Issuu on Google+

Harmoni Keluarga bukan hanya Faktor Seks Halaman 9

CGF Percepat Penyembuhan DB

Menggagas Ranperda Sampah

Luh Gede Herryani

CerminHak Cipta Karya Seni Generasi Muda PESTA Kesenian Bali (PKB) adalah salah satu media atau sarana besar menggali, melestarikan dan memunculkan budaya lokal. Dengan segala filosofi dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya, PKB memiliki nilai sejarah yang diharapkan ajeg terus ke depannya.

Halaman 11

Pedagang Kaki Lima dapat Jadi Pesona Wisata

Ada gebyar pembukaan, ada sajian pameran dan terakhir pagelaran penutupan. Semua hasil karya cipta yang digelar diapresiasi oleh masyarakat. Namun, perempuan yang tercatat sebagai notaris/PPAT

Halaman 13

Mendaki Puncak Tambora

10 URUSAN pacet (lintah) yang cukup merepotkan sepanjang perjalanan menuju Pos III ternyata ada hikmahnya. Cerita mistis yang kerap mewarnai pengalaman pendaki dalam perjalanannya menuju puncak Gunung Tambora, lenyap dari pikiran saya. Karena, satu-satunya rasa miris saya hanya tertuju pada pacet. Mungkin karena kelelahan setelah menempuh perjalanan yang berat seharian, di Pos III saya sempat tertidur nyenyak beberapa jam. Istirahat membuat tenaga saya kembali pulih. Kilauan cahaya matahari yang mulai terbit terlihat menembus sela-sela dedaunan di pohonpohon yang tinggi. Namun, keindahan alam yang sejuk tidak dapat dinikmati karena kami berada dalam hutan nan lebat. Bau khas hutan yang basah oleh embun pagi, justru memompa semangat tim untuk segera bergegas. Usai sarapan, pukul 07.30, tim pendaki puncak mulai melangkahkan kaki. Sebagai tanda saling mendukung, kami yang akan mendaki puncak, berfoto bersama dengan tim lain yang akan tetap tinggal di Pos III. Perjalanan menuju Pos IV akan kami tempuh sekitar 3,5 jam dan akan tiba di Pos V, tempat kami makan siang, sekitar pukul 13.00. Baru 10 meter dari base camp di Pos III, kami sudah mulai menuruni anak sungai yang licin, kemudian menanjak

Pacet Hilang Muncul Jelateng

â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹

Bersambung ke halaman 12

tebingnya yang tajam. Para porter mulai mengingatkan kami untuk segera merapatkan seluruh penutup tubuh, jangan sampai ada yang terbuka. Hutan lebat gunung Tambora “menyajikan� hutan jelateng yang juga lebat dengan tantangan yang “menggiurkan�. Pohon jelateng menghimpit perjalanan kami di kiri kanan jalan setapak. Tidak jarang, pohon jelateng menutup jalan setapak yang kami lewati. Pohon jelateng dengan daun berjari-jari dan berbulu sangat halus, siap menyengat para pendaki. Pernahkah merasa tertusuk seratus jarum dalam waktu bersamaan di bagian kulit? Itulah cerita pendaki yang kulitnya pernah tersentuh daun dan bulu-bulu jelateng. Daun atau batang jelateng yang menyentuh kulit juga meninggalkan rasa panas dan gatal. Saya berhati-hati sekali memilih jalan setakap agar jangan sampai tersengat jelateng. Seluruh tubuh saya pastikan tertutup rapat. Selain ancaman jelateng, jalan licin sewaktu-waktu bisa membuat kami terperosok atau tergelincir. Setelah berdiskusi dengan para porter yang membawa parang, disepakati untuk menerabas pohon-pohon jelateng di sekitar kayu besar  Bersambung ke halaman 14

Melewati hutan jelateng sesekali pendaki merangkak di pepohonan tumbang.

Pengantar Redaksi: Tema “Bali Green Province� yang berembus dalam kegiatan Festival Keluarga Koran Tokoh 2010, Minggu (27/ 6), di Renon, mengandung segudang agenda penting. Koran Tokoh mengembangkan tema yang digelorakan melalui program Bali Clean dan Green tersebut dalam sajian utama edisi ini dan pekan depan.

UPAYA membangun harus bebas dari kesadaran masyarakat sampah yang berdi Bali untuk makin serakan,� jelasnya. peduli menangani samPetugas instansi pah bakal dikawal aturyang dipimpinnya an hukum. Draf Ranpun sudah terjun ke perda Sampah ini tengah masyarakat. tengah digodok PemePara petugas merintah Provinsi Bali nyosialisasikan konuntuk diajukan ke DPRD sep reduce, reuse, Bali. Ranperda tersebut dan recycle sampah akan mengatur berbagai atau limbah yang hal yang berkaitan ada di lingkungan manajemen pengelolaan tempat tinggal tkh/dok tkh/sum sampah. warga. Salah satu Alit Sastrawan Sri Wigunawati Menurut Kepala aksi yang didorong, BLH Bali Alit Sastramenggenjot pewan, rancangan produk hukum tersebut nguatan program pemilahan sampah yang merupakan respons serius pemerintah untuk dilakukan warga masyarakat. “Masyarakat memberdayakan program pengelolaan sampah. memilah sampah organik dan anorganik. Sampah “Peran Satpol PP, misalnya, akan diatur untuk organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, mengawasi perilaku masyarakat yang belum sampah plastik sebagai limbah anorganik sepenuhnya peduli sampah,� ujarnya. dipisahkan dari sampah organik untuk didaur Namun, upaya mengukir sikap peduli ulang,� jelasnya. masyarakat sudah dilakukan melalui sejumlah Kesadaran masyarakat memilah sampah langkah konkret. Ini dimulai dari keteladanan amat penting. Ini berkaitan karakter sampah pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. anorganik yang memerlukan waktu ratusan “Semua Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) tahun baru bisa terurai dengan tanah. “Kalau Pemprov. Bali wajib memberikan perhatian sampah organik bisa cepat terurai, bahkan dapat khusus dalam menangani sampah di lingkungan  Bersambung ke halaman 14 perkantoran masing-masing. Lingkungan kantor

Kumpulkan Sampah 7 Truk

AKSI peduli sampah kaum bocah di Pemecutan Kaja, Denpasar, layak diacungi jempol. Padahal, kalangan anak didik ini baru duduk di bangku taman kanakkanak dan sekolah dasar. Tetapi, mereka telah menyadari makna lingkungan yang bersih dari sampah. “Ada minimal 7 truk sampah dikumpulkan dalam sekali sepekan,� ungkap Mulyono, relawan peduli sampah.

C

erita Mulyono itu terungkap dalam acara jumpa pers “Menuju Masyarakat Bali Mandara�, Kamis (8/7), di Media Center Humas Pemerintah Provinsi Bali. Acara Dialog Interaktif RRI bertema “Menuju Bali Clean and Green� dengan topik “Upaya Pemprov. Bali Menanggulangi Sampah Plastik� mengawali kegiatan tatap muka bulanan dengan kalangan pers tersebut. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali Alit Sastrawan dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, A.A. Ngurah Bhuana membedah program pemerintah yang

tkh/edi

Perwakilan musisi yang tampil dalam acara Festival Keluarga Koran Tokoh 2010 mengekpresikan spirit kampanye Bali Clean and Green usai menerima bibit tanaman dari Ketua Panitia Bersepeda Sehat Purna Paskibaraka Indonesia (PPI) Bali Dewa Sugandha

menyentuh tema besar “Bali Green Province�. Hadir pula kepala Biro Humas dan Protokol Putu Suardhika didampingi Kabag Publikasi dan Dokumentasi Ketut Teneng. Aksi bocah TK dan SD peduli sampah tersebut juga melibatkan orangtua mereka masing-masing. Mereka mengumpulkan sampah di kawasan Gatot Subroto Barat, Jalan Dr. Soetomo, dan Jalan Gunung Agung. Sampah

DKP harus Jadi Contoh MASALAH sampah harus dihadapi bersama. Sampah kerap dituding sebagai pemicu kotornya lingkungan. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah akan memberikan manfaat. Pengelolaan sampah juga memerlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah. Payung hukum untuk pengelolaan sampah juga sudah diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam UU tersebut disebutkan pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah. Selain itu pengelolaan sampah belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sehingga menimbulkan dampak

Ketut Wisada

dikumpulkan tiap hari di sejumlah titik penampungan sementara. Tumpukan sampah tersebut bisa mencapai 7-8 truk dalam sepekan. “Sampah yang terkumpul ini yang diangkut truk ke TPA,� ujar Mulyono. Upaya penanggulangan sampah bukan hanya menyasar wilayah perkotaan. Menurut Mulyono, sampah pun sudah BERITA TERKAIT HALAMAN 8, 9, dan 14

Akan Dilakukan Sidak ke Rumah Pegawai agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat. Dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien. “Di Kota Denpasar, kami sudah mengikuti aturan sesuai dengan UU tersebut. Kami juga sudah melakukan sosialisasi bagaimana memilah dan mengolah sampah termasuk mengurangi dan mendaur ulang

negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Sampah pun telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir  Bersambung ke halaman 14

Aksi Bocah TK dan SD Peduli Sampah di Pemecutan Kaja mencemari kawasan pegunungan di Bali. Ini bermula saat dirinya yang gemar mendaki gunung mengajak anak sekolah dari Mengwi, Badung, untuk menaklukkan kawasan pegunungan di sejumlah tempat di Bali. Ini mulai dilakoni sejak tahun 2003. “Ternyata sampah berserakan juga banyak dijumpai di daerah pegunungan, termasuk sampah plastik. Kami berinisiatif mengumpulkan sampah tersebut. Sampah yang terkumpul bisa mencapai 15 karung dalam 1,5 bulan,� ungkapnya. Volume sampah plastik saat ini menjadi persoalan serius di Kota Denpasar khususnya, umumnya di Bali. Kenyataan ini mengundang sikap kritis Gubernur Bali Made Mangku Pastika. “Masalah sampah sudah merisaukan kita. Wajah Bali bisa terkesan jorok akibat sampah yang tak dikelola secara baik,� ujar Gubernur usai berjalan sehat serangkaian kegiatan Festival Keluarga Koran Tokoh, Minggu (27/6), di Renon. Manajemen pengelolaan

tkh/dok

Mangku Pastika

sampah memperoleh atensi serius Pemerintah Provinsi Bali. Ini sudah masuk dalam agenda Bali Green Province alias Bali sebagai Pulau Hijau. “Ini komitmen pembangunan lingkungan berkelanjutan pemerintah provinsi yang digerakkan bersama pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan seluruh komponen masyarakat, untuk mewujudkan Bali yang bersih, sejuk, indah, hijau, dan lestari. Landasannya, prinsip Tri Hita Karana menuju Bali Mandara, yaitu Bali yang maju, aman, damai, dan sejahtera,� jelasnya. “Gerakan Hijau� ini diterjemahkan dalam kemasan “Bali Clean and Green�. Kemasan ini mengandung harapan untuk mewujudkan  Bersambung ke halaman 14

Peduli Sampah PEMERINTAH Provinsi Bali menaruh harapan serius terhadap masalah sampah di kawasan suci umat Hindu. Sampah yang habis dipakai untuk sarana upacara di pura dinilai masih kerap dibiarkan berserakan. “Maka, pemerintah terus mengingatkan para pemedhek agar langsung membersihkan sampah sehabis upacara di pura,� ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Bali I Putu Suardhika. Pengalaman di Pura Batukaru dapat dijadikan contoh. Sebelum upacara persembahyangan berlangsung disampaikan pengumuman kepada para pemedhek agar memasukkan sampah ke tong yang telah disiapkan. Pengumuman itu disampaikan melalui pengeras suara minimal lima kali tiap umat hendak bersembahyang. “Pemerintah pun akan menyerukan agar dibuatkan

Pasang Pengumuman di Depan Pura

I Putu Suardhika

tkh/sum

pengumuman tertulis melalui papan yang dipasang di gerbang masuk tiap pura. Ini untuk makin mendorong kesadaran umat agar tetap peduli sampah usai sembahyang di pura,� katanya. —sam


2

Tokoh

11 - 17 Juli 2010

ASPIRASI Bisa Berolahraga di Tempat Kerja

Lingkungan Seorang tamu mengadu pada Pak Amat. “Pak Amat, saya heran, tadi saya baru saja bertanya kepada seorang gadis Bali, apakah dia tidak bangga Putu Wijaya hidup di Bali, yang menjadi tujuan wisatawan dari seluruh dunia. Termasuk saya yang setahun menabung supaya bisa berlibur seminggu saja di Pulau Dewata ini.” “Herannya kenapa Bu?” “Sebab, jawabnya dia mengatakan bahwa dia merasa sumpek. Mosok sih?” Amat tersenyum masam. “Apakah gadis itu, anak saya, Bu?” “O tidak. Seseorang yang kebetulan ketemu di toko barang suvenir. Apa itu betul? Jangan-jangan seperti kata pepatah: Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan! Kita semuanya menyukai yang tidak ada. Ya Pak Amat” Amat tidak bisa menjawab. Tetapi, kemudian setelah tamunya pergi, ia langsung pasang omong dengan Ami. “Ami, apa maksudmu mengatakan hidup di Bali ini sumpek?” Ami bingung. “Kamu yang sudah bilang begitu kepada tamu kita, kan?” “O samasekali nggak.” “Siapa dong?” “Nggak tahu!” Amat tidak percaya. Malam hari Amat mengajak istrinya berunding. “Kalau seorang gadis sudah mengatakan bahwa hidup ini sumpek, maksudnya apa?” Bu Amat memandang suaminya heran. “Ibu pernah jadi gadis kan?” Bu Amat menggeleng. “Jangan begitu. Ini serius. Menurut pengalaman Ibu sebagai seorang gadis dulu. Kalau sudah mengatakan merasa sumpek, itu artinya apa?” “Waktu gadis Ibu tidak pernah sumpek, tetapi setelah tidak gadis lagi memang sering.” “Maksudnya setelah kawin?” “Setelah menjadi istrinya Pak Amat.” “Ya itu karena gaji bekas guru dan bekas sopir kecil. Karena kesulitan keuangan. Itu biasa. Mana ada orang yang merasa hidupnya cukup sekarang kalau melihat di sekitarnya serba gemerlapan. Pertanyaan Bapak, kalau anak kita mengatakan hidupnya sumpek itu kenapa? Apa karena dia tertekan oleh kita? Atau, dia sudah mau kawin?” “Tanyakan sendiri kepada Ami.” “Sudah.” “Jawabnya?” “Dia tidak mau mengaku.” “Ya kalau mau disalahkan siapa yang mau mengaku!” “Jadi kalau begitu, paling tidak Ibu melihat ada alasan yang masuk akal, Ami merasa sumpek?” “Ada!” “Apa?” “Karena, Ami manusia yang normal. Perasaan sumpek itu kan wajar. Kalau tidak pernah merasa sumpek, malah harus dicurigai sarafnya sudah putus!” Amat angkat tangan. Dia tahu istrinya tidak menyukai percakapan itu. Sebagai suami yang baik, dia lalu bungkam. Tetapi, Ami malahan kemudian membuka percakapan. “Seandainya ada yang menanyakan apakah Ami sumpek, Ami akan jawab, ya. Ya, Ami merasa sumpek hidup di sini!” Amat terkejut. “Jadi kalau begitu kamu yang ditanya tamu kita itu?” “Bukan. Tetapi, memang betul. Hidup di sini rasanya sumpek.” “Kenapa? Apa kamu merasa, kami menekan kamu?” “Kalau orangtua menekan anaknya itu biasa. Kalau diloskan anak bisa liar. Jadi jangan khawatir. Bapak dan Ibu tidak melakukan kesalahan. Nanti kalau Ami punya anak, Ami juga akan menekan anak dengan disiplin. Sebab, hidup ini makin keras persaingannya, kalau tidak punya disiplin tidak akan jadi apa-apa. Jadi terima kasih atas tekanan Bapak dan Ibu, karena itu telah membuat Ami selamat.” Amat merasa tidak nyambung. Ia kembali membunuh percakapan. Lalu ia keluar rumah. Tetapi, begitu keluar dari pintu, untuk pertamakalinya ia tiba-tiba menyadari bahwa, banyak sekali orang yang berada di luar rumah. Rata-rata separuh lebih dari penghuni rumah ada di luar rumah. Para tetangga berkeliaran di jalanan dan halaman rumah. Jarang sekali orang tinggal dalam rumah. Amat perlahan-lahan berjalan keluar. Di jalan, ia menemukan lebih banyak lagi orang. Bukan hanya mereka yang pulang kerja atau berangkat kerja. Tetapi, orang-orang yang semata-mata seperti tidak betah ada dalam rumah. Jalanan telah menjadi rumah yang lebih banyak dihuni daripada rumah sendiri. Rumah hanya tempat tidur. Untuk ngorok. Kalau sudah terjaga, orang gentayangan. Amat terus jalan lebih jauh. Ia tiba di rumah orang kaya itu. Lampu-lampunya menyala semua. Jendela terang. Ruang tengah tampak ada kehidupan. Sementara di sekitar rumah, sepi. Tak ada penghuni rumah yang gentayangan. Tamannya yang indah dengan pohon yang dirawat dan bunga-bunga yang asri membuat rumah itu seperti bunga dalam sebuah pot yang mahal. Sejuk, nyaman, ruang di situ terasa ramah. Amat terkejut. Tiba-tiba saja, ia merasakan apa arti kata sumpek yang sejak tadi siang dikejarnya. Barangkali ketika mengatakan merasa sumpek, gadis yang ditemui tamu di dalam toko itu, tidak benarbenar menyadari apa yang dikatakannya. Ia hanya merasa sesak, tetapi tak tahu kenapa. Amat bergegas pulang. Ia membangunkan Ami yang sudah tertidur karena lelah belajar. “Ami, Bapak sekarang tahu apa yang menyebabkan gadis itu merasa sumpek. Pembangunan di Bali ini diartikan adalah pembangunan fisik, membangun rumah di atas tanah. Jadi tiap tanah kosong akan selalu nantinya akan dijadikan lokasi bangunan. Tetapi, ketika membangun, pemiliknya tidak lagi mempedulikan samasekali tata ruang seperti yang ada dalam arsitektur tradisional Bali. Semua dijadikan bangunan dan kamar. Makin besar bangunan makin dianggap bagus. Tidak ada taman. Tidak ada ruang untuk melepaskan pandangan. Tidak ada ruang buat bangunan itu bernapas. Akibatnya orang tidak betah di rumah. Semuanya sumpek. Tetapi, mereka tidak menyadari apa yang menyebabkan mereka merasa sumpek. Terus saja membangun. Mereka sudah lupa tri hita karana. Hubungan manusia dengan manusia, dengan pencipta, dan dengan alam! Ami!” Mata Ami sudah terpejam. Ia samasekali tidak mendengar apa yang dikatakan Amat. Amat penasaran. Ia membangunkan istrinya. “Bu, Bu, bukan hanya gadis itu, bukan hanya Ami, Bapak juga merasa sumpek.” Bu Amat memejamkan mata tak peduli. Amat bengong memperhatikan tubuh istrinya yang tergeletak karena kelelahan bekerja seharian. Napasnya turun naik dengan teratur. Ia samasekali tidak mendengarkan. “Ya aku juga sumpek,” bisik Amat tak peduli istrinya sudah tidur, “sumpek karena orang-orang tak berusaha untuk melihat apa yang sudah menyebabkan rasa sumpek itu. Membangun itu tidak harus merusak dan menganibal lingkungan yang punya hak hidup. Itu kejahatan. Kalau kita tidak mulai sekarang, seluruh Bali akan sumpek. Aku sumpek karena tidak ada orang yang mau mendengarkan orang lain bicara.” Pagi-pagi ketika Amat bangun terlambat, Bu Amat menyapa. “Masih sumpek?” “Amat mengangguk “Bagus. Ibu sudah sejak bertahun-tahun yang lalu merasakannya.” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Kesetaraan Gender di Desa Pakraman” Sampaikan opini Anda Minggu 11 Juli 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 18 Juli 2010

Berolahragalah demi Kebugaran TUBUH bugar itu perlu. Kebugaran bisa meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, jika tidak bugar, duduk sebentar sudah mengantuk, sering sakit. Maka, perlu berolahraga, tidak perlu menjadi atlet. Olahraga itu seperti obat, ada dosisnya. Juga, pertimbangkan usia. Orang gemuk jangan berolahraga lari. Mengurangi lemak perlu bertahap, tidak bisa instan. Penderita diabetes harus banyak jalan. Penderita asma tidak dianjurkan lari cepat. Aerobik atau jalan baik untuk menjaga kebugaran. Bersepeda merupakan olahraga komplit. Petani yang tiap hari bekerja di sawah, apa masih perlu berolahraga? Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (4/7). Topiknya, “Berolahraga demi Kebugaran”. Berikut, petikannya.

Olahraga seperti Obat Ada Dosisnya Tiap orang ingin hidup sehat. Kesehatan tidak datang begitu saja, perlu diusahakan. Selain makan dengan gizi bagus, kita perlu berolahraga. Olahraga itu penting sesuai jenisnya ditinjau dari tujuannya. Pertandingan sepak bola merupakan olahraga yang mengejar dan mencapai prestasi. Ada lawan satu sama lain. Kita berusaha lari secepat-cepatnya, atau melompat setinggi-tingginya. Orang yang bugar, ketika pulang kerja masih merasa cukup sehat. Sampai di rumah tidak loyo dan memunyai tenaga untuk bercengkerama atau jalan-jalan bersama keluarga. Tiba-tiba ada goncangan, misalnya gempa, kita masih bisa menyelamatkan diri. Olahraga seperti obat. Ada dosisnya dan berapa lama dilakukan. Olahraga perlu mempertimbangkan usia, apakah untuk anak-anak, anak muda, atau orang tua. Usia muda masih lebih mampu memikul beban berat. Dalam olahraga dikaitkan dengan denyut

nadi maksimal masing-masing orang. Saat berolahraga denyut nadi meningkat. Akibatnya, tubuh memikul beban olahraga tersebut. Jantung memompa darah sehingga mengakibatkan denyut nadi meningkat. Rumus yang dipakai menghitung 220 dikurangi umur. Misalnya, usianya 27 tahun, jadi hitungannya 220 – 27= 193. Angka ini denyut nadi yang masih ditoleransi tubuh. Jangan sampai melewati denyut nadi maksimal itu. Kalau dilewati bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan atau membahayakan. Kalau ingin melakukan aktivitas olahraga tidak harus mencapai denyut nadi maksimal. Lakukan 65%80% dari denyut nadi maksimal. Kalau hitungannya 65% orang yang berusia 27 tahun tadi, berkisar 120. Itu denyut nadi yang dicapai sehingga dapat dikatakan mampu meningkatkan kebugaran. Ketut Tirtayasa, Profesor Fisiologi Kedokteran, Universitas Udayana

antara ketiganya. Apa benar seperti itu? Apakah jika kita keluar keringat berlebihan, berbahaya? Ketut Kari

Petani Apa perlu Olahraga lagi? Petani bekerja di sawah. Karyawan bekerja dengan baik di kantor. Apa perlu olahraga lagi. Petani gerakannya mencangkul. Yang bekerja tangannya. Ada gerakan olahan gerak tubuh. Usia lanjut tensi meningkat. Apa karena tidak pernah berolahraga? Santha

Bekerja Keras Sama dengan Olahraga?

Kebugaran itu hak bukan kewajiban. Namun, keseimbangan berpikir untuk ketenangan jiwa tidak bisa dikesempingkan agar tercapai kesehatan fisik dan psikis. Makin gencar roda kehidupan, manusia makin menyadari pentingnya waktu dan selalu terburu-buru. Pepatah Keringat Berlebihan “sambil menyelam minum air” Berbahaya? selalu dipakai. Bekerja keras tiMenurut saya, yang diang- ap hari apakah sama dengan gap tubuh sehat apabila sirku- olahraga? Pande lasi darah, udara, air di dalam tubuh lancar dan seimbang. Stres bisa muncul apabila tidak Yoga ada ketidakseimbangan di Olahraga yang benar adalah yoga. Renang, jalan kaki, ke sawah adalah yoga. Sridam

Olahraga memicu detak jantung. Tujuannya, memperlancar sirkulasi darah. Tubuh akan berusaha mensuplai energi. Energi membutuhkan oksigen dan darah. Darah mengalir ke pembuluh darah. Jika sirkulasi darah lancar tubuh akan sehat. Kalau hanya duduk, kita mungkin sehat, sehat dalam keadaan diam. Dengan berolahraga, kita akan sehat dalam keadaan dinamis (aktif). Ibaratkan, air tidak mengalir di got dengan lancar. Ketika berolahraga air di got menjadi lancar. Jika sirkulasi darah lancar akan meningkatkan hormon tertentu yang muncul yang menyebabkan lebih bergairah. Hormon itu namanya endhorphin. Keluar keringat memerlukan banyak energi. Energi yang dibentuk membutuhkan gerak begitu besar. Selain begitu besar akan ada kelebihan energi yang akan meningkatkan panas tubuh. Tubuh kita memiliki standar panas tubuh tertentu lazimnya berkisar 37 derajat celcius. Ini harus dipertahankan. Kalau produksi meningkat, panas tubuh meningkat. Jadi harus dikeluarkan. Tujuan berkeringat untuk mengembalikan panas tubuh. Panas tubuh meningkat akan dinetralkan dengan penguapan keringat. Tidak perlu khawatir berkeringat saat berolahraga. Aktivitas fisik seperti mencangkul boleh kita katakan berolahraga, asalkan sesuai rumus olahraga. Pekerja kantoran yang selalu buru-buru, bekerja dari pagi sampai sore. Aktivitas fisik yang kurang banyak, aliran darah dan lemak yang mengendap sehingga mereka perlu olahraga untuk menjaga kebugaran. Kita bisa melakukan olahraga di tempat kerja dengan peregangan. Olahraga tidak perlu menjadi atlet. Kita tetap bugar bekerja masih punya cadangan energi melakukan pekerjaan selain pekerjaan pokok yang kita lakukan. Ketut Tirtayasa

Tanpa Olahraga Bekerja Kurang Maksimal Tanpa berolahraga, bekerja terasa kurang maksimal. Duduk sebentar sudah mengantuk. Saya merasakan sekali manfaat berolahraga. Olahraga sebuah kebutuhan hidup. Kalau sendiri melakukan yoga kurang afdol. Saya memiliki keluarga, dan ingin mereka juga bugar. Kalau diajak yoga mereka tidak siap karena gerakannya sulit. Mereka tidak tertarik. Umur saya 47 tahun. Olahraga yang saya tekuni bulu tang-

kis. Keluarga sering saya ajak ke lapangan agar mereka bugar juga. Gede Biasa

Banyak Terserang ’Stroke’ Olahraga penting karena banyak yang terserang stroke karena makan daging. Apa perlu vegetarian? Diakaya

Harus Imbang, Olah Jiwa juga Main catur ubuh apa yang diolahragakan? Olahraga harus berimbang. Ada namanya olah jiwa. Dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Langkah apa yang dilakukan agar jiwanya sehat. Orang gila badannya sehat tetapi jiwanya tidak sehat. Werdha

Orang Gemuk jangan Pilih Lari Jika usianya 47 tahun dihitung dengan 220-47. Kalau ingin tahu denyut nadi, gunakan metode 10 denyut. Ketika melakukan gerakan maksimal seperti smash dalam bulu tangkis atau lari kencang, maka pegang dengan tiga jari tangan denyut nadi di pergelangan tangan. Ketika itu denyut nadi cepat. Hitung dalam 10 denyut tersebut. Usia 47 tahun boleh saja melakukan olahraga bulu tangkis. Namun, yang perlu diperhatikan, olahraga berprestasi sering melibatkan emosi. Kita punya temperamen ingin menang. Kalau hanya dipakai sebagai hobi bagus. Apalagi kita bisa terlibat hubungan sosial dengan temanteman, saling guyon sangat bermanfaat bagi kebutuhan rohani. Jangan terlalu ambisius, akan lebih baik lagi terkait dengan olahraga lain seperti senam. Yoga sangat baik memberi keseimbangan, ketenangan dan merupakan kebutuhan rohani. Catur bertanding sambil duduk. Kita berpikir keras memutar otak menghadapi strategi lawan. Jangan lupa kita akan tahan duduk berjam-jam kalau fisik kita bagus. Pelihara kebugaran fisik dengan melatih fisik dengan olahraga, misalnya aerobik. Bagaimana otak bisa bugar dalam pertandingan, kalau fisik sudah lemah. Duduk beberapa jam sudah loyo bagaimana bisa menang. Tidak semua orang gila fisiknya sehat. Tidak ada korelasinya orang gila dan fisik sehat. Mengapa orang menjadi gemuk? Gemuk akan terjadi jika tidak ada keseimbangan dalam tubuh antara asupan energi sehingga olahraga perlu dilakukan. Bersambung ke hlm. 12

Kesetaraan Gender di Desa Pakraman DESA pakraman merupakan wadah bagi umat Hindu di Bali untuk mengamalkan ajaran agama berdasarkan pustaka suci Weda. Amat jelas dinyatakan dalam Lontar Mpu Kuturan: Desa pakraman winangun dening Sang Catur Varna manut linging Sang Hyang Aji. Maksudnya: Desa pakraman dibangun Sang Catur Varna (Brahmana, Ksatriya, Waisiya, dan Sudra) berdasarkan ajaran kitab suci (Weda). Ini artinya ajaran agama Hindulah yang dijadikan dasar kebijakan dalam membangun desa pakraman. Oleh karena pengaruh sejarah dan dinamika zaman banyak ajaran suci Weda sabda Tuhan itu yang belum terimplementasikan secara utuh dalam kehidupan beragama Hindu termasuk juga di Bali. Demikian juga di desa pakraman di Bali sudah banyak yang dilakukan umat Hindu tetapi masih banyak juga yang belum terwujud sebagaimana tattwa dari ajaran Hindu tersebut. Seperti kedudukan dan peran perempuan masih ada halhal yang perlu dibenahi. Sudah ada usaha berbagai pihak untuk mendudukkan perempuan setara dengan kaum laki dalam sistem adat dan budaya Hindu di Bali. Namun, hasilnya belum seperti apa yang diharapkan. Hal itu.wajar sebagai suatu proses yang harus terus dilakukan secara konsisten untuk menempatkan perempuan sesuai dengan swadhama-nya secara setara dalam sistem adat dan budaya Hindu di Bali.

Upaya tersebut hendaknya terus mengacu pada ajaran suci Weda dan sastra-sastranya. Misalnya, dalam Manawa Dharma sastra I.32 dinyatakan bahwa laki dan perempuan samasama ciptaan Tuhan. Ini artinya harkat dan martabat wanita dan lakilaki dipandang setara dalam ajaran suci Weda. Perbedaan laki dan perempuan adalah perbedaan setara yang saling lengkap melengkapi. Konsep Sastra Weda itu harus terus dijadikan acuan dalam membangun kesetaraan gender di desa pakraman dengan cara-cara yang santi. Perjuangan untuk membangun laki dan perempuan setara bukan merupakan perjuangan kaum perempuan berhadapan melawan kaum laki. Kesetaraan gender merupakan perjuangan pemahaman atau paradigma. Banyak kaum laki sudah dengan gigih mendudukkan kaum perempuan setara dengan memberikan berbagai peluang padanya. Ada kaum perempuan yang sudah siap mendapatkan peluang setara itu, tetapi masih banyak yang belum siap mengambil peran setara itu. Misalnya, dalam tradisi sistem kependetaan Hindu di Bali yang membenarkan perempuan menjadi pandita setara dengan kaum laki. Karena itu dikenal adanya pandita istri dan yang juga boleh memimpin upacara yadnya yang kecil dan yang besar. Tetapi, dalam sistem waris perempuan Hindu di Bali masih perlu banyak diperjuangkan semua pihak yang punya kepedulian tentang kesetaraan gender tersebut. Seyogianya hal itu diperjuangkan semua pihak terutama mereka yang punya posisi di lembaga sosial

I Ketut Wiana

keagamaan Hindu di Bali ini seperti mereka yang duduk dalam kepengurusan di desa pakraman. Dalam Manawa Dharmasastra III.56 dinyatakan, di mana perempuan dihormati di sanalah para dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Di mana perempuan tidak dihormati tidak ada upacara suci apa pun yang memberikan pahala mulia. Kalau karunia Tuhan tidak dapat diraih karena ditutup perilaku yang tidak mendudukkan perempuan secara terhormat tentunya bukan kaum perempuan saja yang menderita, semua pihak pun terkena akibatnya. Bahkan tidak ada upacara yadnya yang akan memberikan pahala mulia. Karena itu ubahlah tradisi yang tidak memperlakukan perempuan setara dalam adat budaya Hindu di desa pakraman khususnya dan di Bali umumnya dengan senantiasa mengacu pada kitab suci.

Dalam Manawa Dharmasastra IX.132 dinyatakan, anak perempuan boleh diangkat sebagai ahli waris orangtuanya. Dalam sloka 133 berikutnya dinyatakan tidak ada perbedaan antara anak laki dan perempuan yang diangkat statusnya sebagai ahli waris. Dalam hal pembagian harta waris, Manawa Dharmasastra IX.118 menyatakan, perempuan mendapatkan minimal seperempat bagian dari masingmasing pembagian saudara lakinya. Kalau saudara lakinya banyak bisa saudara perempuan lebih banyak mendapat dari saudara lakinya. Meskipun setelah ia bersuami perempuan itu tidak memiliki beban kewajiban formal pada keluarga asalnya, namun ia memiliki hak waris. Itu menurut pandangan kitab suci. Tetapi, dalam adat istiadat Hindu di Bali perempuan tidak dapat waris apalagi ia kawin keluar lingkungan keluarganya. Hal ini harus diupayakan tahap demi tahap dengan cara yang santi. Di samping perempuan mendapatkan artha warisan juga mendapatkan pemberian artha jiwa dana dari ayahnya. Jumlahnya tergantung kerelaan orangtuanya. Sebagai ibu atau pitri matta menurut istilah dalam Manawa Dhrama II. 145 perempuan seribu kali lebih terhormat daripada ayah. Sedangkan sebagai istri ia setara dan satu dengan suaminya. Ini artinya menyangkut hal-hal yang bersifat strategis dan substansial dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat kaum laki dan perempuan wajib diajak ikut menentukan. Tidak tepat kalau hanya ditentukan kaum laki dan kaum perempuan tinggal menerima apa

saja yang ditetapkan kaum laki. Di desa pakraman sudah ada yang mengajak kaum perempuan ikut rapat banjar meskipun belum begitu lazim. Demikian juga dalam kehidupan keluarga sudah ada keluarga dalam menetapkan suatu kebijakan keluarga dalam hal upacara yadnya atau hal-hal lainya mengajak kaum perempuan untuk rapat atau bermusyawarah. Menyangkut teknis penyelenggaraan upacara yadnya memang kaum perempuan sudah menjadi pihak yang paling menentukannya. Tradisi kedudukan perempuan dalam masyarakat Hindu di Bali ada baiknya dianalisis dengan konsep Bhawagad Gita XII.12 yang menyatakan adanya proses: abyasa, jnyana, dhyana, tyaga dan santi anantaram. Ini artinya tradisi (abiasa) itu hendaknya dicermati dan dianalisis dengan ilmu pengetahuan (jnyana). Ilmu pengetahuan harus diterapkan sinergis dan fokus (dhyana). Karena, manusia yang melakukan tentunya ada saja lebih dan kurangnya. Lebih dan kurang itu hendaknya diterima dengan ikhlas (tyaga). Dengan demikian barulah berbagai proses perubahan ke arah yang makin baik akan berjalan dengan damai (santi sanantaram). Kalau terlalu idealis kita mengukurnya akan terjadi saling menyalahkan terus dan perubahan pun tidak akan berjalan dengan damai. z I Ketut Wiana Pengamat masalah sosial-agama

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 z Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com z Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id z Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


11 - 17 Juli 2010 Tokoh 3

BELAJAR aksara Bali mulai tidak menarik perhatian bagi sebagian besar orang Bali. Aksara Bali diidentikkan orang tua, karenanya tak banyak remaja yang tertarik untuk mempelajarinya. Namun, pandangan semacam ini tak berlaku bagi Wayan Sutawa, siswa kelas 2 SMPN 8 Denpasar. Kemampuannya menulis dan membaca aksara Bali telah menorehkan banyak prestasi. Museum Rekor Indonesia (Muri) telah mengukuhkannya sebagai pembaca lontar termuda Agustus 2009.

utra pasutri I Made Degung dan Ni Ke tut Sutarmi ini sangat antuasias mempelajari lontar. Bahkan, tak tanggungtanggung, ia mengoleksi ratusan lontar dan buku aksara Bali di rumahnya di Karangasem. Lontar menjadi bacaan rutinnya tiap hari di kala sengang. Saat ini, Sutawa bertempat tinggal di Denpasar bersama kerabatnya. Beberapa lontar dibawanya sebagai bahan bacaan di pondoknya di kawasan penjual tanaman hias Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Saat wartawati Koran Tokoh berkunjung, Sutawa sedang menulis bait-bait pupuh. Ia langsung memperdengarkan kepiawaiannya mewirama dari hasil karyanya sendiri. Ketika, ditanya apa artinya, I Gede Merta, kerabatnya yang juga kepala keluarga di pondok itu,

menerangkan makna bait-bait pupuh sinom yang dinyanyikan Sutawa. “Lebih banyak berisi nasihat orangtua kepada anaknya,” kata I Gede Merta yang juga seniman bonsai ini. Sutawa sudah menciptakan lima syair pupuh sinom. Suatu saat, kata Gede Merta, ia ingin membukukannya. Sutawa tergolong anak multitalenta. Selain di sekolah termasuk peringkat 10 besar, ia menguasai berbagai macam cabang kesenian yakni tari, lukis, pahat, dalang, mawirama, dan nyurat lontar. Sutawa memang keturunan pembaca lontar. Bapak dan ibunya jago menyurat lontar. Oleh karena itu, sejak kecil, kegiatan Sutawa sudah bersentuhan dengan lontar. Setelah mengenal bentuknya, membuka-buka, kemudian tertarik untuk melihat tulisan-

Proyek Mesin Susu Kedelai Rotary

Sediakan Susu Segar bagi 500 Anak Dalam Sehari

DDG Yetty Susan PR Chair D-3400

ROTARY Club of Bali Denpasar District 3400-Indonesia merupakan klub Rotary pertama sekaligus tertua di Bali yang didirikan pada tahun 1983 silam. Dalam usia pelayanannya ke-27 tahun ini, Rotary Club of Bali Denpasar tetap berkomitmen menitikberatkan pelayanannya kepada anak-anak mengingat anak-anak merupakan generasi penerus sekaligus calon-calon pemimpin masa depan bangsa. Ada pun pelayanan-pelayanan yang diberikan menyasar pada peningkatan mutu pendidikan serta kesehatan anak-anak. Khusus untuk peningkatan mutu kesehatan anak-anak, Rotary Club of Bali Denpasar telah melaksanakan beberapa program di antaranya pembagian obat cacing, pemberian makanan nutrisi tambahan dan saat ini yang sedang dirintis adalah pemberian susu nabati berbahan dasar kedelai yang diproses menggunakan sebuah mesin pengolah. Dalam proyek Rotary, mesin itu lebih dikenal dengan sebutan mechanical cow. Pada tahun 2010, Rotary Club of Bali Denpasar mendapat kesempatan untuk menerima bantuan dua unit mesin tipe VS30 sebagai pilot project di Bali yang diperoleh atas kerja sama dengan beberapa Rotary Club luar negeri di antaranya Rotary Club of Petaluma AS, Rotary Club of Kona Hawai, Rotary Club of North Hawai, Rotary Club of Gagetown Village ser ta Rotary Club of Moncton West Canada. Kedua mesin tersebut rencananya akan ditempatkan di dua sekolah dasar di Bali di antaranya SDN No. 2 Banjar Teja Bukit, Desa Bantiran, Tabanan dan SDN No. 2 Sambangan Banjar Anyar, Buleleng. Masing-masing mesin dapat memproduksi 30 liter susu kedelai dalam waktu satu jam dan dalam sehari dapat dioperasikan maksimal selama delapan jam. Mesin tersebut dapat menyediakan susu segar kaya protein bagi 500 anak dalam sehari. Susu tersebut akan dibagikan secara gratis kepada semua anak yang ada di masing-masing sekolah. Dengan demikian diharapkan kebutuhan gizi yang terkandung dalam susu kedelai tersebut di antaranya protein, lemak nabati, karbohidrat, serat, vitamin A, B1, B2, E, mineral, polisakarida, isoflavon serta kalsium bagi anak-anak dapat terpenuhi tiap harinya sehingga dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan lebih baik. –asp/nor

Gambar: Proses pembuatan susu kedelai

Rotary Club of Bali Denpasar, District 3400-Indonesia 2010

tkh/ast

Pembaca Lontar Termuda Muri

Tiap Hari Baca Kamus Bahasa Kawi P

Sutawa bersama I Gede Merta

nya dan akhirnya ia tertantang untuk melatih kemampuanya menulis dan membaca lontar. Saat berusia 5 tahun, ia sering bermain di dekat ibunya yang sedang menyurat lontar. Sutawa sering melontarkan pertanyaan kreatif, “ini huruf apa, ini artinya apa?” Lamakelamaan, ia mengerti apa yang ditekuni ibunya. Berawal dari mengenal 18 huruf, mulai dari a, na, ca, ra, ka, kini Sutawa sudah membaca puluhan lontar, isi lontar berupa nyanyian maupun yang berisi ilmu pengetahuan, termasuk usadha. “Lontar usadha baru belajar sedikit. Lebih banyak lontar ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Lontar menggunakan bahasa Kawi. Untuk menerjemahkannya, Sutawa tiap hari rajin membaca kamus bahasa Kawi. Pengalamannya membaca lontar diasahnya dengan mengikuti perlombaan saat duduk di kelas II SD No 2 Sibetan, Karangasem. Walaupun lawannya anak-anak SD

yang lebih besar, Sutawa berhasil mengalahkan mereka. “Saya tidak menduga bisa menang,” ujar bocah yang bercita-cita ingin menjadi seniman serba bisa ini. Untuk mendapatkan rekor Muri, bukanlah hal yang mudah bagi Sutawa. Ia mendapat tiga kali tes untuk membuktikan kepiawaiannya dalam membaca lontar. Pengetesan dilakukan dengan pengambilan bait secara acak. Juara I Siswa Ajeg Bali ini mampu melewati semua tes itu dengan penuh percaya diri. I Gede Merta yang ikut menemani saat tes Muri itu menuturkan, pengecekan dilakukan sekitar dua jam. Keluarga besar Sutawa turut bersyukur atas prestasi yang diraih remaja usia 15 tahun ini, saat ia dinobatkan Muri sebagai Pembaca Lontar Termuda. Dalang Cilik Bukan hanya piawai membaca lontar, Sutawa juga mendapat julukan ‘dalang cilik’. Saat usianya 5 tahun, ia sering membuat wayang dari daun kamboja. Ia sering mendalang dengan wayang daun buatannya. Dengan mengambil lakon Mahabharata dan Ramayana,

Sutawa terus belajar mendalang sambil belajar menulis lontar. Predikat ‘Juara I Dalang Cilik seBali’, sudah diraihnya. Saat Parade Dalang dalam Pesta Kesenian Bali Tahun 2006, ia diberi kesempatan pentas di Taman Budaya Denpasar. Ada dua dalang cilik yang tampil. Sebelum Sutawa tampil, penonton memadati areal pementasan dalang cilik satunya. Namun, ketika Sutawa sudah beraksi, seketika penonton menyerbu tempat pentasnya. Bahasa Sutawa memang komunikatif dan lakonnya yang menarik membuat penonton betah untuk menonton wayang yang dimainkannya. Sutawa sudah pernah pentas mendalang di beberapa wilayah di Bali. “Kata orang saya punya ciri khas,” ujarnya berseloroh. Sutawa sering diundang untuk mendalang saat upacara piodalan, atau mendalang untuk hiburan pada malam hari. Paling malam, ia mendalang sampai pukul 23.00. “Yang sering tampil dalam upacara adat, saat sulinggih mapuja dari pagi sampai siang,” kata remaja yang menyukai pelajaran Matematika dan IPA ini. —ast

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414


4

Tokoh

NUSANTARA

11 - 17 Juli 2010

KUA Denbar Wakili Bali

tkh/dok

Lomba KUA Teladan Tingkat Nasional

Gun Supardi (dua dari kanan) saat menerima penghargaan dari Kementerian Agama Wilayah Provinsi Bali, 3 Juni 2010

K

ANTOR Urusan Agama (KUA) Denpasar Barat terpilih menjadi wakil Bali dalam Lomba KUA teladan se-Indonesia yang digelar Departemen Agama RI. Kesempatan tersebut diperoleh KUA yang dipimpin Gun Supardi, S.Ag., ini setelah berturut-turut menjadi juara I KUA Teladan tingkat Kabupaten/ Kota dan Provinsi Bali tahun 2010. Tingkat Provinsi Bali, juara II KUA Kecamatan Karangasem dan Juara III KUA Kecamatan Jembrana. Gun Supardi menjelaskan, ada beberapa penilaian yang harus dijalani dalam lomba bergengsi di lingkungan KUA tersebut. “30% penilaian lapangan dan 70% penilaian penampilan Kepala KUA,” ujarnya. Aspek lapangan, menurut Gun, meliputi kelengkapan dan kerapian administrasi, visi, misi yang jelas, prosedur pelayanan yang bermutu, kemampuan SDM dalam memberikan pelayanan, dan kelengkapan sarana-prasarana. Sebagai seorang kepala KUA, Gun juga mendapatkan penilaian lewat wawancara dan tes tertulis. “Kepala KUA juga dites membaca kitab

munakaha yaitu kitab yang membahas tentang pernikahan. Penilaian juga meliputi tata cara membaca Alquran,” kata Gun. Menurut suami Rohani, S.Pd.I., ini, penilaian dari segi kemampuan membaca Alquran memang penting dilakukan. Ini berkaitan erat saat si kepala menjadi penghulu atau menikahkan calon pasangan pengantin. “Jangan sampai saat penghulu membaca ayat-ayat Alquran dalam khotbah nikah, ternyata membaca ayat-ayatnya salah,” jelasnya. Sosok Gun Supardi tergolong baru di lingkungan KUA Denpasar Barat. Sebelumnya, ia menjadi kepala KUA di Kecamatan Baturiti, Tabanan 1,5 tahun. “Februari 2010 saya dipindah di Denpasar Barat,” lanjutnya. Dalam menjalankan tugas di KUA di Baturiti yang jauh dari lingkungan perkotaan, ayah dua anak ini rela tiap hari menempuh jarak 40 km menuju KUA tempat ia bertugas. “Saya bertempat tinggal di Kota Tabanan. Sedangkan KUA ada di Baturiti,” tambahnya. Perjalanan jauh itu tak membuat semangatnya kendor. Bahkan, Gun harus rela berangkat lebih pagi saat ada warga yang minta dinikahkan.

Gun mengisahkan, masyarakat di daerah tersebut lebih sering melangsungkan perkawinan tak lebih dari pukul 08.00. Pernah, menurut Gun, pernikahan dilakukan saat subuh. Hujan deras yang mengguyur seluruh Kabupaten Tabanan saat itu tak mengurungkan niat Gun menunaikan tugas dan kewajibannya. “Habis salat subuh saya langsung ke lokasi pernikahan di Baturiti,” katanya. Ada alasan tersendiri yang membuat masyarakat Baturiti lebih senang melakukan upacara pernikahan saat pagi hari. “Jika lewat pukul 09.00, warga yang datang makin sedikit, lantaran pada jamjam tersebut mereka harus segera kembali ke sawah atau bekerja,” katanya. Kini, meski sudah dipindahtugaskan di wilayah Kota Denpasar, Gun masih tetap bersemangat menjalankan tugasnya. Ada banyak tantangan yang harus ia jalani. Salah satunya, sosialisasi kepada masyarakat tentang peraturan pemerintah yang menyebutkan biaya pernikahan hanya Rp 30 ribu. Untuk meyakinkan masyarakat agar tak takut menikah karena anggapan biaya nikah mahal, di lobi depan KUA Denbar dipajangkan papan bertuliskan biaya nikah cukup Rp 30 ribu. “Jika ada warga yang tak mampu, biaya nikah digratiskan. Itu merupakan program pemerintah,” kata Gun. Biaya nikah yang mahal, menurut Gun, karena banyaknya mata rantai atau calo pernikahan. “Kami ingin memutus mata rantai tersebut. Jika ingin menikahkan putraputrinya, warga lebih baik datang langsung ke KUA, jangan melalui calo,” imbaunya. –lik

Dihelat sejak Minggu Palma Lima Abad

Patung Tuan Ma

Tari Bedana Muli Jegeg D

terdiri atas beragam etnis, termasuk warga asal Bali. “Di Lampung Timur, warga asal Bali mendiami secara dominan empat kecamatan,” ujarnya. Agus Gunawan menuturkan, tak sedikit warga asal Bali di Lampung Timur yang menjadi musisi. Sebagian mereka, walaupun tidak beragama Islam, mahir membawakan lagu-lagu islami. Ia mengungkapkan, di Lampung Timur Tari Bedana sudah dikenal sejak dulu. Tarian ini lahir dari budaya Islam dan sebagai sarana siar Islam oleh pedagangpedagang Islam tempo dulu. “WarAgus Gunawan ga asal Bali turut memberikan inspirasi bagi munculnya Tari Bedana PKB tesebut Dinas Kebudayaan dan Muli Jegeg ini,” katanya. Pariwisata Lampung Timur juga Dalam pergelarannya di arena menampilkan Tari Melinting yang lahir di daerah perbatasan Lampung Timur dan Lampung Selatan. Menurut Agus Gunawan, Tari Melinting lahir pada abad ke-17, sebagai tari untuk menyambut Sultan Hasanuddin yang singgah ke Keratuan Melinting dalam upaya menjalin hubungan dagang dengan warga Keratuan. “Tari Melinting yang sekarang lebih banyak dipengaruhi budaya Islam. Dulu, para penarinya mengurai rambut dan hanya mengenakan kemben. Sekarang, penarinya berbusana lebih tertutup dan mengenakan cadar,” tuturnya. Tari Melinting terdiri atas emTari Melinting pat tarian meliputi Tari Jentik, Tari

ALAM Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32 tahun ini, keempatkalinya Lampung Timur turut berpartisipasi dengan menampilkan tarian dan lagu-lagu pop daerah setempat. Di antara tari-tarian yang ditampilkan Rabu (7/7) terdapat tarian kreasi baru Bedana Muli Jegeg yang merupakan hasil akulturasi budaya Lampung Timur dengan budaya Bali. “Tari Bedana Muli Jegeg khusus dipersembahkan untuk masyarakat Bali dalam PKB kali ini,” ujar penata tari tersebut, Agus Gunawan. Unsur budaya Bali tampak terutama dalam musik dan gerakannya. Kelahiran tarian ini terinspirasi kemajemukan warga masyarakat Kabupaten Lampung Timur, yang

Musyawarah Daerah IV Majelis Ulama Indonesia Kota Denpasar di Gedung Santhi Graha Denpasar, Rabu (7/7), menghasilkan beragam keputusan, salah satunya terpilihnya Drs. K.H. Mustofa Al-Amin sebagai ketua umum MUI Kota Denpasar 2010 s.d. 2015. Sebelumnya, ia menjabat ketua umum MUI Kota Denpasar 2005 s.d. 2010. Ketua Panitia H. Mahsun, S.Ag., M.Pd. menjelaskan, Musda juga menetapkan program kerja. Susunan Dewan Pimpinan MUI Kota Denpasar 2010 – 2015: Ketua Dewan Penasihat Drs. H. A. Qosim, M.Pd., Ketua Umum Drs. H. Mustofa Al-Amin, Sekretaris Umum H. Mahsun, S.Ag., M.Pd., Bendahara Umum H. Sucipto. Tampak Drs. K.H. Mustofa Al-Amin (tiga dari kiri) bersama Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Mantra dan Ketua Umum MUI Provinsi Bali H. Hasan Ali, B.A. —tkh/lik

9

USIA lima abad Patung Bunda Maria (Patung Tuan Ma) mustahil dipisahkan dari sejarah pemerintahan Kerajaan Larantuka di bawah tampuk kekuasaan Raja Don Lorenso DVG II. Penguasa kerajaan yang bertahta tahun 1887 inilah yang menyatakan secara resmi berada di bawah pangkuan Gereja Katedral Reinha Rosari. Pemimpin kegiatan doa semana santa mulai digilir para kapitan kavaleri, gelar kepangkatan tentara Portugis yang disematkan di pundak para kepala desa adat. Menurut Ketua Komisi Kerasulan Awam Bernardus Tukan, para kapitan kavaleri itu memimpin wilayah perdesaan umat Katolik. Mereka diangkat Raja Don Lorenso untuk mengemban dua tugas kembar. Selain memimpin pemerintahan desa adat, para kapitan kavaleri ini mengawal ketahanan iman Katolik umat di wilayahnya. “Mereka pun mendapatkan tugas khusus secara bergilir menjadi pemimpin doa saat semana santa digelar setahun sekali pada pekan suci,” jelas aktivis gereja yang akrab dipanggil Dus Tukan ini. Pemerintah kerajaan dan pemimpin gereja saat itu sama-sama memikul misi rohani. Misi ini makin melebar ke wilayah pendidikan terutama ketika gereja berada di bawah kendali komunitas pastor dari ordo Yesuit. Kaum rohaniwan ini merintis lahirnya sekolah guru dengan nama Normal Cursus tahun 1913. Berdirinya sekolah ini disusul pembangunan 8 sekolah lain, yaitu sekolah putra dan putri di Larantuka, juga di Waibalun, Lebao Tengah, Wureh, Konga, Lewolaga,

dan Lamalera (Lomblen). Sekolah rintisan itu menjadi tonggak penting bagi sejarah perjalanan dunia pendidikan di Flores. Tonggak penting ini ditandai lahirnya program pengiriman tenaga terdidik dari Flores Timur ke Flores Tengah dan Flores Barat. “Para tenaga terdidik tersebut meneruskan misi rohaniwan Yesuit yang dilarang berkarya di Ende, Ngada, dan Manggarai semasa penjajahan Belanda di Indonesia dipegang Gubernur Jenderal Van Heutz. Mereka dikirim ke tiga wilayah tersebut untuk menjadi guru pengetahu-

an umum dan agama,” ungkapnya. Misi rohaniwan ordo Yesuit dilanjutkan ordo Serikat Sabda Allah (SVD) mulai tahun 1914. Misinya tetap menyebar ke seluruh daratan Pulau Flores. Namun, pusat aktivitas kerohanian tak lagi bermarkas di Larantuka. Lahirnya Prevektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) yang dibentuk rohaniawan SVD menandai berpindahnya kendali konsentrasi kegiatan misionaris ke Kota Ende. “Geografi Ende berada di titik sentrum Pulau Flores. Kota Ende saat itu pun menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda (Afdeling Flores),” imbuh mantan ketua Ikatan Keluarga Lamaholot (keluarga besar warga Flores Timur) di Bali

Melinting, Tari Bejenengan, dan Tari Sabai. Oleh karena Tari Melinting lebih dahulu dikenal, orang menamakan keempat tarian itu sebagai Tari Melinting. Pola geraknya sama, tetapi penarinya berbeda. “Tari Jentik dan Tari Melinting dibawakan para perjaka dan gadis, Tari Bejenengan dibawakan orangorang bergelar, dan Tari Sabai ditarikan para tetua adat,” ujarnya. Terinspirasi dari Tari Melinting itu, pria asal Kediri, Jawa Timur dan tamatan Padepokan Bagong Kussudihardjo itu menggarap sebuah tari kreasi baru. Pola gerak dalam tariannya terisnpirasi dari Tari Melinting, hanya konsep garapannya mengarah pada gender. Tari kreasi barunya itu disebut Tari Mulokh Sai Sebai yang bercerita tentang kondisi kaum perempuan di Kabupaten Lampung Timur yang masih terpinggirkan. Agus sering melahirkan tarian tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap kondisi kaum perempuan Lampung Timur, yang di antaranya belum memiliki hak sama dengan kaum pria soal warisan. Melalui karya tarinya “Kembalinya Sang Perempuan”, misalnya, tersirat harapannya agar kedudukan kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki. —tin

Mustofa Al Amin tetap Ketua Umum

di Larantuka

Kota Larantuka dipandang dari arah laut. Kota tua umat Katolik ini berada di kaki Gunung Ilemandiri

Persembahan Lampung Timur

Yusdi Diaz diapit Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. (kanan) dan Dus Tukan

Yosep Yulius “Yusdi” Diaz. Namun, aktivitas kerohanian Katolik warisan ordo Dominikan, Yesuit, dan SVD tetap semarak di Larantuka. Vikariat Apostolik Larantuka, sebagai simbol kelahiran keskupan di Flores Timur, bahkan dilahirkan tahun 1951. Uskup pertamanya, Mgr. Gabriel Manek, SVD. Keuskupan ini kemudian diserahkan kepada Gereja Katedral Reinha Rosari 8 September 1954.

“Penyerahan ini dilaksanakan dalam sebuah ritual yang dikenang sebagai ekaristi mulia,” ujar Dus Tukan. Saat menjadi pemimpin umat Katolik Flores Timur, Mgr. Gabriel Manek, SVD menanam jasa khusus untuk komunitas biarawati. Uskup Larantuka ini mendirikan Tarakat Suster Putri Reinha Rosari (PRR). Peristiwanya tercatat 15 Agustus 1958.

Tetapi, Mgr. Gabriel Manek, SVD kemudian diberi mandat istimewa menggantikan Mgr. Antonius Thijssen sebagai uskup agung Ende. Mandat tahta suci di Vatikan ini dilaksanakan sejak 3 Januari 1961. Keuskupan Agung Ende kemudian menyebarkan misi khusus menjadikan Flores Pulau Katolik. Sejumlah paroki dan stasi baru yang dilengkapi gereja dan pastoran didirikan semasa kepemimpinannya. Sementara aktivitas kerohanian di Larantuka tetap berjalan di bawah kepemimpinan Uskup Mgr. Darius Ngawa, SVD yang meneruskan tahta keskupan yang ditinggalkan Mgr. Gabriel Manek, SVD. Komunitas basis gereja (KBG) menjadi tawaran baru yang diembuskannya untuk menguatkan iman gereja umat. Ini dilakukan melalui program pembangunan gereja lokal keuskupan yang mandiri di bidang personal, spiritual, dan material. Prosesi semana santa pun

tetap dipelihara sebagai warisan rohani yang monumental saat keuskupan kini dijabat Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. Ritual gerejani yang unik ini tetap berlangsung saban tahun selama saat tibanya pekan suci. Ziarah agung warisan misionaris Portugis ini dihelat sejak momen minggu daundaun (minggu palma). “Orang Larantuka menyebut peristiwa ini sebagai dominggu ramu,” katanya. Ritual dominggo ramu merupakan perayaan liturgis dan devosi (peribadatan). Umat Katolik bersama serikat awam yang bernaung di bawah bendera komunitas konfreria menggelar prosesi perarakan (persisan) Patung Tuan Ma dan Tuan Ana mengelilingi gereja katedral. Prosesi ini dilakoni untuk mengenang terjadinya peristiwa perjalanan Tuhan Yesus memasuki Kota Yerusalem. Perjalanan Yesus sebagai raja ini dikenal sebagai hosanna filio David. —sam

Makin Didengar Makin Asyiik...


BUAT APA GELAR KALAU MENGANGGUR

PENDIDIKAN

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 5

BERKARIER DI HOTEL/KAPAL PESIAR s usu Kh

2 ke ang mb o l Ge

TIDAK PERLU GELAR

TIDAK ADA PREDIKAT LULUS/TIDAK LULUS

Fakta di lapangan membuktikan, banyak perusahaan besar/raksasa yang mempunyai reputasi serta prestasi yang hebat ternyata dimiliki/ dikelola oleh orang-orang yang tidak bergelar tapi mereka adalah para profesional yang mempunyai keahlian khusus di bidangnya serta sikap mental yang tangguh guna mencapai Kesuksesan. Tapi sebaliknya banyak orang yang gelarnya berderet-deret tapi gagal mendirikan/ memimpin perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa tidak selamanya mereka yang bergelar selalu lebih pintar. Orang yang pendidikan formalnya sedangsedang saja tapi kalau suka belajar sendiri (otodidak) maka orang tersebut akan bisa menjadi pintar dan mungkin akan lebih pintar daripada orang yang gelarnya berderetderet tapi malas belajar (maaf, banyak cara instan untuk dapat gelar dan banyak juga orang yang suka cari gelar tapi malas belajar). Orang-orang profesional memang tidak mementingkan gelar, tapi hasil kerja yang bagus sebagai bukti profesionalitas dan kompetensi/ keahlian mereka yang sangat tinggi. Demikian juga kerja di hotel/bidang perhotelan. Bukan gelar yang dipentingkan tapi kemampuan seseorang melakukan/ menyelesaikan berbagai macam pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka di hotel.

JANGAN MIMPI LULUS KULIAH LANGSUNG JADI MANAJER Setiap orang yang baru mulai kerja di hotel dituntut memiliki kompetensi di salah satu bidang kerja di hotel. Itulah sebabnya mereka perlu banyak latihan/praktik ketika masih sekolah. Semakin profesional maka semakin tinggi kompetensi/ keahlian yang dimiliki serta semakin banyak pekerjaanpekerjaan yang bisa diselesaikan seseorang. Itu hanya bisa di peroleh dari tempat kerja bukan SEKOLAH. Makanya para profesional tidak mementingkan gelar karena mereka tahu profesionalitas itu diperoleh dari tempat kerja bukan karena gelar. Jangan berharap lulus sekolah langsung jadi manajer kecuali mendirikan hotel sendiri. TIDAK ADA PREDIKAT LULUS/TIDAK LULUS Mulai tahun ini, SHS tidak lagi menggunakan sistem lulus/ tidak lulus. Lho, kok aneh? Ya memang, keputusan ini diambil pimpinan SHS dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang dan cukup lama. Pada hakikatnya setiap orang yang sekolah atau kuliah tujuannya adalah untuk meningkatkan Kualitas hidupnya jadi bukan sekadar ikut ujian lalu lulus/tidak lulus. SHS memberi kebebasan

kepada mahasiswanya untuk menentukan sendiri apa sudah merasa cukup & puas dengan hasil yang diperoleh selama mengikuti pendidikan dan pelatihan perhotelan di SHS. Bukan lagi SHS yang menentukan yang bersangkutan lulus/tidak lulus. Mahasiswa diberi kebebasan yang bertanggung jawab terutama atau hasil yang dicapai. SHS tidak mau kalau terpaksa harus tidak jujur dengan memberikan tambahan nilai hanya supaya yang bersangkutan memenuhi syarat lulus. Di sini dituntut ada keterbukaan antara mahasiswainstruktur dan pengelola SHS supaya kita sama-sama bertanggung jawab atas kualitas alumni SHS.

gelar sarjana tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan alias menganggur atau tidak mampu bekerja dengan baik. Masih jauh lebih baik kalau nilainya sedang-sedang saja tapi terbukti mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya dengan baik. Memang ada yang khawatir bagaimana kualitas SHS selanjutnya ? Kualitas SHS akan terbukti dan teruji secara alamiah di industri. Setiap perubahan pasti ada risikonya dan SHS yang sudah berani melangkah lebih dulu melakukan perubahan dengan menjalankan sistem seperti yang diberlakukan di negara-negara maju. Mahasiswa tidak perlu stres kuliah di SHS.

Rasanya percuma saja apabila alumni mendapatkan nilai Sekolah Perhotelan yaa... bagus di transkipnya tetapi SHS, Kuliah Singkat Biaya terbukti tidak mampu bekerja/ Murah Kualitas No.1 berkarya dengan baik. Lebih Jadi, tunggu apalagi, daftar percuma lagi kalau menyandang sekarang juga!

Candi Pustaka Ganesha Beberapa waktu lalu, disela-sela mendampingi The Bali Youth Forum ke Istana Kepresidenan RI Gedung Agung di Yogyakarta, saya menyempatkan diri meninjau situs candi yang muncul tiba- tiba di kompleks Kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Saya diterima dengan hangat oleh Ir.Bachnas,M.Sc. (Wakil Rektor III UII), juga pejabat Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta dan sejumlah wartawan. Jadilah kunjungan ini menjadi sedikit formal. Saya diajak berkeliling ke lokasi situs dan mendapat penjelasan dari rektorat dan BP3 Yogyakarta tentang bagaimana sejarah ditemukan candi dan juga tentang rencana ke depan pembangunan situs ini. Saya tertegun, melihat peninggalan sejarah bangsa yang begitu hebat, kini muncul tiba-tiba karena kemauan alam. Sebagai rektor, saya bersepakat dengan Ir.Bachnas,M.Sc. bahwa dengan ditemukannya candi ini, justru kerukunan beragama akan semakin kuat, bukan sebaliknya. Dari teksturnya, candi ini unik, karena menempatkan Ganesha sebagai sentralnya, mengingat selama ini candi di Jawa didominasi aliran Brahma,Wisnu dan Syiwa. Dan, yang membuat heran, kok bisa-bisanya candi Hindu ditemukan di kampus Universitas Islam Indonesia? Kenapa tidak sekalian saja leluhur memunculkannya di Institut Hindu Dharma Negeri di Bangli atau di Universitas Hindu Indonesia di Denpasar? Tapi di sini kita berkaca, bahwa kekuasaan leluhur masih sangat kuat di Tanah Jawa Dwipa. Saya dengar bahwa di seputaran candi akan dibangun perpustakaan dan candi akan dirawat oleh pemerintah dan juga UII. Lega rasanya, karena kekhawatiran saya sebagai putra Hindu bahwa nasib Candi ini akan sama dengan penghancuran patung Buddha di Afganistan sana menjadi terbantahkan. Saya sudah sampaikan ke Rektorat UII bahwasanya 3,5 juta umat Hindu Bali, 10 juta umat Hindu Indonesia dan 1 miliar umat Hindu di dunia akan

mengawasi jalannya pemugaran hingga pemanfaatan candi ini. Selain itu, ada beberapa masukan saya pada UII Yogyakarta dan BP3 yakni usul saya yang pertama tentang penamaan,seharusnya candi ini dinamakan dengan Candi Pustaka Ganesha, mengingat nama sementara yang dipakai hanya ”Candi Pustaka”. Saya kira perlu mencantumkan nama Ganesha, mengingat Ganesha adalah dewa pengetahuan dan intelektual, selain alasan logis dengan ditemukannya arca Ganesha tentunya. Lihat saja Institut Teknologi Bandung dan Universitas Mahasaraswati Denpasar, mereka dengan bangga menggunakan lambang Ganesha sebagai wujud intelektual tertinggi. Pesan saya yang kedua, agar UII dan BP3 melibatkan PHDI dan Lembaga Hindu dalam hal-hal konsultatif. Jangan sampai karena salah penafsiran, maka akan muncul isu SARA. Terlebih saya mendengar penemuan candi di UII masih menjadi keheranan dari sejumlah tokoh-tokoh agama negeri ini, baik yang pro dan kontra sehingga masalah rasa dan komunikasi menjadi penting karenanya. Pesan saya yang ketiga, agar UII membangun perpustakaan dengan arsitektur Jawa, bukan arsitektur model Arab atau India sekalipun. Ini penting, agar lebih netral, karena budaya Jawa itu bukan milik Islam atau Hindu saja, tapi milik bangsa dan ada sense universalnya. Yang terakhir, pesan saya agar akses umat Hindu Indonesia tidak dipersulit ke candi ini mengingat candi ini ada di kompleks perguruan Islam. Sekilas, usulan saya diterima dengan baik dan ramah. Setelah puas melihat-lihat, saya pun pamit sambil menoleh tersenyum ke Arca Lingga, sambil berucap dalam hati, apa yang ditulis oleh pujangga Hindu dalam teks akademik Jongko Joyoboyo dan serat Dharma Gandul Sabdo Palon Nayogenggong akhirnya terwujud juga. Angayubagia, kita tunggu lagi kejutan alam yang akan diberikan pada rakyat Indonesia.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si.

Informasi lengkap hubungi :

Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

SHS (Surabaya Hotel School) Jalan Joyoboyo 10 Surabaya Tlp. : (031) 563 3608 Faks. : (031) 567 9422 Surel : info@shs-sby.com shs_sby@telkom.net Situs : www.shs-sby.com MINGGU SEKRETARIAT TETAP BUKA 09.00 – 17.00 WIB

KELAS BARU 2010 : Gelombang 2: kuliah perdana 14 Juli. Gelombang 3: kuliah perdana 25 Agustus. Gelombang 4: kuliah 10 November

Mengapa Easy Speak? ERA globalisasi saat ini menuntut tiap individu mempersiapkan sumber daya yang handal terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini, peranan bahasa Inggris sangat diperlukan baik dalam menguasai teknologi komunikasi maupun dalam berinteraksi secara langsung. Sebagai sarana komunikasi global, bahasa Inggris harus dikuasai secara aktif, baik lisan maupun tulisan. Sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa Inggris bukan hanya sebagai kebutuhan akademis karena penguasaannya terbatas pada aspek pengetahuan bahasa, melainkan sebagai media komunikasi global. Pertanyaannya, sudah seberapa aktif penguasaan bahasa Inggris Anda? Jangan biarkan peluang berlalu hanya karena Anda belum lancar berbahasa Inggris. Easy Speak hadir dengan tampilan metode yang memungkinkan semua orang menguasai bahasa Inggris tanpa harus meninggalkan tempat beraktivitas sehari-hari. Jadwal dirancang FLEXIBLE sehingga memungkinkan siapa saja dari berbagai kalangan dengan profesi apa pun bisa leluasa mengatur waktu belajar. Program dirancang khusus memberikan solusi total terhadap berbagai macam kesulitan yang dihadapi siswa dalam berkomunikasi bahasa Inggris. Materi pelajaran dirancang FOKUS sehingga hasilnya sesuai dengan harapan siswa. Untuk mencapai hasil yang optimal Easy Speak memberikan garansi berupa FREE, pengulangan sampai siswa benarbenar mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan. Metode ini disajikan dengan elegan dan profesional dalam suasana FUN dan penuh keakraban. Suasana belajar tidak terasa tegang yang akan menjadikan pembelajaran jauh lebih efektif.

Suasana dengan sistem personal attending membuat siswa merasa nyaman dalam belajar dengan bimbingan tutor profesional

Let’s join with EASY SPEAK, get the easy way to learn English.

JLN. COKROAMINOTO NOMOR 66 BLOK B, C, D DENPASAR TLP. 422335, FAKS.415913 SMS. 085241216682 Email/Surel : easy.speak@yahoo.com Website/Situs: www.easyspeak.co.id Senin-Jumat : 09.00-20.00, Sabtu : 09.00-15.00

Team Course Advisor Easy Speak siap membantu Anda menentukan program sesuai kebutuhan

K U L I N E R

RATIS 10 G k n i l ah alfa um 17 Juli 20 u b e s bel kan Dapat daftaran se pen untuk

IKLAN CANTIK

MELAYANI : Akupunktur Hexagonal: Terapi tusuk jarum mengatasi diabetes, darah tinggi, prostate, asma, demam berdarah, typus, dan gangguan pencernaan. Akupunktur Kecantikan Terapi tusuk jarum pada wajah dan bagian tubuh kurang menarik, berfungsi melangsingkan tubuh, membentuk panggul, mengencangkan payudara, menghilangkan flek hitam kerutan wajah dan jerawat. Terapi Lilin: Terapi tradaran lilin, tradisional China berfungsi mengatasi keluhan telinga berdenging, migrain, sinusitis, insomnia, dan vertigo. Totok Aura: Terapi pemijatan pada wajah menggunakan tenaga dalam prana, berfungsi menghaluskan dan mengencangkan kulit wajah sehingga memancarkan aura kecantikan. Akupressure: Terapi penotokan di 57 simpul syaraf telapak kaki, bermanfaat mengaktifkan kembali organ tubuh yang fungsinya melemah, meningkatkan vitalitas dan daya tahan tubuh. Terapi Alat Vital: Terapi pemijatan sekitar alat vital, mengatasi impoten dan ejakulasi dini. Terapi Listrik: Terapi menggunakan aliran listrik lembut, berfungsi melancarkan aliran darah dan syaraf pada tubuh. Refleksi: Terapi pemijatan di seluruh tubuh, melancarkan peredaran darah dan menghilangkan pegal di tangan dan kaki. Relaksasi: Terapi pemijatan di seluruh tubuh dan menjadikan tubuh segar kembali.

S A L O N

&

S P A


6

Tokoh

PENDIDIKAN

11 - 17 Juli 2010

SMK Duta Bangsa Menuju SMK Plus SEKOLAH menengah kejuruan sedang laris manis. SMK Duta Bangsa Denpasar menjadi contoh nyatanya. Siswa lulusan SMP berlombalomba mendaftarkan diri di sekolah bergaransi mutu sistem pembelajarannya ini. Ada banyak keunggulan di balik lahirnya SMK Duta Bangsa Denpasar. Sekolah ini dibidani kelahirannya oleh sejumlah tokoh pendidikan, yaitu Direktur SPB Drs. I Nyoman Gede Astina, M.Pd., C.H.T., C.H.A.; Kepala SMA

Siswanya Ikut Pelatihan dan Magang di Malaysia dan Singapura

Alumni ITB Bandung Jadi Pengajarnya

Made Dwi Adnyani, S.Si

4 Denpasar Drs. I Wayan Rika, M.Pd.; Kepala SMA 5 Denpasar Drs. I Nyoman Winata, M.Hum.; dan Kepala SMP PGRI 2 Denpasar Drs. I Gede Wenten Aryasuda, M.Pd. Selain itu, ada tiga alumni ITB Bandung yang ikut melahirkan sekolah ini, yaitu Bagus Gede Ananta Wijaya Karna, S.T.; Ni Putu Herni Erawati, S.T.; dan Made Dwi Adnyani, S.Si. Para pendirinya sepakat mengelola SMK Duta Bangsa di bawah payung Yayasan Dharma Widya Shanti. Ketua yayasan di-

Drs. I Nyoman Gede Astina, M.Pd

pegang Drs. I Nyoman Gede Astina, M.Pd. Reputasi para pendirinya tentu menjadi garansi untuk

SMK Duta Bangsa Denpasar bukan hanya didirikan kalangan tokoh pendidikan yang telah teruji reputasinya. Namun, staf pengajarnya pun berlatar belakang pendidikan dan pengalaman yang mumpuni. Selain kepala sekolahnya, Made Dwi Adnyani, S.Si., yang berlatar belakang sarjana teknik kimia ITB Bandung, dua alumni Kampus Ganesha juga ikut mengajar di sekolah ini, yaitu Bagus Gede Ananta Wijaya Karna, S.T. dan Ni Putu Herni Erawati, S.T. Mereka ini akan mengajarkan program informasi teknologi. Selain itu, kalangan gurunya pun datang dari lingkungan SMAN 4 Denpasar yang khusus mengajar mata pelajaran umum, tenaga dosen SPB untuk program pariwisata, termasuk lulusan STP Bali dan guru tamu profesional di bidang tertentu. Kehadiran SMK Duta Bangsa Denpasar, menurut Ketua Yayasan Dharma Widya Shanti, Drs. Nyoman Gede Astina, M.Pd., C.H.T., C.H.A., sekolah memengah kejuruan ini mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi dan uji mutu SMK belakangan ini. “Masyarakat, terutama kalangan orangtua siswa makin jeli memilih sekolah, khususnya SMK. Para orangtua mengingkinkan anak-anak mereka bisa masuk di lembaga pendidikan terbaik di Bali.

Ni Putu Herni Erawati, S.T.

memastikan mutu pembelajarannya. “Inilah keunggulan SMK Duta Bangsa,” jelas ketua yayasan I Nyoman Gede Astina. Bangunan sekolahnya berada di atas lahan milik yayasan. Gedung sekolah sedang disiapkan berlantai empat. bangunan sekolah ini dilengkapi sarana dan prasarana pendidikan serta pengajaran yang teruji. “Yang pasti, semua ruangan, termasuk ruang kelas akan dilengkapi fasilitas AC,” tandas Astina meyakinkan. Selain itu, pihaknya sedang menggodok program khusus untuk merekrut tenaga pengajar andal dari luar negeri. “Makanya, SMK Duta Bangsa siapsiap menuju SMK plus. Ini akan tercapai dua tahun ke depan,” jelasnya. Manajemen sekolah ini pun menjalin kerja sama dengan Sekolah Perhotelan Bali (SPB) dan PT Bali Duta Mandiri. Kerja sama ini dimaksudkan untuk melakukan perekrutan sumber daya siswa yang siap mengikuti pelatihan dan magang di Malaysia dan Singapura. Sementara Kepala SMK Duta Bangsa, Made Dwi Adnyani, S.Si. memastikan, sekolah yang dipimpinnya membuka Jurusan Teknologi Informasi

dan Jurusan Pariwisata. “Siswa yang masuk Jurusan Informasi mendapatkan teori dan praktik tentang rekayasa perangkat lunak, multimedia, dan teknisi komputer jaringan. Sementara itu, Jurusan Pariwisata melayani pembelajaran materi akomodasi perhotelan,” tambahnya. Selain gedung yang berdiri di atas lahan sendiri serta fasilitas ruangan ber-AC, SMK Duta Bangsa Denpasar juga dilengkapi laboratorium praktik multimedia. Laboratorium praktik siswa sementara masih bekerjasama dengan SPB Denpasar. Namun, laboratorium tersebut akan berada di lantai tiga bangunan sekolah yang sedang dibangun lantai empat itu. “Sekolah ini juga punya kantin yang luas dan bersih, lahan parkir yang luas dan aman, serta diawasi tenaga satpam sepanjang pagi hingga malam,” katanya.

Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang ditekankan untuk dikuasai para siswanya. Penguasaan bahasa Inggris menjadi jaminan bagi anak didik untuk berkarier kelak di luar negeri atau meneruskan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi pariwisata yang berkualitas. “Pelajaran bahasa Inggris diberikan sebagai pelajaran tambahan di luar jam pelajaran wajib,” ujarnya. Pihak sekolah pun menghelat berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti Lomba Drama Berbahasa Inggris di bawah arahan Mr. Hyder; Lomba Kreasi Siswa Pariwisata berupa Pameran Hidangan; Pembuatan Film Dokumenter oleh Siswa Multimedia; Workshop Pengenalan Dunia Kerja; Open House dan Workshop dan Lomba Multimedia. —sam

Pendaftaran Siswa Baru Gedung Sekretariat SMK Duta Bangsa Lantai II Jalan Kecak 9A Gatsu Timur Denpasar. Telepon (0361) 412871, 7917669

Hari Koperasi ke-63

Momen Kebangkitan bagi Pemda untuk Pedulikan Koperasi HARI Koperasi ke-63 tanggal 12 Juli seharusnya menjadi momen kebangkitan kembali bagi pemerintah daerah untuk lebih memedulikan koperasi. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian mesti disokong dengan berbagai kemudahan, baik itu berupa alokasi dana, payung hukum sekaligus peluang yang memungkinkan koperasi tumbuh sehat. Kepedulian pemerintah daerah terhadap koperasi sekarang ini harus lebih baik lagi jika pemerintah ingin memuluskan program menuju kabupaten penggerak koperasi seperti yang digagas Pemerintah Provinsi Bali. “Untuk menuju kabupaten penggerak koperasi, Klungkung sudah mengawalinya dan itu sudah berjalan. Tinggal bagaimana sekarang Pemda Klungkung

memberikan perhatian dan kepedulian lebih baik kepada koperasi. Jika semua daerah telah menjadi kabupaten penggerak koperasi, maka kriteria untuk menuju provinsi penggerak koperasi, takkan sulit. Sekaranglah momen kebangkitan itu,” tegas I Nyoman Suwirta, praktisi koperasi di Bali. Menurut Ketua Dekopinda Klungkung periode 20092014 ini, membangun sebuah koperasi kaitannya menuju kabupaten/provinsi koperasi, mesti konsekuen dalam menjalankan sistem. Sistem yang sudah benar harus dijalankan secara berkelanjutan dan tidak boleh diubah/diganti seiring bergantinya pucuk pimpinan, di tingkat kabupaten maupun provinsi. “Jangan ganti bupati/gubernur kemudian sistem dan kebijakan perkoperasian diganti pula. Ini justru akan menghambat jalannya koperasi. Koperasi harus diberi ruang yang lebih luas untuk mengembangkan diri dengan berbagai kemudahan. Di sinilah dituntut adanya kepedulian dari pemerintah daerah,” tutur Nyoman Suwirta. Manajer Koppas Srinadi Klungkung ini berpendapat, keberhasilan sebuah koperasi tentu tak bisa dipisahkan dari gaya I Nyoman Suwirta, S.Pd, saat RUPS

Perlindungan kepada Koperasi Nyoman Suwirta menambahkan, membawa koperasi menuju koperasi mandiri bukan berar ti Pemda melepas koperasi begitu saja. Peran pemerintah adalah memberikan perhatian dan perlindungan melalui payung hukum. Perhatian terhadap koperasi dalam arti memberikan pembinaan dan peluang usaha sementara melindungi koperasi bisa dilakuI Nyoman Suwirta, S.Pd. kan dengan mempengelolaan pengurus ko- protek suatu wilayah untuk perasi tersebut. Jika Koppas berkembangnya koperasi. Srinadi bisa berkembang Melalui payung hukum sangat sehat, ini tentu karena yang bersifat fleksibel dan seluruh pengurus menjalan- sesuai perkembangan zakan prinsip dan sistem ko- man, peluang usaha bagi perasi secara benar sesuai koperasi mesti diperluas aturan/payung hukum yang termasuk peluang-peluang berlaku. “Sebagai praktisi ko- besar. Ini mengacu pada UU perasi, setuju atau tak se- Nomor 25 Tahun 1992 tentuju, apa yang dicanangkan tang pembinaan dan peluang pemerintah tidak meme- usaha bagi koperasi. ngaruhi kinerja Koppas SriMenurut manajer bersertinadi. Kami tetap menjalankan fikasi nasional dari BNSPI koperasi dengan prinsip dan (Badan Nasional Sertifikasi sistem perkoperasian secara Profesi Indonesia) ini, tak konsekuen,” papar penerima ada salahnya dibentuk koSatya Lencana Wira Karya perasi sekunder (gabungan dari Presiden SBY 12 Juli beberapa koperasi –red) 2005, ini. untuk membangun satu keUntuk itu, narasumber kuatan menjadi kekuatan perkoperasian yang cukup besar. Hal ini cukup mekompeten ini mengajak mungkinkan karena berkoperasi di Klungkung khu- dasarkan peraturan pemesusnya untuk menonjolkan rintah, koperasi diberi kejati diri dan prinsip pengelola- sempatan untuk mengambil an koperasi secara benar. porsi/peluang usaha terma“Kalau ini sudah dilaksana- suk ikut dalam tender. “Pekan, maka kabupaten/ luang besar apa pun harus provinsi penggerak koperasi ada di bawah koperasi,” jelas akan berjalan dengan sen- Nyoman Suwirta yang saat dirinya,” katanya kepada Ko- ini sedang menempuh penran Tokoh. didikan S2.

Perlu Kreativitas Upaya mengembangkan usaha koperasi, menurut lelaki (43) kelahiran Ceningan, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung ini, bergantung kepada kreativitas masing-masing pengelola. Kemampuan berkreasi/berinovasi bisa mendongkrak pertumbuhan koperasi. Dengan inovasi dan kreativitasnya, pengelola koperasi mampu memberdayakan orang/masyarakat maupun potensi daerahnya. “Asalkan koperasi tidak rugi, dana CSR-Corporate Social Responsibility seperti dana pendidikan, dana pembangunan daerah kerja serta dana sosial bisa dimanfaatkan untuk berbagi dengan masyarakat (kepedulian sosial-red). Bentuknya bisa bermacam-macam seperti sumbangan untuk KK miskin, ngaben massal. Jika ini di-

lakukan, koperasi secara tak langsung sudah melakukan promosi usaha, di lingkungan sendiri maupun di luar lingkungannya. Saya yakin upaya itu akan direspons baik oleh masyarakat dengan memanfaatkan jasa-jasa koperasi. Inilah bagian inovasi dan kreativitas dalam mengelola koperasi,” tandas sarjana pendidikan dengan filosofi hidup ’jalani apa yang ada saat ini’. Menurut Nyoman Suwirta, koperasi yang dibentuk hendaknya memanfaatkan kekuatan payung hukum dan bukan kelemahannya. Jangan membentuk koperasi hanya mencari kucuran dana pemerintah. “Payung hukum yang ada sudah cukup bagus. Meski ada kelemahannya, hal itu sebaiknya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pengelola koperasi. UUD 1945 pasal 33 meng-

amanatkan, pemerintah tidak inginkan peluang jatuh pada orang per orang tetapi digarap secara bersama. Dalam koperasi tidak ada istilah majikan atau buruh tetapi antaranggota dengan pembagian keuntungan/ SHU yang adil. Jika dikelola dengan prinsip dan sistem yang benar, koperasi mampu mewujudkan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat,” katanya meyakinkan. Hari Koperasi ke-63 di Kabupaten Klungkung dirayakan Jumat (9/7). Acara diisi berbagai kegiatan sosial seperti fogging massal, turnamen bola voli, ngaben massal, memberikan sumbangan untuk KK miskin. Semua kegiatan ini melibatkan koperasi anggota Dekopinda, tak terkecuali sponsor utamanya, Koppas Srinadi Klungkung. —ari

I Nyoman Suwirta (tengah) dalam suatu kegiatan olahraga yang disponsori Koppas Srinadi


PENDIDIKAN

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 7

Sekolah Perhotelan Bali Denpasar STP Bali Internasional Denpasar Program Unggulan SPB Denpasar

Melayani Pemelajaran One Stop Learning Megahnya Kampus SPB Denpasar dan STP Bali Internasional Denpasar

SEKOLAH Perhotelan Bali (SPB) Denpasar dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) Denpasar memiliki program pemelajaran istimewa. Aktivitas belajar-mengajar berjalan di bawah manajemen pelayanan one stop learning. Konsep manajemen pemelajaran itu menekankan anak didik bukan hanya belajar teori dan praktik. “Konsep one stop learning menggabungkan belajar dan kerja. Artinya, peserta didik tak hanya belajar, tetapi ujungnya pasti mudah dapat pekerjaan,” jelas Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun Drs. I NYoman Gede Astina, M.Pd., C.H.T., C.H.A.

Menurutnya, konsep one stop learning sudah dipraktikkan di lingkungan kampus SPB Denpasar dan STPBI Denpasar yang bernaung di bawah yayasan yang dipimpinnya itu. Praktiknya dilaksanakan melalui berbagai program pemelajaran. Selain pelatihan untuk memperoleh skill yang mumpuni, juga tersedia program pelatihan bahasa Inggris, fasilitas lembaga perekrutan dan penyaluran tenaga kerja, program ousourching, dan fasilitas mudah memperoleh biaya pemberangkatan bekerja di luar negeri atau kapal pesiar. Proses pendidikan dan pelatihan dilengkapi fasilitas gedung bertaraf hotel bintang empat, serta kurikulumnya menekankan link and match. Artinya, kurikulum ini membuka kesmepatan luas kepada sumber daya kampusnya untuk menekuni proses pemelajaran yang bersinergi dengan kebutuhan dunia industri. “Contohnya, ada link proses akademik dengan pasar kerja di perhotelan dan dan kapal pesiar,” jelasnya.

Potret Menarik STPBI Denpasar STPBI Denpasar tergolong lembaga pendidikan tinggi yang memiliki reputasi teruji. Ini berkat berbagai potret menarik di balik keunggulan mutu institusi ini. Kurikulum Sesuai dengan Kepmendiknas Nomor 232/U/2003, STP Bali Internasional menganut sistem kredit semester dengan kurikulum yang mengacu pada Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK), Kelompok Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKKK), Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKKB), Kelompok Mata

Kuliah Perilaku Berkarya (MKPB), dan Kelompok Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MKBB). Tamatan lembaga pendidikan tinggi ini kelak bukan hanya berkiprah di lingkup nasional dan regional, juga Internasional. Lulusan Program DIV MKP dan DIV MPH memperoleh gelar S.S.T.Par. (sarjana sains terapan pariwisata). Fasilitas Kampus dengan area luas (108 are), nyaman, megah, dan full AC. Model kamar hotel dan kapal pesiar. Laboratorium praktik meliputi bakery, laboratorium kitchen, restau-

Program Studi DIV STPBI Denpasar

SPB Denpasar Terakreditasi Nilai Tertinggi di Lingkungan Sekolah Perhotelan di Bali Tenaga pengajarnya merupakan sinergi akademisi dan praktisi. Akademisi senior dari STP Bali bergabung dengan lima mantan general manager hotel berbintang lima, serta profesional dari manajemen usaha kapal pesiar ternama untuk memberdayakan proses pemelajarannya. Ini ditambah lokasi kampus yang berada di tengah Kota Denpasar, tetapi jauh dari bising serta aman dari gangguan keamanan. “Fasilitas sarana dan prasarana serta sumber daya pengajar yang bermutu itu ditujukan untuk mencetak lulusan yang memiliki skill, pengetahuan, serta perilaku yang hebat,” ujar Direktur SPB Denpasar ini. Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan upaya mengasah keterampilan berbahasa Inggris peserta didik. Upaya ini didukung fasilitas Language Culture & Study Center. “Selain kuliah reguler, peserta didik wajib pula ikut kursus tambnahan bahasa Inggris. INilah cara kami mendidik anak didik kami mulai bekerja keras. Jika kuliah pagi, sere kursus bahasa Inggris. Sebaliknya, jika kuliah sore, kursus bahasa Inggris pagi,” katanya. Keistimewaan fasilitas proses pemelajaran tersebut ditambah lagi dengan adanya lembaga perekrutan dan

rant, bar, front office, housekeeping, laundry, accounting, computer, laboratorium bahasa Inggris; Fasilitas lainnya berupa perpustakaan, audio visual aids, kafetaria mahasiswa, asuransi, PPTKIS Bali Duta Mandiri, Language Culture & Study Center, dan Wi-Fi/Hot spot Internet. Proses Pembelajaran Pembelajaran dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang terpadu, yaitu teori di kelas dengan metode ceramah, diskusi, demontrasi roleplay dan lain-lain. Praktik di laboratorium praktik yang dibimbing minimal dua dosen pembimbing. Ada pula praktik di laboratorium di kampus, praktik Industri atau praktik kerja nyata yang dilaksanakan di hotel-hotel, baik dalam maupun luar negeri, khususnya di Belanda. Lulusan STP Bali Internasional dapat melanjutkan S2 atau S3 di universitas negeri Belanda.

Jaringan Kerja Sama Jaringan kerja sama tak hanya dibangun dengan manajemen PT CTI (Cemerlang Tunggal Intikarsa), untuk STPBI Denpasar membuka kesempatan kepada lulusan SMA/ bekerja ke kapal pesiar CarniSMK untuk mengembangkan karier melalui pendidikan serta val dan Royal Caribean. STPBI pelatihan pariwisata dan perhotelan Tahun Akademik 2010/2011. Dua Program Studi DIV dilayani di lembaga pendidikan tinggi ini. Ada Program Studi DIV Manajemen Perhotelan. Program studi ini melayani minat anak didik untuk menekuni pendidikan di Jurusan Manajemen Perhotelan. Materi pendidikan di jurusan ini menekankan skill dan knowledge di bidang Tata Hidangan, Tata Boga, Tata Graha, Kantor Depan dan Divisi Kamar. Anak didik kemudian mengikuti program on the job training selama 6 bulan di hotel dan restoran. Masa Pendaftaran Path semester 7 dilanjutkan dengan program magang pada level 1 Juni s/d 21 Juli 2010 atas perhotelan. Selain itu, ada Program Studi DIV Manajemen Kepariwisataan. Senin-Jumat Pukul 08.00-18.00 Sabtu Pukul 08.00-12.00 Program studi ini membuka kesempatan bagi anak didik yang Seleksi berminat mengikuti pembelajaran di Jurusan Manajemen Kepariwisataan. Tes Tertulis 22 Juli 2010; Peserta didik yang memilih jurusan ini diberikan materi Tes Lisan 23 Juli 2010 pengembangan kepariwisataan, seperti perencanaan daya tarik Psikotes 24 Juli 2010 objek wisata, pertunjukkan, dan manajemen bisnis pariwisata. Pukul 09.00-selesai (*)

Drs. I Nyoman Gede Astina, M.Pd., C.C.T., C.H.A.

penyaluran tenaga kerja. Lembaga ini dikenal sebagai Perusahaan Penempatan tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS). Yayasan Dharma Widya Ulangun menyiapkan lembaganya dengan nama PT Bali duta Mandiri. “Lembaga ini semacam agen perekrutan dan penyaluran tenaga kerja,” jelasnya. Manajemen PT Bali Duta Mandiri mengerjakan sejumlah tugas penting. Salah satu tugas itu, adalah menyiapkan job offer (pilihan pekerjaan) yang tersedia di dalam negeri maupun luar negeri, termasuk di kapal pesiar. Selain itu, manajemen lembaga pendidikan ini pun memiliki program outsouching. Program ini digagas untuk memberikan kesempatan alumni SPB Denpasar maupun STPBI Denpasar yang belum memiliki pengalaman kerja yang memadai untuk membuka akses menjadi tenaga outsourching. “Ini penting agar kelak mereka tidak susah memenuhi persyaratan pengalaman kerja saat hendak terjun ke dunia kerja di dalam maupun luar negeri,” tukasnya meyakinkan. Manajemen lembaga pendidikan ini pun menyiapkan fasilitas khusus jika ada alumni SPB Denpasar dan STPBI Denpasar kesulitan biaya berangkat kerja ke luar negeri atau kapal pesiar. “Kami siap memberikan kemudahan biaya pemberangkatannya untuk kerja ke luar negeri atau kapal pesiar,” tegasnya. (*)

juga menjalin kerja sama dengan SM Management Service Pte, Ltd, Singapore, untuk training dan bekerja di Singapura, Malaysia, Maldives dan Timur Tengah; ASEANA Resources untuk bekerja ke Singapura, Malaysia, Maldives dan Timur Tengah; OSS, International Recruitment West Australia, untuk bekerja ke Australia; EWM Consulting Pte. Ltd, Singapore untuk training dan bekerja di Singapura; MAXI Labour Management Services Pte. Ltd, Singapore, untuk training dan bekerja di Singapura. Selain itu, STPBI memiliki izin resmi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri untuk di darat maupun kapal pesiar, melalui PT Bali Duta Mandiri. Lebih daritu itu, STPBI bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka dari Negeri Belanda, seperti NHTV Breda University of Applied Science, Nyenrode University, dan The Hague Hotelschool the Netherlands. Penunjang STPBI ditunjang sejumlah kegiatan, antara lain ICSS (international centre service studies), dan research development berskala nasional dan internasional. (*)

PROGRAM unggulan termasuk dalam program pendidikan dan pelatihan SPB Denpasar. Ini meliputi Program Khusus Kapal Pesiar. Pelaksanaannya bekerjasama dengan CTI Bali, sebuah lembaga penyalur tenaga kerja ke kapal pesiar di seluruh dunia. Program ini dilaksanakan dalam waktu setahun dengan bidang studi atau keahlian yang meliputi Program Waiter, Program Bartender, Hotel Steward, dan Cook. Program Waiter bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang memiliki kepribadian, berpengetahuan dan memiliki keteranipilan yang tinggi serta mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik, untuk melaksanakan tugastugas seorang waiter di kapal pesiar. Selain itu, ada Program Bartender. Program ini bertujuan menghasilkan tenaga kerja berkepribadian, berpengetahuan, dan memiliki keterampilan tinggi, serta mampu berkomunikasi dalam

bahasa Inggris yang baik untuk melaksanakan tugas seorang bartender di kapal pesiar Ada pula Program Hotel Steward. Program ini bertujuan menghasilkan tenaga kerja berkepribadian, berpengetahuan, dan memiliki keterampilan tinggi, serta mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang baik untuk melaksanakan tugas seorang

Kapal Pesiar Bartender Hotel Steward Cook hotel steward di kapal pesiar. Sementara Program Cook bertujuan menghasilkan tenaga kerja berkepribadian, berpengetahuan dan memiliki keterampilan yang tinggi serta mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik, untuk melaksanakan tugas seorang cook di kapal pesiar. (*)

Peserta didik Program Bartender di Kampus SPB dan STPBI Denpasar sedang praktik

Program Pendidikan dan Pelatihan SPB Denpasar PROGRAM pendidikan dan pelatihan SPB Denpasar meliputi program reguler, program berjenjang, dan program unggulan. Khusus untuk program unggulan SPB Denpasar dapat dibaca di bagian lain halaman ini. Program Reguler Program Tingkat Dasar (Basic Level) yang masa studinya 1 tahun. Program ini dilaksanakan dalam dua semester, semester pertama mendapatkan perkuliahan teori dan praktik di kampus, sedangkan semester kedua peserta didik melaksanakan on the job training di dunia industri. Tujuannya untuk menghasilkan tenaga pelaksana yang memiliki kepribadian, ilmu pengetahuan, dan keterampilan tinggi di bidang profesi yang ditekuni. Program ini meliputi Tata Hidangan (Food & Beverage Service) ;Tata Boga (Food Production); dan Tata Graha (Housekeeping). Ada pula Program Tingkat Menengah (Middle Level) yang masa studinya 2 tahun. Program mi dilaksanakan dalam empat semester. Selam tiga semester peserta didik mendapatkan perkuliahan teori dan praktik di kampus, sedangkan satu semester mereka melaksanakan on the job training di dunia industri. Tujuannya untuk menghasilkan tenaga penyelia yang memiliki kepribadian, ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang tinggi pada bidang profesi yang ditekuni. Program ini terdiri dari program Tata Hidangan; Tata Boga; dan Akomodasi. Selain itu, ada Program Tingkat Atas (Upper Level) yang masa studinya 3 tahun. Program ini dilaksanakan dalam enam semester. Lima semester kuliah berlangsung melalui pengajaran teori dan praktik di kampus. Satu

semester mahasiswa melaksanakan on the job training di dunia industri. Tujuannya, menghasilkan tenaga-tenaga pimpinan tingkat atas (section head) yang memiliki kepribadian, ilmu pengetahuan, dan keterampilan tinggi di bidang profesi yang ditekuni. Program ini terdiri dari Manajemen Perhotelan (Hotel Management); Manajemen Tata Hidangan (Food & Beverage Management); Manajemen Divisi Kamar (Room Division Manager); dan Manajemen Tata Boga (Food Production Management). Program Berjenjang Program berjenjang adalah program tingkat atas (upper level) dengan lama pelatihan dan pendidikan 2 tahun atau 4 semester. Peserta didik sebelumnya telah memiliki sertifikat/ijazah Diploma I Basic Level Pariwisata. Lama pelatihan dan pendidikan 1 tahun atau 2 semester. Sebelumnya peserta didik telah memiliki sertifikat/ijazah Diploma II/Middle Level Pariwisata. Tujuannya, menghasilkan tenaga-tenaga pimpinan tingkat atas (head section) yang memiliki kepribadian, ilmu pengetahuan, dan keterampilan tinggi dalam bidang profesi yang ditekuni. Program berjenjang ini meliputi Manajemen Tata Hidangan ( MTH) yang merupakan lulusan Program Tingkat Dasar I Menengah Jurusan Tata Hidangan; Manajemen Tata Boga (MTB) yang telah dibekali sertifikat lulusan Program Tingkat Dasar/Menengah Tata Boga; dan Manajemen Divisi Kamar (MDK) yang merupakan lulusan Program Tingkat Dasar Tate Graha dan Kantor Depan/Tingkat Menengah Akomodasi. (*)

Pengelola SPB Denpasar dan STP Bali Internasional SEkolah Perhotelan Bali (SPB) Denpasar dan STP Bali Internasional (STPBI) Denpasar dikelola Yayasan Dharma Widya Ulangun. Dasarnya, izin yang diterbitkan melalui SK Menteri Pendidikan Nasional RI No. 001/D/O/2008. SPB Denpasar dan STPBI

Denpasar masuk sebagai anggota Himpunan Lembaga Latihan Swasta Indonesia (Hilisi), dan sebagai anggota Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata, anggota Aptisi Bali, serta anggota Asosiasi Pariwisata. Dua lembaga pendidikan ini

didirikan para tokoh berpengalaman dalam mengelola sekolah pariwisata dan perhotelan negeri yang bekerjasama dengan praktisi-praktisi perhotelan. Komitmen mereka adalah mengabdikan diri kepada masyarakat melalui konsep tri dharma perguruan tinggi yang menekankan kualitas tinggi. Berbekal ini kelak lulusannya diyakini mampu bersaing di bursa kerja bertaraf nasional, regional, maupun internasional. (*)

Peserta didik belajar terampil berbahasa Inggris di Language Culture & Study Center

Jadwal Pendaftaran SPB Denpasar dan STPBI Denpasar Pengumuman Hasil Seleksi 26 Juli 2010 Pendaftaran Ulang 26-31 Juli 2010 Biaya Pendaftaran Rp. 125.000

TEMPAT PENDAFTARAN:

Kampus Sekolah Perhotelan Bali (SPB) dan STP Bali Internasional Denpasar

Jalan Kecak 12 Denpasar 80239 Telepon/faksimile (036) 426699, 426700 E-mail info@spb-bali.com Website www.spb-bali.com


8

Tokoh

FESTIVAL KELUARGA

11 - 17 Juli 2010

Senam Kebugaran Jasmani mengawali serangkaian acara Festival Keluarga Koran Tokoh Minggu (27/6) melibatkan pengunjung dipandu beberapa instruktur Lala Studio pimpinan Grace Tangkudung

Pertanian Organik Hemat Ongkos Tanam

tkh/lik

Di depan Stan Kuliner, Gubernur Mangku Pastika dan Ny. Ayu Pastika mencicipi masakan vegetarian. Suami-istri itu dengan mesranya tampak saling menyuapi

Deepak

Ny. Bintang Puspayoga (istri Wakil Gubernur Puspayoga) bersama Ny. Satria Naradha (istri Pemimpin Kelompok Media Bali Post) sedang menanti pesanan berupa masakan khas Bali yang disajikan stan Tjok. Adnyani, Runner Up I Ibu Teladan se-Bali 2008

Beberapa foto di halaman ini menunjukkan kemeriahan Festival Keluarga Koran Tokoh 2010 di Parkir Timur Renon, Minggu (27/6). Festival tersebut menampilkan beragam acara, melibatkan ribuan warga masyarakat, dan menarik perhatian para pejabat tinggi daerah di Bali. Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko menjelaskan, festival diselenggarakan tanpa modal uang. Modalnya hanya kemauan yang disertai perencanaan dan penggarapan aspekaspek manajemen lainnya secara rapi, sehingga mampu mengundang partisipasi komponen masyarakat dari berbagai kalangan karena tujuannya merayakan hari besar nasional, Hari Keluarga Nasional 29 Juni. Selain Festival Keluarga tiap tahun, Koran Tokoh memiliki program tetap tiga tahunan, Pemilihan Ibu Teladan se-Bali. Programprogram tersebut terkait erat dengan misi Koran Tokoh sebagai bacaan wanita dan keluarga.

Hujan Bawa Hikmah

tkh/edi

 Gubernur Mangku Pastika , Ny. Ayu Pastika, dan Pemimpin Umum Koran Tokoh Widminarko sedang menjalani pemeriksaan tensi darah di stan yang diselenggarakan FK Unud. Stan PMI di sebelahnya melakukan kegiatan donor darah

tkh/edi

langsung memasarkan ke konsumen,� katanya. Selama ini, Dipo memang tak pernah melayani penjualan di pedagang-pedagang kecil. Ia langsung menyasar konsumen dengan cara pemesanan. “Jika ada warga yang ingin mengonsumsi sayur atau buah organik, cukup menghubungi kami. Pembelian minimal Rp 400 ribu, mereka bisa membeli secara patungan,� tambahnya. Kini, sudah ada 30 warga yang menjadi konsumennya. —lik

nya. Sebagai seorang distributor, Dipo yang membuka stan di arena Festival Keluarga Koran Tokoh Minggu (27/6), ingin mengubah anggapan konsumen bahwa sayuran atau buah organik terkenal mahal harganya. “Untuk itu, kami telah memutus mata rantai distribusi yang panjang. Kami merupakan satu-satunya distributor yang mengambil langsung dari petani dan

tkh/edi

 Ny. Ayu Pastika didampingi Wirawan Hadi sedang mencoba sepeda motor Titan, produk Suzuki, di tengah semarak Festival Keluarga Koran Tokoh

Beragam sajian makanan dalam Festival Kuliner di arena Festival Keluarga Koran Tokoh Minggu (26/ 6). Ada masakan khas Bali, be guling dan serombotan, bakso, gado-gado, ayam goreng khas, masakan vegetarian, nasi Kedewatan dan lain-lain. Guyuran hujan pagi harinya membawa hikmah, menjadikan perut pengunjung terasa cepat lapar

tkh/edi

Sebagian Stan Kuliner Festival Keluarga Koran Tokoh 2010 yang menyajikan beragam makanan yang pastinya minumannya Teh Sosro

tkh/edi

M

enurut pria yang karib disapa Dipo ini, menjadi petani organik menguntungkan. Petani bisa menghemat ongkos tanam. “Jika biasanya mereka membeli pupuk, kini cukup membuat pupuk dari sisa daundaunan,� katanya. Hanya saja, banyak petani yang masih ragu memulai menjadi petani organik. “Mereka takut hasil pertanian mereka sedikit mendapatkan untung,� kata-

Modal Kemauan

tkh/edi

PETANI tanaman sayur organik masih jarang di Bali. Inilah alas an Deepak menjadi distributor hasil produksi petani organik. Lelaki keturunan India ini mendistribusikan hasil pertanian organik yang dimiliki Kelompok Tani Sayur dan Buah Pancasari dan Kelompok Tani Beras di Tabanan, Kelompok Tani Kopi di Kintamani, dan Kelompok Tani Keripik Nangka di Sibetan, Karangasem.

tkh/edi

Banyak hadiah door prize yang diperebutkan pada akhir acara Festival Keluarga. Tampak Giri Teja Setiadi (kanan) dari Three menyerahkan BlackBerry kepada Fajar

Di atas panggung, diserahkan piala dan hadiah kepada pemenang Lomba Foto Batita dan Balita Ceria serta Lomba Fotogenik Koran Tokoh dan Lomba Foto Sosro. Tampak I Gusti Ayu Kusuma Wardani Kardinal, salah seorang pemenang Balita Ceria, sedang menerima hadiah dari Ny. Satria Naradha


P

ura Bukit Mentik, tempat persembahya ngan umat Hindu di Desa Batur, Kintamani, Bangli, itu memang menyimpan kedekatan emosi religius yang kuat dalam batinnya. “Dalam pura ini ada tempat-tempat permohonan khusus kepada Ida Bathara. Ada pura untuk memohon kehormatan, termasuk meminta keturunan yang kita inginkan,” ujarnya saat berbincang dengan sejumlah orang penting di Bali yang menyertai perjalanan religius Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini ke pura tersebut belum lama ini. Ada sederet cerita mengesankan dari balik memori JW tentang keistimewaan pura ini. Khususnya berkaitan dengan doa permohonan dinaikkan derajat kehormatan seseorang. Mantan pejabat, pejabat penting, dan calon pejabat di Bali, dikisahkan pernah bersembahyang di tempat suci ini. Mantan gubernur Bali Ida Bagus Oka (alm.) dan Dewa Beratha pernah mengalami kejadian unik saat bersembahyang di Pura Bukit Mentik. “Pak Oka sempat kerahuan, bahkan sempat disuruh nyapu membersihkan pura ini. Pak Dewa Beratha juga pernah nyapu di sini,” ujarnya. “Calon gubernur Bali 2008, selain Pak Mangku Pastika, tidak bersembahyang di pura ini menjelang pilgub,” ungkap pemangku Pura Bukit Mentik Jero mangku Jenaka Pupul (26). Doa Jadi Menteri JW menyimpan cerita pribadi yang menarik dari balik nilai sakral pura tersebut. Ketua PB Persatuan Golf Indonesia (PGI) ini mengaku senantiasa bersembahyang untuk meminta jalan terang ke pura ini. Persembahyangan sengaja dilakoninya ke tempat suci ini terutama jika ada hal atau peristiwa khusus. “Saat menjelang pilpres saya sengaja khusus bersembahyang memohon Ida Bathara membuka jalan terang bagi Pak SBY untuk memimpin negara ini, termasuk

kebolehannya menenun dengan alat tenun tradisional

Tanamkan Kemandirian Anak saat beliau maju lagi untuk masa jabatan kedua,” katanya. Contoh lain yang menarik diungkapkan namanya sempat digadang-gadang sejumlah kerabat dekat untuk maju dalam bursa bakal calon Bupati Bangli sekitar 10 tahun silam. Saat itu, JW menyadari dirinya tak memiliki kendaraan politik. “Sementara PDI Perjuangan sedang menguat saat itu. Saya berpikir untuk ancang-ancang maju lewat partai politik ini. Saya coba hubungi Nengah Arnawa yang menjabat ketua PDIP Bangli waktu itu. “Saya bilang, kalau dia mau maju akan saya dukung. Tetapi, kalau tidak saya minta dia mendukung saya,” ujarnya. Namun, JW memohon petunjuk supranatural dari Pura Bukit Mentik. Sehabis menemui Nengah Arnawa, ia bersembahyang di pura ini. “Saya minta kepada Ida Bathara, jika direstui saya jadi bupati Bangli tolong dibukakan pintu ke arah itu selebar-lebarnya. Jika tidak, saya mohon Ida Bathara menutup pintu ke arah itu rapat-rapat. E.. selang beberapa saat kemudian Arnawa menelepon dan menyampaikan akan maju jadi bakal calon bupati. Ini berarti pintu untuk saya sudah tertutup…” katanya. Sebelumnya JW sempat hendak maju menjadi bakal calon gubernur Bali menjelang berakhirnya masa jabatan lima tahun pertama Ida Bagus Oka. “Ada kalangan yang mendorong saya

untuk maju. Tetapi, saya pikir tidak mungkin berhasil jika Pak Oka maju lagi. Zaman Orde Baru kan harus dekat keluarga Cendana kalau mau jadi gubernur Bali. Tetapi, saya coba minta petunjuk ke Pura Bukit Mentik. Tahu-tahunya pintu untuk jadi gubernur juga tertutup untuk saya waktu itu,” katanya. Namun, JW menggantung mimpi besar untuk menjadi menteri jika SBY-JK terpilih menjadi presiden dan wapres dalam Pilpres 2004. Saat itu, ia memohon khusus kepada Ida Bathara di Pura Bukit Mentik.”Saya sampaikan inilah kesempatan saya untuk mengabdi lebih besar serta berbuat lebih banyak untuk bangsa dan negara. Saya memohon dibukakan pintu selebar-lebarnya untuk masuk kabinet kelak jika SBY-JK terpilih. Doa saya terkabul. Begitu juga yang saya lakukan sebelum dipercaya lagi Pak SBY untuk duduk di kursi menteri masa jabatan kedua ini. Ida Bathara ternyata merestui permohonan saya,” lanjutnya. Didik Anak Mandiri Nilai sakral bersembahyang di Pura Bukit Mentik bukan hanya berurusan dengan permohonan memperoleh kehormatan tadi. JW meyakini Ida Bathara akan mengabulkan permohonannya untuk memperoleh momongan lagi berkelamin lelaki. Saat telah dikaruniai tiga anak perempuan, JW dan belahan jiwanya, Triesna, memang

JW mengisahkan pengalaman hidupnya yang menarik kepada sejumlah pejabat dan pengusaha asal Bali, seperti Wakapolda Brigjen. Komang Udayana; Kepala Lembaga Purbakala Bali, NTB, dan NTT Made Purna; ketua STP Bali Dr. Nyoman Madiun, Direktur Pemasaran Luar Negeri Kemenbudpar Prof. Gede Pitana, Personal Asisten Kemenbudpar Ketut Wiryadinata, Asisten I Setda Badung Suambara, dan Frans Bambang Siswanto di Pura Jati Desa Batur, Kintamani belum lama ini

Naik, Kesadaran Warga Denpasar Urus Akta Kematian ADA potret menarik dalam urusan administrasi kependudukan di Kota Denpasar. Kesadaran warga untuk mengurus akta keluarga makin meningkat. Kepedulian tersebut bukan hanya berkaitan dengan kartu tanda penduduk, juga akta kelahiran, akta perkawinan, akta perceraian, maupun akta kematian. Menurut catatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar, kepedulian warga di wilayah kota tersebut menunjukkan administrasi kependudukan maupun berkas pencatatan sipil bukan lagi masalah enteng. Ini pun diakui seorang warga Denpasar, A.A.

Gde Rai Soryawan, S.H. Menurutnya, administrasi kependudukan tersebut memang amat penting zaman sekarang. “Banyak urusan saat ini yang harus dilengkapi syarat administrasi kependudukan tersebut. Contohnya, anak mau sekolah otomatis harus ada akta nikah orangtua dan akta kelahiran anak,” ujar suami A.A. Ayu Laksmiwathi yang sehari-hari menjabat sebagai kepala Dinas Perizinan Kota Denpasar itu. Ni Ketut Padmawati, sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar, mengungkapkan, saat ini kesadaran warga

A.A. Gde Rai Soryawan, S.H.

bukan lagi hanya mengurus akta perkawinan atau akta kelahiran. “Warga pribumi belakangan mulai mengurus akta kematian. Dulu akta kematian cenderung hanya diurus kalangan warga keturunan Tionghoa, sekarang sebaliknya warga pribumi pun mengurus akta ini,” ujarnya dalam percakapan dengan Koran Tokoh pekan lalu. Akta kematian itu berkaitan dengan banyak persyaratan administrasi yang dipenuhi warga dalam sejumlah kebutuhan hidup belakangan ini. “Jika cerai maka, seseorang ingin kawin lagi kan otomatis harus dipenuhi syarat bukti berupa akta kematian pasangan hidup sebelumnya. Akta kematian juga berkaitan dengan urusan asuransi, termasuk waris-mewaris,” jelasnya. —sam

Kiat Keluarga Harmonis

Menikah Usia 23 – 30 Tahun Jangan Selesaikan Masalah di Meja Makan dan di Ranjang

Dra. Dayu Ratna, M.M.

KASUS kekerasan dalam rumah tangga menjadi petunjuk retaknya keharmonisan keluarga. Problem di balik itu amat kompleks. Ada banyak penyebabnya, antara lain latar belakang ekonomi, rendahnya taraf pendidikan, perkawinan usia dini, maupun perbedaan agama. Demikian pengamat komunikasi dan sosial Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M. Menurut Dekan Fikom Universitas Dwijendra ini, problem keretakan rumah tangga di Bali bukan lagi masalah sepele. “Saya prihatin. Melalui WHDI, kami sudah membuat program kerja konsultasi pranikah. Program ini masih digodok lagi dan perlu melibatkan kalangan lain,” ungkap Ketua Bidang Sosial WHDI Provinsi Bali ini. Konsultasi pranikah kelak akan membahas berbagai hal yang harus diketahui dan disiapkan pasangan sebelum menikah, seperti usia pernikahan, apa yang diperlukan dalam hubungan suami, istri, serta anak, dan bagaimana mengatasi persoalan rumah tangga.

Usia matang perkawinan disebutkan berada pada kisaran 23-30 tahun. Risiko perkawinan usia muda biasanya berkaitan dengan kesiapan psikis. Biasanya kesiapan psikis pasangan hidup ini belum matang. Hal ini membuat rentan potensi pertengkaran. Sikap saling pengertian antarpasangan hidup relatif minim. “Perkawinan usia muda, telat berumah tangga, pun berisiko bagi kesiapan reproduksi seksual pasangan hidup. Jika lambat menikah akan kerepotan pada masa tuanya. Ketika sudah tak produktif masih masih harus mengurus anak,” jelas istri Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Ida Bagus Wiyana ini. Masalah ekonomi pun dapat menyulut pertengkaran suami dan istri. Dayu Ratna memberi contoh dalam kehidupan masyarakat Bali. Pertengkaran suami dan istri biasanya dipicu masalah keuangan. “Lebih khusus lagi ini dapat diamati dari sisi kesiapan keuangan keluarga untuk biaya upacara. Sebuah keluarga bisa beralasan kesulitan uang membiayai pembuatan banten. Padahal, banten merupakan ngaturang rasa syukur yang dilakukan sesuai kondisi yang ada. Jika kurang mampu tak perlu membuat banten mewah,” katanya. Syarat untuk menciptakan keluarga harmonis, kata Dayu Ratna, sebenarnya gampang. Kuncinya menjaga komunikasi dan keterbukaan antarpasa-

ngan hidup. Jika suami dan istri bekerja, keduanya harus bisa menyisihkan waktu buat keluarga. “Suami maupun istri sebaiknya tak membawa pulang beban pekerjaan kantor ke rumah,” harapnya. Khusus bagi seorang istri, Dayu Ratna mengingatkan, meski berkarier harus mengutamakan pekerjaan rumah tangga. “Jika suami mendapat jabatan atau naik pangkat, istri harus mau belajar, seperti rajin membaca buku atau mengikuti kursus. Selain itu, jangan sampai istri pun tak mau diajak dalam kegiatan suami, sehingga suami lebih suka mengajak perempuan lain,” katanya. Menurutnya, persoalan keluarga sebaiknya dibicarakan pada waktu yang tepat. Ini dapat dilakukan ketika sedang santai dan pikiran sedang tenang. Waktu menonton televisi atau minum kopi dinilai saat yang pas untuk menjalin komunikasi tersebut. “Sebaiknya istri tak menyelesaikan masalah dengan suami di meja makan atau di atas ranjang. Jika pasangan hidupnya tak berkenan kan justru bisa memperburuk suasana makan atau mungkin berakibat pisah ranjang,” tukasnya. Menurutnya, godaan dalam berumah tangga selalu ada. “Tetapi, ada cara yang seharusnya dapat diatasi pasutri agar tak menimbulkan pertengkaran. Solusi utamanya, suami maupun istri jangan mengedepankan ego masing-masing,” katanya. —tin

Harmoni Keluarga bukan hanya Urusan Seks HARMONI keluarga bukan hanya urusan seks. Namun, urusan ranjang suami dan istri ini menjadi salah satu perekat harmoni keluarga. Ini dianggap salah satu resep meredakan beban psikologis dalam keluarga. “Kita aturlah waktu berhubungan seks dengan suami secara teratur. Biasanya masalah masalah-masalah ringan bisa teratasi setelah urusan ranjang dengan pasangan hidup kita selesai. Beban pikiran juga jadi enteng,” ujar aktivis sosial Prida Dewi (42). Menurutnya, urusan seksualitas keluarga semacam itu amat bergantung kesiapan tiap pasangan hidup berkomunikasi secara terbuka. “Komunikasi terbuka dengan pasangan hidup kita amat penting, termasuk urusan seks,” ujar istri I G.N. Murthana, ini. Komunikasi dalam keluarga tentu bukan hanya membicarakan kontak seksual dengan pasangan hidup semata. Komunikasi suami dan istri juga menyangkut hal-hal lain yang bersinggungan dengan tanggung jawab masing-masing dalam keluarga. “Inilah kunci bagi kita untuk menjaga keharmonisan hubungan suami istri,” jelas ibu tiga anak, IGN Erlangga (19), IGN Satria Bramantha (15), dan IGN Brama Abimanyu (11), ini. Hal senada diutarakan I Dewa Agung Sugardha Putra, S.Sos. dan I Gst. A.G. Ngurah Hendra Budi Utama. Menurut

tkh/edi

HARAPAN Jero Wacik (JW) dan Triesna akhirnya terkabul. Anak lelaki yang diimpikan lahir. Sebelumnya JW secara khusus bersembahyang di Pura Bukit Mentik. JW menyimpan sepenggal cerita spesial sebelum istrinya hamil si bungsu yang diberikan nama JW dan istri tercinta, Triesna Wacik, menemani Ny. Mufida Jusuf Bintang Wacikaputra itu. Kalla menyaksikan Ny. Ani Yudhoyono unjuk memperlihatkan

berharap akan mendapatkan lagi seorang gererasi penerus. “Tetapi, kami berdua ingin anak laki-laki. Saya terutama ingin istri memberikan seorang anak laki-laki. Sebagai orang Bali kan saya tidak mau nanti famili saya ribut soal warisan jika semua anak saya perempuan,” ungkapnya. Habis memohon di pura untuk dikaruniai buah hati berkelamin lelaki itu ternyata JW memang mengalami kejadian unik. Seseorang mendadak kerauhan. Orang ini lalu meyakinkan permohonan JW untuk memperoleh anak laki-laki dikabulkan Ida Bathara. “Saya kaget mendengar omongan orang yang kerauhan tersebut. Antara percaya dan tidak saya lalu coba menelepon istri untuk menanyakan kabarnya. Istri saya menyampaikan ada tanda akan hamil lagi. Saya lalu bilang, permohonan untuk punya anak laki-laki dikabulkan,” kisahnya. Istri JW memang positif hamil anak keempat. Setelah sembilan bulan mengandung akhirnya Triesna memberikan kado istimewa untuk sang suami. Janin berkelamin laki-laki lahir dari rahim alumnus Fakultas Psikologi UI itu. Jabang bayi yang lahir 25 Juli 1994 tersebut diberi nama Bintang Wacikaputra. “Putra bungsu saya lahir saat kami masih bertempat tinggal di rumah keluarga yang berada di Kalibata. Tahun 2000 baru kami pindah ke rumah yang saya bangun di Bintaro,” katanya. Keluarga JW dan Triesna makin sumringah dengan hadirnya Bintang Wacikaputra. Namun, pasutri ini memiliki pola mendidik anak yang menarik. Ini dikisahkan putri keduanya, Sagita Wacik, melalui surat elektornik kepada wartawan Koran Tokoh. Menurut mantan runner up Putri Indonesia ini, orangtuanya mendidik jiwa mandiri sejak bocah untuk buah hatinya. Ini terutama amat dirasakan Sagita dan kakak sulungnya, Ayu Vibrasita. “Mama itu psikolog. Didikannya tega sekali. Jika saya dan Ayu nangis didiamin. Apa-apa harus terstruktur dan mandiri. Tetapi, ya ada manfaatnya sih… Kami anak-anaknya jadi mandiri,” kisahnya. Itu ditunjukkan melalui contoh nyata sehari-hari semasa dirinya dan Ayu masih berusia sekolah. Orangtuanya diakui amat menekankan sikap mandiri. ”Mama dan Papa tidak pernah menemani saya dan Ayu daftar sekolah. Ini terutama kami rasakan mulai SMP, SMA, dan kuliah di universitas. Semua ini kami urus sendiri pendaftarannya. Pokoknya kami hanya dipesani harus lulus tes masuk. Titik,” lanjutnya. Didikan itu rupanya cespleng. Buah hatinya tak ada yang cengeng. Jiwa mandiri tumbuh menguat dalam pribadi anak-anak JW dan Triesna. “Kami belajar dan berusaha untuk berhasil dengan kemampuan sendiri. Ini bahkan kami praktikkan sampai dewasa,” tuturnya. Orangtuanya pun tak pernah mengiming-imingi fasilitas mewah. “Kami tidak pernah dijanjikan akan dibelikan mobil, tanah, rumah, dan sebagainya. Itu cambuk bagi kami. Rumah pribadi saya, sebagai contoh, merupakan hasil cicilan dari tempat kerja saya. Mobil juga saya beli dari hasil tabungan, duit panjar mobil berasal dari hadiah Juara Pemilihan Putri Indonesia. Jadi, kami tidak dimanjakan hidup bermewah-mewahan,” ungkapnya. Motivasi untuk maju pun senantiasa ditanamkan JW dan Triesna kepada anak-anaknya. “Mama dan Papa selalu bilang kalau mereka berdua dulu rekor juara kelas. Papa bahkan juara di sekolah. Anak-anaknya ditekankan harus lebih hebat lagi. Jika perlu kami harus menjadi ketua OSIS. Saya akhirnya bisa jadi ketua OSIS saat sekolah. Juga, kami didorong untuk berprestasi di tingkat nasional. Saat ikut Pemilihan Putri Indonesia kan saya juga bisa unjuk kebolehan,” kata ibu satu anak ini. —sam

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 9

tkh/tin

HARMONI Ir. Jero Wacik, S.E. dan Dra. Triesna Wacik 10

Prida Dewi

Dewa Sugardha

“Komunikasi dalam keluarga tentu bukan hanya membicarakan kontak seksual dengan pasangan hidup semata” kedua aktivis Persatuan Paskibaraka Indonesia (PPI) Bali ini, jika komunikasi mandek dalam keluarga memang potensi pertengkaran gampang terjadi. Menurut Sugardha, ia biasanya membangun komunikasi efektif dengan istri di rumah menjelang tidur malam. “Ya...kegiatan berikutnya bisa dilanjutkan dengan adegan romantis dengan istri. Ini bisa menjadi solusi untuk menekan

beban psikis jika ada masalah,” ujar suami Putu Tri Oktarini, S.H. (30) yang berdinas di Kantor Disdikpora Badung itu. Hendra Budi Utama memiliki kiat khusus jika sedang bercekcok dengan istri. “Saya memilih untuk menahan diri. Caranya, saya sebaiknya mencari suasana lain yang positif untuk menenangkan diri,” ujar praktisi pariwisata ini. —sam

Tradisi Hemat Keluarga Tionghoa KELUARGA berdarah Tionghoa memiliki kekhasan dalam membangun tradisi kehidupan keluarganya. Tradisi hemat dalam mengelola keuangan amat diutamakan dalam keluarga keturunan Tionghoa. Demikian sesepuh INTI Bali Frans Bambang Siswanto kepada Koran Tokoh. Menurut pengusaha ini, tradisi hidup hemat itu ditekankan setelah filosofi kerja keras ditanamkan kuat dalam diri tiap warga keturunan ini. “Umumnya semua keluarga keturunan Tionghoa mempraktikkan tradisi kerja keras dan hidup hemat dalam mengelola hasil keringatnya,” ujar suami guru besar arsitektur FT Unud Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.S. itu.

Menurutnya, keluarga berdarah Tionghoa, termasuk komunitas ini di Bali, bukan hanya selalu menanamkan dua filosofi itu. Ada hal lain yang juga dikuatkan dalam membangun pribadi masing-masing anggota keluarga mereka. “Selain kerja keras dan hemat, tiap orang tidak boleh mengambil apa yang bukan haknya. Walau ada pemberian dari orang lain, jika itu bukan haknya, tidak boleh diterima. Mereka dididik untuk mengecap hasil keringatnya sendiri,” ujarnya. Namun, filosofi itu dinilainya cenderung dipahami secara mentah-mentah. Akibatnya, warga keturunan Tionghoa terkesan melulu sebagai komunitas yang sibuk mencari uang dan pelit membagi rezeki kepada

Frans Bambang Siswanto

orang lain. “Kesan seperti ini kan amat terasa dalam masyarakat kita. Padahal, filosofi leluhur mengandung pesan sosial kemanusiaan juga. Saya mulai menghidupkan lagi filosofi sosial dan kemanusiaan tersebut agar warga keturunan ini jangan lagi terkesan pelit dan cari uang saja,” harap Frans Bambang. —sam


10

Tokoh

BUMI GORA

11 - 17 Juli 2010

Masyarakat Miskin di NTB Berkurang 41.596 Jiwa Untuk meningkatkan derajat hidup dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Nusa Tenggara Barat (NTB), Pemerintah Provinsi NTB, melakukan berbagai ikhtiar untuk itu. Salah satu upaya serius yang dilakukan Pemprov. NTB dengan meluncurkan program-program unggulan yang hasilnya tentu saja diniatkan bagi kesejahteraan masyarakat Bumi Gora. Program-program terobosan NTB Bersaing, terus diarahkan untuk percepatan pembangunan daerah ini.

P

rogram-program t e r o b o s a n unggulan ini antara lain yang dikenal dengan Pijar (Sapi, Jagung, dan Rumput Laut). Dalam bidang peternakan dikenal program NTB-BSS (Bumi Sejuta Sapi), bidang pertanian yakni meningkatkan produktivitas jagung baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Begitu juga dengan bidang kelautan yang memfokuskan salah satu pembangunannya pada pengembangan rumput laut, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat wilayah pesisir. Penetapan ketiga komoditas unggulan ini, didasarkan pada potensi sumberdaya baik luas lahan potensial, maupun ketersediaan sumber daya pendukung lainnya serta nilai ekonominya. Pengembangan tiga komo-

ditas unggulan Pijar ini dapat dilakukan dengan maksimal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat mengingat komoditas sapi, dari daging dan air susunya dapat digunakan sebagai bahan pangan, sedangkan kotorannya digunakan untuk pupuk tanaman, misalnya untuk pemupukan jagung dan tulang sapi dapat dipakai sebagai kerajinan. Demikian pula dengan komoditas jagung, yang bijinya digunakan sebagai bahan kosmetik dan bahan pangan karena mengandung keragaman nutrisi seperti karbohidrat, vitamin, dan mineral. Sedangkan daunnya bisa digunakan sebagai bahan kerajinan, pakan ternak (sapi), dan unggas. Selain itu tanaman jagung juga dapat sebagai bahan baku industri bioetanol yaitu bahan bakar pengganti

minyak. Sama pula halnya dengan komoditas rumput laut, yang sangat besar kegunaannya yakni sebagai bahan pangan, bahan farmasi, kosmetik, dan juga bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak. Akselerasi pembangunan NTB melalui program-program terobosan ini dilakukan secara sistematis dengan tahapan yang telah dihitung dengan matang dalam lima tahun ke depan. Data statistik NTB menyebutkan, pada tahun 2009 merupakan tahap orientasi dan konsolidasi, dengan maksud menguatnya nilai-nilai iman dan taqwa yang terefleksi dalam meningkatnya kinerja profesionalisme dalam mengelola daerah. Menguatnya koordinasi antar lingkup pemerintahan dan tertatanya kelembagaan dan sumber daya manusia serta terbentuknya regulasi spasial dan nonspasial dan berkembangnya potensi ekonomi lokal dan kerjasama regional. Tahun 2010-2011 merupakan tahap percepatan NTB Bersaing, dengan target tersedianya jaminan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang merata dan terjangkau bagi rakyat miskin, aktualisasi peran perempuan dan perlindungan anak, berkembangnya usaha ekonomi strategis pada sektorsektor strategis sebagai upaya membuka kesempatan kerja dan meningkatnya pendapatan masyarakat, terbukanya akses dan ketersediaaan pelayanan infrastruktur pada kawasan potensial yang sebelumnya sulit terjangkau dan tumbuhan-

Program unggulan NTB BSS, merekrut para sarjana peternakan putra-putri daerah NTB untuk ikut mengembangkan peternakan sapi

Dampak Positif dari Program Pijar nya iklim investasi yang kondusif bagi investor dan kompetitif dengan bertumpu kepada pengelola sumberdaya lokal yang berkelanjutan. Tahun 2012-2013 merupakan tahapan pencapaian NTB Bersaing. Saat ini diharapkan akan terlihat membudayanya kehidupan masyarakat yang religius, meningkatnya IPM NTB ke papan tengah nasional, berkurangnya kesenjangan kawasan dan kesenjangan sektoral, terlembaganya kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat, terkelolanya potensi sumberdaya alam secara berkelanjutan dan berkurangnya persentase penduduk miskin secara signifikan. Salah satu ikhtiar yang dilakukan dengan sungguhsungguh oleh Pemerintah Provinsi NTB dalam pembangunannya selama lima tahun ke depan ada menurunkan angka kemiskinan. Gencarnya akselerasi pembangunan yang dilakukan ini, kini mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya persentase penduduk miskin NTB. Seperti yang disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, H. Soegarenda, M.A., beberapa waktu lalu, penurunan angka kemiskinan di NTB cukup signifikan di tahun 2010. Dengan penurunan 1,23 poin, NTB bahkan berada di urutan ke-6 terbaik secara nasional angka penurunan kemiskinannya. Terdapat tujuh provinsi yang tercatat mengalami penurunan angka kemiskinan di atas satu poin. Ketujuh provinsi tersebut, yakni Sulawesi Utara 1,88 poin, Gorontalo 1,82 poin, Sulawesi Barat 1,71 poin, Jawa Timur 1,42 poin, Lampung 1,28 poin, NTB 1,23 poin, dan Jawa Tengah 1,16 poin. Tahun 2009 jumlah penduduk miskin di NTB 1.050.948 jiwa atau 22,78 % dan tahun 2010 menjadi 1.009.352 jiwa atau 21,55 %. Melihat angka

Salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi NTB adalah pengembangan rumput laut untuk meningkatkan ekonomi terutama bagi masyarakat pesisir

tersebut, terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 41.596 jiwa atau 1,23 poin, “ ungkap Soegarenda yang didampingi Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangungan Setda NTB, H. M. Nur, S.H., M.H. dan Kabag Humas dan Protokoler Setda NTB, L. M.

unggulan daerah yang memang dihajatkan bagi kesejahteraan masyarakat NTB. Nur menambahkan, beberapa program unggulan berdampak positif hingga bisa mengentaskan masyarakat kemiskinan, seperti pengembangan sapi, jagung dan rumput laut (Pijar).

Kebijakan Pemerintah Provinsi NTB yang disusun dalam program unggulan berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan di NTB. penurunan angka kemiskinan sebesar 1,23 point di tahun 2010, menempatkan NTB pada urutan ke enam terbaik secara nasional

Faozal. Lebih jauh Soegarenda menjelaskan, pihaknya mengukur masyarakat yang dikategorikan miskin dengan mengacu indikator secara nasional, yakni kemampuan masyarakat mengonsumsi kebutuhan dasar. NTB dinilai terjadi inflasi, tetapi jumlah masyarakat miskin dapat ditekan. Hal itu menunjukkan tren positif, karena adanya program pemerintah daerah (pemda) yang dinilai berjalan optimal dalam mengentaskan jumlah masyarakat kemiskinan dan pengangguran. Penurunan angka kemiskinan di NTB tidak lepas dari berhasilnya program-program

Pengembangan sapi misalnya, dengan 50 ekor induk sapi yang digulirkan pemerintah dalam program Bumi Sejuta Sapi (BSS) NTB, akan bisa menyerap banyak tenaga kerja. Ia mencontohkan, setiap kelompok terdiri 25 orang peternak, belum termasuk peternak lainnya. Pembagian wilayah dan kelompok sasaran juga harus jelas, sehingga program yang digelontorkan sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Kebijakan–kebijakan Pemprov. NTB yang disusun dalam program unggulan berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan di NTB. Tiap program yang dikeluarkan Pemprov. NTB berbasis tiga aspek, yakni penyerapan tenaga kerja, penambahan pendapatan perkapita dan pengurangan angka kemiskinan. Selain itu, setiap program sudah jelas wilayah yang dijadikan sasaran dan kelompok mana yang akan melaksanakan dan menerima program tersebut. –hms,nik,zi

Program-program unggulan diniatkan bagi kesejahteraan masyarakat Bumi Gora. Program-program terobosan NTB Bersaing, terus diarahkan untuk percepatan pembangunan daerah ini

Gubernur NTB Sidak Kantor Samsat Mataram

Persempit Ruang Gerak Calo Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi terus memberikan perhatian terhadap pelayanan publik bagi masyarakat NTB. Mulai dari mengimbau seluruh jajaran RSU Mataram, mulai dari pejabat tingginya hingga staf biasa agar memperlakukan semua warga yang sakit, tidak pandang berpunya atau tidak,

dengan adil. Karena menurutnya, si kaya dan miskin yang sakit sama-sama membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik. Ini dilakukan gubernur, karena banyaknya keluhan masyarakat terutama mereka yang tidak mampu, terhadap pelayanan yang dianggap kurang. Selain itu, tempat pelayanan

publik yang juga banyak sekali dikeluhkan warga masyarakat adalah percaloan di Kantor Pelayanan Satu Atap Bersama (Samsat) Kota Mataram. Hal inilah yang menggerakkan Gubernur NTB, untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantor Samsat Mataram, beberapa waktu lalu. Dalam

Pemerintah daerah, akan selalu berikhtiar untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat mengingat samsat memberikan pemasukan yang cukup besar terhadap daerah

sidak kali ini Gubernur yang didampingi Kapolda NTB, Brigjen. Pol. Arif Wachyunadi, Kadispenda Provinsi NTB, Drs. L.Suparman dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan Retribusi Daerah (KPPRD) Drs.Nurmawan, menelusuri sejumlah ruangan yang ada di kantor Samsat Mataram. Gubernur

Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi dan Kapolda NTB usai melakukan sidak di Kantor Samsat Mataram

berpesan agar jajaran PNS khususnya yang melayani Pajak Kendaraan Bermotor di Samsat Kota Mataram untuk memberi pelayanan optimal dan prima bagi masyarakat. Hal senada diungkapkan Kapolda NTB yang juga mengingatkan semua pihak terutama jajaran kepolisian yang bertugas di Samsat untuk memberi pelayanan optimal dan transparan kepada masyarakat dengan memberi pelayanan cepat dan tepat serta mempersempit ruang gerak calo baik di lingkungan dalam maupun luar Samsat. Harapan ini disampaikan Gubernur dan Kapolda mengingat Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) mempunyai potensi yang besar dan memberi kontribusi dominan tehadap Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Provinsi NTB, yang saat ini makin dipacu dan ditingkatkan melalui pelayanan prima di seluruh jajaran Samsat. “Pajak yang berkaitan dengan kendaraan bermotor seperti PKB, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) masih yang paling dominan untuk PAD NTB,” kata Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) NTB H. Lalu Suparman. Yang utama lagi adalah terlayaninya masyarakat wajib pajak dengan baik dan nyaman saat mengurus kewajibannya. Gubernur mengingatkan agar harga pajak betul-betul berpedoman dari aturan yang ada dan telah sesuai dengan standar yang harus dibayar para wajib pajak. “Pihak pemda, akan selalu

berikhtiar untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat mengingat samsat memberikan pemasukan yang cukup besar terhadap daerah,” ujar Gubernur. Secara umum, saat sidak ini pelayanan yang diberikan kepada masyarakat terbilang baik. Namun, standar pelayanan masih terkendala oleh tidak adanya kamera CCTV serta masih menggunakan sistem manual dalam memberikan pelayanan masyarakat. Demi pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat, Gubernur mengungkapkan pihaknya akan memasang CCTV untuk memantau dan mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Selain itu sistem digitalisasi dalam pelayanan juga akan dipasangkan untuk menghindari rekayasa dalam bentuk apapun.—nik


KESEHATAN

CGF Percepat Penyembuhan Demam Berdarah DI tengah meluasnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) akhir-akhir ini berembus kabar baik. Suatu penelitian membuktikan chlorella growth factor (CGF) 40 mampu mempercepat kesembuhan pasien DBD dan memperpendek masa perawatan di rumah sakit. Penelitian telah dituntaskan akhir tahun 2009 oleh sejumlah peneliti dari RS Karya Bhakti Bogor, Perhimpunan Penyakti Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Bogor dan Fakultas Ekologi Manusia IPB.

A

walnya demam berdarah menyerang Karibia. Penyakit ini sudah menjadi suatu epidemik tahun 1827-1828. Penyebarnya, nyamuk aedes aegepti. Penyakit ini menyerang warga di beberapa negara seperti Jepang dan Filipina. DBD di Indonesia sudah menjadi epidemi dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sejak tahun 1955 sampai sekarang kasusnya bertambah terus. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Denpasar 20072010 Dr. Putu Budhiastra, Sp.M. mengatakan, penyakit demam berdarah sangat mengkhawatirkan karena dapat menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja dan mengakibatkan kematian. Dalam dua bulan terakhir pasien demam berdarah di rumah sakit di Denpasar meningkat terus. “Sebanyak 523 pasien bulan Mei dan 566 pasien bulan Juni yang dirawat di RS Sanglah. Belum lagi di beberapa rumah sakit swasta,” ujarnya. Dokter A.A. Yuli Gayatri, Sp.PD. dari SMF Ilmu Penyakit Dalam RS Sanglah tidak menampik membludaknya pasien demam berdarah yang datang berobat mengakibatkan ruangan rumah sakit ter-

Dari kiri: dr. Mira Dewi, dr. A.A. Yuli Gayatri, dr. Tanto Untung, dr. G.N. Indraguna Pinatih

sebut penuh. Ada pasien yang terpaksa ditempatkan di lorong. “RS Sanglah tidak bisa menolak pasien yang datang. Kami tetap memberikan perawatan. Kami hanya sarankan, bagi pasien yang mampu dapat memilih berobat ke rumah sakit swasta,” kata Dokter Yuli. Ia menyebutkan, gejala klinis DBD seperti demam atau riwayat demam akut 2-7 hari, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, mual dan muntah, kadang pendarahan, penurunan kesadaran, dan kejang. Penyakit DBD disebabkan nyamuk dewasa betina yang hinggap siang hari di permukiman penduduk. Dokter Mira Dewi, M.Sc. yang menjadi salah seorang peneliti di RS Karya Bhakti Bogor mengungkapkan, chlorella growth factor (CGF) menjadi salah satu alternatif dalam mempercepat penyembuhan pasien DBD. Ia bersama 6 anggota peneliti lainnya telah melakukan penelitian pertama untuk masalah penyakit tropis yang diawali pengujian preklinik terhadap 84 pasien DBD. “Uji klinik penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas pemberian CGF40 dalam penyembuhan penderita DBD serta menilai perbaikan dalam perembesan vaskuler, dengan mengevaluasi penurunan hemokonsentrasi, peningkatan jumlah trombosit dan perbaikan klinik,” paparnya. Sebanyak 42 orang pasien DBD diberi tambahan suplemen CGF40, dan 42 orang pasien lagi tidak. Hasilnya, pasien dengan tambahan CGF40 sembuh lebih cepat dan masa perawatannya rata-rata 2,76 hari. Masa perawatan yang tanpa suplemen CGF40 rata-rata 4,43 hari. Dokter Mira menambahkan, kesembuhan yang lebih cepat ini diduga berkat kandungan asam nukleat dan beberapa vitamin da-

lam CGF40. Asam nukleat merupakan bahan dasar pembentukan antibodi yang berperan sebagai pertahanan tubuh terhadap penyakit. Dosen pengajar di IPB ini mengatakan, dari penelitian sebelumnya diketahui chlorella memiliki protein yang baik, serat, vitamin, dan mineral. Hasil penelitiannya menunjukkan, pemberian CGF40 dapat memperbaiki sistem imun (kebal), detoksifikasi (pembersihan racun), memperbaiki pencernaan, dan jaringan yang rusak, dan memperlambat proses penuaan. Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unud dr. G.N. Indraguna Pinatih, M.Sc. mengatakan, pasien DBD sangat membutuhkan cairan karena terjadi pembuluh darah yang bocor. Pasien disarankan mengonsumsi cairan esotonik yang mengandung elektrolit. Di pasaran banyak dikenal cairan yang biasa dipilih pasien DBD seperti air kelapa muda, air buah, atau jus jambu merah yang dikatakan mengandung flavonoid yang bisa memperbaiki vermedialitas membran. “Suplementasi diperlukan selain cairan untuk mengatasi dehidrasi. Antioksidan juga diperlukan seperti Vitamin C, Vitamin E, dan Karoten. Mungkin saja CGF mengandung bagian ini. Karoten bagian dari klorofil, Vitamin C dan Vitamin E banyak terdapat di buah-buahan, sedangkan air kelapa mengandung mangnesium, kalium, natrium, dan flavonoid antioksidan terdapat di tahu tempe dan bumbu dapur,” jelasnya. Namun, ia mengatakan, tidak bisa membandingkan jambu merah dengan CGF. Ia belum menemukan penelitian klinis khasiat jambu merah. Penelitian CGF atau jambu merah tidak memberikan mekanisme proses bagaimana mereka mampu menaikkan trombosit. “Perlu di-

lakukan penelitian lebih lanjut tentang proses mekanisme mengapa trombosit pasien menjadi meningkat setelah mengonsumsi suplemen ini,” ujarnya. Kandungan Chlorella Dokter Tanto Untung, Head of Health Food Department PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI), mengatakan, sebagai pihak yang turut mendukung penelitian ini, CNI merasa berkewajiban menyosialisasikan penelitian tentang CGF40. Ia mengatakan, pemberian suplemen makanan untuk melengkapi kebutuhan gizi yang baik dalam membantu regenerasi sel yang optimal. Mengutip pernyataan Dr. Michinori Kimura peneliti chlorella dari Jepang, ganggang chlorella telah terbukti kaya devirat asam nukelat DNA/RNA. Chlorella growth factor diketahui potensial mempromosikan pertumbuhan sel lebih cepat melalui mekanisme peningkatan fungsi DNA/RNA. CGF sangat membantu pengobatan penderita demam berdarah, dengan konsep regenerative medicine yaitu melengkapi kebutuhan gizi secara seimbang untuk mengoptimalkan regenerasi sel. CGF mengandung berbagai macam komponen di antaranya yang berkhasiat mengatasi DBD, sekelompok senyawa unik yang hanya terdapat pada nukleus chlorella. CGF sangat kaya asam nukleat dan senyawa lain seperti asam amino, peptida, vitamin, mineral, polisakarida, glikoprotein, dan beta glukan. CGF pertama kali diekstrak dengan elektroforesis menggunakan air panas oleh Dr. Fujimaki awal 1950-an di Tokyo, sekaligus memberi nama CGF karena kemampuannya mendukung pertumbuhan anak-anak sehat dan hewan.

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 11

Satu Menit Kesal

Perlu Waktu 6-8 Jam Meredakannya

S

AYA sudah menikah tujuh tahun, tetapi belum juga mendapatkan momongan. Setelah dicek ke dokter ahli andrologi dan seksiologi saya sempat termangu mendengar penjelasannya. “Tidak ada sperma”. Kalimat itu begitu mengguncang hati saya. Tidak ada harapan lagi dan saya diminta siap-siap mengadopsi anak. Begitu penuturan Erbe Sentanu, pendiri Teknologi Ikhlas dalam acara akbar Regional Convention (RC) 2010 yang digelar PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) dengan tema “Enrich Your Life with CNI”, Minggu (4/7) di Hotel Nikki Denpasar. Pelopor industri kesadaran dan teknologi spiritual di Indonesia ini melanjutkan kisah hidupnya. “Saya tidak mau menyerah. Saya melakukan perenungan yang dalam. Saya percaya Tuhan Mahabesar dan pasti ada kemukjizatan untuk hiKelompok senyawa inilah yang membuat chorella cepat tumbuh dan bereproduksi. CGF larut 100% dalam air dan membuatnya mampu membantu pertumbuhan penyembuhan dan peremajaan tubuh manusia, memperbaiki selsel yang rusak dan merangsang pertumbuhan sel-sel baru dan muda yang menjadikan salah satu makanan paling berkhasiat. CGF juga mampu memerlambat proses penuaan karena kandungan asam nukelatnya yang tinggi. Chlorella organisme sejenis ganggang hijau yang berukuran kecil yang telah ada di bumi 2 miliar tahun lalu yang merupakan sumber kesehatan yang dibutuhkan manusia. Dengan bantuan sinar matahari organisme ini dapat memproduksi nutrisi berlimpah yang bermanfaat bagi manusia. Chlorella mengandung protein 60%, lebih tinggi daripada bahan makanan lain. Tahun 2004 sudah digunakan untuk pengobatan kanker di AS. Dokter Santa, salah sorang peserta mengatakan, kalau memang CGF bisa meningkatkan kesembuhan pasien, mengapa tidak disosialisasikan? Di mana konsumen bisa mendapatkannya, sementara tidak dijual di apotek atau toko obat? Dokter Untung menjelaskan, penelitian ini baru selesai akhir tahun 2009, sehingga baru sekarang disosialisasikan. –ast

Erbe Sentanu

tkh/ast

dup saya. Saya pasrah dan berserah diri dengan hati lapang. Ketika saya periksa lagi ke dokter, dia kaget karena ada perubahan. Dokter sempat bertanya apakah saya pergi ke dukun. Dokter itu sekarang sudah meninggal, tetapi sejak mukjizat itu datang pada saya, kami menjadi sahabat. Kekuatan Ilahi datang dan mampu menembus apa pun. Beberapa bulan kemudian istri saya mengandung, dan melahirkan dengan selamat. Anak saya sekarang sudah berusia 10 tahun. Dia saya anggap anak ajaib yang sudah mengubah hidup saya. Saya mengalami sendiri proses yang nyata bagaimana kepasrahan telah memberikan mukjizat dalam hidup saya,” ungkap Chief Facilitating Servant Katahati Institute ini. Pak Nunu, begitu ia akrab disapa, berbagi cerita kisah hidupnya untuk menggambarkan, betapa pentingnya memelihara hati yang ikhlas. “Kesehatan dan kebahagiaan manusia tergantung hati mereka sendiri,” ujar anggota spiritual computing research group dan heartmath institute yang berbasis di Amerika Serikat ini. Ia mengatakan, tindakan hasil dari pemikiran. Bukan omongan yang kita bicarakan saja, tetapi omongan yang ada dalam hati kita. Contoh, melihat teman membawa mobil bagus Anda langsung berkata “Itu pasti mobil bapaknya.” Dalam hati Anda berkata, “pasti belum lunas”. Melihat rumah teman bagus, langsung Anda berkata “pasti hasil korupsi.” Padahal dalam hati Anda berkata, “Saya juga ingin punya rumah sebagus itu.” Seringkali pikiran-pikiran negatif memengaruhi hati kita. Ketika melihat teman,

atau saudara sedang kesusahan, kita sibuk memberikan kesusahan lain dengan pikiran-pikiran negatif. Ia memberi contoh. Ambil senduk makan. Genggam senduk dengan keras, seperti itu kita memikirkan keinginan kita. Memaksakan hati kita. Bagus seperti keinginan pikiran kita. Padahal, belum tentu baik untuk hati kita. Ada rasa tidak nyaman. Jangan lakukan yang bertentangan dengan hati. Buatlah hati kita plong. Hati seperti tangan terbuka. Hati harus digunakan supaya bekerja, supaya tidak salah paham. Pak Nunu berpandangan, manusia senang sekali mencari kesusahan. Manusia senang sibuk merawat bencana baru. “Tidak enak kalau tidak stres. Tidak enak kalau tidak sakit. Sengaja mencari kesusahan sendiri.” Contoh, sudah tahu sudah menikah, masih memikirkan mantan pacar waktu SMP. Dulu cintanya tidak kesampaian, siapa tahu sekarang kesampaian. Sifat manusia suka sekali menyakiti dirinya sendiri. Di rumah sibuk menonton sinetron. Jangan-jangan suami atau istriku seperti itu, rela dipengaruhi sinetron. Padahal, remote control kita yang pegang. Kita bisa pindah chanel dan tidak membiarkan sinetron itu memengaruhi kita. Satu Menit Kesal Ia mengatakan, satu menit kesal kita akan menyimpan hormon kekesalan dalam waktu yang lama. Kita membutuhkan 6-8 jam untuk meredakan hormon kekesalan itu. Belum lagi kalau sampai ada kekesalan lain yang datang. Kita akan membutuhkan waktu lebih lama lagi menenangkan hati. “Gaya hidup idaman merupakan gaya masa depan. Tidak tiap orang memiliki gaya hidup idaman, walaupun semua orang menginginkannya. Bagaimana mencapainya?” ujar Pak Nunu. Ia menyebutkan, banyak orang sulit membuka hati. Padahal, kata dia, justru yang lebih sulit itu menutup hati. Mengapa kita balikkan? Manusia sering ingin kelihatan lebih menderita dibanding masalah orang lain. Sering mendramatiskan keadaan. Membuat gosip yang lebih canggih seolah-olah kita lebih mende r i t a d a r i p a d a o r a n g l a i n .

Bersambung ke hlm. 12


12

Tokoh

BUDAYA

11 - 17 Juli 2010

DARI DESA KE DESA

Pesan Adiluhung untuk Petani

Pola Integrasi Tanaman-Ternak Jalan Menuju Sukses Perkebunan LAHAN dalam aset usahatani dari tahun ke tahun cenderung mengalami keterbatasan, akibat perubahan fungsi lahan di samping perkembangan penduduk. Kondisi demikian secara langsung akan berdampak terhadap makin sempitnya lahan budidaya yang tersedia, dan memengaruhi sistem produksi yang ditunjukkan rendahnya pendapatan usahatani. Langkah yang harus ditempuh dalam antisipasi sistem usahatani berkelanjutan adalah melakukan usahatani diversifikasi (multikomoditas). Salah satunya, dengan menerapkan sistem teknologi pola intergrasi tanaman dan ternak, yang merupakan salah satu alternatif dalam melakukan efisiensi usaha di areal lahan yang relatif tetap, tetapi mampu meningkatkan produktivitas sehingga dapat meningkatkan nilai tambah berbagai sektor usaha yang saling mendukung . Pola integrasi tanaman dan ternak sangat sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang berkelanjutan sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis Dinas Perkebunan Provinsi Bali. Visinya, terwujudnya perkebunan Bali, efektif, efisien, dan berdaya saing tinggi berdasarkan falsafah Tri Hita Karana yaitu mengedepankan harmoni dan kebersamaan di wilayah perkebunan, yang melandaskan aspek perhayangan, pawongan, dan palemahan secara holistik. Aplikasi konsep keberlanjutan dalam pola integrasi tanaman – ternak secara holistik adalah adanya rantai pemanfaatan antara subsistem dan subsistem lainnya misalnya ternak menghasilkan limbah (limbah padat untuk kompos/pupuk, limbah cair dimanfaatkan untuk biogas/gas untuk skala rumah tangga), dengan demikian lahan menjadi ramah lingkungan, tanaman mengasilkan produksi organik, limbah tanaman (kopi, kakao yang telah diproses untuk pakan ternak), sehingga terdapat pengoptimalan lahan secara efisien dan efektif, dapat meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan nilai tambah dari proses usahatani ramah lingkungan, serta memberikan peluang dalam pengembangan pola integrated farming system di lahan pertanian seperti integrasi tanaman dan ternak. Apa tujuan penerapan pola integrasi secara holistik? Tujuan penerapan pola integrasi secara holistik adalah: mengoptimalkan potensi sumber daya lokal; melindungi dan memperbarui kesuburan lahan dan sumber daya alam; mengurangi penggunaan input yang tidak bisa diperbarui; mengoptimalkan manajemen dan pemanfaatan sumber–sumber on-farm; memberi peluang kesempatam kerja; meningkatkan nilai tambah; meningkatkan pendapatan petani; meningkatkan kualitas air dan produk ramah

lingkungan. Harapan mutu pola integrasi ini ke depan bagaimana? Kondisi yang diinginkan dalam pengembangan pola integrasi ke depan sebagai berikut: Adanya perubahan secara positif dalam adopsi inovasi teknologi baik dari tingkat grass root maupun tingkat stake holder dalam pengelolaannya komoditas-komoditas di subsektor dengan subsektor yang lain dapat diarahkan pada komoditas yang ramah lingkungan secara terpadu dengan konsep sistem holistik. Dengan demikian arah sukses petani perkebunan makin nyata. Dalam pola integrasi secara holistik ada beberapa hal penting yang menyangkut esensi usahatani di antaranya : a) adanya upaya optimalisasi potensi sumber daya lokal, b) mencerminkan prinsip “zero waste” , c) adanya produk food, feed fertilizer dan fuel dalam satu sistem, dan d) adanya nilai tambah yang makin besar dengan bertambahnya rantai integrasi. Perkebunan organik dalam era milinium, era globalisasi, merupakan tantangan yang harus dihadapi, sehingga produk- produk organik memunyai nilai jual dan daya saing tinggi di pasaran dunia. Penerapan pola integrasi tanaman-ternak merupakan salah satu sistem usahatani berkelanjutan yang sangat berperan dalam pengembangan teknologi pertanian dalam rangka memantapkan ketahanan pangan masyarakat dan meningkatakan pendapatan petani sebagai warisan budaya Bali yang telah dukembangkan sampai saat ini. Konsep Tri Hita Karana dengan pola integrasi secara holistik terdapat hubungan yang integratif, yaitu terdapat empat elemen manfaat yang tidak boleh pincang, harus dicapai secara sepadan yaitu manfaat ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, (ramah lingkungan, serta pemanfaatan SDA bijaksana). Sehingga, dalam suatu perencanaan kebijakan pemerintah dapat mencapai tujuan pada masa mendatang dengan hasil yang efisien, survivabilitas, dan sustainabilitas, dengan mengarahkan pada suatu hasil dalam kinerja kebijakan yang akan ditetapkan pada suatu sistem/pola proposional dan profesional. Keberlanjutan usahatani pola integrasi tanaman perkebunan–ternak secara holistik di lahan pertanian layak dan bermanfaat untuk diberlanjutkan petani sehingga berpeluang dan memiliki daya saing tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut dan arah menuju sukses petani pekebun makin nyata. Narasumber: Ir. Made Adi Wahyuni Dinas Perkebunan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 081 337 337 586; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Berolahragalah demi.......................................................................................dari halaman 2 Orang gemuk jangan memilih olahraga lari. Gemuk itu beban. Makanannya ada di tubuh seperti menggendong kulkas ke mana-mana. Olahraga yang bagus seperti aerobik, atau jalan. Namun, sering orang gemuk menurunkan berat badan secara instan. Padahal, menurunkan berat badan seharusnya pelanpelan. Kekurangan cairan tubuh menyebabkan kondisi fisik terganggu. Ketut Tirtayasa

Kurang Berolahraga sering Sakit Saya mantan atlet pelari tahun 1999. Mampu lari 10 kilometer dalam 35 menit. Kalau sekarang mungkin memerlukan waktu 3,5 jam. Apa olahraga yang cocok bagi yang berusia 39 tahun? Berapa jarak yang bisa ditempuh? Apa ada puber kedua? Memang ada atau hanya mitos. Orang sering sakit karena kurang berolahraga. Kurang uang juga bisa sakit. Banyak pikiran dan kalut, malas sekali untuk berolahraga. Banyak uang pikiran saya menjadi tenang dan bersemangat berolahraga. Becik

Kalau Makan keluar Keringat Kalau makan saya banyak keluar keringat. Kalau orang lain bekerja keluar keringat. Dibandingkan orang lain, waktu saya makan panas dan pedas, keringatnya banyak. Saya sering olahraga di Renon tetapi susah keluar keringat. Darmayoga

Bangun Tidur Injak Batu Duri Saya belum pernah merasakan sakit, apalagi opname. Usia saya 65 tahun. Saya masih segar bugar. Tetapi khawatir juga kalau sakit sekali langsung dikubur. Saya rutin berolahraga sejak muda. Baru bangun saya jalan-jalan injak-injak batu duri. Apa perlu ditambahkan lagi olahraga lainnya? Ireng

Asma jangan Lari Cepat Intensitas olahraga bagi orang sakit sangat berbeda dengan orang normal. Misalnya, untuk penyakit diabetes. Penyakit ini menyangkut kadar gula dalam tubuh. Darah perlu dikontrol. Olahraga yang dilakukan yang ringan untuk menjaga kebugaran. Olahraga yang baik jalan kaki, dengan intensitas sekitar 20 menit untuk 2 kilometer. Bagi penderita asma tidak dianjurkan lari cepat. Yang baik untuk penderita asma, olahraga dengan intensitas ringan. Saat kita berolahraga banyak cairan tubuh keluar lewat keringat. Cairan tubuh dikeluarkan untuk mengurangi panas tubuh. Kalau banyak minum kita gampang berkeringat. Kalau saat makan kita berkeringat bukan penyakit. Dosis olahraga yang benar untuk berlari cepat dengan jarak 6 kilometer ditempuh 1 jam. Usia 39 tahun masih muda. Kondisi mestinya masih stabil. Perlu latihan olahraga yang kontinu 3 sampai 5 kali dalam seminggu agar tujuan kebugaran tercapai. Usia 65 tahun masih harus rutin berolahraga. Apakah hidup sehari-hari sudah cukup menyenangkan. Kalau itu sudah

menyenangkan, pertahankan olahraga dan gaya/pola hidup yang baik Bersyukurlah dan nikmati karunia Tuhan. Rumah saya dekat dengan lapangan Renon. Saya sering berkeliling di lapangan Renon. Jogging bagus, apalagi ditambah jalan di atas batu, hasilnya juga bagus. Tirtayasa

Bersepeda Olahraga Komplit Bersepeda harus dikayuh. Olahraga bersepeda kita ukur saat dilakukan di tempat yang datar. Bersepeda olahraga komplit. Menggerakkan otot paha. Bersepeda memberikan variasi hidup sehari-hari. Kita bisa pergi ke tempat lain sembari bersepeda dan mendapatkan suasana lingkungan lain. Memberi kesehatan secara rohani. Bersepeda berkelompok memenuhi tuntutan kehidupan sosial. Olahraga bersepeda juga tidak mahal. Tirtayasa

Aerobik Baik untuk Kebugaran Olahraga yang paling bagus aerobik. Usahakan dilakukan di tempat aman. Jangan berolahraga di pinggir jalan nanti membahayakan. Aerobik sangat murah, gampang dilakukan dan dapat meningkatkan kebugaran. Bagi masyarakat yang sadar, kesehatan itu penting sebagai modal utama bekerja. Bekerja tanpa kebugaran mengakibatkan produktivitas kurang optimal. Kebugaran membuat kita terhindar dari penyakit. Kalau sakit tidak bisa bekerja. Anjuran saya jagalah kebugaran dengan berolahraga. Berobat sangat mahal. Tirtayasa

tkh/gusde

ALKISAH semasa Raja Bali Dalem Waturenggong berkuasa terjadi peperangan dengan Dalem Nusa Penida. Saat itu, Nusa Penida takluk berkat digjaya pasukan yang dikomandani Gusti Patih Jelantik Bogol. Dalem Nusa Penida gugur di medan tempur. Patih Kerajaan Bali yang dikenal sakti itu memiliki senjata pedang yang populer disebut sebagai Ki Pencok Sa’ang. Konon senjata ini ditemukan secara tak sengaja dalam sebilah kayu bakar. “Taring Naga Basuki disebut-sebut ada pada pedang sakti ini,” kisah pimpinan Paguyuban Seni dan Spiritual Majelangu Kerobokan, Denpasar, Agus Adi Santika kepada Koran Tokoh menjelang pentas ngelawang para senimannya mewakili Kabupaten Badung dalam ajang PKB di Art Center Denpasar pekan lalu. Menurut Gus Cupak, panggilan akrab pria nyentrik ini, sebelum mengembuskan napas terakhirnya ternyata Dalem Nusa Penida mengucapkan pastu

yang meminta agar tiap sasih keempat dan keenam kelak tanah Bali akan diserang sarwa mereng marana atau hama tanaman. “Dalem Waturenggong rupanya mendapat petunjuk Ida Peranda Sakti agar saat sasih yang disebutkan tadi diadakan upacara penyucian semua tapakan Ida Bathara (sarana upacara), seperti barong bangkung, barong macan. Ini harus diikuti tradisi umatnya melakukan upacara berjalan mengitari tiap desa adat. Ini cara untuk mengusir hama pertanian yang dikenal sebagai upacara nangluk merana itu,” ujarnya. Singkat cerita, ada tarian sakral yang khusus dipersembahkan saat berlangsung upacara tersebut. Namun, persembahan ini hanya dilakukan enam bulan sekali tiap sasih keempat dan keenam tadi. Kisah tersebut yang menjadi tema persembahan seniman Badung saat tampil dalam ajang PKB pekan lalu. Para seniman yang bernaung di bawah

Atraksi Ngelawang Ki Pencok Sa’ang yang dibawakan seniman Paguyuban Seni dan Spiritual Majelangu Kerobokan di pentas PKB Art Center pekan lalu

Paguyuban Seni dan Spiritual Majelangu Denpasar itu unjuk kebolehan mereka melalui atraksi kesenian Ngelawang Ki Pencok Sa’ang”. “Ada pesan adiluhung yang hendak disampaikan melalui atraksi kesenian ngelawang yang mengangkat cerita pedang sakti Ki Pencok Sa’ang milik Gusti Patih Jelantik itu. Ini ada kaitan dengan pesan

Ngelawang “Ki Pencok Sa’ang” di Art Center Denpasar pelestarian lingkungan, terutama pesan untuk petani agar tetap menjaga tradisi pertanian Bali yang bebas dari ancaman kerusakan akibat ulah manusia. “Ini cocok dengan program Bali Clean and Green yang sedang gencar dikampanyekan Pemerintah Provinsi Bali. Sebelum atraksi ngelewang tersebut dinikmati ratusan pasang mata di arena terbuka itu telah tampil aksi dua seniman topeng. Salah satu senimannya, Pak Kumis, tentu bukan sosok yang asing bagi penggemar seni topeng di Bali TV. “Pak Kumis memang seniman berwatak. Jasanya tidak kecil dalam ikut membesarkan komunitas seniman di Paguyuban Seni dan Spiritual Majelangu,” aku Gus Cupak. —sam

tkh/gusde

Gus Cupak (kaca mata) jelang atraksi seni topeng Pak Kumis yang tampil dengan banyolan khas dan berhasil mengocok perut ratusan penggemarnya saat itu

Hak Cipta...........................................................................................................................................................................dari halaman 1 (Pejabat Pembuat Akta Tanah) yang peduli budaya ini, menganggap urusannya tidak hanya sampai di situ. Bagi Luh Gede Herryani, S.H.,M.Kn., acara pagelaran seni yang digagas dan diprakarsai almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra ini, agenda tahunan Bali yang patut dilanjutkan. Katanya, PKB jangan hanya sebatas karya cipta kemudian dikenal orang dan selesai. Namun, bagaimana kedepannya bisa menopang karya tersebut dari sisi legalitasnya. Berbagai permasalahan dan kendala yang menyertai perlu dicarikan solusinya. “Permasalahan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) kesenian memang belum memasyarakat. Banyak kalangan seniman belum paham hak dan kewajiban terkait HAKI, termasuk tak paham prosedur pendaftaran hak ciptanya,” ujarnya. Harapannya, seniman mau bertanya dan pemerintah mempermudah prosesnya. “Paling tidak, dengan tanda pendaftaran, seniman punya pegangan, sebagai bukti. Sedih melihat pencontek karya bangsa kita mendapatkan lebih baik dari sisi profit maupun penghargaan,” cetusnya. Ada sejumlah implikasi yang bisa muncul jika HAKI tidak diurus. Ia juga menghargai pemerintah telah menunjukkan kepedulian terhadap HAKI dengan mengesahkan UU Hak Cipta dan sejenisnya. Ia tahu pemerintah berupaya terus, termasuk ketika ia mengikuti kunjungan Menbudpar Jero Wacik di Bali. Menbudpar terus mengimbau agar seniman peduli HAKI. Persoalannya, apakah masyarakat mampu mencermati dan mempergunakan UU tersebut dengan baik. Luh De mengatakan, belum lama ia sempat ke suatu kawasan di Johor, Malaysia. Ia melihat jejeran batik, angklung dan berbagai benda suvenir yang sangat dikenalnya. “Penjaganya fasih main angklung dengan lagu yang sudah biasa di telinga, salah satunya Rasa Sayange. Mereka juga lancar bercerita tentang bambu sebagai bahan pembuat angklung. Pohonnya pun disajikan di tempat yang sama. Saya miris, mereka mengatakan semua itu adalah hasil karyanya. Kalaupun ada kemiripan atau kesamaan, alasannya karena kita serumpun,” tutur perempuan yang tengah menuntaskan pendidikan S-3 di Universitas Brawijaya ini. “Saya juga dengar India sekarang piawai membuat kerajinan perak seperti kita. Malah soal harga mereka bisa lebih murah. Khawatirnya, kita hanya jadi akuarium, orang datang melihat dan mencontoh. Kita tak punya lagi kebanggaan sebagai orang Bali. Kasihan leluhur kita susah-susah menciptakan tapi kita seolah membiarkan diambil orang,” imbuhnya. Makanya ia setuju ada PKB yang menampilkan kembali aneka kesenian tradisional Bali juga hasil kerajinannya. “Soal kesenian juga, selama ini banyak kreasi baru muncul, tarian Pendet, Gabor atau Tenun pun jadi tergeser. Ketika kita lupa yang lama, ada pihak lain menggunakan dan mengakui. Jika berlangsung terusmenerus, maka dunia beranggapan, itu kesenian mereka. Bahaya kan?”

ujarnya cemas sembari mengapresiasi penuh, Bu Ayu Pastika yang tanggap dengan situasi ini. “Beliau membangkitkan kembali kecintaan kita dengan langsung bertindak. Begitu juga Bu Bintang Puspayoga dan Bu Selly Mantra mau turun menari. Ini juga akan jadi cermin yang baik bagi generasi muda,” katanya. Luh De menekankan dalam konteks hukum, karya seni ini bagian dari HAKI. Hak yang timbul akibat adanya tindakan kreatif manusia menghasilkan karya inovatif. Kreasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan manusia. Hukum memberikan perlindungan seniman dan karyanya yang lahir dari sebuah proses penciptaan, daya intelektual, karsa, serta rasa. Namun, diakuinya persoalan HAKI tidak sederhana. Nyatanya, kreasi para seniman secara hukum belum dihargai sebagaimana mestinya. Baik oleh masyarakat maupun kalangan seniman sendiri. Penyebabnya di antaranya HAKI sebagai institusi hukum dirasa belum mampu melindungi kepentingan hukum para seniman merasa tidak perlu perlindungan. Mereka lebih memandang keberadaan HAKI hanya dari aspek kepentingan moralitas ketimbang keuntungan ekonomis. Menurutnya penyebab lain, meski seniman tahu karyanya digagahi orang lain tapi tidak berdaya mempertahankan haknya. Selain minimnya pengetahuan mengenai hak

cipta, di sisi lain, penegakan hukum HAKI pun masih jauh dari yang diharapkan. Dikatakannya dari perspektif sosiologi hukum dalam ranah HAKI, kesenian sebagai subsistem dari masyarakat pengguna terdapat tiga komponen yang saling berhubungan dan memengaruhi. Pertama, peraturan perundang-undangan (regulasi) termasuk sistem penegakan hukum yang disiapkan mengemban kepentingan HAKI. Kedua, seniman selaku subjek hukum penyandang hak dan kewajiban atas HAKI. Ketiga, masyarakat penikmat karya para seniman. “Sebagai produk

kebudayaan, HAKI kesenian tidak lepas dari keberadaan budaya hukum suatu bangsa. Maka, membahasnya sebenarnya tidak lepas dari keberadaannya sebagai sistem hukum positif yang berlaku di Indonesia. Mungkin tidak ya, pemerintah bisa proaktif melakukan jemput bola menyosialisasikan, memberikan sertifikat HAKI,” ujar Ketua Persatuan Wanita Olahraga Indonesia (Perwosi) Denpasar ini, yang merasa masih perlu secara berkesinambungan disosialisasikannya berbagai aturan mengenai HAKI kesenian dalam berbagai perwujudannya. —ard

Satu Menit.....................................................dari halaman 11 Kita membuktikan masalah kita lebih berat dari orang lain. Bahasa hati memakai rasa. Rasa yang tidak enak jangan dipelihara. Ketika kita melihat sesuatu tanyakan hati kita. Apakah rasanya enak atau tidak? Kalau tidak enak, hati menjadi tidak nyaman mengapa dipertahankan. Pindahkan, jangan dirawat. Ketika sudah tenang, kita bergerak kembali. Negoisasi dengan hati. Kalau sudah tidak positif, segera berdoa, kembalikan hati saya dalam keadaan damai. Ia mengatakan, menyenangkan hati bukan hal yang mahal. Pagi hari saat baru bangun tidur, lihatlah embun pagi. Gosokkan kaki di embun. Ambil embun taruh di wajah. Bersyukurlah kita bisa menikmatinya.

Untuk bisa hidup bahagia, bagaimana kita mencari kebahagiaan itu di sekitar kita. “Kebaikan bertebaran di sekeliling Anda, asalkan Anda melihatnya dengan hati yang ikhlas. Rasa bahagia tidak bisa dibeli. Hati kita keras tidak terbatas. Ketika hati kita ikhlas, dia mampu menyelesaikan semua masalah dengan baik. Bisakah Anda bahagia, tanpa memiliki sesuatu yang Anda inginkan?” paparnya. Dalam meraih kesuksesan menjalankan bisnis, kata dia, tetap harus melibatkan hati. Ikhlas dalam melakukannya. Hati yang tenang, penuh rasa syukur, sabar agar kita bisa fokus pada tujuan dan yakin meraih kesuksesan. Gaya hidup idaman, artinya lahir dan batin kita sehat. –ast


SURAMADU

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 13

PKL di Kaki Suramadu Ribuan

P

PKL pun dapat Dijadikan Pesona Wisata

EDAGANG kaki lima (PKL) di sekitar kaki jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sisi Madura setahun terakhir makin banyak. Kini, jumlahnya ribuan. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut akan memicu timbulnya masalah seperti terganggunya ketertiban berlalu-lintas, mencoreng keindahan, dan akhirnya menjadi wilayah kumuh. Demikian sorotan Komisi D DPRD Jatim yang membidangi pembangunan. Diungkapkan, yang memiliki otoritas mengembangkan Madura setelah jembatan Suramadu beroperasi adalah Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) yang dibentuk berdasarkan keputusan presiden. Tugas BPWS memfasilitasi agar Pulau Madura menjadi lebih modern termasuk wilayah di sekitar jembatan Suramadu sisi Madura maupun sisi Surabaya. Namun, setelah satu tahun beroperasi tak kunjung ada kegiatan pembangunan lanjutannya. Antara pusat yang diwakili BPWS dan Pemprov Jatim serta pemerintah di kabupaten-kabupaten di Madura terkesan tak sinkron. Dalam perubahan anggaran keuangan 2010, Pemprov Jatim menganggarkan Rp 20 miliar untuk mengelola kawasan Suramadu. Dana itu untuk merapikan dan menertibkan serta merelokasikan PKL di sekitar kaki Jembatan Suramadu sisi Madura. Sebagian besar PKL yang mengais rezeki di situ warga Kampung Karbungoh, Desa Sukolilo Barat II, Kecamatan Labang, Bangkalan. Di situ juga beraktivitas pedagang lintas kota dan kabupaten dari Sampang, Surabaya, dan Jombang. “Seharusnya, pengembangan Suramadu menjadi tanggung jawab BPWS,’’ kata anggota Komisi D DPRD Jatim Agus Maimun, kepada Koran Tokoh. Ia menambahkan, meski Pemprov Jatim masuk dalam dewan pengarah BPWS, tetapi kendali

BPWS seluruhnya di tangan pusat, karena BPWS sebagai badan otoritas bentukan pemerintah pusat. Ia mengungkapkan, Pemprov Jatim mengajukan dana Rp 20 miliar untuk disetujui DPRD Jatim karena tidak ingin melihat kawasan Suramadu amburadul dan terbengkalai akibat tak terurus. Dana tersebut untuk penataan PKL dan membebaskan lahan di sekitar Suramadu. Ia menyayangkan menjamurnya PKL juga belum mendapat perhatian khusus pemerintah Bangkalan. Akibatnya, kompleks PKL terlihat kumuh dan tak teratur. Sebetulnya, kata dia, pemerintah pusat, Pemprov Jatim, Madura, Kota Surabaya, dan BPWS mau mengesampingkan egoisme dan bersedia duduk bersama. Yang terjadi sebaliknya, masing-masing jalan sendiri-sendiri dan terkesan tidak ada koordinasi. PKL, Pesona Wisata Sekretaris Daerah Jatim Rasiyo juga merasakan potensi Pulau Madura belum tergarap sejak beroperasinya jembatan Suramadu. Ia berpandangan, keberadaan jembatan itu belum dimanfaatkan sebagai infrastruktur pendukung pengembangan potensi sumber daya alam khususnya objek wisata yang tersebar di empat kabupaten Pulau Karapan Sapi itu. Padahal jembatan Suramadu dibangun untuk bisa menyulap Madura dari ketertinggalan.

Suasana PKL di sekitar kaki jembatan Suramadu sisi Madura

Jika dimanfaatkan, sebenarnya jembatan Suramadu dapat mendongkrak pendapatan asli daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama lewat kegiatan sektor pariwisata. Banyak objek dan atraksi wisata yang bisa menjadi daya tarik wisatawan. Selain karapan sapi, masih banyak objek wisata yang bisa dijual seperti pantai Slopeng, pantai Lombang, Makam Asta Tinggi, serta kerajinan batik. Ia berharap, Pemkab Bangkalan sebagai wilayah yang ditempati kaki jembatan Suramadu dapat memanfaatkannya dengan menata para PKL di sekitar jalan kaki jembatan. Jika ditertibkan, kaki jembatan Suramadu sisi Madura sepanjang 11 kilometer itu akan lebih indah. “PKL tidak perlu dihilangkan tetapi perlu ada penataan sehingga PKL pun mempunyai pesona atau daya tarik wisatawan yang datang ke Madura. Tampilan mereka bisa dijadikan objek wisata belanja dan kerajinan

Bisnis Isi Ulang tanpa Outlet

Husin dan Muhammad di Kantor Duta Pulsa Sidoarjo SEIRING komunikasi telah menjadi kebutuhan pokok tiap individu, kebutuhan pulsa elektrik maupun vocher isi ulang, menjadi peluang usaha. Di Duta Pulsa, perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengisian pulsa elektrik dan bermarkas di Sidoarjo, Jatim, dengan hanya 1 chip dapat digunakan mengisi pulsa all operator. Owner Duta Pulsa, Husin, menjelaskan, Duta Pulsa ingin memberikan kemudahan agar yang membutuhkan isi ulang pulsa dapat mengisi sendiri tanpa harus keluar rumah atau menghubungi teman yang menjual vocher isi ulang pulsa, baik mengisi nomornya sendiri, teman, maupun keluarga. Jika hanya dipakai mengisi pulsa HP milik sendiri masih mengun-

tungkan; segi waktu lebih cepat, dari segi harga lebih murah. Jika dibuat bisnis isi ulang pulsa tidak harus memiliki counter atau outlet sendiri. Istilahnya, counter berjalan. Syarat untuk bergabung sangat mudah dan tanpa biaya. Yang dibutuhkan hanya satu nomor GSM ditambah satu HP yang digunakan sebagai transaksi. Yang terdaftar jadi member Duta Pulsa akan menerima SMS replay. Surat pemberitahuan nomor kode agen, nomor pin dan passwords agar disimpan jangan sampai dilupakan atau diketahui orang lain. Dapat digunakan mengisi saldo, dengan cara transfer ke rekening bank. ‘’Kami menyediakan empat rekening yakni BCA, Mandiri, BNI, dan BRI. Setelah transfer, 1-2 menit saldo akan terisi,’’ katanya. Biasanya, agen pemula mencoba isi saldo pertama

Rp 50.000 sampai Rp 100.000 untuk belajar mengisi nomornya sendiri dan nomor keluarga. Setelah lancar biasanya dijadikan bisnis isi ulang pulsa dan para agen bisa mengisi saldo jutaan rupiah per hari. Duta Pulsa memiliki market plan seperti multilevel. Para agen bisa mencari member baru dan didaftarkan jadi downline -nya. Tiap transaksi dari downline , para master agent atau uplinenya akan menerima keuntungan. Keuntungan itu ditransfer berupa saldo pada upline -nya, tiap bulan dua kali. Tiap agen yang terdaftar akan mendapat info terbaru mengenai harga terbaru/transaksi per hari sampai per bulan atau bonus dari transaksi downline -nya. Semua itu bisa diakses di webreport . — sby

khas Madura,” katanya. Perlu Investor Adanya tudingan miring terhadap BPWS yang dianggap belum melakukan apa-apa ditepis Ketua Pelaksana BPWS Eddy Purwanto. Ia menyatakan, telah berupaya menjelaskan kepada empat bupati Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Yang semula menolak kini mereka mulai mendukung keberadaan jembatan itu. BPWS sudah membuat rencana untuk membangun kawasan di sekitar jembatan sisi Madura dan sisi timur dengan menyediakan lahan masing-masing 600 hektare. Di Madura, pulau yang memiliki kekayaan minyak terutama gas, sudah disiapkan akan dibangun pelabuhan bertaraf internasional di kawasan Tanjung Bulu dan Tanjung Bumi Pandan, Kabupaten Bangkalan. “Untuk menggarap pelabuhan internasional berikut jalan tol dari Tanjung Bumi ke

akses jalan ke jembatan Suramadu sisi Madura sepanjang 27 kilometer dibutuhkan dana sekitar Rp 10 triliun,’’ kata Eddy Purwanto, kepada Koran Tokoh. Apalagi, Pelabuhan Tanjung Perak saat ini sudah penuh dan dangkal. Kedalamannya tidak lebih dari 9 meter. Demikian juga kedalaman Tanjung Priok Jakarta, hanya 10 meter. Kedalaman pelabuhan internasional yang akan dibangun di Tanjung Bumi direncanakan hingga 12 meter, sehingga kapal besar dapat langsung berlabuh. Jika pembangunan pelabuhan internasional di Bangkalan terwujud, tentunya pembangunan kabupaten lain akan mengikuti. “Diperlukan keterlibatan pihak ketiga/swasta/investor untuk membangun Pulau Madura secara keseluruhan. Paling tidak, dibutuhkan Rp 40 triliun dari pihak ketiga untuk mewujudkan keseluruhan Pulau Madura secara modern,” ujarnya. —sby

SEKITARKITA

Yudisium Program Diploma Unud Program Diploma III FE Unud melepas 276 orang lulusannya dalam acara Yudisium XV Program Diploma III, Kamis (8/7) di Gedung Program Pasca-Sarjana Universitas Udayana. Ketua Program Diploma III FE Unud Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak. mengatakan untuk meningkatkan kualitas lulusannya, Program Diploma III FE Unud sudah menerapkan proses pembelajaran berbasis kompetensi untuk menghasilkan lulusan ahli madya plus (telah memiliki pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan). IPK tertinggi diraih oleh Ni Ketut Nopiani Ardewi, A.Md. (IPK 3,97) dari Program Studi (PS) Akuntansi, Agus Supriadi, A.Md. (IPK 3,84) PS Akuntansi, Shanti Rahayu Sugarda, A.Md. (IPK 3,79) PS Keuangan dan Perbankan, Ni Nyoman Yuni Juwitaristanty, A.Md. (IPK 3,77) PS Keuangan dan Perbankan, dan Ni Putu Eka Puji Yantini, A.Md. (IPK 3,74) PS Perpajakan. —rls


14

Tokoh

LINGKUNGAN

11 - 17 Juli 2010

Bersepeda Sehat sambil Berbisnis

Mengais Rezeki dari Daur Ulang Ban Bekas DAUR ulang ban bekas bukan hanya menjadikan lingkungan bebas limbah. Barang bekas pun dapat dibuat bernilai ekonomi kembali. Contoh, usaha daur ulang ban bekas yang dilakukan Udin di Denpasar. Pria asal Lombok ini, yang dapat menebar inspirasi untuk memberdayarakan kampanye daur ulang barang bekas.

pakai, menurut Udin, hampir semuanya bisa digunakan menjadi barang bernilai ekonomi lagi. Ban bekas kendaraan bermotor tak perlu dibuang jika tak laik pakai. Udin punya cara jitu menjadikan ban-ban itu sumber penghasilan. Namun, Udin hanya menggunakan ban kendaraan roda empat. Sebuah ban kendaraan roda empat yang telah habis seluruh geriginya telah siap di hadapan Udin. Sebuah silet tajam setia

harganya mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Mungkin inilah yang mmebuat konsumen yang berada di status ekonomi pas-pasan lebih senang mencari ban daur ulang,” kata Udin. Tiap hari, ada saja permintaan ban daur ulang darinya. “Tiap hari ada empat hingga lima ban bisa terjual. Saya melayani penjual ban,” katanya. Menurutnya, kategori ban

U

din berhasil men daur ulang ban bekas menjadi barang layak pakai. Usahanya itu dilakoni hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ban yang tak layak

tkh/lik

Usman

Beragam barang hasil daur ulang ban bekas

menemaninya. Dengan penuh kesabaran, ayah tiga anak ini mulai membuat gerigi di permukaan ban. Tak lupa, agar tampilan ban layaknya ban baru, Udin menambahkan semir hitam yang dioleskan diseluruh bodi ban. Ban-ban itu pun siap dipasarkan dengan harga terkangkau. Modal Udin membeli ban bekas memang tak banyak. Per buah ia membeli satu ban bekas Rp 25 ribu. Ia sudah punya pelanggan khusus di beberapa bengkel kendaraan bermotor. Udin mengaku, banban hasil daur ulangnya ia jual Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu per buah. “Jika ban baru

tkh/lik

yang digunakan merupakan ban yang sudah tipis dengan kondisi masih bagus. Jika kondisi ban sudah rusak, Udin menjualnya di salah seorang rekannya Usman yang juga pengrajin ban khusus barangbarang rumah tangga seperti timba, sandal, tempat sampak maupun tali jok. Berbeda dengan Udin yang hanya membutuhkan keterampilan membuat gerigi di kulit ban, Usman harus lebih telaten mengolah ban yang telah rusak menjadi berbagai barangbarang yang layak guna. Ketebalan ban kadang membuat lelaki berusia 50 tahun ini kelelahan. Satu ban

Ketut Teneng

kendaraan roda empat, jika diolah menjadi tempat sampah hanya mampu menghasilkan satu tempat sampah. “Jika dibuat timba bisa menghasilkan dua buah,” katanya. Sebagai bahan baku membuat berbagai barangbarang yang terbuat dari ban, ban bekas ia beli dengan harga cukup terjangkau. “Karena ban sudah tak bisa dipakai sebagai roda kendaraan, saya beli seharga Rp 10 ribu,” katanya. Ban-ban bekas itu diolah Usman menjadi beragam barang seperti bak sampah, timba, tali jok, maupun alas sandal. Barang-barang hasil daur ulang itu pun dijualnya seharga ratarata Rp 5000 hingga Rp 20 ribu. Bahkan, hasil karyanya telah menjadi barang ekspor ke Jepang dan Korea. “Ada salah satu teman yang memesan alas sandal untuk dibawa ke Jepang. Ia memesan hampir setiap bulan,” katanya. Tak sedikit masyarakat yang memakai barang-barang dari bahan ban bekas ini. Alasannya, lebih tahan lama. Usman tak sendiri, di lingkungan tempat tinggalnya, di bilangan Jalan Gatot Subroto Denpasar, banyak yang juga membuka usaha yang sama. Tak salah jika orang menyebut lingkungan tempat tinggal usman dan Udin itu dengan sebutan kampong Ban-ban an. Konon, menurut Usman, berbisnis ban merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya. Ia mengaku sudah 20 tahun menjalankan usaha tersebut. Kini anak-anaknya pun ikut serta membidangi usaha yang sama. —lik

Pulau Bali yang bersih dan hijau tahun 2013. Upaya yang dilakukan menyentuh program peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk mengelola lingkungan secara terpadu. Program ini disertai upaya mendorong peningkatan sikap peduli masyarakat dalam pengelolaan sampah atau limbah skala rumah tangga dengan sistem 3-R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. “Tetapi, upaya tersebut jangan sampai mengabaikan usaha kita bersama mendorong peman-

halaman 1

faatan produk bersih dan enegi yang terbarukan, serta mengembangkan aksi konservasi sumber daya air dan pengendalian lingkungan,” harap Gubernur. Agenda Bali Clean and Green dinilai telah menekankan pentingnya manajemen penanganan sampah atau limbah. “Ini termasuk sampah sehabis upacara di pura. Selama ini, kesadaran umat membuang sampah sarana upacara masih harus terusmenerus mendapatkan perhatian,” katanya. —sam

halaman 1

menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman,” lanjutnya. Upaya pemerintah tersebut memperoleh respons positif kalangan perempuan aktivis Bali. Menurut Dewa Ayu Sri Wigunawati, S.H., S.Sos., M.Si., program pemerintah untuk memperbaiki manajemen pengelolaan sampah merupakan langkah strategis untuk mencitrakan Bali sebagai destinasi wisata yang bersih dan nyaman dikunjungi tamu dan wisatawan. Ini termasuk upaya pemerintah menggagas lahirnya Perda Sampah. “Namun, harus jelas sanksinya, terutama penegakan aturan hukum ini ketika menjadi perda kelak. Jangan sampai ketika jadi perda malah penegakan aturan ini seperti macan ompong,” harap Sekretaris DPD Partai Golkar Bali ini. —sam

I Gde Astika

depan kami mengupayakan penambahan jalur sepeda khususnya terkait lokasi lembaga pendidikan. Kalau nanti sudah ada dananya, kami akan sosialisasikan bersama Sekretariat Bersama Komunitas Sepeda Denpasar (Samas) ke sekolah-sekolah,” tambahnya. Astika mengatakan, sudah melakukan pembahasan soal penyediaan jalur sepeda di beberapa ruas jalan. Namun, pihaknya masih perlu melakukan kajian yang menyeluruh terhadap rencana dimaksud dengan instansi terkait misalnya PU. Untuk ukuran lebar jalur sepeda minimal 1½ meter. Saat ini, kata Astika, lebar jalur sepeda yang sudah ada dua meter. Jadi sudah memenuhi persyaratan. Dengan keadaan Kota Denpasar yang makin padat dan macet, ia berharap masyarakat ikut memikirkan transportasi alternatif yang sehat, ramah lingkungan, dan hemat. —ast.

kemenakan dan seorang anak perempuannya yang masih balita. Gadis kecil berponi itu, duduk manis di boncengan sepeda antik kakeknya. Ia berangkat bersama keluarga dari rumahnya di Sesetan dengan bersepeda menuju Renon. “Meski kadang rutenya jauh, anak saya tak pernah menangis, malah senang,” kata Pratini sembari membelai rambut buah hatinnya itu. Keluarganya rutin bersepeda sehat tiap Minggu sore. Rutenya melintasi wilayah Sesetan hingga Renon. “Jika ada acara fun bike semacam ini, suami dan ayah saya selalu menyemangati untuk ikut,” kata ibu dari A.A. Sagung Sumadhya Pranadi ini. Bersepeda sehat pun dirasakan menjadi hiburan bagi keluarga. Apalagi setelah lelah bersepeda dilanjutkan dengan menyantap makanan favorit bersama keluarga. “Kami biasa mampir ke warung langganan untuk beristirahat sembari makan nasi campur,” katanya. Ayahnya, A.A. Made Suteja, mengaku, kegemaran bersepeda ini berawal dari kesukaannya pada sepeda antik. Tahun 2008, ia bergabung dalam Kelompok Sepeda Antik Margaya (Samar). Bersama kelompoknya ia bersepeda tiap Minggu.

Kini ia menularkan hobi bersepeda kepada anak, menantu, dan cucunya. “Meski usia sudah lanjut, semangat berolahraga sepeda ayah saya tak pernah surut. Walau medannya bergunung-gunung beliau masih mampu,” imbuh Prantini Sari. Selain sepeda tua, Suteja memiliki sepeda lipat dan sepeda gunung yang ia pakai pada medan sulit. Kini ia memiliki 7 sepeda antik yang dipakai secara bergantian. Sehari-hari, Bapak 2 anak ini sibuk merawat sepedasepedanya. Di tiap waktu senggang ia mengotak-atik sepedanya. “Sepeda tua harus rajin dibersihkan agar tak mudah karatan,” katanya. Ia pun tertarik merakit sepeda tua. Dengan membeli suku cadang dari penjualnya. Ada 4 hasil karya rakitannya yang sampai sekarang masih awet. “Ada beberapa yang saya beli dari pemilik sepeda antik,” katanya. Prantini mengaku, kadang cemas jika orangtua laki-lakinya itu harus bersepeda jauh. Hal ini lantaran Suteja pernah mengalami kejadian jatuh dari sepeda dan mengalami luka memar di bagian siku tangan. Tapi ia senang, orangtuanya memiliki kesibukan yang menyenangkan sekaligus menyehatkan di masa tuanya. —tin

A.A. Made Suteja bersama anak, menantu dan cucunya beramai-ramai mengikuti sepeda santai Koran Tokoh beberapa waktu lalu

Menggagas Ranperda............dari

tkh/ast

GERAKAN peduli sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kalangan pers sebagai salah satu komponen penting dalam pembangunan di Bali dinilai telah memberikan atensi serius untuk itu. “Namun, kami dari Humas Pemprov Bali ingin mengajak teman-teman pers untuk terjun langsung dalam aksi peduli sampah,” ujar Kabag. Publikasi dan Dokumentasi I Ketut Teneng. Selama ini spirit gerakan kebersihan lingkungan sudah dilakukan komunitas ini. Aksi kebersihan lingkungan pura di Besakih yang diusung Kelompok Media Bali Post menjadi contoh nyatanya. Lembaga pers terbesar di Pulau Dewata ini bahkan telah memotori pengadaan tempat sampah khusus di berbagai titik di kompleks pura tersebut. —sam

tkh/lik

Kumpulkan Sampah................dari

Gerakkan Mobil jangan Parkir di Lajur Sepeda Pers Peduli Sampah PROGRAM car free day yang digulirkan Pemkot Denpasar disambut baik warga masyarakat. Untuk menjalankan program tersebut telah dibuatkan jalur khusus sepeda di sisi kiri jalur badan jalan raya. Ironisnya, jalur sepeda yang sudah dibuat di beberapa ruas jalan tidak berjalan efektif, karena sebagian jalur sepeda terhalang parkir kendaraan “Jalur yang sudah disiapkan untuk sepeda, masih digunakan parkir kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar I Gde Astika, S.H. Namun, kata Astika, sampai sekarang belum ada sanksi yang diberlakukan bagi kendaraan yang parkir di sana. “Kami hanya mengimbau pemilik kendaraan untuk tidak parkir di jalur sepeda. Tergantung sekarang apa mereka mau atau tidak. Ini merupakan pembelajaran bagi masyarakat agar memprioritaskan pemakai sepeda,” kata Astika. Walaupun car free day yang diberlakukan di wilayah Renon tiap pukul 06 – 11.00 direspons positif, kata Astika, Dinas Perhubungan Kota Denpasar masih melakukan penjagaan. Ia berharap, ke depannya masyarakat makin sadar dengan pemberlakukan car free day sehingga tidak perlu lagi ada penjagaan. Astika mengatakan, jalur sepeda yang sudah ada di Jalan Raya Puputan Renon, Jalan Sugianyar, Jalan Letda. Tantular, Jalan D.I. Penjaitan, Jalan Juanda, Jalan Tjok Agung Tresna, Jalan Moh. Yamin, Jalan Hang Tuah dan Jalan P.B. Sudirman. Dipilihnya jalur sepeda di sepanjang jalan ini, kata Astika, karena lebar badan jalan memungkinkan untuk lajur sepeda. Di samping itu, ruas jalan tersebut selalu padat dan dilewati banyak orang. “Ke

Udin

OLAHRAGA bersepeda bukan hanya membuat tubuh sehat. Kalangan pengusaha menjadi momen ini sebagai tempat menjalin kontak dengan relasi bisnisnya. Ini diakui seorang perempuan pengusaha di Denpasar, A.A. Istri Prantini Sari. Menurutnya, kegiatan bersepeda sering diikutinya. Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga missal ini dapat membuka akses atau jaringan bisnis baru. “Sebagai pengusaha, ajang bersepeda sehat merupakan kesempatan bertemu berolahraga sambil bertemu relasi bisnis. Ini seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air,” ujar penggemar olahraga bersepeda sehat ini. Menurutnya, dirinya kerap bertemu kenalan lama maupun baru tiap mengikuti ajang fun bike. “Kami bertukar kartu nama. Dari situ ada yang tertarik membeli dagangan saya,” kata ibu satu anak yang sehari-hari mengelola usaha butik ini, di sela kegiatan Festival Keluarga Koran Tokoh 2010, Minggu (27/6), di Renon. Prantini Sari mengaku keluarganya termasuk penggemar berat olahraga bersepeda sehat. Ini dibuktikannya saat berlangsung kegiatan bersepeda sehat pagi itu. Meski cuaca mendung, ia nekad datang bersama suami, ayah,

DKP harus......................................dari sampah. Tetapi, masih saja ada yang menyalahkan kami kalau sampah di jalanan berserakan. Aturan waktu pembuangan sampah, pengangkutan sampah sudah ada,” ungkap Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Denpasar I Ketut Wisada, S.E., M.Si. Sampah yang dikelola berdasarkan UU ini terdiri atas sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga, dan sampah spesifik. Sampah rumah tangga berasal dari kegiatan seharihari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga ini berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah spesifik meliputi sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun,

sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah, dan sampah yang timbul secara tidak periodik. Untuk sampah rumah tangga, Wisada menyarankan adanya pemilahan antara yang organik dan anorganik, hasilnya akan lebih baik. Sampah organik berupa dedaunan atau sisa makanan dikumpulkan untuk dijadikan bahan pupuk kompos. Sampah anorganik seperti plastik bisa dikumpulkan untuk dijual pengepul barang bekas. “Kami tidak hanya memberi contoh tetapi sudah menjadi contoh. Semua pegawai di DKP termasuk saya harus bisa memilah sampah. Sampah organik lalu diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ini bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri atau orang lain. Suatu saat saya juga akan sidak ke rumah pegawai untuk melihat pupuk kompos olahan mereka,” tegasnya. —wah

Pacet Hilang............................................................................................................................dari yang licin dan yang menghalangi perjalanan, agar sekembalinya besok kami bisa melewati hutan jelateng di sini dengan aman. Mungkin karena fisik mulai terasa payah, kontrol saya kurang baik. Pada suatu kesempatan punggung tangan saya tiba-tiba terasa sakit luar biasa, terasa seperti tersengat lebah. Saya segera sadar, daun dan bulu jelateng yang tajam baru saja menerobos kaus tangan dan menyentuh kulit tangan saya. Bukan hanya sakit, melainkan sedikit demi sedikit juga mulai terasa panas dan gatal. Sambil mengibas-ibaskan tangan, saya mengikuti saran porter agar tidak menggaruk atau menyentuh bagian tangan yang terasa gatal. Jika digaruk atau disentuh, katanya, gatalnya akan makin menjadi-jadi. Lama-lama rasa gatal dan panas itu berkurang, walaupun sisa-sisa sakit masih terasa hingga dua hari. Tetapi, memang sulit bisa menghindar sepenuhnya dari sengatan jelateng. Dalam perjalanan itu, saya tersengat jelateng lima kali saat mendaki, dan tiga kali saat turun. Mendekati Pos IV kondisi hutan tidak lagi selembab saat menuju Pos III. Pacet-pacet hanya tampak satu dua. Langit sudah mulai tampak dengan leluasa, pohon-pohon besar tidak lagi banyak. Yang mulai tampak, pohonpohon cemara yang tinggi meranggas. Pucukpucuknya menari-nari sambil mengirimkan alunan bunyi hutan yang khas. Kami tiba di Pos IV, pukul 10.30. Di Pos IV di bawah rerimbunan hutan cemara ini kami beristirahat sambil berbagi camilan dan minuman. Seperti halnya pos-pos

sebelumnya, tidak ada penanda seperti layaknya tempat istirahat semacam bangunan. Hutan cemara inilah yang dipakai pertanda para pendaki bahwa inilah Pos IV. Setelah istirahat dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan. Kami sengaja mempercepat langkah agar dapat makan siang di pos V dan terlebih lagi agar kami bisa segera tiba di sekitar kawah Tambora untuk bermalam sebelum hari gelap. Dalam perjalanan menuju Pos V kami masih dihantui hutan jelateng yang lebat. Di tengah tanjakan yang mulai terasa makin tajam, kabut makin sering menggelayut di sekitar kami. Udara terasa makin dingin. Saya mengatur strategi agar tidak cepat kepayahan. Saya melangkah pendek-pendek dan pelan-pelan. Pukul 13.00 kami tiba di Pos V. Di pos ini ada sebuah bekas bangunan semacam pos ronda, tanpa atap, tinggal rangka, yang sering dijadikan penanda bahwa ini tempat peristirahatan para pendaki. Pos ini juga sering dijadikan tempat pendaki sebagai base camp untuk menginap sebelum mencapai puncak. Para pendaki yang memilih bermalam di Pos III biasanya yang melakukan perjalanan seperti kami, 2 malam 3 hari. Yang memilih menginap di Pos V, biasanya yang melakukan perjalanan 1 malam 2 hari. Kami, Tim Tambora Art Moment, memilih menginap di Pos III dan tidak menginap di Pos V, melainkan menginap di sekitar bibir kawah raksasa Tambora dengan target bisa menyaksikan pertanda hari dengan lengkap, matahari bangun esok pagi dan mulai beranjak tidur di senja hari. Sementara para porter memasak di Pos V,

halaman 1

halaman 1

lewat sarana komunikasi seluler saya menghubungi suami dan anak saya di Mataram. Kami bercengkerama sebentar dalam kata-kata. Suami dan anak saya memberi dukungan luar biasa agar saya berhasil menuntaskan perjalanan ini hingga puncak. Komunikasi ini terasa istimewa karena saat itu saya berada di atas ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, di badan gunung api yang pernah meledak dengan dahsyat. Sebelum makan siang siap, suara air sungai membuat saya penasaran ingin menuruninya. Air sungai mengalir di antara batu-batu yang sangat besar berwarna abu-abu muda. Di sekitarnya, tanah dan pasir berwarna hitam legam. Tampaknya inilah muntahan ledakan spektakuler Gunung Tambora hampir dua abad lalu, yang menghancurkan sekaligus mengubur tiga kerajaan di Bima dan Dompu, serta membunuh puluhan ribu manusia. Setengah jam berada di bebatuan ini, membuat saya makin penasaran untuk menyaksikan kawah raksasa yang telah memuntahkan material yang luar biasa banyaknya ini. Langit mulai terlihat mendung. Cuaca tibatiba berubah gelap. Kabut terus menebal. Udara makin dingin. Cuaca berubah tiap saat. Saya bergegas naik kembali ke Pos V untuk makan siang. Melihat cuaca yang kurang bershabat, kami segera meninggalkan Pos V, menuju kawah Tambora. Perjalanan mencapai kawah kami perkirakan 3,5 jam. Pukul 14.00 kami tinggalkan Pos V di tengah kabut tebal yang terus mengepung. –nik


TRENDI

Menikmati Sari Tebu Murni yang Menyegarkan M

enyebut nama tebu, hal pertama yang teringat adalah gula pasir. Kalau menyebut sari tebu murni, apa yang terbayang. “Pastinya segelas minuman yang betul-betul asli, tanpa campuran air, tanpa pemanis buatan, dan tanpa pengawet. Rasanya dijamin enak dan sangat menyegarkan,” ujar Imam, penjaga gerai Sari Tebu Murni di kawasan Jalan Raya Sesetan, Denpasar. Bagi orang yang tinggal di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Jawa sudah tahu tentang sari tebu ini. Sebab, di kota-kota tersebut selain diolah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat berupa gula, sari tebu juga sudah tak asing dinikmati secara langsung dengan cara menggiling kemudian langsung mengambil sarinya seperti yang dijualnya. Rupanya sari tebu dengan rasa original ini sudah menjadi minuman populer sejak lama. Namun, di kota Denpasar, penjaja minuman ini baru muncul. Sebelumnya, es sari tebu, begitulah kebanyakan orang menyebutnya, belum terlihat di jalanan. Di pertengahan tahun 2009 mulai bermunculan gerobak kaki lima dengan nama ‘Sari Tebu Murni’ lengkap dengan tendanya. Menurut Imam yang masih kerabat pemilik usaha yang kini tengah pulang ke Jawa ini, usaha minuman alami seperti ini makin ramai dilirik orang. Pemilik usaha yang dijaganya tersebut menyampaikan mencari lokasi untuk berjualan es sari tebu tersebut tidaklah sulit. Kebanyakan mereka berjualan di pinggir jalan yang ramai. Usahanya dijalankan dengan sistem waralaba atau bagi hasil. Hal ini membuktikan peluang usaha ini

Rombong penjual sari tebu

cukup besar sekaligus tantangan untuk dijalankannya. Walaupun untuk mendapatkan pasokan batang tebu sebagai bahan baku harus didatangkan langsung dari Tulungagung. Segelas air tebu diperoleh dari empat sampai lima ruas batang. “Setelah digiling ini, dituangkan di gelas dan langsung diminum. Rasa manisnya asli, tidak dicampur air, tidak pakai pemanis buatan apalagi pengawet. Makanya orang-orang berdatangan. Pokoknya respons masyarakat sini cukup bagus,” tandasnya. “Sari Tebu Murni” yang dijalankan Imam ini tiap harinya mampu terjual 75 hingga 80 gelas, dengan harga per gelas Rp 4.000,-. “Tergantung cuaca. Kalau terang dan panas kami mampu menjual sampai 80 gelas. Kalau seharian mendung paling kami menghabiskan 20 gelas saja. Kami juga tetap menjaga kebersihannya. Seperti mengalirnya perasan air tebu, ini tertutup dari debu,” terangnya dengan dialek Jawa yang medok. Untuk menjadikan lebih segar ia hanya menambahkan

dengan beberapa potong es batu. “Tetapi, ada juga pembeli yang suka sedikit variasi dengan menambahkan perasan lemon,” cetusnya. Ia juga mengatakan tidak semua tebu digiling menghasilkan rasa manis yang enak untuk diminum. Tebu yang digunakannya adalah tebu hijau pilihan yang rasanya paling manis. Tebu ini bisa bertahan dua mingguan jika belum dikupas. “Kami memang mendapat pasokan langsung dari Jawa, karena di sini tidak ada. Kalau di Jawa ampasnya ini malah ada yang beli,” ujarnya. Ruri, seorang pedagang “Sari Tebu Murni” lainnya, yang sempat disambangi Koran Tokoh di kawasan Jalan Diponegoro, Denpasar menuturkan minuman segar ini proses pembuatannya sangat sederhana. “Mudah sekali caranya. Hanya dengan menggiling atau memeras batang tebu hingga keluar sarinya,” katanya. Ia juga mengatakan perlengkapan yang digunakan pun tidak banyak, antara lain mesin penggiling atau peme-

ras tebu, termos es untuk menyimpan potongan batang tebu, es batu serta gelas plastik dan sedotan. “O,ya ada juga pisau atau golok untuk memotong serta mengupas tebu,”katanya tersenyum sambil memperlihatkan batang tebu yang awalnya di kupas dan dibelah menjadi dua bagian. Setelah dicuci, dimasukan ke dalam alat penggiling. Mesin itulah yang memeras air tebu hingga hanya tertinggal ampasnya. Dua orang penikmat es tebu, Okky dan Putu Dyva, yang tengah menyeruput kesegaran es tebu di gerai Ruri mengatakan cukup sering datang untuk mengomsumsinya. Kedua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana ini mengaku saat pulang kuliah sengaja menyempatkan diri singgah dan minum segelas sari tebu. Menurut Putu Dyva yang mengatakan dirinya sangat menggemari tebu sejak kecil ini, selain dipastikan menghilangkan rasa hausnya, ia menikmati rasa manis yang paling pas di tempat tersebut banding tempat lain. Katanya lagi, sari tebu di Indonesia, malah secara umum manisnya lebih enak ketimbang yang ada di Singapura. “Sewaktu berkunjung ke Singapura, saya sengaja mencari minuman sari tebu dan mencobanya. Rasa manisnya tidak seenak di sini,” katanya. Ditempat yang sama serombongan lelaki paruh baya yang juga membeli sari tebu sempat berkomentar kalau bisnis ini mudah, simpel dan tidak perlu keahlian khusus. Selain risiko membuka usaha ini juga tergolong kecil, karena bahan baku tebu cukup tahan lama. Untuk saat ini persaingan dalam usaha ini juga belum terlalu ketat. Untuk di kota Denpasar saja masih banyak lokasi strategis yang belum ditempati penjual minuman ini. —ard

11 - 17 Juli 2010 Tokoh 15

Tebu sebagai Sumber Kalori

S

ari tebu murni, tampaknya menjadi salah satu jenis usaha waralaba yang saat ini tengah naik daun. Minuman tebu yang segar dan manis juga tengah digandrungi masyarakat di Bali. Menurut Ida Ayu Eka Padmiari, S.K.M., M.Kes., minuman sejenis ini sejak beberapa tahun lalu, ketika dirinya masih kuliah di Jawa Timur sudah banyak. Saat ini usaha sejenis tampaknya bakal booming di Bali.” Barangkali sekarang ini bisa dibilang lagi demam minum sari tebu. Seperti beberapa waktu lalu sempat juga ada tren minuman dari mengkudu,” katanya. Ahli gizi ini mengatakan tebu ini sumber kalori. Memilik kandungan bernama sakaran yang kalau di proses akan menjadi sukrosa (gula). Zat ini bagus untuk tubuh sebelum diolah, berupa air tebunya. Tebu yang digiling tanpa campuran air, yang 100 CC atau ½ gelas standar mengandung 36 kalori. “Jika ingin mengonsumsi sari tebu murni ini, silakan. Jangan berlebihan, meski dia sumber kalori bukan berarti harus minum terus menerus. Tidak demikian, karena tetap kandungannya gula, meskipun gula tebu,” cetusnya. Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini menekankan selain sumber kalori tidak ada kandungan khusus lainnya, selain rasanya enak. “Akan makin segar jika ditambah es. Tetapi, ingat minuman ini bukan dijadikan bahan makanan utama. Sifatnya sebagai tambahan mesti nikmati selang-seling dengan minuman lain. Sebab, tidak ada satu bahan makan atau minuman yang sempurna

dikonsumsi satu saja, semua saling melengkapi,” katanya. Kalaupun saat minum ditambahkan air dingin es batu, menurutnya tidak masalah sebab tidak akan memengaruhi komposisinya. “Justru air panas yang memecah komposisinya. Berbeda dengan air kelapa yang adalah sumber natrium dan kalium. Jika memilih minuman, tentu harus diketahui dulu kondisinya. Tergantung apa kekurangan atau kebutuhan tubuhnya. Semua tergantung kondisi orangnya,”cetusnya. Ia mengatakan paling aman minum segelas sehari. Sebab, kita biasanya masih akan makan dan minum yang lainnya juga. Ia pun mengemukakan satu contoh ketika seseorang merasakan capek. “Ini berarti metabolisme dalam tubuhnya menurun. Setelah dimasukkan sesuatu yang mengandung energi atau kalori, akan terasa metabolisme kembali berjalan. Seperti mobil yang kehabisan bensin, dipastikan mati. Setelah diisi kembali akan mulai panas dan bergerak kembali. Kalau kebetulan seharian karena sesuatu tidak sempat makan, kemudian minum sari tebu, jelas segera terasa manfaatnya, sebagai sumber energi dia langsung bisa dimetabolisme dalam tubuh, reakasinya cepat seperti madu tak perlu pengolahan lama,” tuturnya. Perihal tebu dapat membersihkan gigi, ia mengatakan sebenarnya lebih kepada fungsi seratnya. Semua serat bisa membersihkan gigi. “Hanya, untuk tebu ini, dulu kita mengonsumsinya langsung menggigit sendiri. Begitu airnya habis dihisap, sekalian ampasnya langsung digunakan menggosok gigi,” kata-

Mengatasi Krisis KRISIS ekonomi global ditakuti banyak kalangan. Kita boleh saja khawatir, asalkan tidak berlebihan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi dampak krisis tersebut terhadap keluarga: 1. Pahami perbedaan antara yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Rencanakan kegiatan belanja hanya untuk hal yang benar-benar dibutuhkan. 2. Hindari utang yang bersifat konsumtif dan upayakan bisa melunasi utang lama. 3. Simpan uang ekstra untuk dana darurat sehingga terhindar dari kesulitan keuangan yang datangnya mendadak. 4. Mengelola keuangan keluarga menjadi hal terpenting dan kesampingkan faktor

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik. Yth. Ibu Agung Saya karyawati swasta, usia 25 tahun. Dalam penampilan sehari-hari saya dituntut untuk menggunakan make-up. Yang menjadi masalah adalah saya kurang terampil dalam membentuk alis saya yang lebat dan bentuk cuping hidung yang besar. Mohon bantuan Ibu, bagaimana cara mengatasi masalah tersebut, agar hasil make-up saya dapat terlihat lebih baik. Terima kasih. Eka, Ubud Yth. Adik Eka Alis merupakan hal pertama yang harus dibentuk dalam make-up mata Karena tiap goresan dan bentuknya dapat menentukan kesan mata secara keseluruhan. Goresan yang tegas dapat memberi kesan ekspresi mata tajam, sementara goresan yang halus dapat memberikan kesan mata lebih lembut. Ciri-ciri alis ideal adalah letak antar kedua alis tidak terlalu jauh atau terlalu dekat, alis membentuk busur indah, pertumbuhan bulu merata ke luar, bulu alis tumbuh tepat di atas tulang alis. Untuk mendapatkan bentuk alis yang ideal dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu: 1. Langkah pertama adalah pembentukan pangkal alis. 2. Langkah kedua adalah pembentukan busur alis. Untuk bentuk hidung Adik yang bercuping besar, pangkal alis dibentuk dengan saling dijauhkan sekitar ½ -1 cm dari pangkal alis asli. Makin besar cuping, makin jauh jarak antar pangkal alis. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kesan melebar dari pangkal alis ke ujung cuping. Dengan demikian cuping hidung akan terkesan lebih kecil. Setelah mendapatkan bentuk pangkal yang ideal, barulah bagian busur (lengkungan) alis yang dibentuk. Teknik membentuk busur yang indah harus disesuaikan dengan tulang pelipis dan bentuk wajah. Langkahnya sebagai berikut: a.Cari titik ekspresi yang paling tepat bagi alis dengan melakukan penarikan dengan pada tiga titik alis, yaitu bagian pangkal, puncak dan ujung alis. b. Amati pada titik manakah ekspresi alis terlihat paling luwes. Setelah titik ditemukan, lakukan pencukuran bulu alis di sekitar titik yang dinilai paling luwes tersebut. Usahakan mencukur alis di bagian bawah saja sehingga terbentuk puncak alis yang melengkung indah. Sempurnakan tampilan alis dengan menggunakan pensil alis, pastikan ujung alis sesuai dengan tulang pelipis dan bentuk wajah. Selamatmencoba.

gengsi. 5. Ajarkan kepada anak untuk menghargai uang sejak kecil. Pilah barang apa yang memang menjadi kebutuhannya. Untuk dapat mencapai hal yang terbaik dalam mengatasi krisis diperlukan keterbukaan dan kerja sama suami istri sehingga mampu menciptakan keluarga yang mampu menyeimbangkan penghasilan dan tetap menikmati hidup dengan baik. —ast Kiriman Ni Putu Oka Dian Andayani, S.E. Guru SMP Negeri 5 Tabanan Jalan Raya Yeh Gangga, Sudimara, Tabanan

Ida Ayu Eka Padmiari

nya tersenyum. Untuk semua pembaca Koran Tokoh, selaku ahli gizi ia mengingatkan kalau sesuatu yang berlebihan pasti hasilnya tidak akan baik. Termasuk jika berlebihan mengonsumsi gula. Risiko diabetes, penurunan fungsi jantung hingga obesitas akan sangat tinggi. Ia mengatakan konsumsi gula per hari sebaiknya tidak lebih dari enam sendok teh. Gula sangat dibutuhkan tubuh tetapi bukan berarti mengurangi konsumsinya secara ekstrim. Sarannya adalah mengontrol konsumsi gula mulai saat ini dengan cara berikut. Pertama, hati-hati dengan label fat-free. Tidak selalu makanan berlabel ini sehat. Meski tidak mengandung lemak, bukan berarti tidak mengandung kalori tinggi. Karena bebas lemak kemungkinan besar kandungan gulanya sangat tinggi. Untuk itu lebih hati-hati dalam membaca label makanan. Kedua, kontrol konsumsi pemanis buatan. Meski lebih sehat dari gula tapi dalam jangka pendek, karena dapat meningkatkan selera makan makanan manis dan karbohidrat. Jangan terlalu sering mengonsumsinya. Cobalah menggantikan dengan madu. Ketiga, hindari konsumsi soda dan jus dalam kemasan. Gula cair dalam kandungan soda dan jus mencapai 22 sendok teh. Lebih baik membuat jus sendiri dari buah yang manis hingga tidak perlu menambahkan gula.Keempat, jangan selalu menambahkan gula pada makanan dan minuman, sebelum mencoba.Nikmati dulu rasa aslinya. Langsung menambahkan gula apalagi dalam jumlah banyak akan menjadi kebiasaan. Tidak hanya pada kebiasaan makanan dan minum tetapi juga pada lidah. Kelima, pilih pemanis alami. Saat ingin ngemil makanan manis, cobalah cari buahan-buahan yang manis. Rasa manis alami dari buah membuat hasrat pada makanan manis lebih terpenuhi daripada mengonsumsi kue atau minuman manis seperti sirup. —ard

Keluarga paling Tinggi di Dunia Keluarga Wilco Van KleefBolton selalu menjadi perhatian banyak orang di mana pun mereka berada. Orang memandang mereka, antara takjub, heran, juga aneh. Maklum saja, keluarga ini tinggi tubuhnya di atas rata-rata. Tak mengherankan jika muncul julukan ‘keluarga raksasa’ untuk menyebut keluarga Wilco. Awalnya mereka sempat jengah namun lama kelamaan mereka menjadi terbiasa menerimanya. Apalagi Guinness World Record telah memberi penghargaan berupa pencatatan rekor sebagai pasangan—Wilco dan Keisha, istrinya— tertinggi di dunia. Dan, agaknya rekor dunia ini akan bertambah menjadi keluarga tertinggi di dunia, seiring dengan perkembangan tinggi kedua anaknya, Lucas (4 tahun) dan Eva (2 tahun). Tinggi pasangan ini bila digabungkan menjadi 13 kaki 5 inci atau sekitar 4 meter lebih. Rinciannya, tinggi Wilco 7 kaki (2,1 m) dan Keisha 6,5 kaki (1,97 m). Sementara dua anak mereka diperkirakan akan mengikuti jejak kedua orangtuanya. Tinggi Lukas yang berusia 4 tahun sama dengan bocah usia 7 tahun, mencapai 1 meter lebih, sedang adiknya, Eva yang baru berusia 2 tahun, tingginya seperti bocah usia 3 tahun, yakni, 0,9 meter atau hampir mendekati 1 meter. Uniknya, Wilco dan keluarganya tidak melakukan penyesuaian terhadap perlengkapan rumah tangganya. Pintu, misalnya, dia tetap membuatnya dengan ukuran standar, begitu juga kursi bahkan tempat tidur pun, mereka tidak membeli ukuran king size. Akibatnya, dengan

tempat tidur ukuran standar, Wilco dan istrinya, tidur dengan kaki menjuntai. Wilco mengaku, meski orang kerap memandangnya aneh tapi dirinya merasa beruntung memiliki tinggi badan di atas rata-rata, setidaknya memudahkan dia dalam melakukan pekerjaannya. Wilco bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah sekolah, Barking dan Dagenham di Essex. “Dengan tinggi seperti ini, saya jadi mudah mengawasi siswa, juga memisahkan mereka jika mereka berkelahi,” ucap pria 29 tahun yang oleh para murid kerap dibandingkan dengan tinggi badan pesepak bola terkenal Inggris, Peter Crouch. “Kalau saya bisa bermain bola, pasti saya sudah seperti dia (Peter Crouch). Dengan kaki saya yang panjangnya 40 inci (1 meter lebih), saya bisa lebih cepat dibanding orang lain,” tambahnya. Meski demikian, Wilco mengaku, ia memiliki masalah dengan kakinya yang sulit mencari sepatu yang pas dan cocok. Jarang tokotoko menjual sepatu berukuran ekstra, sehingga terpaksa dia harus memesan, atau mencarinya lewat situs. “Saya terpaksa mencari di situs yang khusus menjual perlengkapan pemain basket Amerika. Saya harus memesannya untuk ukuran 15,” tambahnya. Lain lagi dengan persoalan yang dialami Keisha, 31 tahun, istri Wilco. Masalah yang mengganggunya adalah kesulitan menemukan baju dengan ukuran yang pas. Begitu juga sepatu dengan ukuran 12. “Selama ini saya menggunakan baju ukuran normal, kemeja, karena hanya itulah yang mudah didapat.” Diakuinya, tinggi badan mereka menimbulkan banyak masalah pada awalnya, namun sejak setahun lalu

hal tersebut sudah dapat diatasi. “Tinggi badan kami sudah mendapat pengakuan, kini kami tidak mendapati masalah seperti naik pesawat terbang, Kalau dulu, kesulitan jika naik pesawat, karena tidak ada tempat untuk menaruh kaki. Kabin pesawat dirancang standar untuk ukuran penumpang biasa, sehingga menyulitkan menaruh kaki,” jelas Keisha. Keisha bekerja di toko. Tinggi badannya yang istimewa membuatnya tidak membutuhkan tangga jika ingin mencapai rakrak paling tinggi. Keluarga Wilco Van Kleef-Bolton Wilco bercerita, ketika usianya 10 tahun, orangtua- menjadi bahan tertawaan. Hal nya membawa dirinya ke dokter yang sama juga dialami Keisha spesialis karena melihat per- yang terpaksa tidak menggunatumbuhan tinggi badannya sangat kan sepatu atau sandal berhak cepat. Ketika itu tingginya telah tinggi yang digemari remaja saat mencapai 1,7 meter, lebih dari itu. ukuran rata-rata anak 10 tahun di Hal lain yang cukup unik Inggris. Orangtuanya khawatir adalah pertemuan pasangan ini pertumbuhannya yang terlalu cepat yang berawal dari sebuah iklan akan bermasalah di kemudian hari. di situs yang mencari pasangan “Lalu dokter memberi saya untuk acara lomba dansa orangsuntikan hormon untuk memper- orang tinggi. “Saya merespons lambat tinggi badan saya. Dengan iklan tersebut dan katakan, terapi tersebut, pada usia 16 laju tinggi saya 7 kaki, apakah pertumbuhan saya melambat,” cukup?” Tutur Wilco. Keunikujarnya. an lainnya adalah saat Keisha Diakuinya, pada awalnya, ia hamil. Tidak ada ukuran baju sempat merasa malu karena paling hamil yang sesuai sehingga ia tinggi di sekolah. Teman-teman terpaksa memakai pakaian pria meledeknya terus menerus, mem- berukuran besar untuk itu. buatnya tertekan karena kerap —dia/dailymail


16

Tokoh

11 - 17 Juli 2010

PROMO


tkh_600_xi__11-17_juli_2010