Page 1


MEMELUK KARYA Karya. Ada banyak alasan yang menyertainya. Ada yang karena cinta, ada yang karena terpaksa. Ada yang sejati untuk berbagi, ada yang diselimuti gengsi. Ada yang ingin mendapatkan uang, ada yang memanfaatkan ruang. Tidak ada yang salah. Kami dengan cara kami, dan kalian pun demikian. Terima kasih kepada siapapun dan apapun dalam penyelesaian karya ini. Terima kasih kepada Semesta atas keindahan dan inspirasiMu. Terima kasih kepada kontributor. Karya ini bebas untuk dibaca, diunduh, dicetak, maupun diperbanyak dengan segenap kebijaksanaan. Maka kini, biarkan kami memeluk karya. Bukan karena apa. Biarkanlah saja. Salam hangat, sehangat ku memeluk karya, -The Pukon-

Kamu Harus Tanggung Jawab Edisi: 1 Terbit: Desember 2016 Kontributor: - Adhini Adha Elfindra - Adhy Nugroho - Arief Darmawan - Tegar Padhang

Kamu Harus Tanggung Jawab 1


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

Sumber gambar: www.publicpressure.org

Menggerayangi Konformitas Oleh: Tegar Padhang

K

onformitas tak ubahnya seperti seorang malaikat yang menaungi pemujanya untuk berada di dalam lindung peluknya; lingkar kenyamanan yang jarang dijumpai kenistaan di dalamnya. Begitu diagung-agungkan namun tak disadari. Konformitas yang akan kita bicarakan tidak kita sadari bahwa ia memiliki semacam benalu; mengoyak pribadi yang dinaunginya.

2 Kamu Harus Tanggung Jawab

Tulisan ini adalah opini pribadi saya. Berangkat dari kegelisahan saya terhadap muda-mudi yang terlalu didikte (atau dengan pasrahnya mau didikte) media tentang bagaimana mereka seharusnya berperilaku, berdandan atau berpakaian, bertutur, dan hal-hal lain yang kerap kita jumpai sehari-hari. Media memang memiliki pengaruh yang sangat besar pada masyarakat. Sekali ia bercuap, tak


sedikit yang mengekor. Orangorang terlihat sama walau mereka sering mengklaim bahwa mereka itu berbeda. Klaim mereka yang menyatakan dirinya itu berbeda, anti-mainstream, dan klaim-klaim tentang betapa spesialnya berbeda dari yang lain, sangat kontradiktif dengan apa yang terjadi dan mereka masih saja terlihat sama. Bisa disimpulkan kalau klaim mereka hanyalah bentuk dari penolakan untuk disebut sama atau seragam. Manusia memilki kecenderungan untuk terlihat berbeda, supaya menonjol; menunjukkan eksistensi dirinya. Namun, di saat yang bersamaan mereka semua terlihat seragam. Lalu, apa masalahnya kalau orangorang terlihat sama dan seragam? Saya memiliki ketidaksetujuan dengan hal ini. Manusia punya akal untuk berpikir. Kemampuan untuk membuat keputusan. Dan kemampuan ini disia-siakan untuk keputusan yang sama dengan yang orang lain buat. Maksudnya, kebanyakan dari kita tidak membuat pilihan sendiri. Mungkin bisa dikatakan bahwa pilihannya sendiri adalah untuk mengikuti

orang lain. Namun, bukankah lebih baik untuk menentukan apa yang lebih baik untuk kita, pilihan yang sejatinya memang benar-benar pilihan kita dan itu baik tanpa campur tangan orang lain? Memang benar keputusan kita mempunyai pengaruh dari hal-hal di luar diri kita: lingkungan, orang-orang di sekitar, atau media. Saya menulis tulisan ini pun karena saya terpengaruh. Tapi yang saya maksudkan adalah bentuk dari keputusan itu serupa dan seragam. Orang-orang berdandan seperti supermodel yang sedang populer yang mereka lihat di media. Orang-orang bertutur kata dan bertingkah laku meniru selebriti atau figur publik yang sedang populer. Orang-orang memainkan atau menciptakan musik yang terdengar sama karena genre tertentu sedang populer. Orang-orang hidup seperti apa yang orang lain sarankan kepada mereka. Orangorang hidup mengikuti kata orang yang katanya pernah berpengalaman. Orang-orang hidup dengan takut. Untuk meluruskan, saya tidak bermaksud sedang menyalahkan Kamu Harus Tanggung Jawab 3


siapapun. Hal seperti ini adalah hal yang wajar. Sesuatu diciptakan atau dibuat, pasti memiliki dampak. Tujuan dari tulisan ini dibuat adalah untuk meningkatkan kewaspadaan supaya kita tetap waras; menggunakan akal sehat kita untuk menentukan sesuatu, tidak sekedar ikut-ikutan. Tapi, tentu saja terserah Anda semua para pembaca yang mengartikan bagaimana tulisan ini berpengaruh untuk Anda, atau bahkan tidak memiliki pengaruh sama sekali. Semuanya benar-benar terserah Anda. Mengingat kembali teman-teman kita yang memilih menyembunyikan kewarasannya dan bernaung di bawah kenyamanan dunia, kalau boleh saya menyebut mereka -yang masih saja bernaung pada kenyamanan-, domba-domba di taman bunga yang berkerumun bergerak rapi mengikuti langkah si tuan penggembala, takut dengan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar mereka. Kenyataan yang ada membuat mereka memilih untuk berpaling dari realitas dan berpayung pada kenyamanan. Mengikuti kata orang, tanpa men4 Kamu Harus Tanggung Jawab

dahulukan rasionalitas sebagai dasar pembuat keputusan. Mengonsumsi apa saja yang dipaparkan dengan strategi pemasaran yang manis. Korban dari bisnis masif. Kenyamanan yang mengoyak jiwa menjadi manja, tidak mandiri, dan perengek. Nihil inisiatif. Orangorang mengutip pernyataan Kurt Cobain, “I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not.�, dan masih saja tidak berani untuk dibenci, dihujat, dan dihakimi. Di sinilah benalu dari bentuk kenyamanan, memang terasa nyaman tapi merusak potensi diri kita. Akhirul kalam, semuanya terserah Anda. Untuk memilih tetap waras dan menggunakan akal sehat, atau mengikuti orang-orang dan terlihat seragam serta, hmm.. dungu. Semuanya benar-benar terserah Anda.


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

Orang “Bodoh” Tidak Dilarang Menulis Oleh: Adhy Nugroho

S

emua orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat dan memberikan ide. Termasuk orang yang masih dalam tahap perkembangan dalam membangun dirinya. Tentunya mereka tidak bisa dikatakan bodoh. Namun dalam tulisan ini saya menggunakan kata dalam tanda kutip “bodoh” yang merujuk pada arti orang yang masih dalam tahap perkembangan dalam membangun dirinya. Hal tersebut saya lakukan untuk menghindari pemilihan kata yang tidak tepat dan

tentunya bersangkut-paut dengan penjelasan berikutnya. Menulis merupakan salah satu cara penyampaian ide disamping cara-cara lain. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, semua orang berhak melakukannya. Pada zaman dimana social media menjadi “agen perubahan sosial” nomor wahid, menulis ide dan berpendapat sudah berjalan sangat bebas dan sangat dekat dengan masyarakat. Status Facebook, tweet, kolom komentar Youtube, Kamu Harus Tanggung Jawab 5


kolom komentar Instagram, dan lain sebagainya, banyak tulisan dan ide berceceran disana. Namun kebebasan dan kedekatan itu menjadikan keadaan yang dilematis. Kenyataan yang ada, tidak semua orang yang menuliskan idenya bisa dikatakan, dalam tanda kutip “pintar”. Ada diantara mereka yang masih “bodoh”. Kenyataan berikutnya adalah pemikiran si “bodoh” ya masih hanya sebatas itu. Lalu apakah itu salah jika dia menuliskan pemikirannya? Tentu saja tidak dan kita tidak dapat melarang. Lingkup orang “bodoh” pun tak sebatas pada dia yang menulis. Pembaca “bodoh” pun masih banyak berkeliaran di ruang maya. Kita tak bisa memungkiri bahwa kebanyakan dari masyarakat kita dengan kebijaksanaan masih berada dalam jarak yang cukup jauh. Sehingga beberapa kasus, sebuah ide yang tertulis hanya dikatakan “bodoh” melalui berbagai cara, dari yang halus bermajas sampai yang kasar blak-blakan. Pun membodoh-bodohkan suatu ide yang dalam tanda kutip “salah” tidak menjadikannya menjadi “benar”. Pula tidak membuat 6 Kamu Harus Tanggung Jawab

si pelaku terlihat “pintar”. Orang “pintar” cenderung lebih bijak dalam menulis dan memberikan tanggapan dari apa yang dia baca. Maka yang perlu dilakukan adalah pemberian masukan dan diskusi. Bukan pelarangan si “bodoh” untuk menulis. Tentunya diskusi dengan tidak memaksakan ego dan bukan soal menang-kalah. Melainkan diskusi konstruktif yang bisa menambah perspektif. Sehingga si “bodoh” dapat belajar dan berkembang. Tidak ada jaminan berhasil mengingat pengendalian ego adalah hal yang sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan. Namun metode pendekatan yang tepat (yang entah seperti apa) akan membuahkan keberhasilan. Paling tidak, seorang “bodoh” yang menulis ide dengan maksud tulus membagikan pemikirannya, lebih mulia daripada orang yang menulis dimana tulisannya diselimuti oleh gengsi intelektual untuk membuktikan bahwa dia sudah cukup pintar dan bisa menulis. Apalagi jika berlanjut pada perde-


batan ide yang hanya memikirkan menang-kalah. Menulis dan Membaca Beberapa kata-kata mutiara mengharuskan orang untuk membaca banyak-banyak sebelum mereka menulis. Menurut saya, membaca dan menulis bukanlah sesuatu yang diletakan pada konsep hierarki “membaca dulu baru menulis” karena sifat relatif kapan membaca dirasa cukup untuk seseorang memulai menulis. Melainkan mereka adalah hal yang semestinya bisa berjalan beriringan. Orang tidak suka membaca pun boleh menulis, dalam hal ini adalah menulis ide. Karena ide merupakan rancangan yang terbangun di dalam pikiran. Pengolahannya pun tak sebatas pada logika, bahkan hal yang bersifat abstrak seperti intuisi dapat melahirkan ide. Sehingga “membaca” tidak hanya sebatas pada kegiatan membaca teks. Melainkan membaca fenomena, perasaan, atau hal lain. Pun imbas dari dia yang tidak suka membaca teks adalah pada masalah teknis penulisan dan mungkin masalah relevansi.

Kemudian masalah yang timbul dari teknis penulisan adalah tulisan yang tidak cukup baik dan tidak cukup bagus. Baik dan bagus yang seperti apa? yang menurut siapa? Kembali lagi, kita tidak perlu membodoh-bodohkan sebuah ide yang ditulis oleh orang yang tidak gemar membaca. Kita tidak perlu membodoh-bodohkan struktur tulisan dan lain sebagainya. Seperti halnya jawaban untuk komentar “belajar dulu gih!” yang sering terlontar dari sebuah tulisan, menulis merupakan salah satu proses belajar dan pengembangan diri. Butuh peran pembimbing yang sudah lebih dulu berkembang untuk memberikan masukan konstruktif dan tentunya penghargaan atas usaha. Sekali lagi saya katakan, bukan sekedar bilang “bodoh” Bagaimanapun orang “bodoh” tidak dilarang untuk menulis. Pun tanggung jawab ada pada penulis. PS: Ini adalah contoh tulisan orang “bodoh”

Kamu Harus Tanggung Jawab 7


“allyouneedisspace”

8 Kamu Harus Tanggung Jawab


Pujangga Kontemporer

“Suaraku adalah gelombang cinta yang merindukan media, maka jangan biarkan dia menjadi ledakan yang dapat mematikan kita sama-sama dan mereka yang tak berdosa.�

-Adhy Nugroho Banjarnegara, 4 Feb 2016

Kamu Harus Tanggung Jawab 9


10 Kamu Harus Tanggung Jawab


http://about.me/thepukon

Kamu Harus Tanggung Jawab 11


“TV & Jakarta Sentris”

12 Kamu Harus Tanggung Jawab


Pujangga Kontemporer

Aku Ingin ke Jakarta Sebelum pagi, aku suka melihat Kejora. Nampaknya dia tak sejauh Jakarta. Jika satu langkahku ada antara dua anak tangga, berapa langkah aku habiskan untuk sampai Kejora? Jika satu langkahku ada antara dua besi rel kereta, berapa langkah aku habiskan untuk sampai Jakarta? Aku hanya rindu dia. Yang sedang bekerja dan sedang bahagia. Setelah pagi, aku ingin mengumpulkan tenaga dan cinta-cinta yang ingin aku bawa. Supaya tidak mati ditengah perjalanan Surakarta-Jakarta.

-Adhy Nugroho Surakarta, 13 Nov 2016

Kamu Harus Tanggung Jawab 13


Pujangga Kontemporer

Sumber gambar: www.dailymail.co.uk

Metamfetamina

14 Kamu Harus Tanggung Jawab

Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met, dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik. Dipasarkan untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn, juga disalahgunakan sebagai narkotika. “Crystal meth� adalah bentuk kristal yang dapat dihisap lewat pipa. Metamfetamina pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi. -Wikipedia


Aku adalah sepi yang indah. Yang dapat melihat kosong sudut ruangan dari sisi lain yang lebih berdebu. Aku adalah kesunyian yang merdu. Yang setiap detak jantungnya dapat menggetarkan tulang-tulang telinga. Aku adalah sakit yang nikmat. Yang tak seorang pun memedulikan setiap gerak, kata, dan tangis yang datang. Kamu datang, memberi salam seraya mengetuk pintu-pintu bilik dan pintu-pintu serambi. Menguatkan diri untuk mencoba membuat aku percaya pada kamu; Kamu adalah kebahagiaan yang dapat menghapus sepi, atau kamu adalah nada-nada harmonis untuk memecah kesunyian, atau bahkan kamu adalah sebuah kehangatan tanpa perlu memberi rasa panas yang membakar pada jiwa. Dan aku percaya. Aku menerima kamu untuk selalu hadir dalam setiap hariku, memberi kenyamanan, ketenangan, dan kontrol dari setiap kegilaan jiwa. Hingga‌ Aku perlahan mulai tersadar dari tidurku, dan aku tidak lagi menemukanmu di sampingku. Memberikan segenggam kegelisahan yang datang dan menghantam tanpa perlu permisi. Memberikan tamparan halusinasi “Kamu masih disiniâ€? yang membiaskan bayang wajahmu yang tak mau pergi walau sudah ku tampar berkali-kali tubuh ini. Kini‌ Apanya yang bahagia? Apanya yang merdu dan harmonis? Apanya yang hangat? Kamu kini adalah candu yang telah pergi. Seharusnya dulu aku tidak pernah menerima keberadaanmu yang sekarang pergi entah mencari apa lagi untuk dipermainkan. -Adhy Nugroho Banjarnegara, 3 Des 2015

Kamu Harus Tanggung Jawab 15


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

Mayoritas Kapasitas Paham

Oleh: Arief Darmawan

M

elihat jam menununjukan pukul 05.30 WIB , adalah kemungkinan yang salah satunya menjadi ide positif untuk menyeduh teh lokal, memakan kue cubit, dan duduk di beranda rumah di atas kursi kayu panjang, risban kalo orang jawa menyebutnya. Di samping meja bundar mini yang pas untuk menaruh buku, gelas, dan handphone, dengan menyelisik buku bacaan berjudul “Melawan Arus” karya mas Aik founder ‘underground tauhid’ Indonesia yang sekarang menjadi pengurus ‘punk muslim’ di Surabaya dengan lagu-lagu dari White Shoes and The Couple Company sebagai soundtrack, menjadi kajian yang menarik untuk menghanyutkan diri.

16 Kamu Harus Tanggung Jawab

Ilustrasi tersebut di atas akan terlihat nyata jika soundtrack yang di mainkan bukan hanya mengahanyutkan, namun menembus batas-batas imaji yang berfungsi sebagai penyadaran pola pikir. Soundtarck, dalam kamus besar berarti original suara/musik yang mengaliri sebuah film untuk mempercantik alur menjadi lebih imajinatif. Soundtrack yang lebih condong mudah di artikan dengan kata Musik, jika di tarik ke dalam bentuk gaya dan bahasa menjadi sesuatu yang seharusnya menarik ketika diperdengarkan untuk jadi pengantar. Namun, tidak jarang musik digunakan sebagai media untuk bersenang-senang, menuangkan ide, menyalurkan hobi, sampai menjadi sarana untuk me-


nyuarakan pesan-pesan yang tertuang kedalam bentuk lirik dalam musik tersebut.

alur film yang berarti musik itu jelek/ genre itu bukan si penikmat banget.

Kini, musik lebih banyak di perdebatkan kalangan “pecinta musik� untuk membedakan genre/aliran yang logisnya malah sulit diterima ketika satu genre ke genre lain (dalam kumpulan orang yang membentuk sebuah grup band musik) lebih condong mendedikasikan diri kedalam salah satu genre musik dan membuat statement bahwa genre tersebut melintas lebih di atas dari pada genre lain. Hal tersebut dapat dilihat jika menyadari bahwa pencita salah satu genre/fansbase tersebut jika ditarik ke dalam contoh kejadian di sebuah konser band musik, mereka hanya datang jika musik yang di tampilkan adalah yang mereka puja-puja. Padahal tidak begitu seharusnya. Karena jika menyikapi sebuah karya musik hanya tersudut dalam salah satu genre, maka fungsi karya musik dalam artian soundtrack di dalam sebuah film akan menjadi rusak hanya karena genre dalam soundtrack tersebut tidak bisa menjadi penentu bagus tidaknya

Jika yang terjadi seperti itu, maka dalam scene musik tertentu bisa di simpulkan bahwa sangat wajar bila kamus besar harus mengubah cara pandang untuk mengartikan antara pecinta musik dan pecinta genre. Karena, tidak bisa menjadi sebuah tolak ukur pantas tidaknya musik itu digunakan sebagai media soundtrack jika genre menjadi garis pembeda sebuah karya musik. Dan berarti, grup band musik/engineer musik dan komposer musik juga harus mulai mendefinisikan ulang konsep bermusik mereka untuk masuk ke ranah genre yang lebih luas. Itupun kalau genre di gunakan sebagai kata kunci dalam sebuah diskusi/ perdebatan. Sebab, menjadi sangatlah lucu jika sedang membutuhkan musik saat akan membaca buku malah justru sibuk menentukan genre musik padahal mood dalam hati selalu berubah seperti halnya manusia. Dinamis, sesuai keadaan.

Kamu Harus Tanggung Jawab 17


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

Sumber gambar: www.hipwee.com

Itu Hobi?

H

Oleh: Adhini Adha Elfindra dan Adhy Nugroho

obi adalah kesenangan seseorang atau bisa dikatakan suatu kegiatan istimewa yang sering dilakukan untuk mengisi waktu luang, dan bukan merupakan pekerjaan utama. Setiap orang tentu memiliki hobi.

18 Kamu Harus Tanggung Jawab

Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa secara sadar maupun tidak sadar mereka akan menyukai suatu hal yang akan membuai mereka untuk mengisi waktu luang dengan melakukan suatu hal.


Namun, seiring berkembangnya zaman, dengan budaya yang saling memberi pengaruh, banyak yang ingin menumbuhkan rasa mencintai terhadap suatu hal untuk memunculkan kesenangan mereka. Yap, bisa dikatakan kalau mereka ingin memiliki hobi yang lebih tertata. Bukan hal yang tabu, bukan hal yang salah kalau orang-orang ingin melakukan atau memiliki hobi yang apik, keren, dan tren. Namun kembali lagi pada proses pengenalan diri. Apakah itu kita? Atau hanya keadaan yang digapai untuk merasa nyaman bahkan sekedar keren? Mengalirlah dengan sewajarnya dalam menelaah arti kebahagiaan untuk kita lakukan. Seperti halnya hobi, suka tidak sukanya hanya kita yang tahu. Kalau memang kita sudah paham apa yang kita mau, apa yang kita bisa, dan apa yang mampu kita lakukan, semua akan terasa begitu nyaman, senang, dan terasa nikmat. Hobi dan Uang Uang, siapa yang tidak butuh uang? hal yang kita cari dan kita buang demi apa yang kita butuh-

kan. Ada yang mampu mendapatkannya dengan mudah dan ada yang butuh perjuangan. Namun ketika kita mampu melihat kelemahan dan kelebihan kita, semua pasti akan terasa mudah. Tidak usah jauh-jauh mencoba berbagai hal untuk melihat kelebihan dan kelemahan tadi, cukup singkronkan hobi kita ke dalam cangkupan yang lebih luas. Cangkupan ini bisa kita wujudkan dengan karier kita. Hobi yang kita senangi mampu menuntun kita untuk berkarier menghasilkan penghasilan dengan cara dan aturan kita sendiri. Selanjtunya adalah, masihkah bisa, sekali lagi masihkah bisa itu disebut hobi? Atau kerja? Atau karier? Atau profesi? KBBI pun menyebutkan bahwa hobi bukan merupakan suatu pekerjaan utama. Ketika hobi sudah mulai diselimuti oleh uang, lalu apakah arti kesenangan yang sejati? Yang anda senangi kegiatannya, atau uangnya? Ini bukan soal idealis atau pragmatis. Apalagi jika dia malah menjadi sesuatu di pucuk skala prioritas. Silahkan Anda pikirkan akan diri Anda dan apa yang Anda lakukan. Kamu Harus Tanggung Jawab 19


RUANG

#THEPUKON 20 Kamu Harus Tanggung Jawab


Kamu Harus Tanggung Jawab 1  
Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you