Issuu on Google+

Bocah 12 Tahun Terbitkan Buku Baca Halaman 3

Tradisi Salam saling Cium Timtim di Halaman 6

Mendiang Mari di Mata Suaminya Abiyoga di Halaman 9

Menuju Bali Clean and Green Fatwa MUI Halaman 14

Komang Adnyani

Titiek Soeharto

Online Online24 24Jam Jam Nonstop Nonstop

Berdayakan Berdayakan TaniTani Kaum Kaum CaraCara Lain Lain dengan dengan

“DULU, pencatatan transaksi masih menggunakan buku. Kini, melaju dengan online sesuai pesatnya perkembangan information technology. Saya ingin memenuhi rasa penasaran dengan mengikuti seminar travel online. Apalagi seminar di Bali ini pertama dan terbesar di Indonesia,� ungkap ibu tiga anak ini ketika ditemui Tokoh di kantornya pekan lalu. Usai seminar, pemilik nama Ir. Komang Adnyani ini mau menuntaskan rasa ingin tahunya dengan memutuskan bergabung sebagai agen. “Menjadi agen, modalnya tidak terlalu banyak. Jika tidak jalan, tidak apa-apalah,� katanya. Ternyata saat mendaftar jadi agen dari sistem reservasi tiket dengan akses online 24 jam ini, putrinya Kadek Glady yang turut menghadiri seminar justru menyarankan menjadi cabang. “Dia mampu memaparkan berbagai kelebihan yang diperoleh sebagai cabang. Saya berpikir selama tiga minggu, apa pilihan ini benar atau salah,� lanjutnya sambil menekankan kalau bisnis online ini kini sangat menyenangkan. Menurut Komang, begitu sapaan ak r a b n y a , m i n g g u p e r t a m a penelepon yang masuk ke

KEPRIHATINAN terhadap kondisi kaum tani dan penduduk perdesaan di Indonesia ini menjadi motivasi bagi Hj.Siti Hediati Hariyadi, S.E. atau yang dikenal dengan nama Titiek Soeharto untuk berjuang mengangkat harkat dan martabat kaum tani. Mbak Titiek, demikian panggilan akrab putri keempat mantan Presiden RI H.M. Soeharto (alm) ini pun mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2010-2015 dalam Munas VII HKTI di Sanur, Bali, 1215 Juli 2010. Namun, melihat pelaksanaan Munas yang tidak sesuai AD/ART HKTI, Mbak Titiek memutuskan untuk tidak melanjutkan pencalonan dirinya, dan akan terus memberdayaan Bersambung ke halaman 12

Pilah Sampah di Sanur

S

istem swakelola sam pah rumah tangga semacam ini tepat jika diterapkan di kawasan perkotaan. Volume sampah rumah tangga lumayan besar yang diangkut ke TPA. “Selain sampah organik sampah anorganik juga banyak, seperti plastik maupun viberglass,� ujar pengamat lingkungan Ida Ayu Wulandari. Padahal, menurut politisi Partai Demokrat Bali ini, sampah anorganik plastik maupun viberglass mengandung zat kimia yang tidak ramah lingkungan. “Sampah plastik dalam bentuk kresek perlu waktu 60 tahun baru bisa hancur. Sampah plastik yang diolah berbentuk sachet memerlukan waktu 350 tahun. Padahal, tiap hari tumpukan sampah plastik menggunung di TPA, bertebaran di berbagai tempat permukiman warga. Beban

tkh/ast

tanah kian berat. Jika hancur pun racun zat kimianya bisa merusak humus tanah,� ujarnya. Sistem swakelola sampah terpadu di Desa Adat Sanur Kauh dan Sanur Kaja dinilai pantas dijadikan contoh bagus untuk mengatasi masalah serius limbah rumah tangga perkotaan. “Program pemberdayaan desa sadar lingkungan di Bali dapat melirik sistem swakelola sampah terpadu tersebut,� harapnya. Kesadaran masyarakat mengolah sampah menjadi barang yang lebih berguna sudah dilakukan di Desa Sanur Kaja dan Sanur Kauh. Dengan penerapan 3R (reuse, reduce, dan recycle), sampah dikelola agar menjadi berdaya guna. Pengolahan sampah swakelola ini juga mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA Suwung. I Made Sunarta, pimpinan Depo Pengolahan Sampah

Made Sunarta

Made Dana

Mendaki Puncak Tambora

Mengepel Lantai Gunakan Tisu

11 tkh/ast

DUA desa adat di CONTOH kawasan Sanur, Denpasar, SWAKELOLA Sanur Kauh dan Sanur SAMPAH Kaja, bagus menjadi ORGANIK DAN contoh dalam ANORGANIK mendorong penguatan DESA ADAT kesadaran sistem swakelola sampah organik dan anorganik. Warga kedua desa adat ini memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik dikelola depo pengolahan sampah terpadu menjadi kompos. Sampah anorganik ditampung dan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.

Bersambung ke halaman 12

Salah seorang ibu yang tergabung dalam komunitas Kelompok Arisan Ibu Rumah Tangga di Sanur Kaja sedang memilah sampah oragnik dan anorganik

Terpadu Cemara Sanur Kaja, mengatakan, 32 meterkubik atau 4 truk sampah dihasilkan masyarakat Desa Sanur Kaja per harinya. Sampah ini dipilah dan dibedakan yang organik dan anorganik. “Sekitar 40% yang merupakan sampah organik BERITA TERKAIT

yang dapat diolah menjadi kompos. Sebanyak 90% di antaranya sampah sisa sarana upacara seperti canang,� ujar pendiri LSM Lingkungan Wiguna Bali tahun 1989 ini. Ia menuturkan, sampah organik ini diolah menjadi kompos dengan sistem fermentasi. “Setelah sampah dipilah

HALAMAN 14

 Bersambung ke halaman 14

Bakar Sampah Plastik Rusak Lapisan Ozon PRODUKSI sampah plastik diperkirakan akan terus naik. Jika dibiarkan, lingkungan akan makin tercemar karena sampah plastik sangat sulit terurai. Adanya pembakaran sampah plastik sebagai solusi untuk mengurangi beban tanah ternyata tidak cukup efektif. Pembakaran sampah plastik malah akan menimbulkan kerusakan lapisan ozon bahkan mengganggu kesehatan manusia jika asap dari pembakaran terhirup. Asap pembakaran merupakan karbondioksida yang dihasilkan dari unsur kimia. Karbondioksida ini bisa membahayakan lingkungan. Pengamat lingkungan Bali Dr Made Mangku lebih jauh memaparkan, ada dua solusi pengurangan sampah plastik. Pertama, perlu ada kesadaran dari pabrik pembuat plastik agar menekan kuantitas produksi plastik. Sebagai gantinya, mereka harus membuat produksi yang ramah lingkungan. Kedua, kesadaran dari masyarakat untuk tidak sembarangan membuang sampah plastik.

Desa Pakraman Wajib Sosialisasikan Tertib Buang Sampah

Dr. Made Mangku

Perlu ada kesepahaman bersama antara masyarakat dan lembaga adat seperti desa pakraman. Ia menegaskan, kalau pabrik terus memproduksi  Bersambung ke halaman 12

DI bawah kabut yang mulai turun ke bumi, kami beranjak meninggalkan Pos V pukul 14.00. Tidak ada lagi jalur yang landai. Pendakian terus menanjak melewati tanah berkerikil. Berkat kilat petir yang menyambar-nyambar, sesekali langit biru membuka diri. Saat itulah saya bisa menyaksikan pemandangan alam terbuka Gunung Tambora yang indah. Keindahan Gunung Tambora justru terletak pada eksotisme ketandusan yang menurut saya sangat sensual. Inilah bedanya dengan keindahan lereng Gunung Rinjani yang alamnya lebat menawan penuh pesona. Setelah melakoni perjalanan yang terasa begitu istimewa, kami tiba di lokasi, berada persis di bahu Gunung Tam-

Diselimuti kabut tebal, kami tiba di jalan berpasir yang licin, tetapi berpanorama menarik

bora. Tampak terhampar pasir hitam bak arang, bebatuan yang hitam legam, terkesan tandus. Tak terlihat pepohonan tinggi, hanya satu dua pohon cemara yang berdiri kokoh. Dalam perjalanan dari Pos V menuju kawah Tambora, sesekali saya melihat ayam hutan dan sekawanan rusa dari kejauhan. Bunga-bunga hutan sedang bermekaran. Namun, kami tidak boleh terlena, karena di kanan kiri bahu Tambora ini

terdapat banyak jurang yang terjal. Di langit kabut makin tebal. Jarak pandang terkadang hanya lima hingga 10 meter. Kilat dan petir makin sering menyambar. Tetapi, kami berupaya agar tiba di kawah Tambora sebelum hari gelap. Kami berharap bisa menyaksikan peristiwa tenggelamnya matahari dari kawah Tambora  Bersambung ke halaman 12

Kepedulian Membangun SDM BPR BPR Kanti Launching Kredit Beasiswa Pelajar MENGAWALI rangkaian Perayaan Hari Ulang Tahun BPR Kanti yang ke-21, Minggu (4/7) bertempat di Bali Fun World, BPR Kanti meluncurkan produk kredit baru, Kredit Beasiswa Pelajar. Peluncuran produk Kredit Beasiswa Pelajar ini merupakan terobosan BPR Kanti dalam upaya membantu nasabah dan masyarakat mewujudkan semua impian dan cita-cita masa depan putra-putri tercinta mereka. Menyongsong tahun ajaran baru ini, kredit yang diperuntukkan menunjang pembiayaan sekolah bagi para pelajar ini memberikan bonus beasiswa sampai dengan Rp 1,5 juta dengan jangka waktu sampai 12 bulan. Dalam peluncuran Kredit Beasiswa Pelajar ini BPR Kanti juga memberikan tunjangan biaya pendidikan (beasiswa) kepada 35 orang siswa dari tingkat TK sampai dengan S-1 dengan total beasiswa sebesar Rp 22.950.000.

Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amithaba berpose bersama keluarga besar BPR Kanti dan anak-anak penerima beasiswa

Peluncuran Kredit Beasiswa Pelajar ini adalah sebagai bentuk kepedulian BPR Kanti dalam membangun SDM Indonesia. “Dengan peluncuran Kredit Beasiswa Pelajar ini, kami berharap dapat membantu orangtua dalam mengatasi biaya pendidikan yang makin mahal di masa depan,� ujar Made

Arya Amithaba, Direktur Utama BPR Kanti yang juga Ketua DPD Perbarindo Bali. Dalam setahun belakangan ini berbagai terobosan telah dilakukan BPR Kanti dalam upaya mendekatkan diri dengan para nasabah terutama dalam  Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

18 - 24 Juli 2010

ASPIRASI

Puisi SEORANG anak dilarang bapaknya menulis puisi. “Berhenti nulis puisi! Mau jadi apa kamu nanti? Tidak boleh nulis Putu Wijaya puisi! Lebih baik belajar!” Anak itu tidak berani membantah orangtuanya. Dia langsung berhenti. Seluruh konsentrasinya diarahkan pada pelajaran. Ia menjadi investasi jangka panjang keluarganya. Merebut gelar. Mendapat pekerjaan. Dan, hidupnya mapan. Di hari orangtuanya menjalani hidup manula, ia dapat membahagiakannya dengan hidup berkelimpahan. Mereka tidak lagi tinggal di sebuah rumah kontrakan, tetapi di bilangan real estat bergengsi. “Untung kamu mendengar apa yang Bapak katakan dulu,” kata bapaknya, kalau malam-malam keluarga berkumpul di ruang tv menikmati akhir pekan, “coba kalau tidak, sekolahmu sudah putus karena kamu hanya menulis puisi. Kalau kamu sampai jadi penyair kamu hanya akan jadi seniman luntang-lantung, gelandangan terselubung yang hanya membuat negeri ini tambah kumuh.” Anak itu hanya tersenyum, kalau bapaknya memuji. Ia memang sudah berhasil menjadi seorang dokter yang laris. Tetapi, ia kelihatan masih gelisah. “Aku sudah mampu membalas jasa kepada orangtuaku. Di akhir masa hidupnya mereka tidak kekurangan suatu apa pun. Aku juga bisa menolong banyak kawanku dulu yang putus sekolah dan tidak mendapat kehidupan yang layak di masyarakat, “ katanya kepada Pak Amat. Amat memandang sahabatnya itu kagum. “Kamu memang contoh buat kami, kawan-kawanmu bagaimana menjadi orang yang sukses Tok. Kamu semua bangga dan kagum sebab kamu berhasil dan berbahagia.” Soegianto, teman Amat itu menggeleng. “Kamu salah, Mat. Aku memang berhasil, tetapi aku tidak bahagia.” Amat mengernyitkan alisnya. “Ah jangan begitu To! Kalau kamu saja tidak bahagia, bagaimana lagi aku. Jangankan membuat orangtua senang, membuat istri dan anakku yang satu-satunya itu tersenyum saja susah. Harapan mereka selalu tidak sebanding dengan kemampuanku. Hidupku selalu diuberuber kebutuhan hidup yang tiap hari melonjak. Lihat, sebentar lagi tarif listrik akan naik. Kamu pasti tidak akan peduli, tetapi aku sejak sekarang sudah gemetar.” Dokter Sugianto teman Amat itu mengangguk. “Itu dia, Mat. Kamu salah. Aku ini iri, aku tidak bisa lagi mengalami ketegangan karena tarif listrik naik. Sebab, kalau tarif listrik naik, biaya pengobatan juga otomatis naik. Satu bergerak, semuanya ikut bergerak. Artinya tidak ada gerak lagi dalam hidupku, semuanya selalu stabil dengan sendirinya. Aku iri dengan kamu Mat. Sebab kamu masih bisa gemetar, masih bisa cemas, masih bisa takut. Aku tidak. Aku tidak punya itu lagi. Hidupku datar. Apa pun yang aku lakukan, sudah biasa, bagi keluargaku. Tidak ada kejutan lagi. Hidupku membosankan.” Amat terkejut. “Kamu kamu serius, kamu tidak bahagia?” Dokter Sugianto menggangguk. “Menurut ukuranmu, aku ini pasti bahagia. Pasti bahagia, kenapa tidak. Apa yang salah pada hidup berkecukupan? Siapa yang tidak ingin hidup berkecukupan, apalagi sekarang ini? Siapa yang tidak akan merasa dirinya miskin kalau anggota DPR yang duduk ongkangongkang saja terjamin dapat 40 juta tiap bulan? Tetapi, aku tidak bisa lagi merasakan semua itu, Mat. Kamu masih lengkap, kamu masih bisa merasakan semua perasaanmu utuh sebagai manusia normal. Aku sudah cacad. Aku iri, bagaimana kayanya perasaanmu. Tiap hari kamu bisa sedih, senang, cemas, takut dan sebagainya, semuanya masih utuh. Makin banyak masalah yang silih berhanti datang kamu makin jelas masih manusia utuh. Kamu manusia normal yang berbahagia Amat, apalagi kamu tidak mengerti bahwa kamu sebenarnya bahagia. Selamat!” Dokter Sugianto, lalu memasukkan 10 lembar seratus ribu ke kantung Amat. Amat bingung. Sampai Dokter Sugianto pulang, Amat terus bengong. “Kebanyakan orang kaya yang terlalu mapan, jiwanya terganggu,” kata Amat kemudian pada istrinya. “Siapa?” “Dokter Sugianto.” Bu Amat tertawa. “Kenapa?” “Mosok dia bilang dia iri pada kebahagiaan kita, karena kita masih bisa gemetar hanya karena tarif listrik naik?” “O begitu?” “Ya. Orang gila!” “Kok gila? Pak Dokter bener!” Amat menatap istrinya. “Dia bilang dia iri pada kita! Itu kan terbalik! Sebenarnya kita ini yang iri pada dia karena hidupnya serba berkecukupan, jangankan tarif listrik, dunia terbalik pun dia masih tetap bisa hidup tenang?! Uang simpanannya pasti sudah miliardan di bank!” Bu Amat mengangguk. “ Jadi dia bilang dia iri?” “Ya!” “Itu berarti perasaannya masih lengkap. Dia itu orang yang normal! Kalau sama orang miskin saja dia sudah iri, apalagi pada orang yang lebih kaya. Pasti irinya lipat-ganda, sehingga dia akan berusaha mati-matian untuk mengurangi iri itu dengan berusaha. Itu yang menyebabkan dia kaya-raya dan mapan. Bukan karena dia dokter. Sekarang banyak dokter yang hidupnya miskin, lebih miskin daripada supir taksi. Dokter Sugianto bisa memanfaatkan keiriannya menjadi tenaga untuk maju, bukan hanya tenaga untuk merongrong, seperti Bapak!” Amat tercengang. “Ibu kamu itu sudah kacau pikirannya, karena tarif listrik mau naik,” sambat Amat kepada Ami. “Ah semua orang juga begitu, Pak!” “Tetapi, mosok dia bilang, Pak Dokter itu kaya karena dia bisa menyalurkan keiriannya dengan bekerja lebih keras, sedangkan Bapak tuduh ibu kamu itu, hanya menyalurkan keirian Bapak dengan mengeluh?!” “Memang begitu!” “Apa?!! Jaga mulut kamu, Ami!” “Ya bener! Soalnya Dokter Sugianto itu bukan hanya dokter, Pak. Dia penyair!” “Ah! Penyair apaaan! Dia tidak pernah menulis puisi karena sejak kecil dulu sudah dilarang bapaknya!” “Lho penyair tetap penyair meskipun tidak menulis puisi, Pak! Kepenyairan adalah kemampuan jiwa untuk melihat sesuatu dengan sudut pandang baru, sehingga segala sesuatu yang tidak berguna di mata orang lain, di tangan seorang penyair bisa berubah jadi bermanfaat. Dia melihat kekuatan pada rasa iri, dia melihat kesempatan pada kesengsaraan, kesedihan, dia melihat ada janji pada kegagalan!” “Ah siapa bilang!” “Dokter Sugianto sendiri! Katanya walau dulu dia dilarang jadi penyair, tetapi jiwa penyairnya terus tumbuh dan berkembang. Itulah yang menyebabkan dia gigih, meskipun ekonomi keeluarganya dulu hanya pas-pasan, dia tidak menyerah sampai berhasil seperti sekarang. Puisi itu bukan hiburan, Pak, tetapi latihan jiwa untuk melihat apa yang tidak dilihat orang!” Amat terhenyak. “Waduh, kenapa dulu aku tidak belajar menulis puisi?” bisiknya. Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Mengelola Limbah Rumah Tangga Ramah Lingkungan” Sampaikan opini Anda Minggu 18 Juli 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 25 Juli 2010

Banyak Desa Pakraman masih Berparadigma:

“Apa yang Ada jangan Diubah” KESETARAAN gender bukan persoalan perjuangan perempuan atau laki-laki. Tetapi, juga pemikiran modern sesuai ajaran agama Hindu. Kesetaraan harus merupakan perjuangan bersama. Sebab, ketika perempuan terpuruk, kitab suci mengatakan laki-laki juga akan rugi. Kitab suci mengajarkan perempuan punya hak waris. Tetapi, tradisi mengatakan tidak. Jika ketentuan hak waris diubah, apakah tidak menimbulkan persoalan baru? Kesetaraan bukan hanya terkait hak waris. Juga, kesempatan berbicara dan menentukan kebijakan. Di Bali sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, perubahan tidak bisa dilakukan secara paksa, harus dengan damai. Tradisi harus dianalisis dengan ilmu. Desa pakraman berperan besar untuk mengadakan kajian-kajian. Sayang, di desa pakraman masih banyak yang berparadigma “apa yang ada jangan diubah’. Padahal ajeg itu memiliki makna perubahan. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (11/7). Topiknya, “Kesetaraan Gender di Desa Pakraman” Berikut petikannya.

Kesetaraan Pemikiran Modern Hindu Secara faktual belum terjadi kesetaraan gender di desa pakraman. Ini terjadi juga karena ada proteksi berlebih. Perempuan terkesan mendapat perlakuan tak setara. Pada zaman Weda, perempuan dapat kebebasan luar biasa, mencapai banyak kemajuan. Begitu ada perang antarkerajaan, pemenang merampas kekayaan dan perempuannya. Hal ini menjadikan proteksi berlebihan pada perempuan. Pendidikan mereka pun terbelakang dibanding laki-laki. Demikian awalnya pada zaman Darmasastra. Perempuan tidak diberi pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki. Bukan untuk menyingkirkan. Proteksi secara turun temurun menyebabkan perempuan tidak diberi tempat di depan. Padahal banyak perempuan cerdas dan punya kemampuan pemikiran setara laki-laki. Agama Hindu tidak mengajarkan perempuan berasal dari tulang rusuk lakilaki. Dalam Sloka II.32, Manawa Dharmasastra disebutkan laki

dan perempuan sama-sama ciptaan Tuhan. Memiliki perbedaan penampilan fisik dan mental dengan harkat dan martabat sama. Keadaan fisiknya hadirkan proteksi berlebihan. Mari secara damai lakukan pembenahan demi kesetaraan. Berbagai pihak telah melaksanakannya. Terkadang pihak perempuan yang belum berani. Saya memiliki perkumpulan, yang tiap Selasa memberi kesempatan perempuan tampil sebagai pendharma wacana. Kesempatan ini sering tidak dimanfaatkan. Dalam perkembangannya, secara perlahan dalam rapat keluarga dan banjar, banyak yang menyertakan perempuan. Terlebih bidang kesenian, ada seka gong perempuan, kakawin, dan kidung perempuan. Di Desa Ketapian kawasan tempat tinggal saya, ketika ada orang meninggal yang makekawin bukan lagi orang lingsir melainkan para ibu muda. Ini gejala baik. Kini perempuan juga diajak bicara soal kebijakan rumah tangga, keluarga besar hingga banjar. Mengubah tradisi yang mengakar perlu kajian ilmu pengetahuan. Bhagawad Gita XII.12. menyatakan abyasa, jnyana, dhyana, tyaga, santi anantaram Tradisi harus dianalisis dengan ilmu. Seberapa pun ilmu pasti ada lebih dan kurangnya. Terima dengan tyaga atau ikhlas. Tidak

perlu berjuang sampai menimbulkan konflik. Perjuangan kesetaraan gender bukan persoalan perjuangan perempuan dan laki-laki, melainkan pemikiran modern sesuai ajaran agama Hindu. Kitab Suci mengajarkan, perempuan punya hak waris. Namun, tradisi mengatakan tidak. Perlu waktu untuk memberikannya. Dalam praktiknya banyak bapak atau keluarga yang mampu memberikan bekal hidup yakni artha jiwa dana kepada anak perempuannya, berupa rumah, tanah atau mobil. Ini gejala bahwa kesetaraan gender perlahan akan muncul, kesetaraan dalam bidang harkat dan martabat sebagai manusia. Perempuan dan laki ciptaan Tuhan dan memiliki kemerdekaan serta bersaudara dengan siapa saja. Hai ini membutuhkan pemikiran jernih dan diterapkan secara perlahan di masyarakat. Kesetaraan gender tak perlu dijadikan ajang pertengkaran, apalagi dibuat kucingkucingan. Kesetaraan gender bukan perjuangan laki dan perempuan, tetapi perjuangan bersama. Sebab, ketika perempuan terpuruk, kitab suci mengatakan laki laki juga akan rugi. Bahkan dikatakan di mana ada perempuan terhormat di sana akan terjadi karunia Tuhan yang berlimpah. Ketika bertanya pada istri masalah penggunaan dana, kebijakan upacara dan lainnya, masyarakat yang tidak mengerti, berpikir suami seperti ini dianggap kene tangkep. Padahal

“Bali Clean and Green” di SDN 2 Petak “Manyamabraya dengan jalan sehat. Mangku Pastika Gencarkan Clean and Green”. Begitu yang saya baca di Koran Tokoh halaman 1 edisi 4 – 10 Juli 2010. Demikian juga saya baca “Jalan Sehat Bersama Iwapi Jembrana. Dukung Bali Clean and Green”. Setelah saya baca berita itu, terketuk hati saya sebagai seorang guru yang bertugas di perdesaan untuk menindaklanjuti gagasan itu dan mempraktikkannnya langsung dengan langkah pasti, walaupun banyak kendala yang harus saya hadapi. Saya siap dicemooh dan dinilai negatif karena ide dan langkah yang A.A. Gde Raka Sujaya, S.Pd. akan saya laksanakan ini. Dalam rangka turut memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya sebagai warga negara yang hidup dan mati di Indonesia tidak akan berpangku tangan juga dalam mendukung “Bali Clean and Green” namun sebatas dari lingkungan keluarga dan sekolah yang dapat saya jangkau. Mudah-mudahan dari lingkungan sekolah pula tersebar pengaruh positif yang bisa dilakukan siswasiswi kami dan menyebar ke seluruh perdesaan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara yaitu Indonesia. Seseorang dalam melakukan kegiatan biasanya sudah memunyai tujuan secara rinci, dengan demikian akan mendorong seseorang itu untuk bertindak. Tujuannya, sebagai penentu arah dalam melakukan suatu kegiatan. Tujuan lain kegiatan ini, sejauh mana kata “Bali Clean and Green” itu bisa dilaksanakan dari yang terbawah sampai yang teratas di lingkungan masyarakat kita. “Bali Clean and Green” akan kami laksanakan pada tahun ajaran 2010/2011 mulai pertengahan Juli 2010. Caranya, pengolahan sampah organik dan anorganik yang ada di sekolah kami. Sampah musuh paling berbahaya bagi kehidupan ini, itu pendapat kebanyakan orang. Namun, bagi saya sampah merupakan barang yang patut kita perhatikan agar tidak menjadi penyakit bagi kehidupan ini. Mari kita olah sampah di sekitar kita agar tidak menimbulkan penyakit, melainkan sampah menjadi keperluan kita semua untuk kelangsungan hidup ini. Pembaca tulisan ini perlu kiranya memberi saran, usul, dan tanggapan yang akan kami pakai mematangkan gerakan “Bali Clean and Green” dari lingkungan keluarga dan Sekolah Dasar Negeri 2 Petak. Harga alat yang paling sederhana untuk mengolah sampah dari daundaunan sekitar Rp 2 juta. Ayo siapa yang ingin menyumbangkan alat tersebut ke sekolah kami, SD Negeri 2 Petak, Gianyar. A.A. Gde Raka Sujaya, S.Pd. Jalan Manik Gang Gatotkaca No. 7 Gianyar Kepala SD Negeri 2 Petak, Gianyar Kode Pos: 80511. HP: 081 747 331 602

hal tersebut dilakukan demi membahagiakan istri, anak-anak maupun orangtua. Perubahan harus berlangsung santi tanpa konflik. Banyak laki-laki maju karena terinspirasi ibunya. Perlu diubah sistem sangkep di banjar. Dalam pemilihan klian banjar, perempuan ditampilkan. Jika dikatakan ingin tampil, umumnya perempuan masih malu. Pemimpin jangan menghendaki tetapi dikehendaki. Misalnya masyarakat menghendaki di banjarnya ada klian wanita, harus dicoba. Adat belum pernah menjalankan sangkep pemilihan klian banjar, mengikutsertakan perempuan. Selama ini yang hadir laki-laki. Kalau perbekel dan camat sudah ada perempuan. Saya pernah baca, perempuan dituduh menjadi penyebab laki-laki korupsi. Padahal, setelah 80% pejabat lakinya keluar diganti perempuan, maka 60% korupsi menurun. Korupsi itu bukan disebabkan jenis ke-

lamin, tetapi oknumnya. Semua agama menghargai perempuan. Karena dianggap lemah secara fisik dibanding laki-laki timbullah sikap proteksi, seperti tidak boleh memperlihatkan wajah, tidak boleh menyetir mobil dan lainnya. Maksudnya baik tetapi akibat perlindungan terlalu protektif, perempuan terpinggirkan. Di desa pakraman jarang ada kajian-kajian. Sesungguhnya tradisi harus dikaji dengan ilmu. Desa pakraman masih banyak berparadigma, ‘apa yang ada jangan diubah’. Padahal ajeg memiliki makna perubahan. Menurut lontar desa pakraman adalah wadah pengamalan agama, desa pakraman winangun dening Catur Sang Catur Varna manut lingling Sang Hyang Aji. Mengamalkan agama, terus melakukan peremajaan adat dengan konsep triguna (utpeti, stiti, pralina). Bersambung ke hlm. 12

Mengelola Limbah Domestik Ramah Lingkungan LIMBAH domestik atau rumah tangga menjadi salah satu masalah mendesak yang sedang memperoleh perhatian serius Pemerintah Provinsi Bali. Volume limbah domestik ini lumayan besar dihasilkan tiap hari dari aktivitas rumah tangga, termasuk limbah domestik di daerah perkotaan. Selama ini, limbah domestik yang dihasilkan warga Kota Denpasar khususnya diangkut dengan truk sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Suwung, Denpasar Selatan. Pemerintah melalui instansi terkait telah melakukan program penyadaran warga agar peduli pengelolaan limbah tersebut. Namun, sampah skala rumah tangga tersebut belum dikelola semua warga berdasarkan konsep 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Ada berbagai aksi nyata yang sudah dilaksanakan pemerintah di daerah ini. Sosialisasi sistem pengolahan sampah menyasar kalangan warga. Langkah ini dimulai dari lingkungan rumah tangga. Warga diberi pemahaman pentingnya me-

mahami konsep 3R dalam menangani sampah rumah tangganya. Upaya pemberdayaan sistem pengolahan sampah tersebut juga dilakukan melalui program desa dasar lingkungan. Saat ini sudah terbentuk 90 desa sadar lingkungan di wilayah Provinsi Bali. Program kebersihan lingkungan dari sampah rumah tangga menjadi tujuan utamanya. Ini dilakukan melalui berbagai aktivitas. Salah satu upaya pentingnya, adalah aksi pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik diharapkan dapat dimanfaatkan lagi dalam bentuk kompos. Sampah anorganik dapat didaur ulang (recycle) menjadi produk bernilai ekonomi. Penanganan sampah plastik khususnya perlu mendapatkan perhatian warga. Sampah plastik tergolong barang bekas yang memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun, bahkan ratusan tahun untuk bisa hancur. Konsekuensinya bagi tingkat kesuburan tanah juga serius. Kandungan zat kimia berbahaya dari sampah plastik dapat mengganggu kesuburan tanah. Pemerintah Provinsi Bali sedang melakukan kajian tek-

Alit Sastrawan

nis, sosial, dan ekonomi untuk mengatasi masalah sampah plastik ini. Salah satu upaya yang sedang disiapkan, merencanakan pembangunan pabrik pengolahan sampah plastik. Sampah plastik sebenarnya dapat dikelola lagi menjadi barang bernilai ekonomi. Ini sudah dilakukan pabrik pengolahan sampah plastik di Surabaya. Jika berdiri pabrik serupa di Bali diharapkan pengelolaan sampah plastik dapat relatif teratasi. Rencana tersebut sedang digodok dari aspek teknis, sosial, dan ekonominya. Upaya penanganan sampah plastik tersebut merupakan

salah satu program yang direncanakan untuk mewujudkan Bali bebas dari sampah plastik tahun 2013. Namun, upaya tersebut tetap dibarengi berbagai program nyata yang lain. Berbagai program tersebut ditujukan untuk mendorong tercapainya tujuan Bali Green Province, yaitu lingkungan Bali yang sehat, nyaman, lestari, dan indah berdasarkan Tri Hita Karana. Ini sejalan dengan makna Bali yang maju, aman, damai, dan sejahtera (Bali Mandara). Pengelolaan limbah domestik yang ramah lingkungan bukan hanya menjadi bagian penting program Bali Green Province, khususnya program Bali Clean and Green. Dalam program ini, pengembangan kajian lingkungan hidup strategis menjadi aspek penting lainnya. Selain itu, ada pula program pengendalian pemanfaatan ruang dan pengendalian pelanggaran sempadan, distribusi 200 tong sampah ke tempat suci, sekolah dan desa sadar lingkungan, penanaman pohon bambu dan bakau, pengembangan kota bersih, pengembangan sekolah berwawasan lingkungan, pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor,

pengendalian peredaran bahan perusak ozon, dan lain-lain. Selain program Bali Clean and Green, Pemerintah Provinsi Bali juga menggenjot program Bali Green Economy. Program ini meliputi upaya pengawasan melalui instrumen lingkungan, penataan kinerja perusahaan, pengembangan energi terbarukan, pengurangan sampah plastik di swalayan, penegakan hukum lingkungan, pemberian penghargaan Tri Hita Karana, dan mewajibkan semua dealer kendaraan bermotor berkontribusi mengurangi pencemaran udara. Ada pula program Bali Green Culture. Program ini meliputi upaya pengembangan sekolah percontohan yang berwawasan lingkungan, pengembangan kantor percontohan berwawasan lingkungan, lomba karya tulis remaja bertema lingkungan hidup, pameran teknologi ranah lingkungan, dan lain-lain. Alit Sastrawan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Buleleng: Putu Yaniek Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim NTB: Naniek Dwi Surahmi. Surabaya: Nora. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


18 - 24 Juli 2010 Tokoh 3

Hannah Debora

Ir. Jero Wacik, S.E. dan Dra. Triesna Wacik

Terbit Buku Pertamanya

1

terpilih menjadi juara I se-Bali lomba melukis dalam rangka Hari Bumi yang digelar Pemerintah Provinsi Bali tahun 2006. Tampaknya, lukisan tersebut menarik minat para pengunjung yang datang dalam lomba tersebut. “Lukisan Hannah dibeli salah seorang pengunjung. Hasil penjualan, Hannah sumbangkan kepada korban gempa di Yogjakarta tahun 2006,� ungkapnya. Tak mengherankan jika Hannah menjadi anak yang piawai melukis. Mamanya, Ni Ketut Ayu Sri Wardani, pelukis kebanggaan Bali. Bakat mamanya itu, menurun kepada kedua putrinya, tkh/lik Hannah dan kakak Hannah, Puteri Delphia Ester. Bahkan Hannah Debora bersama buku pertamanya kini, papanya, Erland Sibuea, ikut kepincut kegiatan SEBUAH buku kumpulan melukis. soal-soal olimpiade tingkat Orang yang berkunjung ke sekolah dasar bersampulkan rumah mungil Hannah akan lukisan burung jalak Bali yang dibuat kagum terhadap berbertengger di pohon, dan bagai ragam lukisan yang angka-angka terpajang rapi di terpajang di ruang tamu rumahmeja ruang tamu rumah Hannah nya. Lukisan karya Hannah dan Debora (12). Antara sampul dan keluarganya terpajang di situ. isi buku tersebut memang tak “Lukisan kami memiliki banyak ada korelasinya. Isi buku pesan. Lukisan milik Hannah tersebut tak menceritakan lebih banyak menampilkan kehidupan jalak Bali seperti pesan lingkungan hidup. Kami yang terlukis di sampul. Buku ingin pesan ini sampai ke tersebut lebih banyak berisi masyarakat,� kata mama kumpulan soal-soal matematika Hannah, Ayu Sri Wardani. sebagai persiapan siswa Kemampuan Hannah dalam menghadapi olimpiade. Namun, melukis tetap ia gelorakan ada makna khusus mengapa hingga kini. Bahkan, prestasi penulis buku itu membubuhkan lain yang ia miliki mampu ia lukisan cantik di sampul gabungkan dengan kegemaranbukunya. nya melukis dan menari. Buku itu merupakan karya “Hannah gemar menari tarian perdana Hannah Debora. Jalak Bali. Hannah juga suka Sejatinya, Hannah telah menulis melukis dan pelajaran matelima buah buku. Empat berisi matika,� tuturnya. kumpulan soal-soal Olimpiade Buku Kumpulan Soal Matematika, dan satu terkait Olimpiade Matematika itu bisa jalak Bali. Namun, baru satu menjadi media menggabungkan buku kumpulan soal-soal seluruh potensi diri Hannah. olimpiade yang bisa ia Hal itu juga sebagai salah satu terbitkan. cara gadis cilik kelahiran Tak ada teman-temannya Bandung, 8 Juli 1998, ini yang menyangka, Hannah bisa menyampaikan pesan-pesanmenulis buku. Maklum, gadis nya tentang penyelamatan cilik itu lebih dikenal ber- lingkungan hidup agar bisa prestasi di bidang melukis. sampai kepada masyarakat. Karya lukisannya telah memMenurut Hannah, menulis berinya seabrek penghargaan, buku kumpulan soal-soal salah satunya meraih Juara I olimpiade awalnya tak ia Lomba Melukis Lingkungan sengaja. Buku yang ia tulis dalam Pekan Olahraga dan Seni merupakan kelanjutannya dari Pelajar tahun 2009. Lukisannya berjudul “Melepas Penyu� juga Bersambung ke halaman 14

11 WAJAH Jero Wacik (JW) dan Triesna makin sumringah. Langkah kaki ekonomi keluarga pasutri ini kian mendaki ke puncak. Lebih sumringah setelah penghuni rumah tangga mereka bertambah lagi setelah lahirnya seorang anak lelaki bernama Bintang Wacikaputra. Tetapi, pola didikan mereka terhadap keempat anaknya diakui putri keduanya, Sagita Wacik, sebagai relatif “tega�. “Setelah kami dewasa baru menyadari maksud baik didikan Papa dan Mama dulu,� ujar mantan Runner Up Putri Indonesia ini.

Ketua Yayasan Sulam Indonesia Triesna Wacik (tengah) dalam acara Gebyar Adi Kriya Indonesia di Jakarta tahun 2009

S

alah satu contoh di lukiskan Sagita ten tang urusan masuk sekolah. “Mama dan Papa tidak pernah menemani saya dan kakak saya, Ayu, mendaftar sekolah. Ini terutama kami alami mulai SMP, SMA, dan universitas. Semua urusan masuk sekolah ini kami kerjakan sendiri, ya‌mulai daftar dan urusan tetek-bengek lain. Pokoknya Papa dan Mama hanya memberi ultimatum agar kami harus lulus tes masuk, titik. Jadi saya dan Ayu belajar sendiri dan berupaya untuk berhasil sendiri. Syukurnya itu bukan menjadi batu ganjalan bagi kami, tetapi justru jadi cambuk untuk maju dan berhasil,â€? papar ibu satu anak ini. Berhubungan dengan kiat menempa mentalitas kepri-

Rotary International Meresmikan Rotary Club Palestina

DDG Yetty Susan PR Chair D-3400

merekrut sekelompok Rotarian untuk memfasilitasi pembentukan Rotary Club baru. Shawwa Hashem, dari Rotary Club Amman-Petra, dibantu oleh beberapa klinik terkemuka di Rotary untuk anggota yang potensial. Silvers terlibat dalam upaya penyerahan piagam setelah Rotary Club Colorado Springs meminta bantuannya. Dia menghabiskan lima hari di Ramallah November lalu untuk melakukan sesi pelatihan dengan anggota Rotary Club potensial. Dia juga bertemu dengan Rotary Club Yerusalem dan Perdana Menteri Palestina dok. Rotary Club Ramallah Salam Fayyad. “Para anggota Rotary International President John Kenny (kiri) menyerahkan sebuah Rotary Club Ramallah memiliki sertifikat piagam kepada Nader Dajani, President Rotary Club Ramallah, pemahaman yang baik tentang Palestina, pada 30 Mei 2010. apa tanggung jawab dari seorang LEBIH dari 150 Rotarian dan tamu, termasuk Rotarian dan klub mereka,� ujar Silvers. “Mereka President Rotary International John Kenny dan memiliki visi dampak positif Rotary pada Rotary International Direktur Phil Silvers, masyarakat Ramallah.� ujar Silvers juga Uri Zeiger, berkumpul pada 30 Mei untuk penyerahan piagam Gubernur Distrik 2490, dan Yerusalem President kepada Rotary Club Ramallah, klub pertama di Club Mark Zober dengan membantu membangun klub baru. Palestina dalam tiga dekade. Pengakuan dari Rotary Club Ramallah berikut Klub baru ini telah diakui oleh Dewan Rotary International 18 Mei dan menambahkan lokasi lain upaya sebelumnya oleh Yordania Rotarian, Distrik ke peta Rotary, yang mencakup lebih dari 200 2490, dan Rotary Club dari Nazaret, Israel, untuk negara dan wilayah geografis. Klub ini di berada di memiliki Rotary Club Palestina. District 2450, yang mencakup bagian Timur Awal Layanan Tengah, Afrika Utara, dan Eropa. Ramallah Club terakhir secara resmi diakhiri pada tahun 1980. Service Above Self “Pembentukan Rotary Club yang baru selalu Sebanyak 34 anggota baru Rotary Club merupakan kesempatan untuk dirayakan,� kata Ramallah mengadakan pertemuan pertama mereka Kenny di Ramallah. “Ini berarti bahwa satu secara resmi pada 25 Mei dan telah memulai komunitas lagi di dunia kita akan mendapatkan proyek kemanusiaaan, termasuk sebuah bank manfaat dari keberadaan Rotary,� sambung- pakaian musim dingin. Anggota juga bekerja nya.Selama dua hari berikutnya, Kenny dan Sil- dengan District 2450 untuk mengembangkan vers juga menghadiri acara untuk menghormati Ro- taman masyarakat, termasuk beberapa anak-anak. tary club baru yang diundang dari Gedera Habiluim, “Tema kami adalah Masa Depan Palestina Ada Israel, dan Bani Amon Amman, Yordania. di Tangan Anak Anda,� kata President Club Ramallah Nader Dajani, paman yang menjadi Tahapan Rotary Club President Rotary Club Yerusalem pada 19441945. untuk Diresmikan Pusat Lingkungan Diplomasi akan membantu Di antara para tamu di tiga perayaan itu, Ted Beckett dan Jeffrey Behr, anggota Rotary Club of klub mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, Behr Colorado Springs, Colorado, Amerika Serikat, yang mengatakan, “Saya optimis dan berharap untuk menjadi co-sponsored Rotary Club Ramallah Rotary Club Israel kami bermitra dengan Rotary dengan Rotary Club-Petra Amman, Yordania. Club Ramallah dan klub-klub lain di seluruh Timur Beckett, ketua Pusat Lingkungan Diplomasi, Tengah pada Rotary Foundation Matching bertanya pada District tentang upaya memperluas Grants, pertukaran pelajar, dan upaya kolaboratif Rotary ke Ramallah setelah menghadiri pertemuan lainnya,� kata Zober. “Rotary Club Ramallah Rotary Club di Yordania pada Januari 2009. Pada akan mensponsori Rotary Club Palestina Februari, Behr, direktur eksekutif pusat, telah mulai tambahan di tahun mendatang,� kata Dajani.

badian anak JW dan istrinya selalu menekankan empat buah hatinya agar selalu berjuang melakoni kehidupan. Diingatkan, hasil perjuangan tersebut tidak melulu langsung membawa keberuntungan. JW dan Triesna berpesan jangan pernah menyerah jika perjuangan itu belum membuahkan nasib mujur. Buah hatinya selalu diajari filosofi kehidupan dengan kata-kata bersayap. “Papa selalu bilang, kita harus bisa jadi orang kaya, tidak seperti orang udik, tetapi juga harus bisa jika tiba-tiba miskin. Hidup itu naik dan turun. Kita harus bisa mengikuti alur itu,� ungkap Sagita. Namun, motivasi belajar untuk anak-anaknya selalu memperoleh perhatian utama dalam keluarga ini. “Papa selalu bilang, masa ujian itu ibarat masa bertapa. Jika serius bertapa nanti pasti akan jadi orang hebat. Makanya, jika tiba masa ujian sekolah, rumah kami tidak ada suara TV. Saat kami belajar, Papa dan Mama ikut membaca buku. Suasana belajar amat terasa saat itu,� tambah Sagita.

Presiden SBY menyalami Menbudpar JW dalam sebuah kunjungan ke Bali disaksikan Gubernur Bali (saat itu) Dewa Beratha

Tanamkan Filosofi Bersayap Motivasi untuk mendorong buah hatinya meraih prestasi di luar rumah amat kuat. JW biasanya menerapkannya melalui tiga doktrin. “Ada tiga doktrin yang saya dan Ayu ingat terus dari ucapan Papa. Pertama, tiap ada pertandingan kami harus ikut. Kedua, harus menang dalam tiap pertandingan. Tiga, kalau tidak menang harus berlatih lagi dan ikut lagi sampai menang ha ha ha ha... Ada lagi yang menarik, dulu waktu saya umur 6 tahun, saya dan Ayu suka disuruh baris berdua. Kami diminta Papa menyebutkan tiga doktrin itu. Jika ada tamu ke rumah pun kami disuruh menyebutkan doktrin itu di depan tamu,� lanjutnya. Namun, JW dan Triesna tak lupa membangun suasana rileks dalam keluarga mereka. Masa

akhir pekan merupakan jadwal pelesir keluarga ini. Pilihan tempat rekreasi dapat dilakukan di sejumlah objek wisata di Jakarta. “Hampir tiap Minggu saya dan istri mengajak anakanak berekreasi ke Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, dan lain-lain. Tetapi, malam Minggu khusus waktu saya dan istri berdua nonton film di bioskop. Ini jadi semacam tradisi kami berdua untuk mengisi malam Minggu sejak masa pacaran dulu. Kami betulbetul menikmati suasana romantisme ini,� ungkap Menbupar JW kepada Koran Tokoh. Keluar dari Astra Kehidupan ekonomi keluarga JW memang sudah tidak sesulit tempo dulu. Jabatan JW sebagai salah seorang direktur

di PT Surya Raya Idaman (SRI), milik putri taipan William Soerjawidjaja, telah mengantarkannya menjadi seorang kepala keluarga yang lebih dari sekadar berhasil menafkahi istri dan anak-anaknya. “Saya memperoleh fasilitas istimewa saat menjadi direktur di PT SRI. Saya punya tugas khusus untuk membangun relasi dengan pemerintah. Makanya, saya kan harus menunjukkan citra eksekutif perusahaan andal untuk meyakinkan relasi bisnis. Sebuah sedan BMW baru selalu siap mengantarkan saya. Fasilitas semacam ini tak pernah saya kecapi selama 18 tahun berkiprah di anak perusahaan PT Astra lho‌â€? ungkap JW. Tetapi, JW merasa pengabdiannya selama lima tahun di perusahaan milik Yudith Soerjawidjaja itu sudah cukup. Kariernya untuk menuju puncak pimpinan manajemen ini sudah mentok. “Sebagai pegawai perusahaan saya merasa tandatanda menjadi owner di situ tidak ada. Saya akhirnya berniat mundur dari perusahaan ini,â€? katanya. Namun, sebelum memutuskan itu, JW sudah membayangkan langkah berikut yang akan ditapakinya. “Saya memiliki dua modal utama. Reputasi yang baik dan cermat plus lihai melihat serta menangkap peluang bisnis. Ini sudah saya buktikan selama bekerja di Astra Group maupun PT SRI,â€? ujarnya. Alasan itu pun menjadi jawaban JW saat mengajukan surat berhenti dari perusahaan kepada William Soerjawidjaja. “Saat bertemu Om Willem, dia menanyakan jika berhenti kelak, modal saya apa. Saya bilang, modal saya itu tadi, reputasi dan cermat melihat dan menangkap peluang. Soal modal uang bagi saya itu akan mengalir dengan sendirinya kelak,â€? kenangnya. Namun, sebelum sungguh memutuskan berhenti sebenarnya JW telah berdiskusi dulu dengan istri dan anak-anaknya di rumah. Keluarganya diajak berembuk untuk siap menghadapi kondisi apa pun jika dirinya berhenti kelak dari PT SRI. “Saya kumpulkan istri dan anak-anak. Saya menyampaikan, selain kemungkinan berhasil, juga kemungkinan terburuk harus bisa dihadapi jika saya kelak keluar dari PT SRI. Ini penting agar keluarga di rumah tidak kaget jika bisnis baru yang akan saya jalankan ternyata gagal. Tetapi, hasilnya kan ternyata menunjukkan putusan saya tidak salah,â€? katanya. —sam Menbudpar JW (paling kanan) di atas Geladak Kapal Spirit Majapahit saat memberangkatkan kapal tersebut keliling delapan negara dari Pelabuhan Marina Batavia Jakarta, 4 Juli 2010


4

Tokoh

ERGONOMI

18 - 24 Juli 2010

Ergonomi bukan Hal Baru bagi Leluhur Masyarakat Bali ILMU ergonomi bukan hal baru bagi masyarakat Bali, khususnya leluhur masyarakat Bali. Sejak dulu, para lelulur sudah melakukan perhitungan yang matang sebelum membuat sesuatu. Salah satu tujuannya, agar apa yang dihasilkan memberi manfaat bagi yang menggunakannya secara optimal. Konsep kenyamanan juga dipentingkan dalam pembuatan suatu alat atau pengerjaan suatu pekerjaan.

M

enurut pakar ergonomi Unud Prof. dr. I Dewa Putu Sutjana, M.Erg.n FFK, Sp.Erg. Bali punya banyak modal yang bisa dijadikan contoh penerapan ilmu ergonomi. Misalnya di Bali, cangkul bertangkai panjang sesuai dengan konsep ergonomi. Dengan tangkai panjang, orang mencangkul tidak perlu membungkuk. Tetapi, di sektor pertanian ada yang belum terpecahkan, yakni cara menanam padi dengan gaya menunduk dan berjalan mundur. Sikap kerja ini sebenarnya berakibat tidak baik bagi kesehatan punggung. “Di beberapa desa sudah ada yang melakukan penyesuaian dengan mengambil benih padi segenggam saja, setelah habis, dia berdiri untuk mengambil lagi. Ini mengurangi risiko sakit pinggang,” ungkapnya. Pria asal Pejaten ini menambahkan, dapur orang Bali zaman dulu sudah menerapkan konsep ergonomi. Posisi tungku yang tinggi membuat orang yang memasak di dapur tidak perlu membungkuk. Namun, posisi yang sejajar dengan penempatan kayu bakar di tengah menimbulkan kesulitan saat akan mengambil atau menaruh tempat masak di tungku tengah. “Solusinya, bahan bakar dimasukkan dari samping, jadi orang tidak akan kesulitan saat mengambil atau menaruh alat masak di ketiga tungku yang ada. “Inti konsep ergonomic, orang bisa nyaman saat bekerja sehingga apa yang dilakukan bisa efisien,” ujarnya. Prof. Adnyana Manuaba menambahkan konsep ergo-

nomi pada prinsipnya kembali ke sikap alamiah dan menyesuaikan karakteristik manusia. “Kalau orang melakukan sesuatu pekerjaan sembari berdiri, posisinya harus benar-benar berdiri, tidak bungkuk. Kalau dia duduk dan mengerjakan sesuatu yang memerlukan ketelitian, dia harus duduk dengan bidang kerja setinggi siku. Contoh, kalau memasak di dapur sambil berdiri, kompor harus disesuaikan dengan tinggi orang yang memasak. Apa pun yang diperlukan, semua harus dalam jangkauan. Kalau menyapu, gagang sapu harus panjang agar si penyapu tidak membungkuk. Kalau menjahit atau menulis sambil duduk, bidang kerja harus setinggi siku sehingga jari saja yang fokus bekerja. Tidak ada energi tambahan untuk menopang tangan. Memotong bawang di dapur, medan kerjanya harus lebih rendah 10 cm dari siku. Pekerjaan yang lebih berat seperti mengulek, medan kerjanya lebih rendah sampai 20 cm,” tandasnya. Secara medis, tulang punggung sebagai penyangga tubuh terdiri atas tulang yang bertumpuk-tumpuk. Tulang ini tidak terlalu kuat. Kalau di-

Prof. Sutjana

paksakan, akan menimbulkan kelelahan dan sering istirahat sehingga produktivitas kerja rendah. Workshop dan Konperensi Terkait dengan ergonomi dan produktivitas ini, Pusat Kajian Ergonomi Unud yang didukung Program Studi S2 dan S3 Ergonomi Unud, Bagian Fisiologi FK Unud, Bali Human Ecology Study Groups (BaliHESG), Persatuan Ergonom Indonesia (PEI), ICOH, dan Institute Research Mutual Liberty Amerika Serikat, mengadakan workshop dan konperensi pakar ergonomi dunia bertajuk “APCHI-Ergofuture 2010” di Bali. Dalam workshop, materi yang akan dibahas antara lain ergonomics and bussiness yang mengupas keuntungan ekonomi dari penerapan ergonomi, efektivitas penerapan ergonomi dan mengomunikasikan ergonomi kepada pelanggan, Kaizen in industry yang membahas pendekatan ergonomi untuk keselamatan dan kesehatan, ergonomics guidelines and prac-

Awal Agustus Workshop Ergonomi di Bali tical approaches yang bertujuan memahami panduan ergonomi untuk meningkatkan kondisi kerja di negara industri yang sedang berkembang serta bagaimana mengidentifikasikan masalah ergonomi berikut solusinya, school ergonomics yang mengagendakan cara untuk melibatkan anak-anak sekolah dalam mendesain sekolah dan kurikulum serta mengintegrasikan ke dalam kurikulum utama, cognitive task anaysis and human quality assurance yang mengagendakan pengenalan metode kognitif untuk menganalisis dan mendesain produk serta mengurangi kesalahan manusia. Workshop ini menghadirkan para pakar ergonomi dari Jepang, Indonesia, Inggris, dan Singapura sebagai pembicara. Di luar mereka, masih banyak pakar ergonomi yang bisa diajak tukar informasi dan pengalaman. Peserta bukan hanya mahasiswa S2 dan S3 Ergonomi, tetapi mereka yang tertarik untuk menekuni ergonomi serta ingin menerapkan konsep ergonomi. Gubernur Bali pun memberi respons positif kegiatan “APCHI-Ergofuture 2010” ini dengan menyiapkan acara makan malam, Wali Kota Denpasar ikut memberikan makalah, sedangkan Bupati Badung masih kami tunggu konfirmasinya,” tegas Prof. Adnyana Manuaba yang menjadi penanggung jawab “APCHI-Ergofuture 2010” awal Agustus 2010 ini. —wah

Denpasar dan Fukuoka

Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Sister School KEHADIRAN Dewan Pendidikan Kota Denpasar (DPKD) bersama Kepala Smansa Denpasar, pengurus YUAI Bali dan Lombok didampingi oleh Sekda Kota Denpasar ke Jepang adalah untuk mempererat persahabatan yang telah dipupuk sejak 2007 yang lalu ketika Matake Sensei berda di Denpasar, yang difasilitasi oleh IGKG Pujawan, pengurus Dewan Pendidikan bidang pendanaan. Titian muhibah kali ini dititikberatkan dalam penjajakan sister school dan berbagai kemungkinan kerja sama lainnya dengan pemerintah Kota Fukuoka. Setidaknya rombongan ini memperkenalkan pendidikan di Kota Denpasar dan prospek kerja sama yang dapat diajukan seperti pertukaran murid dan guru, beasiswa, bantuan buku dan alat-alat laboratorium. Rupanya kehadiran Dewan Pendidikan Kota Denpasar beserta rombongan oleh pihak pemerintah, Dewan Pendidikan Kota Fukuoka, NPO serta masyarakat Kota Fukuoka direspons dan diapresiasi dengan baik layaknya menerima keluarga yang lama tidak berjumpa. Suasana keramahtamahan dan bersahabat sejak penjemputan sampai dengan pengantar pulang dilaksanakan tanpa cacat. Kepercayaan mereka dilakukan dengan ketulusan, kesungguhan dan bukti, bukan birokrasi. Beberapa

sekolah yang dikunjungi dipilih sejak pendidikan mulai prasekolah hingga perguruan tinggi. Sekolah yang dikunjungi yaitu Emile Nursery School, sekolah ini merupakan gabungan taman kanak-kanak dan penitipan anak. Sekolah ini ditujukan bagi anak-anak yang kedua orangtuanya bekerja. Berikutnya, Satsuki Kindergarden, merupakan salah satu sekolah taman kanak-kanak terbaik dan termahal di Kota Fukuoka yang dipimpin oleh Ryuma Kitaguchi. Di sekolah ini, waktu di sekolah tidak sepanjang di Emile Montessori School. Siswa Satsuki belajar di kelas sampai pukul 15.00, sehingga siswa makan siang di sekolah. Sekolah ini diajarkan oleh guru kelas sesuai dengan kompetensinya. Sekolah lain, sekolah dasar Higashimiyanaga di Miyanaga, merupakan sekolah yang sarat dengan prestasi, antara lain olah raga bela diri sumo dan kesenian lainnya, serta memiliki prestasi akademis dengan dilandasi dengan Program for International Student Assesment. Shuyukan Senior High School, adalah sekolah menengah atas terbaik dan terkemuka di Kota Fukuoka yang dibangun 127 tahun yang lalu. Sekolah ini menurut Kimitoshi Watanabe sebagai Wakil Kepala Sekolah, sangat bangga

memiliki alumni yang berprestasi. Para alumni seperti Furukawa San yang menjadi anggota DPR Kota Fukuoka yang memfasilitasi kehadiran Dewan Pendidikan beserta rombongan adalah alumnus Shuyukan School. Fukuoka International University, adalah salah satu di antara 34 universitas negeri maupun swasta yang ada di Fukuoka Perfecture. Keseriusan mereka membangun pendidikan adalah terlihat pada perencanaan dan pelaksanaan sistem yang dilandasi dari kebutuhan pendidikan sejak anak-anak sampai dengan dewasa. Besarnya anggaran pembangunan pendidikannya untuk tahun fiskal 2010 adalah 22,1% dari 100% total pendanaan pembangunannya. Bahkan mereka mempersiapkan alokasi dana tambahan lagi 3,1% untuk keperluan pendidikan lainnya. Keseriusan mereka ditujukan untuk melindungi aset kebudayaan mereka namun terdepan dalam teknologi informasi. Konsep ini tidak diartikan memadukan tradisi dengan modernitas, akan tetapi bagaimana tradisi mampu setara dengan modernitas. Itu sebabnya sejak usia dini artinya sejak di saat penitipan anak ataupun di tingkat TK dipandang sebagai perletakan dasar bagaimana anak-anak menyikapi kebudayaan, teknologi dan lingkungan mereka hidup kelak. Jika dipandang keberpihakan mereka pada anak-anak,

khususnya pada tingkat sekolah dasar dari sudut penyediaan dana, ternyata dari 100% dari dana pendidikan, senilai 38,7% dialokasikan untuk kebutuhan pembiayaan elementary school. Di samping mengunjungi berbagai sekolah dengan beragam strata, Dewan Pendidikan Kota Denpasar beserta rombongan berkesempatan diajak berkeliling wilayah Fukuoka, seperti ke gedung pencakar langit tertinggi yang disebut dengan Fukuoka Tower, Fukuoka Dome. Pada 30 Mei 2010 siang rombongan berkesempatan menyaksikan pertandingan baseball tim terkenal di Fukuoka. Selanjutnya ke Dazaifu untuk melihat Tenmangu Shrine, kemudian ke Kota Kumamoto untuk melihat Istana Kumamoto, menikmati keindahan Gunung Aso yang masih aktif dan memiliki kaldera yang indah sekaligus menakutkan. Saat berkunjung ke Yanagawa, Wali Kota Yanagawa Kenji Kaneko sangat berharap dapat menjalin kerja sama dengan Kota Denpasar di bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan lainnya. Beliau menjamu rombongan dengan wisata sungai yang dikenal sebagai Kawa Kudari dan dilanjutkan dengan makan malam di Aung Restaurant yang arsitektur bentuk, bahan, dan pekerjanya didatangkan dari Bali, namun makanannya bergaya Jepang. —asp/pal

Bangun Trotoar yang Ergonomis

Trotoar harus dibuat dengan konsep ergonomi. Jangan sampai trotoar membahayakan pejalan kaki. Tampak salah satu trotoar di dekat traffic light Jln. Gatot Subroto — Jln. A. Yani yang berlubang dan membahayakan pejalan kaki

T

ROTOAR merupakan fasilitas yang dibangun untuk akses pejalan kaki. Trotoar juga menjadi penunjang tata kota karena penataannya yang baik akan memengaruhi suasana jalan. Di beberapa kota besar, trotoar dimanfaatkan pejalan kaki untuk window shopping. Pejalan kaki tidak perlu masuk ke toko, mereka hanya jalan di trotoar sembari melihat apa yang dipajang di etalase toko. “Pembangunan trotar menjadi prioritas di kota karena merupakan salah satu kriteria penilaian keberhasilan kota. Trotoar dimaksudkan untuk memberi kenyamanan kepada pejalan kaki. Tetapi, banyak trotoar yang dibangun tanpa memperhatikan aspek ergonomi,” ungkap Prof. dr. I Dewa Putu Sutjana, M.Erg., PFK., Sp.Erg., pakar ergonomi Unud. Trotoar dibangun sebagai sarana bagi pejalan kaki, pe-

makai kursi roda, dan kereta bayi, agar dapat berjalan dengan lancar, aman, nyaman, tidak mengganggu lalu-lintas, dan menghindari kecelakaan lalu-lintas. Dalam pelaksanaannya, trotoar lebih dilihat sebagai pinggiran jalan. “Dari penelitian yang pernah saya lakukan, ada trotoar yang dibangun di atas got, trotoar terputus (tidak nyambung), trotoar dipakai tempat jualan, trotoar yang tidak ditutup, dan trotoar yang memiliki tanaman,” ujarnya. Pembangunan trotoar di atas got sering tidak memperhatikan kepentingan got. Tiang penyangga trotoar yang berdiri kokoh di got sangat mengganggu aliran got. Kalau ada sampah, tentu akan terus tertimbun. Jika hujan, air akan meluap dan menyebabkan banjir. Ada juga trotoar yang dibangun sebagai pinggiran jalan yang posisinya dibuat lebih tinggi daripada jalan raya. Begitu tingginya, orang yang

parkir di pinggir trotoar sulit untuk membuka pintu mobil. Ada juga trotoar yang terputus karena ada sungai, tembok, leneng, tiang traffic light, gardu, dll. Putusnya trotoar ini membuat pejalan kaki harus turun ke jalan dan ini membahayakan pejalan kaki. Yang lebih parah lagi, trotoar yang seharusnya berfungsi sebagai akses pejalan kaki malah dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, seperti tempat berjualan dan membuka bengkel. Selain itu ada juga trotoar yang diisi pot bunga dengan alasan untuk mempercantik kota. “Trotoar yang ergonomis harus memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki. Lebar trotoar harus dua kali lebar bahu orang dewasa. Jika berpapasan, orang tidak perlu memiringkan badan,” ujar Profesor asal Pejaten, Tabanan, ini. Terkait penataan trotoar, Kabag Humas Pemkot Denpasar Erwin Suryadarma mengatakan Dinas Tata Kota dan Dinas PU sudah melakukan kajian. “Memang tidak semua bisa dibuatkan trotoar, karena beberapa ruas jalan ada yang tidak memungkinkan dibanguni trotoar. Ada trotoar yang sudah dirancang untuk dilalui minimal dua orang, seperti di Sanur. Tetapi, ada juga trotoar yang hanya bisa dilalui satu orang,” ujarnya. Erwin menyatakan pembangunan trotoar mengakomodir kepentingan umum dan kepentingan pribadi. Kepentingan umum terkait keselamatan penjalan kaki sedangkan kepentingan pribadi terkait rumah yang di depan rumahnya dilintasi trotoar. “Kalau semua trotoar dibuat rata dan lebar, nanti malah sepeda motor yang melintas,” ujarnya. —wah


PENDIDIKAN

Bebas Macam-macam Sumbangan!

s usu Kh

2 ke ang mb o l Ge

Praktik harus Bayar lagi atau Beli Bahan Sendiri?

Pada saat masyarakat mengeluhkan biaya pendidikan yang tinggi ditambah lagi banyak sarjana yang menganggur, SHS malah kebanjiran mahasiswa. Banyak siswa kelas 3 SMA/SMK yang sudah mendaftar masuk ke SHS sebelum menerima ijazah dan SNMPTN. Ratusan mahasiswa mulai masuk perkuliahan gelombang 1 pada 9 Juni 2010. Membanjirnya siswa yang mendaftar, merupakan bukti kualitas, prestasi dan reputasi SHS serta kepercayaan orangtua pada SHS makin besar.

ragam, diktat siswa, bahan-bahan praktik, ujian, job training dan asuransi. KELAS BARU 2010 : Gelombang 2 : kuliah perdana 14 Juli. Gelombang 3: kuliah perdana 25 Agustus. Gelombang 4 : kuliah perdana 10 November Tidak ada biaya tambahan lain seperti uang pangkal, uang gedung, SPP tiap bulan, biaya praktik, serta bebas macammacam uang sumbangan sehingga orangtua tidak perlu lagi pusing memikirkannya. Ditunjang lagi dengan lokasi kampus SHS yang strategis dan terjangkau oleh semua angBEBAS UANG PANGKAL kutan kota. – UANG GEDUNG - UANG PRAKTIK – UANG SPP/SETERKENAL MESTER, DAN MACAM– DI SELURUH DUNIA MACAM SUMBANGAN. Mutu SHS memang tidak diragukan lagi. Bukti Dengan biaya kuliah yang paling nyata yakni yang relatif terjangkau di semua lulusan SHS terSHS, untuk program tampung di sejumlah sekumum perhotelan selama tor lapangan pekerjaan. 18 bulan hanya Rp 8 Lebih dari 10.000 lulusan, juta, sedangkan program sekitar 50% dari jumlah khusus food product se- tersebut, bekerja di luar lama 1 tahun hanya Rp negeri seperti hotel ber4 juta, pastry & bakery bintang di Amerika Serikat, selama 1 tahun hanya Rp Eropa, Asia hingga Austra3 juta, room division se- lia serta lulusan SHS juga lama 1 tahun hanya Rp bekerja di sejumlah kapal 2,5 juta, bartending F&B pesiar kelas dunia. Seservice selama 1 tahun mentara di dalam negeri, hanya Rp 2,5 juta. Biaya lulusan SHS juga menini sudah termasuk se- dapatkan tempat yang

Singaraja ... The City of Science Sebagai penggagas branding Bali, The Island Of Science (Bali, Pulau Pengetahuan) yang sudah diluncurkan 2 Mei 2010 oleh Kopertis Wilayah VIII, saya punya tanggung jawab moral untuk selalu menyampaikan dan menggelorakan branding baru ini ke seluruh komponen negeri atau sahabat-sahabat bangsa Indonesia. Termasuk pun saya menyampaikan cita–cita dan harapan saya untuk Kabupaten Buleleng untuk dapat segera “mengklaim” secara resmi bahwa Buleleng mempunyai Kota Singaraja yang pantas untuk menjadi Kota Pengetahuan, The City Of Science. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi Singaraja pantas menyandang gelar The City Of Science. Di antaranya, sudah sejak dulu masyarakat luas menyebut Singaraja adalah Kota Pendidikan, tetapi ini baru sebatas julukan yang dikarenakan dari data kuantitas adanya jumlah sekolah maupun perguruan tinggi di kota ini. Tetapi, dari kesejarahan, Singaraja adalah sebuah kota tua yang mempunyai peranan besar dalam perjalanan bangsa Indonesia, misalnya Singaraja pernah menjadi ibu kota Bali, juga banyak tokoh intelektual lahir dari tanah ini sebut saja misalnyan A. A. Panji Tisna (Keturunan Raja Buleleng) yang sangat disegani kaum intelektual dan akademisi pada zamannya. Juga keheroikan Ki Barak Panji Sakti yang memiliki tingkat intelektual sangat tinggi dalam menerapkan strategi menghadapi kolonialisme. Dan, yang paling populer tentunya Singaraja pernah melahirkan seorang Dr. Ir. Sukarno!!! seorang proklamator dan pemimpin besar revolusi Indonesia. Dr. Ir. Sukarno merupakan sosok intelektual terpandai di muka bumi, karena ada seorang putra Buleleng, keturunan dari kaum Brahmana Pasek Bale Agung, bisa mendapatkan

cukup strategis. GRATIS INFO KERJA Banyak perusahaan, hotel, restoran memasukkan info lowongan kerja di SHS. Info lowongan kerja dibuka dan diberikan gratis untuk siswa, alumni, tanpa dipungut biaya apa pun, sehingga siswa/alumni dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan. Info lowongan kerja juga terbuka untuk siapa saja yang ingin cepat kerja termasuk nonalumni SHS tanpa dipungut biaya apa pun. Ini salah satu bentuk kepedulian dan pengabdian SHS kepada masyarakat. Tunggu apalagi, daftar sekarang juga!

18 - 24 Juli 2010 Tokoh 5

gelar Doktor Honoris Causa sebanyak 26 gelar dalam hidupnya, melebihi pemimpin dunia lainnya. Rakyat Buleleng pun harus diingatkan, jika tidak ada darah Buleleng dalam diri Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, tentu tidak akan ada sosok Dr. Ir. Sukarno yang pemberani dan pintar yang menemukan teori Pancasia, Marhaenisme, dan Tri Sakti. Alasan lainnya, baru-baru ini, Buleleng mempunyai tiga simbol Ganesha yang menjadi lambang intelektual tertinggi. Dewa Ganesha juga Dewa Ilmu Pengetahuan, Dewa yang membantu Maharsi Wiyasa untuk menuliskan kitab suci Catur Weda. Kini Buleleng punya Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja, punya Patung Ganesha Tertinggi di ASEAN di Kalibukbuk Lovina dan Candi Ganesha Buddha di Bantang Banua, Sukasada. Jadi tunggu apa lagi, alam leluhur dan niskala seakan sudah memberikan sinyal pada rakyat Buleleng untuk serius membangun pendidikan tinggi sebagai panglima pembangunan di Bali. Jadi pantaslah kiranya, jika seluruh komponen di Singaraja bergerak untuk menjadikan kota mereka sebagai Kota Pendidikan, Kota Pengetahuan, Kota Intelektual, sekali lagi, mumpung belum ada yang memakai gelar ini secara resmi. Apalagi saya dengar Jogjakarta, Kota Bandung, dan Kota Malang juga sedang ngebet ingin memakai gelar The City of Science untuk kota mereka. Coba amati Pulau Bali, Buleleng dan Singaraja terletak di arah Utara, jika diibaratkan sebagai bentuk tubuh, Singaraja adalah kepalanya (Siwa Duara) Pulau Bali. Tentu saja jika ingin menyelamatkan seluruh bagian tubuh Bali, tentu selamatkan dulu kepalanya. Saya yakin, menyelamatkan Bali harus dari Singaraja dulu, The City of Science.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si.

Informasi lengkap hubungi :

Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

SHS (Surabaya Hotel School) Jalan Joyoboyo 10 Surabaya Tlp. : (031) 563 3608 Faks. : (031) 567 9422 Surel : info@shs-sby.com shs_sby@telkom.net Situs : www.shs-sby.com MINGGU SEKRETARIAT TETAP BUKA 09.00 – 17.00 WIB

KELAS BARU 2010 : Gelombang 2: kuliah perdana 14 Juli. Gelombang 3: kuliah perdana 25 Agustus. Gelombang 4: kuliah Perdana 10 November

Lulusan SBI Ikuti SPMB IKIP PGRI Bali Lulusan BKB bisa Masuk ke Sektor Industri dan Sosial

JIKA memilih melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP PGRI Bali, tentu yang terbayang di benak kita adalah lulusannya nanti pasti arahnya menjadi guru. Bagaimana tidak, selama ini IKIP PGRI Bali dikenal sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) favorit yang mencetak caloncalon guru berkualitas. Namun ternyata, tak semua lulusannya berorientasi pada sekolah. Hal ini diungkapkan Pembantu Rektor I IKIP PGRI Bali Drs. Putu Karpika, M. Si. Contohnya, mahasiswa jurusan BK (bimbingan konseling). Mereka tak hanya bisa masuk ke sekolah, namun juga sektor lain seperti BK industri dan BK sosial. “Jadi lulusannya nanti tak hanya mentok menjadi guru BK, namun ilmunya bisa juga diaplikasikan ke sektor industri seperti di perusahaanperusahaan atau di masyarakat (sosial) seperti sektor kepolisian,” ujar Karpika yang juga menjadi Ketua Panitia seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) IKIP PGRI Bali Tahun Ajaran 2010/2011.

I Gusti Ngurah Oka, S. H.

Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. dan Sekretaris Yayasan I Gusti Ngurah Oka, S.H. meninjau penyelenggaraan SPMB, Rabu (14/7)

Tahun ini ada 160 calon mahasiswa yang memilih jurusan BK. Bahasa Indonesia diminati 183 orang, Bahasa Daerah (261), Seni Rupa (18), Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) (38), Sejarah (34), Ekonomi (96), Olah Raga dan Kesehatan (372), Matematika (205), dan Biologi (91). SPMB yang berlangsung Rabu (14/7) di kampus pusat dan kampus II itu diikuti 1.458 peserta reguler dan 51 peserta ampulen. Jadi

Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd.

K U L I N E R

jumlah keseluruhan peserta 1.509. Tes dibagi menjadi dua tahapan, tes teori dan wawancara. Khusus untuk Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan (FPOK) ditambah dengan tes kebugaran. Tes ini meliputi penampilan, segi fisik/kesehatan. “Dilakukan juga pengecekan fisik di luar tanda kelahiran alamiah. Jika ada tato, dipastikan tidak lulus,” ujarnya. Hasil tes gelombang pertama ini akan diumumkan pada 22 juli.

Drs. Putu Karpika, M.Si.

Pendaftaran gelombang kedua untuk jurusan Seni Rupa, Sejarah, dan Sendratasik dibuka 15-22 Juli, tes pada 26 Juli, dan pengumuman kelulusan 28 Juli. Yang paling membanggakan, calon mahasiswa yang mendaftarkan dirinya di IKIP PGRI Bali tak hanya fresh graduated, namun juga merupakan lulusan sekolah bertaraf internasional (SBI). Dengan dipercayanya IKIP PGRI Bali sebagai pilihan melanjutkan pendidikan tingginya, Karpika mengatakan tanggung jawab moral civitas akademika makin besar. Dari segi akademik, kurikulum akan terus disesuaikan sehingga lulusannya nanti bisa lebih cepat dan tepat waktu serta memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan masyarakat. Ini juga dibarengi dengan pengembangan fasilitas pembelajaran seperti pembangunan ruang perkuliahan baru, lab microteaching, penambahan lahan parkir sepeda motor, serta ruang pertemuan ala Australia yang kedap suara. Ruang representatif ini, kata I Gusti Ngurah Oka, S. H., Sekretaris Yayasan untuk rapat pimpinan. “Kami sudah membangun delapan ruang kuliah baru yang siap dipakai untuk tahun ajaran ini,” ujarnya. Sementara, untuk menjaga mutu proses pembelajaran, rasio dosen dan mahasiswa tetap diperhatikan. “Karena itu, IKIP PGRI Bali akan segera merekrut dosen baru,” ujar Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. –asp/ten

IKLAN CANTIK

Migren Menahun Sembuh Retno gadis usia 26 tahun ini hampir putus asa karena menderita sakit kepala sebelah sejak usia 10 tahun. Meski sering diobati, keluhan migren tak jua sembuh bahkan sering kali kambuh. “Ketika kecapekan, stres, telat makan dan perubahan cuaca mendadak membuat migren saya kambuh,” ujar remaja asal Banyuwangi yang merantau ke Denpasar ini. Ia mengaku sangat menderita dengan penyakitnya itu. Apalagi jika kambuh, kalau belum sampai muntah, migren itu tak akan sembuh. Satu-satunya jalan untuk mengurangi nyut-nyut di kepalanya itu,

ia minum obat. Tanpa sengaja, ia menemukan tempat terapi akupuntur Cina bermutu di Klinik Suhu Yo. Ia pun mencoba melakukan terapi tusuk jarum itu. Ternyata hasilnya di luar dugaan, baru sekali terapi, migren menahun di kepalanya sembuh. “Terapi akupuntur ini terbukti mengurangi keluhan migren saya serta gejala panas dalam dan keluhan susah buang air besar yang sering saya alami,” ungkapnya senang. Kini ia kembali bersemangat dan tertarik melakukan terapi berikutnya agar penyakit migrennya kan terapi akupuntur kecantikan di sembuh total. Selain sehat, ia pun Klinik Suhu Yo untuk mengurangi ingin tampil cantik dengan melaku- berat badan. —tin

S A L O N

&

S P A


6

Tokoh

NUSANTARA

18 - 24 Juli 2010

Salam dan Sapa Gaya Yogya Ia menambahkan, dalam kegiatan sehari-hari, saat memberikan salam dan menyapa kepada orang lain yang paling umum mengawalinya dengan ungkapan kata sugeng yang artinya selamat. Ia mengatakan salam sugeng ini diberikan kepada sesama warga asal Jawa. Namun, pemberian salam juga disesuaikan kepada siapa salam itu diberikan. Jika bertemu umat Muslim bisa mengucapkan assalamu’alaikum, dan jika bertemu warga asal Bali, dengan mengucapkan Om swastiastu atau cukup swastiastu. Ketua Yayasan Adi Budaya Ngeksi Gondo Drs. Rinto Widyarto, M.Si. menuturkan kata sugeng ini mengandung harapan baik kepada orang yang diberi salam serta mengandung doa.

tkh/tin

P

aguyuban Ngeksi Gondo berdiri di Bali tahun 1978 menghimpun warga Bali asal Yogyakarta. Mereka berupaya tetap nguri-uri atau melestarikan budaya Yogyakarta dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya berbahasa Jawa halus dalam pertemuan warga Paguyuban. Di kalangan keraton, penghormatan dilakukan dengan menundukkan kepala sedalam sekitar 15 derajat, dan membungkukkan sebagian badan. “Salam penghormatan tertinggi kepada raja dalam wujud menyembah. Para abdi dalem yang hendak menghadap raja harus melakukan laku dodok yaitu berjalan dengan menggeser kedua lutut di hadapan raja,” kata pria kelahiran Magelang ini.

tkh/tin

DALAM budaya Keraton Yogyakarta terdapat tradisi menyapa atau memberikan salam. Di kalangan warga keraton ada tata cara yang tak boleh dilanggar kerabat keraton maupun para abdi dalem. Demikian diungkapkan Ketua Umum Ngeksi Gondo Bali H. Riyanto, S.I.P.

Drs. Rinto Wiryarto M.Si.

H. Riyanto

“Dalam bahasa Jawa kata sugeng ini termasuk dalam bahasa Jawa ngoko maupun kromo halus,” kata dosen ISI Denpasar ini. Salam sugeng juga dipakai untuk memberikan sambutan. Misalnya, sugeng rawuh, salam untuk menyampaikan selamat datang yang diikuti gerakan tangan mempersilakan yakni tangan kanan menggenggam menyisakan ibu jari. Pemakaian jempol untuk mempersilakan ini memiliki makna mengistimewakan orang yang dipersilakan. “Jempol tak boleh tegak lurus

melainkan agak miring ke luar. Hal ini memberi kesan fleksibel dan tak sombong,” ungkapnya. Salam sugeng pun dipakai dalam bertegur sapa sehari-hari seperti sugeng injing, saat mengucapkan selamat pagi. Ucapan salam sugeng jika mereka bertemu dengan posisi berdekatan. Jika posisi berjauhan cukup tersenyum dan menganggukkan kepala. “Salam sugeng ini sebaiknya dimulai yang muda kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua. —tin

WARGA Bali asal TimorTimur merasakan sebagai keharusan memberi salam kepada warga Bali lainnya yang berasal dari daerahnya. Ketua Deputi Sosial Ekonomi Paguyuban Warga Timor-Timur di Bali Agustinho S.A. Correia mengatakan salam akrab mereka adalah saling berpelukan dan mencium pipi kiri dan kanan. “Salam ini dilakukan laki-laki terhadap perempuan maupun sebaliknya, dan berlaku untuk semua usia. Tradisi ini merupakan warisan budaya Barat yang telah melekat dalam tradisi masyarakat Timor-Timur,” ujarnya. Selain salam, dalam tradisi masyarakat Kabupaten Liquisa Timtim, terdapat tata cara menyambut tamu dengan memberikan manafate yang berisi daun sirih, pinang, kapur, dan

rokok, oleh tuan rumah. Jika tak ada rokok bisa disuguhkan tembakau dan kulit jagung. “Tradisi ini tetap kami lestarikan walaupun kini kami telah menjadi warga Bali,” kata bapak 11 anak ini. Ia menambahkan, pemberian manafate dalam kegiatan adat memiliki makna tuan rumah menerima tamu dengan niat baik. Penyambutan dengan manafate dilakukan jika tamu hendak menyampaikan sesuatu yang menyangkut adat, seperti hendak meminang, membicarakan masalah perkawinan, maupun menyampaikan kabar kematian. “Jumlah daun sirih dan rokok harus sesuai dengan jumlah tamu yang datang. Di antara rombongan tamu harus ada seorang tetua adat atau orang yang dituakan yang berperan

tkh/tin

Cium Pipi Tradisi Timtim

Agustinho S.A. Correia

sebagai juru bicara sekaligus penengah jika terdapat masalah,” katanya. Tetua ini wajib mengunyah daun sirih, kapur dan buah pinang, diikuti tamu lainnya. Tamu lain boleh memilih antara mengunyah daun sirih atau merokok. Jika ada sisa, tetua adat wajib membawa pulang daun sirih dan rokok itu.

Senandung Bahasa Latin, Portugis, dan Lamaholot PROSESI perarakan Patung Tuan Ma atau Patung Bunda Maria Mater Dolorosa bukan hanya diisi karnaval rohani. Kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus yang disaksikan Bunda Maria menjadi sisi lain yang menarik di balik pesan kerohaniannya. Kisah sengsara Yesus Kristus itu dilukiskan dalam ibadat lamentasi di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Peristiwa yang berlangsung saat tiba Jumat Agung itu menggambarkan suasana perkabungan yang kental. Senandung ratapan lirih tidak hanya dalam bahasa Latin, juga dalam bahasa Portugis dan Lamaholot. Sejumlah lagu yang disenandungkan dalam bahasa asing tersebut, antara lain lagu Eus. Lagu ini menggambarkan ratapan Puteri Sion. Selain itu, ada pula lagu Ovos Omnes. Lagu ini mengisahkan sosok veronica ketika mengusap wajah Yesus. Lagu Popule Meus biasanya menutup prosesi menjelang perarakan yang mulai bergerak dari gereja katedral. “Lagu-lagu gerejani tersebut menggambarkan kesedihan dan kedukaan Bunda Maria serta pengikut Yesus Kristus akibat derita sengsaranya di kayu salib,” jelas tokoh warga Flores Timur di Bali Yosep Yulius “Yusdi” Diaz. Menurutnya, prosesi tersebut sebenarnya mengisahkan perjalanan hidup manusia. Ini dimulai dari kelahiran hingga kematian. Maka, perarakan Patung Tuan Ma, yang menyusul Patung Tuan Ana (Patung Yesus Kristus), saat bergerak dari gereja katedral langsung menuju pemakaman Katolik. “Ini simbol kematian yang dipesankan dalam prosesi tersebut. Setelah itu baru melalui rute persinggahan atau armida

Setelah mengetuk pintu, memberikan salam, dan dipersilakan duduk, tamu mendapat suguhan manafate. Sembari menikmati daun sirih, tamu bisa menyampaikan maksud kedatangan mereka. Pengungkapan apa tujuannya itu menggunakan peribahasa dalam bahasa daerah. Untuk meminang, bisa dipakai bahasa kiasan ’ingin memetik bunga’. Misalnya, “Kami ingin memetik bunga yang ada di halaman rumah Bapak, untuk kami tanam di rumah kami,”. Orangtua perempuan yang dipinang wajib membalasnya dengan peribahasa dalam bahasa daerah pula. Dalam acara pertunangan, tamu membawa seekor kambing atau babi dan minuman anggur. Jika tamu membawa seekor kambing, tuan rumah wajib membalasnya dengan menyuguhkan hidangan daging babi, kue, dan kain adat.” Pemberian kambing dan daging babi sebagai ungkapan saling menghargai kedua pihak,” ujarnya. –tin

Lima Abad

Patung Tuan Ma

di Larantuka

10

Salah satu armida yang disinggahi dalam prosesi semana santa

di Lokea, Lohayong, Pohon Sirih, Balela, Larantuka, Pantai Kebi, Batumea, Biara Susteran, Pohon Sirih Bawah, Lohayong Bawah, dan kembali ke gereja katedral,” jelasnya. Armida atau titik persinggahan menjadi bagian penting dalam prosesi tersebut. Dalam sejarah penyaliban Yesus Kris-

tus, armida merupakan tempat persinggahan menuju tempat penyaliban. “Perjalanan Yesus Kristus tersebut dimulai dari Taman Getzemani menuju Bukit Golgota,” kisahnya. Ada bagian prosesi perarakan yang unik di Larantuka saat itu. Prosesi ini dinamakan genda do dan mataraka. Gen-

Musda IX MUI Bali H. Hasan Ali (paling kiri) saat pembukaan Musda MUI Bali

MUSYAWARAH Daerah (Musda) IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali berlangsung Sabtu-Minggu (17-18/7), di Wisma Werdhapura Sanur. Musda dihadiri wakil Ketua

MUI Pusat Dr. K.H. Sukri Zarkasih. Menurut Ketua Panitia Musda Ismoyo Sumarlan, forum pengambilan keputusan tertinggi bertema “Meneguhkan

da do merupakan genderang perkabungan. Umat memukul berbagai jenis benda untuk menandai adanya suasana berkabung selama semana santa atau prosesi ziarah agung tersebut. “Tetapi, selama masa genda do itu bunyi genderang hanya dibolehkan memakai instrumen kayu,” jelas Yusdi. Ada pula patung raksasa berkaki ular (gian de morti). Wujudnya dalam bentuk patung raksasa yang menjadi simbol malaikat maut. Patung raksasa ini untuk mengenang kembali peristiwa penyerangan terhadap Yesus Kristus setelah menjalani masa puasa 40 hari di padang gurun, termasuk setelah berkarya tiga tahun di Taman Getzemani. “Gian de Morti menjadi simbol penggoda yang selalu membujuk umat pengikut Yesus Kristus menanggalkan baju iman mereka,” ujarnya. Penghidmatan MUI untuk Peningkatan Kualitas Bangsa” ini dihadiri 101 peserta. Para peserta terdiri dari unsur ulama, zuamma, cendekiawan, lembaga dakwah, unsur pondok pesantren, dan ormas Islam. Musda dilakukan guna menentukan susunan kepengurusan baru dan menyusun program kerja. “Ada empat hal yang perlu disiapkan guna membuat MUI berjalan sesuai visi dan misinya yakni program kerja, sistem yang mengatur, dana dan sumber daya manusia,” jelas Sukri Zarkasih. Sementara Ketua Umum MUI Bali H. Hasan Ali menegaskan, MUI Bali telah ikut berupaya memajukan kehidupan umat beragama di daerah ini. —lik

Salam, Sapa, Senyum S

EORANG peserta seminar mempertanyakan, jika seseorang mengawali suatu pidato, salam apa yang sepantasnya diucapkan, salam menurut agama/kepercayaannya atau semua salam menurut agama/ kepercayaan yang hadir? Peserta lain mengomentari, makna ungkapan salam dari berbagai agama/kepercayaan pada hakikatnya sama, yakni doa dan harapan agar yang diucapi salam dalam keadaan selamat, dapat rahmat, damai…! Pertanyaan dan komentar itu muncul dalam seminar “Memantapkan Identitas Manusia Indonesia Dalam Rangka Tinggal Landas” di Kuta, 18 Mei 1991. Dalam konteks ini pengamat masalah agama dan sosial Drs. Ketut Wiana pernah mengungkapkan, hal semacam itu pernah disinggung dalam perbincangan di kalangan Forum Kerukunan Umat Beragama saat forum tersebut di Provinsi Bali diketuai Drs. Ketut Suda Sugira (almarhum). Oleh karena doa dan harapannya sama, mengapa tidak cukup satu salam saja yang diucapkan yakni salam menurut kepercayaan/agama pengucapnya? Pengucapan salam merupakan bagian proses komunikasi. Dalam pengertian komunikasi ada unsur “lambang bermakna sama”. Unsur ini penting diperhatikan agar jarak antara komunikator dan komunikan tidak terlalu lebar. Dalam pemberian salam juga terkandung penghormatan, sikap toleran, komunikator kepada komunikan. Terkait unsur dan penghormatan itu banyak orang yang mengawali pidatonya mengucapkan salam tidak hanya satu, selain mengucapkan salam menurut agamanya juga semua salam menurut agama yang dianut audiens. Risikonya, kata Pak Wiana, karena tidak terbiasa bisa saja terjadi pengucapan salam yang salah, atau karena hanya satu, dua, atau tiga salam yang diucapkan - tidak semua salam keagamaan diucapkan - ada yang merasa terabaikan. Ada audiens dari komunitas tertentu yang merasa tidak diucapi salam menurut agama/kepercayaannya karena kehadirannya mungkin tidak diketahui orang yang berpidato. Perlunya ungkapan salam diucapkan pada waktu-waktu tertentu, tidak hanya dapat dipandang dari sudut penghormatan antaragama atau antarkomunitas. Dalam formulasi “salam, sapa, senyum”, penghormatan tersebut penting diperhatikan dalam hubungan

pergaulan umum, termasuk di percaturan dunia bisnis. Beberapa perusahaan merumuskan bentuk “salam, sapa, senyum” kepada publiknya - termasuk para tamunya - secara khas, sebagai merk dagang institusinya. Contoh di lingkungan Aston Internasional Indonesia yang mengharuskan karyawannya menyambut tamu dengan meletakkan tangan kanan di dada kiri (Koran Tokoh, 4 – 10 Juli 2010). Dalam studi public relations dan human relations ada ungkapan personal call sebagai bagian aktivitas pelayanan dan bagian upaya memelihara hubungan harmonis. Dalam perkembangannya personal call bukan hanya merupakan keharusan bagi karyawan untuk selalu menyapa para tamu dan publik institusinya, di mana pun dan kapan pun, tetapi sapaan itu dirangkaikan dengan pengucapan salam yang dibarengi senyuman. Publik meliputi publik eksternal dan publik internal. Oleh karenanya salam, sapa, dan senyum, juga dianjurkan dilakukan dengan sesama karyawan, atasan dan bawahan, di lingkungan institusinya. Namun, salam, sapa, dan senyum, di kalangan publik eksternal maupun publik internal, perlu mempertimbangkan sisutasi dan kondisinya. Dalam situasi dan kondisi tertentu, salam, sapa, dan senyum, cukup diramu dalam bahasa tubuh. Ada anjuran, yang muda atau bawahan lebih dahulu melakukannya kepada yang lebih tua atau kepada atasan. Namun, hal itu pun tidak mutlak berlangsung demikian; tergantung situasi dan kondisinya. Selain etika tetap menjadi acuan, salam, sapa, dan senyum, juga dijaga jangan sampai menimbulkan ketersinggungan akibat budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Dalam seminar di Kuta 19 tahun yang lalu itu, J.S. Badudu mengungkapkan, kita terbiasa menyapa seseorang yang kita kenal di jalan dengan ucapan “Mau ke mana Pak?” atau “Dari mana Bu?” Di lingkungan budaya Barat mungkin sapaan serperti itu tidak lazim, karena dikategorikan “orang itu mau tahu saja urusan orang lain”. “Saya mau ke mana atau dari mana, itu bukan urusan dia. Mengapa dia mesti menanyakannya?” Bagi orang Indonesia, sapaan itu tidak bermaksud sungguhsungguh. Itu sekadar berkata saja sebagai tanda adanya perhatian. Dia pun tidak peduli apakah jawaban orang disapanya benar atau tidak. Boleh apa saja: “O, mau ke toko” atau “Ah, dari pasar”. Bagi orang Indonesia umumnya, sapaan itu termasuk sopan santun. Sebaliknya, jika dia tidak menyapa ketika berpasan di jalan, sedangkan dia kenal sekali pada orang itu, ada kemungkinan orang itu akan mengatakan, “Hai, sombong sekali, berjumpa di jalan tidak menegur, seperti tidak kenal saja.” Penghormatan pada tamu asing yang dilakukan sebagaimana budaya atau kebiasaan tamu itu di negaranya, sering diterima sebagai pelayanan atau penyambutan yang mengesankan bagi tamu tersebut. Membungkukkan badan saat menyambut tamu Jepang, misalnya. Juga mengesankan, jika nama tamu tersebut disebut secara benar dalam sapaan itu. Oleh karena itu pengenalan terhadap budaya dan kebiasaan orang asing sangat ditekankan pada karyawan perusahaan yang publiknya kalangan orang mancanegara. Termasuk, mengenal nama dan identitas bakal tamu-tamunya perlu disiapkan sebelum menyambut tamu dengan salam, sapa, dan senyum. WIDMINARKO

Jiwa rohani umat selalu digoda gian de morti memakai tangan jahilnya (tangan deyabu). Ini sebenarnya simbol pikiran, perkataan, dan pebuatan yang beraroma najis, yang menyesatkan, sehingga bisa menggoyahkan iman. “Tangan deyabu melambangkan semua hal yang dilakukan tidak sejalan dengan ajaran iman Katolik,” jelasnya. Namun, dalam perjalanan

sejarah masa kini ternyata prosesi Jumat Agung mengundang reaksi kontroversial. Ini, menurut Ketua Komisi Kerasulan Awam Bernardus Tukan, ditunjukkan melalui adanya respons sementara kalangan pemeluk iman Katolik yang menganggap prosesi itu sebatas formalisme budaya masa lalu. “Tetapi, ada pula yang tetap menganggap peristiwa ini tetap penting untuk memperkuat iman

katolik umat,” jelasnya. Respons bernada kontroversi tadi dinilai berawal dari persepsi dan konsepsi yang berbeda dalam memandang peristiwa ritual tersebut. “Sebagai peristiwa budaya tentu ada komponen umat yang enggan meninggalkan warisan sejarah tersebut. Masalahnya, apa yang bisa kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Berbardus Tukan. —sam

Makin Didengar Makin Asyiik...


18 - 24 Juli 2010 Tokoh 7

Jampela Provinsi Bali 2010 Bekali Remaja dengan Pengamalan Nilai Agama

KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi serta derasnya arus informasi dan teknologi berdampak hebat dalam kehidupan bernegara dan beragama di Indonesia. Kemajuan itu tentunya tak hanya berdampak positif namun juga negatif. Untuk mengantisipasi dampak negatif ini, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Bali menggelar Jambore Pelajar Lintas Agama (Jampela), 13-15 Juli di Desa Pakraman Serangan. Jampela Provinsi Bali yang bertema “Melalui Jambore Pelajar Lintas Agama Kita Wujudkan Peserta Didik yang Unggul Dilandasi Semangat Menyama Braya” ini dibuka Menteri Agama RI Drs. H. Suryadharma Ali, M. Si. yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan HAM Drs. H. Tulus didampingi Asisten II Gubernur Bali Drs. Ketut Wija, M.M. dan Kepala Kanwil Agama Prov. Bali Drs. IGK Suthayasa, M.Si., Selasa (13/ 7) ditandai dengan pemukulan kulkul (kentongan). Acara pembukaan itu diantaranya dihadiri beberapa pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Bali, Bupati/ Wali Kota se-Bali, Komisi IV DPRD Bali, Disdikpora Bali, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota seBali, FKUB Bali, dan Majelis Agama. Kegiatan lintas agama yang baru pertamakali dihelat di Bali ini melibatkan 1.024

Penurunan dan penyerahterimaan bendera pertanda ditutupnya kegiatan Jampela Prov. Bali 2010

Berbagai Lomba Ramaikan Jampela Prov. Bali 2010 Pembukaan Jampela Prov. Bali 2010 oleh Menteri Agama RI Drs. H. Suryadharma Ali, M. Si. yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan HAM Drs. H. Tulus didampingi Asisten II Gubernur Bali Drs. Ketut Wija, M.M. dan Kepala Kanwil Agama Prov. Bali Drs. IGK Suthayasa, M.Si. ditandai dengan pemukulan kulkul (kentongan), Selasa (13/7) di Desa Pakraman Serangan

peserta dari tingkat SMP dan SMA/SMK serta 110 orang pembina/ official kabupaten/ kota se-Bali dari semua unsur agama. Disasarnya usia remaja ini bukan tanpa alasan. Menurut Kakanwil Agama Prov. Bali Drs. IGK Suthayasa, M.Si. didampingi Ketua Pelaksana Jampela Drs. I Gusti Komang Sumberjana, M.M., pada usia ini kondisi anak sangat labil, sehingga perlu diberikan wawasan dan pembekalan yang tepat melalui nilai-nilai agama. “Selama ini di sekolah mereka hanya mendapatkan nilai agama secara teori. Dalam kegiatan Jampela ini lebih ditekankan pada praktik dan pengamalan nilai-nilai agama

Penanaman pohon bakau dan pelepasan tukik di Pantai Serangan

itu dalam kehidupan seharihari. Harapan kami, para peserta mendapatkan wawasan luas dengan saling bertukar informasi sehingga nantinya bisa tercipta kerukunan antaragama,” ujarnya. Kepedulian terhadap lingkungan dengan mendukung program Bali Hijau dan Bersih ditunjukkan dengan kegiatan bakti sosial berupa penanaman pohon bakau dan pelepasan tukik di pantai Serangan. Peserta Jampela juga diberikan informasi dan wawasan baru melalui ceramah dari Kapolda Bali tentang Tertib Lalu-lintas, Miras dan Narkoba, ceramah dengan topik Kerukunan Antarpelajar oleh Forum Kerukukan Umat Beragama Bali, serta

ceramah tentang Bimbingan Mental dan Rohani di Kalangan Pelajar Lintas Agama oleh Kakanwil Kementerian Agama Prov. Bali. Ibarat menanam pohon dari kecil menjadi besar, kegiatan Jampela yang melibatkan hanya sebagian kecil pelajar diharapkan gaungnya menjadi besar dengan menginformasikan/menyosialisasikannya ke teman-teman mereka dan mewujudkannya dalam keseharian. Dengan demikian akan terwujud anak yang cerdas, memiliki mental, moral, dan berakhlak mulia. “Harapan kami, kegiatan semacam ini akan dilaksanakan berlanjut di masing-masing Kota/Kabupaten,” ujar Suthayasa. —ten

Kakanwil Kementerian Agama Prov. Bali Drs. IGK Suthayasa, M.Si. (kiri) didampingi Ketua Pelaksana Jampela Drs. I Gusti Komang Sumberjana, M.M.

PENURUNAN dan penyerahan bendera Jampela Prov. Bali 2010 kepada Kakanwil Kementerian Agama Prov. Bali Drs. IGK Suthayasa, M.Si. menandai ditutupnya kegiatan akbar yang berlangsung selama tiga hari di Desa Pakraman Serangan. Pada sesi akhir acara yang dihadiri Kapolsek Denpasar Selatan (Densel) Pos Serangan, Danramil Densel, Forum Kerukunan Umat Beragama Bali, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Bali, Lurah Serangan, serta undangan lainnya, diisi dengan pengumuman pemenang lomba dan penyerahan hadiah. Di lapangan tempat dipusatkannya kegiatan tersebut seketika riuh saat dibacakannya satu-persatu pemenang lomba. Terik matahari tak menyurutkan semangat mereka meneriakkan yel-yel atau menyebut nama kabupaten/kota mereka mengiringi langkah kandidatnya yang berhasil memenangkan perlombaan menuju panggung utama. Ada tiga jenis lomba umum yakni Lomba Baris-Berbaris, Menyanyikan Lagu Nasional, serta Lomba Keindahan, Kekompakan dan Kebersihan Kelompok. Pemenang Lomba Baris-Berbaris, Juara I kontingen Kabupaten Gianyar Putra, Juara II Buleleng Putri, Juara III Badung Putri, Harapan I Bangli Putri, Harapan II Bangli Putra, Harapan III Tabanan Putri. Pemenang Lomba Menyanyikan Lagu

Inovasi Koperasi Upaya Sikapi Persaingan Bebas ADA yang menarik dari penyelenggaraan seminar nasional tentang koperasi di Denpasar yang digelar Jumat (16/7) di Grand Inna Bali Hotel, Sanur. Satu makalah lengkap mengulas tentang pentingnya koperasi melakukan inovasi dalam upaya menyikapi persaingan bebas, dibawakan praktisi koperasi I Nyoman Suwir ta. Bagi masyarakat, pelaku koperasi maupun pemerintah daerah, makalah ini bisa menjadi referensi yang cukup representatif. Dalam makalahnya yang berjudul “Inovasi Koperasi”, Nyoman Suwirta ingin berbagi wawasan dan pengalamannya menjalankan koperasi. Ini tak lepas dari sukses kiprahnya sebagai Manajer Koppas Srinadi (koperasi terbesar di Klungkung) sekaligus Ketua Dekopinda Klungkung. Nyoman Suwirta mengapresiasi koperasi yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan luar biasa dari segi jumlah koperasi, anggota koperasi, aset yang dikelola serta sumber daya manusianya (SDM). Namun, kata Suwirta, meski perkembangannya luar biasa namun cita-cita koperasi sebagai sokoguru perekonomian masih jauh dari harapan. Respons koperasi di masyarakat pun cenderung negatif, hal ini disebabkan masyarakat mengetahui koperasi hanya sepotong-potong, bahkan mereka tahu koperasi dari kejadian-kejadian yang sering merugikan masyarakat, baik yang dilakukan pengurus, pengelola maupun karyawannya. Dikatakan, secara de jure, koperasi mempunyai kekuatan dan peran yang luar biasa, namun secara de facto masih jauh dari

harapan payung hukum tersebut. Kurangnya sosialisasi payung hukum dan penafsiran yang berbeda tentang bunyi payung hukum, membuat pengelolaan koperasi sering melenceng dari jati dirinya. Ditambah lagi peraturan pemerintah maupun peraturan menteri yang mengatur koperasi terlalu sering berganti seiring dengan pergantian pemimpin maupun pengambil kebijakan dari tingkat pusat sampai daerah. “Fakta di lapangan membuktikan, peraturan yang lama belum dipahami sepenuhnya oleh gerakan koperasi, sudah diganti dengan yang baru seperti penilaian kesehatan simpan pinjam, PUAKI (Pedoman Umum Akuntansi Koperasi Indonesia) yang sudah lama berlaku tetapi masih banyak gerakan koperasi yang menggunakan laporan keuangan model bank atau sesuai dengan keinginannya,” sebutnya. Perkembangan jumlah koperasi yang begitu dahsyat, lanjut Suwirta, tidak berimbang dengan peluang usaha yang bisa diambil oleh koperasi. Ini bisa dilihat dari perkembangan jumlah koperasi. Perkembangan paling tinggi/pesat ada pada koperasi simpan pinjam (hampir 95%), sedangkan Koperasi Serba Usaha (KSU) peningkatannya masih kecil. KSU yang ada cenderung hanya unit usaha simpan pinjam belaka, sedang usaha penunjang lainnya tidak pernah muncul. Sektor riil memang sudah dibiayai oleh koperasi namun koperasi perlu juga mengelola sektor riil tersebut terutama yang tidak bisa dikerjakan/ diusahakan oleh masyarakat secara perorangan, karena itu mereka perlu diorganisir lewat wadah koperasi untuk menghimpun kekuatan yang

lebih besar. Hal ini disebabkan pengurus maupun pengelola koperasi belum mempunyai jiwa wirausaha dan tidak berani melakukan inovasi serta lebih cenderung cari aman dan mudah dalam melakukan perhitungan. Inovasi, kata Suwir ta, mengandung makna menciptakan usaha baru dan mengembangkan usaha yang sudah ada dengan hal-hal yang baru namun tetap mengacu pada payung hukum yang ada, baik internal maupun eksternal. Mengapa harus diinovasi? Menurut Suwirta, ini terkait dengan perubahan. “Perubahan bisa terjadi setiap waktu. Jangankan dalam rentang waktu lima tahun, dalam setahun, enam bulan bahkan sebulan, situasi dan selera pasar serta gaya hidup dan daya beli konsumen mengalami perubahan,” ingatnya. Untuk itulah diperlukan langkah-langkah inovatif sehingga perkembangan/perubahan situasi yang berkembang terus bisa diikuti sebelum koperasi ‘diserang’ pemain-pemain luar yang belum tentu memberikan manfaat kepada masyarakat. Kapan saatnya berinovasi? Nyoman Suwir ta menegaskan, sebenarnya inovasi sudah kita lakukan tiap saat tetapi kita tidak sadar terhadap apa yang kita lakukan. Menurunkan suku bunga pinjaman dan menaikkan suku bunga simpanan maupun tabungan merupakan inovasi yang sering terjadi agar anggota tidak meninggalkan koperasi. “Jangan melakukan inovasi setelah semua hancur. Berinovasilah agar bisa memenuhi kepentingan anggota dan menggarap peluang di daerah kita sebelum direbut oleh orang luar. Berinovasilah setiap ada kesempatan namun tetap sesuai dengan payung

hukum yang ada, baik payung hukum eksternal (peraturan pemerintah, keputusan menteri, peraturan daerah) maupun internal (keputusan pengurus, anggaran dasar, anggaran rumah tangga, rencana kerja dan RAPB). Janganlah berinovasi setelah terjadi masalah. Ini justru menimbulkan permasalahan baru,” ingatnya. Apa yang diinovasi? Tidak ada batasan yang bisa diinovasi dalam koperasi. Menciptakan sesuatu yang baru, menjabarkan usaha yang lama dengan hal-hal yang baru, merupakan langkah inovasi. Yang bisa diinovasi adalah inovasi keanggotaan, inovasi usaha serta inovasi dalam promosi koperasi. Inovasi Anggota Anggota koperasi merupakan pendukung sekaligus sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Ini diatur dalam Anggaran Dasar Koperasi Bab III Pasal 4 Ayat 1 tentang keanggotaan. Bunyi pasal ini bisa dikembangkan menjadi, semua pengguna jasa koperasi adalah anggota koperasi. Namun hal ini kadang cenderung menyulitkan jika dipasang rambu-rambu simpanan pokok yang tinggi. Pada Bab IX Pasal 34 Ayat 2 tentang permodalan juga disebutkan bahwa anggota harus menyimpan atas namanya pada koperasi sejumlah simpanan pokok. Bunyi pasal ini membutuhkan pemahaman yang kuat dan idealisme yang tinggi bagi pendirinya. “Harus dipahami, koperasi itu identik dengan ekonomi kerakyatan. Tentu yang menjadi sasaran utama adalah menyatukan kekuatan yang kecil (masyarakat paling bawah) menjadi kekuatan menengah bahkan kekuatan besar. Jika pasal ini

Nasional, Juara I grup Kota Denpasar, Juara II Bangli, Juara III Tabanan, Harapan I Badung, Harapan II Gianyar, Harapan III Buleleng. Pemenang Lomba Keindahan, Kekompakan dan Kebersihan Kelompok, masing-masing kontingen Kabupaten Tabanan sebagai Juara I, Badung (II), Klungkung (III), Jembrana (Harapan I), Buleleng (Harapan II), dan Karangasem sebagai Harapan III. Sementara lomba yang bersifat khusus disesuaikan dengan bidang agama masingmasing. Agama Hindu menggelar lomba Puja Tri Sandya, Yoga Asana, Puisi Keagamaan,

Berbagai lomba yang digelar dalam Jampela Prov. Bali 2010 di Desa Pakraman Serangan

bisa terwujud. Koperasi harus mampu berperan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat/anggotanya termasuk pendapatan perkapitanya,” tandasnya.

I Nyoman Suwirta, S.Pd.

dimanfaatkan orang-orang kuat yang tidak mempunyai kesadaran untuk mengangkat derajat hidup saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan, tentu koperasi yang dibentuk menjadi lain. Mereka cenderung mematok simpanan pokok besar sehingga hanya orang besar saja yang bisa menjadi anggotanya. Tetapi bagi orang yang mempunyai rasa kepedulian tinggi dan ikut memikirkan nasib saudara kita, simpanan pokok yang dipasang tentu bisa dijangkau sehingga koperasi bisa dimiliki oleh semua lapisan masyarakat,” papar sarjana biologi ini. Dalam UU 25 Tahun 1992 Bab IV Pasal 6 Ayat 1 tentang perkoperasian, pasal ini juga sering dimanfaatkan pemodal besar untuk mendirikan koperasi sehingga keanggotaannya cenderung tidak mengalami perkembangan. Mereka melihat ini sebagai kesempatan untuk mendirikan koperasi demi mendapatkan modal dari pemerintah (pusat maupun daerah). “Seharusnya di masingmasing daerah, dengan adanya otonomi daerah (otda), hal ini bisa diatur kembali dengan perda sehingga koperasi sebagai sokoguru perekonomian, benar-benar

Pelafalan Doa sehari-hari, Kramaning Sembah, dan Menciptakan Lagu Rohani Hindu Daerah. Agama Kristen, lomba Cerdas Cermat Al Kitab, Cerita Al Kitab, Happy Song, dan Bible Game. Agama Katolik, lomba Mazmur, Membaca Ayat Kitab Suci, Cerdas Cermat Kitab Suci, Membawakan Renungan Kitab Suci. Agama Buddha lomba Dharma Desana, Membaca Dhammapada, Cerdas Cermat, dan Menyanyi Lagu Buddhis. Agama Islam melombakan Tadabbur Alam, Puitisasi Islam, Menulis Isi Kandungan Al Qur’an, dan Pentas Busana Muslim. –ten

Inovasi Usaha Dalam Bab II Pasal 3 tentang usaha koperasi disebutkan, untuk mencapai maksud dan tujuannya maka koperasi menyelenggarakan usaha meliputi usaha pokok dan usaha penunjang. Pasal ini memberikan peluang yang luar biasa bagi pengurus/pengelola koperasi yang suka berinovasi. Dalam pasal 33 UUD 1945 tercantum dasar demokrasi ekonomi produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas azas kekeluargaan. Peluang usaha yang dikelola koperasi bisa membentuk semacam jaringan bisnis internal sebelum membentuk jaringan antarkoperasi. “Jaringan bisnis yang lebih besar sebenarnya bisa dilakukan jika kekuatan koperasi se-Bali ini bisa disatukan. Misalnya, menjadi distributor, pemborong, pengembang, dll. Dengan kekuatan anggota yang besar, modal yang terkumpul dari beberapa koperasi bisa membentuk satu kekuatan besar sehingga diharapkan koperasi bisa menjadi pemain besar di daerah kita sendiri. Ini sekaligus menyikapi persaingan bebas,” tandas penerima Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI tahun 1995 ini. Sebenarnya, lanjut Manajer Koppas Srinadi Klungkung ini, kita tak usah terlalu risau menyikapi persaingan bebas. Ada Otda dan UU Nomor 25 Tahun 1992. Dalam pasal 61

disebutkan, dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan dan pemasyarakatan koperasi, pemerintah mesti memberikan kesempatan usaha seluas-luasnya kepada koperasi, meningkatkan/memantapkan kemampuan koperasi agar menjadi koperasi sehat, tangguh dan mandiri, mengupayakan tata hubungan usaha yang saling menguntungkan antara koperasi dengan badan usaha lainnya serta membudayakan koperasi di masyarakat. Dalam pasal 62 dan 63, pemerintah hendaknya memberikan bimbingan, kemudahan dan perlindungan kepada koperasi seper ti menetapkan bidang kegiatan ekonomi yang hanya boleh diusahakan oleh koperasi. Inovasi Dalam Promosi Koperasi Tentang hal ini, Nyoman Suwir ta mempunyai beberapa masukan. Menurutnya, promosi merupakan kegiatan penting dalam koperasi. Promosi bisa meningkatkan brand image koperasi. Sayangnya, promosi masih dianggap pemborosan karena hasil promosi memerlukan waktu dan proses cukup lama. “Padahal, promosi yang dilakukan secara selektif akan memberikan dampak yang positif terhadap koperasi. Bahkan dengan kekuatan yang dimiliki koperasi seperti CSR (Corporate Social Responsibility ) serta berbagai even yang dikemas yang sifatnya mendekatkan diri dengan masyarakat (kesehatan, pendidikan, lingkungan, dll), sepanjang itu mengacu pada prinsip koperasi maka hasil maksimal bisa diraih oleh koperasi. Peran pemerintah dalam berinovasi pun sangat penting, misalnya memperkuat payung hukum dengan perda maupun melaksanakan payung hukum yang sudah baik secara maksimal dengan menempatkan orang-orang berkompeten di bidangnya khususnya Dinas/SKPD yang menangani koperasi,” demikian Nyoman Suwirta. –ari


8

Tokoh

18 - 24 Juli 2010

BLAMBANGAN

Berkat Hadrah Rezeki Koming Melimpah HADRAH merupakan salah satu budaya favorit di Banyuwangi. Cabang kesenian islami ini bisa dijumpai sampai di pelosok desa. Sayang, menjamurnya kesenian ini tidak dibarengi berkembangnya pengrajin rebana, peralatan utamanya. Di Banyuwangi, tercatat dua orang yang menekuni kerajinan rebana.

B

ahan dasar rebana kulit kambing. Harga selembarnya Rp 50.000. Selembar hanya bisa digunakan untuk membuat dua rebana berukuran sedang. Harga sebuah rebana, Rp 150.000 – 300.000, tergantung ukuran. Ukuran rebana standar berdiameter 35 cm. Bahan dasar lainnya, kayu. Biasanya, kayu nangka, mauni,

dan mangga. Harga satu potong Rp 30.000 - 70.000, tergantung ukurannya. Bahan baku kayu ini ternyata sulit didapat di Banyuwangi. “Kami harus pesan jauh hari untuk mendapatkan kualitas kayu yang bagus,” kata Askolani alias Koming (50), pengrajin rebana di Dusun Kedunglewung, Desa Kemiri, Singojuruh, Senin (12/7). Yang

Singapura Pesan 24 Set Peralatan Hadrah USAHA kerajinan rebana Koming menjadi berkah bagi warga di sekitarnya. Seperti yang dirasakan Basri (60), setelah bergabung dengan Koming. Tugasnya sebagai tukang menghaluskan kayu bahan rebana saja bisa mendapat upah Rp 50.000 per hari. Pria ini hampir 20 tahun bergabung dalam kerajinan rebana. Dalam sehari dia bisa memproduksi 4-5 rebana. Dia bekerja pukul 08.00 hingga 15.00, sehingga bisa nyambi mencari rumput untuk ternaknya. Awalnya, dia punya hobi Basri bermain hadrah. Seiring perkembangan zaman, muncul usaha kerajinan milik Koming. Pria yang masih bertetangga dekat ini kemudian menawarinya bergabung. Selain menghaluskan kayu, dia mendapat tanggung jawab mengecek kualitas rebana, termasuk menyetel bunyinya. Dia juga kerap diajak keluar daerah untuk mengajari bermain hadrah. Ia sering ditugasi menjadi pimpinan kesenian hadrah, termasuk mengajari para remaja. “Belajar hadrah tidak sulit. Seminggu para pemula sudah bisa main dengan baik, asalkan ada niat,” katanya. Ia pun mulai mengajari para remaja untuk membuat alat hadrah. Meski berusia senja, Basri masih bekerja dengan cekatan. Ini terlihat dari hasil garapannya yang halus. Dia beranggapan, menekuni kesenian hadrah sama halnya beribadah. Alasannya, kesenian ini identik dengan ajaran islami. Belum lama ini Basri ikut mengerjakan 24 set peralatan hadrah pesanan dari Singapura. Sejumlah masjid besar di Sumatera juga memesan bedug. —udi

Pengrajin membuat rebana

Askolani alias Koming

berkualitas bagus umurnya tua dan warnanya cokelat. Rebana hasil kerajinan Koming laris manis. Tak hanya Banyuwangi, pria ini banyak mendapat pesanan dari Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Pria ini juga terampil membuat berbagai peralatan seni hadrah lainnya, seperti tanjidor, kendang, ketipung, dan gong. Kulit kambing untuk rebana, kulit sapi untuk tanjidor, bedug, kendang, dan ketipung. Keterampilan ini mulai ditekuni Koming sejak umur 17 tahun, diperoleh dari bapaknya, H. Hasan Basri (almarhum). Saat

remaja Koming belajar di pesantren. Bukannya tekun mengaji, ia justru lebih suka belajar memainkan hadrah. Dari sinilah, bakat Koming berkembang. Dia kemudian juga tekun sebagai pengrajin. Julukan ’Koming’ didapat, sejak dia pintar membuat peralatan hadrah. Sebulan rata-rata ia mendapat pesanan minimal 20 set peralatan hadrah. Satu set alat hadrah terdiri atas 9-12 rebana berbagai ukuran. Proses membuar rebana dimulai dengan memilih kulit kambing yang didapat dari para tukang potong kambing. Kulit mentah berbulu ini kemudian direndam di larutan air kapur, tiga hari. Selain menghilangkan bau, cairan kapur berfungsi merontokkan bulu. Setelah tiga hari, kulit diangkat, lalu dipasang di cetakan rebana, kemudian dijemur hingga kering. Penjemuran membutuhkan waktu paling cepat dua hari, tergantung cuaca panas. Setelah kering, kulit hasil cetakan dipasang di kayu bulat yang pembuatannya diserahkan pada ahli bubut. Satu potong kayu bubutan dihagai Rp 80.000. Proses akhirnya adalah menyetel bunyi rebana meng-

Berbagai bentuk tanjidor

Memasang kulit rebana

gunakan alat khusus. “Proses ini yang jarang orang lain bisa,” kata Koming. Proses pembuatan bedug, tanjidor, dan kendang lebih rumit karena ukurannya besar dan bahannya dari kulit sapi. Harga satu lembar, di atas Rp 400.000. Selembar kulit hanya bisa dipakai membuat satu kendang, dan satu sisi tanjidor maupun bedug. Harga kendang bervariasi, Rp 40.000 - 600.000. Tanjidor Rp 300.000 - 1 juta dan bedug di atas Rp 1 juta. Koming yang juga piawai membuat peralatan lain berbahan lembaran plat besi, seperti gong, ceng-ceng dan

bonang, dikenal sebagai intsruktur kesenian hadrah. Ia sering dipanggil untuk menjadi guru hadrah, seperti ke Buleleng dan Denpasar. Koming juga mendirikan grup hadrah tahun 1986, kini beranggotakan 15 orang seniman. Satu regu hadrah terdiri atas 13 - 15 penabuh. Upah sekali pentas Rp 500.000. Seiring perkembangan zaman, Koming melengkapi seni hadrahnya dengan budaya dan tarian lokal Banyuwangi. Munculah seni hadrah kontemporer dengan nama kuntulan, beranggotakan 25 seniman. Upah sekali pentas Rp 2 - 2,5

juta. Dari kesenian ini, rezeki Koming melimpah. Ia berhasil menjadikan dua anaknya sarjana. Dia juga memiliki usaha lain, penyewaan peralatan hajatan, seperti terop, meja kursi dan alat-alat dapur. Koming juga terampil membuat barong. Banyak pesanan barongnya dari berbagai sekolah. Barong mini buatannya berbahan kayu dan kain. Satu barong dipatok harga di atas Rp 2 juta. Ia juga melayani reparasi rebana. Keterampilannya membuat rebana kini mulai diturunkan ke cucu laki-laki satu-satunya. Limbah kerajinan rebananya juga dikembangkan ke usaha lain. Potongan kulit sisa pembuatan rebana diolah menjadi kerupuk rambak. Rambak Koming banyak dikirim ke Bali dan Jakarta. Harganya Rp 70.000 per kilogram. Usaha Koming mampu menciptakan lapangan kerja. Kini, dia memiliki lebih dari 30 karyawan yang menangani pembuatan rebana, penyewaan alat pesta, dan pembuatan rambak. –udi


KIPRAH WANITA Pelatihan Kepemimpinan dan Advokasi bagi Perempuan 1

Jalan Kepiting Latih Kebersamaan

Sosok Mendiang Mari di Mata Suami dan Abiyoga ADA sekelumit cerita menggetarkan di balik kontak orang Jepang dan Bali. Ini bukan hanya berkaitan dengan angka kunjungan wisatawan Jepang ke Pulau Dewata yang tergolong lumayan gemuk. Namun, ada relasi emosional yang kuat di batin sementara orang asal Negeri Sakura ini dengan kekhasan seniman dan kesenimanan Bali. Mendiang Mari Nabeshima membuktikan itu.

P

Peserta Pelatihan Kepemimpinan belajar kebersamaan lewat berjalan ala kepiting

SIANG itu matahari bersinar terik. Namun, 30 perempuan yang sedang mengikuti Pelatihan Kepemimpinan dan Advokasi bagi Perempuan yang diselenggarakan LSM Bali Sruti bekerja sama dengan International Republican Institute (IRI) di Natour Bali Hotel, Sabtu (10/ 7), dengan senang hati berjemur dan berdiri berjejer membagi diri menjadi tiga kelompok. Permainan berjalan seperti kepiting sedang mereka lakoni di halaman hotel itu. Intruksi fasilitator, 10 orang dengan kaki diikat harus berjalan menyerupai kepiting agar sampai di garis finish. Tanpa dikomando, mereka segera berdiri sesuai dengan tinggi badannya. Masing-masing kelompok terlihat sangat serius. Kelompok II, misalnya. Ipung sibuk mengikat kaki temannya dengan tali. Sementara Sri Mudani berdiri paling depan karena merasa paling tinggi. Anggota kelompok lainnya siap berjajar. Kaki kanan diikat dengan kaki kiri teman yang ada sebelahnya. Ikatan harus kuat agar tidak lepas saat berjalan. Permainan ini mengajarkan banyak hal kepada peserta pelatihan yang terdiri atas unsur LSM, parpol, dan jurnalis. Bagaimana mereka mampu berjalan tanpa jatuh dan barisan tetap utuh. Tiap kelompok memiliki strategi. Walaupun semua berambisi untuk menang, tingkah mereka yang saling berebut mengeluarkan ide memancing gelak tawa. Semua ingin jadi pemimpin. Salah satu kelompok mencoba terlebih dahulu dan baru berjalan beberapa langkah, sudah terjungkal dan semua anggotanya mengerang kesakitan karena tali mengerat kaki mereka. Ketika satu kelompok sudah mencapai garis finish, seorang anggotanya yang paling pertama menyentuh garis finish langsung berteriak. “Hore berhasil,” teriaknya. Dia lupa, kakinya masih terikat tali dan emosinya yang meledak membuat keseimbangannya goyang. Seketika teman di sebelahnya disusul teman yang lainnya jatuh terjungkal. Mereka akhirnya gagal karena anggota lainnya terjatuh. Ani Pratiwi salah seorang fasilitator pelatihan mengatakan, sepintas berjalan seperti kepiting tampak mudah. Namun, untuk dapat berjalan ke depan dan mencapai garis finish diperlukan kerja sama yang baik, kebersamaan, dan strategi. “Tidak bisa semua menjadi pemimpin. Harus mau mendengarkan ide teman lain, mau berdiskusi. Perlu pengendalian diri, harus tenang, sabar, dan tidak emosi. Sangat sulit menjalin kebersamaan ketika masing-masing dengan egonya, dan tidak mau bekerja sama,” ujarnya. Artinya, kata dia, permainan ini mengajarkan kepemimpinan, pemecahan masalah, membuat strategi, kepercayaan, kekompakan, solidaritas, kemandirian, dan tanggung jawab yang sangat berguna untuk diterapkan dalam semua bidang profesi. Menjadi pemimpin tidak mudah. Apalagi pemimpin perempuan. Untuk menjadi pemimpin, tidak hanya harus memiliki kecakapan dan kelebihan, namun, mampu memengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan. Ketua LSM Bali Sruti Luh Riniti Rahayu berpandangan, kaum perempuan kurang mendapat kesempatan menjalankan

kepemimpinan dalam masyarakat. Untuk itu, perempuan perlu meningkatkan kualitas diri melalui pendayagunaan peluang, kesempatan, pengetahuan, keterampilan dan sikap agar mampu menjadi pemimpin yang baik. Kriteria Pemimpin Pemimpin dalam bahasa Inggris disebut leader. Makna lead terdiri atas loyality; pemimpin mampu membangkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya untuk kebaikan; educate, seorang pemimpin mampu mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan pengetahuannya kepada mereka; advice; pemimpin memberikan saran dan nasihat tentang permasalahan yang ada; discipline, pemimpin memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam tiap aktivitasnya. Ia menyebutkan, pemimpin yang baik hendaknya memenuhi beberapa kriteria, pemimpin merupakan seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. Seorang pemimpin umumnya diikuti orang lain karena dia memiliki kekuasaan yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan tidak ada yang mau mendukungnya. Hubungan menjadi simbiosis mutualisme, kedua belah pihak saling diuntungkan. “Tanpa adanya pengikut, pemimpin tidak akan ada. Pemimpin atau pengikut merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri,” ujar Dekan Fisipol Universitas Ngurah Rai ini. Ia menyatakan, pemimpin sejati harus memiliki visi yang jelas. Pemimpin yang memunyai visi dan arah yang jelas kemungkinan sukses lebih besar daripada mereka yang hanya menjalankan sebuah kepemimpinan. Pemimpin membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk sukses bersamanya. Pemimpin sejati bukanlah mencari sukses atau keuntungan hanya untuk dirinya sendiri. Namun, ia tidak khawatir dan takut. Bahkan, kata dia, terbuka mendorong orang-orang yang dipimpinnya bersama-sama dirinya untuk ikut meraih kesuksesan bersama. “Banyak hal yang harus dipelajari seorang pemimpin jika ia mau terus bertahan sebagai pemimpin yang dihargai pengikutnya. Punya hati yang mau diajar baik oleh pemimpin lain atau bawahan dan belajar dari pengalaman diri dan orang lain. Melengkapi diri dengan buku-buku bermutu dan bacaan yang positif serta bergaul akrab dengan pemimpin lain akan mendorong keterampilan kepemimpinannya meningkat,” ujarnya. Pemimpin sejati bukanlah orang yang hanya menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri. Namun, dia seorang yang visioner yang menyiapkan pemimpin berikutnya untuk generasi masa depan. Stephen R. Coney menyatakan, seorang pemimpin adalah seseorang yang belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan, membawa energi positif, percaya pada orang lain, keseimbangan dalam kehidupan, melihat kehidupan sebagai tantangan, bersinergis dengan orang lain, dan berusaha mengembangkan diri sendiri. –ast

18 - 24 Juli 2010 Tokoh 9

erempuan kelahiran Jepang, 29 Mei 1972, ini memang telah pergi untuk selamanya. Mari menghadapi maut yang merenggut nyawanya, Minggu (4/7) sekitar pukul 08.00, setelah dirawat intensif di RSUD Wangaya Denpasar. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, kondisinya memang anjlok. Ini dirasakan usai tampil sebagai musisi pendukung dalam pargelaran Musik Etnik Fusion Tajen yang dipanggungkan kelompok musik Abiyoga Group yang digawangi A.A. Abiyoga (15), putra semata wayang Wagub Bali A.A. Ngurah Puspayoga, Sabtu (26/ 6), di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar. Abiyoga selama ini dikenal ibarat “anak asuh” mendiang dalam urusan musik. Namun, kondisi kesehatannya yang menurun tak mematahkan spiritnya untuk terbang bersama suaminya ke Yogyakarta. “Istri saya tidak enak hati membatalkan ikut serta menjadi pembicara dalam workshop yang membahasa posisi kesenian dalam konteks politik. Pulang dari Yogyakarta ternyata Mari harus dilarikan ke rumah sakit,” ujar Kadek Suardana. Sosok Mari memang telah tiada. Namun, rekam jejak yang disisakannya sebagai salah satu representasi potret seorang perempuan Jepang yang memiliki kedekatan emosi kesenimanan, lebih pas lagi emosi kebudayaan, yang kuat dengan kekhasan kebudayaan Bali, mustahil terhapus dari memori orang-orang dekatnya. Mari, semasa hidupnya, memang menorehkan segudang kenangan mengesankan di benak banyak orang, khususnya di benak dan mata sang suami, Kadek Suardana. “Semasa

hidupnya, istri saya ini tidak hanya mengenal Bali dari kulitnya. Ia serius belajar mengenal Bali dari dekat, menekuni kedalaman budaya Bali secara intens,” ujar seniman Bali serba bisa yang mengawininya 20 Mei 1992 itu. Jejak aktivitasnya menelusuri, merekam, dan mengekspresikan kekhasan budaya Bali dikenal Kadek Suardana jauh sebelum kedua manusia berbeda bangsa ini merajut hubungan cinta. “Sebelum kenal saya, Mari sudah dekat dengan Bali. Apalagi saat dia melakukan riset untuk studi doktornya di bidang etnomusikologi. Riset dilakukan di Bali, karena ia membedah disertasinya tentang kidung,” kenang koreografer andal yang menggagas dan menggawangi Arti Foundation ini. Namun, Mari makin ‘gila’ terhadap budaya, khususnya kekhasan seni Bali justru saat dipinang Kadek untuk naik ke pelaminan. “Mari menyumbang kemampuan manajerialnya untuk menunjang proses kreatif saya dalam berkesenian. Dua per tiga enegi saya dalam tiap proses berkesenian berasal dari dirinya,” aku Kadek dalam nada suara lirih. Sepotong catatan kenangan amat menggetarkan dirasakan saat dirinya menggarap seni pertunjukan bertitel “Sri Tanjung”. Kontribusi Mari dalam mengumpulkan bahan cerita untuk diramu sang suami menjadi karya seni yang kelak pementasannya dipuji banyak seniman asing itu, tidak enteng. Dari awal Mari yang mengumpulkan referensinya dari berbagai sumber, termasuk riset yang dilakukannya ke situsnya di Jawa. Lebih dari itu, Mari juga selalu memberikan sunti-

A.A. Abiyoga bersembahyang di sisi peti jenazah mendiang Mari Nabeshima di rumah duka Jalan Patimura Denpasar sebelum jasad almarhumah di-pelebon

kan spirit yang tak habishabisnya, termasuk me-manage pementasannya kemudian,” ungkap Kadek. Dalam urusan manajemen pemanggungan pun mendiang yang mahir memainkan instrumen musik gender wayang itu ternyata menyisakan kenangan manis. Sosoknya dikenal Kadek sebagai amat profesional. “Dia bisa sangat strick jika menangani pementasan, tetapi dia juga tiba-tiba bisa lembut dalam soal-soal nonteknis. Contoh, dia kadang tak mau terlalu pusing kepala terhadap urusan uang jika itu misi sosial kemanusiaan. Saya kira sisi ini mencerminkan sosok Mari yang lebih dekat sebagai orang Bali,” katanya. Persentuhan pribadinya dengan tradisi Bali amat terasa pula dalam memori Kadek. “Dia bukan hanya mengerti bahasa Bali, Mari juga terlibat dalam membuat banten untuk piodalan di keluarga kami,” kisahnya mengenang sosok sang istri yang mahir pula berbahasa Kawi itu.

Dua per tiga enegi Kadek Suardana dalam tiap proses berkesenian diakuinya bersumber dari kontribusi sang istri mendiang Mari Nabeshima

Kadek memang pantas merasa amat kehilangan Mari. Alasannya bukan semata Mari sebagai seorang belahan jiwa. Sejumlah agenda seni pertunjukan yang bakal dipentaskan akhirnya belum jelas nasibnya sepeninggalan Mari. “Padahal, Mari terlibat dalam persiapan pentas seni pertunjukan Bali Sunset di Kinowima, Tokyo, Agustus mendatang. Pentas ini menjadi bagian pula dari promosi pariwisata yang diusung Kota Denpasar. Rencananya Wali Kota Denpasar akan menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut,” lanjutnya. Mari telah telanjur menjadi bagian sejarah perjalanan seni pertunjukan Bali. Spiritnya untuk mengawal terus bersinarnya dunia seni pertunjukan tersebut tak pernah mati. “Bagi saya, ini yang membuat sosok almarhumah hampir tak tergantikan,” ujar A.A. Abiyoga. Buah hati Puspayoga dan Bintang Puspayoga ini mengaku mengenal Mari saat tampil dalam Festival Musik Tradisional Tingkat Anak-anak di TMII Jakarta tahun 2006. “Saat itu Abi masih duduk di kelas 5 SD. Almarhumah tak henti-hentinya memberikan dukungan moril, termasuk memberi masukan untuk bermain musik dengan baik. Saya selalu diingatkan sampai hal-hal kecil, seperti menjaga kesehatan agar tak sakit jika mau pentas. Ini yang membuat saya sulit melupakan jasa baiknya,” ujar siswa SMA 3 Denpasar yang meluncurkan album “Menggapai Bintang” itu. —sam

Wyarihita, Binar Tari Bali dari Negeri Sakura PARA wanita cantik berkulit kuning itu tampil penuh percaya diri di hadapan ratusan penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32. Jumat (9/7) malam. Para gadis dan ibu dari Negeri Sakura itu, datang ke Bali untuk menunjukkan kebolehananya membawakan tari Bali. Delapan belas orang wanita yang bertandang dari kota Yokohama — berjarak satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Tokyo — menyajikan enam nomor tari. Mereka tergabung dalam Sanggar Tari Bali Wyarihita Jepang yang berdiri tahun 1993. Tari Panyembrama menyambut ramah para penonton yang memadati Wantilan Taman Budaya Denpasar. Ekspresinya yang lembut dan lenggaklenggoknya yang menawan mengalir tenang. Dengan balutan kostum cerah modivikatif, enam penari dari Negeri Matahari Terbit itu, mengawali sajian grupnya dengan cukup mengesankan. Tari Putri Angangsuh yang dibawakan empat wanita menunjukkan kesungguhan orang-orang Jepang ini menekuni tari Bali. Tari yang melukiskan wanita Bali bersukaria di sungai, ditampilkan dengan cukup meyakinkan. Mereka juga mempesona penonton dengan tari Puspa Warna, Bayan Nginte, Kupukupu Tarum, dan Tedung Sari. Tampaknya kesenian Bali

diapresiasi secara antusias masyarakat Jepang. Penampilan beragam seni pertunjukan Bali di negeri itu direspons penonton setempat. Sanggar-sanggar seni tari dan gamelan Bali yang belakangan mulai bermunculan di Tokyo, Yokohama, Fukuoka, Osaka, misalnya, cukup diminati masyarakat yang sangat menghormati nilai-nilai tradisi itu. Beberapa universitas terkemuka di sana tak sedikit yang memiliki gamelan Bali umumnya Gong Kebyar- yang sering disajikan dalam wujud konser dan atau sekaligus untuk mengiringi tari Bali. Grup Sekar Jepun yang bermarkas di Tokyo, selain sering pentas di negerinya juga telah sekian kali menggelar konser dan pertunjukan tari Bali di tengah masyarakat Bali. Begitu pula sanggar tari Wyarihita, sering didaulat menggelar tari Bali dalam berbagai kesempatan, di antaranya berpartisipasi dalam pesta kesenian setempat, pementasan di sekolah-sekolah, selain juga sering diminta mengisi acara kesenian di Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Ni Wayan Deni, penari Bali yang bersuami orang Jepang, Takahisa Inaba, awal 1993 membuka sanggar di rumahnya. “Mulanya murid saya satu orang yaitu orang Indonesia yang menjadi staf Kedutaan

Sekelompok gadis dan ibu dari Negeri Sakura yang tergabung dalam sanggar tari Wyarihita, Yokohama, hadir di arena PKB ke-32

Besar Indonesia di Tokyo,” kisah Wayan Deni kelahiran Desa Bila, Kubutambahan, Buleleng, yang kini menambahkan Inaba di belakang namanya. Lambat laun murid ibu seorang putra yang sudah menginjak remaja ini, kian bertambah, hanya lewat kabar dari mulut ke mulut. Dari hanya memiliki seorang murid yang dilatih di rumahnya, kini ia telah membuka empat cabang dengan jumlah keseluruhan peserta sekitar 50 orang. “Murid saya, selain gadisgadis dan ibu-ibu Jepang, juga ada orang Prancis dan Korea,” ujar Deni yang sempat kuliah di ISI Denpasar ini. “Saya berbahagia dapat menunjukkan hasil didikan saya di Jepang pada masyarakat Bali,” ungkap Deni dengan mata berbinar seusai pementasan di tengah ramainya ucapan selamat kepadanya. Pelatihan tari Bali sanggar binaan Deni ini diiringi gamelan kaset. Prosesnya, ungkap Deni, bagian demi bagian dengan menggunakan hitungan yang konsisten. Para wanita binaannya yang sebagian besar belajar dengan ulet dan tekun, sangat tertarik pada suara gamelan. Diiringi gamelan para penabuh di Bali, kata Deni, memberikan sensasi yang indah

tak terlupakan bagi para wanita Jepang binaannya itu. Sanggar Tari Bali yang dibina Wayan Deni ini sudah empat kali tampil di arena PKB. Yang mengharukan, papar Deni, semua pembiayaan untuk datang ke Bali, ditanggung para penari. Para wanita Jepang itu dengan senang hati merogoh Yen dari kantongnya, hadir di pulau Bali untuk unjuk kebolehan tari Bali yang akan disaksikan secara gratis masyarakat Bali. Sanggar Tari Bali Wyarihita yang dirintis dan dipimpin Ni Wayan Deni Inaba, harus diakui telah menunjukkan kiprah yang konstruktif terhadap kesenian Bali dalam konteks pergaulan dan interakasi budaya antarbangsa. Eksistensi sanggar tersebut di Jepang sudah tentu berdampak luas bagi citra positif Bali dan Indonesia, selain berpengaruh konkret pada sektor pariwisata Bali seperti yang terlihat pada penampilan para penari Wyarihita dan kehadiran para partisipannya. Jagat seni memang membuka peluang luas untuk merayakan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan secara supel, berbudaya, dan elegan. Para insan seni telah berbuat banyak, bukan sekadar wacana. z Kadek Suartaya


10

Tokoh

BUMI GORA

18 - 24 Juli 2010

Mendaki Gunung Tambora dengan Motor Trail

Uji Nyali Bikers Dompu DERU mesin motor trail meraung-raung memecah kesunyian di pos I jalur pendakian bagian Selatan, Doro Ncanga menuju Gunung Tambora, di Kecamatan Pekat, Dompu, Nusa Tenggara Barat. 60 pengendara bersiap memacu motor trailnya melakukan Ekspedisi Tambora Touring Motor Cross Dompu beberapa waktu lalu. Sesaat kemudian, rombongan ini melaju menuju Gunung Tambora. Debu mengepul mengantar keberanian para pengendara menembus medan pendakian yang eksotik, memacu adrenalin serta menguji nyali para peserta. Di bagian terakhir, satu jip hardtop memuat logistik dan beberapa penumpang.

E

kspedisi yang dipimpin langsung Kapolres Dompu, AKBP Kumbul Kusdwijanto, S.IK., S.H. ini bagian dari kegiatan Hari Bhayangkara ke64. Wakapolres Dompu, Kompol. Asep Marshel, S.IK. juga ikut dalam touring ini. Meski tidak sampai mencapai pos III, pos tertinggi yang dapat dicapai dengan motor trail dan jip hardtop, kehadiran Wakapolres Dompu ini, sebagai bentuk dukungan bagi para pengendara motor trail Dompu.

Polres Dompu memilih melakukan ekspedisi bersama para bikers Dompu ini, menurut Kumbul, karena ingin pengendara motor trail di Dompu dapat menyalurkan hobinya dengan cara yang benar. “Daripada ngebutngebutan di jalan, kita fasilitasi mereka untuk menyalurkan hobinya,” ujar Kapolres yang juga suka dengan olah raga menantang ini. Selain itu, ekspedisi merupakan bagian dari upaya kepolisian dalam membangun kemitraan dengan merangkul

semua lini termasuk para penghobi motor trail di Dompu untuk menjalin kebersamaan dan silaturahmi. Para peserta touring ini terdiri atas anggota Polres Dompu dan masyarakat umum. Kegiatan ini juga bertujuan mempromosikan Gunung Tambora sebagai objek wisata minat khusus dan juga sekaligus mengecek kondisi hutan Gunung Tambora. Dalam dua tahun terakhir ini, Polres Dompu telah mengungkap 38 kasus pembalakan liar (2009 sebanyak 24 kasus

LBH APIK NTB Gandeng PSKW “Budhi Rini”

Beauty Erawati, S.H., M.H.

Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) NTB, terus memberikan perhatian terhadap perempuan korban tindak kekerasan di NTB. Untuk meningkatkan perlindungan terhadap hak-hak para perempuan korban tindak kekerasan, baru-baru ini LBH APIK NTB menyepakati kerjasama dengan Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Budhi Rini” Mataram, NTB. PSKW Budhi Rini selama ini dikenal sebagai tempat rehabilitasi bagi PSK. Namun, sejak tahun 2003 lalu, panti ini juga menjadi shelter atau rumah perlindungan atau rumah aman bagi perempuan korban tindak kekerasan lainnya seperti human trafficking, kekerasan dalam rumah tangga dan juga korban kekerasan terhadap anak. Kesepakatan yang ditandatangani Direktur LBH APIK NTB, Beauty Erawati, S.H., M.H., dengan Kepala PSKW Budhi Rini Mataram, Hj. Bq. Sumarni, S.H., berisi pendampingan dan penanganan korban tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan korban perdagangan orang (human trafficking). Keduanya menyepakati untuk bekerja sama melakukan pendampingan dan penanganan korban tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan korban perdagangan orang dengan meningkatkan koordinasi dan advokasi dalam upaya pendampingan dan penanganan korban tersebut. LBH APIK NTB memang menaruh harapan terhadap shelter milik Pemerintah Provinsi NTB ini dalam melindungi perempuan korban tindak kekerasan. Apalagi, menurut Beauty, Gubernur NTB, TGH. M.Zainul Majdi, M.A. memberikan perhatian yang disebutnya luar biasa dalam hal perlindungan perempuan dan anak, dengan keluarnya Peraturan Gubernur dan Peraturan Daerah yang sensitif gender.

“Gubernur luar biasa mengakomodir persoalan perempuan dan anak di NTB, tinggal bagaimana staf bisa menerjemahkannya dengan baik” ujarnya. Namun niat baik dari aturan-aturan tersebut, di lapangan dinilainya belum dapat diimplementasikan sesuai dengan amanat perda dan pergub. Inilah yang membuatnya berharap kerja sama dengan menggandeng PSKW Budhi Rini, tidak hanya sebatas kesepakatan di atas kertas, melainkan benarbenar dapat diimplementasikan dengan baik. Karena keberadaan shelter PSKW Budhi Rini ini merupakan salah satu implementasi dari UU dan Peraturan Daerah tentang perlindungan bagi perempuan korban tindak kekerasan. Kerja sama yang digagas LBH APIK NTB dengan PSKW Budhi Rini ini, dilatarbelakangi makin banyaknya korban tindak kekerasan terutama human trafficking, dan para korban memerlukan rumah aman. Rumah aman Budhi Rini, menurut Beauty, jika dilihat dari segi sarana dan prasarananya, terbilang belum memenuhi standar. Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian LBH APIK NTB ke depan. Perempuan korban tindak kekerasan sebaiknya mendapat perhatian lebih dalam hal ini, agar hak-haknya terlindungi dengan baik. “Rumah aman bagi perempuan korban tindak kekerasan, mendesak untuk dibuat standar, terutama masalah keamanan,” kata Beauty. Keamanan harusnya lebih diperketat dengan standardisasi pengamanan khusus bagi rumah aman, karena penghuni rumah aman ini adalah korban human trafficking. “Shelter Budhi Rini yang berdiri sejak tahun 2003 hingga Juli 2010 telah menerima 214 korban tindak kekerasan, perkosaan, KDRT dan yang diduga sebagai korban human trafficking sebanyak 91 orang,” kata Drs. Dikdik Kusnandika, Kepala Bimbingan Sosial dan Keterampilan yang juga koordinator shelter Panti Sosial Karya Wanita “Budhi Rini” Mataram. Dari kerja sama ini, Baiq Sumarni berharap agar pendampingan dan penanganan korban tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan korban perdagangan orang di NTB menjadi lebih efektif. —nik

Direktur LBH APIK NTB Beauty Erawati, S.H., M.H., (kanan) dengan Kepala PSKW Budhi Rini Mataram, Hj. Bq. Sumarni, S.H., menandatangani kerja sama tentang pendampingan dan penanganan korban tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan korban perdagangan orang

Kapolres Dompu AKBP Kumbul Kusdwijanto, S.IK., S.H.

dan tahun 2010 14 kasus). Barang bukti dari kejahatan kehutanan tersebut mencapai 2.123 kubik kayu dengan 32 orang tersangka. Kayu-kayu tersebut berasal dari hutan di Kecamatan Pekat Dompu (Tambora), Hu’u, Woja yang diambil dari hutan di wilayah Sumbawa. Polres Dompu berkomitmen memberantas setiap tindakan pembalakan liar. “Siapa pun yang terlibat dalam pembalakan liar harus diproses,” tegas Kapolres. Kapolres menambahkan pembalakan liar dapat ditekan dengan adanya kerja sama yang baik dari semua pihak, aparat kepolisian, kehutanan dan masyarakat. Luasnya kawasan hutan tentu saja tidak mungkin dapat dipantau, diawasi serta diamankan seluruhnya oleh aparat kepolisian yang jumlahnya terbatas. Maka, diperlukan peran serta masyarakat dalam hal ini untuk melaporkan tindakan pembalakan liar di hutan. Perjalanan touring ke Gunung Tambora bersama masyarakat ini, secara tidak langsung juga sebagai bentuk komunikasi yang dibangun Polres Dompu untuk bersamasama melihat kondisi hutan sekaligus sebagai kampanye melestarikan hutan Tambora. Masyarakat juga diharapkan agar dapat menjaga dan merawatnya. Pendakian menggunakan motor trail dan jip hardtop ini memang lazim dilakukan melalui jalur Doro Ncanga yang juga biasa disebut Jalur Teko. Para pendaki yang melewati jalur ini memang biasanya menggunakan motor trail atau jip hardtop karena jalur ini sengaja dibuka untuk sekaligus dijadikan sebagai lokasi olah raga dan petualangan menantang. Dari jalur ini, motor trail dan jip hardtop dapat menjangkau hingga pos III, dua jam perjalanan kaki sebelum kawah dan puncak bagian Timur Gunung Tambora. Jangan membayangkan jalan yang dibuka tersebut dalam kondisi baik, melainkan tetap dibiarkan alami, sehingga tepat dijadikan jalur petualangan untuk penghobi olah raga-olah raga menantang. Bisa dibayangkan dengan jarak tempuh dari pos I hingga pos III lebih kurang 19 km (pos I-II 12 km dan pos II-III 7 km), menanjak dan menikung melalui padang rumput dan semak belukar, para bikers ini akan melewati medan yang luar biasa dapat memberikan kepuasan. Menuju ketinggian 2.000 meter dpl, dengan motor trail merupakan hal unik apalagi yang dituju adalah kawah dan puncak gunung yang ledakannya fenomenal ini, Gunung Tambora. Tentu saja, bekas-bekas mate-

rial ledakan tahun 1815 lalu, dapat dilihat di sepanjang perjalanan dan menjadi rintangan tersendiri bagi para bikers. Maka tak mengherankan jika di sepanjang perjalanan, para bikers banyak yang takluk tak dapat mencapai pos III. Berbagai kendala membuat mereka tidak mampu melanjutkan perjalanan. Kendala utama ada di kesiapan kondisi motor dan karena medan yang terlalu berat. Perjalanan mereka terhenti karena ada yang rantainya putus, ban pecah, baut-baut motor lepas, kanvas remnya aus, tali gas putus, dan lainnya. Ada juga yang mengalami kecelakaan meskipun tidak sampai menimbulkan luka-luka akibat kondisi medan yang dilalui cukup berat. Kapolres Dompu, misalnya, sempat mengalami tiga kali kecelakaan berat karena persoalan medan. Motor Kapolres sebenarnya dalam kondisi baik, tetapi karena medan yang dilalui terbilang berat, tanah berpasir yang tidak disadari tiba-tiba anjlok karena gembur misalnya, sempat menjungkalkan Kapolres dan motor trailnya. Beruntung Kapolres menggunakan pelindung yang standar, mulai dari helm standar, pelindung dada, kaki dan tangan sehingga tidak sampai mengalami lukaluka, kecuali memar pada bagian tertentu. Begitu juga kecelakaan yang terjadi pada hampir

Keberanian para off roader untuk menembus medan pendakian Tambora yang eksotik memacu semangat serta menguji nyali para peserta

Medan trek Tambora terbilang berat, motor dan hartop para off roader berkali-kali anjlok karena bannya tertancap lubang tanah berpasir

gota Polres Dompu yang juga salah seorang perintis pembukaan jalur trek ini. Untuk mencapai pos III, motor membutuhkan delapan liter bensin. Jalur pendakian Tambora lewat Doro Ncanga, lebih pendek ketimbang melalui pintu masuk Dusun Pancasila Desa Tambora Kecamatan Pekat. Jalur Pancasila memang umum dipakai pendaki yang berjalan kaki hingga puncak tertinggi Gunung Tambora setinggi 2.850 meter dpl. Hanya lewat jalur inilah pendaki bisa berdiri di atas puncak tertinggi gunung ini dan bisa melihat kawah meskipun tidak dapat turun ke kawah raksasa tersebut. Jalur ini tidak dapat dicapai dengan kendaraan apa pun kecuali jalan kaki. Waktu tempuhnya terbilang lama, dua malam tiga hari atau jika

Barang bukti illegal logging yang terjadi di wilayah hukum Polres Dompu

seluruh pengendara saat perjalanan ini. Rintangan lain yang dihadapi di lapangan adalah sisa-sisa pohon tumbang yang tertutup semak dan rumput di jalur trek. Meski demikian diakui oleh para peserta, perjalanan ini cukup menguji nyali dan memacu adrenalin. Oleh karena itu, keahlian mengendalikan motor memang yang utama. Salah dalam mengatur strategi lapangan, juga bisa menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Perlu keberanian dan nyali yang besar untuk dapat menaklukkan medan Tambora. Selain itu, kesiapan motor juga tidak bisa dikesampingkan, karena ini salah satu yang utama. Hal inilah yang membuat para bikers selalu membekali diri dengan berbagai peralatan motor. “Bukan logistik pengendara yang disiapkan dalam ranselransel mereka melainkan lebih banyak “logistik” sepeda motor, seperti baut-baut, kancing rantai, ban, kunci-kunci dan peralatan otomotif, tali gas, dan bensin,” kata Suswanto, ang-

dipercepat satu malam dua hari. Kelebihan lewat jalur ini selain bisa berada di puncak tertingginya, juga di dua pos base camp yang biasa dipakai menginap yakni pos III dan pos V, ada sungai yang mengalirkan air untuk keperluan para pendaki. Jalur Doro Ncanga dari Selatan Gunung Tambora, di samping pendek umumnya juga dapat dilalui motor trail dan jip hardtop. Dari jalur ini dalam waktu sehari dapat ditempuh perjalanan pulang pergi hingga puncak Tambora bagian Timur dan bisa juga menyaksikan kawah. Hanya puncak Gunung Tambora bagian Timur ini, tidak setinggi puncak Tambora bagian Barat yang berada di jalur Pancasila. Bagi pengendara motor trail waktu tempuh 19 km dari pos I hingga pos III hanya 2,5 jam sampai 3,5 jam. Dari pos I ke pos II dengan jarak 12 km, bisa ditempuh selama 1 jam sampai 1,5 jam. Sepanjang jalur ini memang masih terlihat landai, jarang tanjakan. Namun, untuk tujuh kilometer medan dari pos II ke pos

III, perjalanan ditempuh 1,5 jam sampai 2 jam. Jalur ini melalui medan yang sangat berat, karena di samping tanjakan yang terus menerus, kondisi jalan juga makin terasa parah. Nyaris seluruh peserta touring kali ini terjungkal terutama pada tempattempat tertentu. Dari pos III, biasanya pendaki berganti dengan berjalan kaki. Motor trail ditinggal di pos III dan pendaki melanjutkan berjalan kaki menuju puncak dan kawah Tambora, selama 1,5 jam sampai dua jam perjalanan. Kekurangan lewat jalur ini karena di sepanjang jalan hingga puncak, tidak terdapat air, sehingga pendaki atau off roader harus membawa sendiri air yang diperlukan dari pos I. Namun kekurangan ini tidak menjadi kendala, karena perjalanan bisa ditempuh satu hari pergi dan pulang. Jadi tidak harus menginap di atas. Untuk melakukan pendakian dengan jip hardtop lewat jalur Doro Ncanga, di Dompu telah ada penyewaan khusus hardtop. Satu kali pendakian, hardtop yang bisa memuat hingga delapan orang, tarifnya Rp 1,5 juta. “Harga tersebut, termasuk dengan bensin dan supir hardtop yang siap mengantar para pendaki berpetualang,” kata Saddam salah seorang pemilik hardtop sewaan ini. Bensin yang diperlukan untuk sampai pos III hingga kembali lagi ke pos I, 3040 liter. Waktu tempuh dengan hardtop lebih lama. Dari pos I hingga pos III perbedaan waktu tempuhnya dua jam lebih lama menggunakan hartop. Karena tingkat kesulitan menaklukkan medan dengan hardtop lebih tinggi. Supir hardtop bukanlah sembarang supir. Ia memang benar-benar andal. Terbukti, ketika perjalanan ini dilakukan, medan Tambora baru saja diguyur hujan dan sepanjang perjalanan dari pos II menuju pos III, hujan turun dan kabut tebal menutup pandangan pengendara. Jarak pandang tidak lebih dari lima meter. Pak Maman atau yang dikenal dengan panggilan Memo, adalah salah satu sang supir andal itu. Medan berat dihadapi dengan senyum. Sepanjang perjalanan, beberapa kali ban hardtop terjerembab di lubang tanah berpasir. Memo selalu mampu menaklukkannya dan mengendalikan kembali hardtop ke jalur yang benar. —nik

Ekspedisi Tambora merupakan bagian dari upaya Polres Dompu dalam membangun kemitraan dengan merangkul semua lini termasuk para penghobi motor cross untuk menjalin kebersamaan dan silaturahmi


18 - 24 Juli 2010 Tokoh 11

Aspindo Wadah Pengusaha Server Pulsa PENGUSAHA serIa berharap Asver pulsa isi ulang di pindo dapat menjadi Jawa Timur sudah polisinya para outlet punya wadah, deisi ulang pulsa. Ia ngan dikukuhkannya menjelaskan, 95% Asosiasi Server Pulmasyarakat pengsa Indonesia (Aspiguna telekomunindo) Jatim di Taman kasi di Indonesia Mini Indonesia Indah lebih memilih prabaJakarta, Kamis (15/ yar dibanding pasca7). Seluruh outlet isi bayar. Selama praulang pulsa termasuk bayar lebih diminati, di Bali bisa bergabisnis penjualan pulbung sebagai memsa akan terus hidup. ber di server yang Berdasarkan data Asosiasi Telekomunisudah jadi anggota Aspindo, sehingga kasi Seluler Indonepara pengusaha outsia (ATSI), dari polet lebih tenang dan pulasi 230 juta penterjamin dalam meduduk di Indonesia, laksanakan usahapenetrasi teledennya. sitas pelanggan seluler telah mencapai Bendahara As180 juta. Lebih 95% pindo Jatim Husin, Husin, Bendahara Aspindo Jatim di antaranya atau yang juga pemilik sekitar 171 juta, Duta Pulsa Sidoarjo, mengatakan, keberadaan Aspindo memilih prabayar. Jika 171 juta pesangat membantu pengusaha dalam milik ponsel di Indonesia mengisi menjalankan roda usaha server pul- pulsanya tiap hari, minggu, atau busa isi ulang elektrik. ‘’Saya meng- lan, berapa omzet dan keuntungan imbau pengusaha outlet isi ulang tidak yang bisa diraup pedagang pulsa, r a g u b e r g a bu n g d a l a m A s p i n d o,’’ yang melalui voucher fisik maupun pulsa elektrik. katanya. Untuk mengawali bisnis server Empat misi Aspindo yang diperjuangkan mengusahakan perkembang- pulsa diperlukan biaya sedikitnya Rp an dan pertumbuhan bisnis server di 25 juta. Dana tersebut digunakan Indonesia meningkat pesat; perkem- untuk penyediaan perangkat server bangan dan pertumbuhan bisnis tele- berikut software dan juga modal. komunikasi seluler di Indonesia, pe- Server -nya saja bisa mencapai Rp 20 natalaksanaan sistem distribusi isi juta. Peminat ser ver pulsa kian meulang pulsa elektronik yang sehat di Indonesia serta iklim persaingan usa- ningkat karena sistem yang diterapkan ha yang sehat dalam bisnis isi ulang para pengusaha one chip all operator , satu kartu chip yang bisa top-up pulsa pulsa elektronik di Indonesia. Tujuannya, mendapatkan penyalur- seluruh operator. Dalam rantai disa n d a r i p e m e r i n t a h d a n o p e r a t o r tribusi pulsa, server pulsa berada di bahwa server pulsa merupakan salah bawah dealer . Anggota Aspindo yang satu bagian sistem distribusi isi ulang kemudian melanjutkan distribusi pulsa pulsa elektronik; sebagai wadah per- ke pengecer atau kios dalam bentuk satuan dan kesatuan berkomunikasi elektrik atau pulsa elektrik via one chip bagi para anggota; mendukung pro- all operator . gram pemerintah dalam menciptakan D a l a m r a k e r n a s p e r t a m a n ya , peluang usaha dan lapangan kerja; Aspindo yang beranggotakan sekitar m e m b e l a d a n m e m p e r j u a n g k a n 1.500 pemilik server pulsa itu berharap hak serta kepentingan anggota dalam dalam setahun ke depan, asosiasi m e l a k u k a n u s a h a n ya s e r t a m e - mampu menjaring seluruh pemilik sernegakkan harkat dan martabat peng- ver pulsa di Tanah Air yang totalnya usaha server pulsa Indonesia. diperkirakan 10.000. —sby

Jantung Sehat, Saya Kembali Beraktivitas KEHADIRAN Pak Beny Arsa (46) ke Bali Heart Care Centre (BHCC) sungguh tak terduga samasekali. “Saya telah menderita selama tiga tahun. Tiap tahun saya selalu mendapat serangan mendadak (anfal). Kalau serangan jantung kambuh saya segera dilarikan ke rumah sakit,” ungkap Beny. Beny Arsa

Serangan jantung yang terjadi kali ini dikatakannya paling parah dan berat. Setelah dilarikan ke rumah sakit, Beny pun harus menginap selama sembilan hari. “Ketika itu sangat parah, padahal saya tak pernah putus mengonsumsi obat sakit jantung dari medis selama tiga tahun terakhir ini,” ucapnya. Pada awal terkena serangan jantung Beny pernah dianjurkan untuk melakukan operasi pemasangan sten (ring) pada jantungnya. Menurut dokter langkah tersebut adalah jalan keluar yang terbaik. Namun, Beny mengaku, berdasar kepercayaan yang dianutnya, sulit menerima dilakukannya pasangan alat dalam tubuhnya. Serangan jantung ketiga kalinya terjadi pada awal tahun 2010 ini. Begitu keluar dari rumah sakit, Beny segera dilarikan ke BHCC. “Kondisi saya ketika itu seperti zombi saja. Saya sulit berjalan, sulit berbicara dan tidak bisa naik tangga. Mengenaskan sekali rasanya,

dan saya dipastikan tidak bisa bekerja. Di balik itu saya masih memiliki semangat tinggi untuk sembuh. Pilihan saya berikutnya saya ingin melanjutkan berobat. Tempat yang paling tepat buat saya adalah BHCC,” tuturnya. Hasil echocardiography dari dokter jantung mengatakan klep jantung Beny bocor di tiga tempat sekaligus membengkak. Selain itu terjadi penyempitan di koroner. Tepat sekali pilihan Beny berobat ke BHCC, karena setelah mendapatkan perawatan terapi EBOO, EEHCP, serta pengobatan herbal dari Mr. Chai selama dua bulan jelas terlihat perubahan. “Setelah itu kondisi saya pulih seperti sediakala,” kata Beny. Sekarang Beny mampu

berjalan sejauh 17 km tiap hari. Mulai sejak pukul 04.00, ia berjalan kaki menuju lapangan Renon. Setelah menuntaskan lima kali putaran ia melangkah menuju kantornya. “Semua itu saya lakukan dengan berjalan kaki. Saya tidak lagi menggunakan kendaraan. Begitu juga sore harinya sepulang dari kantor kembali saya berjalan kaki dari kantor menuju rumah. Aktivitas ini saya lakukan dari Senin hingga Sabtu,” paparnya. “Hasil echocardiography saya juga menunjukkan hasil yang luar biasa. Ketiga klep jantung saya yang bocor, semua sudah tertutup. Hanya saja masih ada bengkak sedikit. Namun, saya percaya segera akan tuntas. Saya juga masih rajin melakukan

terapi Ozon EBOO dan mengonsumsi ramuan dari Mr. Chai. Ozon EBOO sangat membantu saya. Persendian saya menjadi luwes. Saya juga bisa bergerak lebih lincah. Berat badan saya sekarang meningkat dari 65 kg menjadi 75 kg,” imbuhnya panjang lebar. Selama dalam proses penyembuhan Pak Beny selalu kuat dan percaya diri. Sebagai seorang karateka, sepertinya semangat busidho selalu melekat pada dirinya. “Saya bersyukur karena terapinya tidak menakutkan. Pengobatan yang bersahabat berpadu ramuan yang berkualitas internasional dari Hsen Chii International,” ujar Beny menutup percakapan.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)


12

Tokoh

18 - 24 Juli 2010

Apa yang.......................................................................................................................................................................................................................................dari halaman 2 Utpeti, tercipta yang diharapkan, stiti, terpelihara yang memang sudah baik, dan pralina hal – hal yang sudah tidak cocok dengan kebenaran. Karenanya di tiap desa pakraman dibangun Kahyangan Tiga, pemujaan Tri Murti, agar terjadi perubahan ke arah lebih baik. Hidup tak mungkin tanpa perubahan, karena perubahanlah yang langgeng. Contoh perubahan, orang majenukan. Banyak yang mencela ketika orang membawa amplop. Bayangkan, kalau semua membawa kasa, akan menimbulkan masalah. Seperti di suatu tempat di Denpasar Barat, ketika ada orang meninggal mereka mendapatkankan kasa hampir dua kamar. Mau dibawa ke mana. Jika dijual lagi tidak etis. Kalaupun dibawa kembali ke acara yang lainnya, entah kapan habisnya. Biarlah perubahan terjadi walau tidak harus total. I Ketut Wiana, pengamat masalah sosial agama

Hak Waris jangan Diubah

setara laki-laki, jika mungkin lebih atas lagi. Begitu pun mengenai hak waris. Di kampung saya desa adat Bungkulan, selama ini hanya laki laki sebagai ahli waris. Prinsip ini juga jangan diubah. Artinya ke depannya siapa pun yang lahir jadi perempuan adalah takdirnya tidak jadi ahli waris. Jika hal ini diubah akan menambah persoalan baru. Sebab, dalam suatu keluarga dadia ada istilah pengempon pura dadia, akan ruwet memikirkannya. Ketika perempuan menjadi ahli waris berarti turut bertanggung jawab terhadap urusan di dadia tersebut. Darma Yoga

Dapur lebih Tepat Ditangani Ibu Laki dan perempuan pasangan saling memerlukan. Dalam kehidupan sehari-hari ada profesi yang cocok untuk kaum ibu dan untuk para bapak. Dalam keluarga, paling cocok mengelola penghasilan yang diperoleh, adalah ibu. Begitu juga peran mendidik anak dan urusan dapur lebih tepat ditangani ibu, meski banyak bapak yang melakukannya. Ibu juga paling pas untuk kegiatan matanding bebantenan serta menyuguhkan sesuatu pada tamu. Laki dan perempuan diciptakan berpasangan dalam kelebihannya sendiri dan saling mengakui keberadaannya masing-masing. Ketut Kari

Kini perempuan sangat dihargai. Bahkan ada yang menjadi presiden. Namun, secara historis sejak lahir, laki dan perempuan ditakdirkan berbeda. Satu sama lain tidak bisa dicampuradukkan, seperti saat lahir perempuan kemudian diubah menjadi pria. Hindu di Bali, laki adalah purusa dan perempuan pradana. Laki laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga, masih relevan. Atasi Masalah Tradisi ini jangan diubah. Jika dengan Pengetahuan Baik ada yang nyentana itu persoalan lain. Selama ini opini yang berMasalah selalu ada. Kita kembang hanya berkutat pada tidak akan berbahagia jika bagaimana perempuan bisa melecehkan perempuan. Ke-

luarga perlu memberi pendidikan tidak terbatas dan pemberian.materi meski hak perempuan secara formal belum. Permasalahan akan mampu diatasi ketika seseorang memiliki ilmu pengetahuan yang baik Ketut Wiana

Perempuan lebih banyak Bekerja Laki dan perempuan sama memiliki keinginan dan rasa ingin dihargai. Selama ini perempuan Bali melakukan sesuatu melebihi batas kemampuannya. Menjadi istri orang Bali harus taat. Coba lakukan sensus, berapa perempuan Bali yang berbahagia menjadi istri orang Bali. Saya dengar dan lihat, baik di kampung dan tempat lainnya perempuan lebih banyak bekerja dibanding lakilaki. Terkadang pekerjaan laki pun dikerjakan perempuan. Ketika perempuan bekerja lebih berat tanpa waktu istirahat, lakilakinya akan makin senang. Perempuan bekerja keras karena mereka tidak dapat warisan. Saran saya perempuan Bali juga berhak atas warisan orangtuanya dalam prosentase tertentu tanpa halangan larangan adat tertentu. Itu demi perempuan Bali menjadi luwih dan tidak menjadi peminta-minta Yeni

Harus Ada Pembagian Tugas Laki-laki dan perempuan saling membantu. Normanya, harus ada pembagian tugas yang jelas. Dalam praktiknya saling membantu. Misalnya saat hari raya, matanding di-

tangani perempuan dan laki-laki mebat. Ketika perempuan matanding cukup banyak, maka mencuci piring, ngepel dan lainnya dikerjakan laki laki, yang berarti juga ada kesetaraan. Namun, ada laki-laki yang tidak bersedia mengerjakannya dan menganggap ketika perempuan mau menjadi istrinya maka ia harus mau mengerjakannya. Ketut Wiana

Jabarkan Tri Hita Karana Saya selalu mendengar seolah-olah adat istiadat dianggap sumber yang tidak menghargai perempuan, utamanya terkait warisan. Jika ingin mendalami arti desa pakraman dan apa yang seharusnya dilakukan, konsep Tri Hita Karana yang dijabarkan. Harmonisasi antarmanusia, jelas dikatakan di dalamnya, bagaimana mungkin desa pakraman tidak menghargai kaum perempuan. Ketika mengantar pengantin pulang ke rumah saat majejauman, jika orangtuanya berpunya selalu memberikan jaminan untuk hari perkawinannya. Mereka dibekali pula untuk jaminan kehidupannya di luar sana. Di mana kaum perempuan dilecehkan di sanalah keluarga hancur. Jodog

Kesetaraan bukan Belas Kasihan Tidak ada niat desa pakraman melecehkan perempuan. Namun, adat menerima sebatas itu, perempuan diproteksi berlebihan. Kadang dampaknya terkesan terpinggirkan. Kita perlu menganalisis dengan akal sehat dan mendengar pendapat orang lain dengan rasional.

Sejarah mengatakan dulu jarang perempuan ikut sangkep di banjar, sekarang sudah mulai terlihat. Anak saya kelimanya perempuan dan tetap saya beri bekal. Umumnya jika memiliki anak perempuan satu, ia langsung diangkat sebagai ahli waris. Jika anaknya laki dan perempuan, artha jiwa dana pasti diberikan pada anak perempuannya. Saya juga punya beberapa warisan yang dibawa nenek saya karena beliau menikah pada gelahang dengan kakek. Bekal bisa dalam beragam bentuk dan variasi namun tidak berangkat dari konsep setara. Pemberian berangkat dari konsep sayang atau belas kasihan. Diharapakan perbaikan perlakuan sesuai ajaran Weda. Guna meningkatkan kesetaraan gender di wilayahnya, desa pakraman perlu mengadakan analisis mendalam. Menurut teori agama cara memecahkan masalah ada lima tahap, parka (diskusi), nirwiparka (perenungan), samcara (analisis) nirwicara dan samanta (diambil keputusan). Seperti masalah yang diajukan ke Bendesa Agung Desa Pakraman Provinsi Bali, Jro Gde Putu Suena. Persoalan anjing yang dibiarkan berkeliaran.dan banyak orang menjadi korban gigitannya. Sebenarnya ada Buta Yadnya, adalah untuk menghormati binatang dan tumbuhan sebagai Maha Buta. Mengapa kita biarkan penyakit yang mampu membunuh orang ini dan kita terkesan tenang-tenang. Di awig-awig ada, namun tidak dilaksanakan. Seperti tiap walungan di tegul atau di kandangkan, nyatanya baik di desa maupun di kota masih banyak berkeliaran. Awig-awig selain diwacanakan perlu terus

SEKITARKITA

Dicky Darmawan, Deputy General Manager Sales & Distribution Region Bali Lombok (kiri) menyerahkan secara simbolis hadiah uang Rp 10 juta kepada Sudaryanto pemilik Toko Cahaya Cell asal Denpasar, pemenang bulanan kuis Trivia Tri yang berlangsung 29 Maret hingga 30 September 2010. Tri menghadirkan solusi komunikasi hemat bagi mitra retailer dan program Trivia Kuis berhadiah Rp 10 juta pulsa tiap hari, 1 unit mobil BMW, 10 unit sepeda motor dan uang tunai Rp 10 juta untuk 10 orang/bulan

digerakkan dan diserukan di tiap desa pakraman. Mengenai hak waris umat Hindu di luar Bali, mereka netral atau setara.Anak asuh saya dari Jawa menikah di Bali, dia mendapat hak waris, tanahnya yang di Jawa dijual dan dibelikan di Bali atas namanya. Di Bali saya lihat si anak diberi uang, dan uangnya ini yang dibelikan tanah. Prof. Budiana, dosen Undiknas telah melakukan kajian-kajian untuk dikembangkan. Namun, kita jangan berharap hasilnya cepat atau perubahan terjadi secara drastis. Tetapi, orang lain perlu meniru para pionir itu. Ketut Wiana

Laki-laki lebih Kuat Secara alamiah di komunitas mana pun, laki-laki umumnya lebih berperan dalam aktivitas yang full power dan sebaliknya. Made Prudenant (komentar di facebook)

Kesetaraan bukan hanya Hak Waris Perlakukan perempuan dan laki setara dalam arti harkat martabatnya dan berbeda sesuai swadharmanya masing-masing tetapi saling melengkapi. Perubahan tradisi atau budaya tidak bisa dilakukan secara paksa tetapi dengan santi demi perubahan ke arah kebaikan. Suarakan semua kebaikan, beri kesempatan perempuan dalam pembangunan agar ide-ide cemerlangnya muncul. Kesetaraan gender selain urusan hak waris juga kesempatan berbicara dan menentukan kebijakan. Belum banyak yang menghadirkan perempuan ketika menentukan kebijakan. Maksudnya ingin menyayangi namun terkesan jadi memanjakan akhirnya justru perempuan terpuruk. Tingkatkan terus pendidikan perempuan setara laki-laki sehingga mereka saling mengerti. Ketut Wiana

Bakar Sampah.......................................................................................................dari halaman 1 Online 24 Jam...............................................................................................................................................................dari halaman 1 plastik, masyarakat pun akan terus menggunakan plastik. Harus ada yang meyakinkan pabrik-pabrik pembuat plastik untuk mengurangi produksinya. Sebagai gantinya, mereka disarankan membuat produksi yang lebih ramah lingkungan, seperti tas kertas. Artinya kuantitas harus diturunkan sedangkan kualitas dinaikkan. Masalahnya, kesadaran orang untuk memanfaatkan tas kertas masih kurang. Ada yang masih merasa gengsi kalau keluar dari toko tidak menenteng tas plastik. Penyadaran ini, menurut Mangku, bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan banjar melalui seka teruna atau krama banjar. Di level yang lebih luas, desa pakraman harus dilibatkan. “Saya punya gambaran, jika desa pakraman dilalui daerah aliran sungai (DAS) perlu ada koordinasi antara satu desa pakraman dan desa pakraman di sebelahnya. Di perbatasan, diberi jaring atau apalah yang bisa menahan sampah. Di perbatasan itu juga disiapkan petugas angkut sampah. Kalau ini dilaksanakan, masingmasing desa pakraman akan

Erwin Suryadarma

I Made Karim

punya tanggung jawab. Desa pakraman juga wajib menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dengan tertibkan buang sampah, tidak membuang sampah sembarangan, apalagi membuang ke sungai. Biarkanlah aliran air dari hulu ke hilir lancar tanpa ada gangguan sampah,” tegasnya. Respons positif datang dari Ketua Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Denpasar Drs. I Made Karim. “Itu usulan positif dan perlu didukung. Sebelumnya tentu perlu sosialisasi dulu ke masyarakat agar semua sepaham mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya. Bendesa Pakraman Kesiman

ini menambahkan, bukan hanya krama desa pakraman yang perlu diajak menjaga kebersihan, tetapi krama tamiu (warga pendatang) yang ada di wilayah masingmasing. Sinergi juga perlu dilakukan dengan pemerintah. Kabag Humas Pemkot Denpasar Erwin Suryadarma juga mendukung usulan Dr. Mangku itu. “Pemkot malah sudah memasang beberapa jaring di titik-titik tertentu si sungai Badung. Kami tidak hanya menjaring sampah plastik tetapi semua sampah yang dibuang ke sungai. Wali Kota sangat peduli terhadap masalah lingkungan khususnya kebersihan,” tandasnya. —wah

Berdayakan Kaum Tani..............................................................................dari halaman 1 kaum tani dan penduduk perdesaan melalui cara-cara lain. “Saya ingin memberi kontribusi bagi kemajuan pertanian dan perdesaan. Saya berasal dari keluarga yang basisnya pertanian. Ayah saya sangat peduli dengan pertanian dan kehidupan masyarakat. Beliau punya cita-cita mulia untuk menyejahterakan masyarakat. Walaupun beliau sudah tiada, tetapi semangat untuk menyejahterakan petani itu masih tetap menggelora. Dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, 13% tergolong miskin. Dan dari 13% ini, 60% petani,” ungkap Mbak Titiek . Motivasi ini menjadikan perempuan kelahiran Semarang, 14 April 1959 ini terjun ke bidang pertanian dan menyalurkan amanah keluarga untuk memberi darma bakti kepada Ibu Pertiwi. Pembina Yayasan Supersemar ini melihat kegiatan bidang pertanian hakikatnya adalah bentuk pemberdayaan petani terutama kaum perempuannya. Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bidang pertanian yang umumnya berlokasi di wilayah perdesaan, namun ironisnya secara umum kaum petani belum bisa sejahtera di tengah buminya sendiri yang kaya raya dan berlimpah ruang potensi alamnya. Dalam proses bekerja, kaum petani selalu dihadapkan pada kendala sejak dari penyiapan bibit, perolehan pupuk, hingga proses penjualannya. Sehingga kalaupun mereka panen, tidak bisa menikmatinya. Hanya kesabaran mengolah bumilah yang membuat mereka bertahan sampai

saat ini. Dan, kalaupun dalam sejarah pernah terjadi kaum petani berontak, itu karena mereka sudah tidak bisa menanggung beban penderitaan secara kolektif. “Kita harus menghindari, jangan sampai hal ini terjadi,” tutur Mbak Titik memberi peringatan. Mbak Titiek juga mengingatkan, bahwa kegiatan pertanian tidak hanya dipelopri oleh kaum laki-laki, tapi juga tidak bisa dilepaskan dari peran kaum perempuan. Kini, seiring perubahan zaman, kegiatan pertanian banyak diwarnai dengan aplikasi dan inovasi teknologi dimana kaum perempuan banyak terlibat didalamnya. Dari pandangan tersebut Mbak Titiek ingin bumi Indonesia diberlakukan secara cermat, hati-hati, dan penuh kelembutan seperti kasih sayang seorang ibu kepada keluarganya. Pengelolaan pertanian ini harus dilandasi kesadaran, ketekunan, keuletan dan kegigihan. Pengelolaan juga harus dinamis dalam berkreasi dengan aplikasi teknologi yang ramah lingkungan. Terkait permasalahan yang kerap membelenggu petani, Titiek menegaskan pemerintah harus lebih memperhatikan petani. Ia meyakinkan perlu adanya koordinasi antara lembaga yang menaungi petani seperti HKTI dengan instansi lain seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk membuat aturan lebih ketat agar tidak semua lahan produktif dikorbankan. “Jangan ganggu lahan produktif. Ini perlu terus diadvokasikan kepada pemerintah. Bagi daerah yang maju

pariwisatanya, jangan hanya mementingkan pembangunan villa. Lebih baik kembangan agrotourism. Sudah ada contoh di Mekarsari. Ini bisa dikembangkan di wilayah lain termasuk Bedugul, Bali sebagai fondasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani serta memasarkan produk pertanian. “Alangkah baiknya jika pemerintah memfungsikan kembali Bulog sebagai Lembaga atau badan yang menjamin hasil produksi pertanian sehingga petani tidak kesulitan lagi mencari pasar. Tetapi, petani juga harus tetap memperhatikan kualitas,” tandasnya. Terkait Munas HKTI, Mbak Titiek mengatakan tidak mau terlibat dalam kemelut yang terjadi pada Munas VII HKTI , karena sudah tidak sesuai dengan tujuan untuk memperjuangkan kepentingan petani. “Masing-masing pihak sudah memiliki kepentingan tersendiri yang menyimpang dari visi dan misi HKTI. Saya akan meneruskan cita-cita almarhum Pak Harto untuk memperjuangkan nasib petani. Walaupun tidak melalui HKTI, saya ingin mengabdi dalam bentuk yang lain. Dari lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung pencalonan diri saya sebagai Ketua Umum HKTI periode 2010 - 2015. “Marilah kita tetap melanjutkan perjuangan untuk mensejahterakan dan memandirikan petani. Semoga Tuhan senantiasa meridhoi usaha kita bersama,” ajaknya dengan nada welas asih. —wah

tempatnya hanya bertanya. Sementara ia mengaku belum sepenuhnya paham seluk beluk bisnis online ini. “Pada Minggu keempat sambil terus belajar mengenal teknologi informasi, pendukung utama bisnis ini, nama travel agent kami mulai dikenal. Begitu deal pertama terjadi, segera disusul transaksi berikutnya. Semua mengalir hingga sekarang,” ujarnya sambil mengingatkan perlu ada personal komputer maupun laptop atau handphone yang bisa digunakan untuk sambungan internet. Siapa pun yang akan melakukan perjalanan tapi harus mengurus sendiri. “Agar praktis dan mudah, pilihan pada e-ticket yang simpel ini tepat. Pelanggan cukup tahu kode pesanannya. Lalu, datang ke bandara, cari gerai maskapai penerbangan yang digunakan, tiketnya pun akan dicetak di sana. Yang penting, namanya sama dengan nama di KTP,” ujar istri Nyoman Sugiri ini. Sejak kehadiran MMBC 99 di Bali empat bulan lalu, dari mempekerjakan seorang staf, kini sudah empat orang siap membantunya melayani klien. Ia memang melihat saat ini cukup banyak layanan penjualan tiket via internet dengan harga adu murah namun masyarakat bebas memilih. “Selain berhak atas tiket murah, klien juga punya hak mendapat pelayanan yang bagus,” katanya sembari mengatakan modal lain yang wajib dimilikinya adalah kesabaran agar tak kehilangan mood untuk melanjutkan usaha ini juga siap dengan ikhlas melayani pelanggan tiap saat. Sekarang selain memiliki cabang, penghobi baca dan traveling juga punya agen yang

menyebar hingga ke Lombok, Solo, Ujungpandang, Jakarta serta beberapa wilayah lainnya di luar Bali. Agen-agennya memiliki beragam profesi. “Kemudahan ini karena travel agent kami sifatnya online 24 jam. “Kapan pun dan jam berapa pun bisa mengakses kami. Seringkali malah karena alasan kesibukan, klien menghubungi kami setelah pukul 22.00. Biasanya mereka cukup mengirim SMS atau komunikasi via yahoo messenger (YM), agar biaya tidak mahal. Kami siap melayani,” ujar ibu Gede Pt. Bagus Yudhistira S; Kadek Glady Laksmi; Komang Ayu Asteria ini. “Kegiatan kami sekarang bukan lagi sebatas menyediakan tiket. Kami juga melayani grup untuk tur dengan berbagai tujuan dalam dan luar negeri. Makanya bisnis ini tidak bisa saya anggap sampingan lagi, tapi ditangani secara serius,” imbuh pemilik MMBC-Bali 99 di Jalan Gunung Lingga II A/8, Perum Dukuh Sari, Gatsu Barat, Denpasar ini. MMBC 99 Bali, menawarkan metode pembelian tiket pesawat secara mudah. “Terbukti jika bergabung dengan bisnis tiket pesawat dalam jaringan yang kami kelola, Anda akan memiliki fasilitas layaknya sebuah travel agent tiket pesawat. Caranya pun sangat mudah. Peluang bisnis ini mungkin dapat menjadi pilihan. Karena dengan mendirikan travel agent, berarti kita telah membantu banyak orang dalam mempersiapkan rencana perjalanannya,” tuturnya. Komang juga memaparkan mudahnya cara memesan ala MMBC 99 ini. Bisa via telepon, YM atau SMS. Tiket yang dipesan bisa dikirim via e-mail atau SMS, dengan mencantumkan kode booking.

“Pembayaran mesti diterima sebelum time limit yang diberikan. Saya sarankan para agen menggunakan mobile banking,” katanya. Selama perusahaan penerbangan masih ada, dunia pariwisata terus berkembang, prospek bisnis online di bidang perjalanan masih sangat besar. Masyarakat bisa memilih mau jadi cabang atau agen saja,” ucapnya. Komang juga mengatakan fakta, masyarakat sekarang cukup dinamis, mobilitasnya tinggi. Didukung pula sifat masyarakat Indonesia yang lebih suka dilayani. Mereka sangat membutuhkan jasa layanan travel agent untuk membantu semua pengurusan perjalanan mulai dari tiket penerbangan, hotel juga paket tur. Siapa pun bisa bergabung dan memanfaatkan bisnis tiket online ini, mulai dari ibu rumah tangga yang ingin waktunya fleksibel; mahasiswa yang mau belajar berbisnis dan mandiri secara finansial; seseorang yang membuka mata dan telinga

demi meningkatkan taraf hidupnya; staf yang ingin menambah penghasilan; public relations, bagian SDM, pemasaran yang sering lakukan perjalanan dengan pesawat; sekretaris atau pegawai kantor, yang sering diminta pimpinannya mencari tiket pesawat. Semua yang ingin berhasil, berlatih berusaha, berlatih jadi pengusaha dan tidak ingin menjadi kuli bagi orang lain. Komang juga melakukan pembinaan kepada agen-agen yang bergabung di bawah MMBC 99. Mereka semua mendapat pelatihan gratis sampai bisa menjual. “Makanya daftar sekarang dan nikmati semua kemudahan serta fasilitasnya tanpa harus meninggalkan tugas yang saat ini,” ucapnya promotif dan menganggap pekerjaannya adalah sebuah perjuangan. Baginya perjuangan membutuhkan sebuah semangat dan semangat itu memerlukan ketulusan di dalamnya, hingga menjadikan semuanya sebuah totalitas positif dalam hidupnya. —ard

Kepedulian Membangun....................dari halaman 1 membantu usaha permodalan UMKM. Produk-produk yang telah dikeluarkan antara lain Tabungan ArisanKU (tabungan dengan mirip arisan), Deposito Sehat Keluarga Kanti dengan gratis biaya perawatan hingga Rp 8 juta per hari, Kredit Rekening Koran, serta Kredit Beasiswa Pelajar. Di samping berbagai terobosan dengan produk-produk inovatif Kanti, pemegang saham BPR Kanti juga telah memperkuat permodalan BPR Kanti di tahun 2010 menjadi modal yang telah disetor menjadi Rp 4 miliar dengan modal dasar Rp 10 miliar.

Pertumbuhan BPR Kanti sampai Juni 2010 meningkat cukup signifikan. Kredit mengalami kenaikan 18,10% menjadi Rp 35,3 M. Dana masyarakat berupa tabungan naik hingga 22,2% menjadi Rp 9,2 M. Begitu juga deposito, naik 16,4% menjadi Rp 22,3 M. Aset tumbuh 12,7% menjadi Rp 41,9 M dengan nonperforming loan berada di kisaran 1,9%. Pertumbuhan ini berkat dukungan dan kepercayaan nasabah dan masyarakat terhadap BPR Kanti sehingga bisa berjalan dengan baik dan sehat. –asp/ten

Mengepel lantai.............................................................................................................................................................dari halaman 1 yang konon luar biasa indahnya. Namun, jika keinginan itu tak terpenuhi, kami masih berharap bisa menyaksikan peristiwa terbitnya matahari esok pagi. Kawasan perbukitan di punggung Tambora yang tertutup kabut tebal pun kami terobos. Dingin terasa menusuk tulang meskipun saya telah mengenakan kaus tangan, sweter, jas hujan, dan topi penutup telinga. Kabut mulai menjatuhkan butiran-butiran air yang membasahi pakaian kami. Tak lama kemudian, gerimis turun. Kami mempercepat langkah, berlari-lari kecil. Benar, akhirnya hujan lebat mengguyur kami, setengah jam perjalanan menjelang kawah. Saat tiba di areal bibir kawah, terlihat padang gersang nan luas, berundak-undak, penuh bunga adelweis, bunga abadi sepanjang masa. Rumput tumbuh di sana-sini dan bunga-bunga padang kecil-kecil menambah cantiknya kawasan ini. Perasaan lega menyaksikan pemandangan ini meski hujan terus turun. Di tengah guyuran hujan, kami mencari tempat yang diyakini paling aman. Kami pilih lokasi di bawah tebing yang tertutup, dan di sini kami mendirikan tenda. Hujan makin lebat dan alam

mulai gelap. Kami memutuskan untuk tidak melihat kawah senja itu, karena khawatir terjadi tebing longsor. Setelah tenda terpasang, saya masuk ke dalam tenda saya dan mengganti seluruh pakaian. Serangan hujan dan angin yang bertiup kencang, menyebabkan tenda lain tak segera dapat didirikan. Sebagian anggota Tim sembunyi di balik tenda, sebagian lagi belum bisa masuk tenda karena tenda yang telah berdiri, penuh. Mereka mencoba santai di depan tenda dengan baju hujannya masing-masing. Sementara para porter di dalam tenda mulai memasak air, membuat kopi panas. Di dalam tenda, kami duduk dengan cara berjongkok. Kami tak bisa berselonjor, mengingat lantai tenda basah kuyup air hujan yang menerobos celahcelah masuk ke dalam tenda. Padahal, tenda yang saya bawa termasuk tenda standar dan memang diperuntukkan di alam terbuka dan tahan air hujan. Ternyata bukan tenda saya saja yang terterobos air, juga tenda-tenda lainnya. Padahal saat hujan di Dusun Pancasila, tenda-tenda ini amanaman saja. Tetapi, kami mencoba memaklumi, saat berada di tepi

kawah Tambora itu hujan memang turun dengan sangat lebat. Lebih satu jam kami jongkok di dalam tenda. Sementara air terus masuk, saya tidak mungkin membiarkannya tanpa berbuat apa-apa. Pakaian basah saya korbankan untuk direndam dalam air, kemudian saya peras di luar tenda. Berulang-ulang hal itu saya lakukan. Walau air dalam tenda mulai berkurang, lantai belum bisa dipakai untuk duduk, karena memang masih sangat basah. Saya teringat di ransel saya ada banyak tisu. Tisu inilah yang saya pakai untuk mengepel lantai tenda. Cukup banyak tisu yang saya gunakan untuk membuat sebagian lantai tenda kering sehingga bisa saya gunakan untuk duduk. Saat hujan sedikit demi sedikit mereda, para porter mulai membuat perapian dan memasak untuk santap malam. Saya bersembunyi di balik sleeping bed . Bukan hanya itu. Untuk mengusir rasa dingin yang terasa seperti es, tubuh saya selimuti pakaian berlapis-lapis. Saat api yang disiapkan porter mulai membesar, saya keluar dari tenda, dan duduk di dekat perapian untuk menghangatkan badan. Kawan-kawan pun mulai berham-

buran keluar tenda mendekat ke perapian sambil menanti makan malam. Usai makan malam bersama, kami mendiskusikan rencana perjalanan menuju puncak esok hari. Perkiraan waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak, 45 menit dari tempat kami menginap. Maka, kami bersepakat mulai berjalan menuju puncak pukul 05.00. Target kami, melihat keindahan matahari saat terbit dari balik kawah raksasa yang luar biasa menakjubkan ini. Pakaian dan sepatu yang akan dikenakan dalam perjalanan esok pagi, kami keringkan di dekat perapian. Sekeliling perapian menjadi sesak jemuran. Tanpa diduga, beberapa kaus kaki, kaus tangan, topi, termasuk sepatu saya, terbakar. Situasi cepat diatasi sehingga tidak sampai berakibat lebih fatal. Malam itu saya hampir tak dapat tidur. Hanya bisa terlelap sebentar menjelang subuh lalu bangun untuk bersiap menuju puncak Gunung Tambora. Malam berlalu. Saya menanti pagi tiba dengan rasa penasaran untuk segera dapat menyaksikan matahari terbit di balik kawah raksasa Gunung Tambora. —nik


MEMBANGUN DARI DESA

Kopi Ramah Lingkungan Prasyarat Tembus Pasar Ekspor

DARI DESA KE DESA

Budidaya Lele dengan Kolam Terpal

Desa Catur dapat Disinggahi Wisatawan

P

ETANI kopi di Bali sejak lama kami arahkan menggunakan pupuk kandang dan pembasmi hama secara alami. Dalam proses pemeliharaannya dihindari penggunaan pupuk anorganik dan zat kimia. Hal itu demi proses produksi kopi yang ramah lingkungan. Demikian Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali Ir. Made Budharta, M.S. dalam diskusi “Peningkatan Mutu Kopi Arabika Melalui Sistem Olah Basah untuk Menunjang Pariwisata” di Aula Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), di Desa Catur, Bangli, Kamis (7 /7). Acara tersebut merupakan hasil kerja sama RRI, Koran Tokoh dan Dinas Perkebunan Bali yang disiarkan secara langsung melalui program “Dari Desa ke Desa” RRI Denpasar. Di Desa Catur, yang luas wilayahnya 760 hektare dan penduduknya 2000 jiwa, 90 % warga masyarakatnya bermata pencaharian bertani dan beternak. Catur dikenal sebagai pusat kawasan agropolitan dengan komoditas unggulannya kopi arabika, jeruk, dan ternak sapi. Kopi sudah menjadi unggulan sejak tahun 1980-an yakni sejak adanya Proyek Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE) Dinas Perkebunan. “Di sini ada 8 subak abian yang mengkoordinir anggota kelompok tani dari budidaya hingga pengolahannya, dari hulu sampai hilir, “ ujar Kepala BPP Kintamani Barat Wayan Dela, S.P. “Mendukung Bali bersih dan hijau serta Bali maju, aman, damai dan sejahtera (Bali Mandara) dengan sistem pertanian terintegrasi (simantri) pada intinya memanfaatkan seluruh potensi pertanian, agar dapat dikelola dan memberi manfaat optimal. Di sektor perkebunan kawasan Kintamani Barat komoditas utamanya kopi dan ditumpangsarikan dengan jeruk. Petani kopi dalam proses pengembangan tanaman bernilai ekonomis itu dipadukan pemeliharaan sapi, selain untuk pupuk juga bisa memperoleh

keuntungan ganda,” papar Made Budartha. Ia menambahkan, petani kopi dalam keterpaduan tersebut, selain menikmati keuntungan dari penjualan sapi juga memperoleh pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman. Penggunaan pupuk yang bersifat anorganik dapat dikurangi sehingga kondisi Bali green makin dapat didekati, sejalan pula dengan peningkatkan mutu produk yang dihasilkan. “Salah satu komoditas yang telah memiliki nama di tingkat internasional adalah kopi arabika Kintamani, yakni beroleh sertifikat indikasi deografis dari Departemen Hukum dan HAM. Kini upaya peningkatan mutu terus dilakukan. Kopi arabika yang semula diolah secara kering, kini telah diupayakan pengolahan secara basah sehingga aroma atau taste kopi ini makin dapat dirasakan. Hingga, pada gilirannya pasar dapat merespons peningkatan mutu ini,” ujarnya. Ia mengatakan, proses produksi kopi yang ramah lingkungan tersebut menjadi salah satu persyaratan dalam menembus pasaran ekspor, sekaligus memenangkan persaingan di era global yang makin ketat. Selain pengolahan secara basah juga dilakukan peng-

tkh/ard

Suasana diskusi “Peningkatan Mutu Kopi Arabika Melalui Sistem Olah Basah untuk Menunjang Pariwisata” di Aula Kantor BPP, di Desa Catur, Bangli

gilingan (grinding) dan sortasi, agar tingkatan mutu terstandardisasi makin terjamin keberadaannya. Masyarakat akan tahu ada kopi arabika kualitas A dan B dengan harga yang sejalan kualitasnya. “Untuk pemasarannya pun dilakukan upaya yang lebih keras lagi dengan pola kemitraan melibatkan beberapa pengusaha komoditas ini. Saat ini ada empat sampai lima pembeli besar di samping pembeli kecil lainnya yang telah melakukan proses pembelian secara aktif,” tambahnya. Rute Kunjungan Wisatawan Berbagai masukan datang dari beberapa pelaku pariwisata yang tergabung dalam Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) yang hari itu sebanyak 40 anggota dari 32 perusahaan melakukan perjalanan melihat potensi objek wisata yang baru dikembangkan di Desa Catur. Setelah berkunjung ke areal Subak Abian Triguna Karya dan Subak Giri Merta Sari, Ketua Rombongan Tim Asita Ketut Ardana mengatakan mereka termasuk pedagang yang menjual produk wisata. Sementara ini rute kunjungan dari hotel yang ada di Nusa Dua, Sanur, dan Kuta ke Kintamani umumnya melalui Gianyar, Tampaksiring, dan naik ke Penelokan, pulangnya lewat jalan yang sama. Kini, katanya, dengan pengenalan lokasi baru ini, akan ada kemasan paket baru, terutama secara langsung

Target Indonesia 2015

Produksi Kelautan dan Perikanan Terbesar Dunia

K

EMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) kian gencar melakukan langkah pengembangan budidaya ikan. Seiring kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi ikan, utamanya ikan air tawar, maka permintaan domestik terus meningkat. Guna memenuhi pasar domestik saja, sentra-sentra budidaya ikan air tawar sering kewalahan, apalagi pasar ekspor hasil pengolahan ikan yang juga kian luas khususnya ke negara-negara Eropa. Sebagai negara ke-pulauan dengan luas wilayah lautan sekitar 75%, Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan laut melimpah. Tidak hanya ikan-ikan, tetapi potensi tambang, energi, juga terhampar di lautan. Namun, dari sekian potensi di laut, ikan merupakan kekayaan yang lebih mudah didapat. Maka, visi KKP di antaranya menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia tahun 2015. Untuk itu KKP akan melibatkan sekitar 1,1 juta penganggur dari lulusan perguruan tinggi untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri di bidang perikanan budidaya, melalui pemberdayaan bantuan sarana produksi, pendampingan dan pelatihan, baik teknis maupun manajerial. Masalah modal yang selama ini menjadi kendala, mulai terjawab. Dalam kesepakatan antara Menteri KKP Fadel Muhammad dan Bank Indonesia April lalu terungkap pihak perbankan akan ikut mendorong percepatan kinerja sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu unggulan perekonomian nasional. Sebelumnya, para nelayan maupun pembudidaya ikan sebagian besar mengalami kesulitan untuk mendapatkan dana melalui kredit perbankan. Kini akses ke perbankan sudah terbuka. Mereka yang dapat memanfaatkan kredit tersebut, kata Menteri Fadel, wirausahawan pemula yang saat ini

Suasana bazar di pameran lele

dikembangkan di KKP. Dirjen Perikanan Budidaya Made L. Nurdjana mengatakan, pihaknya telah siap melakukan peningkatan produksi budidaya. Untuk itu Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya sudah membuat rancangan kerja lima tahun ke depan. Program kerja tersebut dirancang mulai dari skala priorias, strategi pemberdayaan, hingga target dan sasaran kurun 2009-2014. Indonesia memiliki potensi lahan cukup luas yakni sekitar 8,36 juta hektare budidaya laut, lahan budidaya air payau 1,3 juta hektare, budidaya ikan air tawar 2,2 juta hektare. Meski lahan itu luas tetapi pemanfaatannya masih kecil. Sampai tahun 2007 budidaya laut baru 88.720 hektare (1%), pemanfaatan lahan budidaya air payau 645.390 hektare (52,90 %), dan pemanfaatan lahan budidaya ikan air tawar 119.070 hektare (22,6 %). Pameran Perikanan Guna lebih memperluas dan meningkatkan hasil-hasil budidaya perikanan, 19-20 Juni lalu Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pameran perikanan. Dalam pameran yang dibuka Ny. Ani Yudhoyono di Gelora Bung Karno Jakarta itu, Direktorat Perikanan Budidaya lebih fokus menampilkan potensi di bidang budi-

daya ikan air tawar. Selain dihadirkan para usahawan di bidang budidaya ikan air tawar, juga banyak ditampilkan produk olahan hasil perikanan air tawar, seperti kripikkripik dari bahan ikan lele, ikan mas, dan ikan nila. Produk olahan lele cukup dominan, seperti abon lele, kripik lele, naget lele. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia. Jenisnya, lele dumbo, lele pithon, lele sangkuriang, dan lele Jawa. Budidaya lele dumbo berkembang pesat antara lain karena teknologi budidaya relatif mudah dikuasai masyarakat, pemasarannya pun relatif mudah, dan modal usaha yang diperlukan relatif rendah. Sebutan ’lele’ bermacammacam. Masyarakat Padang menyebutnya ikan kalang, Gayo, Aceh, ikan maut, Kalsel ikan pintet, Makassar ikan keling, Bugis ikan cepi, Jateng lele atau lindi. Masyarakat Afrika menyebutnya mali, Thailand plamond, Malaysia ikan keti, Srilangka gura magura. Habitat lele di air tawar menyenangi air tenang, seperti di rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air, atau di sungai yang arusnya tenang/kecil. Ikan lele aktif bergerak mencari makanan

18 - 24 Juli 2010 Tokoh 13

melihat tanaman kopi. “Aksesibilitas menuju Desa Catur cukup baik. Namun, ada beberapa hal perlu diperhatikan. Agar para pemandu wisata bisa bercerita perlu ada diskripsi objek wisata secara mendetail, perlu jalur jalan setapak (tracking pad) yang permanen minimal selebar 1,2 meter, dan untuk mewujudkan Bali Clean and Green, tidak boleh ada sampah plastik di kawasan kebun kopi,” ujarnya. Perlu juga diupayakan, pemajangan produk lokal sebagai suvenir bagi tamu, dan adanya rambu-rambu atau penataan pedagang acung, tempat istirahat untuk mencicipi dan membedakan rasa kopi yang ada, toilet, dan tempat menginap yang bersuasana perdesaan. Juga, diperlukan tersedianya makanan khas desa setempat, atraksi pengolahan kopi secara tradisional di rumah penduduk dan atraksi penunjang lainnya. Pemandu wisata lokal pun diperlukan. Pihak Asita juga mengharapkan pengembangan agrowisata khususnya objek perkebunan kopi di Desa Catur ini perlu mendapat perhatian pemerintah. Dengan luasnya kebun kopi yang ada, menurut Made Budartha, bisa ditentukan atau dipilih mana paket yang paling representatif untuk ditawarkan kepada para tamu. “Kopi Luwak sangat dimungkinkan sebagai suvenir atau untuk dinikmati. Di Kintamani, nilai Luwak Arabika lebih tinggi daripada Luwak Robusta,” katanya. —ard malam hari, sedangkan siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap Lele Sangkuriang Ikan lele dumbo dapat hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai dengan ketinggian lebih dari 700 meter dari permukaan laut. Sumber air aliran irigasi, air sumur (air permukaan atau sumur dalam) atau air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dahulu. Pembesaran dilakukan di kolam terpal, yakni kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dari plastik atau terpal, luas minimal 10 m2 dengan ketinggian minimal 120 cm. Keuntungan kolam terpal antara lain, lele terhindar dari pemangsaan ikan liar, dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen, mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai usia ikan, menghasilkan lele yang lebih berkualitas, bersih, dan tidak berbau. Budidaya lele semacam ini dapat dijadikan peluang bagi usaha skala mikro dan makro. Lokasi pembuatan kolam sebaiknya teduh tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok, area kolam bebas banjir dan air tersedia sesuai kebutuhan. Tentang pakan, bisa diberikan berupa pelet dengan kandungan protein 26-28%. Pemberian pakan dengan dosis 2-3% biomas/hari 23 kali/ hari. Pelet diberikan sejak benih berumur 2 minggu yang berbentuk serbuk halus agar pelet dapat dicerna lebih baik dan lebih merata oleh seluruh ikan, sehingga meminimalisir terjadinya variasi ukuran ikan lele selama pertumbuhannya. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar di Sukabumi di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, telah melakukan per-baikan genetik lele dumbo melalui silangbalik, dan menunjukkan peningkatan dalam pertumbuhan benih yang dihasilkan. Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu diberi nama lele sangkuriang. Untuk menghasilkan lele sangkuriang kelas benih sebar untuk menghindari penurunan pertumbuhannya perlu diikuti kaidahkaidah proses produksi sesuai dengan petunjuk pembenihan lele sangkuriang. —isw

BUDIDAYA lele di seluruh kabupaten/kota sudah mulai menggunakan teknologi yang lebih efisien dengan menggunakan terpal karena lebih efektif. Di Bali potensi sumber daya untuk perikanan belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini yang mendorong perlunya dicari terobosan teknologi, dengan mencari daerah-daerah yang miskin air, daerah-daerah yang padat penduduk, supaya kita dapat masuk di sana dengan mencoba teknologi efisien, tepat, mudah pengawasan. Baik dilakukan di rumah dengan tipe RSS (rumah sangat sederhana), yang terpenting tersedianya ruang kosong. Kolam umumnya berbentuk turun dan dalam. Tetapi, dengan teknologi ini kita membuat kolam tidak harus turun, kita dapat membuat dengan menggunakan batako atau bambu untuk pegangan di ujungnya. Intinya ada air sebagai media hidup. Fungsi kolam hanya sebagai tempat hidup. Hal ini selaras dengan sasaran utama dalam rumah tangga saat ini, peningkatan gizi keluarga, karena pengeluaran keluarga tertinggi adalah pada lauk. Bagaimana patokan kepadatan penebarannya? Patokan padat penebaran untuk mengisi air 1 liter, dalam lahan 1 x 1 meter, tergantung ukuran ikan lelenya. Dapat digunakan terpal A6 dengan ketebalan khusus. Kelebihan menggunakan terpal, tidak perlu mengganti air. Kita hanya mengganti air yang menguap. Contoh di daerah kering, yang digunakan sebagai daerah pembanding yakni di daerah Gunung Kidul. Dengan teknologi ini daerah Gunung Kidul sekarang menjadi sentra pengembangan lele dengan teknologi kolam terpal. Untuk 1 liter air size 58 dibutuhkan 150-200 ekor ikan lele. Air digunakan hanya untuk membasahi tubuh. Ikan lele memunyai sifat mempertahankan hidup dengan mengambil oksigen di udara. Jika oksigen minim di dalam air, ikan lele akan mengambil oksigen ke udara. Adakah kendalanya? Tidak ada kendala yang prinsip, hanya kendala dalam pengaturan pemberian pakan dan menjaga kualitas air. Ikan lele dapat hidup di segala kondisi yang minim sekalipun, seperti daerah kumuh karena ikan lele memiliki labirin yang digunakan sebagai alat bantu untuk mengisap oksigen dari udara. Idealnya pakan untuk ikan lele itu apa? Pakan ada dua, buatan dan alami. Pakan buatan seperti carun di peternakan ayam, dengan takaran 10% dari berat badan populasinya. Diberikan minimal 2-3 kali sehari. Bisa juga ditambah pakan alami seperti sisa dapur, limbah ayam, limbah perusahaan bekicot. Penelepon, Pak Indrawan. Kelompok Tunas Hutan Lestari Mengwi, Badung: Dulu saya sempat membudidayakan udang, lalu beralih ke lobster sejak tahun 2007 di bawah kelompok Tunas Hutan Lestari. Anggota Kelompok 20 orang. Saat ini sedang dilakukan pengembangan ke kelompok lain di Kabupaten Badung. Saya bermain di benih, sudah melayani kelompok-kelompok di seluruh Bali. Permasalahan yang kami hadapi, sulitnya mendapatkan bibit. Dengan usaha yang keras kami tetap berusaha memenuhi kebutuhan bibit di Bali. Selain permintaan pembenihan banyak juga permintaan penggemukan untuk jenis lobster. Ke depannya budidaya lele juga ingin kami kembangkan melalui kelompok

yang betul-betul bermain di lele. Saat ini sedang diterapkan dan dikumpulkan beberapa kelompok di daerah Mengwi dan Abiansemal untuk membuat kolam yang akan mengembangkan budidaya lele atau lobster, lokasinya antara lain di Penarungan. Saat ini kami juga sedang mengembangkan di daerah lainnya yaitu Darmasabha dan Kapal. Peluang budidaya lobster sangat besar, tetapi pemainnya sangat spesifik karena memerlukan tingkat ketekunan dan ketelatenan yang tinggi. Kemampuan serap pasar saat ini cukup tinggi. Kami sedang menjajaki potensipotensi yang berprospek besar di daerah Tabanan yang tempatnya cukup bagus. Saya sempat mengikuti pelatihan tentang lobster, khususnya di daerah Badung yang kemudian ditindaklanjuti di Petang untuk pemahaman teknologinya. Saya juga sudah melakukan koordinasi dengan kabupaten, saat ini kami sedang melakukan terobosan bantuan-bantuan induk, kemudian memperbaiki regenerasi induk, karena kualitas induk itu menurun. Jika induknya bagus, kemampuan memproduksi bibit dan daya tahan akan tinggi. Apa yang harus disiapkan untuk membuat kolam terpal? Yang diperlukan untuk membuat kolam terpal: terpal atau bambu untuk menyekat pinggirannya (jika kekurangan dana), konstruksinya dibuat seperti tempat untuk memelihara babi. Jika bisa kita dapat menggunakan batako, jika tidak kita dapat memakai bambu, hanya perlu sekam untuk menekan suhu, ditaruh di bawah. Di bawah terpal ditaruh sekam setebal 10-20 cm, kemudian di sampingnya ditaruh batako 1 trap. Jika bisa gali 20 cm untuk tempat sekam, jika tidak bisa menggali, pasang batako 1 trap atau 2 trap, lalu dipasangi bambu sehingga dapat berdiri seperti kolam. Setelah selesai, isi kolam dengan air. Isi air pertama untuk bibit sekitar 40-50 cm, kemudian ditambah pupuk kandang atau kotoran ayam untuk memancing pertumbuhan pakan alami dan membuat suasana air agak sejuk. Pupuk kandang yang sudah jadi ditempatkan di wadah plastik atau kampil yang dilubangi, jangan ditebar agar tidak kotor. Dalam 3 hari, air akan berubah berwarna kecoklatan. Biarkan seminggu, kemudian bibit lele ditebar. Pupuk dapat dibiarkan di kolam, atau jika ingin kering atau rapi dapat diangkat. Saat penebaran lele, biarkan 15-30 menit di wadahnya, lalu secara perlahan ditebar ke dalam kolam agar lele dapat beradaptasi dengan suhu dan lingkungannya. Suhu dalam plastik dan dalam kolam dapat kita atur dengan tekanan yang sama. Setelah lele ditebar dalam kolam, besoknya baru diberi makan. Makin besar lele, makin bagus. Sebab, kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan dan pakan besar, dan harganya makin mahal. Ukuran standar yang dibudidayakan adalah ukuran 58. Untuk ukuran 58, dengan pakan yang sesuai dengan petunjuk yang standar, hanya 2 sampai 2,5 bulan, sudah bisa panen dengan size yang sesuai dengan kebutuhan restoran atau rumah makan sari laut kaki lima. Kolam dengan lebar 3 x 3 metar, dengan ketingggian air 80 cm, ditebari 1000 lele untuk menghasilkan 1 kwintal. Narasumber: Ir. Ketut Purianta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali.

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 081 337 337 586; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Pasar Olahan Produk Ikan terus Meningkat

Dwi Triwahyuni

IKAN lele mempunyai nilai gizi cukup bagus. Lele, mengandung leusin (C6H13NO2), merupakan asam amino esensial yang sangat bagus untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga keseimbangan nitrogen dan pembentukan protein otot. Dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan tulang pada anak, membantu penyerapan, dan me-

melihara masa tubuh anak agar tidak terlalu berlemak. Lele juga menghasilkan antibodi, hormon, enzim, dan pembentukan kolagen, yang melindungi anak dari virus herpes. Produk olahan ikan lele kini sudah beragam, mulai abon lele, naget lele, kripik lele, somai lele, brownis lele. Tri Wahyuni, seorang wirausahawan aneka olahan makanan serba lele asal Boyolali, menuturkan permintaan olahan makanan dari bahan dasar lele kian meningkat. Usaha makanan serba lele dilakukan baru tiga tahunan namun sudah mengalami perkembangan yang lumayan karena pangsa pasarnya cukup luas. Selain memasarkan di daerahnya, ia merambah pasar ke kota-kota di sekitar Boyolali, dan Jakarta. Dengan brand “Alang-alang 37”, produk makanan olahan serba lele per hari rata-rata memerlukan ikan lele segar 100 kg. Lele satu kwintal itu dibuat bermacam olahan meliputi kripik kulit lele, kripik sirip lele, kripik daging lele, abon lele manis dan abon lele pedas, serta naget lele. Ikan lele segar sebanyak itu diambilnya dari kolam sendiri. Jadi, selain melakukan budidaya ikan

Krupuk dari bahan ikan lele

lele, Tri juga memproduksi makanan olahan dari ikan lele dengan dibantu lima karyawan. Ririn Sp, wirausahawan makanan olahan asal Gresik, bukan hanya memproduksi bahan baku lele, tetapi juga beberapa jenis ikan air tawar lainnya, seperti ikan mas dan ikan nila. Omzetnya cukup besar dalam sebulan rata-rata Rp 50 juta. Ia sudah mampu mempekerjakan 17 karyawan. Baik Tri maupun Ririen mengaku usahanya lancar-lancar saja. Bahkan mereka optimis pasar hasil olahan ikan cenderung terus meningkat. “Kalau naget atau sosis-sosis dari ayam dan daging sudah biasa, tetapi berbahan baku ikan belum benarbenar memasyarakat,” kata Tri. Pemerinah melalui Kementerian Kelautan dan Peikanan khususnya Ditjen Perikanan Budidaya, sering menyelenggarakan pelatihan, bahkan turut mendorong wirausaha pemula untuk mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR). Ada beberapa kredit bagi usaha budidaya perikanan, seperti KUR Kupedes yang plafonnya sampai Rp 5 juta. Ada pula KUR Ritel, pembudidaya perikanan bisa mendapatkan kredit modal dengan plafon sampai Rp 500 juta. Plafon ini diberikan kepada usaha mikro, kecil dan koperasi yang memiliki usaha produktif dengan penjaminan dari perusahaan penjamin. Tentang pelatihan, ada pula yang dilakukan swasta. Di antaranya Lembaga Pelatihan dan Pendampingan Kewirausahaan Usaha MikroKecil dan Menengah (UMKM) dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. —isw

Abon dari ikan lele


14

Tokoh

18 - 24 Juli 2010

MENUJU BALI CLEAN AND GREEN

Soal Lingkungan Fatwa MUI masih Berlaku

Sampah Plastik Bernilai Jual SAMAPAH plastik membawa berkah bagi Sutariyanto. Pria asal Sidoarjo ini mengolah sampah plastik menjadi bubur plastik sebelum dikirim ke pabrik plastik di Surabaya. Bubur plastik kirimannya akan diolah lagi menjadi bahan baku pembuatan plastik. “Setelah dijadikan bubur ternyata sampah plastik memiliki nilai jual lebih tinggi,” katanya. Yanto, begitu pria ini biasa disapa, menekuni usahanya itu sejak tahun 2004.Ia memulainya

di kawasan Gatsu Denpasar. Alasan utamanya memulai usaha ini, untuk lebih menghemat tempat. Ketika belum diproses dengan cara menggiling otomatis barang bekas itu perlu tempat penampungan. Jika

Belajar Peduli Sampah di Australia MASALAH manajemen pengelolaan sampah di sejumlah negara maju dapat menjadi pengalaman berharga. Hal ini diungkapkan mahasiswa program doktor asal Bali di Queensland, Australia, Nana Trianasari. “Masyarakatnya amat peduli sampah. Tiap rumah tangga ada dua tong sampah untuk memilah limbah organik dan anorganik,” ujar putri pakar pendidikan Prof. Drs. Ketut Rindjin ini. Menurut lajang kelahiran Singaraja, 6 juni 1970, ini, tong sampah rumah tangga disubsidi pemerintah setempat. Tiap keluarga dibantu dua tong Nana Trianasari sampah. “Ada tong sampah kuning untuk limbah anorganik, tong sampah hijau untuk sampah organik,” jelasnya. Tiap warga memilah sampah rumah tangga mereka. Tiap warga kemudian membawa tong sampah mereka ke depan rumah. “Sekali sepekan ada truk sampah yang siap mengangkutnya,” ujar mahasiswa S3 di Griffith University Queensland ini. Perihal perilaku warga Australia, Nana juga menyimpan pengalaman berharga lainnya, berkaitan dnegan gaya hidup hemat memanfaatkan air bersih. Mereka amat irit memakai air. “Waktu mandi hanya 4 menit, agar jangan sampai air terbuang begitu saja,” katanya. Jika sekadar buang air kecil biasanya disiapkan air dalam toilet yang volume keluarnya cukup untuk kebutuhan tersebut. Volumen air lebih banyak disediakan jika buang air besar. “Cuci piring pun tidak bisa banyak pakai air. Kalau sebagian kita kan biasanya membiarkan air mengalir dari kran hampir tanpa batas pemakaiannya,” katanya. Ia mengharapkan, upaya Pemerintah Provinsi Bali untuk menangani sampah diharapkan jangan sampai lupa mendorong upaya penyadaran warga semacam ini. “Perda sampah bisa jadi instrumen untuk mendorong timbulnya kesadaran peduli terhadap sampah di Bali,” harapnya. —sam

Limbah Kimia Merusak Tanah RISIKO pencemaran tanah amat tinggi bagi kesehatan lingkungan. Ini lantaran kehidupan di muka bumi ini amat bergantung pada tanah. Tumbuhan memperoleh air dan mineral dari tanah. Makanan manusia bersumber dari hewan dan tumbuhan. “Jadi secara tidak langsung makanan kita sebenarnya berasal dari tanah,” ujar ahli kimia Made Dwi Adnyani, S.Si. Namun, menurut Kepala SMK Duta Bangsa ini, ancaman pencemaran terhadap kesehatan lingkungan tanah belakangan ini makin mencemaskan banyak kalangan. Made Dwi Adnyani Salah satu sumber pencemaran tersebut berasal dari limbah, terutama limbah industri. Limbah ini berasal dari pabrik atau industri manufaktur, industri kecil, industri perumahan. Jenis limbahnya bisa berupa limbah padat dan cair. Limbah industri yang padat adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan dalam industri. Ini dapat berbentuk sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah, ikan, daging. Limbah cair juga berupa hasil pengolahan dalam suatu proses produksi. Misalnya, sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan industri kimia lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom, arsen dan boron merupakan zat hasil dari proses industri pelapisan logam Pencemaran tanah dapat merusak ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun atau berbahaya. Dosis kimiawi rendah sekali pun dapat memberi dampak yang besar terhadap rantai makanan. “Dampak terhadap pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman. Daya tahan tanaman menahan lapisan tanah dari erosi makin rendah,” jelas sarjana ilmu kimia ITB Bandung ini. —sam

Dijadikan Bubur Dikirim ke Surabaya dikirim langsung ke Surabaya perlu ongkos lebih mahal. Lebih mahal jika dibandingkan biaya pengiriman bubur sampah. Sampah plastik ini mulai bernilai jual sejak tahun 1990. Ia lebih melirik limbah kemasan air mineral. Menurutnya, harga jualnya paling tinggi daripada sampah plastik lainnya. Sisa kemasan air mineral berbentuk gelas lebih mahal dibandingkan kemasan botol. Harga kemasan yang kualitasnya masih bagus Rp 6 ribu per kilogram. Kemasan yang jelek laku Rp 4.500 ribu per kilogram. Sementara kemasan berbentuk botol dan kualitasnya bagus dapat dijual Rp 4 ribu per kilogram, namun jika kualitas jelek laku Rp 2.500. “Kualitasnya dilihat dari segi warna. Jika masih bening dan mengkilap masuk kualitas satu harga pun lebih mahal,” katanya.

tkh/tin

Sutariyanto di tempat usahanya

Untuk mendapatkan sisa air mineral kemasan Yanto mengaku tak sulit karena keberadaannya melimpah. Yanto membeli ke pengepul rongsokan. “Saya tak pernah kehabisan bahan baku selama punya modal,” kata pria yang menggeluti usaha barang rongsokan sejak tahun 1987 ini. Sebelum sampah dikirim ke pabrik pengolahannya di Surabaya, ia dibantu beberapa karyawan menggiling sampah plastik itu dengan mesin penggiling. Mesin yang dibeli di Surabaya ini mampu menghancurkan sampah plastik dengan kapasitas 5 kuintal per sekali giling. Sampah plastik dipisahkan dulu berdasarkan jenis dan kualitasnya sebelum digiling.

Setelah digiling, sampah plastik akan berbentuk potonganpotongan plastik halus. Hasil gilingan ini dibersihkan dalam tiga bak air. “Setelah bersih, bubur plastik itu dijemur hingga kering lalu dikemas dalam karung. Tiap Minggu datang mobil yang siap mengirim ke Surabaya,” katanya. Harga sampah plastik yang sudah digiling ini lebih mahal. Harga sisa kemasan air mineral gelasan yang sudah digiling mencapai Rp 7.500 per kilogram. Harga sampah gilingan dari jenis botol laku Rp 6 ribu per kilogram. “Sebulan saya mengirim 57 ton bubur plastik yang siap diolah pabrik menjadi bahan baku plastik setengah jadi,” kata ayah dua anak ini. —tin

Mengolah Limbah Cair Hotel LIMBAH industri pariwisata tidak luput dari gonjangganjing persampahan. Namun, ada yang dapat ditiru khusus dalam mengelola limbah di sektor usaha akomodasi wisata di Bali. “Ada banyak contoh yang dapat diamati untuk memastikan adanya peran manajemen akomodasi pariwisata dalam mengelola limbah. Salah satu contoh itu berupa pembangunan lagoon BTDC (Bali Tourism Development Corporation) Nusa Dua. Untuk mengolah limbah cair hote-hotel di kawasannya, pihak pengelola membangun sebuah lagoon. Limbah cair ini didaur ulang, sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk keperluan operasional, seperti menyiram tanaman,” ujar praktisi pariwisata Ismoyo S. Soemarlan. Titik pengolahan limbah cair tersebut juga berguna untuk konservasi satwa sejenis burung. “Buktinya, banyak burung yang mencari makan di situ,” ujar Ketua Bali Villa Association ini. Suami Sari Prasetia Angkasa ini menilai, kesadaran manajemen akomodasi pariwisata di Bali untuk peduli sampah tak

lagi bisa dianggap urusan sepele. Mereka diharapkan makin serius menangani limbah cair hotel. “Hotel-hotel yang memiliki lebih dari 100 kamar, sebaiknya mengelola limbah secara mandiri. Ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan sekitarnya. Pengelolaan limbah cair yang dilakukan manajemen Bali Tropic Resort & Spa, misalnya. Mereka menerapkan pengolahan limbah cair dan padat secara mandiri. Air hasil pengelolaan limbah dimanfaatkan untuk menyiram kebun dan tanaman. Selain itu, untuk menyuburkan tanaman di kawasan hotelnya tidak perlu membeli pupuk. Mereka cukup memanfaatkan hasil limbah padat tersebut,” katanya. Manfaat ekonomisnya dinilai amat besar dari manajemen pengelolaan limbah semacam itu. “Selain hemat biaya penggunaan air PDAM tiap bulan, juga terlibat langsung menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya,” tambahnya. Untuk melestarikan lingkungan dapat dilakukan dengan penanaman pohon. Komunitas Bali Villa Association telah

Ismoyo Soemarlan

melakukan aksi penghijauan semacam ini. “Kami menanam bibit tanaman intaran. Tanaman ini amat besar manfaatnya dari segi ekonomi maupun kesehatan,” ujar ayah tiga anak, Ahdiyat Nur Hartarta, Ahmad Adi Rahman, dan Asmara Dwiba, ini. Pihaknya juga ikut melakukan aksi konservasi sumber daya air bersih. Ini dilakukan melalui kegiatan menampung air hujan untuk keperluan operasional hotel. Juga, pihaknya memanfaatkan hasil pengolahan limbah BTDC untuk penyiraman taman, memanfaatkan energi dan pengurangan efek gas rumah kaca, mengurangi sampah padat melalui pengolahan limbah organik menjadi kompos. —sam

Pilah Sampah............................................................................dari kemudian difermentasikan dan diberi formula. Diamkan dua minggu dalam dua kali perpanjangan. Lakukan penyiraman dua hari sekali. Atur kelembaban suhu agar hasil fermentasi bagus dan seimbang. Lanjutkan proses penirisan untuk mengurangi kadar air. Proses berikutnya pencacahan, kemudian diayak dan siap digunakan,” papar Kepala Dusun Banjar Langon, Desa Sanur Kaja ini. Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Kompos yang dihasilkan dijual Rp 1000 tiap kilogram. Kompos yang dihasilkan tiap bulan 5-20 ton. Sampah anorganik, tambahnya, harus dipilah kembali. Potongan besi, barang plastik, aluminium, kertas, kaleng, dan kaca dijual kepada pengepul barang rongsokan, dan residu yang tidak dapat diolah dibawa ke TPA Suwung oleh petugas DKP Kota Denpasar. “Kami memiliki mesin pencacah plastik. Tetapi, kami tidak mau melakukannya di sini. Mencacah plastik sampai halnya membuat polusi udara. Kami menjualnya kepada pengepul. Saya dengar mereka mengirimnya ke Surabaya untuk diproses di Malaysia dan dikirim ke Cina,” tuturnya. Hasil penjualan kompos dan sampah anorganik digunakan sebagai biaya operasional pegawai depo. Kepala Desa Sanur Kaja Ida Bagus Paramartha, S.H. menjelaskan, prinsip 3R membuat orang memberdayakan sesuatu yang sudah tidak digunakan agar dapat digunakan kembali. Reuse, menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Reduce, mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle, mengolah kembali (daur ulang)

sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Namun, dalam praktiknya, penerapan 3R memerlukan kesadaran tinggi seluruh masyarakat dan harus menjadi suatu budaya. “Untuk membudayakan sesuatu memerlukan waktu sangat lama, sedangkan sampah saat ini terus menumpuk,” tuturnya. Ia menyatakan, tiap hari pihaknya terus melakukan sosialisasi ke warga agar mereka makin sadar lingkungan. Tiap warga di Desa Sanur Kaja dikenai biaya administrasi Rp 5000 sampai Rp 30.000. Hotel dikenai Rp 50.000 tiap 15 meterkubik. Ada 3 hotel yang ikut berpartisipasi. Awalnya Ibu RT Awalnya, pengolahan sampah swakelola ini dilakukan para ibu rumah tangga (RT) di Gang Mawar, Merpati, dan Nuri atas pembinaan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali tahun 2002. Melalui kegiatan arisan yang diadakan kelompok ibu-ibu di daerah tersebut, PPLH memberikan 100 pasang tong sampah kepada 100 kepala keluarga. Tong sampah tersebut terdiri atas dua warna, merah dan biru. Merah untuk sampah organik dan biru untuk sampah anorganik. Masing-masing keluarga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampahsampah tersebut diangkut seorang petugas kebersihan yang ditunjuk guna dibawa ke depo yang berada di Gang Nuri. Sesampainya di depo, sampah anorganik dipisahkan lagi berdasarkan bahan bakunya, seperti kaleng, kaca, plastik, kertas, dan logam. Sisanya berupa residu sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sedangkan sampah organik, diolah menjadi kompos. Kompos yang dibuat, dikembalikan kepada

halaman 1

masyarakat. Mereka memanfatkan sebagai pupuk tanaman. Tahun 2006 dimohonkan tanah kepada Pemkot Denpasar untuk pembangunan depo Cemara. Dengan lokasi sekitar 6 are di depan Gardu PLN Sanur, 6 karyawan mengolah sampah tiap hari. Depo Cemara sangat tertata rapi dan sering dijadikan studi banding bagi siswa, mahasiswa, dan organisasi di Bali maupun luar Bali. Strategi Sanur Kauh Lain lagi strategi yang dilakukan Desa Sanur Kauh untuk perang melawan sampah. Kepala Desa Sanur Kauh I Made Dana mengatakan, saat ini ia sedang menggagas sistem sinergi pengolahan sampah dengan agribisnis perdesaan. Rencana ini sudah disosialisasikan ke anggota subak yang ada di Sanur Kauh (14/7). Saat ini ada dua subak di Desa Sanur Kauh; subak Intaran Barat sebanyak 75 orang dan Timur sebanyak 4 orang. “Sampah yang ada di sekitar sawah atau sungai akan dipilah kemudian dibuatkan tempat fermentasi di pematang sawah (gundukan seperti kurungan ayam) dengan lebar sekitar 40 cm). Tiga bulan akan terbentuk kompos dan bisa digunakan langsung untuk memupuk tanaman semangka dan melon yang menjadi unggulan Desa Sanur Kauh,” tandasnya. Volume sampah yang dihasilkan warga Desa Sanur Kauh sekitar 8 truk tiap hari. Desa ini memiliki truk dan supir untuk mengangkut sampah. Namun, sikap masyarakat yang masih belum sadar lingkungan menambah pekerjaan pegawai kebersihan. “Mereka tidak mau memilah sampah di rumahnya. Semua sampah masuk dalam satu tong entah itu organik atau anoganik,” tuturnya. Warga dikenai Rp 10.000 tiap bulann untuk biaya administrasi.

AJARAN Islam mengajarkan hubungan harmonis tak hanya antara manusia dan penciptanya, atau manusia dan sesamanya. Namun, Islam juga mengajarkan pentingnya menghargai dan memiliki hubungan erat dengan alam atau lingkungan. Menurut Drs. K.H. Mustofa Al-Amin, sejarah maupun firman Allah yang ada dalam kitab suci umat Islam menjadi bukti hubungan itu. Fatwa MUI tahun 1983 pun masih berlaku. Dalam sejarah, menurut pria yang karib disapa Mustofa ini, sebelum menjadi manusia pertama penghuni dunia, Nabi Adam, nabi pertama itu menempati surga. “Dikisahkan, ada larangan Allah kepada Adam agar tidak mendekati buah kuldi. Itu adalah bukti nyata bahwa pohon maupun tumbuhan harus tkh/lik ditempatkan di tempat yang Drs. K.H. Mustofa Al Amin tepat dan tidak diperlakukan sewenang-wenang,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar ini. Dalam Alquran pun, tambah pria yang aktif sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Denpasar ini, ada pernyataan yang tegas bahwa Islam membenci kerusakaan yang diakibatkan ulah manusia. Memelihara alam dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan, menurut Mustofa, merupakan salah satu cara agar alam tak hanya bisa dinikmati kini, namun hingga anak cucu. Hubungan harmonis antara manusia dan alam atau lingkungan terlihat jelas dari peraturan makan dan minum dalam agama Islam. Seluruh alam beserta isinya, menurut Mustofa, diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, ada batasan dan aturan-aturannya. Tak semua tumbuh-tumbuhan atau binatang bisa dikonsumsi. Islam memilah, mana makanan yang diharamkan dan mana yang dihalalkan. Tak hanya itu, ketika akan mengonsumsi daging hewan, umat Islam pun perlu memenuhi berbagai syarat, seperti mengucap nama Allah sebelum menyembelihnya. “Ini bukti, bahwa ajaran Islam sangat menghargai alam beserta segala isinya,” katanya. Mustofa menambahkan, Islam melarang adanya eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam. Meski seluruh alam diciptakan untuk manusia, namun ada larangan bagi manusia untuk menghancurkannya. “Di dalam salah satu ayat Alquran disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Manfaatkan alam sesuai dengan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan,” katanya. Larangan merusak alam juga terlihat nyata saat umat Islam menunaikan ibadah haji. Ada semacam aturan, tiap peserta ibadah haji tidak dibolehkan mencabut atau merusak tanaman di sekitarnya. Jika hal tersebut terjadi, menurut Mustofa, akan ada sanksi atau dam yang harus mereka bayar. Sebagai pucuk pimpinan MUI Kota Denpasar, ia kerap menyampaikan pesan-pesan terkait pelestarian lingkungan kepada jamaah. Perhatian MUI terhadap lingkungan pun diwujudkan dengan mengeluarkan sebuah fatwa terkait lingkungan. “Fatwa tersebut dikeluarkan tahun 1983 berdasarkan hasil Musyawarah Nasional MUI Pusat 1983. Fatwa tersebut berisi tentang pengawasan yang seksama terhadap lingkungan hidup baik secara nasional, regional, maupun sektoral. MUI secara nasional saat itu mengimbau perlunya pembinaan terkait pandangan masyarakat terhadap lingkungan secara seimbang. Semua sumber daya alam digunakan secara seimbang. Masyarakat pun perlu berorientasi pada pembangunan masa kini dan masa depan. Artinya, tambah Mustofa, untuk bisa mencapai pembangunan masa depan, perlu ada pemeliharaan terhadap lingkungan. Fatwa tersebut, hingga kini masih berlaku. –lik Namun, masih ada warga yang tidak ikut program ini, karena rumahnya masuk di gang sempit. “Kami tidak bisa memaksa warga untuk membayar kontribusi pengambilan sampah karena rumah mereka tidak terjangkau mobil kebersihan desa. Mereka membuang sampah ke bak sampah yang tersedia di pinggir jalan. Tetapi, mobil kebersihan desa tetap

mengambil sampah yang berada di bak sampah di pinggir jalan itu,” kata Dana. Saat ini, belum ada manajer khusus yang menangani depo Palasari milik Desa Sanur Kauh. Semua pekerjaan masih ditangani Kantor Desa. Dengan sistem bekerja sama dengan anggota subak, ia yakin sistem penanganan sampah akan lebih tertata dengan baik. –ast

Terbit Buku..................................dari

halaman 3

keberhasilannya ikut Olimpiade Matematika tahun 2009. “Setelah berhasil menjadi juara I tingkat Kota Denpasar dan kemudian tingkat Provinsi Bali dalam Olimpiade Matematika, Hannah menjadi wakil Bali ke tingkat nasional dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Jakarta,” katanya. Untuk bisa bersaing di tingkat nasional, Hannah menyiapkan diri dengan mengumpulkan beragam soal olimpiade. Soal-soal itu tak sertamerta Hannah selesaikan dengan jawaban yang benar, namun Hannah juga mengembangkannya menjadi berbagai jenis soal dengan berbagai jawaban. “Satu soal bisa Hannah kembangkan menjadi lima hingga 10 soal,” kataya. Hasilnya, Hannah mampu membuat 400 soal dari pengembangan soal-soal matematika yang diberikan guru pembinanya. “Timbullah ide, membukukan soal-soal yang Hannah kembangkan. Dari 400 soal, menjadi empat buah buku. Satu buku telah terbit. Tiga buku lainnya masih dalam proses penerbitan,” katanya. Usaha kerasnya membuahkan hasil. Hannah tak hanya bisa menerbitkan buku, ia juga berhasil teratat di Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai ‘Usia Muda 11 Tahun Mampu Membuat Kumpulan Soal Matematika Olimpiade dan Penyelesaiannya untuk Tingkat SD’ tahun 2009. Dalam ajang Olimpiade Sains Nasional, Hannah berhasil memperoleh medali perak. –lik


TRENDI

Kaus Tim Spanyol paling Laku Barang Datang Langsung Habis

P

erhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan sudah berahir. Spanyol tampil sebagai juara dengan menundukkan Belanda di partai final. Euforia kemenangan melanda para pecinta bola khususnya penggemar tim Spanyol. Euforia juga melanda para penjual kaos bola. Selama Piala Dunia berlangsung, penjualan kaus bola mengalami peningkatan. Menjelang pertandingan final Piala Dunia yang digelar Senin (12/7) dinihari, David Allen sibuk. Ia punya dua agenda. Pertama, menyiapkan selebrasi jika tim Matador menjadi juara dunia. Kedua, mencari kaus timnas Spanyol. “Aku pendukung tim Spanyol. Aku punya nazar kalau Spanyol juara dunia, aku akan lari di seputaran kota Denpasar bersama teman-teman pendukung Spanyol,” ujar pria yang kerap menjadi MC ini. Persiapan pertama beres. David berhasil menggaet komunitas skuter antik untuk ikut konvoi. Spanduk dan bendera pun disiapkan. Berikutnya, David kelimpungan mencari kaus timnas Spanyol. Beberapa

David (kiri) mengenakan kaus timnas Spanyol saat membayar nazar dengan berlari diiringi konvoi skuter antik

toko yang menjual kaus bola ia datangi. Kebanyakan mengaku kehabisan kaus timnas Spanyol. Beruntung, di salah satu toko di Jalan Sumatera, Denpasar, pentolan Anak Radio Production (ARP) ini mendapatkan apa yang ia cari. “Kaus Spanyol tinggal satu. Aku beruntung datang lebih awal dibanding pembeli yang lain. Lengkaplah sudah persiapan,” ujarnya seraya mengatakan merogoh kocek Rp 30 ribu untuk kaus timnas Spanyol berwarna biru tua itu. Sari, pendukung tim Belanda juga tak kalah sibuknya jelang pertandingan final Piala Dunia 2010. Karyawati Telkomsel ini kebetulan punya kegiatan nonton bareng yang disponsori kantornya. Ia pun memilih mendukung Belanda. “Belanda mainnya bagus. Apalagi kalau Arjen Robben main, saya yakin Belanda pasti menang,” tandasnya. Untuk mem-

perkuat image sebagai pendukung tim Oranye, ia membeli kaus timnas Belanda si sebuah toko kaus olahraga. “Harganya Rp 35 ribu, tidak bisa ditawar. Waktu beli, toko sedang ramai, untung stok kaus Belanda banyak, jadi saya dapat kaus tim favorit,” kenangnya. Setelah pertandingan final selesai dan Spanyol juara dunia, ada yang senang dan ada yang sedih. David dan kawankawan merealisasikan nazarnya dengan berlari diiringi konvoi skuter antik. Tak ketinggalan kaus dan bendera Spanyol. Sedangkan Sari, kembali ke rutinitas pekerjaannya. Soal kaus, David tentu akan sering memakainya, sebagai bukti pilihannya mendukung Spanyol tak salah. Sari lain lagi. Kaus Belanda akan ia simpan sebagai persiapan Piala Dunia empat tahun lagi yang akan digelar di Brazil. “Semoga 2014 Belanda bisa jadi juara dunia.

Kasian mereka sudah tiga kali masuk final tetapi belum pernah juara,” ujarnya dengan raut wajah sedih. Sementara itu, Yuliani, pemilik toko peralatan olahraga di Jalan Sumatera, Denpasar mengakui selama Piala Dunia 2010 penjualan kaus tim peserta Piala Dunia meningkat. “Kaus yang banyak dicari kaus timnas Spanyol, Belanda, Jerman, Belanda, dan Argentina. Kami sampai kewalahan, pesan barang, datang, habis,” ujarnya. Untuk harga, kaus timnas peserta Piala Dunia 2010 ini dijual mulai harga Rp 25 ribu untuk ukuran anak-anak dan Rp 35 ribu untuk ukuran dewasa. Dari negara-negara yang disebutkan tadi, kaus timnas Spanyol yang paling laku. Namun, Yuliani tak mau merinci berapa peningkatan penjualan. Selain kaus, pernak-pernik Piala Dunia juga diincar pembeli, salah satunya bendera. Hanya penjualan bendera tak segencar kaus. “Setelah Piala Dunia selesai, kaus masih laku sedangkan bendera tidak,” ungkapnya sembari melayani pembeli. Toko miliknya ini tidak hanya menjual kaus peserta Piala Dunia tetapi ada juga kaus klubklub sepak bola dunia. Mereka juga melayani pemesanan pembuatan kaus klub untuk lokal. Kaus timnas Indonesia yang bergambar burung Garuda juga tersedia di toko ini. Ternyata di tengah maraknya pembeli kaus tim peserta Piala Dunia 2010 masih ada yang mencari kaus timnas Indonesia. —wah

18 - 24 Juli 2010 Tokoh 15

Pilih Kaus Berbahan Katun

K

aus tim sepak bola kerap menjadi pilihan busana anak muda, apalagi jika Piala Dunia atau turnamen sepak bola sedang berlangsung. “Model busana satu ini sifatnya kambuhan. Namun, sebagaimana tren mode umumnya, para desainer di luar negeri juga tidak sembarangan mendesainnya. Yang model oblong sekalipun selain memunculkan gambar salah satu bagian Piala Dunia tetap ada detailnya,” ujar Yudy Hermawan, salah seorang desainer muda Bali. Menurutnya dengan penyelenggaraan yang sudah terjadwal dan kontinyu, tentu semua pihak yang terkait dengan keluarnya kaus khusus bergambar tim peserta Piala Dunia dan lainnya ini mempunyai kesiapan khusus. Kreasi para pembuat kaus khususnya ditempat berlangsungnya acara lebih beragam dibanding di negara kita. Belum lagi pernakpernik pendukung lainnya. Jika diperhatikan maka tiap pertandingan sepakbola, tren ini selalu berganti menyesuaikan dengan lambang atau ikon khusus turnamen empat tahunan ini. Pemilik Yudy’s Fashion Studio di kawasan Jalan Hassanudin ini, mengatakan ia sempat melihat salah satu fashion item kaus bola yang sedang tren tersebut, khususnya yang didesain di luar negeri. “Ternyata tiap tahunnya selalu ada sentuhan detail berbeda yang ingin ditonjolkan. Entah itu gradasi

Yudy Hermawan

warna atau jahitannya yang dibagian belakang kaus diisi princes, seperti orang membuat jas,” katanya. Hal ini memang tidak terlalu nampak jika tidak diperhatikan dengan seksama. Apalagi jika tidak pernah membandingkannya dengan keluaran sebelumnya. Kaus tim peserta Piala Dunia ini sifatnya umum, bisa dan cocok digunakan untuk semua usia. Tinggal gaya mengenakannya saja disesuaikan tipe dan gaya orangnya. “Tak ada yang salahnya jika kita ingin membeli kaus bergambar aneka tim sepak bola Piala Dunia ini. Kaus unik ini tentu akan menambah koleksi yang ada selain mampu juga menjadikan kita tampil trendi saat jalan-jalan bersama keluarga,” ujar suami Viva Riany Dewi ini. Ia menambahkan, ketika menggunakan, T-Shirt atau oblong dengan warna tim favorit bisa dipadukan dengan salah

Persiapkan Anak sebelum Sekolah KESIAPAN anak menghadapi sekolah tentu berbeda-beda. Pada usia balita, sekolah fungsinya untuk bersosialisasi, interaksi memahami dunia selain keluarga, dan secara langsung mengenal orang lain. Dengan bersekolah anak diharapkan memiliki kemampuan bekerja sama dengan orang lain, mampu berkonsentrasi dan menaruh perhatian serta menyesuaikan diri untuk sekolah lanjutan. Selama anak belum bersekolah, persiapkan beberapa hal: 1. Bacakan buku yang mampu merangsang anak mengajukan pertanyaan mengenai isi bacaan.

2. Menyediakan buku yang sesuai dengan usia anak. Ia bisa membuka, melihat, dan mengomentarinya. 3. Ajak anak mengunjungi museum, perpustakaan, taman, kebun binatang, sawah, agar anak dapat belajar lingkungan. 4. Jangan hanya menuntut anak belajar dengan duduk, menghafal dan menulis di buku. 5. Batasi acara menonton televisi. 6. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. –ast Kiriman:

satu busana lama untuk hasil trendi namun tidak berlebihan. Sebagai pelaku dan masyarakat penikmat fashion, Yudy mengungkapkan sesungguhnya tren mode sesaat ini banjir telah dengan pertimbangan fashion item tersebut akan sesuai untuk semua orang. “Siapa saja bisa mengenakannya. Umumnya jika materialnya katun yang baik, akan sangat nyaman dikenakan di segala cuaca karena sifatnya menyerap keringat,” tandasnya. Yudy mengatakan biasanya orang membeli kaus ini lebih melihat keindahan gambarnya. “Mereka jarang melihat prosentase kandungan katunnya di bahan. Padahal kaus yang terbaik adalah yang 100 % katun, atau paling tidak katunnya 65 % dan 35 % poliesternya. Namun, demi bisa menjual lebih murah pedagang lebih banyak memilih yang 50 % dan 50 %. Sebab, terlihatnya sama. Hanya saat dikenakan tidak menyerap keringat,” ungkapnya. Bagi ayah Diva dan Delon ini kaus berdesain aktivitas, pemain dan semua pernak-pernik bola ini termasuk tren yang inovatif, dan disajikan pada even yang ditunggu penggemarnya di seluruh dunia ini. Perhatian dan peminatnya juga tidak sedikit karena model kausnya menarik perhatian. “Mungkin saja saat ini para desainer sudah memperoleh inspirasi untuk Piala Dunia berikutnya,” ujarnya terse-nyum. Sebagai seorang desainer Yudy pun berbagi tips kecil. Katanya, kita jangan sampai hal ini membuat kita sampai tampil berlebihan. “Ingat apa yang sering didengungkan para fashion stylist; Less is more. Satu potong busana terkini, kaus atau lainnya sudah cukup membuat tampil chic. Jika ditambahkan lagi beberapa aksesori lainnya, jangan-jangan orang malah akan terlihat seperti korban mode,” ujarnya. Ia menekankan jika membeli busana kenakanlah yang dapat membuat diri, nyaman dan percaya diri, bukan sebaliknya. Tampil gaya bukan salah gaya. —ard

IKLAN CANTIK

Ni Putu Oka Dian Andayani, S.E. SMP Negeri 5 Tabanan

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik. Yth. Ibu Agung Saya karyawati swasta, usia 24 tahun. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari saya dituntut senantiasa mengggunakan make-up. Namun selama ini saya masih kebingungan untuk menyiasati bentuk mata saya yang kecil dan terkesan sayu dengan bagian bawah datar dan ujung mata agak turun, sehingga sering terlihat kubil, serta membentuk alis agar terlihat natural sesuai dengan hidung saya yang terlihat panjang. Mohon bantuan Ibu bagaimana cara untuk mengatasi masalah tersebut serta mohon ditampilkan contoh busana modifikasi sederhana yang dapat digunakan untuk acara resepsi pernikahan. Dewi, Kerobokan Yth. Adik Dewi Menjaga penampilan merupakan hal yang penting bagi seorang wanita. Untuk menyempurnakan penampilan maka salah satu hal yang penting untuk dikuasai adalah keterampilan dalam mengaplikasikan make-up. Untuk menyiasati permasalahan yang Adik miliki maka Adik dapat mengikuti beberapa langkah berikut ini. Dimulai dengan membentuk alis. Karena bentuk hidung Adik yang panjang, pangkal alis dibentuk landai natural dan agak berjauhan. Busur alis dibentuk di tengah. Untuk penampilan sehari-hari gunakan pensil alis warna cokelat kehitaman. Untuk bentuk mata Adik yang sayu dengan bagian bawah datar dan ujung mata agak turun, riasan dilakukan dengan teknik make-over untuk mata dengan masalah berat. Fokus riasan dilakukan dengan memasang dua bulu mata korektif yang ditujukan untuk memberi kesan lebih besar di bagian tengah sekaligus mengurangi kesan sayu. Balance mata dibentuk dengan aplikasi eyeliner di garis ujung mata bawah dan atas. Sapuan eyeshadow diberikan di bawah mata dengan warna abu-abu untuk membuat mata terkesan lebih besar dan warna cokelat untuk menghilangkan kesan sayu. Untuk menghilangkan kesan kubil yang masih terlihat, dibentuk double line (kerungan) di kelopak mata. Berikut ini contoh busana modifikasi sederhana yang dapat digunakan untuk resepsi pernikahan. Selamat mencoba.

Rekor Bocah Terkuat Pecah lagi REKOR dunia bocah terkuat kembali tumbang. Kali ini oleh Kane Kyle, bocah bertubuh kekar, berusia 12 tahun. Dalam acara amal bodybuilding, Kayle yang berasal dari Coventry, Inggris, berhasil mengangkat beban seberat 140 kg, sekaligus mematahkan rekor dunia sebelumnya yang dipegang bocah usia 12 tahun asal Amerika. Rekor sebelumnya adalah angkatan 107 kg. Bagi Kyle, meski ia berhasil memecahkan rekor dunia, namun sebenarnya angkatan itu bukanlah prestasi terbaiknya. Karena ia telah mampu mengangkat beban seberat 260 kg. Kyle yang dijuluki ‘si kecil Arnie’ (Arnie sapaan akrab untuk Arnold Schwarzenegger), pantas mendapat penghargaan itu. Ia berlatih sangat tekun, empat kali seminggu, selama dua tahun terakhir. Latihan-latihannya itu berhasil membentuk ototnya jadi sekuat besi, khususnya pada lengan dan kaki. Kaki Kyle begitu kuat sehingga mampu menggeser beban 272 kg. “Saya berlatih sebenarnya hanya ingin terlihat berotot, namun kemudian berkembang menjadi seperti ini,” ujar Kyle pada Daily Telegraph. “Saya berharap suatu saat dapat kesempatan tampil

di olimpiade atau bersaing dalam kompetisi Pria Terkuat di Dunia. Walaupun gagal, aku cukup puas bisa menjadi seperti ayah, binaragawan profesional,” tambah bocah ini. Sejak kanak-kanak, Kyle sudah menyukai olah raga berat. Ia mulai berlatih kickboxing sejak usia empat tahun. Ketika usia 9 tahun, ia meraih sabuk hitam. Usia 10 tahun, ia beralih pada latihan bodybuilding sampai sekarang. Meski sibuk berlatih, namun Kyle tak lupa belajar. Bocah ini tergolong anak cerdas di sekolahnya. Pelajaran paling disukainya adalah sejarah dan pendidikan jasmani. Semangat juang dan pantang menyerah merupakan sifat Kyle yang didapat dari kedua orangtuanya. Keluarga Kyle boleh dibilang sebagai keluarga ‘pejuang’. Mereka merangkak dari bawah untuk bisa mencapai kehidupan lebih baik seperti sekarang ini. Ayahnya, John, 44 tahun, mantan binaragawan. Ia berharap kelak anaknya pun mengikuti jejaknya meraih prestasi terbaik seperti dirinya. Ayahnya pertama kali menghubungi Telegraph saat Kyle berusia 11 tahun, saat bocah ini mengukir prestasi luar biasa. “Bayangkan, di usia semuda itu, dia telah

Kane Kyle

mampu mengangkat beban 260 kg. Ini membuat semua orang terbelalak. Sungguh sulit dipercaya. Ini merupakan buah dari kerja kerasnya dalam melatih kekuatan lengan,” papar John. “Otot-ototnya begitu besar, bahkan dia tidak bisa duduk dengan menyilangkan kaki. Bukan hanya itu, otot-otot tubuh yang lain pun ikut berkembang. Akibatnya, seragam sekolahnya kesempitan, se-

hingga kami terpaksa membelikannya kemeja laki-laki dewasa,” tutur sang ayah. Kyle mengaku amat bangga dengan prestasi yang diraihnya. Dan, berharap setiap tahun bisa memperbaiki rekornya. “Senang rasanya bisa menumbangkan rekor dunia, itu bukan suatu yang mudah dicapai oleh kebanyakan anak usia 12 tahun,” katanya. —dia/daily telegraph


16

Tokoh

18 - 24 Juli 2010

PROMO


tkh_601_xi_18-24_juli_2010