Issuu on Google+

Ni Wayan Agek Parwati Asih Pejuang Petani Jatiluwih Pelayanan

Pendidikan dan Penyegaran Jurnalistik di bawah instruktur pimpinan wartawan senior Widminarko berlangsung di Denpasar, Agustus 2010. Informasinya baca di Koran Tokoh mulai edisi 599 Minggu depan

WANITA ini seorang pejuang. Pejuang bagi kaum petani di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Kehadirannya di tengah lingkungan petani beras merah di Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, khususnya, membawa perubahan cukup besar. Petani menjadi lebih berdaya dan terangkat taraf hidupnya dengan peran dan perjuangan wanita asal Filipina ini. Bu Grace, yang menyandang predikat Insinyur Kimia ini, namanya makin melambung berkat kegigihannya melestarikan beras merah Jatiluwih. Kini, beras merah organik Jatiluwih sudah dikenal di

Grace M. Tarjoto mancanegara seperti Filipina, Finlandia, Singapura, Dubai, dan Amerika Serikat. Berkat perjuangan Grace, beras merah Jatiluwih go international. Mengapa wanita mapan dan berpendidikan tinggi ini rela menghabiskan waktunya sebagai petani yang justru dalam era kekinian profesi ini makin ditinggalkan? Bersambung ke halaman 8

Potret Keluarga Made Mangku Pastika

“Keluarga, Basis Kehidupan Saya� KELUARGA menempati posisi istimewa dalam perjalanan hidup Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Anak transmigran Bali asal Buleleng ini meyakini peran keluarga ikut menentukan tiap jejak perjalanan kariernya hingga dipercaya menjabat orang nomor satu di Pulau Dewata. “Keluarga merupakan basis kehidupan saya. Keluarga pun seharusnya menjadi basis kehidupan kita. Ini jika kita menyadari betapa tkh/net penting peran keluarga bagi Mangku Pastika dan Ny. Ayu Pastika perjalanan hidup tiap orang,� ujarnya dalam percakapan khusus dengan saya bisa mencapai kehidupan Koran Tokoh di tengah kesibukan menyambut lebih baik. Jadi terasa sekali kunjungan kerja wakil rakyat dari Komisi VI DPR di manisnya setelah melalui Gedung Wiswasabha Kantor Gubernur Bali. pengalaman yang pahit-pahit,�

P

otret mahligai ke bawah, dari kehidupan yang hidupan rumah sederhana, lalu lambat-laun tangganya dilukis- meningkat. Setelah itu baru kan dirajut bersama Ny. Ayu Pastika sejak anak tangga BERITA TERKAIT terbawah. “Saya dan istri serta HALAMAN 4 anak-anak memulainya dari

Pengantar Redaksi: Koran Tokoh menyajikan laporan spesial menyambut peringatan Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2010. Selain kegiatan tahunan Festival Keluarga yang digelar Minggu (27/ 6) di Parkir Timur Lapangan Puputan Margarana Renon, sajian laporan spesial yang berkaitan dengan momen tersebut disuguhkan dalam edisi kali ini. Laporan utama menampilkan sekelumit kisah menarik di balik perjalanan potret kehidupan keluarga Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ny. Ayu Pastika, dilengkapi sajian di halaman 1 maupun halaman 4, serta edisi Minggu depan.

keluarga polisi. Saat hendak menikah dengan saya yang tamatan Akabri polisi dulu, calon istri saya kan tentu tidak merasa asing lagi,� tutur mantan kapolda Papua dan kapolda Bali ini. Saat memulai tugasnya, Mangku Pastika berdinas di kesatuan Brimob. Jatah sepetak ruangan di asrama anggota pasukan khusus Polri itu menjadi kamar tumpangannya. Saat itu, Mangku Pastika sudah menjalin hubungan asmara dengan wanita yang kemudian menjadi pendamping hidupnya itu. Ujungnya, Mangku dan Ayu akhirnya berikrar untuk segera naik ke pelaminan.

ujarnya. Mangku Pastika menuturkan. istrinya, Ny. Ayu Pastika,  Bersambung ke halaman 8 anak seorang polisi. Kakak kandungnya juga seorang anggota Bhayangkara. Begitu pula, ipar ibu beranak tiga ini. “Jadi, keluarga besar istri saya

Ribuan Lintah Siap Mengisap Darah

tak Terjadwal DULU, citra guru Bimbingan dan Konseling (BK) seakan negatif. Guru BK dicerminkan sebagai guru yang galak dan ditugaskan menghukum siswa yang melakukan pelanggaran. Lebih singkatnya, guru BK adalah gurunya siswa bermasalah. Tetapi, itu dulu. Figur perempuan satu ini mampu menampik jauh gambaran tersebut. Ia berhasil mencapai tolok ukur keberhasilan guru BK, dengan pengakuan terhadap kompetensinya, yaitu ketika ia mendapat kepercayaan siswa yang memanfaatkan layanannya. Modal menjadi guru BK baginya adalah kecerdasan, mampu mengerti dan dapat menerima orang lain. Selain itu, harus menunjukkan minat yang besar terhadap orang lain, mampu  Bersambung ke halaman 12

Rencanakan sejak di Ranjang BANYAK ibu hamil asyik menonton sinteron televisi yang bertema kekerasan. Padahal, ada efek psikologisnya bagi janin dalam kandungan. “Anak yang lahir kelak bisa memiliki sifat dan perilaku yang tidak diinginkan,� jelas ahli agama Hindu Prof. I Made Titib, Ph.D. Untuk mendapatkan anak suputra atau anak berbudi pekerti luhur ada resepnya dilihat dari kacamata ajaran Hindu. Resep ini harus diterapkan sejak suami dan istri sah berhubungan seks di ranjang cinta. “Ini penting direncanakan saat suami dan istri berhubungan badan,� jelasnya. Dalam kitab Manavadharmasstra III.40,50 dikatakan,

Tiap Hari Ber-Hello Darling

KELUARGA pengusaha pariwisata Dewi Aeschlimann dan Martin Aeschlimann sudah 15 tahun menjalin harmoni berumah tangga. Namun, perempuan asal Buleleng ini sempat terbakar Mendaki api cemburu saat mulai menjalin asmara dengan Martin Puncak Tambora Aeschlimann, lelaki bule berdarah Swiss itu. “Tetapi, saya akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan budaya pergaulannya,â€? ujar konsultan manajemen bernama lengkap Ni Putu Suandewi, 8 S.Sos., M.M. ini. Ihwal cerita itu bermula saat Martin menemani sejumlah JALAN terasa amat pansobatnya asal Swiss yang pelesir ke Bali. Semua sahabat pria jang. Pendakian yang menanjak asing yang sempat dipercaya menjadi general manager di juga mulai terasa. Satu jam mensejumlah hotel berbintang di Eropa dan Asia itu kebetulan kaum jelang Pos I, jalan yang kami hawa. Ketika mereka tiba di Bali, Martin menemani para sobat tempuh penuh tanjakan. Akhirbulenya tadi jalan-jalan. “Saat itu saya tidak ikut. Dia jalan-jalan nya kami tiba di Pos I sekitar bareng teman-teman pukul 11.00. Itu berarti setelah cewek dari Swiss terkami menempuh perjalanan sebut. Wah‌tahu senempat jam dari Dusun Pandiri perasaan saya waktu casila. Di Pos I kami berIstirahat sejenak saat menuju Pos II itu‌â€? ungkapnya. istirahat. Sayang, pos-pos di Namun, itu pengalasepanjang pendakian ini, se- dimanfaatkan untuk tempat beristirahat untuk menikmati man berharga. Dewi kadar sebagai penanda. Di pos- beristirahat. Pos I hanya di- minuman dan camilan. akhirnya menyadari pos ini tidak ada tempat atau tandai suara gemericik aliran  Bersambung ke halaman 8 perbedaan tradisi perbangunan layak yang bisa sungai di sekitarnya. Kami gaulan masyarakat kita dan orang Barat. “Kalau Berlangganan Koran Tokoh orang Barat kan hal biasa Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim menemani teman-teman lawan jenisnya jalan6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim jalan. Pergaulan mereka Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414

Bersambung ke halaman 12

Dewi dan Martin Aeschlimann

Resep Melahirkan Anak Suputra

setelah masa menstruasi atau setelah hari ke-5 sampai ke-12. Dalam Ayurweda dikatakan, jika suami istri melakukan hubungan badan di antara dua belas hari sejak selesai menstruasi, maka anak yang akan lahir sempurna, sehat serta bijaksana. Dalam kitab Mahabarata disebutkan, Yudistira pernah diuji dengan sebuah pertanyaan yang berbunyi, orang yang bagaimana disebut bahagia? Yudistira menjawab, orang yang bisa memasak tiap hari, rukun dalam keluarga, dan tidak Prof.Titib memiliki utang. saat yang paling cocok Lalu, apakah Pandawa itu melakukan hubungan suami keluarga sukinah? Dewi Kunti istri untuk memperoleh anak sayang kepada kelima anaknya yang baik, adalah 16 hari setelah mulainya mestruasi, empat hari  Bersambung ke halaman 6

Rotary Club Nusa Dua Peduli HIV/AIDS Gelar Pelatihan HIV Testing and Counseling untuk 20 Bidan

Ari Murti (tengah) dan dr. Elly Swandewi Murti, M.Kes. bersama para peserta pelatihan PITC di BTDC, 22 s.d. 24 Juni 2010

Bila Bupati tersenyum, akan memberi harapan bagi rakyatnya Bila tokoh masyarakat dan pemimpin masyarakat tersenyum,akan memberi ketenangan dan rasa damai Dan, bilamana bidan menebar senyum, akan membangun semangat terhadap ibu dalam menghadapi sebuah kelahiran‌. Sepenggal syair tersebut dihadiahkan Ari Murti, salah seorang anggota Rotary Club

Nusa Dua kepada peserta Pelatihan Peningkatan Intensitas Rujukan Preventive Mother to Child Transmition (PMTCT) bagi Bidan seKecamatan Kuta Selatan dalam rangka uji coba kegiatan Provider Initiative HIV Testing & Counseling (PITC) pada ibu hamil. Syair tersebut seakan menyiratkan pesan yang amat berarti. Pesan bahwa kehadiran bidan sangat dinantikan dalam sebuah  Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

27 Juni - 3 Juli 2010

ASPIRASI

Keluarga Ami pulang membawa bom. Keluarga terkejut. “Ami! Jangan!” “Mengapa?” “Tidak!” Putu Wijaya “Ya, mengapa tidak!” “Sebab, rumah kita ini harus dijaga kesuciannya! Sekali kamu masukkan rekaman cabul, untuk seterusnya kita semua akan ikut jadi cabul!” “Bagaimana kita tahu ini cabul, kalau belum melihatnya?” “Tidak semua harus dilihat sendiri. Surat kabar dan televisi sudah ribut. Bahkan dunia ikut menoleh kepada kita sambil mengejek. Kok di negara yang pendudukanya mengaku beragama itu, ada warganya yang berbuat cabul seperti itu? Tidak! Jangan bawa rekaman cabul itu ke rumah!” Anehnya Bu Amat berpendapat lain. “Biar saja, Pak. Ami kan sudah dewasa.” “Usia kamu memang sudah dewasa, Ami! Tetapi, kamu belum menikah. Hal-hal begini belum boleh kamu ketahui!” “Mengapa belum?” Ami langsung masuk kamar. Amat tercengang. “Nah itu, Bu. Lihat. Anakmu ini sekarang sudah jadi pengikut neolib! Mosok dia berani mengatakan kepada kita orangtuanya, dia berhak untuk melihat video cabul?” Bu Amat menjawab tenang. “Ya daripada dia melihat dengan sembunyi-sembunyi, lebih baik terus-terang. Kita harus bangga, anak kita masih mau berterus-terang di depan kita. Daripada anak-anak lain. Kelihatan alim, eh tahu-tahu sudah bikin rekaman cabul dengan pacarnya. Itu lho seperti yang kejadian di Bandung dulu! Ya tidak?” Amat tetap menggeleng. “Tidak! Di rumah ini tidak boleh memutar video cabul!” Ami keluar dari kamar menunjukkan rekaman yang dibawanya. “Kalau Bapak melarang saya memutar ini di rumah, supaya kita semua tahu, apa sebenarnya yang diributkan di koran-koran dan televisi itu, oke, saya mau berikan kepada tetangga. Mereka pasti mau!” Amat terkejut. “Jangan!” “Mengapa jangan!” “Sebab, itu berarti ikut menyebarkan kecabulan!” Ami berhenti di pintu. “Jadi bagaimana?” “Bakar saja!” “Bakar? Ini punya teman. Besok harus dikembalikan.” “Tidak usah besok! Kembalikan sekarang! Sekarang juga! Kalau perlu Bapak antar kamu mengembalikan! Jangan kotori rumah kita ini. Rumah itu tempat yang suci, hanya untuk keluarga, bukan barang cabul.” “Terus laporannya bagaimana?” “Laporan apa? “Saya dan teman-teman perempuan yang lain, sedang mempelajari kasus ini. Kami ingin tahu. Seberapa jauh keluarga bisa ikut menyumbangkan keberadaannya sebagai pertahanan bangsa dalam melawan segala rongrongan, baik terorisme, paham-paham sesat dan termasuk kecabulan yang Bapak katakan tadi.” Amat terhenyak. “Maksudmu itu?” “Ya ini. Kasus yang sedang kami garap bersama teman-teman yang risau tentang lemahnya ketahanan bangsa dan hancurnya karakter kita sebagai bangsa. Kalau alat negara tak berdaya, media massa malah memicu berkobarnya semangat mengaburkan karakter dengan memprimadonakan berita-berita seperti ini. Dan, kalau individu semuanya sudah terhasut menjadi manusia yang hanya peduli pada kebebasannya sendiri dan tidak peduli pada hak masyarakat di ruang publik, apakah keluarga masih bisa diharapkan untuk melawan keruntuhan moral ini?” Amat tercengang. Lama tidak bisa ngomong. Bu Amat membelai pundak suaminya. “Bagimana, Pak? Anakmu menanti jawaban Bapak.” “Jawaban apa?” “Bapak sebagai kepala rumah tangga, Bapak berhak memutuskan.” “Memutuskan apa?” “Apakah Ami boleh memutar rekaman ranjang yang konon adalah Luna dan Ariel ini di rumah, lalu meminta bagaimana pendapat Bapak dan Ibu?” Amat bingung. Ia menoleh istrinya. “Bagaimana Bu?” Bu Amat menunjuk kembali. “Terserah Bapak.” “Ibu sendiri bagaimana?” Bu Amat menunduk. Lalu dia menoleh kepada Ami. “Ami, Ibu tidak ingin nonton. Benar apa kata Bapak. Tidak semua harus ditonton. Di dalam hidup bermasyarakat kita berbagi, ada yang harus kita alami, ada yang cukup orang lain yang mengalaminya. Ada juga yang sebaiknya kita alami, tetapi kalau kita merasa terlalu berat, kita juga boleh menolaknya.” “Ibu bicara terlalu umum. Persoalannya ini! Mau nonton tidak?!” Ami melambaikan rekaman video itu. Bu Amat menoleh suaminya. “Bagaimana Pak?” Amat menarik napas panjang. “Apa artinya terikan napas Bapak yang panjang itu?” Amat menoleh lagi pada istrinya. Mereka berpandangan. Ami tidak sabar. “Ayo dong cepat putuskan. Ami kan sudah dewasa! Rekaman yang kata orang porno ini, kalau tidak dilihat langsung akan tambah porno, karena bayangan kita akan berkembang lebih seru. Kalau sudah dilihat dan didiskusikan sama-sama nanti akan jelas ini porno atau tidak. Jadi kita bisa bersikap, meskipun ini adalah persoalan pribadi, tetapi ini sudah mengganggu ruang publik. Dalam hal ini Ami dan kawan-kawan ingin tahu, bagaimana sikap keluarga, sebagai bagian dari ketahanan bangsa?” Setelah berpandangan dengan istrinya, Amat seperti mendapat kekuatan untuk memutuskan. “Baik, mari kita tonton bersama, Ami.” Ami kaget. “Betul?” “Ya. “ “Kapan? Nanti habis makan atau kalau sudah tengah malam?” “Tidak, sekarang juga.” Ami lebih kaget lagi. Dia seperti tidak mampu bicara. “Ayo Ami jangan buang-buang waktu!” Heran, bingung, Ami menyiapkan peralatan. Amat dan istrinya siap. Ami tampak kikuk untuk nonton adegan ranjang itu bersama kedua orangtuanya. “Ayo Ami kami sudah siap.” Tangan Ami tinggal menekam tombol. Tiba-tiba ia terhenyak tak sanggup. Keberanian saja tak cukup. Ia punya rasa malu yang tak bisa dilanggarnya. Lama ia terdiam, sampai tangan ibunya memegang pundak. “Ami, Ibu tahu perasaanmu. Kami berdua, Ibu dan Bapak sebenarnya sudah menonton rekaman itu. Dan, kami memutuskan, kami tidak mau melihatnya lagi, kami tidak akan membiarkan siapa pun merusak ruang pribadi kami. Orang boleh melakukan apa saja dalam ruang pribadinya, tetapi Bapak dan Ibu tegas menolak, kalau itu dipaksakan memasuki wilayah pribadi kami. Dan, kalau dia nyelonong juga ke ruang publik, petugas sebagai wasit harus meniup pluit tanda freekick!” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Membangun Keluarga sebagai Fondasi Ketahanan Nasional” Sampaikan opini Anda Minggu 27 Juni 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 4 Juli 2010

Wisata Kuliner Berkembang Pertanian dan Peternakan Maju JIKA wisata kuliner di Bali dikembangkan menjadi daya tarik wisata, perhatikan kualitasnya. Wisatawan mancanegara tak pedulikan harga jika makanannya berkualitas. Betutu bebek mestinya bebeknya muda biar empuk, jangan bebek tua meskipun murah. Berkualitas terkait kebersihan, kesehatan, pelayanan, dan penyajian. Perhatikan kebersihan lantai, meja makan, peralatan makan dan memasak. Sering terlihat piring kotor masih tergeletak di meja, padahal tamunya sudah meninggalkan warung. Jika pelayan warung/restoran ketus, pengunjung enggan kembali. Ciptakan ciri khas, seperti di Yogya dan Solo ada lesehan pada dini hari. Jika wisata kuliner berkembang di Bali, pertanian dan peternakan juga ikut maju. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Radio Global FM 96,5 Minggu (20/6). Topiknya, “Menjadikan Bali Tempat Wisata Kuliner”. Berikut, petikannya.

Konsumsi Masyarakat dan Sarana Upacara Bali memiliki budaya yang mengakar pada agama Hindu. Makanan Bali telah berkembang sejak masuknya agama Hindu di Bali sebagai makanan khas daerah. Bukan hanya untuk konsumsi masyarakat, makanan khas Bali juga digunakan sebagai pelengkap sarana upacara keagamaan. Bali merupakan daerah tujuan wisata domestik maupun mancanegara. Makanan khas Bali telah menjadi salah satu hidangan yang disiapkan untuk para wisatawan. Menu, jenis olahan, jenis makanan, dan jenis hidangan maupun bumbu masakan Bali yang khas dan unik menjadi daya tarik tersendiri dan kepuasaan bagi wisatawan. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator tujuan wisatawan ke Bali, tak hanya karena alamnya yang indah, juga karena kulinernya. A. A. Ngurah Warmadewa, Instruktur Tata Boga, Sekolah Perhotelan Bali

menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan Bali sebagai tempat wisata kuliner. Kualitas makanan khas Bali yang dihidangkan hotel atau rumah makan telah terjamin, namun masakan Bali yang diolah dan dihidangkan di warung-warung kecil atau di desa-desa ada yang kualitasnya kurang. Pemilihan bahan menjadi alasan yang membedakan kualitas. Misalnya saat membuat masakan betutu bebek, bebek yang digunakan harusnya bebek muda. Namun, di warungwarung kecil atau di desa-desa masih banyak yang menggunakan bebek tua sehingga kualitas dagingnya agak keras. Ini lantaran mereka memikirkan harga yang jauh lebih murah. Padahal wisatawan tak pernah memperhitungkan harga. Yang mereka utamakan, kualitas. A. A. Ngurah Warmadewa

Perhatikan Lantai dan Meja Makan

Kebersihan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan jika ingin menjadikan Bali sebagai tempat wisata kuliner. Kebersihan di desa umumnya, jauh lebih kurang dibandingkan di kota. Sejatinya, kebersihan lantai, meja, peralatan makan dan memasak mendapat perhatian serius dari wisatawan. Sering terlihat, piring masih baMestinya, Bebek Muda nyak tergeletak di meja padaKualitas makanan khas Bali hal tamu sudah meninggal-

Presiden SBY Komentari “PKB Putu Wijaya” PRESIDEN SBY menaruh perhatian besar terhadap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) sepulang membuka perhelatan budaya tahunan ini di Denpasar belum lama berselang. Ini bermula dalam penerbangan menumpang pesawat kepresidenan dari Bandara Ngurah Rai ke Jakarta. Saat itu, SBY juga membaca rubrik “Goro-goro” bertitel “PKB” di Koran Tokoh. Dalam rubrik itu, pengasuhnya budayawan Putu Wijaya menuliskan sebuah dialog yang mengulas PKB. Dalam dialog itu, ada sebuah ungkapan yang menarik perhatian Kepala Negara. Ungkapan itu melansir, “...PKB itu kan investasi kultural, keuntungannya bukan keuntungan yang bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan uang. Di mana-mana investasi kultural itu dibiayai dengan mahal. Hanya negara-negara yang berani membiayai investasi kultural itu akan menjadi bangsa yang besar. Kita di sini semuanya sudah ketularan neolib, maunya duit-duit melulu. Semuanya diukur dengan duit.” Dalam bagian lain tulisannya, Putu Wijaya melanjutkan dialog itu dengan ungkapan, “Kesenian itu bukan hanya hiburan, meskipun bisa menghibur. Kesenian merupakan pembelajaran rasa. Ijazahnya tidak ada. Tetapi, manfaatnya luar biasa.” Kutipan itu antara lain yang menarik perhatian SBY saat membaca Koran Tokoh. “Pak SBY kemudian menegaskan kepada saya, penyelenggaraan SBY seharusnya seperti ini (seperti ditulis Putu Wijaya itu),” ujar Menbudpar Jero Wacik kepada Koran Tokoh. Jero Wacik mengatakan, penyelenggaran PKB memperoleh perhatian serius Kepala Negara. Oleh karena itu, tulisan Putu Wijaya yang dikutip orang nomor satu di negeri ini tadi dapat memberi inspirasi kepada kita untuk senantiasa menjadikan pesta kesenian ini sebagai investasi kultural yang tidak murah biayanya, tetapi juga menampilkan kesenian sebagai pembelajaran rasa. —sam

ran bebek bengil. Mereka suJaga Budaya dah mampu menjaga kepuasan tanpa Kekerasan pelanggan. Lokasi tempat maBali adalah surga. Wisata Bali kan yang dekat dengan persawahan memberikan daya dikenal hingga mancanegara. kan warung makan. Pengaturan terik sendiri bagi wisatawan. Keramah-tamahan, sopan santun, meja makan pun perlu diperA. A. Ngurah Warmadewa tingkah laku, kejujuran perlu sehatikan. Biasanya, di kampung sanantiasa dijaga guna menjaga tu meja untuk banyak orang. Jika Bali. Berikan pelayanan Bakso Bali budaya di restoran, satu meja untuk satu yang baik tak hanya untuk wisataWisatawan tak hanya me- wan di hotel bintang lima, namun orang. Kebersihan hendaknya diperhatikan seluruh masyarakat nyukai makan di restoran. Tak hingga di warung-warung kecil. Bali, tak hanya di perkotaan sedikit mereka memilih tempat Jika ingin menjaga kebudayaan janamun pedagang makanan Bali makan lesehan yang ada di ngan memakai kekerasan. yang ada di desa-desa. Untuk itu pasar-pasar senggol. Untuk Bu Adi kebersihan dan kualitas makanan itu, penataan pasar diharapkan perlu diperhatikan. Selain itu, ke- tak semrawut. Perlu juga diper- Pertanian dan Peternakan nyamanan wisatawan pun perlu hatikan kebersihan, kenyamanikut Maju dijaga dengan menjunjung tinggi an terhadap pelanggan. Jika para wisatawan merasa nyaKebersihan makanan tradisikeramah-tamahan. A. A. Ngurah Warmadewa man, akan mereka sampaikan onal Bali masih kurang namun kepada teman-temannya, itu kualitas rasa masakan tak menbisa menjadi sarana promosi masalah. Masakan tradisiBuka Dini Hari yang bagus. Di Bali banyak ru- jadi onal Bali telah menjadi salah Ada warung-warung leseh- mah makan yang menjual satu menu yang dihidangkan an yang memiliki ciri khas buka makanan khas Bali seperti be- hotel-hotel berbintang.Misalpada jam tertentu, dini hari, di tutu, be guling, maupun ma- nya tipat cantok, hotel sudah Solo maupun di Yogya. Di Bali kanan ikan laut. Sekarang war- menyediakan menu yang satu sudah banyak tempat makan ga Bali mulai merambah ke ini karena banyak wisatawan lesehan namun mereka mem- bakso krama Bali. Namun, sa- menyukainya. Wisata kuliner buka diri pada sore hari. Yang yang bakso Bali kurang di- berhubungan erat dengan perbuka pada dini hari masih ja- minati masyarakat. Perlu di- tanian dan peternakan. Jika wirang ada. Lokasi warung makan tingkatkan kualitas rasa bakso sata kuliner berjalan dan berhendaknya jangan terlalu sem- Bali. kembang, otomatis peternakan pit. Ada tempat parkir yang Edi dan pertanian akan ikut maju. luas. Ornamen-ornamen Bali Sutama ditonjolkan, misalnya dengan Kebersihan, Kesehatan, dipasang umbul-umbul Bali. Pelayanan, Penyajian Pedagang jangan Ketus A. A. Ngurah Warmadewa Wisata kuliner sudah baPenyajian dan kebersihan nyak di Bali, namun pemiliknya serta pelayanan perlu ditata. Gelorakan Wisata didominir warga asing. Warga Ada pedagang ketus terhadap Kuliner di seluruh Bali lokal Bali hanya sebagai guide. pelanggan. Ini membuat peWisata kuliner Bali tak ha- Wisata kuliner tradisional Bali langgan enggan kembali ke wanya di Gilimanuk, namun di- yang dimiliki pedagang kecil rung tersebut karena tak ada gelorakan di seluruh Bali. Se- perlu menunjukkan eksistensi keramah-tamahan dari pemilik perti di Gianyar yang juga di- diri dengan mengedepankan warung. Masyarakat Bali perlu kenal sebagai daerah wisata, kebersihan, kesehatan, pe- memperhatikan pelayanan keperlu dikembangkan wisata ku- layanan dan penyajian. pada pelanggan. liner. Di Ubud telah ada restoNang Cekok Karsana

Guru Agama Hindu Dalam Posisi Dilematis PENDIDIKAN agama di lingkungan keluarga amat penting, selain di sekolah. Khusus pendidikan agama Hindu di sekolah, berkaitan erat dengan kualitas guru agamanya. Berbicara kualitas guru agama Hindu dapat muncul segudang pertanyaan. Misalnya, apakah indikator yang dijadikan tolok ukur untuk mengukur kualitas guru agama Hindu? Apakah kualitas dimaksud menyangkut kualitas proses pembelajaran, kualitas lulusan, atau kompetensi dan profesionalisme guru? Pilliang (2005:335) mengatakan, masuknya sistem kapitalisme ke dalam sistem pendidikan telah menciptakan kondisi bertautnya logika pendidikan dengan logika kapitalisme. Tanpa banyak yang menyadari, pendidikan kemudian menjelma menjadi mesin kapitalisme, yakni mesin untuk mencari keuntungan. Pendidikan juga menjadi mesin citra kapitalisme, yakni mesin yang mampu menciptakan citracitra (lembaga, individu, dan pengetahuan) yang sesuai dengan citra kapitalisme. Kondisi tersebut menyebabkan posisi guru agama umum nya menjadi dilematis. Di satu sisi, jabatan guru

diposisikan sebagai profesi yang dimuliakan, dihormati layaknya para pahlawan bangsa, di sisi lain penghargaan guru dari aspek material belum dapat dikatakan wajar sesuai profesi, posisi, dan martabatnya. Maka, sangat logis apa yang dikatakan Bambang Sudibyo (2007:19) bahwa tatanan baru dalam sistem ekonomi dewasa ini pelan-pelan telah menggeser tatanan sosial termasuk tatanan dalam kehidupan dunia pendidikan. Artinya, masuknya sistem ekonomi pasar ke dalam sistem perekonomian Indonesia membuat gengsi atau martabat kelembagaan sosial, individu, dan apa pun namanya termasuk guru agama, akan menurun, jika mereka tidak bisa mengadaptasi sistem ekonomi pasar. Merupakan keniscayaan, ketika di satu sisi kita menuntut kualitas guru agama, khususnya Agama Hindu, di sisi lain terhadap nasib guru, termasuk guru agama Hindu yang masih tetap terpinggirkan, hingga saat ini kita bersikap permisif. Secara teks ideal kita bisa saja berbicara kualitas guru agama dengan berbagai indikatornya (kualitas guru agama Hindu sebagai harapan). Namun, di sisi lain kita tidak bisa menutup mata terhadap kondisi nyata kehidupan guru bersama

Dr. I Ketut Suda, M.Si.

keluarganya yang sering mengalami kesulitan untuk menghindarkan diri dari jeratan dunia kapitalis, sementara gaji yang mereka peroleh cukup membuat hati kita merasa miris (kualitas guru agama Hindu dalam kenyataan). Selain itu, ketika mengukur kualitas guru agama Hindu dari kualitas lulusan yang dihasilkan, kita juga bisa terjebak pada pengukuran yang bersifat pseudo. Sebab, kualitas lulusan dilihat dari sisi kognisi, afeksi, dan psikomotor anak, tidak sematamata ditentukan kualitas gurunya. Jadi, banyak faktor yang berpengaruh. Salah satunya, bagaimana pandangan siswa dan orangtuanya terhadap mata

pelajaran agama Hindu. Secara faktual sampai detik ini, masih banyak siswa termasuk orangtuanya yang memandang pelajaran agama Hindu sebagai mata pelajaran yang tidak begitu penting bagi masa depannya sehingga dalam belajar agama Hindu mereka tidak intensif. Maka, jangan ujug-ujug menilai kadar wawasan agama yang kurang bagus di kalangan siswa, disebabkan kualitas guru agama Hindu yang kurang bagus. Berbicara masalah kualitas guru, termasuk guru agama, tidak lepas dari masalah pendidikan sebagai suatu sistem. Dunia pendidikan yang seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan, dan kebijaksanaan sebagai nilai dasar (Pilliang, 2005:355) kini telah dimuati nilai-nilai komersial sebagai refleksi keberpihakan kebijakan pendidikan terhadap kekuasaan kapital. Sementara di sisi lain ketika pendidikan menjadi bagian inheren dari sistem kapitalisme, maka berbagai paradigma, metode, dan teknikteknik yang dikembangkan di dalamnya akan menjadi sebuah cara untuk mengukuhkan hegemoni kapitalisme tersebut. Berangkat dari gambaran itu, akan menjadi naip ketika kita menuntut kualitas guru

agama, khususnya guru agama Hindu di satu sisi, tetapi di sisi lain sistem pengganjaran (reward system) yang diterima guru lebih banyak dalam bentuk pujian dibandingkan penghargaan dalam bentuk materi. Guru disanjung sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa’’ guru adalah jabatan mulia, guru perlu digugu dan ditiru, sementara dalam kenyataannya kehidupan guru dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan materialistis dan lahiriah. Dalam konteks ini jika kita ingin meningkatkan kualitas guru agama, termasuk guru agama Hindu, perlu ada semacam lembaga advokasi bagi jabatan guru, yang secara konsisten mau menyuarakan nasib guru. Kita tidak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kondisi seperti itu. Yang lebih penting, bagaimana kita semua saling berusaha membangun dan mencari jalan yang terbaik untuk pembenahan sistem pendidikan kita secara holistik dan komprehensif. Dengan demikian tidak ada yang merasa kalah atau menang, dan tidak ada yang merasa salah atau benar. Dr. I Ketut Suda, M.Si. Dosen FIA Unhi Denpasar

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Buleleng: Putu Yaniek Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim NTB: Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


PARIWISATA

Warni mulai Menyayangi Bayinya

5 PAGI itu, di Panti Sosial Karya Wanita Budhi Rini Mataram, Warni menggendong bayinya. Ia mengayun bayi perempuan mungil itu dalam selendang yang melingkari bahunya hingga pinggang. Bayinya tertidur pulas. Sesekali bayi yang hingga hari ini belum diberi nama itu, terbangun dan menangis. Dengan cekatan Warni memberinya susu formula dari sebuah dot. Bayi ini kembali terdiam. Warni menatapnya sembari mengelus-elus kepalanya. Kini, hari-hari Warni dipenuhi kesibukan mengurus bayinya. Tiap pagi ia memandikannya dibantu kawan sesama penghuni Wisma Panti Budhi Rini atau petugas panti. Setelah dimandikan, Warni membedakinya, memasanginya baju dan popok. Setelah itu, tubuh bayi dibedongnya. Jika bayinya menangis, sembari memakaikan baju, Warni mengajaknya bicara. Kata-

Warni mulai mengurus sendiri bayinya

kata ‘sayang’, ‘cantik’, dan kata-kata pujian lainnya meluncur dari mulut Warni. “Nah, sudah cantik‌.,â€? ujarnya usai mengganti popok setelah bayinya pipis. Sejak seminggu yang lalu Warni memang harus merawat sendiri bayi hasil kebiadan ayah kandungnya ini. Sebelumnya, ia selalu memalingkan muka tiap kali diajak bicara tentang bayi yang dilahirkannya. Dua minggu bayinya dirawat di ruang NICU Rumah Sakit Umum Mataram, Warni tidak pernah menjenguknya. Usai melahirkan, berbagai pertanyaan bergejolak di hatinya, mau diapakan bayi ini? Ia dalam posisi dilematis. Ditambah lagi adanya penolakan dari ibu dan keluarga besarnya terhadap bayi ini. Sampai hari ini, ibunya, Rahma, tidak pernah melihat bayi anak suaminya itu. Setelah bayinya dinyatakan sehat, dan diizinkan digendong pulang, mau tidak mau, bisa tidak bisa, Warnilah yang harus mengurusnya. Sebelum bayi dibawa pulang, di Panti Budhi Rini, Warni belajar cara mengurus bayi, mulai dari mengganti popok, memandikan, hingga menggendongnya dengan cara khusus mengingat bayi ini lahir dengan berat badan yang kurang normal. Siang itu, di ruang NICU RSU Mataram, dengan penuh

kasih, di bawah bimbingan petugas NICU, pertamakalinya Warni menggendong bayinya. Kata petugas NICU, sejak semalam menjelang dijemput ibunya bayi ini menangis terus-menerus. Ini pertanda, katanya, kontak batin Warni dan bayinya sangat kuat. “Sampai capek kami menggendongnya bergantian. Biasanya bayi ini diam,� kata petugas NICU. Setelah bayi dalam gendongannya sesekali Warni memeluknya erat-erat, dan menciuminya. Sesekali pula ia mendekatkan mulut bayi itu ke pipinya sembari mengajaknya “berdialog� layaknya ibu dan anak. Sejak itu Warni tampak mulai menyayangi bayinya. Setelah berada di Panti Budhi Rini dan Warni ingin menyusui dengan ASI-nya, bayinya menolak, samasekali tak ingin mengisap puting susu ibunya. Karena itu Warni memberinya susu formula. Dengan mata berbinar, Warni menceritakan, ia jarang sekali dapat tidur sejak bayi itu bersamanya. “Ia selalu minta digendong sepanjang malam dan sepanjang hari,� katanya sambil menatap bayi ini dalam-dalam. “Diletakkan sebentar saja di tempat tidur, ia langsung menangis,� tambahnya sembari mengelus dan menciumi kepala bayinya. Kini, masihkah Warni menanti datangnya orang yang bersedia mengadopsi bayinya?

Pantai Batukaras “Bali-nya Jawa Barat� DI kalangan pecinta surfing, pantai Batukaras dikenal sebagai surfing paradise berkat ombak yang cukup tinggi dengan lidahnya yang panjang. Letaknya yang hanya 34 Km dari pantai Pangandaran, Jawa Barat, menjadikan Batukaras cepat dikenal wisatawan sebagai tempat alternatif lain untuk berlibur.

P

antai Batukaras memiliki keindahan alam yang masih asli dan asri. Pohon-pohon ketapang berdiri kokoh di tiap sudut pantai yang dapat memberikan kesejukan kepada tiap wisatawan yang ingin menikmati liburannya di sini. Tempatnya pun sangat strategis berada di kawasan wisata pantai Pangandaran dan Green Canyoon. Pantai Batukaras merupakan objek wisata yang memadukan wisata pantai dengan sungai. Beberapa watersport bisa dinikmati di sini seperti surfing, bananboat, skimboarding, boogieboarding, snorkeling, jet ski, arung jeram hingga kano. Watersport tidak hanya dilakukan di pantai tetapi juga di sungai yang jaraknya

tkh/nick

Korban Kebiadaban Ayah Kandung

Pantai Batukaras yang selalu menantang peselancar

hanya 1 Km dari pantai. Perihal keindahan alamnya wisatawan dapat melihat batubatu karang seperti Batununggul, Batu Bancet dan Batu Payung. Untuk melihat batubatu karang tersebut wisatawan bisa menggunakan perahu mengelilingi pantai. Batununggul merupakan batu karang yang menjulang tinggi di tengah laut. Kegiatan yang bisa dilakukan di sini adalah rock climbing, memanjat karang dan snorkeling melihat keanekaragaman biota lautnya. Di tempat ini wisatawan bisa melihat aktivitas penduduk lokal yang sedang mencari rumput laut dan batak, sejenis kerang hijau namun bentuknya lebih besar dan berwarna merah bata.

Rotary Beri Kesempatan Anggota untuk Memimpin Anak-anak belajar berselancar di Pantai Grajagan

tkh/net

PANTAI Grajagan, Banyuwangi, sejak lima tahun terakhir ini mulai dilirik para peselancar dunia. Selain lokasinya mudah dijangkau, ombak di kawasan ini cukup menantang, terutama Agustus-September. Sayangnya, kawasan wisata di Banyuwangi Selatan ini masih minim sarana. Berselancar di Pantai Grajagan mulai berkembang setelah salah seorang warga setempat, Made Supartha (40), membuka kursus berselancar. Saat ini tercatat lebih dari 30 siswa menekuni olahraga air ini. “ Jumlah pesertanya terus meningkat, kebanyakan kalangan remaja,� kata Supartha, Rabu (23/6). Meski tergolong sulit,

Logo film ‘Morning of the World’

‘Morning of the Earth’ (1972) yang dibuat sineas dan peselancar Australia tahun 1972 merupakan film pertama yang memperkenalkan pesona ombak Bali kepada peselancar dunia. Kepada film inilah, promosi awal pariwisata Bali banyak berutang budi. Film ini dibuat pembuat film Alby Falzon dan peselancar muda Australia Steve Cooney dan peselancar Amerika yang sangat dihormati karena kepiawaiannya menaklukkan omba tinggi, Rusty Miller. Lokasi syuting film ini beberapa pantai di Queensland dan New South Wales (Australia), Hawaii, dan Bali. Di Bali, pengambilan gambar

olahraga ini cukup diminati. Bahkan, sejumlah pemuda setempat hijrah ke Bali hanya untuk mendalami olahraga penuh tantangan ini. Setelah dua tahun di Bali, mereka kembali ke Grajagan untuk menularkan ilmu dan keterampilannya. Biasanya, sembari pulang, para pemuda itu mengajak tamu asing dari Bali, lalu kepadanya diperkenalkan kehebatan ombak Grajagan. Menurut Supartha, ombak Pantai Grajagan tidak kalah menarik daripada ombak Pantai Plengkung, Alas Purwo, juga di Banyuwangi Selatan. Bedanya, ombak Grajagan cenderung pecah sebelum ke pantai. Namun, karena masih baru,

Film Selancar ‘Morning of the Earth’ 1972 dilakukan di Pantai Suluban, tak jauh dari Pura Uluwatu. Sejumlah pembuat film lain juga datang ke Bali untuk membuat film surfing (berselancar). Jeff dan Belinda Lewis dalam bukunya Bali’s Crisis Silent ; Desire, Tragedy, and Transition (2009) juga menjelaskan bagaimana Jeff ketika muda tahun 1970-an datang ke Bali pertama kali bersama kru film Melbourne untuk syuting surfing. Kini Jeff yang sudah bergelar asscociate professor dan menulis banyak buku, senantiasa datang ke Bali dan selalu menggunakan sebagian besar liburannya untuk berselancar di Kuta dan sampai Medewi, Bali Barat. Dalam empat dasawarsa terakhir, Jeff rata-rata ke Bali

antara laut dan sungai. Sepanjang perjalanan wisatawan dapat melihat perahu nelayan yang hilir mudik melintasi lautan. Pemandangan di sungai tidak kalah menarik menunjukkan pesonanya dengan keindahan pohon-pohon nipah yang daunnya dijadikan atap rumah. Wisatawan juga akan diajak melewati sebuah jembatan yang terbuat dari bahan tradisional bambu. Jembatan ini dinamakan sasak gantung yang merupakan salah satu ikon Batukaras dan dikenal sebagai Sanfransisico Bridge-nya Batukaras. Bagi wisatawan yang malas melakukan aktivitas di air, Batukaras menyediakan wahana outbound yang berada di sudut pantai dengan tiga permainan yang cukup menantang. Ketiga permainan itu adalah Elvis Walk, Crazy Web dan Flying Fox. Nikmati meluncur dari ketinggian tebing karang menuju bibir pantai yang akan disambut dengan percikan air laut. Sebagai tempat menginap, di sini terdapat pilihan hotel berbintang dan melati. Ada hotel yang menawarkan seaside dengan pemandangan matahari terbit atau hotel dengan pemandangan riverside yang menawarkan keindahan matahari saat tenggelam. Bagi pecinta wisata kuliner, jangan lewatkan untuk

Selain dengan perahu, wisatawan juga bisa mencapai lokasi batu-batu karang melalui jalur darat dengan berjalan kaki melewati perbukitan. Jalur darat ini bisa digunakan sebagai jalur tracking karena jalan menuju lokasi batu-batu karang hanya berupa jalan setapak dan tempatnya masih benar-benar perawan. Setibanya di lokasi batu-batu karang, wisatawan dapat merasakan privacy lebih seakan-akan memunyai pulau sendiri karena lokasi batu-batu karang ini tidak berpenghuni. Tidak hanya mengunjungi batu-batu karang, wisatawan juga bisa mengunjungi Green Canyoon yang jaraknya bisa ditempuh 8 Km dari pantai Bersambung ke halaman 12 melewati muara perbatasan

Pantai Grajagan mulai Dilirik Peselancar

—nik

Surabaya, hydrocephalus, hingga ROTARY merupakan organisasi penyediaan sarana untuk manajemen pengusaha dan profesional, yang darah di PMI, dan kini sedang menyediakan layanan kemanusiaan, diupayakan klinik bergerak perempuan mendorong standar etika tinggi dalam tiap untuk melawan kanker leher rahim pekerjaan dan membantu membangun (women mobile clinic). Di bidang niat baik serta perdamaian. Rotary pendidikan, telah ribuan beasiswa untuk berpusat di Evanston, AS, dengan situs anak sekolah diberikan, juga beasiswa www.rotary.org. untuk pendidikan Strata 2 (master) dan Rotary merupakan klub layanan Strata 3 (doktor) melalui Ambassadorial pertama di dunia. Rotary Club pertama Scholarship dan beasiswa untuk para didirikan di Chicago, Illinois, AS, 23 penggiat perdamaian melalui Rotary Februari 1905. Anggota Rotary sekitar Peace Scholarship. Beberapa tahun 1,2 juta orang yang berpikiran melayani terakhir juga dikembangkan program (service-minded), dengan lebih dari 28 dukungan kepada perpustakaan sekolah ribu Rotary Club hampir di tiap negara. dalam bentuk fasilitas ruang, rak buku, Di Indonesia, sampai Desember 2009, buku, hingga insentif kepada petugas tercatat 86 Rotary Club dengan anggota perpustakaan sekolah. Di bidang lebih dari 1.500 pengusaha dan lingkungan di antaranya program profesional. penyediaan air bersih, penanaman pohon Rotarians adalah sebutan anggota bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta Rotary Club. Rotarians bertemu seYetty P. Sutan untuk mengatasi penggundulan pohon di minggu sekali untuk bersilaturahmi dan membicarakan perencanaan dan pelaksanaan program yang daerah aliran sungai Berantas, penanaman pohon bekerja menarik dan informatif terkait topik-topik penting lokal dan sama dengan marinir di Bumi Karang Pilang Surabaya, global. Keanggotaannya mencerminkan keterwakilan penghijauan pantai dengan bakau di Madura dan pantai komunitas dari segala bidang. Keanggotaan Rotary timur Surabaya. Dalam rangka mendukung program Rotary International mensyaratkan terpenuhinya semangat etika bisnis yang tinggi “End Polio�, 15 Rotary Club di Bali mengadakan Rotary tiap calon. Rotarians merencanakan dan menjalankan beragam Family Fun Day Minggu (30/5). Rotary Club Bali Denpasar program di berbagai kegiatan kemanusiaan, pendidikan dan yang diberi kepercayaan sebagai koordinator didukung RC pertukaran budaya yang menyentuh kehidupan manusia Bali Denpasar Kota, Bali Jimbaran, Bali Kartika, Bali Kuta, Bali Legian, Bali Lovina, Bali Niti Mandala, Bali Nusa dalam komunitas lokalnya dan dalam komunitas dunia kita. Rotary merupakan The Rotary Foundation (Yayasan Dua, Bali Sanur, Bali Segara, Bali Seminyak, Bali Taman, Rotary) yang tiap tahun menyediakan sekitar 90 juta dolar Bali Ubud, Bali Ubud Sunset dalam jalinan kerja sama luar AS untuk beasiswa internasional, pertukaran budaya dan biasa dari ke-15 Rotary Club di Bali. Rotary Club Bali Kuta proyek kemanusiaan besar maupun kecil yang bisa bersama beberapa Rotary Club di Oregon AS dan Rotary memperbaiki kualitas hidup jutaan manusia. Rotary dikenal Foundation sudah selesai membuat proyek senilai 18,484 luas sebagai penyedia beasiswa pendidikan internasional dolar AS di Desa Karyasari, Tabanan. Struktur Organisasi Rotary nonpemerintah terbesar di dunia. Rotary merupakan organisasi pengabdian yang berbasis Salah satu program Rotary, PolioPlus, yang mencerminkan komitmen Rotary untuk bekerja sama dengan kekuatan individu anggotanya dalam sebuah klub. Rotary organisasi kesehatan nasional dan internasional dalam rangka Club bersifat independen meskipun memerhatikan koordinasi mencapai tujuan terhapusnya penyakit polio tahun 2005. dengan klub lain melalui wadah distrik (Rotary District) dan Lebih dari satu miliar anak di negara sedang berkembang Rotary International. Sebuah Rotary Club dipimpin seorang club president. telah diimunisasi antipolio melalui hibah PolioPlus, termasuk anak-anak Indonesia. Program ini dicanangkan Rotary tahun Beberapa Rotary Club di wilayah yang sama akan 1985 untuk menyongsong ulang tahun ke-100 Rotary tahun didampingi seorang assistant governor. Rotary Club di In2005. Program PolioPlus merupakan komitmen pendanaan donesia (Rotary International District 3400) dipimpin seorang lebih dari 650 juta dolar AS untuk mendukung program WHO. district governor didampingi beberapa orang deputy district Di Indonesia, Rotary pertama berdiri di Yogyakarta tahun governor. Di Jawa Timur terdapat satu orang deputy district 1926. Di Jawa Timur, Rotary Club pertama berdiri tahun governor, yaitu Yetty P. Sutan dan beberapa assistant gov1927 dan kemudian direorganisasi kembali 6 Agustus 1971 ernors antara lain Ronny Mustamu, Harry Mulyanto, Wimphry Soewignjo, Ing Wibisono yang akan berganti tiap dengan nama Rotary Club of Surabaya. Rotary hadir mendukung terwujudnya masyarakat yang satu tahun pengabdian. Di seluruh dunia, Rotary International dipimpin seorang lebih baik melalui beragam bidang layanan seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, kewirausahaan, pengembangan Rotary International President (RIP) yang saat ini dijabat ekonomi, kepedulian perempuan dan anak, air bersih, dan RIP Past District Governor Patrick Waite dari Selandia pengembangan sarana pendidikan seperti perpustakaan dan Baru. Tiap pengurus Rotary melakukan masa pengabdian satu perlengkapan sekolah lainnya. Di bidang kesehatan telah lebih dari 2.000 anak penderita tahun untuk kemudian digantikan anggota lain. Prinsip inilah bibir sumbing dioperasi; demikian juga operasi jantung anak, yang terkait dengan istilah rotary yang berarti “berputar� operasi katarak, dukungan terhadap kelompok penderita kusta dan memberi kesempatan kepada tiap anggota memimpin di wilayah Babat Jerawat, peningkatan nutrisi pada anak pengabdian Rotary kepada masyarakat.

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 3

Pantai Grajagan belum banyak dilirik wisatawan asing untuk berselancar. Ditambah lagi, minimnya sarana wisata dan olahraga air di kawasan tersebut. Kawasan ini juga memilik panorama indah. Pasir pantainya tak kalah eksotis dibandingkan di Plengkung, belum lagi keindahan gunung dan hutannya. Perkembangan berselancar di Grajagan tergolong lamban, akibat sulitnya mencari peralatan olahraga tersebut. Saat ini baru ada satu lokasi milik Supartha yang menyewakan papan selancar. Itu pun ratarata barang bekas dari Bali. Papan selancar disewakan satu harinya Rp 25.000-30.000. “ Saya tidak murni bisnis, tetapi ingin mengembangkan olahraga selancar di Grajagan,� ujar Supartha. Biasanya, para siswa kursus dan berlatih selancar pada hari libur. Pagi mereka berkumpul, diajari teknik di atas papan. Setelah lancar, mereka baru dibolehkan turun ke laut. Untuk bisa mahir berselancar, kata Supartha, diperlukan waktu minimal empat bulan. Jika ingin lebih mahir lagi diarahkan datang ke Bali. Pantai Kuta merupakan salah satu lokasi yang dituju. Supartha merupakan satusatunya pelatih selancar di Grajagan. Keahliannya ber-

selancar didapat setelah berkelana di Bali bertahun-tahun. Tahun 2000, pria yang lama bertempat tinggal di Karangasem, Bali, ini, memilih pulang ke kampungnya di Grajagan. Di Grajagan ia juga bertugas sebagai anggota tim penyelamat pengunjung pantai. Saat hari libur, seperti sekarang ini, Pantai Grajagan dibanjiri wisatawan domestik. Rata-rata mereka mandi di laut. “Jika ada yang terseret arus, kami yang bertugas menolong,� katanya. Untuk mencapai pantai ini diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kota Banyuwangi. Lokasinya bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda empat, bahkan bus besar. Turis asing biasanya mengunjungi lokasi ini Agustus hingga Desember. Kini, di sekitar pantai sudah berdiri sejumlah bungalow yang bisa digunakan tamu menginap. Selain Grajagan, Pantai Pulau Merah, Pesanggaran, juga mulai dilirik untuk olahraga selancar. Namun, di tempat ini belum ada pengelola yang secara khusus menekuni kegiatan olahraga ini. Baru tamu asing dan warga luar daerah Banyuwangi yang berani menjajal keganasan ombaknya. Pantai Grajagan dan Pulau Merah sama-sama berada di pantai selatan Banyuwangi, satu jalur dengan kawasan Plengkung. Tiga kawasan ini bisa menjadi daerah tujuan wisata favorit untuk penghobi selancar. Selama ini baru kawasan Plengkung yang lebih dulu dikenal peselancar dunia.—udi

Promo Pertama Pesona Ombak Bali

tkh/dar

Pantai Dream Land di Uluwatu, tempat indah buat turis untuk berjemur dan berselancar

delapan kali setahun. Tentu, banyak Jeff-Jeff yang lain, yang datang ke Bali untuk menyusuri ombak-ombak tinggi di pantai Bali dan air laut tropis yang hangat.

memiliki ombak besar yang penuh tantangan untuk peselancar disebarkan kalangan hippies, yang bepergian dari Eropa ke Asia, lalu ke Sydney. Dalam perjalanannya mereka mampir di Bali, menikmati Pantai Kuta dan sekitarnya.

Kabar Pertama Kabar pertama bahwa Bali Bersambung ke halaman 12


4

Tokoh

KELUARGA

27 Juni - 3 Juli 2010

Keluarga Sukinah Keluarga Berpendidikan KELUARGA ideal digambarkan ajaran Hindu sebagai keluarga sukinah (hita sukaya). Keluarga hita sukayah dilukiskan sebagai cukup sandang, pangan, papan, selalu rukun, dan berpendidikan. “Tujuan pendidikan agama Hindu dinyatakan sebagai pembentukan karakter luhur (swami satya narayana). Ajaran tat twan asi, engkau adalah aku dan aku adalah engkau, menjadi pijakan. Inilah cermin pendidikan budi pekerti baik. Anak berkarakter atau berbudi pekerti luhur lahir dari ibu yang berbudi luhur dan ayah yang penuh pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan,” ujar cendekiawan Hindu Prof. I Made Titib, Ph. D. Menurut Rektor Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar ini, anak baik berperilaku sebagai penolong utama dan pertama bagi orangtuanya. Istri sebagai belahan jiwa memberikan kesejukan kepada suami jika suami sedang bersedih hati. Seorang istri juga berperan sebagai guru pertama bagi anaknya. Ibu yang menimang, memberikan makan, mengajar cara makan, membiasakan anak sejak kecil berdoa, dan mengajarkan kata manis dan baik. Namun, perkembangan anak tidak lepas dari peran ayah. Tanggung jawab serta perlindungan ayah kepada keluarga akan menjadi panutan seorang

Prof. Titib

anak. Karakter anak sangat ditentukan kedua orangtuanya, lingkungan, dan upacara yang berkaitan dengan proses kelahiran anak. Tugas dan kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan jasmani, juga pendidikan yang baik, lebih khusus pendidikan budi pekerti luhur. “Pendidikan budi pekerti dapat ditunjukkan melalui keteladanan. Dalam keluarga anak diajari cara berbicara yang lembut, rajin sembahyang, rajin bekerja. Ini harus selalu dicontohkan kedua orangtuanya. Selain

itu, sejak kecil, anak sebaiknya sudah dibisiki gayatri mantram di lubang telinga kiri dan kanan. Lingkungan rumah pun senantiasa dibiasakan kasih sayang dan pelayanan kepada siapa saja sebagai bentuk ngayah,” paparnya. Di India ada kebiasaan kuno yang mengisahkan berbagai cerita mengenai pahlawan dan orang suci kepada ibu hamil. Janin dalam rahim diharapkan dapat terpengaruh dengan vibrasi cerita yang timbul melalaui diri sang ibu. “Tradisi mendengarkan mantram atau kitab suci Weda dan Sloka, seperti kakawin Ramayana atau Arjuna Wiwaha baik bagi wanita hamil,” ujarnya. Pertengkaran dalam rumah tangga dinilai merupakan hal yang wajar. Zaman dulu sering ditandai ngambul-nya perempuan yang pulang ke rumah asalnya. Esoknya ia disusul suaminya. Biasanya orangtua atau orang yang dituakan menjadi tempat yang dituju pasutri untuk membantu menyelesaikan masalah mereka. Sampai sekarang, peran orang tua masih dianggap penting untuk membantu bilamana pasutri mengalami masalah dalam perkawinannya. Namun, ia menilai, cara ngambul, sudah mulai ditinggalkan. Dengan kesetaraan gender, pasutri hendaknya mampu menyelesaikan masalah mereka dengan lebih bijaksana. —ast

Komunikasi Kunci Keluarga Harmonis USAHA menciptakan keluarga harmonis diawali perencanaan yang matang. Perencanaan dimulai dari sebelum pernikahan dan sebelum kehamilan. Namun, tak jarang orang membentuk keluarga tanpa memiliki perencanaan. Inilah yang menjadi salah satu kendala mewujudkan keluarga harmonis. Membentuk keluarga diawali dari proses pacaran lalu berlanjut ke jenjang pernikahan. Di antara fase pacaran dan pernikahan, perlu ada persiapan mental bagi pasangan yang ingin membangun keluarga. Harus ada visi, apa tujuan berkeluarga, bagaimana dengan anak, siapa yang mencari nafkah, dan lainnya. “Masih ada yang menikah dan punya anak hanya untuk status saja. Mereka belum punya komitmen dan visi apa arti keluarga. Kalau ini terjadi, tentu sulit untuk menciptakan keluarga harmonis. Bisa-bisa yang muncul kasus

Luh Putu Anggreni, S.H.

kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” ungkap dr. A.A. Sri Wahyuni, Sp.Kj., Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali. Sri Wahyuni yang akrab disapa Dokter Yuni ini mengatakan, banyaknya kasus menikah karena telanjur hamil menjadi pemicu kurang harmonisnya keluarga. Janin yang berada dalam kandungan ikut merasakan tekanan mental yang dialami orangtuanya. Apalagi jika kehamilan itu ditutup-tutupi hingga membuat bayi akan lahir menjadi tertekan. “Janin itu sudah bisa merasakan apa yang dirasakan orangtuanya. Jika ibunya gelisah, marah, sedih, itu akan berpengaruh pada perkembangannya. Hubungan yang terjalin melalui tali pusar inilah yang membuat hubungan ibu dan janin sangat dekat,” ujarnya. Agar janin tetap tenang, ibu hamil harus mendengarkan musik lembut. Ini juga akan menghapus kegelisahan yang dialami orangtua dan janin. Walaupun kehamilan terjadi akibat hubungan seksual pranikah, komunikasi antara orangtua dan janin harus tetap dilakukan. Ini akan memperkuat hubungan batin di antara mereka. Jangan memperparah keadaan dengan saling menyalahkan, saling menutupi hingga memengaruhi kondisi janin. Setelah besar, ia bisa menjadi orang yang tertutup, memiliki kelainan orientasi, cepat marah, dan sifat buruk lainnya. “Untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti itu, perlu ada komitmen bagi pasangan yang

dr. Sri Wahyuni, Sp.K.J.

ingin menikah dan membentuk keluarga. Dulu sudah berkembang wacana kursus atau konseling pranikah. Saya sangat setuju adanya kursus atau konseling ini. Saya siap membantu ruangan untuk konseling. Sekarang tinggal mencari siapa yang mau memberikan bimbingan dan siapa yang mau dibimbing,” tegas Dokter Yuni. Ia membandingkan, dulu orangtua selalu berpesan atau memberi petuah moral kepada anak-anak yang akan menikah. Ini dilakukan saat lamaran atau menjelang pernikahan. Pesan ini bisa menjadi modal dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Dalam kondisi ini peran tokoh adat pun sangat diperlukan untuk ikut memberi nasihat-nasihat agar tercipta keluarga yang harmonis. Terkait peran tokoh adat, Ni Luh Anggreni, S.H. menambahkan, pernikahan merupakan bagian pawongan (hubungan manusia dengan manusia). Para tokoh adat harus ikut mengambil peran. “Banyak kasus KDRT yang terjadi di masyarakat. Ujungnya perceraian. Jika dari awal, para tokoh adat ikut di-

Status Janda bukan Kendala STATUS single parent tidak menjadi kendala bagi Bu Mujirahma untuk menyekolahkan anak-anaknya sehingga kini mampu hidup mandiri. Hal itu dilakoni wanita kelahiran Gilimanuk 31 Desember 1959 ini dengan berjualan nasi pecel dalam Pasar Gilimanuk, sejak 18 tahun yang lalu, hingga kini. Ia berprinsip, pendidikan bagi anak-anaknya merupakan prioritas nomor satu. Wanita yang kini populer dengan sapaan Bu Haji Mujirah ini bertempat tinggal di Lingkungan Arum Barat Gang III Gilimanuk. Ia menuturkan, berjualan di Pasar Gilimanuk sejak tahun 1992. Namun, ketika anak-anaknya sangat membutuhkan biaya untuk pendidikannya, suaminya, Nahrawi, meninggal tahun 1994. “Saat itu saya sangat terpukul. Tetapi, ketika saya ingat

masa depan anak-anak, saya berusaha tegar dan bangkit,” ungkapnya di sela-sela melayani pelanggannya Rabu lalu. Baginya, tiada hari tanpa berjualan pecel. “Jika sehari tidak berjualan, saya khawatir kehilangan pelanggan. Tiap hari saya bisa memasak nasi sampai 10 hingga 11 kg, dan kadangkadang belum sampai pukul 12.00 sudah habis,” ujarnya. Berkat kegigihannya bekerja, putri keduanya, Ani Dwiyanti, pernah kuliah di Universitas Malang. “Kini anak saya itu berusia 33 tahun dan bersama suaminya memiliki dan mengelola pesantren di Lamongan,” jelasnya. Anak pertamanya, Eka Yuliani (35), juga sudah berumah tangga. Namun, putri ketiganya, Wiwin Sri Lestari, kini sudah tiada akibat kecelakaan lalu lintas di Candikusuma, Melaya,

Istri di Sisi Suami

K

ELUARGA Nur Sa’adah mencoba menerapkan tradisi berkeluarga zaman Nabi Muhammad SAW. Anak perempuannya diberi pengetahuan tata cara membina rumah tangga. Ini bekal jika kelak putrinya menikah. Contoh keteladanan Nabi Muhammad SAW sering diceritakan kepada anakanaknya. Misalnya, anak lelaki diajari keteladanan perilaku Rasulullah menghormati istri. “Istri bukan di depan atau di belakang suami. Sabda Rasulullah, istri di sisi suami,” kata Nur Sa’adah yang sering diminta menjadi penceramah di berbagai majelis taklim ini. Suami, kata guru agama Islam SMPN 10 Denpasar ini, harus menjadi pendidik bagi istri dan anak-anaknya. “Saat Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad, cemburu pada Siti Khadijah

Meneladani Ishak dan Ribka ADA sebuah kisah yang menjadi panutan dalam membina keharmonisan keluarga Kristen. Kisah tersebut menggambarkan kehidupan keluarga Ishak dan Ribka. Pasutri ini diyakini cocok menjadi teladan bagus bagi keluarga kristiani. Menurut Lisa Kiuk, Ketua Departemen Wanita Gereja Bathel Indonesia Wilayah Bali dan NTB, hubungan suami istri secara harmonis dan penuh kemesraan hingga maut memisahkan, dialami Ishak dan Ribka. Bukan hanya mampu mempertahankan rumah tangganya, namun mereka mampu menjaga kemesraan. Kisah lain, Raja Salomo yang senantiasa memuji istrinya. “Menurut Kitab Amsal disebutkan, istri yang cakap tak hanya secara lahiriah namun bagaimana tutur kata, tingkah laku yang baik dan kemampulibatkan, tentu kasus KDRT dan kasus perceraian bisa diminimalkan. Intinya, tokoh adat harus memahami aturan hukum nasional dan hukum adat” tandas anggota KPAID Bali ini. Dokter Yuni dan Anggreni juga sepakat, untuk menciptakan keluarga harmonis intinya komunikasi. Komunikasi di lingkungan keluarga khususnya sangat berperan. Jika seorang anak ada masalah, ia perlu berkomunikasi dengan orangtua. Demikian juga orangtua, sesibuk apa pun, harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Faktor ekonomi, sosial, dan pendidikan, juga sangat memengaruhi terbangunnya keluarga harmonis. Ada yang mapan secara ekonomi tetapi anaknya kurang mendapat perhatian hingga mencari perhatian di luar rumah. Ada yang pendidikannya tinggi bahkan berprestasi tetapi kurang mendapat perhatian dan komunikasi dengan orangtua minim. Sebelum terjadi hal-hal negatif di luar rumah, mereka menyarankan giatkan kembali komunikasi dan perhatian antara anak dan orangtua untuk menghadirkan keluarga harmonis. —wah

Jualan Pecel Antarkan Anak-anaknya Mandiri

Bu Mujirahma

tahun 2004. “Putri saya itu sempat kuliah tiga tahun di Universitas Malang. Ketika berusia 22 tahun dia berniat mencari pekerjaan di Denpasar dan dia berhasil mendapat panggilan sebagai calon PNS. Saat berangkat ke Denpasar itulah dia mengalami kecelakaan dan meninggal,” ceritanya. Bu Haji Mujirah menyata-

Nur Sa’adah

yang juga istri Nabi, Rasullullah dengan penuh kesabaran mendidik dan menenangkan hati istrinya. Ini sebuah pendidikan yang patut dicontoh,” lanjut ibu empat anak, Fajar, Wardah, Fahmi, dan Arif, ini. Membina keluarga sakinah mawadah warahmah menjadi

kan, meskipun dalam status single parent dia berusaha membesarkan anak-anaknya dengan baik. “Bahkan saya rela menunda keinginan saya untuk membeli sesuatu agar anakanak saya bisa kuliah. Syukurlah sekarang dua anak saya sudah mandiri,” jelasnya. Kini Bu Haji Mujirah bertempat tinggal dengan putri pertamanya dan menantunya di Gilimanuk. “Ya, setelah putri saya semuanya mengenyam pendidikan, saya mengumpulkan dana lagi. Hasilnya, saya bisa menuaikan ibadah naik haji tahun 2009,” katanya. Kini dalam diri nenek yang telah berusia 51 tahun itu, tumbuh harapan bisa hidup nyaman dan berbahagia bersama anak dan cucu-cucunya. “Saya juga ingin cucu-cucu saya bisa mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi anak yang sukses,” harapnya. –ngr

annya mengatur rumah tangga,” tambah Wakil Ketua Departemen Kewanitaan Gereja Lembah Pujian ini. Dalam ajaran Kristen, perceraian dilarang. Itu menurut Lisa, tertuang dalam kitab Maleakhi. Dalam kitab itu, menurut Lisa, disebutkan suami sitri merupakan teman sekutu dan perjanjian. Tuhan tak hanya melarang perceraian, juga kekerasan. Untuk menghindari adanya perceraian, sebelum menikah, ada pendidikan pranikah. Pe-

dambaan tiap orang dalam berumah tangga. Sakinah berarti tenang atau putus dari goncangan, mawadah berarti penuh cinta kasih, dan warahmah berarti keluarga tersebut dirahmati Allah SWT. Nur Saadah memberikan beberapa kiat agar prinsip keluarga sakinah mawadah warahmah bisa tercapai. Seluruh anggota keluarga perlu menanamkan akhlak mulia dalam keluarganya. Caranya, mendidik dan menanamkan kejujuran baik antarkeluarga dan orang lain, menanamkan kepercayaan, menebarkan katakata ’minta tolong’ antaranggota keluarga saat meminta bantuan. “Meski orangtua meminta bantuan kepada anaknya, harus didasari kata ’minta tolong’. Orangtua pun senantiasa biasa mengucapkan ’terima kasih’ sebagai bentuk penghargaan

kepada anak,” katanya. Istri Fathurahman, S.Ag. ini menilai, kasus perceraian marak terjadi lantaran ada keegoisan dan antarsuami istri saling menutupi. “Ada sebuah keluarga yang suami istri bekerja. Gaji istri lebih besar dibanding suami. Istri merasa dia yang berkuasa dalam rumah tangga sehingga tak ada penghomatan kepada suami. Hasilnya, perceraian tak terelakkan,” kisah Bu Nur. Istri bekerja untuk membantu perekonomian suami dan juga eksistensi diri. Ada tuntunan, gaji suami diperuntukkan bagi seluruh anggota keluarga, gaji istri hanya digunakan untuk keperluan istri. “Sebaiknya, gaji suami istri digunakan bersama-sama tanpa pembedaan. Apakah pantas jika istri tega melihat ekonomi keluarganya yang pas-pasan sedangkan dirinya asyik menikmati gajinya seorang diri,” kata Bu Nur. Inilah perlunya rasa kebersamaan suami istri. —lik

latihan tersebut untuk memberi pemahaman kepada calon pengantin tentang liku-liku berumah tangga. Bagaimana menjadi suami dan istri yang baik. Menurut Lisa pelatihan diberikan selama tiga bulan. Tak hanya untuk calon pasangan pranikah, Pengurus Gereja Lembah Pujian juga menggelar konseling untuk siapa pun yang dihimpit masalah baik itu keluarga maupun masalah pribadi. Jika pasangan tak bisa langsung datang ke Lembah Pujian, konseling bisa dilakukan lewat telepon. “Jika perlu kami datang ke rumah yang bersangkutan,” ujar istri Yehezkiel Kiuk ini. Namun, Lisa menyayangkan, konseling banyak dilakukan ketika masalah yang dihadapi sudah membesar. “Jika masalah masih kecil, tentunya

kami mudah menyelesaikan,” katanya. Yang dilakukannya, pendekatan jiwa atau rohani. Tiap hari ada saja orang yang melakukan konseling. 80%, menurut Lisa, konseling masalah keluarga. —lik

Lisa Kiuk

Wisuda Sekolah Pelita Bangsa

Pementasan Tiga Bahasa kai kurikulum nasional dengan keunggulan mengajarkan tiga bahasa, bahasa Indonesia, Mandarin dan Inggris. Keterampilan berbahasa ini sangat berguna apalagi Mandarin sebagai bahasa kedua setelah bahasa Inggris. Sekolah ini memiliki tiga jenjang pendidikan; TK, SD, SMP dan membuka kelas playgroup. Mata pelajaran bahasa diberikan 14 jam seminggu. Selain bahasa, murid diberikan pengetahuan teknologi informasi. Murid belajar efektif di sekolah mulai pukul 08.00 s.d. 16.00. “Kegiatan wisuda ini Para winisuda Sekolah Pelita Bangsa sebagai bukti kreativitas mereka di bidang bahasa,” katanya. TIGA puluh delapan siswa Sekolah Pelita Ni Nyoman Sudiati S.E., M.M. selaku Bangsa mengikuti proses wisuda sebagai kepala SMP dalam sambutannya metanda mereka telah menyelesaikan jenjang ngatakan, Sekolah Pelita Bangsa cukup bapendidikan PG TK, dan SMP. Dalam acara nyak meraih prestasi. Sesuai hasil ujian bertema “Mahkotai Diri Anda dengan nasional, siswa SMP Pelita Bangsa lulus Motivasi untuk Memasuki Dunia Baru” ini 100% dengan satu orang diterima di seberlangsung Sabtu (12/6) di Hotel Nirmala kolah menengah unggulan yaitu I Made Denpasar. Beberapa siswa playgroup, TK dan Asti Suprabhawanti. Sementara ada beSMP mendapat penghargaan dari pihak berapa siswa berminat melanjutkan sekosekolah berkat prestasinya di bidang akademik lah ke luar negeri. Selama proses pendidikmaupun nonakademik. an, para siswa aktif mengikuti berbagai Penampilan para siswa playgroup s.d. perlombaan dari tingkat sekolah sampai SMP turut memeriahkan malam bahagia itu tingkat provinsi di bidang akademik maudengan beragam aksi pentas seperti menyanyi, pun nonakademik. —asp/tin menari, modern dance serta drama. Uniknya semua penampilan anak-anak itu ENGLISH-MANDARIN NATIONAL PLUS SCHOOL disajikan dalam bentuk tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Mandarin dan bahasa Jln. Mahendradatta No. 88, Denpasar; Inggris. Ketua Yayasan Sekolah Tlp: (0361) 746 6228, 490 565, 490579; Pelita Bangsa Pintono Arief Fax: (0361) 481 972, email : Priyono mengatakan Sekopelitabangsabali@yahoo.co.id lah Pelita Bangsa sebagai sekolah nasional plus, mema-

PELITA BANGSA


MOZAIK

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 5

dr. I Ketut Suyasa, Sp.B., Sp.O.T.(K)Spine

Terpilih Jadi Ketua IDI Denpasar MASA kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Denpasar telah berakhir. Bekerja sama dengan PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI), IDI Denpasar periode sebelumnya mengadakan seminar ilmiah “New Update Management of Dengue Haemorhagic Fever (DHF)”. Seminar ini dilaksanakan sebelum pemilihan ketua IDI yang baru. Ketua IDI Denpasar sebelumnya, dr. Putu Budhiastra, Sp.M. mengatakan, program kerja selama kepemimpinannya yang telah dilakukan meliputi kegiatan meningkatkan kewibawaan dan kemandirian organisasi, profesionalisme dokter, meningkatkan kemitraan IDI dengan pemerintah dan pembangunan bidang kesehatan, serta meningkatkan kesejahteraan dan menggalang solidaritas kekeluargaan antaranggota. IDI Denpasar dijelaskan patut berbangga. Kini lembaga ini telah memiliki gedung sekretariat yang representatif di

Dari Kiri: Prof. Dr. dr. Kornia Karkata, Sp.O.G. (K), dr. I Ketut Suyasa, dr. I Putu Budhiastra, dan dr. Hariyasa Sanjaya

Kompleks Pertokoan Grand Sudirman Nomor C-36 Jalan Sudirman Denpasar. Bangunannya dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Ada beberapa masalah belum bisa diselesaikan dengan baik dalam kepengurusan lama. Masalah tersebut antara lain sulitnya melacak jumlah pasti anggota. “Pengurus sulit me-

mungut iuran anggota, terutama kalangan dokter yang bekerja freelance. Ada anggota yang praktik dokter, tetapi tidak sesuai kompetensinya. Hal lainnya juga masalah kurangnya koordinasi antaranggota, karena jumlahnya banyak, serta kurangnya kepedulian anggota terhadap organisasi. Selain itu, program

mendirikan koperasi simpan pinjam belum terwujud. Saya berharap, ketua baru dapat melanjutkan program kerja kepengurusan lama,” harap ketua Perdama Bali ini. Ketua IDI terpilih diharapkan melanjutkan program kerja yang belum tuntas dan membawa organisasi ini makin maju. Dalam rapat pleno IDI tersebut, dr. I Ketut Suyasa, Sp.B., Sp.OT (K) Spine terpilih sebagai ketua IDI periode 20102014. Dokter spesialis bedah dan ortopedi yang pernah meraih prestasi Dokter Teladan Kabupaten Jembrana, Dokter Teladan Provinsi Bali, dan Dokter Teladan Tingkat Nasional ini terpilih secara aklamasi setelah dua kandidat lainnya, incumbent dr. I Putu Budhiastra dan dr. Hariyasa Sanjaya, Sp.O.G. mengundurkan diri dari bursa pencalonan ketua IDI itu. Panasihat IDI Prof. Kornia Karkata berharap organisasi ini makin solid ke depan. “Mengapa kegiatan anggota IDI tidak bisa seperti representasi pabrik obat yang tiap membuat kegiatan selalu diikuti banyak anggota dan suasananya penuh kekeluargaan. Acara outbound bisa dijadikan pilihan. Marilah kita bersama membuat organsiasi ini makin kuat dan solid,” ujarnya. —asp/ast

SUPERSEMAR AWARD 2010 TEPAT pada hari ulang tahun alm. Presiden Soeharto, 8 Juni 2010, Universitas Mahendradatta meraih penghargaan Supersemar Award 2010 khususnya di bidang ilmu ekonomi. Penghargaan ini diberikan kepada 11 perguruan tinggi negeri dan swasta di Tanah Air dan merupakan satu hal yang luar biasa bahwa prestasi dari Universitas Mahendradatta ini diakui oleh sebuah lembaga kuat macam Yayasan Supersemar yang dibina oleh keluarga mantan Presiden RI, Soeharto. Saya hadir bersama Ade Pranajaya,S.E. (sarjana ekonomi Unmar tahun 2009) yang juga mendapatkan Penghargaan Skripsi Ilmu Ekonomi Terbaik se-Tanah Air. Ada perasaan haru dan bangga, mengingat dengan adanya penghargaan ini, berarti hilangnya ”sekat-sekat” yang selama ini mengkotak-kotakkan aliran Soekarnois dan Soehartois khususnya di pandangan rakyat Bali. Saya kira banyak pihak di Indonesia sudah maklum adanya, bahwa Universitas Mahendradatta (yang dulu bernama Univ.Marhaen) adalah perguruan tinggi yang didirikan dengan prinsip-prinsip ajaran Dr.Ir.Soekarno, dan tentu saja Unmar memiliki segmentasi komunitas yang sudah terprinsip, apalagi ditambah Bali merupakan basis terkuat Soekarnois. Sehingga, hingga kini diusianya yang ke-47 tahun, Univ.Mahendradatta berdiri tegak dan makin berkibar dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Tapi jika sebuah universitas Soekarnois mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari sebuah lembaga yang dibentuk saat rezim Soeharto, tentu adalah hal yang unik, mengingat Universitas Mahendradatta adalah salah satu lembaga yang didiskriminasi selama 32 tahun zaman Orde Baru. Unmar (mungkin saja) merupakan satu-satunya lembaga resmi berbasis Marhaenisme dan Soekarnoisme yang bertahan dari serbuan badai dan cobaan. Misalkan saja, bagaimana dulu pendiri Unmar

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

Easy Speak, Membuat Saya lebih Percaya Diri MEMILIKI kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris adalah kebanggaan tersendiri bagi setiap orang, seperti yang dialami Ni Made Dwi Martina Swandayani, salah satu siswa yang telah merasakan manfaat dari metode yang diterapkan di Easy Speak. “Saya baru lulus SMA. Saya sangat senang belajar di Easy Speak karena sistem pengajarannya yang berbeda dengan one tutor for one student (personal attending) sehingga dalam proses pembelajaran saya merasa sangat fun dan focus dengan bimbingan langsung tutor yang profesional. Materi yang saya dapatkan benar-benar sesuai kebutuhan,” ujarnya. Ia mengatakan, sebelum bergabung di Easy Speak sudah sempat mengikuti kursus bahasa Inggris. Namun, terpaksa berhenti karena tidak ada teman untuk melanjutkan ke level selanjutnya. “Kursus yang pernah saya jalani, saya tidak mendapatkan tambahan. Hanya banyak teori yang membuat saya tambah bingung dan waktunya terikat. Kalau saya tidak hadir kursus, maka akan ketinggalan materi,” paparnya. Di Easy Speak, kata Dwi Martina, tidak perlu tergantung teman dan terikat waktu. Waktu belajar ditentukan sendiri, durasi belajar yang flexible, dan frekuensi kedatangan yang bisa diatur sendiri. “Setelah bergabung di Easy Speak, saya merasakan ada perubahan yang drastis. Sebelumnya, saya sangat sulit berbicara bahasa Inggris, terkadang ada rasa takut salah. Tapi kini, saya merasa lebih percaya diri berbicara berbahasa Inggris. Pokoknya saya sangat senang dan betah belajar di Easy Speak. It’s better for you guys to try to study in Easy Speak with their different system,” ujarnya dengan bangga. Easy Speak hadir dengan tampilan metode yang memungkinkan semua orang menguasai bahasa Inggris tanpa harus meninggalkan tempat beraktivitas sehari-hari. Jadwal dirancang FLEXIBLE sehingga memungkinkan siapa saja dari berbagai kalangan dengan profesi apa pun bisa leluasa mengatur waktu belajar. Program dirancang khusus memberikan solusi total terNi Made Martina Swandayani

hadap berbagai macam kesulitan yang dihadapi siswa dalam berkomunikasi bahasa Inggris. Materi pelajaran dirancang FOKUS sehingga hasilnya sesuai dengan harapan siswa. Untuk mencapai hasil yang optimal Easy Speak memberikan garansi berupa FREE, pengulangan sampai siswa benar-benar mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan. Metode ini disajikan dengan elegan dan profesional dalam suasana FUN dan penuh keakraban. Suasana belajar tidak terasa tegang yang akan menjadikan pembelajaran jauh lebih efektif.

Suasana belajar dengan sistem personal attending membuat siswa merasa nyaman dalam belajar dengan bimbingan tutor profesional

Let’s join with EASY SPEAK, get the easy way to learn English.

K U L I N E R

JLN. COKROAMINOTO NOMOR 66 BLOK B, C, D DENPASAR TLP. 422335, FAKS.415913 SMS. 085241216682 Email/Surel : easy.speak@yahoo.com Website/Situs: www.easyspeak.co.id Senin-Jumat : 09.00-20.00, Sabtu : 09.00-15.00

IKLAN CANTIK

S A L O N

&

harus selalu berhadapan dengan tangan-tangan Orde Baru yang mencoba menekan, membatasi dan akhirnya meminta dengan paksa perubahan nama Universitas Marhaen menjadi Universitas Mahendradatta. Begitu juga selama 32 tahun, Unmar tidak pernah mendapatkan bantuan presiden sepeser pun dari pemerintah orde baru mengingat betapa Unmar adalah simbol yang dinilai tidak boleh berkembang menjadi sebuah institusi besar dan harus tetap kerdil. Pada saat perguruan tinggi swasta lainnya mendapat kucuran bantuan dana berlimpah atau mendapat dukungan pembangunan kampus dan berbagai jenis bantuan, selama 32 tahun, Unmar hanya dapat berjalan tertatih-tatih dengan prinsip berdikarinya. Tapi karma bergerak, kini Unmar menjadi kesayangan rakyat Bali. Tamu negara dan para intelektual silih berganti menjadikan Unmar sebagai the living laboratory di bidang pendidikan tinggi. Dan tiba-tiba lamunan saya buyar ketika nama Unmar disebut menerima penghargaan sebagai universitas terunggul dalam bidang ilmu ekonomi versi Yayasan Supersemar di Jakarta. Sebagai rektor termuda, saya hanya bisa bersyukur bahwa selama menjabat rektor di universitas tertua ini, betapa banyaknya kejutan-kejutan yang saya dapatkan. Salah satunya, ya... Supersemar Award yang saya terima dari putri Presiden Soeharto dan Menteri Pendidikan Nasional RI. Dalam hati saya berpikir, mungkin Pak Menteri dan Mbak Titiek Soeharto tidak mengetahui sejarah Unmar dibawah diskriminasi pemerintahan Soeharto selama 32 tahun itu. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan itu semua. Anggap saja ini sebagai sebuah balasan karma positif dari sikap diam emasnya Unmar selama tertekan. Kita tinggal tunggu lagi, ke mana alam akan membawa Unmar untuk menerima karma-karma baik selanjutnya. Jayalah Unmar.

S P A


6

Tokoh

NUSANTARA

27 Juni - 3 Juli 2010

Bermain dan Berjualan Sasando TIDAK semua orang bisa memainkan alat musik Sasando. Cara memainkan alat musik khas NTT ini rumit, perlu keseimbangan antara tangan kanan dan kiri. Namun, Zakarias Ndaong, pria asal Desa Mbokak, Kecamatan Rote Barat, bisa memainkannya dengan mudah dan menarik.

S

epuluh tahun sudah ia menjadi pemain musik Sasando. Dengan alat musik tersebut ia mengenalkan NTT ke masyarakat Bali, Surabaya, dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan tahun 2009 ke Istana Negara. Melalui alat musik Sasando pula ia mengenalkan Indonesia ke mancanegara. Ia pernah mengunjungi berbagai negara seperti Jepang, Australia, Timor Laste, dengan bermain Sasando. Oktober men-

Lima Abad

Patung Tuan Ma

Tumpuan Hidup Keluarga Zakarias

an dan Pariwisata NTT genap lima kali mengikuti PKB dengan menggelar kesenian NTT. Musik Sasando salah satu atraksi kesenian yang ditampilkannya dalam PKB tahun ini. Alat musik yang dimainkan dengan dipetik ini pun ikut mengiringi tarian tradisional NTT yang dibawakan pemudapemudi dari beragam suku di NTT. Salah satunya Tari Tan Teoranda, tarian suku Rote yang tampak menarik perhatian pengunjung Pesta Kesenian Bali, Selasa (22/6) di Kalangan Anyodya Denpasar. Zakarias mengatakan alat musik Sasando dipetik dalam tiap kegiatan upacara adat maupun dalam fungsinya sebagai penyambutan tamu. Peranan alat musik ini penting bagi masyaZakarias memainkan alat musik rakat NTT, sehingga Sasando saat tampil di PKB menarik minatnya undatang ia berencana pergi ke tuk belajar memainkannya. ZaSpanyol. karias lahir di Desa Mbokak KeSasando dengan 45 senar ia camatan Rote Barat Kabupaten petik dengan sepuluh jari. “Sa- Rote. Mulai tertarik belajar mesando bersenar 45 bisa bisa un- mainkan Sasando ketika bertuk memainkan semua jenis la- umur 20 tahun. gu,” kata pria yang tampil berIa menuturkan, ketertarikan sasando secara solo mem- itu muncul ketika mendengar bawakan beberapa lagu dalam orang bermain alat musik ini. Ia arena Pesta Kesenian Bali ke- sangat ingin belajar namun tak 32 yang kini sedang berlang- ada yang mengajarinya. Akhirsung di Bali itu. nya ia belajar secara autodidak. Tahun ini, Dinas Kebudaya- Berkat kemauan kerasnya ber-

Besarnya Peran Confreria

di Larantuka

7 AWETNYA keberadaan dan prosesi Patung Bunda Maria Mater Dolorosa (Tuan Ma) di Larantuka, Flores Timur, tak dapat dilepaskan dari peran Raja Larantuka. Raja bukan hanya pemegang tampuk birokrasi pemerintahan tempo doeloe. Kekuasaannya juga ikut menentukan tetap terpeliharanya tradisi kekatolikan di daerah ini. Hanya saja, kekuasaan rajanya tidak selalu permanen. Waktu kekuasaannya yang temporer dipengaruhi mitos dan ritus. Legitimasi kekuasaan raja ini mirip pola kekuasaan penguasa kerajaan di Jawa zaman dahulu. “Seorang ahli asing, Anderson, pernah membandingkan pola kekuasaan raja di Larantuka dan di Pulau Jawa. Ada kemiripan, karena raja mendapatkan legitimasi dan otoritas dari pancaran pusat yang melingkupi keseluruhan struktur kekuasaan,” jelas tokoh Katolik Flores Timur Bernardus Tukan. Menurutnya, Raja Larantuka dulu didampingi seorang deputi atau wakil. Deputi raja ini dikenal sebagai raja kedua. Selain itu, raja biasanya menunjuk dua kapitan. Tugasnya, membentuk dewan pemerintahan sebagai kumpulan anggota besar. Tetapi, tiap keputusan yang kelak akan diambil lembaga ini harus memperoleh pertimbangan atau saran panglima perang. “Raja maupun perangkat kerajaan tersebut berperan besar dalam menentukan tetap lestarinya berbagai patung suci umat Katolik maupun tradisi liturginya,” jelas sesepuh warga Flores Timur di Bali yakni Ikatan Keluarga Lamaholot Bali, Yosep Yulis “Yusdi” Diaz. Eratnya kekuasaan Raja Larantuka dengan upaya pelestarian tradisi kekatolikan tersebut bermula saat berlangsung ritual khusus pengatolikan (pembaptisan) Raja Larantuka oleh misionaris Portugis tahun 1556. Saat itu, 200 pengikut raja ikut memeluk iman Katolik pula. Sesuai catatan yang ditulis dan diwariskan Pater Baltazar Diaz, S.J., raja konon belakangan mengirimkan seorang putranya belajar khusus agama Katolik di College Yesuit di Malaka. “Saat Keuskupan didirikan di Malaka tahun 1558, Flores berada di bawah keuskupan ini,” jelasnya. Kabar sejarah tersebut dilengkapi pula informasi tentang masuknya ajaran Katolik di Pulau Timor. “Konon saat itu ada 5 ribu orang masuk Katolik di

latih, belum genap dua bulan ia sudah bisa memainkan Sasando. Dengan alat musik ini sampai kini ia telah menguasai ratusan lagu. Suatu hari datang rombongan tamu Jepang ke NTT. Ia memainkan Sasando untuk menghibur mereka. “Tamu Jepang itu senang mendengar alunan musik Sasando ini,” ujarnya. Salah seorang dari mereka, Ketua Graha Budaya Indonesia Seiici Okawa. Begitu terpikat ia, maka melalui Pemda NTT menawari Zakarias datang ke Jepang untuk bermain Sasando. Ia menuturkan, alat musik itu kini telah menjadi penopang hidup keluarganya. Ia lahir dari 6 bersaudara kandung. Orangtuanya bekerja sebagai petani. Karena alasan ekonomi Zakarias memilih bekerja, setamat SMU. Ia sempat bingung memilih pekerjaan. Usia 6 tahun ia terkena polio karena terlambat imunisasi. Ia tak bisa memilih pekerjaan kasar karena cacat di kakinya. Ia kemudian memilih menjadi pemain Sasando. Ia merintis prestasinya dari bawah. Bermula sebagai penghibur tamu hotel dan kafe di Kupang “Saya tampil seminggu tiga kali dengan honor bulanan,” kata bapak dua anak, Putra dan Naila, ini. Selain piawai memainkannya, kini ia terampil juga membuat alat musik Sasando. Beragam jenis Sasando dari pentatonik dan diatonis ia pajang di show room pribadinya di Kupang. Menurutnya, selain Sasando yang 45 senar (pentatonik) ada juga Sasando yang memiliki 9 senar (diatonis). “Sasando diatonis ini hanya bisa dipakai memainkan lagu daerah,” ucapnya. Bermain dan berjualan Sasando kini menjadi tumpuan hidup keluarganya. –tin

Istana Raja Larantuka sekarang

Pulau Timor,” imbuh Dus Tukan, panggilan akrab Bernardus Tukan. Masuknya ajaran Katolik di Solor dan Timor itu akhirnya melahirkan misi khusus yang dinamakan ‘Misi Solor dan Timor’. Perjalanan misionaris Portugis menyebarkan ajaran Katolik tersebut berlangsung damai. Kaum misionaris Eropa ini masuk melalui proses adaptasi dengan budaya lokal masyarakat Flores Timur, tyermasuk di Pulau Timor. Tetapi, ancaman agresi dari pedagang beragama Islam yang datang dari Jawa dan Aceh ternyata mencemaskan kaum misionaris dan umatnya. Sebuah benteng akhirnya dibangun tahun 1556 di Solor sebagai tempat perlindungan dari serangan lawan. Benteng ini kemudian dikenal sebagai Benteng Lohayong. Pemrakarsanya Pater Antonio da Cruz, OP. Pemerintah Portugis zaman itu ikut menyuplai perlengkapan perang berupa senjata, termasuk prajurit dan panglima perang. Konflik memang pecah. Peperangan tidak terhindarkan. Dua kubu masyarakat bertikai, yaitu mereka yang mempertahankan Benteng Lohayong dan kelompok masyarakat Lamakera yang melakukan aksi balas dendam akibat seorang bangsawannya, D.Diogo, ditawan panglima perang Benteng Lohayong Antonio Viegas. Benteng ini akhirnya porak-poranda diserang pasukan perang Lamakera. Kaum misionaris menyelamatkan diri keluar Benteng Lohayong. Benteng ini kemudian menjadi sasaran serangan martir Belanda tahun 1613. Tembakan meriam yang bertubi-tubi dari arah laut akhirnya merontokkan sejarah Solor yang pernah menjadi pusat kegiatan misionaris Portugis, terutama di wilayah Benteng Lohayong. “Sejak itu Misi Solor pindah ke Kota Larantuka. Misi Katolik di Larantuka diteruskan Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandez,” jelas Dus Tukan. Walau peperangan sudah menghancurkan pusat aktivitas misionaris Katolik tersebut,

keberadaan patung-patung suci umat Katolik tetap terjaga. Ini termasuk tetap terselamatkannya Patung Tuan Ma, arca sakral yang melambangkan sosok ibunda Tuhan Yesus Kristus itu. Saat tiba di Larantuka, Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandez memilih sebuah lokasi yang aman sebagai pusat kegiatan misionaris Katolik. Lokasinya di sebuah kawasan yang bernama San Dominggo. Letak wilayah ini strategis untuk membentengi aktivitas misionaris dari kemungkinan agresi pihak lain. Sebuah benteng dan gereja dibangun di San Dominggo tahun 1614-1615. Pater Luis Andrada kemudian melanjutkan kegiatan misionaris setelah Pater Agustino hijrah ke daerah Mulowato, sebuah daerah baru kegiatan misionaris

yang masih berada di bawah kekuasaan Raja Larantuka. Belakangan datang tiga misionaris dari Keuskupan Malaka ke Larantuka. Persisnya ini terjadi tahun 1561 saat terjadi krisis iman Katolik di wilayah ini. Masa ini kemudian disebut-sebut sebagai momen awal karya misi Katolik di Larantuka. Saat terjadi krisis imam Katolik itu, banyak umatnya yang kembali memeluk kepercayaan asli nenek moyang mereka. Praktik kehidupan keagamaan bergeser ke ritus yang bertentangan dengan ajaran Katolik. Tetapi, sementara warga lainnya masih setia menjalani tradisi ajaran Katolik. Umat Katolik yang tetap menjadi pengikut ajaran Yesus Kristus ini dikawal sebuah serikat orang awam yang bernama Confreria. “Komunitas ini dilahirkan kalangan pater Dominikan abad ke-16,” jelasn Dus Tukan. Menurut Yusdi Diaz, peran Confreria amat besar dalam menjaga lestarinya tradisi liturgi yang meriah, perarakan patung suci yang diselingi senandung rohani yang mengharukan, ritual penghormatan kepada Bunda Maria melalui doa rosario, termasuk kebiasaan menghormati orang kudus, seperti Santo Yosef, Santo Dominikus, Santo Fransiskus, dan Santo Antonius. —sam

Badut Dalam Khitanan Massal

Suasana khitanan massal di Musala Al-Ikhwan Patih Nambi

P

ANITIA kegiatan khitanan massal di Musala Al-Ikhwan, Patih Nambi Denpasar, Sabtu (19/6), tahu cara membuat anak-anak tak merasa ketakutan untuk dikhitan. Ada badut yang menghibur sebelum anakanak memasuki bilik yang digunakan untuk mengkhitan anak-anak. Panitia khitan massal tersebut menyediakan tiga bilik dengan tiga tenaga kesehatan. Di bilik tersebut, 35 anak yang telah terdaftar dikhitan tenaga ahli kesehatan dari Rumah Sunat Al-Ikhwah.

Drs. Amrullah Syahid

ujarnya. Amrullah menuturkan, pihaknya merasa kesulitan mencari anak-anak yang mau dikhitan. Awalnya ia hanya menargetkan 25 anak, namun hingga mendekati hari pelaksanaannya, yang mendaftar hanya 20 orang. “Pada hari terakhir pendaftaran, peserta membludak hingga 35 orang,” katanya. Peserta tak hanya berasal dari wilayah Patih Nambi, namun juga dari beberapa daerah di wilayah Denpasar dan Badung. Khitanan massal membantu meringankan beban para orangtua yang memiliki anak laki-laki. Hariyono, termasuk salah seorang orangtua yang tertarik mengikutsertakan putra semata wayangnya ikut khitanan massal. Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi alasan utamanya. Untuk membiayai kehidupan keluarganya, Haryono hanya mengandalkan gajinya sebagai karyawan sebuah rumah makan. Kegiatan khitanan massal memang sudah dinantikan Hariyono. “Biasanya jika liburan sekolah, banyak lembaga yang menggelar khitanan massal. Sejak awal saya memang berencana mengikutkan anak saya,” kata ayah M. Dimas Rizky Hari Satria ini. Esok harinya Hari menggelar acara syukuran bersama kerabat dekatnya di rumah kontrakannya. —lik

Teknologi canggih yang digunakan para tenaga medis, membuat proses khitanan berjalan cepat dan mengurangi rasa sakit. Tiap anak hanya memerlukan waktu tiga hingga lima menit. Tak hanya mendapat kesempatan bermain dan bersenda gurau dengan badut, anak-anak yang rata-rata berusia 2 hingga 13 tahun itu juga mendapatkan bingkisan menarik serta sejumlah uang dari panitia. Khitanan massal merupakan salah satu kegiatan bakti sosial yang diprogramkan taqmir Musala Al-Ikhwan. Biasanya, menurut Drs. Amrullah Syahid, Ketua Takmir Musala Al-Ikhwan, kegiatan bakti sosial difokuskan memberikan bantuan ke panti asuhan di seluruh Bali. “Kali ini kami lakukan hal yang berbeda. Kami sasar warga kami yang kurang mampu dengan menggelar Badut di tengah acara Khitanan Massal khitanan massal,”

Rencanakan sejak............................................................................................dari halaman 1 meskipun dua anaknya Nakula dan Sahadewa anak tiri. Lima bersaudara ini sangat rukun, mereka memiliki rasa sayang yang tinggi. Mereka memiliki pengetahuan ajaran suci. Dewi Kunti dengan segala kekurangannya termasuk wanita ideal. Kasih sayangnya pada anak membuat semua putranya bersujud di kakinya. Yudistira memberikan teladan kepada adikadiknya. Jika seorang anak mendapat pendidikan budi pekerti baik dalam keluarga, mereka tidak kesulitan belajar maupun memper-

oleh pekerjaan. Ketika seorang anak mencapai tingkat kedewasaan dalam meniti karier semua rintangan dapat diatasi. “Kita dapat membandingkannya dengan mereka yang menjadi perampok, peminum alkohol, pecandu narkoba, terjerumus pelacuran. Akar pertama gagalnya ada pada penanaman pendidikan budi pekerti,” tandasnya. Hal penting dalam proses pendidikan Hindu yakni upacara yadnya. Upacara ini berhubungan dengan sarira samskara atau manusa yadnya. Jika upacara ini di-

laksanakan seseorang dalam tiap perubahan statusnya, maka upayanya tergolong kegiatan pendidikan. “Upacara itu sebenarnya mengandung unsur memengaruhi anak membentuk watak mereka dan bertujuan memberikan kebahagiaan lahir batin sesuai dengan tujuan agama Hindu. Upacara saat masih dalam kandungan ibunya dengan upacara magedongmagedongan, kemudian anak lahir berganti status menjadi anak, remaja, dan menginjak perkawinan, selalu disertai upacara yadnya,” jelasnya. —ast

Makin Didengar Makin Asyiik...


LINGKUNGAN

Gerakan Hemat Air di Surabaya TIDAK semua orang yang hidup di kota besar bergantung pada air PDAM. Seorang di antaranya, Sardjono, warga RW 2 Kelurahan Gayungan, Kecamatan Gayungan, Surabaya, yang hingga kini tidak pernah berlangganan air PDAM. Padahal, semua tetangga kanankirinya pelanggan. Meski hidup di perkampungan, warga kawasan RW 2 Kelurahan Gayungan terbilang kelas menengah ke atas dan berada di jantung kota.

S

ardjono, hidup berke cukupan dan memiliki rumah yang cukup besar dan luas. Ketidakmauan Sardjono, untuk berlangganan air PDAM ini juga bukan untuk menghemat uangnya. Meski tidak berlangganan PDAM, Sarjono, dapat menikmati air bersih seperti PDAM. ‘’Saya tidak berlangganan air PDAM karena saat pertama kali menempati rumah ini kesulitan air. Pipa air PDAM sangat jauh dan untuk pasang harganya mahal,’’ kenang Sardjono. Ketika itu, tahun 1972, untuk mendapatkan air di kawasan Gayungan sangat sulit. Untuk mendapatkan air, terpaksa membuat sumur yang dalam agar mendapatkan air yang bersih. Cara Pak Sardjono, untuk mendapatkan air sangat sederhana. Sebab, semua orang jika tidak berlangganan air pasti memiliki sumur. Tetapi, untuk memperoleh air Pak Sardjono tidak dengan menimba air dari sumur. Lelaki setengah baya itu

Sarjono tak Berlangganan Air PAM Digencarkan Cuci Pakaian Sekali Bilas

keluarga besarnya selalu membutuhkan air untuk kehidupan sehari-hari. Apalagi, Indonesia termasuk salah satu negara kaya air. Namun, akibat ketidaktahuan masyarakat dalam menjaga dan menghemat air, Indonesia kini terancam kekurangan air karena bahan bakunya makin menipis. Ancaman krisis air juga terjadi di Surabaya jika tidak ada upaya kolektif penghematan air. ‘’Kalau masyarakat mulai sekarang tidak melakukan penghematan air, saya kawatir 20 tahun ke depan masyarakat Indonesia akan kekurangan air. Khusus untuk Surabaya, krisis air akan terjadi 8 tahun lagi jika masyarakatnya tidak melakukan Sarjono (kiri berdiri) penghematan,’’ kata Motivator mulai berkreasi menciptakan air bersih. Program Lingkungan Yayasan sumur seperti layaknya proses Perjuangan Sardjono men- Unilever Indonesia, Anas Pandu. air di PDAM. Langkah awal dapatkan air tanpa tergantung air yang dilakukannya, membuat PDAM inilah yang mendapat Hanya Sekali Bilas tandon air yang digunakan apresiasi dari masyarakat, Sebagian warga masyarakat untuk menampung air limbah pemerintah Kota Surabaya dan Surabaya telah mulai mengubah rumah tangga. perusahaan seperti Unilever. perilaku untuk menghemat air di Dalam tandon dipasang dua ’Pejuang air’ lainnya di Surabaya antaranya dengan hanya sekali bak penyaring tempat melaku- juga mendapat perhatian serius. bilas setelah mencuci pakaian. Air kan proses treatment agar air Seperti, yang dilakukan warga yang dihasilkan lebih bersih. RW 2 Kelurahan Jeruk. Mereka itu lalu bisa digunakan untuk “Air yang sudah diolah juga mendayagunakan ulang air keperluan lain misalnya mencuci dialirkan ke kolam ikan. dengan membuat tong sakti yang mobil. Masyarakat mulai Sehingga, saat air kolam keruh biayanya sekitar Rp 300.000 per menyadari pentingnya menghemat air karena manfaatnya tidak perlu diganti air PDAM. unit. Selain bisa mendayagunakan Tong sakti diisi sejumlah yang sangat besar dalam ulang air juga menghemat air bahan baku. Di antaranya pasir, kehidupan sehari-hari. PerubahPDAM,’’ katanya. Ia juga me- kerikil, ijuk, dan tawas yang an perilaku masyarakat itu ngembangkan lubang biopori. disusun secara bertingkat dalam dikemukakan Ketua Tim Berkat biopori ini, kelembaban tong. Dalam waktu beberapa Penggerak PKK Surabaya Dyah air bisa dijaga sehingga pada menit, air kotor dan bau amis Katarina, istri Wali Kota musim kemarau beberapa warga (karena bekas kurasan ikan lele- Bambang DH dan Senior Brand bisa memanfaatkan sumur red) dimasukkan ke dalam tong Manager Molto Ultra Sekali dengan air yang masih me- sakti. ‘’Beberapa saat kemudian Bilas, Dessy Choirunnisa. limpah. kembali jernih dan tidak bau amis, Ia menyatakan, masyarakat Demikian pula untuk meng- keluar otomatis dari kran yang perlu dimotivasi untuk menghemat air, warga membuat ada di bagian bawah tong,� kata hemat air, terutama pada musim shower inovatif yang terbuat Lurah Jeruk Mustofa, S.E., M.M. kemarau. ‘’Surabaya memang dari kaleng bekas yang telah didampingi pejuang air Aliman. belum sampai kekurangan air dan disterilkan dan berlubang di Dengan cara melakukan peng- kekeringan pada musim kemarau bagian bawahnya. Air yang hematan air, pendayagunaan seperti Bojonegoro dan Pacitan. mengalir melalui selang pun ulang air dan pelestarian air Ini karena kebutuhan sebagian lebih hemat. Saat air PDAM ancaman krisis air bisa dihindari. besar warga Surabaya dipenuhi keruh atau mati, rumah Pak Bahan baku air yang menipis PDAM. Tetapi, kita harus Sardjono didatangi tetangga perlu disikapi tiap individu. menghemat air demi kelestarian yang ingin mendapatkan air Sebab, ibu-ibu rumahtangga dan alam dan kebaikan kita sendiri,� kata Dyah. Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kualitas air sungai sebagai sumber air PDAM dengan tak membuang sampah di sungai. —sby

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 7

Sumber Energi dan Tata Ruang Wilayah SOLUSI diungkapkan Prof. Ir. Ida Ayu Dwi Giriantari, M.Eng., Sc., Ph.D. dalam Seminar Mewujudkan Sistem Kelistrikan Bali yang Mandiri dan Ramah Lingkungan, di Inna Bali Hotel, Kamis (24/6). Seminar tersebut diselenggarakan Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan. Solusi yang ditawarkan tersebut bermakna universal bukan hanya terkait sumber energi, tetapi juga relevan jika dikaitkan dengan aspek lingkungan lainnya yakni persoalan tata ruang wilayah Bali. Guru besar Unud tersebut menyebutkan, perlunya perubahan sikap mental masyarakat dalam menghargai energi. Siapkan infrastruktur yang menunjang penghematan energi. “Hemat energi = hemat emisi karbon = green life,� tulis Prof. Dwi Giriantari. Mengubah sikap mental masyarakat agar menghargai energi dan memiliki budaya hemat energi dimulai dari mana? Sering muncul solusi, dimulai dari proses pendidikan dalam pengertian luas, termasuk pendidikan agama, jalur formal, nonformal, maupun informal. Sejatinya, perubahan sikap mental masyarakat dalam kondisi seperti sekarang ini bukan hanya perlu terjadi di Bali, dan bukan hanya terkait penghematan energi. Perubahan sikap mental perlu terjadi di hampir semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Maka, sudah dapat dibayangkan, menanti hasil perubahan sikap mental dalam upaya menumbuhkan paradigma baru lewat proses pendidikan, membutuhkan waktu lama. Selain proses pendidikan tetap berjalan, perlu upaya dalam program aksi konkret berupa penyiapan infrastruktur sebagai faktor penunjang. Faktor penunjang harus diberi makna lebih komprehensif, fisik dan nonfisik, termasuk juga sarana berupa regulasi dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kreatif dan inovatif.

Sebut saja gerakan Bali Clean and Green yang diyakini dapat turut menunjang upaya pelestarian sumber energi, sekaligus menunjang tewujudnya ramah lingkungan. Misalnya, lewat gerakan penanaman pohon yang belakangan ini kian bergairah. Upaya itu harus ditunjang regulasi berupa kebijakan dalam pemetaan masalah lingkungan. Di mana pohon harus ditanam dan pohon apa harus ditanam, masalah penyiapan bibit, pemeliharaan, dan sebagainya. Gerakan penanaman pohon yang terkosentrasi di daerah hilir akan mubazir jika tidak diimbangi secara proporsional penanaman pohon di daerah hulu sebagai sumber energi air. Air merupakan salah satu sumber tenaga listrik di Bali yang bisa diberdayakan sesuai dengan kapasitas dan keterbatasannya. Air merupakan energi ramah lingkungan yang berasal dari bumi sebagaimana energi panas bumi. Menurut Dr. Ketut Gede Dharma Putra, M.Sc. energi ramah lingkungan lain, energi matahari, angin, biomassa dan biogas, perbedaan suhu air laut, dan pasang surut air laut (gravitasi matahari dan bulan). Dalam mengelola lingkungan hidup, terkait sumber energi maupun tata ruang wilayah, sebenarnya Bali sudah cukup jeli dalam membuat prediksi dan mengantisipasi perkembangan yang bakal terjadi, dalam jangka panjang. Para leluhur dan pendahulu kita telah mewariskan berbagai falsafah, tata nilai, pola hidup, regulasi, yang menjamin tetap lestarinya lingkungan hidup di Bali. Berbagai pandangan kemudian didiskusikan, dirumuskan dan ditetapkan menjadi aturan main. Dalam Pelita II Bali (1974/1975 – 1979/ 1980) telah dicanangkan reboisasi, selain penanaman jenis-jenis pohon tertentu di  Bersambung ke halaman 15

Jalan Cokroaminoto Denpasar. Ruang terbuka hijau kota atau ruang terbuka bisnis?

SMK Duta Bangsa

Siapkan Tenaga Ahli Teknologi Informasi dan Pariwisata ARUS globalisasi membuat kebutuhan terhadap tenagatenaga pendukung di berbagai sektor industri kian meningkat. Inilah yang membuat SMK Duta Bangsa berkomitmen menyiapkan tenaga-tenaga andal di bidang teknologi informasi dan pariwisata. “SMK Duta Bangsa didirikan guna menciptakan lulusan yang berstandar internasional dengan kompetensi utama di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta pariwisata,� jelas Kepala SMK Duta Bangsa Ni Made Dwi Adnyani, S.Si.. Konsep link & match diterapkan di sekolah ini, lantaran relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha baik lokal dan siap bersaing di kancah internasional. Hal tersebut sesuai dengan visi SMK yang berada di bawah naungan Yayasan Dharma Widya Shanti ini yakni menjadi SMK bertaraf internasional untuk menghasilkan tamatan

Bidang Keahlian/Jurusan SMK Duta Bangsa

Ni Made Dwi Adnyani, S.Si.

yang profesional, mandiri dan kompetitif. Menurut Dwi, agar bisa bersaing, kompetensi siswanya pun ditingkatkan. Sehingga nantinya, tamatan SMK Duta Bangsa memiliki kecakapan hidup untuk membuka usaha mandiri. Untuk menunjang hal itu, pihaknya

zTeknologi Informasi (TI) -Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) Program RPL menyiapkan siswa menjadi programmer muda dalam bidang situs dan aplikasi. Kompetensi meliputi analisis program; programmer dan developer programmer. -Multimedia (MM) Sesuai dengan visi dan misi SMK Duta Bangsa yang dirancang menyiapkan tenaga multimedia yang unggul. Kompetensi meliputi web designer & animation, multimedia dua dan tiga dimensi, video editing, editor audio visual. -Teknik Komputer Jaringan (TKJ) Sesuai kebutuhan perkembangan teknologi informasi, dirancang menyiapkan tenaga kerja teknisi jaringan yang unggul. Kompetensi meliputi teknisi komputer, teknisi jaringan dan admistrasi jaringan. zPariwisata -Akomodasi Perhotelan Kompetensi meliputi front office, laundry, housekeeping, pariwisata, bahasa Inggris dan computer. -Restoran Kompetensi meliputi pengelolaan usaha (catering, memasarkan hasil produksi, dll.), masakan Indonesia, oriental, kontinental, dan pastry; tata hidangan dan dekorasi makanan; bahasa Inggris dan komputer. telah melakukan peningkatan mutu pendidik maupun tenaga kerja kependidikan yang bersertifikasi, meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk mendukung proses pembelajaran yang optimal serta meningkatkan pelayanan untuk memenuhi kepuasaan pelanggan. Berbagai kelebihan dimiliki SMK yang berada di atas tanah seluas 18.000 meter persegi ini. Fasilitas yang dimilikinya cukup memadai, seperti gedung milik sendiri, dilengkapi laboratorium komputer lengkap serta ber-AC,

ruang perpustakaan, akses internet dan kantin yang bersih dan nyaman. Lokasi sekolah berada di dalam kota, sehingga siswa tak akan mengalami kesulitan transportasi. Orangtua pun tak perlu khawatir akan keselamatan putra-putrinya, karena sekolah menyediakan satuan pengamanan selama 24 jam di sekolah. Menariknya, SMK Duta Bangsa juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri sehingga memudahkan siswanya melakukan on the job training. –adv/lik

Untuk Informasi Pendaftaran Siswa Baru Hubungi:

Beragam fasilitas dan program pendidikan di SMK Duta Bangsa

SMK Duta Bangsa Jalan Kecak No. 9 A Denpasar Bali Telepon/Faksimile (0361) 412871 Situs: www.smkdutabangsa.sch.id Surel/email: smkdutabangsa@gmail.com Facebook: Group SMK Duta Bangsa


8

Tokoh

27 Juni - 3 Juli 2010

HARMONI Ir. Jero Wacik, S.E. dan Dra. Triesna Wacik 8 tkh/sam

Wisuda Bareng di UI JERO Wacik (JW) dan Triesna memulai hidup baru sebagai suami-istri. JW bekerja di United Tractors, anak perusahaan PT Astra International yang memproduksi alat berat traktor. Triesna kuliah lagi di Fakultas Psikologi UI Jakarta setelah gagal naik tingkat akibat kelewat asyik berpacaran dengan arjuna asal Batur, Kintamani, Bangli, itu.

JW dan putra bontotnya, Bintang Wacikaputra, saat bersembahyang di Pura Bukit Mentik Desa Batur, Kintamani, Bangli, pekan lalu

M

ereka menikah tahun 1974. Saat memulai hidup berkeluarga, rumah tumpangan Triesna tetap di asrama mahasiwa UI “Wisma Rini” di Jalan Otista. Rupanya, perkawinan ini memacu spirit belajar Triesna. Prestasi akademiknya tak lagi sejelek sebelumnya. Hasil tes kenaikan tingkatnya mengesankan. Triesna naik tingkat II. Hamil Anak Sulung Setelah setahun menikah, Triesna hamil. Kuliahnya berjalan mulus selama hamil anak sulung tersebut. “Setelah kawin kuliah istri saya tetap berjalan lancar. Kehamilan pun tak mengganggu proses belajarnya. Dia terus naik tingkat,” ujar JW. Buah hati sulung pasutri ini lahir 9 September 1976. JW dan istrinya sepakat menamakan janin berkelamin perempuan ini Ayu Vibrasita. “Saat punya anak satu, istri saya tetap kuliah. Selain kuliah, juga mengurus anak. Memang berat sih, tetapi ya dilakoni saja,” katanya. Setelah punya momongan, JW dan Triesna memboyong putrinya ke sebuah rumah mungil di kawasan Jalan Utan

Kayu. Rumah kontrakan ini terbilang sederhana. Padahal, Triesna sudah terbiasa hidup serba berkecukupan sebelum dinikahi JW. Maklum ayahnya di Bandung tergolong keluarga berada. “Tetapi, saat itu, saya mendidik istri untuk memulai hidup sederhana. Syukur dia bisa menerima kondisi ekonomi saya apa adanya,” kisah JW. Sesekali JW mengajak istri dan putrinya berakhir pekan di rumah mertuanya di Bandung. Sebuah mobil butut milik kantornya menjadi tumpangan keluarga kecil ini. “Jika tiba di rumah mertua, adik bungsu istri saya bilang, truk es krim sudah datang. Maklum mobil jelek tersebut biasa dipakai untuk mengangkut suku cadang pabrik perusahaan tempat saya bekerja,” ungkapnya. Setelah ngobrol dengan keluarga mertua biasanya JW mengajak Triesna ke gedung bioskop. Mertuanya menawarkan JW dan Triesna mengendarai mobil keluarga mereka di Bandung. Namun, JW menolak secara halus tawaran itu. “Saya tetap ingin pakai mobil butut

tersebut. Saya ingin Triesna puas menggunakan apa yang kami pakai. Saya mengajarkan dia untuk menyelami makna berjuang,” papar mantan asisten dosen di mata kuliah mekanika teknik, mekanika fluida, dan perpindahan panas di Jurusan Teknik Mesin ITB Bandung ini. Mendalami Pemasaran JW mulai merenung-renung soal nasib kariernya jika hanya bermodal gelar dan keahlian seorang “tukang insinyur”. Kariernya lambat-laun akan mentok di manajemen PT United Tractors. Bekal pengalaman berinteraksi dengan banyak orang memberinya inspirasi untuk mendalami ilmu marketing. Kebetulan saja JW memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik, khususnya bernegosiasi. Sejak duduk di bangku kuliah memang JW dikenal memiliki kemampuan melobi yang andal. Ilmu pemasaran mulai diliriknya. JW memutuskan kuliah lagi. Studinya kali ini khusus untuk mendalami ilmu pemasar-

an. Ia lolos tes sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UI. “Saya kuliah bareng istri di kampus yang sama, tetapi berbeda fakultas. Saya mengambil program ekstensi tahun 1978,” katanya. Namun, saat itu, keluarganya sudah pindah rumah kontrakan. JW menyewa sebuah rumah baru di Pisangan. Rumah ini lumayan besar. Ada tiga kamar tidur, tetapi belum dilengkapi listrik. “Saya membeli genset untuk penerangan rumah. Tiap hari saya menghidupkan mesin genset itu,” ujarnya. Rumah kontrakan baru ini tak hanya dihuni JW, Triesna, dan putri sulung mereka. Saat itu, keluarga ini baru dikaruniai buah hati kedua yang diberi nama Sagita Shinta Pratiwi. Putri keduanya ini lahir 21 Desember 1977. Kesibukan Triesna otomatis bertambah. Selain kuliah yang menyita waktu, urusan mengasuh dua buah hati mereka tak kurang memerlukan perhatian. “Makanya, kuliahnya sempat terseok-seok. Mungkin kecapekan, istri saya mulai malasmalasan kuliah,” ujar JW. Walau sudah mulai kuliah, JW tetap bekerja di PT United Tractors. Jabatannya manajer. Namun, penghasilannya diakui tidak besar. Padahal, kebutuhan keluarganya lumayan banyak. Ini bukan saja diperlukan untuk biaya hidup sehari-hari. JW harus menanggung biaya sewa rumah, termasuk mengongkosi kuliah istri dan diri sendiri di UI. “Tetapi, saya berusaha melakoninya,” tutur JW. Kuliah Malam Hari Kuliah istrinya yang mulai terseok-seok mengundang perhatian serius JW. Jika istrinya mulai terkesan malas kuliah, JW berusaha memberi suntikan semangat. Ia berusaha menjadi teladan bagi belahan jiwanya. “Saya kerja pagi

sampai siang. Capek pastilah, tetapi saya tetap berusaha kuliah malam hari. Cara saya ini ternyata berhasil membakar semangat istri. Kami berdua akhirnya berpegang pada prinsip tidak boleh pernah berhenti belajar,” ujarnya. Prinsip itu bukan hanya berhasil mendorong semangat istrinya untuk menyelesaikan kuliah. JW pun enggan berhenti belajar, terutama mendalami ilmu barunya di FE UI. “Saya berusaha mendalami ilmu ekonomi, karena saya mustahil bisa menjadi dirut perusahaan jika tak memiliki wawasan ekonomi, manajemen, dan keuangan. Apalagi, zaman itu gelombang alumni ITB yang meneruskan studi MM atau MBA sedang ngetren,” paparnya. Kuliahnya bareng istri di UI berjalan lancar. Apalagi, JW mulai dipercaya menjadi asisten dosen di almamater barunya itu. Kariernya di PT United Tractors pun tetap bersinar. “Saya mulai bisa menabung. Hasil tabungan saya lambat-laun bisa dipakai untuk membeli sebidang tanah seluas 700 meter2 di Kalibata. Saya mulai membangun rumah di atas lahan milik pribadi tersebut. Bangunan tempat tinggal ini lumayan gede,” ujarnya. Ada cerita menarik sebelum JW membeli lahan tersebut. Ia teringat ucapan pemilik rumah kontrakan di kawasan Pisangan. “Saat mengontrak rumahnya, pemilik rumah bilang, biasanya orang yang tinggal di bangunan rumah yang berdiri di atas lahan miliknya itu lambat-laun punya rumah sendiri jika masa kontraknya habis. E…tahu-tahu omongannya benar. Kami akhirnya punya rumah sendiri di Kalibata itu,” katanya sumringah. Wakili Wisudawan Kuliah JW dan istrinya UI berjalan mulus. Triesna mulai memasuki masa persiapan ujian akhir. JW tinggal menyelesaikan skripsinya. Biar bisa wisuda bareng istri, saya genjot skripsi saya sampai kelar. Kami berdua akhirnya bisa wisuda bareng. Saya malah diberi tugas mewakili para wisudawan menyampaikan pidato di hadapan senat guru besar UI yang saat itu rektornya dijabat Prof. Dr. Nugroho Notosusanto. Pak Nugroho waktu itu juga menjabat menteri P &

“Keluarga, Basis..................................................................................................................................................................dari Tetapi, saat itu Mangku Pastika belum memiliki modal uang yang cukup untuk menikahi kekasihnya. “Saya terpaksa pinjam uang di koperasi Brimob untuk membeli sepasang cincin kawin. Saya mencicil tiap bulan,” jelasnya. Saat melakoni kehidupan sepasang suami istri pun, Mangku Pastika dan istri menempati sepetak kamar di asrama Brimob. Di kamar ini tak ada kursi tamu. Ruang sempit ini hanya pas untuk sebuah dipan kecil. “Jika tidur, istri tudur di felbet (dipan), saya tidur di lantai,” ujarnya mengenang awal menjalani kehidupannya berumah tangga. Istrinya sempat membuka usaha jasa layanan salon kecantikan dan menjahit. Ini dijalani Ayu Pastika ketika suaminya sedang mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta. “Istri saya mmbantu manafkahi keluarga kami saat saya sekolah di PTIK,” katanya. Saat berpangkat kapten polisi, Mangku Pastika dipercaya menjadi ajudan Menhankam/Pangab (saat itu) Jenderal Maraden Panggabean. Namun, penghasilannya belum cukup untuk menopang kebutuhan keluarga. “Saat itu kami tinggal di sebuah rumah kecil di Perumnas Depok. Anak saya sudah dua. Penghasilan tambahan untuk keluarga diusahakan melalui kegiatan berkebun dan beternak ayam. Saya menanam cabe, serai, bayam, kemangi, juga menjual telur dari usaha peternakan ayam petelur,” ungkapnya. Mangku Pastika mengaku tak pernah menyesali kehidupan yang penuh keprihatinan dulu itu. Ia

menganggap itu anugerah. “Ya…anugerah, karena bisa mengalami kehidupan sulit itu. Jadi, saya bukan tiba-tiba saja jadi jenderal,” katanya. Kesulitan hidup bahkan sudah dirasakannya sejak masih bocah. Ayahnya yang berprofesi guru memboyongnya bertransmigrasi ke Lampung saat Mangku Pastika berumur 12 tahun. Saat itu, menginjak bangku SMP ada sebuah pengalaman mengharukan yang dialaminya. Perut Mangku Patika bocah saat itu keroncongan. “Saya pingsan di jalan ssepulang sekolah karena kelaparan. Saya ditolong seorang warga keturunan Tionghoa yang baik hati. Saya kemudian ditawari menjadi pembantu rumah tangga di rumahnya,” kisahnya. Mangku Pastika menerima tawaran tersebut. Ia menjalani tugas sehari-hari layaknya seorang pembantu rumah tangga. Tetapi, Mangku Pastika pun diam-diam belajar bahasa Mandarin yang menjadi alat komunikasi sehari-hari di rumah majikannya. Dari situ, ia lumayan mahir bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin. Kesulitan ekonomi masih melilitnya saat memasuki bangku SMA di Palembang. Mangku Pastika remaja berjuang menghidupi diri sendiri, termasuk mengongkosi sendiri sekolahnya. Selain menjadi loper koran, ia pun bekerja sebagai kuli angkut barang di pasar tradisional. “Saya tidak minder melakukan pekerjaan tersebut,” kata alumnus Akabri Kepolisian ini. Cahaya kariernya di kepolisian yang benderang mengantarkan Mangku Pastika mulai memikul tugas besar. Ia bukan hanya pernah

menjadi kapolda Papua. Saat meledak tragedi bom Bali I, Mangku Pastika dipercaya Kapolri (saat itu) Jenderal Da’I Bachtiar menjadi ketua Tim Investigasi Bom Bali. Sukses mengungkap pelaku bom laknat itu, ia dilantik menjadi kapolda Bali. Setelah itu, Mangku Pastika meraih pangkat bintang tiga saat menjabat kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Masyarakat Bali lalu menaruh kepercayaan besar di pundaknya untuk menjadi orang nomor satu di wilayah ini. Anak transmigran asal Buleleng ini akhirnya tercatat sebagai putra asli Bali berlatar belakang polisi pertama yang menjadi orang nomor satu di daerahnya. Selama memikul tugas bangsa dan negara, Mangku Pastika mengaku telah melintasi aneka pengalaman berharga. Namun, peran dan kedudukan keluarga di balik perjalanan kariernya yang bersinar itu tak kalah pentingnya. Mangku Pastika memastikan dukungan istri, anak-anak, termasuk keluarga besarnya maupun sanak famili mertuanya ikut menentukan tiap jejak langkahnya menekuni tugas dan pengabdiannya. Khusus hubungan harmonis dengan sang istri lebih banyak ditentukan komunikasi timbalbalik. Komunikasi suami dan istri menjadi kata kunci untuk membangun keluarga yang bebas dari syak-wasangka. Apalagi, menurutnya, waktu untuk istri banyak tersita pekerjaan kantor. “Kebersamaan yang dijalin melalui komunikasi amat penting. Namun, bagi saya bukan jumlah atau

Ribuan Lintah...............................................................................dari Felix tampak kepayahan, mukanya pucat pasi. Ia membaringkan tubuhnya. Saya sempat menyarankan ia untuk tidak melanjutkan pendakian. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap turut melanjutkan perjalanan, karena sudah tanggung untuk pulang. Perhitungan saya, jika pulang saat itu, ia bisa tiba di Dusun Pancasila sebelum hari gelap. Di wajah para pendaki lainnya, saya juga menyaksikan kelelahan mulai menyergap. Mengingat Felix tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan, Kisi mengambil inisiatif untuk bertukar ransel dengannya. Felix membawa yang lebih ringan sedangkan Kisi membawa yang berat. Perjalanan kami pacu terus menuju Pos II, yang kami rencanakan sebagai tempat makan

siang. Langit mulai kelihatan mendung. Awan hitam menggantung. Sesekali halilintar terdengar. Tampaknya hujan segera turun. Ada rasa cemas, mungkinkah hari itu kami bisa mencapai base camp di Pos III. Pemandu mengingatkan kami, di jalur menuju Pos II hingga Pos III akan terdapat ribuan lintah atau pacet yang bisa siap mengisap darah kami. Uh…. saya hampir stres mendengarnya. Sebelumnya, dari pintu palang hingga Pos I, sebenarnya saya sudah disibukkan binatang berlendir ini yang menjijikkan ini. Tetapi, jumlahnya tidak banyak. Beberapa pacet yang sempat hinggap di sepatu saya, membuat tubuh saya merinding, geli, dan mulut saya berkali-kali berteriak. Soal pacet ini memang menjadi

halaman 1

salah satu topik penting yang kami bahas sehari sebelum pendakian. Berbagai saran saya dengarkan dengan seksama. Di antaranya, pemandu menyarankan celana bagian dalam agar masuk ke dalam kaus kaki tebal. Saran lain, dari sepatu hingga betis diperban menggunakan lakban sehingga tidak ada jalan bagi pacet untuk masuk dan mengisap darah. Qwadru menyarankan menyiram sepatu hingga betis dengan air tembakau yang memang sudah kami siapkan sejak berada di Dompu. Semua saran ini saya ikuti demi terbebasnya saya dari binatang pengisap darah ini. Saya tidak pernah gentar menghadapi medan berat dan menantang yang pernah diceritakan banyak orang tentang Tambora. Saya pun tidak terganggu cerita mistik dan keangkeran gunung ini.

halaman 1

banyaknya komunikasi dalam keluarga, tetapi intensitasnya dan kualitasnya yang penting,” katanya. Waktu komunikasinya dengan istri berlangsung hampir tiap hari. Ia mengungkapkan contoh selama menjabat gubernur Bali biasanya ia berbincang dengan belahan jiwanya itu tiap pagi maupun petang dan malam sepulang kerja. “Awalnya, kami berdua bangun pagi pukul 05.00. Setelah berolahraga ringan sekitar setengah jam, saya minum kopi yang disuguhkan istri, serta penganan yang disiapkan pembantu. Saya dan istri biasanya memanfaatkan waktu saat ngopi untuk komunikasi berdua. Setelah mandi, saya lalu ke kantor pukul 07.15,” ungkapnya. Jika pulang kerja petang biasanya Mangku Pastika sudah disambut secangkir kopi lagi. Saat itu, ia dan sang istri berbincangbincang lagi. Setelah mandi, ia siapsiap makan malam bareng istri. “Saat makan malam itu kami berdua lagi berbincang-bincang lagi,” katanya. Isi pembicaraan bersama istri bisa bermacam-macam. Selain urusan keluarga, Mangku Pastika tak jarang menceritakan masalah pekerjaan di kantornya. “Ini agar jika masalah kantor muncul di media massa, istri saya sudah tahu, sehingga tak terkejut jika membacanya,” lanjutnya. Komunikasi tersebut makin penting dalam sebuah keluarga yang telah berumur lama. “Jika sudah berumah tangga bertahuntahun kan komunikasi suami dengan istri harus terbuka, tak ada yang perlu disembunyikan, tidak

perlu bersandiwara. Inilah cara yang efektif untuk membangun dan memelihara saling pengertian,” ujarnya. Komunikasi juga penting dalam menerapkan model pendidikan anak-anaknya di rumah. Tiga buah hatinya dibimbing saat masih berumur sekolah dasar. Tetapi, anak-anaknya diajak menjalin hubungan pertemanan dengan orangtuanya saat menginjak bangku SMP dan SMA. “Saya dan istri mendidik anak kami dengan cara memperlakukan mereka sebagai teman saat SMP dan SMA. Mereka lebih banyak diajak berdiskusi. Ini bisa saja menyangkut banyak hal, terutama berkaitan dengan cita-cita mereka. Sebagai orangtua kami hanya mengarahkan jika memilih pekerjaan dalam hidup, apa saja bidang kerja yang laku di masyarakat. Tetapi, kami hanya mengarahkan, anak-anak boleh nurut, boleh enggak nurut,” katanya. Dua buah hatinya saat di Jakarta diikutkan sekolah minggu untuk belajar agama Hindu di Pura Rawamangun. Mangku Pastika berusaha mengantarnya. “Tetapi, saat itu saya merasa porsinya masih kurang. Saya kemudian memanggil guru privat agama Hindu ke rumah kami,” jelasnya. Sementara putra bungsunya sudah sekolah di Bali sejak kelas 5 SD. “Saat itu saya masih berdinas di luar Bali. Anak bungsu kami tinggal bersama kakak sulungnya yang kuliah di FH Unud. Ketika si bungsu sekolah di Bali, pelajaran agama Hindu kan tak masalah, karena diajari di sekolahnya,” katanya. —sam

Pacetlah yang membuat saya degdegan selama perjalanan ini. Hingga Pos I saya tidak terlalu merasa tegang karena hanya hitungan puluhan pacet yang sempat singgah di sepatu dan kaki celana saya. Pacet memang tidak terlalu banyak karena daerah ini tergolong tidak terlalu lembab. Tidak demikian halnya jalan menuju Pos II dan Pos III yang kondisinya, hutan belantara yang lembab. Tanah basah hampir di sepanjang tahun. Matahari sulit tampak karena rimbunnya hutan. Hal inilah yang membuat pacetpacet ini berkembang biak tak terkendali, terutama pada musim hujan. Perjalanan ini kami jadwalkan berakhir Maret, karena kami perkirakan hujan mulai reda. Namun, hingga pengujung Maret hujan masih turun dengan intensitas yang lumayan tinggi. Kondisi inilah

yang membuat pacet-pacet luar biasa banyaknya. Gerimis mulai turun saat kami menuju Pos II. Seluruh perbekalan dan ransel berisi pakaian kami selamatkan. Dingin mulai menusuk tulang menyusul kabut yang mulai menyelimuti pepohonan. Salah satu sarana yang harus diselamatkan ketika hujan turun adalah pakaian kering. Hal itu sudah saya antisipasi dengan menyiapkan sweter dan jaket serta kaus tangan dan kaus kaki. Jadi, ransel saya lebih banyak berisi pakaian penghangat. Setelah setengah perjalanan menuju Pos II, hujan turun dengan derasnya. Tidak ada tempat berteduh. Perjalanan terus berlanjut. Rasa dingin dan rasa lapar mendorong kami untuk segera tiba di Pos II. Saya dan Kisi mempercepat langkah dengan memisahkan diri dari anggota rombongan

JW dan istri, Triesna Wacik, saat diwisuda bareng di UI tahun 1983. Mertua JW, ayah kandung, serta dua putrinya ikut menghadiri acara wisuda tersebut

K,” ungkap alumnus FEUI tahun 1983 ini. Gelar baru sarjana ekonomi sudah di tangan. Selain nyambi sebagai dosen marketing di FE UI, kariernya di perusahaan milik PT Astra International ini kian mengkilat. Jabatan direktur sempat ditawarkan kepada alumnus tercepat, terbaik, dan termuda di ITB Bandung tahun 1974 itu. Tawaran tersebut disampaikan manajemen Astra saat menjalin kerja sama patungan dengan perusahaan Komatsu dari Jepang. Namun, JW enggan menerima tawaran ini. “Jabatan tersebut jutsru bisa membuat saya tidak happy, Karakter saya tidak cocok dengan

jabatan tersebut. Jabatan itu menuntut saya harus nongkrong di pabrik. Padahal, jiwa saya lebih pas menjalankan tugas yang lebih banyak berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya. Pilihannya jatuh pada posisi government national sales manager. Namun, fasilitas perusahaan yang diterimanya tak setara fasilitas yang diperoleh seorang direktur pabrik. “Direktur pabrik dapat mobil Corona Mark II ber-cc besar, sedangkan saya hanya diberi mobil Corolla. Tahun produksi mobil Corolla ini tua pula. Saya sempat iri juga dengan fasilitas yang diterima direktur pabrik saat itu,” akunya. —sam

JW menggendong cucu pertamanya didampingi istri dan seorang putrinya

Pejuang Petani..................................dari halaman 1 “Saya ingin para petani di Desa Jatiluwih tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki sumber pendapatan yang cukup menjanjikan dari beras merah yang mereka hasilkan. Alam (lahan sawah-red) yang subur di Desa Jatiluwih merupakan modal besar bagi petani. Inilah yang perlu mereka pahami,” jelas istri seorang ahli mesin industri ini. Pendiri Rotary Club Bali-Ubud ini sadar, untuk memberikan pemahaman cara memproduksi beras merah yang baik dan benar kepada petani Jatiluwih, tak ada jalan lain kecuali dengan menjadi petani. “Menanam padi hingga panen, memproses (menggiling, dll), mengemas hingga memasarkan, dilakukan bersama-sama para petani. Cara ini terbukti efektif. Petani sekarang sudah lebih paham,” ujar Grace. Ia bertekad terus menyosialisasikan keistimewaan dan khasiat beras merah Jatiluwih ini kepada masyarakat dalam dan luar negeri. Grace memang serius menekuni profesinya sebagai wanita petani. Glamour-nya kehidupan ditinggalkannya demi beras merah Jatiluwih. Meski banyak para sahabat dan keluarga menyangsikan keseriusannya menjadi petani, namun wanita berusia 53 tahun ini tetap kukuh menjalani hidup sebagai wanita petani beras merah Jatiluwih. Menurut Grace, petani di Indonesia masih terpinggirkan, belum mendapat fasilitas/kemudahan dari pemerintah seperti halnya petani di negara-negara lain, seperti Malaysia atau Filipina yang pemerintahnya sangat proaktif. Petani diberikan hak guna pakai lahan yang disediakan pemerintah. “Di Indonesia, petani menanam padi di lahannya sendiri yang tak seberapa luasnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, itu pun terkadang tak cukup,” tutur Grace yang kini makin giat memperluas akses pasar bagi petani Jatiluwih di luar negeri. Grace memang berbeda dari wanita lain. Perjuangannya yang besar untuk turut melestarikan beras merah Jatiluwih, memang tak berharap untuk diapresiasi apalagi diakui, namun justru dari ketulusan hati dan tingkat kepeduliannya yang tinggi untuk berbagi dengan para petani dan masyarakat di Desa Jatiluwih, membuat wanita ini cukup dihormati. Apresiasi justru datang dari kalangan pejabat tinggi, orang-orang terkenal dalam dan luar negeri. Bahkan tak sedikit yang datang ke Desa Jatiluwih melihat langsung produksi beras merah yang layak dikonsumsi dan sudah diteliti IRRI (International Rice Research Institute) ini. Bukti kepeduliannya terhadap petani, Grace tak hanya membeli beras milik petani di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah) tetapi juga mendirikan usaha penyosohan (penggilingan) beras. Adanya usaha ini, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif kepada petani sehingga keberadaan beras merah Jatiluwih bisa tetap dipertahankan dan dilestarikan. “Padi yang ada di Jatiluwih ternyata padi lokal jenis langka yang harus dilestarikan, sementara beras merahnya yang dikenal dengan nama beras dewa atau beras cendana ini mampu bersaing dengan beras merah dari Australia dan India karena teksturnya padat dan memiliki aroma harum. Selain itu, kandungan gizi, mineral serta vitaminnya lebih lengkap daripada beras merah dari negara lain. Khasiatnya bagi kesehatan pun sudah nyata. Beras merah mampu menetralkan tekanan darah, menurunkan kolesterol, obat diabetes serta dipercaya bisa mengobati kanker,” paparnya. Beras merah produksi Grace, tak sebatas berbentuk beras (fragrant red rice) tetapi juga berbentuk olahan seperti kopi (red rice coffee) dan teh (red rice tea) yang direspons sangat baik oleh masyarakat dunia. Bahkan mantan presiden Filipina Fidel Ramos pun, dibuat kepincut dan fanatik mengonsumsi produk-produk CV Jatiluwih milik Grace, wanita yang aktif di berbagai organisasi sosial ini. Grace memang layak disebut pejuang. Perjuangannya dilakoni bersama suami tercinta dengan segala keikhlasan semata-mata mengangkat taraf hidup petani sekaligus mengangkat beras merah Desa Jatiluwih go international. Kita patut berbangga dan bersyukur kepada Grace, wanita tangguh yang memiliki dedikasi tinggi untuk melestarikan beras merah Desa Jatiluwih hingga dikenal di tingkat dunia. —ari lainnya. Tetapi, di tengah perjalanan kami sempat salah mengambil jalur, sehingga keluar dari jalur semestinya. Meski tidak panik, kami sempat bertanyatanya. Jalur pendakian yang belum terurus dengan baik memang sedikit menyulitkan kami saat berjalan tanpa pemandu. Namun, kami sudah membekali diri, agar tidak terlalu jauh berada di luar jalur anggota rombongan selalu mengeluarkan suara panggilan satu sama lain. Suara itu sebagai

pertanda untuk saling mengingatkan atau mengecek keberadaan kawan lainnya. Hal itu pun kami lakukan. Akhirnya kami berdua kembali ke jalur semula. Di sini kami kemudian menanti anggota rombongan lainnya. Tidak berapa lama kemudian, kami bertemu kembali mereka. Saya melihat Felix sudah kembali cerah. Ia menuturkan, guyuran hujanlah yang membuatnya kembali bersemangat dan yang memberi kekuatan baru. Kemudian kami bersama-sama menerobos hujan di tengah hutan pacet. —nik.


FIGUR

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 9

Nusa Penida yang minta diberi pelatihan tata rias. “Awalnya, kami melakukan kunjungan ke Nusa Penida. Potensi perempuan di sana bagus. Mereka kerap mengadakan upacara yang sifatnya besar. Karena itu, agar tidak pergi ke salon hanya untuk berdandan, dan untuk mengirit biaya mereka ingin diberi pelatihan tata rias dan tata busana Adat Bali. Karena itu, kami menggandeng Bu Agung,” papar Luh Putu Haryani. Keinginan warga yang diwakili Kelompok Tata Rias Dewi Komala Dusun Dungkap I, Desa Batukandik, Nusa Penida agar bisa menyanggul rambut dan berdandan sendiri disambut baik oleh BP3A yang kemudian meminta bantuan kepada Bu Agung yang memang kerap melatih warga di berbagai daerah. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Klungkung, Ny. I Wayan Candra(No.2 dari kanan) dan Kepala BP3A “Kami berterima kasih pada (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Provinsi Bali, Luh Putu Haryani, SE.MM(duduk di Bu Agung karena tulus depan menggunakan baju merah. Berkesempatan mengunjungi pelatihan tata rias masyarakat Nusa Penida memberikan bantuan. Akhirdi LKP AGUNG (Jl. WR. Supratman Denpasar). Berfoto bersama usai latihan. nya, di Pulau Nusa Penida ada 180 orang yang dilatih secara gratis,” ujar Luh Putu Haryani lagi. Pelatihan yang diberikan utamanya adalah merias diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali. Pelatihan ini tujuannya adalah minimal agar mereka mampu merias diri sendiri dan jika bisa dikembangkan, mereka bisa memperdalam ilmu Berkesempatan mendandani Ibu Ani Yudhoyono menggunakan Busana Adat Bali pada pembukaan Pesta keterampilan tata rias. serta selendang yang diMENJADI besar dan terkenal tentu Kesenian Bali setiap tahunnya Dari 180 orang itu, Bu gunakan oleh Ny. Ani Agung memilih 18 orang Yudhoyono. memerlukan sebuah proses panjang. Melestarikan adat dan untuk mengembangkan Begitu pula yang dilakoni AA Ayu Ketut budaya Bali, khususnya keterampilan di bidang tata dalam tata rias dan busana rias. “Bu Agung mengajak Agung, pemilik Yayasan Kecantikan Agung adat Bali adalah menjadi mereka ke Denpasar, mejalan hidup dan komitmen Bu nyediakan berbagai keserta Lembaga Kursus dan Pelatihan Agung. Ia juga tak jarang butuhan mereka, dan melatih Agung. Usaha di bidang tata rias diminta menjadi mitra dalam secara cuma-cuma,” lanjutberbagai kegiatan seperti nya. Ke-18 orang itu kecantikan selama 30 tahun, membuatnya Jegeg Bagus Bali, Teruna disediakan akomodasi, konsumsi selama pelatihan Teruni Denpasar, dsb. menjadi penata rias yang kerap dipakai Selain itu, sebagai bentuk dan berbagai kebutuhan dalam berbagai perayaan dan kegiatan. komitmennya melestarikan terkait pelatihan secara adat dan budaya Bali khu- gratis. Mereka dilatih selama Salah satunya, Pesta Kesenian Bali (PKB). susnya di bidang tata rias dua minggu. LKP Agung dan busana adat Bali, pada miliknya di Jalan WR Suprat6-8 Juni LKP AGUNG me- man 303A Denpasar menjadi “Tiap tahun, saya men“Kesempatan itu adalah menuhi permintaan Badan tempat warga berlatih yang dapat kesempatan untuk penghargaan bagi saya,” Pemberdayaan Perempuan sekaligus menjadi TUK merias pejabat negara yang ujarnya. Bu Agung yang dan Perlindungan Anak (Tempat Uji Kompetensi) tata hadir dalam pembukaan cekatan dalam merias, tak (BP3A) Provinsi Bali untuk kecantikan kulit satu-satunya PKB,” ujarnya. Demikian juga memerlukan waktu lama. melatih warga di Nusa di Bali. Pelatihan dilaksanakan dari pukul 06.00-21.00. dalam pelaksanaan PKB “Lima menit saja sudah Penida. tahun ini. Bu Agung, begitu cukup,” katanya. Sembari “Kami bekerja sama Jadwal pelatihan sengaja ia biasa disapa, mendapat merias, ia sempat menjelas- dengan LKP Agung menga- dipadatkan agar mereka lebih tugas merias Presiden RI kan tentang makna peng- dakan pelatihan di Nusa banyak dapat berlatih. Waktu Memberikan pelatihan Tata rias di aula Kantor Camat Nusa Penida 9sebelum acara dimulai dan istri, Susilo Bambang gunaan pusung tagel, bunga Penida,” ujar Luh Putu istirahat pun mereka gunakan Yudhoyono dan Ny. Ani sandat dan bunga semanggi, Haryani, S.E., M.M. Kepala untuk berlatih, yakni setelah gantian merawat wajah (fa- rakat,” ujar Bu Agung yang telah mengadakan pelatihan kelengkapan pusung tagel BP3A Provinsi Bali. Warga makan siang mereka ber- cial ) sambil tidur siang pada 22 Mei lalu berhasil awal bagi 5.000 warga Kota Yudhoyono. sejenak. mengantar anak didiknya Denpasar dalam kegiatan Dari ke-18 orang yang menjuarai lomba di Singa- workshop Tata Rias Memdilatih secara intensif di LKP pura. buat dan Memasang Agung, diharapkan mereka Karena motivasi untuk Sanggul Bali dan Tengkuluk dapat membimbing atau meningkatkan keterampilan Lelunakan Menuju Denpasar menularkan ilmunya kepada warga tak mampu khususnya Kota Kreatif Berbasis warga di tiap desa di Nusa dalam bidang tata rias, tak Budaya Unggulan, setiap Penida. “Kerja sama ini jarang Bu Agung berjuang harinya selama 3 jam, sangat positif. Saya ber- mendapatkan bantuan ke setiap grup 50 orang di aula harap, ada lembaga lain yang Direktorat Pendidikan Kursus LKP Agung (Jalan WR mau berbuat seperti LKP dan Kelembagaan Dirjen Supratman dan Yayasan Agung ini,” kata Kepala PNFI, Kemendiknas. Pada 28 Kecantikan Agung Jalan Badan Pemberdayaan Juni s.d. 2 Juli, Bu Agung Anggrek No. 12 Kreneng Perempuan dan Perlindungan diundang untuk mengikuti Denpasar). Anak (BP3A) Luh Putu orientasi teknis penguatan Dari 5.000 warga yang Haryani, SE, MM. kewirausahaan bagi lembaga telah mendapat pelatihan “Semua yang saya kursus dan pelatihan di gratis membuat tengkuluk lakukan ini adalah sebagai Yogyakarta, menindaklanjuti bentuk yadnya dan rasa pertemuan serupa sebelum- lelunakan , 815 yang disyukur kepada Ida Sang nya di Solo dua minggu yang libatkan pada lomba memHyang Widhi Wasa yang lalu. “Ini bagian perjuangan buat tengkuluk lelunakan di telah memberikan kami saya untuk mendapatkan Wantilan Gedung Pers Bali, rezeki,” kata Bu Agung. Di beasiswa keterampilan bagi K. Nadha, Jalan Kebo Iwa 63 Nusa Penida, ia juga me- warga putus sekolah dan tak A Denpasar. Lomba ini lakukan persembahyangan. mampu di bidang tata rias,” berhasil mencetak rekor Muri dengan jumlah peserta, model Memberikan penjelasan keberadaan LKP AGUNG (rombongan guru-guru dan siswa Jurusan Tata Kecantikan SMK Negeri 6 Yogyakarta) “Saya benar-benar bersyukur. katanya. Apa yang saya lakukan ini Harapan Bu Agung, ia dan undangan mencapai sebagai bagian subsidi dapat terus melatih lebih 2.000 orang. Kegiatan akbar silang dari kegiatan kursus banyak warga agar mereka ini sukses berkat kerja sama yang kami lakukan di lebih berdaya. Sebelumnya Pemkot Denpasar, Kelompok Denpasar. Ini kegiatan bakti pada periode November 2009 Media Bali Post, dan disosial kami kepada masya- s.d. April 2010 Bu Agung juga dukung Inez Kosmetik. —rat

Kesempatan Itu Penghargaan

Siswa SMK Perintis Semarang yang sedang melakukan studi banding disuguhkan Tari Tenun yang dibawakan oleh anak didik LKP Agung

Peserta pelatihan tata kecantikan dari Nusa Penida tengah berlatih perawatan wajah (facial) di sela-sela waktu istirahat mereka.


10

Tokoh

27 Juni - 3 Juli 2010

BUMI GORA

Ikuti Anjuran Teknis Penyuluh Pertanian

Cegah Gagal Tanam dan Gagal Panen Gubernur NTB T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A. (kedua dari kanan) bersama, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB Ir. Pending Dadih Permana, Kepala Pengadilan Tinggi Mataram H. L. Mariyun, S.H., M.H., dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB drh. Abdul Samad

Gubernur NTB meninjau stan pameran dalam rangka Pekan Hortikultura Daerah NTB 2010

SEBAGAI lumbung pangan nasional, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengandalkan sektor pertanian. Dari tahun ke tahun, NTB mengukir prestasi di bidang pertanian dan meraih penghargaan di tingkat nasional. Atas prestasi ini, Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi, M.A., memberi apresiasi kepada para petani. “Berkat kerja keras para petani NTB, maka daerah ini berhasil mengukir prestasi di bidang pertanian, dari tahun ke tahun,” ujarnya saat Peringatan Hari Krida Pertanian sekaligus membuka Pekan Hortikultura Daerah Provinsi NTB 2010, di Taman Bumi Gora, Udayana Mataram, beberapa hari lalu.

S

ejumlah predikat nasional berhasil diraih daerah ini, antara lain, sebagai Daerah Lumbung Pangan Nasional, Bumi Sejuta Sapi, Daerah Mandiri Bibit Nasional, dan Penghargaan Tanda Kehormatan “Satya Lencana Pembangunan” dan “Satya Lencana Wirakarya” dari Presiden RI. Gubernur mengatakan, Hari Krida Pertanian (HKP), haruslah dimaknakan sebagai satu momentum untuk muhasabah, menginstropeksi, dan mengevaluasi sejauh mana pemerintah

daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, benarbenar bekerja dalam rangka memfasilitasi pembangunan pertanian secara keseluruhan, termasuk peningkatan perekonomian masyarakat pembudidaya, dengan sebaik-baiknya. HKP juga haruslah digunakan sebagai momen untuk melakukan evaluasi terhadap programprogram pembangunan pertanian, sehingga ke depan akan dapat lebih ditingkatkan lagi. Keberhasilan pembangunan pertanian tidak bisa hanya diukur dari peningkatan produktivitas masing-

Gubernur NTB T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A., pada Peringatan Hari Krida Pertanian sekaligus membuka Pekan Hortikultura Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat 2010

masing komoditas unggulan, namun harus pula diukur dari kontribusinya bagi perekonomian masyarakat pembudidaya. “Komoditaskomoditas pertanian yang dibudidayakan di tengahtengah masyarakat secara nyata mampu memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan untuk masyarakat,” ujarnya. Untuk itulah, gubernur mengingatkan kepada dinas terkait agar serius memper-

Beberapa komoditas pertanian NTB yang dipamerkan pada Pekan Hortikultura Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat 2010, di Taman Bumi Gora, Udayana Mataram, yang dimulai pada tanggal 21 Juni 2010. Dalam sektor pertanian, NTB berhasil mengukir prestasi dan meraih penghargaan di tingkat nasional.

hatikan masalah pertanian, mengingat prestasi yang diraih di sektor pertanian tersebut tidak menggambarkan kondisi masyarakat. Minimal, sektor pertanian harus memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat. Beberapa komoditas pertanian seperti padi, jagung dan kedelai memang telah berhasil ditingkatkan. Namun, masih banyak potensi pertanian yang perlu digali, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah hortikultura dan komoditas pangan nonberas lainnya, termasuk pengembangan agrobisnis di sektor peternakan, perikanan, dan kelautan. Selain itu, ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk anorganik masih sangat tinggi. Pada tahun 2010 ini, NTB mendapat alokasi pupuk bersubsidi yang terdiri dari, urea 160.000 ton, SP-36 20.000 ton, ZA 12.454 ton, NPK 40.000 ton dan pupuk organik 10.000 ton. Alakosi ini jauh meningkat dibanding tahun 2009 lalu 177.391 ton, yang terdiri dari, pupuk urea, 126.332 ton, superphos 12.001 ton, ZA 8.058 ton, NPK 20.000 ton dan organik 11.000 ton. Untuk mengatasi permasalahan pupuk ini, perlu dilakukan terobosan untuk membudayakan penggunaan pupuk organik. Sekarang ini, ada satu isu yang menjadi isu nasional dan menyangkut kualitas lingkungan hidup, yakni penggunaan pupuk organik. Diakui gubernur, ada tren penggunaan pupuk organik dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia oleh pemerintah. Menurutnya cara seperti ini, haruslah ditiru, karena menyangkut masalah kesuburan tanah. Selain itu, katanya, penerapan pola pertanian terpadu, kandang sapi dibangun berdekatan dengan areal sawah atau kebun sehingga feses ternak secara langsung dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Selain harganya yang murah, juga menguntungkan dari segi ekonomi, karena saling mendukung antar-komoditas yang dikembangkan. Di satu sisi produksi per tanian dapat ditingkatkan dengan penggunaan pupuk yang ramah lingkungan, dan pada sisi yang lain, sampah pertanian seperti jerami, rumput gulma dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Tahun ini pemerintah pusat kembali meluncurkan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman

Terpadu (SL PTT), yang terdiri dari areal padi hibrida 4.200 ha, padi nonhibrida 83.350 ha, jagung 1.740 ha, kedelai 25.000 ha, dan kacang tanah 3.250 ha. Ini bertujuan untuk mendorong peningkatan produksi dan kualitas produk pertanian sehingga memiliki nilai ekonomi dan daya saing pasar yang tinggi. “Saya minta agar program SL PTT ini lebih dipacu pelaksanaannya,” ujar gubernur. Hal penting lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah penanganan bencana kekeringan sebagai akibat terjadinya perubahan ik-

pada para petani, diharapkannya, agar dapat mengikuti anjuran-anjuran teknis yang diberikan para penyuluh per tanian dalam upaya mencegah terjadinya gagal tanam dan gagal panen. Komoditas hortikultura merupakan komoditas primadona masa depan yang dapat mengangkat ekonomi masyarakat perdesaan. Dari luas wilayah Nusa Tenggara Barat 201.531.500 km², seluas 1.106.559 ha merupakan lahan pertanian yang potensial untuk dapat ditanami tanaman hortikultura musiman maupun tahunan, sedangkan luas lahan yang

Sejuta Sapi yang pada saat ini telah memasuki tahun percepatan. Usai peringan HKP, Gubernur NTB yang didampingi Kepala Dinas Per tanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB Ir. Pending Dadih Permana, Kepala Badan Ketahanan Pangan Ir. Hj. Husnanidiaty Nurdin, M.M., Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB drh. Abdul Samad, Kepala Pengadilan Tinggi Mataram H. L. Mariyun, S.H., M.H., dan Kepala Dinas Perkebunan NTB Ir. Ihya Ulumuddin, M.M. meninjau sejumlah stan pameran

Gubernur NTB menyerahkan secara simbolis bantuan bibit kacang tanah, kedelai, padi, jagung kepada perwakilan kelompok petani dan makanan tambahan kepada anak-anak sekolah

lim. Data lapangan menunjukkan di beberapa kabupaten/kota se- NTB telah terjadi gagal panen. Sampai dengan 31 Mei 2010, gagal panen padi mencapai 23.548 ha, jagung 14.826 ha, kedelai 1.447 ha, dan kacang tanah 109 ha. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB telah menyampaikan permohonan benih CBN (cadangan benih nasional) ke pusat. Pemerintah provinsi juga telah menginstruksikan kepada jajaran terkait untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan kekeringan secara terpadu, cepat, dan tepat. Ke-

telah dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura baru 885.904 ha. Rendahnya tingkat pemanfaatan lahan dan produksi hortikultura NTB, disebabkan karena komoditas hortikultura belum banyak dikembangkan. Keperluan masyarakat terhadap komoditas ini terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan gizi yang banyak disuplai dari mengonsumsi komoditas hortikultura. Pengembangan agrobisnis sapi juga telah dilakukan Pemerintah Provinsi NTB, melalui program NTB Bumi

hortikultura. Pada kesempatan ini, gubernur sempat mencicipi susu kuda liar, semangka, dan beberapa jenis buah-buahan khas NTB. Dalam peringatan Hari Krida Pertanian dan Pekan Hortikultura Daerah NTB 2010 ini ikut dipamerkan produk pertanian, produk perikanan, dan produk peternakan yang diikuti oleh SKPD lingkup rumpun hijau se-NTB. Pada kesempatan tersebut gubernur juga menyerahkan secara simbolis bantuan bibit kacang tanah, kedelai, padi, dan jagung kepada perwakilan kelompok petani dan makanan tambahan kepada anakanak sekolah. –hms,nik


KESEHATAN

Manjurnya Pijat Jepun Tantra Bali Tangi Nikmati di Stan Pameran Pesta Kesenian Bali

sirkulasi darah. Pijat ini bahkan telah telah terbukti dapat menguatkan otot perut, mencegah ambeien, dan jenis keluhan lainnya. Manjurnya pijat jepun tantra dapat dinikmati di stan pameran Bali Tangi di ajang Pesta Kesenian Bali, Art Center Denpasar. Pemilik Bali Tangi, Made Yuliana Sukhana mencontohkan, teknik pijat Bali kuno ini di tungkai kaki bawah (buana galih). Pijat dilakukan dengan batang jepun yang Pijat jepun tantra dengan teknik buana galih dilakukan praktisinya hangat. “Hasilnya bagus untuk di Bali Tangi melancarkan sirkulasi darah PIJAT tradisional Bali Kuno bagai pijat jepun tantra amat tepi, memperbaiki susunan saraf yang tempo dulu dikenal se- manjur untuk melancarkan tepi, melemaskan otot-otot

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 11 yang kaku, menguatkan otot perut, mencegah haemorhoid (ambeien), memperbaiki posisi kantung kencing (vesica urenaria), dan melancarkan buang air besar,” paparnya. Istri pengusaha herbal Wayan Sukhana ini meyakinkan, pemijatan dilakukan sebenarnya untuk relaksasi. Selain teknik pijat buana galih, ada pula talaostia dan angga sarira. Pijat talaostia menyentuh titik-titik cakra di punggung, tangan, dan kepala. Tujuannya untuk melancarkan sirkulasi darah dan oksigen ke otak, melemaskan otot pinggang, punggung, pundak, leher, dan tangan. “Selain itu, teknik berguna untuk mengurangi migraine, sakit pinggang, leher kaku, melegakan pernapasan, dan melancarkan sirkulasi darah tepi di bagian punggung,” imbuhnya. Selain itu, ada pijat yang menyentuh seluruh badan (angga sarira). Pijat ini berguna untuk melancarkan sirkulasi peredaran darah dan oksigen ke otak, punggung, pinggang, pundak, leher, dan tangan, mengurangi migraine, serta banyak manfaat lainnya. Menurut praktisi pijat jepun tantra Bali Tangi, Made Dwi Atmaja alias Gatot, pijat ini dapat pula dinikmati di Rumah Lulur Bali Tangi di Jalan Sunset Road Kuta. —sam

Setelah Lama Menunggu Batu Ginjal Itu Akhirnya Keluar I WAYAN Teja (55), sehari-harinya pegawai bagian keuangan sebuah apotik. Ia telah mengabdikan hidupnya dengan bekerja keras 35 tahun. Sungguh tidak terpikir olehnya, dirinya akan menderita sakit pinggang (nyeri pinggang) yang luar biasa sakitnya. Kencingnya sering tersendat. Juni 2003 karena sakit yang tidak tertahankan, Pak Wayan mau diajak untuk dironsen. Hasil ronsennya menunjukkan 2 (dua) gambar putih, pertanda ada batu ginjalnya. Ada batu yang sangat kecil dan satunya lagi besar melebar. Pak Wayan mendapatkan obat dari dokter untuk dikonsumsinya. Setelahnya batu kecil itu keluar dalam waktu satu bulan.

Batu ginjal yang keluar dari saluran kencing Pak Wayan Teja

Bentuknya sebesar kacang hijau dan bergerigi. Sakitnya pun agak berkurang, tetapi batu yang besar tetap tidak dapat keluar. Pak Wayan agak berputus asa. Namun setelah melihat kesaksian seorang pasien penyakit batu ginjal yang hampir mirip dengan sakitnya sembuh setelah memakai ramuan Hsen Chii International dari Koran Tokoh. Pak Wayan berketetapan hati melakukan pengobatan yang sama. Karena keterbatasan dana, Pak Wayan berobat dengan ramuan Hsen Chii secara berkala dan mengambil obatnya dengan nyicil.”Toh beberapa bulan kemudian batu yang besar itu sudah jatuh sampai di-

kantung kemih,” ujar Pak Wayan yang kencingnya terkadang agak tersendat keluarnya. “Setelah mengkonsumsi ramuan Hsen Chii International dari Mr. Chai tersebut , batu sebesar 2 cm keluar pagi harinya. Aduh sakitnya sungguh luar biasa. Bisa anda bayangkan batu sebesar itu keluar dari saluran kencing secara utuh. Saya benar-benar kaget,”ujar Pak Wayan lega. Ia dengan sukarela membawa batu itu diperlihatkan kepada Mr. Chai, di Hsen Chii international. Sekarang Pak Wayan hanya perlu memakai Ramuan Hsen Chii International untuk menyembuhkan luka diureternya. Setelah menggunakan ramuan Hsen Chii International kondisi kaki pak Wayan yang biasanya suka pegal, ping-

gangnya yang sering nyeri hilang seketika. Kondisi kakinya lebih baik, ia jadi kuat jalan dan berdiri (badan Pak Wayan rada gemuk, berat lebih dari 90 kg). Dengan kondisinya yang sehat sekarang. Pak Wayan bisa berbuat lebih bagi masyarakat disekelilingnya. Sejak kecil Pak Wayan adalah dalang yang diwarisinya secara turun –temurun. Dalam usianya yang setengah abad, ia juga bertugas sebagai mangku, membantu penyelesaian upacara bagi masyarakat yang membutuhkan. Kini Pak Wayan menjalankan semua kegiatannya dengan wajah makin cerah dan berseri. Ia menyadarinya, sehat itu harta sekaligus gaya hidup. —adv/ard

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji) I Wayan Teja


27 Juni - 3 Juli 2010

DARI DESA KE DESA

Potensi dan Permasalahan Kopi Bali LUAS areal kopi arabika di Bali 7.750 hektare, dan produksinya 3.250 ton ose. Selain kopi arabika juga ada jenis kopi lain yaitu kopi robusta yang luas arealnya 23.900 hektare dan produksinya 13.100 ton ose. Sempat terjadi penurunan areal kedua jenis kopi tersebut, namun tahun-tahun terakhir kembali bertambah. Selain sebagai sumber pendapatan, tanaman kopi juga memiliki fungsi penyimpanan air hujan. Tahun 2010 ini bulan panen kopi jatuh Juni – September. Apa permasalahan yang dihadapi selama ini? Permasalahan yang dihadapi selama ini, produktivitas masih belum optimal, masih di bawah potensi teknis. Pemasarannya juga lemah. Saat panen harga cenderung turun. Walaupun sudah ada yang bermutu baik, sebagian besar masih bermutu asalan. Saat ini harga relatif baik, tetapi masih perlu ditingkatkan. Upaya apa yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut? 1. Meningkatkan produktivitas melalui perbaikan pemelihara an dan perbaikan klon seperti mengembangkan kopi kopyol. 2. Meningkatkan pemasaran melalui empat tahapan yaitu: Menemukan faktor pembeda (keunggulan); Melegitimasikan perbedaan atau keunggulan seperti melakukan sertifikasi, membuat kemasan yang baik; Mempromosikan perbedaan/keunggulan produk kita, untuk membangun kepercayaan pasar; Peningkatan nilai tambah (harga meningkat dan stabil ); Memelihara kepercayaan pasar/konsumen.

Upaya apa yang sedang dilakukan saat ini? Upaya yang sedang dilakukan saat ini, melanjutkan peningkatan produktivitas, mengembangkan klon unggul kopyol, memperluas sertifikasi serta memperbaiki kemasan, meningkatkan mutu dan mengembangkan pengolahan (agar tidak hanya menjual bahan baku, tetapi bahan setengah jadi atau yang sudah siap dikonsumsi). Selain itu jaringan pasar juga diperluas. Ke depannya upaya apa yang akan dilakukan? 1. Mengusahakan agar sebagian besar hasil kopi dari Bali bersertifikat; 2. Meningkatkan mutu dan pengolahan sehingga sebagian besar yang dipasarkan dari Bali produk olahan, bukan bahan baku; 3. Mengembangkan komoditas yang memilki nilai ekonomis lebih tinggi; 4. Meningkatkan peran perkebunan dalam memperbaiki lingkungan, memperbaiki tata air tanah menuju Bali Clean & Green dan mewujudkan Bali Organik. Perlu juga diketahui Kopi Arabika Kintamani sudah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu Kopi Arabika Kintamani di Subak Abian Suka Maju, Banjar Langkan, Desa Lindih, Kintamani, memperoleh sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Sekoliman (Lesos). Kopi Arabika di Subak Abian Giri Merta, Sukasada, memperoleh sertifikat organik dari Control Union Certificatoins. Ir. I Made Sudarta, M.S. Dinas Perkebunan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 081 337 337 586; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Pelayanan tak......................................................................................................dari halaman 1 dipercaya, bijaksana, sanggup bergaul dengan siapa saja serta sanggup membuktikan empati dan memiliki rasa humor. Pemilik nama panjang Ni Wayan Agek Parwati Asih, yang karib disapa Agek ini, mengatakan kepribadian manusia sangat beragam. Begitu pula dengan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Teknologi Nasional (SMK Tenas) di kawasan Jalan Tukad Yeh Aya Denpasar, tempatnya bertugas. Kepribadian mereka terbentuk oleh faktor keturunan, lingkungan baik fisik maupun sosial dan budaya. Mereka ada yang gampang berinteraksi dan sebaliknya, susah berinteraksi. Dengan kompetensi yang ada, Agek dengan tulus mengabdikan fungsinya sebagai guru BK, di sekolah menengah kejuruan yang berada di bawah naungan Perdiknas Denpasar ini. Guru BK memiliki peran besar mengenalkan siswa kepada bakat dan minat mereka melalui perencanaan studi, demi mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Selain membantu mengatasi masalah belajar, guru BK turut pula mengembangkan aspek pribadi siswa, sebagai tumpuan untuk membantu mengatasi masalah pribadinya. “Guru BK harus sabar dan tanggap. Sebab, tiap persoalan memerlukan penyelesaian tersendiri. Karakteristiknya beda dengan guru pengampu mata pelajaran yang cara penyelesaiannya bisa saja sama. Tugas guru BK amat luas dan memerlukan waktu yang tidak sedikit,” tandasnya. Baginya, bergaul dengan remaja khususnya, dari aneka karakter dan latar belakang adalah sebuah keindahan tersendiri. “Ada perasaan haru saat melihat mereka usai menumpahkan unek-uneknya. Pun saat mereka merasa lega menemukan solusi atas persoalan hidupnya. Apalagi mereka tidak sulit di-

ajak maju dan mencari jalan keluar serta melakukannya,” ucapnya. Hal ini makin membuatnya ingin lebih banyak belajar untuk dapat menerima dan beradaptasi. “Dalam kehidupan akan lebih menyenangkan jika tiap saat dapat membangun persahabatan. Karena itu, saya senang menekuni profesi ini,” ucap penyuka anak-anak ini. Agek mengatakan di SMK Tenas kini proses kegiatan guru BK berjalan sesuai tuntutan zaman serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, mempersiapkan peserta didik bukan hanya mengutamakan pengembangan kecerdasan intelektual tapi menyadari pentingnya aspek kecerdasan emosional dan kecerdasan moral dengan memupuknya sejak dini. Melalui kedekatan, dirinya memberi bimbingan konseling secara preventif (pencegahan masalah), kuratif (penyembuhan dari masalah) dan preserveratif (pemeliharaan). “Kami juga memantau perkembangan masing-masing siswa. Tiap murid bisa tiap saat datang ke ruangan untuk berkonsultasi, baik tentang pribadi maupun sekolah. Dalam hal ini, mereka sangat memercayai saya,” tutur Agek yang memberi nilai kepribadian bagi siswanya ini.

Dalam menjalankan agenda kerjanya, ia senantiasa mengacu pada beberapa asas. Asas kerahasiaan, bahwa segala sesuatu yang dibicarakan harus dirahasiakan apalagi tentang hal yang tidak layak diketahui orang lain. Asas kesukarelaan, baik dari dirinya selaku konselor dan murid sebagai konseli. Asas kekinian, artinya masalah yang ditanggulangi adalah masalah yang tengah dirasakan bukan masalah masa lampau atau mungkin akan dialami di masa datang. Asas kemandirian, kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan serta Tut Wuri Handayani. “Intinya semua asas tersebut mampu memfasilitasi siswa agar tidak merasa malu mengungkapkan masalahnya, terutama bagi yang tidak punya keberanian atau memiliki sifat tertutup,” katanya. Demi bekerja lebih baik, Agek pun terus meningkatkan efektivitas layanan yang diberikan. Selain ia juga meningkatkan kemampuannya yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang mutlak dikuasai dalam pemberian konseling. “Untuk pelayanan ini tidak memerlukan waktu secara terjadwal. Dapat dilakukan kapan saja termasuk melalui telepon,” katanya. —ard

Rotary Club.............................................................................................................dari halaman 1 proses kelahiran baik kelahiran normal maupun kelahiran oleh ibu yang telah positif terjangkit virus HIV/AIDS. Bagi Ari Murti, bidan merupakan salah satu ujung tombak pencegahan sejak dini penularan virus mematikan yang bisa menggerogoti janin-janin tak berdosa. Inilah salah satu alasan yang melatarbelakangi Rotary Club Nusa Dua melaksanakan kegiatan pelatihan dalam rangka memutuskan mata rantai penularan virus HIV/ AIDS. Agar berjalan optimal, Rotary Club Nusa Dua bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung. Sejatinya, program terkait pemutusan mata rantai HIV/AIDS tersebut telah ada sejak tahun 2008. “Namun, karena berbagai kendala, tahun 2010 baru terealisasi,” ujar Ari Murti, perempuan yang juga peduli terhadap penderita HIV/ AIDS. Kepedulian tersebut telah ia wujudkan dengan menulis serta menerbitkan buku “Terbuang” yang menyuguhkan tulisan tentang realita penderita HIV/AIDS. Pemutusan mata rantai tersebut, menurut Arimurti tak terlepas dari andil para bidan yang senantiasa membantu persalinan para ibu hamil. “Jari-jari lentik sang bidan didukung dengan senyuman yang tak kenal lelah merawat kehamilan hingga membantu sang ibu melahirkan anak-anaknya, diharap-

kan bisa membuat ibu hamil mau memeriksakan dirinya,” tambah Ari Murti. Pelatihan yang berlangsung 22 s.d. 24 Juni 2010 di Bali Tourism Development Centre (BTDC) ini diikuti sebanyak 20 bidan. Diharapkan ke-20 bidan itu mampu menjadi tenaga kesehatan yang bisa membuat ibu hamil mau melakukan tes dan konseling apakah dirinya terjangkit virus HIV/AIDS atau tidak. Tentu saja hal itu dilakukan tanpa paksaan dan sudah mendapat persetujuan dari si ibu hamil. Menurut dr. Elly Swandewi Murti, M.Kes., Sekretaris KPA Kabupaten Badung, pemeriksaan atau counselling testing diperlukan guna mencegah sejak dini penularan virus tersebut dari ibu ke janin atau disebut Preventive Mother to Child Transmition (PMTCT). Guna mengaktifkan kegiatan PMTCT, maka salah satu kegiatan Provider Initiative Testing & Conselling (PITC) pada ibu hamil pun digelar. Kali ini melibatkan bidan, yang menjadi salah satu tenaga kesehatan yang masih dipercaya masyarakat membantu dalam hal pemeriksaan kehamilan maupun persalinan. Pelatihan tersebut mendapat sambutan positif dari para bidan. “Ada permintaan dari peserta agar kegiatan terkait pemutusan mata rantai HIV/AIDS kembali digelar dan ditingkatkan,” kata Ari Murti. Di Kabupaten Badung, menurut

dr. Elly, telah tersedia VCT (Voluntery Conseling Testing) bagi siapa pun yang mau memeriksakan diri. “Saat ini di Kabupaten Badung, VCT ada di Puskesmas Kuta Selatan, Puskesmas Kuta I, serta Puskesmas Abiansemal II,” tambah dr. Elly. Pelatihan tentang PITC patut dilakukan. Pasalnya, data komulatif yang dihimpun KPA Kabupaten Badung, menyebutkan angka penderita HIV/AIDS di kabupaten ini dari tahun 1997 s.d. Maret 2010 mencapai 577 orang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Yayasan Kerti Praja (YKP) tahun 2009 di Badung dan di Denpasar, menampilkan gambaran penularan virus dari ibu hamil ke janin. Dari 260 ibu hamil 1,2 % telah tertular virus mematikan tersebut. Bagi Ari Murti, pelatihan tersebut tak hanya menjadi perhatian lembaga Rotary Club Nusa Dua, namun juga menjadi cita-citanya ingin menjadikan masyarakat Indonesia terbebas dari virus HIV/ AIDS. “HIV/AIDS belum ditemukan obatnya. Cara paling ampuh adalah memutuskan mata rantai penularannya. Jika Indonesia bebas HIV, berarti Indeks Pembangunan Manusia Indonesia kian meningkat. Itu bisa menjadi salah satu faktor menyukseskan program pemerintah dalam MDGs 2020,” jelas wanita berkerudung ini. Ari Murti mengajak masyarakat senantiasa

Pantai Batukaras.........................................................................................................................................................dari halaman 3 mencoba hidangan seafood dari restoran yang berjejer menghadap pantai, menyerupai kawasan Jimbaran di Bali. Selain seafood, nikmati juga makanan khas Batukaras yaitu nasi campur Sunda dengan citarasanya yang pedas seperti keong/tutut, tumis pakis, goring asin, genjer, leunca, petai dan jengkol dengan campuran sambal terasi. Untuk menikmati makanan khas Batukaras, wisatawan bisa mengunjungi warung Mini yang terkenal dengan harganya yang murah dan aneka menunya yang unik-unik seperti halnya tumis rumput laut. Tumis rumput laut menjadi menu favorit wisatawan asing terutama dari Jepang. Untuk menu modernnya Warung Mini menyediakan pancake dengan aneka jenis rasa dan jus pisang yang wajib dicoba. Nikmati juga saladnya Batukaras yaitu pecel yang dijual di bibir pantai oleh seorang nenek tua. Untuk mencapai Batukaras bisa dilewati melalui jalur darat dan jalur udara. Transportasi udara bisa

menggunakan Susi Air dari Jakarta, bandara Halim Perdana Kusumh, dan dari Bandung, Bandara Husein Sastra Negara, menuju Batukaras, Bandara Nusa Wiru, 7 km dari pantai Batukaras. Transportasi darat rutenya hampir sama dengan tujuan Pangandaran. Dari Pangandaran dilanjutkan ke Cijulang dengan bus kecil selama 25 menit. Dari Cijulang perjalanan dilanjutkan dengan ojek menuju Batukaras. Ojek merupakan satu-satunya transportasi umum yang dapat digunakan wisatawan untuk mencapai pantai Batukaras. Batukaras berhasil memadukan objek wisata pantai dan sungai dengan beragamnya watersport yang bisa dilakukan di kedua tempat tersebut. Tidak mengherankan jika pantai Batukaras memunyai julukan “Bali-nya Jawa Barat”. Yang ada di Bali, seperti surfing, watersport, arung jeram sampai restoran yang menyerupai kafe-kafe Jimbaran, bisa dijumpai di sini. Keindahan alamnya masih alami, bebas dari polusi. Anick

tkh/nick

tkh/nick

Tokoh

tkh/nick

12

Objek dan sarana di Pantai Batukaras

Promo Pertama............................................................................................................................................................dari halaman 3 Berita dari bibir-bibir dan tulisan mereka sampai ke telinga Alby Falzon sehingga terdorong keinginannya untuk membuat film ke Uluwatu. Dalam tulisannya, Alex Leonard (2007) mencatat, Falzon dan Cooney menetap di Pantai Suluban, tidur di tepi pantai selama dua minggu, dan pergi ke Kuta sesekali untuk mencari logistik. Segera setelah rampung, film yang judulnya mirip ungkapan Presiden India Nehru yang menjuluki Bali sebagai ‘Morning of the World’, beredar ke seluruh dunia, membuat banyak peminat selancar Eropa dan Amerika berdatangan ke Bali. Tahun 2008, film ini diputar lagi di Melbourne, disertai pentas musik, membuat posisinya sebagai promosi pariwisata Bali terbukti lagi. Film ini menjadi film klasik surfing, dan diputar berulang kali dalam televisi. Bulan lalu, misalnya, jaringan TV Australia (ABC TV), menayangkan lagi ‘Morning of the Earth’, sehingga bersama pantai-pantai indah di Queensland, NSW, dan Hawaii, Bali terus dan terus mendapat promosi gratis. Film ini potensial sekali untuk memikat peselancar Australia generasi baru untuk meluncur ke Bali.

mempromosikan pariwisata Pulau Dewata tetapi juga memberikan pengaruh kepada anakanak pantai Bali tentang budaya berselancar. Sebelum turis Australia datang, Pantai Kuta dan sekitarnya hanyalah dikunjungi warga lokal sebagai nelayan atau pencari bulung laut. Setelah pariwisata mulai menggeliat, hadirnya peselancar Australia, anakanak lokal Kuta ikut berjemur di pantai dan berselancar. Tahun 1960-an akhir atau awal 1970-an, anak-anak Kuta yang berkulit hitam dan berambut merah (karena berjemur) dikenal sebagai ‘anak nakal’ (bad kids) atau ‘sedikit gila’ (a little bit crazy). Apa yang mereka lakukan, seperti ditulis Alex Leonard, sulit diterima masyarakat saat itu.

Bali Surfing Club Waktu bergulir, akhirnya kian banyak anak pantai jago berselancar, lalu tampil dalam berbagai lomba. Citra anak nakal mulai bergeser ke arah positif. Sekitar 59 peselancar Bali membentuk organisasi Bali Surfing Club, antara lain untuk membangun profesionalisme dan untuk mengoreksi persepsi yang negatif tentang peselancar. Rizani Idza Karnanda juga aktif di organisasi berselancar Budaya Selancar di Kuta yang banyak mengadaKehadiran wisatawan Aus- kan lomba-lomba selancar. Atas tralia dan dunia lainnya untuk jasanya dalam dunia peselancar, berselancar di Bali tidak hanya pemandu wisata ini mendapat

penghargaan Karya Karana Pariwisata dari Pemvrop Bali. Tahun 1980-an, peselancar muda Bali seperti Ketut Menda, mulai mencatat prestasi dalam lomba surfing internasional. Di samping itu, peselancar ini mulai kreatif membuka toko menjual sarana surfing, karena prakarsa sendiri atau atas bantuan dan motiviasi peselancar Australia. Beberapa peselancar belajar mereparasi papan selancar di toko-toko termuka di Australia. Dunia olahraga selancar yang diperkenalkan turis Australia melahirkan budaya baru di Bali, tidak hanya olahraga dan pariwisata, tetapi juga bisnis jual/sewa papan selancar, dan kursus/sekolah surfing di Kuta. Surfing kini menjadi salah satu inti dari pariwisata Bali, khususnya Kuta. Citra Selancar Citra surfing memang agak kompleks dan dinamis, tergantung dari mana mlihatnya. Semula, citra itu negatif, identik gaya hidup hippies atau ‘orang gila’, namun akhir 1970-an/1980an, mulai positif karena surfing merupakan olahraga dunia yang kontes-kontesnya berlangsung dari satu negeri ke negeri maju lainnya. Belakangan, di Kuta, citra dunia surfing ini sempat diidentikkan dunia ‘cowboys’, terutama ketika sempat mencuatnya berita film dokumenter

‘Cowboys in Paradise’ beberapa bulan lalu. Soalnya, para cowboys itu dikisahkan ‘mencari mangsanya’, wanita-wanita luar negeri itu, lewat aktivitas pantai termasuk berselancar. Para lelaki cowboys menawarkan diri melatih turis cewek dari Australia atau negeri lain belajar berselancar, dan dari sanalah adegan romantis pegang-raba mulai berkembang, yang mungkin sebagian berlanjut sampai ke diskotik dan kamar tidur. Tentu saja keliru untuk mengatakan ini gejala umum, karena ada sekian banyak wisatawan yang datang ke Bali sepenuhnya untuk berselancar tanpa sedikit pun niat untuk melirik para cowboys. Turis Australia yang gemar selancar, berusia anak-anak sampai tua, laki atau perempuan. Di Australia, yang pantainya menjadi bagian gaya hidup, berslenacar seperti ‘wajib bisa’ atau ‘wajib pernah’. Bagi sebagian wisatawan asing, khususnya Australia, pergi ke Bali tanpa berenang atau main selancar di Pantia Kuta dan sekitarnya, belumlah lengkap. Banyak yang melakukannya sore hari, tetapi tak sedikit yang berselancar pagi hari, melanjutkan adegan-adegan dalam film ‘Morning of the Earth’, yang pernah mereka dengar atau tonton! Darma Putra

Tiap Hari............................................................................................................................................................................dari halaman 1 memang hanya sebatas teman. Tetapi, kalau budaya kita kan itu dianggap tidak lazim. Makanya, saat itu, saya bukan hanya cemburu, tetapi juga sempat bimbang untuk melanjutkan atau tidak hubungan berpacaran kami,” ujarnya. Namun, keraguan Dewi akhirnya buyar. Martin bukan hanya ngecap dalam membagi perhatian spesial kepada Dewi. Sikap kesehariannya melukiskan gambaran itu. “Dia amat peduli dan romantis terhadap pasangan hidupnya,” aku alumnus BPLP Nusa Dua ini. Masa pacaran yang dilewati selama tiga tahun menyimpan banyak kenangan indah. Inilah masa awal yang menentukan dua sejoli ini untuk mempelajari karakter dan kebiasaan masing-masing. “Selama pacaran dia memang sangat romantis. Itu dimulai sejak kami bertemu pertama kali di sebuah pesta di Sanur. Saat itu, dia dikenalkan kepada saya oleh seorang teman. Kami berdua ketemu lagi secara kebetulan di Sanur. Saat itu, saya menyetir mobil hendak ke kantor. Dia juga mau berangkat kerja. Ternyata kami tinggal bertetangga. Saat lihat dia di depan rumah, saya grogi. Akibatnya mobil saya masuk parit,” kisah Dewi. Martin yang sempat menjadi general manager hotel di Eropa Timur, Cina, Korea, Mesir Bulgaria, dan Jakarta itu tak tinggal diam. Ia spontan tergerak hatinya mem-

bantu mendorong mobil Dewi yang terperosok ke parit. Sejak itu, dua anak manusia berlainan bangsa ini mulai saling mengenali pribadi masing-masing. Martin memberanikan diri mengajak Dewi menikmati minum bersama. “Sebaliknya saya pun menawarkannya makan bersama. Sejak itu, kami berdua kerap nonton film bareng, walau saat itu belum resmi berpacaran,” cerita Dewi. Peristiwa Valentine Day tahun 1993 menjadi momen istimewa. Putra Hanz Aeschlimann dan Ani Aeschlimann yang lahir di Zurich, Swiss, 9 Maret 1957, itu, mengirimkan kembang dan rekaman musik sentimental dalm CD kepada Dewi. “Ada kartu ucapan Valentine Day yang berisi tulisan tangannya. Bunyinya, You to be my girl friend,” ungkap Dewi sambil tersenyum. Ada tradisi baru yang mulai diadaptasi Dewi saat menjadi sahabat spesial Martin. Dewi mulai bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan Martin menikmati wine atau campaigne saat ada pesta di kalangan orang asing di Bali. “Padahal, saya dulu tidak biasa minum wine. Saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan itu,” katanya. Namun, saat menikah dengan Martin, Dewi mulai mengingatkan suaminya jika kelewat banyak menenggak minuman beralkohol. “Misalnya, minum bir kan sudah

biasa bagi Martin sebagaimana umumnya orang Eropa. Saya mengingatkan dia boleh minum bir, asalkan tidak banyak. Tetapi, cara saya memberi tahu tidak frontal. Saya bilang, awas lho kalau banyak minum bir nanti perutnya gendut. Saya juga mengingatkan dia saat dulu masih merokok. Saya katakan, merokok berbahaya lho bagi kesehatan. Saya tidak melarangnya, tetapi cara berkomunikasi macam tadi ternyata manjur. Suami akhirnya mulai enggan banyak minum bir, termasuk sudah 11 tahun ini berhenti merokok,” ujarnya. Dewi berusaha menyesuaikan diri dengan tradisi dalam aktivitas sehari-hari di rumah. Keluarga suaminya di Swiss sudah terbiasa dengan tradisi makan pagi bersama. “Sebelum makan pagi pasti harus dandan rapi dulu. Saat di meja makan, kami membicarakan apa saja rencana kegiatan hari itu,” ungkapnya. Saat di rumah atau di luar rumah memang komunikasi amat penting. Namun, komunikasi yang mendorong tetap terpelihara suasana romantis lebih banyak ditentukan Dewi. Sebagai istri dirinya senantiasa mengambil inisiatif untuk mengucapkan kata-kata bernada cinta dan sayang kepada sang suami. “Selain ungkapan darling, I love you, juga hello darling. Ungkapan semacam ini saya biasakan untuk tetap merekatkan kebersamaan cinta kami,” ujarnya.

Urusan kantor suaminya yang lulusan lembaga pendidikan hotel management di Lausanne, Swiss, itu, menurut Dewi berada di wilayah berbeda dengan urusan rumah tangga. Maka, Martin tak pernah menceritakan masalah kantor kepada sang istri. Sebaliknya, Dewi justru berusaha selalu terbuka dengan aktivitas pribadinya kepada Martin. “Saya ceritakan kepada suami tiap hari tentang apa saja yang saya rasakan, saya alami, termasuk jika bertemu orang. Ini penting agar saling percaya selalu ada di hati kami masing-masing. Jangan lupa, ini cara kami berdua menghindari cekcok yang tidak perlu dalam keluarga,” lukisnya. Potensi cekcok juga dihindari dengan cara menjaga wilayah privasi masing-masing. Dewi memberi contoh perihal layanan pesan singkat atau SMS dalam HP suami maupun HP-nya. “Suami dan istri jangan saling mengecek isi HP masing-masing. Kita tidak pernah tahu jalan cerita lengkap dari bunyi SMS yang sering kata-katanya singkat itu. Kadang karena tidak mengerti jalan ceritanya, SMS yang terbaru saja yang terbaca. Ini yang sering bikin ribut. Padahal, bisa jadi maksud isi SMS sebenarnya tidak mengandung hal-hal yang bisa merusak hubungan suami istri. Jika kita ribut hal-hal remeh-temeh begini, siapa yang untung,” katanya setengah bertanya. —sam

bergandengan tangan menjadi garda terdepan menghadapi bahaya virus HIV/AIDS. Virus tersebut, lanjut Ari Murti merupakan musuh dalam selimut. Untuk itu, Ari Murti mengajak masyarakat dan pemerintah agar pelatihan tak hanya berlangsung sekali, namun terus berlanjut mengingat jumlah pengidap

HIV/AIDS terutama yang ditularkan ibu ke janin jumlahnya mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. KPA Kabupaten Badung pun menilai kerja sama pihak lain terkait kegiatan PITC sangat diharapkan. Menurut Elly, kegiatan PITC ini merupakan kegiatan yang pertama kali digelar di Kabupaten

Badung. Ucapan terima kasih pun terucap dari bibir Arimurti sebagai wakil dari Rotary Club Nusa Dua yang hadir dalam pelatihan tersebut. “Kami dari Rotary Club Nusa Dua mengucapkan terima kasih kepada KPA Kabupaten Badung, dan juga Yayasan Kerti

Praja yang banyak membantu memberikan informasi terkait HIV/AIDS,” ujarnya. Ari Murti juga berterima kasih kepada BTDC Nusa Dua yang telah memberikan tempat untuk pelatihan yang digelar Rotary Club Nusa Dua dan KPA Kabupaten Badung. —asp/lik


JABODETABEK

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 13

tkh/hkm

tkh/hkm

Perkampungan kumuh di Jakarta

tkh/hkm

Hillary Clinton mengunjungi MCK Plus-Plus di Petojo, Jakarta

tkh/hkm

Irwansyah Idrus

MCK Plus Plus di Petojo, Jakarta Pusat


14

Tokoh

PESTA KESENIAN BALI

27 Juni - 3 Juli 2010

Jadwal PKB ke-32 Tahun 2010

Usada Taksu Bali Layani Pengobatan Kanker menjadi taruhannya. Mastresna menuturkan, ujian akhir yang paling berat, ia harus duduk di satu kursi ajaib yang berhias kain putih. Namun, kursi tersebut bukanlah kursi biasa. Jika ilmu supranaturalnya tidak mumpuni, yang duduk di situ tidak bisa bangun lagi dan langsung terkapar. Ia juga dikalungi kalung ajaib. Kalau kalung tersebut tidak berkenan, tidak bisa dibuka dan langsung mencekik leher pemakainya. Satu benda dilempar ke atas. Setelah diberi doa, hasilnya akan terlihat, apakah orang ini harus mati atau tidak. Mastresna berhasil melalui semua ujian tersebut, dan dinobatkan menjadi Pendeta Voodoo se-Asia oleh Presiden Voodoo Guendehou yang asal Afrika.

P

menghadiri konferensi pengobatan tradisional di Benin, Cotonou, Afrika Barat. Konferensi dihadiri para dukun dari seluruh dunia. Menjelang penutupan konferensi ada agenda penting yakni pengangkatan pendeta voodoo se–Asia. Afrika Mirip Bali Namun, pengangkatan pendeta Voodoo atau vodou atau voodoo bukanlah proses yang vodoun merupakan aliran mudah. Kandidat harus melalui tes kepercayaan baru. Aliran voodoo supranatural yang berat dan nyawa merupakan gabungan dari kepercayaan “Yoruba” Afrika dengan pengaruh Agama Katolik. Menurut sejarah, ajaran ini berkembang di Kepulauan Haiti, berawal dibawanya para budak berkulit hitam dari Afrika Barat ke kepulauan tersebut oleh Inggris. Setelah budak-budak ini menetap di Haiti, secara perlahan-lahan, mereka mulai menggabungkan kepercayaan yang dianutnya (Yoruba dengan ajaran Katolik, yang dianut tuan-tuannya, orang Inggris). Penggabungan kedua aliran inilah yang kemudian dinamakan voodoo. Voodoo sering diidentikkan dengan ilmu hitam. Padahal, kata Mastresna, voodoo hampir sama dengan ilmu supranatural Pengunjung sedang melihat pameran di stan Yayasan Taksu Bali Bali. “Kalau digunakan untuk tkh/ast

redikat ’pendeta voo doo se-Asia’ yang disandang Mastresna menjadi daya tarik tersendiri. Tahun 2006 lelaki yang lahir bertepatan dengan perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus ini diundang Prometra International (Association for The Promotion Traditional Medicine) dan African Traditional Medicine

PKB=Pengibingnya Kadang Bule USAI pementasan joged/leko Banjar Parekan, Sibang Gede, Badung, Minggu (20/6), di watilan Taman Budaya, pembawa acara menutup acara dengan mengatakan “demikianlah tadi pementasan leko/ joged, dengan para penari yang dinamis mengiringi pengibing dari dalam dan luar negeri...”. Siang itu, memang ada dua bule tampil mengibing. Satu perempuan, satu laki-laki. Pengibing laki-laki, entah dari negeri mana asalnya, tampil meyakinkan. Gayanya menari menunjukkan bahwa dia sudah pernah mengibing sebelumnya. Penampilannya cukup lama, sekitar delapan menit, jadi bukan sekadar naik panggung lalu turun. Dalam ibingannya, dia pun sempat mengajak, membujuk penari untuk bergoyang, lalu karena ditolak dia pura-pura marah, persis seperti pengibing ‘profesional’ Bali. Penampilan dia memukau, penonton tertawa. Usai penampilannya, penonton bertepuk tangan. Si bule turun panggung, dengan santun, mengenakan sepatunya yang tadi dibuka saat naik. Lelaki bule itu menonton PKB bersama anak (dari istri orang Bali), keluarga dan temannya. Penampilan pengibing bule itulah yang kiranya membuat pembawa acara untuk mengatakan ‘pengibing dalam dan luar negeri’.

Turis Ngigel Kehadiran wisatawan dalam PKB bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai seniman yang mengisi acara. Belum lama ini ada seniman tari dari Swedia. Dulu, tahun 1980-an, kelompok penabuh gamelam Bali dari Amerika Serikat, Sekar Jaya, tampil di PKB. Mereka menabuh dan menari. “Bèh, ada turis ngigel....,” begitu penonton nyeletuk waktu itu. Anggota Sekar Jaya memang piawai menabuh dan menari. Mereka adalah dosen atau mahasiswa yang belajar kesenian Bali, jadi tidak tepat disebut turis. Usai tampil di PKB, Sekar Jaya ngayah

tkh/dap

Bule Dalam PKB Media massa senantiasa memberikan perhatian khusus jika ada orang asing yang tampil di PKB, baik sebagai penoton pawai, penonton seni pertunjukan maupun aktif naik panggung seperti pengibing. Kamera TV menyorot mereka, wartawan foto menjepret berulang kali, lalu keesokan harinya muncul di koran. Penggemar fotografer lainnya yang jeprat-

jepret memuatnya di face-book. Tak jarang wartawan TV mewawancari bule, menanyakan mengapa mereka tertarik datang ke PKB, bagaimana kesan-kesannya. Usaha media massa menampilkan bule atau turis asing dalam laporan mereka membuat kesan bahwa jangankan orang Bali, wisatawan asing pun senang menonton PKB. Berita demikian seperti berupa ajakan agar masyarakat Bali juga ramai-ramai datang ke Art Centre. Memang dalam tiap acara PKB, mulai dari pawai sampai dengan pertunjukan, ada saja bule menonton. Tetapi, jangan salah sangka, jumlah mereka banyak. Nyatanya tidak. Jumlah bule yang menonton PKB sangat sedikit, paling 5-6 orang dalam pementasan, itu pun kebanyakan bule yang membawa alat potret atau handycam karena ingin mengabadikan atau mungkin mereka peneliti. Orang asing yang benar-benar datang menonton tampaknya bukanlah wisatawan penuh, buktinya mereka yang datang orang asing istrinya orang lokal, atau mungkin ekspatriat.

Seorang wisatawan asing sedang didapuk penari joged untuk ngibing di PKB. Penonton bersorak riang gembira

ke beberapa pura dan tampil di beberapa daerah. Mereka juga tampil di televisi (waktu itu hanya ada TVRI Denpasar) sehingga kian banyak yang bisa menonton kepiawaian orang asing menabuh gamelan Bali. Setelah Sekar Jaya, tampil juga seka Sekar Jepun dari Jepang. Mereka menabuh dan menari. Sama-sama memukau penampilan mereka. Belakangan juga muncul kelompok seni Bali dari Inggris. Semuanya mengesankan bahwa kesenian bali sudah go-global, artinya tumbuh di negeri luar, negeri besar seperti Jepang , Inggris, dan Amerika. Belakangan ini Sekar Jaya dan kelompok gamelan Bali lainnya di Amerika atau Jepang tidak pernah lagi tampil, meski demikian ada kelompok seni lain dari luar negeri yang tampil, menampilkan kesenian mereka sendiri. Penampilan itu memperkaya ragam seni yang tampil di PKB. PKB untuk Siapa? Tentu bagus kalau PKB bisa menjadi arena bagi kelompok kesenian Bali di mancanegara untuk tampil, dan tampilnya kesenian negara lain di arena PKB. Yang kurang berhasil dicapai PKB selama ini, menampilkan kesenian yang memikat wisatawan yang sudah di Bali untuk datang ke Art Centre. Ribuan turis berlibur ke Bali, namun tak ada 10 orang mampir tiap hari ke PKB. Gagalnya PKB menarik turis datang ke Art Centres bisa dijelaskan dengan dua hal. Pertama, PKB memang dari oleh dan untuk Bali, bukan untuk wisatawan, sehingga tak perlu risau jika tak ada turis datang. Tetapi, ini sebetulnya pandangan sempit karena dengan Bali mengembangkan pariwisata budaya, PKB mestinya juga dibuat sedemikian rupa buat memikat wisatawan, dan membuktikan kepada wisatawan bahwa Bali kaya dan taat melestarikan keseniannya. Kedua, kegagalan menarik wisatawan karena kurang promosi dan kondisi serta suasana di Art Centre tidak kondusif untuk itu. Banyak pedagang acung, kotor, semrawut, panas, jauh dari kenyamanan yang biasanya didambakan turis (dan juga sebetulnya masyarakat kita). Dulu, biro perjalanan bisa menjual paket tur untuk menonton pawai PKB, dengan memblokir sejumlah kursi di arena pawai buat wisatawan untuk menonton. Kini hal itu tidak tampak terjadi. Pihak pengusaha industri pariwisata sepertinya tidak tertarik mengajak

kejahatan menjadi buruk, kalau digunakan untuk kebaikan bisa membantu atau mengobati,” kata lelaki yang sedang menekuni Program Doktor Pengkajian Agama dan Budaya di Unhi Denpasar ini. Ia menyebutkan, sekitar 50 juta penganut voodoo di seluruh dunia, hanya 20% yang mempelajari ilmu hitamnya. Jadi, kata dia, tidak semua penganut ajaran Voodoo menggunakan ilmu hitam. Ia berpandangan, rakyat Afrika sangat percaya pada dukun voodoo. Dukun-dukun itu mendapat penghormatan luar biasa dan memiliki kekuasaan. Tahun 2004 seorang ahli voodoo yang berasal dari Afrika yang bernama dr. Erick Gbodossou datang ke Bali. Dengan tuntunan roh, tiba-tiba ia datang ke Celuk ke rumah I Made Mastresna. Tahun 2006, I Made Mastresna diundang mengikuti konferensi pengobatan tradisional di Benin, Afrika Barat, 18 s.d. 25 Februari 2006. Mastresna berpandangan, kondisi Bali dan Afrika sangat jauh berbeda, tetapi ada kemiripan dalam adatnya. “Sebelum masuk ke tempat suci, para tamu dibersihkan terlebih dahulu. Ada sarana segehan agung dengan menggunakan penyembelihan ayam. Tamu yang datang, harus melewati segehan agung dan kakinya diolesi darah ayam segar. Ada juga arak brem. Bedanya, brem ini ditempatkan di labu yang sudah kering,” tuturnya. Ia menambahkan, tempat suci mereka berbentuk linggam, dan ada sesajen juga yang harus dihaturkan; digunakan kambing dan ayam sebagai simbol purusa dan pradana. Ia menyebutkan, masingmasing desa di Afrika memiliki sambeto atau di Bali disebut sesuhunan yang bentuknya seperti barong blutuk. Namun, bahannya berbeda; terbuat dari akar-akaran. Sambeto mampu berjalan sendiri turis ke Art Centre, sementara pihak panitia tidak tertarik mengundang mereka datang. Nah, kloplah sudah kegagalan itu. Dalam perjalanan waktu, PKB memang berubah perangainya. Dulu PKB bisa disingkat dengan pesta kesenian yang ‘penari/

tkh/ast

BERBAGAI macam benda spiritual yang dipajang Yayasan Taksu Bali di arena Pesta Kesenian Bali ke-32, menjadi daya tarik pengunjung. Di stan ini, I Made Mastresna, S.E, M.Si., pendiri Yayasan Taksu Bali, juga melayani konsultasi fisiognomi dan palmistri (membaca wajah dan garis tangan). Akupresur Usada Taksu Bali juga melayani pengobatan penyakit ringan sampai berat, medis dan nonmedis. Penyakit kanker dan tumor menjadi spesifiknya. Di sini tersedia berbagai macam herbal untuk pengobatan tradisional terbuat dari bermacam-macam jenis jamur.

MINGGU 27 Juni 2010 10.00 – 12.00 Parade Ngelawang Klungkung, Gianyar, Bangli, dan Tabanan, Areal Taman Budaya; 10.00 – 12.00 Tari Klasik Kota Denpasar, Wantilan; 10.00 – 12.00 Joged Bumbung Sanggar Tari Dharma Santhi Desa Bila Tua, Kubutambahan, Buleleng, Kalangan Ayodya; 19.30 – 21.00 Pergelaran Wayang Listrik Grup Sidhakarnoyako Tokyo, Jepang, Wantilan ; 20.00 – 22.00 Wayang Betel Dalang I Ketut Kodi S.SP.M.Si, Wantilan; 20.00-22.00 Parade Drama Gong Himpunan Seniman Badung, Gedung Ksirarnawa; 20.00 – 22.00 Musik Kolaborasi Grup Musik Progesif Jes Gamelan Fusion “Penggak Men Mersi” Puri Kesiman Denpasar, Panggung Terbuka Ardha Candra

Mastresna yang digerakkan roh. Di Bali, ada orang yang masuk di dalamnya. Ada pemangku yang memandu diiringi gong ala Afrika. Biasanya dalam musim grubuk, sambeto berjalan sendiri untuk membersihkan wabah penyakit. Sejak Kecil Mastresna lahir di lingkungan keluarga yang beragama Hindu dan keturunan dalang wayang kulit dan pengusada (balian). Sejak kecil ia sudah mendapat bimbingan dari kakeknya mengenai supranatural dan kesenian tradisional. Saat usianya masih belia ia sudah bisa mendalang, menari, dan menabuh gender wayang. Setelah remaja ilmu supranaturalnya terus diasah, hingga dewasa ia menguasai ilmuilmu supranatural Bali seperti kundalini, cakra, kanda pat, dan sastra. Ia mendapat julukan ‘Grand Master’ Perguruan Seni Bela Diri Tenaga Dalam Cakra Naga Siwa Sampurna, ‘Grand Master’ Tri Bhuana pengobatan segala macam penyakit medis tanpa sentuh, tanpa kimia, tanpa operasi, tanpa tusuk jarum serta bisa juga melalui foto atau jarak jauh. Juga, ‘Grand Master’ fisiognomi dan palmistri, perwakilan Prometra Internasional, promotion des medicines traditionelles di Indonesia dan Bali khususnya yang memiliki cabang di 20 negara, ‘Master Teacher’ kundalini reiki, ‘Master Teacher’ karuna ki, ‘Master’ vajra reiki tummo, ‘Grand Master’ prana sakti, ‘Jero Mangku Dalang’ calonarang, dan ‘Pendeta Voodoo se-Asia’. –ast penabuh kadang bule’, kini PKB artinya, pengibingnya kadang bule’. Kasihan memang kalau pesta akbar kesenian Bali itu tidak disuguhkan pula kepada wisatawan yang jumlah mereka yang berlibur di Bali ratusan ribu dalam rentang waktu tertentu. —dap

SENIN, 28 Juni 2010 10.00 – 12.00 Tari Klasik Arja Klasik Seka Kertya Kencana Budaya, Buduk, Kediri, Tabanan, Kalangan Angsoka; 17.00 – 19.00 Tari Kontemporer Garapan Kolaborasi Sanggar Samer Galang, Dauhwaru, Jembrana, Gedung Ksirarnawa; 19.30 – 21.00 Parade Wayang kulit Tradisi Sanggar Kuta Kumara Agung, Kuta, Badung, Wantilan;20.00 – 22.00 Drama Tari Arja “Roro Mendut” RRI Denpasar, Kalangan Ayodya ; 20.00 – 23.00 Parade Gong Kebyar Wanita Seka Gong Wanita Ardana Kusuma, Tegalcakring, Mendoyo dan Sanggar Cudamani Pengosekan, Ubud, Panggung Terbuka Ardha Candra SELASA ,29 Juni 2010 10.00 – Selesai Lomba Nyastra, Kalangan Angsoka, Kalangan Ayodya, Kalangan Ratna Kanda, Wantilan, Gedung Ksirarnawa; 17.00 – 18.30 Tari Janger Sanggar Citta Usadi, Mengwi, Badung, Kalangan Ayodya; 19.30 21.00 Parade Wayang Kulit Seka Wayang Parwa Suci Laksana Dalang Wanita Kadek Suciati Desa Paksebali, Dawan, Klungkung, Wantilan; 19.30 - 21.00 Partisipasi Indian Cultural Centre Bali, Gedung Ksirarnawa; 20.00 – 23.00 Parade Gong Kebyar Anak- anak Seka Gong Kebyar Anak- anak Manik Anyar Banjar Umanyar, Ababi, Abang, Karangasem dan Sanggar Seni Kumara Widya Suara, Mendoyo, Jembrana, Panggung Terbuka Ardha Candra RABU 30 Juni 2010 10.00 – 12.00 Tari Tradisi Suku Dayak Pedalaman “Corita Nya Muntuh Mula” Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.Sanggau, Kalimantan Barat; 10.00 – 12.00 Taman Penasar Sanggar Seni Penyandang Cacat Rwa Bineda Denpasar, Kalangan Angsoka; 18.30 – 20.00 Tari dan Fashion Show Pakaian Daerah Balikpapan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Balikpapan, Gedung Ksirarnawa; 19..00 – 21.00 Arja Remaja Sanggar Tari Sentana Mandala, Bebaluan, Singapadu Tengah, Gianyar, Kalangan Ayodya; 19.30-21.00 Parade Wayang Kulit Seka Wayang Kulit Wakul Piluk Jiner, Baluk, Negara, Wantilan; 20.00 – 23.00 Parade Gong Kebyar Dewasa Seka Gong Dwi Karya Budaya, Banjar Sanda, Pupuan, Tabanan dan Seka Gong Murdaning Katon Jaya, Tonja, Denpasar Utara, Panggung Terbuka Ardha Candra KAMIS 1 Juli 2010 10.00 – 12.00 Tari Kreasi dan Fragmentari Sanggar Siwer Nadi Swara Denpasar, Kalangan Angsoka; 17.00 – 18.30 Tari Joged Bumbung Seka Jaya Suara, Banjar Pangkung Liplip, Kaliakah, Jembrana, Kalangan Ayodya; 19.30 – 21.00 Cak Wanita ISI Denpasar, Gedung Ksirarnawa; 19.30 – 21.00 Parade Wayang Kulit Jro Mangku Dalang I Wayan Badra, Dusun Demulih , Bangli, Wantilan; 20.00 – 23.00 Parade Gong Kebyar Wanita Seka Gong Dharma Gita Sadu Banjar Dauh Peken, Tabanan, dan Seka Gong Wanita Gita Kencana, Banjar Tengah, Dawan, Klungkung, Panggung Terbuka Ardha Candra. JUMAT 2 Juli 2010 09.00 - Selesai Sarasehan, Natya Mandala ISI; 10.00-12.00 Kreasi Legong Gender dan Barong Macan Yayasan Seni Puspa Kirana, Banjar Tangkup, Kedisan., Tegalalang, Gianyar, Kalangan Angsoka; 17.00-18.30 Joged Bumbung Banjar Payuk Tembuku, Bangli , Kalangan Ayodya; 19.30-21.00 Parade Wayang Kulit Dalang Gede Sugiantara, Tejakula, Buleleng, Wantilan; 20.00-22.00 Parade Drama Gong Tabanan, Gedung Ksirarnawa; 20.00-22.00 Parade Balaganjur Iringan Fragmentari, Klungkung, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan, Panggung Terbuka ISI Denpasar; 20.00-23.00 Parade Gong Kebyar Anak-anak Seka Gong Anak-anak “Rare Angon” SMPN2 Abiansemal, Badung dan Seka Gong Alit Puspa Sari, Banjar Suda Kanginan, Kediri, Tabanan, Panggung Terbuka Ardha Candra. SABTU 3 Juli 2010 10.00 – 12.00 Lomba Kerajinan, Wantilan; 10.00 – 13.00 Karawitan Kendang Mebarung, Jembrana, Kalangan Ayodya; 17.00 – 18.30 Tari Joged Bumbung, Seka Joged Semaranadi, Tohpati, Banjarangkan, Klungkung, Kalangan Ayodya; 19.00 – 21.00 Parade Topeng Prembon Seka Gong Puspa Sari, Banjar Peken, Renon, Denpasar, Wantilan; 19.00 – 21. 00 Partisipasi Paguyuban Puspa Budoyo Tangerang, Gedung Ksirarnawa; 20.00 – 22.00 Pemutaran Film Dokumenter, Insititut Seni Indonesia Denpasar; 20.00 – 22.00 Legong Kreasi “Karena Gugur” Produksi GEOKS Singapadu, Panggung Terbuka Ksirarnawa.

Dari Penampilan Tiga Kabupaten/Kota

Balaganjur Kini Jadi Kesayangan Kawula Muda BALAGANJUR kini makin gaul di kalangan anak muda Bali. Padahal dulu gamelan ini tak lebih dari bunyi-bunyian pelengkap upacara kematian. Tetapi, kini Balaganjur menggeliat dan menggebrak menjadi seni pertunjukan yang layak disimak. Karena itu, sejak tiga tahun terakhir ini Pesta Kesenian Bali (PKB) memberikan ruang khusus pada seni pentas ini. Bahkan PKB ke-32 tahun 2010 ini menampilkan sembilan grup Balaganjur persembahan kabupaten/kota se-Bali. Sajian seni yang disebut Parade Balaganjur Pragmentari tersebut dapat disimak penonton di panggung terbuka Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Senin (21/6) malam kesempatan Denpasar, Gianyar, dan Badung unjuk lebolehan. Perkembangan Balaganjur menggiring penonton tak hanya terpukau gaya bermain musik Balaganjur. Konfigurasi tari yang ditampilkan justru menambah pesonanya. Ada aksi Balaganjur lengkap tari-tarian yang heroik. Banyak pula terlihat yang memadukan musik Balaganjur dengan koreografi tari yang dibingkai tuturan mitologi, legenda, epos Ramayana dan Mahabharata. Balaganjur kini memang tak sekadar sajian musik instrumental, tetapi kini bisa disajikan dan disaksikan sebagai seni pertunjukan utuh. Siapa pun berangkali tak menduga, Balaganjur kini mencuat dan demikian populer, khususnya di kalangan anak muda. Padahal sebelumnya, kaum muda Bali sempat malu menyentuhnya. Kini simaklah Parade Balaganjur Pragmentari di arena PKB itu, kaum muda Bali dengan penuh kebanggaan dan suka cita menyuguhkannya dan penonton yang memadati panggung terbuka ISI menikmati dengan antusias. Kota Denpasar tampil dengan tajuk

“Nirasraya”, Kabupaten Gianyar mengetengahkan lakon “Gajah Waktra” dan Kabupaten Badung hadir dengan Balaganjur pragmentari “Bandha Moksa”. Ketiga grup tampil mempesona dengan memadukan keterampilan memainkan instrumen dan tata garap tari. Berkesempatan unjuk diri 1015 menit, betapa gelora kreativitas seni kaum muda itu membumbung. Pekik sorai dan lenggang Balaganjur menggeliat sejak tahun 1980-an. Kuat ditengarai drumband Adi Merdangga kreasi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) -kini Institut Seni Idonesia (ISI) Denpasar - ikut mendorong mengemukanya musik ini. Drumband yang muncul tahun 1984 itu pada dasarnya musik Balaganjur yang dibengkakkan jumlah instrumennya dan tentu juga pemainnya. Inovasi musik dan tata kreativitas penampilan Adi Merdangga yang selalu ditampilkan pada pembukaan Pesta Kesenian Bali, mengusik dan menyadarkan Balaganjur terhadap potensi dirinya. Menjamurlah kemudian gelar atau lomba Balaganjur di desa-desa, sekolah-sekolah hingga kampuskampus. Penyelenggaraan Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) di Bali biasanya selalu menyertakan lomba Balaganjur sebagai sebuah mata acara yang sangat diminati. Sejatinya, Balaganjur merupakan musik prosesi. Dalam Prakempa, lontar tua tentang gamelan Bali, ia disebut dengan gamelan ketug bumi. Secara etimologis Balaganjur berasal dari gabungan kata bala dan ganjur. Bala berarti pasukan dan ganjur berjalan. Ada dugaan awalnya Balaganjur merupakan musik perang. Namun, dalam perjalanannya kemudian ia berfungsi menyertai pawai adat atau agama. Warna heroik Balaganjur sangat manjur dalam menyemangati

Parade Balaganjur Pragmentari di arena PKB yang digelar di panggung terbuka ISI Denpasar menyuguhkan tajuk “Nirasraya” (Kota Denpasar), “Gajah Waktra” (Kabupaten Gianyar) dan “Bandha Moksa” (Kabupaten Badung)

arak-arakan upacara ngaben, misalnya. Musik Balaganjur bersifat perkusif, musik pukul. Alat-alat musiknya dominan berbentuk pencu, seperti gong, kempur, kajar, atau reong, misalnya. Namun, yang berperan menonjol dalam musik ini sepasang kendang dan belasan cengceng (simbal). Sebuah ensambel Balaganjur dimainkan 25 hingga 30 orang penabuh. Dalam konteks sekarang, Balaganjur juga disertai musik tiup seruling atau preret, misalnya. Kini Balaganjur ditabuh tidak hanya untuk aktivitas ritual, kiprahnya kian melebar. Ia juga didaulat untuk menyertai lomba layang-layang, menyemangati pawai ogoh-ogoh hingga membakar semangat pemain sepak bola. Yang menggembirakan, gairah atau perkembangan Balaganjur sekarang ini disertai kreativitas yang cukup mencengangkan. Dengan tetap berorientasi pada dasar musik Balaganjur, terlihat banyak muncul motifmotif baru permainan instrumennya maupun bentuk keseluruhan komposisinya. Pola-pola jalinanjalinan kendang diperkaya. Aksen-aksen cengceng dibuat lebih rumit. Permainan reong tampak kian berliku melodius. Penyajian musik Balaganjur belakangan ini selain hadir dengan

penjelajahan musikalnya juga sarat penataan gerak, apalagi jika digelar dalam konteks lomba. Dengan penataan kostum penabuhnya yang ornamentik, yang menarik adalah atraksi pentasnya itu. Bagaimana misalnya dua pemain kendang menabuh sembari mendemontrasikan aksen-aksen tari. Begitu juga para pemain cengceng yang menari-nari namun tak mengabaikan jalinan atau ritme musik yang sedang dimainkan. Ini tentu sebuah inovasi yang perlu terus dikondisikan dan diberi ruang kiprah; sebuah pembaruan signifikan dalam seni pertunjukan Bali. Mungkin ini satu-satunya inovasi yang lahir dari kancah Pesta Kesenian Bali yang sudah berusia lebih dari seperampat abad itu. Lahir dari kandungan Adi Merdangga dan diasuh dalam pangkuan masyarakat Bali yang kasih terhadap nilai seni, Balaganjur kini menjadi kesayangan segenap lapisan masyarakat, khususnya menjadi kebanggaan kawula muda Bali, sumber insani penyangga kejayaan seni budaya bangsa. Bukahkah penjelajahan jati diri di era globalisasi ini sari patinya ada dalam asuhan nilainilai lokal? Kemesraan generasi muda Bali dengan seni pertunjukan Balaganjur-nya patut disyukuri. z Kadek Suartaya


TRENDI

Menambah Kepercayaan Diri dengan Kacamata

M

EMAKAI kacamata bukan hanya diilakukan orang yang mengalami kelainan pada mata. Tetapi, kacamata juga merupakan bagian dari tata busana. Banyak artis yang memilih kacamata sebagai bagian dari aktualisasi diri. Sebut saja nama John Lennon, Elton John, Atiek CB, Ian Kasela, dan Pasha Ungu yang identik dengan kacamata saat mereka tampil di depan publik. Di kalangan atlet, Edgar Davids, mantan pemain sepakbola Belanda dan klub Juventus terkenal dengan kacamatanya saat berlaga di lapangan hijau. Benarkah kacamata bisa meningkatkan kepercayaan diri dan bagaimana memilih kacamata yang baik? Kadek Alvioni menulis di akun Facebook-nya. Ia mengatakan minusnya bertambah menjadi 1. Perempuan yang akrab disapa Onik ini pun harus menyiapkan dana untuk membeli kacamata baru. Kacamata yang lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Ketika ditanya apakah mementingkan sisi tata busana atau sisi medis dalam memilih kacamata, Onik mengatakan lebih memprioritaskan sisi medis. “Kacamata harus bisa membantu mata melihat dengan baik, artinya sisi medis yang jadi prioritas, tetapi kacamata wajib keren dan trendi,” ujar Manajer Marketing RSIA Puri Bunda, Denpasar yang menyukai merek Oakley ini. Kacamata memang menjadi “double agent” yang membuat orang bisa terlihat menarik. Satu sisi kacamata membantu si pemakai untuk melihat sesuatu lebih baik. Di sisi lain, kacamata membuat penampilan orang menjadi menarik, apalagi jika pakaian yang dikenakan dan bentuk wajahnya sesuai dengan pilihan kacamata. “Kacamata bisa menambah kepercayaan diri.

Ini akan membuat orang yang memakai kacamata lebih percaya diri,” ungkap I Gusti A. Hajar Riyani, seorang pengamat mode. Pemilik Montana Modelling yang akrab disapa Ari Agung ini menambahkan kacamata menjadi aksesoris yang menarik untuk tata busana. Masalahnya, banyak yang asal pilih dan pakai kacamata sehingga menimbulkan kesan “tidak nyambung”. Ia menyarankan pemilihan kacamata harus disesuaikan dengan bentuk wajah. Bagi yang wajahnya lonjong, pilihlah kacamata yang pinggirannya lurus dan turun sampai serendah mungkin pada pipi. Wajah persegi disarankan memilih bingkai yang bundar sedemikian rupa sehingga melunakkan garis rahang. Untuk yang wajahnya segitiga, pilihlah gaya bingkai kacamata yang indah yang sisinya meruncing sedikit ke bawah sehingga sebanding dengan garis luar yang sempit dari wajah. Bagi yang wajahnya bundar, kening harus kelihatan sebanyak mungkin. Pinggiran atas dari kacamata hanya boleh sedikit saja berada di

Kacamata merupakan aksesoris yang menarik untuk tata busana dan kacamata juga bisa menambah kepercayaan diri bagi pemakainya

atas alis mata dan harus melebar sebanyak mungkin ke sisi kanan dan sisi kiri. Memilih bingkai kacamata juga harus disesuaikan dengan warna kulit dan warna rambut. “Warna kacamata sama pentingnya dengan warna tata busana. Bahkan bisa saja lebih penting karena berhubungan langsung dengan wajah dan rambut,” kata mantan model Bali yang pernah meraih piala bergilir Rahadian Yamin tahun 1982 ini. Besarnya bingkai kacamata juga harus sebanding dengan wajah. Jika bingkai terlalu kecil, sama dengan mengenakan baju yang dua ukuran lebih kecil. Sebaliknya, jika terlalu besar, akan menghilangkan kecantikan mata dan wajah. Dokter Deasy S. Mendala, Sp.M. menyarankan pemilihan kacamata berdasarkan pengukuran power lensa dan bahan yang tepat sesuai keperluan. Jenis kacamata antara lain

Atasi Keluhan Pernapasan dan Metabolisme NAMA saya Purnama, umur 36 tahun. Saya memiliki keluhan di pernapasan yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk saya sebagai perokok berat. Sudah hampir 1,5 tahun saya menjalani pengobatan ke berbagai macam tempat tapi hasilnya nihil. Bahkan yang saya rasakan sekarang, keluhan saya makin parah. Untuk berjalan santai lama-lama, saya sudah hampir tidak kuat. Saat mengobrol, napas saya terengah-engah dan terkadang jika terkena batuk sangat lama penyembuhannya.Saya merasa sangat tidak nyaman dalam kondisi seperti ini. Akhirnya seorang kerabat memberitahukan saya ke tempat pengobatan alternatif Klinik Suhu Yo. Dengan diantar teman, saya pun mulai melakukan

pengobatan di Klinik Suhu Yo. Pertama kali datang, saya diperiksa terlebih dahulu dan ternyata selain permasalahan di area pernapasan, saya pun memiliki metabolisme tubuh yang tidak cukup kuat (lemah). Saya disarankan untuk melakukan terapi kombinasi, yaitu terapi detok, akupresur dan akupuntur. Ketiga terapi kombinasi ini saya lakukan dalam beberapa kali terapi dan hasilnya sungguh mengejutkan. Pada terapi pertama, saya mulai merasa ada perbaikan, di terapi berikutnya hingga terapi ke-12 saya merasakan ada perbaikan yang sangat signifikan. Sekarang jangankan untuk berjalan lama, berlari dalam waktu yang agak lama pun saya tidak mengalami kendala lagi. Untuk mengetes rasa penasaran, saya pun

langsung memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya saya didagnosa sembuh dari penyakit pernapasan yang sudah saya alami. Terima kasih Suhu Yo, berkat Suhu, saya bisa kembali beraktivitas dengan rasa nyaman. Sekali lagi terima kasih Suhu Yo. —adv

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Masa Kedaluwarsa Kosmetik Yth. Ibu Agung Saya seorang pegawai swasta, usia 28 tahun. Dalam menjalankan aktivitas saya senantiasa menggunakan make up. Namun selama ini saya kurang memperhatikan masalah berapa lama kosmetik tersebut aman untuk digunakan. Dalam arti tidak akan menimbulkan efek-efek negatif karena pemakaiannya. Mohon bantuan Ibu, bagaimana caranya untuk mengetahui masa kedaluwarsa suatu kosmetik, sekaligus cara penyimpanan yang tepat. Dan mohon ditampilkan contoh pemakaian busana tengkuluk lelunakan yang baik dan benar. Karena selama ini saya sering melihat pemakaian tengkuluk lelunakan yang membuat pemakainya tampak lebih tua daripada usia yang sebenarnya. Dalam waktu dekat saya ditugaskan untuk menjadi pembawa acara dengan menggunakan busana tersebut. Terima kasih. Yuningsih, Jimbaran Yth. Adik Yuningsih Make up merupakan salah satu faktor yang menunjang penampilan. Oleh karena itu, kita harus mengetahui cara yang tepat, baik dalam mengaplikasikannya maupun untuk perawatannya. Berikut ini beberapa tips yang dapat Adik lakukan untuk merawat kosmetik: 1. Alas Bedak, Concealer, dan Bedak Tabur Alas bedak dan concealer adalah jenis kosmetik yang meresap pada kulit. Untuk itu, ganti secara teratur (reguler) setiap enam bulan, sejak pertama kali pemakaian atau pun bila bentuknya mulai menggumpal dan baunya aneh (berubah). Bedak tabur sudah pasti berbentuk bubuk. Tapi bila bedak ini menjadi gumpalan, berarti sudah waktunya untuk diganti. Bisa juga lakukan regenerasi setiap tahun. 2. Make-up Mata Ini juga merupakan koleksi make up yang harus mendapatkan perhatian nomor satu. Buang pensil alis, eyeliner dan eyeshadow, jika umurnya mencapai satu tahun. Kalau bentuknya cair, siklus regenerasi harus dilakukan lebih singkat, yaitu tiap enam bulan sekali. Untuk maskara walaupun mungkin Anda jarang memakainya, tapi ganti penebal bulu mata ini setiap tiga bulan sekali, apalagi bila sudah menggumpal, karena malah akan merusak penampilan dengan gumpalan yang menempel di bulu mata tersebut. 3. Lipstik Cek batang lipstik. Bila terlihat semacam titik-titik air, singkirkan produk lipstik tersebut secepatnya. Apalagi, jika lipstik tersebut sudah berusia lebih dari dua tahun. Lakukan hal yang sama juga, jika umurnya masih kurang dari dua tahun tapi warna dan bentuknya sudah berubah. 4. Blush-on Perona pipi harus diganti setiap satu tahun sekali, tapi bisa juga dilakukan labih cepat bila bentuknya sudah menggumpal, warnanya berubah ataupun berbau. Sedangkan untuk penyimpanan kosmetika yang baik adalah dengan menyimpannya di tempat yang kering dan sejuk serta hindarkan dari kontak sinar matahari secara langsung. Berikut ini contoh pemakaian busana tengkuluk lelunakan yang bisa Adik gunakan sebagai pembawa acara di kegiatan Adik nanti. Selamat mencoba.

monofokal, bifokal, dan progresif. Lensa monofokal hanya terdiri dari satu ukuran, untuk jarak jauh, menengah, atau dekat. Bahannya dari kaca, plastik atau polikarbonat. Lensa bifokal terdiri dari dua ukuran dalam satu lensa, untuk jarak jauh dan dekat. Batas antara kedua lensa bervariasi, bisa datar, bisa melengkung. Lensa progresif terdiri dari lensa jarak jauh dan dekat serta menengah dengan perubahan ukuran yang bertahap sehingga perpindahan pandangan lebih baik. Lensa yang terdapat di pasaran, kualitasnya bervariasi mulai dari kualitas tinggi dengan bahan dan pelapis lensa yang lengkap, seperti antiultraviolet, antisilau, dan antikotor sampai yang berkualitas rendah, dari mika. “Hati-hati memilih lensa dan bingkai kacamata, jangan tertarik dengan harga yang murah. Pemakaian kacamata yang baru atau lama dapat menimbulkan ketidaknyamanan karena dapat disebabkan power lensa yang tidak sesuai, pemilihan lensa yang tidak sesuai dengan bingkai, kurang tepatnya jarak kerja, adaptasi dengan kacamata, dan titik tekanan kacamata yang kurang nyaman (pada belakang telinga dan hidung),” ujar dokter mata di RSUD Badung ini. —wah

27 Juni - 3 Juli 2010 Tokoh 15

Memfokuskan Tajam Penglihatan K

ACAMATA adalah media yang digunakan untuk alat bantu penglihatan, disamping dapat berfungsi sebagai pelindung mata pada waktu khusus. Banyak orang yang beranggapan, kacamata dirancang untuk mengatasi semua jenis gangguan mata. “Kacamata adalah media optik dengan ukuran tertentu yang dapat memfokuskan tajam penglihatan dengan ukuran tertentu. Fungsi kacamata sebagai alat bantu penglihatan hanya dapat dilakukan bila keseluruhan bagian-bagian mata (media refraksi) baik, tetapi terdapat gangguan refraksi (pembiasan cahaya) pada mata,” ungkap dr. Deasy S. Mendala, Sp.M. Ia mengatakan gangguan ketajaman penglihatan terjadi akibat gangguan refraksi dapat terjadi karena panjang bola mata yang tidak sesuai (terlalu panjang atau terlalu pendek), daya akomodasi mata yang terlalu kuat atau terlalu lemah, serta proses penuaan yang mengurangi kelenturan lensa mata.

dr. Deasy S. Mendala, Sp.M.

Untuk gangguan refraksi tersebut dapat dibantu dengan kacamata lensa spheris atau cylinder negatif atau positif. Faktor-faktor lain yang memengaruhi seseorang hingga memerlukan kacamata, antara lain pola makan yang tidak tepat, konsumsi gula berlebihan, kelelahan mata akibat kebiasaan membaca yang tidak tepat, menonton televisi atau bekerja menggunakan komputer dengan monitor yang buruk dan lama, desain tempat kerja

yang kurang tepat, dan kurang berolahraga. “Pengukuran kekuatan kacamata yang digunakan tidak dapat dilakukan sembarangan orang. Selain alat-alat yang tepat, ketrampilan dan pengetahuan tentang pemeriksaan dan interpretasi hasil yang didapat juga menentukan hasil pengukuran. Pemeriksa yang berwenang adalah dokter spesialis mata atau refraksionist (orang yang telah menjalani pendidikan sebagai petugas refraksi),” ujar dokter mata yang praktik di Apotik Rama dan Klinik Ramata, Denpasar ini. Dokter Deasy memberi beberapa tips untukmenjaga kesehatan mata, periksakan mata tiap tahun sekali ke dokter mata, pilih lensa dan bingkai kacamata yang bermutu baik, selalu gunakan kacamata antiultraviolet di bawah terik matahari, makan makanan yang bervitamin (A,C,E), asam folat, selenium, dan zinc, atur lampu sorot saat membaca atau bekerja di komputer, dan beri istirahat yang cukup untuk mata. –wah

Membuat Lawar Klungah LAWAR merupakan makanan khas tradisional Bali. Aneka macam bahan makanan dapat digunakan sebagai bahan utama lawar. Lawar khas dari Kabupaten Jembrana dikenal dengan nama “Lawar Klungah”. Klungah atau kelapa muda gading biasanya digunakan sebagai sarana upacara adat dalam agama Hindu. Klungah diyakini memiliki unsur magis; selain untuk sarana upacara, juga dimanfaatkan sebagai obat dalam usadha Bali. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Jembrana menampilkan menu lawar klungah nyawan saat lomba membuat lawar di Pesta Kesenian Bali ke-32. Berikut resepnya: Bahan: Isi/daging klungah 1500 gram, nyawan (tawon madu) 500 gram, bawang merah 250 gram, bawang putih 250 gram, cabai rawit kecil 10 buah, lombok merah besar 10 buah, kencur 30 gram, kunyit 20 gram, jahe 20 gram, merica 20 butir, kemiri 8 butir, ketumbar satu senduk makan, sereh tiga batang, laos 20 gram, terasi 20 gram, cengkih 3 butir, pala ¼ butir, kelapa muda ½ butir, daun

salam 5 lembar, daun jeruk limo 10 lembar, garam dan gula merah secukupnya. Cara Membuatnya: klungah/kelapa muda dibersihkan, kemudian diambil isinya. Direbus sampai matang, kemudian dicincang. Cincangan klungah diremas-remas hingga lemas, kemudian diperas sampai semua airnya keluar serta rasa sepatnya tidak terasa lagi. Nyawan direbus sampai matang, kemudian ditiriskan. Ambil sedikit bawang merah dan bawang putih dibuat brambang goreng. Semua bahan bumbu dihaluskan, kecuali kelapa dan daun jeruk. Kelapa dibakar kemudian diparut, dan daun jeruk limo dicincang. Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis menggunakan minyak kelapa sampai harum. Nyawan yang sudah matang dicampur parutan kelapa dan dibumbui, diaduk hingga bumbunya merata dan terasa enak. Klungah dan nyawan dicampur dengan parutan kelapa serta bumbu yang sudah ditumis tadi, kemudian aduk rata, tambahkan bawang merah dan putih goreng serta irisan daun jerok limo. Tambahkan garam dan sedikit gula merah, aduk rata. Siap sajikan. –ast

Samantha Young, Pegulat Buaya Termuda di Dunia SPESIALISASI yang diambilnya bikin bergidik. Bayangkan, pegulat buaya! Lebih mengerikan lagi, usianya masih 9 tahun, anak perempuan pula! Itulah Samantha Young, pegulat buaya termuda di dunia. Ia mengaku tidak takut pada buaya, meski kebanyakan binatang buas itu berukuran lebih besar darinya. Maklum saja, sejak bayi ia tinggal di penangkaran buaya milik keluarganya, Colorado Gators Reptil Park, bersama kedua orangtuanya yang merupakan pegulat buaya profesional. Di pusat penangkaran itu ada 350 ekor buaya berbagai jenis dan ukuran. Terbiasa bermain-main dengan buaya, membuatnya tertarik dan ingin belajar lebih jauh. “Saya tertarik dan ingin belajar juga,” ujar bocah yang kerap menyaksikan pertarungan ayah-ibunya melawan buaya. Sempat takut pada awalnya, namun ia menjadi percaya diri karena ayahnya selalu mengawasi dan siap turun tangan jika terjadi hal-hal di luar kendali. Persisnya, ia mulai berlatih serius saat berusia enam tahun. Ayahnya, Jay (36) mengajarkan teknik-teknik dasar

Samantha Young saat bergulat dengan buaya

menaklukkan buaya. Untuk tahap awal sang ayah mencarikan anak buaya sebagai temannya bergulat. Sebenarnya, kata Jay, bakat Samantha mulai terlihat saat usianya 5 tahun. Ketika itu ia sambil bermain berlatih bergulat melawan buaya, dan berhasil mengalahkannya. Sejak itu, Jay memutuskan untuk mengajari anaknya olah raga berbahaya itu. “Tadinya saya khawatir kalau buaya-buaya itu akan melukai anak saya. Tapi nyatanya tidak, karena dia (Samantha) cukup terampil dalam mengatasi kebuasan buaya. Setidaknya, sampai saat ini ia belum pernah cidera atau digigit,”

ungkap Jay ketika diwawancarai AOL Jobs lewat telepon. Empat tahun berlatih, membuat Samantha mahir. Kini bocah sembilan tahun itu, mulai terjun melatih. Tak tanggung-tanggung, muridnya adalah pria dewasa. Ia mengajarkan cara menangani buaya yang panjangnya 2,4 meter, ia juga melatih tentara marinir seni menaklukkan buaya. Mau menjinakkan buaya? Inilah teori yang diajarkan Samantha. “Yang harus Anda lakukan adalah, berada di punggung buaya. Atur posisi sedemikian rupa untuk memastikan mulut dan lehernya berada di bawah kendali Anda. Kemudian tarik

kepalanya dan buaya pun akan menjadi jinak,” jelas Samantha. Colorado Gators Reptil Park adalah penangkaran milik keluarga Young. Tempat ini dibangun tahun 1987 oleh Erwin dan Lynn Young, yang memulainya dengan seekor buaya tua berusia 100 tahun kemudian berkembang semakin banyak. Berita adanya penangkaran buaya itu, menyebar dari mulut ke mulut, dan warga pun mulai berdatangan ke sana untuk menonton. Untuk menghindari terjadi kecelakaan, pasangan ini pun membuat pengamanan ketat. Salah satu daya tarik penangkaran ini adalah pertunjukkan Samantha bergulat melawan buaya. Tapi untuk aksi spesial ini, pengunjung dikenakan biaya 104 dolar AS. Pengunjung juga dipersilakan jika ingin menjajal sendiri menaklukkan buaya, tentu saja setelah mendapat bekal teori dari Samantha. Kepada pengunjung, Samantha memberi tips menjinakkan buaya. “Ayah saya memiliki metode sederhana dalam menaklukkan buaya, yakni, jangan ragu dan jangan lepaskan!” tegasnya. —dia/odditycentral

Sumber Energi..............................................................................................................................................................dari halaman 7 kebun-kebun rakyat, bukan hanya sebagai penunjang pelestarian sumber energi, juga yang dibutuhkan sebagai bahan baku barang kerajinan. Dalam Pelita III dituangkan strategi pembangunan Bali menuju pulau taman. Mengapa sekarang banyak kenyataan di depan mata yang tidak searah dan senapas dengan aturan main yang telah digariskan? Sektor pariwisata, pembangunan dan pengembangannya, sering dituding sebagai biang keladinya. Pariwisata, selain pertanian, memang merupakan sektor yang paling dominan dalam menyedot energi air. Namun, sebenarnya tahun 1973 Bali telah memiliki Rencana Induk Pariwisata Bali yang mencakup aspek fisik dan nonfisik, aspek sosial-ekonomi dan sosial-budaya. Rencana induk itu ditetapkan mengingat per-

kembangan pariwisata di Bali perlu diarahkan, dibina, diawasi dengan sebaik-baiknya sehingga manfaat positifnya akan lebih besar daripada pengaruh negatifnya. Sebagai implementasinya secara bertahap dilakukan studi di wilayahwilayah tertentu. Terkait penataan Badung Selatan, misalnya, tahun 1976 tersusun rencana induk untuk wilayah lingkungan Bukit, meliputi rencana penggunaan tanah, jaringan jalan, kepadatan penduduk dan usulan zoning regulation di wilayah itu. Tahun 1978 tersusun rencana induk pembinaan dan pengembangan Pura Besakih. Tahun 1972 DPRD Badung menetapkan Master Plan Kota Denpasar. Tak dimungkiri, perencanaan tersebut tak luput dari kekurangsempurnaan. Oleh karena itu dimung-

kinkan untuk dilakukan revisi dalam jangka waktu tertentu. Memang ada kemungkinannya, amburadulnya penataan wilayah dan tata ruang di Bali yang bisa berdampak pada kritisnya sumber energi, juga disebabkan kurang tersosialisasikannya produk hukum dan kebijakan pemerintah. Dalam kaitan inilah letak pentingnya kegiatan sosialisasi dikelola lebih baik. Namun, bukan mustahil kesinambungan pemerintahan yang terpenggal dan tak berlanjut, seiring adanya pergantian pejabat, menjadi penyebab lain mengapa aturan main dan kebijakan yang pernah ada terkesan menguap. Secara apriori pejabat baru cenderung meremehkan apa yang telah dirintis pemerintahan sebelumnya. Dalam penetapan produk hukum berupa peraturan da-

erah, misalnya, produk-produk hukum yang pernah ada sering tidak dijadikan acuan. Mungkin, produk hukum tersebut tidak relevan dicantumkan dalam konsideran. Tetapi, bukan mustahil hal itu terjadi karena keberadaan produk hukum tersebut tidak pernah diketahui. Harus dicegah, keringnya data dan miskinnya dokumentasi membuat kita mewacanakan kembali gagasan yang sebenarnya sudah pernah dituangkan dalam produk hukum. Dalam upaya pemanfaatan energi ramah lingkungan, regulasi pemerintah jangan sampai tampil sebagai penghambat. Sebaliknya, bersama berkembangnya perilaku dan budaya hemat energi masyarakat, regulasi harus berperan sebagai faktor penunjang.

zWIDMINARKO


16

Tokoh

27 Juni - 3 Juli 2010

PROMO


tkh_598_xi_27_juni-_23juli_2010