Page 1

No.645/Tahun XII, 29 Mei - 4 Juni 2011

IGA Sri Haryati

Akan Terus Praktik

Ny. Ketut Sumawati Sukerana dan Ny. Ketut Sujani Geredeg

Bantu dengan Hati DUA Kartini Karangasem yang kini mengemban tugas berat mendampingi sang suami merasakan betapa pentingnya ketersambungan rasa dalam menjalin hubungan individu maupun dalam panggilan tugas. Tanpa ada hubungan saling

Karena itulah, keberadaan duet antara sosok Ny. Ketut Sumawati Sukerana dan Ny. Ketut Sujani Geredeg, benarbenar merasakan kenyamanan seiring sejalan melaksanakan misi berpartisipasi dalam membangun Karangasem. Ni Ketut Sujani yang telah ditempa kerasnya derita hidup dan kenyang makan asam-garam kehidupan membuatnya bermental baja menghadapi kerasnya perjalanan mendampingi orang nomor satu di Karangasem. Seabrek aktivitas berdagang sudah pernah dilakoni sehingga membentuk jiwa wiraswasta tangguh dalam dirinya. Tak jarang hati keras Ni Ketut Sujani juga luluh harus

membutuhkan, pengertian dan rasa persaudaraan senasib sepenanggungan, tidak mudah untuk berhasil mengemban tugas misi mulia membina masyarakat khususnya kaum hawa agar mau mendukung program yang dijalankan. Bersambung ke halaman 12

Menkominfo Beri Kuliah Umum Fikom Undwi

Semua Bidang Perlu Komunikasi

kuliah umum di hadapan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Dwijendra (Fikom Undwi) di Aula Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, belum lama ini. Dalam kesempatan berbicara perihal “Implementasi UU Keterbukaan Informasi Publik yang Transparan dan Bertanggung Jawab� tersebut ia mengatakan, saat ini pengguna handphone di Indonesia mencapai 178 juta. Sedangkan, pengguna facebook, internet dan twitter termasuk tiga tertinggi di Asia. “Namun Indonesia terlambat membangun infrastruktur komunikasinya, sehingga volume bisnis komunikasi yang mencapai Rp 300 triliun ini, masih didominasi perusahaan asing,� katanya. Ida Ayu Ratna Wesnawati, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menkominfo juga menyadan Ida Bagus Gede Wiyana yangkan penggunaan tekno“Teknologi informasi komu- dalam berbagai fasilitas,� ujar logi informasi dan komunikasi nikasi saat ini mengalami Menteri Komunikasi dan masih lebih banyak untuk kemajuan dan berkembang Informatika (Menkominfo) RI Ir. sangat pesat serta luar biasa Tifatul Sembiring ketika memberi Bersambung ke halaman 12

Jelang Satu Tahun Bali Royal Hospital Gelar Seminar Bayi Tabung Gratis KEMAJUAN teknologi reproduksi berbantu khususnya dalam bidang in vitro fertilization (IVF) saat ini berkembang pesat di dunia. Teknik ini mencatat keberhasilan luar biasa dan menggemparkan dunia. Metode yang diprakarsai sejumlah dokter Inggris ini berhasil menghadirkan bayi perempuan bernama Louise Brown tahun 1978. Kesuksesan bayi tabung ditentukan banyak hal. Salah satunya, kualitas klinik dan tim bayi tabung. Klinik dan tim IVF Bali Royal Hospital (BROS) berdiri dengan tujuan menjamin kualitas, profesionalisme, dan pembiayaan terjangkau. Klinik IVF BROS merupakan klinik yang memiliki konsep “One Stop Fertility Services� yang ditunjang fasilitas

Dari kiri: Marketing Director Bali Royal Hospital dr. Gede Harsa Wardana, dr. I.A. Candra Puspita Dewi, dan dr. I.B. Putra Adnyana Sp. OG (K).

canggih seperti laboratorium embriologi, laboratorium andrologi, USG 4 dimensi, ruang laparoscopy dan instalasi radiologi. Menjelang satu tahun Bali Royal

Hospital, akan digelar seminar gratis yang ditujukan kepada masyarakat umum, Sabtu (4/6). Bersambung ke halaman 12

“Saya menjalani hidup apa adanya. Menikmati dan senantiasa mensyukuri karunia Tuhan hingga saat ini, termasuk perjalanan usia yang terus berlanjut,� ujar I Gusti Ayu Sri Haryati saat ditemui di rumah putri bungsunya di kawasan Pemogan. Wanita kelahiran Yogyakarta, 17 Oktober 1933 ini menuturkan, ia baru kembali dari Jakarta menengok putri ketiganya dr. Tiwi. Ia mengaku merasa tenang ketika melihat anak dan cucunya sehat. “Setelah ini saya akan kembali ke Buleleng, karena di sana ada tugas saya yang menunggu,� kata ibu yang dikenal tidak suka berdiam diri ini. Bu Sri, begitu panggilannya, terlihat sehat dan cantik pada usia tuanya. Ia memelihara kesehatan dengan menjaga keseimbangan makan dan istirahat. Tiap pagi ia terbiasa bangun tidur pukul 05.30 dilanjutkan dengan mengonsumsi segelas air putih. Setelah matahari bergerak ke tengah, ia mulai menggarap potongan-potongan kain yang siap dijadikan sebuah sprei. “Saya mengerjakannya dengan santai di rumah sambil menonton televisi,� katanya. Siang hari, ia mendisiplinkan

diri beristirahat dengan tidur siang satu jam. Bukan hanya itu, pada usianya ke-78 tahun ini, ibu penyanyi Bali Ayu Laksmi ini masih aktif menjalankan profesinya sebagai dokter gigi. “Ini juga karena praktiknya di rumah. Saya bisa menanti mereka yang mau periksa sambil menjalankan hobi saya,� katanya. Ia mengingatkan agar biasa periksa ke dokter gigi secara rutin, sehingga kesehatan mulut dan gigi terjaga dan terhindar masalah sakit gigi atau gusi. “Gigi pun akan awet sampai tua,� paparnya ibu yang baru dua tahun terakhir berhenti bermain tenis lapangan ini. Bersambung ke halaman 12

Waspadai Upaya Pinggirkan Pancasila P

Megawati Kecolongan

ANCASILA diobok-obok selama era reformasi. Kaum elite politik harus bertanggung jawab. Negara harus take over lewat kebijakan khusus untuk menyelamatkan Pancasila. Pendidikan Pancasila harus dihidupkan lagi di sekolah, perguruan tinggi, lewat jalur nonformal Lembaga sejenis BP7 harus dibangun kembali.

“Pancasila memang masih menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa selama era reformasi ini. Tetapi, gerakan politik reformasi sudah kebablasan. Waspadai Pancasila sudah dikebiri hanya sekadar jadi dasar negara formal,� ujar pengamat politik Fisip

Unud Dewa Ayu Sri Wigunawati, S.H., S.Sos., M.Si. Agenda politik untuk mengebiri Pancasila amat terasa Sri Wigunawati semasa awal era reformasi. Gerakan politik peminggiran dan bertahap. “Ironisnya, ini Pancasila dalam tiap jejak dimotori banyak pelaku gerakan kehidupan masyarakat terasa reformasi,� katanya. Para pelaku reformasi tersistematis walaupun perlahan sebut kelewat batas bersorak kegirangan saat berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Segala warisan rezim lama ini dituding sebagai biang kerok penyimpangan kehidupan berbangsa dan bernegara selama 32 tahun. “Celakanya, upaya Orde Baru yang baik dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila juga dicap sebagai musuh reformasi. Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan tkh/dok

Sumawati Sukerana – Sujani Geredeg

Haryo Christayudha

Rai Iswara

Perilaku Primodial Ekses Otonomi Daerah Amendemen UUD 45 Kebablasan PENGINGKARAN terhadap jati diri bangsa yang plural sudah makin tampak. Indikasinya, munculnya perilaku sosial yang cenderung dilandasi ikatan primodial seperti agama, suku, ras, dan kedaerahan. Menurut pengamat sosial politik Made Suantina, ini ekses diberlakukannya sistem pemerintahan daerah yang menganut paham atau asas otonomi yang seluasluasnya. Dosen Fisipol Universitas Warwadewa ini mengatakan, sebagian kita hampir lupa dalam praktik ketatanegaraan otonomi itu berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini harus dibedakan dengan paham liberalisme. Di negara federal, kata Suantina, beberapa negara yang sudah merdeka kemudian membentuk pemerintahan pusat. Negara Indonesia berbeda. Negara besar kita merdeka terlebih dahulu, kemudian dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan dan efisiensi dalam pelayanan kepada masyarakat dibentuklah pemerintah daerah. “Keberadan pemerintah daerah jelas berada dalam payung naungan NKRI,� jelasnya.

tkh/ast

Made Suantina

Kalau dikaitkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita sudah pernah bersumpah dalam kebinekaan menjadi satu bangsa dan satu tanah air. Akumulasi semangat nilai kebangsaan tercermin dalam butir Pancasila misalnya persatuan Indonesia. Semua sila yang terkandung di dalamnya menyatukan kebinekaan itu. Kalau sekarang sudah terjadi pengingkaran hakikat makna persatuan dan selalu lebih menonjolkan ikatan primodial, menurut Suantina, merupakan dampak diterapkan Bersambung ke halaman 13

BERITA TERKAIT HALAMAN 13

Pengamalan Pancasila alias BP7 diberangus, penataran P4 dihapus, lomba diskusi dan cerdas cermat P4 juga dihilangkan. Ini semua dianggap berbau Orde Baru,� ujarnya. Langkah itu dinilai Sri Wiguna sebagai keliru besar. Pancasila memang dijadikan alat legitimasi kekuasaan selama rezim Orde Baru berkuasa. Depolitisasi partai politik dan ormas, termasuk deideologisasi Pancasila sebagai asas satusatunya orpol dan ormas cenderung digunakan rezim ini untuk mengawetkan kekuasaan politiknya. “Saya setuju saat reformasi politik kepentingan penguasa lama itu yang harus dikoreksi, bukan menghabisi lembaga yang khusus mengawal Pancasila. Apalagi, gerakan reformasi juga menghabisi program sosialisasi Pancasila,� lanjutnya. Pokoknya, kata Sri Wiguna, ada anggapan seluruh warisan kebijakan Orde Baru jelek. “Ini dendam politik yang berbahaya bagi masa depan Pancasila. Bersambung ke halaman 13

Dari Loper Koran Jadi Miliarder SIAPA yang menduga, bulan, ibu Magnum meninggal seorang bocah yang dulu anak dan lima tahun kemudian jalanan, sekarang bisa sukses. ayahnya meninggal. Jadilah ia Itulah yang dialami I Wayan yatim piatu dan tumbuh bersama Winasa, pria asal Tabanan yang kedua kakaknya. akrab disapa Magnum. “Ini Saat merantau ke Denpasar, bukan sebuah keberuntungan, ia hanya berbekal uang Rp 20 namun sukses bisa diraih dan berangkat memakai sepeda dengan kesabaran dan ke- gayung dari rumah. Di Dentekunan,� ujar pria yang pasar, ia merasakan kerasnya dikaruniai tiga anak ini. kehidupan jalanan dan rela tidur Melihat penampilannya di sudut-sudut terminal. Magyang necis dan mahir berbicara num berjuang mencari pekersoal bisnis, sungguh jaan meski hanya sebagai siapa sangka jika ia tukang loper koran. Ia juga dulu seorang loper menjajakan jasa semir koran di Terminal Bersambung Ubung. ke halaman 12 Sukses yang diraihnya tak lepas dari tekad kuatnya mengubah hidup. Kehidupan yang miskin, membuatnya harus merantau saat usia bocah. “Saya tak ingin membebani kedua kakak saya yang sudah sangat miskin,� kenangnya. Magnum kecil memang tak seberuntung anak lainnya yang hidup berkelimpahan kasih sayang orangtuanya. Saat ia berusia Magnum e n a m


2

Tokoh

29 Mei - 4 Juni 2011

ASPIRASI

Mengapa nilai Bahasa Indonesia anjlok dalam UN?

Kebangkitan “Ribuan kali aku bangkit dari tempat tidur, tetapi aku tidak pernah merasa lebih baik, malah bertambah tua,” kata Amat pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-103, “tetapi, aku tidak pernah menyesal. Apalagi menuntut apakah kePutu Wijaya bangkitan itu memberikan aku kekayaan, pahala atau sukses. Karena, jelas kalau tidak bangkit, aku akan terus ketiduran dan ketinggalam segala macam. Bangkit itu penanda kita masih hidup. Orang mati tidak bisa bangkit lagi!” Warga yang mengikuti peringatan itu bertepuk tangan. “Tetapi, tak seorang pun mengerti apa yang Bapak katakan!” kritik Ami di rumah. Amat mengernyitkan dahinya. “Mosok?” “Mereka menyangka Bapak tidak mengerti makna kebangkitan. Kebangkitan kok disamakan dengan bangun tidur, kata salah seorang di samping saya.” “Terus kamu jawab?” “Tidak.” “Nah di situ salahnya. Banyak orang tahu apa yang salah dan apa yang benar, tetapi diam. Baru kalau sudah kejadian, mengangkat bahu dan cuci tangan, mengaku dia tidak ikut campur. Itu namanya tidur! Kita harus bangun dari tidur macam itu Ami! Itu inti kebangkitan!” “Boleh saja! Tetapi, kalau mereka tidak mengerti, percuma?!” Amat penasaran. Dia selidiki siapa yang waktu itu duduk di dekat Ami. “Itu tetangga yang baru pindahan,” kata Bu Amat. Amat manggut-manggut. “Kalau dia yang ngasih komentar negatif begitu, aku mengerti. Dia kan orang baru yang lagi cari perhatian. Jangankan yang benar, yang salah pun dia akan salahkan, supaya dia dapat perhatian. Normal, Bu! Siapa yang tidak kepingin ngetop sekarang!” Bu Amat tidak setuju. “Bapak itu dosen, tidak mungkin dia begitu. Lebih baik Bapak tanyakan langsung di mana kesalahan Bapak. Sambil kenalan begitu.” Amat tercengang. “Biar kata dosen, kalau pikirannya cupet atau dia main politik, tidak perlu didengarkan! Dia bener pun tak usah kita dengar. Politik itu selalu ada udang di balik batu!” Tetapi, besoknya Amat mampir ke rumah dosen itu. “Eh Pak Amat, silakan Pak, silakan. Dari mana saja Pak Amat,” sambut dosen itu ramah. Dielu-elukan dengan manis seperti itu, hati Amat patah. Dia langsung tukar skenario. Tidak jadi bicara soal kebangkitan. Dia malah menanyakan soal dihapuskannya pelajaran Pancasila dari seluruh jenjang pendidikan. Dosen itu dengan hati-hati memberikan penjelasan. “Belum lama di TV saya baca berita bahwa DPR memutuskan untuk meneruskan pelajaran Pancasila.” “O ya?” “Ya, saya kira mungkin ada banyak reaksi yang menghendaki Pancasila tetap diajarkan untuk perekat bangsa kita yang bineka ini. Saya setuju, asalkan pembelajarannya harus lebih cerdas dan membuka ruang untuk disangkutkan dengan perbagai perkembangan yang begitu pesat dalam masyarakat sekarang. Seperti pidato Pak Amat kemaren.” Dada Amat mencubit. “Ya Pak Amat. Apa yang Pak Amat katakan betul sekali. Kebangkitan memang seperti kita bangun tidur tiap hari. Berkalikali sudah kita lakukan, karena kita tidak mau terus tidur. Untuk bisa aktif lagi, kita mesti bangkit. Jadi kebangkitan adalah sebuah kewajiban yang memang berulang-ulang harus kita lakukan sebagai tanda bahwa kita orang yang hidup, bukan orang yang tidur. Pak Amat. Tepat.” Amat tersenyum malu karena merasa tersanjung. Tetapi, dia sadar, masih ada buntutnya. “Tetapi,” lanjut dosen itu, “kebangkitan dalam pengertian sebuah bangsa, bukanlah peristiwa bangun tidur. Kebangkitan seperti yang dilakukan para pendahulu kita 103 tahun yang lalu, adalah tindakan menyerang, untuk mengubah keadaan yang tidak kita sukai. Jadi kita tidak tidur. Kita justru tidak pernah bisa tidur karena diinjak-injak penjajah. Jadi kebangkitan bukan sekadar bangun, tetapi kesadaran jiwa yang menyebabkan kita menghilangkan semua rasa takut, lalu melawan dan akhinya itulah yang membuat kita merdeka. Bukan begitu, Pak Amat?” Amat mengangguk. “Betul.” “Karena itu saya kemaren agak cemas, kalau-kalau ada yang nantinya keliru menangkap maksud Pak Amat.” “Keliru?” “Ya. Kalau mereka menganggap kebangkitan itu hanya peristiwa bangun tidur, ya itu berarti peristiwa yang dengan sendirinya terjadi. Tak ada risiko. Tak perlu keberanian apalagi pengorbanan. Dan, kalau itu dipercaya, kita benar- benar tidak akan pernah bangkit. Itulah yang terjadi sekarang, Pak Amat.” “Maksudnya?” “Ya bagaimana akan terjadi kebangkitan, kalau tidak ada yang berniat bangkit? Bener tidak?” Amat pulang dengan otak yang sudah tercuci. “Aku melakukan kesalahan besar kemaren dalam soal menafsir kebangkitan!” kata Amat dengan sedih. “kalau itu hanya pendapatku pribadi, tidak apa. Tetapi, karena diucapkan di muka umum, pasti banyak yang akan mengikuti. Dikiranya kebangkitan itu hanya bangun tidur. Gampang-gampang saja. Kalau itu dipercaya banyak orang, artinya tidak akan pernah ada kebangkitan, akibat pidatoku!” Bu Amat tertawa. “Kok ketawa.” “Bapak ini GR!” “GR bagaimana?” “Nggak ada yang mendengar apa yang Bapak katakan kemaren. Ibu-ibu malah sibuk membicarakan anak-anak mau masuk ke sekolah mana nanti kalau sudah lulus. Hari gini, dengar pidato!” Amat tak percaya. Lalu dia menghubungi Ami. “Kata ibu kamu, nggak ada yang mendengarkan pidatoku tentang kebangkitan kemaren. Bener?” “Pidato apa?” “Soal kebangkitan itu!” “Bapak bilang apa?” “Lho Bapak kan bilang kenapa kebangkitan sudah disalahartikan sebagai keadaan untung besar? Kebangkitan kan artinya usaha manusia untuk keluar dari masalah. Kita banyak sekali punya masalah dan kita selalu berhasil bangkit. Kalau tidak, kita tidak akan bisa bertahan merdeka dan utuh setelah 60-an tahun merdeka! Ya kan?!” Ami menatap Amat tak percaya. “Wah itu bagus sekali, Pak. Coba Bapak katakan itu kemaren dalam peringatan Hari Kebangkitan!” Amat tercengang. Tetapi, kemudian ngedumel. “Memang setelah 103 tahun kita belum bangkit.” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

KORAN TOKOH

“Bagaimana Pendidikan Pancasila yang Efektif” Sampaikan opini Anda Minggu 29 Mei 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@radioglobalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 5 Juni 2011

Banyak Pengusaha, Sejahtera Banyak PNS Negara Bangkrut TAMAT sekolah, bingung mencari pekerjaan. Proses pendidikan kita belum mampu mengantarkan lulusannya mampu menciptakan pekerjaan. Harus ada kemauan. Kemauan itu harus ditanamkan sejak dini dan selama menempuh pendidikan. Kalau tidak ada keberanian, kapan bisa? Pengetahuan teori penting bagi calon wirausaha. Jangan kebanyakan, nanti akan terlalu berhati-hati. Kebanyakan anak muda berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Memang enak menjadi PNS, tiap tahun gaji naik, dapat pensiun, pekerjaannya tidak pasti. Sekarang ini penduduk Indonesia yang menjadi pengusaha baru 0,18%. Negara sejahtera jika jumlah pengusahanya 2%. Jika yang banyak PNS, negara akan bangkrut. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5. Minggu (22/5). Topiknya “Mencetak Wirausaha Mulai dari Mana”. Berikut, petikannya.

Teori Penting bagi Calon Wirausaha Wirausaha pada intinya merupakan usaha yang menekankan pada kreativitas untuk mendorong produktivitas demi meningkatkan kesejahteraan. Artinya, profesi wirausaha sangat berhubungan positif dengan kesejahteraan masyarakat. Jika makin banyak wirausaha, tingkat kesejahteraan masyarakat makin tinggi pula. Aktivitas wirausaha menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kesejahteraan di masyarakat bisa tercipta jika jumlah pengusaha minimal 2% jumlah penduduk. Sekarang ini baru 0,18% dari total penduduk Indonesia. Kalau ingin sejahtera, mari kita sama-sama berjuang agar jumlah wirausaha mencapai angka 2% jumlah penduduk. Untuk itu perlu dukungan semua pihak, tidak sebatas wacana tetapi ada action. Perlu sinergi beberapa pihak, kalangan bisnis, intelektual, dan pemerintah sebagai pilar utama. Dari sisi akademisi Dirjen Dikti menginstruksikan kewirausahaan menjadi program nasional. Kalau ada orang menjadi wirausaha karena takdir dan faktor lingkungan, itu tergantung bagaimana proses seseorang itu menjadi wirausaha.

Bisa juga menjadi wirausaha lewat proses belajar. Proses belajar tidak hanya di sekolah formal. Sebelum bersekolah orangtua mengajarkan banyak hal, misalnya orangtua mengajarkan cita-cita sejak kecil. Namun, jarang yang mengajarkan anaknya bercita-cita menjadi wirausaha. Sekarang ini sekolah yang mencetak wirausaha belum ada karena pengusaha dianggap pilihan terakhir seseorang yakni saat kepepet karena tidak dapat pekerjaan. Saat ini wirausaha sudah dianggap pilar bangsa, sehingga masuk ke dunia pendidikan. Wirausaha bisa lahir dari dunia akademi. Artinya, wirausaha bisa diciptakan dan dibentuk. Konsep dan teori penting agar landasan kuat. Namun, kebanyakan teori juga berbahaya, karena akan terlalu berhati-hati. Pengalaman diperoleh dari praktik, softskill dari praktik. Pengalaman merupakan guru sejati. Porsi praktik dalam proses belajar 75%. Berapa optimalnya tergantung kualitas yang dihasilkan. Kalau sebatas memberi pengetahuan bisa 100% teori. Kalau ada pro-ses magang, teori dikurangi Satu tahap yang sangat penting dan mendasar ketika ingin mengubah seseorang menjadi wirausaha adalah mengubah mindset. Perlu diubah pola pikir sebagian besar warga masyarakat yang ingin menjadi pekerja. Salah satu problem yang dihadapi para pengusaha, ketakutan. Mereka takut memulai usaha. Mencetak wirausaha tidak bisa diserahkan du-

nia pendidikan saja. Praktisi memberi pengalaman, arahan, dan pembinaan, BUMN dan BUMD memberikan program CSR (tanggung jawab sosial petusahaan) dan mengarahkan kegiatan pada pengembangan kewirausahaan. Pemerintah mengatur kebijakan dan memberi akses. Saat ini ada 9 kementerian menuangkan kewirausahaan dalam program mereka. Sinerginya yang perlu ditingkatkan. Respons wirausaha cukup bagus. Beberapa seminar, lomba bisnis dan produk, pameran produk wirausaha sangat diminati. Jiwa kewirausahaan hanya diidentikkan pengusaha merupakan anggapan keliru. Untuk menciptakan benefit, tiap orang harus meningkatkan produktivitasnya termasuk birokrat dan pegawai. Saya mengharapkan semua pihak membuka pikiran bahwa wirausaha suatu profesi yang menjanjikan. Pihak keluarga masih ada yang sering khawatir ketika anaknya ingin menjadi pengusaha. Perlu dukungan keluarga terdekat sehingga generasi muda dapat mewujudkan cita-citanya menjadi pengusaha. Generasi muda jangan terlalu banyak waktu bersenang-sennag. Masa muda seharusnya digunakan membangun masa mudanya untuk masa depannya. Kata kuncinya, generasi muda sudah memiliki rencana hidup dan lakukan step by step. Sayu Ketut Sutrisna Dewi, S.E., M.M. Ak. Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud Bersambung ke hlm. 12

Ruth Yuliana Salim Karena dalam mengerjakan soal bahasa Indonesia sering terjadi kesulitan dalam menafsirkan soal. Mungkin karena cara menafsirkan soal siswa berbeda dengan pembuat soal, makanya nilai bahasa Indonesia jadi anjlok. Mengerjakan soal bahasa Indonesia tidak seperti mengerjakan matematika yang sudah pasti jawabannya, dalam bahasa Indonesia kadang-kadang kita perlu mengira-ngira apa yang menjadi maksud soal dalam ujian. Putu Eka Karena menjamurnya bahasa alay. Aditya Elanda Karena yang ditanyakan adalah tata bahasa yang baik dan benar serta mencari-cari makna tersirat dalam sebuah cerita. Sehari-hari kita bahkan jarang menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam berbicara dengan keluarga dan teman. Yoga Sanyata Saya kira ini menyangkut nasionalisme yang mulai luntur, bukankah kita-kita lebih nyaman merayakan Valentine Day daripada menyambut Hari Kemerdekaan? Fajar Elut Karena banyak siswa yang percaya bocoran jawaban UN yang belum tentu benar. Mereka tak mau ambil pusing. Pokoknya kalau banyak yang jawab A, ya ikut jawab A semua. Menon Partini Karena biasa dipakai sebagai bahasa sehari-hari maka ada perilaku menganggap bahasa Indonesia gampang (under value) dan hukum atau ketentuan di dalam bahasa Indonesia tidak dibutuhkan dalam komunikasi sehari-hari, juga bisa jadi soal yang ada terlalu njelimet. Joshua Bezaleel Abednego Saya ambil satu contoh, konotasi dan arti-arti kiasan dalam puisi ialah curahan hati sang penulis puisi. Dalam soal bahasa Indonesia, kita dipaksa untuk menafsirkan hal tersebut. Siapa yang tahu apa maksud sang penulis puisi, apalagi jika kelima pilihan ditulis dengan kata-kata yang mirip? Devi Selena Karena kebiasaan di mana keseharian (dalam proses belajarmengajar khususnya) kita memakai bahasa Indonesia yang kurang benar sehingga terjadi kemerosotan pengetahuan mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi orang-orang lebih menyukai berbicara menggunakan bahasa Inggris (yang terkesan lebih wah). Di lain pihak, soal-soal penafsiran yang memaksakan kita harus sama dengan pembuat soal atau pun penulis puisi, cerita, dll. Bahasa indonesia itu sangatlah fleksibel dan berbagai pihak akan berpikir beraneka-ragam arti sebuah kalimat. Nitya Laksmi Remaja zaman sekarang kecanduan komunikasi elektronik yang cenderung lebih banyak menggunakan bahasa tidak baku (bahasa gaul), banyak yang di-Inggris-kan dan suka disingkat-singkat. Kebanyakan juga menganggap bahasa Indonesia gampang sehingga minat mempelajarinya mulai menurun. Sastra Bali Karena kini, teman-teman pers jarang memberi pendidikan jurnalistik yang di dalamnya termasuk kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti kami dahulu, tahun 1998 dibina oleh Forum Komunikasi Muda Pak Putu Artha. Romy Dencarik Kurangnya minat baca di kalangan para siswa sekarang ini, juga merupakan satu contoh penyebab siswa gagal dalam ujian bahasa Indonesia. Karena, selama ini soal-soal UN bahasa Indonesia kebanyakan berupa paragraf singkat, jadi tanpa menyimak dengan cermat, para siswa langsung menjawab segampangnya. Dwi Sayu Karena pertanyaan pada pelajaran ini bersifat mengecoh, dirasa hampir semua jawaban benar, tapi ada satu jawaban yang paling benar, dan terkadang siswa-siswi terkecoh dengan jawaban yang paling panjang. Sehingga itu dikira merupakan jawaban yang benar. Selain itu, karena sikap anak Indonesia yang memang menyepelekan bahasanya sendiri dan bahasa Indonesia bukanlah pelajaran seperti matematika yang jawabannya bisa dijawab dengan hapalan rumus, tapi benar-benar perlu pengertian dan pemahaman yang tepat dari kata pertama saat membaca soal. Bila pembuat soal dan penjawab memiliki pemahaman yang berbeda, tentu sudah jelas dari bahasa yang sederhana akan menimbulkan jawaban yang berbeda terutama pada soal cerita/paragraf. Wuland Putu Orng kampung kebanyakan pakai bahasa daerah. Jadi maklum. Sedikit pemahaman tentang bahasa Indonesia.

Ajarkan Pancasila sejak Usia Dini PANCASILA lebih pas diajarkan sejak anak usia dini. Memori anak usia dini paling mudah merekamnya. Cara ini bisa jadi menjadi salah satu jalan keluar untuk membuat anak-anak mulai mengenali sila demi sila dalam Pancasila dan mulai diajari nilai-nilai yang tercermin dari tiap sila itu. Ada tradisi yang dikembangkan di Taman Kanakkanak (TK) Negeri Pembina Denpasar. Tradisi ini berkaitan dengan program pengenalan Pancasila kepada anak didik. Mereka selalu dilibatkan dalam apel bendera. Saat itu, ada pembacaan teks Pancasila yang ditirukan semua anak-anak. Ini salah satu cara sekolah mengenalkan sejak dini sila demi sila dasar negara dan falsafah bangsa kita tersebut. Penanaman nilai-nilai luhur yang tercermin dalam Pancasila diajarkan kepada anak-anak melalui sikap dan perilaku mereka. Misalnya, nilai ketuhanan dikenalkan kepada anak-anak melalui kegiatan sembahyang bersama. Nilai kebersamaan yang merupakan penjabaran nilai persatuan dikenalkan kepada anak-anak melalui permainan yang menonjolkan pentingnya kerja sama di antara mereka. Itulah contoh penerapan nilai-nilai Pancasila yang dikenalkan kepada anak usia dini.

Tetapi, penerapan nilai-nilai tersebut harus tetap disertai pengenalan secara terus-menerus teks Pancasila kepada anak-anak. Ini cara yang efektif untuk membuat anak-anak menghafal, tidak merasa asing dengan dasar negara dan pandangan hidup bangsanya. Namun, pengenalan dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari anak usia dini tersebut seyogianya juga tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Orangtua pun seharusnya ikut memberikan perhatian serius terhadap pentingnya pengenalan Pancasila maupun penerapan nilai-nilai Pancasila di rumah. Tanggung jawab yang sama juga seharusnya dipikul kalangan masyarakat di lingkungan tempat tinggal keluarga tiap anak didik tersebut. Orangtua sebaiknya ikut mengawal pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Ini termasuk mengingatkan anak untuk mengulang lagi teks sila demi sila dalam Pancasila. Lebih dari itu, orangtua juga menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam berinteraksi dengan anak-anak. Contoh, orangtua tiap hari mengingatkan anak untuk membaca doa sebelum dan sesudah makan, membaca doa sebelum dan saat bangun tidur. Ini diingatkan kepada anak-anak bukan hanya sebagai ajaran agamanya, tetapi juga sejalan dengan nilai ketuhanan yang terdapat dalam sila pertama

Dra. Tjok. Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd.

Pancasila. Selain itu, orangtua juga mengajarkan anak anak-anak menghormati ayah, ibu, saudara, orang tua, dan lain-lain. Ini bukan hanya diajarkan agamanya, juga tercermin dari nilai kemanusiaan yang beradab seperti tercermin dalam sila kedua Pancasila. Sikap egois atau mau menang sendiri diingatkan bukan hanya tidak baik dalam pergaulan bersama teman-teman si anak. Sikap semacam ini bertentangan dengan sila persatuan dalam sila ketiga Pancasila. Ini juga tidak cocok dengan sila keempat yang menekankan anak-anak jika mau menjadi

pemimpin harus mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Sikap adil terhadap sesama juga diajarkan dalam membentuk sikap hidup anak-sehari-hari. Tetapi, penerapan nilai-nilai moral tersebut tidak sama tentunya dengan pola penerapan kepada anak usia sekolah dasar, apalagi siswa sekolah menengah. Penerapan nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan melalui kegiatan seharihari yang nyata dan sederhana di rumah. Penerapannya juga dapat dilakukan dalam bentuk permainan. Hal terpenting yang harus dicatat, ada nilai moral yang selalu hendak ditanamkan dalam tiap aktivitas anak usia dini. Penerapannya disesuaikan dengan usia anak-anak. Jangan sampai bobot penerapan nilai tersebut justru membebani psikologi anak. Penanaman nilai moral tersebut amat penting dimulai sejak anak usia dini. Memori anak usia dini relatif jauh lebih gampang diberikan penanaman nilai-nilai moral melalui contoh-contoh sederhana yang mudah mereka cerna. Jika anak sudah terbiasa sejak bocah berada dalam lingkungan pergaulan yang sarat pesan moral semacam itu niscaya kelak mereka akan mudah terhindar dari kegiatan salah bergaul. Namun, pengalaman baik yang telah ditanamkan kepada anak usia dini di PG/TK sebaiknya jangan sampai terputus saat anak memasuki sekolah dasar. Pena-

naman nilai dalam sikap hidup sehari-hari anak didik di sekolah maupun di rumah harus terus berlanjut. Mata rantai pendidikan moral yang telah dilakukan di lembaga pendidikan usia dini seharusnya diteruskan kalangan pendidik di sekolah dasar. Ini penting dilanjutkan sesuai bobot pertumbuhan dan perkembangan anak. Saat ini, anak-anak kita sedang dihadapkan pada dampak negatif teknologi modern. Pornografi dapat diakses anak-anak usia dini secara mudah melalui handphone berkamera maupun melalui internet. Ini sungguh membuat kita prihatin. Gambar porno yang dilihat anak-anak akan membuat mereka kecanduan ingin melihatnya lagi. Orangtua yang gemar menyimpan gambar porno di kamera harus bersikap hati-hati jika memiliki anak usia dini. Jika anak sudah telanjur kecanduan menikmati gambar porno kelak mereka akan mencoba-coba mempraktikkannya. Penanaman nilai moral harus diikuti perubahan sikap orangtua terhadap hal-hal yang di lingkungan keluarganya dapat menjerumuskan anak-anak mereka dalam perilaku tidak bermoral. Dra. Tjok. Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd. Kepala TK Negeri Pembina Denpasar

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. z Buleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati z NTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 3

I Gusti Kompyang Gede Pujawan, M.B.A. dan Ni Made Ida Dwi Ratna Winten

2

Kapal penyeberangan Ketapang – Gilimanuk

Tinggalkan Kampung Kelahiran Tiba di Kampung Halaman TURNI

Pukul 15.30 kami tiba di pelabuhan penyeberangan Ketapang, sekitar 9 km di utara kota Banyuwangi. Pada hari Bersepeda Motor pascalebaran itu suasana Ciamis-Bali pelabuhan terlihat padat dipadati para pemudik, dari Bali ke Jawa maupun dari Jawa ke Bali, selain beberapa rombongan wisatawan domestik. Kami yang menggunakan sepeda motor masih bersyukur KAMI tiba di jantung kota bisa lincah menyelinap di Banyuwangi pukul 14.00. antara keramaian bus dan Kota yang dulu dikenal mobil-mobil besar lainnya. sebagai Kota Pisang ini kami Setelah membeli tiket kami capai setelah melewati kotamelaju menuju kapal. Untuk kota kecamatan di jalur selatan mencapai geladak kapal pun dan areal perkebunan yang kami harus bersusah payah didominasi tanaman kopi. Jika melewati kepadatan kendaraan dalam keberangkatan mudik dan calon penumpang yang ke Ciamis kami menempuh berjalan kaki. jalur utara, dalam perjalanan Di kapal kami segera pulang ke Bali kami masuki mencari posisi yang nyaman. Banyuwangi lewat jalur Ternyata posisi itu tak kami selatan. Segala jenis kendaradapatkan; sudah habis. an memadati jalur ini. Maklum, Semua tempat yang kami masih dalam suasana pascaanggap nyaman sudah dilebaran, saat banyak orang tempati penumpang lain yang berlalu-lalang setelah berhari berjubel. Akibatnya keraya bersama keluarga di nikmatan yang kami bayangkampung kelahirannya. kan, menyantap makanan Seluruh tubuh terasa pegal khas Banyuwangi di atas akibat kepayahan setelah kapal, tak kesampaian. melakukan perjalanan naik Angin menerpa cukup sepeda motor nonstop dari kencang, cuasa kurang berCiamis. Paman, sebagai sahabat. Keberangkatan pimpinan rombongan memukapal pun terpaksa terlambat tuskan, kami harus bersetengah jam konon teristirahat di kota ini. halang angin kencang yang menyerang pelabuhan KeWalaupun dalam pertapang. Akhirnya kami hanya jalanan kami telah sempat berjalan-jalan di atas kapal menikmati makanan khas sambil menikmati lagu-lagu Banyuwangi, yakni rujak soto lawas seperti Rama Aipama dan rujak bakso, saat dan Poppy Mercury yang beristirahat ini kami masih terdengar terputus-putus penasaran untuk mencari mengikuti alunan angin yang makanan lain yang populer di berembus kencang. daerah ini. Selain untuk Setelah menanti setengah mengisi perut, jam, cuaca mulai bersahabat, j u g a dan kapal mulai diberangkatkan. Selama pelayaran terasa gelombang air laut cukup besar; getarannya bisa kami rasakan di atas kapal. Saya melihat Bu Olla sempat beberapa kali tergoncang, merasakan perutnya mualmual. Perut mual seketika sirna, goncangan kapal tak mengganggu kami lagi, ketika kapal penyeberangan yang kami tumpangi mendarat di bibir Gilimanuk. Yah, kami tiba di Ayam pedas kampung halaman rawon membelinya kami yang baru, Pulau terdiri atas camDewata, setelah meuntuk bekal puran sayuran dan ninggalkan kampung dan disantap di atas kapal bumbu pecel yang disirami penyeberangan Ketapang – kuah rawon ditambah empal kelahiran di Ciamis. zAnik Nurlia Agustini Gilimanuk. Inilah kota terakhir daging dan tempe goreng.

12

di Pulau Jawa sebelum kami menginjakkan kaki di kawasan Pulau Bali. Saya mencoba mencicipi makanan ayam pedas. Benar, sesuai namanya ayam ini benarbenar terasa pedas. Bentuknya hampir sama dengan opor ayam. Yang membedakan, bumbunya yang superpedas terlihat dari kuahnya yang berwarna cokelat kemerahan. Selain cabe yang telah dihaluskan bersama bumbu lainnya, dalam kuah juga masih terdapat beberapa biji cabe rawit yang masih utuh. Selain pedas juga terasa gurih. Sebab, daging ayam yang merupakan menu utamanya dipanggang dulu sebelum dimasak menggunakan santan. Saya pun tidak menyia-nyiakan membeli beberapa porsi makanan menantang ini untuk dibawa pulang ke Bali. Saya pun berharap bisa menikmati ayam pedas ini nanti setelah berada di atas kapal penyeberangan. Saya tidak tertarik pada selera teman lain yang memesan nasi campur. Sebab, makanan ini berbahan dasar daging sapi, daging yang memang tidak saya sukai. Sebaliknya, nasi campur dengan menu ati sapi merupakan makanan favorit Paman. Yang lainnya ada yang membeli dendeng ragi dan rawon pecel yang semuannya berbahan dasar daging sapi. Dendeng ragi atau serundeng daging sapi tampaknya menjadi santapan favorit Bu Olla dan suaminya, Pak Rahmat. Olahan daging sapi ini dibalut parutan kelapa yang telah dibumbui, kemudian digoreng. Yang lainnya ada yang tertarik pada pecel rawon sebagai makanan pilihann y a . Pecel

KOMPYANG Pujawan sedang jatuh cinta. Perawan ayu yang sempat magang menjadi guide di tempat kerjanya tersebut dilirik aktivis Federasi Buruh Seluruh Indonesia Unit Pacto Sanur ini. Kompyang Pujawan tak kunjung menyerah menguber srikandi ini. Setelah pacaran tiga bulan, dua sejoli ini akhirnya bersepakat naik pelaminan.

Saat menghadiri wisuda sarjana putri ketiganya, I Gusti Ayu Mas Pradnyamitaswari, S.F.Apt. (23), Jurusan Farmasi FMIPA Unud tahun 2011. Dari kiri: I Gusti Ayu Mas Pradnyamitaswari, S.F.Apt.; guru bahasa Jepang di Mateke Gakko Denpasar Kido Sensei (alm.); Kompyang Pujawan; Ida Dwi Ratna; Raditya Wiradarma (2/ cucu); I Gusti Ayu Ratna Mahayani, S.E.; I Gusti Ayu Intan Wulandari, S.H.; dan I Gusti Agung Gde Nirarta

Diuber-uber sang Arjuna

Ida Dwi Ratna (keempat dari kiri) bersama putrinya I Gusti Ayu Mas Pradnyamitaswari (paling kiri) bersama aktivis HPI, NPO Fukuoka Bali, dan kalangan guru TK/SD Kota Denpasar

I

da Dwi Ratna baru saja menyelesaikan studinya di Yogyakarta. Setamat SMA di Semarang, ia meneruskan pendidikan tinggi di Kota Gudeg. “Ayah saya minta saya kuliah di Yogyakarta. Kuliah di sana konon bisa ngirit. Jika kuliah di Bali perlu biaya banyak,” ungkap ibu empat anak yang diperistri Kompyang Pujawan 8 Agustus 1982 itu. Sebelum menekuni ilmu di bangku SMA, Ida Dwi Ratna menghabiskan masa taman kanakkanak (TK), sekolah dasar dan SMP di Bali. Ia lahir di Karangasem saat ayahnya, I Wayan Westa Kotaringin, masih menjabat kepala Dinas PU di kabupaten itu. Ida Dwi Ratna bocah kemudian masuk TK kecil di Puri Karangasem. Sekolah TK besar diteruskan di Negara lantaran ayahnya berpindah tugas menjadi kepala Dinas PU di Jembrana. “Bupati Jembrana waktu itu dijabat Pak Ida Bagus Gde Dosther,” ungkapnya. Sekolah dasar ditekuninya di Singaraja. Ayahnya yang ditugaskan menjabat kepala Dinas PU Buleleng memboyong keluarganya, termasuk Ida Dwi Ratna ke kota ini. Setamat SD, ayahnya dipercaya menjadi kepala Dinas PU di Gianyar. “Kami sekeluarga ikut pindah. Saya melanjutkan SMP di Gianyar sampai tamat. Saat SMP, saya sekelas dengan istri Pak Tumbuh, kepala SMAN 1 Denpasar sekarang. Setamat SMP, seorang paman dari keluarga Ibu lalu mengajak saya melanjutkan SMA di Semarang,” ujarnya. Ida Dwi Ratna lahir sebagai anak kedua dari perkawinan Wayan Westa Kotaringin dan Raden Ayu Siti Supriati. Pertemuan dua sejoli ini berawal saat Westa muda yang baru tamat sekolah teknik di Surabaya berdinas di Kota Lumajang. Supriati saat itu menjadi guru SMKK di kota tersebut.

PERKAWINAN keluarga Kerajaan Inggris (Pangeran William, 28, dan Kate Middleton, 29), 29 April lalu, disebut-sebut kalangan media massa sebagai perkawinan paling mewah abad ini. Perkawinan itu disaksikan 1.000.000 orang penonton di lokasi Royal Wedding, diliput 10.000 jurnalis, dan disaksikan sekitar 2 miliar pemirsa di TV. Sekiranya ada kesempatan menyampaikan ucapan selamat kepada sang pangeran beserta istrinya, selamat apa yang tepat disampaikan kepada pasangan ini? “Selamat Berbahagia” atau “Selamat Menempuh Hidup Baru”? Saya lebih memilih mengucapkan “Selamat Menempuh Hidup Baru” dibandingkan “Selamat Berbahagia” bagi pasangan yang baru saja melangsungkan perkawinan, termasuk kepada Pangeran William beserta istrinya. Perkawinan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Kawin

dapat berarti bahagia, malapetaka atau berada di antara bahagia dan malapetaka (gabeng). Untuk lebih memahami makna ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”, akan dikemukakan perkawinan menurut hukum adat Bali sebagai contoh soal. Kalau dilihat dari bentuk perkawinan, hukum adat Bali mengenal dua bentuk perkawinan, (1) kawin biasa (pihak istri meninggalkan keluarganya dan masuk menjadi keluarga suaminya, dikenal pula dengan “kawin ke luar”) dan (2) kawin nyentana (pihak suami meninggalkan keluarganya dan masuk menjadi anggota keluarga istrinya, saya sebut “kawin ke dalam”). Selain dua bentuk perkawinan tersebut, pada zaman kerajaan Bali, dikenal bentuk perkawinan matunggu dan perkawinan paselang. Perkawinan matunggu atau nunggonin, salah satu bentuk perkawinan di Bali yang sekarang

sudah tidak dikenal dan dijalankan lagi. Bentuk perkawinan ini dipilih apabila si suami tidak mampu membayar uang petukon (harga pembeli) istrinya dan karenanya terpaksa harus menunggu di rumah si mertua. Di sana bekerja, biasanya mengerjakan sawah ladang, tanpa upah, hingga uang petukon itu dibayar lunas atau diperhitungkan dengan upah atau hasil yang harus menjadi bagian si suami (si mertua). Perkawinan paselang atau juga disebut perkawinan ditoroni, bentuk perkawinan yang lazim dilakukan di kalangan puri (kerabat kerajaan) di Bali yang tujuannya mencegah terjadinya kacamputan (tidak memiliki keturunan) di sebuah puri. Katakanlah sebuah keluarga puri, memiliki anak perempuan tunggal, yang kebetulan memiliki nasib “sulit jodoh”, karena “wajah tak layak jual”. Yang mananya puri, tentu memiliki warisan relatif banyak, baik

tkh/dok

”Selamat Menempuh Hidup Baru”

Wayan P. Windia

berwujud materiel maupun immateriel. Apabila sampai menjelang “senja” anak perempuan itu belum dapat jodoh, satu-satunya jalan “ekseptional” harus dilewati, dengan melangsungkan perkawinan paselang. Kasarnya, meminjam (nyelang) laki-laki yang sudah kawin, dari keluarga puri lain, untuk diajak kawin (seperti layaknya pasangan suami istri normal), sampai melahirkan keturunan. Sesudah itu, perkawinan ini bubar, dan anak yang dilahirkan

Dasar jodoh, Wayan Westa akhirnya memperistri Supriati. Padahal, putra Pekak Misna (alm.), seorang guru di Negara, ini menyadari Supriati merupakan anak seorang wedono di Pasuruan yang masih berdarah Keraton Sumenep, Madura. Tetapi, garis jodohnya diyakini sudah diatur Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk memadu kasih bersama Supriati. Keluarga besar calon mertua Wayan Westa pun merestui rencana perkawinan itu. “Ibu saya akhirnya juga mau diboyong untuk dinikahi Ayah di Negara. Ibu kemudian masuk Hindu. Ibu saya tidak lagi bergelar raden ayu, tetapi bergelar raden ajeng karena sudah menikah,” ungkap Ida Dwi Ratna. Semasa berdinas di PU sejumlah kabupaten di Bali, ayah Ida Dwi Ratna turun tangan langsung menangani proyek pembangunan jalan di berbagai tempat. Salah satu proyek jalan raya rintisan yang digarap, jalan utama BangliSingaraja yang melewati kawasan wisata Kintamani. “Ayah saya menangani pembangunan jalan itu saat Bung Karno menemani Ratu Sirikit dari Thailand berkunjung ke Penelokan,” ungkapnya.

yang bekerja di hotel dianggap tidak baik oleh masyarakat. Banyak orang yang mencibir,” ungkapnya. Namun, itu bukan alasan utama saat Ida Dwi Ratna angkat kaki dari Hotel Oberoi. “Saya pilih kerja jadi guide. Saya mengajukan lamaran untuk magang di Pacto tahun 1978. Lamaran saya diterima. Saya seangkatan Ketua HPI Bali sekarang Made Sukadana, guide senior Sangtu Subaga, Dewa Arsa, dan lain-lain. Saat itu, Bapak (Kompyang Pujawan), Al Purwa (Ketua Asita Bali), juga sudah duluan jadi guide di situ,” kisahnya. Perempuan yang memilih kerja guide zaman itu masih langka. Ida Dwi Ratna mencatat hanya sekitar sebelas orang kaumnya yang menekuni pekerjaan tersebut. “Perempuan Bali yang jadi guide khusunya di Pacto waktu itu sedikit, hanya empat orang, tujuh orang dari Jakarta. Saya menjadi guide untuk tamu Prancis,” ujarnya. Peran guide artis film nasional sempat dicicipi Ida Dwi Ratna. Saat itu berlangsung Festival Film Asia era 1980-an di Bali. “Saya kebagian tugas menemani Slamet

Rahardjo, Christine Hakim, dan beberapa artis ternama lain selama mereka di Bali,” katanya. Saat itu, menurut Ida Dwi Ratna, nama dan sosok Kompyang Pujawan lumayan populer. Maklum ia tergolong guide yang disegani manajemen Pacto maupun sesama komunitas guide. Saat itu, dirinya dan Kompyang Pujawan sudah saling kenal. Tetapi, perkenalan tersebut hanya sebatas pertemanan seprofesi. Apalagi, Ida Dwi Ratna lebih banyak sibuk berurusan dengan tamu Prancis. Kompyang Pujawan berkecimpung sebagai guide Inggris. Setahun magang di Pacto, Ida Dwi Ratna pindah ke Tunas Indonesia Travel Agent. Dirinya bukan hanya enggan kelamaan berstatus guide magang di Pacto. Tunas Indonesia pun waktu itu sedang mencari tenaga guide Prancis. “Makanya, saya pindah saat ada kesempatan jadi guide tetap di Tunas Indonesia. Saat itulah kami berdua tak lagi jarang bertemu. Pertemuan terutama terjadi saat mengantar tamu masing-masing ke tujuan pelesiran yang sama. Saya pun tidak melulu jadi guide Prancis, sesekali jadi guide Inggris,” kisahnya. Diuber-uber Arjuna Pesona Ida Dwi Ratna diamdiam menggelitik asmara Kompyang Pujawan. Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Unit Pacto itu menaruh hati pada putri berdarah ‘blasteran’ Bali dan Madura itu. “Saat itu saya baru beberapa bulan bekerja di Tunas Indonesia. Jika saya ngantar tamu ke Pertamina Cotagge tahu-tahunya Bapak juga sedang ada di sana bersama tamunya. Belakangan saya mulai diuber-ubernya,” ungkap Ida Dwi Ratna tersenyum simpul. Keseriusan Kompyang Pujawan mulai terbaca Ida Dwi Ratna. Apalagi, sang arjuna dirasakan tidak hanya berusaha menguber-uber cintanya saat bertemu sedang bareng tamu masing-masing. “Bapak mulai berani apel ke rumah,” katanya. Dua sejoli ini kemudian bertekad mengayuh biduk rumah tangga. Saat itu Kompyang Pujawan berumur 32 tahun, sedangkan Ida Dwi Ratna 27 tahun. Usia berpacaran mereka sudah tiga bulan. “Ada banyak kesamaan dalam diri kami berdua,” ujar Dwi Ratna. —sam

Dari Pacto ke Tunas Ida Dwi Ratna sudah tamat SMA. Ia melanjutkan studi di Yogyakarta. Sekolahnya di Jurusan Tata Boga SMKK. Tetapi, tamat dari situ, ia belajar di Akademi Bahasa Asing IPK Yogyakarta. “Saya belajar khusus bahasa Inggris dan Prancis sampai tamat,” ujarnya. Ijazah akademi bahasa asing sudah di tangan tahun 1977. Ida Dwi Ratna pulang ke Denpasar. Lamaran kerjanya diterima manajemen Hotel Oberoi Seminyak Kuta. Ida Dwi Ratna bekerja sebagai resepsionis. Tetapi, saat itu ada tantangan psikis yang sempat mengusik batinnya. “Wanita Bali

Ketua Persatuan Orangtua Mahasiswa FE Unud Kompyang Pujawan diapit Dekan FE Unud Prof. Dr. Rahmanta, S.E., M.M. dan sesepuh NPO Fukuoka Bali Nagaoka Sensei saat Yudisium Bersama XVII FE Unud di Kampus Bukit Jimbaran belum lama ini

dirawat ibunya, untuk melanjutkan segala tanggung jawab (swadharma) keluarga ibunya. Sulit dibayangkan pasangan yang melangsungkan perkawinan paselenag dan perkawinan matunggu, ada dalam kondisi berbahagia. Tetapi, yang pasti mereka mengalami dan merasakan “hidup baru”. Zaman sekarang, tidak dikenal lagi bentuk perkawinan matunggu dan paselenag, tetapi muncul bentuk baru yang dikenal dengan perkawinan pada gelahang. Secara hafiah, pada gelahang berarti duwenang sareng atau “milik bersama”. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk perkawinan pada gelahang seperti perkawinan negen dua, mapanak bareng, negen dadua mapanak bareng, nadua umah, makaro lemah, magelar warang. Ada juga yang menyebutnya dengan ungkapan lumayan panjang seperti “Perkawinan nyentana (nyeburin) dengan perjanjian tanpa upacara mepamit”. Dalam ungkapan I Gusti Ketut Kaler (1967), seorang tokoh agama Hindu dan hukum adat Bali, perkawinan ini disebut “perkawinan parental”. Ida Bagus Sudarsana (2003), seorang tokoh agama Hindu di Bali mengemukakan, perkawinan dengan sistem makaro lemah

atau madua umah. Apa pun istilah yang dipergunakan, pada dasarnya mengandung makna yang sama. Dalam konteks perkawinan yang dilangsungkan orang Bali-Hindu, istilahistilah tersebut mengandung makna, perkawinan yang dilangsungkan sesuai ajaran agama Hindu dan hukum adat Bali, yang tidak termasuk perkawinan biasa (“kawin ke luar”) dan juga tidak termasuk perkawinan nyentana (kawin kaceburin atau “kawin ke dalam”), melainkan suami dan istri tetap berstatus kapurusa di rumahnya masing-masing, sehingga harus mengemban dua tanggung jawab dan kewajiban (swadharma), yaitu meneruskan tanggung jawab keluarga istri dan juga meneruskan tanggung jawab keluarga suami, sekala maupun niskala, secara terus-menerus atau dalam jangka waktu tertentu, tergantung kesepakatan pasangan suami istri beserta keluarganya. Dalam catatan saya, sampai sekarang sedikitnya ada 35 pasangan suami istri di Bali, yang melangsungkan perkawinan pada gelahang. Beberapa di antaranya, kebetulan saya mengamati secara langsung, mulai pembicaraan awal, pelaksanaan upacara perkawinan,

sampai pada penyelesaian administrasi perkawinannya. Kesan saya, pelaksanaan perkawinan pada gelahang relatif lebih sulit dibandingkan perkawinan biasa dan perkawinan nyentana. Belum lagi kalau berbicara pelaksanaan perkawinan kedua, ketiga, atau perkawinan karena “kecelakaan” atau “kawin hansip”. Sampai di sini tampak makin benderang, perkawinan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Kawin dapat berarti bahagia, malapetaka atau berada di antara situasi bahagia dan malapetaka. Terlepas dari situasi mana pun yang dihadapi, yang pasti, tiap perkawinan membawa “sesuatu yang baru”. Memiliki “orangtua baru”, “adik dan kakak baru”, “masyarakat baru”, “tanggung jawab baru”, “urusan baru”, dan kadang-kadang juga harus berhadapan dengan rupa-rupa “permasalahan baru”. Maka, kepada pengantin baru (termasuk pasangan Pangeran William - Kate Middleton), saya akan sampaikan ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru” dan bukan “Selamat Berbahagia”. zWayan P. Windia


4

Tokoh

29 Mei - 4 Juni 2011

MEMBANGUN DARI DESA

Budidaya Gurami Sistem Berjenjang

Anda Bertanya Kami Menjawab Mengenal Budidaya Jamur Mohon dijelaskan mengenai budidaya jamur 081 3370 00039 Jawaban: Salah satu jenis jamur yang mudah dibudidayakan adalah jamur tiram. Jamur tiram banyak dibudidayakan karena mudah dan hasilnya berlimpah. Budidaya jamur ini memiliki prospek cerah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya sumber makanan sehat alami yang rendah kolesterol bahkan sekaligus berkhasiat sebagai obat. Bibit bisa dibuat sendiri atau jika ingin lebih efisien bisa juga dengan membeli media tanam yang sudah berisi bibit yang sering disebut baglog instan. Masing-masing teknik pembudidayaan jamur memiliki kelebihan dan kekurangan. Budidaya jamur dengan menggunakan baglog instan terbukti lebih menguntungkan terutama bagi pelaku usaha skala bisnis. Bentuk fisik jamur tiram sangat khas, berdaun lebar 8 cm – 12 cm dengan bilah-bilah seperti cangkang kerang di permukaan bawahnya. Jenis jamur tiram dapat dibedakan menurut warna tudung. Ada yang ber-

warna putih bersih, putih kekuningan, merah muda, abuabu, dan cokelat. Di Bali, jamur tiram putih menduduki peringkat II terbanyak dikonsumsi masyarakat setelah jamur kancing (champignon). Urutan berikutnya, jamur kuping, jamur merang dan jenis-jenis lain. Jamur tiram putih banyak dijual di pasar tradisional dan swalayan dalam berbagai kemasan. Walau dibandrol dengan harga hampir menyamai harga daging ayam pembeli tidak pernah sepi. Secara umum budidaya jamur tiram dapat dikembangkan di daerah mana saja asalkan memiliki suhu udara 22º C - 28º C. Jika lebih dari itu bisa juga, asalkan pandai menyiasati alam dengan cara melakukan pengabutan atau penyiraman lebih sering dan membuat rumah jamur khusus dengan sistem bedengan. Untuk perawatan sehari-hari dapat melakukan hal-hal berikut: 1. Buka pintu dan jendela kumbung tiap pagi 2 - 3 jam untuk pergantian udara. 2. Basahi lantai kumbung dan lakukan pengabutan air tiap pagi dan sore. Gunanya, untuk mempertahankan kestabilan suhu dan kelembaban dalam kumbung. 3. Kebersihan lantai

dan ruangan kumbung harus menjadi prioritas perhatian. Bersihkan lantai dari segala kotoran yang tercecer waktu panen, serta sisa-sisa akar jamur, untuk menghindari hama. Panenlah jamur tiram saat kondisi tudung lebarnya 10 cm. Pemanenan dilaksanakan pagi hari. Memetik jamur harus hatihati, cabutlah seluruh rumpun jamur yang ada tanpa sisa sampai ke akar–akarnya. Karena, akar yang tertinggal akan menghalangi pertumbuhan berikutnya dan bahkan dapat menjadi penyebab kebusukan media tanam. Narasumber Ina Priliasari, S.H. Pelaku Usaha dan Konsultan Budidaya Jamur Tiram

Pakan Pengganti Cacing Sutra Apakah ada pakan pengganti cacing sutra untuk pakan benih ikan lele (pokdakan)? Gede Nadhi Desa. Geluntung Marga – Tabanan Jawaban: Sebenarnya pengganti cacing yang baik adalah zooplankton dari jenis daphnia sp,

tetapi belum dikembangkan di Bali. Penggantinya bisa menggunakan pakan komersial untuk starter. Dapat diberikan dalam bentuk pasta lunak. Cacing tanah yang dicincang atau diblender kasar juga dapat menjadi pengganti yang baik.

PRODUKSILAH ikan yang laku dijual, jangan memproduksi ikan yang tak laku dijual. Bali memiliki lahan yang luas untuk budidaya perikanan khususnya gurami. Namun, mengapa ikan gurami masih dipasok dari luar Bali? Sebenarnya petani di Bali bisa menghasilkan gurami. Namun, yang menjadi kendala, ukurannya. Gurami yang dibutuhkan kosumen (restoran) di Bali, misalnya, ukuran 500 gram/ekor. Sedangkan untuk menghasilkan 500 gram/ekor perlu waktu panjang lebih dari setahun. Ini yang menyebabkan petani bosan menanti untuk mencapai ukuran tersebut.

Narasumber Apakah ini tidak bisa disiasati? Ir. Saleh Purwanto Sebenarnya semua ini bisa disiasati dengan Dinas Kelautan dan budidaya gurami sistem berjenjang. Dengan Perikanan Provinsi Bali sistem berjenjang, petani tidak perlu menanti waktu terlalu panjang dalam membudidayakan Obat Ayam gurami. Peliharalah gurami secara estafet. Misalnya, petani memelihara dari benih dasar menjadi Mata Bengkak benih gurami sebesar korek api, yang hanya Apa nama obat ayam yang membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan. matanya bengkak? Kemudian petani ini menjualnya kepada petani Pak Adi Cempaka lain, dan dipelihara lagi sampai sebesar pembungkus rokok, kemudian dijual lagi ke petani Jawaban: lain hingga mencapai ukuran 500 gram/ekor Kalau bengkak karena in- sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dengan feksi kuman, obatnya antibiotik cara ini, petani tidak akan menanti tertalu lama untuk mata, yang bisa berupa untuk kembali modal dan tidak membosankan. salep atau tetes mata. Selain itu Semua ini harus ada kerja sama yang baik juga bisa digunakan obat tra- antarkelompok. disional rebusan daun sirih, dengan cara meneteskan di mataApakah selama ini petani belum mau menya. Namun, kalau bengkaknya laksanakan budidaya gurami sistem berdisebabkan cacing mata, bisa jenjang? ditetesi air rendaman tembakau Di suatu kawasan di Kabupaten Karanguntuk mengeluarkan cacing asem, sudah ada yang mau melaksanakan sistem mata di mata ayam. ini, namun belum semuanya. Dalam hal ini Narasumber petani harus mandiri, kreatif, dan inovatif. Itulah drh. Ni Wayan Leestyawati ciri-ciri wirausaha. Contoh, dalam anggota kePalgunadi, M.Si. lompok sudah mengetahui ‘lele yang laku diDinas Peternakan jual’. Selanjutnya, hal yang harus dihitung seProvinsi Bali cara pasti, kapan dibutuhkan, mutu (ukuran,

bentuk, dll.), keamanan dan kontinuitasnya. Ada permasalahan, misalnya lele sudah laku dijual, namun pada minggu berikutnya konsumen datang lagi, sedangkan setok sudah habis. Ini yang menyebakan pembeli lari ke tempat lain. Selain itu, ada hal yang lebih sulit lagi. Misalnya, konsumen hanya mampu membeli produk tertentu dengan harga Rp 15.000 namun petani/ produsen masih kukuh menjual dengan harga Rp.16.000. Kalau konsumen dan produsen lele

sama–sama kukuh mempertahankan harganya, hingga berbulan–bulan ukuran ikan sudah berubah dan petani sudah merugi. Ketika petani memutuskan ingin menjual Rp 15.000, pembeli sudah menolak karena ukurannya kebesaran. Ini adalah dilema yang terjadi di masyarakat. Apa yang harus dilakukan petani? Petani harus punya strategi pemasaran. Para petani harus berpikir, misalnya, melepaskan terlebih dahulu produknya secara pas–pasan. Selanjutnya, berpikirlah untuk menekan biaya produksi. Untuk memecahkan masalah seperti ini, banyak pilihan. Misalnya, dengan memberi pakan alternatif. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, kalau kita sudah sama–sama berupaya. Permasalahan yang juga sering terjadi, petani belum mau mengakses pasar. Walau petani mengetahui tentang pemasaran, namun untuk melakukan hal tersebut mereka merasa tak mampu. Solusinya, petani harus aktif berbagi informasi dengan kelompoknya. Bentuklah tugas–tugas dalam pencarian informasi dan pemasaran. Jika perlu di tiap desa, didata warga yang membutuhkan lele. Karena, untuk tahap awal, pemasaran lokal sangat menjanjikan. Pasar lokal terkait ikan air tawar di Bali sangat baik, sampai–sampai petani tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen, hingga mendatangkannya dari luar Bali. Petani harus selalu aktif dalam kelompok, sehingga yang ada jangan nama kelompoknya saja. Apa saja yang telah dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam hal ini? Sejumlah jenis ikan air tawar sudah dikembangkan di Bali, di antarnya nila, gurami, udang galah, ikan mas, dan patin. Di antara sekian banyak ikan air tawar yang dibudidayakan, yang paling banyak dikonsumsi, lele. Oleh karena itu, kami dari Dinas Kelautan dan Perikanan berusaha mencari informasi ukuran lele yang dibutuhkan pasar. Sekarang lele yang paling dibutuhkan konsumen di Bali, ukuran 6-7 ekor ikan lele per kilogram. Ukuran ini sangat cocok untuk dimasak dan dijual pedagang–pedagang pecel lele. Untuk menyiasati semua ini paket teknologi yang disarankan ialah budidaya lele kolam terpal, sehingga memperoleh 6-7 ekor lele per kilogram, bisa dengan waktu kurang lebih tiga bulan. Narasumber Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Kelompok Tani Pulesari

Ekspor Mete ke Jerman dan Australia SETELAH meraih penghargaan Prama Karya dari Presiden sebagai Kelompok Tani Terbaik Nasional, Kelompok Tani Pulesari mengembangkan usaha ekonomi produktif komoditas jambu mete organik dengan tujuan ekspor. Kini masyarakat di dusunnya telah merasakan dampak positif usaha kelompok tani yang berlokasi di Dusun Muntig, Desa Tulemben, Kecamatan Kubu, Karangasem ini. Dalam kurun waktu tahun 2006 hingga 2011 masyarakat merasakan manfaat perbaikan ekonomi dengan adanya pasar bersama. Ketua Kelompok Tani Pulesari I Wayan Sudarma didampingi Sekretaris I Nengah Supartha menuturkan, kelompok taninya yang meliputi subak abian Pule Sari dengan luas wilayah 146,5 hektare, didukung anggota 62 orang, berhasil mengekspor mete 48 ton tahun 2010. Mete organik gelondongan dikirim ke Jerman melalui PT Profile Mitra

I Wayan Sudarma

Abadi, Tangerang, kacang mete ke Australia dikirim melalui PT Bening Denpasar dan untuk pasar lokal dikirim ke Gianyar dan Denpasar. Harga jual mete organik gelondongan Rp 9.000 sampai Rp 13.000, mete kulit ari Rp 70.000 – Rp 92.000/kg. Sudarma menyatakan, dengan usaha bersama ini aset

yang dimiliki Kelompok Tani Pulesari hingga saat ini Rp 800 juta, termasuk hasil penjualan mete gelondongan dan kacang mete organik. Kelompok juga sedang merintis pengembangan koperasi simpan pinjam untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini kelompok memberikan pinjaman kepada anggota tanpa bunga. Petani membayar pinjaman saat menjual hasil panennya, dengan besaran talangan Rp 2-3 juta. Kadis Perkebunan dan Kehutanan Drs. I Made Mudita, S.P. menambahkan, luas lahan pengembangan komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem 8.253 hektare dengan produksi per tahun 3.210,55 ton (data tahun 2008) dengan ratarata produksi 501 kg/ha/tahun. Pengembangan mete meliputi tiga kecamatan yakni Kubu, Abang dan Karangasem, dengan jumlah kelompok tani perkebunan 167 kelompok dan kelompok tani kehutanan 295 kelompok. Subak Abian Pulesari sebagai inti Kelompok Tani sudah berhasil mengantongi sejumlah prestasi. Tahun 2006 juara I Kelompok Tani tingkat kecamatan, tahun 2007 juara II Lomba Unit Usaha Produktif Provinsi Bali, tahun 2008 juara III Lomba Gapoktan tingkat Provinsi Bali, tahun 2009 juara III Lomba Gugus Kendali Mutu Provinsi Bali, juara I Lomba Poktan tingkat Provinsi Bali serta menjadi Kelompok Tani terbaik nasional meraih penghargaan Prama Karya dari Presiden RI dan juara Kelompk Tani Nasional dari Menteri Pertanian di Medan. Saat ini kelompok tani Pulesari juga sedang merintis pengembangan agrowisata. Namun, untuk mewujudkannya Sudarma mengatakan masih menghadapi beberapa kendala seperti sarana prasarana jalan yang belum memadai. —arya


29 Mei - 4 Juni 2011 PENDIDIKAN 5 Dari Studi Banding ke Fukuoka 3 Sembahyang Bersama di Pura Ulun Danu Tokoh

Menjajal Teknologi Canggih di Ruang Simulasi Bencana PEMERINTAH Perfektur Fukuoka amat peduli terhadap kondisi tanggap darurat masyarakatnya jika terjadi bencana alam. Pemerintah menyiapkan fasilitas khusus untuk melatih warganya menghadapi ancaman bencana kebakaran, gempa bumi, dan tsunami. Ruang simulasi ini berada di Gedung Pusat Penanggulangan Bencana Fukuoka (Fukuoka Citizens Disaster Prevention Center).

G

edung berlantai dua ini tampak megah. Dua resepsionis cantik menyambut ramah tiap tamu yang datang. Informasi singkat seluk-beluk fasilitas yang berada di gedung ini disampaikan secara lugas. “Silakan sekarang ke ruang simulasi pemadam kebakaran,” ujar staf khusus Harima Tetsuo kepada 34 duta pendidikan Bali yang berkunjung saat itu. Semua tamu dari Pulau Dewata ini berbaris rapi. Tetsuo mengambil tabung pemadam kebakaran portable. Ia menjelaskan cara menggunakan tabung tersebut. Ada sebuah layar monitor di balik punggungnya. “Semprotkan isi tabung ini ke arah api yang sedang menyala seperti tampak di layar monitor,” ujarnya dalam bahasa Jepang seperti diterjemahkan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Kyushu University, Yuli Restiani. Guide senior Nyoman Sondra dan Ni Ketut Adiyani, dosen FE Unud Dr. Wayan Suana, S.E., M.M., dan Kepala TK Negeri Pembina Dra. Tjok. Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd. menjadi peserta simulasi pertama. Setelah diberi petunjuk teknis, keempat duta pendidikan ini diminta mengambil empat tabung pemadam kebakaran di salah satu sudut ruangan. Mereka diminta segera menyemprotkan cairan dari tabung masingmasing ke arah api yang tampak sedang menyala di layar monitor. “Jika semprotan tidak pas sasaran, nyala api akan membesar dan menyambar barang seisi rumah seperti tampak di layar monitor. Jadi arahkan semprotan tepat ke sasaran,” ujar Tetsuo dalam petunjuknya. Empat peserta simulasi mendapat giliran berikutnya. Selain Kepala TK Saraswati 5 Desak Made Asri, juga ikut Kepala SD Saraswati 6 Ni Wayan Sudiasih, Kepala TK Saraswati 2 Ni Wayan

Darning, dan pengusaha Titik Sriyanti. Keempatnya sempat kagok awalnya mempraktikkan penggunaan tabung pemadam kebakaran. Suasana sempat diwarnai derai tawa akibat ada peserta simulasi yang menyemprotkan cairan tabung ke atap ruangan. “Wah ini pengalaman berharga. Selama bertahun-tahun jadi guru, baru sekali ini saya tahu rasanya menggunakan tabung pemadam kebakaran kayak begini,” ujar Desak Made Asri. Pengalaman berharga juga dilukiskan Ni Wayan Sudiasih dan Ni Wayan Darning. Fasilitas semacam itu sebaiknya juga mulai dipikirkan untuk dijadikan program simulasi bagi masyarakat umum, terutama kalangan guru dan anak didik kita di Bali. “Kita sudah punya lembaga pusat penanggulangan bencana di Bali. Fasilitas simulasi semacam di Fukuoka sebaiknya mulai dibuat di Bali. Ini juga penting diketahui kaum ibu rumah tangga,” ujar Titik Sriyanti. Sehabis mengikuti simulasi pemadaman kebakaran, seluruh duta pendidikan diajak memasuki ruang khusus simulasi gempa bumi. Fasilitas simulasinya dilengkapi teknologi canggih. Ada fasilitas peraga yang terdiri atasi sebuah meja yang dikitari empat kursi dalam sebuah ruangan. Ruangan ini dapat berguncangguncang seperti sedang terjadi gempa bumi hebat. “Jika saya menekan tombol ini nanti daerah yang dibatasi pagar pembatas saja yang akan terguncang-guncang seperti sedang terjadi gempa bumi. Kekuatan gempa sekitar 6 skala richter. Silakan jika ada yang coba,” ujar Ms. Harada, petugas khusus di ruang simulasi gempa bumi. Empat orang yang diminta menjajal pengalaman duduk di ruang simulasi gempa bumi sudah duduk di kursi masing-masing. Selain I Ketut Loper Winartha dan

Guide senior Nyoman Sondra dan Ni Ketut Adiyani, dosen FE Unud Dr. Wayan Suana, S.E., M.M., dan Kepala TK Negeri Pembina Dra. Tjok. Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd. menjadi peserta simulasi pemadaman kebakaran di Fukuoka

I Gusti Nyoman Suardika dari SMAN 1 Denpasar, juga ikut Sangtu Subaga dari HPI dan Dr. Wayan Suana dari FE Unud. Sebelum masuk ruang khusus simulasi, mereka diberi petunjuk agar memegang erat tepi meja saat guncangan terjadi. Jika guncangan masih terjadi, mereka diminta tidak panik sambil berusaha perlahan masuk ke bawah meja. “Guncangan yang terasa lumayan keras. Kuncinya memang jangan cepat panik seperti petunjuk Ms. Harada tadi. Jika panik kan bahaya, bukan badan masuk ke bawah meja, tetapi kepala kita yang malah benjol terkena meja,” ujar Ketut Loper berseloroh. Ruang simulasi menarik lainnya berada persis bertetangga dengan ruang simulasi gempa bumi. Ruang simulasi ini khusus untuk melatih warga menghadapi bencana angin puting beliung. “Ruang ini didesain khusus. Ada teknologi untuk mengembuskan angin kencang yang bisa menerbangkan dedaunan dan ranting pohon. Peserta simulasi akan merasakan seperti sedang menghadapi angin rebut benaran di alam bebas,” ujar Ketua HPI Bali Made Sukadana yang sempat menjajal simulasi di ruang angin puting beliung itu. Ruangan lain lagi dilengkapi fasilitas audiovisual untuk kaum bocah dan ibu rumah tangga. Khusus untuk ibu rumah tangga, ada tayangan khusus menghadapi kondisi darurat saat api kompor menjilat wajan. Tayangan ini secara berurutan menjelaskan langkah-langkah aman untuk

mematikan nyala api. Sebuah aula bergaya teater menjadi area kunjungan pamungkas di gedung ini. Dari sebuah layar monitor besar dapat disaksikan fasilitas lengkap yang ada di gedung ini. Selian itu, ada tayangan peristiwa bencana alam gempa bumi dan tsunami yang pernah terjadi di berbagai tempat di Jepang. Ini disertai dampak kerusakan yang ditimbulkan serta langkah sigap pemerintah dan masyarakat Jepang menghadapinya. Pengalaman berkunjung ke Fukuoka Citizens Disaster Prevention Center dirasakan sungguh berharga. Menurut I Nyoman Purnajaya dari SMAN 1 Denpasar, pemerintah Fukuoka memiliki fasilitas standar dalam penanggulangan bencana. “Kepedulian pemerintah terhadap warganya dalam menghadapi bencana pantas diacungi jempol. Fasilitas untuk melatih kesiapan masyarakatnya sudah sangat maju. Kami banyak mendapatkan pelajaran berharga dari sini,” ujarnya. —sam

PERCETAKAN

Batur Kintamani Bangli

DALAM rangka pelaksanaan program, Yayasan Spiritual Dharma Sastra kembali mengajak semua lapisan masyarakat yang berminat dan anggota yayasan untuk melakukan persembahyangan bersama pada Minggu (29/5) pukul 10.00 di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Hal ini dilakukan karena imbauan dari Pembina Yayasan Spiritual Dharma Sastra yang sekaligus sebagai guru spiritual kundalini, di mana beliau di dalam tiap kesempatan selalu menyampaikan bahwa semua umat agar selalu rajin sembahyang, rajin menyucikan diri, jujur dalam segala hal, dan selalu bisa berderma (mapunia). Berdasarkan hal tersebut pihak yayasan selalu mengajak seluruh lapisan masyarakat hampir tiap Minggu sembahyang di pura-pura yang ada di Bali. Ada pun tujuan persembahyangan kali ini adalah memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Bagi masyarakat yang berkenan hadir dapat membawa beberapa sarana sembahyang baik itu pejati, bunga, dupa, air serta yang tidak kalah pentingnya agar hadir tepat waktu. Mudah-mudahan atas restu Dewi Danu yang malingga atau berstana di Pura Ulun Danu Batur Kintamani, Bangli seluruh masyarakat khususnya yang ada di Bali mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Setelah itu, persembahyangan dilanjutkan dengan istirahat sejenak menikmati lungsuran dari

Ngurah Ardika

apa yang telah dipersembahkan. Kemudian dilanjutkan dengan dharma wacana dari guru spiritual kundalini I Putu Ngurah Ardika, S.Sn., yang intinya adalah makna bersembahyang, berderma (mapunia), dan makna kehidupan. Selanjutnya juga akan diisi dengan tanya jawab dan pembebasan leluhur. Semua peserta dapat kembali ke rumah masing-masing dengan membawa tirta dan canang maupun bija yang dimohon di Pura Ulun Danu Batur tersebut. Beberapa kegiatan lain Yayasan Spiritual Dharma Sastra yaitu Gebyar Penyembuhan Massal dengan Kundalini dan Quantum Healing di Gedung Granadha PWI Bali Lumintang, Denpasar tiap Jumat pukul 16.00 - 18.00

tanpa dipunggut biaya (gratis). Meditasi rutin tiap Sabtu pukul 13.00 di Wantilan Pura Bukit Jati Gianyar. Untuk wilayah Denpasar, meditasi dilaksanakan di Wantilan Pohgading Ubung Kaja tiap Selasa dan Jumat pukul 20.00 dan di sekretariat yayasan yang beralamat di Jalan Lembu Sura Perum Taman Lembu Sura Kav I No. 3 Br. Pohgading Ubung Kaja tiap Senin, Rabu dan Kamis pada pukul 20.00. Dan bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan intensif dapat datang ke “Klinik Griya Usadha” dari pukul 09.00 - 17.00 yang beralamat di Jalan Lembu Sura Perum Taman Lembura Sura Kav. I No. 3 Br. Pohgading Denpasar Utara. Semua keluhan penyakit baik medis maupun non medis, masalah leluhur, keturunan, pijat saraf, bekam, totok wajah, strok, diabetes, kanker, dll. akan ditangani di Klinik Griya Usadha. Untuk lebih jelas bisa hubungi telepon (0361) 8078842. Kegiatan lain, tirtayatra Minggu (29/5) ke Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Minggu (5/6) malukat di Pura Agung Semanik, Plaga, Petang, Badung. Minggu (12/6) tirtayatra ke Pura Teratai Bang, Bedugul, Tabanan. Minggu (19/6) malukat di Pantai Mertasari Sanur, Denpasar. Minggu (26/6) “Gebyar Kundalini” di Gedung Wanita Karya Graha Lumintang, Denpasar, pukul 09.00 - selesai, untuk lebih jelas hubungi telepon (0361) 8509601, 8540187.

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

OTOKRITIK ... KULTUR DE NGADEN AWAK BISA (5) Selama ini, leluhur orang Bali sudah banyak memberikan contoh dan teladan yang baik sikap-sikap yang mestinya dilakukan penerusnya, sebuah sikap sederhana, humble, dan bekerja tanpa banyak bicara. Salah satunya adalah sikap untuk tidak suka memamerkan kemampuan yang dimiliki secara berlebihan, yakni kultur de ngaden awak bisa. Yang dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti budaya untuk tidak memamerkan kebisaan atau kemampuan di hadapan orang lain. Sangat sederhana dan naïf bukan? Sebuah sikap yang terpaksa dijalani oleh leluhur kita akibat ketatnya sistem senioritas, sistem dominasi griya dan puri saat itu memang simbol keterwakilan rakyat oleh pemimpin saat itu, simbiosis Puri-Bhagawanta. Dari analisa saya, sikap de ngaden awak bisa adalah sikap yang ditujukan “khusus” pada rakyat jelata, rakyat (yang dianggap) tanpa kasta tinggi, dan rakyat di luar golongan triwangsa yang selalu berjumlah mayoritas dari keseluruhan penduduk Bali. Kenapa? Bahwa kultur de ngaden awak bisa adalah kultur dogma yang sengaja diembuskan oleh kaum elite pada zamannya dengan harapan agar sisi intelektual mereka, sisi kebisaan para elite Bali, dan sisi pencitraan kaum bergelar tetap terjaga rapi. Bahasa mudahnya, urusan politik, urusan tata negara, urusan agama, dan urusan upacara agama sudah jadi urusan puri dan griya. Rakyat jelata ya diam saja, jangan cobacoba menyamai kepintaran wong puri lan wong griya. Rakyat jelata cukup mengurus subak, urus sawah dan jadi objek dalam kesenian. Ibaratnya, hanya kaum elitis saja yang bisa memamerkan kemampuan dan mengklaim prestasi. Dan, mari kita bayangkan, bahwa budaya ini sudah muncul sejak ratusan tahun lalu, telah memengaruhi pola pikir dari generasi ke generasi dan tampaknya sudah menjadi bagian permanen dari DNA darah orang Bali saat ini. Selain itu, dampak dan ekses negatif kultur de ngaden awak bisa ini tidak terlalu signifikan pada zaman sebelum Bali menjadi bagian NKRI, mengingat saat itu, peran kerajaankerajaan di Bali sangat sukses untuk mempertahankan agama Hindu dan budayanya selama 500 tahun pasca-kehancuran Kerajaan Majapahit. Jadi walau kultur kepintaran didominasi kaum puri dan griya, tapi usaha mereka berhasil, karena saya yakin sebagian besar kaum elite Bali zaman itu adalah mereka yang masih murni dan mulia menjaga seluruh sistem semesta Bali. Jika tidak, mana mungkin Bali bertahan lima abad pasca-invasi Muslim Demak di Tanah Jawa

dan terlambatnya penjajah Belanda menduduki Bali di awal tahun 1900 (bandingkan dengan wilayah lain di Nusantara yang sudah diinvasi kolonial sejak awal tahun 1600 alias 300 tahun lebih lama daripada kolonial menjajah Bali). Tapi kini, kondisi sudah berbeda. Bali bukan lagi surga yang dimayoritasi oleh kaum dharma, tapi di sekitar kita sangat terasa banyak kaum adharma, komunitas durjana dan agen kapitalis yang datang dari segala penjuru untuk menghisap kekuatan taksu pulau ini sambil membunuh perlahan kesempatan yang seharusnya dimiliki oleh warga pribumi Bali (baca: umat Hindu Bali). Bagaimana mungkin, kultur de ngaden awak bisa dipertahankan oleh generasi kini di tengah kemunafikan dan penjajahan globalisasi di depan mata orang Bali. Saat orang Bali menyembunyikan kemampuan intelektual mereka, saat orang Bali masih tergantung dan percaya pada hukum karma milik Tuhan, saat orang Bali yang cerdas dan pintar masih segan untuk terlibat argumentasi global, ternyata tanpa disadari orang Bali sudah berhadapan dengan para kaum pendatang yang memiliki visi nungkalik, “Ngadenin Awak Bisa”. Mereka tanpa beban memamerkan kemampuan industri, kemampuan berbicara, kemampuan siar agama dan budaya pendatang, memamerkan kesantunan dan berstrategi ala Wali Songo dan misionaris yang agresif. Dan jika sudah begitu, apakah masih perlu Bali mempertahankan kultur negatif ini? Untuk itu, mari kita revolusi pola pikir kita sekarang juga, sebagaimana yang disampaikan Bung Karno bahwa character building generasi kita saat ini adalah prioritas. Mari kita dorong keluarga, putra-putri Bali, sameton Bali untuk selalu memamerkan kemampuan, menunjukkan kecerdasan, memperlihatkan skill, dan mempertontonkan kelebihan-kelebihan sikap, sifat dan budaya luhur kita dengan cara yang bersahaja. Mari kita marketing-kan kehebatan SDM Bali, jangan malu, jangan ragu, semuanya adalah proses pembelajaran. Jika semuanya dimulai sekarang juga, maka tidak lama lagi kita akan merasakan dampaknya di segala kehidupan kita bahwa anakanak muda Bali dapat merebut segala sesuatu yang sudah hilang. Mari kita sudahi generasi inferior, generasi kalah karena kultur de ngadan awak bisa. Sudah saatnya, rakyat Bali bersatu berasas jiwa superior dan jiwa pede. Jika tidak, maka sia-sia roh para leluhur kita dengan susah-payah menjaga Bali sebagai Majapahit pascasandyakalning Majapahit di Tanah Jawa 500 tahun lalu.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI / PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

29 Mei - 4 Juni 2011

NUSANTARA

Salimah Gelar Talkshow “Menjadi Perempuan Istimewa”

Gung Tini (tengah) bersama Ketua PW Salimah Provinsi Bali Ir. Amna Hartiati, M.P. (kanan) dalam acara ‘talkshow’ “Menjadi Perempuan Istimewa”

TIAP perempuan dilahirkan dan dapat tumbuh menjadi pribadi istimewa. Keistimewaannya, perempuan mampu menjalankan dua aktivitas sekaligus yakni di ranah domestik atau rumah tangga maupun di luar ranah publik atau berkarier. Hal tersebut diungkapkan Ketua Badan Kerja sama Organisasi Wanita Daerah Bali A.A.A Ngurah Tini Rusmini Gorda saat menjadi pembicara dalam talkshow “Menjadi Perempuan Istimewa” yang digelar Persatuan

Wanita Persaudaraan Muslimah (Salimah) Provinsi Bali Minggu (22/5/) di Aula Kanwil Pajak, Renon, Denpasar. Talkshow tersebut dirangkaikan dengan acara serah terima jabatan Ketua PW Salimah Bali dari Hj. Evi Diana kepada Ir. Amna Hartiati, M.P. ketua periode 2010 – 2015. Menurut Gung Tini, sukses perempuan ditentukan diri sendiri, lingkungan, dan keluarga. Untuk menjadi perempuan istimewa baik dalam rumah tangga maupun dalam berkarier, ada

beberapa hal yang harus dilakukan yakni bersikap bijaksana, mampu beradaptasi terhadap lingkungan, tangguh menghadapi segala permasalahan, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Menjadi sosok yang cerdas, cantik dan aktif merupakan dambaan lainnya tiap perempuan. Ir. Amna Hartiati, M.P. mengungkapkan, di negara maju seperti Italia, perempuan pernah dipandang sebagai pribadi yang tak berjiwa. Di Yunani kedudukan perempuan pernah dipandang sebagai makhluk lebih rendah daripada laki-laki. Namun kini, menurut Amna, junjungan terhadap perempuan mulai keras disuarakan. “Perempuan memiliki kedudukan mulia dan mendapat peran yang adil dengan laki-laki serta tak ada diskriminasi,” katanya. Untuk menjadi cerdas, cantik dan aktif, menurut Amna, seorang perempuan hendaknya memiliki kelebihan akal, ide yang cemerlang, dan mampu memberikan manfaat dan bimbingan kepada masyarakat. PW Salimah Bali berdiri tahun 2003 dengan visi meningkatkan kualitas perempuan dan keluarga serta anak Indonesia. Saat ini telah berdiri tiga perwakilan daerah di Badung, Denpasar dan Klungkung. –lik

SHS bukan Bisnis Sekolah

Murah dengan Kualitas Terbaik Prestasi sudah Terbukti!

Siapa bilang kuliah yang bayar mahal kualitasnya pasti lebih baik daripada kuliah yang bayar murah? Anggapan tersebut pasti akan runtuh jika Anda tahu bagaimana SHS mengelola sekolah yang didirikan dan dikembangkan oleh para praktisi yang ahli di bidang perhotelan sejak 1988. SHS bukan Bisnis Sekolah Dengan puluhan ribu alumni yang telah sukses berkarier di seluruh dunia, harusnya SHS bisa meraup keuntungan besar saat ini. Tetapi karena niat awal mendirikan SHS adalah menjadi pusat pelatihan dan pengembangan perhotelan terkemuka yang mampu menghasilkan lulusan yang profesional di bidang perhotelan sekaligus sebagai lembaga pengabdian kepada masyarakat dan bukan untuk bisnis, maka SHS tidak pernah rakus menarik biaya tinggi pada mahasiswa. Hal ini terbukti dari kurikulum yang diterapkan SHS : 30% teori dan 70% praktik.

beli sebungkus sekadar untuk pengganjal perut. Lantaran kasihan, si penjual nasi memberi “Saya Ditemani Tuhan Mengapa Takut?” harga lebih murah walaupun dengan porsi yang sama, bahkan DIA bukan siapa-siapa, senang daripada diam di kadang dilebihkan. hanya nenek tua yang meng- rumah,” katanya. Sering penjual nasi itu habiskan masa tuanya tanpa Dadong Naomi memang ingin memberi cuma-cuma, mau diam terpaku di rumah. tidak pernah diam. Dulu sebe- namun Dadong selalu meMeskipun sehari-hari ia ber- lum bekerja di gudang, dia jual- nolak. Nasi tersebut memang kumpul bersama anak dan an jajanan pasar keliling. diterimanya, namun ditukar cucunya, namun pantang bagi Saat harus beristirahat se- dengan sayur paku atau kangdia untuk memberatkan beban habis menjalani pengobatan lan- kung yang ia cari di sungai keluarga anak-anaknya yang taran sakit ginjal yang diderita- sore harinya. “Saya malu kajuga hidup pas-pasan. nya, Dadong tak mau duduk- lau hanya dikasih. Saya masih Namanya Made Naumi. duduk malas di rumah. Agar dia bisa bekerja,” katanya. Umurnya 86 tahun. Tentu, wa- tetap bisa membeli makanan, Dadong memiliki banyak jahnya penuh keriput. Namun, sore atau pagi hari ia berjalan anak. Kadang-kadang selama masih terlihat segar dan ber- menyusuri sungai di belakang beberapa hari ia menginap di semangat. Mungkin karena dia rumahnya mencari sayur paku. tempat anaknya yang lain. selalu bekerja keras tiap hari. Hasilnya ia jual ke tetangganya. Tetapi, ia mengaku lebih be“Saya kalau diam malah sakit,” Sekadar dua ribu atau dua ribu tah di tempat tinggalnya sekata Naumi yang akrab dipang- lima ratus rupiah ia bisa dakarang karena bisa CINDY, demikian panggil Dadong orang-orang di se- patkan dari hasil menjual bekerja sehingga gilan akrab pemilik nama kitar tempat tinggalnya, Perum sayur. Terkadang ada tidak merepotkan lengkap Cindy Gita RahmaPegending Permai, Dalung, juga tetangga yang anak atau cucuwati ini. Putri Ketut Bagiada Badung. minta dicarikan sayur nya. —nang dan Anifah ini mulai mengDadong Naumi, pernah paku atau kangkung. ikuti lomba-lomba fashion divonis terserang ginjal stadium Meskipun tidak show sejak duduk di bangku tiga. Namun, takdir belum wak- punya uang, ia pantang tunya memanggil. Seusai sem- menerima pemberian SD kelas I. Sukses berkiprah buh dari sakit, ia kembali mene- secara cuma-cuma. di daerahnya, Cindy menruskan rutinitasnya sehari-hari Di depan rucoba menguji talentanya itu menjadi buruh bersih-bersih di mahnya ada ke Denpasar. “Biar lebih bersebuah gudang mebel sekitar seorang penkembang dan menambah dua kilometer dari rumahnya. jual nasi kuwawasan,” ujar ibunya. Pukul 05.00 ia sudah me- ning. Hampir Beberapa kali mengikuti nyapa dinginnya cuaca saat tiap pagi Dalomba fashion show di Denorang lain masih lelap berseli- dong memmut. Ia hanya membawa tas pasar, Cindy kerap tak berplastik besar, jaket dan topi luhasil memboyong piala. suh penahan panas dan dingin. Tentu saja karena persaingTas plastik itu ia gunakan sean di Ibu Kota Bali ini lebih bagai tempat sayur paku yang ketat daripada di daerah. ia cari sepulang kerja. MenjeUntuk itu, kedua oranglang maghrib, Dadong baru tiba tuanya mengasah talenta di rumah. putri mereka satu-satunya itu Ditanya, apa tidak takut berjalan sendiri saat masih sepi dengan mengikutkan Cindy Dadong tegas menjawab, “Saya kursus modeling di Franky ditemani Tuhan, mengapa takut?” Agency. Baru tiga bulan, ikut Dadong mengaku sudah tak les di sini, Cindy tak hanya ingat berapa lama ia bekerja di kerap berhasil memboyong gudang mebel tersebut. Yang piala dalam lomba-lomba pasti ia sangat betah dan mefashion, bahkan talentanya nikmati. “Lupa, sudah berapa tkh/nang yang lain pun terendus. Made Naumi lama saya kerja. Tetapi, saya

Dadong Naumi (86)

Biaya kuliah sebagian besar digunakan untuk biaya praktik, karena selain persentasenya tinggi, bahan-bahan praktik tersebut banyak yang harus impor. Seperti bahan praktik untuk bar, food product, Japanese cooking dsb. Murah dengan Kualitas Terbaik Biaya kuliah di SHS adalah biaya paket, mulai mahasiswa masuk sampai lulus hingga mendapatkan pekerjaan. Tidak ada biaya tambahan apa pun selama mahasiswa kuliah, seperti uang pangkal, uang gedung, SPP, biaya praktik, job training, ujian dan macam-macam sumbangan lainnya. Kalau mau melanjutkan kuliah kemana pun sebaiknya Anda tanyakan dengan detail berapa total biaya kuliahnya, supaya tidak terjebak dan menyesal di kemudian hari. Biaya murah, bagaimana kualitasnya? SHS dikelola oleh para ahli di bidang perhotelan, instruktur adalah praktisi yang andal dan berpengalaman, kurikulum selalu up date dengan

70% praktik, sarana prasarana lengkap, lowongan kerja dari 60 perusahaan/bulan, relasi yang luas sehingga mahasiswa dan alumni sukses berkarier di seluruh dunia. Jadi apa yang mesti diragukan lagi? Bukti Sukses Alumni SHS 1. Martono – Managing Director Kagum Hotels Group 2. Puryono – Chef JW Marriot Washington DC, USA 3. Agus Suprapto – Housekeeper Raffles Hotel, Uni Emirat Arab 4. Yoyok Sriyanto – F&B Supervisor The Ritz Carlton, Dubai 5. Dian Wijaya – Operational Manager Hotel d’Season 6. Heryanto – Branch Manager Pestimax Indonesia 7. FX Johan Prasetyo – Sales Manager JW Marriot Surabaya 8. Joko Santoso – Chef de Party JW Marriot Surabaya 9. I Ketut Meta – Duty Manager Hotel Equator Surabaya 10. Syaiful Malik – FO Manager IBIS Hotel

Surabaya 11. Moch Idris – Chef Hotel Santika Malang 12. Richard Koko – Chef Prime Royal Hotel Surabaya 13. Sutrisno – F&B Manager Nivero Hotel N TT 14. Yoyok Eko S – FB Outlet Manager Mercure Hotel Batam 15. Soesijanto – Chief Accounting Java Paragon Surabaya 16. Joko Firmanhadi – Operational Manager Coffee Bean & Tea Leaf Surabaya Ingin sukses seperti mereka? Daftar sekarang juga, hubungi :

SURABAYA HOTEL SCHOOL Jln. Joyoboyo 10 Surabaya, Tlp. (031) 563 3608 Faks. (031) 567 9422 Email : info@shs-sby.com, shs.sby@telkom.net Situs : www.shs-sby.com Bergabunglah di facebook SHS: www.facebook.com/info.shs KELAS BARU 2011 Gelombang 1: 15 Juni Gelombang 2: 20 Juli Gelombang 3: 14 September

Berhadiah laptop khusus gelombang 1 & 2 Minggu sekretariat tetap buka pukul 09.00 – 17.00

Cindy Gita Rahmawati

Luncurkan Album Rupanya duta Buleleng dalam Lomba Fashion Show Busana Muslim dalam Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam Tingkat SD, yang berhasil menjadi Juara I di tingkat Provinsi Bali ini, juga memiliki kemampuan olah vokal dan akting. Sebentar lagi Cindy yang diorbitkan Rido Record ini akan mengeluarkan album kompilasi pop Bali “Top Album Anak-anak 2011”. “Mungkin sekitar Agustus,” ujar Cindy. Meski mengaku mengalami kesulitan dalam penggarapan album ini, terutama pelafalan bahasa Balinya, Cindy pantang menyerah. Bahkan setelah album ini, ia bertekad membuat album lagi. “Biar beken kayak Cinta Laura,” celetuknya. Sementara untuk di dunia seni peran, Cindy berhasil lolos casting untuk bermain dalam sinetron “Cincin Wasiat” dengan peran antagonis, produksi Franky Production House, yang direncanakan tayang di Bali TV Oktober mendatang. —ten

Biodata Nama Cindy Gita Rahmawati Panggilan Cindy Kelahiran Denpasar, 2 Maret 2002 Orangtua Ketut Bagiada/Anifah

Saudara Arik Budiyanto dan Eka Hendra Wijaya Hobi Menyanyi, menari, fashion show Sekolah SDN 1 Banjar Jawa Singaraja Cita-cita Dokter Alamat BTN Griya Permai No. 45 Pemaron Singaraja, Bali

Prestasi Juara III Fashion Show “Fantastic Colorfull”, Yamaha Waja Motor Denpasar, 2009; Juara III Fashion Show Hardys Fun Zone Singaraja, 2009; Juara III Fashion Show Mom’s Power, Sophie Paris BC Ir. Yudha Untefan, Singaraja, 2010; Juara III Fashion Show Yamaha Whats on Weekend, Yamaha Agung Motor, Denpasar, 2011; Juara III Fashion Show Busana Casual Bebas, Sophie Paris BC Ketut Ariasih, Singaraja, 2011; Juara III Fashion Show Busana Valentine, Sophie Paris BC Kettut Ariasih, Singaraja, 2011; Juara III Fashion Show Busana Valentine, 2D Modeling, Denpasar, 2011; Harapan III Fashion Show Busana Bebas, 2D Modeling, Denpasar, 2011; Model Berprestasi, Franky Agency, Denpasar, 2011; Juara I Fashion Show Busana Muslim, Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam Tingkat SD Kec. Buleleng, Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Kec. Buleleng, Singaraja, 2011; Juara I Fashion Show Busana Muslim, Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam Tingkat SD Kab. Buleleng, Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Kab. Buleleng, Singaraja, 2011; Juara I Fashion Show Busana Muslim, Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam Tingkat SD Kab. Buleleng, Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Prov. Bali, Denpasar, 2011


PENDIDIKAN DI BALIK NILAI “PEMBUNUH” BAHASA INDONESIA DALAM UN

Tiadanya Dialog Suasana Pembelajaran Gersang G

urulah yang se sungguhnya paling berhak menentukan kelulusan, sepanjang mereka memenuhi kualifikasi dan profesional dalam membangun relasi edukasi dengan peserta didik dalam konteks pembelajaran dan pendidikan formal. Kedalaman dan ketepatan makna relasi keguruan dan kependidikan, sesungguhnya juga bukan hanya “demi ujian nasional”, melainkan demi perkembangan kepribadian, karakter, dan tentunya kompetensi para peserta didik. Rendahnya kebiasaan membaca siswa peserta UN berdampak sangat dalam terhadap hasil UN khususnya dan mutu hasil pendidikan. Dalam konteks situasi UN yang baru berlangsung sebulan lalu, “kemalasan” para siswa membaca teks yang ditampilkan dalam ujian tulis tampak jelas. Padahal, pemahaman teks itulah sesungguhnya ujian bagi pe-

mahaman siswa, dalam wujud pertanyaan dengan pilihan jawaban. Soal dan pilihan jawaban itu menggambarkan keutuhan makna teks, nuansa-nuansa nalar dan rasa secara renik yang memang harus dipahami para siswa sebelum menjawab soal-soal UN. Bahasa itu pikiran, penalaran, dan perasaan. Terlepas dari kuat-lemahnya kaitan substansial soal-soal bahasa Indonesia dalam UN dengan kerangka umum bahan pembelajaran selama berlangsungnya proses pembelajaran bahasa Indonesia, kegelisahan para siswa membaca, adalah juga gejala situasional dalam UN. Selain berspekulasi dengan pilihan jawaban yang ditawarkan, kedekatan dan keakraban sebagian (besar) siswa dengan peradaban tulis dalam berwujud teks itu, masih sangat lemah. Sebagian besar generasi muda kita yang masih duduk di bangku SMA/SMK maupun di jenjang SMP dan SD, jauh lebih

tkh/ten

SEJUMLAH komponen menentukan rendahnya hasil ujian nasional (UN) Bahasa Indonesi. Komponen tersebut meliputi guru bahasa Indonesia, bahan pembelajaran, metode pembelajaran, strategi pencapaian tujuan pembelajaran, dan secara khusus variasi model soal ujian bahasa Indonesia dan implikasinya, serta subjek pembelajaran yakni para siswa peserta UN.

Aron M. Mbete

akrab dengan dunia audiovisual. Mereka dekat dan akrab dengan HP, BBM, VCD, dengan play station. Media audiovisual menjadi pengganti posisi dan peran orangtua dan guru. Tak mengherankan jika perilaku menyimpang sudah muncul di usia dini, termasuk perilaku yang tidak mau akrab dengan membaca. Bukankah anak-anak SD, SMP, dan SMA sekarang ini sudah sangat sibuk dengan HP pemberian orangtua mereka, dibandingkan mengakrabi buku-buku bacaan. Budaya membaca, selain menulis, sebagai perilaku kultural yang kaya makna hanya

Kisah Siswa Putus Sekolah di Karangasem

Lebih Baik Gantung Diri jika Dipaksakan Sekolah “Sudahlah Bu, jangan mendesak saya untuk sekolah lagi. Kalau Ibu terus menyuruh saya sekolah, lebih baik saya mati gantung diri, atau saya nyebur ke laut agar Ibu tidak melihat saya lagi”. Siapa yang tidak tersentak mendengar kata-kata itu, apalagi seorang ibu yang mendengar anak kandungnya berkata demikian. Namun, itulah yang terjadi. Seorang anak yang seharusnya berseragam putih biru saat ini, memutuskan untuk berhenti sekolah alias drop out (DO). Apa yang terjadi dengannya? Mengapa pendidikan baginya bak hukuman yang harus dihindari? Anak ini bernama I Wayan Pinda Astawa (15). Remaja asal desa pakraman Timbrah, Pertima, Karangasem ini, sehari-hari akrab dipanggil Pinda. Menurut penuturan ibunya, I Nengah Budi, yang ditemui di rumah sederhananya, Pinda ketika masih duduk di bangku SD bukan anak yang bodoh di sekolahnya. Rata-rata nilai rapornya juga tidak terlalu kecil. Namun, apa yang dipikirkannya sungguh mengiris hati seorang ibu, yang berharap anaknya kelak bisa lebih baik daripada dirinya yang hanya bekerja serabutan. Sampai saat ini ibunya terus berusaha menasihatinya, agar Pinda mau meneruskan pendidikannya. Setidaknya nantinya dia bisa menamatkan SMA. Apalagi pendaftaran siswa baru untuk siswa SMP tahun ajaran 2011/2012 sudah dekat. Nasihat demi nasihat pun terus diberikan orangtua dan kerabatnya agar Pinda mau melanjutkan sekolah. Pada awal tahun ajaran 2010/2011, Pinda lulus SDN 3 Pertima, dan sempat bersekolah beberapa hari di sebuah SMP di Karangasem. Kegiatan masa orientasi siswa (MOS) telah diikutinya, na-

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinaskertrans) Kabupaten Karangasem tahun 2011. Namun, yang berangkutan juga tidak mau.

Drs. I Gede Aryasa, M.Pd.

mun beberapa hari kemudian, dia menjadi sulit diatur, keras hati, dan selalu melawan apa yang dikatakan orangtuanya. Apalagi saat ayahnya, I Nengah Lumber, bekerja ke luar kota berjualan sate languan. Para tetangganya pun waswas terhadap tingkah lakunya. Anak berperawakan kurus, berkulit sawo matang ini, pernah menodongkan pisau kepada ibunya, saat terlibat cekcok. Ibunya menjadi bertanyatanya apa yang terjadi dengan anaknya. Padahal dia ingin sekali melihat anaknya seperti anak lainnya, pagi sudah bersih, rapi dan berangkat ke sekolah bersama temannya. Namun, di rumahnya yang sederhana, pagipagi ia sudah negen siap (bawa ayam aduan) ke luar rumah. Mengapa Pinda tidak mau sekolah lagi? Itulah pertanyaan ibunya yang sampai saat ini belum terjawab. Saat Pinda ditanya mengenai hal ini, dia mengaku bosan bersekolah, karena mata pelajaran di sekolah membuat dirinya pusing dan tertekan. “Saya tidak suka mata pelajarannya, apalagi yang ada hitungannya, semuanya membuat saya stres”, kata ibunya menirukan jawaban Pinda. Pinda yang sekarang sudah berumur 15 tahun dan seharusnya sudah kelas XI SMA ini juga mengatakan sudah tidak ada niat lagi untuk sekolah. Seorang pekerja sosial di desa tersebut, I Nengah Warta, yang juga karyawan Kantor Desa Pertima, sempat menawarkan Pinda untuk mengikuti program pengurangan pekerja anakprogram keluarga harapan (PPA-PKH)

I Wayan Pinda Astawa

532 Putus Sekolah Data siswa putus sekolah (DO) di Karangasem di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem tahun ajaran 2010/2011 cukup mencengangkan. Jumlah siswa putus sekolah dari tingkat SD, SMP/MTs/, SD-SMP Satu Atap, SMA/MA, hingga SMK berjumlah 532 orang. Dari jumlah tersebut, jenjang SD menjadi penyumbang angka terbanyak, yaitu 340 orang. Tingkat SMP reguler 87 orang, dan SD-SMP Satu Atap 33 orang. Di tingkat SMA 32 orang siswa memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya. Kepala Disdikpora Karangasem Drs. I Gede Aryasa, M.Pd. mengakui, angka itu memang mencengangkan. Aryasa yang baru dua bulan menjadi kadis mengatakan membengkaknya data putus sekolah di Karangasem disebabkan banyak siswa yang DO di SD-SMP Satu Atap. Siswa yang memutuskan untuk tidak melajutkan sekolahnya menurutnya lebih bertautan dengan peran orangtua sebagai lingkungan pertama anak yaitu keluarga, yang belum berperan aktif menentukan arah perkembangan anak mereka. Selain itu peran desa adat sangat diperlukan untuk peduli terhadap warganya, misalnya dengan membuatkan aturan berupa awig-awig untuk mewajibkan warganya bersekolah minimal lulus SMP, sejalan dengan tujuan pendidikan pemerintah, yaitu wajib belajar sembilan tahun. Menyikapi banyak siswa yang DO, Aryasa mengatakan pihaknya sudah melakukan beberapa langkah, di antaranya membuat SMP terbuka; siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, dikumpulkan dan didatangkan beberapa guru untuk memberikan pengajaran. Selain itu juga dilakukan penambahan ruang kelas di beberapa sekolah, sehingga tidak ada alasan sekolah tidak menerima siswa dengan alasan sekolah sudah penuh. Peran orangtua diharapkan bisa menjadi awal perkembangan anaknya. Dari 24 jam waktu sehari, waktu dengan keluarga lebih banyak ketimbang di sekolah yang tidak lebih dari 6 jam. – arya

dapat tumbuh dan berkembang jika proses pembelajaran formal di kelas, atau juga pembelajaran informal di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, mampu dan bersungguh-sungguh menanamkan dan membiasakan anak didik untuk membaca. Ini merupakan persoalan bangsa yang perlu ditemukan solusinya, tidak sebatas menangani anjloknya nilai ujian BI di pengujung semester dan akhir tahun ajaran. Ujian nasional adalah ujian tulis. Pengujian mutu pemahaman yang utuh atas satuan tekstual berbahasa Indonesia tulis, adalah instrumen pengetesan tingkat kemampuan berbahasa Indonesia dan tingkat pemahaman isi di baliknya. Sesungguhnya kemampuan membaca-memahami yang diujikan itu, diharapkan menjadi puncak pembuktian baku mutu proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia. Karena itu diperkirakan ada yang salah dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Pendidikan dan peletakan dasar-dasar akademis bagi anak didik sejak SD hingga sekolah menengah atas, justru bertumpu pada penguasaan tiga mata pembelajaran yang diujikan. Pembelajaran logika induksi dan deduksi peserta didik dikonstruksikan dan terungkap dalam bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Orientasi Berlebihan UN secara situasional menjadi “segala-galanya” yang melibatkan dan sangat menyibukkan banyak pihak. Tidak hanya sekolah, juga orangtua dan warga masyarakat menjadi sangat sibuk menyiapkan UN. Di kalangan siswa, UN membuat para siswa mengupayakan pelbagai cara canggih lewat teknologi mutakhir demi mencapai kelulusan. Secara khusus

mencari kunci jawaban adalah obsesi konyol yang juga melibatkan banyak pihak, termasuk “tim sukses”. Seakanakan belajar hanya demi ujian, bukan demi pengayaan rohani. Sistem kebut sejam, semalam, seminggu, menjadi model belajar demi UN. Bagi sebagian (besar) siswa pun UN menjadi momok yang menakutkan. Orientasi yang berlebihan telah memerkosa proses dan waktu pembelajaran normal nan formal yang sesungguhnya di ruang kelas. Proses pembelajaran yang seharusnya dilandasi suasana tenang, leluasa, dan penuh daya cipta, baik oleh para siswa sebagai pusat dan subjek pembelajaran maupun di kalangan para guru sebagai pengelola dan penanggung jawab proses pembelajaran, telah menjelma menjadi keterburu-buruan yang menggelisahkan banyak pihak. Padahal, terwujudnya pembelajaran yang dialogis berarti terwujud pula proses pemahaman; ada proses saling berbagi pemahaman; adanya pemahaman yang utuh atas makna pesan di balik teks verbal yang diproduksi dan dipertukarkan. Pembelajaran bahasa Indonesia yang dialogis jelas membangun kondisi saling berbagi, saling memberi, dan saling menerima pesan lewat kata dan makna. Tiadanya dialog, suasana pembelajaran yang dialogis antara para siswa dan guru, antara siswa dan siswa sebagai ajang pengembangan demokrasi, menjadi gersang karena siswa dan guru lebih sibuk menyiapkan UN. Padahal, dialog adalah kata, kata atau bahasa yang dituturkan dan atau yang ditulis. Dialog yang menghadirkan teks adalah sosok perilaku tutur dan perilaku tulis bernalar yang kaya makna. Tanpa dialog, pembelajaran bahasa Indonesia yang serbamonolog justru menciptakan dunia sosial khususnya yang tidak komunikatif secara verbal. Secara khusus makna akademis dalam dialog dibina dan dipertukarkan antara siswa dan guru, dan antara siswa dan siswa dalam suasana belajar bahasa Indonesia. Pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia yang dialogis menumbuhkan semangat demokrasi sejati sejak para siswa mengikuti pendidikan formal, sebagaimana juga terwujudnya

29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 9 demokrasi dalam kehidupan keluarga. Dialog dalam bentuk presentasi tugas yang lebih sering dan lebih bermakna tentang teks-teks kreatif buatan guru, terutama buatan dan daya cipta para siswa, selain teks-teks yang telah disiapkan dalam bahan pembelajaran, adalah performansi bahasa Indonesia yang hidup dalam dan demi pertumbuhan daya estetis dan akademis anak didik. Dialog adalah indikator kejujuran, keterbukaan, dan perwujudan komunikasi verbal yang insani karena hanya dengan dialog pula kehidupan sosial terwujud. Orientasi yang berlebihan pada UN juga berdampak pada kegersangan hidup bahasa Indonesia. Penguasaan gramatika bahasa Indonesia secara kognitif demi UN, bahkan juga bahasa daerah atau asing, telah menjadi tujuan di atas sikap permisif dan konservatif guru dalam jebakan orientasi UN. Kondisi ini dapat dikaitkan sebagai salah satu penyebab kegagalan pembelajaran dan ketidaklulusan sejumlah siswa dalam UN. Menggampangkan Era global menghadirkan situasi multikultural dan multilingual. Selain bahasa Inggris dengan imperialisme kelinguistikannya yang telah berlangsung lama dan telah amat kuat mendunia, tawaran bahasa asing lainnya dengan nilai ekonomis tinggi dan lebih menjanjikan, telah menggoyahkan sendisendi kesetiaan bangsa Indonesia terhadap bahasa nasionalnya. Bahasa-bahasa lokal yang merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar komunitas etnik di Nusantara, lebih terdesak lagi. Sikap menggampangkan dapat saja mengawali kemalasan membaca dalam bahasa Indonesia. Padahal perilaku “liar” berbahasa dengan mencampurkan begitu saja wajah dan struktur bahasa Indonesia yang digunakan, telah turut membangun sikap menggampangkan, bahkan meremehkan bahasa Indonesia. Ini juga tanda tantangan dan gejala ketergerusan semangat kebangsaan Indonesia. Sikap meremehkan dan menggampangkan bahasa Indonesia ini melanda generasi muda, termasuk yang sedang mengikuti pendidikan formal di jenjang sekolah menengah dan

di perguruan tinggi. Sikap lebih menghargai bahan dan bahasa “impor” masih mendera bangsa ini. Peran Balai Bahasa Berkaitan dengan persoalan kebahasaan itu, UU Kebahasaan dan PP Pemakaian Bahasa, baik demi keberadaan bahasa nasional bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing yang telah dan akan hidup di Indonesia, perlu ditata landasan konstitusional dan strategi pelaksanaannya secara tepat dalam kerangka semangat nasionalisme kebahasaan yang kuat pula. Nasionalisme kebahasaan diharapkan dapat membangun semangat baru yang lebih berpijak dan berpihak pada dan demi kekuatan karakter dan kepribadian manusia dan bangsa Indonesia yang majemuk, multietnik, dan multilingual. Badan Nasional Kebahasaan (Pusat Bahasa dan Balai/ Kantor Bahasa di daerahdaerah) sebagai lembaga khusus dapat berperan lebih besar dan lebih dalam lagi untuk meningkatkan penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, terutama sebagai lembaga pendidikan dan pembelajaran informal bahasa Indonesia bagi masyarakat dan generasi muda bangsa. Dengan demikian, budaya membaca dapat berkembang dan bertumbuh subur, sikap menggampangkan bahasa Indonesia dapat dicegah, dan reorientasi baru pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dibangun kembali. Selain turut membangun kemampuan akademis dan estetis lewat sastra Indonesia, pembelajaran bahasa Indonesia juga diharapkan mampu memperkuat jati diri, turut mengonstruksi dan memperkuat karakter anak Indonesia di tengah pergaulan dan persaingan antarbangsa. Pembelajaran bahasa Indonesia sesungguhnya tidak sebatas demi kelulusan siswa dalam UN. Bahasa Indonesia yang benarbenar hidup di dalam nurani dan nalar anak bangsa, menjadi salah satu pilar penyangga kehidupan bangsa Indonesia. “Roh” nasionalisme kebahasaan khususnya perlu ditumbuhkembangkan lagi demi Jati Diri Bangsa Indonesia saat memperingati Seratus Tiga Tahun Kebangkitan Nasional. zAron M. Mbete

Restorative Justice Dalam Penanganan Anak Bermasalah Hukum MAKIN maraknya kasus anak di Bali beberapa untuk perlindungan anak yang dicabut kebebasannya), tahun terakhir ini menjadikan kita semua: keluarga, Beijing Rules (peraturan-peraturan minimum standar masyarakat dan para pemerhati anak merasa sangat PBB mengenai Administrasi Peradilan bagi anak), prihatin menghadapinya. Walaupun perhatian Riyadh Guide Lines (Pedoman PBB tentang pemerintah telah diwujudkan melalui Undang Undang pencegahan tindak pidana anak). Perlindungan Anak yaitu UU No. 23 tahun 2002, Munculnya wacana penerapan restorative justice namun hal tersebut belum mampu menekan peningkatyang dalam Inpres Nomor 3/2010 dan Inpres Nomor an kuantitas dan kualitas kasus yang melibatkan anak 10 tahun 2010 telah tersirat dengan “ JUSTICE FOR baik sebagai korban maupun pelaku tindak pidana. ALL “dan Keadilan Restoratif patutlah menjadi acuan Berbicara mengenai penanganan kasus anak ini para aparat penegak hukum di negeri kita dalam berbagai upaya telah dilakukan pada tingkat pengambil menangani ABH. kebijakan setingkat menteri maupun kejaksaan agung, Definisi keadilan restoratif menurut Tony F. kepolisian dan lain sebagainya. Contoh, kesepakatan Marshall adalah sebuah proses di mana semua pihak bersama dalam penangann kasus anak bermasalah yang berkepentingan terlibat dalam suatu pelanggaran dengan hukum adalah Surat Keputusan Bersama antara tertentu, bertemu untuk menyelesaikan bersama-sama Menteri Hukum dan HAM, Menteri Pemberdayaan tkh/dok masalah yang timbul dan bagaimana menangani akibat Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Sosial, di masa yang akan datang. Ni Nyoman Masni, S.H. Jaksa Agung, Kepolisian serta Mahkamah Agung Karakteristik restorative justice adalah membuat tentang Penanganan Anak Bermasalah Hukum. pelanggar bertanggungjawab untuk memperbaiki Tujuan keputusan bersama ini:a.Terwujudnya persamaan persepsi kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahannya; memberikan kesempatan di antara jejaring keja dalam penanganan anak bermasalah hukum; b. kepada pelanggar untuk membuktikan kapasitas dan kuantitasnya di Meningkatnya koordinasi dan kerja sama dalam upaya menjamin samping mengatasi rasa bersalah secara konstruktif;.melibatkan para perlindungan khusus bagi Anak bermasalah hukum; c. Meningkatnya korban, orang tua, keluarga besar, sekolah dan teman dekatnya; efektivitas penanganan anak yang berhadapan dengan hukum secara menciptakan forum untuk bekerjasama dalam menyelesaikan masalah sistematis komprehensif, berkesinambungan dan terpadu. tersebut; menetapkan hubungan langsung dan nyata antara kesalahan Intisari Surat Keputusan Bersama ini, pihak-pihak sebagai berikut : dan reaksi sosial. 1. Kepolisian, dalam menangani kasus anak yang berhadapan dengan hukum agar mengedepankan Kepentingan Terbaik Anak, mencari Dalam penerapannya tidak semua kasus anak dapat diberlakukan alternatif penyelesaian yang terbaik bagi kepentingan tumbuh kembang restorative justice dan kriterianya adalah sebagai berikut: Bukan kasus anak serta seoptimal mungkin berupaya menjauhkan anak dari proses kenakalan anak yang mengorbankan kepentingan orang banyak dan peradilan formal; 2. Kejaksaan sebagai tindak lanjut telah dikeluarkannya bukan pelanggaran lalu lintas. Kenakalan anak tersebut tidak Surat Edaran Jampidum 28 Februari 2010 Nomor. B 363/E/EJP/02/ mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, luka berat atau cacat seumur 2010 tentang Petunjuk Teknis Penanganan Anak yang Berhadapan hidup. Kenakalan tersebut bukan merupakan kejahatan terhadap Dengan Hukum; 3. Mahkamah Agung menerbitkan Surat Edaran MA kesusilaan yang serius menyangkut kehormatan. RI Nomor MA/KUMDIL/31/1/k/2005 tentang Kewajiban tiap PN Dalam pelaksanaan restorative justice pihak-pihak yang dilibatkan mengadakan ruang sidang khusus dan ruang tunggu khusus untuk anak dalam musyawarah pemulihan penyelesaian kasus antara lain: Korban yang disidangkan, 4. Kementerian Hukum dan HAMsebagai dan keluarga korban karena korban adalah bagian dari konflik, implementasi dari Surat Keputusan Bersama telah ditetapkan Kebijakan kepentingan korban dalam proses pengambilan keputusan serta konflik ABH melalui Inpres Nomor 3 tahun 2010 dan SOP ABH di Bapas merupakan persoalan keluarga. Pelaku dan keluarga karena pelaku dan Rutan serta Lapas, serta koordinasi APH di tingkat pusat melalui merupakan pihak yang mutlak dilibatkan dan keluarga pelaku dipandang Mahkumjapol; 5. Kementerian Sosial, kepedulian pemerintah terhadap perlu untuk dilibatkan karena usia pelaku yang belum dewasa. Wakil ABH dilakukan melalui berbagai program kesejahteraan sosial anak masyarakat guna mewakili kepentingan dari lingkungan lokasi peristiwa melalui penyediaan panti sosial dan RPSA serta pusat trauma. Bantuan pidana terjadi dan kepentingan-kepentingan yang bersifat publik kepada anak korban kekerasan dan penelantaran berupa bantuan Apabila kita memahani makna restorative justice dan konsisten pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak dalam bentuk bantuan tunai menerapkannya maka beberapa hal yang dicapai antara lain berbersyarat khususnya anak dari keluarga miskin. Di samping itu juga kurangnya jumlah penghuni lapas dan terselamatkannya anak–anak dibentuk kelompok-kelompok kerja perlindungan dan rehabilitasi sosial berhadapan hukum demi kepentingan terbaik anak. ABH, dan lain-lain; 6. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Berkaitan dengan penanganan ABH, Lembaga Perlindungan Anak Perlindungan Anak, implementasi Surat Keputusan Bersama ini Provinsi Bali sangat berharap adanya komitmen dan pengertian semua dilakukan dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Negara PP2PA pihak terkait sehingga perlindungan hukum juga dapat diperoleh para Nomor 15 tahun 2010 tentang Pedoman Umum Penanganan ABH. ABH. Langkah awal dilakukan dengan menyelenggarakan lokakarya Dalam perjalanannya penanganan kasus anak masih tetap harus antara aparat penegak hukum selanjutnya diharapkan mampu dikontrol dengan ketat karena dalam kegiatannya masih sering terjadi melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk mencapai persamaan pelanggaran atas hak-hak asasi anak yang berhadapan hukum. Sebagai persepsi. anggota PBB sudah sewajarnya Indonesia juga menghormati dan menerapkan produk–produk hukum yang dihasilkan berkenaan dengan ABH seperti: The Tokyo Rules (peraturan standar minimum PBB zNi Nyoman Masni, S.H. untuk upaya-upaya penahanan), JDL/Havana Rules (peraturan PBB Ketua Lembaga Perlindungan AnakBali


8

Tokoh

29 Mei - 4 Juni 2011

PENDIDIKAN


USAHA

29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 7


LANSIA

Pasek Suyasa

Jarang Tidur Siang KETIKA masih aktif sebagai anggota Polri, I Ketut Pasek Suyasa lebih banyak menghabiskan waktunya berdinas di luar Bali. Setelah pensiun, ia baru pulang ke Bali. Masa pensiun bukan membuat pria asal Desa Abang, Kintamani ini santai. Malahan ia menjadi makin sibuk. Ramalan seorang kenalannya ketika bertugas di Bandung menjadi kenyataan. “Saya diramal tidak akan pernah pensiun dan akan dicari orang. Ternyata memang terbukti,” ungkapnya.

P

asek yang pensiun dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi ini menuturkan sejak menjadi polisi ia aktif beragam kegiatan dinas. Se telah tamat Akademi Angkatan Kepolisian tahun 1968 dan mengikuti pendidikan lanjutan, Pasek bertugas di Polda NTB tahun 1970 hingga 1971. Dari Bumi Gora, ia ditarik ke Mabes Polri. Berbagai posisi di Bagian Reserse pernah diembannya tahun 1975 hingga 1982. Posisi terakhirnya cukup mentereng. Ia menjadi Kapolda Sultra pertama setelah berpisah dari Polda Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra). “Saya pensiun tahun 1998 dan langsung pulang ke Bali.

Ternyata sampai di Bali langsung didapuk menjadi Wakil Ketua Persatuan Purnawirawan (PP) Polri Bali periode 19992005,” ujar pria kelahiran 1 Maret 1943 ini. Periode berikutnya, 20052007 ia menjadi penasihat. Namun, di tengah perjalanan organisasi para pensiunan Polri dan PNS Polri ini kehilangan sang ketua. Pasek Suyasa pun “turun gunung” menjadi Ketua PP Polri Bali hingga tahun 2010. Kini posisi Ketua dijabat Brigjen. (Purn) Njoman Gde Suweta. Banyak suka-duka yang dialami suami Putu Savitri Ardani ini dalam memimpin organisasi “sakral” ini. “Saya katakan sakral karena tidak

Pasek Suyasa

semua anggota Polri dan PNS Polri bisa masuk menjadi anggota. Kalau mereka meninggal dunia sebelum pensiun, tentu tidak sempat masuk PP Polri. Satu lagi, organisasi ini adalah organisasi masa kini para pensiunan dan organisasi masa depan para anggota aktif,” tutur ayah tiga anak, Gede Satriadi Putra Fajar, Made Dwi Ariani Mayasari, dan Komang Tri Widya Marta ini. Berkumpul bersama para pensiunan membuat mereka bisa berdiskusi, saling tukar informasi, dan tempat curhat. Walaupun dana yang dimiliki organisasi ini terbatas, namun mereka selalu memberikan

pelayanan kepada anggota yang memerlukan informasi mengenai pengurusan hak pensiun, sakit, dan meninggal dunia. Selain aktif di PP Polri, Pasek Suyasa juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Penyusunan Aset PHDI serta menjadi Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat. Semua jabatan yang diemban itu merupakan amanah baginya. Saking banyaknya kegiatan setelah pensiun, ia jadi percaya dengan ramalan kenalannya di Bandung yang mengatakan dirinya tidak akan pernah pensiun dan akan terus dicari orang. “Saya melakoni hari-hari di usia senja ini dengan ngayah. Beragam kegiatan yang saya ikuti merupakan amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada saya,” tandasnya. Untuk menjaga kondisi fisiknya, Pasek Suyasa tidak memiliki resep khusus. Ia hanya berolahraga secukupnya, seperti senam jantung dengan iringan kaset. Dulu ia sering main golf dan pingpong. Namun, sejak pensiun ia jarang melakoninya. Aktivitas lainnya, ia rajin menyapu dan membersihkan rumah serta mengurus burung serta anjing. “Saya jarang tidur siang. Kalau malam kurang tidur, baru saya balas dengan tidur siang. Malam hari rata-rata tidur pukul 22.00,” ujar pria yang gemar memancing ini. Ia memilih memancing untuk melatih kesabaran dan daya visual. Hasilnya memang luar biasa. Untuk ukuran pria yang berusia 68 tahun, mata Pasek Suyasa masih bagus. Ia hanya mengenakan kacamata untuk membaca koran. –wah

I Gusti Ngurah Ketu

saya sering bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan cucu,” ujarnya sembari tertawa. Acara berita menjadi favoritnya di samping lagu-lagu. Terkadang radio Australia juga menyiarkan berita berbahasa Indonesia. Jadi, kata dia, ia mendapatkan informasi lengkap baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setelah acara berita selesai, ia lanjutkan dengan membaca koran. Bali Post, Tokoh, dan Nusa menjadi langganannya. Ia menuturkan, tidak terlalu fanatik dengan satu berita. Ia suka membaca apa saja. Dengan membaca koran, kata dia, mengetahui situasi dan perkembangan yang terjadi. Semua isi koran ia baca, mulai dari halaman depan sampai belakang dibabat habis olehnya tidak ada satu pun ketinggalan. Bukan hanya koran, ia juga mengoleksi banyak buku, terutama dalam bahasa Inggris. Bermacam-macam topik menjadi koleksinya, mulai dari pendidikan, kesehatan sampai pariwisata. Ia mengaku sudah lupa, saking banyaknya. Tiap hari waktunya memang lebih banyak untuk membaca. Pukul 07.30 waktunya sarapan bersama istri tercinta. Menunya, sepiring nasi, sepotong tempe dan tahu, semangkuk sayur dan sepotong buah ditambah segelas susu kedelai. Ia mengatakan mantap melahap menu vegetarian bukan karena ikut-ikutan, tapi karena kondisi kesehatannya dan ia sudah merasakan

Hari Lanjut Usia Nasional di Karangasem

300 Lansia Diajak Senam Bersama

Ketua Tim Penggerak PKK Karangasem Ni Ketut Sujani Geredeg saat mengikuti senam lansia di wantilan Pemkab Karangasem

M

EMPERINGATI Hari Lanjut Usia Nasional tahun 2011 Pemkab Karangasem berkolaborasi dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali melaksanakan gebyar aksi sosial, senam sehat lansia bersama 300 lansia, memberikan pelayanan kesehatan gratis, pencerahan dari psikolog dr. Ida Ayu Kusuma Wardani, Sp.Kj, dipusatkan di wantilan Pemkab Karangasem Kamis (26/5). Ketua Panitia Hari Lanjut Usia Nasional tahun 2011 Kabupaten Karangasem Wakil Bupati I Made Sukerana, S.H. mengatakan, di samping itu BPD Bali juga memberikan bantuan untuk Pura Puseh Padangkerta, Masjid At Taqwa Lingkungan Karangsokong Karangasem, Gereja Pantekosta Lingkungan Karang Pati Amlapura dan Wihara Buddha Rattana Dusun Ujung masingmasing sebesar Rp 5 juta.

Untuk membantu masyarakat kurang mampu di bidang pendidikan, diserahkan paket beasiswa tingkat SMA dan SMP di Kecamatan Bebandem sebesar Rp 15 juta diterima Camat Bebandem I Komang Agus Sukasena, S.IP. Sementara dalam membantu menangani masalah sosial termasuk lansia juga diserahkan bantuan kepada Komisi Daerah Lanjut Usia Kabupaten Karangasem dalam rangka pelaksanaan Gebyar Hari Lansia dengan kegiatan meliputi senam lansia, pelayanan kesehatan gratis bagi lansia serta pencerahan sebesar Rp 40 juta. BPD Bali juga mengalokasikan bantuan sosial untuk pemberian makanan tambahan pada balita gizi buruk dari keluarga miskin di Desa Seraya sebesar Rp 25 juta. Direksi BPD Bali Drs. I Gusti Ngurah Karmana didampingi Komisaris I Ketut Nurcahya mengatakan, pelaksanaan

Minum Jamu untuk Stamina

Main Gateball Jaga Kebugaran SUASANA asri tergambar ketika wartawan Tokoh masuk ke rumah I Gusti Ngurah Ketu. Lelaki berusia 82 tahun itu sudah berdiri di depan pintu pagar menyambut kedatangan saya pagi itu. Kami langsung duduk di serambi. Serambi rumah dengan luas tanah sekitar 7 are tersebut, dihiasi rumput dan tanaman perindang. Menurutnya, tiap pagi ia selalu jalanjalan di sekitar rumahnya. “Membersihkan mata dengan memandang tanaman hijau, berjalan tanpa alas kaki di rumput,” tuturnya dengan suara pelan. Dari penampilannya, Ngurah Ketu terlihat sehat, walaupun suaranya terdengar pelan. Meski sudah lansia, terlihat ia sangat menjaga penampilannya. Rambut tersisir rapi, bajunya terlihat necis dan senyumnya yang ramah selalu terlukis di bibirnya saat bicara. Ia menuturkan, tiap pagi ia bangun pukul 04.00. Kemudian ia langsung mandi dengan air hangat beberapa menit, dan langsung berolahraga di sekitar rumahnya. Jalan mengitari pekarangan rumah sebanyak tiga kali sudah cukup untuknya. Sekitar pukul 05.00 ia menghentikan aktivitas olahraganya. Waktunya untuk mendengarkan radio Australia. Ia hobi mendengarkan radio, apalagi radio Australia karena menggunakan bahasa Inggris. Selain ingin tetap mengasah ketajaman pendengarannya, ia tetap ingin lancar berbahasa Inggris. “Walaupun jarang bertemu turis asing,

29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 11

I Gst. Ngurah Ketu bersama istrinya

manfaatnya. Selain makanan vegetarian, kontrol tiap bulan ke dokter rutin ia lakukan untuk menjaga kesehatannya dan minum vitamin. Setelah sarapan, kalau tidak ada acara keluar rumah, seperti ada acara di kantor veteran atau mengunjungi Asrham Dharma Yadnya di Bedugul, biasanya ia membaca buku, dan menyetel musik. Ia menuturkan sejak dulu mahir bermain gitar, organ, dan Hawaian. Karena hobinya ini, ia bersama para lansia, suka berkumpul di Wantilan DPRD Bali untuk bernyanyi dan bermain musik bersama. Tiap Selasa, Kamis, dan Minggu pukul 16.00, jadwalnya bermain gateball bersama para lansia di belakang kantor DPRD Bali. Olahraga itu menurutnya, baik untuk menjaga kebugarannya. “Paling bermain hanya 30 menit,” tuturnya. Setelah itu, ia lanjutkan dengan bermain musik. “Rasanya senang sekali bisa berkumpul sesama lansia,” katanya sumringah. Tiap keluar rumah ia selalu diantar sopir. Sampai di kantor DPRD Bali, ia ditinggal. Kemudian dijemput kembali satu jam berikutnya. Sang istri tidak menemaninya. Ny. Ketu lebih suka merawat tanaman bersama

pekerjanya di rumah. Kadang waktunya pulang molor, karena masih asyik bercerita dengan sesama teman di lapangan. Sampai di rumah setelah mandi, ia mengobrol dengan istrinya menceritakan kegiatannya bersama temantemannya di lapangan. Pukul 19.30 jadwalnya makan malam bersama istri dengan menu yang sama. Ia mengaku, tidak bosan karena menunya terus berganti. Nyonya Ketu mengatur sajian hidangan untuknya. Setelah makan malam, biasanya ia menonton televisi. Ia memilih saluran TVRI Denpasar dan Bali TV. Acara yang sering ditonton selain berita, kesenian budaya Bali menjadi favoritnya. Setelah capek menonton televisi dan mengantuk, pukul 21.30 ia tidur. Kakek lima cucu dan ayah dua anak ini terkadang sering pergi bareng bersama keluarga besarnya. Tempat yang dituju pasti tempat makan. Menu dan tempat yang dipilih selalu disesuaikan dengan kondisi Ngurah Ketu. Saat ini, ia dan istrinya tinggal bersama seorang cucunya yang sudah kuliah dan seorang pekerja rumah tangga yang melayani mereka. Orangtua cucunya itu, yang juga anak dan menantunya, tinggal dan bekerja di Jakarta. –ast

SORE itu, Zuhariah (62) baru saja mulai menyetrika. Tangan kanannya asyik memainkan alur setrikaannya di atas pakaian. Sesekali matanya mengarah ke tayangan televisi yang ditonton majikannya sambil tersenyum sendiri. Tempat menyetrika ini ada di depan kamar majikannya. Jarak pandangnya ke televisi 28 inci itu sekitar 3,5 meter. Itu pun dibatasi jendela kaca bening. Mata perempuan paruh baya yang kerap dipanggil Bibi, dalam usia sepuhnya itu tergolong masih sehat. Ia masih mampu bersepeda bahkan saat malam hari. Bibi melakoni pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga (PRT) sejak tahun 1995 dan berpindah majikan beberapa kali. “Saya sudah di sini se-

Zuhariah

kitar delapan tahun,” ujar Bibi yang mengaku sejak tahun 1974 sempat bekerja di pabrik pengalengan ikan di Benoa. Seperti pekerjaan PRT pada umumnya, perempuan kelahiran Kampung Jawa, Delod Lurung, Tabanan ini pun melakoni hal yang sama. Bibi dan anak tertuanya mengontrak masingmasing satu kamar sederhana di jalan Waribang Denpasar. Meski tinggal bersebelahan dengan anak, menantu dan ketiga cucunya itu, bibi mengaku untuk urusan dapur ditanggung sendirisendiri. Bangun pagi sekitar pukul 05.00 ia bergegas mandi, tak lupa meminum segelas air putih hangat. “Biar kerongkongan tidak seret,” katanya enteng. Memasak hanya dilakukannya kadang-kadang. Ia lebih sering makan di tempat majikannya. Setelah memberi makan burung peliharaannya dan sekadar membekali uang saku kedua cucunya yang masih SD, pukul 07.00 Bibi mengayuh sepeda pancalnya menuju jalan Turi tempatnya mencari nafkah sejak delapan tahun terakhir. Jarak tak kurang dari satu kilo meter itu ditempuhnya sekitar setengah jam. Sesampai di tempat majikannya, pertama kali yang diambilnya adalah gagang sapu, membersihkan seluruh lantai tkh/ten rumah dan halaman seluas 3 are itu. Pekerjaan

Cukup Air Putih dan Buah USIA boleh lanjut. Tetapi, Ketut Warti pemilik usaha jasa boga Ny. Warti Buleleng “melupakan” dirinya lansia karena ia terus berkarya pada usianya yang ke-72 tahun. Ny. Warti yang mantan tenaga kesehatan ini sadar betul, umumnya orang pada usia ini banyak terserang penyakit. Karena itu, pola makan mesti diatur. Seperti apa Ny. Warti BuNy. Warti Buleleng leleng

menjalani kehidupan sehariharinya? Pukul 06.00 Ny. Warti mulai terjaga dari tidurnya. Tayangan program Tri Sandya, Dharma Wacana, dan Orti Bali di Bali TV menjadi tontonan wajibnya saban pagi sembari meneguk dua gelas air putih hangat-hangat kuku, masih di tempat tidurnya. “Dari tayangan Tri Sandya, hati saya menjadi tenang, tayangan Dharma Wacana menambah pengetahuan saya tentang bebantenan, dan Orti Bali membuat saya tahu apa yang terjadi di Bali,” ujarnya. Usai itu, barulah kemudian Ny. Warti beranjak dari tempat tidurnya menyegarkan diri mandi dengan air hangat. Segelas susu berkalsium dan semangkuk bubur ayam ditaburi bawang goreng dan seledri, menjadi menu sarapannya, sebelum memulai aktivitas rutinnya mengelola catering ser-

vice Ny. Warti Buleleng. Tak lupa, mengonsumsi obat-obatan dokter diimbangi obat herbal dengan rentang waktu tertentu. Jarak kantor dengan rumahnya memang tak jauh, hanya beberapa meter. Usai bersembahyang, ia mulai sibuk dengan urusan kantor. Pemesanan makanan, konsultasi menu dan harga oleh pelanggan, masih ditanganinya dibantu seorang pendamping. Untuk menjaga mutu makanan, apalagi jika ada jenis masakan baru atau perbaikan cita rasa masakan, Ny. Warti langsung terjun ke dapur. Saat jam makan siang, seakan dilewatinya. Karena bisa dibilang tak ada makan siang, paling banter ia hanya makan buah apel dan minum air putih, sekitar pukul 11.00. Meski menghindari makan banyak nasi dan jajan, tetap saja ia tak bisa menolak jika harus

mencicipi cita rasa makanan seperti Rabu (25/5) siang itu. “Makan ini satu sudah menambah gula,” ujar Ny. Warti saat mencicipi jajan risoles yang disuguhi karyawatinya. Tak lupa, ia meneguk lagi air putih. Air putih dan buah -apel, pepaya, pir hijau atau kadang-kadang pisangkerap dikonsumsinya di sela-sela aktivitasnya itu. “Biar perut tidak kosong saja,” ujar istri I Gusti Ngurah Made Buleleng (alm.) ini. Ny. Warti baru makan kembali sekitar pukul 14.30 dengan sedikit nasi putih dan sayur (kacang panjang, bayam, atau tauge) yang dimasak khusus tanpa rasa pedas. Sesekali ia minta dimasakkan makanan favoritnya sager gerang. Gerang (ikan teri) putih ini direndam sampai rasa asinnya hilang, dibersihkan, baru kemudian digoreng, diisi parutan kelapa dan minyak tanusan/Bali.

Kadang-kadang juga makan putih telur rebus atau ikan bakar. Ikan tawar seperti gurami ini cukup direndam garam dengan jeruk nipis sebelum dibakar. Ny. Warti mengaku tak makan daging berkaki empat, tiga tahun terakhir ini. Makanan berminyak dan mengandung banyak garam dihindari sesuai anjuran dokter. Apalagi, ia punya sakit maag dan resisten antibiotika. “Kita yang bisa merasakan tubuh kita,” tegasnya. Karena itu pula ia menjaga pola makannya dan tetap mengonsumsi susu berkalsium. “Pernah saya coba tak minum susu beberapa hari, badan saya rasanya lemas,” ujarnya. Untuk melancarkan peredaran darah, Ny. Warti rutin dipijat tiap minggu. Pukul 15.00 Ny. Warti pulang ke rumah untuk sekadar beristirahat. “Kalau dulu istirahat di kamar di kantor, tetapi jarang

kegiatan sosial merupakan wujud kepedulian dan kewajiban sosial BPD Bali untuk turut serta membangun masyarakat di Karangasem dari sisi kesejahteraan sosial. Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, S.H. mengatakan, perhatian terhadap kaum lansia hendaknya tidak hanya terkait pada saat memperingati hari ulang tahun atau bersifat serimonial semata. Namun sebagai bagian dari komunitas sumber daya manusia di Karangasem, justru pada saat-saat usia lanjut memerlukan perhatian lebih sehingga dapat dicapai kondisi lansia yang sehat, stabil dan berguna bagi keluarga. Usia tua diharapkan tidak perlu menjadi hambatan, jika kondisi usia lanjut dapat dipelihara secara kontinu dengan memperhatikan segi kesehatan, gizi melalui aktivitas yang sehat dan menjaga kebugaran dengan melaksanakan senam sehat lansia serta melaksanakan pola hidup bersih sehat. Melalui gebyar peringatan Hari Lansia Nasional tahun ini juga diharapkan dapat menggetarkan motivasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap keberadaan lansia di masyarakat, yang kerap kali kurang memperoleh perlakuan yang baik dari keluarga. Untuk itu melalui momen yang strategis bekerja sama dengan BPD Bali, Geredeg menegaskan agar pesan-pesan peringatan yang mengusung tema Tua Sehat Bahagia, benar-benar dapat diwujudkan secara nyata dan bermanfat bagi masyarakat. —arya memasak, menyiapkan banten saiban, mencuci pakaian, menyetrika, menyiapkan banten canang, mengepel, dilakoninya sejak pagi hingga sore. Di sela-sela itu, pagi dan sore, ia pasti minum kopi. “Biar tidak pusing,” ujarnya. Soalnya, Bibi pernah lupa minum kopi sore harinya, esok paginya ia pusing. Bibi biasanya pulang pukul 20.00 bahkan bisa sampai pukul 22.00 jika dia keasyikan nonton sinetron kesukaannya “Fatiah” dan “Nada-nada Cinta” di Indosiar, semua tergantung kemauannya. “Juga sesampai di rumah tidak ngapa-ngapain. Paling cuma makan, sembahyang, lalu tidur,” ujarnya. Bibi dibayar per hari untuk jasanya itu. Itu pun atas permintaannya supaya ada uang untuk kebutuhan sehari-hari dan memberi bekal cucucucunya. Makanan kecut sebisa mungkin dihindarinya. Apalagi sayur kangkung dan daluman yang membuat tekanan darahnya turun. Jika sudah begini, bisa sampai tiga hari ia sakit. Semua obat dan vitamin sudah dikonsumsinya, namun hanya air gula yang dirasakan mampu membuat kondisinya lebih baik. Untuk selalu menjaga stamina, menambah tenaga menjadi kuat dan selalu segar, serta membuat matanya terang, ia mengaku rutin mengonsumsi jamu Sari Asih produksi Air Mancur saban pagi dan sore hari. “Saya sudah lama minum ini. Dulu habis operasi hernia, setelah sadar saya langsung bisa jalan, tidak sakit. Kata dokter, jamu itu bagus,” ungkap Bibi yang mengaku jarang sakit ini. –ten bisa, karena jika ada masalah pasti saya tidak bisa tinggal diam. Atas saran anak saya, saya istirahat di rumah saja,” ujarnya. “Jika, hasil karya kami sukses, itu membuat saya merasa sehat dan mempunyai kenikmatan tersendiri,” imbuhnya. Tidur satu jam, cukup membuat Ny. Warti segar kembali. Mandi dengan air hangat, serta tetap minum air putih dan buah sepanjang yang dibutuhkan. Untuk melepas kepenatan, selepas sore biasanya Ny. Warti asyik berkaraoke ditemani anak-anak dan cucu-cucunya menembangkan lagu-lagu lawas. “Sepanjang Jalan Kenangan” adalah lagu favoritnya. Meski sibuk mengelola bisnis jasa boganya itu, Ny. Warti selalu meluangkan waktunya sembahyang ke pura-pura besar di Bali terutama saat odalan. Biasanya, ia hanya ditemani sopir, satu pendamping dan satu tukang banten. “Saya sengaja tidak mengajak cucu-cucu biar tidak dikejar waktu dan bisa lebih khusyuk sembahyang,” ujar nenek sepuluh cucu ini. –ten


10

Tokoh

BUMI GORA Another Paradise Unvieled

29 Mei - 4 Juni 2011

“Surga” Alami Itu Ada di Lombok GEMURUH Gendang Beleq (musik tradisional Sasak Lombok), malam itu, menggema di ballroom sebuah hotel berbintang di Jakarta, (23/5). Tidak kurang dari 500 orang hadir dalam peluncuran buku berjudul West Nusa Tenggara: Another Paradise Unvieled.

B

uku berisi gambaran keelokan dan eksotika alam, tradisi dan seni budaya Nusa Tenggara Barat ini merupakan kumpulan karya fotografi Brigjen. Pol. Drs. Arif Wachjunadi, Kapolda NTB. Hadir dalam peluncuran buku ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGH. M. Zainul Majdi, Wakil Gubernur NTB, Ir. H. Badrul Munir, M.M., General Manager PT Newmont Nusa Tenggara, Martiono, Bupati Bima Fery Zulkanaen, anggota DPR RI dari NTB seperti Fachri Hamzah, Ir. Syafruddin dan lainnya, tokoh-tokoh NTB seperti Harun Al Rasyid, Sultan Sumbawa ke-17 Sultan Kaharuddin IV dan tokoh-tokoh lainnya. Selain gendang beleq, nuansa tradisi NTB juga kental terasa ketika tari sasambo (Sasak, Samawa, Mbojo) yang merupakan tari kreasi baru yang mewakili tiga suku asli NTB tersebut tampil dibawakan ibu-ibu Bhayangkari Polda NTB. Dan tampilan kesenian khas NTB lainnya yang unik. Dipandu presenter kocak, Tukul Arwana dan Melanie Putri, acara peluncuran buku ini menjadi meriah dan menonjolkan kekhasan daerah ini. Keindahan Lombok Sumbawa menjadi lebih istimewa lagi lewat bidikan Arif yang sudah memulai hobi memotretnya sejak menjadi taruna Akabri di tahun 1980 ini. “Saya bermimpi, suatu hari nanti, orang akan bertanya-tanya, Lombok-Sumbawa ada di bagian mana negeri Indonesia dan di belahan bumi bagian manakah ia berada? Lalu mereka mendatanginya,” ungkapnya. Begitulah ung-

Arif Wachjunadi membubuhkan tanda tangannya di buku ‘Another Paradise Unvieled’ sebagai kenang-kenangan kepada Arif Perdana Kusuma, Manajer Eksternal PT Newmont Nusa Tenggara

kapan kebanggaan Arif Wachjunadi, terhadap kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Nusa Tenggara Barat. Ia memang berharap, suatu hari nanti, orang-orang akan bertanya-tanya di manakah letak Lombok Sumbawa yang begitu memesona. Dan setelah itu, mereka akan berlomba-lomba mendatangi dua pulau elok ini. Perjalanan berburu objek foto yang dilakukan Arif baik formal maupun informal, juga sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dalam membangun kemitraan polisi dan masyarakat. Ia mendekat dengan segala komunitas. Ketika ia memotret kekayaan laut dan pesisir di NTB, ia tengah mendekat kepada komunitas nelayan dan masyarakat pesisir. Saat ia memotret Gunung Rinjani, Tambora dan Galesa, ia tengah mendekat kepada komunitas di kaki gunung-gunung tersebut juga para pecinta alam. Dan ketika memotret seni budaya dan tradisi NTB, ia tengah mendekat pada komunitas kebudayaan. Begitu pun selanjutnya. Keindahan dan kekayaan alam Nusa Tenggara Barat yang memiliki dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa, membentang dari puncak gunung hingga dasar laut. Menghampar dan memamerkan

panorama eksotik yang cantik alami dari ujung Barat hingga Timur provinsi ini. Daya pikat alam Lombok Sumbawa, adalah magnet yang sungguh memikat. Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa dengan pemandangan yang menawan dan sejarahnya yang mendunia, menjadi “pasak” Bumi Gora, berdiri kokoh menjulang tinggi. Bulir-bulir indah hamparan pasir putih pantai-pantai perawannya, limpahan air terjun di hutan lindung alami dan gili-gili (pulau kecil) yang dikelilingi taman bawah laut dengan beragam biota yang menakjubkan, serta desa-desa tradisional yang unik dengan masyarakatnya yang bersahaja, menggenapi kekayaan alam LombokSumbawa. Bak lukisan, pesonanya tergambar jelas dalam sebuah pigura alam yang mengagumkan. Kekayaan seni budaya dan tradisi serta objek wisata yang lengkap yang dimiliki daerah ini, dengan bangga ia potret dan dokumentasikan dalam karya fotografi. Ia menjelajahi tiap sudut daratan Lombok Sumbawa, mendaki Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Tambora di Dompu dan Gunung Galesa di Sumbawa Barat. Ia juga menyeberangi perairan Lombok-Sumbawa dan menyelam

hingga dasar lautnya yang kaya dengan biota dan koral-koral berwarna-warni untuk mengabadikan kekayaan lautnya. Tiada kenal letih ia berpetualang mengeksplorasi kemolekan daerah ini melaui daratan, lautan dan udara. Nyaris tak satu pun lokasi unik, indah, menawan, elok, alami, yang ada di NTB baik yang mudah dijangkau maupun tidak, terlewatkan olehnya. Tidak kurang dari 150 lokasi tersebut ia potret. Ia menyebut NTB sebagai “surga yang asli” dan masih banyak keindahan NTB yang berlum terkuak. Sebagai Kapolda NTB, tentu banyak yang sepakat atas kemudahan yang diperolehnya untuk mencapai lokasi-lokasi tersebut. Demikian pula dengan fasilitas kamera yang memadai yang dimilikinya, juga banyak yang sepakat. Begitu pula, jika kita menyebutnya sebagai hobi, tentu semua sepakat karena hobi itulah yang mengantar ia untuk memburu objek-objek foto tersebut. Akan tetapi, dengan usia yang tidak muda lagi untuk mencapai lokasi-lokasi yang jauh dan sulit dengan tantangan yang hebat ditambah lagi penjelajahan itu lebih banyak menempuh perjalanan darat dan laut, dengan kemapanan hidup, kemapanan pangkat dan jabatan yang dimilikinya saat itu, belum

Panas bagaikan Bara Api Ibu Maria (45), seorang pahlawan tanpa tanda jasa (guru) yang mengajar di salah satu SMA Negeri di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mempunyai keluhan, terasa panas pada perut bagian kiri sampai payudara bagian kiri serta ada benjolan-benjolan kecil. Panas itu dirasakannya bagaikan bara api yang membara di perutnya. Setiap hari ia menggosoknya dengan minyak gosok yang biasa dijual di toko-toko obat. Namun, rasa panasnya tidak juga berkurang, dan benjolanbenjolan kecil tetap menghiasi perutnya. Penyakit tersebut sangat mengganggu aktivitasnya. Apalagi pada saat istirahat, rasa panas di perut bagian kirinya makin parah. Hingga suatu saat, Bu Maria mendapatkan informasi dari salah satu anggota keluarga yang pernah berobat ke Bali dan sudah sembuh. Tempat berobatnya di klinik Bali Heart Care Center (BHCC) yang beralamat di Jalan Pulau Nusa Penida No. 26 Denpasar. Selanjutnya Bu Maria langsung menitipkan anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 ke salah seorang sanak saudaranya. Ia pun segera berangkat ke Bali guna mencari klinik tersebut. Sesampainya di Bali, Bu Maria langsung datang ke klinik BHCC. Ia langsung berkonsultasi dengan Mr. Chai. Oleh Mr. Chai, Bu Maria disarankan agar tidak mengonsumsi daging berkaki empat, cumi, kepiting, udang, sayur bayam, kangkung dan tauge. Setelah mendapatkan informasi yang jelas, beliau langsung mengambil terapi germanium. Prinsip kerja alat tersebut adalah dengan cara memancarkan panas Ge Genuine ke seluruh tubuh se-

Ibu Maria

hingga mencapai 45 derajat celcius dalam waktu sekitar 35 menit, sel-sel yang membentuk benjolan-benjolan kecil/sel-sel kanker tersebut berubah menjadi ion negatif. Setelah melakukan terapi germanium 20 kali dan tidak mengonsumsi makanan yang disarankan Mr. Chai, rasa panas dan benjolan-benjolan kecil yang diderita Ibu Maria sedikit demi sedikit berkurang dan sampai saat ini Ibu Maria telah sembuh dari penyakit tersebut. Beliau sangat senang sekali bisa kembali sehat dan dapat melanjutkan aktivitasnya dengan lancar tanpa ada gangguan rasa panas di perut lagi. Sebelumnya Bu Maria sempat berpikir dengan timbulnya penyakit yang dirasakannya, seakan-akan umurnya menjadi semakin pendek. Akan tetapi setelah

mendapatkan kesembuhan, semangat untuk hidup berumur panjang datang kembali. Kini ia mendampingi suaminya yang mengalami strok dan sudah pernah berobat ke Jawa untuk berobat di klinik BHCC. Ibu Maria kagum akan pelayanan yang didapatnya di klinik BHCC, “Pokoknya saya sangat puas berobat di klinik ini, pelayanannya bagus, perawatnya bukan hanya cantik tapi juga ramah,” ungkapnya. Bu Maria sangat senang dengan Mr. Chai yang selalu siap membantu dan senantiasa menanyakan kondisinya setiap kali mereka bertemu. Begitupun saat dirinya membutuhkan konsultasi, baik melalui telepon pada siang ataupun malam hari. Bu Maria semakin optimis dengan kesehatannya, juga kesembuhan yang akan didapat suaminya. Ia akan terus mengikuti terapinya sampai tuntas.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi atau datang ke:

Bali Heart Care Center Pengobatan penyakit jantung non-invasive Medical Ozone + EECP Therapy Jalan Pulau Nusa Penida 26, Denpasar Telepon (0361) 225388/ (0361) 240855/ (0361) 7423789. Faksimile (0361) 264688. Jln. By Pass Kediri No. 88 G-H, Tabanan Buka Senin - Sabtu Pukul 09.00 s.d. 18.00 Wita Email: sufendi_t@yahoo.com Web: www.hsenchii-int.com Layanan via sms: Ketik Reg<spasi>BHCC (Tarif Premium) Contoh: Reg BHCC kirim ke 9168. (untuk kelancaran silakan buat janji)

tentu ada yang mau dan mampu melakukannya. Hanya keinginan untuk membanggakan dan memamerkan keindahan dan kekayaan alam daerah inilah, yang membuatnya rela bersusah payah mewujudkan cita-cita besarnya mempromosikan potensi-potensi yang dimiliki daerah ini. Mimpi besarnya akan banyak orang nantinya mendatangi Lombok Sumbawa karena daerah ini benar-benar pantas dikunjungi. Karena itulah, tak ingin menyimpan sendiri keindahan NTB dalam potret-potret yang dibuatnya, ia pun mengabadikan karya ini dalam sebuah buku yang diberi judul Another Paradise Unvieled. Tidak kurang dari 240 karya foto yang merekam keindahan alam dan budaya NTB yang luar biasa itu terangkum apik dalam buku ini. Lewat buku ini pula, Arif ingin mengabarkan, betapa NTB demikian kaya-raya akan potensi pariwisata dan kebudayaan. Maka mata lensanya tiada pernah beristirahat untuk mengabadikan tiap objek keindahan alam daerah ini. “Sayang rasanya jika panorama eksotik ini saya lalui begitu saja ketika saya menetap dan bertugas di NTB,” ujarnya. Another Paradise Unvieled lahir di sela-sela ia menjalankan tugas-tugas kemitraan kepolisian dalam bidang kebudayaan dan menyapa para pelaku pariwisata untuk membangun keamanan dan ketertiban masyarakat. Atau sesekali, memang, ia mengkhususkan diri pergi berburu objek-objek wisata di kedua pulau ini. Sungguh luar biasa. Buku ini, ia beri judul demikian, karena “surga” yang alami itu ada di Lombok dan Sumbawa, dua pulau elok dengan potensi yang dahsyat. Buku Another Paradise Unvieled ini diterbitkan untuk mendukung program pemerintah daerah ini, terutama dalam bidang pariwisata sekaligus dapat memperkaya khasanah dunia seni fotografi. “Karya ini saya persembahkan bagi daerah dan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya bangga. “Buku ini merupakan hasil pemikiran kreatif dan inovatif dari pengarangnya dan menampilkan fenomena alam, budaya yang menggugah pembaca dan penikmat foto untuk menyelami potensi wisata Bumi Gora,” kata Karo Binkar SDM Polri, Brigjend. Pol. Drs. Mustafa Hari Kuncoro, yang mewakili Kapolri memberikan sambutan pada acara ini. “Buku Another Paradise Unvieled merupakan salah satu terobosan institusi ini dalam membangun kemitraan Polri dengan masyarakat,” ujarnya. Lewat karya ini, Arif mendapat apresiasi dari institusinya karena ia

telah melahirkan ide dan gagasan yang disebut-sebut sebagai terobosan bagi institusi ini, karena ia telah menuangkan karya cipta rasa dan karsa dalam Another Paradise Unvieled. “Melihat karya-karya foto Arif dalam buku ini, harus memberikan keyakinan lebih kepada kita semua bahwa negeri kitalah yang paling indah di dunia,” puji Jero Wacik. Alam yang cantik, budaya yang luhur dan masyarakat yang ramah adalah kekuatan pariwisata negeri ini. Buku Another Paradise Unvieled dinilai Jero Wacik sebagai karya istimewa karena buku ini karya seorang polisi lebih-lebih dengan jabatan kapolda. Biasanya, polisi dikenal keras dan kaku hingga jauh dari kesan dunia seni, namun Arif membuktikan dirinya, bahwa ternyata polisi juga bisa berkarya untuk bangsa ini dalam dunia seni. Dan di antara kesibukannya yang berjubel, Arif masih menyempatkan diri berpikir mempromosikan daerah ini. Majdi menambahkan, buku ini memunculkan, memperlihatkan, memamerkan dan mempertontonkan, keindahan dan kemolekan Lombok Sumbawa yang lebih. “Istimewanya karena buku ini karya seorang kapolda yang punya kepedulian dan kecintaan terhadap NTB. Dan kepedulian serta kecintaan itu bukan sekadar wacana belaka melainkan dibuktikannya dengan karya,” ungkapnya. Arif bukan hanya sedang bermain lensa untuk menghasilkan karya-karya fotografi, melainkan ia masuk memanfaatkan potensi alam, seni, budaya dan tradisi NTB, sebagai salah satu tempatnya berpijak untuk menjalankan tugas-tugasnya. “Dengan potensi NTB, terutama di bidang pariwisata dan kebudayaan yang kaya dan beragam ini, kita harus bekerjasama untuk mengangkat citra positif daerah kita,” katanya. Tradisi-tradisi yang mengandung unsur kekesatriaan di NTB, seperti Peresean di Lombok, Ndempa di Bima, Adu Kepala dan lain-lain pun mulai dibangkitkan kembali. Polda NTB banyak menyelenggarakan kegiatan yang memunculkan kembali tradisi-tradisi ini. Arif rupanya jeli, melihat celah yang bagi orang lain bisa saja berpikir, apa hubungannya keamanan dan ketertiban masyarakat dengan seni budaya dan tradisi? Suatu hari, Arif menjawab bahwa tradisi yang juga bermuatan bela diri ini, harus terus dilestarikan, agar para kesatria-kesatria tradisional tersebut dapat menjadi penjaga keamanan bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Nilai kearifan lokal yang tinggi dari tradisi ini, tentu saja panutan ideal bagi tertibnya kehidupan bermasyarakat.

Mata kameranya tidak hentihentinya mengabadikan tiap lekuk elok alam dan budaya daerah ini. Ia telusuri hingga pelosok-pelosok wilayah ini, yang diakui kapolreskapolres di NTB, banyak juga yang belum mereka ketahui namun justru telah disambangi Arif terlebih dahulu. Khusus hal ini, beberapa kapolres merasa kecolongan. “Yang saya sadari, saya kecolongan tiga kali,” kata AKBP R. Djarot Padakova H. Madyoputro, mantan Kapolres Lombok Tengah. “Yang saya tahu, saya kecolongan dua kali. Yang tidak saya tahu tampaknya banyak,” ujar AKBP Erwin Zadma, Kapolres Lombok Timur yang wilayahnya paling luas di NTB. Menurut Erwin dan Djarot, Arif seringkali melakukan perjalananperjalanan “berburu” objek wisata tanpa mereka ketahui. “Tiba-tiba saja saya melihat sudah ada potretnya dan bahkan ada beberapa objek yang luput saya ketahui,” kata Erwin yang juga fotografer dan lebih dulu berada di NTB ketimbang Arif. Selama Arif bertugas di NTB, kapolres kecolongan mendatangi suatu wilayah di daerah ini adalah hal biasa dan tidak harus disikapi sebagai sesuatu yang formal dan kaku. Sebagai pimpinan tertinggi institusi kepolisian daerah NTB, semestinyalah para kapolres mengetahui pergerakan kapolda dalam membaca dan turun mengenal wilayah teritorialnya. Namun, tidak begitu dengan di NTB. Perjalanan-pejalanan informal yang dilakukan Arif biasanya bersifat spontan dan ia lebih banyak meminta kepada stafnya agar tidak mengabarkannya kepada kapolres di mana ia akan mampir. “Bapak tidak ingin kapolres tahu beliau datang ke wilayah tersebut karena tidak ingin merepotkan,” ujar Alwan yang kerap menemani perjalananperjalanan berburu objek dengan atasannya ini. Beberapa kali kecolongan, membuat Erwin dan Djarot akhirnya “siaga” terutama pada Sabtu dan Minggu di mana pada dua hari inilah Arif kerap melakukan perjalanan-perjalanan spontan dan informalnya. “Bagaimana pun juga beliau pimpinan kami, di mana pun beliau berada, kami wajib menjaga keselamatannya,” kata mereka. Mereka juga menyadari sepenuhnya, kegiatan fotografi yang ditekuni Arif membutuhkan waktuwaktu khusus untuk berkonsentrasi dan tidak terganggu dengan pengawalan atau pun pelayanan khusus. “Waktu-waktu tertentu, kalau tahu beliau turun, saya menempatkan personel secara diam-diam untuk menjaga keamanan lokasi di mana beliau turun,” ujar Djarot yang merasa paling sering kecolongan. —nik


12

Tokoh

29 Mei - 4 Juni 2011

Banyak Pengusaha.......................................................................................dari halaman 2 Dari Loper....................................................................................................................................................................dari halaman 1 Wirausaha karena Lingkungan Saya jadi wirausaha karena pengaruh lingkungan. Saya ingin juga jadi bos kecil, walaupun karyawan saya dua orang. Semestinya pemerintah bisa mencetak wirausaha. Contoh, ada sekolah seniman untuk mencetak pelukis. Usaha ini untuk meneruskan hasil karya leluhur kita. Dalam perjalanan hidup kita harus menentukan arah. Jadi pengusaha bisa jatuh bangun. Jadi karyawan tidak akan jatuh bangun.

tidak salah jalan.

membuka kursus life skill seperti sepatu ke pengunjung terminal. penggarap di Cokroaminoto Balun sampai menikmati hidangan ter- untuk fokus pada peluang usaha,

Edi, Denpasar kursus menjahit. Sehingga, ada Dari sana ia mengumpulkan rupiah agar punya uang untuk masuk mahal di Negeri Kangguru. “Se- solusi dan belajar bagaimana cara-

Jarang yang Ciptakan Pekerjaan

keinginan masyarakat dan mereka termotivasi. Ada sensus ekonomi dan sensus penduduk. Gunakan data tersebut untuk membantu masyarakat. Kelompok masyarakat yang ingin maju harus dibantu. Jangan sampai peternak kambing susah mendapatkan bantuan modal. Pemerintah harus prioritaskan. Jangan kolusi dan hanya membantu kolega dekatnya.

Orang bersekolah untuk mencari pekerjaan, jarang ada yang ingin menciptakan pekerjaan. Setelah berkeliling mencari pekerjaan tidak dapat, akhirnya terpaksa membuka usaha. Tak banyak geneNang Chekov rasi muda mau mencoba. Setelah kuliah sebenarnya mereka mendapat ilmu pengetahuan yang bisa diOrientasi Jadi PNS Sangging terapkan untuk berwirausaha. FakMembengkaknya angka petor nasib juga turut menentukan. ngangguran dari tahun ke tahun, Sutama menandakan pemerintah belum Kalau Takut mampu menyediakan lapangan Kapan Bisa? Manfaatkan Sensus kerja untuk tamatan sekolah tiap tahunnya. Orientasi masyarakat Anak-anak kita minim pengetahuan wirausaha. Begitu ia tamat, Ekonomi dan Penduduk mencari PNS. Segala upaya dilakuAda pendidikan formal dan non- kan untuk itu. Tidak ada insiatif mereka bingung. Dengan adanya program kewirausahaan, akan memacu formal. Pendidikan nonformal sudah bagaimana menciptakan lapangan anak didik, walaupun tidak semua banyak dikembangkan seperti kursus kerja sendiri kalau gagal jadi PNS. menjadi pengusaha. Tetapi, telah ada komputer dan teknisi. Pengembang- Hal ini belum mampu dimunculkan gambaran dan pegangan setelah tamat an kewirausahaan dimulai dari kelu- pendidikan yang sekarang. Konsekolah. Gagal dan sukses pasti ada. arga. Bagaimana keluarga mengajar- sepnya belum masuk di sana. SarKalau kita takut kapan bisa. Perlu kan dan memberikan kesempatan jana setelah tamat bingung mencari keberanian. Ingin banyak punya uang anak mengembangkan diri. Banyak pekerjaan ke mana-mana. Sementetapi jangan sampai salah jalur. yang ingin jadi PNS. Akhirnya sulit, tara lapangan kerja yang ada seBanyak pejabat pemerintah kita ingin karena banyak pesaing. Jika tidak dikit. Akhirnya dimanfaatkan okbanyak uang tetapi jalur yang diambil dapat pekerjaan, ada suatu konsep num yang tidak bertanggung jasalah. Kalau ingin banyak uang ambil bagaimana anak mampu mengem- wab. Pemerintah belum memiliki jalur pengusaha. Kalau ingin meng- bangkan diri sesuai potensi. Potensi konsep pendidikan untuk menabdi ke masyarakat baru ambil jalur bakat bisa dites di sekolah. Banyak ciptakan pengusaha. Pemerintah birokrasi atau pejabat. Tanamkan jiwa pelatihan yang dibuka. Pemerintah harus menyokong dengan memberi wirausaha sejak sekolah agar mereka daerah memberi peluang dengan alokasi dana. Gunakan uang pajak

demi rupiah. Magnum tetap ingin seperti anak-anak lain yang bisa sekolah. Mimpi Magnum terwujud. Ia sekolah di SD Inpres dari hasil jualan koran. Ia juga menjadi petani

dengan baik. Pendapatan negara digunakan jelas daripada digunakan wakil rakyat untuk kunjungan kerja. Hasilnya tidak ada. Bagaimana memulainya belum terlintas. PNS banyak tetapi tidak efektif. Apa yang dikerjakan tidak jelas.

Gede Biasa

Harus Ada Kemauan Harus memulai dari diri sendiri. Walaupun ada sekolah kalau tidak ada kemauan dari diri sendiri percuma. Pemerintah harus mendukung permodalan dan lapangan pekerjaan, agar rakyat tidak ngosngosan. Pinjam di renternir bunga tinggi. Birokrasi sangat menjelimet dan dinikmati orang–orang yang dekat dengan penguasa. Kebijakan ini yang menghambat mengapa orang tersebut susah jadi pengusaha. Jika PNS bisa pensiun, gajinya tiap tahun selalu naik. Belum lagi cuti bersama siapa yang tidak mau. Kalau banyak PNS, negara bisa bangkrut. Banyak karyawan tidak ada pekerjaannya yang pasti.

Becik

Semua Bidang............................................................................................................................................................dari halaman 1 bermain. Karena itu, ia menyarankan agar para orangtua cukup memberi anaknya HP dengan dua fungsi, yakni untuk SMS dan menelepon dan tidak untuk chatting. Selanjutnya, sesuai visi Kementerian Kominfo mewujudkan masyarakat informasi yang sejahtera melalui komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien, ia mengajak anak-anak Bali menggunakan kemajunan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengoptimalkan hal yang positif dan produktif di samping menjaga serta melestarikan budaya lokal. “Sesuai pula dengan program terdekat kami tahun 2014, menjadikan Indonesia informatif dan mensejahterakan kehidupan rakyat,” lanjutnya. Dalam acara yang juga dihadiri Forum Komunikasi antar-Umat Beragama dan Sekkot Denpasar A.A. Rai Iswara, Menkominfo yang piawai berpantun ini pun menyampaikan lima target yang ingin dicapai dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yakni; teknologi informasi dan komunikasi sebagai pilar pembangunan Indonesia, sumber devisa baru bagi ekonomi, penyerap tenaga kerja, mencerdaskan kehidupan bangsa serta pencitraan identitas bangsa. Begitu pula saat diwawancarai kru Radio Komunitas Dwijendra (Radio DJ), ia

Menkominfo di ruang studio Radio Komunitas Dwijendra (DJ)

mengatakan peran radio penting demi memberikan pencerdasan. “Dengan perkembangan teknologi informasi ini, siswa dapat menarik banyak pelajaran di dalamnya,” katanya sembari memberikan beberapa contoh kreativitas anak muda yang meraup penghasilan atas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. “Bisnis informasi dan komunikasi ini bisnis kreatif,” tandasnya. Dalam kesempatan tersebut Menkominfo juga menyampaikan, 17-19 November, Bali akan menjadi tempat East Asia Summit. Acara ini diikuti 10 negara ASEAN dan 10 negara lainnya. Karena Menkominfo bertindak sebagai humas, maka

ia berjanji mahasiswa Fikom Undwi, sebagai calon ahli komunikasi akan diberikan kesempatan melakukan praktik menerima dan berkomunikasi dengan para tamu. Sementara itu, Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Drs. Ida Bagus Gede Wiyana yang mengharapkan kehadiran Menkominfo tersebut bukan yang terakhir, berterima kasih, akhirnya izin Radio DJ ditandatangani. “Radio pendidikan ini, berkontribusi pula terhadap kelulusan siswanya. Selain itu Radio DJ, tidak semata milik Dwijendra melainkan milik masyarakat Bali,” katanya sambil menambahkan rencananya membangun televisi komu-

nitas pendidikan. Begitu pula Dekan Fikom Undwi Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M., senada dengan Menkominfo menyatakan kehidupan sehari-hari masyarakat telah dipenuhi kebutuhan komunikasi yang makin berkembang mengikuti adaptasi zaman. “Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi suatu bagian yang tidak terpisahkan. Maka sangat tepat keberadaan Radio DJ ini, demi terwujudnya generasi terdidik dan terampil. Di samping tetap menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur, menghargai nilai agama dan budaya Bali. Penyiarnya juga berhak menerima beasiswa dari Fikom Undwi hingga tamat,” ungkapnya. Di tengah kegiatan yang mendapat apresiasi besar dari mahasiswa Fikom tersebut, Ida Ayu Ratna mengaku sepenuhnya mendukung rencana keberadaan televisi komunitas yang akan melengkapi lab praktik mahasiswa selain radio. “Tentu akan sangat membantu kelengkapan bekal mahasiswa Fikom Undwi ketika lulus dan siap mengisi peluang kerja yang ada,” ucapnya sambil menambahkan kalau keahlian spesifik di bidang komunikasi dapat dimanfaatkan dalam segala bagian pada institusi pemerintah, LSM maupun lembaga bisnis swasta. “Ini sebagai konsekuensi dari abad informasi, “ pungkasnya. —ard

Jelang Satu Tahun................................................................................................................................................dari halaman 1 Klinik Royal IVF Bali Royal Hospital merupakan salah satu dari empat unggulan Bali Royal Hospital selain Neuro Science Centre, Minimal Invasive Surgery (Endoscopy), dan Cosmetic Surgery. Klinik Royal IVF difokuskan membantu pasangan yang sulit mendapatkan keturunan. Didukung tim dokter spesialis dari berbagai keilmuan yang terkait di dalamnya, pusat layanan ini memfokuskan diri pada tindakan assisted reproductive technology yang lebih dikenal dengan inseminasi dan bayi tabung. Berdasarkan surat rekomendasi penyelenggaran TRB dari Perfitri Nomor 005/Perfitri/II/ 2011, Klinik Royal IVF Bali Royal Hospital akan memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar baku yang telah ditetapkan. Sejak beroperasi pertengahan Juli 2010, Klinik Royal IVF

Bali Royal Hospital telah menangani embrio transfer untuk program bayi tabung sebanyak 22 kasus dengan angka keberhasilan sebesar 40%. Ketua tim dokter bayi tabung Bali Royal Hospital dr. I.B. Putra Adnyana Sp.OG(K) mengatakan, ada indikasi dan pemeriksaan yang diperlukan sebelum pasien tertarik mengikuti program bayi tabung. “Pasutri harus diperiksa dulu baik suami dan istrinya. Kalau suaminya itu mengalami gangguan kualitas sperma misalnya spermanya jelek atau tidak ada sperma samasekali memang layak ikut bayi tabung. Ini disebut infertilitas primer karena faktor suami,” jelasnya. Indikasi lain, ada juga faktor istri. Indikasi pertama, apabila kedua saluran telurnya buntu. Kedua, akibat gangguan ovulasi. Ketiga, faktor rahim bermasalah misalnya ada tumor

atau polip. Indikasi lain, adanya gangguan indung telur seperti PCO. Faktor endometriosis bisa juga menjadi indikasi pasutri ikut bayi tabung dan faktor lain yang tidak bisa dijelaskan. Ia mengatakan, faktor usia sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan bayi tabung. “Usia 37 tahun kualitas telurnya berkurang. Jangan lebih dari usia 40 tahun,” ujarnya. Sejak dibuka bulan Juli tim bayi tabung Bali Royal Hospital sudah mencapai keberhasilan sekitar 50%. Namun, sejak Pebruari 2011 tingkat keberhasilan mengalami penurunan karena kurangnya informasi kepada masyarakat tentang faktor usia juga sangat menentukan keberhasilan. “Pasien yang datang berobat berkisar usia 40-44 tahun,” ujarnya. Ia tak menampik program bayi tabung terkesan mahal. Dalam program bayi tabung,

obat-obatan disuntikkan ke dalam tubuh pasien untuk melakukan stimulasi. “Tujuannya, untuk merangsang agar sel telur keluar lebih banyak. Untuk merangsang ini, perlu obat-obatan yang harganya cukup mahal,” paparnya. Namun, kata dia, kini di Indonesia sedang digalakkan low cost, salah satunya menganti obat injeksi dengan tablet. Artinya, dengan pelayanan yang berkualitas harga terjangkau. Sekarang sedang diteliti, apakah dengan low cost ini angka keberhasilannya baik. Ia mengatakan, saat ini kegagalan bayi tabung lebih banyak disebabkan karena faktor implantasi. Untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya tentang bayi tabung, ia mengajak masyarakat umum untuk datang ke seminar ini, pada Hari Sabtu (4/6), tanpa dipungut biaya. Customer Relation Manager Bali Royal Hopital dr. I.A. Candra Puspita Dewi yang juga ketua perayaan HUT pertama Bali Royal Hospital mengatakan, selain kegiatan seminar bayi tabung, rangkaian kegiatan telah dilakukan sebelumnya, kunjung an ke Panti Asuhan Tat Twam Asi (6/5), donor darah (14/5), seminar sinusitis untuk para dokter (21/5), dan kunjungan ke Panti Werdha Wana Sraya Biaung (27/5). Kegiatan lain, seminar untuk para dokter dengan tema “Low Back Pain (11/6), seminar untuk masyarakat awam dengan tema “Cantik bersama Bedah Plastik” (18/6), Minggu IV Juni akan digelar bakti sosial berupa operasi gratis, funbike (26/6), ngayah dan sembahyang bersama ke Pura Jagatnatha (13-14/6). Seminar untuk umum dengan tema “Nyeri Leher” (2/7). Puncak HUT, Minggu (24/7) akan digelar di Desa Budaya Kertalangu. –ast

SMP. Ia bekerja mulai subuh, pergi ke sekolah dan kembali bekerja sampai larut malam. “Malam hari saya harus mengairi sawah,” katanya. Kadang, ia tertidur di pematang sawah. Ia melanjutkan sekolah di SMP Widya Santi Ubung dan SMA TP 45 Kereneng. Magnum ke sekolah dengan berjalan kaki, berbekal tas kresek berisi buku dan menenteng sepatu. “Saya sering mendapat teguran dari sekolah karena telat membayar SPP. Saya baru membayarnya saat panen,” katanya. Tamat SMA ia pergi ke Kuta dan bekerja sebagai penjual es krim. Awalnya ia mengalami banyak penolakan. Tapi ia terus berusaha sampai akhirnya ia bisa menjalin kerja sama dengan pemasok es krim dan sukses berjualan es krim di kawasan pantai Kuta. Omset penjualannya terus meningkat. Sehari ia bisa mendapat Rp 3 juta dengan 20 kali bolak-balik Seminyak-Kuta. “Karena itu saya dijuluki Magnum,” katanya. Kendalanya saat musim hujan. Magnum berhenti berjualan es. Magnum mudah bergaul dan ramah pada siapa pun. Tak mengherankan jika ia punya banyak teman bahkan banyak turis menjadi teman akrabnya. Ia senang berselancar dan nongkrong di pantai. Sampai kemudian Magnum didaulat menjadi petugas penyelamat pantai. Pekerjaan itu ternyata membawa berkah. Ia bertemu dengan seorang wanita asal Kintamani yang kebetulan menjajakan dagangannya di pantai. Wanita ini yang kemudian menjadi istrinya. Dari kehidupannya yang penuh petualangan, Mágnum belajar banyak hal tentang semangat, perjuangan, menyetir, berbisnis

orang rekan asal Australia mengajak saya melihat etos kerja orang sana. Dari situ pikiran saya benarbenar terbuka,” katanya. Oleh temannya dari Australia, ia dimasukkan di situs Bali Driver Forum. Nama Magnum kian melekat di kalangan turis di kawasan Kuta. Bahkan tamu yang dikenalnya selalu merekomendasikan namanya untuk menjadi guide plus sopir saat mereka berlibur ke Bali. Jiwa bisnisnya pun tergelitik untuk membuka usaha jasa tour & travel. “Awalnya saya menyewa mobil. Lama-lama saya bisa membeli mobil,” kata pria yang menekuni usaha tour & travel sejak 16 tahun silam ini. Dari usaha tour & travel, ia merambah ke usaha spa. “Spa selalu diminati tamu saya,” tuturnya. Setelah melakukan survei selama dua tahun, ia meresmikan usaha spa Inner Glow pada 9 Mei 2009 di kawasan Pantai Kuta. Usaha spanya melambung berkat promosi dari mulut ke mulut dan kini memiliki 85 karyawan. Ia membangun ketiga usaha spanya dalam waktu 15 bulan dan kini tengah menyiapkan spa keempat dan kelima. Omset ketiga spa itu mencapai Rp 150 juta per bulan. Penghasilannya itu belum termasuk dari usaha tur yang mencapai Rp 30 juta per bulan. Magnum mengedepankan kualitas dan service excellent. “Kesuksesan bukan semata kerja keras namun cerdas,” katanya. Tahun depan ia berencana buka cabang di Australia. Dan, buku pertamanya berjudul Orphan to Entrepreneur segera terbit di Australia dalam bahasa Inggris dan diedarkan di seluruh toko buku di Australia. Ia menemukan momentum di dalam hidupnya ketika mulai mengaktifkan panca inderanya

nya sukses dengan kerja cerdas. Ia membaca buku bisnis, majalah bisnis, mendengarkan kaset motivasi dan bisnis, menghadiri seminar dan workshop bisnis dan bergaul dengan pengusaha sukses dari Bali dan dari seluruh Indonesia. Kini selain mengelola usaha, Magnum banyak diminta menjadi pembicara seminar bisnis di kampuskampus di Bali dan luar Bali serta di beberapa komunitas bisnis dan sekolah bisnis di Bali. Minggu (5/6) pukul 16.30 ini ia diundang Made Robert pemilik Aditya Printing Group dan pemilik sekaligus pendiri Business Owner School (BOS) untuk menjadi narasumber di seminar yang akan diselenggarakan di Pop Haris Hotel, Jalan Teuku Umar No. 74 Denpasar dengan tema “Cara Cepat Jadi Bos”. Ia berharap semua kalangan masyarakat bisa hadir di seminarnya. Harga tiket Rp 100 ribu, hari-H Rp 200 ribu (coffee break) khusus 25 orang pendaftar pertama satu tiket berlaku untuk dua orang dan punya kesempatan mendapatkan doorprize HP bergengsi dan hadiah menarik lainnya. Tiket bisa dibeli di Asia IMC, Jln. Tukad Barito No. 8 C Panjer Denpasar, Aditya Printing, Jln. Tukad Pakerisan No. 79 Panjer Denpasar, Aditya Printing, Jln. Kapten Agung No. 6 Denpasar. Untuk informasi pendaftaran, silakan menghubungi Diah di telepon (0361) 920 5769, 0821 4579 5333, 081 999 234 333. Pembayaran tiket bisa ditransfer ke rekening BCA 049 895 8888 a.n. Ni Made Dewi Saraswati. Para wartawan segala media, penyiar radio dan TV dan kontributor TV, Anda diundang hadir gratis di seminar ini dan diundang khusus makan malam bersama Magnum dan Made Robert.

Akan Terus............................................................................................................dari halaman 1 Nenek empat cucu ini mengatakan jika dulu ia memilih sekolah di kedokteran gigi, karena terinspirasi kakak kedua dan ketiganya yang juga dokter. “Kebetulan juga jarak dari rumah ke kampus tidak jauh, di samping pada masa saya dulu belum terlalu sulit untuk masuk kedokteran,” ucap lulusan Kedokteran Gigi Universitas Airlangga tahun 1964 ini. Ia memiliki empat anak; Arya, Ayu Wedayanti, Ayu Partiwi, dan Ayu Laksmi, setelah menikah dengan seorang guru bahasa Inggris I Gusti Putu Wiryasutha (alm.). Perempuan yang menerima kondisi penuaan dengan wajar ini mengatakan, dulu ia sempat bertugas di RS Tabanan. Kalau akhirnya, ia memilih pindah ke Buleleng, karena pada tahun 1972 sang suami meninggal akibat kecelakaan. Tahun 1970-an, ia satusatunya dokter gigi di Buleleng.

Meski pensiun tahun 1993, ia masih menjalankan profesinya, dengan menerima pasiennya di rumahnya. “Saya menerima pasien sejak pukul 09.30 hingga sore hari. Saya hanya melayani memeriksa, mencabut dan membuat gigi palsu. Saya tidak menangani tindakan kecantikan gigi seperti yang tengah ramai sekarang. Jika ada yang ingin memasang kawat, saya sarankan ke dokter gigi lainnya,” papar ibu yang terbiasa tidur pukul 24.00 ini sambil menyatakan akan terus praktik sampai tidak bisa berdiri lagi. Bu Sri juga sempat bertutur sedikit tentang kenangan bersama anak-anaknya yang sejak kecil senang berkesenian. Karena talentanya pula akhirnya tiga putrinya membentuk Ayu Sisters. Dalam setiap penampilan mereka, dirinya dipastikan membuatkan semua busana pentas putriputrinya. “Selama menemani ak-

tivitas mereka, saya lebih banyak mengawasi dengan cara terus ikut dalam semua kegiatan,” katanya penuh bahagia, terlebih keempat anaknya selain aktif menyanyi berhasil menuntaskan pendidikannya hingga sarjana. Sekarang ia memang tidak mengikuti organisasi khusus lansia, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahnya di Banjar Bali, Buleleng. Sesekali ia melakukan hobinya bermain piano dan menyanyi. Sementara hobinya lainnya membuat sprei pun tak terhenti, malah desain yang menarik menjadi banyak disukai dan akibatnya pesanan pun makin banyak. “Saya senang mengerjakannya, kalau malam saya lakukan sambil nonton sinetron,” lanjutnya seraya tersenyum sambil menekankan sejak dulu hingga kini anak-anaknya dan keluarganya adalah hal paling penting dalam hidupnya. —ard

Bantu dengan.....................................................................................................dari halaman 1 merayu sang suami agar kembali segar menghadapi tugas menggunung dengan penuh kesadaran demi kepentingan masyarakat. Ia memiliki seni dalam terjun ke masyarakat yakni membantu dengan hati, tak mau disebut orang tatkala memberi sesuatu kepada warga miskin di desa-desa yang kurang beruntung, murni dari hati dan kemampuan pribadi. Tak jarang masyarakat tak tahu siapa yang membantu mereka menebus kelahiran anaknya di rumah sakit, meringankan beban keadaan tak berdaya karena sakit dan penderitaan masyarakat miskin lainnya yang masih ada di Karangasem. Lain halnya dengan Nyonya Ketut Sumawati Sukerana yang mengaku masih junior, perlu berguru dengan seniornya untuk dapat mendampingi mengemban tugas berat mendampingi sang suami Made Sukerana, S.H. selaku Wakil Bupati Karangasem. Ia mengagumi sosok Ny. Sujani Geredeg, yang memiliki skill seni motivasi dan keterampilan kuliner terasah dengan baik. Bahkan diamdiam ke depan bakal diprogram pemberian pelatihan keterampilan kuliner praktis kepada ibu-ibu PKK dalam membentuk jiwa wirausaha kecil-kecilan dalam menambah pendapatan keluarga. Kini program pemberdayaan organisasi PKK yang menjadi objek tugasnya sehari-hari terus dibenahi terutama ke dalam dan ke luar. Ke dalam, di bidang keuangan selalu menjadi perhatiannya sehingga sistim pelaporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban tidak selalu menganut sistem balancing administrasinya, dengan melakukan audit tradisional, menggunakan pengalaman sendiri. Sedangkan keluar, diarahkan untuk mendorong program yang bermanfaat bagi masyarakat langsung seperti bantuan bagi keluarga kurang mampu, membantu kesehatan dari keluarga miskin, punia untuk yadnya, penanganan sampah plastik, dan pemberdayaan produktivitas kalangan wanita. Ny. Sujani Geredeg mengaku memiliki kiat membantu anakanak sekolah dari keluarga miskin di pelosok desa, dengan langsung memberikan bantuan berupa seragam sekolah baru dengan kemampuan swadaya sen-

diri. Melihat kondisi keterbatasan keuangan PKK yang hanya memperoleh alokasi terbatas dari APBD, ia mengaku tak khawatir kendati banyak Kabupaten lain memperoleh dana APBD dalam hitungan miliar. Terpenting menurutnya, meski sedikit dan kecil bantuannya tetapi tepat sasaran dan mengena. Selain itu pola kerja sama dengan pemangku kepentingan menjadi program pioner dalam menggarap lapisan masyarakat kurang mampu baik segi kesehatan, perumahan dan kesejahteraan sosial lainnya. Ny. Sumawati Sukerana merencanakan dalam waktu dekat bakal bertemu dengan komunitas Dharma Wanita untuk menjalin hubungan kerja sama melalui citra hubungan yang lebih bersifat kekeluargaan dan humanis bukan dengan pendekatan kedinasan, sehingga dapat dilakukan pendekatan antara keluarga saling kenal untuk menjalin hubungan harmonis. Sosok bersahaja Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Karangasem saat ini tampaknya kian solid bersinergi dengan Ketua Tim Penggerak Ny. Sujani Geredeg, dalam membesut organisasi PKK dan Dharma Wanita yang menjadi mitra penting pemerintah dalam mengemban misi mengangkat taraf kesejahteraan masyarakat Karangasem. Betapa tidak, tangan dingin Ny. Sumawati Sukerana dan sifat agresif Ny. Sujani Geredeg, kendati tak banyak bicara di media namun niatnya senantiasa bergolak untuk terus dan terus memacu keberpihakannya kepada kaum hawa, dan warga kurang mampu di pelosok-pelosok desa termasuk kelompok penyandang penyakit sosial gelandangan dan pengemis (gepeng), orang gila dsb. Bukan karena ibu tiga putra berpihak pada suami yang berasal dari Juntal Kelod Kubu, tetapi karena memang kemiskinan masih menuntut campur tangan pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk peduli bersama dan berpihak pada kemiskinan, demi mengangkat harkat dan derajatnya lebih baik dari kondisi yang dialami saat ini. Atas kondisi tersebut wanita kedua di Karangasem itu tak pernah henti merangkai kerja sama, menjalin kinerja dengan berbagai pemangku

kepentingan untuk mengeleminir kemiskinan yang ada. Lembaga PKK menurutnya, harus dapat lebih fokus menggarap persoalan kemiskinan guna menurunkan angka kemiskinan yang masih relatif tinggi di Kabupaten Karangasem yakni mencapai sisa angka 33.179 rumah tangga miskin. Kendati lembaga PKK juga diliputi berbagai keterbatasan namun dalam membantu pembangunan kesejahteraan masyarakat tidak pernah berhenti termasuk dalam menangani kemiskinan itu sendiri. Jika integrasi penanganan kemiskinan dengan pemerintah kabupaten dapat berjalan sinergis maka optimis secara perlahan dalam lima tahun ke depan persoalan kemiskinan di Karangasem dapat terus dieleminasi. Masyarakat selama ini merasa terbantu dengan hadirnya gerakan PKK yang dijalankan dengan sentuhan nurani, panggilan dan pengabdian serta kasih sayang antar-sesama, sebagai implementasi makna kebahagiaan dalam mengemban tugas sebagai mitra pemerintah. Tantangan gerakan PKK memang berat dan dalam situasi serba rumit TP PKK perlu mengadakan tindakan cepat dan tepat untuk menghadapi dua langkah besar, yakni melaksanakan program yang sudah diprioritaskan menyangkut dampak langsung kesejahteraan keluarga dan memperkuat kelembagaan PKK untuk menjaga kualitas kinerja. Ditambahkan, untuk itu perlu direncanakan dan dilaksanakan langkah kongkret memperkuat organisasi PKK sebagai lembaga masyarakat yang andal melalui peningkatan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan PKK. Agar antara satu target dengan target lainnya tidak saling meniadakan perlu dibangun langkah konsultasi, koordinasi dan integrasi kegiatan yang perlu diwujudnyatakan. Tiap Pokja agar memahami lingkup program PKK yang menjadi prioritas kerja di Pokja dan mewujudkan koordinasi secara benar. Sementara hubungan antartim di setiap jenjang bersifat konsultatif dan koordinatif dengan tetap memperhatikan hubungan hierarkhis, hendaknya dapat mewujudkan secara nyata. —arya


14

Tokoh

KIPRAH WANITA

29 Mei - 4 Juni 2011

BKOW Bali Gandeng FIF

Peduli Kesehatan Masyarakat BADAN Kerjasama Organsisasi Wanita (BKOW) Daerah Bali, pada ulang tahunnya yang ke-48 mengadakan sejumlah kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Khusus bagi masyarakat kurang mampu, BKOW menggandeng FIF Cabang Denpasar, yang juga merayakan ulang tahun ke-22 menggelar program pemeriksaan kesehatan gratis.

H

ari itu Senin (22/5), areal pasar Oleholeh Khas Bali Rama Shinta dipenuhi masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan pemeriksaan dan kacamata gratis. “Mata adalah salah satu bagian tubuh yang penting. Bahkan orang seringkali menyebutnya jendela dunia. Betapa kita bisa mengenal dan berperilaku dalam kehidupan karena dapat melihat dengan indra karuniaNya ini,” ujar Koordinator Kegiatan Bakti Sosial BKOW Bali Hesty Dewi Rahman menjelaskan pada acara bertajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu. Ia juga mengatakan pemilik indra ini pun mesti pandai merawat agar tetap sehat dan indah. “Apalagi dengan adanya kesempatan terbuka untuk memeriksakan diri dan keluarga tanpa dipungut biaya, akan sangat bermanfaat bagi yang memerlukan,” lanjutnya. Dalam acara yang dibantu

pula oleh Yayasan Kemanusiaan Indonesia itu, 950-an masyarakat yang datang bukan hanya warga Kota Denpasar dan sekitarnya, ada beberapa yang berasal dari luar kota. “Bersyukur semua terlayani. Ada 480 orang yang mendapatkan kacamata gratis, delapan orang yang segera mendapatkan layanan operasi katarak, dua orang akan diberikan bola mata palsu, sisanya memperoleh obatan-obatan sesuai hasil pemeriksaan,” rincinya sambil menyampaikan keinginan beberapa warga agar mengadakan kembali acara yang sama, sebab banyak orang di lingkungan mereka yang masih membutuhkan. Pekan sebelumnya BKOW, FIF dibantu PMI Kota Denpasar telah pula melaksanakan aksi sosial berupa donor darah serta pemeriksaan kesehatan gratis juga bertempat di Pasar Oleh-oleh Rama Shinta. “Kegiatan donor darah ini merupa-

kan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral kami kepada masyarakat yang membutuhkan. Donor darah dan upaya sosial lainnya memang selalu dilaksanakan FIF terutama menjelang ulang tahun,” ujar Kadek Aan Santosa panitia dari pihak FIF. Sementara itu Ketua Umum BKOW Bali, Tini Rusmini Gorda menyebutkan, dilaksanakannya kegiatan bakti sosial tersebut karena memang menjadi bagian dari program kerja BKOW bidang sosial “Mata adalah organ penting yang tak ternilai harganya dan memiliki peran sangat besar dalam menunjang kehidupan seorang manusia. Menyadari pula penyakit kebutaan yang terus meningkat, tentunya bentuk kegiatan pemeriksaan kesehatan, pengobatan mata dan pemberian kacamata gratis ini tepat dipilih. Sebab, mampu menyentuh semua level masyarakat, tanpa memandang SARA. Dengan demikian selain menjaga kesehatan dengan manfaat lebih nyata juga memperkuat solidaritas dan rasa persaudaraan,” katanya. Hal senada juga disampaikan Manajer FIF Cabang Denpasar Ani Fanawatie. “Bisa dibayangkan, bagaimana ketika Yang Kuasa menggelapkan pandangan mata kita? Kerja sama kami ini juga turut membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Mereka juga dapat mendeteksi dini kesehatannya,” lanjut Ani Fanawatie menyinggung acara yang dikoordinir bersama anggota organisasi BKOW serta karywan FIF Denpasar tersebut. BKOW, kata Gung Tini akan tetap bersinergi dengan FIF dalam kegiatan yang bisa dilakukan bersama ke depannya termasuk pihak-pihak lainnya untuk penanggulangan berbagai permasalahan hidup di masyarakat. “Apa pun jika kita lakukan dengan ikhlas, maka akan dapat berjalan sesuai rencana,” imbuhnya. —ard

Sebagian panitia bakti sosial BKOW Bali

Ani Fanawatie

Panitia dari FIF Ni Made Purnawati, Kadek Aan Santosa, dan Diah Agustianti

Koordinator acara dari BKOW . Dari kiri: Ni Ketut Bagiari,Hesty Dewi Rahman, dan Agek Parwati

Panitia BKOW usai menerima pendaftaran pemeriksaan kesehatan gratis

Kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan mata dan pemerian kacamata gratis


PANCASILA

PKn tak Menukik Ajarkan Pancasila

tkh/sam

Nyoman Purnajaya

menukik mengajarkan Pancasila. “PKn memang membahas Pancasila, namun tak mendalam. PKn, misalnya, mengajarkan sikap tolong-menolong. Tetapi, dalam pembahasan tak disinggung itu pengamalan sila ke berapa dari Pancasila. Mungkin ini salah satu faktor penyebab merosotnya nilai moral anakanak sekarang. Hal semacam ini jarang disentuh,” ujar nenek empat cucu kelahiran Lukluk 57 tahun silam ini. Meskipun budi pekerti dan moral bisa terintegrasi dalam tiap mata pelajaran, Mulyathi tetap menganggap perlu mata pelajaran khusus untuk membahas Pancasila dan UUD’45 secara lebih mendalam. Mata pelajaran PMP penting untuk pembentukan moral dan penanaman nasionalisme, sedangkan pelajaran budi pekerti lebih pada cara bersikap sehari-hari. Minimnya materi pendidikan Pancasila juga dirasakan di SMA. Ini diakui I Nyoman Purnajaya dan I Ketut Loper Winartha dari SMAN 1 Denpasar dan Ida Bagus Ngurah dari SMAN 8 Denpasar. Pen-

tkh/sam

H

dinilai terlalu berat bagi siswa. “Di kelas V SD sudah diajarkan peraturan perundang-undangan. Bagi siswa materi ini masih abstrak, lebih tepat diajarkan kepada anak SMP,” ujarnya. PMP diharapkan dikembalikan seperti dulu. Mata pelajaran ini khusus mengajarkan pendalaman Pancasila dan UUD 1945. “Pendalaman sila-sila dalam Pancasila dan terurai dalam 36 butir Pancasila, termasuk 42 butir Pancasila, diajarkan dalam PMP,” jelasnya. Banyak bentuk kegiatan pendalaman dan pemahaman Pancasila dilakukan sebelum era reformasi. Ada penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di sekolah, termasuk di instansi kedinasan. Ada pula lomba baca puisi dan cerdas-cermat P4 memperingati HUT Kemerdekaan RI. “Materi pendalaman Pancasila itu kini sudah tak ada lagi. Jika saja itu diberikan kembali, banyak sikap hidup yang harus bercermin dari sana,” ujar Mulyathi finalis Ibu

Ketut Loper Winartha

Ida Bagus Ngurah

Desak Made Asri

didikan Pancasila memang tidak lagi diajarkan secara khusus dan mendalam seperti ketika masih ada mata pelajaran PMP. “Pendidikan Pancasila memang ada dalam PKn, tetapi materinya tidak seluas dan semendalam dulu waktu ada PMP,” ujar Kepala SMAN 8 Denpasar Ida Bagus Ngurah. Menurut Nyoman Purnajaya, minimnya intensitas pendidikan Pancasila itu memang membawa konsekuensi bagi anak didik. Pancasila yang tak lagi diajarkan sebagai mata pelajaran otonom di SMA membuat anak didik tidak saja bisa memahami secara baik Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa,” ujarnya. Upaya membangkitkan lagi gelora pendidikan Pancasila di berbagai sekolah, menurut Loper Winartha, sudah direkomendasikan Kongres II Pancasila di Kampus Unud beberapa waktu lalu. “Saat itu kuat harapan para peserta kongres agar pendidikan Pancasila dihidupkan lagi seperti dulu. Tujuan sederhananya, anak didik tidak hanya menghafal, juga mendalami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan seharihari,” ujarnya. Kepala SD 5 Saraswati Denpasar Desak Made Asri menaruh harapan besar agar pendidikan Pancasila mulai digenjot pengajarannya sejak anak didik memasuki bangku pendidikan usia dini. Upaya memperkenalkan sila demi sila dan secara bertahap menanamkan nilai Pancasila sebaiknya dimulai sejak anak duduk di bangku playgroup/TK. Intensitas pengenalan dan pendalaman Pancasila ditambah lagi saat anak masuk SD,” harapnya. —ten,sam

Waspadai Upaya....................................................................................dari halaman 1 Mereka seolah sedang mempreteli Pancasila secara terencana dan sistematis,” ujarnya. Konsekuensinya belakangan terasa. Konflik atas nama suku dan agama mengeras di berbagai daerah. Pesan persatuan dan kesatuan bangsa yang diajarkan Pancasila seakan raib dalam kehidupan sehari-hari. “Ini salah satu akibatnya lho...” katanya. Upaya menggeser Pancasila di lingkungan pendidikan ikut kecipratan. Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau Pendidikan Pancasila lumayan populer di pelbagai sekolah semasa Orde Baru berkuasa. Mata kuliah Pancasila juga menjadi bagian pengetahuan mahasiswa di berbagai kampus. “Awalnya masih bagus karena mata pelajaran Pancasila di sekolahsekolah diganti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn. Tetapi, saat PPKn diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tidak ada lagi pelajaran Pancasila secara eksplisit,” ujarnya. Awal itu terjadi saat munculnya pengesahan UU Sisdiknas tahun 2003. Saat itu, Megawati Sukarnoputri menjadi presiden. Pemerintah yang dipimpin anak penggagas Pancasila Bung Karno itu justru mengusulkan draf RUU Sisdiknas yang tidak memasukkan Pancasila sebagai mata pelajaran dan mata kuliah di lembaga

pendidikan formal kita. “Ini janggal. Mbak Mega sebagai anak Bung Karno yang malah mengusulkan kurikulum kita menghapus pendidikan Pancasila di sekolahsekolah. Kayaknya Mbak Mega kecolongan akibat dendam politik terhadap Orde Baru saat itu,” ungkapnya. Adanya gerakan separatis, seperti munculnya ide Negara Islam Indonesia (NII), dicontohkan sebagai konsekuensi serius melorotnya citra Pancasila dalam membentuk sikap politik kaum elite maupun sikap hidup masyarakat. “Ini bahaya di tengah upaya gerakan reformasi mengubur dalamdalam semua yang berbau Orde Baru,” lanjutnya. Kuatnya sikap politik gerakan reformasi untuk menghabisi warisan Orde Baru itu ternyata gagal diikuti kemampuan mereka merumuskan format yang elegan untuk mengamankan Pancasila. “Kegagalan mereka ini dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan tertentu untuk memasukkan ideologi politik yang bisa mengancam integrasi bangsa. Para pelaku gerakan reformasi hanya mampu memberikan cek kosong kepada pemerintahan transisi hingga sekarang. Kondisi ini harus memaksa pemerintah melakukan take over. Jika tidak berarti kita sedang terancam kehilangan Pancasila yang dibangga-banggakan

itu,” ujarnya. Generalisasi sikap politik terhadap semua warisan Orde Baru yang dituding jelek sebaiknya dihentikan. Kisruhnya kehidupan bangsa dan negara kita selama era reformasi ini justru membangkitkan kerinduan sebagian besar warga masyarakat kepada rezim Pak Harto. “Hasil survei baru-baru ini menunjukkan masyarakat kita justru ingin kehidupan mereka seperti zaman Pak Harto berkuasa. Secara implisit berarti masyarakat merindukan Pancasila jadi solusi mengatasi beragam problem di negeri ini,” katanya. Adanya wacana untuk menghidupkan lembaga sejenis BP7 diharapkan tidak direspons setengah hati oleh pemerintah. “Begitu juga pentingnya digelorakan lagi program penataran P4 dan lomba diskusi serta cerdas cermat P4 seperti dulu,” ujarnya. Harapan senada diutarakan mantan aktivis mahasiswa A.A.N. Rai Iswara dan aktivis FKPPI Bali Haryo Christayudha, S.H. Program penguatan keberadaan Pancasila harus mulai gencar digalakkan lagi. Adanya lembaga khusus yang mengawal Pancasila sebaiknya mulai dipikirkan pemerintah dan wakil rakyat. Program penataran P4 dan berbagai kegiatan lain yang bertujuan memperkuat empati berbagai komponen bangsa terhadap Pancasila harus serius

direspons menjadi kenyataan. Menurut Rai Iswara, ada rasa sedih jika menonton tayangan televisi yang memperlihatkan sementara anak sekolah tidak lagi menghafal sila demi sila Pancasila. “Harus ada gerakan moral bangsa ini untuk menghidupkan lagi Pancasila melalui penataran dan lomba di lembaga pendidikan maupun banjar adat. Ini seperti rasa cinta kita terhadap keluarga. Jika kita sudah kenal semua anggota keluarga lambat laun muncul simpati yang berujung empati. Begitu juga dengan Pancasila,” katanya. Namun, menurut Sekda Kota Denpasar ini, upaya ke arah itu tidak bisa dijalankan sepenggalsepenggal. Pemerintah pusat harus turun tangan untuk membuat sebuah kebijakan nasional yang menyeluruh. “Sosialisasinya harus utuh di seluruh pelosok negeri, tidak bisa hanya diserahkan kepada maunya pemerintah daerah,” ujar Rai Iswara. Haryo mendorong agar pemerintah segera mewujudkan kebijakan nyata untuk menghidupkan lagi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “FKPPI selalu mengamankan Pancasila, dan siap mengawal program pemerintah yang memperkuat sosialisasi dan pendalaman nilai Pancasila dalam kehidupan kita bersama,” ujarnya. —sam

Oknum Notaris Klungkung Tilep Rp 300 Juta Uang Klien PENGUSAHA korban aksi penipuan Ida Bagus Anom melaporkan oknum notaris/PPAT di Klungkung IBNDDD ke Polres Klungkung. Oknum notaris ini dilaporkan menilep Rp 300 juta uang miliknya. Laporan dugaan tindak pidana ini diterima penyidik polisi pekan lalu. Ihwalnya, menurut Ida Bagus Anom, dirinya hendak melakukan transaksi pembelian tanah milik I Pica (alm.) di Desa Karangdadi, Kusamba, Klungkung, seluas 25 are. Melalui pemegang kuasa ahli waris pemilik tanah, Duisna, dibuat

kesepakatan April 2011. “Kami sepakat menunjuk IBNDDD untuk membuat akta jual beli. Saya menyerahkan uang Rp 300 juta melalui notaris tersebut untuk diberikan kepada pemilik tanah disertai bukti hitam di atas putih 13 April 2011. Ternyata uang tidak diberikan notaris, sehingga pemilik tanah ngambul dan membatalkan transaksi,” ungkap Ida Bagus Anom, pengusaha hotel di Candidasa ini. Saat bertemu notaris lagi, uang Rp 300 juta dijanjikan akan dikembalikannya kepada Ida Bagus Anom. Uang tersebut katanya

disimpan di nomor rekening bank atas nama istrinya. “Dia janji akan kembalikan uang saya 20 Mei 2011. Ternyata saat saya hubungi pada waktu yang dijanjikan, notaris tersebut tidak kunjung dapat dihubungi. Dihubungi ke telepon rumahnya, telepon tidak diangkat, di kantor dia tidak ada. Saya kontak ke HP, tidak diangkat. Saya datangi rumahnya di Jalan Nangka Utara Denpasar juga tidak saya temukan. Sebagai klien saya merasa dibohongi. Saya akhirnya laporkan saja ke polisi untuk diproses secara hukum,” ujar Ida Bagus Anom. —sam

Karena kejar Target Lulus UN

Drs. Ida Bagus Anom, M.Pd.

teman yang di luar negeri, dengan memanfaatkan jejaring sosial terasa dekat. Anak dan orangtua karena kesibukan masing-masing terasa jauh sekali,” jelasnya. Terkait isu adanya upaya menggeser dan menghapus Pancasila, Ida Bagus Anom mengakui, sesungguhnya upaya itu sudah ada sejak dulu seperti gerakan DI, DII, PKI, dan sebagainya. “Oleh karena itu, sekarang kita tak boleh lengah,” harapnya. Nilai-nilai karakter bangsa itu ada dalam agama, Pancasila, UUD’ 45, NKRI, dan Binneka Tunggal Ika. “Kita tak boleh tak mengenal Pancasila atau Lambang Negara Garuda,” ujarnya. Ada siswa sampai tak hafal sila-sila Pancasila. Ini mencerminkan adaya pergeseran sikap anak didik. Karena, ciri-ciri globalisasi itu informasi cepat

tanpa batas, kompetisi ketat, iptek makin maju. “Siapa yang tidak senang efektif dan efisien. Namun, di balik itu, kebersamaan memudar menuju kepada individualistis,” ujarnya. Nilai moral bangsa merosot disinyalir sebagai akibat pendidik dan orangtua tak memberikan sedikit penekanan. Karakter dan sikap moral itu harus dibentuk. “Pada zaman Suharto, ini dibentuk, salah satunya melalui Penataran P4,” ujarnya. Sekarang ini, walau namanya tidak P4 lagi, dalam upaya pendidikan karakter bangsa untuk membangkitkan pilar kebangkitan bangsa, karakter ini yang harus ditonjolkan. “Sebenarnya, sikap pendidik dan orangtua ikut bergeser, karena tuntutan ingin praktis, efektif, efisien,” ujarnya. —ten

Revitalisasi Pancasila Melalui Pasraman DESA pakraman di Bali ikut berperan melestarikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. “Nilai keagamaan yang tercermin dari sila ketuhanan diterapkan melalui upacara banten saiban sampai upacara besar, termasuk dalam kegiatan yang berhubungan dengan pawongan, palemahan dan parahiyangan,” ujar pakar hukum adat FH Undiknas University Prof. Dr. I Nyoman Budiana, S.H., M.Si. Menurut Bendesa Desa Adat Panjer ini, implementasi sila kedua tercermin melalui konsep manyamabraya. Sila ketiga berkaitan dengan konsep gilik saguluk briuk sepanggul (musyawarah dan mufakat, menghormati kebinekaan dan persatuan). Sila keempat terlihat dari penerapan musyawarah mufakat melalaui paruman (rapat adat) untuk menghasilkan perarem-perarem desa. Sila kelima berkaitan dengan konsep pangpada poleh pangpada payu. “Revitalisasi Pancasila perlu dilakukan melalui pasraman,” harap Prof. Budiana. Temu wicara menjadi forum untuk ikut melestarikan Panca-

tkh/dok

tkh/sam

tkh/ten

PENDIDIKAN Pancasila di sekolah dasar hingga menengah tak lagi secara eksplisit mengajarkan siswa mengenali dan mendalami Pancasila secara intensif. Nyoman Mulyathi Pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan di Teladan se-Bali 2008 ini. sekolah tidak menukik membahas Pancasila. Mata Sikap moral diakui ada pelajaran pendidikan moral Pancasila diharapkan dalam PKn. Tetapi, pemahamannya masih rancu dan tak menjadi jalan keluarnya.

KALANGAN guru lebih mengedepankan target kelulusan ujian nasional alias UN. Akibatnya, mereka lupa menanamkan pendidikan karakter anak didik. Menurut Kadisdikpora Provinsi Drs. Bali Ida Bagus Anom, M.Pd., kalangan guru terkesan lupa melakukan penanaman karakter anak didik. “Dulu disiplin dan jujur ditonjolkan. Ini sekarang kadang terlupakan karena mengejar target lulus UN. Ini yang menyebabkan karakter dan jati diri bangsa itu semakin luntur,” ujar pria berkumis tebal itu. Dalam pendidikan ada tiga ranah yang harus diajarkan guru. Pertama, kognitif, yakni memberikan kesempatan mengembangkan pengetahuan terhadap anak didik agar kognitifnya baik. Kedua, afektif (sikap, karakter, akhlak, moral). Ketiga, psikomotorik, bagaimana bisa terampil sehingga dengan keterampilannya bisa hidup mandiri. Pengaruh globalisasi dinilai berdampak perubahan sosial. Yang dekat seolah-olah jauh, yang jauh terasa dekat. “Misal,

tkh/ten

Guru Lupa Tanam Karakter

Mulyathi: Kembali ke PMP

al itu ditegaskan Kepala SD Cipta Dharma Nyoman Mulyathi, S.Pd., M.Psi. Menurutnya, mata pelajaran Pancasila sudah diberikan sejak SD sebelum tahun 2005. Pancasila dan UUD’45 termuat secara utuh dalam mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila alias PMP saat itu. Namun, PMP diganti pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) memasuki tahun ajaran 2004/2005. PPKn digabung dengan IPS (ilmu pengetahuan sosial) menjadi pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan sosial (PKnPS) memasuki tahun ajaran 2006/2007. PKnPS diganti menjadi pendidikan kewarganegaraan (PKn) sejak 2008 sampai sekarang. “Padahal, materi pelajaran PKn dan IPS tumpang tindih. Contoh, pembahasan materi ASEAN dan globalisasi terdapat dalam kedua mata pelajaran itu,” ujar Mulyathi yang telah mengabdi sebagai guru sejak 39 tahun silam itu. Materi pelajaran PKn kini

29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 13

Prof. Dr. I Nyoman Budiana, S.H., M.Si.

Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H.

sila. Desa pakraman telah melestarikan tradisi temu wicara ini di balai banjar adat. Temu wicara diikuti krama desa melalui pesakepan rutin tiap bulan. “Kegiatan ini membicarakan hal-hal teknik yang telah ditetapkan dari pesamuhan desa tiap enam bulan,” tambah pakar hukum adat FH Unud Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H. Menurut Prof. Windia, hakikat Pancasila adalah kebersamaan. “Jiwa yang berkembang positif dalam desa pakraman adalah kebersamaan,” katanya. Musyawarah untuk mufakat

dinilai paling mendekati jiwa masyarakat dalam memutuskan sesuatu. “Musyawarah mufakat lebih pas dilaksanakan di desa pakraman dibandingkan memutuskan sesuatu lewat pemungutan suara,” ujarnya. Desa pakraman tidak alergi menerapkan voting. Tetapi, menurutnya, voting hanya jalan akhir. Ini untuk menghindari kesan orang yang berbeda pendapat dianggap musuh. “Tetapi, jika masyarakat sudah memahami jiwa demokrasi itu individu, perbedaan itu dianggap sesuatu yang wajar,” katanya. —tin

Perilaku Primodial.............................................dari halaman 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Sistem Pemerintahan Daerah yang menganut otonomi seluas-luasnya. Penyebab lain, ekses dari kesalahpahaman terhadap reformasi. “Reformasi malah diartinya serba boleh. Kesannya, apa yang dulu tidak boleh sekarang diartikan boleh, sehingga rambu-rambu yang mengikat bangsa Indonesia dalam NKRI banyak dilanggar. Kalau hal ini dibiarkan akibatnya bisa fatal,” ujarnya. Dalam pendangannya, apa yang dialami Uni Soviet bisa terjadi di Indonesia. “Uni Soviet yang awalnya negara federal, sekarang pecah belah hancur lebur. Negara bagian berdiri sendiri. Kalau sampai negara kesatuan pecah, kita tidak utuh lagi sebagai bangsa,” papar Suantina. Ia mengatakan, kita tidak bisa mengingkari ada gerakan seperti NII (Negara Islam Indonesia). Dalam pandangannya, pemerintah tidak cukup sigap dalam merespons persoalan ini. Gerakan ini sudah berhadapan dengan gerakan NKRI. Fenomena yang muncul di lingkiungan internal pemerintahan eksekutif maupun legislatif; adanya perilaku yang bertentangan dengan perilaku kebangsaan atau nasionalisme, ikatan makin menyempit. Ironisnya, kata Suantina, pada zaman reformasi justru ikatan kedaerahan yang muncul, misalnya bupati suatu daerah kabupaten harus berasal dan lahir di daerah kabupaten yang bersangkutan.. Di Bali karena dominan agama Hindu calon bupati juga harus bergama Hindu. “Kalau saya mencalonkan diri menjadi anggota DPRD di Denpasar tidak diterima karena dianggap bukan putra Denpasar. Padahal, mungkin kalau saya mencalonkan diri di Denpasar, saya banyak teman dan network di Denpasar. Tetapi, tidak laku dijual karena bukan putra daerah,” ujarnya. Padahal, menurutnya, sesungguhnya dalam KNRI, siapa saja boleh dicalonkan dan boleh memimpin suatu daerah asalkan dianggap bisa menyelamatkan garda NKRI. “Yang saya lihat hanya di tubuh TNI/Polri yang masih menjaga kebinekaan tersebut,” kata Suantina. Dalam era reformasi, kata Suantina, seharusnya kita lebih dewasa dalam menegakkan demokrasi. Syarat demokrasi adalah kesetaraan.

Kemajuan demokrasi di negara kita sekarang ini merupakan kemajuan semu. Menurutnya, dalam mempertahankan keutuhan NKRI kita harus mereaktualiasasikan nilai Pancasila itu ke seluruh komponen masyarakat. Penataran P4 tidak hanya diberikan dalam dunia pendidikan. Kalau hanya mengubah UU tentang Pendidikan Nasional, itu hanya menyasar dunia pendidikan. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mengenyam bangku sekolah. “Tidak hanya menyasar dunia pendidikan, tetapi harus sampai ke desa-desa, di Bali lewat sosialisasi di banjar agar masyarakat tidak melupakan dasar negara dan falsafah bangsanya serta mampu mempraktikkan nilainilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai, gerakan emosional kebangsaan Indonesia berlawanan dengan gerakan zaman. Gerakan zaman mengarah ke globalisasi, yakni batas-batas negara sudah rapuh. Artinya, orang sudah bicara dunia adalah negara saya. Misalnya, capek menjadi warga negara Australia, orang bisa pindah ke Singapura. Masyarakat global sudah berpikir seperti itu. Di Indonesia malah menyempit, fanatisme daerah dan fanatisme suku. Dalam pandangannya, yang perlu beradaptasi bukan Pancasila-nya, tetapi manusianya. Pancasila jangan dibenturkan dengan keinginan egois kita. Menurutnya, amendemen UUD 1945 sudah kebablasan. Empat kali diamendemen malah sudah tidak dijiwai roh Pancasila. Dengan dihapuskan DPA, dengan dibentukkan lembaga baru DPD itu sama saja dengan semangat liberal. Lucunya, di satu sisi kita sudah sepakat negara kesatuan, tetapi kita malah menpraktikkan negara federal. Menurutnya, tatanan terdahulu yang dibuat pendiri negara kita sudah benar, dan sebaiknya kembali pada UUD 45 yang murni sebelum diamendemenkan. Jika perlu, buatkan undangundang khusus tentang doktrin ideologi nasional, agar semua lapisan masyarakat mengetahui Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa. –ast


RILEKS

35 Jam Berdiri di Puncak Menara

29 Mei - 4 Juni 2011 Tokoh 15

Untungnya staminanya kuat sehingga ia berhasil bertahan dan menyelesaikan aksi tersebut. Meski mengaku cukup berat, namun Hezi Dean tidak mengalami masalah seperti yang dialami Limbad. Itu karena ia telah memiliki pengalaman yang cukup dalam melakukan aksi-aksi berbahaya. Lihat saja aksinya ketika ‘dikubur’ dalam kubah es selama 66 jam, yang akhirnya meraih rekor dunia. Berkat aksi itu nama Hezi Dean melambung tinggi dan diberitakan sebagai pesaing utama David Blaine, ilusionis terkenal asal Amerika yang juga pemegang beberapa rekor dunia. Dalam sebuah acara di Israel, White Night Festival Tel Aviv pada Juli tahun lalu, penonton dibuat kagum oleh aksi Dean dengan tampilan akrobatik di tiga gedung pencakar langit yang memiliki tinggi ratusan meter dari permukaan tanah. Aksi Blaine lainnya adalah ‘penguburan prematur ’ di mana ia berbaring di peti kaca di kubur depan sebuah gedung per-

kantoran di New York dan di sana diawasi oleh penjaga selama 24 jam sehari. Ia dilaporkan hanya diberi makan 44 sendok makan air tiap hari melalui selang kecil (sedotan) dan seminggu setelah ia di-

kubur ia muncul dengan kondisi baik-baik saja tanpa membongkar kuburan itu. Apakah Dean juga akan melakukan hal yang sama? Tunggu saja. —dia/berbagai sumber

Hezi Dean, saat melakukan aksinya berdiri di atas menara

BERDIRI di puncak menara setinggi 89 kaki atau sekitar 27,13 meter selama 35 jam lebih terusmenerus, siapa sanggup? Tidak tidur, tidak makan, hanya ada kateter untuk menampung air seni. Inilah aksi berbahaya Hezi Dean, ilusionis juga stuntman asal Israel yang mencoba memecahkan rekor dunia berdiri di menara terlama.

R

ekor ini sebelumnya dipegang David Blaine, ilusionis asal Amerika, yang berdiri di menara setinggi 30 meter di Bryant Park, New York, selama 34 jam, pada 2002. Setelah sembilan tahun bertahan di tangan Blaine, Dean berhasil mematahkannya. Ia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya selama 35 jam. Sebagai aksi terakhir setelah melakukan perjuangan yang luar biasa itu, Dean menjatuhkan dirinya ke tumpukan kardus yang sudah menunggunya di bawah. Ini bukan pertama kalinya Dean berhasil menumbangkan rekor Blaine. Tahun lalu ia juga merebut rekor Blaine yang bertahan selama 63 jam dalam kubah es. Dean menumbangkannya dengan 66 jam. Dengan prestasi sekarang, maka sudah dua rekor dunia yang direbut

Dean dari tangan Blaine. Dean yang berdiri di menara yang berada di Rabin Square, Tel Aviv, mengakui apa yang dilakukannya sangat sulit. Ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya dengan tetap berkonsentrasi. Tidak bisa banyak bergerak karena ruang berdiri yang terbatas. Dia harus berjuang keras agar tidak mengantuk. “Saya ingin memberi tahu Anda, ini sangat sulit,” ujarnya setelah sukses mengukir rekor baru. Untuk berada di puncak menara, Dean diangkat dengan menggunakan crane atau derek untuk mengangkat barangbarang berat, sejak pagi hari. Dan dia berdiri di sana sampai keesokan malamnya. Ketika usai melakukan ‘aksi gila’ itu, Dean mengungkapkan betapa beratnya perjuangan dia di atas menara. Bukan hanya nyali

yang diperlukan, tapi juga kekuatan stamina dan kemampuan untuk berkonsentrasi. Aksi semacam ini juga pernah dilakukan pesulap Indonesia, Limbad, pada 2009 lalu, dalam sebuah acara yang disponsori sebuah televisi swasta. Memang tidak persis seperti Hezi Dean, dari segi waktu maupun kesempatan beristirahat. Tapi setidaknya pesulap kesohor Indonesia pun pernah melakukan hal yang sama. Ketika itu, Limbad bertahan berdiri hampir 20 jam. Ia tidak terusmenerus berdiri, ada empat kesempatan beristirahat masingmasing 15 menit. Kesempatan itu dipakai untuk ibadah salat wajib, juga pemeriksaan dokter. Karena tidak makan dan minum juga factor cuaca yang panas, Limbad sempat mengalami dehidrasi. Ia bahkan mengalami halusinasi dan hampir jatuh.

Menu Sehat untuk Lansia NUTRISI yang baik adalah salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan agar tetap sehat di usia baya. Menurut Dokter Tuti Kuswardhani Kepala Instalasi Geriatri RS Sanglah, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menu bagi lansia adalah: 1. Membuat masakan dengan bumbu yang tidak merangsang seperti pedas, atau asam karena dapat mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan. Mengurangi pemakaian garam yakni tidak lebih dari 4 gram per hari untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi. 2. Mengurangi santan, daging yang berlemak dan minyak agar kolesterol darah tidak tinggi. Memperbanyak makanan yang berkalsium tinggi seperti susu dan ikan. Pada lanjut usia khususnya ibu-ibu yang menopause sangat perlu mengonsumsi kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. 3. Memperbanyak makanan serat, agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. 4. Mengurangi konsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi agar gula darah normal khususnya bagi penderita kencing manis agar tidak terjadi komplikasi lain. 5. Menggunakan sedikit minyak untuk menumis dan kurangi makanan yang digoreng. Memperbanyak makanan yang diolah dengan dipanggang atau direbus karena maknan mudah dicerna. 6. Membuat masakan agar lunak dan mudah dikunyah sehingga kesehatan gigi terjaga. —ast

Halo Dura, Saya Enny seorang karyawati berusia 35 tahun. Di sekitar mata saya sudah mulai terlihat kerutan, terutama di bagian bawah mata. Di atas mata kiri, lipatan dan kerutan terlihat lebih jelas sehingga memengaruhi bentuk mata saya. Selain itu, di wajah saya sudah mulai terlihat noda/ flek, meskipun tidak terlalu banyak. Alangkah baiknya jika House of Dura dapat membantu saya memberikan solusi bagi permasalahan saya, agar dapat diatasi lebih dini. Enny Mahatmiya Halo Ibu Enny, Terima kasih atas partisipasi ibu dalam rubrik konsultasi mingguan House of Dura. Kerutan halus di wajah dan flek-flek merupakan salah satu proses penuaan yang terjadi pada kulit. Proses ini bisa dipercepat oleh efek polusi seperti sinar matahari dan radikal bebas. Kerutan halus di sekitar mata dapat dikurangi dengan perawatan dari kami yaitu “Dura Active Cell”. Dura active cell for eyes menggunakan teknologi radio frequency terkini, dengan kombinasi terapi warna, yang berfungsi meningkatkan metabolisme sekaligus memperbaiki kinerja sel-sel kulit. Perawatan ini dapat dioptimalkan dengan penggunaan “eye cream antiwrinkle formula” yang secara khusus digunakan untuk kulit di sekitar mata Anda. Mengandung vitamin E yang mampu mengurangi kerutan-kerutan halus, lingkaran hitam bawah mata, sekaligus menjaga kelembaban kulit di sekitar mata. Untuk permasalahan flek wajah ada baiknya berkonsultasi pada dokter klinik kami untuk melihat seberapa dalam dan luas flek di wajah Ibu untuk memberikan solusi yang tepat dan terbaik bagi masalah kulit Ibu. Untuk masalah flek pada kulit, kami menghadirkan perawatan “3 magic step, Dura light peeling, dan Dura Revival”. Semoga jawaban dari kami merupakan solusi terbaik bagi masalah kulit Anda. Untuk Ibu Enny Mahatmiya, kami berikan perawatan Dura ActivCell for Eyes Treatment gratis. Salam hangat dari kami.

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Koreksi Salah Make-up Yth. Ibu Agung, Saya ingin menanyakan bagaimana solusi untuk mengoreksi kesalahan dalam menggunakan lipstik yang tampak berantakan, terlalu tebal dan salah warna. Serta mohon ditampilkan contoh busana payas nista dengan menggunakan kebaya. Darmiasih, Kuta Yth. Adik Darmiasih, Wajah akan ter lihat cantik dan cerah dengan penggunaan make-up , namun apabila salah cara mengaplikasikan make-up maka hasilnya akan terlihat tidak baik. Berikut ini beberapa cara untuk mengatasi masalah Adik dalam menggunakan lipstik. 1. Berantakan Solusinya, gunakan lipliner agar riasan terlihat lebih rapi. 2. Ketebalan Solusinya, ambil tisu dan katupkan ke bibir. 3. Salah warna Solusinya, campur dengan lipstik warna lain. Jika lipstik berwarna merah cabai, campur dengan lipstik warna muda agar warna yang dihasilkan menjadi lebih soft. Berikut ini contoh busana payas nista dengan menggunakan kebaya. Selamat mencoba.


16

Tokoh

TATA RIAS

29 Mei - 4 Juni 2011

Ibu Agung (tengah) dan para pemilik salon berprestasi se-Indonesia berpose dengan busana adat Bali tengkuluk lelunakan di GWK

Sari Ayu Martha Tilaar Berikan Penghargaan Kepada 41 Pemilik Salon Berprestasi se-Indonesia SARI Ayu Martha Tilaar memberikan penghargaan kepada 41 salon berprestasi se-Indonesia. Mereka mendapatkan hadiah tour ke Bali. Istimewanya, mereka diantar langsung National Salon Manager Netty Herawaty, Product Manager Sari Ayu Dian Asmarani Salindri, Trade Marketing Manager Christin Kusumastuti, Regional Trade Manager Area Timur Toni Toripa, Brand Manager Cabang Bali dan NTB Rudi Haryono, dan Direktur PT Martina Berto, Tbk. Bryan Emil Tilaar.

Bu Agung berfoto bersama Teruna-teruni Kota Denpasar tahun 2011

Pemenang I,II,dan III Teruni Kota Denpasar dengan busana khas Kota Denpasar tengkuluk lelunakan

D

ipilihnya Bali se bagai objek tujuan mereka karena Bali memiliki kekhasan budaya. Selain diajak mengunjungi objek-objek wisata di Bali, para pemilik salon itu pun diberikan kesempatan menggunakan busada adat Bali tengkuluk lelunakan yang ditangani Salon Agung. “Kebetulan, Sari Ayu Martha Tilaar adalah mitra kerja kami,” ujar pemilik Salon Agung Anak Agung Ayu Ketut Agung didampingi beberapa stafnya. Mereka mengaku senang dan memberi apresiasi positif akan budaya Bali khususnya busana adat Bali. Mereka lebih senang lagi karena pemotretan dengan busana adat Bali mengambil lokasi indah di objek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran, Rabu (11/5). Pemakaian tengkuluk lelu-

nakan ini, kata Bu Agung, merupakan bagian dari pelestarian budaya. Zaman dulu, namanya tengkuluk/kain cerik, sesuatu yang multifungsi bagi wanita Bali zaman dulu. “Zaman dulu, wanita Bali tak memakai baju. Jadi, tengkuluk/ kain cerik ini yang berfungsi menutupi payudara, menutup kepala untuk menghindari rambut dari sengatan sinar matahari, dan sebagai sunan (alas penjunjung beban di kepala). Sejak tahun 1960, khusus di Kota Denpasar, tengkuluk lelunakan dipakai untuk acara ngaben. Tengkuluk lelunakan juga dijadikan busana tari yakni tari tenun. Tahun 1996, dalam rangka Hari Kesatuan Gerak PKK, tengkuluk lelunakan diseminarkan menjadi busana untuk membawa sarana upacara resmi seperti untuk menyambut tamu,

pewara, pembawa kempul, dll. sehingga tidak lagi menggunakan busana payas agung yang disakralkan. Ditegaskan Bu Agung, busana tengkuluk lelunakan ini bukanlah busana pengantin. Sejak lahirnya Teruna-teruni Kota Denpasar, tengkuluk lelunakan ini dijadikan busana khas/busana kebesaran mereka saat ber-

langsungnya grand final. Terkait pengenalan busana tengkuluk lelunakan dan mendukung Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, LKP Agung telah memberikan pelatihan gratis kepada lebih dari 5.000 masyarakat Kota Denpasar, bekerja sama dengan Kelom-

pok Media Bali Post (KMB). Dalam satu kali kegiatan, LKP Agung melatih selama tiga jam. “Harapan kami, minimal masyarakat tahu pemakaiannya misalkan untuk acara ngaben dan bisa membuat sendiri,” ujar Bu Agung. Rupanya tak hanya masyarakat umum yang tertarik busana tengkuluk lelunakan ini,

beberapa dokter spun meminta kursus kilat ke LKP Agung untuk suatu lomba yang mengharuskan mereka mengenakan busana daerahnya masing-masing. Dipilihnya busana tengkuluk lelunakan, kata dokter-dokter cantik itu ketika ditemui saat latihan di LKP Agung, Jumat (27/5), karena pengerjaanya yang

Serangkaian HUT ke-9 Bali TV Ny. Satria Naradha Jadi Model SERANGKAIAN HUT ke9 Bali TV, digelar beberapa kegiatan seperti parade tari Bali, parade busana adat ke pura, dan salah satunya Pelatihan Tata Rias, Membuat dan Memasang Sanggul Bali (pusung tagel) menggandeng Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Minggu (22/5) di Wantilan Bali TV. Pelatihan untuk mengasah keterampilan dalam bidang kecantikan ini memang selalu mendapat perhatian khusus dan banyak diminati masya-

rakat khususnya kaum perempuan. Buktinya, pelatihan kali ini diikuti 150 peserta dari kalangan pelajar hingga ibu rumah tangga. Materi yang diberikan meliputi tata rias diri sendiri, sanggul Bali (pusung tagel), dan tengkuluk lelunakan. Hadir dalam kesempatan itu Ny. Satria Naradha. Bahkan, ia didaulat sebagai model make up dan pemasangan sanggul Bali serta tengkuluk lelulanakan. Usai pelatihan, dipilih enam peserta terbaik dan mendapatkan bingkisan dari

Viva Cosmetic yang mendukung penuh kegiatan ini, serta dari sponsor lain. Pimpinan LKP Agung Anak Agung Ayu Ketut Agung mengatakan melalui pelatihan ini diharapkan para peserta dapat memiliki skill/ keterampilan, paling tidak untuk merias diri mereka sendiri, sehingga kaum hawa ini bisa menghemat pengeluaran karena tanpa harus ke salon. Salah seorang peserta pelatihan, Kadek Sulasih mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengaku men-

dapatkan banyak manfaat terutama menambah keterampilan dan wawasannya dalam hal kecantikan. Hal senada disampaikan peserta lain, Sita Sari. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Dalam kesempatan lain, LKP Agung juga telah menjadwalkan pelatihan membuat dan memasang sanggul Bali (pusung tagel), tata rias diri sendiri, serta pemakaian busana adat Bali yang baik dan benar kepada

simple. Mereka yang tertarik belajar tengkuluk lelunakan itu adalah dr. Dewa Ayu Supriyantini, dr. Ni Putu Ayu Saraswati, dr. Gusti Ayu Made Sri Widyastuti, dan dr. Eviria Debora Pangkahila. “Belajar membuat tengkuluk lelunakan ini tidak sulit, cukup belajar satu jam,” ujar Bu Agung. 1.200 kader PKK desa dan anggota organisasi perempuan se-Kabupaten Klungkung daratan. Pelatihan gratis ini bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Klungkung, Koran Tokoh, dan Viva Cosmetic. Pelatihan mulai digelar besok, Senin (30/5) (7/6), (8/6), (13/6), (17/6), dan (20/6). Usai membekali para peserta dengan keterampilan tata rias, akan diadakan “Lomba Pusung Tagel dan Tata Rias untuk Diri Sendiri”, menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan serta melestarikan ajeg Bali, Jumat (24/ 6) di Balai Budaya Kabupaten Klungkung. Kegiatan kolosal ini direncanakan akan tercatat dalam rekor Muri. Dalam kesempatan itu, para istri-istri SKPD akan menampilkan Tari Pendet diiringi gamelan oleh bapak-bapak SKPD.

Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, LKP Agung yang juga merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) ini memberikan diskon 50% bagi yang berminat mengikuti pelatihan tata kecantikan kulit, tata kecantikan rambut, dan tata rias pengantin. Keuntungan lain, peserta pelatihan mendapatkan bonus pelatihan tata rias pengantin Bali modifikasi dan modern, langsung dari Anak Agung Ayu Ketut Agung.

LKP AGUNG Jln. WR Supratman No. 303 A Tohpati, Denpasar dan Jln. Anggrek No. 12 Denpasar Tlp. 0361-233850, 7421987, 081 1393602

Buruan Daftar….. Hanya Rp 1,5 juta

Pelatihan Tata Rias, Membuat dan Memasang Sanggul Bali (pusung tagel) menggandeng Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Minggu (22/5) di Wantilan Bali TV. Tampak Ny. Satria Naradha saat didaulat menjadi model

645_tahun_xii__29_mei-4_juni_2011  

645_tahun_xii__29_mei-4_juni_2011