Issuu on Google+

Kunci Kunci Manajemen Manajemen Keluarga Keluarga “BAGAIMANA kita membangkitkan etos kerja jika kita tidak tahu cara menjaga kesehatan sendiri. Apalagi ibu yang tidak tahu menjaga kesehatan dirinya sendiri serta anaknya. Perkembangan otak anak kurang gizi terganggu sehingga sulit mencapai pendidikan memadai,� ujar Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek Sp. M(K). Dengan tubuh sehat, kita bisa mengecap pendidikan dan memperbaiki kondisi perekonomian. Masyarakat mempunyai wawasan luas dan kreatif membuat lahan pekerjaan sehingga bisa sejahtera. Warga berpendidikan dan berakhlak positif akan menghargai dan ramah terhadap lingkungan. Masyarakat akan menyadari bumi

R

atusan bocah ini duduk bersila. Mereka siap-siap melakukan aktivitas ritual di depan tempat persembahyangan itu, menyambut upacara purnama sasih sadha. Kepala sekolahnya, Dra. Ida Ayu Putu Tirta, menjelaskan siswanya tiap hari sekolah bersembahyang di depan padmasana sebelum masuk kelas.

Sosok Guru BK

Ny. Herawati Boediono dan Ny. Ayu Pastika

Nikmati Suguhan Seni Kriya Khas Bali

pameran yang digelar di teras Karangasem Ballroom Hotel Grand Hyatt Nusa Dua yang menampilkan bermacam kerajinan khas Bali mulai dari tempo dulu, saat belum bersentuhan dengan pariwisata hingga kini berunsur modern, perubahan sejalan perkembangan zaman. Ny. Herawati yang mengenakan busana warna merah menyala serta Ayu Pastika yang mengenakan endek berkeliling menilik dari dekat karya para seniman. Hari itu beragam buah adonan seni kriya, yang biasanya kontekstual dengan situasi Ny. Herawati Boediono tengah memperhatikan kreasi dan potensi masyarakatnya, perhiasan dari perak dipamerkan. Semua lengkap MEMBUKA pameran in- datang ke Bali mendampingi dengan kreasi perkembangan dustri kreatif karya pengrajin kunjungan Wakil Presiden Boe- pengrajin sejak dulu yang Bali menjadi kegiatan hari diono, pekan lalu. Didampingi bertahan dengan identitas pertama istri Wakil Presiden RI, Ny. Ayu Pastika, Ny. Herawati Ny. Herawati Boediono, yang Boediono selanjutnya meninjau  Bersambung ke halaman 16

BKOW Siap Garap Desa Binaan

Sebaiknya Perempuan ANCAMAN kekerasan tak hanya dialami siswa sekolah dasar. Murid SMP juga tak sedikit yang mengalami goncangan mental. “Ini terutama ketika orangtuanya memarahi mereka tidak boleh pacaran,� ujar pemerhati pendidikan Kadek Budi Mar- Ni Nyoman Nilawati Kadek Budi Martini tini, S.E. Dalam akun facebook acap terungkap anak-anak stres. Budi Martini tak jarang mencoba berkomunikasi dengan mereka. Ada seorang anak yang terus terang mengaku baru saja minum obat tidur karena sedang mengalami masalah. Dosen FE Universitas Mahasaraswati Denpasar ini membaca dalam sebuah artikel, anak-anak lebih mudah percaya kepada gurunya dibandingkan orangtuanya. Karena itu, ia sangat setuju jika guru memiliki empati tinggi terhadap siswanya. Ini seharusnya diperankan guru bimbingan konseling (BK). “Saat siswa mengalami penurunan prestasi belajar, guru sebaiknya mengomunikasikan masalah ini dengan siswa,� harapnya. Ia menyayangkan, siswa masih menganggap hanya anak nakal yang harus masuk ruang BK. “Persepsi ini harus  Bersambung ke halaman 16 tkh/marlene graciella

Bersambung ke halaman 16

PEMBERDAYAAN perempuan dan mendorong kesetaraan gender adalah salah satu dari delapan butir target MDGs. Bahkan dianggap sebagai titik berat (center of gravity) penyelesaian persoalan universal. Salah satu contoh, yaitu keberhasilan implementasi butir pertama MDGs, penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, sangat bergantung pada keberhasilan penerapan butir ketiga yakni mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Sebab, pada kenya-

“Saat mulai duduk di bangku masing-masing, siswa beragama Hindu mengucapkan trisandya bersamasama. Ini tradisi yang kami tanamkan kepada anak-anak. Tujuannya, mereka terbiasa melakukan doa sebelum mulai belajar,� ujar Dayu Tirta. Lingkungan fisik sekolah yang mendidik 530-an siswa ini dikelilingi tembok.

Mendaki Puncak Tambora

4

tkh/marlene graciella

SUARA celoteh ratusan bocah kembali menghidupkan suasana senyap SD 08 Dauh Puri Denpasar. Anak didiknya kembali masuk sekolah setelah dua pekan tenggelam dalam masa liburan Galungan dan Kuningan. Namun, hari pertama masuk itu siswa beragama Hindu mengenakan busana adat Bali. Satu per satu mereka menuju halaman depan padmasana sekolahnya.

tkh/marlene graciella

Perbaiki Keamanan SD Negeri

Nila Djuwita F. Moeloek

Dra. Dayu Putu Tirta

Dra. Agung Puspawati I G. A. Sukarini, S.Pd.

Manajemen sekolah hanya menyediakan satu pintu masuk-keluar. Seorang tenaga satpam selalu stand by di depan pintu tunggal ini. “Sekolah kami memang hanya punya satu tenaga satpam,� ujar Dayu Tirta. Gambaran lain bisa dilihat di SDN 5 Penatih, Denpasar Timur. Lingkungan sekolah yang bertetangga Kampus Unhi ini dipagari t e m b o k . N a m u n , p i h a k sekolah tak memiliki t e n a g a satpam yang telah memiliki keterampilan khusus. “Ada satu tenaga penjaga sekolah,� ujar seorang gurunya, I G.A. Sukarini, S.Pd., didampingi tiga guru lainnya, I G. Ayu Nurati, S.Pd., Nyoman BERITA TERKAIT

Wirastri, Ama.Pd., dan Ketut Arsini, S.Pd. Ketua Komite Sekolah Taman Rama Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M. menjelaskan, standar keamanan sekolah dasar negeri di Bali, khususnya Denpasar dan Badung, seharusnya lebih baik ketimbang sekolah dasar milik pemerintah di pelosok kabupaten lain di daerah ini. “Berbeda d e n g a n Sekolah T a m a n Rama yang punya 12 tenaga satpam, SD negeri umumnya hanya punya satu tenaga satpam. Saya bahkan mendengar ada SD negeri yang tak memiliki tenaga satpam,� ungkapnya. Padahal, menurutnya, eskalasi ancaman kekerasan terhadap anak SD menjadi sorotan tajam di Bali. “Pemerintah dan

HALAMAN 4

 Bersambung ke halaman 16

Kongres Pancasila II di Unud KONGRES Pancasila II akan berlangsung di Ruang Teater Fakultas Kedokteran Unud, 31 Mei – 1 Juni 2010. Kongres yang akan diawali sambutan Rektor Unud dan Gubernur Bali itu menampilkan Ketua MPR RI Taufik Kiemas sebagai keynote speech. Penyelenggaranya, Unud, UGM dan MPR RI. Para pembicara dari berbagai perguruan tinggi akan menyoroti Pancasila dari tinjauan historis,

Potensi nyaris Mati di Dusun Pancasila

Dewi Sinaryati dan Tini Gorda taannya, perempuan paling bertanggung jawab terhadap pengaturan ekonomi keluarga sebagai unit organisasi masyarakat terkecil. Tanpa kesetaraan dan kesehatan bagaimana mungkin perempuan maju. Demikian diungkapkan A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., didampingi Dewi Sinaryati Rully, S.E., pekan lalu. Menurut pengurus Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali ini, setelah Indonesia meratifikasi

“MDGs Declaration� (Millenium Development Goals Declaration) atau Sasaran Pembangunan Milenium yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB dalam Konferensi Tingkat Tinggi Milenium pada September 2000. “Barangkali kita bisa sepakat bahwa penegakan demokrasi, pelestarian lingkungan hi d u p , p e n g u a t a n p l u r a litas, peningkatan kesejahteraan perempuan dan  Bersambung ke halaman 16

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414

PERJALANAN Tim Tambora Art Moment mulai memasuki Kecamatan Pekat yang memiliki 12 desa, yakni tiga desa persiapan dan sembilan desa definitif. Wilayah kecamatan ini berpenduduk 33.804 jiwa 70% di antaranya warga asal Lombok. Camat Pekat Abdurrahman H. Abidin menjelaskan, mereka merupakan transmigran yang telah mendiami wilayah ini sejak tahun 1970-an. Yang pertama dibuka sebagai lokasi permukiman transmigran spontan ini, Desa Kadindi, sekitar 40 tahun lalu. Mereka dimotori seorang tokoh masyarakat Lombok, Lalu Anggrat. Tidak mengherankan, bahasa Sasak (Lombok) sangat kental di lingkungan komunitas ini. Menu-menu masakannya pedas dan asin yang sangat

filosofis, yuridis-konstitusional, dan sosio-kultural. Ketua Panitia Drs. I Gede Wardhana, M.Si. menjelaskan, peserta Kongres sekitar 400 orang terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, penyelenggara negara, akademisi, budayawan, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, partai politik, pemuda, guru PKn, dan penggiat-pemerhati Pancasila. Kongres Pancasila I yang berlangsung di kampus UGM 30 Mei hingga 1 Juni 2009 telah merumuskan berbagai pendirian dan aspirasi tentang Pancasila.

Persiapan Tambora Art Moment

akrab di lidah anggota Tim yang sebagian besar memang berasal dari Lombok. Selain transmigran spontan dari Lombok, wilayah ini juga didiami transmigran swakarsa yang berasal dari Bali, Lombok, dan Jawa. Desa Tambora dan

tkh/nik

Beringin Jaya yang jumlah penduduknya sekitar 2000 orang, 95% penduduknya asal Lombok. Di Desa Persiapan Nanga Kara warga asal Lombok 75% dan di Desa Sorinomo orang asal Lombok 85%. Di Desa Persiapan Karombo, Calabai, dan Doro Peti masingmasing terdapat 30% warga asal Lombok. Ada juga 15% orang Lombok yang bertempat tinggal di Desa Sori Tatanga. Abdurrahman mengungkapkan, tahun ini di wilayahnya akan dibuka lagi sebagai daerah permukiman baru terutama bagi masyarakat asal Dompu dan Bima. Lokasi yang jauh dari ibu kota Kabupaten Bima, tidak membuat wilayah ini kehilangan cara dalam menggerakkan roda ekonomi terutama yang berkaitan dengan pemenuhan

Kadindi 70% penduduknya transmigran, bahkan Desa Kadindi Barat 85% penduduknya transmigran. Sebagian besar transmigran berasal dari Lombok. Desa Nangamiro, 50% penduduknya asal Lombok, Desa  Bersambung ke halaman 16


2

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Ekasila “Pancasila bisa diperas jadi trisila: Ketuhan Yang Masa Esa, Sosio Demokrasi dan Sosio Nasionalisme. Bisa diperas lagi jadi ekasila: gotong-royong, “ kata Amat Putu Wijaya kepada tukang warung. “Bisa dua kali diperas Pak Amat?” “Lho itu kata Bung Karno, waktu pidato Lahirnya Pancasila.” Tukang warung manggut-manggut. “Jadi bisa diperas ya?” “Jadi gotong-royong itu bukan main-main. Bukan sekadar katakata.” “Bukan?” “Itu muatannya besar. Itu ikrar bersama bahwa yang miskin membantu yang kaya, yang kaya membagi harta buat yang miskin. Yang jualan merelakan pelanggannya ngebon kopi dulu, karena saya lupa bawa dompet,” kata Amat bercanda. “Itu gotong-royong, Pak Amat?” Amat tertawa. “Ya! Itu gotong-royong!” Tukang warung menggeleng. “Wah kalau begitu, saya tidak mendukung Pancasila. Habis, janjinya mau bayar kalau sudah punya uang. Tetapi, begitu punya uang, hidungnya tidak pernah kelihatan. Ini ada bukunya, ada yang ngebon tiga bulan belum bayar-bayar!” Tukang warung menunjukkan buku tulis yang sudah lusuh. Amat membalik-balik. Memang ada tiga orang yang nunggak. Semuanya mahasiswa. Amat kenal nama itu, sebab beberapa kali ikut belajar bersama Ami di rumah. Yang lucu, juga ada nama Amat yang ngebon kopi 3 kali dan makan 2 kali, belum bayar. Muka Amat jadi merah. Lalu dia merogoh kocek dan bayar. Tukang warung heran. “Lho Pak Amat tidak usah bayarin mereka. Itu utang mereka. Bapak tidak usah bergotong-royong bayar utang anak-anak nakal.” Amat tersenyum. Ia mengeluarkan lagi dompetnya, lalu membayar utang anak-anak muda teman Ami itu. Semuanya orang seberang. “Ini bukan nakal tetapi pasti para mahasiswa itu bokek. Ini semua teman-teman anak saya. Orangnya baik dan pinter, tetapi namanya juga mahasiswa, kadang punya duit kadang tidak. Pasti dia bukan tidak mau bayar, tetapi memang tidak punya. Habis tidak diingetin sih. Lain kali kalau ada anak-anak muda ngutang, jangan segan, diingetin saja.” Amat pulang sambil membawa sejumlah pikiran. Di rumah ia membeber pikiran itu di meja. Lalu minta pendapat Ami. “Ami, coba apa pendapatmu tentang gotong-royong.” Ami mengangkat pikirannya dari buku novel. “Ada masalah apa dengan gotong-royong?” “Menurut kamu, apa gotong-royong itu masih cocok dengan kehidupan kita sekarang?” “Mengapa tidak dan kenapa ya?” “Sebab ada mahasiswa teman kamu, ngebon di tukang warung tidak bayar. Karena segan, tukang warung membiarkan saja. Tetapi, karena dibiarkan sekali, anak-anak muda itu jadi tuman, lalu ngerjain tukang warung itu terus. Ada yang sampai 3 bulan belum bayar. Akhirnya Bapak yang tadi bayarin mereka.” Ami kembali membaca. “Ami!” “Apa Pak?” “Apa gotong-royong itu begitu?” “Terserah!” “Gotong-royong itu kan kesepakatan berdasarkan perasaan rela. Bukan akal-akalan. Bukan paksa-memaksa seperti itu. Memang dengan cara begitu, tukang warung jadi ikut membantu para mahasiswa itu untuk terus kuliah meskipun duitnya pas-pasan. Tetapi, tukang warung itu kan juga berhak untuk dapat untung lebih banyak. Mosok sudah 10 tahun jualan, sampai sekarang tidak ada kemajuan. Malah warungnya sudah hampir roboh. Apa gotong-royong itu mau memiskinkan rakyat kecil yang segan bicara?” “Nggak tahu!” Amat terkejut. Dia langsung berdiri kesal, meninggalkan Ami yang sedang asyik dikunyah novelnya. “Ada apa Pak?” “Anakmu kalau lagi baca novel otaknya di dengkul. Mosok ditanya apa gotong-royong itu membolehkan pemaksaan atau penipuan, jawabnya kok nggak tahu. Mahasiswa kok jawabnya begitu. Nanti kalau jadi pemimpin bagaimana?” Bu Amat tertawa. Amat tambah kesal. Ia ngerumpi ke tetangga sambil menggerutu. “Tidak ada orang serius sekarang. Ini semua akibat tayangantayangan sinetron sampah dan infoteinmen-infoteinmen yang hanya ngurus artis yang kawin-cerai itu,” Tetangga menyambut Amat dengan hangat. Kopi dihidangkan dengan singkong goreng. “Saya ini sedang memikirkan arti gotong-royong,” kata Amat ngajak tetangganya diskusi, “apakah gotong-royong itu bisa dipaksakan? Atau, gotong-royong itu baru sah atas dasar kesepakatan?” Tetangga tersenyum. “Yang mana?’ “Ya terserah Pak Amat.” Singkong goreng di tangan Amat diletakkan kembali. Ternyata tidak nyambung lagi. Ia kembali ke rumah dan merenung. Bergadang semalaman. Ia ingin bertemu dengan Bung Karno. Dan, menanyakan langsung, apa beliau sadar. Enam puluh lima tahun setelah kelahirannya itu, Pancasila dapat dipakai untuk merugikan orang lain? Tetapi, walaupun hanya dalam khayalan, bahkan khayalan Amat sendiri, Bung Karno sulit dijumpai. Banyak orang ingin bertemu Penyambung Lidah Rakyat itu. Bahkan berebutan. Amat berusaha melawan kerumunan massa itu. Ia menyelusup masuk. Tetapi, akhirnya ia tersikut dan tertendang, terpelanting makin jauh. Subuh hari Amat bangkit mau masuk rumah. Tetapi, di depannya ternyata sudah duduk seorang pengemis. Mukanya lusuh, pakaiannya kotor. Dia memandang Amat seperti mengatakan bahwa dia memerlukan makanan. Amat tertegun. Tetapi, tangan, kaki, orang itu tampak sehat. Lalu Amat mengambil sapu dan mengulurkannya. “Ini negara yang merdeka. Di sini sudah tidak ada lagi yang gratis,” kata Amat. Orang itu menyambut sapu itu, lalu membawanya pergi. “Sialan!” gerutu Amat. “Merdeka membuat orang menjadi malas. Dia pikir dengan menjual sapu baruku itu, dia sudah menyelesaikan persoalannya untuk makan. Tetapi, beberapa jam lagi dia sudah akan ketemu persoalan yang sama! Dasar!” Dengan dongkol Amat masuk rumah. Habis mandi, Amat kembali ke teras. Heran. Dia merasa ada sesuatu yang lain. Apakah berpikir membuat orang jadi sehat? Tak lama kemudian Bu Amat muncul membawa kopi sambil tersenyum. “Apa yang terjadi?” tanya Amat. “Lihat saja, rumah sederhana kalau dipelihara dan dibersihkan, disapu tiap hari jadi segar dan baru. Terasa tidak?” kata Bu Amat sambil menunjuk ke halaman sembari senyum. Halaman bersih dan asri. Amat takjub. “Siapa yang membersihkan?” Bu Amat menunjuk ke samping. Pengemis itu tampak sedang nikmat mengganyang sarapan yang dihidangkan Bu Amat, didampingi secangkir kopi. “Katanya, Ekasila, gotong-royong ....” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Nomor HP Gidion

“Implementasi Nilai-nilai Pancasila” Sampaikan opini Anda Minggu 30 Mei 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 6 Juni 2010

Kilas Balik Pemikiran dan Pandangan Bung Karno 1

Pancasila Berdimensi Global

K

ONGRES Pancasila II berlangsung di kampus Universitas Udayana, 31 Mei – 1 Juni 2010 ini. Kongres berlangsung berbarengan munculnya fenomena makin longgarnya perekat bangsa yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Di pihak lain ada dorongan makin kuat, seyogianya Pancasila bukan hanya berkembang dan dikembangkan dalam lingkup terbatas, di bidang politik saja, misalnya, dan perlunya pengkajian secara ilmiah secara berkelanjutan. Pengkajian dan perumusan tersebut pada gilirannya diharapkan menumbuhkan pengakuan bahwa Pancasila milik siapa saja, dapat diterima tiap orang, tiap komunitas, dan tiap bangsa, dapat dijadikan pisau analisis di kalangan praktisi, profesional, birokrat, maupun kalangan intelektual, untuk membedah persoalan bangsa. Bung Karno, yang salah satu pidatonyan dikenal sebagai Hari Lahirnya Pancasila yang kita peringati tiap 1 Juni, memberi pengertian Pancasila sebagai pemerasan kesatuan jiwa Indonesia; manifestasi persatuan bangsa dan wilayah Indonesia; sebagai dasar falsafah bangsa Indonesia dalam penghidupan nasional dan internasional. Isi pidatonya merefleksikan pemikiran yang mendasar dan pandangan berdimensi global. Kilas balik perjuangan Bung Karno sejak awal dan sejak muda, dapat dijadikan referensi bahwa pandangan dan pemikirannya itu berdimensi global. Persatuan, memiliki makna universal di sepanjang zaman. Sejak awal perjuangannya

Widminarko

Bung Karno senantiasa mengedepankan persatuan, namun pendekatannya bertumpu kuat pada alam pikiran dualismemonistis. Meskipun masih mentolerir konflik (kontradiktif, ambivalen, paradoksal) tetapi akhirnya harus dicapai keseimbangan. Selain perbedaan, Bung Karno melihat persamaan. Sebaliknya, ia tidak mengenal kompromi terhadap imperialisme dan kolonialisme. Baca ulang, misalnya, tulisannya yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang pernah dimuat Suluh Indonesia Muda tahun 1926, saat Bung Karno berusia 25 tahun! Dengar ulang pidatonya di depan hakim kolonial, Landraad Bandung, tahun 1930, yang dikenal dengan sebutan “Indonesia Menggugat”, atau tanggal 1 Juni 1945 yang dikenal sebagai pidato “Lahirnya Pancasila”. Gaya retorikanya berapi-api penuh daya pikat, isinya menggambarkan pemikiran mendasar dan pandangan global Bung Karno. Atas dasar pemikiran dan pandangan itu, Bung Karno yang lahir 6 Juni 1901,

melihat adanya persamaan antara partai-partai kebangsaan tahun 1920-an. Oleh karenanya ia menggerakkan partai-partai itu untuk berfederasi dalam Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Tahun 1926, Bung Karno menyerukan kerukunan dan persatuan tiga “isme” yakni Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, bukan hanya dalam konteks Indonesia, juga sebagai roh pergerakan rakyat di negara Asia umumnya. Ide besar tentang persatuan Asia-Afrika sudah tumbuh di benak Bung Karno sebelum ia menjabat presiden tahun 1945. Ia mengungkapkan, “Kalau Barongsai dari Cina, Gajah Putih dari Muangthai, Lembu Andini dari India, Spink dari Mesir, bersatu-padu dengan Banteng Indonesia, maka menjadilah satu kekuatan antiimperialisme yang dahsyat.” Apa yang tumbuh dalam pemikirannya itu terbukti tahun 1955 (18 – 24 April 1955) saat negara-negara Asia-Afrika mengadakan Konperensi AsiaAfrika (KAA) I di Bandung (KAA II di Bandung, tahun 2005). Banyak negara di AsiaAfrika merdeka setelah Dasa Sila Bandung dirumuskan, yakni 10 prinsip untuk membangun perdamaian, toleransi, kerja sama, dan kemitraan antarseluruh umat manusia.

Pak Widi Adnyana (Singaraja) HP 081 3384 23858, menanyakan nomor HP Pak Gidion yang dimuat Koran Tokoh edisi 593 berjudul “Setelah Berkaki Buatan Yunus Bercita-cita Buka Usaha Sendiri”. Ayah kandungnya menderita cacat kaki. Nomor HP Pak Gidion: 081 9191 67777.

Pengusaha Kopi Luwak Setelah membaca tulisaan di Koran Tokoh Edisi 593 berjudul “Menikmati Kopi Luwak 1 Kg Rp 3 Juta”, Bu Santhi (Bangli) HP 081 2362 94488, dan Yuli (Denpasar) HP 081 7472 7645, menanyakan nomor HP Pak Reza pengusaha kopi luwak. Nomornya, (0361)7488678. Dalam perkembangan berikutnya, di depan Sidang Umum PBB tahun 1960, Bung Karno membeberkan kekurangan Manifes Komunistis dan keterbatasan Declaration of Independence. Bung Karno pun melihat sisisisi persamaan antara Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Namun, bukan berarti ia sepaham dengan Partai Komunis yang berideologi Marxismeleninisme/Komunisme, dan bukan berarti sepaham dengan konsep “negara agama”. Sebab, partai komunis di mana pun mencari monopoli kekuasaan dengan tujuan untuk mendirikan sistem marxis-leninis di bawah pimpinan partai yang eksklusif. Marxisme-leninisme menolak pluralisme demokratis, sedangkan Bung Karno, dengan Pancasila-nya, menjamin kemajemukan bangsa, termasuk di dalamnya kemajemukan agamaagama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Namun, unsur “komunisme” sebagai doktrin dalam Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) dalam perkembangannya sering dipelintir menjadi “komunis” sebagai partai oleh kalangan tertentu. Saat terakhir kekuasaannya, Bung Karno mengusulkan mereka yang alergi terhadap istilah “Nasakom” boleh saja menggantikannya dengan Nasasos (Nasionalisme, Agama, dan

Sosialisme). Bagi Bung Karno yang utama adalah persatuan dan kerukunan seluruh komponen masyarakat berdasarkan realitas yang ada di masyarakat Indonesia dalam tiap kurun waktu tahaptahap perjuangan panjangnya. Partai Komunis Indonesia dapat dibubarkan tetapi komunisme sebagai paham, sebagai ajaran, tidak mungkin dilarang untuk dipelajari. Salah satu hak asasi terpenting manusia adalah hak atas informasi, hak untuk mengetahui apa yang ingin diketahuinya. Dalam tataran ilmiah, mempelajari sesuatu tidak sama dengan menganutnya, apalagi dengan menyebarkannya. Namun, di Indonesia sebuah Ketetapan MPRS RI telah menutup kemungkinan orang mempelajari Marxisme-leninisme/ Komunisme secara ilmiah dan secara kritis. Sebagian dari bangsa Indonesia tidak menghargai pandangan dan pemikiran Bung Karno hanya demi kepentingan sempit golongan dan kepentingan instan sesaat. Prof. Dr. Frans MagnisSuseno SJ dalam buku “Pemikiran Karl Marx – dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisonisme” mengutarakan pandangannya bahwa dengan pelarangan semacam itu, kehidupan bangsa tidak dicerdaskan, melainkan dibodohkan. Bersambung ke hlm. 8

Telepon tak Berfungsi Mengingat saluran telepon di Radio Global FM 96,5 tidak berfungsi Minggu (23/5), maka dalam edisi ini Koran Tokoh tidak dapat memuat pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh pada hari itu yang bertopik “Menghindarkan Anak-anak dari Tindak Kekerasan” dalam edisi ini. Siaran interaktif selanjutnya tetap berlangsung tiap Minggu, pukul 10.00 s.d., 12.00 Wita dalam acara ‘Wanita Global’ (Redaksi).

Implementasi Nilai-nilai Pancasila REFORMASI tahun 1998 mengantarkan Bangsa Indonesia pada dua titik psikologis kebangsaan. Pertama, perasaan bangga karena merasa telah terlepas dari genggaman kekuasaan yang bersifat otoritarian dan sentralistis. Kondisi batin ini kemudian tercermin pada penguatan serta pengagungan demokratisasi dan desentralisasi. Kedua, perasaan gundah karena reformasi juga didalih sebagai biang berbagai perubahan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak terkontrol. Liberalisme seakan telah menggeser falsafah Gotong Royong dan Musyawarah Mufakat yang menjadi ciri kebangsaan selama ini. Setelah melewati kurun waktu 12 tahun saatnyalah kita merefleksikan diri, apakah reformasi telah mengantarkan kita pada tatanan kehidupan yang lebih baik, lebih buruk, atau stagnan. Sejatinya kita harus malu kepada negara lain, karena menjelang usia kemerdekaan kita yang ke-65 tahun ternyata kita masih dan terus berkutat pada persoalan internal. Persoalan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kurun waktu 65 tahun tampaknya belum juga final. Muncul pertanyaan, “Mulai kapan negeri ini memikirkan secara sungguhsungguh tentang perbaikan dan peningkatan taraf hidup rakyatnya, sesuai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945?” Hal ini harus segera

difinalkan, untuk kemudian dilakukan langkah-langkah akselerasi dalam pembangunan guna mengejar segala bentuk ketertinggalan dalam percaturan dunia. Sebagai wujud merefleksikan diri, menjelang memperingati Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2010, serta Kongres Pancasila II yang akan berlangsung di kampus Universitas Udayana, saya ikut urun pendapat tentang implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini dibangun dengan semangat Gotong Royong oleh seluruh komponen bangsa. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan tidak pernah menjadi penghambat dalam mewujudkan persatuan saat itu. Hal itu tercermin pada semangat Sumpah Pemuda tahun 1928. Demikian juga dalam pola pengambilan keputusan yang bersifat kenegaraan diupayakan melibatkan semua komponen bangsa tanpa kecuali. Proses pengambilan keputusan itu kita kenal dengan Musyawarah Mufakat. Kedua nilai tersebut dikristalisasikan pada Sila ke-4 Pancasila,”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Founding Father kita tidak pernah menanamkan nilai-nilai yang serba kuantitatif seperti yang diajarkan teori demokrasi saat ini. Bahkan istilah “tirani minoritas” dan “diktator mayoritas” tidak mendapat tempat dalam khazanah kehidupan bangsa Indonesia. Amendemen UUD 1945 yang dilakukan empat kali dalam era reformasi telah membawa perubahan

Made Suantina

mendasar dalam tata-kelola kenegaraan dan pemerintahan di Indonesia, serta menjauhkan bangsa ini dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. Misalnya, MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara, keanggotaannya pun tidak lagi mencerminkan plurarisme bangsa Indonesia. Demikian juga DPR yang keanggotaannya 100 % dari partai politik, semula diposisikan sebagai lembaga mitra pemerintah namun sekarang menjadi lembaga yang cenderung berhadap-hadapan dengan pemerintah. Rekrutmen keanggotaan kedua lembaga itu pun 100 % melalui pemilihan umum, tidak ada lagi Utusan Daerah, Utusan Golongan, dan unsur TNI/Polri melalui pengangkatan. Jelas, semangat gotong royong tersebut telah dihapuskan dari hukum dasar kita. Saat ini pastilah ada komponen bangsa yang tertinggal atau merasa tidak dilibatkan dalam pengelolaan negara. Cara pengambilan keputusan

musyawarah mufakat, secara sitematis tidak digunakan lagi. Hampir tiap pengambilan keputusan menggunakan cara pemungutan suara. Model pengambilan keputusan melalui pemungutan suara ini telah menjalar sampai ke lembaga-lembaga adat. Contoh, dalam pemilihan bendesa pakraman di Bali saat ini sudah meniru cara-cara itu. Penghapusan lembaga negara yang bernama Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan reposisi lembaga MPR tersebut, hemat saya, menjadikan presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan betul-betul powerfull atau super boddy. Terlebih-lebih presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Utusan Daerah digantikan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tampaknya sampai saat ini DPD masih menjadi lembaga yang mandul. Selain itu pembentukan DPD telah merancukan sistem parlemen dua kamar (bicameral system) karena antara DPR dengan DPD tidak ada keseimbangan kekuasaan (balancing power). Sampai saat ini saya belum bisa menemukan arti penting pelembagaan utusan daerah ke dalam wadah DPD, kecuali saya memandang itu sebagai upaya melemahkan posisi tawar daerah dalam tiap pengambilan keputusan di tingkat nasional. Padahal sistem rekrutmennya juga melalui pemilu sama halnya anggota DPR, mengapa lembaganya harus dipisahkan? Nilai-nilai Pancasila yang menyangkut “Persatuan Indonesia” (Sila ke-3) juga telah terkoyakkan penggunaan istilah “koalisi” dan “oposisi”. Hal ini cukup ironis, spirit kebersamaan dalam meraih

kemerdekaan dulu saat ini diingkari generasi penerusnya. Demikian juga, akibat diembuskannya kebebasan dalam reformasi, muncul perilaku yang “tidak beradab”. Misalnya, perkelahian beberapa kali dalam sidang di DPR, demonstrasi yang anarkis, perang antarsuku yang berkelanjutan. Semua itu adalah pengingkaran terhadap nilai-nilai Sila ke-2 Pancasila. Sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memang sulit dibuat indikatornya. Namun, yang kita rasakan jurang pemisah antara si Kaya dan si Miskin masih sangat lebar. Segala kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengentaskan rakyat dari kemiskinan belum mampu menururnkan angka kemiskinan secara signifikan. Saya memang tidak bermaksud untuk mengajak kita saling menyalahkan, melainkan pandangan saya ini hanya sebagai wujud refleksi diri sebagai bangsa dalam mengarungi perjalanan waktu dan menata diri menuju “Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa kekacauan pernah terjadi di negeri ini hingga akhirnya kita harus kembali pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Akankah sejarah itu terulang kembali? Hanya waktu yang akan bisa menjawab! z Made Suantina Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 z Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com z Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id z Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


Figur

Dr. Kartini Sjahrir Panjaitan 7 Habis

Calon Dubes untuk Tiga Negara KARTINI baru merasakan enjoi berada di Jakarta setelah menjadi mahasiswa. Ketika tidak lagi bertempat tinggal di asrama, dan merasakan kehidupan kampus yang penuh dinamika, ia juga menemukan salah satu hobinya, mendaki gunung. “Itu sama dengan kegiatan saya di Rumbai, Riau, saat saya sering naik gunung, keluarmasuk hutan, jungle survival, kegiatan-kegiatan yang saya sukai. Di Jakarta saya juga menemukan teman-teman yang sehobi. Begitu juga soal berpakaian, bebas. Saya bisa mengenakan jeans dan t-shirt. Masa mahasiswa merupakan kehidupan yang tak perlu basabasi, saya suka itu,� kata Ker. Kebebasan berekspresi pada masa itu, tahun 1968, tutur Ker, tengah melanda kehidupan kaum muda, khususnya kalangan mahasiswa. Saat itu terjadi pergeseran budaya secara luar biasa. Ini akibat pengaruh flower generation (generasi bunga) yang terjadi di Amerika Serikat yang terpicu sejak meletusnya perang Vietnam 1959. Kalangan muda Amerika yang sudah muak terhadap sistem kemapanan dan perang, berkumpul menjadi satu melahirkan generasi bunga. Pada masa itu muncul para pemuda dengan dandanan nyentrik, rambut gondrong dan pakaian warna warni, celana cut bray. Itulah simbol pemberontakan kaum muda. Perilaku hidup model hippies ini merasuk dan menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Sementara itu, di Indonesia tahun 1967-1968, tengah terjadi masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Gelombang generasi bunga bertemu gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia, klop! Pengaruh itu dibawa beberapa tokoh mahasiswa UI seperti Soe Hok Gie, Sjahrir, Dorojatun, Juwono Sudarsono. Mereka membawa hawa baru, aura baru, terinspirasi perubahan-perubahan nilai yang terjadi di Amerika. Ker yang memulai kuliah di Fakultas Sastra UI tahun 1968 merasakan kegairahan itu. Ia sangat menikmati perubahanperubahan yang terjadi. “Masa yang menyenangkan, mengesankan. Kami bebas berekpresi, termasuk dalam hal berpakaian. Kami bisa mengenakan hotpants (celana pendek), baju poco model Mexico, rok-rok mini, rok midi, tanpa ada yang mencemooh.

Kami bisa mengenakan pakaian apa pun, sesukanya. Tidak ada ejekan atau tentangan,� kenangnya. Mode menjadi simbol pemberontakan terhadap nilai-nilai lama. Itu semua menyenangkan bagi saya. Saya seolah menemukan dunia baru yang menyenangkan. Saya benar-benar asyik, sehingga rasa rindu pulang kampung makin memudar. Saya jadi jarang pulang ke Rumbai, karena sudah merasa cocok di Jakarta,� ungkap Ker. Pada masa itu, lanjut Ker, mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sangat populer di kampus UI. Mereka bukan hanya jago berdebat, jago naik gunung, tetapi juga dikenal paling modis. Di sisi lain, bibit-bibit feminisme sudah ada. Aktivis perempuan tidak segan menyuarakan pendapatnya, sekalipun masih di dalam kampus. “Gerakan feminis kala itu baru bibit, belum mengkristal seperti sekarang. Tetapi, kami sudah tahu perempuan dan laki-laki memunyai hak yang perlu diperlakukan sama. Misalnya, dalam aktivitas maupun pergaulan,� jelasnya. Tidak Naik Tingkat Terlalu asyik dengan segudang kegiatan di luar studi, membuat Ker lupa belajar. Walhasil, dia tidak naik tingkat. Bahkan, dua kali tidak naik tingkat “Ha..ha..Saya bandel! Terlalu sibuk dalam kegiatan iniitu, pesta, naik gunung, dll. sehingga malas belajar. Hasilnya, tidak naik tingkat,� ujar Ker yang pernah menjabat ketua Mapala UI ini. Ketika lulus SMA usia Ker memang belum 17 tahun. Ia mahasiswa paling muda, sementara teman-teman seangkatannya berusia dua-tiga tahun di atasnya. Tetapi, dua kali tidak naik tingkat, membuat dirinya sadar. Dia bisa kehilangan segala kesenangan yang didapatnya di kampus, jika tidak berubah. Kelangsungan pendidikannya di UI bakal terancam. Artinya, masa depannya bakal terancam

juga. “Orangtua saya tidak marah, tetapi sedih terhadap perilaku saya. Mereka membujuk saya. Mereka bilang, kalau saya gagal, bagaimana masa depan saya. Saya akan menjadi perempuan yang tidak mandiri. Saya tersentak. Karena saya paling takut kalau sampai tidak bisa menjadi orang mandiri. Teman-teman juga ikut menyadarkan saya, bahkan menakut-nakuti akan di-drop out, Sejak itu saya jadi giat belajar, mengejar segala ketinggalan saya sampai akhirnya berhasil lulus menjadi sarjana Anthropologi,� tutur Kartini Dari suaminya, Sjahrir (almarhum), Kartini mendapat bimbingan ilmu politik dan seluk-beluknya. Berkat suaminya pula, politik yang semula dibencinya, kini menjadi kehidupannya. Ia kini Ketua Umum Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB), meneruskan kepemimpinan suaminya, pendiri PIB. Sjahir meninggalkan kursi ketua umum PIB karena diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Suslilo Bambang Yudhoyono. Meski terlihat seperti nepotisme namun sebenarnya ia terpilih secara aklamasi dalam Kongres Luar Biasa PIB berkat kemampuan dan prestasinya membangun PIB di Sumatera Utara. “Tadinya, Sumut secara politis merupakan daerah yang sulit bagi PIB untuk masuk, tetapi saya berhasil membangunnya sehingga PIB cukup kuat di sana. Itu karena saya menyerahkan seluruh waktu saya untuk membesarkan partai. Inilah yang memuluskan saya sehingga terpilih menjadi ketua umum,� ungkap Kartini yang jika tidak ada aral melintang, pertengahan tahun ini akan mengemban tugas menjadi duta besar Berkuasa Penuh atas tiga negara di Amerika Latin yakni Argentina, Paraguay dan Uruguay.. – dia.

Ketua Umum PPIB mengunjungi bayi yang lahir di lokasi gempa di Bantul, DIY tahun 2006

â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹ â—‹

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 3

Korban Kebiadaban Ayah Kandung

1 WAJAHNYA pucat pasi, tatapan matanya kosong. Perempuan yang belum lagi genap berusia 16 tahun itu terbaring lemah di ruang IGD Rumah Sakit Umum Mataram, Selasa (25/5). Dari raut mukanya, tampak benar ia baru mengalami pukulan hebat dalam hidupnya. Dalam usia yang sangat muda itu, Warni sudah harus menanggung beban yang teramat berat, yang jauh melampaui kemampuan nalarnya sebagai anak-anak. Jelas, apa yang dialaminya ini, akan menjadi dilema sepanjang hidupnya. Warni baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang tidak diinginkannya. Begitu pula sikap keluarga besarnya. Bayi mungil dengan berat 2,2 kilogram dan panjang 47 cm itu, hasil benih yang ditanam ayah kandung Warni, sembilan bulan yang lalu. Sungguh tragis apa yang dialami gadis dusun yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, ini. Masa depannya gelap gulita akibat kebiadaban ayah kandungnya, orang yang seharusnya melindunginya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Ibu serta keluarga besarnya pun menyatakan menolak merawat dan memelihara anak tersebut sejak Warni diketahui hamil. Mereka menganggap bayi tersebut aib bagi keluarga. Lewat pihak Panti Budhi Rini, ibunya telah meminta untuk mencarikan orangtua asuh yang mau mengadopsi anak tersebut. Hal ini diungkapkan Warni sesaat usai melahirkan. Meski mengalami pukulan berat, Warni berusaha bersikap tegar. Secercah senyum sempat hadir di bibir Warni saat ia dipindahkan dari ruang IGD ke kamar rawat inap RSU Mataram. Sebab, dengan lahirnya bayi yang dikandungnya, ia akan terbebas dari salah satu penderitaan yang menjadi beban psikisnya selama sembilan bulan terakhir ini. Ketika usia kandungannya berusia sembilan bulan dan tinggal menanti hari-hari terakhir menjelang persalinan, Warni merasa perasaannya campur aduk tidak karuan. Ia ingin sekali lepas dari siksaan dan dera batin yang dialami selama mengandung. Hingga tiba saatnya, pukul 03.00 dinihari, 25 Mei 2010, ia merasakan perutnya mules. Saat tidak lagi mampu menahan rasa sakit dan diketahui tanda-tanda melahirkan akan tiba, Warni diantar pihak Panti Budhi Rini yang selama ini menampungnya, ke Polindes Selagalas Mataram, untuk segera ditolong.

Bayinya Lahir di Kamar Mandi menanganinya. Hasilnya sama, bidan pertama yang memeriksa denyut jantung bayi juga menyatakan hal yang sama, bayi dalam kandungan Warni tidak bernyawa. Bidan yang satu lagi kemudian memeriksanya, memastikan ada tidaknya denyut jantung si bayi. Hasilnya sama, bayi dinyatakan telah tak bernyawa. Sekali lagi, dilakukan pemeriksaan akhir sebagai penentu untuk benar-benar menyatakan bahwa bayi tak lagi bernyawa untuk kemudian diambil tindakan selanjutnya. Lagi-lagi hasilnya sama, denyut jantung si bayi tidak terdeteksi Warni hendak dipindahkan ke ruang rawat inap RSU Mataram dan tidak terbaca oleh alat ditemani petugas Panti Budhi Rini Mataram canggih pembaca gerak dan Seorang bidan desa menya- RSU Mataram saat itu juga untuk perkembangan bayi dalam takan, bayi dalam kandungan mendapatkan kepastian dan kandungan itu. Si bayi dinyatakan Warni meninggal karena tidak pelayanan. Setibanya di IGD meninggal. ditemukan denyut jantungnya. RSU Mataram, para petugas jaga Warni kemudian dirujuk ke IGD termasuk dua bidan langsung  Bersambung ke halaman 8


4

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Pendidikan

Selektif Terima Pengontrak GERAK-gerik pelaku tindak kekerasan harus diwaspadai di lingkungan permukiman. Ini termasuk memastikan identitas penghuni rumah kontrakan atau kamar indekos. “Sebab, upaya pengamanan sudah dilakukan pemerintah bekerja sama dengan masyarakat desa pakraman,”ujar Camat Ubud Drs.I Kadek Alit Wirawan, M.A.P.

P

ria kelahiran Denpasar, 16 Februari 1975, ini, melukiskan proses penertiban administrasi kependudukan di wilayahnya.

Sebagai daerah wisata, lalu lintas pergerakan manusia lumayan tinggi. Ini termasuk warga dari luar Ubud yang memilih bermukim di daerah ini.

Kadek Alit Wirawan, M.A.P.

“Khusus dari luar yang bertempat tinggal di Ubud untuk bekerja telah diharuskan memenuhi syarat secara administrasif. Kami juga langsung menyosialisasikan hak dan

kewajiban mereka masingmasing,” jelas suami Dra. Ni Made Rai Anggraeni ini. Upaya menjaga keamanan diingatkan menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, ada ancaman sanksi yang dikenakan jika ada pelanggaran terhadap aturan main di wilayahnya. “Sanksinya bersifat skala maupun niskala,” katanya. Untuk mencegah adanya gangguan kriminalitas, termasuk ancaman kekerasan terhadap anak, pihaknya sudah mengingatkan tuan kamar indekos atau pemilik rumah kontrakan mengecek dan mengawasi para penghuninya. “Kepedulian para pemilik kontrakan itu penting untuk bersama-sama menjaga keamanan di wilayah Ubud,” kata alumnus S2 Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang ini. —sam

Pelajaran Agama Hindu masih Dinomorduakan Rama, Yayasan Taman Mahatma Gandhi. Pelajaran agama secara khusus tak diberikan di sekolah ini. Namun, siswa diajak mengenal lima agama yang ada di Indonesia. “Pengenalan itu bertujuan agar tumbuh rasa toleransi dalam hati mereka,” kata Kepala TK Taman Rama, Alit Susanti. Latar belakang siswa Taman Rama berbeda-beda, baik agama, suku, budaya, dan

bahasa. Materi pelajaran tak hanya teori. Siswa mengenal agama dengan merayakan tiap ada hari raya keagamaan umat lain. “Meski jumlah pemeluk agama tertentu hanya 1% kami tetap rayakan. Kami ingin tumbuhkan toleransi antarsiswa berbeda agama,” tambahnya. Pengenalan hari raya agama kepada anak didiknya penting dilakukan. “Anak didik sejak

K

EGIATAN pasraman kilat diselenggarakan tiap tahun di Kota Denpasar. Ini salah satu cara untuk mengisi rohani anak sekolah. “Lokasinya di Pura Jagatnatha. Pesertanya anak SD hingga SMA. Tujuannya agar aktivitas anak-anak terarah selama liburan,” kata Drs. I Wayan Suparta, M.Pd., Kabid Dikmen Disdikpora Kota Denpasar. Itu dijelaskan untuk menampik anggapan yang menuding vakumnya kegiatan pasraman kilat selama masa liburan Galungan dan Kuning-

an. “Memang vakum karena ada ujian nasional, ulangan umum dan ujian susulan selama liburan Galungan dan Kuningan tahun ini. Setelah ini akan diadakan karena ini sudah dianggarkan di APBD,” katanya. Namun, kegiatan ini belum bisa mengakomodir semua siswa. Pihaknya mengimbau semua sekolah mengisi liburan hari raya keagamaan umat Hindu melalui kemah ilmiah pula. Ini kegiatan lain di luar pasraman kilat yang dilakukan intern sekolahnya. Menurutnya, pasraman berlangsung juga di desa

Drs. I Wayan Suparta

pakraman. Ini dimaksudkan untuk memberikan pencerahan nilai dan pembentukan mental dan etika. “Sebab, selama ini yang diterapkan di sekolah lebih banyak pengasahan intelektual. Nilai-nilai dan etika perlu diintegrasikan,” kata Suparta. —put

Polisi Jadi “Herder”

Alit Susanti

usia dini perlu tahu agamaagama yang ada di Indonesia. Kami mengenalkan secara general tak mengkhusus. Yang terpenting mereka tahu,” katanya. —lik

Suasana diskusi komprehensif Koran Tokoh dan Sekolah Taman Rama mengupas masalah kekerasan terhadap anak belum lama ini di Sekolah Taman Rama Jalan Cokroaminoto Denpasar

MARAKNYA kasus kejahatan yang menimpa anakanak menjadi tanggung jawab bersama. Masalah ini tidak bisa hanya ditangani aparat kepolisian. Karenanya, perlu kerja sama semua komponen mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan polisi. Untuk langkah-langkah pengamanan, Kabag Bina Mitra Polda Bali AKBP I Made Parwatha mengatakan peran semua pihak sama pentingnya. “Keamanan di lingkungan keluarga, keamanan di lingkungan tempat tinggal, keamanan di lingkungan sekolah, semua penting. Banyak kejadian yang menimpa anak-anak terjadi di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah. Kami dari kepolisian sudah melakukan langkah koordinasi dengan komponen masyarakat secara langsung. Polisi patroli dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda gayung dan kendaraan bermotor. Ada yang berpakaian dinas, ada yang berpakaian bebas. Tetapi, tidak semua areal dapat kami sentuh karena keterbatasan yang kami miliki,” ujarnya. Terkait upaya yang sudah dilakukan itu dipadukan juga dengan terjun langsung ke sekolah-sekolah dan masyarakat untuk memberikan penyuluhan, khususnya di wilayah yang dianggap rawan. Tatap muka dengan masyarakat pun diintensifkan untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga keamanan. Parwatha mengatakan kasus kejahatan termasuk kekerasan pada anak dan perempuan di

Prof. Dr. Made Titib

MUTU guru agama Hindu menurun lantaran nilai pelajaran agama Hindu anak-anak mereka jeblok. Jika itu terjadi bukan gurunya yang tak berkualitas. Penyebabnya, pelajaran agama Hindu hanya dijadikan materi tambahan atau dinomorduakan. “Buktinya mata pelajaran penting tersebut tak masuk dalam daftar materi yang diujian-nasionalkan. Tak hanya itu, anak diidk kini lebih fokus mempelajari pelajaran yang di UN kan ketimbang belajar agama Hindu,” saat ditemui wartawati Koran Tokoh di sela acara Workshop Agama Hindu yang digelar IHDN di Hotel Maha Jaya Denpasar Padahal, lanjut Prof. Titib, pelajaran agama berdampak positif terhadap perkembangan pelajaran lain. Ini dibuktikan berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2005. Prof. Titib mengambil sample beberapa sekolah SMP di Denpasar. Transkip nilai beberapa siswa diambilnya. Siswa berprestasi atau nilai mata pelajaran nonagamanya bagus ternyata nilai pelajaran agamanya bagus pula. “Ini terbukti pendidikan agama bisa menjadi dasar anak menjadi lebih baik,” katanya. Pendidikan agama mampu mengasah budi pekerti, pengendalian diri dan memotivasi anak untuk belajar. Menurutnya, Kanwil Kementerian Agama melalui Bimas Hindu pun kian getol mengadakan pelatihan dan seminar untuk peningkatan kualitas guru agama Hindu. “Kami dari lembaga pendidikan tinggi pencetak tenaga pendidik agama Hindu juga telah menyiapkan calon guru-guru agama Hindu yang berkualitas,” katanya. Materi dan metedologi agama yang diberikan untuk tingkat TK hingga perguruan tinggi berbeda. “Jika TK lebih ditekankan terhadapan budi pekerti dan penanaman moral. Pendidikan agama di TK tak diberikan secara mengkhusus. Berbeda dengan SD hingga PT, ada kurikulum Pedidikan Agama Hindu,” katanya. Materi pendidikan agama di tingkat Taman Kanak-kanak tidak diberikan secara nyata. Mereka diajarkan budi pekerti lewat nilai-nilai pembiasaan sehari-hari. “Di Taman Kanakkanak, anak didik tak diajarkan materi satu agama secara khusus. Namun lebih difokuskan penanaman budi pekerti, menumbuhkan saling hormatmenghormati antaragama,” tambah Prof. Titib. Itu tercermin di TK Taman

Pasraman Kilat di Pura Jagatnatha

Makin Didengar Makin Asyiik...

wilayah hukum Polda Bali mengalami fluktuasi. Kasus pencabulan, tahun 2008 terjadi 29 kasus, tahun 2009 terjadi 35 kasus, dan tahun 2010 hingga Mei tercatat 7 kasus. Kasus penganiayaan di rumah tangga, tahun 2008 terjadi 36 kasus, tahun 2009 terjadi 25 kasus dan tahun tahun 2010 hingga Mei terjadi 12 kasus. Kasus penelantaran tahun 2008 dan 2009 terjadi masing-masing 1 kasus sedang tahun 2010 masih nihil. Penculikan, tahun 2008 dan 2009 masing-masing 1 kasus. Kasus melarikan anak, tahun 2008 terjadi 17 kasus, tahun 2009 terjadi 18 kasus, dan tahun 2010 sampai Mei tercatat 9 kasus. Pemerkosaan, tahun 2008 dilaporkan 2 kasus, tahun 2009 dilaporkan 8 kasus, dan tahun 2010 hingga Mei dilaporkan 5 kasus. “Total kasus yang menimpa anak-anak dan perempuan tahun 2008 tercatat 86 kasus, tahun 2009 tercatat 78 kasus, dan tahun 2010 hingga Mei 33 kasus,” ungkapnya. Kepada anak-anak diingatkan untuk selalu waspada khususnya terhadap orang yang tidak dikenal. Jangan sampai anak-anak mudah terkena bujuk rayu “permen”. Apalagi sekarang ada peredaran narkotika melalui permen dan cokelat. Untuk langkah antisipasi, penyuluhan di sekolah terus diintensifkan. Wakapoltabes Denpasar AKBP Putu Mahasena mengatakan pranata sosial dalam hal ini prajuru adat agar lebih berperan aktif. “Bali terbuka

untuk siapa saja, tetapi sistem harus jelas, siapa dia, apa yang dilakukan di Bali. Di sinilah peran prajuru adat untuk melakukan penyaringan. Bukan berarti melarang pendatang, ini demi keamanan bersama,” tegasnya. Ia juga melihat lembaga adat mulai melemah. Ini terbukti dengan banyaknya kasus KDRT masuk ke aparat kepolisian. Namun, begitu berkas mau dilimpahkan ke pengadilan, laporan dicabut. Polisi pun menjadi “herder” untuk menakut-nakuti. Beda dengan zaman dulu. Kalau ada masalah di rumah tangga, orangtua akan turut urun rembug mencari penyelesaian. Terkait masalah keamanan, Wakapoltabes mengingatkan para pemilik kos jangan hanya sekadar investasi tetapi perlu dibarengi dengan seleksi dan pendataan, siapa saja yang berada di lingkungannya. —wah

Made Parwata


Usaha

Berangkat sebagai Pembantu Pulang Jadi Investor ke Indonesia di antaranya bagaimana membuka bisnis,” ujarnya. Rambe mengatakan ekonomi syariah ini merupakan sebuah sistem. Di Inggris dan Singapura bank syariah sangat maju. “BMT Beringharjo tak hanya membantu pedagang pribumi melainkan pedagang pendatang dari berbagai suku dan agama, termasuk pedagang warga Tionghoa. Kini BMT Beringharjo memiliki cabang di Yogyakarta, Jatim, Jabar, dan Jateng. —tin

DRA. MURSIDA RAMBE telah berhasil membantu banyak pedagang kecil yang kesulitan modal, tanpa memandang agama dan keturunan pedagang tersebut. Bahkan, lewat Baitul Mal Wattamil (BMT) yang didirikannya, ia berhasil membantu tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong, pulang ke Tanah Air menjadi investor.

H

al itu terungkap ketika ia berbicara dalam seminar “Peran Penting Pengusaha Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat” yang diselenggarakan BMT Bina Mandiri, DSM Group, di Hotel Shanti Denpasar, Selasa (25/5). Awal kiprahnya, usai mengikuti pelatihan ekonomi syariah di Bogor lima hari yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Republika Jakarta, Dra Mursida Rambe magang di BPR Syariah Margi Rizki Bahagia, sebulan. Kemudian tercetus idenya mendirikan koperasi jasa keuangan syariah di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, kota tempat ia menamatkan gelar sarjananya di Universitas Muhammadiyah. Alumnus Fakultas Agama Islam Jurusan Dakwah ini menekuni bidang ekonomi dengan mendirikan BMT (Baitul Mal Wattamil) Beringharjo, sebuah koperasi jasa keuangan syariah, di Yogyakarta, tahun 1994. Berangkat dari modal pinjaman Rp. 1 juta dari Dompet Dhuafa Republika, koperasi yang diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono X itu kini punya omzet Rp 41 miliar. Semua itu, berkat keuletan dan kerja keras Rambe mempromosikan koperasi dari mulut ke mulut, mengelola tabungan pedagang mulai dari 1.000 s.d. 5000 rupiah. Dengan dana tersebut koperasinya bisa membantu 27 ribu pedagang di sepanjang Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo. Mariem, pedagang alat dapur di Pasar Beringharjo, merupakan salah seorang nasabahnya. Rambe menceriterakan bagaimana sebelumnya para pedagang kecil seperti Mariem berupaya mendapatkan tambahan modal dengan cara yang diangganya termudah yaitu meminjam uang di rentenir. Para lintah darat kerap menawarkan jasa pinjaman kepada pedagang kecil. Dengan menenteng buku kecil mereka seolah menjadi sosok malaikat bagi pedagang kecil. Padahal mereka menarik bunga sangat tinggi, 10 s.d. 30% per hari. “Adanya bantuan modal tanpa bunga dari BMT Beringharjo banyak orang terbantu sehingga bisa mengembangkan usahanya dan membuka usaha baru. Keberadaan

koperasi ini juga meminimalisir jumlah rentenir sehingga para pedagang kecil seperti Mariem, Teguh, Indri, bisa lebih berdaya,” ujar dosen tamu di berbagai perguruan tinggi ini dalam seminar yang dihadiri para pengusaha di Bali. Ia mengatakan pedagang kecil yang sukses berkat bantuan penguatan modal dari BMT Beringharjo adalah Ahsan, asal Madura. Dengan pinjaman modal 2 juta rupiah, kini Ahsan bisa memiliki tiga toko yang mempekerjakan ratusan karyawan, mengelola bisnis ekspor barang kerajinan ke Malaysia dan penyuplai pedagangpedagang di sepanjang Jalan Malioboro. Rambe menuturkan, sumber dana koperasi selain dari sumbangan, infak, zakat, dan sodakoh, juga dari tabungan investor. Orang-orang yang sukses mengelola usaha seperti Ahsan, dilibatkan menjadi mitra BMT dengan sistem pengelolaan bagi hasil. BMT Beringharjo mendapat penyertaan dana dari istri Wali Kota Yogyakarta senilai Rp 100 juta yang bisa mem-back up penyertaan modal. “Inilah peran BMT menjadi penghubung antara orang yang punya uang dan pengusaha kecil,” kata ibu tiga anak ini. Garap TKI Untuk membantu penguatan modal, koperasi ini memiliki mitra investor dari kalangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hongkong. Perempuan kelahiran Medan 21 Oktober 1987 ini terpanggil membantu kaum perempuan yang rela meninggalkan suami dan anak untuk mencari sesuap nasi di Hongkong. Empat kali ia bolak balik YogyakartaHongkong memberikan pelatihan manajemen keuangan terhadap sekitar 130 ribu TKI di sana. “Ada 200 TKI Hongkong asal Jawa Timur menjadi investor BMT TKI cabang di kota masing-masing seperti Kediri, Ponorogo, Madiun, Caruban, Ngawi, dan Magetan,” katanya. Para TKI ini ada yang telah pulang ke Tanah Air, ada pula yang masih berada di Hongkong. “Sebagian besar mereka berada di Hongkong menjadi pembantu rumah tangga. Meski

Dra. Mursida Rambe

berangkat menjadi pembantu, kami berharap mereka pulang menjadi investor,” ucapnya. Para TKI ini menabung Rp 1 s.d. 30 juta per orang. Mereka mendapat keuntungan dari sistem bagi hasil. BMT yang tak menetapkan bunga yang harus didapatkan investor pada awal mereka menabung. Setelah lima tahun diperhitungkan, itu pun bergantung jumlah Sisa Hasil Usaha (SHU) per tahunnya. “Dari pengalaman mengelola BMT Beringharjo 15 tahun, rata-rata SHU per tahunnya 18 s.d. 30%,” katanya. Ia menyatakan selalu berusaha membantu TKI untuk menabung uangnya dan menjadi pembina bagi TKI setelah mereka pulang ke Indonesia. Sebab, katanya, tak semua TKI bisa mengelola uang hasil kerja keras mereka selama menjadi TKI. Tak jarang uang mereka habis sia-sia setelah pulang ke Indonesia. “Melalui wadah bentukan BMT dan DSM bernama Kami ( Keluarga Migran Indonesia) kami bisa menjadi pusat informasi bagi para TKI di Hongkong yang telah pulang

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 5

LAHIRNYA ( KEMBALI ) PANCASILA Dr.Ir. Sukarno atau yang lebih akrab disapa Bung Karno, dalam berbagai kesempatan baik melalui pidato maupun tulisan, tidak pernah secara gamblang menyatakan dirinya sebagai pencipta Pancasila, sebuah filosofi dasar NKRI 1945. Justru, Bung Karno selaku Proklamator senantiasa mengajarkan pada rakyatnya, Pancasila tersebut digali dan digali. Kenapa digali? Karena Pancasila sudah terkubur selama 500 tahun, tepatnya sejak kehancuran Kerajaan Majapahit. Dalam sejarah bangsa tercatat, pascakeruntuhan Majapahit di tanah Jawa, Nusantara seakan tidak pernah mengalami (kembali) kejayaannya seperti zaman keemasan Sriwijaya dan Majapahit. Justru Nusantara terpecah–pecah menjadi beberapa kesultanan dan yang paling benderang, kenyataan spirit Sumpah Palapa Majapahit diabaikan rakyat Indonesia yang kala itu sudah beralih kebudayaan dan agama. Akibatnya rakyat Nusantara mulai mendapatkan ”karma” dengan masuknya kolonialisme pada awal abad ke-16. Maka lengkap sudahlah ”kutukan atau pastu” leluhur Nusantara terhadap pengkhianat Ibu Majapahit sesuai dengan pandangan Jongko Joyoboyo Sabdapalon Nayogenggong. Tetapi, ditengah terombang–ambingnya Nusantara, Tuhan telah mengirimkan salah satu ”awatara kecil” untuk Indonesia, yakni Bung Karno. Dengan restu leluhur, Bung Karno diberikan kesempatan untuk menemukan, menggali, dan merevitalisasi sila–sila Majapahit yang akhirnya dirangkum menjadi Eka Sila yang lalu bermetamorfosis menjadi Pancasila. Bung Karno sadar diri, ia tidak serta merta mengklaim Pancasila murni lahir dari buah pikirnya, mengingat fakta leluhurnya adalah penemu

Pancasila. Jadi Bung Karno, hanya menggali, menggali, dan menggali Pancasila dari tumpukan debu kemunafikan pimpinan Nusantara pascaruntuhnya Majapahit. Sayangnya, usaha Bung Karno menanamkan character building dengan Pancasila sebagai dasarnya, runtuh dibabat rezim Orde Baru. Di zaman ini, Pancasila berubah menjadi alat politik yang sukses membungkam kemerdekaan rakyat Indonesia. Pancasila berubah citra di bawah rezim Soeharto, terlebih ketika rezim ini membuat tandingan sejarah Pancasila 1 Juni dengan ditetapkannnya 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila. Toh, kekuasaan Tuhan dan leluhur Nusantara kembali menunjukkan keadilannya kepada bangsa Indonesia. Rezim ini hancur lebur karena perbuatannya sendiri, karena memanipulasi dan mengkhianati Pancasila. Kini setelah 12 tahun Orde Reformasi 1998 berjalan, tampaknya pemimpin bangsa ini belum mampu menempatkan Pancasila sebagai panglima utama dari pembangunan bangsa. Bahkan, makin banyak komponen rakyat Indonesia yang secara terbuka menjelma menjadi sosok anti-Pancasila. Kini alam kembali bergerak, karma leluhur kembali menjalar di relung ibu pertiwi dan memberi pelajaran bagi rakyat Majapahit Nusantara Indonesia yang mencoba mengkhianati konsensus nasional Pancasila. Hujaman bencana alam dan krisis di segala bidang kehidupan bangsa saat ini adalah contoh alam bergerak dengan ritmenya sendiri, suka tidak suka, mau tidak mau. Semoga, melalui peringatan 1 Juni, Pancasila senantiasa lahir dan lahir kembali. Pemikiran Pancasila digali dan digali terus oleh anak bangsanya, kaum nasionalis Indonesia.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI/ PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

IKLAN CANTIK

Jln. Suli No. 74 Denpasar

K U L I N E R

Informasi lebih lanjut hubungi: KETUT WENA

S A L O N

&

S P A


6

Tokoh

Nusantara

30 Mei - 5 Juni 2010

Bammus Bali Dikukuhkan

Bangunan suci Kapela Tuan Ana atau Rumah Patung Yesus Kristus disemayamkan di Kota Larantuka

Umat Hindu dan Islam Ikut Kawal Ziarah Agung Lima Abad

Patung Tuan Ma

di Larantuka

3

Ritual perarakan peti berisi Patung Tuan Meninu menyeberangi laut yang membelah Kota Rowido dan Kelurahan Pohon Sirih kembali ke kapelanya

MALAM kian larut. Ziarah agung semana santa di Larantuka, Folres Timur, belum kelar. Nyala lilin di tiap wadah yang disangga tiang bambu di sisi kiri dan kanan jalan ((turo) seakan enggan padam. Ini ditambah cahaya lilin di tangan umat Katolik yang mengiringi prosesi perarakan Patung Tuan Ana dan Tuan Ma menyinggahi delapan armida di Kota Larantuka.

Sesepuh warga Lamaholot di Bali, Bone Balihada, Ny. Bone Balihada, dan Yusdi Diaz disertai Frans Bone saat berkunjung ke Istana Keuskupan San Domingo Larantuka. Saat itu, mereka meminta masukan dari Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kun, Pr. terkait peringatan 500 tahun Tuan Ma yang jatuh Oktober 2010. Tampak dari kiri: Bernadus Tukan, Yusdi Diaz, Mgr. Frans Kpong Kun, Pr., Ny. Bone Balihada, Bone Balihada, dan Fran Bone

K

isah ini dilukiskan tokoh komunitas warga Flores Timur di Bali, Yoseph Yulius Diaz, dan Ketua Pemuda Katolik Flores Timur, Krisantus Minggu Kwen. Ritual semana santa alias perarakan tiga patung suci (Patung Tuan Meninu, Patung Tuan Ana, dan Patung Tuan Ma) saat peringatan Jumat Agung tak hanya berhenti saat arak-arakan Patung Tuan Ma melintasi Kapela Tuan Ana tengah hari. Ini sebagai koreksi atas uraian prosesi semana santa dalam Koran Tokoh edisi 593. Uraiannya menyebutkan prosesi perarakan Tuan Ana dan Tuan Ma berlangsung saat tiba Hari Sabtu Santo, 3 April 2010. Prosesi perarakan dua patung sakral ini seharusnya berlangsung saat ritual Jumat Agung, 2 April 2010. Saat itu, petugas pengusung (nikodemu) Patung Tuan Ana mulai bergerak diikuti arak-arakan Patung Tuan Ma. Patung Tuan Ana dan Tuan Ma ini diarak menuju Gereja Katedral Reinha Rosari. Dua pa-

tung suci ini ditahtakan sementara di altar khusus gereja kebanggaan umat Katolik Flores Timur ini. Umat Katolik meneruskan ritual khusus di Gereja Katedral, mengikuti proses atau liturgi jalan salib. Setelah itu, prosesi perarakan Patung Tuan Ana dan Tuan Ma berlangsung. Ini dimulai sekitar pukul 08.30. “Patung Tuan Ana dan Patung Tuan Ma diarak keluar Gereja Katedral mengelilingi delapan armida atau tempat perhentian yang sudah disiapkan. Ritual khusus di tiap armida berlangsung sekitar 30 menit saat kedua patung suci ini tiba,” jelas Krisantus. Menariknya, tambah Yosep Yulius Diaz yang akrab dipanggil Yusdi Diaz itu, ribuan umat memegang lilin yang telah menyala. Cahaya lilin juga datang dari tiap turo yang ada di sisi kiri dan kanan jalan yang menjadi jalur ritual perarakan. “Kota Larantuka bercahaya indah malam itu,” lukis Yusdi Diaz. Perarakan baru usai sekitar pukul 03.00. “Setelah mengelilingi

armida-armida tadi, Patung Tuan Ana dan Tuan Ma kembali lagi ke gereja Katedral Reinha Rosari,” imbuhnya. Esoknya tiba Hari Sabtu Santo. Ritual perarakan Patung Tuan Ana dan Tuan Ma kembali berlangsung. Tetapi, kali ini prosesi perarakan dijalankan untuk mengembalikan kedua patung sakral ini ke kapelanya masing-masing. Setelah ritual perarakan ini selesai diteruskan dengan prosesi perarakan peti berisi Patung Tuan Meninu dari altarnya di Kelurahan Pohon Sirih. Peti Patung Tuhan Yesus Tersalib atau Patung Tuhan Yesus Anak ini dikembalikan ke kapelanya di Kota Rowido. “Prosesinya menarik karena berlangsung memakai sampan menyeberangi lagi lautan yang membelah separuh daratan Kelurahan Pohon Sirih dan Kota Rowido itu,” kata Krisantus. Ritual liturgi lagi berlangsung saat Patung Tuan Meninu tiba di Pantai Kota Rowido. Saat itu, perarakan dari pantai menuju kapela disertai paguyuban senandung rohani awam (confreria). Paguyuban ini berasal dari trah turunan marga San Juan. Prosesi ini berakhir saat tengah hari sekitar pukul 12.00. Prosesi selama Jumat Agung dan Sabtu Santo sudah kelar. Umat Katolik memasuki perayaan Minggu Alleluya, 4 April 2010. “Ini liturgi penutup dari seluruh rangkaian prosesi semana santa. “Doa penutup ini dipimpin oleh Mardomu,” jelas Krisantus. Menurut Yusdi Diaz, perayaan semana santa menyisakan kesan rohani yang mendalam. Seluruh umat Katolik yang hendak mengikuti ritual ini harus melalui proses seleksi yang ketat. “Para peziarah yang datang secara perorangan maupun kelompok harus menunjukkan identitas diri atau kelompoknya. Mereka diberi tanda pengenal khusus,” katanya. Rambu-rambu didesain khusus untuk menjaga ketertiban jalannya prosesi demi prosesi. “Jangankan membuat gaduh, merokok dan menenggak minuman keras tidak dibolehkan jika masih berada dalam radius 100 meter dari pusat kegiatan,” lanjut staf pengajar Sekolah Tinggi Pastoral di Waebalun, Larantuka, ini. Doa dan nyanyian rohani tak hanya datang dari komunitas confreria. Komunitas ini umumnya terdiri atas kalangan pria awam alias bukan rohaniawan. Mereka dikenal sebagai komunitas yang bertahun-tahun bernaung dalam paguyuban khusus penebar senandung rohani. Tetapi, kaum biarawati alias suster pun tak ketinggalan. Komunitas wanita Katolik yang rela hidup melajang sebagai penebar rohani itu pun ikut memandu doa dan nyanyian kudus gerejani selama prosesi semana santa berlangsung. Mereka berada di bawah naungan kelompok suster PRR. Komunitas umat beragama lain pun ikut mengawal prosesi keagamaan yang gaungnya mendunia itu. “Saudara-saudara umat Katolik yang beragama Islam, termasuk Hindu di Flores Timur ikut mengawal jalannya ziarah agung ini,” kata ayah dua anak, Ricky Yosep dan Amandarani Diaz, ini. —sam

Para tokoh Lamaholot dari Pulau Dewata sedang bersilaturahmi dengan salah satu sesepuh umat Islam Flores Timur, Haji Soma, di Larantuka belum lama ini

WARGA Bali asal Sunda kini telah memiliki badan musyawarah. Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus) Provinsi Bali yang menaungi 15 paguyuban se-Bali dikukuhkan, Kamis (27/5), di Gedung Nari Graha Denpasar. Ke-15 paguyuban tersebut, Ikatan Silaturahmi Keluarga Jawa Barat (ISKJB), Paguyuban Spritual Tatar Pasundan (Astapa), Paguyuban Saayunan, Paguyuban Sangga Buana, Paguyuban Al-Makmur, Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan (Pamanahan), Paguyuban Baraya Cipacing Medal, Komunitas Rajut, Paguyuban Urang Sunda AlJabar, Paguyuban Bobotoh Persib Viking Bali, Paguyuban Asli Garut (Pasgar), Paguyuban Sauyunan Singaraja, Paguyuban Wijaya Kusuma Jembrana, Paguyuban Pansunda, dan Paguyuban Cirebonan. Pengukuhan ke-5 setelah di Batam ini, dilakukan Ketua Bammus Pusat H. Adang Daradjatun. Di Indonesia, ada lima daerah yang memiliki Bammus yakni Jakarta, Jawa Barat, Banten, Batam, dan Bali. “Di Bali banyak paguyuban. Namun, baru 15 yang bergabung dengan kami. Paguyuban-paguyuban tersebut hanya menaungi warga asal daerah-derah Sunda secara mengkhusus, misalnya Paguyuban Cirebonan yang menaungi warga Bali asal Cirebon. Bammus Bali menyatukan dan memudahkan komunikasi formal antarpaguyuban” kata

H. Adang Daradjatun

Agus Samijaya, SH.,M.H.

Ketua Bammus Bali Agus Samijaya, S.H., M.H. “Dengan adanya Bammus mudah-mudahan bisa membuat kami mudah berkomunikasi dengan warga Bali asal Sunda yang bernaung di paguyuban lain,” ujar anggota Bammus asal Paguyuban Spritual Tatar Pasundan (Pastapa) Ki Elang Buana. Agus menegaskan, Bammus juga menjadi wadah antarpaguyuban dan masyarakat Bali asal Sunda dalam mengembangkan potensi mereka di Bali. Warga Bali asal Sunda mencapai 35 ribu jiwa yang memiliki potensi di berbagai sektor seperti ekonomi atau usaha kecil, seni, dan budaya. Agus menyatakan, berdasarkan hasil pendataan Bammus, diyakini semua warga Bali asal

Sunda telah memiliki pekerjaan tetap. “Ada yang bekerja sebagai tukang sol sepatu, pedagang siomay, penjual peralatan rumah tangga, pengacara, pengusaha, dll,” katanya.

Naungi 15 Paguyuban Warga Bali Asal Sunda Bammus akan memberdayakan anggotanya dengan menggelar berbagai pelatihan SDM maupun manajemen. Bammus juga akan membentuk sebuah koperasi. Anggota bisa dengan mudah melakukan kegiatan simpan pinjam. Di bidang seni dan budaya, akan dibangun sanggar seni dan budaya Sunda. Semua kreativitas remaja Bali asal Sunda guna mengembangkan kesenian pun akan didukung. Agus menganjurkan, budaya Sunda ditampilkan sebagai sebuah ciri masyarakat Bali asal Sunda tanpa melupakan budaya yang ada di Bali. “Prinsip kami silih asah, asih, dan asuh. Kami akan ikut membangun Bali,” tegasnya. —lik

Pengurus Bammus dikukuhkan Kamis (27/5) malam

Kaulingan Barudak Permainan Khas Sunda KEPEDULIAN terhadap upaya pelestarian budaya yang menjadi salah satu visi misi Bammus Bali dibuktikan dalam acara pengukuhannya. Berbagai kesenian

Sunda ditampilkan. “Banyak warga Bali asal Sunda tak tahu budaya daerah mereka sendiri,” tambah Ki Elang Buana. Penampilan permainan anak-

Anak-anak asyik bermain Kaulingan Barudak

anak khas Sunda yang masuk menjadi bagian acara pengukuhan pun menjadi momen awal pengenalan seni dan budaya ke dalam diri anak-anak. “Anak-anak sekarang lebih tahu tahu video game. Ini saatnya mereka tahu permainan tradisional,” tambah Ki Elang. Ki Elang melatih anak-anak tersebut terlibat dalam permainan tradisional Kaulingan Barudak. Anak-anak awalnya tampak merasa asing. Namun, saat beraksi di panggung, mereka tampak riang dan menikmati. “Permainan tradisional mengasah motorik anak,” kata Ki Elang Buana. Anak-anak itu datang dari berbagai arah. Mereka berlarian menuju panggung setelah salah seorang pemain dewasa memanggil mereka dengan dialek Sunda. Awalnya anak-anak itu membentuk

Dari Samsul Huda Berkembang Ponpes Albafaqiyyah PONDOK pesantren di Jembrana kini makin banyak jumlahnya dan kian berkembang. Ada pondok pesantren tua, bahkan bisa dikatakan termasuk tertua di Bali, yang tetap eksis dan malah berkembang. Contoh, Pondok Pesantren Samsul Huda yang berada di Loloan Barat, Negara. Ponpes yang juga termasuk tua usianya, Ponpes Darul Taklim, yang didirikan Kiai Haji Abdurrahman dan Ponpes Mabaul’ulum di Loloan Timur yang didirikan Datuk Guru Nuh. Pondok Pesantren Samsul Huda dibangun K.H.S. Ali bin Umar Bafaqih asal Banyuwangi yang masuk ke Bali tahun 1928. Di Bali beliau mengajar ngaji kepada anak-anak dan orangorang dewasa secara berkeliling bahkan sampai di Lombok. Ke-

Habib Salim Bafaqih didampingi istrinya, Diana Yusman

mudian beliau menetap di Jembrana dan membangun Ponpes Sambul Huda di Loloan Barat. Ponpes berkembang dan santrinya juga banyak, sehingga mendorong Bafaqih membangun dua ponpes yaitu Samsul Huda khusus untuk santri laki-laki dan Samsul Huda untuk perempuan. Alumni ponpes ini kini sudah mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Bali. Bahkan kini sudah ada yang menjadi ustad dan membangun ponpes. “Putra-putri beliau dan cucu-cucunya belajar dari beliau, jadi tiga keturunan belajar ngaji dari beliau,” ungkap Habib Salim Bafaqih cucu pendiri Ponpes Samsul Huda. Ponpes Samsul Huda memang sempat mengalami kemunduran tahun 1976 saat gempa melanda Bali khususnya wilayah Taburana (Tabanan, Buleleng, Jembrana) dengan kerusakan parah antara lain di Seririt. Fasilitas dan bangunan ponpes tersebut alami kerusakan. Banyak santri yang harus mengungsi karena mereka ketakutan. “Mereka tetap belajar ngaji namun tidak bisa mondok

di ponpes, dan kemudian dilakukan renovasi secara bertahap,” kata Habib Salim. Kini Samsul Huda khusus laki-laki dikelola kakak Habib Salim, bernama Ustad Muhamad Bafaqih, dan Samsul Huda khusus perempuan dikelola kakaknya yang perempuan. Sedangkan Habib Salim kini membangun pondok pesantren baru yaitu Ponpes Albafaqihiyyah di Lingkungan, Terusan Lelateng, Negara. Ponpes ini sekaligus sebagai pusat Yayasan Al Bafaqihiyyah. Sejak dahulu, ungkap Habib

Ki Elang Buana

kelompok-kelompok kecil dan mereka asyik melakukan permainan sendiri-sendiri. Akhirnya, kelompokkelompok itu bersatu, bermain bersama dengan gerakan dan irama yang sama pula. “Ini kami jadikan ilustrasi bahwa terbentuknya Bammus Bali 2010 karena adanya gagasan Bammus pusat menghimpun warga Bali asal Sunda menjadi satu kesatuan,” komentar Agus. –lik

Salim, keluarganya selalu diajari abahnya untuk selalu peduli pada anak yatim piatu dan anak keluarga miskin. Sekarang pun sebagian santri yang mondok di ponpesnya anak yatim piatu dan dari kalangan keluarga miskin. “Kami berusaha maksimal mendidik mereka. Bahkan kami ingin agar santri kami ada yang bisa menimba ilmu sampai di luar negeri. Sebagian santri kami pun ada yang meraih prestasi dalam berbagai perlombaan,” kata Habib Salim didampingi istrinya, Dania Yusman. Di atas tanah seluas 16 are pihaknya membangun musala, asrama dan pondok. “Kami juga ingin mengembangkan sampai ke depan dan kami ingin menambah kamar/pemondokan sehingga bisa lebih nyaman, namun ini kami lakukan bertahap,” tambahnya. Pengajar, selain Habib Salim, juga ada empat pengajar tetap lainnya. Dania mengungkapkan, dalam perkembangan zaman sekarang ini memang cukup sulit mengarahkan anak-anak untuk fokus agar rajin mengaji dan belajar agama. “Mereka lebih bersemangat jika les di tempat lain, atau bermain, namun kami berusaha menarik minat mereka untuk datang ke ponpes ini dan belajar mengaji. Misalnya kami siapkan musik hadrah. Setelah bermain hadrah dengan alunan musik yang islami, mereka belajar ngaji. Jadi, mereka tidak bosan,” ujarnya. Diana menuturkan, anak-anak santri yang mondok di ponpesnya selain memperdalam ilmu agama, juga disekolahkan. —ngr

Ponpes Bafaqiyyah Negara yang memiliki tiga kamar dan diharapkan bisa lebih berkembang sehingga bisa menampung lebih banyak santri


Sensus Penduduk

terkait, kematian di rumah tangga tersebut sejak 1 Januari 2009, siapa yang meninggal, jenis kelamin, dan usia. Bab IV Keterangan Perumahan. Pertanyaan yang terkait, luas rumah, jenis lantai, sumber penerangan. bahan bakar, sumber utama air minum, fasilitas MCK, alat komunikasi, status kepemilikan rumah dan tanah. Khusus di kabupaten Badung, sensus sudah dilakukan sejak 15 April. “Kami lebih awal melakukan sensus karena ada pilkada dan banyak hari libur,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung Ir. Gde Suarsa, M.Si. Kabupaten Badung terdiri atas 62 desa dan kelurahan. Ada 6 wilayah kecamatan di Badung yakni Petang, Abian-

Petugas Sensus Denpasar

80% Perempuan UNTUK dapat berkomunikasi yang baik dengan warga dan melakukan wawancara yang benar, petugas sensus mendapatkan pelatihan. “Proses penjaringan melalui petugas di kelurahan. Dengan beberapa pertimbangan, mereka akhirnya dapat diterima sebagai petugas sensus. Setelah itu mereka mendapatkan pelatihan tiga hari,” papar Kepala Badan Statistik Kota Denpasar Drs. I Wayan Suta, S.E., M.Si. Ia mengungkapkan, sebagian besar petugas direkrut dari wilayah setempat untuk memudahkan berkomunikasi dengan warga. Syaratnya, pendidikan minimal SLTA, memiliki tulisan yang bagus dan mudah dibaca. “Petugas mengisi dokumen C1 dengan pensil 2 B. Dokumen tersebut nanti akan di-scan. Kalau tulisannya tidak bagus dan tidak jelas, tentu tidak terbaca,” jelasnya. Ia mengatakan, petugas sensus di Kota Denpasar lebih banyak menggunakan tenaga muda dan 80% perempuan. Ia

menilai, perempuan lebih mudah menjalin komunikasi dengan penduduk sehingga memudahkan pekerjaan petugas sensus. Lelaki yang berkarier di bidang perstatistikan sejak tahun 1976 ini berpandangan, komunikasi yang baik menjadi sangat penting dikuasai petugas sensus. “Bagaimana memulai pembicaraan sehingga masyarakat mau terbuka dan menjawab dengan benar,” kata Suta. Pembekalan petugas sensus di Kota Denpasar dilakukan 23 Maret s.d. 4 April 2010. Materi yang diberikan pengisian data, teknik wawancara termasuk di dalamnya bagaimana mewawancarai orang cacat. Setelah pembekalan, petugas melakukan uji coba di rumah warga di sekitar tempat pelatihan. Setelah dianggap mampu, mereka dapat diterjunkan ke lapangan. Satu orang mendapat dua blok. Satu blok terdiri atas 75-150 rumahtangga. Jumlah petugas sensus di

Dikira Sales Bertemu Penduduk Usia 102 Tahun MURAH senyum dan sabar dalam bertugas di lapangan menjadi kewajiban petugas sensus penduduk. Berbagai hal menarik dan kurang menyenangkan ditemui petugas saat melakukan pencacahan. “Saya malah dikira sales,” ujar Yuli, pencacah lapangan (Pcl) yang bertugas di Banjar Busung Yeh Kauh, Kelurahan Pemecutan, Denpasar Barat. Tamatan Fakultas Hukum Universitas Warwadewa ini menuturkan, walaupun ia sudah sangat sopan saat datang ke rumah warga, tetap saja ada yang menganggap kedatangannya bermaksud menawarkan suatu produk. Bahkan, kata Yuli, ia juga disangka warga akan menarik sumbangan. Yuli pun sempat disangka anggota tim sukses salah satu kandidat pilkada di Kota Denpasar. “Memang diperlukan kesabaran dan pendekatan secara kekeluargaan untuk dapat mengajak warga mengobrol dan menjawab beberapa pertanyaan yang kami ajukan,” kata perempuan usia 22 tahun ini. Karyawati perusahaan swasta ini menuturkan pengalamannya yang menuntutnya lebih sabar. “Waktu listing pertama, saya sudah bertemu warga. Saya janji besoknya mau

datang lagi. Ketemu pagi, disuruh datang siang. Dicari siang katanya masih istirahat. Besoknya datang lagi, belum juga bertemu. Bahkan ada yang sampai 4-5 hari dicari bolakbalik,” ujarnya. Ia mengatakan, di samping mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan, sebagian warga yang sudah mengerti tujuan sensus penduduk, menerima Yuli dengan sangat baik. Bahkan, ada yang menyuguhi minuman. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara sekitar ½ jam. Setelah itu, ia juga mengamati keadaan sekeliling rumah warga. Tirtaningsih, Koordinator

Gde Suarsa

semal, Mengwi Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan. Ia menilai, wilayah Kuta Selatan paling heterogen. “Banyak kegiatan ekonomi dan pendatang. Banyak permukiman baru teramsuk rumah kos. Antartetangga tidak selalu saling kenal. Banyak aktivitas mereka siang sampai malam sehingga bisa menyulitkan petugas sensus,” kata Suarsa. Untuk wilayah Petang,

Dua Digigit Anjing

tkh/ast

P

encatatan sensus p e n d u d u k menggunakan dokumen C1. Pengisian blangko dengan pensil 2 B dilakukan petugas sensus. Masyarakat hanya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan petugas sensus. Pertanyaan Bab I pengenalan tempat, termasuk di dalamnya susunan anggota rumah tangga. Bab II Keterangan Anggota Rumah Tangga. Pertanyaan yang terkait, jenis kelamin, usia, alamat, kewarganegaraan, kesulitan atau kekurangan fisik atau mental, penggunaaan bahasa, pendidikan, ijazah, mampu baca tulis, status perkawinan, kegiatan (pekerjaan) seminggu lalu, dan fertilitas. Bab III Kematian. Pertanyaan yang

tkh/ast

BADAN Pusat Statistik (BPS) kembali melakukan sensus penduduk 1-31 Mei 2010. Agenda tiap 10 tahun ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penduduk yang akan dibacakan presiden dalam rangkaian peringatan Hari Proklamasi 2010.

Wayan Suta

Kota Denpasar 1780 orang. Mereka mengenakan pakaian dengan atribut khusus yang mencolok. “Mereka mengenakan rompi biru, bertopi, dan membawa tas berlogo sensus penduduk. Mereka juga menggunakan kartu identitas dan membawa surat tugas dari BPS yang sudah dilegalisasikan camat setempat,” tambah Suta. Selain digaji Rp 2.500.000. petugas sensus diasuransikan. Ia mengatakan, selama anggota Tim Denpasar Selatan yang bertugas di Banjar Kajeng dan Banjar Rangkan Sari Pemogan mengatakan, adanya kesulitan melakukan sensus pada warga yang bertempat tinggal di rumah kos. “Biasanya mereka pulang kampung menjelang atau sesudah hari raya sehingga membuat kami kesulitan,” kata perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini. Ia pernah mengalami kisah yang dilukiskan sebagai kurang mengenakkan. “Waktu listing pertama, saya membuat janji bertemu. Besoknya semua keluarganya pulang kampung ke Karangasem karena salah seorang anggota keluarganya ada yang melahirkan. Saya mencarinya sampai 10 kali. Saya ke sana pagi hari tidak ada. Siang juga tidak ada. Sore juga tidak ada. Besoknya ke sana lagi belum juga ada. Dari informasi tetangganya, dia pulang kampung. Untung saja

Tirtaningsih dan Yuli

tkh/ast

bertugas, ada dua petugas sensus Kota Denpasar yang digigit anjing. Mereka ditanggung pengobatan. Sementara ada seorang petugas yang mengalami kecelakaan di Tabanan. “Karena saat itu tidak sedang bertugas, dan tidak termasuk wilayah Denpasar, ia tidak mendapat tanggungan,” paparnya. Wayan Suta mengungkapkan adanya kesulitan yang dialami petugas di Kota Denpasar saat mendata warga di perumahan elite, misalnya di kawasan Renon dan Teras Ayung Gatot Subroto Timur. “Pintu sering digembok, dan yang keluar hanya pembantu. Susah bertemu pemilik rumah,” kata Suta. Untuk menyiasatinya, BPS Kota Denpasar berkoordinasi dengan aparat desa setempat. Ia menilai, masih minimnya informasi masyarakat tentang pentingnya sensus penduduk. “Ada yang menganggap sensus penduduk berhubungan dengan pajak. Padahal tidak ada hubungannya samasekali. Sensus penduduk bertujuan mencatat jumlah penduduk Indonesia,” tegasnya. Ia mengatakan, setelah petugas pencacah lapangan menyetor data, kembali dilakukan penyisiran untuk memastikan kemungkinan penduduk yang terlewati. —ast akhirnya bisa bertemu,” kata Tirtaningsih sembari tertawa. Pengalaman berkesan bagi Tirtaningsih, ketika ia pernah dipelototi sampai 15 menit dan dikatakan menganggu orang yang sedang tidur. Waktu itu, ia datang sekitar pukul 09.00. Namun, wargaq tersebut menganggap kedatangannya hanya mengganggu istirahatnya. Setelah menatap Tirtaningsih dengan tatapan tak bersahabat, lelaki itu akhirnya memberikan kesempatan padanya untuk masuk. “Orang tersebut mau menjawab pertanyaan, saya sudah senang. Walaupun dengan cuek dan muka tak bersahabat,” ujarnya. Biasanya, saat listing pertama, ia melakukan kesepakatan untuk bertemu lagi. Bahkan, untuk PNS, Tirtaningsih harus datang pukul 06.00. Genjor Usia 102 Tahun Saat melakukan sensus di Banjar Rangkat Sari, ia menemukan seorang penduduk tua. Namanya I Wayan Genjor. Lelaki ini tercatat di KTP kelahiran 15 Juni 1908. Ia genap berusia 102 tahun Juni 2010. Tirtaningsih mengatakan, Genjor masih tampak sehat. Ia suka bergurau bahkan sangat bangga menceritakan keadaan zaman dulu antara lain kesukaannya menonton sepak bola. Kini penglihatan Genjor sudah kabur sehingga tidak bisa lagi menikmati hobinya menonton sepak bola. Namun, Genjor sering bertanya pada anaknya tentang perkembangan sepak bola di Tanah Air. —ast

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Lain Kuta Selatan Lain lagi Petang

Abiansemal dan Mengwi, kata Suarsa, karena masih bersifat agraris, semua orang masih stabil di satu desa, dan desa pakraman masih utuh sehingga tidak terlalu banyak hambatan. Walaupun ada permukiman rumah baru penghuninya sudah pasti. “Hanya kesulitannya di lapangan waktu wawancara. Ada orang tua tidak tahu umurnya. Kami gunakan pedoman sejarah seperti gempa Seririt, Gunung Agung meletus, peristiwa G 30 S/PKI,” katanya. Untuk itu, petugas sensus sudah dibekali panduan sejarah sehingga mereka tidak kesulitan di lapangan. Ia menegaskan, petugas sensus harus langsung bertatap muka dengan responden. Petugas tidak bisa bertanya ke tetangganya untuk pengisian blangko. “Kalau sekadar mencari informasi mungkin bisa. Tetapi, saat wawancara atau menjawab pertanyaan tidak bisa diwakilkan. Petugas biasanya datang bertiga untuk mengantipasi data dimanipulasi,” kata Suarsa. Petugas sensus di Badung direkrut dari staf desa, karang taruna dan mahasiswa. Khusus untuk wilayah Benoa dan Jimbaran banyak direkrut mahasiswa atas persetujuan lurah setempat. Jumlah keseluruhan petugas sensus di Badung 1.100 orang. Mereka digaji Rp 2.500.000 sampai pekerjaan mereka tuntas. —ast

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 7

Panggung

Vierra

Bali Luar Biasa VIERRA tampil lagi di Bali. Setelah beberapa bulan lalu pernah tampil di Kamasutra, band yang terdiri dari Kevin Aprilio (piano/keyboard), Widy Soediro Nichlany (vokal), Raka Cyril Damar (gitar), Satryanda Widjanarko (drum), dan Deryansha Azhary (bass) ini hadir di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Kehadiran Vierra berhasil memuaskan para Vierrania (fans Vierra) yang ada di Bali. Bukan hanya tampil di GOR Ngurah Rai, Vierra juga unjuk kebolehan di Blue Eyes. Widi mengaku kagum dengan antusiasme Vierrania Bali. Mereka tak hanya mendampingi Vierra saat tampil di panggung, tetapi aktif memberi dukungan saat kegiatan off air. Salah satunya, menemani personil Vierra berjalan-jalan. “Vierrania Bali luar biasa,” kata Widi. Vierra merupakan grup musik Indonesia yang dibentuk November 2008. Grup musik ini mengusung aliran powerpop, pop, dan beberapa lagu terinspirasi dari musik Disney. Vierrania sebagai fans club Vierra dibentuk Maret 2009. Untuk Vierrania Bali, menurut Ogek, salah seorang Vierrania, anggotanya lumayan banyak. “Vierrania Bali ingin mengumpulkan para penggemar Vierra. Selain datang saat mereka pentas, kami juga siap menemani mereka jalan-jalan di Bali. Kami ingin saling tukar menukar informasi mengenai Vierra,” ujar Ogek yang juga penyanyi ini. Ia menambahkan, Vierrania memiliki anggota yang mayoritas kaum hawa. Hampir 90% Vierrania adalah cewek-cewek ABG. Album pertama Vierra berjudul “My First Love” yang dirilis tahun 2009. Single pertamanya “Dengarkan Curhatku”. Lagu inilah yang berhasil melambungkan nama Vierra ke kancah musik tanah air di Indonesia. Lagu ini sempat menduduki puncak tangga lagu di beberapa televisi dan radio. Lagu kedua yang dirilis Vierra adalah “Bersamamu”. —wah

Vierra

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414


8

Tokoh

Pertanian

30 Mei - 5 Juni 2010

Pola Tanam Bersama Timbulkan Konflik Air KONTAK Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Denpasar menyabet dua penghargaan sekaligus sebagai juara umum dan juara favorit dalam Pekan Daerah (Peda) 2010 yang berlangsung di Rendang, Karangasem tahun ini. Ada beberapa gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ditunjuk mewakili Denpasar. Salah satunya Gapoktan Amertha Sari, Kesiman. Apa yang istimewa dari gapoktan yang ada di wilayah Subak Delod Sema ini? Pekaseh Subak Delod Sema, yang juga Ketua KTNA Kota Denpasar I Wayan Jelantik menuturkan, dirinya tak sampai menamatkan kuliahnya

di Fakultas Pertanian Unud. Namun, ilmu yang terkait teknologi pertanian sudah dikenal bahkan dikuasainya. Ia menjadi pekaseh sejak tahun

I Wayan Jelantik

Petani Kelompok Sari Manis

Manis Jagungnya makin Lama SEJAK tahun 2008, petani di wilayah Subak Delod Sema, Kesiman, Denpasar Timur, mulai menggunakan pupuk organik secara bertahap. Tahun 2010, 75% pupuk urea, 25% pupuk organik. Sejak itu rasa manis jagungnya terasa lebih lama, semula maksimal 1,5 hari kini menjadi 2 hari. Tetapi, belum diadakan penelitian apakah hal itu disebabkan penggunaan pupuk organik atau ada penyebab lainnya. Petani tersebut menerapkan pola tanam tolak sumur. Sebenarnya, pola tanam telah diatur dalam awig-awig subak yang ditetapkan Dinas Pertanian dan Departemen Pertanian. Itu pula yang telah diterapkan petani selama ini. Jika tidak menerapkan aturan baku pola tanam tersebut, petani dikenai sanksi tidak dibolehkan menanam selama satu tahun. Sejak tahun 2002, petani di Subak Delod Sema yang tergabung dalam Gapoktan Amertha Sari mulai mencoba menerapkan sistem tolak sumur untuk kelompok tanaman pangan dan palawija. Sebanyak 38 petani yang menanami lahan sawahnya dengan padi seluas 30 hektare membentuk kelompok Bali Lestari. Nama Kelompok Sari Manis diperuntukkan 28 petani jagung manis dengan total luas lahan 19

Lahan sawah yang ditanami jagung dengan sistem tolak sumur di Subak Delod Sema, Kesiman

hektare. Selama ini, para petani hanya menanami lahannya tanpa beorientasi pada kebutuhan pasar. Dengan sistem tolak sumur ini, para petani diajak melihat kebutuhan pasar yang nantinya juga akan berimbas pada peningkatan perekonomian para petani. Sebut saja kebutuhan jagung manis di Denpasar mencapai 2 ton per hari. Untuk menghasilkan jagung 2 ton, petani membutuhkan lahan minimal 75 are. Kelompok Sari Manis ini membentuk kelompok-kelompok kecil lagi untuk mengatur waktu tanam mereka, sehingga waktu panennya pun akan terus

berkesinambungan dan tak terputus di pasaran. Petani jagung manis hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk memanen sejak masa penanaman. Pascapanen, petani hanya membutuhkan waktu 2-5 hari untuk penanaman berikutnya. Dalam setahun, bisa 4-5 kali penanaman di lahan yang sama. Proses penanaman dan perawatannya termasuk gampang. Tanaman ini tidak banyak membutuhkan air. Tanaman jagung membutuhkan air saat akan penanaman saja, dan 15 hari setelah penanaman ketika akan dilakukan pemupukan. Selanjutnya, diairi kembali jika diperlukan. “Ini bisa dilihat

1999 sampai sekarang. Tugasnya, membina para petani. Berkurangnya debit air menjadi permasalahan yang tak bisa dihindari petani, termasuk di subaknya. Subak Delod Sema harus berbagi air dengan 10 subak lainnya yang berasal dari Dam Oongan. Meski sudah diatur sedemikian rupa, masih saja terjadi konflik antarpetani. Menurut Wayan Jelantik, konflik dipicu karena petani menerapkan pola tanam bersamaan. Debit air yang terbatas tak bisa memenuhi kebutuhan irigasi lahan sawah petani seluas kurang lebih 56 hektare itu secara bersamaan. “Saya berinisiatif mengubah aturan sesuai kesepakatan kelompok,” ujar Wayan Jelantik. Menanami lahan dengan waktu pola tanam tak teratur namun secara kontinu, menjadi jalan keluarnya. Dengan begitu, petani tak lagi berebut air. –ten setelah tiga hari pemupukan. Tanaman jagung akan menampakkan diri apakah perlu air atau tidak. Jika daunnya layu, artinya perlu air,” ujar Wayan Jelantik yang juga menjabat ketua Paguyuban Pekaseh Semaya Mathika Kota Denpasar ini. Namun, segala kemudahan sistem tolak sumur ini bukannya tanpa risiko. Pertama, tanaman berisiko terkena penyakit. Penyakit yang paling sering menyerang tanaman jagung adalah busuk batang dan mati pucuk. Penyakit mati pucuk disebabkan ulat. Khusus di subak Delod Sema, penyakit ini kerap muncul Mei sampai Juli. Karena itu, dalam bulan-bulan itu para petani enggan menanami lahannya. Kedua, penanaman secara terus-menerus dengan jenis tanaman sama berisiko mengurangi kesuburan tanah/unsur hara. Petani pun sejatinya merasakan hal ini. Tiap penanaman, petani memerlukan pupuk lebih banyak daripada penanaman sebelumnya. Untuk mengajak petani beralih ke tanaman jenis lain agak sulit. Mereka sudah melihat kebutuhan pasar. Sejak tahun 2008, para petani sudah mulai bertahap menggunakan pupuk organik. Tahun 2010, 75% pupuk urea 25% pupuk organik. Hasilnya telah dirasakan petani. Rasa manis jagung yang awalnya bertahan maksimal 1,5 hari, kini setelah pemakaian pupuk organik bisa bertahan sampai 2 hari. “Namun, kami belum meneliti, apakah ini pengaruh pemakaian pupuk organik atau bukan,” ujar Wayan Jelantik. –ten

Bayinya Lahir.................................................................................................................................................................dari halaman 3 Jika Warni bisa berteriak saat itu, tentulah sudah ia lakukan untuk mengekspresikan kegembiraannya yang luar biasa mengetahui bayinya lahir dalam keadaan tidak bernyawa. Ia akan terbebas dari siksaan psikis dan mental yang pasti akan dialami jika ia harus merawatnya. Setelah bayi benar-benar dinyatakan meninggal, tindakan medis selanjutnya siap dilakukan. Beberapa waktu sebelum ia dipindahkan ke ruang

bersalin, Warni merasa ingin buang air lalu ia pergi ke kamar mandi. Setelah itu, ia kembali ke tempat tidur menanti momen menegangkan saat ia dipindahkan ke ruang tindakan. Namun, lagi-lagi sebelum waktu pemindahan itu dilakukan, ia merasa ingin sekali buang air. Maka beranjaklah ia ke kamar mandi yang ada di ruang IGD tersebut. Saat itu proses kelahiran baru dinyatakan bukaan dua (kelahiran sempurna biasanya dapat dilakukan pada

Pancasila Berdimensi...........................dari halaman 2 Ideologi-ideologi yang dianggap berbahaya bukannya dihadapi secara kritis dan argumentatif, tetapi ditabukan dan dimitoskan. Benarkah Pancasila berdimensi global dan mampu berkibar di dunia internasional? Marxisme dapat dijadikan pembanding. Karl Marx lahir di Prussia, Jerman, tahun 1818. Sebagai pelarian politik ia pindah ke Prancis. Dalam perkembangannya, berkat kiprahnya di negeri inilah ia mendapat predikat “penemu sosialisme ilmiah” dan ajarannya kemudian dibakukan, terutama oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky sebagai Marxisme. Ajaran ini terbukti kemudian “laku” di banyak negara, lebih laku daripada di negeri kelahiran Karl Marx. Pemikiran Marx juga menjadi salah satu inspirasi besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat. Berkat kontribusi Fiedrich Engels, Marxisme menjadi populer sebagai ideologi kelas buruh, Marxisme menjadi pandangan dunia kaum buruh. Bung Karno pernah menyatakan bahwa dirinya juga menjadikan Marxisme sebagai salah satu pisau analisisnya dalam membedah beragam persoalan di Indonesia. Namun, yang

menjadi inspirasi perjuangan Bung Karno bukan sekadar kaum proletar, bukan sekadar kaum buruh, tetapi kaum marhaen. Bung Karno menegaskan, marhaen adalah kaum proletar di Indonesia, kaum petani melarat, dan kaum melarat Indonesia yang lain. Dalam upaya memudahkan cara mengetahui dan mempelajari Pancasila sebagai pengetahuan praktis, dipandang perlu adanya pengkajian yang hasilnya dituangkan dalam rumusan yang gampang dipahami dan gampang didapatkan. Bersamaan itu dilakukan pengkajian secara ilmiah sehingga rumusan Pancasila beserta pemikiran dan pandangan Bung Karno, dapat dipelajari secara ilmiah di perguruan-perguruan tinggi. Dari pengkajian secara objektif, kritis, dan argumentatif, kita akan melihat sampai di mana kadar kekuatan, kejelasan, konsekuensi, konsistensi, dan relevansi pemikiran dan pandangan Bung Karno dengan Pancasilanya untuk saat ini dan saat-saat mendatang, untuk bangsa Indonesia maupun untuk bangsabangsa lain. WIDMINARKO Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Koran Tokoh

pembukaan sembilan berdasarkan bahasa medis yang dikenal umum). Beberapa lama ia terdiam sambil berjongkok di lantai kamar mandi. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hendak menerobos keluar dari rahimnya. Ia tak mampu lagi menahannya. Ia tidak lagi bisa bangun untuk sekadar minta bantuan orang lain karena ia berada sendirian dalam kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia saat dilihatnya yang keluar bukannya kotoran, melainkan bayi yang dikandungnya. Bayi yang oleh tiga bidan dan petugas USG telah dinyatakan meninggal itu lahir dengan tangisan yang sangat keras. Tangis bayi yang datang dari arah kamar mandi itu mengundang perhatian pengunjung dan sangat mengejutkan paramedis dan pihak panti yang sedang menungguinya. Bayi dilahirkan dalam keadaan utuh dan tergeletak di kamar mandi

dengan darah segar melumurinya. Bayi itu lahir dalam keadaan sehat meskipun dengan berat badan kurang normal, 2,2 kilogram (berat yang dianggap normal, minimal 2,5 kilogram). Lahirnya bayi dalam keadaan sehat itu bagi Warni merupakan malapetaka. Karena itu, begitu melihat bayi ini hidup, seketika ia lemas dan tak berdaya. Ibu Warni yang berada di Bayan, yang mendapat kabar bahwa Warni telah melahirkan, seketika berpesan agar Warni tidak memberikan setetes pun air susunya kepada bayi tersebut. Hatinya tercabik-cabik karena bayi itu lahir akibat kebiadaban suaminya, ayah kandung Warni. Bayi tersebut sejak lahir ditempatkan dalam inkubator di ruang NICU RSU Mataram. Bayinya belum diizinkan diajak pulang bersama Warni yang sejak saat itu dirawat secara intensif di Panti Budhi Rini. –nik

DARI DESA KE DESA Kolam Pancing Perlu Banyak Ikan Nila Pak Sarka, Petani Ikan Nila Danu Batur DALAM kurun waktu lima tahun di Danau Batur, Kintamani, Bangli, sudah ada ribuan karamba. Hampir di tiap desa ada petani yang membudidayakan ikan nila. Sampai saat ini tercatat di Danau Batur ada lebih dari 10 kelompok yang membudidayakan ikan nila. Sementara ini permasalahan yang biasanya dialami para pembudidaya ikan nila adalah masalah pemasaran tentang adanya over produksi. Ukuran ikan nila di Danau Batur sekarang ini 250 gram sampai 500 gram. Di pasaran harga per kilogram Rp 15.000. dan persediaan ikan nila di seluruh Danau Batur sekitar 15 ton. Selama ini pembeli cukup banyak dari daerah Bangli, dan ada juga pesanan dari luar Bangli. Namun, yang dari luar Bangli ter-

kadang permintaannya kurang dari target pasar, sehingga petani kurang mendapat keuntungan dari penjualannya. Pembudayaan Apa yang perlu Dilakukan untuk Meningkatkan Keuntungan? Ada segmen pasar yang menghendaki ikan nila itu agar dipasarkan dalam keadaan hidup. Teknologi menangani ikan air tawar dalam keadaan hidup sampai ke konsumen ini yang perlu dipelajari Pak Sarka dan kawan-kawan. Banyak kolam pancing di Bali menghendaki nila tetapi dalam kondisi hidup dan jika diletakkan di kolam kondisinya segar dan mau makan umpan. Ini merupakan peluang yang sangat baik bagi pembudidaya ikan nila untuk memperluas jangkuan pasarnya. Narasumber: Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 081 337 337 586; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

5 M Dihapus dengan 3 M Jika seorang anak mendapat perlakuan kasar (dipukul, ditendang, disiram air panas, dan lain-lain) dari orangtuanya, biasanya banyak orang merasa kasihan terhadap anak tersebut. Begitu pula jika seorang istri atau seorang ibu mendapat perlakuan setara dengan yang dialami anak, dari suaminya, orang-orang pun ikut merasa prihatin melihat/ mendengar kasus tersebut. Malah dari pihak KPAID (Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah), Komnas HAM (Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia), ikut angkat bicara sembari memberikan advokasi dan pembelaan kepada mereka. Tetapi, bagaimana kalau seorang ibu yang dipergoki mencuri atau ngutil barang-barang di sebuah toko? Lalu siapa pula yang akan membela ibu itu? Rasarasanya tak seorang pun yang bakal mengulurkan tangan pertanda simpati kepadanya. Kalau toh ada yang membelanya, paling-paling anaknya sendiri, dan itu pun semata-mata lantaran cetusan rasa kasih sayang kepada ibunya. Dalam bulan April lalu (bulan emansipasi “keramat” bagi para ibu), Harian Bali Post menurunkan berita kriminal sebanyak dua kali tentang “kenakalan” seorang ibu. Pertama, berita yang diturunkan berjudul “Congkel Sadel, Ibu Rumah Tangga Ditangkap.” Peristiwanya terjadi di Jalan Pulau Yapen Nusa Kambangan, Denpasar, Jumat 2 April sekitar pukul 13.00 Wita. Ibu yang nyongkel sepeda motor itu berhasil menggaet uang tunai Rp 70 ribu, STNK, dan SIM (Bali Post, 13 April 2010). Kedua, berita yang dimuat Bali Post (20 April 2010) bertajuk “Ngutil Sabun Mandi, Ibu Rumah Tangga Ditangkap.” Tempat kejadian perkaranya (TKP) juga di Denpasar yakni di Jalan Gunung Sanghyang, dengan kerugian korban mencapai Rp 200 ribu. Terlepas dari nilai barang-barang yang dicuri ibu-ibu itu, jelas-jelas mereka tergolong

makhluk yang bertangan panjang. Cuma, tidak dijelaskan dalam berita tersebut, motif ibu-ibu itu mencuri apakah lantaran tidak punya uang belanja, atau sekadar iseng-iseng manyurat (iseng ngambil barang tetapi kena jerat), dan merasa sok jagoan sebagaimana halnya kaum pria? Ngutil atau mencuri, ya …sama saja (sera panggang sera tunu) yang keduanya berdampak pada ketidaknyamanan. Perilaku ibu-ibu itu dapat dikategorikan ke dalam salah satu M dari 5 M. 5 M itu merupakan singkatan dari lima jenis penyakit masyarakat (pekat), yakni; Minum-minum, Madat (kecanduan obat-obat terlarang), Main judi, Main perempuan (selingkuh), dan Mencuri. Kedua ibu yang diketahui mencuri itu jelas berurusan dengan pihak kepolisian. Sementara keluarganya di rumah, siap-siap menanggung malu dan menjadi buah bibir tetangga. Yang lalu biarlah berlalu, begitu kata orang bijak. Bagi ibu-ibu yang belum ketularan, mudahmudahan saja untuk seterusnya seperti itu. Guna menanggulangi Pekat 5M, terutama Mencuri, yang sudah telanjur dilakukan, ada baiknya diikuti anjuran petugas pemberantasan sarang nyamuk (PSN), yaitu 3 M (Menguras, Menutup rapat-rapat, dan Mengubur). Apanya yang dikuras? Yang dikuras jelas dan pasti bukan bak mandi melainkan segala kotoran yang bersarang dalam diri si ibu atau si pencuri. Apanya yang ditutup rapat-rapat? Yang ditutup rapat-rapat jelas bukan air yang disimpan dalam cubang atau bak penampungan air/drum, melainkan diri si pencuri agar tidak mudah dimasuki/dipengaruhi sesuatu dari luar berupa penyakit masyarakat alias pekat. Lalu, yang dikubur itu apanya? Jenisnya cukup banyak seperti pakaian yang terkontaminasi virus HIV/AIDS, niat jahat untuk mengulang perbuatan mencuri. Harapan penulis, dan mungkin juga pembaca yang budiman, bagaimana upaya kita agar melalui 3 M tersebut penyakit masyarakat yang menyerupai “tali-temali” 5 M itu bisa terputus dan terhapus tanpa bekas dan noda. Romi Sudhita Singaraja


Pendidikan Ni Kadek Yuniarthi Sari

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 9

Warga Belajar Kejar Paket C Mengukir Prestasi di Singapura Kadek menerima penghargaan sebagai Juara Harapan II Lomba Busana Daerah

Peserta dari Bali berfoto bersama para juri lomba di arena Singapore Expo usai berlomba

Juara 1 dari 26 grup Lomba Tari Daerah mewakili Provinsi Bali dengan judul tarian Legong Keraton dalam rangka pelaksanaan Bridal & Travel and Indonesia Today 4th Singapore 2010, 22 Mei. Dari kiri: Kabid PNFI Disdikpora Provinsi Bali (Ni Made Mertanadi, SH), Ketua Yayasan Kecantikan Agung – Bali (A.A. Ayu Ketut Agung), salah satu murid kejar Paket C berprestasi PKBM Agung (Ni Kadek Yuniarthi Sari), Ketua LPK Yoniari (Ni Ketut Yoniari, SH) dan Kasi Kesetaraan Disdikpora Provinsi Bali (Ni Kompyang Artini)

MENJELANG akhir tahun ajaran baru, masyarakat biasanya disibukkan dengan urusan sekolah baru. Bagi masyarakat yang berkecukupan mungkin tak masalah. Namun tak demikian halnya dengan masyarakat kurang mampu. Masih ada saja kalangan masyarakat yang kesulitan bersekolah.

W

alaupun begitu, ma syarakat yang tak memiliki biaya sekolah, tak harus berkecil hati. Jalan sukses tetap terbuka. Seperti perjalanan

Ni Kadek Yuniari Sari, salah seorang warga belajar paket C (setara SMA), di Yayasan Kecantikan Agung. Setamat SMPN 8 Denpasar, Kadek, begitu dia disapa, memutuskan untuk melanjutkan Bu Agung dan Kadek berfoto di arena Merlion Park di Singapura

pendidikan kejar paket C di lembaga milik Dra. AA Agung Ketut Agung. Di sela-sela waktu belajar, remaja kelahiran Denpasar 17 Juni 1992 ini, mengasah bakatnya di bidang tata kecantikan dan busana adat Bali. Dia pun begitu menikmati sekolah sambil

belajar tata rias dan busana adat Bali. Hasilnya sangat menggembirakan. Sederet prestasi telah diraih. Kadek berhasil menjadi juara pertama kategori make up terbaik lomba membuat tengkuluk lelunakan memecahkan Rekor Muri, yang diikuti 815 peserta, dihadiri

2.000 orang, terdiri dari peserta, model dan undangan. “Tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah formal, bukan halangan untuk sukses. Saya bersyukur bertemu dengan Ibu Agung, pemilik Salon Agung,” ujarnya seusai tampil dalam acara Bridal & Travel and Indonesian Today 4th Singapore 2010 akhir pekan lalu. Keberangkatan Kadek ke Singapura, menjadi duta seni Bali dalam rangka tampil mengisi acara Indonesian Today. Istimewanya Kadek disponsori tiket pulang pergi Bali-Singapura oleh Garuda Indonesia Airways. Selain Kadek juga tampil AA Ayu Ketut Agung, Kabid PNFI Disdikpora Provinsi Bali (Ni Made Mer tanadi), Ketua LPK Yoniari (Ni Ketut Yoniari,S.H.), Kasi Kesetaraan Disdikpora Provinsi Bali (Ni Kompyang Artini) membawakan Tari Legong Keraton. Dipilihnya Tari Legong Keraton selain merupakan tari klasik, juga

Terpaksa harus berdandan di pesawat sebelum lomba karena waktu yang mepet

pertimbangan penari lainnya yang sudah berumur. Selain itu Kadek juga tampil untuk mengikuti satu lomba lagi yakni lomba busana daerah dalam rangkaian kegiatan yang sama. Yang paling menggembirakan adalah dari perjuangannya mengikuti kegiatan tersebut, ia beserta teman-temannya berhasil meraih Juara I dalam Lomba Tari Daerah dan Juara Harapan II untuk Lomba Busana Daerah. Keberhasilan ini patut diacungi jempol. Sebelumnya, mereka terbentur kendala. “Acaranya diadakan saat Kuningan dan kami belum punya sponsor yang bisa memberangkatkan ke Singapura. Syukurlah, akhirnya Kadek mendapat tiket penerbangan gratis dari Garuda Indonesia. Kami pun putuskan berangkat,” ujar Bu

Agung. Waktu perjalanan yang mepet, memaksa mereka berdandan selama perjalanan. “Pukul 12 kami berangkat, pukul 16.00 harus sudah di arena lomba. Kami harus berias di pesawat,” ujar Bu Agung. Ibu Agung menambahkan pintu sukses milik siapa saja yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh menekuni bidang apa pun. Termasuk memperdalam keterampilan tata rias dan busana adat Bali. Yayasan Kecantikan Agung senantiasa berjuang untuk mendapatkan beasiswa, untuk membantu mereka yang kurang mampu. “Saya terpanggil untuk membantu mereka yang kurang mampu, menjadikan mereka bisa sekolah dan menjadi tenaga terampil di bidang tata rias dan busana adat Bali,” katanya seraya tersenyum. —rls

Kadek Yuniarthi Sari (paling kanan) saat menerima penghargaan sebagai juara I lomba tari daerah mewakili Bali

Kadek Yuniarthi Sari (kedua dari kanan) foto bersama dengan peserta dari daerah lain saat lomba

Pramugrari Garuda Indonesia berbincang dengan tim dari Bali saat mereka berdandan di pesawat

A.A. Ayu Ketut Agung dan warga belajar kejar paket PKBM Agung diterima oleh Wali Kota Denpasar dan istri di rumah jabatan, Sabtu (29/5) sebagai bentuk apresiasi terhadap penghargaan yang diraih Kadek di Singapura


10

Tokoh

Harmoni

30 Mei - 5 Juni 2010

Ir. Jero Wacik, S.E. dan Dra. Triesna Wacik 4

Mencuri Simpati Calon Mertua bisa diterima atau tidak. Maka, saya pilih juga Jurusan Geodesi sebagai cadangan,” katanya. JW diterima dan masuk dalam daftar mahasiswa baru di Teknik Mesin nomor 52. “Ratarata mahasiswa jurusan ini bintang pelajar atau lulusan terbaik saat SMA,” ujarnya. Guru Les Privat Kursus privat matematika menjadi salah satu sumber nafkah dan ongkos kuliah JW. Maklum, uang hasil penjualan perhiasan ibunya, Ni Nyoman Sudiri, makin menipis. Saat berangkat ke Bandung, ibunya menjual perhiasan emas hasil keringatnya sebagai pedagang JW usai bersembahyang di Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar keliling di Bali. “Ini modal dari Ibu untuk saya pakai bayar JERO Wacik mulai kuliah di Jurusan Teknik Mesin ITB transpor dari Denpasar ke Bandung. Namun, isi kantongnya mulai menipis. Ia Bandung. Uang itu juga untuk putar otak bagaimana mengais rezeki. Selain sempat membayar biaya penginapan, mencoba hendak menjadi kondektur bus malam, ia pendaftaran tes di ITB, dan lain-lain. Sisa uang di kantong ditawari mengajar les privat matematika dan fisika makin menipis,” katanya. murid SMP dan SMA. Banyak cewek cantik menjadi JW dibantu pamannya yang peserta les. JW, panggilan akrab mahasiswa Kampus sudah lama bertempat tinggal di Ganesha yang kini Menteri Kebudayaan dan Bandung. Pamannya ini Pariwisata RI itu, mengincar salah seorang dara ayu mengenalkan dirinya dengan pengusaha bus malam berdarah yang masih duduk di bangku SMA. Tionghoa. “Pengusaha ini pemilik bus malam PO Wahyu. Saya melamar jadi montir di bengkel mobilnya. Sayang, perusahaan ini hanya perlu kondektur bus,” kisahnya. Karena sedang memerlukan pekerjaan, JW tak kehilangan gengsi menjadi kondektur bus malam rute keliling Jawa Barat itu. “Saya tidak minder. Walau kuliah di ITB, saya mau jadi kondektur bus,” katanya. Namun, JW meminta waktu mengatur jadwalnya, kuliah dan sebagai kondektur. “Saat tengah mengatur-ngatur jadwal itu datang tawaran kerja lain. JW saat diwisuda disalami dosennya Dr. Ir. Filino Harahap, yang Ada siswa SMP dan SMA membantunya mendapatkan beasiswa saat kuliah yang perlu guru les matematika ebelum memilih Teknik Elektro, Teknik Sipil, dan dan fisika,” katanya. Jurusan Teknik Me Teknik Pertambangan. Ia lantas Jika menjadi kondektur, sin, JW sempat memutuskan pilihannya masuk bimbang. Ada lima jurusan Jurusan Teknik Mesin. “Ini bergengsi di ITB saat itu, yaitu karena saya suka tantangan. Teknik Mesin, Teknik Industri, Tetapi, saya tetap was-was,

S

waktu dan fisiknya lebih banyak terkuras. Sementara pekerjaan guru les privat yang ditawarkan kepadanya hanya tiga kali sepekan. Sekali tatap muka lamanya sejam. Total waktu mengajarnya sepekan hanya enam jam. Apalagi, penghasilan sebagai guru les berbeda tipis dengan upahnya sebagai kondektur. “Saya lalu memilih jadi guru les. Tetapi, saya tetap menjalin hubungan baik dengan pemilik PO Wahyu. Ini untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu saya perlu pekerjaan di luar les privat,” akunya. Hadiah Sepeda Motor Mengajar peserta les matematika dan fisika ternyata mengasyikkan. JW dapat menikmati pekerjaannya sambil kuliah. Matematika dan fisika sudah menjadi mata pelajaran kesenangannya sejak SD. Lambat-laun jumlah peserta les bertambah. Sepekan ia bahkan memiliki jadwal tujuh jam mengajar. Ini bukti JW piawai menjadi pengajar dua mata pelajaran itu. “Saya kemudian menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan tes,” lanjutnya. Suatu ketika, manajemen lembaga bimbingan tes itu menghelat acara pemilihan pengajar favorit. Seleksi dilakukan melalui angket. Siapa sosok guru yang paling disenangi menjadi salah satu pertanyaan dalam angket. Semua peserta kursus diminta mengisi jawaban angket tersebut. “Hasilnya, saya dapat suara terbanyak. Saya diberi hadiah sebuah sepeda motor baru merek Honda,” kenangnya. JW bukan hanya mengajar di satu lembaga bimbingan tes. Namun, kuliahnya tetap mulus. “Biasanya saya belajar malam hari saat lingkungan sudah tenang. Saya bisa belajar hingga dini hari,” katanya. Waktu belajarnya tak terusik walaupun JW tak jarang menerima tawaran kerja dari dosennya. Biasanya ada sejumlah staf pengajar di kampusnya yang memintanya menyetensil diktat mata kuliah tertentu. Seorang dosen yang juga wali

JW bersama mantan Miss Universe Dayana Mendoza, dalam acara Grand Final Pemilihan Putri Indonesia di Jakarta tahun 2008

Menbudpar JW ditemani istri tercinta, Triesna Wacik, dan Effendi Simbolon, saat dinobatkan memangku gelar Simbolon, gelar salah satu klan dalam keluarga Batak

kuliah Angkatan 1970, Filino Harahap, contohnya. Dosen teknik mesin ini acap meminta JW menggandakan diktat materi kuliahnya. “Saya stensil bisa dari pagi sampai sore. Tetapi, imbalannya lumayan. Saya diberi Rp 2.000 sekali kerja,” ungkapnya. Saat itu, menurutnya, ongkos hidup sebulan mahasiswa di Bandung sekitar Rp 4.000. “Jika bisa kerja minimal dua kali bantu stensilan, saya dapat imbalan Rp 4.000 dari Pak Filino. Ini kan sudah bisa tutup biaya hidup sebulan,” ujarnya. Beasiswa Brigjen Sofyar Hubungan baik terjalin antara JW dan Filino. Pria berdarah Batak ini iba melihat mahasiswa miskin ini banting tulang menghidup diri sendiri. Filino kebetulan ikut menjadi konsultan di Maskapai Mandala Airlines. Ia kenal baik salah seorang komisarisnya, Brigjen Sofyar. Filino meminta beasiswa melalui Perwira Tinggi TNI yang mengabdi di lingkungan Kostrad tersebut untuk JW. Permintaan tersebut dikabulkan. Tetapi, JW diminta menemui pejabat TNI ini di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta. “Saat bertemu Pak Sofyar, saya ditanya berapa kebutuhan hidup sebulan. Saya jawab, Rp 7.000. Lalu, beliau bilang, kalau

saya beri Rp 7.500 sebulan cukup atau tidak. Saya jawab lagi, cukup. Tetapi, Pak Sofyar mengajukan syarat, beasiswa tersebut akan terus dikirim istrinya, Bu Sofyar, jika nilai semesteran saya tidak jelek. Kalau nilai ujian semesteran saya turun, beliau mengancam akan stop kirim beasiswa,” papar JW. Tiap awal bulan JW menerima kiriman beasiswa tersebut. JW yakin pengirimnya Bu Sofyar. “Saya lihat tulisan tangan di wesel tersebut rapi, pasti tulisan tangan wanita,” katanya. Tiap Lebaran JW berangkat ke Jakarta menemui Brigjen Sofyar. Ia menunjukkan nilai ujian semesterannya. “Beliau mengaku senang dengan prestasi akademik dan kerja keras saya selama kuliah,” lanjut JW. Curi Pandang Walau sudah mendulang beasiswa, JW tetap mencari nafkah tambahan dari dua lembaga bimbingan tes di Bandung. Dari sini, JW tak hanya membagi ilmu. Ia juga mengaku memperoleh penghasilan lumayan. “Teman makin banyak, dan bisa mencuri pandang ke anak gadis orang,” ujarnya berseloroh. Seorang siswi SMA di Bandung menjadi incaran JW.

JW dan putra bontotnya, Bintang Wacikaputra, tahun 2005, saat kampanye calon Ketua Umum Persatuan Golf Indonesia (PGI)

Siswi bernama Triesna ini ikut kursus di lembaga bimbingan tes yang menjadi tempat JW mengais rezeki. “Penampilannya menarik perhatian saya. Postur tubuhnya mantap, rambutnya tergerai melewati bahu, kulitnya putih mulus,” ujarnya. JW tahu cewek yang ditaksirnya ini anak orang terpandang. Rumahnya di kawasan elite Jipaganti, Bandung. Namun, JW tetap nekad mencoba bertandang ke rumah orangtua dara ayu ini. “Ternyata saingan saya banyak. Ada anak jenderal, ada taruna Akabri, ada anak pengusaha. Semuanya datang pakai mobil. Saya naik sepeda motor. Tetapi, saya tetap percaya diri. Status saya sebagai mahasiswa ITB kan juga bergengsi,” ujarnya. JW menyadari tak gampang bersaing dengan anak penggede yang sama-sama hendak memburu cinta Triesna. Ia berusaha menemui orangtua Triesna. JW mencuri simpatinya. “Jika ke rumahnya, saya lebih banyak ngobrol dengan ayah dan ibunya. Orangtuanya akhirnya bersimpati kepada saya. Saya dinilai cocok jadi menantunya,” ungkapnya. —sam


Pendidikan

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 11


12

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Bandara Internasional Lombok

Bandara Kedua di Indonesia yang Gunakan Lima Bahasa MASYARAKAT Nusa Tenggara Barat, patut bangga memiliki Bandara Internasional Lombok (BIL). BIL tersebut makin dekat dengan kenyataan. Penyelesaian pembangunan BIL sudah 90%. Hal ini terlihat ketika rombongan wartawan melakukan kunjungan ke BIL beberapa waktu lalu bersama Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Setda NTB, L. M. Faozal, S.Sos., M.Si.

M

emasuki gapura BIL dari jauh telah terlihat aktivitas para pekerja yang tengah merampungkan pembangunan bandara berkelas

internasional kebangaan masyarakat NTB ini. Saat memasuki kawasan ini, mestilah terbayang bahwa bandara berarsitektur lumbung (arsitektur khas Sasak) ini

demikian elegan. Ketika masuk ke dalam terminal penumpang di bandara ini, sudah bisa disaksikan di sekelilingnya terdapat petunjuk dan arah jalan untuk memudahkan penumpang. “Bandara ini merupakan bandara kedua setelah Hasanuddin Makassar yang papan petunjuknya menggunakan lima bahasa, yakni Indonesia, Inggris, Arab, China dan Jepang,” kata Arif, karyawan PT. Slipi Raya –rekanan yang mengerjakan terminal penumpang Ini bukanlah kebetulan karena bandara Hasanuddin Makassar dan BIL dikerjakan oleh rekanan yang sama, melainkan karena NTB telah bersiap menjadi salah satu destinasi unggulan industri pariwisata di Indonesia maupun berkelas dunia.

Di terminal keberangkatan, terlihat berderet 24 meja check in bagi penumpang yang dilengkapi dengan televisi yang menampilkan nomor penerbangan, waktu, dan tujuan penerbangan. Salah satu kelebihan BIL adalah bahwa penumpang boleh check in di mana pun ia mau. Tidak banyak bandara internasional yang memberlakukan hal ini. Biasanya di bandara lain, penumpang harus melakukan check in berdasarkan maskapai di konter masingmasing. Sistem bandara akan langsung mengaturnya. Dalam ruang tunggu penumpang tidak kalah mewahnya. Hampir semua ruang disekat dengan kaca tebal tembus pandang dengan maksud menyempurnakan sistem pencahayaan di ruang tunggu ini.

Gerbang masuk Bandara Internasional Lombok

Ditanya soal apakah kaca ini tidak membahayakan penumpang kalau-kalau suatu waktu pecah? Arif menjawab, itu tidak akan terjadi. Karena kaca tembus pandang ini dibuat berlapis dan dibungkus lagi dengan teknologi laminated. “Dengan teknologi laminated, maka jika suatu waktu kaca ini pecah akibat suatu insiden, maka tidak akan membahayakan penumpang, melainkan kaca ini

akan tetap bertahan dalam bentuk semula,” ujarnya. Ruang tunggu penumpang yang nyaman di lantai tiga ini juga diintegrasikan dengan kafekafe. Dari sini penumpang bisa menikmati pandangan asri BIL sembari menikmati makanan dan minuman. Untuk kenyamanan dan pelayanan optimal bagi penumpang, BIL dilengkapi dengan dua unit garbarata yang

Terminal penumpang Bandara Internasional Lombok, satu dari dua bandara di Indonesia yang memiliki penunjuk menggunakan lima bahasa

Green Airport

Masjid, salah satu fasilitas di kawasan BIL

TEROBOSAN terbesar yang dilakukan dalam bidang transportasi di NTB adalah dibangunnya Bandara Internasional Lombok (BIL) yang berlokasi di Dusun Slanglit, Desa Tanak Awu, Kabupaten Lombok Tengah. Keberadaan BIL ini merupakan pembuka terciptanya peluang investasi, di Lombok Tengah dan juga NTB umumnya. Ini berarti BIL akan dapat meningkatkan PAD Lombok Tengah, yang juga bisa menjadi indikator kontribusi baru bagi laju pertumbuhan ekonomi daerah dan negara ini berikutnya. Terwujudnya BIL merupakan harapan besar bagi berkembangnya investasi dan pariwisata NTB mengingat Bandara Selaparang di

Mataram tidak lagi dapat dikembangkan karena kondisi alam/ lingkungan yang tidak dapat memenuhi aspek teknis dan operasional. Bandara Selaparang yang ada di Mataram hanya memiliki landasan pacu 2.100 meter dan sangat tidak aman bagi penerbangan baik untuk landing maupun take off. Kondisi itu hanya mampu didarati pesawat Boeing 737 atau sejenisnya. Karena posisinya yang berada di tengah kota dan di sekitarnya adalah permukiman penduduk, membuat Bandara Selaparang sulit untuk dikembangkan. Faktor alam yang sulit dihindari pada kawasan lepas landas, yang disebabkan oleh kawasan di bawah permukaan kerucut serta

kawasan horizontal dalam, berupa perbukitan di sebelah utara dan kurang lebih sejauh 6 kilo meter terdapat kaki bukit dengan ketinggian 121.00 MSL (Mean Sea Level) di sebelah Timur. Posisi Bandara Selaparang berada di tengah kota perkampungan penduduk yang padat dan di daerah pertanian yang subur. Apabila pengembangannya dipaksakan, maka sebagian base course landasan harus direkonstruksi, dan hal ini akan mengakibatkan arus lalu lintas angkutan udara akan terhenti. Belum lagi aliran sungai Midang harus dipindahkan, sarana dan prasarana utama bandara seperti gedung perkantoran dan operasional, peralatan navigasi penerbangan, dan instrumen landing system (ILS) dan MLS harus juga dipindahkan, dan prasarana jalan raya di sekitar bandara pun harus dipindahkan juga. Karena secara teknis Bandara Selaparang tidak memungkinkan untuk dikembangkan, maka pemerintah bekerjasama dengan PT Angkasa Pura akhirnya bersepakat membangun bandara bertaraf internasional. Pilihan lokasi yang ada saat ini, merupakan hasil studi atau kajian dari beberapa konsultan dalam dan luar negeri. PT Angkasa Pura I sebagai leading sector dalam pembangunan BIL, mengadopsi desain bandara hijau atau green airport untuk proyek pemba-

Bandara Internasional Lombok, satu dari dua bandara di Indonesia yang dilengkapi dengan garbarata yang menggunakan teknologi tercanggih

ngunan BIL. Bandara ini akan menonjolkan ciri khas penghijauan dengan berbagai tanaman di lokasi bandara. Tahun 2007, merupakan tonggak dimulainya pembangunan bandara yang menghabiskan lahan 538,8 hektar. Pembangunan BIL yang dapat melayani pendaratan pesawat berbadan lebar akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi NTB yang menjangkau jarak menengah secara langsung seperti, Timur Tengah, Australia, Jepang, Taiwan dan Korea. BIL yang merupakan kerja patungan PT. Angkasa Pura I, Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kebupaten Lombok Tengah rencananya akan rampung Desember 2009 dan akan mulai beroperasi tahun 2010 bersamaan dengan beroperasinya megaproyek eks LTDC yang digarap oleh Emaar Properties. Jika kedua roda penggerak multiinvestasi ini sudah berjalan maka akan membuka peluang bagi kemakmuran masyarakatnya, terutama melalui multiplier effect-nya di sektor ekonomi. Optimisme terhadap eksistensi BIL bisa efektif menyerap kesempatan kerja seluasluasnya bagi masyarakat NTB, sehingga secara tidak langsung akan menggerakkan sektor riil melalui peningkatan pendapatan masyarakat, berdasarkan penelaahan makro dalam konsep NTB Bersaing. “Sasaran akhirnya pada percepatan

pertumbuhan ekonomi masyarakat secara agregat, yang pada gilirannya mampu menekan angka kemiskinan dari 24 persen turun menjadi 20 persen. Atau bahkan kalau mungkin menjadi 17 persen secara nasional,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB, DR. Ir. H Rosiady Sayuti MSc, beberapa waktu lalu. BIL merupakan bandara bebas hambatan dan sangat dimungkinkan menjadi bandara alternatif ketiga di Indonesia untuk penerbangan internasional pesawat Airbus seri A 380 setelah Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng dan Bandara Ngurah Rai di Denpasar karena telah dinyatakan bebas kendala perputaran pesawat yang memerlukan manuver untuk mendarat. Salah satu keuntungan BIL yang bisa diambil adalah jika maskapai penerbangan Singapura tahu BIL bisa didarati Airbus A380 maka sangat mungkin mereka mengajukan permohonan izin penggunaan bandara tersebut untuk keadaan tertentu. Sejauh ini, maskapai penerbangan Singapura yang mengoperasionalkan Airbus A380 hanya mengajukan izin pengggunaan dua bandara di Indonesia untuk keadaan tertentu, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai. —nik

Bandara Internasional Lombok, berdiri elegan menjadi kebanggaan masyarakat NTB

menggunakan teknologi tercanggih. “Di Indonesia, baru dua bandara yang menggunakan teknologi ini, Bandara Adi Sumarmo di Solo dan Bandara Internasional Lombok,” ujar Arif. Inilah salah satu keistimewaan BIL. BIL berasitektur lumbung, berdiri selegan sebagai kebanggaan NTB. Saat ini pemerintah daerah tengah berjuang untuk menyelesaikan jalan akses dari dan menuju BIL tersebut sesuai jadwal pada Desember 2010. Pemerintah daerah berupaya semaksimal

mungkin melakukan pembebasan lahan tersebut. Pemprov. NTB, Pemkab Lombok Barat dan Lombok Tengah telah siap persoalan akses jalan ini. Tanah-tanah milik warga yang akan dipakai sebagai rute jalan dari dan menuju BIL ini, sebagiannya sudah dibebaskan dan sebagian lagi masih dalam proses pembebasan. Ini menjadi prioritas pemerintah daerah untuk segera dituntaskan. Dengan tegas, Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, M.A., menyatakan komitmen tersebut dalam rapat pemantapan BIL beberapa waktu lalu di Kantor Gubernur NTB. Rapat pemantapan BIL ini diikuti juga oleh Deputi Bidang Ekonomi Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), Tirta Hidayat, Ph.D. Tirta menyatakan pihaknya bersama Angkasa Pura (AP) I, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Perhubungan dan pihak terkait lainnya rutin mengadakan pertemuan membahas perkembangan BIL ini. Gubernur mengungkapkan pemerintah daerah siap menyelesaikan pembangunan akses jalan dari Patung Sapi Gerung Lombok Barat menuju Sulin, termasuk juga dari Sulin menuju Penujak, Lombok Tengah. Juga pembangunan 800 meter ruas jalan lingkar dari Penujak tersebut untuk menghindari kemacetan di jalan yang ada saat ini. Akses jalan ini menjadi sangat penting karena jika tidak akan bisa menghambat proses operasional BIL yang utuh. Hal ini penting, mengingat di sepanjang rute dari dan menuju BIL ini setidaknya ada lima titik pasar tumpah yang jelas akan menghambat pengguna jalan dari dan menuju BIL. —nik

Terminal penumpang Bandara Internasional Lombok


30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 13

LBH APIK Bali

Gabung Federasi LBH APIK Indonesia LOUNCHING Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Bali, berlangsung Selasa (25/5) di Hotel Grand Santi, Denpasar. Hari itu LBH APIK Bali yang berdiri secara resmi 16 Mei 2009, menggabungkan diri dengan Federasi LBH APIK Indonesia. “Pada lounching ini juga diselenggrakan “Workshop Kampanye We Can di Indonesia,” ujar Direktur Badan Pelaksana LBH APIK Bali Ni Nengah Budawati, S.H. Budawati menjelaskan, kampanye We Can merupakan metode kampanye yang bertujuan melakukan perubahan sikap dan perilaku, dilaksankan berantai untuk menghasilkan gerakan sosial yang nantinya mampu menghentikan segala kekerasan terhadap perempuan. Setelah Launching Nasional Maret 2009, terbentuk aliansi yang tersebar di 23 wilayah, berhasil mengumpulkan 11.420 pelaku perubahan (8253 perempuan dan 2987 laki-laki). LBH APIK Jakarta sepanjang tahun 2009 menerima pengaduan 1.058 kasus dengan klasifikasi 514 korban datang langsung, 377 konsultasi melalui telepon, 150 lewat e-mail, 6 dengan surat, 5 jemput bola, dan 6 melalui radio. Dari jumlah tersebut 823 kasus diselesaikan melalui jalur nonlitigasi (tidak dengan jalur hukum), 235 kasus lainnya diselesaikan secara litigasi (melalui jalur hukum). Menurut catatan LBH APIK Jakarta kasus kekerasan dalam

Nursyahbani Katjasungkana, S.H. dan Ni Nengah Budawati, S.H

rumah tangga (KDRT) menduduki peringkat tertinggi, yaitu 65.6%. Karena itu upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan masih harus diupayakan. Koordinator Federasi LBH APIK Nursyahbani Katjasungkana, S.H. mengatakan LBH APIK saat ini melakukan studi komparatif pengadilan keluarga di Australia dan Filipina guna mencari sistem yang cocok diterapkan di Indonesia. Pengadilan keluarga juga perlu segera dibentuk. “Mengingat, pengadilan agama yang biasanya menangani masalah keluarga belum memahami UU KDRT dan UU Perlindungan Anak. Dalam banyak kasus sengketa hak asuh anak, hakim pengadilan agama sering hanya melihat faktor ekonomi sebagai pertimbangan utama, mengesampingkan faktor psikologis

anak,” ujarnya. Struktur LBH APIK Bali Pendiri: Nursyahbani Katjasungkana, S.H., Beauty Erawati, S.H., Luh Putu Anggreni, S.H., Ni Luh Putu Nilawati, S.H., Ni Nengah Budawati, S.H., dan Ni Ketut Artini, S.H. Dewan Penasihat: Nusyahbani Katjasungkana, S.H., Nyoman Suwasti, S.H.,M.M., Cokorda Sawitri dan Sita Thamar Van Bemmelen. Ketua Luh Putu Anggreni, S.H., Wakil Ketua Beauty Erawati, S.H., Sekretaris, Ni Luh Putu Nilawati, S.H., Bendahara Ni Ketut Madani Tirtasari, S.H. Badan Pelaksana: Direktur Ni Nengah Budawati, S.H., Ketua Divisi Pelayanan Hukum Ni Ketut Artini S.H., Ketua Divisi Pelatihan dan Pemberdayaan Ketut Weni Agustarini, S.E., Ketua Divisi Perubahan Kebijakan Ni Wayan Rinten, S.H. —ard

LALA STUDIO DETOX CENTER

Sehat dengan Detox Kempiskan Perut Buncit HIDUP sehat zaman serba instan sekarang ini tidak mudah. Konsumsi zat kimia berbahaya masuk dalam tubuh tiap hari melalui bumbu penyedap, zat pengawet, zat pewarna, lemak berlebihan, maupun jenis kandungan zat kimia berbahaya lainnya. Zat kimia ini menjadi racun dan menempel di dinding usus dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia konsumennya. Banyaknya keluhan penderita kolesterol, hipertensi, asam urat, diabetes, alergi, sinusitis, ashma, migraine , susah tidur, sembelit, tentu tak mengherankan. Keluhan ini tidak saja dirasakan oleh orang tertentu. Mereka yang rajin dan rutin berolahraga sekali pun dapat mengalaminya. Menurut Adolfina Grace Tangkudung, pemilik Sekolah Senam Lala Studio yang tercatat sebagai pemegang Sertifikat Instruktur “Gaya Hidup Sehat” dari Depkes RI tahun 2005 ini, pengalamannya mengajar senam selama 33 tahun bukanlah faktor yang membuat dirinya sehat. Namun, program detox yang dijalaninya sejak tahun 2006 justru menjadikan didirnya sehat. “Rajin berlatih senam dapat membuat tubuh bugar, postur tubuh tegak, nampak awet muda

Grace Tangkudung

namun belum tentu sehat. Saya katakan belum tentu sehat karena saya telah membuktikan bahwa ternyata dalam tubuh saya banyak racun atau toksin yang mengendap dan menempel pada dinding usus sepanjang usia saya,” papar Grace di sanggar senamnya pecan lalu. Pengalaman mengajar senam selama 33 tahun itulah yang mengantarkan dirinya lebih serius peduli terhadap kesehatan dan pelangsingan tubuh. Ia mengamati, banyak keluhan ibu-ibu yang telah rutin melakukan senam, namun perut masih buncit. Padahal, kaum ibu ini telah mengikuti program diet, mengonsumsi

obat pelangsing, termasuk badan dapat dipertahankan. menuruti berbagai program Ada kesaksian menarik pelangsingan. dari Ibu Rostiyana. PeremBanyaknya mengonsumsi puan berumur 33 tahun yang obat pelangsing maupun zat- bekerja swasta di Kuta ini zat kimia dalam tubuh justru memiliki berat badan 65 kimenghambat proses pelang- logram. Setelah hari singan. Solusinya, adalah pro- keempat ikut program detox gram detox . Menurut di Lala Studio, berat badanperempuan penerima Peng- nya menjadi 60 kilogram. Ia hargaan Peniti Emas Menteri mengaku tubuhnya terasa Pemberdayaan Perempuan RI ringan, sehat, serta tak lagi Tahun 2005 ini, untuk menjadi pusing. langsing membutuhkan “Untuk jangka panjangnya sebuah proses. Tiap orang dapat dilakukan dengan jangan bermimpi langsing latihan yoga secara rutin,” dalam waktu singkat. Jika ujar Grace tetap enerjik ingin langsing harus sehat dalam usianya yang medulu. Setelah sehat, barulah masuki 55 tahun itu. —adv langsing itu terwujud. Untuk mempertahankan agar perut tidak membuncit lagi atau menjaga agar tetap langsing, dapat dilanjutkan dengan terapi SOQI. Terapi ini tergolong jenis terapi terlengkap yang mempadukan enerji gerak, enerji panas dan enerji nutrisi yang juga berfungsi sebagai pengencangan otot. Far Infrared Rays (FIR) digunakan untuk mengaktifkan sel. FIR berfungsi melakukan regenerasi sel-sel kulit Kotoran berbentuk seperti usus yang yang mati, meng- keluar setelah menjalani program hancurkan lemak, detox di Lala Studio Derox Center memperlancar aliran darah dan menyeimbangkan Informasi lebih sistem saraf. Dengan ini berat

lanjut dapat menghubungi Lala Studio Health and Weight Management Programme di jln. Tukad Batanghari 47 Denpasar setiap hari jam 09.00 – 16.00 telpon (0361) 8555606 atau 081 238 43259

Alat pemanas SOQI

LBH APIK NTB Selenggarakan Seminar Sehari “Melestarikan Budaya Merariq Menurut Adat Sasak”

Ada Penyimpangan Norma Merariq, Urusan Adat Jadi Urusan Hukum Perkawinan adat Sasak Lombok yang dikenal dengan merariq, sesungguhnya merupakan tradisi unik yang melengkapi kekayaan budaya bangsa ini. Di sebagian besar daerah di negeri ini melaksanakan salah satu proses dalam perkawinan itu diawali dengan melamar (meminta dengan hormat) kepada orang tua dan keluarga si calon pengantin perempuan. Hal ini bertolak belakang dalam adat masyarakat Sasak yang mengawali sebuah proses pernikahan dengan “membawa lari” sang gadis pujaan hatinya. Filosofi yang terkandung dari membawa lari anak gadis oleh Seminar sehari “Melestarikan Budaya Merariq Menurut Adat Sasak” seorang laki-laki ini, menunjukkan si laki-laki telah yang diselenggarakan LBH APIK NTB siap mempertaruhkan –bahkan nyawa- untuk Banyak anak di Lombok yang pihak perempuan. “Dampak putus sekolahnya karena di- negatif dari pernikahan dini ini mendapatkan belahan jiwanya ini.

Beauty Erawati

Usaha dan perjuangan ini dapat diartikan sebagai kesiapan laki-laki untuk bertanggung jawab bagi keluarga yang akan dibangunnya. Untuk mendapatkan keinginan itu, haruslah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Setidaknya, inilah nilai kearifan yang terkandung dalam tradisi merariq. “Namun, keindahan dan tingginya filosofi tradisi ini, akhirakhir ini implementasinya di masyarakat, banyak yang menimbulkan masalah dan sangat merugikan pihak perempuan dan kerap menjadi pemicu pernikahan dini,” kata Beauty Erawati, S.H., M.H., Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (LBH APIK) NTB, saat menyelenggarakan seminar sehari “Melestarikan Budaya Merariq Menurut Adat Sasak” beberapa hari yang lalu. Menurutnya, akhirakhir ini banyak kasus merariq yang akhirnya masuk wilayah hukum. Ini berarti kemungkinan ada penyimpangan dari norma dan ketentuan adat merariq itu. Bisa jadi ada yang disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak menghargai adat tersebut.

bawa lari untuk merariq. Ini jelas ada hak anak yang dilanggar. Budaya yang baik ini dalam praktiknya bisa saja disalahgunakan, karena itu muncullah masalah. Adat dan budaya ini jelas harus dijunjung tinggi bersama, karena ini adalah sesuatu yang baik. Perkawinan menurut adat Sasak yang diketahuinya tidaklah segampang seperti yang terjadi akhir-akhir ini yang banyak menimbulkan masalah, bahkan banyak yang sampai ke meja hijau. Karena kerapkali urusan akhirnya menjadi urusan hukum bukan lagi urusan adat karena tidak dilakukan berdasarkan tata cara adat semestinya. Hal inilah yang membuat merariq kerap kali menjadi kontroversi dalam masyarakat. Merariq yang benar, ujar salah seorang pembicara yang sekaligus tokoh adat Sasak, Datu Artadi, tidaklah semudah yang disangkakan orang dan yang terjadi akhir-akhir ini sehingga menimbulkan masalah. Merariq dalam adat Sasak melalui proses panjang dan penuh dengan aturan nilai-nilai dan etika sosial, sehingga mampu meminimalisir perkawinan dini yang banyak merugikan

lebih terlihat ketimbang dampak positifnya,” kata Beauty. Dalam tradisi merariq, ujar pembicara lainnya, Ir. H.L. Johan Bachry, M.Si., terdapat ketentuan-ketentuan seperti perempuan yang dilarikan adalah perempuan dewasa dan setuju untuk menikah serta bukan istri orang atau perempuan yang belum jatuh iddahnya. Perempuan itu pun harus dilarikan dari rumahnya (rumah orang tuanya), tidak dari pasar atau dari sekolahnya. Setelah dilarikan perempuan harus disembunyikan di rumah salah seorang kerabat laki-laki, bukannya ke rumah si laki-laki. Mereka berdua (laki-laki dan perempuan haruslah bersuku Sasak). Banyaknya persoalan yang muncul akhir-akhir ini seputar merariq bahkan ada yang sampai ke meja hijau, dipicu oknumoknum yang melakukan merariq tidak mengikuti aturan-aturan adat tersebut. Banyaknya persoalan yang muncul dari proses merariq yang tidak sesuai dengan adat akhir-akhir ini membuat prihatin. Karena itu, salah satu tujuan dari seminar ini adalah adanya standardisasi yang disepakati seluruh masya-

rakat adat. Pengemong dan pamong (kepala desa dan kepala dusun) wajib tahu tentang adat ini agar bisa melindungi masyarakat secara kultural. Semua aturan adat dalam proses berumah tangga ala Sasak ini, sarat dengan nilai dan norma yang menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Menikah secara adat Sasak sesungguhnya sangatlah berat jika segala aturan adat diikuti. Beberapa peserta seminar menyoroti telah terjadi pergeseran nilai adat istiadat dalam hal perkawinan di Lombok sehingga menimbulkan banyak masalah. Para oknum yang tidak memahami aturan adat itulah yang kemudian melakukan tata cara adat setengah-setengah tidak sepenuhnya. Karena jika sepenuhnya melakukan aturan adat dalam merariq, maka hal tersebut bisa diminimalisir. Hal ini diungkapkannya, karena beberapa waktu terakhir banyak persoalan merariq yang sampai ke meja hijau, Seminar yang dihadiri 200 peserta yang terdiri tokohtokoh adat se-Pulau Lombok, para tokoh agama, akademisi, LSM, aparat penegak hukum, politisi, pelajar, dan pemerintah serta instansi terkait lain, berlangsung penuh dinamika. Selain menghadirkan narasumber tersebut, juga hadir pembicara lain, Baiq Ratu Diah Ganefi, anggtoa DPD RI asal NTB dan Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G. Kusumadiningrat, Sekjen Forum Sila-

turrahmi Keraton Nusantara dan juga Ketua Umum Lembaga Pengamatan Penelitian Keraton-Keraton Se- Nusantara. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen LBH APIK NTB dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak di NTB. Lewat seminar ini lembaga yang dikenal “keras” jika bicara tentang perlindungan perempuan dan anak ini, menginginkan adanya kesamaan pandangan dan pemahaman antar tokoh-tokoh adat dan masyarakat adat Sasak dalam memandang dan menerapkan tradisi merariq yang benar. Karena hanya dengan menerapkan tradisi merariq yang benarlah, yang bisa melindungi perempuan dan anak dari penyimpangan pelaksanaan merariq tersebut, ujar Beauty. “Kami mendukung penuh pelestarian budaya merariq yang sesuai dengan aturan dan tata cara adat yang berlaku dan kami menentang keras implementasi merariq yang sengaja dikelirukan,” tegas Beauty. LBH APIK NTB tidak akan berhenti sampai pada seminar ini saja, melainkan ke depannya akan kembali dilaksanakan kegiatan serupa namun dengan pembahasan tentang merariq secara lebih mendalam dan akan melibatkan tokoh-tokoh adat Sasak, sampai mendapatkan persepsi yang sama. LBH APIK NTB akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kesepakatan bersama. Lembaga ini menyatakan siap memfasilitasi para tokoh adat untuk

Para tokoh adat Sasak berdiskusi saat seminar berlangsung

membahas persoalan ini hingga tuntas kalau perlu ada kesepakatan bersama dalam hal merariq ini. Kearifan lokal ini haruslah dilestarikan agar tidak lagi terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak juga laki-laki agar mereka tidak terlibat dalam perkawinan dini sehingga memiliki masa depan yang cerah. Mengingat banyaknya kasus yang menimpa anakanak di NTB yang masuk ke LBH APIK NTB, membuat lembaga ini merasa perlu untuk menyikapinya dengan serius. Dari 777 kasus anak yang masuk hingga saat ini, 729 anak jadi korban kekerasan seksual, perkosaan, pemaksaan hubungan seksual, pencabulan dan sebagainya. “Dari 729 kasus tersebut, dalam enam bulan terakhir 37 kasus di antaranya laporan karena merariq,” ungkap Beauty. Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, pada suatu kesempatan juga mengungkapkan bahwa selarian (merariq) merupakan hukum yang hidup di masyarakat Sasak dalam sistem perkawinan, sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Menurut gubernur yang juga tokoh agama ini, bahwa semua pihak perlu bersikap jujur untuk dapat mencari solusi terbaik dari sebuah permasalahan yang ada. “Pantas bagi kita untuk bicara apa adanya tentang sebuah permasalahan, termasuk soal merariq. Saya pikir ini pantas dibicarakan dan tidak ada yang tabu untuk dibicarakan di hadapan publik,” ujarnya. Kekayaan budaya dan tradisi masih bisa didiskusikan, sejauh nawaitu (niat)-nya baik, ikhlas demi mencari sebuah solusi terbaik. Majdi menyadari bicara soal merariq memang cukup sensitif, namun ia meminta agar semua elemen masyarakat bisa saling memperkaya budaya, timbulkan satu visi bersama untuk menciptakan dialog yang sehat.—nik


14

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Menyongsong Pesta Kesenian Bali 2010

LEKO, Kesenian Langka Jembrana KESENIAN Leko merupakan kesenian khas Kabupaten Jembrana. Meskipun tidak mendunia seperti kesenian khas Jembrana lainnya, Jegog, namun kesenian tersebut masih bertahan di Bumi Makepung ini, walaupun termasuk kesenian langka. Kesenian ini masih bertahan di Banjar Pancar Dawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Negara. Sarana musik tradisional yang diiringi tarian ini, hampir serupa dengan musik tradisional Joged Bumbung. Gamelannya terbuat dari bambu. Bedanya, alunan nadanya lebih dekat dengan Legong Keraton. Kesenian langka yang mulai dibangkitkan kembali bersama kesenian tua lainnya dalam era kepemimpinan Bupati Jembrana I.B. Indugosa ini pernah tampil di pentas Pesta Kesenian Bali (PKB). Salah seorang penari Leko hingga yang kini sudah berusia lanjut adalah Ni Nengah Nawar. Ia masih tetap mencurahkan perhatiannya kepada kesenian langka ini. Nawar menuturkan, kini sudah jarang menari lagi, namun jika ada ada pentas dia sering mendampingi para penari muda Leko, misalnya di arena PKB. Sesepuh kesenian Leko I Nyoman Dika mengungkapkan, kesenian Leko diciptakan tahun 1915-an. Lahirnya kesenian ini, ketika masyarakat Pendem sedang menanam padi di lahan sawahnya, usai melakukan perabasan hutan. Sambil melepas lelah, warga yang lelah habis bercocok tanam, membuat gamelan yang terbuat dari bamboo yang kemudian mereka namakan Leko. Menurut Dika pencipta musik gamelan tradisional Leko ini bernama Wayan Tragi. Selanjutnya, Wayan Dresta,

teman Tragi, membantu untuk mengembangkan kesenian ini. Awalnya Leko hanya musik gamelan dari bambu. Tetapi, lama kelamaan disertai tarian. Dalam musik Leko ini terdapat berbagai istilah, seperti Sebitan Penyalin, Cunguh Landak, dan Ngendih-ngendih Api. Tariannya mirip Legong. Di Pendem, setelah Leko diciptakan, tercipta juga sejumlah kesenian musik yang menggunakan alat yang terbuat dari bambu, seperti Bumbung Kepyak dan Bumbung Grantang. Dika mengatakan kesenian Leko ini memang agak sulit diminati para remaja, terutama sebagai penabuh gamelan. Namun, penarinya sudah mulai ada yang berusia muda. “Bu Nawar tahun 2007 masih menari, tetapi kini sudah tidak lagi,” ujarnya. Sebagaimana Jegog, kesenian Leko juga pernah beberapa kali ditonton tamu asing seperti dari Korea Selata, yang sebagian m e reka t u r u t mencoba memainkannya. Ni Nengah Nawar didampingi suaminya,Wayan Nandres, ketika ditemui di rumahnya Kamis (20/5), menuturkan dirinya menjadi penari Leko sejak zaman Jepang. Saat itu ia masih remaja dan sudah menari ke sana kemari berdasarkan undangan. Bisa disebutkan Nawar merupakan generasi kedua dan dia belajar menari Leko pada Kyang Bangkol. Nawar menambahkan, dulu saat menari ia mengenakan pakaian sederhana, menggunakan busana kebaya, dan sekali pentas terkadang hanya diberi uang limang ketip. “Biasanya pentas Leko, hanya menggunakan alat penerang berbahan sumbu. Sumbu api ditempatkan di atas alat penggorengan,” katanya. Ia pun mengharapkan kesenian ini bisa lestari dan tidak punah. – ngr. Ni Nengah Nawar yang kini sudah uzur mengharapkan kesenian Leko tidak punah

Lulusan IKIP PGRI Bali Mampu Isi Kebutuhan Kerja PEMERINTAH Provinsi Bali selama ini telah memprioritaskan sektor pendidikan sebagai fokus utama dalam upaya peningkatan kualitas SDM Bali. Upaya itu dilakukan melalui peningkatan mutu pendidikan yang diselenggarakan di sekolahsekolah di Bali, yang bermuara pada peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, serta peningkatan kualitas peserta didik. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Provinsi Bali I Wayan Suasta, S.H. yang diwakili Kabid PMPTK Drs. Ida Bagus Mertha, M.Pd., dalam acara yudisium Program Akta Mengajar (PAM) IV IKIP PGRI Bali, Selasa (25/5) di Hotel Nikki Denpasar, yang melepas 155 orang yudisiawan, dengan lulusan terbaik atas nama Ni Made Purnama Dewi Pande, S.Kom. (IPK 3,76). Permasalahannya, masih banyak tenaga pendidik (guru) di Bali yang mengajar suatu mata pelajaran tanpa memiliki latar belakang keilmuan mata pelajaran tersebut serta belum memiliki strategi pembelajaran yang

Drs. I Wayan Susanta, M. Pd.

dapat meningkatkan kualitas proses belajarmengajar. Karena itu, lulusan PAM IV IKIP PGRI Bali diharapkan memiliki bekal kemampuan yang memadai terkait pelajaran yang diajarkan dan memiliki strategi pembelajaran. Hal ini disikapi PAM IV IKIP PGRI Bali melalui sebaran bidang studi yang ditempuh selama dua semester dengan beban studi 42 SKS. Untuk menjadikan guru profesional, mereka digembleng secara akademik yang memuat tentang pengetahuan Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M. meyudisium 155 pendidikan, peranlulusan PAM IV IKIP PGRI Bali, Selasa (25/5) di Hotel Nikki Denpasar cangan pembelajaran, evaluasi dan penelitian pada pemangku kepentingan. dibutuhkan oleh pemerintah kependidikan, pembentukan Karena itu, Ketua Program dalam mengisi formasi CPNS karakter guru, komitmen ter- Akta Mengajar IV IKIP PGRI untuk diangkat menjadi guru. hadap profesi guru, serta Bali Drs. I Made Darmada, PAM IV IKIP PGRI Bali ini pun aplikasi dalam kependidikan M.Pd. berani mengatakan berada di bawah pengawasan untuk memperoleh pengala- lulusan PAM dengan consecu- Badan Penjaminan Mutu dan man mengajar. Secara inter- tive model ini memiliki daya mendapat assessment dari nal, hal ini diprogramkan saing tinggi yang sesuai de- BAN PT Secara internal, melalui microteaching dan ngan kebutuhan kerja. Lulusan penjaminan mutu sudah dipengalaman nyata terprogram ini akan mampu mengisi se- lakukan dengan penerapan dalam praktik kerja lapangan bagian kebutuhan tenaga sistem perencanaan, pelapor(PPL) yang sepenuhnya pelak- pengajar dalam bidang an, evaluasi dan pengawasan. saanaannya dipercayakan keahlian yang tidak ada di Ini dibenarkan Rektor IKIP LPTK yang menerapkan inte- PGRI Bali Drs. Redha Gunagrated model seperti sarjana wan, M.M. Selain banyak sosiologi, sarjana perikanan, peminat, lulusannya pun sarjana pertanian, sarjana banyak terserap sebagai guru informatika dan komputer, PNS. Apalagi program pesarjana bahasa Jepang, merintah menjadikan format sarjana hukum yang berkaitan 70:30 untuk SMK dan SMA dengan HAM, sarjana teknik menuntut penyiapan calon lainnya yang diperlukan di guru SMK yang memadai. SMK-SMK khususnya di Bali Lulusan PAM IV ini ditegasdan Indonesia umumnya. Ia kannya paling siap karena menegaskan, IKIP PGRI Bali menguasai materi dan ilmu akan terus melayani sarjana pedagogik. nonkependidikan yang memKekurangan guru di SMK butuhkan sertifikat pendidikan ini pun menurut Ketua Yayasan melalui PAM IV, yang sampai Pembina Lembaga Pendidikan saat ini masih dipersyaratkan (YPLP) PT IKIP PGRI Bali Drs. untuk menjadi guru. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. Dekan Fakultas Ilmu dan Sekretaris Yayasan I Gusti Pendidikan (FIP) IKIP PGRI Ngurah Oka, S.H., semakin Bali Drs. I Wayan Susanta, membuka peluang lebar bagi M.Pd. menambahkan, secara lulusan PAM IV IKIP PGRI Drs. I Made Darmada, M. Pd. yuridis konstitutional PAM tetap Bali.– asp/ten

Tiga Gebrakan Baru Tandai Wisuda Sarjana IKIP PGRI Bali Motor Penggerak Pendidikan Berkarakter Tari Pramesti Guru

“Pramesti Guru” Tari Kebesaran IKIP PGRI Bali

Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M. didampingi para Pembantu Rektor dan para dekan mewisuda 399 sarjana

Dari kiri: PR I Drs. I Putu Karpika, M.Si, Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M., PR II Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum, PR III Drs. I Wayan Citrawan, M. Pd.

WISUDA Sarjana XXIV IKIP PGRI Bali, Kamis (27/5) di Hotel Grand Bali Beach Sanur berbeda dibandingkan kegiatan sejenis sebelumnya. Momentum penting yang mewisuda 399 sarjana kali ini ditandai dengan tiga gebrakan baru. Per tama, peluncuran perdana majalah kampus “Maha Widya Mandala”. Kedua, presentasi perdana Mars IKIP PGRI Bali. Ketiga, persembahan perdana tari kebesaran IKIP PGRI Bali “Pramesti Guru”. Ketiga gebrakan ini oleh Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M. ini dipandang wajar dimiliki oleh satu perguruan tinggi. Apalagi, Bali sebagai daerah seni dan IKIP PGRI Bali memiliki Fakul-

tas Pendidikan Seni dan Bahasa (FPBS). Jadi, sudah sewajarnya memiliki tari kebesaran dan mars IKIP PGRI Bali. Yang membanggakan, kedua buah karya besar ini hasil kolaborasi yang baik antara mahasiswa dan para dosen. Sementara keberadaan majalah kampus dipakai sebagai sarana memediasi dan menginformasikan kegiatan-kegiatan kampus serta memuat karyakarya dosen. “Kami ingin membuktikan bahwa IKIP PGRI Bali secara terus-menerus melakukan peningkatan dalam segala hal, tak hanya akademik,” ujar Redha Gunawan. Tak terlepas dari itu, PR I IKIP PRI Bali Drs. Putu Karpika, M.Si. menegaskan momentum

wisuda ini merupakan pelaporan pertanggungjawaban akademik lembaga terhadap masyarakat bahwa lembaga telah mampu memberikan pelayanan kepada mahasiswa untuk membangun kompetensi sesuai dengan bidang studi yang dimilikinya. Kompetensi yang mereka miliki ini untuk membangun pendidikan yang berkarakter sehingga bisa menumbuhkan rasa persatuan, berbangsa dan bernegara yang dilandasi rasa demokratis. Dengan begitu nantinya mereka diharapkan bisa memiliki kepribadian berbudi luhur tinggi. Pendidikan berkarakter ini secara akademik dituangkan dalam kurikulum yang secara implisit ada pada

mata kuliah Pancasila, kewarganegaraan, dan profesi kependidikan. Redha Gunawan mengharapkan dunia pendidikan tinggi khususnya di IKIP PGRI Bali mampu menjadi motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter itu. Redha menyadari pembangunan karakter dan pendidikan karakter sekarang ini menjadi sebuah keharusan, karena di samping kecerdasan yang dimiliki, mereka akan dapat menjadi lulusan yang dituntut menjadi warga masyarakat yang mempunyai budi pekerti dan sopan santun. “Dengan demikian, keberadaan mereka nantinya benar-benar akan dapat diketahui dan dirasakan

Prof. Dr. Ir. H. Baharuddin AB, M. S.

Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd.

Drs. Dewa Putu Tengah

I Gusti Ngurah Oka, S. H.

manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya. Mengikuti pendidikan untuk menjadi seorang pendidik berkarakter diakui Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. tidaklah mudah. Perlu adanya saling pengertian dan kerja sama yang baik antara dosen dan mahasiswa serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan yang ada di IKIP PGRI Bali. Para dosen telah berupaya berbuat yang terbaik untuk menjadikan lulusan IKIP PGRI Bali dapat dipercaya dan diterima keberadaannya oleh masyarakat. Dan terbukti, para lulusan IKIP PGRI Bali yang tersebar di beberapa daerah dapat diterima di masyarakat dan meraih sukses dalam pekerjaannya. Di bidang penelitian, para dosen IKIP PGRI Bali juga telah banyak mendapatkan dana hibah bersaing dan kelompok. Bahkan, pihak yayasan telah menyiapkan dana penelitian khusus bagi para dosen muda yang proposalnya dinyatakan diterima oleh tim yang dibentuk oleh Lembaga Pendidikan dan Lembaga Penjamin Mutu IKIP PGRI Bali. Beberapa hasil penelitian para dosen ini pun telah diterbitkan di majalah ilmiah Widyadara terbitan IKIP

LIMA perempuan cantik dalam balutan kostum putih melakukan gerakan-gerakan indah yang penuh makna dan simbol filosofis dari keberadaan sebuah perguruan tinggi IKIP PGRI Bali. Paling tidak, demikianlah pesan yang ingin disampaikan lewat persembahan Tari Kebesaran IKIP PGRI Bali “Pramesti Guru”. Diceritakan, Sang Hyang Siwa (guru pada Tri Bhuwana yakni bhur, bwah, swa) yang ketika menjalankan kependidikan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Pramesti Guru. Hyang Pramesti Guru merupakan penunggalan dari Tri Murti dan Hyang Dewa. Beliau berempat ini dikenal dengan sebutan Sang Hyang Catur Bogha. Penunggalan ini disebut Sang Hyang Tunggal. Dengan demikian Sang Hyang Pramesti Guru adalah guru dari segala guru. Sang Hyang Guru adalah Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Ide cerita ini digulirkan oleh Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum, PR II yang juga seniman arja, penata tari I Wayan Alit Juana, S.ST., IGA Made Puspawati, S.Pd.,M.Si., dan mahasiswa FPBS Kadek Ari Suryanegara, penata tabuh Ketut Rudita, S.S.Kar. —asp/ten PGRI Bali dan dalam bentuk buku, sehingga bisa dibaca banyak orang. Sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK), Pembina Yayasan Drs. Dewa Putu Tengah didampingi Sekretaris Yayasan I Gusti Ngurah Oka, S.H. mengatakan sejak berdiri 27 tahun lalu, IKIP PGRI Bali telah bersungguhsungguh mengabdikan dirinya sebagai pemasok tenaga pendidik dan kependidikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru bidang studi jenjang pendidikan dasar dan menengah. Untuk menghadapi tantangan ke depan sejajar dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada IKIP PGRI Bali, pihak yayasan memandang secara terusmenerus meningkatkan sarana prasarana fisik seperti keberadaan gedung serbaguna, ruang kelas baru, laboratorium olah raga, lab. micro teaching, lab. komputer, lab. matematika, lab. biologi, dan software lainnya, serta kuantitas dan kualitas tenaga akademik.

Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. Ir. H. Baharuddin AB, M.S. menegaskan, pengembangan pendidikan tinggi ini hendaknya berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang relevan terhadap kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini bisa ditempuh antara lain melalui penelitian/kajian yang dapat berkontribusi pada penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli dari luar, serta meningkatkan kemampuan manajemen dan kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, kegiatan penelitian di perguruan tinggi juga memiliki implikasi langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan terutama dalam pengayaan materi ajar, kepercayaan diri staf dalam pengalihan ilmu pengetahuan kepada para peserta didik, serta merupakan usaha untuk mempersiapkan peneliti-peneliti baru pada masa yang akan datang. – asp/ten


Pendidikan

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 15

TK Multi-Q Membentuk Karakter Sejak Dini Berbasis Multiple Intelligence adalah saat yang tepat membuat fondasi karakter, pengetahuan dan keterampilan, yang lain bisa menyusul nanti.

Indah Imeldawati

Karakter macam apa yang mau dicapai? Komponen umum karakter adalah nilai-nilai (values) atau keutamaan (virtues) yang terusmenerus perlu diinternalisasikan melalui praktik pembiasaan dan pembelajaran sehingga menjadi sikap dan cara hidup (way of life). Contoh, orang bisa bertindak jujur kalau sejak kecil ditanamkan nilai kejujuran dalam praktik hidup sehari-hari. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi jujur. Bisa saja orang terpaksa jujur karena diawasi atau takut hukuman seperti pelaksanaan UN itu. Kejujuran harus menjadi way of life mestinya bukan karena takut ini dan itu. Ada banyak nilai yang harus terus ditanamkan seperti tanggungjawab, kerja sama, ketekunan, penghargaan. Khusus pendidikan di Indonesia, anak-anak harus diajarkan menghargai perbedaan (pluralisme) kesadaran, ekologis, tanpa kekerasan perlu ditekankan.

hanya 12 anak dengan dua buh, sampai suatu saat, anak orang guru per kelas. akan menyadari bahwa ia memiliki kelebihan pada kecerdasan tertentu. Mestinya kecerdasan Apa itu multiple inilah yang terus dipacu secara intelligence? Multiple intelligence adalah lebih intensif. Filosofinya, seteori kecerdasan yang dicetus- sungguhnya tidak ada anak bokan Dr. Howard Gardner. Prinsip- doh karena setiap anak pasti nya, kecerdasan itu beragam, memunyai kecerdasan tertentu tidak tunggal. Ada delapan ma- yang menonjol. Bahkan, untuk cam kecerdasan; matematis-logis, anak yang cacat atau berkebutuhlinguistik (bahasa), kinestetik an khusus pun pasti memunyai (gerak tubuh), spasial (ruang-vi- kecerdasan tertentu. Tidak ada sual), musik, intrapersonal, inter- alasan bagi guru untuk memberi label “anak bodoh” karena setiap personal, dan natural. Setiap anak memiliki delapan anak cerdas. Kami sedang berkecerdasan ini namun bobotnya usaha mengimplementasikan teori berbeda-beda. Tugas kami ada- ini ke dalam model agar anak tidak lah memberikan ruang agar se- takut untuk menggunakannya mua kecerdasan ini bisa tum- dalam kegiatan sehari-hari.

TK Multi-Q

KESADARAN terhadap Perumahan Dalung Permai Ruko A1-2 (Bundaran) pentingnya pendidikan anak usia Telepon (0361) 438790-9940116 dini perlu ditumbuhkan di tengah Siswa Multi-Q sedang bermain angklung maraknya perkembangan lemApa kuncinya agar tujuan an atau konflik. Semua harus baga taman kanak-kanak. Pemilihan model dan metode pembedibicarakan. Misalnya, ada anak ini bisa tercapai? lajaran anak usia dini tentu tidak Yang pertama dan utama mau bermain ayunan sementara bisa asal-asalan atau sekadar ayunannya sedang dipakai adalah kualitas guru, bukan seDrs. Paulus Subiyanto, M.Hum. bermain-main, namun dibutuhkan temannya. Ia harus meng- kadar titel pendidikan formalkonsep yang matang dengan utarakan maksudnya dengan nya melainkan ketulusannya GENCARNYA penawaran perlu banyak belajar bahasa tujuan yang jelas. Berikut ini perbaik-baik, tidak boleh asal me- melayani anak-anak. Kreativi- lembaga pendidikan seringkali asing. Anak bukan keranjang bincangan dengan Indah Imelrebut dengan memaksakan ke- tasnya untuk mencapai pem- membuat orangtua bingung sampah yang bisa dijejali apa dawati, S.Pd., M.Pd., Kepala TK hendak. Keterampilan berkomu- belajaran yang menyenangkan memilih sekolah mana yang saja. Perjalanan hidupnya maMulti-Q di Perum Dalung Permai, Apa artinya pendidikan nikasi menjadi kunci untuk meng- dan bersemnagat, keluwesan- cocok untuk anaknya. Ada kesih panjang, tidak semuanya Kuta Utara, Badung. tanpa kekerasan (nonvio- hilangkan kebiasaan peng- nya dalam berinteraksi dengan san makin mahal biaya penharus diberikan sekarang. lence)? gunaan kekerasan dalam menye- anak-anak kecil dan semangat- didikan semakin bagus mutuMenurut saya, yang utama nya terus mengembangkan diri. Apa tujuan utama penSecara dini, anak-anak perlu lesaikan masalah. Sekarang ini nya. Pendidikan pun mengbagaimana anak merasakan didikan di TK Multi-Q? dilatih dalam berinteraksi agar lewat berita-berita televisi kita Ini kuncinya untuk guru TK. alami komodifikasi, sebagai nyaman berinteraksi dengan Guru-guru TK Multi-Q memperMasa kanak-kanak adalah tidak menggunakan kekerasan. bisa saksikan penggunaan kekesebayanya. Bagaimana anak saat paling penting dalam pem- Semuanya harus dibicarakan dan rasan merajalela di semua kalang- lakukan murid-muridnya seperti barang dagangan yang dipabisa memastikan diri dengan bentukan karakter karena se- dikompromikan. Anak tidak boleh an. Mengapa? Karena kita ku- anak-anaknya sendiri. Pantang jang di etalase. Ada yang mehidup disiplin tanggung jawab dang terjadi proses tumbuh memukul atau menendang rang terampil berkomunikasi dan bagi kami melakukan kekerasan nawarkan berbagai program, pada anak-anak baik fisik mau- seperti kurikulum luar negeri, melalui aktivitas yang menyekembang baik secara psikis, temannya ketika terjadi ketegang- cederung menggunakan otot. pun verbal sekecil apa pun. gedung dan fasilitas mewah, nangkan. Tak harus dengan fisik, dan kognitif. Akan menjadi Anak-anak adalah pribadi yang bahkan guru orang asing. sarana yang mewah asalkan manusia macam apa nantinya, unik yang harus dihargai, tidak Benarkah semua itu menjamin seorang anak sangat ditentukan gurunya kreatif. Ada juga, bisa dibanding-bandingkan pendidikan yang bermutu? oleh proses belajarnya di masa orangtua yang menganggap apalagi dihina dan dilecehkan. kanak-kanak baik di rumah Saya menilai, mahalnya biaya pendidikan sekolah adalah sebuah gengsi sehingga dengan Anak-anak sangat membutuh- tidak otomatis identik dengan mutunya. bayar mahal tak masalah. Yang penting gengsimaupun keluarga. Segala aktikan pujian dan dorongan, Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan nya bisa naik, soal mutu, lain perkara. Mutu penvitas dan materi yang disajikan, bukan hinaan dan cercaan. bukan menjadikan anak pintar yang memang dibutuhkan oleh anak. Untuk didikan, khususnya TK, tidak identik dengan Anak-anak harus merasamenghapal atau bisa ini dan itu, anak TK perlu dipertanyakan apa saja banyaknya kegiatan yang ditawarkan. Pendidikkan bahwa belajar itu menyemelainkan hanya sebagai sanangkan, bukan beban yang sesungguhnya yang dibutuhkan anak seusia an anak tidak boleh membuat anak tersiksa dan rana agar anak mengembangpenuh penderitaan. Untuk men- itu? Pendidikan menjadi mahal karena banyak tertekan karena justru akan menimbulkan antipati kan pola-pola cara berpikir, berjamin agar anak-anak mendapat hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetapi terhadap kegiatan belajar itu sendiri di kemudian perilaku, berperasaan, dan berperhatian penuh, TK Multi-Q dipaksakan diberikan, yang berarti ada biaya- hari. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih sosialisasi dengan lingkungan menggunakan kelompok kecil nya juga. Misalnya, apa anak TK memang sekolah bagi anak Anda. – asp/ast sekitarnya. Masa kanak-kanak Guru-guru Multi-Q

Sakit Jantung 11 Tahun Sembuh Dalam Waktu Sebulan ada hari tanpa se- jantung, pembesaran jantung serta sak dan keluhan terjadi pengapuran pada klep jantung jantung. Sang suami (stenotic mitral valve, aotic regurg, left pun ikut menderita. atrium enlarged). Ia sering absen Kondisi yang dialami Bu Ayu, terus menjalankan tugas- menggerus keuangannya. Dua rumah nya karena Bu Ayu dan tiga mobil ludes dilego untuk sering tidak mampu membiayai pengobatannya selama 11 menolong dirinya tahun ini. Karena kesehatan jantungnya saat penyakit jan- sulit diobati, dokter berkali-kali pula tungnya menyerang. mengingatkan agar Bu Ayu segera meKetika serangan laksanakan operasi klep dengan biaya jantung muncul, sekitar Rp 200 juta. baik siang atau maSeminggu menjelang keberangkatanlam Bu Ayu bisa nya ke Jakarta, suami Bu Ayu mengpingsan berkali-kali. ajaknya berkunjung ke balai pengobatan Ia pun segera di- jantung sehat “Bali Heart Care Center” bawa ke rumah sa- (BHCC). Mendengar pengobatan kit. Selama lebih 9 alternatif di BHCC tanpa operasi dan tahun penyakit bisa mengobati sakit jantungnya,Bu Ayu jantungnya sering sempat meragukannya. “Dokter saja kumat, Bu Ayu ha- menyarankan operasi, karena tidak ada nya satu minggu di obatnya di dunia ini. Apa dengan terapi rumah, sisanya se- alat dan ramuan bisa menyembuhkan, lalu dihabiskannya aneh kedengarannya, “ujar Bu Ayu. di rumah sakit. Karena sang suami bersikeras ke “Sejak penyakit BHCC, akhirnya Bu Ayu bersedia. saya kumat, saya Sambil duduk di kursi roda ia datang selalu dibantu oleh ke BHCC untuk diperiksa. Setelah mesuami. Semua pe- lihat data medis Bu Ayu, Mr.Chai dari kerjaan rumah tang- Hsen Chii International mengambil kega seperti ke pasar, simpulan, memberikan beberapa resep memasak, mem- ramuan herbal diikuti dengan terapi bersihkan rumah, EECP dan terapi darah EBOO. dan lainnya dikerja“Sungguh luar biasa khasiatnya, kan oleh suami dan hanya dalam waktu tiga hari saja saudara saya. Pe- kondisi saya yang tadinya lemas kerjaan saya hanya tidak bertenaga, tiba-tiba pulih. Saya Ibu Ayu Adnyani Putri tidur dan menonton bisa pergi ke pasar, naik tangga, TV. Bergerak sedikit memasak dan mengerjakan pekerjaan Ibu Ayu Adnyani Putri (40) adalah saja, jantung saya pasti kumat,” kata rumah tanpa bantuan. Saya juga bisa sosok yang tegar. Menjalani pen- Bu Ayu. melayani suami sebagaimana mestideritaan selama 11 tahun bukanlah hal Setelah menderita gangguan nya,” kata Bu Ayu tersenyum sembari yang mudah. Diakuinya sejak hamil jantung tidak teratur dan bertahun- mengatakan saat ini setelah menjalani anak satu-satunya ia sudah merasa- tahun, ia terus mengonsumsi obat- terapi selama satu bulan, ia bisa kan gangguan pada jantung. Karena obatan medis. Serangan demi se- membawa motor sendiri tanpa diantar sering kelelahan, jantungnya terasa rangan jantung silih berganti dialami- oleh suaminya. Baginya ini pengberdebar dan detaknya tidak merata. nya, dokter menyimpulkan adanya alaman luar biasa, sakit jantung 11 Sejak tahun 1998 ia mengalami tensi yang terus meningkat mencapai tahun, diobati hanya dalam waktu sagangguan jantung, sesak, dan nyeri. 170/100 dan terjadi gumpalan darah tu bulan. “Terima kasih BHCC,” ujarDokter pernah menyarankan untuk yang menjadikan makin parahnya klep nya. —asp menggugurkan kandungannya, karena khawatir jika kehamilanUntuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: nya dipertahankan bisa meBali Heart Care Center renggut nyawa Bu Ayu. Karena Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy merasakan sulit hamil dan perJalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) nah mengalami keguguran, Bu 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Ayu tetap pada pendiriannya unEmail: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com tuk meneruskan kehamilannya. Setelah melahirkan anak Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg perempuan satu-satunya, terBHCC kirim ke 9168. nyata gejala sakit jantung terus (untuk kelancaran silakan buat janji) menggerogotinya. Hampir tidak

Pendidikan Bermutu tak harus Mahal


16

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Nikmati Suguhan................................................................................................dari halaman 1 Perbaiki Keamanan...................................................................................................................................................dari halaman 1

Kunjungan Hari kedua Ny. Herawati Boediono di Butik Uluwatu

tradisionalnya dan yang terkini, dari motif yang masih klasik sampai modern, baik berupa kain, kerajinan tas anyaman, perhiasan hingga kreasi arsitektur rumah tinggal. Untuk menunjang kreasi tradisional, ditampilkan gadis Bali yang tengah mengerjakan sepotong kain songket menggunakan alat tenun cag-cag. Sebuah pengerjaan karya secara manual yang prosesnya terbilang rumit serta membutuhkan waktu cukup lama untuk menyusun benangbenang tertentu sampai selesai menjadi selembar kain. Dengan antusias istri orang nomor dua di Indonesia ini melihat lembaran kain tradisonal yang dipajang. Ny. Herawati Boediono terlihat cukup lama berhenti dan melihat serta mendengar penjelasan pengrajin tentang kerajinan dari daun lontar yang unik. Dalam kunjungannya, selain merasakan suguhan panganan ringan khas penyambutan yang disiapkan pihak hotel, Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini juga terpesona dan membeli sepotong kain songket tradisional dengan warna alamnya yang khas

karya pengrajin dari Karangasem. Ny. Herawati Boediono pun tak lupa berpesan agar terus menjaga pelestarian kain tersebut. Sementara anggota rombongan lainnya terpikat anyaman berbahan ate yang langka. Mereka di antaranya memilih membeli suvenir tas jinjing cantik dari anyaman tradisonal ini. Dalam kesempatan tersebut Ayu Pastika, Ketua Dekranas Bali, tampaknya lega. Bukan hanya karena Ny. Herawati Boediono merespons positif perkembangan yang terjadi pada pengrajin Bali serta semua rombongan berkenan melihat dan berbelanja. Ada sebab lainnya yakni, Jegeg-Bagus Bali yang turut menjaga pameran sudah terlihat berinteraksi dengan istri wakil presiden. “Saya memang ingin mereka mampu berkomunikasi lebih luas dengan kehadiran tamu-tamu nasional seperti ini. Wawasan mereka juga akan bertambah karena harus bisa bicara tentang budaya daerahnya. Momen ini adalah kesempatan mereka berani bicara. Soal pajangan pameran apakah terjual atau tidak, itu bukan persoalan,”

kata istri Gubernur Bali ini seraya tersenyum. Ny. Herawati Boediono melanjutkan aktivitasnya pada hari kedua mengenakan batik lengan panjang bernuansa cokelat dipadu celana kain putih. Kembali ditemani Ayu Pastika dan rombongan mengunjungi Art Shop Uluwatu di Kompleks Bali Collection di kawasan BTDC, Nusa Dua. Di areal Art Shop Uluwatu Ny. Herawati Boediono juga tampak antusias melihat ungkapan kreasi karya seni dengan ciri khas yang sangat kental yakni berwarna putih, katun, rayon sutra, bordiran Bali, lembut dan tradisional namun sangat elegan. Perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 300 orang pengrajin di Tabanan ini juga menyiapkan produksi perlengkapan rumah tangga seperti taplak meja, sarung bantal dan sprei. Selain beberapa potong pakaian menjadi pilihannya, postur tubuh Ibu Negara juga sempat diukur untuk dijahitkan sebuah busana. Kunjungan itu berlanjut ke pembuatan keramik di kawasan Jimbaran. Di sini Ny. Herawati Boediono berkesempatan melihat langsung teknik dan proses pembuatan keramik. Dikenal dengan desain unik dan menarik, Keramik Jenggala menyediakan berbagai keperluan makan, mandi dan spa juga beberapa desain pot bunga dan sebagainya. Gaya kreasinya minimalis, kontemporer dengan warna yang khas buatan Jenggala. Setelah sebelumnya rombongan menikmatai santap siang Ayam Bakar Taliwang, perjalanan dilanjutkan ke Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Seni dan Teknologi Keramik dan Porselin (UPT-PSTKP)

Sebagian peserta diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan Sekolah Taman Rama serius mendesak pentingnya perbaikan sistem keamanan sekolah dasar negeri di Bali

wakil rakyat sudah saatnya memikirkan serius anggaran khusus untuk memperbaiki standar keamanan semua SD negeri di daerah ini,” harapnya. Minimnya tenaga pengamanan SD negeri ini memang memaksa manajemen sekolah harus bekerja ekstrakeras. Ini diakui Dayu Tirta dan Sukarini. Pihaknya berusaha keras membuat rambu-rambu untuk

mengawal anak didiknya tetap aman saat berangkat maupun pulang sekolah. “Komunikasi guru dan orangtua melalui komite sekolah kami intensifkan. Kami meminta kesadaran orangtua murid agar saat mengantar anaknya ke sekolah jangan tergesagesa pulang sebelum anaknya melewati pintu pagar sekolah. Jika telat menjemput, sampaikan

ke pihak guru,” jelas Dayu Tirta. Siswa SD 08 Dauh Puri yang telat dijemput biasanya diarahkan guru sekolah ini untuk menanti jemputan di ruang perpustakaan. “Siswa lebih aman dan bisa mengisi waktunya dengan membaca,” imbuhnya. Dayu Tirta dan Sukarini setuju terhadap usulan peng-

adaan dan penambahan jumlah tenaga satpam SD Negeri. Pihak sekolah dinilai tidak mudah mewujudkan harapan semacam ini. Setelah sekolah dilarang memungut uang dari orangtua siswa otomatis anggaran perbaikan standar keamanan sekolah lebih banyak digantungkan pada kebijakan pemerintah. —sam

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Denpasar untuk meninjau lokasi pembinaan serta pembuatan keramik lainnya. Di sini Ny. Herawati Boediono terlihat asyik menyaksikan para pengrajin yang tengah menuntaskan kreasinya. Bahkan beliau sempat tertegun saat tiba di areal klinik dekorasi dan tekun mendengar penjelasan yang disampaikan petugas. Karena perhatiannya, ia berkesempatan membubuhkan tanda tangannya di atas ke-

ramik yang berisikan lukisan seekor burung mendekap anaknya. Dari melihat karya yang ada rupanya istri Wakil Presiden ini terpikat garapan keramik berbentuk kelapa dan sebuah guci. “Ibu Negara sangat mengagumi hasil kreativitas mereka. Beliau melihat kemampuan putra daerah soal keindahan motif tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Beliau juga berharap terus ada

desain kreatif dan inovatif yang diciptakan untuk nilai tambah demi nilai jual yang lebih tinggi,” ujar Ayu Pastika sembari mengatakan betapa eksistensi seni keramik di Bali memperkaya khasanah budaya kita. Begitulah dengan tetap tersenyum, meski kegiatannya berkeliling cukup menguras tenaga, namun istri Wakil Presiden ini samasekali tak me-

nampakkan keletihannya. Ia penuh keakraban dan perhatian dan dengan ramahnya menyapa para pengrajin. Dengan rasa keibuannya, beliau bertanya tentang keadaan dan kesehatan para pekerja. Ny. Herawati Boediono mengapresiasi sangat baik setelah menyaksikan hasil dari sentuhan tangantangan terampil, dengan memilih dan membeli beberapa karya yang kena di hati. —ard

BKOW Siap.....................................................................................................................................................................dari halaman 1

harus dipelihara agar kehidupan menjadi berkelanjutan. “Inilah inti tugas yang kami harus lakukan agar tercapai pencapaian MDGs yang tenggat waktunya tahun 2015,” tuturnya. Millenium Development Goals (MDGs) terdiri atas delapan poin, yaitu kemiskinan, pendidikan, gender, angka kematian anak, angka kematian perempuan melahirkan, penularan penyakit, lingkungan dan kolaborasi. “Kalau diperhatikan per poin, kemiskinan merupakan akibat poin yang lain tidak tertangani. Jika diringkas, bisa menjadi tiga poin, yaitu pendidikan, kesehatan dan lingkungan,” ucap pakar kesehatan yang akrab disapa Nila ini. Setelah ditetapkan Presiden RI sebagai Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs ia lebih fokus dengan butir-butir dalam MDGs. Menurut istri mantan menteri kesehatan Prof. Dr. dr. H. Farid Anfasa Moeloek, Sp.OG ini, poin-poin dalam MDGs menyiratkan kerentanan terhadap kaum perempuan. “Jika kita mengangkat poin gender, yang kita lakukan tidak saja mencapai persamaan pencapaian sekolah setara anak laki-laki (wajib belajar sembilan tahun). Ada baiknya daya ungkit MDGs lebih menjurus pada perempuan. Hal ini bisa menjadi gerakan mengubah perilaku, cinta dan pelihara Tanah Air karena kita hidup berkelanjutan,”

lainnya berbanding lurus dengan pemberdayaan perempuan (gender empowerment). Hal ini ditekankan kembali dalam lokakarya nasional yang kami hadiri di Jakarta. Temanya “Revitalisasi Peran Kowani Dalam Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan Melenium 2015 (Millennium Development Goals 2015) terkait Gender dan Kesehatan,” papar Gung Tini dan Dewi Sinaryati, Ketua dan Sekretaris BKOW Provinsi Bali yang hadir bersama 300-an peserta, terdiri atas anggota Kowani pusat dan pengurus BKOW seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kowani, Dr. Dewi Motik Pramono, serta utusan khusus Presiden RI untuk MDGs, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek mengatakan, BKOW Bali sigap dan tanggap situasi, mampu menangkap momen dan cepat mensosialisasikan perihal MDGs. Kedelapan tujuannya juga merupakan salah satu topik bahasan SBY di Istana Tampaksiring beberapa waktu lalu. “Dua hari kemudian, serangkaian ulang tahun BKOW, kami mengadakan talk show mengenai perempuan mendukung percepatan MDGs,” ujar Gung Tini. “Mendapat dukungan dan apresiasi tinggi dari dua tokoh perempuan tersebut menjadikan semangat kami lebih lagi segera bekerja,” lanjut Dewi Sinaryati

Dewi Sinaryati, Nila Moeloek dan Tini Gorda

antusias. Dewi Sinaryati juga mengungkapkan catatan lain selama mengikuti lokakarya. Sebagian besar ketua BKOW provinsi lainnya adalah istri wakil gubernur atau paling tidak istri sekda. Untuk aktivitas organisasinya mereka mendapat anggaran dari APBD minimal Rp 100 juta/ tahun. Yang sedikit berbeda NTT, tidak diberikan dana tapi mengelola gedung wanita yang ada penginapannya. “Kami BKOW Bali setelah ini akan mencoba mengajukan anggaran. Kami membuat program yang mendukung pemerintah lima tahun ke depan yang tujuannya membantu percepatan MDGs,” ucapnya. Selanjutnya guna merealisasikan program kerja yang memuat berbagai kegiatan kepada pemerataan dan pening-

katan pembangunan di wilayah perdesaan, BKOW Provinsi Bali segera menggarap program desa binaan di Singaraja. Pelaksanaannya di bawah koordinasi BP3A Provinsi Bali serta melibatkan STIE Satya Dharma Singaraja. “Kami akan memantapkan rintisan desa binaan ini selama menjalankan kepengurusan lima tahun ke depan. Dengan harapan, nantinya bisa menjadi contoh untuk dapat dilakukan di seluruh Bali,” kata Dewi Sinaryati dan diamini Gung Tini. Demi meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan kualitas, perempuan harus dirangkul pemerintah sebagai mitra kerja melalui pola kerja sama. “Adanya desa binaan dimaksudkan agar keberadaan organisasi wanita mempunyai nilai tambah tersendiri bagi masyarakat,” ucap Gung Tini. “Ki-

ni dengan solidnya semua organisasi di bawah BKOW kami siap mengelola desa binaan,” imbuh Dewi Sinaryati. Gung Tini dan Dewi Sinaryati pun berharap dengan proses pemberdayaan perempuan yang dijalankan akan ada pencapaian peningkatan tiap tahunnya, baik dari segi keberhasilan pencapaian legislasi yang pro-perempuan maupun makin tingginya kesadaran perempuan untuk membangun. “Kami optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi perempuan untuk menggapai keberhasilan. Dengan perempuan yang berdaya, maka praktis akan terjadi pendekatan aksi yang sistematis terkait dengan penanggulangan kemiskinan yang didasarkan atas pemenuhan hak-hak dasar (right based approach), yaitu hak atas pangan; kesehatan; pendidikan; pekerjaan dan berusaha; perumahan; air bersih dan sanitasi; tanah; sumber daya alam dan lingkungan hidup; rasa aman dan partisipasi dalam pengambilan keputusan publik,” ucap Gung Tini. “Mari bersama dengan semangat tinggi bahu-membahu mewujudkan pengimplementasian MDGs. Dengan maju dan sejahtera, dipastikan semua turut merasakan keberhasilan pembangunan yang diprogramkan pemerintah daerah,” ujarnya. —ard

Kunci Manajemen.............................................................................................dari halaman 1

Potensi nyaris..........................................................................................................................................................................................................................dari halaman 1 kebutuhan pokok warganya. Jika di tempat lain pasar bisa buka tiap hari di tempat yang sama, di Kecamatan Pekat pasar juga buka tiap hari namun tidak di tempat yang sama, melainkan bergantian di satu desa dengan desa lainnya dengan sebutan Pasar Senin, Pasar Selasa, Pasar Rabu, Pasar Kamis, Pasar Jumat, Pasar Sabtu, dan Pasar Minggu. Pasar Senin di Desa Kadindi Barat. Pasar Selasa di Desa Kadindi, Pasar Rabu di Desa Beringin Jaya, Pasar Kamis di Desa Nangamiro. Pasar Jumat di Desa Kananga (Bima) yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Bima dan Dompu. Pasar Sabtu di Desa Persiapan Nangakara, Pasar Minggu di pusat Kecamatan Pekat yakni di Desa Pekat. Para pedagang berasal dari Dompu, Bima, bahkan dari Lombok mendatangi pasar-pasar ini melewati pesisir utara Pulau Sumbawa yakni pelabuhan Calabai. Masyarakat pun sudah terbiasa berganti pasar tiap hari. Persoalan utama di Kecamatan Pekat masalah infrastruktur jalan yang bisa dikatakan sangat tidak layak sebagai jalur transportasi kendaraan umum.

Karena kondisi infrastruktur jalan ini jugalah yang membuat masyarakat di daerah ini tidak mendapat pasokan aliran listrik yang layak. Pihak PLN Wilayah NTB dalam suatu jumpa pers di Kantor Gubernur NTB beberapa waktu lalu mengaku kesulitan untuk segera melayani kebutuhan listrik di wilayah ini karena terkendala kondisi jalan. Menurut Abdurrahman, masyarakat Pekat mendapat aliran listrik malam hari saja, itu pun digilir. Kapasitas PLTD Calabai tidak memungkinkan untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat secara penuh. Di kecamatan ini hanya 30% warga masyarakat yang dapat menikmati penerangan listrik. Siang hari masyarakat tidak bisa mengakses listrik samasekali. Bahkan di Kantor Camat, jika ada kebutuhan listrik untuk rapat atau kegiatan resmi siang hari, digunakan jenset. Dari 30% yang sudah mendapat listrik di antaranya mendapatkan layanan listrik tenaga surya yang kapasitasnya sekitar 1000 unit. Untuk memenuhi kebutuhan listrik siang hari, masyarakat menyiasatinya dengan jenset-jenset berkapasitas kecil

sekadar untuk televisi atau kebutuhan sederhana lainnya. Setelah melakukan perjalanan sekitar lima jam, Tim tiba di Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat. Kami disambut masyarakat yang beberapa waktu kemudian terlibat berkolaborasi dengan tim kami. Sebagaimana pendaki Gunung Tambora lainnya, kami menginap di sebuah penginapan di Kandidi yang jumlah kamarnya terbatas. Menuju tempat ini kami perlukan waktu satu jam dari Dusun Pancasila, menggunakan ojek. Usai makan siang, Tim melakukan rapat untuk memantapkan persiapan guna menyukseskan misi kami. Kami mendirikan tenda-tenda. Kegiatan tersebut dipusatkan di sebuah lapangan. Tim kami memiliki misi di bidang kesenian dan kebudayaan umumnuya, bertujuan untuk menggerakkan masyarakat lingkar Gunung Tambora untuk sadar terhadap potensi seni dan budaya yang dimilikinya. “Ini merupakan langkah awal untuk menggerakkan masyarakat mengenali potensinya, yang kemudian diharapkan mereka akan tergerak juga untuk menggali

potensi seni budaya di daerahnya,” ujar Lale Kamarukmin, salah seorang anggota Tim Tambora Art Moment. Karena itulah konsep kegiatan ini sedari awal telah disiapkan untuk melibatkan masyarakat dalam pergelaran-pergelaran kesenian yang ditampilkan selama dua hari berturut-turut. Saat ini, kegiatan seni dan budaya di Dusun Pancasila nyaris mati dan tidak ditemukan ada tanda-tanda kehidupannya. Hal ini diungkapkan Kepala Desa Tambora Hasanudin. Ia menjelaskan, sebenarnya ada kesenian khas yang pernah hidup di daerah ini, seperti Biola khas Dompu. Namun, sudah sejak lama kesenian ini mati. Masyarakat desa ini menjadi sangat haus pada hiburan seni yang dapat mereka nikmati secara langsung. Kegiatan yang kami tampilkan bersama masyarakat setempat kala itu, kata salah seorang warga, baru pertamakalinya digelar di dusun mereka. Karenanya, kedatangan Tim Tambora Art Moment mendapat sambutan hangat masyarakat desa ini. Pada hari pertama, para seniman mulai

membidik satu per satu anakanak, remaja, dan gadis dusun ini untuk dilibatkan dalam pergelaran teater, musik kreatif, menggambar bersama, hingga pergelaran kolaborasi sastra, pantomim dan teater serta kegiatan lainnya. Meski mereka anak-anak dusun, tampak adanya rasa percaya diri mereka. Tanpa ragu apalagi malu, mereka terlibat seutuhnya dalam pelatihan bersama yang dilakukan siang hingga malam di lapangan Dusun Pancasila. Mereka tampak sangat ingin terlibat untuk dapat mengekspresikan diri dalam kegiatan kesenian ini. Antusiasme warga tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi para seniman dan fotografer yang khusus mengabadikan tiap momen langka ini. Para seniman, Ary Juliant, Plagiamor Trestian, Alex Lout (musisi), Felix dan Sanggar Madaduli Kempo Dompu (teater), Kiki Sulistyo dan Dede Dablo Permana dari Komunitas Akarpohon Mataram dan lainnya, dengan leluasa menggali, menata, dan mengemas potensi bakat serta minat anakanak dusun ini. –nik.

katanya. Jika mengingat RA Kartini, sebaiknya kita memanfaatkan peluang yang ada. Tak ada halangan jika ingin memperoleh pengetahuan demi kemandirian mengambil putusan bijak bagi diri, keluarga dan masyarakat. “Kita harus sadar, perempuan dalam keluarga merupakan kunci manajemen keluarga. Ke mana biduk rumah tangga atau bagaimana anak-anak kita antar ke masa depannya,” papar ibu Muhammad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek dan Puti Anisa Moeloek ini. Aktivis kesehatan ini kembali menekankan pemberdayaan seorang perempuan Indonesia dimulai dari pemberdayaan bidang kesehatan dan pendidikan. Selanjutnya diikuti peningkatan bidang ekonomi. “Tanpa dilandasi kesehatan dan pendidikan memadai, perempuan Indonesia akan tidak berdaya selamanya,” kata Prof. Nila. Dalam pembicaraan dengan Ketua BKOW Bali, ia melihat semangat dan program kerjanya yang nyata. “Ini yang tepat dilakukan oleh seorang perempuan berpengetahuan seperti Gung Tini. Ia mengambil keputusan aksi nyata yang akan dilakukan, seperti membuat desa binaan,” ucapnya. Suatu aksi nyata yang baik meski dengan keterbatasan hendaknya dapat membuat suatu model. Selanjutnya model ini sebagai uji coba yang kemudian dianalisa. Jika hasilnya baik dapat diterapkan atau diperluas ke desa lainya. Perempuan yang kerap tampil sebagai pembicara di berbagai seminar dalam dan luar negeri ini memiliki beragam

pengalaman hidup. Baginya hal ini perlu untuk menjadikan diri seseorang menjadi bijak. “Kesan yang mendalam bagi saya adalah keberutungan saya lahir dari orangtua yang memberikan kesempatan mendapatkan pendidikan. Mereka juga memberikan contoh etos kerja yang tinggi dalam kedisiplinan,” ucap ibu kelahiran 11 April 1949 ini. “Kalau dengan keluarga kami sangat senang dapat menikmati suasana ketika berkumpul dengan anak, menantu dan cucu,” lanjut ibu yang menjalin kedekatan dengan anaknya hingga kini, meski ketiganya telah berkeluarga. Ia juga senantiasa menekankan agar mereka jangan mudah menyerah, menjalani hidup ini sesuai keinginan dan hati nurani, mandiri serta bertanggung jawab. Dokter yang sempat disebut-sebut menjadi calon kuat menteri kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II, namun belum terpilih ini mengatakan dirinya tak miliki mimpi lagi. Kegiatannya sebagai dosen yang dijalaninya hingga kini, diakuinya sangat menyenangkan. Sebab, ia mendapat ilmu dari almamater dan kembali untuk berbagi ilmu dengan generasi muda. Dalam hidupnya, ia hanya ingin mengembalikan kepada masyarakat apa yang diperolehnya. “Saya dapat kesempatan mengecap pendidikan. Tuhan juga telah memberikan kasih sayangNya. Nah, mengapa tidak memberikan kasih sayang kita kepada orang lain. Berbagi kepada sesama itu sangatlah penting,” tandas guru besar dan Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran UI ini. —ard

Sosok Guru BK..........................................dari halaman 1 diubah. Guru BK sebaiknya perempuan, yang berpenampilan menarik, dan lembut sehingga siswa lebih berani untuk menyampaikan permasalahannya,” ujarnya. Pandangan serupa diutarakan Ni Nyoman Nilawati, Wakil Ketua WHDI Bali. Menurutnya, banyak anak-anak depresi karena tersumbatnya komunikasi. Fungsi guru BK belum berjalan maksimal. Ibu Teladan Basli 2008 ini mengharpakan, kemampuan konseling harus dimiliki semua guru. Celakanya, banyak guru bersikap asal saja, tidak mau tahu apa hambatan siswa dalam belajar. “Mereka cepat memberi label kepada anak seperti anak itu bodoh. Padahal, kata dia, bisa saja anak tersebut mengalami penurunan konsentrasi belajar karena gangguan penglihatan. Saya pernah menemukan siswa mengalami gangguan penglihatan sampai minus 11.

Bagaimana siswa tersebut dapat mengikuti pelajaran dengan baik dengan kondisi seperti itu,” ujarnya. Ada sebuah keluarga yang tampak harmonis. Ternyata resepnya, sejak kecil anakanak dalam keluarga tersebut dibiasakan makan malam bersama dan berdoa. Pemimpin doa kadang ibu atau bapak. Tiap anak pulang sekolah, si ibu menanyakan apa saja kejadian yang dialami di sekolah. Bagaimana dengan pelajaran, guru, atau teman-temannya. Setelah besar anak tersebut sudah terbiasa melakukan doa sebelum tidur, saat berangkat ke kampus, dan sebelum makan. Dalam doa, ia memohon keselamatan ibu, ayah, dan saudaranya. Mereka menyebutnya bersatu dalam doa. Kisah ini sangat menarik dalam benak Nilawati karena dalam ajaran agama Hindu dikenal juga istilah keluarga sukinah. —ast


Jabodetabek

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 17

Daerah Tebet, Jakarta Selatan yang padat objek kuliner menarik. Dari kiri: Bebek Goreng Ginyo, Ayam Bakas Mas Mono, dan Warteg Warmo yang kesohor

Wisata Kuliner di Tebet

Cita Rasa Pas dari Kantong Pas-pasan WISATA kuliner menjadi salah satu cara memuaskan selera lidah. Menu makanan dan minuman lezat disajikan penjualnya. Potret ini tak terbilang jumlahnya di Jakarta.

A

ktivitas niaga ini dapat ditemukan di hampir tiap lorong jalan. Ini dimulai dari restoran eksklusif di hotel berbintang, kafe berkelas di mal dan gedung-gedung jangkung, hingga tenda gulung-lipat serta gerobak kaki lima.Kalau wisata kuliner diartikan sebagai kegiatan bersenang-senang guna memuaskan selera lidah, atau makan minum nan lezat, berasa khas yang disajikan penjual, di Jakarta tak terbilang jumlahnya. Boleh dikata, hampir di setiap lorong jalan kita temukan. Mulai restoran-restoran eksklusif di hotel berbintang, kafe-kafe berkelas di mal-mal dan gedunggedung jangkung, hingga tenda-tenda gulung-lipat serta gerobak kaki lima. Pilihan menunya beragam. Pagu tarifnya bisa dikompromikan sesuai tebal-tipisnya isi kantong. Harganya mulai belasan ribu seporsi hingga ratusan ribu. Tarif ini sudah termasuk minumannya. Jenisnya bisa berupa minuman segar aneka buah yang hanya beberapa ribu rupiah hingga seteguk anggur seharga ratusan ribu. Sebotol anggur Prancis terbaik konon mencapai lebih dari Rp 60 juta. Nah, banyak tempat ramai yang banyak dikunjungi. Selain mal atau pusat perbelanjaan, juga warung kaki lima di pinggir jalan. Di sini, harganya bisa terjangkau untuk kelas menengah bawah.

Panorama wisata kuliner ini mudah ditemukan di berbagai kawasan di Jakarta. Khusus di Jakarta Pusat, ada kawasan Sabang, Pasar Senen, atau Jalan Agus Salim Jakarta Pusat. Di sini tersedia bermacam jenis makanan. Sementara di kawasan Menteng tersedia gadogado khas. Ada pula potret wisata serupa di Jakarta Utara. Banyak pilihan menu di kawasan mal Kelapa Gading. Pilihannya termasuk menu makanan olahan laut. Sementara lokasi wisata kuliner ini lumayan banyak pula di tiap kafe pinggir jalan dan tenda kaki lima di Jakarta Selatan. Tengok saja di kawasan Blok M dan sekitarnya. Aneka makanan lezat dengan harga relatif murah menjadi pemandangan lepas di Jalan Fatmawati. Harga bermacam jenis makanan di Tebet masih bisa dijangkau kalangan muda, termasuk kantong mahasiswa. Khusus di kawasan Tebet, terutama di Jalan Tebet Raya dan Tebet Timur, kawasan perdagangan kuliner berkembang pesat. Arus pedagang makanan terus bertambah. Kawasan ini kawasan kuliner Dago, Cihampelas, Bandung, sepanjang sore. Apalagi, jika tiba Sabtu dan Minggu. Arus lalu lintas sering macet. Ini karena badan jalan di sekitar kawasan hunian itu sempit. Di Jalan Raya Tebet, tak jauh dari Stasiun Kereta Api

Tebet, para pedagang makanan mulai meramaikan jalan. Ini terutama pedagang kali lima dan mereka yang juga menggelar tenda. Warung tepi jalan umumnya buka sejak pagi hingga malam. Suasana ramai menjadi tak asing sepanjang jalan ini. Beberapa kafe sering menjadi tempat tongkrongan kawula muda. Mereka menikmati hidangan sambil ditingkah musik kesukaan. Jenis musik kafe pun beragam. Ada live music yang dibawakan grup band atau musik yang dibawakan pemusik orgen tunggal. Ada sejumlah kafe di kawasan ini yang khusus menjual burger, steak, menu masakan Padang, bakmi, bakso, bubur ayam, dan lain-lain. Ada pula Warung Ayam Bakar Mas Mono. Warung milik Agus Pramono ini belum begitu lama muncul dibandingkan Warung Ayam Suharti, Warung Ayam Kalasan, dan lain-nya. Warung Ayam Bakar Mas Mono baru dibuka awal tahun 2000-an. Kini warung ini sudah punya sembilan cabang, seperti di Pondok Pinang, Kalimalang, Rawamangun, Kalibata, Pasar Minggu, dan Pulo Mas. Agus Pramono juga membuka Warung “Baso Moncrot” di seberang jalan rumah makan ayam bakarnya. Ia pun menyediakan menu pece lele di warung miliknya yang lain. Warung Ayam Bakar Mas Mono sekilas terkesan tak istimewa. Warung ini hanya menyediakan 6 meja. Tiap meja pas untuk 6 pelanggan. Namun, cita rasa masakannya oke. Ayam bakarnya terasa gurih, sedikit manis, dan empuk. Menunya makin nikmat disantap bersama nasi putih hangat dan lalap mentimun. Tarifnya pun hanya Rp 15.000 per porsi. Menurut Rini, leader di Warung Ayam Bakar Mas Mono Cabang Tebet, pesanan

paket terendah hanya Rp 13.000, dan paket komplet Rp 23.000. Menu paket komplet berupa paket biasa ditambah sambal goreng kentang atau hati, capcai, kerupuk, dan buah. Paket komplet hanya dilayani jika pesanan dilakukan dua hari sebelumnya, minimal pesanan 50 dus. Pesanan maksimal bisa mencapai ribuan. Pesanan banyak biasanya datang dari penyelenggara acara amal dan pengajian. Mereka bisa memesan paket komplet ayam bakar mencapai 1.000 dus. Pesanan dalam jumlah banyak kadang datang dari beberapa instansi. Berapa omzet rata-rata per hari? Rini enggan menyebutkan. Ia hanya menyarankan agar Koran Tokoh tanya langsung kepada Pak Toto, manajernya. Namun, beberapa kali dihubungi Pak Toto menjawab ‘sedang sibuk’. Meski Warung Ayam Bakar Mas Mono yang di Tebet tidak sebesar di Kalimalang, Jakarta Timur, dan Pondok Pinang Jakarta Selatan, namun warungnya ini cukup ramai. Cabang Tebet mempekerjakan 18 karyawan, mulai manajer, koki, kasir, dan pelayan. “Kalau Sabtu dan Minggu atau hari-hari libur pasti ramai sekali warungnya,” ujar Rini. Dalam sebuah workshop tahun 2009, Agus Pramono, si pemilik, pernah mengungkapkan kiat susksesnya. Ia mengaku termasuk pebisnis kecil. Agus Pramono memulai usaha dengan modal Rp 500 ribu. Setelah usahanya mulai jalan dan produknya diterima konsumen mulai muncul rasa tidak puas pelangganya. Manajemennya kemudian terpacu mengembangkan usaha ini. “Jika cuma satu cabang buat apa,” ujarnya ketika itu. Ia antusias membuka cabang di tempat lain yang dipandang memungkinkan. Kini

bisnis makanannya sudah melebar ke menu ayam bakar, bakso, dan pecel lele. Ada 100 karyawan yang hidup dari usaha bisnisnya ini. Bisnis makanan yang meramaikan wisata kuliner, adalah pedagang yang mau menyasar pembeli kalangan menengah bawah. Mereka yang menjual makanan lezat dengan harga “bersahabat” biasanya mudah berkembang. Ini ibaratkan dengan ungkapan, rasa pas bisa dibayar dari kantong pas-pasan. Namun, kualitas pelayanan tak bisa diabaikan. Soal pelayanan, Warung Ayam Bakar Mas Mono boleh dikata cukup sigap. Pelanggannya datang silih berganti. Beberapa pelayan cepat dan ramah mengantar pesanan. Pelanggan tak perlu menanti lama pesanannya. Ini menunjukkan, selera pelanggan juga bersinggungan dengan suasana di tempatnya menikmati wisata kuliner. —isw

Dulu Tempat Gusuran Kini Ramai Makanan Memotret Kawasan Tebet

PERKEMBANGAN kawasan Tebet dalam beberapa tahun terakhir sungguh luar biasa. Kawasan yang dulunya merupakan tempat relokasi warga Senayan yang menjadi korban gusuran tahun 1960-an akibat pembangunan Gelora Bung Karno, kini menjelma menjadi kawasan bisnis dan tempat warga kota melepas penat. Tempat wisata kuliner favorit yang naik daun di Tebet terletak di Tebet Utara Dalam. Susanan mirip Kota Bandung yang dikenal sebagai kawasan kuliner dan tempat wisata belanja. Semua ada, dan relatif lengkap. Bahkan, kalau Anda penyuka DVD bajakan, di pertigaan jalan pun berderet-deret penjualnya. Tak heran, kini ruas jalan itu kerap kali macet, khususnya pukul 18.00 ke atas, termasuk saat week end. Maklum saja, ratarata restoran/kafe atau distribution outlet (distro) yang ada di sana tidak memiliki tempat parkir sendiri. Walhasil, para penjunjung memarkir kendaraan di sisi kanan dan kiri jalan. Memang ini menjadi lahan empuk bagi juru parkir dadakan. Namun, pemandangan ini membuat jalan jadi makin semrawut dan macet. Meski suasana lalu lintas tidak nyaman, tetapi tetap saja pengunjung dari berbagai wilayah Jakarta, khususnya kalangan muda, mengalir ke sana. Mereka bukan hanya datang untuk makan atau berbelanja, juga sekadar hang out bersama temantemannya. Ya...Tebet sebagai kawasan bisnis, kini memang tengah naik daun. Mulanya hanya ada dua distro dan dua kafe kecil di pinggir jalan yang sejak dulu sudah menjadi jalan utama menuju ke kawasan Tebet Dalam. Lalu, muncul Dunkin Donuts diikuti Burger dan Hotdogs dengan brand De’Jons. Di seberangnya terdapat beberapa distro yang menjual pakaian sisa ekspor atau dikenal dengan barang factory outlet. Sejak itu pertumbuhan bisnis makanan, kafe atau resto, seolah tak terkendali. Kafe yang kini jadi favorit, adalah Burger & Grill dan Cafe Komik. Interior Burger & Grill yang tampil cukup menonjol dengan warna kuning terang serta brand Burger & Grill terbuat dari neon sign membuat kafe tampak paling menonjol. Halaman depan buku menunya tampak tertera slogan B & G, “Siapa Bilang Hamburger Enak harus Mahal”. Kebanyakan pengunjung kafe, adalah pasangan muda. Tampaknya tempat ini memang dijadikan sasaran rendevouz murah meriah. Selesai makan anda masih bisa cuci mata dan shopping di sejumlah distro yang harga barangnya relatif terjangkau. Resto lain yang juga cukup menyedot pembeli, adalah Bebek Ginyo. Resto ini hampir tak pernah sepi. Pengunjung bisa memilih lima macam hidangan, dari bebek seharga Rp 14.500 plus nasi putih atau uduk Rp 4.000. Ingin menikmati aneka cake? Datang saja ke Cakewalk di Tebet Barat 9. Ada black forest, cake dengan lumuran cokelat dan rim vanila, cheese brownie, hazelnut praline, green tea mousse, dan lain-lain. Kawasan Tebet telah ditumbuhi aneka resto ata kafe. Namun, para pedagang makanan yang sejak lama mangkal tak sampai terpinggirkan. Sebaliknya, mereka mengaku justru makin diuntungkan. Sebut saja Susu Suke yang puluhan tahun bercokol di Tebet. Begitu juga Warmo, warung tegal buka 24 jam. —dia

Cita Rasa Mak Nyuss di Warung Soto Gebraak “Gebraaaaak…!” Suara keras memecah keasyikan para pengunjung yang sedang menyantap soto di warung ini. Suara pengunjungnya riuh oleh tawa para karyawan kantor yang sedang bersantap siang. Salah seorang pelanggan warung soto ini ternyata memiliki ‘penyakit’ latah. Ia melontarkan kata-kata mutiara. Namun, seorang rekannya menyela ucapannya. “Nah...kan gua udah bilang elu kudu siapsiap...jangan latah..eh, latah juga...huaahaaa..haaa,” ujar temannya ini mengingatkan. “Eittt jangan marah, tuh baca deh slogan di dinding,” jawab si pelanggan latah ini sambil menunjuk sebuah tulisan di dinding berbunyi “Senyum Boleh, Marah Jangan”. Suara gebrakan mengejutkan menjadi salah satu kekhasan bersantap di Soto Gebraak milik Cak Anton di Jalan Tebet Utara I Nomor 54 C Jakarta Selatan. Pengunjung warung ini tak jarang menjumpai adegan lucu akibat suara gebrakan mengejutkan dari pemilik warung ini. “Banyak cerita lucu yang terjadi karena gebrakan itu. Yang parah pengunjung punya ‘penyakit’ latah, kadang jadi bahan godaan teman temannya. Tetapi, pernah juga ada pengunjung yang sempat marah karena kaget dengar bunyi gebrakan…Dia baru pertama kali ke sini. Kami dikomplainnya. Ya...saya jelaskan ciri khas

Warung Soto Gebraek ini. Untuk menghindari hal-hal tak mengenakkan, maka saya pasang slogan “Senyum Boleh, Marah Jangan”, supaya pengunjung menger-i,” ungkap Cak Anton Kaswi, kepada Koran Tokoh. Kadang, tambah Cak Anton, suara gebrakan tersebut memancing pengunjung menjahili teman sesama pelanggan warung soto ini. “Beberapa kali terjadi, teman yang belum pernah ke sini diajak duduk membelakangi gerobok soto. Tiba-tiba gubraak, bunyinya keras sekali. Orang itu amat terkejut ha...ha..ha... Soalnya kan dia duduk di membelakangi tempat gebrakan jadi pasti suaranya keras sekali,” kisahnya sambil tertawa. Kaitannya dengan ciri khas suara gebrakan ini, Cak Anton bercerita, kadang ia mendapat panggilan dari pejabat negara untuk menyajikan menu sotonya di acara mereka. Tetapi, beberapa pejabat meminta agar tidak ada suara gebrakan, hanya layanan menu soto saja. Namun, keunikan bunyi gebrakan tersebut dulu sempat mengundang daya tarik Gus Dur. Mantan Presiden ini semasa hidupnya sempat meminta agar ada sajian menu soto dari Warung Gebraak” dalam sebuah acaranya. “Soal pejabat negara tadi, saya diminta menyajikan soto, tetapi tanpa suara gebrakan. Ya... karena ini permintaan khusus pejabat negara, saya

penuhi. Tetapi, jika acara biasa saja seperti pesta, saya tidak mau, karena gebrakan itu adalah ciri khas. Saya beberapa kali tolak acara karena pengundang tidak mau ada suara gebrakan mengejutkan. Ya, saya batalkan saja. Tidak masalah, kok,” tandasnya. Tetapi, lepas dari suara gebrakan itu, yang utama membuat ‘rindu’ para penggemarnya, adalah rasa khas soto racikan Cak Anton. Pelanggan dapat memilih jenis soto menurut daftar menu makanan di tiap meja. Ada soto daging, soto ayam, soto campur jeroan, soto combi daging ayam (campuran daging sapi dengan ayam). Sebagai pelengkap soto, ada pula berbagai jenis gorengan , seperti sate usus, sate telur, sate empal, telur asin, perkedel, emping. Pilihan minuman berupa soft drink, teh, air mineral, dan es jeruk. Saat diantar pelayan, pelanggan dapat melihat kuah soto berwarna kuning tanpa santan. Ini khas soto Jombang, Jawa Timur, yang sudah dimodifikasi Cak Anton dengan bumbu hasil eksperimen sendiri. Kuah soto terasa bumbu dan juga menciptakan rasa kaldu yang kuat. Dagingnya empuk dan sangat cocok disantap bersama gorengan yang tersedia. “Saya berasal dari keluarga penjual soto. Hanya saja, untuk soto dagangan saya tambahkan dengan

Soto Gebraak, Tebet

bumbu resep sendiri, sehingga punya kekhasan rasa. Jadi tidak mudah ditiru,” tutur lelaki 65 tahun yang sejak belasan tahun lalu telah mematenkan nama Warung Soto Gebraak ini. Menurut Cak Anton, di tengah persaingan ketat bisnis usaha makanan, khususnya di Jakarta, maka mutu makanan, harga yang kompetitif serta layanan kepada pelanggan, adalah hal utama yang harus dijaga. Itulah yang membuat usahanya tetap eksis bahkan beranak-pinak di Jakarta. Ungkapan ’pembeli adalah raja’ bukan hanya slogan, tetapi harus dijalankan. Itu saya tekankan pada pegawai di sini. Jangan sampai pembeli complain karena mutu makanan dan minuman atau pelayanan kurang baik. Kalau itu ter-

tkh/hkm

tkh/hkm

jadi, saya akan tegur keras staf saya,” tegas Cak Anton yang sempat membintangi dua film layar lebar ini. Berpegang pada kiat itu membuat Warung Soto Gebraak Cak Anton mendapat tempat tersendiri di hati pelanggannya. Padahal, jika mau dilihat, kawasan Tebet, khususnya Tebet Utara, yang belakangan ini tumbuh pesat, marak dengan aneka resto dan kafe yang menawarkan berjenis-jenis makanan yang mengundang selera. Penjual soto pun tak kurang jumlahnya. Tetapi, pengunjung tetap mengalir ke tempatnya. “Tiap hari ada 200-300 mangkuk habis terjual, mulai dari pukul 10.0022.00,” jelasnya. Di dinding rumah makan Soto Gebraak, tampak foto-foto sejumlah public figure yang pernah ber-

kunjung. Ada sebuah foto yang melukiskan adegan Cak Anton tengah mendemonstrasikan kepiawaian membuat soto. Foto ini kenangan Cak Anton saat tampil dalam acara kuliner di sebuah stasiun televisi swasta Jakarta. Ramah dan mudah bergaul menjadi salah satu penunjang keberhasilan Cak Anton yang mengawali usaha sotonya di Jakarta Fair tahun 1970-an. Ketika itu ia masih penjual soto kaki lima (PKL). Belasankali ia menjadi korban penertiban aparat tramtib. Namun, Cak Anton tidak kapok. Akhirnya ia ‘menetap’ di kawasan Setia Budi. “Usaha mulai maju tahun 1980-an, karena menjadi tempat tongkrongan para breaker yang secara tak sengaja ikut mempromosikan jualan saya. Para pelawak ibukota juga sering mampir. Keramahan, pelayanan prima serta menjaga mutu tetap menjadi kunci utama saya dalam berdagang. Juga, harganya Rp 16.000 untuk soto plus nasi,” tuturnya. Cak Anton mengaku tak ngoyo dalam berbisnis kuliner ini. Banyak tawaran agar merek dagangnya difranchise-kan. Namun, ia menolak karena khawatir merusak brand yang puluhan tahun dibangunnya. Ia hanya mengizinkan brand Warung Soto Gebraak dipakai anak kandungnya. “Pengembangan hanya oleh anak kandung, tidak saudara,” ungkap ayah tujuh anak yang telah membangun enam cabang di Jakarta. Jika ada pembaca yang penasaran, silahkan mampir ke Warung Soto Gebraak di kawasan Tebet Utara. Layanan dan cita rasnya ditanggung Mak Nyuss! —dia


Tokoh

Obama... O Obama... Obama... bama...

30 Mei - 5 Juni 2010

1974, Bruce Pertama Kunjungi Bali SEBAGAI orang muda yang ingin mengenal negara lain lebih dekat, Bruce W. Carpenter tiba di Indonesia. Tahun 1974, Bruce yang baru saja menyelesaikan kuliah di negaranya, AS, pertama kali menginjakkan kakinya di Kuta, Bali. Keindahan Bali yang ia dengar dari beberapa orang yang sudah pernah berkunjung ke pulau ini, menjadikan ia panasaran untuk melihatnya secara langsung. Berbekal uang 400 dolar AS ia melakukan perjalanan liburan panjang, mengunjungi beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.

I

a mengungkapkan, da lam perjalanannya itu dirinya pernah hidup hanya dengan uang 2 dolar AS per hari. Uang sedikit itu ia gunakan untuk biaya makan, penginapan, dan jalan-jalan. Untuk itu ia lebih sering naik bus dan kapal laut. Setelah melakukan perjalanan keliling Indonesia, Bruce akhirnya jatuh cinta pada kebudayaan Bali. “Waktu saya tiba di Kuta, suasananya masih sepi. Lalu lintas sangat jauh dibandingkan kondisinya sekarang. Banyak pohon kelapa tumbuh di pinggir pantai. Pasir di pantainya tanpa sampah berserakan. Banyak penduduk yang beternak sapi. Saat itu Kuta terkesan sebagai wilayah yang penuh hamparan sawah,” kenang lelaki asal New York ini. Lelaki yang beristrikan wanita asal Belanda, Carola, ini menuturkan, dari Kuta jika ingin pergi ke Ubud, ia harus melewati Denpasar. Jalanan sepi. Belum ada jalan by pass yang membuat perjalanan lebih cepat. Di pasar-pasar, orang-orang tua, termasuk perempuan, sering terlihat bertelanjang dada. Tidak ada agenda tetap hiburan malam bagi masyarakat, yang ada pertunjukan kesenian saat berlangsung piodalan. Bruce berteman dengan Jero Dalang Made Sija dari Bona, dan Made Jimat seorang penari dari Batuan, Gianyar. Bruce tidak bisa menari Bali. Tetapi, ia mengaku sangat suka menonton tarian Bali dan pertunjukan wayang Bali. Banyak hal ia pelajari di Bali. Selain seni dan budaya, sejarah

termasuk karakter manusia Bali juga ia cermati. Banyak buku yang telah ia tulis. Sekitar 16 bukunya tentang kebudayaan Indonesia termasuk seni dan budaya Bali, sudah beredar di banyak negara. Ketika ia memutuskan pergi ke Bali setelah kunjungannya di Yogakarta, beberapa orang mengingatkan agar berhati-hati di Bali karena banyak black magic, leak. “Begitu saya tiba di Bali, masyarakat menyambut kedatangan saya dengan baik. Orang Bali sangat terbuka dan bersahabat,” ujarnya. Sebaliknya beberapa orang Bali juga mengingatkan dirinya agar berhati-hati ketika berada di Jawa. Ia menilai, saat-saat itu mereka belum banyak mengenal satu sama lain sehingga salah paham terhadap sesama bangsa sendiri. Setelah cukup lama bertempat tinggal di Bali, Bruce pulang ke negaranya, karena modalnya habis. Ia sempat bekerja di beberapa perusahaan di Amerika dan Eropa. Ketika modal sudah cukup, ia kembali ke Bali. Senantiasa tersimpan kerinduan pada Bali dalam dirinya. Bruce sangat tertarik pada topeng Bali. Awal mulanya, ia mengoleksi topeng untuk sekadar menyalurkan hobi. Namun, beberapa teman dan koleganya berniat membeli koleksinya. Inilah awal mula Bruce memasarkan barang kerajinan Bali ke negara kelahirannya, AS. Tahun 1988, ia berketetapan hati untuk menetap di Bali. Bruce memilih tempat tinggal di Sanur. Waktu itu, katanya, se-

Bruce W. Carperter

bagai orang asing sulit bertempat tinggal secara tetap di Indonesia. Persepsi masyarakat masih negatif terhadap orang asing. Politik anti-Eropa dan Amerika sewaktu-waktu muncul, karena dianggap negara kapitalis. “Untuk mencari visa turis saja susah; harus pergi ke Kedutaan Besar AS di Jakarta. Visa hanya berlaku 28 hari dan jika habis berlakunya harus diperpajang lagi,” ujarnya. Sejak kepemimpinan Joop Ave sebagai menteri Pariwisata RI, kata Bruce, banyak perkembangan yang dialami orang asing di Indonesia. Tamu mulai berdatangan ke Bali. Ia menilai, saat itu era baru parisiwata di Indonesia. Jumlah turis asing meningkat tajam dalam waktu yang singkat. Kemudahan dalam mencari visa membuat para turis berduyunduyun datang ke Bali. Hotel mulai banyak dibangun, termasuk di Nusa Dua. Ia menuturkan, menulis banyak buku tentang kebudayaan Bali sebagai refleksi kecintaannya pada Bali dan agar dunia lebih mengenal Bali seutuhnya. Bruce sangat lancar menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, ia mengerti bahasa Bali. Ia mengungkapkan kesannya, orang Bali ingin melindungi kebudayaan Bali, tetapi tidak semua tahu bagaimana cara menjaganya. Mereka secara rutin melakukan kegiatan upacara keagamaan, tetapi belum semua tahu apa makna upacara

Kedatangan Obama Positif bagi Perkembangan Pariwisata tersebut. Seolah-olah mereka takut tidak melakukannya karena tidak ingin mendapatkan masalah dalam hidupnya. Bruce menilai, orang AS umumnya sangat terbuka terhadap orang baru. Mereka tidak terlalu mempersoalkan harus membuat suatu kegiatan khusus dalam komunitas mereka. Ia lebih suka berbaur dengan semua orang, penduduk Bali dan semua orang asing dari berbagai belahan dunia. Jumlah warga AS di Bali terbatas. Setelah terjadi tragedi bom Bali tahun 2002, mereka diundang rapat di Kosulat AS di Denpasar. “Rapat ini hanya membahas soal keamanan. Tidak ada urusan politik,” ujarnya. Dan, bagi Bruce, tragedi bom di Bali tidak menyurutkan cintanya pada Bali. Pesta kemerdekaan AS tiap tanggal 4 Juli biasanya dirayakan dengan pesta oleh warga di AS. “Saat Hari Kemerdekaan AS, kebetulan musim panas. Biasanya warga di sana piknik dan membuat pesta dengan memanggang ikan sambil menikmati kembang api. Perayaan di Bali biasa saja. Saya pernah diundang seorang teman untuk ikut merayakannya. Acaranya makan-makan dan ramah tamah,” ujarnya. Ia menyatakan senang Presiden Obama akan berkunjung ke Bali. Kunjungan itu akan memberikan nilai positif bagi perkembangan pariwisata Bali. Dalam mengisi hari-harinya di Bali, Bruce berbisnis barang seni rupa dan melayani kebutuhan interior seni untuk museum, hotel, biro perjalanan, atau pribadi. Istrinya, Carola, bergerak dalam bidang seni pahat. Hobi di bidang kesenian pula yang menumbuhkan cinta mereka yang kemudian diabadikan dalam biduk rumah tangga. Bruce dan Carola dikaruniai dua anak yang sudah menginjak dewasa. Avalon bertempat tinggal di Bali dan Allegra kini sedang kuliah di Los Angeles. Avalon membantu kegiatan bisnis orangtuanya. —ast

Ulang Tahun Patung Bayi

tkh/sep

Ida Bagus Balik Ambara menjelaskan tibanya momentum untuk melakukan gerakan revolusi moral di muka bumi yang ditandai oleh perhelatan upacara Grebek Aksara, 1 Juni 2010 di Patung Sakah, Banjar Sakah, Desa Mas, Kecamatan Ubud

SEORANG pria sepuh bertelanjang dada sedang sibuk mencabuti rumput di pematang sawah. Ia menyambut dengan seulas senyum ramah saat wartawan Koran Tokoh menyapanya. “Nggih, tiyang pemangku Patung Sakah,” ujarnya. Patung Sakah tentu tidak asing di benak umat Hindu Bali. Lokasi patung suci yang menyerupai bayi raksasa itu berada di simpang tiga Banjar Sakah, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. “Patung ini disucikan, tidak sembarang orang mengetahui sejarahnya. Tiyang pun tidak berani bercerita banyak tentang Patung Sakah,” kata pria tadi. Namun, sekelumit pengalaman unik akhirnya ia ungkapkan. Menurut penuturannya, ada sejumlah pasangan suami istri yang telah ditolong saat bersembahyang di patung suci ini. Para pasutri ini mengaku belum dikaruniai momongan setelah sekian lama berumah tangga. Mereka umumnya mengaku memperoleh pawisik

alias wangsit agar menemui sang pemangku. “Sepasang suami istri suatu ketika datang menemui saya. Mereka dari Jakarta. Agamanya bukan Hindu. Sudah belasan tahun kawin, belum punya anak. Suaminya bilang, ada bisikan agar keduanya segera bertemu saya. Padahal, kami tak saling kenal. Saya lalu bersembahyang bersama pasutri ini di patung tersebut. Belakangan saya dikabari, istrinya hamil sepulang dari Bali,” kisahnya. “Itu saja yang bisa saya ceritakan. Jika mau tahu sejarah Patung Sakah, coba cari Pak Ida Bagus Balik Ambara di Jalan Raya Mas. Beliau yang tahu lontar yang menceritakan Patung Sakah,” ujarnya. Salah seorang sesepuh Griya Pitamaha Mas, Ubud, Ida Bagus Balik Ambara mengungkapkan, patung ini sakral. Nilai kesucian inilah yang diyakini membuat cerita sejarah patung ini tak boleh sembarang dibuka. Ada keyakinan religius spiritual Hindu yang belum pernah mengizinkan misteri

Susi Jonhston

tinggal di Kuta. Ia mengaku tidak ada masalah. Dia mengaku salut terhadap orang Bali. Kalau ada warga yang alami kecelakaan di jalan raya, mereka pasti antusias menolong. Kalau ada yang berteriak “maling!”, mereka pasti datang beramairamai. “Rasa kekeluargaan orang Bali sangat kental,” katanya. Ia mengungkapkan ada kemiripan antara orang AS dan orang Bali. Mereka samasama terbuka dan sangat bersahabat. Saat ini, warga AS lebih banyak memanfaatkan liburan mereka ke Florida dan Hawai. Masih banyak warga AS yang belum mengenal Bali. Artinya, Bali masih memunyai kesempatan untuk dikenalkan lebih jauh di negara itu. Dibukanya penerbangan langsung Bali-Singapura-Los Angeles atau New York akan memudahkan warga AS untuk datang ke Bali. Dengan waktu tempuh 15 jam di pesawat, mereka sudah tiba di Bali. Setelah tujuh tahun di Ubud, Susi pindah ke Jalan Oberoi, Seminyak, Kuta. Saat itu kawasan di sekitar Jalan Oberoi masih berupa hamparan sawah, belum banyak rumah penduduk, toko atau restoran seperti sekarang. “Sekarang sudah banyak perubahan di sini. Juga, ada banyak hotel,” ujar perempuan yang pernah bergabung sebagai voluntir kampanye

Patung bayi raksasa yang dikenal sebagai Patung Sakah akan menjadi tempat perhelatan upacara Grebek Aksara, 1 Juni 2010. Upacara ini digelar untuk merayakan ulang tahun patung suci ini yang jatuh bersamaan dengan Hari Lahirnya Pancasila dan Hari Anak Internasional

Patung Sakah dibuka ceritanya untuk konsumsi publik. Sejurus kemudian, Gus Balik Ambara meminta waktu untuk melakukan ritual khusus. Usai prosesi singkat itu, wajahnya tampak sumringah. “Ida Bethara yang ber-stana di Patung Sakah mengizinkan saya menceritakan kepada Koran Tokoh. Wah, ini hari baik, Anda datang pada saat yang tepat. Jika Anda datang kemarin atau esok mungkin tak diizinkan menulis kisah sejarah Patung Sakah di koran,” ujarnya. Patung Kebanggaan Patung Sakah dibangun dalam era pemerintahan Kabupaten Gianyar dipimpin Bupati Tjokorda Raka Dherana. Bupati menaruh harapan besar agar dibangun sebuah monumen kebanggaan masyarakat Gianyar. Sejumlah sejarawan dan budayawan diundang untuk berembuk. Ada usulan untuk membangun patung pahlawan atau pejuang Gianyar Kapten Mudita. Namun, usulan ini dimentahkan peserta forum rembukan lainnya. Alasannya, jika ada Patung Kapten Mudita kemungkinan besar kesan kebanggaan masyarakat Gianyar tak sekuat kebanggaan masyarakat Bali terhadap Patung Ngurah Rai yang dibangun di Badung. Jika Patung Ngurah Rai dibangun di Gianyar bisa jadi kelak kesan kebanggaan terhadap sosok patung ini pun tak sebesar kebanggaan masyarakat Indonesia yang membangun Patung Jenderal Soedirman di Jakarta. Ada peserta forum rembuk yang spontan angkat bicara. Namanya, Ida Bagus Surya Bali Putra. Tokoh spiritual Griya Pitamaha ini meminta kesepakatan untuk membangun

SUSI JOHNSTON, warga asal AS, juga sangat mencintai Bali. Ia berketetapan hati menghabiskan sisa hidupnya di Pulau Dewata. Perempuan yang bersuamikan Bruno Piazza asal Italia ini, pertama kali datang ke Bali langsung bertempat tinggal di Ubud. Susi sangat dekat dengan keluarga Puri Ubud karena pertama kali datang ia bertempat tinggal di puri itu. Tujuh tahun, Susi mempelajari kebudayaan Bali di Ubud. Tiap sore, ia suka menghabiskan waktu duduk di pinggir Jalan Monkey Forest bersama beberapa anggota puri. Kecintaanya pada Ubud, membuat Susi tertarik menulis buku tentang sejarah Puri Peliatan. Selain menulis buku, Susi juga menulis di berbagai majalah di AS tentang budaya dan adat Bali. Untuk mengenal sejarah Bali lebih jauh, Susi tertarik belajar membaca lontar. Ia berguru pada balian Ida Bagus Putu Dalem di Tampaksiring. Setelah diupacarai secara agama Hindu sebagai orang Bali dengan sudha widani dan pewintenan di Gria Gede Klungkung, Susi mengaku lebih mudah belajar membaca lontar. Ia diberi nama baru “Kadek Susilawati”. Dengan kepiawaiannya membaca lontar, Susi mampu menerjemahkan kekawin ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Salah satunya, Aji Palayon. Hanya dalam waktu tiga bulan, ia mampu menerjemahkannya ke dalam dua bahasa itu. Master Art di University of St. Andrews, Scotland, ini menuturkan sangat suka membaca karya sastra. Ketika larangan berkunjung diberlakukan pemerintah AS menyusul tragedi bom tahun 2002, Susi menyikapinya dengan santai. Ia mengatakan, teroris ada di mana-mana tidak hanya di Bali. Susi sudah pernah hidup di berbagai negara di Amerika dan Eropa. Keamanan menjadi harga yang mahal. Ia berpandangan, hidup di Bali begitu tenang. Ia biasa keluar malam hari setelah bertempat

tkh/sep

Dirayakan 1 Juni

Patung Sakah. “Permintaan kakak saya ini ternyata direspons positif. Alasannya, jika kelak Patung Sakah berdiri, pasti akan membanggakan masyarakat Gianyar, lantaran tak ada yang menandinginya,” ungkap Gus Balik Ambara. Ida Bagus Surya Bali Putra, menyodorkan isi lontar terkait patung tersebut. “Patung ini kelak akan menjadi stana Brahma Lelare Pinaka Ratu Wisesya, simbol sang Pencipta di muka bumi,” ujar Gus Balik Ambara menirukan penjelasan Ida Bagus Surya Bali Putra saat itu. Hari baik (dewasa) untuk mulai membangun monumen berlambang kesucian itu akhirnya tiba, tahun 1989. Lokasinya di simpang tiga jalan utama Banjar Sakah, Desa Mas, Kecamatan Ubud. Alasannya, titik ini menjadi sentral pertalian antara Banjar Sakah di selatan dan Pura Hyang Tiba di barat. Nama banjar adat ini berasal dari kata sakah yang berakar dari suku kata sakaah, artinya, belah tanah. Di sisi timurnya ada Pura Hyang Tiba. Hyang Tiba artinya Tuhan telah datang. Jika Patung Sakah kelak berdiri, kedatangan Tuhan tersebut akan mencegah

Volunter Kampanyekan Obama

Susi Johnston Piawai Baca Lontar

terjadinya malapetaka berupa Bali Putra. “Master patung tanah terbelah. aslinya berukuran kecil. Ukuran (sasukat) Patung Sakah sekarang itu sebanding Lahirnya Pancasila Sebelum dibangun Patung dengan 60 kali ukuran master Sakah, ada sebuah pelinggih patung suci yang asli,” kecil di simpang tiga jalan utama jelasnya. Bahan bakunya, batu itu. Pelinggih ini diyakini sama fungsinya dengan pelinggih paras khusus yakni batu paras yang ada di tiap persimpangan malam. Jenis paras paling jalan raya lainnya, sebagai simbol halus diambil dari dasar laut toleransi religius umat Hindu di Gelogor, Gianyar. “Ini jenis batu paras terbaik yang Bali terhadap kemanusiaan. “Umat Hindu tak jarang anticendawan atau lumut,” terlihat ngaturang banten di katanya. Patung ini selesai dikerjatiap persimpangan jalan. Ini simbol permohonan keselamatan kan tahun 1990 saat untuk semua pengguna jalannya Gubernur Bali dijabat Prof. dr. tanpa pandang suku, agama, ras, Ida Bagus Oka. Peresmaupun golongan. Siapa pun miannya, bertepatan diluncuryang lewat di persimpangan jalan kannya program Tahun itu didoakan selamat sampai Kunjungan Wisata Indonesia. Setelah Patung Sakah tujuan,” paparnya. Seorang seniman patung dari berdiri megah, potret kisah Desa Keramas, dipercaya untuk sejarah patung suci ini ibarat mengerjakan Patung Sakah. tenggelam di dasar bumi. Sebelumnya di dasar patung Umat Hindu umumnya tak ditanam lima jenis logam mulia mengetahui jalan cerita, (pancadatu), yakni emas (besi termasuk filosofi religiusnya. kuning), perak (besi putih), “Alasannya, belum ada izin perunggu (besi tawar), kuningan, dari Ida Bethara yang berdan tembaga. “Juga ada mirah stana di Patung Sakah untuk atau permata mulia,” ungkapnya. menjelaskan kepada publik,” Master patung bayi dari ujar Gus Balik Ambara. Pemilik Fa Topeng Handikayu ini sudah ada sejak dulu sesuai pesan religius lontar yang crafts & Furniture ini mengdisampaikan Ida Bagus Surya ungkapkan, patung suci yang

presiden Barack Obama ini. Ia mengungkapkan, dulu orang Bali suka belajar bahasa Inggris pada turis asing. Sekarang sudah banyak tempat kursus. Orang Bali banyak yang pintar berbahasa Inggris. “Ketika bertemu dengan turis asing, orang Bali umumnya cepat akrab dan langsung menyapa mereka dengan bersahabat. Begitu juga orang Amerika. Mereka sudah terbiasa mempersilakan tamu untuk mengambil minuman sendiri ke kulkas,” tuturnya. Ia mengatakan, sebagian besar warga AS yang bertempat tinggal di Bali memunyai latar belakang pendidikan di bidang seni dan athropologi. Jurusan itu termasuk favorit di AS. Susi mengatakan, pernah mengikuti pesta perayaan Hari Kemerdekaan AS yang difasilitasi Konsulat AS di Denpasar. “Kami piknik dan makan-makan dalam acara ramah tamah yang bersifat kekeluargaan. Saya baru kenal beberapa warga AS yang berada di Bali ya waktu pesta itu,” katanya. Menurut Susi, pesta semacam itu tidak sering digelar. Namun, pesta meriah pernah diadakan menyambut kemenangan Obama sebagai presiden pertama kulit hitam di AS. Kemenangan Obama disambut warga AS yang ada di Bali dengan sumringah. Sebagai kepeduliannya terhadap generasi muda Bali, banyak hal sudah dilakukan Susi. Salah satunya, sebagai orangtua asuh I Putu Eka Gunayasa, mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Unud, dan Ni Made Wulan Kusumasari, siswi SMP Dalung. Putu, saat duduk di SMA pernah meraih juara I lomba menulis lontar. Sedangkan Wulan bercita-cta menjadi dokter. Susi ingin membantu Wulan meraih cita-citanya. Saat ini, Susi bekerja di bidang pemasaran di CV ICON Asian Arts, suatu perusahaan yang melayani ekspor barang antik, mebel, dan kerajinan dari Bali dan Indonesia. —ast menyerupai sosok bayi itu melambangkan kelahiran janin tanpa dosa. Ini simbol kelahiran manusia yang melukiskan pesan kesucian. Ajaran Hindu meyakini kelahiran itu berasal dari perkawinan Syiwa sebagai lambang laki-laki dan Buddha sebagai lambang perempuan. Zaman sekarang kerusakan moral terjadi di mana-mana. Maka, kini pesan kesucian tersebut sudah saatnya dibuka dan diingatkan dari cerita bersejarah patung suci ini. Ia menambahkan, ulang tahun ke-20 Patung Sakah bertepatan dengan 1 Juni 2010. Tiap 1 Juni biasanya dirayakan peringatan Hari Kelahiran Pancasila dan Hari Anak Internasional. Sebuah upacara besar bakal digelar 1 Juni 2010 di areal Patung Sakah tersebut. Upacara ini, menurut Gus Balik Ambara, dinamakan Grebek Aksara. Upacara ini pertama kali dihelat untuk merayakan tiga momen penting, yaitu Anggara Kasih Medangsya Patung Sakah, Hari Lahirnya Pancasila, dan Hari Anak Internasional. “Dari upacara Grebek Aksara ini kita harus mulai melakukan revolusi moral di berbagai bidang kehidupan di muka bumi,” jelasnya. —sam

tkh/sep

18

Pemangku Patung Sakah


Trendi

Memperindah Kuku Disambung Akrilik, Digambar Tiga Dimensi

Keniet Chahyorini

I

stilah extention atau penyambungan ternyata tak hanya milik rambut. Jika ingin memiliki kuku panjang, dalam waktu beberapa menit, keinginan tersebut dapat diwujudkan. Nail extention atau penyambungan kuku kini mulai tren di kalangan perempuan Bali. Selain menyambung kuku, ada juga yang rela kukunya dilukis agar tampak lebih indah. “Untuk konsumen lokal, kalangan wanita pekerja dan ibu-ibu muda mendominasi gaya ini. Konsumen dari luar negeri didominasi wanita tua, ” kata Keniet Chahyorini, supervisor sekaligus naillis Nail Pia di Mall Bali Galeria. Wanita yang akrab disapa Rini ini tak menampik biaya perawatan untuk jenis nail extention relatif mahal. Ini juga yang menjadi alasan banyak remaja putri enggan merogoh kocek lebih untuk perawatan kuku. “Biaya

nail extention bisa mencapai Rp 800 ribu/perawatan. Perawatannya semua kuku tangan,” katanya. Nail exstention menggunakan bahan akrilik. Ada beberapa jenis warna yang dihadirkan di dalam nail extention, antara lain aquarium, french atau putih, clear atau transparan, maupun pink. Untuk penyambungan kuku, selain akrilik ada juga yang memakai bahan plastik yang disambung dengan menggunakan gel khusus. “Untuk jenis nail aquarium, sebelum dipasang akrilik transparan, kami tambahkan kombinasi daundaun kering pada kuku kemudian diatasnya ditutup dengan akrilik transparan sehingga tampak nyata,” kata Rini. Proses menggarap nail extention tak lama. Para naillis hanya perlu waktu 1,5 jam untuk jenis penyambungan french atau putih polos. Jika ada tambahan desain perlu waktu 2 jam. Ada syarat khusus yang

harus dipenuhi jika sesorang ingin melakukan nail extention. Menurut Rini, kuku harus dalam keadaan sehat dan bersih. Naillis perlu paham sebelum menyambung, kuku mengalami proses perawatan manicure atau pedicure jika penyambungan dilakukan di kuku kaki. “Biasanya kami juga mengoleskan vitamin agar kuku tetap sehat meski diatasnya ditumpuk dengan akrilik atau bahan pembuat kuku palsu,” jelasnya. Nail extention bertahan selama bertahun-tahun tergantung pemakaian dan kondisi kuku. “Jika kuku termasuk berkadar air tinggi, kuku palsu mudah terlepas,” tambahnya. Bahkan, Rini mengaku ada konsumennya yang memakai kuku palsu selama 20 tahun. “Konsumen ada yang enggan melepas kuku palsu mereka karena sudah terlanjur cinta,” tambahnya. Kendati demikian, pihaknya tetap menganjurkan orang yang melakukan nail extention agar tetap rutin me-

Salah satu jenis pilihan nailart

Badan Letih Jadi lebih Bugar Saya Rizal Arfan, mahasiswa berumur 21 tahun, memiliki keluhan rentan terhadap penyakit dan badan sering lemah dan lesu. Keluhan ini sangat mengganggu. Tiap kali melakukan aktivitas yang berlebihan, saya pasti akan langsung sakit, padahal saya sudah membekali diri tiap hari dengan asupan multivitamin lengkap. Menurut pemeriksaan medis, fungsi limpa saya sebagai keseimbangan tubuh tidak bekerja secara optimal dan hasilnya berpengaruh pada penurunan

lakukan perawatan tiap dua atau tiga minggu sekali dan menghindari benturan. Benturan bisa membuat kuku retak. Kuku sudah mulai terlihat panjang pada dua atau tiga minggu. Otomatis kuku yang telah disambung mengalami pergesaran maju ke depan, yang menjadikan bagian kuku belakang kosong atau tak ada penyambungan. Jika dibiarkan, ketika terkena air, akan menyebabkan kuku tersebut jamuran. Ciri kuku berjamur, kuku berwarna hijau. Kendati Kuku sambungan bertahan lama, agar kondisi kuku tetap sehat, sebagai naillis pihaknya menganjurkan kepada konsumennya agar tetap rutin melepas kuku palsunya dua atau tiga bulan sekali. “Tujuannya agar kuku bisa istirahat,” kata wanita kelahiran Ponorogo ini. Tak hanya penyambungan kuku, ada banyak metode perawatan agar kuku tampak cantik. Menurut Rini, di Nail Pia, penyuka poles atau cat kuku masih tetap banyak. Kini ada beragam pilihan jenis desain cat kuku. Ia menyediakan beberapa desain baik menggunakan stiker, stone atau batu maupun lukisan kuku atau nailart. Sebuah kuas dan cat khusus disiapkan saat para nailart akan melukis kuku indah konsumennya. Ada yang unik dengan desain kuku yang disuguhkan Nail Pia. Desain 3D atau tiga dimensi yang menghadirkan gambar bunga maupun binatang juga menjadi salah satu pilihan yang disuka konsumen. Yang berkunjung ke Nail Pia tak hanya khusus mendekorasi kuku. “Kami juga menyediakan beragam perawatan kuku berupa istimewa pedicure. Pedicure yang kami suguhkan berbeda dengan perawatan kaki lainnya. Kami membantu mengatasi kaki bermasalah seperti telapan kaki kering dan pecahpecah,” katanya. –lik

metabolisme tubuh saya. Seorang teman menyarankan untuk melakukan pengobatan alternatif. Mulanya saya menolak karena pasti saya takut jika harus mengonsumsi obat herbal tiap hari. Saya sudah malas dan jenuh jika harus mengonsumsi obat tiap hari. Tetapi, ternyata ada pusat pengobatan alternatif, tanpa harus mengonsumsi obat, yang membuat saya tertarik melakukan pengobatan di sana,yakni klinik Suhu Yo. Semula saya hanya coba-coba tetapi setelah diterapi saya merasakan perubahan luar biasa. pada kondisi saya. Badan yang semula letih dan lesu kembali terasa lebih bugar dan sehat. Saya disarankan melakukan terapi tiap 3 kali seminggu, selama 12 kali. Meski begitu, hanya dalam beberapa kali saja terapi saya sudah merasakan manfaatnya. Kini saya tak khawatir lagi harus beraktivitas. Terima kasih Suhu Yo jika bukan karena berobat ke Klinik Suhu Yo mungkin saya harus menjadi anak rumah yang dibatasi dalam setiap aktivitas. Terima kasih Suhu Yo

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh AA Ayu Ketut Agung. Bara para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

30 Mei - 5 Juni 2010 Tokoh 19

Waspadai Kuku Jamuran Kuku sehat jika terhindar dari jamur atau infeksi, permukaan kulit halus, tidak bergelombang dan tidak berwarna kuning atau keruh. “Kuku sehat jika warna kulit di bawah kuku merah muda,” ujar dokter spesialis kulit dr. Laksmi Duarsa, Sp.K.K. Tren mempercantik kulit kuku kini berkembang tak hanya sebatas pengecatan, namun juga menyambung kuku. Nail extention menurut dr. Laksmi bisa memberikan pesona dan image tersendiri bagi seseorang. Inilah alasan banyak wanita berbondong-bondong melakukan nail extention. Ada hal yang perlu diingat dan diperhatikan bagi para penggemar kuku sambung. Dokter Laksmi menegaskan, nail extention hanya diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki kondisi kuku sehat “Nail extention tak boleh dipasang pada kuku yang jamuran dan infeksi karena bisa menyebabkan penyakit tersebut makin berkembang,” tambahnya. Dokter Laksmi menyampaikan cara aman melakukan nail extention. Sebelum dipasang kuku buatan, sebaiknya kuku dalam kondisi bersih dan sudah dicuci dengan memakai sabun. Kutikel dan resipen pada kuku perlu dibersihkan. Kemudian dilanjutkan dengan menggunting ujung kuku yang

dr. Laksmi, Sp.KK

kotor disertai mengosok permukaan kulit dengan kikir kuku. Setelah kuku dalam kondisi bersih dan sehat, nail tip bisa ditempel dengan lem kuku. “Jangan lupa memotong ujung nail tip. Kikir permukaan nail tip dengan batas daerah kuku agar tampak menyambung. Kemudian oleskan ischigo acrylic primer pada permukaan kuku. Celup kuas akrilik ke dalam cairan acrylic ichigo. Kemudian oleskan ke permukaan kuku bagian belakang nail tip. Bentuk hingga memenuhi permukaan kuku dan menyambung dengan nail tip. Biarkan satu atau dua menit agar kering. Proses terakhir, oleskan ichigo top coat

untuk lapisan terakhir,” jelas dr. Laksmi. Meski menggunakan nail extention membuat wanita berpenampilan cantik, ada efek samping yang ditimbulkan oleh proses yang satu ini. Dokter Laksmi menjelskan bahan penyambung pada nail extention bisa menyebabkan dermatitis kontak alergi pada seseorang yang tidak cocok memakai bahan penyambung tersebut. Bahkan, bahan pewarna yang digunakan jika tak sesuai dengan jenis kulit bisa merusak kuku secara permanen. Dokter Laksmi menyarankan, jika terjadi infeksi atau jamur pada kuku akibat ekstention, harus segera dilakukan pengobatan ke dokter. Bagian kuku ynag disambung pun perlu dipotong. Pengobatan bisa dilakukan dengan obat-obatan lokal/ topical dengan krem atau obat-obatan jenis pil/oral. -lik

Tips merawat kuku agar senantiasa sehat: 1. Potong kuku dengan benar. Jangan terlalu pendek hingga bagian daging terlihat. 2. Gunakan gunting kuku tidak berganti-ganti karena bisa menyebabkan penularan jamur atau infeksi bila salah satu pemakai terkena infeksi tersebut. 3. Hindari terlalu sering melapisi kuku dengan cat kuku, karena bahan kimia yang terkandung dalam cat bisa membuat kerusakan pada kuku, misalnya kulit kuku berubah menjadi keruh atau kuning. 4. Memakai sarung tangan saat berkebun cara yang aman menghindari kuku dari sumber infeksi.

Proses pemasangan Nail Extention French

Nyaman Dalam Bekerja ANDA pasti bekerja keras meraih apa yang diinginkan, khususnya untuk menggapai kenaikan gaji, pangkat, dan/ atau jabatan. Namun, apakah Anda bekerja dengan perasaan senang atau sebaliknya, penuh kejengkelan, kemarahan, atau kebosanan? Jika banyak merasakan kebosanan, kejengkelan, dan kemarahan, Anda akan lebih banyak mengalami kesulitan dalam bekerja. Perasaan tidak nyaman yang Anda alami ketika bekerja tentu ada penyebabnya.

mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Di balik sikap kemalasan dan menundanunda ini, secara tidak disadari sebenarnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda itu. Jika ini yang dialami, coba periksa kembali dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini pekerjaan yang saya sukai?” Keterpaksaan tidak akan membuat diri Anda nyaman dalam bekerja, demikian juga dalam kondisi terpaksa Anda tidak akan mengeluarkan semua potensi terbaik yang ada.

1. Mungkin Anda kurang mampu mengelola pekerjaan. Anda tidak memiliki prioritas dalam menentukan pekerjaan yang mana yang harus didahulukan, sehingga berpikir seluruh pekerjaan harus dikerjakan bersamaan. Ini akan membuat Anda merasa kewalahan dan menjadi stres. Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya Anda mulai membuat prioritas terhadap pekerjaan Anda, dan lakukan satu per satu sesuai prioritasnya.

3. Pada dasarnya, kunci keberhasilan itu terletak pada bagaimana mencintai pekerjaan Anda, di mana Anda menikmati apa yang sedang Anda kerjakan, dan Anda bisa bergembira dan bersenang-senang ketika sedang bekerja. Ini pasti menghasilkan suatu output yang luar biasa, yang bernilai tambah dan memuaskan bagi orang lain. Ciptakan dan nikmati kesenangan ketika Anda sedang bekerja. –ast

2. Kemalasan dan sikap menunda-nunda. Sikap ini mengarahkan Anda untuk bekerja ‘asal jadi’ saja, karena tidak mungkin Anda

Soegianto Hartono Pelatih dan Konsultan Citra Diri Sukses Disadur dari: www.andriewongso.com

Tampil Percaya Diri Yth. Ibu Agung Saya seorang karyawati swasta, usia 25 tahun. Dalam menjalankan aktivitas saya harus senantiasa berpenampilan menarik. Untuk itulah saya sering menggunakan make-up, namun selama ini saya kurang percaya diri dengan hasil make-up saya sendiri. Yang menjadi masalah adalah wajah saya yang cenderung bulat dengan flek hitam bekas jerawat, mata yang tidak simetris dan tidak berkelopak, alis saya tipis dan bibir saya kering. Perlu Ibu ketahui, satu bulan lagi saya akan melangsungkan pernikahan. Mohon bantuan ibu bagaimana cara menggunakan make-up yang benar agar saya dapat tampil percaya diri pada saat menjalankan aktivitas dan contoh busana modifikasi yang bisa saya kenakan pada saat upacara nanti. Terima kasih. Rahayu, Padangsambian Yth. Adik Rahayu Tampil sempurna pada hari istimewa merupakan dambaan tiap orang. Oleh karena itu, diperlukan teknik yang tepat untuk mendapatkannya. Dalam hal menggunakan make-up, Adik dapat mengikuti langkah-langkah berikut: 1. Untuk menyamarkan noda hitam bekas jerawat, Adik dapat menggunakan concealer. Untuk wajah yang cenderung bulat dapat dikoreksi dengan permainan bayangan gelap pada bagian pipi, rahang dan dagu. Kemudian dilanjutkan dengan bedak tabur dan bedak padat. 2. Untuk menyamarkan bentuk mata yang tidak simetris, Adik dapat menggunakan eyeshadow dengan warna yang agak gelap seperti cokelat dan abu-abu. Sedangkan untuk menambah kesan yang lebih ekspresif, Adik dapat menambahkan pemakaian eyeliner, maskara, pemerah pipi, lipstik dan sebagainya. 3. Alis Adik yang tipis dapat diatasi dengan pemakaian pensil alis. Untuk menampilkan kesan alami, sebaiknya menggunakan pensil alis dengan warna cokelat kehitaman dan bentuklah alis Adik dengan garis yang melengkung indah. 4. Guna mengatasi masalah bibir Adik yang tampak kering, sebaiknya selalu menggunakan pelembab bibir agar bibir tampak lebih sehat. Untuk mendapatkan bentuk bibir yang mendekati sempurna Adik dapat mengaplikasikannya dengan pemakaian lipstik sesuai dengan bentuk yang Adik mau, setelah sebelumnya juga menambahkan concealer di sekitar bibir yang ingin dikoreksi. Berikut ini contoh busana modifikasi yang dapat Adik kenakan pada saat upacara nanti. Selamat mencoba.

Rekor Pendaki Termuda di Dunia

Usia 13 Tahun Taklukkan Mount Everest Usia bukan halangan untuk meraih prestasi mengagumkan. Itulah yang ditunjukkan Jordan Romero, remaja 13 tahun yang barubaru ini berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest. Ia bukan saja mengukir prestasi sebagai pendaki termuda di dunia yang mencapai Everest, tetapi juga menumbangkan rekor dunia Ming Kipa asal Nepal, yang mencapai puncak Everest usia 15 tahun pada 2003 lalu. Menaklukkan gunung yang berada di perbatasan Nepal-Tibet ini, merupakan impian semua pendaki dunia. Bukan hanya karena inilah gunung tertinggi di dunia, berada 8.847 meter dari permukaan laut, tetapi juga karena tantangan berat yang dihadapi. Salah satu yang terberat adalah faktor alam, yakni, temperatur yang ekstrem (rata-rata -36 derajat celcius

Jordan Romero

bahkan bisa drop sampai -60 derajat celcius) serta ancaman longsoran salju sewaktu-waktu. Selama bertahun-tahun, Everest telah menelan korban jiwa ratusan pendaki tangguh. Tetapi, Everest tidak membuat Jordan gentar. Bersama ayah, Paul Romero, serta tiga orang pemandu, Jordan berhasil menaklukkan Everest. “Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang besar. Mencari pengalaman!

Dan, ternyata saya melakukannya pada usia 13 tahun,” ungkap remaja asal California itu. “Ketika tim kami berhasil mencapai puncak Everest, rasanya seperti tidak percaya, seperti mimpi. Kami bahagia sekali,” tambah Jordan dalam blog pribadinya. Mengikuti hobi ayahnya, Jordan begitu menyukai petualangan menantang ini. Citacitanya adalah menaklukkan

seluruh gunung tertinggi di dunia. Sebelumnya, siswa SMP ini telah menaklukkan enam gunung tertinggi, di antaranya adalah Kilimanjaro (5.895 m) di Tanzania, Afrika, saat ia berusia 9 tahun. Gunung lainnya adalah, Denalo (6.194 m) di Amerika Utara, Elbrus (5.642 m) di Eropa, Aconcagua (6.962 m) di Amerika Selatan, Carstenz Pyramid (4.884 m) di Oceania. Kini sasarannya adalah Vinson Massif (4.897 m), gunung tertinggi di Antartika, yang rencananya akan didaki pada Desember mendatang. Tahun ini, 186 pendaki mencapai puncak Everest, dua orang tewas. Secara keseluruhan, sejak gunung itu ditaklukan pertama kali oleh Edmund Hillary asal Selandia Baru dan Tenzing Norgay Sherpa dari Nepal tahun 1953, tercatat 2.700 lebih pendaki mencoba peruntungannya, 179 di antaranya tewas. —dia/berbagai sumber


20

Tokoh

30 Mei - 5 Juni 2010

Promo


tkh_594_xi_30mei-5_jun_2010