Page 1


Tody Pramantha

Satu Kata Satu Rasa Kumpulan Sajak

Sebaris catatan kecil tentang rindu, tentang kenangan dan tentang cinta yang masih tersisa.


Satu Kata Satu Rasa Oleh: Tody Pramantha Copyright Š 2012 by Tody Pramantha Desain Sampul dan Tata Letak: Tody Pramantha @todyumna imajinasitody@yahoo.com www.satukatasaturasa.tumblr.com

Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com


Terima Kasih kepada Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pemilik Segala Cinta dan karunia, kedua orang-tuaku untuk segala rasa sayang dan cinta yang tidak akan pernah berkesudahan. Putriku tercinta, Dyumna Indira Pramantha yang telah kujadikan jembatan penghubung dan harapku pada Sang Illahi. Keluarga Besar: (Alm) Angling Sudiryo, H. Sanghidi di Tanjungpinang, Siswadi di Purbalingga. Teman-temanku: Yomi Hanna (@Omidgreeny) Ramadhan Kurniadi (@misterkur), Ayu Puji Lestari (@A_PujiLestari) yang udah gue rusuhin tiap hari, terimakasih atas semua masukannya dalam buku ini, “Special Big Thanks” Petronella Law (@PPutriNL) yang udah sabar sama “riwilriwil” nya gue. Salam sungkem buat para penyair: Om @Bemz_Q yang “cerdas” salam mesakke om, @alithdqueen terimakasih atas sajak-sajaknya, Mas “jagger” @agus_noor Rekan-rekan kerjaku yang berada di Batam dan Jakarta: Mbak Maya Puspa Dewi terimakasih mbak untuk fotofotonya, Ibu Andam Dewi, Budhe Cici Suwardi, Frisanti Kartini, Febry Nila Chrisyanti. Teman-teman WA - Kemanggisan, teman-teman tumblrku, Rani Saputra (@RaniSaputra) terimakasih untuk lagu Kiss The Rain nya. Serta semua teman yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu, --karena sukses milik kita bersama.


Disini, dihati ini “Kekasih, aku bukanlah sosok yang mampu melewati hari-hari tanpamu, aku masih menginginkanmu; —disini, dihati ini.�

Satu Kata Satu Rasa | 1


Aku Masih Tegar Berdiri “Sampai detik ini, aku masih tegar berdiri, dengan segenap kepedihan yang pernah kau tinggalkan dalam hati.�

Satu Kata Satu Rasa | 2


Puisi Yang Mendebarkan Dada “Aku mengenalmu serupa puisi yang mendebarkan dada, hanya jika aksaranya tercipta dari sang pujangga, dan aku; mengenalmu karena luka.�

Satu Kata Satu Rasa | 3


Sebaris Kata

“Dimana aksara, ketika purnama tandang pada bulannya, dimana sebaris kata; ketika aku tersesat dan ingin pulang padanya.”

Dari Jauh Waktu

“Telah aku kubur kenangan denganmu dari jauh-jauh waktu, tapi mengapa rinduku melulu tentangmu.” Satu Kata Satu Rasa | 4


Serupa Bumerang “Mengingatmu, serupa bumerang, selalu kembali pada kepedihan yang telah kukenang, —sebagai bahagia yang telah menghilang.”

Jika Waktu Bisa Diulang

“Jika waktu bisa diulang, mungkin bukan duka yang bisa aku kenang.”

Satu Kata Satu Rasa | 5


Menjadi Bagian Rindumu “Hanya namamu yang terakhir kusebut dibatas antara sadar dan pejamku, semoga diriku menjadi bagian dari rindumu.�

Satu Kata Satu Rasa | 6


Setia Menunggu “Aku hanya ingin menikmati rindu, selebihnya; biarlah cinta setia menunggu.”

Senja Yang Mengabu “Senja baru saja berlalu, jingganya telah mengabu, —dan rinduku; masih tehimpit pada ruang dan waktu.” Satu Kata Satu Rasa | 7


Selamat Pagi Belahan Hati “Pada barisan pagi, arakan tentangmu terus mengikuti kemana gelisah hati pergi, serupa setia matahari pada ufuknya yang tak pernah mengingkari janji; selamat pagi belahan hati‌â€?

Satu Kata Satu Rasa | 8


Makamkan Aku Dalam Cintamu “Bila cambukmu bisa melebur rinduku, rajam aku sampai mengabu, makamkan aku dalam cintamu.”

Aku Mencintaimu Tanpa Henti “Aku mencintaimu tanpa henti, meski ada airmata yang selalu menemani, juga ketabahan yang luruh dari sini; —dari dasar hati.” Satu Kata Satu Rasa | 9


Selalu Mengingatmu “Aku selalu mengingatmu dengan segala kebaikan, walau kau telah menyisakan kenangan menyedihkan, —yang terendap pada ingatan juga perasaan.�

Satu Kata Satu Rasa | 10


Aku Rindu Senja Yang Lalu Aku rindu pada senja yang lalu, aku rindu pada suara ombak yang menderu. Sebab, sore itu, aku telah menjadi sudut hatimu, yang mengusap segala pedihmu. Pada hamparan pasir yang tiada berwarna, kau torehkan nama kita, lirih berkata; semoga kita bersama dalam keabadian cinta. Tapi, takdir ikut bicara, cinta enggan memberikan bahagianya, dan kita, harus rela melepaskan genggaman yang meredupkan debar dada. Lalu, demi kenangan itu, hari ini kembali kupunguti satu demi satu kepingan sembilu, yang terserak, pada kenangan yang terus memekak. Aku mengerti, perpisahan hanyalah sebuah peristiwa, —yang membawa duka juga luka. Dan airmata, masih setia menunggu mentari jingga. —sebab aku, masih saja merindukanmu; padamu, —gadis Baliku. Kuta, Desember 2010

Satu Kata Satu Rasa | 11


Cumbu Seperti Dulu “Semesta seketika membisu, saat bayangmu bersenandung kisah lalu, untuk sebuah kenangan, selalu ada palung mesra yang siap kita cumbu seperti dulu.�

Satu Kata Satu Rasa | 12


Tergeletak Diantara Sajak “Rinduku tergeletak diantara sajak-sajak yang mulai bergerak, mencari sesuatu pada ruang dan jarak.”

Dirimu Yang Selalu Aku Tuju “Berkali-kali kucoba menepis segala tentangmu, dalam lipatan pilu, entah mengapa kembali pada dirimu; yang selalu aku tuju.” Satu Kata Satu Rasa | 13


Awal Februari “Bulan terlalu cepat berganti, mungkin ia telah lupa diri, disini masih ada hati yang terlewati, dan ada sepi yang berbalut segala nyeri. —diawal Februari.� ~ 1 Februari, 2012

Satu Kata Satu Rasa | 14


Keabadian Nyata Mungkin takdir telah menyekat kita untuk tidak bersama, tapi aku percaya, kelak dinirwara, cinta kita melebur dalam keabadian nyata.

Sepenggal Pertanyaan

“Kamu yakin ada cinta sehidup-semati? Lalu, apakabar dengan takdir yang telah memisahkan genggaman dua hati yang dulu pernah saling melengkapi?� Satu Kata Satu Rasa | 15


Bahagia Tiada Berbatas “Rindu ini belum juga kau retas, ia meraung keras; kekasih, tuntun aku menuju bahagia yang tiada berbatas, —bersamamu.�

Satu Kata Satu Rasa | 16


Menangis Dalam Hujan “Aku menangis dalam hujan, agar tidak kau tahu, sepasang mataku, sedang membasahi satu kenangan.”

Pada Derasnya Hujan “Aku memunguti kepingan rindu pada derasnya hujan, dalam jedanya, terselip satu kepedihan yang sedang aku rayakan.” Satu Kata Satu Rasa | 17


Walau Hanya Sepejam “Malam telah melebarkan sayapnya, satu rindu tak pernah jera meraba yang belum termakna; peluk aku walau hanya sepejam saja.�

Satu Kata Satu Rasa | 18


Semoga Dia Bahagia “Untukmu, tiada ribuan kata mesra yang aku punya, aku hanya mampu berdoa; Tuhan, semoga dia bahagia dan baik-baik saja; —tanpa diriku.”

Sepasang Doa “Maukah kau menjadi sepasang doa yang saling menjaga, dimana detak nadimu dan hembus napasku melebur menjadi satu; —dalam ikatan cinta.” Satu Kata Satu Rasa | 18


Detak Kenangan Bahagia Senja itu, diberanda rumahmu, kita ditemani denting gerimis,—dan kamu terdiam dalam tangis, saat kita tak mampu lagi untuk mempertahankan apa yang kita sebut dengan cinta. Ya‌, kita harus menyudahi semua ini, ah‌, rasanya baru kemarin senyum indah itu hadir disini, senyum yang dapat menghilangkan sepi, tidak seperti saat ini. Dulu kamu selalu merindukan turunnya hujan, ini kali, hujan hanya meninggalkan kenangan, kenangan yang menyisakan duka-duka yang menyakitkan, —dan doa-doa yang saling menabahkan. Biarlah, semuanya menjadi denyut di dada, bukan sebagai tetes airmata, namun sebagai debar jantung yang mendetakkan kenangan bahagia. Jakarta, 2009

Satu Kata Satu Rasa | 19


Dalam Doaku Ribuan suara menangis dikepalaku, yang hadir dari masalalu; —masih tentangmu. Satu kenangan, yang tak pernah berhenti mengerang kesakitan, —dan aku, hanya ingin mengingatmu sebagai ketabahan yang selalu melafalkan namamu dalam doaku.

Satu Kata Satu Rasa | 21


Detak Hati Yang Terluka “Kehilangan cintamu, satu kata yang pernah terlintas dalam baris aksara, —dan kini, aku sedang merasakannya dalam detak hati yang terluka.”

Pada Namamu “Mengeja hatimu, serupa mengulang waktu, dimana ada luka yang paling pilu; —pada namamu.”

Satu Kata Satu Rasa | 22


Merayakan Kepedihan

“Mengenangmu; —adalah caraku merayakan kepedihan yang paling pilu.”

Satu Kata Satu Rasa | 23


Asal Tuhan Tahu

“Rinduku mungkin tak sampai padamu, biarlah; asal Tuhan tahu, aku mencintaimu.”

Ada Kepedihan Didalamnya

“Jika kau yakin telah menjatuhkan cinta, sama halnya kau harus meyakini akan ada kepedihan didalamnya.”

Satu Kata Satu Rasa | 24


Mendustai Rindu “Tabahlah sedihku, sebentar lagi pedihmu akan berlalu.� ~ aku, yang sedang mendustai rindu.

Satu Kata Satu Rasa | 25


Wahai Sang Waktu!

“Wahai sang waktu! Ajari aku cara mendustaimu, agar dapat kutipu segala tentang rindu.�

Satu Kata Satu Rasa | 26


Bangun Rinduku

Bangun rinduku, sepagi ini masih saja dirimu berselimut nyeri, mungkin hari ini sepimu akan terganti; dengan bahagia yang sedang kau nanti.

Satu Kata Satu Rasa | 27


Aku (masih) Mencintaimu “Soreku masih seperti yang lalu, langit kelabu, angin sayup mendayu, dan aku; (masih) mencintaimu.”

Sore Yang Sepi “Sebilah belati, telah menancap pada sore yang sepi, aku, —kamu dan kenangan ini, sama-sama merasakan nyeri.”

Satu Kata Satu Rasa | 28


Sedang Tak Bersandiwara “Rinduku sedang tak bersandiwara, detik ini dan seterusnya, aku masih menginginkan dirimu ada.�

Satu Kata Satu Rasa | 29


Masih Tentangmu Tiada yang berlalu dalam waktu, segala kenangan hanya terbias semu; —masih tentangmu.

Satu Kata Satu Rasa | 30


Butuh Pelukan

“Rinduku sedang mengerang kesakitan, ia butuh pelukan.�

Satu Kata Satu Rasa | 31


Rindu Sebagai Maharnya Malam Terlalu cepat ingin pergi, dan subuh, tak pernah turun sepagi ini. Sementara rindu, masih separuh membatu, —di dadamu. Lalu, dengan apa kuusik pejam itu, andai mimpimu tak melulu tentangku. Atau, bagaimana jika kita bertaruh saja, ya..., rindu sebagai maharnya, bawalah dia pulang andai kau menang. Jika kalah, dia tetap bisa untuk kau kenang. Sederhana bukan? ~ @alithdqueen

Satu Kata Satu Rasa | 32


Menjamah Rindumu “Aku ingin mendekapmu, walau jarak tak mampu untuk merangkulmu, biarlah, lewat Tuhan; aku yakin, pelukku mampu menjamah rindumu.�

Satu Kata Satu Rasa | 33


Selarik Puisi “Sibak rambut panjangmu, akan kunikmati wangi tubuhmu, kelak akan lahir selarik puisi bahagia dari liangmu.�

Satu Kata Satu Rasa | 34


Jangan Merinduku “Jangan merinduku, aku hanya sebatas sajak yang bisa ingkar, kadangkala aku menjelma mawar dengan duri yang paling liar.� ~ @alithdqueen

Satu Kata Satu Rasa | 35


Harapku “Bila dirimu tidak bisa mencintaiku, cukup bagiku untuk menjadi bagian terindah dari mimpimu; harapku.�

Satu Kata Satu Rasa | 36


Karena Aku Telah Hidup Dalam Hatimu “Aku telah menghias keabadian di lubuk terkecil dari dirimu, aku akan tetap ada selamanya, —untukmu; karena aku telah hidup dalam hatimu.�

Satu Kata Satu Rasa | 37


Isyarat Alam “Malam belum memejam, rembulan memendar suram, adalah isyarat alam, mendenyutkan kenangan secara diam-diam.�

Satu Kata Satu Rasa | 38


Menyisakan Luka “Mungkin saja senja telah meninggalkan jingganya, saat pelukmu tak lagi memberikan bahagia, —dan menyisakan luka.�

Satu Kata Satu Rasa | 39


Ajari Aku Cara Mencintaimu “Ajari aku cara mencintaimu, agar aku tahu, bagaimana cara merawat segala dukamu.�

Satu Kata Satu Rasa | 40


Setelah Segalanya Berlalu “Dengan mendoakan segala kebaikanmu, sungguh, —aku tidak ingin menambah lukamu, hanya itu yang kumampu, setelah semuanya berlalu.�

Satu Kata Satu Rasa | 41


Sebelum Malam Mengabu “Sebab, apa yang aku sebut dengan rindu, telah kau patahkan sebelum malam mengabu.�

Satu Kata Satu Rasa | 42


Aku Memanggilmu Berkali-kali Aku bukanlah jurang tempat kau jatuh, bukan juga sebuah lubang. Aku hanya angin padang yang bertandang, di dadamu yang petang. Atau, izinkan aku menjadi detak itu, muasal segala hidupmu. Dan kelak kau sadari, dari dalam hati iini, aku memanggilmu berkali-kali. ~ @alithdqueen

Satu Kata Satu Rasa | 43


Cinta Itu Apa, Tuhan? “Aku mendengar sedihku merintih, dalam doa memohon lirih; Tuhan, apakah cinta itu sesuatu yang berdebar nyeri dalam sunyi?�

Satu Kata Satu Rasa | 44


Seperti Janji Matahari Kepada Bumi “Seperti janji matahari kepada bumi, aku masih disini, selalu tabah menanti, sampai tanah memiliki diri ini.�

Satu Kata Satu Rasa | 45


Dalam Birahi

“Dihari yang telah kita sepakati nanti, kelak akan kuhempaskan segala tentang rindu ini; —dalam birahi.�

Satu Kata Satu Rasa | 46


Perih Menyeruak

“Ada sesak, perih menyeruak, berdetak pilu dalam dada, entah pedih atau bahagia aku akan menyebutnya.�

Satu Kata Satu Rasa | 47


Meninggalkan Jejak Dalam Dada

“Sesore ini, kecupmu masih meninggalkan jejak dalam dada, meriuh resah, jika nanti waktunya telah tiba, birahiku ingin lebih dari sekedar bibir kita yg telah membasah.�

Satu Kata Satu Rasa | 48


Menangislah Kau Dalam Rindumu!

“Menangislah kau dalam rindumu! Dan airmatamu, kini sedang menari indah dalam penantian yang tak berujung waktu; —tanpamu.�

Satu Kata Satu Rasa | 48


Hujan Yang Terlupakan “Kenangan itu, sedang tertawa riang ditengah rinai hujan, lalu-lalang berlarian, derasnya membasahi satu kenangan; yang telah terlupakan.�

Satu Kata Satu Rasa | 50


Hujan Dalam Jingga Mentari Senja Kekasih, senja tadi hujan begitu deras, disudut jingganya kita saling terhempas, dan jemari kita saling menggenggam tiada batas, tapi, mengapa rinduku dan rindumu belum juga meretas. Sepi kita saling meriuh, begitu gaduh, tidak dengan bibir kita, yang saling membisu. Kekasih, mengapa kau menangis? bukankah kita telah berjanji untuk bersemayam dalam keabadian cinta? Kau masih terdiam, tanpa kata, airmatamu bicara; mohon tinggalkan diriku, aku ingin dirimu bahagia bersamanya. Biarlah diujung senja ini ada luka yang tertinggal dengan tenang dalam ingatan kita. Untukmu; kenanglah diriku sebagai hujan dalam jingga mentari senja, yang selalu tabah membalur cintamu dengan segala doa. ~ Setia Budi - Jakarta, 2004.

Satu Kata Satu Rasa | 51


Mimpi Buruk Yang Terindah “Semoga mimpi buruk terindah ini malam, tidak menari dalam lelapku; sebaris kenangan pilu‌â€?

Satu Kata Satu Rasa | 52


Kapan Akan Berlalu Bersamamu, selalu ada cerita yang tak bisa kuurai satu demi satu. Tanpamu, ada rindu, yang menjelma tanpa pernah aku tahu kapan akan berlalu.

Satu Kata Satu Rasa | 53


Meringkih Pilu “Perihku meringkih pilu, berbisik sendu; aku merindumu, dekap aku, walau tak sehangat dulu.�

Satu Kata Satu Rasa | 54


Purnama Sedang Muram “Ini Malam, purnama sedang muram, kepada sepi, rindu melantunkan doa, kepada sunyi, pedih membuncah dalam dada.�

Satu Kata Satu Rasa | 55


Kelak Bersamamu (lagi) “dalam dukaku, kau telah damai bersemayam, kulantunkan segala doa, untuk kesekian kali, aku hanya ingin melewati barisan cinta bersamamu, —lagi; kelak suatu saat nanti.�

Satu Kata Satu Rasa | 56


Aku Rela, Aku Ikhlas “Jika kelak kau meninggalkanku, aku rela, aku ikhlas, semata aku hanya ingin kau bahagia, walaupun ada luka yang membekas, juga duka yang tertinggal dalam denyut dada�

Satu Kata Satu Rasa | 57


14 Februari “tanpa coklat dan mawar merah, bayangmu cukup mengartikan sebuah luka yang masih membuncah.� ~ 14 Februari, 2012

Satu Kata Satu Rasa | 58


Berteduh Pada Kenangan “diantara rinai hujan, aku berteduh pada kenangan; —yang paling menyesakkan…”

Satu Kata Satu Rasa | 59


Seakan Tuhan Sudah Berencana “Aku selalu teringat pada kenangan yang tanpa sengaja telah kita cipta, sampai akhirnya, kau memberiku luka sebelum berkata; seakan Tuhan sudah berencana.�

Satu Kata Satu Rasa | 60


Tuhan Telah Menggariskan Perpisahan

“Mungkin Tuhan telah menggariskan kita perpisahan, karena Dia tak rela dua hati yang saling menggenggam, bersemayam dalam kepedihan.�

Satu Kata Satu Rasa | 61


Berkelakar Pada Kenangan “Malam ini, sereguk kopi, sebaris mimpi, dalam cintanya yang telah mati; dan sepi; —hanya berkelakar pada kenangan yang paling nyeri.�

Satu Kata Satu Rasa | 62


Tak Pernah Letih “Jemariku tak pernah letih menuliskan segala tentangmu, kelak akan menjadi selarik puisi cinta yang selalu tabah menantimu.�

Satu Kata Satu Rasa | 63


Satu Surga Untukmu “Senja tadi, bias wajahmu terlukis indah dilengkung bianglala, andai kutahu, dimana akhir pelangi itu, akan kutitip satu surga untukmu.�

Satu Kata Satu Rasa | 64


(masih) Jauh Dalam Rengkuhan “Sebab rindu masih ingin berlama-lama dalam kesepian, sementara pertemuan yang kau janjikan; masih jauh dalam rengkuhan.�

Satu Kata Satu Rasa | 65


Selamat Malam “Sebaris kenangan telah datang dipenghujung malam, berderap perlahan, tanpa sempat ucapkan salam; —selamat malam…”

Satu Kata Satu Rasa | 66


Dulu Kita Pernah Saling Melengkapi “Setidaknya, dulu kita pernah saling melengkapi, tapi kini sepi yang berganti, Tuhan; relakan aku untuk dirinya menjadi cinta yang abadi.�

Satu Kata Satu Rasa | 67


Tuhan Sedang Terluka? “Seharusnya kita bahagia, tapi mengapa kita merayakan duka, apakah Tuhan saat menciptakan cinta, Dia sedang terluka?�

Satu Kata Satu Rasa | 68


Terbalut rindu “Rinai hujan masih setia menemani sepiku, yang merintih ringkih terbalut rindu; tanpa hadirmu.�

Satu Kata Satu Rasa | 69


Doa Yang Luruh Dari Airmata “Jika ada yang mampu membuatku bertahan dalam duka yang telah kau cipta, itu adalah semata doa yang luruh dari airmata.�

Satu Kata Satu Rasa | 70


Rindu Menggerogoti Dirimu “Tak akan kubiarkan rindu menggerogoti dirimu, akan kubalut semua dengan segala doaku.�

Satu Kata Satu Rasa | 71


Hari Ini Dia Tidak Mengirimi Puisi “Tuhan, mengapa hari ini dia tidak mengirimi aku puisi? Mungkinkah airmatanya telah habis untuk membaitkan segala tentang nyeri?�

Satu Kata Satu Rasa | 72


Soreku Dirundung Rindu

“Soreku dirundung rindu yang kian memilukan, saat senja masih berjejal menyelimuti kepedihan.�

Satu Kata Satu Rasa | 73


Seperti Inikah Seharusnya Cinta?

“Ada sepi, ada tangis, ada luka juga hati yang saling menabahkan kerinduannya, seperti inikah seharusnya cinta?�

Satu Kata Satu Rasa | 74


Rindu Yang Tak Pernah Usai

“Aksara apa lagi yang mampu kuurai, jika hadirmu dapat meluruhkan napas rindu yang tak pernah usai.�

Satu Kata Satu Rasa | 75


Langkah Yang Tertatih

“Ada langkah yang tertatih, berderap ringkih, saat sunyi menapaki kenangan yang teramat perih.�

Satu Kata Satu Rasa | 76


Malam Mulai Bergegas

“—dan malampun perlahan mulai bergegas, merengkuh gelap yang telah terhempas, sedang rindu, belum juga kau retas.�

Satu Kata Satu Rasa | 77


Bercerita Tentang Kerinduan

“Disini, aku menantimu dengan segala ketabahan, ketika sepi tak lagi bercerita tentang kerinduan.�

Satu Kata Satu Rasa | 78


Cintanya Yang Telah Patah

“Malam perlahan mulai resah, meninggalkan jejak cintanya yang telah patah�

Satu Kata Satu Rasa | 79


Melumat Rindu

“Bekas ciumanmu masih membasah, berdesah resah, melumat rindu yang belum memecah.�

Satu Kata Satu Rasa | 80


Harusnya Kau Berada Disini

“Harusnya kau berada disini, diam dalam sunyiku, saat musim berlalu, membasuh rindu disetiap malamku.�

Satu Kata Satu Rasa | 81


Berbisik Kepada Tuhan

“—dan aku hanya bisa berbisik kepada Tuhan; berikan aku ketegaran untuk melewati semua kenangan yang paling menyedihkan.�

Satu Kata Satu Rasa | 82


Meriap Diam

“Terkadang kubiarkan kenangan itu meriap secara diam-diam, menyentuh piluku yang paling dalam.�

Satu Kata Satu Rasa | 83


Sepasang Genggaman

“Kita adalah sepasang genggaman yang terlepas —dan terhempas oleh dekapan rindu yang saling berjauhan.�

Satu Kata Satu Rasa | 84


Telah Berakhir

“Sebab airmata tak lagi menangisi takdir, ia hanya tersenyum saat tetesnya membasahi cintanya yang telah berakhir.�

Satu Kata Satu Rasa | 85


Mengenangmu

“Aku hanya ingin mengenangmu, dengan segala ketabahan yang selalu membait namamu disetiap doaku.�

Satu Kata Satu Rasa | 86


Terbungkus Kertas Kusam

“Anggalaplah ini kado ulang tahun dariku; sebaris ingatan, yang terbungkus kertas kusam —dan dihiasi kenangan yang paling menyedihkan.� 27 Desember, 2011

Satu Kata Satu Rasa | 87


Sore Yang Kian Muram

“Kita hanya sepasang hati yang saling menggenggam, mendebarkan kerinduan pada sore yang kian muram.�

Satu Kata Satu Rasa | 88


Kepada Siapa Pilu Ia Jatuhkan

“—dan kerinduan, tak pernah memandang, kepada siapa ia berkawan, tak pernah memilih, kepada siapa pilu ia jatuhkan.”

Satu Kata Satu Rasa | 89


Sekeping Kenangan

“Sementara malam tak lagi menemani lukanya yang paling menyakitkan, hanya sekeping kenangan yang masih setia bersemayam direlung ingatan.�

Satu Kata Satu Rasa | 90


Bahagia Caramu “Meninggalkanku adalah bahagia caramu, dan aku; dengan mengenang segala kebaikanmu, telah cukup untuk membalur seluruh bilur pilu —karenamu.�

Satu Kata Satu Rasa | 92


Merayakan Kesedihan Terkadang sengaja aku undang semua kenangan, untuk sekedar merayakan kesedihan, agar kau tahu; cintaku belum mengabu.

Satu Kata Satu Rasa | 93


Cinta Itu Telah Tiada “Air mata, sedang menceritakan dukanya pada sekeping kenangan, sesekali ia menangisi linangnya, terisak pada cintanya yang telah tiada.�

Satu Kata Satu Rasa | 94


Ada Dalam Jeda Doamu “Dalam harapnya, cinta hanya membaitkan satu pinta, kekasih; semoga namaku ada dalam jeda doamu.�

Satu Kata Satu Rasa | 95


Cinta Tak Pernah Memilih “Cinta tak pernah memilih kepada siapa dia akan menjatuhkan bahagianya, —juga pedihnya”

Satu Kata Satu Rasa | 96


Jingga Senja “Mungkin dirimu telah bahagia bersama mentari pagi, sedang diriku; masih setia menunggu jingga sore hari, yang pernah kau janjikan dalam genggaman hati.�

Satu Kata Satu Rasa | 97


Tak Sempat Termakna Oleh Cinta

“Rindu tak pernah menangisi sesuatu yang tiada, dia hanya mencari kata yang tak sempat termakna oleh cinta.�

Satu Kata Satu Rasa | 98


Sepi Tanpa Kata

“Biarkan hati kita saja yang ramai bercengkerama, saat bibir kita sepi tanpa kata.�

Satu Kata Satu Rasa | 99


Aku Merawatnya Kau hempaskan aku kepada semua dukamu, aku merawatnya, aku menjaganya, kini hanya bayangmu yang kucumbu, karena dirimu telah berlalu.

Satu Kata Satu Rasa | 99


Agar biduk ini tak menjadi peluh

Pada hatimu aku telah berlabuh, tapi mengapa duka masih mengeluh; kepada rindu, sauhlah yang jauh, agar biduk ini tak lagi menjadi peluh.

Satu Kata Satu Rasa | 100


Satu kata satu rasa  

Buku Kumpulan Puisi Pertama Karya Tody Pramantha

Advertisement