dengan doa menurut agama masing-masing sebelum bepergian. Dengan begitu kita mendapat perlindungan-Nya. Facebook, Ketut Ardika

Beda Gendam dan Hipnotis Apa beda gendam dan hipnotis? Apakah satu aliran? Facebook, Jayakusuma

Melanggar Hak Asasi Manusia Praktik hipnotis yang positif pada seseorang dilakukan untuk tujuan terapi. Misalnya memperbaiki kebiasaan buruk, seperti merokok dan trauma di masa kecil yang memengaruhi

kehidupannya sekarang. Pertunjukan hipnotis di TV, di pasar malam, pelaku hipnotis-nya sudah paham dari roman mukanya siapa yang bisa dihipnotis. Pertunjukan hipnotis di TV melanggar hak asasi manusia. Membuka semua dalam dirinya dan diungkapkan di depan jutaan pemirsa. Ini menghancurkan masa depannya. Hal tersebut hanya menunjukkan seseorang bisa menghipnotis orang dan mengeksplorasinya. Padahal bagi yang dihipnotis tidak ada manfaatnya. Sebenarnya gendam sama dengan hipnotis, hanya cara pembelajarannya tradisional. Sejak beberapa puluh tahun lalu hipnotis sudah dipelajari secara ilmiah. Jangan pernah percaya, hipnotis hal gaib. Jika menanamkan keyakinan tersebut kita mudah terkena. Siapa pun bisa melakukan dan memiliki kemampuan tersebut secara alami. Musik, buku cerita atu apa pun itu ketika kita fokus semua bisa menimbulkan hipnotis. Doa, dari sudut pandang bidang psikiatri adalah salah satu untuk meningkatkan rasa percaya diri, kewaspadaan agar tubuh cepat intervensi ke critical factor berpikir. Tanpa komunikasi gendam atau hipnotis tidak mungkin memengaruhi kita. Sri Wahyuni

orang cepat terpengaruh. Dengan menghindar dari pandangannya kita lebih bisa menghindar dari tindakan kurang baik yang akan dilakukan orang lain. Nang Cekov

Kejahatan Hipnotis Masuk Kantor

Masyarakat kita dalam keadaan “sakit”. Semua ingin cepat atau secara istan dapat keuntungan atau materi. Hal ini dimanfaatkan mereka yang cerdas melihat kondisi. Hipnotis, salah satu cara pengobatan. Tetapi, beberapa orang belum mengenal mendalam tentang hipnotis tetapi sudah buka praktik untuk menghilangkan masa lalu tanpa memahami dasardasarnya. Ini termasuk kejahatan menggunakan dasar-dasar hipnotis. Kejahatan atau praktik menggunakan hipnotis agar memperoleh keuntungan direspons besar oleh masyarakat yang dalam kondisi kritis. Kejahatan hipnotis pun tumbuh dan berkembang. Pedagang besar yang sering ke luar negeri sekalipun dalam keadaan critical factor- nya terbuka lebar bisa kehilangahn miliardan rupiah karena hipnotis. Sebab, pelakunya berdasi, menggunakan rent car mobil mercy, sehingga dengan mudah uang Rp 1, 5 miliar lepas. Kita tidak pernah dilatih berpraduga. Mengapa seseorang yang Jangan Pandang Matanya belum pernah bisnis sebelumnya, Jangan memandang mata- saat pertama kali datang transaksinya, memandang dapat membuat nya miliardan rupiah. Semua harus

waspada bahwa tidak ada sesuatu yang mudah kita dapat dalam hidup ini. Jangankan pengusaha besar, pemulung pun ingin yang Rp 10 ribu berubah jadi Rp 1 miliar dalam waktu singkat. Jika sudah berada dalam situasi yang tidak nyaman, cepat mengatakan harus terbebas dari kondisi tersebut dalam hitungan 1,2,3 (lakukan dalam hati) untuk segera kembali ke posisi alam sadar. Yang penting, masyarakat jangan pernah percaya bahwa hipnotis adalah mistik. Jika meyakininya kita tidak akan pernah bisa membangkitkan berpikir kritis, ketika kita sedang berada di luar rumah. Ajarkan anak-anak untuk waspada. Terutama pada orang asing, atau orang yang ada di sekitarnya untuk berkata tidak dalam komunikasi dan pemberian hadiah. Ini terkesan mengajarkan anak lebih sombong dan tidak ramah, namun demikianlah situasi yang kita hadapi saat ini. Sepulang sekolah, sekalipun rumah dan sekolah letaknya berdekatan tanamkan untuk berkata ’tidak’, berteriak dan langsung lari ketika orang tidak dikenal bertanya berulang kali. Tentu dengan lindungan Tuhan juga anak-anak dan kita akan terhindar dari penggunaan hipnotis untuk tujuan kejahatan. Logika harus kita pasang ketika memerlukananya, terutama saat berada di luar rumah, di pasar, di bank, termasuk di kantor. Sebab, penjahat seperti ini sekarang sudah masuk kantor tanpa kita sadari. Sri Wahyuni

Selalu Tampil...................................................................................................................................................................dari halaman 1 Perintis Media.......................................................................................................dari halaman 1 Apalagi Fikom yang didirikan sejak tahun 1982 ini, telah terbukti berhasil melahirkan tenaga-tenaga andal di bidang kehumasan, wartawan media cetak dan elektronik, periklanan, penyiaran dan berbagai bidang lainnya. Karenanya Fikom Undwi dalam proses belajar mengajarnya banyak menghadirkan para praktisi. Pada kesempatan tersebut Ratna Wesnawati juga menekankan mahasiswa dalam menguasai kemampuan berkomunikasi seShinta Chrisna (tengah) diapit sebagian Finalis Putri Bali 2010 nantiasa beretika dan beradab. Selain wajib menguasai komputer, tujuh pesanan gaun pengantin saya tahu hasil kerjanya dan juga wajib menguasai bahasa yang tahu karakter gaun saya. dalam sebulan. asing, khususnya Bahasa Inggris Merancang gaun pengan- Karena gaun saya glamour, sebagai bahasa internasional. tin, kata ibu tiga anak (Alicia, otomatis hiasan kepalanya Ia juga menyampaikan hal Alvino, dan Alodia) kelahiran sedikit,” ujar lulusan cum lain yang istimewa dalam poses 28 Mei 1981 ini tidak sama de- laude Magister Managemen belajar-mengajar di Undwi yakni, ngan pesanan gaun biasa. Un- Unud tahun 2005 ini. menjelang akhir masa studi, Sejatinya, urusan jahittuk ini, biasanya ia meminta mahasiswa digembleng secara waktu satu hingga dua bulan. menjahit diakui perempuan khusus mengisi materi siaran di Biasanya ia mengonsep semua- yang hobi menyanyi dan main Radio Komunitas Dwijendra. nya in line, dari undangan, gitar ini sudah akrab sejak ia Dengan demikian mahasiswa gaun, make up, dekorasi perni- kecil. Ibu dan neneknya hobi makin fasih berbicara dan mekahan, sampai fotografer, ia menjahit. Karena seringnya menyampaikan opininya melalui rekomendasikan orang-orang lihat, tanpa disadari jiwa itu media komunikasi massa. Mahayang profesional dan berkom- merasuk pada diri Shinta Chrissiswa Fikom Undwi juga telah peten di bidangnya. “Saya ha- na ditambah lagi kegemarannya melakukan pemantauan secara nya ingin melihat totalitas karya melihat barang-barang bagus khusus terhadap media massa yang terbaik. Jangan sampai dan selalu ingin tampil beda, pada bulan April, Mei dan Juni, karena hanya ingin mengirit lain dari yang lain. Saat mengbaik cetak maupun elektronik. biaya, hasil akhirnya tidak ba- injak remaja, Shinta Chrisna Lebih jauh mahasiswa Fikom gus. Misalkan untuk anggaran selalu tertarik hal-hal yang baUndwi diharapkan mampu gaun sudah besar, untuk make ru. Ketika acara pernikahan menjadi perintis media literacy up pasti saya sarankan untuk kakaknya, ia yang mengonsep atau melek terhadap media minidikerjakan tim profesional yang keseluruhannya sampai baju mal di lingkungan masyarakat di mana mereka berada. Masuk...................................................................................................................................................................dari halaman 1 Dalam acara kelulusan yang

“Khusus untuk tiga besar di ajang Putri Bali ini, saya berikan sentuhan yang lebih istimewa bernuansa royal gold termasuk gaun yang dikenakan Putri Bali 2009 Ni Putu Sukma Dewi Eka Utami,” tegasnya. Lebih spesifik lagi, desain-desain Shinta Chrisna ini memiliki ciri khas yakni dari cutting yang lebih menonjolkan lekukan garis pinggang, pinggul, dan dada yang seksi. Warna, lebih memilih warna-warna yang berani tanpa terkesan murahan. Dan, banyak bermain di detail dengan penggunaan payet. Karenanya, gaun-gaun rancangannya lebih banyak digunakan untuk acara pernikahan. Pesanan gaun untuk pernikahan tak hanya datang dari warga lokal, namun nasional dan internasional. “Belum lama ini ada orang Medan yang datang ke sini hanya mengambil gaun rancangan saya, setelah itu dia balik lagi ke bandara. Dia mendapat rekomendasi dari saudaranya yang pernah mengambil foto-foto koleksi saya di sini. Bahkan sekarang ini saya sedang mengerjakan pesanan artis Malaysia. Katanya dia mendapat informasi dari temannya yang di Jakarta,” papar lulusan terbaik S-1 Undiknas tahun 2003 ini. Istri Agus Umaryadi Udayana, B.Com, MIB, MBA ini mengaku sedikitnya menerima

Catur

permainan catur perlu beradu strategi, saya belajar berpikir sistematis,” ungkap perempuan kelahiran Denpasar 28 November 1981 ini. Hobi bermain catur ini ditularkan ayahnya yang pernah menjabat pengurus Percasi Bali, sejak Widiari kelas 4 SD. “Apalagi Ayah memberikan saya pelatih ternama Bali Wilman Dendey yang kini telah almarhum,” kenangnya. Untuk bisa menjadi atlet berprestasi ia rajin ikut kegiatan turnamen. Di samping itu, memperdalam wa-

pengantinnya. Demikian halnya saat dirinya menikah di tahun 2003. “Saya tidak mau pakai desainer, saya mengonsepnya sendiri. Saya yang mengatur semua,” ujarnya. Karena selalu ingin tampil beda, tiap menghadiri undangan ke mana saja, ia selalu membuat baju/kebaya yang berbeda dari yang lain. Akhirnya, kebaya-kebaya yang “aneh-aneh” itu menjadi sebagian koleksi di butiknya itu. Awalnya, ia kebingungan barang apa saja yang akan dipajang pada showroom alodia living yang dibukanya sejak Desember 2008 itu. “Akhirnya saya pajang saja baju-baju koleksi saya. Setelah melihat koleksi saya ini, orang-orang tak melihat ini sebagai interior showroom. Yang mereka tahu ini toko kebaya. Jadi, semua yang datang itu mencari kebaya,” ujar Shinta Chrisna yang sempat belajar di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budiharjo ini setengah bercanda. Dari desain-desainnya yang berbeda ini, ia mulai diajak show dan menerima pesanan kebaya modifikasi. “Jika ingin beda, datanglah ke Shinta Chrisna. Kami memberikan sentuhan istimewa pada kebaya Anda,” ujarnya seraya menyebut moto desainnya The Excellent Touch of Kebaya. —ten

wasan dan giat berlatih. “Siapa pun saya lawan,” katanya putri Satyam dan Ni Wayan Ariati Widia ini. Ia mengatakan olahraga ini sangat cocok bagi siapa pun, termasuk para remaja. “Dari hobi yang positif ini, jika mereka bisa meraih prestasi, bisa dipakai sebagai jaminan masuk SMP maupun SMU negeri di Bali. Karena kini prestasi olahraga catur ini telah diakui sekolah. Di SMP PGRI 8 anakanak yang punya prestasi catur diberi beasiswa,” kata wanita

yang menjabat sebagai pengurus Percasi Bali ini. Olahraga catur kata Widiari bisa untuk mendapatkan uang. Jika menang hadiah uang tunai yang ditawarkan dari kegiatan turnamen, nilainya cukup banyak. Ia menuturkan program Catur Masuk Sekolah telah diupayakan Percasi Bali sejak tahun 2001. “Ini sebagai upaya Percasi menggali potensi anakanak di bidang olahraga catur. Dengan begitu bisa diperoleh bibit-bibit atlet muda berbakat

Ingin Jadi...................................................................................................................dari halaman 1

Pelatih SSB Mandala Putra M. Robi dan H. Ardi bersama anak didiknya

Apalagi, anak-anak SSB Putra Mandala sempat mengharumkan nama Bali di ajang kompetisi nasional. “SSB Mandala Putra mewakili Bali ikut kompetisi nasional di Jakarta tahun 2009. Kami masuk 4 besar saat itu,” jelas Robi.

Tetapi, mimpi besar anakanak berbakat tersebut masih terganjal sejumlah masalah. Selain fasilitas latihan yang tidak memadai, kompetisi antar-SSB di Bali belum berputar secara rutin. “Padahal, anak-anak ini perlu terus di-

tkh/sep

terjunkan ikut kompetisi sebaya kelompok usia mereka. Bali Post sudah punya liga pelajar. Bagus sekali jika kompetisi yang digagas tiap tahun itu ditiru untuk menggelar liga SSB Bali,” harap Kadek Sugiarto. —sam

yang kemudian bisa mewakili Bali ke kancah nasional,” katanya. Kini, tak kurang dari 50 sekolah, SD, SMP dan SMU yang menjadi binaan Percasi. Di beberapa sekolah di Badung dan Denpasar, olahraga catur masuk sebagai kegiatan ekstra dan ada pula yang telah menjadikan catur sebagai salah satu mata pelajaran. Ia menuturkan Percasi Bali bekerja sama dengan Disdikpora Provinsi Bali menggelar kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional dan Porseni tiap tahun. Salah satu cabang olahraga yang dilombakan, catur. “Peluang para remaja untuk mengasah kemampuan otak dalam permainan catur ini sangat terbuka. Apalagi sebentar lagi Bali akan mengadakan acara Bali International Week, di Nusa Dua, salah satu kegiatannya pertandingan catur. Pesertanya pecatur dari mancanegara. Percasi Bali mengupayakan agar pecatur lokal Bali bisa ikut bertanding. Dengan begitu para pecatur Bali khususnya pelajar bisa memanfaatkan kegiatan ini sebagai ajang menimba ilmu,” katanya. Menurutnya salah satu tips sebelum mengikuti pertandingan catur, harus menjaga stamina dengan banyak mengonsumsi vitamin dan menjaga pola makan. “Jangan makan jenis makanan yang banyak mengandung karbohidrat, bisa membuat mata mengantuk. Jika memiliki gangguan pencernaan, hindari makanan yang pedas,” katanya. —tin

Dekan Fikom Undwi bersama peserta yudisium sarjana ke XXI awal September lalu

dihadiri Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Drs. Ida Bagus Gede Wiyana itu, temanya sangat khusus. Pada kesempatan tersebut mahasiswa Fikom Undwi menyerahkan piala kepada Dekan Fikom, sebagai lambang dicapainya sebuah prestasi. Film Dokumenter ini menceritakan salah satu keunikan tatanan adat istiadat di Desa Pekraman Batur Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli terkait pemberian gelar Jero kepada anak-anak sebelum memasuki masa remaja. Dalam film ini juga ditampilkan kehidupan sosial anak-anak yang bergelar gelar Jero seperti di rumah,sekolah serta bersama teman-teman seusianya serta keunikan Jero Balian yang tidak boleh menikah. Dengan judul, “Swadharmaning Jero Ring Batur” film dokumenter produksi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra Denpasar yang berdurasi 30 menit, diproduseri

Ariz Arsa Purnama serta sutradara Wayan Suartawan ditambah tim pelaksananya berhasil memboyong Juara III Nasional Lomba Film Dokumenter Budaya yang diselenggarakan TVRI Pusat Jakarta. Sebelumnya Film Dokumenter tersebut berhasil pula tampil sebagai pemenang ke II pada Lomba Film Dokumenter serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32 tahun 2010. Menurut Dekan yang energik ini, capaian yang memuaskan, di bidang akademis maupun nonakademis selama ini dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa yang belum lulus. Harapannya mereka dapat berbuat lebih baik lagi dengan berprestasi setinggi mungkin. Sedangkan bagi mahasiswa yang sudah lulus mampu menjadi pendorong. Bisa berbuat lebih banyak lagi di dunia kerja serta berhasil mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan selama ini bagi masyarakat yang lebih luas. —ard

Dua Srikandi..........................................................................................................dari halaman 1 Ia tetap berada di belakang barisan sejumlah pentolan SSB ini saat wadah yang menggembleng bibit berbakat sepak bola Bali itu beberapa kali bersalin rupa. Bu Lesatri bahkan bukan hanya menjadi kepala sekolahnya. Ia pun tercatat sebagai perempuan pertama yang menjadi kepala SSB di Bali, malah mungkin di Indonesia. Menurut Bu Lestari, SSB Nusantara digawangi lima pelatih, yaitu Subadi, Saiful bahri, Bambang Subandrio, Kusnadi, dan Hadi Cahyo Utomo. Lima pelatih ini dibantu seorang asis-

ten, Nyoman Santosa. Manajernya dipercayakan di pundak salah satu orangtua anak latih SSB, Gede Mahartama. Keterlibatan dua srikandi tersebut di SSB Nusantara bukan tanpa alasan. Selain kecintaan pada dunia sepak bola, Bu Lestari dan Bu Neli juga hendak meringankan tugas suami mereka. “Kami kasihan jika semua urusan SSB Nusantara diurus bapak-bapak. Mereka kan sibuk menangani pelatihan. Maka, urusan manajemen adminisitrasi SSB ini berada di tangan kami berdua,”

ujar Bu Lestari. Wadah pelatihan bibit berbakat sepak bola tersebut diyakinkan jauh dari unsur bisnis. Menurut Bu Neli, ini terbukti dari biaya administrasi pendaftaran hanya dikenakan Rp 25 ribu per anak. Iuran bulanan Rp 20 ribu. Ongkos pembelian sepasang kostum Rp 60 ribu. “Sepatu dan kaus kaki disiapkan sendiri oleh orangtua anakanak. Kami memasilitas peralatan lain untuk berlatih, seperti tiang gawang dan bola,” jelas manajer sebuah vila di Canggu, Badung, ini. —sam


Masjid Cheng Hoo Jadi Objek Wisata Religi

SURAMADU

Masjid Muhammad Cheng Hoo

D

I pengujung Ramadan, banyak masjid meningkatkan aktivitasnya. Ada salah satu masjid di tengah kota Surabaya memiliki ciri kha s dan berarsitek Tiongkok. Ornamen masjid tersebut menyerupai bangunan kelenteng dengan dominasi warna merah yang memiliki makna kebahagiaan. Masjid Muhammad Cheng Hoo, yang terletak di Jalan Gading No 2 Surabaya, merupakan salah satu tempat ibadah bagi umat Islam yang digagas warga Tionghoa dari Pembina Iman Tauhid Islam atau biasa disebut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Surabaya. Masjid Cheng Hoo, merupakan satu dari tiga objek wisata religi yang ditetapkan Pemerintah Kota Surabaya, bersama Masjid Ampel dan Masjid Al Akbar. Ornamen bangunan Masjid Cheng Hoo yang sekilas menyerupai kelenteng dimaksudkan untuk menunjukkan identitas sebagai muslim Tionghoa. Sekaligus, untuk menghormati dan mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama Buddha. Masjid Cheng Hoo, berdiri di atas tanah 3.070 meter2. Rancangan

awal diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun tahun 996 M. Ukurannya 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Sisi sebelah utara dan selatan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang lebih rendah. Ukuran 11 meter di bangunan utama masjid diambil dari ukuran panjang atau lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun Nabi Ibrahim AS. Sedangkan, inspirasi ukuran 9 meter didapat dari sejarah Wali Songo yang

melaksanakan syiar Islam di tanah Jawa. Masjid ini bisa menampung hingga 200 jamaah. Bagian atas bangunan utama bertingkat tiga itu, menunjukkan pengaruh Hindu yang ada di Jawa. Bentuknya menyerupai pagoda, berbentuk segi delapan (pat kwa). Angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti jaya dan keberuntungan. Anak tangga di bagian serambi masjid berjumlah 5, representasi dari Rukun Islam. Anak tangga di bagian dalam masjid berjumlah enam yang merepresentasikan sebagai Rukun Iman. Di bangunan utama terdapat ruangan yang digunakan imam saaat memimpin salat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja. Ini menunjukkan, Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga, menunjukkan Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain. Di bagian samping ada prasasti yang mencatat pembangunan masjid

Perantau Asal Singaraja Keluarkan Zakat

Ir. Jaya Laksana

ADA sebagian warga nonmuslim mengeluarkan zakat dalam bulan Ramadan untuk ribuan fakir miskin di Surabaya. ‘’Saya sudah melakukan pemberian zakat ini 27 tahun,’’ kata Ir. Jaya Laksana, penemu teori Bernouli yang diyakini dapat menghentikan semburan lumpur Lapindo kepada Koran Tokoh di Surabaya pekan lalu. Aktivitas Jaya Laksana membantu fakir miskin ini dilanjutkan dengan mendirikan Paguyuban Perantau Singaraja (PPS). Warga perantauan asal Singaraja yang bertempat tinggal di Surabaya membentuk PPS yang dimotori Jaya Laksana (Ketua II) riyadi (Ketua I PPS). Paguyuban ini bertujuan sosial khususnya bagi warga Singaraja yang mengalami kesusahan maupun kebahagiaan. PPS ingin mengakrabkan sesama warga asal Bali, khususnya yang berasal dari Singaraja. Kini, PPS sudah memiliki 200 anggota dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan. Sekretariatnya di Taman Gapuro Jiwok C1 Citraland Surabaya. ‘’PPS memperkirakan baru 20% anggota yang sudah mendaftar. Yang 80% belum terdeteksi,’’ ujar Jaya Laksana. —sby

dimulai 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, dan 13 Oktober 2002 pembangunan rampung dan mulai digunakan untuk kegiatan ibadah. Masjid Muhammad Cheng Hoo diresmikan Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, 28 Mei 2003. Juga, terdapat relief Muhammad Cheng Hoo (tokoh muslim di Tiongkok 1405 M) bersama kapal yang digunakan saat mengarungi Samudera Hindia. Relief ini mengandung pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam. Orang Tionghoa menjalankan ajaran Islam bukanlah merupakan hal yang aneh atau luar biasa. Hal itu wajar, karena 600 tahun yang lalu sudah ada laksamana Tionghoa yang taat menjalankan ajaran Islam bernama Muhammad Cheng Hoo. Beliau juga turut menyiarkan agama Islam di Indonesia. Masjid Cheng Hoo dikenal unik; tidak ada pintu yang menutup bagian utama masjid. Hanya saja, bagian depan halaman masjid ada dua pagar pintu untuk masuk. Tidak adanya pintu bisa diartikan keterbukaan. Artinya, siapa pun, dari etnis apa pun, berhak menggunakan masjid ini untuk beribadah. Demikian juga

Ahmad Hariyono Ong

12 - 18 September 2010 Tokoh 13

khotib majid dari berbagai golongan. Masjid ini diharapkan dapat menjembatani segala perbedaan dalam masyarakat Indonesia. Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo Ahmad Hariyono Ong, SHI, MEI., kepada Koran Tokoh mengatakan, selama bulan suci Ramadan tidak ada kegiatan istimewa di masjid ini. ‘’Semua kegiatan di Masjid Cheng Hoo, sama seperti masjid lain yang ada di Surabaya,’’ katanya. Seperti salat berjamaah, pengajian, zikir, prosesi mualaf serta doa akad nikah. Saat Ramadan, Masjid Cheng Hoo, tiap hari mengadakan acara buka puasa bersama/takjil dengan menyediakan 500 bungkus nasi yang berasal dari donatur. Juga, ada pengajian rutin, zikir setelah salat subuh dan asar, mengadakan peringatan Nuzulul Alquran dengan menampilkan penghafal Alquran dari tiga ustat serta mengumpulkan dan menyalurkan zakat fitrah serta salat Idufitri 1431 H. Dituturkan, sebagai salah satu tempat tujuan kunjungan wisata religi, Masjid Cheng Hoo, banyak dikunjungi wisatawan, nusantara maupun mancanegara. Wisatawan asing datang dari AS, Singapura, Arab Saudi, Inggris. Yang datang dari dalam negeri sebagian besar majelis taklim, siswa TK, SD, SMP, SMA dan mahasiswa. —sby

H. Moch Bakri

Makam Sunan Giri

Dikelola dengan Infak Peziarah KABUAPEN Gresik, Jawa Timur, memiliki objek wisata religi unggulan, yakni Makam Sunan Giri. Letaknya di Jalan Sunan Giri Gresik. Sunan Giri, merupakan salah seorang dari 9 sunan yang makamnya sampai saat ini dijadikan wisata religi. Selain Sunan Giri, Gresik juga memiliki makam Sunan Malik Ibrahim. Sedangkan makam Sunan Ampel berada di Surabaya, makam Sunan Drajad di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban (kelima makam Sunan di Jatim-red). Makam Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus dan makam Sunan Kalijaga di Demak (ketiganya di Jateng) serta makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Kesembilan sunan yang disebut Wali Songo ini dikenal sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Makam Sunan Giri dikelola Yayasan Makam Sunan Giri (YMSG) yang diketuai H Moch Bakri. YMSG sehari-hari mengelola makam dengan mengandalkan infak dari peziarah. ‘’Kami dalam mengelola makam Sunan Giri, hanya mengandalkan infak dari peziarah. Pemerintah Kabupaten Gresik tidak memberi uang sepeser pun untuk mengelola makam objek wisata religi unggulan ini,’’ kata Moch Bakri, kepada Koran Tokoh pekan lalu. Jumlah peziarah dari wisman Januari hingga Agustus 2010 tercatat 143 orang. Jumlah peziarah wisnu 911.459 orang, pelajar 26.733, dan kunjungan dalam rangka penelitian 19 kali. Total kunjungan peziarah Januari hingga Agustus 938.354. Jumlah tersebut tidak termasuk peziarah yang datang perorangan hingga tiga orang. Puncak aktivitas terjadi saat berlangsung Haul Sunan Giri tiap Jumat terakhir bulan Robiul Awwal dan Malam Selawe tiap malam tanggal 25 Ramadan. Sedikitnya, 30.000 peziarah tumplek-bleg pada Malam Selawe Ramadan ini untuk melakukan itikaf di Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri. Haul Sunan Giri tiap Jumat terakhir bulan Robiul Awwal pada 2010 diselenggarakan Maret lalu. Haul diselenggarakan Rabu - Jum’at. Rabu, tadarus Alquran yang diikuti khusus jamaah putri dilanjutkan dengan pengajian putri. Kamis, tadarus Alquran untuk jamaah pria dilanjutkan pengajian pria. Puncaknya, setelah salat Jumat digelar tahlil akbar. Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri yang letaknya bersebelahan dengan makam Sunan Giri, juga melakukan aktivitas rutin dalam bulan Ramadan, yakni tiap hari melakukan buka puasa bersama, pengajian dan tadarus hingga tengah malam. Menjelang Idulfitri 1 Syawal 1431 H, Yayasan Makam Sunan Giri membagikan 1065 paket sembako senilai Rp 65.000 per paket. Paket yang terdiri atas beras 5 kg, gula 2 kg dan minyak gorek 1 kg dibagikan kepada warga miskin yang tinggal di empat kelurahan sekitar makam Sunan Giri, yakni Kelurahan Sekar Kurung, Kelurahan Klangonan, Kelurahan Sido Mukti, dan Kelurahan Giri. Dananya berasal dari infak peziarah. Pembagian hasil infak tersebut 15% untuk pembangunan, 35% untuk juru kunci makam, 20% untuk haul, dan sisanya dikelola Yayasan Makam Sunan Giri. —sby


14

Tokoh

12 - 18 September 2010

PARIWISATA

Desa Wisata Banjar Beng Kaja Menunjang Bali Green Province dan Simantri penduduk Banjar Beng Kaja pasti dilibatkan. Kelompok seni (tabuh, tari, mejejahitan) pasti mendapat pekerjaan. Untuk tahap berikutnya, desa wisata ini akan dikembangkan dengan Live-in Program, agar wisatawan menginap di rumah-rumah penduduk dan hidup seperti orang Bali. Program ini akan memakai fasilitas akomodasi penduduk sehingga pemilik rumah memunyai pendapatan tambahan. Beberapa rumah sudah disiapkan agar layak sebagai tempat menginap para tamu dengan tetap menjaga muatan tradisionalnya.

DALAM pembangunan pariwisata dikenal berbagai konsep. Salah satunya, Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism). Konsep ini telah diwujudkan Ketut Buwana di Banjar Beng Kaja, Desa Tunjuk, Kecamatan Marga, Tabanan. Semula Desa Wisata yang ia ciptakan berperan sebagai sumber dana Sekolah Minggu. Tetapi, dalam perkembangannya, kegiatan Desa Wisata ini menunjang program Pemerintah Provinsi Bali, Bali Green Province dan Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi). Karena itu efektif dikembangkan di seluruh wilayah Provinsi Bali.

K

onsep Pariwisata Berbasis Masya rakat menempatkan masyarakat lokal sebagai mitra sejajar dalam kepariwisataan, sejak perencanaan sampai dengan pelaksanaannya, sehingga masyarakat lokal memperoleh manfaat dari kegiatan pariwisata. Implementasi konsep ini memerlukan program pendampingan dan pelatihan kewirausahaan serta fasilitasi usaha pariwisata, seperti perkreditan/permodalan, insentif dan fasilitas lainnya. Masyarakat diberdayakan secara aktif agar memperoleh manfaat langsung dari kegiatan pariwisata berupa peningkatan pendapatan, kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan (pendidikan, kesehatan dan sebagainya). Konsep ini berbasiskan penciptaan ide-ide kreatif melalui mata rantai pariwisata yang memberikan nilai tambah, khususnya bagi masyarakat lokal. Konsep ini juga menekankan pada pentingnya memperhatikan daya dukung/kelestarian lingkungan hidup dalam tiap kegiatan pariwisata. Hal ini seiring dengan meningkatnya per-

hatian dunia terhadap pemanasan global. Untuk mewujudkan konsep ini harus dilakukan upaya peningkatan kualitas produk pariwisata, antara lain melalui (1) paket wisata yang berkualitas dengan harga yang menarik, (2) peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, (3) peningkatan sadar wisata di kalangan pemerintah, pengusaha dan masyarakat, (4) penerapan nyata Sapta Pesona Pariwisata dalam kehidupan masyarakat, (5) pemberdayaan Desa Adat/ Pekraman sebagai penyangga pariwisata, dan (6) penjaringan wisatawan yang menghargai kebudayaan dan kelestarian lingkungan alam Bali. Diawali Sekolah Minggu Konsep tersebut telah diwujudnyatakan Ketut Buana, S.E.,M.M. (52), kelahiran Banjar Pekraman Beng Kaja, Desa Tunjuk, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Banjar Beng Kaja berada sekitar 9 kilometer dari kota Tabanan arah ke objek wisata Jatiluwih. Jumlah penduduk banjar ini 77 KK yang sebagian besar hidup

Wisatawan mau membayar mahal agar bisa menikmati Bali Clean and Green

bertani padi dengan kepemilikan lahan pertanian ratarata 2.000 m2 atau biasa disebut petani gurem. Musim panen padi 2 kali setahun. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam meniti masa depan menyebabkan banyak generasi muda banjar ini terbiasa meneguk minuman keras sampai mabuk. Kebiasaan negatif ini telah menggerakkan Ketut Buana dan istri yang berprofesi sebagai guru, membentuk Sekolah Minggu untuk anak-anak SD dan SMP. Sebagai daya tarik, mereka mengajarkan bahasa Inggris praktis, pengenalan komputer dan berhitung dengan sempoa. Di dalamnya disampaikan pendidikan budi pekerti sebagai pelajaran inti sekolah ini. Pendidikan informal tersebut diberikan secara cuma-cuma termasuk semua keperluan

untuk belajar. Dalam kondisi yang sederhana beratapkan terpal plastik, meja pendek tanpa kursi, 18 Agustus 2002 kegiatan Sekolah Minggu dibuka dengan nama Tunas Wangi dengan jumlah murid pertama 11 orang dari Banjar Beng Kaja. Setelah berjalan 6 bulan, ternyata anakanak ini berprestasi di sekolahnya. Akhirnya orangtua murid bersama anaknya dari luar Banjar Beng Kaja berdatangan ikut bergabung. Jumlah anakanak Sekolah Minggu akhirnya mencapai lebih dari 35 orang. Untuk menjaga kelangsungan kegiatan tersebut, Ketut Buana menciptakan kegiatan Desa Wisata sebagai sumber dana. Konsepnya lalu ditawarkan kepada biro perjalanan dan ternyata mendapat sambutan positif. Kegiatan diawali dengan melakukan penyiapan sumber daya manusia sebagai penyedia jasa pariwisata. Mereka dilatih mengenai kepariwisataan. Buana menyadari, tidak mudah mendidik penduduk kampung yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman kepariwisataan, namun hal ini merupakan tantangan baginya agar dapat berbuat sesuatu yang bermakna untuk kampung kelahirannya. Pelatihan intensif diberikan untuk pekerja yang terlibat langsung. Pekerja yang bertugas menyiapkan makanan dilatih kolega Ketut Buana yang bekerja sebagai chief cook di hotel. Ketut Buana sudah 20 tahunan menjadi marketing manager di beberapa hotel besar dan mengundurkan diri karena alasan keluarga, dan sekarang beralih menjadi dosen pariwisata di perguruan tinggi swasta. Masyarakat dididiknya menjaga kebersihan lingkungan dengan menyediakan keranjang sampah di tiap pintu masuk rumah dan sekaligus memberikan contoh untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik dan botol kaca. Persawahan dan perkebunan pun ditata asri karena wisata yang dibangun ini juga berkonsep farming and eco tourism yang selaras dengan program Bali Green Province. Pelatihan ini berlangsung beberapa bulan hingga dirasa siap untuk melayani tamu.

Tanggal 7 Juli 2006 terwujudlah desa wisata Taman Sari Buwana dengan dukungan seluruh penduduk desa. Dukungan penduduk antara lain berupa perilaku mencintai kebersihan lingkungan, termasuk menyediakan toilet yang bersih. Kegiatan pariwisata ini memang memberikan kesempatan kepada tamu untuk berinteraksi langsung dengan penduduk, baik di rumah maupun di sawah.

dan kesabaran, sampai saat ini aktivitas Ketut Buana di kampungnya berjalan lancar. Murid Sekolah Minggu Tunas Wangi kini sudah ada yang kuliah dan bekerja. Di sisi lain kebiasaan mabuk-mabukan sudah tidak tampak lagi. Usaha wisata perdesaan Taman Sari Buwana telah menyerap tenaga kerja tetap 17 orang. Untuk kegiatan penerimaan tamu grup (sekitar 100 orang), mayoritas

Kembangkan di Bali Bali sebagai daerah tujuan wisata yang sangat terkenal tidak layak memiliki 125.000 orang penganggur atau 181.000 rumah tangga miskin. Budaya dan alam Bali sangat potensial menyediakan lapangan pekerjaan, asalkan digarap dengan tekun dan kreatif. Bali sangat memerlukan wirausahawan bertangan dingin seperti Ketut Buana guna menanggulangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, community based tourism perlu dibangun di seluruh wilayah Provinsi Bali karena sangat efektif untuk mengentaskan rakyat dari kedua masalah pembangunan tersebut. Di samping itu, pembangunan desa wisata berkonsep community based tourism akan menunjang kesuksesan program lainnya, seperti program

Dengan persiapan yang matang, tamu pun akhirnya berdatangan. Wisata perdesaan Taman Sari Buwana yang juga dikenal dengan sebutan Farming Tour telah bergerak maju. Wisatawan yang mengunjungi kampung ini makin banyak. Pendapatan yang diperoleh dipilah-pilah: (1) untuk yang terlibat langsung, (2) untuk menjaga kelangsungan operasional, (3) untuk rumah/tempat yang dijadikan objek kunjungan, termasuk sekolah, banjar, dan desa, (4) untuk menjaga kelangsungan Sekolah Minggu, serta (5) untuk biaya acara bersama tiap hari raya. Ketut Buana selalu berusaha merangkul seluruh pihak terkait agar mendapat manfaat dari kegiatan pariwisata ini. Kegiatan desa wisata ini juga menjadi tempat pelatihan bagi anak-anak kampung yang mau terjun ke sektor pariwisata, bahkan ada mahasiswa kepariwisataan yang on the job training di sini. Untuk memudahkan komunikasi, usaha ini membuka website: www.balivillagelife.com. dan handphone 08123915655. Dengan modal ketekunan sistem pertanian terintegrasi (Simantri) dan program Bali Green Province. Semoga makin banyak birokrat dan wirausahawan Bali yang peduli menggarap potensi budaya dan alam kampungnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. zI Wayan Nurjaya

Wisatawan bergaul dengan penduduk, ikut memasak dan memeriksa makanan, makan siang dan beristirahat sejenak di rumah penduduk

Wisatawan tertarik ingin merasakan bertani (metekap), melihat kondisi rumah penduduk, melihat sekolah â&#x20AC;&#x153;tradisionalâ&#x20AC;? bahkan â&#x20AC;&#x153;menyabung ayam (metajen)â&#x20AC;?


TRENDI

Night Sale

Waktu lebih Banyak Diskon lebih Besar Belanja di malam hari dengan diskon harga hingga 50% menjadi program yang dijadikan pemancing konsumen berbelanja. Bagi konsumen, imingiming diskon tinggi akan membuat mereka semangat berbelanja. Pengelola department store pun berlomba mencari waktu yang tepat mengadakan program night sale. Seperti apa kondisinya?

M

alam itu Desi pu lang dari tempat praktiknya. Di depan sebuah department store di Denpasar, ia melihat ada keramaian, padahal sudah pukul 22.00. Biasanya toko-toko sudah tutup. Karena ingin tahu, ia pun masuk ke department store tersebut. Ternyata sedang ada night sale. Konsumen pun berkerumun di konter-konter yang memajang busana dan sepatu. Antrian juga terlihat di kasir. Tak mau ketinggalan, Desi pun membeli beberapa pakaian. “Mumpung ada diskon, saya beli beberapa pakaian. Anakanak juga saya belikan,” ujar ibu dua anak ini. Selain mendapatkan harga yang murah, ia juga mendapatkan undian yang hadiahnya pakaian lagi. Ternyata night sale memberi banyak kemudahan bagi kon-

sumen. Pengalaman yang sama dialami Rama. Ketika melihat ada iklan di koran yang menginfokan ada night sale di Centro, Kuta, ia langsung mempersiapkan diri. Malam harinya, Rama beserta anak dan istrinya berangkat. Walau sempat kesulitan mendapat tempat parkir, mereka akhirnya bisa masuk ke mal. Lokasi yang pertama disasar adalah konter penjualan pakaian anak-anak, lalu pakaian wanita, terakhir pakaian pria. Setelah mendapatkan pakaian yang sesuai, mereka antri di kasir. Rama cukup sumringah karena mendapatkan kemeja yang diingankan dengan harga diskon 50%. Hal yang sama juga dirasakan konsumen lain. Semua saling berlomba untuk membeli barang yang mereka inginkan. Konter yang banyak

Widiarsa Mandala

diserbu adalah konter sepatu dan tas wanita. Di kasir, Rama mendapat diskon tambahan karena menggunakan kartu kredit Citi Bank. “Lumayan dapat diskon tambahan 20%. Kalau sering-sering ada night sale dengan diskon besar-besaran, saya yakin, konsumen pasti berdatangan ke Centro,” ujarnya usai membayar belanjaan. Widiarsa Mandala, Store Manager Centro Lifestyle Department Store – Discovery Shopping Mall Kuta mengakui antusiasme masyarakat untuk mengunjungi night sale cukup

tinggi. Program night sale ini menjadi andalan untuk menarik pengunjung berbelanja. “Kami mengawali program night sale tahun lalu, bulan Oktober. Ternyata konsumen cukup puas dan memberi masukan agar rutin digelar. Tahun ini, menjelang Lebaran, kami pun mengadakan lagi. Sampai pukul 03.00 masih ada antrian di kasir. Benar-benar luar biasa,” tandasnya. Ia menuturkan program night sale ini dilatarbelakangi keinginan untuk memberikan waktu lebih banyak dan penawaran lebih besar kepada konsumen. Waktu yang lebih banyak itu untuk memberi peluang kepada para pekerja yang pulang malam agar mendapat kesempatan berbelanja, apalagi menjelang Lebaran. Dengan belanja di malam hari, konsumen bisa sekalian jalanjalan tanpa mengganggu aktivitas mereka di siang dan sore hari. Selain itu, pemberian diskon hingga 50% memacu konsumen untuk belanja lebih banyak. Ada juga diskon tambahan 20% yang diberikan kepada pemegang kartu kredit Citi Bank yang bertransaksi menggunakan kartu kreditnya. “Kami juga mempertimbangkan momen yang tepat untuk menggelar night sale. Tahun ini, suasana jelang Lebaran merupakan saat yang tepat. Keperluan busana, aksesoris seperti sepatu, sandal, dan tas meningkat. Karena itu, busana dan aksesoris yang laku terjual. Penjualan busana pria dan wanita hampir berimbang,” ujar Mandala seraya mengatakan konsumen kebanyakan warga lokal. Wisatawan wisatawan asing juga ada namun tidak sebanyak warga lokal. –wah

12 - 18 September 2010 Tokoh 15

Kontrol Keinginan angat menarik jika melihat atau mengamati fenomena bisnis yang terjadi saat ini. Pengelolaannya makin kreatif dan inovatif. Bahkan kadang–kadang sedikit provokatif memainkan situasi,” ungkap pengamat ekonomi Oka Suryadinatha Gorda. Cara mengemas, menawarkan produk, kiat memikat konsumen selalu baru, berubah dan seringkali tak terduga. Fenomena marketing (sebagian kecil dari fenomena bisnis) sekarang, makin tak terbendung kreativitasnya manakala melibatkan teknologi informasi. Dengan memanfaatkan telepon seluler, pelaku bisnis dapat membuat seluruh dunia dalam genggamannya. Termasuk info belanja tengah malam dengan potongan harga hingga 70% ini. “Jika umumnya mal atau pusat perbelanjaan tutup pukul 22.00, dengan diusungnya konsep night sale ini jam operasionalnya molor hingga pukul 24.00,” kata Oka. Menurut Ketua STIE Satya Darma Singaraja ini, konsep night sale ini, pada dasarnya sama dengan penawaran harga khusus. Bedanya hanya pada waktu operasionalnya serta lebih banyak lagi potongan harga yang diberikan, biasanya hingga 70 %. Dilakukannya pada malam minggu atau berkaitan dengan hari libur serta saat memunculkan brand new product. Ia menyatakan gagasan unik ini muncul, karena kreativitas pebisnis dalam meng-create konsumen. Juga dipicu munculnya karakter pasar yang khas, seperti perbedaan kebiasaan, budaya atau selera. “Bali, Denpasar khusus-

Oka Suryadinatha

nya diprediksi akan menjadi pasar potensial program night sale. Menjelang Lebaran hampir semua mal menggelarnya. Begitu pula jelang Natal dan Tahun Baru. Melihat anstusiasme penghobi belanja besar kemungkinan menjelang Galungan dan Kuningan di lakukan hal yang sama. Selain liburan sekolah yang mampu mengundang wisatawan domestik datang ke Bali,” paparnya. Bagi pelaku bisnis retail, konsep belanja tengah malam ini dioptimalkan dengan menggandeng produk perbankan, seperti kartu kredit atau kartu debet. Hal ini demi meningkatkan potensi pembelian. Dalam beberapa situs internet di sana jelas dikatakan strategi ini, adalah win- win solution antara pebisnis dengan penggila belanja. Terlebih di saat krisis dan harga melambung tinggi. Program diskon menjadi alternatif menarik menyalurkan hasrat belanja . Dari sisi konsumen juga alter-

natif baru menyalurkan hobi belanja. Bisa juga jadi ajang menghilangkan stres akibat kerja. Dalam perspektif lain lanjutnya, jika program ini dikemas apik dan dilakukan bergantian diantara mal atau departemen store bukan tidak mungkin night sale membuat dunia malam atau sering disebut dunia gemerlap (dugem) lebih positif. Sebab, tidak lagi identik dengan minuman keras, narkoba, kekerasan dan hal negatif lainnya. Bisa jadi dugem sekarang berarti shopping atau jalan- jalan di mal. Semuanya bisa menjadi pengalaman menyenangkan yang lebih menyentuh emosional orang secara psikologis. Karena maraknya night sale membuat beberapa praktisi keuangan urun rembug agar acara ini lebih bermanfaat. Sebab, tak sedikit yang emosi dengan kortingan harga yang ditawarkan. Hingga seringkali menjebak membeli melampaui batas. Selanjutnya Oka Suryadinatha mengatakan hendaknya kita menyikapi tren ini dengan arif. Selama ini masyarakat telah dipenuhi berbagai informasi yang membuat naluri konsumtif lebih tinggi. Masyarakat sekarang semakin hedonis (materialistis) dan pragmatis. Program ini bisa jadi makin memperparah. Mungkin pula prilaku masyarakat akan bergeser dari awalnya sekadar menyaksikan night sale berubah menjadi pelaku agar mampu terlibat di fenomena baru ini. Apakah kita selalu lapar mata untuk sesuatu yang berbau sale? Haruskah kalap dengan slogan night sale? “Semuanya berpulang pada diri untuk mampu mengontrol keinginan,” tandas Oka. —ard

Mudik Terhindar dari Mabuk BAGI yang melakukan perjalanan, baik mudik maupun kembali dari mudik, khususnya yang gampang mabuk, beberapa tips berikut ini dapat digunakan agar terhindar mabuk perjalanan:

Suasana night sale di Centro yang menghadirkan diskon hingga 50%

1. Pilih posisi yang tepat. Jika naik kapal laut, pilihlah kabin di tengah sebab di titik ini goyangan kapal paling tidak terasa. Jika naik pesawat terbang, mintalah tempat duduk di dekat tepi depan sayap. Jika naik kereta api, duduklah di dekat jendela dan menghadap ke depan. Jika menggunakan mobil atau bus, sebaiknya Anda duduk di depan dekat sopir. 2. Duduklah dengan santai dan tidak terlampau tegak. 3. Isi perut Anda sebelum melakukan perjalanan. Jangan biarkan perut kosong saat bepergian. Lambung akan memproduksi asam dalam jumlah yang berlebihan sehingga akan membuat iritasi lambung dan merangsang refleks mual, yang akhirnya dapat berefek muntah. Namun, jangan makan berlebihan. 4. Bawalah buah sebagai bekal dalam perjalanan. Pilih buah yang praktis dan tidak repot memakannya seperti apel, jeruk, anggur, pir, dan pisang.

5. Ikutilah gerak belok mobil dengan santai. Selama perjalanan cobalah memperhatikan jalan di depan. Jangan biasakan menengok ke kiri dan ke kanan untuk melihat pemandangan karena ini akan memicu mabuk perjalanan. Jangan memejamkan mata dan memaksakan diri untuk tidur kecuali benarbenar mengantuk. 6. Jangan membaca 7. Jika mual mulai muncul, makanlah buah yang Anda bawa. Jika mual tak reda, kepalkan dan lemaskan jemari tangan dan kaki Anda berulang-ulang untuk menaikkan peredaran darah. Untuk menghilangkan pusing ringan, pijat jemari dan telapak tangan Anda. 8. Buka kaca mobil untuk mensirkulasikan udara segar ke dalam kabin. Jika alergi bau-bauan, seperti parfum atau AC mobil, matikan AC dan bukalah jendela kendaraan mobil Anda agar udara segar masuk ke dalam mobil. 9. Jika fisik terlalu lelah, sebaiknya minum obat antimuntah sebelum berangkat. —ast Carolina Salim Disarikan dari: http://www. tanyadokteranda.com

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Membentuk Alis

Ibu Agung, Yth. Saya karyawati swasta usia 25 tahun. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari saya harus menggunakan make-up. Yang menjadi masalah adalah saya kurang terampil dalam membentuk alis saya yang lebat, dan bentuk cuping hidung yang besar. Mohon bantuan ibu, bagaimana cara mengatasi masalah tersebut, agar hasil make up saya dapat terlihat lebih rapi namun tetap terkesan natural, serta mohon ditampilkan contoh busana modifikasi adat Bali yang sesuai dan dapat digunakan oleh bibi saya yang sudah berusia 55 tahun dan ingin membuat foto kenangan Terima kasih. Dewi, Kerobokan Yth. Adik Dewi Membentuk alis memegang peranan penting dalam make-up mata karena tiap goresan dan bentuknya dapat menentukan kesan mata secara keseluruhan. Goresan yang tegas dapat memberi kesan ekspresi mata tajam, sementara goresan yang halus dapat memberikan kesan mata lebih lembut. Ciri-ciri alis ideal adalah letak antar-kedua alis tidak terlalu jauh atau terlalu dekat, alis membentuk busur indah, pertumbuhan bulu merata ke luar, bulu alis tumbuh tepat di atas tulang alis. Untuk mendapatkan bentuk alis yang ideal dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu: 1. Langkah pertama adalah pembentukan pangkal alis. 2. Langkah kedua adalah pembentukan busur alis. Untuk bentuk hidung Adik yang bercuping besar, pangkal alis dibentuk dengan saling dijauhkan sekitar 0,5-1 cm dari pangkal alis asli. Makin besar cuping, makin jauh jarak antar-pangkal alis. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kesan melebar dari pangkal alis ke ujung cuping. Dengan demikian cuping hidung akan terkesan lebih kecil. Setelah mendapatkan bentuk pangkal yang ideal, barulah bagian busur (lengkungan) alis yang dibentuk. Teknik membentuk busur yang indah harus disesuaikan dengan tulang pelipis dan bentuk wajah. Langkahnya sebagai berikut: cari titik ekspresi yang paling tepat bagi alis dengan melakukan penarikan dengan pada tiga titik alis, yaitu bagian pangkal, puncak dan ujung alis. Amati pada titik manakah ekspresi alis terlihat paling luwes. Setelah titik ditemukan, lakukan pencukuran bulu alis di sekitar titik yang dinilai paling luwes tersebut. Usahakan mencukur alis di bagian bawah saja sehingga terbentuk puncak alis yang melengkung indah. Sempurnakan tampilan alis dengan menggunakan pensil alis, pastikan ujung alis sesuai dengan tulang pelipis dan bentuk wajah. Berikut ini busana modifikasi adat Bali yang dapat digunakan oleh bibi Adik untuk membuat foto kenangan. Selamat mencoba.

Brenda Allison si Wanita Magnet “Jika kunci-kunci rumah Anda hilang, tanyakan pada ketika sekolah perawat. Saat itu keberadaannya kerap memBrenda Allison karena kemungkinan menempel di engaruhi peralatan elektronik yang ada di dekatnya, dan tubuhnya,” begitu ditulis koran-koran di Inggris tentang kemudian dia menemukan dirinya mampu menarik benda wanita usia 50 tahun itu. logam menempel di tubuhnya. Bayangkan saja, koin, penjepit, magnet, kunci, bahkan tutup logam bisa menempel di tubuhnya Orang-Orang Magnetik selama 45 menit tanpa terjatuh. Tak mengherankan Sebenarnya Brenda bukanlah orang pertama yang kalau Brenda dikenal sebagai ‘Wanita Magnet’. mengklaim dirinya manusia magnet. Banyak orang yang Memang benda-benda itu tidak terbang ke arahnya. mengklaim hal yang sama, bahkan dengan benda-benda ”Jika berada terlalu dekat dengan benda-benda itu, yang lebih besar. saya bisa merasakan tarikannya. Benda-benda itu Yang paling terkenal adalah keluarga Tenkaev dari Rusia. akan menempel lama jika berada di dekat tulang, saya Di mana mereka secara turun temurun dalam tiga genetidak tahu mengapa,” kata Brenda. “Kadang saya rasi, memiliki kemampuan istimewa itu. Dimulai merasa seperti kulkas ditutupi magnet,” imbuhnya. dari kakek Leonid Tankaev yang dapat mengangSekarang sepertinya kemampuan itu kat beban 23 kg yang menempel pada dadanya. menurun pada anaknya. “Dia belum mengerti Selain keluarga Tenkaev, masih banyak lagi hal ini. Tapi dia kerap mengeluh karena tibayang memiliki kemampuan semacam itu. tiba mainannya berhenti bekerja padahal Sampai-sampai tahun 1990 sempat dilangsungbaterainya tidak ada masalah,” tambah Brenda. kan konferensi manusia magnet dari seluruh Wanita asal Holloway, London Utara ini, dunia di Bulgaria. Ketika itu hadir sekitar 300 mengklaim dirinya memiliki medan magnet yang orang manusia magnet. Brenda Allison kuat sehingga benda-benda logam yang berada Sejarah juga mencatat bahwa pada akhir dalam jarak dekat bisa langsung menempel padanya. Bahkan, katanya, abad ke-19, ada seorang gadis muda asal Georgia AS, yang memiliki bukan hanya logam, itu juga terjadi pada benda kategori non-magnetik. kemampuan magnet. Lulu Hearst, namanya. Ketika itu nama Lulu Ketika ia belum bisa mengendalikan kemampuannya, ia kerap begitu terkenal. Tapi pada akhirnya kedok Lulu terbongkar, ternyata membuat kehebohan ketika berada di luar rumah. Misalnya saja alarm ia telah menipu. Ia mengaku melakukan tipuan sederhana untuk mobil berbunyi ketika ia lewat di dekatnya atau lampu yang tiba-tiba membuat benda-benda logam menempel di tubuhnya. mati, serta terganggunya signal televisi. Bahkan dia pernah dituduh Lain lagi dengan Brenda Allison. Anehnya, benda-benda yang menggunakan ‘voodoo’ gara-gara mesin kasir di sebuah swalayan rusak tidak bersifat magnet pun ikut menempel di tubuhnya. Seperti terlihat ketika ia melewatinya. dalam foto, tampak benda benda non-magnet ikut menempel. Hanya Brenda mulai merasakan hal aneh dalam dirinya sejak taman kanak- koin tembaga berlapis baja yang mengandung magnet, sedang mata kanak. Ketika itu, ia tanpa sengaja memengaruhi peralatan listrik di uang lainnya yang merupakan paduan tembaga-nikel, tidak termasuk mana pun ia berada. Orangtuanya menyadari anaknya memiliki non-magnet, ternyata ikut menempel. kemampuan khusus. Karena itu mereka menjaganya dengan hati-hati. Brenda telah mengunjungi banyak pihak untuk berkonsultasi tenMemang ketika itu, tidak selalu kemampuannya muncul. Tapi tang masalahnya. Ia juga pergi ke beberapa dokter. Dokter mengatakan, makin besar, kekuatan Brenda makin bertambah. Orangtuanya sejak kemungkinan kemampuan magnetiknya muncul ketika ia sedang stres. lama berhenti membelikannya jam tangan karena medan magnet di Karena itu, ia harus menjaga agar tetap tenang, tidak stres. tubuhnya mengganggu mekanisme waktu. Kathy Geminiani, seorang ahli elektroterapi, mengatakan kemungKetika ia beranjak dewasa, efek elektromagnetiknya menjadi makin kinan Brenda memiliki muatan kuat dalam tubuhnya. “Setiap orang kuat, namun kondisi terbaik berada di akhir siklus menstruasi. memiliki muatan listrik dalam tubuhnya, namun muatan yang ada “Banyak kejadian memalukan terjadi karena kemampuan saya ini. pada Brenda sangat tinggi,” ujarnya. Orang tertawa ketika benda logam menempel di tubuh saya. Tak Sandy Laurensius dari Electrosensitivity Inggris mengatakan, jarang saya malu karena hal ini,” ungkap Brenda. “Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu dan mereka Menurut Brenda, sebelumnya ia samasekali tidak terlalu peduli terpaksa harus meninggalkan pekerjaan mereka, bahkan ada yang tidak dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia mulai menaruh perhatian dapat pergi ke toko karenanya.” —dia/metro/dailymail


16

Tokoh

GELANGGANG

12 - 18 September 2010

SSB Perempuan Bubar karena tidak Ada Lawan

tkh/sep

PEREMPUAN remaja Bali yang menggemari sepak bola pernah dinaungi Sekolah Sepak Bola (SSB) Denpasar beberapa tahun silam. Mereka berjumlah sekitar 29 pemain. Para remaja tanggung ini duduk di bangku SMEA Pembangunan Denpasar saat itu. Saiful Bahri

I

tu berkat tangan dingin seorang guru olahraganya, Drs. Saiful Bahri (52). Kalangan perempuan siswa yang gemar sepak bola di sekolah yang kini bersalin rupa menjadi SMK Pembangunan Denpasar itu diwadahinya dalam SSB Denpasar. Saiful

tercatat sebagai salah seorang penggagas lahirnya SSB ini tahun 1994. Para pemainnya sempat digenjot berlatih para pelatih SSB Denpasar. Tetapi, mereka akhirnya bubar setelah tiga bulan bergabung dalam wadah ini. “Setelah berlatih kan perlu

Jadikan Lapangan Lumintang

Pusat Kegiatan SSB

lawan latih tanding. Tetapi, lawan saat itu tidak ada. Akhirnya satu per satu pemainnya mundur,” ujar pria asal Singaraja ini. Pengalaman itu membuat Saiful yakin minat perempuan berusia muda untuk dilatih menjadi pemain sepak bola di Bali bukannya tidak ada. Apalagi, ia sudah mencoba menghimpun lagi perempuan siswa di sekolahnya yang gemar Lapangan Sepak Bola Lumintang, Kamis (9/9), hanya punya satu tiang bermain sepak bola. “Ternyata gawang. Lapangan ini diusulkan agar dikelola sebagai pusat kegiatan sekolah sepak bola para bocah berbakat di Denpasar peminatnya lumayan banyak. Makanya, saya mulai merintis lahirnya sekolah sepak bola NAMA Bali pernah harum berkat sejumlah nama pemain (SSB) khusus perempuan di sepak bola nasional. Ada Kadir, Sinyo Aliandu, atau Rae Bawa. SMK Pembangunan Denpa- Mereka pesepak bola andal Indonesia dari Pulau Dewata. “Tetapi, sar,” ujar ayah satu anak ini. setelah itu Bali hampir tidak lagi menyumbang pesepak bola Keberadaan wadah pem- setenar generasi pendahulunya itu,” ujar pelatih SSB Nusantara binaan sepak bola wanita Bambang Subandrio. pernah berkibar di Kota DenBendera Perseden zaman dulu juga banyak mengibarkan pasar dulu. Wadah ini dikelola nama besar pemain sepak bola asal Bali. Tetapi, nama besar Bali Bu Sutrisno. “Suaminya, Pak makin senyap di pentas persepakbolaan nasional seiring kian Sutrisno, dulu kan juga se- surutnya prestasi kesebelasan sepak bola di daerah ini. Guru orang pemain dan pelatih sepak pendidikan jasmani dan kesehatan di sebuah SMA ini menyatakan bola Bali,” ungkap Saiful. —sam salah satu penyebabnya, lapangan terbuka untuk anak-anak berolahraga di Denpasar kian terbatas. “Dulu kan masih ada lapangan terbuka, seperti Lapangan Pekambingan dan Puputan Badung. Anak-anak menjadikan dua lapangan terbuka itu sebagai tempat bermain. Lapangan tersebut menjadi tempat bermain sepak bola anak-anak zaman itu,” ungkapnya. Kini jumlah lapangan terbuka semacam itu kian terbatas. Lahan yang dulu menjadi Lapangan Pekambingan telah berganti menjadi salah satu pusat kawasan bisnis. “Lapangan Puputan Badung pun makin ramai dengan wisata keluarga hampir tiap ngan sehingga subsidi peme- hari. Lapangan ini sudah tidak memadai lagi bagi anak-anak rintah masih terus diperlukan. bermain sepak bola,” ujarnya. Ia mengakui, Denpasar Lapangan Puputan Margarana Renon belakangan menjadi memang belum memiliki sarana pilihan baru bagi sejumlah SSB di Kota Denpasar maupun dan prasarana lengkap untuk Kabupaten Badung. Mereka memanfaatkan secara terbatas sisi semua bidang olah raga. Re- barat maupun timur lapangan terbuka itu. “Kondisi lapangan ini nang masih berlatih di Blah- sebenarnya tidak memadai untuk jadi tempat berlatih sepak bola kiuh. Belum lagi minimnya anak-anak. Arus manusia yang berolahraga hampir tiap hari fasilitas untuk menggembleng tergolong padat di Lapangan Puputan Margarana Renon,” atlet panahan dan gate ball. tambahnya. Ia menegaskan, sulitnya Anak-anak yang tergabung dalam SSB sebenarnya atlet Denpasar mencapai pres- memerlukan fasilitas lapangan yang memadai untuk berlatih sepak tasi puncak karena tidak ada bola. “Alternatif yang paling dukungan sponsor yang memmungkin digunakan SSB, adalah bantu kegiatan. “Saat ini masih Lapangan Lumintang. Tetapi, mengandalkan bantuan pemekami mengusulkan agar pemerintah,” ujarnya. rintah mulai membenahinya. Ini Olahraga unggulan Kota demi kepentingan olahraga Denpasar ke tingkat nasional prestasi, khususnya sepak bola selancar dan pencak silat. Bali masa depan. Lebih baik jadi Sedangkan unggulan di daerah pusat kegiatan SSB ketimbang atletik, senam, tenis meja dan dijadikan tempat pameran renang. Untuk pembibitan atlet bisnis. Kegiatan SSB jelas sejak dini, kata dia, dipantau merupakan investasi jangka dari Porsenijar. “Atlet yang panjang demi kepentingan Bali. menjadi juara masuk prioritas,” Jika kita mauh sungguh-sungjelasnya. guh melahirkan pesepak bola Klub-klub sepak bola hebat ya bibit-bibit unggul hamemang sudah memiliki sekolah rus mulai digembleng dengan sepak bola untuk pembibitan dukungan fasilitas yang meatlet sejak dini. Namun, sekaBambang Subandrio madai,” tandasnya. —sam rang yang masih menjadi kendala lapangan tempat berlatih. Pemerintah daerah memberikan anggaran paling besar pada cabang olahraga sepak bola Rp 800 juta lewat KONI. “Namun, biaya untuk sekali kompetisi dan kegiatan bisa menghabiskan ratusan juta rupiah. Di sinilah kelemahan mengapa kita belum mampu mencapai prestasi puncak,” tandas Mardika. PUTU Mawar Sri Ayu, —ast pesilat kelahiran Amlapura, 22

Nyoman Mardika

SARANA dan prasarana sepak bola di Kota Denpasar masih minim. Hadirnya Stadion Sepak Bola Kompyang Sujana belum menjamin terjadinya peningkatan prestasi sepak bola warga Kota Denpasar. Prestasi cabang olahraga ini memang belum berbuat banyak di ajang kompetisi besar. Hal ini ditegaskan Ketua Harian KONI Denpasar Drs. Nyoman Mardika, M.Si. Menurut Mardika, penyediaan sarana dan prasarana olahraga di Kota Denpasar belum maksimal. “Sepak bola masih mendingan karena punya stadion, cabang olahraga lain malah belum memiliki lapangan,” ujar pria yang juga dosen Universitas Warwadewa Denpasar itu. GOR Kompyang Sujana tidak hanya digunakan untuk berlatih sepak bola. Cabang olahraga lainnya juga sering memanfaatkanya untuk berlatih seperti atletik, panahan, tenis, dan bola voli. Stadion tersebut tak jarang juga dimanfaatkan untuk menggelar kegiatan sosial pemerintah dan masyarakat.

GOR Kompyang Sujana disewakan untuk masyarakat umum dengan tarif Rp 500 ribu -Rp 1 Juta sekali pakai. Klub sepak bola yang berlatih dikenai sewa Rp 125 ribu per jam. Untuk pertandingan Rp 150 ribu per jam. Mardika yang juga berprofesi sebagai wartawan ini mengatakan, KONI Denpasar hanya melaksanakan administrasi penyewaan, sedangkan uang sewa disetor ke Pemkot Denpasar, karena biaya perawatan lapangan ditanggung pemerintah. Untuk biaya perawatan lapangan berkisar Rp 30 juta per tahun. Biaya ini mencakup air untuk menyiram lapangan, pemeliharaan dan pencukuran rumput, pemeliharaan mesin rumput, dan pernambahan pasir ketika lapangan berlubang. Kalau ada kerusakan parah biasanya diperbaiki Dinas PU Kota Denpasar. Uang sewa lapangan, kata Mardika, belum mampu menutupi biaya pemeliharaan lapa“Namun, sekarang yang masih menjadi kendala lapangan tempat berlatih. Pemerintah daerah memberikan anggaran paling besar pada cabang olahraga sepak bola Rp 800 juta lewat KONI”

tkh/sep

tkh/ast

Denpasar Minim Sarana Prasarana Olahraga

Perlu Lapangan Bermain di tiap Desa Adat

Ngurah Pong

Dayu Kondi

LAHAN tidur masih tampak bertebaran di berbagai titik di lingkungan desa adat Kota Denpasar. Lahan tersebut dinilai layak diberdayakan untuk membangun fasilitas publik yang mengakomodir kepentingan anak. “Ketimbang lahan itu nganggur. Lebih baik kan jika dipakai untuk tempat bermain anak-anak,” harap Kadek Sugiarto, pecinta sepak bola anak. Ada lahan yang jelas pemegang hak miliknya. Pemerintah Provinsi Bali merupakan salah satu pemiliknya. Ini biasanya diyakinkan dengan tulisan “Tanah Ini Milik Pemprov. Bali” di atas lahan dimaksud. Tetapi, ada pula lahan tidur di sejumlah titik lain yang dimiliki swasta atau desa adat. Lahan semacam ini pun bisa difungsikan sebagai kawasan taman bermain atau olahraga anak. “Sejauh ini kita memang belum punya taman bermain di tiap desa adat. Alangkah baiknya jika kawasan khusus semacam itu bisa terwujud,” harapnya. Hal senada ditegaskan pengamat olahraga A.A. Ngurah Oka Yudhanegara alias Ngurah Pong. Menurut panglingsir Puri Agung Jro Kuta ini, fasilitas olahraga prestasi masih merana. Perhatian serius pemerintah dalam menyediakan fasilitas yang memadai untuk menggembleng atlet berprestasi diibaratkan seperti barang kelewat mahal harganya. “Perhatian tersebut bukan hanya dialami dunia sepak bola, cabang olahraga lain pun begitu. Padahal, pendapatan asli daerah amat besar,” ujar sesepuh Pemuda Pancasila Bali ini. Ngurah Pong mengungkap-

kan, para atlet dan pelatih, mengeluhkan minimnya dana pembinaan olahraga, tidak memadainya fasilitas olahraga untuk melahirkan atlet berprestasi, tetapi masalah semacam itu tidak pernah dipecahkan secara tuntas. Adanya gagasan untuk memberdayakan lahan tidur milik pemerintah dinilai positif. Ini terutama jika dikaitkan dengan makin tergerusnya lapangan terbuka di wilayah perkotaan. “Lihat saja di Kota Denpasar, jumlah lapangan untuk anak-anak bermain makin minim. Padahal, anakanak perlu lahan untuk mengekspresikan minat dan bakat sejak usia dini,” ujarnya. Manajemen pengelolaannya bisa saja diserahkan ke desa adat masing-masing. Hal ini ditegaskan pengamat pembinaan olahraga anak Ida Ayu Kondi. “Pemerintah perlu memberikan bantuan peralatan olahraganya, termasuk subsidi dana pemeliharaan fasilitas olahraga di desa adat. Ini jika kita memang mau serius menggali bakat atlet berprestasi di Bali. Jangan lupa, banyak atlet terkenal di Indonesia justru datang dari kampung-kampung yang punya lahan bermain anak masih luas,” ujar ibu tiga anak yang berprofesi notaris ini. Adanya usulan agar Lapangan Lumintang dikelola menjadi pusat kegiatan SSB didukung Ketua Harian KONI Denpasar Mardika. Kondisi lapangannya yang tidak berumput itu harus direnovasi. Namun, menurutnya, biaya renovasi tidak kecil. Sementara pemerintah masih berkonsentrasi untuk pembangunan lainnya. —sam, ast

Mawar, Pesilat yang Bercita-cita Jadi Bidan

Senang Sepak Bola tetapi Minta Gratis

tkh/ast

CABANG olahraga sepak bola belum mampu dijadikan lahan pekerjaan yang menjanjikan. Sangat berbeda dengan di luar negeri, sepak bola sudah dikembangkan secara profesional. Atlet sepak bola juga sudah dibina sejak dini, sehingga prestasinya maksimal. Demikian diungkapkan Ketua Umum KONI Bali Made Nariana. Pembibitan atlet sejak dini khususnya di Bali belum maksimal dilakukan karena kurangnya sarana dan prasarana. Padahal, Bali memiliki banyak potensi olahraga yang bisa diunggulkan. Olahraga unggulan Bali saat ini, menembak, kempo, biliar, atletik, yudo, angkat besi, pencak silat, golf, karate, voli pantai, bermotor, tarung derajat dan panjat tebing. Ia menilai, selama ini prestasi lebih banyak didapatkan dari cabang perseorangan. Sedangkan nomor beregu seperti sepak bola atau tenis meja masih lemah. Ia menilai, banyak orang yang senang sepak bola, tetapi ketika menonton mereka ingin gratis. “Semestinya, masyarakat ikut memikirkan kemajuan sepak bola dengan cara ikut memberikan bantuan, terutama perusahaan swasta ikut memberi dukungan Made Nariana dana,” kata Nariana. Ia mengakui, pengembangan sepak bola membutuhkan dana besar. Sekolah sepak bola membutuhkan lapangan untuk berlatih, sedangkan lapangan masih minim. Perlu perhatian lebih pemerintah untuk melakukan perbaikan sarana dan prasarana olahraga, terutama cabang unggulan. Sejak tahun 2008, pemerintah sudah memberikan perhatian khusus kepada atlet berprestasi. Ada tiga kriteria yang dipersyaratkan yakni meraih medali emas dalam PON, meraih medali emas, perak, perunggu dalam kejuaraan dunia atau Sea Games. Pemprov. Bali juga lewat KONI Bali sejak tahun 2009 juga memberikan dana tali kasih kepada atlet yang berhasil meraih emas dan pelatihnya di PON. Mereka berhak mendapatkan dana stimulus Rp 1 juta per bulan sampai PON berikutnya. Tahun 2010, Menpora berencana memberi hadiah rumah kepada atlet dan pelatih berprestasi. “Karena ini ruang lingkupnya seluruh Indonesia tentu didata dulu siapa yang berhak. Ada enam atlet sudah disurvei di Bali, tetapi keputusan yang berhak untuk menerimanya belum turun,” kata Nariana. Ia mengimbau induk organisasi agar lebih memberikan kesempatan kepada atlet asli Bali. “Hanya kebanggaan semu membeli atlet luar. Lebih baik kita bina atlet putra-putri Bali,” tandas Nariana. —ast

Agustus 1993, ternyata belum puas menyabet mendali emas Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (OOSN) di Jakarta. Singapura menjadi labuhan berikutnya melalui ajang APSSO (ASEAN Primary School Sport Olimpics ) Oktober mendatang. Menjadi seorang pesilat menurutnya memang penuh tantangan. Bidikan yang terbaik adalah sebuah prestasi yang selalu dinanti wanita asli Karangasem ini. Mawar yang masih sekolah di SMA PGRI 1 Amlapura kelas XII IPA 1, dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional di Jakarta berhasil membawa pulang mendali emas pencak silat kelas B putri (42 – 47 Kg), dan tiga medali (emas, perak, dan perunggu) tingkat nasional dalam ajang Internasional Championship pencak silat di Jakarta, yang diikuti 25 negara. Ketiga medali itu dari nomor berbeda, yakni medali emas nomor seni rangkap, mendali perak teknik kombinasi, dan medali perunggu teknik senjata khusus. Kemampuannya masih akan diuji dalam ajang APSSO (ASEAN Primary School Sport Olimpics) yang akan diselenggarakan di Singapura Oktober mendatang. Mawar mengatakan untuk menjadi seorang juara, dia harus menjaga kondisi dan terus meningkatkan keterampilan tekniknya. “Tiap hari saya harus berlatih untuk meningkatkan teknik bertanding,” ujar wanita berkulit putih ini. Dalam menjaga kondisinya agar tetap fit, Mawar berlatih tiga kali

Putu Mawar Sri Ayu tkh/arya

seminggu, dan menjaga berat badan agar bisa mengikuti kejuaraan di Singapura. “Ini menjadi salah satu kendala saya, di tengah masa pertumbuhan, saya harus bisa menjaga berat badan agar tidak naik lagi,” tuturnya. Dalam menyambut sebuah kejuaraan, Mawar menjelaskan, sebulan sebelumnya sudah melakukan pemusatan latihan dan menjaga asupan makanan. Bahkan dia mengatakan waktu menjadi juara OOSN, empat hari menjelang lomba dia tidak makan nasi, hanya memakan buah plus air yang cukup serta berlatih keras hingga beberapa jam menjelang lomba. Semua itu dilakukan untuk menjaga berat badan yang berpengaruh pada kecepatan gerakan. Dukungan sekolah juga mengalir lewat Kepala Sekolah

Drs. I Ketut Jelantik, M.S i. Pihak sekolah merespons prestasi Mawar dengan memberikan penghargaan dan bebas SPP setahun. Selain itu pihak sekolah juga memberikan dukungan yang maksimal untuk memotivasi siswanya untuk berprestasi seoptimal mungkin. Drs, Ketut Jelantik menyatakan bangga melihat siswanya bisa berprestasi di tingkat internasional; bisa mengangkat nama baik sekolah, Kabupaten, Provinsi, bahkan negara ke tingkat internasional. “Mudah mudahan nanti Mawar bisa maksimal, dan saya harapkan ini menjadi contoh bagi siswa lainnya,” katanya. Mawar menuturkan kelak setelah tamat sekolah dia ingin melanjutkan di sekolah bidan. Menjadi seorang bidan menurutnya merupakan kebanggaan

bisa menolong orang lain, sekaligus bisa memahami apa yang terjadi pada diri sendiri nanti. “Saya ingin sekali menjadi seorang bidan, mudahmudahan saya bisa lulus nanti dan bisa masuk di salah satu perguruan tinggi kebidanan,” harap Mawar. Ketertarikan dalam dunia silat, menurut gadis cantik ini berawal dari ajakan temannya. Mawar merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara kandung, terjun dalam dunia yang cukup keras ini sendirian. Wanita berbintang Leo ini mengatakan ketertarikannya dalam dunia silat sudah muncul dari kecil dengan sering ikut lomba dan berhasil mendapatkan medali. Dukungan keluarga juga mengalir untuk wanita cantik yang lincah ini. Ayah Mawar, I Putu Rika, seorang wiraswastawan sangat mendukung penuh langkah yang diambil Mawar. Hanya waktu untuk berkumpul dengan kelurga menjadi berkurang karena harus mengikuti pelatihan. “Saya sepenuhnya mendukung langkah Mawar, hanya saya sedikit khawatir. Apalagi menjelang lomba Mawar harus mengikuti TC yang memaksanya menginap hingga berbulan-bulan,” kata Rika. Ibunya, Ni Kadek Resi, yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga juga harus merelakan anaknya untuk mengikuti pelatihan hingga harus menginap. “Dalam peristiwa besar seperti olimpiade hingga ke Jakarta itu, saya selalu berdoa mudahmudahan anak saya bisa memberikan yang terbaik dan selalu dalam perlindungan Tuhan,” katanya. Arya, peserta Pelatihan Jurnalistik Koran Tokoh dan FIK Dwijendra


tkh_609_xi__12-18_sep._2010