Page 1

No.641/Tahun XII, 1 - 7 Mei 2011

Sayu Ketut Sutrisna Dewi

Perjuangan dan Strategi Desa Jasri punya Awig-awig Perangi Seks Pranikah DI Desa Adat Jasri, Karangasem, terutama di kawasan pantainya, sering dimanfaatkan sebagai tempat pacaran muda-mudi. Jika kedapatan berperilaku di luar norma, mereka akan ditangkap pecalang, dibawa ke kantor polisi, didenda, kedua orangtuanya dipanggil, dan peristiwa itu diumumkan di masyarakat desa. Hal ini dilakukan untuk menyucikan tri hita karana yakni parhyangan, pawongan, palemahan.Hal ini diungkapkan Bendesa Adat Jasri I Nyoman Putra Adnyana menanggapi maraknya perilaku seks pranikah di kalangan remaja khususnya dan warga masyarakat umumnya yang

Bersambung ke halaman 12

Agar Langsung Tahu Kondisi Real Bangunan Gedung Pemuda Bali

KONDISI Gedung Pemuda Bali di Tembau, Denpasar Timur, diharapkan dapat menggelitik perhatian orang nomor satu di Bali. “Saya dan temanteman berencana melakukan audiensi dengan Gubernur Bali Mangku Pastika. Saat itulah kami ingin ‘menculik’ Pak Gub agar dapat datang melihat langsung kondisi real bangunan gedung tersebut,� ujar Ketua KNPI Bali Putu Gede Indrawan Karna, S.H. Menurutnya, selama ini orang nomor satu di Bali itu belum sekali pun menengok langsung keberadaan Gedung Pemuda Bali tersebut. Pihaknya berharap suatu ketika Mangku Pastika dapat berkunjung ke lokasi gedung itu. Upaya untuk mengundang Gubernur Bali datang ke Gedung Pemuda tetap dilakukan. Walau itu kelak dilakukan dengan cara “menculik� Pak Gub agar dapat langsung melihat kenyataan kondisi gedung itu di lapangan. Perhatian makin serius pemerintah terhadap keberadaan Gedung Pemuda Bali tadi dinilai aktivis pemuda di

tkh/sep

daerah ini amat diperlukan.Hal ini ditegaskan Haryo Christayudha, S.H. Aktivis FKPPI ini mengatakan, penghargaan terhadap masa depan pemuda selalu dilambung-lambungkan setinggi langit. Penghargaan ini seharusnya diikuti langkah nyata menyediakan sebuah gedung pemuda yang dilengkapi fasilitas kegiatan yang memadai. “Kami menilai Gubernur Mangku Pastika memiliki kepedulian yang tinggi terhadap generasi mudanya di Bali. KNPI Bali sebaiknya tidak hanya beraudiensi sekaligus mengundang beliau untuk berkunjung ke Gedung Pemuda di Tembau. Wakil rakyat di DPRD Bali juga sebaiknya ikut diajak terjun langsung ke lokasi gedung tersebut,� harap pengurus FKPPI Bali ini. —sam

Putu Gede Indrawan Karna, S.H.

Haryo Christayudha, S.H.

Atap Yowana Graha Terancam Roboh Dimakan Rayap

PENGANTAR REDAKSI: Laporan khusus seri ketiga (terakhir) hasil Seminar Nasional “Penguatan Spirit Kebangsaan: Agenda Partisipasi Konkret Pemuda Dalam Pembangunan Bali� yang digelar Koran Tokoh, FKPPI Bali, Universitas Warmadewa, dan IKB Flobamora-NTT Daerah Bali, Selasa (12/4), di Kampus Unwar Denpasar, diturunkan edisi ini. Seminar tersebut menampilkan presentasi Ketua Umum FKPPI Pusat Pontjo Sutowo, praktisi pers dan Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko, Ketua Umum Yayasan Kesejahteraan Korpri Bali Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si, dan Ketua Umum IKB Flobamora NTT Daerah Bali Yosep Yulius Yusdi Diaz. Berita utama yang disajikan terkait dengan kondisi menyedihkan Yowana Graha yang dikenal sebagai Gedung Pemuda yang dikelola KNPI Bali. Selain itu juga disuguhkan pandangan lain terkait dengan masalah yang dihadapi generasi calon pemimpin di Bali. Berikut laporannya selengkapnya.

YOWANA Graha alias Gedung Pemuda Bali di Jalan Trengguli Tembau, Denpasar Timur, tak dapat menyisakan kebanggaan. Kondisi hampir semua tiang bangunannya keropos akibat dimakan rayap. Markas aktivis KNPI ini pun sepi aktivitas kawula muda. kses jalan raya menuju Gedung Pemuda yang dikelola Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bali itu tidak terlalu sulit ditempuh dengan menumpang kendaraan bermotor. Lokasinya masih berada di kawasan Kota Denpasar. Namun, jalan masuk ke lokasi gedung yang seharusnya menjadi youth centre sekaligus youth hostel generasi muda Bali itu tampak tak semulus badan jalan lain yang di-hotmix di ibu kota Provinsi Bali itu. Kondisi permukaan jalan berlubang di sana-sini. “Tetapi, kondisi jalan itu sudah lebih baik dibandingkan sebelum permintaan kami agar jalan tersebut diperbaiki semasa kepemimpinan Gubernur Dewa Beratha dulu,� ujar Ketua KNPI Bali Putu Gede Indrawan Karna, S.H. dalam percakapan lewat handphone-nya dengan wartawan Koran Tokoh. Urusan kondisi permukaan jalan rusak itu makin tak mengenakkan saat menyaksikan pemandangan di depan gedung tersebut, Senin (25/4) siang. Rerumputan liar tumbuh

warga kami di Jasri menerima tamu, tamu itu wanita, wanita itu menerima tamu lagi yang tidak ada hubungan suami istri, didenda satu karung beras, dan wanita itu diproses hukum�. Nyoman Putra yang sudah 18 tahun menjadi bendesa adat dalam tiga periode pemilihan itu, mengatakan dengan diberlakukannya awigawig itu, 10 kompleks (tempat pelacuran) bisa diberantas. Praktik pelacuran itu pernah marak terjadi tahun 1980-an. Nyoman Putra mengungkapI Nyoman Putra Adnyana kan, dirinya pernah menerima margiang sane nenten patut, kiriman surat kaleng dari tamiu nika taler nenten bencik s e s e o r a n g d e n g a n n a d a pemargine, kepidanda satu karung beras� artinya “Jika Bersambung ke halaman 12

subur. Kondisi tembok pembatas berarsitektur Bali tampak tidak utuh dan kumuh. Tetapi, pintu gerbang utamanya yang bercat warna biru tampak baru beberapa hari diganti. “Pintu gerbang yang lama sudah karatan, sehingga tidak layak

pakai,� ujar seorang mahasiswa Universitas Warmadewa yang tinggal di mes gedung tersebut. Kondisi halaman dalam lain di sisi barat gedung tersebut juga menyedihkan. Rerumputan liar tumbuh bebas. Kondisi bangunan berlantai dua di bagian depannya pun seakan dibiarkan telantar. Lantai satu bangunan biasanya digunakan sebagai sekretariat KNPI Bali. Lantai duanya difungsikan sebagai aula pertemuan. Sejumlah meja yang permukaan kulitnya tampak lusuh dibiarkan bertumpuk-tumpuk di teras aula.

Iwan Karna, panggilan akrab Ketua KNPI Bali itu, mengaku kondisi bangunan sekretariat dan aula tersebut memang menyedihkan. Atap bangunan sudah keropos dimakan rayap. Atap bangunan ini terancam roboh. “Makanya, saya dan teman-teman sempat tak berani berkantor di gedung ini. Atapnya sewaktu-waktu bisa roboh menimpa kami,� ujarnya. Menurut Iwan Karna, konBERITA TERKAIT HALAMAN 16

Nasib Naas Gedung Pemuda Bali di Tembau disi kayu yang menyangga atap bangunan sudah tidak layak. Hampir semua kayu penyangga atap dimakan rayap. “Kami tidak punya anggaran pemeliharaan gedung yang memadai untuk merawat bangunan ini. Saya bahkan harus merogoh kocek pribadi sebesar Rp 1,8 juta untuk membasmi rayap yang membuat keropos atap bangunan,� ungkapnya. Tiga bangunan berlantai dua di bagian selatan sekretariat KNPI ini kondisinya juga tak kurang menyedihkan. Tiga bangunan ini biasanya dipakai sebagai ruang akomodasi. Ada sekitar 50-an kamar tidur berukuran 2X3 meter. Ada dua dipan kayu dilengkapi sebuah almari pakaian. Tetapi, semua dipan rata-rata sudah keropos. Cat kayunya terkelupas. Ini tak Bersambung ke halaman 15

tkh/sep

Ketua KNPI Ingin “Culik� Pak Gub

bisa menjadi jembatan penyebaran HIV/AIDS. Dalam ajaran Hindu ada catur asrama yakni brahmacari, grahasta, wanaprasta, biksuka. Pada tingkatannya kewajiban anak-anak adalah menuntut ilmu (brahmacari) dan mengendalikan diri. Remaja yang ‘kebobolan’ karena tidak bisa mengendalikan diri.Untuk turut mengendalikan diri warganya khususnya remaja, Desa Adat Jasri memiliki awig-awig untuk memerangi seks pranikah dan perilaku-perilaku di luar batas kewajaran lainnya. Dalam awigawig tersebut dicantumkan “Sang siapa sira ugi yen nerima tamiu, tamiu punika anak istri, mecihna nger-

tkh/arya

SEJAK tahun 2009, Sayu Ketut Sutrisna Dewi, S.E., M.M., Ak., dosen Fakultas Ekonomi Unud, mencurahkan perhatian lebih serius pada pengembangan kewirausahaan khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, untuk menciptakan entrepreneur muda yang tangguh di tengah masyarakat yang sebagian besar masih berorientasi sebagai pekerja tentu memerlukan perjuangan dan strategi. “Ada kalanya si anak menggebu-gebu ingin menjadi entrepreneur, tetapi terhalang oleh kekhawatiran orangtua. Atau sebaliknya orangtua, berharap anaknya menjadi entrepreneur, tetapi si anak tidak memberi respons,� ujarnya. Untuk mengatasi hal tersebut menurut perempuan yang aktif menggeluti bidang pendidikan ini perlu pihak ketiga yang mampu memberikan motivasi dan keyakinan bahwa si anak bisa sukses menjadi entrepreneur. “Menjadi entrepreneur sukses memerlukan proses akademis praktis. Kalau sekadar memberi pengetahuan tentu sangat mudah, tetapi mengubah mindset secara benar

Gedung Pemuda Bali di Jalan Trengguli, Tembau, Denpasar Timur

Di Depan Pura Jagatnatha Minggu Pagi Ini

HARI ini, Minggu (1/5), mulai pukul 08.00, jalan depan Pura Jagatnatha dan Museum Bali, kompleks Lapangan Umum Puputan Badung, Denpasar, akan dipadati pendidik PAUD formal dan nonformal seKota Denpasar yang berbusana menghadiri undangan adat Bali. Mereka mengikuti lomba tata rias yang diselenggarakan TP PKK Kota Denpasar bekerja sama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan Agung, Koran Tokoh, Crrante Cosmetic, dan perusahaan jasaboga Ny. Warti Buleleng. Kegiatan yang alan tercatat dalam rekor Muri ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional, Ulang Tahun IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-

kanak Indonesia) Kota Denpasar, dan mendukung Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan. Dirjen PAUDNI Kemendiknas Hamid Muhammad, Ph.D. akan hadir dan membuka secara resmi kegiatan kolosal tersebut. Lomba tata rias ini diikuti 1.000 peserta, 50 di antaranya peserta kehormatan terdiri atas anak-anak yang pernah mengikuti kursus di LKP Agung. Acara akan diawali tampilnya 28 penari dari kalangan pendidik PAUD yang membawakan Tari Puspanjali. Setelah diperdengarkan Mars IGTKI Kota Denpasar, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Ida Ayu Selly Mantra akan tampil di panggung menyampaikan laporan,

tkh/dok

Lomba Tata Rias Tercatat di Muri

Hamid Muhammad, Ph. D.

Ny. Ida Ayu Selly Mantra

diikuti sambutan Wali Kota Kemudian, tampil penari Denpasar Ida Bagus Rai Man- kehormatan dari kalangan istritra dan Dirjen PAUDNI Kemen- istri pejabat SKPD se-Kota diknas Hamid Muhammad. Denpasar membawakan Tari

Tenun. Turut bergabung sebagai penari, Ny. Ida Ayu Selly Mantra, Ny. Bintang Puspayoga (mantan Pembina IGTKI Kota Denpasar), Ny. Satria Naradha, Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. A. A. N. Rai Iswara. Gamelan pengiringnya dari seka gong PKK Banjar Lebah. Di sela-sela acara, akan diparadekan busana pengantin Bali payas agung oleh model dari siswi SMKN 5 Denpasar dan siswi SMAN 7 Denpasar. Riasannya merupakan hasil karya 38 peserta uji kompetensi di LPK Agung, 18 di antaranya berasal dari Lombok. Sebelum mengikuti lomba tata rias ini, para pendidik PAUD dibekali pelatihan tata rias wajah serta membuat dan

memasang sanggul Bali (pusung tagel), tanpa dipungut biaya, di LKP Agung yang dipimpin Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. yang juga pengawas TK dan SD di UPT Disdikpora Denpasar Timur. Demi menyukseskan kegiatan spektakuler yang digawangi TP PKK Kota Denpasar bersama LPK Agung dan Koran Tokoh ini, turut melibatkan diri dan berpartipasi instansi terkait di lingkungan Pemkot Denpasar, yakni Dinas PU untuk menyiapkan panggung, penjor dan spanduk, DKP di bagian kebersihan, Disdikpora mengkoordinir penyiapan peserta dari pendidik PAUD formal dan nonformal, Dinas Kebudayaan menyiapkan seka gong pengi-

ring tarian, Dinas Perhubungan mengatur lalu-lintas, Dinas Tramtib dan Satuan Polisi Pamong Praja bertugas untuk keamanan serta pengawasan pedagang kaki lima, Dinas Komunikasi dan Informatika menyiiapkan sound system dan perlengkapannya, Dinas Kesehatan menyiapkan tenaga kesehatan beserta sarananya, Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Denpasar menyiapkan peliputan dan MC, pengurus IGTKI dan Himpaudi Kota Denpasar menyiapkan dan mengkoordinasikan peserta PAUD formal dan nonformal. Konsumsi ditangani Catering Service Ny. Warti Buleleng. Bersambung ke halaman 12


2

Tokoh

1 - 7 Mei 2011

Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

KORAN TOKOH Perlukah ada gedung pemuda di Bali? Apa alasannya?

Super Star Alangkah sulitnya menjadi super star,” kata Ami, “Lihat almarhum Meggy Z. Bintang dangdut itu berjuang sejak tahun 70-an. Bertahun-tahun Putu Wijaya ia hanya bisa tampil menjadi penyanyi penggembira pada konser-konser dangdut. Baru pada awal tahun 2000 ketika usianya sudah senja, ia melejit menjadi super star.” Amat langsung menimpali. “Tetapi, lihat Norman Camaru. Bukan penyanyi, bukan artis, bahkan polisi, hanya bergoyang meniru-nirukan Shahru Khan, mendadak sontak jadi idola, pahlawan, diarak dan dielu-elukan dengan histeris oleh massa! Dia sendiri mungkin juga tidak percaya, kenapa dia tiba-tiba jadi super star!” Ami mengangguk. “Ya betul itu maksud Ami! Aneh!” Bu Amat nyeletuk. “Memang sekarang banyak keanehan, Ami. Tetapi, jangan sampai percaya itu!” “Bagaimana tidak percaya, kalau itu kenyataan?” “Itu kenyataan yang tidak perlu dipercaya!” “Ibu ini bagaimana! Kenyataan ya harus dipercaya, karena itu nyata!” Di kampus Ami kembali mengulangi cerita bagaimana panjangnya jalan yang harus ditempuh Meggy Z sebelum berhasil menjadi super star. Perjuangan yang mengharukan dan menimbulkan rasa hormat. Menjadi inspirasi buat mereka yang mengalami banyak halangan dan kegagalan dalam karier untuk mewujudkan cita-citanya. “Melihat Oom Meggy yang begitu gigih, kita jadi malu, karena sedikit kesandung kita sudah berteriak dan mengeluh panjang lebar. Meggy Z mengajarkan kepada kita bahwa tiap usaha yang gigih tidak akan pernah sia-sia! Tetapi,… !” “Tetapi, Norman membuat semuanya jadi kuno!” potong teman Ami sambil tertawa, “Tak usah berjuang, ngapaian buangbuang energi! Apalagi bertahun-tahun, itu namanya tidak efisien. Time is money! Kalau strategi tepat, sukses pasti di tangan! Itu baru super star!” Ami mau membantah, tetapi temannya mendahului memotong. “Kamu pasti mau mengatakan itu tidak mendidik! Ya kan Ami?” “Ya! Karena, itu akan membuat orang berpikir jadi super star itu mudah! Tidak perlu kerja keras!” “Memang! Untuk apa kerja keras kalau tidak kerja keras juga sudah bisa jadi super star? Buktinya Norman! Jangan salah! Norman Camaru sudah melakukan pembaruan paradigma, dia berhasil membuktikan kepada kita bahwa yang paling penting dalam berjuang, adalah strategi! Itulah yang harus menjadi prioritas kita sekarang! Akal! Kiat! Ini era Global! Benar tidak, Ami?!” Ami tak bisa menjawab. Dia bisa mengerti bahwa strategi itu penting. Tetapi, kalau itu dianggap sebagai yang terpenting, dia tidak setuju. “Masyarakat akan dibelajarkan untuk mengejar jalan pintas. Asalkan tujuan tercapai semua jalan akan dihalalkan. Etos kerja yang menjadi salah satu kelemahan kita sekarang, akan makin dilupakan. Orang tidak akan mau lagi kerja keras. Lihat Norman Camaru bisa ngetop hanya dengan meniru Shahru Khan! Kenapa mesti susah-susah mengejar S-3? Tetapi, berapa orang akan bisa seperti Norman? Sepuluh juta belum tentu ada satu yang bisa mengulangi sukses Norman. Ini akan menambah masyarakat makin frustrasi. Tidak sabaran dan benci kepada keadaan yang tidak sesuai dengan maunya yang serba cepat!” kata Ami di rumah pada Amat. Amat tersenyum. “Jadi kamu tidak suka pada Norman?” “Bukan! Norman tidak salah. Yang membuat Norman menjadi pahlawan itu tindakan yang keliru! Itu yang tidak Ami suka!” “Tetapi, itu kan kenyataaan!” “Betul! Cuma kenyataan itu seperti yang dikatakan Ibu, kenyataan yang tidak usah dipercaya!” “Bapak tidak setuju!” “Tidak setuju bagaimana?” “Tidak ada kenyataan yang bisa dipercaya dan kenyataan yang tidak bisa dipercaya. Semua kenyataan itu nyata, harus dipercaya!” Ami tak menjawab. “Kok kamu tidak menjawab?” “Ya terserah Bapak. Kita kan bebas berpendapat.” “Tetapi, Bapak ngajak kamu diskusi!” “Kalau sudah berbeda tidak ada yang perlu didiskusikan. Bapak senang Norman jadi super star, silakan, Ami dan Ibu tidak. Bagi Ami, Norman itu hanya pelampiasan dari kerinduan masyarakat pada idola. Mimpi! Masyarakat kita sedang senang mimpi! Termasuk Bapak!” Amat tertegun. Ia tidak terima. “Aku memang punya mimpi. Aku menerima mimpi itu bagian dari isi kehidupan dan manusia yang hidup. Tetapi, aku ini bukan tukang mimpi. Anakmu itu salah membuat kesimpulan,” kata Amat kemudian pada istrinya. “O ya, Ami mengatakan Bapak tukang mimpi?” Amat menatap istrinya. “Aku hanya bilang kenyataan harus diterima. Entah untuk berapa lama Norman akan jadi super star. Perkara dia memperoleh kedudukannya itu dengan mudah, jangan lantas membuat kita marah dan menganggap itu pembelajaran yang buruk. Juga, jangan menyalahkan mereka yang memuja-muja Norman. Dulu siapa yang menduga Gus Dur akan jadi presiden? Siapa yang bisa menduga Amerika Serikat akan punya presiden berkulit hitam seperti Obama? Tetapi, semua itu bukan kebetulan, mereka berjuang. Norman itu sejak kecil sudah menyukai lagu India dan meniru!” Bu Amat tertawa. “Kenapa ketawa?” “Kalau Norman itu orang putra daerah kita, apa Bapak akan menyambut dan mengelu-elukan, karena ada putra daerah yang bisa ngetop jadi super star?” “Tidak!” “Lho kan itu kenyataan?” “Betul! Tetapi, aku kan punya istri dan anak yang pasti melarang aku jadi tukang mimpi!?” Bu Amat senyum. “Kalau begitu, berarti Ami dan Ibu hanya berdua saja turun ke jalan mengelu-elukan Norman, seandainya dia putra daerah kita itu!” Amat terkejut. “Lho, lho, kok jadi terbalik. Jadi kalau Norman itu orang kita, Ibu dan Ami akan turun ke jalan untuk menyambut?” Ami keluar dari kamar langsung mendukung ibunya. “Pasti! Kami berdua akan keluar Pak dan akan berteriak lebih histeris dari orang lain?” Amat bengong,. “Kenapa?” “Sebab, itulah satu-satunya kesempatan untuk bersorak menang! Menang! Kan selama ini kita hanya kalah, kalah terus di semua bidang! Jadi, kalau ada kesempatan biar semustahil apa pun, kami akan gunakan, sebab kalau tidak, kami bisa sakit jiwa menahan penderitaan yang terus-menerus ini!”

ASPIRASI

“Perlakuan terhadap Perempuan Pekerja” Sampaikan opini Anda Minggu 1 Mei 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@globalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 8 Mei 2011

KPAID Bali Dibubarkan Gubernur perlu Beri Penjelasan KOMISI Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali dibubarkan setelah berkiprah tiga tahun dan sudah mulai eksis. Masa kepengurusannya tidak diperpanjang. Mengapa? Banyak kalangan yang belum tahu motifnya. Gubernur perlu memberi penjelasan. KPAID Bali, meskipun difasilitasi APBD, dalam berkiprah independensinya tetap dijaga. Semoga badan atau lembaga pengganti peran KPAID Bali lebih hebat. Banyak PR-nya. Selain di Bali terdapat beragam masalah anak-anak, Undang-undang tentang Perlindungan Anak juga masih perlu disosialisasikan lebih intensif. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (24/4). Topiknya, “Pembubaran Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Bali”. Berikut, petikannya.

BP3A Gantikan Peran KPAID Bali Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali difasilitasi dana APBD Bali. Sementara lembaga swadaya masyarakat (LSM) umumnya dikelola dengan swadaya. Dengan cara mengelola masing-masing, akan terlihat LSM yang eksis bertahun-tahun dan masyarakat pun memperoleh manfaat. Memang ada LSM yang sekadar berdiri pada peristiwa tertentu, misalnya muncul saat euforia pilkada atau pemilu, setelah itu tak terdengar kegiatannya. LSM yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang cukup aktif ada di Karangasem, Buleleng, dan Denpasar. Tiap LSM memiliki ideologi tertentu, dengan visi dan misi tersendiri. Yang lebih menonjol di kabupaten lainnya adalah LSM yang

menyuarakan hak-hak politik, lingkungan, dan sebagainya. Ketika KPAID Bali bergerak kami mengetahui, ternyata persoalan perempuan dan anak memang jarang mendapatkan perhatian yang signifikan. Lewat KPAID kami menggalang informasi, melakukan penguatanpenguatan yang berhubungan dengan persoalan anak. Sepertinya masyarakat belum menganggap penting persoalan perempuan dan anak ini, sehingga menjadi urusan kesekian dan tidak perlu disuarakan. KPAID Bali sangat kuat jaringannya dengan LSM, terutama yang peduli persoalan perempuan dan anak. KPAID sifatnya hanya memasilitasi, kemudian memediasi, mengadvokasi dan melakukan sosialisasi terhadap persoalan perlindungan anak sebagaimana amanat UU Perlindungn Anak Nomor 23 Tahun 2002. Kami bekerjasama dengan LSM peduli anak dalam proses pendampingan ketika anak berhadapan dengan hukum. Ketika anak sebagai korban kekerasan atau anak sebagai pelaku kekerasan, wajib mendapatkan perhatian. Sebab, menurut UU Perlindungan Anak mereka berhak mendapatkan perlindungan secara khusus. Mereka juga wajib didampingi. Dalam proses

pendampingan hukum kami mencarikan jalan dengan pendekatan pada LSM lain yang peduli. Mereka kami arahkan untuk terlibat melakukan pendampingan dari awal sampai akhir. Dari awal proses persoalan hukum di kepolisian sampai prosesnya di pengadilan. Namun, dalam solan pendampingan kami yang menyampaikan, mencarikan titik temu, atau mencari jalan agar persoalan tersebut tertangani dengan baik. Kami mengamati di lapangan masih banyak proses perlindungan anak yang terabaikan, bahkan ketika pendampingan kasus atau mengampanyekan perlindungan anak atau hak-hak anak, kami perlu bekerjasama dengan media massa. Hingga kini masih sangat minim pemahaman masyarakat tentang UU Perlindungan Anak. Menurut data, persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi akar masalah persoalan anak. Banyak anak menjadi korban kekerasan orangtua, ketika orangtua mereka bertikai. Tidak hanya suami dan istri yang sibuk bertengkar, namun anaklah yang sebenarnya paling merasakan dampak negatifnya. Ujungujungnya ketika terjadi perceraian anak-anak juga menjadi korban. Persoalan perebutan hak asuh anak juga sangat tinggi masuk ke KPAID. Orangtua sering mengabaikan perasaan

Inten Indrawati Perlu, biar nonkrongnya tak di mal lagi atau di tempat yang aneh-aneh. Kalau nongkrong di gedung pemuda bagus, jadi malu kalau ngomong yang nggak karuan. Ayu Dwijayanti Perlu dong, untuk tempat kegiatan dan event bagi pemudapemuda di Bali.Pemuda merupakan aset bangsa jadi harus didorong untuk aktif dan berkreativitas. Gedung merupakan salah satu sarana awal yang dibutuhkan. Ary Refresh Sangat perlu. Karena gedung pemuda bisa dipakai untuk melakukan berbagai kegiatan positif. Juga sebagai tempat untuk kumpul-kumpul dan menambah teman. Lebih baik kumpul di gedung pemuda daripada “jajan” di Padanggalak. Wayan Edi Gedung pemuda memang terasa sangat diperlukan sebagai tempat dan wadah saling bertukar pikiran atau magendu wirasa sehingga saling kontrol satu sama lainnya bisa dilakukan. Saling bertukar pikiran yang dilakukan baik mencakup kemajuan ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan fisik juga saling memacu menghaluskan budi pekerti menuju spiritualitas. Keseimbangan seperti itu sangat mutlak diperlukan supaya generasi muda kita bisa melangkah memajukan negara ini secara utuh baik hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Adanya gedung ini sangat membantu transformasi seperti itu asalkan dibina dan dikelola tanpa kepentingan atau dipolitisasi. Pengelolaan dan kepengurusan gedung ini harus dilakukan secara transparan dan profesionalisme. Gedung ini tidak mesti dibangun baru tapi bisa saja pemerintah memanfaatkan bangunan yang sudah ada untuk menghemat pendanaan. Masa muda adalah masa yang haus dengan pencarian maka bimbingan yang baik dan intensif sangat menentukan tujuan yang akan tercapai. Dewwy Chiisai Amai Sangat perlu. Semangat positif para pemuda akan lebih terealisasikan dengan sarana gedung pemuda. Namun, jangan lupa peran dan dukungan positif pemerintah. Let’s make something better. anak. Di sinilah kami melakukan kajian-kajian. Kami sangat menyayangkan 23 April lalu KPAID Bali telah dibubarkan. SK kepengurusan kami berlaku 23 April 2008 hingga 23 April 2011. KPAID dibentuk pada masa pemerintahan Gubernur Bali Dewa Beratha. Pembubarannya kami anggap kurang resmi. Sebelumnya kami berusaha melakukan audensi kepada gubernur, wakil gubernur namun sampai berakhirnya SK kepengurusan, kami tidak dapat bertemu dengan beliau-beliau. DPRD menyampaikan bahwa anggarannya hingga 2011. Selanjutnya persoalan perlindungan anak akan ditangani BP3A, dan kasus-kasusnya secara teknis ditangani Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Bali. Meski menurut SK tugas kami berakhir, tetapi kepedulian dan komitmen kami terhadap persoalan anak-anak tidak akan pernah selesai. Kami berniat melanjutkannya melalui sebuah LSM.

Semoga kami dapat menyelesaikan persoalan perlidungan hak-hak anak yang masih banyak terabaikan. Kami akan coba bersinergi dengan pemerintah. Secara pribadi saya menyayangkan, selama ini KPAID sudah terlanjur eksis, tiba-tiba dibubarkan. Di lapangan kami sangat banyak menemukan persoalan yang memerlukan advokasi cukup serius. Pemerintah kami anggap masih banyak mengabaikan persoalan ini. Jika pemerintah ewuh pakewuh menghadapi persoalan ini sebenarnya lembaga yang bersifat independen, dengan pengurus yang terlepas dari pemerintah, sangat dibutuhkan. Persoalan anak di Bali sangat rentan, seperti terhadap hukum, akibat trafficking, dan eksploitasi seks anak. Ternyata pula di balik keberadaan kafe – kafe, ada persoalan anak yang terlibat dalam pelacuran, anak yang terkena HIV/AIDS. Miris melihat persoalan anak yang cukup banyak di Bali. Bersambung ke hlm. 12

Perlakuan terhadap Perempuan Pekerja MAKIN meruntuhnya sekat dan batas, serta lahirnya keterbukaan dan meluasnya peluang di berbagai bidang, berdampak terhadap makin banyaknya perempuan yang bekerja di berbagai sektor. Mereka digolongkan ke dalam perempuan pekerja. Di Bali jumlah mereka sangat banyak dan beragam pula profesinya. Mengingat Bali merupakan daerah tujuan wisata yang telah mendunia, beberapa wilayahnya dikenal sebagai kota global sehingga memiliki peluang usaha yang sangat luas, baik usaha di bidang kepariwisataan, pendukung kepariwisataan maupun sektor-sektor lain. Juga, mereka bekerja di instansi pemerintah dan swasta. Pemerintah sebagai penyelenggara negara memberi peluang dan kesempatan berkarier yang sangat terbuka bagi kaum perempua. Hal itu juga dilakukan pengusaha sebagai penggerak sektor swasta. Para pengusaha, pemilik modal, juga memberi ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para perempuan untuk bekerja di bidang usahanya. Fenomena ini menggembirakan masyarakat, terutama kaum perempuan dari berbagai tingkat pendidikan dan usia. Kondisi ini kontradiktif dengan keadaan yang terjadi dalam kurun waktu yang lampau, saat masih dibedakannya kesempatan berkarier dan bekerja bagi laki-laki dan perempuan. Meski masih berpegang teguh pada adat dan tradisi yang sangat kuat, perempuan Bali yang berstatus pekerja tetap antusias untuk berkarier sesuai dengan

kesempatan yang ada. Mereka berebut posisi dan kesempatan dengan perempuan-perempuan dari daerah lain, bahkan dengan kaum laki-laki yang juga terikat tradisi, adat, dan budayanya masingmasing. Kecerdasan mereka untuk “memanajemeni” diri pribadi patut diberi apresiasi positif, terlebih bagi mereka yang telah terikat dalam lembaga perkawinan. Perempuan pekerja yang berada dalam kondisi seperti itu harus membagi ruang dan waktu untuk keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga batih, di samping waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan keluarga yang lebih luas. Dengan beban yang sudah demikian berat, toh akhirnya perempuan-perempuan tersebut, terutama perempuan Bali, melangkah menapaki jenjang kariernya dan “bertarung” di arena publik. Arena yang dimaksud adalah arena sosial yang di dalamnya terdapat perjuangan atau manuver yang terjadi untuk memperebutkan sumber atau pertaruhan dengan akses terbatas (Jenkins, 2004). Dalam arena publik tersebut diperlukan tata aturan yang mengatur tata laksana dan tindakan, sehingga perempuan pekerja dapat memperoleh haknya di satu sisi, dan melaksanakan kewajibannya di sisi lain. Tata aturan tersebut sesungguhnya telah ditetapkan melalui serangkaian kebijakan pemerintah sebagai representasi lembaga eksekutif, dan merupakan hasil sinergi dengan lembaga legislatif. Kedua lembaga tersebut dalam kehidupan politik tergolong supra-struktur politik. Melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2007 tentang Ketenagakerjaan, semua hal yang menyangkut ketenagakerjaan telah diatur yang

Dr. Ni Wayan Widhiasthini

harus dipatuhi segenap komponen masyarakat, pengusaha maupun pemerintah. Dengan demikian, pemerintah eksekutif dan legislative, merupakan subjek dan objek atas pemberlakuan undang-undang tersebut. Di beberapa pasal telah diatur hak dan kewajiban yang dimiliki perempuan pekerja, bahkan hak dan kewajiban yang juga mengatur hal-hal yang bersifat kodrati, yang tidak dimiliki pekerja laki-laki. Hal ini menunjukkan pemerintah telah menaruh perhatian yang serius, dan khusus terhadap keberadaan perempuan perkerja. Tata aturan yang ideal tersebut dalam kenyataannya tidak dapat dilakukan dan diterapkan sepenuhnya, mengingat terdapat komponen lain yang juga seharusnya memberi dukungan positif yaitu pengusaha. Hak dan kewajiban perempuan pekerja khususnya di sisi pengupahan masih sering diabaikan, terutama di beberapa sektor kaum perempuan dipandang belum, atau tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas

sebagaimana laki-laki dan sesuai yang diharapkan pengusaha. Belum lagi ketika membicarakan fenomena hubungan kerja yang saat ini sedang banyak terjadi yaitu outsourcing, di beberapa sektor perempuan pekerja berada pada posisi subordinate. Hubungan kerja dengan sistem itu membuat keterbatasan dan memutuskan peluang bagi perempuan pekerja. Terutama ketika mereka harus menjalankan peran kodrati yang terkait masa reproduksi, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Para pengusaha seakan menutup diri terhadap perempuan yang berada pada posisi ini, mereka cenderung memilih mempekerjakan perempuan yang tidak terikat, atau belum memasuki masa reproduksi. Tidak dapat dimungkiri sistem tersebut juga memberikan dampak positif, memacu perempuan pekerja untuk bekerja dengan smart, cerdas, cepat dan produktif, berlomba dengan keterbatasan waktu. Para pengusaha berkesempatan untuk memilih mempekerjakan perempuan pekerja yang berkualitas. Selama ini kondisi fisik dan psikologi perempuan pekerja yang menjadi korban outsourcing sering diabaikan, padahal untuk bekerja mereka juga menggunakan modal seperti halnya laki-laki pekerja. Modal yang secara teoretis dikemukan Bourdieu terangkum dalam Teori Praktik Sosial meliputi modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik (Harker, 1990). Untuk terjun ke sektor publik kaum perempuan membekali diri dengan pengetahuan dan ketrampilan, yang untuk memperolehnya harus didukung kemampuan ekonomi, dan jaringan relasional. Tidak pernah dipikirkan dampak psikis seperti

hilangnya rasa percaya diri, menurunnya status sosial, pandangan tertentu dan strereotif negatif masyarakat terhadap perempuan yang menjadi penganggur korban outsourcing. Kondisi saat ini benar-benar membuat moralitas dan kepedulian pengusaha harus bersinggungan dengan kepentingan kapitalis, yaitu kecepatan mengaitkan segala aspek kehidupan dengan perputaran uang. Kepentingan kapitalisme yang memang selalu ada, melatarbelakangi serta menjadi “jiwa” dan “semangat” para pengusaha. Iktikad baik pemerintah melalui serangkaian peraturan perundangundangan yang diterbitkan tentulah tidak akan berfungsi, jika tidak didukung pengusaha sebagai penggerak perekonomian. Peran masyarakat untuk memberikan masukan, dan pemikiran positif bagi kedua pihak juga sangat diperlukan. Masyarakat dapat memanfaatkan saluran yang ada, seperti lembaga swadaya masyarakat, media massa, maupun kelompokkelompok kepentingan dan penekan lainnya yang secara struktur terlingkup dalam infrastruktur politik. Moralitas ketiga komponen, baik pemerintah, pengusaha/swasta, dan masyarakat, sangat diperlukan untuk memberikan perhatian kepada perempuan pekerja, terutama untuk mewujudkan keseimbangan hak dan kewajiban mereka. Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si. Dosen PNS Kopertis Wilayah VIII

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. zBuleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati zNTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. zDesain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara z Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 z NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


1 - 7 Mei 2011 Tokoh 3

Brigjen. Pol. Arif Wachjunadi dan Megasari Manhatanti

10

Menjaga Privasi dan Urusan Masing-masing

Alun-alun Blitar

Perjalanan Diburu Waktu Bali telah Menanti TURNI

Bersepeda Motor Ciamis-Bali

8 PUKUL 05.00 kami tinggalkan Trenggalek. Kami merasa diburu-buru waktu. Sebab, beberapa hari lagi kami harus tiba di Bali untuk kembali masuk kerja. Akhirnya Paman menargetkan kami hari ini untuk tiba di Lumajang. Untuk mencapai kota ini kami harus melewati kota Tulungagung, Blitar, Wlingi, Kepanjen, Dampit. Jarak yang sangat panjang tentunya, tetapi harus kami lewati agar mencapai Bali sesuai rencana. Stamina anggota rombongan harus benar-benar kuat. Saya pun mengonsumsi beberapa tablet obat yang saya percayai dapat mencegah gangguan kantuk dan menjaga stamina agar tetap fit. Motor kami pacu dengan kecepatan tinggi, Sebagian jalur selatan pulau Jawa bagian timur ini termasuk relatif sepi. Jika sedang dalam kondisi sepi kami dengan leluasa dapat melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Meskipun begitu kami tetap harus berhati-hati karena sebagian kondisi jalan berliku-

liku. Setelah menempuh waktu setengah jam kami tiba di Tulungagung. Di kota ini kami sarapan dengan menu nasi ayam lodho yang bentuknya menyerupai opor dengan rasa pedasnya yang cukup menggigit. Tidak mengherankan sebagian orang menyebutnya nasi ayam lodho setan karena rasa pedasnya. Selain ayam, bebek juga bisa dijadikam menu khas Tulungagung ini. Untuk menikmati nasi ayam lodho ini kami hanya membayar Rp.10.000 per porsi. Setelah mengisi perut, kami tidak menyia-nyiakan waktu. Kami langsung berangkat menuju kota berikutnya, Blitar. Perjalanan menuju Blitar sedikit terganggu ketika Bu Olla meminta kami untuk berhenti sejenak karena ia tiba-tiba mengalami kesakitan. Ternyata. Bu Olla diserang diare. Sepertinya Bu Olla terkena diare akibat pedasnya nasi ayam lodho. Selain rasanya yang pedas kuah nasi ayam lodho ini terbuat dari santan, yang memang kurang baik dimakan ketika perut kosong. Saya pun sempat ragu sebelum mencicipi nasi ayam lodho. Tetapi, tidak punya pilihan lain, karena hanya menu itu yang tersedia di warung-warung pinggir jalan Tulunggagung. Setelah hampir 20 menit Bu Olla bolak-balik masuk toilet

Nasi ayam lodho

umum di pompa bensin, kami melanjutkan perjalanan. Setelah tiba di kota Blitar kami kembali mengisi perut sambil beristirahat melepas lelah. Perjalanan kali ini kurang saya nikmati karena tidak sempat berkeliling menikmati kota-kota yang kami singgahi. Tetapi, saya masih beruntung dapat menikmati kuliner di kotakota yang kami singgahi termasuk di kota Blitar. Kuliner yang menjadi ciri khas Blitar yang kami nikmati kali ini adalah nasi pecel yang merupakan favorit saya. Temanteman lainnya membeli soto di warung-warung yang berjejer rapi di alun-alun Blitar. Kami juga tidak lupa membeli oleh-oleh dari kota Blitar dengan memborong sambal pecel yang bisa dijadikan bahan untuk membuat pecel sayur. Saya juga membeli wajik kletik yang terbuat dari ketan putih yang dicampur kelapa dengan rasanya yang sangat manis mirip jenang dari daerah Jawa Tengah. Satu jam kami singgah di kota Blitar. Di tengah teriknya matahari kami kembali menyusuri jalan. Kami berusaha untuk tiba di kota selanjutnya sebelum waktu dzuhur atau pukul 12.00. Kota selanjutnya yang menjadi tujuan kami, Wlingi. Tanpa terduga kami tiba di kota Wlingi lebih cepat dari rencana. Tanpa buang waktu kami sepakat melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan Kepanjen. Perjalanan menuju Kepanjen kami lalui tanpa aral rintang yang berarti. Kami tiba di Kepanjen setelah melakukan perjalanan selama 3,5 jam dari Trenggalek. Kami sepakat untuk istirahat di kota ini yang termasuk ke dalam wilayah Malang. Udara di kota ini cukup sejuk dan menyegarkan tubuh kami yang sempat terbakar selama perjalanan tadi. Seperti kota Malang, Kepanjen juga terkenal dengan baksonya. Hampir di tiap sudut kota terdapat warung yang  Bersambung ke halaman 12

DALAM membangun rumah tangga, Arif mengedepankan harmonisasi dan kekuatan tekad mempertahankan janji yang telah diucapkan ketika ia menikahi Megasari Manhatanti 27 tahun yang lalu. Ia membangun keluarga secara utuh. Hubungan berkeluarga tidak hanya dengan istrinya, melainkan dengan seluruh keluarga besar istrinya. Karena itu ia selalu membina hubungan baik, komunikasi dan silaturahmi dengan keluarga istrinya. Bermusyawarah pun dilakukan jika ada hal penting yang melibatkan keluarga besar.

K

enyataan adanya pasangan suamiistri yang dengan gampang bercerai dengan alasan tidak cocok, selalu dihindari. “Enak sekali bercerai ketika merasa sudah tidak cocok. Mestinya segala keganjalan dalam rumah tangga harus dikomunikasikan dan dicarikan solusi dengan baik,� prinsip Arif. Tanti pun memahamai sepenuhnya hal-ihwal yang terkait tugas dan tanggung jawab Arif sebagai seorang kapolda. Jika ada hal-hal berat yang dirasakan Arif, Tanti membantunya sebatas dalam wujud sikap yang toleran. Sebab, untuk urusan pekerjaan apalagi yang menyangkut kerahasiaan, Arif tidak pernah membaginya dengan Tanti. Tanti memakluminya, itu bukan wilayahnya. Jadi, ia tidak perlu tahu apalagi mencampuri bagian pekerjaan suami yang bukan menjadi urusannya. Tanti lebih fokus pada urusan Bhayangkari. Selama 27 tahun Arif dan Tanti mengarungi dan mengemudikan bahtera rumah tangga secara bersama-sama. Makin hari Tanti makin paham benar terhadap apa yang sedang dialami suaminya. “Kelihatan dari raut wajahnya jika Bapak sedang memikirkan suatu masalah,� tuturnya. Jika menemukan suaminya sedang bersikap lebih pendiam daripada sifat pendiam aslinya, Tanti memastikan ada yang

sedang berkecamuk dalam pikiran Arif. Jika demikian yang terjadi, Tanti tidak akan menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi suaminya. Sebab, jika ditanya, belum tentu Arif mau menjawabnya. Sejauh ini, menurut Tanti, Arif tidak pernah mengeluhkan soal pekerjaan, kedinasan atau tugas-tugas kantor padanya. Tanti juga tidak menunjukkan kepanikan menghadapi situasi seperti itu, agar suaminya juga tidak panik. “Palingpaling saya buatkan minuman, mengecilkan volume televisi atau hal-hal kecil lainnya yang sekiranya mengganggu konsentrasi,� katanya. Setelah itu Tanti mengajak suaminya ngobrol santai, obrolan tidak menyinggung persoalan yang dihadapi suaminya. Jika suasana hati suaminya kembali santai, maka Tanti baru mengintip apa yang tengah mengganggu pikiran suaminya. Arif tahu benar bagaimana bersikap pada istrinya. “Bapak akan bercerita jika masalah itu memang penting untuk diceritakan dan saya boleh tahu. Tetapi, jika dia tidak menceritakannya berarti saya tidak boleh tahu,� katanya. Yang jelas, kata tanti, urusan kantor dan kedinasan, suaminya tidak pernah menceritakannya. Mereka berdua saling menjaga privasi dan urusan masingmasing. Suatu hari, cerita Tanti, ada sepasang suami istri anggota

Banjir Hadiah dan Hiburan

Pelepasan balon oleh pembina yayasan menandai dibukanya kegiatan lomba

PERINGATAN HUT ke-1 Lingga Murti School (LMS) 27 April 2011, yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini serta Hari Pendidikan Nasional,

kepolisian datang bertamu ke rumah kediamannya. Suami istri ini berpamitan setelah si suami dipindahtugaskan. Dengan santainya Tanti bertanya mau pamit ke mana? Setelah mendengar bahwa mereka dimutasi barulah Tanti sadar, dan berpura-pura lupa bahwa baru saja ada mutasi. “Padahal, saya benar-benar tidak tahu karena Bapak tidak pernah cerita apaapa tentang apa yang telah terjadi di kantornya,� katanya. Dalam hal menjaga privasi utamanya yang terkait kedinasan, suami istri ini teguh memegang prinsip bahwa tidak boleh saling mencampuri urusan satu sama lain. Juga, ketika dering hand phone salah satu dari mereka berbunyi, sekalipun itu dari kedua anak mereka, Dika dan Dito, tidak akan mereka terima. Arif atau Tanti hanya akan mengingatkan ada telepon masuk. Jika telepon Arif berdering ada kode panggilan masuk dari anakanak mereka dan Arif sedang tidak bisa menerimanya, Tanti tidak akan menerima telepon itu dari HP Arif. “Biasanya saya telepon balik anak-anak, memberi tahu Bapak sedang tidak bisa menerima telepon,� ujarnya. Dan, ia akan bertanya, apa ada yang penting yang harus disampaikan pada ayahnya. Hal yang sama pun dilakukan Arif. Mereka saling menghormati privasi masing-

Tanti dan Arif saat mendaki Gunung Tambora

Peringatan HUT ke-1 LMS dirayakan Sabtu (30/4) di sekolah setempat, ditandai pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Pendidikan Dharma Sunu Mandare Dra. Ni Made Ariyatni, M. Pd., didampingi Kepala LMS I Wayan Indrapraekanata, S.Pd., M.Hum. Dalam puncak acara yang diisi dengan lomba karaoke anak dan modeling oleh anak playgroup/TK seKota Denpasar, dipentaskan pula tari pendet, tari janger, dan tari gopala oleh murid LMS. Acara yang berlangsung meriah tersebut dihadiri Kepala UPT Disdikpora Denpasar Selatan, Perwakilan IGTKI Denpasar dan kelian adat Banjar Dukuh Pesirahan. Sebelumnya, Jumat (29/4) digelar beberapa lomba yang melibatkan guru beserta orangtua murid, yakni lomba mewarnai tingkat playgroup, lomba mewarnai tingkat TK,

Arif memberi ucapan selamat kepada Dito saat berulang tahun

lomba bahasa Inggris, lomba melukis kolaborasi orangtua dan murid, dan lomba mendongeng oleh guru. Selain dihibur badut oleh sponsor, usai lomba para peserta dihibur pula oleh suara merdu penyanyi pop Bali Yan Ferry dan undian doorprize. Kegiatan lomba yang dimulai Jumat itu dibuka Dr. Made Suarta ditandai dengan pelepasan balon. Ia mengatakan, lomba ini bertujuan memupuk persatuan dan menjalin kerja sama dengan Beragam kegiatan Peringatan HUT ke-1 Lingga Murti School (LMS) sekolah lain, menumbuhkan jiwa kompetisi dan mental pada LMS membuka pendaftaran siswa baru tahun ajaran anak didik. Hal senada di2011/2012. Dapatkan diskon 50% uang gedung sampaikan Wayan Indra bahwa untuk 20 pendaftar pertama kegiatan lomba merupakan dan diskon 25% bagi pendaftar ke-21 s.d. 40. wadah dari semua itu. Ia juga menyampaikan terima kasih LINGGA MURTI SCHOOL (LMS) yang sebesar-besarnya kepada sekolah yang turut berJln. Gurita I Gg. Gurita I partisipasi dan para sponsor Kelurahan Pedungan, Denpasar yang mendukung kegitan Tlp. (0361) 8892308 tersebut. –ten

masing. Hal itu berjalan mulus selama 27 tahun usia pernikahan mereka. Mereka saling menjaga kepercayaan satu sama lain, sehingga tidak sedikit pun muncul kecurigaan dalam hubungan mereka. Kepercayaan yang mereka bangun itu dijaga dengan baik. “Tidak saling mematahkan kepercayaan itu,� tegas perempuan kelahiran 28 September 1961 ini. Mereka boleh bergaul dan bersosialisasi bersama kawan masing-masing dengan leluasa. Sebab, ada juga komunitas kawan Tanti yang tidak begitu dikenal Arif, demikian pula sebaliknya. Bangga NTB Sejak suaminya bertugas di Nusa Tenggara Barat, Tanti menikmati betul berada di daerah ini. Kekompakan dengan suami menjadi lebih tampak ketika keduanya saling mendukung satu sama lain saat melakukan perjalanan berat menembus lokasi-lokasi sulit pelosok desa atau ke objekobjek wisata di Pulau Lombok dan Sumbawa. Perjalanan yang dilakukan Arif dalam rangka tugas mengenal seluruh wilayah di daerah ini. Arif adalah kapolda yang rajin turun menyapa warga masyarakat secara langsung. Tidak jarang ia menyertakan istrinya meski medan berat sekalipun. “Kalau dia mau ikut, saya tidak pernah melarangnya dan berarti dia mampu melakukannya,� kata Arif. Terbukti, Tanti mampu mendaki Gunung Rinjani dan Tambora, menembus gua-gua di Sumbawa Barat dan menapaki tiap objek wisata daerah ini dengan mulus. “Meski tak selengkap Bapak, saya juga kan ingin mengenal budaya, tradisi dan objek wisata di NTB,� ujar Tanti. Ia pun rajin mempromosikan keindahan NTB lewat jejaring sosial. Kebanggaannya terhadap daerah ini tampak benar ketika ia antusias bercerita kepada kawan-kawannya di Bandung dan yang berada di daerah-daerah lainnya. Begitu pula, cerita keindahan dan potensi NTB yang kaya juga sampai ke telinga saudarasaudaranya. –nik.

Para Pemenang Lomba Lomba Mewarnai Tingkat Playgroup Juara I Bagus Wirasatya (Laksana Kumara);Juara II Putu Khesia Wulan Ananda Putri (Lingga Murti School/LMS); Juara III Putu Luna Permata Ariani (LMS); Harapan I Arya Krisna Murti (Kalyani Baby); Harapan II Ni Putu Keishya Mahaswari (DCC); Harapan III I Gede Satria Kanata Dana Dyaksa (LMS) Lomba Mewarnai Tingkat TK Juara I Denisia Putri Kusuma (TK Dharma Patni); Juara II Steven Oktaviano (Tunas Daud); Juara III A.A. Alit Dharma Suteja (Laksana Kumara); Harapan I Komang Adi Somanasa (Laksana Kumara); Harapan II Putu Rheina Vijayanti (Kartika VII Denpasar Selatan); Harapan III Nagita Amelia Indiarta (Laksana Kumara) Lomba Melukis Kolaborasi Orangtua dan Anak Juara I I Dewa Ayu Agung Wulan Eka (TK Dharma Kumara); Juara II Ni Nyoman Nagita Amelia (TK Laksana Kumara); Juara III Dewa Gede Bagus (TK Laksana Kumara); Harapan I Denisia Putri (TK Dharma Patni); Harapan II Steven (TK Tunas Daud); Harapan III I G. Ayu I. Sahadevi (LMS) Lomba Bahasa Inggris Juara I Indra (TK Pelangi Dharma Nusantara); Juara II Ellyana (TK Pelangi Dharma Nusantara); Juara III IGN Anom Siladarma Kesuma (LMS); Harapan I Olivia Agustina Salsabila (LMS); Harapan II Putu Agus Aditya (TK Widya Mutiara Bangsa); Harapan III Rafi (Syifa Budi Al-Azhar) Lomba Mendongeng Guru Juara I Bunda Mei (TK Al-Azhar); Juara II Putri Pamungkas, S. Pi. (TK Laksana Kumara); Juara III Ketut Anggreni (TK Absari); Harapan I Nanik Indrawati, S.S. (LMS); Harapan II Sugiartini (TK Widya Mutiara Bangsa) Lomba Karaoke Anak Juara I Ni Made Inten Sukma Yanti (TK Laksana Kumara); Juara II Delsi Oldelia (Lingga Murti School); Juara III I Wayan Bagus Chandra Paramananda ( Lingga Murti School); Harapan I Komang Karina Devi Laksita (Lingga Murti School); Harapan II Gezka Ahmad Naupal ( TK Al Azar); Harapan III Putu Aditya Suputra ( TK Sip School) Lomba Modeling Juara I Selenawati (TK Kumara Absari); Juara II Calista Amaris Budiana; Juara III I. G. A Inten Sahadevi Dwijayanti (TK Lingga Murti School); Harapan I Dinda (LMS); Harapan II Kadek Eva Putri Dwijayanti TK Kumara Absari; Harapan III Felicia Chasson Yang (LMS) Penghargaan Peserta Terbanyak TK Al Azar


4

Tokoh

MEMBANGUN DARI DESA

1 - 7 Mei 2011

Teknologi Budidaya Pisang Bebas Penyakit

Anda Bertanya Kami Menjawab Pemasaran Bibit Sawo Saya memiliki bibit sawo tingginya sudah 2 meter, di mana saya bisa memasarkan? Ketut Karba Banjar Kubuanyar, Pacung, Tejakula, Buleleng Jawaban: Bibit sawo cangkokan dapat dipasarkan kepada penghobi tanaman yang membutuhkan. Bibit dari biji atau sambungan dapat dipasarkan ke proyek pemerintah dan kegiatan sosial melalui rekanan.

Bibit Jagung Manis Apa manfaat jagung manis dan di mana saya bisa mendapatkan bibitnya? Dian Jimbaran Jawaban: Jagung manis termasuk sayuran yang potensial, masyarakat banyak mengonsumsinya untuk jagung bakar, sayuran pelengkap yang lezat dan panganan alternatif yang enak dan bergizi seperti bakwan jagung, pudding jagung, dan kue jagung. Bahkan ada yang sudah mengolah untuk susu dan permen. Permintaan akan jagung manis dari tahun ke tahun meningkat drastis terutama untuk kota-kota besar. Ini adalah peluang yang baik bagi petani meningkatkan pendapatannya. Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campur-

an amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda. Bibit jagung, kedelai, dan kacang tanah, bisa didapatkan di kios pertanian atau upaya penangkaran benih antarlepang, Parum Sang Hyang Seri, PT Pertani, atau petugas pertanian terdekat. Narasumber Ir. I. B. Suryawanta, M.M.A. Penyuluh Pertanian Spesialis Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali

Bibit Sengon Gratis Saya ingin mencari bibit kayu sengon, di mana bisa mendapatkan? Berapa harganya? Bagaimana cara pemeliharaannya? Dewa Parta Tabanan Jawaban: Pohon sengon bisa didapatkan secara gratis. Caranya cukup bersurat ke Dinas Kehutanan Kabupaten sesuai tempat tinggal pemohon, dilampiri denah lokasi penanaman dan di dalam surat itu disampaikan jenis tanaman apa saja yang ingin diminta, berapa jumlahnya, dan akan ditanam di mana. Jadi nanti dari dinas yang bersangkutan akan menyalurkan surat itu ke BPTH (Balai Perbenihan Tanaman Hutan Bali dan Nusa Tenggara). Setelah itu, akan disesuaikan dengan jumlah dan jenis tanaman yang ada di per-

semaian BPTH. Atau, petani bisa langsung ke Balai Perbenihan Tanaman Hutan Bali dan Nusa Tenggara di Jalan Bypass Ngurah Rai km 23,5 Tuban. Sampai saat ini, biasanya semua kebutuhan petani yang memohon benih bisa terpenuhi. Kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan berupa : 1. Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang baik. Penyulaman pertama dilakukan 2-4 minggu setelah penanaman. Penyulaman kedua dilakukan waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, pilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif. 2. Penyiangan. Pada dasarnya kegiatan penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari tanaman penggagu dengan cara membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman, agar kemampuan kerja akar dalam menyerap unsur hara dapat berjalan secara optimal. Di samping itu tindakan penyiangan juga dimaksudkan untuk mencegah datangnya hama dan penyakit yang biasanya menjadikan rumput atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya, dan sekaligus untuk memutus daur hidupnya. Penyiangan dilakukan pada tahun-tahun permulaan sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon tidak kerdil atau terhambat. Selanjutnya, penyiangan dilakukan pada awal maupun akhir musim penghujan, karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh. 3. Pendangiran. Pendangiran yaitu usaha menggemburkan tanah di sekitar tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna

bagi pertumbuhan tanaman. 4. Pemangkasan. Melakukan pemotongan cabang pohon yang tidak berguna (tergantung dari tujuan penanaman). 5. Penjarangan. Penjarangan dilakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih leluasa bagi tanaman sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur 2 dan 4 tahun. Penjarangan pertama dilakukan 25%, maka banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektare, sehingga tanaman yang tersisa 1000 batang tiap hektarenya dan penjarangan kedua 40% dari pohon yang ada (400 pohon/ hektare) dan sisanya 600 pohon dalam tiap hektarenya merupakan tegakan sisa yang akan ditebang pada akhir daur. Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon menurut sistem untu walang (gigi belakang) yaitu dengan menebang selang satu pohon di tiap barisan dan lajur penanaman. Sesuai dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu 5 tahun maka pemeliharaan pun dilakukan 5 tahun. Jenis kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman. Pada tahun I sampai tahun III kegiatan pemeliharaan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dipertahankan, persentasi dan frekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan standar teknis kehutanan. Narasumber Endah Sulistyowati, S.Hut. Balai Pembenihan Tanaman Hutan Bali dan Nusa Tenggara

Budidaya Udang Galah di Wenayu

Pemasaran Mudah Banyak Pembeli AWALNYA hobi. Petani Banjar Wenayu gemar memelihara ikan karper dengan pola mina padi. Tahun 2002 mereka mulai tertarik memelihara udang. Hasilnya cukup menjanjikan. Tahun 2005 mereka membentuk Kelompok Mina Kanti Lestari. Tahun 2010 kelompok pembudidaya udang galah ini meraih predikat juara II tingkat provinsi Bali. Anggota kelompok yang berlokasi di Banjar Wenayu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar ini, kini 23 orang dan luas keseluruhan kolam yang dikelolanya 2, 65 hektare. Selain tekun membudidayakan udang galah, kelompok ini kini juga mulai mengembangkan udang lobster air tawar secara kecil kecilan.. Sebelum membudidayakan udang galah, para petani di banjar ini membudidayakan ikan karper dengan pola mina padi yakni memanfaatkan lahan sawah. Saat padi berumur 25 – 35 hari, di areal sawah dibangun parit untuk menebarkan karper. Ketua Kelompok Budidaya Udang Mina Kanti Lestari I Nyoman Sukaja menjelaskan, petani lebih dominan membudidayakan udang galah, karena pemasarannya mudah dan banyak pembelinya. “Kami hanya menanti di tempat, sudah ada pembeli yang datang dan memanennya sendiri,” ujarnya. Ia mengungkapkan, dulu kelompok petani ini sempat melayani ekspor udang galah, namun mereka kewalahan sebab kebutuhan lokal juga sangat banyak. Pemasaran udang lobster air tawar, katanya, hingga

I Nyoman Sukaja

tkh/badra

sekarang belum lancar. Mulai tahun ini berangsur-angsur sudah ada pembeli, walau tidak banyak. “Kami biasanya mengirimnya ke Denpasar untuk konsumsi wisatawan di hotel maupun ke restoran,” tambahnya. Ia menuturkan, sekarang ini kelompoknya menghadapi kesulitan dalam hal pembibitan udang galah. Kualitas bibit yang dibelinya dari pengecer sekarang kurang bagus. Dulu tahun 2001-2006, biasanya mereka membeli bibit yang 45 bulan kemudian sudah bisa panen. Sekarang 6-7 bulan baru bisa panen. “Ini membuat biaya produksi kami agak membengkak,” ujar Nyoman Sukaja. Untuk pembudidayaan udang lobster air tawar mereka tidak membeli bibit. “Kami langsung mendapatkan induk dari rekanan, dan dikembangbiakkan di kelompok kami. Hasilnya mulai lumayan, sudah banyak yang beranak,” katanya. Kolompok ini mendapatkan perhatian dari pemerintah Kabupaten Gianyar. Perhatian itu antara lain diwujudkan dalam bentuk pemberian bantuan berupa bansos (bantuan sosial) dan PNPM Mandiri (Program Nasional Pemerdayaan Masyarakat). Batuan itu dimanfaatkan sebagai modal membeli pakan

dan perbaikan kolam. Terhadap ancaman penyakit yang sering menyerang udang galah yakni bintik putih di tubuhnya, Kelompok Mina Kanti Lestari mengantisipasinya dengan menjaga kebersihan kolam dan menaburkan dolomid. “Itu kalau jumlah udang galah yang terserang banyak, kalau yang terjangkit 3 – 5 ekor, langsung dibuang saja,” ujarnya. Penyakit lainnya yang biasa menyerang udang galah adalah penyakit jamuran. Cara mengatasinya, 3 hari sebelum bulan purnama air diturunkan sekitar 25 cm. Kemudian ditaburi dolomid. Akan lebih baik, ditebarkan dolomid secara rutin tiap 15

hari – 1 bulan. Udang galah jamuran, saat usia 3 - 4 bulan. Penyebabnya, hujan yang berkepanjangan. “Kalau hujan turun terus-menerus, untuk mengatasinya harus rajin-rajin menguras kolam,” tuturnya. Nyoman Sukaja menuturkan adanya keinginan anggota kelompoknya untuk membudidayakan berbagai jenis ikan. Lahan, bagi petani di Banjar Wenayu tidak menjadi masalah. Yang masih kurang, modal mengingat biaya pakan cukup mahal. “Untuk mengatasi kesulitan modal kami mengambil dana kelompok dengan memanfaatkan KTA (Kredit Tanpa Agunan) dari pemerintah. —badra

PISANG merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat strategis dan penting di Bali, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Tanaman pisang pun sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di antaranya, daun pisang dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, baik yang dalam keadaan segar maupun makanan olahan. Jantung pisang bagi masyarakat Bali banyak dimanfaatkan untuk sayur seperti urap dan disantan. Buah pisang dapat dimakan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan seperti: pisang goreng, kripik dan tepung pisang. Batang pisang banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak, batang muda dimanfaatkan untuk sayur ares dan juga dimanfaatkan untuk kepentingan upacara keagamaan. Bonggolnya banyak dimanfaatkan untuk perbanyakan tanaman (bibit) dan bahan baku masakan Bali seperti tum dan campuran bahan pangan penghasil karbohidrat. Menurut penelitian para ahli gizi, buah pisang mengandung banyak gizi. Di antaranya, kalsium, lemak, kalium, mineral (fospor, besi, kalium), protein, vitamin (A, B, C) dan karbohidrat. Buah pisang untuk keperluan sesajen sangat banyak, sehingga pada pelaksanaan hari besar umat Hindu kebutuhan buah pisang sangat melonjak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, buah pisang didatangkan dari Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil survei tahun 2005 yang dilaksanakan Universitas Udayana, produksi buah pisang di daerah Bali 145.394 ton tidak mencukupi kebutuhan pisang di Bali yang 215.830 ton/tahun. Jadi, masih kekurangan produksi 70.436 ton. Guna memenuhi kebutuhan produksi pisang di Bali, perlu ada perluasan areal dan penambahan penanaman pisang di Bali 5.594.000 pohon. Belakangan ini, sebagian tanaman pisang di Bali terserang penyakit layu bakteri pseusdomonas solanacearum dan penyakit layu jamur fusarium. Penyakit ini mengakibatkan produksi pisang terus menurun. Sedangkan kebutuhan pisang terus meningkat sejalan dangan kebutuhan konsumsi, pariwisata dan keperluan upacara keagamaan. Berkembangnya penyakit layu fusarium dan bakteri pseudomonas menyebabkan banyak petani meninggalkan tanaman pisangnya tanpa dipelihara sebagaimana mestinya. Serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) tanpa pengendalian menyebabkan luas tanaman pisang menurun terus. Petani yang ingin menanam pisang mengalami kesulitan dalam mendapatkan bibit pisang bebas penyakit. Salah satu upaya pemerintah daerah Provinsi Bali untuk mengurangi ketergantungan Bali terhadap pisang dari luar, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali mencoba untuk melaksanakan Demonstrasi Plot (demplot) budidaya pisang dengan bibit bebas penyakit. Melalui demplot diharapkan petani dapat menerapkan teknologi anjuran pemerintah, sehingga produksi pisang di Bali dapat meningkat. Peningkatan produksi pisang akan berdampak pada perluasan areal tanam, peningkatan jumlah pohon, peningkatan produksi dan pendapatan petani. Penyuluhan penerapan teknologi terus digalakkan, dengan berbagai teknologi, antara lain penggunaan bibit bebas penyakit, pe-

mupukan secara berimbang, penggunaan mikro organisme yang menguntungkan (persada) dalam pengendalian fusarium, pemeliharaan tanaman pisang dengan penjarangan anakan dan jumlah pohon 2-3 pohon/rumpun, memelihara kebersihan lingkungan pertanaman. Lahan yang akan ditanami dengan pisang, dirabas dari tanaman pengganggu, pembuatan bedengan (mengarah ke timur-barat), pembuatan saluran drynase, pemasangan ajir, lubang tanaman dengan jarak tanaman 4 meter x 5 meter (dalam baris 4 meter). Lubang tanaman dibuat di ajir yang sudah disiapkan sebelumnya dengan ukuran 50 cm x 50 cm dan kedalaman 50 cm -70 cm. Tanah bagian atas ditaruh di sebelah kanan lubang dan tanah bagian bawah ditaruh di sebelah kiri lubang. Sebelum melaksanakan pemupukan dasar, tanah bagian atas dimasukkan ke lubang lebih dulu. Kemudian dicampur pupuk kandang 20 kg dan persada 200 gram. Kemudian, dicampur dengan tanah bagian bawah dan diaduk secara merata. Tanah dibiarkan 10 hari sebelum dilakukan penanaman bibit, sehingga tanah bebas dari penyakit layu. Persada yang mengandung mikro organisme, berfungsi melawan bakteri atau jamur penyebab penyakit layu pada pisang dan akan berfungsi dengan baik, jika dalam media tersebut tersedia bahan organik. Mikro organik pelawan bakteri atau jamur penyebab penyakit ini akan berkembang di lubang tanaman, sebagai proteksi berkembang penyakit di dalam tanah. Sampai saat ini lembaga yang dapat menghasilkan bibit pisang bebas penyakit adalah usaha yang dikembangkan Prof. Dr. Ir. Dewa Suprapta, M.Si. (guru besar bidang pertanian Universitas Udayana). Bibit pisang bebas penyakit yang berkembang berasal dari bonggol pisang yang diambil secara selektif dan diberi perlakuan khusus sehingga bonggol pisang tersebut bebas dari bakteri pseudomonas dan jamur fusarium. Penanaman bibit pisang diawali dengan menyiapkan larutan antibiotika (BIOTA L) dalam ember (dengan pengenceran 10%), kemudian merendam bonggol bibit pisang 15 menit. Sehingga, apabila ada bibit yang nempel di akar bibit dapat dikendalikan. Bibit pisang yang sudah direndam kemudian ditanam dalam lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian ditutupi tanah. Untuk memperkokoh berdirinya bibit pisang, dapat dipasang ajir penguat. Penanaman bibit pisang perlu memperhatikan ketinggian guludan dengan saluran drynase, sebagai salah satu unsur penunjang pengendalian penyakit layu. Jangan meninggalkan batang pisang setelah panen pisang, sebaiknya batang pisang yang sudah panen dibuang dari rumpunnya. Tujuannya, agar kebersihan lingkungan terjaga, kelembaban udara menjadi baik dan tidak sebagai penular bibit penyakit. Jika ada gejala serangan penyakit layu di salah satu rumpun, seluruh tanaman dibongkar, tanahnya dibiarkan dan diberi perlakuan untuk bebas penyakit. Narasumber I Made Dana Penyuluh Pertanian Spesialis Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita


PENDIDIKAN

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 5

Program Pascasarjana UNR

Program Administrasi Publik Memiliki Empat Konsentrasi:

Jalin Kerja Sama dengan Universitas Luar Negeri

1. Kebijakan Publik 2. Manajemen Publik 3. Administrasi Pendidikan 4. Keuangan Daerah dan Perpajakan

Struktur Organisasi PPS Ilmu Administrasi UNR Direktur : Prof. Dr. A.A. Samudra, M.Si. (awalnya dijabat Prof.Dr.H. Suradika. Kini beliau diangkat menjadi Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta) Sekretaris Direktur : Drs. I Made Sumada, M.M., M.Si. Ketua Program Studi : Dr.Putu Tirka Widanti

Pendaftaran Mahasiswa Program PPS UNR Angkatan VII Dibuka : Gelombang I : 1 Maret s.d. 30 April 2011 Gelombang II: 1 Mei s.d. September 2011 Perkuliahan Dimulai Oktober 2011

Informasi Pendaftaran Hubungi: Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Kampus Universitas Ngurah Rai Jalan Padma Penatih, Denpasar Timur Telepon (0361) 210 2877. Atau: 1. Drs. I Made Sumada, M.M.,M.Si. Telepon (0361) 463834, 081 239 99818 2. Nopiari Telepon 087 86031233 3. Drs. Ida Bagus Suteja, M.A.P. Telepon 081 8559196 Mahasiswa PPS UNR menggelar Bakti Sosial di Pura Lempuyang, Karangasem

LEMBAGA birokrasi, legislatif dan swasta yang ingin meningkatkan kualitas SDM di bidang ilmu administrasi kini tak perlu khawatir. Program Pascasarjana (PPS) Ilmu Administrasi Universitas Ngurah Rai (UNR) yang berstatus terakreditasi dengan nilai B, kini makin konsisten memenuhi kebutuhan masyarakat untuk peningkatan SDM melalui beragam program konsentrasi yang dimilikinya. PPS UNR mampu membantu peningkatan kualitas SDM dan peningkatan jenjang karier bagi staf baik di tingkat birokrasi, legislatif

dan swasta. Pendidikan Program Pascasarjana Ilmu Administrasi UNR merupakan program yang dirancang untuk kebutuhan mahasiswa agar dapat menyelesaikan studinya dalam jangka waktu 18 bulan. Program ini didirikan berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 278I/D/ T/2008, tanggal 20 Agustus 2008. Program Studi Magister Ilmu Administrasi memiliki empat konsentrasi yakni Kebijakan Publik, Manajemen Publik, Administrasi Pendidikan, Keuangan Daerah dan Perpajakan. Jumlah

seluruh SKC yang ditawarkan 42 SKC dengan komposisi pengambilan mata kuliah catur wulan I, II, dan III masing-masing 12 SKC, dan cawu IV 6 SKC. Selama berdiri sejak tahun 2008, PPS UNR sudah menamatkan dua angkatan. “Sampai saat ini kami telah memiliki enam angkatan. Dua angkatan telah menyelesaikan pendidikan yakni sekitar 70 mahasiswa,” ujar Sekretaris Direktur PPS UNR Drs. I Made Sumada, M.M., M.Si.. Dan, dari 70 alumni PPS UNR, 20% alumni telah menduduki jabatan penting baik di pemerintahan, legislatif

maupun swasta. “Misalnya di tingkat birokrasi, lulusan PPS UNR telah duduk di level eselon II atau jabatan asisten II,” tambah Sumada. Waktu perkuliahan fleksibel yakni dilaksanakan pada sore hari tiap Kamis s.d. Sabtu. “Jadi mahasiswa bisa tetap kuliah tanpa mengganggu waktu mereka bekerja,” jelas Sumada. Program PPS UNR digawangi tenaga pendidik yang berkualitas yang berasal dari dosen tetap UNR dan PTN/ PTS terkemuka di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), Universitas Negeri Yogyakarta

(UNY), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan kualifikasi S-3 serta ada juga yang sudah bergelar profesor. Terkait sarana-prasarana penunjang pembelajaran, PPS UNR dilengkapi sarana-prasarana pendidikan yang lengkap yang mampu menunjang kegiatan belajar-mengajar. Proses pembelajaran tak hanya diselenggarakan di dalam kampus. PPS UNR juga menjalin kerja sama dengan universitas terkemuka di Indonesia. Bahkan, kini langkah PPS UNR telah merambah jalinan kerja sama internasional. Ini terbukti bergabungnya PPS UNR dengan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan administrasi publik Iconpo (International Conference Public Organitation ).

Menurut Direktur Pascasarjana Ilmu Administrasi UNR Prof. Dr. A.A. Samudra, M.Si., Iconpo merupakan wadah bagi universitas di negara-negara Asia Pasifik yang memiliki program pendidikan Administrasi Publik. Indonesia bersama tiga negara sahabat yakni Malaysia, Korea, Thailand menjadi koordinator Iconpo. Di Indonesia, universitas yang tergabung dalam Iconpo antara lain UNR, UNY, UNJ, dan Tridinanti Palembang. Iconfo merupakan wadah kerja sama di bidang pendidikan terkait organisasi administrasi publik desentralisasi otonomi di tingkat internasional terutama di negara-negara Asia Pasifik. Kerja sama yang telah terjalin antara lain ter-

selenggaranya seminar terkait Kebijakan Internasional tahun 2010 di Bangkok dan 2011 di Yogyakarta. “Rencananya, tahun 2012 seminar serupa akan digelar di kampus Pascasarjana UNR,” tambah pria yang karib disapa Prof. Azhari ini. Banyak hal yang didapat mahasiswa Indonesia dalam kerja sama ini. Menurut Prof. Azhari, pertukaran mahasiswa bisa dilakukan antaranggota Iconpo. Tak hanya itu, pengetahuan mahasiswa terkait perkembangan kebijakan publik di banyak negara-negara Asia Pasifik makin luas. “Sekaligus hal tersebut mampu menyumbangkan pola pikir baru agar dapat diimplementasikan pada dunia berkembang,” pungkasnya. –lik

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

OTOKRITIK ... KULTUR IRI HATI (1) Direktur PPS Ilmu administrasi UNR bersama para peserta Yudisium PPS UNR Maret 2011

Drs. I Made Sumada, M.M.,M.Si. (kedua dari kiri), Prof. Dr. A.A. Samudra, M.Si. (ketiga dari kiri)

Lomba Foto Koran Tokoh & Teh Botol Sosro “Semangat Asli Indonesia bersama Kesegaran Teh Botol Sosro” Objek foto:

Harus mengandung unsur Teh Botol Sosro Biaya Rp 75.000 sudah termasuk: 1. Pendaftaran lomba foto + satu liter Teh Botol Sosro 2. Pendaftaran workshop fotografi + makan siang + kudapan 3. Pendaftaran lomba foto on the spot 4. Sertifikat peserta

Hadiah:

Syarat dan Ketentuan: 1. Hasil pemotretan dengan kamera digital. 2. Karya asli peserta dan belum pernah menang lomba atau tidak sedang terikat kontrak dengan pihak lain. 3. Kirim dalam bentuk cetak ukuran 5R paling banyak 5 karya untuk setiap peserta disertai copy foto dalam CD berupa file JPEG sisi terpanjang minimum 3000 pixel resolusi 300 dpi minimal 2 MB. 4. Peserta wajib menyertakan informasi tentang judul foto, lokasi pemotretan, nama, alamat dan nomor telepon atau handphone yang mudah dihubungi pada selembar kertas yang ditempel pada bagian belakang foto. 5. Peserta wajib menyertakan informasi tentang judul foto, lokasi pemotretan, nama, alamat dan nomor telepon atau handphone yang mudah dihubungi pada selembar kertas yang ditempel pada bagian belakang foto. 6. Foto bersama CD dikirim dalam amplop tertutup dengan mencantumkan tulisan ‘Lomba Foto Koran Tokoh dan Teh Botol Sosro’ di sudut kiri atas amplop dan dikirim ke:

Panitia Lomba Foto Koran Tokoh Sekretariat Koran Tokoh Gedung Pers Bali K. Nadha Lantai III Jln. Kebo Iwa 63 A Denpasar, Bali Tlp. 0361-425373

Juara 1 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 2.000.000 Juara 2 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 1.500.000 Juara 3 (1 orang) : Official Trophy, Sertifikat, Bingkisan, Uang tunai Rp 1.000.000 Juara Harapan (3 orang): @ Sertifikat, Bingkisan, Uang Tunai Rp 750.000 Juara Favorit Pilihan Facebooker (1 orang): Sertifikat, Bingkisan, Uang Tunai Rp 750.000

WORKSHOP FOTOGRAFI DAN LOMBA FOTO ON THE SPOT Tema Workshop: Mahir Memotret Model

Narasumber: Anom Manik

Waktu Kegiatan: Hari/Tanggal : Minggu, 29 Mei 2011 Waktu : 09.00 - selesai Tempat : Wantilan Bali TV, Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar Dicari: Tiga Pemenang Lomba Foto on the Spot. Rebut Berbagai Macam Doorprize Menarik!

Waktu kegiatan: Batas akhir pengumpulan foto : 18 Mei 2011 (cap pos) Penjurian foto : 20 Mei 2011 Pemilihan foto favorit : 21 Mei – 28 Mei 2011 terakhir pukul 12.00 wita Pengumuman pemenang : 29 Mei 2011 Penyerahan hadiah : 29 Mei 2011

Contact Person: Ayu/Agus (0361-425373), Ratna (081 657 4202)

Jika ada pertanyaan yang diajukan kepada saya, semisal, di antara 33 suku bangsa dari 33 provinsi di Indonesia ini, mana suku bangsa yang paling tinggi tingkat kecemburuan, tingkat jealousynya, tingkat iri hatinya, dan tingkat negative thingking-nya, mungkin saya adalah orang terdepan yang secara terbuka akan mengatakan bahwa suku bangsa Bali yang paling tinggi tingkat iri hatinya dan paling negative thingking terutama dengan sesama saudara satu sukunya. Pernyataan yang saya tulis ini bukannya tanpa dasar, secara fakta dan akademis bisa dilacak dan ditelusuri dari segi sejarah Bali itu sendiri. Fakta bahwa leluhur orang Bali adalah komunitas yang selalu cemburuan dan iri hati bisa dilihat dari dokumen yang ada pada babad Bali dan sejarah leluhur kita. Hampir semua soroh di Bali punya cerita ini, punya cerita leluhurnya didiskriminasi, kagebug puri (kudeta), konflik dengan sesama leluhur hingga memunculkan banyak macam dinasti di Bali. Belum lagi, banyak leluhur orang Bali yang dipaksa nyineb wangsa hanya karena alasan internal keluarga pada masa lalu, yang (katanya) bagi leluhur yang tidak nyineb dipastikan akan mati ditebas oleh saudara sendiri. Yang lebih nyata lagi, bagaimana konflik G30S/PKI terjadi pada tahun 1960-an, ratusan ribu semeton Bali yang dibunuh oleh saudara – saudara mereka sendiri, aji mumpung melampiaskan iri hatinya pada saudara. Diera reformasi, kita bisa lihat kultur iri hati semakin terbuka, di bidang ekonomi, budaya, agama, dan spiritual pun tak luput dari sifat matsarya (sapta timira). Semua itu diakibatkan karena sejarah yang serakah, sejarah yang dengki dan sejarah yang iri hati, maka jangan heran jika saat ini, Bali dipenuhi oleh keturunan – keturunan komunitas yang tingkat dengki, iri hati dan negative thingking-nya berlebihan, yang secara fakta pula menciptakan sistem geopolitik dengan kultur balas dendam. Dan jujur saja, ini tidak sehat bung! Logikanya, bagaimana orang Bali mau maju dan menjadi tuan di tanahnya sendiri, jika kebanyakan dari orang – orang tua kita saat ini, hidup dengan budaya curiga, budaya pamer, budaya feodal yang didasari rasa iri hati yang seakan tidak berkesudahan. Kita banyak mendengar, kasus adat, kasus batas desa, ada warga yang dikucilkan, susahnya meminjam setra untuk ngaben, segunung argumentasinya, pasti sedikit tidaknya ada bumbu iri hati yang berlebihan. Belum lagi di tingkatan upacara, rasa iri hati menggejala hingga ke kampung – kampung terkait dengan

pelaksanaan upacara. Sudah maklum jika ada anggapan bahwa megahnya upacara di Bali didasari oleh rasa iri hati dengan desa tetangga dengan pura tetangga yang mampu beracara megah, walau mereka harus tega menekan warga desa untuk berdana punia. Apalagi dana punia bukan lagi ditentukan karena ikhlas dan semampunya, tapi sudah dipatok, sudah ditetapkan hingga menyusahkan rakyat kecil yang sudah miskin. Yang paling memprihatinkan, adalah munculnya gejala iri hati yang muncul di setiap komunitas keluarga – keluarga di Bali. Saya meyakini, bahwa di setiap keluarga – keluarga suku Bali, sebagian besar akan tersemai konflik internal yang dilatarbelakangi karena gengsi, status dan rasa iri hati yang meledak – ledak. Mau bukti? Coba sesekali Anda ikut paruman atau pertemuan – pertemuan yang diadakan di balai desa atau dusun, biasanya akan muncul gerutu, keluh-kesah dan kebiasaan membicarakan sesama semeton. Jarang kita bisa mendengar berita positif tentang tetangga kita, tentang saudara kita. Seberapa besar di antara kita yang berani menyampaikan ucapan selamat pada semeton kita, tetangga kita, kolega kita yang kebetulan berprestasi atau memperoleh rezeki. Ini adalah kultur yang harus dibasmi dengan segera, potong generasi dan jangan sampai anak – anak muda Bali mewarisi sifat – sifat buruk dari orangtua mereka. Nyatanya, anak muda lebih positive thingking, rasa fairness di kalangan anak muda lebih tajam karena faktor teknologi, pergaulan global dan pendidikan yang semakin tinggi. Mereka menyadari bahwa selama mereka iri hati dengan sesama semeton Bali, maka Bali ini tidak akan pernah maju. Bali akan kelelahan dengan konflik – konflik internal sebagaimana yang orang – orang tua mereka lakukan. Ini yang dinamakan Bung Karno sebagai revolusi pemikiran dan character building. Pernyataan saya ini adalah otokritik utuk saya sebagai generasi muda Bali, yang hidup di sebuah pulau surga tapi namun sebagian besar penghuninya masih suka iri hati dan negative thingking. Jadi Anda yang membaca tulisan ini ada di kategori mana? Jika Anda membaca tulisan saya ini sambil tersenyum, maka Anda adalah orang positive thingking, tapi jika sampai akhir tulisan ini Anda masih bermuka masam sambil cemberut dan mengerutkan dahi, mohon maaf, saya boleh klaim Anda adalah golongan negative thingking… Mari instropeksi dan selalu tersenyum untuk orang lain.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI / PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

NUSANTARA

1 - 7 Mei 2011

Semarak STQ dan Festival Trihari Qasidah Provinsi Bali T PERHELATAN budaya Islam bertajuk ‘Seleksi Tilawatil Qur’an dan Festival Qasidah Provinsi Bali’ berlangsung semarak, Sabtu-Minggu (23-24/4), di Pelataran Parkir Masjid Agung Sudirman Denpasar. Kegiatan yang diusung Seksi Pondok Pesantren Bidang Kependais dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Agama Provinsi Bali itu berisi beragam jenis perlombaan diikuti 415 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Bali.

K

egiatan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dan Festival Qasidah tersebut dibuka Gubernur Bali yang diwakili Asisten I Setda Pemprov Bali Drs. I Gusti Made Sunendra. Hadir juga Kepala Subdit Seni Budaya Islam Dra. Hj. Euis Sri Mulyani, M.Pd. mewakili Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI. “Pemerintah Provinsi Bali menaruh harapan besar kegiatan ini dapat menebarkan sema-

ngat toleransi. Semangat toleransi ini dapat menyumbang proses penguatan iklim kedamaian dalam pembangunan Bali. Semangat toleransi ini harus terus dikembangkan dan ditularkan kepada semua komponen masyarakat di Bali dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan dalam keragaman bangsa,” ujar Sunendra kepada wartawan Koran Tokoh usai membacakan sambutan Gubernur Bali. Umat Islam di Bali diharap-

tkh/lik

Drs. IGM Sunendra (paling kiri), Drs. IGAK Suthayasa, dan Dra. Hj. Euis Sri Mulyani, M.Pd. saat pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dan Festival Qasidah Provinsi Bali

kan tetap mengawal semangat toleransi agar tetap hidup dalam keragaman suku, agama, ras, dan golongan di daerah ini. Umat Islam di Bali diharapkan menerjemahkannya melalui upaya penguatan semangat toleransi bersama umat beragama lain. Semangat toleransi tersebut

Menuju Tingkat Nasional di Banjarmasin dan Mataram PERSIAPAN Kementerian Agama Provinsi Bali dalam menyambut Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Tingkat Nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Juni 2011 dan Festival Seni Qasidah Rebana Tingkat Nasional di Mataram, NTB, Mei 2011, kian matang. Salah satu persiapan, digelar Seleksi Tilawatil Quran XXI dan Festival Seni Qasidah Rebana Tingkat Provinsi Bali, SabtuMinggu (23-24/4) di Pelataran Parkir Masjid Agung Sudirman Denpasar. Ketua Panitia Masrur Makmur menjelaskan, peserta 415 orang tersebar dalam beragam jenis lomba, yakni Qosidah Remaja 10 grup, Qosidah Dewasa 20 grup, Bintang Vokal Anak 11 orang dan remaja 13 orang. Peserta STQ diikuti 61anak, remaja, dan dewasa. Menurut Masrur, Kemenag Provinsi Bali menargetkan akan mengirim 14 orang sebagai qori dan qoriah yang maju ke tingkat nasional serta 40 orang terpilih mewakili

H. Syamsul Bahri, M.Pd.I. tkh/lik

Bali dalam ajang Festival Seni Qosidah. Untuk kegiatan ini Kemenag Bali menyiapkan 24 dewan hakim tilawah saat berlangsungnya kegiatan STQ Bali. “Tiga di antaranya dewan hakim STQ tingkat nasional,” tambahnya. Menurutnya, dalam STQ XXI ada beberapa penilaian yang mencakup kualitas lagu, suara, fashoha, dan tajwid. Sedangkan Festival Qasidah penilaian terdiri atas pakaian, suara dan cara penguasaan lagu.

Masrur Makmur

tkh/lik

Drs. H. Wayan Syamsul Bahri, M.Pd.I., Kepala Tata Usaha Kemenag Provinsi Bali yang juga panitia kegiatan menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan upaya pihaknya menyeleksi para penghafal Alquran mulai dari jus 1- jus 30, serta eksibidi tartil Alquran ala Imam Sudaisi, yaitu imam di Mekkah. “Lima tahun Bali memegang posisi lima besar dalam ajang STQ tingkat nasional. Hal itu harus kami pertahankan,” katanya. —lik

Qasidah Masuk Ekskul dan KIR Siswa

tumbuh subur pada zaman pemerintahan di sejumlah kerajaan Bali tempo dulu, seperti di Kerajaan Badung, Buleleng, Klungkung, dan Karangsem. “Umat Islam dapat diterima pihak kerajaan, bahkan ditempatkan sebagai saudara beragama Islam oleh raja. Ini dipengaruhi sikap keterbukaan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Kehidupan harmonis yang dibangun melalui pendekatan kultural antarkedua umat beragama tersebut amat terasa saat itu,” ujarnya. Usaha nyata memperkuat semangat toleransi diyakini bukan hanya perintah Alquran kepada umat Islam. Ajaran agama lain, termasuk ajaran Hindu pun amat menekankan pentingnya upaya memperkuat semangat saling menghargai perbedaan masing-masing. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Bali Drs. IGAK Suthayasa, M.Si. menyatakan, instansi pemerintahnya senantiasa peduli untuk meningkatkan pelayanan kehidupan beragama. Umat Islam di Bali khususnya telah merasakannya melalui berbagai jenis pelayanan, termasuk pembinaan seni dan budaya Islam. Ini tercermin lewat STQ dan Festival Qasidah Provinsi Bali ini. Ketua Panitia Drs. H. Masrur Makmur menjelaskan, STQ dan Festival Qasidah tersebut diikuti 415 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Bali. Mereka telah mengikuti lomba qasidah rebana remaja, lomba grup qasidah rebana dewasa, lomba bintang vokalis anak, lomba bintang vokalis remaja, dan STQ cabang tilawah dan tahfizh. —lik menjadi mata pelajaran tambahan siswa-siswinya. Perhatiannya pun dicurahkan dengan menghadirkan pelatih profesional. Beragam prestasi ditorehkan siswi-siswinya melalui grup seni ini. Berbalut busana muslim hijau dengan corak Bali, mereka tampil dalam Festival Seni Qasidah 2011. Seni qasidah juga pernah diangkat menjadi tema dalam Karya Ilmiah Remaja di sekolahnya. Tak ayal, KIR bertajuk ‘Minat Remaja terhadap Kesenian Qasidah’ pun pernah maju ke tingkat provinsi Bali. —lik

RIHARI SUCI merupakan tiga hari terakhir dalam Pekan Suci. Pekan Suci merupakan pekan antara Minggu Palma dan Hari Raya Paskah. Dalam pekan ini diperingati seluruh sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus demi penebusan umat manusia. Oleh karena itu, ritus dalam pekan ini, terutama Trihari Suci, merupakan puncak seluruh Tahun Liturgi. Umat mengikuti liturgi dan doa Jalan Salib dalam rangkaian menyiapkan diri untuk merayakan Paskah dengan berpuasa dan pantang (bukan hanya dalam hal makanan, melainkan juga puasa dan pantang dalam kesenangan lainnya, seperti nonton hiburan dan “ml”, misalnya); dengan doa bersama, dengan renungan sengsara Sang Penebus, dan dengan berderma. (Itulah sebabnya selama Pekan Suci “pendapatan” dari kolekte umat untuk gereja menduduki grafik tertinggi. Namun, “pengeluaran” pun paling tinggi; untuk sewa dan pasang tenda saja bisa menyita belasan juta rupiah). Mengenai Minggu Palma (hari pertama Pekan Suci) sudah disajikan dalam Koran Tokoh minggu lalu (edisi 17/4); demikian pula tentang Jalan Salib (edisi 10/4). Trihari Suci merupakan tiga hari terakhir dalam Pekan Suci, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Malam Paskah. Disebut Kamis Putih karena warna liturgi putih. Semua imam mengenakan busana kausal putih. Banyak anggota umat yang menyesuaikan diri dengan mengenakan busana putih. Itu yang bagus walaupun dalam gereja Katolik tidak ada larangan untuk mengenakan busana warna apa saja, asalkan bersih, rapi, dan sopan (proporsional untuk beribadat). Pada hari Kamis Putih Yesus memberikan

Suci

Pada Malam Paskah (23/4) Romo Thomas Almasan Pr memberkati lilin Paskah di halaman selatan gereja Emanuel, belakang RSAD Denpasar

perintah baru, membasuh kaki para murid dan mengadakan Perjamuan Paskah. Di situ Yesus mempersembahkan hidupNya, yaitu tubuh dan darahNya, Kemudian, Gereja Katolik mengenang dan melestarikannya (sesuai dengan perintah Yesus) dalam Perayaan Ekaristi, yakni Gereja mempersembahkan Tubuh dan Darah Kristus, — berupa roti dan anggur yang sudah dikonsekrasikan—, kepada Allah Bapa. Kemudian Sakramen Ekaristi diarak, lalu ditahtakan di luar tabernakel. Ini memerikan Yesus “agony” (dalam sakrat maut) di Taman Getsmani. Umat melakukan tuguran dan adorasi semalam suntuk (tentu saja bergantian) Perintah Yesus, kita wajib berjaga hanya satu jam saja. Pada Jumat Agung Gereja memperingati sengsara dan wafat Kristus di kayu salib. Maka, di pagi hari umat melakukan doa Jalan Salib di dalam gereja yang dipimpin imam (yang pada hari yang lain cukup dipimpin seorang prodiakon). Pukul 15.00 dilangsungkan ritus Jumat Agung. Umat mendengarkan kisah sengsara, lalu melakukan penyembahan salib, kemudian menerima komuni

Sembako Gratis untuk Pemulung KLINIK kesehatan gratis “Rumah Sehat Ukhuwwah” yang dikelola Lembaga Amil Zakat Yayasan Kesejahteraan Ukhuwah (LAZ YKU) Bali resmi beroperasi. Peresmian klinik di Jalan Merpati MonangManing tersebut dilakukan Ketua Majelis Ulama Indonesia Bali H Taufiq Ashadi, yang ditandai pembagian sembako dan perlengkapan kesehatan kepada 23 pemulung di sekitar lokasi klinik, Minggu (24/4). Pemulung mendapatkan paket sembako berupa beras, gula, mie instan, minyak goreng dan telur. Mereka juga mendapatkan sarung tangan dan masker untuk keperluan bekerja mereka. Dalam kesempatan itu mereka juga langsung mendapatkan kartu sehat yang bisa mereka bawa ketika hendak berobat di Rumah Sehat Ukhuwwah. H. Taufiq Ashadi menyatakan, keberadaan layanan kesehatan cuma-cuma seperti ini sangat membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sekarang ini di Bali, memang diperlukan lembaga sosial yang serius memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat seperti ke-

Keluarga pemulung di Jalan Merpati Monang-Maning mendapat bingkisan paket sembako, masker, sarung tangan dan kartu sehat untuk berobat gratis di Rumah Sehat Ukhuwwah

sehatan di samping pendidikan murah dan berkualitas. Ia mengharapkan LAZ YKU sebagai lembaga amil zakat yang berbasis masjid bisa terus mengembangkan programnya yang menyentuh kebutuhan masyarakat serta tetap menjalin kerja sama dengan lembaga sosial lainnya. “Jumlah masjid dan musala di Bali ini 700 lebih. Jika diberdayakan dengan baik bisa menjadi potensi ekonomi dan sosial yang cukup besar. Oleh karenanya ke depan, peran sosial dan

Konser Amal “Debu”

H. Nurkhamid, M.Ed. tkh/dok

SELURUH kabupaten/kota di Bali ikut unjuk kebolehan mengirimkan pesertanya mengikuti Festival Seni Qasidah 2011. Beragam warna seni qasidah pun dihadirkan. Ada 44 grup yang ikut dalam ajang yang digelar Seksi Pontren Bidang Kependais dan Pemberdayaan Masjid Kemenag Provinsi Bali tersebut. Kasi Pontren H. Nurjhamid,

Rifa’I, S.Pd.

tkh/lik

M.Ed. mengharapkan, lomba yang bermuatan budaya islami ini dapat terus berkembang secara inovatif kreatif di lingkungan pondok pesantren. Di Bali, ada ratusan grup Seni Qasidah, dan sudah berdiri sebuah wadah yang menaunginya. Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) didirikan dua tahun lalu. “Kami ingin menghidupkan

Grup Seni Qasidah MA Al-Makruf

tkh/lik

H.Ahmad Sastra

tkh/lik

seni qasidah di Bali baik modern maupun klasik,” ujar Ketua Lasqi Bali H. Ahmad Sastra. Pihaknya juga telah menyiapkan pelatih andal. “Kami berkeinginan menjadikan seni qasidah berkolaborasi dengan musik tradisional Bali atau modern,” tambahnya. Tahun 2010, Grup Seni Qasidah MA Al-Makruf menjadi wakil Bali dalam Ajang Festival Seni Qasidah tingkat Nasional di Surabaya. Kendati tak meraih juara, grup kesenian yang digawangi para remaja ini mampu membuktikan eksistensi seni qasidah di kalangan remaja Bali. Di MA Al-Makruf, seni qasidah masuk sebagai salah satu pilihan ekstrakurikuler siswa. “Ada sekitar 11 orang yang bergabung di grup kami,” ujar Kepala MA Al-Makruf Rifa’I, S.Pd.. Kendati minim peserta, pihaknya tetap konsisten menjadikan ekstrakurikuler seni islami tersebut kelak akan

Kumpulkan Rp 218 Juta untuk Baitul Muslimin

Konser Amal Debu memukau undangan yang hadir

GRUP Musik Debu yang personelnya sebagian besar asal Amerika hadir di Bali. Kehadirannya dalam rangka konser amal membantu penggalian dana guna melunasi pembayaran tanah Musala Baitul Mu-

yang sudah dikonsakrir (ditranssubstansiasi-kan pada hari Kamis Putih) Sebab, Jumat agung adalah satu-satunya hari saat tidak ada Perayaan Ekaristi (Misa). Sabtu pagi dan siang tidak ada upacara khusus karena umat mengenangkan “istirahat” Kristus dalam makam. Menjelang malam (bukan sore dan bukan senja) dilangsungkan ritus Vigili Paskah (Malam Paskah) untuk merayakan kebangkitan Kristus dari mati; diawali pemberkatan api dan lilin Paskah, lilin besar yang dilengkapi mur, sebagai lambang Kristus Sang Alfa dan Omega Yang ditandai dengan kelima lukalukanya: dua di tangan, dua di kaki dan satu di lambung tembus ke jatung. Lillin lalu diarak dalam prosesi yang mencekam karena semua lampu dipadamkan. Imam melantunkan, “Cahaya Kristus (Lumen Christe), umat menjawab “Syukur kepada Allah” (Deo gratias) sambil berlutut.. Setelah menyanyikan lagu pujian dan pembacaan Kitab Suci, lalu diadakah Pembaharuan Janji Baptis, dilanjutkan liturgi Ekaristi. Hari Minggu dirayakan Hari Raya Paskah. —mbah harto

slimin. Musala yang berlokasi di Jalan Sedap Malam Denpasar tersebut berdiri di atas lahan seluas 3 are. Dana yang dibutuhkan untuk pelunasan tanah Rp 390 juta. Konser amal bertajuk “Mem-

tkh/ist

persiapkan Rumah di IstanaNya” tersebut digelar Panitia Penggalian Dana Musala Baitul Muslimin di Ball Room Hotel Aston, Minggu (17/4). Acara yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan pengusaha di

ekonomi masjid perlu ditingkatkan lagi agar manfaatnya lebih dirasakan,” ujarnya. Wakil Sekretaris Pengurus Harian LAZ YKU Muhammad Rafiq Saleh, S.E. menjelaskan Rumah Sehat Ukhuwwah didirikan atas partisipasi donatur yang secara khusus menginfakkan dananya melalui program Gerakan Satu Juta Rupiah. “Ke depan, program kami lainnya mewujudkan sekolah keterampilan bagi anak-anak yang putus sekolah dari kalangan kurang mampu,”katanya. –nang Bali tersebut berhasil menggali dana Rp 218 juta dari para undangan. Vokalis Mustafa Daud mendendangkan beberapa lagu andalan grup musiknya seperti Dianggap Gila, Bahtera Mustafa, dan Doa Rakyat. Grup musik yang telah memiliki lima album ini juga membantu acara amal tersebut dengan menyumbangkan beberapa barangnya untuk dilelang. “Kami memiliki tiga barang untuk dilelang yakni baju milik saya, topi milik Salim (personel Debu) dan dua CD Debu,” ujar Mustafa. Ketiga barang tersebut pun menjadi incaran para undangan yang memang tujuan awalnya untuk beramal. Dalam konser amal tersebut juga dilelang sebuah lukisan kulit telur dan sebuah tasbih dari mutiara. “Dari hasil lelang ini kami mendapatkan dana Rp 77,5 juta, sisanya dari sumbangan pribadi para undangan dan dari tanah kapling musala yang dibeli oleh para undangan,” kata Didik Ekhwanto, salah seorang panitia kegiatan. –lik


TATA RIAS

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 7

Sameton Lombok Turut Meriahkan Lomba Tata Rias Sabet Rekor Muri

Ibu Agung berfoto bersama peserta didik dari Lombok (mengenakan kebaya).Model atas siswi SMKN 5 Denpasar Jurusan Tari. Model bawah, siswi SMAN 7 Denpasar yang mengikuti ekstrakurikulier keputrian

HARI ini, Minggu (1/5) sebanyak 18 sameton Lombok turut memeriahkan Lomba Tata Rias Diri Sendiri “Busana Menghadiri Undangan” yang digelar TP PKK Kota Denpasar, bekerja sama dengan LKP Agung, Koran Tokoh, Crrante Cosmetic, dan catering service Ny. Warti Buleleng, di Lapangan Puputan Badung. Mereka memaradekan busana pengantin Bali payas Agung, hasil uji kompetensi pagi ini di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung. Mereka ini adalah pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) di Lombok yang memenangkan beasiswa pelatihan tata rias pengantin gratis di LKP Agung. “Kedelapan belas peserta ini tahap pertama. Nanti akan menyusul peserta pelatihan tahap kedua, juga sebanyak 18 orang,” ujar Anak Agung Ayu Ketut Agung, pemimpin LKP Agung.

B

easiswa ini diberikan kepada 36 peserta terbaik dalam lomba tata rias, usai Bu Agung memberikan pelatihan dan seminar (sebagai narasumber) “Pengantin Bali Modifikasi” di Pendopo TP PKK Provinsi NTB, di Pendopo TP PKK Kabupaten Lombok Tengah, dan di BP PNFI Regional VII Bali-NTB di Mataram, belum lama ini. Salah seorang peserta pelatihan, Raudatul Jannah, S.AP. mengatakan ada kemiripan budaya antara Bali dan Lombok. Seperti rias pengantin payas agung di Bali dan rias pengantin Sasak baku di Lombok. “Pemakaian bunga di kepala mirip. Hanya saja bentuk rias di Bali agak tinggi mengerucut,

sedangkan di Lombok bentuknya menyerupai bulan sabit,” ujar Nino sapaan akrabnya yang juga Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Lombok Timur ini. Hal senada disampaikan Komala Sari Dewi, pemilik LKP D’Dewi. Kemiripan lain yang ia lihat ada pada payas tengkuluk lelunakan di Bali. “Di Lombok juga ada, tetapi itu dipakai keseharian oleh masyarakat di daerah yang masih tradisional. Namanya sanggul krucut,” ujarnya. Ia tak menyangka akan mendapatkan

ilmu seperti ini. “Kami sangat berkesan belajar di sini. Ibu Agung tidak pelit ilmu,” katanya. Studi banding dan pelatihan selama 10 hari di LKP Agung ini ditambahkan Nino menjadi pengalaman istimewa. Ia bisa belajar banyak tentang ilmu tata rias kecantikan dan menajemen serta kiat memajukan LKP, yang tak didapatinya di Lombok. Terkait busana tengkuluk lelunakan, LKP Agung juga menggelar pelatihan tata rias diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali (pusung tagel), dan

upacara palebon Ratu Peranda Istri Rai Abian. “Kami harap dengan pelatihan ini dapat membantu ibu-ibu melakukan tata rias sendiri sehingga dapat melakukan efisiensi pengeluaran dan waktu,” ujarnya. Pelatihan ini juga melibatkan pemudi banjar sebagai generasi muda, yang ia amati sekarang ini mulai enggan menggunakan sanggul Bali. Pelestarian budaya ini tambahnya lagi sejalan dengan program pemerintah Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya.—ten

Tampak Bu Agung saat memberikan pelatihan tata rias di Banjar Buruwan, Sanur Kaja.

LKP Agung Gandeng Koran Tokoh

Gelar Pelatihan Gratis LKP Agung, secara berkesinambungan menggandeng berbagai pihak menggelar pelatihan tata rias. Senin besok (1/5) LKP Agung menggan-

busana tengkuluk lelunakan, Minggu (24/4) di Banjar Buruwan, Sanur Kaja. Pelatihan ini diikuti 130 warga Banjar Buruwan. Menurut kelian istri Banjar Buruwan Sanur Kaja Ida Ayu Kalpikawati Sukarta, tata rias khususnya tengkuluk lelunakan dan sanggul Bali (pusung tagel) merupakan salah satu busana adat dan budaya Bali yang memiliki arti dalam setiap rangkaian upacara di Bali. Demikian halnya di Banjar Buruwan yang dalam waktu dekat ini akan menggelar

deng Koran Tokoh bekerja sama dengan TP PKK Kabupaten Tabanan kembali menghelat pelatihan tata rias, membuat dan memasang sanggul Bali,

pengantin payas agung Tabanan, pengantin Sunda putri, pengantin Sunda Sigar, pengantin Yogya, pengantin gaun panjang, di Gedung Kesenian I

Ketut Maria, Tabanan. Pelatihan gratis itu diikuti 300 peserta di antaranya 34 orang dari Gatriwara, 10 orang Persit KCK Cabang Tabanan, 10 orang

Bhayangkari Cabang Tabanan, 50 orang DWP Kabupaten Tabanan, 36 orang anggota TP PKK Kabupaten Tabanan, 10 orang dari TP PKK Kecamatan Pupuan, TP PKK Kecamatan Selemadeg Barat (10), TP PKK Kecamatan Selemadeg (10), TP PKK Kecamatan Selemadeg Timur (10), TP PKK Kecamatan Kerambitan (25), TP PKK Kecamatan Tabanan (40), TP PKK Kecamatan Kediri (25), TP PKK Kecamat-

an Marga (10), TP PKK Kecamatan Penebel (10) dan TP PKK Kecamatan Baturiti. Kegiatan ini direncanakan dibuka langsung Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. Dalam waktu dekat ini juga akan digelar Lokakarya payas agung Badung (Puri Mengwi) menggandeng TP PKK Kabupaten Badung. Senin (25/4) LKP Agung telah melakukan audensi yang diterima langsung Ketua TP PKK Kabupaten Badung Ny. Ratna Gde Agung di Puspem Badung. Prinsipnya, TP PKK Kabupaten Badung mendukung baik kegiatan ini.—ten

Eka Wiryastuti

MEMPERINGATI Hari Kartini dan menyambut Hari Pendidikan Nasional, LKP Agung memberikan diskon 50% bagi yang berminat mengikuti pelatihan tata kecantikan kulit, tata kecantikan rambut, dan tata rias pengantin. Keuntungan lain, peserta pelatihan mendapatkan bonus pelatihan tata rias pengantin Bali modifikasi dan modern, langsung dari Anak Agung Ayu Ketut Agung.

LKP AGUNG Jln. WR Supratman No. 303 A Tohpati, Denpasar dan Jln. Anggrek No. 12 Denpasar Tlp. 0361-233850, 7421987, 081 1393602

Audensi dengan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Badung serangkaian Lokakarya Tata Rias Pengantin Bali (Payas Agung Badung.

Buruan Daftar….. Hanya Rp 1,5 juta


8

Tokoh

SPIRITUAL

1 - 7 Mei 2011

Swami Satya Narayana yang bergelar Sai Baba itu telah meninggalkan badan jasmaninya dari alam Saguna ke alam Nirguna sejak 24 April 2011 pukul 07.40 waktu setempat. Hidup bukanlah badan tetapi jiwa. Ini artinya secara rohani Sai Baba tidak pernah tidak ada, meninggal itu hanyalah fenomena fisik. Karena itu para bhakta Sai Baba tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan berlama-lama.

S

ai Baba artinya ibu dan ayah. Sai Baba menjadi ayah dan ibu para pengikutnya. Sai Baba menyatakan dalam pustaka Dharma Wahini ada tiga ciri hidup yaitu Udyoga Purusa Laksanam, Karma Purusa Laksana dan Dharma Purusa Laksanam, Artinya, hidup ini untuk berkomunikasi membangun keharmonisan, hidup adalah berbuat dengan pikiran, perkataan dan perilaku. Kesempatan hidup ini untuk mengamalkan dharma. Dengan dharma itu, artha dan kama dapat dicapai dengan baik. Sai Baba telah melaksanakan konsep Dharma Purusa Laksana itu sebagai dasar untuk ber-

komunikasi dan berlaksana. Hal itu telah berhasil memberikan tuntunan hidup pada jutaan umat manusia pengikutnya yang berada hampir di 150 negara. Jutaan pengikutnya akan terus menjadikan wacananya tentang Weda sebagai tuntunan hidupnya. Ini artinya Sai Baba akan terus hidup di hati jutaan pengikutnya meskipun beliau tidak bernapas lagi secara fisik. Ini artinya Sai Baba telah mencapai tahapan hidup tanpa napas. Meskipun Sai Baba sebagai manusia sudah tidak bernapas lagi, tetapi wacananya tentang pengamalan Weda tetap begema di hati para pengikutnya yang disebut bhakta. Kalau ada manusia

yang menggunakan hidupnya hanya untuk berbuat jahat meskipun ia berumur panjang, ia disebut mayat bernapas yang menyebarkan kebusukan ke mana-mana. Dalam Sarasamuscaya ada konsep hidup tanpa napas dan mayat bernapas. Orang yang selama hidupnya selalu berbuat berdasarkan dharma sampai dapat memberikan jasa-jasa

Tulisan pertama dari empat tulisan besar pada sesama. Jasa-jasa itu terus dikenang dan dijadikan pedoman hidup dari generasi ke generasi itulah yang disebut hidup tanpa napas. Dalam kitab Satyam Siwam Sundaram Sai Baba menyatakan ’Aku datang bukan membawa agama baru. Kedatanganku untuk memperbaiki jalan raya kuno yang membawa orang dekat dengan Tuhan. Yang Aku maksudkan jalan raya kuno adalah Weda, Sastra dan Upanisad.’ Ini artinya gerakan Bha-

Penghormatan dan Bhakti Tulus Di Kaki Padma Bhagawan Sri Satya Sai Baba Om Awigenam Astu. Om Sri Sairam TOKOH internasional Bhagawan Sri Satya Sai Baba telah tiada secara fisik. Secara spiritual keberadaan beliau sekarang disebut mahasamadhi. Pengikutnya tersebar di lebih dari 100 negara (ada yang menyebut 126 negara, 186 negara, dll). Istilah mahasamadhi digunakan karena sebelum kelahiran Sai Baba yang sekarang, ada juga orang suci yang disebut Sai Baba Shirdi, yang menetap di kota Shirdi. Saat detik-detik terakhir kehidupan Shirdi Baba dinyatakan, beliau akan meninggalkan badan fisiknya tahun 1918 dalam kondisi mahasamadhi, dan akan menjelma lagi 8 tahun kemudian, yakni 23 November 1926 di Desa Puttaparthi dengan nama Satya Narayana Raju. Saat umur 14 tahun, Satya Narayana menyatakan dirinya reinkarnasi Sai Baba Shirdi. Oleh karena itu, dalam kehidupan selanjutnya, beliau lebih dikenal dengan sebutan Sai Baba, dan kadangkadang ditambah nama tempat kelahirannya: Sai Baba Puttaparthi. Sai Baba ini pun pernah menyatakan, 8 tahun setelah meninggalkan fisiknya, akan ada lagi di kota Mysore dengan nama Prema Sai. Beliau memerlukan tiga kali kelahiran untuk memperbaiki kehidupan dunia ini. Ketiga tritunggal ini dinyatakan sebagai awatara kalki. Kelahirannya sebagai awatar diramalkan lebih dari 12 peramal besar (Maharesi, tokoh peramal, seperti Brahma, Brgw, Suka, Buddha, dll). Menurut konsep Weda, dunia ini dianggap lengkap, kalau senantiasa disertai rwabhineda: baik-buruk, bodohpandai, putih-hitam, dll. Rwabhineda seperti itu telah menyertai kehadiran awatar Bhagawan Sri Satya Sai Baba. Beratus malahan beribu sanjungan terhadap gerakan program spiritualnya dan kekuatan supranaturalnya, kemukjizatanNya dan diiringi ratusan cacian terhadap dirinya.

gawan Sri Satya Sai Baba akan mengajak menggunakan jalan Weda itu benar-benar sebagai jalan untuk mencapai karunia Tuhan. Pada zaman Kali ini ada sementara pihak yang menyalahgunakan ajaran Weda itu tidak menuju jalan Tuhan. Penganut Weda yang menyimpang dari jalan Weda disegarkan kembali agar ajaran Weda itu dikembalikan pada fungsi

Sebuah radio swasta pernah Study Group. 2. Dalam bidang menyiarkan kehadiran Bhaga- pendidikan telah banyak didiriwan Sri Satya Sai Baba penuh kan sekolah-sekolah dengan kontroversi: 1. Tahun 2004 menonjolkan pendidikan budi Bhagawan Sri Satya Sai Baba pekerti (5 pilar: satya, dharma, telah melakukan pelecehan prema, santhi, dan ahimsa) dari seksual dan sebagai persiapan TK sampai perguruan tinggi dengan trik sulapnya. 2. dan pendidikan Weda. Tujuan Bhagawan Sri Satya Sai Baba pendidikannya pembentukan telah merangguh dana jutaan karakter yang mulia. 3. Dalam dolar dari donasi pengikutnya. bidang pelayanan, telah men3. Beliau dikatakan sebagai dirikan 2 rumah sakit Serper dajal raksasa bermata satu. Hospital di Puttaparthi dan Seorang setingkat Bhaga- Bangalore yang gratis. Telah wan Sri Satya Sai Baba sangat mendirikan proyek air minum di wajar secara alami mendapat 175 desa, dan 11 kota besar di celaan, hujatan dan fitnah India. Banyak Sai Study Group seperti itu, karena yang melaku- di seluruh dunia mendirikan pelayanan kan itu sering kesehatan seperti berpikir dan berpoliklinik gratis, tindak ceroboh, ceramah budi peingin melihat kerti, membantu dari sudut yang bencana alam, bekeruh, buram, dah rumah. Zadan menjelekman Kali dikatajelekkan orang kan pelayanan lain. Sepanjang adalah bhakti sejarah awatar terbaik. Pelayanan dan orang beterhadap manusia sar, orang suci sesungguhnya tak pernah luput pelayanan dari tindakan terhadap Tuhan, seperti itu. Hal pelayanan melalui itu telah disebut tangan lebih suci dalam Bhadaripada mulut gawad Gita bab Vii.15. dan X.II, tkh/yul yang berdoa. bahwa orang Programnya Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U. nista, jahat bersesungguhnya sifat asura tidak sejajar dengan pernah yakin tentang penerapan Tri Marga sebagai ketuhanan atau keawataraan. inti sari weda: Karma, Bhakti, Rama dicaci maki Rahwana, Sai dan Jnana. Memang misi Krisna dihujat Sisupala dan Bhagawan Sri Satya Sai Baba, para Korawa, Buddha hampir bukan menyebarkan agama senada dengan itu. baru, bukan aliran, bukan sekte, Sebaliknya sanjungan ter- tetapi menjelaskan Weda dalam hadap Bhagawan Sri Satya Sai kemasan baru yang sederhana, Baba juga segudang banyak- menarik, menggelitik, dengan nya. Programnya yang me- bahasa yang manis harmonis nyangkut spiritual, pendidikan, dan segar. Penjelasan Weda dan pelayanan telah banyak tertuang dalam berbagai wacaterbukti dan dinikmati masya- na-Nya yang telah dibukukan rakat. 1. Dalam bidang spiritual yang tersebar dalam berbagai telah menyebabkan hampir judul dan bahasa. Pengikutnya sangat dianjursemua pengikutnya, lebih rajin mendekatkan diri dengan tulus kan untuk cinta terhadap Tanah lewat tirtayatra, berjapa, Air, cinta tradisi, dan budaya melantunkan kidung suci, yang luhur. Dalam kehidupan samadhi, puasa, dll, disertai sehari-hari harus menerapkan 5 mendirikan kamar suci, tempat pilar dan selalu berintegrasi ibadah dan tempat belajar: Sai dengan masyarakat. Jika jauh

yang sebenarnya.sebagai jalan Tuhan. Dalam pustaka Sabda Satya Sai Bhagawan Sri Satya Sai Baba menyatakan agar Weda kembali sebagai jalan Tuhan, maka penerapan ajaran suci Weda diarahkan pada tiga sasaran yaitu Swartha, Para Artha dan Parama Artha. Swaartha artinya arahkanlah ajaran suci Weda itu untuk memperbaiki keberadaan diri sendiri. Binalah kehidupan yang makin sehat (Swastya Wahini), makin berpendidikan (Widya Wahini) dari masyarakat, akan jauh dari segalanya. Bekerjalah demi kesejahteraan masyarakat. Tiap pengikutnya, terutama pengurusnya, agar hidup satwika, dan hidup vegetaris, dan jangan mencela negeri dan agama (kepercayaan) apa pun. Celaan adalah tanda cara berpikir negatif yang tidak spiritual. Perdana Menteri India Dr. Man Mohan Singh dan Presiden India Sonia Gandhi, datang memberi penghormatan akhir. Man Mohan Singh berkata: 1.. Saya merasa berduka atas meninggalnya Bhagawan Sai Baba. Beliau pemimpin spiritual yang telah memberi inspirasi bagi jutaan umat manusia, dari latar belakang agama dan kepercayaan, guna mengalami kehidupan yang bermoral dan bermakna. 2. Ajaran-ajarannya berakar dalam nilai-nilai universalitas (5pilar). 3. Bhagawan Sri Satya Sai Babab figur pembabar nilai-nilai komunitas tertinggi selama lebih dari 5 dekade. 4. Bhagawan Sri Satya Sai Baba telah melakukan pelayanan yang bermarkas di Prasanti Nilayon seperti bidang pendidikan dan kesehatan. 5. Sai Baba meyakini tiap orang wajib untuk memastikan bahwa sesamanya berhak untuk mendapatkan kebutuhan dasar kehidupan. 6. Sai Baba merupakan sumber informasi bagi tiap iman dari semua kepercayaan dan agama. Walaupun Bhagawan Sri satya Sai Baba mahasamadi kebanyakan pengikut-Nya bertekad untuk tetap bergelut dan bergulat dalam studi Weda, melalui penjelasan Bhagawan Sri Satya Sai Baba meneruskan program-programnya yang luhur dan mulia. Wacana Sai Baba yang menggelitik yang merupakan inti Weda mudah dipahami merupakan peninggalan mutiara monumental yang terpancang tegar di hati sanubari umat manusia yang berjiwa spiritual. Beliau, guru spiritual agung nan suci mahadokter penyembuh segala penyakit, sastrawan agung tiada tanding, prema swarupa, mahapengasih. Sad guru awatar sebagai wujud yang pernah lahir bisa saja berubah, awatar sebagai saguna Brahman bisa saja berubah awatar mahasamadi, tetapi Nirgunan Brahman serta Wedanya adalah abadi. Om Sri Sairam. Om Shanthi Shanthi Shanthi Om

tkh/dok

Sai Baba Mencapai Tahapan Hidup tanpa Napas I Ketut Wiana

dan makin peduli pada nasib sesama (Praja Wahini). Para Artha artinya ajaran Weda diarahkan untuk melayani orang lain untuk membangun hubungan sosial yang saling berkontribusi satu dengan yang lainya secara timbal balik. Parama Artha artinya tujuan yang paling mulia adalah mengarahkan ajaran suci Weda untuk mengabdi pada Tuhan dalam wujud bhakti. Dengan bhakti pada Tuhan manusia akan memiliki rohani yang kuat mengarungi kehidupan di dunia material yang penuh hirukpikuknya ini. Tiga arah pengamalan Weda itu akan terlaksana jika dapat dibangun tiga kecintaan yaitu Dewa Abhimana yaitu mencintai Tuhan dengan bahkti Dharma Abhimana yaitu mencintai kebenaran dan Desa Abhimana yaitu mencintai tanah kelahiran melalui peng-

abdian. Sai Baba menyatakan dalam pustaka Anandadayi pada zaman Treta Yuga, Sri Rama menumpas manusia yang jahat berhati raksasa dengan senjata Kodanda, zaman Dwapara Yuga, Sri Krsna menumpas manusia jahat itu dengan senjata Sudharsana Cakra. Sedangkan zaman Kali tidak mungkin manusia jahat itu ditumpas dengan senjata pembunuh. Karena, zaman Kali kekuatan Adharma menguasai hati manusia. Lawanlah Adharma itu dengan senjata yang disebut Prema Wahini yaitu menyemaikan kesabaran dan kasih sayang pada lubuk hati manusia. Pada zaman Kali ini menurut Sai Baba tidak ada kekerasan dan kebrutalan dapat menegakkan dharma. Menegakan dharma zaman Kali ini hanya dengan senjata Prema Wahini yaitu mengalirkan kasih sayang dan kesabaran pada umat manusia. Hal inilah yang menyebabkan Sai Baba tidak pernah melayani orang yang mencaci makinya. Ada yang mengatakan Sai Baba tukang sulap penipu, ada yang mengatakan dajal dan berbagai hujatan. Sai Baba menyatakan mereka yang menghujat tanpa hak itu bagaikan mengirim surat tanpa prangko. Surat itu akan kembali padanya. Zaman Kali ini manusia akan menutup telinga pada nasihatnasihat tetapi akan membuka mata dengan contoh yang nyata. Belajar Weda menurut Sai Baba seperti belajar berenang.

Meskipun hafal teori-teori berenang dengan fasih, kalau tidak pernah terjun ke air tidak pernah akan bisa berenang. Karena itu Sai Baba menekankan program penegakan Weda dengan sayap pelayanan atau sewanam pada masyarakat yang membutuhkan termasuk menjaga kesejahteraan alam ini. Dalam buku Anandadayi, Sai Baba menyatakan: ’Jangan salah gunakan lima unsur alam. Lima unsur alam itu adalah bumi, air, api, udara dan langit. Ini lima anggota badan Tuhan. Manusia boleh menggunakannya hanya sebatas kebutuhan. Menyakiti orang lain, sama saja dengan menyakiti Tuhan, karena manusia pun dibangun dengan lima unsur alam tersebut. Menyalahgunakan Pancamaha Bhuta itu adalah kejahatan yang paling besar. Menghamburhamburkan energi manusia akan mendapat luka bakar. Dengan mengotori udara manusia akan mendapatkan penyakit jiwa. Adalah tidak baik menginginkan yang tidak dibutuhkan. Begitu juga menginginkan kesenangan yang berlebihan. Jika manusia serakah bisa saja terjadi kehilangan apa yang telah dimiliki. Seseorang tidak boleh menjajah tanah lebih dari yang diperlukan untuk hidup. Jika berbicara atau bekerja jangan ramai hiruk pikuk. Tidak boleh menimbulkan bunyi-bunyian yang berlebihan. Membuat keramaian yang hiruk pikuk juga dosa. Kesunyian itu Tuhan. zI Ketut Wiana

Vihara Buddha Guna Dipugar Difungsikan sebagai Pusat Informasi Buddha

Salah satu acara pemberkatan Vihara Buddha Guna.

SETELAH dipugar, Vihara Buddha Guna di Nusa Dua kini terlihat lebih megah. “Bukan kemegahan yang ingin kami tunjukkan. Namun, dengan sarana ibadah itu umat Buddha dapat menghidupkan dhamma, kebenaran di dalam batinnya. Kemegahan Vihara dan kemegahan dhamma ada di dunia ini untuk kedamaian,” ujar Penanggung Jawab Umum Purna Pugar Vihara Buddha Guna Erlina Kang Adiguna saat Upacara Pemberkahan Vihara Buddha Guna dan Pattidana, di Kompleks Puja Mandala, Nusa Dua, Kamis (28/4). Dalam acara yang diawali abayadana berupa pelepasan burung ini, ia mengharapkan Vihara Buddha Guna dapat dimanfaatkan bagi upaya

pendalaman dhamma serta memberikan manfaat lebih luas bagi pengembangan dan pelestarian dhamma. Selain dimanfaatkan sebagai pusat informasi Buddha di Bali, vihara tersebut juga diproyeksikan sebagai sarana pengembangan ibu-ibu dan generasi muda. Ajaran Buddha telah mengajarkan umatnya terbebas dari segala duka. Hal tersebut juga menjadikan sebuah harapan agar umatnya juga melihat, bahwa kehidupan ini penuh tantangan. “Jika mau menelaah ajaran Buddha, tidak perlu melihat bagaimana Buddha mencapai tribana, namun cukup menjalankan Lima Sila. Umat Buddha tidak cukup mengakui diri sebagai umat Buddha, tetapi yang paling penting bagaimana menjalankan

zProf. Dr. I Wayan Jendra, S.U.

Mahayani dan Erlina Kang Adiguna

ajarannya,” ujarnya. Ketua Panita Pemberkahan Mahayani Permana menambahkan, purna pugar ini dilaksankan setelah Vihara Buddha Guna berusia 11 tahun. Proses renovasi yang dilakukan dua tahap selama tiga tahun ini, kini telah selesai 95% dengan menghabisan dana sekitar Rp 3 miliar. Dalam acara yang dihadiri warga Forum Ibu- ibu Buddhis (FIB) Magabudi dan umat Buddha dari seluruh Bali ini telah juga dilaksanakan pembukaan selubung Buddha. Mahayani menerangkan digelar pula upacara pindapatta, merupakan suatu kesempatan yang diberikan kepada umat Buddha untuk berbuat kebaikan. Pindapatta sebuah tradisi para bhikkhu untuk menerima persembahan makanan dari umat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mahayani menambahkan, lantai dasar Vihara digunakan sebagai dhamma hall. Lantai II difungsikan menjadi dhammasala yang memberikan berkah kepada semesta alam yang diperlihatkan di delapan simbol berkah. Lantai III yang diseting altar hutan, sebagai tempat menghidupi dhamma dan tempat menyimpan Kitab Suci Tripitaka. Pada acara tersebut hadir Bikkhu Sangha Y.M. Sri Pannyavaro Mahathera, Y.M. Dhammavijayo Mahathera, Y.M. Jotidhammo Mahathera, Y.M. Jagaro Mahathera, Y.M. Subhapanyo Mahathera, Y.M. Santamano, Y.M.Cittaguto Thera, Y.M Sucirano Thera B. Saccadhammo, Y.M. Bhikku Vijaya, dan Y.M. Bhikku Khemaviro. —ard


JABODETABEK

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 9

Akhirnya Jakarta Sediakan Jalur Sepeda BERKENDARAAN di Jakarta makin tidak nyaman, lebih-lebih pada jam sibuk. Kemacetan lalu lintas selalu menghadang. Kebisingan meningkat, dan polusi udara pun meruap, terasa kian tak terkendali. Sekarang bukan pemandangan aneh jika di jalan-jalan, di dalam angkutan umum, terlihat orang memakai masker, alat penutup hidung-mulut. Pedagang asongan menawarkannya di jalan-jalan, bus, kereta api, terminal, di stasiun.

U

saha Pemprov. DKI Jakarta untuk me ngatasi kemacetan belum membuahkan hasil. Segesit apa pun upaya yang dilakukan, masih kalah “bersaing” dengan percepatan jumlah kendaraan. Sekarang jarak tempuh dari suatu tempat ke tempat lain memerlukan waktu lebih lama akibat macet. Sekilas realitas tersebut bisa dimaklumi. Bayangkan, fenomena urbanisasi tak terbendung meski saat-saat tertentu aparat Kependudukan melakukan pelbagai upaya penertiban. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Jakarta saat ini 9,58 juta jiwa. Jika ditambah penduduk di kawasan penyanggah (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), total warga Ibu Kota 26,6 juta atau jauh lebih banyak dibanding seluruh penduduk Australia yang 20,8 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk telah memicu pertambahan jumlah kendaraan. Saat ini jumlah kendaraan di wilayah Jabodetabek 27,9 juta kendaraan. Di Jakarta saja terdapat sekitar 6,7 juta unit mobil dan 4 juta motor sedangkan kendaraan komuter mencapai 700.000 per hari. Sebanyak 98,5% kendaraan pribadi yang melayani 44% perjalanan. Sisanya, 1,5% angkutan umum melayani 56% pejalanan. Kebutuhan di Jakarta 20,7

juta perjalanan per hari. Pertambahan panjang jalan raya hanya 0,01% per tahun. Di sisi lain pertumbuhan kendaraan 11% per tahun. Kondisi ini diperparah bertambahnya lebih dari sekitar 1.000 unit motor baru dan 200 mobil anyar per hari di Jakarta, atau 288 mobil dan 1960 motor tiap hari di Jabodetabek. Diprediksikan Jakarta akan macet total tahun 2014. Inilah fakta yang membuat atmosfer Ibu Kota makin tidak nyaman: macet, bising, dan berpolusi. Persoalan transportasi Jakarta sangat ironis. Jumlah angkutan umum yang lebih kecil harus melayani jutaan perjalanan, sedangkan mobil pribadi yang mendominasi ruas-ruas jalan hanya mengantar ratusan ribu perjalanan. Mengapa orang lebih suka naik mobil pribadi ketimbang angkutan umum? Hingga kini

merupakan bahan khusus sehingga tidak mudah rusak akibat hujan atau panas. Kondisi jalan nantinya juga tidak akan cepat merusak ban sepeda dan terbuat dari bahan ramah lingkungan. Karena kekhususannya itu, mengakibatkan proses pengeringan jalan memakan waktu yang cukup lama. Ke depan, juga akan dikembangkan jalur sepeda di kawasan lainnya.. Penerapan jalur sepeda itu akan dijabarkan secara detail pada Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) setelah Raperda RTRW 2010-2030 disahkan menjadi Perda. Kepala Dinas Tata Ruang DKI, Wiriyatmoko menuturkan, muatan Raperda RTRW juga mencoba merespons berbagai isu strategis saat ini dan masa mendatang. Isu itu di antaranya mengenai transportasi yang terdiri atas angkutan umum massal, peningkatan kapasitas jaringan jalan, transit oriented development (TOD), dan jalur sepeda.

angkutan umum yang benarbenar aman dan nyaman belum tersedia, utamanya angkutan massal seperti kereta api dalam kota. Sementara busway (bus Transjakarta) yang bisa disebut agak massal, belum menjangkau semua koridor. Dari 15 koridor yang direncanakan baru 10 koridor yang sudah dioperasikan, itu pun tidak semua koridor berfungsi optimal. Angkutan feeder-nya belum layak sehingga busway yang diharapkan menjadi pilihan transportasi umum yang benar-benar nyaman, belum terwujud. Apalagi untuk bisa merayu kalangan menengah atas, eksekutif muda, untuk bersedia beralih ke bus tersebut. Mereka lebih memilih kendaraan pribadi yang lebih aman dan nyaman walau harus menghadapi kemacetan. Secara fisik bus Transjakarta cukup nyaman, namun untuk naik dan turun halte, penumpang harus jalan kaki cukup panjang melalui tangga dan jembatan yang kurang representatif. Car Free Day Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Transportasi Dr Sutanto Soehodo mengatakan, mau naik angkutan umum atau kendaraan pribadi merupakan pilihan; tidak bisa dipaksa seseorang harus naik angkutan umum. Karena itu pihaknya berupaya semaksimal mungkin, dalam mengatasi masalah transportasi di Jakarta harus disediakan angkutan massal yang aman dan nyaman. Kini angkutan massal (kereta bawah tanah) atau lebih dikenal dengan mass rapid transit (MRT) sudah diupayakan Pemprov dengan kucuran dana dari Pusat. Namun, MRT yang akan

Sutanto Soehodo

Pada hari bebas kendaraan bermotor, para pesepeda dengan leluasa menyusuri jalan protokol yang biasanya dipadati kendaraan

melalui jalur padat yakni koridor Lebak Bulus-Bundaran HI kini baru dimulai pembangunannya dan baru bisa dioperasikan tahun 2016. Pakar transportasi ini juga menekankan perlunya pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan kebijakan antara lain pemberlakuan plat nomor ganjil genap secara bergantian, tarif parkir relatif tinggi, pajak kendaraan juga tinggi (kini sudah diberlakukan pajak progresif). “Namun, terlebih dulu pemerintah harus menyediakan angkutan massal yang aman dan nyaman,” kata Sutanto. Untuk mewujudkan angkutan massal seperti MRT ini sebenarnya sudah diusulkan para pakar transportasi sejak tahun 1980-an, Bahkan Pemprov DKI juga sudah merencanakannya. Sayang, respons pemerintah pusat belum maksmal. Tatkala masalah transportasi dan kemacetan sudah mengganggu aktivitas masyarakat Ibu Kota, termasuk pemerintahan, barulah pemerintah pusat merespons bahkan mendanai mega proyek tersebut. Respons ini juga tak lepas

Belajarlah dari Jakarta pemberitaan di majalah Time belum lama ini, juga terkait kotornya lingkungan di Pantai Kuta, sempat menimbulkan keprihatinan kita. Bahkan Gubernur Bali juga mengajak masyarakat agar ikut menjaga kebersihan lingkungan. Ia juga meminta masyarakat mendukung pembangunan jalan untuk mengatasi kemacetan. Bali (Denpasar), Bandung, Yogya, Semarang, dan bahkan Surabaya, boleh dikata belum

tkh/net

SEIRING meningkatnya taraf perekonomian masyarakat di pelbagai kota di Indonesia, utamanya di kotakota provinsi, jumlah kendaraan pribadi juga terus meningkat. Kemacetan lalulintas tak terhindarkan. Bandung, Yogya, Medan dan Denpasar, sudah mengeluhkan masalah kemacetan, meski tak separah Jakarta. Kemacetan di Bali yang pernah disinggung dalam

Suasana kemacetan lalulintas di Jakarta

terlambat dalam mengantisipasi kemacetan parah yang pasti akan muncul. Jakarta bisa dijadikan “pelajaran” berharga. Ibu kota negara ini sangat terlambat dalam mengantisipasi perkembangan penduduk/ urbanisasi yang kemudian bermuara pada permasalahan transportasi/kemacetan. Angkutan umum massal yang aman dan nyaman harus disediakan terlebih dulu. Angkutan umum massal itu sebaiknya menggunakan bahan gas yang ramah lingkungan. Dalam mengurangi polusi, sebaiknya di ruas-ruas jalan tertentu juga disediakan jalur khusus sepeda, sehingga warga kota yang melakukan perjalanan untuk pelbagai aktivitas memiliki banyak pilihan. Menggunakan sepeda untuk jarak-jarak dekat, selain menyehatkan badan juga mengurangi polusi. Dan, tentunya bisa mengurangi kemacetan. Direktur Instran Jakarta Darmaningtyas dalam bukunya Transportasi Jakarta Menjemput Maut, mengemukakan, akar persoalan runyam kondisi

transportasi Jakarta adalah terlalu dominannya kendaraan pribadi, roda empat maupun roda dua, dengan segala eksesnya yang populasinya mencapai 98% dari total kendaraan bermotor di Jakarta. Kemacetan akibat permasalahan sosial politik dan budaya yang kompleks yang tali-temali, yang kemudian memunculkan persoalan baru seperti bertambahnya waktu tempuh, banyak waktu terbuang di jalan, tingginya ongkos, turunnya produktivitas, pemborosan bahan bakar, penyebaran polusi udara dan suara, serta tingginya agretivitas masyarakat akibat akumulasi kekesalan yang tidak tersalurkan. Pada akhirnya wajah transportasi kita merupakan citra budaya atau wajah peradaban suatu bangsa. Persoalan transportasi Jakarta yang pelik, semoga jadi pelajaran bagi kota-kota lain di Indonesia dalam membenahi sistem transportasi dan menata wajah kotanya. ziswati

dari penilaian dunia, polusi udara Jakarta menempati urutan III. Isu lingkungan dan perubahan iklim kemudian direspons oleh Jakarta. Karena itu, sudah beberapa tahun terakhir Pemprov DKI melakukan car free day (hari bebas kendaraan bermotorHBKB). Awalnya HBKB sekali sebulan pada hari Minggu, yang berlaku di Jalan SudirmanThamrin. Kini HBKB dua kali dalam sebulan. Pada HBKB ini pecinta atau komunitas sepeda bisa melenggang santai di jalanan, terutama di kawasan Sudirman-Thamrin. Jalur Sepeda Makin pekatnya polusi udara banyak disebabkan emisi gas buang kendaraan bermotor. Maka, usulan pelbagai kalangan mendapat tanggapan positif dari pemerintah dengan disediakannya jalur khusus sepeda. Bike to work yang beberapa tahun terakhir diusulkan terutama oleh Komite Sepeda Indonesia (KSI) mulai direspons pemerintah. Bahkan mulai akhir Mei 2011 jalur khusus sepeda mulai diberlakukan, meski hanya di jalur

Taman Ayodya hingga Melawai, Jakarta Selatan, sejauh 1,5 km. Gubernur Fauzi Bowo yang akan meresmikan jalur khusus sepeda ini menguatkannya dengan SK Gubernur. Kondisi fisik pembangunan jalur sepeda Taman Ayodya-Melawai kini mencapai 40%. Jalur Sepeda Taman Ayodya-Melawai ini telah dimasukkan dalam Rancangan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Raperda RTRW) DKI 2010-2030. Syahrul Effendi, Wali Kota Jakarta Selatan merupakan pejabat yang gencar mempromosikan penggunaan sepeda juga dikenal sebagai ketua umum Komite Sepeda Indonesia (KSI). Menurutnya, Pemkot Administrasi Jakarta Selatan dan KSI saat ini telah mengirimkan surat permohonan kepada Gubernur DKI Jakarta. Pembangunan jalur sepeda pertama di Ibu Kota ini tidak menggunakan anggaran dari APBD DKI Jakarta melainkan dana hasil patungan para anggota KSI sebesar Rp 500 juta. Bahan yang digunakan

Jalan Layang? Apa yang dikemukakan KSI tampak sejalan dengan pernyataan Darmaningtyas, Direktur Institut Transportasi (Instrans) Jakarta. Ia menentang pembangunan jalan layang Antasari–Blok M dan beberapa jalan layang yang direncanakan Pemprov DKI. Alasannya, di banyak ruas jalan layang terbukti hanya memanjakan pengguna kendaraan pribadi dan di pintu-pintu keluarnya makin membuat kemacetan. Pembangunan jalan layang yang terus berlanjut, kata aktivis prodemokrasi ini, menunjukkan ketidakkonsistenan Pemprov DKI dalam membenahi transportasi Jakarta. “Itu sama saja dengan upaya bunuh diri,” kata Darmaningtyas. Alasannya, di satu sisi Jakarta ingin menekan penggunaan kendaraan pribadi dan memaksimalkan angkutan massal dan terkait pula dengan upaya mengurangi polusi, tetapi dengan pembangunan jalanjalan layang ini justru menunujukkan kebijakan yang tidak konsisten. “Di satu sisi Pemprov bermaksud membatasi beroperasinya kendaraan pribadi, tetapi di sisi lain menambah ruas jalan yang memasilitasi kendaraan pribadi; atau memberikan izin untuk pendirian gedung-gedung baru pencakar langit yang dapat menimbulkan bangkitan lalulintas cukup tinggi,” katanya. Kebijakan yang kontradiktif itu, menurut dia, perlu dievaluasi kembali. Pemprov DKI Jakarta perlu lebih konsisten dalam menata Kota Jakarta. Jika memang bermaksud mengurangi operasional kendaraan pribadi, kebijakan yang perlu dibuat adalah yang mengarah pada pembatasan ruang gerak kendaraan pribadi, sehingga orang merasa lebih baik menggunakan angkutan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi. —isw


10

Tokoh

BUMI GORA

1 - 7 Mei 2011

Mengenang Kota Ampenan dengan Musik Jadul Aku menyusuri Kota Ampenan, kotaku yang dulu pernah berjaya. Selamat pagi oh…Kota Ampenan, sambutlah matahari menyala. Kulihat mobil bergerak, sepeda motor, sepeda tua juga cidomo. Seorang kakek sendiri, duduk termenung di depan toko seperti melongo...

Ipang dalam proses rekaman Jalan Harmoni di rumah rekam Gule Gending Lombok

I

nilah salah satu lirik lagu dari album berjudul “Anatomi Duka Lara” (ADL) miliki grup band Jalan Harmoni. Lagu ini berkisah tentang sebuah kota tua di Mataram, Kota Ampenan yang dulu berjaya, pernah menjadi pusat pergerakan ekonomi, pusat perdagangan dan pusat keramaian di kota Mataram. Keramaian Kota Ampenan dulu, juga karena di sinilah pelabuhan penghubung Pulau Lombok dengan Pulau Bali dan Jawa sebelum akhirnya pindah ke Lembar, Lombok Barat. Kota Ampenan, kota pelabuhan tempat pusat transaksi yang menjadi

nadi ekonomi masyarakat Mataram. Namun, sejak pesatnya perkembangan Kota Mataram, pusat perdagangan dan keramaian bergeser ke Cakranegara yang kini menjadi hiruk pikuk dengan bangunan-bangunan baru bergaya modern, ruko-ruko dengan beragam model bangunan menghiasi kota mengikuti selera masa kini. Dan, Kota Ampenan sepertinya telah terlupakan. Gedung-gedung lama khas kota tua dengan kabel-kabel membentang tak rapi, lumut menempel dan jendelajendela ketinggalan zaman masih asli terlihat. Di sanalah, para pengusaha Tionghoa yang dulu berjaya dengan tokotokonya, masih bertahan tinggal. Bahkan toko-toko lama itu sebagian masih berfungsi seperti sebelumnya. Kota Ampenan kota penuh kenangan yang berada di bagian Barat kota Mataram ini menjadi salah satu inspirasi bagi Opan, salah seorang penulis lirik dalam album ADL ini karena keunikan dan sejarah yang tersimpan di dalamnya. Adalah grup band lokal di Mataram, Jalan Harmoni yang tampil beda dan berani menantang “kekinian” dengan lagu-lagu beraliran jaman dulu alias jadul. Mendengar alunan lagu-lagu yang dinyanyikan Qisie dan juga Ipang dalam album ADL, bisa mengembalikan kenangan pada jenis musik di masa emas Panbers, Koes Plus, D’Lloyd dan lainnya di era 1960-1970-an,

namun disajikan dengan kaca mata hari ini. Pilihan jenis musik “jadul” ini dengan sadar dipilihnya setelah sebelumnya mengalami proses diskusi lepas sambil ngobrol santai sembari menerka peluang yang ada. Bisa dibilang mereka akhirnya menjatuhkan pilihan pada jenis musik ini secara tidak sengaja. Maka dari ketidaksengajaan itu, lahirlah karya yang digarap dengan serius dalam proses diskusi yang tidak hanya melibatkan beberapa musisi di Mataram, melainkan juga seorang sastrawan, Opan, yang akhirnya menyumbang empat lirik dalam album ini. Jalan Harmoni menyapa publik dengan lagu bertema tema umum, ringan dan bisa dinikmati dengan santai serta mudah diterima. Bagi orang dewasa, ini adalah area untuk mengenang masa lalu, bernostalgia dengan lagu-lagu bernuansa lama namun dengan kaca mata hari ini. dan, tentu saja bagi remaja belasan tahun, ini merupakan tantangan dan penjelajahan selera untuk memperkaya referensi musik agar tidak melulu disuguhi tren hari ini yang itu-itu saja. Proses penciptaan lagu yang banyak menyita waktu karena harus melakukan pemilihan diksi-diksi untuk mengejar kesan jadul. karena itulah, Jalan Harmoni sengaja melibatkan salah seorang sastrawan di Mataram dalam diskusi-diskusinya. Opan

masuk memberi sentuhan dengan idiom-idiom lama yang terasa kental “jadul”-nya. Mendengarkan lagu-lagu dalam album ADL, diajak kembali pada lagu-lagu abadi sepanjang masa, seperti Gereja Tua, Maria dan lainnya. Pilihan jenis musik ini terasa lebih abadi, ungkap Qisie. Rasanya belum ada grup band lokal Mataram yang menggarap jenis musik seperti ini. Album Anatomi Duka Lara ini berisi 8 komposisi. Dua lagu bernada riang dinyanyikan oleh Qisie, berjudul Katakanlah dan Selalu Sendiri, menggugah semangat untuk membuka memori sebagai pengantar masuk pada kesan jadul meninggalkan kekinian. Lagu Cinta Abadi yang lirik dan aransemennya dibuat Qisie, begitu melankolis dan khas dengan alunan vokalnya yang sendu. Cinta Abadi, enak dinikmati dan sangat menggelitik karena berisi tentang cinta abadi seseorang namun tidak pernah mampu dimilikinya. Dengan suara merdu khas milik Ipang, membawakan lagu Berikanlah begitu menyentuh hati dan membawa “pulang” pada sebuah harapan yang tak pernah putus pada kenyataan yang sendiri. Melankolis penuh keharuan khas lagu harapan. Lembut, renyah dan enak sebagai pengantar tidur. Lirik simbolik yang ditulis Opan ini memberi kesan jadul

Album Anatomi Duka Lara, mengusung lagu pop jadul

Benjolan Itu tidak lagi Menghantui Kelenjar getah bening adalah sebuah jaringan berbentuk oval di dalam tubuh yang bertindak sebagai penghasil dan penyaring cairan yang disebut sebagai getah bening (limfosit). Getah bening ini berfungsi dalam pengeluaran sel-sel mati dan yang paling utama adalah sebagai alat pertahanan terhadap infeksi. Untuk itu perlu dikenali kemungkinan-kemungkinan penyebab dari pembesaran kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening biasanya tumbuh dan membesar di daerah kepala dan leher. Diawal Juli 2010 Bu Metha Dewi (51) yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, mulai merasakan keluhan, mendadak terasa sakit di leher seperti panas dalam. Dengan kondisi seperti itu Metha mengira dirinya sedang panas dalam sehingga ia banyak mengkonsumsi air putih guna menghilangkan panas dalamnya. Setelah banyak minum air putih Metha merasa enak. Setelah tiga hari tiba-tiba muncul benjolan 2-3 cm di leher dan anehnya benjolan itu tidak terasa sakit, Metha pun menganggap itu benjolan biasa. Namun, setelah sepuluh hari benjolan itu cepat sekali membesar sebesar telur ayam. Dari situ Metha mulai gelisah dan mempunyai firasat ia menderita penyakit getah bening. Akhirnya Metha mendatangai dokter untuk berobat, dokter mengatakan benjolan itu hanya benjolan biasa, ia pun hanya diberi antibiotik. Setelah lima hari mengonsumsi obat, tidak ada perubahan sama sekali dan rasanya makin sakit dan Metha sangat terganggu dengan benjolan itu.

Bu Metha Dewi

Setelah obat medis habis dalam waktu lima hari, Metha kembali melakukan konsultasi. Dokter mengatakan benjolan berada tepat di kelenjar yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga peredaran darah tidak normal, hal tersebut yang membuat benjolan cepat membesar. Akhirnya dokter menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter sepesialis THT. Saran dokter tersebut membuat Metha makin khawatir atas keadaanya. Dalam rasa kekhawatirannya itu, suatu hari Metha mendapatkan informasi

dari salah seorang teman tentang pengobatan komplementer di Klinik Bali Heart Care Center/Hsen Chii International. Tanpa berpikir panjang keesokan harinya Metha mendatangi Klinik tersebut dengan penuh semangat bahwa penyakitnya bisa disembuhkan. Setelah melakukan konsultasi, Mr Chai mengatakan perkembangan benjolan tersebut sangat cepat dan berbahaya sekali apabila tidak cepat diobati. Metha pun langsung mendapatkan perawatan yaitu terapi EBOO (Filter Ozone Darah), terapi Germanium dan juga mengonsumsi herbal guna pembunuh kanker serta pembenahan sistem metabolisme tubuhnya. Lima hari melakukan terapi germanium, satu kali ozon dan juga mengkonsumsi herbal akhirnya nanah, darah dalam benjolan tersebut bisa keluar, benjolan pun mengempes. Sepuluh hari leher sampai ke pipi sebelah kanan membengkak. “Rasanya sangat sakit sekali, seperti mau meletus”, ujarnya. Akhirnya Metha melakukan terapi DOM, yaitu dimana DOM berfungsi sebagai alat untuk memperkecil dan menghentikan penyebaran sel ganas bahkan sampai menghilangkan sel ganas tersebut. Setelah melakukan terapi selama satu bulan dan dilakukan dua hari sekali serta mengonsumsi herbal, bengkak itu bisa mengempes. “Saya merasa lega kini benjolan itu tidak lagi menghantui. Sekarang aktivitas saya bisa kembali normal seperti dulu sebelum saya sakit”, ujarnya sambil tersenyum.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke:

Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimili (0361) 264688. Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

Kota tua Ampenan, salah satu sumber inspirasi lahirnya lagu dalam album Anatomi Duka Lara

yang kuat karena memakai idiom-idiom khas seperti dinda dan penjelajahan imaginasi yang demikian romantis terasa sekali memperkaya karya ini. Lagu Menuju ke Awan yang liriknya juga ditulis dengan puitis oleh Opan, mengambarkan ironi cinta penuh pertanyaan yang berakhir tragis. Lagu-lagu dalam album ADL kini mulai terdengar diputar di radio-radio di Mataram. CD album ini telah beredar di Jakarta, Kupang, Malang, Bandung, Bali dan beberapa kota lain. Optimisme Jalan Harmoni mengusung lagu bernuansa lama dalam album ADL ini jalan terus dengan keyakinan bahwa karya musik pada dasarnya universal. Menurut Qisie, delapan lagu dalam album yang seluruhnya digarap di Rumah Rekam Gule Gending Lombok ini memakan waktu tiga bulan. Dalam segala keterbatasan fasilitas studio mini nan sederhana di kawasan Seruni Ampenan ini, para musisi yang memang telah memilih jalur hidupnya sebagai pemusik ini, melakukan penggarapan album dengan sangat serius dan hasilnya ADL terus mendapat apresiasi pencinta musik di

Mataram, khususnya. Dalam dunia musik di Mataram, personil Jalan Harmoni bukanlah orang baru, mereka menekuni dunia musik sejak usia kanak-kanak. Ipang (Bass/ Vokal), bahkan sempat berkelana ke Jakarta dan bermain di kafe sembari mengajar di salah satu sekolah musik di sana. Ketika ia kembali ke Lombok beberapa waktu lalu, pria kalem ini tetap memilih mengajar musik, di sebuah sekolah negeri di Mataram dan salah satu sekolah musik, juga di Mataram. Ia juga kerapkali terlibat dalam penggarapan musik teater dan musikalisasi puisi bersama para sastrawan dan pelajar-mahasiswa di Mataram. Ia telah mengenal musik sejak usia delapan tahun dan menggelutinya dengan serius sejak usia SMP ini adalah bagian penting dari kehidupannya. Ichink (Drum), adalah anak muda yang penuh semangat, yang mulai mengarahkan hidupnya pada dunia musik. Selama kuliah di IAIN Mataram, ia aktif di UKM Seni “Saksi”. Sering juga diajak dalam penggarapan musik teater dan musikalisasi puisi bersama sastrawan dan pelajar-mahasiswa di Mataram.

Grup Band Jalan Harmoni, dari kiri Icing, Ipang dan Qisie

Ia juga menghiasi harinya dengan bermain musik di beberapa kafe di Senggigi dan Mataram. Demikian juga dengan Qisie (Gitar/ Vokal), musisi asal Kalimantan Timur yang kini memilih menetap di Mataram ini. Penjelajahan musiknya untuk mengarahkan hidup sepenuhnya pada dunia yang menurutnya mulai menunjukkannya “jalan lurus” ini, membuatnya suntuk tiap malam bahkan hingga fajar tiba untuk menggarap album ini. Sejak serius bermusik ketika usia 10 tahun, Qisie merasa telah menemukan arah hidupnya dan memilih menjadi seorang musisi. Sempat tinggal di Bandung selama beberapa tahun dan bermain musik di beberapa hotel dan kafe di sana. Kemudian ia hijrah ke Lombok dan bermain musik di beberapa kafe di Senggigi dan Mataram. Jalan Harmoni, gup band lokal dengan keberanian melempar album beraliran kembali ke masa lalu ini, mewarnai khasanah musik di Mataram maupun di tanah air. Anak muda yang tidak tejebak latah untuk berlomba-lomba menyisip dalam persaingan yang sama. Mereka berani keluar dari desakan tren dan bisa bernapas lega dengan pilihan yang disertai optimisme itu karena memiliki area sendiri untuk berkarya. Pada karya berikutnya, Jalan Harmoni tidak akan melulu pada lagu pop bernuansa retro seperti ini melainkan, kata Qisie, akan melakukan penjelajahan pada musik lain yang juga khas seperti seperti balada, keroncong, rock bahkan dangdut. Mereka berharap, agar album ADL dapat diterima dengan baik dan memberikan hiburan bagi masyarakat khususnya di Mataram. —nik


USAHA Carter Mobil

Serasa Naik Mobil Sendiri Bagi masyarakat Denpasar yang ingin bepergian memakai transportasi yang nyaman dan murah, carter mobil bisa menjadi pilihan. Anda bisa memilih jenis Karimun Estillo atau Suzuki Splash yang siap mengantar Anda ke kawasan Nusa Dua dan Jimbaran atau ke wilayah Batubulan hanya dengan biaya Rp 20 ribu.

U

saha jasa carter mobil ini di Denpasar belum banyak pesaing. PT. Indonesia Motor Taxy menjadi perusahaan pertama di Denpasar yang menyediakan jasa carter mobil dan motor taxi. Perusahaan ini membuka kantor di Jalan Tukad Batanghari, Denpasar. Menurut petugas operasional carter mobil dan motor taxi PT Indonesia Motor Taxy Sri Ardhini pihaknya telah menyediakan 50 kendaraan jenis Karimun Estillo dan Suzuki

manfaat menunjang aktivitas sehari-hari. “Dengan adanya transportasi model sharing seperti ini harga menjadi terjangkau, satu rute per kepala dikenakan ongkos Rp 20 ribu. Ditambah kenyamanan mobil yang menyediakan fasilitas AC, musik, dan kondisi mobil yang selalu bersih serasa naik mobil sendiri. Sepertinya semua mobilnya masih baru. Sopir juga selalu baik, ramah dan kooperatif,” katanya. Pak Ucok

Sri Ardhini

Splash untuk keperluan carter mobil. Permintaan terhadap jasa carter mobil ini ternyata cukup tinggi. Sehari bisa mencapai 300 penumpang untuk pemakai jasa carter mobil maupun motor taxi. Untuk memenuhi permintaan masyarakat, PT Indonesia Motor Taxy melakukan penambahan 10 unit kendaraan tiap bulannya. Carter mobil ini makin diminati karena ongkosnya yang murah, dengan sistem “sharing” serta nyaman karena dilengkapi fasilitas seperti AC dan DVD. “Penumpang dengan rute searah berangkat dalam satu mobil,” katanya. Selain mudah, carter mobil beroperasi 24 jam dengan Karimun Estillo berkapasitas empat

orang termasuk sopir dan Suzuki Splash lima orang termasuk sopir. Untuk biaya carter mobil dihitung per kepala, Rp 20 ribu per orang untuk kawasan Denpasar dan sekitarnya meliputi: Ubung, Nusa Dua, Jimbaran, Pecatu, Canggu, Dalung, Kerobokan, Batu Bulan, Padang Sambian dan Ketewel. “Meski hanya satu penumpang, kami tetap berangkat tanpa menaikkan harga. Ini tentu jauh lebih hemat,” tuturnya. Sementara untuk motor taxi Rp 10 ribu per orang untuk kawasan Denpasar. Untuk mendapatkan layanan jasa carter mobil ini cukup mudah, calon penumpang tinggal menelepon perusahaan penyedia jasa layanan ini, mereka akan dijemput sampai ke depan rumah penumpang meski melalui gang. Dalam 10 menit jika penumpang tak berangkat dianggap batal dan tetap dikenakan biaya. Salah satu pemakai jasa carter ini adalah Putu A. Nilotama. Wanita yang sehari-hari bekerja di perusahaan property ini mengakui menggunakan mobil sewaan untuk pergi dan pulang kerja secara rutin. “Di samping itu, jika saya ingin ke mal, pantai maupun ke vila selalu memakai mobil carter ini,” ujarnya. Menurutnya carter mobil ini sangat efisien dan ber-

Jenis kendaraan carter

Bayar Setoran Keberadaan usaha jasa carter mobil dan motor taxi ini pun memberikan berkah bagi para sopir. Sopir dikenakan aturan sistem setoran Rp 150 ribu tiap pagi. Mereka akan mendapat penumpang dari kantor. “Setoran ini diberikan tiap pagi sebelum mengoperasikan kendaraan ini,” kata Pak Ucok, salah seorang sopir carter mobil. Dalam sehari ia mengaku mendapat 25 s.d. 30 penumpang dari jam 6 pagi sampai 9 malam. Bahkan kadang ada tawaran ke luar kota. Ongkos carter mobil ke luar kota tak tentu tergantung kesepakatan. “Kadang mereka tanpa kami minta memberi ongkos lebih jika tempatnya jauh,” tuturnya. Ongkos dari para penumpang ia pakai membayar setoran jika ada kelebihan uang, menjadi hak sopir, dari sana sopir mendapat penghasilan. Sopir pun menanggung beban membeli bensin. Ia menuturkan pemakai jasa carter mobil ini dari segala kalangan dengan tujuan beragam. “Paling banyak mereka yang berangkat ke kantor pada pagi hari,” ungkapnya. Sementara untuk sopir motor taxi, mereka harus membayar tiap hari 300 ribu. “Sopir motor boleh membawa pulang motor dan mendapat order konsumen dari kantor,” kata Ardini menambahkan. —tin

Ibu-ibu GOW Sintang Merangkai Bunga Kering di Bali SENIN (25/4) Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Daerah Bali kedatangan tamu istimewa. Mereka, ibu-ibu dari berbagai organisasi wanita yang terhimpun dalam Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Mereka tak kurang dari 14 ibu berasal dari Persatuan Istri (PI) DPRD, Dharma Yutikarini, Muslimat, DWP Persatuan, Ikatan Bidan Indonesia, Bhayangkari, Badan Kontak Majelis Taklim, PI PLN, Wanita Kristen Iwabri (Ikatan Wanita BRI) dan Nasyatulaisyah, mengikuti pelatihan merangkai bunga kering yang dihelat Iwapi Bali dan BKOW Bali, berlangsung di Pusat Oleh-oleh Rama Shinta, Denpasar. Mereka dibimbing I Gusti Agung Ngurah Oka Ambarawa Kusuma, S.E., pakar usaha bunga kering asal Dalung. Ibu-ibu ini juga diajari bagaimana mengolah bahan-bahan yang akan dipakai untuk kerajinan bunga kering. Sebagian besar ibu tersebut mengaku baru pertama kali melakukannya. Untuk itu, Oka memberikan teknik paling sederhana yang cocok bagi pemula. Mereka diberi bahan berupa kelompak bunga, tangkai, daun dan beberapa bentuk bunga kering yang siap rangkai. Ketua GOW Sintang Dra. Hj. Sriwani mengatakan kegiatan ini sudah menjadi bagian program kerja GOW Sintang tiap tahun. Tahun lalu, GOW Sintang berkunjung ke Bandung, belajar membuat kue tradisional yang belum populer di Sintang. “Kini sudah banyak ibu anggota GOW kami yang pandai membuat kue dan mereka bisa menambah uang dapur dengan usaha

Ibu-ibu dari GOW Sintang mengikuti pelatihan merangkai bunga kering yang dipandu pakarnya, Pak Oka

membuat kue,” ungkapnya. penyakit demam berdarah kepa- kan kelambu kepada mereka. Ia menambahkan, ibu-ibu da masyarakat serta membagi- Satu KK satu kelambu. —tin diajak belajar membuat kerajinan bunga kering karena jenis kerajinan ini belum populer di daerahnya padahal bahannya mudah didapatkan di Sintang. Hasil studi banding ini akan ditularkan kepada anggota organisasi perempuan di Sintang. Ketua BKOW Daerah Bali Tini Gorda mengatakan, keterampilan merangkai bunga kering nantinya dapat memberikan nilai ekonomis sebagaimana yang dialami kaum perempuan di Bali. GOW Sintang dalam merayakan Hari Kartini, mengadakan pertandingan bola voli diikuti organisasi wanita. Mereka terbagi menjadi 26 klub. “Kami pun menggelar ceramah tentang bahaya narkotika ke sekolah-sekolah,” tuturnya. Mei ini mereka memberikan penyuluhan pencegahan

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 11

Kreativitas Bisnis

K

emacetan lalu lintas makin hari kian memprihatinkan terutama di wilayah perkotaan. Sebagai akibatnya muncul fenomena-fenomena operasional transportasi darat. “Fenomena ini muncul sebagai upaya keluar dari kepungan kemacetan,” kata I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl.UG, M.Eng.Sc. Saat ini orang memilih mengendarai motor taxi yakni sepeda motor yang dioperasikan layaknya taksi. Motor taxi banyak dipakai orang-orang yang terjepit dengan waktu dan membutuhkan kecepatan, seperti menuju bandara atau menghadapi pertemuan penting. “Sepeda motor yang dikenal sebagai motor taxi sudah mulai merambah di jalananjalanan potensial macet,” kata pengamat transportasi ini. Ia mengatakan keberadaan motor taxi ini secara operasional tak berbeda dengan sepeda motor lainnya. Persoalannya antara pemilik dan penumpang ada perjanjian pembayaran, ongkos atau upah, tentu tak dapat dipakai sebagai dasar menyebut motor taxi sebagai angkutan umum. Walaupun salah satu kriteria disebut sebagai angkutan umum adalah dengan cara pembayaran. “Penyediaan jasa

I Made Rai Ridartha

seperti ini adalah salah satu bentuk kreativitas bisnis yang melihat peluang pasar yang begitu terbuka,” ujarnya. Untuk saat ini peluang itu cukup menjanjikan dan memberikan prospek yang cukup cerah. “Namun, nanti apabila kondisi pelayanan angkutan umum sudah menjadi lebih baik, maka situasi akan mengalami perubahan. Orang yang beralih untuk menggunakan angkutan umum,” katanya. Menurutnya permintaan motor taxi diyakini akan tetap ada. Meski ia menilai ke depan akan makin berkurang. Hal ini karena para pengguna motor taxi lebih memilih menumpang angkutan umum karena alasan kenyamanan dan keselamatan. “Bagaimana pun mengendarai sepeda motor di tengah-tengah kepungan kendaraan besar dan mengemudi dengan cara yang tak wajar jauh lebih berisiko mengalami kecelakaan. Nantinya, hanya orang-orang yang sangat terdesak yang memanfaatkan jasa transportasi ini,” tandas Rai. Untuk aspek pelayanan transportasi dengan menggunakan kendaraan sewa (rent car) tentu tak berbeda aturannya dengan pelayanan transportasi umum lainnya. Ketentuan operasionalnya seperti perizinan dan kelaikan jalannya mengacu ketentuan UU No. 22 tahun 2009. Permintaan akan kendaraan sewa ini muncul karena kebutuhan khusus dan bersifat insidentil dan bukan reguler. Permintaan datang dari para wisatawan, dengan maupun tanpa menggunakan jasa sopir. Dari sekian banyak kendaraan yang dioperasikan sebagai kendaraan sewa tentu diantaranya terdapat kendaraan yang dioperasikan tak mengikuti ketentuan yang ada. “Bagi kendaraan yang tak memenuhi ketentuan, secara aspek legal dan pengawasan terdapat kesulitan untuk menentu-

kan operasionalnya apakah dioperasikan sebagai kendaraan umum atau tidak. Sama halnya dengan motor taxi. Keberadaan mereka hampir serupa. Pengemudi dan penumpang di dalamnya persis layaknya seperti pemilik kendaraan tersebut. Persoalan terjadi unsur sewamenyewa di dalam operasionalnya tentu hanya mereka yang mengetahuinya,” kata pria asal Pejeng, Gianyar ini. Jumlah kendaraan yang seperti ini cukup banyak, bahkan melebihi kendaraan yang memenuhi ketentuan tadi. Jumlah mereka dapat berubahubah secara drastis tergantung permintaan pasar. Bahkan ada pemilik kendaraan pribadi yang tiba-tiba memberikan kendaraannya untuk disewakan ketika kebutuhan meningkat dan para broker tak dapat lagi melayani dari armada yang dimilikinya. “Untuk kasus ini yang terpenting adalah dari pihak penyewa. Mereka seharusnya lebih teliti dalam hal memilih kendaraan yang akan disewanya,” sarannya. Secara logika, bagaimanapun juga kendaraan yang memenuhi ketentuan akan jauh lebih aman dan selamat daripada kendaraan yang tak memenuhi ketentuan. Kendaraan yang memenuhi ketentuan telah diperiksa baik perizinannya maupun kelaikan jalannya. Bila terjadi sesuatu di jalan, seperti kecelakaan, risikonya akan ditanggung penyewa. Untuk kebutuhan sarana transportasi umum di Bali terus diupayakan untuk diberdayakan dan direvitalisasi. Pemerintah sedang giatnya mengupayakan kehadiran pelayanan transportasi umum yang lebih berkualitas. Program pengoprasian Trans Sarbagita di wilayah Bali Selatan (Sarbagita) merupakan langkah maju untuk menuju ke arah yang lebih baik. Cikal bakal kualitas pelayanan transportasi umum yang lebih baik sudah dimulai. —tin


12

Tokoh

1 - 7 Mei 2011

Lembaga Anak Bangsa Dibentuk Luncurkan Telepon Layanan Anak sebagai Sarana Curhat

B

AGI anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orangtua tak perlu khawatir. Kini ada telepon layanan anak dari Lembaga Anak Bangsa sebagai sarana curhat anak kepada ahlinya. Layanan ini pun bisa dimanfaatkan bagi para orangtua yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan sang buah hati. Lembaga Anak Bangsa, dibentuk karena keprihatinan pada penyelenggaraan perlindungan anak di Bali setelah KPAID Bali dibubarkan. Lembaga ini adalah lembaga independen nonprofit, yang didirikan oleh beberapa mantan komisioner KPAID Bali dan beberapa anggota masyarakat yang peduli dengan nasib anakanak. Ketua Pelaksana Anak Ayu Sri Wahyuni mengatakan, banyak masalah yang dihadapi orangtua yang tak menyadari telah mengeksploitasi anakanaknya. Anak tanpa mendapatkan hak-haknya untuk dapat tumbuh berkembang dan mengeluarkan pendapatnya sesuai dengan umurnya. “Belum lagi, anak-anak yang menjadi korban kekerasan fisik, mental, emosional dan seksual hampir setiap hari ada kasusnya, namun yang dilaporkan hanya sebagian ibarat fenomena gunung es,” kata-

Suasana launching Lembaga Anak Bangsa

nya. Banyaknya kejadian tersebut karena kekerasan pada anak terjadi di dalam rumah tangga. Lembaga Anak Bangsa yang baru diluncurkan 26 April 2011 fokus pada pendidikan pekerja anak, anak jalanan, pengemis bekerja sama dengan Wali Kota Denpasar. Telepon layanan anak disediakan Lembaga Anak Bangsa sebagai sarana curhat anak pada ahlinya, karena anak sering mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orangtua. Selama ini, anak-anak mendapat informasi dari teman-teman yang kadangkadang menghancurkan. “Layanan ini akan mulai dioperasikan dari 2 Mei 2011 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional melalui telepon 0361-249488 atau 0361-8851201 dari jam 09.00 sampai jam 21.00. “Orang-

tua yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan anak dapat memanfaatkan layanan ini,” katanya. Saat ini layanan tersebut belum bisa toll free seperti di Aceh. Lembaga anak bangsa siap bekerja sama yang tidak mengikat dengan semua pihak baik LSM, perusahaan swasta, pemerintah serta seluruh lapisan masyarakat yang peduli dengan masa depan anak bangsa. Ada pun pelindung lembaga ini Desak Gede Raka, ketua umum Nyoman Suwirya, ketua pelaksana Anak Ayu Sri Wahyuni, sekretaris Putu Yunianti Suntari, bidang dana anak Agung Sri Utari, bidang hukum Luh Putu Anggreni, bidang pendidikan, budaya dan agama Ida Ayu Putu Puniadhi, bidang kesehatan Anak Ayu Sri Saraswati. —tin

Desa Jasri...............................................................................................................dari halaman 1 ancaman perihal awig-awig itu. Namun, karena sudah berkomitmen untuk menjalankan awigawig, secara perlahan warga Desa Jasri bisa menjaga wilayahnya dari tindakan/perilaku asusila.Ia meyakini jika warga tetap kompak dalam komitmennya sesuai awig-awig maka tempat-tempat pelacuran akan gulung tikar, dan pada gilirannya tidak terjadi seks pranikah yang dapat berbuntut penularan HIV/AIDS.Dia mengharapkan pihak terkait, agar ceramah agama lebih dingkatkan, sehingga warga masyarakat tahu apa artinya leteh, cuntaka, mana haram mana halal. Seseorang yang telah melakukan hubungan seks pranikah, dikategorikan telah leteh atau cuntaka. Seseorang yang tidak menyadari dirinya cuntaka, lantas melaksanakan persembahyangan di pura, sulit dibayangkan apa yang terjadi di pura itu. Nilai kesakralannya akan

hilang. Padahal pura dibangun dengan berbagai upacara untuk menjaga kesakralannya. “Oleh karena itu, marilah semua kita eling dan sadar, seks pranikah itu pantang untuk dilakukan,” ujarnya. —arya

Lomba Tata Rias.........dari halaman 1 Penerima penghargaan Muri dalam acara yang mencatat “Peserta Terbanyak Lomba Tata Rias Diri Sendiri Busana Menghadiri Undangan Adat Bali dan yang diikuti Pendidik PAUD Formal dan Nonformal se-Kota Denpasar” ini adalah Ny. Ida Ayu Selly Mantra (Ketua TP PKK Kota Denpasar dan Pembina IGTKI Kota Denpasar) sebagai pemrakarsa, Crrante Cosmetic dan Catering Service Ny. Warti Bulelelng sebagai pendukung kegiatan.–ten

KPAID Bali..................................................................................................................................................................dari halaman 2 Patut ditiru KPAID Kepulauan Riau, di sana luar biasa, mereka mendapatkan dana yang tinggi dan bisa eksis. Begitu juga KPAID Medan, Jawa Barat dan KPAID Aceh yang masih tetap berdiri. Meskipun difasilitasi dana APBD namun independensi kami harus dijaga. Gubernur jangan segansegan menerima kritik dari lembaga ini, ketika persoalan anak di Bali ini belum terlindungi dengan baik. KPAI di Pusat sekarang tengah menggaungkan Indonesia yang Ramah Anak, Denpasar mengamanatkan Kota Layak Anak. Seperti apa Indonesia yang ramah anak, dan bagaimana pula kota yang layak anak? Ini yang harus dikawal. Tugas KPAID sangat berbeda dengan BP3A yang mungkin hanya mengkoordinasikan. KPAID tugasnya melakukan pengawasan terhadap persoalan perlindungan anak. Bagaimana kami bergerak ke kabupaten/kota se Bali melihat dan mengamatinya. Belum lama ini kami pantau semua kabupaten/ kota ternyata indikator yang kami pakai untuk perlindungan anak banyak yang tidak terpenuhi. Misalnya dari persoalan legislasi atau peraturan daerah yang melindungi persoalan anak, Provinsi Bali tidak memiliki perda yang khusus melindungi anak. Hal ini perlu diperjuangkan. Yang sudah ada perda tentang trafficking, itu pun lebih banyak terkait persoalan tenaga kerjanya. Di kabupaten/ kota, kelembagaan yang membidangi persoalan anak, ada yang sudah berupa badan, yang lainnya hanya seorang kepala seksi, yang tidak mungkin bisa mengatur anggaran untuk perlindungan anak. Dari sisi kelembagaan saja sudah memprihatinkan, lantas bagaimana efektivitas lembaga tersebut? Luh Putu Anggreni, S.H. Wakil Ketua KPAID Bali 2008 - 2011

Anak-anak harus tetap Dilindungi Mengapa KPAID Bali dibubarkan, ini pertanyaannya logis. Kalau saja memakai parameter rasio, lembaga ini berkontribusi secara independen dalam hal memediasi untuk sebuah advokasi

dalam rangka mengefektifkan UU No 23 tahun 2002, terhadap hakhak perlindungan anak. Sehingga, substansi semangat UU ini secara idealis benar-benar terwujud. Jika bubar dan tidak diperpanjang tentu ada motif yang melandasinya. Yang disampaikan Bu Anggreni tadi, pemerintah sepertinya kurang jelas apa motifnya. Menurut saya, Gubernur yang berada di pihak yang tidak memerlukan keberadaan KPAID, tentu menganggap pertanyaan substansi tadi adalah akibat, bukan sebab. Mungkin Gubernur beranggapan kiprah KPAID selama ini perlu dipertanyakan, mungkin pula menambah banyak biaya APBD. Sementara pengurus KPAID yang tidak diperpanjang SK-nya tentu menganggap sebaliknya, keputusan bubar adalah sebab bukan akibat. Seperti yang dikatakan sudah banyak konsep dan sumbangan nyata yang diberikan. Apa pun dan bagaimana pun kontroversi yang berkembang, anak-anak sebagai penerus bangsa, penerus generasi yang di pundaknya sarat harapan, semestinya diproteksi (dlindungi) dengan baik oleh pemerintah, lembaga independen, LSM juga oleh masyarakat di sekitarnya. Jangan lagi ada kekerasan, eksploitasi , pelecehan dan sebagainya, agar masa depan bangsa lebih terjamin dan lebih terang. Dalam hal ini dibutuhkan kejujuran dan keikhlasan kita semua. Pande, Pandakgede

Menangkal dan juga Mencegah Apakah KPAID ini melindungi anak-anak yang sudah terkena bencana ataukah yang tidak kena bencana. Saya melihat, meskipun ada perlindungan anak tetapi kejahatan terhadap anak tetap terjadi. Bahkan baru-baru ini seorang ibu membuang anaknya di RS Sanglah. Mestinya KPAID ini mencegah agar tidak terjadi demikian. KPAID dapat memperbaiki moral para ibu agar tak terjadi KDRT maupun pelecehan seksual. Saya melihat KPAID menangkal setelah terjadi, tidak pernah mencegah sebelumnya agar hal tersebut tidak terjadi. Yang kami harapkan adalah dilakukan pencegahan. Lihatlah masih banyak anak-anak

yang berkeliaran di pinggir jalan, anak-anak yang kerja di karaoke. Mengapa hal ini dibiarkan? Dulu ada ceramah-ceramah di banjarbanjar agar tidak terjadi KDRT, bekerjasama dengan kepolisian, dsb. Sante

Semoga lebih Hebat daripada KPAID Masyarakat banyak yang belum memiliki pemahaman atau belum tahu tentang perlindungan anak yang diundangkan tahun 2002. Kami menyosialisasikannya dengan gencar ke kabupaten/kota. Dengan keberadaan UU Perlindungan Anak ini sebenarnya masyarakat harus waspada sehingga timbul upaya pencegahan. Sepanjang yang kami lihat persolaan anak sekarang ini begitu kompleks. Akar masalahnya kembali pada keluarga. Persoalan anak sangat berkaitan erat dengan persoalan keluarga, di mana terdapat persoalan kemiskinan, kekerasan atau KDRT dan lainnya. Anak-anak punya hak yang seharusnya diperhatikan. Gaya hidup orangtua sekarang yang penuh dengan kesibukan juga sangat mewarnai persoalan anak. Kami juga telah melakukan sosialisasi kepada para pendidik. Sebab, banyak yang melakukan kekerasan bahkan ada oknum pendidik yang melakukan kekerasan seksual kepada anak didiknya. Kami selalu jemput bola, karena pencegahan memang harus lebih dioptimalkan. Dana yang kami kelola terbatas, yakni Rp 50 juta/ tahun. Kami lebih banyak melakukan sosialisasi dan advokasi agar yang menjadi korban ditangani dengan baik serta banyak pihak yang melakukan pencegahan. Kami selalu menyampaikan pada masyarakat Bali untuk mengundang kami dan kami siap datang. Misalnya ada dari Pupuan yang meminta kami datang, saat anak-anaknya menjelang ujian. Di sisi lain ada sebagian warga di salah satu kecamatan yang maunya peduli terhadap persoalan anak, tetapi mereka perlu dana untuk menyewa kursi, jika mengtundang kami. Padahal sosialisasi cukup dilakukan di kantor camat atau

kantor desa saja.Persoalan sinergi dengan aparat penegak hukum ketika anak berkasus dengan hukum itu juga masih kami temukan banyak persoalan. Mestinya ketika ada anak yang melakukan tindak pidana, diaksesnya ke LP Anak yang proses pendidikannya lebih terakomodir begitu juga perhatiannya. Keterbatasan kami selama tiga tahun ini, belum semua persoalan dapat kami atasi. Ketika banyak permohonan dari masyarakat untuk lebih menyosialisasikan UU Perlindungan Anak, justru KPAID dibubarkan. Kami berharap dengan berakhirnya kepengurusan kami, akan banyak orang yang lebih hebat daripada kami serta bisa bersinergi lebih banyak dengan pemerintah demi lebih efektifnya pelaksanaan UU Perlindungan Anak. Anggreni

Sayang KPAID Dibubarkan Saya sangat menyayangkan pembubaran KPAID Bali. Pasti ada motifnya. Kami berharap pengurus KPAID Bali mempertanyakan kepada Pemda Bali. Gubernur perlu memberi penjelasan. Jika selama ini kinerjanya kurang baik, atau ada hal lain, semua bisa dibicarakan dengan baik. Sebagai orang yang pernah bergabung dalam LSM perlindungan anak, saya berharap lembaga seperti ini sangat penting didukung pemerintah, bukan malah dibubarkan tanpa alasan jelas. Kepada lembaga atau badan yang mengganti tentu saja bisa bekerja lebih baik lagi. Kekerasan terhadap anak dan perempuan di Bali harus mendapat perhatian, dengan lebih menonjolkan tindakan pencegahan ketimbang bertindak setelah ada kejadian. Antonius, Tabanan

Berharap Penggantinya lebih Baik Kami kurang mengerti juga mengepa KPAID Bali dibubarkan. Yang jelas kami berharap agar lembaga/badan penggantinya agar bekerja lebih baik dari KPAID. Anggreni

Perjalanan Diburu...............................dari halaman 3 Perjuangan dan...............................................................................................dari halaman 1

S A L O N & S PA

SPIRITUAL & PENGOBATAN

menjajakan bakso. Sebagai penikmat bakso, saya tidak menyianyiakan momen kali ini. Di Kepanjen saya seperti menemukan surga makanan. Bagaimana tidak, makanan favorit saya bisa dicicipi dalam satu menu yakni bakso jamur. Tanpa malu-malu saya memesan tiga porsi bakso jamur. Teman-teman lainnya pun sepertinya ketagihan pada bakso jamur Kepanjen, terlihat mereka juga menambah porsinya. Bu Olla yang sempat terkena diare pun tidak ketinggalan mencicipi bakso jamur. Ingin rasanya berlama-lama di kota ini untuk menikmati bakso lainnya. Sayang, waktu kami sangat terbatas. Seandainya perut ini bisa menampung makanan seperti unta, mungkin akan saya lakukan juga untuk menampung bakso jamur Kepanjen … Kami juga membeli rujak cingur yang sengaja dibungkus untuk disantap dalam perjalanan. Cuaca panas sangat menyisa kami selama

dalam perjalanan sehingga kami memerlukan asupan makanan yang lebih terutama air dan makanan yang segar-segar seperti rujak cingur yang terkenal dengan asam pedasnya. Kami juga singgah di salah satu minimarket untuk melengkapi perbekalan kami seperti air mineral dan beberapa makanan kecil termasuk juga obat-obatan penting seperti tetes mata. Perjalanan kami selanjutnya menuju kota Dampit. Setelah Dampit kota berikutnya Lumajang yang menjadi kota tujan kami hari itu. Menurut rencana kami tiba di Lumajang sore hari. Malamnya kami melakukan perjalanan malam menuju Banyuwangi. Syukur-syukur kami bisa sampai di Bali besok pagi agar kami memiliki waktu untuk istirahat satu hari sebelum hari Seninnya kembali melakukan aktivitas seperti biasa, bekerja mencari nafkah!

entrepreneur yang mempunyai daya tarik dan bereputasi nasional. Di samping itu, dirancang juga program Entrepreneur Camp (E Camp) untuk membentuk karakter dan meningkatkan softskill peserta. “Entrepeneur identik dengan action cepat. Oleh karena itu, Indonesia YES fokus pada pendidikan jangka pendek,” imbuh wanita yang juga aktif menjadi pengelola sebuah Kantor Akuntan Publik di Denpasar ini. Ketika ditanya mengapa menyasar remaja atau generasi muda, wanita asal Jro Batur Ringdikit Buleleng ini beralasan, karena remaja adalah aset bangsa namun pada umumnya masih sangat labil dan perlu ada pihak yang membantu orangtua untuk mengarahkannya pada kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. “Indonesia YES mengajak generasi muda untuk menghargai waktu, menggali potensi bisnis sejak dini, membuat rencana masa depan, mewujudkan ide-ide

PERCETAKAN

K E S E H ATA N

P E N D I D I K A N

dan menciptakan seseorang menjadi the real entrepreneur memerlukan kolaborasi dan komitmen tinggi,” tuturnya. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi (entrepreneur) sangat penting agar tercipta sinergi positif pada pengembangan pendidikan entrepreneurship yang berkualitas. Hal inilah yang mendorong Sutrisna Dewi sebagai akademisi untuk bergabung bersama rekan-rekan pengusaha muda sukses dari Bali seperti Chandra Dewi dan Made Robert untuk mendirikan sekolah entrepreneur yang diberi nama Indonesia Young Entrepreneur School disingkat Indonesia YES. Menurut ibu tiga anak ini, Indonesia YES lebih menekankan pada proses pendidikan yang berkualitas dan realistis. Kurikulum dirancang sistematis, metode pembelajaran bervariasi antara indoor dan outdoor, pengajar dan mentor diz Anik Nurlia Agustini kombinasikan antara akademisi dan

bisnis di bawah asuhan pengusaha sukses, dan memahami secara benar bagaimana mendatangkan dan mengelola aset, bukan menghabiskannya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menjauhkan generasi muda dari berbagai bahaya aktivitas yang tidak jelas dan merugikan masa depannya,” katanya. Sebagai gebrakan awal, Indonesia YES akan menghadirkan Bong Chandra, motivator termuda nomor satu Asia pada 28 Mei 2011 dalam seminar motivasi yang bertajuk How to Retire Young and Stay Rich. “Indonesia YES hadir sebagai partner orangtua dalam membentuk jiwa dan semangat generasi muda agar berani, percaya diri, dan yakin bahwa menjadi entrepreneur adalah jalur yang tepat untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujar wanita yang sempat membawa Unud meraih penghargaan sebagai pengelola kewirausahaan mahasiswa terbaik dari Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti ini. —tin


KEMANUSIAAN

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 13

Penyandang Cacat di Bali Perlu Bantuan DARI total 26.716 orang penyandang cacat di Bali (Dinsos, 2009), sekitar 43% (11.597 orang) mengalami gangguan fungsi tubuh akibat kecelakaan atau penyakit seperti stroke, pascapatah tulang, pascatrauma fisik, gangguan otot, kelainan postur hingga gangguan tumbuh kembang anak (celebral palsy). Kondisi penyandang cacat inilah memicu berdirinya Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) di Denpasar tahun 2001.

Ir. Purnawan Budisetia, M.B.A.(pengasuh YPK), bersama Mark Weingard (pendiri ALF, donor YPK)

Y

PK didirikan untuk melayani para pe nyandang cacat fisik (difabel) di Bali dalam memperoleh terapi/perawatan

yang sesuai. Visinya meningkatkan kualitas hidup para difabel dan mengurangi ketergantungan mereka pada orang lain. Misinya, membantu para

difabel untuk menumbuhkan kemandiriannya dengan menyediakan terapi rehabilitasi dan mendukung berbagai aspek kehidupan mereka. YPK yang kini berusia 10 tahun pada mulanya menyewa tempat di Jalan Nusa Indah, tahun 2005 pindah ke Jalan Badak Agung dan sejak 2010 pindah ke Jalan Sekar Tunjung 37 Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. Sampai dengan Maret 2011, YPK memiliki 304 pasien dewasa dan anak-anak yang telah diterapi sejak 2001. Sebanyak 80% pasien berasal dari keluarga kurang mampu untuk membiayai terapi dan bergantung pada pelayanan gratis YPK.

termotivasi untuk percaya diri dan lebih dekat serta berinteraksi dengan alam. YPK juga mengadakan kegiatan pemeriksaan dokter secara berkala. Layanan antar-jemput pasien juga dilaksanakan khususnya bagi pasien yang tidak mampu dan memiliki masalah transportasi ke sekretariat YPK. YPK juga mendidik pasiennya agar mampu berwirausaha, walaupun dalam skala kecil. Kegiatan ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Dinas Tenaga‘Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Bali. Lebih dari 200 penyandang cacat telah dilatih berwirausaha seperti menjahit, melukis dan industri makanan.

Layanan YPK YPK sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) melayani penyandang cacat melalui berbagai program, antara lain fisioterapi (manual, peregangan, elektro terapi dan olahraga) dan okupasiterapi (terapi tangan/ kaki dan terapi melalui kegiatan sehari-hari sesuai prinsip Tri Hita Karana). Melalui aktivitas dan interaksi dengan lingkungan alam dan sosial, pasien dilatih fungsi motoriknya. Juga, dilakukan kegiatan pengembangan intelegensia anak cacat yang merupakan metode terapi terpadu untuk merangsang otak anak dan memotivasi koordinasi otak dengan anggota tubuh. Selain memberikan keterampilan dan pengetahuan dasar, mereka ditumbuhkan kemandirian/ kepercayaan dirinya melalui interaksi sosial yang terjadi dalam kegiatan ini. Pada saat tertentu diadakan rekreasi agar penyandang cacat

Rehabilitasi Keliling YPK memahami banyak penyandang cacat di perdesaan yang tidak memiliki akses layanan rehabilitasi fisioterapi dan pengembangan intelegensia bagi anak cacat. YPK yang dipimpin Ir. Purnawan Budi Setia, M.B.A. (51) memperluas jangkauan pelayanannya dengan melakukan rehabilitasi keliling. Pelayanan telah dilakukan sejak Juli 2010 berawal dari Desa Belega, Blahbatuh. Pelayanan diberikan tiap Selasa dan Kamis dengan jumlah pasien aktif 18 orang. Sejak Februari 2011 program ini juga dilaksanakan di Desa Bona, Blahbatuh. Program Rehabilitasi Keliling dalam tahun 2011 ditargetkan menjangkau 8 desa. Desa tersebut berada di Gianyar dan Klungkung masing-masing 2 desa, sedangkan di Karangasem, Bangli, Tabanan dan Badung masing-masing 1 desa. Di tiap desa disasar 20 orang

Dayu Wid Luncurkan Truli

Inspirasi bagi Penyandang Cacat RADEN Ajeng Kartini banyak menginspirasi perempuan di Indonesia untuk bangkit. Semangat Kartini terus menggelora di benak kaum perempuan. Salah satu perempuan yang terus menggelorakan semangat itu adalah Ida Ayu Wiadnyani Manuaba atau yang akrab disapa Dayu Wid. Walaupun memiliki keterbatasan, Dayu Wid tak kenal menyerah. Ia ingin memberi inspirasi bagi para penyandang cacat untuk terus berkreasi dan berprestasi. “Saya ingin mengungkapkan perasaan melalui tulisantulisan. Dulu saya lahir normal tetapi karena sakit, saya menjadi cacat. Saya sempat shock. Ternyata ada yang kondisinya lebih parah dari saya. Saya pun menulis puisi, menulis cerpen, menggambar untuk mengisi hari-hari ini,” ujarnya di sela-sela peluncuran buku Truli di Jimbaran, Kamis (21/4). Buku Truli ini merupakan kumpulan tujuh cerpen yang menceritakan pengalaman Dayu Wid, baik kisah pribadi maupun curhat temantemannya. Melalui buku yang penerbitannya didanai Melly St. Ange, mantan President Bali International Women’s Association (BIWA) bersama kawankawan ini, Dayu Wid ingin menunjukkan penyandang cacat juga bisa melakukan sesuatu. “Sebagai perempuan saya ingin menebarkan inspirasi makanya saya pilih Hari Kartini untuk peluncuran buku,” tandas perempuan yang sudah menghasilkan dua buku ini, “Song of My Heart” dan “Truli”. Melly dalam pengantar buku Truli mengatakan kagum dengan semangat anak-anak penyandang cacat. Mereka bahkan bisa berkarya dan membantu sesamanya. “Kami berharap peluncuran buku ini menjadi model bagi yang lain dan menambah kepedulian orang normal terhadap para penyandang cacat. Sekali lagi saya salut dengan apa yang dilakukan Dayu Wid bersama teman-temannya di Yayasan

Melly, Tandy, dan Dayu Wid

Senang Hati dan DAD CommuMelly menambahkan, Dayu nity,” ujar Melly yang di- Wid adalah contoh bagi orangdampingi Tandy Ringoringo, orang yang cacat/memiliki kelaiEnglish Editor buku “Truli”. nan. Mereka yang berbakat atau

seniman bisa menulis, melukis, dll. “Mereka bisa buat buku, hasil penjualan buku bisa menolong sesama teman-temannya. Bisa memberi modal usaha, dll. Dayu Wid perlu menjadi teladan bagi orang-orang cacat yang lain,” tandasnya. Buku yang sampulnya berwarna biru ini disponsori Melly bersama sahabat-sahabatnya yang murah hati dan sangat mencintai Pulau Bali dan sering berlibur ke Bali. Mereka di antaranya perancang busana terkenal dari Jakarta, Biyan Wanaatmadja dan Ronald V. Gaghana serta pengusaha wanita Bali, Yani Mason, pemilik Bali Adventure Tours. Acara peluncuran juga didukung Four Seasons Resort Jimbaran Bali sebagai penyedia lokasi peluncuran.–wah

Terapi anak lumpuh

untuk pelayanan rehabilitasi dan 6 orang untuk pelayanan edukasi. Sasaran pelayanan rehabilitasi, penyandang cacat akibat penyakit seperti stroke, pascapatah tulang, pascatrauma fisik, gangguan otot, kelainan postur hingga gangguan tumbuh kembang pada anak (celebral palsy). Sasaran pelayanan edukasi, anak-anak difabel yang tidak memiliki akses pendidikan formal di lingkungannya. Kriteria peserta, anak-anak yang memiliki gangguan fisik akibat cerebral palsy atau penyakit lain, tidak menderita keterbelakangan mental (down syndrome)/idiot atau autis, dan tidak tuna netra, bisu maupun tuli. Program ini juga melatih relawan lokal agar bisa bertanggungjawab terhadap komunitas mereka dan mampu meneruskan program ini ke depan. Pendanaan. Pelayanan gratis bagi ratusan penyandang cacat itu tentu memerlukan biaya yang sangat besar. YPK. berupaya mencari dana dari donor lokal dan luar negeri. Sampai saat ini, 80 % biaya operasional YPK dibantu Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) dan Annika Linden Foundation (ALF). 20 % lainnya berasal dari Yayasan Pancaran Kasih Bunda, Schmitz Hille Stiftung (Jerman), Yayasan

Dharma Lumintu dan sumbangan pasien. Di samping itu, YPK juga dibantu oleh VIDA & AYAD, suatu lembaga kerjasama pemerintah Indonesia dengan Australia (AUSAID). Tri Hita Karana YPK selalu berupaya merangkul berbagai komponen masyarakat untuk memberdayakan para penyandang cacat di Bali guna meningkatkan kemandirian, kualitas hidup dan masa depan mereka. Prinsip ini merupakan perwujudan ajaran tri hita karana, yang mengajarkan keharmonisan hubungan tiga unsur kehidupan untuk terwujudnya kesejahteraan, yaitu Tuhan (parahyangan), manusia (pawongan)

dan alam (palemahan). Para donor YPK dari luar negeri mungkin tidak mengenal istilah tri hita karana itu, tetapi mereka telah mewujudkan secara nyata dengan membantu mendanai berbagai kegiatan untuk meningkatkan derajatmartabat manusia. Mereka mungkin tidak mengenal istilah manusa yadnya, tetapi aktif membantu sesama yang perlu dibantu, terutama kaum miskin dan penyandang cacat. Di Bali pun sudah banyak tokoh yang peduli membantu penyandang cacat, namun mengingat Bali memiliki puluhan ribu penyandang cacat, bantuan dari berbagai pihak dalam berbagai bentuk sangat dibutuhkan. zDrs. I Wayan Nurjaya, M.Si.

Sajian seni dari anak-anak penyandang cacat ketika peresmian sekretariat YPK


14

Tokoh

KIPRAH WANITA

1 - 7 Mei 2011

Bubarkan Partai kalau Ibu tidak boleh Pulang “DEFINISI kesuksesan berkonsep gender, bukan lagi agar perempuan sederajat dengan laki-laki. Tetapi, perempuan diberi kebebasan memilih jalan hidupnya,” ujar Khofifah Indar Parawansa saat peringatan HUT ke-48 Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) di Hongkong Garden Restaurant, Sanur.

tkh/sep

M

enurut perempuan kelahiran Sura baya, 19 Mei 1965 ini, yang lebih penting adalah menyingkirkan dilema “mana yang lebih penting, keluarga atau karier.” “Jawabannya, bagaimana perempuan memandang nilai sebuah kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah dia lebih berbahagia berperan dalam ranah publik atau di rumah, atau kedua-duanya diserasikan?” kata istri Indar Parawansa ini. Menteri Negara Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Kabinet Reformasi Pembangunan kepemimpinan Gus Dur ini mengungkapkan kisah pribadinya. Saat kuliah di Australia, ia meninggalkan suami dan anakanaknya. Saat yang sama, Indar Parawansa juga tengah melanjutkan studinya. Suaminya setengah mengeluh karena harus mengawasi anak-anaknya. Dalam kondisi seperti itu, ibu empat anak; Fatimasang Parawansa, Jalaluddin Mannagalli Parawansa, Yusuf Mannagalli Parawansa dan Ali Mannagalli, ini memutuskan kembali ke Indonesia. Keputusannya menangguhkan studi demi mendahulukan kepentingan keluarga dipilihnya. “Dalam tatanan seperti ini, saya nggak mau balapan dengan suami. Untuk apa saya pulang bawa Ph.D. tapi kehilangan suami?” kisahnya. Ia menekankan, pentingnya memperhatikan sensitivitas anggota keluarga. Ada tiga perempuan yang dijadikannya contoh sebagai sosok yang mampu berhasil dalam karier dan keluarga. Mereka adalah Benazir Bhutto, Margaret Hilda Thatcher, dan Megawati Soekarnoputri. Benazir Bhutto adalah anak

Khofifah

Perdana Menteri Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto, lulusan Harvard University dan perempuan pertama yang memimpin sebuah negara muslim di masa pasca-kolonial. Margaret Thatcher merupakan satu-satunya perempuan yang menduduki jabatan Perdana Menteri Britania Raya serta menjadi pemimpin sebuah partai politik besar di Britania Raya. Sedangkan Megawati, presiden perempuan pertama di Indonesia. “Ketiganya, sukses di ranah publik dan keluarga,” ujar Khofifah. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Indonesia tahun 1993 memulai kariernya pada usia yang sangat muda. “Pada usia 27 tahun, saya sudah menjadi anggota DPR,” kisahnya. Tahun 1997, ia didaulat menjadi Wakil Ketua Komisi Bidang Kesejahteraan Rakyat dari Fraksi Partai Pembangunan. “Saya diberi kesempatan. Banyak jenderal, guru besar yang menjadi anggota komisi ketika itu,” kenangnya. Menjadi pemimpin perempuan di kalangan muslim, bukan juga hal mudah. “Saat itu

banyak kiai yang anti-kepemimpinan perempuan,” katanya. Tapi, itu juga tak menghentikan langkahnya begitu saja. Menurutnya, kepemimpinan perempuan di ranah publik adalah tanggung jawab bersama. Ia mencontohkan Presiden Iran Mohammad Khatami yang menginginkan adanya perempuan di parlemen. “Jika harus membuat undang-undang, tentu sulit. Yang dilakukannya simpel. Ia meminta para penasihat perkawinan mengatakan pada para calon pengantin bahwa kalian (lakilaki dan perempuan) boleh saling memimpin. Istri boleh mengambil inisiatif. Perempuan harus menjadi penopang suami, dan suami juga harus menjadi penopang istri,” paparnya. “Kita perlu sosok pemimpin yang transformatif seperti itu,” lanjutnya. Interaksi Nilai Tambah Khofifah memang aktif sejak sekolah. Saat di bangku SMA, Khofifah adalah Ketua OSIS sekaligus Ketua Dewan Kerja Pramuka SMA Kahdijah Surabaya. “Sejak kelas 2 SMA, saya selalu menulis di buku bahwa tiap interaksi akan memberikan nilai tambah,” ungkapnya. Karena itu, dia berusaha berinteraksi dengan siapa saja. “Saya berinteraksi dengan gereja, berkecimpung di dunia olahraga, berinteraksi dengan orang kedokteran, dsb.,” kata penggemar lagu-lagu Peterpan itu. Ia juga aktif dalam kegiatan mendaki gunung atau bermain hoki yang menjadi kegemarannya. Sejak itu pula, ia rajin mengikuti ceramah atua seminar yang menjadikan Gus Dur atau Cak Nur sebagai pembicaranya. “Seminar Gus Dur dan Cak Nur selalu saya ikuti meski saya tidak paham dengan apa yang mereka katakan,” tuturnya. Keyakinannya, bahwa tiap interaksi akan memberikan nilai tambah, mendorongnya menerima tawaran PPP pada tahun 1992. “Ketika itu, saya diberi formulir pencalonan anggota DPR. Saya disuruh memilih, tingkat pusat, provinsi, atau

kabupaten. Saya tidak punya investasi di bidang politik ketika itu. Tetapi, saya yakin bisa,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, 2000-2005 itu. Kesibukannya dalam dunia politik mau tak mau memang memiliki konsekuensi bagi keluarga. Tahun 1999, Khofifah menjadi Sekretaris MPR RI. Tugasnya kian menumpuk saat Megawati mencalonkan diri sebagai cawapres. “Saya keliling mencari dukungan. Selama 20 hari, saya tidak pulang ke rumah,” tuturnya. Anak pertamanya yang masih duduk di bangku TK mengiriminya surat. Isinya, Ibu, apa Ibu tidak bisa minta izin ke partai supaya boleh pulang? Dinding tembok rumahnya pun ada coretan: Bubarkan partai kalau Ibu tidak boleh pulang. Karena itu, dalam tiap pertemuannya dengan keluarga, Khofifah menekankan pentingnya kualitas. “Kita yang bisa mengukur kuantitas dan kualitas pertemuan dengan keluarga. Yang utama adalah kualitas. Itu akan terlihat dari respons anggota keluarga dengan kehadiran kita,” paparnya. Khofifah mengungkapkan, cukup banyak kasus kekerasan terhadap anak, justru dilakukan oleh ibu yang tidak berkarier di luar rumah. “Jadi, ibu berada di rumah terus-menerus belum tentu produktif. Jangan-jangan waktunya habis untuk menonton televisi. Ibu-ibu rumah tangga perlu manajemen waktu,” katanya mengingatkan. Di sisi lain, pengasuhan anak juga tak bisa diserahkan kepada orang lain. “Jika pekerjaan rumah tangga bisa dialihkan kepada pekerja, tidak demikian halnya dengan pengasuhan,” katanya. Khofifah mencontohkan kasus yang terjadi di kalangan the have di Arab Saudi. “Dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini, mereka baru tersadar. Anak-anak mereka yang beranjak remaja, tidak lagi berbahasa santun karena mereka menyerahkan pengasuhan kepada pekerja rumah tangga,” ujarnya. —rat

JUMLAH penduduk Indonesia tahun 2010, jumlah perempuan lebih banyak. Hal ini berpotensi memberikan keuntungan besar bagi kehidupan bangsa dan negara jika mereka diberdayakan dengan dengan memberikan kesempatan dan peluang yang sama dengan lakilaki dalam berbagai bidang. Namun, kenyataannya, potensi yang sangat besar ini belum dimanfaatkan secara optimal. “Kaum perempuan belum banyak memperoleh kesempatan dan peluang yang sama dibandingkan kaum laki-laki di sebagian besar bidang pembangunan. Sebaliknya perempuan masih mengalami berbagai bentuk diskriminasi. Keadaan tersebut secara tidak langsung berdampak kepada rendahnya kualitas hidup perempuan di berbagai bidang,” ujar Emi Rahmawati, staf ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Emi yang mewakili Menteri Linda Agum Gumelar mengata-

kan tolok ukur menilai kemajuan pembangunan manusia adalah Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan indeks komposit dari tiga variabel yang merupakan komponen pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Untuk melihat tingkat pencapaian antara laki-laki dan perempuan terhadap tiga variabel tersebut telah dikembangkan Gender-related Development Index (GDI) atau Indeks Pembangunan Gender (IPG). Berdasarkan data, IPM Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, mulai dari 68,7 tahun 2004 menjadi 70,59 tahun 2007 dan 71,76 tahun 2009. Untuk IPG terjadi peningkatan dari 63,9 tahun 2004 menjadi 65,8 tahun 2007 dan 66,77 tahun 2009. Dari kedua indeks tersebut dapat dicermati banyak hal. Misalnya dalam bidang pendidikan. “Tahun 2008, rata-rata lama sekolah perempuan Indone-

tkh/sep

Cantik bukan Ukuran Kualitas Perempuan

Emi Rahmawati

sia 7,1 tahun sedangkan laki-laki 8,0 tahun. Perbedaan ini secara agregat akan memengaruhi nilai secara keseluruhan. Perbedaan rata-rata pendidikan 1 tahun setara dengan PDB per kapita sebesar US $ 700,” ujar Emi. Terkait peringatan Hari Kartini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengajak perempuan untuk terus mengembangkan spirit dan perjuangan Kartini. Saat ini sudah ada pergeseran

paradigma mengenai perempuan berkualitas. Dulu masyarakat cenderung memandang perempuan berkualitas baik adalah perempuan yang cantik dan menawan. Sekarang beda. Perempuan berkualitas baik adalah perempuan yang berpendidikan tinggi, memiliki keahlian di bidangnya, memiliki peran sosialpolitik-ekonomi yang besar dan dapat berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “BKOW harus terus meningkatkan kapasitas kelembagaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja sama dan koordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah dan jembatan antara Kementerian PP dan PA dengan masyarakat dalam menyebarluaskan dan meningkatkan pemahaman tentang visi dan misi pembangunan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,” tegas Emi yang membacakan keynote speech Menteri PP dan PA. –wah

tkh/sep

Ny. Ayu Pastika

Ny. Bintang Puspayoga

ini. Mantan ketua BKOW Bali ini menuturkan, ia dan suaminya dulu sama-sama PNS. Namun, demi pertimbangan keluarga, sang suami rela berhenti sebagai PNS dan memilih menjadi wirausaha agar bisa mengurus anak-anak. Pengorbanan tersebut tidak sia-sia karena sang suami sangat serius mengurus anakanak dan karier Masni sebagai jaksa tetap moncer. Namun, sebagai ibu, ia tetap memperhatikan anak-anaknya. Kesibukannya dalam karier ternyata bisa berjalan lurus dengan aktivitasnya di masyarakat. “Kuncinya adalah manajemen waktu,” tandas Ibu Teladan se-Bali tahun 2005 ini.

mendeteksi apa yang baik untuk si anak untuk kariernya. Nyoman Hartini dari Iwapi Bali menceritakan banyaknya anak muda yang belum tahu akan mengambil jurusan apa setelah lulus SMA. Ini artinya mereka belum mempersiapkan diri untuk menyambut masa depannya. “Ada anak yang punya potensi masuk jurusan tertentu, tetapi orangtuanya kurang memberi dukungan. Apa yang membuat hal ini terjadi? Apakah orangtua gengsi sehingga mengesampingkan potensi anak?” tanyanya. Khofifah menceritakan, lembaga pendidikan di Singapura telah memperkenalkan talenta anak sejak usia dini. “Teman-teman dari etnis Cina sangat serius mendeteksi potensi anak sejak dini,” kata Khofifah. Ibunda Justin Bieber, bahkan telah mereka kisah putranya yang ketika kecil sudah pandai menyanyi. “Entry point-nya adalah, deteksi dini potensi anak dan ikut meretas jalan bagi kesuksesan anak pada masa depan,” kata Khofifah. Sri, seorang mahasiswi mengatakan perempuan boleh memilih apa yang ingin dilakukankan. Namun, ia tidak sepakat jika orangtua menelantarkan potensi yang dimiliki anaknya. Ibunda Thomas Alfa Edison adalah orang yang layak diteladani dalam hal ini. “Ketika pihak sekolah mengeluarkan Thomas Alfa Edison, ibunya berkata, saya akan mendidiknya sendiri. Thomas bisa karena diajarkan ibunya, dan ibunya memiliki keyakinan bahwa putranya adalah orang yang pintar. Itu yang penting,” ujar Khofifah. – wah, rat

Unsur Elemen Pengalaman membina anakanak juga diungkapkan Mahayani, Ketua Ibu-Ibu Buddhis Bali. Menurutnya sejak lahir anak-anak sudah dilihat unsur elemen yang mengiringinya. Unsur seperti api, air, tanah, dan kayu ini akan dipakai untuk

Nyoman Hartini

Mahayani

Perempuan Agen Perubahan PEMBERDAYAAN perempuan merupakan rangkaian sistematis untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, meningkatkan kesempatan berpartisipasi menjadi pelaku pembangunan dan menikmatinya dalam kehidupan ekonomi. Pemberdayaan perempuan bertujuan membangun kemandirian, meningkatkan rasa percaya diri untuk dapat memilih perannya serta mampu berpartisipasi aktif membangun kehidupan dan kesejahteraannya. “Fakta menunjukkan banyak perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan dan banyak di antara mereka adalah anggota keluarga di mana perempuan berperan sebagai kepala keluarga. Permasalahan lain yang dihadapi perempuan dan anak sangatlah kompleks dan rumit, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan ketenagakerjaan, politik dan pengambil keputusan,” ujar Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (BP3A) Bali Ni Luh Heryani saat membacakan sambutan Gubernur Bali dalam pembukaan seminar “Kita pun Bisa Sukses” yang dilaksanakan Selasa (26/4). Kegiatan ini merupakan rangkaian HUT ke48 BKOW Bali dan peringatan Hari Kartini 2011. Heryani menambahkan, perempuan sebagai potensi bangsa dalam pembangunan adalah subjek yang dapat memberikan warna dan arah serta dapat menjadi agen perubahan sehingga perempuan dapat mengoptimalkan perannya. Ketua BKOW Bali A.A.A.N. Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H. mengatakan

tkh/sep

Peluncuran buku “Kita pun bisa Sukses” saat peringatan HUT ke-48 BKOW di Hongkong Garden Restaurant, Selasa (26/4)

MANAJEMEN keluarga adalah hal yang penting, seperti bagaimana berinteraksi dengan suami dan anak. Hal ini terungkap dalam kisah rumah tangga Ny. Ayu Pastika dan Ny. Bintang Puspayoga. “Sejak awal kami sudah punya komitmen saling pengertian. Komunikasi juga selalu kami lakukan agar komitmen bisa terus kami jaga. Waktu Bapak masih bertugas di Bagian Reskrim Polri, saya pernah jadi sopir pribadi. Biar Bapak bisa istirahat, saya yang menyetir,” ungkap Ny. Ayu Pastika. Istri Gubernur Bali I Made Mangku Pastika ini menegaskan inti kehidupan rumah tangga yang sudah dilakoninya adalah saling pengertian dan komunikasi. Sesibuk apa pun, mereka menyempatkan berkomunikasi termasuk dengan anak-anak. Sementara itu, Ny. Bintang Puspayoga, istri Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi istri pimpinan wilayah. “Saya PNS yang bertugas di bagian keuangan. Ilmu yang dipakai adalah ilmu pas. Tetapi, ketika suami menjadi Wali Kota Denpasar, saya mulai belajar bagaimana berinteraksi dengan masyarakat. Ini tantangan yang sangat berat. Saya diajarkan suami, dalam kehidupan bermasyarakat, 1 ditambah 1 tidak selamanya 2,” tandas perempuan yang juga ketua PTMSI Bali ini. Kisah Ni Nyoman Masni juga diungkap dalam talkshow bertema “Kita pun bisa Sukses”

tkh/sep

tkh/sep

Jadi Sopir Pribadi Suami

Heryani

Gung Tini

peringatan hari ulang tahun hanya menjadi rutinitas dan ritual jika tidak memberikan makna lebih dan menjadikannya sebagai momentum untuk perubahan ke arah yang lebih baik. “Hakikat peringatan HUT ke-48 BKOW Bali ini adalah rekontekstual, kontekstual, dan dekontekstual seperti yang diungkapkan Paul Riceour. Dalam kearifan lokal Bali, disebut athita, nagata, dan wartamana. Belajar dari masa lalu untuk merencanakan masa depan dengan berbuat hari ini,” paparnya. Perempuan yang akrab disapa Gung Tini berharap makin banyak perempuan yang aktif berorganisasi dan belajar berinteraksi. “Perempuan bisa mengisi ruang publik dan berkiprah di kancah politik praktis. Sekarang ini banyak perempuan yang ikut organisasi tetapi mereka belum menggali potensinya secara maksimal. Karena itu, saya ingin mengajak perempuan-perempuan untuk menggali semaksimal mungkin potensi yang mereka miliki,” ujar penulis buku “Kita pun bisa Sukses” yang peluncurannya dilaksanakan berbarengan dengan HUT ke-48 BKOW Bali ini.

Melalui buku “Kita pun Bisa Sukses” ini Gung Tini ingin mengajak semua orang untuk menjadi sukses. Sukses adalah hak dan bisa dicapai semua orang sekaligus merupakan citacita perjuangan hidup. Sukses dalam karier, sukses dalam keluarga, sukses bermasyarakat yang akhirnya bermuara pada suskes dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar mendapat sukses individual, sukses organisasi maupun sukses sosial, seluruh perempuan di mana saja disarankan untuk membaca dan melaksanakan pilihan hidupnya. Sementara itu, Penasihat BKOW Bali Ny. Ayu Pastika mengatakan peran perempuan sangat strategis dalam hubungan budaya dan membentuk karakter bangsa. “Perempuan bila ingin sejajar dengan laki-laki harus memperbaiki keadaan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas perempuan yang mau berkiprah di ranah publik maupun politik praktis. Hanya dengan cara ini perempuan akan dapat benar-benar melindungi kaumnya. Cara lain adalah membangun jejaring kerja seperti yang dilakukan BKOW,” ujarnya. – wah


RILEKS

Lelaki Buta Pecahkan Rekor Berski di Laut Lepas

Steve Thiele

B

ERSKI air dengan mata tertutup? Meski berbahaya namun Steve Thiele berhasil melakukannya dengan baik. Tetapi, mata Steve Thiele tertutup bukan karena syarat memecahkan rekor dunia itu. Lelaki ini memang buta. Dengan keterbatasannya ia berhasil mengukir prestasi sekaligus memecahkan rekor dunia berski sejauh 38,4 km. Rekor berski jarak terpanjang dengan mata tertutup sebelumnya adalah 32 km. Rekor dunia ski air juga diukir oleh Tony Castro yang berski tanpa berpegangan sejauh 259 meter di Sancramento, California, AS.

Steve Thiele yang juga seorang insiyur IT dari Audley, Inggris, ini, sangat senang ketika dikatakan ia berhasil mengukir rekor dunia baru yang dicatat oleh Guinness World Record. “Sungguh hebat rasanya bisa meraih rekor dunia. Saya sangat senang bisa menyelesaikan tantangan ini,” ujar pria 45 tahun yang berski selama satu jam di sekitar pulau Anglesey. Meski Steve Thiele benarbenar buta, namun dalam even pemecahan rekor ini ia tetap harus ditutup matanya. Ini adalah bagian dari persyaratan Guinness World Record. Ini di-

maksudkan selain kepastian, juga tidak membedakan antara yang normal dan cacat (buta). Dengan begitu, bisa saja terjadi seorang yang normal memecahkan rekor ini, demikian sebaliknya. “Sepertinya lucu, orang buta memakai penutup mata. Tetapi tidak apa-apa, karena bagi saya tidak ada artinya. Memakai penutup mata atau pun tidak, tidak ada bedanya bagi saya,” ujar Thiele yang juga tengah mengumpulkan uang untuk lembaga penelitian kanker di Inggris. Thiele sebenarnya tidak terlahir buta. Ia normal sampai usia delapan tahun. Ketika itu, Thiele yang masih bocah gemar

1 - 7 Mei 2011 Tokoh 15

main memanjat pohon. Sampai suatu ketika, ia terjatuh dari pohon yang mengakibatkan saraf optik matanya rusak. Sejak itu ia buta. Namun ia tidak membiarkan kebutaan ‘memenjarakan’ hidupnya. Ia berusaha tetap aktif dengan berbagai kegiatan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berlatih ski air. Awalnya dilakukan secara otodidak, dengan menggunakan perahu keluarganya. Setelah mulai menguasai, Thiele pun mengambil kursus berski secara intensifi. Hal ini dilakukannya untuk mempelajari beberapa trik seperti melompat. Ia ingin membangun sekaligus memperkuat rasa percaya dirinya. Ternyata ia cukup terampil di laut dan itu membuatnya beberapa kali dikirim ke kejuaraan ski air dunia untuk orang cacat mewakili Inggris. Hasilnya cukup bagus, sejumlah medali emas berhasil diraih ayah dua anak ini. “Saya hanya butuh pluit. Ketika bertanding, kita perlu tahu kapan mulai, kapan harus berhenti. Nah untuk itu dibutuhkan pluit, yang merupakan bagian dari sistem keamanan untuk memperingatkan kemungkinan terjadinya sesuatu yang penting diketahui seorang buta. —dia/berbagai sumber

Resvi Fauzi

Banyak Hadiah Memilih operator yang memiliki akses cepat dan layanan berkualitas tinggi merupakan keinginan Resviana Ningsih atau yang lebih dikenal dengan nama Resvi Fauzi. Untuk mendapatkan keinginan tersebut, ia memilih Telkomsel. “Saya menggunakan Telkomsel sejak 1,5 tahun yang lalu. Akses yang cepat khususnya untuk layanan data membuat saya puas menikmati layanan Telkomsel,” ujar penyiar Radio Duta FM ini. Perempuan kelahiran Denpasar ini menambahkan, selama siaran ia kerap menggunakan BlackBerry Telkomsel untuk mengakses artikel. “Saya membawakan acara yang berkaitan dengan wanita. Saya perlu banyak informasi. Dengan BlackBerry Telkomsel, semua bisa saya dapatkan. Situs-situs yang memberikan informasi mengenai wanita bisa saya dapatkan dengan cepat. Mobile internet Telkomsel memang mantap,” tandasnya. Resvi yang masih kuliah di Stikom Denpasar ini mengaku senang dengan layanan operator yang memiliki 100 juta pelanggan ini. “Telkomsel banyak memberi hadiah dan apresiasi untuk pelanggan. Saya pernah dapat hadiah pulsa. Tiap hari Jumat juga ada SimPati Zone Friday Movie Mania. Ini menunjukkan kepedulian Telkomsel terhadap pelanggan,” ujar perempuan yang hobi menonton ini.

Halo Dura, Senang rasanya bisa bergabung di rubrik mingguan “House of Dura.” Nama saya Lisa, saya mempunyai masalah wajah yang cenderung berjerawat dan kusam. Saya termasuk orang yang jarang melakukan perawatan di klinik kecantikan, karena takut akan rasa sakit sewaktu ekstraksi komedo. Saya juga khawatir jerawat yang dipencet akan menimbulkan bekas di wajah. Saya pernah mendengar tentang peeling yang bagus untuk kulit berjerawat. Apakah peeling ini aman bagi saya? Saya takut perawatan tersebut justru akan membuat wajah saya tipis atau berisiko terkena kanker kulit. Halo Lisa, Selamat datang di rubrik konsultasi perawatan kulit wajah “House of Dura.” Saat ini, salah satu cara efektif untuk mempertahankan kesehatan kulit adalah dengan chemical peeling. House of Dura menghadirkan Dura Light Peeling yaitu prosedur pengelupasan kulit dengan mengoleskan bahan aktif, sehingga problem kulit kusam dan penuaan dini bisa dicegah. Dengan peeling, produksi kolagen dan glikominoglikans tubuh dirangsang, dan harapannya lapisan dermis akan menebal. Hal ini akan membuat kulit menjadi kenyal dan kencang. Jadi angggapan bahwa kulit menjadi tipis atau risiko terjadinya kanker kulit meningkat setelah peeling tidak beralasan. Bahan yang sering digunakan saat peeling di antaranya asam glikolat (glycolic acid) dan asam triklorosaetat (trichloroacetic acid). Keduanya bisa dipilih sesuai kedalaman kulit yang akan terkelupas. Tingkat pengelupasan kulit disesuaikan dengan kondisi kulit. Maksudnya, kulit dengan bekas jerawat mungkin memerlukan peeling tingkat sedang. Sebaliknya, kulit tanpa problem apa pun mungkin hanya memerlukan peeling derajat ringan. Pada gangguan kulit derajat ringan, peeling hanya dilakukan delapan minggu sekali. Namun bila problem kulit tergolong parah mungkin diperlukan 2-3 kali pengelupasan dengan jarak minimal 4 minggu. Semoga jawaban dari kami bisa membantu masalah Saudari Lisa, dan untuk Saudari Lisa, kami berikan perawatan peeling gratis. Salam hangat dari House of Dura Bali.

Atap Yowana................................................................................................................................................................dari halaman 1 beda dengan kondisi almari pakaian di hampir semua kamar tidur tersebut. Kondisi kamar mandinya pun tampak kumuh. Sarang laba-laba bergelantungan di sejumlah sudut kamar mandi tamu yang menginap itu. Celakanya, toilet umum di salah satu sudut bangunannya tampak rusak parah. Pintunya berlubang-lubang. Bak air dan comberannya penuh debu. “Toilet ini tidak lagi dapat digunakan,” ujar mahasiswa asal Karangasem yang menumpang di mes Gedung Pemuda ini. Air bersih menjadi masalah serius di gedung ini. Menurut Iwan Karna, sumber air yang biasa dipakai untuk menunjang aktivitas di gedung tersebut berasal sumur bor sedalam 40

meter. Tetapi, sumur bor ini sudah tidak lagi dapat melayani kebutuah air bersih. Kondisi airnya sudah tidak layak minum. “Saya putuskan untuk menyewa tukang gali sumur bor baru sedalam 60 meter. Tetapi, debit dan kondisi airnya pun ternyata belum seperti yang kami harapkan,” katanya. Anggaran pemeliharaan Gedung Pemuda diakui Iwan Karna selama ini seret. Pihaknya tidak pernah menerima bantuan dana pemeliharaan yang konon ada di kantong Pemerintah Provinsi Bali. “Padahal, beban biaya pemeliharaan amat tinggi. Untuk biaya listrik sebulan rata-rata Rp 3-4 juta. Ini belum termasuk biaya telepon, dan lain-lain,” ujarnya. Jaringan telepon yang ada

SEKITARKITA

100 Juta Pelanggan Telkomsel Telkomsel menorehkan sejarah dalam industri selular Indonesia setelah berhasil mencatat jumlah pelanggan yang ke-100 juta. Dengan pencapaian ini, Telkomsel menjadi operator selular ke-7 di dunia yang dipercaya oleh 100 juta pelanggan di satu negara. “Operator selular yang mampu melayani 100 juta pelanggan merupakan operator yang sudah dapat mentransformasi 100 juta pelanggan menjadi pengguna. Apa yang disediakan operator bukan lagi layanan dasar, tetapi layanan-layanan baru yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan sehingga bersifat lebih personal,” kata Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, pekan lalu. Dalam upaya transformasi tersebut, di tahun 2011 Telkomsel menginvestasikan belanja modal 1,1 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,9 triliun) yang 60 % diantaranya dialokasikan untuk peningkatan layanan data. Ini merupakan pendukung proses transformasi menuju era “beyond telecommunication”. —wah

XL Luncurkan iPhone4 Keperluan masyarakat Indonesia atas layanan telekomunikasi yang lengkap, berkualitas, serta mengikuti trend teknologi terkini terus meningkat. Seiring dengan dinamika tersebut, PT XL Axiata Tbk (XL) bekerja sama dengan Apple Inc. menawarkan program paket bundling iPhone 4 dengan layanan berkualitas tinggi dari XL. Direktur Pemasaran XL Nicanor Santiago, mengatakan, iPhone telah merevolusi pasar smartphone dan XL sangat senang dapat membawa ikon perangkat telekomunikasi canggih ini ke Indonesia. “XL akan menawarkan harga khusus untuk paket bundling iPhone 4 dan kami yakin para pelanggan dan masyarakat akan puas menggunakanperangkat ini di jaringan kami,” ujarnya pekan lalu. —wah

pun tinggal satu. Menurutnya, fasilitas jaringan telepon semula ada tiga. “Tetapi, entah di mana dua jaringan lainnya. Kini tinggal satu saja,” ungkapnya. Selama ini, kata Iwan Karna, pihaknya pernah menerima dana hibah Rp 100 juta. Tetapi, dana ini habis terpakai untuk menutupi kebutuhan biaya pemeliharaan gedung yang tinggi. Sementara anggaran Rp 2,3 miliar yang dikucurkan dulu semasa Gubernur Bali dijabat Dewa Beratha konon dipakai

untuk renovasi bangunan. “Saat itu, saya hanya meneken surat dana renovasinya. Tendernya ditangani langsung pihak Pemprov Bali. Urusan pengerjaan proyek renovasi teknisnya kami tidak pernah dilibatkan,” elaknya. Sebelumnya, Kepala Badan Kesbanglinmaspol Provinsi Bali mengakui, Pemerintah Provinsi Bali memiliki anggaran pemeliharaan Gedung Pemuda tersebut. Anggaran tersebut telah dikucurkan langsung ke tangan KNPI Bali. —sam

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Tata Rias untuk Wajah Bulat Yth. Ibu Agung Saya seorang karyawati swasta, usia 25 tahun. Dalam menjalankan aktivitas saya harus senantiasa berpenampilan menarik. Untuk itulah saya sering menggunakan make-up, namun selama ini saya kurang percaya diri dengan hasil make-up saya sendiri. Yang menjadi masalah adalah wajah saya yang cenderung bulat dengan flek hitam bekas jerawat, mata yang tidak simetris dan tidak berkelopak, alis saya yang tipis dan bibir saya kering. Sebulan lagi saya akan melangsungkan upacara pernikahan. Mohon bantuan Ibu bagaimana cara menggunakan make-up yang benar agar saya dapat tampil percaya diri pada saat menjalankan aktivitas dan contoh busana modifikasi yang bisa saya kenakan pada saat resepsi nanti. Lisnawati, Batubulan Yth. Adik Lisnawati Tampil sempurna pada saat hari istimewa merupakan dambaan setiap orang. Oleh karena itu, diperlukan teknik yang tepat untuk mendapatkannya. Dalam hal menggunakan makeup, Adik dapat mengikuti langkah-langkah berikut: 1. Untuk menyamarkan noda hitan bekas jerawat, Adik dapat menggunakan concealer. Untuk wajah Adik yang cenderung bulat dapat dikoreksi dengan permainan bayangan gelap pada bagian pipi, rahang dan dagu. Kemudian dilanjutkan dengan bedak tabur dan bedak padat. 2. Untuk menyamarkan bentuk

mata yang tidak simetris, Adik dapat menggunakan eyeshadow dengan warna yang agak gelap seperti cokelat dan abu-abu. Sedangkan untuk menambah kesan yang lebih ekspresif Adik dapat menambahkan pemakaian eyeliner, maskara dan bulu mata palsu. 3. Alis Adik yang tipis dapat disiasati dengan pemakaian pensil alis. Untuk menampilkan kesan yang alami, Adik sebaiknya menggunakan pensil alis dengan warna cokelat kehitaman dan bentuklah alis Adik dengan garis melengkung indah. 4. Guna mengatasi masalah bibir Adik yang tampak kering, sebaiknya selalu menggunakan pelembab bibir agar bibir tampak lebih sehat. Untuk mendapatkan bentuk bibir yang mendekati sempurna Adik dapat mengaplikasikannya dengan menggunakan lipstik sesuai dengan bentuk yang Adik mau, setelah sebelumnya juga menambahkan concealer di sekitar bibir yang ingin dikoreksi. Berikut ini contoh busana modifikasi yang dapat dikenakan pada saat resepsi pernikahan Adik nanti. Selamat mencoba.


KEBANGSAAN

1 - 7 Mei 2011

REFORMASI berjalan dalam orbit yang mencemaskan. Berbagai masalah muncul ke permukaan. Pola pikir pragmatisme dangkal dijadikan acuan menyelesaikan persoalan bangsa dan negara. “Ini mengancam persatuan dan kesatuan kita,” ujar Ketua Umum Forum Persatuan PutraPutri Purnawirawan TNI dan Polri (FKPPI) Pusat Pontjo Sutowo.

S

rumuskan dasar negara, Soekarno merapikan dulu landasan politik kebudayaan bangsa yang majemuk ini. Pancasila menjadi esensi kejamukan itu. Artinya, perumusan politik kebudayaan mendahului perumusan dasar Negara,” jelas putra mantan Dirut Pertamina mendiang Ibnu Sutowo itu. Pontjo memberikan catatan implementasi Pembukaan UUD 1945. Ada kesan kuat, walau diakui seluruh kalangan dan golongan, dan walau disepakati tidak akan diubah lagi, namun pembukaan UUD 1945 belum difungsikan sebagai rujukan pembentukan UU dan penetapan kebijakan nasional. Pembukaan UUD 1945 lebih sering diperlakukan sebagai ‘mantra politik’ belaka, yang hampir tak ada kaitannya dengan demikian banyak UU dan kebijakan pemerintahan. Banyak UU serta kebijakan pemerintahan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Ini terjadi entah disadari maupun tak disadari. Padahal, tiap upaya mengabaikan substansi serta norma Pembukaan UUD 1945 sama artinya dengan melanggar UUD 1945 itu sendiri. Seperti lazimnya sebuah konstitusi, Batang Tubuh UUD 1945 beserta Penjelasannya memuat kaedah dasar hubungan rakyat, wilayah, dan pemerintahan. Namun lebih penting dari kaedah dasar tersebut adalah hubungan komponen negara dengan kemajemukan kultural rakyat Indonesia. Hal itu berhasil direfleksikan Prof. Dr. Mr. Soepomo, ahli hukum adat dan salah satu perancang UUD 1945 melalui rumusan tatanan kenegaraan yang amat orisinal. Rumusannya yang bukan saja sesuai pemikiran konseptual struktur sebuah negara modern berdasar Konvensi Montevideo. Tetapi, Mr. Soepomo berhasil merangkumnya sebagai rumusan yang mewadahi kemajemukan kultural kita. Pokok-pokok pikiran Konvensi Montevideo menimba ilham dari rembuk desa yang merupakan forum musyawarah seluruh warga desa yang sampai taraf tertentu mungkin juga terinspirasi oleh People’s Congress dari Dr. Sun Yat Sen. “Mr. Soe-

imperialistik Barat telah pernah berhasil memecah-belah suku bangsa Indonesia. Ini bukti strategi ampuh yang dapat menundukkan kekuatan kita zaman kolonial dulu sebagai satu bangsa. Sebagai antitesis terhadap kerawanan dalam kemajemukan penting upaya penguatan semangat persatuan dan kesatuan seluruh suku bangsa yang majemuk ini. Persatuan dan kesatuan merupakan syarat mutlak. Kekuatannya bukan hanya untuk mengimbangi dan meniadakan sisi lemah dari kemajemukan kita. “Tetapi, bisa mewujudkan cita-cita serta tujuan bersama,” katanya. Saat membangun bangsa dan mendirikan negara, para pendiri negara mengadapi tantangan konseptual, ideologis, dan struktural. Mereka berjuang keras membangun format kehidupan berbangsa dan bernegara. Format itu tetap menghormati otonomi dan identitas kultural, tetapi tetap mampu membangun negara modern yang kuat. Format ini juga melandasi upaya mendayagunakan seluruh potensi untuk kesejahteraan dan keamanan semua warganya,” jelasnya. Landasan hidup berbangsa dan bernegara kita temukan dalam Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasan UUD 1945. Pembukaan merupakan norma dasar kehidupan bernegara yang harus menjadi rujukan semua perundang-undangan, kebijakan, serta strategi nasional yang akan dianut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada tiga tahap dalam persiapan dan pengesahan pembukaan ini yang perlu diperhatikan. “Prasaran Ir. Soekarno, 1 Juni 1945, tentang Pancasila amat tepat mempersatukan bangsa Indonesia yang amat majemuk. Sebelum me-

aat ini, katanya, suasana kehidupan bernegara hampir tidak pasti. Sikap saling tidak percaya antara satu golongan dengan golongan lainnya cenderung muncul ke permukaan. Gambaran ini menjadi menu pemberitaan media massa hampir tiap hari. Padahal, menurut Pontjo, kompleksitas masalah negeri ini mustahil dikelola dengan pola pikir pragmatisme dangkal. “Pola pikir dan pendekatan pragmatisme tersebut mungkin bisa diterapkan pada bangsa yang secara etnik relatif homogen. Pragmatisme lebih mungkin dijalankan di lingkungan masyarakat yang jumlah penduduknya tidak sebanyak Indonesia,” ujarnya. Untuk itu, kata Pontjo, sebelum mencari solusi yang paling baik untuk keluar dari masalah ini, ia mengajak untuk menelaah pokokpokok pikiran yang merupakan original intent dari para pendiri bangsa. Kemajemukan sebagai bangsa, yang terdiri dari berbagai masyarakat hukum adat dan suku bangsa. Kebersamaan yang dilahirkan paham kolektivisme ini bukan saja menjadi dasar keberadaan demokrasi di tingkat desa. “Ini juga menjadi landasan kultural untuk kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita,” ujarnya. Menurutnya, tidak ada masyarakat hukum adat atau suku bangsa yang bersedia kehilangan identitas budayanya sebagai suatu kesatuan masyarakat kolektif. Tidak ada hak bangsa dan negara untuk meniadakan eksistensi dan identitas kultural tersebut,” ujarnya. Kemajemukan masyarakat Indonesia diyakinkan sebagai kekayaan budaya. Namun, sejarah membuktikan kemajemukan sangat rentan terhadap manipulasi. Bangsa

tkh/sep

Kehilangan Arah tanpa GBHN Pontjo Sutowo

pomo merancang ‘Majelis Permusyawaratan Rakyat’ yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam negara. Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut mempunyai tiga wewenang, yaitu membentuk dan mengubah UUD; memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden, serta merumuskan ‘garisgaris besar haluan negara’. “Wewenang MPR yang kedua dan ketiga ini amat unik. Secara sistemik seorang presiden Indonesia tidaklah dirancang untuk mempunyai wewenang untuk mengatur sendiri kebijakan pemerintahannya, tetapi harus menyesuaikan kebijakan pemerintahannya itu dengan kehendak seluruh rakyat, yang secara substantif dan prosedural merupakan pernyataan dari aspirasi dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia,” paparnya. Dengan kata lain, ‘sistem sendiri’ yang dirancang para pendiri negara tidak memungkinkan lahirnya seorang diktator, walau tetap mempunyai kewenangan eksekutif yang kuat. Seandainya seluruh tatanan kebangsaan dan tatanan kenegaraan dilaksanakan berdasar original intent para pendiri negara secara hipotetik dapatlah dikatakan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita bukan saja akan sesuai dengan tatanan sistem pemerintahan demokrasi presidensial modern, tetapi juga akan mampu mengakomodasi aspirasi dan kepentingan 1.072 suku bangsa yang ada di Indonesia. Walaupun grand design kehidupan kita berbangsa dan bernegara diperhitungkan akan mampu mewadahi kemajemukan kultural rakyat Indonesia, namun, kata Pontjo, pelaksanaannya tidaklah berjalan mulus. Ada dua faktor penyebabnya, yakni tekanan dari luar, seperti adanya dua kali agresi militer Belanda. Selain itu, faktor inkonsistensi kita sendiri, baik akibat belum tersosialisasi dan

belum diinternalisasikannya konsensus para pendiri negara tersebut maupun amat gigihnya pengaruh berbagai aliran dan paham yang ada sebelum 18 Agustus 1945. “Dengan kata lain, berhadapan dengan luhurnya kualitas kenegarawanan dari para pendiri negara, kita dihadapkan dengan menciutnya wawasan para penyelenggara negara dalam dasawarsa sesudah kemerdekaan,” katanya. Menurutnya, kita terombangambing rangkaian masalah berjangka pendek, dengan solusi berjangka pendek, seperti kasus Bank Century, mafia hukum, Gayus, bahkan penggelapan dana nasabah bank oleh Melinda Dee, mengabaikan masalah ledakan penduduk, ancaman krisis pangan dan energi, kerusakan lingkungan, ancaman bencana, atau pengamanan sumber daya alam. Indonesia hampir di segala lini tertinggal jauh dari negara tetangga, yang satu atau dua dasawarsa yang lalu sejajar, bahkan berada di bawah Indonesia. Dewasa ini bangsa Indonesia telah terbagi dalam dua golongan. “Golongan kaya yang jumlahnya amat kecil, tetapi menikmati sebagian besar kekayaan bangsa ini. Juga, golongan miskin yang berjumlah amat besar dan cenderung makin besar. Si miskin harus termehek-mehek untuk dapat hidup sehari-hari,” paparnya. Kini terbentang dua pilihan besar, meneruskan penyimpangan atau mewujudkan kembali grand design yang kita sepakati bersama pada saat akan mendirikan negeri ini tahun 1945. Menurutnya, kita harus lebih tegas dalam memberantas berbagai penyimpangan ideologis, penyimpangan konstitusional, dan penyimpangan struktural yang telah terjadi baik sengaja maupun tidak sengaja sejak tahun 1999. Ini antara lain dianutnya paham neoliberalisme, tidak peduli kemiskinan dan kemelaratan rakyat. Sesuai grand design yang diletakkan para pendiri negara, kita harus memulihkan posisi MPR sebagai lembaga negara tertinggi, yang terdiri dari DPR, utusan daerah dan utusan golongan. Dua unsur yang terakhir ini dapat diwadahi DPD dengan penyesuaian seperlunya untuk menampung aspirasi dan kepentingan suku-suku bangsa Indonesia. MPR yang telah direvitalisasi tersebut harus menyusun GBHN sebagai pernyataan kehendak rakyat dan sebagai misi yang diberikan kepada presiden terpilih. Kenyataannya, tanpa GBHN kita telah kehilangan arah dan mengalami disorientasi. —ast,tin,ten

Perlu Aksi Nyata Selamatkan Generasi Muda ADANYA remaja yang datang ke lokalisasi prostitusi merupakan dampak dari lingkungan. Hal ini diungkapkan Ni Nyoman Masni. Namun, ia tak mau saling menyalahkan dengan adanya fenomena ini. “Saya tidak mau semua saling menyalahkan dan menyudutkan. Ini kesalahan bersama. Saran saya sebagai ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali, mari kita kendalikan anak-anak dari pengaruh globalisasi. Kendalanya, kita mau mulai dari mana. Apakah memberi pemahaman kepada anakanak dulu atau kepada orangtua. Yang jelas anak-anak jangan hanyut ditelan globalisasi,” tandas mantan Ketua BKOW Bali ini. Masni menambahkan, kegiatan seminar, diskusi atau apa pun jangan hanya membahas masalah dalam ruangan setelah itu selesai. Tiap kegiatan harus diikuti dengan aksi nyata untuk menyelamatkan generasi muda. Hal senada diungkapkan I Gusti Ngurah Sudiana. Ketua PHDI Bali ini mengatakan remaja ke lokalisasi prostitusi sudah ada sejak lama. Pemicunya adalah lingkungan. “Kosongnya kegiatan kreatif membuat remaja memilih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Apalagi pengaruh teknologi

Ngurah Sudiana

tkh/rat

Remaja perlu diberi pemahaman agar tidak hanyut ditelan globalisasi

dan tidak melakukan hal tersebut. “Kolaborasi lintas sektoral ini mutlak dilakukan karena kalau bergerak sendiri-sendiri hasilnya tidak maksimal,” ujar Ngurah Sudiana. Mengenai keberadaan lokalisasi, ia kurang setuju. “Bali dikunjungi wisatawan bukan karena

Nyoman Masni

wisata seks tetapi wisata budaya dan spiritual. Jadi, sarana dan prasarana budaya dan spiritual yang harus diperbanyak. Bila perlu lokalisasi prostistusi diubah dan dijadikan ashram atau pasraman,” tegasnya. Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar ini mengatakan

pasraman merupakan sarana efektif untuk menempa anak-anak dan remaja agar lebih memahami nilai-nilai agama dan etika. Jika hal ini dilakukan dan sekali lagi dilakukan semua pihak secara komprehensif, ia yakin remaja di Bali akan memiliki nilai-nilai agama yang kuat dan tidak mudah goyah oleh godaan.—wah

IKATAN Keluarga Besar Flobamora NTT Daerah Bali merupakan salah satu dari 32 paguyuban etnis Nusantara di Bali. Komunitas warga Bali asal Provinsi NTT ini telah menyatu bertahun-tahun dengan warga asli daerah ini. Menurut Ketua IKB Flobamora NTT Daerah Bali Yosep Yulius Yusdi Diaz, paguyuban yang dipimpinnya memayungi 21 unit kelompok suka-duka. Basis latar belakang keanggotannya berasal dari kabupaten/kota di NTT. Warga paguyuban ini tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. “Mayoritas berdomisili di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung,” jelasnya. Perkiraan kasar, kata Yusdi Diaz, jumlah warga Flobamora di Bali ini berkisar 21 ribu jiwa. “Tetapi, ada versi lain menyebutkan sekitar 35 ribu-40 ribu jiwa. Kami sedang melakukan pendataan ulang untuk mendapatkan kisaran angka yang lebih akurat, termasuk mengenai status kependudukannya, seperti pemegang KTP Bali/ KIPEM atau tanpa kedua identitas resmi kependudukan itu,” ujarnya. Pekerjaan warga Bali asal NTT ini, menurutnya, beragam. Ada mahasiswa, pelajar hingga pengajar. Ada satpam hingga anggota TNI/Polri. Ada pencari kerja hingga pengusaha. Ada juru parkir hingga pramuwisata. Ada wartawan hingga pengacara. Ada atlet hingga PNS. Ada pembantu rumah tangga hingga dokter. “Ada pula pelayan kafe hingga rohaniawan,” paparnya. Menurut pengusaha pariwisata ini, banyak warga Bali bermarga NTT yang lahir, besar, dan bekerja di Bali. “Mereka ini jarang menengok daerah asal leluhurnya di NTT,” katanya. Peran positif dan kontribusi konstruktif warga Bali asal NTT, katanya, sudah terjadi sebelum era kemerdekaan RI. Hal ini terus berlanjut hingga saat ini. “Provinsi Sunda Kecil dulu merupakan miniatur kebhinekaan Indonesia yang kuat dan dashyat. Dalam miniatur ini terwakili ras Melayu, Melanesia, begitu pula agama-agama besar di Indonesia. Kota Singaraja waktu itu menjadi sentra pemerintahan Provinsi Sunda Kecil. Kota ini menjadi titik pertemuan strategis dari komunitas plural,” ujarnya. Salah satu contoh peran positif dan kontribusi konstruktif putra-putri NTT di Provinsi Sunda Kecil dicatat sejarah melalui dunia pendidikan. Setelah generasi pendahulunya memberikan kontribusi konstruktif bagi dunia pendidikan di Bali, lanjut Yusdi Diaz, datanglah generasi baru putra-putri asal NTT yang belajar dan digodok di berbagai lembaga pendidikan di Pulau Dewata. “Sikap terbuka, ramah dan penuh rasa kekeluargaan orang Bali umumnya telah memberikan rasa aman dan nyaman bagi para perantau untuk datang ke Bali. Kemajuan ekonomi dan tersedianya peluang kerja menyebabkan banyak perantau yang memilih tetap tinggal dan menjadi warga Bali. Mereka mengisi ruang ruang kosong

Yusdi Diaz

yang terbuka lebar. Saling melengkapi dan menguatkan. Mereka menjadi bagian dari masyarakat Bali dalam pembangunan daerah ini,” paparnya. Tetapi, menurutnya, ada yang harus dibenahi dalam urusan administrasi kependudukan. Tata cara dan biaya mendapatkan kartu identitas penduduk musiman belum seragam. Ada kesan ini lebih berat ke arah lahan pendapatan wilayah tertentu daripada menertibkan data kependudukan. Arogansi oknum petugas dalam penertiban penduduk belum sejalan dengan pemahaman otonomi yang lebih fokus pendekatan pelayanan, bukan pendekatan kekuasaan. Sementara warga baru atau warga musiman makin banyak berdatangan ke Bali. Tetapi, mereka ini tidak sedikit yang kurang berperan atau bersedia mengambil bagian dalam pelbagai kegiatan masyarakat dan pembangunan daerah Bali. “Hal ini kemungkinan dikarenakan mereka tidak diberikan peran atau mereka memang acuh dan tidak merasa wajib berperan,” ujar Yusdi Diaz. Warga Bali asal NTT diakui tidak jarang turut menjadi bagian dari masalah sosial yang merupakan ekses dari pembangunan. “Ada warga Bali asal NTT yang bertindak semaunya dan bahkan menjadi pelaku tindakan kriminal. Tetapi, pelaku kriminalitas tetap pelaku kriminal, bukan representasi etnis tertentu yang kemudian digeneralisir sebagai mayoritas etnis pelaku kriminal atau penyuplai warga bermasalah,” ujarnya. Menurutnya, semboyan Bhineka Tunggal Ika harus menjadi dasar pijakan bersama menuju cita-cita kebangsaan, sebagaimana di amanatkan konstitusi negara kita. Untuk menjembatani hal ini, lanjutnya, dialog menjadi kata kunci. Dialog harus terus-menerus dibangun antarpara tokoh etnis hingga antarwarga di lingkungan sosial masingmasing. “Gesekan apa pun akan selesai jika sejak awal masing-masing pihak mau menahan diri dan mendorong upaya dialog,” ujarnya. Dalam kondisi sekarang ini keberadaan paguyuban-paguyuban komunitas etnis serta peran tokoh-tokoh warga Bali yang berasal dari beragam etnis perlu mendapat penguatan keberadaannya, baik secara formal oleh pemerintah, penegak hukum, yang pada akhirnya membantu pemerintah serta desa-desa adat dalam meminimalisir potensi gesekan sosial. —tin, ten,ast

Remaja Tularkan Infeksi pada Pacar

tkh/sep

tkh/dok

sepertinya mudahnya mengakses film-film porno. Selain itu pengawasan orangtua juga longgar karena mereka sibuk. Pemicu lainnya adalah kurang mantapnya penanaman ajaran agama dan etika,” paparnya. Karena pemicu tersebut, remaja menjadi leluasa melakukan kegiatan negatif, seperti mendatangi lokalisasi prostitusi. Namun, ia yakin tidak semua remaja melakukan hal-hal negatif. Solusi yang ia sampaikan antara lain perlunya pengawasan petugas di lokalisasi. Jika menemukan remaja yang diyakini berstatus SMP atau SMA sebaiknya remaja tersebut dilarang masuk. Hal ini bisa mengurangi jumlah remaja yang datang ke lokalisasi. Jika pengelola lokalisasi membiarkan remaja masuk, pengelola harus dikenakan sanksi. Tetapi, hal ini memerlukan kerja sama lintas sektoral termasuk pemerintah sebagai pembuat aturan. Solusi lainnya, melibatkan sekolah. Jika ada siswa yang datang ke lokalisasi, dilaporkan ke sekolahnya. Selanjutnya sekolah mengumumkan kepada siswa lain sebagai sanksi moral. Selain itu diskusi mengenai ekses dari “jajan” di lokalisasi prostitusi harus sering dilakukan agar para remaja sadar

Kembangkan Dialog Antaretnis di Bali

tkh/sep

Tokoh

REMAJA yang “jajan” di lokalisasi prostitusi rawan terkena penyakit menular seksual yakni penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual. Dalam hal ini pastilah terjadi hubungan seksual yang tidak sehat. Jenisnya ada beragam, mulai dari yang klasik seperti sifilis, gonore, sampai yang terkini seperti HIV-AIDS, yang mempunyai dampak begitu mengerikan bukan hanya terhadap kesehatan reproduksi, bahkan ancaman nyawa. “Sejak pertamakali ditemukan sebagai penyebab AIDS pada tahun 1983, HIV sudah membunuh lebih dari 25 juta jiwa, diperkirakan sekitar 33 juta manusia hidup dengan infeksi HIV, dan kasus infeksi baru diperkirakan bertambah sebesar 7.400 orang tiap hari. Fakta ini sangat mengerikan,” kata Ketua POGI Denpasar dr. I Made Suyasa Jaya, Sp.O.G. (K). Salah satu cara penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus,

virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh) adalah melalui hubungan seksual dengan pengidap virus tersebut. Sudah pula diungkap bahwa banyak PSK (pekerja seks komersial) yang terbukti mengidap HIV dan menjadi ‘penular’ yang sangat efektif bagi pelanggannya. “Tidak tertutup kemungkinan para pelanggan tersebut adalah golongan remaja pria/pelajar yang juga akan menjadi ‘penular’ aktif terhadap pacar/ lawan jenisnya karena hubungan seks pra-nikah yang disinyalir banyak terjadi di kalangan remaja. Ujung-ujungnya para wanita/remaja putri yang menjadi ‘muara’ dampak hubungan seksual tidak sehat tersebut, yaitu menjadi pengidap penyakit menular seksual dengan berbagai akibat buruk terhadap organ reproduksinya,” ungkap dokter yang akrab disapa Dokter Kadek ini. Berbicara tentang HIV, sudah pasti nyawa taruhannya, tetapi

jangan pula menganggap enteng infeksi lain seperti sifilis, gonore, klamidia, dll. karena wanita yang terkena infeksi tersebut akan berhadapan langsung dengan komplikasi terhadap organ reproduksi, baik jangka pendek maupun dampak jangka panjangnya. Salah satunya adalah infeksi saluran telur yang menjadi penyebab utama kemandulan pada wanita. Apabila terjadi pembuntuan/kerusakan di saluran telur (tuba falopi), maka biasanya itu bersifat permanen dan pembedahan rekonstruksi tidak memberikan hasil yang memuaskan. “Melihat dampak pergaulan remaja sekarang terhadap kesehatan organ reproduksi, maka POGI (Persatuan Obstetri Ginekologi Indonesia) Denpasar tidak hentihenti melakukan upaya edukasi terhadap para remaja melalui diskusi interaktif lewat berbagai media,” tandasnya. Menurut Dokter Kadek, yang ideal adalah memberantas segala

tkh/dok

16

dr. Suyasa Jaya

bentuk pelacuran yang sudah jelasjelas membawa dampak buruk terhadap kesehatan reproduksi. Tetapi, hal tersebut tampaknya susah dilakukan, entah karena alasan bahwa pelacuran adalah pekerjaan tertua di dunia atau karena belum ditangani secara

efektif. Atau, mungkin karena banyak program lain yang lebih menjadi prioritas. Untuk sementara ini yang bisa dilakukan adalah melakukan pengawasan ketat terhadap kesehatan para PSK yang bisa dilakukan secara rutin di lokalisasi, tetapi tidak efektif terhadap PSK ‘rumahan’. “Untuk para remaja pria, ingat suatu saat kalian akan mempunyai istri, calon ibu dari anak-anak. Jangan memberi kado penyakit terhadap istri dan keluarga karena pada akhirnya akan berdampak pada kebahagiaan berumah tangga. Untuk para remaja putri, jaga organ kesehatan reproduksi sebaikbaiknya karena dari rahim kalianlah akan lahir manusia-manusia baru yang seharusnya makin berkualitas, demi kemajuan ras manusia di bumi ini. Hindari pergaulan/seks bebas, karena bila muncul komplikasi pasti selalu kerugian ada di pihak wanita,” tandas dokter asal Bondalem, Buleleng ini. —wah


tkh_1-7_mei_641  

tkh_1-7_mei_641

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you