Issuu on Google+

Biasakan Bawa KTP

Menuju Layanan JKBM

Eka Wiryastuti SELAMA ini perempuan Bali khususnya di Tabanan, banyak berkiprah dalam roda perekonomian. Banyak usaha kecil menengah dilakoni para ibu rumah tangga. Ni Putu Eka Wiryastuti menilai, perempuan berpeluang mengembangkan usaha mereka menjadi besar. Namun, kata Eka, begitu ia akrab disapa, mereka lemah dalam pemasaran dan modal. Perempuan kelahiran Denpasar, 21 Desember 1975 ini mengatakan, sudah ada koperasi, namun belum maksimal.

Gagas Kemandirian Perempuan

Gagas Kemandirian Perempuan S

elama ini, koperasi hanya dimanfaatkan untuk peminjaman uang. Jarang sekali, masyarakat menyimpan dana, sehingga koperasi belum berfungsi optimal. Melihat permasalahan ini, ia sedang menggagas konsep kemandirian perempuan. Tahun 2007, penasihat LSM Galang Hati (pemberantasan AIDS dan narkoba) ini pernah memprakarsai seminar dan sekaligus menjadi pembicara dengan topik meningkatkan Bersambung ke halaman 12 kinerja UKM menuju ekonomi

Limbah Karung Bernilai Ekspor LIMBAH karung plastik bekas pembungkus beras kini bernilai ekspor. Seorang bekas buruh bangunan di Kuta berhasil mendaur ulang limbah karung ini menjadi tas gantung cantik dan elegan. Produk kerajinan kreatif dan inovatif ini telah menembus pasar konsumennya di Eropa.

Wensislaus Makur sedang mengerjakan produk kerajinan tas cantik dan elegan berbahan baku limbah karung plastik beras di rumah indekosnya di Denpasar

W

ensislaus Makur sedang asyik merapikan limbah karung plastik beras, Kamis (18/2), di depan kamar indekosnya di Gang Marmut Jalan Pulau Ambon, Denpasar.

Akiko Matsubara (7) AKIKO dan sobatnya asyik menyantap ikan bakar di Pantai Karang Sanur. Dua perempuan Jepang ini ikut menikmati satu dua teguk arak Bali. Sepenggal cerita inilah yang mewarnai awal perte-

Sebilah pisau tipis menjadi andalannya memotong tepi karung plastik bekas pembungkus beras. Potongan tepi karung dilakukan hati-hati agar tetap menyisakan keaslian desain gambar maupun tulisan sablonan di salah satu sisi

Daur Ulang Karung Plastik Beras Jadi Tas Cantik dan Elegan karung. Gambar tersebut melukiskan potret seorang perempuan petani sedang memanen padi di sawah. Ada sebaris tulisan mencolok berbunyi “New Putri Sejati, Best Rice Quality”. Tulisan dengan ukuran lebih kecil berbunyi “Netto 25 kg, Merek Terdaftar, Hati-hati Barang Tiruan” di salah satu sudut bawah karung dibiarkan seperti

BERITA TERKAIT

BACA HALAMAN 4

Pengantar Redaksi: Era perdagangan bebas sebenarnya sudah diembuskan sejak digagasnya Putaran Uruguay tahun 1994. Lahirnya ASEAN Cina Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan salah satu kelanjutan komitmen global ini. Namun, pelaku usaha kita bukan hanya harus siap bersaing di pasar global. Luasnya pasar lokal di Nusantara harus mulai digarap serius. Ini pandangan ekonom Prof. Dr. Gede Sri Darma, S.T., M.M. yang mencuat dari balik diskusi komprehensif terbatas bertopik “Peluang dan Tantangan Pemasaran Produk Industri Domestik Menghadapi ASEAN Cina Free Trade Agreement (ACFTA)”, yang dihelat Koran Tokoh dan Mama & Leon di Gerai Mama & Leon, Selasa (2/2). Ada pula kisah menarik pengrajin kreatif dan inovatif Wensislaus Makur. Pria berdarah Flores yang mengawali pekerjaan sebagai buruh bangunan di Kuta itu sukses berbisnis tas gantung bernilai ekspor yang dibuat dari limbah karung plastik beras. Laporan selengkapnya dimuat di halaman 1 dan halaman 4 edisi ini.

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Dari Desa ke Desa.........BACA HALAMAN 7

aslinya. Itulah kesibukan rutin tamatan SMK Bina Kusuma Ruteng, Flores, ini saban hari. Tumpukan limbah karung plastik tersebut bukan hanya kemasan bekas pembungkus beras. Ada pula limbah karung bekas pembungkus gula dan terigu. “Limbah karung ini bagus jadi bahan baku tas karena kuat,” ujuarnya. Sebuah tas cantik kemudian diraihnya. “Hasilnya seperti ini,” tambah pria kelahiran Cibal, Manggarai, Flores, 23 Desember 1981, ini. Tas cantik itu tampak Bersambung ke halaman 12

Tjok Istri Sri Harwathy “SAAT ini, semua instansi pemerintah dari pusat hingga tingkat kabupaten atau kota memerlukan sarjana hukum profesional. Begitu juga perusahaan swasta dan lembaga lainnya. Fenomena ini membuktikan seorang sarjana hukum tidak terbatas kontribusinya bekerja hanya sebagai hakim, jaksa dan pengacara semata. Artinya mereka memunyai peluang kerja yang besar pada semua sektor,” ujar dosen yang terpilih kedua kalinya sebagai dekan di Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati (Unmas) ini.

Praktik Peradilan Semu

Praktik Peradilan Semu uasnya bidang kerja yang dapat dilakoni para sarjana hukum menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar memilih bidang kuliah. Seperti diterapkan di banyak negara, sistem pendidikan hukum di Indonesia juga jenis pendidikan akademis, yakni memungkinkan tiap lulusan SMU menempuh pendidikan hukum di perguruan tinggi, tanpa mengharuskannya Bersambung ke halaman 12 bekerja di

Garap Potensi Pasar Nusantara

Prof. Dr. Sri Darma, M.M.

KONSUMEN Nusantara dinilai masih potensial sebagai peluang pasar produk dalam negeri. Pasar konsumen ini bahkan diyakini menjadi salah satu target pasar bisnis terbesar di dunia. “Kita punya 250 juta penduduk. Ini pasar potensial yang belum digarap maksimal,” ujar ekonom Bali Prof. Dr. Gede Sri Darma, S.T., M.M. kepada Koran Tokoh, Kamis (18/2) malam, di rumahnya di kawasan Renon. Ia menyatakan, selama ini

Tahu Jodoh dari Mimpi muan Akiko dan Wayan Rai yang terjadi secara kebetulan. Akiko dan sobatnya sedang menikmati panorama indah Pantai Sanur. Rai dan sejumlah pemuda baru saja menjaring ikan laut. Lelaki asal Sidemen, Karangasem, ini baru iseng mencari ikan untuk disantap bersama teman-temannya.

“Saat itu saya cari ikan sekadar mengisi waktu luang. Pekerjaan saya sebenarnya menyewakan kano milik seorang pengusaha untuk wisatawan yang berkunjung ke Pantai Sanur,” katanya. Ikan hasil tangkapan mereka Bersambung ke halaman 4

Akiko Matsubara dan suami, Wayan Rai

pelaku usaha kita masih manja dalam memasarkan produk bisnisnya. Kecemasan berlebihan justru kerap direaksikan jika ada tantangan baru di pasar global. In terasa justru saat meruyaknya publikasi media massa menyusul berlakunya pasar bebas perdagangan Cina dan ASEAN (ASEAN Cina Free Trade Agreement) awal Januari lalu. “Mereka takut kalah bersaing dengan barang impor Cina yang masuk ke negara kita,” ujarnya. Padahal, memorandum perdagangan bebas itu bukan ancaman yang menakutkan. Logikanya, pasar bisnis global niscaya selalu membidik pasar konsumen yang gemuk. Konsumen Indonesia jelas masuk daftar produsen bisnis dunia. “Kita kan memiliki jumlah penduduk terbanyak kelima di dunia. Ini otomatis kenyataan yang tak mungkin dibiarkan begitu saja negara produsen raksasa seperti Cina. Pasar konsumen kita sudah pasti pal-

Ida Ayu Ngurah Ratnayani

ing besar di ASEAN. Jika ini dibandingkan Malaysia jelas kita masih unggul jauh. Pasar konsumen Malaysia hanya 23 juta kok…” katanya. Sebenarnya, menurut Prof. Sri Darma, kecemasan pelaku usaha kita itu dipengaruhi mutu produk bisnis kita yang jelek di pasar dalam negeri. Pasar konsumen kita cenderung disuguhi mutu barang dagangan kelas dua alias reject. Produk ini dijual dengan harga lebih mahal ketimbang produk Bersambung ke halaman 4

Kedepankan Kualitas Produk PEMBERLAKUAN ACFTA (ASEAN Cina Free Trade Area) tak lantas membuat para pelaku usaha di Indonesia pesimis. Menurut perwakilan manajemen Mama & Leon, Kanti Rahayu, usahanya ini tetap eksis dengan mengedepankan kualitas produk. “Meski produk Cina jauh lebih murah daripada Mama Leon, tetapi embroidery (sulaman) Mama Leon jauh lebih berkualitas daripada Cina,” ujarnya. Dengan moto “selama manusia masih berbusana, Mama Leon masih tetap eksis,” dengan tetap memegang brand image. Konsumen bisa melihat segi kualitas pada produk-produk Mama Leon. —ten

Kanti Rahayu


2

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Aspirasi

BEdahBErita

Museum PULANG dari rapat muka Ami kecut. Dia terus masuk kamar dan mengunci. Sampai saat makan malam, dia tidak keluar. Amat marah sekali. Putu Wijaya “Masuk rumah jangan bawa muka kecut. Itu sama dengan bakar rumah!” kata Amat di meja makan. “Bilangin anak kamu itu, jangan biasa menyeret sampah-sampah dari jalanan masuk rumah. Yang jelek-jelek tinggalkan di luar pintu. Jaga kedamaian rumah, supaya rumah tetap menjadi tempat beristirahat tenang dan berpikiran jernih!” Bu Amat tidak menjawab. “Jangan sampai anakmu itu berpikir mentang-mentang anak tunggal, boleh seenaknya saja. Dulu waktu kecil bisa begitu. Sekarang dia sudah dewasa, harus belajar menghormati perasaan orang lain. Apalagi perasaan kita, orangtuanya. Jangan mentang-mentang kita ini bapak dan ibunya, dia merasa tidak perlu menjaga perasaan kita. Salah. Menghormati orang lain, harus mulai dengan menghormati orang yang paling dekat dengan kita. Dan, itu bapak dan ibunya. Kita! Katakan itu pada Ami sebelum terlambat. Nanti tuman!” Bu Amat diam saja. Habis mau bagaimana, pintu kamar Ami dikunci. Jam 12 malam, belum ada tanda-tanda Ami akan keluar. Giliran Bu Amat yang marah. “Pak, coba ngomong sama anakmu, kalau marah jangan seperti anak kecil. Diam-diam begitu mana kita tahu apa soalnya. Kan lebih baik dibicarakan. Kalau tidak, kan kita jadi pusing. Tidur juga tidak tenang. Mana bisa pikiran tenang kalau anak pulang terus masuk kamar dan tidak keluar sampai tengah malam! Jangan-jangan ……, ayo, Pak!” Amat terkejut lalu bertindak. Dia mengetuk pintu dan bicara memelas. “Ami. Tolong buka pintu. Ini Bapak! Bapak boleh bicara!” Pintu dibuka. “Ada apa Pak?” “Kenapa kamu?” “Tidak apa-apa.” “Tidak apa-apa kok pulang-pulang langsung kunci kamar dan tidak keluar sampai pukul 12 malam begini?” “Ami kesel.” “Kesel apa? Kesel sama Bapak?” “Tidak!” “Sama ibu kamu?” “Tidak.” “Kalau tidak kesel sama kami, jangan masuk rumah terus muka seribu begitu. Ingat, kita ini orang miskin, Ami. Bapak dan ibu kamu sudah banyak menderita. Jangan kamu tambah lagi penderitaan orangtua kamu dengan menumpahkan kesel yang kamu dapat di luar ke dalam di rumah. Kita kan sudah sepakat, rumah bukan keranjang sampah! Kesel apa?” “Kesel, habis tadi rapat, rencana yang sudah Ami susun matangmatang untuk ngajak anak-anak warga kompleks kita ke museum, tahu-tahu acaranya diubah jadi nonton film Laskar Pelangi!” “Cuma itu?” “Ya.” “Nggak ada yang lain?” “Nggak!” Amat spontan memukul jidatnya sendiri. Dia menarik napas panjang seperti terlepas dari beban berat, lalu menarik Ami keluar kamar. “Ami, Ami! Sana, bilang sendiri semua itu pada ibu kamu! Bapak kira dunia mau kiamat, ternyata cuma begitu saja!” Ami melangkah ke ruang depan ke dekat ibunya. “Dalam rapat tadi, rencana Ami mengajak anak-anak warga kompleks kita ini ke museum, dibatalkan begitu saja, katanya lebih baik nonton Laskar Pelangi!” Bu Amat mengangguk. “Jadi kamu kesel?” “Bagaimana tidak! Acara ke museum yang sudah direncanakan matang, kok dikalahkan acara nonton film! Padahal ke museum itu gratis sedangkan nonton film mesti bayar. Ami kecewa sekali! Kalau sejak kecil anak-anak sudah diajari lebih berguna nonton bioskop daripada ke museum, nanti kalau sudah besar mau jadi apa mereka? Keterlaluan Bu!” “Betul!” “Museum itu kan gudang ilmu pengetahuan. Itu tempat kita mengenal sejarah kita, masa lalu kita. Museum membuat kita tahu sejarah, siapa sebenarnya kita. Hanya kalau kita tahu, sadar, paham diri kita, kita akan tahu bagaimana masa depan kita. Museum itu bukan gudang, tempat menyimpan barang-barang bekas yang tidak terpakai. Itu harta karun yang kalau kita bisa menggosoknya, akan menuntun bangsa yang besar ini menang. Mosok dikalahkan dengan nonton film! Tolol sekali!” “Kenapa tidak kamu terangkan itu pada mereka?” “Sudah. Mulut Ami sampai pegel. Ami mengancam keluar dari kepanitiaan, kalau acara ke museum dibatalkan!” “Terus?” “Mereka tidak peduli.” “Jadi kamu keluar?” “Tidak!” “Lho?” “Habis, kalau Ami keluar, Ami takut lama-lama anak-anak diajak ke disko. Jadi Ami terus nongkrongin sambil diam-diam memberikan pengertian kepada anak-anak supaya mereka yang menolak nonton bioskop, karena ke museum itu lebih berguna.” “Terus, anak-anaknya mau?” Ami menarik napas dalam, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. “Anak-anaknya tidak mau?” Ami menghapus air matanya yang menetes. “Kalau anak-anak itu tidak mau, Ami masih bisa menerima. Anak-anak kita memang sudah habis-habisan dicetak menjadi pasar yang maunya hanya membeli dan memakai. Sekarang siapa yang tidak lebih tertarik pada film. Belajar itu dianggap buangbuang waktu, dicap kuno. Untuk apa pintar, kata mereka, kalau yang dapat kedudukan akhirnya yang lihai main curang? Untuk apa cari ijazah kalau ijazah bisa dibeli. Untuk apa ke museum, kalau yang ada di situ hanya barang-barang bekas? Yang membuat Ami sakit hati, anak-anak itu kemudian menulis surat kepada pimpinan supaya Ami dikeluarkan. Katanya Ami sudah ada kerja sama dengan direktur museum. Ami sudah makan suap!” Ami menangis. Bu Amat bangkit, lalu mengurut kepala Ami. “Ami tidak marah meskipun dibilang sudah makan suap, sebab itu dusta. Hanya perasaan Ami yang hancur karena itu menunjukkan bagaimana parahnya kondisi anak-anak kita sekarang!” Bu Amat mengurut kepala Ami, sampai kemudian Ami tertidur karena kelelahan. Hampir saja ia ikut tertidur di samping Ami. Pak Amat datang mencolek, sambil mengerdipkan matanya. Bu Amat pura-pura tidak ngeh. “Kenapa sih anakmu jadi suka ngamuk begitu sekarang, Bu? Namanya juga anak-anak, pastilah lebih senang diajak nonton film daripada pergi ke museum. Museum itu kan sama saja dengan kuburan. Makanya supaya acaranya sukses, aku usulkan pada ketua panitia, jangan ke museum, ngapain lihat barang-barang tua, nonton film saja!” Mata Bu Amat melotot. Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Kekerasan pada Lanjut Usia” Sampaikan opini Anda Minggu 21 Februari 2010 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 12.00 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 420500 dan E-mail Radio On Line: www.globalfmbali.com, E-mail: globalfmbali@yahoo.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 28 Februari 2010

Berpikiran Baik sejak 15 Menit I Bangun Tidur TRI KAYA PARISUDA. Berpikiran baik, berkata baik, berbuat baik. Bagaimana cara menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari? Biasakan diri berperasaan baik, tidak berburuk sangka, biasakan mengucapkan kata-kata baik disertai tindakan nyata terusmenerus. Dengan demikian akan tercipta karakter yang baik. Jika harus marah, marah dengan kata-kata yang baik. Apalagi terhadap anak. Jika berpikiran negatif terhadap orang dan berburuk sangka, auranya akan negatif. Jika auranya negatif, jarang menemukan keberuntungan. Sejak 15 menit pertama bangun tidur, pikirkan yang baik-baik. Berhentilah mengeluh. Masalah pun ada sisi positifnya. Petani jujur, tetapi mengapa tidak bisa kaya? Hidup tenang pun termasuk rezeki. Berpikiran, berkata, dan berbuat baik, jangan mengharap balasan secara instan dari sesama. Demikian pandangan yang karena ia memandang segala berkembang dalam Siaran Inter- hal dengan nilai negatif. aktif Koran Tokoh di Radio GloBimala Rurin Mardewita, bal FM 96,5 Minggu (14/2). Konsultan Kepribadian Topiknya. “Berpikir Baik Menghasilkan Nasib Baik”. Berikut, 15 Menit Pertama petikannya.

Bangun Tidur

Karakter bukan Terjadi karena Takdir Jika seseorang selalu membiasakan diri berperasaan baik, tidak berburuk sangka, dan senantiasa membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang baik disertai tindakan nyata yang baik secara terus-menerus, akan tercipta karakternya yang baik. Karekter terjadi bukan karena takdir. Karakter bisa dibentuk masing-masing pribadi dengan selalu berperasaan baik. Semua manusia punya masalah. Dalam kehidupan ada tantangan yang harus dihadapi. Sebagai insan yang matang dan profesional, tantangan merupakan proses pembelajaran guna meningkatkan martabat masing-masing pribadi. Karakter baik erat kaitannya dengan nasib yang baik. Jika seseorang selalu memandang sesuatu dengan sikap negatif dan berburuk sangka, auranya akan negatif. Orang dengan aura negatif jarang menemukan keberuntungan,

Melakukan hal-hal yang baik tidak sulit. Caranya, berhenti mengeluh. Tiap hari ada banyak hal yang membuat seseorang mengeluh, misalnya “kok gerah sekali”. Keluhan akan memengaruhi seluruh organ. Mengeluh sama saja menyalurkan signal negatif pada seluruh organ. Semua menjadi tidak enjoy. Berpikir positif, perlu. Misalnya, saat cuaca panas, berpikirlah positif bahwa hari ini panas karena musim kemarau. Hari-hari akan menjadi berat jika memikirkan hal-hal yang negatif, padahal hal-hal negatif itu belum terjadi. Mood manusia tergantung pemikiran setelah 15 menit pertama bangun tidur. Jika seseorang bisa menciptakan mood-nya yang baik sejak 15 menit pertama bangun tidur, mood-nya sepanjang hari akan baik. Jika memikirkan hal-hal yang negatif, sepanjang hari hidupnya akan penuh kesialan. Misalnya, seorang staf penjualan, dari pagi sudah ada pemikiran bahwa hari ini tidak bisa

menjual produk. Apa yang dipikirkan bisa benar-benar terjadi. Berbeda jika ia berpikir positif akan mampu menjual produk dan bersemangat, bisa mendapatkan keberuntungan. Jika pikiran baik telah tertanam dari sejak awal bangun tidur, meski gagal, akan timbul prasangka baik bahwa kegagalan adalah sebuah langkah untuk belajar meningkatkan diri. Bersambung ke hlm. 12

Membangun dari Desa 2

KELOMPEN Sipedes (Kelompok Pendengar Siaran Perdesaan) RRI Denpasar telah berfungsi sebagai ajang komunikasi timbal-balik di daerah perdesaan. Siaran perdesaan (sipedes) yang dirintis sejak tahun 1968/1969 itu didengarkan, didiskusikan, dipilah dan dipilih mana yang pesannya dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggal anggota kelompok. Jika dalam forum diskusi ada persoalan yang tidak terpecahkan, ditanyakan kepada pengasuh sipedes yang melibatkan instansi pemerintah yang terkait dengan sektor pertanian. Pertanyaan kelompok pendengar dijawab dan dijelaskan lewat acara sipedes, didengarkan juga anggota kelompok lain yang tersebar di pelosok perdesaan di Bali. Dalam sipedes juga disampaikan berbagai informasi, baik yang terkait keberhasilan petani di daerah lain yang patut dijadikan sumber inspirasi bagi kelompok-kelompok petani, maupun informasi tentang penemuan teknologi baru di sektor pertanian. Sewaktu-waktu tim pengelola sipedes turun ke kelompen sipedes yang sedang mengadakan diskusi, dalam rangka melakukan pembinaan. Juga, dalam rangka penyelenggaraan siaran langsung Dari Desa ke Desa yang dapat didengar komunitas pendengar lainnya. Muncul ungkapan “Radio Masuk Desa, Desa Masuk Radio”. Pola siaran perdesaan berbasis kelompok yang menerapkan komunikasi timbal-balik itu kemudian berkembang seiring berkembangnya media massa lain di Bali. Tanggal 8 Maret 1979 di Denpasar berlangsung Diskusi Pemantapan Koran Masuk Desa (KMD) yang melahirkan “KMD Pola Badung”. KMD Pola Badung ini terdiri atas lima butir. Pertama, KMD jangan gratis, tetapi murah. Kedua, tahap pertama harus ada subsidi. Subsidi diberikan kepada penerbit KMD sehingga dapat menerbitkan KMD tanpa merugi, tetapi dapat menjualnya dengan harga murah. Jadi, pada dasarnya subsisdi tersebut diperuntukkan konsumen/pelanggan KMD. Ketiga, pengelola KMD penerbit koran di daerah (bukan pengelola koran yang terbit di luar daerahnya). Keempat, tahap pertama ditentukan daerah perintis peredaran KMD (bisa desa, kecamatan, atau kabupaten). Kelima, dibentuk tim pembina yang terdiri atas unsur instansi/lembaga terkait dan unsur penerbit KMD. Atas dasar Pola Badung itulah, 20 Mei 1979 terbit “Bali Post Edisi Perdesaan” sebagai cikal-bakalnya KMD di Bali, dan sebulan kemudian terbit “Nusa Tenggara Edisi Perdesaan”. Subsidi disediakan Pemerintah Kabupaten Badung, Daerah perintis pertama ditetapkan Kecamatan Abiansemal yang saat itu terdiri atas 13 desa dan berpenduduk 61.030 jiwa. Terinspirasi oleh Sipedes RRI dengan Kelompen Sipedesnya, timbul gagasan membentuk kelompok-kelompok pembaca KMD di perdesaan. Saat itulah timbul pemikiran tentang perlunya keterpaduan agar tidak terlalu banyak kelompok dan tidak terjadi tumpang tindih. Kelompok pembaca disatukan dengan kelompok pendengar. Menyusul beroperasinya TVRI Denpasar tahun 1978, muncul kelompok pemirsa yang disatukan dengan kelompok pembaca dan pendengar. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Bali yang terpilih 6 Mei 1983 memandang tidak cukup kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa; perlu ada kelompok penulis perdesaan. Agustus 1983 mulai terbentuk 102 KP4 (kelompok pendengar, pembaca, pemirsa, penulis) yakni di 51 kecamatan di Bali, masingmasing 2 KP4, sebagai pionir. Di kalangan masyarakat Bali, KP4 jauh lebih populer daripada sebutan Kelompencapir yang terbentuknya secara nasional didasarkan Pedoman Umum yang baru dikeluarkan Menteri Penerangan 14 Juni 1984. Oleh karena itu, sebagaimana pernah diungkapkan pimpinan proyek KMD Departemen Penerangan Tjuk Atmadi, dalam hal pengelolaan KMD pola baru, Bali disebut sebagai pionir. Setelah Pola Badung diterapkan tahun 1979, setahun kemudian Deppen menerapkan pola subsidi dan pola KMD murah. Tiga KMD di Bali ditetapkan menjadi pelaksana program KMD yang mendapatkan subsidi sejak tahun 1980, yakni Bali Post, Nusa Tenggara, dan Mingguan Karya Bhakti. Lahir ungkapan “Koran Masuk Desa, Desa Masuk Koran”. Fungsi Kelompok Penulis dalam KP4, yang di antaranya dari kalangan guru dan staf kantor desa, (1) sebagai pencatat permasalahan yang timbul dalam diskusi dan pencatat rumusan hasil diskusi; (2) menyebarluaskan rumusan hasil diskusi dan menyalurkan permasalahan yang timbul, melalui media massa atau langsung kepada Bersambung ke hlm. 12 pihak yang berkompeten.

Hentikan Kekerasan pada Lansia SEBAGIAN besar lansia (lanjut usia) wanita yang bertempat tinggal di panti jompo berdasarkan hasil observasi penulis November 2008 - Agustus 2009 memiliki pengalaman kekerasan. Selain miskin, para nenek itu memiliki latar belakang tidak menikah, tidak memiliki saudara lelaki, menikah namun tidak memiliki anak, karena mandul atau karena anaknya meninggal, juga para janda yang ditelantarkan pihak keluarga suami dan anak, dan karena kekerasan domestik lainnya. Para wanita itu tersingkir dan disingkirkan secara halus maupun secara kasar melalui berbagai ragam bentuk kekerasan karena ‘ketidaksempurnaan’ mereka sebagai wanita. Perempuan Bali yang menikah sering diperlakukan sebagai pengungsi di rumah keluarga suaminya atau keluarga batihnya. Ketika seorang wanita menjadi janda, mereka sangat sulit untuk kembali ke keluarga asalnya karena berbagai hal, seperti

perlakuan adat dan persoalan waris. Bahkan ada jenazah yang nasibnya terkatung-katung tidak dapat dikubur atau dikremasikan karena larangan adat. Citraan janda atau rangda dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan jahat sebagaimana mitos sering digambarkan dalam Calon Arang. Wanita yang tidak menikah (daha tua) sering dicemaskan anggota keluarganya yang lainnya bahwa suatu saat wanita itu akan menjadi beban keluarga. Dengan demikian, panti jompo menjadi pernaungan, rumah alternatif, bagi kaum wanita miskin dan telantar. Fakta kekerasan terhadap lansia dan juga kaum wanita Bali memang tidak bisa digeneralisasiksn sebagai realitas “Bali”. Namun, fenomena kekerasan domestik dan sosial, diskriminasi, isolasi, dan penelantaran yang menggejala di masyarakat jelas bertentangan dengan pengembangan semangat religiusitas dan normanorma dalam teks keagamaan. Misalnya, orangtua saat hidup atau meninggal harus diperlakukan secara hormat.

Gayatri Mantra

Menawa Dharma Sastra (Wiana, 2006:17) telah mengatur cara penghormatan terhadap orangtua dan leluhur. Selama orangtua masih hidup, mereka harus dihormati dan dilayani. Namun, jika mereka meninggal, penyelenggaraan upacara pitra yadnya dilakukan dengan melakukan penguburan jenazah hingga pengabenan (kremasi). Teks Niti Çastra (sargah: 1 dan 5) berbunyi: Kewajiban (sikap atau tingkah laku dan perbuatan) seorang anak patut

menaati orangtua dengan memedomani guna baiknya, sebab bukanlah hal itu yang menjadi kewajiban seorang anak yang benar-benar sadar pemeliharaan orangtua terhadap dirinya. Oleh karena itu, seorang anak yang menghendaki hidup utama, patut berlogika dalam mengusahakan kesejahteraan orangtua/keluarga. Sebab, yang menjadi kewajiban anak yang baik, ialah anak yang disebut sadhu gunawan, yakni anak yang memberikan cerahnya keluarga. Ayat 228 Sarasamuscaya menyebutkan: “Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan, serta untuk menolong kerabat yang tertimpa kesengsaraan; segala hasil usaha ditujukan untuk disedekahkan, memasak dan menyediakan makanan untuk orangorang miskin, orang demikian putra sejati namanya”. Di Bali, jumlah lansia yang menjadi warga panti jompo sekitar 130 orang. Dibandingkan 3,5 juta penduduk Bali, memang tergolong kecil. Namun, kekerasan terhadap wanita khususnya lansia menunjukkan

fenomena, adanya jarak sosial dan diskriminasi yang senyatanya memang ada. Kekerasan itu merefleksikan bagaimana lelaki Bali selama ini memperlakukan wanita di rumah-rumah mereka secara buruk hanya karena ia seorang janda, orang mandul, perawan tua, dan nenek tua yang buruk rupa. Dalam sistem patrilinial di Bali, yang kekuasaan lelaki menjadi dominan, diharapkan kesadaran kaum lelaki untuk mengembangkan kesadaran dan nilai kemanusiaannya serta tidak diskriminatif. Campur tangan peran pemuka adat diperlukan agar kekerasan dalam domain lingkungan mereka dapat dimediasikan, diselesaikan, tanpa penyingkiran dan penelantaran. Hentikan kekerasan pada lansia! z Gayatri Mantra Dosen Akpar Mataram, Anggota Forum Komunikasi Perempuan Mitra Kasih Bali, Mahasiswa S-3 Kajian Budaya Unud

zPemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko zWakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Roso Daras zPemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Lilik, Wirati, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek zRedaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati, M. Nur Hakim zNTB: Naniek Dwi Surahmi zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman zSekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, K.E. Fitrianty, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021)5357602 -Faksimile (021)5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370)639543–Faksimile (0370)628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 2223 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031)5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


Kiprah Wanita

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 3

22 Tahun Usia WHDI

Perlu Lakukan Rekonstruksi Pemikiran

Ny. Ayu Pastika

K

egiatan WHDI ter sebut harus ber pegangan pada norma agama dan tatanan nilai budaya kearifan lokal, disertai pemahaman sastra agama, pikiran jernih, dan hati nurani yang damai. “Nilai agama seperti keindahan, kecintaan dan kasih sayang, kebenaran, dan keadilan, menduduki tempat terpenting dalam struktur nilai. Sedangkan nilai intelektual seperi kepandaian, nilai biologis seperti kesehatan dan vitalitas fisik, serta nilai material seperti kekayaan, menduduki tempat di bawah-

tkh/ard

PERBEDAAN itu indah. Tetapi, jika tidak dikelola dengan tepat, perbedaan bisa berpotensi konflik. Demikian garis merah yang bisa ditarik dari acara Dengar Pendapat Pluralisme di Studio Ramayana RRI Denpasar, Rabu (17/2). Acara yang disiarkan langsung RRI tersebut, diselenggarakan LSM Bali Sruti, Kapal Perempuan, dan Pokja Bali Bhineka Shanti, yang ketiganya dimotori tokoh perempuan, dihadiri para pemangku kebijakan dan undangan lainnya. Dengar pendapat membahas hasil penerapan kartu penilaian pluralisme berbasis komunitas di Kelurahan Sesetan dan Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan (baca juga Koran Tokoh Edisi 579 Minggu 14/2, halaman 3). Berkonflik mungkin ada manfaatnya, terutama jika berlangsung dengan musuh bangsa dan negara. Namun, konflik antarwarga sendiri, apalagi telah mencuat dalam wujud tindak kekerasan dan sikap arogan, tentu sesuatu yang tidak produktif. Salah satu sumber konflik di Bali, terkait masalah kependudukan. Tanpa penanganan masalah mendasar ini secara komprehensif, tepat, dan cepat, tetap akan muncul konflik, bahkan cenderung meluas, menjadi kekuatan laten yang sewaktu-waktu meledak bagaikan bom! Sebab, kebutuhan dan ketersediaan dalam kondisi yang akan kian tidak seimbang. Tidak efektif jika konflik antarkomunitas/banjar/desa adat, konflik perbatasan wilayah, konflik yang bersumber dari distribusi air yang kian langka, misalnya, ditangani secara tambalsulam dan kulit luarnya saja. Masalah kependudukan meliputi tiga butir, pertambahan, migrasi, dan administrasi. Tanpa kebijakan yang dapat mengendalikan jumlah kelahiran yang berdimensi masa depan dan mengacu kepentingan nasional, jangan berharap Bali bersih dari ancaman konflik. Migrasi penduduk, bukan hanya datang dari luar Bali, juga dari kabupaten/kota ke kabupaten/kota lainnya. Tuan rumah yang kedatangan tamu itu tak semuanya mencatat dan melaporkannya. Kipem (kartu identitas penduduk musiman) yang seharusnya diperbarui tiga bulan sekali, tidak selalu ditepati. Walaupun terlambat setahun, tidak apa-apa, tetap dilayani pepanjangannya. Maka, tidak berlebihan jika Bali disebut ’sorganya pendatang’, berkat kelonggarannya itu. Dalam kondisi pencatatan dan pelaporan kependudukan kacau-balau, migrasi tak terkontrol apalagi terkendalikan, mustahil Bali luput dari ancaman konflik. Sudah ada kemajuan dalam pencegahan dan penanganan konflik. Permasalahannya bukan hanya ditempatkan sebagai problem sosial-ekonomi, tetapi juga problem sosial-budaya. Konflik kecil-kecilan yang sempat terjadi bukan hanya disebabkan faktor ekonomi, tetapi juga terkait faktor budaya dan agama. Maka, sangat relevan terbentuknya forum kerukunan umat bergama, badan komunikasi pembauran bangsa, atau forum komunikasi etnis Nusantara. Seberapa jauh gema kegiatan mereka? Sebagian besar masyarakat perdesaan belum tersentuh. Jangankan di pelosok desa, di Kelurahan Serangan dan Kelurahan Sesetan, yang berada di perkotaan, masih dijumpai potensi konflik yang memerlukan pencegahan dan penanganan. Misalnya, di banyak desa hingga sekarang masih sering timbul ketidakpastian tentang persyaratan membangun tempat beribadah. Zamannya Gubernur Oka, konon ada kebijakan yang mempersyaratkan harus didukung minimal 40 KK di lingkungannya. Benarkah angka itu sekarang membengkak menjadi sekitar 100 KK? Apa pula yang disebut “lingkungan”, terkait banjar atau tempat permukiman? Pemahamannya berwarna-warni, belum ada kesatubahasaan. Para pemangku kebijakan perlu turun gunung (atau naik gunung) agar kondisi semacam itu tidak sampai berkembang menjadi potensi konflik. Menurut paparan tiga LSM dalam acara dengar pendapat tersebut, di Kalimantan Tengah, Gorontalo, dan di Bali, proses penguatan identitas sudah masuk ke ranah publik. Ada kecenderungan lahirnya kebijakan-kebijakan antipluralis dan antiperempuan berbasis nilai adat dan keagamaan yang makin meningkat. Di Sesetan, berdasarkan hasil penilaian November 2008, politik identitas berdampak meminggirkan dan/atau mendiskriminasikan perempuan, kelompok pendatang, dan orang miskin. Mereka sulit mendapatkan kipem dan pada gilirannya sulit membuat KTP karena KTP baru bisa dibuat setelah mendapatkan kipem tiga kali. Hal itu ditambah tingginya biaya pembuatan KTP. Ada yang harus membayar sekitar Rp 1,5 juta, bahkan menurut paparan itu, ada yang mengharuskan pendatang membeli tanah 1 are sebagai syarat mendapatkan KTP Bali. Pemberlakuan syarat-syarat sepetri itu semata-mata untuk menguji apakah pendatang merupakan warga yang baik atau tidak di Bali. Pengurusan KTP diperketat sejak pascatragedi bom demi keamanan. Hal itu bisa dipahami, namun persyaratan itu dirasakan berat karena mereka juga warga miskin. Mereka mengakui sulit untuk mengatakan secara terbuka tentang situasi ini, lebih memilih diam. Di Kelurahan Serangan (hasil penilaian Februari 2010), meskipun terjadi pembauran sosial, tetap dirasakan ada jarak sosial. Penyebabnya berasal dari adanya pengelompokan tempat tinggal dan awig-awig serta aturan yang melegitimasikan terjadinya pengelompokan tersebut. Misalnya, salah satu aturan di Kampung Bugis, jika seseorang menikah dengan nonmuslim orang tersebut harus keluar dari Kampung Bugis. Paparan tersebut antara lain menyimpulkan, di Sesetan maupun di Serangan ada pola sama, yakni penguatan politik identitas. Yang terjadi di dua kelurahan itu kiranya bisa dijadikan gambaran untuk mengkaji apakah ada potensi konflik yang tersembunyi di Bali. z WIDMINARKO

memasuki kehidupan global dan era teknologi yang diwarnai kemajemukan latar belakang dan nilai keagamanaan. Ketua Panitia Desak Nyoman Asrihati mengungkapkan peringatan ulang tahun kali ini dapat dikatakan istimewa sebab dilangsungkan serentak secara nasional setelah semua pihak menyepakati tonggak sejarah WHDI yakni kelahiran WHDI 12 Februari 1988. Di Bali peringatan ditandai berbagai kegiatan antara lain penanaman 1.000 pohon di Dusun Bunga, Ban,

I G.A. Suhaeni Pindha

Ny. I G.A. Alit Sumantri

Ceramah pencerahan dalam Kubu, Karangasem, disertai penyampaian pencerahan agama perayaan tersebut disampaikan dan bingkisan pada penduduk Sabha Walaka PHDI Pusat I setempat. Juga, dilakukan Ketut Wiana. –ard.

Sebagian anggota WHDI Provinsi Bali dan Penghuni Panti Sosial Tresna Werdaka

tkh/ard

Sejarah Lahirnya WHDI SETELAH melewati waktu panjang, dalam suatu forum Rapat Kerja Nasional, akhirnya disepakati, kelahiran organisasi WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) secara nasional, ditetapkan 12 Februari 1988. Demikian diungkapkan Wakil Ketua HUT ke-22 WHDI tingkat Provinsi Bali Ida Ayu Ratna Wesnawati. Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra ini mengungkapkan, umat Hindu Indonesia sejak lebih dari 30 tahun yang lalu mendambakan wadah atau organisasi yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Organisasi tersebut dimaksudkan untuk menampung aspirasi dan kreativitas wanita Hindu. Kegiatan wanita Hindu ketika itu lebih pada menyiapkan berbagai upacara keagamaan, pendidikan anak, dan pembinaan keluarga berdasarkan dharma. Untuk merealisasikan keinginan tersebut secara sporadis di daerah-daerah terbentuk organisasi yang bersifat lokal. Misalnya, di Jakarta tahun 1979 terbentuk Persatuan Wanita Suka-Duka Hindu Dharma DKI Jakarta Raya diketuai Ny. Cokorda Raka Sukawati yang kemudian dilanjutkan Ny. I G.A..Arinton Pudja. Di Nusa Tenggara Barat tahun 1987 terbentuk Perhimpunan Wanita Hindu Dharma Indonesia (Purwahadi) diketuai Ny. Diah Tantri Dangin. Di Jawa Timur 16 Juni 1989 terbentuk Wanita Hindu Dharma Indonesia, diketuai Dra. Sukarni Dana. Di daerah lain pun muncul kegairahan kegiatan

tkh/ard

Potensi Konflik di Bali

nya. Fungsinya mendukung dan menegakkan nilai agama selaku intinya,” ujar Ny. Ayu Pastika. Pembina WHDI Bali tersebut mengharapkan lewat kegiatannya WHDI mampu berperan bagi terwujudnya suasana sejuk, damai, rukun, dan tenteram, serta mampu memunculkan pemikiran cerdas untuk dijadikan dasar dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perayaan ulang tahun kali ini berema tkh/ard “Melalui HUT ke-22 WHDI Kita Wujudkan Penguatan Budaya Kearifan Lokal Dalam Rangka Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Ketua WHDI Bali I G.A. Putu Sulasmi Rai menyatakan, tema tersebut menyiratkan kesadaran WHDI bahwa pola asuh keluarga Hindu yang dijiwai karakter budaya lokal terbukti memiliki keunggulan komperatif sehingga patut dikembangkan sebagai pembentuk jati diri dan karakter generasi muda. Kesadaran tersebut diperlukan dalam kerangka membangun kualitas dan kedewasaan demi menyiapkan kemampuan daya saing

tkh/ard

Suasana Dengar Pendapat Pluralisme di RRI Rabu (17/2)

WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) perlu melakukan rekonstruksi pemikiran menghadapi masa depan bangsa yang penuh tantangan. Tetapkan program kegiatan yang terfokus pula pada pendidikan dan pembinaan generasi muda agar menjadi generasi yang lebih baik dan lebih berkualitas daripada generasi sekarang. Demikian ditegaskan Ny. Ayu Pastika dalam perayaan ulang tahun ke22 WHDI di aula Gedung Yayasan Dwijendra Denpasar, Jumat (12/2).

kunjungan ke Panti Sosial Tresna Werdaka, di Jalan Gemitik, Denpasar, bertatap muka dengan 47 lanjut usia dan memberikan bingkisan. Sesepuh WHDI, I G.A. Suhaeni Pindha, yang hadir dalam perayaan tersebut mengungkapkan suasananya sekarang berbeda dengan dulu. “Dulu sulit wanita-wanita bisa berkumpul dalam wadah organisasi. Kini keberadaan WHDI sudah lebih maju dan ada di seluruh wilayah RI. Namun, tetap diperlukan instrospeksi diri dan senantiasa ingat pada Yang Kuasa,” pesan Ketua Umum pertama Pengurus Pusat WHDI ini.. Sementara itu Ketua WHDI Bai pertama Ny. I G.A. Alit Sumantri menuturkan, kini lebih mudah mencari wanita untuk duduk dalam pengurus dibandingkan dulu. “Keberadaan WHDI harus terus disosialisasikan. Jaga persatuan dan ketulusan dalam berbakti,” ujarnya.

I A. Ratna Wesnawati

dan kehidupan berorganisasi di kalangan wanita Hindu. I A. Ratna Wesnawati mengungkapkan dalam Mahasabha V PHDI yang diselenggarakan di Bali tahun 1986, salah satu keputusannya tersurat imbauan agar dibentuk Organisasi Wanita Hindu Dharma di seluruh Indonesia. Atas bantuan para fungsionaris PHDI Pusat yang ketika itu masih berkedudukan di Denpasar, tokoh-tokoh wanita Hindu membentuk WHDI. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

I G.A. Putu Sulasmi Rai

disahkan dan ditandatangi Ketua Umum WHDI Pusat Ny. I Gusti Ngurah Pindha dan Sekretaris Umum Ny. I G. K Adia Wiratmaja, 12 Februrai 1988. Setelah itu Pengurus Pusat WHDI menyurati eksponen wanita dan PHDI di seluruh provinsi untuk membentuk pengurus daerah. Tahun 1990 Pengurus Daerah WHDI Bali terbentuk, disusul pembentukan pengurus WHDI di 9 Kabupaten/Kota di Bali dalam kurun waktu Mei 1991 hingga Maret 1993.

“Di daerah lain pun

muncul kegairahan kegiatan dan kehidupan berorganisasi di kalangan wanita Hindu”

Desak Nyoman Asrihati

Setelah wacana pemindahan kedudukan Pengurus Pusat PHDI dari Denpasar ke Jakarta menguat, fungsionaris Pengurus Pusat periode pertama merasa tidak mungkin pidah domisili. Maka, sempat terjadi kevakuman dalam tubuh Pengurus Pusat. Mahasabha VII PHDI dalam keputusan tentang program kerja, mendesak PHDI Pusat mendorong terbentuknya Pengurus Pusat WHDI yang baru. Prakarsa datang dari civitas akademika STAH Dharma Nusantara Jakarta, yang melalui momen peringatan Hari Kartini tahun 2000 membentuk Pengurus Daerah WHDI Jakarta. Berikutnya WHDI Jakarta mengakomodir aspirasi WHDI Provinsi lantas mengadakan Munas I 15 -17 Sepetember 2001 di Padepokan Pencak Silat TMII. Terpilih Pengurus Pusat masa bakti 2001-2006, dengan Ketua Umum Ny. Sutiti Putera Astaman dan Sekretaris Umum Dra. K. Suratmini, M.B.A. Oktober 2006 berlangsung Munas II WHDI di Anjungan

Bali TMII Jakarta. Terpilih pengurus masa bakti 2006 2011 dengan Ketua Umum Ny. Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwiama dan Sekeretaris Umum Ny.Wikanthi Yogie,S.Ag. WDHI dalam kepengurusan ini melanjutkan usaha melengkapi legalitas organisasi sebagai organisasi kemasyarakatan wanita yang legal dan diakui. Tanggal 4 April 2007 Pengurus Pusat mendaftarkan organsisasi WHDI ke Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. Pendaftaran diterima setelah dilakukan verifikasi 18 April 2007. Pada hari yang sama Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga WHDI dikukuhkan melalui akta notaris Ni Nyoman Rai Sumawati, S.H. dan didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM. Tanggal 20 April 2007, WHDI secara resmi diterima sebagai anggota penuh ke-80 Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tanggal 15 s.d. 17 Mei 2009 dilaksanakan Rapat Kerja Nasional WHDI di Bali. Salah satu agenda pokoknya menetapkan akte lahir dan sejarah berdirinya WHDI Indonesia. “Dari berbagai sumber, data, dan informasi yang diperoleh, forum Rakernas memperoleh kesimpulan berdasar permusyawaratan yang sah dalam organisasi, disepakati WHDI lahir 12 Februari 1988,” ujar Dayu Ratna saat memaparkan sejarah WHDI di depan para undangan di Aula Gedung Yayasan Dwijendra Pusat, Denpasar, Jumat (12/2) - ard


4

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Pasar Bebas

Jejaring Bisnis Kelemahan Kita “PERSAINGAN dapat memotivasi diri lebih maju. Peran lembaga pendidikan belum menjadi pilar yang kuat bagi masyarakat untuk menerima tantangan yang ada,” jelas A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda.

M

enghadapi A C F T A , masyarakat Bali harus meniru bisnis masyarakat Cina. Mereka memiliki etos kerja tinggi. Mereka pun pandai memanfaatkan peluang pasar bisnis. Aturan yang sudah ada dan perjanjian yang telanjur ditandatangani tak dapat dihapuskan. Gung Tini, sapaan akrab Ketua BKOW Bali ini, menilai, pasar bebas akan berlaku bertahap. Motivasi diri menjadi pribadi yang lebih

maju penting dalam persaingan. “Rasa jengah perlu diperkuat. Ini demi lahirnya pelaku usaha yang punya motivasi dan kreativitas tinggi,” kata Gung Tini. ACFTA tak seharusnya disikapi dengan ketakutan. “Indonesia memiliki sumber daya alam yang berbeda dan unik dibandingkan negara lainnya,” tambah Gung Tini. Kelemahan yang selama ini dimiliki sebagian masyarakat Bali, yaitu jejaring bisnis. “Ketika ada tetangganya

Gung Tini Gorda

mampu, yang lain tak mendukung. Ini kelemahan masyarakat Bali. Coba tiru metode orang Cina,” ujar sekretaris Iwapi Bali ini. Contoh, orang Cina yang membuka usaha rumah makan. Mereka yang diundang dalam

acara pembukaan rumah makan adalah sahabat dan tetangga. “Meski mereka datang bukan untuk belanja, tetapi dampaknya besar. Parkir kendaraan otomatis penuh dan orang yang melintas di depan warung makan akan bertanya, ada apa ya? Keesokan harinya orang lain pasti ingin mencoba,” tutur istri tokoh Puri Karangasem A.A. Ngurah Agung ini. Peran lembaga pendidikan menanamkan jiwa enterpreuner menurut Gung Tini perlu ditingkatkan. Jiwa kewirausahaan mendorong seseorang mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan. “Jika ini ditatamkan sejak dini oleh lembaga pendidikan bekerja sama dengan pemerintah, akan menjadi pilar yang kuat bagi individu-individu untuk maju,” ujarnya. —put

Perketat Aturan Masuk BANYAKNYA pelaku usaha yang digerakkan orang asing di Bali diakui praktisis hukum I G.A. Seri Lestari, S.H., M.Kn. “Sebagai pelayan hukum, saya tak bisa menolak permintaan pembuatan akta karena mereka memiliki perusahaan berbadan hukum,” ujar notaris/Pejabat Pembuat Akta Tanah ini. Usaha orang asing tersebut PT berupa PMA atau PT lokal untuk bisa melakukan usaha di Bali. “Secara payung hukum mereka memiliki hak melakukan itu, baik melalui PT lokal yang mensponsori orang asing itu bekerja atau langsung melalui PMA, atau langsung menggunakan pasangan kawinnya, istri/suami yang memiliki KTP

Indonesia,” ujarnya. Karenanya, Sri Lestari menegaskan memang harus ada sinergi dari instansi terkait agar ada penguatan di sektor industri domestik untuk bisa dilakukan dengan cepat dan optimal. Misalnya, melalui pemberian kredit murah. Ia mengusulkan agar sektorsektor yang bisa diproduksi di dalam negeri, aturan masuknya lebih diperketat. Ini dikatakannya sebagai salah satu upaya membantu industri domestik. Terkait hak kekayaan atas intelektual, Seri Lestari mengatakan, perlu lebih disosialisasikan lagi. Jika memungkinkan, hal ini tak hanya memberikan perlindungan lebih pada

produk-produk inovasi, juga memberikan keuntungan lebih bagi pengusahanya, seperti diwaralabakan. Terkait perizinan, ia menyoroti BPN dengan salah satu program sistem jemput bola memberikan pelayanan gratis sampai ke pelosok daerah. Menurutnya, instansi pengelola perizinan bisa mencontoh program ini, memberikan pelayanan izin gratis yang dilemparkan ke masyarakat sebagai stimulus agar masyarakat lebih terpacu mengantongi surat izin. Pemberlakuan AFCTA menurutnya tak perlu dikhawatirkan karena Indonesia khususnya Bali memiliki karakteristik tersendiri yang tak bisa ditiru

Dr. Tirka Widanti

sudah berpuluh-puluh tahun. “Jadi, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Adanya ACFTA justru menjadi tantangan bagi kita,” ujarnya. Pertimbangan konsumen dalam memilih produk tak hanya didasarkan harga murah. Ada beberapa faktor yang ikut memengaruhi sikap konsumen memilih produk tersebut. Pro-

Sri Lestari, S.H., M.Kn.

Cina. Yang diperlukan saat ini peningkatan kualitas SDM, pemahaman teknologi, penciptaan dan perluasan lapangan kerja. —ten

duk Bali dinilai memiliki ciri khas yang ada di daerah lain. Itu seperti apa yang dilakoni perusahaan yang dipimpinnya, Karya Tangan Indah (KTI). Perusahaan perak ini menggugah konsumennya untuk menetapkan pilihan pada produk mereka dikarenakan mutu produk, bukan hanya harga. —ten

LALA STUDIO DETOX CENTER

Sehat dengan Detox Kempiskan Perut Buncit

Grace Tangkudung

GAYA hidup instan membuat orang tak mudah sehat. Racun yang masuk dalam tubuh melalui makanan siap saji alias instan mengancam kesehatan. Namun, Lala Studio Detox Center siap mengatasinya melalui program detoxifikasi. Saat ini ada kemudahan orang mengonsumsi beragam jenis makanan siap

saji alias instan. Padahal, kandungan menu instan ini bukan tak mengandung zat pewarna maupun pengawet berbahaya, lemak berlebihan, dan jenis kandungan zat kimia lainnya. Jika masuk dalam tubuh otomatis zat kimia ini telah meracuni tubuh kita. Memang olahraga rutin dapat menjadi terapi hidup sehat. Menurut pemilik sekaligus penggiat Lala Studio Detox Center Adolfina Grace Tangkudung, selama 33 tahun dirinya berjibaku dengan dunia olahraga senam. Ini terbukti membuat jiwa dan raganya sehat. Tetapi, saat per tamakali ingin mencoba menjalani terapi detox ternyata kondisinya makin oke. “Saya menjalani detox pertamakali Juli 2006. Ternyata ketahuan banyak racun dalam tubuh saya. Setelah itu, saya merasakan hasil luar biasa. Berat badan turun, stamina makin fit, tubuh terasa lebih ringan dan nyaman saat

beraktivitas,” ujarnya. Program detoksifikasi merupakan layanan pelangsingan tubuh. Layanan ini tanpa suntikan medis, tanpa sentuhan fisik, bahkan tanpa alat bantu listrik. “Inilah proses pengeluaran toksin atau racun dan sisa-sisa kotoran yang menempel di dinding usus. Racun dan sisa kotoran ini tertimbun menahun seumur tiap individunya,” katanya. Program detoksifikasi telah terbukti menyembuhkan hipertensi, kolesterol, diabetes, asam urat, obesitas, alergi, asma, mirain, susah tidur, dan sembelit. Ini dikarenakan sistem kerja detoksifikasi berfusngsi membersihkan, menyeimbangkan, dan memulihkan kondisi kesehatan. “Racun akhirnya keluar dari tubuh, perut buncit bisa dikempiskan, kita jadi sehat,” jelas pemegang sertifikat instruktur “Gaya Hidup Sehat” dari Depkes RI tahun 2005 ini. Menurut perempuan pe-

nerima Penghargaan Peniti Emas Menteri Pemberdayaan Perempuan RI Tahun 2005 ini, proses detoksifikasi mengeluarkan racun dan kotoran berbentuk usus. Namun, anehnya, racun dan kotoran tersebut tak berbau. Sementara racun pun akan keluar melalui kentut, air seni, dan feses. Menurutnya, hasil maksimal dapat dicapai jika tiga hari sebelum menjalani detox klien cukup mengonsumsi makanan lembut, seperti bubur atau sup. Juga, dia menganjurkan agar klien mengurangi makanan berprotein, seperti daging, gula, garam, makanan berminyak. Sebaliknya, persentase konsumsi sayur dan buah sebaiknya 70% kenyang. “Saat hari kedua persentase makan cukup 50%, lalu hari ketiganya makan kenyang dengan persentase cukup 30%,” kata perempuan tangguh yang dijuluki ibarat “ The Iron Lady” ini. —adv

Segera Hubungi Lala Studio Health and Weight Management Program Jalan Tukad Batanghari 47 Denpasar Telepon 0361-8555606 atau 08123843259 Racun dan kotoran berbentuk usus yang keluar dari tubuh setelah menjalani program detoksifikasi

impor. “Produk yang mutunya bagus justru dikirim sebagai barang ekspor. Ini otomatis membuat citra produk bisnis di mata konsumen dalam negeri menjadi negatif,” jelasnya. Risikonya, mutu produk bisnis impor yang bagus disertai harga terjangkau kantong konsumen Nusantara menjadi incaran. Ini lantaran produsen asing bukan hanya menjaga mutu produknya, tetapi mereka pun berani menjual dengan harga lebih rendah. “Kenyataan in tak bisa dimungkiri lho… konsumen kita kan cenderung lebih senang dengan produk luar negeri,” katanya. Imbauan berbagai kalangan untuk mendorong gerakan moril mencintai produk dalam negeri dinilai bagus sebagai cermin penguatan roh nasionalisme. Namun, imbauan itu menjadi tak berarti apa-apa jika konsumen berhadapan dengan kualitas produk usaha kita yang umumnya masih kalah dibandingkan barang asing. “Kampanye mencintai produk dalam negeri seharusnya diikuti perbaikan kualitas produk dan standardisasi harga pasar,” pintanya. Pasar produk dalam negeri memang bukan tidak mungkin digarap produsen kita. Ini diakui Ida Ayu Ngurah Ratnayani, S.H., M.H. Perempuan Bali yang berdomisi di Pekanbaru, Riau, ini meyakinkan, sebenarnya ada

peluang pasar yang terbuka terutama bagi produk kerajinan Bali di wilayah Riau. “Produk kerajinan tardisional Bali tak ada yang dijual di Riau. Saya tidak tahu mengapa, padahal prospek pasarnya bukan tidak ada,” ujar panitera muda pidana di Pengadilan Tinggi Pekanbaru ini. Menurut Dayu Yuni, panggilan akrab istri advokat senior Riau Nofriandi, S.H., M.H., ini, produk impor memang lebih diminati masyarakat Riau. Ini bukan hanya karena kualitasnya bagus, tetapi harganya pun murah. “Jika orang Riau mau belanja lebih gampang terbang ke Singapura atau Malaysia. Harga tiketnya kan murah ketimbang ke Jakarta atau ke Bali,” ungkapnya. Namun, ia meyakinkan, produk kerajinan tradisional Bali amat terbuka memasuk pasar konsumen di Riau. “Ini peluang bagus untuk menggarap pasar konsumen di Riau,” katanya. Prof Sri Darma menambahkan, problem serius di balik itu semua, menurutnya, berkaitan dengan sikap manja pelaku usaha. Era perdagangan bebas dianggap seperti momok menakutkan. “Padahal, era perdagangan bebas sudah digulirkan sejak lama, jauh sebelum ASEAN dan Cina meneken kesepakatan,” ungkapnya. Sebagai kilas balik, Prof. Sri Darma, menunjukkan momentum Putaran Uruguay tahun 1994. Ini

cikal bakal berembusnya angin globalisasi ekonomi yang tak terbendung. “Para pemikir ekonomi Eropa saat itu mulai menyadarkan dunia usaha di muka bumi agar mulai memperbaiki mutu produk bisnis agar bisa bedaya saing tinggi kelak di pasar bebas,” katanya. Nota kesepahaman yang diteken 178 kepala negara di Bogor tahun 1995 semasa Pak Harto berkuasa menjadi kelanjutan agenda Putaran Uruguay. Isi kesepakatannya menegaskan mereka setuju melepas bola perdagangan bebas 25 tahun ke depan. Inilah yang dikawal agenda World Trade Organization (WTO). “Jika dihitung kurun waktunya memang era pasar bebas dunia baru akan bergulir tahun 2020,” lanjutnya. Namun, usai pertemuan Bogor ternyata ada agenda baru di tingkat pemimpin ASEAN. Mereka menggagas lahirnya ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) tahun 2003. Inilah momentum peringatan dini bagi kalangan dunia usaha di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia. Mereka didorong agar mulai siap-siap menyambut era pasar bebas tersebut. “Thailand ternyata menjadi negara paling siap menyambut pasar bebas usai itu. Akhirnya ada revisi pasar bebas ASEAN mulai digelindingkan tahun 2010. Ini makin konkret lagi dengan lahirnya ACFTA,” katanya. —sam

Tahu Jodoh...............................................................................................................dari halaman 1

Pertimbangan Konsumen tak hanya Murah DI MANA ada tantangan, di situ ada peluang. Ungkapan ini dikutip pengamat sosial ekonomi Dr. Tirka Widanti menyikapi pemberlakuan AFCTA. Tantangan ini dikatakannya sebagai peluang yang luar biasa. Ia mengingatkan, produk industri Cina ini bukan baru kemarin masuk ke Indonesia, tetapi

Garap Potensi.......................................................................................................dari halaman 1

dipanggang beramai-ramai di salah satu sudut pantai. “Saya dan teman diajak makan ikan ya…kami tak menolak ajakan tersebut. Saat itu Rai dan teman-temannya menyuguhkan juga arak Bali yang dicampur soft drink. Saya sempat menyicipinya,” kisahnya. Saat itu, secara kebetulan Akiko duduk bersebelahan dengan Rai. Keduanya terlibat saling tukar cerita ringan. Rai bercerita tentang kehidupan keluarganya di Banjar Tabola, Desa Telaga Tawang, Sidemen. “Saya juga cerita kehidupan keluarga di Jepang,” ungkap Akiko. Jarum jam terus berputar. Waktu tak terasa sudah larut malam. Akiko dan temannya pamit menuju ke sebuah homestay tempat menginapnya yang berada tak jauh dari pantai itu. “Kami kemudian berpisah malam itu,” tuturnya. Esok dan hari-hari berikutnya Akiko dan Rai mulai sering bertemu. Ada perasaan cinta di dada masing-masing. Akiko akhirnya mengungkapkan perasaannya itu kepada Rai. Isi hati Akiko ternyata tak bertepuk sebelah tangan. “Saya juga merasakan debaran hati yang sama,” tutur Rai. Akiko sudah sepekan berkenalan dengan pria Bali ini. Jadwal kepulangannya ke Jepang sudah tiba. “Saat mau meninggalkan saya berpesan agar Rai menjaga diri baik-baik. Saya juga berjanji akan datang lagi menemuinya di Bali,” kata Akiko. Tiba di negaranya, Akiko kembali sibuk mencari pekerjaan baru. Kebetulan ia memiliki keterampilan menggambar karikatur. Akiko pun secara autodidak menekuni dunia tulis-menulis dan fotografi. “Saat itu saya membantu seorang teman menerbitkan majalah dalam bahasa Jepang. Saya mengerjakan karikatur, juga menjadi penyunting dan fotografernya,” katanya.

Penghasilannya lumayan. Kantongnya makin tebal gara-gara Akiko pun kreatif membuat desain properti. Ini pun hasil belajar autodidaknya. Tetapi, pekerjaan mendesain arsitektur properti ini dilakukan secara freelance. “Rancangan desain itu saya tawarkan ke berbagai perusahaan properti. Tetapi, rancangan desain tersebut hanya untuk jenis bangunan sederhana,” katanya. Ada perasaan rindu bertemu Rai selama Akiko berada di Jepang. Rasa kangen ini hanya dapat ditebus melalui surat-menyurat dan telepon. Sekali waktu Akiko menitipkan pesan khusus kepada satu dua temannya yang hendak pelesir ke Bali. “Saya berpesan kalau tiba di Bali jangan lupa mampir ke Pantai Sanur. Saya minta teman tersebut lihatlihat pacar saya di sana,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Hubungan khusus dengan Rai pun tak tahan disimpan sendiri di batinnya. Akiko mencoba memberanikan diri mengisahkan kepada ibunya. Ia mengaku telah menemukan seorang pria pujaan hati di Bali. “Wah…ibu saya terkejut. Ibu tak menyangka saya sungguh telah jatuh cinta pada orang asing. Walau sebenarnya ibu saya sudah merasakan suatu saat anaknya akan bertempat tinggal jauh dari dirinya di Jepang,” ungkap Akiko. Ibunya memang memiliki keistimewaan. Ada semacam kemampuan supranatural yang melekat dalam diri ibunya. Kemampuan ini ditunjukkan ibu yang mengaku telah memiliki bayangan ini semasa Akiko bocah. Saat dewasa anak sulungnya ini akan bertempat tinggal di sebuah tempat di seberang lautan. Bakat istimewa ibunya itu bisa jadi turun ke diri Akiko. Buktinya, semasa bocah pun Akiko kerap bermimpi berada di tepi sebuah danau. Mimpinya ini melukiskan saat itu Akiko sedang

berjalan-jalan dengan seorang lelaki berkulit gelap. Ciri-ciri fisik pria ini tak menggambarkan warna kulit lelaki Jepang umumnya. “Jika ingat mimpi ini, saya sadar, mungkin itu pertanda saya akan menikah dengan Rai ya…” ujarnya. Dasar sudah jodoh dengan Rai, sikap ibunya akhirnya luluh. Sang ibu yang semula enggan merelakan Akiko menikah dengan lelaki Bali ini pun setuju memiliki menantu bukan pria Jepang. “Semula Ibu cemas jika jauh dengan saya. Jika terjadi apa-apa dengan diri saya, Ibu khawatir tak bisa menolong. Tetapi, Ibu akhirnya sadar mungkin inilah jodoh saya. Saya hanya dipesan agar saya serius menjalani kehidupan keluarga baru kelak,” ujarnya. Cerita Akiko ini kepada Koran Tokoh di Denpasar pekan lalu mendadak terputus. Ini lantaran dering ponselnya berbunyi. Saat menutup handphone Akiko mengatakan harus segera kembali bersama suaminya ke Sidemen. “Ada keluarga yang datang jauh dari Singaraja yang mau bertemu saya. Mereka ingin meminta saya membantu membaca garis tangannya. Sekarang mereka masih menantikan kepulangan saya,” ujar Akiko di tengah percakapan tersebut. Sebelum pamit menumpang sepeda motor yang dikemudikan Rai, Akiko berharap agar pembaca Koran Tokoh mengontaknya dulu jika hendak memintanya membantu membaca garis tangan mereka. “Sebab, saya tidak membuka praktik khusus membaca garis tangan. Sebagai istri dan warga banjar saya juga punya kesibukan lain, termasuk ngayah di banjar adat. Kalau langsung nyelonong ke rumah saya kan kasihan jika saya sedang tak berada di rumah. Kontak dulu saya di nomor HP 081338459907,” pesan Akiko. —sam


Kiprah Wanita BP3A Provinsi Bali

Gali Potensi Perempuan BADAN Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) memiliki tujuan terwujudnya kebersamaan peran antara laki dan perempuan; terwujudnya perlindungan dan kesejahteraan perempuan dan anak secara holistik sesuai pula dengan nilai kearifan budaya lokal; meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak dalam berbagai bidang; memajukan tingkat keterlibatan perempuan di berbagai aktivitas; mengupayakan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak; meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak; memperkuat kelembagaan pengarusutamaan gender; meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta meningkatkan capacity building BP3A dalam memberikan pelayanan publik. Pekan lalu BP3A turut menjalankan pelayanan yang berdampak langsung pada masyarakat. Melalui Tim Pembina Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan Bina Keluarga Balita (BKB) Provinsi Bali yang beranggotakan instansi lintas sektoral, di antaranya BP3A, BAPPEDA, BKKBN, Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga serta Dinas Kesehatan Provinsi

Dari kiri: Raakee Punjabi, Ayu Pastika, Luh Terry, Srikandi Hakim, dan Luh Putu Haryani

Bali melakukan pembinaan kepada Kelompok Kerja GSI, BKB Gianyar serta Satuan Tugas GSI dan BKB Kecamatan dan desa se-Kecamatan Payangan, Gianyar. Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan BP3A Provinsi Bali, dr. Gunadi mengatakan, pembinaan seperti ini dilakukan di sembilan desa dan kecamatan yang ditunjuk oleh masingmasing kabupaten/kota seBali, agar kegiatan evaluasi pada Oktober 2010 siap dinilai

Tim Penilai Provinsi Bali. Satu kecamatan terbaik akan diberangkatkan ke Jakarta mengikuti lomba tingkat nasional. Ia berharap waktu delapan bulan yang ada digunakan mempersiapkan segala sesuatunya demi bisa tampil terbaik. Menurut Ketua FP4A, Provinsi Bali Dra. Luh Terry Yuliandriana Seputra, kegiatan Kelompok Kerja dan Satuan Tugas GSI dan BKB merupakan gerakan yang dilaksanakan masyarakat dan

pemerintah ini diakui dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Tujuannya secara umum meningkatkan kualitas SDM, utamanya mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Sesuai tujuan gerakan BKB yakni meningkatkan penge-

tahuan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan tumbuh kembang balita secara optimal. Hal ini menunjang terwujudnya keluarga kecil berkualitas hingga menghasilkan generasi berkualitas pula. Pada kesempatan berbeda, Kepala BP3A Prov. Bali Luh Putu Haryani, S.E.,M.M. didampingi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak BP3A Prov. Bali Ni Putu Koesalareni, S.H.,M.T., Kepala Bidang Pemberdayaan Lembaga Masyarakat BP3A Prov. Bali Ir. A.A Iriani, M.Si. dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Prov. Bali dr. A.A Sri Wahyuni, Sp.KJ, Wakil Ketua KPAID Ni Luh Putu Anggreni, S.H., serta utusan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Prov. Bali, mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (LP) “Gianyar” khusus anakanak di Jalan Serma Natih, Karangasem. Menurut Haryani kunjungannya bertujuan mengetahui hak anak yang merupakan bagian hak asasi manusia wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orangtua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Kepala LP, Syamsul Rizal menyampaikan, tahanan anak binaannya 16 orang, semua

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 5 laki-laki. Mereka tidak mengikuti pendidikan formal, terhambat syarat yang ditentukan dari Disdikpora Karangasem. Sebab, untuk menggelar kejar paket A, syaratnya minimal 20 orang. Latar belakang pendidikan mereka sebelumnya SMP dan SMA. Untuk mengisi waktu agar tidak banyak menganggur, diberikan kegiatan keterampilan perikanan, perkebunan dan tata rias. Menanggapi hal ini, Kepala BP3A, Haryani akan mencarikan solusi, segera mengoordinasikannya dengan instansi terkait sehinga persyaratan menggelar kejar paket A di LP ini dapat diperlunak. Pendidikan anak-anak harus berlanjut. Jika sampai putus sekolah akan berdampak pada perkembangan anak ke depan. Mereka semakin terpuruk dan menjadi beban bagi dirinya. Begitu pula urusan kesehatan, kamar dan tempat tidur juga diperhatikan mengingat daya tahan tubuh anak belum bagus dan masih dalam pertumbuhan. Selain itu, juga diperlukan perpustakaan demi menambah wawasan pengetahuan. Masih dalam kalender kegiatannya pekan lalu Kepala BP3A Provinsi Bali Haryani, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika didampingi Sekretaris BP3A Prov. Bali Dra. Luh Terry Yuliandriana

Seminar Nasional PAM IV IKIP PGRI Bali

Guru harus Punya Taksu

Lima pembicara dalam Seminar Nasional bertema “Pengembangan Profesi Guru dan Modernisasi Pendidikan” Senin (15/2) di Gedung Serba Guna IKIP PGRI Bali . Dari kiri: Dr. Nengah Arnawa, M. Hum., Dr. Nyoman Suwija, M. Hum., Endang Sadbudhy Rahayu, M.B.A., Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum., dan Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M. Pd.

PROGRAM Akta Mengajar (PAM) IV IKIP PGRI Bali menggelar Seminar Nasional bertema “Pengembangan Profesi Guru dan Modernisasi Pendidikan” Senin (15/2) di Gedung Serba Guna IKIP PGRI Bali. Seminar yang menghadirkan lima pembicara di antaranya dari unsur pengambil kebijakan, praktisi pendidikan, dan teoritisi ini diharapkan Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, M.Pd., mampu menjadi bekal bagi lulusan PAM IV menjadi guru yang siap pakai. Harapan senada juga disampaikan Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M. yang selalu menekankan empat kompetensi yang harus dimiliki lulusannya nanti (pedagogik, sosial, kepribadian, profesional) dalam melakukan proses pembelajaran yang inovatif. Dengan demikian, guru itu akan menjadi guru yang cerdas (dalam memberikan solusi) dan bermanfaat bagi murid juga masyarakat. “Karena itu, calon guru dituntut untuk melek iptek, cerdas, terampil, kreatif dan memiliki kepribadian,” imbuh Ketua PAM IV IKIP PGRI Bali Drs. I Made Darmada, M. Pd. Melalui seminar yang dianggap sebuah proses ini, Ketua FIP IKIP PGRI Bali Drs. I Wayan Susanta, M. Pd. berharap mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar maksimal dalam mencari berbagai alternatif peme-

cahan sehingga mampu menjadi guru profesional. Hasil-hasil seminar ini pun kata Susanta dapat dijadikan suatu pedoman untuk menyikapi berbagai persoalan yang bersifat sosial-psikologis ataupun sosial-institusional. Peningkatan mutu pendidikan ditekankan Dr. Nengah Arnawa, M. Hum. yang membawakan makalah “Guru sebagai Faktor Sentral dalam Pembelajaran di Kelas”, sangat terkait dengan pendidikan guru profesional. Guru profesional harus memahami pergeseran paradigma belajar dari pengajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa. Paradigma ini mengubah peran guru yang tidak lagi sebagai satu-satunya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, dan motivator dalam pembelajaran. Penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat mengembangkan kompetensi individual siswa dalam proses pembelajaran. Dr. Nyoman Suwija, M. Hum. yang membidik tema “Guru Profesional dan Problematika Pembelajaran di Kelas” menjelaskan guru memiliki peran strategis dalam pembangunan SDM. Karenanya, guru dituntut profesional dalam bidangnya masing-masing. Diakui, banyak kendala dan hambatan yang dialami guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Untuk itu guru dituntut memiliki strategi dan model pembelajaran yang dapat

memberikan nuansa yang menyenangkan bagi peserta didik. Pemilihan materi oleh guru juga hendaknya disesuaikan dengan usia peserta didik. Endang Sadbudhy Rahayu, M.B.A. dari Direktorat Mandikdasmen Depdiknas Jakarta memokuskan materinya pada “Program Akta Mengajar dalam Pendidikan Masa Depan”. Ia memaparkan dampak diberlakukannya UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen yakni guru dituntut peningkatan mutunya dengan persyaratan kualifikasi minimum S-1/ D-4 dan memenuhi persyaratan sertifikasi dengan menguasai empat kompetensi. Ini diimbangi dengan kenaikan imbalan bagi profesi guru. “Realita sekarang banyak guru produktif yang mengajar tanpa memiliki sertifikat keahlian mengajar. Guru ini harus memiliki sertifikat pendidik melalui pendidikan profesi yang dilakukan oleh PT yang terakreditasi,” ujarnya. Tahun 2012, pemerintah mengambil kebijakan pembalikan rasio siswa SMA:SMK menjadi 30:70. Banyak guru produktif yang belum tersedia di LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) seperti bidang pariwisata, pertanian, pertambangan, kesehatan, pekerja sosial, dll. Ini merupakan peluang dan tantangan bagi LPTK. “Mungkin LPTK bisa melakukan kerjasama dengan institusi penyelenggara pendidikan yang dapat me-

Seputera, menerima Panitia International Women’s Conference (IWC) di ruang kerjanya Kantor BP3A Prov. Bali Jalan Melati 23 Denpasar. Ketua panitia pusat IWC, Raakee Punjabi saat audiensi mengatakan, konferensi bakal berlangsung di Hotel Ayodya Resort, Nusa Dua, Bali pada 27 dan 28 Maret 2010. Acara akan dihadiri 400 ribu orang peserta wanita dari 75 negara. Rencananya kegiatan akan diawali dengan penanaman pohon bersama seluruh peserta. Dijelaskannya pula jika konferensi tersebut dilaksanakan pertama kali di luar Kota Bangalore India. Seluruh pemangku kepentingan mendukung tempat pelaksanaannya di Bali, mengingat Bali banyak memiliki kesamaan dengan India. Selanjutnya Raakee menyampaikan tujuan dilaksanakannya konferensi, ingin menunjukkan dan menggali potensi perempuan Indonesia khususnya Bali. Raakee beserta anggota panitia pusat lainnya, Srikandi Hakim, Damayanti Inne Tohir, Ace Atrianingsih Amir, Niqqita dan Groza Subhakty lebih lanjut mengatakan selama kegiatan berlangsung akan digelar pula pameran hasil industri kerajinan masyarakat Bali. Dekranasda Bali, yang diketuai Ny. Ayu Pastika dipastikan ikut ambil peran di acara tersebut. —ard

nyiapkan guru yang dibutuhkan oleh SMK,” saran Endang. Guru perlu taksu. Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum. mengatakan menjadi guru yang dirindu dan dicintai oleh siswa merupakan taksu guru dalam pembelajaran di kelas. Ini diungkapkan dalam pemaparan makalahnya bertema Art of Teaching “Taksu dalam Pembelajaran di Kelas”. Ia menyebutkan taksu memiliki arti kekuatan gaib yang memberikan kecerdasan, keindahan, dan mujizat, anugerah Tuhan yang berdampak positif. Dengan taksu ini guru akan memiliki pengaruh dan mampu memengaruhi anak didiknya. Dengan begitu guru akan mudah melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Untuk metaksu guru harus memiliki perilaku bersifat religius/taat pada agama, serta selalu berpikir baik dan positif. Rektor Undiksha Singaraja Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M. Pd. yang mengupas “Pengembangan Profesi Guru Masa Depan” lebih menekankan pada Pendidikan Guru Prajabatan Pasca UUGD. Peningkatan kualitas calon guru prajabatan ini ditegaskannya guru harus memiliki klasifikasi akademik minimal S1/D-4. Sebagai bukti profesional guru dituntut memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang bisa diikuti lulusan S1/D-4 nonkependidikan. Dalam pengembangan PPG, yang perlu dilakukan adalah pengindentifikasian kompetensi yang mesti dimiliki seorang guru agar dapat melakukan tugas profesionalnya sebagai agen pembelajaran. Pendidikan guru prajabatan dapat dilakukan secara terintegrasi maupun konsekutif. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan peserta didik pada program PPG berasal dari latar belakang kesarjanaan yang berbeda. Pendidikan guru terintegrasi digunakan apabila peserta didik pada program PPG berasal dari sarjana kependidikan. Sebaliknya, jika berasal dari sarjana nonkependidikan, digunakan model pendidikan guru konsekutif. –ten


6

Tokoh

Nusantara

21 - 27 Februari 2010

Peusijuek Upacara Penyejuk Tetap Dilestarikan Warga Asal Aceh di Bali

WARGA Bali asal Aceh tetap melestarikan upacara adat daerahnya. Salah satu upacara tersebut, disebut peusijuek. Ketua Majelis Adat Aceh Provinsi Bali Bachtiar Idrus menjelaskan, peusijuek diadakan saat ada upacara pernikahan, khitanan, saat orang membeli barang seperti sepeda motor, orang yang sembuh dari sakit, orang yang mengalami kecelakaan maupun orang yang baru dilantik menduduki jabatan. “Hanya saja doanya berbeda tergantung peristiwanya,” ujar suami Sri Widayati ini.

Bachtiar Idrus

Sebelum anak dikhitan, dilakukan upacara adat Peusijuek

kan peusijuek di rumah kami,” katanya ketika ditemui wartawati Koran Tokoh di rumahnya di kawasan Perumnas MonangManing Denpasar. Sarana upacara peusijuek terdiri atas beras campur padi, ketan kuning atau tumpo, tepung tawar, dedaunan sebanyak tujuh macam dengan daun cocor bebek sarana yang paling utama, dan air. “Kelapa merah (unti) kerap dipakai menggantikan tumpo karena tak banyak orang bisa membuat tumpo,” ujar bapak dua anak, Ismundari Mutia, S.E. dan Iskandar Muda ini. Upacara adat bagi calon pengantin perempuan diawali peusijuek inai sebelum malam inai saat ia dirias inai (daun pacar) di bagian tubuhnya seperti kuku tangan dan kaki yang dilakukan kerabatnya. Setelah itu calon pengantin dirias tukang inai. “Peusijuek peutron linto dilakukan sebelum akad nikah dan mesanding sesudah akad nikah,” ujar pria kelahiran Aceh Utara, 24 November 1951 ini. Ia menuturkan, peusijuek

dipimpin orang yang dituakan dalam keluarga atau di kampungnya. “Dianjurkan dilakukan sesepuh perempuan jika yang di-peusijuk perempuan, dan sebaliknya,” ujar Bachtiar yang di Bali sering dianggap sebagai sesepuh ini. Di Bali komunitas asal Aceh berkumpul dalam sebuah wadah bernama Majelis Adat Aceh Provinsi Bali. Majelis ini kini beranggota sekitar 100 KK yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Majelis yang terbentuk tahun 1995 ini pada awal berdirinya bernama Lembaga Adat dan Budaya Aceh Provinsi Bali. Kemudian, berdasarkan Qanun (peraturan daerah) Aceh nomor 3 tahun 2004 nama lembaga diubah menjadi Majelis Adat Aceh Provinsi Bali. “Majelis ini sebagai ajang silaturahmi serta sarana pembinaan bagi masyarakat Bali asal Aceh dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan,” ujar Bachtiar. Selain pengajian rutin, anggota Mejelis selalu merayakan peringatan hari-hari besar

Islam seperti Maulid Nabi dan Tahun Baru Hijriah. Ia mengungkapkan, warganya berkeinginan membangun gedung pusat kegiatan yakni meunasah. Kini sedang dalam proses penghimpunan dana. Ketika bencana tsunami melanda Aceh, masyarakat Aceh di Bali menggelar gerakan sosial dengan mengirim bantuan ke Aceh seperti bahan makanan, pakaian, dan obat-obatan. “Kami juga menggelar doa bersama,” kata Bachtiar. Dalam proses pengiriman bantuan itu, pihaknya mendapat keringanan biaya pesawat sehingga ongkos transportasi menjadi lebih murah. Beberapa pekan lalu seniman asal Aceh Yoppi Andri dari Yogyakarta datang ke Bali dalam rangka peluncuran buku berjudul “Smong Prahara” sekaligus menggelar konser lagu-lagu karyanya tentang tsunami. Yoppi berasal dari Pulau Simeulue yang sudah lama menetap di Yogyakarta. Tsunami (smong) juga pernah dialami penduduk di Pulau Simeulue tahun 1890-an. —tin

I

a menuturkan, peusijuek bermakna memberi kesejukan dan kebahagiaan. Meskipun tidak wajib, kegiatan tersebut dilakukan hampir semua warga asal Serambi Mekkah yang menetap di Bali. Bagi laki-laki, upacara ini diadakan sebelum anak dikhitan dan bagi anak perempuan dilakukan saat mengalami haid pertama. Anak perempuan yang memasuki usia remaja ini setelah keramas menjalani peusijuek dengan mengenakan pakaian serba putih. Pensiunan karyawan TVRI Denpasar ini menjelaskan, upacara adat tersebut mengandung pesan-pesan moral. Sebelum pergi merantau ke daerah lain, di kampung kelahirannya warga asal Aceh juga melakukan upacara adat ini. “Sebelum kami merantau ke Bali pun melaku-

Minim Pemimpin Perempuan Dalam Serikat

A.A. Sagung Rat Mudiani

PEMIMPIN yang terbaik adalah dia yang mendengarkan, memotivasi, dan memberikan dukungan kepada bawahannya. Perempuan cenderung mengambil gaya kepemimpinan yang demokratis yang artinya mereka mendorong partisipasi, berbagi kekuasaan, dan informasi serta berupaya meningkatkan harga diri pengikutnya. Pemimpin perempuan cenderung melakukan perundingan

dalam suatu konteks hubungan yang berkelanjutan. Demikian diungkapkan Ketua Komite Perempuan Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Nasional A.A. Sagung Rat Mudiani, S.E. dalam workshop “Kepemimpinan Perempuan” yang diikuti ketua komite perempuan FSPM se-Indonesia, Kamis-Jumat (1819/2) di Denpasar. Selain A.A. Sagung Rat Mudiani, pembicara lainnya Hoe Ying dari IUF Asia Pasifik, Ani Herningsih dari IUF Indonesia, Dewi Fitria dan Yanti Kusumawati dari FSPM Pusat. Topik yang dibahas pengenalan IUF (international union of food, agriculture, hotel, restaurant, catering, tobacco and allied workers associations) dan gender audit, asuransi untuk wanita pekerja, dan pajak penghasilan untuk perempuan. Sagung mengatakan langkahlangkah untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan dalam serikat pekerja adalah dengan reformasi peraturan. “Kita harus memastikan perempuan turut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat tertinggi,” kata perempuan yang juga Ketua Komite Perempuan Serikat Pekerja Asia Tenggara yang berafliasi ke IUF.

Selain itu, ia berharap ada peningkatan kepedulian serikat dengan memberikan kesempatan pemimpin perempuan tampil. Untuk mendorong peran perempuan dalam serikat dan masyarakat, kata Sagung, diperlukan pendidikan dan pelatihan. Ia menilai, perempuan perlu menguatkan diri mereka sendiri untuk menjawab tantangan dominasi laki-laki dalam kepemimpinan serikat pekerja. “Hal mendesak yang harus dilakukan adalah bagaimana membangun keterlibatan perempuan secara aktif dan demokratis dalam tiap kegiatan serikat pekerja,” tandasnya. Ia berpandangan, dengan tidak adanya peran dan wakil yang signifikan perempuan dalam struktur serikat pekerja, mengakibatkan tidak terwakilinya kepentingan mereka. Kurangnya pengalaman dan kesempatan menjadi alasan utama ketidakterwakilan mereka dalam proses pengambilan keputusan. “Hanya sejumlah kecil perempuan dalam stuktur kepemimpinan serikat pekerja,” katanya. Dengan komite perempuan serikat pekerja, kata Sagung, memungkinkan perempuan menyuarakan kepentingannya dalam serikat pekerja. Komite perempuan telah menumbuhkan kepercayaan diri di antara mereka dan memastikan suara mereka didengarkan. Ia berharap, dengan workshop ini makin banyak peran pekerja perempuan dalam serikat. —ast

Remaja Muslim RIMA dan Permata

Bukan hanya Pengajian REMAJA Islam Masjid Al Muhajirin (RIMA) merupakan salah satu kemunitas remaja muslim yang ikut andil melestarikan budaya tanah Minang. Meski berada di bawah naungan Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS), anggota RIMA tak hanya warga Minang. “Remaja muslim dari beragam suku pun bisa bergabung dengan kami,” kata Dina Agustin, salah seorang koordinator kesenian RIMA. Sebagian anggota RIMA merupakan mahasiswa Unud yang dulu juga ikut dalam organisasi Rumpun Mahasiswa Saiyo Sakato (Ramsas) yang kini jarang kelihatan kegiatannya. RIMA berdiri tahun 2005. Layaknya organisasi remaja Islam, RIMA tak hanya terfokus pada pembelajaran bermuatan islami. Menurut Dina, anggota RIMA juga belajar beragam tarian Minang. Ini dilakukan agar tetap bisa melestarikan kesenian dan

Dina Agustina

pelajari seni budaya daerah asal mereka. “Kami yang semula tak bisa menarikan tarian Minang, kini sudah bisa menarikan lima macam tarian. Bahkan kami sudah sering mendapatkan tawaran tampil di berbagai upacara perkawinan dan pesta. “L u m a y a n , k a m i m e n dapatkan sedikit honor yang bisa menambah biaya kuliah,” kata mahasiswa FE

Kesenian Permata tampil dalam acara resepsi perkawinan anggotanya

budaya Minang. “Berada di daerah rantau membuat kami awam terhadap kesenian, adat, dan budaya daerah asal kami. Di RIMA kami bisa punya wadah mengembangkannya,” kata Dina. Minat dan bakat anggota RIMA yang kini berjumlah 20 orang, tidak sama. Karena itu kegiatan RIMA tak hanya fokus di bidang kesenian. Ada kegiatan olahraga dan juga bakti sosial. “Pengajian rutin kami adakan sebulan dua kali,” tambah Dina. Banyak hal yang didapat selama berada dalam komunitas remaja masjid ini. Tak hanya bertemu warga Minang, mereka bisa mem-

Unud semester akhir ini. Seperti Sabtu (13/2) malam, Dina dan kawankawannya menarikan tarian Minang berkolaborasi dengan tarian dari daerah lain dalam acara Pamanahan Mini Karnival. “Kami tampil tak semata-mata mengharapkan materi. Tujuan utama kami,

mengembangkan kesenian tradisional dan menyalurkan kreativitas remaja,” tambahnya. Betah di Masjid Kegiatan Persatuan Remaja Masjid At-Taqwa (Permata) Polda Bali tak jauh berbeda dengan RIMA. Permata memang tak punya kegiatan pengembangan tarian tradisional. “Kegiatan kesenian lebih banyak diisi kesenian hadrah atau rebana dan tarian Melayu. Peminat dari kegiatan ini cukup banyak. Sekitar 20 anggota Permata ikut menjadi anggota kesenian rebana,” kata Seno, Koordinator Kesenian Permata. Seno menambahkan, meski baru dibentuk tahun 2009, kesenian rebana Permata sudah tampil mengisi beragam acara baik di kalangan intern maupun ekstern organisasi. Misalnya, saat anggota Permata menikah, grup kesenian ini bisa menyumbangkan hasil kreativitas mereka. “Kami masih bersifat sukarela. Tak memungut biaya bagi pihak yang ingin mengundang kami. Bagi kami, bisa tampil di depan publik merupakan pengalaman berharga dan dapat meningkatkan rasa percaya diri kami,” ujarnya. Permata memiliki beragam kegiatan, dari pengajian rutin yang diadakan seminggu sekali hingga olahraga. “Yang kami utamakan, kebersamaan. Kami ingin remaja muslim betah berkegiatan di masjid. Segala kegiatan Permata pun harus kami sesuaikan dengan bakat dan minat remaja. Misalnya, futsal dan jalan-jalan bersama,” kata Ketua Permata Denis Ahmad Haris. Beragam kegiatan menyambut hari besar Islam pun diadakan. Denis menjelaskan, tiap kegiatan dibentuk panitia. Hal itu, sebagai bentuk pembelajaran bagi anggota untuk bisa berorganisasi. Kini anggota Permata berjumlah 70 orang. —lik


Perdesaan

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 7

Dari Desa ke Desa

Biasakan Bawa KTP di Dompet

tkh/rat

Drs. Wayan Sutapa

D

i Karangasem, ma sih ada 234.951 jiwa yang belum memiliki asuransi kesehatan seperti jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) yang diluncurkan pemerintah pusat, asuransi kesehatan dari PT Askes, jamsostek atau asabri. Ini yang masuk dalam sasaran JKBM. Dari data tersebut, tercatat 19.617 jiwa masyarakat miskin. “Program ini didambakan masyarakat mengingat sebagian masyarakat di Karangasem tergolong masyarakat miskin. Tentu ada kendala teknis dan administrasi yang

dr. IGM Tirtayana, M.M.

perlu diatasi,” ujar Camat Kubu Drs. Wayan Sutapa. Berbagai pertanyaan datang dari peserta yang terdiri atas perbekel, kelian dinas dan adat, bidan desa, bidan swasta, dan tokoh masyarakat Kubu. “Sesuai edaran, surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan JKBM cukup ditandatangani perbekel. Tetapi, ada satu-dua warga kami yang kebetulan berobat ke RS Sanglah, kembali. Surat itu tidak dipakai karena harus diketahui camat. Bagaimana seharusnya?” tanya Gede Suadi, Perbekel Tianyar Timur.

Sebagai orang yang langsung berhubungan dengan masyarakat, Gede Suadi juga menerima masukan dari warganya. “Secara geografis, warga kami lebih dekat ke Singaraja daripada ke Denpasar. Apakah mereka bisa diterima di rumah sakit di Singaraja,” ungkapnya. Sakit akibat kecelakaan yang tidak ditanggung dalam JKBM juga menimbulkan masalah lain. “Masalah kecelakaan merupakan problem bagi kami di desa. Masyarakat berharap pelayanan tersebut dimasukkan. Saat mereka mencari surat keterangan, kami tidak mengecek ke lapangan. Sudah jadi rahasia umum, kadang surat keterangan tersebut kami buatkan saja. Hal ini tentu jadi berita di masyarakat. Kami berbenturan dengan masyarakat. Kewenangannya bagaimana? Jika harus ditolak dan bisa dituntut jika menggunakan keterangan sakit akibat kecelakaan, kami juga siap,” kata Suadi. Masalah lain, tidak jelasnya poin tentang kecelakaan. “Apakah yang dimaksud tabrakan antarkendaraan saja? Bagaimana dengan orang yang ditabrak, misalnya saat berjalan kaki di pinggir jalan ditabrak sepeda motor? Biasanya kami yang dianggap masyarakat meloloskan atau tidak. Kalau tak diberi surat keterangan, kami dianggap memberatkan,” imbuhnya. Sesuai ketentuan JKBM, sakit kecelakaan tidak ditanggung karena sudah ada asuransi Jasa Raharja. “Tetapi, kalau lecet ringan dibawa ke puskesmas, tidak masalah,” ujar Tirtayana. Di tiap rumah sakit, ada tim verifikasi surat keterangan, sah atau tidaknya surat keterangan yang dibawa warga yang berobat.

Kemanusiaan

Sosialisasi JKBM di Gedung Satria Abalon Desa Sukadana, Kubu, Karangasem diikuti para perbekel, kelian adat dan dinas, bidan desa dan bidan swasta serta tokoh masyarakat

Administrasi JKBM sebelum terbitnya kartu JKBM yang sah adalah KTP, kartu keluarga dan surat keterangan tidak memiliki jaminan kesehatan lainnya dari perbekel. Alur pelayanannya berjenjang. Warga yang ke RS Sanglah harus dapat rujukan RSUD Karangasem, yang ke RSUD Karangasem harus dapat rujukan puskesmas kecuali kasus darurat. “Kalau ada salah tafsir, ini masalah koordinasi. Ikuti mekanisme,” ujar Tirtayana. Program ini juga bersifat kolektif. Rumah sakit pemerintah antarkabupaten saling bekerja sama. Pelayanan masih dilakukan di pusat pelayanan kesehatan pemerintah belum menjangkau klinik/RS swasta. “Puskesmas atau rumah sakit tidak ada alasan menolak pasien dari kabupaten lain,” jelas Tirtayana. Bagi sebagian masyarakat Songan (Bangli) lebih dekat berobat ke Tianyar Barat, hal ini pun bukan masalah. “Secara geografis memang lebih dekat ke Tianyar. Secara administratif, masyarakat harus punya KTP, tak masalah berobat ke mana. Puskesmas dalam satu kabupaten tidak perlu saling klaim biaya, tetapi puskesmas antarkabupaten bisa saling klaim biaya pelayanan yang diberikan. Masyarakat biasakan membawa KTP di dompet. Jika ada kecelakaan bisa diberi pelayanan,” imbuh Tirtayana menjawab Ketut Wirsana dari Tianyar Barat.

tkh/rat

“SEHAT adalah modal, sehat adalah investasi. Tanpa sehat kami tak bisa hadir di sini. Sehat adalah hak asasi. Pemerintah daerah wajib memberi jaminan kesehatan kepada rakyatnya,” ujar dr. IGM Tirtayana, M.M. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem saat sosialisasi program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) di Gedung Satria Abalon Desa Sukadana, Kecamatan Kubu, Karangasem, Selasa (16/ 2). Acara tersebut merupakan hasil kerja sama RRI, Koran Tokoh, dan Dinas Kesehatan Karangasem yang disiarkan secara langsung melalui program “Dari Desa ke Desa” RRI.

Nila Arsani

Made Sudarmi

“Bidan disebutkan boleh menangani persalinan normal dalam JKBM. Dalam proses itu, kemungkinan terjadi komplikasi dan masih bisa ditangani bidan. Atau, ternyata dalam penanganan kami memerlukan obat yang harganya tidak murah. Apakah ada solusi?” tanya Nila Arsani, bidan Puskesmas Kubu I. Pertanyaan serupa dilontarkan Made Sudarmi, bidan desa di Tianyar Barat. “Bagaimana kalau ada ibu yang perlu abortus yang harus ditangani cepat dan kami bisa lakukan?” ujarnya. “Dalam proses persalinan normal, biaya atas tindakan yang dilakukan karena mengancam jiwa, bisa diklaim. Biayanya ditentukan menggunakan perda. Waktu klaim bisa mingguan tetapi diproses bulanan. Masa berlaku JKBM, setahun. Jika ada perubahan, ada pemberitahuan,” papar Tirtayana.

Made Murdana, Kepala Dusun Penyingakan mengharapkan petugas rumah sakit memberi pelayanan dengan hati. Hal itu perlu disosialisasikan. Pengalamannya, 1 Januari ia mengantar warga yang mengalami patah tulang, tak terurus. Akhirnya, ia membayar pakai uang pribadi. Ia juga menyoroti pelayanan pada orang miskin. “Orang yang datang lebih dulu bisa masuk belakangan,” katanya. Selain itu, Murdana berharap, persyaratan administrasi JKBM yang harus tersedia dalam 2 x 24 jam bisa diperpanjang. “Kenyataannya, saat ada orang sakit, yang dipikir adalah segera ke rumah sakit. Surat bisa diurus keesokan hari dan belum tentu langsung jadi,” katanya. “Surat keterangan memang harus diupayakan bisa disediakan dalam 2 x 24 jam. Tetapi, hal itu bisa ditoleransi,”

tkh/rat

jawab Tirtayana. I Made Sumarka, kelian dinas Karanganyar Kubu menanyakan, bagaimana seandainya pasien memerlukan obat paten. Selain itu, ia minta solusi jika ada warga miskin yang harus dioperasi dan tidak bisa menanggung biaya, baik itu untuk biaya obat atau tindakan medis. “Pemerintah juga harus memperhatikan soal cuci darah. Jangan hanya enam kali. Orang yang cuci darah perlu lebih dari enam kali. Mereka bisa meninggal. Ini masalah nyawa,” katanya serius. Sesuai ketentuan, obat dalam program JKBM adalah obat generik berlogo yang sesuai dengan SK Menkes tentang Jamkesmas. “Ada buku yang diacu. Kalau ada obat di luar itu, pihak apotek harus memberi tahu dokter yang menangani, apakah dokter sudah menyampaikan kepada pasien. Obat yang diperlukan bisa murah atau mahal. Misalnya, pasien perlu asam folat. Satu biji asam folat Rp 50 tetapi tidak ada di SK Menkes sehinga tidak ditanggung. Kalau tidak bisa beli, bilang saja. Jika ada miskomunikasi, ada JKBM Center, tempat masyarakat mengadu,” papar Tirtayana. Mengenai cuci darah, sudah ada kasus di Sidemen. Warga itu sudah tiga kali cuci darah. “Kalau lebih dari enam kali, kami upayakan ambil dari dana jamkesmas,” katanya menjelaskan. —rat

Katarak Anak Picu Penurunan Kecerdasan KMB-YKI Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Menyali

Suasana pengobata mata di Menyali

MATA merupakan salah satu organ penting bagi kehidupan manusia. Dengan mata, manusia bisa bekerja. Dengan mata, manusia bisa melihat keindahan alam yang telah diciptakan Yang Mahakuasa. Oleh sebab itu, karunia tersebut harus kita rawat sebaik-baiknya. Semuanya bisa menjadi tak indah lagi jika indera pengelihatan kita ini terganggu apalagi sampai buta. Untuk meminimalkan kebutaan, Kelompok Media Bali Post (KMB) bekerja sama dengan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI) mengadakan pemeriksaan mata gratis, Kamis (18/2) di Banjar Balai Desa Menyali, Sawan, Buleleng. Dalam kegiatan tersebut 579 pasien terlayani, 511 di antaranya mendapat kacamata dan 305 orang mendapat obat tetes mata. Mereka yang terdata menderita katarak 19 orang. Drs. Wayan Sukajaya, Senior Project Manager YKI mengatakan banyak penyebab dari kebutaan, salah satunya yaitu katarak. Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata. Lensa yang awalnya bening berubah menjadi putih. Posisi lensa mata di belakang iris (selaput pelangi) yang membantu sinar yang masuk ke dalam mata. “Jika lensa keruh karena katarak, maka sinar dari luar tidak dapat masuk ke bola mata. Sehingga secara perlahanlahan penglihatan akan menjadi kabur,” paparnya. Katarak tidak hanya

terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak. Lantaran itulah, para orangtua sebaiknya waspada karena anak-anak juga bisa terkena katarak. “Bayi yang baru lahir juga bisa katarak. Katarak ada empat jenis, yaitu kongenital, juvenaile, traumatic dan senial. Katarak kongenital adalah katarak yang menyerang pada bayi, katarak juvenaile yaitu katarak yang biasanya diderita oleh anak-anak sampai dewasa muda (ABG) karena diabetes. Katarak traumatik yaitu karena kecelakaan, sedangkan katarak senial, yang biasanya menyerang manula. Katarak pada anak dapat memicu penurunan kecerdasan sebab anak sulit berkonsentrasi,” tandasnya. Katarak yang mudah dilihat pada bayi dan anak adalah pupil tampak berwarna putih atau abuabu, penglihatan yang buruk, strabismus (mata juling). Putu Tradisi (5,5) adalah salah seorang anak yang

Putu Tradisi bersama ibunya

menderita katarak. Anak kelima dari enam bersaudara buah hati pasutri Ketut Anggarsi dan Luh Yugiasih ini satu-satunya anak yang terkena katarak dari 19 orang yang telah diperiksa. Tradisi memang tampak seperti gadis kecil normal dengan mata hitam normal. Namun. menurut penuturan ibunya, sejak tiga bulan terakhir ia baru sadar, pada mata anaknya ada seperti bintik putih. “Anak saya kelihatan biasa saja, ia sering bermain dengan teman-temannya. Tetapi, menjelang malam bintik putihnya terlihat makin membesar. Saya makin takut. Setelah diperiksa katanya anak saya harus dioperasi. Masalahnya saya keluarga tidak punya apa-apa. Untung semuanya gratis, saya bisa bernapas lega. Saya berharap nanti anak saya dapat dibantu pengobatannya biar sembuh. Tadi saya juga sudah diberikan informasi dari pemeriksanya, nanti akan dihubungi untuk waktu operasinya,” ujar Luh Yugi. Selama ini ia memang belum pernah memeriksakan kesehatan anak-anaknya. Karena ketiadaan biaya, semua anaknya hanya tamat SD. Kepala Desa Menyali, Made Sudana mengatakan masyarakatnya sangat antusias mengikuti pemeriksaan mata gratis ini. “Dulu pernah ada pemeriksaan mata gratis, namun mereka tidak memperoleh kaca mata. Kami sebagai aparat desa juga memberi apresiasi positif bagi kegiatan ini. Apalagi ini murni bersifat sosial dan tidak digandengkan dengan kegiatan pilkada dan semacamnya,” tandasnya.—ard

tkh/rat

Gede Suadi

tkh/rat

Ketut Wirsana

tkh/rat

I Made Sumarka

Made Murdana


8

Tokoh

Harmoni

21 - 27 Februari 2010

Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si.- Ida Ayu Selly Fajarini, S.E.

Dayu yang lebih sering Mentraktir KEBERSAMAAN Ida Ayu Selly Fajarini dan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra sudah terajut sejak mereka di SMP. Bersama dalam satu SMA dan satu fakultas membuat mereka makin dekat. Bagaimana mereka menjalani masa-masa indah berpacaran dan bagaimana keluarga Ida Bagus Mantra menyikapi hubungan putra bungsunya tersebut?

M

asa pacaran merupakan masamasa yang indah bagi kaum remaja. Rangkaian kata-kata puitis kerap terlontar menusuk jantung hati. Sehari tak bertemu, terasa berpisah

setahun. Romantisme masa pacaran juga membuat orang selalu merasa berbahagia. Tak ada kata bosan jika hati sudah bertaut dengan pujaan hati. Tak cukup bertemu muka, komunikasi jarak jauh juga dilakukan

menggunakan sarana telepon. Gus Rai dan Dayu Selly pun menyimpan kenangan seperti itu. Walaupun seharihari sudah bersama-sama dalam kegiatan di kampus, Gus Rai selalu menyempatkan diri menelepon pujaan hatinya. Dayu Selly merasa senang jika Gus Rai melantunkan kata-kata romantis di ujung gagang teleponnya. “Banyak hal yang kami bicarakan di telepon. Saat itu saya sudah memiliki kesan, Bapak sosok yang memiliki wawasan luas, gigih, dan pantang menyerah. Mirip lagunya D’Masiv,” ujar Dayu Selly seraya menambahkan bahwa lagu tersebut kini menjadi tembang favorit keluarganya. Walaupun memiliki per-

bedaan latar belakang keluarga, Gus Rai dari kalangan keluarga pendidik, sedangkan Dayu Selly dari keluarga pengusaha, tak membuat mereka menjadi canggung. Kedisiplinan dan kemandirian yang diperoleh Gus Rai dari keluarganya, diterapkannya dalam menjalin dan memupuk cinta dengan pujaan hatinya. Ternyata perilaku ini ampuh pula untuk menaklukkan Dayu Selly. Dayu Selly mengungkapkan, hanya Gus Rai yang berani memarahi atau mengingatkannya jika ia melakukan kesalahan. Kedua sejoli ini juga sering menikmati masa pacaran dengan berjalan-jalan dan menonton film di bioskop. Mereka juga sering bepergian dengan teman-teman kuliahnya.

Gus Rai dan Dayu Selly bersama grup band D’Masiv

Gus Rai dan Dayu Selly siap untuk acara car free day

Jika pergi berdua saja, Gus Rai mengatakan, Dayu Selly yang sering mentraktir. “Selama pacaran, saya lebih sering ditraktir,” ungkapnya sembari tertawa. Biasanya ide untuk jalan-jalan muncul dari benak Gus Rai, tetapi urusan membayar bensin dan makanan sering menjadi tugas Dayu Selly. Sikap saling melengkapi, merupakan kebiasaan yang sudah mereka terapkan sejak masa pacaran. Dayu Selly menyatakan, sangat mengagumi prinsip yang diterapkan keluarga Ida Bagus Mantra. “Orangtua Bapak punya prinsip, hadiah atau dana lebih akan diberikan jika anak-anaknya meraih prestasi dan berhasil di bidang pendidikan. Tetapi, saya tahu Bapak sering merengek minta uang ke orangtuanya walaupun saat itu belum menunjukkan prestasi,” ujar Dayu Selly mengungkap masa-masa indah selama mereka berpacaran. Gus Rai anak bungsu pasangan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (alm) - I Gusti Ayu Badri. I B. Mantra merupakan putra Bali yang memiliki perjalanan karier yang mengesankan. Selain pernah melanjutkan studi di India, Almarhum pernah menjabat sekretaris dan kemudian dekan Fakultas Sastra Unud semasih menjadi cabang Universitas Airlangga. Jabatan rektor Unud,

Kemanusiaan

Ingin Lihat Made Tumbuh Besar

RS SANGLAH, pukul 08.20 wita. “Bu, kami di sini,” teriak Putri, penggiat Yayasan Senang Hati. Seorang ibu dengan rambut kuncir satu dan anaknya, menoleh. Putri mendekat. Anak berbaju biru dengan kaus kaki setinggi lututnya itu menyambut gembira. Ia terasa karib dengan Putri. “Saya baru sampai. Tunggu dulu di sini, saya ambil hasil lab dulu,” katanya. Putri menolak. Ia mengikuti saja si ibu itu, sebut saja Wayan, pergi. Laboratorium klinik hanya berjarak 10 meter dari tempat mereka berdiri. Tak perlu mengantri lama, Wayan, menerima amplop berwarna putih dengan plastik transparan di bagian depannya. “Ini hasil lab anak saya. Kemarin saya sudah ke sini untuk cek lab ini,” katanya. “Mudah-mudahan nilai hemoglobinnya meningkat,” harap Wayan. Putri lalu mengenalkan Wayan pada wartawan koran ini. “Wayan,” katanya sambil menyalami. Made, anaknya yang baru berumur lima tahun, tersenyum. “Saya mendaftar dulu,” kata Wayan. Made menunggu ibunya, di antara kerumunan orang-orang. Ia hanya memperhatikan gerak di sekelilingnya dan langsung beringsut ke tangga ketika ibunya usai mengurus pendaftaran. “Karena sering berobat ke sini, ia sudah hapal tempat poliklinik anak,” ungkap Wayan saat Made tiba-tiba saja mendahului mereka menapaki anak tangga. Lagi-lagi, Made tersenyum.

Sejak berusia empat bulan, sebenarnya Made sudah sakitsakitan. Ada saja sakit yang dialami, mulai diare sampai sesak napas. Dia sudah dua kali merasakan opname di rumah sakit. Sejak enam bulan yang lalu, Made kian intensif berobat ke rumah sakit. Ia menerima “warisan” dari ayahnya: HIV. Made senasib dengan 66 anak berusia s.d. 14 tahun di Bali yang diketahui terinfeksi HIV dari orangtuanya. Tak ada yang tahu, kalau saja ayahnya tak lebih dulu meninggal karena virus itu. Hanya 15 hari sebelum kematiannya, ayahnya ketahuan terinfeksi HIV/AIDS. Sebelumnya, ayahnya diduga kena santet akibat sakit yang tak kunjung sembuh. Fakta itu mengejutkan Wayan, yang tak tahu mengapa suaminya yang pekerja di sebuah puskesmas itu bisa terinfeksi HIV. Ia kian terkejut, tatkala anak ketiganya, meninggal satu bulan setelah suaminya meninggal, juga akibat terinfeksi HIV. “Saya terguncang,” katanya. Hasil pemeriksaan, Wayan dan Made pun terinfeksi HIV. Itu sebabnya, Made sakit-sakitan. “Anak pertama tak saya izinkan mengikuti tes HIV meski dia menginginkannya. Saya lihat kondisinya baik, pertumbuhannya tak masalah. Saya takut mengetahui hasilnya,” ungkap Wayan. Wayan menyeka peluh di wajahnya dengan sapu tangan handuk persegi empat berwarna kuning pucat. Pagi itu panas sungguh terasa terik. Kursi tunggu di depan poliklinik anak

RS Sanglah pun dipenuhi para pasien. Seorang ibu dengan anak seusia Made tiba-tiba menyapa. “Mereka senasib dengan saya dan rata-rata anakanak itu sudah tak punya ayah lagi karena sudah meninggal,” ungkap Wayan. Made yang sejak awal tak betah duduk lama menunggu, mendekat. “Minum,” pintanya. “Nggak ada air putih, ada susu saja. Mau ya,” kata Wayan sambil mengeluarkan tas kresek kecil berwarna merah muda dari tasnya. Susu Milkuat cokelat dikeluarkan. “Made suka susu cokelat. Kalau diberi susu rasa vanila, ia tak mau minum,” kata Wayan. Beberapa bungkus makanan kecil disimpannya kembali. “Saya selalu membawa makanan supaya Made tak rewel,” imbuh Wayan. Mata Made sayu, seperti orang mengantuk. Kata Wayan, Made sangat mirip bapaknya. Jika ingin “melihat” wajah suaminya, ia cukup melihat wajah Made. Semua teman suaminya dulu mengatakan hal yang sama. Tubuh Made kurus. Beratnya hanya 15 kg. “Semoga nanti bisa naik,” harap Wayan. Meski begitu, Made sangat aktif. “Made ingin jadi penari,” katanya saat ditanya, apa citacitanya. Penari Bali, bukan penari modern. Walau belum sekolah, Made rajin belajar. Ia yang meminta diajarkan oleh ibunya. Ke mana-mana, ia membawa buku tulisnya. Tiap sore, ia mulai belajar. “Belajar A sampai Z. Terus belajar sampai angka 11. B A, ba. B I, bi. Babi,” kata Made. Ia juga mulai minta

Anak-anak dengan HIV pun perlu perhatian agar mereka bisa hidup dengan layak

dibelikan buku gambar dan pensil warna karena ia gemar mewarnai. Tahun ini, Made hendak masuk TK. “Made mau sekolah,” katanya. Selain itu, tiap hari Made bermain dagang-dagangan, pakai daun mangkok dan dedaunan yang ditemuinya di pelataran rumah. “Made main sendiri, tak ada teman,” katanya. Sebelum ayahnya meninggal, Made tinggal bersama kakek-neneknya. Tetapi, setelah ayahnya meninggal, Made tak lagi diterima di keluarga itu. Mertua Wayan menuduh, Wayan yang menularkan penyakit itu pada suaminya. Ia juga dinilai tak becus mengurus suami. Hanya kakaknya yang tak menjalani tes HIV dan dinilai

sehat, yang diterima di keluarga itu. Wayan juga dipisahkan dengan anak pertamanya. “Saya kembali ke rumah orangtua yang mau menerima saya dalam kondisi seperti ini,” ujar Wayan. Mereka bertempat tinggal di Klungkung, lebih kurang satu jam dari Denpasar melalui bypass Ketewel. Jika akan kontrol ke dokter, Wayan memilih menginap di rumah adiknya di Denpasar daripada harus bolakbalik Klungkung-Denpasar. “Tadi bangun pagi-pagi,” kata Made. Pukul 05.00 ia sudah bangun. “Soalnya Made harus terapi,” katanya. “Dia tak tahu sakit apa. Dia hanya tahu kalau dia terapi berkali-kali,” kata Wayan. Made

dirjen Kebudayaan, duta besar RI di India kemudian menyusulnya. Jabatan gubernur Bali diduduki lelaki berperawakan gagah ini dalam dua periode, tahun 1978 – 1988. Masa kecil Gus Rai yang lahir tahun 1967 itu lebih banyak dijalani di Jakarta karena saat itu ayahnya memangku jabatan di tingkat pusat. Gus Rai pindah ke Bali ketika akan masuk SMP. Orangtuanya sangat mementingkan pendidikan anakanaknya. Ibunya, seorang guru. “Keluarga kami menerapkan disiplin tinggi sebagai modal kemandirian. Selain itu, pendidikan kami juga sangat diperhatikan,” ujar Gus Rai. Modal dasar dari keluarga ini menjadikan Gus Rai orang yang tangguh dan aktif dalam berbagai kegiatan. Di sekolahnya, ia aktif menjadi anggota pramuka. Ia pernah menjabat komandan dalam jambore saat duduk di kelas II SMP. Dalam urusan asmara, Mantra maupun Badri tak pernah mengekang anakanaknya. “Orangtua saya tak mencampuri urusan saya pacaran dengan siapa atau siapa pilihan saya. Mereka hanya mengingatkan, saya harus menyelesaikan pendidikan,” ujarnya. Gus Rai mengungkapkan, waktu masih pacaran, ia pernah dipanggil orangtuanya

bersama Dayu Selly. Saat itu, mereka baru semester IV di FE Unud. “Karena masih muda, kami diultimatum, tuntaskan kuliah meski nanti sudah menikah. Di depan beliau kami berjanji kuliah pasti rampung,” kenang Gus Rai yang gemar naik sepeda hingga sekarang itu. Mereka menikah tahun 1987. Setelah menikah, Gus Rai makin mengenal keluarga istrinya sebagai pengusaha yang pekerja keras. Di antara kemanjaan yang dimiliki istrinya pada masa kanak-kanak dan remaja, mengalir jiwa dan semangat bekerja keras pada diri Dayu Selly. Hal ini yang membuat Gus Rai bertambah yakin, bersama Dayu Selli ia akan mampu mengemudikan bahtera rumah tangganya sampai kapan pun. Ada pesan lain yang disampaikan Ida Bagus Mantra kepada pasangan ini. “Kami dilarang menjadi PNS. Padahal saya ingin menjadi PNS seperti teman-teman dan ipar saya. Karena itu saya sempat kecewa. Mertua ingin saya dan suami menekuni pekerjaan sebagai wiraswasta. Pertimbangan beliau, pada masa depan, kehidupan pengusaha akan lebih berkembang. Ternyata hal itu terbukti. Kami bisa melakoni perjalanan hidup ini, walaupun tidak berstatus PNS,” kenang istri Wali Kota Denpasar ini. —ard, wah

tahu kata ‘terapi’ itu dari ibunya. Jika ke dokter, ia menyebutnya terapi. Selama enam bulan terakhir, tiap dua minggu Made ke rumah sakit. Tubuhnya terserang dermatitis akut. Ada benjol seperti bisul di sekujur tubuhnya. Penyakit itulah yang diobatinya. Sekarang sudah lebih baik, hanya sisa bekas-bekas bisul seperti bekas cacar. “Made nggak mau disuntik. Kalau disuntik, nanti Made nangis. Jangan boleh dokternya nyuntik Made ya,” katanya. Made tahu, tak enak rasanya diinfus. Dia berharap, tak lagi diinfus. “Mau bagaimana lagi, supaya bisa bertahan hidup,” kata Wayan. Hari itu, Wayan berharap nilai hemoglobin Made meningkat agar ia bisa diberikan terapi antiretro viral (ARV). Selama ini, Made baru diberi antibiotika, suplemen dan zat besi. Suplemen dan zat besi seharga Rp 37.500 per botol itu dikonsumsi tiap hari, bisa lima botol per bulan. Ada juga suplemen seharga Rp 29 ribu per botol dan perlu dua botol sebulan. “Buat saya itu mahal, tapi saya harus lakukan yang terbaik buat Made. Saya ingin lihat dia tumbuh besar,” kata Wayan. Pukul 10.00, dokter baru datang. Pasien yang menunggu sejak pukul 08.00 merasa lega. Ada delapan anak terinfeksi HIV menunggu giliran diperiksa dokter hari itu. Made urutan keempat. Berat badannya ditimbang, masih 15 kg. Seorang dokter laki-laki mengukur tubuh Made. Diameter kepala, diameter lengan, tinggi tubuh Made diukurnya dengan meteran yang biasa dipakai penjahit. “Ini untuk mengetahui status gizi anak, nanti

ada kurvanya,” kata si dokter. Wayan berkonsultasi. Ia senang, nilai hemoglobin Made sudah 10,4 dari sebelumnya 8,8. Made harus mencapai angka minimal 10 agar bisa diberikan terapi ARV pertama kali. Syarat lain, Made harus opname, paling tidak selama tiga hari agar dokter bisa memantau kondisinya secara intensif. Tidak ada ARV khusus anak-anak. Yang diberikan adalah ARV yang sama untuk orang dewasa. “Obatnya keras. Makanya Made harus opname supaya dokter bisa cepat menangani jika ada reaksi obat,” kata Made. Nilai sel darah putih Made tercatat 146, sama seperti Wayan. Nilai itu masih jauh dari harapan. Idealnya, nilai minimal 500. Saat ini, ARV masih menjadi satu-satunya harapan bagi orang terinfeksi HIV mempertahankan kondisi tubuhnya. Itu sebabnya Wayan sangat ingin Made segera mendapat terapi ARV. “Saya harus berusaha agar Made sehat. Saya sudah kehilangan dua orang, saya nggak mau kehilangan lagi,” kata Made. Wayan juga tak lagi peduli ketika ia harus menunggu kamar kosong hari itu dengan menunggu satu-dua jam lagi. “Diberi di lorong pun tak apaapa, asal Made bisa mendapatkan terapi ARV mulai hari ini,” katanya. Kesempatan hari itu, saat nilai hemoglobin Made memenuhi persyaratan, tak ingin dilewatkannya. “Saya ingin melakukan yang terbaik buat Made. Tahun 2008 saya terpuruk, tahun 2009 saya bisa bangkit. Mudah-mudahan tahun 2010 ini saya bisa lebih bangkit lagi,” harap Wayan. – rat


Bali Membangun

Pak Mangku Garap Program yang Utamakan Rakyat Kecil komunikasi yang bisa menarik perhatian lawan bicara. Hal-hal sederhana yang konkret dan dekat dengan fakta sehari-hari niscaya lebih berhasil membuat audiens larut menyimak ucapan sang komunikator, dan tak membosankan. Tatap muka tersebut pun merupakan kesempatan untuk mengetahui alasan di balik sikap “hemat kata-kata” Pak Mangku jika diminta awak pers menjelaskan panjang lebar sederet selentingan minir yang dialamatkan kepadanya selama lebih dari setahun meneruskan

Gubernur Mangku Pastika didampingi Kepala Bappeda Provinsi Bali, Sekda Provinsi Bali, dan Kabiro Humas dan Protokol I Putu Suardika berbincang dengan para pemimpin media massa dalam acara coffee morning Minggu (14/2) di Jaya Sabha

ADA suguhan baru dalam tradisi kepemimpinan Gubernur Bali Mangku Pastika. Tatap muka dengan kalangan pemimpin media massa dihelat dalam kemasan acara coffee morning, Minggu (14/2) di Gedung Jaya Saba Denpasar. Ini jadi ajang ‘buka-bukaan kartu’ perdana komunitas pengelola media cetak dan elektronik di Bali dengan mantan Kapolda Bali ini setelah setahun lebih memangku jabatan orang nomor satu di Bali.

G

ubernur hari itu tampil rileks. Mengenakan kaus putih berkerah biru dipadu celana panjang hitam, Pak Mangku, panggilan akrabnya, bahkan tanpa sepatu kantor, hanya bersandal kulit. Ini berbeda dengan penampilan dua pejabat terasnya, Sekda Drs. Nyoman Yasa, Kepala Bappeda Provinsi Bali, maupun Kabiro Humas serta Protokol Drs. I Putu Suardika maupun sebagian besar tamu un-

dangannya. Batik menjadi ragam busana paling mencolok dalam acara tatap muka itu. Rupanya Pak Mangku merasa ‘gerah’ berbusana asing sendirian saat itu. Maka, usai mengucapkan salam Oom Swastiastu, urusan busana ini menjadi sentilan pertamanya. Kemasan acara coffee morning dianggap tak lebih dari tatap muka santai hari libur kerja dirinya dengan para pemimpin media massa. “Oleh karena itu, saya memakai baju kaus. Jika

ada acara seperti ini lagi mungkin cukup kita berkaus, bersandal, bahkan pakai sarung, sambil ngopi,” ujarnya berseloroh. Sentilan berikutnya menyerempet ke urusan minum kopi. Pak Mangku menyinggung hasil survei yang mengorek tradisi minum kopi di Bali yang menyimpulkan, kebiasaan ngopi masyarakat Bali termasuk rendah. Proses survei itu diduga Pak Mangku tidak pas dengan realitas. “Saat survei dilakukan mungkin digunakan ungkapan kebiasaan minum kopi. Kalau orang Bali ditanya kebiasaan ngopi kemungkinan besar respondennya menjawab tidak biasa. Ini gara-gara istilah ngopi tidak populer di kalangan orang Bali. Yang lebih populer mawedang,” lanjutnya masih dengan nada berseloroh. Ilustrasi tadi mengesankan Pak Mangku menguasai ilmu retorika. Minimal ilmu ini mengajarkan trik cara ber-

kepemimpinan mantan gubernur Bali Dewa Made Beratha itu. Itu memang ada konsekuensinya. Menurut Sutha Darmasaputra, citra Pak Mangku sebagai gubernur Bali menjadi tak sehebat semasa menjabat kapolda Bali. Kiprah Pak Mangku amat populer sebagai kapolda yang cerdas memerangi aksi terorisme. Pujapuji atas prestasinya ini menjadi buah bibir di hampir seantero jagat. “Namun, kiprah Mangku Pastika sebagai gubernur belum sehebat ketika menjadi kapol-

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 9 da,” ujar lelaki yang baru sebulan menjabat kepala Biro Kompas Bali ini. Sutha menuturkan, saat dirinya masih bertugas di Jakarta, popularitas Pak Mangku sebagai gubernur Bali terkesan tak menonjol. Namun, kesan tersebut akhirnya luruh setelah ia bertugas di Bali. Ternyata banyak program populis yang telah digarap Pak Mangku yakni program yang mengutamakan rakyat kecil. Namun, selama ini program tersebut tak banyak dipublikasikan media massa di Ibu Kota. “Ini bisa jadi karena terbatasnya komunikasi. Komunikasi Gubernur diharapkan dijalankan lebih baik. Fakta dan data yang berkaitan dengan program pemerintah seharusnya dibuka lebih luas,” harapnya. Ada hal baru yang dirasakan selama kepemimpinan Pak Mangku di kursi Gubernur Bali. Salah satu hal baru itu diter-

jemahkan Penanggung Jawab Denpost Made Nariana sebagai upaya Pak Mangku menggenjot penguatan visi good governance dan clean government. Penguatan visi ini diilustrasikannya minimal seirama dengan kebijakan tertib atau disiplin birokrasi pemerintahan di negeri jiran, Singapura. “Selama ini masyarakat kita mengesankan birokrasi pemerintahan Singapura amat tertib. Kita ingin tertib juga seperti itu. Tetapi, karena belum siap, upaya ini malah bisa bikin gila sendiri,” ujar Nariana. Tertib birokrasi semacam itulah yang dinilai sedang digalakkan Pak Mangku di lingkungan pemerintahannya. Namun, kepemimpinannya itu tak dapat diikuti bawahannya di jajaran birokrasi. “Banyak bawahan yang tak bisa mengikuti gaya Gubernur. Pak Mangku sebaiknya menurunkan speednya sedikit,” katanya. —sam

Terobosan ke Arah Pelayanan Birokrasi yang lebih Baik GUBERNUR Mangku Pastika mengakui ada beberapa hal yang mengganjal batin masyarakat selama dirinya memimpin birokrasi pemerintahan Bali. “Ini mungkin karena kurangnya komunikasi,” ujar Pak Mangku di depan pimpinan media massa. Visi good governance dan clean government diakui menjadi spirit pembenahan birokrasi pemerintahannya. Langkah konkret dilakukan melalui berbagai terobosan baru. Misalnya, kontrol ketat diterapkan atas kinerja tiap pejabat eselon II. “Mereka harus siap tiap saat melayani kepentingan masyarakat. Selama saya menjadi gubernur, para kepala dinas tidak bisa lagi bebas menikmati libur hari Sabtu dan Minggu. Mereka harus selalu stand by jika sewaktu-waktu saya hubungi untuk merespons tugas dan kewenangan masing-masing,” katanya. Terobosan itu menjadi

pilihannya untuk menuju perubahan ke arah pelayanan birokrasi pemerintahan yang lebih baik. Namun, Pak Mangku menyadari, langkah ini ada konsekuensinya. Tiap upaya yang bertujuan menghasilkan perubahan bukan mustahil membuat bawahannya merasa tak nyaman. “Ini salah satu konsekuensinya.” katanya. Tetapi, konsekuensi itu tentu bukan tujuan Pak Mangku menggagas terobosan tadi. Adanya musuh dalam birokrasi pemerintahannya hanya efek psikologis dari langkah untuk mewujudkan pelayanan birokrasi makin berwajah populis. Ada konsekuensi yang mulia dari balik itu. Ini dilukiskan sebagai konsekuensi penertiban praktik penegakan aturan birokrasi (rechtmatigheid) demi kepentingan doelmatigheid alias asas manfaatnya. “Manfaatnya, tentu untuk kepentingan masyarakat Bali. Walau langkah ini kemudian membuat saya menjadi gubernur yang tidak populer,” tandasnya. Laju pembenahan mutu birokrasi itu diakui membuat banyak bawahannya kerepotan. Namun, itu pilihan yang tak tertawarkan jika orientasi doelmatigheid birokrasi menjadi spirit kepemimpinannya. Adanya harapan agar speed langkah kepemimpinan menggenjot peningkatan mutu birokrasi diturunkan sedikit, Gubernur menyatakan, penurunan speed pelayanan birokrasi jangan sampai kebablasan. Awalnya Pak Mangku mengaku menerima warisan birokrasi yang boros duit rakyat. Ada contoh yang dibukanya terkait kucuran dana sosial keagamaan. “Ada proposal melaspas bale banjar yang dianggarkan Rp 125 juta. Ini belum proposal bantuan sosial keagamaan lainnya. Saya tidak hanya menerima laporan bawahan semata soal begini. Saya minta dikaji, sehingga jika ada proposal seperti ini,

Gubernur Mangku Pastika

pemerintah provinsi hanya akan membantu Rp 5 juta. Jika ada kabupaten lain di Bali yang membantu Rp 10 juta ya silakan,” katanya. Menurutnya, bantuan sosial sebaiknya lebih mengutamakan perbaikan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur jalan raya, maupun sistem keamanan. “Lebih baik diutamakan bantuan untuk orang sakit, beasiswa pendidikan anak, perbaikan jalan rusak, dan sistem keamanan kita di Bali. Jangan dikira saya pelit lho…,” katanya. Kontrol birokrasi anggaran itu berangkat dari potret statistik APBD 2008. Pak Mangku mengutip APBD Provinsi Bali warisan pemerintahan sebelumnya senilai Rp 1,4 triliun. “Ternyata penggunaannya cenderung tidak mengindahkan prinsip efisiensi,” ungkapnya. Kebijakan pemangkasan dana promosi pariwisata menjadi salah satu langkah nyatanya. Contoh pemangkasan anggaran promosi pariwisata Bali ke luar negeri. Sebelumnya rombongan yang diterbangkan ikut pameran di negara asing dikesankan tanpa terukur. “Ini saya batasi hanya dua orang

dari instansi pemerintah. Saya cek siapa yang berangkat, kompetensinya apa. Ini agar hasil promosinya terukur,” jelasnya. Terobosan efisiensi anggaran ini bersifat lintas instansi. Walau Pak Mangku harus menanggung citra sebagai pemimpin pelit, langkah ini jalan terus. Hasilnya memang ibarat tanaman subur berbuah ranum. Walau deposito pemerintahannya di BPD Bali hanya Rp 450 miliar, target mendongkrak APBD mulai kelihatan. Nilai APBD Bali 2009 merambat ke angka Rp 1,6 triliun. “Lalu, APBD 2010 meningkat lagi jadi Rp 2 triliun. Nilai APBD sekarang memungkinkan kita dapat memberikan pelayanan lebih banyak kepada masyarakat,” ujarnya. Dampak kenaikan APBD tersebut makin dirasakan untuk menjawab berbagai problem sosial masyarakat Bali. Sebelumnya Pak Mangku mengaku malu disodori angka 134 ribu kepala keluarga miskin di wilayahnya. “Sebagai gubernur tentu saya malu KK miskin Bali ada di urutan ke-16 dari 33 provinsi di Indonesia. Namun, kita punya APBD sebesar Rp 2 triliun sekarang,” katanya. APBD sebesar itu memang membawa dampak ke program pelayanan kesehatan masyarakat. Pak Mangku membedah pos anggaran kesehatan selama tiga tahun belakangan. “Ada Rp 20 miliar tahun 2008, Rp 27 miliar tahun 2009, dan tahun ini dianggarkan Rp 127 miliar. Ini dilaksanakan melalui JKBM,” jelasnya. Pak Mangku mengungkapkan manfaat kucuran subsidi dana JKBM kabupaten/kota di Bali. Persentase kontribusi APBD Bali amat tinggi. “Misalnya, Bangli hanya sanggup menganggarkan Rp 117 juta untuk JKBM. Kami memberikan Rp 11 miliar untuk kepentingan program kesehatan ini,” katanya. —sam


10

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Pijar sebagai Komoditas Andalan NTB

Manfaatkan Pasar Lelang Komoditas untuk Pemasaran NTB merupakan provinsi maritim dengan luas wilayah laut mencapai 29.159,04 km², jauh lebih luas dibandingkan dengan wilayah daratannya, yakni 20.152,15 km². Di wilayah pesisir dan laut NTB tersebut memiliki potensi yang kaya dan beragam. Selain potensi lestari perikanan tangkap, juga terdapat potensi budidaya laut yang meliputi budidaya mutiara, lobster, kerapu, dan jenis-jenis budidaya lainnya termasuk rumput laut.

Kunjungan Kerja dan silaturrahmi Gubernur NTB ke Kabupaten Sumbawa Barat bersama Menteri Perdagangan RI, Marie Elka Pangestu

Beasiswa Rp 72 Miliar untuk 129.612 Siswa NTB, fokus untuk memberikan dana hibah kepada siswa miskin di sekolah-sekolah swasta, sekolah di lingkungan Departemen Agama dan SMK. Besaran bantuan setiap siswa per bulan, juga mengalami penyempurnaan, yaitu untuk tingkat SD/MI sebesar Rp 15.000, SMP/MTS sebesar Rp 50.000 dan untuk tingkat SMA/SMK/MA sebesar Rp 75.000. Sedangkan di bidang kesehatan, pada tahun 2010 ini selain pelayanan di luar kuota Jamkesmas sebanyak 301.176 jiwa, Jamkesmas NTB juga merencanakan penjaminan terhadap seluruh pertolongan persalinan di puskemas dan jaringannya serta kelas III RSUD kabupaten/kota dan RSUP Mataram. Dalam rangka mewujudkan capaian target Angka Kematian Ibu Nol (Akino), maka upaya yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah, antara lain melakukan penyiapan lahan yang layak untuk pembangunan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), memfasilitasi pembangunan Poskesdes oleh masyarakat dan pemenuhan sarananya serta pembinaan dan pengayoman bidan oleh aparat desa. Sejumlah program yang akan dilaksanakan pada tahun 2010, sebagai perluasan dan pemantapan dari program terobosan tahun sebelumnya adalah penyaluran subsidi bos garam beryodium untuk murid SD/MI dengan total anggaran dari provinsi mencapai Rp 3,2 miliar lebih. Untuk mempercepat pemberantasan buta aksara dilakukan dengan melibatkan lembaga pendididikan tinggi dan universitasuniversitas yang ada di daerah ini. Bantuan desa untuk keaksaraan fungsional sebesar Rp 10 juta per desa, pada tahun 2010 ini diharapkan pemerintah desa/ kelurahan dapat menambah minimal 2 (dua) kelompok keaksaraan fungsional di setiap Gubernur NTB, meninjau Rumah Sakit Rujukan Provinsi di Kabupaten Sumbawa desa.—nik

DALAM kunjungan kerja ini gubernur juga menyampaikan hasil evaluasi pelaksanaan program selama tahun anggaran 2009. Diakuinya program prioritas daerah ini belum semua dapat dijalankan sesuai dengan yang direncanakan. Misalnya, kualitas prasarana jalan nasional di Pulau Sumbawa dengan panjang keseluruhan 481,44 km, masih terdapat 121,05 km dalam kondisi rusak berat dan ringan sehingga membutuhkan perhatian lebih. Sepanjang 34,55 km lainnya dalam kondisi sedang dan 352,84 km dalam keadaan baik, namun semua itu tetap memerlukan perawatan agar dapat berfungsi optimal. Sedangkan kondisi jalan provinsi di Pulau Sumbawa dengan panjang keseluruhan 1.110,36 km, dalam keadaan baik sepanjang 216,65 km atau 30% sedangkan yang mengalami kondisi rusak sekitar 670,77 km atau hampir mencapai 70%. Demikian pula implementasi program pemberantasan buta aksara, dari jumlah penduduk buta aksara sebanyak 417.000 orang. Sampai dengan akhir tahun 2009 program ini berhasil melakukan pembelajaran dengan pola 32 hari pertemuan untuk 108.408 orang yang tersebar di 51 kecamatan dan 243 desa/ kelurahan se- NTB. Ini berarti masih terdapat 308.592 orang warga buta aksara yang perlu mendapat program pembelajaran. Pada tahun 2010 ini, target pembelajaran buta aksara

direncanakan sebanyak 163.000 yang dananya bersumber dari APBN dan APBD provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam hal kesehatan, capaian kinerja pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin, tampaknya juga perlu mendapat perhatian lebih. Dari hasil evaluasi selama tahun 2009, daya serap anggaran Jamkesda relatif rendah, yaitu sekitar 50% saja. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan masih tingginya kendala teknis yang dihadapi, termasuk kurang memadainya informasi kepada masyarakat sasaran. “Menghadapi pelaksanaan program tahun 2010 ini, perlu dilakukan pemantapan dan sinkronisasi program antara provinsi dan kabupaten/kota yang didukung pelaksanaannya oleh aparat yang ada sebagai lini terdepan yaitu camat, kepala desa/lurah hingga RT/RW dan masyarakat,” harap gubernur. Gubernur juga menyampaikan bahwa pola penyaluran beasiswa miskin tahun 2010 mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2009 lalu. Proporsi cost sharing pendidikan siswa SD/MI hingga SMA/SMK/MA dari semula 50% : 50% berubah menjadi 50,217% untuk provinsi dan 49,783% untuk kabupaten/kota, dengan total biaya yang disediakan dari APBD Provinsi NTB sebesar Rp 72.329.580.000 dengan sasaran 129.612 orang siswa. Penyaluran dana dari provinsi langsung disampaikan kepada sekolah-sekolah yang berhak. Pemerintah Provinsi

D

i antara potensi budidaya laut tersebut, budidaya rumput laut dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Itulah sebabnya dalam RPJMD 20092013 rumput laut menjadi salah satu Komoditas unggulan daerah di samping sapi dan jagung. Berdasarkan hasil penelitian, Gubernur NTB saat meninjau lokasi pembudidayaan rumput laut di Desa Labuhan Mapin, Kecamatan keunggulan budidaya rumput Alas Barat Sumbawa laut terletak pada proses budidayanya yang tidak Development Services berfungsi membutuhkan teknologi yang (BDS) rumit dengan waktu panen sebagai pendamping relatif cepat antara 30 hingga 60 dan pemonitor kinerja hari, serta ketersediaan areal koperasi; bank/lembaga pengembangannya di NTB perkreditan rakyat sebagai masih cukup luas. “Hampir berfungsi semua kabupaten di NTB sumber dana bagi memiliki potensi areal pengem- kelangsungan klaster bangan rumput laut, terutama di aquabisnis rumput laut. Pulau Sumbawa,” kata Guber- Sedangkan pemerintah nur NTB, T.G.H. M. Zainul daerah berfungsi sebaMajdi, M.A., saat bertatap muka gai regulator stimulator dengan bupati, camat, lurah/ maupun fasilitator serta kades, Badan Perwakilan Desa lembaga adat yang me(BPD) dan petani rumput laut miliki aturan-aturan berse-Kabupaten Sumbawa dalam dasarkan kesepakatan kunjungan kerjanya di Kabupa- masyarakat. ten Sumbawa dan Sumbawa Dalam upaya menBarat beberapa waktu lalu. dukung peningkatan Total luas produksi budi- produksi rumput laut, daya rumput laut hingga tahun pada saat yang ber2008 tercatat 25.883,0 hektare samaan gubernur medengan total produksi, 105,138 nyerahkan bantuan alat ton atau 45% sesuai dari target pengolah rumput laut produksi yang ditetapkan dengan harapan agar melalui program revitalisasi alat ini dapat dimanfaatperikanan khususnya untuk kan secara maksimal budidaya rumput laut. Khusus untuk mendukung pedi Kabupaten Sumbawa, ningkatan kualitas hasil potensi pengembangan rumput produksi rumput laut di laut mencapai 16.650 hektare, daerah ini sehingga namun yang telah dimanfaatkan akan berimbas pada peningkatan nilai ekohanya sekitar 5.381 hektare. Rumput laut merupakan nomi masyarakat pesisir. Gubernur juga berKomoditas strategis yang memiliki pangsa pasar dalam skala harap kepada seluruh Dialog Gubernur NTB para petani rumput laut, petani jagung dan lokal, regional, maupun inter- petani rumput laut dan peternak sapi dalam kunjungan kerja di Kabupaten Sumbawa nasional. Permintaan rumput pihak-pihak terkait dan Sumbawa Barat laut dari tahun ke tahun terus seperti Dinas Perikanan meningkat. Hal ini disebabkan dan Kelautan untuk terus luas lahan potensial, maupun terhadap pengurangan impor rumput laut tidak hanya diman- bersinergi dan saling mem- ketersediaan sumber daya jagung nasional yang rata-rata faatkan untuk bahan makanan, berikan dukungan yang signi- pendukung lainnya serta nilai mencapai 1,2 juta ton jagung tetapi juga dapat diolah menjadi fikan dalam rangka meman- ekonominya. Potensi lahan per tahun. bahan multiguna, seperti bahan tapkan seluruh mata rantai untuk pengembangan jagung di Dalam upaya peningkatan untuk biofuel serta bahan baku usaha rumput laut, sehingga NTB mencapai 269 ribu hektare, produksi tersebut, pemerintah bagi pembuatan kertas. Peran dapat memberikan multiplayer namun tingkat pemanfaatan- daerah menerapkan empat yang tidak kalah pentingnya effect berupa peningkatan nya saat ini hanya sekitar 55,5 strategi besar yaitu; pengembadalam pengembangan rumput penghasilan petani rumput laut ribu hektare. ngan areal tanam; peningkatan laut ini adalah dalam hal produktivitas; pengapenyerapan tenaga kerja. manan produksi; serta Tiap usaha budidaya penguatan kelembagaan rumput laut akan memdan pembiayaan. “Kunci buka peluang kerja baru keberhasilan dari strategi bagi ribuan tenaga kerja. tersebut sangat ditentuNamun, hingga saat kan oleh kerjasama yang ini NTB masih dihadapbaik antara pemerintah kan pada beberapa daerah, petugas terkait, kendala, antara lain termasuk penyuluh dan masih banyaknya pelakkelompok tani hingga sanaan teknik budidaya pada dukungan mitra dan pascapanen yang usaha dan jaringan pekeliru, lemahnya kelemmasaran lainnya,” ujar bagaan menyebabkan gubernur. terbatasnya akses petani Selain itu, saat ini terhadap sumber penjuga sedang dikembangdanaan, terjadinya keterkan strategi pemasaran ikatan secara permanen Komoditas jagung meterhadap pihak pemodal lalui pasar lelang Komobesar melalui praktik ijon. Gubernur NTB, menyerahkan bantuan kepada petani jagung di Poto Tano KSB, ditas berbasis elektronik, Untuk mengatasi petani rumput laut Desa Labuhan Mapin, Kecamatan Alas Barat Sumbawa dan yang tentunya akan permasalahan tersebut peternak sapi di Serading Sumbawa dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten semakin mendorong pemerintah daerah meterwujudnya efisiensi Sumbawa dan Sumbawa Barat lalui kebijakan pengemproduksi dan memperluas Demikian pula tingkat akses perdagangan Komoditas bangan klaster telah melaksana- itu sendiri juga dapat membuka kan berbagai fungsi seperti: lapangan kerja baru bagi produktivitasnya yang rata-rata jagung daerah di pasar nasional 32,69 kuintal per hektare, dan internasional. klaster petani yang berfungsi masyarakat. Dalam RPJMD NTB 2009 – padahal potensi biologisnya dalam proses budidaya, pemaUntuk menstabilkan harga nenan, pengeringan, dan 2013, pemerintah provinsi telah bisa mencapai 5 ton per hektare, Komoditas jagung, pemerintah pengangkutan. Koperasi primer menetapkan komoditas unggul- sehingga total produksi jagung daerah melalui Dinas Pertanian yang berfungsi menampung an daerah yang dikenal dengan NTB dapat mencapai 1,3 juta Tanaman Pangan dan Holtirumput laut kering dan sortasi Pijar (Sapi, Jagung, dan Rumput ton lebih. Jika peningkatan kultura dan Masyarakat Agriulang; koperasi sekunder Laut). Penetapan ketiga komo- produksi tersebut dapat di- bisnis Jagung (MAJ) dan berfungsi untuk mengolah ditas unggulan ini, didasarkan wujudkan maka akan dapat pembeli dari luar NTB bertemu rumput laut kering; Business pada potensi sumberdaya baik memberikan kontribusi nyata membahas pasar yang dapat menampung hasil petani dengan perhitungan harga yang disepakati dan saling menguntungkan. Melalui upaya tersebut dalam dua tahun terakhir, harga Komoditas jagung dapat terkendali pada posisi yang menguntungkan petani. Dengan berbagai potensi dan upaya tersebut pemerintah daerah optimis pada akhir tahun 2010 target dan sasaran produksi komoditas jagung akan mencapai 238.043 ton, dengan produktivitas 35,90 kwintal/ha dan luas panen 66.315 ha. Lokasi pembibitan sapi, Serading Kabupaten Sumbawa

—nik/hms


Kesehatan Sakit Jantung 11 Tahun Sembuh Dalam Waktu Sebulan ada hari tanpa se- jantung, pembesaran jantung serta sak dan keluhan terjadi pengapuran pada klep jantung jantung. Sang suami (stenotic mitral valve, aotic regurg, left pun ikut menderita. atrium enlarged). Ia sering absen Kondisi yang dialami Bu Ayu, terus menjalanlan tugas- menggerus keuangannya. Dua rumah nya karena Bu Ayu dan tiga mobil ludes dilego untuk sering tidak mampu membiayai pengobatannya selama 11 menolong dirinya tahun ini. Karena kesehatan jantungnya saat penyakit sulit diobati, dokter berkali-kali pula jantungnya menye- mengingatkan agar Bu Ayu segera merang. Ketika serang- laksanakan operasi klep dengan biaya an jantung muncul, sekitar Rp 200 juta. baik siang atau maSeminggu menjelang keberangkatanlam Bu Ayu bisa nya ke Jakarta, suami Bu Ayu mengpingsan berkali-kali. ajaknya berkunjung ke balai pengobatan Ia pun segera di- jantung sehat “Bali Heart Care Center” bawa ke rumah sa- (BHCC). Mendengar pengobatan kit. Selama lebih 9 alternatif di BHCC tanpa operasi dan tahun penyakit bisa mengobati sakit jantungnya,Bu Ayu jantungnya sering sempat meragukannya. “Dokter saja kumat, Bu Ayu ha- menyarankan operasi, karena tidak ada nya satu minggu di obatnya di dunia ini. Apa dengan terapi rumah, sisanya se- alat dan ramuan bisa menyembuhkan, lalu dihabiskannya aneh kedengarannya, “ ujar Bu Ayu. di rumah sakit. Karena sang suami bersikeras ke “Sejak penyakit BHCC, akhirnya Bu Ayu bersedia. saya kumat, saya Sambil duduk di kursi roda ia datang selalu dibantu oleh ke BHCC untuk diperiksa. Setelah mesuami. Semua pe- lihat data medis Bu Ayu, Mr.Chai dari kerjaan rumah tang- Hsen Chii International mengambil kega seperti ke pasar, simpulan, memberikan beberapa resep memasak, mem- ramuan herbal diikuti dengan terapi bersihkan rumah, EECP dan terapi darah EBOO. dan lainnya dikerja“Sungguh luar biasa khasiatnya, kan oleh suami dan hanya dalam waktu tiga hari saja saudara saya. Pe- kondisi saya yang tadinya lemas kerjaan saya hanya tidak bertenaga, tiba-tiba pulih. Saya Ibu Ayu Adnyani Putri tidur dan menonton bisa pergi ke pasar, naik tangga, TV. Bergerak sedikit memasak dan mengerjakan pekerjaan Ibu Ayu Adnyani Putri (40) adalah saja, jantung saya pasti kumat,” kata rumah tanpa bantuan. Saya juga bisa sosok yang tegar. Menjalani pen- Bu Ayu. melayani suami sebagaimana mestideritaan selama 11 tahun bukanlah hal Setelah menderita gangguan nya,” kata Bu Ayu tersenyum sembari yang mudah. Diakuinya sejak hamil jantung tidak teratur dan bertahun- mengatakan saat ini setelah menjalani anak satu-satunya ia sudah merasa- tahun, ia terus mengonsumsi obat- terapi selama satu bulan, ia bisa kan gangguan pada jantung. Karena obatan medis. Serangan demi se- membawa motor sendiri tanpa diantar sering kelelahan, jantungnya terasa rangan jantung silih berganti dialami- oleh suaminya. Baginya ini peberdebar dan detaknya tidak merata. nya, dokter menyimpulkan adanya ngalaman luar biasa, sakit jantung 11 Sejak tahun 1998 ia mengalami tensi yang terus meningkat mencapai tahun, diobati hanya dalam waktu sagangguan jantung, sesak, dan nyeri. 170/100 dan terjadi gumpalan darah tu bulan. “Terima kasih BHCC,” ujarDokter pernah menyarankan untuk yang menjadikan makin parahnya klep nya. —adv menggugurkan kandungannya, karena khawatir jika kehamilanUntuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke: nya dipertahankan bisa meBali Heart Care Center renggut nyawa Bu Ayu. Karena Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy merasakan sulit hamil dan perJalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) nah mengalami keguguran, Bu 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Ayu tetap pada pendiriannya unEmail: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com tuk meneruskan kehamilannya. Setelah melahirkan anak Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg perempuan satu-satunya, terBHCC kirim ke 9168. nyata gejala sakit jantung terus (untuk kelancaran silakan buat janji) menggerogotinya. Hampir tidak

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 11


12

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Praktik Peradilan..............................................................................................dari halaman 1 Limbah Karung...........................................................................................................................................................dari halaman 1 bidang hukum. Menurut Tjok Istri Sri Harwathy, S.H., M.M., era penataan hukum dalam segala segi kehidupan masyarakat, kini tengah terjadi. Pada saat inilah berbagai undang-undang yang bersifat reformis dan demokratis dibentuk. Ini berarti memberikan kesempatan luas kepada sarjana hukum menduduki jabatan dan posisi penting di berbagai lini. Fakultas hukum sebagai salah satu dari sekian banyak pilihan untuk kuliah makin digemari oleh para lulusan SMU di Bali bahkan di Indonesia. Ternyata pula, FH Unmas menjadi fakultas favorit di kalangan pelajar yang lulus bangku sekolah lanjutan atas ini. Bagi Tjok Sri, mengajar bisa dikatakan menjadi bagian dari hidupnya. Ia aktif dengan profesi sebagai dosen sejak 1986 di FH Unmas yang didirikan 8 Maret 1982 ini hingga sekarang. Pengalaman belajar dan mengajar ini rupanya menumbuhkan jiwa belajar terusmenerus dalam diri istri Tjokorde Gde Parthasuniya, S.H. M.M. ini untuk mengabdikan tenaga dan pikirannya di dunia pendidikan. Program pendidikan ilmu hukum di FH Unmas ini merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat dalam memberikan sumbangan pada pemerintah, menyiapkan tenaga profesional guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar mampu bersaing di era globalisasi melalui

penegakan hukum. “Untuk menunjang tujuan tersebut kami telah menyediakan fasilitas laboratorium Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) dan Program Spesifikasi Pendidikan di bidang advokasi yang didukung dengan Lembaga Pelatihan Peradilan. Mahasiswa banyak belajar dari beragam kasus yang ditemui melalui praktik pelatihan peradilan semu yang di kampus kami, akan ditemukan jalan keluarnya,” ucap sulung dari tujuh bersaudara pasutri Tjokorda Oka dan Anak Agung Istri Putra Citarasmi ini sembari mengatakan FH Unmas mengalami banyak kemajuan dalam kualifikasi dosen, inovasi kurikulum dan pemelajaran sehingga hasil visitasi status akreditasi kini menjadi B. FH Unmas telah pula menyusun kurikulum dengan tingkat permeabilitas yang fleksibel, adaptif, continous improvement, tetap konsisten dan kokoh terhadap visi, mini, tujuan utamanya; memperhatikan bobot dengan muatan, content context selalu mengalami perbaruan terus-menerus sesuai perkembangan iptek serta prioritas keperluan pasar lulusan. Kurikulum juga dibuat tetap smart (specific, measureable, achieve, realistic, and time phased), sehingga mudah diterapkan, mudah penyediaan sarana-prasarana pendukung atau pelengkapnya. Tujuan akhirnya adalah mampu memberi-

kan jaminan kepastian mutu terhadap hasil dan dampaknya dari proses penerapan dengan waktu yang tepat. “Selama ini semua program berjalan berkat teamwork dari para sejawat kami di FH Unmas,” tandasnya. Sebagai dosen, perempuan satu ini mengakui menjadi kewajibannya untuk selalu mengembangkan kesadaran mahasiswanya menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman dan kesederajatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial hidup bermasyarakat; menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dengan landasan nilai estetika, etika dan kepekaan moral dan landasan pengetahuan serta wawasan luas dalam mempraktikkan pengetahuan akademik dan keahliannya. “Mahasiswa dituntut memiliki soft skill. Melalui pemelajaran tersebut mereka akan memahami pentingnya beretika, kreativitas, inisiatif. Soft skill ini untuk memoles kemampuan keterampilan mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi global sekaligus mempertajam profesionalisme,” ujarnya. Dekan yang senantiasa tampil elegan ini menyatakan sebagai penyelenggara akademik tentu ia memiliki harapan nantinya FH Unmas yang digawanginya menelurkan sarjana hukum yang berjiwa Pancasila, bersifat terbuka, cakap memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi serta mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu

elegan. Desain gambar sablonan asli tetap ada. Ini berupa potret asli perempuan petani yang sedang menanam padi di salah satu sisi karung. Hanya saja, desain potret asli ini sudah tampak lebih menarik setelah dihiasi mote berwarna. Warna mote yang ditindih dikreasikan dengan warna lebih kinclong ketimbang warna desain gambar aslinya. Tulisan “”New Putri Sejati, Best Rice Quality” ditimpa monte berwarna. “Tulisan asli yang ada di karung tidak dihapus, tetap dibiarkan. Hanya saja, desain tulisannya jadi menarik setelah diberi monte berwarna,” ujarnya. Bahan baku limbah karung ini tak hanya bekas penyelimut beras dagangan. Ada juga karung serupa yang sebelumnya dipakai sebagai kemasan terigu dan gula pasir. Namun, Wensislaus tak mengerjakan pemasangan monte. Tugasnya hanya merapikan limbah karung sesuai ukuran tas yang hendak diproduksinya. “Setelah dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, baru dipasangi monte. Monte ini dipasangi pengrajin lain. Saya menyerahkan kepada kenalan saya asal Madura di Tuban, Kuta,” katanya. pengetahuan, menguasai ilmu hukum serta teknik analisis dalam rangka memahami seluruh proses hukum, memajukan, mengembangkan, menyebarluaskan ilmu hukum pada khususnya dan pengetahuan sosial budaya umumnya. —ard

Biasanya pengrajin monte ini bisa menyelesaikan sekitar 6 pcs bahan dasar tas yang telah ditindih monte. “Setelah itu saya percantik bahan dasar tas ini dengan kulit hewan. Pilihan kulit tersebut disesuaikan dengan corak warna monte yang telah dipasang di desain gambar dan tulisan karung plastik tadi. Setelah berbentuk tas lalu dipasang tali kulit sebagai cantelan tas,” katanya. Kreasi tas ini sudah setahun dikerjakannya. Ini sesuai permintaan seorang relasi bisnisnya asal Italia. “Relasi bisnis asal Italia ini yang mememasan pertama kali. Tas dari limbah karung plastik ini ternyata laku dijual di Eropa,” ujarnya Pesanan untuk dipasarkan ke luar negeri pertama kali sebanyak 300 pcs. Ini terjadi setelah relasi bisnis asingnya tadi berhasil menemukan pasar di negaranya hanya bermodal empat sampel tas yang dikerjakan Wensislaus. “Pesanan tertinggi baru 800 pcs. Tetapi, prospek pemasarannya di luar negeri,” ujarnya. Buah kerajinan tangan ini tergolong kreasi baru daur ulang limbah karung plastik di Bali. “Tetapi, beberapa bulan belakangan ini ada pengrajin lain yang mulai membuat tas dari bahan baku limbah karung seperti ini. Saya senang karena telah merintis jenis usaha bisnis limbah karung ini sehingga bisa dilakukan orang lain juga. Sebenarnya banyak kreasi baru bernilai ekonomi bisa

didaur ulang dari limbah,” katanya. ada pesanan 300 pcs,” paparnya. Suami Maria Andi Setiawati Modal Bahasa Inggris (22) ini sebelumnya tak pernah Hasil kreasinya itu diakui membayangkan akan melakoni bukan murni berasal dari dirinya. usaha kerajinan bernilai ekspor ini. Ini berkat Wensislaus berkenalan Ini lantaran setamat SMK dia secara kebetulan dengan seorang hanya ingin mencoba merantau ke bule saat ia nyambi menjadi time Bali. “Awalnya saya jadi buruh share di Kuta akhir tahun 2008. bangunan sebuah hotel berbintang Modal bahasa Inggris yang di- di Kuta tahun 1999. Setelah itu milikinya ternyata membawa ber- saya sempat menjadi salesman di kah. “Bule ini bercerita dia pernah perusahaan furniture milik sepupu punya usaha bisnis tas dari terpal. saya di Besakih, Karangasem,” Namun, ia ingin mulai membuat tas kisahnya. dari karung bekas pembungkus Lepas dari situ, ia sempat beras. Katanya bahan bakunya mengecapi pekerjaan sebagai asisten kuat untuk dibuat tas. Dia lalu seorang warga Italia yang memodali minta saya bikin tas yang menarik usaha garmen di Kuta. Bisnis ini dari karung plastik bekas tersebut,” menghasilkan produk busana pantai, kisah Wensislaus. sepatu, dan sandal kulit. “Dari sini Namun, saat itu dirinya masih saya sempat mencuri pengalaman terikat pekerjaan tetap sebagai sales- membuat sepatu dan sandal kulit man di sebuah perusahaan penjualan dari para pekerja garmen. Kebetulan kulit di Kuta. Sebagai salesman ia saya menumpang di rumah sepupu bertugas mencari pelanggan. “Saat yang juga bisnis sepatu dan sandal keliling cari pelanggan itulah saya kulit. Di rumahnya ada mesin jahit mencari informasi karung plastik be- kulit. Saya coba praktikkan apa kas di toko penjualan beras. Saya yang saya lihat di perusahaan coba beli empat lembar karung ter- garmen. Tiga tahun merasa cukup sebut. Lalu, saya coba potong men- dapat bekal pengalaman, saya lalu jadi empat ukuran. Kebetulan ada minta berhenti,” ujarnya. “Bisnis tas sebenarnya tak seorang ibu asal Madura yang saya kenal sebagai pengrajin monte memerlukan modal besar. Sejauh ini di Tuban. Saya minta ibu ini saya baru bisa masuk ke pasar luar memasang monte seperti yang negeri. Saya belum coba untuk saya minta. Setelah itu, saya coba konsumen lokal. Konsumen lokal padukan dengan kulit. Hasilnya ini bisa jadi menjadi pasar potensial ternyata membuat relasi bisnis di tengah ketatnya persaingan saya tadi puas. Dia mencari pasar produk kerajinan kita dengan ke Italia. Dua minggu kemudian barang impor,” katanya. —sam

Berpikiran Baik............................................................................................................................................................dari halaman 2 Gagas Kemandirian........................................................................................dari halaman 1 Berbeda dengan orang yang berpikir negatif, saat gagal, mereka akan menyalahkan diri sendiri, sehingga tak ada usaha meningkatkan diri. Paksakan diri pada 15 menit pertama bangun tidur untuk berpikiran positif. Bimala Rurin Mardewita

Jalani Hidup Apa Adanya Mengeluh kaitannya dengan kinerja pemerintahan, perlu juga, guna ikut memberi sumbangsih pemikiran. Menjalani hidup harus dengan apa adanya. Hidup untuk dijalani dan dihadapi bukan dihindari dan dikeluhkan. Gede Biasa

Mengeluh Berarti belum Matang

berperilaku baik. Bukankah jika orang berpikir baik maka akan bernasib baik. Realitasnya, petani tak bisa kaya, mereka hanya mendapatkan kebahagiaan. Santa

dan tindakan yang baik namun hasilnya belum didapat, jangan risau. Hasil kebaikan tidaklah instan. Namun, pikiran baik dan buruk akan memberikan hasil yang instan. Perbuatan yang baik meski tak instan, hasilnya Hidup Tenang berkeseinambungan. Nanti saat kita membutuhkan bantuan, Termasuk Rezeki perbuatan baik yang pernah Rezeki tak hanya dipandang kita lakukan akan mendapatkan dari sisi materi. Ketenangan balasan yang baik pula. hati, keluarga yang sehat, istri Bimala Rurin Mardewita atau suami dan juga anak-anak yang baik, itu adalah rezeki. BerSetelah Sukses, sikap baik bisa memberikan keLupa tenangan dan kebahagiaan serPernah berpikir dan berbuat ta keringanan dalam menjalani hidup, itu adalah salah satu baik kepada seseorang hingga orang itu sukses. Namun, mengrezeki. Bimala Rurin Mardewita apa saat dia sukses orang itu lupa dengan kita. Ugi Awali Niat Baik Tidak hanya berpikir, untuk mencapai nasib baik, perlu diawali niat yang baik. Seperti lagu yang dikumandangkan Ebit bahwa ikuti saja iramanya dengan rasa, artinya apa yang diberikan, kita syukuri dan nikmati serta jalani seperti air mengalir. Sebuah buku menyebutkan jika setan bisa masuk ke pembuluh darah dan mengajak ke hal-hal negatif. Apa bisa kita menyiasati ketika pikiran negatif muncul, agar bisa bertindak positif? Becik

Anak kecil sering mengeluh saat tidak dituruti keinginannya oleh orangtua mereka. Begitu pula suami, mengeluh jika istrinya tak mampu berbuat yang sesuai dengan keinginan suami, dan sebaliknya. Secara umum, manusia yang sering mengeluh, mencirikan kalau dia itu belum dewasa. Terutama keluhan menyangkut pelayanan kepada dirinya. Masyarakat sering mengeluh jika keinginannya tak terpenuhi, bahkan menyalahkan pihak lain. Berarti, tingkat kedewasaannya belum matang. Manusia tidak boleh mengeluh Pikiran Buruk Meledak untuk kepentingan sendiri, Saat Tertekan boleh mengeluh jika untuk Menabung pikiran buruk kepentingan umum. Jero Wijaya akan meledak saat kita tertekan. Jadi usahakan untuk selalu Masalah pun berpikir positif. Bimala Rurin Mardewita

Ada Sisi Positifnya

Semua manusia punya masalah dan cobaan. Sebagai proses pembelajaran, cobaan itu bisa meningkatkan kualitas diri untuk selalu berpikir, berkata, dan berperilaku baik. Dari masalah pun ada sisi positif yang bisa kita ambil. Misalnya, saat didera musibah kematian orangtua. Secara otomatis, seluruh keluarga yang tadinya tak pernah dan sulit dikumpulkan, bisa disatukan dan dikumpulkan dalam sebuah acara pemakaman. Jika berpikir positif, kita akan berpikir bahwa musibah bisa memberi hikmah dan pesan yang positif. Musibah juga bisa makin menguatkan sesorang untuk lebih introspeksi diri bahwa selama ini mereka kurang merawat orangtua, dll. sehingga akan ada usaha memperbaiki diri. Orang yang bisa memandang tiap masalah dengan kaca mata positif membuat orang itu lebih tenang dan ringan. Penyakit disebabkan pikiran. Saat orang sakit dan berpikir akan sembuh, penyakit itu akan sembuh. Di tubuh orang yang berpikir positif, penyakit enggan datang. Orangorang yang berprasangka baik, akan memaafkan segala hal yang membuatnya jengkel. Mudah memaafkan orang bisa menjadi salah satu cara untuk selalu berpikir positif. Bimala Rurin Mardewita

Jujur tetapi tak bisa Kaya Petani adalah contoh orang yang jujur, dan senantiasa

Nasib Ditentukan Pikiran Dalam bertindak yang paling utama berpikir, niat, dan berbuat baik. Jika ingin melakukan sesuatu mulailah sejak berpikir, agar gerak menjadi terarah sesuai dengan keinginan. Sehingga konsistensi menjadi kuat sesuai komitmennya. Sinkronisasi antara pikiran, ucapan dan perbuatan mutlak dan wajib hukumnya. Nasib ditentukan pikiran baik atau buruk. Nasib baik tak hanya diukur seberapa banyak barang yang dimiliki, namun seberapa jauh jangkauan pikiran atau wawasan pemahaman problematika yang menghadang untuk dicarikan solusinya. Ada pihak yang berpendapat, proses lebih baik daripada hasilnya. Manusia punya keterbatasan, hanya bisa berusaha, hasilnya ditentukan faktor dan kekuatan lain. Berpikir baik memang bisa menghasilkan nasib yang baik. Pande

Malah Dapat Kecelakaan Ingin punya pikiran baik, namun malah mendapatkan kecelakaan dan menghasilkan hal-hal buruk. Apa ada yang salah dengan tindakan kita? Vera

Belum Didapat jangan Risau Jika telah melakukan hal-hal

Jangan Berharap Balasan

tindakan yang kita lakukan kepada anak telah baik. Anak yang dibesarkan dengan cara yang baik, akan menjadi anak yang berbahagia sehingga mudah mencapai prestasinya. Apa yang ditanamkan sejak kecil, itu akan menjadi bekal mereka saat mereka besar. Jika kita sayang kepada anak, kelak saat besar, anak akan sayang kepada kita. Bimala Rurin Mardewita

Menularkan Pikiran Baik Bagaimana cara menularkan pikiran dan tindakan yang baik kepada para penguasa atau pemerintah. Made Jujur

Mestinya Kebaikan Berakar sejak Sekolah Dalam sebuah organisasi atau sistem pemerintahan yang penting para pemimpin sadar bahwa apa yang dia pikul adalah amanah. Banyak orang berbondong ingin menjadi pemimpin, tanpa sadar apakah makna menjadi pemimpin. Seharusnya, semua kebaikan harus telah berakar dalam probadi seseorang sejak masih duduk di bangku sekolah, sehingga saat mereka tumbuh menjadi pedagang atau pejabat, mereka akan bekerja dengan jujur dan bersikap positif. Bimala Rurin Mardewita

Saat kita memulai berpikir dan bertindak dengan baik lakukan dengan ikhlas dan jangan berharap ingin dibalas orang. Tetapi, berbuat baik agar Tuhan, alam dan mekanismenya bisa membalas kebaikan dan kemudahan buat kita. Menabung hal-hal yang baik akan berguna bagi masa depan. Banyak orang yang berbuat baik, mendapatkan rezeki dari arah yang tak terduga. Orang tak perlu mengubah lingkungan, orang sering berpandangan lingkungan ini jelek dan perlu diubah. Sebenarnya, lingkungan bisa Marah, Malu, diubah jika seseorang sudah bisa mengubah dirinya. MisalJengkel, Senang nya terkait kedisiplinan. HarusSemua manusia dibekali nya ditanamkan dalm diri sen- beragam rasa marah, malu, jengdiri jangan melihat orang lain. kel, senang, dll. Bagaimana Bimala Rurin Mardewita mengatur perasaan itu sehingga tepat waktu, tempat, dan konDari Pikiran Positif disi sehingga berjalan menuju ke Perasaan Positif kebaikan. Werdha Seseorang akan berpikir baik tentang dirinya. Misalnya Marah dengan seorang penjudi, berpikir berjudi baik, pencuri pun demikian Kata-kata Baik menganggap mencuri baik, Tiap kemarahan pasti ada seorang rohaniawan punya penyebabnya. Kita perlu mepikiran baik menurut pandagan- mandang dengan kaca mata nya. Kalau hanya sekadar di positif. Jika kemarahan dipanpikiran akan jauh dari kualitas dang secara negatif, makin meatau apa yang diharapkan. Dari ledak. Marah boleh tetapi katapikiran positif hendaknya kan dengan kata-kata baik, dilanjutkan ke arah perasaan misalnya “Belum bisa dengar positif. Di situlah ranah men- ya,” jangan memakai kata-kata dapatkan kedamian dan ke- kasar, seperti “Kamu tuli ya,”. bahagiaan. Meski keduanya bermakna saEdi ma, kata-kata positif dapat meredam kemarahan. Kemarahan ’Tri Kaya Parisuda’ akan berkurang jika memandang Di Bali ada ajaran tri kaya sumber kemarahan dengan parisuda, berpikiran baik, ber- kaca mata positif. Bimala Rurin Mardewita kata baik, berbuat baik. Berbuat baik hanyalah semata-mata untuk Tuhan bukan meminta Tergantung balasan kepada sesama. Garis Tangan Ketut Darmada Nasib tergantung garis takita. Jikalau pun kita berSayang Anak, ngan pikir baik, tak akan mengubah Anak Sayang Kita nasib kita, namun akan menSegala sesuatu kita mulai dapatkan hasil yang baik. Wayan Ginawa dengan yang baik dan niat yang baik, apa pun hasilnya terima dengan ikhlas, baik berhasil Takdir dan Nasib maupun gagal. Mekanisme Berbeda alam akan membalas segala perTakdir dan nasib itu berbuatan yang kita lakukan. Jangan takut jika hal-hal yang kita beda. Nasib dikelola manusia. lakukan tak mendapatkan balas- Segala sesuatu tak ada yang an. Orangtua perlu berpikir dan absolut. Takdir ada tiga, rezeki, bertindak positif terhadap anak. jodoh, dan kematian. Bimala Rurin Mardewita Selalu introspeksi diri apakah

kerakyatan dengan mengundang 1.000 ibu PKK di Tabanan. Untuk mengembangkan usaha kecil menengah di Tabanan, sulung dari tiga bersaudara ini, berkeinginan membuat pameran. Para pembeli diundang untuk melihat hasil UKM di Tabanan. Pameran ini sebagai ajang promosi dan sekaligus transaksi bisnis. Ia akan memediasi agar para pelaku UKM juga terlindungi. Artinya, mereka diuntungkan. Pameran ini akan gencar dilakukan berkesimbungan untuk memperkenalkan UKM di Tabanan. Ia berharap, dengan pameran ini akan banyak bermunculan para pelaku bisnis khususnya kaum perempuan. Satu-satunya perempuan yang bertarung dalam kancah pilkada ini berharap, perempuan harus pintar agar mereka dihargai. Jangan hanya cukup menjadi ibu rumah tangga. Perempuan hendaknya mengembangkan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Ia menilai, pendidikan kewirausahaan itu penting diajarkan sejak di bangku sekolah. Agar para perempuan memunyai keterampilan yang dapat mereka kembangkan nantinya untuk membantu perekonomian keluarga. “Kalau ada waktu luang setelah mengurus anak, jangan hanya menonton sinetron. Tapi kembangkan diri dengan memiliki keterampilan agar bisa mandiri,” kata Eka. Ia mengatakan, banyak keterampilan perempuan yang sifatnya sangat sederhana, namun mampu membantu perekonomian keluarga. Usaha sanggul Bali, misalnya. Banyak kesempatan yang mengharuskan perempuan Bali tampil dalam busana adat yang identik dengan sanggul Bali. “Tiap upacara adat, perempuan pasti memakai sanggul Bali. Ini bisa di-

manfaatkan sebagai peluang bisnis,” kata alumnus D-2 Fashion Designer Susan Budiharjo ini. Bekerja sama dengan Ekalawya Educare dan aparat desa 10 kecamatan di Tabanan, Eka pernah menggagas kursus tata rias sanggul Bali bagi 500 ibu PKK. Kegiatan ini tujuannya, untuk mendorong para perempuan menjadi mandiri dengan menekuni keterampilan tata rias. Setelah pelatihan ini, para perempuan dapat menerapkannya untuk diri sendiri. Bahkan, keterampilan ini dapat menghasilkan uang. Tidak perlu memunyai tempat, dapat dilakukan rumah, atau berkeliling menyanggul. Dari beberapa perempuan yang sudah mengikuti kursus ini, mereka akhirnya eksis menekuni usaha menyanggul keliling dari rumah ke rumah. “Keterampilan ini tampaknya sederhana namun jika dilakoni dengan serius dapat menjadi penghasilan yang cukup menggiurkan,” katanya. Prospek usaha yang bagus, selain sanggul Bali, adalah pembuatan dupa. Masyarakat Hindu di Bali pasti membutuhkan dupa untuk persembahyangan. Dupa tahan lama dan dapat dimulai dengan modal yang tidak cukup besar. Dari dupa dapat dikembangkan menjadi minyak esensial. Dari hasil UKM ini, kata dia, dana dapat disalurkan ke koperasi dan modal digulirkan, untuk membantu mereka yang kesulitan dalam modal usaha. Fungsi koperasi pun lebih optimal dan koperasi dapat berkembang menjadi lebih besar. Pengalaman Eka dalam berbisnis sudah banyak teruji. Berbagai usaha telah ia lakoni. Kariernya berbisnis di mulai dari komisaris PT Permata Soraindah Cargo, Komisaris PT Bakor Sakti, Komisaris PT Intani Sejahtera, Komisaris PT Larosa

Sumbawa, Dirut CV Sarinadi Utama, Dirut CV Ekaswara Gemilang, Dirut CV Sarikarya Mas. Peduli akan kesehatan, Eka juga menggagas seminar dan safari kesehatan serta memberikan pemeriksaan pap smear gratis kepada 1.500 ibu KK Tabanan, bekerja sama dengan Ekalawya Educare dan Diskes Tabanan. “Ini hanya salah satu upaya kami untuk lebih menyehatkan masyarakat Tabanan,” kata Ketua Umum Yayasan Ekalawya Educare Foundation ini. Eka menilai, perempuan Tabanan banyak memiliki potensi, termasuk dalam bidang politik. Namun, mereka masih takut. Dengan tampilnya ia dalam kancah pilkada Tabanan, ia ingin menunjukkan perempuan mampu menjadi pemimpin. Perempuan harus didorong dan dimotivasi agar lebih berani mengekpresikan dirinya. “Perempuan memunyai kesempatan besar. Tergantung mereka mau memanfaatkannya atau tidak,” kata Eka. Asal, katanya menegaskan, perempuan mampu mengatur diri dan bertanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. “Jangan hanya stagnan, tapi terus berani mencoba mengembangkan potensi diri,” kata perempuan yang kini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Sospol STISIP Margarana Tabanan ini. Karier politik Eka dimulai dari Banteng Muda Indonesia. Ia dipercaya memegang jabatan wakil ketua Pemberdayaan Perempuan. Eka juga dipercaya menjadi Sekjen Srikandi Demokrasi Indonesia, wakil ketua pemberdayaan perempuan keluarga besar Marhaen, wakil sekretaris bidang kesejahteraan dan sosial KNPI Tabanan, hingga ia menduduki jabatan ketua komisi IV DPRD Tabanan Periode 2009-2014. –ast

Membangun dari.................................................................................................dari halaman 2 Para penulis ini mendapat pelatihan tentang teknik dasar menulis di media massa. Mereka bukan hanya mengirim karya jurnalistik sederhana seperti berita, foto, dan artikel pendek, tetapi juga mengirim tulisan untuk dimuat di rubrik “Surat Pembaca” dan “Tanya Jawab”. Pertanyaan yang ditulis diteruskan ke instansi yang berkompeten, untuk mendapat jawaban/penjelasan, Pertanyaan dan jawaban itu kemudian dimuat di koran, disiarkan di radio, dan ditayangkan di televisi. Ungkapannya berubah, menjadi “Media Massa Masuk Desa, Desa Masuk Media Massa”. Pertanyaan pernah dikirim KP4

Karya Tani Sari Sempidi, Badung. Judulnya “Babi Betina Minta Kawin Terus”. Pertanyaan itu dijawab Dinas Peternakan Provinsi Bali secara ilmiah dan populer. Pertanyaan dan jawaban itu dimuat sekaligus, di Bali Post Perdesaan 3 Agustus 1986. Pernah ada tulisan Keluarga I Made Geledag dari Dusun Negari, Banjarangakan, Klungkung, berjudul “Anak Itik Mati, Siapa yang Salah?”. Tulisan yang lahir dari kepolosan hati itu, sebagaimana ciri khas warga perdesaan umumnya, dimuat Bali Post Perdesaan 13 April 1986. Demikian sebagian isinya: “Pada tanggal 30 Maret ’86 I

Made Geledag asal Dusun Negari, Banjarangkan, Klungkung, panen padi di sawah. Hasil panen dijual langsung di sawah. Begitu padi dipanen “Pengangon Bebek” menggembalakan anak itiknya di lahan sawah I Made Geledag. Beberapa ekor anak itik itu mati di situ. Yang empunya itik menuntut I Made Geledag atas kematian itiknya itu. Siapa yang bersalah dalam masalah ini? I Made Geledag? “Pengangon Bebek”? Anak itik? Perkembangan teknologi dengan segala akibat negatifnya? Atau, faktorfaktor lain? .............” (bersambung) WIDMINARKO


Kesehatan

Semua Obat punya Efek Samping Amankah Minum Obat terus-menerus Jangka Panjang? SERING terjadi, orang membeli obat yang dijual bebas di pasaran. Bagaimana efek obat-obatan untuk pengobatan penyakit tertentu yang harus diminum seumur hidup (long life treatment)? minum obat sebarangan,” tambahnya. Dua Minggu Bereaksi Ada kasus ditemui Prof. Dwi. Salah seorang pasien datang dengan muka bengkak. Setelah ditelusuri, pasien ternyata membeli obat sebarangan. Ia meminum obat yang mengandung golongan steroid, yakni hormon yang tidak boleh dikonsumsi terus-menerus. Obat golongan ini dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar adrenal. Akibatnya, terjadi cushing deases yakni bengkak di wajah atau tekanan darah meningkat, dan gangguan di ginjal. Ia mengatakan, efek samping obat golongan steroid jika diminum dua minggu berturutturut, langsung bereaksi. Akibatnya bisa fatal bahkan me-

tkh/ast

“Pada prinsipnya, semua obat memunyai efek samping. Sepanjang dalam pengawasan ahlinya, efek samping dapat diminimalkan atau diabaikan,” ujar Ahli Penyakit Dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegara, M.D. Namun, kata Guru Besar FK Unud ini, banyak informasi yang harus diluruskan. Selama ini, jika sakit, orang begitu mudah membeli obat di pasaran. Sakit kepala atau pusing, misalnya. Ia menyatakan, sebagian besar obat pusing memunyai efek samping terhadap lambung. Celakanya, kata Prof. Dwi, karena begitu mudah didapat dan ampuh menghilangkan pusing, obat seperti itu seperti pisang goreng. “Semaunya minum obat. Besok pusing lagi, minum obat lagi. Begitu seterusnya,” ujarnya. Padahal obat ini bersifat asam. Begitu obat diminum, memengaruhi lapisan dalam lambung. “Kalau hanya diminum sekali atau dua kali tubuh mungkin dapat mengantisipasinya. Kondisi asam dinetralisir. Kalau terlalu sering minum obat pusing dapat mengakibatkan muntah darah, luka di lambung atau maag,” jelasnya. Selain sifatnya asam, obat tersebut juga dapat mengganggu ginjal. Obat-obatan golongan NSAID (non steroid anti inflammatory drug) selain berpengaruh pada lambung juga pada ginjal. Obat jenis ini memang ampuh mengobati pusing dan rematik. Prinsip kedokteran adalah mengobati akar penyebabnya, bukan gejalanya. “Bisa saja pusing karena kurang makan, kurang tidur, stres, tekanan darah tinggi atau penyebab lainnya. Penyebab inilah yang harus diobati. Bukan langsung

Prof. Dwi Sutanegara

nyebabkan kematian. Ia menyarankan jangan sebarangan minum obat. Ketika ada keluhan, konsultasikan ke dokter. Uji Klinis Obat Bagaimana dengan pasien yang mengalami penyakit tertentu yang diharuskan minum obat seumur hidup? Prof. Dwi mengatakan, walaupun pada prinsipnya se-

mua obat memunyai efek samping, untuk pengobatan long life treatment sudah direkomendasikan para ahli, obat tersebut aman, dan efek sampingnya dapat diabaikan. Artinya, dapat dikonsumsi seumur hidup dengan pengawasan dokter. Ia menegaskan, obat-obatan yang direkomendasikan para ahli yang telah disepakati sudah melalui uji klinik yang mendapat persetujuan dari badan pengawas obat dan makanan dunia AS atau FDA (food and drug administration). Kalau di Indonesia namanya Badan POM. “Kalau sudah ada rekomendasi dari FDA, seyogianya obatobatan yang masuk ke Indonesia, harus dikaji Badan POM. Tetapi, saya lihat belum jalan. Balai POM sering menyerahkan ke institusi, misalnya ke Unud ada tim yang mengkaji,” ungkapnya. Tujuannya, kata Prof. Dwi, untuk keselamatan pasien. Apa manfaat dan kerugian obat tersebut untuk pengobatan jangka panjang. Kalau manfaat yang didapat lebih sedikit dari

kerugian yang ditimbulkan, obat-obatan tersebut harus ditarik dari pasaran. Ia memaparkan, untuk pengujian obat ada beberapa fase yang dilalui yakni fase pertama, obat tersebut digunakan pada orang-orang sehat untuk mengetahui apakah ada kerugian/gangguan yang ditimbulkan. Fase kedua, digunakan pada orang-orang yang sakit. Fase ketiga, lebih luas lagi yakni sudah boleh dipakai mengobati pasien, tetapi masih tetap dalam pengawasan. “Walaupun sudah memasuki fase ketiga, kalau ditemukan masalah, obat tersebut dapat ditarik dari pasaran,” ujarnya. Ia menambahkan, sebelum fase klinik, dilakukan pemeriksaan praklinik yakni menganalisis

IKLAN CANTIK

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 13 apa kandungan/isinya. Namun, untuk saat ini, obat-obatan yang sekarang beredar sudah mendapat persetujuan dari badan kesehatan dunia. Misalnya, obat untuk pengobatan kencing manis. Ada dua jenis obat yakni tablet dan suntikan. Banyak pasien kencing manis yang mengonsumsi tablet. Jenisnya juga berbeda dengan cara kerja yang berbeda pula. Ada obat tablet yang merangsang pankreas untuk mengeluarkan insulin. Insulin adalah hormon yang bekerja menurunkan gula darah. Ketika pabrik insulin/pankreas sudah tidak bekerja lagi/mati, tablet ini tidak bermanfaat lagi untuk mengantipasi diabetes. Jadi harus diberi suntikan. Apakah obat diabetes dapat diberikan dalam jangka panjang? Sejauh ini, kata Prof. Dwi, tidak ada masalah, selama dalam pengawasan dokter. Ia mengungkapkan satu

kasus. Makin lama orang menderita diabetes, sel-sel pankreasnya makin rusak. Misalnya, dulunya ada satu juta sel, makin lama berkurang menjadi 100 sel. Keadaan ini tentu tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup. Tablet tidak bermanfaat lagi menurunkan gula darah kecuali dosisnya ditingkatkan. Ada ketentuan dari masing-masing tablet, misalnya, ada tablet yang tidak boleh diberikan melebihi 20 miligram per hari atau 4 miligram per hari. Tergantung jenis obatnya. Efek samping akan muncul, jika obat diberikan dengan dosis tinggi secara seketika. Prinsip pengobatan diabetes, obat yang diberikan, dimulai dari dosis paling rendah, kemudian dinaikkan pelan-pelan. Sebagian besar obat diabetes yang diberikan para dokter, dosisnya kecil, aman, dan reaksinya lebih cepat. –ast

tubuh seperti spa, body refresh, ratus, pedicure, manicure, body scrub, aromatic massage, dan reflexy dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan. House of Dura Bali juga menyediakan perawatan rambut seperti hair spa, hair mask, ozon, colour, keriting, rebonding, dll. Salon Dura juga menyediakan cutting dan make up baik make up wedding, prewedding, pesta, wisuda, dll. yang ditangani langsung oleh

ahlinya (Achun). Nah, bagi Anda yang merasa kondisi kulit tidak optimal atau yang punya masalah kulit, tidak perlu merasa khawatir karena House of Dura Bali akan senantiasa membantu Anda untuk mengatasi semua masalah kulit Anda. Sehingga, impian untuk memiliki kulit yang cantik, kencang, sehat, dan awet muda bukan lagi menjadi impian. –adv/ten

Saraf Terjepitku Sembuh GARA-GARA aku mengangkat barang berat, pinggangku terasa sakit, sampai-sampai kaki terasa berat, jalan pun susah. Sudah bertahun-tahun hidupku menderita, naik mobil, jalan seper ti orang pincang. Berobat sudah ke manamana, minum obat, urut, semua sudah kujalani, sampai saya putus asa. Saya baca salah satu media, di Klinik Suhu Yo ada terapi yang manjur untuk saraf terjepit yaitu terapi listrik. Ternyata

satu kali terapi saja aku sudah bisa berjalan dengan enak, memang aku sekarang benar-benar sembuh. Terima kasih Suhu Yo. Call center Suhu Yo. Jakarta Mangga Dua Square, Lt.I, Blk.A2, No.5257, Jln.Gunung Sahari Raya, Jakarta Utara Tlp. (021) 70 444457, Bandung Jln. Malabar No. 2E Tlp.(022) Saleh 91122977, Pasir Kaliki, Ruko Paskal Hyper Square Blk. A Jln. Hayam Muruk No. 125 No. 10 Jln. Pasir Kaliki Tlp. Denpasar Tlp. (0361) 915 (022) 919808 15 , Denpasar 2367. —adv

Hanya House of Dura

“Make the People Beautiful and Happy” KLINIK kecantikan House of Dura Bali terletak Jalan Teuku Umar, tepatnya di Pertokoan Niaga Teuku Umar Blok B 6-7, Jalan Teuku Umar No. 8 Denpasar Bali. Klinik Kecantikan House of Dura Bali merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa, yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang dikhususkan untuk kecantikan kulit, wajah dan rambut. Klinik Kecantikan ini didirikan pada 10 Agustus 2003, oleh Rustam dan dikelola sendiri oleh istrinya, Farida. Awal berdirinya House of Dura Bali dimulai dari masuknya produk DURA SKIN di Bali. Produk DURA SKIN merupakan hasil riset dan penelitian selama bertahun-tahun yang dikembangkan oleh Duraskin Laboratories, USA. Untuk wilayah Indonesia, Duraskin bertempat di Jakarta, di Jalan Kaji No. 36 Jakarta Pusat, dan berdiri tahun 1999 sebagai anak perusahaan Skin Health Group

Pte. Ltd. (Singapore). Seiring berjalannya waktu, didirikan Dura Skin Center (DSC) dan House of Dura (HOD) yang berfungsi sebagai pusat informasi dan distribusi

produk-produk Duraskin. Dura Skin Center dan House of Dura hadir dengan Total Solutions Concept yang merupakan pusat perawatan terpadu untuk merawat ke-

Perawatan wajah di House of dura

cantikan wajah dan tubuh untuk kesehatan dan kepercayaan diri. House of Dura sudah ada di hampir seluruh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Malang, Manado, Makassar, Luwuk, Palu, Gorontalo, Tarakan, Samarinda, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan, Denpasar, Ambon, Jayapura, Timika, Sorong, Merauke. Tempatnya yang berada tepat di jantung Kota Denpasar, membuat klinik ini selalu menjadi pilihan untuk merawat kesehatan kulit dan wajah baik kaum wanita maupun pria. Seiring dengan perkembangan zaman yang semua serba canggih, menuntut semua orang untuk selalu bekerja dengan cepat dan tepat. Sehingga, seringkali orang lupa untuk merawat kesehatan kulit dan wajah. Padahal, kecantikan dan kesehatan kulit sangat memengaruhi kinerja se-

seorang dalam menjalin sebuah hubungan dengan orang lain baik dalam berbisnis, bersosialisasi, maupun bekerja. Dengan moto “Make the People Beautiful and Happy”, House of Dura memunyai misi untuk membuat semua orang yang melakukan perawatan di Klinik Kecantikan House of Dura Bali menjadi lebih cantik dan tentunya akan merasa lebih bahagia. Tentunya untuk mewujudkan misi tersebut harus didukung oleh tenaga yang profesional. Klinik Kecantikan House of Dura memiliki dokter-dokter yang sudah ahli di bidang kecantikan, dan beautician yang sudah berpengalaman di bidang kecantikan. Setiap customer yang datang akan dianjurkan untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter (konsultasi dokter gratis). Hal ini dilakukan untuk melihat kondisi kulit si customer. Selanjutnya, diarahkan untuk melakukan perawatan yang sesuai dengan masalah kulit, jenis kulit, dan disesuaikan pula dengan anggaran keuangan customer itu. Di House of Dura, ada berbagai jenis perawatan wajah, baik yang sifatnya medis maupun nonmedis. Perawatan yang sifatnya medis, biasanya ditujukan untuk customer yang memiliki masalah seperti jerawat, flek, pori-pori besar, kerutan (wrinkle), kusam, kering, tekstur kulit yang tidak rata, scar (bekas jerawat), spider vein, bulu-bulu yang tidak diinginkan, dll. Sedangkan perawatan yang sifatnya nonmedis adalah perawatan yang ditujukan untuk pembersihan saja dan berfungsi untuk mempertahankan kondisi kulit yang sudah optimal. Selain perawatan wajah, House of Dura Bali juga menyediakan perawatan

PUSAT PERAWATAN KECANTIKAN Pertokoan Niaga Teuku Umar Blok B 6-7 Jln. Teuku Umar No. 8 Denpasar, Bali Tlp. (0361) 229806, Faks (0361) 221580


14

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Kesehatan


Trendi

Batik bukan hanya untuk Busana KAIN batik bukan hanya untuk bahan baku pakaian, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana beragam produk lainnya seperti sandal, tas, sepatu, dompet, suvenir, dan peralatan rumah tangga. Beragam produk itu berbahan batik tampak unik dan lebih trendi. ada batik cetak, ada batik tulis. Bahannya pun beragam, bahan katun, sutra sampai rayon yang dipoles bahan warna alam. Proses membatik tak hanya dilakukan di atas media kain, melainkan juga di media kayu,” ujarnya. Ia menuturkan busana batik makin trendi empat tahun belakangan ini. Pemakainya, tak hanya orang tua, kaum remaja pun kini mulai suka mengenakan busana bermotif batik. Kain batik pun telah dimanfaatkan sebagai beragam produk mulai dari aksesori ram-

Tas yang terbuat dari kain batik

but hingga kaki, seperti jepit, topi, pakaian, dasi, tas, dompet, sandal, sepatu, bahkan aneka suvenir dan peralatan rumah tangga seperti tatakan gelas, kipas, sprei, dan sarung bantal. “Seiring perkembangan zaman, model yang saya buat pun makin beragam,” kata ibu satu anak, Cris Krisno Bagus, ini.

A

Sandal yang terbuat dari kain batik

Satpam Berbaju Batik Tampak Familiar BUSANA batik menarik perhatian Manajer LP3I Bali Dra. Ni Nengah Wardani, M.M. Ia memilih batik sebagai salah satu seragam karyawan LP3I Bali sejak Desember lalu. “Petugas keamanan (satpam) yang mengenakan seragam batik lebih terkesan familiar, sangat bagus untuk lembaga pendidikan yang sifatnya melayani,” kata perempuan kelahiran Tabanan, September 1966, ini. Ia mengatakan busana ba-

Batik Banjiri Tanah Abang PENGAMAT budaya dan desainer Tjok. Istri Ratna, S. Sn. menyatakan kini busana batik banyak dikenakan masyarakat Bali karena bukan lagi diakui sebagai budaya masyarakat Jawa melainkan juga masyarakat Indonesia. Motif batik tak hanya untuk pakaian, namun di Bali telah diaplikasikan ke berbagai macam produk. Ia mengatakan industri ba-

tik justru mengalami perkembangan pesat setelah diklaim Malaysia menjadi miliknya. “Produsen batik menjadikan momentum ini peluang usaha dengan memproduksi batik besar-besaran sejak awal 2008 sehingga Tanah Abang di Jakarta pun dibanjiri kain batik,” kata dosen ISI Denpasar ini. Tjok. Ratna menambahkan, batik punya daya tarik kuat dan

diminati sepanjang tahun karena terbuat dari bahan yang menyerap panas, tidak mudah rusak, dan merupakan simbol masyarakat Indonesia. Ia mengungkapkan, untuk motif batik banyak dipilih dari tema flora dan fauna, dan tiap kota punya ciri khas. Misalnya batik Solo punya warna dasar kekuningan, batik Yogya putih hitam. —tin

Ibu dan Kekuatan Kasihnya

Ida Ayu Wulan

da batik yang dikerjakan secara manual, ada yang lewat proses cetak. Biaya pembuatan batik tulis relatif mahal, karena proses pengerjaannya yang manual dan memerlukan waktu lebih lama daripada batik cetak. “Karena unik, batik tulis banyak dipilih menjadi sarana suvenir, khususnya bagi wisatawan mancanegara,” ujar pemilik Candra Kirana Batik, Ida Ayu Wulan. Sejak tahun 1991 ia membuka usaha suvenir bendabenda bermuatan batik, termasuk kain batik dan beragam suvenir lainnya. “Jenis kain batik yang digunakan beragam,

21 - 27 Februari 2010 Tokoh 15

tik kini makin populer di kalangan masyarakat, baik tua maupun muda. Dari segi model dapat dimodifikasikan sehingga cocok dikenakan di segala suasana dan terkesan lebih trendi. “Pengenaan busana baik ini lebih memasyarakat setelah dipelopori public figure,” kata perempuan yang kerap tampil sebagai pembicara di bidang personality development ini. —tin

Dra. Ni Nengah Wardhani

Memilih Busana Batik JIKA ingin mengenakan busana batik, tentukan siapa, kapan, dan dalam acara apa akan dikenakan. Untuk acara pesta sebaiknya dipilih jenis berbahan sutra. Bahan sutra memberi efek bersinar yang mencerminkan kemewahan. Warna busana batik ke pesta untuk malam hari sebaiknya tak mencolok. Jika pesta itu siang hari pakailah warna yang segar. Dalam acara pesta pilih model dress bagi perempuan. Sebab, jika batik untuk busana atasan saja, mengesankan sebagai pakaian kantor. Aksesori bisa dengan meletakkan payet atau hiasan pada dress. Untuk kostum kantor sebaiknya dipilih batik warna natural yakni yang warnanya tak terlalu gelap, seperti cokelat muda dan sedikit kebiruan. Pilih warna yang tak terlalu menarik perhatian. Bagi orang tua sebaiknya pilih batik dengan motif tak terlalu ribet dan banyak gambar. Warna yang dipilih, sebaiknya tak banyak menarik perhatian orang. Sumber : Tjok Istri Ratna S.Sn. Dosen ISI

Perhatikan Saat Minum Obat MINUM obat kelihatan sepele. Namun, jika salah, bukan manfaat yang akan didapat, malah membahayakan. Prof. Nyoman Dwi Sutanegara memberikan beberapa tips yang harus diperhatikan: 1.Jangan membeli obat sembarangan, dan jangan sepelekan penyakit Anda. 2. Jika minum obat penurun panas, setelah panasnya turun, segera distop. Simpan obat di tempat yang aman dan kering. 3. Obat penurun panas sifatnya asam, sebaiknya diminum setelah makan. 4. Ikuti aturan pakai dalam resep, apakah diminum sebelum makan, atau sesudah makan. Apakah tiga kali sehari atau sekali sehari. 5. Jika dalam brosur obat tidak tertera tentang manfaat dan efek samping, sebaiknya tanyakan ke petugas apotek atau dokter. 6. Bagi pasien tertentu yang diharuskan minum obat seumur hidup, lakukan beberapa kiat agar tidak lupa minum obat. Misalnya, catatkan di kertas dan tempelkan di tempat yang mudah dilihat untuk mengingatnya. 7. Jika minum obat antibiotika sebaiknya dihabiskan sesuai aturan resep. Jika tidak, kumam akan kebal dengan obat tersebut atau dosisnya harus ditingkatkan. –ast

Ia mengatakan berbagai produk suvenir dan kebutuhan sehari-hari dari bahan kain batik ini makin unik dan menarik apalagi dengan menggunakan warna yang tepat. Sepatu dan sandal, misalnya, menggunakan kain batik warna merah muda. Wulan yang dibantu beberapa tukang pun membatik di atas media kayu dan menghasilkan berbagai macam produk seperti tatakan gelas, topeng, dan wayang golek bermotif batik. Salah satu jenis suvenir yang disukai tamu dari Eropa adalah lukisan batik. Wulan menuturkan, lukisan ini tersaji dengan berbagai ukuran dan harga. “Harga termurah Rp 60 ribu, paling mahal Rp 15 juta disesuaikan dengan ukuran serta jumlah warnanya,” katanya. Proses membuat lukisan ini seperti proses membatik yakni mencetak motif dengan pensil, melapisi dengan malam, mewarnai yang dimulai dengan warna terang, dan kemudian proses celup. Pembuatan sehelai lukisan ukuran 150 x 50 cm dengan 15 s.d. 16 warna memerlukan waktu tiga bulan. – tin

BAGAIMNANA caranya supaya dalam rumah tangga kita bisa tercipta kelurga yang berbudi pekerti luhur? Dalam Siwa Purana, Dewi Parwati bertanya kepada Dewa Siwa, apakah ada suatu cara untuk menjamin kebaikan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi kaum ibu. Parwati ingin agar tiap ibu panjang umur dan hidup sehat serta berbahagia bersama suami, anak-anak, cucu, teman, dan kerabatnya. Dewa Siwa senang mendapat pertanyaan cerdas Parwati. Siwa memberi jawaban mengenai Varalaksmi Vrata, yang akan menganugerahkan segala yang dimohon seorang ibu. Upacara ini merupakan anugerah bagi para ibu, yaitu pemujaan Laksmi/dewi kemakmuran. Jika seorang ibu memuja Dewi Laksmi dengan ketulusan dan kerendahan hati, niscaya kesejahteraan dan kedamaian akan terwujud dalam keluarga. Ibu selalu berusaha sekuat tenaga demi kesejahteraan keluarganya, mereka selalu mendambakan kesetaraan, keutuhan, persatuan, dan persaudaraan. Begitulah seorang ibu bicaranya lemah lembut, jujur, dan sopan santun penuh kedamaian. Damai di hati, damai di keluarga dan damai di masyarakat serta dunia. Begitu juga anak-anak, pasti terketuk dalam hatinya melihat kedua orangtuanya selalu rukun saling menghormati dan menyayangi. Sebaliknya, kalau orangtuanya sering bertengkar di depan mereka, anak-anak itu merasa tidak nyaman di rumah lalu dia mencari kesenangan di luar rumah bersama teman-temanya; rumahnya menjadi tempat neraka. Sepanjang sejarah ibu adalah teladan

bagi kebenaran, keteguhan hati, dan kekuatan moral. Mereka menunjukkan keberanian tinggi dalam menghadapi berbagai perubahan hidup. Ibu merupakan hadiah dan anugerah yang paling berharga yang Tuhan berikan. Orang bijak mengatakan ibu merupakan Tuhan dan guru pertama bagi anak-anaknya. Dia berusaha keras berdoa supaya keluarganya selalu berada dalam kebaikan dan kebenaran. Mereka berhak mendapat penghormatan tertinggi atas baktinya yang tanpa pamrih serta pengabdiannya kepada seluruh keluarganya, ibu adalah penentu bagi kemakmuran suatu negara. Dia mengajari anak-anaknya tentang nilai syukur pengorbanan rasa hormat dan pelayanan tanpa pamrih. Dia bekerja tanpa kenal lelah untuk meringankan penderitaan keluarganya. Asuhan ibu yang penuh kasih sayang serta bimbingan yang penuh nilai-nilai kemanusiaan, menghasilkan pemimpin-pemimpin besar dunia seperti Mahatma Gandi. Mereka tidak pernah merasa kehilangan kayakinan kepada Tuhan. Mereka selalu menang dalam menghadapi halangan dan rintangan. Semoga Tuhan selalu menuntun kita ke jalan yang baik dan benar, walaupun dalam perjalanan hidup ini kesenangan dan kesedihan silih berganti, kita harus sabar dan tenang menghadapinya. Keseimbangan antara kebahagiaan dan penderitaan sebaiknya terus dijaga, agar kehidupan kita jauh dari ketidakharmonisan. Ibu memiliki kekuatan kasih yang luar biasa dalam menentukan kesejahteraan dan kedamaian dalam keluarga. Kekuatan ini tetap ada sepanjang ia berada di jalan kebenaran. z Metriasih Jalan Cekomaria Peguyangan Denpasar

Nenek 70 Tahun Melahirkan Bayi Kembar Luar biasa! Seorang nenek berusia 70 tahun melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Kembar ini lahir prematur dengan bobot masing-masing dua pon sembilan ons.

K

asus unik Omkari Panwar ini terendus staf Guinness World Record yang langsung melakukan verifikasi data dan menetapkannya sebagai ibu tertua yang melahirkan bayi, sekaligus memecahkan rekor Adriana Iliescu asal Rumania yang melahirkan bayi perempuan dalam usia 66 tahun, tahun 2005. “Selama delapan bulan hamil saya sangat sibuk dan kesakitan tetapi saya berusaha tetap tabah menjalaninya. Saya pernah melahirkan sebelumnya, jadi tidak masalah menjalani ini lagi. Kadangkadang, Anda harus menghadapi rasa sakit jika menginginkan sesuatu yang baik. Yang saya pedulikan adalah anak-anak saya sehat. Sekarang saya dan suami mendapat ahli waris yang kami inginkan,” ucap Omkari yang melahirkan di RS Jaswant Roy Speciality Hospital. Ia mengakui biaya yang dikeluarkan untuk mendapat-

kan bayi tersebut cukup mahal, namun kelahiran anak laki-laki membuat semuanya berharga. “Saya bisa mati dengan bahagia, suami saya pun bisa berbangga karenanya,” tegasnya. Tentang rekor Guinness yang didapatnya, Omkari mengatakan, ia tidak begitu peduli. ”Rekor ibu tertua tidak ada artinya bagi saya. Saya hanya ingin melihat bayi saya lahir sehat dan selamat, serta merawatnya semampu saya,” katanya. Menurut dokter di Jaswant Roy Speciality Hospital, bayi kembar itu sehat. Para dokter memutuskan kelahiran secara caesar karena ada beberapa komplikasi dalam tubuh Omkari. “Saya telah 20 tahun menangani IVF treatment namun belum pernah ada kasus seperti ini,” ujar Nisha Mallik, dokter yang menangani Omkari. Kasus Omkari Panwar ini menarik. Sebelumnya, Omkari dan suaminya, Charan Singh, 75 tahun, telah memiliki dua anak perempuan dan lima cucu. Namun, pasangan tua ini masih tetap penasaran dan ingin memiliki

Bayi kembar Omkari Panwar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan

Omkari Panwar dan suaminya, Charan Singh

anak laki-laki sebagai ahli waris. Sudah menjadi budaya setempat yang menganggap hanya anak laki-laki disebut penerus keluarga juga ahli waris. Karena itu, bertahun-tahun mereka terus mencoba mendapatkan anak, namun Omkari Panwar bukanlah wanita yang mudah hamil. Selama perkawinan mereka sampai usia tua, hanya mendapat dua anak perempuan. Meski sudah hampir putus asa, pasangan ini mencoba alternatif terakhir yakni menjalani perawatan IVF (in vitro fertilization) dengan biaya 350 ribu rupees atau sekitar Rp 81 juta. Pasangan ini tidak kaya raya, namun demi mendapat anak laki-laki, mereka rela menjual dan menggadaikan hartanya bahkan menutupi kekurangan biaya itu dengan meminjam. Singh, suami Omkari, menggadaikan tanah mereka, menjual kerbau-kerbau serta menguras habis tabungan yang puluhan tahun mereka kumpulkan. Hasilnya, sungguh tak siasia. Pembuahan berjalan sukses, Omkari hamil. Delapan bulan kemudian ia melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Betapa luar biasanya perasaan Omkari dan suaminya, Charan Singh. Harapan terkabul, mereka memiliki ahli waris laki-laki. Kabar gembira ini

langsung tersebar seantero negeri India. “Saya sangat berbahagia,” ujar Charan Singh pada ABC News, melalui penerjemah. Tetapi, Charan Singh tidak mau banyak bercerita karena sejumlah pemberitaan pers mengecam tindakan ia dan istrinya. Meskipun budaya setempat ‘menomor satukan anak laki-laki’ namun tekad mendapatkannya dalam usia tua (70 tahun), tidak bisa diterima sebagian orang yang tinggal di negara bagian Utthar Pradesh, tempat Charan Singh dan Omkari tinggal. Singh mengetahui komentar-komentar negatif itu, karena itu mereka agak tertutup pada pers. Tetapi, apa pun pendapat orang lain, Singh mengatakan tidak peduli. “Yang terpenting sekarang, saya dan istri saya berbahagia. Keinginan mendapatkan anak laki-laki selalu ada. Kami selalu berdoa, namun belum dikabulkan. Kami mendatangi orangorang suci dan mengunjungi tempat-tempat keagamaan untuk berdoa agar mendapat ahli waris. Baru sekarang setelah usia kami lanjut, Tuhan mengabulkan doa-doa kami. Terima kasih Tuhan,” ujar Singh yang mendapatkan bayinya lewat program fertilisasi in vitro. —dia/net


16

Tokoh

21 - 27 Februari 2010

Promo


tkh_580_xi__21-27_februari_2010