Issuu on Google+

Bunda Bunda Theresa-nya Bali Theresa-nya Bali TIDAK ada superman atau superwomen. Yang ada adalah superteam. Tiap orang bekerja dengan kejujuran, visi, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, adil dan peduli. Dengan kelebihan dan kekurangannya saling melengkapi mencapai prestasi. Ketika keuntungan diraih, maka bersandar pada falsafah bermanfaat bagi bangsa dan negara, ada persentase atau bagian yang dikembalikan demi kepentingan masyarakat. Tanggung jawab sosial perusahaan pun konsisten dilaksanakan. Demikian diungkapkan Branch Manager Federal International Finance (FIF) Denpasar, Dra. Ani Fanawatie, Ak., M.M. Bersambung ke halaman 14

Cok Istri Anom Pemayun

BKOW Berikan Beasiswa DALAM rangka merayakan HUT ke -47 Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali memberikan beasiswa kepada 50 pelajar kurang mampu. Demikian diungkapkan Ketua Panitia HUT ke- 47 BKOW Provinsi Bali Cok Istri Anom Pemayun, S.H., M.M. Lebih jauh ia mengatakan, perempuan Bali akan mampu menjadi kelompok masyarakat yang tangguh, terbuka , demokratis dan berdedikasi tinggi. Watak yang terbuka, tekun, dan penyabar inilah yang Cok Istri Anom Pemayun diperlukan menghadapi tantangan zaman yang makin kompleks. Dalam merayakan ulang tahun ke-47 BKOW Bali serta memperingati Hari Kartini, BKOW bermitra dengan banyak pihak. Diawali talk show Kamis (22/4), bertempat Grand Ballroom Mutiara Hotel Nikki Denpasar mengusung tema “Perempuan Mendukung Percepatan MDGs”, dengan menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Bu Linda Bersambung ke halaman 8 Amalia Sari Gumelar sebagai

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Ani Fanawatie

Dyah Anita Prihapsari

Jadikan Jadikan Perempuan Perempuan Mandiri Mandiri “SAMPAI sekarang Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) masih menjadi organisasi terdepan yang mewadahi pengusaha wanita dan mendorong kesuksesan kaumnya sebagai roda penggerak perekonomian. Karena itu, dengan semangat kebersamaan saya siap memajukannya,’’ ujar Ir. Dyah Anita Prihapsari, MBA, Ketua Umum DPP Iwapi periode 2010 -2016 yang terpilih melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) belum lama ini di Jakarta. Nita Yudi, begitu ia biasa dipanggil mengungkapkan, setelah terpilih dipastikan rencana jangka pendek pihaknya adalah melakukan konsolidasi ke dalam, memfokuskan peningkatan SDM, peran dan akses Bersambung ke halaman 14

Pelaku dan Korban Anak LBH APIK di Posisi Dilematis

DALAM memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) NTB, terus berupaya melakukan pendekatan-pendekatan dengan berbagai pihak terkait. Minggu lalu, misalnya, LBH APIK NTB melakukan dengar pendapat sekaligus bersilaturahmi dengan Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi, M.A., DPRD Kota Mataram dan Dinas Sosial dan Kependudukan Provinsi NTB. Saat berdialog dengan DPRD Kota Mataram, LBH APIK NTB bersama Komnas Perempuan, ingin memastikan kerja legislatif ke depan apakah akan ada inisiatif untuk melahirkan peraturan daerah yang sensitif gender. Perda Pendidikan Kota Mataram, khususnya bagian yang mengatur busana, diminta agar

Dewan Anak SD

SEBUAH ide segar mencuat dari SD 1 Kuta. Manajemen sekolah dasar negeri ini sedang berancang-ancang membidani kelahiran sebuah organisasi siswa bernama Dewan Anak. “Dewan Anak ini akan menjadi organisasi baru di lingkungan sekolah kami. Dewan Anak diharapkan kelak dapat menjadi wahana praktik belajar berorganisasi, sekaligus berfungsi memfasilitasi aktivitas kegiatan ekstrakurikuler siswa kami,” ujar penggagasnya yang menjabat kepala sekolah di lembaga pendidikan dasar berkategori Rintisan Sekolah Standar Nasional (RSSN) tersebut, Dra. Ni Ketut Sadmika. Beauty Erawati

Dorong Murid Terampil Jadi Pemasar Bisnis

S

elama ini, menurut Sadmika, spirit jiwa wirausaha sudah ditanamkan dalam aktivitas belajar-mengajar di sekolah yang baru 6 bulan dipimpinnya itu. Ini terutama dipraktikkan melalui mata pelajaran seni budaya dan keterampilan (SBK). Siswa kelas IV-VI khususnya mulai belajar majejahitan, menganyam daun lontar, membuat canang, dan berbagai jenis kerajinan tangan lainnya. “Alokasi waktunya 4 jam sepekan. Praktiknya diajarkan dalam dua kali tatap

direvisi dan ditinjau ulang. Ketua DPRD Kota Mataram H.M. Zaini mengatakan akan mempelajari hal-hal yang disampaikan dalam dialog tersebut. Direktur Eksekutif LBH APIK NTB Beauty Erawati, S.H., M.H. menyatakan lega dengan disahkannya beberapa peraturan daerah dan peraturan gubernur yang dinilai menguntungkan rasa keadilan perempuan Dra. Ni Ketut Sadmika dan dua siswanya di SD 1 Kuta dan anak. Tetapi, kini tumbul kecemasan baru. “Perda. dan muka dengan gurunya,” kata- segi bisnis. Jika hasil kerajinan Pergub. itu tidak disertai nya. tangannya bagus tentu bisa implementasinya,” ujarnya. Siswanya tak hanya dipamerkan kepada orangtua Karena itu, ia menyebut perdiajarkan terlatih menger- atau warga sekitar. Produk juangan menegakkan hak-hak jakan kerajinan tangan kerajinan siswa tersebut bukan perempuan dan anak di NTB 2 semata. Kalangan mustahil ada nilai bisnisnya BERITA masih panjang. pengajar juga menyelipkan yang dapat dirasakan siswa,” TERKAIT Tekanan yang demikian makna di balik praktik itu, katanya. Ni Made Kompiyang lahir tahun 1910 dari BACA HALAMAN 4 besar bagi dirinya maupun seperti melatih kesabaran dan Program pameran hasil pasangan suami istri I Ketut Kaler dan Nyoman Kaler. ketelatenan anak. “Mereka juga Otonan-nya Senin Pon Sinta. Kompiyang memiliki Bersambung ke halaman 16 Bersambung ke halaman 16 diberitahukan manfaatnya dari lima saudara kandung, yakni Ni Luh Geria (kakak), Ni Nyoman Supatra, I Ketut Samba, Ni Luh Rai, dan I Made Geria (adik-adik). Pada masa bocahnya ia dikenal sebagai seorang gadis manja dan kiul. Ia paling benci pada pekerjaan dapur, mencuci, menimba air, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pekerjaan-pekerjaan itu menurutnya Anne Avantie hanya membuat kulit dan tangannya kotor, serta merusak jari kuku. Adik-adiknyalah yang sering ia perintah untuk melakukannya. Adik-adiknya patuh 4 melakukan perintah kakaknya dengan sukarela. teruskan kepada anak itu. Kakaknya, Ni Luh Geria, juga menolong mereka DALAM menjawab pangTetapi, ternyata terjadi bekerja, seperti mengambilkan piring, gelas, ember, gilan Tuhan, Anne Avantie kesalahpahaman. Orangtua bahkan juga menimba air di sumur. berketetapan hati giat di Aris mengira bantuan yang Kompiyang menikah dengan I Gusti Putu Geria bidang sosial kemanusiaan. saya kirimkan itu untuk tahun 1930. Setelah menikah, tabiat Kompiyang Kegiatan perancang mode ongkos mereka pergi ke berubah. Pagi-pagi ia sudah memasak, mencuci busana kondang itu makin Semarang,” ungkap Anne. piring, mencuci dan menyeterika pakaian. Ia pun intensif, yang akhirnya meBetapa terkejutnya Anne menenun dan menjahit baju. lahirkan Pelayanan Kasih yang baru pulang dari acara Ketika Gusti Putu Geria diangkat menjadi Hydrocephalus di Semarang berdoa di Goa Kerep Ambasedahan Tejakula untuk orang tak mampu tahun Ni Made Kompiyang bersama rawa, mendapati seorang Bersambung ke halaman 16 menggantikan I Gusti I Gusti Putu Geria (alm) 2000. Mengapa ia memilih bocah berkepala besar berhydrocephalus? sama orangtuanya di rumahSuatu hari, tutur Anne, nya. “Saya terkejut. Saya pansuaminya, Henry, menyodordangi Aris, hati saya tergetar. kan koran yang isinya memaSaya melihat dia begitu parkan anak penderita hydromenderita, matanya menatap cephalus yang membutuhkan penuh permohonan. Ibu Aris bantuan donatur. Kondisinya Anne Avantie menggendong anak penderita hydrocephalus mengatakan, mereka memang sangat mengenaskan. Nama datang karena merasa menanak malang ini Aris Masori palanya besar, sorot matanya rimkan sejumlah uang, tidak dapat petunjuk dari Tuhan Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414 (6), bertempat tinggal di seolah menahan sakit. Saya banyak, kepada surat kabar Bersambung ke halaman 16 Rembang, Jawa Tengah. “Ke- sangat tersentuh, lalu mengi- yang memuatnya untuk di-

SEABAD USIA

Ni Made Kompiyang Tresni

Masa Bocahnya Dikenal Manja

KEMANUSIAAN

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Berawal dari Kesalahpahaman


2

Tokoh

18 - 24 April 2010

Aspirasi

Kartini Raden Ajeng Kartini datang ke kamar Bu Amat dan berpesan: “Selamat malam, Bu Amat. Terima kasih banyak atas semua yang sudah Bu Amat perbuat kepada suami Ibu serta putri Ibu selama ini. Putu Wijaya Ibu benar-benar sudah menunjukkan bagaimana seorang ibu yang berkepribadian Timur seharusnya bersikap di dalam keluarga. Ibu tampak selalu berusaha untuk menghargai, menghormati, menjaga perasaan suami Ibu. Dengan begitu, Ibu sudah menumbuhkan kepercayaan diri pada Pak Amat, sehingga dia tetap merasa dirinya berguna, mampu dan dicintai. Tidak semua lelaki itu kuat. Banyak di antaranya yang lemah. Bahkan begitu lemahnya, sehingga pernikahan buat dia adalah mencari teman hidup, untuk menolongnya tegak. Ia seperti sebatang pohon merambat yang memerlukan penyangga untuk berkembang. Ibu sudah melakukannya dengan baik sekali. Sehingga, walaupun Amat tak sanggup memberikan segala yang diharapkan keluarga dari seorang kepala rumah tangga, dia sudah mampu bertahan dan mengembangkan dirinya secara maksimal. Bagusnya lagi, kendati maksimal yang ia bisa lakukan, hanya menghasilkan sebuah rumah yang sederhana dan kehidupan yang tidak bisa dikatakan mewah, tetapi Ibu selalu menerima dan menghargainya, sehingga kebanggaannya sebagai kepala rumah tangga tidak berkurang. Ibu juga tidak pernah membandingbandingkan suami Ibu dengan suami-suami yang lebih sukses. Ibu tak pernah mengurangi kasih sayang Ibu, saat ia sakit, saat ia merasa dirinya lemah, bahkan saat ia menjadi begitu brengsek, Ibu dengan bijaksana, agung, penuh kasih sayang merawatnya, menyayanginya, memanjakannya. Tetapi, begitu Pak Amat mulai menemukan kembali dirinya, Ibu cepat-cepat menyadarkannya kembali untuk bekerja, berusaha dan awas terus dalam kehidupan. Kalah dan gagal tak jadi apa, asalkan sudah berusaha secara maksimal, kata Ibu. Itu sangat baik. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada semua perempuan Indonesia. Jadikanlah dirimu cahaya yang tidak hanya menerangi jalan kaummu, juga jalan teman hidupmu yang telah kau pilih sebagai teman hidupmu selama-lamanya. Namun, ada satu permintaan yang ingin saya sampaikan. Jangan berhenti mendorongnya untuk terus meningkatkan diri. Jangan hanya menerima kekurangannya. Mula-mula terima, tetapi kemudian tolong tumbuhkan, tingkatkan dan arahkan, agar dia bisa menjadi laki-laki sejati. Kalau perlu, jangan segansegan bertindak dan menegurnya. Namun, pelihara api asmaramu tetap menyala, jangan dikurangi hanya karena merasa sudah tua.” Raden Ajeng Kartini juga menghampiri Pak Amat dan berbisik. “Terima kasih Pak Amat. Sikap Bapak dalam memperlakukan istri dan putri Bapak, dengan selalu menghargai dan menghormati pendapatnya, bahkan sering mengutamakannya dengan mengenyampingkan perasaan Bapak, sungguh mulia. Usaha Bapak untuk membuat istri selalu bisa senyum, anak tetap tertawa dalam rumah, sungguh indah. Lelaki tidak seharusnya merasa dirinya lebih penting dan lebih bertanggung jawab dalam keluarga, walaupun tugasnya memang berat. Bapak telah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada istri dan anak Bapak untuk mengembangkan pikiran dan perasaannya. Dalam berbeda pendapat, Bapak selalu berusaha untuk mengertikan mengapa istri dan putri Bapak berpendapat lain. Dalam kesibukannya, ketika Bu Amat seperti tidak mengacuhkan Bapak, lebih mengutamakan kepentingan dirinya, putrinya, serta keluarganya, Bapak tetap bersabar. Ketika Bu Amat samasekali tidak mempedulikan apa yang sudah Bapak lakukan untuk keluarga, Bapak tetap tegar. Walaupun Bu Amat tidak pernah atau jarang mengucapkan maaf kalau melakukan kesalahan, Bapak tidak peduli. Ketika istri Bapak tidak pernah lagi membelai-belai Pak Amat, seperti waktu masih pacaran, Bapak tetap tenang. Bapak selalu mengatakan, bukan apa yang dilakukan istri Bapak yang Bapak nilai, tetapi apa yang menyala dalam hatinya. Terhadap putri Bapak, Bapak juga sudah bersikap adil. Banyak orang merindukan anak lelaki dan kecewa karena hanya punya anak perempuan. Tetapi, Bapak tidak. Bapak memperlakukan putri Bapak dengan begitu baiknya, sehingga mirip memanjakan. Jadi mungkin dengan segala kebaikan Bapak itu, orang jadi merasa, memang Pak Amat orang kuat yang tidak memerlukan kasih sayang. Nah, itu yang tidak baik. Jadi ke depan, jangan takut untuk memperlihatkan kelemahan. Jangan menutup mulut, katakan apa yang Bapak inginkan. Jangan biarkan istri Bapak sibuk dengan dirinya dan putri Bapak merasa bapaknya terlalu tegar sehingga tidak memerlukan bantuan. Tunjukkan kepada mereka, Bapak memerlukan mereka, supaya mereka merasa dirinya berguna. Kalau tidak, mereka akan bertambah jauh nanti dan bisa-bisa malah samasekali tidak mempedulikan Bapak. Bukan karena tak sayang. Tetapi karena mereka menyangka, memang Bapak lebih senang sendiri. Akhirnya Kartini juga menyapa Ami. “Ami, apa yang sudah kamu lakukan bagus sekali. Sebagai seorang anak, kamu menjadi contoh bagaimana menghormati orangtua. Menghormati tidak berarti harus takut atau bilang ya, ya terus. Takut akan menyebabkan orang bisa berbohong. Bohong dapat menimbulkan perselisihan. Itu tidak boleh terjadi. Kamu telah dengan berani bisa menentang Bapak dan Ibu kamu, kalau mereka salah. Tidak selamanya orangtua itu benar. Kalau mereka membuat kesalahan, siapa lagi, kalau bukan anak yang harus memperbaikinya? Tetapi, kalau mereka benar, kamu juga harus dengan ikhlas menyatakan dirimu keliru, sesudah kamu menyadarinya. Kamulah yang seharusnya membuat rumah menjadi bercahaya. Seorang anak memang harusnya begitu. Dia bukan hanya cahaya hati di hati orangtua, dia juga cahaya rumah. Karena kamu anak perempuan, Ibu benar-benar ingin bicara kepadamu sekarang antara perempuan dan perempuan. Bukan sanggul atau gelungan Ibu yang hendak Ibu wariskan. Bukan Ibu menyuruh putri-putri Indonesia memakai pakaian menirukan Ibu. Ibu hidup pada masa lalu. Kalau Ibu hidup pada masa kamu hidup sekarang, Ami, mungkin Ibu juga akan memakai apa yang kamu pakai dan berpikir seperti apa yang kamu pikirkan. Ibu hanya berharap jangan tampak luarnya, tetapi isinya, dari perjalanan Ibu masa lalu yang harus kamu simak. Perempuan Indonesia jangan pernah merasa dirinya lemah dan berserah saja. Perempuan Indonesia berhak bersuara, bergerak sesuai dengan kodrat dan kebutuhan masing-masing pribadinya dengan memperhatikan budaya Timur. Budaya Timur itu apa Ami? Bukan hanya pakaiannya, tetapi cara berpikir. Cara mendudukkan permasalahan. Satu hal yang ingin Ibu sampaikan, orangtuamu sudah makin tua. Kamu bertambah maju, mereka juga tetap berusaha untuk maju, tetapi kemampuan mereka tidak lagi selincah kamu. Jadi kamu jangan tertipu. Generasi baru harus bukan hanya lebih berani, tetapi lebih arifbijaksana dan lebih luas pandangannya dari generasi yang lebih tua. Usia tidak menjadi ukuran kedewasaan. Usia bukan ukuran kematangan. Itulah kepribadian kita. Semoga masa depanmu cerah anakku.” Bu Amat, Pak Amat dan Ami, ketiganya sangat kaget dengan pengalaman yang bersamaan itu. Pagi esoknya ketika sarapan di meja makan, ketiganya saling mengusut dan mencocokkan. “Percaya tidak percaya, kenyataannya Raden Ajeng Kartini semalam datang kepadaku dan berpesan!” kata Amat. Bu Amat menoleh. “Pesannya apa?” Amat terdiam dan berpikir. “Ayo pesannya apa. Jangan ngarang?” “Oke, tetapi kalian jangan terkejut. Kartini berpesan kepadaku: Amat, kamu belum benar-benar menghargai istri dan anakmu sebagai perempuan. Mulai sekarang tingkatkan penghargaanmu. Hormati mereka!” “O ya?” “Ya! Kalau sama Ibu dia ngomong apa?” Bu Amat berpikir. “Ayo terus terang!” “Kartini bilang, Ibu terlalu memanjakan suami Ibu, sampai-sampai dia jadi malas dan kurang memperhatikan istri dan anaknya! Sebagai perempuan kamu harus keras pada suamimu, kalau tidak nanti dia karatan!” Amat terkejut. “Mosok begitu?” Ami tertawa. “Ami juga disamperin Kartini. Dia bilang, beliau tidak berani lagi bicara sekarang sebab sudah ketinggalan zaman. Katanya sekarang Ami yang harus bicara!” Amat, Bu Amat dan Ami pandang-pandangan. Benarkah Kartini, pada tiap orang berbunyi lain? Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Relevansi Perjuangan R.A. Kartini dengan Tuntutan Era Modern” Sampaikan opini Anda Minggu 18 April 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 25 April 2010

Program 3 Rewards Emas

Beda dengan MLM Mirip PNPM Mandiri DI tengah maraknya bisnis model multilevel marketing (MLM), muncul model 3 Rewards Emas. Konsepnya berbeda dengan MLM. 3 Rewards Emas memiliki konsep multilevel simbiosis mutualism (MLSM). Visi misinya menyejahterakan rakyat miskin/menjembatani yang kaya dan yang miskin. Mirip Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Sistem ini akan diujicobakan di Bali Mei-Juli ini. Jika sistem ini berjalan baik, rakyat miskin bisa dientaskan. Mengapa program ini kurang tersosialisasikan? Dari mana sumber dananya? Siapa yang mengontrol? Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Radio Global FM 96,5 Minggu (11/4). Topiknya, “Terobosan, Mewujudkan Agenda 3 Rewards (Penghargaan) Emas”. Berikut kutipannya.

Berbeda dengan MLM 3 Rewards Emas mulai ditulis 2006. Tahun 2010, Mei, Juni, Juli ini akan soft opening di Bali. Dasar hukum 3 Rewards Emas sangat kuat. Visi misinya sosial. Pelaksananya di lapangan, beberapa organisasi yang tergabung dalam Persatuan Filantropi Indonesia (Perfindo). Organisasi ini menerima lisensi penyelenggaraan 3 Rewards Emas dari pemegang hak paten. Ada yayasan yang bertugas mengelola kesejahteraan sosial anggota organisasi ini dan masyarakat sekitarnya. Yayasan ini dikontrol masyarakat dan organisasi itu. Kegiatan bisnisnya dimulai dari kegiatan sosial. Filantropi berarti kesetia-

kawanan. Bali dipilih sebagai uji coba karena budaya kesetiakawanan/kebersamaan sangat bagus. 3 Rewards Emas berbeda dengan bisnis MLM (multilevel marketing). Bisnis MLM membicarakan sistem marketing. 3 Rewads Emas menerapkan multilevel simbiosis mutualism (MLSM), kegiatan yang saling menguntungkan satu sama lain, terlibat maupun tidak. Semua untung, semua sejahtera. Seseorang (anggota Filantropi), yang menyumbang ke yayasan diberikan 3 reward oleh yayasan. Reward 1 adalah pembiayaan belanja hemat, di toko, rumah sakit, bengkel, beli motor, dan beli rumah. Dengan menyumbang Rp 10 ribu, mendapatkan voucher reward seniali Rp 20 ribu-Rp 5 juta. Reward 2, yayasan menyiapkan santunan jikalau penyumbang mengalami musibah (sakit, kecelakaan, meninggal) yang nilainya 200 s.d. 1.000 kali lipat. Jika anggota yang menyumbang Rp 10 ribu

mengalami musibah, meninggal akan mendapatkan santunan Rp 10 juta, kecelakaan Rp 2,5 juta, sakit Rp 3 juta. Reward 3, sebesar 10% s.d. 70% dana yang disumbangkan anggota akan disumbangkan kembali ke masyarakat banjar/desanya yang miskin dalam bentuk dana hibah dan dana bergulir. Perfindo memberikan Reward Plus berupa undian gratis berhadiah. Karena organisasi ini intern, pengontrolannya di lapangan dilakukan anggotanya. Anggota sebagai dermawan, anggota yang menentukan siapa yang berhak mendapatkan dana hibah dan dana bergulir didampingi klian adat, klian banjar dalam pelaksanaannya. Dana bantuan bisnis yang diberikan ini tanpa jaminan,

tanpa bunga dan tanpa kewajiban mengembalikan jika rugi. Yang bisa masuk sebagai anggota minimal yang berpenghasilan Rp 1,5 juta (tidak memunyai tanggungan) dan memenuhi beberapa persyaratan lain. Menyumbang dibatasi, tidak boleh lebih dari 10%. Dr. Johnny Anwar, Pemegang hak paten hak merek 3 Rewards Emas

Dari Mana Sumber Dana?

tujuannya kesejahteraan sosial. 3 Rewards Emas ini dari masyarakat untuk masyarakat, bukan sepihak dari pemerintah. Tetapi, kita mengetuk kesetiakawanan dari masyarakat untuk masyarakat sendiri. Mencoba menjembatani antara si kaya dan si miskin. Dikelola anggotanya sendiri, tidak ada perusahaan. PNPM Mandiri dari pemerintah untuk rakyat. 3 Rewards Emas, dari rakyat untuk rakyat. Jika keduanya berjalan, akan sangat baik untuk mempercepat mengentaskan masyarakat miskin. Dr. Johnny Anwar

Orang menyumbang Rp 10 ribu akan mendapat dua kali Menyumbang lipatnya, kemudian mendapatdengan Pamrih kan belanja hemat, dsb. Secara logika, dari mana sumber danaApa syarat menjadi anggota nya? Filantropi? Menyumbang, menJaya Pamungkas, Tabanan dapatkan rewards seperti belanja di waserba. Jangan sampai Kerja Sama dengan orang yang menyumbang (dermawan) menyumbang berdasarPihak Tertentu kan pamrih. Bagaimana cara Ada kerja sama dengan menghimpun organisasi/perlembaga dan pihak tertentu kumpulan ini? seperti KUD, rumah sakit, Yeni dealer motor/mobil, sehingga dengan membawa voucher reKonsep wards saat berbelanja, si pedari Ajaran Agama nyumbang mendapatkan subsidi pembiayaan. Para penggerak, kumpulkan Dr. Johnny Anwar orang-orang yang memiliki niat kedermawanan. Menyumbang Mirip PNPM Mandiri dibalas dengan rewards (penghargaan), mencoba mengambil Dalam kegiatan ini yang konsep dari ajaran agama yang bergerak hanya yang memiliki mendapatkan pahala ketika kemampuan minimal Rp 1,5 juta, berbuat amal, memberikan pengyang miskin hanya menanti hargaan balik bagi yang mebantuan saja. Pergerakan ini nyumbang. Ikut 3 Rewards mirip PNPM Mandiri. Mengapa Emas, harus mengikuti perorang-orang yang kaya tidak syaratan yang diberlakukan. mengumpulkan uang saja dan Voucher itu surat bukti. Kita langsung disumbangkan ke memberikan nota/surat bukti desa yang tergerak dalam bahwa si penyumbang dibiayai PNPM Mandiri? Ini bisa tumbelanja hematnya, mendapatkan pang tindih. Siapa yang memusantunan jika mengalami musingut uang? Apakah dia jujur? bah. Jangan sampai karena Santa terkena musibah, si penyumbang menjadi miskin. Ini dijaga Dari Rakyat agar semua bisa seimbang. Dr. Johnny Anwar untuk Rakyat Kegiatan ini tidak jauh berBersambung ke hlm. 16 beda dengan PNPM Mandiri,

Kepemimpinan Perempuan Dalam Era Modern PADA zaman modern sekarang ini, perempuan bukan lagi kaum lemah. Perempuan bisa sejajar dengan laki-laki. Perempuan kini juga bisa memainkan perannya sebagai pemimpin sebagaimana biasanya dilakoni laki-laki. Perempuan bisa berperan sebagai pemimpin keluarga, bisa sebagai kepala desa, kepala kantor, dan lain-lain. Namun, selama ini jumlah perempuan yang memimpin di keluarga, di kantorkantor, perusahaan, dan di sekolah, masih sangat sedikit. Harapan kita makin banyak perempuan yang menduduki jabatan sebagai pemimpin, pemimpin formal maupun informal. Sedikitnya perempuan yang menjadi pemimpin sebenarnya dipengaruhi banyak faktor. Misalnya, faktor budaya yang masih belum memberikan peluang kepada perempuan menjalankan peran kepemimpinannya. Masyarakat masih belum banyak mendukung potensi kepemimpinan perempuan. Kalau perempuan yang memimpin, selalu saja dirongrong dan dikritik dengan berbagai pandangan yang negatif. Cap tertentu yang melemahkan perempuan dilontarkan kepada pemimpin perempuan. Faktor yang datang dari dalam diri perempuan juga ada. Misalnya, masih rendahnya kemampuan memimpin. Ini tentu akibat perlakuan diskriminasi yang dialami kaum perempuan sejak berabad-abad. Juga, dipengaruhi faktor pendidikan dan pengalaman perempuan yang relatif masih rendah. Jika pengalaman memimpin perempuan itu cukup panjang dan lama, pemimpin perempuan akan makin matang dalam melaksanakan tugasnya. Pengalaman itu pula akan memberikan pelajaran berarti bagi pe-

rempuan dalam memimpin. Sebab, tantangan dan tanggung jawab memimpin berbeda di berbagai tingkat kepemimpinan. Memimpin keluarga, misalnya, akan berbeda dengan memimpin di desa sebagai kepala desa, begitu pula dengan memimpin di kantor. Biasanya kalau seorang perempuan menjadi pemimpin di kantor atau perusahaan, yang dihadapi orang-orang yang berpendidikan dan tidak perlu diatur karena masing-masing bawahan sudah mengerti apa tugasnya. Jadi, tidak begitu banyak kendala bagi si pemimpin perempuan. Sehingga, kalau menjadi pemimpin di kantor atau perusahaan perempuan cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan yang tinggi. Kalau perempuan menjadi lurah, yang dia hadapi bukan hanya orang-orang pintar, tetapi juga orang bodoh, orang yang keras kepala, beraneka ragam tingkah lakunya. Belum lagi dihadapkan pada nada-nada sumbang yang membuat kuping menjadi panas. Apakah ini yang menyebabkan sedikit perempuan berani mencalonkan diri menjadi kepala desa? Semoga, tantangan seperti ini bukan menjadi alasan bagi perempuan untuk tidak berani tampil menjadi pemimpin. Perempuan memang harus belajar lebih banyak. Dengan banyak belajar memberi makna bahwa perempuan berusaha memberdayakan dirinya lewat penguasaan ilmu dan teknologi. Perempuan harus mengubah cara berpikir yang sangat domestik menuju publik. Isu gender dalam era global mayoritas menyangkut masalah penindasan dan eksploitasi, kekerasan, dan persamaan hak dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Masalah yang sering muncul, perdagangan perempuan, dan pelacuran paksa, yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait, antara lain dampak negatif urbanisasi, relatif tingginya angka

Made Suantina kemiskinan dan pengangguran, serta rendahnya tingkat pendidikan. Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Kalau dilihat dalam kamus, tidak dibedakan secara jelas kata seks dan gender. Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian seks merupakan persifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Mengapa terjadi ‘perbedaan’ gender? Mengapa manusia yang (hanya) memiliki perbedaan kelamin diperlakukan secara tidak setara? Terbentuknya perbedaan gender dikarenakan banyak hal. Di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang, sosialisasi perbedaan gender tersebut akhirnya dianggap menjadi hukum positif. Melalui dialektika, konstruksi tersebut lama-kelamaan seolah-olah menjadi hukum Tuhan. Demikian seterusnya melalui dialektika konstruksi sosial perbedaan gender secara evolusioner menjadi kebenaran yang absolut.

Hal yang menarik untuk dikaji dan dibahas bagaimana kaum yang awalnya dipandang ‘sebelah-mata’ (misogyny), dan memiliki bermacam-macam anggapan buruk (stereotype) yang dilekatkan padanya, serta aneka citra negatif yang mengejawantah dalam tata-nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik; dapat bangkit dan membuktikan keberadaannya di segala bidang kehidupan. Hal ini sudah banyak terbukti, bahkan beberapa perempuan masa kini diklaim lebih superior daripada laki-laki. Dapat dimaklumi jika sampai saat ini kaum perempuan masih menyimpan sakit hati, sebab sejak zaman dahulu di Barat, bagi tokohtokoh seperti Plato dan Aristoteles, diikuti St. Agustinus dan Thomas Aquinas pada Abad Pertengahan hingga John Locke, Rousseau dan Nietzsche pada awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki (Isa 2005). Perempuan disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Namun, sekarang tidaklah adil jika perempuan masih diperlakukan seperti pada zaman dulu. Lebih baik memfokuskan pada bagaimana mengubah stereotype tentang perempuan yang telah berkembang tersebut. Agenda emansipasi selanjutnya ialah bagaimana membebaskan perempuan dari ‘penjara kesadarannya, mengingatkan perempuan bahwa mereka tidak lagi berada dalam cengkeraman lelaki. Sebentar lagi Bangsa Indonesia memperingati hari bersejarah nasional. Hari itu merupakan wujud pemberontakan untuk memperoleh sebuah pengakuan dari kaum berjenis kelamin perempuan, Hari Kartini. Hari yang selalu diperingati tiap 21 April itu identik dengan nilai-nilai sejarah masa lalu dari keberhasilan seorang bernama Raden Adjeng Kartini untuk mengangkat

martabat kaumnya yang selalu menjadi makhluk nomor dua dalam pandangan masyarakat waktu itu. Perjuangan Kartini untuk menegakkan keadilan merupakan proses awal kemajuan kaum perempuan di Indonesia. Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kaum perempuan dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Dalam era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Perempuan sampai saat ini masih banyak yang bergantung pada laki-laki. Hal itu jauh sekali dari keinginan yang ditulis Kartini yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah karya besar berjudul “Door Duistermis Tox Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu yang berbunyi: Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri (Suratnya kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899). Made Suantina Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Buleleng: Putu Yaniek Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim NTB: Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370)639543–Faksimile (0370)628257 Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 2223 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031)5675240 Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com Situs: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


18 - 24 April 2010 Tokoh 3

Dr. Kartini Sjahrir Panjaitan 1

PERJALANAN cinta pasangan suami-istri Kartini dan Sjahrir tergolong unik. Keduanya boleh dikatakan tidak pernah melewati masa pacaran. Mereka hanya berteman. Bahkan mulanya Kartini atau biasa disapa Ker, benci pada Sjahrir yang dinilai sombong dan kalau berbicara ceplasceplos. Akhirnya mereka bisa dekat sebagai teman, berkat kegigihan Sjahrir yang terus mendekati Ker. Namun, Ker bersikap cuek. Dia pura-pura tidak tahu, malah jatuh hati pada lelaki lain. Selama tujuh tahun Sjahrir menanti, sambil menyaksikan sang pujaan hati berpacaran dengan lelaki lain. Hatinya perih tetapi cintanya tak surut. Itulah yang namanya jodoh. Meski awalnya Kartini tidak mencintai, akhirnya mau juga dinikahi Sjahrir yang datang dikawal kepala penjara. Saat itu Sjahrir dijebloskan ke penjara selama 3 tahun 10 bulan akibat terlibat peristiwa 15 Januari 1974 (Malari). Sjahrir datang untuk melamar Kartini pada ibunya.

Cinta Segi Tiga: Kartini, Sjahrir, Soe Hok Gie Sjahrir hanya memerlukan waktu setengah jam untuk meyakinkan ibu Kartini. Dia berjanji jika Kartini diizinkan menikah dengannya, akan membahagiakannya. Sang Ibu, Ny Frida, yang sudah lama mengenal Sjahrir, langsung mengiyakan. Tinggal Kartini yang kebingungan, karena merasa tidak pernah berpacaran dengan pria yang akrab disapa Ciil itu.

Dia juga tidak yakin apakah mencintai Ciil, karena sebenarnya ia telah memiliki kekasih. Di sisi lain, ibunya sudah telanjur menerima lamaran Ciil. Kisah asmara yang menarik dan unik ini diceritakan Kartini secara terbuka kepada wartawati Koran Tokoh di Jakarta. Termasuk, soal hubungannya dengan Soe Hok Gie, tokoh demonstran UI. Sempat ada rumors bahwa ada kisah cinta segitiga antara Sjahrir, Kartini dan Soe Hok Gie. Mendaki Gunung Sebenarnya, ungkap Kartini, Soe Hok Gie sahabat kental Sjahrir dan dialah orang yang ingin menjodohkan Ciil dengannya. Hok Gie pun sudah punya pacar yang merupakan sahabat Kartini. Namun, dalam perjalanannya cinta Hok Gie tidak berjalan mulus. Ketika sahabat Kartini mendapatkan kekasih baru, Hok Gie merana dan patah hati.

Soe Hok Gie

Bersambung ke halaman 18

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414


4

Tokoh

Bisnis

18 - 24 April 2010

Undian 3 Rewards Emas bukan Praktik Judi

Dongkrak Promosi Pemasar di Media Massa Berkedok

KONSEP multilevel marketing dalam dunia bisnis modern menginspirasi Dr. Johnny Anwar menggagas lahirnya konsep pemberdayaan kegiatan sosial ekonomi bermerek 3 Rewards . Namun, konsep 3 Rewards didesainnya bukan meniru secara utuh model multilevel marketing. “Konsep 3 Rewards lebih menekankan orientasi perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat miskin,” jelas alumnus pendidikan pascasarjana di Jerman dan Cina ini. Menurut Johnny, sebagai pemegang hak paten, dirinya mendirikan sebuah yayasan sosial sesuai Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor AHU-1419.AH.01.02 Tahun 2008. Yayasan sosial ini menggandeng Organisasi Persatuan Filantropi Indonesia (Perfindo) untuk mengumpulkan sumbangan sosial suka rela. Sumbangan yang menyasar komunitas anggota Perfindo dilakukan tanpa paksaan. Dana sosial tersebut dikelola untuk memberdayakan kesejahteraan anggota Perfindo dan warga lain di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. “Mekanisme pengelolaan dana tersebut dikerjakan oleh manajemen yayasan melalui pemberian tiga bentuk penghargaan (rewards), yakni penghargaan dalam bentuk pembiayaan belanja hemat untuk para anggota, penghargaan dalam bentuk santunan sosial kemanusiaan, dan penghargaan sebagai dermawan kepada para anggota,” jelasnya. Ada pula reward plus yang difasilitas manajemen pengelolanya. Penghargaan tambahan yang keempat ini dikelola Perfindo. Namun, menurut Johnny, sifat penghargaan ini sekadar menambah daya tarik bagi masyarakat agar mau merogoh koceknya untuk kepentingan sosial kemanusiaan yang dikelola yayasan. “Namun, besar sumbangan sosial yang diberikan tidak boleh lebih 10% penghasilan anggota yang bersangkutan,” ujarnya. Penghargaan plus tersebut diberikan dalam bentuk undian gratis berhadiah. Undian ini dilaksanakan dalam bentuk permainan tebak angka. Penentuan pemenangnya dilakukan dengan cara diundi. Namun, syaratnya, peserta undian harus menunjukkan kartu anggota, menunjukkan bukti sumbangan kepada yayasan, menyerahkan barang bekas, dan jika menang undian bersedia menyumbang 10% kepada orang miskin di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, katanya, semua data peserta undian dilakukan melalui sistem komputerisasi. Pelaksanaan undian dilakukan oleh pengurus dan disaksikan para anggota melalui data peserta undian diacak untuk mendapatkan pemenangnya. Pemenang ditetapkan melalui berita acara resmi yang diputuskan Perfindo dan saksi yang berwenang. “Pengumuman pemenang dilakukan melalui SMS, media massa, dan website. Pembagian hadiah dilakukan paling lambat 12 jam setelah penarikan undian,” jelas hak paten hak merek 3 Reward mas ini. Namun, ia mengingatkan, penyelenggaraan undian sebagai reward plus jelas masuk kategori permainan tebak angka. Undian ini murni permainan berhadiah yang dilaksanakan berbeda dengan praktik perjudian. “Modelnya justru tak ubahnya dengan penarikan undian yang selama ini popular dilakukan kalangan perbankan atau penggalian dana sosial untuk renovasi banjar adat,” ujarnya. Ia membandingkan perbedaan praktik judi togel dengan undian gratis berhadiah 3 Rewards Emas. Praktik judi togel jelas melanggar Pasal 303 Ayat 3 tentang judi karena praktik permainan tidak berlangsung antarmereka yang turut bermain. “Sementara undian gratis berhadiah 3 Rewards Emas melibatkan hanya mereka yang turut bermain. Mereka ini jelas anggota Perfindo,” katanya. Selain itu, perbedaan judi dan undian berhadiah 3 Rewards Emas, adalah tujuan dan penyelenggaranya. Judi biasanya bertujuan memperkaya diri sendiri, sedangkan undian berhadiah 3 Rewards Emas ditujukan untuk kesejahteraan sosial ekonomi anggota Perfindo dan warga miskin di sekitar wilayah masing-masing anggota. Ketentuan UU Nomor 22 Tahun 1954 tentang Undian menekankan, izin penyelenggaraan undian hanya diterbitkan untuk keperluan sosial yang bersifat umum. Ini dikuatkan lagi dengan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 13/HUK/2005 yang menegaskan hal serupa. Dasar yuridis itu menguatkan penegasan konsep undian

berhadiah 3 Rewards Emas sebagai bukan judi. Ini disimak dari badan penyelenggara undiannya. UU tentang Undian maupun Peraturan Menteri Sosial tadi hanya mengizinkan penyelenggara undian hanya boleh dilaksanakan oleh organisasi yang diakui sebagai badan hukum. “Undian berhadiah 3 Rewards Emas jelas diselenggarakan organisasi Perfindo sebagai badan hukum. Ini berbeda dengan praktik judi yang biasanya dilaksanakan

Dr. Johnny Anwar

perorangan atau bandar judi,” tegasnya. Inilah sebagian kecil dasar jukum keabsahan model penarikan undian berhadiah 3 Rewards Emas. “Apalagi, kalangan ahli hukum agama, termasuk kalangan guru besar Islam dari Universitas Islam Jakarta, telah meyakinkan ini memang bukan judi,” tambah Johnny. —tin

STRATEGI pemasaran produk bisnis di Bali dinilai harus lebih banyak dilakukan melalui media massa. Ini bukan saja penting digarap manajemen pengelola bisnis multilevel marketing, juga kalangan pelaku industri pariwisata, terutama hotel dan restoran. Hal itu ditegaskan pimpinan Bank Indonesia Cabang Denpasar Jefrrey Kairupan dan Ketua DPC Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya. Menurut keduanya, media massa memegang peran penting untuk membangun pencitraan positif produk bisnis. Citra positif ini harus terus-menerus dilakukan jika hendak menembus pasar bisnis. Kalangan manajemen multilevel marketing diharapkan merespons kesan kurang bagus

Undian 3 Rewards Emas

Bermisi Sosial Ekonomi UNDIAN berhadiah 3 Rewards Emas dinilai konsep ini tidak mengandung unsur judi. kalangan ahli agama, politisi, dan penegak Permainannya tak ada unsur taruhan, tak ada hukum sebagai bermisi sosial ekonomi. Mereka unsur menang dan kalah,” jelasnya. menaruh harapan agar konsep Ahli hukum Islam dari Uniini mendapatkan dukungan versitas Islam Negeri (UIN) luas dari kalangan masyarakat, Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. termasuk aparat penegak Dr. H. Muhammad Amin Suma, hukum. S.H., M.A. justru menilai, konsep 3 Rewards Emas merupa“Konsep ini mengandung tujuan mulia. Oleh karena itu, kan terobosan alternatif yang konsep ini harus didukung guditujukan menekan praktik perjudian. “Jika upaya represif sena makin meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar lama ini dipakai untuk memberantas praktik perjudian, politisi Dr. Ir. Akbar Tanjung. konsep 3 Rewards Emas malah Menurut mantan menteri mengandung tujuan yang sama, Pemuda dan Olahraga RI ini, tetapi dilakukan secara permasyarakat kita masih dibelit suasif. Konsep ini bahkan menpersoalan kemiskinan. Kesendorong menguatnya sikap kejangan ekonomi antara kelomdermawanan di kalangan mapok kaya dan miskin masih syarakat,” tandas dekan Fakulmenganga.Masalah ini tentu tas Syari’ah dan Hukum UIN harus terus diatasi, terutama Syarif Hidayatullah Jakarta itu. untuk memperpendek jarak keMantan wakapolda Bali senjangan itu. “Salah satu Akbar Tanjung caranya tentu dapat dilakukan Irjen Pol (Purn) Dr. Teguh Soemelalui dukungan terhadap darsono, S.I.K., S.H., M.Si. konsep 3 Rewards Emas,” ujar politisi yang mengaku telah mendalami konsep 3 Rewards menjabat ketua Dewan Pembina DPP Partai Emas. Hasilnya, ia tak menemukan adanya unsur judi seperti yang diancam Pasal 303 KUHP. Konsep Golkar itu. Hal senada diutarakan Prof. Dr. Ali Mustafa tersebut justru mengandung misi sosial ekonomi. Yaqub, M.A. Wakil ketua Majelis Ulama Indo- “Ada upaya membangun transaksi sosial dan nesia yang membidani komisi fatwa ini ekonomi dalam bentuk filantropi berdasarkan kultur menegaskan, konsep ini telah dikajinya untuk dan psikologi sosial masyarakat kita,” ujar mantan meyakinkan ada tidaknya unsur judi. “Ternyata kepala Divisi Pembinaan Mabes Polri ini. —sam

Bermotif Penipuan

MLM

Jeffrey Kairupan

yang berkaitan dengan keluhan masyarakat yang menganggap jelek model bisnis ini. Padahal, ini dinilai salah satu strategi pemasaran yang jitu. “Sosialisasi di media massa seharusnya lebih sering dilakukan agar masyarakat dapat merespons bisnis multilevel marketing ini secara positif,” ujar Jeffrey Kairupan saat berlangsung diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan CNI Cabang Bali di Kuta belum lama ini. Sementara Rai Suryawijaya menilai, kalangan industri pariwisata, terutama yang bergerak di bidang hotel dan restoran pun seyogianya melakukan hal serupa untuk menembus lebih luas wilayah pasar konsumennya. “Dongkraklah promosi melalui media massa,” harap owner sekaligus Group General Manager Respati, The Batu Belig, and Aninira Resort Ubud ini. Menurut praktisi pariwisata yang pekan lalu terpilih memimpin PHRI Badung bersama sekjen I Gusti Kade Sutawa itu, selain promosi di media, kalangan praktisi bisnis hotel dan restoran di Bali diharapkan makin intens mengikuti berbagai ajang promosi lainnya. —sam

PERILAKU oknum pemasar produk bisnis melalui pendekatan multilevel marketing bermotif penipuan mulai mengundang keluhan. Oknum pelakunya diungkapkan piawai merayu melalui penawaran produknya, tetapi ujung-ujungnya baru ketahuan ada unsur kriminal. Kadek Budi Martini, S.E., M.M. menjadi salah seorang korbannya. Hal ini dikisahkannya saat berlangsung diskusi komprehensif kerja sama Koran Tokoh dan CNI Cabang Bali di Kuta Rabu (7/4). “Suatu ketika, saat berada di kampus, saya dihampiri seorang perempuan muda. Dia mengaku dari sebuah instansi Kadek Budi Martini, M.M. kesehatan. Saya tertarik melayaninya, karena dia mengaku dari instansi pemerintah tersebut,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mahasaraswati Denpasar ini. Namun, sejurus kemudian, tamunya itu tanpa basa-basi menyodorkan sebuah kotak. “Ibu sangat beruntung hari ini mendapat suvenir,” tutur tamu tak diundang tadi kepada Kadek Budi. Dengan perasaan heran bercampur curiga Kadek Budi membuka kotak tersebut. “Saya sedikit heran karena saya merasa tidak pernah ikut undian atau kuis berhadiah,” katanya. Isi kotak ternyata gelang dan kalung. Ada selembar kertas pula di sisi kotak. “Kertas ini menarik perhatian saya. Isinya ternyata rincian harga,” katanya. Kadek Budi kecewa meladeni tamunya itu. Sang tamu bukannya menjelaskan kehebatan produk, tetapi memaparkan rincian harga gelang dan kalung. “Semula ia bilang produk itu gratis. Tetapi, untuk mendapatkannya saya harus membayar ongkos kirim,” kisahnya. Oknum pemasar gelang dan kalung tadi ternyata ketahuan sedang menjajakan produk bisnis kesehatan dari sebuah manajemen multilevel marketing. Namun, caranya memasarkan kepada Kadek Budi justru membuahkan citra tidak positif. “Saya melihat ini kelemahan teknik berkomunikasi pemasarnya. Pemasar seperti itu jelas tak dilengkapi kemampuan presentasi maupun berkomunikasi yang baik. Caranya terkesan memaksa, tanpa mengindahkan etika berkomuniaksi,” katanya. Cara seperti itu bisa meninggalkan trauma bagi calon downlinernya. “Ini mungkin disebabkan mindset pemasarnya hanya dicitrakan harus mencari kaki atau dowliner. Padahal, mereka harus dibekali kemampuan human relations serta cara berkomunikasi yang bagus,” jelas istri Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardhana, S.E., M.M. ini. —tin

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BALI KEPMENDIKNAS NO. : 58/D/O/2005, 1. Program S1 Keperawatan No. : 923/D/T/2007 2. Program D III Keperawatan No. : 924/D/T/2007, 3. Program D III Kebidanan No. : 3039/D/T/2007 MENERIMA MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2010/2011

PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN (S1. NERS), PROGRAM D III KEPERAWATAN (AKADEMI KEPERAWATAN), PROGRAM D III KEBIDANAN (AKADEMI KEBIDANAN), (REGULER DAN KONVERSI) PERSYARATAN : 1. Untuk Program Sarjana (S1) Keperawatan Reguler a. Lulusan SMA Jurusan IPA b. Lulusan SMK Jurusan Kesehatan 2. Program D III Keperawatan & D III Kebidanan Reguler : a. Lulusan SMA Jurusan IPA & IPS b. Lulusan SMK Jurusan Kesehatan c. Khusus untuk D III Kebidanan hanya menerima perempuan Untuk D III Keperawatan Kelas Konversi : - Lulusan SPK Untuk D III Kebidanan Kelas Konversi : - Lulusan SPK atau D1 Kebidanan 3. Persyaratan : a. Fotocopy Ijazah/tanda peserta UAN= 2 lembar b. Pas foto 3 x 4 = 4 lembar c. Usia maksimal 26 tahun d. Tinggi Badan sekurang-kurangnya : 1) Pria = 155 cm 2) Wanita = 150 cm 4. Jadwal Pendaftaran : a. Gelombang I : 1 Maret 2010 b. Tempat : Kampus II STIKES Bali (Jln. Tukad Balian No. 180 Renon-Denpasar) c. Telp. (0361) 8764848 Fax. (0361) 256937 d. Website : www.stikes-bali.ac.id e. Waktu : Pkl 08.30-12.30 Wita f. Gelombang II : diatur kemudian 5. Seleksi : Tanggal : Jumat, 2 Juli 2010 pkl 09.00-12.00 Wita Tempat di Kampus I dan Kampus II STIKES Bali 6. Pendaftaran Jalur PMDK : a. Tanggal : 6 Januari s.d. 20 Februari 2010 dan

pengumuman hasil PMDK tanggal 1 Maret 2010 b. Tempat : Kampus II STIKES Bali (Jln. Tukad Balian No. 180 Renon-Denpasar) c. Telp. (0361) 8764848 (0361) 221795 Fax. (0361) 256937 d. Website : www.stikes-bali.ac.id e. Waktu : Pkl 08.30-12.30 Wita 7. Persyaratan Pendaftaran Jalur PMDK : a. Fotokopi rapor semester I s.d. V yang telah dilegalisir sebanyak 2 rangkap dengan menunjukkan rapor asli b. Surat Rekomendasi dari Kepala Sekolah masing-masing c. Formulir pendaftaran dapat diambil di Kampus II STIKES Bali, pada saat sosialisasi kampus di sekolah SMA atau di website STIKES Bali (www.stikes-bali.ac.id) 8. Fasilitas : a. Gedung milik sendiri b. Laboratorium Keperawatan c. Laboratorium Kebidanan d. Laboratorium Komputer & Internet Hotspot 24 Jam e. Laboratorium Biomedik f. Perpustakaan Digital g. Asrama (wajib bagi mahasiswa putri D III Keperawatan, sedangkan bagi mahasiswa putri S1 Keperawatan Ners dan D III Kebidanan disesuaikan dengan kapasitas asrama) h. Parkir luas, photocopy center & kantin 9. Biaya Pendaftaran : a. Program S1 Keperawatan : Rp 300.000 b. Program Diploma: Rp 250.000 c. Pilihan 2 Program Studi : Rp 500.000 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bali Ketua, Ttd Drs. I Ketut Widia, BN.Stud.,MM NIP. 195109041979031001


K artini

Punya Desa Binaan di Cimanggis

Diledek Teman-temannya karena Bernama Kartini TERLAHIR bertepatan dengan peringatan Hari Kartini dan diberi nama Kartini, meninggalkan kesan tersendiri bagi Dr. Ir. Luh Kartini M.S. Saat SMP, ia selalu pulang sekolah dengan linangan air mata. Ia malu diledek teman-temannya karena bernama Kartini. Bahkan, namanya sering diplesetkan menjadi Kartono. “Tiap pulang sekolah saya menangis dan mengadu ke Kakek,” ungkapnya sambil tertawa. Begitu kesalnya, Kartini minta namanya diganti. Ia tidak mau terus-terusan diledek temantemannya. Ketua Bali Organic Association (BOA) ini sejak kecil sudah dekat

dengan kakeknya, Wayan Tebus (alm.). Nama Kartini pun, diberikan Kakek sebagai tanda sayangnya kepada cucu perempuan pertamanya itu. Wayan Tebus sering menasihati Kartini agar bangga menyandang nama tersebut. Ia inginkan Kartini terus melanjutkan sekolah ke jenjang

setinggi mungkin. Kartini kecil sering diajak kakeknya belajar hal-ihwal obat-obatan. Ia sering melihat kakeknya mengobati orang lain dengan menggunakan obat-obatan tradisional. Ia pernah melihat kakeknya membuat ramuan dari cacing tanah yang kemudian memberi inspirasi pada dirinya untuk menemukan pupuk kascing dan suplemen cacing. Ia mengharapkan, kaum perempuan hendaknya bercermin pada cita-cita R.A. Kartini. “Dulu tidak ada kebebasan, perempuan terpinggirkan. Sekarang sudah

Namanya Sama dengan Bidan yang Tangani Kelahirannya

Ketut Kartini

DASTER hitam bercorak kembang putih yang melekat di badannya dan rambutnya yang basah terurai membuat perempuan lanjut usia itu terlihat segar. “Saya baru selesai mandi,” tuturnya menyapa wartawati Koran Tokoh yang bertandang ke rumahnya. Dengan langkah pelan, sandal kayu yang dipakainya terdengar keras karena bersentuhan dengan lantai. “Sandal ini berat, tetapi berman-

faat untuk kesehatan, melancarkan peredaran darah,” ujarnya sembari menuju kursi merah bermotif bunga di teras rumahnya di Kelurahan Banjar Jawa, Singaraja. Bagi perempuan bernama Ketut Kartini ini, tanggal 10 Juli 1941 merupakan hari bersejarah. Hari itu ia lahir dan dianugerahi orangtuanya nama Ketut Kartini. “Sebelum saya dilahirkan, kedua orangtua saya panik. Jarak rumah kami dengan rumah sakit harus ditempuh beberapa jam. Hampir saja saya dilahirkan di mobil,” ungkapnya. Ia menuturkan, sambil terus berdoa selama dalam perjalanan, ayahnya berjanji jika anaknya lahir di rumah sakit, akan diberi nama sama dengan bidan yang membantu persalinan Ibu. Doanya terkabul, janji pun dipenuhi. Bidan yang menangani kerlahirannya berasal dari Jawa bernama Kartini. “Sejak saya bocah Ayah selalu menekankan, ada tanggung jawab besar di balik nama saya. Tirulah pahlawan Kartini,

sikap dan prilakunya bagi kebangkitan perempuan,” tutur Ketut Kartini. Nama Kartini sangat berpengaruh dalam kehidupan Ketut Kartini. Sejak remaja, Ketut Kartini menjadi bintang di sekolah. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sekolah seperti pramuka, sepak bola perempuan, bola keranjang dan kegiatan lainnya. Waktu duduk di bangku SMP, Ketut Kartini bahkan dipercaya memimpin senam yang diikuti seluruh pelajar di Buleleng. “Orangtua saya tak pernah melarang saya melakukan kegiatan apa pun sepanjang itu positif. Sebagai anak perempuan saya tak merasa dikekang dalam berkreasi,” katanya. Saat duduk di SMA, Ketut Kartini juga sempat menari di Istana Tampak Siring menyambut kedatangan Ratu Serikit dari Thailand. Sejumlah jabatan dipercayakan pada diri peraih Piagam Dharma Budaya Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta 2005 ini, terutama setelah menikah dengan Made Rimbawa,

Luh Kartini

banyak kemajuan teknologi. Kita harus tetap menjaga kebenaran alam, agama, dan hukum. Perempuan tetap berkarier tanpa melupakan tanggung jawab sebagai istri, ibu, dan tetap menjaga spiritualisme,” kata istri I Made Agustina ini. –ast yang kini menjabat ketua Majelis Utama Desa Pakraman Kabupaten Buleleng. Ia pernah menjabat kepala Seksi Akuisisi Pengolahan Bibliografi dan Deposit Perpustakaan Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Pembinaan Perpustakaan Bali dalam era 1990-an. Ketut Kartini juga menjabat ketua Ikatan Pustakawan Indonesia 1999-2007. Setelah pensiun sebagai PNS tahun 2001, ia aktif dalam berbagai organisasi yaitu sebagai wakil ketua PKK Kecamatan Buleleng dan ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Provinsi Bali tahun 2003. “AMAN dibentuk sebagai wadah perjuangan masyarakat adat untuk menegakkan hak-hak adat, eksistensi dan kedaulatan untuk mengatur dirinya sendiri. Anggotanya komunitas masyarakat adat seluruh Indonesia,” jelas ibu enam anak dan nenek 15 cucu ini. Ia mengungkapkan, keterwakilan perempuan dalam AMAN dimaksudkan untuk meningkatkan sumber daya perempuan adat melalui pelatihanpelatihan adat. Sampai saat ini Bali belum memiliki lahan khusus untuk perempuan adat. Di NTT ada lahan khusus yang disediakan untuk perempuan adat. Meski sudah lansia, Ketut Kartini tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan AMAN termasuk Kongres AMAN di Lombok dan Kalimantan. —put

Tragedi Dua Bocah dari Tampaksiring

Lagi, Terancam Dijual Ayahnya DRAMA yang mengisahkan tragedi dua bocah di Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar, lagi berulang. Sepasang anak tak berdosa ini memang masih bernasib mujur. Ayah kandungnya, Dewa Komang Kertayasa (26), hampir berhasil menculik dua buah hatinya itu dari tangan sang istri, Ni Komang Nusantari (26). Sebelumnya, lelaki pengangguran itu terus menebar ancaman akan menjual kedua anak kandungnya tadi. Sisa trauma masih membekas di wajah putra sulungnya yang masih berumur 10 tahun. Kesan muram terpancar dari wajah lugu bocah malang ini. “Dia masih takut jika ketemu orang tak dikenal,” ujar Komang Nusantari, sang ibu kepada Koran Tokoh di Klungkung pekan lalu. Kejadian naas sempat dialami dua kakak beradik itu belum lama berselang. Seperti pernah diberitakan Koran Tokoh sebelumnya, Kertayasa terus mengancam istri dan ibu kandungnya, Desak Ketut Jati (65) akan menjual dua anak tak berdosa ini. “Awalnya, anak saya itu minta uang untuk berjudi. Saya tidak mau memberikannya. Dia lalu mengancam akan menjual dua cucu saya,” ujar Desak Jati dengan wajah geram. Menurut Nusantari, perangai suaminya itu belakangan makin menjadi-jadi. Kegemarannya berjudi tak jua berhenti. Ia pun mulai ketahuan doyan bermain cewek. “Judi dan cewek kafe menjadi teman barunya. Dia mulai jarang pulang ke rumah,” ujar Nusantari dengan wajah sendu. Namun, Nusantari berusaha tetap bersikap seolah tak ada masalah dengan suaminya. Padahal, cerita tak sedap itu sudah berembus dari mulut ke mulut warga di sekitar tempat tinggal mereka di Banjar Manukaya, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring.

Kertayasa bisa Dijerat Pidana Penjara Maksimal 15 Tahun “Tetapi, saya tetap berusaha menghindari keributan. Saya terus mengalah jika dia pulang ke rumah dan memancing keributan,” jelas Nusantari. Motif keributan biasanya disulut masalah aktivitas judi Kertayasa. Jika dia pulang dengan omelan besar bisa dipastikan uang di kantong sudah terkuras di meja judi, termasuk ‘jajan’ cewek kafe. “Untuk meredam keributan, saya merelakan uang dan perhiasan untuk dijualnya, bahkan sepeda motor saya digadaikannya. Uangnya lagi habis di meja judi dan main perempuan,” lanjutnya. Padahal, Nusantari bekerja keras saban hari mengais rezeki dari artshop milik ibu mertuanya di kawasan wisata Tirta Empul. Artshop ini dimiliki Desak Jati sejak 15 tahun silam. Namun, sejak menikah dengan Kertayasa tahun 2000, Nusantari lebih sering dipercayakan ibu mertuanya mengurus bisnis artshop tersebut. “Inilah satu-satunya sumber nafkah mertua, saya, dan anak-anak kami,” ujar Nusantari. Saat mengelola artshop, Nusantari mulai berdagang sejak pukul 09.00 hingga 18.00. Ia selalu membawa kedua anaknya di artshop tersebut. “Tetapi, setelah dia menggadaikan sepeda motor praktis saya harus berjalan kaki menuju tempat artshop,” lanjutnya. Sebuah mobil pemberian mertuanya pun dijual sang suami. “Kami tak punya kendaraan lagi. Repotnya, jika anak-anak berangkat sekolah, mertua saya yang

Ni Nyoman Candra Dewi, S.H.

mengantarnya dengan berjalan kaki. Padahal, letak sekolah dari rumah cukup jauh. Saya tetap ke tempat dagang di Tirta Empul,” katanya. Kertayasa ternyata tak hanya menguras isi kantong istri dan ibu kandungnya. Sepeda motor mertuanya, I Ketut Lunga Yasa, di Klungkung ikut amblas dijualnya. Kertayasa bahkan sempat merayu sang mertua agar menjadi penjamin saat ia mengajukan kredit di bank. “Saya mau membantunya. Namun, ternyata cicilan kredit bank tak pernah dibayarkannya. Saya justru yang harus menyicilnya tiap bulan Rp 1 juta,” ungkap Lunga Yasa kesal. Uang hasil keringat istri, orangtua, dan mertuanya sudah telanjur digerogoti Kertayasa. Puncaknya, ia suatu ketika pulang ke rumah orangtuanya di Banjar Manukaya. Ia mendesak sang ibu untuk memberikan sertifikat tanah dan rumah orangtuanya. Saat itu, Desak Jati enggan memenuhi permintaan putranya ini. “Saya tak mau memberikannya. Dia lalu ancam akan menjual

18 - 24 April 2010 Tokoh 5

dua cucu saya,” ujar Desak Jati. Ibu kandung dan istrinya cemas mendengar ancaman Kertayasa. Desak Jati lalu berinisiatif mengungsi ke tempat aman. Ia membooyong menantu dan dua cucunya meninggalkan rumah keluarganya di Manukaya. Mereka menumpang dari satu rumah ke rumah lain untuk menghindari ancaman Kertayasa. “Kalau terus berada di rumah kami di Tampaksiring, saya khawatir dia akan menculik dan benar-benar akan menjual kedua cucu saya,” katanya lirih. Aktivitas sekolah dua cucunya yang sudah duduk di bangku sekolah dasar itu pun berantakan. Selama sebulan dua bocah ini diliputi kecemasan akibat ancaman sang ayah kandung. “Dua anak saya akhirnya berhenti sekolah selama sebulan. Saya lalu mencari sekolah di Klungkung untuk keduanya,” kata Nusantari. Selama mengungsi praktis Nusantari tak lagi menjalani aktivitas berdagang di artshop. Kios barang kerajinan tersebut praktis tak lagi bisa menjadi sumber penghasilan. Celakanya, kesempatan ini dimanfaatkan Kertayasa. Ia diamdiam mengontrakan artshop tersebut kepada pedagang lain, Ni Ketut Parwiti. “Kabarnya masa kontraknya Rp 10 tahun dengan harga Rp 35 juta. Saya dan mertua sekarang hanya hidup dari utang yang terus menumpuk. Artshop itu sebenarnya menjadi satu-satunya sumber nafkah kami,” katanya sedih. Kisah tersebut membuat pedih hati Nusantari. Bangunan artshop di objek Wisata Tirta Empul yang selama ini menghidupi keluarganya telah beralih ke tangan orang lain. “Suami saya secara diam-diam menjual semua barang jualan, lalu bangunan kiosnya disewakan kepada orang lain tanpa sepengetahuan ibu mertua saya,” katanya prihatin. Hatinya makin lirih saat mendengar sang suami mengancam mertuanya. “Dia ancam kalau tidak mau sertifikat tanah dijual, dia akan menjual dua anak kandung kami. Ini dia sampaikan di hadapan kedua anak kami. Bersambung ke hlm. 17

NAMA Kartini Merdeka telah disiapkan jauh dari hari kelahirannya tiba. Rundingan keluarga menyepakati bayi perempuan yang lahir 14 April 1947 itu diberi nama Kartini. Dia pahlawan perempuan, begitu antara lain alasan ayahnya, Hasan Basri (alm), mantan ketua Majelis Ulama Indonesia. Ibunya, Suhani, antusias pula dengan nama itu karena ia yang aktif di Aisyiah mengenal betul kiprah tokoh emansipasi wanita R.A. Kartini. Ayahnya menambahkan kata ’merdeka’ sehingga nama lengkapnya Kartini Merdeka. Hal itu karena euforia kemerdekaan yang baru terjadi dua tahun sebelumnya, 17 Agustus 1945, masih berkumandang hangat di masyarakat. Kartini Merdeka anak ketiga dari 4 bersaudara kandung, dan dia satusatunya perempuan. Orangtuanya mengharapkan, Kartini Merdeka akan menjadi perempuan yang bisa meneladani kiprah Kartini. Setelah dewasa harapan orangtua itu makin menancap dalam kesadaran Kartini Merdeka. Ia secara pribadi mengagumi sosok R.A. Kartini. “Meskipun hidup dalam lingkungan istana, tokoh emansipasi itu memiliki kebebasan berpikir. Pemikiran-pemikirannya bisa dibaca dalam surat-surat R.A. Kartini kepada sahabatnya, orang Belanda,” kata istri mantan menteri Tenaga Kerja dan menteri Perindustrian Fahmi Idris itu. Setelah lulus Fakultas Psikologi UI, Kartini yang kini dikarunia 6 cucu dari kedua putrinya, aktif dalam organisasi yang terkait disiplin ilmunya. Bekerja sama dengan rekanrekannya ia menjadi konseling

Kartini Merdeka perkawinan, antara lain di Al Ashar dan Konseling Pati Unus. Dalam sebuah LSM, Forum Keluarga Visi 21, ia juga memberikan semacam pendidikan pranikah gratis yang terinspirasi dari LSM di Singapura dan Malaysia. FKV 21 yang didirikan tahun 2000 itu sudah mendapatkan legalitas ISO sehingga mantan peserta yang kemudian menikah dengan perempuan asal Malaysia tidak diwajibkan mengikuti lagi pendidikan pranikah di negara jiran tersebut. Kini, kata Kartini Merdeka, setelah 10 tahun berlalu, pemerintah mewacanakan keharusan bagi pasangan yang hendak menikah untuk mendapatkan pembekalan pendidikan perkawinan. Di Singapura dan Malaysia, pendidikan pranikah itu sudah lama berlangsung, dilakukan 6 bulan sebelum pernikahan. Sertifikat yang didapatkannya akan membantu suami istri itu dalam mendapatkan kemudahan, misalnya terkait pekerjaan dan pembelian rumah. Biayanya sekitar 500 dolar AS. “Pendidikan pranikah selain memberi pembekalan tentang kehidupan berumah tangga, di Indonesia diharapkan bisa meminimalkan perceraian, “ujar Kartini Merdeka. Kegiatan sosial sudah dilakukan Kartini Merdeka sejak tahun 1980 setelah mendirikan kelompok pengajian Istiqomah yang anggotanya sekitar 30 orang. Pengajian seminggu sekali ini diisi kegiatan ceramah dengan mendatangkan

tkh/isw

Kartini Merdeka seorang guru tetap, dengan materi yang terus berkembang. Selain sebagai sarana ibadah kelompok pengajian ini akhirnya menjadi sarana bagi Kartini dan anggota lainnya untuk melakukan pelbagai kegiatan sosial, antara lain membantu biaya pendidikan anak yang tidak mampu dan memberi santunan fakir miskin. Kelompok pengajian ini memiliki desa binaan di Cimanggis, Bogor. Aktivitas lain Kartini, turut membina para tenaga kerja wanita di bawah bendera Keluarga Peningkatan Martabat, sejak suaminya masih di kabinet hingga sekarang. Pembinaan dilakukan kepada TKW yang mau berangkat maupun yang kembali ke Tanah Air. Menurut Kartini Merdeka, perempuan setelah berkeluarga, mau berkarier di luar atau menjadi ibu rumah tangga saja, itu suatu pilihan. Binalah keluarga semaksimal mungkin, dan mereka yang juga berkarier lakukan apa pun yang bermanfaat bagi masyarakat, tetapi keluarga harus tetap menjadi perhatian utama. Fondasi agama yang kuat, pemahaman tentang pendidikan moral keluarga, dan komunikasi yang baik dalam keluarga, diyakini akan sangat memengaruhi kesuksesan perempuan. —isw

Kartini Banyuwangi Sinden yang Mengelola Kantin

Kartini

KARTINI yang satu ini begitu akrab namanya di kalangan anggota DPRD Banyuwangi. Tetapi, ia samasekali tak tertarik terjun ke dunia politik. Nama aslinya Kartini. Tanggal lahirnya persis dengan kelahiran pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini, 21 April. Orangtuanya, pasangan Asan dan Maryatin (almarhum) memberi nama itu karena kebetulan. Saat melahirkan, mereka terkesan dengan permainan Grup Sulap Kartini yang sedang populer kala itu. “Saat sulap itu manggung, katanya saya lahir,” ungkapnya kepada wartawan Koran Tokoh, Kamis (15/4). Sehari-hari warga asal Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, ini menjadi pengelola kantin DPRD Banyuwangi. Sebelum masuk ke kompleks DPRD, ia memiliki warung nasi sederhana di rumahnya. Pelanggannya terbatas

warga kampungnya. Sejak tahun 2000, dia mendapat kesempatan pindah dan mengelola kantin DPRD. Tempat ini menjadi lokasi nongkrong wakil rakyat Banyuwangi. Menu sajian Mak Ilik, demikian sapaan akrabnya, laris manis. Pengunjungnya tak pernah sepi dari berbagai kalangan, mulai wartawan, politisi hingga pejabat teras Pemkab Banyuwangi. Tetapi, tak banyak yang tahu, nama asli perempuan ini Kartini. Mereka lebih mengenalnya Mak Ilik. Sebutan ini melekat karena nama suaminya, Pak Ilik (55), bertugas menjadi staf di Sekretariat DPRD Banyuwangi. Dalam mengelola kantin Mak Ilik dibantu seorang menantunya. Mereka menempati bangunan sederhana di pojok DPRD. Usahanya diberi nama Kantin Kartini. Menu yang disajikan beragam. Kebanyakan masakan lokal khas Banyuwangi. Ada nasi pecel, sayur lodeh hingga ayam goreng. Kantin ini pun terbilang murah. Bahkan, menjadi langganan ngutang para penghuni gedung DPRD. “Kalau ngutang sudah jadi langganan,” selorohnya. Perempuan ini juga tak pernah meributkan siapa pun yang berutang di warungnya. Perjuangan Mak Ilik tak sebatas di dapur kantin. Wanita

dua anak ini memiliki bakat sebagai sinden, penyanyi lagu Using. Keahlian tarik suara itu baru muncul saat berusia 30 tahun secara alami. Kejadiannya kebetulan. Tradisi suku Using selalu menggelar kesenian angklung ketika hajatan. Kesenian ini biasanya diiringi gending-gending Using kuno. Secara kebetulan, Mak Ilik muda memiliki hobi melantunkan gending tersebut. Dia mulai dilibatkan bernyanyi. Kebetulan juga, para pengelola kesenian adalah kerabatnya. Suaranya cukup memikat. Sejak itu, dia menjadi sinden hingga sekarang. Tak hanya angklung, Mak Ilik sering menyanyikan gending dalam kesenian kuda lumping atau jaranan. Dia menyatakan tak pernah mematok tarif. “Berapa pun diberi, saya terima. Yang penting hobi bisa tersalurkan,” ujarnya. Begitu getolnya, dia lebih memilih tutup kantin saat ada panggilan manggung. Biasanya dalam sekali manggung dia mendapat upah Rp 100.000 lebih. Mak Ilik sempat mendapat tawaran masuk dapur rekaman dua tahun lalu. Naas, orang yang mengajaknya menghilang. Album yang dijanjikan pun tak berwujud. Gagal rekaman, tak membuatnya patah arang. Kartini tetap bersemangat menekuni hobinya. Meski tiap hari kerntal dengan kegiatan politisi, ketika ditanya dia menyatakan tak pernah tergiur masuk dunia politik. —udi

Perempuan Bali Terhebat di Nusantara Pada saat perempuan Indonesia lainnya DI BELAHAN dunia mana pun, peremdapat menabung dan berpesta untuk hari-hari puan hanya memunyai dua fungsi umum raya agama mereka, perempuan Bali mengsecara ruang lingkup kerja yakni sebagai ibu habiskan setiap sen dari penghasilan mereka rumah tangga dan perempuan karier. Tapi di untuk melayani Tuhan. Tak peduli cibiran bahBali, perempuan memunyai tugas ganda yang wa perempuan Bali itu (konon) berhala, bahwa tidak bisa dianggap remeh yakni menjaga perempuan Bali memberi sajen pada batu, vibrasi Nusantara. pohon, kayu, patung, gunung dan sungai, tapi Ya, perempuan Bali adalah perempuan perempuan Bali tetap teguh akan agamanya. yang paling peduli dengan alam semesta. Dalam berkarya, jutaan hasil seni budaya Perempuan Bali bukanlah perempuan cengeng dihasilkan oleh perempuan Bali tapi tidak satu yang hanya bisa menuntut dan meminta pun di antara perempuan Bali itu menuntut emansipasi sebagai kebanyakan perempuan bahwa karyanya perlu dibuatkan hak cipta di republik ini. Tapi perempuan Bali ikut menjayang sesungguhnya milik Betari Taksu. Semua ga semesta dan mampu menunjukkan cintanya karya diabadikan untuk Tuhan Semesta Alam ke seluruh komponen alam. Dalam 365 hari, perempuan Bali menjaga semesta dengan menghaturkan se- dan untuk menyenangkan para dewata. Di saat perilaku laki-laki Bali yang kerap menyakiti sajen dan asap dupa serta doa dan mantra yang dikumandangkan. Tanpa dikomando, perempuan Bali dengan sigap perempuan, kekerasan rumah tangga, hak perempuan yang berupacara menjaga laut, bumi, bukit, sawah, tanaman, ternak dikebiri oleh adat, sistem kasta yang merajalela ... perempuan dan tempat ibadah. Dengan peluh dan keringat, perempuan Bali tetap tersenyum karena mereka sadar bahwa leluhur dan dewata amat tergantung pada perempuan Bali. Tanpa ada Bali mengambil alih semesta untuk sebuah yadnya. Maka tak mengherankan, jika wajah kebanyakan perem- perempuan Bali, maka tidak ada bau harum dupa dan bunga puan Bali menunjukkan guratan yang seakan lebih tua daripada yang menebar dari seluruh penjuru arah mata angin di Bali ini, usianya. Tak mengherankan pula, jika perempuan Bali tidak tanpa perempuan Bali tidak ada upacara dan upakara yang siap punya waktu untuk bersolek sebagaimana perempuan Indo- untuk dihantarkan, dan tanpa perempuan Bali, tidak akan pernah nesia lainnya. Perempuan Bali, berkeringat untuk Tuhan, ada Bali yang feminim, wajah Bali yang berwarna – warni dan berpeluh untuk leluhur dan menangis untuk keluarga. Mungkin tidak akan pernah ada taksu Bali. Terima kasih perempuan Bali, ini yang menyebabkan rentang usia perempuan Bali makin walau tak satu pun perempuan Bali bergelar Pahlawan Nasional pendek, kematian menjadi makin dekat bagi perempuan Bali tapi leluhur kami, nenek moyang kami sudah mendapatkan temkarena kesehatannya tergadai untuk pengabdian dan ngayah pat terhormat di mata Dewata. Tak salah rasanya, dunia memberi gelar perempuan Bali, perempuan terhebat di Nusantara. pada tanah leluhurnya. Rektor Universitas Mahendradatta

Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

Nusantara

18 - 24 April 2010

Musmadin VI Denpasar Diikuti 1200 Peserta MUSABAQOH Siswa Madrasah Diniyah (Musmadin) yang digelar Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Kelompok Kerja Madrasah Diniah (KKMD) dan Kelompok Kerja Taman Pendidikan Quran (KKTPQ), mengundang perhatian masyarakat muslim. Terbukti, dalam Musmadin VI yang berlangsung di Yayasan AlMa’ruf, Minggu (11/4), diikuti 1200 siswa dan santri dari 27 lembaga Madrasah Diniyah dan 87 TPQ se-Kota Denpasar. Rata-rata peserta berusia 4 hingga 15 tahun.

K

egiatan yang diadakan tiap tahun tersebut menjadi ajang mengasah kreativitas siswa. Seluruh siswa Madrasah Diniah dan TPQ bisa menjajal pengetahuan yang mereka dapatkan selama duduk di bangku MD maupun TPQ lewat musabaqah. Ada 11 ca-

bang lomba yang disuguhkan panitia kegiatan. “Kesebelas cabang lomba tersebut merupakan mata pelajaran wajib maupun ekstra yang ada di lingkup Madrasah Diniah dan TPQ,” jelas Ketua Panitia Kegiatan Abdul Rouf. Secara teknis, ada beberapa perlombaan yang dibedakan antara lomba yang di-

Abdul Rouf

ikuti Madrasah Diniah dan Santri TPQ. “Ini untuk memudahkan pengelompokan,” tambah Abdul Rouf. Mengkoordinir 1200 peserta memang tak mudah. Abdul Rouf harus rela mengerahkan pasukan panitia yang merupakan gabungan dari KKTPQ maupun

KKMD. “Karena kekurangan tenaga, kami juga meminta bantuan para remaja masjid di Kota Denpasar,” ujarnya. Seluruh ruangan di gedung Yayasan Al-Ma’ruf dijadikan sebagai tempat lomba. Bahkan karena kekurangan ruangan, lomba diadakan secara bergantian. Abdul Rouf menjabarkan ke-11 lomba yang digelar dalam Musmadin VI tersebut yakni Lomba Tartil Alquran, Adzan, Olimpiade, Puisi, Imla, Praktik Salat Berjamaah, Kaligrafi, Pidato, Hafalan Surat Pendek, Hafalan Doa Harian, Mewarnai. Menurut Abdul Rouf, dari 1200 siswa, perhatian siswa lebih tertuju pada lomba mewarnai. “Ada sekitar 400 siswa yang ikut lomba mewarnai,” katanya. Aula Yayasan Al-Maruf tak mampu menampung peserta yang ikut lomba mewarnai sehingga lomba ini juga diadakan secara bergilir. —lik

Lomba Pidato Diikuti 38 Orang

Suasana Lomba Pidato tingkat TPQ dan MD dalam Musmadin VI di Gedung Al-Ma’ruf Ubung Denpasar

DARI 1200 peserta Musmadin VI Denpasar, 38 orang memilih mengikuti lomba pidato. Panitia menyuguhkan tema “Salat”. Tema yang dihadirkan panitia merupakan kegiatan wajib yang harus dilaksanakan umat muslim sehari-hari, dan para peserta mengembangkan tema itu dalam wujud yang berbeda-beda. Bahkan ada yang dikaitkan dengan kepemimpinan, kehidupan bernegara, kewajiban membayar pajak, maupun makna salat dalam kehidupan sehari-hari. Bak seorang da’i kondang

tampil di panggung, begitulah peserta membawakan materi pidato mereka. Ada di antara peserta yang menirukan gaya Ustadz Zainudin M.Z. maupun Ustadz Jefri. Namun, tak semua peserta berpidato dengan suara lantang dan lancar. Ada peserta yang lupa isi naskah pidatonya sehingga lebih banyak diam saat tampil di atas panggung. Padahal waktu yang diberikan dewan juri hanya tujuh menit. Menurut salah seorang juri lomba pidato, Drs. H. Ariful Akmal, M.Hum., ada empat kriteria penilaian, yakni isi pidato,

irama/penghayatan, adab dan ketepatan waktu. H. Arif menambahkan, materi yang disajikan sebagian peserta pidato memiliki nilai plus, namun para peserta mengalami kekurangan dari segi irama/penghayatan dan ketepatan waktu. Perkembangan ilmu pengetahuan yang disuguhkan lembaga Madrasah Diniah dan TPQ menurut Drs. H. Sunarto, M.Pd.I, Kepala Seksi Kependidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, menunjukkan peningkatan tajam. “Jika dulu yang dilombakan hanya praktik membaca Alquran, kini sudah berkembang menjadi 11 jenis lomba,” katanya. Pendidikan Islam, menurut Sunarto, tak hanya terfokus pada pembelajaran tata cara membaca Alquran. Selain kurikulum asli, TPQ maupun Madrasah Diniah juga menyuguhkan materi pengayaan atau ekstrakurikuler, misalnya berpidato dan membawakan acara (MC). Bakat siswa di bidang lain seperti puisi dan karya sastra lain pun perla dikembangkan lewat kegiatan pengayaan. “San-

Drs. H. Sunarto, M.Pd.I,

tri datang ke TPQ tak hanya bisa mengaji, namun, piawai juga berpuisi, berpidato, menjadi pembawa acara dll, sesuai dengan bakat dan minat masingmasing,” jelas Sunarto. “Ketika menyelanggarakan sebuah acara perayaan hari besar Islam, misalnya, sering panitia menyampaikan sambutan. Ini diperlukan kepiawaian berpidato. Inilah perlunya ekstrakurikuler pidato di Madrasah Diniah maupun TPQ guna melahirkan generasi yang terampil di berbagai bidang,” tambahnya. Bali, lanjut Sunarto, masih kekurangan penceramah agama. Mengajarkan anak didik berpidato sejak dini, menjadi awal mencetak para penceramah agama. Mulai tahun ini, menurut Sunarto, kegiatan ekstrakurikuler akan ditambah dengan pembelajaran menjadi pembawa acara. Sunarto menjelaskan, dalam tiap kegiatan, kehadiran pembawa acara mutlak diperlukan. “Jika tiap siswa bisa membawakan acara, kita tak akan kesulitan mencarinya,” jelasnya. Sunarto berjanji, dalam Musabaqoh VII, cabang lomba akan ditambah dengan lomba menjadi pembawa acara. Sunarto menyayangkan, dari sekian banyak TPQ yang ada di Kota Denpasar hanya 87 yang telah terdaftar di Kementerian Agama Kota Denpasar. Secara otomatis, Musmadin hanya diikuti MD dan TPQ yang telah terdaftar. “Jika sudah terdaftar, mereka bisa mendapatkan informasi segala perkembangan ilmu pengetahuan,” katanya.—lik

Kado Rp 100 Juta buat Warga Bali Asal Maluku SEKRETARIS Daerah Provinsi Maluku Nn. R.F. Far-Far, S.H., M.H. atas nama Gubernur Maluku menyerahkan kado buat warga Bali asal Maluku Rp 100 juta. Kado tersebut diserahkan pada acara “Maluku Baku Dapa” yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal), di Gedung Olahraga Lila Bhawana Denpasar Sabtu (10/4). Acara tersebut juga dihadiri Gubernur Bali Mangku Pastika. “Kami mendapat kado terindah dari Sekda Maluku berupa bantuan dana Rp 100 juta untuk pembangunan sekretariat Ikemal Bali. Pembangunan sekretariat itu dilaksanakan akhir tahun 2010,” ujar Ketua Ikemal Bali Samuel H.J. Uruilal, S.T. Pria kelahiran Ambon 23 Juni 1967, yang menjabat ketua Ikemal Bali yang ke-13 ini menuturkan, warga Bali asal Maluku belum memiliki sekretariat. “Fungsi sekretariat cukup banyak, salah satu yang terpenting untuk tempat mohabet yaitu rumah duka bagi anggota yang meninggal. Selama ini jika ada warga Maluku yang meninggal, selalu kebingungan karena sebagian besar warga tinggal di tempat indekos. Warga yang tak punya rumah menitipkan jenazah di kamar mayat atau rumah duka. Ibadah pun terpaksa dilakukan di kamar jenazah. Dengan adanya mohabet biaya yang seharusnya dipakai untuk membayar sewa rumah duka bisa dipakai untuk keperluan lain,” kata Direktur of Security Four Seasons Hotel ini. Ia mengungkapkan, awalnya cukup susah menarik minat warga bergabung dalam organisasi sosial ini. “Tetapi, lambat laun warga menyadari pentingnya bergabung dalam organisasi. Anggota mendapatkan hak berupa santunan Rp 325.000 jika terjadi kematian. Tiap anggota membayar iuran Rp 5.000 sebulan,” katanya.

Samuel H.J Uruilal, S.T.

Sekretariat juga akan difungsikan sebagai tempat berlatih kesenian. Ia mengungkapkan Pulau Banda akan dicanangkan sebagai pulau tujuan wisata Agustus mendatang. Warga Bali asal Maluku akan turut berperanserta tampilkan atraksi kesenian di Banda. Warga Bali asal Maluku sekarang sekitar 1.200 KK. Mayoritas berada di Kabupaten Badung, yakni 900 KK. Untuk menjalin komunikasi antaranggota, tiap tahun Ikamel mengadakan beragam kegiatan. Salah satunya kegiatan makan bersama atau disebut patitai. Tiap

Suasana gembira di atas pentas pada acara “Maluku Baku Dapa”

Keliling Nusantara Dukung Pelestarian Lingkungan 3

Sepeda Dibeli di Pasar Loak, Rp 125.000 PERJALANAN mengelilingi Indonesia yang dilakukan Sentot berawal dari sebuah obrolan dengan kawan-kawannya di Mataram. Obrolan tersebut hanyalah sebuah pembicaraan iseng saat mereka mengisi waktu senggang di sela-sela diskusi kesenian dan kebudayaan. Inspirasi bersepeda ini lahir dari penuturan seorang kawannya, Arif, yang baru saja pulang dari Jawa naik sepeda. Dua orang seniman ini kemudian berjanji untuk bersepeda bersama ke tempat yang lebih jauh daripada yang telah ditempuh Arif. Salah seorang kawannya berkelakar, ‘mengapa tidak bersepeda sampai Aceh sekalian’. Secara spontan, Sentot menjawab tantangan itu dengan menyatakan bahwa dirinya tertarik untuk mewujudkannya. Sentot akhirnya benar-benar mewujudkan niat perjalanan bersepeda menyusuri Pulau Jawa dan Sumatera tahun 2008 walaupun

rencana pergi berdua bersama Arif batal. Ia mengakui saat itu ia pergi tanpa persiapan matang dan tanpa pengalaman bersepeda menempuh jarak sejauh itu. Ketika niatnya mengkristal lewat sebuah tekad bulat, kawan-kawan Sentot di Mataram pun membuat syukuran sederhana ketika akan melepasnya. Kawan-kawannya tidak menganggap aneh apa yang dilakukan musisi dan pemain teater ini. Sebab, Sentot dikenal sebagai seorang seniman unik dan menghayati benar arti kesenimanannya. Dalam dua kali perjalanan panjang bersepeda ini, Sentot mengaku mendapat banyak hadiah berupa pelajaran hidup yang sangat berharga. Perjalanan Barat (perjalanan pertama saat ia menaklukkan bagian Barat Indonesia) baginya merupakan perjalanan yang sangat berat dan banyak tantangannya. Ia belum pernah berpetualang semacam ini. “Ini benar-benar baru

Sentot sedang melintasi jalan raya

Pemenang Musmadin VI Kota Denpasar

Makin Didengar Makin Asyiik...

keluarga saling menukarkan makanan yang mereka bawa dari rumah kemudian menyantapnya bersamasama di pantai. Di samping itu tiap bulan, Ikemal mengadakan kegiatan rohani sesuai agama masingmasing anggota yakni Kristen, Islam, dan Hindu. Dalam kegiatan sosial, pengurus Ikemal kerap melakukan kunjungan ke warga Maluku yang berusia lanjut yang hidup miskin. “Kami memberi bingkisan berupa bahan makanan pokok,” kata suami Luh Gede Tanjung Sari Uruilal ini. Mereka pun membawakan makanan tradisional Maluku, sagu, untuk mereka yang lama tak pernah pulang ke kampung kelahirannya. Ia mengungkapkan kegiatan sosial itu sering dipublikasikan Marinyu Magazine di Belanda. Akhirnya warga asal Maluku yang berada di Belanda membaca dan mengetahui kegiatan Ikemal Bali. “Selanjutnya kami berharap mereka berminat memberikan bantuan jika ada kegiatan sosial,” ujarnya. Marinyu Magazine pun memuat kegiatan pariwisata di Maluku. “Dampaknya banyak turis Belanda datang ke Maluku tahun 2009 yakni 49 orang. Mereka mampir ke Bali sebelum perjalanannya ke Maluku,” katanya. —tin

- Juara I Lomba Tartil AlQuran Putra TPQ (Dicky Mirza Siddiq dari TPQ Al-Amin) - Juara I Lomba Tartil Alquran Putri TPQ (Indah dari TPQ Roudotul Quran) - Juara I Lomba Tartil AlQuran Putra Madin (Muzadi Satria dari TPQ Roudotul Quran) - Juara I Lomba Tartil AlQuran Putri Madin (Anggela Nuril dari Al-Amin) - Juara I Lomba Adzan (Agus Salim dari Darunnajah Al-Masudiah) - Juara I Olimpiade Putra (M. Farid ari Al-Hikmah Ikwan) - Juara I Olimpiade Putri (Ningsih Asriah dari Al- Muhtadin) - Juara I Parade Puisi Putra ( Ade Chandara dari TPQ Uswatun Hazaña) - Juara I Parade Puisi Putri (Eva Permata Sari dari TPQ Silaturrohim) - Juara I Imla Putra (Rozaqia dari Al-Amin) - Juara I Imla Putri (Siti Rafika dari Al-Amin) - Juara I Praktik Salat Jamaah (TPQ Quba) - Juara I Kaligrafi Putra (M. Dafi Arham dari Al-Amin) - Juara I Kaligrafi Putri (Noni Noviani dari Al-Mansuriah) - Juara I Pidato Putra (M. Arif Rahman dari TPQ Nurussalam) - Juara I Pidato Putri ( Rahmi Amanda dari TPQ Quba) - Juara I Lomba Hafalan Surat Pendek Putra (Rizal Febrianto dari TPQ Al-Ikhlas Bumi Werdi) - Juara I Hafalan Surat Pendek Putri (Galuh Dwi Wahyu N. dari TPQ Al-Qodiri Kerta Pura) - Juara I Hafalan Doa Harian Putra (Abdurrahman Khairoti dari TPQ Al-Mansyuriah) - Juara I Hafalan Doa Harian Putri (Akmarina S. Dari TPQ Uswatun Khasanah) - Juara I Mewarnai Putra Usia 4 – 6 tahun (Dwi Ryan Ahmad dari Al-Muhtaddin) - Juara I Mewarnai Putri Usia 4 – 6 Tahun (Fadhillah R.B. dari TPQ Amanah Suci) - Juara I Mewarnai Putra Usia 7 s.d. 10 Tahun (Roni Romeo dari Amanah Suci) - Juara I Mewarnai Putri Usia 7 s.d. 10 Tahun (Jihan Firdiana dari Ushwatun Hasanah)

buat saya,” ujarnya. Ketika berhadapan langsung dengan medan yang luar biasa berat, tidak jarang ia ingin pulang ke Mataram. “Bahkan tidak jarang saya berpikir, apa yang saya cari dengan berlelah-lelah bersepeda sejauh ini. Apakah ini bukan pekerjaan yang sia-sia?”. Kerinduannya untuk pulang sering muncul dalam perjalanan pertama ini terutama saat-saat ia mengalami kesulitan di jalan. Misalnya saat ia terjungkal dalam sebuah kecelakaan tunggal di Kelok Sembilan Lampung. Ia sempat meragukan dirinya, mampu atau tidak melanjutkan perjalanan hingga ke Aceh. Sebuah lubang yang dipenuhi air, sempat menghentikan kayuhan sepeda Sentot hingga dua minggu. Lokasinya sekitar 36 km dari Beng-kulu, di areal hutan yang sepi. Ia tidak menyadari, lubang besar itu akhirnya membuatnya terpelanting dan terguling berkali-kali yang kemudian membuat sepedanya ringsek. Garpu sepedanya bengkok sampai membentuk huruf V. Napasnya tersengal-sengal dan terganggu beberapa saat. Sepedanya tidak lagi dapat berjalan. Maklum, sepedanya itu dibeli di pasar loak di Mataram seharga Rp 125.000. Pantas saja, sekali jatuh langsung rusak berat. Di tengah hutan yang jarang dilalui kendaraan saat malam hendak tiba ini, ia pun berpikir, siapa yang akan menolongnya sedangkan kendaraan jarang yang lewat. Ia merasa beruntung ada dua mahasiswa yang kebetulan lewat dan menolongnya, membantu Sentot tertatih-tatih menuju bahu jalan. Setelah itu, dua mahasiswa ini berlalu. Saat inilah pikiran ketidaksiapannya terhadap perjalanan ini muncul lagi. Sentot lalu menghubungi orangorang Walhi Bengkulu yang dikenal nomor HP-nya. Salah satu tujuan Sentot menuju Bengkulu adalah bertandang ke Walhi Bengkulu. Setelah menanti sekitar tiga jam, empat orang dari Walhi Bengkulu menjemputnya. Kecelakaan yang dialami meninggalkan bekas memar dan luka robek di beberapa bagian tubuh Sentot. Ia kemudian dirawat seminggu. Di Bengkulu sembari dirawat, Sentot memperbaiki sepeda bututnya hingga kembali bagus. Bahkan sempat dicat ulang dan diganti onderdilnya. Sentot kemudian melanjutkan perjalanan ke Padang. Dari sinilah, ia menyadari bahwa perjalanan ini memberinya banyak arti. Ia menjadi lebih tahu menyikapi tiap kejadian yang dialaminya. Setelah kecelakaan itu, baru ia sadar bahwa ia harus banyak belajar memahami medan yang akan dilalui untuk mencapai Aceh. —nik


K artini

18 - 24 April 2010 Tokoh 7

Gerak Jalan Kartini Peduli 2010

Kumpulkan Tanda Tangan sambil Bersihkan Lingkungan

tkh/marlene graciella

G

Ny. Bintang Puspayoga bersama perwakilan organisasi wanita di Bali saat membacakan pernyataan sikap agar aparat penegak hukum bekerja keras mengungkap kasus-kasus pemerkosaan terhadap anak-anak

ERAK Jalan Kartini Peduli 2010 yang digelar RRI Denpasar dan dilepas Wali Kota Denpasar Rai Dharmawijaya Mantra Jumat (16/4) menanamkan kesan tersendiri bagi para kalangan perempuan. Gerak jalan yang diikuti anggota organisasi-organisasi wanita, lembaga dan instansi swasta maupun pemerintah tersebut menjadi ajang pernyataan sikap para perempuan di Bali agar aparat penegak hukum bekerja keras mengungkap kasus-kasus pemerkosaan terhadap anak-anak di Bali. Aksi yang dimotori Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Bali ini menghimpun empat pernyataan sikap, yakni keprihatinan atas penculikan dan pemerkosaan yang belum bisa diungkap pelakunya dengan hukuman setimpal, mendesak Kapolda Bali untuk turun tangan mengungkap kasus tersebut, meminta semua lembaga dan instansi terkait agar peduli

terhadap keselamatan anak, meminta rumah sakit membantu menangani pemulihan secara fisik maupun psikologis anak korban penculikan dan pemerkosaan. Penyataan sikap tersebut dituangkan dalam bentuk tanda tangan di atas spanduk. Panitia juga menyiapkan lembaran-lembaran kertas. “Di sepanjang perjalanan saat jalan santai, kami meminta tanda tangan warga, perempuan maupun laki-laki, yang peduli terhadap gerakan ini,” kata Wakil Ketua KPAID Bali Putu Anggreini. Tidak kurang dari 500 tanda tangan yang bisa diabadikan. “Kami akan membawa spanduk ini ke pejabat dan instansi yang berwenang antara lain Kapolda, Gubernur Bali, Disdikpora Bali,” tambahnya. Dalam gerak jalan yang melewati Jalan Hayam Wuruk, Plawa, Pacar dan Kamboja ini peserta melakukan aksi sosial dengan jalan membersihkan lingkungan Pasar Kreneng. —lik

Para perempuan Bali melakukan aksi tanda tangan sebagai wujud pernyataan sikap terkait kasus penculikan dan pemerkosaan

Dari Edukasi ke Advokasi

Sangat Rendah Data sensus penduduk tahun 1920 menunjukkan, anak-anak wanita usia 515 tahun yang bersekolah hanya 0,25%, sangat rendah dibandingkan angka untuk laki-laki yang mencapai 6,7%. Rendahnya angka wanita bersekolah sebanding dengan rendahnya persentase mereka yang bisa baca tulis. Wanita Bali usia di bawah 15 tahun yang melek huruf hanya 0,35%, jauh rendah dibandingkan angka baca tulis laki-laki usia sama yang mencapai 8,01% (Parker 2001:57-74). Data sensus ini menunjukkan betapa besarnya angka buta huruf di kalangan wanita Bali, baik anak-anak maupun orang dewasa. Bali ketinggalan jauh dibandingkan daerah lain. Angka melek huruf di Bali 3,07%, sedangkan di Manado 21,98%. Total penduduk Bali tahun 1930-an, 1.788.843 orang (Sutedja-Liem

2002:79). Tahun 1931, sebanyak 25 wanita Bali dan Lombok dikirim pemerintah Belanda ke Blitar untuk bersekolah dan sepulang dari pendidikan mereka menjadi guru dan melakukan banyak gerakan edukasi termasuk pemberantasan buta huruf. Wanita yang beruntung dapat sekolah ke Jawa antara lain I Goesti Ajoe Rapeg dan Ni Made Tjatri. Bersama kawan-kawannya, kedua wanita ini mendirikan organisasi Poetri Bali Sadar, 1 Oktober 1936. Organisasi inilah yang berusaha mengadakan program pemberantasan buta huruf. Mereka juga mengumpulkan dana beasiswa untuk membiayai anak-anak wanita bersekolah. Dalam waktu dua tahun, Putri Bali Sadar mencatat 70 orang anggota, mereka kebanyakan bekerja sebagai guru. Poetri Bali Sadar bekerja sama dengan organisasi lain seperti Bali Darma Laksana dan Perkumpulan Guruguru mendirikan 15 kursus pemberantasan buta huruf di Tabanan dan Badung. Dalam waktu empat bulan, mereka berhasil menolong 500 orang buta huruf menjadi bisa baca tulis. Gerakan ‘Kartini-kartini Bali’ di bidang edukasi yang dipimpin IGA Rapeg itu mendapat respons positif, buktinya tahun 1939 di Denpasar didirikan sekolah perempuan. Lokasinya di belakang (barat) Inna Bali Hotel. Selain di bidang pendidikan, Poetri

“Ibu kita Kartini Pendekar bangsa Pendekar kaumnya Untuk merdeka”. Sebelum menginjak usia 20 tahun, R,A, Kartini yang fasih berbahasa Belanda melahap sejumlah buku di antaranya Max Haveelar, Surat-Surat Cinta (Multatuli), Kekuatan Gaib (Louis Coperus), buku karya Eeden, Augusta de Witt, Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, Berta Von Suttner. Surat kabar Semarang, De Locomotief, majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, majalah wanita Belanda (De Hollandsche Lelie) menjadi bacaan rutin Kartini. Tulisan Kartini beberapa kali dimuat di De Hollandsche Lelie. Perhatian pelopor kebangkitan perempuan pribumi ini tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita tetapi juga menyangkut masalah sosial umum. Kartini gigih memperjuangkan kebebasan perempuan, otonomi, dan persamaan hukum. Misi mulianya dituangkan dengan mendirikan Sekolah Kartini di Semarang (1912), Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Tahun 1911 kumpulan surat-surat Kartini diterbitkan untuk pertamakalinya menyangkut kondisi perempuan pribumi; keluhan dan gugatan terhadap budaya Jawa yang menghambat kemajuan perempuan. Kartini berharap perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat: tidak bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Menarik mengenang kembali perjuangan putri Bupati Jepara (Raden Mas Adipati Ario

Sosroningrat) ini yang lahir di Jepara, 21 April 1879, dan wafat tahun 1904 saat melahirkan putra pertamanya. Pemasungan cita-cita Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena kungkungan adat, meski ayahnya tergolong maju karena menyekolahkan anak-anak perempuannya walaupuan hanya hingga umur 12 tahun (ELS, Europese Lagere School, setingkat sekolah dasar). Lentik awal perjuangan merebut kesetaraan gender lebih dari seabad silam hingga kini masih menjadi agenda diskusi yang hangat, meski pemasungan hak-hak perempuan kian tergerus. Anak-anak perempuan bisa bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, mengeksplorasi bakat, minat, tanpa khawatir mulai dipingit memasuki usia 12 tahun persiapan pernikahan. Perlindungan perempuan dan anak juga telah diundangkan dalam Undang-undang Perlindungan Anak dan Perempuan Nomor 23 tahun 2004. Undang-undang pernikahan siri (poligami) sedang digodok anggota DPR untuk melindungi hak perempuan. Mengenang dan memaknai perjuangan Kartini menjadi lebih bermakna jika tidak sebatas wacana seremonial dengan lomba busana model Kartini. Merenungkan pikiran-pikiran pahlawan pendobrak emansipasi wanita ini untuk kemudian melanjutkan perjuangannya menjadi lebih memiliki esensi. Lomba menulis resensi buku Habis Gelap Terbitlah Terang untuk siswi SMP-SMA barangkali lebih memberi kesempatan kepada remaja putri untuk mendalami mimpi Kartini yang terbelenggu dalam adat yang memasung hak-hak perempuan. Rasmini Sakura, Denpasar

Ny. Jasmin Oka (89)

Spirit Kartini dari Masa ke Masa SPIRIT emansipasi Raden Ajeng Kartini mewarnai perjuangan kaum wanita Bali dari tahun ke tahun tetapi fokusnya berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi sosial dan budaya. Pada zaman kolonial, tahun 1920an dan 1930-an, misalnya, gerakan yang dijiwai semangat Kartini terfokus pada program edukasi untuk memberantas buta huruf, sedangkan dewasa ini banyak berupa advokasi terhadap wanita yang lemah misalnya dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) .

Bukan sekadar Emansipasi

Bali Sadar juga melakukan gerakan menentang poligami dan memprotes potret wanita telanjang dada yang dijadikan sarana promosi pariwisata. Anggota organisasi ini banyak menulis di majalah Djatajoe, terbit di Singaraja. Tulisannya tajam dan berani. Selain memprotes, tulisan mereka juga banyak menguraikan pentingnya wanita menguasai pengetahuan domestik khususnya masalah kesehatan, seperti ibu-ibu agar menyeduh susu dengan air mendidih. Akibat Pergaulan Bebas Dekade awal kemerdekaan, angka wanita bersekolah kian meningkat. Perjuangan mendorong wanita bersekolah membanggakan. Namun, kekhawatiran mulai muncul terutama karena banyak remaja usia sekolah terjerumus ‘pergaulan bebas’. Mereka terjangkiti gaya hidup baru, berpacaran, menonton film, dan malangnya jadi hamil sebelum nikah. Istilah yang dipakai saat itu adalah ‘berbuah sebelum masa’. Kalau sudah begini, orangtua menjadi was-was alias kendor minatnya untuk menyekolahkan anaknya. Tulisan-tulisan tentang masalah sosial di media massa di Bali tahun 1950-an banyak mengingatkan agar wanita tidak silau pada modernisasi, jangan berfoya-foya, jangan sibuk mengurus kecantikan sampai lupa diri, jangan menjadi ‘korban kemajuan’.

Jasmin Oka dan Elok Satiti adalah dua contoh wanita-intelektual yang aktif menulis di majalah Damai (terbit di Denpasar tahun 1950-an). Isi tulisan mereka luas dan dalam, sering mengacu dan mengutip nama dan pemikiran Kartini, sering mengulas makna emansipasi dan feminisme. Salah satu pesan penting mereka bisa disimak dari tulisan Jasmin Oka begini “bagi kaum wanita, insyaflah bahwa perbaikan nasib kita hanya dapat diperjuangkan dengan sebaik-baiknya oleh kita sendiri’ (Damai, 17 Maret 1953). Advokasi Dewasa ini, perjuangan wanita yang diilhami semangat kemajuan Kartini banyak mengarah pada advokasi, yakni pembelaan bagi wanita yang tertindas. Gerakan ini begitu mendesak karena banyaknya muncul masalah KDRT. Dalam pekan-pekan ini muncul berita yang mengenaskan di Denpasar yakni tentang penculikan dan pemerkosaan terhadap anak perempuan usia SD. Atas kejadian ini, kalangan ibu-ibu cepat tanggap dan bergerak untuk mengutuk aksi tersebut, mendorong pihak berwajib untuk mengejar pelakunya. Kemajuan-kemajuan telah tercapai, tetapi persoalan yang dihadapi kaum wanita kian kompleks, maka semangat emansipasi Kartini perlu terus dikobarkan sehingga kaum wanita memperoleh kesetaraan dalam kebebasan dari ancaman kekerasan! Hal ini bisa dilakukan lewat edukasi dan advokasi.

Usia Uzur tak Mau Ketinggalan USIA uzur tidak membuat Ny. Jasmin Oka (89) ketinggalan dalam mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungannya. Persoalan-persoalan yang sedang membelit bangsa ini, bahkan persoalan dunia, tetap dicermatinya. Informasi ia dapatkan dengan jalan bertanya pada anak dan menantunya atau diserap dari pertemuan-pertemuan yang ia hadiri. “Mengingat kondisi mata, sekarang saya jarang membaca koran,” ujarnya kepada wartawati Koran Tokoh yang bertandang ke rumah tempat tinggalnya sekarang, di kawasan Jalan Setiaki Denpasar. Sambil duduk di atas kursi rodanya, perempuan kelahiran Jembrana 4 Mei 1921 itu menuturkan, pentingnya perempuan mampu dan gemar membaca. “Berantas tuntas masalah buta huruf,” ujarnya dalam nada penuh semangat. Di bidang

K U L I N E R

&

kesehatan, ia mengharapkan lebih banyak lagi orang yang tergerak menyumbangkan darahnya lewat PMI. Ia berpandangan, kegiatan remaja di Palang Merah Remaja sangat strategis. Kegiatan PMR ini

IKLAN CANTIK

Darma Putra Penulis buku Wanita Bali Tempo Doeloe; Perspektif Masa Kini (2003, 2007)

S A L O N

Ny. Jasmin Oka

S P A

sangat bagus untuk melatih generasi muda bersikap responsif, memupuk rasa kesetiakawanan dan rasa suka menolong orang yang sedang berada dalam kesulitan dan yang sedang membutuhkan pertolongan. Dalam perjalanan hidupnya, sosok Jasmin Oka memang dikenal sangat peduli terhadap masalah pendidikan dan kesehatan, selain terhadap upayaupaya untuk memajukan kaum perempuan. Di antara temanteman wanita Bali seperjuangannya tahun 1920 dan 1930-an, ia juga dikenal suka menulis. Tulisannya antara lain dimuat Djatajoe edisi25 Mei 1939 berjudul “Makanan untuk Bayi”. Dalam tulisannya di Damai 17 Mei 1953, Jasmin Oka menganjurkan perempuan terjun ke dunia politik. Sejak tahun 1960-an selama 25 tahun terus-menerus ia dikenal sebagai aktivis kepalangmerahan. Salah seorang sosok perempuan yang pantas dijuluki “Kartini Bali” ini bukan hanya menganjurkan perempuan terjun ke politik, tetapi ia meneladaninya dengan menjadi anggota DPRD Bali tahun 19601967. Ibu 8 anak, 16 cucu, dan 3 buyut ini juga pernah menjabat wakil ketua Badan Musyawarah Wanita Indonesia, cikal bakal BKOW (Badan Kerja sama Organisasi Wanita) Bali, tahun 1963-1968. Tokoh perempuan yang pernah menerima penghargaan Nari Kusuma tahun 2004 dari Pemerintah Daerah Bali ini kini masih tergabung dalam kelompok arisan Angkatan 45. “Mengingat kondisi saya, untuk arisan yang berlangsung tiap tanggal 5 itu, saya sering minta menantu saya untuk menggantikannya,” ujarnya sambil menunjuk Dokter Manik Manuaba yang duduk mendampinginya. Manik juga sering mengajak ibu mertuanya itu menghadiri seminar bahkan sampai Surabaya dan Jakarta. Namun, sebagian besar waktu Bu Jasmin kini dihabiskan dengan berdiam diri di rumah —ard.


8

Tokoh 18

Kiprah Wanita

- 24 April 2010

HUT Ke – 47 BKOW Provinsi Bali Hadirkan Menteri PP dan PA Amalia Sari Gumelar Nyonya Ayu Pastika

Ketua Dewan Penasihat BKOW Ketua TP PKK Provinsi Bali

Tak Ada Kata ‘Tak Bisa’ Dalam kiprahnya, Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) harus dapat memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Di hari ulang tahunnya ke-47 yang ber tepatan dengan Hari Kar tini, BKOW harus memotivasi seluruh anggota. Keluarga besar BKOW Provinsi Bali harus terus meningkatkan kinerjanya mewujudkan visi dan misi organisasi. Selalu siap membangun Bali, terlebih dengan digaungkannya kesetaraan gender dan kesempatan berkiprah yang terbuka luas di era sekarang. Tugas BKOW itu dapat menempatkan dirinya sebagai wadah perjuangan perempuan Indonesia khususnya di Bali untuk menyukseskan pembangunan daerah dan nasional. BKOW harus menyikapi secara profesional dalam menghimpun dan memberdayakan berbagai potensi organisasi wanita di daerah ini untuk bersinergi serta ikut bersama-sama membangun Bali dalam pembangunan yang berperspektif gender. Memang perempuan yang aktif dalam berorganisasi dihadapkan pada berbagai tantangan. Untuk itu kualitas kaum perempuan perlu ditingkatkan sehingga keberhasilan perempuan akan dipandang organisasinya sebagai hal yang sudah sepantasnya didapatkan. Dalam meningkatkan kualitas perempuan dalam berorganisasi perlu mengasah dan meningkatkan potensi serta menjaga citra yang baik. Mari bersinergi, dan tak ada kata ‘tidak bisa’ jika kita bersedia.

Nyonya Ayu Pastika

A.A.A. Ngr.Tini Rusmini Gorda Ketua BKOW

Sadar dan Mau Berubah Usia ke 47, usia yang sangat matang. Namun, dalam organisasi penyempurnaan dan perbaikan menjalankan organisasi mesti dilakoni secara terus menerus dengan melibatkan semua personal yang ada di dalamnya. Apalagi BKOW menjadi leader dari 28 organisasi wanita yang ada di Bali. Tidak sulit menjalankan organisasi jika komponen dan eksponen yang ada di dalamnya sadar bahwa organisasi bisa tumbuh dan berkembang dengan adanya jalinan komunikasi yang intensif serta koordinasi yang baik . Tidak kalah pentingnya dicatat, bahwa organisasi bisa sukses dan bertahan dalam situasi apa pun, jika kita bisa memanajemeni diri baik dalam pikiran, perkataan maupun tindakan dalam menjalankan organisasi tersebut. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita sadar mau berubah. Wanita pasti bisa. Karenanya harus mampu menyadari dan menemukan hal terbaik dalam dirinya. Wanita harus mau memperbaiki diri terus untuk mencapai penyempurnaan dan ahli dalam membangun jaringan bagi kehidupannya. Jika semua bisa dan mau melakukan berarti wanita memang mampu mempercepat terealisirnya Millennium Development Goals (MDG’s) sebagaimana tema yang diangkat dalam talk show serangkaian HUT BKOW tahun ini yang melibatkan semua organisasi wanita yang ada di Bali. Demi bersama-sama mengatasi delapan tantangan utama pembangunan, sekaligus organisasi BKOW Bali ke depannya dapat meningkatkan sumber daya yang produktif khususnya kaum perempuan. Sehingga, perempuan turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan Bali demi tercapainya kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Pelopor Peningkatan Kualitas Diri BKOW, wujud nyata atau implementasi dari cita-cita Kartini, yakni keinginan agar perempuan mampu berkiprah, utamanya punyai kualitas diri lebih dari sebelumnya. Lebih ditekankan pada kualitas diri perempuan, sebab perempuan harus mampu untuk menilai, menghayati apa yang benar dan tidak, apa yang harus dikerjakan atau dihayati. Tidak tertutup kemungkinan dengan meningkatnya kualitas akan lebih banyak yang mampu berperan di segala bidang kehidupan. Tidak hanya terkungkung dalam tembok rumah tangga tetapi lebih bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Harapan Kartini juga perempuan harus mengenyam pendidikan sama dengan laki-laki. Sebenarnya sejak itu pula telah ada wawasan berperspektif gender, hanya saja belum dinyatakan secara transparan. Emansipasi yang dimaksud Kar tini adalah antara laki dan perempuan sederajat dalam hal meraih kemajuan. Sebagai wujud peduli terhadap kaum perempuan di Bali, berdirilah organisasi yang semula bernama Badan Musyawarah Wanita Indonesia (BMWI) yang sejak tahun 1984 berubah menjadi

A.A.A. Ngr.Tini Rusmini Gorda

yang kurang mampu, seperti program pendidikan, kesehatan, sosial, kesejahteraan masyarakat, ekonomi, pengembangan usaha, hukum, dan hak asasi manusia serta pemberdayaan perempuan. Melalui evaluasi kegiatan-kegiatan tersebut dapat diketahui kekuatan dan kelemahan, peluang, dan tantangan yang akan dihadapi BKOW ke depannya. BKOW diharapkan dapat

menjadi barometer bagi organisasi lainnya di Bali dan juga harus pandai memilih kegiatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan target yang akan dicapai. Walaupun dengan berbagai keterbatasan, yakin bukan menjadi kendala untuk melaksanakan program kerja namun justru akan lebih memacu meningkatakan kreativitas, efisiensi, dan efektivitas dalam mendayagunakan sumber daya yang tersedia. Kedudukan dan peran perempuan dalam pembangunan sangat penting dan strategis, karena sebagian besar penduduk adalah perempuan. Dari sisi ini kaum

Dalam usianya yang ke47, BKOW dipimpin seseorang yang sesuai dengan kami, menjadikan komunikasi di antara kami nyambung. Kerja sama dengan BKOW juga berarti kami memiliki mitra kerja yang sepaham dalam pemberdayaan perempuan sekaligus pangarusutamaan gender. Terlebih secara program Serikat Pekerja Pariwisata (SP Par) Badung sedang melakukan pengarusutamaan gender, peningkatan kualitas organisasi dengan memberikan kesempatan pekerja perempuan terlibat di dalamnya. Keberadaan BKOW yang menaungi 28 organisasi perempuan ini akan kami perempuan bisa berperan secara maksimal dalam pembangunan. Peran organisasi BKOW yang telah mewadahi beberapa organisasi perempuan, sekarang harus lebih aktif sebagai pelopor dalam memperjuangkan hakhak perempuan. Oleh sebab itu BKOW harus berperan secara aktif, ikut melaksanakan program pemerintah di antaranya melakukan koordinasi dan konsolidasi organisasi di tingkat kabupaten/kota sesuai fungsi dan profesinya.

Ucapan Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih atas peransertanya dalam penyelanggaraan Talk Show “Perempuan Mendukung Percepatan MDG’S” kepada: INTI Bali PINTI Bali SP Par Badung Dharma Wanita Persatuan Provinsi Bali TP PKK Provinsi Bali FIF Astra Group Sarana Dewata Group

BKOW. Harapan ke depannya BKOW selalu ingat tujuan organisasi, yaitu bagaimana perempuan mampu menggerakkan, memberikan kesempatan yang lebih jauh ke depan khususnya terhadap anggota organisasi. Jadikan BKOW sebagai wadah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan. BKOW harus menjadi pelopor untuk meningkatkan kualitas diri perempuan. Peresmian BKOW Bali dilakukan pada Hari Kartini, yang ketika itu diperingati

Perempuan dan Organisasi

BKOW Menjadi Barometer

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Ni Nyoman Masni

sebagai hari perempuan. Meski Hari Kartini jarang dirayakan di sekolah namun bersyukur gaungnya tidak meluntur, malah sekarang mulai marak lagi. Namun, pada masa lalu karena ketiadaan dana operasional yang tetap, menjelang Hari Kar tini tidak ada kegiatan yang terlalu menonjol kecuali aktivitas sosial, seperti kunjungan ke panti asuhan. Hakikat peringatan Hari Kartini adalah bagaimana suasana hati nurani kita menghargai dan menghayati kepahlawan Kartini, dan tidak perlu diwujudkan dalam bentuk pesta pora . Ketika itu digunakan untuk meningkatkan konsolidasi kebersamaan BKOW Provinsi Bali dengan Gerakan Organisasi Wanita (GOW) di kabupaten. Mengenai keberadaan BKOW kini, ia percaya ketuanya, Gung Tini bisa. Diharapkan bukan manajemen tusuk sate nyang diterapkan, melainkan menerapkan prinsip kepengurusan yang kolektif kolegial, semua pengurus memiliki peran sama. Ketua umum selaku koordinator yang mengatur, mengawasi, dan mengendalikan. Perlu dicitrakan begitu rupa agar perempuan merasakan pentingnya berorganisasi.

Ketua SP Par Badung

Kepala Badan BP3A Provinsi Bali

Luh Putu Haryani

Mantan Ketua BKOW

Putu Satyawira Marhaendra

Luh Putu Haryani

BKOW merupakan salah satu elemen yang mendukung kegiatan di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) di samping instansi terkait lainnya. Kini memasuki usia 47 tahun, BKOW sebagai lembaga perempuan yang diakui di tingkat nasional, perlu juga mengevaluasi berbagai program yang ditujukan bagi kepentingan masyarakat

Ni Nyoman Masni

9. Bali Tangi 10. BP3A 11. PT Abdinusa Semesta 12. Catering Hendrik Service 13. Wardah Cosmetic 14. Sri Collection 15. Iwapi Provinsi Bali 16. Panda Bali Tour & Travel

17. Hotel NIKKI 18. Koran Tokoh 19. Seluruh Organisasi Wanita di Bali dan pihak-pihak yang membantu terselenggaranya acara ini. Panitia Pelaksana HUT ke-47 BKOW Bali

jadikan potret di dalam keluarga besar SP Par untuk mempercepat perempuan aktif berorganisasi demi memperjuangkan hak perempuan pekerja, demi hasil yang maksimal. Sesungguhnya organisasi bukan dunia yang baru dan aneh bagi perempuan, khususnya para pekerja perempuan di sektor pariwisata. Dengan banyaknya perempuan yang aktif dalam organisasi, tidak ada salahnya mereka yang tergabung dalam SP Par juga mampu mengaktualisasikan dirinya di dalam kegiatan serikat pekerja. Hingga kini telah bergabung 55 perusahaan, hotel, restoran, spa, dan rekreasi. Dari 55 pengurus yang kami miliki hampir seluruhnya sudah diisi pengurus perempuan. Selanjutnya kami harapkan menjadi realitas bukan hanya angan–angan, ada tanggung jawab perempuan terhadap

Putu Satyawira Marhaendra

organisasinya. Apalagi dengan adanya kuota 30%, mereka punya kesempatan berkiprah dalam bidang politik. Dengan kerja sama ini, kami berharap mendapatkan dukungan yang jelas demi pekerja perempuan yang masih ragu-ragu, bahwa dengan organisasi dapat meningkatkan citra diri dan kinerjanya. Dengan sering menghadiri seminar yang berskala nasional eksponen perempuan SP Par akan lebih meningkat pengalamannya.

BKOW Berikan...........................dari

halaman 1

pembicara utama. Sebelumnya akan tampil salah seorang tokoh perempuan Indonesia Bu Marta Tilaar. Acara ini dilangsungkan atas jalinan kerja sama BKOW dengan INTI, PINTI, Dharma Wanita Persatuan dan berbagai organisasi lainnya. Rangkaian aktivitas lainnya, di antaranya bakal dilangsungkan bakti sosial dengan pemeriksaan, pengobatan dan pemberian kacamata bagi 500 orang dan operasi katarak yang semuanya diberikan secara gratis 1 Mei di Art Centre. Dilanjutkan dengan pemberian beasiswa bagi 50 pelajar kurang mampu baik SD, SMP dan SMA. Untuk mendukung kepedulian perempuan pada lingkungan dilakukan penanaman 3000 pohon yang penyelenggaraannya bersinergi dengan BP3 A 30 April, agar selaras dengan program pemerintah Provinsi Bali menuju Bali Clean dan Bali Green (Bali yang bersih dan Bali yang hijau) Cok Istri Anom menegaskan, ke depannya BKOW sebagai organisasi besar ingin lebih lagi menunjukkan kiprahnya dalam membantu pelaksanaan program pemerintah daerah Provinsi Bali. Bersama komponen organisasi atau badan lainnya bersinergi mengatasi tantangan utama pembangunan, yakni mengurangi kemiskinan; mencapai pendidikan dasar bagi semua termasuk yang miskin, yang belum mampu supaya keadilan tercapai; kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum perempuan; mengurangi jumlah kematian anak usia di bawah lima tahun; mengurangi jumlah ibu yang meninggal saat melahirkan; memerangi HIV/AIDS; memerangi perubahan iklim dan pemanasan global serta menjalin kerja sama internasional. —ard


Pendidikan

Unhi Perlu Laboratorium F

buku dan literatur,” jelas Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Ayurveda Unhi Denpasar Ir. I Nyoman Prastika, M.Si.. Fakultas ini memang baru berdiri tahun 2008, meski kehadirannya sudah menyedot perhatian masyarakat Bali. “Kami kini memiliki 44 mahasiswa,” tambahnya. Sebagai lembaga pendidikan kesehatan, fakultas ini telah “Laboratorium tersebut herbal. Untuk mengetahui dilengkapi sebuah kinik, meskipenting untuk mengetahui kandungan tanaman herbal, pun peralatannya belum kandungan dari tanaman selama ini kami masih memakai lengkap. Namun, klinik tersebut

AKULTAS Kesehatan Studi Ayurveda Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menjadi satu-satunya sekolah pencetak tenaga kesehatan herbal di Indonesia. Ada beragam persoalan yang kini menghambat proses pembelajaran di kampus ini. Saranaprasarana berupa laboratorium tanaman herbal belum mereka miliki.

tkh/lik

Pencetak Tenaga Kesehatan Herbal Satu-satunya

Ir. I Nyoman Prastika, M.Si.

telah terbuka untuk umum. Aktivitas pembelajaran di kampus tersebut sore hari. Pagi harinya, dibuka praktik pengobatan herbal. Peminatnya cukup banyak. Menurut Prastika, ada 20 orang pasien yang kini menjalani terapi di Klinik Fakultas Kesehatan Ayurweda. Kepercayaan masyarakat tersebut membuat pihak kampus optimis dalam mengembangkan

18 - 24 April 2010 Tokoh 9

pendidikan herbal ke masyarakat luas. Ada bebarapa metode dalam penyembuhan penyakit. Mahasiswa diajari metode mendiagnosa hingga mengobati. Ada dosen yang ahli di bidang herbal yang memberikan pelayanan kesehatan untuk warga di klinik tersebut. Mahasiswa juga ditugaskan membantu dosen tersebut, sehingga teori pembelajaran bisa diterapkan lewat praktik secara langsung. “Tiap hari kami bekerja di klinik bergiliran,” tambahnya. Tak jauh berbeda dengan Fakultas Kedokteran umumnya, Fakultas Kesehatan Ayurveda 40% mengajarkan materi tentang kesehatan seperti anatomi tubuh, nutrisi, gizi, dan antropologi medik. Dosen pengajar pun sebagian dari Fakultas Kedokteran Unud. Mahasiswa juga diajari bagaimana meramu tanaman herbal menjadi obat yang memiliki khasiat mengobati penyakit tertentu. Namun, sebagai fakultas kesehatan yang mengusung

FAKULTAS Kesehatan Studi Ayurveda Universitras Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar bisa bekerja sama dengan FK Unud dalam hal uji laboratorium sehingga obat herbal yang dibuat bisa dibuktikan keakuratannya. Demikian ditegaskan guru besar Fakultas Kedokteran Unud Prof. Made Budhi, Drs. Apt. SKM, AFK. dalam perbincangannya dengan wartawati Koran Tokoh belum lama ini. Ia memaparkan, untuk mengetahui kandungan obat atau tanaman perlu dilakukan dengan uji laboratorium. Ahli farmasi, dokter, dan petugas kesehatan lainnya harus tahu penggunaan obat tersebut, serta indikasi maupun efek sampingnya. Jika belum ada laboratorium bisa digunakan literatur yang merupakan hasil

tkh/lik

Unhi bisa Bekerja Sama dengan FK Unud Dalam Uji Laboratorium

Prof. Made Budhi, Drs, Apt., SKM, AFK

penelitian atau ditulis ahli farmasi dan kedokteran. Jika literatur ditulis lulusan pertanian tentu hal itu tak meyakinkan karena mereka hanya

belajar cara membudidayakan tanaman bukan mempelajari kandungan tanaman. Dosen bagian Farmasi FK Unud ini menjelaskan, FK Unud memiliki laboratorium farmasi. Alat timbang dan mesin pengolahan tanaman herbal menjadi ekstrak menjadi salah satu sarana di laboratorium tersebut. “Mahasiswa tak hanya belajar tentang obat modern (farmasi) namun juga herbal (fitofarmaka),” ujarnya. Laboratortium farmasi bukan berfungsi membuat obat, melainkan meracik obat. “Jika ingin mengetahui kandungan obat, kami bekerja sama dengan jurusan Farmasi FK Unud yang memiliki laboratorium kimia farmasi,” kata pria kelahiran Denpasar, 20 Oktober 1946 ini. Obat yang telah diuji di laboraratorium farmasi, dapat

diketahui indikasinya, kegunaan, zat efektif, dan kontraindikasinya. “Di laboratorium farmasi, mahasiswa menjadi tahu menggunakan obat yang baik dan rasional,” katanya. Selain proses peracikan obat, di laboratorium tersebut mahasiswa FK Unud juga dikenalkan bahwa obat bisa dibuat dalam bentuk tablet, kapsul, larutan, maupun serbuk. Ketika meracik obat hingga siap dikonsumsi, perlu ada standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). “CPOB tak hanya dipakai untuk obat modern, juga obat herbal,” tambahnya. Kini telah berkembang obat herbal yang telah memenuhi standar CPOB. Obat itu bahkan telah diterima masyarakat luas sebagai obat yang dipercayai mengobati penyakit kencing batu. “Kapsul kecibeling yang

Hasil Tes Sidik Jari Identifikasikan Karakter Karyawan FINGER print test atau dikenal dengan tes sidik jari di samping mampu mengidentifikasikan kecerdasan, juga mampu mengidentifikasikan karakter individu. Informasi tentang karakter dan kecerdasan karyawan sangat bermanfaat untuk menempatkannya di tempat kerja yang tepat. “The right man in the right place” penempatan karyawan sesuai dengan potensi, bakat, dan karakternya. Demikian diungkapkan ahli analisis finger print dari Singapura Mr. Richie Maximus. Ia mengatakan, tes sidik jari sudah diterapkan di beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Taiwan. Sekarang ini, kata Mr. Richie, tes sidik jari sudah digunakan dalam perekrutan karyawan baru dan promosi jabatandi beberapa perusahaan besar di Jakarta. Ia berpandangan, tiap orang diciptakan sebagai sosok yang cerdas. Namun, kecerdasan yang dimiliki berbedabeda dengan takaran yang berbeda pula. Tes sidik jari akan menjelaskan dan memetakan potensi dasar atau bakat yang dimiliki. Dari hasil grafik kecerdasan majemuk ini, perusahaan dapat lebih mudah mengarahkan atau mengembangkan kecerdasan karyawannya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dalam hasil tes, disebutkan apa kelebihan dan kelemahan individu. Beberapa rekomendasi juga diberikan untuk mengembangkan potensi yang menonjol, dan menempatkan kekurangan agar tidak menghambat dalam berkarier. “Dengan tes ini, individu dapat memahami diri sendiri dan memilih karier yang tepat. Individu mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kompetensi yang dominan, membangkitkan semangat untuk kehidupan dan mencapai mimpi-mimpi, mengembangkan diri dan memberdayakan diri untuk mencapai tujuan dan impian,” papar Mr. Richie. Dari hasil ini, perusahaan bisa memberdayakan karyawan

dengan memahami bakat/potensi yang mereka miliki, menemukan nilai-nilai yang tidak tampak dari karyawan untuk pengembangan kreativitas yang lebih menguntungkan, mengorganisasikan kekuatan kinerja karyawan untuk mencapai prestasi tertinggi/optimal, menentukan dan menyelenggarakan pelatihan pengembangan SDM yang dibutuhkan karyawan serta mengevaluasi pengelolaan profil bakat level manajemen. Ia mengatakan, individu yang sudah bekerja tidak harus mengubah pekerjaannya setelah mengetahui hasil tes ini. Namun, hasil tes dapat digunakan untuk mengembangtkh/ast Mr. Richie kan potensi unggulan untuk sebagai kunci utama ia sukses menunjang profesi kerja. di bidang penjualan. Ia menyatakan pekerjaan seseorang Delapan Kecerdasan Psikolog Nyoman Ayu Suci yang disesuaikan dengan bakat Kharisma Rani mengungkap- dan potensi akan meningkatkan kan, ada beberapa indikator produktivitas kerja. “Bagi yang seseorang melakukan sesuatu ingin menjadi pegawai, maka sesuai bakatnya atau tidak. potensi otak kiri harus lebih “Mereka biasanya penuh rasa dominan daripada potensi otak riang gembira ketika melakukan kanan. Bagi yang akan mensesuatu pekerjaan atau ke- coba menjadi pengusaha, giatan. Mereka melakukannya potensi otak kanan harus lebih sendiri tanpa harus dipaksa dominan dibandingkan otak atau diperintah. Mereka juga kiri,” katanya. Ia mengatakan, kecenderutidak putus asa dan tidak mudah jenuh pada kondisi apa ngan seseorang bisa saja pun saat melakukan sesuatu dominan otak kiri atau otak kanannya, atau seimbang. Dari itu,” paparnya. Dengan mengetahui bakat hasil ini, kita dapat melatih dan yang sebenarnya, seseorang membantu menyeimbangkan akan makin senang menghadapi kemampuan analisis logis otak bisnis atau pekerjaannya dalam kiri dengan kemampuan kreakondisi apa pun dan lebih tivitas dan apresiasi otak kanan. Manusia memiliki delapan produktif. kecerdasan. Kecerdasan liContoh, jika setelah dites hasil yang ditemukan individu nguistik (bahasa) yakni kemammemiliki karakter yang mudah puan membaca, menulis, dan bergaul, orangnya menyenang- berkomunikasi dengan katakan, dan mampu mengintegrasi- kata atau bahasa. Pekerjaan kan topik pembicaraan se- yang cocok baginya penulis, hingga mampu tampil sebagai jurnalis, penyair, orator, dan pengendali pembicaraan. pelawak. Kecerdasan logis Individu ini populer dan matematis yakni kemampuan memiliki banyak teman. Ia berpikir (menalar) dan mengcenderung tidak ragu dalam hitung, berpikir logis dan berinteraksi dengan orang yang sistematis. Ini adalah jenis-jenis baru dikenalnya. Individu ini keterampilan yang diperlukan cenderung cocok ditempatkan ekonom atau akuntan. Kecerdi pemasaran. Karakternya dasan visual-spasial yakni yang mudah bergaul dan kemampuan berpikir mengmenyenangkan bagi orang lain gunakan gambar, membayang-

kan berbagai hal pada mata pikiran. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis. Kecerdasan musikal yakni kemampuan mengubah atau mencipta musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi, kebanyakan kita memiliki kecerdasan musikal dasar yang dapat dikembangkan selanjutnya. Kecerdasan kinestetik yakni kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan prestasi atletik, di bidang kesenian seperti menari dan akting, atau dalam bidang bangunan dan konstruksi. Kecerdasan interpersonal yakni kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki guru, penyembuh, politisi, pemuka agama. Kecerdasan intrapersonal, yakni kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri, mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki filosof, penyuluh, pembimbing. Kecerdasan naturalis yakni kemampuan mengenal flora dan fauna, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini. Perempuan yang akrab disapa Rani ini mengatakan, dengan tes sidik jari, akan diketahui kecerdasan mana

tema herbal, Fakultas Kesehatan Ayurweda tidak memiliki lahan tanaman herbal. “Untuk itu kami menjalin kerja sama dengan warga masyarakat yang memiliki tanaman herbal yang kami butuhkan. Kami siap mengolahnya menjadi racikan obat,” katanya. Tanaman itu diracik dalam dua bentuk, serbuk dan cair atau minyak. “Kami memiliki mesin penggiling,” ujarnya. Terkait kandungan tanaman herbal, pihaknya masih berpatokan pada literatur. Kandungan secara nyata belum bisa kami buktikan karena kami belum memiliki laboratorium. “Kami masih mengajukan program pengadaan laboratorium ke Departemen Agama,” kata-

nya. Jalinan kerja sama dengan lembaga pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas juga telah terjalin. “Mereka siap menerima mahasiswa kami guna melakukan praktik kerja lapangan,” ujarnya. Bahkan, menurut Prastika, rencananya, tahun 2010, Rumah Sakit Wangaya akan membuka klinik dan apotek herbal. Klinik dan apotek tersebut, menurut Prastika, akan memudahkan warga masyarakat yang ingin melakukan pengobatan dan penyembuhan penyakitnya. Setelah menyelesaikan studi selama delapan semester, mahasiswa berhak menyandang gelar Sarjana Kesehatan Hindu. —lik

Laboratorium Farmasi FK Unud

tkh/lik

bisa mengobati kencing batu merupakan contoh obat herbal (fitofarmaka) yang banyak dijual di apotek-apotek,” katanya. Menurut Prof. Budhi, Fakultas Kesehatan Studi Ayurveda Unhi yang belum memiliki laboratorium, bisa mengadakan kerja sama dengan FK Unud dalam hal uji laboratorium, sehingga obat herbal yang dibuat bisa dibuktikan keakuratannya. Prof. Budhi tak memungkiri pengobatan dengan tanaman herbal dan cara-cara tradisional kini mulai diincar masyarakat. Inilah yang membuat FK Unud mulai memasukkan pengetahuan pengobatan herbal ke dalam mata kuliah complementer alternative medicine atau pengobatan alternatif. “Dokter perlu memiliki pengetahun tentang pengobatan alternatif.

Saat seseorang yang telah divonis kanker stadium empat dan tak bisa disembuhkan, sebagai suatu usaha, dokter bisa menggunakan pengobatan alternatif,” katanya. Mahasiswa juga mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan farmakognusi (ilmu yang mempelajari bahan alam/ tumbuh-tumbuhan), dan juga fitokimia (zat-zat kimia dalam tubuh). Prof. Budhi menjelaskan, FK Unud memiliki dua mata kuliah penting selektive topic dan special study. Selektive topic wajib diikuti seluruh mahasiswa karena masuk dalam kurikulum. Selektive topic mengajarkan pengetahuan tentang banyak hal seperti complementer alternative medicine, ergonomi/ilmu faal, gariyatri, travel medicine, dan peliyatif (tindakan untuk

pasien yang terminal atau kondisi penyakitnya parah). Berbeda dengan special study, dari sekian banyak pilihan, mahasiswa bisa memilih mata kuliah yang ia senangi, misalnya yoga dan meditasi. Menurut Prof. Budhi yang juga mengajar di Fakultas Kesehatan Studi Ayurveda Unhi, tak hanya obat modern, laboratoriumnya pun bisa digunakan membuat obat herbal yang bahan-bahannya berasal dari ekstrat tumbuhan. “Sebelum menjadi ektrat, perlu dilakukan uji kandungan tanaman sehingga bisa diketahui kandungan dan fungsinya secara akurat. Setelah melalui uji kliniks dan toksisitas, ekstrat tumbuhan tersebut bisa ditempatkan ke dalam bentuk kapsul, serbuk, atau tablet,” katanya.—lik

yang menonjol. Penempatan karyawan pun disesuaikan kecerdasan yang dimiliki. Ia menyatakan, memahami diri berarti mampu memahami kekuatan dan kelemahan diri. Individu yang bisa mengetahui potensi dan karakternya, mampu menempatkan dirinya dengan lebih baik dan bertindak efektif sesuai dengan situasinya. “Individu yang demikian mampu melakukan evaluasi dan mengukur kemajuan yang dicapainya sehingga ia mampu

mengoptimalkan potensi dirinya. Ia juga diharapkan mampu fokus pada kelebihannya, dan tidak selalu memandang kekurangannya,” ujarnya. Rathi, misalnya. Ia memiliki karakter yang tak mudah percaya dengan informasi yang disampaikan pihak lain. Ia cenderung menghendaki adanya data, bukti, dasar bukunya dan melihat kualitas orang yang menyampaikannya. Awalnya saat ditawari tes sidik jari, ia tidak terlalu tertarik. Ia kemudian

melakukannya dengan sedikit bercanda. Namun, setelah melihat hasilnya, ia kaget, ternyata 90% analisis finger print test sama dengan karakternya. Dari hasil tes terlihat, ia tak mudah memercayai penjelasan apa pun, sebelum ada bukti dan data. Rani berpandangan, individu dapat jauh lebih optimal dalam menempatkan dan mengembangkan diri jika ia memahami karakter dan kelebihan serta kekurangan dirinya. –ast

Bakat Anak Deteksi sejak Kecil DARREN sangat aktif. Saat guru menerangkan pelajaran, ia asyik membuat mainan dari kertas. Bahkan, ibunya, Sari Rani, sempat mengira ia pembangkang. Apalagi, guru sekolah Darren menelepon Sari dan mengatakan anaknya asyik berjualan kertas di kelas, saat berlangsungnya pelajaran. Kata gurunya pula, Darren suka menggambar di buku pelajarannya. Karuan saja, ulah Darren membuat ibunya cemas. Sari mencoba finger print test untuk Darren. Hasilnya, Darren termasuk tipe R. Ia sangat kreatif dan aktif. Untuk itu, orangtuanya harus memberikan banyak ruang kepadanya untuk mengekspresikan dirinya. Apa pun yang ingin dilakukan Darren, diberi kesempatan. Hasil ini, dijadikan acuan Sari untuk mengembangkan kemampuan anaknya. Begitu juga putra bungsunya, Darrek. Sejak usia

Sari Rani

tkh/ast

tiga tahun, bocah itu sudah suka menyanyi. Perasaannya sangat peka. Darrek tidak bisa mendengar suara/ bentakan keras. Dari hasil tes sidik jari, diketahui kepribadian Darrek. Sari mengatakan, dengan hasil tes sidik jari, ia memiliki pedoman untuk

mendidik dan mengarahkan anak-anaknya. Rani mengatakan, hasilnya akan lebih maksimal jika bakat anak sudah dideteksi sejak kecil. Orangtua lebih mudah mengarahkan anak untuk kesuksesan masa depannya. Apa potensi unggulannya dapat dijadikan acuan untuk ditingkatkan. Mr. Richie menambahkan, kesuksesan tidak bisa ditentukan dengan tes sidik jari. Namun, hasil tes ini dapat menjadi acuan untuk mengejar kesuksesan. “Kelemahan individu yang sudah terdeteksi disertai rekomendasi tentang apa yang perlu dilakukan untuk meminimalkan kelemahan atau kekurangan tersebut. Kelebihannya ditingkatkan sehingga terjadi keseimbangan. Melakukan pekerjaan sesuai keinginan hati membuat hati bahagia dan tidak stres,” ujar Mr. Richie. –ast

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414


Harmoni

10 Tokoh 18 - 24 April 2010

Ir. Linda Wahjudi dan Ir. Wahjudi Rahardjo

4

Nikah di Denpasar dan Pasuruan SETELAH empat tahun berpacaran, Linda dan Wahjudi sepakat naik pelaminan 9 Juli 1989 di Pasuruan. Namun, sebelum menikah di kampung kelahirannya, aktivis gereja Katolik ini sudah telanjur diikat tali asmaranya di Kantor Catatan Sipil Denpasar.

Linda dan Wahjudi mengenakan toga sebagai pertanda resmi menyandang gelar “tukang insinyur”

S

ebelum perkawinannya dicatatkan instansi pemerintah itu, Linda dan Wahjudi telah menyelami sisi ‘kurang’ dan ‘lebih’ yang melekat dalam pribadi masingmasing. “Masa pacaran 4 tahun cukup untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ujar Linda Wahjudi. Linda merekam rapi kenangan indah semasa pacaran dalam memorinya. Untaian ceritanya panjang. Namun, menurut Linda, ia dan Wahjudi semula mengawali pertalian

asmara tanpa mau kelewat larut dalam urusan cinta semata. “Saat awal pacaran, hubungan cinta kami justru terasa seperti teman saja. Saya tidak mau terlalu sering bertemu. Saya khawatir nanti kuliah berantakan gara-gara urusan cinta,” katanya. Setelah mulai mengenali pribadi Wahjudi baru Linda mulai membuka diri. Sesekali ia mau diajak pelesir ke sejumlah objek wisata, seperti Bukit Jambul di Karangasem, Bedugul di Tabanan, atau Pantai Sanur. “Tetapi, jalan-jalan

berdua ke Bedugul dan Sanur yang menarik. Pacar saya kan senang menikmati indahnya bulan di langit. Jika sudah kepingin menikmatinya dia berusaha merayu saya menemaninya untuk sekadar memandang bulan he…he…” ujar Linda. Semula Linda merasa kebiasaan Wahjudi itu janggal. “Sampai-sampai saya bilang, kan sudah ada ‘bulan’ di depan kamu, ngapain mau menikmati bulan yang jauh di langit itu,” ungkapnya mengenang selorohannya kepada Wahjudi saat itu. Jika sedang pelesir biasanya ada bekal makanan yang sudah disiapkan Linda. Bekal makanan bisa berupa pisang goreng, kadang ditemani sebuah termos air panas berisi susu cokelat. “Sambil menikmati jalan-jalan ke objek wisata ya…habisin makanan,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Sehabis melancong dua sejoli ini berusaha kembali ke kesibukan masing-masing. Aktivitas kuliah tetap menjadi perhatian utama. Linda pun sibuk mengajar privat matematika, fisika, dan pelajaran lainnya untuk puluhan muridnya. “Pendeknya, semua kegiatan itu berjalan seperti air mengalir,” katanya. Masa kuliah Linda dan Wahjudi hampir rampung. Dua sejoli yang kuliah di fakultas teknik, tetapi berbeda kampus itu, sama-sama siap menghadapi ujian skripsi. “Hanya saja, saya ujian belakangan, dia duluan,” kata Linda. Ujian skripsi Wahjudi di depan pengujinya di Fakultas Teknik Unud telah tiba. “Saya menemaninya ke kampus. Saat ujian, jantung saya berdebardebar. Tetapi, saya berusaha sabar menanti di luar ruangan

sambil terus berdoa. Akhirnya doa saya terkabul, dia dinyatakan lulus,” tutur Linda. Jadwal berikut giliran Linda yang mengikuti ujian skripsi di Fakultas Teknik Universitas Ngurah Rai Denpasar. Ujiannya berlangsung sepekan kemudian di Gedung SMP 3 Denpasar Kreneng. “Waktu itu kampus saya masih meminjam ruang kelas SMP 3 Denpasar,” katanya. Hasilnya menggembirakan. Linda dinyatakan lulus tes skripsi. Ia mengikuti jejak Wahjudi menjadi “tukang insinyur”. Ini berarti urusan studi di kampus sudah kelar. Linda dan Wahjudi tinggal memikirkan kelanjutan hubungan cinta mereka. Walau tali cinta dua sejoli ini sebenarnya sudah diikat di Kantor Catatan Sipil sekitar tiga pekan sebelum Wahjudi menjalani ujian skripsi. Itu terjadi 4 Desember 1988. “Saat itu saya mau menikah di Catatan Sipil. Mungkin dia takut kehilangan saya, maka ingin cinta kami diikat dulu di kantor pemerintah itu,” jelas Linda. Walau sudah resmi berstatus suami istri, Linda dan Wahjudi tidak hidup bersama di bawah satu atap. Wahjudi tetap menumpang di rumah indekosnya. “Saya masih tinggal di rumah Kakak. Saya mau hidup serumah jika kelak sudah menikah secara gerejani,” lanjutnya. Saat sepakat meresmikan pernikahan di gereja, Linda dan Wahjudi enggan buru-buru meminta restu orangtua mereka. Bekal rumah tinggal disiapkan dulu. “Kami mencicil sebuah rumah kredit BTN kecil di Canggu. Akses menuju tempat itu masih melewati Jalan Gunung Agung, belum ada Jalan By Pass Gatot Subroto

Melfany Claudia

Ingin Jadi Dokter Gigi BARU satu tahun Melfany Claudia Hartono Liong bersama keluarganya pindah ke Bali. Namun, bocah mungil kelahiran Makasar, 26 April 1998 ini sudah sangat dekat dengan Bali. Walau, ia mengaku, awal mulanya susah menyesuaikan diri karena belum mengerti bahasa Bali. Putri Drs. Fredy Har tono (alm.) dan Meryana Lilisentosa ini mengaku sangat senang tinggal di Bali. Fany, begitu ia akrab disapa menyukai adat dan budaya Bali. Kesulitan berbahasa Bali, disiasati dengan les privat di rumahnya. Fany pun tertarik mengembangkan bakatnya di bidang seni tari dengan les tari Bali. Menurut mamanya Meryana, Melfany Claudia Fany sejak kecil sudah memiliki bakat seni. Sejak usia 5 tahun ia sudah piawai menyanyi dan mendukung dengan mengembangkan wawasannya memasukmenari. Fany juga mekan ke satu agency. Fany kini nguasai tari daerah tercatat sebagai siswi SMPK Sulawesi Selatan. Santo Yoseph Denpasar. Fany Bakat Fany medikenal sebagai anak yang nyanyi diturunkan ramah dan supel. Temandari papanya temannya memilih Fany yang juga suka menjadi ketua kelas VII E. menyanyi. Sejak Sejak pindah ke Bali, kecil, Fany meFany makin mengembangkan mang diberi kebakat seninya. Untuk b e b a s a n mengasah talentanya, menyalurkan Fany kini ikut les ekspresinya. vokal. Fany sering Meryana mengisi acara di hanya beberapa mal di Denpasar. Berbagai lomba ia ikuti, dan banyak prestasi yang sudah dicapai. N a m u n , walaupun sibuk berlomba, Fany t e t a p menomors a t u k a n pelajaran. Bagi Fany pendidikan a d a l a h nomor satu. Salah satu pose Ia ingin rajin Melfany Claudia belajar untuk

Prestasi yang sudah diraih selama 2009-2010: Juara Harapan II Lomba Lagu Perjuangan (Prabaswari Production); Finaslist in Popular Singing Contest 2009 (Studio 53, Talent & Event); Teladan II Soloist Anak Putri usia 7 s.d 13 tahun (Pesparawi IX 2009 Prov. Bali); Juara II Lomba Lagu Barat dan Juara Harapan I Lagu Pop Indonesia tahun 2009 (Prabaswari Production); Deputy 1 st Winner Lagu Pop dan Lagu Religi dalam The Fashion Singing & Dancing Festival 2009 (Studio 53); 3 rd Winner Festival Lagu Rohani in Fashion Singing and Dncing Festival 2009 (Studio 53); The best Performance in the Fashion Singing and Dancing Festival 2009 (Studio 53); The Most Outstanding Performance in The Fashion Singing and Dancing Festival 2009 (Studio 53); Juara Harapan I Lagu Indonesia; Juara Harapan II Lagu untuk Mama dan Papa, dan Juara favorit dalam Mom & Cristmas Competition & Cristmas Day Celebration (Prabasari Production); Juara II dalam Lomba nyanyi Lagu Natal, usia 8-12 Tahun. Acara Santa Clauss is Coming to Makro Bali (Mario Adriano Production); Juara III Lomba Lagu Perjuangan; Juara Harapan I Lomba Lagu Bali dan Lagu Mandarin dalam Aku Cinta Denpasar (Prabaswari Production), Juara Harapan I Festival Bintang Imut se-Bali 2010 (Pangdam IX Udayana).

mencapai cita-citanya sebagai dokter gigi. Sepulang sekolah, Fany masih disibukkan dengan berbagai les pelajaran dari Senin sampai Sabtu. Namun, Fany mengaku sangat menikmatinya. Ia dapat mengatur waktu dengan baik. Nilainya pun masuk 10 besar. “Kalau sudah menyanyi stresnya hilang,” ujar Fany sambil tertawa. Di kala sengang, Fany memanfaatkan waktunya membaca. “Saya ingin terus mendapatkan informasi dan menambah wawasan,” kata Fany. Sebagai anak tunggal, Fany tidak merasa kesepian di rumah. “Banyaknya kegiatan, tidak membuat Fany tidak kesepian. Temannya banyak di sekitar kompleks perumahan. Kadang ia suka bersepeda mengelilingi kompleks, berenang atau menonton film barbie ,” tutur mamanya. –adv/ast

Linda dan Wahjudi berbahagia di pelaminan bersama orangtua masing-masing

seperti sekarang,” ungkapnya. Rumah seharga Rp 9 juta itu dicicil Rp 50 ribu sebulan. Namun, kondisi fisiknya amat sederhana, tanpa pagar, dan penerangan listrik. “Tetapi, kami beruntung saat hendak membangun pagar tembok dan mengganti lantai semen dengan teraso, banyak orangtua siswa les privat saya yang membantu. Ada yang menyumbang pasir, ada yang memberi semen,” katanya. Isi rumah pun masih kosong. Namun, Linda dan Wahjudi tetap bersikeras segera menempati rumah idamannya itu. Hanya saja jalan ke arah itu harus diretas dulu. “Kami tetap harus menikah dulu di gereja,” katanya. Rencana mewujudkan perkawinan di bawah altar gereja sudah menjadi kebulatan tekad Linda dan Wahjudi. Kabar itu juga sudah diembuskan ke segenap sanak famili. Keluarga besar Linda di Pasuruan, juga keluarga besar Wahjudi di Bondowoso, telah mendapatkan warta gembira itu. “Kami segera berangkat ke Pasuruan untuk menikah secara gerejani,” katanya. Kesibukan di rumah Linda dimulai menjelang prosesi pemberkatan secara Katolik 9 Juli 1989. Kalangan kerabat dekat kedua mempelai sudah berkumpul di Pasuruan. Upacara segera berlangsung di Gereja Katolik Santo Antonius. Prosesi dipimpin Romo Harmelink O. Carm, rohaniwan yang dulu membaptis Linda

menjadi pemeluk ajaran Katolik. Sehabis pemberkatan di gereja, Linda dan Wahjudi memasuki ruang resepsi di Gedung Pertemuan Pancasila Jalan Hasanudin Pasuruan. “Kerabat dari Bondowoso, Bali, Jakarta, meramaikan acara perkawinan kami. Wah…bahagia sekali rasanya,” kenangnya. Masa bulan madu siap menjemput sepasang pengantin baru ini. Linda menuruti ajakan Wahjudi menghabiskan masa indah mereka ke Danau Sarangan, di Jawa Tengah. Semalam menginap di sebuah vila, dua sejoli ini melanjutkan bulan madunya ke Solo dan Yogyakarta. “Setelah 4 hari berbulan madu, kami mampir ke Bondowoso, lalu ke Pasuruan,” katanya. Hari yang dinantikan untuk berangkat ke Denpasar sudah tiba. Menjelang berangkat, Linda dipesan ibunya agar menjaga kerukunan dalam berumah tangga. “Ibu juga berpesan, jika sedang berantem sama suami, jangan pulang ke Pasuruan. Kalau sudah berdamai baru boleh bertemu orangtua,” lanjutnya mengutip pesan ibunya. Sebuah mobil milik orangtua Wahjudi siap mengantar dua sejoli ini kembali ke Denpasar. Mobil juga membawa perabotan rumah tangga yang diberikan ibu mertua Linda saat mereka mampir ke Bondowoso. “Ada selusin piring makan dari mertua. Saat itu, kakak ipar suami saya yang berasal dari Tabanan menitipkan sepasang

sepatu untuk keluarganya di Tabanan,” kisahnya. Mobil membawa keluarga baru ini menuju Denpasar. Saat tiba di Tabanan, kendaraan roda empat ini singgah di rumah kerabat Wahjudi. Mereka akan menurunkan sepasang sepatu titipan dari Bondowoso. “Setelah itu, kami langsung menuju ke rumah baru di Canggu. Tetapi, alangkah kagetnya saya dan suami ternyata saat singgah di Tabanan, sopir bukan menurunkan sepasang sepatu, tetapi yang diberikan ke kerabat suami itu ternyata selusin piring dari ibu mertua saya. Padahal, 12 piring makan itulah bekal perabot rumah tangga kami,” katanya. Malam itu mereka memulai hidup berdua di rumah sendiri. Sebuah ranjang dan lemari menjadi pengisi rumah ini. Saat perut keroncongan, Wahjudi segera bergegas membeli nasi bungkus. “Tetapi, kami tak punya piring. Sebungkus nasi pun dilahap berdua,” katanya. Pada hari-hari berikutnya isi rumahnya bertambah. Kompor diberikan kakaknya yang menikah dengan lelaki Bali asal Gianyar. Jemuran dan tong air diperoleh berkat kemurahan hati sobat-sobatnya di sekolah minggu Gereja Kepundung. Kakak sulungnya yang menikah dengan orang Bali dan tinggal di Denpasar memberikan sebuah televisi, kulkas kecil, kursi bambu bekas yang masih bisa dipakai. “Ada orangtua murid memberi kami sebuah meja tulis,” ujarnya. —sam

Nama Lengkap Gede Wija Kusuma Cahya Panggilan De Wija Kelahiran Denpasar, 19 Juli 2004 Orangtua Komang Cahya Sudiarta B.A. / Ni Ketut Widiani Asal Desa Pesaban, Karangasem Sekolah TK 3 Saraswati, Denpasar Hobi Renang, Sepeda, Lari, Melukis Cita-Cita Wirausahawan Prestasi Juara II Lomba Balita Sehat di salah satu acara HUT rumah sakit swasta terkenal di Denpasar; Juara Harapan III Foto Penari dan Juara Favorit Extravaganza 2009 bidang Ilmu dan Seni; Juara Harapan I Teruna Bali Cilik Tingkat Provinsi Bali tahun 2009; Juara II Lomba Busana Adat Ke Pura Radio Genta Bali di Bali TV; Anugerah Anak Berbakat dan Berprestasi Bidang Ilmu dan Seni dari ABC Production; Juara I Teruna Bali Cilik 2010.

Gede Wija Kusuma Cahya

Teruna Bali Cilik 2010 BOCAH cilik asal Desa Pesaban Karangasem ini terbilang masih sangat belia. Namun, kemampuan gaya dan ekspresinya tidak diragukan lagi. Ia dengan percaya diri mampu tampil layaknya seorang model profesional. Itu terlihat dari penampilan Gede Wija Kusuma Cahya saat Pemilihan Teruna Teruni Bali Cilik Tingkat Provinsi Bali ke-4 di Taman Budaya Art Centre Denpasar belum lama ini. De Wija begitu ia akrab disapa, berhasil menyabet Juara I dalam perlombaan tersebut. Ibunya, Widiani mengatakan, sejak usia tiga tahun bakat De Wija sudah tampak. Tiap difoto, ia selalu memasang gaya. Bahkan, ia tak ragu-ragu berlagak seperti seorang model. De Wija mudah akrab dengan orang. Sifat berani dan percaya diri selalu ia tunjukkan. Widiani menuturkan, bakat De Wija sebagai model hanya dilatih di rumah. Ia belum berpikir memasukkan anaknya dalam satu agency. “Bapaknya yang suka melatih di rumah,” tuturnya. Begitu juga saat penobatan Teruna Bali Cilik 2010. De Wija rutih dilatih ayahnya Komang Cahya di rumah. Widiani sendiri yang menjadi penata busananya. Darah seni De Wija diturunkan dari bakat ibunya yang juga seorang penari. Dukungan tiada henti dari neneknya Ni Nyoman Nilawati yang juga Ibu Teladan 2010 turut memacu semangat De Wija. Bimbingan dan perhatian dari guru sekolahnya di TK 3 Saraswati Denpasar juga tiada henti memberinya dukungan dan semangat untuk mengasah talenta yang dimilikinya. Dalam waktu senggangnya, De Wija selalu memanfaatkan waktunya dengan baik. Selain les sempoa dan bahasa Inggris, ia juga diarahkan les berenang. Ayahnya sendiri merupakan sosok olahragawan berprestasi yang telah meraih banyak medali yang terpampang di atas lemari kamarnya. Ayah dan anak ini sering bersepeda dan berenang bersama. Bocah gesit dan cerdas yang suka minum susu ini memiliki cita-cita ingin menjadi pedagang sukses. –adv/ast

Gede Wija Kusuma Cahya


Coffee Morning

18 - 24 April 2010 Tokoh 11

Bali Mandara belum Jadi Gerakan Seluruh Bali BALI Mandara belum menjadi gerakan pembangunan seluruh Bali, tetapi masih sebatas program pembangunan Pemerintah Provinsi. Demikian disampaikan Prof. Dr. Dewa Suprapta, dalam acara coffee morning kalangan intelektual Bali dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, di Gedung Jaya Sabha, Minggu (11/4).

G

uru besar dari Fakultas Pertanian Unud itu menyarankan agar diupayakan pendekatan informal dengan bupati dan wali kota agar strategi pembangunan yang dikemas dalam slogan ‘Bali Mandara’ (maju aman damai sejahtera) bisa menjadi gerakan menyeluruh di Bali. “Sejauh ini, Bali Mandara sepertinya milik Mangku Pastika saja,” ujar Dewa Suprapta. Dalam acara coffee morning itu, Gubernur Pastika mengundang sekitar 20 pengamat dan cendekiawan Bali. Bulan sebelumnya, acara serupa digelar dengan mengundang wartawan dan redaktur media massa. Dalam acara tersebut, Gubernur Pastika mencari masukan, kritik, dan saran untuk penyampurnaan program pembangunan yang tengah dilaksanakan. Acara coffee morning dilaksanakan paralel dengan acara simakrama, yang dilaksanakan keliling kabupaten tiap bulan, diikuti warga masyarakat.

(bersendagurau). Lalu pertemuan itu disiarkan di media massa sehingga kelihatan pemimpin Bali akur,” ujar dosen Fakultas Hukum yang biasa dipanggil Pak Kumis karena kumisnya panjang. Hadirin tertawa. Prof. Suryani menyoroti ketidakharmonisan hubungan Gubernur dan Legislatif . “Kalau kita baca di koran, Gubernur dan Legislatif ribut saja,” katanya. “Kalau bisa akur dan polos (seperti pagi ini) ‘kan baik. Berilah rakyat ketenangan. Rakyat berharap punya pemimpin yang bekerja untuk dirinya, bukan untuk golongannya,” sarannya. Suasana dialog berjalan rileks, santai, terkadang diwarnai tawa. Menanggapi kesan Pak Kumis, Gubernur menyampaikan, pihaknya sudah sering makedekan dengan para bupati/wali kota. Ihwal hubungan Gubernur dan Legislatif yang sering diwarnai debat dan beda pendepat, itu sudah wajar untuk mencapi tujuan pembangunan yang tepat.

Kesan tak Akur Kesan Gubernur tidak kompak dan akur dengan para bupati dan wali kota dan legislatif juga tercermin dalam komentar dua guru besar Unud lainnya, Prof. Dr. I Wayan P Windia, S.H, M.Si. dan Prof. Dr. LK. Suryani. Windia menyambut baik acara tatap muka dengan para tokoh, tetapi menyarankan agar Gubernur Pastika juga rajin berkumpul dengan para bupati dan wali kota. “Pertemuan dengan bupati/ wali kota tak mesti membahas masalah pembangunan tetapi bisa saja untuk makedekan

Soroti Jaminan Kesehatan Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) tak pelak mendapat tanggapan beragam. Prof Suryani menilai program JKBM ini hanya baik sebagai permulaan, tetapi untuk jangka panjang tidak bisa dipertahankan. “JKBM ini bersifat terapi, yang harus diupayakan adalah pencegahan,” katanya. Menurur Prof Suryani, jika JKBM berjalan terus, betapa besar biaya akan keluar. Hal ini juga bisa menimbulkan salah kaprah mengenai arti keberhasilan. Misalnya, puskesmas atau rumah sakit merasa bangga

kalau mendapat banyak pasien. “Padahal yang benar, lembaga kesehatan ini baru boleh mengklaim diri berhasil kalau sedikit orang yang sakit, kalau tidak dijejali pasien,” kata L.K. Suryani. Sugawa Kory, anggota DPRD Bali, menilai JKBM bisa diteruskan hanya saja fasilitas rumah sakit harus dibangun sesuai dengan kondisi lapangan. Ia tidak setuju langkah peningkatan peran puskesmas menjadi rumah sakit, tetapi menyarankan Pemprov Bali membangun rumah sakit sesuai kebutuhan dan rasio penduduk. Dia menyebutkan penduduk Bali 20% ada di Utara tetapi Buleleng hanya punya satu rumah sakit. “Penduduk Buleleng 600 ribu, rumah sakitnya satu, sedangkan penduduk Denpasar lebih sedikit tetapi fasilitas rumah sakit banyak termasuk swasta,” tambahnya. Di daerah terpencil seperti Buleleng Barat dan Timur berbatasan dengan Kintamani bisa dibangun rumah sakit. Agar pelayanannya optimal, rumah sakit itu harus dilengkapi dokter spesialis walau tidak mesti hadir tiap hari. Apakah ide membangun rumah sakit akan ditindaklanjuti atau tidak, tidak jelas. Tetapi, untuk mengantisipasi kekurangan fasilitas rumah sakit, Gubernur Pastika mengatakan, pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan rumah sakit swasta dalam konteks JKBM. Penerima pasien JKBM selama ini hanya rumah sakit negeri, swasta mungkin juga jika penjajakan ini sukses. JKBM didukung semua pemerintah kabupaten dan kota di Bali, kecuali Jembrana yang terlebih dahulu telah memiliki sistem jaminan kesehatan sendiri. Dukungan dari kabupaten ini bisa dijadikan indikasi bahwa program ‘Bali Mandara’ sudah menjadi gerakan seluruh Bali, paling tidak dalam satu program: jaminan kesehatan.

Pulau Organik atau Green and Clean Island juga mendapat respons dan masukan, terutama dalam konteks pertanian organik.

Dosen pertanian dari Unud, Dr. Ni Luh Kartini, menyambut baik kebijakan menjadikan Bali sebagai green and clean island (pulau bersih dan hijau). Gagasan ini, kata Kartini, sejalan dengan kemauan menjadikan Bali sebagai pulau organik yang bisa diwujudkan lewat pengembangan pertanian organik. Yang dipersoalkan Kartini, kebijakan pemerintah tidak propetani. “Petani tidak dibantu memasarkan produknya, juga tidak dibantu permodalan,” ujar Kartini. Bantuan itu dianggap perlu karena banyak petani organik yang bekerja keras menghasilkan produk tetapi untuk menjualnya mereka tidak mampu karena ada rantai ‘mafia dagang’ yang sangat panjang. “Gara-gara tak dibayar, petani dililit utang, jatuh sakit. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ujar Kartini. Dia menyarankan pemerintah mengeluarkan kebijakan agar supermarket dan minimarket digiring membeli hasil petani lokal sampai 60%, sisanya silakan dari produk luar. Ancaman lain dari program menjadikan Bali pulau organik adalah ancaman merosotnya areal tanah mengandung bahan organik. Idealnya, tanah memiliki 5% bahan organik, tetapi kini kandungan bahan organik banyak tanah sawah di Bali kurang dari 1%. “Bahkan di Songan, kandungan organiknya 0,08%,” katanya memaparkan kian terdegradasinya mutu tanah Bali. Prof. Suparta menilai gagasan menjadikan Bali pulau yang green patut didukung karena dalam konsep green bukan hanya terkandung makna hijau tetapi juga segar dan sehat. Persoalannya, ide ini dan juga gagasan lain dalam konsep Bali Mandara, mungkin akan lebih cepat terwujud kalau Pulau Organik mendapat dukungan pemerintah Selain jaminan kesehatan, kabupaten kota di Bali, seperti keinginan menjadikan Bali halnya JKBM. —dap

Siapkan Beasiswa untuk Calon Pemimpin dan Pengusaha USULAN lain yang terlontar dalam coffee morning Gubernur Bali Minggu (11/4) ialah untuk mewujudkan Bali Mandara (maju aman damai sejahtera) pemerintah perlu memperhatikan dunia pendidikan dengan menyediakan beasiswa untuk generasi muda agar menjadi pemimpin dan pengusaha. Gagasan agar pemerintah menyediakan beasiswa untuk generasi muda Bali untuk sekolah ke luar Bali bahkan luar negeri disampaikan Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Dosen Fakultas Sastra Unud ini memberikan ilustrasi, pemerintah daerah Sulawesi Selatan menyediakan anggaran beasiswa yang besar untuk menyekolahkan generasi mudah mereka ke luar. “Tujuannya, kelak pemimpin bangsa Indonesia adalah orang Bugis,” ujar Darma. Pemprov Bali perlu menempuh langkah seperti itu agar kelak pemimpin-pemimpin bangsa adalah orang Bali. Artinya, agar Bali juga bisa menyumbangkan calon pemimpin bagi negeri ini. Atau, mereka bisa mengabdi membangun Bali. Beasiswa bisa dianggarkan lewat dana APBD, atau bisa juga dengan melobi pemerintah asing seperti AS dan Australia. Kedua negara ini menawarkan secara terbuka ratusan beasiswa tiap tahun. “Karena Pak Gubernur dikenal luas atas prestasinya ketika menjadi ketua tim

investigasi bom Bali, permintaannya pasti akan diperhatikan,” ujar Darma Putra yang menyelesaikan pendidikan pascasarjananya di Brisbane, Australia, atas beasiswa negeri tersebut. Bali sering dikunjungi duta besar asing, dan Gubernur Bali bisa melobi mereka untuk sudi menolong Bali di bidang pendidikan. Selama ini, hanya orang-orang yang kaya karena usaha pariwisata dan menjadi pejabat bisa mengirim putraputri mereka belajar ke luar negeri. “Banyak generasi muda Bali yang cerdas yang perlu dibukakan jalan oleh pemerintah agar bisa belajar ke luar negeri,” katanya. Di luar negeri mereka bisa belajar politik, manajemen, bisnis, pariwisata, informasi teknologi, dan sosiologi, dan seterusnya. Orang Bali bisa lebih banyak tampil sebagai pemimpin di daerah dan level nasional kalau mereka diberi kesempatan untuk belajar sampai ke luar. Tokoh-tokoh Bali seperti Prof. Mantra, Putu Ary Sutha, Prof. Pitana contoh orang Bali yang

mencetak calon pengusaha kecil,” katanya. Selama ini, tidak mudah mendidik anak muda mau menjadi pengusaha kecil, tetapi kalau dilakukan gerakan kerja sama dengan universitas, mungkin akan lebih berhasil. “Kalau dari 100 anak yang dididik dari program beasiswa ini lahir 10 orang yang benarpernah belajar di luar negeri, benar menjadi pengusaha, itu dan setelah itu mereka bisa sudah bagus,” kata Sugawa menempati posisi penting di Kory. tingkat nasional. Buat Guru “Akan menjadi kebanggaan Pentingnya beasiswa untuk karena Bali bisa memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan juga disampaikan bangsa. Kelak kontribusi itu Drs. Ida Bagus Gde Wiyana dari bisa lebih ditingkatkan,” kata Yayasan Pendidikan Dwijendra. Dia berharap, selain memDarma. berikan jaminan kesehatan, Pemerintah menyediakan Mendidik Pengusaha Sugawa Kory menyarankan beasiswa untuk pendidikan pemerintah Provinsi Bali dapat guru dan ikatan dinas seperti menyediakan beasiswa untuk zaman dulu. Tampaknya tokoh dalam mendidik generasi muda Bali mau menjadi pengusaha lembaga kerukunana umat (enterprenuer). Dia melihat beragama ini melihat, masih sektor Usaha Kecil Menengah diperlukan kualitas guru yang dan Koperasi (UMKK) di Bali baik demi menghjasilkan anak memegang peranan penting didik yang bermutu. “Kalau dalam memperkokoh per- gurunya tidak benar, bagaimana ekonomian Bali. Sektor ini muridnya? Misalnya di SBI memerlukan banyak tenaga (sekolah berbasis internasional), bagaimana bisa optiandal. Menurut Sugawa Kory, mal kalau seandainya gurunya alangkah baiknya pemerintah tidak bisa berbahasa Inggris?” bisa mendidik 50-100 generasi katanya. Beasiswa di dunia pendidikmuda menjadi pengusaha lewat kuliah diploma di universitas. an merupakan investasi jangka “Pemerintah bisa bekerja sama panjang untuk mencapai dengan sekian banyak lembaga kemajuan Bali, salah satu tujuan pendidikan di Bali untuk dari Bali Mandara juga. —dap

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414

tkh/humas

Gubernur Made Mangku Pastika berbincang-bincang dengan tokoh masyarakat asal Buleleng Mayjen TNI (Purn) Putu Sastra Wingarta dan Ketua Forum Komunikasi Antarumat Beragama Provinsi Bali Ida Bagus Gde Wiyana di sela acara coffee morning

Gula Rafinasi Ganggu Penurunan Harga Gula GULA rafinasi masih menjadi ancaman komunitas gula. Sebab, keberadaannya dinilai akan merusak harga gula lokal yang hari-hari terakhir ini cenderung turun. Karena itu, pemerintah agar proaktif mencegah beredarnya gula rafinasi di pasaran. Apalagi kapasitas produksi gula rafinasi jauh lebih besar bila dibandingkan kebutuhan pabrik makanan dan minuman. Tanpa gangguan gula rafinasi penurunan harga gula yang akan terjadi saat musim giling tiba, tidak akan merugikan petani tebu di Jawa Timur. Hal itu dikemukakan Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Ir. Adig Suwandi, M.Sc., di Surabaya pekan lalu. Ia menyatakan, penurunan harga gula saat ini belum dipicu oleh musim giling tebu yang diprediksi terjadi pertengahan Mei mendatang. ‘’Kalau gula rafinasi ikut masuk ke pasaran lokal, para petani dan produsen akan kewalahan,’’ katanya. Menurut dia, harga gula akhir-akhir ini turun karena mengikuti harga gula dunia dan penundaan rencana impor gula India, yang kebutuhan gula dalam negerinya sangat besar. Sama seperti importir terdaftar (IT) yang lain, BUMN pergulaan ini belakangan juga berusaha keras untuk melepas semua gula impor sebelum memasuki musim giling.

Dari impor 103.500 ton gula yang ditugaskan pemerintah, PTPN XI sudah mendatangkan 29.500 ton melalui Surabaya, 6.000 ton lewat Medan dan 4.800 ton melalui Semarang. Khusus yang didatangkan lewat Surabaya yang kini baru terjual 3,5 ton, pihaknya mengaku merugi karena harga pembelian masih lebih tinggi daripada harga jual. Agar bisa BEP (break event point), kata dia, gula yang dibeli USD 776 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium) itu, seharusnya dijual antara Rp 9.700-9.800/kg. Tapi ternyata komoditas itu hanya laku terjual Rp 8.610/kg. Untuk mencegah terulangnya harga gula yang melambung, Adig sepakat dengan usulan sejumlah kalangan yang berharap agar pemerintah menyiapkan buffer stok gula untuk kebutuhan 1-1,5 bulan ke depan. Gula buffer stok sebesar 220-330 ribu ton itu nantinya harus dilepas ke pasaran saat harga komoditas tersebut dirasa mulai membebani rakyat kecil. Hal senada juga dikemukakan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil. Ia berharap agar gula impor sudah benar-benar habis sebelum memasuki musim giling. “Karena kalau dibiarkan, pasokan akan berlebih, padahal konsumsinya tetap. —bam


12

Tokoh

18 - 24 April 2010

Jagung sebagai Pilihan di Lahan Kering Geser Kedelai dan Kacang Hijau

foto ibenk-humas pemprov. NTB

Panen raya jagung di Dusun Jeruju Desa Mumbul Sari, Bayan, Lombok Utara, yang disaksikan Gubernur NTB, T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A. makin menguatkan citra daerah ini sebagai salah satu daerah yang potensial untuk pengembangan komoditas jagung

DI sektor pertanian terutama subsektor tanaman pangan, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah lama dikenal sebagai salah satu provinsi penyangga pangan (beras) dan penghasil kedelai nasional. Selain itu, NTB kini diperhitungkan sebagai penghasil jagung di kawasan Indonesia bagian timur.

B

erdasarkan potensi yang dimiliki dae rah ini, jagung merupakan salah satu komoditas unggulan daerah di samping sapi dan rumput laut. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB menetapkan komoditas ini sebagai program unggulan pembangunan daerah. Pilihan jagung sebagai unggulan daerah merupakan pilihan yang tepat karena di samping

adanya potensi lahan, tanaman jagung juga mudah dibudidayakan, sedikit membutuhkan air, aman dari serangan hama dan penyakit, dan sudah dikenal masyarakat serta permintaan pasar regional, nasional, dan internasional terus meningkat. Panen raya jagung di Dusun Jeruju Desa Mumbul Sari, Bayan, Lombok Utara disaksikanGubernur NTB,

T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A., beberapa waktu lalu merupakan bukti kesuksesan dan kesungguhan masyarakat khususnya para kelompok tani jagung dalam meningkatkan produktivitas jagung di NTB. Hal ini makin menguatkan citra daerah ini sebagai salah satu daerah yang potensial untuk pengembangan komoditas jagung. Berdasarkan data statistik, produksi jagung di NTB selama 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 35% per tahun, sedangkan tahun 2009 produksi jagung mencapai 308.863 ton pipilan kering, meningkat 57,37% dari produksi tahun 2008 sebesar 196.273 ton pipilan kering. Pasar yang jelas dan harga yang menguntungkan membuat komoditas jagung menjadi pilihan di lahan kering menggeser komoditas

lain seper ti kedelai dan kacang hijau. Di samping itu, prospek permintaan jagung pada masa mendatang akan makin baik, hal ini terlihat dari keperluan komoditas jagung yang makin tinggi. Selain untuk pakan ternak, bahan baku industri pangan, juga menjadi bahan baku bioenergi (bioetanol) sebagai pengganti atau substitusi bahan bakar fosil yang ketersediaannya hingga kini makin terbatas. “Satu hal yang menggembirakan, pasar jagung sudah terbuka, cukup banyak pelaku pasar ikut meramaikan pasar jagung NTB,” ujar Gubernur. Saat ini PT Gerbang NTB Emas (GNE) sudah menandatangani MOU dengan PT Ipasar yang akan memasarkan jagung NTB. Gubernur berharap kesungguhan Ipasar ini akan dapat mem-

buat harga jagung NTB lebih tinggi dan stabil, sehingga akan terus memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap perkembangan komoditas jagung di NTB. Gubernur berpesan, hal penting yang harus diperhatikan petani adalah masalah peningkatan produktivitas dan kualitas, karena perpaduan kedua unsur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap peningkatan pendapatan petani. Dengan penerapan teknologi yang baik maka produktivitas dapat ditingkatkan dari ratarata 5 ton per hektare menjadi 8 ton per hektare. Kemudian dar i kualitas grade 3 atau 2 dapat ditingkatkan menjadi grade 1 dengan menerapkan penanganan pascapanen yang benar. Pengembangan jagung

di lahan kering tanpa sumber irigasi memang akan menghadapi masalah serius. Terlebih, jika terjadi perubahan cuaca seperti saat ini, musim hujan datangnya lebih lambat 1– 1,5 bulan sedangkan perginya lebih cepat daripada biasanya. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau untuk wilayah NTB berkisar antara Maret sampai April 2010 dengan sifat hujan normal bahwa ada 2 daerah zone Sumbawa bagian Timur dan Utara di bawah normal termasuk di Kabupaten Lombok Utara sudah masuk musim kemarau, dengan sifat hujan di atas normal. Untuk itu, ke depan perlu dilakukan berbagai upaya antisipasi dengan peren-

canaan yang lebih baik. “Pembangunan sumur pompa, embung, dan cek dam di beberapa lokasi yang menjadi sentra pengembangan jagung kiranya dapat lebih menjadi perhatian. Kalau saja semua sumur pompa air dapat berfungsi normal dan dengan menggunakan sprinkle, maka ada peluang penanaman jagung dapat dilakukan 2 kali dalam setahun,” kata Gubernur. Gubernur juga meminta seluruh jajaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait dapat merencanakan dengan cermat sesuai dengan tugas dan fungsinya masingmasing agar komoditas jagung sebagai komodit as unggulan di daerah ini dapat terus didorong perkembangannya dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan petani.—hms/nik

Antisipasi Rawan Pangan NTB Siapkan Raskin UNTUK mengevaluasi kinerja SKPD di lingkup pemerintahannya, Gubernur NTB, T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A., didampingi Wakil Gubernur NTB, Ir. H. Badrul Munir, M.M., melakukan rapat pimpinan dengan seluruh Kepala SKPD Pemprov., staf ahli, dan para Asisten Gubernur, Jumat, 16 April 2010, di Mataram. Gubernur NTB mengajak seluruh Kepala SKPD meningkatkan dan mempercepat kinerja demi kepentingan masyarakatnya. “Tidak alasan memperlambat realisasi pembangunan daerah ini,” ujar Zainul Majdi. Semua pimpinan SKPD diinstruksikan mempertimbangkan dinamika masyarakat dalam melaksanakan program pembangunan. Persoalan iklim saat ini dicontohkan menjadi salah satu masalah tersebut. “Ada ribuan hektar lahan gagal panen akibat perubahan iklim. Bencana kekeringan di beberapa daerah perlu diwaspadai agar tidak mengakibatkan rawan pangan,” tandasnya. Data 24 Maret 2010 diungkapkan sebagai contoh

untuk menggambarkan dampak perubahan iklim terhadap gagal panen hasil pertanian. Luas lahan yang mengalami kekeringan ringan sampai terjadi puso (gagal panen) 29.360 hektare. Ini terdiri dari kekeringan ringan 8.903 hektare, kekeringan sedang 9.130 hektare, kekeringan 6.097 hektare, dan puso 5.230 hektare. Luas lahan yang dikhawatirkan akan gagal panen masih mungkin bertambah. Penyebabnya, iklim yang tidak menentu. Langkah antisipasi rawan pangan harus dilakukan melalui koordinasi dan pengawasan terhadap penyaluran beras masyarakat miskin. Pemerintah Provinsi NTB siap mengalokasikan raskin tahun 2010 sebanyak 87.247.680 kilogram untuk 559.280 rumah tangga sasaran (rts), yang akan didistribusikan melalui 916 desa di 116 kecamatan di seluruh kabupaten/kota. Pelaksanaan program pembangunan mendatang pun mendapatkan perhatian Gubernur NTB. Meski target realisasi pembangunan triwulan pertama tahun 2010

belum mencapai target 25%, namun dibandingkan tahun 2009 lalu, tahun ini capaian rata-rata meningkat. Terkait proses konversi oven tembakau, seluruh instansi terkait diminta sungguh-sungguh menanganinya. Masyarakat diharapkan terus diberikan pemahaman, bahwa kebijakan konversi oven tembakau merupakan solusi terbaik. Hal ini disebabkan pemerintah memberlakukan kebijakan nasional untuk tidak menyalurkan lagi minyak tanah bersubsidi (MTB). Kebijakan ini juga berdampak pada tidak adanya suplai MTB untuk omprongan tembakau di Pulau Lombok mulai tahun 2010. Pemerintah Provinsi NTB menggantinya bahan bakar batu bara. Harga batu bara tidak jauh berbeda harga MTB. Jumlah oven petani mencapai 17.197 unit sampai 8 April 2010. Oven yang sudah dikonversi baru 5.610 unit. Sisanya belum terdata pasti. Sebuah tim kini mulai melakukan validasi data,

khususnya terkait data oven yang belum dikonversi, berikut skenario pemenuhan kebutuhan bahan bakar batu bara. Ini termasuk hal-hal teknis lainya, seper ti perusahaan mitra, proses pengiriman, tempat penyimpanan sampai proses distribusi kepada petani. Terkait adanya tuntutan para kepala desa, khususnya alokasi dana bantuan Rp 10 juta per desa, yang sebagian dana tersebut diberikan dalam bentuk program keaksaraan fungsional, Gubernur meminta SKPD terkait memberikan pemahaman komprehensif. Perlu dijelaskan, program keaksaran fungsional (KF) sebagai bagian dari tugas pembantuan dari provinsi kepada pemerintah desa. Program ini merupakan, bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah provinsi terhadap penuntasan masalah buta aksara di desa. Dana tersebut harus dimanfaatkan seefektif mungkin dan penggunaannya harus dipertanggungjawabkan. Adanya kepala desa yang menyatakan wilayahnya

Gubernur NTB T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A. didampingi Wakil Gubernur NTB Ir. H. Badrul Munir, M.M. saat memimpin rapat evaluasi yang dihadiri para pimpinan SKPD dan pejabat terkait lainnya di lingkungan Pemprov. NTB

bebas buta aksara tentu perlu dikaji ulang. Berdasarkan pendataan yang dilakukan melalui pendekatan by name and by address diketahui, di seluruh desa masih terdapat 417.000 warga buta aksara. “Bagi desa yang telah melaksanakan KF, dananya bisa dialihkan untuk keperluan lain di sektor pelayanan, posyandu atau bidang kesehatan lainnya,” ujar Gubernur NTB. Program penyaluran dana beasiswa pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, terutama untuk triwulan

pertama tahun 2010, telah sesuai kesepakatan dengan pemerintah kabupaten/kota se-NTB. Isi kesepakatan, Pemerintah Provinsi menanggung beasiswa miskin untuk sekolah-sekolah swasta seNTB dan sekolah di lingkungan Departemen Agama RI. Beasiswa dikucurkan berupa dana hibah langsung ke sekolah yang bersangkutan. Untuk sekolah-sekolah negeri, khususnya SMK dan sejenisnya, diberikan bantuan keuangan. Sorotan masyarakat yang dipublikasikan melalui media massa tentang hasil temuan

BPK yang berpotensi merugikan keuangan negara mendapatkan perhatian Gubrnur NTB pula. Temuan itu berkaitan antara lain dengan pembangunan jalan di bawah penanganan dinas pekerjaan umum, masalah jamkesmas yang dinikmati PNS/TNI/Polri, serta kebijakan-kebijakan lain di bidang pemerintahan dan pembangunan. Hasil temuan tersebut diharapkan dapat diklarifikasi kepada masyarakat. Jika memang ditemukan penyimpangan agar diproses lebih lanjut sesuai hukum yang berlaku. —hms/nik

foto-foto ibenk-humas pemprov. NTB

Para pejabat di lingkungan Pemerintahan Provinsi NTB tampak serius mengikuti jalannya rapat evaluasi triwulan I tahun 2010 yang dipimpin Gubernur NTB T.G.H. M. Zainul Majdi, M.A., didampingi Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir, M.M.


Warga Asal Bali Berkembang Pesat di Watubuncul RELATIF banyak warga asal Bali yang menetap di Banyuwangi. Di sekitar kawasan Watubuncul, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Glagah, misalnya, berkembang pesat komunitas warga asal Bali. Mereka membuat perumahan dan beranak pinak tak jauh dari lokasi mata air. Mereka datang dari beberapa kota di Bali.

B

erdasarkan cerita, leluhur Watubuncul orang Bali yang menikah dengan suku Bugis. Pernikahan ini melahirkan generasi suku Using yang mendiami lingkungan Watubuncul. “Ini legenda yang kami dapatkan dari sesepuh warga di sini,” kata Wayan Dauh, warga Bali di Watubuncul, Senin (12/ 4). Petilasan leluhur Watubuncul juga masih bisa ditemukan. Bentuknya makam kuno yang diyakini milik Mbah Daeng, leluhur dari Bugis. Diperkirakan, komunitas warga Bali hijrah ke Watubuncul

Blambangan

tahun 1950-an. Pemrakarsanya, seorang tokoh Bali asal Tabanan, I Made Rempet. Pria ini mengawali karier sebagai guru di Banyuwangi antara lain di SMA Negeri Banyuwangi yang berdiri tahun 1959. Karena berprestasi, dia akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah. Dengan perjuangannya, I Made Rempet berhasil menarik

Pelinggih di dekat mata air

Wayan Dauh

para guru berprestasi di IKIP Singaraja menjadi guru di Banyuwangi. “Sejak itu warga Bali mulai banyak yang masuk Banyuwangi dan bertempat tinggal di Watubuncul,” kata Wayan Dauh. Selama merantau, warga Bali memilih bertani sembari bekerja sebagai guru. Layaknya di Bali, mereka juga membuat pelinggih sebagai tempat pemujaan. Tahun 1980-an, I Made Rempet memprakarsai pendirian pelinggih di dekat mata air Watubuncul. Konon, di dekat pelinggih ini pernah ditemukan seekor lele putih. Pelinggih ini juga dikeramatkan warga non-Bali sampai sekarang. Bahkan, mereka meyakini air dari pelinggih bisa mengobati penyakit. Warga juga meyakini ada makhluk halus yang menjaga kawasan ini. “Biasanya jika ada warga yang jahat, pulang dari

Legenda Watubuncul Tempo Doeloe

Petilasan makam kuno

NAMA Klungkung, suatu kabupaten yang dahulu nama kota di Bali memiliki ikatan legenda dengan Banyuwangi. Konon, munculnya Klungkung berawal dari tumbuhnya pohon raksasa di hutan Watubuncul, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Glagah, barat kota Banyuwangi. Meski tidak ada bukti tertulis, legenda Klungkung ini menjadi cerita rakyat hingga kini. Sejumlah petilasannya masih bisa ditemukan. Salah satunya mata air yang keluar dari dalam bongkahan batu dan makam kuno.

Menurut legenda, sebelum munculnya kerajaan, tumbuh sebuah pohon raksasa. Pohon ini dikenal dengan sebutan Sidodari yang menurut bahasa Jawa kuno sidodari berarti kemakmuran. Pohon ini memiliki batang besar dan tinggi. Kala itu warga Using, suku asli Banyuwangi, menyebutnya sedulang miring gaduk langit, tinggal sejengkal sudah menyentuh langit. Pohon ini memiliki akar kuat dan ranting panjang. Zaman itu, warga memujanya layaknya dewa yang tinggal di sorga. Sebab, diyakini pohon ini

Hutan bambu bekas akar pohon raksasa Sidodari

mampu memberi kekekalan hidup dan bebas dari penyakit. Banyak manusia mati yang hidup kembali setelah jenazahnya di semayamkan di bawah pohon ini. Dewa Kematian curiga karena tidak ada manusia yang meninggal dan menuju akherat. Akhirnya diturunkan utusan sorga ke bumi. Kejadian ini kemudian dirapatkan di sorga. Keputusannya, para Dewa sepakat merobohkan pohon itu agar siklus kehidupan berjalan. Para Dewa juga berharap manusia bisa percaya Tuhan sebagai kekuatan tertinggi. Konon, sejak adanya pohon ajaib itu, manusia lupa berdoa kepada sang Pencipta. Mereka justru memuja pohon yang dinilainya sakti. Usai rapat, para Dewa menurunkan utusan dan menjelma menjadi manusia sakti. Utusan ini bergegas menuju Watubuncul, lalu bertapa. Dengan kekuatannya, dia mengerahkan jutaan binatang rayap untuk memakan akar pohon Sidodari. Dalam hitungan hari, pohon raksasa itu roboh. Begitu tingginya, sebagian ranting pohon ini diyakini ada yang terlempar ke Bali. Meski roboh, kesaktian pohon ini masih terasa. Di Bali,

Djaelani

ranting pohon ini mendadak berbunyi dengan suara keras. Bunyi inilah yang konon menjadi cikal bakal kul-kul di Bali. “Karena bunyinya bertalu mirip kentongan, daerah tempat terlemparnya ranting diberi nama Klungkung,” kisah Djaelani (70), tokoh adat Watubuncul, Senin (12/4). Setelah pohon ambruk, manusia sakti tadi mengeluarkan kutukan. Isinya, keturunan dari pohon Sidodari tidak akan bisa tumbuh besar lagi. Sampai sekarang, jenis pohon ini masih banyak ditemukan di sekitar lokasi tersebut. Bentuknya mirip tanaman perdu yang kerdil. Meski berukuran kecil, tanaman ini memiliki akar cukup kuat dan

18 - 24 April 2010 Tokoh 13

lokasi itu langsung jatuh sakit. Mereka bisa sembuh setelah meminta air dari pelinggih,” kata dosen ilmu olahraga tersebut. Pendirian pelinggih itu, kata Dauh, diawali dari wangsit yang diterima I Made Rempet. Konon, pria ini mendapat petunjuk agar membangun pura kecil di sekitar mata air. Dalam mimpinya, dia didatangi dua sosok wanita cantik meminta dibuatkan tempat untuk memberikan berkah. Dua pribadi ini diyakini lambang kemakmuran yang disimbolkan Dewi Sri.

Komunitas warga Bali menggunakan pelinggih ini jika akan menggelar upacara di rumahnya. Mereka membawa sesaji, lalu meminta air suci untuk dibawa pulang. Sehariharinya, pelinggih ini dirawat keluarga besar I Made Rempet yang bertempat tinggal tak jauh dari lokasi tersebut. Para pengikut kejawen juga kerap menggunakan pelinggih ini sebagai tempat menggelar ritual. Mereka biasanya selamatan dan begadang hingga pagi. Warga Bali di Watubuncul bergabung dalam kegiatan pesantian untuk bersilaturahmi.

Selain arisan rutin sebulan sekali, mereka melakukan diskusi dan membaca kitab Bhagawadgita. Kegiatan ini untuk meningkatkan sradha bhakti di perantauan. Meski memiliki rumah di Bali, komunitas warga Bali di Watubuncul sepakat tidak akan pulang ke Bali. Mereka beralasan mendapatkan kesejukan dan ketenangan menetap di sekitar mata air Watubuncul. “Kami hanya pulang ke Bali jika ada upacara keluarga,” kata Dauh. Warga Bali di tempat ini juga terkenal sukses dalam bertani. —udi

Pancuran mata air alami yang digunakan mandi warga

ranting lebat layaknya pohon besar. “Begitu kuatnya, batang tanaman ini bisa dipakai mengikat sapi,” katanya. Pohon ini juga diyakini memiliki khasiat untuk mengobati penyakit. Warga sering menyebutnya pohon klungkung. Legenda ini terwariskan turun-temurun. Hingga sekarang warga setempat mengeramatkan lokasi yang diyakini bekas tumbuhnya pohon Sidodari. Letaknya mirip di sebuah lembah yang dikelilingi persawahan. Di sini terdapat dua mata air yang muncul dari batu. Mata air ini tidak pernah kering sepanjang zaman. Justru saat musim kemarau, aliran airnya makin besar. Sayang, warga kurang merawatnya sehingga kondisinya terkesan semrawut. Warga setempat membuat petilasan terbuat dari batu kali. Menurut Djaelani, daerah ini diyakini dijaga makhluk lelembut, Banaspati. Dahulu, lelembut ini sering membunuh manusia. “Makhluk ini kemudian dipindahkan ke laut selatan,” kata Djaelani yang juga juru kunci kawasan tersebut. Karena dinilai peninggalan leluhur, mata air Watubuncul menjadi tempat keramat. Warga setempat yang akan menggelar

hajatan diwajibkan meminta doa restu ke tempat ini. Jika tidak, diyakini hajatanya akan menemui bencana. Kawasan ini juga kerap digunakan warga untuk bersemadi mencari wangsit. Biasanya, malam Jumat banyak warga datang dan melakukan ritual selamatan. Mereka pulang membawa air yang diambil dari mata air. Watu artinya batu dan buncul berarti muncul. Kisah ini berkaitan erat dengan Ki Buyut Cungking, leluhur asli suku Using Banyuwangi. Ceritanya, suatu ketika Ki Buyut Cungking menggembalakan kerbau ke daerah bekas ambruknya pohon Sidodari. Karena musim panas, sejumlah sungai mongering. Kerbau kebingungan untuk berkubang. Melihat binatang piarannya kepanasan, Ki Buyut Cungking mengeluarkan kesaktiannya. Jari telunjuknya diarahkan ke sebuah batu besar. Lalu muncul air yang mengucur deras. Sejak itu daerah ini dikenal dengan Watubuncul, batu yang memunculkan air. “Sampai sekarang mata airnya masih ada dan tidak pernah kering,” kata Djaelani. Selain kurang terawatt, warga justru menggunakannya sebagai pancuran air untuk pemandian umum. Air ini juga

digunakan untuk mengairi sawah warga di sekitar lokasi. Petilasan yang ada pun tidak mendapat perhatian. Yang tersisa hanya hutan bambu dan semak belukar yang tumbuh liar. Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua dan empat dengan mudah. –udi

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414


14

Tokoh

Kesehatan

18 - 24 April 2010

Perawat, Kartini Zaman Modern BANYAK hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan citacita Kartini dan memperjuangkan emansipasi perempuan. Salah satunya, dengan menjadi perawat. Perawat adalah Kartini pada zaman modern. Sebagai pemberi perawatan, perawat membantu pasien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan yang lebih dari sekadar sembuh, namun berfokus pada kebutuhan kesehatan pasien secara holistik, meliputi upaya mengembalikan kesehatan emosi, spiritual, dan sosial, Demikian papar dosen senior Akademi Keperawatan Jawa Tengah Harini Setijowati, S.K.M. M.HSc. dalam perbincangannya dengan wartawati Koran Tokoh. Selain di bidang pelayanan ke-

sehatan, kata Harini, perawat juga memiliki peran sebagai pendidik. Pertama, sebagai pendidik di suatu institusi pendidikan keperawatan untuk mencetak perawat-perawat baru yang berkualitas. Kedua, tenaga pendidik yang memberikan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat umum. “Peran-peran itu selaras dengan cita-cita Kartini untuk memberdayakan kaum perempuan,” kata Harini. Ia berpandangan, sekarang ini merupakan momentum penuh tantangan yang sangat besar sekaligus kesempatan bagi para perawat Indonesia untuk menampilkan eksistensinya sebagai profesional kesehatan yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik. Dalam upaya lebih mengenal

berbagai kondisi, sebanyak 23 orang mahasiswa Akademi Keperawatan Jawa Tengah sekarang ini sedang melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di Rumah Sakit Sanglah. Tamatan Master Kesehatan Masyarakat di Brisbane Australia ini mengatakan, dipilihnya Bali sebagai tempat PKL karena memiliki kelebihan dalam hal budaya. Ia datang ke Bali untuk memastikan bahwa mahasiswanya siap secara fisik dan psikis, belajar dan menerapkan ilmu yang sudah didapat. Mereka fokus pada keperawatan medikal bedah, dan kegawatdaruratan serta evaluasi secara keseluruhan. “Saya memang bukan perawat tetapi sudah bekerja di bidang kesehatan sejak tahun 1993. Perawat

Jadikan Perempuan.........................................................................................dari halaman 1

Harini Setijowati

tkh/ast

selain harus memiliki wawasan dan pengetahuan, juga harus memiliki seni bertutur kata dan sentuhan lembut. Menjadi perawat tidak bisa dipaksakan orangtuanya, tetapi harus ada panggilan dari hati untuk menolong sesama. Perawat perempuan memiliki keunikan tersendiri. Sebagai perempuan mereka sudah memiliki sisi kelembutan,” kata perempuan kelahiran Magelang, 6 November 1968, ini. —ast

Bunda Theresa-nya Bali......................................................................................................................................dari halaman 1 Disampaikannya, pada 20 April 2010 Astra merayakan HUT ke-53 dan 1 Mei 2010 FIF Denpasar merayakan HUT ke21. Serangkaian ulang tahun tersebut, FIF Denpasar Bali telah dan akan dilangsungkan berbagai acara. Aktivitas telah dimulai sejak awal April dan akan selesai pada akhir April 2010. Menurut Ani Fanawatie, selama menjalankan kegiatan, Astra secara bisnis memiliki three bottom line, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. “Di bidang ekonomi benar kami mencari profit, tapi sebagian dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk coorporate social responsibility (CSR) berupa bantuan kegiatan peduli lingkungan, sosial, pendidikan dan kesehatan,” ujar pasangan setia Budi Pangalela yang akrab disapa Mbak Ani ini. Menurut perempuan yang hari ini, Minggu (18/4) di wisuda untuk gelar magister manajemennya di Hotel Sangrila Surabaya ini, kegiatan CSR di perusahaannya secara konsisten dilakukan, baik di lingkungan internal maupun eksternal. Di internal, lebih pada kesadaran FIF Denpasar, sejatinya karyawan adalah aset per-

usahaan. Ada kegiatan tirta yatra, sebab mereka dominan beragama Hindu. Selain itu, diperhatikan pula kenyamanan kerja serta kesejahteraan karyawan beserta keluarganya. Sedangkan tanggung jawab sosialnya ditujukan pada lingkungan sekitar. “Aktivitas kepedulian FIF di luar lingkungan perusahaan, ada penanaman pohon bersama Wali Kota Denpasar yang dilangsungkan pada (17/4) di kawasan Lumintang. Di samping itu, dilakukan pula fogging dan pembersihan sarang nyamuk (PSN), kerja sama dengan Dinas Kesehatan. Pada hari yang sama dilakukan donor darah, demi mendukung PMI, yang hingga kini masih kekurangan persediaan darah. “Di bidang pendidikan, kami bekerja sama dengan Disdikpora Kota Denpasar, melaksanakan AMI Science Technology Competition (Astek) dengan sembilan jenis lomba. Tahun ini penyelenggaraan pertama, rencana akan menjadi agenda tahunan sekaligus menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Ada juga pemberian beasiswa bagi murid SD, SMP dan SMA,” papar Sekretaris Iwapi Denpasar ini. Masih di medio April, Ketua

Perempuan Indonesia Tionghoa (Pinti) Bali ini turut mendukung kegiatan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), menyambut HUT ke47 pada 21 April. “Dukungan kami untuk BKOW melalui kerja sama menggelar talk show tentang dukungan wanita percepat MDG’s,” ujar ibu Yosafat Eka Prasetya Pangalela (mahasiswa beasiswa ITB), Karina Setiawati Pangalela (siswi kelas III SMA 4 Denpasar) dan Andre Setiaputra Pangalela (siswa kelas II SMAN 4 Denpasar) ini. Semangat dan kegiatannya yang seolah tak pernah habis ini, oleh perempuan penuh motivasi ini dikatakan berkat dukungan suami yang luar biasa dan anak-anak yang penuh pengertian. Mereka berbagi peran dalam beragam kesibukan. “Melalui komunikasi semua berjalan lancar. Saya biasa memulai hari dengan pertanyaan apa kegiatan suami dan anakanak? Disusul apa kegiatan kami dan barulah berlanjut dengan yang lainnya,” ujar perempuan yang mudah iba dan bermimpi mengisi sepanjang hidupnya dengan aktivitas sosial. Selaras dengan prinsip hidupnya ingin terus belajar dan berbagi, maka tak ayal

Pencernaan Sehat berkat Suhu Yo Nama saya Linda, umur 43 tahun, sudah sejak lama saya didiagnosa dokter memiliki keluhan kesehatan di daerah pencernaan sehingga saya sering sekali mengalami ketidak teraturan BAB dan terkadang susah BAB. Mulanya saya menganggap enteng keluhan saya ini karena memang hampir tiap hari saya mengonsumsi obat pencahar BAB, akan tetapi karena sering mengkonsumsi obat inilah lama kelamaan saya mulai merasa ada yang tidak beres di area perut atau pencernaan saya, sehingga saya pun memeriksakan lagi keadaan saya. Ternyata benar, di area pencernaan tepatnya di usus kecil saya ada gejala infeksi yang jika didiamkan lama kelamaan akan benar-benar terjadi infeksi dan jika sudah begitu maka akan sangat fatal akibatnya. Kemungkinan besar makin parahnya keadaan pencernaan saya timbul karena seringnya mengonsmsi obat pencahar BAB yang mengandung bahan kimia serta pola makan saya yang tidak sehat. Untungnya saya

diberitahukan oleh teman yang pernah mengalami keluhan yang sama dan sekarang sudah sembuh untuk datang berobat ke pengobatan alternative, klinik Suhu Yo. Pertama kali datang saya langsung didiagnosa untuk diagnosa secara gratis. Saya hanya membayar biaya terapi saja yang benar-benar terjangkau sekali. Hanya beberapa kali terapi saja saya sudah merasakan perubahan signifikan. Sudah hampir 12 kali saya terapi dan hasilnya luar biasa mengejutkan. Pencernaan saya kembali membaik BAB pun lancer. Terima kasih Suhu Yo, berkat Suhu Yo, saya menjadi sehat kembali dan sembuh total.

“Dura Aquapeel” Solusi Tepat untuk Mengatasi Segala Masalah Kulit Wajah APAKAH Anda memiliki masalah wajah seperti kusam, kering, komedo, pori-poi besar, flek, keriput, dan penuaan dini? Nah, sekarang tidak usah khawatir, karena House of dura Bali memiliki satu perawatan yang dapat mengatasi segala masalah wajah Anda. Dengan menggunakan teknologi diamond tip yang dikombinasikan dengan hydra, sehingga menghasilkan perawatan yang tidak saja nyaman pada saat perawatan tetapi juga memberikan hasil akhir yang maksimal.

Dengan teknologi microdemabrasion menggunakan air yang dengan lembut mengangkat sel-sel kulit mati, sekaligus mengantarkan kelembaban bagi kulit. Dura AquaPeel merupakan generasi terbaru dari teknologi microcrystal. Dibandingkan dengan microcrystal, aquapeel memang terbukti lebih sempurna. Penyempurnaan perawatan terbaru ini dapat dilihat dari tidak digunakannya lagi crystal aluminium oxide pada tiap perawatan, namun perawatan ini menggunakan diamond tip yang tersedia dalam berbagai macam ukuran yang disesuaikan pada kondisi kulit yang akan diperbaiki sehingga dapat membantu mengurangi reaksi alergi pada wajah pasien. Selain itu perawatan Dura AquaPeel ini juga menggunakan

teknologi hydra yang berfungsi untuk memberikan nutrisi pada kulit dan memberikan efek sensasi segar pada kulit yang berasal dari aqua yang dikombinasikan dengan vitamin. Perawatan Dura AquaPeel ini tidak hanya bisa diaplikasikan pada wajah, tetapi juga diaplikasikan pada bagian-bagian tubuh yang memiliki masalah seperti selulit, bekas luka, strechmark, dan lain-lain. Secara klinis perawatan ini sangat aman dan nyaman untuk mengatasi masalah kulit terutama masalah pada kulit wajah. Selain itu perawatan ini juga dipegang dan diawasi langsung oleh dokter kecantikan kami sehingga Anda tidak usah khawatir. Khusus April 2010 ini, dapatkan diskon 20% untuk perawatan “New Dura AquaPeel” hanya di Klinik Kecantikan House of dura Bali. Untuk info lebih lanjut hubungi kantor kami, tlp. (0361) 229806/229759.

wanita karier ini oleh lingkungannya seringkali dijuluki Bunda Theresa- nya Bali. Dengan gaya kepemimpinan terbuka, ibu yang ramah ini tetap mengharapkan masukan demi perbaikan yang digunakan tiap hari. Begitu pula setelah doa pagi, ia selalu memperbarui informasi untuk disampaikan ke seluruh karyawan. Ia kini tengah disibukkan aktivitas sebagai tuan rumah kegiatan Genba FIF, program yang menghadirkan pucuk pimpinan hingga perwakilan petugas terbawah, seperti office boy. Dengan wajahnya tetap segar, perempuan Bali kelahiran Denpasar, 22 September 1960 ini berucap, “Acara ini menjadikan komunikasi di dalam perusahaan tidak ada yang terputus. Semua paham bukan hanya apa sasaran perusahaan tapi juga berapa keuntungan perusahaan. Karyawan senang dan bangga dengan keterbukaan dari manajamen seperti ini.” Sederet prestasi diraihnya, pengabdian masyarakat terus dijalankannya. Ani Fanawatie pun menjadikan Catur Dharma Astra pijakan menjalankan perusahaan, berupa menjadi aset bermanfaat bagi bangsa dan negara. Apalagi Astra tahun ini mengusung tema ’Satu Indonesia’ yaitu semangat terpadu untuk Indonesia. Walau tujuan usaha memang profit tapi wajib win-win solution terhadap pelanggan. Antar-

wanita ke dalam akses pembiayaan serta akses pasar. Selanjutnya memperkuat organisasi dengan mengembalikan eksistensi Iwapi dengan perannya sesuai visi dan misinya yakni menjadikan perempuan Indonesia yang berwirausaha mandiri dan profesional serta memberdayakan dan meninggikan tiang ekonomi perempuan pengusaha khususnya UMKM melalui perbankan. Menurut istri Prof. Dr. Ir. Yudy Yulius MBA ini, tantangan Iwapi ke depan makin besar sejalan dinamika pertumbuhan masyarakat modern. Semua yang ada di depan mata ini hanya dapat diselesaikan dengan kebersamaan serta kepemimpinan yang tidak meninggalkan potensi tiap anggota demi memajukan pengusaha perempuan untuk diberdayakan dan diperkuat perannya menjalankan roda ekonomi negara. Untuk itu Nita mengatakan akan lebih tepat menerapkan gaya kepemimpinan kekeluargaan dengan tetap berada di koridor AD/ ART yang ada. Nita mengaku dirinya tidak merasa lebih pintar daripada anggota lainnya, justru di dalam organisasi inilah ia melakukan sharing, bersamasama belajar dan bertumbuh dengan anggota lainnya demi langkah ke depan terutama dengan prioritas program yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan anggota dan masyarakat. karyawan saling menghargai dan membina kerja sama serta selalu ingin mencapai yang terbaik dengan pola plan, do, check and action (PDCA). Selain itu, prinsip hidup yang wajib diimplementasikan adalah Tujuh B, yakni beribadah dengan baik, berakhlak baik, belajar dan berlatih tiada henti, bekerja keras, tekun dan ikhlas, bersahaja dalam hidup, bantu sesama dan bersihkan hati selalu. Selanjutnya poin ini pula yang ditularkannya kepada seluruh karyawannya. “Kita semua sama, karenanya semua mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil dan mulai saat ini juga,” tegasnya. —ard

Menurutnya, Iwapi Bali adalah salah satu orgainisasi teladan, baik kepengurusannya maupun kemitraan yang dibangun dengan pemerintah, organisasi wanita lainnya maupun instansi terkait telah berlangsung dengan baik. “Apalagi salah satu pengurus Iwapi kini menjadi Ketua Umum BKOW Bali, yang berarti pula di sana ada potensi dan ini harus didukung,” ujar komisaris beberapa perusahaan di Jakarta ini yang dalam waktu dekat bakal mengunjungi Papua Barat, untuk pengembangan organisasi Iwapi di sana. “Usai dari sana saya langsung menuju Bali untuk hadir dalam seminar BKOW,” lanjut Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Sosial Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta ini. Kiprah perempuan energik kelahiran Jakarta, 22 Juni 1964 ini sebagai pengusaha wanita rupanya berdasar bakat dan jiwa entrepreneur yang turun dari sang ibu, yang juga salah satu seniornya Iwapi. Dengan berjalannya waktu dan dukungan sang ibu, terlebih setelah berkeluarga kemampuan dan pematangan dirinya sebagai seorang wirausaha pun tertempa. Begitulah kombinasi kecerdasan dan bakat pada seorang Nita Yudi menjadikannya sosok yang sukses dalam memerankan diri sebagai pengusaha wanita, pimpinan organisasi sosial, pendidik serta di rumah tangga sebagai ibu. Karena itu, selain memimpin beberapa usaha ia juga seringkali diminta menjadi narasumber di berbagai kesempatan. Memutuskan untuk membagi kehidupan kariernya sebagai pengusaha dan wanita yang juga aktif berkecimpung dalam organisasi sosial ini menurutnya, pertama berkat izin dan dukungan suaminya tercinta. “Selanjutnya saya berkomunikasi dengan anak-anak. Bahkan saya seringkali mengajak kedua putri saya dalam menghadiri kegiatan bisnis, jika memang tidak ada larangan untuk itu. Kuncinya di komunikasi,” kata Nita Yudi yang

saat menikmati kebersamaan dengan keluarga memilih melakukan wisata kuliner. “Kami semua penyuka dan penikmat berbagai masakan mulai dari soto Betawi sampai masakan Jepang. Kalau saya dengan suami biasanya lebih memilih nonton bareng,” lanjut ibu dari Dita Atikah Yudi dan Dini MelinaYudi dan pemegang sabuk cokelat di cabang olahraga karate ini. Perihal usahanya di bidang industri periklanan, Nita Yudi mengatakan melihat ada peluang di sana. Di antaranya karena pergaulannya di organisasi wanita Indonesia tanpa tembakau. Ketika itu, jebolan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University, AS ini sebagai ketua umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT). ‘’Kebetulan juga pada tahun 2007, kami mendapat kepercayaan Pemda DKI Jakarta untuk menyosialisasikan program antirokok ini,” ungkapnya sambil menjelaskan dari sinilah bisnis indoor advertising di bawah bendera PT Dita Dini Neo Suara, ini berawal dan berlanjut hingga kini. Nita Yudi, arsitekt lansekap dan lingkungan juga sempat terpilih mewakili Asia untuk International Visitor Leadership Program United State Departement of State ke Washington DC ini. Sementara sebagai ketua umum WITT, bahaya merokok ini juga diakuinya sangat merugikan generasi muda, karena secara otomatis akan mengurangi kualitas hidup masyarakat. Sambil terus gencar menyuarakan antirokok, Nita Yudi memiliki cita-cita besar ingin membebaskan Indonesia dari asap rokok. Ia juga punya rencana akan mendirikan cabangcabang WITT di 33 provinsi. “Yang segera adalah kami akan melakukan pemekaran kegiatan WITT di Papua Barat. “Mudahmudahan juga saat saya ke Bali bisa dilakukan,” ucap putri kedua dari empat putri pasangan Pang Suparnadi dan Muryanti Setia ini sembari menegaskan sosialisasi larangan merokok harus terus mengalir agar lebih efektif. —ard

Magic Maca Male dan Female

Meningkatkan Gairah Hidup Pria dan Wanita SEMUA orang tentu ingin meningkatkan kehidupannya agar selalu sehat dan tetap bergairah sampai usia lanjut. Energik, segar, dan tak mudah lelah, semangat dan ceria, tak ada keluhan penyakit, gairah seksual tinggi, serta seluruh organ normal dan keseimbangan hormon berfungsi secara optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut, kini telah hadir Magic Maca. Salah satu produk unggulan PT Jaya Jubli ini dikemas dalam bentuk minuman kesehatan. Magic Maca diciptakan dari bahan baku herbal alami yang telah terbukti scientific (berdasarkan penelitian ilmiah) selama bertahun-tahun dapat meningkatkan kesehatan organ tubuh dan meningkatkan fungsi seksual tanpa efek samping. Sebagai adaptogen yang kuat, Magic Maca mampu meningkatkan kemampuan tubuh untuk beradaptasi mengatasi tekanan stres. Magic Maca dibuat dari gabungan beberapa tanaman herbal yang memiliki khasiat tinggi seperti Maca, Tribulus, Lobata dan garam bambu. Informasi seputar kandungan Magic Maca Maca merupakan sejenis umbi akar yang tumbuh di Pegunungan Andes, Peru (junin Plateu), 3000 s.d. 4000 meter di atas permukaan laut. Penanaman tanaman ini tak memerlukan pupuk kimia atau organik serta tak perlu insektisida karena tak ada serangga yang dapat hidup pada ketinggian 14.000 kaki di atas permukaan laut. Tumbuhan ini sering diman-

LP-POM-MUI 17120001970909

faatkan kaum Inca di Peru sebagai obat kuat, penambah tenaga, dan menyuburkan organ reproduksi. Bahkan karena khasiatnya yang tinggi dan tanpa efek samping, FAO (Food & Agricuture Organization) menganjurkan agar Maca dikonsumsi sebagai makanan kesehatan yang aman. Maca dipilih sebagai makanan utama astronot NASA, Persatuan Pendaki Gunung 8000 Peru serta Tim Piala Dunia Jepang/Korea tahun 2002. Tribulus merupakan tumbuhan berbunga yang biasa hidup pada suhu panas sperti kawasan tropika Old World di selatan Eropa, selatan Asia, Afrika, dan utara Australia. Zat yang terkandung dalam biji Tribulus bisa menjadi suplemen peningkat produksi hormon testosteron secara alami. Lobata adalah akar ubi tumbuhan menjalar yang tumbuh di utara Negeri Thai. Akar ubi lobata berwarna putih mengandung bahan phytoesktrogen yang dapat meremajakan sistem endokrin wanita. Phytoekstrogen bekerja pada reseptor organ wanita terutama organ seksual. Garam bambu mengandung inframerah yang tinggi sebagai energi

Magic Maca dapat diperoleh di Stockist Bali: Denpasar : (0361) 929 8003; Jimbaran : (0361) 868 8899, 085237352846 Tabanan : 081 236448555/ 081 236 167972; Abiansemal : (0361) 8049525, 8859712 Bangli : (0366) 93390, 081558237456 Kerobokan : 08814637649; Klungkung: 081999139199 Lombok, Mataram : (0370) 65771909;

penyerapan zat gizi 10 kali lipat. Kadar natriumnya 36%, kaya kalsium, magnesium, zinc, kalium, serta 70 elemen tracemineral yang diperlukan tubuh. Selain untuk detoksifikasi tubuh, garam bambu juga dapat memelihara dan mengontrol tekanan darah. Garam ini diproses dari garam laut pantai barat Korea yang bebas polusi dan limbah-limbah zat-zat kimia yang membahayakan. Magic Maca kini telah diformulasikan khusus bagi pria dan

wanita dalam bentuk Magic Maca Male (khusus bagi pria) dan Magic Maca Female (khusus wanita). Untuk pria, Magic Maca dapat meningkatkan testosteron alami, meningkatkan gairah seksual, memperbaiki kemampuan ereksi, meningkatkan kesuburan (meningkatkan jumlah sperma), mencegah dan mengatasi andropouse. Untuk wanita mampu meningkatkan estrogen alami, meningkatkan gairah seksual (libido), mempermudah pencapaian orgasme, memperbesar dan mengencangkan payudara, mengencangkan otot-otot vagina, mencegah kekeringan vagina dan gejala menapouse, meremajakan kulit, menguatkan dan menghitamkan rambut, meningkatkan kesuburan dan mengatasi gangguan menstruasi. Magic Maca, terbukti meningkatkan gairah hidup dengan mengembalikan keseimbangan hormon. —adv/lik


Kesehatan

18 - 24 April 2010 Tokoh 15

Dalam rangka menyambut HUT Hsen Chii/BHCC yang ke 10, dapatkan diskon hingga 30% mulai 19-30 April 2010


16

Tokoh

18 - 24 April 2010

DARI DESA KE DESA Jangan Kandangkan Anjing Dekat Kandang Kucing DALAM mencegah penularan rabies di Bali telah dilakukan berbagai tindakan. Tindakan pertama, menghindari gigitan hewan penular rabies terutama anjing. Selanjutnya tidak meliarkan anjing termasuk tidak membuang anak anjing yang tidak dikehendaki. Kemudian dilakukan vaksinasi rabies dan eleminasi anjing liar. Mengapa Anjing Menjadi Galak? Anjing galak karena ia protes/memberontak. Anjing juga perlu bersosialisi. Pemilik anjing yang memelihara anjing dengan cara dikandangkan atau dirantai harus mengajak anjing kesayangannya berjalan-jalan dengan tetap memperhatikan faktor keamanan. Bagaimana Ajak Anjing Berjalan-jalan? Gunakan rantai untuk memudahkan mengendalikan anjing sepanjang 1-2 meter. Untuk anjing yang agresif (galak) perlu digunakan bronsong mulut saat diajak jalan-jalan. Jangan biarkan anak-anak (di bawah 15 tahun) mengendalikan anjing tanpa pedampingan orangtua atau orang dewasa. Bagaimana Cara Sejahterakan Hewan? Hewan dikatakan sejahtera jika terpenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar, berupa 5 kebebasan untuk hewan, meliputi:

hewan peliharaannya. Jika hewan peliharaan kita sakit, luka, atau mengalami kesakitan harus segera diobati atau dibawa ke dokter hewan. Pencegahan penyakit dengan jalan vaksinasi juga penting bagi hewan. Bebas menampilkan perilaku alamiah. Hewan yang dipelihara tidak boleh dikekang dalam kandang yang sempit atau ikatan pendek yang menyengsarakan hewan tersebut. Hewan yang dipelihara harus bisa menampilkan perilaku alaminya dan bersosialisasi dengan lingkungan, seperti anjing yang dipelihara dengan dirantai atau dikandangkan juga harus disempatkan mengajaknya jalanjalan, Jika tidak pernah bersosialisai dengan lingkungan, anjing kecenderungan menjadi galak. Bebas dari rasa stres dan tertekan. Hewan harus diperlakukan secara manusiawi, tidak kasar dan tidak kejam. Hewan yang kita pelihara tidak ditempatkan berdekatan/bersebelahan dengan pemangsanya. Contoh, tidak mengandangkan kucing bersebelahan dengan kandang anjing.

Bebas dari rasa tidak nyaman. Hewan diperlakukan dengan baik, misalnya kandang tidak boleh sempit, alas kandang tidak kasar, hewan terlindung dari panas atau hujan.

Bagaimana seharusnya Memelihara Anjing? Berikan pakan dan air minum dalam jumlah cukup dan dapat dijangkau. Mandikan 1-2 kali seminggu untuk mencegah penyakit kulit. Ajak anjing bermain dan jalan-jalan. Sediakan rumah/kandang untuk berlindung dari panas dan hujan, alas tidur yang bersih, lembut, dan nyaman. Perikasalah anjing kesayangan secara berkala ke dokter hewan. Vaksinasi lengkap termasuk vaksin rabies. Pemberian obat cacing tiga bulan sekali. Sterilisasi untuk mencegah kelahiran anak-anak anjing yang tidak diinginkan.

Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit. Pemilik hewan harus memperhatikan kesehatan

Drh. Ni Wayan Listiawati Dinas Peternakan Provinsi Bali

Bebas dari rasa haus dan lapar. Hewan yang kita pelihara harus diberi makan sesuai jenis dan kebutuhan hidupnya. Air minum selalu tersedia dan dapat diraih tiap saat oleh hewan.

Program 3 Rewards........................................................................................dari halaman 2 Cenderung Berjudi

sepotong dan harus diluruskan. Syarat jadi anggota, semua tertulis lengkap di buku. Bisa menghubungi kantor sementara di Bali di Jalan Katalia II/ 15 Ubung, Denpasar. Dr. Johnny Anwar

Saya tertarik program ini karena intinya membantu masyarakat miskin. Tetapi, mengapa tetap mengandalkan kecenderungan masyarakat untuk berjudi dengan memberikan hadiah tinggi. Jika tujuannya membantu masyarakat miskin/ Dari Mana umumnya, bisakah iming-iming Uang untuk Gaji hadiah yang dilandaskan judi Menjalankan program ini itu dihilangkan agar lebih dimemerlukan orang banyak. Dari terima masyarakat Bali? mana mendapatkan uang untuk Gede Byasa, Denpasar menggaji mereka? Apa untuk agama tertentu atau semua? Hadiah Apa ada jaminan uang yang disebagai Daya Tarik sumbangkan benar-benar diIming-iming hadiah hanya salurkan? Becik daya tarik. Sebelum menciptakan hasil karya ini saya berhadapan dengan 30 profesor Upah Pungut doktor dan beberapa ahli agama. Program ini bukan bisnis, teIni tidak ada unsur judi sedikit tapi sosial. Menurut ajaran agapun. Selain 3 rewads, ada re- ma, petugas sosial bisa menward plus berupa undian gratis dapatkan upah pungut/jasa berhadiah. Judi, unsurnya ada amal kurang lebih 10%. Gaji permainan, terdiri atas dua anggota didapat dari sini. Keorang atau lebih, ada taruhan, giatan ini pluralism/universal. ada kalah menang. Tetapi, di Ada open management antara undian 3 Rewards Emas tidak yayasan dan organisasi, meada taruhan, tidak ada lawan, makai manajemen elektrotikal tidak ada bandar, yang menang modern. Penyaluran sumbangatau kalah tetap untung. Uang an dikontrol masyarakat angdidapat dari sponsor bukan gota organisasi itu dan masyauang taruhan rakat umum. Jadi, saling meDr. Johnny Anwar ngontrol. Sumbangan bisa berupa uang, barang layak pakai, Manfaatnya dan barang daur ulang yang belum Terdengar bisa dikomersialkan. Dr. Johnny Anwar Program 3 Rewad Emas ba-

gus sekali, dapat diskon belanja, santunan kesehatan, dan Di Gianyar di Mana? ada dana hibahnya. Mengapa kiprahnya belum populer? KipProgram ini bagus sekali. Di rah/manfaatnya di masyarakat Gianyar ada di mana? Saya belum pernah terdengar. Biasa- ingin kopi darat (bertemu). nya pengumpulan dana seperti Sangging, Gianyar ini umurnya tidak panjang karena ulah oknum. Apa syarat Percepat jadi anggota? Operasionalnya Edi Bisakah program sosial ini operasionalnya? Sosialisasi Terputus dipercepat Karena, banyak masyarakat la3 Rewards Emas memang ma menanti uluran tangan sebaru akan diaplikasikan di Bali, perti ini. Saya bisa sumbangkan jadi belum berjalan dan ter- tenaga sebagai sukarelawan. sosialisasikan di Bali. Tetapi, Raka Wijaya, Gianyar kami sering mengadakan seminar, training di beberapa kabuDi Bali paten. Sayang, hanya sedikit yang hadir, sehingga sosialisasi Jumlah Anggota 7.000 terputus. Jadi, kesan yang tumCepat tidaknya operasional buh di masyarakat sepotong- sistem ini tergantung masya-

rakat Bali dalam mengakomodasikannya. Jumlah anggota Filantropi yang terdaftar di Bali sekitar 7.000 orang. Kegiatannya dari masyarakat Bali untuk masyarakat Bali. Di tingkat kelurahan, Filantropi bekerja sama dengan KUD dan toko/warung kecil. Di tingkat kecamatan, bekerja sama dengan dokter, bengkel. Di tingkat kabupaten, bekerja sama dengan rumah sakit swasta, dealer. Santunan dari yayasan. Konsep ini adalah kebersamaan dari anggota untuk anggota dan masyarakat, berlandaskan simbiosis mutualism (sama-sama diuntungkan). Rekanan-rekanan yang menjalin kerja sama diuntungkan karena anggota Filantropi akan menjadi pelanggan tetap dunia bisnis yang ada di Bali termasuk hotel, rumah makan, mulai yang tingkat kecil sampai besar. Artinya, perputaran roda ekonomi akan cepat naik (rewards 1). Rewards 2, masyarakat miskin bisa terbantu dengan dana hibah. Juga masyarakat desa adat, ada anggaran untuk desa adat dan pembangunan desa. Kategori penerima dana hibah, anak putus sekolah dan yatim piatu, orang jompo dan cacat, pembangunan desa/pura desa. Semua ada kriterianya dan terkoordinir. Bisnis multilevel 3 Rewards Emas ini bukan multilevel marketing. MLM adalah perusahaan dengan sistem marketing dan memunyai jaringan. MLSM 3 Rewards Emas bukan perusahaan tetapi organisasi, dari anggota untuk anggota dan masyarakat. Sayang, pemerintah dan instansi terkait belum merespons positif. Padahal, dengan program ini masyarakat miskin yang bisa terbantu sekitar 100 ribu orang dalam 10 tahun. Akan terakomodir 3.300 s.d. 5.000 lapangan pekerjaan. Masyarakat yang kurang mampu juga mendapatkan dana hibah disesuaikan dengan SDM dan SDA yang ada. Karena program ini sesuatu yang baik untuk orang banyak, saya berharap. masyarakat Bali sesegera mungkin menggerakkan sistem 3 Rewards Emas ini. Lihat sisi baiknya. Dr. Johnny Anwar

Pelaku dan...........................................................................................................................................................................dari halaman 1 lembaganya, tidak akan membuat Beauty menyerah, mengingat demikian banyaknya perempuan dan anak yang menjadi korban ketidakadilan di daerah ini. Ini terbukti makin meningkatnya laporan dan kasus yang ditangani LBH APIK NTB tiap tahunnya. LBH APIK NTB tetap menjadi salah satu pilihan bagi korban KDRT dan anak untuk meminta perlindungan. Salah satu kasus anak yang sedang ditangani LBH APIK NTB membuat lembaga ini berada di posisi dilematis karena korbannya yang merupakan klien LBH APIK NTB adalah anak-anak, pelakunya juga anak-anak. Dalam kasus ini pelaku dijatuhi hukuman 4 bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Mataram. LBH APIK NTB yang menuntut keadilan bagi korban justru dianggap tidak memperhatikan hak-hak pelaku yang juga anakanak. Sebagai lembaga yang sudah banyak menangani kasus anak, LBH APIK NTB tetap melakukan pendampingan beperspektif korban. Jika kejahatan yang dilakukan anak merupakan perbuatan yang tergolong ringan, bisa saja anak sebagai pelakunya dimaafkan

Silaturahmi LBH APIK NTB, Komnas Perempuan dan DPRD Kota Mataram

dan dipulangkan pada orangtuanya. Jika kejahatan itu telah menimbulkan cacat bagi korban, hak-hak korban juga harus diperhatikan. “Jangan sampai anak-anak lain nantinya berpikir, dengan melakukan kejahatan berat, karena alasan masih anak-anak, mereka paling-paling akan dikembalikan pada orangtua atau ditempatkan di panti sosial. Lalu di mana keadilan bagi korban?” tanyanya. Beauty memberi contoh, ada kasus pemerkosaan terhadap anak usia 12 tahun oleh anak usia 17 tahun di Lombok Timur. Apakah si pelaku cukup

dengan dikembalikan pada orangtuanya saja atau ditempatkan di panti sosial dan bebas berkeliaran sementara korbannya tertekan psikologinya? Jika demikian, tidak adil bagi korban dan keluarganya. Kepala Dinas Sosial dan Kependudukan Provinsi NTB Drs. Bachruddin, M.Pd. mengatakan, apa yang dilakukan LBH APIK NTB sudah di jalur yang benar. Keadilan bagi korban dan pelaku haruslah dipenuhi. “Dalam kasus seperti ini, haruslah dilihat pada aspek keduanya secara berimbang,” ujarnya saat berdialog dengan LBH APIK NTB.

Ribuan kasus yang selama 12 tahun ditangani LBH APIK NTB terdata dengan baik. Oleh karena itu, berbagai instansi atau lembaga terkait di NTB, rata-rata merujuk data yang dikeluarkan LBH APIK NTB untuk keperluan menyebut jumlah kasus perempuan dan anak. Lembaga ini juga selalu menjadi rujukan penelitian bagi mahasiswa yang berasal dari universitas-universitas ternama di Indonesia dalam melakukan penelitian terkait perempuan dan anak, seperti UI, UGM, Brawijaya, dan IPB. Mahasiswa juga datang dari Australia, Inggris, AS. Hal ini membuktikan, LBH APIK NTB telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat umumnya. Yang akan fokus dikerjakan LBH APIK NTB tahun 2010 ini antara lain masih advokasi dan gender budgeting. Selain meningkatkan kapasitas staf, LBH APIK NTB juga tengah menyiapkan peningkatan jaringan paralegal dalam hal pengorganisasian lembaga agar mandiri. Ratusan jaringan LBH APIK NTB se-NTB hingga tingkat kecamatan, terus dipantau dan diberdayakan oleh lembaga ini terutama 96 jaringan yang sangat aktif. —nik

Masa Bocahnya..............................................................................................................................................................dari halaman 1 Putu Mataram, Kompiyang sering membawakan oleh-oleh jeruk ponten untuk istri Tuan Kontrolir. Ketika Tuan Kontrolir pindah dari Singaraja, Geria dan Kompiyang dihadiahi lemari pakaian besar, lemari kecil, dan meja marmer. Hingga kini, lemari-lemari antik peninggalan Belanda ini masih ada, dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan obat dan peralatan kedokteran. Kompiyang mengalami kehidupan di empat zaman yakni zaman Belanda, zaman Jepang, zaman Perang Kemerdekaan, dan zaman Republik. Dalam zaman Republik ia mengalami era orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Kehidupan suami-istri Geria dan Kompiyang pada zaman Belanda tidaklah terlalu melarat. Menjelang tahun 1942, mereka membeli sebuah mobil Austin warna abu-abu dengan kap putih yang dapat dibuka. I Gusti Ngurah Nala, putra ketiga GeriaKompiyang, menuturkan ia pernah diajak orangtuanya mencoba mobil baru itu ke Karangasem lewat Kubu. Walaupun jalan tanah dalam kondisi rusak, dengan tertatih-tatih mobil itu dapat melintas. Kebahagiaan memiliki mobil hanya dirasakan sebentar. Ketika Jepang menduduki Bali, mobil dirampas untuk kepentingan negara. Tetapi, sebelum dirampas, mesin mobil dirusak oleh tentara Pemerintah Hindia Belanda yang berada di Singaraja. Tujuannya, agar mobil tersebut tidak dapat digunakan tentara Jepang. Sejak itu Geria dan Kompiyang tidak bisa membeli mobil lagi. Uang mereka habis untuk membiayai pendidikan anakanaknya. Mereka mengandalkan gedebeg, sepeda, dokar, dan bus sebagai sarana transportasinya. Jika pergi ke Singaraja untuk menjual jeruk, Kompiyang me-

numpang gedebeg, kereta gerobag tanpa atap yang ditarik seekor kerbau. Di Yeh Sanih, gedebeg berhenti untuk istirahat sekalian makan. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Tinggi, Singaraja. Setelah menjual jeruk, Kompiyang membeli beberapa keperluan lalu pulang ke Bondalem. Sebagai orang yang memiliki wawasan luas, Geria ingin anakanaknya mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Ini terbukti ketika I Gusti Bagus Putu Djelantik (anak sulung) berusia 10 tahun dan Ngurah Nala berusia 6 tahun. Mereka disekolahkan di Sekolah Taman Siswa Tejakula. Ini adalah sekolah kebangsaan. Gurunya, I Gusti Made Tamba. yang kelak tercatat sebagai salah seorang pendiri Perguruan Rakyat Saraswati. Djelantik dan Nala berangkat sekolah berjalan kaki menempuh jarak 3 km. Keduanya diberi uang saku masing-masing 10 kepeng berupa uang bolong. Ketika Jepang berkuasa, Sekolah Taman Siswa itu ditutup. Djelantik dan Nala pindah ke Sekolah Rakyat yang ada di

Bondalem dan sudah berdiri sejak tahun 1911. Sekolah ini tercatat sebagai SR/SD tertua ketiga di Bali. Zaman pendudukan Jepang menyimpan kisah getir bagi warga Bondalem. Banyak warganya menjadi korban ledakan ranjau di pantai Bondalem. Ranjau yang dipasang tentara Sekutu itu dirancang untuk menghancurkan kapal Jepang. Tetapi, Jepang menyuruh rakyat Bondalem untuk menarik ranjau ke darat. Sebagian mata ranjau menyentuh batu dan meledak. Serpihan ranjau mengakibatkan beberapa warga Bondalem tewas dan terluka. Kondisi makin sulit karena Jepang tidak mengizinkan benang Bali dan beras dijual ke luar desa. Geria dan keluarga hanya makan nasi jagung yang kadang-kadang ditemani jukut rambugan, sambal sere lemo, atau daging ayam dan perkedel jagung. Perut Geria sering kembung dan sakit jika makan nasi jagung. Akhirnya Kompiyang menyiasati dengan membuat nasi beras untuk suami dan nasi jagung untuk dirinya dan anak-anak. Beras sulit di-

dapat hingga harus diselundupkan dari Tejakula. Nasi beras kerap disembunyikan di sebuah tempat di atas dapur agar tidak dilihat Seinendan, pemuda desa yang direkrut Jepang menjadi petugas keamanan. Jika mereka melihat ada nasi beras, empunya rumah bisa dihukum dengan tendangan atau pukulan. Kompiyang pun harus memendam rasa takut saat memasak nasi beras agar tidak ketahuan Seinendan yang perilaku kasarnya melebihi tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Bondalem mulai berubah. Pekik “merdeka” kerap terdengar. Namun, situasi belum sepenuhnya aman karena masih ada tentara pro-NICA yang menyerbu Bondalem. Geria menetap di Abian Suksuk Bondalem sedangkan Kompiyang yang sedang hamil 4 bulan bersama lima anaknya, Djelantik, Nala, Satjihari, Pudja, dan Setat, menyingkir ke kebun kopi Pura Panti, Banjar Keduran, Desa Madenan. Mei 1946 semua keluarga itu baru bisa kembali ke Bondalem. —wah

Dewan Anak...........................................................................................................dari halaman 1 kerajinan tangan siswa itu memang tak hanya terlintas di benak Sadmika. Ia kemudian mencoba mengagendakan program nyata melalui manajemen organisasi kecil yang dikelola sendiri para siswa. “Bentuknya seperti OSIS di lingkungan SMP dan SMA. Nama lembaganya dewan anak. Pengurusnya dipilih dari kalangan siswa, mereka lalu menyusun program kerja seperti layaknya sebuah organisasi. Namun, keberadaan dewan anak kelak tetap di bawah bimbingan guru,” jelasnya. Ide pembentukan dewan anak itu semula datang dari pengalamannya berdiskusi dengan kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Malang, Jawa Timur, belum lama ini. “MIN I Malang punya organisasi siswa di sekolahnya yang. Padahal, lembaga

pendidikan ini setara sekolah dasar. Tetapi, siswanya sudah diajarkan mengelola organisasi sejak dini. Namanya sama seperti yang akan kami bentuk, yaitu dewan anak,” ungkap Sadmika yang sempat mengikuti kegiatan Harmony Week di Perth, Australia, itu. Banyak program kegiatan yang bakal digagas melalui dewan anak tersebut. Menurut Sadmika, anak-anak dilatih mengorganisasi program majalah dinding, termasuk memiliki komunitas dokter anak. “Selain itu, ada program pameran hasil kerajinan mereka sendiri. Pameran dikelola dewan anak. Jika ada hasil pameran yang laku terjual otomatis akan masuk kas bendahara dewan anak. Anak-anak yang dilatih pula mengelola keuangan organisasi mereka,” katanya.

Pameran hasil kerajinan tangan itu dinilai merupakan salah satu terobosan baru untuk melatih jiwa bisnis anak, terutama mengasah siswa terampil menjadi pemasar produk bisnisnya sendiri. “Siswa diajarkan kiat praktis menerjemahkan ilmu pemasaran atau marketing karya mereka melalui pameran tersebut,” jelas pimpinan sekolah yang pernah menimbah pengalaman dalam program Teacher’s Camp di Filipna tahun 20014 ini. Gagasan segar Sadmika tersebut memang masih asing di lingkungan sekolah dasar umumnya di Bali. Namun, ia berharap, terobosan membidani kelahiran dewan anak itu kelak akan menjadikan siswanya memiliki nilai keterampilan lebih sejak usia masih bocah. —sam

Berawal dari.....................................................................................................................................................................dari halaman 1 bahwa saya mampu membantu Aris membiayai operasinya,” kenang Anne. Di balik keterkejutannya, Anne seolah merasa inilah petunjuk yang diberikan Tuhan. Saat itu dorongan untuk berbuat sesuatu makin besar, berlipat-lipat. “Saya yang tadinya ragu-ragu, terdorong untuk mengambil langkah nyata. Sejak bertemu Aris, saya memutuskan untuk berkonsentrasi pada pelayanan anak-anak penderita hydrocephalus dari kalangan keluarga tak mampu,” tuturnya. Sebenarnya kiprah di bidang sosial kemanusiaan bukan sesuatu yang baru bagi Anne. Sejak tahun 1990-an, ia telah melakukannya, meski hanya sesekali, seperti dalam kegiatan pendampingan anak-anak jalanan dan menyelenggarakan kursus-kursus membuat kerajinan tangan. “Tetapi, ketika itu saya belum merasakan dorongan untuk berkiprah lebih dalam. Ketika itu saya hanya merasa senang bisa membantu orang lain, berbahagia kegiatannya bisa memiliki arti bagi orang lain. Baru sebatas itu. Tetapi, yang terjadi sekarang berbeda. Dan, inilah

yang menjadi awal kiprah saya yang intensif di bidang kemanusiaan. Saya bukan hanya berdoa dan mendengarkan keluh kesah mereka, tetapi lebih jauh lagi, berusaha mencari bantuan dan mendapatkan dana untuk menolong kesembuhan mereka,” tuturnya. Anne sadar, tidak bisa sendirian dalam mewujudkan pelayanan itu. Dia membutuhkan mitra kerja yang bisa menjadi payung sekaligus mengayomi. Maka, Anne memberanikan diri menghadap Suster Francisca (sekarang telah almarhum), Kepala Rumah Sakit St Elisabeth Semarang, untuk meminta dukungan. “Saya utarakan niat saya. Suster tampak heran. Dia melihat sekujur tubuh saya dari ujung kaki sampai ujung rambut kepala. Mungkin sangsi, apakah saya mampu. Beliau tanya, apa profesi saya. Saya katakan, saya bukan dokter, tetapi desainer. Kening suster berkerut mendengar jawaban saya. Beliau mungkin meragukan saya. Mungkin latar belakang profesi saya dianggap tidak sesuai dengan pelayanan yang ingin saya lakukan,” ungkap Anne.

Anne memaklumi keraguan Suster Francisca. Sebab, profesi perancang mode mungkin dianggap sebagai kehidupan glamour yang kental keduniawian, apakah mungkin bisa memberi pelayanan yang tulus penuh kasih pada mereka yang menderita. Tetapi, tekad Anne sudah bulat. Ia tidak surut. Dia berusaha meyakinkan Suster agar memberinya kesempatan. “Saya katakan, Suster, saya memang bukan dokter, saya hanyalah perempuan biasa yang mendapat panggilan rohani dari Tuhan. Bunda Theresia (tokoh kemanusiaan dari India) mendapat panggilan Tuhan sesuai dengan karyanya, sedangkan Tuhan memanggil saya tidak sesuai dengan karya saya. Jika Suster Francisca tidak memberi ruang pada saya untuk bekerja dalam pelayanan, saya khawatir panggilan itu akan hilang. Saya menjelaskan panjang-lebar pada Suster Francisca untuk meyakinkan beliau atas kesungguhan niat saya,” cerita Anne mengungkapkan sekelumit dialognya dengan Kepala Rumah Sakit St Elisabeth itu. Usaha Anne tak sia-sia. Hati

Suster Francisca tergerak untuk memberi kesempatan pada Anne menjalani panggilannya. “Beliau mengizinkan saya, bahkan memberi saya wejangan. Dia bilang, bergeraklah dahulu anakku. Kalau ternyata ruang ini tidak membawa damai, jangan kau paksakan. Itu artinya, apa yang kau rasakan selama ini hanyalah keinginan, bukan panggilan.” Keinginan dan panggilan berbeda, kata Anne. Keinginan datang dari diri sendiri, sedangkan panggilan datang dari Tuhan dan itu tidak bisa dihindari. Dengan dukungan rumah sakit tersebut, akhirnya berdirilah Pelayanan Kasih Hydrocephalus (PKH) tahun 2000, yang melayani anak-anak penderita hydrocephalus dari keluarga tak mampu. Anne sangat bersyukur, karena beberapa orang bersedia terjun sebagai relawan dalam mengelola PKH, termasuk seorang spesialis bedah otak, Dr Muhammad Aminullah. “Dia dokter yang luar biasa. Dia Muslim, saya Katolik, tetapi dia merespons ajakan saya untuk bergabung. Dia bilang, Bu Anne bisa melayani, mengapa saya tidak?” —dia


Pendidikan

Tragedi Dua........................................................................................................................................dari halaman 5 Anak-anak jadi ketakutan, terutama anak perempuan saya yang selalu gelisah dan takut bertemu pria dewasa setelah mendengar ancaman ayahnya itu,” ujar Nusantari. Perbuatan Kertayasa itu akhirnya tiba di kantor polisi. Sebagai istri yang terus berada di bawah intimidasi, Nusantari akhirnya melaporkan sang suami ke Polda Bali. Mereka juga sudah mengadu kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali. Lembaga ini sudah mengeluarkan surat permohonan perlindungan keamanan kepada aparat kepolisian. Namun, itu saja ternyata tidak cukup. Awal Maret lalu Kertayasa menemukan tempat pengungsian istri dan anaknya di Klungkung. “Dia datang mau mengambil paksa kedua anak kami. Sempat terjadi perang mulut dengan ibu kandung saya. Untung polisi datang, dan sekarang dia ditahan di Polsek Banjarangkan, Klungkung,” ungkap Nusantari. Namun, urusan belum selesai. Desak Jati yang sudah telanjur geram dengan perilaku anaknya itu pun menuju Kantor Polres Gianyar. “Saya melaporkan anak saya menyewakan artshop di Tirta Empul tanpa sepengetahuan saya,” ujar Desak Jati. Desak Jati, menantu, serta dua cucunya kini sedang dibelit kesulitan ekonomi akibat sumber nafkah dari artshop telah digelapkan sang anak kepada orang lain. “Saya dan

menantu hanya mengandalkan uang pinjaman yang terus menumpuk,” ujarnya sambil meneteskan air mata sedih. Polres Gianyar diakuinya memang telah mengambil tindakan hukum. Artshop yang disewakan itu ditutup polisi mulai 5 April 2010. Namun, anehnya artshop tersebut sudah mulai beroperasi lagi dua hari kemudian. “Padahal, jelas artshop itu sedang bermasalah dan sedang ditangani polisi kasusnya. Saya minta perhatian serius Pak Kapolres Gianyar soal ini,” harap Desak Niti. Sementara penyidik Polres Gianyar Made Bukit yang dihubingi Koran Tokoh mengaku telah memeriksa oknum terlapor Kertayasa. “Kami sedang mengorek keterangan Kertayasa untuk membuktikan dia memang menyewakan artshop tersebut kepada orang lain tanpa izin pemilik,” ujarnya. Kalangan praktisi hukum mendesak aparat Polres Gianyar menyelesaikan dulu secara hukum laporan korban, Desak Jati. “Kasusnya kan masih belum selesai diproses. Artshop tersebut tak boleh beroperasi dulu sebelum putusan hukumnya final,” ujar praktisi hukum Ni Nyoman Candra Ary Dewi, S.H. Khusus kasus dugaan ancaman perdagangan anak kandung yang dilakukan Kertayasa, menurut ketua Bali Lawyers Club yang menjadi konsultan hukum di sejumlah

perusahaan ini, pihak penyidik dapat menjeratnya dengan ketentuan Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP) maupun UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman yang dilayangkan Kertayasa dinilai dapat memenuhi unsur percobaan melakukan kejahatan terhadap kemerdekaan orang sebagaimana diatur KUHAP. Ini tertuang dalam Pasal 330 Ayat 1 yang menegaskan, barangsiapa dengan sengaja menarik yang belum cukup umur dari kekuasaan yang menurut undang-undang ditentukan atas dirinya, atau dari pengawasan orang yang berwenang untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Ini dilengkapi Ayat 2 yang berbunyi, bilamana dalam hal ini dilakukan tipu muslihat, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau bilamana anaknya belum berumur duabelas tahun, dijatuhkan pidana penjara paling lama 9 tahun. Ketentuan KUHAP itu dapat diperberat lagi melalui penerapan UU Perlindungan Anak. Menurut Candra Dewi, Pasal 83 UU ini menenetukan, setiap orang yang memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun, dan denda paling banyak Rp 300 juta, dan paling sedikit Rp 60 juta.

18 - 24 April 2010 Tokoh 17

FPBS IKIP PGRI Bali Lepas 90 Sarjana

Jadi Guru yang Dirindu

—sam

Dekan FPBS IKIP PGRI Bali Drs. Pande Wayan Bawa, M. Si. (paling kanan) beserta para Pembantu Dekan dan Ketua PS berpose bersama lulusan terbaik

SISTEM perkuliahan di IKIP PGRI Bali diatur sedemikian rupa sehingga menciptakan suasana senang dan nyaman dalam perkuliahan; anggapan ‘menegangkan dan menakutkan’ dalam penyusunan skripsi, sirna tatkala para dosen dengan sabar memberikan arahan dan petunjuk; serta biaya kuliah cukup terjangkau. Paling tidak, itulah kesan mendalam yang diungkapkan Ni Kadek Sumertini, lulusan terbaik dengan IPK 3,71 saat Pelepasan Sarjana XXIII Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali, Kamis (15/4) di Hotel Nikki Denpasar. Terlebih, ia beserta 72 mahasiswa lainnya yang memilih jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Bali, bebas uang SPP selama masa perkuliahan. Ini tak terlepas dari komitmen IKIP PGRI Bali untuk turut meng-ajeg-kan Bali lewat budaya Bali (sastra Bali) yang sesuai dengan amanat almarhum Ida Bagus Mantra. “Tak hanya itu, IKIP PGRI Bali juga telah melakukan kerja sama dengan Bali Post, memberikan kuliah gratis hingga tamat kepada sembilan mahasiswa tak mampu yang mengambil jurusan Sastra Daerah Bali,” ujar Drs.

Redha Gunawan, M.M., Rektor IKIP PGRI Bali. Selain lulusan terbaik di jajaran FPBS, diberikan juga penghargaan kepada lulusan terbaik pada masing-masing jurusan. Mereka adalah I Dewa Gede Bagus Ardana (3,33) dari jurusan Bahasa Indonesia, I Kadek Hardika (3,21) dari jurusan Seni Rupa dan Kerajinan, dan I Made Suanta (3,26) dari jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik). Melalui pelepasan sarjana sebagai bentuk tanggung jawab moral lembaga penyelenggara pendidikan kepada masyarakat ini, Dekan FPBS Drs. Pande Wayan Bawa, M.Si. mengharapkan mahasiswa terus mengisi diri melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Peran guru dikatakannya sangat penting untuk mendukung perbaikan mutu pendidikan. Guru sering dijuluki agen pembelajaran dan agen pembaruan. Karena itu, guru selalu dituntut untuk memperbarui pengetahuan dan meningkatkan mutu pembelajarannya secara sistematis, inovatif, dan berkelanjutan. Menyimak UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

ada beberapa hal yang dituntut pada diri guru. Pertama, menjadi guru yang ilmuwan dan ilmuwan yang guru. Guru tak sekadar memiliki kompetensi teknis mengajar di depan kelas, melainkan sekaligus menjadi ilmuan yang menguasai subject matter knowledge maupun pedagogical content knowledge. Guru juga harus memiliki kompetensi mengembangkan pembelajaran berdasarkan hasil penelitian lapangan, membekali peserta didiknya dengan wawasan tentang metode penelitian, penelitian bahasa dan sastra, penulisan karya tulis ilmiah, penelitian tindakan kelas, dsb. Kedua, menjadi guru yang dirindu. Guru memiliki multiperan dalam membentuk kepribadian anak didik. Keberadaan buku, maupun perangkat teknologi hanyalah alat yang mengandung kebaikan dan keburukan, ada yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, ada juga yang penjabarannya susah dicernakan sehingga membutuhkan penjelasan. “Guru adalah salah seorang yang bisa memberikan penjelasan. Di sinilah guru dirindukan oleh anak didiknya maupun masyarakat,” ujar Pande Bawa. —asp/ten

STIE dan Bisnis BIITM Padukan Teori dan Praktik

Berangkat Pesiar tak Dipungut Bayaran SMP dan SMA CHIS

Kuasai Empat Bahasa

Siswa SMA CHIS

Yayasan Pendidikan CHIS sangat mengutamakan kualitas tinggi dalam memberi pelayanan kepada siswa. Hal ini sesuai dengan konsep yang diungkapkan Ketua Yayasan CHIS Drs. I Putu Parwata, M.K.,M.M. “Pendidikan berkualitas tinggi yang ditunjang lembaga dan pengajar berkualitas tinggi akan menghasilkan lulusan berkualitas tinggi,” tegasnya. Apa yang disampaikan Parwata bukan isapan jempol belaka. CHIS sudah memberikan bukti dengan banyaknya lulusan SMP dan SMA CHIS yang melanjutkan ke sekolah atau universitas terkenal di luar negeri. Prestasi terakhir, lulusan SMP CHIS, Kezia Kartika berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Chinnesse Girl School di Singapura. “Sedari awal kami sudah mempersiapkan para siswa untuk menjadi lulusan yang berkualitas tinggi. Kami menggunakan kurikulum nasional dan internasional. Bahkan apa yang kami terapkan sudah termasuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Ini menjadi unggulan sekolah CHIS,” kata Kepala SMP dan SMA CHIS Dra. Maria Hari Suryawati, M.Pd. Ia menambahkan selain Kezia yang lolos untuk melanjutkan pendidikan menengah atas di Singapura, ada juga alumnus sekolah CHIS yang melanjutkan pendidikan di Australia. Salah satu keunggulan sekolah yang berada di desa Pemogan ini adalah penggunaan empat bahasa pengantar, yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Bali, dan bahasa Mandarin. Keempat bahasa ini harus dikuasai sebagai bekal bagi siswa untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain unggulan dalam bahasa karena didukung native speaker untuk bahasa Inggris dan bahasa Mandarin, SMP dan SMA CHIS juga mendatangkan pembina dari kampus Universitas Udayana untuk bidang Matematika dan IPA. SDM berkualitas tinggi inilah yang menempa para siswa agar menjadi siswa yang berkualitas tinggi. Hasilnya, sekolah CHIS berhasil menjadi juara 1 dan 3 LKTI yang digelar Unud tahun 2009, juara 2 lomba karya ilmiah se-Bali tahun 2008. —adv/wah

Setelah lulus kuliah, ingin cepat bekerja. Itulah yang dianganangankan mahasiswa. Mereka tak mau menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan. Karena itu, sebelum memilih kampus, sebaiknya perhatikan apa yang menjadi tujuan. Jika ingin bekerja di kapal pesiar, tak ada salahnya memilih STIE dan Bisnis BIITM yang memiliki jenjang pendidikan D1 Kapal Pesiar. Eksistensi Yayasan CHIS sebagai yayasan yang peduli pendidikan sudah teruji dan terbukti dengan hadirnya kelompok bermain, TK, SD, SMP, dan SMA CHIS. Tak hanya cukup sampai di situ. Yayasan CHIS yang diketuai Drs. I Putu Parwata, M.K., M.M. berusaha melangkah lebih maju untuk memberikan kesempatan bagi para generasi muda bangsa untuk meraih impian. Untuk itulah Yayasan CHIS bekerja sama dengan Yayasan Sahid yang memiliki banyak jaringan untuk menjalankan STIE dan Bisnis BIITM. Ketua STIE dan Bisnis BIITM Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. mengatakan sinergi yang dijalin antara Yayasan CHIS dan Yayasan Sahid memberikan fenomena baru dalam bidang pendidikan. “Kedua yayasan ini sudah memiliki basis yang kuat. CHIS di bidang pendidikan, Sahid di bidang perhotelan. Kombinasi keduanya

Wisuda STIE dan Bisnis BIITM

menghadirkan suatu hal yang lengkap. Lulus bias langsung kerja,” tegasnya. Ia menambahkan STIE dan Bisnis BIITM juga memiliki keunggulan lain, yakni kesempatan untuk melakukan pelatihan di Sahid Hotel seluruh Indonesia, kesempatan pelatihan dan bekerja di kapal pesiar, dapat menempuh jalur skripsi dan nonskripsi, menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, didukung tenaga pengajar yang berpengalaman, serta kurikulum berbasis kecakapan dan kompetensi. “Satu hal yang penting lagi, lembaga tidak memungut biaya bagi mahasiswa yang pelatihan di hotel maupun bagi lulusan yang bekerja di kapal pesiar. Ini artinya yang lolos berangkat bekerja di kapal pesiar tak dipungut bayar-

an oleh lembaga. Namun, mereka harus melengkapi sendiri persyaratan administrasi yang diperlukan seperti paspor, surat keterangan sehat, dan yang lainnya,” kata Dasi yang didampingi Wakil Ketua STIE dan Bisnis BIITM Drs. I Nyoman Anggaradana, M.Si. Selama ini, lulusan STIE dan Bisnis BIITM sudah berhasil menembus Costa Cruise Line (kapal pesiar Italia), hotel-hotel di Belanda, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, hotel yang

tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Bali Villa Association (BVA). Untuk laboratorium terpadu, para mahasiswa menggunakan Hotel Sahid. STIE dan Bisnis BIITM memiliki jenjang pendidikan S1 Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Bisnis, Manajemen Keuangan, Manajemen Perbankan, Manajemen Pariwisata, Manajemen Pemasaran, D3 Manajemen Usaha Perjalanan Wisata, D3 Manajemen Pemasaran Pariwisata dan Perhotelan, dan D1 Kapal Pesiar. “Kurikulum STIE dan Bisnis BIITM dirancang unik dan proporsional terdiri dari 60% kurikulum berbasis lokal dan 40% kurikulum berbasis nasional. Khusus D1 Kapal Pesiar, kami memadukan teori dan praktik, 6 bulan teori, 6 bulan praktik. Kurikulum yang proporsional dan profesional tersebut sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri termasuk para professional yang berkeinginan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Lulusan S1 STIE dan Bisnis BIITM juga

dapat langsung diterima sebagai mahasiswa program Magister Universitas Sahid Jakarta,” ungkap Dasi Astawa. Ketua Yayasan CHIS Drs. I Putu Parwata, M.K., M.M. yang juga menjadi dosen di STIE dan Bisnis BIITM mengatakan lembaga pendidikan ini ingin memberi kontribusi bagi pengembangan perekonomian Bali dengan mencetak lulusan yang siap kerja. “STIE dan Bisnis BIITM memberi kesempatan bagi para generasi muda untuk menjadi pebisnis sejati dan siap bekerja. Bahkan untuk D1 Kapal Pesiar, ada jaminan bekerja di kapal pesiar,” tegasnya. Pria asal Dalung ini mengatakan proses belajar-mengajar di kampus menggunakan dua bahasa pengantar, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain itu, transfer ilmu juga dilakukan dua arah dengan cara diskusi, simulasi, dan pembahasan studi kasus oleh dosen dan mahasiswa. “Kami ingin menghasilkan lulusan yang terampil di bidang manajemen dan bisnis serta memiliki kecakapan teknis,” ujar Parwata. —adv/wah

Mahasiswa STIE dan Bisnis BIITM yang mengikuti pelatihan di salah satu hotel

Kampus STIE dan Bisnis BIITM

Ketua Yayasan CHIS Drs. I Putu Parwata, M.K., M.M. (kiri) bersama Ketua STIE dan Bisnis BIITM Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si.

Jalan Griya Anyar 99X, Pemogan, Bali Telepon (0361) 7474353 e-mail: stie-biitm@dps.centrin.net.id


18

Tokoh

Pendidikan

18 - 24 April 2010

Deputy Principal Ironside State School Berkunjung ke Denpasar Children Centre B

EBERAPA hari yang lalu Deputy Principal Ironside State School, Mrs. Janice Ruddick-McGrath dari Brisbane, Australia berkunjung ke SD Cerdas Mandiri, Denpasar Children Centre (DCC). Pada kunjungan ini, Mrs. Ruddick disambut hangat oleh seluruh civitas Denpasar Children Centre yang dipimpin oleh Direktur DCC, Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan oleh pihak Ironside State School kepada Denpasar Children Centre yang telah lebih dahulu berkunjung ke Ironside State School di Brisbane pada Mei 2009. Wakil Kepala Sekolah Ironside State School ini sangat senang bisa ber temu kembali dengan empat siswa SD Cerdas Mandiri DCC yang sempat belajar di Ironside State School selama beberapa hari pada saat kunjungan mereka ke Australia pada Mei 2009. Keempat siswa DCC tersebut adalah I.A. Radinia Asri S., Syafira Anastasia, Famke M. L. Verspoor dan Anissa Zahirah.

Empat siswa SD ditemani oleh Direktur DCC berkunjung ke Ironside State School, Brisbane Australia.

Deputy Principal Ironside School bercerita tentang Australia kepada siswa kelas 4 dan 5 SD Cerdas Mandiri DCC.

Pada kunjungan ke DCC ini, Mrs. Ruddick didaulat memberikan informasi tentang Australia dan sekolah Ironside State School kepada siswa kelas 4 dan 5 SD DCC. Para siswa sangat serius menyimak penjelasan Mrs. Ruddick yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Ironside State School adalah salah satu sekolah dasar terfavorit di Kota Brisbane, yang lokasinya sangat dekat dengan The University of Queensland. Suasana sekolahnya sangat multietnis dan multikultur. Hal ini karena orangtua siswa yang ber-

Cinta Segi Tiga.........................................................................dari

halaman 3

Ketika Hok Gie dan teman-temannya mendaki Gunung Semeru, Ker berkeinginan kalau mereka pulang mendaki kelak, akan menyatakan pada Hok Gie bahwa dirinya bersedia menjadi pacarnya. Tetapi, Tuhan menetapkan takdir berbeda. Soe Hok Gie tewas di Gunung Semeru karena menghirup gas beracun. Peristiwa tragis yang terjadi Desember 1969 itu sangat mengguncang hati Ker. “Saya terpukul sekali. Saya Dr. Kartini bersama Dr. Sjahrir dan kedua anaknya, Gita dan Pandu sudah siap-siap menyatakan bersedia jadi Pada masa itu, Kartini yang hanya menyayangi Kartini pacarnya, tetapi dia mebaru masuk Fakultas Sastra UI sebagai sahabat dekat. bahkan, ninggal,” tutur Ker. –dia. jurusan Anthropologi, sering Gie berinisiatif ingin menmenjadi tempat curhat Hok Gie jodohkan Kartini dengan dedengkot aktivis di fakultas Sjahrir yang mengaku pada Hok itu, Hubungan mereka makin Gie dia naksir Kartini. dekat, bahkan tumbuh benih“Saya tanya, Sjahrir siapa, benih rasa suka di hati Kartini karena saya juga pernah kenal pada Gie, Sjahrir ketika Mapram dulu. “Ketika itu saya mahasiswa Ternyata yang dimaksud Gie, baru, yang baru saja lulus dari Sjahrir yang sama, ya si Ciil itu. SMA Santa Ursula yang Hok Gie yang mendiktekan memiliki aturan ketat. Saya juga surat untuk Ciil yang ketika itu tinggal di asrama yang tak kalah berada di luar negeri..ha..ha,” ketatnya dalam aturan. Maka, kisah Kartini. ketika jumpa Hok Gie yang Dua bulan sebelum Gie mengenalkan dengan ke- tewas, Ker mendapat penghidupan kemahasiswaan yang akuan yang mengejutkan dari dinamis, rasanya luar biasa. Gie. Ternyata Hok Gie pun Saya merasa menemukan mengaku menyukai Ker. sahabat yang menyenangkan, ”Hok Gie sempat menyatapenuh perhatian, dan memiliki kan perasaannya ke saya. Dia hobi yang sama yakni mendaki katakan, perasaannya lebih dari gunung. Dia tempat saya pertemanan biasa. Saya senang bertanya segala hal. Dia pun sekali mendengar itu,” ungkap suka curhat ke saya. Saat itu, Ker yang mantan ketua Mapala Sjahrir belum ada dalam UI ini. kehidupan saya,” tutur Kartini. Seperti ada keraguan dalam Sinyal rasa suka sudah hati Hok Gie, sehingga dikirimkan Kartini, namun Gie pembicaraan itu tidak berlanjut.

sekolah di Ironside State School adalah sebagian berprofesi sebagai dosen di The University of Queensland, dan juga mahasiswa program master (S-2) dan doktor (S-3) di The University of Queensland yang berasal dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Direktur DCC, Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt. dan Ketua Yayasan DCC, Dr. Ir. Anak Agung Suryawan Wiranatha, MSc. juga merupakan alumnus program master dan doktor dari universitas ini. Pada saat mengikuti program pascasarjana tersebut, putra pemilik DCC, A.A. Raditya Wisesa Wedananta yang kini kuliah di Fakultas Kedokteran Unud juga sempat belajar di Ironside State School selama 4 tahun. Penjelasan dari Deputy Principal Ironside State School tersebut sangat bermanfaat bagi siswa DCC untuk lebih mengenal Ironside State School. Apalagi, lima orang siswa kelas 5 SD DCC tersebut akan segera berangkat ke Australia pada 14 Mei 2010 untuk mengikuti Students Exchange Program selama

Mrs. Ruddick berdialog dengan siswa SD Cerdas Mandiri saat berkunjung ke DCC.

dua minggu. Mereka adalah A.A. Ratih A. Leonadewi, Cok. Istri Kemaladewi Primanandari, Made Ramanda B. Pramana, Anak Agung Ngurah Pertama, dan Pramathana Ekiki Moelana. Salah satu sekolah yang akan mereka kunjungi di Australia adalah Ironside State School di Brisbane. Ketua Yayasan DCC,

Mrs. Ruddick bersama guru bahasa Inggris DCC (Mrs. Louise) dan Kepala SD Cerdas Mandiri, Direktur dan Ketua Yayasan DCC.

Deputy Principal Ironside State School berfoto bersama siswa SD dan Direktur DCC saat berkunjung ke DCC.

Dr. Ir. Anak Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc. mengharapkan agar ke depannya akan ada siswa dari Ironside State School yang mengikuti Students Exchange Program di DCC. Pada kesempatan ini, Mrs. Ruddick juga sempat berdialog dengan beberapa orang siswa DCC yang saat itu sedang giat berlatih seni untuk persiapan Pentas Cilik DCC. Wakil kepala Ironside School ini mem-

berikan apresiasi kepada DCC yang memiliki program Pentas Cilik yang dilaksanakan rutin tiap tahun di Gedung Ksirarnawa Art Centre yang melibatkan seluruh siswa dari playgroup, TK dan SD. “Hal ini karena DCC juga memperhatikan pengembangan bakat dan talenta anak, selain kemampuan akademis siswanya,” demikian komentar Mrs. Ruddick tentang salah satu kegiatan ekstrakurikuler DCC.

Busana Dewata Tekstile Hadirkan Motif Kebaya Baru ADA yang baru di Busana Dewata Tekstile. Toko ini kini menghadirkan kebaya setelan anak-anak dengan beragam ukuran, motif dan warna. Kebaya untuk anak-anak usia dua tahun pun juga tersedia. Tak hanya itu, untuk kebaya dewasa, tersedia motif baru. Demi menjaga kepuasan pelanggan, Busana Dewata Tekstile senantiasa menghadirkan model kebaya yang up to date. Busana Dewata Tekstile tak hanya menyediakan beragam jenis kebaya, pelanggan juga diberi kesempatan memilih jenis motif bordir apa yang diminati. Di tempat ini juga menyediakan perlengkapan busana adat ke pura, seperti kain, selendang, yoko dan saput. Pelayanan jasa bordir dan karawang secara langsung kepada pelanggan pun mereka berikan. “Kami sediakan tenaga bordir berpengalaman yang selalu siaga di sini. Pelanggan bisa langsung memilih motif bordir mana yang mereka inginkan,” ujar pemilik Busana Dewata Tekstil Pande Made Yuliapsari. Tak hanya pakaian adat ke Pura, Busana Dewata Tekstil juga menerima pesanan busana pribadi, seragam, kaus dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. —lik/adv

NEW ARRIVAL!

Beragam motif kebaya setelan untuk anak-anak

Berlangganan Koran Tokoh

Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, SMS ke Sepi (0361) 7402414

Busana Dewata Tekstile Pusat Kebaya, Bordir, dan Pakaian Adat Jalan Pulau Tarakan No. 1 Sanglah Denpasar (Depan pak Oles) Telepon (0361) 236040


Trendi

Sewa Kostum untuk Rayakan Hari Kartini S

EORANG ibu sibuk memilihkan ukuran pakaian yang pas untuk putranya. Sementara bocah laki-laki itu asyik membuka-buka satu album yang memajang beberapa ko-

leksi foto pakaian nusantara, nasional, dan kostum karater film lainnya. “Ma, aku mau baju ini,” ujar bocah itu menunjuk salah satu foto. “Itu bukan pakaian nusantara. Yang ini saja, ukurannya juga sudah pas,” ujar ibu muda bernama Vera itu. Untungnya si anak yang bersekolah di TK A Jembatan Budaya School itu tidak membantah. Ia kembali asyik mengagumi foto-foto kostum yang dikenakan oleh model anak-anak itu. “Katanya ibu-ibu di sekolah anak saya, di sini kostumnya paling lengkap,” ujar Vera yang mengaku baru pertama kali ini menyewa kostum. Setelah meKostum Kartini yang identik nyerahkan kartu

dengan pakaian adat Jawa

Emy Lestari

identitas, mengisi formulir, dan membayar uang sewa Rp 75 ribu, ia dan putranya bergegas meninggalkan tempat penyewaan kostum itu sembari membawa serta kostumnya. “Tiap kostum yang ke luar, harus memenuhi syarat ini,” ujar Emy Lestari, pengelola Julia Costumes Studio. Ia menuturkan, sejak Maret telah banyak pesanan penyewaan kostum nusantara yang masuk ke studionya, yang akan dikenakan saat memperingati Hari Kartini. Ada tiga sekolah yang pesanannya sudah ma-

suk. Untuk memperingati Hari Kartini ini umumnya sekolah melibatkan anak-anak didiknya dalam suatu acara yang mengharuskan mereka memakai salah satu pakaian adat senusantara. Menurut Emy, penyewaan kostum pakaian nusantara ini juga ramai menjelang kenaikan kelas/perpisahan sekolah dan perayaan 17 Agustus. Penyewanya, anak-anak PG,TK, dan SD. Untuk penyewaan kostum Kartini yang identik dengan pakaian adat Jawa, biasanya dipakai untuk lomba-lomba fashion busana Kartini. Dari 30 set pakaian Kartini koleksi Julia Customes Studio, 15 set di antaranya sudah tersewa. Sama dengan pakaian lainnya, kostum Kartini juga menyediakan ukuran S, M, L. Kalau pun tidak ada ukuran yang sesuai dan waktu masih memungkinkan, studio ini menerima pembuatan kostum sesuai kebutuhan penyewa. Tarif sewa lebih mahal Rp 25 ribu dari harga sewa biasa. Tarif sewa kostum Kartini/adat Jawa ini diakui Emy lebih mahal dari pakaian adat lain. Tarif sewanya Rp 100 ribu. Ini dikarenakan selain kebaya dan kain, dilengkapi juga dengan aksesoris lain seperti sanggul, kembang goyang, sunggar, bros, dan sandal selop. —ten

18 - 24 April 2010 Tokoh 19

Kebaya, Sanggul, dan Selop Identik dengan Kartini DI mata pengamat mode Hj. Elistiani Diah L., S. E., perkembangan kebaya di Indonesia khususnya Bali saat ini mengarah ke ready to wear (siap pakai) yang lebih simple. “Yang dulunya memakai kancing kait, sekarang memakai retsleting,” ujar pemilik Triple E managemen ini. Kebaya pun sudah seperti gaun yang bisa dipakai ke acara-acara resmi maupun tak resmi dan kerap dipadupadankan dengan celana panjang. Kebaya Kartini identik dengan bahan beludru hitam dengan bef besar yang menutupi dada. Namun, seiring perkembangannya, semua model kebaya yang agak panjang (panjangnya setengah paha) apapun bahannya, dengan atau tanpa bef, yang penting bentuknya sederhana sering disebut kebaya Kartini oleh masyarakat. Bahkan ia menilai masyarakat Balilah yang masih melestarikan kebaya Kartini ini. Jika ditelusuri lebih jauh, sebutan kebaya, sanggul, dan selop Kartini itu diidentikkan dengan gaya berpenampilan sosok pejuang wanita Indonesia R.A. Kartini. “Kebaya model Kartini ada bef dan kerahnya. Umumnya, hanya orang tua yang masih memakai model seperti ini,” ujar dra. Hj. Aspiati

Hj. Aspiati Akin

Hj. Elistiani Diah

Akin, perias pengantin adat Bali, Jawa, Sunda, dan Eropa yang sudah bergelut di bidang tata rias sejak tahun 1978. Berbeda dengan kebaya, sanggul Kartini sampai saat ini masih kerap dipakai khususnya pada hari-hari tertentu seperti peringatan Hari Kartini, Hari Ibu, grup paduan suara ataupun acara-acara resmi kedinasan dan pertemuan pejabat. Sanggul model Kartini ini menjadi sanggul nasional. “Jika mengatakan sanggul nasional, ya sanggul Kartini ini,” ujar Ketua II Yayasan Tawakkal ini. Menurutnya, dulu bentuk sanggul orang Jawa seperti sanggul Kartini. Hanya bentuknya lebih kecil karena di-

bentuk dari rambut sendiri (asli) yang umumnya panjang. Karena sekarang ini rambut orang semakin pendek, sanggul dibuat dari cemara (rambut palsu), yang di Bali dikenal dengan antol. Terakhir bahan sanggul berkembang menjadi hairpiece yang terbuat dari sisa-sisa rambut asli. Sanggul yang dipakai untuk acara adat pengantin Jawa bukanlah sanggul Kartini melainkan sanggul tekuk. Sepintas bentuknya memang sama, bulat. Sedangkan selop Kartini yang bagian depannya tertutup penuh diakuinya sudah jarang digunakan masyarakat umum kecuali untuk upacara adat khususnya adat Jawa. —ten

Aman Konsumsi Mi Instan MI instan sebagai sumber karbohidrat memang miskin zat gizi seperti protein, vitamin, dan mineral. Banyak ahli menyatakan, mi instan belum bisa dijadikan wholemeal atau makanan sehat. Namun, sebagian orang ketagihan mengonsumsi mi instan. Bagaimana tips tetap aman mengonsumsi mi instan tanpa rasa takut timbul masalah kesehatan? 1. Untuk menambah gizinya, bisa kita tambahkan sayuran (sawi hijau, tauge, kol, atau brokoli) pada mi instan. Tambahkan juga sumber protein seperti bakso atau daging.

2. Atur pola makan dengan baik dengan tetap menjaga keseimbangan gizi harian dengan mengonsumsi bahan pangan seimbang nasi, sayuran, lauk pauk, dan buahbuahan. 3. Agar lebih aman, gunakan sebagian bumbu serbuk instan dan tambahkan garam dapur untuk menambah rasa. 4. Pilih mi berkualitas. Tidak sekadar enak, tetapi lihat komposisi gizinya. Enak belum tentu sehat. —ast Sanggul Kartini (kanan) dan sanggul tekuk

Selop Kartini

Sumber: PT Citra Nusa Insan Cemerlang

Lompati Kanal Selebar 85 Meter dengan Motor

P

restasi luar biasa diukir Robbie Maddison asal Australia. Lelaki yang gemar olah raga menantang ini, dengan motornya melompati Corinth Canal (terusan Korintus) di Yunani yang tingginya 300 meter dan lebar 85,04 meter dengan motor. Aksi ‘mengerikan’ yang dilakukannya baru-baru ini, membawa nama Robbie Maddison tercatat dalam Guinness World Record sebagai manusia yang berhasil melakukan lompatan tertinggi dengan sepeda motor menyeberangi kanal.

Tolak Angin-Karnaval SCTV 2010 di Bali Bantu Pasien Miskin dan Relaunching Tolak Angin Anak Tolak Angin-Karnaval SCTV 2010 digelar di Denpasar, 16-18 April 2010. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan antara lain pemberian bantuan untuk pasien miskin di RS Sanglah (16 April), relaunching Tolak Angin Anak di TK dan SD Saraswati Denpasar (17 April), dan karnaval di Lapangan Kapten Japa (18 April). Karnaval dimeriahkan dengan jalan sehat, konser musik yang menghadirkan Dewa 19, Ari Lasso, dan TRIAD, free style motor, donor darah dan workshop. Pemberian bantuan untuk pasien miskin dilakukan Komisaris PT Sido Muncul Johan Hidayat kepada Direktur Umum dan Operasionl RS Sanglah drg. Triputro Nugroho, M. Kes. Yang didampingi Direktur Keuangan dr. A.A. Saraswati. Bantuan yang diberikan totalnya Rp 150 juta untuk 10 pasien. Mereka adalah Maria Dolo (1 bulan), Maryono (27 tahun), Komang Darni (18 hari), I Ketut Dompret (6 tahun), Ni Made Novi Ardani (9 tahun), Desak Nyoman Koming (9 tahun), Nyoman Adi Adnyana (27 tahun), IB Gede Raditya Putra Keniten (16 tahun), Diaz Rangga Pradita (11 bulan), dan Inge (1 bulan). Dirut PT Sido Muncul Irwn Hidayat mengatakan PT Sido Mun-

Maddison melakukan persiapan matang sebelum melakukan aksi mautnya itu. Dia sadar, kalau gagal, nyawanya akan melayang karena terhempas pada kanal sedalam 80 meter yang menghubungkan Teluk Korintus dengan Laut Aegea. Sebab, tidak disediakan pengaman apabila jatuh. Jadi bisa dibilang, atraksinya ini adalah atraksi ‘hidup dan mati ‘. Suasana mencekam ketika Maddison memulai aksinya. Semua penonton, yang kebanyakan pen-

dukung Maddison, menahan nafas dan cemas. Khawatir gagal. Perlahan Maddison memacu motor Hondanya dengan kecepatan 78 mph, lalu makin lama makin cepat, setelah itu dia ‘terbang’ di ketinggian 311 meter, menyeberangi kanal dan mendarat dengan mulus di gundukan tanah di seberangnya. “Terus terang, sebenarnya saya merasa cukup sulit dalam membuat perhitungan karena medan yang berubahubah. Permukaan berubah, dari rumput, beton, kayu, aspal kemudian karpet, ini tidak mudah untuk saya.

Irwan Hidayat berkunjung ke ruang pasien RS Sanglah bersama duta Jamu Sido Muncul, Donny Kesuma, Jumat (16/4)

cul yang memproduksi Tolak Angin dan Kuku Bima Energi memiliki dana CRS untuk bantu orang sakit, korban bencana gempa, kebakaran,dll. “Kami memberi ikan, bukan kail. Hanya ini yang dapat kami lakukan untuk meringankan beban orang yang sakit. Sakit tidak direncanakan dan tiba-tiba. Walaupun pemerintah sudah memberi jamkesmas dan jamkesda, tetapi ada yang kelewatan karena masalah administrasi. Nah, ini yang kami bantu,” ujarnya diselasela kunjungan ke ruang pasien RS Sanglah bersama duta Jamu Sido Muncul, Donny Kesuma. Selain memberikan bantuan dana, Irwan berjanji akan mem-

bantu biaya kontrak rumah singgah bagi pasien. “Silakan RS Sanglah mencari rumah untuk dikontrak. Kami akan membayar uang kontraknya. Kami sudah menerapkan pola ini bekerja sama dengan RS Hasan Sadikin, Bandung,” ungkapnya. Sementara itu, dalam relaunching Tolak Angin Anak, digelar lomba mewarnai dan talkshow dengan tema “Ibu Pintar”. Tolak Angin Anak merupakan pengembangan dari Tolak Angin yang ditambah madu sehingga dapat dikonsumsi anak untuk mengatasi gejala masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh.—wah

Robbie Maddison bersama motornya

Robbie Maddison saat melompati Corinth Canal (terusan Korintus) dengan motornya

Saya harus berkonsentrasi penuh, benar-benar menengangkan,” ungkap Robbie Maddison yang mengaku sempat gugup sebelum melakukan aksi gemilangnya itu. Melompati Terusan Korintus telah menjadi impiannya sejak dulu. “Itu selalu ada dalam pikiran saya, dan kini di sinilah saya,” tambahnya. Dia juga sadar segala konsekwensi dari aksinya ini. “Hal pertama dan paling penting buat saya adalah mengatasi takut. Saya berhasil mengatasinya karena percaya bahwa dalam hidup harus ada risiko yang diambil. Saya melakukan itu, dan saya percaya, hal ini akan membuat saya lebih bijak dalam menghadapi segala tantangan. Hal ini juga akan membantu saya menghadapi tantangan lain di kemudian hari,” tuturnya. Dia merasa bersyukur karena berhasil mengalahkan ketakutannya, dia juga bahagia karena tepat mengambil

keputusan di saat sulit. “Saya senang berhasil melaluinya. Hanya ada satu kesempatan untuk memutuskan suatu yang tepat dan benar,” tegasnya. Berdasarkan catatan, banyak para motorcrosser ‘bermimpi’ dapat ‘terbang’ melewati kanal yang dibangun tahun 1893 ini, namun lelaki Australia inilah yang pertama berhasil melaluinya. Robbie Maddison terkenal karena memilih spesialisasi melompati tempat atau bangunan-bangunan tinggi. Tahun 2009 lalu, ia melakukan aksi menggegerkan dengan membuat lompatan berputar di udara dengan motornya di London Tower Bridge, hal yang sama dilakukannya di Las Vegas. Sebelumnya, tahun 2008, dia dua kali memecahkan rekor dunia jumping sepeda motor (107 meter) dalam satu malam di Melbourne. —dia


20

Tokoh

18 - 24 April 2010

Promo


tkh_588_xi_18-24_april_2010