Page 1

MUSIM GUGUR 2019

SENI & BUDAYA KOREA

FITUR KHUSUS

Dari Bintang Idola ke Seniman Sejati; Pesan Autentik dari Narasi Sendiri; Revolusi Seni Transmedia; Lompatan menuju Standar Global

Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea

VOL. 8 NO. 3

ISSN 2287-5565


CITRA KOREA

Kesemek Kering Lebih Seram daripada Macan Kim Hwa-young Kritikus sastra; Anggota Akademi Seni Nasional


D

ari semua makanan ringan Korea, saya terutama menyukai gotgam, atau kesemek kering. Mungkin karena rasa manis buah tersebut membawa saya kembali ke masa kecil saya di pedesaan. Bahkan akhir-akhir ini, ketika saya merasa sedikit lapar di malam hari, tiba-tiba saya memikirkan kesemek kering. Pohon kesemek Asia (Diospyros kaki) adalah tanaman asli Asia Timur. Di rumah masa kecil saya, kami memiliki banyak tanaman itu. Mereka berbunga pada bulan Juni, dan ketika kelopak krem muda jatuh menimbun tanah, kami akan mengepangnya dengan tali dan menjadikannya kalung. Di musim gugur, daun kesemek yang berkilap digunakan untuk membungkus kue beras lezat yang diolah dengan biji-bijian yang baru dipanen. Tapi hadiah terbesar pohon-pohon itu, tentu saja, buah yang lezat. Ketika baru dipetik, daging kesemek itu lembut dan manis, meskipun yang terbaik datang kemudian. Pada hari musim gugur yang cerah, semua orang dewasa akan duduk-duduk di lantai kayu portabel di halaman, sedangkan kesemek segar ditumpuk di gundukan tanah. Itu adalah acara yang meriah yang melibatkan kesungguhan perhatian - mengupas kulit kesemak setipis dan serapi mungkin. Buah-buah yang sudah dikupas kemudian ditempatkan berjajar di sekat besar yang diletakkan di atas rak di halaman. Ketika bagian atas mulai kering dan gelap, kesemek dibalik untuk mengeringkan sisi lainnya. Ketika sebagian sudah kering, terasa daging buah yang lembut itu menggiurkan. Karena tidak sabar menunggu, aku melayanglayang dengan gelisah antara keinginan untuk mencuri satu atau dua kesemek dari sekat namun takut terlihat bagian ruang kosong tempat kesemek itu berada. Ketika kesemek benar-benar kering, mereka disimpan di dalam tempayan tembikar. Kadang-kadang, segenggam akan diambil dan dipadukan dengan kacang kenari atau digunakan untuk minuman sujeonggwa, minuman kayu manis tradisional Korea. Tetapi secara umum, mereka dibiarkan sendiri di atas meja ritual leluhur atau dimakan sebagai camilan terakhir di malam musim dingin yang panjang. Ada kisah menyenangkan yang didengar semua orang Korea selama masa kanak-kanak. Dahulu kala, pada malam yang gelap, seekor macan mondar-mandir di halaman belakang sebuah rumah ketika mendengar seorang ibu di dalam berusaha menenangkan anak yang menangis. “Macan ada di sini. Jangan menangis.” Tetapi anak itu terus menangis. “Lihat di sini! Ini kesemek kering. Sekarang, ja­­ ngan menangis.” Anak itu pun berhenti menangis. Macan itu berpikir bahwa kesemek kering itu pasti lebih ganas daripada dirinya. Macan itu pun berlari ketakutan. Meskipun macan tidak ada lagi di gunung kami, kesemek kering tetap ada. Syukurlah untuk itu. © Yonhap News Agency


Dari Redaksi

PEMIMPIN UMUM

BTS Sewarna Musim Gugur

DIREKTUR EDITORIAl

Kim Seong-in

PEMIMPIN REDAKSI

Koh Young Hun

DEWAN REDAKSI

Han Kyung-koo

Benjamin Joinau

Jung Duk-hyun

Kim Hwa-young

Kim Young-na

Koh Mi-seok

Charles La Shure

Song Hye-jin

Song Young-man

Sejak September hingga November musim gugur tiba di semenanjung Korea. Udara musim gugur terasa kering dan dingin, langit terbentang biru bersih, tanpa gumpalan mega. Daun-daun pohon ginko dan maple yang berubah kuning, merah, biru dan cokelat melahirkan pemandangan indah di seluruh pelosok semenanjung itu. Musim gugur di Korea juga merupakan musim panen yang melimpah, entah panen padi dan ubi, buah apel, persik, dan Jujube. Keindahan musim gugur juga terpancar pada ketujuh pemuda yang tergabung dalam grup BTS yang tiba-tiba terangkat dan melegenda. Tampilannya yang meriah dan penuh warna sungguh sewarna musim gugur di Korea. Fenomena BTS tumbuh dalam pertemuan topografi budaya Korea yang unik dan dunia yang terhubung secara global. Mereka sungguh sangat fenomenal di industri musik Korea dan menggoncang dunia. Ulasan lengkap dan mendalam tersaji secara apik di terbitan Koreana Edisi Musim Gugur 2019 ini. Dalam terbitan kali ini juga dibahas tentang sutradara Bong Joon-ho yang mengejutkan karena memenangi Palme d’Or, penghargaan paling bergengsi di Festival Film Cannes. Prestasi yang pantas dirayakan oleh ma­­ syarakat Korea. Prestasi juga dicapai oleh Koreana yang menerbitkan Antologi Cerpen Korea New York Bakery melalui Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang berisi 14 cerpen karya 14 cerpenis ternama di Korea. Melalui cerpen-cerpen itu dunia bisa membaca tradisi, budaya, dan plus-minus modernisasi. Sungguh pantas buku ini menjadi koleksi perpustakaan pribadi Anda. Selamat membaca. Koh Young Hun Pemimpin Redaksi Koreana edisi Bahasa Indonesia

Lee Sihyung

Yoon Se-young

DIREKTUR KREATIF

Kim Sam

EDITOR

Ji Geun-hwa, Ham So-yeon

PENATA ARTISTIK

Kim Ji-yeon

DESAINER

Kim Eun-hye, Kim Nam-hyung,

Yeob Lan-kyeong

TIM PENERJEMAH

Koh Young Hun

Kim Jang Gyem

Evelyn Yang

Lee Yeon

Shin Soyoung

Lee Eun Kyung

PENYUNTING

Tengsoe Tjahjono

PENATA LETAK

Kim’s Communication Associates

DAN DESAIN

44 Yanghwa-ro 7-gil, Mapo-gu

Seoul 04035, Korea

www.gegd.co.kr

Tel: 82-2-335-4741

Fax: 82-2-335-4743

Harga majalah Koreana per-eksemplar di Korea W6.000. Di negara lain US$9. Silakan lihat Koreana halaman 84 untuk berlangganan.

SENI & BUDAYA KOREA Musim Gugur 2019

PERCETAKAN EDISI MUSIM GUGUR 2019 Samsung Moonwha Printing Co. 10 Achasan-ro 11-gil, Seongdong-gu, Seoul 04796, Korea Tel: 82-2-468-0361/5

Diterbitkan empat kali setahun oleh THE KOREA FOUNDATION 55 Sinjung-ro, Seogwipo-si, Jeju-do 63565, Korea http://www.koreana.or.kr

© The Korea Foundation 2019 Pendapat penulis atau pengarang dalam majalah ini tidak haurs selalu mencerminkan pendapat editor atau pihak Korea Foundation. Majalah Koreana ini sudah terdaftar di Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata(No. Pendaftaran Ba 1033, 8 Agustus 1987), Korea sebagai majalah triwulanan, dan diterbitkan juga

Komposisi gambar ketujuh anggota BTS sensasi K-pop yang mendunia. Oleh Kim Ji-yeon & Kim Nam-hyung

dalam bahasa Inggris, Cina, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, Jepang, dan Jerman.


FITUR KHUSUS

BTS: Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea 04

FITUR KHUSUS 1

18

FITUR KHUSUS 3

Dari Bintang Idola ke Seniman Sejati

Revolusi Seni Transmedia

Suh Byung-kee

Lee Ji-young

12

22

FITUR KHUSUS 2

Pesan Autentik dari Narasi Sendiri Kim Young-dae

28

FOKUS

FITUR KHUSUS 4

Lompatan Menuju Standar Global Jung Duk-hyun

50

KISAH DUA KOREA

Gaya Bong Joon-ho Sebuah Genre Tersendiri

Secercah Harapan dari ‘Pengalaman Unifikasi’

Ju Sung-chul

Kim Hak-soon

32

54 SATU HARI BIASA

WAWANCARA

Hanok untuk Rumah Tinggal di Abad ke-21

Empat Puluh Tahun Bersama Buku Bekas

64 ESAI Semangat Itu Bernama Baseball Rizqi Adri Muhammad

66

GAYA HIDUP

Realitas Virtual yang Dinikmati Lewat Permainan

Kim Heung-sook

Kim Dong-hwan

58 HIBURAN

68

Gadis Pemain Drum Batas yang Terbongkar

Permainan Realitas dan Khayalan yang Dikisahkan Penulis Desa

Lim Jin-young

38

JATUH CINTA PADA KOREA

Berganti Haluan dari Kereta Cepat ke Patiseri

Jung Duk-hyun

Choi Sung-jin

42

DI ATAS JALAN

Lima Pulau di Laut Barat Lee Chang-guy

60

PERJALANAN KESUSASTRAAN KOREA

Choi Jae-bong

Terperangkap KISAH RAMUAN

Pir, Sangat Berguna untuk Memasak Jeong Jae-hoon

Kim Do-yeon


FITUR KHUSUS 1

BTS: Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea

Dari Bintang IDOLA ke Seniman Sejati Tujuh bintang Korea Selatan, Bang Tan Sonyeondan (BTS) telah muncul sebagai seniman yang berpengaruh terhadap industri musik dunia. Tidak hanya itu, mereka juga berpengaruh di bidang budaya dan melahirkan sindrom global. Dimulai dari manakah fenomena yang membuat banyak orang tercengang ini? Suh Byung-kee Reporter Senior Budaya Populer, Koran Bisnis Herald

4 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Tur dunia BTS 2019 “Love Yourself: Speak Yourself” dimulai pada 4 Mei di Rose Bowl di Los Angeles dan berakhir dengan sukses pada 14 Juli di Stadion Ecopa di Shizuoka, Jepang. Tur mencakup delapan kota dan menarik 860.000 penggemar. Foto ini diposting di Facebook BTS tentang “2019 BTS FESTA,” yang diadakan pada awal Juni untuk menandai ulang tahun debut tahun keenam band. © Big Hit Entertainment

SENI & BUDAYA KOREA 5


“K

eberhasilan Drake, BTS, dan Ariana Grande telah membantu industri musik memperoleh pendapatan terbesar dalam satu dekade. Pasar musik sekarang bernilai US $ 19 miliar, mendekati perolehan tahun 2006,” kata Federasi Internasional Industri Fonografi (IFPI), yang mewakili industri musik global. “Ledakan langganan streaming pada dasarnya menyelamatkan industri, yang jatuh bebas selama satu dekade.” BBC pada 2 April tahun ini melaporkan hal itu dalam sebuah artikel yang menganalisis “Global Music Report 2019” yang diterbitkan oleh IFPI. Reuters juga mengatakan bahwa “Drake, BTS, dan Ed Sheeran merupakan artis yang telah menaklukkan pasar musik dunia. Mereka menyumbang 19,1 miliar dolar dalam penjualan pada tahun 2018”. Pengaruh BTS tidak hanya di bidang industri musik tetapi juga memiliki kekuatan yang memberi pengaruh budaya di seluruh dunia. Ketika lagu baru dirilis, klub penggemarnya ‘ARMY’ langsung menerjemahkan lirik dan me­­ nganalisis artinya. Video “BANGTANTV”, saluran komunikasi harian antara BTS dan ARMY, juga diterjemahkan ke ber­­­bagai bahasa. Sejak 8 Juli 2019, BTS telah mengunggah 995 video di BANGTANTV, langsung diproses menjadi jutaan “video reaksi” yang diedit oleh para ARMY dari seluruh negara. Di kafe internet di mana para ARMY berkumpul, kata-kata Korea seperti ‘jinjja’, ‘daebak’ dan ‘chingu’ dieja dalam bahasa Romawi dan pemakaiannya dicampur de­­ ngan bahasa Inggris. Demikian populernya hingga mereka memiliki apa yang disebut sebagai ‘Kosakata K-pop’. Para penggemar tidak hanya mengerti dengan jelas kata-kata seperti ‘Baep-sae (burung jenis Sinosuthora webbiana)’ dan ‘Hwangsae (burung jenis Ciconia boyciana)’ hingga kata ‘Heuk-sujeo (sendok tanah, yang memiliki arti intristik kalangan ekonomi rendah)’ Bagaimana sebenarnya fenomena seperti ini bermula?

Alternatif Industri Bintang Idola

Bang Si-hyuk, direktur utama dan produser Big Hit Entertainment, perusahaan pembentuk BTS, memperkenalkan

grup GLAM pada 2012 sebelum BTS, tetapi gagal mencapai box office. Dalam kesempatan bertemu dengannya beberapa kali untuk wawancara, dia mengatakan bahwa dia menyelidiki cara untuk bisa menebus kegagalan GLAM. Dan ia menemukan bahwa daripada berfokus pada penyanyi atau kelompok individu, perlu sistem baru yang bisa membuat grup penyanyi bertahan dalam waktu panjang. Selama ini, cara lama dalam pelatihan dan manajemen bintang idola telah mendapatkan ketenaran di luar ne­geri, namun juga tidak lepas dari kritik bahwa mereka adalah produk dari ‘pabrik bintang idola’. Kritikan itu selalu digunjingkan dalam media massa luar negeri sebagai salah satu kelemahan dan masalah dalam budaya K-Pop. Apalagi ketika pada bulan Desember 2017, saat Jong-hyun, salah seorang anggota grup SHINEE, melakukan pilihan tragis, “Variety” berkomentar, “Industri bintang idola Korea adalah lingkungan kerja yang mirip permainan ‘Hungry-games’”. Dan ketika skandal Seung-ri, anggota dari grup Big Bang, terkuak pada November 2018, banyak media asing mulai mempertanyakan kemurnian bintang idola Korea. Dalam konteks tersebut harus dicatat bahwa BTS telah membuat kontribusi yang menentukan jalan keluar mengatasi aspek negatif industri bintang idola Korea yang ditu­ ding oleh media asing. Bang Shi-hyeok dan Big Hit Entertainment yang membuat bintang idola menjadi artis dan menempatkannya di panggung dunia telah melakukan langkah yang tepat sesuai dengan permintaan pasar.

Musisi yang Bercerita tentang Diri Mereka Sendiri

Sejak dalam pelatihan, Bang Si-hyuk bertanya kepada anggota BTS, “Apa yang kalian pikirkan akhir-akhir ini?” atau “Apa pengalaman yang ingin kalian ceritakan?” De­­ngan demikian ia melatih para anggota untuk menceritakan diri mereka sendiri. Dia juga menentukan bahwa hip-hop adalah genre terbaik untuk BTS sebagai artis. Hip-hop adalah genre di mana seorang penyanyi dapat menyampaikan cerita atau pengalamannya sendiri melalui lirik. Oleh karena itu, sangat efektif untuk membangun karakter yang kuat

“Kami bercerita tentang apa yang bisa kami tahu dan lakukan dengan baik. Yaitu tentang kehidupan sekolah di masa remaja dan di usia 20-an. Cerita-cerita seperti itulah yang akhirnya lahir dalam <Love Your Self> dan <Persona> ”. 6 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


1

2 © Big Hit Entertainment

1, 2. Adegan dalam video musik “Blood Sweat & Tears,” judul lagu dari album BTS kedua “WINGS,” dirilis pada 2016. Motif lagu tersebut berasal dari novel Hermann Hesse “Demian: The Story of Emil Sinclair’s Youth”

SENI & BUDAYA KOREA 7


dengan pesan tersendiri. Pada saat bersamaan, setelah debut BTS pada tahun 2013, musisi hip-hop seperti Kanye West and Kendrick Lamar sedang naik daun. Hip hop yang lekat erat pada BTS selain merupakan selera yang sama yang dimiliki oleh Bang Si-hyuk dan anggota BTS, juga merupakan arah pemasaran mereka dalam mencari terobosan. Di masa lalu, penggemar K-Pop menyukai bintang idola yang pandai menari dan menyanyi. Sampai sekarang memang seorang bintang idola masih dituntut untuk memiliki keterampilan menyanyi dan menari melalui latihan berulang. Tetapi kita perlu menambahkan satu nilai lain ke dalamnya. Artinya, kita harus memiliki kapasitas intelektual untuk menafsirkan apa yang terjadi di masyarakat kita. Tentu saja mereka tidak perlu mengajukan jawaban yang benar, tetapi setidaknya mereka harus dapat berbicara tentang pemikiran mereka. Jika tidak memiliki pemikiran dan kemampuan interpretasi terhadap bintang idola di zaman di mana orang ramai mendiskusikan pandangan yang dimiliki oleh bintang idola, maka ia hanya akan menjadi bintang figuran dan tidak bisa menjadi bintang utama dalam dunia musik. Anggota BTS telah mengikuti latihan ini sejak sebelum debut mereka. Sangat mengesankan saat melihat bagaimana mereka berbicara tentang pemikiran mereka tentang musik yang begitu luwes dalam berbagai wawancara. Ini mungkin karena mereka telah terlatih terus berkomunikasi dengan diri

mereka sendiri sambil terus membaca dan berpikir. “Saya pikir masyarakat dewasa ini memiliki selera yang sangat tinggi. Mereka bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak tulus”, kata RM, pemimpin grup BTS. “Kami telah mencoba untuk mengomunikasikan ketulusan kami dengan lebih mudah melalui SNS sambil tetap berpegang pada bisnis utama kami,” lanjutnya. Kebutuhan akan upaya semacam itu relevan dengan era di mana pengetahuan didefinisikan kembali. Di zaman sekarang, mengetahui fakta tidak menjadikan Anda seorang intelektual karena fungsi itu telah digantikan oleh mesin pencari di internet. Kini kita dituntut untuk mengetahui arti yang terselubung di antara fakta dan fakta, konteks dan konteks. Inilah yang disebut sebagai intelektual baru. Kreativitas baru juga diperlukan dalam produksi konten. Agar se­­ orang musisi memiliki kemampuan ini, ia harus memiliki kemampuan bukan hanya di bidang musik tetapi juga untuk mem­­baca fenomena periferal dan objek dari sudut pandang sendirinya. Anggota BTS termasuk RM dan Sugar adalah musisi yang mempunyai kemampuan ini.

Ikon Generasi Z

“Netizen menolak konten yang secara intrinsik bersifat promosi. Jadi kita harus membuatnya menarik. Membuat pertunjukan. Tidak perlu terlalu berat. Bagaimana dengan ceri-

Di Balik Layar Sang ‘Ayah Kecil’ Anggota BTS menjulukinya ‘jageun abeoji’, yang secara harfiah berarti ‘ayah kecil’ atau

© Big Hit Entertainment

Pdogg Ketua Produser

8 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

jadi bidang utamanya. Dalam sebuah wawancara ia berujar

paman. Sebab peranannya sangat nyata

“Wah, hampir mati saya waktu itu”, dapat di-

membuat BTS dapat tumbuh hingga penca-

bayangkan betapa sulitnya langkah awal wak-

paiannya kini. Semua musik BTS, dari single

tu itu bagi dirinya. Dari ucapannya “Gunung

debut mereka ‘2 Kool 4 Skool’ hingga album

itu, gunung ini, semua pernah saya daki” tera-

terbaru ‘Map of the Soul: Persona’ tidak ada

sa betapa banyaknya percobaan dan kesulitan

yang luput dari tangannya sebagai kepala pro-

yang telah dilewatinya hingga dapat meraih

duser Big Hit Entertainment.

hasil seperti sekarang ini.

Pdogg bertemu CEO Big Hit Bang Si-

Akhirnya pada 2018, Pdogg menjadi pro-

hyuk pada tahun 2007, segera setelah Bang

duser Korea dengan penghasilan tertinggi

mendirikan perusahaannya. Setelah BTS

dalam hal pendapatan hak cipta, dan awal ta-

diputuskan untuk menjadi bintang pop di

hun ini, di Majelis Umum ke-56 Asosiasi Musik

genre hip hop, Pdogg harus lebih mendalami

Musik Korea (KOMCA), ia menerima dua KOM-

pengetahuannya tentang hip hop Barat dan

CA Music Awards untuk penghasilan tertinggi

genre lainnya yang sebenarnya sudah men-

dalam royalti untuk komposisi dan lirik.


© Big Hit Entertainment

Sebuah adegan dalam video musik untuk “Fake Love,” judul lagu dari album BTS ketiga “LOVE YOURSELF: Tear.” Lagu ini telah dideskripsikan sebagai “hip hop emosional” karena melankolis dan selalu gelisah untuk genre.

Dari Ekspresi Wajah dan Gerak Gerik hingga Tari Koreografi tari BTS sangat sulit dan ting­

“Awalnya gabungan antara hip hop dan

katannya tinggi. Son Sung-deuk adalah yang

tarian itu terasa janggal. Untuk membuatnya

menangani keseluruhan dari koreografi dan

agar tidak terkesan janggal itulah yang paling

juga hampir semua gerakan lain di atas pang-

sulit” tambahnya dalam sautu wawancara.

gung, termasuk gerakan dan ekspresi wajah

di SMP kelas 3 dan sekarang memiliki pengala-

Pengaruhnya sangat besar karena tar-

man lebih dari 20 tahun. Dalam masa-masa

ian hasil koreografinya diikuti oleh ARMY di

kerjanya sebagai freelancer, ia mengarahkan

seluruh dunia. Memang tarian tersebut me­

koreografi untuk beberapa grup idola Korea

rupakan hasil karya bersama dengan anggota

paling terkenal pada akhir 1990-an hingga

BTS. Pada tahun-tahun awal, koreografi lebih

awal 2000-an, termasuk Sechs Kies, Fin.K.L

bersandar kepada J-Hope dan Jimin. Tetapi

dan Shinhwa. Ia mulai bergabung dengan Big

ketika kemampuan setiap anggota semakin

Hit Entertainment sejak pertama kali diluncur-

meningkat dalam menari dan mulai memain­

kan, dan memegang koreografi untuk 2AM,

kan peranannya masing-masing, tarian mere-

GLAM dan BTS.

© Lee Seung-hee

setiap anggota BTS.

Son mulai menari ketika ia masih duduk

Son Sung-deuk Koreografer Tari

ka membaur menjadi harmoni yang hidup. SENI & BUDAYA KOREA 9


BTS berpidato dalam penerimaan Anugerah Seniman Popular Tertinggi di Anugerah Musik Billboard 2018, yang diadakan 20 Mei 2018, di MGM Grand Garden Arena di Las Vegas. Band ini telah memenangkan penghargaan ini tiga tahun berturut-turut sejak 2017. Pada tahun 2019, mereka juga memenangkan Top Duo / Group Award Billboard. © Getty Images, Foto oleh Kevin Winter

Pencipta Tujuh Ikon Mode

© Lee Seung-hee

Kim Sung-hyun Pengarah Visual Kreatif

10 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Selama bertahun-tahun BTS menjalani hi­

erat de­ngan konsep dan pesan yang disam-

dup yang sederhana, yaitu ke tempat latihan,

paikan BTS dan akhirnya berhasil memberikan

rekam­­an, dan kantor hiburan. Ada seorang

dampak yang luar biasa.

yang terus mencoba menciptakan tujuh ikon

Dalam sebuah wawancara Kim per-

mode dengan memakai mencobakan pakaian

nah mengatakan, “Untuk bisa menampil-

yang tak terhitung jumlahnya pada anggota

kan dengan nyata dan jelas konsep dalam

BTS, yang pada masa itu adalah ‘pelajar teladan’

<Hwayang-yeonhwa> saya menonton film

yang hanya tahu menyanyi dan menari saja.

banyak sekali untuk meneliti ‘Saat Terindah

Sejak bergabung dengan Big Hit Enter-

dalam Kehidupan’”. Film-film karya sutradara

tainment, perancang busana Kim Sung-hyun

Amerika Larry Clark seperti ‘The Dreamers’,

telah merancang pakaian dan aksesori, dan

‘Basketball Diaries’, ‘Trainspotting’, ‘Dead Poets

selain itu ia jugalah yang merancang desain

Society’, dan ‘Flipped’ yang menggambarkan

sampul album, latar belakang video dan

tentang kenakalan remaja telah memberikan

panggung. Dia menangani tim penata visual

inspirasi kepadanya. Dia juga menambahkan

dan penata style serta bekerjasama dengan

bahwa ia menyukai hip hop sebagaimana ia

desainer visual, spesialis seni video, dan de-

menyukai musik, dan tak jarang ia mendapat

sainer editorial. Pekerjaan mereka terkait

inspirasi dari genre musik lain.


ta ini? Cukup sampai situ saja. Kalau dibandingkan dengan novel, kira-kira seperti Murakami Haruki. Yang penting adalah kita membuat penggemar merasakan sebelum mereka memikirkan”. Inilah yang dikatakan oleh Bang Si-hyuk kepada saya dalam sebuah wawancara panjang. Dia menggambarkan pekerjaannya membuat konten sebagai “mengelabui penggemar dengan cara yang menyenangkan”. Yaitu dengan cara seperti mencocokkan puzzle atau mecari gambar yang tersembunyi. ARMY mengartikan arti dari lirik lagu BTS dan menemukan gambar-gambar yang disembunyikan dalam video musik, kemudian saling mencocokkan jawaban me­­ reka. Ini adalah ‘budaya permainan digital’ yang serta merta mereka sukai. Perlu juga diingat bahwa BTS memiliki atribut gene­ rasi Z. Generasi Z mengacu pada generasi digital yang lahir antara tahun 1995 dan 2005, akrab dengan telepon pintar dan berkomunikasi melalui video. creator (pencipta), progamer (pemain profesional), coder (pengkode), start-up (pendiri pemula), dan lainnya yang dianggap sebagai profesi dam-

baan, menjalani kehidupan yang mereka ingin­kan, bukan kehidupan yang diinginkan oleh orang tua mere­ka. Mereka melakukan apa yang mereka ingin lakukan dan tidak melakukan yang tidak ingin mereka lakukan. Pada bidang yang diminati, mereka memberi perhatian khusus dan mengemukakan pendapat mereka dengan antusias. Mere­­ka juga tidak hanya menikmati hasil karya orang lain, tetapi juga mencoba membuatnya secara langsung. Singkatnya, mereka adalah generasi yang tidak takut untuk memulai. Karakteristik yang dimiliki generasi Z ini cukup identik dengan BTS. Anggota BTS memasukkan pengalaman dan pemikiran mereka ke dalam lagu dan juga terbuka melalui media sosial. Apa yang mereka lakukan dalam merintis kehidupan mereka seolah menjadi ikon bagi generasi Z. “Kami bercerita tentang apa yang bisa kami tahu dan lakukan dengan baik. Yaitu tentang kehidupan sekolah di masa remaja dan di usia 20-an. Cerita-cerita seperti itulah yang akhirnya lahir dalam <Love Your Self> dan <Persona>”. Tidaklah mengherankan jika para ARMY penasaran tentang cerita ketika BTS menginjak usia 30-an dan 40-an.

Video Musik Penuh dengan Perangkat Estetika Surealis Melalui jaringan sosial, BTS selalu bertemu

Tetapi video tersebut terus bercerita ten-

dengan ARMY. Video musik mereka yang tidak

tang tema yang selaras dengan satu tujuan.

hanya menampilkan musik tetapi dipadukan

Ada berlapis-lapis perangkat seni di seluruh

juga dengan seni video memberikan dampak

video musik BTS. Terkadang mengandung sim-

yang luar biasa. Di antaranya ada yang sudah

bol dan metafora enigmatik dari suasana sure-

ditonton sebanyak lebih dari ratusan juta kali.

alis atau elemen sederhana untuk ‘menemukan gambar tersembunyi’. Berbagai tanda dan skema menciptakan ruang yang luas bagi peng-

‘Spring Day’, ‘DNA’, ‘Fake Love’ dan ‘IDOL’ ada-

gemar di seluruh dunia untuk menafsirkan dan

lah karya Lumpens (Choi Yong-seok). ‘IDOL’

berdiskusi, serta berinteraksi dengan cepat.

yang mencapai jumlah klik sebanyak 5 ratus

Lumpens adalah seorang artis visual

juta di tahun 2018 menampilkan kesan dina-

yang dijuluki sebagai ‘Paik Nam-june Kedua’.

mis dengan perpaduan berbagai warna dasar

mengambil idenya dari film dan novel. Da-

yang memanjakan mata. Jika dilihat sekilas,

lam trailer untuk “Peta Jiwa: Persona,” ia

video musik ini terkesan berantakan kare-

menambahkan elemen sci-fi dengan meng-

na setiap kali menampilkan tayangan yang

gunakan teknologi terbaru untuk mem-

sangat berbeda dengan babak sebelumnya.

buat persona humanoid digital raksasa RM.

© 8seconds

Hampir semua video musik BTS yang populer, termasuk ‘Blood Sweat & Tears’, ‘Fire’,

Lumpens Pengarah Seni Video

SENI & BUDAYA KOREA 11


PESAN AUTENTIK

© Big Hit Entertainment

12 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


FITUR KHUSUS 2

BTS: Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea

B

TS menonjol di antara grup idola K-Pop sezaman yang tak terhitung jumlah­nya karena mereka mengambil sikap jujur dalalm musiknya yang berakar pada hip hop sebagai identitas mereka. Mereka berhasil menegosiasikan unsur “hip hop” dan “idola” yang secara tradisional saling bertentangan, dan dengan cara ini mereka menciptakan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan grup-grup idola lainnya. Tahun 2013, yaitu tahun debut BTS, merupakan masa angin hip hop yang perlahan-lahan berhembus sejak pertengahan tahun 2000-an mulai membe­ rikan pengaruh nyata dalam K-Pop secara keseluruhan. Kesuksesan Bigbang yang menggunakan citra dan sikap hip hop, dan musisi asal grup idola yang mengedepankan hip hop seperti G-Dragon dan Jay Park adalah keberhasilan luar biasa. Mengikuti perkembangan ini, popularitas program audisi hip hop “Show Me the Money” yang mulai ditayangkan pada tahun 2012 di saluran televisi musik dan hibur­ an Mnet, ikut berperan membawa Hip Hop yang terlihat akan kekal sebagai musik independen ke arus utama. Munculnya hip hop menanamkan imajinasi baru pada musik idola yang mempelopori tren terbaru musik pop Korea. Bentuk penyanyi yang membawa musik hip hop, atau grup hip hop yang berbajukan kelompok idola mulai dirancang dengan hati-hati, dan

banyak grup penyanyi baru yang dibentuk dengan tujuan seperti itu. Namun, di antara mereka tidak ada satu pun yang lebih sukses dan efisien daripada BTS dalam memberikan hakikat hip hop ke dalam musik mereka.

Menembus Hakikat Hip Hop

Bang Si-hyuk, kepala Big Hit Entertainment tempat BTS bernaung, menginginkan grup idola dapat melakukan lebih dari sekadar rap dan memiliki identitas hip hop. Anggota utamanya, RM dan SUGA dipilih karena bakat mereka sebagai rapper dan produser. Bang Si-hyuk memberikan kebebasan kreatif agar mereka dapat menjadi­ kan hip hop sebagai media cerita yang jujur dan tidak menganggapnya sebagai “aksesoris” belaka. Sebagai hasilnya, lahirlah grup idola hip hop yang menyampaikan pesan lugas, jujur, dan sehat. Selain itu, berbeda dengan penyanyi hip hop sezamannya, BTS secara antusias membawa suasana dan aransemen Hip Hop tahun 1980-1990-an yang disebut “hip hop lama (Old School Hip Hop)”. Hal ini terutama menjadi ciri menonjol lagu-lagu masa awal mereka yang biasa disebut “trilogi sekolah (School Trilogy)”, dan melalui lagu “Intro: Persona” atau “Dionysus” dalam album <Map of the Soul: Persona> yang dirilis April lalu, mereka sekali lagi menegaskan bahwa hip hop adalah akar musik mereka. Minat BTS pada hip hop lama mendorong mereka membuat lirik lagu yang mengandung kepekaan sastra dan sikap kritis terhadap sosial – yang juga menjadi ciri khusus dan kelebihan hip hop tahun 1980-1990an – dapat berbaur secara alami di dalam musik mereka. Di balik kesuksesan mereka mampu menguasai musik dari tren terbaru ‘trap beats’ hingga hip hop lama, terdapat peran pen­ting

DARI NARASI SENDIRI Peringkat anak tangga musik, pengaruh industri, konsumsi musik zaman media baru, dan globalisasi K-Pop: merupakan beberapa faktor yang disorot ketika berbicara mengenai BTS. Namun, lebih dari apapun, kesuksesan grup ini dan implikasinya bagi sejarah musik harus dicari sebagai daya tarik musik BTS itu sendiri. Kim Young-dae Kritikus Musik

SENI & BUDAYA KOREA 13


花樣年華 14 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


para produser Big Hit Entertainment seperti Pdogg dan Supreme Boi yang memahami hip hop secara luas lebih dari siapa pun dalam dunia musik idola K-Pop. Meskipun dicurigai, BTS tetap berkomitmen untuk hip hop, tetap setia pada elemen dasar genre yaitu otentisitas dan representasi. Rapper diharapkan menceritakan kisah-kisah sejati dan dengan jujur mewakili kelas dan asal mereka, dan mereka dihakimi karena­ nya, kadang-kadang dengan cukup keras. Dalam hal ini, musik BTS tetap setia pada esensi hip hop. BTS tidak meniru grup lain dan menitikberatkan penyampaian cerita mereka sendiri sebagai gantinya. Mereka mengekspresikan kekhawatiran dan amarah mereka sebagai “anjing yang kalah” yang jauh berbeda dengan orang yang lahir dengan mengisap sendok emas (ungkapan bagi orang yang sangat berkecukupan). Melalui upaya kreatif yang asyik, mereka juga melakukan rap dengan dialek daerah untuk memperlihatkan identitas asal usul daerah mereka. Masyarakat umum merasakan kejujuran mereka dan memberikan dukungan. Kesungguhan dan kecintaan BTS terhadap hip hop terbukti jelas melalui pegangan teguh mereka akan identitasnya sebagai rapper dan usaha untuk terus memperluas batas-batas musik meskipun mendapat kritikan dari komunitas hip hop dan klub penggemar idola. Di samping album reguler grup, rapper utama RM, SUGA, dan J-Hope juga mengeluarkan mixtape masing-masing sebagai rapper sekaligus produser dan menunjukkan bakat mereka sebagai seniman. Meskipun album-album ini tidak menghasilkan kesuksesan komersial, karya-karya tersebut mengekspresikan pandangan jujur mereka sebagai seorang artis.

Narasi Berkelanjutan

Daya tarik utama musik BTS yang sering dibicarakan adalah lirik lagunya. Namun lirik tersebut tidak dapat diungkapkan hanya de­­ ngan kata bagus saja. Sebagai idola K-Pop, BTS sebenarnya adalah satu-satunya artis yang memiliki narasi sebagai pusat karirnya.

Pesan mereka diakui sebagai hal yang otentik dan jujur karena lirik yang ditulis oleh para anggota cocok dengan karakter mereka.

© Big Hit Entertainment

Foto konsep untuk “The Most Beautiful Moment in Life, Pt. 2,” album kedua Youth Series dan mini album keempat grup, dirilis pada tahun 2015. Foto ini dirilis dengan judul “Je Ne Regrette Rien” (I Don’t Regret Anything), mengungkapkan energi muda yang menolak untuk puas dengan kenyataan.

SENI & BUDAYA KOREA 15


1

2

3

© Big Hit Entertainment

16 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

4


Dalam musik idola, “konsep”, “pandangan dunia”, dan “karakter” yang mengingatkan kita pada permainan online RPG memang telah menjadi faktor-faktor yang tidak dapat dipisahkan secara tradisional. Namun konsep dan pandangan dunia BTS melampaui batas-batas musik idola yang sering kali terpaku pada cerita fiksi dan abstrak. Selain itu, mereka juga menghilang­kan ketidakwajaran dengan menciptakan karakter yang biasa, realistis, dan hidup. Kemudian, semua cerita ini dijadikan narasi berkelanjutan dalam bentuk album konsep serial dengan tema terpadu. “Trilogi Sekolah” yang terdiri dari “2 Cool 4 Skool” (2013), “O!RUL,2?” (2013), dan “Skool Luv Affair” (2014) mengambil cita-cita, kebahagiaan, keputusasaan, dan amarah dari sudut pandang siswa sebagai temanya. Pada tahun 1990-an, Seo Taiji dan grup H.O.T juga pernah menulis lirik lagu bertema sekolah, tetapi lirik yang disampaikan BTS lebih konkret dan personal. Kemudian cerita-cerita mereka secara alami mengalami perubahan bersamaan dengan bertambahnya umur dan karir mereka. Dalam “Momen Terindah Dalam Kehidupan, Bagian 1” (2015), “Momen Terindah Dalam Kehidupan, Bagian 2” (2015), dan album reguler kedua “Wings” (2016) – yang juga disebut “Seri Pemuda” – BTS memperluas ruang lingkup mereka dari kehidupan sekolah menuju tema sastra mengenai keindahan dan kesengsaraan para pemuda sezaman yang terluka; dan mengenai kedewasaan dan godaan. Tema semacam ini membawa motif topik dan visualnya dari novel Inggris atau anime Jepang. Semua unsur tersebut digunakan secara luas dalam penciptaan lirik, melodi, dan video musik; hingga akhirnya membentuk pandangan dunia dan estetika BTS yang unik. BTS yang mulai berhadapan dengan diri sendiri

melalui godaan cinta dan luka patah hati, berkembang menuju pertanyaan yang lebih mendasar “siapa aku” dalam album terbarunya “Map of the Soul: Persona”. Cerita BTS terasa lebih jujur dan nyata karena semua pesan ditulis langsung oleh tiap-tiap anggotanya sampai-sampai membuat kita membayangkan sosok dan sifat keseharian mereka. Mereka bukanlah komoditas buat­an produser dengan citra buatan yang diikuti dengan pembuatan konsep secara mendadak yang memanfaatkan arus tren. Tiap-tiap pribadi anggotanya menjadi karakter dan perkembangan serta perubahan pikiran mereka tersampaikan secara alami. Di titik inilah ke­sungguhan naratif yang menjadi keunggulan terbesar musik BTS terbentuk.

Lirik dan Pesona Universal

Alasan mengapa narasi kreatif BTS bersifat persuasif dapat kita cari dalam estetika musik yang selaras dengan pesan mereka. Semua lagu yang disusun dalam album memiliki tujuannya sendiri, dan jenis serta detail gubahan lagunya berhubungan erat dengan cerita yang ingin disampaikan dalam liriknya. Musik mereka bukannya condong pada penekanan pesan atau sistem suara secara berlebihan, melain­ kan membentuk suatu cerita yang harmonis. Musik BTS bersifat trendi dan retro pada saat yang sama, membuat keseimbangan halus antara yang lama dan baru, antara yang bersifat Barat dan Korea, dan memperoleh lirik yang unik dan pe­­ sona universal. BTS melakukan berbagai eksperimen jenis musik se­­ perti hip hop lama, musik dansa elektronik (EDM), pop, R&B, bahkan musik tradisional Korea dan suara Afrika. Namun, mereka tidak melakukannya untuk variasi musik semata. Sebaliknya, jenis-jenis musik tersebut bermanfaat sebagai sarana efektif untuk menyajikan cerita dan mengekspresikan kesadaran diri artistik mereka. Dalam melodi musik BTS, terdapat kesedihan dan duka, dan bahkan dalam ritme lagu yang ceria pun kita dapat merasakan kesedihannya. Ciri musik yang unik ini tidak hanya merangsang remaja berumur 10-20-an tahun saja, tetapi juga penggemar setengah baya yang merindukan masa mudanya. Lebih lanjut lagi, musik itu memberikan kesan serupa kepada penonton di seluruh dunia yang melampaui batas negara dan budaya.

1. Tampak sebelumnya anggota BTS tampil dengan jaket “2 COOL 4 SKOOL,” single debut mereka, dirilis pada 12 Juni 2013. 2. Jaket mini album pertama “O! RUL8, 2 ?,” yang menggunakan suara hip hop jadul, memiliki konsep hip hop yang kuat dengan warna merah cerah dan huruf tebal. 3. Serial “The Most Beautiful Moment in Life”, yang terdiri atas mini album ketiga dan keempat, dikhususkan untuk momen-momen indah dalam keindahan dan kebahagiaan, yang mencerminkan perubahan dalam kesadaran anggota dalam perjalanan mereka dari anak laki-laki ke laki-laki muda. 4. Album paket ulang “You Never Walk Alone,” yang dikeluarkan pada tahun 2017, adalah representasi cerah dari persahabatan muda dan pertumbuhan batin.

SENI & BUDAYA KOREA 17


FITUR KHUSUS 3

BTS: Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea

Revolusi Seni Transmedia

B

erhubung BTS merupakan para musisi, kita tidak bisa menangkap fenomena bermakna yang sedang berlangsung saat ini tanpa membicarakan musik, performa, dan pesan yang mereka sampaikan. Namun memang benar juga bahwa kita tidak bisa memahami atau menjelaskan fenomena ini hanya de­­ngan kenyataan bahwa mereka adalah para penyanyi yang berkarisma dan berbakat dalam menciptakan musik yang mengagumkan. Kita tidak dapat menjelaskan dengan tepat makna dari fenomena khusus ini tanpa memperhatikan landasan yang mempertemukan dan me­­ng­ hubungkan BTS dengan para penggemarnya di seluruh dunia, arah yang tersirat dalam landasan tersebut, hingga titik pertemuannya de­­ ngan arah perubahan yang diharapkan oleh massa.

18 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Dalam hal ini, “kesejajaran” yang secara umum menembus semua sisi faktor utama dari fenomena BTS ini sangat penting. Kita harus memperhatikan horizontalitas yang menjadi sifat hakiki teknik jaringan digital itu sendiri; konten BTS yang tidak mencoba untuk menangkap kembali kesejajaran ini dengan struktur hierarki yang terbentuk dari modal dan kekuasaan sebagai pusatnya; pesan yang di­sampaikan oleh BTS untuk mencapai dunia yang lebih sepadan bersamaan dengan harapan kuat dari massa akan kesejajaran yang memancar dari ber­ bagai aspek seperti kedudukan, ras, bahasa, gen-


Fenomena BTS adalah sebuah perubahan budaya dan sosial mengejutkan yang sedang dibangun oleh BTS dan klub penggemarnya, ARMY. Fenomena estetis dan juga bersifat politik ini merupakan hasil yang muncul dengan memanfaatkan lingkungan media yang sedang berubah dengan cepat dalam penciptaan, penyebaran, dan reproduksi seni. Lee Ji-young Dosen Fakultas Humanitas Daeyang, Universitas Sejong

Penggemar global menonton video BTS di berbagai media online dan membuat video reaksi mereka sendiri untuk dibagikan di media sosial. Video BTS secara aktif direproduksi dan diedarkan oleh penggemar melalui jaringan digital.

der, budaya, agama, dan sebagainya; serta pertemuan secara paralel antara BTS dan klub penggemar yang memiliki harapan kuat seperti di atas. Khususnya, kunci yang dapat memperjelas arah perubahan tersebut dapat kita cari di dalam perubahan massa yang bisa kita sebut sebagai penerima seni, konsumen, penggemar, atau penonton. Akhirnya, inti fenomena BTS berkaitan dengan ketidaksadaran secara politik atau sikap zaman yang terdapat di dalam sisi lain antusiasme para penggemar di seluruh dunia.

Penonton yng Terus Bergerak

Lingkungan media para penonton yang menikmati video musik,

SENI & BUDAYA KOREA 19


video untuk instalasi online, hiburan, dan video pertunjukan panggung BTS tersedia dalam layar dan jaringan yang sangat bera­­gam. Di antaranya, video untuk instalasi online secara umum ditujukan pada film pendek (short film), video highlight reel, cuplikan (trailer), dan sebagainya. Video-video yang tidak dapat digolongkan menurut klasifikasi lama seperti video musik atau film ini bagaikan karya video yang dipajang dengan jarak interval tertentu di galeri. Namun video tersebut dipajang bukan berdasarkan jarak ruang, melainkan menurut jeda waktu, dan dibuka di ruang online. Citra dan narasi simbolik dari video-video pendek ini saling menjadi rujukan dengan video musik lainnya dan menciptakan susunan makna yang beragam. Video-video yang terlihat mirip dengan film eksperimen, film pendek, atau video seni ini menjadi salah satu ciri khas video BTS. BTS menciptakan konten dalam jumlah yang besar di atas pondasi teknologi yang berhasil dibentuk oleh zaman. Terutama video musik, video untuk instalasi online, dan beberapa video lain yang termasuk dalam BTS Universe (BU) memanfaatkan secara penuh citra simbolik yang dapat ditafsirkan menjadi berbagai makna dalam struktur yang mau tidak mau saling merujuk satu sama lainnya. Video-video semacam ini didasarkan pada akses dan pemanfaatannya yang bebas oleh para penonton di dalam lingkungan ja­ ringan digital. Para penonton yang mengonsumsi begitu banyak konten video dalam lingkungan multi-platform tidak hanya menonton selama bepergian dengan berbagai platform atau perangkat seluler saja, melainkan juga dapat menonton ulang video, memperbesar gambar, mengoreksi warna, dan mengedit video dengan bebas. Dalam konteks ini, mereka dapat disebut sebagai “penonton yang terus bergerak”.

Pertukaran Peran

Para penonton dengan bebas menghubungkan video-video yang tersedia melalui berbagai macam platform dan membuat remix.

Kemudian mereka memilih salah satu bagiannya dan membuat video klip. Selain itu mereka juga menciptakan konten yang lebih beragam dengan menambahkan reaksi dan tafsirannya sendiri dalam video tersebut. Konten yang diciptakan seperti ini diperlihatkan secara berdampingan dengan video asli BTS melalui jaringan internet. Kegiatan-kegiat­ an semacam ini tidak hanya terbatas pada sekelompok kecil penggemar saja, tetapi juga menjadi cara menonton sehari-hari sebagian besar penggemar. Perubahan sikap menerima yang terlihat biasa ini bisa dikatakan dapat mendatangkan perubahan mendasar dalam gaya seni karena kegiatan-kegiatan di atas sudah terlalu menjadi keseharian bagi keba­ nyakan orang. Dasar teknologi yang memungkinkan perubahan sikap penonton sebagai partisipan pencipta seni adalah platform jaringan online. Video-video yang diperlihatkan di dunia online mendapatkan peran dan keberadaannya melalui streaming dan pembagian video kepada pihak lain. Berbeda dengan film yang ditayangkan di bioskop atau film DVD, video dalam dunia online tidak memiliki sarana material. Video tersebut hanya ada dalam bentuk informasi dan direalisasikan dengan klik dan pembagian video kepada pengguna online lainnya oleh para penonton. Dalam video-video BTS, bentuk partisipasi para penonton sebagai hasil perubahan dasar teknologi semacam inilah yang sedang menjadi realitas secara aktif. Video yang dihasilkan oleh para penonton saling berhubungan dengan video unggahan BTS dalam platform yang sama, dan dapat menciptakan makna yang beragam.

Fenomena BTS melemparkan pertanyaan kepada kita nilai apa yang diharapkan dari seni yang berlandaskan media dalam hubungannya dengan perubahan global dan arah masa depan, dan ke arah mana lingkungan media sedang menunjukkan energinya dengan kuat. 20 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


1

1. Mengetik tagar “#BTS logo” di Instagram menghasilkan ribuan variasi logo BTS dan ARMY yang dibuat oleh penggemar global, menunjukkan hubungan timbal balik antara musisi dan penggemar mereka. 2, 3. Candaan ARMYPEDIA dirilis pada papan iklan di London’s Piccadilly Circus. Kampanye selama sebulan yang dilakukan oleh BTS dan Perusahaan Motor Hyundai, ARMYPEDIA dimulai pada 25 Februari 2019. ARMY login ke situs web kampanye dan memposting tulisan, foto, dan video di BTS.

2

3

Kini bukan hanya karya para artis saja yang ada dalam ruang lingkup karya seni. Karya yang dibuat oleh para penonton pun ikut membentuk ruang lingkup karya seni yang terus bergerak dengan memperluas makna video ciptaan sang seniman dan mereproduksi video tersebut. Manfaat dan makna karya tersebut terus-menerus diatur dan diciptakan kembali di dalam jaringan citra yang berubah-ubah sehingga menciptakan komposisi yang baru. Komposisi semacam ini dapat dikatakan sebagai jenis proses pemaduan di mana berbagai perangkat elektronik menjadi satu dalam aktivitas para pengguna dan penonton. Seperti apa yang dikatakan Henry Jenkins dalam bukunya 『Budaya Konvergensi: Di Mana Media Lama dan Baru Berbenturan』, perpaduan semacam ini bukanlah sekadar proses teknologi yang menyatukan berbagai fungsi media dalam perangkat yang sama, melainkan sebuah perubahan budaya yang dapat mendorong para konsumen untuk mencari informasi baru dan membuat koneksi di antara konten media yang tersebar.

Nilai Bersama

Ciri khusus seni video dalam jaringan baru adalah ruang lingkup karya seni yang terus bergerak, terbentuknya wilayah karya seni yang terbuka oleh jaringan video, runtuhnya batas antara seniman tradisional dan para penikmatnya, dan mobilitas aktual para penonton yang terus bergerak. Dalam buku 『Revolusi Seni BTS』, saya menyebut semua ini sebagai “jaringan citra”. Semua karakteristik ini didasarkan pada aktivitas para penonton yang mereka lakukan sehari-hari dalam platform bersama atau ja­ ringan sosial. Mungkin apa yang diminta oleh masyarakat jaringan seluler abad ke-21 kepada bentuk seni baru bernama “jaringan citra” ini adalah “nilai bersama” jika kita memperhatikan pengaruh sosial SNS dan platform bersama yang didasarkan pada jaringan seluler, serta mayoritas mutlak para penonton yang menggunakan layanan jaringan ini. Layaknya prediksi Benjamin mengenai nilai seni yang berubah dari “nilai kultus” ke “nilai pertunjukan” bersamaan dengan munculnya reproduksi mekanis, nilai seni abad ke-21 juga sedang berubah dari “nilai pertunjukan” ke “nilai bersama” dengan berubah­ nya teknologi jaringan seluler. Tidak tepat jika kita berpikir bahwa kemunculan bentuk seni baru bernama “jaringan citra” ini hanya diartikan sebagai perubahan bentuk seni saja. Ini adalah ekspresi akan revolusi sejarah dunia yang luar biasa dan mengandung makna yang lebih dalam. Dengan kata lain, ini adalah indikasi gejala me­­ ngenai arah perubahan dunia. Fenomena BTS bukan sebatas masalah pemanfaatan video musik yang lebih khusus oleh grup laki-laki terkenal. Fenomena luar biasa ini melemparkan pertanyaan kepada kita nilai apa yang diharap­­kan dari seni yang berlandaskan media dalam hubungannya dengan perubahan global dan arah masa depan, dan ke arah mana lingkungan media sedang menunjukkan energinya secara kuat.

© Perusahaan Motor Hyundai

SENI & BUDAYA KOREA 21


FITUR KHUSUS 4

BTS: Perjalanan Tujuh Seniman Muda Korea

Lompatan Menuju Standar Global Fenomena BTS bisa jadi tumbuh dari pertemuan topografi budaya Korea yang unik dan dunia yang terhubung secara global pada zaman kita. Mari kita tengok arti penting dari kesuksesan fenomenal ketujuh pemuda dalam grup ini, artis yang berasal dari negara kecil di Timur Jauh, dalam industri musik serta apa yang dapat diharapkan melalui mereka di masa mendatang. Jung Duk-hyun Kritikus Budaya Populer

K

-pop adalah genre musik yang muncul pada 1990-an ketika perusahaan hiburan besar Korea mulai meluncurkan grup idola “buatan”. Calon penyanyi berbakat potensial direkrut melalui audisi dan dilatih dalam vokal, tarian dan bahasa asing melalui ‘periode pelatihan’ biasanya memakan waktu bertahun-tahun. Dalam proses pembuatan idola tersebut hanya segelintir dari mereka yang dikaruniai bakat alami dapat mencapai impian mereka dengan kerja keras. Mereka adalah tokoh elitisme dan kisah sukses mereka mendominasi masyarakat Korea selama fase pembangunan cepat di Korea. Bahkan sampai sekarang, peserta pelatihan harus rela melewati ‘masa pertumbuhan kilat’ untuk bisa menang dalam persaingan sangat ketat. Sama seperti perkembangan ekonomi Korea yang cepat yang menjadi model bagi negara-negara berkembang lainnya, kelompok penyanyi Korea juga menjadi panutan di negara-negara Asia lainnya. Namun, standar Korea yang demikian ini bukanlah fenome-

22 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

na yang alami. Karena untuk mencapai kesuksesan dalam waktu singkat, pengorbanan yang mengikut­i­­­­ nya tidaklah kecil. Gerakan pro-demokrasi pada tahun 1980-an, yang menyerukan demokratisasi ekonomi setelah krisis keuangan Asia 1997, dan baru-baru ini, tuntutan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan yang semakin meluas, serta konflik di antara kelas-kelas sosial menjadi pendorong perjuang­ an masyarakat Korea untuk mencapai kemajuan di bidang sosial ekonomi. K-pop, yang berhasil membuahkan hasil yang luar biasa, adalah contoh singkat dan nyata yang menggambarkan fenomena itu. Masyarakat Korea telah mencari perubahan dalam upaya untuk lepas dari masa lalu, dan pembentukan standar tingkat global yang bersifat lebih universal dan rasional menjadi tuntutan dalam peru-


Kim Nam-joon; Lahir 12 September 1994 di Ilsan, Provinsi Gyeonggi; Pemimpin kelompok dan rapper utama; Nama julukan termasuk “master pidato penerimaan anugerah” dan “monster vokal”; Anggota pertama yang bergabung dengan Big Hit Entertainment dan terutama berbakat dalam rap, penulisan lagu, dan komposisi.

Kim Seok-jin; Lahir 4 Desember 1992 di Gwacheon, Provinsi Gyeonggi; Sub-vokal; Nama julukan termasuk “Madnae” (artinya anggota tertua, tetapi orang yang berperilaku seperti yang termuda) dan “Tertampan di Seluruh Dunia”; Vokalis berbakat terutama terkenal karena sensitivitas emosionalnya.

Min Yoon-gi; Lahir 9 Maret 1993 di Daegu; Rapper pemimpin; Nama julukan termasuk Minstradamus (kombinasi nama keluarga “Min” dan “Nostradamus”) dan Syubgiryeok (kombinasi “Syub” dari “Suga” dan mugiryeok, yang berarti kurang energi, merujuk pada sukanya berbaring dan tidak melakukan apa-apa); Bakat all-around sebagai rapper, penulis lagu, komposer dan pemain.

bahan sosial. Pada saat yang sama, sistem yang mendukung industri K-pop perlahan mulai runtuh. Di titik itulah BTS lahir.

Melampaui Ciri Khas Korea

Industri musik pop Korea, terdiri atas jaringan agensi manajemen yang rumit, stasiun penyiaran, pasar musik digital dan tidak mengizinkan masuk­n ya perusahaan kecil seperti Big Hit Entertainment. Jadi, Big Hit harus menempuh rute yang panjang dan sulit untuk meluncurkan dan mempromosikan BTS. Sebagai grup idola, ketujuh anggota BTS meng­ adopsi elemen hip hop dan menggunakan media sosial secara aktif untuk berkomunikasi dengan publik. Memang mereka tidak mempunyai pilihan lain, tetapi keadaan tak terelakkan itu justru membuka

jalan bagi era baru bagi K-pop. Satu hal yang luar biasa yang membedakan BTS adalah bahwa jika grup penyanyi lain dikemas sebagai “kelompok jenius sempurna,” seolah-olah mereka bukan lahir dari sistem pelatihan yang berat dan ketat, BTS menunjukkan bahwa esensi sejati seorang artis pe­­ nyanyi tidak terletak pada bakat tetapi sikap, dan bahwa seorang artis penyanyi tidak perlu “lahir” tetapi bisa “tumbuh dan berkembang.” Grup penyanyi ini memilih untuk menyoroti yang ketidaksempurnaan daripada kesempurnaan, proses daripada hasil. Lagu “Idol” di album 2018 mereka, “Love Yourself: Answer,” adalah penggambaran jujur ​​dari perjuangan mereka dengan identitas sebagai bintang idola sekaligus seniman, menyatakan bahwa apa pun bentuknya, semua adalah bagian dari kisah pertumbuhan mereka. Perjalanan BTS dari idola ke artis menggambarkan secara langsung kekhawatiran kaum muda Korea. Dalam masyarakat yang sangat mementingkan latar belakang dan hasil, generasi muda

SENI & BUDAYA KOREA 23


Kim Tae-hyung; Lahir 30 Desember 1995 di Daegu; Sub vokalis; Nama julukan termasuk CGV (grafik komputer + V) dan Vwimilbyeonggi (permainan kata pada istilah Korea untuk “senjata rahasia,” merujuk pada V menjadi anggota ketujuh yang dirahasiakan sebelum debut BTS); Serbabisa dan dikenal karena ekspresi dan gerak tubuhnya yang menawan di atas panggung.

Jung Ho-seok; Lahir 18 Februari 1994 di Gwangju; Penari utama, sub-rapper; Nama julukan termasuk Beagledol (beagle + idola, merujuk pada idola yang imut, energik dan semua hal yang menggemaskan) dan Pemimpin Tim Koreografi; Bisa dibilang penari terbaik dalam grup yang memancar dalam rangkaian yang sangat sulit.

secara bertahap belajar untuk menikmati proses terlepas dari hasilnya. Orang-orang muda Korea, yang telah ditekan untuk menjalani kehidupan yang berorientasi pada kesuksesan, telah mulai bermimpi mengejar “kehidupan artis”, di mana mereka tumbuh dan berkembang secara bertahap. Aspirasi mereka lebih diarahkan pada standar global yang melampaui batasan khas Korea. Bahkan kalaupun mereka harus “jatuh, terluka, dan sakit”, mereka berusaha mengejar kehidupan pilihan mereka sendiri daripada menjadi apa yang orang lain harapkan. Rasanya impian inilah yang ingin dibagikan kepada seluruh kaum muda di seluruh dunia, bukan hanya di Korea saja. Musik BTS bersimpati dengan sentimen ini dan rasa simpati itu beresonansi luas secara global.

Lepas dari Masa Lalu yang Otoriter

Terbukanya budaya digital dengan penyebaran internet dan media sosial menghubungkan individu-individu melalui jaringan network.

24 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Ini sangat relevan dengan kebangkitan individualisme dalam masyarakat Korea, di mana keluarga dan nasionalisme telah lama meresap. Sistem sosial patriarki tradisional dan sikap elitis era pembangun­ an telah kehilangan validitas dalam kesadaran publik yang dibentuk oleh internet. Individu, yang dulu hanyalah merupakan salah satu dari anggota ma­­ syarakat, mulai mengungkapkan selera pribadi mere­­ka dan menyuarakan pendapat mereka di jaringan digital. Fenomena lepas dari masa lalu yang bersifat otoriter ini paling menonjol dalam budaya pop. Apa yang tadinya merupakan hubungan vertikal antara bintang idola dan penggemar, kini menjadi semakin saling menguntungkan dan berinteraktif. Masyarakat tidak lagi memandang selebriti hanya sebagai objek


Park Ji-min; Lahir 13 Oktober 1995 di Busan; Penari utama dan vokalis utama; Nama panggilan termasuk Manggaetteok (untuk wajahnya yang imut dengan pipi tembem mengingatkan pada kue beras, atau tteok ) dan Benih Tarian; Memasuki Sekolah Tinggi Seni Busan sebagai siswa papan atas, terkenal karena keterampilan menari yang luar biasa.

Jeon Jung-kook; Lahir 1 September 1997 di Busan; Vokalis utama, penari utama, sub rapper; Nama panggilan termasuk Golden Mangnae (juga dieja “Maknae,” yang berarti anggota termuda) dan Muscle Pig; Vokal langsung yang luar biasa dan gerakan tarian flamboyan, serta keterampilan fotografi, videografi, dan memiliki keterampilan mengedit yang luar biasa.

pemujaan, tetapi sebagai individu yang bisa mereka hubungi. Dalam beberapa kasus, penggemar bahkan menawarkan saran tentang arah karier artis. Jenis fandom baru yang muncul pada 1990-an ini bisa menjadi pertanda dari hubungan antara BTS dan fandom mereka, ARMY (Adorable Representative M.C. for Youth).

Menuju Dunia yang Lebih Luas

Situasi geopolitik Korea selalu menuntut untuk mencari peluang di luar negeri. Selama fase pengembang­­ an, Korea yang tidak memiliki sumber daya yang cukup, mengimpornya dari luar negeri untuk dipro­ ses kemudian mengekspor produk akhir. Tetapi ‘standar Korea’ yang sempat mendorong negara itu untuk mencapai pertumbuhan kilat dalam waktu singkat

sebenarnya sudah kehilangan kekuatan sejak lama. Di dunia global saat ini, dengan interkoneksi digital yang terus meningkat, standar yang ada tidak lagi menjanjikan kemakmuran. Di titik inilah, BTS berhasil menunjukkan suatu lompatan untuk meraih kemungkinan. Fandom global dan interaksi dengan penggemar BTS bersifat universal. Cara grup penyanyi muda ini berinteraksi dan membang­ un hubungan dengan penggemar mereka di seluruh dunia mung­ kin memiliki implikasi penting bagi Korea dalam memperluas keberadaannya di masyarakat global. Ketenaran BTS yang juga turut dinikmati oleh masyarakat Korea rasanya bukan semata-mata karena mereka semakin dikenal di dunia tanpa ada sejarah yang mengawalinya. Tetapi juga karena cara para seniman muda ini berinteraksi dan membangun hubungan dengan penggemar di seluruh dunia menunjukkan bagaimana gene­ rasi yang sebelumnya terkekang dalam batas wilayah tertentu kini melangkahkan kakinya ke dunia yang lebih luas.

SENI & BUDAYA KOREA 25


Ketenaran BTS yang juga turut dinikmati oleh masyarakat Korea rasanya bukan semata-mata karena mereka semakin dikenal di dunia tanpa ada sejarah yang mengawalinya. Tetapi juga karena cara para artis muda ini berinteraksi dan membangun hubungan dengan penggemar.

26 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Gambar poster untuk tur dunia 2018 “Love Yourself,” yang meliputi Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis dan Jepang. Dari kiri: J-Hope, V, RM, Jungkook, Jimin, Jin dan Suga. © Big Hit Entertainment

SENI & BUDAYA KOREA 27


FOKUS

Gaya Bong Joon-ho

Sebuah Genre Tersendiri Dipuji karena penggambarannya yang berani dan teliti dari lanskap kapitalis modern, Parasit karya sutradara Bong Joon-ho menyentuh perhatian dunia dan menjadi film Korea pertama yang memenangi Palme d’Or, penghargaan paling bergengsi di Festival Film Cannes. Datang pada masa seratus tahun film Korea, ia merupakan pencapaian lain yang inovatif bagi dunia film dengan pikiran cerdas. Ju Sung-chul Pemimpin Redaksi Cine 21

S

eakan sebagai perayaan ulang tahun perfilman Korea yang ke-100 tahun ini, sutradara Bong Joonho dianugerahi Palme d’Or di Festival Film Cannes ke-72. “Waktu yang sangat tepat” – Dialog tokoh Ki-taek yang diperankan Song Kang-ho ini dianggap sangat cocok untuk mendeskripsikan film <Parasit>. Selain di Cannes, <Parasit> juga mendapat sambutan ha­­ ngat di berbagai belahan dunia. Film ini menorehkan rekor baru sebagai film Korea yang didistribusikan paling luas, yaitu ke 192 negara selama festival film dilaksanakan. Sambutan paling hangat dapat dirasakan di Prancis sebagai negara pertama yang memutar film ini. <Parasit> berhasil menggeser film ‘puncak tangga’ Hollywood <Man In Black: International> dan <X-Men: Dark Phoenix> ke posisi kedua dan ketiga dalam daftar film laris Prancis. Menariknya, poster film untuk pasaran Prancis dibuat menjadi dua tipe, salah satunya diambil dari adegan Tuan Park ketika berbisik kepada istrinya. Lee Sun-kyun dan Cho Yeo-jeong merupakan pemain film yang tidak dikenal di Prancis. Selain itu, menuliskan kalimat dalam ukuran besar di poster film juga merupakan hal yang jarang dilakukan di Prancis, sehingga gambar ini terlihat kocak dan penuh makna karena seakan mengatakan, “Awas kalau sampai memberikan bocoran (spoiler)!” Terlebih karena bocoran film ini sangat dihindari oleh penonton Prancis akibat banyak diberitakan bersamaan dengan festival film.

28 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Bong Joon-ho merupakan nama yang paling banyak diperbincangkan di dunia perfilman Korea, baik di masa kini maupun masa lalu.

Film utama ketujuh dari Bong Joon-ho “Parasite” memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2019, hadiah tertinggi yang diberikan di Cannes.

Mimpi Lama yang Terealisasi

Festival Film Cannes merupakan panggung impian para insan film Korea sejak dulu. Setelah <Spinning The Tales of Cruelty Towards Women> (1983) karya Lee Doo-yong dianggap sebagai karya yang ‘patut diperhatikan’, sutradara Im Kwon-taek diundang sebagai sutradara Korea pertama di tahun 2000 atas karyanya <Hikayat Chunhyang>. Sutradara Im yang dijuluki ‘Sutradara Nasional’ diundang kembali untuk bersaing berkat <Chihwaseon> (2002), serta mendapatkan penghargaan sebagai sutradara yang membuat film Korea banyak dikenal secara internasional. Menyusul prestasinya, Park Chan-wook mendapatkan penghargaan dari juri untuk <Old Boy> (2003) dan Lee Changdong mendapatkan penghargaan naskah terbaik untuk <Puisi> (2010) yang semakin memantapkan ‘keglobalan’ film Korea melalui Cannes. Selain itu juga ada Im Sang-soo yang diundang untuk bersaing berkat <Pembantu Rumah Tangga> (2010) yang merupakan ulang terbit film berju­dul sama di tahun 1960 karya Kim Ki-young, serta kemudian <Nikmat Uang> (2010). Untuk mewujudkan impian lama dunia perfilman Korea, dibutuhkan 19 tahun sejak <Hikayat Chunhyang> masuk sebagai nominasi sampai <Parasit> mendapatkan Palme d’Or tahun ini. Selama itu pula film Korea berkembang melampaui zaman, baik dari segi tema, latar belakang, maupun teknik. Bong Joon-ho mengungkapkan bahwa dia bercita-cita menjadi sutradara film sejak masih SMP dalam pidato kemenangannya, sampai akhirnya ia membuat film pendek berjudul <Orang Berwarna Putih> (1994) ketika aktif di perkumpulan film semasa kuliah. Ia memasukkan film pendek itu ke portofolionya untuk masuk ke Akademi Film Korea angkatan ke-11, sampai akhirnya menjadi pusat perhatian ketika diundang ke Festival Film Internasional Vancouver melalui <Incoherence (1994)>, serta mulai memperluas kemampuannya dengan memproduksi film bergenre drama berjudul <Losmen Kaktus> (1997) dan menulis naskah <Makhluk Halus> (1999).

Fase Baru

Film panjang pertama Bong Joon-ho berjudul <Anjing Flanders> (2000) dianggap sebagai fase baru film Korea yang memulai era milenium. Aspek film maupun non-film bercampur dalam film ini, membuat energi meledak-ledak yang jauh berada di depan film Korea sebelumnya terlihat di film ini. Bong Joon-ho telah memperlihatkan daya imajinasi mengejutkan dan mengguncang dunia solid bernama seni. Saat itu, Bong Joon-ho mengungkap bahwa Kim Ki-young adalah sutradara Korea favoritnya dan bahwa ia © Cine21, Photo by Oh Kye-ohk

SENI & BUDAYA KOREA 29


2

4

1

© CJ ENM

3 © Showbox

© The Jokers Film

© CJ ENM

memiliki lebih dari 10 film sutradara itu. Selain itu, dia juga mengaku lebih sering menonton program film di TV atau menyewa film untuk ditonton di rumah dibandingkan pergi ke bioskop sewaktu kecil, serta berhasil mengakrabkan diri dengan konsep ‘dramatisasi’ melalui animasi Jepang berju­ dul ‘Future Boy Conan’. Ia khususnya sering menonton film animasi yang total episodenya berdurasi 14 jam ini selama seharian di masa-masa sulit saat masih di Akademi Film. Bong Joon-ho yang terkesan seperti pembuat onar atau minoritas di perfilman Korea di masa itu akhirnya menjadi poros perfilman Korea. Ia memasuki industri perfilman setelah melewati masa kuliah ketika atmosfer pergerakan mahasiswa perlahan memudar, setelah menyerap budaya populer seperti komik atau film kelas B yang ditonton melalui rental atau TV. Singkatnya, Bong Joon-ho benar-benar berbeda dengan sutradara film Korea sebelumnya. Di tahun 2000 ketika <Anjing Flanders> dirilis, Bong Jong-ho menorehkan namanya di daftar ‘Sutradara Moviebuff’ bersama dengan Park Chan-wook dengan <Joint Security Area>, Kim Jee-won dengan <Raja Curang>, dan Ryoo Seung-wan

30 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

dengan <Mati atau Buruk>. Setelah itu, Bong Joon-ho diundang ke Director’s Fortnight di Festival Film Cannes ke-59 berkat <Monster> (2006) dan berturut-turut diundang sebagai karya yang ‘Patut Diperhatikan’ di festival ke-61 dan ke-62 berkat film omnibus <Tokyo!> (2008) yang digarap bersama Michel Gondry dan Leos Carax, serta <Ibu> (2008), dan kemudian diundang untuk bersaing di festival ke-70 berkat film produksi Netflix <Okja> (2017). Singkatnya, Bong Joon-ho sudah diundang sebanyak lima kali ke Cannes sebelum akhi­r­­­­nya mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or tahun ini.

Detail dan Menyimpang

Karya Bong Joong-ho dapat dijelaskan dengan dua ciri pen­ ting berikut, yaitu narasi mendetail yang sampai membuatnya dijuluki ‘Bongtail’ dan ‘dramatisasi menyimpang’ yang diambil dari julukan ‘L’art du piksari’ pemberian majalah film Prancis ‘Cahiers du Cinema’. Film panjang keduanya berjudul <Kenangan Membunuh> (2003) berhasil mengangkat namanya sebagai se­­orang


karya vital seorang sutradara perfeksionis untuk menggambarkan dunia yang tidak sempurna.

Eksplorasi tentang Sezaman 1. “Memories of Murder” (2003), berdasarkan kasus nyata pembunuhan berantai, dikunjungi sebagai bagian sinema Korea dari banyak festival film internasional, termasuk Festival Film Internasional Bogota. 2. “Mother” (2009), yang menggambarkan upaya putus asa seorang ibu untuk menyelamatkan putranya yang dijebak dalam kasus pembunuhan, diundang untuk bersaing dalam Un Certain Regard section of the 62nd Cannes Film Festival. 3. “The Host” (2006), yang menarik lebih dari 13 juta pemirsa di seluruh dunia, adalah kesuksesan box office terbesar di Bong Joon-ho. Itu diundang ke acara Director’s Fortnight 59th Cannes Film Festival. 4. “Parasite” (2019) adalah simbol pembuatan film Bong Joon-ho, yang dikenal karena perhatiannya terhadap detail, benturan unsur-unsur yang berbeda, dan penggambaran sisi buruk kapitalisme.

sutradara. Ide-ide yang ia ajukan ke pengarah seni untuk menciptakan kembali era yang diinginkan dianggap melampaui standar produksi desain. Rokok dan mobil kuno mungkin wajar digunakan di film, tapi coretan vulgar di pos patroli atau kotak makanan kecil di rumah seorang cenayang dianggap melampaui rekonstruksi sederhana sebuah zaman yang akhi­r­ nya menjadi nyawa yang ditiupkan ke dalam cerita. Seorang penyidik terpeleset ke sawah tempat investigasi dilakukan dalam <Kenangan Membunuh> dan dalam film <Monster> (2006), kaki monster tergelincir di tangga licin ketika mengejar manusia di kemuculannya. ‘Piksari’ se­­ perti itu akhirnya melahirkan benturan antar elemen-elemen unik yang kemudian menjadi daya tarik filmnya secara ke­­ seluruhan. Seperti pujian media digital yang berbunyi “Bong Joon-ho telah menjadi sebuah genre” (Menyimpang, brilian, dan benar-benar tidak dapat diklasifikasikan membuktikan bahwa Bong Joon-ho telah menjadi sebuah genre tersendiri.) ketika Festival film Cannes diluncurkan, <Parasit> telah memperlihatkan perjalanan genre khusus yang tidak dapat ditemukan di mana pun. Film ini dapat dianggap sebagai

Ciri utama film Bong Joon-ho lainnya adalah tema cinta keluarga yang terlihat jelas di <Parasit> dan eksplorasi mendetail akan kenyataan khas Korea, seperti struktur kelas masyarakat dan lainnya. Apartemen di <Anjing Flanders>, kasus pembunuhan berantai di selatan Provinsi Gyeonggi di <Kenangan Membunuh>, Sungai Han di <Monster>, dan kasih sayang seorang ibu di <Ibu> adalah aspek-aspek yang melambangkan masyarakat Korea di suatu masa atau suatu keadaan. Bong Joon-ho berkata bahwa <Monster> merupakan ‘film yang memperlihatkan proses pematangan diri tokoh utama bernama Gang-du’ dan proses ini terwujud melalui kejamnya harga yang harus dibayarkan melalui kematian putrinya. Selain itu, ketidakhadiran atau ketidakbecusan pemerintah juga selalu muncul di filmnya, membuat para orang lemah terpaksa menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan negara atau masyarakat. “Para orang lemah sa­ling melindungi,” ujarnya di sebuah wawancara. Bong Joonho juga menampilkan sosok ibu yang terpaksa menjadi ‘monster’ di tengah situasi seperti itu dalam <Ibu>. Akibat kemalasan polisi yang menutup kematian seorang pemuda sebagai ‘kasus kriminal’, seorang ibu bergerak gigih sendirian untuk membuktikan bahwa putranya tidak bersalah. Sosok keluarga pengangguran di <Parasit> juga me­­ rupakan penggambaran realistis akan masyarakat Korea. Semuanya mendatangi rumah keluarga Tuan Park ketika putra sulung keluarga mereka yang seluruh anggotanya berstatus pengangguran mendapatkan pekerjaan sampingan mengajar dengan upah tinggi. Kedua keluarga akhirnya bertemu, tapi seiring waktu berlalu, sisi gelap dari ‘hidup serumah’ pun mulai menyerang. Film ini berhasil mendapatkan Palme d’Or Festival Film Cannes berkat kemampuannya untuk menunjukkan ‘pemandangan kapitalisme era kita’ tanpa memandang ras maupun negara. Selama 20 tahun sejak dimulai dengan <Anjing Flanders> sampai akhir­nya disusul oleh <Parasite>, Bong Joon-ho akhirnya berhasil menjawab pertanyaan mengenai eksistensi perfilman Korea. Jejak kemajuan dan perubahan yang ditunjukkan Bong Joon-ho selama 20 tahun terakhir di dunia perfilman Korea yang sudah berusia seratus tahun, memiliki kesamaan de­­ ngan peta keinginan dan harapan masyarakat luas akan perfilman. Bong Joon-ho merupakan nama yang paling banyak diperbincangkan di dunia perfilman Korea, baik di masa kini maupun masa lalu.

SENI & BUDAYA KOREA 31


WAWANCARA

Hanok untuk Rumah Tinggal di Abad ke-21 Mereka yang ingin mempertahankan keaslian pasti menentang perubahan desain dan bahan material hanok, rumah tradisional Korea; sedangkan kaum modern menganggap rumah seperti itu sudah kuno dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Arsitek Cho Jung-goo berpendapat sebaliknya. Ia dikenal dengan eksperimen tanpa henti menjadikan rumah tradisional Korea sebagai platform arsitektur yang tetap hidup dan bertahan. Lim Jin-young CEO, OPENHOUSE Seoul Ha Ji-kwon Fotografer

32 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


D

i zaman modern, rumah tradisional Korea yang disebut hanok makin menghilang karena ba­­ nyaknya bangunan apartemen yang tinggi menjulang. Rumah tradisional yang dibangun dengan kerangka kayu dan desain sederhana itu hanya dianggap sebagai warisan sejarah yang harus dilestarikan atau ikon budaya yang hanya dihuni oleh mereka yang menyukainya saja. Namun, terjadi perubahan pada tahun 2000, ketika lahir keinginan menggali kembali nilai luhurnya dan mempergunakan hanok sebagai tempat tinggal kontemporer. Pada tahun 2000, Cho Jung-goo mendirikan firma arsitekturnya, guga Urban Architecture. Sejak saat itu, ia berkeliling Seoul setiap hari Rabu untuk mencatat segala sesuatu yang dilihatnya dan berbincang dengan mereka yang tinggal di kota ini. Ia menyaksikan banyak tempat sudah berubah atau menghilang. Perjalanan seperti ini membuatnya yakin bahwa sebuah kota seharusnya menjadi tempat rumah-rumah tua dan baru berdiri berdampingan dengan serasi. Keinginan untuk terus menciptakan desain arsitektur yang menjawab kebutuhan gaya hidup kontemporer membuat Cho menjadikan hanok sebagai organisme yang tetap bertahan dalam kehidupan perkotaan.

Memahami dengan Cara Baru

Lim Jin-young: Apa yang membuat Anda, sebagai se­orang arsitek kontemporer, tertarik dengan hanok? Cho Jung-goo: Saya tidak selalu tertarik dengan hanok. Setelah bertahun-tahun saya berkeliling Seoul setiap minggu, saya sudah melihat banyak tempat dan menemukan ba­nyak bangunan hanok di kota ini, yang dibangun pada zaman mo­dern dan kontemporer. Ketertarikan saya bukan bermula pada hanok sebagai arsitektur tradisional tapi dari eksistensinya di lingkungan urban. Suatu ketika, saya berkesempatan mengerjakan desain rumah hanok di Bukchon dan saat itulah saya belajar mengenai rumah-rumah tradisional Korea itu. Lim: Jadi, Anda belajar mengenai arsitektur Korea tradisional di lokasi proyek? Cho: Benar sekali. Orang-orang biasa belajar mengenai hanok dari buku sejarah arsitektur, tapi saya belajar ba­­ nyak ketika mengerjakan rumah-rumah tua itu. Hal penting yang saya pelajari adalah hanok tetap hidup dalam arsitektur urban Seoul. Jumlah proyek pengerjaan rumah hanok pun

Hotel Ragung, yang dibuka pada 2005 di Gyeongju, ibukota kuno Silla, adalah hotel hanok pertama. Hal ini membuktikan bahwa arsitektur tradisional Korea dapat berkembang seiring dengan perkembangan zaman. © Park Yeong-chae, Arsitektur Perkotaan guga

SENI & BUDAYA KOREA 33


meningkat dan kami tidak hanya menangani rumah tinggal tapi juga rumah makan dan bangunan-bangunan lain. Saya mencari solusi bagaimana hanok bisa mengakomodasi kebutuhan dan teknologi gaya hidup kontemporer dan menurut saya mengatasi masalah seperti itu memang tugas seorang arsitek. Ketika mengerjakan desain Ragung, sebuah hotel bergaya hanok di Gyeongju, pada tahun 2005, saya me­­ nyadari bahwa seorang arsitek bisa merancang hanok de­­ ngan menggunakan bahasa arsitektur dan bisa membawa pe­­ ngaruh besar dalam hanok modern. Saya merasa melampaui batasan saya sendiri dalam proyek itu. Lim: Ragung sangat mengesankan bagaimana hanok diinterpretasikan dan dihadirkan kembali. Cho: Menurut saya, kalau ada yang mau menulis seja­ rah arsitektur dan mencari definisi hanok kontemporer, bisa mengawalinya dengan Ragung. Dalam proyek itu, peran arsitek sangat penting karena proyek ini mengombinasikan kebutuhan dan asas kegunaan kontemporer dalam bahasa arsitektur sederhana dengan cara baru. Ketika mengerjakan hotel ini, saya berkesempatan mengintegrasikan arsitektur tradisional ke dalam domain desain arsitektur. Bahwa Ragung diterima pasar, itu sangat berarti buat saya. Lim: Kata hanok kini makin banyak digunakan dan ar­­ tinya menjadi lebih luas. Saya ingin tahu bagaimana Anda mendefinisikan kata ini sebagai seorang arsitek. Cho: Secara umum, hanok bisa didefinisikan sebagai “sebuah bangunan dengan kerangka kayu dan atap genting.” Bagi saya, hanok adalah “sebuah rumah dengan taman yang dibangun dengan bahan alami seperti kayu, batu dan kertas.”

Baru-baru ini kami membangun rumah kayu di Paju dan warga lokal menyebutnya “rumah hanok.” Saya rasa kami berhasil menghadirkan esensi hanok dalam persepsi mereka.

Komposisi yang Simpel dan Rasional

Lim: Apa karakteristik penentu struktur rumah hanok yang Anda dapati ketika mengerjakannya? Cho: Yang paling menarik dari struktur hanok adalah kesederhanaannya. Sama sekali bukan struktur yang rumit. Kedua, hanok punya komposisi logis yang menakjubkan. Dari struktur ruang sampai tampilan luarnya, ada kesatuan rasionalitas dan kesederhanaan. Saya bisa memahami bagaimana hanok urban menyesuaikan dengan kehidupan kota dan ada perubahan yang samar pada atap dan lantainya. Rumah tradisional Korea tampak sederhana dan nyaman, tapi bukan berarti tidak ada seni di dalamnya. Lim: Ketika bereksperimen dengan hanok, apa yang menurut Anda merupakan DNA hanok dan harus terus dipertahankan? Cho: Saya pikir DNA hanok adalah taman dan tritisan. Antara taman dan rumah harus ada teritori tengah ini. Tritisan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari tapi juga merupakan ruang tengah yang memung­ kinkan Anda bisa keluar dan melihat ke taman. Kesederhanaan juga penting. Gambar arsitektur sebagian besar rumah bergaya tradisional sangat sederhana seperti gambar anakanak. Namun, hanok kontemporer yang dibangun dewasa ini punya struktur yang kompleks. Arsitek mencoba mempertahankan sensasi hanok dengan tampilan luar, tapi karena bagian dalamnya sangat rumit, ke­­ sederhanaan hanok menjadi hilang. Jika Anda melihat hanok yang dibangun dengan baik, ada perasaan yang meng­ alir, dengan ruangan yang terhubung secara alami satu sama lain. Kita ingin menghadirkan kembali sensasi itu. Lim: Sayangnya, ada juga sikap kurang terpuji mengenai hanok. Ada pandangan bahwa karena hanok ada-

Didesain sedemikian rupa sehingga pemandangan sekitarnya dapat dinikmati dari tingkat yang lebih tinggi dari setiap kamar, Hotel Ragung menyelaraskan fungsi hotel butik skala kecil dengan estetika tradisional. © Park Yeong-chae, Arsitektur Perkotaan guga

34 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Jika kita membangun hanok sebagai tempat tinggal, rumah itu tidak hanya merupakan kekayaan budaya, melainkan juga harus mampu mengimbangi kehidupan kontemporer saat ini. Agar hanok tetap bertahan, desain rumah ini harus terus berevolusi.

lah sesuatu yang tradisional, rumah-rumah seperti ini tidak perlu dibangun lagi. Pada saat yang bersamaan ada juga kritik bahwa hanok tidak punya nilai di kota yang modern, jadi arsitek kontemporer seharusnya tidak perlu terlibat di dalamnya. Cho: Kedua pandangan itu ditujukan kepada saya. Saya berdiri tepat di tengah-tengah. Arsitek lain mengkritik saya dan mengatakan, “Mengapa mempertahankan sesuatu yang sudah mati?” namun saya tidak setuju dengan pendapat mereka mengenai hanok ini. Jika Anda melihat kota mo­­ dern, rumah-rumah bergaya tradisional masih ada di sana dan tetap terpelihara dengan baik sebagai tempat tinggal. Sebaliknya, saya sering kali ditanya apakah rumah serupa yang didesain dengan cara yang lebih kontemporer juga me­­ rupakan hanok. Misalnya, untuk membangun Nangnakheon [artinya “Rumah Kebahagiaan”] di Distrik Eunpyeong [di bagian utara Seoul], kami mendirikan tiang-tiang penyangga yang terbuat dari beton dan membangun rumah itu di atas­­nya. Meskipun memenangkan penghargaan arsitektur, rumah itu tidak dianggap sebagai hanok yang sempurna. Mereka yang mementingkan keaslian tidak mau menerima fondasi dari beton ini. Walaupun demikian, keyakinan saya tidak berubah. Ketika sesuatu dianggap “tradisional,” tidak bisa lagi sama dengan sebelumnya. Kita harus terus maju dengan tetap melihat sisi sejarah, teknis dan sosial. Pada akhirnya, ketika kita membangun hanok baru sebagai tempat tinggal, rumah itu tidak bisa hanya berfungsi sebagai warisan sejarah tapi juga perlu mengakomodasi kehidupan kontemporer saat ini. Agar tetap bertahan, hanok harus berubah. Itulah alasan­

Dengan karyawan di perusahaannya, Arsitektur Perkotaan guga, arsitek Cho Jung-goo berkeliling Seoul setiap hari Rabu untuk meneliti kemungkinan-kemungkinan baru bagi hanok sebagai bentuk arsitektur yang hidup.

SENI & BUDAYA KOREA 35


nya mengapa perlu banyak eksperimen yang dilakukan oleh orang yang berbeda.

Materialisasi Universal Kehidupan

Lim: Dalam perspektif arsitek kontemporer, hanok hanya satu dari sekian banyak pilihan. Yang penting adalah bagaimana bentuk rumah itu dilihat dan bagaimana karakteristiknya diinterpretasikan. Cho: Filosofi perusahaan kami adalah keaslian yang universal. Kami selalu mencoba merancang sesuatu yang punya pengaruh universal. Menciptakan bentuk baru sebuah tempat tinggal sangat penting. Menurut saya, caranya adalah de­­ ngan terus-menerus meruntuhkan batasan antara arsitektur tradisional dan kontemporer. Ketika membangun hanok, rencana jauh lebih penting. Artinya, arsitek menentukan tantang­ annya dalam beragam cara, dengan visi unik mereka sendiri. Saya tidak mengatakan pendekatan saya paling benar. Jika melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan alternatifnya. Membangun rumah di zaman sekarang adalah tugas besar bagi para arsitek dan bagi saya tugas itu sangat dekat dengan modernisasi hanok. Lim: Dalam pengerjaan Im Jae-yang Surgery di Daegu,

Anda berhadapan dengan rumah-rumah tradisional Korea dan Jepang di kota itu, lalu dalam proyek seperti Mi­­ myeongjae [“Rumah Fajar”], hanok berbentuk seperti huruf Y di Inje, dan lorong melingkar di Lotte Resort Buyeo, Anda menggunakan metode yang sudah ada untuk menciptakan sesuatu yang baru dan eksperimental. Menariknya, pendekat­­an arsitektur yang Anda lakukan adalah mendesain sesuatu yang baru dengan metode tradisional, bukan hanya mengikuti konvensi standar hanok. Cho: Benar. Hanok adalah bahasa yang bisa saya me­­ ngerti dan saya gunakan. Yang penting adalah bagaimana Anda memahami sebuah tempat; Anda harus mendekatinya dari perspektif yang diinginkan orang lain. Saya pikir bentuknya berasal dari itu. Ketika mengerjakan Pusat Informasi bagi Pengunjung Chollipo Arboretum, alih-alih mengembangkan hanok, kami menciptakan sebuah bangunan de­­ ngan komposisi yang simpel dan menghadirkan sensasi atap rumah Korea tradisional. Sebaliknya, di Tosan-ri Guest House di Pulau Jeju, kami membangun sesuai aslinya, bukan hanya menginterpretasikannya dengan bahasa kontemporer. Klien kami menginginkan rumah bergaya hanok, tapi khawatir gaya hidup mereka tidak cocok dengan rumah tradisional. Jadi, kami mempertahankan sensasi rumah keluarga bergaya Jeju dan menggunakan bahan dan struktur ruang rumah-rumah Korea. Saya menganggapnya evolusi rumah hanok.

Ruang Rendah Hati

1

Lim: Sebagai seorang arsitek, apa yang mencirikan rumah-rumah Korea dan rumah-rumah masa kini? Cho: Ciri signifikan hanok adalah adanya “ruang rendah hati.” Sebuah rumah yang punya kedalaman makna tapi tidak dipamerkan, rumah yang menyatu dengan bagian luar — rumah seperti itulah yang saya inginkan. Seperti yang saya katakan tadi, dalam rumah seperti itu pemandang­ an yang bisa dilihat ketika duduk di bawah tritisan sangat penting; rumah sederhana dengan taman bisa menciptakan perasaan ini. Rumah seperti itu pasti menjadi tempat tinggal yang nyaman.

1. Rumah Tosan-ri di Pulau Jeju mempertahankan topografi yang miring dari situsnya, sambil mengadaptasi ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan ruang makan dengan ketinggian yang berbeda.

2 © Yun Jun-hwan, guga Arsitektur Kota

36 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

2. Rumah Tosan-ri menafsirkan kembali iklim dan gaya perumahan asli ke Jeju, ditandai dengan dinding batu untuk struktur dan perimeter, serta atap rendah dan bentuk lebar untuk menahan angin kencang.


3 © Park Yeong-chae, Arsitektur Perkotaan guga

4 © Park Yeong-chae, Arsitektur Perkotaan guga

3. Dengan pemandangan Gunung Bukhan yang berada tepat di luar, Nangnakeon (“Rumah Gembira Ganda”) menghadirkan gaya tinggal baru dengan bentuk arsitektur tradisional dan modern yang hidup berdampingan. 4. Ditempatkan di atas pilotis beton, Nangnakeon dirancang untuk mengakomodasi gaya hidup kontemporer. Sebuah pintu masuk dan ruang parkir terletak di bawah aula yang ditinggikan.

Lim: Setelah melakukan perjalanan berkeli­ ling kota dan bereksperimen dengan hanok terus-menerus, tampaknya Anda sudah menjalankan teori personal “arsitektur universal kehidupan.” Cho: Saya bukan arsitek hanok. Saya hanya mengikuti jalan hidup saya dengan sungguh-sungguh. Hanok adalah jalan hidup saya. Sebagai seorang arsitek, pekerjaan saya menarik garis dari masa lalu melewati masa kini. Menariknya membentang dari masa lalu, dengan mencermati kehidupan masa kini, dan membangun jembatan ke masa depan. Seperti moto saya, “Terus mencari bentuk kehidupan,” saya melihat kehidupan melalui perjalanan saya, dan sekarang, dibandingkan dengan orang lain, saya melihat masa lalu lebih banyak sebagai bekal menghadapi masa kini. Secara bertahap saya membangun jembatan menuju masa depan. Kelak, saya ingin dikenang sebagai sese­ orang yang merancang rumah untuk tetap bertahan dan mengimbangi iklim alam saat ini.

SENI & BUDAYA KOREA 37


JATUH CINTA PADA KOREA

Berganti Haluan

dari Kereta Cepat ke Patiseri 1

Guillaume Diepvens adalah seorang insinyur yang ditugaskan sementara di Korea untuk membantu negara ini membangun sistem kereta cepat pertamanya. Namun, kecintaan pada roti dari negara asal dan jiwa dagang yang dimilikinya membuat laki-laki Prancis ini meniti jenjang karir yang tidak terbayangkan sebelumnya â&#x20AC;&#x201D; membuka toko roti di Seoul. Choi Sung-jin Editor Eksekutif, Korea Biomedical Review Heo Dong-wuk Fotografer

38 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


B

ayangkan, Anda adalah seorang insinyur dari Korea yang bekerja di Hyundai Engineering and Construction dan dikirim ke Prancis. Makanan andalan Anda — nasi dan kimchi — yang Anda temui di sana jauh dari memuaskan, dan Anda sangat me­­ rindukan menyantap makanan Korea ini meskipun hanya satu hari saja. Boleh jadi, Anda akan berusaha menyelesaikan tugas secepatnya dan kembali ke Korea. Atau, jika itu tidak bisa Anda lakukan, Anda akan berusaha pulang ke Korea sese­­ring mungkin untuk memuaskan hasrat Anda pada masakan tanah air Anda itu. Guillaume Diepvens menghadapi situasi serupa di Korea. Namun, laki-laki Prancis ini memilih jalan keluar yang lain: ia memutuskan tetap tinggal di sini dan membuka patiseri Prancis asli. Apa motivasinya? Memperkenalkan roti Prancis di negara Asia yang sehari-harinya mengonsumsi nasi? Hasrat terpendam untuk membuka usaha? Bosan dengan pekerjaan di perusahaan besar? Atau semuanya? Satu hal yang pasti: Diepvens tidak akan mengambil keputusan itu kalau ia tidak menyukai negara yang ditinggalinya. Ketika ditanya apakah ia jatuh cinta pada Korea, laki-laki Prancis berusia 44 tahun ini menjawab dengan pertanyaan: “Jika tidak, mungkinkah saya betah tinggal di sini selama 17 tahun?”

lebih aman dan nyaman bagi orang asing daripada di ba­­ nyak kota di Eropa dan Amerika,” kata Diepvens. Hal positif lain yang dirasakannya adalah ia tidak lagi menghadapi situasi yang tidak menyenangkan seperti yang dialaminya di kereta bawah tanah di Paris. “Tentu saja saya cinta pada Korea, tapi jujur, ini bukan cinta pada pandangan pertama. Cinta saya pada negara ini tumbuh sedikit demi sedikit,” katanya. Hari-hari pertamanya di Korea sangat berat karena ketidakmampuannya memahami dan berbicara bahasa Korea. Diepvens bisa menjalani kehidupan di Amerika walaupun tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik karena bahasa Prancis dan Inggris memiliki banyak kata yang sama dan mempunyai struktur kalimat yang serupa. Namun, di Korea, Diepvens menghadapi lebih dari sekadar bahasa yang sama sekali asing baginya. “Prancis dan Korea sangat berbeda. Tidak hanya dalam hal bahasanya, tapi juga dalam pola pikir masyarakatnya,” ujarnya. Diepvens tiba di Korea pada tahun 2002 sebagai karyawan Alstom, sebuah perusahaan multinasional Prancis yang bergerak dalam bidang transportasi kereta dengan jaringan di seluruh dunia. Semua insinyur Prancis sangat menginginkan bekerja di perusahaan ini dan sebagai se­­­orang lulusan Arts et Métiers ParisTech, Diepvens mendapat­kan

Aman dan Nyaman

Diepvens menggambarkan kehidupannya di Korea dalam satu kata — “kasual.” Lebih jauh ia mengatakan bahwa Korea “aman dan nyaman” untuk orang asing, khususnya berkat sistem transportasi umum yang sangat bagus dan kemudahan membeli barang sehari-hari. Ia berasal dari sebuah desa di Prancis, lalu tinggal di Paris selama dua tahun dan di Amerika selama delapan bulan; tapi ia tidak merasa dekat dengan kedua tempat itu. “Seoul mungkin tidak setinggi Paris dalam hal budaya, misalnya di luar wilayah Cheongdam-dong ini, tapi di sini

1. Guillaume Diepvens mulai bekerja pada tahun 2002 sebagai insinyur untuk sistem kereta peluru Korea tetapi mengubah jalur kariernya dengan membuat roti Prancis tradisional. 2. Diepvens berhenti dari pekerjaan tekniknya setelah bekerja di Korea selama enam tahun dan membuka toko roti Prancis di Cheongdam-dong, bagian kota Distrik Gangnam, Seoul selatan.

2

SENI & BUDAYA KOREA 39


2

1

“Saya ingin membuka toko roti supaya orang Korea bisa merasakan enaknya roti Prancis. Beberapa roti Korea sangat mirip dengan roti Prancis tapi tentu tidak seperti aslinya.” jalan lapang menuju Alstom. Institusi prestisius yang berdiri pada tahun 1780 ini sudah meluluskan sekitar 85.000 insinyur dari industri dasar sampai industri pesawat terbang. Alstom adalah perusahaan tempat Diepvens bekerja pertama kali dan Seoul adalah penugasan pertama­ nya. Ia bertugas membantu membangun sistem kereta api cepat KTX. Namun, enam tahun kemudian, insinyur ini meninggalkan Alstom dan beralih mengelola patiseri milik­­nya, Maison Guillaume, di Gangnam, bagian selatan Seoul. “Saya ingin membuka toko roti supaya orang Korea bisa merasakan roti Prancis yang sangat enak,” jelasnya. “Beberapa roti Korea sangat mirip dengan roti Prancis tapi tentu saja tidak seperti aslinya.”

Perpisahan dengan Jurusan Teknik

Keputusan beralih dari kereta cepat ke loyang dan oven membuat keluarga dan teman-temannya terhenyak. Mereka tidak mengerti dan tidak bisa menerimanya. Diepvens hanya punya sedikit pengetahuan dan pengalaman dalam

40 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

3

pembuatan roti. “Itu tidak mudah buat saya. Berhari-hari saya memikirkan kembali keputusan itu,” katanya. Awalnya, orang tuanya menentang keputusan ini, tapi kemudian bisa menerima. “Ayah dan ibu saya sangat terbuka,” lanjutnya. Diepvens kembali ke Prancis untuk mengikuti kursus intensif pembuatan roti selama satu bulan dan mengajak beberapa pembuat roti berpengalaman dari Prancis ke Korea untuk membantu menjalankan toko rotinya. Namun, akhirnya mereka pulang ke Prancis, dan saat ini Diepvens memiliki dua toko roti dengan beberapa orang Prancis sebagai karyawan paruh waktunya. Toko keduanya baru saja dibuka di Pangyo, bagian selatan Seoul. “Karyawan-karyawan saya yang meninggalkan Korea itu karena mereka tidak mampu mengatasi perbedaan budaya,” jelasnya. Ia tidak menceritakan lebih lanjut me­­ ngenai perbedaan itu.

Kunci Sukses

Maison Guillaume, dengan interior berwarna merah muda,


punya penataan yang menarik. Dari roti yang kering di luar tapi lembut di dalam sampai beragam kue pencuci mulut. Di antara kue-kue itu ada makarun berwarna pastel yang sayang untuk dimakan, mille-feuille, atau pai de­­ngan “ribuan lapisan,” dan meringue cantik yang dibuat dari putih telur dan gula, yang langsung meleleh di dalam mulut. Tidak perlu waktu lama bagi roti dan kue Prancis asli Maison Guillaume untuk menguasai lidah orang-orang Korea. Sejak dibuka pada tahun 2008, patiseri ini sudah berkembang dan mampu bertahan di antara para pesaingnya. Kunci sukses Diepvens adalah membuatnya “lokal” dengan memadukan resep Prancis dan cita rasa Korea. Ia menyambut baik kehadiran toko roti Prancis mewah seperti Eric Kayser dan Ladurée, karena ia percaya hal itu menunjukkan bahwa pengakuan orang Korea akan roti Prancis makin meningkat. Saat ini, Diepvens tinggal di Huam-dong, sebuah wilayah permukiman tua di dekat Stasiun Seoul. “Sebagai orang yang hidup sendiri dan tidak menikah,” begitu yang dikatakannya, Diepvens suka naik gunung dan bersepeda.

Vegetarian yang Rendah Hati

Sebagai seorang vegetarian, Diepvens menyukai makanan Korea yang sederhana, seperti bibimbap (nasi dicampur dengan beragam sayuran, tanpa daging), kalguksu (mi yang dipotong dengan pisau) dan sujebi (lembaran dari adonan

gandum yang dimasukkan ke dalam sup). Dari waktu ke waktu, ia mengunjungi Gwangjang Sijang (Pasar Plaza) dekat Pintu Timur untuk makan bindaetteok (kue dadar goreng dari kacang hijau). Soal pilihan makanan, ia seperti kelas pekerja Korea. Diepvens menyebutkan kurangnya kemampuan bahasa dan pengalaman dalam pola hidup dan pola pikir ma­­ syarakat Korea menjadi kendala dalam menjalankan toko rotinya. “Kalau saya bisa mengulang kembali, saya ingin belajar bahasa Korea dan pembuatan roti,” katanya. Namun, ia tidak menyesal berganti haluan karir dan berpindah tempat tinggal. “Saya tidak pernah menyesali keputus­ an saya. Tekad saya sudah bulat.” Saat ini, harga sewa yang tinggi menjadi pertimbang­ an penting dalam menjalankan bisnis di Seoul. Baru-baru ini ia harus menutup sebuah toko di “U.N. Village” di Hannam-dong karena pemilik tempat itu menaikkan harga sewa terlalu tinggi dalam waktu singkat. “Harga sewa itu tidak hanya naik tapi menjadi berlipat ganda dalam satu malam, kalau saya boleh sedikit berlebihan,” kata­ nya. Diepvens bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Fenomena yang banyak terjadi di Seoul ini memang menyi­ta perhatian. “Di wilayah Huam-dong tempat saya tinggal, tempat-tempat menarik muncul satu demi satu, yang membuat saya khawatir mengenai harga sewa yang makin tinggi,” katanya.

1, 2, 3. Pain aux raisins, macaron, dan mille-feuille dijual di Maison Guillaume. 4. Maison Guillaume dibuka pertama kali pada 2008 dan memikat selera orang Korea. Toko kedua baru-baru ini dibuka di Bundang, Provinsi Gyeongg.

4

SENI & BUDAYA KOREA 41


DI ATAS JALAN

Lima Pulau di Laut Barat Lima Pulau di Laut Barat terletak di batas perairan yang memisahkan dua negara Korea. Sebagian besar pertempuran militer yang pecah sejak Perang Korea terjadi di pulau-pulau ini dan di daerah sekitarnya. Namun, dengan ketegangan yang sedikit mereda di antara kedua negara, pulau-pulau ini menarik untuk dikunjungi. Lee Chang-guy Penyair dan Kritikus Sastra Ahn Hong-beom Fotografer

Pelabuhan Dumujin di Pulau Baengnyeong, pulau terbesar dari lima pulau di Laut Barat, memiliki tebing yang indah di sepanjang bentangan garis pantai sepanjang 4 km. Menghadapi Korea Utara, pulau ini diwarnai dengan ketegangan militer, namun banyak turis datang untuk melihat pemandangan yang spektakuler. Sepuluh tempat indah di pulau Baengnyeong, Daecheong dan Socheong dinamai Geopark Nasional pada bulan Juli tahun ini.

42 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


SENI & BUDAYA KOREA 43


P

erjalanan pertama kapal feri ke Pulau Baengnyeong berangkat dari Pelabuhan Incheon pada pukul 7:50 pagi. Para penumpang turun dari kapal. Mereka menggendong barang bawaan di punggung dan menenteng jinjingan di tangan. Suasana pagi dipenuhi rasa penasaran dan gembira. Apa menu makan siang hari ini? Naengmyeon (mi dari gandum hitam yang disajikan dengan kuah dingin) ala Baengnyeong dan kimchi tteok? Atau sepiring teripang segar dan pallaeng-i jjim, hidangan dari ikan pari yang dikukus dan di­­ bumbui dengan saus? Kalau ada penumpang yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini dan tampak penasaran sekaligus waspada, itu sangat wajar. Maklum, kapal feri yang mereka tumpangi menuju ke pangkalan militer di semenanjung yang berada di bawah dua negara Korea. Perang Korea berakhir pada tahun 1953 dengan kesepakatan gencatan senjata yang melahirkan Garis Demarkasi Militer (MDL). Lokasi ini tidak jauh dari 38° lintang utara, batas atifisial yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara setelah Perang Dunia II. Klaim kedua negara Korea atas beberapa pulau pun ditetapkan. Namun, Baengnyeong dan empat pulau lain di Laut Barat (Laut Kuning) di sebelah utara MDL — Daecheong, Socheong, U and Yeonpyeong — berada di bawah Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyatakan adanya batas maritim Garis Batas Utara (NLL) antara pulau-pulau itu dan Provinsi Hwanghae di Korea Utara. Sebelumnya, pulau-pulau ini hanya sedikit sekali berinteraksi. Sekarang, pulau-pulau itu terikat satu sama lain dan disebut Seohae Odo, atau “Lima Pulau di Laut Barat.”

Dari Pertikaian ke Rekonsiliasi

Satu-satunya cara ke pulau-pulau itu adalah dengan kapal feri. Ada tiga perjalanan pergi dan pulang setiap hari dari Pelabuhan Incheon ke Pulau Baengnyeong, dengan perhentian di Pulau Socheong dan Daecheong. Baengnyeong secara harfiah berarti “bulu putih”; wilayahnya selebar 51 kilometer persegi itu menyerupai burung bangau putih yang sedang terbang. Setelah sekitar 200 kilometer de­­ ngan perjalanan kapal dari Incheon, terdapat pulau terjauh di kepulauan ini. Jika laut sedang bersahabat dan kapal feri bisa melaju dengan kecepatan 30 knot, satu kali perjalan­ an memakan waktu empat jam, jauh lebih cepat dibanding dulu, yaitu 12 jam. Namun, angin dan kabut tebal sering kali membuat kapal feri ini tidak bisa berlayar dengan cepat. Pulau Baengnyeong berjarak sekitar 16 kilometer dari Tanjung Changsan di Korea Utara dan Pulau Yeonpyeong sekitar 10 kilometer dari pelabuhan Pupori di Korea

44 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Utara. Nelayan Korea Selatan yang menjaring ikan di dekat pulau-pulau ini punya cerita sendiri mengenai pengalaman­ nya terbawa arus air ke Korea Utara di hari yang berkabut dan dengan susah payah melarikan diri. Bagi Korea Utara, pulau-pulau itu seperti duri dalam daging. Haeju, pos penjagaan militer paling selatan Korea Utara, bisa dilihat dari Pulau Yeonpyeong dengan mata te­­ lanjang dan pergerakan kapal angkatan laut Korea Utara dengan jelas bisa dilacak dari pulau ini. Korea Utara tidak pernah mengakui NLL, dan pada tahun 1999, negara ini mengumumkan batas maritimnya, yang disebut “Garis Demarkasi Militer Laut Barat.” Batas ini berada di bagian


1. Pelabuhan Sahang di sisi barat laut Pulau Baengnyeong adalah tempat pemancingan terkenal di mana tombak-tombak pasir terperangkap indah. 2. Seorang penduduk desa mengeringkan rumput laut yang dipanen di tepi laut di Junghwa-dong. Desa ini adalah rumah bagi gereja Presbiterian tertua kedua di Korea.

1

selatan MDL dan mengarah ke utara dengan berkelok di sekitar pulau-pulau ini. Konfrontasi militer terbesar antara Korea Selatan dan Korea Utara terjadi di ketiga pulau itu. Pada tanggal 16 Maret 2010, sebuah kapal Angkatan Laut Korea Selatan karam di dekat Pulau Baengnyeong, menelan korban sebanyak 46 awaknya. Investigasi internasional mengungkap bahwa penyebabnya adalah torpedo Korea Utara. Pada tanggal 23 November 2010, Korea Utara menembakkan sekitar 170 peluru meriam dan roket ke Pulau Yeonpyeong, yang menyebabkan Korea Selatan kehilangan empat orang warganya dan 19 lainnya luka-luka. Korea Utara menuduh

2

Korea Selatan menembakkan peluru meriam ke wilayah perairannya ketika mereka mengadakan latihan militer. Ini adalah serangan Korea Utara pertama terhadap warga sipil Korea Selatan sejak Perang Korea. Keberadaan sekitar 40 bungker warga sipil di pulau-pulau ini mengingatkan kita bahwa pertikaian sangat mungkin akan terjadi lagi. Meningkatnya konfrontasi dan ketegangan di antara keduanya membuat kerinduaan akan perdamaian dan rekonsiliasi menguat kembali. Mereka membangun harapan yang telah pupus lagi dan lagi. Saat ini, mereka menggantung Deklarasi Perdamaian, Kesejahteraan dan Reunifikasi Panmunjom tahun 2018, yang diadopsi oleh para pemim­

SENI & BUDAYA KOREA 45


pin Korea Selatan dan Utara. Fakta ini memperbolehkan penangkapan ikan di malam hari di sekitar pulau-pulau itu pertama kali sejak 55 tahun belakangan dan memperluas wilayah pencarian ikan. Kemudian, pada tanggal 30 Juni tahun ini, para pemimpin Korea Selatan, Korea Utara dan Amerika Serikat bertemu di Panmunjom dan berikrar tidak hanya mengakhiri pertikaian melainkan juga menjalin hubungan yang baru. Serangkaian peristiwa dan cerita dari masa lalu memberi­ kan warna pada budaya yang unik dan pemandangan alam yang spektakuler dari kelima pulau di Laut Barat, yang belum diperlakukan dengan baik sejak semenanjung Korea terbagi dua. Baru sekarang frasa pemasaran pariwisata yang terkenal mengenai pulau-pulau itu, yaitu “Pulau-pulau yang mengundang Anda datang dan tinggal sekejap,” punya arti nyata.

Garis Depan Pertahanan Maritim

Batas Provinsi Hwanghae berada di bagian utara wilayah me­­ tropolitan Seoul. Daerah ini terlalu datar sebagai sebuah pertahanan. Selama berabad-abad, wilayah ini dianggap sebagai garis pantai yang mengundang invasi dan aktivitas ilegal.

46 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Korea Utara dapat dilihat di luar pagar kawat berduri di sepanjang pantai Pulau Baengnyeong. Bentrokan militer paling serius antara Korea Selatan dan Korea Utara sejak Perang Korea (1950–53) telah terjadi di perairan lepas pulau.

Pada abad ke-15, pada periode Tiga Kerajaan Korea, perairan yang kini dikenal dengan Provinsi Hwanghae Selatan merupakan pusat rute maritim yang menghubungkan pantai barat Korea dan wilayah Liaodong di Cina. Oleh karena itu, dari sekitar abad ke-14 selama periode Dinasti Goryeo akhir sampai abad ke-16 periode pertengahan Dinasti Joseon, penyusup dari Jepang datang melalui semenanjung Korea untuk mencuri dan merusak wilayah pantai. Seiring dengan terjadinya kekacauan di paruh akhir Dinasti Joseon (1392–1910), ketika Ming memberi jalan kepada Qing di Cina, bajak laut Jepang menyerbu laut-laut Korea. Ketika kondisi sudah stabil pada tahun 1700-an, kapal-kapal ikan dari Qing di Cina menyerbu teritorial perarian Korea dan sering kali memicu perselisihan dengan nelayan setempat. Wilayah maritim juga merupakan saluran favorit pedagang dan penyelundup Cina dan Korea. Pulau Baengnyeong, yang


terletak 187 kilometer dari Provinsi Shandong, lebih dekat ke Cina daripada ke Incheon, adalah garis depan kon­­flikkonflik ini. Pemerintahan Joseon membangun benteng di teluk-teluk besar untuk menjaga masuknya invasi. Benteng-benteng ini digunakan untuk menghalangi penyusup menjejakkan kaki­ nya di daratan Korea. Sebuah pangkalan militer yang ada di Pulau Baengnyeong dibangun pada abad ke-11 selama periode Goryeo. Benteng yang dibangun pada abad ke-17 di pulau ini memiliki lahan pertanian yang luas, yang memungkinkan para tentara mencukupi kebutuhannya sendiri. Bahkan sampai sekarang, Marinir Korea yang ditempatkan di pulau ini bergantung pada produk-produk lokal. Mungkin karena alasan ini, penduduk pulau yang memiliki mata pencaharian sebagai petani lebih banyak dibanding mereka yang hidup sebagai nelayan.

Penyebaran Ajaran Katolik

Penduduk Pulau Baengnyeong percaya bahwa Indangsu, laut yang ditampilkan dalam novel klasik Korea “Hikayat Sim Cheong” (Sim Cheong jeon), berada di bagian barat daya pesisir pulau ini. Sim Cheong, tokoh utama dalam kisah itu, harus mengusahakan 300 karung beras sebagai upeti di kuil Buddha supaya ayahnya yang buta bisa meli-

hat lagi. Pada saat itu, pedagang-pedagang yang berlayar ke Nanjing mencari perawan muda untuk dijadikan persembahan kepada dewa laut. Mereka memohon perjalanan yang aman ketika melewati laut yang berbahaya karena arusnya sering kali tidak terduga dan Sim Cheong dengan suka rela mengajukan diri supaya bisa memenuhi upetinya. Untuk mengenang baktinya ini, warga pulau membangun sebuah kuil dengan namanya di Desa Jinchon, yang dalam kisah itu diceritakan menghadap ke laut. Kisah legendaris itu rekaan seorang penulis anonim belaka, namun arus pusaran air antara Pulau Baeng­nyeong dan Tanjung Changsan nyata adanya. Bebatuan dan karang beradu dengan air yang bergulung-gulung karena pertemuan arus dari selatan dan utara menyebabkan banyak kapal karam. Korbannya termasuk beberapa laksamana, yang gugur pada tahun 1771 ketika kapalnya karam pada saat mereka melakukan latihan militer. Oleh karenanya, Raja Yeongjo memerintahkan latihan militer selanjutnya diadakan dalam dua kelompok yaitu di utara dan selatan Tanjung Changsan. Rute laut dari semenanjung Shandong di Cina ke ibukota Joseon, Hanyang, atau Kaesong (Gaeseong), melalui Pulau Baengnyeong berperan penting dalam sejarah negara ini berkat Kim Taegon, pendeta Katolik pertama dari Korea.

Situs Kunjungan ke Pulau Baengnyeong

Cina

Korea Utara

Semenanjung Liaodong

Pyongyang Saja Bawi (Batu Singa)

1

3 Paviliun Sim Cheong

Pulau Baengnyeong Pulau Daecheong Pulau Sacheong

Monumen Unifikasi Dermaga di Pelabuhan Yonggi

2

4 Pantai Sagot

Gereja Presbiterian Junghwa-dong

1

2

3

Cina

Haeju Seoul Incheon

Pulau Yeonpyeong Pulau U

Semenanjung Shandong

Korea Selatan

4

SENI & BUDAYA KOREA 47


1

Pada tahun 1846, satu tahun setelah dilantik, ia menerima perintah dari Jean-Joseph-Jean-Baptiste Ferréol, Vicar Apostolic Korea ketiga, untuk menjadi pionir rute Laut Barat bagi misionaris. Pada saat itu, Joseon berada di bawah tekanan Barat untuk membuka pelabuhan-pelabuhannya untuk perdagangan. Negara ini bereaksi dengan memersekusi ajaran Katolik dan menanggapnya agama yang berlawanan dengan kepercayaan ortodok. Kim Taegon (alias Pastor Andrew Kim atau Pastor Andrea Kim) menempuh perjalanan dari Hanyang ke Pulau Baengnyeong, tempatnya mencari nelayan Cina untuk membantunya membawa misionaris Prancis ke Korea. Ketika pulang ke ibukota, Kim ditangkap. Tiga bulan kemudian, pemerintah Joseon menghukum mati pastor berusia 25 tahun ini. Pada tahun 1984, ia dinyatakan suci dan dianugerahi gelar santo dari Vatikan. Ada banyak sekali gereja dan katedral di kelima pulau di Laut Barat itu. Di Pulau Baengnyeong saja, terdapat 13 gereja untuk populasi yang hanya sekitar 5.700 jiwa. Tujuh puluh lima persennya penganut Katolik. Gereja Jung­ hwadong adalah gereja Presbiterian kedua di Korea. Ketika pemerintah Joseon mencabut larangan penginjilan dan mendirikan gereja pada tahun 1898, umat Kristen di Pulau Baengnyeong mengubah bangunan sekolah selebar 40 meter persegi menjadi gereja. Aula Gereja Kristen Baengnyeong di sebelahnya memiliki catatan mengenai penginjilan yang dilakukan oleh misionaris di pulau itu dan wilayah di sekitarnya sejak awal abad ke-19.

48 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Ledakan Kain Katun

Sebelum Joseon membuka pelabuhannya pada tahun 1876 di bawah Perjanjian Ganghwa dengan Jepang, pemerintah memonopoli perdagangan. Namun, penyelundupan tidak pernah ditindak. Pada awal periode Joseon, perdagangan ilegal terjadi karena adanya Waegwan (artinya “Rumah Jepang”), kantor pemerintah yang dibangun di kota-kota pantai untuk mengurusi perdagangan dengan Jepang, atau di Pulau Tsushima. Produk utamanya adalah perak dari Jepang dan ginseng dari Korea. Memasuki abad ke-19, wilayah di sekitar Tanjung Changsan menjadi pusat penyelundupan antara pedagang Cina dan Korea. Barang dagangan utamanya ginseng merah dari Joseon dan kain katun dari Qing. Dinasti Qing mampu bertahan dalam Perang Opium melawan Inggris dan ginseng merah adalah antidot racun opium yang populer. Di Joseon, kain katun Barat sangat popu­ ler pada masa itu. Kualitas kain katun yang dibuat dengan mesin di Inggris dan India jauh lebih bagus daripada kain katun yang dibuat di pabrik tenun Korea. Pedagang dari Kaesong dan kapitalis dari Hanyang bersaing dalam memperoleh untung yang tinggi dengan berdagang ginseng merah dan kain katun. Penyelundupan sangat marak di Pulau Baengnyeong dan Socheong, yang sistem keamanannya tidak ketat. Kemudian, ketika pelabuhan-pelabuhan di negara ini dibuka, perdagangan katun, yang sudah mendongkrak perekonomian Joseon, jatuh ke tangan Jepang. Setelah itu, semua lupa bahwa tren baru yang mengubah gaya berpakaian orang-orang Korea selamanya terjadi di


perairan Pulau Baengnyeong. Yang paling mengesankan dari kunjungan ke lima pulau di Laut Barat adalah pemandangan alamnya yang sa­­ ngat indah. Seperti halnya Dumujin di Pulau Baengnyeong, seluruh garis pantai memiliki tebing yang menantang. Terdapat juga pantai-pantai yang cukup luas dan kuat sebagai tempat pendaratan pesawat kecil. Para geolog percaya pemandangan yang sangat menakjubkan ini terjadi berkat tiga blok masif yang terbentuk selama Masa Prakambrium, perlahan bergeser ke posisinya yang sekarang membentuk semenanjung Korea. Energi besar yang dihasilkan dari tabrakan hebat menyebabkan terbentuknya lipatan dan patahan yang mengubah bentuk permukaan Bumi, mengakibatkan timbulnya formasi batuan baru yang sangat menarik. Melihat keadaan itu, pada bulan Juli tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan 10 tempat menarik di Pulau Baengnyeong, Daecheong dan Socheong sebagai Taman Nasional.

Kalau ada penumpang yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini dan tampak penasaran sekaligus awas, itu sangat wajar. Maklum, kapal feri yang mereka tumpangi menuju ke pangkalan militer di semenanjung yang berada di bawah kedua negara.

Mi Dingin dan Pangsit

Setelah menikmati pemandangan, tibalah waktunya beristirahat dan makan siang. Naengmyeon ala Provinsi Hwanghae terbuat dari kaldu babi saja, berbeda dari naengmyeon di Pyongyang yang sangat populer, yang memakai kaldu sapi dicampur dengan ayam, burung atau babi. Naengmyeon di Pulau Baengnyeong dibuat dari naengmyeon ala Hwanghae dengan kecap ikan, bukan kecap yang dibuat dari kedelai. Mi yang dipakai terbuat dari gandum hitam, sehingga rasanya lembut dan tidak liat. Untuk sajian makan yang lengkap, mi dingin dimakan bersama sepiring daging babi yang direbus hingga lunak dan diiris tipis, pangsit Hwanghae atau bakwan dari kacang hijau (bindaetteok). Di musim dingin, pengunjung bisa mencoba hidangan khusus musim dingin yaitu kimchi tteok, pangsit yang diisi dengan kimchi musim dingin, kerang dan remis; semuanya bahan lokal. Frasa â&#x20AC;&#x153;Pulau-pulau yang mengundang Anda datang dan tinggal sekejap,â&#x20AC;? berada di ujung lidah.

1. Desa Gwanchang-dong di sisi utara Pulau Baengnyeong. Di masa lalu, para pedagang yang berdagang dengan China menurunkan muatan mereka di dermaga desa dan menyimpan barang-barang mereka di sana. 2. Tentara yang kembali dari liburan, penduduk setempat pulau dan pengunjung tiba di Pulau Baengnyeong setelah naik empat jam dengan feri berkecepatan tinggi dari Pelabuhan Incheon. Kapal-kapal melakukan tiga perjalanan pulang pergi sehari ke pelabuhan kepulauan di Pelabuhan Yonggi.

2

SENI & BUDAYA KOREA 49


KISAH DUA KOREA

© Good Neighbors

Secercah Harapan dari ‘Pengalaman Unif ikasi’ Good Neighbors, sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional yang didirikan dan dipimpin oleh Yi Il-ha, telah menjadi garda depan bantuan kemanusiaan di Korea Utara sejak tahun 1995. Upaya tersebut jauh melampaui bantuan sederhana, memberikan contoh untuk proyek serupa kepada organisasi di seluruh dunia. Kim Hak-soon Jurnalis, Profesor Tamu Jurusan Media dan Komunikasi, Universitas Korea

50 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


S

alah satu masalah yang paling kontroversial seputar pendekatan Korea Selatan ke Korea Utara adalah bantuan kemanusiaan. Beberapa orang meng­ anggap bantuan itu sebagai upaya sesat dan tidak membuahkan hasil yang justru merusak para pemimpin di Pyongyang. Yang lain mendesak agar bantuan terlepas dari hubungan permusuhan antara kedua belah pihak. Yi, Il-ha yang dikenal sebagai sesepuh gerakan organisasi non-pemerintah Korea berada di kubu terakhir. Tujuan dari Good Neighbors adalah membangun dunia tempat kelaparan tidak ditemukan dan harmoni damai menjadi universal. Didirikan oleh Yi pada tahun 1991, LSM ini memiliki 52 cabang di Korea Selatan dan 303 kantor di hampir 40 negara lainnya. Pada tahun 1996, Good Neighbors menjadi LSM Korea pertama yang menerima “Status Konsultatif Umum” dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (EOSOC), penghargaan tertinggi yang diberikan oleh PBB kepada LSM.

Dunia Bebas Kelaparan

Lebih dari 3.000 staf mengoperasikan program kesejahte­ raan dan bantuan organisasi dengan sumbangan dari para anggota termasuk sekitar 500.000 anggota Korea Selatan. Awal tahun ini, Yi mengantisipasi pengakhiran pemblokiran program bantuan sipil untuk Korea Utara. Tetapi runtuhnya KTT Ke-2 Amerika Serikat dan Korea Utara pada Februari di Hanoi menghancurkan harapan. Yi telah merencanakan membangun sebuah peternakan susu dan pabrik pengolahan susu yang besar di Korea Utara jika hubungan Washington dan Pyongyang membaik. Dia bermaksud meletakkan dasar pemeliharaan babi, sapi dan ayam maupun pembangunan pabrik pengolahan susu dan sosis. Dia juga berharap memasok Samgyetang atau sup ayam ginseng yang dibuat di Korea Utara ke Korea Selatan. Dia lebih lanjut memiliki rencana untuk membantu meningkatkan infrastruktur kesehatan Korea Utara melalui pembang­­­unan pusat penelitian farmasi, pabrik farmasi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya serta pabrik untuk menghasilkan injeksi, kapsul dan obat-obatan herbal. Namun, karena negosiasi nuklir Amerika Serikat dan Korea Utara masih simpang siur, semua rencana ini masih berupa bayangan gambaran. Yi Il-ha, pendiri Good Neighbors, sebuah LSM untuk bantuan internasional dan bantuan pembangunan, mengunjungi panti asuhan di Nampo, sekitar 55km dari Pyongyang, pada tahun 2004. Bantuan kemanusiaan Good Neighbours ke Korea Utara sejak 1995 telah memasukkan perlindungan anak, agro peternakan, serta layanan kesehatan dan medis.

Proyek Sapi Perah

Program bantuan kemanusiaan Good Neighbors di Korea Utara dapat dibagi ke dalam tiga kategori: perawatan dan perlindungan anak, pengembangan pertanian dan peternakan, dan pelayanan kesehatan. Kehadiran LSM di Korea Utara dimulai pada tahun 1995 ketika mereka mulai menyumbangkan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Pada saat itu, ekonomi Korea Utara anjlok sehingga menyebabkan kelaparan yang meluas pada tahun 1997 ketika Yi mengunjungi Korea Utara untuk pertama kalinya. Tahun berikutnya paradigma Good Neighbors berubah ketika Chung, Ju-young, pendiri Grup Hyundai mengirimkan 1.001 ekor sapi ke Korea Utara dalam dua parade spektakuler dengan 500 truk melintasi Garis Demarkasi Militer. Mengikuti jejak Chung, Good Neighbors mengirimkan 200 ekor sapi perah bunting beberapa bulan kemudian dan membangun peternakan sapi perah di Korea Utara. Kemurahan hati Chung dipublikasikan tetapi para pejabat Korea Utara tidak ingin pengiriman LSM itu diketahui. Yi setuju dengan usul itu tanpa keberatan. Namun fakta bahwa sapi disimpan di tempat karantina di Incheon sebelum pengiriman diketahui umum dan akhirnya diberitakan oleh media ketika me­­ reka meninggalkan pelabuhan. Hal itu mengecewakan pihak Korea Utara. Setelah banyak kesulitan, total 510 ekor sapi perah dikirim ke Korea Utara dan empat peternakan sapi perah baru dibangun. Sebenarnya, gagasan untuk mengirim sapi perah ke Korea Utara dirancang pada tahun 1995 ketika Yi mengunjungi kota Dandong di perbatasan Tiongkok. Di sana ia bertemu dengan seorang Korea Selatan yang berkewarganegaraan Australia dan pernah mengirim 200 ekor sapi Korea ke kota Haeju, Korea Utara. Orang itu menasihati bahwa sapi perah akan lebih membantu daripada sapi Korea. Setelah mendengar nasihat itu, Yi yakin bahwa warga Korea Utara dapat memiliki masa depan jika mereka memiliki usaha pemerahan susu yang layak. Pada tahun berikut Yi berkonsultasi dengan seorang peneliti senior industri pemerahan susu di provinsi Pensylvania, Amerika Serikat. Akan tetapi rencana tersebut tidak berhasil karena ketidaksetujuan pemerintah Amerika Serikat. Seorang anggota Good Neighbors yang bekerja di PT Susu Seoul mengetahui kebuntuan itu dan membantu Yi agar membeli 200 ekor sapi perah bunting dengan harga 1,5juta won per ekor. Alasan sekunder Good Neighbors berminat peternakan sapi perah di Korea Utara adalah karena efek kompleks. Ternak akan membutuhkan pemeliharaan terus-menerus para ahli termasuk dokter hewan. Oleh sebab itu kedua Korea tidak dapat tidak bekerjasam setelah pengiriman sapi perah.

SENI & BUDAYA KOREA 51


1 Š Good Neighbors

1. Dokter hewan Korea Selatan memeriksa susu dari sapi perah di Koperasi Peternakan Kubin-ri di Kabupaten Kangdong dekat Pyongyang. Good Neighbors menyediakan sapi dan mengirim dokter hewan dan ahli lainnya untuk merawat kawanan. 2. Perusahaan Farmasi Chongsong di Pyongyang memproduksi dosis untuk injeksi. Good Neighbors membantu Korea Utara meningkatkan sistem perawatan kesehatannya.

Peternak Korea Utara, dokter hewan Korea Selatan, pihak terkait peternakan susu dan staf Good Neighbors terus menjalin komunikasi yang multilateral. Pantas Yi dan stafnya sejauh ini telah mengunjungi Korea Utara 140 kali â&#x20AC;&#x201C; Yi sendiri melakukan 120 kunjungan.

Meningkatkan Pendapatan

Akhirnya, pejabat Korea Utara mengharapkan bantuan peralatan pengolahan susu untuk meningkatkan nilai tambah susu. Setelah membangun pabrik pengolahan keju, Good Neighbors melampirkan satu syarat: setengah dari keuntung­ an harus diberikan kepada penduduk desa dan setengah lainnya harus digunakan untuk memberikan makanan kepada anak-anak miskin. Keberhasilan proyek ini melebihi harapan. Pendapatan penduduk di Kubin-ri, sebuah desa di Kabupaten Kangdong di pinggiran Pyongyang melonjak 10 kali lipat dalam lima tahun. Secara alami, populasi desa juga bertambah.

52 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

2

Penduduk desa sangat bangga sehingga mereka memasang plakat yang tertulis dengan huruf besar mengenai apa yang telah mereka capai di pintu masuk desa. Setelah melihat keberhasilan proyek susu, kementerian pertanian Korea Utara meminta dukungan untuk peternakan ayam. Hal ini membutuhkan lebih banyak upaya seperti membeli telur yang mahal untuk mengembangkan ras ayam dan peralatan dari luar negeri. Good Neighbors mengimpor telur dari ayam ras petelur yang paling produktif dari Prancis dengan harga masing-masing 5.000 hingga 200.000 won sementara Korea Utara membangun peternakan pembibitan ayam dengan larangan masuk bagi orang luar dalam radius 4 kilometer. Sekali lagi permintaan mereka berhasil dikabulkan. Kali ini Korea Utara meminta mendirikan pabrik pupuk. Good Neighbors merencanakan untuk memperluas pabrik seng yang ada di dekat Wonsan dan menjual seng yang diproduksi di sana untuk memasok bahan baku pupuk. Proyek ini


“Kita perlu memperkuat sumber daya manusia dan material dalam pertanian, pemeliharaan ternak, perawatan kesehatan dan pendidikan Korea Utara.”

© Good Neighbors

dimulai dengan dana hibah dari pemerintah Korea Selatan sebesar USD1,5 juta dan pinjaman bank sebesar USD7 juta. Proyek ini sangat sukses sehingga semua pinjaman bank itu dilunasi hanya dalam dua tahun. Secara keseluruhan, Good Neighbors telah membantu sekitar 220.000 warga Korea Utara termasuk anak-anak di 25 tempat kerja di seluruh Korea Utara. Pengalaman LSM di Korea Utara telah menjadi landasan untuk melakukan ber­ bagai proyek pembangunan regional di seluruh dunia.

Bantuan Makanan

Program pengiriman makanan Good Neighbors untuk pusat penitipan anak di berbagai wilayah membantu mengatasi kekurangan makanan parah di Korea Utara. Pada tahun 2018 saja, 114 ton susu bubuk dikirim melalui Good Neighbors Amerika Serikat. Pengiriman lain yang ditujukan untuk anak-anak adalah 150 ton kertas untuk mencetak buku pelajaran dan komputer pendidikan serta sepatu roda inline dan

bola sepak. Pada skala yang lebih besar, Yi percaya program bantuan pangan kemanusiaan yang saat ini ada di dalam debat publik di Korea Selatan seharusnya sudah dilaksanakan sebelum­ nya. “Ini agak terlambat melakukannya,” katanya. “Tetapi Korea Utara tidak hanya membutuhkan bebe­ rapa ratus ribu dolar sekarang. Sebelum hal lain, kita harus mengembangkan program bantuan khusus untuk mereka. Kita perlu memperkuat sumber daya manusia dan material dari pertanian, pemeliharaan ternak, kesehatan dan pendidikan. Korea Utara juga lebih tertarik pada kerja sama pembangunan berkelanjutan daripada bantuan makanan atau pupuk.” Yi mengenang pengalaman tak terlupakan di Pertanian Koperasi Kubin-ri. Dia dan beberapa anggota stafnya tinggal di sana selama sekitar 10 hari dan menjadi sangat dekat de­­ ngan penduduk setempat. Bersama-sama mereka menangkap ikan di sungai dan kemudian menyiapkan dan berbagi sup ikan pedas. “Anda dapat mencapai kesuksesan jika berinvestasi di Korea Utara sambil menganggapnya sebagai pasar potensial dengan bakat luar biasa dan sumber daya alam yang melimpah.” kata Yi. “Kita dapat mencapai penyatuan lebih awal jika lebih banyak orang Korea Utara memiliki kesempatan untuk bekerja dan berbagi pengalaman dengan orang Korea Selatan.” Kemudian dia menambahkan, “Tugas utama saya sebagai pendiri Good Neighbors adalah menciptakan suasana rekonsiliasi antara kedua Korea. Inilah sebabnya kami tidak dapat mengurangi atau menghentikan program bantuan kemanusiaan untuk orang Korea Utara. Saya akan pikir saya sudah memenuhi tugas saya di dunia jika kedua Korea berekonsiliasi dan berdamai.”

SENI & BUDAYA KOREA 53


SATU HARI BIASA

1

Empat Puluh Tahun Bersama Buku Bekas Di toko kecilnya yang sudah berusia 40 tahun, Jeong Byung-ho bekerja di antara tumpukan buku-buku bekas. Ia menangani banyak pesanan dan melihat perubahan tren membaca yang menggeser keberadaan buku-buku cetak â&#x20AC;&#x201D; dan teman-temannya. Kim Heung-sook Penyair Ahn Hong-beom Fotografer

54 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


D

i sisi Sungai Cheonggye, yang mengalir membelah pusat kota Seoul, terdapat Pyeonghwa Sijang (Pasar Perdamaian) yang sudah sangat tua. Sekitar tahun 1950-an, banyak toko buku bekas berdiri di sini dan berkembang sampai tahun 1980an. Banyak di antara konsumennya adalah mahasiswa yang tidak mampu membeli buku teks baru atau mereka yang tidak berhasil dalam ujian masuk universitas dan menghibur diri dengan membaca tulisan para filsuf. Pada saat itu, sekitar 200 sampai 300 pedagang me­­ nempati surga buku ini. Namun, menjelang tahun 1990an, jumlah itu makin menyusut. Sekarang, hanya sekitar 18 pedagang saja yang masih tersisa. Jeong Byung-ho salah satunya. Ia adalah pemilik toko buku Seomun Seojeom selama 40 tahun terakhir. “Jumlah toko buku bekas makin menurun karena ada­ nya penggantian buku teks dan kurikulum sekolah mene­ ngah pertama dan sekolah menengah atas,” kata Jeong. “Sebelumnya, hanya ada satu buku teks untuk setiap mata pelajaran, dan buku itu dirancang dan dicetak secara terpusat oleh Kementerian Pendidikan. Dulu, mahasiswa yang tidak mampu membeli buku teks di provinsi-provinsi lain akan datang ke toko buku bekas di sini, tapi pada tahun 1990-an terjadi perubahan kebijakan sehingga banyak pe­ nerbit membuat buku teks dan buku referensi. Sejak saat itu, jumlah toko buku bekas makin menyusut dan jumlah ini terus berkurang. Bahkan, saat ini beberapa pemilik toko di sini ingin menjual tokonya.”

bab perubahan besar dalam aktivitas membaca dan potong­­an harga di toko buku di internet. Korea adalah negara yang masyarakatnya berkembang secara digital paling pesat di dunia. Dengan angka kepemilikan telepon pintar sebesar 95 persen, yaitu tertinggi di dunia, dan artikel dan video yang tak terhitung jumlahnya tersedia di internet; aktivitas membaca buku kehilangan daya tarik. Menurut hasil Survei Membaca Nasional yang diadakan oleh Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata pada tahun 2017, sekitar 60 persen orang dewasa mem­ baca satu buku atau lebih, baik fiksi atau nonfiksi. Itu ar­­ tinya empat dari sepuluh orang dewasa di Korea tidak lagi membaca buku dalam satu tahun. Alasan utamanya adalah mereka “sangat sibuk” sehingga lebih banyak “memakai telepon pintar dan internet”. Jeong menjelaskan, “Toko buku besar di internet langsung berhubungan dengan penerbit, sehingga mereka bisa menjual buku-bukunya sedikit lebih murah. Sedangkan, toko buku berskala kecil dan sedang harus membeli buku melalui distributor, sehingga margin labanya lebih kecil. Tidak ada yang bisa mengalahkan toko buku besar di internet. Ada toko buku bekas berskala besar juga, tapi untungnya, persaingannya tidak terlalu ketat.” Jeong menjadi ketua Asosiasi Pedagang Buku Bekas di Sungai Cheonggye, tapi tidak banyak yang bisa ia lakukan menghadapi situasi ini. Menurutnya, tidak ada yang bisa menghentikan perubahan dunia, jadi ia hanya melakukan yang ia mampu sebaik-baiknya. “Pada pertengahan tahun 1990-an, teman-teman mengajak saya berbisnis plat baja. Mereka mengatakan bahwa dalam satu bulan saya bisa mendapatkan pengha­ silan sebesar yang bisa saya peroleh dari toko buku dalam satu tahun,” kenang Jeong. “Namun, setelah saya pikirkan baik-baik, saya memilih melanjutkan saja apa yang saya nikmati ini. Saya tidak tahu sama sekali mengenai plat baja dan tidak tertarik dengan hal itu; dan saya sangat menyukai buku.” Beberapa tahun kemudian, untuk menyiasati keadaan ekonomi yang sulit, ia menambahkan “Spesialis Buku

Perubahan Kebiasaan Membaca

Keberadaan toko buku kecil independen menjadi penye-

1. Jeong Byung-ho memeriksa buku-buku di Seomun Seojeom, toko buku bekas yang telah ia jalankan selama 40 tahun terakhir di Pasar Pyeonghwa Seoul.

2

2. Dulu ada sekitar 200 hingga 300 toko buku bekas di Pasar Pyeonghwa, tetapi sekarang tidak lebih dari 20 toko.

SENI & BUDAYA KOREA 55


1

1. Dengan ruang lantai sekitar 200 kaki persegi yang mencakup tiga tingkat, Seomun Seojeom penuh sesak dengan buku-buku di dalam dan luar. 2. Seoul Book Repository, yang terletak di dekat Stasiun Jamsillaru, didirikan oleh Pemerintah Metropolitan Seoul untuk mempromosikan budaya membaca. Seomun Seojeom menempati salah satu dari 30 stan penjualan untuk toko buku bekas.

Desain dan Desain Interior” pada papan nama tokonya. Minat dalam seni membuatnya memiliki tumpukan bukubuku seni, yang kemudian mendatangkan para peminat seni ke tokonya. Saat ini, buku-buku biasa menempati proporsi penjualan lebih besar di tokonya. Meski demikian, ia masih menyukai buku mengenai seni dan lukisan.

Kecintaan pada Lukisan

Setelah menjual buku selama sekitar 10 tahun, Jeong mencoba melukis. Istrinya, Yu Seol-ae, juga menyukai buku dan seni. Pasangan ini memiliki seorang anak pe­­ rempuan dan seorang anak laki-laki. Anak perempuan­ nya belajar organ dan menjadi konduktor di Jerman. Anak laki-lakinya mendalami animasi tapi kemudian berhenti dan belajar bidang lain. Jeong percaya anak laki-lakinya bisa menjalankan toko buku itu tapi ia tidak mau membujuknya. “Saya tidak memaksa, namun jika ia mau, dengan senang hati saya akan memberikan segalanya,” katanya. Itu artinya ia akan memberikan toko beserta isinya.

56 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

Jeong menjual buku di lantai satu tokonya. Lantai dua dan tiga untuk gudang. Jika digabung, ketiga lantai itu seluas 200 meter persegi. Tidak luas. Meski begitu, di pusat kota Seoul, harga toko sekecil itu sudah sangat mahal. Jika anak laki-laki Jeong mengambil alih toko itu, Seomun Seojeom mungkin akan menjadi seperti Strand Bookstore di New York, sebuah bisnis keluarga yang berjaya selama 92 tahun. “Saya mengambil alih toko buku ini dari saudara jauh, dan awalnya sangat berat. Kami harus membayar sewa tapi tidak punya uang, sehingga kami harus menjual cincin emas yang diberikan kepada anak-anak kami pada ulang tahun pertama mereka,” kata Jeong. “Tapi seberat apa pun, saya selalu membayar sewa tepat waktu. Jika pemilik tempat tidak datang ke toko untuk menagihnya, saya akan menyerahkannya dalam perjalanan ke toko.” Lalu, pada pertengahan tahun 1990-an, pemilik tempat itu menyarankan Jeong membeli toko itu. Jeong tidak memiliki uang yang cukup tapi pemilik toko mau menjadi penjamin baginya untuk mengajukan pinjaman sebesar 30 juta won. Sampai saat ini Jeong masih merasa berhutang budi atas kebaikan hati pemilik toko itu. Untuk menangani pesanan, Jeong harus meninggalkan buku-bukunya di lantai satu dan naik ke lantai atas, tempat buku-bukunya disimpan. Ia meninggalkan catatan dengan nomor teleponnya di tumpukan buku-buku itu untuk pe­­ ngunjung yang datang dan perlu menghubunginya. Dulu, ia punya banyak pelanggan, tapi sekarang tidak lagi. Ia melanjutkan, “Dulu, banyak orang menulis judul buku yang mereka cari dalam secarik kertas dan memberikannya kepada saya. Beberapa di antaranya mencatat sampai 10 judul lebih, dan ada juga yang mencantumkan nama penulis dan penerbitnya. Sekarang tidak seperti itu. Se­­ sekali, ada pengunjung yang datang dengan gambar sampul atau judul buku di telepon mereka. Hanya pelanggan yang sudah tua yang datang ke toko buku saya, dan saya bisa merasakan ketika mereka mengatakan kesulitan membaca buku-buku lama karena cetakannya terlalu kecil.”

Rutinitas Sehari-hari

Kalau ungkapan lama “Setiap orang adalah sebuah buku” itu benar, Jeong pastilah sebuah buku seni tentang lukis­ an dengan tinta dan air. Jeong bangun pukul 5 pagi setiap hari dan mengikuti misa pagi di Gereja Katolik Dobongsan di dekat rumahnya. Ia pulang sekitar pukul tujuh, sarapan, lalu berangkat bekerja sekitar pukul sembilan dengan bus atau kereta bawah tanah. Beberapa kali seminggu, ia bertemu dengan peda-


“Walaupun jumlah orang yang membaca buku makin berkurang dan toko buku online makin banyak, saya akan tetap seperti ini. Saya mengerjakan apa yang saya suka, dan saya ingin melakukannya sampai mati.” gang-pedagang buku bekas tua di pusat barang-barang antik di belakang Dongmyo, sebuah kuil Tao di dekat Pintu Timur, untuk membeli buku-buku dan berbincang dengan teman-temannya sesama penjual buku. Ada tiga penjual buku di wilayah ini. Dalam beberapa kesempatan, ia juga mengunjungi Repositori Buku Seoul, di dekat Stasiun Jamsillaru yang merupakan salah satu stasiun kereta bawah tanah Jalur 2. Tempat yang dibuka pada bulan Maret tahun ini oleh Pemerintah Kota Metropolitan Seoul ditujukan sebagai salah satu cara mendongkrak budaya membaca. Ada tempat penjualan buku-buku bekas dan kafe buku, dan beragam acara budaya juga diadakan di sini, seperti pameran buku-buku donasi, bincang buku dan lelang buku langka. Repositori ini menyediakan tempat bagi sekitar 30 penjual buku bekas, Salah satunya adalah Seomun Seojeom, dan dari buku yang terjual sebagian komisinya disalurkan ke fasilitas ini. Toko buku bekas besar punya karyawan yang bertugas di repositori sepanjang hari, yang membantu penjual­ an mereka. Namun, mereka yang bekerja sendiri, seperti Jeong, tidak bisa seperti itu. Ia menyerahkan buku-buku untuk dijual di repositori dan membayar komisi sebesar 10 persen dari harga jual kepada Pemerintah Kota Metropolitan Seoul. Setelah dari Dongmyo atau Repositori Buku Seoul, Jeong tiba di tokonya sekitar pukul 11. Meski tidak ba­­ nyak pengunjung, ia tetap sibuk sepanjang hari. Tidak ada waktu untuk membaca. Ia harus memilah buku untuk dibawa ke Repositori dan mengirimkan kepada mereka yang memesan secara online atau ke divisi hiburan stasiun-stasiun televisi. “Jika dalam sebuah drama ada tokoh dokter, rak buku di dalam kantor dokter itu harus dipenuhi dengan buku-

2

buku kedokteran. Jadi, saya memilih buku-buku yang sesuai dengan drama itu dan mengirimkannya ke studio,” paparnya. “Dulu, orang-orang yang bertanggung jawab menangani perlengkapan seperti itu datang dan memilih buku yang mereka perlukan, tapi tidak mudah memilih buku-buku yang tepat sesuai dengan profesi khusus. Mereka sangat senang ketika saya memilihkannya untuk mereka. Pesanan kecil seperti itu memerlukan sekitar 50 sampai 100 buah, tapi pesanan besar bisa mencapai ribuan buku. Belum lama berselang, saya mengirimkan 2.000 buku. Beberapa tahun lalu, saya diminta mengirimkan 50.000 buku untuk kedai kopi franchise. Mereka memerlukan sekitar 200 buku, sebagian besar novel, setiap kali mereka membuka kafe baru.”

Interval

Sebuah panggilan telepon dari gereja membuat Jeong berhenti bekerja seketika. Di gereja, ia adalah “Joseph,” ketua tim relawan yang menangani pemakaman atau kremasi ketika ada jemaah gereja yang meninggal. Sekitar dua kali sebulan, gereja menelepon dan Jeong akan menutup tokonya lalu bekerja bersama timnya. Ini sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir. Ketika tidak harus ke gereja, biasanya Jeong menutup toko pukul 6 atau 7 malam dan pulang ke rumah. Setelah makan, ia membuat daftar buku yang dijual online di akun penjual Toko Buku Kyobo, memeriksa pesanan dan tidur menjelang tengah malam. “Walaupun jumlah orang yang membaca buku makin menyusut dan toko buku online makin banyak, saya akan tetap seperti ini,” kata Jeong. “Saya punya pekerjaan dan mendapatkan penghasilan. Karena saya mengerjakan apa yang saya suka, saya ingin melakukannnya sampai mati.”

SENI & BUDAYA KOREA 57


HIBURAN

Gadis Pemain Drum

Batas yang Terbongkar <Gadis Pemain Drum, The Little Drummer Girl> adalah karya John le Carré pada tahun 1983 yang dikenal sebagai cerita klasik mengenai agen rahasia. Karya tersebut dilahirkan kembali sebagai drama televisi sebanyak enam episode yang ditayangkan di BBC One di Inggris dan AMC di Amerika, lalu tiba di Korea pada bulan Maret tahun ini. Drama itu merupakan drama pertama yang disutradarai Park Chan-wook, seorang sutradara film Korea, sehingga menarik banyak perhatian terutama dari para penggemarnya.

1 © BBC

Jung Duk-hyun Pengamat Budaya Populer

2 © BBC, Foto oleh Jonathan Olley

58 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

3 © BBC, Foto oleh Jonathan Olley


S

ebagian besar karya John le Carré yang menceritakan persaingan antaragen rahasia di Eropa pada masa Perang Dingin. Berbeda dengan kebanyakan karyanya tersebut, <Gadis Pemain Drum> dilatarbelakangi konflik antara Israel dan Palestina. Di samping itu, tema dalam karya itu bukan lagi mengenai persaingan antaragen rahasia, melainkan tindakan kekerasan yang berkaitan dengan terorisme dan kisah romantis yang sangat kental dengan mengedepankan wanita sebagai tokoh utama di dalamnya. Malalui karyanya tersebut, Le Carré yang pernah bekerja sebagai spion di SIS (Secret Intelligence Service) Inggris mendapat penilaian tinggi sebagai pengarang. Kemudian, karya itu pernah diadaptasi sebagai film pada tahun 1984 dengan dibintangi Diane Keaton dan Klaus Kinski. Kali ini karya tersebut diubah menjadi drama televisi di bawah tangan Park Chanwook yang memperlihatkan dunia baru melalui berbagai percobaan yang dapat dianggap tidak lazim.

1. Poster film thriller spionase “The Little Drummer Girl” yang diproduksi bersama oleh BBC dan AMC. Miniseri TV didasarkan pada novel John Le Carré dengan nama yang sama, dibuat melawan konflik Israel-Palestina. 2. Adegan di mana aktris yang menjadi mata-mata Charlie diperankan oleh Florence Pugh dan Becker, mata-mata agen intelijen Israel yang diperankan oleh Alexander Skarsgard, bertemu untuk pertama kalinya di depan Acropolis di Athena, Yunani. 3. “The Little Drummer Girl” adalah serial TV pertama yang disutradarai oleh Park Chan-wook. Seorang penggemar John Le Carré sendiri, Park mengatakan dia mencoba mempertahankan perspektif objektif ketika dia menyutradarai miniseri.

Alasan mengapa Park berminat pada cerita mengenai sebuah negara yang jauh dari Korea adalah karena tema yang diangkat dalam karya itu merupakan konflik antara Israel dan Palestina. Dia pernah menuangkan sebuah tragedi ke dalam film <Joint Security Area> (2000), yaitu tragedi mengenai akibat dari hubungan yang dijalin oleh tentara Korea Selatan dan tentara Korea Utara yang melintasi garis demarkasi militer. Oleh karena itu, perkataannya di atas mungkin dapat dipahami bahwa dia sebagai seorang seniman di negara terpisah, menaruh perhatian besar terhadap kehidupan orang-orang yang berada dalam kekacauan dikarenakan kon­ flik antara Israel dan Palestina. Dalam wawancara lain, dia juga me­­ngatakan bahwa dia sudah membaca banyak karya Le Carré dan dia me­­­nyakini <Gadis Pemain Drum> sebagai karya besar di antara sejumlah karya Le Carré lainnya.

Rekaan dan Realitas

Perhatian Park tidak hanya pada situasi politik dalam daerah persengketaan yang mirip dengan situasi Korea. Apa yang juga menarik perhatiannya pada <Gadis Pemain Drum> adalah pertentangan batin tokoh utama yang berada di dalam situasi itu. Terutama pada bagian cerita mengenai tokoh yang ditugasi untuk mengambil informasi dari pusat militer Palestina bukanlah seorang agen rahasia, melainkan seorang aktor. Hal tersebut merupakan unsur yang sangat unik sekaligus menonjol dalam cerita itu. Ketika teror bom terjadi di Kedutaan Besar Israel di Jerman pada tahun 1979, Martin Kurtz, seorang pejabat tinggi di SIS Israel menganggap bahwa keadaan itu tidak dapat diatasi hanya dengan cara pengeboman lewat udara. Maka, dia memutuskan untuk

menggunakan ‘metode artistik’, yaitu mengirim orang untuk menyusup ke pusat militer Palestina. Kemudian, dia memilih Charlie, seorang aktris yang tidak terkenal untuk tugas itu. Pada awalnya, Charlie berpikir bahwa dia mengikuti sebuah audisi untuk mendapatkan peran, tetapi ternyata dia di-cast untuk tugas tersebut.

Melintas Batas

Drama ini bergenre aksi spionase yang berdasarkan pada novel terkemuka dan sekaligus terasa sebagai sejenis “Acting 101” yang disajikan oleh Park Chan-wook. Drama ini memaparkan pertanyaan, apakah perilaku para aktor di dalamnya adalah akting atau nyata yang kemudian membuat kita menyadari bahwa sesungguhnya batas antara rekaan dan realitas yang kita alami dalam kehidupan seharihari adalah sesuatu yang sangat dangkal. Selain itu, drama ini menyiratkan bahwa dugaan dalam film atau drama tidak tinggal dalam rekaan belaka, tetapi terlibat dalam realitas kita secara langsung. Bagi rakyat Korea yang tinggal di negara terpisah, kekejaman dan ke­ sia-siaan yang dikandung perbatasan itu merupakan pengalaman hidup sehari-hari. Park Chan-wook bermaksud untuk memperlihatkan hal tersebut melalui drama yang disponsori Inggris dan Amerika ini kepada seluruh dunia. Tema drama ini sudah cukup ditunjukkan melalui maksud Park yang seperti itu. Drama ini menyajikan cara untuk membongkar prasangka dan perbatasan yang direka, dikukuhkan oleh statisme dari segi produksi dan konsumsi ‘kon­ ten global’. Oleh karena itu, sinyal yang memperlihatkan ‘konten Korea’ harus dapat melebihi konsep ‘Gelombang Korea’, sehingga dapat berani untuk melangkah selanjutnya ke panggung dunia.

SENI & BUDAYA KOREA 59


KISAH RAMUAN

Pir, Sangat Berguna untuk Memasak

Ketika hari Chuseok datang, orang Korea saling memberi buah pir sebagai buah tangan. Pir yang besar dan berwarna emas kekuningan mengingatkan orang akan daun musim gugur serta merupakan salah satu buah paling digemari orang Korea. Selain itu, pir sering dipakai untuk masakan dan pengobatan tradisional. Bukan hanya itu, akhir-akhir ini pir juga mendapat perhatian banyak sebagai bahan pengganti microplastics. Jeong Jae-hoon Apoteker dan Penulis kuliner

Š Getty Images Korea

60 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


P

ir adalah buah yang membuat orang merasa segar. Jika orang mencium buah pir yang besar, matang, dan berwarna emas, dia seakan sudah merasa segar dan dapat menikmati rasa manis pir hanya dengan mencium aromanya. Di dunia Barat, pir dijual saat belum matang, sedangkan di Korea pir dijual saat sudah matang, sehingga bisa langsung dimakan setelah dibeli. Pir mengandung serat, kalium, vitamin C, dan berbagai antioksidan selain air dan gula. Di samping itu, pir juga mengandung fruktosa dan sorbitol, sehingga dapat menyebabkan perut sakit jika dimakan terlalu banyak. Akan tetapi, pir juga membantu orang yang menderita sembelit. Dalam pengobatan tradisional, pir digunakan sebagai bahan obat untuk meredakan batuk, menghilangkan rasa mabuk, dan mengobati sembelit. Akhir-akhir ini, ditemukan juga jika pir dapat membantu dalam mengatur tekanan darah karena kandungannya yang kaya kalium. Apa yang mengejutkan seluruh dunia adalah penjelasan Profesor Manny Noakes dalam wawancara di CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization), Australia. Dalam wawancara itu, dia menjelaskan bahwa jika orang minum jus pir Korea sebelum minum alkohol, hal itu sangat membantu dalam menghilangkan rasa mabuk. Meskipun belum diketahui secara tepat, unsur apa dari pir yang membawa efek tersebut, diperkirakan bahwa jus pir Korea membantu metabolisme alkohol dalam tubuh dengan meninggikan kegiatan enzim yang berkaitan dengan metabolisme alkohol. Ditemukan bahwa untuk efek yang lebih baik, jus pir Korea sebaiknya diminum sebelum minum alkohol daripada sesudahnya. Namun

menurut hasil penelitian yang telah dilakukan di Korea, Jepang, dan Amerika sebelumnya, efek itu tidak muncul pada semua orang karena efeknya dapat berbeda, tergantung pada jenis genetik orang.

Buah Putih dalam Keluarga Mawar

Di dunia Barat, tipe tubuh orang digolongkan dengan tipe apel dan tipe pir. Penggolongan itu berdasarkan pada bentuk kedua buah itu. Apel mempunyai bentuk yang bagian atasnya besar dan bagian bawahnya kecil, sedangkan pir mempunyai bentuk yang bagian bawahnya kecil seperti bola lampu. Oleh karena itu, orang yang bertubuh tipe apel, biasanya perut dan pinggangnya besar sedangkan orang yang bertubuh tipe pir, pinggangnya kecil tetapi pantatnya besar. Pada umumnya laki-laki bertubuh tipe apel. Kemudian, jika seseorang berpinggang besar, maka hal itu menunjukkan bahwa tubuhnya memiliki ba­­ nyak lemak dan kemungkinan besar dia menderita sindrom metabolisme seperti diabetes dan penyakit jantung. Berbeda dengan di Barat, pir di Korea berbentuk mirip dengan apel. Oleh sebab itu, pir Asia sering disebut sebagai ‘pir apel’. Biasanya pir Korea berukur­ an lebih besar daripada apel dan berwarna emas kekuningan, berbeda dengan apel yang berwarna merah atau hijau. Akan tetapi, dari sisi bentuk, kedua buah tersebut tidak memiliki perbedaan karena keduanya berbentuk bulat. Sebenar­ nya pir dan apel digolongkan ke dalam keluarga mawar (Rosaceae). Mereka berasal dari Eurasia dan merupakan buah pome (pome fruits) yang tumbuh dari kelopak bunga. Namun jika digigit sekali, orang dapat langsung membedakan antara apel dan pir. Apel terasa agak kering karena seperempat dalam volume­ nya terdiri dari udara, sedangkan pir mengeluarkan air jika digigit.

Hiasan, Penambah Rasa

Pir yang mengandung enzim proteolisis sering dipakai untuk mengasin­ kan daging sapi supaya menjadi lunak dalam masakan bulgogi atau galbi. Di

Buah pir, salah satu buah favorit orang Korea, disajikan sebagai hidangan penutup dan sering juga digunakan untuk memasak. Ini juga telah banyak digunakan dalam obat tradisional untuk membantu meredakan batuk, menyembuhkan mabuk, dan meringankan sembelit.

© Mamameat

SENI & BUDAYA KOREA 61


samping itu, pir yang renyah dan manis juga disajikan bersama yukhoe (masakan daging mentah). Dari catatan masa lalu, ditemukan bahwa pir yang dipotong kecil-kecil digunakan sebagai hiasan untuk berbagai masakan. Dalam Dongguk sesigi (1849), sebuah catatan mengenai sejumlah upacara adat istiadat pada zaman kejaan Joseon, ditulis, “Goldongmyeon adalah masakan mi yang dibuat dari japchae, pir, kastanye, daging babi dengan kecap asin dan minyak goreng. Di samping itu, Joseon yori jebeop (Berbagai Resep Masakan Korea) edisi 1921, sebuah buku masakan modern, juga menyarankan untuk menggunakan pir yang dipotong kecil-kecil sebagai hiasan untuk bibimbap. Dalam Joseon mussang sinsik yori jebeop (Berbagai Resep Masakan Korea yang Baru) yang ditulis pada tahun 1924, ditemukan pula bahwa pir adalah salah satu bahan untuk masakan japchae. Bagaimanapun jika orang berpikir tentang buah pir, maka yang paling pertama muncul dalam benaknya adalah dongchimi (kimchi dingin yang dibuat dari lobak) dan naengmyeon (mi dingin). Myeongwolgwan, sebuah rumah makan yang paling terkenal di Seoul pada awal abad ke-20 yang meraih kesuksesan luar biasa dengan dongchimimyeon, masakan untuk keluarga raja pada zaman kerajaan Joseon. Buin pilji (Buku Esensial untuk Para Ibu Rumah Tangga) yang diterbitkan pada awal tahun 1900 memperkenalkan ‘Myeongwolgwan naengmyeon’ sebagai masakan mi yang dibuat dari kuah dongchimi, pir, lobak, citron, dan irisan daging babi. Pada zaman sekarang sulit ditemukan di restoran bibimbap dan japchae yang terdapat pir di dalamnya, tetapi bibim guksu (sejenis mi

dingin) masih tetap disajikan bersama pir yang dipotong kecil-kecil. Selain itu, cara masak dongchimi yang menggunakan pir masih dipertahankan baik di restoran maupun di rumah tangga sampai sekarang.

Pir Liar yang Beraroma Kuat

Pada zaman dulu, buah pir terlalu kasar dan asam untuk dimakan langsung. Gyuhap chongseo, (Ensiklopedia untuk Wanita) memperkenalkan cara masak hyangseolgo dengan menggunakan buah pir sebagai berikut: “Sebuah munbae (buah pir liar) dikupas, dipotong lalu dicampurkan dengan biji merica hitam. Setelah itu, masukkan ke dalam air madu dengan jahe lalu direbus sampai warna pir menjadi merah dan biji merica menjadi lembut. Hanya pir yang berasa asam berubah warna menjadi merah dalam proses masak tersebut. Jika pir tidak berasa asam, sebaiknya ditambahkan omija (schisandra berry) untuk masakan itu. Jika hyangseolgo ingin dimakan bersama jeonggwa (makanan buah yang dikeringkan dengan madu), lebih baik pir direbus dalam waktu lama sampai air berkurang. Jika hyangseolgo ingin dipakai sebagai kuah untuk sujeonggwa (minuman yang dibuat dari cinnamon dan kesemak), lebih baik pir direbus dalam waktu singkat, lalu ditambahkan bubuk cinnamon dan pine nut.” Baesuk juga dimasak dengan cara yang mirip dengan cara masak hyangseolgo. Untuk masakan baesuk, potongan buah pir dilubangi dengan menggunakan sumpit, lalu biji merica dimasukkan ke dalam lubang itu. Setelah itu, rebus dengan air, jahe dan madu. Munbae (buah pir liar) yang dipakai untuk kedua masakan itu adalah buah pir yang kecil, keras, berasa kurang manis dan sangat asam. Pada zaman sekarang pir itu dipanggil sebagai dolbae yang secara

1 © Getty Images Korea

62 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


3 Š Institut Penelitian untuk Masakan Pengadilan

1. Pir disajikan dengan tartare daging sapi, atau yukhoe, karena teksturnya yang renyah dan rasanya yang manis. 2. Pir parut tipis digunakan untuk menghiasi berbagai hidangan, termasuk mie dingin.

2

3. Baesuk, minuman pir yang berasal dari masakan istana, dibuat dengan memasukkan lada hitam ke dalam potongan pear yang kemudian direbus dengan irisan tipis jahe dan madu. Obat batuk, campurannya dibiarkan dingin sebelum diminum.

Š Getty Images Korea

Pir yang mengandung enzim proteolisis (proteolytic) sering dipakai untuk mengasinkan daging sapi supaya daging menjadi lunak dalam masakan bulgogi atau galbi. Di samping itu, pir yang renyah dan manis juga disajikan bersama yukhoe (masakan daging mentah).

harfiah berarti pir batu dalam bahasa Korea. Ketika Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utama mengadakan KTT di Panmunjom pada 27 April 27 tahun 2018, mereka bersulang dengan minuman keras yang disebut munbaeju pada saat makan malam. Nama munbaeju diberikan karena minuman itu beraroma munbae yang berasal dari daerah Pyongan. Meskipun minuman itu tidak berbahan munbae, namun layak dicoba jika ingin mengenal aroma munbae. Sementara itu, leegangju, minuman keras yang berasal dari Jeonju kaya dengan aroma pir, sehingga sang­­at populer bagi orang yang ingin mencoba aroma pir. Minuman itu dibuat dari soju, pir, jahe, kunyit, cinnamon dan madu.

Pengganti Microplastics

Akhir-akhir ini banyak dilakukan penelitian yang membahas pir sebagai pengganti microplastics. Pada masa lalu, para ahli berusaha menemukan cara untuk mengurangi sel batu yang kasar dalam pir supaya pir menjadi lembut. Akan tetapi, sekarang sel batu tersebut malah digunakan sebagai pengganti microplastics, salah satu bahan untuk pasta gigi, dan bahan alat kosmetik. Sel batu dalam pir tidak baik untuk dimakan, tetapi bagus untuk menjadi pengganti bahan yang dipakai sebagai exfoliant pada alat kosmetik dan abrasive pada pasta gigi. Jika penelitian berhasil, sisa pir yang telah dipakai dalam jus atau yang rusak karena terjatuh di tanah diharapkan dapat dimanfaatkan, sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

SENI & BUDAYA KOREA 63


ESAI

Semangat Itu Bernama Baseball Rizqi Adri Muhammad Second Secretary, KBRI, Seoul

“D

i dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat (Mens sana in corpore sano)”; Demikian ujar penyair Yunani Kuno bernama Juvenal ketika menyampaikan pandangannya mengenai perlunya keseimbangan jiwa dan raga dalam hidup. Saya percaya dengan pernyataan tersebut, dan bahkan meyakini sepenuhnya bahwa olahraga memiliki arti yang sedemikian signifikan sehingga dapat pula menentukan karakter suatu bangsa. Indonesia tentunya mengakui bahwa bulu tang­­kis dan sepak bola sudah begitu mendarah daging hingga lagu “Garuda di Dadaku” senantiasa lantang dikumandangkan setiap kali Timnas berlaga dalam dua cabang olahraga tersebut. Nigeria, negara Afrika terbesar di dunia, menaruh kebanggaan yang amat besar terhadap sepak bola dan tim “Elang Super” yang melahirkan pemain tersohor semacam Nwankwo Kanu dan Jay-Jay Okocha. Begitupun Korea dengan kecintaan dan fanatismenya terhadap baseball. Sebagai putra Indonesia, awalnya saya tidak familiar dengan baseball. Anak-anak Indonesia lebih kenal dengan olahraga kasti atau “gebokan. Itu pun hanya bagi sebagian dari mereka yang tumbuh besar di tahun 1990-an, sebab kasti perlahan mati suri dalam rentang beberapa dekade selanjutnya. Selebihnya saya hanya kenal baseball dari cuplikan Major League Baseball Amerika yang kadang melintas di televisi. Perkenalan saya secara nyata dengan baseball adalah pada tahun 2013. Kala itu, saya diajak oleh teman menonton langsung pertandingan antara LG Twins dengan Doosan Bears di Stadion Jamsil. Saat itu saya belum paham bahwa pertan­ dingan itu merupakan “derby” perseteruan abadi

64 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

antara dua tim baseball kebanggaan Seoul di stadium yang menjadi markas mereka. Saya ingat betul bagaimana aura di Stadion Jamsil saat itu. Gemuruh sorakan datang dari segala penjuru. Stadion terbelah menjadi dua sisi, sisi Barat untuk LG Twins dan sisi Timur untuk Doosan Bears. Masing-masing pendukung memakai atribut tim yang diusungnya, baik itu jersey, cat muka, topi, tongkat plastik, tongkat balon, bendera, handuk, spanduk, genderang; dari yang bentuknya gahar hingga yang bernuansa imut. Segala bentuk kecintaan terhadap tim kesa­ yangan mereka diungkapkan dalam simbolisme dan atribut yang melekat pada tubuh mereka. Namun demikian, atribut tim belum seberapa dibandingkan dengan dedikasi masing-mas­sing supporter tim dalam meluapkan isi hati ketika mendukung para pemain di lapangan. Mereka bersorak, berteriak, tertawa, hingga frustrasi bersama dengan para pemain kesayangan mereka. Unik­ nya, setiap pemain mempunyai yel-yel atau chant tersendiri. Para pendukung ini rupanya dipimpin oleh seorang cheerleader pria yang didampingi oleh 4 orang tim cheerleaders perempuan. Mereka inilah yang menjadi hulubalang di Stadion, seolah-olah menggiring para supporter berderap maju menuju ganasnya medan pertempuran di lapangan hijau berhias wajik itu. Keriuhan dukungan itu tidak berhenti selama kurang lebih 4 jam permainan berlangsung, dari sore menjelang malam. Sebagaimana dimaklumi, pertandingan baseball tersebut berlangsung cukup lama dengan permainan yang terkesan defensif dari masing-ma­ sing tim sehingga mencapai 9 innings (babak). Pada akhirnya, LG Twins tampil meyakinkan dan berhasil mengungguli perlawanan dari Doo-


san Bears. Nampaknya perseteruan ini akan terus abadi, dan kota Seoul menjadi saksi bahwa pertempuran belum akan berakhir disini. Sepanjang perjalanan pulang dari pertanding­ an itu, pikiran saya melayang dan masih separuh takjub dengan apa yang saya saksikan selama pertandingan berlangsung. Rasanya baru kali itu saya melihat ribuan orang Korea sedemikian lepasnya mengungkapkan segala emosi mereka secara masif, kompak, dan terstruktur. Berbeda dengan perilaku keseharian orang Korea yang saya amati di jalanan atau kantor, yang umumnya terkesan menahan diri, di lapangan baseball semua berubah menjadi bebas dan lepas namun tidak rusuh. Menonton baseball secara langsung di stadium seperti bergabung dalam suatu piknik besar dimana kita bisa melihat ada orang yang baru pulang kantor, ada yang datang dengan pa­­ sangan, ada yang datang bersama dengan anggota keluarga lengkap, atau datang sendiri saja, dan semua datang dengan satu tujuan: melupakan segala penat dan mendukung tim kesayangan me­­ reka bertanding. Baseball sendiri termasuk olahraga yang relatif baru di Korea, apabila dibandingkan dengan kasti di Indonesia yang sudah ada sejak tahun 1800-an. Diperkenalkan oleh misionaris Amerika pada tahun 1905, baseball di Korea memerlukan waktu lebih dari tujuh dasawarsa sebelum menjadi populer dengan terbentuknya Korea Baseball Organization (KBO) pada tahun 1981. Konon pada awalnya, permainan baseball Korea mirip dengan gaya bermain di liga baseball Jepang yang berupa “smallball”, yakni taktik permainan yang mengandalkan kecepatan lari menuju base dengan bola-bola pendek. Pola permainan ini sempat dipopulerkan oleh ‘sesepuh’ baseball Korea seperti Baek In-chun. Namun pada perkembangannya, permainan baseball Korea mulai mengadopsi pula permainan baseball ala “Major League” Amerika yang mengandalkan power dan pukulan keras macam home run. Gaya ini bisa kita lihat dari permainan penuh tenaga Ryu Hyun-jin yang saat ini berlaga sebagai pitcher di Major League Baseball dengan tim LA Dodgers, atau gesitnya Choo Shin-soo yang berperan sebagai center field di Texas Rangers. Olahraga baseball di Korea berkembang

sedemikian rupa hinga kini Korea pun memiliki ciri khas dalam bermain yang diiringi pula oleh sederet prestasi. Saya mengamati bahwa euforia dan energi yang dikerahkan di stadion diterjemahkan pula secara baik dari segi pembinaan di akar rumput. Sejak masih di sekolah, anak-anak yang memiliki minat bermain baseball dilatih secara disiplin untuk menekuni berbagai teknik permainan secara serius. Berbagai macam liga dalam beberapa tahapan umur pun dilaksanakan, untuk mengasah minat dan bakat mereka. Hal ini terus berlanjut hingga diberlakukannya sistem scouting (perekrutan pemain) yang baik sehingga mereka yang sedari kecil bermain baseball dapat berkiprah secara konsisten dan menjadi pemain baseball profesional yang mumpuni di kancah domestik, bahkan internasional. Kita belum pula membahas bagaimana korporasi berada sepenuhnya di belakang olahraga baseball, menjadikan baseball sebagai olahraga terpopuler di Korea dengan investasi bisnis yang sangat besar. Kini saya menjadi pendukung setia Doosan Bears dan sedikit membuat kesal teman saya yang mengajak menonton baseball pertama kali waktu itu, karena hal ini bagai menyatakan afiliasi terhadap musuh. Namun kenyataannya memang kecintaan terhadap suatu entitas olahraga tidak dapat dipaksakan, dan meskipun Doosan sedikit tergo­ poh-gopoh dalam liga KBO tahun ini, namun kami kokoh berdiri di posisi kedua (saat artikel ini dibuat) dan cukup mapan berada di atas LG Twins. Jika pembaca berencana berkunjung ke atau sedang berada di Korea, saya sarankan untuk luangkan sedikit waktu menonton baseball secara langsung di salah satu stadion yang ada di berbagai kota di Korea. Meskipun mungkin tidak akan sepenuhnya paham dengan jalannya alur pertandingan, namun pembaca dapat menyaksikan sendiri seberapa besar kecintaan masyarakat Korea terhadap baseball. Pembaca dapat merasakan bagaimana masyarakat Korea menjadi diri mereka sendiri di stadium, dalam riuh rendah dan gegap gempita para pendukung yang terus mengobarkan semangat para pemain kesayangan mereka. Semangat dan keriaan ini, bagi saya, adalah cerminan dari semangat dan harapan masyarakat Korea. Semangat dan keriaan ini, hanya dapat disaksikan dalam pertandingan baseball di Korea.

SENI & BUDAYA KOREA 65


GAYA HIDUP

“P

akai headset VR di depan Anda. Silakan angkat ta­­ ngan jika Anda merasa pu­­ sing atau ada masalah.” Lima pemain “roller coaster” memakai head-mounted displays (HMD) dengan muka bersemangat. Kemudian, kursi mereka condong ke depan, mulai bergoyang dan menukik berkali-kali. Seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan menengok ke kiri dan kanan dengan ekspresi tidak percaya. “Sekarang kita turun… Wow!” Teriakan pemandu makin meningkatkan sensasi benar-benar berada di luar dan kemudian mereka menukik tajam.

Popularitas Instan

Roller coaster hanya satu dari banyak permainan dalam “Monster VR,” taman

hiburan realitas virtual yang diopera­ sikan oleh GPM, sebuah perusahaan pratform VR di Songdo, Incheon. Akses lokasi, biaya yang terjangkau dan fleksibilitas waktu membuat taman hiburan ini banyak disukai oleh keluarga, pasangan dan kelompok pertemanan sejak diluncurkan pada tahun 2017. Taman bermain konvensional berada di luar ruangan dan jauh di pinggir kota, sedangkan taman bermain Monster VR di dalam ruangan di lingkungan perkotaan. Artinya, taman ini lebih mudah dan lebih cepat dijangkau dari rumah dan tersedia sepanjang tahun. Tiga jam bermain de­­ ngan VR berbiaya 32.000 won, sekitar 22.000 won lebih sedikit dibanding tarif di taman hiburan konvensional. Kekurang­­­an permainan ini hanya satu: tidak benar-benar di luar ruangan. Tapi,

teknologi VR sudah dibuat sedemikian rupa sehingga batas antara ilusi dan realitas menjadi tidak jelas. Monster VR menawarkan pengalam­­­­ an aktivitas hiburan, termasuk bobsleigh, rafting dan bungee jumping, dan permainan melawan vampir, zombi dan dinosaurus. Selain roller coaster, ada lebih dari 30 permainan VR, termasuk balon udara. “Sulit bagi saya mencari tempat bermain bersama anak-anak ketika cuaca dingin,” kata seorang ayah yang membawa keluarganya ke Monster VR suatu hari di musim dingin. Menurut sebuah outlet permainan, pengunjung taman bermain seperti ini rata-rata 2.000 orang per hari di bulan Agustus 2018, 80 persen dari mereka adalah remaja dan mereka yang berusia sekitar 20-an dan 30-an.

Realitas Virtual yang Dinikmati Lewat Permainan Taman hiburan realitas virtual menjadi tempat bermain baru warga perkotaan. Kemudahan akses, harga yang bersahabat dan ketersediaan sepanjang tahun menarik banyak keluarga dan generasi muda yang tumbuh dengan permainan online. Kim Dong-hwan Reporter, The Segye Times

Pelanggan memainkan “Mario Racing Tournament” di Stasiun VR, outlet VR di dekat Stasiun Gangnam di Seoul. © HYUNDAI IT&E

66 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Minat Bermain Meningkat Tajam

Ledakan Komersial

Pengembangan permainan ini menyi­ta perhatian perusahaan-perusahaan besar. CJ Hello, sebuah perusahaan penyiaran

2. Taman hiburan media digital di Vivaldi Park, sebuah resor di Hongcheon, Provinsi Gangwon. Pengunjung dapat memainkan berbagai game VR bersama fasad media, menampilkan gambar yang diproyeksikan ke seluruh gunung. Hologram dan program media interaktif diakses melalui internet.

2

© CJ Hello

1. “The Hunters Game” adalah salah satu game paling populer di Monster VR Theme Park di Songdo, Incheon.

1

© Monster VR

Konsep realitas virtual berawal dari Antonin Artaud, seorang penulis naskah drama Perancis yang memperkenalkannya pada tahun 1930-an. Dalam kumpul­­­an esainya yang berjudul “Le Théâtre et Son Double” (Teater dan Saudara Kembarnya), ia bersikeras bahwa pengunjung hanya melihat pencahayaan dan gambar imajinasi, bukan aktor sesungguhnya. Beberapa dekade kemudian, sepasang ilmuwan komputer Amerika mendirikan sebuah lembaga teknologi. Pada tahun 1968, Ivan Sutherland mengembangkan HMD pertama dan di tahun 1989, Jaron Lanier, seorang seniman visual, memakai istilah “realitas virtual” untuk menyebut permainan yang dibuat de­­ ngan komputer. Selama dua tahun terakhir, beberapa pameran besar di Seoul menjadi ajang pertunjukan untuk industri VR. “VR EXPO 2017” diluncurkan oleh 53 perusahaan VR dari empat negara, memperkenalkan aplikasi baru mereka dalam bidang wisata, olah raga, pe­­ rawatan ke­sehatan, arsitektur dan pendidikan serta permainan video. Sekitar 14.000 orang mengunjungi pameran selama tiga hari itu. “VR EXPO 2018” diadakan dengan skala lebih besar, yang diikuti oleh sekitar 200 perusahaan domestik dan asing. Tidak diragukan lagi VR dianggap lebih dari sekadar sarana pelatihan dan pendidikan bagi banyak profesi, termasuk dalam bidang medis, penerbangan, teknik dan olah raga. Di Korea, taman hiburan VR menjamur di beberapa tahun terakhir di te­­ ngah minat yang besar dalam permainan VR, sama halnya dengan kafe Internet yang mulai bermunculan di hampir semua lingkunan tempat tinggal sekitar 20 tahun lalu dan banyak toko Sony

PlayStation dna Microsoft Xbox dibuka di awal tahun 2000-an. Asosiasi Industri VR·AR Korea memperkirakan pasar domestik VR bisa tumbuh empat kali lipat, dari 1,4 triliun won pada tahun 2016 menjadi 5,7 triliun won di tahun 2020. Pertumbuhan besar-besaran ini dipengaruhi oleh revisi hukum tenaga kerja yang menetapkan pengurangan jam kerja, yang me­­ mungkinkan banyak orang ikut bermain.

kabel, berkolaborasi de­­ngan Daemyung Hotels & Resorts membuka “Hello VR Adventure” pada bulan Juni 2018. Perusahaan ventura yang lebih menargetkan ke­­luarga ini memasang perlengkapan VR di ruang-ruang permainan di bangunan milik Daemyung. Lotte Department Store menjadi perusahaan pertama dalam industri itu yang membuka taman hiburan VR. Dengan berkolaborasi bersama GPM, pemilik Monster VR, Lotte menyediakan lebih dari 60 taman bermain di lantai 10 gedung cabangnya di Jayangdong di Distrik Gwngjin Seoul pada bulan Agustus 2018. Dalam bulan November 2018, sebuah perusahaan IT berafiliasi de­­ ngan Hyundai Department Store membuka “VR Station,” taman hiburan VR terbesar di negara ini, di wilayah elit di Distrik Gangnam. Bangunan seluas 3.960 meter persegi itu terdiri dari empat lantai dan menawarkan koleksi permainan VR populer dari dalam dan luar negeri. Gedung ini juga menawarkan headset dan kursi yang bisa bergerak untuk menonton film, seni media dan webtoons. Permainan-permainan baru yang dikembangkan oleh Hyundai IT&E ikut meramaikan pasar ini. Illusion World, sebuah perusahaan taman bermain VR, membuka “Dongdaemun VR Illusion World,” dan menjadi yang terbesar di bidangnya di negara ini, dengan menempati lahan seluas 6.600 meter persegi di Goodmorning City Shopping Mall di Dongdaemun, pusat kota Seoul. Taman hiburan virtual yang dibuka bulan Januari tahun ini menawarkan program pengalaman berkarir bagi generasi yang akan datang, selain permainan VR populer. Semoga ada lebih banyak permainan VR untuk menstimulasi mimpi dan imajinasi yang melahirkan kesenangan-kesenangan baru.

SENI & BUDAYA KOREA 67


PERJALANAN KESUSASTRAAN KOREA

KRITIK

Permainan Realitas dan Khayalan yang Dikisahkan Penulis Desa Kim Do-yeon lahir di sebuah desa di pegunungan di Pyeongchang, tempat diselenggarakannya Olimpiade Musim Dingin 2018. Ia kuliah di Jurusan Sastra Prancis, Universitas Nasional Kangwon di daerah tempat kelahirannya. Kehidupannya di lingkungan pegunungan dan pendidikan masa kanak-kanaknya dapat digunakan sebagai pintu masuk memahami tema, bentuk, dan teknik bercerita Kim Do-yeon. Choi Jae-bong Reporter, The Hankyoreh

S

ebagian besar karya Kim Do-yeon berkisah di seputar desa, kampung halamannya beserta kehidupan penduduknya, termasuk orang tuanya. Tetapi secara teknis ia tidak terikat pada realis­me, jadi ia merasa tidak punya keharusan memilih tema-tema pedesaan; justru sebaliknya, ia menikmati model

fantasi. Demikian pernyataan Kim Do-yeon saat ia memenangkan Joong Ang New Writers’ Literary Award tahun 2000 lewat karyanya “Buenos Aires at Zero Hour.” Sebuah penghargaan bergengsi yang diselenggarakan surat kabar Joong Ang yang bermarkas di Seoul. Itulah debut pertama Kim di bidang sastra yang diakui secara resmi. Padahal, saat itu ia telah memenangkan hadiah sastra Tahun Baru dari dua surat kabar di provinsinya tahun 1991 dan 1996. Sebelumnya di tingkat universitas, ia pernah juga mendapat penghargaan. Tetapi, setelah surat kabar Joong Ang memberinya penghargaan, reputasinya mulai diakui sebagai penulis, menyusul pengakuan majalah-majalah sastra dan ketertarikan penerbit pada karya-karya Kim. Setelah lulus dan sebelum memulai debutnya, Kim bekerja sebagai pegawai lepas, semacam buruh hari­an, atau ia membantu di kafe kakak perempuannya di sebuah kota kecil. Ia juga coba berusaha mengelola sendiri sebuah kafe kecil, tetapi tidak satu pun yang memberinya penghasilan yang layak. Di masa-masa sulit seperti itu, tanpa pekerjaan tetap, sementara ia harus menerus bergerak, ia menyebutnya sebagai “Harap­­an Tanpa Harapan,” sebagaimana diungkapkan Hwang Hieon-san dalam buku kritikannya yang meng­ulas puisi Guillaume Apollinaire. Seperti sebuah Alkitab, dia membacanya berulang kali. Sepanjang periode ini, ia sering mengirim surat kaleng berupa kartu pos ke Hwang tanpa alamat pengirim. Hwang Hieon-san, yang wafat tahun 2018 adalah guru dan mentor Kim di universitas. Sebagai penerjemah karya-karya kreatif dan teoretis yang beraliran surealis dan simbolis dari khazanah sastra Prancis, Hwang secara khusus menyukai karya-karya penyair eksperimental yang dikenal sebagai “futuris.” Tetapi bagi Kim, buku karya Hwang, sang mentor dan kartu pos yang dikirim kepadanya menunjukkan bagaimana dia tidak pernah menyerah pada sastra, tidak peduli kesulitan apa pun yang dihadapi. Dalam sebuah wawancara dengan saya tahun 2012, Kim Do-yeon mengatakan: “Pada usia 20-an, ketika saya merasa berada pada taraf paling sensitif, saya benar-benar asyik dengan puisi dan fiksi Prancis dan ham-

68 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


pir menyingkirkan akar gunung pedesaan saya. Tetapi obsesi yang semata-mata didasarkan pada buku-buku itu, hilang dari kenyataan yang saya jalani, sehingga ada pertentangan dan konflik yang serius. Bahkan sampai sekarang, saya tak berminat mengolah kembali kampung halaman itu secara realistis. Jika saya menulis seperti itu, saya akan selalu jadi peniru yang buruk karya-karya Kim Yu-jeong (1908–1937) atau Yi Mun-gu (1941–2003). Sebaliknya, niat saya sekadar hendak mendorong unsur fantastik karya saya ke tingkat yang lebih ekstrem.” Unsur-unsur fantasi Kim Do-yeon terlihat pada karya debut awalnya, “Buenos Aires at Zero Hour.” Cerita dimulai dari keberadaan sosok lelaki yang setelah mendengar perempuan yang dicintainya akan menikah, ia pergi dan tinggal sendirian di wisma tamu, selama empat hari menjelang pernikahannya. Tak ada sesuatu yang terjadi secara khusus, pencerita utama berputar di sekitar mimpi dan fantasi lelaki itu yang berbaring di tempat tidur, lalu melayang masuk dan ke­­ luar lagi dari tidur. Tempat tidur yang keras yang jadi ujung tombak si tokoh menjadi “jalan masuk yang dapat mengarah ke mana saja di dunia ini,” dan tindakan tidur berfungsi sebagai “ruang tunggu tempat ingatan yang menyimpang masuk dan keluar dari mimpi yang berada di dalamnya.” Novel panjang Kim yang awal, Berlibur dengan Sapi, terbit 2007, adalah kisah tentang seorang pemuda yang membawa seekor sapi untuk dijual di pasar ternak, tetapi ia gagal menjualnya. Akhirnya ia cuma berkeliling di pelosok negeri dengan sapi di truknya. Pada “liburan” itu ia ditemani mantan kekasih yang baru saja menguburkan suaminya. Perjalan­an itu sendiri sebuah fantasi –membawa seekor sapi di atas truknya dan menyusuri pantai ke pantai di sekitar Korea, dan membuat “pawai kemenangan” ke Kuil Jogye –tetapi frasa “kata sapi” di bagian pembuka merupakan karakteristik yang menjadi ciri khas Kim Do-yeon. Dalam banyak kisahnya yang berlatar pegunungan dan desa-desa, orang-orang bebas berkomunikasi dengan sapi, anjing, ayam, bebek, dan hewan lain. Misalnya, dalam cerpen “Dalam Baling-Baling Angin,” yang terhimpun dalam antologi cerpen ketiganya, berjudul, Pengertian Baru meng­enai Sejarah Pemisahan: Dulu dan Sekarang (2010), tokoh utama yang tidak lepas dari keragu-raguan di antara istrinya dan kekasih, ketika pada suatu malam ia melaju cepat mobilnya di sepanjang jalan raya karena dikejar babi hutan dan rusa air. Si rusa kemudian berbicara minta tumpangan kepada tokoh utama. Perpustakaan di kotanya adalah sumber kekuatan Kim Do-yeon ketika ia tidak lagi bekerja sebagai buruh kasar dan mengelola sebuah kafe. Kembalinya ia ke kota asalnya, bukanlah untuk mengambil alih tanah pertanian orang tuanya, tetapi untuk memelihara identitasnya sebagai seseorang yang memb-

© Jeong Hui-seong

Kim Do-yeon: “Bahkan, sampai sekarang, saya tak berminat mengolah kembali kampung halaman itu secara yang realistis.” aca dan menulis. Selama lebih dari 10 tahun, ia kerap mengunjungi perpustakaan setempat untuk membaca dan menulis dan menjadikannya studio. Kita dapat membayangkan kehidupan sehari-harinya dalam cerita-cerita pendek Kim, seperti “Terjebak di Mercu Suar Putih” dan “Kisah Buncis” yang berlatar perpustakaan dan menampilkan tokoh pustakawan. Termasuk dalam “Kisah Buncis” (2017), antologi cerpen keempatnya, “Terperangkap” adalah kisah seorang bujangan lapuk yang tinggal bersama orang tua dan kakak-kakaknya dan menulis novel. Dengan memakai karakter Cina, judul dalam Bahasa Korea, “Paho” adalah istilah dari permainan baduk, atau pergi, tetapi membongkar makna dari dua karakter itu sendiri. Judul itu juga bisa berarti memisahkan keluarga. Dalam cerita itu, kakak-beradik si tokoh utama—pencerita—protagonis, untuk pertama kali mengadakan reuni di rumah mereka setelah orang tua mereka meninggal. Ungkapan “kesepian dan menakutkan” muncul berkali-kali dalam cerita itu, yang mengungkapkan perasaan pencerita dalam menghadapi semua yang mengelilingi rumah negara dan keinginan yang ditunjukkan saudara-saudaranya. Persaingan sengit dan permusuhan terselubung yang diciptakan kembali di sini mungkin merupakan situasi pertentangan dalam sebuah keluarga, tetapi kita dapat mengatakan bahwa sesungguhnya hal itu sebagai contoh runtuhnya dan terjadinya disintegrasi kehidupan dalam ikatan keluarga. Seperti banyak karya Kim Do-yeon lainnya, kisah ini berakhir tanpa kesimpulan yang jelas. Alih-alih menjadi gejala kepribadian tokoh utama yang peragu, bagian ini tampaknya lebih mencerminkan bagaimana sepi mencekik situasi dalam cerita ini—begitu pun masalah dalam kehidupan nyata.

SENI & BUDAYA KOREA 69


Trapped

70 KOREANA MUSIM GUGUR 2019


Terperangkap

Terperangkap Kim Do-yeon Terjemahan oleh Koh Young Hun Ilustrasi oleh Kim Si-hoon

A

ku lepaskan kaos tangan yang membeku karena berlapiskan salju, kemudian merokok. Daljib, tumpukan jerami, yang kubuat tampak cukup mengesankan di lapangan bersalju. Daljib itu dibangun dari jerami dan kayu bakar yang cukup banyak. Kelihat­ annya menyerupai tumpukan batang padi yang muncul di sawah setelah panen, dan menyerupai juga tumpukan kayu untuk upacara kremasi biksu Buddha. Aku berdiri dan melemparkan kaos tangan yang membeku dan puntung rokokku ke arah daljib. Dengan daljib ini, semua persiapan sudah selesai. Memandang langit, sepertinya tidak akan ada perubahan cuaca. Tinggal pulang ke rumah, menghangatkan badan, dan memeriksa lagi satu putaran pada sore hari untuk memastikan semuanya rampung. Aku muat peralatanku, sekop salju, sabit dan palu, ke dalam bagasi dan menghidupkan mesin bajak yang mengeluarkan asap hitam. “Kita selama ini semua sibuk, mari sekarang kita berkumpul semua. Bagaimanapun, kita satu keluarga. Yang harus engkau siapkan adalah ... ” Aku meletakkan sendok dan mendengarkan ucapan panjang kakak sulung melalui gagang telepon. Tampak­ nya ia benar-benar merindukan masa kecilnya yang dihabiskan di rumah keluarga kami di pedesaan. Tubuhnya sudah berubah menjadi tua, tetapi sepertinya dia ingin kembali ke masa muda, meskipun hanya dalam pikirannya. Aku menanggapi singkat di sela-sela ucapan kakakku itu. Sepanjang percakapan, dia senang berulang kali meng­­atakan “berkumpul”. Sepertinya dia berhasil membujuk kakak laki-lakiku yang lain dan tiga kakak perempuan untuk menyetujuinya. Kuingat barisan orang salju yang biasa kami buat di hari-hari musim dingin ketika kami masih muda. Orang-orang salju itu masing-masing dengan

ukuran berbeda, dengan air muka yang juga berbeda. “Aku akan kirim uang yang kau perlukan ke rekeningmu untuk persiapan. Beri tahu jika masih kurang. Engkau punya banyak waktu, kan?” Tangan kiriku yang memegang gagang telepon terasa berkeringat. Aku tidak berniat lagi mengambil sendok dan sumpit. Membaca perintah kakak sulung yang kutulis di secarik kertas, aku pergi mengambil botol dan gelas. Kertas lecek dan kusut itu jatuh dan berguling ke arah televisi. Duduk di lantai, punggung bersandar ke tempat tidur yang sebelumnya kulipat sembarangan, kuambil remote TV dan membuka-buka saluran. Tidak terdapat acara yang mena­ rik. Cuma acara-acara yang mengulang. Pemandangan di luar jendela tidak berbeda. Ladang, rumah, jalan, dan bukit yang tertutup salju, tidak berubah seperti bayangan yang tidak bergerak. Sebelum aku bisa menghabiskan isi gelas miras, aku mulai terbatuk-batuk. Sepertinya aku tidak bisa minum alkohol sambil setengah berbaring. Meredakan bagian dalam tubuh dengan membakar rokok, kupelototi gulungan kertas di depan TV. Bagai bola salju yang masuk ke dalam ruangan karena seorang anak tak pandai membidik sasaran dalam permainan bola salju. Bola salju yang jatuh di lantai tetaplah tidak akan mencair. Aku merangkak ke arah TV. Kakak sulungku yang laki-laki itu mentransfer jauh lebih banyak daripada yang diperlukan untuk pertemuan tiga malam dua hari. Di Coffee Shop ‘Tanah’, di seberang jalan kantor pos, aku memesan secangkir teh ssanghwa. Dari sana aku menelepon. Langit tetap cerah selama beberapa hari, tetapi seolah-olah telah membuat keputusan drastis, dalam sekejap salju kini menutupi segala sesuatu di sekitar pasar. Mobil dengan lampu belakang merayap di antara kantor pos dan kedai kopi.

SENI & BUDAYA KOREA 71


Terperangkap

“Kita juga bagian dari kelas menengah!” Seru kakak sulungku. Aku tidak menjawab, hanya menyulut rokok sambil bertanya dalam hati, siapa yang dimaksud “kita” itu. Tiga kacang pinus melayang di permukaan teh herbal hitam. “Salju sudah banyak di sana?” Aku hampir mengatakan bahwa badai salju mung­ kin akan menggagalkan pertemuan ini. Nona Lee duduk di depanku sambil memegang gelas yogurt. Suara gerecek permen karetnya menguar di telingaku. Aku memberi isyarat agar diam. Segera bibirnya berhenti bergerak, sudut-sudutnya terkulai. “Bagaimana dengan kakak-kakak perempuan dan ipar-ipar kita?” “Jangan khawatir! Engkau hanya bersiap-siap seperti yang kukatakan, jadi tidak ada yang salah. Ah, dan pastikan engkau tidak lupa senapan angin!” Dari amplop kuambil uang untuk membayar teh dan yoghurt. Mata Nona Lee melotot, dan bertingkah sangat imut, dia menggandeng tanganku menuju pintu, di luar sana salju turun begitu deras. “Kakak, uangmu banyak, traktirlah saya makan malam sashimi ikan forel?” “Engkau mau ngasih apa jika kutraktir sashimi ikan forel?” “Um ... Aku akan memberimu apa yang kau minta! Oke? Ayo bilang, oke?” Saya duduk di jok stir truk pertanian dengan selangkangan yang terasa berat, dan kuhidupkan wiper untuk menyingkirkan salju yang menempel di kaca depan seperti laron dalam perjalanan malam musim panas. Bersama truk yang bergerak tergagap-gagap, perlahan-lahan aku keluar ke jalan kelabu, pandanganku terbuka, tetapi kemudian terhalang lagi saat lebih banyak salju menutupi kaca. Garis penyeberangan, garis tengah, dan garis perhentian hilang semua karena tertutup salju. Aku ingin mengajak Nona Lee membantu membeli semua perlengkapan pertemuan, tetapi aku tidak berbuat demikian, karena di kota kecil seperti ini, rumor mudah menyebar. Setelah turun selama dua hari berturut-turut, pada saat yang tepat, salju berhenti tiba-tiba. Hujan musim panas yang lebat dan salju musim dingin yang deras, sama saja. Meski dua hari awan gelap, bulan muncul cukup berkembang, seperti yang diperkirakan. Keadaannya sempurna untuk mengadakan pesta tiga hari dua malam. Pada akhirnya aku harus berurusan dengan omelan panjang kakak-kakak perempuanku yang menelepon siang dan

72 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

malam menumpahkan keluhan mereka. Namun, aku cukup mengerti situasi mereka. Mirip seperti menampi beras, aku tinggal menyaring dan berada di jalan tengah, apa yang mereka katakan. Bukannya tidak ada titik krisis. Ketika kakak perempuanku yang termuda menangis saat ditelepon, sejenak aku berpikir untuk coba urun rembuk menyelesaikannya, tetapi bisa menenangkannya dengan sebotol soju. Aku bersimpati pada keluhannya. “Dia tidak boleh berbuat begitu! Apa menurutnya kita semua otak udang?” Untuk menghapus gema suara kakak dari kepalaku, dengan sekop lebar aku menggaruk salju yang ditiup angin ke jalan. Itu bukan udara dingin yang pahit, tetapi angin yang menghembuskan salju di sekitar terasa sangat menggigit. Jika mobil akan mencapai rumah dari jalan utama, tak ada pilihan lain, kecuali melawan salju yang menumpuk dibawa angin. Tetes air mata kakak perempuanku mengisyaratkan, bahwa perseteruan keluarga masih membara. Seperti api dalam sekam, perciknya tidak muncul ke permukaan salju. Sambil memunggungi angin, aku kencing di salju putih. Di jalan raya, sederet mobil mengular menuju kawasan resor ski terdekat.

K

eributan para keponakan yang terlalu bersema­ ngat terdengar dari dalam dan luar rumah, se­­ pertinya teriakan mereka itu dapat menggetarkan tumpukan salju di atas atap. Bola salju melayang-layang di udara dari segala arah, dan seiring dengan teriakan anak-anak yang menyelinap di antara salju itu, suara tawa mereka mengguncang seisi rumah. Kakak ipar memulai sesi minum lebih awal dan bermain dengan kartu hwatu, dan aroma makanan menyembur dari dapur saat kakak dan kakak ipar sibuk menggoreng dan membolak-balik masakan. Dua puluh orang turun mengisi rumah yang sepanjang waktu selama ini kuhabiskan sendirian, segala­ nya jadi begitu berantakan, bagai kapal pecah, sehingga aku sendiri tak tahu lagi mesti meringkuk di mana. Aku mulai tak nyaman oleh panggilan dan tuntutan mereka yang terus-menerus muncul dari sana-sini. “Bagus! Segalanya kau lakukan dengan baik.” Aku tidak ada waktu sekejap pun untuk merokok sendirian di ruang ketel di belakang rumah menjaga perapian. Kakak sulungku datang membawa cumi-cumi kering dan sebotol soju kemudian duduk di sebelahku. Sebelum cumi-cumi kering dijerang atau dipanggang di atas arang, para keponakan mengikuti ayah mereka, mengoceh sam-


Terperangkap

bil mengunyah cumi-cumi. Ketika mereka makan bagian badan cumi-cumi yang berdaging lembut, mereka meninggalkan ruang ketel tanpa menutup pintu. Embusan salju seketika berkesiur masuk. “Hawa panas dari potongan kayu yang kaubakar, itulah kenyataannya! Bara api arang yang hebat ini seperti bonus tambahan. Aku tidak pernah bisa lupa rasa makarel panggang di sini yang dimasak di atas api rerantingan semak semanggi. Kita tidak pernah memanggang banyak. Hanya untuk mendapatkan satu gigitan saja, aku harus duduk di meja makan dan tidak berani berkedip ...” Kakak sulung berkata mengenang masa kecilnya. Dari mulutnya tampak mencuat geliat separoh kaki cumi. Kuhabiskan isi gelas soju. Bayangan nyala api berkedip-kedip di gelas soju. “Tetap saja, karena Kakak anak tertua, Kakak bisa membawa nasi putih di kotak makan siangmu.” “Tapi engkau selalu bikin ulah, aku tak bisa menikmati­­­ nya! Kau lari berkeliling di sekitar rumah, merengek tak mau ke sekolah jika tak dikasih nasi putih.” Aku mengosongkan satu gelas soju lagi. Asap mengepul dari kaki cumi-cumi di atas arang. Kata kakak sulungku benar. Di pagi hari aku tidak akan beranjak dari samping periuk besar nasi. Aku akan bergeming di dekat kompor sambil berjaga-jaga sampai ibu mengambil centong nasi putih, mencapurkannya dengan satu genggam penuh biji jagung rebus. “Itu pilih kasih namanya. Anak-anak ibu yang lain di­­ biarkan saja,” kataku bercanda jika mengingat bagaimana ibu selalu memanjakan putra sulungnya. Kakak perempuan yang termuda masuk, setelah ia menidurkan bayinya. “Adik kita benar. Engkau harus makan jagung rebus juga. Begitu dingin, rasanya seperti mengunyah pasir. Beri aku segelas soju.” Kakak perempuanku yang paling muda ini memegang sebatang rokok dan korek api di tangannya. Karena dia menikah setelah menginjak usia tiga puluh tahun lebih, maka kelihatannya mengasuh anak merupakan perjuang­ an yang nyata. Terkadang, ketika kami berbicara di telepon, dari ujung telepon kudengar bayi itu menangis, dan biasanya segera aku mengakhiri pembicaraan. “Tetapi karena engkau anak bungsu, gerutumu ter­ kadang diterima ibu, Kalau kami yang berbuat demikian, akan dipukul gagang sapu atau tongkat pemantik api.” “Itu semua kini jadi kenangan. Ya, kenangan! Ayo masuk dan makan siang.” Kakak sulung mengerutkan wajahnya karena asap

rokok adik perempuannya dan segera ia meninggalkan ruang ketel. Badai salju yang masuk melalui pintu yang dibiarkan terbuka, menggeliat lagi untuk sementara waktu. “Kenangan ... ya. Kenangan manis …” “Engkau harus berhenti merokok. Bagaimana mungkin seorang ibu yang menyusui merokok!” “Aku tak banyak merokok. Oh ya, rupanya kita akan naik papan luncur salju sore ini. Kedengarannya menyenangkan!” “Kak, tolong ... Ayo kita rukun lagi, ya.” Aku memohon dengan suara tenang sambal kutuangkan soju ke gelasnya yang kosong. Setengah senyum aneh menyapu wajahnya dan mengepul bersama asap rokoknya. Aku menambah beberapa potong kayu bakar lagi ke tungku perapian dan menutup lubang tungku. Ladang miring yang mengarah ke sisi gunung diselimuti salju setinggi betis, dan jalur luncur yang kutandai sebelumnya terbentang dalam garis lurus sampai ke aliran beku di bagian bawah bukit. Sinar matahari memantulkan salju ke segala arah, menyilaukan mata. Keponakan-keponakanku sudah duduk di atas kereta luncur dan mendesak memulainya main salju. Sambil berjongkok di sekitar api unggun kecil, kakak dan kakak-kakak ipar memanggang ikan tombak kering dan menikmatinya dengan minuman. Aku meneguk secangkir soju dan pergi ke kereta luncur. Kemiringan jalur luncur di sini bisa tingkat madya kalau di lapangan ski. Kalau kereta luncur tetap berada di jalur yang sudah kutandai, laju kecepatannya akan meningkat. Kereta luncur adalah salah satu dari barang yang ditinggalkan ayah. Kakak sulung datang dan berbisik ketika aku mencengkeram pegangan dan bersiap melakukan lompatan pertama. “Balikkan bagian bawah sana. Dengan begitu anakanak akan tetap mengingatnya.” Salju menumpuk tinggi dan mengembang sehingga aman dari bahaya terluka jika aku membalikkan kereta luncur. Ketika iparku mendorong dari belakang dan aku menarik gagang keluar di bagian depan, kereta luncur akhi­ rnya mulai melaju menuruni bukit. Perlahan-lahan semakin cepat, aku melompat ke kursi kemudi dan iparku melepaskannya seolah-olah mengirim sebuah kapal. Anak-anak serempak berteriak. “Buat jalan …!” Di antara jeritan mereka, aku menambahkan teriakan, “Ayo laju,” yang sering kukatakan ketika masih kecil. Kereta luncur melaju mulus menuruni rute kereta luncur beku, cepat dan semakin cepat. Di punggung bumi dua

SENI & BUDAYA KOREA 73


bidang ladang bertemu, seperti timbul-tenggelam, melompat dan menurun lagi. Di belakangku teriakan-teriakan pendek keluar yang tersebar dari sana sini. Menyeimbangkan lengkungan bilah di kedua sisi kereta, kakiku bergetar seolah-olah mengejang. Ladang bawah lebih curam daripada ladang atas. Aku memicingkan mata karena silau sinar matahari yang menerpaku layaknya badai salju sambil mencari tempat yang tepat untuk membalikkan kereta se­­perti yang diminta kakak sulung. Banyak salju menumpuk di titik lereng yang mulai landai. Raungan dan jeritan se­­perti ikut terkubur di sana. Ketika kami masih kecil, aku dan kakak perempuan termuda pernah terjebak di bawah kereta salju setinggi lutut setelah jatuh ke parit pinggir jalan. Kami menaikinya dengan buntelan kayu bakar yang dibawa ayah ke rumah. Kami berdua tidak bisa mengge­ rakkan otot dan harus tetap menekan di bawah kereta yang terbalik sampai ayah berhasil membongkar tumpukan kayu bakar itu. Kami seperti dibungkus selimut yang sangat berat, dan beberapa saat kami tak dapat berbuat apa pun, kecuali menangis dan tertawa secara bergantian. Akhir­nya, secepatnya aku memutar arah kereta luncur. Sekali lagi, terdengar jeritan singkat, mekar seperti bunga dan kemudian jatuh menyebar. Salju di sekitar api unggun mencair sedikit demi sedikit ketika ikan tombak dipanggang dan berubah warnanya menjadi cokelat keemasan. “Jadi itu kereta luncur yang biasa digunakan ayah?”

D

engan pipinya yang memerah karena kedinginan, kakak perempuan termuda duduk di atas tunggul pohon dan menyodorkan sepatunya ke jilatan api. Aku mengangguk. Meskipun sebagian besar orang di desa sudah lama beralih ke ketel bensin, ayah tetap menggunakan tungku kayu, karena sayang beli bahan bakar, kata­­­ nya. Lembah curam ini dipenuhi salju, tentu truk bakal sulit

74 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

mengangkut kayu, lebih praktis pakai kereta luncur. Mengumpulkan pasokan kayu biasanya dilakukan di bulan-bulan musim dingin ketika tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Ketika ibu menyemburkan kekesalannya dan mengatakan kepingin memakai air panas yang masih mengepul seperti tetangga di sekitarnya, pilihan ayah jatuh pada ketel air berbahan bakar kayu. Ayah sudah tua dan pekerjaan itu terlalu berat baginya, tetapi ia malah berkata, bahwa dia justru menikmatinya, ayah terus saja mengumpulkan kayu. Dia sama sekali tidak mau tahu, ketika semua anggota keluarga mengatakan bahwa pekerjaan itu sama sekali tidak menyenangkan. Begitulah cara kereta luncur bertahan begitu lama, walaupun sekarang kereta luncur itu dipakai untuk mengajari anak-anak naik-turun bukit. “Kau juga harus coba menaikinya, Kak. Itu kenangan masa lalu.” “Pikiranku berubah tidak seperti dulu lagi. Jika sekarang aku naik benda itu, kupikir kali ini ayah akan mem­ bawaku ke tempat yang sangat jauh .... ” “Ayah?” Kakak laki-laki dan para iparku yang cukup mabuk berebut naik-turun bukit bersama anak-anak mereka de­­ ngan kereta luncur dan peluncur plastik. Ladang salju yang tadinya tampak bersih, sekarang semuanya beramntakan dengan bekas-bekas mereka jatuh terguling. Aku mencuri pandang pada kakak perempuanku yang bungsu, ia bertengger di atas tunggul pohon sambil minum. Untuk beberapa alasan, dia tampak sangat asing. Untuk meredakan kecanggungan, aku mematahkan beberapa ranting pinus, meletakkannya di atas api yang mulai meredup dan meniupnya keras-keras. Dalam sekejap api menyala lagi di bawah gumpalan asap yang mengepul dari ranting-ranting itu. Saat asap terasa perih menyengat mataku, aku tertawa canggung. Kakak perempuan bungsu mengulurkan gelas­ nya yang beriak.


Terperangkap

“Menakutkan atau kesepian, Kak?” tanyanya. “Apa?” Kereta luncur terus melaju ke bagian bawah bukit bersalju setelah ditinggalkan mereka di tanah. Kakak sulung berusaha mengejarnya, tetapi hanya beberapa langkah, kakinya terjebak di salju. Beberapa yang berhasil bangun, membersihkan salju dari pakaian mereka sambil menunjuk kereta luncur sambil tertawa-tawa. Aku telan begitu saja potongan ikan tombak tanpa dikunyah. Rasanya seperti tulang ikan menggaruk kerongkonganku. Kulihat arlojiku: “waktu naik kereta luncur” sebentar lagi berakhir. “Tak ada lagi pelindungmu ... Engkau tahu, kan?” Kakakku keluar dari jalan setapak, menginjakkan kaki­ nya di salju, dan berjalan menyusuri garis lurus kembali ke rumah. Dengan kedua tangan terentang, dia menyibak salju setinggi lututnya. Aku melemparkan salju ke atas api yang menyala-nyala, mengambil botol soju yang masih berisi sekitar setengahnya lagi, dan mengikuti jejak kakak perempuanku. Dia berkata, sekarang orang tua kita yang jadi payung pelindung keluarga sudah pergi, aku harus bertemu seorang wanita yang dapat membangun keluarga baru. Angin dingin yang datang dari hutan pinus yang gelap, menerpa punggungku dan membuat kakiku melangkah ke arah yang asing. Kurentangkan tangan, tetapi kaki terperosok salju lebih dalam.

“B

agaimana jika kita membuat arisan keluarga?” Itu saran kakak sulung di meja makan, sambil tangannya memegang daun selada isi daging panggang dan segelas soju di tangan lainnya. Sepertinya saudaraku yang lain tidak tertarik sama sekali. Mereka me­­ ngosongkan gelas minum mereka, menyodorkannya lagi, dan tanpa sadar membalikkan daging di atas meja panggang. Kakak laki-laki tertua sibuk mencari wajah-wajah saudara ipar minta persetujuan, tetapi bagaimanapun juga mereka sekadar ipar, jadi mereka tidak bisa benar-benar membantunya. Aku bangkit dari meja dan membuka jendela agar bau dan asap daging panggang bisa keluar. Serpihan salju melayang dalam cahaya lampu luar. Sekadar untuk menghibur kakak sulung yang tampak kikuk, aku berteriak, “Salju turun!” “Oh, ya benar!” “Kau pikir istimewa salju di musim dingin?” ujar kakak sulung sambil meludah, tetapi air mukanya segera kembali cerah. Salju turun menyelimuti taman dan atap rumah pada

setiap musim dingin sejak sebelum kita lahir, tetapi salju tidak pernah menjadi tua. Salju malam hari yang membuat semua suara jatuh tertidur malah terasa mistis. Untuk sementara waktu, semua orang tersihir oleh serpihanserpih­­­an salju yang semakin tebal. Raut wajah mereka tampak seperti anak yang baru belajar bicara. Aku tahu keadaan akan jadi sedikit berisik, tetapi aku bangun sekadar untuk memberi tahu berita turun salju kepada anakanak yang terpaku oleh siaran TV di kamar tidur utama. Mereka semua bergegas keluar sebelum aku selesai bica­ ra. Aku berdiri sendirian di kamar kosong, menatap cermin yang tergantung di dinding - panjang dan cukup keras untuk menembusnya.

“Bagaimana kalau kita bikin orang-orangan salju?” Usul kakak laki-laki yang lebih muda. Dia satu-satunya anggota keluarga yang tak banyak minum, tetapi batang rokok selalu terselip di mulutnya. Dia melemparkan puntung rokok ke tungku kayu ketel. Ia mengenakan sarung tangan katun dengan lapisan karet merah di telapak ta­­ ngan dan jemarinya. Aku menaruh beberapa potong kayu bakar di bara api dan menutup lubang tungku. Halaman rumah gempar oleh teriakan keponakan-keponakan yang perang-perangan salju. Kakakku yang tadi membuat gulung­­an salju seukuran bola. Salju itu lengket macam tanah liat, jadi bola salju mudah terbentuk. Kakakku itu pendiam. Aku ikut di belakangnya menggulung bola salju lagi. Dengan embusan hawa dingin, anak-anak asyik bemain, keluar dari halaman rumah dengan menggulung bola salju. Ada pula yang membuat gundukan besar salju sebagai badan orang-orangan yang ternyata tidak semudah yang diharapkan. Saat bentuk badannya tambah besar, orang-orangan itu tidak berguling dengan baik, maka aku membungkuk di bawahnya, menahannya agar tidak ambruk. Tetapi itu yang membuat punggungku sakit. Jika anak-anak itu tidak berhati-hati, bola salju besar mereka akan menggelinding dari atas bukit dan hancur seperti batu Sisyphus. Menempatkan bola salju lain di atas yang lebih besar, juga tidak mudah. Beberapa anak kembali ke rumah dengan misi untuk mendapatkan bala bantuan. Akhirnya, mereka berhasil menyeret ke halaman kakak dan ipar tertua, semua tampak asyik bikin orang-orangan salju. Aku membawa setumpuk kayu kering dan membakarnya di kebun sayur di sam­ ping rumah tempat sosok salju mulai terbentuk. Sejak kami kecil, kebun sayur itu menjadi tempat bikin orang-orangan salju setiap kali salju turun cukup deras.

SENI & BUDAYA KOREA 75


Terperangkap

Enam orang-orangan salju kini berdiri di petak sayur, masing-masing seukuran badan sendiri dengan ekspresi bentuk muka berbeda. Ada hujan kilasan kamera digital. Serpihan salju yang tebal berkecamuk seperti bulu-bulu bunga, dan api unggun menjilat-jilat udara yang gelap. Kopi yang dibawa istri kakak sulung untuk kami cukup dapat menghangatkan perut seperti batu yang dipanaskan dengan baik. “Jika tak melakukan kerja yang lebih baik, mengapa tidak mencoba bertani, bercocok tanam serius?” “Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan ... ” “Jika engkau pergi juga, rumah dan tanah ini segera akan dijual. Bukannya kamu tidak tahu apa-apa tentang pertanian. Dan semua alat pertanian lama masih berfungsi.” Segera setelah bicara begitu, kakak lelaki kedua membenamkan rokoknya dan masuk rumah, meninggalkanku sendiri bersama orang-orangan salju di kebun sayur. Api unggun juga tampak mulai redup kehilangan vitalitas­ nya. Membayangkan kata-kata kakakku yang menancap dan mengganggu pikiran, aku berjalan perlahan di antara sosok-sosok salju. Mereka sudah jauh dari rumah untuk waktu yang lama dan sekarang mereka kembali, berdiri di sana dengan salju turun di atas wajah mereka. Ayah dan ibu telah membesarkan enam anak, tetapi tidak satu pun yang dijadikannya petani. Anak-anak mereka tidak menghasilkan apa-apa, selain bermain atau membuat orang-orangan salju di halaman dan kebun sayur, lalu pergi satu per satu. Aku menyelipkan rokok di mulut orang-orangan salju yang kubuat. Aku ingin memberinya segelas soju juga, tetapi aku khawatir dia akan terhuyung-huyung berjalan di sekitar lapangan salju sepanjang malam. Akan ada neraka yang harus dibayar jika orang-orangan salju mabuk, membuka pintu depan, datang tersandung, dan berbohong bahwa mulai tahun depan ia akan menanam tumbuhan. Aku membelai kepala orang-orangan salju itu.

H

al terakhir yang harus dilakukan pada malam bersalju adalah bermain kartu hwatu. Setelah kalah banyak uang di awal permainan, aku bergeser ke meja minuman. Dalam permainan kartu hwatu, kakak sulungku adalah orang yang paling banyak ngoceh tidak karuan, dan kakak ipar tertua adalah tipe orang yang pandai memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat curang. Kakak lelaki kedua akan mengembalikan kartu-kartunya yang disembunyikan kakak ipar itu dan menaruhnya lagi di tumpukan kartu. Istrinya kakak sulung dan kakak per-

76 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

empuan akan mengejek saat mereka sadar jika dicurangi, tetapi mereka para pemain pemula yang sebagian besar waktunya tersita oleh kartu mereka sendiri. Pada awal­nya mereka senang dengan skor besar, lalu berpuas diri dan tanpa sadar, mereka tersandung, masuk perangkap lawan. Melalui empat puluh delapan kartu, semuanya menunjukkan kepribadian mereka tanpa tedeng aling-aling. “Aku akan memberimu modal awal, Sinyo harus ikut main lagi!” kata istri kakak sulungku sambil menuangkan segelas soju untukku. “Maaf, aku tak pandai main hwatu.” “Tidak masalah. Ini cuma iseng saja. Omong-omong, kapan Sinyo akan bawa pulang gadis, calonmu?” “Bagaimana bisa jika kakak belum memperkenalkan siapa pun?” “Walah!” Kakak laki-laki tertua menyela, ia mengulurkan gelas kosongnya, “Yang lain dapat cewek cukup baik!” “Mengapa Sinyo tidak ambil kesempatan ini untuk datang ke Seoul?” Istri kakak sulung melanjutkan. “Gadis muda sekarang tidak suka nikah di pedesaan, Sinyo tahu itu.” “Itulah masalahnya. Aku tidak suka Seoul.” “Kau sebaiknya bawa gadis dari Yanji. Bagaimana menurutmu?” Kakak laki-laki tertua menyela lagi setelah ia mengosongkan isi gelasnya dalam satu tegukan. Sekarang suami kakak perempuan tertua meletakkan kartu hwatu di tangan, “Kakak, katanya, mereka sering melarikan diri walau hanya karena hal sepele!” “Jika melarikan diri, engkau bisa cari yang lain, bukan masalah besar.” “Katanya gadis Vietnam tidak pernah kabur.” “Dengar, mungkin sebaiknya kau hidup melajang,” ipar bungsu yang menghentikan permainan hwatu mendekati meja minum dan mulai berteori tentang tak bergunanya pernikahan. “Segera setelah menikah, semua kebahagiaan berakhir! Tamat!” Sambil mengangguk, aku mengosongkan gelasku dalam beberapa tegukan. “Amboi! Aku menang!” Kakak perempuan tertua berteriak sebelum kartu pertama dijatuhkan oleh kakak sulung yang memenangkan putaran sebelumnya. Dengan begitu, permainan ramai dan berisik dan acara selingan minum berhenti sejenak. Adik perempuan tertua mendapat empat kartu yang sama di satu tangan. Aku menghela nafas lega, tetapi semua orang yang memegang kartu mereka duduk terpana oleh cahaya bulan purna-


Terperangkap

ma yang ditaruh oleh kakak perempuanku yang tertua di hadap­­­an mereka. Itulah bulan purnama yang cemerlang yang naik pada malam saat salju tebal turun. “Aku dapat berapa?” “Ayo, kalian masing-masing mesti bayar tiga puluh ribu won!” “Tidak mungkin! Sepuluh ribu per orang!” “Hei, permainan dibatalkan. Pokoknya, batal!” Kakak laki-laki sulung melempar kartunya dan berlari keluar. “Ah, kau rendah sekali! Bagaimana kau pergi tanpa bayar?” “Lihat, ini batal, ini batal!” Kata kakak laki-laki sulung dengan menjulurkan kepalanya dari luar. Orang-orang mencemoohnya, meski dia tampak tidak peduli. “Pelit! Bakhil” Kakak perempuan tertua berteriak, se­olah hendak memastikan agar teriakannya didengar istri kakak sulung. “Cuma untuk uang receh segitu.” “Kak, betapa buruknya. Aku harus tinggal bersamanya! Aku akan bayar atas namanya, ayo terus main.” “Jangan repot-repot, Eonni.1 Ini masalah sopan santun, bukan tentang uang. Jika dia menang, dia kumpulkan semua uangnya, tapi kalau kalah, dia langsung kabur. Ini bukan satu dua kali saja” “Ambil saja uangnya, Kak. Dengan begitu, nanti aku bisa mendapatkan lagi darinya.” Suara salju malam berkesiur, aku memeriksa ayamayam dan sapi di kandang. Dua ekor anjing yang melihatku meloncat-loncat, seluruh tubuhnya tertutup salju. Kedua orang tuaku meninggalkan banyak hal yang mengganggu setelah mereka meninggal. Aku melewati musim dingin dengan perasaan agak tidak berdaya, tidak bisa menguruskan apa-apa. Ketika musim semi tiba, lebih banyak lagi yang akan muncul. Aku tidak ingin berhadapan dengan semua hal itu. Terus terang saja, aku tidak berani menghadapi mereka. Aku tidak bisa membahas masa depan benihbenih yang tersimpan di gudang, atau perkara tanah beku di sekitar rumah yang menunggu musim semi, demikian juga semua yang tersembunyi di dalam lading sekitar rumah; bagi saudara-saudaraku rumah masa kecil mereka itu tidak lebih dari tempat peristirahatan musim panas dan tempat piknik. Aku merokok di samping ketel kayu, mendengar tawa 1*** Kata sapaan eonni awalnya bermakna "kakak perempuan," tetapi juga sering untuk merujuk pada "ipar kakak perempuan."

riuh dari rumah. Menenggak soju yang keras alkoholnya tanpa makanan. Salju tebal di luar pintu jatuh dengan cara yang tampak agak sepi dan menakutkan. Teringat olehku kereta luncur ayah membuat jalur salju melaju lebih cepat dengan sendirinya. Malam itu, bara api di tungku berubah jadi abu seperti orang yang mengantuk. “Ayah, bawa kami seekor harimau!” Keesokan harinya, terlihat oleh semua orang yang tinggal di belakang, sekelompok pemburu di dalam salju berangkat dari rumah. Aku berjalan di depan dengan senapan angin pinjaman tergantung di pundak, langkahku menciptakan jejak kaki yang dalam. Salju yang turun sepanjang malam, kini telah berhenti dan matahari memancarkan sinarnya seperti menawarkan panorama yang sungguh menakjubkan. Pemandangan tempat kami berjalan tidak akan bertahan lama, sebab pemandangan indah seperti itu hanya dijaga oleh salju. Itulah yang terjadi. Pendakian gunung hanya untuk para lelaki, perempuan dan anakanak tidak jadi ikut. Tidak mudah berjalan melewati salju setinggi lutut. Kami belum melangkah jauh, tetapi aku bisa mendengar suara meludah dan helaan sesak napas. Dengan moncong senapan angin menunjuk ke bawah, kakak sulung berjalan di bagian belakang barisan, menyuruh semua anggota rombongan mengikuti perintahnya.

“K

ita tidak bisa berjalan selambat ini! Kita masih harus mendaki dan melewati banyak gunung. Kita harus buru-buru!” “Tunggu sebentar. Adakah makhluk yang benar-benar bisa hidup di gunung yang tertutup salju begini?” Mengingat seluruh hidupnya dijalani di kota, dapat dipahami jika ipar tertua punya keraguan seperti itu. “Kita akan lihat jika kita sudah sampai di sana!” Teriak kakak sulung. “Apakah aku melakukan semua ini hanya untuk mempermainkanmu?” Salju belum lama berhenti, jadi tidak mungkin ada kelinci yang melompat-lompat. Bahkan jika mereka keluar pun, tidak banyak kesempatan untuk menangkap atau menembak dengan senapan angin. Senapan angin tidak akan cukup kuat untuk melumpuhkan kelinci atau rusa, kecuali jika hewan itu jatuh di lubang salju dan berjuang untuk keluar. Kawat jerat yang kubuat dua hari sebelumnya yang ditempatkan di setiap titik strategis di rute kami akan sepenuhnya terkubur salju. Satu-satunya tindakan yang bisa kami lakukan dengan dua senapan angin ada-

SENI & BUDAYA KOREA 77


Terperangkap

lah me­nembak burung. Di antara unggas itu, burung pegar yang harus kami temukan. “Nah, kita mulai sekarang. Lihatlah dengan cermat ke sekeliling. Setelah kita lihat mereka, hanya masalah waktu saja sebelum kita menangkapnya.” “Aku tidak percaya padamu.” Kakak ipar lalu menoleh padaku, “Bisakah kita benar-benar menangkap sesuatu?” “Kita akan bisa menangkap burung pegar atau sejenis­ nya.” “Jika kita beruntung, kita bahkan bisa menangkap babi hutan! Aku serius. Mengapa kau tidak percaya padaku?” kata kakak sulung. Setiap kali dia bicara, bau minuman keras menyebar dari mulutnya, ia kemudian mengarahkan senapan anginnya ke segala arah, membidik dan membidik. Makanan dan minuman yang disiapkan sebagai pe­­ nganan ringan bekal di perjalanan, segera habis. De­­ngan dorongan minum alkohol secukupnya untuk menambah keberanian, sebenarnya tidak ada alasan bagi keenam orang kuat ini tidak dapat menangkap babi hutan. Tetapi tidak mungkin binatang itu tertangkap gara-gara keadaan salju yang tidak mencukupi. Sekarang jalan itu berbelok ke arah lembah sempit. Ekspresi wajah mereka semakin serius, saudara-saudara ipar masing-masing mencengkeram tiang pendakian darurat: cabang maple yang dipotong ayah digunakan sebagai pegangan kapak atau cangkul. Aku dan kakak sulung segera memasukkan peluru senapan kami. “Mungkin aku bisa menangkap burung pegar!” “Aku terus merasakan sesuatu dari salju seperti ada yang menarik-narik kakiku. Apakah sebaiknya kita pulang saja?” “Di sini, burung pipit saja tidak ada, apalagi burung pegar!” Meski saudara ipar terus saja berkeluh-kesah, pendakian tetap dilanjutkan. Mereka terengah-engah, napasnya tersengal dan keringat meleleh ke salju, tetapi rupanya juga tidak cukup mengganggu ketenangan gunung yang tertu­­tup salju. Seperti yang diperkirakan, tidak terlihat jejak kaki rusa air atau babi hutan. Sebagaimana yang terjadi pada kebiasaan binatang buas atau hewan-hewan liar gunung, mereka mulai bergerak atau mencari makanan satu hari setelah salju berhenti. Tidak seperti hewan peliharaan, me­­ reka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Tentu saja, kita bisa menemukan babi hutan yang berkeliaran mencari makanan, sebab mereka juga tidak akan menang melawan kelaparan, tetapi itu juga menjadi masalah. Tidak ada alas­ an bagi babi hutan, yang secara alami berkeliaran secara berkelompok, akan takut pada dua senapan angin. Siapa

78 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

yang tahu, apa yang akan terjadi jika babi-babi hutan itu melihat orang lalu memutuskan untuk menyerang daripada lari menjauh? Kita mungkin, tiba-tiba saja, menemukan diri kita berjabatan tangan dengan orang yang menghadapi beruang di pegunungan seperti dikisahkan dalam dongeng. Bagaimanapun, kami hanya melewati dua puncak saja, keadaan kakak-kakak ipar menimbulkan bayangan seperti itu. Di mulut sebuah lembah yang bisa berubah menjadi jalan buntu, aku mengubah arah ke jalan setapak yang akan membawa kami melewati punggung bukit. Tubuhku sudah basah oleh keringat sejak tadi. Kadang-kadang, salju yang menumpuk di cabang pinus bisa tiba-tiba jatuh berserak, meski tidak pernah cukup untuk mendinginkan keringat. “Berapa lama lagi kita jalan?” “Lebih baik tadi kami tidak ikut, dan minum soju sambil makan daging panggang.” “Satu kali pun kami belum pernah coba menembak senapan.” Kakak-kakak ipar mengeluh lagi setelah memandang ke bawah dan mengamati jalan yang akan kami turuni dari atas punggung bukit. Tanpa menanggapi, kakak sulung membuka ranselnya dan bersiap hendak merebus air untuk menyeduh kopi. Lembah di sebelah kelihatan lebih luas, sehingga dipenuhi sinar matahari yang jatuh ke semak-semak yang tumbuh terlalu tinggi. Aku menelan ludah, mengangguk pada dua orang kakak laki-lakiku. “Sekarang kita benar-benar mulai. Sekarang jaga suaramu agar tak terlalu keras. Setelah minum kopi ini, kita akan segera menemukan rasa darah segar.” “Merasakan darah segar?” Mata kakak ipar terbelalak. Dengan jari siap menarik pelatuk senapan, aku berjalan perlahan menyusuri jalan setapak dari punggung bukit. Ayah adalah penguasa jalan setapak gunung ini. Ketika kami masih muda, aku dan saudara-saudaraku mengikut­ inya, naik-turun jalan setapak pegunungan, menangkap kelinci, mengumpulkan kayu bakar, dan belajar mencari pir pasir, anggur liar, dan semak-semak cereme. Kami belajar bagaimana menemukan sumber mata air yang jauh di pegunungan yang dipercayai orang dapat menyembuhkan patah tulang dan untuk sampai ke sana hanya bisa melewati jalur tertentu dari punggung bukit. Tetapi karena ayah membawa ransel bingkai-A di punggungnya dan sabit di tangannya, jalan setapak pegunungan yang ditinggalkan ayah, seluruhnya telah berubah. Belukar kini telah memakan jalan setapak, seolah-olah tidak perlu takut lagi. Setiap kali aku coba mengangkat satu kaki dari tanah salju, semak berduri yang melilit pergelangan kaki seperti jerat


Terperangkap

yang tidak mau lepas. Aku harus menahan dinginnya salju yang menggumpal dan masuk ke sepatu hikingku. Dengan tangan yang mulai kebas karena kedinginan, kurasakan sebongkah es seolah-olah menempel pembuluh darah pergelangan tangan. Dalam keadaan itu, aku memberi isyarat kepada orang-orang di belakangku dan berjongkok. Kakak laki-laki sulung, yang berada tepat di belakang, bergegas menghampiriku. Aku menunjuk ke semak mawar liar. “Burung pegar!” Kakak itu mendesis. Sekawanan burung tampak sibuk mencari makanan di atas semak mawar liar tempat sinar matahari jatuh di sana. Walaupun senapan angin dilengkapi lensa teleskopik, burung-burung itu di luar jangkauan tembak. Aku dan kakak sulung mendekati semak mawar liar sambil menahan napas, bergerak dalam posisi hampir merangkak, sementara saudara-saudara yang lain masih berada di belakang. Ketika kami pergi, kami berdua melepaskan jerat senjata kami. Kami hanya masuk pada posisi jarak tembak agar dapat mengantisipasi kegugupan. Itulah yang membuat jarak sepuluh meter sepertinya memerlukan waktu

pergerak­­an berjam-jam. Biasanya semua burung pegar berkumpul di satu tempat. Berhasil menangkap dua ekor saja sudah merupakan hal yang terbaik yang bisa kami harapkan. Tetapi, itu berarti, kami harus menarik pelatuk secara bersamaan. Setelah menarik napas, aku membidik hati-hati sampai kepala salah satu burung pegar persis ditandai garis salib dalam pandangan teleskopik. Lalu, kami berbisik dan menghitung mundur. “Tiga … dua … satu ….” Aku tidak tahu, berapa kecepatan terbangnya peluru senapan angin. Tetapi melalui lensa teleskopik, aku dapat melihat jelas momen kepala burung yang mematuk semak mawar liar terlempar ke belakang. Rasanya ada arus listrik 220 volt tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuhku. Sementara burung-burung lainnya terbang serabutan ke segala arah udara, aku dan kakak sulung berlari secepatnya ke arah semak mawar liar. Kakiku gemetaran dan bisa saja aku jatuh terpeleset salju, tetapi itu tidak menghentikan gerakanku. Sensasi pertama yang kurasakan sejak lama, seketika mencengkeram seluruh tubuhku. “Wow! Hangat betul!”

SENI & BUDAYA KOREA 79


Terperangkap

Kakak ipar meraih burung-burung dengan leher yang sudah patah seolah-olah mereka berjumpa dengan peristiwa mistis. Mata burung pegar terpejam dan akan tetap terpejam. Setelah mengambil pisau lipat dan cangkir hiking dari ransel, kakak sulung segera bertindak cepat. Dia mencabut bulu-bulu lehernya lalu memotongnya dengan pisau lipat. Aku berjongkok di sampingnya dan mengulurkan cangkir itu. Darah merah kehitaman menetes seperti getah maple pada musim semi. “Maksudmu, minum darah ini?” “Kalau darah rusa mungkin, tetapi bagaimana engkau bisa minum darah burung pegar!” “Rasanya enak,” kataku sambil mengambil botol Ba­­ cchus-D dari ransel dan menuangkannya ke cangkir yang sama, lalu mengaduknya dengan sumpit. Jelas bagi siapa pun yang melihat aku dan kakak sulung bergerak serempak, bahwa kami pasangan yang kompak. Setelah kedua burung itu kehabisan darah, kakak melemparkannya ke salju seperti kain kotor yang dibiarkan membusuk. Bangkainya dibawa pulang, dicacah, dan dihaluskan untuk diolah jadi pangsit. Campuran darah burung pegar dan Bacchus-D yang diminum meninggalkan warna merah di bibir, kecuali kakak iparku yang bungsu, dan tak lama kemudian semuanya hilang. Kakak sulung membasuh darah yang tersisa di cangkir dengan soju dan kemudian menenggaknya lagi sampai bersih. “Perburuan burung pegar dimulai sekarang.” “Maksudmu jika kita menunggu di sini, burung-burung yang terbang itu akan balik lagi ke sini?” “Pantas dipanggil otak burung, maksud saya otak ayam….” “Terlalu cepat lupa ....” “Ya benar. Lihat ke sana, salah satu dari mereka segera akan balik lagi!” Kami duduk di antara pepohonan pinus, dan mau minum soju dan makan ampas ramyeon pedas. Sebelum kami menyadarinya, kakak sulung justru sudah meletakkan sumpitnya, mengambil senapan anginnya, dan me­­ rayap sendirian menuju semak-semak mawar liar seperti anjing pemburu. Burung yang kembali lebih dulu memilih me­nembus salju, mencari makanan tanpa sedikit pun curiga atas keberadaan kami di sekitarnya. “Menurutmu, lebih baik mana: cepat lupa atau tidak bisa melupakan?” iparku yang kedua bergumam, matanya tertekan setelah mengosongkan secangkir soju. Sementara itu, suara tembakan terdengar dan se­­ekor burung pegar tampak melayang jatuh. Sorakan kakak

80 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

sulung mengguncang, membelah lembah. Bibirnya masih berlumuran darah. Kakak ipar tertua menjawab, “Saat situasi begini, sepertinya burung itu tidak beruntung karena terlalu cepat melupakan kejadian tadi.” “Aku berpikir, mereka kembali itu karena lapar, bukan karena lupa. Di musim dingin, burung-burung pasti sulit menemukan makanan.” “Haruskah kita tanya burung-burung itu sebelum kita menembaknya?” “Itu dia. Satu lagi! Sini senapannya. Biarkan sekali ini kucoba!” Bagi para pemburu ini, menangkap burung pegar yang terbang kembali ke semak mawar liar dalam waktu singkat, sungguh mengasyikkan, maka pertanyaan lebih penting mana: melupakan atau tidak melupakan, sekarang menjadi persoalan sepele. Yang penting, cuma daging dan secangkir darah yang dicampur Bacchus-D. Secara basa basi, aku menawarkannya pada ipar yang termuda, tetapi tidak ada gunanya buat dia. Sebaliknya dia bertanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Aku tak menanggapinya. Aku hampir saja berkata, bahwa aku ingin menjadi seperti burung pegar itu. “…. Menurutmu apa yang harus kulakukan?” Aku balas bertanya. Mataku seperti rusa air yang terjebak di lubang salju yang jauh lebih tinggi daripada badannya. Bau darah menyengat keluar dari mulutku. Bayangan gunung yang turun dari barat telah mencapai semak mawar liar. Itulah saat hawa dingin diam-diam mengusir rasa mabuk. Aku ingin sekali menghangatkan punggung di lantai yang panas. Aku tak bisa menghapus perasaan terperangkap dalam kepura-puraan yang membosankan dan menyesakkan. Tidak ada cara lain untuk mengetahui ke arah mana pesta tiga hari dua malam ini akan berlangsung. Menunjuk ke pemandangan di bawah bukit, ipar yang paling muda menghembuskan asap rokoknya sambil berseru, “Pemandangan itu mirip lukisan!” Dia menungguku ketika aku tertinggal di belakangnya. Keponakan-kepo­ nakan meluncur di aliran beku di samping rumah. Asap naik membumbung dari cerobong dan kemudian mengepul perlahan-lahan. Bayangan tumpah dengan cepat dari cabang-cabang pohon poplar yang gelap seperti laba-laba berdiri di sana sini di sepanjang jalan. “Lukisan yang dibuat es dan salju ... bisa meleleh kapan saja.” “Dik, lumayan baik juga kalau bisa merawat lukisan itu.” “…….”


Terperangkap

A

ku berbaring ingin segera tidur di kamarku. Pohon-pohon hitam yang berdiri di ladang bersalju masuk dan keluar dari alam mimpiku secara bergiliran. Burung-burung yang bertengger di dahan jatuh bersama bunyi menggelegar. Mereka jatuh ditembak dari suatu tempat, dan setiap kali burung itu jatuh, keringat dingin muncul di dahi, punggung, dan paha. Orang-orang yang duduk di sekitarku, dengan ramah minum darah burung-burung itu, bibir mereka merah berlepotan. Setelah minum, mereka saling berpandangan, seperti ragu-ragu mengukur pikiran orang lain, dan akhirnya bergerak ke arahku dengan sedotan menempel di mulut dan rasa lapar memancar pada mata mereka. Daerah di sekitar leherku tiba-tiba gatal, tetapi aku tidak bisa bergerak sama sekali. Seperti tusuk balon, sedotan tajam mereka menembus leherku. Aku mendengar peluit tipis suara desir angin. Pusing sakit kepala melilitku seolah-olah banyak minum obat sakit kepala. Di luar, orang-orang mengisap sedotannya dengan penuh semangat, aku bisa melihat serpihan salju malam hari, yang sedikit menakutkan dan sepi seperti biasanya, jatuh dan beku. “Ah, tidak ada yang mengalahkan pangsit burung pegar.” “Ayah! Ada batu di dalamnya.” “Itu bukan batu, itu tulang. Hanya tulang. Engkau bisa makan tulang pegar.” “Ayah dan ibu benar-benar menyukai pangsit burung pegar ....” Dengan satu kalimat dari kakak perempuan bungsu, meja makan yang semula berisik itu, mendadak diam. Kakak sulung meletakkan sendok dan sumpitnya, se­olah-olah kesal. “Hei! Kita semua tahu itu! Bukannya mereka akan bisa datang dan makan semangkuk sup pangsit jika engkau berbicara seperti itu.” “Engkau tak pantas berkata begitu, Mas,” kata kakak perempuan tertua, “Bahkan, kau tidak datang saat upacara hari keempat puluh sembilan wafatnya ayah.” Karena omelannya, kakak sulung berkata, “Jangan bawa-bawa itu lagi! Berapa kali kukatakan, urusan saya itu sudah dijadwalkan, tak ada yang bisa kulakukan!” Saudara-saudara ipar buru-buru menghabiskan makanannya dan pergi merokok keluar. Keponakan-kepo­ nakan diam-diam menyelinap pergi. Aku meneruskan makan pangsit dan minum segelas soju dengan kepala ditekuk. “Maaf, Kak. Aku sengaja meneleponmu untuk menjelaskan ini, bukan? Jika kami membatalkan perjalanan, semua uang yang telah kami simpan begitu lama akan

hi­lang.” “Engkau diam saja!” Kakak sulung agak membentak istrinya. “Jadi, engkau katakan bahwa engkau tak datang pada upacara ritual empat puluh sembilan hari wafatnya dan jalan-jalan ke Asia Tenggara, juga karena uang? Hanya karena sayang uang?” “Coba kita bicara masalah uang,” kakak perempuan bungsu menimpali,” ke mana semua uang ibu dan ayah dari hasil banting tulang mereka?” “Bagaimana kau bisa bicara seperti itu, Kak? Se­­olaholah kita ini pencuri atau sejenisnya.” “Diam! Kataku, diam!” “Aku menantu perempuan tertua di rumah ini. Aku punya hak bicara!” “Maaf,” kata kakak sulung. “Sudah cukup sekarang. Apakah kau pikir, ayah dan ibu kita setuju kita bertengkar seperti ini? Aku sangat menyesal tentang upacara hari ke empat puluh sembilan itu. Aku tidak berpikir benar. Mulai sekarang, kita akan melakukan upacara peringatan tahun­ an di rumahku, dan melakukannya dengan benar, jadi kita tidak perlu lagi khawatir.” “Lalu apa yang akan kita lakukan dengan rumah dan tanah ini?” Kakak perempuan bungsu bertanya. Ia meng­­­ayunayunkan bagian atas tubuhnya ke depan dan ke belakang. Wajahnya benar-benar merah. Meja makan berantakan. Di kolong meja, botol soju dan gelas alkohol menunjukkan berapa banyak minuman itu sudah dihabiskan. Aku bangkit, pergi meninggalkan ruangan. “Mau ke mana? Jangan pergi! Tetaplah di sini,” kakak perempuan bungsu menahanku. “Aku harus menyiapkan api unggun untuk membakar daljib.” “Mari selesaikan dulu pembicaraan kita ini dan pergi bersama. Bukankah engkau juga anggota keluarga besar kita?” Aku duduk kembali, menghadap ke sudut meja makan panjang. Kakak laki-laki sulung dan kakak-kakak yang lain, tampak memerintah, seolah-olah mereka keluar mewakili anak-anak dan pasangan mereka. Sambil menggulung gelas kertas soju yang tertinggal di meja, aku ingat salju tebal yang turun begitu menakutkan dalam mimpiku. Sedotan yang menusuk leher berkeliaran, mencari mangsa baru. Dengan hati-hati, kakak sulung mulai diskusi lagi. “Apa yang ingin kau lakukan?”

SENI & BUDAYA KOREA 81


dari tempat lain. Tidak ada yang bisa memperkirakannya. “Ini kampung halaman kita! Kita tidak bisa menjual akar kita,” kakak perempuan tertua berkata tegas. “Kita semua dilahirkan di rumah ini dan tanah ini pula yang memberi makan kita dan yang membuat kita tetap hidup!” Kakak perempuan kedua dan bungsu berbalik untuk menghadapnya. “Kakak, engkau bisa berkata begitu, karena engkau tidak perlu berjuang untuk mencari nafkah.” “Mulai tahun ini, toh tidak ada lagi yang mengolah tanah itu.” “Adik bungsu yang bisa mengolahnya.” Mata semua yang hadir menoleh ke arahku, aku tetap asyik mengutak-atik gelas miras di sudut meja. Sorot mata mereka penuh rasa ingin tahu. Sekadar mencari tempat beristirahat, aku menyembunyikan pandanganku di antara foto-foto berbingkai yang tergantung di dinding. Dari salah satu foto dalam bingkai itu, ayah dan ibu tampak menunjukkan air muka yang agak kaku. Tetapi aku segera terseret lagi dalam pusaran perdebatan. “Engkau bisa? Engkau bisa “Kita seharusnya tidak berdebat, tetapi menyelesaikannya secara adil.” Kakak laki-laki kedua yang sampai saat itu belum mengeluarkan pendapatnya, langsung menanggapi pendapat kakak perempuan tadi dengan berkerut muka, “Apa kau mau kita harus menjual segalanya dan membagi-bagi uangnya?” Mengingat resor berskala besar akan dibangun di kawasan ini, harga tanah seperti bangun dari tidur panjang­ nya yang nyenyak dan secepat kilat melonjak tanpa batas. Nilai ladang di lereng gunung yang menghasilkan lebih banyak batu daripada tanah ketika kita mencangkulnya tanah yang sama sekali diabaikan para petani - tiba-tiba meningkat dan jatuh mengikuti embusan angin yang datang

82 KOREANA MUSIM GUGUR 2019

mulai bertani?” “... Aku tak tahu. Terserah kalian. Saya tidak apa-apa.” Salju di taman mengeras, menjadi bongkahan es. Setiap kali aku melangkah, ada suara serak pasir di bawah kakiku. Sambil membawa sekaleng limbah minyak, aku menuju ke ladang di belakang rumah. Awan terkelupas, bulan purnama naik di langit biru dan saudara ipar serta keponakan-keponakan sibuk bermain api di dekat daljib bulan purnama. Kaleng-kaleng yang berlubang-lubang dengan berkabel, dan dimasukkan bara api dan serpihan kayu dilemparkan ke udara. Mereka putar-putarkan kaleng dengan melingkar membentuk huruf O yang besar dan bercahaya. Itulah permainan kami pada malam bulan purnama pertama di tahun lunar; ketika aku masih muda, kami


Terperangkap

menyebutnya memintal mang-u-ri. Bola-bola api berputar, menciptakan bulatan-bulatan lain, besar dan kecil, di atas salju. Sebuah bola api yang memutuskan kabelnya akan terbang dengan kecepatan tinggi ke udara, dan pada suatu saat, akan kehilangan kekuatannya, lalu jatuh de­­ngan perasaan sedih di bawah bulan purnama. Bara api yang jatuh di lapangan bersalju pecah mengeluarkan asap. “Apa semuanya sudah selesai? Ayo minumlah, Dik ipar.” “Maaf tentang hal yang barusan. Ini pertama kali kami semua bertemu dalam waktu yang lama, dan engkau harus melihat kami berdebat seperti itu ....” “Oh tidak! Itulah kehidupan. Semua keluarga, sama.” “Wow, bulan sangat besar! Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat bulan purnama seperti ini!” Kutuangkan limbah minyak ke daljib yang tiada henti ditaburi salju sejak malam sebelumnya. Di ladang bersalju, semua tempat yang bau, akan membeku, dan aroma mi­­nyak yang menyengat ternyata sangat menyenangkan. Sambil bersenandung sendiri aku minum aromanya. Jika ayah ada di sini, dia akan panas hati karena kami telah membuang begitu banyak kayu bakar yang sangat berharga. Ibu akan menggerutu, "Berapa banyak pakaian yang akan kamu basahi dalam satu hari?" Tata letak dalam rumah telah berubah, maka tidak ada lagi tutup kuali besi dan tungku untuk mengeringkan pakaian basah dan sepatu. Kami, kakak-beradik, sudah dewasa dan pergi meninggalkan rumah dan aku sendirian satu-satunya yang tersisa. Aku melingkari daljib yang berdiri di ladang di mana panen wortel musim panas lalu seperti kesepian raksasa, dan mengocok sisa limbah minyak. “Semua berkumpul, kan? Sekarang, mari nyalakan!” “Kamu semua harus menyampaikan permohonan, me­­ ngerti?” “Ya …!” Bara api yang lambat mulai dinyalakan bersamaan dengan teriakan anak-anak, lalu segalanya akan terbakar habis bersama asap hitam yang keluar dari sana. Pada malam musim dingin seperti itu, api unggun adalah bunga besar yang mekar di lapangan salju. Suara tepuk tangan terde­ ngar riuh di sekitar daljib yang terbakar. Cahaya terang api menerpa wajah-wajah mereka. Untuk sesaat, bulan purnama mundur lebih dalam bersembunyi di langit. Aku berjalan perlahan memutari daljib berlawanan arah jarum jam. Ketika sisi kanan dirasakan terlalu panas, aku berbalik dan berjalan mundur ke arah yang sama. Wajah-wajah anggota keluargaku melayang di antara api

dan kemudian menjauh lagi. Wajah keponakan-keponakan, yang belum sepenuhnya berkembang, mengikuti di belakang. Rumah itu dikaburkan oleh cahaya api dan kemudian muncul lagi. Aku mengosongkan gelas soju yang diberikan kakak ipar, sambil mengunyah kaki cumi-cumi kering, aku terus berjalan mengitari api unggun. Semua orang tertawa ketika kakiku tersandung sesuatu yang terkubur salju. Banyak yang terdapat dalam daljib. Api menciptakan segala macam bentuk, lalu segera menghancurkannya lagi. Ketika sebagian sudut daljib runtuh, percikan api kecil membumbung ke la­ngit malam dan kemudian melesap hilang. Kakak-kakak saya berdiri, berusaha terlihat seolah-olah tidak peduli. Aku melihat nyala api membara dalam ketenangan mereka. Ayah dan ibu telah pergi, meninggalkan sesuatu yang banyak. Se­­ pertinya ada suara bertanya, dari sini, ke mana engkau akan pergi? Kulihat sekeliling, tetapi tidak kutemukan sumber suaranya. Ke mana engkau akan pergi? Kuhentikan langkahku, mata melotot tajam ke arah api. Setiap kali melangkah ke sana, rasanya wajahku memanas. Aku tidak bisa membuka mata, seperti berada dalam keadaan merem-melek. Aku merasakan seolah-olah sedang berjalan di tengah kobaran api. Seseorang segera memegang pundakku. Saudara laki-laki yang kedua menahan langkahku. “Cobalah bertani. Aku ingin melihat bagaimana perkembanganmu tahun ini dan kemudian mencari tahu apa yang harus kau lakukan.” “Ambillah rumah ini.” “Kami akan mendaftarkan ladang ini di bawah kepemilikan bersama. Kami harap engkau menghasilkan banyak uang dari pekerjaanmu sebagai petani.” Sedikit demi sedikit daljib itu tenggelam. Bulan purnama yang telah berdiri di belakang dari kejauhan tampak datang lebih dekat lagi. Aku lari menjauhi lapangan salju, terhuyung-huyung. Aku merasa agak ... kesepian dan takut. “Engkau telah berbuat baik.” Mobil kakak sulung adalah kendaraan terakhir yang ke­­ luar dari lembah, dan terus melaju makin jauh, dan aku di­­ tinggal sendirian lagi. Dia memberikan amplop penuh uang. Kuambil isinya. Sebagai bonus membuat pertemuan ke­­ luarga tiga hari dua malam, jumlah itu rasanya berlebihan. Aku kembali masuk rumah dan mengeluarkan ponsel untuk menelepon Nona Lee di kedai kopi. “Apa yang akan kau lakukan malam ini?” Keheningan menyelimuti rumah seperti salju tebal. “Mau kamu ditraktir dengan sashimi ikan forel?”

SENI & BUDAYA KOREA 83


Informasi Berlangganan

Cara Berlangganan Biaya Berlangganan

Isi formulir berlangganan di website (www.koreana.or.kr > Langganan) dan klik tombol â&#x20AC;&#x153;Kirim.â&#x20AC;? Anda akan menerima faktur dengan informasi pembayaran melalui E-mail.

Daerah

Biaya Berlangganan (Termasuk ongkos kirim melalui udara)

Edisi lama per eksemplar*

Korea

1 tahun

25,000 won

6,000 won

2 tahun

50,000 won

3 tahun

75,000 won

1 tahun

US$45

2 tahun

US$81

3 tahun

US$108

1 tahun

US$50

2 tahun

US$90

3 tahun

US$120

1 tahun

US$55

2 tahun

US$99

3 tahun

US$132

1 tahun

US$60

2 tahun

US$108

3 tahun

US$144

Asia Timur

1

Asia Tenggara dsb

2

Eropa dan Amerika Utara 3

Afrika dan Amerika Selatan 4

US$9

* Pemesanan edisi lama ditambah ongkos kirim. 1 Asia Timur(Cina, Hong Kong, Jepang, Makau, dan Taiwan) 2 Asia Tenggara(Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor Leste, Vietnam,) dan Mongolia. 3 Eropa(termasuk Russia and CIS), Timur Tengah, Amerika Utara, Oseania, dan Asia Selatan (Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maldives, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka) 4 Afrika, Amerika Selatan/Sentral (termasuk Indies Barat), dan Kepulauan Pasifik Selatan

Mari bergabung dengan mailing list kami

Jadilah orang pertama yang mengetahui isu terbaru; maka daftarkan diri Anda pada Koreana web magazine dengan cara mengirimkan nama dan alamat e-mail Anda ke koreana@kf.or.kr

Tanggapan Pembaca

Tanggapan atau pemikiran Anda akan membantu kami meningkatkan daya tarik Koreana. Kirimkan komentar dan saran Anda melalui E-mail ke koreana@kf.or.kr.

* Selain melalui majalah web, konten Koreana tersedia melalui layanan e-book untuk perangkat mobile (Apple i-books, Google Books, dan Amazon)


A JournAl of the eAst AsiA foundAtion

We Help Asia Speak to the World and the World Speak to Asia. In our latest issue:

Leadership in Asia: Populism, Prosperity and the Basis of Political Legitimacy

Learn more and subscribe to our print or online editions at

www.globalasia.org

understAnding AsiA’s leAders: essAYs bY

John Nilsson-Wright; David Shambaugh; Ellis Krauss; Sang-young Rhyu; John McBeth; Michael Vatikiotis & Pratap Bhanu Mehta the debAte: the us-ChinA trAde ClAsh: two views

Simon Lester on Trump’s trade quagmire; Aidan Yao & Shirley Shen on why a breakthrough is unlikely

in foCus: denuCleArizing the KoreAn peninsulA

Three perspectives on the road ahead for peace efforts

plus

Christopher h. lim & vincent mack zhi wei Global Ambitions of Beijing’s Belt and Road Initiative stephen blank Washington Returns to Central Asia Kai he & huiyun feng A Quest for Joint Prestige: Rethinking the US-China Rivalry t. v. paul The Risks of War Over the South China Sea beginda pakpahan Indonesia’s Indo-Pacific Challenge book reviews by Nayan Chanda, Taehwan Kim, John Delury and John Nilsson-Wright

us$15.00 w15,000 A JournAl of the eAst AsiA foundAtion | www.globAlAsiA.org | volume 13, number 3, september 2018

Leaders & Leadership in Asia Populism, Prosperity and the Basis of Political Legitimacy News, archives and analysis at www.globalasia.org

Have you tried our Magster digital edition? Read on any device. Issues just $5.99 each or $19.99 per year. Download Magzter’s free app or go to www.magzter.com


LTIKorea

         

Profile for The Korea Foundation

Koreana Autumn 2019 (Indonesian)  

Koreana Autumn 2019 (Indonesian)