Page 4

4

tribun finance & investment

KAMIS 19 MEI 2011

Investasi 10 Miliar Dolar „ Reliance Group India Bidik Berbagai Sektor „ Bisnis Media pun Disasar

KONTAN/MURADI

INDONESIA ENERGY - Suasana pameran Indonesian Petroleum Association di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (18/5/2011). Pameran yang diikuti sekitar 100 perusahaan tersebut mengusung tema ‘Indonesia Energy: Growth, Security, and Sustainability’. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 20 Mei 2011.

Korsel Tambah Pesawat Buatan PT DI BALI - Korea Selatan meminta tambahan armada pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) Indonesia. Selama ini, Korea Selatan merupakan salah satu pengguna pesawat CN-235 yang cukup banyak. “Korea memang berniat untuk menambah CN-235,” ungkap Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa di sela-sela acara penadatangan MoU dengan Korea Selatan di salah satu hotel di Bali (18/5). Hanya saja belum jelas, Korsel akan memesan berapa lagi pesawat dari Indonesia. Hatta

berharap bahwa pesawat CN235 buatan Indonesia lebih banyak lagi digunakan di Korea. “Saya berharap, pesawat tersebut banyak terbang di langit Korea Selatan nantinya,” katanya. Selain mengungkapkan rencana pembelian pesawat, Hatta juga mengungkapkan nilai investasi dari Korsel ke Indonesia. Ia memperkirakan nilainya akan melampaui 20 miliar dollar AS setelah kemarin menandatangani nota kesepahaman. “Saya memprediksi itu ada potensi (investasi) lebih dari 20

ISTIMEWA

miliar dollar AS,” ujar Hatta. Untuk itu Hatta berharap, pembicaraan yang akan dilakukan dalam working group kedua belah negara dapat menyelesaikan masalah-masalah seperti perizinan di Indonesia untuk investor dari Korea Selatan agar mudah masuk dan berinvestasi di sini. “Di sinilah tugas dari working group nanti itu, yang harus menyelesaikan beberapa hal yang meyangkut katakanlah perizinan ini dan sebaginya,” tuturnya. Hatta menambahkan, setelah penandatanganan ini juga akan dibentuk sebuah badan kesekretariatan yang berada di bawah koordinasi menteri perekonomian. Kesekretariatan ini dapat berfungsi untuk menyelesaikan masalah-masalah di kemudian hari. “Kita nanti akan membentuk kesekretariatan bersama di bawah kementerian perekonomian. Sekretariat ini bisa menyelesaikan berbagai macam persoalan,” ungkapnya. Penandatanganan sembilan MoU kemarin di saksikan langsung oleh Hatta Radjasa dan Menteri Ekonomi Korea Selatan, Choi Joong Kyung. (tik)

Pertamina Terbitkan Global Bond JAKAR TA - PT Pertamina (Persero) berencana JAKART menerbitkan obligasi global alias global bond senilai 1 miliar dollar AS. Dananya akan digunakan untuk berbagai investasi tahun ini. “Banyak lho (investasi Pertamina). (Blok) Cepu saja masih memerlukan tambahan, kemudian untuk West Madura Offsore dengan 80 persen Pertamina perlu tambahan modal. Belum lagi Blok Angola, itu merupakan peluang investasi baru,” ungkap Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar, Rabu (18/5). Surat utang BUMN migas itu bertenor 10 tahun dengan tingkat bunga sebesar 5,25 persen. Bunga surat utang ini lebih tinggi 235 basis poin dibandingkan kupon obligasi global

pemerintah. Rencananya, obligasi global ini akan diluncurkan pada akhir Mei tahun 2011 dan jatuh tempo pada bulan yang sama tahun 2021. Pertamina dibantu oleh Citigroup Global Markets, Credit Suisse Securities, dan HSBC Securities. “Sebelum memberikan persetujuan ke Per tamina itu kita sudah tanya dulu, jadi kita optimis dengan tambahan 1 miliar dollar AS itu tidak besar. Sudah dihitung benar-benar. Sehingga global bond ini diserap untuk investasi Per tamina 2011,” ujarnya. Saat ini Per tamina sedang menggelar roadshow ke Hong Kong, New York, London, dan Singapura. (tribunnews/ugi)

JAKARTA - Reliance Group India, salah satu perusahaan raksasa asal India, berencana untuk berinvestasi di Indonesia senilai 5-10 miliar dollar AS. Dana sebesar itu akan diinvestasikan di tiga sektor utama, yakni pertambangan, pembangkit listrik, dan infrastruktur. Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengatakan, untuk sektor infrastruktur Reliance Group akan membangun sistem transportasi batubara Reliance Group ke pelabuhan terdekat di Sumatera Selatan. “Mereka juga berkeinginan berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Jakarta dan sekitarnya, termasuk rail link (jaringan kereta api) antara airport dengan stasiun kereta api,” kata Gita usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima Direksi Reliance Group di Kantor Presiden, Rabu (18/5) siang. Untuk pembangkit listrik, lanjut Gita, rencananya perusa-

haan itu membangun pembangkit listrik menggunakan tekhnologi surya, batubara, maupun panas bumi. “Untuk sektor pertambangan, mereka rencana mengambilalih tambang batubara di Sumatera Selatan,” kata Gita. Di luar tiga sektor di atas, Reliance juga berminat berinvestasi di sektor financial services dan media. Apalagi diketahui perusahaan ini menjadi salah satu pemegang saham di DreamWorks dan bermitra dengan sutradara papan atas Hollywood Stephen Spielberg. “Mereka juga memeliki Bloomberg TV di India,” kata Gita. Hadir jajaran direksi Relience Group antara lain Chairman Reliance Group India, Anil Ambani. Dia dikenal salah satu orang kaya sejagat di dunia versi majalah Forbes. Di India, dia nomor empat terkaya dengan total kekayaan 13,9 miliar dollar AS pada 2010 lalu. Selain Anil Ambani, ikut mendampingi antara lainjajar-

Mereka juga berkeinginan berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Jakarta dan sekitarnya, termasuk rail link (jaringan kereta api) antara airport dengan stasiun kereta api. GITA WIRJAWAN Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM)

an Direksi Chairman Reliance Group lainnya seperti CEO Infrastructure Jayarama Chalasani, Indonesia Group Director Mukund Dongre, dan Reliance Indonesia Hoshin Cho. Di luar itu, pemerintah juga menyodorkan penawaran proyek pembangunan kereta rel

ganda (double track) SemarangSurabaya Reliance Group. Menurut Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Entitas bisnis milik Anil Ambani ini juga tertarik menggarap proyek infrastruktur seperti pelabuhan laut dan bandar udara. “Salah satunya kita tawarkan double track Semarang-Surabaya,” kata Freddy Numberi. Pemerintah juga menawarkan proyek kereta lingkar Jakarta terutama Manggarai-Soekarno Hatta yang melalui Pluit Jakarta Utara. “Kita tawarkan dalam bentuk kerjasama pemerintah swasta atau KPS,” jelas Freddy. Pemerintah juag berharap Reliance Group bisa menggandeng mitra lokal yang ada di Indonesia. Namun berdasarkan pertemuan di kantor presiden hari ini, nampaknya Reliance lebih mengincar proyek infrastruktur di Bali. “Tapi Reliance ini maunya dia supaya kalau bisa di Bali. Ada beberapa perusahaan India yang sudah masuk,” katanya. (tribunnews/aco)

Mobil Murah Rp 40 Juta Segera Diluncurkan JAKAR TA - Pemerintah JAKART berencana meluncurkan program mobil murah dengan harga Rp 45 juta per unit. Mobil ini dirakit di Indonesia bekerjasama dengan produsen mobil terkenal dunia seper ti Daihatsu dan Suzuki. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, protipe mobil murah ini akan dipresentasikan dalam waktu dekat. “Sekarang para tekhnisi saya dan para (pejabat) Eselon 1, 2, dan 3 saya sedang menggodok itu,” kata Hidayat di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (18/5). Diharapkan produksi mobil murah ini bisa dilakukan

tahun depan. “Penyiapan fiskal kita sedang proses dan diharapkan semua selesai tahun ini. Tahun depan bisa produksi,” ujarnya. Dikatakan mobil murah ini diharapkan bisa dipakai oleh para petani sebagaimana harapan Presiden SBY sebelumnya yang menginginkan ada mobil murah untuk petani di daerah. “Orang itu sekarang yang dulunya belum punya motor, lalu punya motor. Yang sudah 10 tahun naik motor, mau naik mobil. Itu lifestyle, kamu tahu enggak dan itu kebutuhan,” kata dia. Dikatakan untuk desain mobilnya sedang disiapkan proposal. “Nanti desainnya bisa disayembarakan,” ujar dia.

Tak hanya mobil murah Rp 40 juta, Hidayat juga mengatakan ada usulan memproduksi mobil murah dengan kisaran Rp 85 juta

per unit. “Ini green car, mobil yang tidak poluted. Ini mobil bagus. Nanti Jepang juga berminat join (ikut),” ujar dia. (aco)

ISTIMEWA

Proses IPO di BEI Kalahkan Malaysia JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah proses permohonan initial public offering (IPO) panjang dan berbelit sehingga dinilai sebagai salah satu faktor penghambat pertumbuhan jumlah emiten di BEI. Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito, proses IPO sudah cukup cepat dan singkat. Jauh lebih singkat dibanding di Malaysia yang memakan waktu enam hingga sembilan bulan. “Jauh lebih cepat dari Malaysia yang memakan waktu enam hingga sembilan bulan,” katanya di sela-sela acara Investor Day 2011 di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (18/5). Dijelaskan Eddy, untuk proses perijinan dan permohonan awal IPO calon emiten, jika

persyaratan telah dilengkapi, proses hanya memakan waktu dua minggu. Selanjutnya, saat dokumen dilimpahkan ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BapepamLK) waktu yang diperlukan satu hingga satu setengah bulan. “Kalau dokumen komplit, dua minggu di Bursa. Bapepam satu sampai satu setengah bulan bisa, termasuk standar akuntansi yang tidak ada masalah. Cukup singkat saya kira,” tegas Eddy. Sebelumnya, Direktur Corporate Finance PT Makinta Securities, Harry Kurniawan, meminta BEI memadatkan waktu proses IPO dari biasanya empat hingga enam bulan. Ia menilai rendahnya penambahan emiten baru di pasar modal Indo-

nesia salah satu penyebabnya karena panjang dan berbelitbelitnya proses IPO. Rata-rata penambahan emiten baru di BEI per tahunnya hanya 25 emiten. Menurut Harry, potensi Indonesia untuk menambah emiten sangat besar. Seharusnya, dengan potensi yang dimiliki, penambahan emiten baru di Indoesia bisa empat kali lipat lebih besar dari yang sekarang. Untuk itu, ia menyarankan BEI melakukan terobosan-terobosan baru, termasuk memadatkan waktu yang dibutuhkan untuk proses IPO. Direktur Pengembangan Bursa BEI Fredrika Widyasari Dewi menyatakan, acara Investor Day menjadi ajang peningkatan likuiditas pasar saham Indonesia. Tahun lalu tercatat sebanyak

180 ribu sub account baru berpindah ke PT Kustodian Sentral Efek Indonesia di BEI. Ada 16 emiten yang melakukan presentasi dalam Investor Day kali ini. Perusahaanperusahaan tersebut di antara PT International Nickel Indonesia Tbk, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, PT PP Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Agung Podomoro Land Tbk, PT Gozco Plantations Tbk, PT Kalbe Farma Tbk, PT Gajah Tunggal Tbk, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk, PT BW Plantation Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Intraco Penta Tbk, PT Harum Energy Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Surya Semesta Internusa Tbk, dan PT Bumi Serpong Damai Tbk. (tribunnews/ugi)

Minimnya Keberpihakan Industri Penerbangan Nasioanal TERJADINYA kecelakaan pesawat buatan China, MA-60 milik PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) di Teluk Kaimana, Papua Barat, boleh dibilang menjadi bukti kurangnya keberpihakan Pemerintah RI terhadap industri pesawat terbang nasional. Indonesia dianggap mampu memproduksi pesawat dengan kemampuan lebih dari MA-60 dan harganya pun lebih murah, namun pemerintah tetap ngotot agar Merpati mengoperasikan pesawat buatan Xian Aircraft Industry tersebut. Mantan Direktur Utama IPTN (saat ini menjadi PT Dirgantara In-

donesia) Hari Laksono mengungkapkan, sebenarnya Merpati sebelumnya telah menggunakan pesawat CN-235 produksi IPTN. Namun ketika maskapai itu membutuhkan pesawat dengan kapasitas 50 kursi pada tahun 20042005-an, pemerintah atau Merpati justru tak mengambil lagi pesawat CN235 produksi IPTN. Buntutnya CN-250 yang berkapasitas 50 kursi milik IPTN tak jadi diproduksi. Dengan alasan itu, Merpati memutuskan membeli pesawat MA-60 dari Tiongkok. “Padahal kalau segi harga sama saja, ketika itu CN-235 juga hanya sekitar 11 juta dollar AS. Dan sekarang

katanya pesawat MA-60 juga harganya segitu. Padahal, jika dilihat dari sisi keamanan penerbangan internasional, CN-235 lebih unggul karena memiliki sertifikat FAA (otoritas AS) dan EASA (otoritas Eropa). Bagaimana kami produksi pesawat itu, di mana-mana pabrik pesawat baru akan produksi bila ada pesanan, ada downpayment-nya,” kata dia dalam diskusiKasusMerpatiMA-60,Nasionalisme, dan Industri Perubahan yang digelar Rumah Perubahan 2,0, di Jakarta, Rabu (18/5). Hari Laksono mengungkapkan, pesawat MA-60 yang jatuh di Kai-

mana hanya mengangkut 27 orang. Dalam pengetahuannya, jumlah penumpang sebanyak itu adalah terbanyak di kawasan Papua. Artinya, sebenarnya MNA bisa menggunakan pesawat CN-235 yang berkapasitas 35 kursi ketimbang menggunakan MA-60 yang berkapasitas 56 orang, namun tak terisi penuh. Menurut Hari Laksono, bukti tambahan bahwa keberpihakan atas industri penerbangan nasional sangat minim adalah ketika Lion Air memesan 178 Boeing B737-900ER. Atas pemesanan pesawat tersebut, industri pesawat terbang nasional tak

mendapat kompensasi apapun. Padahal di negara-negara lain, ketika suatu negara memesan pesawat dari pabrikan dari negara tertentu, ada kompensasi. “Pemerintah China dan India misalnya, mewajibkan 30 persen dari nilai pembelian atas pesawat ke sejumlah negara digarap oleh pabrikan di dalam negerinya. Kalau untuk kasus B737-900ER milik Lion Air misalnya, tak muluk-muluk cukup lima persen saja dari total nilai pembelian, maka dalam perhitungan kasar uang senilai 1,75 miliar dollar AS akan kembali ke negeri ini,” ungkap dia.

Hari menduga, banyak kelemahan dalam proses pengadaan MA-60 yang akhirnya bisa menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Pertama, pesawat MA-60 tidak memiliki sertifikasi FAA, padahal semua jenis pesawat lain yang beroperasi di Indonesia memiliki sertifikat FAA. Kedua, jika satu pesawat mengalami kecelakaan, maka pabrikan pesawat akan melakukan grounded atas pesawat buatannya di seluruh dunia atau menerbitkan service bulletin untuk panduan perbaikan, kenyataan yang berbeda terjadi pada MA-60. (tribunnews/ewa)

TRIBUN KALTIM 19 MEI 2011  

EDISI CETAK TRIBUN KALTIM 19 MEI 2011

TRIBUN KALTIM 19 MEI 2011  

EDISI CETAK TRIBUN KALTIM 19 MEI 2011

Advertisement